<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>old-oak &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/old-oak/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "old-oak"</description>
	<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 08:58:03 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Late Night - Sabor Latino @ Old Oak]]></title>
<link>http://slaintecork.wordpress.com/2009/03/31/late-night-sabor-latino-old-oak/</link>
<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 13:08:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Evin</dc:creator>
<guid>http://slaintecork.wordpress.com/2009/03/31/late-night-sabor-latino-old-oak/</guid>
<description><![CDATA[Tomorrow night, The Old Oak is hosting Sabor Latino from 10 p.m. until 2 a.m. Admission is free to t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tomorrow night, The Old Oak is hosting Sabor Latino from 10 p.m. until 2 a.m. Admission is free to t]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Duke Special at Cyprus Avenue]]></title>
<link>http://slaintecork.wordpress.com/2009/03/28/duke-special-at-cyprus-avenue/</link>
<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 16:54:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Evin</dc:creator>
<guid>http://slaintecork.wordpress.com/2009/03/28/duke-special-at-cyprus-avenue/</guid>
<description><![CDATA[Tonight, a few friends and I are going to see Duke Special at Cyprus Avenue. Here is a link to Mr. S]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tonight, a few friends and I are going to see Duke Special at Cyprus Avenue. Here is a link to Mr. S]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[13Mar02009]]></title>
<link>http://sndtrks.wordpress.com/2009/03/13/13mar02009/</link>
<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 17:19:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>ambntrvltn</dc:creator>
<guid>http://sndtrks.wordpress.com/2009/03/13/13mar02009/</guid>
<description><![CDATA[The following is a retrospective involving some of the things I most appreciate about fall. &#8230; ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The following is a retrospective involving some of the things I most appreciate about fall.  &#8230; I&#8217;m looking at it now because I really view winter as an extension of the fall and not as a completely different season.  Part of this is because, even though the winter is the longest season to get through, I only look back on it in terms of it&#8217;s events.  This winter there was Christmas (as with every year) and the romance involved with it&#8230; and the BIG snow.  The last of winter&#8217;s notable events was the snow of winter during the beginning of the spring weather which inspired me to right this.</p>
<p>Autumn,<br />
Oh, how I long for your deep strings<br />
your warm, consoling voice<br />
or to see the blazing brightness of the white stag<br />
in the evening hours<br />
gazing across the &#8220;glassy&#8221; lake<br />
its reflection mingling with the moon</p>
<p>or your first days<br />
wandering halls of the schools<br />
scarves and ties and messy hair<br />
or elbow patches and cordouroy<br />
books and pencils</p>
<p>gold crested leaves<br />
and the old oak<br />
and magic</p>
<p>That well worn trail<br />
lit with lanterns<br />
hanging from stone posts<br />
winding and muddy<br />
the milkman&#8217;s son walks with his hound<br />
his pocket stuffed with worry<br />
walking towards the winter&#8230;<br />
unresolved.</p>
<p>blanketing fall,<br />
your empty wooden rooms<br />
your crows on branches swooping<br />
your endless shelves of books<br />
are potential,<br />
and ink,<br />
and blank pages<br />
waiting for your fable</p>
<p>of gold crested leaves<br />
and old oak<br />
and magic.</p>
<p>Autumn, how I long for your bugle!<br />
it&#8217;s mixing with kindred sounds<br />
in the heavy fog of morning<br />
across the marshes<br />
the tall grasses<br />
in the dampening meadow</p>
<p>and by accident it finds<br />
the french horn<br />
the english horn<br />
the silver flute<br />
and the oboe</p>
<p>a brilliant dawn (that first burst of light)<br />
the calling and awareness<br />
the fleeting doe<br />
the familiar sly fox.</p>
<p>They hunt for sport!<br />
Away you loon!<br />
Beware young fawn!<br />
from his shoulder fires the Remington-<br />
and pounding drums subside<br />
and echo</p>
<p>a silence&#8230;</p>
<p>sorrow majesty slowly returns<br />
and uncertain&#8230;<br />
until that faint flutter<br />
cautiously wanders<br />
from the pastoral<br />
leaving only</p>
<p>the gold crested leaves<br />
and old oak</p>
<p>and magic.</p>
<p>{ listening to Thom Brennan and Tony Gerber (AKA Cypress Rosewood) }</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku... ]]></title>
<link>http://nindityo.wordpress.com/2007/08/16/ikatkan-sehelai-pita-kuning-bagiku/</link>
<pubDate>Thu, 16 Aug 2007 02:40:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>nindityo</dc:creator>
<guid>http://nindityo.wordpress.com/2007/08/16/ikatkan-sehelai-pita-kuning-bagiku/</guid>
<description><![CDATA[Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di seb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.</p>
<p>Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya. Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.</p>
<p>Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, &#8220;Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.&#8221;</p>
<p>Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, &#8220;Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan&#8230;kita mesti lihat apa yang akan terjadi&#8230;&#8221;</p>
<p>Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya&#8230; Dia tidak melihat sehelai pita kuning&#8230; Tidak ada sehelai pita kuning&#8230;. Tidak ada sehelai&#8230;&#8230; Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning&#8230;.bergantungan di pohon beringin itu&#8230;Ooh&#8230;seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning&#8230;!!!!!!!!!!!!</p>
<p>Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, &#8220;Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree&#8221;, dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.</p>
<p>I&#8217;m coming home I&#8217;ve done my time<br />
And I have to know what is or isn&#8217;t mine<br />
If you received my letter<br />
Telling you I&#8217;d soon be free<br />
Then you&#8217;d know just what to do<br />
If you still want me<br />
If you still want me<br />
Oh tie a yellow ribbon<br />
&#8216;Round the old oak tree<br />
It&#8217;s been three long years<br />
Do you still want me<br />
If I don&#8217;t see a yellow ribbon<br />
&#8216;Round the old oak tree<br />
I&#8217;ll stay on the bus, forget about us<br />
Put the blame on me<br />
If I don&#8217;t see a yellow ribbon<br />
&#8216;Round the old oak tree<br />
Bus driver please look for me<br />
&#8216;Cause I couldn&#8217;t bare to see what I might see<br />
I&#8217;m really still in prison<br />
And my love she holds the key<br />
A simple yellow ribbon&#8217;s all I need to set me free<br />
I wrote and told her please<br />
Oh tie a yellow ribbon<br />
&#8216;Round the old oak tree<br />
It&#8217;s been three long years<br />
Do you still want me<br />
If I don&#8217;t see a yellow ribbon<br />
&#8216;Round the old oak tree<br />
I&#8217;ll stay on the bus, forget about us<br />
Put the blame on me<br />
If I don&#8217;t see a yellow ribbon<br />
&#8216;Round the old oak tree<br />
Now the whole damn bus is cheering<br />
And I can&#8217;t believe I see<br />
A hundred yellow ribbons<br />
&#8216;Round the old, the old oak tree<br />
Tie a ribbon &#8217;round the old oak tree<br />
Tie a ribbon &#8217;round the old oak tree<br />
Tie a ribbon &#8217;round the old oak tree<br />
Tie a ribbon &#8217;round the old oak tree<br />
Tie a ribbon &#8217;round the old oak tree<br />
Tie a ribbon &#8217;round the old oak tree<br />
Tie a ribbon &#8217;round the old oak tree<br />
Tie a ribbon &#8217;round the old oak tree<br />
==================================================</p>
<p><img border="0" align="left" width="126" src="http://www.thespywhobilledme.com/the_spy_who_billed_me/WindowsLiveWriter/yellow%20ribbon_thumb.jpg" alt="pita juning" height="98" />Kisah ini didapat dari milis, mungkin benar.. mungkin juga sekedar dongeng. Ada yang selalu membuat aku terhanyut dalam kisah ini yakni tentang hati. Kisah tadi selalu menyadarkan bahwa hati yang aku miliki masih terlalu kecil. Masih banyak perjalanan yang harus aku tempuh untuk membesarkannya. Aku akan selalu ikatkan pita kuning di hatiku. Agar aku menyadari bahwa aku harus selalu memaafkan. Dan aku mohon terutama dalam postingan pertama ini&#8230; ikatkan sehelai pita kuning bagiku..<br />
Salam&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mudahnya Membeli Mabuk]]></title>
<link>http://jurnalis.wordpress.com/1997/02/22/mudahnya-membeli-mabuk-2/</link>
<pubDate>Sat, 22 Feb 1997 08:51:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abdul Manan</dc:creator>
<guid>http://jurnalis.wordpress.com/1997/02/22/mudahnya-membeli-mabuk-2/</guid>
<description><![CDATA[“PERHATIAN! Penjualan minuman keras tidak berlaku bagi pelajar yang berseragam sekolah dan pembeli y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">“PERHATIAN! Penjualan minuman keras tidak berlaku bagi pelajar yang berseragam sekolah dan pembeli yang belum berumur 17 tahun.” Di samping dan bawah tulisan tersebut, berjejer berbagai minuman keras (miras) dari berbagai jenis dan merek. Itulah tulisan di secarik karton putih lusuh berukuran 10 kali 20 sentimeter yang ditempel miring di pinggir sebuah rak miras di sebuah pasar swalayan di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. Tintanya yang berwarna merah sudah mulai luntur, itu menandakan sudah lama dibuat.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Bila tulisan itu dijadikan pegangan, kritik sementara orang terhadap Keppres tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Minuman Beralkohol terjawab sudah. Yakni, sudah ada kesadaran sebenarnya pada para penjual bahwa miras tak bisa dibeli oleh yang berusia di bawah 17 tahun. Soal pembatasan umur pembeli miras itulah yang tak disinggung dalam Keppres tertanggal 31 Januari 1997 itu. Angka 17 pada secarik kertas pengumuman itu pun perlu disimak. Soalnya, di Amerika, batas itu adalah 21 tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kami tak akan melayani bila ada pelajar berseragam yang akan membeli miras di sini,” kata pramuniaga sebuah pasar swalayan. Tampaknya, pramuniaga itu cukup jujur. Masalahnya, bila yang membeli tak berseragam, adakah mereka berani, misalnya, meminta kartu identitas atau KTP yang bisa menunjukkan umur mereka?</p>
<p style="text-align:justify;">Soal yang lain, di toko itu dijual cukup lengkap minuman beralkohol, dari yang kelas A (menurut keppres) dengan kadar alkohol sampai lima persen, sampai kelas C yang berkadar alkohol sampai 55 persen. Nah, bila para remaja itu tak sekadar membeli bir (kadar alkohol di bawah lima persen), tapi misalnya wiski, akankah juga dilayani?</p>
<p style="text-align:justify;">Lihat saja, di sini ada wiski dan vodka yang kadar alkoholnya sekitar 40 persen. Kemasannya pun bermacam: dari botol seukuran botol kecap besar, botol tanggung, botol gepeng, hingga yang kalengan. Dan, bila Anda bergaul degan remaja yang suka teler, di sini tersedia juga merek-merek lokal yang ngetop di kalangan remaja: Mansion House, Drum, Red Labels, John Roben, Robinson, Columbus, dan Columbia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai lama, wartawan D&#38;R memang tak melihat ada yang belanja miras di toko swalayan itu. Tapi, di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, juga di sebuah toko swalayan, wartawan D&#38;R melihat petugas keamanan dan kasir tak melakukan apa pun ketika enam remaja yang kira-kira berusia tak lebih dari 15 tahun membeli dua botol bir Bintang: satu besar, satu kecil. “Yang penting, mereka tidak pakai seragam dan tidak minum di sini. Terserah kalau mereka mau nungging di luar,” kata sang petugas keamanan enteng.</p>
<p style="text-align:justify;">Kala itu belum lagi pukul 11.00 siang .”Sepagi ini, mereka sudah dua kali balik membeli miras,” tutur kasir yang melayani anak-anak itu. Masih untung, kalau mau dibilang untung, di sini hanya dijual miras berkadar alkohol di bawah lima persen. Kalau toh ada satu-dua botol yang lebih berasa daripada itu, hanyalah dari jenis B, yang kadar alkoholnya di bawah 20 persen.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang lebih ekstrem lagi adalah yang berlaku di sebuah pasar swalayan di bilangan Gunungsahari, Jakarta Pusat. Di tempat itu, menurut pengakuan Darmanto, salah seorang pengawas di toko itu, mereka tidak membatasi siapa saja yang akan membeli miras yang mereka pajang. “Di sini, sih, bebas. Kami tidak pernah melarang pelajar yang berseragam sekolah dan anak yang belum dewasa membeli miras. Kami juga tidak pernah tanya-tanya dan memaksa mereka menunjukkan KTP. Asal mereka punya duit dan tidak minum di tempat ini, silakan saja” kata Darmanto tanpa beban.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah memang tidak ada larangan untuk hal itu? “Ada. Lihat tuh,” kata Darmanto sambil menunjuk pengumuman plastik yang tergantung di langit-langit. Tulisannya jelas: “Minuman Keras. Tidak Dijual kepada Pembeli yang Berumur di Bawah 16 Tahun dan Berseragam Sekolah”.</p>
<p style="text-align:justify;">Lo? “Habis gimana, mereka menang. Mereka selalu bilang kalau mereka punya duit,” jawab Darmanto. Itu bukanlah soal baru: peraturan dikalahkan oleh duit.</p>
<p style="text-align:justify;">Soal pembatasan umur, wartawan D&#38;R yang ditugasi meliput penjualan miras di seantero Jakarta melaporkan macam-macam. Ada yang mencantumkan batas usia 16 tahun, 17 tahun, dan 21 tahun. Tapi, sebagaimana terjadi di Gunungsahari, bisa diduga, pengumuman itu sekadar basa-basi. Menurut seorang penjaga toko swalayan yang tak bersedia dicantumkan identitasnya, mereka memilih melanggar peraturan daripada harus berurusan dengan remaja-remaja itu. Maka, ya, asal ada duit, mabuk pun jadilah. Kenapa tak memilih untuk tak menjual miras saja? Kata Darmanto, menjual miras untungnya lumayan. “Kalau lagi rame, bisa habis dua karton,” katanya. Satu karton biasanya terdiri dari dua belas minuman.</p>
<p style="text-align:justify;">Soal izin? “Kami punya, termasuk untuk miras impor,” jawabnya sambil menunjukkan fotokopi izin menjual miras untuk toko itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan, yang dia sebut-sebut sebagai minuman impor adalah yang berkadar alkohol di atas 30 persen. Wiski, vodka, gin, rum, cognac, tequila, dan champagne berjejer di dua lemari besar yang disusun dengan berbentuk leter L.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini yang paling laris,” kata penjaga sudut itu sambil menunjuk Johnnie Walker Red Labels. Supermarket itu dan kelompoknya di berbagai tempat di Jakarta, mungkin yang paling lengkap menyediakan miras impor, di luar hotel, bar, dan restoran besar. Di antara koleksinya, yang paling banyak memang jenis wiski. Selain Johnnie Walker, beberapa yang lainnya misalnya, Wild Turkey, Jim Beam, Clan Mc. Gregor, Old Huckleberry, Ballantines, Bushmills, Old Grand Dad, The Famous Grouse, Vat 69, William Grants, Canadian Club, dan Four Roses.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk tequila ada merek Conquislador, Mariachi, Cueruo Espe, dan Cancun. Jenis vodka, di antaranya adalah Finlandia Vodka, Smirnoff, Absolut Vodka, Stolichnaya Vodka, dan Gorbatschow. Jenis rum diantaranya: Malibu, Myers Rum, Old Oak, Captain Morgan, Bacardi, dan Negrita. Jenis champagne terdiri dari Cardon Verti, Moet and Chandon, dan Vevue Cliquot Ponsardi. Jenis cognac terpajang merek XO Supreme, Hennessy XO, Remi Martin, Otard, Napoleon, dan Cordon Bleu. Deretan terakhir adalah miras termahal dalam koleksi supermarket tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan, tampaknya, sebagian anak-anak muda di Jakarta membeli miras seperti membeli Coca-cola saja laiknya. Lihat saja, dua anak muda berusia sekitar 19 tahun masuk ke sebuah toko swalayan di kawasan Megaria, Jakarta Pusat. Di kepalanya bertengger topi pet, dipasang terbalik. Kaus oblong dan jins yang dikenakannya model kusam. Berdua dengan tenang menuju ke rak miras, lalu tiga botol gepeng dengan isi warna kuning seperti air teh mereka bawa ke kasir. Itulah wiski, yang kadar alkoholnya sekitar 40 persen.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kami mau naik gunung,” jawab salah satu di antaranya ketika ditanya kenapa membeli wiski, “kan, lumayan buat anget-anget.” Dua anak muda dari daerah Utankayu itu mengaku rutin naik gunung bersama rekan-rekan mereka. Apalagi sekarang mereka sudah tidak sekolah. Dan, untuk dua anak muda itu dan rekan-rekan, wiski tampaknya menjadi barang wajib yang perlu dibawa dan sejauh ini mereka mengaku tak penah mengalami kesulitan membeli miras.</p>
<p style="text-align:justify;">Juga, di toko swalayan di kawasan Pasarminggu, Jakarta Selatan, tiga remaja 17-an tahun nongkrong di depan etalase miras yang ada di supermarket itu. Bir dan kerabatnya yang ada di sebuah rak ternyata tidak mereka lirik. Mereka lebih tertarik pada deretan miras di rak sebelahnya. Akhirnya, dua botol gepeng Red Labels (jenis wiski) seharga Rp 1.850 sebotol dan satu dry gin seharga Rp 2.500, serta dua botol Coca-cola kaleng mereka tenteng ke kasir.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kok, pakai Coca-cola?” tanya D&#38;R. “Buat campuran,” jawab yang bertopi rapper, “kalau mau lebih enak, sebenarnya yang itu.” Itu dikatakan si rapper sambil menunjuk Mansion House. “Yang itu naiknya cepet. Malah, kadang kami sampai enggak bisa jalan kalau nenggak yang model begitu,” tutur si kacamata hitam menjelaskan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di toko itu, tak selembar pengumuman tentang miras terlihat. Anak-anak itu pun bilang, mereka selama ini tidak pernah ditolak membeli miras di tempat tersebut. “Di sini, harganya lebih murah. Kalau di warung, harganya sudah naik dua kali lipat. Kalau di toko grosir di sana itu, lebih paten. Enam ribu bisa dapat empat yang model beginian,” kata si rapper sambil tangannya menunjuk ke satu arah, ke toko grosir di arah selatan. Mungkin Goro, maksudnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu di Jakarta, begitu pula di Surabaya. Tak susah orang Surabaya, siapa saja, asal punya uang bisa menikmati alkohol. Tinggal pilih: yang ringan, sedang, atau keras. Di sebuah supermarket di Tunjungan Center, misalnya, miras beralkohol di bawah lima persen sampai 40 persen ada. Dari bir Bintang dan San Miguel sampai vodka, Mansion House, dan Brandy gampang dibeli. Dulu, menurut kasir di situ, anak muda yang beli diminta menunjukkan KTP. “Sekarang, karena kebijaksanaan pemilik toko, ya, bebas saja,” katanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, tak semua toko swalayan di Surabaya seperti yang di Tunjungan itu. Kebanyakan toko swalayan di Ibu Kota Jawa Timur itu cuma menjual miras sejenis bir yang kadar alkoholnya di bawah lima persen. Di luar toko swalayan, miras bisa dibeli di warung-warung di Kompleks Pelacuran Dolly atau di Jarak. Di kompleks itu, hampir semua rumah yang menyimpan pelacur sekaligus menjual miras. Umumnya, memang hanya sejenis bir dan paling keras hanyalah bir hitam.</p>
<p style="text-align:justify;">Cuma, di kompleks pelacuran, setidaknya sekali dalam sebulan, ada razia miras dari pemda. Masalahnya, razia itu bukannya mau membatasi peredaran minuman memabukkan itu. Benar, kata seorang pemilik warung di kompleks, aparat yang merazai menanyakan izin segala. Tapi, seandainya sebuah warung tak punya izin, ternyata urusan selesai setelah amplop berpindah tangan. Dan, esoknya, bisa dipastikan, semua warung kembali menyediakan bir sebagaimana hari-hari sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Jakarta, di luar pasar swalayan dan kompleks pelacuran semisal di Kramattunggak, Jakarta Utara, miras dijual juga di kios-kios dan warung-warung kecil di kaki lima, pasar, terminal, dan stasiun kereta api. Untuk warung-warung di pasar, misalnya, sedikitnya bir pasti hadir di sisi Coca-cola, Sprite, dan Fanta. Bahkan, warung-warung rokok, terutama di ujung jalan kawasan permukiman, banyak yang menyediakan bir, Bintang atau Anker.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang ditakuti pemilik kios atau warung rokok yang menjual bir bukan razia dari aparat, tapi si pembeli sendiri. Soalnya, tak jarang pembeli meminum berbotol bir di situ juga. Dan, kalau mereka sudah mabuk–atau bisa jadi pura-pura mabuk–segalanya bisa terjadi: tak mau membayar atau minta rokok dan uang. Tidak diberi, wah, bisa-bisa kios hancur diobrak-abrik.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti cerita seorang penjual rokok di daerah Pondokkopi, Jakarta Timur, dekat terminal, yang kini sudah berhenti menjual bir. “Saya takut kalau mereka pada minum-minum di sini. Kalau mereka mabuk, dagangan saya di rusak,” katanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini, hukum dagang pun berlaku. Maksudnya, tak bakal warung-warung itu menjual miras bila tak ada pembelinya. Seorang penjual rokok di daerah Durensawit, Jakarta Timur, misalnya, yang memajang sembilan kaleng bir Anker, mengaku: “dalam dua minggu, bir itu pasti habis.”</p>
<p style="text-align:justify;">Di lokasi yang lebih ramai, di kawasan Utankayu, dekat jalan by pass, seorang pemilik warung rokok yang tangannya bertato dan lehernya berkalung emas mengaku, dalam seminggu dia bisa menjual dua dus bir kaleng (satu dus berisi 12 kaleng) dan tiga krat botol bir. “Saya jual Anker, kalau Bintang kurang ‘jalan’,” katanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya bir yang bisa dibeli di warung-warung itu? Sebentar; menurut beberapa anak muda, jika mereka telah kenal dengan pemilik warung dan hubungan tak ada masalah, kadang bisa juga pesan wiski atau vodka. Dua jenis minuman itu memang tak bakal dipajang. Jadi, sebenarnya, di bawah sadar, ada juga rasa bersalah para penjual itu bila menjajakan minuman yang lebih<br />
keras daripada bir. Padahal, menurut mereka, tak pernah ada razia yang serius. Maksudnya, bila sekadar uang rokok disediakan, oknum aparat tak akan macam-macam.</p>
<p style="text-align:justify;">Tampaknya, bila pemerintah memang serius berniat membatasi peredaran miras, apalagi yang kelas B dan C, diperlukan sanksi yang nyata dan dirasakan cukup berat oleh penjual, selain peraturan yang jelas dan tegas. Bila tidak, ya, akan seperti sekarang ini: di mana-mana Anda mudah membeli mabuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Laporan Muhammad Jaelani (Jakarta) dan Abdul Manan (Surabaya)</p>
<p style="text-align:justify;">D&#38;R, Edisi 970222-027/Hal. 72   Rubrik Bisnis &#38; Ekonomi</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
