<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>opera-jawa &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/opera-jawa/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "opera-jawa"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 15:06:15 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA['Opera Jawa' DVD review (Detroit Metrotimes)]]></title>
<link>http://notablenoise.wordpress.com/2009/05/13/opera-jawa-dvd-review-detroit-metrotimes/</link>
<pubDate>Wed, 13 May 2009 21:07:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jason Ferguson</dc:creator>
<guid>http://notablenoise.wordpress.com/2009/05/13/opera-jawa-dvd-review-detroit-metrotimes/</guid>
<description><![CDATA[You like musicals, don&#8217;t you? A little Chicago, maybe, or perhaps a furtive peek at Mamma Mia ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[You like musicals, don&#8217;t you? A little Chicago, maybe, or perhaps a furtive peek at Mamma Mia ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sita Sings the Blues in the Green Mtns.]]></title>
<link>http://squallyshowers.wordpress.com/2009/03/26/sita-sings-the-blues-in-the-green-mtns/</link>
<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 13:25:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Squally Showers</dc:creator>
<guid>http://squallyshowers.wordpress.com/2009/03/26/sita-sings-the-blues-in-the-green-mtns/</guid>
<description><![CDATA[Swamp Thing fans will know Steve Bissette as the artist who brought some of the comic&#8217;s memora]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://squallyshowers.wordpress.com/2009/03/26/sita-sings-the-blues-in-the-green-mtns/sita-sings-the-blues1/" rel="attachment wp-att-1242"><img src="http://squallyshowers.wordpress.com/files/2009/03/sita-sings-the-blues1.jpg?w=72" alt="sita-sings-the-blues1" title="sita-sings-the-blues1" width="108" height="144" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1242" /></a><a href="http://www.swampthingroots.com/" target="_blank">Swamp Thing</a> fans will know <a href="http://srbissette.com/" target="_blank">Steve Bissette</a> as the artist who <a href="http://www.amazon.com/Saga-Swamp-Thing-Book-1/dp/1401220827/ref=pd_bbs_sr_3?ie=UTF8&#38;s=books&#38;qid=1238072974&#38;sr=8-3" target="_blank">brought some of the comic&#8217;s memorable Alan Moore scripts</a> to life. If you want muscular tubers, Bissette&#8217;s your man. We don&#8217;t know what his chops as a film reviewer are like, but <a href="http://srbissette.com/?p=3426" target="_blank">he&#8217;s mightily impressed</a> with <a href="http://www.ninapaley.com/" target="_blank">Nina Paley</a>&#8217;s <a href="http://www.sitasingstheblues.com/" target="_blank"><i>Sita Sings the Blues</i></a>. It&#8217;s not just the &#8220;one of the ten best animated features I’ve ever seen, period.&#8221; It&#8217;s &#8220;one of the ten best animated features ever made.&#8221;</p>
<blockquote><p>My ol’ cartooning buddy and fellow Tundra survivor Mark Martin brought the film to my attention back in December of last year with links and forwarded emails concerning the blues Nina is still suffering over the music rights — <i><b>Sita</i></b> juxtaposes Nina’s own recent experience being dumped by her heartless hubby with the epic Indian tale of Ramayana and his relationship with the beautiful and faithful Sita, told in part via ingenious use of 1920’s tunes sung by Annette Hanshaw.</p></blockquote>
<p>Who are we to disagree? Interesting to see <a href="http://www.godandguru.com/ramayan/index.html" target="_blank">the Ramayana</a> continuing to infiltrate modern cinematic discourse. The sprawling Hindu myth also made a counterpart to a contemporary story in the Indonesian headfuck <a href="http://www.trigon-film.org/en/movies/Opera_Jawa" target="_blank"><i>Opera Jawa</i></a>. Both Paley and <a href="http://www.imdb.com/name/nm0637838/" target="_blank">Garin Nugroho</a> are keen to emphasize the space where myth, music and image meet. Judging from the pictures on the official Web site, <i>Sita</i> isn&#8217;t short on visuals that make you feel like your eyes have just been given an ablution. The film received a Crystal Bear at the 2008 Berlin International Film Festival. There&#8217;s also <a href="http://blog.ninapaley.com/" target="_blank">a blog</a> chronicling Paley&#8217;s efforts to clear her copyrights and the battle to distribute the film.<br />
<!--more--><br />
Bissette enthuses over the film and reminds you that it is screening in Montpelier on Saturday, March 28 (6:30 PM) and Sunday, March 29 (11:30 AM) as part of the <a href="http://www.imdb.com/name/nm0637838/" target="_blank">Green Mountain Film Festival</a>. Let us know if you think he&#8217;s right, and what other nine films would be on the man&#8217;s list.</p>
<p><b>UPDATE:</b> Further investigation has found the film available to stream online. <i>Sita</i> is streaming on <a href="http://www.thirteen.org/sites/reel13/blog/watch-sita-sings-the-blues-online/347/" target="_blank">WNET&#8217;s Reel 13 blog</a> and can be <a href="http://www.archive.org/details/Sita_Sings_the_Blues" target="_blank">downloaded at Archive.org</a>. If, like Squally, you&#8217;re suffering from a massive head cold, there can be few better ways to spend the rest of the day.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Eko Supriyanto ]]></title>
<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2009/02/28/eko-supriyanto/</link>
<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 01:36:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>rustikaherlambang</dc:creator>
<guid>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2009/02/28/eko-supriyanto/</guid>
<description><![CDATA[Tarian Kehidupan eko supriyanto Waktu kecil dianggap sebagai kerikil.  Kini dia telah tumbuh dan ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2>Tarian Kehidupan</h2>
<div id="attachment_717" class="wp-caption alignnone" style="width: 210px"><img class="size-medium wp-image-717" title="eko supriyanto" src="http://rustikaherlambang.wordpress.com/files/2009/02/eko3.jpg?w=200" alt="eko supriyanto" width="200" height="300" /><p class="wp-caption-text">eko supriyanto</p></div>
<blockquote><p>Waktu kecil dianggap sebagai kerikil.  Kini dia telah tumbuh dan bermetamorfosa menjadi intan yang siap diasah&#8230;</p></blockquote>
<p>Eko Supriyanto mulai menari ketika kabut mulai turun di Candi Sukuh. Tubuhnya terhanyut dalam gerakan yang ia rasakan ketika bersentuhan dengan alam, udara dingin, pepohonan, serta relief candi yang bertutur tentang kejadian manusia. Musiknya: desir angin dan jepretan kamera. Bangunan candi yang berupa kerucut terpotong, pohon-pohon dan langit berkabut menjadi latarnya. Ia bergerak seolah merayap seperti kura-kura lalu bergerak terbang ke udara seperti burung garuda. Kata-kata Eko sebelum menginjak bangunan candi bahwa ia menemukan kesadaran kepenariannya di sini kembali terngiang. Mungkin hal itu yang membuatnya <em>trance</em> ketika menari.</p>
<p>&#8220;Candi ini bercerita tentang pertemuan antara Ibu Bumi, yang disimbolkan oleh kura-kura, dan Bapak Angkasa yang disimbolkan oleh garuda. Tapi buatku, ini berarti bahwa kita harus meraih cakrawala, tapi harus tetap kembali ke bumi,&#8221;tuturnya tentang tarian yang baru saja diperagakan. Pernyataan ini sepertinya sangat cocok dengan dirinya yang kini tercatat sebagai penari, koreografer serta pemilik studio tari &#8220;Solo Dance Studio&#8221; yang disegani di dunia tari internasional. Meski memiliki latar belakang tradisi asal Jawa, namun ia begitu terbuka dalam menyerap berbagai khasanah dalam lingkungan global sehingga kehadirannya diperhitungkan dalam panggung kolaborasi internasional. <!--more--></p>
<p>Namanya meroket ketika ia dipilih Madonna sebagai penari latar, yang memiliki peran signifikan, dalam Drowned World Tour 2001. Prestasinya tak berhenti sampai di situ. Master Fine of Art dari University of California Los Angeles (UCLA) ini sering bekerja sama dengan sutradara opera terkemuka di dunia seperti Peter Sellars dan Julie Taymor (The Lion King Disney di Pantages Theater, Hollywood). Selain mengajar di ISI Surakarta, Eko juga sempat menjadi pengajar tari di sejumlah universitas bergengsi di Amerika Serikat. Di Indonesia, ia merampungkan film &#8220;Opera Jawa&#8221; dan &#8220;Generasi Biru&#8221; bersama sutradara Garin Nugroho. Sementara itu, pementasan &#8220;Flowering Tree&#8221; dan &#8220;Iron Bed&#8221; di berbagai negara sudah memadati agendanya setahun ini.</p>
<p>Kisah kesuksesan itu barangkali tak pernah mengendap dalam pikiran masa lalunya. Ia lahir di Banjar, Kalimantan Selatan, dan besar di Magelang dalam keluarga yang sederhana dan sarat konflik keluarga akibat perbedaan status ekonomi. Ayahnya, meski dari keluarga berada,  bekerja sebagai pegawai negeri golongan 2B di kantor saudaranya. Sang ibu, berasal dari keluarga kurang beruntung yang mengharapkannya bisa menjadi jalan keluar kesulitan ekonomi, sempat bekerja sebagai tenaga Satuan Pengamanan (Satpam) di pabrik payung, sebelum menerima pekerjaan bordir di rumah, tidak pernah diterima di pihak suaminya. &#8220;Kami harus <em>laku dodok</em> (berjalan sambil berjongkok) kalau kepengen lihat acara televisi di rumah saudara. Itupun kalau dibuka pintunya..,&#8221;ceritanya. Meski demikian, Eko merasa bahagia memiliki kakek dan orang tua yang menyayanginya.</p>
<p>Sejak kecil, ia belajar silat dan menari, mengikuti jejak kakeknya sebagai penari di Sriwedari. Ibunya sangat mendukung aktivitas ini, kendati lingkungan tidak bersahabat dengannya. Tubuhnya yang tidak tinggi dan aktivitasnya sebagai penari -dianggap lain dari lingkungannya &#8211; membuatnya kian terkucil. &#8220;Orang bilang aku jelek, pendek, <em>pesek </em>(berhidung kecil). Ditolak lingkungan, ditolak perempuan,&#8221;kata Eko yang karena dicemooh terus menerus sempat mogok menari ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA). &#8220;Saya kembali menari karena waktu kelas tiga harus memilih ekstra kurikuler menari atau sepak bola. Saya benci sepak bola,&#8221; ujarnya. Sejak itu, ia kembali berlatih menari, mengambil jurusan Seni Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, setahun kemudian, dan bertekad menyelesaikan kuliah dengan biaya sendiri di tengah kecaman keluarga bapaknya: &#8220;Menyekolahkan anak kok sekolah pengamen.&#8221;</p>
<p>Eko pernah mengambil pendidikan di sebuah universitas di Jawa Tengah, tapi langsung ditinggalkannya karena beranggapan guru tarinya tak lebih pintar dari dirinya. Ia belajar tari-tarian dari daerah lain dan juga memperdalam spiritualitasnya dalam tari pada Suprapto Suryodharmo, penari spiritual dari Padhepokan Lemah Putih, yang akhirnya membuka kesadaran pada kepenariannya dari tahun 1990-1997. &#8220;Ternyata aku bisa menemukan fakta bahwa detail tari jawa banyak yang menggunakan metode<em> laku</em>, puasa <em>mutih, kungkum </em>(berendam semalaman). Aku punya pengalaman dengan Pak Prapto ketika kami <em>kungkum</em> di malam Jumat di sungai Pengging atau sungai Progo, belajar meditasi, lalu menari di candi. Sekarang aku baru sadari bahwa yang kudapat bukanlah pencapaian teknik, melainkan kesadaran, saat di Candi Sukuh dan candi Cetho,&#8221;ujarnya.</p>
<p>Perjuangannya &#8211; meski enggan disebut sebagai berjuang karena ia merasa itulah aliran hidupnya-akhirnya mendapat jawaban ketika ia mewakili Indonesia dalam American Dance Festival (ADF) tahun 1997. Dan sejak itulah hidupnya sontak berubah. Ia yang memulai karirnya sebagai penari di acara pernikahan di kampung -kampung dengan bayaran Rp.7000 pertari itupun bergerak menuju panggung-panggung pentas teater dunia, termasuk mendapatkan beasiswa master dari UCLA. &#8220;Aku selalu ikut dengan aliran. Tak pernah ngoyo. Ada kesempatan ya kuambil,&#8221;katanya menjawab rahasia kesuksesannya. &#8220;Aku pasrah pada jalan hidupku,&#8221;lanjut Eko yang tiba-tiba saja merasa semua pintu menjadi terbuka untuknya. &#8220;Aku nggak pernah melamar untuk bekerja sama dengan Madonna atau Lemi, tapi tiba-tiba mereka menelponku,&#8221;ujar Eko. Lemi Ponifasio adalah seniman terkemuka dunia asal New Zelland yang ternyata sangat disukainya, selain Peter Sellars.</p>
<p>Dalam urusan cinta, ia pun mengalami pencerahan. Walau pengalaman dua cinta pertamanya boleh dibilang meninggalkan rasa sakit pada dirinya. &#8220;Aku memberikan seluruh hidupku untuk cinta. Tapi yang kudapat justru sebaliknya, tapi mencoba rela,&#8221; ujar eko yang sempat melakukan <em>open relationship</em> dengan salah satu pacarnya demi cinta. Kejadian ini sempat menumbuhkan rasa dendam pada wanita yang lantas dihabiskannya pada saat ia masih bergabung dengan Madonna. &#8220;Aku sangat mudah mendapatkan wanita kala itu,&#8221;katanya, tak bermaksud sombong.</p>
<p>Namun akhirnya ia menyadari bahwa semua ada batasnya. Segala fasilitas dan kemudahan yang diterimanya, justru membuatnya serius berpikir tentang cinta. &#8220;Prinsipku, kalau memang sudah kuanggap cukup, ya aku akan berhenti. Tanda titik sudah kububuhkan. Artinya petualanganku di wanita sudah berakhir.&#8221; Eko akhirnya menikahi penarinya, Astri Kusuma Wardani, dan memiliki seorang anak perempuan, Chandra Suryavimala Prabasti -sebuah nama yang diberikan oleh Peter Sellars.</p>
<p>&#8220;Seluruh karya tarianku tak akan pernah lepas dari permasalahan pribadi,&#8221;ucap Eko berbisik. Kalimat ini seolah membuka lorong-lorong masa lalunya. Ia lalu menuturkan bagaimana karya awal yang diciptakannya tahun 1993 tak jauh dari kesedihan dan kesakitan perasaan ibunya. Gerakan tariannya lantas berubah menjadi liar secara seksualitas, ketika ia mulai mengenal cinta, berbekal sedikit kesuksesan yang mulai diterimanya di tahun 1995-1998. Ia melakukan eksploitasi seksual  yang diambil dari pengalaman risetnya sendiri. Termasuk ketika ia menjadi partisipan aktif di Gunung Kemukus, sebuah tempat ritual yang diyakini banyak orang bisa mendatangkan berkah kekayaan dengan melakukan hubungan seksual dengan orang yang ditemui di sana, atau menuju komunitas ronggeng di Purwokerto.</p>
<p>Saat menempuh pendidikan masternya di Amerika, ia mulai menciptakan karya yang diinspirasikan oleh pengembaraan kesendirian dan rindu yang meledak-ledak pada keluarganya. Peristiwa yang terjadi tahun 2000 ini lantas berkembang setelah ia bergabung dengan Madonna yang mengulik sisi-sisi bisnis dan entertainmen. Kini, setelah menjadi bapak, ia kembali memikirkan esensi masa kecil, kekanak-kanakan dan itulah yang terasa dalam pergelaran &#8220;El&#8221; dan &#8220;Awakening&#8221;.</p>
<p>Karya-karya Eko juga banyak dibicarakan karena reintepretasi yang ditawarkan acapkali menimbulkan kontradiksi. &#8220;Misalnya karya &#8220;Daub&#8221;. Ini pengalamanku sendiri. Aku itu Rahwana. Menurutku cinta sejati antara Rama dan Shinta itu <em>bullshit.</em> Menurutku cinta sejati itu justru ada pada Rahwana. Ia kehilangan keluarganya, kekayaannya, terlepas dari sisi apapun, kalau dilihat dari sisi humanismenya, dia lelaki seperti aku. Aku bikin karya banyak tentang Rahwana yang menikah dengan Shinta dan memiliki banyak anak. Aku selalu reinterpretasi terhadap pakem. Awalnya dicemooh, dikritik macam-macam, tapi aku tak peduli, karyaku sendiri kok,&#8221;ujar Eko yang secara khusus mempersembahkan &#8220;Daub&#8221; ketika meminang istrinya. Katanya ketika itu, &#8220;Dik, aku ini bajingan. Sejahat-jahatnya lelaki, tapi aku mencintaimu, ingin membangun rumah tangga bersamamu dan punya anak darimu.&#8221;</p>
<p>Dalam karya itu, ia mengenakan rambut sepanjang hampir 3 meter yang menjuntai hingga di balik panggung. Dengan gerakan sangat pelan, ia maju ke depan, dan membiarkan rambutnya satu persatu berjatuhan, hingga habis sampai di depan. &#8220;Ini tafsirku terhadap masa lalu yang sudah kutinggal di belakang. Harapanku bahasa itu bisa ditafsirkan sama. Ditafsirkan ulang oleh orang-orang yang mengalami hal serupa, cinta, dan ingin mengukuhkan bahwa cinta yang abadi membutuhkan pengorbanan yang luar biasa,&#8221;kata Eko yang sebenarnya paling berkesan pada karya &#8220;Leleh&#8221; yang diinpirasikan dari lelakunya di Gunung Kemukus.</p>
<p>&#8220;Kini hidupku sudah lengkap. Aku membayangkan punya <em>dance company</em> yang solid seperti di Amerika. Terletak  di atas bukit yang dingin, antara gunung Merapi dan Merbabu, punya tempat latihan, punya pentas sendiri  dengan program-program yang mapan, mendatangkan <em>artist residency</em>, datangin dosen tamu, bikin koreografi, pentas keliling dunia dan daerah, dan belajar tari-tarian tradisional ke berbagai daerah di Indonesia. &#8220;Para penariku tinggal di situ, latihan nari setiap hari, aku gaji setiap bulan, bikin target berapa karya dalam setahun,&#8221;ujar Eko yang sebelum menikah sudah memiliki kelompok penari seperti digambarkannya itu. &#8220;Setiap kali aku<em> mood </em>menari mereka kubangunkan,&#8221;katanya tersenyum. Ia juga sering mengajak penarinya bertualang ke gunung, pantai, candi, dan berbagai tempat yang sekiranya dapat meningkatkan rasa berolah tubuh, dan menari.</p>
<p>Meski demikian, ada hal yang selalu meresahkan pikirannya. Apalagi kalau bukan mengenai kedua orang tuanya yang tak sempat merasakan kesuksesannya. Ia lalu mengenang air matanya tumpah ketika mengucap adzan di telinga anak perempuannya. &#8220;Ia mirip sekali dengan ibuku. Ini seperti reinkarnasi. Kebetulan waktu adikku melahirkan anak lelakinya, mirip sekali seperti ayahku. Ketika keduanya bergandengan tangan, aku dan adikku menangis. Mereka kembali lagi. Dan kini aku ingin membahagiakan mereka,&#8221;lanjutnya. &#8220;Aku sangat mencintai ibuku. Sangat. Bahkan ketika kuliah saja, kalau pulang ke Magelang, pasti aku ngempeng sama Ibu, nggak mau diganggu.&#8221;</p>
<p>Apakah karena anaknya yang berwajah mirip sang ibu itu lantas membuatnya lebih tegas dalam menata langkah hidupnya? &#8220;Yang pasti kini tujuan hidupku sudah pasti. Tujuannya ya terus hidup untuk menari.  Dengan menari aku bisa memberi kehidupan anakku, dan anakku bisa menari, dan aku juga akan bisa menghidupi tarianku. Jadi kalau kau tanya tentang menari. Menari adalah hidupku. Hidupku adalah tarianku.&#8221; Di Candi Sukuh, angin menerpa, seolah memberikan restu pada dirinya. <strong>(Rustika Herlambang</strong>)</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-728" title="sukuh" src="http://rustikaherlambang.wordpress.com/files/2009/02/sukuh.jpg?w=300" alt="sukuh" width="300" height="225" /></p>
<p>Busana: Stylist: Quartini Sari. Fotografer: Lokasi: Candi Sukuh, Karanganyar.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Garin Nugroho on Global Lens World Cinema Series]]></title>
<link>http://citrakarma.wordpress.com/2009/01/06/garin-nugroho-on-global-lens-world-cinema-series/</link>
<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 06:50:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>citrakarma</dc:creator>
<guid>http://citrakarma.wordpress.com/2009/01/06/garin-nugroho-on-global-lens-world-cinema-series/</guid>
<description><![CDATA[The Global Film Initiative and Virgin America, the California-based airline, are partnering to relea]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The Global Film Initiative and Virgin America, the California-based airline, are partnering to release the Initiative&#8217;s critically acclaimed traveling film series &#8212; Global Lens &#8212; now playing on Virgin America&#8217;s interactive, inflight entertainment system, RED(tm). Films from the series are now available on demand on all of Virgin America flights.</p>
<p>&#8220;Global Lens is a one-of-a-kind film series. Virgin America is a one-of-a-kind airline. Put the two together and you have an in-flight experience that has no comparison,&#8221; says Santhosh Daniel, Director of Programs at the Global Film Initiative.</p>
<p>The Global Lens series is a touring collection of dynamic feature-length films from Africa, Asia, Latin America and the Middle East that can be seen in more than 35 cities across the United States and in Canada. On Virgin America, the Global Film Initiative brings this diverse and pioneering collection to new audiences via RED(tm) &#8212; Virgin America&#8217;s touch-screen personal inflight entertainment system.</p>
<p>&#8220;Virgin America is committed to offering guests the best and most eclectic entertainment choices in the sky,&#8221; said Porter Gale, Vice President of Marketing at Virgin America. &#8220;The partnership with Global Lens allows us to offer guests an inflight film festival of independently produced films at every seatback.&#8221;</p>
<p>Virgin America has a strong commitment to the arts and youth-based programs. The airline sponsored The Talented Youth and the National Film Festival for Talented Youth, or NFFTY in Spring 2008 and also Campus MovieFest in 2008.</p>
<p>One of the film is Garin Nugroho&#8217;s Opera Ja</p>
<p class="bodyTextBlack"><strong class="bodyTextOrange">Synopsis<br />
</strong>Setyo and Siti live a peaceful life as husband and wife, selling earthenware in their village. But when Setyo is called away on business, a flirtatious butcher, Ludiro, takes advantage of Siti&#8217;s loneliness to seduce her. Tempted by song and dance, Siti initially refuses his advances but acquiesces in a moment of weakness, setting the stage for an epic battle between the two men. Located in lush forests and on pristine beaches of Java, director Garin Nugroho bases his deeply imagistic and dazzling visual narrative on the “The Abduction of Sita,” from the Hindu epic, <em>The Ramayana</em>.</p>
<p class="bodyTextBlack"><strong class="bodyTextOrange">About the Director<br />
</strong>Garin Nugroho was born in Yogyakarta, Indonesia, in 1961. He studied filmmaking at the Institut Kesenian Jakarta, where he later taught filmmaking and was the Dean Assistant of Film Faculty &#38; TV. He has directed numerous award-wining documentaries, short films and music videos. He has also worked as a film critic for Indonesian newspapers, as a Media Coalition Coordinator at the 2004 election, and is currently the director of SET Film Workshop. His feature film <em>Of Love and Eggs</em> (2004) was selected for Global Lens 2007. His other previous feature films include <em>Birdman Tale</em> (2002), <em>And the Moon Dances</em> (1995), <em>Leaf on a Pillow</em> (1998), <em>Letter for an Angel </em>(1994), and <em>Love on a Slice of Bread</em> (1991). <em>Opera Jawa</em> is his seventh feature film.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[normal conversation]]></title>
<link>http://trudger.wordpress.com/2008/11/19/normal-conversation/</link>
<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 12:37:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>micahnova</dc:creator>
<guid>http://trudger.wordpress.com/2008/11/19/normal-conversation/</guid>
<description><![CDATA[normal conversation Originally uploaded by micahnova Went to a SLIFF movie after work called &#8220;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="float:right;margin-left:10px;margin-bottom:10px;">
<a href="http://www.flickr.com/photos/micahnova/3042713061/" title="photo sharing"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3162/3042713061_870d40ddd0_m.jpg" alt="" style="border:solid 2px #000000;" /></a><br />
<br />
<span style="font-size:.9em;margin-top:0;"><br />
<a href="http://www.flickr.com/photos/micahnova/3042713061/">normal conversation</a><br />
<br />
Originally uploaded by <a href="http://www.flickr.com/people/micahnova/">micahnova</a><br />
</span>
</div>
<p>Went to a SLIFF movie after work called &#8220;Opera Jawa.&#8221;  An artsy Indonesian film.  At least half the audience walked out before the film was finished, but I stayed for the whole thing and thoroughly enjoyed it.  The story was about a young couple that get married, but their fate is predicted by the priest as destined to be like the fabled Sinta and Rama (a different take on Adam and Eve, basically). The economy goes south and war breaks out. The husband is away trying to sell his earthenware while his wife is slowly being seduced by a member of the local aristocracy.  She never gives in, but is caught away upon her husband&#8217;s return for which he kills her out of jealousy in the end.  A sad ending, but the music and the visuals were stunning throughout.  The dialogue and action moved very slowly because of the pace of the music, and I think it was probably too slow and confusing for American audiences.  It still surprised me so many people walked out.  It was the St. Louis International Film Festival after-all&#8230; were they not aware?<br /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Takut Salah]]></title>
<link>http://bethanygtm.wordpress.com/2008/11/03/takut-salah/</link>
<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 00:46:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>bethanygtm</dc:creator>
<guid>http://bethanygtm.wordpress.com/2008/11/03/takut-salah/</guid>
<description><![CDATA[Senin, 3 November 2008 Bacaan : 1Yohanes 2:28-3:10 2:28. Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 12pt;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI">Senin, 3 November 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 12pt;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI">Bacaan : </span><span style="font-size:14pt;color:blue;line-height:150%;font-family:Arial;"><a title="10" href="http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2008/11/03/#SABDAweb#SABDAweb"><span style="color:blue;" lang="FI">1Yohanes 2:28-3:10</span></a></span><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;"> <span lang="FI"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI">2:28. Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI">2:29 Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI">3:1. Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. </span><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">3:4. Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">3:6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI">3:7 Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. </span><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">3:8 barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">3:9 Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI">3:10 Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 12pt;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 12pt;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI">Takut Salah</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="FI">&#8220;Ada adegan di mana aku takut salah. </span><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">Aku takut ngabisin can (gulungan film-red) apalagi kita pakai tiga kamera. Jadi, aku akting sambil mikirin harga can.&#8221; Begitu salah satu kesan Artika Sari Devi tentang pengalamannya berperan sebagai Siti dalam film Garin Nugroho, Opera Jawa. Kesadaran bahwa aktingnya tengah direkam, dan film perekamnya berharga mahal, mendorong Tika untuk tampil secara berhati-hati. Takut salah. </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV"><a href="http://bethanygtm.files.wordpress.com/2008/11/opera-jawa-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-232" title="opera-jawa-2" src="http://bethanygtm.wordpress.com/files/2008/11/opera-jawa-2.jpg" alt="" width="480" height="240" /></a></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">Seluruh hidup kita sebenarnya juga tengah &#8220;direkam&#8221;. Seperti pemain film yang akan mempertanggungjawabkan kinerjanya pada sutradara, produser, dan penonton, kelak kita juga harus mempertanggungjawabkan seluruh hidup kita di hadapan Sang Pencipta. &#8220;Film&#8221; yang dipakai untuk merekam hidup kita juga sangat mahal karena kita ditebus &#8220;bukan dengan barang yang fana &#8230; melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus&#8221; (1Petrus 1:18,19). </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">Di hadapan takhta pengadilan Allah, kita harus mempertanggungjawabkan seluruh aspek kehidupan kita: sikap, motivasi, pikiran, ucapan, dan tindakan. Kita harus mempertanggungjawabkan baik perkara-perkara yang kelihatan maupun perkara-perkara yang tersembunyi. Semuanya akan dihakimi menurut tolok ukur kebenaran dan keadilan-Nya. </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="SV">Seberapa jauh kesadaran ini berpengaruh pada cara kita menjalani hidup ini? </span><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="ES">Apakah kita tampil secara sembrono dan meremehkan darah penebusan Kristus? Ataukah kita menjalaninya dengan luapan rasa syukur karena telah ditebus dan diizinkan untuk turut mengambil bagian dalam drama kehidupan yang mulia ini? </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="ES">Kamera siap? Action! -ARS </span></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;font-family:Arial;" lang="ES">HIDUP BERTANGGUNG JAWAB ADALAH UNGKAPAN SYUKUR<span>  </span>DAN PERNGHORMATAN ATAS ANUGERAH serta KEMURAHAN ALLAH</span></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rahayu Supanggah]]></title>
<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2008/08/23/rahayu-supanggah/</link>
<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 14:19:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>rustikaherlambang</dc:creator>
<guid>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2008/08/23/rahayu-supanggah/</guid>
<description><![CDATA[Pamijen dari Solo rahayu supanggah Cinta dan benci hanyalah sebatas benang tipis…. Bila kini musik t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:18pt;" lang="EN">Pamijen</span></em><span style="font-size:18pt;" lang="EN"> dari Solo</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<div id="attachment_248" class="wp-caption alignnone" style="width: 228px"><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2008/09/rahayu1.jpg"><img class="size-medium wp-image-248" title="rahayu supanggah" src="http://rustikaherlambang.wordpress.com/files/2008/09/rahayu1.jpg?w=218" alt="rahayu supanggah" width="218" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">rahayu supanggah</p></div>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="EN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="EN"><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2008/08/img_1744.jpg"></a></span></p>
<p class="wp-caption-text" style="margin:auto 0;">
<p class="wp-caption-text" style="margin:auto 0;">
<h3><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span lang="SV">Cinta dan benci hanyalah sebatas benang tipis….</span></strong></span></span></h3>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">Bila kini musik tradisi Indonesia dikenal di seluruh dunia, ini barangkali karena perjuangan seorang seniman dari Solo, Jawa Tengah, Rahayu Supanggah. Selain telah berpentas ke lebih dari 40 negara, memberikan kuliah gamelan di Amerika dan Inggris, sejak setahun lalu dia juga membawa pulang piala kebanggaan sebagai komposer terbaik dari Festival Film Asia Pasific, Festival Film Indonesia, dan Asia Film Award melalui film garapan Garin Nugroho: Opera Jawa.</p>
<p>Rahayu lahir di Klego, sebuah daerah miskin -bahkan sampai saat ini-di wilayah Boyolali, Jawa Tengah, tepat pada saat geger pendudukan Belanda kedua (1949). Saat itu, kedua orang tuanya tengah dalam pelarian menuju tempat pengungsian. Dia sendiri masih di dalam kandungan saat ibunya berlari-lari menyelamatkan diri dari serangan yang bertubi-tubi. Berkali-kali ibunya jatuh tergulung-gulung yang menyebabkan dia lahir dalam kondisi darurat. Atas dasar itulah dia dinamakan Panggah Rahayu, yang artinya tetap selamat.<!--more--></p>
<p>Ayahnya seorang dalang wayang kulit yang sangat sosialis, sementara ibunya pemain gender (salah satu instrumen musik dalam gamelan). Semasa hidupnya, sang ayah mengasuh sekitar 30 orang di rumahnya. Mereka adalah para penabuh gamelan dan orang-orang dari berbagai wilayah di Indonesia yang ingin sekadar belajar mendalang ataupun gamelan. Meski anak tunggal &#8211; tampaknya karena trauma kelahirannya-Rahayu tidak pernah dimanjakan. Ia diperlakukan sama seperti anak asuh yang lain.</p>
<p>Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya sang ayah membiayai seluruh kehidupan keluarga besar itu hanya dengan mengandalkan pekerjaan utama sebagai dalang. Maka bisa segera dimaklumi bila ayahnya segera memasukkannya ke Konservatori Karawitan Indonesia, sebuah sekolah setingkat SMU yang berbiaya paling rendah karena mendapat subsidi dari pemerintah. Sedihnya, alasan yang diberikan buk-an untuk melanjutkan tradisi gamelan yang sudah beranak pinak dalam keluarga, melainkan kemiskinan yang menjerat. &#8220;Ayah menginginkan kelak saya menjadi pegawai negeri,&#8221;tukas Rahayu.</p>
<p>Pilihan ini jelas mematikan keinginannya menjadi seorang insinyur bangunan. Ia begitu patah semangat. Keliaran polah menjadi pelarian. &#8220;Setiap hari, saya dipanggil kepala sekolah karena ulah saya. Saking bandelnya, saya dianggap ikon anak kurang ajar waktu itu,&#8221;ucapnya mengenang masa-masa ketika ia sangat membenci gamelan.</p>
<p>Waktu itu tahun 1964. Guru dan murid-murid senior di sekolahnya kalang kabut mempersiapkan pertunjukan repertoar Kraton untuk pertama kalinya pada acara pembukaan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). Rahayu yang masih yunior hanya melihatnya dari jauh, sembari bertanya-tanya, mengapa mereka begitu sulit memainkannya. Padahal di matanya, repertoar itu begitu mudah. Maklum saja, dia dibesarkan dalam tradisi gamelan. Hingga suatu kali, ia diminta untuk menjadi pemain pengganti karena salah seorang pemain inti tidak bisa hadir. Siapa sangka ketidaksengajaan ini menjadi pintu pembuka masa depannya?</p>
<p>Saat pementasan berakhir, Rahayu yang akhirnya menjadi pemain inti, ditunjuk oleh Priyono, Menteri Kebudayaan yang meresmikan ASKI waktu itu. &#8220;Kamu harus ikut ke Jepang!,&#8221; ia mengenang sebuah momen terpenting dalam hidupnya. Kebenciannya selama ini pada gamelan tiba-tiba mencairkan kecintaan yang luar biasa. Bagaimana mungkin sesuatu yang baginya sangat sederhana itu justru menjadi daya pikat bagi orang lain. Pementasan di luar negeri jelas merupakan satu kemewahan tak terkirakan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarganya, ia berkeliling dunia melakukan misi kebudayaaan. Iapun lantas meneruskan pendidikannya di ASKI dan University de Paris VII, Perancis.</p>
<p>Kini ia tak lagi hanya menguasai gamelan Jawa, Bali, Makasar, tapi juga memahami musik tradisional Jepang maupun Perancis. Persentuhannya dengan berbagai musisi dan musik tradisi itu kian memperluas wawasan berpikir dan bermusiknya. Hingga dia menyadari satu hal mendasar bahwa musik tradisi bukanlah sebuah harga mati. &#8220;Bila tradisi tetap statis, dia akan ditinggalkan masyarakatnya. Dari jalur itulah, saya punya keyakinan bahwa musik tradisi punya kekuatan yang luar biasa. Ibarat mutiara, dia belum digosok,&#8221; tukasnya.</p>
<p>Keunikan Rahayu barangkali karena sudut pandang yang dipilih, &#8220;Saya mengambil sudut pandang timur melihat ke timur. Bukan barat ke timur atau sebaliknya, karena saya pasti sudah ketinggalan ratusan tahun.&#8221; Keyakinan itu terbukti. Apa yang ditekuninya secara serius sejak 1967 kini menjadi buruan orang-orang terbaik di dunia. Ia menyebut nama sutradara besar Peter Brook, Ong Keng Sen, Warner Kaegi, Robert Wilson yang pernah berkolaborasi dengannya.</p>
<p>Apakah dengan ini dia lantas melanggar pakem saat melakukan sebuah terobosan? &#8220;Tergantung apa dan siapa yang menyentuhnya. Di dalam gamelan dikenal istilah pamijen, yakni sesuatu yang menyimpang, yang seje (berbeda), unik, tapi sebenarnya yang berkuasa dalam sebuah orkestrasi,&#8221;jelasnya. Bila pamijen dilakukan oleh orang yang memiliki tradisi musik kuat, tidak akan ada protes dari masyarakat pemiliknya. Dalam hal ini, tentu Rahayu sangat menguasainya. Tanpa bermaksud sombong, dia berkata,&#8221; Sejak tahun 65-70an, saya sudah dianggap seniman paling top di Jawa.&#8221;</p>
<p>Dan begitulah..ia terus berkembang dan berkarya, membuat pamijen-pamijen baru. Boleh dibilang ia tak pernah mengalami pasang surut kehidupan seperti dialami banyak seniman tradisi di Indonesia. Yang ada justru kewalahan menghadapi berbagai order dari berbagai negeri. Bukan soal materi yang membuat ia merasa tertantang, melainkan kolaborasi dengan orang-orang yang dikagumi. &#8220;Moga-moga, saya jadi pentas bareng dengan Cronos ya..,&#8221;ia menyebutkan kuartet terhebat dunia asal Yunani itu. Rahayu pulalah yang menjadi direktur musik pergelaran La Galigo.</p>
<p>Hingga kini, Rahayu masih rutin mengajar gamelan di Amerika dan Inggris, selain di paska sarjana STSI. Ia juga masih sering berkelana ke berbagai negara seperti Belanda, Perancis, Australia, apakah sebagai pembicara, pengajar gamelan, atau sebagai dosen tamu. Pergaulannya yang kosmopolit tidak sedikitpun memengaruhi gaya hidupnya. Ia menikmati kehidupannya dengan suasana pedesaan yang asri di pinggiran kota, tak jauh dari Bengawan Solo, merasakan serabi Solo yang rasanya enak sekali, sembari menciptakan repertoar musik.</p>
<p>&#8220;Dulu Sardono (W. Kusumo) pernah mengatakan pada saya, kalau mau sukses saya harus pindah ke Jakarta. Ketika itu TIM (Taman Ismail Marzuki) baru saja dibuka, tapi saya menolak. Kalau saya pindah, lalu Solo siapa yang jaga?,&#8221;ia mengenang, lalu tertawa. Sebenarnya alasan terbesarnya adalah rasa tak percaya diri yang menguasai. &#8220;Saya bukan orang yang gigih untuk bersaing. Bergaulpun bagi saya tidak mudah waktu itu.&#8221; Kini tentu masalah itu sudah tak ada lagi, apalagi Rahayu memiliki kemampuan bahasa Inggris, Perancis, Spanyol dan Belanda secara aktif.</p>
<p>Bagi Rahayu, musik adalah sebuah perangkat budaya, bukan semata estetika. Ia adalah filosofi kehidupan. Seperti gamelan yang harus dimainkan secara kolektif. &#8221; Untuk menjaga harmoninya, masing-masing pemain harus mendengarkan orang lain,&#8221;ia memberikan contoh. Kelak filosofi mendengarkan orang lain inilah yang menjadi salah satu kesuksesan Rahayu dalam melakukan kolaborasi dengan musisi lain.</p>
<p>&#8220;Saya belajar musik pada akhirnya adalah meresapi jiwanya bukan fisiknya,&#8221; tuturnya. Karena itu saat melakukan kolaborasi dengan musik lain, dia harus menemukan dua jiwa yang sama untuk disandingkan. &#8220;Tidak bisa dicampurkan begitu saja. Ini artinya ada pemerkosaan, ada yang terluka. Dalam kolaborasi harus disertai semangat saling menghargai.&#8221; Untuk mencapai kesamaan ini, tak jarang dia menghadirkan seorang profesor dari universitas Berkeley, Amerika Serikat. &#8220;Maka itu, prosesnya tidak bisa cepat. Bisa dua tahun hanya untuk satu pertunjukan kolaborasi hingga mendapatkan ruhnya.&#8221;</p>
<p>Hingga tahun depan, agendanya sudah dipenuhi oleh pertunjukan di berbagai negeri: Zurich, Malaysia, London, dan Paris. Kebanggaan mewarnai wajahnya. &#8220;Dari dulu, cita-cita saya hanya satu. Mengangkat seni tradisi kita ke level dunia,&#8221;tukasnya. &#8220;Tapi kenyataannya, saya bisa memetik hasil dari seni tradisi: satu hal yang selama ini tak pernah dianggap orang. Kini saya bisa keliling dunia. Punya banyak teman dimana-mana. Inilah satu-satunya kemewahan yang luar biasa bagi saya.&#8221; <strong>(Rustika Herlambang)</strong></p>
<p>Stylist: Quartini Sari</p>
<p>Busana: Deden Siswanto</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="EN"></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Informasi film : 3 hari untuk selamanya dan ...]]></title>
<link>http://jarwadi.wordpress.com/2008/05/15/informasi-film-3-hari-untuk-selamanya-dan/</link>
<pubDate>Thu, 15 May 2008 05:00:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>jarwadi</dc:creator>
<guid>http://jarwadi.wordpress.com/2008/05/15/informasi-film-3-hari-untuk-selamanya-dan/</guid>
<description><![CDATA[Siapa yang bisa membantu saya untuk mendapatkan Film berikut : Tiga Hari Untuk Selamanya dan Opera J]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Siapa yang bisa membantu saya untuk mendapatkan Film berikut :</p>
<blockquote><p><strong>Tiga Hari Untuk Selamanya</strong></p>
<p>dan</p>
<p><strong>Opera Jawa</strong></p></blockquote>
<p>Saya telah berusaha mencari di beberapa Toko, Juga rental VCD di Jogja, but so far hasilnya masih nihil. Mungkin ada yang punya dan memperkenankan saya untuk meminjam, atau ada yang bisa memberi tahu saya toko mana yang jual? Atau link download nya?</p>
<p>Terimakasih</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
