<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>orangtua &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/orangtua/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "orangtua"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 06:13:25 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[MENGHIDUPKAN TUGAS   ]]></title>
<link>http://smartlearner.wordpress.com/2010/02/08/menghidupkan-tugas/</link>
<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 05:05:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>smartlearner</dc:creator>
<guid>http://smartlearner.wordpress.com/2010/02/08/menghidupkan-tugas/</guid>
<description><![CDATA[beberapa tulisan dibawah ini merupakan salah satu cara untuk membuat siswa senang mengerjakan tugas ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>beberapa tulisan dibawah ini merupakan salah satu cara untuk membuat siswa senang mengerjakan tugas dari gurunya, atau bisa untuk para orangtua kepada anaknya.</p>
<p>Kepada            : lufamaya</p>
<p>Dari                  : <a href="mailto:piring@bakcuci.com">piring@bakcuci.com</a></p>
<p>Hai maya. Aku sebuah piring. Ada makanan menempel di tubuhku dan baunya&#8230;&#8230;.ihh!  aku tahu dari catatan yang ditempel di kulkas bahwa kau mestinya mencuci aku dan teman-temanku setelah makan malam. Tapi kau belum melakukannya. Dan kami sudah mulai berkerak. Kami akan  lebih sulit dibersihkan, dan semakin tidak bahagia. Mohon segera temui kami. Eh bunyi apa itu? Ya ampun gelas. Susu di dalamnya mulai mengental.spon darurat!  Aku harus pergi . Datanglah cepat-situasi semakin gawat jangan ngechat <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> (</p>
<p>Inbox   : jins_Y</p>
<p>Halo? Haloo? Halo sinta? Ani aku, jins kamu. Kutinggalkan pesan sms ini karena aku ingin kau tahu bahwa aku merasa sedih. Sedih karena aku measa kau tak memperhatikan  aku dan teman-temanku. Kami adalh baju-baju dan celanamu. Kami telah terpuruk di sini selama dua hari ini. Kami merasa tak nyaman. Kepanasan, kedinginan. Sebagian dari kami ingin berada di lemari sebagina lagi ingin digantung. Otot-otot kami menjadi kram tak karuan. Aku terpilih mewakili  yang lain untuk memintamu lebih merawat kamibkami juga merawatmu? Terima kasih dan semoga kau bahagia hari ini.</p>
<p>Tuisan diatas saya kutipkan dari Maurice, et.al, 2002. Cara-cara Efektif  Mengasuh Anak Dengan EQ. Bandung: Kaifa</p>
<p>Cara lain untuk siswa di sekolah menurut saya bisa juga kita  buat demikian, misal:</p>
<p>Dari                  : <a href="mailto:mawar@tamanindah.co.cc">mawar@tamanindah.co.cc</a></p>
<p>Kepada            : Yes muslim_seger <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Halo iYes ini aku mawar. Saat ini aku sudah mulai layu. Engkau tak memberikan nutrisi pertumbuhan untukku. Jangankan hormon pertumbuhan giberelin atau auksin bahkan pupuk biasa pun engkau tak memberikannya padaku. Kamu tahu tidak, yang paling vital bagiku adalah air. Sekarang aku sangat kehausan, air sangat penting bagiku. Udara sangat panas menyengat, cahaya mataharipun sudah membakarku rasa-rasanya. Udara sekarang sudah tak lembab, ada pemanasan global dan polusi semakin meningkat. Memang  aku tak mungkin tumbuh membesar karena tak berkambium. Tapi engkaukan baik hati. Cepat ya, jangan sampai terlambat. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bagaimana? Berkaitan dengan contoh saya ambil yang biologi. Contoh lain untuk menjelaskan bagian sel saraf bisa menggunakan cara ini bagi saya:</p>
<p>From <a href="mailto:dendrit@badanakson.co.id">dendrit@badanakson.co.id</a> mailing list to <a href="mailto:nodus_ranvier@neurit.co.id">nodus_ranvier@neurit.co.id</a> with friend (sel schwann and myelin) to synapsis</p>
<p>Untuk yang berkaitan dengan unsur-unsur materi pembelajarannya bisa diberi warna atau garis bawah, yah sekreativ anda membuatnya. Sepertinya  jaman teknologi ini perlu dieksplorasi sebaik-baiknya. Selamat berkreasi . <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Renungan Pagi]]></title>
<link>http://agungbrahma.wordpress.com/2010/02/04/renungan-pagi/</link>
<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 02:44:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Agung</dc:creator>
<guid>http://agungbrahma.wordpress.com/2010/02/04/renungan-pagi/</guid>
<description><![CDATA[&#8230; Untuk seorang anak dan orangtua yang memahami fitrahnya sebagai mahluk ALLOH Seorang ayah in]]></description>
<content:encoded><![CDATA[&#8230; Untuk seorang anak dan orangtua yang memahami fitrahnya sebagai mahluk ALLOH Seorang ayah in]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ayah Terhebat Sedunia]]></title>
<link>http://majalahmeditao.com/2010/01/26/ayah-terhebat-sedunia/</link>
<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 15:36:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>meditao</dc:creator>
<guid>http://majalahmeditao.com/2010/01/26/ayah-terhebat-sedunia/</guid>
<description><![CDATA[Sejak kecil aku adalah anak penakut dan cengeng. Saat beranjak dewasa, sifat penakutku mulai luntur ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify">
<img src="http://meditaoweb.files.wordpress.com/2010/01/ayahku.jpg?w=103&#038;h=150" alt="" title="ayahku" width="103" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-239" />
<p align="justify">
<p>Sejak kecil aku adalah anak penakut dan cengeng. Saat beranjak dewasa, sifat penakutku mulai luntur digantikan oleh sifat pembangkang, ditempa oleh lingkungan yang keras. Yang paling direpotkan oleh sifat-sifat burukku sejak dulu adalah orang-orang di sekitarku. Saat aku mulai masuk SD, setiap hari ayahku yang menjadi korban, karena aku hanya mau ke sekolah jika ayah yang mengantar.<br />
<!--more &#62;&#62; baca selanjutnya -->
</p>
<p align="justify">
<br />
Hari pertama masuk sekolah aku mengamuk tak mau ditinggal pergi. Ayah tak mungkin ikut duduk menungguiku di dalam kelas, maka dia terpaksa berdiri menunggu di luar. Ibu guruku memberi kebijaksanaan dengan memperbolehkan orangtua melongok di balik jendela. Jadilah ayahku seperti lukisan pahlawan di dinding, dengan bingkai jendela. Wajah ayah terbingkai dengan indah di samping lukisan Pangeran Diponegoro. Setiap saat harus seperti itu, wajah ayah tak boleh bergeser dan menghilang dari jendela. Bila aku menengok dan ayah tak ada, maka bisa dipastikan seluruh kelas tak bisa belajar, karena aku akan menangis meraung-raung memanggil ayah.
</p>
<p align="justify">
Situasi tak menguntungkan itu terus berlangsung hingga dua minggu bersekolah. Bu Kus, ibu guruku yang bijaksana, sudah berusaha membujukku hingga hilang akal. Aku akan menangis hingga mengompol jika wajah ayahku tak nampak di jendela. Bu Kus nampak senewen saat melihat ingus dan ompolku berlomba saling mendahului. Teman-temanku hanya tertawa terkikik-kikik dan menirukan bunyi sirene ambulans.
</p>
<p align="justify">
Pernah ayah tak tahan ingin pipis dan memutuskan kabur ke kamar mandi saat aku sedang menatap papan tulis. Aku <em>shock</em> setengah mati saat wajah ayah tak nampak di samping lukisan Pangeran Diponegoro. Aku mengamuk dan berlari hendak membuka pintu kelas. Saat pintu tak bisa kubuka, aku menendangnya sekuat tenaga. Aku berteriak histeris memanggil ayah, hingga bergema ke seantero sekolah (Sejak itu suaraku jadi tersohor, saat kelas lima SD aku dijadikan komandan upacara perempuan yang pertama di sekolahku).
</p>
<p align="justify">
Ayah yang sedang kencing pun mendengar teriakan putus asaku dan berlari ke arah pos jaganya semula di depan jendela. Saking terburu-burunya, ayah lupa menarik ritsleting celananya. Sejak itu ayah kapok dan berusaha agar aku bisa ditinggal saat jam pelajaran. Gara-gara menungguiku, beliau selalu kesiangan sampai ke tempat kerjanya. Beliau juga sudah risih menjadi bahan rumpian dan towelan ibu teman-temanku yang kesengsem dengan wajah tampannya.
</p>
<p align="justify">
Ayah berusaha memberi pengertian agar aku lebih mandiri dan tidak cengeng. Beliau terus membujuk dan berjanji akan memberikan hadiah jika aku bertingkah laku manis.  Aku tak terpikat dengan iming-iming hadiah, bagiku tak ada yang lebih menenangkan dan memberi rasa aman selain wajah ayah di jendela. Aku jadi parno dan tak bisa berkonsentrasi terhadap pelajaran karena terus-menerus melirik jendela hingga leherku pegal dan mataku buram.
</p>
<p align="justify">
Dengan berat hati ayah menyaksikan aku dihukum berdiri di depan kelas karena tak kunjung bisa menghafal abjad apalagi mengeja. Bagiku semua terasa blur dan tak berarti, kecuali kehadiran ayah. Ayah hanya bisa menatapku dengan tatapan bingung dan iba, saat aku dan Budi temanku asyik mencoreng muka masing-masing dengan kapur tulis di depan kelas. Kami berdua nampak senang-senang saja walau tengah dihukum. Mukaku putih penuh coretan kapur.
</p>
<p align="justify">
Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu ayah agar putri kecilnya mandiri pun tiba. Suatu hari aku melihat ayah pulang dengan membawa banyak buku. Ada yang sampulnya berwarna-warni seperti pelangi, indah sekali. Ayah lalu membacakannya untukku.  Ayah hanya membacakan setengah dari isi buku itu. Aku harus membaca sendiri sisanya. Bagaimana mau membacanya, abjad saja aku lupa-lupa ingat! Aku tak pernah peduli apa yang diteriakkan Bu Kus setiap hari di sekolah. Aku cuma ingin bermain dan berjalan-jalan bersama ayah, aku tak mau peduli yang lainnya.
</p>
<p align="justify">
Tapi karena penasaran dengan kelanjutan cerita dari buku itu, aku mulai berusaha keras memeras otakku yang tak pernah mau pusing. Segala macam kertas yang terlihat ada tulisannya kueja keras-keras, dibantu oleh ayah. Dari penyedap masakan  a-je-i- ji, aji … en-o-no, em-o –mo, te-o-to, nomoto… Ajinomoto, hingga merk pembalut yang dipakai kakak, semua kueja dengan bersemangat. Aku juga berusaha agar bisa membaca lebih cepat.
</p>
<p><img src="http://meditaoweb.files.wordpress.com/2010/01/ayahterhebatdidunia.jpg?w=150&#038;h=90" alt="" title="ayahterhebatdidunia" width="150" height="90" class="alignright size-thumbnail wp-image-238" /></p>
<p align="justify">
Pernah saat pulang dari rumah teman dan terlalu lama membaca tulisan di depan sebuah rumah yang pagarnya terbuka, aku digonggongi dan nyaris digigit anjing. Ternyata tulisannya :  awas anjing galak! Aku lari terbirit-birit dikejar si anjing hingga yang empunya rumah memanggil dan memarahi anjingnya.
</p>
<p align="justify">
Ayah tertawa saat aku pulang dengan muka merah dan keringat bercucuran karena dikejar anjing. Beliau lalu menceramahiku agar rajin belajar membaca. Setiap aku selesai belajar, beliau memberiku permen berwarna-warni buatannya sendiri. Karena bekerja di pabrik permen, ayah pandai membuat permen sendiri. Beliau melarang kami membeli permen di warung, katanya tak sehat. Aku tambah bersemangat belajar membaca sambil sibuk mengulum permen.
</p>
<p align="justify">
Ternyata aku yang lemot bisa lancar membaca lebih cepat dari teman-teman sekelasku. Saking asyiknya membaca buku-buku  pelajaran ataupun pamer mengajari teman-temanku yang belum lancar membaca, aku jadi tak terlalu berkonsentrasi ke arah jendela lagi. Ayah bisa pulang setelah mengantarku sekolah tanpa ada insiden raungan sirene keluar dari tenggorokanku.
</p>
<p align="justify">
Ayah adalah motivator hingga aku bisa dan suka membaca. Beliau lebih sering membelikanku buku, bukannya baju. Setelah ayah tiada aku sering pulang sambil menangis saat melihat teman-temanku  digandeng ayah mereka saat hari pengambilan rapor.  Untukku ayah tak pernah tergantikan, walau aku sering berkelana mencari ayah baru untukku dan ibuku. Aku punya banyak perbandingan, tapi tak pernah ingin membandingkan. Walau memiliki banyak kekurangan, ayahku yang terbaik. Ayahku adalah ayah terhebat sedunia. <em>(Gs/kolomkita.detik.com)</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ISU PENJUALAN ORGAN, HARUS DITELUSURI ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2010/01/26/isu-penjualan-organ-harus-ditelusuri/</link>
<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 01:38:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2010/01/26/isu-penjualan-organ-harus-ditelusuri/</guid>
<description><![CDATA[Penculikan bayi di fasilitas kesehatan dan kasus anak hilang kerap diikuti isu yang mengaitkan pencu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://hagemman.files.wordpress.com/2010/01/1-isu-penjualan-organ.jpeg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-4114" title="1 isu penjualan organ ..." src="http://hagemman.files.wordpress.com/2010/01/1-isu-penjualan-organ.jpeg?w=150&#038;h=128" alt="" width="150" height="128" /></a>Penculikan bayi di fasilitas kesehatan dan kasus anak hilang kerap diikuti isu yang mengaitkan penculikan dengan dugaan perdagangan organ tubuh, seperti bginjal, kornea mata, hati, dan jantung. Isu seperti itu masih perlu ditelusuri lagi kebenarannya.</p>
<p>Kasus penculikan anak di rumah sakit akhir-akhir ini menjadi sorotan lagi. Kasus terbaru terjadi di Puskesmas Kembangan, Jakarta. Diduga ada sindikat internasional yang mengincar organ untuk diperdagangkan. Rumah persalinan diduga menjadi lokasi baru penculikan anak.</p>
<p>Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengungkapkan, seorang bocah Indonesia diketahui saat ini berada di Tokyo, Jepang. Dia kehilangan satu ginjal dan memiliki luka bedah di pinggang. Bocah perempuan itu sekarang dirawat keluarga Indonesia di Tokyo (Kompas, 13/1).</p>
<p>Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia Marius Widjajarta, Selasa (19/1), mengatakan, dugaan organ diambil dari anak-anak yang diculik masih perlu penelusuran fakta dan penyelidikan lebih lanjut. Dia belum pernah menerima laporan sejenis. Namun, terbuka kemungkinan terjadi hal demikian secara ilegal. Terlebih lagi di tengah tidak tegasnya penegakan  aturan dan sulitnya pengawasan.</p>
<p>Yayasan pernah sekali menangani kasus dugaan pencurian ginjal remaja berusia 17 tahun sekitar lima tahun lalu. Anak itu mengalami kecelakaan lalu lintas di Jakarta. Saat kondisinya kritis, dia dibawa ke salah satu rumah sakit cukup besar dan dioperai.</p>
<p>“Keluarga yang mencarri anak itu menemukannya sudah di ruang perawatan intensif (ICU) dengan ginjal tersisa satu,” ujarnya. Pihak rumah sakit dan dokter mengatakan, ginjal diambil karna mengalami ruptur atau pecah. Orangtua kemudian menuntut ginjal yang rusak itu diperlihatkan, tetapi pihak rumah sakit tidak bisa memenuhi.</p>
<p>Pihak rumah sakit mengakui dokter lalai karena tidak menunjukkan ginjal yang diambil pascaoperasi. Kasus tersebut, menurut Marius, berlanjut ke pengadilan dan keluarga menuntut rumah sakit Rp 6 miliar.</p>
<p><!--more-->Marius mengatakan, soal jual-beli dan cangkok organ sudah jadi perbincangan lama. Menurut dia, pemerintah harus tegas menegakkan aturan pencangkokan organ, larangan jual-belo organ, serta kejelasan asal-usul organ yang dicangkokan. Ketidaktegasan dan lemahnya pengawasan membuka celah bagi oknum untuk menangguk keuntungan.</p>
<p>Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, mengatakan, isu yang berkembang tentang kemungkinan penjualan organ tubuh dari kasus-kasus penculikan atau anak hilang itu perlu ditelusuri lebih lanjut karena hal itu membuat orangtua khawatir.</p>
<p>Terkait kasus penculikan bayi di rumah sakit dan puskesmas, Tulus mengatakan, rumah sakit harus bertanggungjawab secara institusional. YLKI tidak pernah menerima laporan soal penculikan anak.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Isu Penjualan Organ Masih Perlu Ditelusuri – Kompas, 20.01.2010</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shi Shang Zhi You Mama Hao]]></title>
<link>http://majalahmeditao.com/2010/01/23/shi-shang-zhi-you-mama-hao/</link>
<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 00:55:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>meditao</dc:creator>
<guid>http://majalahmeditao.com/2010/01/23/shi-shang-zhi-you-mama-hao/</guid>
<description><![CDATA[Cintailah mama kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri&#8230;. Alkisah, ada sepasang kekas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify">
<img src="http://meditaoweb.files.wordpress.com/2010/01/mother.jpg?w=113&#038;h=150" alt="" title="mother" width="113" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-166" />Cintailah mama kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri&#8230;.
</p>
<p align="justify">
Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut, sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati. <!--more &#62;&#62; baca selanjutnya -->
</p>
<p align="justify">
Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tersebut. Sebagai orang yang terpandang di kota tersebut, latar belakang wanita tersebut akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.
</p>
<p align="justify">
Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tersebut bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di jaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).
</p>
<p align="justify">
Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orangtuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tersebut, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.
</p>
<p align="justify">
Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Ketika saatnya tiba, sang orangtua mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.
</p>
<p align="justify">
Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tersebut untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang-orang tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan-lahan.
</p>
<p align="justify">
Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tersebut meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tersebut dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.
</p>
<p align="justify">
Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tersebut. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit.
</p>
<p align="justify">
Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tersebut untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orangtuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua,” kata sang ibu.
</p>
<p align="justify">
Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan-penolakan akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.
</p>
<p align="justify">
Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita yang malang tersebut tampak tidak punya pilihan lain. Sang wanita segera meninggalkan kota itu sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Di sana ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.
</p>
<p align="justify">
Detik&#8230; menit&#8230; jam&#8230; hari&#8230; minggu&#8230; tahun&#8230;. Tak terasa tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki-laki. Sang ibu bekerja keras siang dan malam untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari ia bekerja di sebuah industri rumah tangga. Pada malam hari ia mencuci pakaian-pakaian tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat.
</p>
<p align="justify">
Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Pada suatu hari di usia tiga tahun sang anak tiba-tiba sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tersebut harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tersebut akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapa saja yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.
</p>
<p align="justify">
Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tersebut terdiri dari obat-obatan herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat-obat herbal tersebut, ia tidak punya uang sepeser pun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.
</p>
<p align="justify">
Di rumah sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tersebut telah menolak permintaannya untuk membayar di akhir bulan saat gajian. Di antara tangisannya, ia tiba-tiba mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekat mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat.
</p>
<p align="justify">
Hujan lebat turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu.
</p>
<p align="justify">
Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama-sama menyanyikan lagu “Shi Shang Zhi You Mama Hao” (terjemahannya: “Di Dunia ini hanya ibu seorang yang baik”).
</p>
<p align="justify">
Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari-hari mereka lewatkan dengan kebersamaan dan penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya agar ia bisa membantu ibunya mencuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih mencuci di malam hari karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.
</p>
<p align="justify">
Sang anak juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan yang sangat didambakan oleh ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu biaya.
</p>
<p align="justify">
Sang anak segera pergi ke toko tersebut, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tersebut karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya,” kata sang anak dengan serius.
</p>
<p align="justify">
Ternyata bulan depan sang anak benar-benar muncul untuk membeli jam tangan tersebut. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main-main. Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya, “Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan?”.
</p>
<p align="justify">
“Saya tidak mencuri, Kek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah,” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tersebut.
</p>
<p align="justify">
Seperti biasa sang ibu pulang kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu dan menyerahkan jam tangan tersebut. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba-tiba tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tersebut. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.
</p>
<p align="justify">
“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya berkali-kali tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.
</p>
<p align="justify">
Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya demi kebaikan anaknya. Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tersebut heran dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. “Ia sebenarnya anak yang baik,” kata salah satu tetangganya.
</p>
<p align="justify">
Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangga yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenali anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba-tiba sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.
</p>
<p align="justify">
“Nak, ketahuilah&#8230; anak yang baik tidak boleh berbohong dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya.” Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Kemudian kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba-tiba muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tersebut, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.
</p>
<p align="justify">
Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tersebut, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu.”Maafkan saya, Nak.” “Tidak Bu, saya yang bersalah.”
</p>
<p align="justify">
Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak mempunyai anak. Sang orangtua sangat sedih akan hal ini karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak. Ketika sang ibu dan anaknya berjalan-jalan ke kota, dalam sebuah kesempatan mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.
</p>
<p align="justify">
Berita ini segera diketahui oleh orangtua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.
</p>
<p align="justify">
Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak membaik dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.
</p>
<p align="justify">
Karena itu di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota, bermain-main di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu “Shi Shang Zhi You Mama Hao”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak. Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya karena ia hanya ingin dengan ibu.
</p>
<p align="justify">
“Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak,” kata ibu.
</p>
<p align="justify">
“Tidak apa-apa Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama-sama dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu,” kata sang anak.
</p>
<p align="justify">
Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.
</p>
<p align="justify">
Di sana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta-ronta ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu,” teriak sang anak dengan nada yang polos.
</p>
<p align="justify">
Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata, “Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek, dan nenek akan bermain bersamamu.”
</p>
<p align="justify">
“Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi,” sang anak mulai menangis.
</p>
<p align="justify">
Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tersebut tidak didengarkan anak kecil tersebut. Sang anak menangis tersedu-sedu, “Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu.”
</p>
<p align="justify">
Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan, “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah di sini.” Ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tersebut. Tampak anaknya meronta-ronta dengan ledakan tangis yang memilukan.
</p>
<p align="justify">
Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Di antara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu-satunyanya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.
</p>
<p align="justify">
Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga.
</p>
<p align="justify">
Setahun berlalu&#8230;. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.
</p>
<p align="justify">
Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Pada hari tersebut, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.
</p>
<p align="justify">
Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tersebut menangis, “Ibu benar-benar tidak menginginkan saya lagi.”
</p>
<p align="justify">
Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari tiga jam. Guru sekolah mengatakan semua anak sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar. Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.
</p>
<p align="justify">
Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah.  Segera sang ayah dan sang ibu naik mobil menuju rumah tersebut. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan-tulisan imut anaknya dalam surat itu.
</p>
<p align="justify">
Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tersebut, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu berdoa sambil menangis, memohon agar bisa menemukan anaknya.
</p>
<p align="justify">
Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba-tiba ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kelenteng di desa tersebut. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada dewa-dewi yang welas asih. Dewa-dewi pasti akan menolongmu jika niat kamu baik. Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kelenteng tersebut untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.
</p>
<p align="justify">
Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan dan demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga dan berguling-guling jatuh ke bawah.
</p>
<p align="justify">
Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya ke mana-mana, tetapi hasilnya nihil.
</p>
<p align="justify">
Siang itu sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tersebut terlihat kumuh dan memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal dan tampak berkomat-kamit. Di dorong oleh rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Sang pengemis tua mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah “Di manakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?”
</p>
<p align="justify">
Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu “Shi Shang Zhi You Mama Hao” dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tersebut saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya, Ibu&#8230;.”
</p>
<p align="justify">
Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba-raba muka sang anak, lalu bertanya, “Apakah kamu (nama anak itu)?”
</p>
<p align="justify">
“Benar bu, saya adalah anak ibu.” Keduanya berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi.
</p>
<p align="justify">
Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila.
</p>
<p align="justify">
<strong>Renungkanlah:</strong><br />
Dalam kondisi kritis, ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya. Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda ataupun di saat Ibu sudah tua:</p>
<ol>
<li>Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tian, ambillah aku sebagai gantinya.
</li>
<li>
Aku sudah tua, oh Tian, ambillah aku sebagai gantinya.
</li>
</ol>
<p align="justify">
Di antara orang-orang di sekelilingmu, yang kamu kenal, saudara/i kandungmu, di antara lebih dari 6 milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untukmu, kapan pun, di mana pun, dengan cara apapun&#8230;? Tidak diragukan lagi&#8230; ibu kita adalah orang yang paling mulia di dunia ini.
</p>
<p align="justify">
Bila kamu beruntung (ibumu masih ada di dunia ini), ajaklah ia untuk keluar makan atau jalan-jalan hari ini juga. Jangan ditunda-tunda. Bila ibumu tinggal di tempat yang terpisah jauh denganmu, teleponlah dia saat ini juga, just to say “hello”. Catatlah hari ulang tahunnya, rayakan, dan bahagiakanlah dia semampumu. Hidangkan makanan favoritnya, dan seterusnya.
</p>
<p align="justify">
Mom, my beloved. I love you Mom forever in my deep heart. I always missing you Mom&#8230;. <em>(Gs/sumber: email, edited by meditao)</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yu Yuan Gadis Kecil Berhati Malaikat]]></title>
<link>http://majalahmeditao.com/2010/01/22/yu-yuan-gadis-kecil-berhati-malaikat/</link>
<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 04:18:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>meditao</dc:creator>
<guid>http://majalahmeditao.com/2010/01/22/yu-yuan-gadis-kecil-berhati-malaikat/</guid>
<description><![CDATA[True Story !!! Yu Yuan gadis kecil berhati malaikat, yang berjuang hidup dari leukimia ganas, setela]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify">
<img src="http://meditaoweb.files.wordpress.com/2010/01/yuyuan.jpg?w=150&#038;h=116" alt="" title="yuyuan" width="150" height="116" class="alignleft size-thumbnail wp-image-159" /><br />
True Story !!! Yu Yuan gadis kecil berhati malaikat, yang berjuang hidup dari leukimia ganas, setelah merasa tidak dapat disembuhkan lagi, ia rela melepaskan segala-galanya dan menyumbang untuk anak-anak lain yang masih punya harapan. <!--more &#62;&#62; baca selanjutnya -->
</p>
<p align="justify">
Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut. Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Tionghua di seluruh dunia. Dana tersebut dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian.
</p>
<p align="justify">
Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orangtua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tanggal 20 bulan 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, &#8220;20 November jam 12&#8243;.
</p>
<p align="justify">
Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yuan.
</p>
<p align="justify">
Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Karena itu, dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi, anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Di tengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.
</p>
<p align="justify">
Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa. Mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah: mencuci baju, memasak nasi, dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.
</p>
<p align="justify">
Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di<br />
sekolahnya diceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.
</p>
<p align="justify">
Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.
</p>
<p align="justify">
Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara, ia tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut, sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak, kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.
</p>
<p align="justify">
Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena leukimia ganas.
</p>
<p align="justify">
Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000$. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat, yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman, tetapi uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu-satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.
</p>
<p align="justify">
Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus, dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir di kala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”.
</p>
<p align="justify">
Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun, kenapa mau mati?”.
</p>
<p align="justify">
“Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”
</p>
<p align="justify">
Pada tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya<br />
sendiri. Hari itu juga setelah pulang ke rumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya, “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah foto ini”.
</p>
<p align="justify">
Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah.
</p>
<p align="justify">
Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin dan berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar.
</p>
<p align="justify">
Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin. Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun yang mengatur pemakamaannya sendiri akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim e-mail ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini.
</p>
<p align="justify">
Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Tionghua di dunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.
</p>
<p align="justify">
Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah siap untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis, “Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”
</p>
<p align="justify">
Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus.
</p>
<p align="justify">
Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata bahwa dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.
</p>
<p align="justify">
Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, kemudian dengan tersenyum menjawab, “Anak yang baik”.
</p>
<p align="justify">
Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari e-mail. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.
</p>
<p align="justify">
Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.
</p>
<p align="justify">
Pada tanggal 20 Agustus Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan, “Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?
</p>
<p align="justify">
Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”.
</p>
<p align="justify">
Yu Yuan kemudian berkata, “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”.
</p>
<p align="justify">
Wartawan itu lalu menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik.”
</p>
<p align="justify">
Yu Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”
</p>
<p align="justify">
Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, &#8220;Tante Fu Yuan&#8221;, dan diakhiri dengan, &#8220;Selamat tinggal Tante Fu Yuan.&#8221;
</p>
<p align="justify">
Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Di belakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong… dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar, “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya, biar mereka lekas sembuh.&#8221; Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya. &#8220;Saya pernah datang, saya sangat patuh,&#8221; demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan.
</p>
<p align="justify">
Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula-mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instan dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.
</p>
<p align="justify">
Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi ke dunia lain.
</p>
<p align="justify">
Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil di atas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah&#8230;. &#8221;
</p>
<p align="justify">
Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Di depan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.
</p>
<p align="justify">
Di depan makamnya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Di atas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 Nov 1996 &#8211; 22 Agust 2005). Di belakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan.
</p>
<p align="justify">
Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.
</p>
<p align="justify">
Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di Rumah Sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis di raut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupanmu, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami di atas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.
</p>
<p align="justify">
<strong>Kesimpulan:</strong><br />
Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orangtuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan dunia.
</p>
<p align="justify">
Walaupun hidup serba kekurangan, dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh bagi kita untuk mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, dan memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih. <em> (*medi/http://jimmyellys.blogspot.com)</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengaruh Kebaikan dan Amal Shalih Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak]]></title>
<link>http://abufadhilblora.wordpress.com/2010/01/22/pengaruh-kebaikan-dan-amal-shalih-orang-tua-terhadap-pendidikan-anak/</link>
<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 01:15:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>na2ngismail</dc:creator>
<guid>http://abufadhilblora.wordpress.com/2010/01/22/pengaruh-kebaikan-dan-amal-shalih-orang-tua-terhadap-pendidikan-anak/</guid>
<description><![CDATA[Keshalihan dan amal baik orang tua memiliki dampak yang besar bagi keshalihan anak-anaknya, dan memb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Keshalihan dan amal baik orang tua memiliki dampak yang besar bagi keshalihan anak-anaknya, dan memb]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CINTAILAH TUHAN, LAKUKANLAH FIRMAN-NYA SETIAP HARI]]></title>
<link>http://tumpalsimamora.wordpress.com/2010/01/20/cintailah-tuhan-lakukanlah-firman-nya-setiap-hari/</link>
<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 08:23:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>tumpalhasiholansimamora</dc:creator>
<guid>http://tumpalsimamora.wordpress.com/2010/01/20/cintailah-tuhan-lakukanlah-firman-nya-setiap-hari/</guid>
<description><![CDATA[KHOTBAH MINGGU III SETELAH EPIPHANIAS MINGGU, 24 JANUARI 2010 Evangelium: Ulangan 6: 4 – 9 Epistel: ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[KHOTBAH MINGGU III SETELAH EPIPHANIAS MINGGU, 24 JANUARI 2010 Evangelium: Ulangan 6: 4 – 9 Epistel: ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sudahkah Kamu Membalas  Budi Ortumu ?]]></title>
<link>http://majalahmeditao.com/2010/01/19/sudahkah-kamu-membalas-budi-ortumu/</link>
<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 03:17:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>meditao</dc:creator>
<guid>http://majalahmeditao.com/2010/01/19/sudahkah-kamu-membalas-budi-ortumu/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--more &#62;&#62; lihat gambar --><br />
<img src="http://meditaoweb.files.wordpress.com/2010/01/karikatur2009.gif?w=480&#038;h=647" alt="" title="karikatur2009" width="480" height="647" class="alignleft size-full wp-image-106" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rendi Sayang Mama Papa]]></title>
<link>http://majalahmeditao.com/2010/01/19/rendi-sayang-mama-papa/</link>
<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 02:41:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>meditao</dc:creator>
<guid>http://majalahmeditao.com/2010/01/19/rendi-sayang-mama-papa/</guid>
<description><![CDATA[”Rendi pergi&#8230;,” kata Rendi. ”Mau ke mana, Ren?” ujar mamanya sambil melihat jam dinding. ”Ngap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify">
<img src="http://meditaoweb.files.wordpress.com/2010/01/rendy.gif?w=61&#038;h=150" alt="" title="rendy" width="61" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-84" /><br />
”Rendi pergi&#8230;,” kata Rendi.
</p>
<p align="justify">
”Mau ke mana, Ren?” ujar mamanya sambil melihat jam dinding.
</p>
<p align="justify">
”Ngapain aku keluar kalau bukan jalan-jalan sama teman-teman,” jawab Rendi dengan kesal.
</p>
<p align="justify">
”Tapi ini sudah malam, sebaiknya kamu batalkan dulu janjinya dan kamu belajar di kamar. Lagipula besok kan kamu sekolah,” nasihat Mama.
</p>
<p align="justify">
”Enak aja Mama bicara, pokoknya aku tetap pergi, titik !!!” Rendi pergi sambil membanting pintu dengan kuat. <!--more &#62;&#62; baca selanjutnya -->
</p>
<p align="justify">
Pagi-paginya pukul lima Rendi baru pulang dalam keadaan mengantuk. Mama dan papa Rendi sedang berkemas untuk berangkat ke Australia karena ada tugas yang harus diselesaikan di sana.
</p>
<p align="justify">
Mama berkata, ”Ren, kok baru pulang jam segini? Oh ya&#8230; Mama dan Papa sudah mau berangkat ke Australia. Kamu tolong jaga rumah dan jaga diri kamu baik-baik ya&#8230;.”
</p>
<p align="justify">
”Ahh&#8230; terserahlah !!!” jawab Rendi sambil menuju kamar tidur.
</p>
<p align="justify">
Beberapa saat setelah orangtua Rendi pergi&#8230;. ”Den&#8230; bangun, Den&#8230; sudah hampir jam tujuh, nanti Den telat lagi ke sekolah,” ujar bibi Rendi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rendi. Terpaksa Rendi bangun dengan malas dan mandi untuk pergi ke sekolah.
</p>
<p align="justify">
Usai sekolah Rendi pulang, semua barang-barangnya berserakan semua sehingga bibi harus membereskannya. Setelah selesai makan, Rendi pergi ke kamar mendengarkan radio sambil beristirahat.
</p>
<p align="justify">
Saat mendengarkan radio&#8230;. ”Telah terjadi sebuah kecelakaan pesawat tadi pagi yang ditumpangi oleh 200 orang penumpang. Pesawat dengan nomor X13 yang menuju ke Australia ini diperkirakan jatuh ke Samudera Hindia. Sampai saat ini pesawat belum berhasil ditemukan.”
</p>
<p align="justify">
”Ha&#8230;??? Itu kan pesawat yang ditumpangi Mama Papaku,” Rendi terkejut sekaligus sedih mendengar berita itu. ”Masa sih&#8230; aku harus tinggal di rumah sebesar ini bersama Bibi yang menyebalkan&#8230;. Tak mungkin.” <img src="http://meditaoweb.files.wordpress.com/2010/01/ortu-pesawat.gif?w=150&#038;h=129" alt="" title="ortu-pesawat" width="150" height="129" class="alignleft size-thumbnail wp-image-85" />
</p>
<p align="justify">
Beberapa hari terlewatkan, belum ada kabar mengenai orangtua Rendi. Hal ini membuat Rendi depresi dan uring-uringan. Hidupnya semakin kacau saja. Dia menjadi sering keluar rumah dan pulang larut malam. Ia selalu malas belajar dan tidak membuat PR. Setiap ingin pergi ke sekolah bibinya harus membangunkannya dan mempersiapkan segala keperluan Rendi, serta harus menuruti semua keinginan Rendi.
</p>
<p align="justify">
”Bi !!! Tolong ambilkan baju ganti untuk aku !” pekik Rendi.
</p>
<p align="justify">
”Tunggu, Den&#8230;.”
</p>
<p align="justify">
”Cepat, Bi !!! Lama amat sih ambil baju saja !!!” teriak Rendi sambil marah-marah.
</p>
<p align="justify">
”Ini Den&#8230;,” kata Bibi sambil menyerahkan baju pada Rendi.
</p>
<p align="justify">
Rendi membentak, ”Lama amat sih, lelet sih ambilnya. Kalau disuruh tuh langsung laksanakan. Awas nanti kalau gitu lagi !!”
</p>
<p align="justify">
”Iya Den&#8230;.”
</p>
<p align="justify">
Esok paginya&#8230;.
</p>
<p align="justify">
”Den&#8230;, bangun Den&#8230;!!” panggil Bibi.
</p>
<p align="justify">
Aduh&#8230; aku masih ngantuk tau ! Ini hari Minggu kan ?
</p>
<p align="justify">
”Iya&#8230;, tapi ada teman Aden di depan.”
</p>
<p align="justify">
”Siapa sih ganggu orang aja !!” ujar Rendi sambil beranjak keluar kamar.
</p>
<p align="justify">
”Oh&#8230; kamu Ton, tumben datang ke sini&#8230;. Mau apa, Ton?” tanya Rendi sesampainya di ruang tamu.
</p>
<p align="justify">
Antony adalah teman baik serta sahabat Rendi yang paling dekat.
</p>
<p align="justify">
”Aku cuma mau ajak kamu pergi. Itu pun kalau kamu mau&#8230;,” jawab Tony.
</p>
<p align="justify">
”Ke mana, Ton ?”
</p>
<p align="justify">
”Ke tao kuan, namanya Sinar Agung Tao.”
</p>
<p align="justify">
”Em&#8230;. Gimana ya&#8230; ? Boleh deh. Tunggu ya, aku mandi dan makan dulu,” kata Rendi dengan senang.
</p>
<p align="justify">
”Iya, aku tunggu di sini ya !”
</p>
<p align="justify">
Kemudian Rendi pergi mandi dan makan.
</p>
<p align="justify">
Beberapa saat kemudian&#8230;.
</p>
<p align="justify">
”Sudah siap, Ren ?” tanya Tony.
</p>
<p align="justify">
”Iya, aku sudah siap. Ayo kita pergi !”
</p>
<p align="justify">
Tak lama kemudian mereka sampai di Tao Kuan Sinar Agung Tao. Rendi diajak Tony sembahyang, kemudian mereka duduk sambil menunggu ciang Tao dimulai. Banyak orang sudah berdatangan dan siap mendengarkan ciang Tao.
</p>
<p align="justify">
”Wah&#8230; ramai sekali ya, Ton !” ujar Rendi.
</p>
<p align="justify">
&#8220;Iya, biasanya juga begini. Ceramah atau ciang Tao hari ini tentang pengorbanan orangtua yang tiada habisnya.&#8221;
</p>
<p align="justify">
Rendi tiba-tiba teringat pada kedua orangtuanya. Ia sedih sekali.
</p>
<p align="justify">
Ciang Tao sudah dimulai. Di dalam ciang Tao dijelaskan kasih sayang orangtua yang begitu besar pada anak-anaknya. Ibu yang telah melahirkan, mencintai, dan membesarkan kita dengan sepenuh hati. Ayah yang juga mencintai kita dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
</p>
<p align="justify">
Kemudian dilanjutkan dengan acara renungan. Seorang se cie membacakan sebuah cerita yang begitu menyentuh hati. Banyak yang menangis karena terharu mendengarnya. Begitu pula dengan Rendi. Setelah itu acara ditutup dengan menyanyikan lagu Mama Hao.
</p>
<p><img src="http://meditaoweb.files.wordpress.com/2010/01/ibugendongbayi.gif?w=135&#038;h=150" alt="" title="ibugendongbayi" width="135" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-89" /><br />
Shi shang zhi you ma ma hao<br />
You ma de hai zi xiang ge bao.<br />
Tou jin le ma ma de huai bao<br />
Xin fu xiang bu liao.</p>
<p>Mei you ma ma jui gu nao<br />
Mei ma de hai zi xiang gen jao<br />
Li gai ma ma de huai bao<br />
Xing fu na li cao</p>
<p>Shi shang zhi you ma ma hao<br />
You ma de hai zi bu ce tao<br />
Yao she da ce tao<br />
Meng li ye hue xiao</p>
<p>Di dunia ini hanyalah mama yang terbaik<br />
Anak yang mempunyai mama seperti mustika<br />
Berada dalam pelukan bunda<br />
Menikmati kebahagiaan tiada akhir</p>
<p>Tak memiliki mama palinglah merisaukan<br />
Anak tak berbunda seakan rumput belaka<br />
Berpisah dari pelukan bunda<br />
Ke manakah mencari kebahagiaan</p>
<p>Di dunia ini hanyalah mama yang terbaik<br />
Anak yang berbunda tak menyadarinya<br />
Apabila dia mengetahuinya<br />
Dalam mimpi pun dia akan tersenyum</p>
<p align="justify">
”Makasih ya, Ton, udah ngajak aku ke sini. Aku sadar selama ini aku sudah jahat sama ortuku,” ucap Rendi saat pulang.
</p>
<p align="justify">
Sesampai di rumah, Rendi langsung menuju kamarnya. Di kamar Rendi menangis sejadi-jadinya. Dia sangat menyesali perbuatannya pada orangtuanya. Selama ini dia selalu melawan dan membentak orangtuanya. Selama ini pula dia tidak menghargai kasih sayang dan pengorbanan kedua orangtuanya. Dia merasa sangat menyesal, dan sekarang orangtuanya sudah tidak ada lagi. Seandainya waktu bisa kembali&#8230;. Hingga larut malam Rendi menangis.
</p>
<p align="justify">
Pada malam hari Rendi bermimpi melihat kedua orangtuanya. Rendi melihat perjuangan orang tuanya membesarkannya, mulai pada saat dia berada di dalam kandungan. Dia mendengar mamanya berkata, ”Mama sayang Rendi.” Rendi terbangun dan menangis lagi.
</p>
<p align="justify">
Setelah beberapa minggu Rendi sudah berubah. Dia tidak pernah lagi pulang larut malam, selalu belajar dan mengerjakan PR, serta tidak lagi membentak-bentak bibinya. Rendi sudah mulai mandiri. Setiap hari Sabtu malam Rendi pergi ke Tao Kuan Sinar Agung Tao bersama Antony.
</p>
<p align="justify">
”Eh&#8230; Ren, kamu kan udah rajin ke tao kuan dan udah cukup umur. Lagipula kamu udah cukup banyak tau tentang Tao. Gimana kalau kamu Tao Ying aja? Kamu tau kan maksudku?” tanya Antony.
</p>
<p align="justify">
”Iya, aku ngerti. Aku mau deh.”
</p>
<p align="justify">
Seminggu kemudian Antony datang untuk menjemput Rendi.
</p>
<p align="justify">
”Uh&#8230;, akhirnya hari ini aku akan di-Tao Ying juga, nggak terasa ya?” pikir Rendi dalam hati.
</p>
<p align="justify">
Lalu Rendi dan Antony pergi ke tao kuan bersama-sama. Setelah sampai, mereka sembahyang, lalu masuk ke ruang Tao Ying.
</p>
<p align="justify">
”Kamu sudah siap kan, Ren ?”
</p>
<p align="justify">
”Ya, aku siap !” jawab Rendi dengan tegas.
</p>
<p align="justify">
Kemudian acara Tao Ying dimulai.
</p>
<p align="justify">
Tak terasa sudah dua bulan berjalan. Saat makan siang Rendi mendengar dari radio bahwa pesawat yang ditumpangi orangtuanya berhasil ditemukan dan perkiraan ada 8 orang yang selamat. Rendi sangat berharap orangtuanya selamat. Tiap malam Rendi selalu bersembahyang agar kedua orangtuanya selamat.
</p>
<p align="justify">
Beberapa hari terlewati, Rendi tidak pernah berhenti berdoa dan berharap. Ketika Rendi sedang istirahat siang, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Rendi.
</p>
</p>
<p align="justify">
<img src="http://meditaoweb.files.wordpress.com/2010/01/rendy2.gif?w=77&#038;h=150" alt="" title="rendy2" width="77" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-91" /></p>
<p>Rendi segera membukakan pintu dan ternyata&#8230; yang datang adalah&#8230; Mama dan Papanya Rendi. Rendi terkejut hampir pingsan. Rendi sangat bahagia. Dia segera memeluk kedua orangtuanya dan berteriak, ”Rendi sayang Mama Papa !” Dia sangat berterimakasih kepada Dewa Thay Sang karena semua doanya terkabul. Betapa bahagia hati Rendi dan kedua orangtuanya. Mereka saling bercerita selama mereka terpisah.
</p>
<p align="justify">
”Sekarang keluarga kita sudah utuh dan bersatu kembali,” ujar Mama dan Papa bersamaan. Akhirnya keluarga Rendi hidup bahagia selama-lamanya. <em>(*vinni)</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kekerasan dan Potret Buram Pendidikan]]></title>
<link>http://cintaibuku.wordpress.com/2010/01/17/kekerasan-dan-potret-buram-pendidikan/</link>
<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 05:09:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>saiful amin ghofur</dc:creator>
<guid>http://cintaibuku.wordpress.com/2010/01/17/kekerasan-dan-potret-buram-pendidikan/</guid>
<description><![CDATA[KEKERASAN akibat bullying terhadap seorang siswa di SMA 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan, beberapa wa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[KEKERASAN akibat bullying terhadap seorang siswa di SMA 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan, beberapa wa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat untuk Anakku]]></title>
<link>http://majalahmeditao.com/2010/01/16/surat-untuk-anakku/</link>
<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 07:07:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>meditao</dc:creator>
<guid>http://majalahmeditao.com/2010/01/16/surat-untuk-anakku/</guid>
<description><![CDATA[Anakku yang kusayangi&#8230;. Pada suatu saat di kala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://meditaoweb.files.wordpress.com/2010/01/nenekkakek-copy.jpg?w=150&#038;h=116" alt="" title="Orangtua" width="150" height="116" class="alignleft size-thumbnail wp-image-61" />Anakku yang kusayangi&#8230;.</p>
<p>Pada suatu saat di kala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua,<br />
cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku. <!--more &#62;&#62; baca selanjutnya --></p>
<p>Jika banyak makanan yang tercecer di kala aku makan&#8230;,<br />
jika aku mendapat kesulitan mengenakan pakaianku sendiri&#8230;, sabarlah !Kenanglah saat-saat di mana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu tentang segala hal yang kau perlu tahu, ketika kau masih kecil.</p>
<p>Jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali,<br />
jangan menghentikanku !  Bersabarlah mendengarkan aku!<br />
Ketika kau kecil, kau selalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulang-ulang, dari malam yang satu ke malam yang lain hingga kau tertidur,<br />
dan aku lakukan itu untukmu!</p>
<p>Jika aku enggan mandi atau membutuhkanmu untuk memandikanku, jangan memarahiku, dan jangan katakan kepadaku bahwa itu memalukan!<br />
Ingatlah berapa banyak pengertian yang kuberikan padamu menyuruhmu mandi di kala kecilmu.</p>
<p>Jika aku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,<br />
janganlah menertawaiku! Beri aku waktu lebih banyak untuk mengerti!<br />
Renungkanlah bagaimana aku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan di saat kecilmu.</p>
<p>Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan, beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya, jangan sombong dan memarahiku, karena yang penting bagiku adalah&#8230; aku dapat bersamamu dan dapat berbicara padamu.</p>
<p>Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku!<br />
Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tidak lapar.<br />
Bersabarlah terhadapku&#8230;.</p>
<p>Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku, untuk bergerak seperti sebelumnya&#8230;,<br />
bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku,<br />
mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu.</p>
<p>Pada suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup&#8230;,<br />
ketika aku ingin mati&#8230;, jangan marah&#8230;!</p>
<p>Karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti.<br />
Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu,<br />
kita tidak benar-benar “hidup” lagi, kita hanya “tidak mati”.</p>
<p>Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat, aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.</p>
<p>Aku mengajarimu banyak hal&#8230;,<br />
cara makan yang baik&#8230;,<br />
cara berpakaian yang baik&#8230;,<br />
berperilaku yang baik&#8230;,<br />
bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan&#8230;.</p>
<p>Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal di hadapanku melihat kondisiku dan usiaku yang sudah bertambah tua.</p>
<p>Kau harus ada di dekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu, seperti apa yang aku lakukan pada saat kau lahir.</p>
<p>Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran. Satu hal yang membuatku harus berterima kasih padamu adalah senyum dan cintamu padaku.</p>
<p>Aku mencintaimu, Anakku &#8230;..</p>
<p>Ayahmu, ibumu</p>
<p>Sumber: e-mail<br />
Penulis: anonim</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beliau Terbaring Sakit]]></title>
<link>http://irfanmuhamad.wordpress.com/2010/01/10/beliau-terbaring-sakit-2/</link>
<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 14:49:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muhamad Irfan</dc:creator>
<guid>http://irfanmuhamad.wordpress.com/2010/01/10/beliau-terbaring-sakit-2/</guid>
<description><![CDATA[Waktu mendengar kabar beliau terbaring sakit di rumah sakit, awalnya memang gak percaya. Seseorang y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Waktu mendengar kabar beliau terbaring sakit di rumah sakit, awalnya memang gak percaya. Seseorang yang buat saya liat tiap kali ketemu selalu sehat. Dan memang benar, beliau sekarang terbaring sakit.</p>
<p>Seseorang yang lain kaget, gak percaya, khawatir, takut, lemas dan saya yakin pikiran dia kemana-mana waktu mendengar kabar kalau sekarang beliau dirawat di rumah sakit. Dia menangis. Orang yang begitu sayang terhadap beliau. Dan saya gak bisa bilang apa-apa waktu itu, pikiran saya pun ikut kemana-mana.</p>
<p>Ketika beliau terbaring sakit, seseorang yang lain jelas merasa khawatir. Tapi jelas, beliau gak ingin seseorang yang lain khawatir akan kondisinya. Ketika beliau terbaring sakit, seseorang yang lain sebisa mungkin gak perlu khawatir, sebisa mungkin jangan dikabari dulu soal sakitnya. Dan ketika beliau terbaring sakit, saya makin tau kalau beliau disayangi seseorang yang lain, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya. <!--more--></p>
<p>Ketika beliau terbaring sakit, seseorang yang lain ingin bisa bantu, jadi orang yang ada waktu senang dan waktu sedih buat orang lain yang pada waktu itu jelas sangat khawatir. Bantu apapun yang bisa dibantu. Ketika beliau terbaring sakit, perasaan <em>“gak pantas dibanggakan”</em> kembali dan sering datang di siang sampai malam harinya.</p>
<p>Teriring do’a buat beliau, semoga Yang Maha Berkehendak memberikan keyakinan buat beliau kalau ini segera berakhir dengan kesembuhan. Dengan kehendak-Nya semoga memberikan nikmat sehat-Nya buat kesembuhan beliau. Dan memberikan kesabaran buat seseorang lainnya yang sangat khawatir disana.</p>
<blockquote><p><em>Allaahumma rabbannaasi adzhibil ba&#8217;sa isyfi antasysyaafii  lasyifaa-a illaa syifaa-ukasyifaa-an laa yughaadiru saqamaa</em></p></blockquote>
<p>Selamat hari ahad jelang senin.</p>
<p>- &#8211; - -</p>
<p>Buat beliau yang sudah saya anggap sebagai bapak saya sendiri. Do’a tulus ikhlas selalu ada buat beliau. Ya Rab….berikanlah kesembuhan buat beliau. Sungguh Engkau Maha Berkendak, Maha Penyembuh dan Pemilik segala nikmat sehat. Gak ada obat selain obat-Mu, obat yang gak meninggalkan sakit lagi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kiat Menjadi Orangtua yang Baik]]></title>
<link>http://tatagwarasto.wordpress.com/2010/01/10/kiat-menjadi-orangtua-yang-baik/</link>
<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 03:53:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>tataqw</dc:creator>
<guid>http://tatagwarasto.wordpress.com/2010/01/10/kiat-menjadi-orangtua-yang-baik/</guid>
<description><![CDATA[Orangtua harus bisa memberikan contoh yang baik ke anak. VIVAnews &#8211; Memiliki anak adalah hal y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#339966;"><a href="http://tatagwarasto.wordpress.com/files/2010/01/kasih_sayang_ibu.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-117" title="kasih_sayang_ibu" src="http://tatagwarasto.wordpress.com/files/2010/01/kasih_sayang_ibu.jpg?w=212" alt="" width="212" height="300" /></a>Orangtua harus bisa memberikan contoh yang baik ke anak.</span></p>
<p><strong>VIVAnews</strong> &#8211; Memiliki anak adalah hal yang sangat membahagiakan bagi pasangan suami istri. Tetapi, tugas menjadi orangtua tak semudah yang dibayangkan.  Tanggung jawabnya besar. Banyak hal yang harus Anda pelajari untuk menjadi orangtua yang baik.</p>
<p>Orangtua adalah panutan bagi anaknya, oleh karena itu akan lebih baik bila kita sebagai orangtua bisa memberikan contoh yang baik ke anak-anak kita. Ada beberapa tips untuk menjadi orangtua yang baik diantaranya sebagai berikut:</p>
<p><strong>- Biarkan anak belajar dari kesalahannya</strong></p>
<p>Kita selalu ingin anak kita aman dan nyaman serta bahagia. Tetapi, itu bukan berarti kita menuntut kesempurnaan dari anak kita. Jangan menghakimi anak bila dia melakukan kesalahan. Kita perlu memberikan anak kepercayaan untuk memahami kesalahannya sendiri.<br />
<!--more--><br />
<strong>- Beri anak kebebasan untuk berteman</strong></p>
<p>Anak-anak memiliki banyak teman. Tetapi, sebagai orangtua kita tak harus selalu ikut campur saat dia sedang bersama teman-temannya.  Anda harus memberikan kebebasan pada anak-anak saat dia bersama teman-temannya. Dengan begitu, anak-anak akan merasa dihargai.</p>
<p><strong>- Katakan Anda mencintai mereka</strong></p>
<p>Kadang-kadang sesuatu bisa terbantu dengan kata-kata &#8217;saya menyayangi kamu&#8217; dan anak Anda juga membutuhkan kata-kata itu. Sering-seringlah mengatakan hal itu kepada anak. Yakinlah dengan rajin mengatakan kata-kata itu, anak-anak akan sangat menghargai Anda</p>
<p><strong>- Tingkatkan rasa percaya diri anak Anda</strong></p>
<p>Anak-anak mengembangkan rasa percaya dirinya sejak kecil. Cobalah untuk memberikan pujian ke anak bila dia berhasil melakukan sesuatu. Dan jangan sering melarang beri dia kebebasan untuk melakukan yang dia suka selama hal itu positif untuknya.</p>
<p><strong>- Dekatkan diri dengan anak</strong></p>
<p>Anda harus selalu berusaha untuk meluangkan waktu untuk anak Anda. Dampingi mereka saat menonton, belajar dan ajak mereka bicara. Atau ajak anak Anda untuk berlibur bersama ke pantai atau hanya sekedar makan pizza bersama.</p>
<p><strong>- Ajarkan anak Anda untuk bertanggung jawab</strong></p>
<p>Berikan kepada anak Anda tanggung jawab. Misalnya, setiap bangun tidur harus membersihkan kamarnya sendiri. Bila mereka habis bermain, bereskan mainan itu sendiri dan lain sebagainya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aku rindu]]></title>
<link>http://citraviana.wordpress.com/2010/01/07/aku-rindu/</link>
<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 15:10:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>citraviana</dc:creator>
<guid>http://citraviana.wordpress.com/2010/01/07/aku-rindu/</guid>
<description><![CDATA[Aaaawwww,,, Aku bangun terlalu siang. Untung, sang pacar menelpon. Kalau tidak, pasti aku sudah sepe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Aaaawwww,,, Aku bangun terlalu siang. Untung, sang pacar menelpon. Kalau tidak, pasti aku sudah seperti orang mati. Beginilah, kalau hanya punya pekerjaan dari rumah. Bebas. Tidak terpaku aturan jam masuk kantor yang kadang menyiksa. Terkadang aku berpikir, masih untung aku sekarang tinggal di Sydney, tidak di Jakarta. Orang kantor disini bisa saja berangkat ke kantor pukul 8 pagi, tidak seperti orang Jakarta yang harus meninggalkan rumah mereka kurang lebih pada pukul setengah enam pagi untuk kemudian bergelut dengan kemacetan ibukota. Di satu sisi aku beruntung bisa tinggal di kota ini.</p>
<p>Walaupun demikian, ada satu hal yang benar-benar mengusikku di penghujung tahun 2009 yang baru saja berlalu. Kalau bisa dibilang, aku termasuk dari sekian banyak orang yang beruntung. Aku bisa menamatkan pendidikan master di luar negeri adalah bukan hal yang biasa. Untuk itu, aku sangat bersyukur dengan kesempatan yang diberikan Tuhan yang telah begitu baik kepadaku. Begitu banyak nikmat-Nya yang aku dustakan, tapi Dia tidak bosan-bosannya menyapaku dengan cara-Nya yang begitu indah. Ya, aku berhasil menyelesaikan pendidikan S2-ku walaupun begitu banyak pengorbanan yang harus aku lalui. Akan tetapi, bukankah proses adalah segalanya dan hasil akhir adalah bonus yang kita terima.</p>
<p>Aku bisa seperti aku sekarang adalah karena orang-orang tercinta di belakangku. Mereka yang selalu mendoakanku. Ya, aku merindukan orangtuaku. Orangtuaku yang telah begitu baik kepadaku, bersedia mengorbankan apapun demi kebahagiaanku. Benar kata orang, orangtua mana yang menginginkan anaknya terpuruk. Dan itulah yang telah berhasil dilakukan mereka. Aku merindukan ayah dan ibuku hingga tanpa sadar aku menangis. Sialnya, aku hanya bisa berdoa agar mereka selalu diberi kesehatan. Aku benar-benar merindukan orangtuaku dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.</p>
<p>Baru saja aku membuka halaman <em>Facebook</em>-ku. Aku membuka <em>profile </em>ayahku. Aku melihatnya tersenyum. Sungguh, aku merindukan senyum itu. Aku ingin melihatnya tersenyum kala mengetahui aku sudah menyelesaikan sekolahku. Aku ingin melihatnya tersenyum bangga dan haru padaku seperti terakhir kali beliau menangis bangga pada saat wisuda sarjanaku. Betapa bahagianya aku, karena dapat mempersembahkan kado istimewa pada kedua orangtuaku. Lulus sarjana tepat waktu dengan IPK yang sangat membanggakan adalah hal yang sangat luar biasa, bukan. Setidaknya untukku, saat itu.</p>
<p>Dan saat ini, aku ingin melihat kembali senyum itu. Aku lulus. <em>Master of Communication Arts </em>dari <em>University of Western Sydney</em>, dengan nilai yang sangat memuaskan. Semua kerja kerasku setahun terakhir terbayar, tetapi tetap saja ada yang mengusikku. Karena aku rindu ayah dan ibuku. Aku rindu adik-adikku. Aku rindu menghabiskan waktu liburan bersama mereka. Aku rindu mereka mencium dan memelukku dan berkata, “kami bangga sama kamu, Citra”. Aku ingin mereka berada disampingku pada wisuda S2-ku, tetapi bukankah manusia tidak seharusnya menjadi egois? Tidak semua keinginan kita harus terkabul, kan? Seorang teman mengajarkan, karena kita hanya punya dua tangan dan tangan itu terlalu kecil untuk menampung semua yang kita inginkan dalam waktu bersamaan.</p>
<p>Terimakasih papa, terimakasih mama. Namamu akan selalu ada dalam doaku.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:right;"> </p>
<p style="text-align:right;">Doamu adalah hidupku,</p>
<p style="text-align:right;">tetesan keringatmu adalah semangatku,</p>
<p style="text-align:right;"> dan tangis harumu adalah bahagiaku.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:left;">Sydney, 6 Januari 2010</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penghemat Bensin - Keselamatan 1 Bath Tubs Space Saver - Solusi Untuk Orangtua Baru]]></title>
<link>http://jualpenghematbbm.wordpress.com/2010/01/06/penghemat-bensin-keselamatan-1-bath-tubs-space-saver-solusi-untuk-orangtua-baru/</link>
<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 03:06:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>caksub6</dc:creator>
<guid>http://jualpenghematbbm.wordpress.com/2010/01/06/penghemat-bensin-keselamatan-1-bath-tubs-space-saver-solusi-untuk-orangtua-baru/</guid>
<description><![CDATA[penghemat bbm Banyak orangtua baru perjuangan untuk menemukan ruang untuk semua peralatan penghemat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><div class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img title="penghemat bbm" src="http://jualpenghematbbm.files.wordpress.com/2010/01/petrol.jpeg?w=250&#038;h=200" alt="penghemat bbm" width="250" height="200"><p class="wp-caption-text">penghemat bbm</p></div>
<p> Banyak orangtua baru perjuangan untuk menemukan ruang untuk semua peralatan <a href="http://jualpenghematbbm.wordpress.com" title="penghemat bbm"><b>penghemat bbm</b></a> baru yang mereka perlukan untuk mengurus bayi baru. Orang kecil ini memasuki rumah Anda dan segera mengambil alih semua ruang waktu dan energi. Untungnya produsen produk bayi semakin bekerja untuk membuat transisi menjadi lebih mudah bagi orangtua terutama ketika datang untuk produk dan peralatan. </p>
<p> Salah satu potongan terbesar dari perlengkapan yang dibutuhkan <a href="http://jualpenghematbbm.wordpress.com/2009/12/27/penghemat-bensin-motor-jenis-motor-homes-a-quick-guide-to-buying-the-best-motor-home-for-you/" title="Penghemat Bensin Motor">Penghemat Bensin Motor</a> untuk bayi yang baru lahir adalah bak mandi. Hari-hari memandikan bayi dalam bak cuci dapur hilang. Orangtua baru sekarang pembelian bathtub bayi untuk bayi mereka. Bak ini adalah dipuji sebagai lebih aman bagi <a href="http://jualpenghematbbm.wordpress.com/2009/12/26/penghemat-bensin-mobil-mobil-dengan-good-gas-mileage-squeeze-itu-dollar/" title="Penghemat Bensin Mobil">Penghemat Bensin Mobil</a> bayi dan lebih mudah bagi orangtua. Namun mereka juga cukup besar dan sulit untuk menyimpan. Apa yang Anda cari adalah penghemat ruang bak mandi. </p>
<p> Keselamatan bak mandi Space Saver adalah solusi yang sangat baik bagi orangtua. Mereka memiliki semua lonceng dan peluit ukuran penuh bak mandi bayi tapi runtuh untuk kemudahan penyimpanan. Kepala dan bagian kaki dengan mudah kali lipat di atas dasar sehingga mudah untuk menempatkan bak pergi jika tidak digunakan. </p>
<p> Salah satu fitur yang paling tua tentang Keselamatan <a href="http://jualpenghematbbm.wordpress.com/2010/01/02/alat-hemat-bbm-bagaimana-mendapatkan-unlimited-internet-web-site-traffic-with-web-2-0-teknik/" title="Alat Hemat Bbm">Alat Hemat Bbm</a> cinta bak mandi Space Saver adalah bahwa mereka cocok di dalam bak cuci dapur. Ini memberikan kesempatan orang tua untuk memandikan bayi mereka sambil berdiri. <a href="http://jualpenghematbbm.wordpress.com/2010/01/03/penghemat-bbm-homemade-hydrogen-fuel-car-can-you-really-membuat-hydrogen-fuel-car-at-home/" title="Penghemat Bbm">Penghemat Bbm</a> Kebanyakan bak mandi bayi lebih besar memaksa orang tua untuk meletakkan bak mandi di lantai dan membungkuk sering menyebabkan sakit punggung. Bak lain mungkin membutuhkan beberapa instalasi. Namun dengan bak yang lebih kecil ini memasang bak mandi tidak diperlukan karena mereka cocok dengan wastafel atau dapat digunakan di lantai. </p>
<p> Banyak bayi bak yang besar dan sulit untuk mengalir dengan kebutuhan untuk ujung mereka dan mencurahkan isinya. Keselamatan Space Saver bak mandi memiliki built-in mengalir membuat mereka lebih mudah untuk kosong. Mereka juga memiliki pemegang untuk sabun dan kain lap jadi semua persediaan dapat disimpan dalam satu tempat. Bak ini juga berkontur untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi bayi Anda. </p>
<p> Parent tinjauan Keselamatan Space Saver bak mandi sangat positif. Mereka menyediakan lingkungan yang aman untuk mandi bayi memiliki banyak fitur yang nyaman bagi orangtua untuk digunakan dan mudah tersimpan <a href="http://jualpenghematbbm.wordpress.com/2009/12/25/penghemat-bensin-gas-saver-membeli-sebuah-booster-hydrogen-vs-a-prius/" title="penghemat bbm"><b>penghemat bbm</b></a> jika tidak digunakan. Mereka dapat dibeli di banyak pengecer besar perlengkapan bayi. </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TIME OUT!!]]></title>
<link>http://anakkecilku.wordpress.com/2009/12/29/time-out/</link>
<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 06:48:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>anakkecilku</dc:creator>
<guid>http://anakkecilku.wordpress.com/2009/12/29/time-out/</guid>
<description><![CDATA[T I M E   O U T ! ! ! Sebagai istilah, time out sangat erat hubungannya dengan dunia olah raga. Menu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[T I M E   O U T ! ! ! Sebagai istilah, time out sangat erat hubungannya dengan dunia olah raga. Menu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pelajaran dari Nanny 911]]></title>
<link>http://anakkecilku.wordpress.com/2009/12/27/11-aturan-penting-nanny911/</link>
<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 08:46:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>anakkecilku</dc:creator>
<guid>http://anakkecilku.wordpress.com/2009/12/27/11-aturan-penting-nanny911/</guid>
<description><![CDATA[Anak selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas dan dipelajari, terutama penerapan tips dan tri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Anak selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas dan dipelajari, terutama penerapan tips dan tri]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibu, Ibu, dan Ibu]]></title>
<link>http://irfanmuhamad.wordpress.com/2009/12/22/ibu/</link>
<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 22:53:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muhamad Irfan</dc:creator>
<guid>http://irfanmuhamad.wordpress.com/2009/12/22/ibu/</guid>
<description><![CDATA[Bila ku ingat masa kecilku, ku slalu menyusahkanmu. Bila ku ingat masa kanakku, ku slalu mengecewaka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><blockquote>
<p style="text-align:left;"><em>Bila ku ingat masa kecilku, ku slalu menyusahkanmu. Bila ku ingat masa kanakku, ku slalu mengecewakanmu. Bila ku ingat masa kecilku, ku slalu menyusahkanmu. Bila ku ingat masa kanakku, ku slalu mengecewakanmu. Banyak sekali pengorbananmu yang kau berikan padaku. Tanpa letih dan tanpa pamrih. Kau berikan semua itu. Engkaulah yang ku kasihi. Engkaulah yang ku rindu. Ku harap slalu do’amu. Dari dirimu ya…ibu. Tanpa do’amu takkan ku raih. Tanpa do’amu takkan ku capai. Segala cita yang ku inginkan. Dari diriku ya…ibu. Engkaulah yang ku kasihi. Engkaulah yang ku rindu. Ku harap slalu do’amu. Dari dirimu ya…ibu…</em><br />
<em>Lagu : Ibu &#8211; Hawari</em></p>
</blockquote>
<p>Lirik lagu di atas diambil dari album nasyid Hawari. Lagu yang selalu saya putar di tape sederhana waktu masih SMA dulu. Lagu yang saya putar kalau rasa kangen datang di waktu malam masa SMA, di kamar kost berukuran tiga kali tiga. Lagu yang selalu saya putar di waktu rasa semangat mulai pudar. Lagu yang kadang saya putar di subuh hari sambil mengingat dan menyiapkan segala hal buat mulai belajar di pagi harinya. Lagu yang selalu bikin saya meneteskan air mata, mengingat satu kata dan satu sosok spesial, IBU. Lagu yang selalu saya bikin saya gemetar dan merasa belum berbuat apa-apa buat ibu. <!--more--></p>
<p>Sekarang garis-garis keriput sudah jelas terlihat di wajahnya. Rambutnya sudah memutih di usianya yang 56 tahun. Rasa cape sudah sering datang. Tapi anaknya yang satu ini masih sering membuat kesal, bahkan mungkin membuat menangis. Tapi anaknya yang satu ini sering membuat suaranya menjadi lebih tinggi karena marah.</p>
<p>Ya…Rab, berikanlah beliau kesehatan. Berikanlah beliau ridho dan rahmat-Mu. Ampuni dosa-dosanya. Sayangi beliau sebagaimana beliau menyayangi saya. Dan ampuni hamba-Mu ini yang belum berbuat apa-apa buat beliau.</p>
<p>Saya yakin tanpa diminta, ibu akan memberikan do’anya untuk kesuksesan anaknya yang satu ini, anak yang sering bikin kesal dan marah. Dan pertanyaan ini selalu melintas di pikiran saya dari kecil sampai dengan sekarang, <em>“Apakah irfan sudah membuat ibu bangga?”</em></p>
<p>Selamat hari selasa. Selamat hari ibu.</p>
<p>- &#8211; - -</p>
<p>Ibu, rasa sayang selalu ada dan gak akan pernah mati walaupun kadang gak terucap langsung. Ibu, ibu, dan ibu. <em>Love u mom.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Si Boncel: Pondok Sejuta Cerita]]></title>
<link>http://ratnaariani.wordpress.com/2009/12/17/si-boncel-pondok-sejuta-cerita/</link>
<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 21:32:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>ratna ariani</dc:creator>
<guid>http://ratnaariani.wordpress.com/2009/12/17/si-boncel-pondok-sejuta-cerita/</guid>
<description><![CDATA[Sekilas pandang kunjungan ke panti asuhan Si Boncel, 13 Desember 2009 Minggu siang itu hari cukup pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sekilas pandang kunjungan ke panti asuhan Si Boncel, 13 Desember 2009 Minggu siang itu hari cukup pa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[IQ TINGGI, ORANGTUA BANGGA !!!]]></title>
<link>http://hirzithariqi.wordpress.com/2009/12/07/iq-tinggi-orangtua-bangga/</link>
<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 11:09:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>hirzithariqi</dc:creator>
<guid>http://hirzithariqi.wordpress.com/2009/12/07/iq-tinggi-orangtua-bangga/</guid>
<description><![CDATA[Anak Cerdas di Sekolah Kita bangga bahkan sangat bangga ketika mengetahui anak kita memiliki IQ (Int]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_295" class="wp-caption alignnone" style="width: 248px"><a href="http://hirzithariqi.wordpress.com/files/2009/12/anak-cerdas.gif"><img class="size-full wp-image-295" title="Anak Cerdas" src="http://hirzithariqi.wordpress.com/files/2009/12/anak-cerdas.gif" alt="" width="238" height="296" /></a><p class="wp-caption-text">Anak Cerdas di Sekolah</p></div>
<p>Kita bangga bahkan sangat bangga ketika mengetahui anak kita memiliki IQ (Intelligence Quotient) yang tinggi atau (sangat) cerdas, katakan 130, 135 bahkan di atas 140. Apakah kebanggaan kita ini beralasan&#8230; mungkin benar karena sebagian besar anak-anak lain yang memiliki IQ berkisar antara skor 90 sampai 110 (Taraf IQ Rata-Rata). Mungkin kita patut bersyukur (bukan berbangga) karena anak kita dianugerahi tingkat kecerdasan yang tinggi (kalau psikolognya tidak salah hitung &#8211; fatal jadinya). Akan tetapi lalu kita bertanya, apakah dengan IQ yang tinggi tersebut akan menjamin masa depannya lebih baik atau setidaknya memiliki prestasi sekolah yang menonjol dibanding anak lain yang memiliki taraf IQ rata-rata sebagaimana kebanyakan anak lain? Kita mulai ragu karena cukup banyak orangtua yang menemui kenyataan bahwa anak mereka yang memiliki IQ tinggi ternyata prestasinya biasa-biasa saja bahkan sebaliknya malah prestasinya &#8216;parah&#8217;. Jadi bagaimana sebenarnya hubungan antara IQ dengan prestasi belajar di sekolah anak?</p>
<p>Menurut para ahli psikologi, prestasi belajar siswa di sekolah tidak secara dominan dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa, akan tetapi juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor kemauan/motivasi atau komitmen belajar siswa, lingkungan sosial di sekolah maupun di rumah, dan lingkungan atau kondisi fisik yang berkaitan dengan prestasi belajar anak.</p>
<p>Anak kita bisa saja (sangat) cerdas, tetapi ia akan sulit berprestasi belajar bagus kalau dia tidak/kurang memiliki kemauan/motivasi atau komitmen belajar. Anak kita boleh saja (sangat) cerdas, tetapi ia akan sulit menunjukkan prestasi belajar yang baik di sekolah apabila tidak ditunjang oleh lingkungan sosial yang baik, seperti guru-guru yang kompeten, teman-teman yang berorientasi pada pelajaran (bukan main-main) dan begitu pula dengan bagaimana orientasi belajar dari orangtua, saudara-saudaranya, bahkan teman-teman di lingkungan tetangga tempat tinggalnya.</p>
<p>Demikian pula halnya dengan prestasi belajar yang akan sulit diperoleh oleh anak-anak (sangat) cerdas yang meskipun memiliki komitmen belajar baik, lingkungan sosial yang mendukung baik di sekolah maupun di rumah, namun tidak didukung oleh lingkungan fisik yang memadai. Jarang sekali kita temui anak-anak memiliki prestasi belajar baik muncul dari kondisi bangunan sekolah yang rusak dan lokal kelas yang terbatas sehingga menyebabkan waktu belajar mereka terganggu; sarana dan fasilitas belajar-mengajar (buku, alat tulis, alat peraga, dan lainnya) yang terbatas sehingga kecepatan belajar sangat lambat; anak yang harus berjalan kaki sekian jauh dan lama karena jarak rumah mereka jauh dari sekolah.</p>
<p>Dengan demikian, IQ yang tinggi baru akan menjamin prestasi belajar anak kita di sekolah atau menjamin masa depan yang baik apabila juga didukung oleh kemauan/motivasi atau komitmen belajar yang baik serta lingkungan sosial dan lingkungan fisik yang baik di sekolah maupun di rumah.</p>
<p>Semakin tinggi taraf IQ seorang anak maka akan semakin cepat dan mudah untuk mencapai prestasi belajarnya di sekolah. Sebaliknya, semakin rendah taraf IQ seorang anak maka akan semakin sulit dan lama untuk mempelajari dan memahami sesuatu hal termasuk dalam pelajaran sekolahnya.</p>
<p>Namun bagi orangtua yang kebetulan memiliki anak dengan IQ tidak tinggi (tidak cerdas) janganlah berkecil hati, karena para pakar ilmu psikologi mengatakan bahwa IQ (kecerdasan <em>logical-mathematical</em>) hanyalah salah satu dari sekian banyak jenis kecerdasan (<em>Multiple Intelligence</em>). Memang anak kita memiliki IQ yang tidak tinggi, tetapi mungkin ia memiliki jenis kecerdasan lain yang tinggi, misalnya: kecerdasan emosi/intra-intra personal (<em>emotional intelligence</em>), kecerdasan <em>bodily-kinesthetic </em>(bidang olahraga), kecerdasan <em>linguistic</em> (bahasa), kecerdasan <em>musical</em> (musik), kecerdasan <em>spatial</em> (melukis), kecerdasan <em>naturalist</em>, bahkan kecerdasan universal (<em>universal intelligence</em>). Buktinya, ada Rudy Hartono (olahragawan), Rudy Rudy Hadisuwarno (Penata Rambut), Rudy Chaerudin (Jago Masak), Rudy Wowor (Bintang Film/Sinetron), yang kesemuanya pasti belum tentu memiliki IQ yang tinggi.</p>
<p>Selain itu, dari hasil penelitian terhadap para pengusaha sukses di Amerika Serikat ternyata tidak semua dari mereka memiliki IQ yang tinggi. Namun ada aspek-aspek yang selalu tinggi/menonjol dari mereka yaitu kematangan emosi, kemampuan interpersonal, kemampuan empati, dan lainnya yang berkaitan dengan kecerdasan emosi (<em>emotional intelligence</em>).</p>
<p>Oleh karena itu bapak dan ibu, janganlah berbangga berlebihan apabila anak kita memiliki anak ber-IQ tinggi dan sebaliknya janganlah bersedih atau berkecil hati memiliki anak ber-IQ tidak tinggi. Semuanya lebih bergantung pada bagaimana kita menemukan bakat/potensinya dan bagaimana kita menyiapkan lahan yang subur agar dapat teraktualisasi menjadi prestasi yang membanggakan orangtua &#8211; yaitu perasaan bangga yang pantas diterima orangtuanya bukan perasaan bangga yang semu sebagaimana yang dialami orangtua kebanyakan selama ini&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Topeng, Panggung &amp; Realitas]]></title>
<link>http://lifeschool.wordpress.com/2009/12/06/topeng-panggung-realitas/</link>
<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 23:32:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>bhayu</dc:creator>
<guid>http://lifeschool.wordpress.com/2009/12/06/topeng-panggung-realitas/</guid>
<description><![CDATA[Kemarin, biro konsultan SDM &amp; psikologi yang kami kelola diundang oleh promotor Ticket Station u]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kemarin, <a href="http://bj-consultant.com">biro konsultan SDM &#38; psikologi </a>yang kami kelola diundang oleh promotor Ticket Station untuk menjadi pembicara pendamping dan sponsor dalam &#8220;Seminar Parenting Terbesar di Indonesia&#8221; dengan menghadirkan Nanny Stella dari NANNY 911. Tentu saja seminar itu sendiri bagus bagi orangtua yang hadir. Laporan acaranya akan saya update di blog-site <a href="http://bahterajiwa.com">bahterajiwa</a> segera.</p>
<p>Namun saya memperhatikan hal menarik yang terjadi di back-stage atau belakang panggung. Ternyata, karakter sang Nanny sehari-hari berbeda dengan yang ditampilkan dalam tayangan televisi. Ia sendiri di atas panggung telah menyatakan, menurut teman-temannya karakternya saat menjadi Nanny Stella -dimana dalam kesehariannya ia memang Nanny betulan- agak berbeda dengan realitasnya. Ia menyatakan, misalnya bila berada dalam antrian akan dengan kesal menghentak-hentakkan kakinya. Ini tentu berbeda dengan karakter sabarnya dalam tayangan televisi. Ia mengakui lebih sabar menghadapi anak-anak ketimbang orang dewasa.</p>
<p>Tentu saja, realitas yang berbeda dengan dunia panggung adalah hal yang lumrah, tapi disadari kebanyakan audiens. Dunia panggung adalah dunia orang-orang di dalamnya memakai topeng. Namun banyak yang mengira para penampil di panggung sama saja dengan kesehariannya. Maka, orang lantas bingung saat Bill Cosby yang memerankan ayah ideal dalam serial televisi &#8220;The Cosby Show&#8221; ternyata keluarganya bermasalah di kehidupan aslinya. Apalagi saat Marlia Hardi memilih bunuh diri karena adanya masalah pribadi, padahal ia pemeran ibu ideal dalam serial drama televisi Indonesia berjudul &#8220;Keluarga Marlia Hardi&#8221;. Kedua contoh tadi berasal dari lakon di masa kecil saya. Sementara kini, saya sulit menemukan gambaran serupa. Kurt Cobain gitaris Nirvana misalnya, bunuh diri bukan karena alasan adanya masalah pribadi, tapi religius. Ia ingin tahu ada apa setelah kehidupan dan berkeyakinan akan reinkarnasi.</p>
<p>Contoh-contoh tadi baru dari dunia panggung hiburan, sementara dunia panggung sebenarnya banyak. Bahkan dunia panggung perpolitikan sekali pun. Intinya, apa yang tampak di mata publik bukanlah realitas sebenarnya. Itu adalah citraan yang sengaja dibentuk atau tidak sengaja terbentuk. Dalam konteks ini, maka kita seharusnya tidak terlalu gusar saat tahu realitas diri seseorang sebenarnya tidak sesuai dengan topeng yang dikenakannya di panggung.</p>
<p>Dalam hal ini saya sependapat dengan Mario Teguh yang mengingatkan dalam tayangannya di Metro TV pada 29 November 2009 lalu bahwasanya topeng yang paling sering kita kenakan akan menjadi wajah kita. Namun saya tidak sependapat bila ia mengatakan kita mampu melepaskan diri dari topeng dan menampilkan wajah asli kita. Apalagi saya sendiri pernah melihat bahwa Mario Teguh di panggung orasinya berbeda dengan kesehariannya. Saya lebih setuju dengan Willliam Shakespeare yang menyatakan dunia ini panggung sandiwara. Manusia menurut dramawan-budayawan Inggris legendaris itu senantiasa bermain sandiwara hingga akhir hayatnya.</p>
<p>Dunia ini cuma panggung sandiwara.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Masalah Orangtua &amp; Pengasuhan Anak]]></title>
<link>http://lifeschool.wordpress.com/2009/12/05/masalah-orangtua-pengasuhan-anak/</link>
<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 23:40:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>bhayu</dc:creator>
<guid>http://lifeschool.wordpress.com/2009/12/05/masalah-orangtua-pengasuhan-anak/</guid>
<description><![CDATA[Dalam setiap kelas pengasuhan anak (parenting class), biasanya para orangtua yang datang menanyakan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dalam setiap kelas pengasuhan anak (parenting class), biasanya para orangtua yang datang menanyakan mengenai kasus yang mereka hadapi. Dan itu terus berulang di setiap kali. Pada hal, sebenarnya referensi cukup banyak. Ada kendala yang saya lihat menghalangi setiap orang yaitu rutinitas menghalangi konsistensi untuk bertindak. Padahal, sebenarnya dalam hampir setiap permasalahan selalu ada pola berulang, dan itulah yang seharusnya dipelajari. Karena itulah sebenarnya kemudian ada manual atau tutorial penanganan sesuatu hal.</p>
<p>Demikian pula dalam pengasuhan anak, sebenarnya selalu ada pola berulang. Apa itu? Ketidakmauan belajar dari pengalaman orang lain, keengganan memahami karakter tiap orang yang berbeda, dan ketakutan untuk memutus mata rantai. Banyak anak yang tidak diasuh oleh orangtua aslinya, tapi sebenarnya oleh kakek-neneknya karena pola pengasuhannya tidak berubah. Selain itu, di Indonesia kerap kali memang kakek-nenek terlibat langsung secara harfiah dalam pengasuhan anak. Dengan demikian, kerap terjadi ketidaksepahaman dalam pola asuh anak. Apalagi, di Indonesia anak yang sudah menikah dan bahkan sudah punya anak kerap masih tinggal di rumah orangtua salah satu pasangan. Hal itu kerap kali sulit dihindari karena masalah ekonomi.</p>
<p>Namun itu bukan berarti kemandirian orangtua dalam mengasuh anak lantas berhak diintervensi. Karena tetap saja anak adalah anak orangtuanya, bukan anak kakek-neneknya.</p>
<p>Masalah yang sebenarnya bukanlah masalah utama ini menjadi krusial karena banyak keluarga Indonesia tak mampu melepaskan diri dari keterikatan dengan keluarganya. Masalah ekonomi hanya salah satu penyebab, namun sebenarnya lebih kepada emosional yang  merasa diri terbuang apabila tidak melekat kepada keluarga. Pengasingan dari lingkungan pada masa lalu seringkali merupakan hukuman resmi yang diterapkan negara. Tentu dengan begitu diharapkan yang bersangkutan tidak merasa berguna lagi terutama karena ia tidak mampu berperan bagi keluarganya.</p>
<p>Dalam masalah orangtua dalam kaitan dengan pengasuhan anak adalah kerapkali orangtua yang sudah merupakan individu dewasa melupakan bahwa mereka pun harus terus belajar dan berkembang. Memang bisa saja ada kelas, kursus atau seminar tentang pengasuhan anak, namun sekolah sesungguhnya adalah di sekolah kehidupan. Menjadi orangtua adalah sekolah seumur hidup. Tidak ada kata &#8220;lulus&#8221; karena kelulusan justru ditentukan oleh yang diasuh, yaitu anak itu sendiri. Apabila anak menaruh hormat dan bukan takut atau segan, merasakan cinta dan perlindungan yang tulus, mendapatkan bekal untuk hidupnya dan pada akhirnya tahu bahwa semua itu merupakan hasil dari pengasuhan orangtua yang benar, barulah orangtua bisa dianggap &#8220;lulus&#8221;. Akan tetapi, kebanyakan itu baru terjadi saat orangtua sudah berada di liang kubur. Karena itu, menjadi orangtua tidak hanya merupakan pekerjaan penuh waktu, tapi jelas seumur hidup.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Khasiat Susu Kedelai sebagai Anti Rematik dan Osteoporosis]]></title>
<link>http://pustakaalbayaty.wordpress.com/2009/11/18/khasiat-susu-kedelai-sebagai-anti-rematik-dan-osteoporosis/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 16:42:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>bambangwahono</dc:creator>
<guid>http://pustakaalbayaty.wordpress.com/2009/11/18/khasiat-susu-kedelai-sebagai-anti-rematik-dan-osteoporosis/</guid>
<description><![CDATA[Artikel ini untuk melengkapi artikel sebelumnya yaitu 10 Khasiat Susu Kedelai yang harus Anda Ketahu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><a href="http://pustakaalbayaty.wordpress.com/files/2009/11/kedelai1.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-489" title="kedelai1" src="http://pustakaalbayaty.wordpress.com/files/2009/11/kedelai1.jpg?w=122" alt="kedelai " width="122" height="150" /></a>Artikel ini untuk melengkapi artikel sebelumnya yaitu <a title="khasiat susu kedelai yg harus anda ketahui" href="http://pustakaalbayaty.wordpress.com/2009/10/04/10-khasiat-susu-kedelai-yang-harus-anda-ketahui/" target="_blank">10 Khasiat Susu Kedelai yang harus Anda Ketahui</a>. Banyak sekali manfaat susu bagi tubuh manusia. Mulai bayi, anak balita, hingga orangtua, semuanya membutuhkan segelas susu agar tetap sehat dan memiliki tubuh yang sehat dan prima.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain susu sapi, ternyata susu yang terbuat dari bahan kedelai juga sangat bermanfaat bagi tubuh. Tercatat, susu kedelai mampu menghilangkan nyeri pada persendian, sehingga baik dikonsumsi mereka yang terserang penyakit pada tulang dan persendian, misalnya <em>osteoporosis</em> dan <em>osteoarthritis</em>. Penderita kedua penyakit ini biasanya mengalami nyeri dan sakit pada tulang dan persendian.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya, orang dengan usia lanjut dan wanita pasca menopause, rentan dengan penyakit yang sering juga disebut dengan rematik ini. Pada penelitian yang dilakukan Dr John Anderson dari University of North Carolina, menemukan bahwa pada <em>osteoporosis</em>, kualitas masa tulang menurun atau keropos dan mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah.</p>
<p style="text-align:justify;">Hormon estrogen yang berfungsi mempertahankan masa tulang, pada periode pascamenopause mengalami disfungsi. Sementara penyakit nyeri sendi, atau sering disebut dengan <em>osteoarthritis</em>, terjadi karena berkurangnya kekuatan tulang rawan pada engsel atau sendi. Akibatnya, kemampuannya sebagai penyangga atau penopang ikut melemah. Punggung, leher, lutut, pinggul, dan pinggang adalah tempattempat di mana <em>osteoarthritis</em> muncul.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengatasi kedua penyakit di atas, biasanya dokter memberikan beberapa jenis obat yang bersifat temporer, mengatasi rasa sakit, dan memberikan beberapa suplemen untuk tulang. Risikonya adalah efek buruk pada lambung jika mengonsumsi obat terus-menerus. Selain itu, suplemen susu sapi atau hewan juga berisiko karena susu yang berasal dari hewan memiliki kandungan protein berfosfor yang mengakibatkan kehilangan kalsium dari tubuh.<br />
Solusinya adalah segera mengonsumsi susu kedelai, karena bagus untuk mengobati nyeri sendi atau osteoporosis. Susu kedelai mengandung <em>isoflavon</em> dan mampu mempertahankan kadarnya untuk mencegah keropos tulang. <em>Isoflavon </em>kedelai dapat memperkuat massa tulang, sedangkan senyawa <em>genistin</em> kedelai mempunyai efek mencegah keropos tulang lebih baik dari premarin.</p>
<pre>sumber: suaramedia.com

Diupload oleh : www.pustakaalbayaty.wordpress.com
Kunjungi blog kami yang lain:
www.tokoherbalonline.wordpress.com
www.wahonot.wordpress.com
</pre>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Audio : Memberi Nama yang Baik, Memberi Contoh, dan Mengajarkan Agama (Seri Pendidikan Anak 4)]]></title>
<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2009/11/17/audio-memberi-nama-yang-baik-memberi-contoh-dan-mengajarkan-agama-seri-pendidikan-anak-4/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 12:39:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>Al Falimbany</dc:creator>
<guid>http://alfalimbany.wordpress.com/2009/11/17/audio-memberi-nama-yang-baik-memberi-contoh-dan-mengajarkan-agama-seri-pendidikan-anak-4/</guid>
<description><![CDATA[Memberikan Nama yang Baik Imam Ibnu Qoyim menyebutkan di zamannya, “Jarang kau dapati nama yang buru]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3 style="text-align:justify;">Memberikan Nama yang Baik</h3>
<p style="text-align:justify;">Imam Ibnu Qoyim menyebutkan di zamannya, <em>“Jarang kau dapati nama yang buruk kecuali melekat pada orang yang buruk pula. Dan Allah dengan hikmah yang terkandung dalam qadha dan qadarnya memberikan ilham kepada jiwa untuk menetapkan nama sesuai yang punya.”</em> Orang yang memiliki nama yang baik, kadang malu jika mengerjakan suatu keburukan. Dia berusaha agar dapat mengerjakan kebaikan sesuai dengan namanya.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh Bakr Abu Zaid</strong> mengatakan bahwa dosa-dosa dapat diampuni dengan taubat, tapi ada dosa yang sulit untuk dihilangkan. Yaitu dosa memiliki nama yang jelek. Misalkan seorang kafir yang masuk Islam kemudian diberikan nama hijrah, akan tetapi nama saat dia kafir masih tetap tertulis di surat-surat resmi seperti paspor, ijasah, dll.</p>
<h3 style="text-align:justify;">Memberikan Contoh yang Baik</h3>
<p style="text-align:justify;">Contoh pengaruh orang tua terhadap anak:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah bin Zubair</strong> merupakan putra dari <strong>Zubair bin Awam</strong>. Dalam <strong>Syiar Alamin Nubala</strong> diriwayatkan dari Urwah bahwa telah masuk Islam Zubair bin Awam, ketika itu beliau berumur 8 tahun. Dan tersebar isu bahwa Rasulullah sudah dibunuh di Makah, maka Az Zubair keluar sedangkan umurnya baru 12 tahun, di tangannya ada pedang. Orang yang melihatnya takjub, beliau berjalan sampai kehadapan Rasulullah. Ditanya Rasulullah kenapa Zubair bin Awam membawa pedang seperti itu, dijawab bahwa Az Zubair ingin membunuh orang yang telah membunuh Rasulullah sebagaimana tersebar dalam berita bohong yang dia dengar.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kisah Abu Ali Fudhail bin Iyadh</strong> dengan anaknya yang terkenal dengan zuhud dan rasa takutnya. Disebutkan bahwa beliau membaca surat Al Haqqah dalam shalat shubuh, saat sampai ayat<strong> “Tangkaplah dia lalu belenggulah lehernya ke tangannya” (Al Haqqah : 30)</strong> maka beliau menangis. Kemudian saat shalat Maghrib beliau menjadi imam dan putranya berada di sampingnya. Kemudian membaca surat At Takatsur, saat sampai ayat <strong>“Kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)” (At Takatsur : 7-8)</strong>. Maka Ali bin Fudhail pun menangis sampai seperti pingsan, sedangkan Fudhail bin Iyadh juga ikut menangis dan terbata-bata dalam membaca ayat.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka hendaknya orang tua memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya baik dalam urusan dunia atau akhirat. Misal ibu segera mengerjakan shalat jika adzan sudah berkumandang walaupun baru mengerjakan pekerjaan rumah tangga.</p>
<h3 style="text-align:justify;">Memberikan pendidikan agama</h3>
<p style="text-align:justify;">Memberikan pendidikan agama sesuai tingkat pemahaman anak. Mengajarkan rukun Islam, rukun Iman, dll. Membiasakan anak-anak untuk menghafal Al Quran dan hadits-hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>DOWNLOAD</strong></p>
<p><a href="http://www.4shared.com/file/144994026/cdb3fde3/Al-Ustadz_Dzulqarnain_-_Bahayanya_Ideologi_Terorisme_Berkedok_Jihad__Tanya-Jawab_.html"><img src="http://sthelens.audiop.org.uk/thumbnails/download_large.gif" alt="http://sthelens.audiop.org.uk/thumbnails/download_large.gif" width="45" height="41" /></a><a href="http://upload.darussunnah.com/247PENDIDIKAN%20ANAK%203%20%28UST%20LUQMAN%20JAMAL%29.MP3">Arti nama dan teladan orang tua terhadap anak (Al Ustadz Luqman jamal,Lc). Mp3</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
