<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>oret-oret &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/oret-oret/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "oret-oret"</description>
	<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 10:41:10 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Ya-Ha Stats 10000 tercapai]]></title>
<link>http://fitridefi.wordpress.com/2009/12/16/ya-ha-stats-10000-tercapai/</link>
<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 06:51:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>fitridefi</dc:creator>
<guid>http://fitridefi.wordpress.com/2009/12/16/ya-ha-stats-10000-tercapai/</guid>
<description><![CDATA[Makasih ya buat yang udah mengunjungi blog ku ini,, targetku tercapai, maklum karena pemula jadi tar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Makasih ya buat yang udah mengunjungi blog ku ini,, targetku tercapai, maklum karena pemula jadi targetnya gak terlalu tinggi, tapi makasih buat yang udah ngunjungi blog ku ini, Keep Moving Forward</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pandangilah wajah ibumu]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2009/11/26/pandangilah-wajah-ibumu/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 16:23:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2009/11/26/pandangilah-wajah-ibumu/</guid>
<description><![CDATA[Ku beruntung hingga saat ini masih ditemani ibu. Ketika ada yang mengatakan pandanglah wajah ibumu k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ku beruntung hingga saat ini masih ditemani ibu. Ketika ada yang mengatakan pandanglah wajah ibumu ketika dia sedang tidur seolah-olah besok pagi matanya tak terbuka lagi.  Mata yang terpejam itupun mengisyaratkan kelelahan karena sudah melewati hari-hari yang melelahkan. Kadang ada kata maupun sikap yang menyinggung hatinya, yang kadang dipendamnya sendiri.</p>
<p>Mungkin rasanya masih belum sanggup jika memang mata itu tak terbuka lagi besok pagi. Memandang wajahnya dalam-dalam sungguh membuat air mata tak terbendung. Semoga besok pagi ku melihat mata itu terbuka dengan senyum dibibir. Masih belum banyak kebahagiaan yang diberikan untuk sang bunda. Bahkan dengan berkilo-kilo berlian pun, belum sanggup menganti semua apa yang telah diberikan ibu.</p>
<p>Ku masih beruntung hingga saat ini ada ibu yang selalu menghibur di kala susah. Rasanya, jutaan beban akan lenyap jika ibu telah mengulurkan tangannya. Puluhan tahun sudah ibu memberikan tangannya untuk selalu membantu. Bahkan dari masih segumpal darah pun ibu memberikan untaian kasih sayangnya.</p>
<p>Ku masih beruntung masih bisa memandangi wajah ibu dengan sepuas-puasnya. Melihat setiap garis-garis wajah yang sudah mulai terlihat. Walau ada ketakutan untuk tidak bisa terlepas dari genggaman ibu. Entah hanya dengan mendengar suaranya saja, itu sudah cukup memberikan kebahagiaan.</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Abis Lulus ini,, Kemana Ya? Bingung]]></title>
<link>http://fitridefi.wordpress.com/2009/11/14/abis-lulus-ini-kemana-ya-bingung/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 04:40:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>fitridefi</dc:creator>
<guid>http://fitridefi.wordpress.com/2009/11/14/abis-lulus-ini-kemana-ya-bingung/</guid>
<description><![CDATA[Ini pasti ada di setiap kepala anak SMK yang sudah lulus nanti kira-kira pertanyaan yang akan timbul]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ini pasti ada di setiap kepala anak SMK yang sudah lulus nanti kira-kira pertanyaan yang akan timbul seperti ini “Apa nanti aku kuliah ya?” atau “Nanti aku bisa kerja dimana?” atau “Atau aku nikah aja deh ama pacarku?” (heheh kalo pilihan yang ketiga itu orang yang gak punya pemikiran kedepan&#8230; maap ya)</p>
<p>Aku maunya tamat dari SMK ini langsung melakukan “sesuatu yang aku inginkan” tapi ortu ku menyuruh supaya cari kerja, memang katanya kalo TI saat ini sedang lagi naik daun, tapi apa bisa? Bukan bermaksud untuk pesimis,, rata-rata di bidang TI itu anak cowok yang megang, susah cewek dapatnya. Tapi aku nggka nyesal masuk jurusan ini karena inilah pilihanku.<br />
<!--more--><br />
Kalo kuliah duit dari mana? Kuliah aja mahalnya bukan main,, mana adik ku masih banyak dibawah. Orang tuaku gak akan mampu untuk membiayainya,, mereka bilang mending cari kerja dulu baru kuliah, kan kuliah nanti bisa kapan-kapan gak mesti tamat langsung kuliah.. </p>
<p>Apa kuliah itu penting? Menurutku kuliah itu cuma untuk mengambil gelar bagi yang dah punya skill. Tapi kadang aku berpikir lain lagi&#8230; kuliah itu penting supaya nanti gak malu-maluin orang tua dan setidaknya ada harga bagi ku. </p>
<p>Begitulah dilema seorang anak yang mempunyai cita-cita selangit tapi gak mampu .. ingin “itu” takut dibilang durhaka, kalo kuliah ntar takutnya gak terurus gara-gara kerja, jadi aku harus apa? Aku bingung sangat.. Ya Allah bantulah hamba mu yang penuh dengan dosa ini&#8230; supaya bisa mendapatkan jalan keluarnya..Amiin..</p>
<p>Bagi teman teman yang memiliki keluarga yang mampu, pesanku cuma satu. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya jangan dihabiskan dengan berhuru hara gak jelas&#8230; kalo aku jadi kalian akan aku lakukan hal-hal yang bisa membuat itu berguna.. (bukan berarti saya gak pernah senang-senang, tapi jangan sampai kelewatanlah. Jadi sok deh gw.)</p>
<p>Karya: Fitri Defi</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bajingan!!!!!!]]></title>
<link>http://c4pd3eh.wordpress.com/2009/07/07/bajingan/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 05:00:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Miranda Modjo</dc:creator>
<guid>http://c4pd3eh.wordpress.com/2009/07/07/bajingan/</guid>
<description><![CDATA[Kenapa KAMU harus mampir dalam hidupku KAMU rusak aku hingga berkeping-keping dan SETAN nya, KAMU ti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kenapa KAMU harus mampir dalam hidupku KAMU rusak aku hingga berkeping-keping dan SETAN nya, KAMU ti]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SYEIKH KHATIB SAMBAS DAN TAREKAT "QODIRYYA WA NAQSABANDIYYA"]]></title>
<link>http://tristiono.wordpress.com/2009/03/16/syeikh-khatib-sambas-dan-tarekat-qodiryya-wa-naqsabandiyya/</link>
<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 14:43:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>tristiono</dc:creator>
<guid>http://tristiono.wordpress.com/2009/03/16/syeikh-khatib-sambas-dan-tarekat-qodiryya-wa-naqsabandiyya/</guid>
<description><![CDATA[BIOGRAFI KHATIB SAMBAS Nama Lengkapnya adalah Ahmad Khatib Sambas bin Abd al-Ghaiffar al­Sambasi al-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">BIOGRAFI KHATIB SAMBAS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.8pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Nama Lengkapnya adalah Ahmad Khatib Sambas bin Abd al-Ghaiffar al­Sambasi al-Jawi (baca: Indonesia). la di lahirkan di kampung Dagang atau Kampung Asam, Sambas, Kalimantan Barat (Borneo) pada 1217 H/1802 M. Setelah mendapatkan pendidikan agama di kampung halamannya, ia tinggal di Mekkah pada usia 19 untuk memperdalam ilmu agama clan menetap di sana selama quartal kedua abad 21. Ia menetap di Mekkah hingga akhir hayatnya pada tahun 1289 H/1872 M. Di sana ia belajar sejumlah ilmu pengetahuan agama, termasuk sufisme. Dan ia pun herhasil mendapatkan kedudukan terhormat di antara teman-teman sezamannya hingga akhirnya ajarannya berpengaruh kuat hingga sampai ke Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.8pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Diantara guru-gurunya antara lain ; Syaikh Daud ibn Abdullah ibn Idris al­Fatani (w. 1843), seorang ulama besar yang menetap di Mekkah, Syeikh Samsuddin, syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari (w. 1812). Bahkan ada sumber yang menyatakan bahwa beliau juga murid dari Syeikh Abd Samad al-Palembangi (w. 1800). Seluruh murid-murid Syeikh Syamsuddin memberikan penghargaan yang tinggi atas Kompetensinya serta menobatkannya sebagai Syeikh </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">Mursyid Kamil Mukammil.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.8pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Selain yang disebutkan di atas, terdapat juga sejumlah nama yang juga menjadi guru-guru Khatib Sambas, seperti Syaikh Muhammad Salih Rays, seorang mufti bermadzhab Syafi’i, Syeikh Umar bin Abd al-Rasul al-Attar, juga mufti bermadzhab</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;"> Syafi’I (w. 1249 H/833/4 M), dan Syeikh ‘Abd al-Hafiz ‘Ajami (w. 1235 H/1819/20 M). ia juga menghadiri pelajaran yang diberikan oleh Syeikh Bisri al-Jabarti, Sayyid Ahmad Marzuki, seorang mufti bermadzhab Maliki, Abd Allah (Ibnu Muhammad) al-Mirghani (w 1273 H/1856/7 M), seorang mufti bermadzhab Hanafi serta Usman ibn Hasan al-Dimyati (w 1849 M). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.8pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Dari informasi ini dapat dikctahui bahwa Syeikh Khatib Sambas telah mendalami kajian Fiqh yang dipelajarinya dari guru-guru yang representatif dari tiga madzhab besar Fiqh. Sementara, al-Attar, al-Ajami dan al-Rays juga tiga ulama yang terdaftar sebagai guru-guru sezaman Khatib Sambas, Muhammad ibnu Sanusi (w. 1859 M), pendiri tarekat Sanusiyah. Baik Muhammad Usaman al-Mirghani (pendiri tarekat Khatmiyah yang sekaligus saudara Syeikh ‘Abd Allah al-Mirghani) maupun Ahmad Khatib Sambas, keduanya juga anggota dari sejumlah tarekat yang kemudian ajaran-ajaran taraket tersebut digabungkan mcnjadi tarekat tersendiri. Dalam kasus tarekat Khatmiyah, tarekat ini penggabungan dari tarekat Naqsabandiyya, Qadiriyya, Chistiyah, Kubrawiyah dan Suhrawardiyah. Sementara dalam catatan pinggir kitab <em>Fath al-’Ariin </em>dinyatakan bahwa sejumlah unsur tarekat penulis kitab tersebut adalah Naqsabandiyya, Qadiriyya, al-Anfas, al-Junaid, Tarekat al-Muwafaqa serta, sebagaimana yang disebutkan sejumlah sumber, tarekat Samman juga menggabungkan seluruh aliran tarekat di atas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:10.8pt;text-align:justify;text-indent:28.8pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Kelenturan ajaran Qadiriyya bisa disebut sebagai faktor yang memotivasi Syeikh Sambas untuk mendirikan taerkat <em>Qadiriyya wa Naqsabandiyya. </em>Tentu saja, dalam tradisi sufi memodifikasi ajaran tarekat bukanlah hal yang tidak biasa<em> </em></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">dilakukan. Misalnya, terdapat 29 aliran tarekat yang merupakan cabang dari tarekat Qadiriyya. Sebenarnya bisa saja Syeikh Khatib Sumbas menamakan tarekat yang didirikannya dengan Tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">al-Sambasiyah </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">atau </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">al-Khaitibiyah </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">sebagaimana kebanyakan aliran tokoh tainnya yang biasanya menamakan tarekat dengan nama pendirinya, namun Khatib Sambas justru mcmilih menamakan tarekatnya dengan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Qadiriyya wa Naqsabandiyya. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">Disini ia lebih menekankan aspek dua aliran arekat yang dipadukannya dan lebih jauh menunjukkan bahwa tarekat yang didirikannya benar-benar asli </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(original).</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:10.8pt;text-align:justify;text-indent:28.8pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">Sementara itu, kebanyakan murid-murid Ahmad Khatib Sambas berasal dari tanah Jawa dan Madura dan merekalah yang meneruskan larekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Qadiriyya wa Naqsabandiyya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">ketika pulang ke Indonesia. Diantara murid-muridnya tersebut adalah ‘Abd al-Karim (Banten), Kyai Ahmad Hasbullah ibn Muhammad (Madura), Muhammad Isma’il ibn Abdurrahim (Bali), ‘Abd al-Lathif bin ‘Abd al-Qadir al­Sarawaki (Serawak), Syeikh Yasin (Kedah), Syeikh Nuruddin (Filipina), Syeikh Nur al-Din (Sambas), Syeikh ‘Abd Allah Mubarak bin Nur Muhamcnad (Tasikmalaya). Dari murid-muridnya inilah kelak ajaran tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Qadiriyya wa Naqsabandiyya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">sampai dan menyebar luas ke pelosok Nusantara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt 10.8pt 0;" dir="ltr" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">AJARAN SYEIKH AHMAD KHATIB SAMBAS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.8pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">Menurut Naguib al-Attas, Syeikh Sambas merupakan seorang Syeikh dari dua tarekat yang berbeda, tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">Qadiriyva </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">dan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">Naqsabandiyya. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">Karena ia sebenarnya tidak mengajarkan kedua Tarekat ini secara terpisah akan tetapi mengkombinasikan kedua ajaran tarekat tersebut sehingga dikenali sebagai aliran tarekat baru yang berrbeda baik dengan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">Qadiriyya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">maupun </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">Naqsabandiyya. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">Dalam prosedur dzikir, Syeikh Sambas mengenalkan Dzikir negasi dan afirmasi </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">(Dzikr al-Nafy wa al-Ithbat) </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">sebagaimana yang dipraktekkan dalam tarekat Qadiriyya. Selain itu, ia juga rnelakukan sedikit perubahan dari praktek </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">Qadiriyya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">pada umumnya yang diadopsinya dari konsep Naqsabandiyya tentang lima </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">Lathaif. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">Sedangkan pengaruh lain dari Naqsabandiyya dapat dilihat dalam praktek visualisasi </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">rabitha, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">baik sebelum rnaupun sesudah </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">dzikir </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">dilaksanakan. Selain itu, jika Dzikir dalam tarekat Naqsabandiyya biasanya dipraktekkan secara samar dan dalam Qadiriyya diucapkan dengan suara yang keras maka Syeikh Khatib Sambas mengajarkan kedua cara drikir ini. Demikianlah Khatib Sambas menggabungkan dua tarekat yang berbeda sehingga Akhirnya </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">Qadiriyya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">dan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">Naqsabandiyya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">pun mengambil tehnik spiritual utama dari dua aliran tarekat, </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">Qadariyah </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">dan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">Naqsabandiyya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.8pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">Untuk melihat lebih jauh ajaran Ahmad Khatib Sambas maka berikut akan dikemukakan sejumlah tema-tema penting yang terdapat di dalam kitab </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.7pt;">Fath al­Arifin, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">sebuah kitab yang diyakini ditulis oleh Syeikh Sambas sendiri. Kitab ini sangat besar pengaruhnya di kawasan dunia Melayu dan sekaligus menjadi pedoman </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">bagi pengikut tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:-.1pt;">Qadiriyya wa Naqsabandiyya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">di pelosok Nusantara. Adapun sejumlah tema yang diangkat oleh Syeikh Sambas dalam kitab ini antara lain ; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Prosedur Pembai’atan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.8pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Dalam prosesi pembai’atan seorang yang akan memasuki tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:-.1pt;">Qadariyah wa Naysabandiyya, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">seorang Syeikh harus membaca bacaan yang khusus bagi pengikut tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.9pt;">Qadariyya wa Naqsabandiyya. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Dan diteruskan dengan membaca surah al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Rasulullah SAW, sahabat-sahabatnya, seluruh Silsilah tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:-.1pt;">Qudiniyyu Qadiriyya wa Naqsabandiyya, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">khususnya kepada </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:-.1pt;">Sultan Auliya’ </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Syeikh Abd al-Qadir a’-Jailani dan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:-.1pt;">Sayyid Tha’ifa al-Sufiyya, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Syeikh Junayd al-Baghdadi. Selanjutnya Syeikh berdo’a untuk murid tersebut dengan harapan semoga sang murid mendapatkan kemudahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Sepuluh Latha’if (sesuatu yang Halus)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Setelah menjelaskan prosedur dan tata cara pembai’atan terhadap seseorang yang ingin memasuki Tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:-.1pt;">Qadiriyya wa Naqsabandiyya,</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;"> Syeikh Sambas kemudian </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">menjelaskan bahwa manusia terdiri dari sepuluh </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Latha’if. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">Lima</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;"> </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Lalha’it </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">yang pertama disebut sebagai </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">alam al-amr </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">(alam perintah). Kelima </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Latu’if </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">tersebut antara lain; </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Lathifa al-Qalbi </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">(halus hati), </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Lathifa al-Ruh </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">(halus ruh), </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Lathifa al-Sirr </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">(halus </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">rahasia), Lathifa al-Khafi </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">(halus rahasia) dan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Lathifa ul-Akhfa </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">(halus yang paling tersembunyi). Sementara lima </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Latha’if </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">seterusnya disebut sebagai </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">‘alum al-­khalq </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">(alam ciptaan) yang meliputi; </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Lathifa al-Nafs </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">dan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">al-’anaasir al-arba’a </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">(unsur yang empat) yakni air, udara, api dan tanah. Selanjutnya Syeikh Sambas menentukan bahwa </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Lathifa al-Nafs </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">bertempat di dalam dahi dan tempurung kepala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">Tata Cara Beramal</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:-.05pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">Setetelah menjelaskan sepuluh </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Latha’if, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">Syeikh Sambas melanjutkan dengan petunjuk tata cara beramal (baca: berzikir) sebagaimana berikut ;</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.8pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-.05pt;text-align:justify;text-indent:-.05pt;" dir="rtl"><span style="font-size:17pt;letter-spacing:.8pt;" lang="AR-SA">أستغفرالله </span><span style="font-size:17pt;letter-spacing:.8pt;" lang="AR-EG">الغفور الرحيم. اللهم صـل على سيـدنا محمد و صحبه و سلم. لا إله إلا الله</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:-.05pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">Cara membaca kalimat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">la ilaaha illa Allah </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">dimulai dari menarik nafas panjang sambil membaca “</span><span style="font-size:10pt;letter-spacing:.5pt;" dir="rtl" lang="AR-EG">لا</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">” dari pusat ke otak. Lalu membaca “</span><span style="font-size:10pt;letter-spacing:.5pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">إلـه</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">” ke arah kanan kemudian dilanjutkan dengan kalimat </span><span style="font-size:10pt;letter-spacing:.5pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">إلا الله</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;"> ke dalam hati seraya mengingat maknanya.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.8pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:-.05pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">Kemudian membaca </span><span style="font-size:17pt;letter-spacing:.5pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">لا مقصود إلا الله</span><span style="font-size:17pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">sambil membayangkan wajah Syeikh di hadapannya jika Syeikhnya jauh dari pandangannya akan tetapi jika dekat </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">maka tinggal menanti limpahan saja. Inilah yang disebut dengan dzikir </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Nafy wa Ithbat </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">yang dapat dilakukan baik dengan nyaring </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">(zhihar) </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">atau di dalam hati </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">(sirr). </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:-.05pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Setelah selesai berzikir diteruskan dengan membaca solawat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Munjiyat </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">sebagaimana berikut : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-.05pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:17pt;letter-spacing:.8pt;" lang="AR-EG">اللهم صـل على سيـدنا محمد صلاة تنجينا بها من حميع الأهوال و الأفات (الخ)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:-.05pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Kemudian diteruskan dengan membaca surah al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Rasulullah SAW, sahabat-sahabatnya, seluruh Silsilah tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Qadiriyya wa Naqsabandiyya, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">khususnya kepada </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Sultan Auliya’ </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Syeikh Abd al-Qadir al-Jailani dan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Sayyid Tha’ifa al-Sufiyya, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Syeikh Junayd al-Baghdadi sebagaimana halnya ketika melakukan pembai’atan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:-.05pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Muraqabah </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">1. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muraqabah al-Ahadiyah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">2. <em><span style="letter-spacing:.1pt;">Murayabah al-Ma’iyah</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">3. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">Muruqabuh al-Aqrabiyah</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">4. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Muraqabah al-Muhabbati fi Da’irat Ulu;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">5. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Muraqabah al-Muhabbati fi Da’irat Tsaniyah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">6. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Muruqabah al-Mahabbut fi</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;"> Qawsi </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">7. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muraqabah wilayat al-’Uly</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">8. Muruqabah Kamalut Nubuwwah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">9. Muraqabah Kamalat Risalah </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">10. Muraqaboh Kamalat Uli al-’Azm.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">11. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muraqabah al-Mahabbat Da’irat Khullu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">12. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muruqabah Da’iru, Mahabbat Syarfat Hiya Haqiqat Sayyidina Musa</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">13. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muraqabah al-Zatiyah al-Mumtazijah bi Mahabbat wa Hiya Haqiqat Muhammadiya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">14. </span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muraqabah</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;"> Mahbubiyat as-Syarfat wa Hiya Haqiqat Ahmadiyyah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">15. </span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muraqabah</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;"> Hubb al-Syirf </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">16. </span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muraqabah</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;"> La Ta’ayyun </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">17. </span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muraqabah</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;"> Haqiqat al-Ka’bah </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">18. </span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muraqabah</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;"> Haqiqat al-Qur’an </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">19. </span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muraqabah</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;"> Haqiqat</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;"> <em>al-Sholat</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0 -.05pt .0001pt 21.3pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">20. </span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Muraqabah</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;"> Dairat Ma’budiyah al-Syirfa</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.5pt;">PENYEBARAN TAREKAT QADIRIYYA WA NAQSABANDIYYA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">Sepulang dari kota suci Mekkah, murid-murid Syeikh Sambas yang sebelumnya telah dibai’at oleh Syeikh Sambas kemudian menyebarkan Tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.9pt;">Qadariyya wa Naqsabandiyya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.2pt;">ke daerah mereka masing-masing. Dari murid-muridnya inilah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">kemudian </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tarekat Qadariyya wa Naqsabandiyya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">akhirnya tersebar luas di sejumlah daerah di Nusantara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Diantara muridnya yang memiliki pengaruh adalah ‘Abd al­ Karim al-Banten. Ia lahir pada tahun 1840 di Lempuyang, satu daerah yang terletak di Tanara Jawa Barat. Ia berangkat ke Mekkah di usianya yang sangat Muda untuk menimba ilmu di sana. Setelah beberapa tahun berdomisili di kediaman Syeikh Sambas, ‘Abd al-karim Banten menerima </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">ijaza </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">sebagai anggota penuh tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Qadiriyya wa Naqsabandiya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">dan di usianya yang masih muda belia ini ia lelah mendalami ajaran Syaeikh Sambas. Tugas pertama yang diembannya adalah menjadi guru tarekat di Singapura. Pada Tahun 1872 ia pulang ke Lempuyang selama tiga tahun kemudian pada tahun 1876 kembali ke Mek’kah untuk mengemban tugas sebagai pengganti Syeikh Sambas. Sebagai tambahan, lima cabang tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.9pt;">Qadariyya wa Naqsabandiyya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">yang ada di pulau Jawa menisbatkan Silsila mereka kepada dirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">Wejangan ‘Abd al-Karim memiliki pengaruh yang kuat dalam masyarakat <a href="http://itanten.la/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;">Banten.</span></a> Ia memandang dibutuhkan pemurnian terhadap kepercayaan dan praktek beragama dengan mengedepankan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">zikir </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">sebagai fokus revitalisasi iman. Di sejumlah tempat, zikir dilakukan baik di Masjid ataupun langgar, sementara pada haris-hari libur diselenggarakan zikir malam. Oleh kebanyakan orang, Abd Karim dipercaya sebagai seorang wali yang dapat memberikan berkah tertentu </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(barakat) </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.4pt;">serta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;"> memiliki kekuatan diluar kemampuan manusia </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.6pt;">(karamat). </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Belakangan ia lebih dikenal dengan nama Kiyai Agung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:14.4pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Di antara murid-murid H. ‘Abd al-Karim yang termuka antara lain ; H. Sangadeli Kaloran, H. Asnawi Bendung Lempuyang, H. Abu Bakar Pontang, H. Tubagus Isma’il Gulatjir dan H. Marzuki Tanara. Dari semua muridnya ini yang paling terkenal adalah yang disebut paling akhir. Dimana, sepulang dari Mekkah H. Marzuki Tanara mendirikan pondok pesantren di tempat kelahirannya (Tanara). Di Tanara ia mengajar dari tahun 1877-1888. Dua ulama terkemuka Banten, Wasid dan Tubagus Isma’il sering berkonsultasi kepadanya tentang masalah agama dan masalah yang ditimbulkan oleh kolonialisme</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:14.4pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Murid lain Syeikh Sambas adalah Kyai Ahmad Hasbullah ibn Muhamrnad Madura. Ketika Kyai Ahmad Hasbullah tinggal di Rejoso Jawa Timur, Khalil, putera tiri pendiri pondok pesantren Rejoso menerima <em>ijaza</em> darinya. Kemudian Khalil menyerahkan kepemimpinan kepada saudara tirinya, Romli bin Tamim dan diteruskan oleh</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;"> Kiyai </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Musta’in Romli. Untuk sementara Kyai Musta’in Romli mendapatkan popularitas di antara pemimpin Nahdhatul Ulama, namun popularitasnya kemudian hilang akibat ia merubah afiliasi politiknya dari sebelumnya mendukung PPP (ketika itu </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.6pt;">diback </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">up NU) kemudian mendukung Golkar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:14.4pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.3pt;">Demikian sehingga tarekat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.9pt;">Qadariyya wa Naqsabandiyya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.9pt;">dapat tersebar di Nusantara berkat murid dari Syeikh Khatib Sambas yang mayoritas berasal dari Pulau Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:14.4pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;letter-spacing:.1pt;">Oleh : Eko Tristiono</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menunggu Datangnya Hari]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2008/10/18/menunggu-datangnya-hari/</link>
<pubDate>Sat, 18 Oct 2008 12:55:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2008/10/18/menunggu-datangnya-hari/</guid>
<description><![CDATA[Hanya tinggal hitungan minggu. Atau hanya tinggal hitungan hari. Kalau besok datang, hari itu akan b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hanya tinggal hitungan minggu. Atau hanya tinggal hitungan hari. Kalau besok datang, hari itu akan berkurang lagi. Apakah semuanya akan siap? Atas nama amanah dan ibadah, semua keikhlasan harus tetap diperteguhkan. Walau kadang, para setan bergentayangan untuk membisikan kata-kata ragu.</p>
<p>Hari itu akan dijelang. Kalau ditanya siap atau tidak siap, maka pertanyaan ini tidak akan ada habis-habisnya. Selalu saja ada alasan. Kadang hati mantap, kadang hati bimbang. Semua ini langkah awal untuk bisa memulai dengan baik.</p>
<p>Siap tidak siap, hari itu akan datang. Siapkan mental, uji keberanian untuk sebuah tantangan hidup baru. Semoga tantangan itu tidak akan jauh berbeda dari apa yang sudah dijalankan sekarang. Jangan pernah terselip lagi kata bimbang. Karena itu akan kacaukan semuanya.</p>
<p>Minggu kedua November. Semoga tanggal itu keberuntungan. Mulai hari itu dan untuk waktu yang seterus, keberuntungan selalu datang. Walau, di awalnya harus rela meninggalkan apa yang sudah dikerjakan.</p>
<p>Menghitung hari. Begitu, judul lagu Krisdayanti. Sepertinya sebuah kata melankolis. Namun, memang &#8220;menghitung hari&#8221; rasanya begitu berat jika waktu itu dihitung hingga ada sebuah kata-kata deadline. Semoga ini awal kebaikan. Amin (15 Oktober 2008)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Trauma-kah?]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2008/09/15/trauma-kah/</link>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 11:52:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2008/09/15/trauma-kah/</guid>
<description><![CDATA[Sepertinya untuk kembali naik sepeda motor, ada perasaan takut. Namun apakah ini berlebihan? Setelah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sepertinya untuk kembali naik sepeda motor, ada perasaan takut. Namun apakah ini berlebihan? Setelah dua kali ditabrak orang hanya dalam rentang waktu yang cukup singkat. Mungkin ada perasaan trauma.</p>
<p>Sampai-sampai harus terlalu hati-hati dalam mengendarai sepeda motor &#8220;si merah&#8221; kesayangan. Tapi perasaan takut ini, kenapa datang begitu saja. Pasca kecelakaan kedua yang terjadi akan berbuka puasa dua minggu lalu. Rasanya waktu itu menakutkan. Jalanan yang sepi diiringi dengan gerimis, namun tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju dengan kencang dan langsung menabrak sepeda motor yang sedang berdiri<br />
karena ingin menyeberang jalan. Allah masih Maha Penyayang. Walaupun saat itu, sempat berteriak, namun motor itu tetap menabrak. &#8220;Si Merah&#8221; pun ambruk. Untunglah. Kata-kata itu yang masih bisa terucap. Tak ada luka yang cukup parah. Namun rasa sakit di kepala sempat tak tertahankan saat helm yang dipakai terlepas dari kepala. Helm baru saja dibeli satu bulan lalu pun sepertinya menyelamatkan kepala ini dari hantaman aspal.<br />
Namun, ditengah tergeletak di tengah jalan, ada saja orang yang mengambil kesempatan. Helm yang terlepas hingga ke tengah jalan raib dalam hitungan menit. Entah, terbuat dari apa orang itu. Bukannya ingin menolong tapi justru menyelamatkan si helm (karena memang helm jenis ini selalu gampang raib kalau tidak dijaga). Sempat dibawa ke UGD, rongen bagian pinggul dan menunggu reaksi kepala. Saat-saat ini, rasanya tak ingin membayangkan lagi. Walaupun dinyatakan semua baik-baik saja, namun untuk bagian kepala menurut dokter harus tetap di cek.Bahkan dokter bilang trauma di kepala yang berakibat akan sering sakit kepala bisa berlangsung 6 bulan. Istirahat di rumah selama satu minggu di rumah, rasanya cukup untuk menahan semua sakit di kaki dan kepala.</p>
<p>Namun kasihan si merah. Sebagian bodinya hancur. Ganti rugi yang diberikan si penabrak tak cukup untuk menganti semua biaya perbaikan. Si penabrak, entah siapa namanya (tak ingin kenal dan mengenal) masih bersikekeh kalau dia tetap benar (namun terbantahkan, namun tetap tak mau mengakui).</p>
<p>Rasanya tak ingin membayangkan lagi. Dua minggu lebih si merah tak dikendarai. Ketika pertama kali mengendarainya (setelah perbaikan di sana-sini), ada rasa gamang. Terlebih lagi, ketika ada kendaraan yang melintas dengan kencang. Begitu juga yang meng-klason dengan keras dari belakang. Dag-dig dug.. rasanya. Mungkin ini, baru hari pertama..traumakah??atau perasaan saja.</p>
<p>Rasa takut ini mungkin berlebihan. Namun, kenapa selalu ditabrak. Ketika hari bahagia bertambahnya usia tanggal 21 April lalu, tiba-tiba sebuah angkot menyenggol dari samping. Motor pun oleng hingga terbawa sampai ke tengah. Semoga saja ini, peristiwa yang terakhir dan tidak akan terjadi lagi.(*)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Boneka Kayu, Berambut Daun Pisang]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2008/08/21/boneka-kayu-berambut-daun-pisang/</link>
<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 11:51:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2008/08/21/boneka-kayu-berambut-daun-pisang/</guid>
<description><![CDATA[Boneka kayu berambut pisang..Sepertinya memang terkesan menyeramkan. Tapi itu mengingatkan akan masa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Boneka kayu berambut pisang..Sepertinya memang terkesan menyeramkan. Tapi itu mengingatkan akan masa anak-anak dulu.Masa anak-anak seperti memang belum bisa dilupakan. Bahkan sampai sekarangpun, rasanya sulit untuk meninggalkan masa itu, jika seandainya tahun tidak berganti dan bulan pun tidak berputar, mungkin tidak ingin melepaskan masa-masa itu.  Di masa  itu tidak ada beban untuk memikirkan masalah yang berat.  Karena hanya disuruh untuk ke sekolah dan mengerjakan PR. Selebihnya, ya..waktunya main.<br />
Jika ingat dulu, rasanya ingin kembali ke masa itu. Menikmati rasa dimanja orangtua, berlari-lari untuk menikmati hujan dan bermain rumah-rumahan di teras depan rumah. Dulu ketika masih SMA, semua alat permainan di waktu SD tersebut masih tersimpan. Namun sekarang entah kemana barang-barang itu. Ada sendok-sendok kecil, ada piring gelas perak ada juga boneka kayu yang dulu pernah dibuatan papa. Boneka yang unik, tapi tak perlu membelinya di toko mewah. Cukup hanya, menyediakan kayu balok kemudian dilukis wajah di kayu tersebut. Tak kalah pentingnya, si boneka kayu diberi rambut. Rambutnya, terbuat dari daun pisang  yang disisir halus-halus sehingga menyerupai rambut. Kemudian daun pisang di keringkan. Rambut-rambutan itupun dipasangkan ke balok kayu itu. Rambut daun pisangpun, seperti tahan lama. Walaupun dibelikan boneka yang sudah jadi dari toko, yang menyerupai bayi, boneka kayu tetap tak mau dibuang. Jadilah, sekarang boneka kayu ada teman baru dari dunia yang berbeda.<br />
Bukan hanya boneka kayu, dulu sering sekali bermain masak-masakan dengan teman-teman. Mengumpulkan semua daun-daun dan bunga-bunga menjadi hidangan yang &#8220;istimewa&#8221;. Mhmmm&#8230;, bahkan waktu itu berpikir coba kalau masakan ini sungguhan alangkah lezatnya untuk disantap..<br />
Merupakan kesenangan yang luar biasa ketika bermain rumah-rumahan dan menyisir serta mengikat rambut boneka. Dulu, sempat rebutan dengan kakak karena punya kakak dibikinin jauh lebih bagus. Geli rasanya, jika ingat masa itu. Tapi sekarang, semua barang tersebut menghilang atau telah terbuang.<br />
Kemarin, kenangan masa kecil yang bahagia itu sempat terbayang ketika singgah di sebuah masjid di daerah Pasar Baru Padang. Anak-anak yang mengaji di sana terlihat ceria bermain sambail memegang sebuah makanan. Penasaran dengan apa yang dimakan.. Ternyata di samping masjid ada sebuah &#8220;uni&#8221; yang menjual sate sosis dan sate nugget dengan gerobok.<br />
Mengiurkan juga. Tapi yang berdiri di sekitar gerobak tersebut hanya anak-anak yang sibuk mengorang sendiri sate sosis. Penasaran ingin mencoba.. Tapi tengok kiri-kanan, tak apa-apalah ikutan berdiri juga untuk  mencoba. Akhirnya, pengorengan dipasang di gerobok tersebut dikerubungi. Asyik juga rame-rame jajan sate sosis. Walaupun, sekarang banyak yang bilang jajanan anak-anak harus hati-hati dikonsumsi.<br />
Yang namanya anak-anak, yang penting enak dan menarik untuk dicoba. Kalau udah tertarik, kadang tidak terpikirkan apakah jajanan itu sehat atau tidak. Yang penting dimakan dulu.. Kapan lagi coba jajanan anak-anak ini. Walaupun sorotan mata anak-anak tersebut tak henti memang diri ini. Cuek aja lah..Mmmh&#8230;(**)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rekaman Kotak hitam pesawat AdamAir, antara Percaya dan Tak Percaya ]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2008/08/02/rekaman-kotak-hitam-pesawat-adamair-antara-percaya-dan-tak-percaya/</link>
<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 14:26:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2008/08/02/rekaman-kotak-hitam-pesawat-adamair-antara-percaya-dan-tak-percaya/</guid>
<description><![CDATA[Antara percaya dengan tidak percaya dengan hasil Rekaman Kotak hitam pesawat AdamAir dengan nomor pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Antara percaya dengan tidak percaya dengan hasil Rekaman Kotak hitam pesawat AdamAir dengan nomor penerbangan KI-574 yang hilang di Selat Makassar dalam penerbangan dari Surabaya ke Manado tahun 2007 lalu yang kini telah tersiar ke publik. Karena kotak hitam yang seharusnya sangat dijaga kerahasiaannya telah menjadi konsumsi banyak orang. Bahkan juga membuat penasaran untuk didengarkan.<br />
Sebuah pertanyaan besar, apakah memang patut itu menjadi konsumsi publik? Atau hanya ingin menunjukkan barang bukti? Tapi kalau memang benar rekaman asli, kesedihan akan kembali menyelimuti keluarga para penumpang. Mungkin kesedihan itu kembali mengangga. Apalagi dalam rekaman tersebut  terdengar kepanikan kru pesawat. Lalu bagaimana dengan penumpang?<br />
Apa pula yang akan dibayangkan oleh keluarga korban penumpang. Itu akan kembali membuka duka lama yang mungkin masih belum sembuh. Apalagi histeris teriakan kru pilot yang mengucapkan kalimat Allahu Akbar, sungguh memilukan.<br />
Coba bayangkan anggota keluarga kita ditengah kepanikan, diujung maut tapi tidak bisa berbuat, hanya bisa berserah diri. Jenazah pun tidak ditemukan. Lalu, mereka mendengarkan rekaman itu?<br />
Benar atau tidak rekaman itu, yang penting Keluarga Korban Tetap Tabah Dalam Menghadapi Cobaan Allah. Semua telah diatur olehNya.<br />
Mungkin ada juga yang akan ketakutan dengan mendengar rekaman tersebut dan terlalu meresapinya. Sampai-sampai berpikir dua kali untuk naik pesawat terbang. Ketakutan dan ketidakpercayaan, mungkin saja muncul. Namun, risiko dari sesuatu memang harus ada. Tergantung bagaimana kita mempersiapkan diri untuk risiko.<br />
Sebelumnya, kotak hitam Flight Data Recorder (FDR) telah ditemukan di koordinat 03.41.02S dan 118.08.53E. Sedangkan Cockpit Voice Recorder (CVR) ditemukan di koordinat 03.40.22S dan 118.09.16E. FDR ditemukan pukul 12.29 WIT di kedalaman 2.000 meter, sedangkan CVR ditemukan pukul 10.00 WIT di kedalaman yang sama dengan lokasi 21 meter dari FDR.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Milih 34  Parpol, Bingung Ya?]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2008/07/11/milih-34-parpol-bingung-ya/</link>
<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 14:03:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2008/07/11/milih-34-parpol-bingung-ya/</guid>
<description><![CDATA[Milih Politik atau Milih Mau Makan Apa Besok? Peserta Pemilu tahun 2009 bertambah 34 partai politik ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Milih Politik atau Milih Mau Makan Apa Besok?</strong></p>
<p>Peserta Pemilu tahun 2009 bertambah  34 partai politik dari 24 parpol. Mana partai pilihan Anda? Bingung ya? Sekarang aja udah bingung apalagi sudah dihadapkan pada 34 tanda partai dalam ruangan bilik kecil yang tidak bisa diintip siapapun.  Atau Anda termasuk golongan golput karena tidak mau ikut memilih? Dengan alasan tidak mau dipusingkan dengan politik dan tidak akan mau menanggung dosa jika partai yang diusung tidak mampu memperjuangkan nasib rakyat.<br />
Sepertinya, politik lebih merajai Indonesia ketimbang harus memikirkan &#8220;mau makan apa besok&#8221;. Ketika sebuah partai jor-joran menghabiskan dana jutaan rupiah, sedangkan disudut pinggir kota ada orang mengais rezeki dari tumpukan sampah. Entah mereka mengerti atau tidak mengapa orang berlomba-lomba masuk politik, yang penting bagi mereka sampah yang dipunggut bisa menganjal isi perut untuk besok.<br />
Memang kontras ditengah pesta pora perpolitikan, harapan peningkatan kesejahteraan kadang menjadi janji manis yang tak ada penyelesaiannya. Apa ini terlupakan atau memang dilupakan. Atau memang masih menunda. Semoga saja di tahun 2009 mendatang harapan cerah itu betul-betul tidak lagi menjadi pekerjaan yang tertunda. <!--more--><br />
Kadang sebuah kekhawatiran dari orang-orang yang pesimis dengan politik, menilai politik sebuah sarana untuk mengembalikan semua yang sudah dikeluarkan dimasa pesta pora. Tidak peduli, si miskin atau si penganggur atau si miskin yang berprestasi.<br />
Mengutip sebuah pernyataan  Penulis buku Komat Kamit Politik Ruslan Ismail Mage, politik itu industri. Itulah sebabnya, saat ini orang berbondong-bondong untuk masuk politik. Ada dua kemungkinan menurut alumni Pasca Sarjana UI ini, kenapa orang tersebut mau terjun ke politik. Pertama, karena memang niat tulus untuk memberikan konstribusi mengakomodir semua aspirasi rakyat. Namun kemungkinan lain yang tidak diharapkan  terjadi, parpol yang tidak ingin memberikan berkontribusi tapi hanya mencari keuntungan. Yakni, ingin mendapatkan keuntungan karena pemerintah menyediakan biaya politik bagi parpol yang masuk daftar pemilu, kedua ingin mendapat keuntungan dari merger dengan menjual suara ke kandidat lain dengan bayaran yang mahal.<br />
Apakah kondisi politik kita seperti ini? Semua saja, parpol yang ada benar-benar menjadi parpol yang mau memberikan kontribusi kepada masyarakat dan tidak mengambil keuntungan.<br />
Sekarang apakah masih bingung memilih? Semoga negara kita benar-benar dewasa dalam berpolitik dan tidak menjadikan politik sebagai ladang pencarian hidup. (*)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Calon DPD Diminta Kontrak Politik]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2008/07/11/dpd-jangan-mau-dikebiri/</link>
<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 13:14:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2008/07/11/dpd-jangan-mau-dikebiri/</guid>
<description><![CDATA[Ruslan: Tak Perjuangkan Daerah, Mundur! Analis Politik Ruslan Ismail Mage menyarankan, jika para cal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ruslan: Tak Perjuangkan Daerah, Mundur!</p>
<p>Analis Politik Ruslan Ismail Mage menyarankan, jika para calon Dwan Perwakilan Daerah (DPD) tetap ingin mendapat kepercayaan dari masyarakat, maka calon DPD harus berani melakukan kontrak politik dengan pemerintah daerah dan tokoh-tokoh masyarakat. Isi kontraknya: jika terpilih tapi tidak mampu mengakomodir aspirasi, maka yang bersangkutan harus mundur dari DPD.<br />
Kontrak politik ini, kata Ruslan amat penting. Selain selama ini DPD dinilai masih belum menjalankan tugasnya memperjuangkan daerah belum optimal, sekarang UU membolehkan anggota partai politik (parpol) masuk DPD. ”Masuknya orang parpol ini dapat mengebiri DPD itu sendiri. Karena anggota DPD dari parpol ini dikhawatirkan akan lebih mengakomodir kepentingan parpol mereka sendiri,” katanya.<!--more--><br />
Masuknya orang parpol ke DPD, menurut alumni Pascasarjana Politik UI ini, menunjukkan bahwa ketidakpercayaan masyarakat terhadap parpol sudah mulai berkurang. Hal ini disebabkan karena tindakan yang dilakukan oleh anggota DPR saat ini tidak sesuai dengan apa yang menjadi aspirasi masyarakat. Apalagi ada DPR yang melakukan tindakan-tindakan yang justru merugikan negara.<br />
“Makanya, saat ini orang lebih cenderung memilih DPD untuk duduk di Senayan ketimbang di DPR. Karena masyarakat cenderung akan memilih orang-orang yang memang bisa mengakomodir kepentingan rakyat. DPD menjadi tumpuan harapan untuk bisa memperjuangkan kepentingan rakyat dan DPD diharapkan juga mengetahui setiap permasalahan yang ada di daerah mereka yang nanti bisa diperjuangkan di tingkat pusat,” kata Ruslan yang saat ini mengajar di Universitas Ekasakti ini.<br />
Menurutnya, ini sebuah fenomena pasar demokrasi yang lebih memilih orang-orang non parpol untuk bisa mengaspirtasikan kepentingan rakyat.<br />
Penulis buku “Komat-kamit Politik” ini mengungkapkan ini menjadi tantangan bagi calon DPD sendiri untuk berjuang mengambil simpatik masyarakat. Sehingga DPD akan lebih dipercaya dari DPR. Ruslan menilai peranan DPD jauh lebih efektif dari pada DPR. Sama halnya di negara-negara luar yang peranan senator cukup besar dalam pemerintahan dan tidak mungkin dihapuskan. Selama ini, diakui Ruslan, anggota DPD  ruang geraknya dibatasi oleh DPR. Karena DPR akan merasa tersaingi dengan keberadaan DPD yang lebih mengetahui persoalan di tengah masyarakat.<br />
Ruslan tidak setuju dengan aturan UU parpol baru yang membolehkan parpol mendaftar di DPD. Hal ini kata Ruslan, masuknya orang parpol ke DPD akan sama fungsinya di DPR yang lebih mengakomodir kepentingan partai mereka.<br />
“Saya tidak setuju orang partai masuk ke DPD. Harusnya, orang yang memiliki partai wajib sadar diri untuk tidak mendaftar lagi di DPD. Berikanlah kesempatan kepada calon DPD tersebut orang-orang bebas dari partai. Biarkanlah orang-orang non partai yang berkecimpung dalam DPD karena DPR tersebut kan sudah ada tumpangannya di partai,” kata Ruslan lagi.<br />
Kalau DPD tidak mau dibatasi dan dikebiri, DPD harus lebih gencar melakukan sosialisasi-sosialisasi terhadap fungsi dan peranan dari DPD itu sendiri. Selama ini, fungsi dan peranan DPD seolah dibatasi karena DPR tidak menginginkan DPD lebih bersuara di “Senayan”.<br />
“Belajar dari pengalaman sebelumnya, DPD harus bisa mengakomodir semua aspirasi. Jangan mau seperti sebelumnya, seolah DPD hanya pelengkap,” pungkasnya. (afi)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SKB Coba-Coba?]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2008/06/10/skb-coba-coba/</link>
<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 12:51:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2008/06/10/skb-coba-coba/</guid>
<description><![CDATA[Akhirnya setelah dua bulan Bakopakem melakukan rapat, Surat Keputusan Bersama (SKB) baru dikeluarkan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Akhirnya setelah dua bulan Bakopakem melakukan rapat, Surat Keputusan Bersama (SKB) baru dikeluarkan kemarin (9/6). Banyak yang memandang SKB yang dikeluarkan pemerintah sangat hati-hati . Bahkan ada juga yang berpandangan sinis, SKB tersebut hanya sekadar coba-coba. Pasalnya, tidak ada sanksi tegas terhadap pembekuan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) jika melanggar SKB tersebut.</p>
<p>Banyak yang menyangsikan SKB ini dapat berjalan efektif. Karena, pemerintah pusat berkesan coba-coba dulu dan melihat reaksi setelah keluar SKB ini. Efektif atau tidaknya tergantung bagaimana nantinya pihak-pihak terkait menyikapi SKB tersebut. Karena ini menyangkut kerukunan dalam beragama.</p>
<p>Apa betul itu SKB coba-coba? Atau memang pemerintah memang terlalu hati-hati?Atau SKB ini hanya untuk merendam emosi sebagian masyarakat? Entahlah. Mungkin banyak pertimbangan yang dilakukan pemerintah. Apalagi dasar hukum untuk memberikan sanksi tidak mengatur. Namun, pemerintah  memang harus menetapkan aturan sesuai dengan aturan hukum yang ada.</p>
<p>Persoalan lain yang kadang juga menjadi perdebatan, kenapa harus menunggu dua bulan setelah terjadi peristiwa Monas, pemerintah seolah-olah buru-buru mengeluarkan SKB?. Apakah memang masyarakat kita yang tidak sabaran dalam menunggu keputusan SKB ini atau memang pemerintah menunggu reaksi dulu? Mumpung masyarakat adem-adem saja, pemerintah, juga adem-adem?</p>
<p>Banyak yang memberikan pendapat,&#8221; begitulah pemerintah terlalu hati-hati, saking hati-hatinya tidak mengeluarkan keputusan sama sekali. Sekali keluar itu pun sudah ada yang berdarah-darah&#8221;. Memang lucu pernyataan itu, kok pemerintah jadi serba salah. Tidak mengeluarkan SKB salah, mengeluarkan SKB juga dikritik. Aduh&#8230;payahnya posisi pemerintah.</p>
<p>Tapi, keluarnya SKB ini sebagai langkah awal, bahwa kerukunan ini perlu tetap dijaga. Terlepas apakah itu SKB coba-coba atau SKB yang tak &#8220;bergigi&#8221;. Semoga saja SKB ini dapat meredam dan mewujudkan Indonesia tetap damai, rukun dan berbagai suku, agama dan ras..Saatnya Indonesia bangkit lebih baik. Indonesia bisa (bisa nggak ya&#8230;:) )</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Laki-laki Mau Dimanfaatkan?]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2008/06/06/laki-laki-mau-dimanfaatkan/</link>
<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 13:57:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2008/06/06/laki-laki-mau-dimanfaatkan/</guid>
<description><![CDATA[Mengelitik ketika ada yang bertanya kenapa laki-laki mau dimanfaatkan?Dimanfaatkan untuk hal-hal yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Mengelitik ketika ada yang bertanya kenapa laki-laki mau dimanfaatkan?Dimanfaatkan untuk hal-<a href="http://ninengonly.wordpress.com/files/2008/06/menikah.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-54 alignright" style="float:right;" src="http://ninengonly.wordpress.com/files/2008/06/menikah.jpg?w=150" alt="" width="150" height="211" /></a>hal yang kadang tidak penting oleh seorang perempuan. Apa benar perempuan memanfaatkan laki-laki? Atau justru sebaliknya laki-laki yang memanfaatkan perempuan?</p>
<p>Dikehidupan nyata itu kadang terjadi.  Tapi laki-laki selalu mengelak kalau dibilang dimanfaatkan. Justru si laki-laki membantah, semua yang dilakukan karena ada maunya dari perempuan. Siapa yang dimanfaatkan dan memanfaatkan memang tergantung tujuan akhirnya seperti apa.</p>
<p>Kalau ada laki-laki yang bersedia dimanfaatkan asal apa yang diinginkan itu  tercapai. Tapi kadang istilah dimanfaatkan tak selalu dipandang negatif dengan berkilah untuk menolong kawan. Apa benar motif seperti itu?Atau memang ada laki-laki mau dimanfaatkan? Untuk kilah apapun?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adipura Sebuah Prestise atau Pura-Pura?]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2008/06/06/adipura-sebuah-prestise-atau-pura-pura/</link>
<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 13:40:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2008/06/06/adipura-sebuah-prestise-atau-pura-pura/</guid>
<description><![CDATA[Penilaian Adipura, Sempat Berdebat Semalaman Penghargaan Adipura yang berhasil diperoleh oleh lima k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Penilaian Adipura, Sempat Berdebat Semalaman</strong></p>
<p>Penghargaan Adipura yang berhasil diperoleh oleh lima kota di Sumbar. Padang untuk kategori kota besar, Kota Solok, Sawahlunto, Batusangkar, untuk kota kecil dan sebuah sertifikat untuk Painan. Memang ini sebuah kebanggaan tersendiri bagi pemerintah setempat. Namun apa benar Adipura untuk kebersihan kota atau hanya sekadar prestise menjadi yang terbaik di antara kota yang ada.<br />
Banyak yang bertanya kenapa bisa dapat Adipura. Padahal pasarnya saja kotor,  aliran sungai tersumbat dan bla..bla&#8230;<br />
Sebagai salah seorang tim penilai, rasanya tidak kecewa dengan hasil yang sekarang. Terutama untuk Payakumbuh dan Painan (kebetulan sempat melakukan penilaian di Payakumbuh, Padangpanjang,Bukittinggi dan Painan). Umumnya memang tidak banyak yang berubah dari kota Payakumbuh yang dua kali beturut-turut mendapatkan Adipura.  Di Payakumbuh ini, terjadi perdebatan sengit antar tim penilai. Debat mulut pun sempat terjadi antara tim penilai dari Sumbar dengan tim penilai Regional Lingkungan Hidup . Perdebatan baru mereda setelah memasuki hari kedua penilaiaan. Tim penilai di Sumbar menilai tim penilai  regional tidak realistis dalam melakukan penilaian. Salah satu contoh, satu PKL yang ada di jalan utama diberi nilai hingga 30. Padahal, keberadaan PKL tersebut tidak mewaliki jalan utama yang cukup panjang. Bahkan yang menjadi perdebatan, keberadaan pohon peneduh di sepanjang pertokoaan. Di lapangan ditemukan halaman pertokoan tidak bisa ditanami peneduh lagi. Kecuali penghijuan dengan pot-pot. Perdebatan yang membuat tegang urat leher ini akhirnya reda. Meski sehari sebelumnya tak ada tegur sama dengan tim regional sampai akhirnya dibuat kesepakatan sehingga penilaian dilanjutkan ke Bukittinggi.</p>
<p><a href="http://ninengonly.wordpress.com/files/2008/06/adipura.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-52 alignright" style="float:right;" src="http://ninengonly.wordpress.com/files/2008/06/adipura.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Di Bukittinggi, objek yang menjatuhkan kota ini sehingga tidak mendapatkan Adipura kondisi pasar dan TPA. Pasar di Bukittinggi terutama pasar bawah dan Aur kuning jauh dari kondisi baik. Kendati di terminal Aur Kuning telah terpasang bildbord Perang terhadap sampah. Kenyataanya sampah masih tetap berserakan. Yang lebih memprihatikan, sampah kota ini dibuang di jurang Panorama. Apakah ini disebut peduli lingkungan? Kendati begitu, sejumlah jalan di kota wisata ini nyaris mendapat nilai sempurna karena pohon peneduh yang tersebut memenuhi fungsi sebagai peneduh.<br />
Sedangkan untuk  Padangpanjang yang gagal meraih Adipura tahun ini rasanya memang banyak perubahan. Terutama untuk penilaiaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Akibat gempa, bangunan TPA banyak yang rusak sehingga tidak dapat dinilai.  Apalagi organisasi di Pemko tersebut juga berubah dari Dinas Lingkungan Hidup menjadi Kantor lingkungan hidup.<br />
Di Painan sendiri, dibandingkan pada penilaian tahap satu jauh mengalami perubahan. Kota ini terus berbenah. Bahkan, pembinaan pun terus dilakukan. Meski tidak mendapatkan Adipura, tapi sertifikat setidaknya bisa memotivasi untuk lebih baik lagi tahun depan.<br />
Dalam secara keseluruhan untuk mendapatkan Adipura tak hanya melihat faktor fisik saja. Organisasi dan pembinaan oleh daerah ternyata juga menjadi penilaian. Walaupun porsi penilaian Adipura untuk fisik 80 persen dan yang lain-lain 20 persen.<br />
Terlepas dari penilaian. Apakah sesudah ini kota yang berhasil mendapatkan Adipura akan terus berbenah atau terlena?. Atau demi sebuah prestise, piala Adipura hanya sebuah kepura-puraan? Hanya masyakarat yang bisa menilai sesudah ini. Karena perubahan itu akan terlihat apakah pemerintah tetap konsen atau tidak.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pusing Tujuh Keliling Monas]]></title>
<link>http://ipambigz.wordpress.com/2008/05/30/pusing-tujuh-keliling-monas/</link>
<pubDate>Thu, 29 May 2008 17:01:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>ipambigz</dc:creator>
<guid>http://ipambigz.wordpress.com/2008/05/30/pusing-tujuh-keliling-monas/</guid>
<description><![CDATA[Pagi ini (jam 10 bisa dibilang pagi ga?) bangun dari tidur dengan kedinginan karena AC ruangan dah d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pagi ini (jam 10 bisa dibilang pagi ga?) bangun dari tidur dengan kedinginan karena AC ruangan dah dinyalain ma temen yang dateng ke kantor. Rada males sih bangunnya, soalnya tadi malem tidur ga nyenyak banget, banyak temennya sih (itu loh, nyamuk-nyamuk nakal). Iya gw tidur di kantor kalo dah masuk minggu dead line.</p>
<p>Kalo dah minggu deadline, rasanya waktu jalan makin cepet aja, biasanya sehari tuh jadi ga kerasa, bangun pagi pas keluar kantor tau-tau dah sore n belom makan, dan hari ini seperti hari-hari deadline sebelumnya, gw pusing&#8230;..!!!</p>
<p>Edisi kali ini lebih brutal ketimbang edisi-edisi sebelumnya, sebab seminggu sebelumnya gw sakit dan baru sembuh senin kemarin, udah gitu ternyata isu utama belum ditentuin karena senin itu kita baru liputan lapangan.</p>
<p>Dalam keadaan baru sembuh dari sakit, gw terpaksa naek turun bukit di daerah Jonggol untuk buktiin adanya emas, minyak dan bahan tambang laennya, alhasil napas 1-2-3 minak djinggo alias ngos-ngosan. karena paru-paru blom kuat diajak berolahraga.</p>
<p>Hasilnya memang memuaskan, bahkan lebih dari yang diharapkan, cuma pengorbanan untuk mendapatkan itu semua yang ga nahan.</p>
<p>Pulang dari Jonggol, mau langsung rapat bahas isu utama kita. Tapi karena kita sampe kantor udah jam 10 malem, akhirnya rapat ditunda sampe besok, biar ga kecapean dan ide keluar semua.</p>
<p>Hari selasa ternyata rapat diundur gara-gara satu orang dateng terlambat, akibatnya rapat diundur lagi sampai besoknya. Selain itu, entah kenapa pemred gw jadi marah-marah ga jelas, dan gw kena semprot dia, padahal gw ga salah apa-apa, hix&#8230;3x.</p>
<p>Akhirnya rapat untuk menentukan isu utama jadi hari rabu, tapi tampaknya kesialan gw blom berakhir sampai siru. Sekitar menjelang maghrib, komisaris perusahaan dateng ke kantor, padahal kantornya dia tuh bukan di kantor gw, tapi di kantor pusat yang beda wilayah sama kantor kita.</p>
<p>Akibat kedatangan bos besar, kita semua terkurung di ruang rapat sampe malem, kita semua ga mau keluar ruangan, soalnya klo dah ketemu n ngobrol sama bos besar, kita malah ga bisa kerja karena harus ngeladenin dia ngobrol yang ga jelas juntrungannya.</p>
<p>Mungkin niat jahat kita dah ketauan kali ya, bos besar pulang malem banget, jadinya kita kekurung sampe malem gitu di ruang rapat. Karena kita semua di ruang rapat dah bete banget, pemred gw ngusulin supaya kita ngerjain bos supaya dia cepet pulang dan kita semua serempak setuju.</p>
<p>Ada yang langsung pulang tapi ga pamit, ada yang nyuekin dia pas di ruangan, sampe ada yang jadiin dia kambing conge pas dia mampir keruangan redaksi, hehehehe bawahannya emang pada sadis. Tapi ada temen kita yang jadi korban akibat keisengan kita semua. Salah satu temen kita dijadiin tumbal buat ngebantuin kerjaan si bos, hahahahaha&#8230;sori uncle Jam.</p>
<p>Semua keisengan kita akhirnya berbuah manis, si bos besar akhirnya pulang dan kitapun bisa kerja dengan tenang, tapi ya ampun udah jam 10 malem nek&#8230;!!! Terpaksa deh kerja lembur hiks ;(. Paginya, karena gw tidur nyubuh, gw akhirnya malah ga kuliah, padahal absen gw dah numpuk, mana dosen gw yang orang Jepang udah nanyain mulu &#8220;Ipam san kemana aja ga pernah masuk kuliah, pelajaran dah makin susah ko malah sering bolos&#8221;. SUMIMASEN SENSEI&#8230;.</p>
<p>Hari ini, gw dah bertekad mau nyelesaiin satu tulisan sama tiga wawancara, malah kalo bisa mulai tulisan buat rubrik yang laen, biar ga keteteran. Tapi lagi-lagi banyak godaannya euy&#8230;</p>
<p>Sekarang dah jam 12 malem, target tercapai, but fisik dah compang-camping. Ini aja nulis cuma pake celana pendek ama kaos kutang di kantor. Hhhhhh nginep lagi deh di kantor.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menikah di Usia Kritis?]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2008/05/29/menikah-di-usia-kritis/</link>
<pubDate>Thu, 29 May 2008 13:05:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2008/05/29/menikah-di-usia-kritis/</guid>
<description><![CDATA[Apakah ada standar usia kritis? Menikah memang sebuah perjalanan hidup yang harus dilalui. Namun men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Apakah ada standar usia kritis?</p>
<p><a href="http://ninengonly.wordpress.com/files/2008/05/ayat-ayat-cinta.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-32" src="http://ninengonly.wordpress.com/files/2008/05/ayat-ayat-cinta.jpg?w=300" alt="menikah " width="300" height="225" /></a></p>
<p>Menikah memang sebuah perjalanan hidup yang harus dilalui. Namun menikah diusia kritis, apa sebuah ketakutan? Entah apa indikator usia kritis. Namun itulah yang selama ini dibicarakan orang. Apakah usia kritis tersebut di atas 30 tahun? Kadang ada pula yang mengatakan walaupun sudah diusia 30 tahun namun tetap belum siap untuk menikah.</p>
<p>Seorang teman pernah bertanya, apakah usia  25 tahun sudah sepantasnya untuk menikah. Pertanyaan itu kembali dibalikan. Apakah jodoh itu sudah datang?apakah sudah siap untuk itu? karena kalau sudah siap, katanya akan menjadi wajib hukumnya.</p>
<p>Teman itu juga berkata kalau kalau dirinya selalu disindir dan ditanya orang tua kapan menikah? Namun,</p>
<p>apakah menikah hanya untuk sebuah sindiran? atau bosan ditanya kapan menikah? Takut disindir atau takut untuk menikah? Apakah ini pertanyaan yang sama?</p>
<p>Menikah sebuah proses yang kadang tidak bisa dilewatkan oleh seseorang. Apalagi jika dikaitkan dengan usia krisis (walau standar usia kritis tak pernah jelas).</p>
<p>Teman lain, justru tidak ambil pusing dengan yang namanya usia kritis. Sebagai seorang yang matang dari banyak hal dia berkata selama masih <em>enjoy</em> dengan kondisi saat ini, tidak perlu berpikir berat dengan namanya pernikahan. &#8220;Sosok yang dicari masih belum ditemukan&#8221;..demikian dia mengungkapkan. Walau dia sudah hampir memasuki usia kritis, kecemasan itu tak pernah terlihat. Karena dia tak pernah berpikir terlalu berat dengan sebuah pernikahan.</p>
<p>Apakah benar usia kritis selalu menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang? Karena ada p</p>
<p>engalaman yang pernah dijumpai, ketika dia memasuki usia 30 takut, kecemasan untuk mendapatkan jodoh semakin menjadi-jadi. Al hasil, kalau jodoh itu datang, lamaran akan langsung diterima? lalu bagaimana dengan cocok atau tidak cocok?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Horeee....!!!]]></title>
<link>http://ipambigz.wordpress.com/2008/05/28/horeee/</link>
<pubDate>Wed, 28 May 2008 16:44:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>ipambigz</dc:creator>
<guid>http://ipambigz.wordpress.com/2008/05/28/horeee/</guid>
<description><![CDATA[Setelah sekian lama berkutat dengan tulisan di tabloid, akhirnya gw bisa bikin blog&#8230;hyuuuh. Em]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Setelah sekian lama berkutat dengan tulisan di tabloid, akhirnya gw bisa bikin blog&#8230;hyuuuh. Emang bukan blog pertama gw sih, tapi tetep aja gw seneng bukan maen.</p>
<p>Sedikit cerita, blog pertama gw dibikin waktu gw kuliah di salahsatu situsa blog, tapi nasib itu blog gw ga tau kemana, soalnya ga pernah gw cek, alhasil account gw raib entah kemana.</p>
<p>Blog gw yang kedua dibikin di Friendster, tapi ga tau kenapa itu blog pernah ngilang ga jelas alias ga nongol di profile gw, tapi itu blog sekarang aktif lagi, walaupun jarang yang baca n cuma jadi ajang curhat ga jelas. Alamat profile FS gw, ipam_bigz@yahoo.co.id (sekalian promosi, hehehe&#8230;).</p>
<p>Blog ketiga gw dibikin di situs pertemanan Multiply, nah klo yang ini rada jelas nasibnya. Soalnya makin kesini makin banyak yang baca dan ngasih comment. Apa karena tulisan gw disana selalu serius ya? Gara-gara tulisannya serisu mulu, gw jadi rada bete. Soalnya lumayan puyeng juga nulisnya, musti ngumpulin bahan dulu. Oiya alamat MPnya, ipambigz.multiply.com. DI add ya.</p>
<p>Nah sekarang ini blog gw yang keempat. Rencananya sih pengen buat catetan harian kegiatan gw sebagai wartawan yang stres akibat kerjaan. Mudah-mudahan diterima oleh pasar (alah kaya artis nelorin album aja, hahahaha&#8230;).</p>
<p>Untuk temen-temen bloger yang udah sangat-sangat senior di dunia ini, mohon bantuan dan kritikannya ya, Ciao baby, Muach&#8230;..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
