<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>padamu-negeri &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/padamu-negeri/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "padamu-negeri"</description>
	<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 09:49:39 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[esbeye "menculik miyabi" ]]></title>
<link>http://serbasejarah.wordpress.com/2009/10/19/esbeye-menculik-miyabi/</link>
<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 03:30:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>kopral cepot</dc:creator>
<guid>http://serbasejarah.wordpress.com/2009/10/19/esbeye-menculik-miyabi/</guid>
<description><![CDATA[wajah sumringah calon menteri .... Sruuuput kopi dipagi hari, membuka blog mencari inspirasi, dijamb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[wajah sumringah calon menteri .... Sruuuput kopi dipagi hari, membuka blog mencari inspirasi, dijamb]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Padamu Negeri (Refleksi Dirgahayu RI Ke-64)]]></title>
<link>http://m4rp4un6.wordpress.com/2009/08/16/padamu-negeri-refleksi-dirgahayu-ri-ke-64/</link>
<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 17:33:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abdi Jaya</dc:creator>
<guid>http://m4rp4un6.wordpress.com/2009/08/16/padamu-negeri-refleksi-dirgahayu-ri-ke-64/</guid>
<description><![CDATA[Padamu Negeri Kami berjanji 17 Agustus 2009 merupakan hari sakral bagi bangsa Indonesia karena Negar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Padamu Negeri Kami berjanji 17 Agustus 2009 merupakan hari sakral bagi bangsa Indonesia karena Negar]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibu Pertiwi, Aku Bangga Menjadi Manusia Indonesia Yang Unik]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/04/13/ibu-pertiwi-aku-bangga-menjadi-manusia-indonesia-yang-unik/</link>
<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 00:53:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/04/13/ibu-pertiwi-aku-bangga-menjadi-manusia-indonesia-yang-unik/</guid>
<description><![CDATA[Variasi Kisah Asal-Usul Genetikku Aku begitu terperangah, membaca komik Buddha dari Osamu Tezuka, te]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Variasi Kisah Asal-Usul Genetikku</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Aku begitu terperangah, membaca komik Buddha dari Osamu Tezuka, ternyata bukan hanya orang Indonesia yang berani membuat kisah yang menarik, walau belum tentu dijamin keotentikannya. Cerita otentik tanpa variasi kadang terasa kering, kurang berlembab dan tidak dapat mengetuk nuraniku. Dari segi tujuan ada benarnya juga membuat sedikit variasi. Ibarat ada orang yang suka sayur-sayuran asli dengan rasa aslinya, tetapi aku lebih dapat menikmati dan bersyukur kepada Gusti betapa enaknya sayur lodeh yang rasanya ada aslinya tetapi sudah tidak tidak asli lagi. Sepanjang aku bersyukur tidak apa-apa kan? Biarlah, bukankah ada yang bertugas menjaga keotentikan, walau keotentikan suatu tulisan itu belum sempurna, ada saja yang memasukkan ego kedalam pemaknaan tulisan sehingga dari satu tulisan yang dijamin otentik pun berkembang banyak paham yang bertentangan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Konon Raja Dewata Cengkar adalah adalah raja yang adil dan berwibawa dan masyarakat di Medangkamulan sejahtera. Pada suatu hari, sang koki memasak sayur kesukaan sang raja dan salah satu jarinya teriris pisau dan ikut termasak. Sang Raja menikmati daging aneh baru tersebut dan mencari tahu daging apa. Mencari kenikmatan yang belum pernah dialami, akhirnya terbiasa dan karena berulang-ulang menjadi perilaku. Kalau orang menyatakan ada <em>‘narcotic drug adddict’</em>, banyak orang <span> </span>yang serakah dan menjadi <em>‘property addict’</em> dan dengan proses yang sama Dewata Cengkar menjadi <em>‘human-gulai- addict’</em>. <!--more--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Aji Saka konon datang dari pulau Majethi ke Medang Kamulan, melebarkan sorban sampai Dewata Cengkar jatuh ke laut dan menjadi buaya putih. Dalam benakku yang suka cerita bervariasi, aku pribadi hanya melihat, Sriwijaya juga jatuh dengan diawali berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Majapahit juga diawali dengan pemberian tanah dan putri kepada para<span>  </span>pedagang di pantai utara. Indonesia juga dikuasai kompeni <span> </span>dan dimulai dari pemberian tanah di Batavia. Pasar traditional juga digoyang dengan diizinkannya Alfa Mart.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Aku orang Jawa tetapi<span>  </span>dalam darahku ada genetik Dewata Cengkar dan Aji Saka yang keduanya menjadi raja di Medang Kamulan. Darah dunia ada dalam diriku, bukankah raja-raja leluhurku selalu dihadiahi putri cantik apakah putri Champa, Dara Petak, Dara Jingga dan putri dari kolega jaringan dagangnya. Konon Kanjeng Panembahan Senopati pun mirip Indo. Dalam darahku ada darah pedagang yang pelit. Ada genetik Timur Tengah yang sampai kini belum dapat menyelesaikan genetik permusuhan dengan keturunan Kanjeng Nabi Musa. Konon ketika aku lahir pantatku berwarna biru karena ada darah Mongolit, yang ketakutan dari kekejaman Jengish Khan dan lari ke Nusantara. Kalau betul kata Saka berasal dari suku Saka di India yang suka damai, jangan-jangan itu adalah kaum Sakya yang ada kaitannya dengan Buddha. Tetapi kaum Sakya pun sering perang dengan kerajaan Magadha, mungkin justru yang ke Indonesia mempunyai darah Devadatta. Kalau orang mengatakan dalam darahku ada genetik ‘Ken Arok’ dan ‘Arya Penangsang’ ‘so what?’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Yang kurasakan, otakku sering liar seperti perilaku kera, nafsu makanku kadang ada miripnya dengan babi yang pemakan segala. Kadang aku seperti kambing jantan yang <em>‘ndhendheng’</em>, merasa benar sendiri dan mau menang sendiri. Teman-temanku pun begitu melihat fulus berebut saling cakar <span> </span>seperti srigala. Aku kadang ketakutan dan aku membebek terhadap tongkat pengarah gembala. Kadang aku <em>‘kulakan’</em>, belanja ilmu dan manggung seperti beo yang tak paham apa yang diucapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Kalau aku makan daging barbeque, hewan makan daging mentah. Kalau aku tidur di rumah, hewan tidur di goa dan liang. Kalau aku punya surat nikah, hewan tidak, tetapi <em>‘basic instict’</em> mereka ada dalam diriku. Rasa kasih, rasa nurani itulah yang membedakan aku dengan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Kukutip ulang beberapa kalimat dalam artikel-artikel yang lalu, untuk meyakinkan diri bahwa aku memang unik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Pengetahuan tentang genom</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Penulis Buku tersebut membayangkan genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species<span>  </span>kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman. Dan setiap orang mempunyai sebuah buku unik tersendiri. Dan genetik itu dipengaruhi oleh lingkungan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Walau bagaimana pun, air yang kuminum berasal dari bumi Indonesia, beras dan sayuran yang kumakan tumbuh di bumi Indonesia. Lingkunganku, angin yang berhembus, gunung yang kulihat , sinar matahari yang menjaga kehidupanku, mereka semua di bumi Indonesia. Dan di bumi Indonesialah pula leluhurku pernah hidup. Pada prinsipnya yang menghidupiku adalah bumi Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; Apa pun sukumu, Engkau orang Indonesia. Apa pun agamamu, Engkau orang Indonesia. Terang atau gelap kulitmu, Engkau orang Indonesia. Mancung, pesek, sipit, belo, Engkau orang Indonesia. Aku cinta Kau&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Melepaskan diri dari perbudakan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Sejarah panjang penjajahan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak kita, mempengaruhi DNA kita.Di bawah ini kami ketengahkan pendapat Tokoh Humanis yang sangat kami hormati, Bapak Anand Krishna. Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. Ia mulai berkompromi dengan keadaan. Ia menganggap perbudakan itu kodratnya. Kita perlu menyadari bahwa manusia Indonesia masa kini pun belum sepenuhnya bebas dari perbudakan. Kita masih sebagai budak, diperbudak oleh ideologi-ideologi semu, diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang, diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaan-kepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi kita tetap juga membisu. Jiwa kita sepertinya sudah mati. Sepertinya kita ibarat bangkai yang kebetulan masih bernapas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Selama kita masih diperbudak, kita tidak dapat menghormati siapa pun. Seorang budak tidak mengenal rasa hormat. Seorang budak hanya mengenal rasa takut. Untuk menghormati seseorang, terlebih dahulu kita harus memiliki kebebasan. Tanpa kebebasan, selama kita masih hidup dalam penindasan, kita tidak bisa mengasihi seseorang, kita tidak bisa menghormati seseorang. Rasa kasih, rasa hormat, rasa bahagia, rasa indah – semuanya itu merupakan hasil kebebasan. Selama kita masih belum bebas, selama kita masih terbelenggu, selama itu pula kita masih hidup dalam kesadaran rendah, di mana penghalusan rasa belum terjadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Kita masih hidup dalam perbudakan. Diperbudak oleh masyarakat, diperbudak oleh lembaga-lembaga yang menamakan dirinya lembaga-lembaga keagamaan, juga oleh pikiran kita sendiri. Kita masih hidup dalam perbudakan. Jelas dalam diri kita belum terjadi penghalusan rasa. Kita belum kenal rasa hormat. Apakah kita menghormati orang-tua kita? Menghormati Nenek-Moyang kita? Menghormati Warisan Budaya kita? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Budaya berasal dari dua kata,<span>  </span>Buddhi dan Hridaya, ini adalah bahasa Jawa Kuno. Buddhi adalah pikiran yang sudah jernih, kalau pikiran<span>  </span>belum jernih itu belum disebut Buddhi, ada istilah Budi Pekerti. Hridraya adalah perasaan/hati. Gabungan dari keduanya itu adalah Budaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Segala sesuatu yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan dalam jangka lama akan menjadi karakter. Nenek Moyang kita mengungkapkan dalam<span>  </span>ungkapan <em>‘Tresno Jalaran Soko Kulino’</em>, Kasih Muncul Akibat Kebiasaan. Kebiasaan seseorang menjadi budak mengakibatkan karakter budak. Bila kita mulai hidup dengan kesadaran bahwa kita merdeka, tidak terbelenggu dan pemahaman tersebut dilakukan sehari-hari maka karakter kita akan berubah menjadi karakter yang tidak terkungkung. Potensi diri, jiwa kebesaran Sriwijaya, Majapahit ataupun Kerajaan lainnya masih ada dalam gen kita, selama ini mereka terdesak oleh belenggu ketakutan, belenggu perbudakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Kita harus mulai hidup berkesadaran, membuang kebiasaan lama yang kurang baik dan menggantinya dengan kebiasaan baru, membuat <em>‘created mind’</em> yang benar untuk memperbaiki <em>‘conditioning mind’</em> yang salah. Sudah waktunya kita lepas dari perbudakan, sudah waktunya kita bebas, sudah waktunya kita menghormati jasa leluhur kita, sudah waktunya kita menghormati Warisan Budaya kita. Bende Mataram, Sembah Sujudku bagi Ibu Pertiwi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/"><span style="font-size:small;color:#0000ff;font-family:Calibri;">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><a href="http://triwidodo.wordpress.com/"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">http://triwidodo.wordpress.com</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">April 2009.</span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Salah Satu Penyebab Anak Bangsa Kurang Cerdas]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/11/19/salah-satu-penyebab-anak-bangsa-kurang-cerdas/</link>
<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 10:18:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/11/19/salah-satu-penyebab-anak-bangsa-kurang-cerdas/</guid>
<description><![CDATA[Di suatu hari minggu, pulang dari jalan sehat Pakdhe Jarkoni lewat di depan rumah Bu Guru Nana dan P]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Di suatu hari minggu, pulang dari jalan sehat Pakdhe Jarkoni lewat di depan rumah Bu Guru Nana dan Pakdhe jarkoni diajak diskusi Bu Guru Nana di depan rumahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Bu Guru Nana:</strong> <em>Tindak-tindak</em>, jalan-jalan Pakdhe? Kelihatan segar sekali. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Iya, sejak Sekolah Dasar Pakdhe sudah suka olah raga. Bagaimana murid-murid sekarang Bu Guru? Tambah kritis ya pemikirannya?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Bu Guru Nana:</strong> Memang tambah kritis Pakdhe, tetapi kayaknya kelebihan energi, tidak dapat tenang, dibanding dulu mungkin gizinya lebih baik ya Pakdhe? Memang tak ada yang lebih efektif untuk membangun suatu bangsa kecuali lewat pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan yang prima dan input makanan yang berkualitas.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><!--more--> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Dibanding gizi zaman saya dulu iya. Akan tetapi bila dibandingkan dengan negara-negara lain, kondisi kita kalah jauh dengan mereka. Diperlukan perbaikan konsumsi protein hewani yang terdapat dalam telur, susu, daging dan ikan yang sangat penting bagi pertumbuhan fisik dan kecerdasan. Pada waktu ini, konsumsi susu/kapita/th rakyat Indonesia baru 5.60 liter, lebih rendah dari Kamboja yang 12,97 liter dan Bangladesh 31,55 liter dan<span>  </span>jauh di bawah India yang 60 liter. Rata-rata konsumsi susu rakyat Indonesia hanya satu sendok makan susu per hari. Kasihan deh!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Bu Guru Nana:</strong> Wah konsumsi protein hewani masih rendah sekali ya pakdhe. Bagaimana dengan konsumsi daging dan telornya? Kan bukan hanya susu to Pakdhe? Katanya kita yang berkulit coklat kadang-kadang agak tinggi <em>lacto intolerance</em>, kepekaan terhadap susu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Pengaruh diare sebentar, itu hanya di awal saja, apalagi kalau hanya 1 gelas, tidak apa-apa. Dalam hal daging, konsumsi perkapita/tahun bangsa kita baru 7 kg, jauh di bawah Malaysia yang 48 kg dan Filipina yang 18 kg. Konsumsi telur ayam per kapita/tahun rakyat Indonesia baru 51 butir, sementara Malaysia telah mencapai 279 butir. Sebagai negara yang 75% wilayahnya berupa lautan yang luasnya 5,8 juta km², konsumsi ikan rakyat kita juga masih rendah, baru 26 kg/kapita/tahun, di bawah Malaysia yang 45 kg dan jauh di bawah Jepang yang 70 kg/kapita/tahun. Apa kita nggak prihatin to Bu Guru?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Bu Guru Nana:</strong> Apakah karena daging masih impor ya Pakdhe? Sehingga mahal? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Teman saya pegawai Dinas Peternakan bilang bahwa negara kita masih impor 1 juta ekor sapi dari Australia per tahun, baik dalam bentuk daging maupun sapi. Menurut teman saya, subsidi pupuk kita sudah Rp.15 Trilyun per tahun. Kalau anggaran 1 tahun subsidi pupuk untuk mengembangkan peternakan, kita tidak akan tergantung impor lagi. Mungkin saja pendapatnya berlebihan, tetapi potensi untuk swasembada sapi bisa dilaksanakan. Susu murni pun bisa dikembangkan. Teman Pakdhe bilang di luar negeri orang selalu mencari susu murni, kita yang mencari susu kalengan diketawain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Bu Guru Nana:</strong> Apakah karena kurang protein hewani ya pakdhe bangsa kita kurang cerdas menangkap peluang-peluang?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Bangsa Indonesia ini kebanyakan makan nasi yang malah banyak memunculkan penyakit diabetes. Kalau saja dalam satu minggu ada satu hari kita tidak mengonsumsi nasi kita akan lebih sehat dan konsumsi beras berkurang 1,18 juta ton per tahun. Ini bisa mengurangi impor beras juga. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Bu Guru Nana:</strong> Wah, karena kebanyakan karbohidrat dari nasi, bangsa Indonesia kebanyakan energi. Akan tetapi karena kurang protein hewani sehingga kurang cerdas. Kombinasi banyak energi dan tidak cerdas, pantas saja mahasiswa saja banyak yang tawuran. Semoga bangsa kita cepat sadar!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Triwidodo</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">November 2008.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pajakku Padamu Negeri]]></title>
<link>http://pmarbun.wordpress.com/2008/11/12/pajakku-padamu-negeri/</link>
<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 10:54:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>pmarbun</dc:creator>
<guid>http://pmarbun.wordpress.com/2008/11/12/pajakku-padamu-negeri/</guid>
<description><![CDATA[Upeti padamu Baginda Raja Blasting padamu Kumpeny Pajak(ku) padamu Negeri Pajak namamu Pasar di Suma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Upeti padamu Baginda Raja<br />
Blasting padamu Kumpeny<br />
Pajak(ku) padamu Negeri<br />
Pajak namamu Pasar di Sumatera Utara (hah…???)</p>
<p>Ketika pajak dikomunikasikan kepada seseorang, tanggapan yang diberikan selalu beragam. Dari ngedumel dengan ucapan “pajak melulu…entah dikemanakan itu pajak” atau diam membisu merupakan sebagian kecil tanggapan yang diterima. Seakan pajak ini merupakan benalu yang selalu menggerus penghasilan yang diperoleh. Tidak terkecuali pemahaman ini datang dari yang berpendidikan SMA,D3, atau S1.</p>
<p>Perdebatan semakin seru apabila penghasilan mereka cukup besar maka akan berulangkali penjelasan perhitungan dilakukan sampai menunjukkan peraturan yang berkenaan dengan itu. Jelas karena sistem perpajakan kita menganut system progressif. Lebih lebih ketika yang berpenghasilan minim ikut ‘ninbrung’ “lha… kok anak gua cuma dikasih jatah Rp 100.000/per bulan atau  Rp.1.111. sekali makan itu bisa dapat apa? Betul Juga.</p>
<p>Ya itulah seni mengkomunikasikan pajak. Karena urusan yang ini <strong>wajib hukumnya dan tertetapkan UU nya</strong> <em>mau tidak mau suka tidak suka harus dijalankan</em>. Ya…ialah…mau bilang apalagi.</p>
<p>Kesadaran membayar dan mematuhi ketentuan perpajakan akan timbul apabila wajib pajak bisa menjawab pertanyaan yang sangat mendasar, mengapa bayar pajak dan untuk apa bayar pajak. Oh.. tentu</p>
<p>Pajak memang memiliki karakteristik sebagai iuran kepada Negara yang bersifat <strong>memaksa dan tanpa kontra prestasi langsung</strong> dari Negara. (Nah…loh.. apa saya bilang..powerfull…). Kontra prestasi artinya manfaat tidak langsung dirasakan ketika sudah membayar pajak. Yang jelas uang pajak digunakan untuk kegiatan pemerintah dalam penyelenggaraan Negara, kepentingan umum dan biaya pembangunan.</p>
<p>Melalui APBN pajak yang merupakan pemasukan pendapatan mayoritas 70% dan melalui APBN pajak itu dialokasikan ke berbagai sektor.</p>
<p>1.Menjalankan Kegiatan Pemerintahan dalan Penyelenggaraan Negara seperti<br />
-	Kegiatan Perjalanan Dinas dan Administrasi Pelayanan Publik, Patroli TNI menjaga Keutuhan RI, Patroli Polri memelihara Keamanan dan Ketertiban.dll<br />
-	Membayar Gaji Penyelengara Negara, PNS, TNI, POLRI, Dewan, Komisi dan Aparatur Negara Lainnya. (Makanya ramai ramai mendaftar ketika buka penerimaan…enak sih…???)<br />
- 	Membeli Obat-obatan untuk Puskesmas, Buku Untuk Sekolah, Peralatan Militer TNI, dll<br />
2.Biaya Pembangunan seperti<br />
	-	Sarana Umum (Pembangunan/Perbaikan Jalan, Pengadaan Listrik, Gedung Sekolah, Pengadaan Transportasi Darat, Laut dan Udara,dll)</p>
<p>Ketika terjadi Bencana Alam seperti Tsunami, Banjir, Tanah Longsor, Gempa Bumi kemudian ditimpali dengan Gangguan Kamanan seperti Teror Bom, Kerusuhan Antar Warga/Suku, Ribut masalah Pilkada, Tawuran Antar Supporter dll, maka keuangan Negara akan semakin tergerus untuk merahabilitasi dampak bencana alam dan pemulihan keamanan. </p>
<p>Bila keadaan ini dalam frekwensi yang berturut turut maka biaya pembangunan akan ditunda untuk menalangi biaya berbagai peristiwa itu. Jangan heran bila masih banyak prasarana dan sarana tidak terurus karena dana dialihkan membiayai hal tersebut diatas (atau  dananya berobah fungsi masuk kantong…???..heh..heh,heh)</p>
<p>Saat anda pergi dan pulang dari tempat beraktivitas dan tiba dirumah dalam keadaan selamat tanpa gangguan keamanan yang berarti maka hasil dan hak pajak itu sudah dinikmati. (oh.. begitu)</p>
<p>Seberapapun pajak dibayarkan akan berguna bagi negeri ini. Hanya kita mengharap agar pajak ini dapat dipergunakan sebaik baiknya untuk kepentingan menyelenggarkan pemerintahan, pelayanan publik dan pembangunan. <strong>Maka Bayar Pajaknya dan Awasi Penggunaannya </strong>supaya jangan digrogotin tikus. (bisa aja)</p>
<p>Suatu saat ketika berhubungan dengan pelayanan publik untuk mengurus, KTP, SIM, Surat Surat Resmi, Surat Keterangan, dsb, sudah lama menunggu urusan belum selesai, saat kejenuhan  tiba maka nyanyikanlah pelipur lara  (…lupakan aku ….aku bukan siapa siapa untukmu …(negeriku). (d’Massive)<br />
(P&#38;M)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nusantara Bisa Terpecah Menjadi Lima Bagian?]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/11/06/yang-terjadi-di-nusantara-clash-of-tradition-atau-clash-of-religion/</link>
<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 10:56:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/11/06/yang-terjadi-di-nusantara-clash-of-tradition-atau-clash-of-religion/</guid>
<description><![CDATA[Pulang kuliah Wisnu langsung menghampiri Pakdhe Jarkoni dan langsung mengajak berdebat.   Wisnu: Sel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pulang kuliah Wisnu langsung menghampiri Pakdhe Jarkoni dan langsung mengajak berdebat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span lang="IN">Wisnu:</span></strong><span lang="IN"> Selamat Sore Pakdhe. Kami baru tahu bahwa kuliah pendidikan agama itu sebetulnya bersifat umum, bukan pendidikan agama tertentu. Sehingga mahasiswa dapat menghargai agama lain bukan <em>prejustice</em>, praduga seperti yang terjadi saat ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span lang="IN">Pakdhe Jarkoni:</span></strong><span lang="IN"> Betul! Dalam agama yang dianut Pakdhe, setiap Surat dalam Kitab Suci didahului<span>  </span><em>Bismillah hirrohmannirohim,</em> dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, intinya kita diingatkan tentang kasih, dan supaya kasih menjiwai tindakan kita sehari-hari. Ada Hadist yang kurang lebih berbunyi: Apabila kau tidur nyenyak dengan perut kenyang, sedang tetanggamu tidak dapat tidur karena lapar, maka kau belum muslim. Agama Kristen, Katholik, Buddha juga mempunyai inti kasih. Bukankah dalam semua agama mengandung Iman, Harapan dan Kasih?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><!--more--> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span lang="IN">Wisnu:</span></strong><span lang="IN"> Tentang bahwa kita harus mempertanggungjawabkan perbuatan kita sendiri dalam Islam terdapat pernyataan: Akan ada hari dimana mulut manusia dikunci dan anggota tubuhnya dimintai pertanggungan jawab. Dalam agama Kristen dan Katholik ada pernyataan: Ampunilah kami seperti kami mengampuni mereka yang bersalah kepada kami. <em>Sapa sing nandur ngunduh.</em> Siapa yang menanam akan menuai. Dalam agama Buddha dan Hindu ada aturan Hukum Sebab Akibat. Esensi setiap agama ada persamaannya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span lang="IN">Pakdhe Jarkoni:</span></strong><span lang="IN"> Yang beda adalah tradisi yang mengikutinya. Tradisi Arab dalam Islam, tradisi Barat dalam Kristiani, tradisi India dalam Hindu dan Buddha serta tradisi Tiongkok dari Buddha dan Kong Hu Cu. Dari dahulu nenek moyang kita menerima semua agama dengan terbuka, tetapi tradisinya biarlah tradisi Nusantara. Biarlah ada lebaran dan <em>sungkeman,</em> biarlah ada doa dengan <em>tumpengan.</em> Biarlah pernikahan diiringi gamelan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span lang="IN">Wisnu:</span></strong><span lang="IN"> Betul Pakdhe. Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa kebudayaan adalah sifat unggulan dari seluruh Nusantara. Jadi kebudayaan itu sifat yang baik-baik. Kalau kita melakukan sesuai budaya kita, maka perbuatan kita akan selaras dengan DNA kita, dengan <span> </span>jatidiri kita. Biarlah agama masuk tetapi berkebudayaan Indonesia. Repotnya sejak zaman dahulu di Nusantara ini agama kerap dijadikan tabir bagi suatu kepentingan perebutan kekuasaan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span lang="IN">Pakdhe Jarkoni:</span></strong><span lang="IN"> Sifat-sifat unggulan tersebut disarikan menjadi Pancasila. Pancasila dapat mewadahi semua agama. Inti agama sama. Esensinya sama. Tradisi yang mengikutinya yang berbeda-beda. Ramalan bahwa sebelum tahun 2020 Indonesia terpecah menjadi 5 negara bisa menjadi kenyataan, apabila kita mempertentangkan tradisi dan mengabaikan esensi agama. Dan bangsa asing akan bertepuk tangan karena dapat menjarah Indonesia dengan mudah. Sadarlah adik-adik, sadarlah kakak-kakak, bersatulah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span lang="IN">Wisnu:</span></strong><span lang="IN"><span>  </span>Apapun agamamu kau orang Indonesia. Apapun sukumu kau orang Indonesia. Aku Cinta Indonesia. Semoga saja Pakdhe!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Triwidodo</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">November 2008.</span></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Partai Bicara?]]></title>
<link>http://padamunegeri.wordpress.com/2008/09/25/partai-bicara/</link>
<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 15:23:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>pdmn</dc:creator>
<guid>http://padamunegeri.wordpress.com/2008/09/25/partai-bicara/</guid>
<description><![CDATA[Para pemirsa yang budiman, ada yang perlu kami sampaikan. Mulai oktober ini anda tidak akan bertemu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Para pemirsa yang budiman, ada yang perlu kami sampaikan. Mulai oktober ini anda tidak akan bertemu ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bulan Penuh Berkah Bagi Industri Televisi Dengan Tayangan Siap Saji]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/21/bulan-penuh-berkah-bagi-industri-televisi-dengan-tayangan-siap-saji/</link>
<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 14:30:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/21/bulan-penuh-berkah-bagi-industri-televisi-dengan-tayangan-siap-saji/</guid>
<description><![CDATA[  Malam itu Pakdhe Jarkoni membawa resep dokter ke apotik. Sambil menunggu obat disiapkan petugas, P]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Malam itu Pakdhe Jarkoni membawa resep dokter ke apotik. Sambil menunggu obat disiapkan petugas, Pakdhe melihat tayangan televisi yang dipasang diatas rak obat. Seorang bapak-bapak di sebelahnya mengajak senyum dan berkomentar tentang tayangan televisi di bulan Ramadan1429 H.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Bapak di sebelah:</strong> Wah, sekarang hampir semua penyiar tivi pakai baju koko dan jilbab, apakah mereka sudah tobat dan berniat menempuh jalan yang benar di bulan Ramadan ini? Kalau melihat luarnya saja mestinya begitu ya Pak?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Begini Pak, kami ingat tulisan Pak Triyono Lukmantoro, Dosen Sosiologi Undip di Harian Suara Merdeka. Industri televisi itu sangat sigap, ibaratnya seperti restoran siap saji, tidak seperti birokrat yang sebelum bertindak selalu menunggu terbitnya juklak dan juknis dulu, sehingga ketinggalan peluang berharga.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Bapak di sebelah: </strong>Maksud Bapak industri tivi itu seperti waralaba Mac D yang paham psikologi pembeli?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Coba lihat pak, mendadak mereka semua sedemikian beragama di bulan Ramadan. Olah raga, kuis, lawak, sinetron semuanya bernuansa Islami. Benarkah itu pertobatan atau pengabdian? Menurut kami itu adalah fenomena strategi penjualan.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Bapak di sebelah:</strong> Jadi menurut Bapak, industri tivi beroperasi menurut logika mereka sendiri. Sehingga Ramadan diolah dan dijadikan produk yang dijual untuk mendatangkan keuntungan. Memang ada benarnya, kan waktu tayang menjadi lebih panjang.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Tanpa disadari perihal menjalankan peribadatan digeser menjadi berkonsumsi berlebihan. Prinsip-prinsip restoran cepat saji ala Mc D telah mendominasi masyarakat, misalnya: pertama, prinsip efisiensi biaya sehemat mungkin keuntungan sebesar mungkin. Pada saat sahur sms premium dikirim pemirsa sebanyak-banyaknya layaknya judi, yang menang dapat hadiah; kedua, kalkulabilitas, kuantitas bukan kualitas, polesan tipis, baju koko, jilbab, kata nuansa islami, kebiasaan berbuka dan sahur para selebrities, bukan perenungan yang mendalam; ketiga, prediktibilitas, masyarakat hanya ingin cerita seperti yang diharapkan, bukan kejutan; keempat, menggantikan manusia dengan non manusia. Hampir semua tivi mematuhi rating non manusia, rating tivi AGB Nielsen, yang berdasarkan 2.080 rumah respondent tersebar di 10 kota. Bukankah itu seperti Mac Donaldisasi?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Bapak di sebelah:</strong> Betul Pak! Dampak eksploitasi terhadap pemirsa semakin menjadi-jadi. Seluruh waktu non tidur dianggap kerja. Jam 3-5 pagi biasanya jam mati menjadi jam tayang utama. Prime time. Selanjutnya kami dengar harga iklan juga dipatok tinggi. Misalnyai iklan sinetron <em>Para Pencari Tuhan</em> adalah Rp 18 juta per 30 detik.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Mbok ya dibuatkan tayangan yang lebih berkualitas. Yang mencerdaskan masyarakat. Yah mau dibawa kemana negeri ini. Semoga para ksatria Nusantara cepat sadar. Mari pak, obat saya sudah jadi, saya pulang dulu, Selamat Malam.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Bapak di sebelah:</strong> Selamat malam juga. GBU.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Triwidodo</p>
<p style="margin-bottom:0;">September 2008.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tragedi Pasuruan dan Potret Materialisme Masa Kini di Nusantara]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/18/tragedi-pasuruan-dan-potret-materialisme-masa-kini-di-nusantara/</link>
<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 10:29:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/18/tragedi-pasuruan-dan-potret-materialisme-masa-kini-di-nusantara/</guid>
<description><![CDATA[  Sore itu Fauzi kembali silaturahmi ke rumah Pakdhe Jarkoni. Keponakan Pakdhe Jarkoni tersebut mene]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Sore itu Fauzi kembali silaturahmi ke rumah Pakdhe Jarkoni. Keponakan Pakdhe Jarkoni tersebut menemukan Pakdhenya sedang membaca koran. Dan terjadilah diskusi hangat di antara keduanya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Fauzi:</strong> Pakdhe, kasihan ya, 21 wanita tewas dalam berebut zakat sebesar Rp.30.000 di Pasuruan. Apa komentar Pakdhe?</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Semua orang mengomentari pada bidangnya masing-masing: Yang prihatin dengan kemiskinan rakyat mengatakan inilah potret kemiskinan masa kini; Yang profesional dalam bidang keamanan mengatakan dengan berkumpulnya ribuan orang pada satu titik, sudah seharusnya melibatkan aparat keamanan; Yang mengerti ilmu agama mengetengahkan kalau bersedekah jangan <em>ria</em>, pamer; Yang membelanya mengatakan berbuat kebaikan harus dengan terang-terangan agar memberi contoh orang kaya lainnya untuk tergerak ikut berderma; Yang setuju dengan badan amil zakat mengatakan bahwa dalam kitab suci ada penjelasan tentang amil zakat, mengapa tidak menyerahkan ke badan amil zakat saja; Sebagian yang lain berpendapat bahwa saat ini belum dapat mempercayai badan amil zakat tersebut. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Fauzi:</strong> Iya, saya melihat dari sudut pandang psychologi: harga-harga naik selama puasa; orang berbuka puasa dengan makan yang lebih enak dari biasanya; minyak tanah menghilang, gas naik, harga kebutuhan pokok membubung. Begitu ada yang akan membagi zakat ya mereka berpikir, ada kesempatan ya dimanfaatkan, hanya lupa resikonya. Kalau Pakdhe pribadi akan menyoroti soal apa?</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Biarlah para pakar ramai bicara di koran-koran membuat koran laku. Biarlah yang hapal ayat-ayat suci menggali ayat-ayat yang sesuai. Pakdhe melihat godaan keduniawian itu begitu berat. Materalisme sudah begitu merasuk masyarakat. Materi seakan sudah di&#8217;Tuhan&#8217;kan.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Fauzi:</strong> Masyarakat tidak mampu berlomba-lomba mendapatkan zakat dengan saling dorong, pengin mendapat duluan dan keluar dengan bangga, tidak peduli mereka yang masih antri berdesak-desakan. Pakdhe melihat hal tersebut sebagai tanda bahwa materialisme sudah merasuk masyarakat kita?</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Masyarakat yang tidak percaya badan amil zakat, mempunyai keyakinan bahwa bergelimang uang itu dapat menggoda. Mereka tahu bahwa masyarakat saat ini gampang tergoda dengan materi, jadi lebih baik ditangani sendiri. </span></span></span>Si Pemberi Zakat telah mengabaikan para wanita yang berpuasa, kehausan karena sudah antri menunggu sejak subuh. Semua berebut lebih dahulu, karena mereka tahu siapa yang lebih dahulu akan selamat, misalnya kalau pada saat akhir zakatnya habis. Bukankah itu semua menunjukkan keinginan duniawi telah menghipnotis masyarakat kita untuk berlomba mendapatkannya. Mereka memandang bahwa mereka yang tenang tidak akan kebagian. Kepentingan duniawi sudah menjadi Tuhan mereka? Itulah yang terjadi mengapa begitu banyak yang tertangkap tangan oleh KPK.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Fauzi:</strong> Menurut Ronggowarsito, inilah zaman <em>edan</em>, yang tidak <em>ngedan</em> tidak kebagian.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Manusia mempunyai naluri <em>animal instinct</em>, sifat kebinatangan, dan itu diperlukan untuk dapat bertahan hidup. Makan, minum, sex, dan kebutuhan istirahat termasuk dalam naluri tersebut. Dalam keadaan <em>kepepet</em>, manusia dapat mengabaikan cara-cara yang lebih manusiawi. Ini adalah kesalahan kita semua: kita telah memilih pimpinan dan wakil rakyat yang kurang mampu menyelesaikan masalah; gelombang konsumerisme lewat media tivi dan media masa begitu derasnya; para pemuka agama belum juga dapat memberikan solusi nyata; Sudahlah Fauzi, kita doakan mereka yang telah menghadap Yang Maha Kuasa, kita doakan pemimpin-pemimpin kita, kita doakan pemuka-pemuka agama kita, kita sendiri memberesi diri kita sendiri lebih dahulu sehingga dapat lepas dari belenggu dunia.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Triwidodo</p>
<p style="margin-bottom:0;">Sepember 2008.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konspirasi Negara Adidaya Tentang Vaksin Flu Burung]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/10/konspirasi-negara-adidaya-tentang-vaksin-flu-burung/</link>
<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 08:11:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/10/konspirasi-negara-adidaya-tentang-vaksin-flu-burung/</guid>
<description><![CDATA[  Ketika Pakdhe Jarkoni pulang dari olah raga jalan pagi menuju rumah, sesampai di depan Puskesmas, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Ketika Pakdhe Jarkoni pulang dari olah raga jalan pagi menuju rumah, sesampai di depan Puskesmas, nampak Dr. Joko sedang santai selesai menyirami tanaman. Kebetulan ada hal yang ingin ditanyakan kepada Pak Dokter, maka Pakdhe mampir sebentar.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Dokter Joko:</strong> Jalan-jalan Pakdhe, biar sehat dan panjang umur, kelihatannya Pakdhe awet muda saja.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Terima kasih Pak Dokter, biar darahnya lancar. Pak Dokter, kami membaca koran tentang Menteri Kesehatan yang mempermasalahkan virus Flu Burung. Apakah negara kita sudah dapat membuat vaksin sendiri?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Dokter Joko:</strong> Memang betul Pakdhe hanya negara maju yang bisa membuat vaksin, tetapi ya jangan membodohi negara kita. Dengan menguasai teknologi, modal dan kemampuan dianggap sah merampas Sumber Daya Alam. Memang mereka mempunyai <em>Intellect Property Right</em>, Hak Penemuan Intelektual.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Seharusnya ada <em>Natural Source Property Right</em>, Hak dari tempat penemuan Sumber Daya Alam, begitu Pak Dokter?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Dokter Joko:</strong> Iya Pakdhe. Kita disuruh WHO mengirim virus Flu Burung. Virus Flu Burung di Indonesia termasuk virus paling ganas di dunia. Tetapi ujung-ujungnya dikomersilkan. Virus itu bisa berada di Los Alamos, itu tempat senjata atom dibuat. Negara kita dapat apa? Kita ditawari vaksinnya. Kalau tidak sanggup membeli, kita akan diberi pinjaman.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Untung Ibu Menteri cepat sadar ya Pak Dokter. Mereka telah berkonspirasi menyengsarakan negara miskin, bahkan menyengsarakan umat manusia. Semoga mereka sadar, setiap pikiran, ucapan dan tindakan harus dipertanggungjawabkan pada saatnya nanti. Alam mempunyai Hukum Sebab-Akibat. <em>Gusti Allah ora Sare, </em><span style="font-style:normal;">Tuhan tidak tidur.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Dokter Joko:</strong> Betul Pakdhe, pemimpin-pemimpin kita harus cepat sadar, jangan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Mereka harus bertanggung jawab kepada Tanah Air. Mungkin mereka mengira selama hidup mereka mandiri, tidak merugikan orang lain, dan melakukan ibadah&#8230;.. sudah cukup. Dengarkan Tanah Air yang berbicara: “Orang ini menganggap tindakannya baik, tetapi walau dia sudah paham bahwa negara tempat kelahirannya dianiaya semena-mena, dia diam seribu bahasa. Tanah Air mohon keadilan Gusti!!”</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Triwidodo</p>
<p style="margin-bottom:0;">September 2008.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketidakacuhan terhadap Bangsa]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/09/ketenangan-semu-dan-kegelisahan-arjuna/</link>
<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 10:37:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/09/ketenangan-semu-dan-kegelisahan-arjuna/</guid>
<description><![CDATA[  Beberapa hari Pakdhe Jarkoni tidak muncul, menengok Pamannya di Gunung Salak. Begitu nongol. Lik D]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Beberapa hari Pakdhe Jarkoni tidak muncul, menengok Pamannya di Gunung Salak. Begitu nongol. Lik Darmo mampir ke rumahnya bersilaturahmi.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Darmo:</strong> Pakdhe Jarkoni, tadinya Pakdhe kelihatan gelisah memikirkan negara, tetapi sekarang sudah nampak tenang. Mendapat ilmu apa dari Pamannya Pakdhe? Kalau kami memang tenang, karena tidak memikir kondisi lingkungan, kan kami tidak bisa merubah kondisi yang terlanjur parah Pakdhe? Emangnya Gue Pikirin!</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Mohon maaf Lik Darmo, Kritik boleh kan? Panjenengan orangnya alim, hatinya lembut, tidak pernah berbuat merugikan orang lain, tetapi Lik Darmo tidak begitu peduli pada lingkungan? Di semua lapisan ada korupsi, keadilan amburadul, kekayaan alam negeri dijarah. Perusahaan Multi Nasional menggilas usaha kecil. Paklik tetap tenang, damai dan percaya kepada keadilan Tuhan. Menurut Paman kami, kedamaian Lik Darmo masih semu.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Darmo:</strong> Terus terang saja Pakdhe, kami tidak tersinggung, wong kami memang mengikuti Sesepuh yang alim, yang mengerti tentang <em>nature of thing,</em> sifat alami, beliau menjelaskan secara <em>gamblang</em> semua persoalan di alam ini. Kami dapati di kitab-kitab suci juga demikian, apakah kami salah Pakdhe. Memang demikian adanya.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Kami baru saja paham bahwa mereka yang sedang naik gunung, pandangannya terfokus ke puncak, kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Mereka tersebut sudah memahami hukum alam dan disebut Resi. Tetapi ada Resi Drona yang hidupnya dibiayai dengan dana Korawa. Ada Resi Durwasa yang tidak bisa mengendalikan diri dan suka menyumpah orang.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Darmo:</strong> Wah, Pakdhe <em>ngaget-ageti,</em> membuat kaget, apakah kami mengikuti dan mempelajari ajaran menarik yang menurut pakdhe kurang memperhatikan lingkungan? Ada ego yang kurang terdeteksi, bahwa yang penting kami dapat cepat mencapai puncak kesadaran?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Mungkin saja suatu ajaran lengkap, tetapi yang dipelajari hanya tindakan-tindakan ketika naik gunung. Pelajaran ketika menuruni gunung tidak menarik kita, karena penuh resiko. Sebaiknya kita mengikuti Pemandu yang setelah mendapat pencerahan, mulai turun gunung, mereka melihat keadaan di bawah lebih jelas. Mereka melihat ketidakadilan dengan jelas. Mereka disebut <em>Bhagawan.</em> Kanjeng Nabi Muhammad, Gusti Yesus adalah Bhagawan, walau jelas spiritualis, perhatikan ajaran kemasyarakatannya. Prabu Kresno tidak duduk diam menjadi Resi di puncak Gunung, beliau turun ditengah masyarakat membimbing Arjuna menegakkan keadilan. Kalau semua orang mengikuti resi yang sedang naik ke puncak, maka kedamaiannya yang diperoleh masih semu. Kedamaian itu akan dimanfaatkan oleh mereka yang mendapatkan keuntungan dari kedamaian semu tersebut. Mungkin Indonesia akan habis dan terpecah-belah dan mereka belum sampai ke puncak juga.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Darmo:</strong> Pakdhe, Pamanmu luar biasa, tetapi ada satu pertanyaan lagi. Bukankah kita tanpa belajar spiritual juga bisa melihat kondisi sekitar dan berusaha memperbaiki keadaan?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Lain sekali Lik Darmo. Arjuna kalau perang berdasarkan keinginan berkuasa belum tentu menang. Arjuna mengerti spiritual dulu baru berperang, dia mengerti bahwa dia tidak bisa mati, yang mati hanya tubuhnya. Dia memahami jatidirinya setelah diajari Sri Krishna, baru berperang untuk menjalankan dharma. Landasan utama adalah spiritual dulu, baru berjuang. Kanjeng Nabi Muhammad mengajari Tauhid dulu, baru mengajak berjuang.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Darmo:</strong> Terima kasih sekali Pakdhe, akan kurenungkan dulu, saya melihat kebenaran. Tetapi akan terjadi perubahan pandangan yang sangat drastis. Sekali lagi terima kasih Pakdhe, lain kali kita bicarakan lagi. Kami perlu minum jamu tolak angin. Tubuhku terasa <em>greges-greges</em>, demam, mendengarkan penjelasan Pakdhe.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Baik Lik Darmo, semoga Gusti, Hyang Widhi memberikan <em>dalan padhang,</em> jalan yang terang. Amin. <em>So be it.</em></p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Triwidodo</p>
<p style="margin-bottom:0;">September 2008.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indonesia Gawat Darurat]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/07/indonesia-gawat-darurat/</link>
<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 07:12:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/07/indonesia-gawat-darurat/</guid>
<description><![CDATA[  Percakapan Pakdhe Jarkoni dengan Lik Darmo, mengenai Perusahaan Multi Nasional yang menguasai bida]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;">Percakapan Pakdhe Jarkoni dengan Lik Darmo, mengenai <em>Perusahaan Multi Nasional yang menguasai bidang pertanian</em>, kemudian percakapan dengan Lik Bagio mengenai <em>Pertempuran Petani Ringkih melawan Raksasa Kapitalisme</em> dan percakapannya dengan Mbah Urip tentang <em>Anak Korban Iklan sebagai Generasi Penerus Masa Depan</em> sampai ke telinga Dokter Joko, Kepala Puskesmas setempat. Dan Pak Dokter Djoko menyempatkan silaturahmi ke rumah Pakdhe.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> <em>Sugeng ndalu</em>, selamat malam pak Dokter, <em>wonten berkah punopo</em>, ada berkah apa sehingga pak dokter <em>rawuh</em>, datang ke rumah kami.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Dokter Joko: </strong>Pakdhe, kami dengar diskusi Pakdhe dengan para tetangga bahwa kondisi negara kita sudah gawat. Memang betul Pakdhe, menurut diagnosa para dokter, Negara kita sudah harus masuk ICU, Ruang Perawatan Khusus. Kalau hanya diobati dengan obat demam dan pilek takkan kan merubah keadaan. Dokter-dokter atau pemimpin-pemimpinnya yang merawat negara harus yang spesialis kalau hanya bekerja <em>as usual,</em> biasa-biasa saja, negara tak akan lepas dari keadaan ini.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Betul Pak Dokter! Dalam program manajemen stress dikenal program <em>katarsis,</em> mengeluarkan sampah rekaman trauma dari dalam pikiran bawah sadar. Setelah itu akan terasa lega dan otak dapat berpikir lebih jernih.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Dokter Joko:</strong> Dalam bernegara juga demikian Pakdhe, kita harus mempunyai pikiran yang jernih. Dalam negara pikiran adalah pemimpin. Kita harus memiliki pemimpin-pemimpin yang jernih.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Artinya dalam Pemilihan Presiden, Pemilihan Gubernur, Pemilihan Bupati/Walikota, Pemilihan Anggota DPR/DPD kita harus betul-betul melihat track record para calon, kemudian pandangan mereka tentang kecintaan terhadap negara kesatuan Republik Indonesia. Sehingga kita tidak salah dalam memilih.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Dokter Joko:</strong> Betul Pakdhe, mereka yang tidak memilih, berarti tidak bertanggung jawab. Konon nanti setelah meninggal dunia, anggota -anggota tubuh kita akan dimintai pertanggungan jawabnya. Mungkin secara pribadi kita beramal baik, tetapi dengan tidak peduli pada negara yang kacau, kita tetap akan diminta pertanggungan jawab, mengapa sudah mengerti tetapi tetap diam saja.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Beberapa orang beralasan bahwa para calon yang dipilih tidak ada yang memenuhi kriteria. Pak Dokter, mengapa kita tidak belajar pada <strong>Sri Krishna</strong>, baik Pandawa maupun Kurawa juga tidak sempurna, tetapi memilih Pandawa daripada Kurawa adalah tindakan yang bijak. Semoga Para Arjuna sadar, tidak melarikan diri dari peperangan dan menjadi petapa di pucuk gunung, bangkit menegakkan dharma, menegakkan kedaulatan negara Indonesia.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Dokter Joko:</strong> Amin. Indonesia Jaya!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anak Korban Iklan Generasi Penerus Bangsa]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/03/anak-korban-iklan-sebagai-generasi-penerus-di-masa-depan/</link>
<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 10:26:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/03/anak-korban-iklan-sebagai-generasi-penerus-di-masa-depan/</guid>
<description><![CDATA[  Pakdhe Jarkoni yang sedang membaca koran di serambi rumahnya, didatangi mbah Urip tetangga sebelah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Pakdhe Jarkoni yang sedang membaca koran di serambi rumahnya, didatangi mbah Urip tetangga sebelah. Dan terjadilah diskusi yang asyik.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Mbah Urip:</strong> Pakdhe Jarkoni, saya itu sering mengajak cucu saya jalan-jalan ke <em>mall.</em> Kan enak, ruangannya dingin, bersih, yang dilihat bagus-bagus. Cuma cucu saya selalu mengajak ke tempat mainan. Maunya dibelikan <em>robot digimon,</em> katanya temannya sudah pada punya. Makanan pun yang dibeli yang sering keluar iklan di tivi. Yah, paling banter aku belikan baju, tetapi cucu saya mintanya yang ada gambar <em>Naruto</em> yang sering keluar di film kartun.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Memang globalisasi itu juga mencakup 3 F: food, makanan; fun, mainan; dan fashion, pakaian. Repotnya ini menyangkut anak-anak yang pada zaman sekarang banyak dituruti kemauannya oleh orang tuanya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Mbah Urip:</strong> Anak-anak kan tidak apa-apa to Pakdhe, hitung-hitung kita menyenangkan anak atau cucu, karena masa kecil kita kurang terpenuhi keinginannya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Tidak demikian Mbah Urip, 25 tahun lagi mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia. Mereka generasi penerus bangsa. Ingatan waktu kecil itu demikian kuat, pemahaman pada waktu itu masuk ke dalam bawah sadar dan akan mewarnai kehidupan selanjutnya. Dan, begitu pemahaman sudah menjadi kebiasaan bahkan menjadi perilaku atau karakter, maka untuk merubahnya sudah demikian sulit. Anak yang banyak kemudahan dan serba instan akan membuat daya juangnya lemah, kesabarannya tipis dan mudah menderita <em>stress</em>.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Mbah Urip:</strong> Kalau demikian pantas ya Pakdhe di masa depan masalah <em>stress</em> menjadi masalah utama masyarakat.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Belum lagi mereka yang masih kecil diberi pengetahuan orang dewasa dari tivi, hanya mereka yang wajahnya putih yang disebut cantik. Hanya yang genit dan seksi yang disenangi lelaki. Memang banyak faktor yang membuat anak ingin membeli produk, mereka yang memerlukan produk tersebut, 37%. Mereka yang menyukai produk yang diiklankan, 32%. Yang iklannya menarik, 21%. Dan, sebab modelnya menarik, 13%. Ada juga anak yang ingin membeli karena merknya terkenal, pengaruh teman sebaya dan iklan yang di ulang-ulang yang tanpa sadar telah masuk menjadi bagian dari bawah sadar. Dan mereka menjadi konsumtif, ketergantungan pada barang luar negeri semakin parah. Karena hampir semua barang yang diiklankan di tivi merupakan produk Perusahaan Multi Nasional yang bermodal kuat, maka negara kita menjadi semakin rapuh.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Mbah Urip:</strong> Terus mulai dari mana Pakdhe kita membenahi hal ini?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Ya mulai dari memberesi diri, kemudian memberesi keluarga kita sendiri, memberesi lingkungan kita dan ikut mengurusi negeri. Paling banyak di antara kita, adalah mereka yang mengerti, tetapi mereka berdiam diri. Inilah yang menjadi penyebab kekacauan negeri ini. Mungkin mereka amal pribadinya dianggap baik, tetapi mereka nanti harus mempertanggung-jawabkan kemengertiannya dan mengapa mereka berdiam diri saja. Akan datang waktunya setiap anggota tubuh akan diminta pertanggungan-jawabnya yaitu ketika mulut kita terkunci dan anggota tubuh yang berbicara???</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Triwidodo</p>
<p style="margin-bottom:0;">September 2008.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Petani Ringkih Dan Raksasa Kapitalisme Global di Indonesia]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/02/pertarungan-petani-ringkih-melawan-raksasa-kapitalisme-global/</link>
<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 11:28:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/02/pertarungan-petani-ringkih-melawan-raksasa-kapitalisme-global/</guid>
<description><![CDATA[  Berselang dua hari dari obrolan Pakdhe Jarkoni dengan Lik Karyo, Pakdhe Jarkoni datang lagi ke war]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Berselang dua hari dari obrolan Pakdhe Jarkoni dengan Lik Karyo, Pakdhe Jarkoni datang lagi ke warung Pak Sartono. Waktu sudah jam 9 malam dan masih ada Lik Bagio yang duduk <em>ngematke,</em> menikmati teh panas dan makan tempe bacem bakar. Selain Lik Bagio ada beberapa pengendara sepeda motor yang mampir nge-mie.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Bagio:</strong> <em>Sugeng ndalu</em>, selamat malam Pakdhe, tadi Pak Sartono cerita bahwa dua hari yang lalu Pakdhe <em>ngendikan,</em> ngobrol dengan Lik Darmo tentang pertanian yang dikuasai Perusahaan Multi Nasional. Mari kita lanjutkan diskusinya Pakdhe. Keponakan kami di desa bilang bahwa harga sarana pertanian, seperti benih, pupuk, pestisida pasti tinggi, sedangkan harga produk pertanian seperti cabai, beras, tembakau dan lain-lain selalu tidak pasti.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Wah, sekarang ketemu pentholan diskusi, asyik, <em>nggih dik nggih</em>, ya dik ya! (Pakdhe menyalami anak muda yang memberikan tempat duduknya untuk Pakdhe Jarkoni). Ibaratnya para petani ringkih disuruh menghadapi Raksasa Kapitalisme Global.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Bagio:</strong> Betul Pakdhe, pada zaman Hastina hanya Yudistira yang gemar judi. Sekarang petani terpaksa judi. Sawah teknis yang berpengairan itu jumlahnya berapa, kan masih banyak yang masih tadah hujan. Karena iklim yang tidak menentu, keponakan kami berani tanam, karena hujan turun agak sering, kemudian kalau ternyata hujan berhenti ya resiko. Kemudian para petani juga berjudi dengan harga pasar yang fluktuatif. Ada yang berani ber-resiko menanam padi pada musim yang seharusnya untuk tanam palawija, karena kalau berhasil harga padi nya lebih tinggi, disebabkan yang menanam padi tidak banyak.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Hal demikian tidak hanya dihadapi keponakan Pak Bagio, ayah dan kakek kita juga telah menghadapi hal yang sama. Perusahaan Negara Persero produsen benih PT Sang Hyang Sri pun hanya menjual benih padi seharga Rp. 6.000 – Rp. 7.000 per kg, sudah mepet dengan biaya produksi benihnya. Kalau boleh memilih, perusahaan tersebut akan memilih produksi jagung hibrida yang menguntungkan.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pak Bagio:</strong> Pakdhe, tolong saya dijelaskan tentang benih jagung hibrida, mengapa bisa menguntungkan?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Untuk benih padi, petani selain membeli benih dari Perusahaan Negara, dapat juga membuat sendiri, dengan kualitas rendah mestinya. Sedangkan untuk benih padi dan jagung hibrida yang hasilnya dapat meningkat lebih banyak, petani tidak bisa membuat benihnya dan tergantung kepada perusahaan pembuatnya. Benih padi dan jagung hibrida harganya Rp. 40.000 – 50.000 per kg, sedangkan biaya produksinya Rp. 15.000 – 20.000 per kg. Untungnya besar, tetapi katanya perusahaan kita punya keterbatasan dan Perusahaan Multi Nasional yang membuatnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pak Bagio:</strong> Gitu toh Pakdhe. Sudah demikian, ada paket kebijakan fiskal yang membebaskan bea masuk impor kedelai dan gandum serta menurunkan bea masuk beras 18.2%. Sehingga baik petani maupun masyarakat sudah bergantung pada Perusahaan Multi Nasional. Klop sudah masalah kita.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Seharusnya ada pertimbangan keadilan dan kedaulatan, karena kekuatan ekonomi bangsa terbatas, bukan hanya menyerah kepada kekuatan ekonomi luar yang besar. Semoga para pemimpin menyadari, betapa susahnya petani kita dan betapa rawannya negara kita. Kenyamanan yang dinikmati hanya kenyamanan semu. Semoga.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Triwidodo</p>
<p style="margin-bottom:0;">September 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Negara Pengimpor Kecap]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/01/kecap-ibu-pertiwi-dengan-kedelai-impor/</link>
<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 12:06:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/09/01/kecap-ibu-pertiwi-dengan-kedelai-impor/</guid>
<description><![CDATA[  Malam Rabu Kliwon itu Pakdhe Jarkoni sedang minum teh anget-legi-kenthel, hangat-manis-kental di w]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Malam Rabu Kliwon itu Pakdhe Jarkoni sedang minum teh <em>anget-legi-kenthel</em>, hangat-manis-kental di warung Pak Sartono. Sambil menunggu Pak Sartono memasak mie rebus, Pakdhe Jarkoni ngobrol dengan Lik Darmo, seniman berambut panjang yang masih punya sawah tinggalan orang tua di Gathak, Kabupaten Sukoharjo.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Darmo: </strong>Pakdhe, 20 tahun yang lalu kalau minum teh pakai teh <em>cem-ceman, </em>daun teh diseduh dengan air panas, sekarang sudah pakai teh celup Sariwangi. Ada kemajuan ya Pakdhe, agar Pak Sartono mudah membuatnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Kemajuan bagaimana <em>to</em> Lik Darmo? Tulisannya Sariwangi, iklannya di tivi juga oleh artis Indonesia, tetapi yang membuat perusahaan multi nasional. Padahal tehnya juga dari Indonesia. Yang bekerja juga juga pekerja Indonesia, yang untung bukan perusahaan Indonesia, bingung aku?!?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Darmo:</strong> Begitu to Pakdhe, katanya kedelai juga impor? Jangan-jangan mie instan yang kita gandrungi juga bukan produk perusahaan dalam negeri?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Sudahlah, itu kecap kesenangan Lik Darmo, cap Bango, kemudian kecap ABC, Aqua, Ades, Taro, Nyam-Nyam, SGM bahkan rokok Dji Sam Soe, semuanya produk perusahaan multinasional.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Darmo:</strong> Oallah Pakdhe, kita ribut soal Ahmadiyah, tetapi perekonomian kita semakin terpuruk tanpa usaha nyata. Kita yang katanya negara agraris, saya juga masih punya sawah warisan seperempat hektar, kok sudah tergantung dari produk luar negeri. Mengapa mereka tertarik untuk masuk ke negara kita pakdhe?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Mereka tertarik dengan Indonesia, karena jumlah penduduk Indonesia yang besar, pendapatan penduduk juga meningkat, kemudian 12 % penduduk kota berpenghasilan tinggi dan membutuhkan makanan yang berkualitas. Jelas itu pangsa yang menggiurkan.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Darmo:</strong> Tolong dijelaskan Pakdhe, mengapa kita sampai mengimpor!</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Pakdhe Jarkoni:</strong> Mbok ya Lik Darmo <em>maos</em>, membaca Koran. Negara-negara maju memberikan subsidi pangan yang besar, sehingga hasil produknya berharga murah. Karena harga yang murah, para petani kita menjadi malas bertani, untungnya kecil, bahkan bisa merugi. Akibatnya kita tergantung produk impor. Selanjutnya ada isu substitusi energi dari nabati, BBM dari produk pangan, maka harga pangan meningkat, dan kita yang pemakan tempe ini mengeluh harga tempe melonjak. Kemudian kita bebaskan bea impor beberapa produk termasuk kedelai, dan petani semakin runyam.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Lik Darmo:</strong> Di setiap perempatan jalan, sekarang banyak foto-foto besar calon pemimpin yang berlomba merebut simpati masyarakat, semoga mereka sadar bahwa negara kita hanya negara agraris dalam statistik. Kita tergantung impor. Gusti, <em>mugi paring berkah dumateng</em> Ibu Pertiwi. <em>Eling mas-mbak Eling. Wungu mas-mbak wungu</em>. Arjuna-Srikandi bangkitlah.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Triwidodo</p>
<p style="margin-bottom:0;">September 2008</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Makhluk Tuhan yang Paling Seksi dan Padamu Negeri]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/08/26/antara-makhluk-tuhan-yang-paling-seksi-dan-padamu-negeri/</link>
<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 08:55:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/08/26/antara-makhluk-tuhan-yang-paling-seksi-dan-padamu-negeri/</guid>
<description><![CDATA[  Gubernur Baru Setelah dilantik Mendagri Mardiyanto pada tanggal 25 Agustus 2008, pada saat apel pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Gubernur Baru </strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Setelah dilantik Mendagri Mardiyanto pada tanggal 25 Agustus 2008, pada saat apel pagi, Pak Bibit, Gubernur Jawa Tengah yang baru, mengungkapkan rasa prihatin atas lunturnya nasionalisme bangsa Indonesia. Anak-anak sekarang lebih menyukai tembang populer “Makhluk Tuhan yang paling Seksi”dari Mulan Jameela atau “Lelaki Buaya Darat” dari Maia dari pada lagu-lagu perjuangan. Pak Gubernur berencana setiap sekolah mulai SD, SMP sampai SMA di Jawa Tengah akan memperdengarkan lagu perjuangan “Halo-Halo Bandung”, “Padamu Negeri” dan yang lainnya setiap pagi. Para tukang kebon nantinya diberi tugas khusus untuk menyetel kaset atau kompak disk setiap pagi. Setiap Senin di seluruh instansi juga wajib mengadakan upacara bendera untuk menanamkan jiwa nasionalisme. Ada tiga kekuatan yang menjaga NKRI tetap tegak, yakni TNI, Polri dan Korps Pegawai Negeri. Faktanya Provinsi Jawa Tengah merupakan benteng Pancasila dan kenyataan itu harus dipertahankan.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Pengaruh lagu terhadap kehidupan manusia</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Lagu mempunyai sifat universal dan dapat merasuk ke dalam hati sanubari. Kalau lagu “Makhluk yang paling Seksi” diulang-ulang dan diterima diri, lagu itu akan masuk bawah sadar dan menjadi bagian permanen di dalamnya. Informasi bahwa diri makhluk terseksi ini akan mewarnai kehidupan pendengar setianya. Untungnya kita ini mempunyai sifat jenuh dan lagu populer akan terdesak kedalam rak pengingat oleh lagu-lagu populer baru. Repotnya, kalau lagu yang baru pun selalu bernuansa sama dan penampilan penyanyi di televisi hampir sama, atau bahkan semakin “berani”. Informasi yang tersimpan semakin menebal, dan jelas hal tersebut akan mempengaruhi diri kita. Mereka yang puritan, tidak akan mau mendengarkan lagu, sehingga menutup diri dari pengaruh luar. Tetapi kalau di sumbernya, di pikirannya masih belum jernih, masih dipenuhi nafsu, maka dalam situasi kondusif nafsunya akan meledak juga. Sebetulnya kita itu penguasa pikiran, karena kita bisa menolak merekam informasi yang akan merugikan diri. Tetapi karena “iklan” itu begitu lihai, merasuk pelan-pelan, kita tunduk juga pada “iklan” dan menjadikan “iklan” sebagai penguasa. Dan, kita menjadi budaknya serta patuh terhadap pesannya. Begitulah caranya kebudayaan luar merembes ke dalam masyarakat kita. Sudah seharusnya para profesional pembuat “iklan” menyadari dan membuat “iklan” yang membangkitkan kecintaan pada Indonesia. Kata “iklan” di sini adalah sesuatu hal yang menarik perhatian pemirsa, yang didukung oleh sponsor untuk meresapkan suatu produk ke dalam bagian bawah sadar. Iklan pun sesuatu yang netral, tidak selalu negatif tergantung kesadaran si pembuatnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Membangkitkan potensi kejuangan di dalam diri</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Dalam DNA kita, terdapat potensi genetik yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang kita. Genetik nenek moyang kita di zaman Sriwijaya dan Majapahit yang penuh kejuangan masih ada dalam DNA kita. Lagu-lagu perjuangan “Halo-Halo Bandung” dan “Padamu Negri” yang berulang-ulang merasuk diri, dapat membangkitkan semangat kejuangan. Upacara bendera secara rutin dapat memunculkan potensi genetik nenek moyang, ketika leluhur kita mengibarkan bendera dan umbul-umbul “Gula Kelapa”. Jati diri kita adalah Indonesia, potensi keindonesiaan ada dalam diri kita.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Lagu-lagu juga mempunyai berbagai irama yang dapat mempengaruhi diri kita. Setelah mendengar lagu klasik yang meditatif selama 5 menit dicoba untuk mengukur detak nadi, dan hasilnya detak nadi menjadi tenang. Kemudian setelah mendengar lagu cadas yang keras selama 5 menit diukur detak nadinya, dan ternyata nadinya berdetak lebih cepat. Lagu mars perjuangan membuat semangat pengabdian terhadap bangsa.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Penguasa pikiran</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Setelah kita sadar adanya pengaruh luar terhadap diri, maka kita harus selektif dalam menerima informasi. Jangan biarkan “iklan” luar menguasai kita, juga jangan biarkan nafsu indera, yang penuh keserakahan dan kemalasan mempengaruhi kita. Biarlah hati nurani tenang yang menguasainya. Sudah menjadi sifat alam: ada yang tenang; ada yang agresif; dan ada yang malas-malasan yang sifat-sifat tersebut terkandung dalam segala bentuk manifestasi alam. Pikiran dan perasaan termasuk wadah yang bersifat alami. Diri sejati bukan identitas wadah yang bersifat alami. Diri sejati bersemayam di atasnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Selamat Berjuang putera-putera Indonesia. Indonesia Jaya.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Triwidodo</p>
<p style="margin-bottom:0;">Agustus 2008</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yuk Beresin Diri Sebelum Kita Ngurusin Negri]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/08/23/yuk-beresin-diri-sebelum-kita-beresin-negri/</link>
<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 00:05:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/08/23/yuk-beresin-diri-sebelum-kita-beresin-negri/</guid>
<description><![CDATA[Selalu ada pendekatan yang nampak berlawanan dalam mencapai tujuan, perubahan dari dalam menuju luar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Selalu ada pendekatan yang nampak berlawanan dalam mencapai tujuan, perubahan dari dalam menuju luar atau perubahan luar yang dijadikan aturan mengikat, kemudian diharapkan<span>   </span>dapat mempengaruhi individu-individu. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Berapa banyak uang dihamburkan untuk membeli parfum guna mengatasi bau manusia? Bau luar ditimbulkan dari proses dalam tubuh dan kita mengatasi dari luarnya saja bukan mengatasi penyebabnya. Asupan makanan, jumlah air yang dikonsumsi akan berpengaruh dan perlu diatur agar bau tubuh tidak begitu menyengat.<span>  </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Masyarakat mengharapkan fatwa lembaga yang dijadikan pedoman baku yang diharapkan mengarahkan pribadi-pribadi ke arah kebenaran. Di lain pihak, Nabi memulai dari pribadi, “mintalah fatwa dari hati nuranimu”. Para tokoh mengajarkan moralitas dan tetap saja kehidupan masyarakat masih amburadul. Ada benarnya pendapat yang menyatakan akhlak individu diperbaiki lebih dahulu dan masyarakat akan berkembang menjadi baik. Dari dalam ke luar atau dari luar ke dalam atau interaksi keduanya akan menjadi perdebatan yang tidak akan pernah berakhir. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Leluhur kita dalam memilih menantu ditelisik bibit, bobot dan bebednya. Bukan asal comot dan kemudian diatur perilakunya dengan tata etika tertentu. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Belajar dari alam, kita membuat benih padi handal yang bersertifikat, kemudian benih tersebut disebar dalam areal persawahan. Kita tidak asal menebar bibit sekenanya baru dirawat sebaik mungkin. Kita juga memulai dengan menanam bibit ikan atau hewan yang unggul untuk dikembangbiakkan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Para orang suci juga memulai dengan meningkatkan akhlak sahabat-sahabatnya, sebelum berkembang menjadi ajaran yang dianut masyarakat luas. Tepat sekali motto sekelompok anak muda pecinta Indonesia yang menjadi afirmasi “Yuk Beresin Diri Sebelum Kita Beresin Negri”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kita tahu sumber dari ucapan dan tindakan adalah pikiran. Apabila kita hanya melihat seseorang dari tindakannya yang tidak melenceng dari pedoman atau syariat, kita akan menganggap dia orang baik. Akan tetapi kalau kita dapat melihat apa yang ada dalam pikirannya, kita akan takut. Pikirannya belum jernih, potensi keburukan yang dimilikinya hanya dibendung dengan aturan luar, dan suatu kali dapat bobol. Dan, itulah yang terjadi ketika terjadi suatu kerusuhan, potensi keburukan meledak dan terjadi anarki di mana-mana. Kita terlalu menjaga tindakan, tetapi membiarkan pikiran liar bekerja. Ibaratnya kita hanya memberikan es ke dalam air yang mendidih di panci, bukan mematikan kompornya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Yang dapat mengendalikan pikiran, ucapan dan perbuatan adalah kesadaran. Diawali dari kesadaran, setiap saat sadar akan apa yang dipikir, diucapkan dan yang diperbuat. Mereka yang menguasai ilmu agama pun harus sadar, bagaimana memperbaiki akhlak, dan bukan hanya memberikan aturan yang benar dan salah. Nabi mengatakan setelah perang Badar, kita akan menghadapi perang yang lebih besar, perang di dalam diri. Perang untuk menegakkan kesadaran. Dan itu merupakan perjuangan pribadi yang belum tentu nampak dari luar. Hati nurani kita sering tertutup kepentingan duniawi. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Untuk memberesin diri diperlukan perjuangan sepanjang masa. Masyarakat yang malas akan mengandalkan pedoman di luar. Walaupun kadang-kadang suatu perbuatan berlawanan dengan hati nuraninya, karena melihat tidak ada aturan di luar, atau aturan di luar membolehkannya, maka dia meninggalkan hati nuraninya. Masyarakat yang hanya mengandalkan aturan luar adalah masyarakat yang malas. Perlu semangat untuk memberesin diri dan kemudian memberesin negri.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Triwidodo</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Agustus 2008.</span></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Parade Seni Budaya Jawa Tengah Tahun 2008 dan Bangkitnya Kecintaan pada Budaya Nusantara]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/08/23/parade-seni-budaya-jawa-tengah-tahun-2008-dan-bangkitnya-kecintaan-pada-budaya-nusantara/</link>
<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 23:53:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/08/23/parade-seni-budaya-jawa-tengah-tahun-2008-dan-bangkitnya-kecintaan-pada-budaya-nusantara/</guid>
<description><![CDATA[Semarang, 16 Agustus 2008               Kami ingat nasehat Para Sesepuh Pepunden kami, sebuah karya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Semarang, 16 Agustus 2008</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kami ingat nasehat Para Sesepuh Pepunden kami, sebuah karya harus <em>&#8216;ngepop&#8217;</em> agar menyentuh nurani masyarakat saat ini. Mereka yang mencintai lagu nostalgia hanyalah mereka yang terkenang saat mereka masih muda, berapakah jumlah mereka? Leluhur kita memang menulis tembang macapat, tetapi dalam konteks zaman dahulu, tembang macapat itu termasuk <em>&#8216;ngepop&#8217;</em> dan merasuk sanubari masyarakat pada zamannya. Pada saat ini hanya berapa gelintir manusia yang masih dapat memahami tembang macapat? Bukannya kita melupakan, tetapi perlu memberi jiwa baru, yang dapat diterima masyarakat kini. Bukankah pada pagelaran wayang saat ini terdapat perubahan-perubahan dibanding yang lalu? Acara- acara pun dikemas lebih singkat, mengakomodasikan masyarakat yang tidak mau terlampau lama terjebak dalam suatu acara. Acara pengantin di Solo pun maksimal hanya 2 jam saja, atau akan ditinggalkan para undangan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kanjeng Nabi Sulaiman berkata, tidak ada hal yang baru di dunia ini, konteksnya hampir sama, yang berbeda hanya situasi, kondisi dan cara penampilannya. Apakah perang antara Pandawa dan Hastina saat ini sudah tidak ada? Apakah Kebo Ijo, Ken Arok yang menjadi korban Keris Empu Gandring sudah tidak ada? Apakah para raksasa yang serakah sekarang sudah tidak ada? Ada juga hanya penampilannya yang berbeda.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Materi pitutur-pitutur para leluhur boleh sama tetapi cara mengemasnya harus disesuaikan dengan selera masa kini. Dunia selalu berubah, jatidiri bangsa boleh tetap , budaya boleh kokoh, tetapi cara mengemasnya harus disesuaikan dengan selera masa kini. Atau akan tertinggal oleh kemajuan zaman. Kita juga tidak membayangkan para Bupati dan Walikota memakai pakaian kebesaran basahan, telanjang dada dengan celana tiga perempat dan topi kuluk. Kita juga tidak membayangkan pemimpin kita memakai pakaian kebesaran kalifah Islam abad ke 8 Masehi. Dunia berkembang, adalah suatu nostalgia memakai pakaian zaman dulu. Serap budayanya dan sesuaikan dengan perkembangan zaman. Tetapi dalam acara nasional, juga tidak perlu jas, pantalon yang <em>sumuk</em> itu, cukup batik yang tipis.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Achdiat Karta Mihardja, menulis:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tiap-tiap kebudayaan yang hendak diwariskan kepada suatu angkatan, tidak bisa diterima secara pasif, apabila kebudayaan itu mau segar bertugas serta hidup terus dengan subur. Jika tidak ada kegiatan mencipta yang memberi kehidupan baru kepada kebudayaan itu sesuai dengan keadaan masyarakat yang telah berubah, yang membawa pula nilai-nilai dan ukuran baru, maka kebudayaan itu akan merana, lantas mati sama sekali pada akhirnya.</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kita melihat para artis memakai batik di televisi, mereka tetap imut-imut juga, bahkan terkesan anggun. Wahai perancang busana dalam dirimu mengalir darah seni leluhur yang dapat menciptakan lukisan batik tulis. Batik yang dirancang dengan intuisi para Empu, yang membuat yantra, alat berdoa, afirmasi cara Nusantara. Sido Luhur ditulis perempuan tekun di atas kain mori putih membayangkan putera-puteranya akan menjadi manusia luhur. Sido Mulyo, Truntum, Cakar, Sido Mukti semua mempunyai makna dari Yantra tersendiri. Kita telah mengabaikannya Bunda, Bunda Pertiwi. Putera-puteramu sebagian telah menggantinya dengan back less, tank top ataupun <em>brukut</em> hitam, dengan mata pun ditutup cadar. Wahai para Bupati dan Walikota, di dalam darahmu mengalir DNA Tumenggung, Senapati dari zaman Sriwijaya dan Majapahit, Kalingga, bangkit bela Ibumu, Ibu Pertiwi. Ataukah hanya ingin mempunyai DNA Tumenggung Wiroguno yang mengejar gadis-gadis cantik, seperti Layonsari? </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Hari itu Saptu 16 Agustus 2008, memperingati Hari Jadi Jawa Tengah 15 Agustus, kami berkesempatan melihat Parade Seni Budaya Jawa Tengah Tahun 2008. Setiap peserta dari seluruh Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah diberi kesempatan tampil sekitar 5-10 menit di depan podium, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke depan diganti penampilan peserta di belakangnya. Alat musik tradisionalnya dilengkapi roda di bawahnya agar dapat berjalan mengikuti barisan. Alat pengeras suara pun jelas bukan buatan zaman Singasari.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Acara dimulai dengan pemukulan gong bertalu-talu oleh Gubernur Jawa Tengah Ali Mufidz, dan diikuti oleh bunyi gamelan yang menyahut dari seberang jalan. Suara Gong, Hoong, Hooooong, Hoooooooong, suara yang dikenal sebagai pranawa, sebagai suara asal Oommmmmm yang diimplementasikan di Nusantara dalam bunyi gong yang menggetarkan dada. Bunyi gong diperindah dengan suara gamelan yang menyebarkan semangat. Luar biasa. Pasukan Marching Band Cenderawasih dari Akpol menunjukkan kebolehannya, dan dilanjutkan penampilan para peserta parade.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Dirgahayu Jawa Tengah, Bangkitlah Indonesia, Bangkitlah wahai para Arjuna, hadapi para Kurawa yang merongrong persatuan bangsa. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Provinsi Jawa Tengah</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Hasil koreografi teman-teman alumni ISI Surakarta, DERAP JATIDIRI HAMBANGUN, Karya ini bertemakan keprajuritan dengan mengkolaborasikan tiga pola garap tari, yaitu tari watang (pasukan tombak remaja perkasa), tari jemparing putri (pasukan panah gadis-gadis ayu), tari jathilan (Jaran Kepang, pasukan berkuda yang sigap dan semangat) masing-masing dengan kostum budaya Jawa yang adhi luhung. 60 seniman muda menari indah penuh semangat. Tepuk tangan menggema, luar biasa.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Blora</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Seni Barong Blora, merupakan salah satu kesenian rakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat Blora. Alur cerita bersumber dari hikayat panji. Di dalam seni Barong tercermin sifat-sifat kerakyatan seperti spontanitas, sederhana, keras, kompak yang dilandasi kebenaran. Kesenian barongan berbentuk tarian kelompok yang terdiri dari tokoh Singo Barong, Bujangganong, Joko Lodro/Gendruwon. Jaranan/Pasukan Berkuda, serta prajurit. Secara demonstratif mereka menari dengan penuh penghayatan. Tepuk tangan, luar biasa.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabuapten Brebes</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Greget Lenggok Brebesan adalah sajian yang menampilkan sebagian besar potensi kesenian yang dimiliki Kabupaten Brebes. Diawali dengan pasukan bawang merah yang melambangkan semangat masyarakat Brebes untuk membangun daerahnya, kemudia disusul dengan kesenian buraq dan sisingaan. Sepasang remaja maju ke hadapan Gubernur mempersembahkan sekeranjang bawang merah dan sekeranjang telor asin khas Brebes. Selamat Brebes, bangkitlah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Batang</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kesenian Sintren merupakan kesenian rakyat yang berkembang di Kabupaten Batang. Setelah tersentuh tangan-tangan seniman, kesenian Sintern dapat berkembang dan menjadi andalan Kabupaten Batang. Tepuk tangan menggemuruh.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Boyolali</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Topeng Ireng kepanjangan dari Tata Lempeng Irama Kenceng yang artinya baris lurus irama keras. Topeng ireng hidup dan berkembang di lereng Gunung Merbabu dan Merapi. Kesenian itu sering dipergunakan untuk acara hajatan. Sekelompok penari dengan sepatu gemerincing dan kostum bak Indian Boyolali, topi bulu ayam, kain berwarna-warni memainkan tarian dinamis yang mengundang tepuk tangan penonton.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Banjarnegara</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tari Aplang merupakan tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Banjarnegara. Dahulu Tari Aplang digunakan untuk syiar Agama Islam. Aplang berasal dari kata ndaplang yang berarti tangan digunakan seperti gerakan silat. Tarian ini ditarikan oleh remaja putra-putri dengan diiringi rebana, bedug, kendang dan nyanyian syair salawatan. Kostumnya model Islam Jawa yang indah dipandang mata. Kembali ke Jatidiri Bangsa Kabupaten Banjarnegara. Tepuk tangan riuh rendah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Banyumas</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Karya kolaborasi Kahuripan menggambarkan kehidupan masyarakat Banyumas yang bersumber dari kehidupan pola tradisional agraris. Ada 5 macam kesenian: Cowongan, upacara minta hujan; Rengkong, ritual mengusung padi dari sawah; Gubreg lesung, ritual menumbuk padi; Lengger Banyumasan, tari rakyat Banyumas; dan Musik Kenthongan untuk hiburan. Luar biasa, karya leluhur yang diperbaharui disesuaikan dengan masa kini. Luar biasa.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Cilacap</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Pesta Seni Rakyat Tapal Batas. Sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Cilacap kepada Allah SWT dalam rangka keberhasilan panen raya yang melimpah sehingga masyarakat mengekspresikan dengan luapan kegembiraan yang luar biasa. Ekspresi kegembiraan tersebut diungkapkan dengan upacara adat Syukuran. Penari putra-putri menari jaipongan dengan gairah. Tepuk tangan bagi kabupaten Cilacap.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Demak</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Singo Barong. Kesenian ini merupakan kesenian tradisional asli rakyat Demak, yang dilatar belakangi sejarah Demak. Hutan Glagah Wangi akan dijadikan pemukiman, namun Sang Penunggu yang merupakan sosok gaib Singo Barong Kembar tidak mau menerimanya. Dengan kesaktian “Cemeti Saptomowo” siluman Singo Barong dapat ditaklukkan. Prajurit dengan kostum surjan menaiki Kuda Kepang warna-warni yang indah. Terima kasih Ibu Pertiwi. Luar biasa.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Grobogan</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tari Gondoriyo. Perpaduan antara tari, teater dan gerak akrobatik. Ceritera diambil dari babad panji yaitu kisah cinta Raden Panji Asmarabangun adri Jenggala yang mempersunting Dewi Sekartaji dari Kediri. Untuk adapat mempersunting putri tersebut Raden Panji harus dapat mempersembahkan seekor singo barong yang dapat berbicara. Joko Lodro utusan Raden Panji dapat menangkap Singa Lodro di hutan Lodaya. Tepuk tangan buat Grobogan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Jepara</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>SERNEMI, Seni Rakyat Muslim Indonesia. Sebuah kesenian di semenanjung pantai Ujungpara. Potret kehidupan masyarakat nelayan yang penghidupannya dari tangkapan ikan di laut. Sekelompok pemuda menari seakan mendayung perahu dan mengibarkan layar bertuliskan DIRGAHAYU JAWA TENGAH. Sebagian pemuda yang lain menebar jala sedangkan sekelompok putri mengolah hasil tangkapan. Tepuk tangan buat Jepara.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Karanganyar</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tari Loro Blonyo. Tari Loro Blonyo merupakan gambaran Dewi Sri dan saudaranya Dewa Sadana. Dewi Sri adalah Dewi pelindung padi dan pemberi berkah serta merupakan lambang kemakmuran. Dewa Sadana adalah Dewa sandang pangan. Pada saat sekarang, kedua dewa dan dewi tersebut sudah sirna dari bumi pertiwi dan menetap di Tirta Kedasar. Sepeninggal mereka keadaan bumi pertiwi makin terpuruk. Bencana, malapetaka serta huru-hara terjadi di mana-mana. Atas petunjuk Dewa Wisnu agar keadaan kembali aman tenteram maka kedua dewa dewi tersebut harus dikembalikan. Hal tersebut tidak mudah karena untuk mendapatkan mereka harus berhadapan dulu dengan raksasa penunggu negara Tirta Kedasar. Semar akhirnya bisa membawa kembali mereka dan bumi pertiwi kembali pulih. Untuk mensyukuri keberhasilan tersebut dibunyikan kothekan lesung yang berirama magis. Tepuk tangan buat Karanganyar.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Kebumen</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Ebleg adalah kesenian khas Kabupaten Kebumen. Sepasukan pemuda memakai kostum warna-warni etnik naik kuda kepang melawan 2 Ular Raksasa. Selamat bagi Kebumen yang telah menampilkan kesenian daerahnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Kendal</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Soreng Manggala Mangsah Yuda. Sekelompok pasukan perang dipimpin seorang komandan yang meniup terompet kerang bak perang Bharatayuda. Gadis-gadis cantik pasukan Srikandi meramaikan suasana. Pakaian yang gemerlapan menimbulkan suasana ceria. Selamat Kendal.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Klaten</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Jathilan. Tarian kera-kera seperti di ramayana. Ada yang berkostum putih rombongan Hanuman. Berkulit merah rombongan Hanggada. Dan Berbulu biru rombongan Anila. Tidak ketinggalan raksasa-raksasa berambut panjang naik kuda kepang. Tepuk tangan meriah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Kudus</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tari Kretek. Tari Kretek diilhami akar kesejahteraan yang sampai kini dirasakan di Kabupaten Kudus. Beberapa penari ayu memakai kain kebaya, selendang bergaris hitam dengan topi lebar sedang membawa tampah tempat tembakau. Tarian menggambarkan kegiatan membuat rokok. Selamat Kudus.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Magelang</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Karya tari yang merupakan kolaborasi Seni Grasak dan Kuntulan ini menceritakan pentingnya kembali kepada alam. Persembahan gunungan berisi sayur dan buah-buahan digotong 4 pemuda gagah. Serombongan petani dan perajurit berkuda mengawalnya. Tepuk tangan meriah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kota Magelang</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sepasukan pemuda perkasa lari cepat diiringi gendang dinamis, semua penonton bersorak sorai. Serombongan manusia memakai pakaian kulit kayu dan hiasan kayu kering bergerak serempak menarikan gerakan indah. Pasukan anak-anak bugil hanya dihiasi pakaian seadanya dan cat putih di seluruh tubuhnya bergerak lucu. Seorang putri naik diatas hutan hijau mengawasi. Wilayah kita telah dirusak manusia dan kekringan di mana-mana. Kembalilah sadar tanamlah pohon agar hutan kembali hijau. Luar biasa. Gerak tari diiringi musik yang dinamis. Tepuk tangan membahana.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Pati</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tari rebana, putra-putri Pati menyanyikan shalawat pujian, sambil memainkan rebana yang meriah. Selamat Kabupaten Pati. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Pekalongan</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tari Rebana Santri. Putra-putri memakai kain batik khas pekalongan memainkan rebana. Sepatu tali kulit dengan krincingan membuat suasana meriah sekali. Warna hijau dan merah mendominasi disamping gemerlap keemasan. Tepuk tangan buat Kabupaten Pekalongan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kota Pekalongan</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kesenian Terjing Madroh. Gabungan dari Terbang Genjring, Marawis dan Tari Hadroh memeriahkan suasana. Gadis-gadis berpakaian ala Gypsy dengan bahan batik pekalongan warna-warni memeriahkan suasana. Selamat Kota Pekalongan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Pemalang</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kenthongan Calung menjadi andalan kesenian Kabupaten Pemalang. Beraneka macam bentuk, ukuran dan bahan kayu dipukul dengan irama cepat. Suara yang indah dinamis dan membangunkan semangat membangun. Selamat Kabupaten Pemalang.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Purbalingga</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Thek-thek King San. Awalnya hanya merupakan musik penjaga keamanan lingkungan, tetapi seniman-seniman Purbalingga mengubahnya menjadi musik yang penuh pesona dengan menambahkan rancab. Sepasang liong naga merah kuning memainkan akrobat dan tepukan membahana. Selamat Purbalingga.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Purworejo</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Semua mata tertuju ke arah datangnya rombongan ketika disebutkan rombongan dari Kabupaten Purworeja. Tari Dolalak yang terkenal. Putri-putri berpakaian ala prajurit kompeni dengan bahan busana batik berwarna-warni. Gerakan-gerakannya lucu dan penuh semangat menarik perhatian penonton.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Rembang</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Seni tradisional Thong-thong Lekdimainkan oleh remaja kreatif untuk mengadakan hiburan setelah shalat tarwih. Semua peserta memakai Batik Lasem yang khas bergaris-garis. Batik bukan hanya dari daerah Solo, Jogya dan Pekalongan tetapi juga Lasem di Kabupaten Rembang yang berbatasan dengan Jawa Timur. Tepuk tangan buat Rembang.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kota Salatiga</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Beksan Jurit Ampil menggambarkan salah satu laskar putri Raden Mas Said yang bergelar Pangeran Samber Nyawa. Jangan dianggap menakutkan, putri-putri penari Jurit Ampil memakai kebaya putih lengan pendek membawa gendewa panah dan cundrik dan menari penuh keanggunan. Mahkota janur menghiasi rambutnya. Selamat Salatiga.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Semarang</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kabupaten Semarang yang berbatasan dengan Salatiga menampilkan pasuka Samber Nyawa dengan naik kuda kepang dan pengawal yang membawa tombak dan tameng. Tepuk tangan pengunjung memberi semangat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kota Semarang</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tari Warak Dugder. Mengiringi Patung warak sekelompok gadis berpakaian Encim putih biru melenggang lenggok dengan manisnya. Asal kata Dug Der adalah suara bedug Dug Dug dan suara merian Dher. Campuran budaya Islam, Jawa dan Cina melatar belakangi seni ini. Tepuk tangan buat Kota Semarang.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Sukoharjo</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tari Prajurit Bumi Rumekso merefleksikan masyarakat pada masa prakemerdekaan. Pasukan putri bersenjatakan panah dan Pasukan pria bersenjatakan toya mempertahankan bumi pertiwi. Gerak yang sederhana namun tegas menjiwai tari ini. Terima kasih Sukoharjo.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kota Surakarta</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tari Kuncaraning Batik Solo memukau semua hadirin. Semua penari membawa bermacam-macam batik. Gerak tari yang gemulai dan kompak sangat indah sekaligus mempromosikan nama motif kain batik. Pada zaman dulu motif batik seperti sebuah yantra, alat afirmasi bagi pemakainya. Luar biasa seluryh penonton memberikan applaus luar biasa.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Tegal</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tari Kuntulan adalah gerak pencak silat yang diwujudkan dalam tarian. Semangat penari membangkitkan gelora semangat penonton. Terima kasih Kabupaten Tegal.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kota Tegal</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Menampilkan Tari Kuntulan juga. Tari Kuntulan memang kesenian daerah di sekitar Tegal. Ketegasan dalam keindahan. Musik yang dinamis sessuai dengan jiwa anak-anak muda. Tepuk tangan buat Kota Tegal.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Temanggung</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tari Topeng Ireng yang dinamis sangat indah dan membuat para penonton memberi tepuk tangan riuh rendah. Selamat Temanggung.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Wonogiri</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kethek Ogleng. Kisahnya menceritakan seekor kera jelmaan Raden Panji dalam mencari Dewi Sekartaji yang menghilang dari istana. Tarian yang lucu dtarikan oleh puluhan pemuda berkostum bak Hanuman. Dilanjutkan kera-kera kecil lucu yang dimainkan anak-anak kecil dengan sangat Jenaka. Ada beberapa orang yang membawa tangga tertutup dedaunan untuk kera kecil memanjat. Dan akhirnya dari kerimbunan dedaunan muncullah kera besar lebih dari 3 meter. Luar biasa. Selamat Wonogiri.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persembahan Kabupaten Wonosobo</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Putri Sima yang bijaksana danh cantik jelita sangat dicintai rakyatnya. Datang pasukan raksasa dan singa barong yang mencaplok penduduk desa. Suasana mencekam ini diujudkan dalam tarian yang indah dan seorang penduduk betul-betul masuk mulut singa barong. Sebuah bunga teratai besar yang masih kuncup dipandu 4 orang mendekati Singa barong. Kemudian kelopak bunga tersebut membuka dan keluarlah Putri Sima yang disambut applaus hangat para penonton.<span>  </span>Akhirnya Puteri Sima turun tangan mengalahkan mereka. Selamat buat Wonosobo.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Penutup</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Dalam diri kita terdapat sifat genetik leluhur yang diturunkan dari kakek ke orang tua ke anak ke cucu, terus menerus sampai kita. Dalam diri kita terdapat genetik para Pahlawan Sriwijaya dan Majapahit. Dalam diri kita terdapat DNA yang menyatukan kita. DNA Nusantara. Budaya yang cocok dengan DNA kita akan menenangkan diri kita. Usaha kita membawa budaya luar membuat risih DNA kita, ada penolakan. Selama berabad-abad tanaman dari bumi Nusantara telah mempengaruhi DNA kita. Bukan tanaman dari negara empat musim maupun dari padang pasir.<span>  </span>Warga Nusantara yang makanan pokoknya bukan lagi hasil dari bumi Nusantara akan terpengaruh karakter dirinya. Apakah kita harus melihat parade gadis berbikini dengan berbagai bunga ditubuhnya atau parade wanita bercadar dengan hanya kelihatan matanya tanpa suara musik apa pun? Tidak apa-apa juga, mungkin dalam DNA seseorang tercampur DNA dari luar, tetapi tidak usah mempengaruhi yang lainnya, dan tidak usah terpengaruh oleh yang lain. Biarlah semuanya beraneka ragam. Bhinneka Tunggal Ika. Sudah waktunya kita bangkit. Kemaslah budaya nenek moyang dengan cara kini, wahai para seniman Nusantara. Ibu Pertiwi mengharapkan hasil karyamu. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Triwidodo</span></span></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">Agustus 2008.<span>  </span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hastina Dulu – Hastina Sekarang]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/08/08/hastina-dulu-%e2%80%93-hastina-sekarang/</link>
<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 03:23:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/08/08/hastina-dulu-%e2%80%93-hastina-sekarang/</guid>
<description><![CDATA[  Anand Krishna Raditya Edisi April 2007   Hastinapura. Ibu Kota Negara yang Korup&#8230;&#8230; Pem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Anand Krishna</p>
<p style="margin-bottom:0;">Raditya Edisi April 2007</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Hastinapura. Ibu Kota Negara yang Korup&#8230;&#8230; Pemimpinnya, Dhritrashtra, seorang buta. Padahal, nama itu berarti “Seorang yang Memiliki Visi”. Seorang raja diharapkan dapat melihat lebih jauh, lebih luas dan lebih dalam. Dhritrashtra tidak memenuhi syarat, namun ia tetap memimpin!</p>
<p style="margin-bottom:0;">Kepemimpinannya didukung oleh Shakuni, adik ipar yang berasal dari seberang – seberang pegunungan Himalaya. Shakuni berasal dari Gandhaar, sekarang disebut Kandahar dan menjadi bagian dari Afghanistan. Ke-“buta”-an Sang Raja menjadi berkah baginya. Ia memanfaatkan ketakmampuan Dhritrashtra.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Apa yang terjadi ketika seorang pemimpin tidak memiliki visi? Kezaliman merajalela. Kaurava, putra Dhritrashtra yang berjumlah seratus itu, mewakili seratus sifat jahat dalam diri manusia. Dari amarah dan keserakahan hingga pembenaran setiap tindakan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Paman Shakuni memagar Sang Raja. Dengan dalih, “Untuk apa merepotkan Baginda, jika saya masih dapat mengatasi persoalan”, ia melakukan sensor terhadap setiap laporan dan berita. Hanyalah yang “baik-baik” saja yang sampai pada Dhritrashtra.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Shakuni mengangkat dirinya sebagai Sekretaris Pribadi Sang Raja dalam “urusan kerajaan”. Untuk urusan-urusan lain adalah Sanjaya, yang sekaligus merangkap sebagai sais Sang Raja.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Shakuni dan Sanjaya. Shakuni berarti “Ia yang larut dalam kenikmatan indera” dan Sanjaya berarti “Ia yang telah mengendalikan panca-indera”.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Persis seperti inilah keadaan kita. Persis seperti inilah keadaan seorang pemimpin. Di satu pihak adalah Shakuni dan di lain pihak adalah Sanjaya. Pilihan sepenuhnya berada di tangan kita. Mau memilih Shakuni atau Sanjaya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Dhritrashtra memilih Shakuni. Ia memilih Shakuni untuk membantunya dalam urusan kerajaan, urusan-urusan penting. Dan, Sanjaya untuk urusan-urusan lain, urusan-urusan yang tidak terlalu penting. Dhritrashtra salah menentukan, memilih dan meletakkan prirotiasnya. Tetapi, ia seorang buta. Bagaimana dengan mereka yang tidak buta, tetapi tidak dapat melihat juga?</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Kita, para pemimpin kita, melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh Dhritrashtra. Alhasil, akibatnya pun sudah pasti sama.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Saat ini, kita, para pemimpin kita, dikerumuni oleh para Shakuni. Shakuni berada dimana-mana. Mereka meninggalkan usaha mereka, kerajaan kecil mereka, istana serta kenyamanan rumah mereka masing-masing – untuk bergabung dengan Dhritrashtra.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Adalah kebodohan Dhritrashtra bila ia tidak memahami alasan Shakuni meninggalkan Gandhaar untuk menetap di Hastina. Sesungguhnya Shakuni tidak berurusan dengan Dhritrashtra. Ia berurusan dengan Hastina. Bukan dengan Rakyat Hastinia, tetapi dengan Kerajaan Hastina. Ia tidak berada di Hastina untuk melayani rakyat, tidak pula untuk mengabdi pada negara. Ia berada di Hastina demi kekuasaan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Bukanlah tanpa alasan ia meninggalkan kerajaannya sendiri. Sekecil apapun, Gandhaar adalah wilayahnya – wilayahnya sendiri. Ia meninggalkannya demi sesuatu yang besar – Hastina. Hastina yang menjadi pusat anak benua Aryavrat – dari Aryan atau apa yang sekarang disebut Iran, hingga benua Astraalaya, yang sekarang disebut Australia.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">* * *</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Setidaknya sejak lima ribu tahun sebelumnya, sejak zaman Rama, Hastina dan/atau daerah sekitarnya memang telah menjadi Pusat bagi Peradaban seluruh Anak Benua Aryavrat. Pusat Peradaban, Pusat Budaya – sebatas itu saja. Para penguasa Hastina tidak pernah berambisi untuk menaklukkan raja-raja yang berjumlah lebih dari lima ratus dan menguasai wilayah mereka.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Gelar “Maharaja” yang diberikan kepada penguasa Hastina – adalah gelar kehormatan. Dalam bahasa politik modern, gelar itu barangkali berarti “Ketua Federasi”. Namun, para anggota federasi tidak berkewajiban untuk membayar iuran berupa upeti. Malah, sang ketua berkewajiban untuk melindungi anggotanya. Sumbangan sukarela yang diberikan oleh para anggota sama sekali tidak bersifat wajib. Tidak ada yang memaksa mereka untuk melakukan hal itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Shakuni ingin merubah tradisi lama tersebut. Ia ingin menguasai seluruh wilayah peradaban – dari Aryan hingga Astraalaya. Dari Iran hingga Australia. Ia tidak puas dengan wilayahnya yang tandus, Gandhaar. Ia juga tidak puas dengan wilayah kekuasaan Hastina, yang diakuinya sendiri seperti surga. Ia ingin memperluas surga itu. Ia ingin menjadi penguasa tunggal surga itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Shakuni adalah seorang politisi yang licik. Untuk mencapai tujuannya, ia rela mengorbankan adiknya sendiri. Gandhaari, sang adik, tidak sepenuhnya setuju dengan “rencana-hitam” kakaknya. Tetapi, apa boleh buat? Di Gandhaar, suara seorang wanita, pendapat seorang perempuan memang tidak berarti banyak. Ia harus takluk pada keputusan kaum pria.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Strategi Shakuni, harus diakui, memang luar biasa! Dhritrashtra buta&#8230;&#8230; Adik Dhritrashrta, Pandu, menderita penyakit kurang darah sejak lahir. Dalam bahasa modern, Thalasemia. Dari para mata-mata yang tinggal di Hastina, ia pun memperoleh bocoran dari Tabib Kerajaan, bila kedua-duanya impoten. Virya mereka, sperma mereka tidak cukup kuat untuk menghasilkan keturunan dan raja pengganti bagi Hastina.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Shakuni, Shakuni, Shakuni&#8230;.. Shakuni dulu, dan Shakuni sekarang&#8230;&#8230; Kiranya siapa yang berperan sebagai Shakuni beberapa tahun yang lalu? Dan, siapa pula yang saat ini berperan sebagai Shakuni?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Mengikuti Konstitusi Hastina yang tidak mengangkat seorang raja berdasarkan garis keturunan, apa lagi usia – tetapi berdasarkan kecakapan dan kemampuan – maka Pandu dinobatkan sebagai Raja Hastina dan Maharaja Aryavrat. Dhritrashtra, walau tidak pernah menyampaikan ketakpuasaanya, sesunguhnya tidak pernah bisa menerima keputusan itu. Ia menyalahkan takdir dan kebutaannya. Padahal, bukanlah itu saja yang menjadi alasan. Dia memang tidak memiliki kemampuan sebagai raja.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Rasa Kecewa yang sudah terpendam lama dalam hati Dhritrashtra menjadi modal utama bagi Shakuni. Ia tinggal memicunya saja. Ia membakar semangat Dhritrashtra, “Kita tidak bia duduk diam dan menyalahkan takdir saja. Kita harus berjuang untuk merubah takdir&#8230;&#8230;”</p>
<p style="margin-bottom:0;">“Bagaimana&#8230;&#8230;?” Pertanyaan Dhritrashtra mempermudah tugas Shakuni. Pertama, ia harus menyingkirkan Pandu&#8230;.. Pandu bersama isterinya&#8230;&#8230; Shakuni mulai mengamati gerak-gerik mereka. Apa yang menjadi kelebihan dan apa yang menjadi kekurangan mereka, kelemahan mereka.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Dan, ia menemukannya&#8230;.. Pandu sangat berperasaan, sangat sensitif. Sebab itu, sulit baginya untuk memaafkan diri atas kesalahan sekecil apapun yang dibuatnya. Ia mudah mengalami depresi. Barangkali karena penyakitnya juga. Adalah Kunti, sang isteri, yang selalu membantunya untuk bangkit kembali.</p>
<p style="margin-bottom:0;">“Tanpa Kunti,” Shakuni menyimpulkan, “Pandu akan tumbang!” Maka, ia mulai merencanakan perpisahan mereka.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Bagaimana memisahkan seorang wanita dari pria yang dicintainya? Apa yang menjadi kelemahan seorang perempuan? Rasa Cemburu. Cemburu terhadap wanita lain&#8230;.. Cemburu terhadap seroang perempuan yang dimadu oleh suaminya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Ia harus menciptakan saingan bagi Kunti. “Hanyalah dengan cara itu,” pikir Shakuni, “ia dapat mematahkan Pandu.” Maka, ia mendekati Pandu, “Sudah saatnya Baginda memikirkan keturunan. Semoga Tuhan memberkahi Baginda dengan usia panjang, tetapi&#8230;&#8230;. tetapi, kelak siapa yang akan memimpin bangsa ini? Siapa yang akan menjadi pemimpin bagi kaum Arya?”</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Pandu tidak mudah terperangkap, “Lain tradisi Gandhaar, lain pula tradisi Hastina. Siapa saja dapat memimpin Hastina. Seorang raja tidak harus keturunan raja. Kedudukan ini, takhta ini, kewajiban ini, tidak diwariskan begitu saja kepada seorang anak jika ia tidak mampu.”</p>
<p style="margin-bottom:0;">“Maaf Baginda, sulit menemukan seorang satria yang mampu&#8230;&#8230; Sementara, maaf sekali lagi, kesehatan Baginda sendiri&#8230;&#8230;” Shakuni mendesak terus. Akhirnya, Pandu terperangkap juga.</p>
<p style="margin-bottom:0;">“Iya yah&#8230;..” pikir Pandu, “jika terjadi sesuatu pada diri saya, siapa yang akan menggantikan saya? Baik di keluarga besar Kuru maupun diantara rakyat Hastina, aku belum melihat seseorang yang mampu untuk menjadi pemimpin&#8230;..”</p>
<p style="margin-bottom:0;">Pandu lupa bahwa “keturunan” pun tidak menjamin kemampuan. Ini yang terjadi ketika kita berada dalam lingkungan yang salah. Pengaruh lingkungan membuat kita lupa, merampas akal sehat kita.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Shakuni girang. Ia memang sudah merencanakan sejak dulu&#8230;.. Shalya, raja yang berkuasa di wilayah perbatasan antara Gandhaar dan daratan Aryavrat – sangat penting bagi pertahanan wilayah tersebut. Shalya berperan sebagai “Pengawal” bagi daratan Aryavrat. Wilayah pegunungan antara Gandhaar dan Aryavrat &#8211; saat ini menjadi bagian dari Afghanistan Selatan dan Pakistan Utara &#8211; ibarat labyrinth. Banyak tempat tersembunyi yang hanya diketahui oleh tentara setempat. Sehingga mereka dapat menjebak tentara musuh dan mencegahnya untuk memasuki daratan Aryavrat.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">* * *</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Itu lima ribu tahun yang lalu&#8230;.. Anehnya, sekarang pun masih sama&#8230;.. Osama bin Ladin &#8211; Manusia yang tidak senang dengan Kemanusiaan – bersembunyi di wilayah yang sama. Dulu, Alexander Agung atau Iskandar Zulkarnain pun gagal menguasai daratan Aryavrat karena dijegat oleh Raja Porus di wilayah tersebut.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Orang-orang asing yang kemudian menguasai daratan Aryavrat – sekarang India – juga menggunakan jalur yang sama. Adalah wilayah pegunungan Himalaya, Punjab dan Sindh yang mereka taklukkan terlebih dahulu&#8230;.. baru daratan India.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Inilah alasan utama Om Mao dan Paman Sam selalu mendukung Pemerintah Pakistan. Betapapun zalimnya orang yang berada di pucuk pemerintahan – ia tetap memperoleh dukungan dari mereka berdua. Mereka tahu bahwa hanyalah dengan cara itu, Pemerintah India dapat ditakut-takuti. Membidik daratan India dari ketinggian Himalaya adalah pekerjaan tentara ingusan. Tidak membutuhkan keahlian apa-apa. Tapi, itu politik luar negeri&#8230;.. saya harus kembali pada politik dalam negeri&#8230;&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Hastina dulu dan Hastina sekarang&#8230;.. Hastina para Kurawa dan Pendawa, dan Hastina kita&#8230;..</p>
<p style="margin-bottom:0;">Shakuni mefasilitasi perkawinan politik antara Pandu dan adik Shalya, Madri. Dengan cara itu, pikirnya, ia dapat membidik beberapa sasaran sekaligus. Pertama, Kunti sebagai isteri pertama, sudah pasti cemburu. Ia akan terbakar oleh api itu, dan Pandu akan ikut hangus. Siapa lagi yang dapat membangkitkan semangat raja yang lemah dan sakit-sakitan itu?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Madri? Tidak. Ia bukanlah seorang perempuan yang cerdas. Tradisi setempat tidak memberi kesempatan kepada kaum perempuan disana untuk memperoleh pendidikan yang layak. Perempuan di Gandhaar maupun di wilayah yang dikuasai oleh Shalya, tidak setara dengan pria.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Awalnya ketaksetaraan itu bukanlah urusan jender atau diskriminasi. Perempuan memang dibebaskan dari berbagai macam tugas dan kewajiban karena iklim yang ekstrem. Banyak perempuan hamil yang mati di ladang. Banyak anak yang lahir secara prematur dan tidak bertahan hidup. Maka, para bijak disana membuat peraturan khusus bagi kaum perempuan – supaya mereka bekerja di rumah saja. Lama-lama, kebijakan itu disalahpahami dan terciptalah diskriminasi terhadap kaum perempuan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Dan, diskriminasi ini berkepanjangan&#8230;.. Hingga hari ini pun masih terjadi. Semestinya tidak perlu lagi. Dulu, setiap orang harus bekerja di ladang, dibawah langit terbuka&#8230;&#8230; Ada yang bercocok-tanam, ada yang harus menggembala. Sekarang, sudah tidak lagi. Hampir seluruh pekerjaan dilakukan dalam ruang-ruang tertutup. Lengkap dengan pengatur suhu&#8230;.. Maka, dress-code atau cara berpakaian pun semestinya dikoreksi dan disesuaikan dengan kebutuhan dan tun tuntutan zaman ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Tapi, kita harus kembali ke Hastina&#8230;.. Pandu bersedia untuk menyunting Madri hanya karena desakan Kunti. Bujukan dan rayuan Shakuni tidak berhasil – tetapi strateginya, siasatnya tetap berhasil. Shakuni makin girang.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Sekarang, lengkap dan sampurna sudah pemagaran yang dilakukannya. Jika Pandu berkuasa, maka ada Madri disana, ada Shalya disana. Dan, jika Dhritrashtra berkuasa, maka ada Gandhaari disana.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Apa yang dilakukan oleh para politisi “unggul” sekarang tidak jauh beda. Mereka pun memasang kuda-kuda mereka dimana-mana. Siapa pun yang menang, mereka ikut menang.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Keunggulan Politisi Modern dan Kelicikan Shakuni&#8230;.. Apa bedanya? Tidak ada. Mereka memang sejenis, serumpun, sepupuan, seperguruan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Kendati demikian, sesungguhnya ada yang membedakan Politisi Masa Kini dari Shakuni Masa Silam – yaitu afiliasi dan asosiasi mereka yang merangkap-rangkap. Shakuni memang licik, tetapi ia seorang politisi. Ia tidak merangkap sebagai ulama, pendeta, rohaniwan, pemuka masyarakat atau adat. Ia mewakili satu profesi saja. Tidak demikian dengan para politisi kita sekarang. Mereka merangkap-rangkap. Bukan lagi 3 atau 4-in-1- bisa lebih dari itu – kadang bahkan 10-in-1.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Pemuka agama bisa merangkap menjadi politisi, dan dengan sangat mudah ia bisa mengeluarkan fatwa, maklumat atau perintah gaib: “Bila kau tidak memilih partaiku, tidak memilihku, maka nerakalah hunianmu!” Celaka tigabelas.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Mengingat anak-anak kita sudah terkondisi sejak usia dini untuk mempercayai api neraka yang tidak pernah padam dan para peri di surga yang selalu siap melayani – maka perintah-perintah gaib semacam itu menjadi sangat penting, bermakna, berbobot. Tidak dapat ditolak atau diabaikan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Kesimpulannya: Satu banding Sepuluh. Satu Politisi Modern sama dengan Sepuluh Shakuni Masa Silam. Tepuk tangan&#8230;&#8230; ada kemajuan!</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">* * *</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Shakuni berhati-hati sekali dalam setiap langkah yang diambilnya. Ia masih bisa bersabar. Para politisi modern tidak memiliki kesabaran seperti itu. Bagi mereka segalanya harus cepat, serba cepat.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Para politisi sekarang dapat memberi dan menarik dukungan dengan seenaknya, kapan saja, dan karena alasan apa saja. Masa lima tahun pun terasa sangat lama bagi mereka. Tidak demikian dengan Shakuni. Ia rela menunggu selama bertahun-tahun&#8230;..</p>
<p style="margin-bottom:0;">Pandu yang lemah, lembut dan sering sakit itu diajarinya untuk memburu. Pertama, Pandu tidak mau. Ia tidak tahan melihat darah&#8230;.. Tetapi, lagi-lagi pengaruh lingkungan&#8230;.. lagi-lagi karena pergaulan yang tidak menunjang kesadaran&#8230;. akhirnya, ia terjebak juga. Ia mulai menggemari permainan berdarah itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Strategi Shakuni berikutnya sungguh jelas dan mudah&#8230;.. Seseorang yang sedang memburu bisa balik “diburu” dan menjadi mangsa hewan buas. Sesederhana itu, dan bingo! Ia tinggal menunggu “hari baik” untuk menghabisi riwayat Pandu.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Sayangnya, sebelum hari yang ditentukannya itu tiba – Pandu membuat kesalahan yang tidak pernah diperhitungkan oleh Shakuni. Pandu membidik sepasang anak muda yang sedang bercumbuan di tengah hutan&#8230;&#8230; Dikiranya mereka adalah sepasang kijang&#8230;.. Ketika ia mendekati “buruan”-nya dan melihat darah manusia, ia langsung jatuh pingsan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Kelembutan jiwa Pandu membuatnya tidak mudah menerima kesalahannya sebagai kesalahan dan memaafkan diri. Ia berhenti memburu. Awalnya, Shakuni kecewa. Tetapi, kemudian&#8230;&#8230;.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Ia memperoleh bocoran lagi dari Tabib Kerajaan, “Kesehatan Baginda Prabu terganggu akibat pikirannya yang selalu kacau&#8230;.” Kekacauan Pikiram, dalam bahasa modern disebut “Stress”.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Ya, karena stres berkepanjangan, akhirnya Pandu tumbang juga&#8230;&#8230; Ia memutuskan untuk menyepi di hutan dan menyerahkan pucuk pemerintahan kepada Dhritrashtra&#8230;&#8230; Wah, wah, wah, Shakuni menari dan menyanyi girang!</p>
<p style="margin-bottom:0;">Namun, perjalanan menuju takhta tidak semulus yang terpikir olehnya&#8230;.. Kekuasaan di tangan Dhritrashtra tidak sepenuhnya berarti kekuasaan di tangannya. Antara Hastina dan dirinya – masih ada Bhishma, Sang Kakek Agung.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Bhishma, walau telah melepaskan haknya atas takhta, masih tetap diperhitungkan. Sesungguhnya, dialah kekuatan Hastina.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Pun tidak terpikir oleh Shakuni bila di tengah hutan belukar itu, Pandu justru akan memperoleh lima orang anak, lima putra, dari kedua orang isterinya. Kemajuan mutakhir di bidang sains memungkinkan kloning, bahkan pembersihan sel-sel sperma dari segala macam defisiensi, kekurangan dan kelemahan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Sementara itu, adiknya sendiri, Gandhaari, masih belum memiliki keturunan&#8230;&#8230; Tabib Kerajaan menyimpulkan bahwa Gandhaari baik-baik saja, tidak mandul. Pun Dhritrashtra tidak impoten: “Tunggu saja&#8230;.”</p>
<p style="margin-bottom:0;">Shakuni tidak mau menunggu. Ia harus bergerak cepat&#8230;. maka, teknologi kloning yang sama dimanfaatkannya bagi Gandhaari&#8230;. Celakanya, ia gagal&#8230;.. Setelah sekian bulan “ditanam” dalam rahim Gandhaari, “benih” Dhritrashtra melahirkan seorang anak yang cacat. Kaki, tangan, dan wajah semuanya lengket – jelas itu bukanlah wujud manusia normal.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Shakuni enggan menyerah&#8230;&#8230; Gumpulan darah dan daging yang tetap ber-“nyawa” itu dibawanya ke seorang ilmuwan yang suka bereksperimen&#8230;&#8230; Dan, ia berhasil. Dengan menggunakan teknologi kloning yang sama tetapi selangkah lebih maju, sang saintis dapat memperbaiki DNA&#8230;.. Alhasil, dari 1 gumpulan darah dan daging itu lahir 100 anak manusia – para Kurawa.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Selanjutnya, kisah Pendawa dan Kurawa sudah kuulangi sekian kali&#8230;&#8230; Kupikir tak perlu kuulangi lagi&#8230;.. Tapi, tidak, tidak&#8230;&#8230; Cerita ini, kisah ini selalu terulang sendiri. Aku mau bercerita tentangnya atau tidak mau, kisah ini tetap terulang&#8230;&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">* * *</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Siapa yang menjadi Shakuni di antara kita? Siapakah Dhritrashtra yang buta dan Pandu yang lemah?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Siapa yang berada di balik pertumpuhan darah di Poso? Siapa yang membiayai demostrasi? Siapa pula yang bersiasat untuk menaikkan dan menjatuhkan para pejabat?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Para koruptor tertangkap. Pengawas mereka tidak&#8230;.. Malah, dengan gagah berani ia bisa berpindah ke rumah yang lebih luas, lebih mewah – senilai milyaran rupiah. Tanya kenapa? Koq bisa?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Money laundering pun dibiarkan terjadi – hanya karena para pelakunya orang dekat. Hak-hak sipil diinjak-injak, kemanusiaan tergilas – karena mereka yang menginjaknya, mereka yang menggilasnya adalah orang-orang penting.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Orang yang tidak setia pada landasan kita bernegara dan berbangsa, orang yang jelas-jelas menolak Pancasila, dan partainya mendukung landasan lain untuk bernegara dan berbangsa – bisa menjadi pembantu presiden di negeri yang bukanlah negeri mimpi ini. Kenapa?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Seorang pendidik, pengajar, profesor doktor dapat menganjurkan agar hukum berdasarkan agama-agama yang beragam itu menjadi landasan bagi negeri ini. Kenapa?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Hastina dulu dan Hastina sekarang&#8230;&#8230; Dulu seorang Shakuni, sekarang puluhan, bahkan ratusan&#8230;..</p>
<p style="margin-bottom:0;">Ya Allah, Ya Rabb, Widhi, Allah Bapa di Surga, Tao, Thien, Adi Buddha, Satnaam, Gusti – lindungilah negeriku dari para Shakuni dari seberang, dari para Shakuni yang berasal dari negeriku sendiri&#8230;&#8230;.. lindungilah negeriku&#8230;&#8230;..</p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gubernur Sumatera Utara : Wajibkan Siswa Menyanyikan Indonesia Raya]]></title>
<link>http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/07/16/gubernur-sumatera-utara-wajibkan-siswa-menyanyikan-indonesia-raya/</link>
<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 10:59:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Robert Manurung</dc:creator>
<guid>http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/07/16/gubernur-sumatera-utara-wajibkan-siswa-menyanyikan-indonesia-raya/</guid>
<description><![CDATA[Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin meminta agar seluruh sekolah negeri dan swasta mulai tingka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin meminta agar seluruh sekolah negeri dan swasta mulai tingka]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[IMPLEMENTASI PANCASILA: Belajar dari Kesalahan-Kesalahan di Masa Lalu]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/07/10/implementasi-pancasila-belajar-dari-kesalahan-kesalahan-di-masa-lalu/</link>
<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 06:30:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/07/10/implementasi-pancasila-belajar-dari-kesalahan-kesalahan-di-masa-lalu/</guid>
<description><![CDATA[  Forum Diskusi &amp; Konsultasi Peningkatan Penghayatan dan Implementasi Ideologi Pancasila Kementr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="center"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><em>Forum Diskusi &#38; Konsultasi Peningkatan Penghayatan dan Implementasi Ideologi Pancasila</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="center"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><em>Kementrian Koordinator Bidang Politik Hukum &#38; Keamanan RI</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="center"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><em>Jakarta, 26 Juni 2008</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><em><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span>oleh: </span><strong>Anand Krishna</strong></span></span></span></em></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"> </p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="font-style:normal;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span>Dalam triloginya tentang Indonesia, </span><strong>Prof. Victor M. Fic</strong><span> asal Kanada, mengulas sejarah Indonesia sejak runtuhnya Majapahit hingga pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Kiranya pilihan “masa” yang dibahas itu sangat relevan. Karena sejak runtuhnya Majapahit, bangsa ini belum lagi meraih kembali kejayaannya.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-style:normal;">Kita tidak perlu bernostalgia tentang masa lalu, namun kita perlu bertanya, “Apa sebabnya?” Victor M. Fic mengingatkan bahwa sebagai bangsa yang besar kita mesti belajar dari keberhasilan dan kegagalan kita pada masa lalu, supaya tidak dikutuk – </span><em>condemned to repeat the same mistakes</em><span style="font-style:normal;"> &#8211; untuk mengulangi kesalahan-kesalahan pada masa lalu.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="font-style:normal;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span>Sebagai hasil dari penelitian </span><strong>Coedes,</strong><span> sejarawan asal Perancis, kita hampir dapat memastikan bahwa dinasti </span><strong>Sriwijaya</strong><span> adalah dinasti yang paling lama berkuasa dalam sejarah umat manusia. Awalnya diperkirakan kekuasaan mereka berlanjut hingga 8 abad, namun penemuan-penemuan baru di Cambodia dan apa yang pernah disebut wilayah Indocina, membuktikan bahwa kekuasaan Sriwijaya berlanjut hingga hampir 12 abad.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="font-style:normal;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Majapahit</strong><span> sebagai kelanjutan dari </span><strong>Singasari</strong><span> – berkuasa selama hampir 4 abad. Namun setelah runtuhnya Majapahit, ketika Kesultanan Demak berkuasa, maka dalam waktu kurang dari satu abad saja, Nusantara terpecah-belah, kemudian dijajah oleh kekuatan-kekuatan asing secara bergilir.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Apa yang menyebabkan hal itu? Kesalahan kita apa, sehingga kejayaan pada masa lalu itu tinggal kenangan saja?</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="font-style:normal;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Pertama: </strong><span>Sebagai negara kepulauan, kita membutuhkan perekat yang sangat kuat untuk mempersatukan sukubangsa-sukubangsa yang tinggal di sini. Dan, perekat itu, sebagaimana dipahami oleh </span><strong>Sir Stamford Raffles</strong><span>, adalah “budaya” &#8211; titik.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="font-style:normal;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span>Dinasti Sriwijaya dan Majapahit memahami betul hal tersebut. Salah seorang raja Sriwijaya pernah berkunjung ke Mekah, dan memperoleh gelar Haji Sumatrani. Ia memeluk agama Islam. Mayoritas rakyatnya beragama Hindu dan Buddha. Dan hal ini pada masa itu tidak menjadi masalah. Karena, sang Raja Sriwijaya yang beragama Islam tersebut tetap berpegang pada </span><strong>budaya sebagai perekat bangsa</strong><span>.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Majapahit memiliki raja beragama Hindu dan patih yang beragama Buddha – namun masyarakat Islam yang merupakan minoritas pada masa itu tidak didiskriminasi. Negara menjamin kebebasan rakyatnya dalam hal beragama dan berkeyakinan, dan memfasilitasi pembangunan tempat-tempat ibadah bagi mereka. Lagi-lagi, perekat yang mereka gunakan adalah perekat budaya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Ketika perekat budaya itu terabaikan, dan Raden Patah menggunakan agama sebagai landasan bernegara – maka bangsa ini tenggelam dalam lembaran-lembaran sejarah. Kita menjadi bangsa kuli, bangsa tempe.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="font-style:normal;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span>Ada pun mereka yang mendorong Raden Patah untuk melawan keluarganya sendiri demi kekuasaan – adalah para pedagang dari seberang yang hanya menggunakan agama sebagai alat politik, sebagai kedok. Hasil penelitian </span><strong>Parlindungan, Prof Slamet Mulayana</strong><span> dan lain-lain, yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai spekulasi saja – sudah terbuktikan kebenarannya. Banyak karya ilmiah baru dan lama yang mendukungnya.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-style:normal;"><strong>Kedua</strong><span>: Sebuah negara kepulauan dengan belasan ribu pulau adalah </span></span><span><em>unprecedented case</em><span style="font-style:normal;">. Tidak pernah ada negara seperti itu pada masa lalu, dan tidak ada pila pada masa kini. Sebab itu, Prof Fic mengatakan, bahwa Indonesia perlu belajar dari sejarahnya sendiri. Tidak bisa belajar dari sejarah bangsa lain.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="font-style:normal;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span>Sistem Pemerintahan yang cocok bagi negara ini adalah sistem “kesatuan”. Kebhinekaan mesti diakui, bahkan diapresiasi, tetapi pengakuan itu, apresiasi itu mesti “mempersatukan” kita semua. Benang merah “keikaan” tidak bisa diabaikan atau terkalahkan karena “kebhinekaan”. Bila diterjemahkan dalam konteks sekarang, maka </span><strong>sistem yang cocok bagi kita adalah sistem “negara kesatuan” dan bukan “negara federal”. </strong><span>Hal ini telah saya bahas secara panjang lebar dalam buku saya </span><strong>“Sandi Sutasoma” </strong><span>(Penerbit: Gramedia Pustaka Utama).</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#000000;">“<font color="#000000"><span><span style="font-style:normal;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;">Bhinneka Tunggal Ika” adalah kearifan lokal kita. Kita tidak mengimpornya dari luar. Dan, kearifan lokal ini adalah cerminan budaya bangsa kita.</span></span></span></span></font></span><span><span style="font-style:normal;"></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Budaya kita bukanlah budaya yang berbasiskan teradisi saja – entah tradisi agama atau yang lain – tetapi berbasiskan “pengalaman spiritual”. Spiritualitas kita berada di atas kepercayaan-kepercayaan yang kita warisi dari nenek moyang kita sendiri atau dari luar. Seorang Mpu Tantular yang beragama Buddha bisa mengapresiasi ajaran Shiwa dan menemukan persamaan serta kesamaan dalam hal kedua aliran besar tersebut. Ini adalah hasil dari “pengalaman pribadi” Sang Mpu sendiri. Ia tidak meminjamnya dari pengalaman dan pencerahan orang lain.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Agama belum tentu dapat menemukan persamaan-persamaan seperti itu. Karena, “pendirian” suatu agama adalah “pernyataan” tentang tidak setujunya sang pendiri terhadap agama-agama lain yang ada pada zamannya. Bila ia setuju dan hanya ingin melakukan pembaharuan, maka jelas ia tidak akan mendirikan agama baru.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Spiritualitas adalah sebuah kesadaran bahwa “agama” memang berbeda-beda, dan tidak dapat dipersatukan. Namun, “esensi” dari setiap agama, intisarinya satu dan sama. Kesadaran ini tidak diperoleh lewat pengetahuan, tetapi lewat pengalaman pribadi.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span><span style="font-style:normal;">Kiranya para </span></span><strong><em>founding fathers </em></strong><span><span style="font-style:normal;">bangsa ini memahami betul hal tersebut. Maka, sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia – mereka telah menentukan sebuah landasan yang kukuh untuk bernegara dan berbangsa. Landasan tersebut tidak hanya kultural, tetapi spiritual – inilah Pancasila. </span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="font-style:normal;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span>Bapak Pendidikan Nasional </span><strong>Ki Hajar Dewantara</strong><span> – yang telah terlupakan visinya oleh bangsa ini – menyampaikan secara tegas dan jelas bahwa </span><strong>Pancasila adlah “saripati budaya Nusantara”</strong><span>. Bila unggulan-unggulan atau puncak-puncak dari budaya setiap anak bangsa dikumpulkan – nilai-nilai universal itu dikumpulkan – maka kita akan menemukan kelima nilai yang ada dalam Pancasila.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="font-style:normal;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Sebab itu, </strong><span>Bung Karno</span><strong> pun pernah mengingatkan bahwa Pancasila tidak perlu dijadikan ideologi politik – karena ia berada di atas segala macam ideologi.</strong></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-style:normal;">Di sinilah letak kesalahan kita selama ini. Bung Karno sendiri – setelah menyatakan hal tersebut – melakukan kesalahan yang fatal. Saya bukanlah pengagun Bung Karno, </span><em>saya seorang pemuja </em><span style="font-style:normal;">Bung Karno. Namun, kesalahan yang terjadi mesti di-</span><em>point out,</em><span style="font-style:normal;"> supaya tidak terulangi.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-style:normal;">Ketika Pancasila dijadikan salah satu dari “7 Bahan Indoktrinasi” &#8211; maka bangsa ini melakukan kesalahan yang besar. Budaya tidak bisa menjadi doktrin. </span><em>Doktrin adalah sesuatu yang asing,</em><span style="font-style:normal;"> sesuatu yang hendak ditambahkan kepada individu atau kelompok. Sementara itu, </span><em>budaya inheren dan mengalir</em><span style="font-style:normal;"> bersama darah kita.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Agama bisa menjadi doktrin, budaya tidak bisa. Contoh yang paling gampang untuk dipahami adalah kasus poligami oleh orang-orang terpandang. Agama boleh tidak keberatan dengan ulah mereka itu, budaya kita tidak mengijinkannya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-style:normal;">Pertanyaan yang barangkali muncul adalah: Apakah raja-raja kita pada masa lalu tidak melakukan poligami? Ya mereka melakukannya, tetapi hal tersebut tidak menjadi budaya. Hal tersebut bukanlah salah satu “unggulan” &#8211; tidak memiliki nilai universal. Tidak diterima secara universal. Maka tidak </span><em>di-endorse.</em></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Berbeda halnya dengan bangsa lain, ketika seorang tokoh boleh kawin berulang kali – dan tidak ada yang peduli. Sebab, disana hal tersebut memang sudah membudaya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Kembali kepada Pancasila yang kemudian menjadi ideologi, doktrin dan dogma – kesalahan yang dilakukan oleh Bung Karno juga dilakukan oleh Pak Harto. Pancasila menjadi bagian dari PMP,P4, dan sebagainya. Lagi-lagi, ia menjadi doktrin, dogma&#8230;..</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Maka, jelas kelompok-kelompok agamawan melihat Pancasila sebagai “lawan”, “musuh” &#8211; karena dianggap hendak merebut kedudukan mereka.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><strong>Agama memiliki doktrin, dogma, kredo&#8230;. Bila Pancasila juga memilikinya, maka jelas ia dianggap sebagai saingan. Konflik yang sering terjadi antara kelompok agamawan dan pemerintah yang menjunjung tinggi Pancasila sebagai “ideologi” &#8211; sekedar ideologi negara – disebabkan oleh “kedudukan Pancasila yang salah”.</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Pancasila bukanlah sekedar ideologi negara, karena ideologi negara dapat diubah. Pemerintahan yang berkuasa dapat mengubahnya dengan mudah. Para agamawan pun bisa berdebat, sebagaimana terjadi selama ini, bahwasanya ideologi buatan manusia mesti terkalahkan oleh ideologi buatan tuhan. Sengaja saya menggunakan “t” kecil untuk “tuhan: &#8211; karena sesungguhnya ideologi-idologi berlandaskan agama pun adalah ideologi-ideologi buatan manusia.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Sebagai contoh: Suara-suara yang mendukung ideologi atau syariat agama – agama mana pun jua – sudah pasti berkiblat pada pemahaman mereka, pemahaman kelompok mereka atau tokoh yang mereka junjung tinggi atas syariat tersebut.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Bagaimana mempertemukan pemahaman-pemahaman yang beda itu? Bila kita ingin mengubah landasan kita bernegara dengan landasan agama, maka pemahaman siapa yang akan dijadikan acuan? Dalam semua agama, perbedaan pemahaman dan penafsiran itu ada.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="font-style:normal;"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><strong>Pancasila mesti dipahami kembali, dimaknai kembali sebagai</strong><span> Cultural Force</span><strong>, “Kesaktian” Budaya, dan bukan sekedar “kekuatan”.</strong></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-style:normal;">Kekuatan atau </span><em>power </em><span style="font-style:normal;">dapat bertambah dan berkurang. </span><em>Power</em><span style="font-style:normal;"> adalah energi yang kita peroleh dari makanan, minuman, bahkan proses pernapasan. Namun, </span><em>Force</em><span style="font-style:normal;"> atau Kesaktian adalah sesuatu yang inheren. Sesuatu yang kita miliki sejak lahir. Ia adalah </span><em>The Life Force.</em><span style="font-style:normal;"> Budaya adalah Kesaktian atau </span><em>Life Force</em><span style="font-style:normal;"> seperti itu.budaya mengalir bersama darah kita.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><strong>Pendidikan adalah sarana untuk memuluskan aliran tersebut, supaya ia mengalir secara merata dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Pendidikan hanyalah sebuah sarana untuk mengungkapkan “segala yang terbaik dalam diri manusia”. Untuk mengungkapkan nilai-nilai kebudayaan yang sudah ada di dalam dirinya.</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-style:normal;"><span>Sebab itu, Dewantara menganjurkan sistem pendidikan yang berlandaskan </span><strong>budi pekerti</strong><span>. Sayang sekali bahwa landasan ini terlupakan. Bahkan, tujuan pendidikan untuk mengembangkan </span><strong>budi</strong><span> (pikiran yang jernih) serta </span><strong>hridaya</strong><span> (perasaan yang halus namun kuat dalam pengertian </span></span><span><em>firm</em><span style="font-style:normal;">, teguh) – pun terlupakan sudah.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Takwa dan iman menjadi tujuan pendidikan. Padahal yang dapat menentukan takwa dan iman manusia jelas bukan sekolah, penafsir agama, maupun pejabat pemerintah. Adalah Hyang Maha Kuasa yang dapat menentukan kedua hal tersebut.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><em>Character building</em><span style="font-style:normal;"> terlupakan – maka hasilnya sudah dapat dirasakan saat ini. Pemahaman tentang budaya pun menjadi kacau, sehingga terlecehkanlah nilai-nilai budaya. Urusan budaya dikaitkan dengan pariwisata, </span><em>tourism</em><span style="font-style:normal;">. Padahal, yang dapat dikaitkan dengan pariwisata hanyalah seni saja, bukan budaya. </span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Budaya mesti kembali mewarnai seluruh aspek kehidupan. Kita membutuhkan para politisi, petinggi dan diplomat yang berbudaya. Kita juga membutuhkan para pendidik, pengajar, pengacara, dan profesional yang berbudaya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Lihat apa yang terjadi ketika para pengacara yang tidak berbudaya, yang membela klien hanya karena urusan kantong atau ideologi agama tertentu, mengacaukan seluruh tatanan masyarakat kita. Bagaimana kita bisa membela para penjahat dan para pembunuh berdarah dingin atas nama agama? Dapatkah kita membela mereka bila cukup berbudaya dan memikirkan nasib klien kita yang telah jelas-jelas melakukan tindakan kriminal.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Agama adalah urusan pribadi manusia dengan Sang Maha Cipta, Sang Keberadaan, Gusti Allah – apa pun sebutan kita bagi Hyang Maha Tunggal itu. Iman kita, takwa kita terhadap-Nya adalah urusan kita dengan-Nya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="id-ID" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Bangsa ini, negara ini mesti segera mendudukkan kembali nilai-nilai luhur budaya – dalam hal ini Pncasila sebagai intisari budaya Nusantara – pada posisi yang benar. Pada kedudukan semestinya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span><span style="font-style:normal;">Dan, upaya itu mesti dimulai dari sekolah. Dengan cara mengubah seluruh sistem pendidikan kita menjadi </span><em>value-based</em><span style="font-style:normal;">, berlandaskan pada nilai-nilai luhur budaya, budi pekerti. Urusan budaya pun hendaknya tidak menjadi urusan Kementrian Pariwisata, tetapi urusan Kementrian Budaya dan Pendidikan dengan pemahaman yang betul, yakni </span></span><span style="font-style:normal;"><strong>budaya sebagai tujuan dan pendidikan sebagai sarana untuk mengungkapkannya.</strong></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span><span lang="id-ID"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-style:normal;">Bahkan, istilah “implementasi Pancasila” pun semestinya dipahami sebagai </span><em>“re-discovery of inherent values in human being”.</em></span></span></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Milarepa, Marpa dan Temans Ashram]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/06/07/antara-milarepa-marpa-dan-temans-ashram/</link>
<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 06:29:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/06/07/antara-milarepa-marpa-dan-temans-ashram/</guid>
<description><![CDATA[Tuntutan hukum terhadap FPI  akibat peristiwa 1 Juni 2008 di Monas, harus terus diupayakan. Kejahata]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tuntutan hukum terhadap FPI<span>  </span>akibat peristiwa 1 Juni 2008 di Monas, harus terus diupayakan. Kejahatan akan merajalela kalau orang baik diam. Vibrasi, semangat menegakkan kebenaran, dan gelora meneguhkan NKRI harus terus dikumandangkan. Mereka yang bilang Aku Cinta Indonesia dan telah melihat dengan jelas pihak yang mengkotak-kotakkan Indonesia harus terus dibangkitkan untuk bersuara. Silent Majority telah membiarkan virus perusak Tubuh NKRI berpestapora. Disarankan mengkonsumsi minuman kesehatan yang membangkitkan virus penyehat tubuh NKRI. Mereka yang sengaja tidak mau keluar dari Comfort Zone harus diingatkan. Mereka yang memberi tanggapan secara politis dan membelakangkan kebenaran agar segera sadar. Tetapi izinkan kami menyentuh hati Arjunas, Srikandis, temans yang telah berkorban secara pribadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>    </span>Dengan perjalanan yang melelahkan Yang Mulia Milarepa menemui Yang Mulia Marpa. YM Marpa bersuara, Apa? kau ingin mendapatkan ilmu, berguru denganku? Dapatkah kau mengembalikan areal tanaman yang tertutup tanah longsor akibat ulahmu dahulu? Dapatkah kau mengembalikan nyawa orang yang sengsara akibat tindakan darimu dahulu? Sang Milarepa semakin<span>  </span>menyesal, tetapi tetap ingin berguru. Baik! Sang Marpa menyuruh Milarepa membuat menara bulat di timur puncak gunung yang dikerjakannya dengan penuh semangat. Berhari-hari dan baru setengah selesai Sang Marpa datang, Runtuhkan dan kembalikan batu, pasir dan tanah seperti sebelumnya, siapa yang menyuruhmu begitu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>    </span>Kemudian, buatlah serupa di barat puncak gunung. Belum lagi perintah sang Marpa diselesaikan, kembali dia disuruh meruntuhkan dan mengembalikan seperti semula. Sang Marpa berucap, Aku tidak menyuruh yang demikian! Buatlah Menara Yogi Tantra segitiga di utara puncak gunung. Dalam pelaksanaan ada tiga orang tamu meletakkan batu yang lain di sudat dan Milarepa meneruskan pekerjaan berminggu-minggu lagi. Tetapi kembali disuruh meruntuhkan dan mengembalikan seperti semula gara-gara batu yang tidak sesuai yang dipasang tamu. Memang akhirnya ditunjukkan sebuah tempat dan Milarepa diminta membuat Menara putih persegi setinggi sembilan tingkat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sang Milarepa diajari bahwa mengembalikan kejadian itu sangat sulit bahkan mustahil. Sebuah sebab pernah dibuat dan harus dipertanggungjawabkan setelah akibatnya terjadi. Dapatkah rombongan FPI mengembalikan kondisi pisik dan psikis teman-teman seperti sebelum ada kejadian. Setiap anggota tubuh harus mempertanggungjawabkan. Akibat akan datang pada hari pembalasan dan selama itu belum tiba, nurani tidak akan tenang. Tetapi biarlah, Gusti Ora Sare. Tuhan tidak tidur. </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Konon seorang Master dapat meningkatkan kesadaran Sang Murid dengan quantum leap. Tetapi hukum sebab akibat harus diselesaikannya lebih dahulu. Lewat alam lain penyelesaian bisa<span>  </span>lebih cepat, misalnya penyelesaian lewat mimpi. Konon pula, hanya sang Milarepa yang dapat menyelesaikan seluruh sebab-akibat yang pernah dibuat hanya dalam satu masa kehidupan. Dan quantum leap terjadi. Transmutasi energi terjadi. Temans semoga bilur-bilur gebukan FPI mempercepat peningkatan kesadaran.<span>  </span>Ibu Pertiwi mencatat pengorbananmu. Semoga teman-teman semua tetap berada didekat Sang Master. NIM, Koperasi, Kesehatan Holistik hanya alat Sang Master untuk meningkatkan kesadaran kita. Beliau hanya hidup demi temans dan telah kita dengar dengan telinga kita sendiri. Semoga quantum leap terjadi. Semoga mempercepat kejayaan Indonesia. Dari sahabatmu Triwidodo.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Sun Tzu, Bhagavad Gita dan Kearifan Leluhur]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/05/09/antara-sun-tzu-bhagavad-gita-dan-kearifan-leluhur/</link>
<pubDate>Fri, 09 May 2008 06:47:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/05/09/antara-sun-tzu-bhagavad-gita-dan-kearifan-leluhur/</guid>
<description><![CDATA[Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana hukum yang berlaku adalah fight or flight, melawan untu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana hukum yang berlaku adalah <em>fight or flight,</em> melawan untuk keluar sebagai pemenang, atau melarikan diri dari medan laga agar selamat. Dengan konsep dasar itu ia menyusun Seni Perang, untuk memberi kemenangan. Saat ini banyak<span>  </span>anggota masyarakat dengan antusias menerapkannya dalam bisnis. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Di lain pihak, Leluhur kita mempunyai pedoman bahwa <em>Sopo sing nandur bakal ngundhuh, </em>barangsiapa yang menanam benih akan menuai buah tanaman tindakannya. Bagi yang melihat dari kulitnya, bertindak dengan segala cara agar berhasil tuntunan Sun Tzu adalah semacam menanam benih, sehingga hasil akhir kemenangan adalah buah yang wajar dari sebuah tindakan yang penuh perhitungan. Akan tetapi tidak demikian, Leluhur kita mempunyai istilah <em>panen wohing panggawe,</em> menuai hasil akibat buah tanaman tindakan. Semua proses tindakan pun merupakan benih-benih tanaman yang akan mendatangkan hasil di belakang hari. Proses yang penuh tipu muslihat mungkin mendatangkan keberhasilan dalam jangka relatif singkat. Akan tetapi, tindakan penuh tipu muslihat akan mendatangkan akibat tersendiri dalam jangka panjang. Manusia perlu mempertimbangkan semua pikiran, ucapan dan tindakannya sehingga tidak akan kecewa ketika tiba saatnya menuai hasilnya di kemudian nanti. Oleh karena itu kearifan para Leluhur kita lebih mendekati kearifan Sri Krishna dalam Bhagavad Gita. Setiap pikiran, ucapan dan tindakan kita adalah sebuah benih yang akan mendatangkan buah kepada kita pada suatu saat kemudian. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Bagi Sun Tzu, kemenangan harus menjadi tujuan utama. Memenangi peperangan menyangkut disiplin pantang mundur. Hasil akhir kemenangan sebagai tujuan. Manajemen yang diambil berdasarkan sasaran akhir kemenangan. Dalam kalimat yang lebih tegas, yang penting menang walau dengan segala macam cara. Kiranya sudah jelas kebijakan Sun Tzu, landasan perang bagi dia adalah tipu muslihat. Seorang pengikut Sun Tzu tidak akan memarahi anaknya yang suka menyontek saat ujian. Itu adalah kemahiran dia. Anaknya akan dimarahi dia jika tertangkap, karena hal itu menunjukkan kelalaiannya. Pertanyaannya adalah, apakah hal ini sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ada di Nusantara?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Dalam Bhagavad Gita, kebijaksanaan Sri Krishna lebih terfokus pada proses,<span>  </span>pada pikiran, ucapan dan tindakan, bukan pada hasil. Manajemen berdasar proses. Kalau dalam setiap proses disadari masing-masing akibat yang akan terjadi, dengan membuat cheklist tindakan yang “benar”, maka hasil akhir adalah keniscayaan yang akan terjadi sebagai akibat dari semua proses tindakan. Dalam menghadapi hidup ini, yang penting adalah menyadari setiap proses, setiap pikiran, ucapan dan tindakan yang dilakukan, apa pun hasilnya akan datang kepada manusia sebagai akibat dari proses yang telah dijalaninya. Budaya Nusantara lebih selaras dengan kebijakan Sri Krishna. Yang penting adalah karya, karma, perbuatan bukan hasil akhir yang berupa materi. Leluhur kita mempunyai semboyan <em>Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe,</em> tidak memikirkan hasil akhir<span>  </span>dari keinginannya, tetapi giat berkarya dengan semangat persembahan. Hasil sudah merupakan keniscayaan sebagai akibat dari tindakan yang dijalani. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;"><span>            </span>Paduka Sri Mangkunegara IV menyampaikan beberapa tingkatan persembahan dalam kehidupan spiritual. Pertama adalah Sembah Raga. Manusia menggunakan raga ini sebagai persembahan. Dalam hal ini termasuk berkarya dengan menggunakan raga sebagai persembahan. </span><span style="color:black;">Kedua adalah Sembah Cipta. Melakukan persembahan pikiran, diawali dengan cara pengendalian hawa nafsu, sehingga dapat berpikir dengan jernih. Ketiga adalah Sembah Jiwa. Mempersembahkan jiwa dengan selalu sadar, <em>eling,</em> ingat dan waspada. Hidup dengan penuh kesadaran, sesungguhnya segala sesuatu diliputi Tuhan. Yang ada hanyalah Tuhan, tidak ada yang lain. Keempat adalah Sembah Rasa. Sembah yang yang dilakukan mereka yang telah mencapai kesadaran murni, telah mencapai pencerahan yang kesadarannya telah melampaui lapisan raga, lapisan pikiran atau mental, dan lapisan intelegensia atau nurani.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;"><span>            </span></span><span style="color:black;">Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna juga memberi penjelasan tentang Karma Yoga, cara menuju Tuhan melalui perbuatan, Gyana Yoga melalui perenungan, Dhyana Yoga melalui meditasi dan Bhakti Yoga melalui bhakti, persembahan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Terdapat banyak pilihan jalan, diantaranya dengan cara Sun Tzu, Sri Krishna, jalan para Leluhur ataupun jalan-jalan yang lain. Yang kesemuanya bermuara kepada peningkatan kesadaran.<span>  </span>Pada akhirnya manusia perlu kembali kepada jati dirinya. Siapakah Aku? Alam semesta dan semuanya ini diliputi Tuhan, tidak ada yang lain selain diri-Nya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Triwidodo</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mei 2008.</span></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Go, go Indonesia]]></title>
<link>http://dewisang.wordpress.com/2008/05/07/go-go-indonesia/</link>
<pubDate>Wed, 07 May 2008 12:52:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewisang</dc:creator>
<guid>http://dewisang.wordpress.com/2008/05/07/go-go-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[  Mulai hari minggu besok, 11 Mei 2008, Tim Thomas dan Uber Indonesia akan bertanding. Ayo Indonesia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> <a href="http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.tropicalisland.de/lombok/images/AMI%2520Lombok%2520Ombak%2520Putih%2520sailing%2520ship%2520in%2520Labuhan%2520Kayangan%2520harbour%2520indonesian%2520flag%25203008x2000.jpg&#38;imgrefurl=http://kaskus.us/showthread.php%3Ft%3D274045%26page%3D6&#38;h=640&#38;w=963&#38;sz=55&#38;tbnid=AJ-OQk9l3b4dBM:&#38;tbnh=98&#38;tbnw=148&#38;prev=/images%3Fq%3Dgambar%2Bbendera%2Bindonesia%26um%3D1&#38;start=3&#38;sa=X&#38;oi=images&#38;ct=image&#38;cd=3"><img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:AJ-OQk9l3b4dBM:www.tropicalisland.de/lombok/images/AMI%20Lombok%20Ombak%20Putih%20sailing%20ship%20in%20Labuhan%20Kayangan%20harbour%20indonesian%20flag%203008x2000.jpg" border="1" alt="http://kaskus.us/showthread.php?t=274045&#38;page=6" vspace="4" width="148" height="98" align="middle" /></a> Mulai hari minggu besok, 11 Mei 2008, Tim Thomas dan Uber Indonesia akan bertanding. Ayo Indonesia&#8230;.go..go&#8230;.we love u&#8230;ga&#8217; sabar menunggu pahlawan-pahlawan bulutangkis menyanyikan lagu &#8220;Indonesia Raya&#8221; saat Final nanti. Jadi bangga jadi orang Indonesia. Banyak hal juga yang bikin bangga, versiku, ada Andrea Hirata di LP yang bikin kangen pengen nyanyi &#8220;Padamu Negeri&#8221;, kaya&#8217; Lintang yang naik sepeda &#8220;ketinggian&#8221;, ke sekolah yang berjarak 30 km, sepatu butut, lewat rawa yang ada buaya buasnya, sampai di sekolah, 5 menit lagi pulang, tinggal menyanyikan &#8220;Padamu Negeri&#8221; dan dengan semangat menggelora dia menyanyikannya. Datang ke sekolah hanya untuk menyanyikan lagu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;padamu negeri kami berjanji</p>
<p style="text-align:justify;">padamu negeri kami berbakti</p>
<p style="text-align:justify;">padamu negeri kami mengabdi</p>
<p style="text-align:justify;">padamu negeri jiwa raga kami&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">*gambar bendera (<a href="http://images.google.co.id">http://images.google.co.id</a>)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kecongkakan Ego Manusia]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2008/04/28/kecongkakan-ego-manusia/</link>
<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 10:34:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2008/04/28/kecongkakan-ego-manusia/</guid>
<description><![CDATA[Sehabis mendengarkan ceramah agama di TVRI, Pakdhe Jarkoni diskusi dengan keponakannya, Fauzi.   Pak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sehabis mendengarkan ceramah agama di TVRI, Pakdhe Jarkoni diskusi dengan keponakannya, Fauzi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span>Pakdhe Jarkoni:</span></strong><span> Tadi saya mendengarkan ceramah, bahwa Kanjeng Nabi Muhammad saw<span>  </span>selalu meperhatikan kelestarian alam. Dalam kondisi gawat darurat, kondisi perang pun, Kanjeng Nabi melarang pasukannya merusak tanaman dan juga mencederai anak-anak kecil dan orang tua yang tidak bersalah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span>Fauzi:</span></strong><span> Betul pakdhe, dalam prosesi haji pun memotong ranting pun akan dikenai sanksi. Yang kami tidak habis pikir, mengapa Amrozi cs mengatasnamakan Islam dalam membom Bali. Apakah yang kena bom itu orang-orang yang bersalah?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span>Pakdhe Jarkoni: </span></strong><span>Yah, begitulah orang yang belum sadar. Kadang-kadang orang merasa tindakannya betul, padahal itu sebenarnya hanya persepsi pemikiran seseorang. Kadang dia merasa itu berasal nuraninya, padahal sering hanya merupakan persepsi dalam pikiran bawah sadar. Memang tipis beda antara orang yang merasa beriman dengan orang yang <em>ndhendheng,</em> kepala batu. Kalau berimannya bukan berasal dari hati nurani tetapi hanya <em><span> </span>conditioning</em> bawah sadarnya saja ya seperti orang berkepala batu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span>Fauzi:</span></strong><span> Maksud pakdhe, orang yang yakin merasa benar, sering hanya terkondisi oleh pikiran bawah sadarnya?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span>Pakdhe:</span></strong><span> Pemahaman dan tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang mendarah daging sudah membentuk persepsi dalam bawah sadar. Kemudian, dalam kondisi capek yang luar biasa sehabis latihan perang-perangan misalnya, atau habis sujud dalam waktu lama sehingga darah terkumpul di kepala. Kondisi seperti itu hampir sama dengan yang terjadi setelah seseorang katharsis, mengeluarkan banyak uneg-uneg atau traumanya. Dalam kondisi reseptif seperti itu perintah atau pemahaman seseorang yang berwibawa akan diterima dan masuk ke dalam pikiran bawah sadarnya. Keadaan seperti itu hampir sama dengan keadaan seseorang yang<span>  </span>terhipnotis. Walau pemahaman yang dimasukkan tidak benar pun akan diterima sebagai kebenaran oleh si penerima yang dalm keadaan reseptif tersebut. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span>Fauzi:</span></strong><span> Repotnya lagi kalau pemimpin yang disegani tadi mempunyai persepsi yang keliru, maka kekeliruan tersebut ditularkan ke orang lain yang tunduk dengannya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span>Pakdhe Jarkoni:</span></strong><span> Sebetulnya, karena pemahamannya dalam pikiran bawah sadar, dengan pemicu dan kondisi khusus, pemahaman seseorang dapat berubah juga. Apalagi kalau rasa atau hati nuraninya belum tertutup. Seseorang yang sudah menganggap tindakannya membunuh orang yang tidak berdosa sebagai kebenaran sebenarnya sudah sangat congkak, merasa sudah seperti Tuhan membenarkan tindakannya. Dalam keadaan demikian, Tuhannya adalah Tuhan menurut persepsinya. Bukannya Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Mungkin hatinya orang itu sudah membatu. Sebetulnya kalau pikiran mereka dapat tenang dan tidak bergejolak, suara hati nuraninya akan muncul keluar. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span>Fauzi: </span></strong><span>Ya, seharusnya seseorang dalam kondisi tenang belajar memahami, bahwa kita lahir dengan membawa sifat genetik. Selanjutnya orang tua, lingkungan, pendidikan membentuk persepsi kita. Jadi yang kita anggap benar adalah benar menurut kerangka persepsi kita. Orang lain dengan sifat genetik dan lingkungan yang lain akan mempunyai anggapan benar menurut kerangka persepsi yang lain. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span>Pakdhe Jarkoni:</span></strong><span> Dan kita bertindak membunuh orang tidak bersalah dalam ketidaktahuan. Dan setiap pikiran, ucapan dan tindakan kita akan menyebabkan akibat yang pada suatu saat akan kembali kepada diri sendiri. Aksi akan menyebabkan reaksi, adasebab-ada akibat. Semoga kita semua lekas sadar, dan tidak merasa benar sendiri dan tidak menghakimi orang lain dengan kerangka pikiran kita.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Triwidodo</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Maret 2008.</span></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
