<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pahlawan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/pahlawan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pahlawan"</description>
	<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 13:47:12 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Hari Ibu]]></title>
<link>http://duniacaktuh.wordpress.com/2009/12/22/hari-ibu/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 09:07:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>evrha27</dc:creator>
<guid>http://duniacaktuh.wordpress.com/2009/12/22/hari-ibu/</guid>
<description><![CDATA[Hari Ibu Ada apa dengan hari ibu kenapa harus dirayakan dan diperingati mang siap penggagasnya kenap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:magenta;">Hari Ibu</span><br />
Ada apa dengan <strong>hari ibu</strong> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_question.gif' alt=':?:' class='wp-smiley' />  kenapa harus dirayakan dan diperingati <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_question.gif' alt=':?:' class='wp-smiley' />  mang siap penggagasnya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_question.gif' alt=':?:' class='wp-smiley' />  kenapa juga harus tanggal 22 Desember <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_question.gif' alt=':?:' class='wp-smiley' />  momen apa yang diinginkan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_question.gif' alt=':?:' class='wp-smiley' />  adakah motif dibalik itu semua <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_question.gif' alt=':?:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span style="color:magenta;">Hari Ibu</span><br />
bahagialah hati seorang ibu ..<!--more--></p>
<p>tapi,<br />
bagaimana dengan sosok ibu yang dengan sengaja menjual anaknya sendiri, menelantarkannya, membakar dan membunuh darah dagingnya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cry.gif' alt=':cry:' class='wp-smiley' />  adakah perayaan itu juga teruntukkan bagi para ibu itu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_question.gif' alt=':?:' class='wp-smiley' />  ataukah mereka tidak berhak <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_question.gif' alt=':?:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>kalau tidak .. bukankah mereka tetap sosok seorang ibu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_question.gif' alt=':?:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span style="color:magenta;">Hari Ibu</span><br />
pada hari ini, dimana usiaku sudah terus merambat 1/4 abad bahkan lebih .. aq tau dan sadar belum bisa memberikan yang terbaik apalagi membuat bangga <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':sad:' class='wp-smiley' />  terlebih mengingat jerih payahmu yang tidak mengenal lelah sedari kala mengandungku.</p>
<p>ketika julukan &#8220;<span style="color:orange;">Pahlawan tanpa Tanda Jasa</span>&#8221; disematkan kepadamu pun sejak aq kecil, tapi &#8230; aq baru sadar bahwa penghargaan itu benar<sup>2</sup> layak dan pantas karena</p>
<blockquote><p><span style="color:purple;font-size:large;">tidak ada apapun di dunia nan fana ini yang bisa menggambarkan jasamu</span></p></blockquote>
<p><span style="color:magenta;">Hari Ibu</span><br />
Memang tiada apa yang bisa aq berikan kepadamu terlebih hanya ucapan &#8220;<strong>Selamat Hari Ibu</strong>&#8221; itupun berupa coretan pada blog <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':smile:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>mungkin bukan janji yang aq buat, tapi &#8230;<br />
aq akan berusaha tuk membahagiakanmu, menjadi seorang anak yang kau dambakan &#8230; akan aq carikan bagimu seorang <span style="font-size:large;">menantu</span> yang menyayangimu dan memberikan keceriaan seorang dua orang cucu &#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':smile:' class='wp-smiley' />  tuk merangkai sang indah hingga di senja usiamu <strong>IBU</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hati Seorang Ibu...]]></title>
<link>http://hariharisetelahkemarin.wordpress.com/2009/12/21/hati-seorang-ibu/</link>
<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 09:17:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>-dN5</dc:creator>
<guid>http://hariharisetelahkemarin.wordpress.com/2009/12/21/hati-seorang-ibu/</guid>
<description><![CDATA[By Christina Yenny *Dedicated to: My beloved MOM&#8230; Untuk memperingati HARI IBU &#8211; 22 Desem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>By Christina Yenny</em></p>
<p>*<em>Dedicated to: My beloved MOM&#8230;</em><br />
Untuk memperingati HARI IBU &#8211; 22 Desember 2009<br />
Selamat Hari Ibu&#8230;!<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan elektronik.</p>
<p><a href="http://hariharisetelahkemarin.wordpress.com/files/2009/12/kasih-ibu.jpg"><img src="http://hariharisetelahkemarin.wordpress.com/files/2009/12/kasih-ibu.jpg?w=252" alt="" title="kasih ibu" width="252" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1924" /></a>Ada seorang pemuda bernama <strong><em>A be</em></strong> (bukan nama sebenarnya). Dia anak yang cerdas, rajin dan cukup <em>cool</em>. Setidaknya itu pendapat <em>cewe-cewe</em> yang kenal dia&#8230; Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi <em>manager</em>. Gaji-nya pun lumayan.</p>
<p>Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman-teman kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan <em>cewe-cewe</em> yang masih <em>jomblo</em>. Bahkan putri <em>owner</em> perusahaan tempat ia bekerja juga <strong>menaruh perhatian</strong> khusus pada A be.</p>
<p>Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul-betul seperti <em>monster</em> yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain adalah <strong>ibu kandung</strong> A Be.</p>
<p><!--more--><br />
Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya <strong>ibu rumah tangga</strong> lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci..) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu-satunya, A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega <em>business</em> yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “<em>Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan&#8230;</em>” jawab A be.</p>
<p>Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya dikerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali..).</p>
<p>Hal ini membuat A be jadi <strong>BT</strong> (<em>bad temper</em>&#8230;) dan <em>uring-uringan</em> dirumah. Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, A be melihat sebuah <em>box</em> kecil. Di dalam <em>box</em> hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran <em>postcard</em> itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa <strong>pahlawan</strong> yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.</p>
<p>Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. Spontan <strong>air mata</strong> A be menetes keluar tanpa bisa dibendung&#8230;..</p>
<p>Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta <strong>maaf</strong> dan <strong>memohon ampun</strong> atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan <strong>ketulusan hati</strong> anaknya, ”<em>Yang sudah-sudahlah nak, Ibu sudah maafkan&#8230; Jangan di ungkit lagi&#8230;</em>”.</p>
<p>Setelah ibunya sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke <em>supermarket</em>. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap <em>cuek bebek</em>. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik.</p>
<p>Teman-teman yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud dihadapannya. Selagi masih ada waktu. Jangan sia-sia kan budi jasa ibu selama ini yang merawat dan membesarkan kita tanpa pamrih. <strong>kasih seorang ibu</strong> sungguh mulia&#8230;</p>
<p>** Terima kasih tak terhingga kepada seorang sahabat tersayang, yang telah begitu ikhlas mengijinkanku untuk membagikan tulisan ini kepada sahabat-sahabatku yang lain &#8230;</p>
<p><em>(Sumber: YauHui.net)</em></p>
<p><strong>Christina Yenny.</strong> Tinggal di Jakarta. Karyawan perusahaan asuransi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ngeblog-lah, dan nama Anda terancam abadi!]]></title>
<link>http://daengrusle.wordpress.com/2009/12/19/ngeblog-lah-dan-nama-anda-terancam-abadi/</link>
<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 17:08:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>daengrusle</dc:creator>
<guid>http://daengrusle.wordpress.com/2009/12/19/ngeblog-lah-dan-nama-anda-terancam-abadi/</guid>
<description><![CDATA[Kartini meninggal dalam usia teramat muda, 25 tahun. Namun, jejak hidup yang ditinggalkannya; surat-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignright" src="http://1.1.1.5/bmi/noertika.files.wordpress.com/2007/05/writing2.jpg?w=258&#038;h=348" alt="" width="258" height="348" />Kartini meninggal dalam usia teramat muda, 25 tahun. Namun, jejak hidup yang ditinggalkannya; surat-surat berisi buah pikirannya yang maju melampaui zamannya dikemudian hari mentahbiskan dirinya menjadi pahlawan. Christina Martha Tiahahu, gadis Saparua pemberani itu malah jauh lebih muda, 18 tahun ketika meninggal di atas kapal pembuangan VOC akibat mogok makan. Raden Inten II, raja Lampung tewas di bunuh VOC ketika berusia 22 tahun. Wolter Monginsidi tewas di ujung peluru regu penembak Belanda di usianya yang ke-24. Panglima Besar Sudirman meninggal akibat kanker paru di usia 34 tahun di masa gerilya. Yang termuda yang tercatat walau belum diakui sebagai pahlawan, Ade Irma Suryani Nasution, 5 tahun, tewas tertembus peluru Cakrabirawa sebagai perisai ayahnya. Yang lebih modern, pahlawan Tritura dan Reformasi, umumnya tewas saat berusia 20-an tahun.</p>
<p>Mereka semua adalah pahlawan bangsa, yang artinya bahwa jasanya sedemikian besar bagi perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencapai cita-citanya, kemerdekaan, walau kenyataannya usia mereka masih sangat muda dibanding rata-rata penduduk Indonesia. Jejak hidup mereka terpatri dalam di lembaran sejarah sedalam kecintaan mereka akan bangsa ini.<!--more--></p>
<p>Tentunya kepahlawanan mereka menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya untuk turut unjuk membangun bangsa besar ini, sayangnya tak banyak buah pikiran mereka bisa kita baca dan jadikan narasumber. Bahkan banyak yang justru terasa asing bagi kita. Beberapa diantara kita mungkin malah tidak pernah mendengar nama pahlawan ini; La Maddukelleng, Pongtiku, Andi Jemma, Tjilik Riwut, Tuanku Tambusai, Nani Wartabone, Sultan Nuku, Kiras Bangun (Garamata), bahkan mungkin kita tidak kenal nama-nama pahlawan Reformasi yang tewas di tahun 1998.</p>
<p>Tapi jangan khawatir, saya tidak sedang menghakimi pengetahuan sejarah kita, banyak faktor yang membuat kita terpisah secara historis dengan mereka, diantaranya kurangnya media bacaan yang memberi kita akses untuk mengetahui sejarah mereka. Sekedar informasi, kesemua nama yang disebutkan diatas telah diakui resmi oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden.</p>
<p>Kembali ke inspirasi perjuangan, beberapa pahlawan tersebut juga menyempatkan diri untuk menorehkan buah pikirannya ke dalam tulisan yang mungkin tanpa sepengetahuan dan sekehendak mereka, kemudian menjadi abadi dan bisa terbaca hingga saat ini. RA Kartini, Muhammad Yamin, Hatta, Soekarno, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, dan Pramoedya Ananta Toer termasuk sedikit diantara sekian tokoh besar kita yang punya hobi menulis dan menuangkan buah pikirannya bagaimana membangun bangsa ini. Sedang yang lainnya, kita baru bisa menikmati sejarah hidup dan ide kebangsaannya dari serpihan-serpihan lapuk yang disimpan oleh museum dan pewarisnya, atau hanya sekedar tutur lisan dari beberapa tetua-tetua yang hidup sezaman dengan mereka.</p>
<p>Padahal dari tulisan sejarah perjuangan merekalah kita bisa menafsrikan dan memaknai perjalanan bangsa besar ini. Boleh dikatakan, pengetahuan kesejarahan kita berbanding lurus dengan kadar patriotisme/nasionalisme kita. Sebahagian sejarah bisa kita jadikan pegangan dan pemompa semangat untuk melangkah lebih optimis, namun sebahagian yang lain memberi petuah untuk lebih berhati-hati agar kisah kelam yang mereka alami tak perlu kita rasakan juga.</p>
<p>Lantas, apa relevansinya dengan kita, para blogger muda ini? Tentu saja pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa tidak perlu kita bercita-cita menjadi pahlawan yang diakui pemerintah dengan melakukan gerakan patriotik dan menuliskan ide revolusioner kita di blog masing-masing, tapi anggaplah ini sebagai usaha pribadi untuk mengirim pesan kepada generasi mendatang apa yang sedang kita alami saat ini dan bagaimana kita menyikapinya.</p>
<p>Masing-masing kita punya sikap politik ketika menghadapi realitas di depan kita, terutama realitas-realitas yang tidak sesuai dengan pengharapan kita sebagai anak bangsa. Dan sikap ini perlu dituliskan, tak peduli seberapa jauh jangkauan pengetahuan kita mengenai hal itu, asalkan kita merasa memiliki kepentingan untuk tetap mempersoalkannya, sesuai standard hidup yang kita miliki.</p>
<p>Francois Bacon, filosof terkemuka Inggris tahun 1605, memberikan petuah bijak tentang hebatnya pengaruh dan keabadiaan sebuah tulisan dalam the Advancement of Learning,”…..kita lihat, sejauh mana monumen kecerdasan dan pengetahuan lebih lama bertahan daripada monumen kekuasaan dan ciptaan tangan.</p>
<p>Bukankah kata-kata Homer dapat bertahan selama 25 abad lebih, tanpa kehilangan satu suku kata atau huruf pun, sementara istana-istana, kuil-kuil, bangungan-bangunan, kota-kota pada waktu tertentu mengalami kehancuran dan keruntuhan”.</p>
<p>Pernyataan yang sama pernah diungkapkan oleh penulis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, “menulis adalah pekerjaan yang berorientasi keabadian, pekerjaan yang menempatkan penulis sebagai bagian dari sejarah. Tanpa menulis, seorang manusia tak akan terkenang oleh sejarah, hilang begitu saja dan dengan demikian ia mengkhianati amanah kemanusiaanya.</p>
<p>Karenanya tetaplah menulis, rajinlah nge-blog dan nama Anda terancam abadi!</p>
<p>Bayangkan betapa antusias dan bangganya anak cucu anda 100 tahun kemudian, mengamati dan menelaah dengan blog warisan yang anda buat saat ini, dengan catatan bahwa kita berharap server blog kita bisa memaintain blog sampai saat itu. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saya Seorang Pahlawan ? ]]></title>
<link>http://masmoi.wordpress.com/2009/12/11/saya-seorang-pahlawan/</link>
<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 06:20:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>masmoi</dc:creator>
<guid>http://masmoi.wordpress.com/2009/12/11/saya-seorang-pahlawan/</guid>
<description><![CDATA[Saya seorang pahlawan ? Ketika pulang kantor kemarin saya terkejut dengan sebuah surprise yang dilak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><span style="color:#008000;"><a href="http://masmoi.wordpress.com/files/2009/12/pahlawan_by_kriukcreation.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-167" title="Pahlawan_by_kriukcreation" src="http://masmoi.wordpress.com/files/2009/12/pahlawan_by_kriukcreation.jpg?w=274" alt="" width="184" height="200" /></a>Saya seorang pahlawan ? </span></h2>
<p>Ketika pulang kantor kemarin saya terkejut dengan sebuah surprise yang dilakukan anak-anak saya di halaman teras rumah.<br />
Belum sempat motor saya di matikan dan masuk rumah&#8230;anak-anak saya <em>Wanda, Warna &#38; Eros </em>terlihat berdiri di halaman taman sambil bernyanyi sesuatu yg saya ndak saya perhatikan dgn baik lirik2nya krn sibuk memasukkan motor kedalam pekarangan rumah.<br />
Yang saya perhatikan sekilas hanyalah mimik-mimik mereka yang bernyanyi sambil tertawa-tawa dan bergembira.</p>
<p>Setelah itu Warna, anak kedua saya memeluk saya berbarengan dgn Eros adiknya.<br />
Di dalam rumahpun mereka melanjutkan bernyanyi lagu yg sama dan disitulah saya baru perhatikan detail liriknya.<br />
Kira-kira liriknya seperti ini…</p>
<p><span style="color:#008080;"><strong><em>Pahlawan keluargaku<br />
Dengan Bismillah ayahku bekerja<br />
Tetes keringatnya bagai mutiara<br />
Demi keluargaku </em></strong><br />
</span><br />
Sejurus setelah mendengar betapa semangatnya lagu yang mereka nyanyikan, saya belum begitu peduli dan sekedar memberikan penghargaan berupa ciuman dan pelukan kepada mereka atas usaha mereka menyanyikan lagu tsb sebagai kejutan untuk saya.<br />
Selepas itu semua berjalan seperti biasa, mandi, makan malam, sholat, menemani anak2 dan surfing internet sebentar lalu istirahat.</p>
<p>Namun, sebelum tidur itulah baru terfikir kembali apa yang mereka nyanyikan selepas saya pulang tadi.<br />
<strong>Saya seorang pahlawan bagi mereka ??? </strong></p>
<p>Bahkan di status Facebook istri saya, dia bilang kalau dia terharu mendengar lagu tsb dinyanyikan oleh anak-anak dgn riangnya.<br />
Again, saya menggumam pertanyaan yg sama…</p>
<p><strong>Saya seorang pahlawan ???<br />
</strong><br />
Rasanya antara percaya dan ndak percaya penghargaan dari anak dan istri yg begitu tulus ini saya terima.<br />
Menurut saya, apa yang saya perbuat bagi mereka adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab saya sebagai pria dan <em>imam</em> (pemimpin) yang mendapatkan amanah 3 orang anak dan seorang pendamping bagi ketentraman hati dunia dan akhirat.</p>
<p>Allah menitipkan harta, jabatan dan keluarga yg indah kepada saya untuk saya jaga dan rawat dengan baik, meskipun ini semua adalah titipanNya kepada saya.</p>
<p>Dan untuk itu semua, saya disebut sebagai seorang pahlawan oleh keluarga saya? <em>Alhamdulillah…Subhanallah.</em></p>
<p>Terima kasih ya Allah atas penghargaan keluarga yg tulus ini yg membuat mata saya tak bisa terkantuk lalu tidur dengan sempurna setelah do&#8217;a sebelum tidur terucap.<br />
Selalu terngiang lagu yang di nyanyikan anak-anak saya tsb yg membuat saya lebih bersemangat lagi mencari ridho Allah melalui kegiatan rutin bekerja sebagai karyawan di kantor pagi ini dan insya Allah di pagi-pagi selanjutnya.</p>
<p>Bahkan, sebelum tulisan ini diposting…saya sempat klarifikasi ke istri saya tentang syairnya hehe  <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  takut ada yg salah dan ternyata benar liriknya, maka jadilah postingan blog ini sebagai sebuah catatan tersendiri di hati dan di awang-awang dunia maya ini bahwa kemarin aku dihargai sebagai seorang pahlawan melalui sebuah lagu oleh anak-anakku tercinta&#8230;hiks&#8230;terharu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terima kasih atas penghargaan yg begitu tulus anakku…istriku…<br />
Do&#8217;akan Papa agar selalu sehat dalam beribadah kepada Allah, mencari ridho dan rizkinya dalam ritunitas keseharian Papa ini, nak.<br />
Terima kasih telah menganggap Papa sebagai seorang pahlawan di hatimu, Nak…<br />
Semoga Allah memberkahi kehidupan kita selalu hingga kita semua kembali kepadaNya kelak dan mempertanggung jawabkan segala tindak tanduk kita semasa hidup kelak di yaumil akhir.</p>
<p><span style="color:#ff99cc;"><strong>I love you Wanda, Warna, Eros….I love you, yank. </strong><br />
</span><strong>Muach!</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nama-nama Para Pahlawan Nasional]]></title>
<link>http://dymasgalih.wordpress.com/2009/12/08/nama-nama-para-pahlawan-nasional/</link>
<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 06:23:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Dymas Purwa</dc:creator>
<guid>http://dymasgalih.wordpress.com/2009/12/08/nama-nama-para-pahlawan-nasional/</guid>
<description><![CDATA[Abdul Harris Nasution Abdul Kadir Abdul Muis Abdul Rahman Saleh Achmad Ri’fai Adam Malik Adenan Kapa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Abdul Harris Nasution</p>
<p>Abdul Kadir</p>
<p>Abdul Muis</p>
<p>Abdul Rahman Saleh</p>
<p>Achmad Ri’fai</p>
<p>Adam Malik</p>
<p>Adenan Kapau Gani</p>
<p>Ageng Tirtayasa, Sultan</p>
<p>Agus Salim, H</p>
<p>Ahmad Dahlan, Kiai Haji</p>
<p>Ahmad Yani, Jenderal</p>
<p>Amir Hamzah, Tengku</p>
<p>Andi Abdullah Bau Massepe</p>
<p>Andi Djemma</p>
<p>Andi Mappanyukki</p>
<p>Andi Sultan Daeng Radja</p>
<p>Antasari, Pangeran</p>
<p>Arie Frederik Lasut</p>
<p>Sultan Arung Matoa</p>
<p>Ayokrokusumo, Sultan Agung</p>
<p>Bagindo Azizchan</p>
<p>Basuki Rahmat, Jenderal</p>
<p>Cik Di Tiro, Teungku</p>
<p>Cilik Riwut</p>
<p>Cut Nyak Dhien</p>
<p>Cut Nyak Meutia</p>
<p>Dewi Sartika</p>
<p><strong>Diponegoro</strong>, Pangeran</p>
<p>Djuanda Kartawidjaja</p>
<p>Douwes Dekker, Setiabudi</p>
<p>Fakhruddin, H</p>
<p>Fatmawati</p>
<p>Ferdinand Lumbantobing</p>
<p>Fisabilillah, Raja Haji</p>
<p>Frans Kaisiepo</p>
<p>Gatot Mangkoepradja</p>
<p>Gatot Subroto, Jenderal</p>
<p>Halim Perdana Kusuma</p>
<p>Hamengku Buwono I, Sri Sultan</p>
<p>Hamengku Buwono IX, Sri Sultan</p>
<p>Harun</p>
<p>Haryono M.T, Letnan Jenderal</p>
<p>Hasan Basry, Brigadir Jenderal •</p>
<p>Sultan Hasanuddin</p>
<p>Hasyim Asyari</p>
<p>Hazairin</p>
<p>Ignatius Slamet Rijadi</p>
<p>Ilyas Yakoub</p>
<p>Imam Bonjol, Tuanku</p>
<p>Iskandar Muda, Sultan</p>
<p>Ida Anak Agung Gde Agung</p>
<p>Ismail Marzuki</p>
<p>Iswahyudi, Marsma</p>
<p>Iwa Kusuma Sumantri, Prof.Dr</p>
<p>Izaak Huru Doko</p>
<p>Jatikusumo, G.P.H</p>
<p>Jelantik, I Gusti Ketut</p>
<p>Karel Satsuit Tubun, AIP •</p>
<p>R.A.Kartini</p>
<p>Katamso Darmokusumo, Brigadir Jenderal •Ki Hajar Dewantara</p>
<p>Kiras Bangun (Garamata)</p>
<p>Kusumah Atmaja, Dr.SH</p>
<p>La Madukelleng</p>
<p>Mahmud Badaruddin II, Sultan</p>
<p>Mangkunegoro, K.G.P.A.A</p>
<p>Maria Walanda Maramis</p>
<p>Martadinata R.E, Laksamana Laut</p>
<p>Martha Christina Tiahahu</p>
<p>Marthen Indey</p>
<p>Mas Mansur, Kiai Haji</p>
<p>Maskoen Soemadiredja</p>
<p>Moestopo, Mayjen TNI (Purn.) Prof. dr.</p>
<p>Mohammad Hatta, Drs</p>
<p>Mohammad Husni Thamrin</p>
<p>Mohamad Roem</p>
<p>Mohammad Yamin, Prof, SH</p>
<p>Muhammad Isa Anshary</p>
<p>Muwardi, dr</p>
<p>Nani Wartabone H</p>
<p>Ngurah Rai, I Gusti, Kolonel</p>
<p>Noer Alie</p>
<p>Nuku Muhammad Amiruddin</p>
<p>Nyai Ahmad Dahlan</p>
<p>Nyak Arif, Teuku</p>
<p>Nyi Ageng Serang</p>
<p>Opu Daeng Risadju</p>
<p>Oto Iskandardinata</p>
<p>Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng</p>
<p>Pakubuwono VI, Sri Susuhunan</p>
<p>Panjaitan D.I, Mayor Jenderal</p>
<p>Parada Harahap •</p>
<p><strong>Kapitan Pattimura</strong></p>
<p>Pierre Tandean, Kapten</p>
<p>Pong Tiku</p>
<p>Radin Inten II</p>
<p>Raja Ali Haji</p>
<p>Rasuna Said, HJ Rangkayo</p>
<p>Robert Wolter Monginsidi</p>
<p>Saharjo, Dr. SH</p>
<p>Sam Ratulangi, G.S.S.J, Dr</p>
<p>Samanhudi, Kiai Haji</p>
<p>Slamet Riyadi, Ign.</p>
<p>Silas Papare •</p>
<p>Sisingamangaraja XII</p>
<p>Siswondo Parman, Letnan Jenderal</p>
<p>Soekarno</p>
<p>Sudirman, Jenderal</p>
<p>Sugiono, Kolonel</p>
<p>Sugijopranoto, S.J, Msgr</p>
<p>Suharso, Prof. Dr</p>
<p>Suhartinah Suharto</p>
<p>Sukarjo Wiryopranoto</p>
<p>Supeno</p>
<p>Supomo, Prof. Mr. Dr</p>
<p>Suprapto R, Letnan Jenderal</p>
<p>Suprijadi</p>
<p>Suroso R.P</p>
<p>Suryo</p>
<p>Suryopranoto, R.M</p>
<p>Sutan Syahrir</p>
<p>Sutomo, dr</p>
<p>Sutoyo Siswomiharjo, Mayor Jenderal</p>
<p>Syarif Kasim II, Sultan</p>
<p>Syech Yusuf Tajul Khalwati</p>
<p>Tambusai, Tuanku</p>
<p>Tengku Rizal Nurdin</p>
<p>Teuku Muhammad Hasan</p>
<p>Teuku Umar</p>
<p>Thaha Sjaifuddin, Sultan</p>
<p>Tirto Adhi Soerjo, R.M</p>
<p>Tjipto Mangunkusumo, dr.</p>
<p>Tjokroaminoto, Haji Oemar Said</p>
<p>Untung Suropati</p>
<p>Urip Sumohardjo, Letnan Jenderal</p>
<p>Usman</p>
<p>Wage Rudolf Supratman</p>
<p>Wahid Hasyim</p>
<p>Wahidin Sudirohusodo</p>
<p>Wilhelmus Zakaria Johannes</p>
<p>Yos Sudarso</p>
<p>Kiai Haji <a title="Zainal Mustafa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zainal_Mustafa">Zainal Mustafa</a></p>
<p>Kiai Haji <a title="Zainul Arifin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zainul_Arifin">Zainul Arifin</a></p>
<table id="sortable_table_id_22">
<tbody>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Patung Pahlawan]]></title>
<link>http://4antum.wordpress.com/2009/11/30/patung-pahlawan/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 16:21:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Shafiqah Treest</dc:creator>
<guid>http://4antum.wordpress.com/2009/11/30/patung-pahlawan/</guid>
<description><![CDATA[Kebanyakan orang mengira dan menamakan patung ini Patung Petani atau Tugu Tani, karena patung ini me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kebanyakan orang mengira dan menamakan patung ini Patung Petani atau Tugu Tani, karena patung ini me]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Patriotisme KH Zainul Arifin patut Diteladani]]></title>
<link>http://aespee.wordpress.com/2009/11/30/patriotisme-kh-zainul-arifin-patut-diteladani/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 05:01:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>aespee</dc:creator>
<guid>http://aespee.wordpress.com/2009/11/30/patriotisme-kh-zainul-arifin-patut-diteladani/</guid>
<description><![CDATA[KH. Zainul Arifin bertukar pikiran bersama Bung Karno. &nbsp; Patriotisme perjuangan dari Panglima H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[KH. Zainul Arifin bertukar pikiran bersama Bung Karno. &nbsp; Patriotisme perjuangan dari Panglima H]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mahfud MD Pahlawan Kita]]></title>
<link>http://koestoer.wordpress.com/2009/11/28/mahfud-md-pahlawan-kita/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 13:50:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>koestoer</dc:creator>
<guid>http://koestoer.wordpress.com/2009/11/28/mahfud-md-pahlawan-kita/</guid>
<description><![CDATA[Susah untuk di critain secara singkat, namun semua menyaksikan di TV bagaiman pertarungan antara cic]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Susah untuk di critain secara singkat, namun semua menyaksikan di TV bagaiman pertarungan antara cic]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hari Guru 25 Nopember 2009]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2009/11/27/hari-guru-25-nopember-2009/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 12:35:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2009/11/27/hari-guru-25-nopember-2009/</guid>
<description><![CDATA[Anakku hari ini libur sekolah, katanya Hari Guru. Pada Hari Kartini, kartini-kartini tidak libur; Ha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Anakku hari ini libur sekolah, katanya Hari Guru.</p>
<p>Pada Hari Kartini, kartini-kartini tidak libur; Hari Pahlawan, kepahlawanan tidak libur; Hari Kereta Api, sepur-sepur tidak libur; Hari Buruh, buruh-buruh malah minta libur; Hari Idul Qurban saja kambing-kambing tidak libur. Bukankah lebih baik kalau pada Hari Guru diadakan kegiatan lebih meriah tapi khusyuk dalam rangka memberi penghormatan atas jasa pak/bu guru yang sungguh luar biasa? –</p>
<p>&#8220;Terima kasihku padamu, guruku&#8230;&#8221;.</p>
<p>Yogyakarta, 25 Nopember 2009<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PAHLAWAN NERAKA]]></title>
<link>http://capitalitas.wordpress.com/2009/11/26/pahlawan-neraka/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 03:27:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>capitalitas</dc:creator>
<guid>http://capitalitas.wordpress.com/2009/11/26/pahlawan-neraka/</guid>
<description><![CDATA[Suatu hari satu pertempuran telah berlaku di antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua-dua bela]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Suatu hari satu pertempuran telah berlaku di antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua-dua belah pihak berjuang dengan hebat untuk mengalahkan antara satu sama lain. Tiba saat pertempuran itu diberhentikan seketika dan kedua-dua pihak pulang ke markas masing-masing.<br />
Di sana Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah berlaku itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di ruang mata. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka iaitu, Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar membaham mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah mulut ketika itu.</p>
<p>&#8220;Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman,&#8221; kata salah seorang sahabat.<br />
Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, &#8220;Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka.&#8221;<br />
Para sahabat menjadi hairan mendengar jawapan Rasulullah itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam boleh masuk dalam neraka. Para sahabat berpandangan antara satu sama lain apabila mendengar jawapan Rasulullah itu.<br />
Rasulullah sedar para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda berkata, &#8220;Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, manakala mata pedang itu pula dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia melakukan perbuatan itu adalah kerana dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan kerana berlawan dengan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihatkan keadaannya yang parah, ramai orang menyangka yang dia akan masuk syurga. Tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka.&#8221;<br />
Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman ada mengatakan, katanya, &#8220;Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak kerana itu, aku tidak akan berperang.&#8221;</p>
<p>Riwayat ini telah dirawikan oleh Luqman Hakim.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pahlawan dalam Hidupku]]></title>
<link>http://alhayaat.wordpress.com/2009/11/25/pahlawan-dalam-hidupku/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 02:53:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pembela Kebenaran</dc:creator>
<guid>http://alhayaat.wordpress.com/2009/11/25/pahlawan-dalam-hidupku/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Vilandri Astarini (mikrobiologi 2007) Mungkin sebagian besar orang berpendapat bahwa pahlawan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh : Vilandri Astarini (mikrobiologi 2007) Mungkin sebagian besar orang berpendapat bahwa pahlawan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Guru; Pahlawan Tanpa Tanda Jasa]]></title>
<link>http://zipoer7.wordpress.com/2009/11/24/guru-pahlawan-tanpa-tanda-jasa/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 15:55:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>zipoer7</dc:creator>
<guid>http://zipoer7.wordpress.com/2009/11/24/guru-pahlawan-tanpa-tanda-jasa/</guid>
<description><![CDATA[Selasa, 24 Nopember 2009 Salam Takzim Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi Postingan budaya In]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Selasa, 24 Nopember 2009</span></h2>
<h2><span style="color:#993300;"> </span></h2>
<h3><span style="color:#993300;">Salam Takzim</span></h3>
<h3><span style="color:#993300;">Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi</span></h3>
<h3><span style="color:#993300;"> </span></h3>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> <a rel="attachment wp-att-704" href="http://zipoer7.wordpress.com/2009/11/24/guru-pahlawan-tanpa-tanda-jasa/guru-mengajar/"><img class="alignleft size-medium wp-image-704" title="GURU MENGAJAR" src="http://zipoer7.wordpress.com/files/2009/11/guru-mengajar.jpg?w=300" alt="" width="210" height="140" /></a>Postingan budaya Indonesia kembali harus disusun dibelakang karena ada suatu berita yang hampir jarang dipublish oleh narablog ya ya ya mumpung masih ingat di coba ah untuk memberikan kebahagiaan kepada semua para guru yang ada di negara Indonesia.<!--more--><br />
Awal mulanya penulis juga tidak ingat kalau hari Rabu ini ada hari bersejarah, ya ya ya maklum bukan guru, tidak seperti <a href="http://wandisukoharjo.com/alexarank-blogku-pada-23-11-09.html">pak Wandi Thok guru yang senang ngeblog</a>. Malam ini si bungsu sibuk minta dicariin rok putihnya serta perlengkapan upacara, waktu ditanya ada acara apa besok neng, si bungsu bilang kan besok seluruh siswa disuruh mengikuti upacara memperingati hari Guru (PGRI). Tersentak batavusqu mendengar ungkapan si bungsu bahwa besok adalah hari guru, ya hari guru hari yang pasti berarti bagi para guru di tanah air khususnya <a href="http://melianaaryuni.wordpress.com/2009/11/23/bergeraklah-karena-ciri-hidup-itu-bergerak/">ibu guru Meliana Aryuni</a>.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Perjalanan hari  guru dari tahun ke tahun tidak pernah semeriah dengan hari Bayamgkara atau hari TNI, padahal profesi guru adalah profesi yang paling mulia. Sikap tulusnya tak pernah pupus walau terkadang cacian murid bagi tingkat SD dan TK kepadanya selalu digelutinya. Sikap sabarnya juga terpatri matang bagi siswa di kelompok SMP dan SMU/SMK, ya sabar dalam menghadapi usia sulit dan usia pembentukan diri bagi siswa untuk masa dewasanya.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Sedikit penulis menguak perjalanan organisasi guru yang cukup ternama di Republik ini yaitu PGRI. Rasanya penulis harus membaca sejarah untuk apa PGRI didirikan dan mengapa guru perlu mempunyai oganisasi profesi seperti PGRI. Namun sayangnya, tidak banyak guru yang terlibat dalam organisasi ini. Organisasi ini lebih banyak didominasi oleh para dosen perguruan tinggi, Bukankah sudah jelas guru dan dosen itu berbeda? Bukankah seharusnya organisasi ini bernama Persatuan Guru dan Dosen Republik Indonesia (PGDSI)? Kenapa para dosen di perguruan tinggi tak membuat sendiri organisasi Persatuan Dosen Republik Indonesia? Bukankah sudah jelas dikatakan dalam UU guru dan dosen tahun 2003, bahwa guru adalah orang yang mengajar di sekolah sedangkan dosen adalah orang yang mengajarkan di perguruan tinggi.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Terkadang pemikiran  memang sering latah, Persatuan Orang Tua Murid dan Guru diberi nama POMG. Padahal panggilan murid berlaku untuk sekolah TK dan SD, sedangkan panggilan siswa ditujukan bagi mereka yang telah mengikuti pendidikan d bangku SMP dan SMA. Seharusnya nama organisasinya itu adalah Persatuan Orang tua Siswa dan Guru.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Kembali kepada organisasi guru. Dulu, PGRI menjadi corong kekuasaan karena sebagian pengurusnya adalah orang yang aktif di parpol, khususnya partai golkar. Itulah yang menyebabkan para guru menjadi trauma, kalau-kalau organisasi guru seperti PGRI Cuma dijadikan alat sesaat dalam membangun citra politik partai tertentu. Semestinya PGRI semakin membumi dan keberadaannya diperhatikan benar oleh para guru. Tetapi mengapa para guru terasa enggan bergabung dalam organisasi PGRI? Bahkan ada yang mendirikan sendiri organisasi guru dengan nama Persatuan Guru Independen Indonesia (PGII). Bahkan ada juga yang sudah membentuk organisasi guru yang diberi nama Persatuan Guru Sejahtera Indonesia (PGSI). Juga ada lagi organisasi yang benama Klub guru Indonesia (KGI).</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Banyaknya organisasi profesi guru yang muncul dan terbentuk, membuat guru terasa seperti terkotak-kotak. Seharusnya, para guru bergabung saja dalam satu organisasi yang bernama PGRI. Kita besarkan PGRI, dan tidak ada dikotakkan lagi antara guru sekolah swasta dengan guru sekolah negeri. Semua guru harus bergabung dalam wadah yang bernama PGRI.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Sejarah PGRI</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Dalam teks resmi yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar <a title="pgri" href="http://tunas63.wordpress.com/2008/11/28/sejarah-singkat-lahir-pgri-persatuan-guru-republik-indonesia/" target="_blank">PGRI,</a> dan untuk dibaca pada upacara memperingati HUT PGRI dan Hari Guru Nasional, 25 November tahun 2008, dijelaskan bahwa PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI adalah diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia. Organisasi perjuangan huru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang di dasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah – guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan  Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 – seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan. Dengan semangat pekik “merdeka” yang bertalu-talu, di tangan bau mesiu pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan :</span></h4>
<ol style="text-align:justify;">
<li>
<h4><span style="color:#993300;">Memepertahankan dan      menyempurnakan Republik Indonesia;</span></h4>
</li>
<li>
<h4><span style="color:#993300;">Mempertinggi      tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan;</span></h4>
</li>
<li>
<h4><span style="color:#993300;">Membela hak dan nasib buruh umumnya, dan guru pada khususnya.</span></h4>
</li>
</ol>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah  Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Jiwa pengabdian, tekad perjuangan dan semangat persatuan dan kesatuan</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> PGRI yang dimiliki secara historis terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia. Dalam rona dan dinamika politik yang sangat dinamis, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan, yang bersifat unitaristik, independen, dan tidak berpolitik praktis.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Untuk itulah, sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Kiprah PGRI Saat ini.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Saat ini ada pengharapan agar kiprah PGRI di masa-masa yang akan datang kauh lebih baik lagi. Semoga, PGRI dibawah kepemimpinan Prof. Dr. Sulistyo mampu meningkat mutu guru. Menjadi guru lebih bermartabat, dan memperbanyak guru yang profesional di bidangnya. Untuk bisa merealisasikan itu, tentu PGRI didukung oleh kepengurusan yang solid dan kredibel di mata para guru, sehingga program kerjanya terasakan untuk semua guru.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">PGRI harus lebih berkiprah, khususnya membantu guru melakukan penelitian ilmiah sehingga mereka tidak mentok di golongan IVA. PGRI juga diharapkan mampu menjembatani keinginan para guru dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah agar mampu menterjemahkan hak-hak guru yang harus dibayarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"> Akhirnya, PGRI harus menjadi corong para guru dalam menyampaikan suaranya kepada pemerintah dan memberikan masukan positif kepada pemerintah tentang langkah-langkah efektif yang sebaiknya dilakukan. Jangan biarkan PGRI menjadi seperti pepatah, hidup segan mati tak mau.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Sajian tulisan ini secara khusus penulis ingin sampaikan kepada para guru untuk dikoreksi maklum disadur dari sembarang media terutama media Kompas dan Media Indonesia, serta majalah edukasi dari litbang UI</span></h4>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Teladan &amp; Nama Besar: Antara Penobatan &amp; Pengakuan]]></title>
<link>http://lifeschool.wordpress.com/2009/11/24/nama-besar-teladan-antara-penobatan-pengakuan/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 07:01:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>bhayu</dc:creator>
<guid>http://lifeschool.wordpress.com/2009/11/24/nama-besar-teladan-antara-penobatan-pengakuan/</guid>
<description><![CDATA[Di masa modern ini, dimana tampaknya idolatry dalam pengertian penyembahan kepada sesuatu yang dikag]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Di masa modern ini, dimana tampaknya idolatry dalam pengertian penyembahan kepada sesuatu yang dikagumi selain tuhan sudah melunak. Akan tetapi sekaligus juga meluas. Kita lihat saja fenomena saat Michael Jackson meninggal beberapa waktu lalu. Berapa banyak penggemarnya yang histeris sampai seolah-olah mengenal secara pribadi terhadap M.J. Padahal, hampir tidak ada penggemarnya yang mengenal M.J. langsung secara pribadi, sampai tahu nomor H.P.nya atau tiap hari Minggu diajak makan siang bareng misalnya. Itulah contoh idolatry zaman modern.</p>
<p>Umumnya idolatry muncul situasi kekaguman berlebihan kepada sesuatu. Apabila kini maskot-maskot tim olahraga, lambang-lambang kesatuan militer, atau logo-logo organisasi diperlakukan tak lebih dari sebuah penanda tanpa kekuatan yang sifatnya rohani, berbeda dengan manusia yang dijadikan idol. M.J. misalnya, dianggap memberikan inspirasi bagi banyak orang. Demikian pula begitu banyak nama besar di berbagai bidang yang dijadikan teladan.</p>
<p>Ada perbedaan terhadap manusia yang memiliki nama besar dan kemudian dijadikan teladan. Tokoh-tokoh sejarah memiliki karya besar yang diakui kehebatannya. Pahlawan perang seperti Napoleon atau Hannibal memimpin pasukan menaklukkan negeri demi negeri. Pelukis seperti Leonardo Da Vinci menghasilkan Monalisa dan sederet karya lain, termasuk aneka penemuan. Para pendiri negeri seperti George Washington dan Soekarno mewariskan negeri untuk anak-cucu bangsa mereka. Pendeknya, mereka mendapatkan penobatan atau pentahbisan oleh sejarah untuk memiliki nama besar. Dan, terlepas dari kelemahan mereka, tiap mereka pantas dijadikan teladan karena memiliki kualifikasi atau kompetensi yang luar biasa di bidang masing-masing.</p>
<p>Akan tetapi di zaman ini, kita menyaksikan ada sekelompok orang yang memaksakan pengakuan terhadap kompetensi atau kualifikasi mereka. Bahkan, ada yang memaksakan klaim pengakuan itu. Kita bisa lihat terutama dari para tokoh yang kerap berbicara di hadapan publik. Sebutan seperti &#8230;.. nomor satu, &#8230;&#8230;.. terhebat, dan lain sebagainya kerap kita dengar bak iklan kecap.</p>
<p>Saya mempelajari, dari orang-orang itu, ada yang kemudian klaimnya dibiarkan saja oleh publik sehingga terkesan ada pengakuan, tapi ada juga yang tidak. Tapi sebenarnya, tidak pernah ada penobatan atau klaim pengakuan tersebut. Berbeda dengan nama-nama besar dalam sejarah, orang-orang ini belum mendapatkan pengakuannya. Sebagian mungkin karena mereka masih hidup. Ini jelas berbeda dengan nama-nama besar yang karyanya diakui dunia, mereka sudah mendapatkan pengakuan walau masih hidup. Sebutlah misalnya para pemenang hadiah Nobel.</p>
<p>Saya juga melihat, bahwa sebenarnya nama-nama besar itu menjalani hidupnya secara alami saja. Hanya, mereka melihat ‘panggilan’ di luar tugas utamanya, sehingga menjalankannya melebihi kewajiban dasarnya. Karena itulah kemudian nama mereka menjadi besar.</p>
<p>Dan setelah namanya menjadi besar, orang rela mengeluarkan uang dan upaya-upaya lain untuk mendapatkan ‘sentuhan’ sang idola. Misalnya saja membeli tiket seminar hingga merchandise untuk ditandatangani sang idola, atau menginap di hotel yang sama dengan sang idola. Untuk bakat-bakat besar seperti artis atau atlet, saya masih maklum karena memang Tuhan memberi mereka kelebihan fisik. Namun untuk orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai kecap nomor satu tadi, saya kok agak mengernyitkan dahi ya.</p>
<p>Karena sebenarnya apa yang mereka lakukan dan katakan juga banyak dilakukan dan dikatakan orang lain. Apalagi kalau isi seminarnya “narsis mode on” alias cuma menceritakan riwayat hidupnya saja, rasanya tidak banyak berarti bagi orang lain. Toh, ada saja orang yang rela merogoh kocek untuk sekedar mendengarkan riwayat hidup mereka. Coba, kalau yang menceritakan hal semacam itu Cak Durasim juragan sate atau Mang Darma kampiun empal gentong, akankah orang rela merogoh kocek? Paling banter beli majalah yang cuma puluhan ribu saja yang di dalamnya ada profil mereka. Tapi kalau diseminarkan? Saya kok tidak yakin.</p>
<p>Maka, dalam mengambil teladan sebaiknya kita berprinsip: dengarkan apa yang dikatakan, bukan lihat siapa yang mengatakan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tan Malaka | Pahlawan yang Terlupa]]></title>
<link>http://ordinaryhomebase.wordpress.com/2009/11/20/tan-malaka-pahlawan-yang-terlupa/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 12:18:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid>http://ordinaryhomebase.wordpress.com/2009/11/20/tan-malaka-pahlawan-yang-terlupa/</guid>
<description><![CDATA[Tan Malaka Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandan Gadang, Suli]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tan Malaka  Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 19 Februari 1896 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 16 April 1949 pada umur 53 tahun[1]) adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="size-full wp-image-409 aligncenter" style="border:0 none;margin-top:5px;margin-bottom:5px;" title="tan malaka" src="http://ordinaryhomebase.wordpress.com/files/2009/11/tan-malaka.jpg" alt="tan malaka" width="367" height="570" /><!--more--></p>
<p>Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan komunis, ia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).</p>
<p>Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai &#8220;Pahlawan revolusi nasional&#8221; melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.</p>
<p>Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.</p>
<p>Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh &#8220;sekelompok orang tak dikenal&#8221; di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.</p>
<p>Riwayat</p>
<ul>
<li>Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda.</li>
<li>Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.</li>
<li>Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik</li>
<li>Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai.</li>
<li>Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang. * Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.</li>
</ul>
<h4>Perjuangan</h4>
<p>Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.</p>
<p>Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.</p>
<p>Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.  Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.</p>
<p>Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.  Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.  Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.  Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis &#8220;Menuju Republik Indonesia&#8221;. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.  Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya &#8220;Tan Malaka Bapak Republik Indonesia&#8221; memberi komentar: &#8220;Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….&#8221;</p>
<h4>Madilog</h4>
<p>Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.  Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.</p>
<h4>Pahlawan</h4>
<p>Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.  Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.  Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya[1].  Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.  Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adipati Karna]]></title>
<link>http://sedjatee.wordpress.com/2009/11/20/adipati-karna/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 08:42:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>sedjatee</dc:creator>
<guid>http://sedjatee.wordpress.com/2009/11/20/adipati-karna/</guid>
<description><![CDATA[﻿﻿“Wahai Anak Kusir Kereta, menyingkirlah dari perlombaan ini” Pemuda itu menepi, membawa busur pana]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://sedjatee.wordpress.com/files/2009/11/karna-copy.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-594" title="karna copy" src="http://sedjatee.wordpress.com/files/2009/11/karna-copy.jpg?w=300" alt="" width="300" height="236" /></a></p>
<p>﻿﻿“Wahai Anak Kusir Kereta, menyingkirlah dari perlombaan ini”<br />
Pemuda itu menepi, membawa busur panahnya<br />
Wajah kesalnya menyiratkan dendam<br />
Pada seorang yang berwajah mirip dengan dirinya</p>
<p>“Wahai Pemanah Muda, bergabunglah dalam persaudaraan kami”<br />
Angin sejuk mengobati hatinya yang teriris<br />
Tawaran yang menumbuhkan satu loyalitas<br />
Pada suatu persahabatan yang diulurkan padanya</p>
<p>“Wahai Anakku, akulah ibumu, betapa aku sangat mencintaimu”<br />
Ia balik bertanya, kemanakah cinta ibu saat Pandawa menghinaku<br />
Jawaban itu meluruhkan hujan air mata<br />
Pada wajah wanita yang menghanyutkannya di masa bayi</p>
<p>”Wahai Anakku, bergabunglah dengan para saudaramu”<br />
Tetapi ia lebih teguh pada sumpah persahabatannya<br />
Sikap yang menghadirkan nestapa di hati Kunti<br />
Pada kemuraman senja di pinggiran Kurusetra</p>
<p>”Wahai Ksatria, seseorang kini akan datang melemahkanmu”<br />
Mentari seakan membisikkan pesan cinta<br />
Pada ksatria yang tengah khusyuk bersemadi<br />
Putera Sang Matahari yang menjadi Raja Awangga</p>
<p>”Wahai Raja, berilah aku pakaian terbaikmu”<br />
Pinta seorang dewa yang menjelma sebagai brahmana<br />
Ia meminta baju zirah dan sepasang anting dewata<br />
Pada Raja Awangga yang dermawan dan berbudi</p>
<p>”Wahai peminta-minta, ambillah keinginanmu dariku”<br />
Ia bersumpah, tak seorangpun pulang darinya dengan tangan hampa<br />
Kini ia tak lagi dengan baju zirah yang menjadi separuh kekuatannya<br />
Pada hari yang sangat dekat dengan Baratayudha</p>
<p>”Wahai Adinda, mengapa engkau ingin perang besar ini segera terjadi”<br />
Lalu ia menjawab tanya Sang Kresna tentang jalan menghapus angkara murka<br />
Itulah komitmen yang erat digenggamnya<br />
Pada jalan ksatria, jalan yang dipilihnya</p>
<p>”Wahai Pregiwa, Konta Wijayadanu adalah takdir suamimu”<br />
Ia menghibur dan meminta maaf atas kematian Gatotkaca ditangannya<br />
Ia membesarkan hati Arimbi yang kehilangan putra terbaiknya<br />
Pada hari kelimabelas peperangan trah Barata</p>
<p>”Wahai Bapa Salya, duduklah di kursi keretaku”<br />
Ia meminta mertuanya untuk bertindak bagai Kresna di kereta Arjuna<br />
Namun Salya menjalankannya setengah hati<br />
Pada episode Karna Tanding yang masyhur di Kurusetra</p>
<p>”Wahai kakanda, aku menunggu ruhmu di langit dewata”<br />
Ia menjawab lambaian ruh Surtikanti yang dicintainya<br />
Tatkala Pasopati Arjuna menghujam ke lehernya<br />
Pada suatu siang yang matahari menutup diri dengan awan</p>
<p>”Wahai prajurit, teladanilah Adipati Karna, pahlawan yang teguh janji”<br />
Demikian Tripama menuturkan ajaran sikap kenegaraan<br />
Dari diri seorang pahlawan yang teguh menggenggam sumpah<br />
Di adalah putera Sang Surya, Adipati Karna</p>
<p>Sedjatee – medio november 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Learning from the others]]></title>
<link>http://dermawanwibisono.wordpress.com/2009/11/19/learning-from-the-others/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:50:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>dermawanwibisono</dc:creator>
<guid>http://dermawanwibisono.wordpress.com/2009/11/19/learning-from-the-others/</guid>
<description><![CDATA[Ada dua tulisan menarik dari someone else yang saya sharing di sini untuk diambil hikmahnya &#8212;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ada dua tulisan menarik dari someone else yang saya sharing di sini untuk diambil hikmahnya &#8212;]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Budi Soehardi, "The CNN Real Heroes" dari Indonesia ]]></title>
<link>http://kenmoksha.wordpress.com/2009/11/18/budi-soehardi-the-cnn-real-heroes-dari-indonesia/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 21:00:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>kenmoksha</dc:creator>
<guid>http://kenmoksha.wordpress.com/2009/11/18/budi-soehardi-the-cnn-real-heroes-dari-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Suatu hari di tahun 1999, Budi Soehardi sedang makan malam bersama keluarga di rumahnya di Singapura]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><a href="http://kenmoksha.wordpress.com/files/2009/11/images1.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-1097" title="images" src="http://kenmoksha.wordpress.com/files/2009/11/images1.jpeg" alt="" width="246" height="204" /></a>Suatu hari di tahun 1999, Budi Soehardi sedang makan malam bersama keluarga di rumahnya di Singapura. Budi menyaksikan acara televisi tentang situasi Timor-Timur pasca tahun 1999,  ketika itu dia dan keluarga melihat para keluarga pengungsi tinggal di kardus-kardus dan makan seadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Budi tercenung lalu menatap istrinya dalam-dalam. Tanpa kata, di dalam hati mereka seolah sepakat bahwa mereka harus berbuat sesuatu untuk para pengungsi Timor-Timur.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sebetulnya  kami sekeluarga sudah ada rencana untuk berlibur. Tapi malam itu juga kami sepakat, untuk mengalihkan tempat liburan kami jadi ke Kupang. Kami ingin mencoba liburan dengan suasana yang baru  sekaligus melakukan aksi sosial,” ujar Budi ketika berbincang dengan Kabari  di Los Angeles awal November lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kabari memang dapat kesempatan langka bertemu dan mewawancarai langsung Budi Soehardi ditengah kesibukanya yang padat sebagai pilot Singapore Airlines.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Roslin Orphanage</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 2000 setelah mendapat jatah cuti tahunan 40 hari penuh, Budi benar-benar melaksanakan niatnya. Bersama keluarga tercinta mereka berangkat ke Kupang. Dari sanalah baru dia melihat secara langsung, betapa menyedihkan tinggal di pengungsian. “Saya benar-benar terenyuh. Bayangkan, dalam kondisi normal saja air memang susah di dapat, apalagi dalam kamp pengungsian?” ujar Budi lirih.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tahun itu pula akhirnya Budi dan istrinya Peggy Lakusa, memutuskan mendirikan Panti Asuhan Roslin di Kupang.  Panti Asuhan dibangun dan dibiayai sendiri oleh Budi. “Roslin kami jalankan dari gaji bulanan saya dan kadang ada juga dari teman-teman  yang memberi . Tidak pasti ada, tapi Puji Tuhan kami selalu dicukupkan,” kata Budi.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini Panti Asuhan Roslin memiliki ratusan anak asuh dari mulai bayi hingga remaja. Selain mendirikan panti asuhan, Budi dan istrinya juga masih melakukan berbagai kegiatan sosial lain, seperti   keliling kampung membagikan pakaian dan makanan. “Kami juga kami juga membawa buku ke desa-desa dengan 2 mobil perpustakan kami, ini kami lakukan supaya anak-anak di desa itu tetap bisa mendapatkan pengetahuan,” ujar Budi. Saat ini anak asuh lansung di bawah Panti Asuhan Roslin ada sekitar 400 anak dari total 1.300 anak di berbagai desa di Nusa Tenggara Timur.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mencukupi kebutuhan panti, Budi benar-benar tak mau mengandalkan orang lain. Sepanjang dirinya masih mampu, semuanya dia usahakan dari kocek pribadinya. “Tapi kalau ada yang mau membantu, kami persilahkan,” kata Bapak yang telah dikarunia tiga orang anak ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Panti asuhan Roslin bukan cuma sebagai tempat penampungan orang tak mampu semata, tapi juga tempat pembekalan para penghuni panti untuk bisa hidup di masyarakat kelak. Maka tak heran selain kegiatan belajar, anak-anak panti juga diajarkan berbagai cara untuk mencukupi kebutuhan hidup, misalnya dengan bercocok tanam atau memelihara hewan ternak.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Indahnya Masa Kecil </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang didapat dan bisa dilakukan Budi saat ini, sedikit banyak diakui Budi karena pengalamannya semasa kecil. Budi mensyukuri punya masa kecil yang indah. “Meski keluarga kami bukan keluarga berkecukupan, masa kecil saya cukup indah, “ tutur Budi.</p>
<p style="text-align:justify;">Budi adalah anak  bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya dosen IKIP Yogyakarta dan  ibunya seorang guru. Rumahnya di Klitren, Yogyakarta,  dekat sekali dengan Gereja, sehingga dia merasa amat senang. “Saya senang tanaman dan olah raga, Saya tidak merokok dan minum kopi sampai sekarang. Kami sekeluarga memang senang bercocok tanam, sehingga kami tidak kekurangan jika tidak ada beras, karena kami punya pisang, sawo dan papaya selalu ada sepanjang tahun, singkong ( cassava), talas, nangka, melinjo dan kelapa ada semua dihalaman kami walaupun kami tinggal ditengah kota,” urai Budi.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena punya masa lalu yang cukup indah di kota yang juga terkenal indah, Budi merasa sedih begitu melihat anak-anak pengungsi harus menerima beban sebegitu berat di usia yang masih sangat belia. “Saya haru sekali, masih kecil mereka sudah kehilangan orangtua, kehilangan kasih sayang. “ kata Budi.</p>
<p style="text-align:justify;">Budi juga ingat, dia kebagian tugas  menyapu halaman  rumah setiap pagi sebelum sekolah. “Setelah selesai menyapu saya lari dari rumah sampai ke monumen Tugu. Setiap pagi saya catat waktu berlari saya semakin baik dan ini terbukti olahraga itu banyak berguna buat kesehatan,”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mendapat Perhatian CNN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kiprah Budi besama istrinya, Peggy Lakusa,  dalam membangun panti asuhan Roslin, sungguh merupakan penebar harap bagi anak-anak pengungsi.  Mereka bukan saja menjadi teladan bagi anak-anak asuhnya, tapi seolah sudah menjadi orangtua mereka sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dilakukan Budi yang kadang terlihat sepele oleh orang lain, nyata-nyata telah membantu ratusan anak-anak pengungsi mendapatkan kembali hak mereka yang tercerabut karena perang. Yakni belajar, bermain, dan merajut masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal inilah yang kemudian mendorong stasiun televisi terkemuka CNN memasukan sosok Budi Soehardi sebagai satu dari 10  finalis “CNN The Real Heroes,”  sebuah acara bergengsi tahunan dari CNN.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai saat ini Budi yang masih bekerja sebagai pilot Singapore Arlines ini,  kerap bolak-balik Indonesia-Amerika untuk berbagai keperluan acara tersebut. Namanya pun sontak dikenal luas di seluruh dunia. Apalagi Budi merupakan satu-satunya wakil dari Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun Dia mengatakan, apa yang dilakukan saat ini semata-mata sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai manusia yang melayani Tuhan. “Tuhanlah yang membuat saya  sampai sejauh ini, semuanya karena karunia Tuhan, “ kata Budi pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">Acara  pemilihan “CNN The Real Heroes” sendiri akan dilakukan sampai 26 November dengan cara <em>voting</em> terbanyak.<br />
Ayo vote Budi Soehardi menjadi <em>“CNN The Real Heroes” </em>di<a href="http://edition.cnn.com/SPECIALS/cnn.heroes/vote/%20%20%20"> </a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://edition.cnn.com/SPECIALS/cnn.heroes/index.html" target="_blank">http://www.cnn.com/SPECIALS/cnn.heroes/</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PAHLAWAN; Alasan Untuk Teladan, Impian, dan Harapan Mereka Untuk Bangsa]]></title>
<link>http://v3bernardia.wordpress.com/2009/11/18/pahlawan-alasan-untuk-teladan-impian-dan-harapan-mereka-untuk-bangsa/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 13:19:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bernardia Vitri</dc:creator>
<guid>http://v3bernardia.wordpress.com/2009/11/18/pahlawan-alasan-untuk-teladan-impian-dan-harapan-mereka-untuk-bangsa/</guid>
<description><![CDATA[P.A.H.L.A.W.A.N Berkat mereka, kita bisa menikmati kekinian, maka dari itu, kita harus bisa menuju m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[P.A.H.L.A.W.A.N Berkat mereka, kita bisa menikmati kekinian, maka dari itu, kita harus bisa menuju m]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jejak Sang Pahlawan]]></title>
<link>http://catatanmia.wordpress.com/2009/11/18/jejak-sang-pahlawan/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 08:21:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>catatanmia</dc:creator>
<guid>http://catatanmia.wordpress.com/2009/11/18/jejak-sang-pahlawan/</guid>
<description><![CDATA[Persada lembab, titik-titik air membasahi pusara istimewa Taburan kembang menebarkan aroma kepergian]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Persada lembab, titik-titik air membasahi pusara istimewa<br />
Taburan kembang menebarkan aroma kepergian<br />
Menyisakan kenangan jasa, tersemat dalam relung jiwa<br />
Sesekali  di moment istimewa<br />
Bergetar amplitudo kidung patriotisme<br />
Mengiringi ritualitas penghayatan bagi yang menghayati<br />
Menyampaikan pesan khusus dalam lirik khusuk dan hikmat<br />
Bagimu pahlawan bersama keabadian dan damai disisi SANG PENCIPTA</p>
<p>Hidup di era pembangunan setelah melewati masa pergolakan sebelum dan sesudah kemerdekaan tentu butuh warna dan kerja ekstra, refleksi kita kembali ke masa dimana para pahlawan tanpa gentar membela dan mempertahankan negara sampai titik darah penghabisan.<br />
Dedikasi putra-putri terbaik bangsa telah menjadi benteng kokoh untuk menghadang rongrongan penjajah begitu mengakar  dan terpatri dalam jiwa yang meresapi sebuah nilai pengorbanan. Lantas sudah optimal dan berakhirkah pengorbanan para pahlawan  itu saat ini?<!--more--></p>
<p>Hmmm&#8230;. kerja belum selesai kawan !<br />
Tugas kita melanjutkan lembaran-lembaran perjuangan dalam catatan sejarah itu , sejarah yang akan menggoreskan apa, siapa dan bagaimana kita dalam memerankan diri di pentas kesejarahan.</p>
<p>Peran-peran itu akan membuktikan kesungguhan dalam memaknai sebuah makna yang kelak disematkan oleh banyak orang terhadap peran itu sendiri apakah pantas menjadi seorang pahlawan atau tidak, semua akan kembali kepada pribadi masing-masing. Obyek yang patut dicermati bahwa di sisi-sisi tertentu banyak orang terjebak oleh  label-label kepahlawanan , seakan dibuat terkesima olehnya atau boleh jadi ada yang terkungkung pada batasan label tertentu seperti pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan devisa atau berbagai macam label diciptakan untuk mewakili setiap peran kesejarahan yang mereka torehkan, tapi kita lupa bahwa pahlawan tidak memiliki batasan, pahlawan tak bertepi.<br />
Siapapun bisa menjadi pahlawan ketika kita mampu menangkap makna dan mampu menciptakan momentumnya.Seorang pahlawan bukan hanya yang gugur di medan perang, bukan juga yang dimakamkan di taman makam pahlawan karena dedikasi mereka terhadap  bangsa dan negara, tapi pahlawan ada di setiap sisi dan warna kehidupan.</p>
<p>Seorang pahlawan adalah orang-orang yang berjuang keras menundukan ego diri, melatih dan memperbaiki diri untuk mengedepankan positif feeling, akhlaq dan kerja-kerja kebaiakn , mengoptimalkan segenap potensinya dan memberdayakan hal-hal yang mampu meningkatkan nilai-nilai kemanfaatan bagi diri  dan lingkungannya.<br />
Orientasi hidup pahlawan hanya dipenuhi napas-napas  perjuangan karena hidup sesungguhnya hanya menyiapkan dua pilihan yang sangat mendasar yaitu &#8220;bergerak&#8221; atau &#8220;mati&#8221;. &#8221; Bergerak &#8221; adalah ruh untuk menjadi  daya dorong  bagi denyut kesungguhan dalam menghasilkan kebaikan sedang &#8220;mati&#8221;  telah memunculkan stagnasi tak menghasilkan  apapun yang bermanfaat  justru akan terombang-ambing sejarah, terhempas dan tergilas oleh waktu.</p>
<p>Seorang pahlawan adalah seorang pejuang, mereka bagaikan air, yang selalu mencari celah kemungkinan untuk terus bergerak dan tak akan pernah lupa tujuan akhirnya adalah samudra. Saya jadi teringat kata-kata seorang filosof Cina &#8220;Memperhatikan segala sesuatu yang akan datang walaupun kecil atau remeh, termasuk dari cara hidup seorang pejuang. Ketika engkau berusaha mengambil langkah  yang tepat hendaklah engkau  berusaha mengambil kesempatan yang tepat pula &#8220;. Itulah makna kepahlawanan.</p>
<p>Wallahu&#8217;alam bishowab</p>
<p>Refleksi Mia dalam jejak-jejak mencari makna kepahlawanan</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menanti Pahlawan Kembali]]></title>
<link>http://insansains.wordpress.com/2009/11/17/menanti-pahlawan-kembali/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 13:30:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Insan</dc:creator>
<guid>http://insansains.wordpress.com/2009/11/17/menanti-pahlawan-kembali/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah, akhirnya kumpulan cerpen fiksi ilmiah-nya terbit juga. Dan cerpen berjudul “Menanti P]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="size-full wp-image-1293 aligncenter" title="Menanti Pahlawan Kembali" src="http://insansains.wordpress.com/files/2009/11/menanti-pahlawan-kembali.jpg" alt="Menanti Pahlawan Kembali" width="210" height="296" /></p>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah, akhirnya kumpulan cerpen fiksi ilmiah-nya terbit juga. Dan cerpen berjudul “Menanti Pahlawan Kembali” terpilih jadi judul bukunya. InsyaAllah sedang menggarap novelnya. Kalau biasanya saya meresensi buku penulis lain, kali ini nyoba ngasih over-view cerpen sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya trims buat anak-anak ForSa (<a href="http://forumsains.com">Forum Sains Indonesia</a>) yang udah sharing ide-ide segarnya lewat postingan-postingan ilmiahnya, especially mimin dan momodnya (Larry &#38; Ratna yang bentar lagi segera merit ^_^, Harry, Widy, Melnick, Ndar, etc). Lalu sahabat2 ex-pintunet yang gak bisa saya lupain sharing2-nya dan sudah ngajarin saya nulis (mba Apriel, mba Rina, mba Oline, mba Nisa, SUHU alias Alid, bang Jutawan, kang Darmawan, mas Eka, mas Ari, mas Chox, etc). Sahabat-sahabat blogger (<a href="http://harumhutan.wordpress.com">Wi3nd</a>, <a href="http://rinduku.wordpress.com">Rindu</a>, <a href="http://syelviapoe3.wordpress.com/">Putri</a>, <a href="http://ari-j-fans.blogspot.com/">Ari</a>, <a href="http://sweetstrawberry.wordpress.com/">Atik</a>, Bunga, <a href="http://alqifty.wordpress.com/">Al-Qifty</a>, <a href="http://nenyok.com">Nenyok</a>, <a href="http://haniifa.wordpress.com">mas Hanifa</a>, <a href="http://gbaiquni.wordpress.com/">mas Ganjar</a>, etc). Lalu sahabat2 di Daarut Tauhiid dan temen-temen kantor.</p>
<p style="text-align:justify;">Cerpen ini saya buat dalam rasa bangga menjadi bagian dari negeri ini. Bukan hanya soal sumber daya alam kita yang melimpah dan menjadi incaran, namun di sisi lain negeri ini memiliki manusia-manusia yang cerdas. Anehnya, dua kelebihan tersebut belum bertemu pada satu titik potong, dan menemukan momentum sejarahnya. Bukan satu dua, generasi kita mencatat rekor prestasi dalam pertandingan tingkat internasional. Tapi lagi-lagi prestasi itu dibenam masalah-masalah lain negeri ini sehingga membuat kita serba kehilangan.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>You&#8217;re a great women, honey</em>”, ucap Hans sambil mengusap keringat di kening istrinya. Menciumnya kemudian. Membelai rambut pirangnya serta. Nafas Lana masih tersenggal, namun ada sedikit lega merasuk, meski di ujung yang lain perih terasa. Setidaknya ia bahagia masih merasakan ciuman suami di keningnya. Ia selamat, dan mata birunya meng-isyaratkan syukur yang amat dalam. Pupilnya mengecil, menerawang syukur entah kemana. Yang jelas jatuh di wajah suaminya sambil menyungging senyum.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelegaan itu segera meredup. Bergulir menjadi ketegangan baru yang tak kalah hebat. Dulu, orang tua sangat bersyukur ketika melihat anaknya terlahir sempurna. Sepuluh jari tangan, sepuluh jari kaki, dua mata berbinar, dan segala pesona lahir yang nampak tak ada cacat. Namun tidak demikian di jaman ini, dimana segala kesempurnaan baru di-judge bila hasil analisa GAR menyatakan bahwa gen bayi yang terlahir benar-benar memiliki nilai “raport” sempurna.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Indonesia tak mungkin memberi kehidupan bagi kita</em>”,<br />
desak Hans ketika memaksa Purnama untuk mengubah keputusan.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Seratus tahun Indonesia masih ada, tapi kita telah menjadi bangkai yang dilupakan dan sama sekali tak ada karya yang patut dikenang dan dibanggakan. Kita tetap hidup miskin, meski otak dan tenaga kita peras untuk menghiasi Indonesia.</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Keduanya terdiam sejenak.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Indonesia terlalu kecil bagi otak secemerlang kau Pur. Di Swiss ini kau bisa menjadi dewa bagi para ilmuwan, tapi mengapa kau memilih menjadi budak di negeri yang tak bisa menjadi surga?</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Singkat jawab Purnama waktu itu, “<em>Karena aku lahir di Indonesia</em>”, sambil melangkah pergi meninggalkan Hans.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:justify;">Kita dilahirkan di Indonesia, mengapa keringat kita harus tertumpah di tanah yang lain? Jika pahlawan itu mampu memberikan raganya untuk mempertahankan negeri, maka kita bisa memberikan ilmu kita untuk membangun negeri.  “<em>Kamu dihidupi&#8230; Aku menghidupi</em>” Selamat membaca&#8230; ^_^ (<strong>Insan Sains</strong>)</p>
<p><em>Surabaya, 17 November 2009,  20:26</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Untuk Cucuku di Hari Pahlawan]]></title>
<link>http://renggowidyarto.wordpress.com/2009/11/15/surat-untuk-cucuku-di-hari-pahlawan/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 13:25:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>renggo putro</dc:creator>
<guid>http://renggowidyarto.wordpress.com/2009/11/15/surat-untuk-cucuku-di-hari-pahlawan/</guid>
<description><![CDATA[Dari kubur aku berseru, seruan lantang untuk kau terus berjuang tanpa pernah lelah meski situasi sud]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dari kubur aku berseru, seruan lantang untuk kau terus berjuang tanpa pernah lelah meski situasi sudah berubah banyak. Aku ingat betul, seusiamu aku telah memanggul senjata. Bergerilya menyusur jalan setapak, menyerang sambil bersembunyi serta meninggalkan bangku sekolah demi Negri. Semua demi cita-cita merdeka dari belenggu penjajahan bangsa asing. Demi kemerdekaan, aku, kawan-kawanku, bersama yang tua, laki laki-perempuan terus menerus bahu membahu walau tak tahu kapan para penjajah itu pergi dari bumi pertiwi. Aku terus saja bergerak cucuku…</p>
<p>Hingga kemerdekaan itu akhirnya mampu terwujud. Soekarno-Hatta yang kudorong untuk berani memproklamasikan diri pada 17 Agustus 1945, walau harus melalui insiden kecil penculikan untuk memaksa. Pekik merdeka akhirnya kencang terlontar dari setiap bibir rakyat Indonesia! satu kelegaan yang luar biasa dari kami para pemuda.</p>
<p>Kuakui bahwa kemerdekaan kita adalah juga lantaran momentum kekalahan Jepang, sehingga setelah Jepang menyerah pada sekutu Belanda masih tak rela bila negri yang subur, serupa ratna mutu manikam ini berdiri sebagai negara merdeka. Hingga kemudian datang NICA membonceng sekutu.</p>
<p> Aku, kawan-kawanku, kami semua tak rela.</p>
<p> Jutaan nyawa rakyat kami yang telah melayang mulai dari abad 19 sebagai tumbal kemerdekaan pun tak rela. Sampai meletuslah perlawanan kami yang gagah berani demi mempertahankan negri. Sepuluh November 1945 di Surabaya seluruh pemuda, terus melawan tanpa henti yang berhasil membunuh Jendral Mallaby. Ya, di Yamato bendera merah putih berhasil dikerek tegak menjulang menantang langit. Itu kejadian tepat enampuluh empat tahun yang lalu. Aku masih ingat benar…betapa kemerdekaan sulit didapat.</p>
<p>Hanya saja ada yang masih mengganjal cucuku…dari kubur aku masih menyaksikan bahwa kemerdekaan seutuhnya kita belum juga terwujud. Kemerdekaan atas tanah air dan udara kita yang kini rasa-rasanya malah jatuh di pelukan orang-orang asing. </p>
<p>Semua sibuk bertengkar, sementara para elitmu selalu menakar, berhitung berapa banyak alat tukar yang didapat atas lego air tanah dan udaramu yang subur kaya tambang, jernih dan melimpah ruah hasilnya, serta luasnya tak terkira membentang dari ujung Sabang sampai Merauke. Semua sibuk bertengkar sementara sebagian yang engkau percaya―melalui mekanisme resmi―sibuk menghitung untung. Semua sibuk pada urusan remeh temeh sementara sebagian komprador sedang kongkalikong negoisasi laba. Semua diatur rapi <em>Cu</em>, seolah ini alami tapi sesungguhnya sarat kepentingan penyandang dana. Maka diaturlah melalui Undang-Undang dan peraturan yang lain. Mulailah liberalisasi muncul. Bidang ekonomi, politik, serta bidang lain. Tak pelak, rakyatmu menjerit. Lapangan kerja sulit, pendidikan mahal, Petani-buruh-kaum miskin kota hanya menjadi bulan-bulanan penindasan. Tak bertanah, upah rendah, digusur paksa oleh pemerintah. Pun demikian mereka yang mengadu nasib di negri orang…bukti kegagalan pemerintahmu membangun lapangan pekerjaan dan perlindungan terhadap warganya.</p>
<p>Aku sedih <em>Cu</em>, sedih bila anak muda hanya terduduk diam menerima keadaan tanpa berbuat apa-apa. Batinku tambah teriris bila merasakan apa yang pernah kulakukan untuk negri tak dilanjutkan oleh generasi kini.</p>
<p>Turunlah ke rakyat <em>Cu</em>, berbaurlah dengan mereka, pahami apa yang mereka rasakan. Kaum kecil yang untuk menyicil hidup saja kadang terang kadang redup. Katakan pada orang-orang di atas sana;<em> “Jangan terus bodohi kami dengan retorika kosong! Dengan janji-janji palsu melompong”</em></p>
<p>Berilah tahu kawan-kawanmu yang sibuk dengan tugas kuliahnya yang ‘<em>katanya</em>’ benar-benar menyita seluruh waktunya, yang sibuk bersenang-senang masa muda dengan keringat orang tua, yang sibuk dengan rutinitas kosong tanpa mampu merubah Negrimu yang dibeli dengan tetesan peluh, airmata dan darah kakeknya, pendahulunya.</p>
<p>Ajaklah membangun organisasi untuk perjuangan rakyat. Untuk revolusi Indonesia <em>Cu</em>…untuk hari esok yang lebih baik. Jangan kau ajari mereka tentang hal yang pragmatis. Yang selalu membangun cita-cita untuk menjadi elit di sistem bobrok ini. Ajaklah turun dulu ke realita, <em>Cucuku</em>…agar mereka tahu beratnya bertahan hidup dikalangan bawah, mengerti dan memahami lalu bergerak membangun mimpi esok Indonesia sejahtera!</p>
<p>Aku tahu <em>Cu</em>, membangun harapan sulit. Aku tahu <em>Cu</em>, bahwa dari yang rusak kita harus membayangkan titik yang sempurna. Titik penegasan untuk membangun mimpi hingga kita mampu mewujudkannya….</p>
<p>Percayalah! Kalau kau yakin akan berhasil maka lakukan proses itu. Bertindaklah jangan hanya di pikirkan di angan. Di angan semua hanya terbenam kala kita tertidur pulas. Di angan hanya habis di perbincangan panjang orang-orang yang membunuh malam. Di angan hanya omong kosong tak berarti.</p>
<p>Jalanilah <em>Cu</em>…lakukan proses perlahan lahan…</p>
<p>Aku ingin berteriak <em>Cu</em>, seperti saat aku muda berteriak bahwa merdeka adalah mutlak untuk kita perjuangkan. Aku ingin berteriak! Walau yang kuteriakkan saat ini tentu jauh berbeda…</p>
<p>Aku menunggumu <em>cucuku</em>, untuk meneruskan apa yang pernah aku dan kawan-kawanku lakukan dahulu…mengenai kemerdekaan seratus persen…</p>
<p><strong>Jerit dari nisan tak bernama di pojok Kusumanegara</strong></p>
<p><strong>Jogja, 10 November 2009</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Pahlawan" Bagi Aji Kecil]]></title>
<link>http://rusmiyati.wordpress.com/2009/11/15/pahlawan-bagi-aji-kecil/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 00:32:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rusmiyati</dc:creator>
<guid>http://rusmiyati.wordpress.com/2009/11/15/pahlawan-bagi-aji-kecil/</guid>
<description><![CDATA[Merenungi hari pahlawan 10 November, saya meminta murid-murid saya kelas 3 sekolah dasar, untuk menu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Merenungi hari pahlawan 10 November, saya meminta murid-murid saya kelas 3 sekolah dasar, untuk menu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pahlawan]]></title>
<link>http://hakadosh.wordpress.com/2009/11/14/pahlawan/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 01:42:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>parhobass</dc:creator>
<guid>http://hakadosh.wordpress.com/2009/11/14/pahlawan/</guid>
<description><![CDATA[Di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) disebutkan pah·la·wan n orang yg menonjol karena kebera]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) disebutkan pah·la·wan n orang yg menonjol karena kebera]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Napak Tilas Jejak Pahlawan 21 November 2009]]></title>
<link>http://scbsradiolombok.wordpress.com/2009/11/14/napak-tilas-jejak-pahlawan-21-november-2009/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 01:05:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hana</dc:creator>
<guid>http://scbsradiolombok.wordpress.com/2009/11/14/napak-tilas-jejak-pahlawan-21-november-2009/</guid>
<description><![CDATA[Selong NTB &#8211; Dalam rangka mengilhami dan menghayati semangat juang para pahlawan di Kabupaten ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Selong NTB &#8211; Dalam rangka mengilhami dan menghayati semangat juang para pahlawan di Kabupaten ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Buku Tamu Musium Perjuangan]]></title>
<link>http://devry.wordpress.com/2009/11/12/buku-tamu-musium-perjuangan/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 10:47:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>devry</dc:creator>
<guid>http://devry.wordpress.com/2009/11/12/buku-tamu-musium-perjuangan/</guid>
<description><![CDATA[Pernahkah Anda mengunjungi musium perjuangan? Beberapa hari yang lalu pada tanggal 10 November 2009 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pernahkah Anda mengunjungi musium perjuangan? Beberapa hari yang lalu pada tanggal 10 November 2009 ]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
