<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>parasit &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/parasit/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "parasit"</description>
	<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 12:21:38 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Nervösität]]></title>
<link>http://jaberdeen.wordpress.com/2009/11/24/nervositat/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 19:19:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>Julian</dc:creator>
<guid>http://jaberdeen.wordpress.com/2009/11/24/nervositat/</guid>
<description><![CDATA[Jetzt ist es soweit&#8230;die In vitro Befruchung meiner Frösche ist endlich etabliert. Und heute wu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jetzt ist es soweit&#8230;die In vitro Befruchung meiner Frösche ist endlich etabliert. Und heute wurde mir der Erfolg selbst aus der Tierwelt bescheinigt.<br />
Nachdem die Herren der Frosch-Schöpfung gemerkt haben, dass einer nach dem anderen abgeknappst wird wenn sie nicht ihren Trieben nachgeben, hat ein mutiger Soldat die Initiative (und eines der wohl gutaussehenden Weibchen) ergriffen.<br />
In jedem Fall kamen wir heute morgen in den Frosch-Raum und haben einen Tank voller befruchteter Eier vorgefunden. Ganz wunderbarer Zufall, da ich noch ein paar Stadien extrahiere muss.<br />
Ein anderer glücklicher Zufall (mehr für die Männchen als für mich), war allerdings das ich beim genaueren Betrachten der Embryonen einen Parasiten gefunden habe der sich augenscheinlich bei unseren Fröschen eingenistet hat &#8211; also stehen die erstmal unter Quarantäne.</p>
<p>Für mich heist das erstmal keine Froschperimente mehr, für die Frösche heist das ein paar Wochen Ruhe (und ne Entwurmungskur) &#8211; noch mal Glück gehabt.</p>
<p>Wenigstens kann ich mich nun voll und ganz auf meine PCRs und das zusammenschreiben des Reports konzentrieren &#8211; langsam müssen ja mal die Ergebnisse her.</p>
<p>Man liest sich im Laufe der Woche</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hati-hati Filariasis]]></title>
<link>http://purwaisontheway.wordpress.com/2009/11/19/hati-hati-filariasis/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 23:54:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>purwaisontheway</dc:creator>
<guid>http://purwaisontheway.wordpress.com/2009/11/19/hati-hati-filariasis/</guid>
<description><![CDATA[Akhir-akhir memang sedang merebak pengobatan massal antifillariasis. Fillariasis adalah penyakit kak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Akhir-akhir memang sedang merebak pengobatan massal antifillariasis. Fillariasis adalah penyakit kaki gajah akibat cacing <em>Wucheria brancofti</em> yang dibawa oleh hospes perantara nyamuk. Saya belum mendapatkan referensi yang pasti kenapa pengobatan massal antifillariasis dilakukan pada saat ini, apakah karena cuaca atau faktor lain yang menyebabkan perlunya pemberian obat tersebut? Yang pasti memang penyakit ini termasuk penyakit yang cukup berbahaya karena menyebabkan kecacatan seumur hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebetulan **sebenarnya tidak ada yang kebetulan di dunia ini** semester ini saya mengambil mata kuliah Parasitologi dan Virologi, minggu lalu sebelum merebaknya kasus antifillariasis kami membahas cacing yang menyebabkan penyakit itu. Dan minggu ini Ibu dosen kami menjelaskan sedikit tentang obat antifillariasis, yaitu dietilkarbamasin.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya.. Ilmu yang kita cari sedapat mungkin kita aplikasikan kepada masyarakat. Apalagi kami yang notaben akan berhadapan dengan manusia dan jaminan terhadap kesehatannya sungguh sangat bertanggung jawab memberikan informasi yang tepat dan produk sediaan yang aman bagi mereka. Jadi ceritanya dosen kami menerima telepon dari salah seorang wartawan dan dimintai sedikit penjelasan mengenai obat antifillariasis yang &#8216;katanya&#8217; menyebabkan kematian di beberapa daerah Kab. Bandung. Karena dosen kami bergerak dalam bidang imunologi jadi beliau menganalisis fenomena ini dari segi sistem imun. Lalu beliau bercerita bahwa selama ini dietilkarbamasin memang obat untuk antifillariasis dan obat itu cukup ampuh mengobati penyakit tersebut. Kematian terjadi kemungkinan karena pengobatan dengan obat tersebut menyebabkan cacing mati di dalam tubuh dan bangkai cacing tersebut memicu reaksi alergi tipe I yaitu anafilaksis. Reaksi alergi tipe I sangat berbahaya karena dapat terjadi shock anafilaktif yaitu tekanan darah turun secara tiba-tiba yang menyebabkan kematian. Begitulah analisis beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan kenapa para pengkonsumsi obat massal tersebut bisa meninggal dan memang tidak semua pengguna yang berespon alergi seperti itu. Namun sebaiknya dalam pemberian obat, selain diberikan secara kuratif, diberikan juga secara preventif yaitu obat-obat pendukungnya. Misal pada kasus ini disertakan juga obat antihistamin (antialergi).</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak sembarang orang diberikan obat dalam dosis dan jumlah yang sama. Dosis obat ditentukan berdasarkan usia, bobot badan dan luas permukaan tubuh. Mungkin saja tipe-tipe fillariasis yang diderita juga berbeda dan tentu pengobatannya pun berbeda. Namun mungkin karena keterbatasan, pada akhirnya semua diberikan  pada jumlah yang sama. Yang terpenting adalah penyuluhan tentang bagaimana cara pakai dan kapan mengkonsumsinya, bagaimana efek sampingnya dan apa indikasinya. Hal ini merupakan hal dasar yang memang harus ada di dalam etiket obat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau sakit jangan takut minum obat. Obat dikonsumsi untuk mempengaruhi sistem fisiologi tubuh atau patologi dengan tujuan manfaat bagi penerimanya. Obat yang resmi dan baik tidak akan menimbulkan efek racun bagi penerimanya karena dosisnya telah diperhitungkan agar tetap berada pada indeks terapi.</p>
<p style="text-align:justify;">Read what he said&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">All things are poisons<br />
nothing is without poison<br />
<strong>the dose alone </strong>cause a thing not to be poison<br />
[Theophratus Von Hohenheim]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[O lacrimă în infinit]]></title>
<link>http://capshunik.wordpress.com/2009/11/07/o-lacrima-in-infinit/</link>
<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 20:50:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>capshunik</dc:creator>
<guid>http://capshunik.wordpress.com/2009/11/07/o-lacrima-in-infinit/</guid>
<description><![CDATA[Valurile înspumate se loveau de doc. Pe pod, o fată cu mâinile întinse sta pe loc. Striga în depărta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Valurile înspumate se loveau de doc.<img src="http://capshunik.wordpress.com/files/2009/11/byy-netz.jpg?w=253" alt="byy netz" title="byy netz" width="253" height="300" class="alignright size-medium wp-image-327" /><br />
Pe pod, o fată cu mâinile întinse sta pe loc.<br />
Striga în depărtare plângând şi suspinând:<br />
&#8221;Oare până când, spune-mi, până când?!&#8221;</p>
<p>Dar ca răspuns, primi aceeaşi întrebare&#8230;<br />
Ecoul răsuna repetat din zare-n zare.<br />
Marea, deveni şi mai zbuciumată<br />
O îndemna să sară pe biata fată.</p>
<p>O lacrimă de-a ei curse în apa învolburată.<br />
Pe loc, apa fu oprită şi calmată.<br />
Cerul se însenină, vântul încetă să bată.<br />
&#8221;Până când&#8230; vei fi a Mea. Toată!&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Parasit (1995)]]></title>
<link>http://smmslt.wordpress.com/2009/10/24/parasit-1995/</link>
<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 05:17:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>aorto</dc:creator>
<guid>http://smmslt.wordpress.com/2009/10/24/parasit-1995/</guid>
<description><![CDATA[Not too much into &#8220;noise&#8221; (in small doses I can appreciate it) but considering that all ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://smmslt.wordpress.com/files/2009/10/parasit.jpeg"><img src="http://smmslt.wordpress.com/files/2009/10/parasit.jpeg?w=300" border="0" /></a></p>
<p>Not too much into &#8220;noise&#8221; (in small doses I can appreciate it) but considering that all <a href="http://everythingonmyipod.blogspot.com/search/label/Black%20Lung">Black Lung</a>&#8217;s works since 1999 are found on the <a href="http://www.ant-zen.com">Ant-Zen</a> label, it&#8217;s worth posting.</p>
<p><a href="http://rapidshare.com/files/295733600/Parasit.rar">Enjoy</a></p>
<p><a href="http://www.ant-zen.com/act/act23.htm">Info</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gehirnwäsche]]></title>
<link>http://biowissen.wordpress.com/2009/10/22/gehirnwasche/</link>
<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 11:04:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Luisa</dc:creator>
<guid>http://biowissen.wordpress.com/2009/10/22/gehirnwasche/</guid>
<description><![CDATA[Winzig kleine Einzeller nisten sich in Gehirnen von Tieren und Menschen ein. Von dort aus können sie]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/UlSzlQ6lRyA&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/UlSzlQ6lRyA&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p>Winzig kleine Einzeller nisten sich in Gehirnen von Tieren und Menschen ein. Von dort aus können sie das Verhalten der Lebewesen beeinflussen und treiben diese oft in den Selbstmord.</p>
<p>Was wie eine Story für einen Science-Fiction-Roman klingt, ist in der Natur gang und gäbe. Parasiten, wie der Toxoplasma gondii können tatsächlich das Verhalten steuern. Ein Forscherteam der Stanford University infizierte Ratten mit dem Parasiten und beobachtete, wie diese auf Katzenurin reagieren. Ratten meiden normalerweise Orte, die nach Katzenurin riechen. Doch in diesem Fall wirkte der Geruch eher anziehend. In der Natur wäre das der sichere Tod. Ob der Parasit wirklich das Verhalten steuern kann, ist bisher noch nicht bewiesen. Tatsache ist jedoch, dass infizierte Tiere höhere Dopaminwerte haben. Der Neurotransmitter Dopamin steuert unter anderem das Neugierverhalten, sodass der hohe Dopaminwert in den Ratten zu verstärkter Neugierde beiträgt. Toxoplasma gondii sichert sich somit sein Überleben. Ratten und andere Kleintiere fungieren als Zwischenwirt und nehmen den Parasiten über ihre Nahrung auf. Diese werden dann von größeren Tieren, wie Katzen gefressen und ausgeschieden. So schließt sich der Lebenszyklus.</p>
<p>Andere Parasiten wirken ähnlich.<br />
Die Larve des Pomphorhynchus laevis programmiert wahrscheinlich den Geruchssinn kleiner Flohkrebse um. Diese schwimmen aufgrund der Veränderung geradewegs ins Maul von Flussbarschen.<br />
Das wohl bekannteste Beispiel ist die Selbstmord-Ameise.<br />
Sie infiziert sich mit der Larve des kleinen Leberegels Dicrocoelium dendriticum, die sich an den Nervenknoten festsetzt und so ihr Verhalten und ihre Mundwerkzeuge beeinflusst. Die kleine infizierte Ameise läuft dann in der Abenddämmerung nicht mehr in ihr Nest zurück, sondern wandert auf einen Grashalm. Dort beißt sie sich fest und verbringt die Nacht. Dieses Verhalten erhöht die Chance von einem Schaf oder ähnlichem am Morgen gefressen zu werden. Sollte die Ameise noch einmal Glück gehabt haben, läuft sie zurück ins Nest. Sie wird die nächste Nacht jedoch wieder auf einem Grashalm verbringen.</p>
<p>Auch Menschen sind von solchen Parasiten betroffen. Ungefähr 30 bis 60 % der Menschen sind mit Toxoplasma gondii infiziert. Bisher wurden noch keine Wesensveränderungen festgestellt. Jedoch gibt es einige Hinweise auf einen Zusammenhang von Toxoplasmose und Schizophrenie.<br />
Nur der Wissenschaftler Kevin Lafferty stellt die Hypothese auf, dass kulturelle Unterschiede zwischen Nationen unter anderem durch Parasitenbefall erklärt werden könnten.<br />
Ob etwas Wahrheit dahinter steckt, werden wir in der Zukunft herausfinden. Bis dahin muss sich jeder selbst die Frage stellen: „Bin das wirklich Ich?“</p>
<p>Quelle: http://www.sueddeutsche.de/wissen/515/326379/text/</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ditt jävla kvalster!]]></title>
<link>http://netscapeswe.wordpress.com/2009/10/20/ditt-javla-kvalster/</link>
<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 10:09:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>netscape</dc:creator>
<guid>http://netscapeswe.wordpress.com/2009/10/20/ditt-javla-kvalster/</guid>
<description><![CDATA[Du varken hotar mig, dikterar villkoren eller sms:ar något mera! En enda gång till du &#8220;uppenba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Du varken hotar mig, dikterar villkoren eller sms:ar något mera! En enda gång till du &#8220;uppenbarar&#8221; dig på min blogg, så skall jag personligen se till att E får  se dina sms. (där du lovar Staffan att aldrig mera få träffa sin dotter igen)<br />
</strong></p>
<p><a href="http://netscapeswe.wordpress.com/files/2009/10/fuckoff.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1057" title="fuckoff" src="http://netscapeswe.wordpress.com/files/2009/10/fuckoff.jpg" alt="fuckoff" width="429" height="640" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[S-a mai stins o stea]]></title>
<link>http://capshunik.wordpress.com/2009/10/08/s-a-mai-stins-o-stea/</link>
<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 19:11:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>capshunik</dc:creator>
<guid>http://capshunik.wordpress.com/2009/10/08/s-a-mai-stins-o-stea/</guid>
<description><![CDATA[Privesc pe cer şi văd stele una şi una. Văd cerul negru, căci acum&#8230;este noapte. Este noapte pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Privesc pe cer şi văd stele una şi una. Văd cerul negru, căci acum&#8230;este noapte. Este noapte peste tot. Şi chiar dacă mă doare, chiar dacă iubesc fiecare stea de pe cer, trebuie să accept că din când în când mai sunt şi stele căzătoare. Dani a fost una dintre ele. Dani a fost o stea căzătoare. A strălucit timp de 21 de ani. 21 de ani număraţi a fost pentru cineva copil, frate, prieten, verişor, etc. El a încercat ca nici măcar o clipă să nu o risipească. Era un băiat plin de viaţă, care iubea tot ce îl înconjura şi oferea şi altora din energia lui.</p>
<p>Acum trebuie să accept. S-a mai stins o stea. Chiar dacă era atât de strălucitoare, chiar dacă era încă tânără şi chiar dacă multă lume o iubea, steaua tot s-a stins. Şi modul cel mai dureros de a ieşi din viaţa cuiva, este să ieşi pe nepregătite. Să ieşi brusc. Într-o clipită Dani, o fracţiune de moment şi atât&#8230; tu ne-ai lăsat pe noi surprinşi, îndureraţi şi mulţi dintre noi neînţelegând de ce. Dar pendula necruţătoare a timpului ne va spune. La momentul potrivit vom şti.</p>
<p>Până când ne vom revedea Dani, să ştii că ai fost un prieten bun pentru mulţi.  Şi privesc dinu nou pe cer, lacrimile îmi curg una câte una şi şoptesc printre buzele uscate şi ochii înroşiţi de plâns: &#8221;Uite, s-a mai stins o stea!&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pacarku Parasit]]></title>
<link>http://sastrapuisi.wordpress.com/2009/10/07/pacarku-parasit/</link>
<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 07:32:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>sman1purworejo</dc:creator>
<guid>http://sastrapuisi.wordpress.com/2009/10/07/pacarku-parasit/</guid>
<description><![CDATA[‘Hhh… ulangan bahasa Jerman, sejarah, PPKn, kimia, matematika, biologi… Nggak ada habisnya. Minggu i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>‘Hhh… ulangan bahasa Jerman, sejarah, PPKn, kimia, matematika, biologi… Nggak ada habisnya. Minggu ini penuh momok ulangan bagiku. Enam hari berturut-turut, aku harus ngerjain semua soal-soal ulangan pelajaran itu dengan tabah. Dan… tuntutan untuk mendapat nilai memuaskan… itu susah!!! Ah… belum lagi tugas yang segunung itu nungguin aku. Rasanya udah setiap hari aku nyelesein tugasku satu per satu. Tapi, kok nggak selesai-selesai??? Pufh… emang gurunya aja yang setiap hari nyetor tugas buat ku kerjain. Kayaknya nggak afdol banget ya, kalau ada satu guru… aja yang nggak ngasih tugas. Pufh…’</p>
<p>‘Uh… kayak nggak pernah muda aja!! Guru-guru mestinya ngerti dong, kalau anak sekolah nggak harus dibebanin dengan TUGAS!! Apalagi SMA gini. Mana waktu buat main? Mana waktu buat santai? Istirahat aja nggak cukup. Apalagi pacaran! Ups… pacaran???’</p>
<p><!--more-->“Mbak, udah sampai rumah”, tiba-tiba suara Mang Danu mengagetkanku. Karena terlalu banyak menggerutu, aku tidak sadar bahwa perjalanan pulang dari sekolah sudah selesai.</p>
<p>“Oh, iya. Makasih pakde…”, begitulah yang aku suka. Memanggil Mang Danu dengan sebutan ‘pakde’. Rasanya lebih akrab.</p>
<p>“Bruk!!!”</p>
<p>Aku rebahkan badanku di atas kasur miniku. Sepanjang perjalananku dari pintu depan sampai ke kamar, tidak kutemukan ayah, ibu, maupun adikku. Ke mana mereka? Ah… paling juga masih di kantor. Adikku paling juga sedang les. Untungnya aku memutuskan untuk meminta guru privat datang ke rumah, agar aku tidak perlu repot-repot datang ke tempat les. Dan, kalau malas, aku bisa menolak guru itu dan menyuruhnya datang minggu depan. Hihihi… ternyata aku cukup nakal ya…</p>
<p>Kulihat jam dinding persegi di tembok biruku. Sudah jam 3 sore. Aku harus segera menyelesaikan tugasku, dan belajar untuk ulangan. Tapi…</p>
<p>“Mbak! Mbak! Mbak Karel!! Ada telepon dari Mbak Dita. Katanya Mbak Sera kecelakaan. Pulang sekolah tadi. Sekarang di Rumah Sakit Anyar…!!” Bibi Pami mengagetkanku. Ekspresi wajahnya sangat berbeda. Ia yang biasanya ceria, kini jadi panik setengah hidup. Bagaimana tidak, Dita, Fani, dan Sera adalah dua sahabatku yang sering datang untuk belajar bersama, atau sekedar mampir saja.</p>
<p>“Ha??!! Yang bener bi? Ya udah deh, aku ke Rumah Sakit dulu. Da da bibi.”</p>
<p>“Tapi mbak, makan dulu. Kan baru aja nyampe… Mbak…”</p>
<p>Kudengar bibi memanggilku. Tapi rasa panikku mengalahkan semuanya. Cepat-cepat ku panggil Pakde yang sedang memberi makan burung kesayangannya. Dengan sigap, cepat, dan lincah, pakde mengantarku menuju rumah sakit dengan mobil tugasnya.</p>
<p>“Hhh… makasih pakde. Pakde nggak usah nungguin aku. Nanti aku pulang sendiri. Duluan ya pakde. Da…”, seketika ku balikkan badanku karena aku terburu-buru setelah sampai di rumah sakit.</p>
<p>“Brak!”</p>
<p>“Auw!!”, seorang cowok berteriak kesakitan saat kulihat dirinya tengah terkapar karena saking kerasnya kutabrak.</p>
<p>“S.. so.. sorry..”, dengan gugup aku meminta maaf padanya. Sayang, cowok itu malah marah-marah.</p>
<p>“Dasar! Lihat-lihat dong. Di sini rame bego! Orang segede gini nggak lihat!”</p>
<p>“Sorry banget ya… maaf… Aku kan nggak sengaja. Aku keburu-buru banget. Maaf ya.”, dengan sedikit takut aku mencoba menatapnya. Dan uh…cowok itu ganteng sekali. Wajahnya manis. Sakit di badanku menjadi berkurang karena melihat matanya yang sangat indah.</p>
<p>“Kenapa lihatnya kayak gitu?!”, semprot si cowok.</p>
<p>“Eh, e… nggak papa kok. Maaf ya…”, dengan berlari aku menjauhi si cowok. Aku tak berani melihatnya lagi. Galak! Entahlah,apa yang ia lakukan selanjutnya. Tapi aku terus berlari ke ruang resepsionis. Ternyata Sera ada di lantai tiga. Aku harus mengantri, karena liftnya selalu penuh. Huh…</p>
<p>Setelah sampai, kulihat beberapa temanku sedang berdiri di depan pintu sebuah ruangan dengan gelisah. Di sana, ada juga kedua orang tua Sera yang sedang diam terpaku. Mungkin masih shock. Sekejap setelah melihatku, Dita dan Fani berlari menggandengku. Mereka menarikku untuk cepat-cepat melihat keadaan Sera dari balik pintu kaca ruangan itu. Sera sedang koma. Ia tidak sadar. Aku sampai tak bisa apa-apa begitu melihat keadaan Sera yang lemah terbaring di tempat tidur yang dingin itu (menurutku). Pantas saja, orang tuanya sampai tak mampu berkata-kata.</p>
<p>“Dia kenapa?”, tanyaku lemah. “Cerita yang lengkap ya.”</p>
<p>“He’eh. Tapi, di ruang tunggu aja ya. Aku nggak enak kalau di sini, soalnya orang tua Sera masih shock berat. Ayo Fan.”, ajak Dita padaku dan pada Fani. Aku tak mampu berkata-kata. Aku juga shock. Aku menurut saja pada Dita.</p>
<p>Dita dan Fani bercerita pajang lebar padaku di ruang tunggu. Mereka menceritakan kronologis kejadian hingga sakit yang dialami Sera dengan sangat detail. Aku mencoba menelaahnya dengan baik. Tapi, pikiranku tetap saja ada pada Sera. Ia sahabatku yang sangat baik. Ia yang paling mengerti kemauanku. Tapi kini ia terbaring. Di antara hidup… dan mati. Sera…</p>
<p>“Rel!”, Fani mengagetkanku.</p>
<p>Tanpa terasa air mataku menetes cukup deras. Hanya saja, tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutku. Tak sedikitpun. Aku mendengar Dita dan Fani berbicara padaku. Tapi, aku tetap diam. Serentak mereka memelukku. Kami menangis bersama, di tengah paniknya orang-orang yang hilir mudik bolak balik ke sana ke sini karena mengurusi keluarga mereka yang juga sangat kritis. Kami berada di ruang tunggu II, ruang tunggu yang terletak persis di sebelah utara ruang UGD dan di sebelah selatan persis ruang ICU. Di kedua ruang itulah, banyak nyawa orang-orang melayang. Aku takut.</p>
<p>Entah apa yang menyadarkanku. Tapi sepertinya <em>feeling</em>ku begitu kuat. Aku hentikan tangisanku. Aku mengajak Dina dan Fani naik ke atas untuk menengok Sera lagi. Sampai di sana, kulihat kedua orang tua Sera sedang berbicara pada seorang dokter. Kami cepat-cepat berlari agar tidak ketinggalan berita. Dokter membertahukan kabar yang sangat baik. Sera sudah sadar, dan sudah bisa dijenguk ke dalam. Tapi, tetap saja, hanya satu per satu orang yang boleh masuk. Kami juga diwajibkan mengenakan pakaian serba hijau untuk masuk ke ruangan itu.</p>
<p>Tiba giliranku untuk masuk.</p>
<p>“Halo Ser. Gimana? Udah baikan? Payah kamu. Gitu aja sampe masuk rumah sakit”, kataku dengan penuh canda agar Sera semangat. Tapi ia hanya tersenyum dan mengedipkan matanya. Ia memegang tanganku yang berada di sebelah tubuhnya. Tangannya dingin. Cara merabanya juga sangat halus. Tidak seperti biasanya.</p>
<p>“Rel… maafin aku. Aku… nggak tahan lagi”, katanya dengan sangat lirih. Sontak aku terkaget-kaget sampai hampir terpental.</p>
<p>“Kamu kok ngomong gitu? Maksudmu apa??”, aku tak mampu menahan tangisku saat mendengarnya berbicara.</p>
<p>“Maaf Rel, aku ngrepotin kamu. Aku emang udah nggak tahan lagi… aku udah nggak tahan ngadepin tugas yang banyak. Makanya, selama aku di rumah sakit, bantuin ngerjain tugas ya. Bantuin nyatet pelajaran juga. Aku males. Hehe..”, katanya dengan senyum lebar dan kedipan sebelah matanya.</p>
<p>“Ih… awas kamu ya!”, balasku dengan senyum yang tak kalah lebar. Air mataku bertambah deras. Bukan karena sedih, tapi karena rasa senang yang sedang menyergapku. Sera, dalam keadaannya itu, ia mampu membuatku tertawa, seperti biasanya.</p>
<p>Aku tak diperbolehkan mengobrol terlalu lama, karena Sera harus banyak istirahat sebelum ia diperbolehkan pulang. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Lagipula, waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Aku belum mandi…</p>
<p>Aku pulang dengan naik taksi karena pakde tidak menjemputku. Kebetulan, jalan tidak terlalu ramai sehingga taksi yang kunaiki bisa melaju kencang. Ketika sampai di rumah, kulihat ayah dan ibuku sedang duduk santai bersama di teras belakang. Mereka sedang mengobrol tentang sesuatu. Sepertinya topik yang sedang hangat dan menarik untuk dibicarakan. Terlihat seru sekali. Aku tak ingin mengganggu mereka, sehingga aku langsung pergi ke kamar.</p>
<p>Saat sampai di kamar, kulihat adikku sedang menonton film. Sebuah film animasi yang baru ia beli.</p>
<p>“Hey, kenapa nontonnya di sini? Video player kamu kenapa? Di ruang keluarga juga bisa kan?”</p>
<p>“Eh, mbak. Baru pulang? Dari mana? Bau!”</p>
<p>“Heh! Dasar nggak nyambung. Ditanyain kenapa, jawabnya bukan karena. Malah balik nanya. Emang aneh.”</p>
<p>“Iya deh… Aku nonton di sini sekalian nungguin mbak pulang. Mau curhat.”, seketika aku kaget sekali dengan perkataan adikku. Curhat? Sejak kapan ia mengenal curhat? Apa ia mengerti? Ia masih anak kelas 5 SD.</p>
<p>“Mbak! Kok bengong…?”</p>
<p>“Eh, iya, iya. Iya deh… mau curhat? Nanti ya. Mbak mandi dulu.”</p>
<p>Setelah mandi, aku langsung masuk ke kamarku kembali untuk mendengarkan cerita dari adikku.</p>
<p>“Ayo, katanya mau cerita. Emang ada apa?”</p>
<p>“Aku mau curhat tentang temen aku, mbak. Cewek.”</p>
<p>“Ha?! Cewek?” aku kaget seketika. “Em… emangnya kenapa? Kok kamu udah ngomongin cewek? Heh! Masih kecil, nggak boleh ngomongin yang kayak gitu. Cewek cuma temen kamu!”</p>
<p>“Ih… mbak! Aku kan belum crita apa-apa. Kok mbak udah sewot gitu? Tapi, nggak ada salahnya dong, kalau aku mau crita sesuatu. Di rumah ini yang nyambung cuma mbak.”</p>
<p>“Ya udah. Emang kenapa?” tanyaku tak sabar.</p>
<p>“Em… aku punya temen cewek, namanya Yola. Dia baiiikkk… banget. Anaknya pinter loh, mbak. Ranking satu terus. Cantik lagi!”</p>
<p>“Terus, apa masalahnya?”</p>
<p>“Nah itu… Aku juga bingung sebenernya aku ini kenapa. Aku nggak suka aja, kalau dia dapet kelompok sama temen-temen cowokku di sekolah. Aku maunya kan sama dia. Dia juga. Kalau istirahat, di pasti deketin aku.”</p>
<p>“Ah, gila kamu! Kamu suka sama Yola?!”</p>
<p>“Ha? Suka? Mungkin sih… tapi aku nggak mudeng yang begituan. Mbak… crita dong, gimana sih, suka sama anak lain?”</p>
<p>Pertanyaan adikku membuatku kaget. Sangat kaget. Ia sudah bisa berpikiran seperi itu. Padahal, aku, kakak yang jelas lebih tua dibanding ia, sudah SMA, sama sekali belum pernah menyukai orang lain, apalagi pacaran. Huh… susah!</p>
<p>“Mbak! Kok nggak jawab? Malah bengong. Gimana mbak? Mbak udah pernah punya pacar belum? Selama ini mbak nggak pernah cerita sama aku kalau punya pacar. Jangan-jangan, mbak nggak pernah pacaran ya??? Ah, mbak payah. Kakak kelasku yang kelas 6 SD aja udah ngerti. Masa mbak belum? Mbak emang aneh! Nggak pengalaman. Susah deh, curhat sama mbak yang beginian…” kudengar adikku yang cerewet itu terus saja berbicara. Ia mengolokku dan meninggalkanku. Aku terus memikirkannya, hingga malam tiba.</p>
<p>Kusadari, bahwa aku ini kuper tentang cowok. Tentang pacaran. Aku hanya tau bahwa cowok itu baik, dan… beberapa tampan. Tapi aku tak sempat memikirkan untuk mendapatkan mereka karena aku sudah terlalu sibuk dengan segala urusan sekolahku. Ulangan dan tugas. Hanya ada dua hal itu dalam pikiranku. Bagaimana aku menyelesaikannya?</p>
<p>Ditambah dengan cerita adikku yang membuatku bingung dan berpikir keras. Aku sendiri tidak tahu detail, apa itu cinta? Pacaran itu apa?</p>
<p>‘Ah… daripada gini terus, mulai besok aku cari tahu deh! Aku juga mau cari pacar. Biar nggak kalah sama anak-anak SD. Nggak papa deh.’</p>
<p>“Karel! Dida! Turun! Makan dulu…”</p>
<p>Kudengar ibu memanggilku dari lantai bawah. Tapi, klap! Gelap!</p>
<p align="center">
<p align="center">*@h@*</p>
<p align="center">
<p>“Salah apa, kau membenciku.</p>
<p>Salah apa, kau meninggalkanku.</p>
<p>Andai ku tahu, kau tak inginkan aku….”</p>
<p>Dering lagu yang menandakan alarm HPku berbunyi terdengar sangat keras. Sinar matahari yang cukup lembut menerobos masuk ke kamarku dan membelai wajahku dengan sinar yang sangat terang dan hangat. Aku membuka jendelaku lebar-lebar. Kulihat jam di dinding…</p>
<p>“Apa??!!! Jam 6 seperempat??!!! Telat deh, aku!!”</p>
<p>Uh… aku sebal. Jam menunjukkan pukul 6.15. Padahal, 30 menit lagi, kelasku sudah dimulai. Aku segera keluar menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi. Sambil lewat, aku menggerutu.</p>
<p>‘Dasar! Kenapa alarmnya bunyi jam segini. Emang aku salah <em>nyetting</em>? Kayaknya enggak deh. Bodo lah! Aku udah kesiangan nih! Laper lagi! Oya, kemarin siang kan aku nggak makan! Malem juga enggak. Kenapa bibi nggak bangunin aku ya? Ibu juga! Uh…!!’</p>
<p>Akhirnya acara mandiku selesai. Hebat! Aku hanya mandi lima menit! Segera kusambar buku-buku di meja dan tas sekolahku. Untung bibi sudah menyiapkan sarapan dan sepatu sekolahku. Aku akan sarapan dan memakai sepatuku di mobil! Sudah tidak punya waktu. Ayah, ibu, dan adikku juga sudah pergi. Kantor dan sekolah mereka cukup jauh, sehingga mereka harus berangkat lebih pagi.</p>
<p>“Pakde, nyetirnya ngebut dong. Udah jam setengah tujuh nih!”</p>
<p>“Mbak, gimana mau ngebut? Jalannya macet gini. Mau lompat?”</p>
<p>“Aduh, lewat jalan tikus aja deh. Terserah! Yang penting cepet nyampe.”</p>
<p>“Iya deh. Motong jalan aja. Sabar ya mbak”, pakde mencoba menenangkanku. Sambil makan, aku mencoba mengingat sesuatu.</p>
<p>‘Kayaknya ada yang kurang nih. Apa ya? Kok kayaknya nggak lengkap aja. Em… apa ya? Ah, lupa!’</p>
<p align="center">*@h@*</p>
<p align="center">
<p>“Makasih pakde… jangan lupa jam setengah dua!”</p>
<p>Tak terasa, aku sudah sampai di sekolahku. Aku sangat beruntung, karena aku tiba 3 menit sebelum bel masuk berdering. Aku berjalan ke kelas dengan santainya, seakan-akan semuanya sudah lengkap. Sampai di kelas, aku pun mengobrol dengan sahabatku.</p>
<p>“Pagi Rel. Seger amat!”, sapa Dita menyapaku.</p>
<p>“Pagi. Seger apanya?! Aku kesiangan nih. Mandi dan semua persiapannya nggak <em>perfect</em>. Makan sama pake sepatunya aja di mobil. Kemaren abis dari rumah sakit aku langsung tidur sampe pagi. Kecapekan.</p>
<p>“Ha!! Tidur?? Kamu nggak belajar??!! Sama sekali?!”</p>
<p>“Iya. Emang kenapa? Kaget banget?”</p>
<p>“Ih… kamu tu nggak biasanya gitu! Eh, inget nggak? Ada PR fisika sama sejarah! Ada ulangan geografi sama kimia! Kamu nggak inget sama sekali?! Gimana nasib kamu nanti?!!”</p>
<p>“APA?????!!!!! YANG BENER???!!!”, spontan aku berteriak karena kaget dengan apa yang dikatakan Dita. Teriakanku yang sangat keras itu membuat semua anak yang ada di kelas, bahkan orang-orang yang tadinya ada di koridor sampai masuk melihatku. Aku malu.</p>
<p>“Teet… teet… teet…”</p>
<p>Bel panjang itu menandakan bahwa sekolah sudah masuk, dan jam pertama di mulai. Tamatlah riwayatku. Sudah tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan PR maupun membuka buku untuk belajar menghadapi ulangan. Aku lemas seketika.</p>
<p>“Pagi anak-anak. Apa kabar kalian? Sudah seminggu kita tidak bertemu, karena ibu harus ke Korea untuk menghadiri suatu undangan”, suara Bu Lia, guru Fisika yang mengajar di kelasku itu terdengar sangat menggelegar di telingaku, seakan-akan siap menyambarku dengan semangat para pejuang 45. Aku tidak berani melihatnya, apalagi menatap matanya, seperti yang biasa kulakukan saat ia berdiri di depan. Aku terlalu lemas, karena aku melakukan suatu kesalahan.</p>
<p>Tiba-tiba angin dingin menerpa wajahku. Hawa yang dingin juga telah merasuki tubuhku. Aku sangat gugup. Untungnya, Bu Lia tidak menatapku, tidak seperti biasanya juga. Namun sama saja, <em>feeling</em> buruk menghampiriku. Dalam hati aku berdoa sekusyuk-kusyuknya. Aku juga berusaha dengan keras untuk mengangkat tubuhku agar bisa duduk tegap.</p>
<p>Ternyata benar, Bu Lia menghampiriku. Ia bertanya tentang PRku. Aku tidak bisa menghindar sama sekali. Inilah saat-saat terakhirku. Aku siap menghadapi segala cobaan, ujian, teriakan, nasihat, hingga muncratan air yang mungkin saja keluar dari mulut Bu Lia. Dan… itu terjadi. Aku dimarahi sangaaattt lama. Aku bagaikan santri yang sedang diceramahi seorang ustadzah. Andaikan aku membawa payung, pasti aku tidak akan terkena imbas yang berupa hujan asam itu.</p>
<p>Alhasil, dihukumlah aku. Bu Lia memintaku keluar dari kelasnya sampai aku menyadari bahwa hal yang telah aku lakukan itu salah. Tidak berhenti sampai di situ. Jam pelajaran berikutnya adalah sejarah. Kembali aku dihukum lagi. Pak Tarub menyuruhku lari keliling lapangan sebanyak 10 kali. Padahal, lapangan di sekolahku luas sekali!!! Saat jam geografi dimulai, malapetaka juga dimulai. Aku tidak berhasil mengerjakan ulangan dengan sempurna. Untunglah, hal itu tidak membuat Pak Didi marah. Dan jam terakhir, adalah kimia. Aku tidak tahu mengapa, perutku tiba-tiba saja mulas dan membuatku tidak berkonsentrasi mengerjakan ulangan. Hal inilah yang membuat Bu Kenya marah besar kepadaku, karena tidak ada satupun soal yang aku kerjakan. Dita juga tidak mampu membelaku karena ia dan anak-anak lain terlalu takut. Bu Kenya adalah guru yang <em>killer</em> , tidak kenal kompromi, dan tidak pandang bulu. Siapa saja, akan ia lahap.</p>
<p>Ia menyuruhku membersihkan WC setelah jam KBM selesai. Uh… aku sebal. Tapi, kulakukan juga. Siang tiba, dan jam KBM telah usai. Aku segera menuju ke gerbang sekolah untuk menemui Pakde Danu dan memberitahukannya bahwa aku akan pulang lebih siang, dan aku akan pulang sendiri. Setelah itu, aku segera pergi ke WC, guna menyelesaikan hukuman yang diberikan oleh Bu Kenya.</p>
<p>Saat aku akan memasuki ruang kebersihan guna mengambil peralatan, aku ditabrak oleh seorang cowok.</p>
<p>“Aduh!” aku jatuh terpental ke sebuah sudut tembok.</p>
<p>“Eh, sorry. Duh, sorry. Maaf ya…” kata cowok itu.</p>
<p>Dengan menahan sakit, aku coba menengadahkan kepalaku guna melihat siapa si cowok itu. Namun,</p>
<p>“Ha?! Kamu! Ngapain kamu di sini?!”</p>
<p>“Lho! Kamu! Ngapain juga kamu di sini?! Cari masalah lagi?!”</p>
<p>Ternyata cowok itu adalah orang yang kutabrak saat aku tergesa-gesa di rumah sakit.</p>
<p>“Heh! Malah diem. Kamu yang nabrak aku waktu di rumah sakit kan?! Dasar! Tanganku masih sakit nih! Main lari aja lagi!”</p>
<p>“Eh cowok, aku udah minta maaf lagi. Lagian aku nggak sengaja kok! Sekarang, malah kamu yang nabrak-nabrak!”</p>
<p>“Salah sendiri. Suruh siapa jalan nggak hati-hati?!”</p>
<p>“Heh!! Yang nggak hati-hati itu kamu! Dasar kamu! Nggak mau bertanggung jawab! Udah salah, nggak mau dibilang salah!”</p>
<p>“Kamu juga! Sama aja! Minta maafnya nggak ikhlas!”</p>
<p>“Ih… kata siapa! Kamu aja tuh, yang egois, mikirin diri sendiri!”</p>
<p>“Kamu…”</p>
<p>“Ealah! Anak-anak! Kalian ini pada ngapain to? Kok pada ribut begini! Siang-siang bukannya pulang, malah ribut-ribut aja! Lagi berantem ya? Mau putus ya?” tiba-tiba suara Pak Karim mengagetkanku dan si cowok.</p>
<p>“Eh, bapak. Apa pak?! Putus?! Ih… pacaran ma dia aja ogah deh pak!”</p>
<p>“Yang harusnya ngomong gitu tu aku! Aku yang nggak mau jadi pacar kamu! Bapak lagi! Kita nggak pacaran dan nggak mau putus! Kita cuma lagi berantem! Udah deh pak.”</p>
<p>“Lha kalian itu ngapain? Kok berdua siang-siang di toilet. Mau ngapain hayo??” Pak Karim terus menggodaku dan si cowok. Karena tak betah dengan Pak Karim, si cowok buru-buru menjawab.</p>
<p>“Saya dihukum Bu Kenya karena tidak mengerjakan PR! Jelas kan?!”</p>
<p>Ha? Aku kaget seketika. Jadi, dia juga dihukum? Waduh! Kok bareng?</p>
<p>“Lha kamu?” tanya Pak Karim padaku.</p>
<p>“Saya… juga dihukum Bu Kenya, pak. Saya nggak bisa ngerjain ulangan. Tiba-tiba mules berat.”</p>
<p>“Ya sudah. Kerjakan semua tugas kalian.”</p>
<p>Sesaat setelah kepergian Pak Karim, kami diam. Hanya diam. Tapi tiba-tiba,</p>
<p>“Huahahahahahahahahahahaha! Ngerjain ulangan  aja nggak bisa. Padahal, kimia kan gampang. Hu… hahahahaha!” si cowok menertawaiku.</p>
<p>“Daripada kamu! PR juga nggak dikerjain. Kan lebih gampang! Dasar! Sama aja kamu!” aku membalas.</p>
<p>“Iya ya. Kita ini bodoh juga. Udah salah, dihukum, tapi masih bisa ketawa! Haha…”</p>
<p>“Ya… udah terjadi. Gimana lagi? Kerjain aja. Oya, ngomong-ngomong, kamu suruh bersihin WC juga? Kok sama?!”</p>
<p>“Iya. Nggak tau nih. Kebetulan aja kali. Eh, nggak ada gunanya ya, kita berantem. Sama-sama eror!”</p>
<p>“Ye… gila! Yang eror kamu aja kali. Aku nggak usah. Nama kamu siapa?” keluarlah kata-kata itu secara spontan karena aku menyadari jika sejak tadi, aku tidak mengetahui namanya.</p>
<p>“Em… aku Nino. Kamu?”</p>
<p>“Karel. Kamu emang sekolah di sini ya? Kok aku baru tau. Atau kamu pindahan?”</p>
<p>“Enggak kok. Aku udah dari awal sekolah di sini. Aku kelas X A. Kamu?”</p>
<p>“Oh… pantes aja aku nggak pernah lihat kamu. Kelas kita kan jauh. Aku kelas X F.”</p>
<p>“O gitu. Ya udah. Kita selesein yuk.”</p>
<p>“Yuk.”</p>
<p>Serentak dan kompak kami selesaikan hukuman kami bersama. Tak disadari, kemarahan yang melanda kami masing-masing tiba-tiba saja hilang. Kami merasa bahwa kami senasib dan hal itu membuat kami merasa sama. Setelah panjang lebar bercerita, kami baru tau bahwa selera kita sama, yaitu menonton film dan membaca. Kami segera akrab dan melupakan semua masalah lalu. Kami segera mengobrol tentang banyak hal, karena kami rasa, kami ini cocok.</p>
<p>Namun, betapa kagetnya aku ketika ia mengatakan bahwa ia sudah tidak mempunyai ibu. Ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya. Ayahnya adalah seorang pejabat ternama, namun sayangnya, sekarang ayahnya tergolek lemas di rumah sakit akibat cuci darah yang harus ia lakukan dengan rutin. Akibat keadaan fisiknya yang kurang baik, ia harus dirawat di rumah sakit.</p>
<p>“Jadi, waktu kita ketemu di rumah sakit itu…”</p>
<p>“Iya. Kebetulan, itu adalah hari pertama aku tahu kalau ayahku terdiagnosis sakit yang cukup parah. Aku <em>shock</em>. Makanya aku emosi. Perusahaan ayahku bangkrut. Pendapatannya menurun drastis. Aku sedih banget. Nggak ada yang ngrawat ayahku lagi. Ia sendiri terlalu sibuk dengan kerjaannya. Aku aja terlantar.”</p>
<p>“M… maaf ya… jadi ngingetin kamu ke hal itu lagi.”</p>
<p>“Nggak papa kok. Beneran deh.”</p>
<p align="center">*@h@*</p>
<p align="center">
<p>Hari-hari berlalu. Aku juga bercerita pada sahabat-sahabatku tentang Nino. Aku juga sering menjenguk Sera ke rumah sakit bersamanya. Sera sudah pindah ke sal (kamar biasa). Kami semakin akrab. Benar-benar akrab. Aku sudah mengenal baik ayahnya. Nino pun mengenal Sera dan semua teman-temanku.</p>
<p>Semakin hari, kami semakin akrab, dekat, dan cocok. Kami selalu berbagi pengalaman dan berbagi kisah. Singkat cerita, kami berpacaran.</p>
<p>‘Pufh… aku bener-bener nggak  nyangka kalau aku punya pacar! Hihihi… aku harus cerita ke temen-temen dan adikku. Pasti mereka semua seneng.’</p>
<p>Aku merasa bahwa dirinya sangat baik bagiku. Ia dan aku sama-sama mengisi ruang kosong dalam hati masing-masing.</p>
<p>‘Lagipula, ini kan yang aku pengin sejak lama. Aku belum pernah pacaran. Mumpung ada yang mau… hihihi… Daripada Dida ngejek aku terus, mending aku buktiin kalau aku punya pacar! Dia pasti mau curhat sama aku lagi. He he he…’</p>
<p>Malam hari, aku menghubungi sahabat-sahabatku untuk memberi tahu bahwa aku dan Nino berpacaran. Mereka pun memintaku untuk menraktir makan dan belanja. Dan… berangkatlah kita ke mall pada Sabtu sore. Aku pergi bersama Dita, Fani, dan Nino.</p>
<p>Kami pergi berbelanja ke mall, dan makan di dalam mall. Namun, aku dan kedua sahabatku sama sekali tidak menyangka, bahwa Nino sangatlah boros. Ia benar-benar memanfaatkan apa yang aku tawarkan untuknya. Bukankah seharusnya ia juga membantuku menraktir sahabatku? Tapi malah ia yang menghabiskan semuanya.</p>
<p>“Rel, aku beliin kaos ya?” itulah yang ia kataka pertama kali saat memasuki mall.</p>
<p>“Ya udah, nggak papa. Ambil aja.”</p>
<p>Mungkin ia ketagihan dengan tawaranku. Ia terus saja membuntutiku ke manapun aku pergi. Padahal, aku pergi ke tempat baju-baju cewek. Karena sebal, akupun mengatakan,</p>
<p>“Kamu kok buntutin aku terus? Aku kan mau beli baju di bagian cewek. Kamu udah milih kaos kan? Ya udah. Lihat-lihat yang lain sana.”</p>
<p>Tapi kulihat ia diam. Tetap diam, namun wajahnya berubah menjadi wajah memelas. Aku tahu maksudnya.</p>
<p>”Hhh… ya udah. Kamu milih-milih sendiri deh. Aku yang bayarin.” spontan ia berlari menuju bagian cowok. Kulihat dari kejauhan bahwa ia mengambil banyak sekali baju, celana, dan em… sepertinya ia juga mengambil sepatu.</p>
<p>“Rel, dia matre atau gimana sih? Sekali kamu tawarin, dia malah mengharap lagi, lagi, dan lagi. Ketagihan. Kamu bawa uang banyak nggak?” Dita mengahampiriku.</p>
<p>“Pufh… untungnya aku bawa ATM. Nggak papa deh. Mungkin aja ini giliranku, gitu.”</p>
<p>“Tapi kita jadi nggak enak nih, sama kamu. Kita nggak jadi belanja deh. Kita makan aja”, kata Fani.</p>
<p>“Eh, nggak papa lagi.”</p>
<p>“Beneran. Mending nggak usah deh. Lagian, Nino perlu dikontrol tuh. Jangan sampai kamu salah pilih.”</p>
<p>“Ya udah deh.”</p>
<p>“Rel! udah yuk. Aku udah selesai belanja. Kamu tinggal bayar aja.”</p>
<p>‘Weks??? Ngomongnya enak banget. Nggak ada beban. Lha aku? Tekor nih.’</p>
<p>“I… i… iya deh. Yuk Dit, Fan”, aku mengajak mereka ke lantai 2 untuk makan, namun aku ke kasir terlebih dahulu untuk membayar semua belanjaan Nino. Aku tekankan, HANYA BELANJAAN NINO, karena aku, Dita, dan Fani sama sekali tidak belanja. Aku sedikit gugup, jika uangku kurang.</p>
<p>“Semuanya satu juta lima ratus lima puluh ribu mbak”, orang kasir memberitahuku.</p>
<p>“Ha??? Satu juta lebih?! Nino gila Rel!” teriak Dita dan Fani hampir bersamaan.</p>
<p>“Ssttt… uangku cukup kok. Jangan keras-keras. Nanti Nino tau.”</p>
<p>“Ih, Karel! Biarin aja dia tahu. Dia nggak punya malu. Nggak kayak cowok kali, Rel. Biasanya cowok itu jaim banget pas pertama kali jalan. Dia… malah buka kedok matre. Ayahnya yang bangkrut, kok kamu yang ganti?”</p>
<p>“Dita… udah deh. Nggak papa. Aku bayar dulu ya. Udah sana.”</p>
<p align="center">*@h@*</p>
<p>“Rel, makanannya enak banget ya. Boleh nggak aku nambah lagi?” Nino bertanya padaku, saat kami semua sedang makan di Café van Java. Belum sempat aku menjawabnya, Dita dan Fani menarikku.</p>
<p>“Eh, bentar ya No. Aku sama Karel mau nganterin Dita ke toilet. Dita suka gini nih, kalau makan kebanyakan”, Fani berkata bohong pada Nino agar kami mendapat kesempatan untuk pergi ke toilet. Akupun sebenarnya tidak tahu apa yang ingin Dita dan Fani lakukan padaku.</p>
<p>“Heh Rel! Awas kalau kamu ngebolehin Nino buat nambah makan! Bukan pelit atau gimana. Tapi kamu harus ngetes dia dong. Sebenernya dia kayak apa!” sogok Dita setelah sampai di toilet. Fani pun menyahut,</p>
<p>“Iya Rel. Emang harus gitu.”</p>
<p>“Tapi, aku kan kasihan. Lagian…”</p>
<p>“Udah! Nggak ada alesan lagi. Pokoknya kamu harus turutin kata-kata kita!”</p>
<p>“Yuk balik!”</p>
<p>“Kok lama? Emang Dita kenapa sih?” tanya Nino setelah kami sampai ke meja kami.</p>
<p>“Em… dia mules. Tadi kita nungguin dia ‘pup’ dulu”, kata Fani. Dita malah hanya senyum-senyum saja.</p>
<p>“Oya, kita pulang yuk. Udah sore banget. Hampir malem” ajakku pada Nino. Dita, dan Fani.</p>
<p>“Tapi Rel, aku kan belum jadi nambah makannya. Enak-enak.”</p>
<p>“E… lain kali aja ya. Nanti aku dimarahin ortu lagi.”</p>
<p>“Ya udah deh. Kamu bayar dulu gih. Aku tunggu di depan. Aku pulang sendiri aja ya. Tapi taksinya bayarin”, kata Nino dengan santai.</p>
<p>“Apa? Rel, kamu mau bayarin?”</p>
<p>“Eh… tapi… kasihan Fan. Ini yang terakhir deh, buat hari ini. Nggak papa ya…”</p>
<p>“Terserah kamu deh.”</p>
<p>Akhirnya, jadilah aku menraktir Nino secara total.</p>
<p>‘Hufh… untuk pertama kali deh.’</p>
<p>Malam ini Dita dan Fani menginap di rumahku. Saat berkumpul di kamar,</p>
<p>“Hhh… Rel, baru sehari, eh, nggak sampai sehari deng, kamu aja udah ngabisin uang banyak banget. Jutaan! Eh emang kalau ayah sama ibu kamu tahu, mereka nggak akan marah, ya?” tanya Fani.</p>
<p>“Ya marah lah. Mungkin malah marah besar. Apalagi aku pakai ATM. Bisa gawat nih, kalau mereka tau. Apalagi ibuku. Uh,,, aku bakal dapet apa ya…”</p>
<p>“Makanya Rel, jangan terlalu percaya dulu. Lagian kamu pacaran sama dia cuma gara-gara MERASA COCOK dan KASIHAN kan?!!” Dita menimpali.</p>
<p>“Ih, nggak juga kaleee. Aku emang suka. Biarin aja lah. Nanti dia juga sadar sendiri”, aku pasrah.</p>
<p>“Tapi Rel, kita harus nglakuin sesuatu buat nguji kualitasnya dia. Kita harus tahu dia itu kayak gimana. Sisi dalemnya kayak gimana. Jeleknya dia apa aja. Jadi kamu nggak ketipu…”</p>
<p>“Dan yang paling penting, biar kamu nggak rugi.”</p>
<p>“Hhh… terserh deh. Aku capek. Aku tidur dulu ya. Nanti lampunya dimatiin. Jangan lupa.”</p>
<p align="center">*@h@*</p>
<p align="center">
<p>Hari-hari mulai berlalu. Entah mengapa, sahabat-sahabatku sudah tidak pernah membicarakan tentang Nino lagi. Mungkin mereka bosan. Kupikir, ya sudahlah. Jalani saja. Setiap hari kujalani berdua dengannya. Kami sering sekali mencurahkan perasaan dan ungkapan hati masing-masing serta bekerja sama untuk mengerjakan kewajiban dari sekolah (belajar kelompok). Aku juga sering pergi jalan-jalan keluar dengannya. Kami sering ke mall, ke perpustakaan umum, nonton film, dan masih banyak hal-hal yang kami lakukan. Tapi di sisi lain, perlu kuungkapkan, dengan sangat jujur, aku merasa sangat rugi.</p>
<p>Menurut pandanganku, jika orang berpacaran, si cowok cenderung lebih banyak mengeluarkan uang daripada si cewek. Tapi di sini, kenapa aku yang selalu mengeluarkan uang untuknya??? Sedangkan ia, sepeserpun belum pernah ia mengeluarkan uang untukku. Ia juga sering memanfaatkan Pakde Danu untuk mengantarnya ke manapun ia suka.</p>
<p>Di sisi lain dari kebahagiaanku aku merasakan perlahan-lahan bahwa pendapat sahabat-sahabatku itu benar. Aku pun mulai bicara dengan Dita dan Fani. Untungnya, Dita dan Fani mau membantuku, asalkan aku terus terang pada Nino agar aku tidak terlalu lama bangkrut, kata mereka. Di suatu siang pulang sekolah, aku pun menemui Nino dan mencoba bicara terus terang padanya. Dita dan Fani juga selalu mengingatkanku agar terus terang padanya. Sebenarnya terasa berat, tapi kulakukan juga.</p>
<p>“No, aku mau ngomong sama kamu. Ini bener-bener penting.”</p>
<p>“Ya udah, ngomong aja”, katanya.</p>
<p>“No, kamu ngrasa nggak, kalau kamu tu ngrugiin aku. Kamu bikin aku bangkrut sejak aku pacaran sama kamu. Aku…”, belum selesai aku bicara, Nino menyahut,</p>
<p>“Hhhh… aku udah tau. Kamu bodoh. Baru nyadar sekarang kalau aku emang mau morotin kamu. Hahahahaha!”</p>
<p>Sontak aku, Dita dan Fani (yang sejak tadi ada di belakangku) kaget setengah hidup. Kami sama sekali tak menyangka kalau Nino akan berkata seperti itu.</p>
<p>“Rel, kamu baru tahu ya, aku tu nggak cinta-cinta banget sama kamu! Aku cinta sama uang kamu, uang ayah kamu! Kamu bego sih! Ayah kamu tu saingan ayahku di bidang bisnis! Gara-gara ayah kamu! Perusahaan ayahku kalah pamor! Bangkrut! Sampai akhirnya ayahku sakit parah. Aku puas, karena aku udah sempet nikmatin uang ayahmu beberapa minggu ini! Hahahahahahahahaha… kamu bego!”</p>
<p>“NINO!!! Kamu yang bego!!! Cewek sebaik dia nggak kamu hargai!!! Mana ada cewek yang lebih baik dari dia??!!” Dita membentak.</p>
<p>“Emang ku pikirin??!! Biar dia dan ayahnya ngrasa, kalau bangkrut itu nggak enak! Terus sekarang kamu mau apa, kalau udah gini?! Tetep bayarin aku makan kan?” kata Nino sambil tertawa.</p>
<p>Aku sudah tak bisa bicara apa-apa lagi. Aku masih terlalu kaget. Samar-samar kudengar Dita berkata,</p>
<p>“Dia mau putus dari kamu!”</p>
<p>Tapi, klap!</p>
<p align="center">*@h@*</p>
<p>Kubuka mataku. Tapi, kok di rumah sakit? Ku pandangi sekitarku, ada ayah, ibu, Dida, Fani, dan Dita.</p>
<p>“Hhh… untung udah sadar. Kamu baik-baik aja kan?” tanya ibuku padaku.</p>
<p>“Iya”, jawabku di tengah kebingunganku karena kaget berada di rumah sakit.</p>
<p>“Ya udah. Ibu sama ayah mau ngurus biaya dulu. Sama Dita dan Fani dulu ya. Dida, ikut ibu aja yuk.”</p>
<p>“Dit, kok aku di rumah sakit?”</p>
<p>“Kamu pingsan! Tadi disekolah! Gara-gara Nino!”</p>
<p>“Oh iya, terus dia gimana? Dia di mana sekarang?”</p>
<p>“Kamu nggak usah pikirin dia. Kita udah bilang kalau kamu mau putus sama dia. Dia langsung lari. Kapok kali!”</p>
<p>“Serius?!”</p>
<p>“Ya iyalah. Daripada kamu bangkrut. Kamu nggak nyesel kan? Kita yakin kalau kamu dapet pelajaran berharga dari ini semua.”</p>
<p>Tiba-tiba seorang suster membuka gorden penyekat antara ruanganku denga ruang sebelah. Ternyata, pasien di sebelahku adalah Sera.</p>
<p>“Sera! Kamu?!”</p>
<p>“Oh, kamu Rel? Kamu kenapa? Kok masuk sini? Karel kenapa Fan?”</p>
<p>“Dia…”, kata Fani hampir menjawab. Tapi ku segera berkata,</p>
<p>“Aku aja yang jawab. Tahu nggak Ser, pacarku parasit! Aku udah putus sama dia! Makanya pingsan! Kaget.”</p>
<p>“Hahahahahahahahahahahahaha…” Sera, Dita, dan Fani malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku.</p>
<p>“Oh,,, jadi kamu udah putus sama Nino?! Hahaha… dia parasit?! Ngrugiin kamu?!”</p>
<p>“Iya”</p>
<p>“Makanya, aku kan udah pernah bilang, cowok diuji dulu, biar nggak salah…”</p>
<p>“Iya deh…”</p>
<p>Akhirnya aku menyadari bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Cinta bukan karena kita kasihan, bukan karena kita cocok. Cinta bukanlah bagaimana kita dapat mencintai, menyayangi, memberi, maupun menerima dengan sempurna. Namun cinta adalah, bagaimana kita dapat saling menerima dengan ikhlas, bagaimana kita dapat saling menerima yang tidak sempurna itu dan menjadikannya sempurna di mata kita. Tapi itu tidak ada di antara aku dan Nino. Jadi, kita tidak cocok.</p>
<p>Setelah sahabat-sahabatku pergi, Dida menghampiriku.</p>
<p>“Mbak, aku tahu, mbak baru putus cinta… sama Nino.”</p>
<p>“Hush, kamu. Biarin aja.”</p>
<p>“Mbak, maafin akau ya, gara-gara curhatanku, mbak jadi gini. Mbak nggak payah kok, soal pacaran. Lagian aku nggak tertarik lagi sama cewek itu. Kayaknya matre juga.”</p>
<p>“Hihihi… anak kecil udah ngerti matre segala. Nggak papa. Bukan salah kamu. Mbak nggak nyesel. Mbak bisa cari pacar yang jauh lebih baik lagi. Hhh… pacar pertama….”</p>
<p>“Tapi parasit!!!” kataku dan Dida bersama-sama. Aku senang, aku dapat memahami, bahwa cinta itu tak mudah. Cinta itu… sulit.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[RIESENmikroben]]></title>
<link>http://majaktuell.wordpress.com/2009/09/29/riesenmikroben/</link>
<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 13:59:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>martin297</dc:creator>
<guid>http://majaktuell.wordpress.com/2009/09/29/riesenmikroben/</guid>
<description><![CDATA[Na, ihr wolltet doch sicherlich schon einmal mit euren Krankheitserregern knuddeln, oder? Dann sind ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter" title="RIESENmikroben" src="http://www.riesenmikroben.de/images/nav/giantmicrobes.gif" alt="" width="271" height="43" /></p>
<p>Na, ihr wolltet doch sicherlich schon einmal mit euren Krankheitserregern knuddeln, oder? Dann sind die <a href="http://www.riesenmikroben.de/">RIESENmikroben</a> genau das Richtige für euch!</p>
<p><!--more--></p>
<p>Es warten total knuffige Syphillis-, Pest-, Ebola-, Typhus- &#38; Grippe-Erreger auf euch! Einfach fantastisch! Außerdem kann man jede Mikrobe auch in einen ultrastylischen Geschenkdöschen mit 2 weiteren Artgenossen kaufen… verschenke also doch mal Krankheitserreger zum Geburtstag!</p>
<p>Aber was wäre die Welt der Mikroben ohne Algen, Körperzellen und Viren? Genau, langweilig! Deshalb könnt ihr euch HI-Viren, Grün- &#38; Braunalgen sowie auch Gehirnzellen und Spermien bestellen. Total niedlich!</p>
<p>Wer noch auf diverse Pilze, Endoparasiten, Darmbakterien und Insekten steht, kommt bei diesem Angebot auch nicht zu kurz. Außerdem sind manche Erreger auch in Extragroß zu bestellen.</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;">Also: <em>Keine</em> Geburtstagspary ohne die süßen RIESENmikroben mehr.^^</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Morbus Warsteiner und cerebrale Subillumination]]></title>
<link>http://rettungsschnuffi.wordpress.com/2009/09/21/morbus-warsteiner-und-cerebrale-subillumination/</link>
<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 23:56:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>rettungsschnuffi</dc:creator>
<guid>http://rettungsschnuffi.wordpress.com/2009/09/21/morbus-warsteiner-und-cerebrale-subillumination/</guid>
<description><![CDATA[Besonders in der Notfallmedizin trifft man gelegentlich auf Patienten, die nicht wirklich krank sind]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Besonders in der Notfallmedizin trifft man gelegentlich auf Patienten, die nicht wirklich krank sind. Aber trotzdem den Rettungsdienst verständigen.</p>
<p>Zu diesem Klientel zählen häufig Menschen, die stark alkoholisiert sind, einen IQ etwa einem Brot entsprechend haben (meist nach langem Alkoholmissbrauchsjahren), oder aus südlichen, meist mediterranen, Ländern stammen. Bei den ersten beiden Gruppen mag man sich ja noch vorstellen, warum die Beliebtheit im Rettungsdienst nicht auf den vorderen Plätzen rangiert. Sie sind teilweise aggressiv, verstehen Sachzusammenhänge nicht, stinken nach Alkohol und vielen anderen süßlichen Dingen, kotzen, spucken, randalieren, grabschen und hinterlassen gerne Urinlachen auf Trage oder Stuhl. Oder sie quatschen einen den ganzen Einsatz über mit vollkommen belanglosen, unzusammenhängenden und wirren Dingen voll. Oder sie sind ganz einfach Arschlöcher.</p>
<p>Um sich über diese Personenkreise, auch direkt vor den Patienten,  unterhalten zu können, sind Begriffe erfunden worden, die zwar sehr nach Medizinerlatein klingen, doch eher weniger im Pschyrembel (Medizinlexikon) zu finden sind.</p>
<p>Mir geht es hier nicht darum, mich über diese Patientengruppen lustig zu machen, sondern über die Realität im Rettungsdienst und der Medizin zu berichten, wie ich sie erlebe.</p>
<p><strong>Begriffsbestimmungen:</strong><br />
Morbus = Krankheit<br />
cerebral = das Gehirn betreffend<br />
supra = oberhalb</p>
<p>Hier mal Synonyme und ihre Erklärung für ungeliebte Pflegefälle:</p>
<p><strong>Morbus Bahlsen</strong></p>
<p>- Bahlsen = Gebäckfabrikant<br />
- heißt, der Patient hat einen weichen Keks, ist also dumm</p>
<p><strong>akute Cerebralphimose</strong></p>
<p>- Phimose = eigentlich Vorhautverengung am Penis, hier Enge im Gehirn bzw. Schrumpfhirn</p>
<p><strong>spontane supraselläre Apoptose</strong></p>
<p>- Sella (turcica) = Türkensattel, Teil des Keilbeins an der inneren Schädelbasis auf der das Großhirn ruht.<br />
- Apoptose = Zellsterben<br />
- der Patient hat ein akutes Hirnzellsterben, soll bedeuten, er ist nicht gerade clever</p>
<p><strong>supratentorielle Dysfunktion</strong></p>
<p>- Tentorium (cerebelli) = Hirnzelt, weiche Platte, die Groß- und Kleinhirn trennt<br />
- Dysfunktion = Fehlfunktion<br />
=Hirnfehlfunktion</p>
<p><strong>supranasale Dysfunktion</strong></p>
<p>- nasal = die Nase betreffend<br />
- Dysfunktion = Fehlfunktion/Einschränkung<br />
- über der Nase gelegene Fehlunktion = Gehirnstörung</p>
<p><strong>intellektuell unauffällig</strong></p>
<p>- ohne Worte</p>
<p><strong>cerebrale Asystolie</strong></p>
<p>- cerebral = das Hirn betreffend<br />
- Asystolie = Herzstillstand, ohne elektrische Aktivität<br />
- der Patient ist &#8220;hirntod&#8221;, also ein Idiot</p>
<p><strong>retronasales Vakuum</strong></p>
<p>- retronasal = hinter der Nase gelegen, die Schädelhöhle<br />
- Vakuum = leerer Raum<br />
- der Patient hat nix im Kopf</p>
<p><strong>Cerebral-TEP</strong></p>
<p>- TEP = Total-Endo-Protese, i.e.S. Gelenkersatz, hier: künstliches, lebloses Gehirn</p>
<p><strong>retroorbital sub-illuminiert</strong></p>
<p>- retroorbital = hinter der Augenhöhle, Schädelinneres<br />
- subilluminiert = wenig beleuchtet<br />
- der Patient ist unterbelichtet</p>
<p><strong>Logorrhoe</strong></p>
<p>- unkontrollierter Redefluss, teilw. aufgrund psychiatrischer Erkrankung, hier: Patient ist eine Quasselstrippe</p>
<p><strong>logomotorische Entkopplung</strong></p>
<p>- Logomotorik = vom Gehirn gesteuerte Sprechbewegung<br />
- der Patient redet viel</p>
<p><strong>cerebro-analer Shunt</strong></p>
<p>- eine Verbindung zwischen Anus (also dem Arschloch) und dem Gehirn<br />
- der Patient redet Scheiße</p>
<p><strong>Koprolalie</strong></p>
<p>- mal ein tatsächlicher Begriff aus der Schulmedizin, sog. Kot- oder Fäkal-Sprache. Manchmal bei Kleinkindern als Trotzreaktion oder beim Tourette-Syndrom.</p>
<p><strong>Cerebraldiarrhoe</strong></p>
<p>- Hirndurchfall</p>
<p><strong>verbale Inkontinenz</strong></p>
<p>- verbal = das Sprechen betreffend<br />
- Inkontinenz = Unfähigkeit, etwas Zurückzuhalten<br />
- der Patient labert viel</p>
<p><strong>Morbus Warsteiner / Oettinger / Hasseröder</strong></p>
<p>- der Patient ist alkoholisiert, Dauertrinker</p>
<p><strong>Hypotassie</strong></p>
<p>- der Patient hat nicht alle Tassen im Schrank</p>
<p><strong>KIK-Syndrom</strong></p>
<p>- KrankimKopf-Syndrom</p>
<p><strong>RZM-Syndrom</strong></p>
<p>- Rotierende Zentral-Meise</p>
<p><strong>Porzellansyndrom</strong></p>
<p>- der Patient hat einen Sprung in der Schüssel</p>
<p><strong>Psychokokken-Infektion</strong></p>
<p>- Kokken sind kugelförmige Bakterien<br />
- sarkastisch: Patient ist mit Krankheitserregern infiziert, die ihn psychisch auffällig machen</p>
<p><strong>drittgradig offener Schnürsenkelhalsbruch</strong></p>
<p>- der Schnürsenkelhals klingt ähnlich wie der Schenkelhals (Teil des Oberschenkelknochens)<br />
- beschreibt einen Patienten der augenscheinlich nicht wirklich krank ist</p>
<p><strong>Kugelvirus</strong></p>
<p>- schwanger</p>
<p><strong>Parasit</strong></p>
<p>- herangwachsende Frucht</p>
<p>&#8220;House: <em>Sie haben einen Parasiten.</em><br />
Patientin:<em> Bah, ein Bandwurm oder so was? Können sie dagegen irgendwas tun?</em><br />
House: (macht Ultraschall) <em>Nur für einen Monat oder so, danach ist die Entfernung illegal, außer in ein paar Staaten.</em><br />
Frau: <em>Illegal? </em><br />
House:<em> Keine Sorge viele Frauen lernen diesen Parasiten anzunehmen. Sie geben ihm einen Namen, klitzekleine Sachen zum anziehen und verabreden Spieltreffen mit anderen Parasiten.</em><br />
Frau: <em>Ist ja irre.</em><br />
House: (zeigt Ultraschallbild)<em> Er hat ihre Augen.&#8221;</em></p>
<p><strong>Morbus Mediterraneus</strong></p>
<p>Bei der südländischen Personengruppe ist es da schon etwas schwieriger. Leider ist es in diesem Kreis oft so, das Krankheit und Leiden ganz anders wahrgenommen und gelebt werden, als dies in den eher nordischstämmigen Regionen Europas der Fall ist. Aus Mücken werden Elefanten, aus etwas Bauchweh und Blähungen werden Darmblutungen und leichte Schmerzen sind unerträglich, nicht mehr auszuhalten und vor allem diffus am ganzen Körper. Medikamente, die vor 1 Minute eingenommen worden, wollen einfach nicht wirken&#8230; Als Rettungsdienst steht man dann meist in Wohnungen die voll mit mindesten 10 Verwandten sind, die einen bedrängen, sich um die Patienten zu kümmern. Und die auch meist nicht verstehen, warum ein Transport in ein Krankenhaus nicht nötig ist, warum man keine Spritzen geben darf, und warum man nur Sanitäter ist und kein Arzt, etc. Das alles macht es leider sehr anstrengend und demotivierend in der Versorgung. Schwierig ist es dann, trotzdem sachlich und objektiv zu bleiben und nicht bei jedem ähnlichen  Einsatz die Notsituation als undedeutsam und überspielt abzutun.</p>
<p>Synonyme:</p>
<p>- Morbus Mittelmeer<br />
- anatolischer Ganzkörperschmerz<br />
- Morbus Bosporus</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Papusa mucegaita]]></title>
<link>http://capshunik.wordpress.com/2009/09/18/papusa-mucegaita/</link>
<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 20:41:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>capshunik</dc:creator>
<guid>http://capshunik.wordpress.com/2009/09/18/papusa-mucegaita/</guid>
<description><![CDATA[Stai si privesti in jur si esti confuz, esti derutat&#8230;. Toti pe-o usa au iesit si&#8230;au plec]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignright size-medium wp-image-190" title="a13" src="http://capshunik.wordpress.com/files/2009/09/a13.jpg?w=225" alt="a13" width="225" height="300" />Stai si privesti in jur si esti confuz, esti derutat&#8230;.</p>
<p style="text-align:left;">Toti pe-o usa au iesit si&#8230;au plecat.</p>
<p style="text-align:left;">Unii, pe nesimtite au iesit din viata ta</p>
<p style="text-align:left;">Altii, printr-o lovitura ti-au frant inima.</p>
<p style="text-align:left;">Acum, ai ramas doar tu&#8230; si o papusa mucegaita din coltul incaperii</p>
<p style="text-align:left;">Te uiti trist in jur si te abandonezi durerii.</p>
<p style="text-align:left;">Te tarai cu ultima suflare pe pamantul rece, ud</p>
<p style="text-align:left;">Iti amintesti de corpul ei proaspat, inca crud.</p>
<p style="text-align:left;">Nu mai ai putere, te opresi si te intinzi</p>
<p style="text-align:left;">Privirea ti se opreste pe tavan si&#8230;grinzi.</p>
<p style="text-align:left;">Atat sa ramana in viata ta? Atat din tot ce-a fost?</p>
<p style="text-align:left;">Un gol imens si un suflet de durere ros?</p>
<p style="text-align:left;">Si cand iti amintesti ca odata, viata ta era raiul pe pamant!</p>
<p style="text-align:left;">Iar acu, totu-ti pare goana dupa vant.</p>
<p style="text-align:left;">Te uiti in jur si vezi numai desertaciune, durere, suspin si suferinta</p>
<p style="text-align:left;">Sa fii lasat in pace, pe veci, asta-ti e ultima ta dorinta.</p>
<p style="text-align:left;">Incet, intinzi mana catre papusa mucegaita ce parca te asteapta</p>
<p style="text-align:left;">Te uiti la ea, si-i soptesti: &#8220;Doar TU si Eu, in asta viata nedreapta&#8221;!</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><strong> M-am gandit sa va dezvalui putin si din latura mea poetica:)</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KUTU BUSUK atau Cimex hemipterus]]></title>
<link>http://robertstynblog.wordpress.com/2009/09/17/kutu-busuk-atau-cimex-hemipterus/</link>
<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 15:25:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>robertstyn</dc:creator>
<guid>http://robertstynblog.wordpress.com/2009/09/17/kutu-busuk-atau-cimex-hemipterus/</guid>
<description><![CDATA[Kutu busuk adalah sejenis serangga yang tidak bersayap dan terkenal dengan bau busuknya. Ini disebab]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kutu busuk adalah sejenis serangga yang tidak bersayap dan terkenal dengan bau busuknya. Ini disebabkan ada zat yang khas yang ada di kutu busuk. Bentuk tubuhnya dan ukurannya seperti biji lamtoro, panjangnya sekitar 5,5 mm. warnanya tengguli coklat, tubuhnya pipi dari atas ke bawah, ditutupi oleh rambut yang pendek. Kepalanya berbentuk kerucut dengan sepasang mata yang menonjol ke samping, sungutnya agak langsing, bagian-bagian  mulutnya  membentuk sebuah alat penghisap yang menyerupai jarum dan dapat dilipat ke dalam sampai ke bawah kepala dan dadanya. Kakinya berbentuk ramping dan ujungnya bercakar. Kutu busuk betina ukurannya lebih besar daripada kutu jantan, tetapi keduanya dapat jalan dengan cepat.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Umumnya kutu busuk aktif pada malam hari, tetapi pada siang hari juga keluar dari persembunyiannya di celah-celah perabot rumah tangga., rangka tempat tidur, jahitan kasur, kursi, lantai, dinding, tempat duduk kendaraan. Perpindahan dari tempat satu ke tempat lain mungkin di sebabkan karena terbawa dalam pakaian atau tas yang mampunyai lipatan yang banyak.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kutu busuk menghisap darah. Darah mutlak diperlukan untuk yang betina terutama bagi pembentukan telurnya. Telur diletakkan satu demi satu di tempat persembunyiannya. Bentknya mirip bejana air, berukura sekitar 1mm, mempunyai penutup dan warnanya putih kekuningan. Jumlah telurnya 10-200 butir, setiap harinya di keluarkan rata-rata 2 butir. Permukaan telurnya dilapisi oleh zat perekat yang menyebabkan telur tidak mudah berpindah tempat. Telur akan menetas sekitar 4-10 hari, telur akan menjadi nimfa yang bentuknya sudah mirip dengan yang dewasa. Untuk mencapai dewasa, nimfa kutu busuk perlu bertukar kulit 5-6 kali. Kutu busuk dapat tahan hidup tanpa makan selama 1 tahun.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Gigitannya menyebabkan rasa gatal serta panas dan berakhiran dengan timbulnya benjolan kemerah-merahan pada kulit. Meskipun makanannya khusus terdiri dari darah, kutu busuk belum pernah di laporkan bertindak sebagai pembawa penyakit pada manusia.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Gangguan kutu busuk dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan diri, misalnya dengan sering mengeluarkan dan menjemur kasur dan menyemprot celah-celah perabota, dinding dan lantai rumah dengan insektisida. Berpindahnya seekor betina bisa saja yang siap bertelur telah cukp untuk mulai gangguan di tempat baru.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CAPLAK SAPI atau Boophilus micropluss]]></title>
<link>http://robertstynblog.wordpress.com/2009/09/17/caplak-sapi-atau-boophilus-micropluss/</link>
<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 15:16:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>robertstyn</dc:creator>
<guid>http://robertstynblog.wordpress.com/2009/09/17/caplak-sapi-atau-boophilus-micropluss/</guid>
<description><![CDATA[Caplak sapi adalah jenis caplak berkulit keras yang dianggap paling penting dalam dunia pertenakan s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">Caplak sapi adalah jenis caplak berkulit keras yang dianggap paling penting dalam dunia pertenakan sapi. Karena telah mendatangkan kerugian yang sangat besar bagi peternakan sapi. Dalam keadaan tidak menghisap darah caplak ini berukuran hanya sebesar biji mentimun dan berwarna coklat. Alat penghisap terletak di ujung yang berfungsi untuk menempel dan menghisap darah. Caplak sapi betina dapat mengembang 10-12 kali dari ukuran aslinya sesudah menghisap darah.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Caplak sapi terkenal sebagai caplak satu induk yang berarti larva, nimfa, dapat di jumpai pada satu induk semang. Setelah kenyang menghisap darah akan menjatuhkan diri dari induk semang untuk bertelur. Telurnya sejumlah 3000-5000 butir yang di keluarkan sedikit demi sedikit setiap harinya. Dalam keadaan kelembaban tinggi dan suhu yang memadai telur akan menetas dalam waktu sekitar 14 hari. Larva yang berkaki 3 pasang segera naik ke daun-daun rumput untuk menunggu kesempatan menempel pada induk semang. Bila tidak cepat mendapat induk semang yang baru larva dapat menahan lapar untuk berminggu-minggu bahkan sampai berbulan-bulan. Setelah berhasil mendapatkan induk semang dan menghisap darahnya, larva akan melepaskan diri dari induk semang untuk berganti kulit menjadi nimfa. Proses ini di ulangi lagi oleh nimfa untuk menjadi dewasa.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Akibat dari serangan caplak sapi, sapi mendapat banyak gangguan. Gangguan yang paling ringan berupa rasa gatal pada kulit yang menyebabkan sapi terus menggosok-gosok badanya sehingga dapat menimbulkan luka pada kulit. Serangan caplak dalam jumlah banyak dapat menyebabkan sapi menderita anemia, sehingga produksi daging ataupun susu akan terganggu. Lebih para lagi caplak sapi juga menyebarkan penyakit protozoa pada induk semangnya seperti Babesia bigemina.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Pada sapi-sapi yang terwat baik, ganguan caplak sapi segera dapt diatasi. Pada industri peternakan besar. Cara-cara yang telah dilakukan untuk mengatasi gangguan caplak sapi adalah dengan penyemprotan, merendam badan sapi dalam larutan insektisida dan melarang ternak di gembalakan untuk beberapa waktuagar terhindar dari bahaya infestasi baru di lapangan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apusul iubirii]]></title>
<link>http://capshunik.wordpress.com/2009/09/16/apusul-iubirii/</link>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 19:21:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>capshunik</dc:creator>
<guid>http://capshunik.wordpress.com/2009/09/16/apusul-iubirii/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Tu esti viata mea&#8221;. Inca isi aminteste cuvintele acestea. Inca tine minte cand i-a luat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-medium wp-image-186" title="IMG_7762" src="http://capshunik.wordpress.com/files/2009/09/img_7762.jpg?w=300" alt="IMG_7762" width="300" height="199" /> &#8220;Tu esti viata mea&#8221;. Inca isi aminteste cuvintele acestea. Inca tine minte cand i-a luat fata intre palmele lui si s-a uitat in ochii ei si i-a spus ca fara ea nu vrea sa traisca. Si atunci si ea&#8230; i-a spus ca nici ea nu vrea sa traiasca fara el, ca el&#8230;e ca si aerul pentru ea. Inca stie cum atunci si-au jurat iubire eterna. Totul era perfect. Ea fara el nu putea, el fara ea nu vroia. Pana astazi&#8230;.   lacrimile ii curg pe fata. In mintea ei rasuna neincetat cuvintele &#8220;viata mea&#8221; si &#8220;fara tine nu pot respira&#8221;. Ea inca nu realizeaza cum s-a ajuns aici. Cum el poate trai fara ea si inca sa o si raneasca. Cum a putut sa raneasca viata lui insusi? Se uita in jos&#8230;. tot ce vede este albastru. Albastru si iar albastru. Nu e negru..culoarea dezamagirii. Nici gri, culoarea compromisului. E ALBASTRU! Dar parca dincolo de acest albastru&#8230;se observa negru. Nu stie. Nu realizeaza. Se intreaba oare cat de adanca e. Se ridica in picioare si isi intinde bratele. Simte cum vantul ii mangaie parul. Dar nu o intereseaza. E nimic pe langa mangaierea lui. Incearca sa traga aer in piept dar&#8230;nu poate. Atunci si-a amintit ca ea respira sacadat. Ca respira de nevoie, nu de placere. Atunci&#8230;inchide ochii si&#8230; isi dadu drumul. Se astepta sa simta tot aerul inundandu-i corpul. Sa isi simta corpul in gravitatie. Sa se simta&#8230;LIBERA pentru un moment. Pentru ca fara el, a fost ca o pasare colibri prinsa in cusca. Dar tot ce a simtit a fost o smuncitura. Simti cum ceva o prinde si o tine strans. O mana puternica. Se uita in sus si il vazu pe EL. Vazu chipul lui. Si apoi observa lacrima lui. O prinse de maini si o trase puternic peste parapet.</p>
<p>- Ce faci fetita prostuta? Vrei sa ma omori? spuse aceasta ragusit, cu vocea gatuita de emotie. Putea sa o piarda. Oh, el&#8230;prostutul de el!</p>
<p>Dar ea s-a uitat cu privirea pierduta la el, cu privirea goala. Lacrimile au inceput sa-i curga, s-a smuls din bratele lui, a strigat:</p>
<p>-Nu, nu&#8230; vreau sa MA omor! Ai uitat ca nu mai esti al meu? Ca nu mai traiesti pentru mine acum?</p>
<p>Si alerga grabita spre parapet. Si s-a aruncat peste el. Din nou. Cu mai mult foc. Cu mai multa pasiune. Era contrariata. Ce cauta el aici? El care i-a spus acum catva timp in urma ca nimic nu e posibil pentru ei. Acum vrea sa zboare, vrea sa zboare&#8230; In aer aluneca usor ca o pana, in adierea vantului. Si pe buzele ei se observau murmurand cuvintele &#8221; esti viata mea. Nu mai am viata&#8221;. Si&#8230; a ajuns in apa. In adancul marii. Asa este, dupa tot acel albstru<img class="alignright size-medium wp-image-187" title="2006_Untitled_Tower_Series_05_by_BreatheNaked" src="http://capshunik.wordpress.com/files/2009/09/2006_untitled_tower_series_05_by_breathenaked.jpg?w=202" alt="2006_Untitled_Tower_Series_05_by_BreatheNaked" width="202" height="300" /> &#8230;este si un negru. Nu mai vede nimic! Decat negru! Dezamagire! Incet, simte cum mintea i se incetoseaza. Cum nu mai poate respira. Simte ca se sufoca. Si simte ca incetul cu incetul vede o lumina. Se uita in sus si&#8230;. vede un alt corp venind. Printre gene il observa pe EL cum se apropie de ea. Ajunge in apa si o ia de mana. Si ii spune soptit, cu ultima putere &#8220;Ti-am zis fetito ca esti viata mea!&#8221;</p>
<p>Acum, la apusul soarelui&#8230;. ma plimb pe un pod. Un pod aglomerat, plin de masini si oameni care alearga fiecare in directia lui. Ma apropii de parapet si vreau sa privesc apa. Privesc in jos si vad&#8230; doua trupuri plutind pe ea. Se tin de mana. Ea, are un zambet al implinirii pe fata si el are fata chinuita. A adus moartea amandurora in viata lor prin simplul fapt ca a fost prea prost sa recunoasca ca o iubea. Ca EA era viata lui. Privesc marea si vad doua trupuri de mana, care plutesc spre neant. Spre apus&#8230;.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gita Gutawa - Harmoni Cinta (2009)]]></title>
<link>http://filmdanmusik.wordpress.com/2009/09/15/gita-gutawa-harmoni-cinta-2009/</link>
<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 06:12:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>xantoso</dc:creator>
<guid>http://filmdanmusik.wordpress.com/2009/09/15/gita-gutawa-harmoni-cinta-2009/</guid>
<description><![CDATA[Track Lists: SIDE A 01 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Parasit&#8221;. 02 Gita Gutawa Title Hits ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://filmdanmusik.wordpress.com/files/2009/09/gita-gutawa-harmoni-cinta.jpg"><img src="http://filmdanmusik.wordpress.com/files/2009/09/gita-gutawa-harmoni-cinta.jpg" alt="gita-gutawa-harmoni-cinta" title="gita-gutawa-harmoni-cinta" width="280" height="263" class="aligncenter size-full wp-image-78" /></a></p>
<p>Track Lists:<br />
SIDE A<br />
01 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Parasit&#8221;.<br />
02 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Harmoni Cinta&#8221;.<br />
03 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Selamat Datang Cinta&#8221;.<br />
04 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Mau Tapi Malu (With Maia)&#8221;.<br />
05 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Meraih Mimpi (Ost. Meraih Mimpi)&#8221;<br />
06 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;When You Wish Upon A Star&#8221;.</p>
<p>SIDE B<br />
07 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Salah Jatuh Cinta&#8221;.<br />
08 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Remember&#8221;.<br />
09 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Ayo (Come On)&#8221;.<br />
10 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Melangkah Lagi&#8221;.<br />
11 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Aku Cinta Dia&#8221;.<br />
12 Gita Gutawa Title Hits Song &#8220;Lullaby&#8221;.</p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/download/6553690/SideA.zip.html"><br />
Download Side A</a><br />
<a href="http://www.ziddu.com/download/6553788/SideB.zip.html"><br />
Download Side B</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Busyeettt Bayi Satu Tahun "Hamil"]]></title>
<link>http://kabariberita.wordpress.com/2009/09/14/busyeettt-bayi-satu-tahun-hamil/</link>
<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 01:15:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>kabariberita</dc:creator>
<guid>http://kabariberita.wordpress.com/2009/09/14/busyeettt-bayi-satu-tahun-hamil/</guid>
<description><![CDATA[Pada usia yang baru menginjak satu tahun, Kang Mengru sejatinya bisa berbagi keceriaan dan kegembira]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pada usia yang baru menginjak satu tahun, Kang Mengru sejatinya bisa berbagi keceriaan dan kegembira]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Caplak Anjing]]></title>
<link>http://robertstynblog.wordpress.com/2009/09/11/caplak-anjing/</link>
<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 15:08:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>robertstyn</dc:creator>
<guid>http://robertstynblog.wordpress.com/2009/09/11/caplak-anjing/</guid>
<description><![CDATA[Caplak anjing adalah ektoparasit yang telah dikenal diseluruh dunia. Di indonesia, caplak anjing ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-23" title="caplak anjing" src="http://robertstynblog.wordpress.com/files/2009/09/caplak-anjing.jpeg" alt="caplak anjing" width="117" height="121" />Caplak anjing adalah ektoparasit yang telah dikenal diseluruh dunia. Di indonesia, caplak anjing terdapat di hampir seluruh kepulauan. Induk semang utamanya dadalah anjing, biasanya terlihat menempel di daun telinga atau tempat yang tidak berambut.</p>
<p>caplak anjing mempunyai 4 tahap pertumbuhan dalam daur hidup, yaitu telur, larva, nimfa, dan dewasa. Caplak dewasa yang belum menghisap darah bentuk tubuhnya pipih bila dilihat dari samping dan warna tubuhnya merah kecoklat-coklatan dengan ukuran sebesar kepala jarum (sekitar 2,5 mm). Tubuh caplak betina dapat menggembung samapai sebesar biji jagung bila kenyang menghisap darah dan warna tubuhnya berupa menjadi kehitam-hitaman.</p>
<p>Jenis golongan ini termasuk kedalam caplak bertubuh keras dengan bagian mulut terdapat ujung badan dan berinduk semang tiga yang berarti untuk melengkapi daur hidupnya diperlukan pergantian induk semang tiga kali.</p>
<p>Caplak betina yang sudah kenyang akan menjatuhkan dirinya untuk meletakan telur sejumlah 3.000 butir atau lebih yang dikeluarkan sedikit demi sedikit, caplak akam mati setelah bertelur. Larva akan mencari induk semang yang baru dan bila telah kenyang menghisap darah akan jatuh ke tanah untuk berganti kulit. Nimfa yang baru ini pun akan langsung mencari induk semang yang baru lagi, jika sudah kenyang akan jatuh lagi untuk mejadi dewasa. Caplak jantan dan caplak betina akan menempel pada induk semang bukan hanya untuk menghisap darah tetapi untuk berkembangbiak. Seluruh daur hidupnya dipenuh selama 60 hari.</p>
<p>Diluar negeri, caplak anjing sangat di takuti karena sanggup menjadi penular beberapa penyakit, baik pada manusia atau binatang. Tetapi di Indonesia penularan penyakit yang di lakukan oleh caplak anjing ini belum pernah di laporkan. Namun tanpa membawa penyakit pun caplak ini sudah sangat mengganggu karena anjing akan menurun kesehatannya, akibat kekurangan darah atau kurang tidur karena rasa gatal yang terus menerus dan dapat mengakibatkan kulitnya terluka karena garukan dan gigitan anjing itu sendiri.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jenis Malaria Baru Yang Mematikan Mengincar Manusia]]></title>
<link>http://erensdh.wordpress.com/2009/09/10/jenis-malaria-baru-yang-mematikan-mengincar-manusia/</link>
<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 09:32:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>erensdh</dc:creator>
<guid>http://erensdh.wordpress.com/2009/09/10/jenis-malaria-baru-yang-mematikan-mengincar-manusia/</guid>
<description><![CDATA[Satu penelitian baru menemukan bahwa satu jenis baru penyakit malaria berpotensi mengancam manusia. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Satu penelitian baru menemukan bahwa satu jenis baru penyakit malaria berpotensi mengancam manusia. ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Caplak Anjing]]></title>
<link>http://robertstyn.wordpress.com/?p=68</link>
<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 16:00:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>robertstyn</dc:creator>
<guid>http://robertstyn.wordpress.com/?p=68</guid>
<description><![CDATA[Caplak anjing adalah ektoparasit yang telah dikenal diseluruh dunia. Di indonesia, caplak anjing ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Caplak anjing adalah ektoparasit yang telah dikenal diseluruh dunia. Di indonesia, caplak anjing terdapat di hampir seluruh kepulauan. Induk semang utamanya dadalah anjing, biasanya terlihat menempel di daun telinga atau tempat yang tidak berambut.</p>
<p>	caplak anjing mempunyai 4 tahap pertumbuhan dalam daur hidup, yaitu telur, larva, nimfa, dan dewasa. Caplak dewasa yang belum menghisap darah bentuk tubuhnya pipih bila dilihat dari samping dan warna tubuhnya merah kecoklat-coklatan dengan ukuran sebesar kepala jarum (sekitar 2,5 mm). Tubuh caplak betina dapat menggembung samapai sebesar biji jagung bila kenyang menghisap darah dan warna tubuhnya berupa menjadi kehitam-hitaman.</p>
<p>	Jenis golongan ini termasuk kedalam caplak bertubuh keras dengan bagian mulut terdapat ujung badan dan berinduk semang tiga yang berarti untuk melengkapi daur hidupnya diperlukan pergantian induk semang tiga kali.</p>
<p>	Caplak betina yang sudah kenyang akan menjatuhkan dirinya untuk meletakan telur sejumlah 3.000 butir atau lebih yang dikeluarkan sedikit demi sedikit, caplak akam mati setelah bertelur. Larva akan mencari induk semang yang baru dan bila telah kenyang menghisap darah akan jatuh ke tanah untuk berganti kulit. Nimfa yang baru ini pun akan langsung mencari induk semang yang baru lagi, jika sudah kenyang akan jatuh lagi untuk mejadi dewasa. Caplak jantan dan caplak betina akan menempel pada induk semang bukan hanya untuk menghisap darah tetapi untuk berkembangbiak. Seluruh daur hidupnya dipenuh selama 60 hari.</p>
<p>	Diluar negeri, caplak anjing sangat di takuti karena sanggup menjadi penular beberapa penyakit, baik pada manusia atau binatang. Tetapi di Indonesia penularan penyakit yang di lakukan oleh caplak anjing ini belum pernah di laporkan. Namun tanpa membawa penyakit pun caplak ini sudah sangat mengganggu karena anjing akan menurun kesehatannya, akibat kekurangan darah atau kurang tidur karena rasa gatal yang terus menerus dan dapat mengakibatkan kulitnya terluka karena garukan dan gigitan anjing itu sendiri.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[De ce m-a parasit prietena fara regrete?]]></title>
<link>http://butonul.wordpress.com/2009/09/07/de-ce-m-a-parasit-prietena-fara-regrete/</link>
<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 15:21:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>SlicK</dc:creator>
<guid>http://butonul.wordpress.com/2009/09/07/de-ce-m-a-parasit-prietena-fara-regrete/</guid>
<description><![CDATA[Excludem cazul pizdelor proaste, ultra-superficiale etc. Se intampla atunci cand esti &#8220;de umpl]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://butonul.wordpress.com/files/2009/09/parasit-pentru-altul-mai-bun.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-493" title="Parasit pentru altul mai bun" src="http://butonul.wordpress.com/files/2009/09/parasit-pentru-altul-mai-bun.jpg?w=300" alt="Parasit pentru altul mai bun" width="216" height="158" /></a><em>Excludem cazul pizdelor proaste, ultra-superficiale etc.</em><br />
Se intampla atunci cand esti &#8220;de umplutura&#8221;. Sta cu tine doar ca sa nu stea singura pana cand APARE UNUL CARE STIE SA O FACA SA SIMTA!<br />
Deci, problema nu este a lor ci a celor care nu stiu sa le faca sa simta. Indiferent ca tine la tine sau nu, fata va fi fata.. adica dulcegarii de alea, vai ce te iubesc, esti tare, esti mare, ce faci iubi, pupic.. cacat. Din cauza ca-s fiinte sentimentale, de obicei tine <strong>un pic</strong> la tine chiar daca nu stii sa-i oferi sentimente. Insa mi se pare absolut normal sa spuna Pa cu minim de regrete atunci cand apare altu` care o face sa-i bata inima mai puternic <!--more Citeste mai departe!-->(vedeti ca n-am zis &#8220;altu` mai bun&#8221; &#8211; chestia aia cu<em> Femeia te lasa pentru altu` mai bun</em> &#8211; e cam o jumatate de mit asa.. adica daca sexu` e de la ok in sus, sentimentele sunt intense si variate, nu te lasa asa usor cand apare altu` mai bun; daca Ala se baga activ pe ea si incearca sa o seduca, intr-adevar, sansele sunt mari sa o indeparteze de tine dar REPET nu e asa simplu: gagica-ta cunoaste pe altu` mai bun, e gata, se duce cu ala!).</p>
<p>Cei care va enervati din orice cacat facut de prietenele voastre, luati-o mai usor, e un semn urias de slabiciune si dovedeste clar ca nu puteti fi ceea ce-si doresc ele: un barbat puternic, stabil, pe care se pot baza. Fiind fiinte emotionale e absolut normal sa aiba toane, sa dramatizeze, sa se comporte irational uneori. De asta are nevoie ca tu sa fii ala calm, stabil, nu mai are nevoie de inca unu` care sa aiba toane, sa dramatizeze, sa se lase condus de emotii negative, la fel ca ea. Tu trebuie sa echilibrezi balanta.</p>
<p>Crezi ca e destul ca te saruti cu ea, ca iesi cu ea, ca faci sex cu ea? Crezi ca e destul ca o tii in brate, ca o mai arzi in cuvinte dulci si-n sentimente cu ea? Crezi ca daca tu simti ceva pentru ea asta inseamna ca trebuie sa simta si ea? Crezi ca trebuie sa fii porc si sa te doara-n pula pentru ca ea sa tina la tine? Nu mai crede..</p>
<p>Nu pot explica felul in care oferi unei femei sentimente profunde, cum o duci de la cald la rece, de la rece la cald pentru ca asta am stiut sa fac dintotdeauna si am facut-o natural. N-am reusit niciodata sa analizez procesu` in detaliu iar cand am incercat, n-am reusit sa-l inteleg decat la nivel abstract. Dar e un inceput bun sa stii ca daca ai patit-o cel putin odata sa fii parasit fara regrete, fara drame, fara certuri, fara ca ea sa sufere: AI O PROBLEMA. Daca ai patit de 2 ori sau mai mult, ai o MARE PROBLEMA! Invata sa-i oferi sentimente unei fete. E destul sa vrei si o sa stii cum.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Akibat Sushi Dan Sashimi, Ulat Dalam Kepala]]></title>
<link>http://ehkangagus.wordpress.com/2009/09/05/akibat-sushi-dan-sashimi-ulat-dalam-kepala/</link>
<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 15:56:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kang Agus</dc:creator>
<guid>http://ehkangagus.wordpress.com/2009/09/05/akibat-sushi-dan-sashimi-ulat-dalam-kepala/</guid>
<description><![CDATA[Ini cerita nyata di Jepang&#8230;.oops kalau gak kuat lihat gambar ini lebih baik lewati aja artikel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" src="http://files.myopera.com/greatKucrit/blog/ATT103588752.jpg" alt="" width="210" height="280" /></p>
<p style="text-align:justify;">Ini cerita nyata di Jepang&#8230;.oops kalau gak kuat lihat gambar ini lebih baik lewati aja artikel ini&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang kakek, Shota Fujiwara dari Gifuprefecture yg sering mengeluh sakit kepala membandel adalah penggemar berat makanan khas Jepang SUSHI &#38; SASHIMI.  Kegemarannya ini sudah dimulai sejak dia muda sebagaimana layaknya warga Jepang lainnya. Namun pada usia lanjutnya kini, dia mengalami sakit kepala yg akut&#38; hebat dalam 3 tahun terakhir, yg praktis membuatnya kesulitan utk bekerja &#38; menjalani hidup dgn normal. dan sakitnya itu telah membuat kulit batok kepalanya terus membesar. Dan makin terlihat seperti jenong pada ikan Lohan&#8230;. Dia telah kehilangankemampuan psikomotoric- nya sejak 3 tahun lalu. Untuk mengatasi hal itu, dia pergi ke rumah sakit dan menjalani pemeriksaan CT-scan &#38; X-ray utk memastikan penyebabnya. Dokter yg menanganinya menjadi sangat terkejut karena didapati tampilan benda-benda kecil aneh dibawah kulit kepalanya namun masih diluar tempurung otaknya.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Dokter kemudian melakukan anastesi lokal dan memutuskan membedah kecil kulit kepalanya, dan&#8230;&#8230;..kemudian ditemukan penyebab utamanya. Disitu ditemukan sarang ulat. Sungguh mengerikan. Kemudian diputuskan utk melakukan operasi bedah kulit kepala secara total utk memastikan ulat-ulat tersebut bisa dibersihkan dan infeksi dibawah kulit batok kepalanya bisa disembuhkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, BERHATI-HATILAH MEMAKAN SUSHI &#38; SASHIMI (IKAN MENTAH,<a href="Jangan lihat gambar ini kalu lagi makan menjijikan iiih.."><img class="alignright" src="http://banabakery.files.wordpress.com/2009/06/sushi011.jpg?w=163&#038;h=209#38;h=300" alt="" width="163" height="209" /></a><br />
GURITA MENTAH , CUMI MENTAH , UDANG MENTAH dsb
</p>
<p style="text-align:justify;">Ulat seperti yg didapati pada kepala Shota Fujiwara, adalah berasal dari parasit yg biasa didapat pada tubuh ikan , seafood mentah baik ikan laut maupun ikan ait tawar. Ulat parasit &#38; telurnya hanya bisa dimatikan dgn melalui proses pemasakan degan panas tinggi (digoreng, dipanggang matang atau direbus mendidih) atau dgn pembekuan -10 degC s/d -20 degC selama lebih dari 1 minggu. Karena itu ingat-ingatlah, untuk memastikan konsumsi ikan ? seafood &#38; daging hanya yg sudah melalui proses pemasakan yg benar (digoreng, dipanggang matang &#38; direbus mendidih)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>RENUNGILAH Firman Allah:</strong><br />
&#8220;Hai orang-orang yang beriman! Makanlah yang baik-baik dari apa-apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta bersyukurlah kepada Allah kalau betul-betul kamu berbakti kepadaNya. Allah hanya mengharamkan kepadamu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih bukan karena Allah. Maka barangsiapa dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tidaklah berdosa baginya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.&#8221; (Al-Baqarah: 172-173)
</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#99cc00;">Semoga kita selalu diberikan kesehatan ini suatu pelajaran buat kita semua&#8230;</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[download lagu menunggu buka puasa]]></title>
<link>http://pioner2b.wordpress.com/2009/09/04/download-lagu-menunggu-buka-puasa/</link>
<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 03:30:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>pioner2b</dc:creator>
<guid>http://pioner2b.wordpress.com/2009/09/04/download-lagu-menunggu-buka-puasa/</guid>
<description><![CDATA[just click the title 1. Hadad Alwi &#8211; I&#8217;tiraf 2. Snada -  Demi Matahari 3. Gita Gutawa - ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[just click the title 1. Hadad Alwi &#8211; I&#8217;tiraf 2. Snada -  Demi Matahari 3. Gita Gutawa - ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ma iubesti cum nu ai mai iubit pe nimeni?]]></title>
<link>http://capshunik.wordpress.com/2009/08/25/ma-iubesti-cum-nu-ai-mai-iubit-pe-nimeni/</link>
<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 22:04:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>capshunik</dc:creator>
<guid>http://capshunik.wordpress.com/2009/08/25/ma-iubesti-cum-nu-ai-mai-iubit-pe-nimeni/</guid>
<description><![CDATA[Tu. Ai aparat de nicaieri, atat de placut, atat de linistit incat nu stiam ce ma asteapta. La incepu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-151" title="a176" src="http://capshunik.wordpress.com/files/2009/08/a176.jpg" alt="a176" width="500" height="666" /> Tu. Ai aparat de nicaieri, atat de placut, atat de linistit incat nu stiam ce ma asteapta. La inceput te-am privit ca pe un oricare. Timpul a trecut si&#8230; ai reusit sa ma impresionezi. Ai fost primul care m-ai facut sa apreciez un minut, o secunda. Ai fost primul care mi-ai aratat care sunt cu adevarat lucrurile importante din viata mea. Cu asa de mult calm si cu atata blandete m-ai indreptat pe calea cea buna. Incetul cu incetul deveneam dependenta de tine, de vocea ta si eu nu stiam. Tu mi-ai deschis ochii asupra a multor lucruri si tot tu&#8230;m-ai schimbat total. In bine, dar si in rau.   Nu intelegeam niciodata cum e sa plangi de fericire. Dar tu ai reusit sa faci asta pentru mine. Am plans o data de fericire din cauza ta. Nu-mi venea sa cred. Tot tu, m-ai facut sa-mi doresc ca timpul sa se opreasca. Sa stea in loc. Tu, de asemenea m-ai invatat ce inseamna sacrificiul, durerea. Tu m-ai facut sa ajung la punctul in care fericirea, siguranta si dezvoltarea celuilalt constituie pentru mine o forta care se indentifica cu propria mea fericire, siguranta si dezvoltare.</p>
<p>Si tot tu mi-ai provocat o suferinta sufleteasca atat de mare, incat o resimteam fizic. Tu ai schimbat totul in viata mea.  Tu m-ai invatat ce e durerea. Nu-mi imaginam o asemenea durere&#8230;m-a trantit la pamant,mi-a secat ochii,m-am ridicat,am zambit&#8230;apoi am privit &#8230;si-am spus ASTA ESTE. Am devenit puternica. Tu m-ai invatat ce inseamna sa fiu puternica. A fi puternic inseamna sa radiezi de fericire atunci cand esti trist.Inseamna sa iubesti pe cineva in tacere.A fi puternic inseamna a zambi cand vrei sa plangi.A fi puternic inseamna a face pe cineva fericit chiar daca tu ai inima franta. A fi puternic inseamna sa mergi pe strada dreapta, zambind&#8230;chiar daca iti vine sa te trantesti jos si sa nu te mai ridici. A fi puternic inseamna sa reusesti sa-l asculti pe cel de langa tine si sa duci discutia pana la capat, desi tu, saracul de tine&#8230;ai atatea probleme incat nu mai stii ce sa faci. A fi puternic inseamna sa stii cum sa urci muntele durerii in genunchi, dar cu capul sus. Ce ciudat… ce ciudat e sa iti doresti din suflet sa gasesti iubirea, iar atunci cand o gasesti sa ti se taie dreptul la ea…atunci cand in sfarsit simti cu adevarat ca exista….cand in sfarsit iubirea devine reala…ea sa devina concomitent si imposibila…</p>
<p>Dar nu imi pare rau pentru ca cel putin am aflat ce lipseste cu adevarat din viata mea.Ma intreb de ce era vocea lui atat de speciala. Pana la urma era o simpla voce..o simpla voce intr-un telefon..care pentru mine insemna mult..insemna dependenta de a o auzi iar si iar.  Si acum am ramas doar cu o amintire placuta, si totodata neplacuta. Nu regret de nici un pas facut in viata mea, si in mod sigur nu regret unele decizii. Sunt fericita acum si&#8230;acum, astept ca sa apara cu adevarat in viata mea cel care ma va fermeca. Tu, dragul meu&#8230;tu, doar m-ai pregatit pentru ce va veni.</p>
<p>Astept ca EL sa apara, sa ma uit in  ochii lui si sa-l intreb: &#8220;Ma iubesti cum nu ai mai iubit pe nimeni altcineva?&#8221;</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
