<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>parikesit &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/parikesit/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "parikesit"</description>
	<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 09:01:59 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Kebangkitan Komik Wayang Indonesia oleh Elexmedia Komputindo]]></title>
<link>http://mygoder.wordpress.com/2009/11/29/kebangkitan-komik-wayang-indonesia/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 08:22:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>g0d3r</dc:creator>
<guid>http://mygoder.wordpress.com/2009/11/29/kebangkitan-komik-wayang-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Siapa tidak kenal wayang di Indonesia pada tahun 2009 ini, dari muda tua dan segala usia pasti menge]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Siapa tidak kenal wayang di Indonesia pada tahun 2009 ini, dari muda tua dan segala usia pasti menge]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Rantideva Sang Pemberi Agung]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/09/13/kisah-rantideva-sang-pemberi-agung/</link>
<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 07:59:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/09/13/kisah-rantideva-sang-pemberi-agung/</guid>
<description><![CDATA[Mari kita melakukan introspeksi diri: Apa saja yang kita lakukan selama ini, mengembangkan rasa kasi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Mari kita melakukan introspeksi diri: Apa saja yang kita lakukan selama ini, mengembangkan rasa kasih tidak? Pendidikan agama di sekolah dasar mengembangkan rasa kasih atau justru menciptakan jurang pemisah berdasarkan agama? Mengikuti talk-show dan perdebatan di televisi berkembang rasa kasih atau justru rasa tegang, rasa benci? Profesi atau pekerjaan saya menunjang pengembangan rasa kasih atau tidak? Begitu pula dengan persahabatan saya, pergaulan saya, lingkungan saya&#8230;.. Sebaliknya, bila dengan melihat kayu salib, atau kaligrafi Allah dan Muhammad, atau patung Buddha dan Laotze dan Kuan Yin timbul rasa kasih di dalam diri seseorang, maka kritikan kita terhadapnya sungguh tidak bermakna. Daripada berpolitik dan menyebarkan kebencian, lebih baik duduk diam menghadapi kaligrafi atau patung. Setidaknya bisa menimbulkan rasa kasih di dalam diri kita. Orang menganggap Anda gila, ya biarlah. Itu anggapan mereka. Hormatilah anggapan mereka. Tidak perlu membela diri. Lha mereka belum bisa melihat sisi lain kebenaran, mau dipaksa bagaimana? But again, silahkan berpolitik dan berusaha dan ber-“apa saja” bila semua itu menunjang pengembangan rasa kasih di dalam diri.</em> <strong><sup>*1 Narada Bhakti Sutra </sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kisah Resi Shuka tentang leluhur Parikesit</span></strong></p>
<p>Raja Parikesit, menunggu kematian, dan dalam beberapa hari ke depan maut akan menjemput. Raja Parikesit bersyukur atas kisah-kisah Resi Shuka yang membawa kedamaian, sudah ratusan kisah didengarnya, semua kisah membuka dirinya, berbagai kisah tentang leluhur, tentang karma, tentang pertentangan antara para asura dengan para dewa. Kemudian para asura yang dalam masa kemudian mewujud dalam raja-raja dunia dan kebenaran yang diwujudkan dalam para ksatriya kekasih para dewa.</p>
<p>Raja Parikesit termenung, baru saja Resi Shuka bercerita yang tidak lagi membicarakan peperangan antara adharma dengan dharma, tetapi peperangan antara nafsu dan kasih yang ada dalam diri manusia. Namanya saja dongeng, tidak logis sehingga dapat melampaui <em>mind</em> dan harus dipahami dengan rasa bukan dengan pikiran.<!--more--></p>
<p>Salah seorang bhagavan pernah berkata, “Perjalanan ke dalam diri adalah perjalanan menuju kebebasan. Selama ini manusia merasa nikmat berada di dalam rumah pikiran. Di batasi oleh dinding-dinding tembok pola pikiran lama. Kemudia dia mulai melangkah ke halaman rumah, melampaui dinding-dinding tembok pikiran yang kaku. Mulai merasakan kebebasan di halaman rumah, memasuki alam rasa. Alam rasa yang tidak terkotak-kotak dinding-dinding pola pemikiran yang memisahkan. Dan sebetulnya halaman rumah ini sudah berhubungan dengan alam bebas. Bagaimana pun dia masih harus tidur dalam rumah lagi, akan tetapi dia telah memahami adanya kebebasan. Pandangannya tidak picik lagi. Alam rasa sudah melampaui sekat-sekat dinding pikiran yang membelenggu selama ini.</p>
<p>Sewaktu tubuh kita sehat, tidak ada keluhan, nyaman dan penuh vitalitas, kita merasa tubuh kita adalah satu. Baru setelah ada bagian tubuh yang sakit, misalnya gigi. Kita baru bilang gigi atau bagian lain dari tubuh sakit. Rasa keterpisahan terjadi ketika kita sedang tidak sehat. Keterpisahan kita dengan seluruh mahluk apakah juga karena kita tidak sehat? Penyakit ego membuat keterpisahan dan keterpisahan terjadi karena jiwa kita tidak sehat, karena tertipu oleh ilusi sang maya.</p>
<p>Dalam dinasti Bharata tersebutlah Pangeran Rantideva. Ia mempunyai kekayaan tak terukur yang datang dengan mudah seperti datangnya hujan di musim penghujan.</p>
<p>Bila memandang air hujan sebagai materi karena ada wujudnya, maka di balik wujud tersebut adalah energi. Bila dunia ini nampak dan dapat dirasakan karena ada wujudnya, maka di balik dunia ini adalah energi yang tak nampak. Tetapi energi pun adalah materi. Einstein menyebutkan energi adalah materi dalam fungsi kecepatan tertentu. Pada hakikatnya semua materi adalah energi. Tetapi apa yang ada di balik energi? Pada hakikatnya semua benda terdiri dari atom-atom. Tetapi atom sendiri adalah suatu asumsi. Dibalik asumsi tersebut ada hal yang merupakan misteri.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Sang Pemberi Agung</span></strong></p>
<p>Di balik materi yang dimiliki Pangeran Rantideva, terdapat rasa kasih yang begitu besar. Semua harta benda yang diberikan kepadanya, dibagikan kepada mereka yang membutuhkannnya. Pangeran Rantideva sudah tidak mempunyai rasa ‘aku’ dan ‘milikku’. Sudah tidak mempunyai ego, jiwanya sudah tidak sakit. Gusti Hyang Maha Misteri juga menganugerahkan istri dan anak-anak yang memahami jiwa sang pangeran.  </p>
<p>Konon pada suatu saat tubuh pangeran Rantideva sangat lemah. Sudah empat puluh delapan hari tanpa memiliki suatu apa pun. Bahkan tidak ada makanan yang tersedia di depan Pangeran Rantideva beserta isteri dan anak-anaknya. Yang tersisa hanya rasa kepuasan diri setelah membantu mereka yang membutuhkan bantuan.</p>
<p>Kepuasan diri adalah energi yang kita butuhkan. Kepuasan diri akan mencegah terjadinya pemborosan energi. Kepuasan diri malah akan melipatgandakan energi di dalam tubuh kita. Berpuaslah dengan apa yang kita peroleh sebagai hasil jerih payah kita. <strong><sup>*2 Be Happy halaman 76</sup></strong></p>
<p>Pada hari keempat puluh sembilan, Pangeran Rantideva mendapatkan nasi yang dimasak dengan ‘ghee’, air dan kue gandum.</p>
<p>Setelah selesai berdoa dan bersiap untuk  makan, seorang brahmin datang meminta makanan. Rantideva berkata kepada dirinya sendiri, “Narayana ada di mana-mana dan sekarang Ia telah datang kepadaku meminta makanan. Merupakan kebahagiaan bagi diriku untuk dapat melayani Narayana di balik wujud sang brahmin.” Dan, sebagian besar nasi diserahkan kepada tamunya. Kemudian,  isteri dan anaknya mendapatkan sebagian.</p>
<p>Dan, ketika Pangeran Rantideva mulai makan sebagian dari bagiannya, seorang sudra datang minta makanan. Pangeran Rantideva menyadari bahwa pada dasarnya semua orang adalah Brahman. Manusia dan dunia ini adalah proyeksi dari Brahman. Sejatinya yang ada hanya Brahman. Tidak ada yang lain kecuali Brahman. Dan dia memberi bagian makanan miliknya kepada sudra tersebut.</p>
<p>Kita menjalani kehidupan dalam otak kita. Orang yang kita lihat, rasa basahnya air, harumnya bunga, semuanya terbentuk dalam otak kita. Padahal satu-satunya yang ada dalam otak kita adalah sinyal listrik. Ini adalah fakta yang menakjubkan bahwa otak yang berupa daging basah dapat memilah sinyal listrik mana yang mesti diinterpretasikan sebagai penglihatan, sinyal listrik mana sebagai pendengaran dan dan mengkonversikan material yang sama dengan berbagai penginderaan dan perasaan.</p>
<p>Meskipun orang menganggap material ada di luar kita, cahaya, bunyi dan warna di luar otak kita itu tidak ada, yang ada adalah energi. Benda di luar hanya ada dalam paket energi. Paket energi tersebut dilihat oleh retina. Retina mengirim sinyal listrik ke otak. Otaklah yang menginterpretasikan itu adalah suatu benda. Bunyi juga terbentuk kala gelombang-gelombang energi menyentuh telinga kita, kemudian diteruskan ke otak dan diintepretasikan sebagai bunyi tertentu oleh otak kita.</p>
<p>Fisika quantum memperlihatkan bahwa klaim adanya eksistensi materi tidak mempunyai landasan yang kuat. Materi adalah 99,99999 % hampa. Yang ada diluar otak hanyalah paket-paket energi, otaklah yang menginterpretasikan itu adalah benda. Alam semesta seperti yang kita lihatpun hanya ada karena adanya otak kita.</p>
<p>Setelah sebagian nasi diberikan kepada sang sudra, dan Pangeran Rantideva belum sempat makan sisanya, datang pengemis bersama empat anjingnya minta diberi makanan. Rantideva memberikan semua sisa makanan yang ia punyai dan ia senang karena telah mengurangi rasa lapar dari tamu dan binatangnya.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kasih adalah memberi, memberi dan memberi</span></strong></p>
<p>Anugerah-Nya berlimpah, seolah Tangan-Nya selalu terbuka untuk memberi dan memberi dan memberi. Kita tidak mampu menghitung pemberian-Nya, berkah-Nya. Ia memberi tanpa menampakkan Diri. Hendaknya kita belajar dari sifat-Nya yang satu ini: Memberi tanpa menampakkan diri, tanpa bergembar-gembor. Tidak perlu publisitas. Berilah karena cinta, karena kasih. Bukan karena pengakuan oleh masyarakat, oleh institusi, ataupun karena anjuran si Fulan. Berilah karena memang memberi adalah sifatmu.<strong><sup>*3 Panca Aksara halaman 100</sup></strong></p>
<p>Manakala Pangeran Rantideva akan minum dari air yang tersisa padanya, seorang chandala datang minta air. Jantung Rantideva dikoyak rasa kasih pada chandala, “Aku tidak menginginkan kekayaan. Aku tidak ingin minta tempat di surga. Yang aku lakukan adalah mengambil penderitaan orang lain dan membebaskan dirinya dari penderitaan.”</p>
<p>Ada perbedaan yang jelas sekali antara Kasih dan Kasihan. Kasih adalah sesuatu yang timbul tanpa alasan. Tidak ada logika, tidak ada matematika, tidak ada kalkulasi. Kasih juga bukan filsafat. Kasih berada di atas segalanya. Apa yang akan dikatakan oleh Arjuna, bukan karena kasih, tetapi karena kasihan. Dalam Rasa Kasihan, ego kita, keangkuhan kita masih tetap ada. Kita memberikan sedekah kepada fakir miskin. Ini bukan Kasih – kita hanya tergerak karena rasa kasihan. Sewaktu memberikan sedekah pun keangkuhan kita tetap ada: Aku yang memberikan sedekah itu, aku yang membantu pembangunan tempat ibadah itu, aku yang melayani mereka yang susah. Di mana-mana Anda akan menemukan ‘aku’ atau keangkuhan, Kasih tidak akan pernah ada. Kasih belum bisa muncul. Kasih adalah pelepasan keangkuhan. Begitu ‘aku’ terlepaskan, Kasih pun muncul. Arjuna terdorong oleh Rasa Kasihan, bukan Rasa Kasih. <strong><sup>*4 Bhagavad Gita</sup></strong></p>
<p>“Dengan penuh kesadaran, diriku memberikan air ini agar penderitaan sang chandala berkurang. Rasa lapar, dahaga, kelemahan duka cita yang terjadi dalam diriku membersihkan diriku dari semua penyakit keterikatan dan khayalan.”</p>
<p>Mereka yang sedang naik gunung kesadaran, pandangannya terfokus ke puncak, kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Mungkin mereka yang memahami hukum alam disebut Resi. Tetapi ada Resi Drona yang hidupnya dibiayai dengan dana Korawa. Ada Resi Durwasa yang tidak bisa mengendalikan diri dan suka mengutuk. Mereka mempertahankan dirinya untuk mencapai puncak gunung kesadaran.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Mengikuti Guru yang turun dari Gunung Kesadaran</span></strong><strong></strong></p>
<p>Sebaiknya manusia mengikuti para Guru yang sudah mulai turun dari puncak gunung kesadaran. Mereka sudah tidak mempunyai keinginan apa-apa lagi kecuali sekadar berbagi kesadaran selama hayat masih di kandung badan.  Mereka melihat keadaan di bawah lebih jelas. Mereka melihat ketidakadilan dengan jelas. Mereka disebut Bhagawan, Maitreya. Kanjeng Nabi Muhammad, Gusti Yesus, Yang Mulia Buddha, Sri Krishna jelas sangat spiritual, tetapi perhatikan ajaran kemasyarakatannya. Sri Krishna tidak duduk diam menjadi resi di puncak Gunung, beliau ditengah masyarakat membimbing Arjuna menegakkan keadilan.</p>
<p>Para seniman negeri China sejak zaman dahulu menggambarkan Maitreya sebagai seorang buddha yang ketawa membawa arak dan buntalan pakaian. Tak ada hal yang dirisaukan lagi olehnya. Dia turun gunung ke pasar dunia berbagi kesadaran.</p>
<p>Banyak orang mengikuti resi yang sedang naik ke puncak, kurang peduli dengan lingkungan, maka kedamaiannya yang diperoleh masih semu. Kedamaian itu dimanfaatkan oleh mereka yang mendapatkan keuntungan dari ketidak pedulian mereka. Mungkin Indonesia habis dan terpecah-belah, dan mereka belum sampai ke puncak kesadaran juga.</p>
<p>Banyak juga pemuda yang penuh semangat terjun ke masyarakat karena peduli dengan lingkungan. Akan tetapi, tanpa dibekali kesadaran, mudah sekali dia melenceng dari tujuan mulia setelah mendapat kenyamanan di dunia.</p>
<p>Mendapatkan pencerahan dulu atau peduli dengan masyarakat dengan kesadaran yang ada? Para master berbeda pendapat. Bagi kami pribadi mengikuti Guru yang sudah turun gunung akan mendapatkan keduanya, sambil meningkatkan kesadaran sambil berbhakti pada masyarakat dan lingkungan.</p>
<p>Pangeran Rantideva ikhlas, bukan hanya harta kepemilikannnya yang dipersembahkan kepada Narayana yang mewujud dalam berbagai bentuk. Nasi, air dan bahkan dirinya pun dipersembahkannya.</p>
<p>Di dinding Candi Borobudur, juga ada kisah serupa. Beberapa orang manusia sedang tenggelam karena air laut yang naik akibat tsunami. Seekor kura-kura raksasa menolong mereka agar menaiki punggungnya. Mereka akhirnya terdampar di pulau dalam keadaan kelelahan dan kelaparan. Dan sang kura-kura merelakan tubuhnya disantap manusia agar mereka dapat bertahan hidup dan mencari makanan di pulau tersebut.</p>
<p>Selagi Pangeran Rantideva masuk dalam keheningan, tiba-tiba para tamunya berkumpul dan mereka mewujud menjadi diri mereka yang sebenarnya, Brahma, Vishnu, Shiva dan para dewa lainnya. Mereka disenangkan oleh Pangeran Rantideva. Rantideva menghormati mereka dan sama sekali tidak minta anugerah apa pun. Pangeran Rantidewa sadar dibalik wujud para dewa, kuasa Ilahi, adalah Dia yang tak berwujud. Di balik wujud selalu ada yang tak berwujud. Yang penting bukan menyembah tetapi melayani Dia. Pikirannya ditujukan kepada Dia.  Ketika sedang merenungkan Narayana, avarana yang disebut maya yang terdiri dari tiga guna meninggalkannnya. Pangeran Rantideva terjaga dan menyatu dengan Yang Maha Agung, Paramatma, Param Brahman, atau di Nusantara menjadi Prambanan.</p>
<p>Nama-nama Candi di Nusantara bukan sekadar nama, melainkan mempunyai makna yang dalam.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Memerintah dengan penuh kesadaran</span></strong></p>
<p>“Demikianlah wahai raja, Pangeran Rantidewa memerintah kerajaannya selama beberapa puluh tahun kemudian. Memerintah dengan dilandasi kesadaran. Dinasti Bharata patut berbangga mempunyai leluhur yang amat bijaksana.” Demikian Resi Shuka berkata.</p>
<p>“Wahai raja, nanti di akhir zaman Dwapara Yuga, akan banyak raja membangun sekian banyak tempat ibadah di mana-mana, sang penguasa menganggap dirinya sudah berbuat baik. Dia tidak peduli apakah tempat-tempat itu dimanfaatkan untuk beribadah atau untuk apa? Untuk menyebarkan kesejukan atau kebencian? Sebaik apa pun karma kita, bila tanpa kasih, sungguh tak berarti. Tanpa kepedulian yang lahir dari cinta, itu semua sungguh tak bermakna. Para rohaniawan pun demikian. Banyak di antara mereka yang hanya membaca buku dan meneruskan informasi kepada para jemaah, kepada umat masing-masing. Banyak yang tidak peduli apakah informasi yang mereka sampaikan itu “mengutuhkan” jiwa para pendengar atau justru sebaliknya, membagi, mengkotak-kotak dan mencabik-cabik jiwa mereka. Jiwa sendiri sudah tidak utuh, kemudian ketidakutuhan itu pula yang kita tularkan kepada orang lain. <strong><sup>*1 Narada Bhakti Sutra</sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kedamaian bukan ketenangan sesaat</span></strong></p>
<p>Raja Parikesit bersimpuh di depan sang guru,“Guru, siswa masih ingat nasehat Guru,” </p>
<p>“Janganlah menyalahartikan kedamaian sebagai ketenangan sesaat. Jangan pula menyalahterjemahkan kebahagiaan sebagai kenikmatan sementara. Kita sedang berbicara tentang kedamaian yang langgeng, abadi, dan kebahagiaan yang kekal, sejati. Sesungguhnya, kedamaian dan kebahagiaan ibarat dua sisi kepingan uang logam yang sama. Dimana ada kebahagiaan, disanalah ada kedamaian. Atau sebaliknya, dimana ada kedamaian, di sanalah ada kebahagiaan. Tuhan Maha Damai adanya. la bagaikan langit atau lebih tepatnya ruang kosong, kasunyatan abadi dimana segala macam kejadian sedang terjadi. Berlalunya awan sesungguhnya sama sekali tidak mempengaruhi sifat langit. Sebenarnya langit tidak pemah berawan. Awan hanya melaluinya saja. Langit tidak pemah mendung. Apa yang kita sebut &#8220;mendung&#8221; itu hanyalah sebuah kesan, persepsi kita sendiri. Adanya awan antara mata kita dan langit bisa menciptakan seribu satu macam &#8220;adegan&#8221; &#8211; kendati demikian adegan-adegan itu tidak mempengaruhi langit. Atau, layar bioskop, layar proyektor. Layar itu tidak terpengaruh oleh gambar-gambar yang diproyeksikan padanya. Banjir dan hujan lebat dalam film tidak membasahinya. Seperti itulah sifat Tuhan. <em>Sadaa Shiva</em>, Kebahagiaan Abadi, dan <em>Shaanta Svarup</em>, Wujud Kedamaian. Sifat-sifat ini pula yang harus dikembangkan dalam diri setiap insan. Bahagia dan damai, membahagiakan dan mendamaikan. Jadilah penebar mutiara kebahagiaan dan benih perdamaian.”<strong><sup>*3 Panca Aksara</sup></strong></p>
<p>Kala membicarakan nasehat sang Guru, air mata Parikesit menitik, “Guru aku pasrah pada-Mu, Guru lebih tahu apa yang lebih baik bagiku. Biarlah Guru yang bersemayam dalam nurani, menjadi jiwa bagi diriku dan aku sekadar menjadi tangan-Mu saja. Namaste. Aku bersujud pada Dia yang berada dalam diri-Mu.”</p>
<p>Jay Gurudev!</p>
<p> </p>
<p><strong><sup>*1 Narada Bhakti Sutra                        </sup></strong>Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001.</p>
<p><strong><sup>*2 Be Happy </sup></strong>                              Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.</p>
<p>.<strong><sup>*3 Panca Aksara</sup></strong>                        Panca Aksara Membangkitkan keagamaan dalam diri manusia, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007.   </p>
<p><strong><sup>*4 Bhagavad Gita                                   </sup></strong>Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama  2002.</p>
<p> </p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>September 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Visvamitra, Shakuntala dan Dusyanta leluhur Parikesit]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/09/08/visvamitra-shakuntala-dan-dusyanta-leluhur-parikesit/</link>
<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 14:48:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/09/08/visvamitra-shakuntala-dan-dusyanta-leluhur-parikesit/</guid>
<description><![CDATA[Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa&#8230; dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni. Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasan yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah. Cinta adalah Alam rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih!</em> <strong><sup>*1 Kidung Agung</sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Putri Resi Visvamitra</span></strong></p>
<p>Shakuntala berbahagia melihat putranya yang nampak cerdas tampan dan berwibawa. Tetapi hatinya sedih mengingat ayah dari putranya tersebut telah berjanji menjemputnya, tetapi sampai putranya berusia enam tahun, belum juga menampakkan batang hidungnya. Ibu muda yang anggun dan sangat cantik ini menutup kedua matanya, mengatur napas dan dengan jernih mulai mengingat beberapa episode peristiwa yang telah dilaluinya.</p>
<p>Resi Kanwa, ayah angkatnya bercerita tentang Kausika ayahandanya yang juga bergelar Resi Visvamitra. Kausika adalah seorang raja besar yang pernah merasa tak berdaya karena dikalahkan resi Vasishta. Tekadnya begitu kuat sehingga dia meninggalkan istana dan bertapa bertahun-tahun. Demi peningkatan kesadaran, Kausika melepaskan kenyamanan dari harta, tahta, dan usia demi peningkatan kesadaran. Upayanya membawa hasil dan dia diberi gelar Rajarsi, raja resi oleh para dewa.<!--more--></p>
<p>Dalam tapanya dia selalu menolong orang yang sedang kesusahan. Raja Trisanku pernah dikutuk menjadi seorang candala dan datang mohon pertolongan kepada Kausika yang kemudian membuatkan surga khusus baginya, sehingga Indra pun mengakui kedaulatan surga tersebut. Kausika juga membantu Sunahsepa yang telah rela mengorbankan nyawanya demi Raja Harischandra dan putra mahkota Rohita dan akhirnya mereka semua dapat diselamatkannya. Kausika terus bertapa sambil membantu mereka yang dalam kesusahan. Dia telah mencapai Rajarsi.</p>
<p>Indra yang takut tahtanya terganggu oleh semangat dan upaya keras Resi Kausika mengirim Menaka salah satu apsari tercantik untuk meruntuhkan tapa Kausika. Alkisah Kausika lupa diri dan menghabiskan lima tahun bersama Menaka. Setelah lima tahun, Kausika sadar dan Menaka sangat takut dimarahi. Tetapi Kausika tidak marah dan berkata bahwa dia akan melanjutkan tapanya yang belum selesai.</p>
<p>Konon akhirnya dia mencapai tingkat Maharsi. Dan dia meneruskan tapanya lagi ingin mencapai Brahmarsi. Indra memanggil Rambha salah satu apsarinhya untuk mengganggu tapa Kausika lagi. Kausika waspada dan tak mau terperosok kedua kalinya. Kemudian dia marah dan mengutuk Rambha untuk hidup seribu tahun di dunia.</p>
<p>Setelah mengutuk dia sadar  bahwa dia belum dapat mengendalikan kemarahannya. Akhirnya dia bersumpah untuk mengendalikan indera dan bertapa tanpa bicara. Pada akhirnya Kausika menjadi Brahmarsi dan diberi gelar Visvamitra mencapai kebahagiaan sejati.</p>
<p>Upanishad, esensi dari Veda, kitab suci umat manusia ini mendefinisikan ‘<em>ananda’</em> atau kebahagiaan seperti mengharapkan orang dungu yang menjelaskan manisnya gula. Bahkan orang tercerdas pun sulit menjelaskan rasa manis gula. Jadi, mereka yang sudah merasakan kebahagiaan akan tetap diam. Mereka yang belum merasakan biasanya petatah-petitih menggambarkan kebahagiaan itu. <strong><sup>*2 Si Goblok</sup></strong></p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Shakuntala putri angkat Resi Kanwa</span></strong></p>
<p>Shakuntala ingat bahwa ayah angkatnya menyampaikan bahwa Apsari Menaka meninggalkan Shakuntala di hutan dan dia kembali ke kahyangan. Resi Kanwa sahabat Visvamitra menemukan anak kecil perempuan ditemani burung-burung Shakunta. Anak tersebut diberi nama Shakuntala dan diangkat sebagai putri angkatnya.</p>
<p>Shakuntala ingat bahwa dirinya menjadi anak berbakti dan sangat patuh terhadap ayah angkatnya yang dianggapnya sebagai ayah sendiri. Shakuntala mendapat ajaran tentang etika dan keagamaan dan tidak pernah pergi ke kota, sehari-hari hanya berada disekitar pondok sang resi dan sekali-sekali ke hutan di dekatnya.</p>
<p>Pada suatu hari dirinya kedatangan tamu seorang pemuda tampan yang mengaku sebagai Raja Dusyanta. Sang pemuda sedang berburu di hutan dan mampir ke pondok sang resi. Dirinya pernah mendengar tentang raja muda Dusyanta yang tampan dan perkasa, yang menaklukkan banyak harimau yang mengganggu pedesaan. Kini dia bertemu sang raja yang  nampaknya terpesona kepada kecantikannya.</p>
<p>Dusyanta berbahagia mendengar Shakuntala merupakan putri Raja Kausika yang telah menjadi Resi Agung Visvamitra. Dusyanta minta dirinya menjadi istri dan bahkan menjanjikan putra buah kasih mereka akan dijadikan putra mahkota. Dirinya telah bilang agar menunggu Resi Kanwa yang sedang bepergian, tetapi sang raja muda mendesaknya, dan kedua hati memang telah bertaut dan sebagai ksatriya maka  raja berhak mengadakan perkawinan secara gandharwa.</p>
<p>“Dinda Shakuntala, Atman adalah satu-satunya saudara yang dipunyai orang, satu-satunya teman, satu-satunya orang tua. Kamu tidak melanggar dharma, memberikan dirimu kepadaku dengan persetujuan Atmanmu. Menikahlah denganku secara gandharwa.”</p>
<p>“Kanda Dusyanta, jika jalan ini adalah jalan kebenaran aku menurut. Tetapi berjanjilah putra kita yang akan lahir menjadi raja sesudahmu.”</p>
<p>Setelah Dusyanta berjanji, mereka kawin dengan peralatan ritual sederhana yang ada di padepokan Resi Kanwa.</p>
<p>Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: <em>Atman</em>. Dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai <em>Self</em> – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, <em>Atman</em> adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, <em>Atman</em> adalah energinya. Dan energi tidak bisa mati, tidak bisa dibunuh. Jadi, bagi dia badan itulah materi. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, <em>Atman</em> adalah <em>mind</em>, pikiran. Oleh karena itu mereka selalu mengagung-agungkan kekuatan pikiran. Ada lagi yang menganggap ‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai <em>Self </em>– <em>Atma</em>. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai <em>Self – Atma</em>. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, <em>Self </em>atau <em>Atma </em>yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati. Itulah ‘energi yang tak terjelaskan. Itulah ‘kesadaran murni’ yang tak terungkapkan. <strong><sup>*3 Shangrila </sup></strong></p>
<p>Raja Dusyanta kembali ke istana dengan rasa ketakutan terhadap Resi Kanwa, seorang petapa yang keras. Ada beberapa senjata yang paling ditakuti orang, senjata raja adalah pasukannya, sedangkan senjata resi adalah kutukannnya.</p>
<p>Resi Kanwa datang setelah Raja Dusyanta pergi. Shakuntala masuk kamar malu menemuinya. Dengan mata batinnya, sang resi paham apa yang telah terjadi.</p>
<p>“Shakuntala, aku tidak marah, aku merestui perkawinanmu. Dusyanta adalah raja besar yang adil bijaksana. Ia raja terbaik. Kamu akan menjadi ibu dari putra yang akan menjadi maharaja agung.”</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Putra Dusyanta</span></strong></p>
<p>Tahun demi tahun berlalu, Sarwadamana, sang putra menjadi besar dan nampak aura kewibawaan yang memancar darinya.  Tetapi Dusyanta belum datang juga. Shakuntala merasa waktu berjalan sangat lambat.</p>
<p>Semua hanyalah permainan pikiran belaka. Orang bisa fokus pada satu waktu kemudian menjadi tidak fokus. Momen waktu menjadi sangat kuat melebihi apa pun. Orang lahir pada satu waktu kemudian mati pada satu waktu juga. Ada saat bahagia dan juga saat sedih. Suatu momen bisa bertahan selamanya, tetapi bisa juga berakhir mendadak. Saat Anda bahagia, banyak yang bilang, waktu berlalu begitu cepat. Saat Anda sedih, waktu seolah-olah merayap bagai siput. Jadi, waktu itu apa? Waktu hanyalah cerminan pikiran Anda, kondisi mental Anda. Kita mungkin hidup di rentang sejarah yang sama, tetapi masing-masing dari kita sebenarnya hidup dalam unit waktunya sendiri. Benar, unit waktu saya bisa jadi berbeda dengan unit waktu Anda. Saya mungkin melewati tahun 2009 ini dengan perasaan sedih, dan Anda mungkin sebaliknya. Waktu bisa saja berlalu begitu lambat bagi saya namun begitu cepat bagi Anda. <strong><sup>*2 Si Goblok</sup></strong></p>
<p>Akhirnya sang resi memanggil Sarwadamana, “Cucuku, dari pihak ibumu kau adalah cucu dari Raja Kausika yang agung, yang penuh semangat meniti ke dalam diri, bahkan meninggalkan tahta, membantu orang yang kesusahan dan mencapai Brahmarsi yang disegani bahkan oleh seluruh dewa. Dari pihak ayahmu, Dusyanta mempunyai garis keturunan dari Raja Puru putra Yayati yang bijaksana. Kamu mempunyai genetika bawaan sempurna sebagai raja, sekarang bawa ibumu menghadap ayahmu. Kau jangan memaksa ayahmu menerima dirimu sebagai putranya. Bila dia belum menerima, jangan paksa, yakinlah ada waktunya dia akan memelukmu memanggilmu putra. Aku segera melakukan samadhi mencoba menghubungi kakekmu yang masih bertapa selama seribu tahun. Dia akan membantumu dari jauh. Yakinlah.”</p>
<p>Shakuntala kemudian menurut saja digandeng sang putra menuju istana.</p>
<p>“Ibu aku telah dipesan kakek, sebaiknya ibu menceritakan kisah sebenarnya kepada ayahanda. Setelah itu jangan menangis. Diterima atau tidak diterima ayahanda adalah urusan Gusti. tetapi masalah ini harus terselesaikan. Sehingga arah hidup ananda jelas menjadi putra raja atau mengikuti kakek menjadi seorang pertapa.”</p>
<p>Sepanjang perjalanan semua orang memperhatikan mereka dengan penuh penghormatan. Seorang ibu muda yang anggun bak dewi kahyangan dengan putra yang tampan dan memancarkan aura kewibawaan. Wajah sang putra tidak asing bagi mereka, itu adalah wajah raja Dusyanta.</p>
<p>Sampai di istana mereka melihat sang raja sedang duduk di singgasana. Sang putra segera mengajak sang bunda bersujud menghormati Gusti yang mewujud sebagi raja.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Penolakan Dusyanta</span></strong></p>
<p>Shakuntala mengingatkan sang raja tentang kejadian sewaktu Raja berkunjung ke rumah Resi Kanwa, “Demikian Paduka Raja Dusyanta, ini adalah putramu hasil paduan kasih dari kita berdua.”</p>
<p>Sang Raja kaget, dan tegang luar biasa, “Tidak, aku tidak ingat benar siapa engkau, nampaknya kita pernah bertemu tetapi aku lupa.”</p>
<p>Kelemahan perkawinan gandharwa adalah tak adanya saksi yang kuat. Dusyanta bingung, bagaimana dia dapat memberi pemahaman kepada para menterinya tentang kejadian tersebut. Siapa yang dapat menjelaskan Sarwadamana benar-benar putranya? Ini adalah masalah besar bagi kerajaan. Begitu diakui, maka otomatis Sarwadamana menjadi putra mahkota. Yang tahu betul putra siapa adalah ibunya, tetapi apakah ibunya dapat dipercaya atau tidak? Dan Dusyanta kebingungan&#8230;&#8230;.</p>
<p>“Ingat raja dulu kau mengajariku agar bertanya pada Atman yang berada dalam diriku untuk kawin denganmu. Mungkin itu sesuai kesadaranku pada waktu itu Manas, pikiran kuanggap Atman. Pikiranku segera memberikan persetujuan. Aku tidak peduli tentang kesadaranku, yang jelas aku sepenuh hati menjadi istrimu. Paduka raja, sekarang bertanyalah pada Atman-mu jangan pada Manas-mu!” “Seorang raja yang menipu dirinya, menipu Atmannya tidak pernah bisa mendapatkan ketenangan.”</p>
<p>“Mungkin kau menolakku karena aku anak asil perkawinan dari raja dengan seorang apsari, tetapi paduka tak dapat menolak darah dagingmu sendiri. Paduka saya ingatkan, nenek moyang paduka,  Ayu adalah putra dari raja Pururava dengan Urvasi yang seorang apsari juga.”</p>
<p>Shakuntala menangis, hatinya tersayat dan penuh kekecewaan dan kemarahan. Sang putra segera menggandeng ibunya meninggalkan istana, “Bunda tenanglah, arah hidupku telah jelas, aku akan menjadi pertapa yang paling baik yang dapat membahagiakan dirimu. Yakinlah pada putra remajamu ini! Bunda mari pergi tinggalkan istana ini!”</p>
<p>“Wahai raja, aku mendengar dari kakek Kanwa, bahwa kebenaran ucapan adalah sama agungnya seperti pelajaran kitab suci dan mandi di sungai-sungai suci. Tidak ada dharma yang lebih besar selain kebenaran. Brahman adalah kebenaran mutlak. Jangan menghina Brahman dan Atman dalam diri paduka. Paduka, aku dan bunda mohon diri.”</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Akhir yang membahagiakan</span></strong></p>
<p>Sang raja tertegun, melihat punggung sang ibu dan sang anak. Hatinya ingin mengakui, tetapi dia malu kepada seluruh menterinya. Mau bicara tidak bisa, mau berdiri tidak mampu. Semua yang hadir tersentuh melihat sang ibu muda menangis terisak-isak, dihibur putra remaja yang tabah dan perkasa.</p>
<p>Tiba-tiba datang suara membahana dari langit: “Dusyanta, perempuan ini adalah istrimu, dan anak remaja ini adalah putramu. Dia akan menjadi maharaja yang besar melebihi dirimu. Shakuntala telah berkata benar. Jangan menghina Shakuntala yang telah lama menderita.”</p>
<p>Tiba-tiba nampak para dewa di langit, “Kemarahan seorang perempuan akan menghancurkan seluruh keluarga keturunan Puru. Kejar segera isterimu, tenangkan isteri yang luhur itu. Panggillah putramu dengan nama Bharata karena kami sudah memintamu mengambil dia.” Bhara berarti melindungi, mengawal. “Karena putramu inilah anak keturunanmu dipanggil sebagai dinasti Bharata.”</p>
<p>Sebuah campur tangan Ilahi, tanpa campur tangan ilahi, mungkin dinasti Bharata tak menjadi golongan ksatriya, tetapi menjadi golongan brahmana.</p>
<p>Dusyanta mengejar Shakuntala dan Bharata dan meminta mereka menjadi permaisuri dan putra mahkota.</p>
<p>Uang, materi, dan pikiran menurut Buddha, yang terbangkitkan, adalah “benda”. Dan, seperti benda lainnya, memiliki awal dan akhir. Semua itu hanya temporer, sementara. Kita berinteraksi dengan ketiganya, dan mendapatkan kenikmatan dari interaksi ini. Akan tetapi, kenikmatan pun hanya temporer, sementara. Kenikmatan pun tidak bertahan lama. Kenikmatan pun tidaklah abadi. Lalu, kita pun kecewa. Padahal, kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan inderawi yang memang hanya sementara. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi? Inilah yang menjadi alasan ketidakbahagiaan kita, kekhawatiran kita, stress dan depresi. Kita senantias mencari kebahagiaan, namun hanya segelintir yang menemukan kebahagiaanitu. Kenapa? karena mereka yang segelintir ini mencari kebahagiaan di tempat dan sumber yang tepat. Kebahagiaan itu lebih bersifat rohani dan, oleh karena itu, harus ditemukan di dalam ruh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar. Kebahagiaan bukanlah benda. Bukan pula materi. Kebahagiaan itu energi 100% dan 24 karat. <em>Ups</em>, tetapi energi dan materi itu <em>relative</em>, keduanya dikaitkan oleh hukum relativitas yang diteorikan oleh Eistein. <strong><sup>*2 Si Goblok</sup></strong></p>
<p>Mata Parikesit menitik, Guru, sejatinya hanya karena rahmat Ilahi kami menjadi salah satu keturunan Bharata.  Bagaimana dengan Shakuntala-Shakuntala dan Bharata-Bharata lain yang menjadi korban perkawinan gandharwa, yang ayahnya tetap tidak mengakui.</p>
<p>“Wahai Raja, semua yang lahir dan hidup tidak dapat lepas dari hukum sebab-akibat. Menanam padi menunggu panen 4 bulan lagi. Menanam jambu menunggu panen 7 tahun. Menanam pohon jati bisa menunggu puluhan tahun. Pikiran, ucapan, tindakan kita merupakan benih tanaman dan tak ada seorang, bahkan dewa pun yang tahu kapan panennya. Menerima dan menghadapi panen di depan mata dengan penuh kesadaran. Itulah intinya.”</p>
<p>“Akan tetapi itu semua terjadi dalam jaring ilusi maya. Karena kesadaran kita masih pada tingkatan mental emosional. Para suci kesadarannya telah melampaui kesadaran mental emosional. Semua tindakannnya berdasar intelegensia, selaras dengan alam. Bahkan sudah mencapai kesadaran murni, kebahagiaan hakiki.</p>
<p>Parikesit terharu, “Guru aku pasrah pada-Mu, Guru lebih tahu apa yang lebih baik bagiku. Biarlah Guru yang bersemayam dalam nurani, menjadi jiwa bagi diriku dan aku sekadar menjadi tangan-Mu saja. Namaste. Aku bersujud pada Dia yang berada dalam diri-Mu.”</p>
<p>Jay Gurudev!</p>
<p><strong><sup>*1 Kidung Agung</sup></strong>         Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.</p>
<p><strong><sup>*2 Si Goblok</sup></strong>                Si Goblok Catatan Perjalanan Orang Gila, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna, 2009.</p>
<p><strong><sup>*3 Shangrila                       </sup></strong>Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2000.</p>
<p> </p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>September 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Raja Yayati leluhur Sri Krishna dan Parikesit]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/09/06/kisah-raja-yayati-leluhur-sri-krishna-dan-parikesit/</link>
<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 21:44:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/09/06/kisah-raja-yayati-leluhur-sri-krishna-dan-parikesit/</guid>
<description><![CDATA[Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka. Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah ‘dualitas’ – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot.</em> <strong><sup>*1 Shambala</sup></strong> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kegalauan hati Raja Yayati</span></strong></p>
<p>Raja Yayati sedang gundah, kutukan Resi Sukra, bahwa dirinya akan mengalami ketuaan lebih cepat dari seharusnya mengagetkannya. Dengan berbagai alasan dirinya minta kutukan dicabut, tetapi hal tersebut tidak bisa ditarik kembali. Resi Sukra memberi jalan keluar,  putranya dapat mewakili kutukan tersebut.</p>
<p>Dua putranya dari istri Dewayani, Yadu dan Turwasu menolak. Dua dari tiga putranya dari istri Sarmishta, Druhyu dan Anu juga menolak. Tinggal satu putranya yang belum ditanyai kesediaannya untuk menggantikan dirinya menerima kutukan Resi Sukra.</p>
<p>Berbagai perasaan berkecamuk di benak Raja Yayati. Ternyata seorang raja yang perkasa di mata rakyat bahkan musuh-musuhnya, sejatinya tunduk di bawah bayang-bayang istri-istrinya. Bahkan kini dirinya pun tak bisa berbuat apa-apa ketika para putranya menolak permintaannya. Kejadian tersebut melenyapkan keangkuhannya. Dirinya menjadi raja yang amat berkuasa, namun Gusti lah penguasa segalanya. Kejadian tersebut juga membuka mata batinnya, bahwa seorang arif bijaksana sebetulnya telah mengalahkan egonya. Dan mengalahkan ego itu terasa berat bagi seorang yang sedang berkuasa.</p>
<p>Tiba-tiba ingatannya melayang pada kejadian yang telah lampau. Semua akibat terjadi karena ada sebabnya. Sebab yang kait-mengkait, yang semakin menjauhkannya dari diri sejatinya. Dan semua itu terjadi karena dia selalu menggunakan <em>mind</em> dalam memutuskan pilihan tindakan.<!--more--></p>
<p>Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki <em>mind</em>. Karena sesungguhnya <em>mind</em>-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki <em>thought</em> – satuan pikiran. Sekian banyak <em>thoughts</em> dan bahkan <em>feelings,</em> pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan <em>mind.</em> Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya <em>‘simptom’</em> <em>mind</em>, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, <em>mind</em> baru mengkristal sepenuhnya. <strong><sup>*1 Shambala</sup></strong></p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Menolong Dewayani</span></strong></p>
<p>Pada hari itu dirinya sedang berburu. Dan, tanpa terasa dirinya mengendalikan kudanya menjauh dari rombongannya. Ketika sampai pada sebuah sumur, dia mendengar suara perempuan terisak-isak. Ditolongnya perempuan cantik tersebut yang mengenalkan diri sebagai Dewayani, putri Resi Sukra.</p>
<p>Dewayani menjelaskan bahwa dirinya sebelumnya mandi di sungai bersama Sarmishta, putra Raja Asura Vrsaparva. Karena akan datang badai, mereka terburu-buru naik ke atas dan tanpa sadar saling bertukar baju. Kemudian terjadilah keributan, Dewayani menganggap Sarmishta tidak sopan karena seorang asura kok berani memakai pakaian putri seorang Brahmin. Padahal sang brahmin, Resi Sukra adalah Guru dari raja asura dan karena dibimbing Resi Sukra maka bangsa asura menjadi jaya.</p>
<p>Sarmishta menghina ayahandanya dengan mengatakan, bahwa bagaimanapun ayahnyalah yang memberi makan sang resi, sehingga sang resi dapat diibaratkan sebagai seorang pengemis. Mereka berkelahi, dan Dewayani dalam keadaan capai terperosok masuk sumur, sedangkan Sarmishta sudah duluan lari meninggalkannya.</p>
<p>Ketika sang raja mau pergi, Dewayani menangis. Dewayani mengatakan bahwa dia adalah seorang perawan dan sang raja telah menolongnya keluar sumur dengan tangan kanan dan telah memberikan kainnya sebagai penutup tubuh. Sudah seharusnya sang raja menjadi suaminya.</p>
<p>Obyek pencarian kita tampak beragam. Ada yang mencari uang. Ada yang mencari jodoh. Ada yang mencari kedudukan. Ada yang mencari ketenaran. Tetapi, bila ditarik benang ke belakang, apa pun yang kita cari semata-mata untuk membahagiakan diri. Yang sedang mencari uang berpikir bahwa uang bisa membahagiakan dirinya. Yang mencari jodoh berpikir bahwa jodoh dapat membahagiakan dirinya. Begitu pula dengan mereka yang sedang mencari kedudukan dan ketenaran. <strong><sup>*2 Narada Bhakti Sutra</sup></strong></p>
<p>Dirinya waktu itu bingung, Resi Sukra adalah seorang mahaguru yang dihormati tiga dunia. Raja asura Vrsaparwa, Dirinya sebagai raja manusia dan raja dewa Indra pun menghormati Resi Sukra. Dirinya berkata tidak berani menjadi suami Dewayani sebelum Resi Sukra mengizinkannya. Dirinya berkata jujur karena kalau Resi Sukra tidak berkenan dirinya takut akan kena kutukannya.</p>
<p>Menurut hukum ketertarikan, <em>law of attraction</em>, begitu Raja Yayati terfokus pada takut menerima kutukan, maka pikiran tentang kutukan memenuhi pikirannya, hanya dia meminta tidak menerima kutukan. Sebagai hasilnya kutukan justru mendekatinya. Itulah sebabnya kata-kata afirmasi bersifat positif dan tidak memakai kata tidak. Misalnya afirmasi aku tidak malas, maka yang memenuhi pikiran malas, hanya aku ingin yang tidak malas, afirmasi yang sering gagal. Lain bila afirmasi, aku rajin dan disiplin, sebuah afirmasi yang positif.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Perkawinan dengan Dewayani dan Sarmishta</span></strong></p>
<p>Ketika dirinya sedang berburu lagi, dia bertemu kembali dengan Dewayani diiringi seorang gadis cantik yang ternyata bernama Sarmishta beserta seribu dayangnya. Resi Sukra yang hadir di tempat itu mengizinkan dirinya mengawini Dewayani, akan tetapi berpesan agar tidak mengawini Sarmishta.</p>
<p>Di halaman istana yang luas Sarmishta dan seribu dayangnya melayani Dewayani yang telah menjadi istri raja Yayati. Pada suatu hari dirinya kebetulan bertemu Sarmishta yang cantik di halaman belakang istana. Dan, Sarmishta pun piawai dalam menarik perhatian dirinya dengan menceritakan kejadian yang menimpanya.</p>
<p>Peran mata harus dipahami dengan betul. Pemicu-pemicu di luar menggunakannya sebagai pintu untuk masuk ke dalam diri kita. Awal mulanya dari “penglihatan”. Kesadaran kita mengalir ke luar lewat sekian banyak indera, tetapi mata adalah indera utama, gerbang utama. Jauh lebih mudah mengalihkan kesadaran ke dalam diri, bila gerbang utama ditutup. <strong><sup>*3 Atma Bodha</sup></strong></p>
<p>Dirinya terpesona oleh gaya cerita Sarmishta.</p>
<p>Sarmishta menjelaskan bahwa sebetulnya ketika Sarmishta dan Dewayani tertukar pakaiannya, pakaiannya dulu lah yang dipakai oleh Dewayani. Dia hanya memakai pakaian yang tersisa. Sudah biasa terjadi adu mulut antara dua orang gadis yang sebelumnya sebagai sahabat karib. Ketika Sarmishta melaporkan kejadian kepada ayahnya, ayahnya khawatir Resi Sukra tidak akan berkenan menjadi guru para asura lagi. Dirinya beserta seribu dayangnya diajak Ayahnya mendatangi rumah Resi Sukra.</p>
<p>Kepada Dewayani, Raja Vrsaparva, ayahnya berkata, “Kekuatanku dan kekayaanku diperoleh atas bantuan ayahmu. Asura yang mati dalam peperangan dihidupkan kembali oleh ayahmu sehingga asura mengalami kejayaan. Perintahkan kepadaku apa yang harus kulakukan agar Resi Sukra tetap menjadi mahaguru kaum Asura.”</p>
<p>Selanjutnya, Dewayani meminta agar Sarmishta beserta seribu dayangnya menjadi pelayan Dewayani dan mengikuti kemana pun dia pergi. Ketika Sarmishta ditanya ayahandanya mengenai kesanggupannya dalam  menjalani perintah Dewayani, Sarmishta berkata, “Sudah sewajarnya seseorang yang mendapat masalah harus mencari jalan keluar penyelesaiannya. Akan tetapi pengorbanan ini dilakukan demi ayahandanya, seorang raja dan juga demi rakyat di kerajaan ayahandanya. Maka saya tunduk pada permintaan Dewayani.” Sejak saat itu Sarmishta menjadi pelayan Dewayani.</p>
<p>Terketuk oleh kebesaran jiwa Sarmishta, dirinya mengajak Sarmishta kawin secara gandarwa.</p>
<p>Akhirnya terjadilah perkawinan gandarwa antara Dirinya dengan Sarmishta, sang putri raja Vrsaparva. Dari Dewayani lahirlah dua putra Yadu dan Turvasu. Dari Sarmishta lahirlah tiga putra Druhyu, Anu dan Puru.</p>
<p> </p>
<p> <strong><span style="text-decoration:underline;">Kutukan Resi Sukra</span></strong></p>
<p>Dulu dirinya takut mendapat kutukan Resi Sukra kala Dewayani meminta dia menikahinya, sekarang ketakutan serupa muncul karena dirinya telah melanggar nasehat Resi Sukra untuk tidak menikahi Sarmishta.</p>
<p>Pada hari itu, Dewayani pergi ke halaman istana dan melihat tiga anak menjelang remaja yang tampan. Ditanyailah mereka itu siapa. “Kami adalah putra Raja Yayati dan ibu kami adalah Sarmishta.”</p>
<p>Dewayani sangat terpukul&#8230;&#8230;&#8230;.. Dia ingat pada waktu waktu remaja, ada murid ayahnya yang sangat tampan bernama Sang Kaca. Sebagai anak remaja tentu saja dia menyukai Sang Kaca. Ketika Sang Kaca telah menyelesaikan pelajaran dan bernit pamit kepada Resi Sukra, dirinya minta agar Sang Kaca mengawini dirinya. Sang Kaca menolak, karena dirinya belum dewasa dan lagi pula dirinya adalah putri gurunya yang sangat dihormatinya.</p>
<p>Pada waktu itu Dewayani mengutuk Sang Kaca bahwa ilmunya tidak akan mencapai kesempurnaan. Akan tetapi Sang Kaca tidak takut, karena dia memang bersih tanpa kesalahan. Bahkan Sang Kaca balas mengutuk dirinya bahwa nantinya dirinya akan dimadu oleh budaknya. Dan kutukan tersebut kini menjadi kenyataan&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Dewayani lapor kepada Resi Sukra dan Resi Sukra berang dan mengutuk dirinya bahwa dirinya akan cepat menua daripada seharusnya. Dirinya mohon agar kutukannya dicabut, karena ketuaanya akan merugikan kerajaan dan istri-istrinya. Resi Sukra berkata, “Kutukan tersebut bisa diwakili oleh salah seorang putramu. Hanya pesanku, bila putramu bersedia berkorban dan kau masih ingin kemudaan, bila masih dalam batas etika, nikmatilah dunia ini, nikmatilah sepenuhnya. Nikmati sampai titik jenuh – begitu kenyang, sehingga merasa mual dan muak. Lantas engkau akan mulai bertanya pada diri sendiri, “Apa lagi?” Pertanyaan ini dapat menjadi pemicu bagi peningkatan kesadaran dalam dirimu. Selama engkau masih puas dengan keadaan di sekitarmu, peningkatan kesadaran tidak akan terjadi. Selama itu, engkau masih sepenuhnya berada pada tingkat kesadaran terbawah. Kesadaran awal manusia adalah kesadaran Muladhar – kesadaran mendasar. Kesadaran ini yang membuat engkau membumi, sangat realistis, dan logis.” <strong><sup>*4 Kundalini Yoga</sup></strong></p>
<p>Kepada Dewayani Resi Sukra berkata, “Putriku, dulu kau minta aku menyetujui perkawinanmu dengan Yayati, sekarang kau meminta aku mengutuk Yayati. Kau belum betul-betul mencintai dirinya, kau baru mencintai egomu sendiri. Renungkanlah!”</p>
<p>Dan, Dewayani termenung&#8230;&#8230;</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kebesaran hati Sang Puru</span></strong></p>
<p>Kini dirinya menemui putra bungsunya Puru. Dirinya menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya sejak pertemuannya dengan Dewayani dan Sarmishta. “Putraku aku menjelaskan semuanya kepadamu, agar kamu dapat menarik hikmah dari kejadian yang telah saya alami.” Tidak ada yang perlu disesali, semuanya sudah terjadi, yang penting tidak diulangi. Keinginan-keinginan duniawiku membuat siklus hidupku semakin panjang. Aku tidak begitu berhasrat lagi untuk memintamu menggantikan diriku menerima kutukan Resi Sukra. Aku akan menerimanya dan sisa waktuku yang lebih sedikit akan kugunakan untuk bertapa.”</p>
<p>“Ayahanda, keempat kakakku menolak menjadi pengganti yang menjalani kutukan dan mereka telah kau tolak sebagai putra mahkota. Diriku pun masih terlalu muda untuk menjadi penggantimu bila ayahanda pergi bertapa. Demi ibu, demi ayah, demi kerajaan ini aku merelakan usiaku menjadi tua, kuterima tugas menggantikan diri ayahanda untuk menjalani kutukan. Semoga ayah dapat memperoleh seorang putra lagi untuk menjadi putra mahkota. Semoga ayah menyelesaikan tugas-tugas yang masih tertunda&#8230;&#8230;” Jawaban Puru membuat dirinya kaget, terharu dan butir-butir air mata dirinya bercucuran.</p>
<p>Puru berpegang pada kata para bijak, “Seseorang harus mempunyai kemampuan untuk menerima ketidakadilan demi kebaikannya. Mereka yang hendak memasuki alam meditasi harus menghadapi segala rintangan dengan kesadaran ini: Dalam sekian banyak masa kehidupan sebelumnya, aku telah berpaling dari hal-hal yang penting dan terikat pada hal-hal sepele yang tidak berarti&#8230;&#8230; aku telah berkelana melewati segala bentuk kehidupan&#8230;&#8230; mengamuk tanpa alasan, dan bersalah atas kemunduran diri. Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri. Aku menerimanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan.” <strong><sup>*5 Bodhidharma </sup></strong></p>
<p>Menurut kitab-kitab suci, “Bila menghadapi musibah, janganlah engkau berkeluh kesah, karena apa pun yang terjadi bukanlah tanpa alasan. Dengan pemahaman seperti itu, kau menjadi tenang dan dengan mudah memasuki alam meditasi.”</p>
<p>Dirinya kembali kepada kemudaan sebelumnya dan memerintah kerajaan dengan adil dan bijaksana. Kemarahan Dewayani sudah berkurang seiring bertambahnya usia. Bahkan kini Dewayani telah dikaruniai seorang Putri bernama Madawi. Dewayani bahkan memberikan penghormatan kepada Puru atas pengorbanannya. Sarmishta sangat sedih melihat putranya yang kelihatan tua, tetapi bangga mempunyai putra yang berjiwa agung.</p>
<p>Kesadaran dirinya dan kedua istrinya meningkat, “Kami menyadari bahwa apa pun yang dialami, sebetulnya adalah akibat dari tindakan sendiri di masa lalu. Bagaimana cara menghadapi masalah yang berada di depan mata, itulah pilihan yang ada pada saat ini yang akan menentukan akibat ke depan.”</p>
<p> </p>
<p>Dirinya bersyukur, “Terima kasih Gusti yang telah memberikan kami kesempatan untuk menyelesaikan tugas yang harus kami selesaikan dalam kehidupan ini. Gusti, kami juga bersyukur bahwa Gusti telah menganugerahi kami dengan putra yang berjiwa luhur.”</p>
<p>Dan, akhirnya dirinya memanggil Puru untuk mengembalikan kemudaannya. Puru setelah menjadi muda kembali, selanjutnya dinobatkan sebagai raja pengganti dirinya.  </p>
<p>“Putraku aku dulu salah dalam mengidentitaskan diriku. Pikiranku ku anggap sebagai diriku sehingga aku terombang-ambing antara mengejar kesenangan dan ketakutan mengalami penderitaan. Kini aku sadar. Kelahiranku, kehidupanku, semua sudah ditentukan sebelumnya, tetapi bagaimana cara menghadapi ketentuan itu sepenuhnya tergantung pada diriku sendiri. Dan kini aku memutuskan menyerahkan kemudaan dan kekuasaan kerajaan kepadamu.”</p>
<p>Kadang kita mengidentitaskan diri kita dengan badan, kadang dengan pikiran, kadang dengan emosi. Kadang kita terlibat dengan benda-benda duniawi yang tidak permanen. Kadang kita bersuka ria, kadang tenggelam dalam duka yang tak terhingga. Kita melupakan identitas diri kita yang sebenarnya. Kita lupa akan ‘Aku’ yang sejati, yang tak pernah musnah, yang kekal dan abadi. <strong><sup>*6 Bhagavad Gita</sup></strong></p>
<p>Banyak pemicu di luar yang senantiasa berupaya untuk mengelabui dan menjauhkan diri kita dari kebenaran. Harta sebagai pemicu berusaha untuk meyakinkan kita bahwa “kau lebih kaya dari orang lain” atau sebaliknya, “kau miskin, dia kaya”. Pendidikan dan pengetahuan sebagai pemicu berusaha untuk mengelabui kita, “kau pintar, dia bodoh.” Atau, “kau bodoh sekali, dia pintar”. Demikian pula dengan status sosial, kedudukan, dan lain sebagainya. Krishna mengajak Arjuna untuk merenungkan: “Semua itu ‘menjadi’ milikmu setelah kelahiranmu; setelah segala jerih payah dan interaksimu dengan dunia. semua itu merupakan pemberian masyarakat. Adakah sesuatu di dalam dirimu yang tidak merupakan pemberian?” “Arjuna, jati dirimu adalah sesuatu yang riil, sesuatu yang berarti, sesuatu yang sudah ada sejak keberadaan dirimu. Ia bukanlah pemberian dunia; bukanlah pemberian masyarakat. Alihkan kesadaranmu pada jati dirimu, maka kau akan terbebaskan dari pengaruh-pengaruh yang tidak berarti.” <strong><sup>*7 Gita Management</sup></strong></p>
<p>Resi Shuka mengakhiri kisahnya dan melanjutkan, “Dari Yadu putra Dewayani lahirlah kaum Yadawa dan Sri Krishna berasal dari Kaum Yadawa. Sedangkan Raja Parikesit berasal dari keturunan Puru.”</p>
<p>Parikesit matanya berkaca-kaca, “Terima kasih Guru, yang telah memberitahu sejarah leluhurku, Puru, putra raja yang masih remaja berani menjalani hidup dalam ketuaan, dan karena kisah-kisah Guru, kini diriku juga sudah berani menghadapi kematian. Apabila berkenan, dan umurku masih belum berhenti, mohon Guru meneruskan cerita tentang para leluhurku. Guru, diri Guru adalah Ilahi yang mewujud untuk memanduku. Terimalah sembah sujudku. Namaste.”</p>
<p>Jay Gurudev!</p>
<p> </p>
<p><strong><sup>*1  Shambala</sup></strong>              Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2000.</p>
<p><strong><sup>*2 Narada Bhakti Sutra</sup></strong>                Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001.</p>
<p><strong><sup>*3 Atma Bodha</sup></strong>           Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001</p>
<p><strong><sup>*4 Kundalini Yoga</sup></strong>        Kundalini Yoga, dalam hidup sehari-hari, Anand Krishna, PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999.</p>
<p><strong><sup>*5 Bodhidharma               </sup></strong>Bodhidharma Kata Awal adalah Kata Akhir, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005.</p>
<p><strong><sup>*6 Bhagavad Gita</sup></strong>        Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, PT Gramedia Pustaka Utama  2002.</p>
<p><strong><sup>*7 Gita Management</sup></strong>   The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007.</p>
<p> </p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>September 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Raja Citraketu dan Asura Vrta bagian kedua Mencapai Narayana]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/08/26/kisah-raja-citraketu-dan-asura-vrta-bagian-kedua-mencapai-narayana/</link>
<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 07:11:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/08/26/kisah-raja-citraketu-dan-asura-vrta-bagian-kedua-mencapai-narayana/</guid>
<description><![CDATA[Sadar, bebas dan hidup. Perhatikan urutan ini. Anda harus mulai dari kesadaran. Sadar dulu, baru mem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Sadar, bebas dan hidup. Perhatikan urutan ini. Anda harus mulai dari kesadaran. Sadar dulu, baru memproklamasikan kemerdekaan. Kemerdekaan, kebebasan tanpa kesadaran tidak akan tahan lama. Kesadaran adalah bekal awal. Tanpa bekal itu, kemerdekaan yang anda proklamasikan tidak bermakna sama sekali. Sewaktu-waktu, jiwa anda bisa dijajah kembali. Dulu penjajahnya lain, sekarang penjajahnya lain. Budak tetap budak. Sekali lagi, sadarilah kemampuan diri, potensi diri-keilahian dan kemuliaan diri. Setelah menyadarinya, baru memproklamasikan kemerdekaan. Baru membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat diri anda, yang merantai jiwa anda. Kemudian anda baru hidup. Anda baru bisa menikmati hidup ini. Anda baru bisa merayakan kehidupan anda!</em> <strong><sup>*1 ABC Kahlil Gibran</sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kutukan Sati</span></strong></p>
<p>Raja Parikesit, terus menyimak kisah Resi Shuka, bagaimanakah hubungannya Raja Citraketu yang menguasai kesadaran Brahmavidya dengan asura Vrta. Dirinya sengaja semakin membuka diri, kisah Resi Shuka dibiarkan leluasa memasuki relung-relung hatinya. Pola pikiran lama sengaja disingkirkannya dan bahkan dibuang dari dirinya, dipersilahkan pemahaman baru mengisi relung-relung  yang ditinggalkan oleh pola lama.<!--more--></p>
<p>Pada suatu hari, Raja Citraketu yang telah melepaskan diri dari keterikatan dunia sedang berjalan melewati Gunung Kailasa. Dia melihat Mahadewa dikelilingi para murid dan sedang duduk di tengahnya. Pada pangkuannya ada Sati dan satu tangan Mahadewa sedang memeluknya.</p>
<p>Raja Citraketu berkata, “Ini merupakan suatu kejutan, Mahadewa yang dijunjung tinggi  manusia karena kebijaksanaannya sedang bercinta dengan isterinya di muka umum. “</p>
<p>Sang Mahadewa hanya tersenyum mendengar perkataan sang raja. Tak seorang pun dari tamu dan muridnya yang berbicara. Tetapi Sati tidak bisa menerima kekasaran tamunya dan menggerundel “Manusia ini sangat besar, menguasai pengetahuan keilahian, dan sedang berpikir untuk memberikan pelajaran etika kepada orang seperti kami.” Sati melanjutkan dengan perkataan lebih keras, “Kamu menganggap semua yang hadir di sini, Resi Narada, Resi Brigu termasuk bodoh dan tidak mengetahui etika. Kamu tak layak mencapai Narayana dan kukutuk agar lahir sebagai Asura karena keangkuhanmu.”</p>
<p>Raja Citraketu turun dari kereta dan bersimpuh di depan Sati dengan segala kerendahan hati. “Bunda Dunia, aku menerima kutukanmu. Apa yang ditetapkan para dewa, apa yang diucapkan sebagai kutukan, pada kenyataannya adalah sebagai akibat dari perbuatan diri pada masa yang  lalu.”</p>
<p>“Manusia terperangkap dalam maya, dan tidak mengetahui bagaimana melepaskan diri dari jeratan kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan. Atman menjauhi putaran ini. Paramatma menciptakan makhluk bersama mayanya. Ia yang memberi keterikatan, Ia pula yang membebaskan dari keterikatan. Ia tidak pernah terlibat. Ia tak pernah mencintai atau membenci orang. Ia tak punya saudara atau teman. Segalanya nampak mirip baginya. Rasa kebalikannya juga tak ada. Dia berada di luar dualitas. Bagaimana mungkin suatu kemarahan menemukan suatu tempat di dalam-Nya? Tidak Bunda, aku tidak marah karena Bunda mengutuk aku. Tidak juga aku minta Bunda menarik kutukan. Jika kata-kataku menyakiti hatimu aku mohon maaf.”</p>
<p>Setelah memberikan penghormatan, Raja Citraketu melanjutkan perjalanan dengan senyuman di wajahnya. Semua yang hadir masih ternganga oleh kata-kata sang raja. Mahadewa membalas senyuman dan berkata pelan kepada sang dewi, “Sekarang apakah kau tidak melihat keagungan seorang bhakta Narayana? Tidak ada apa pun yang akan mempengaruhi dia. Surga, neraka, kutukan, berkat semua sama bagi bhakta Narayana&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..”</p>
<p>Dan, keadaan menjadi sangat hening. Semua yang hadir menahan napas, angin pun menahan diri untuk tidak bertiup, matahari tetap bersembunyi di balik awan, induk burung pun menunda terbang menikmati tindakan agung seorang makhluknya.</p>
<p>“Ia akan menemukan kedamaian di mana saja. lihatlah kedamaian pada wajah yang telah kauhukum. Dia dapat membalas kutukanmu tetapi tidak dia lakukan.”</p>
<p>Kemarahan sang dewi pun berkurang&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Karena kutukan Sati, yang sebetulnya adalah akibat tindakan di masa lalu, Raja Citraketu akan dilahirkan kembali sebagai Asura.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Keangkuhan Indra</span></strong></p>
<p>Sebagai raja surga, pada suatu saat Indra menjadi angkuh. Segala ilmunya tertutup oleh awan keangkuhan. Saat Resi Brihaspati, guru para dewa datang ke istana Indra tidak bangun dan menghormati gurunya. Sang Guru kemudian pulang dan meninggalkan istana. Indra menyadari kesalahannya dan mencoba mendatangi rumah gurunya untuk bersujud dan mohon maaf, akan tetapi Resi Brihaspati sengaja pergi dari rumahnya.</p>
<p>Untuk meniti jalan ke dalam diri, untuk menemukan Keindahan dalam diri, anda tidak harus “berpengetahuan” banyak atau “berpendidikan” tinggi. Banyaknya pengetahuan dan tingginya pendidikan malah bisa menjadi penghalang. Pengetahuan berlebihan akan mengaktifkan pikiran. Dan pikiran tidak berkepentingan dengan “Keindahan” dalam diri. Pikiran selalu mencarinya di luar. Dengan pikiran yang super-aktif, anda juga akan semakin jauh dari rasa, dari hati anda. Anda akan semakin jauh dari “Keindahan” yang ada di dalam diri anda. <strong><sup>*1 ABC Kahlil Gibran</sup></strong></p>
<p>Kehilangan guru penasehat para dewa, dimanfaatkan oleh para asura. Mereka melakukan peperangan dengan Indra, dan Indra mengalami kekalahan. Indra dengan penuh kesedihan menemui Brahma. Brahma mendengarkan dengan seksama pengakuan Indra dan memberi nasehat, “Karena kesalahanmu tidak menghormati guru, kamu dikalahkan secara memalukan. Sekarang datanglah ke Resi Visvarupa dan mohonlah agar dia bersedia menjadi guru para dewa. “</p>
<p>Kala Indra menemuinya, Visvarupa tersenyum, “Peran pendidik tidak baik untukku. Menjadi pendidik  dapat meningkatkan rasa ego yang masih ada dalam diri asura seperti diriku. Akan tetapi kamu dalam gangguan dan kamu minta aku menjadi gurumu. Adalah suatu dharma untuk membantu mereka yang sedang membutuhkan bantuan. Aku tidak mampu menolakmu, maka aku bersedia menjadi gurumu.”</p>
<p>Para dewa diberi pelajaran tentang penyebutan nama Narayana. Setiap pikiran, ucapan dan tindakan  harus selalu disertai ucapan nama Narayana. Mantra atau zikir tersebut memenuhi diri semua dewa. Ingatan para dewa hanya tertuju kepada Narayana. Dengan mantra suci tersebut  para dewa memperoleh baju pelindung besi yang kuat. Dengan baju pelindung tersebut Indra dan para dewa menyerbu kembali dan dapat mengalahkan para asura.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kelahiran Vrta</span></strong></p>
<p>Visvarupa dibaratkan mempunyai tiga kepala, kepala manusia, kepala dewa dan kepala asura. Semua pertimbangan tergantung bagian kepala mana yang aktif. Pada suatu saat Resi Visvarupa memimpin acara ritual persembahan.  Dalam acara tersebut Visvarupa harus menyebutkan suatu permohonan kepada Tuhan.</p>
<p>Indra tiba-tiba teringat nasehat Brahma, walau bagaimana pun di dalam diri Visvarupa masih ada sifat asura dan agar Indra waspada pada waktu dia memimpin acara ritual persembahan.  Kesadaran datang terlambat, Visvarupa cenderung kepada kelompok asura dan dia telah mohon berkat bagi kelompok asura. Indra sangat marah dan Visvarupa segera dibunuh olehnya.</p>
<p>Tvasta orang tua Visvarupa sangat marah, karena putranya dibunuh Indra setelah membantu para dewa.  Dia segera melakukan ritual persembahan dan muncullah raksasa hitam, tinggi besar, rambut dan matanya merah. Ia memegang trisula. Dia adalah Vrta, titisan Raja Citraketu.</p>
<p>Vrta segera memimpin para asura menyerang para dewa. Para dewa kocar-kacir tak mampu melawan Vrta. Para dewa selanjutnya mohon kepada  Narayana apa yang harus dilakukan dalam menghadapi kesaktian Vrta. Indra dan para dewa diberi petunjuk untuk mohon kepada Resi Agung Dadhici, agar tulangnya yang kuat dibuat sebagai senjata dewa.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Altruisme Resi Dadhici</span></strong></p>
<p>Para dewa bersimpuh di hadapan Resi Dadhici, “Paduka Resi adalah manusia agung penuh rasa kasih kepada mereka yang sedang menderita. Hanya jika seseorang tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri maka dia akan mohon bantuan. Kami sadar bahwa permohonan kami tidak pantas dan terasa sangat kejam, tetapi  menurut Narayana, hanya hal ini yang dapat menyelamatkan para dewa.”</p>
<p>Resi Dadhici segera menutup mata, larut dalam keheningan, dan beberapa saat kemudian menghela napas panjang, “Kematian adalah hal yang paling tidak disukai, bahkan bagi manusia yang paling tenang sekali pun.  Sekalipun Narayana sendiri yang memintanya, manusia mengalami kesulitan untuk menyerahkannya. Apalagi bagiku yang telah diberi keabadian.”</p>
<p>“Bagaimana pun, kalian telah mengingatkan diriku, bahwa seseorang tidak dapat mencapai dunia yang lebih tinggi ketika menolak ‘swadharma’nya. Seorang manusia yang dapat membantu kebaikan tetapi diam saja sama halnya dengan sebatang pohon. Ribuan tahun mendatang, akan kalian temukan banyak manusia yang diam saja melihat ketidakadilan, diam saja walau diberi kesempatan untuk melakukan dharma.  Bahkan sekedar bersuara saja diurungkannya. Mereka mempunyai otak, tetapi diam seperti pohon.“</p>
<p>“Baru saja Narayana memenuhi diriku dengan semangat pengabdian. Aku rela menyerahkan tulangku ini kepada Indra. Tulangku ini berguna bagi kebajikan. Tulangku akan menjadi alat dharma yang abadi. “</p>
<p>Resi Dadhici menitikkan air mata, hatinya hanya tertuju pada Narayana, “Apa yang dapat kami persembahkan Gusti? Pada hakikatnya segalanya adalah milik Gusti. Biarlah tulang yang diamanahkan pada diriku ini memberi andil bagi kebajikan. Aku rela, aku ikhlas&#8230;&#8230; Gusti”</p>
<p>Indra dan seluruh dewa terharu,  suara terisak-isak memenuhi ruangan.  Dinding-dinding, lantai dan atap bergetar, suara Resi Dadhici disimpan mereka.  Peristiwa agung tersebut direkam oleh mereka. Ternyata ada manusia yang berjiwa begitu agung&#8230;&#8230;&#8230; Suara Resi Dadhici adalah suara Dia yang bersemayam dalam hati sang resi.</p>
<p>Resi Dadhici menujukan semua pikirannya kepada Narayana, dan dia pun meninggalkan raganya.   Visvakarma arsitek para dewa membentuk tulang kuat Dadhici sebagai Vajra, senjata Indra.</p>
<p>Tanaman dan hewan pun memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Sumber makanan lebah adalah nektar dari bunga-bungaan. Karena bunga hanya mekar pada musimnya, maka lebah menyimpan nektar yang mereka kumpulkan dengan menambah cairan khusus yang dikeluarkan oleh tubuh mereka untuk dipergunakan sebagai makanan pada saat pohon tidak berbunga. Campuran yang bergizi inilah yang disebut madu.  Untuk menjaga kualitasnya, temperatur madu dipertahankan sekitar 35<sup>0</sup>C. Pada waktu kondisi panas mereka berkumpul untuk mengipasi madu dengan sayapnya. Untuk mencegah makhluk asing masuk mereka mempunyai penjaga yang akan mengusir mereka yang mengganggu. Agar bakteri tidak mengganggu, mereka mengeluarkan ”resin” yang sekaligus dapat mengeraskan sarang mereka. Pertanyaannya adalah mengapa lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya? Bahkan menjaga kemurnian madunya yang sebagian besar justru dipersembahkan kepada manusia?</p>
<p>Induk ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Induk sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan hidup kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang tak terpakai. Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya. Sikap yang altruistis memikirkan kepentingan orang lain selaras dengan alam. Egolah yang membuat manusia lebih mementingkan dirinya sendiri.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pertempuran Indra dengan Vrta</span></strong></p>
<p>Berbekal vajra, Indra dan para dewa menyerang para asura. Para asura kucar-kacir dan Vrta maju ke depan sambil berkata penuh semangat, “Kematian tak dapat dihindari. Sekali dilahirkan pasti mati. kalau tahu harus mati, menunda kematian dengan berbalik arah adalah tindakan yang sangat memalukan.”</p>
<p>“Wahai para dewa, tidak ada gunanya melawan asura lemah, lawanlah aku!”</p>
<p>Indra mengayunkan tongkat kebesarannya dan ditangkap Vrta dengan mudah dan dilemparkannya  pada gajah Indra yang menjadi terluka. Vrta sangat jantan, tidak mau menyerang Indra tanpa senjata. “Keluarkan vajramu Indra! Di mana ada Tuhan di situ ada kemenangan. Aku rela menyerahkan tubuh  penuh dosa ini. Aku tidak berduka. Jangan risau vajramu telah diberkati Narayana. Kamu pasti membunuhku, jangan ragu!”</p>
<p>Seluruh pasukan terpesona oleh kata-kata Vrta. Para dewa pun tercengang dengan kata bijak seorang asura. Semestinya masyarakat yang merasa lebih beradab pun harus menghormati mereka yang dianggap tertinggal tetapi bijaksana.</p>
<p>Jauh lebih baik daripada kita yang mengaku beragama adalah para animis yang tidak merusak lingkungan, yang menghormati sungai dan pohon. Jauh lebih baik daripada kita adalah suku-suku terasing di pedalaman – Asmat, Baduy, Dayak.  Jangan meracuni mereka dengan dogma-dogma agama yang justru akan menjauhkan mereka dari Tuhan, dari Ciptaannya, dari Kehidupan. Kalau mereka yang menyayangi lingkungan kita anggap tidak beragama, lantas siapa yang bisa disebut beragama? <strong><sup>*1 ABC Kehidupan Kahlil Gibran</sup></strong></p>
<p>Vrta melanjutkan,  “Badan ini tidak lebih dari suatu perbudakan, dan aku ingin mencapai Narayana. Gusti manakala mencintai bhaktanya, Dia tidak memberi kekayaan dari tiga dunia. Dia mengetahui bahwa kekayaan adalah penyebab kebencian, ketakutan, keangkuhan pertengakaran dan ketidakbahagiaan. Gusti memberi kebebasan dari semua ini, percayalah padaku. Getaran hati hanya dapat dirasakan, seorang kaya yang terikat keduniawian tidak pernah mengetahui hal ini.”</p>
<p>Adalah seorang pencinta. Cinta tanpa syarat, tak terbatas. Dia seorang pengasih. Kasih sejati, kasih Ilahi. Kenikmatan tiga dunia pun sudah tidak bisa mengikat dirinya. Apa pula yang dimaksud dengan tiga dunia? dalam tradisi India kuno, alam semesta dibagi dalam 3 bagian utama. <em>Bhu</em> atau Bumi. <em>Bhuvah</em> atau alam di bawah tanah. <em>Svaha</em> atau alam di atas bumi, di luar bumi. Tiga bagian utama itu kemudian dibagi lagi dalam sekian sub-bagian. Tiga Loka atau tiga dunia, tiga alam, bisa jugaditerjemahkan sebagai tiga masa – masa lalu, masa kini dan masa depan.  Seorang meditator, seorang pencinta, tidak terikat dengan kenikmatan tiga dunia. Dia tidak mencintai karena ingin masuk surga atau karena ingin jiwanya diselamatkan. Dia mencintai karena cinta itu sendiri. Dia tidak perlu diberi iming-iming surga di mana dirinya akan dilayani oleh bidadari-bidadari cantik. Dia tak tertarik dengan sungai-sungai susu, madu dan arak yang mengalir di sana. <strong><sup>*2 Narada Bhakti Sutra</sup></strong></p>
<p>Seseorang hanya dapat memberikan apa yang dipunyainya. Seorang anak mempunyai genetik bawaan dari ayah dan ibu. Setelah sadar,  sifat yang tidak baik, diputus siklusnya, sifat genetik yang baik ditumbuh-kembangkan. Perbaikan  genetik, itulah yang dapat dipersembahkan oleh anak yang  berbhakti. Gusti mempunyai sifat keilahian dan kemuliaan, maka itu pula yang ada dalam diri manusia. Menumbuh-kembangkan keilahian dan kemuliaan itulah yang dapat dipersembahkan oleh manusia.</p>
<p>Kita lupa! Kita tidak ingat lagi bahwa kita sudah memiliki bekal dasar itu. Dan bekal-bekal lain yang kita peroleh dari orang tua, dari sekolah, dari agama, dari masyarakat, sepertinya tidak memuaskan juga. Kita masih merasa hampa, masih kosong. Masih mencari. Kita pikir dengan menimbun harta kekayaan bisa membekali diri. Ternyata tidak. Kemudian, kita pikir dengan meraih kedudukan dan menjadi tenar, kita akan bahagia. Ternyata tidak juga. Kita tidak pernah puas, karena alam bawah sadar selalu membandingkannya dengan bekal dasar kita, yaitu keilahian kita, kemuliaan kita. Lalu alam bawah sadar pula yang mendorong kita untuk mencari bekal-bekal lain. Semuanya terjadi dalam ketidaksadaran. Tanpa sadar alam bawah sadar kita berjalan terus, bekerja terus. Yang kaya semakin rakus, yang mengejar nafsu birahi semakin buas. Karena kita telah melupakan keilahian diri, kemuliaan diri.  <strong><sup>*1 ABC Kahlil Gibran</sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Mencapai Narayana</span></strong></p>
<p>Tiba-tiba Vrta kehilangan semua pikiran tentang pertempuran.  “Duh Gusti,  jadikan aku hanya berpikir tentang-Mu. Biarkan aku bernyanyi dan bersuara hanya untuk-Mu. Biarkan badanku hanya melakukan perbuatan yang Engkau ridhoi. Aku hanya ingin Engkau. Aku tidak ingin Dunia Brahma atau Dunia Dhruva. Aku tidak ingin menjadi raja di atas bumi atau di bawah tanah. Aku tidak ingin moksha ataupun kecakapan dalam yoga. Aku rindu pada-Mu seperti anak burung yang merindukan induknya, seperti anak sapi menginginkan induknya. Aku telah ditangkap dalam pusaran kelahiran. Gusti berikan aku kebebasan!”</p>
<p>“Oleh karena selubung maya yang sudah kau lemparkan pada hidupku, aku terikat dengan badanku, isteriku, anak-anakku, rumahku dan kepemilikanku yang lain. Gusti tolong tarik selubung ini dan bantu memutuskan jaring keterikatan ini.”</p>
<p>Vrta melemparkan trisula dan Indra mengelak. Tangan Vrta dipotong dengan vajra. Vrta tidak marah terhadap Indra, ia marah kepada rasa sakit dan rasa marahnya. “Bukankah orang yang akan mati pun juga merasakan kesakitan yang sama?  Bukankah pada waktu menjelang kematian, seseorang juga begitu sedih melihat salah satu tangannya sudah tak dapat digerakkan lagi?”</p>
<p>Kemudian Vrta memukul dagu Indra sampai vajranya terlempar. “Indra kenapa kamu ragu memungut vajramu? Ini bukan waktu untuk berpikir atau bersedih. Pungut vajramu. Kemenangan dan kekalahan terjadi setiap hari dalam hidup semua orang. Orang tidak bisa menang selamanya. Hanya Gusti yang mengendalikan dunia dan mengendalikan kejadian di dunia. Orang bodoh tidak mengetahui kebenaran dan mereka menganggap badan adalah akhir dan tujuan keberadaan. Tidakkah kamu melihat wayang, mereka digerakkan oleh sang dalang. Apakah wayang mempunyai kuasa untuk mematuhi diri mereka sendiri? Kita semua digerakkan oleh dawai-dawai di dalam tangan-Nya. Gusti membantu dan memelihara makhluk hidup, Gusti pula yang menghancurkan dengan tangan makhluk hidup yang sama.”</p>
<p><em>“Ia yang telah melihat ‘momok’ kematian, tidak akan takut menghadapi para maling biasa. Para prajurit yang pernah terlibat dalam perang nyata, tidak akan takut oleh lemparan batu dari anak-anak kecil.”</em> Kematian adalah “Maling Kelas Wahid”-<em>The Thief</em>! Tidak ada maling sehebat dia. Ia “mencuri” nyawa anda—sesuatu yang tidak bisa dicuri oleh siapa pun juga, selain dia. Hanya seorang “pemberani”, seorang “pahlawan” yang tidak takut menghadapi kematian. Banyak diantara kita hanya “mengaku” tidak takut. Di balik pengakuan kita, tersembunyi “rasa takut” yang amat sangat mencekam. Kenapa kita takut mati? Apa yang membuat kita takut? Kita takut karena mengganggap kematian sebagai titik akhir. Kita takut karena kita pikir kematian akan merampas segala-galanya dari kita-bahkan “kekitaan” itu sendiri. Dan kalau anda merenungkan sejenak, rasa takut pun muncul karena “ego”. Seolah-olah kalau Anda mati, dunia ini akan kekurangan sesuatu. Kita takut mati karena tidak memahami kematian itu apa <strong><sup>*1 ABC Kahlil Gibran</sup></strong></p>
<p>Vrta melanjutkan, “Indra, ketiga kualitas: sattva, rajas dan tamas adalah bagian-bagian alam dan mereka menjauhi Atman. Orang yang telah mencapai Brahmi, tidak akan terpengaruh oleh dualitas. Mari kita pasrahkan hasil pada Gusti. Mari bertarung sesuai kemampuankita!”</p>
<p>Indra berkata, “Aku kagum akan keagungan dirimu. Pikiranmu jauh di atas hal-hal keduniawian. Kamu adalah seorang siddha. Kamu telah melampaui maya yang memperdaya semua manusia. Rajas seharusnya menjadi perangai asura, tetapi kau bahkan telah melampaui ketiga sifat alami. Pikiranmu hilang dalam-Nya, dan aku memberi hormat pada keagunganmu. “</p>
<p>Pertempuran berlangsung sengit dan Indra berhasil membunuh Vrta. Sebuah sinar keluar dari Vrta dan menuju Narayana.  </p>
<p> Raja Parikesit terharu, butir-butir air matanya membasahi kedua pipinya. “Terima Kasih Guru, tanpa panduan-Mu, diriku tidak dapat mengenal Tuhan. Semua menjadi jelas karena rahmat dan karunia Guru. Jay Gurudev!”</p>
<p>Namaste. Aku bersujud pada Dia yang berada dalam diri-Mu!</p>
<p><strong><sup>*1 ABC Kahlil Gibran</sup></strong>     Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999.</p>
<p><strong><sup>*2 Narada Bhakti Sutra</sup></strong>                Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001</p>
<p> </p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>Agustus 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Raja Citraketu dan Asura Vrta bagian pertama Pelajaran Ilahi]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/08/23/kisah-raja-citraketu-dan-asura-vrta-bagian-pertama-pelajaran-ilahi/</link>
<pubDate>Sat, 22 Aug 2009 22:29:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/08/23/kisah-raja-citraketu-dan-asura-vrta-bagian-pertama-pelajaran-ilahi/</guid>
<description><![CDATA[Kenapa kita terikat pada sesuatu? Karena kita melihat sesuatu itu di luar diri kita, dan timbul kein]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Kenapa kita terikat pada sesuatu? Karena kita melihat sesuatu itu di luar diri kita, dan timbul keinginan untuk memilikinya. Pernahkah kita merasa terikat dengan ginjal, hati, dan jeroan kita? Tidak, karena kita tahu semua itu ada dalam diri kita. Kita bahkan tidak pernah memikirkan mereka. Tidak pernah peduli tentang jantung dan paru, hingga pada suatu ketika kita jatuh sakit&#8230;. dan baru mengaduh-aduh. Kenapa? Karena saat itu kita “merasa kehilangan” kesehatan. Kita tidak pernah merasa terikat dengan sesuatu yang kita yakini sebagai milik kita. Sebab itu seorang suami bisa tidak terikat dengan istrinya, tetapi terikat dengan selirnya.</em> <strong><sup>*1 Mawar Mistik</sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Putra sang raja</span></strong></p>
<p>Raja Parikesit bertanya kepada Resi Shuka, “Engkau telah menceritakan tentang kekejaman Asura Vrta, tetapi pada akhir kehidupannya dia dapat mencapai Narayana. Bahkan Vrta disebut bhakta Narayana. Aku bingung, bagaimana hal itu dapat terjadi, mohon dijelaskan. Bukankah, di dalam dunia ini hanya sedikit yang menapaki jalan dharma? Dan di antara jumlah sedikit tersebut sangat sedikit yang berpikir tentang moksha, lepas dari kelahiran dan kematian yang berulang kali? Di antara seribu orang yang berkeinginan moksha , hanya seorang yang benar-benar melepaskan keterikatan duniawi.  Kemudian di antara suatu jiwa yang demikian hanya seorang  yang akan mampu mencapai Tuhan? Mohon dijelaskan Vrta dapat menjadi bhakta Narayana.”<!--more--></p>
<p>Selanjutnya Raja Parikesit menyimak kisah Resi Shuka dengan seksama.</p>
<p>“Raja Citraketu adalah seorang raja yang bijaksana. Hanya saja semua isterinya tidak melahirkan seorang putra pun.” Sang raja selalu berdoa memohon kelahiran seorang putra yang akan menjadi putra mahkota. Pada suatu hari Resi Angirasa dan Resi Narada datang ke tempat sang raja. Resi Angirasa berkata, saya sangat senang dengan keramahtamahan raja dan sudah melihat sendiri kearifan sang raja. “Baik aku mencoba menolongmu. Mari kita mengadakan upacara persembahan. Selanjutnya berikan sisa-sisa ritual persembahan ini untuk dimakan isteri tertuamu.”</p>
<p>Sang raja sangat berterima kasih dan dalam waktu kurang dari setahun  sang putra lahir. Kegembiraan raja tak mengenal batas. Dia menjadi sangat terikat dengan sang anak. Demikian pula sang ibu, isteri tertua yang merasa paling berbahagia dan menjadi kurang tenggang rasa terhadap isteri-isteri lainnya.  Para isteri lainnya sangat cemburu, dan kejernihan pikiran mereka hilang.  Pada waktu sang ibu lengah, maka putra tersebut diracuni oleh mereka.</p>
<p>Sang raja dan isterinya menjadi sangat sedih dan membuat mereka hampir kehilangan ingatan.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Petunjuk Resi Angirasa</span></strong></p>
<p>Beberapa saat setelah kematian sang putra, Resi Angirasa dan Resi Narada menemui sang raja yang pada saat itu sudah tidak mengenali mereka lagi. Pikiran raja sedang kacau balau. Di waktu larut dalam kesedihan, semua pengetahuan tentang hukum sebab-akibat yang sudah berada dalam benaknya menjadi terlupakan.</p>
<p>Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada. Pertemuan kita, perpisahan kita, semuanya merupakan bagian dari cetak-biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat menentukan cetak-biru baru untuk masa depan kita. Hal ini perlu direnungkan sejenak. Yang namanya takdir itu apa? Memang yang tengah kita alami sekarang ini merupakan takdir kita, sudah ditentukan oleh masa lalu kita. Tetapi yang menentukannya siapa? Kita, kita juga. Apa yang kita buat pada masa lalu menentukan masa kini kita. Nah, Sekarang, apa yang kita buat sekarang, dapat menentukan masa depan kita. Takdir sepenuhnya berada di tangan Anda. Bagi mereka yang mengetahui mekanisme alam ini, hidup menjadi sangat indah. Ia tidak akan menangisi takdirnya. Ia tahu persis bahwa ia pula yang menentukan takdirnya sendiri. Ini yang disebut Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat. Karma berarti tindakan, karya. Karma bukan berarti tindakan baik, ataupun tindakan buruk, sebagaimana anda tafsirkan selama ini. Anda yang menderita, anda katakan itu Hukum Karma. Hubungan-hubungan Anda pada masa lalu, menghubungkan Anda kembali dengan mereka yang menjadi kawan Anda, keluarga Anda pada masa kini. <strong><sup>*2 Reinkarnasi</sup></strong></p>
<p>Resi Angirasa berkata, “Raja cobalah berpikir jernih, kau adalah raja yang arif bijaksana. Kau sangat kehilangan putramu. Coba pikir apakah di kehidupan-kehidupan sebelumnya  dia adalah putramu?  Kemudian nanti di kehidupan-kehidupan sesudahnya, apakah dia juga menjadi putramu? Dalam kehidupan ini, kamu dan putramu hanya bersama dalam sementara waktu.”</p>
<p>“Seperti tumbuhan yang lahir dari benih, demikian pula tak seorang pun dapat mengklaim sebagai anaknya. Ditipu ilusi maya kau sangat sedih. Ini hanyalah masa sesaat dimana anakmu hidup bersama denganmu. “</p>
<p>“Dia menciptakan, Dia pula yang memusnahkan. Raga binasa mengikuti aturan hukum alam. Apa pun yang lahir akan mati. Bagaimana pun jiwa tidak mati.  Dengan demikian tak usah berkabung terlalu dalam. Ikatan terjadi karena ketidaktahuan. Sekali engkau melenyapkan ketidaktahuan ini, dukacitamu akan lenyap.”</p>
<p>Raja Citraketu tersinggung, “Siapakah kalian?  Jiwa yang bebas seperti  kalian pergi ke seluruh dunia  untuk memberi pelajaran kebenaran untuk menipu orang-orang seperti diriku.”</p>
<p>“Wahai raja, aku adalah Angirasa yang membantumu mendapatkan seorang  putra, dan ini adalah Narada. Dulu kami datang kepadamu untuk mengajari Brahmavidya, pengetahuan keilahian. Akan tetapi kami melihat kamu masih terjerat ilusi. Kamu mempunyai keinginan duniawi untuk mempunyai seorang putra. Dan keinginanmu sudah terkabul&#8230;&#8230; Dan, sekarang kau menderita karena kehilangan putramu.”</p>
<p>“Wahai raja, perempuan, anak, rumah, kekayaan, kemuliaan dan obyek indera adalah penyebab penderitaan.  Mereka semua itu adalah mimpi. Mereka tidak abadi. Kamu suka ketika mendapatkannya dan kau berduka ketika kehilangannya. Padahal semua hal tersebut tidak ada yang abadi. Setelah kesukaan akan timbul kedukaan. Bangunlah dari mimpi wahai raja.”</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Mantra Resi Narada</span></strong></p>
<p>Resi Narada berkata, “Aku akan memberimu sebuah mantra. Setelah mengulang selama satu minggu, kau akan melihat  wujud ilahi. Kemudian kamu akan melepaskan dualitas. Dan akan mencapai kebebasan.”</p>
<p>Selanjutnya Resi Narada menghidupkan sang putra dan sang putra pun hidup kembali dan memberikan pesan kepada ayah dan ibunya.</p>
<p>“Ayahanda dan ibunda, simak kisahku tentang satu batang emas. Batang emas tersebut pada hari ini ditempatkan pada seorang yang pelit. Sebelumnya batang emas tersebut masih berada dalam kotak penjual emas.  Setelah itu akan batang emas tersebut selama bertahun-tahun dalam penyimpanan harta seorang raja. Si pelit, penjual emas dan sang raja masing-masing mengatakan pada suatu saat  bahwa emas tersebut berada dalam kotak mereka.  Tetapi mereka tidak menyadari bahwa batang emas tersebut bukan milik kotak emas atau pun milik pemilik emas. Demikian pula atman tidak punya keterikatan dengan kotak atau raga yang sedang  membawa dirinya ataupun orang tua dari pemilik raga.  Atman tidak terikat dengan kotak siapa pun.” Dan, sang putra pun lenyap.</p>
<p>Mereka yang hadir sadar, mereka semua telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, Raja Citraketu dan  ibu sang putra sadar. Demikian pula para istri lainnya sangat menyesal terhadap tindakan mereka.</p>
<p>Dunia Benda ini tidak kekal, tidak abadi. Kebendaan berubah terus. Apa yang kumiliki saat ini, pernah dimiliki orang lain sebelumnya. Dan, dapat berpindah tangan kapan saja. Sebab itu, Kebendaan tidak dapat membahagiakan diriku untuk selamanya. Sesuatu yang bersifat tidak kekal, tidak abadi &#8211; tidak dapat memberi kebahagiaan yang kekal dan abadi. Lalu, adakah sesuatu yang abadi? <strong><sup>*3 Panca Aksara</sup></strong></p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Penampakan wujud ilahi</span></strong></p>
<p>Raja Citraketu mematuhi panduan Resi Narada dan melaksanakan puja mantra selama satu minggu dan dia mendapatkan penampakan wujud ilahi.</p>
<p>Narayana bersabda kepada sang raja, “Ini adalah pelajaran brahmavidya. Seluruh alam ini diliputi oleh Aku. Aku adalah penglihat, yang dilihat dan proses melihat.”</p>
<p>“Manakala sedang tidur seorang manusia melihat dunia: pohon, pegunungan dan obyek-obyek  lain. Wajar bahwa seluruh dunia mimpi diciptakan olehnya sendiri dengan pikirannya.  Bagi orang yang telah menyadari Tuhan, dunia ini pun dianggap sama dengan mimpi. Dan manakala ia bangun dari mimpi itu, maka dia tahu bahwa semua di dunia ini hanya merupakan ilusi.”</p>
<p>“Seorang manusia mengalami tiga keadaan, terjaga, mimpi dan tidur lelap. Manakala ia terjaga, maka dunia mimpi tidak ada. Manakala ia bermimpi maka dunia jaga tidak ada. Tetapi dalam tiga keadan tersebut ada sesuatu yang berkata, aku terjaga, aku mimpi dan aku tidur lelap.  Sesuatu itu adalah atman, itu adalah aku dan kamu. Sekali kau menyadari kebenaran ini, setelah itu tak ada lagi penyebab penderitaan dan kesenangan. Kamu tidak bisa membedakan dua hal karena keduanya adalah sama.  Keadaan yang membuat kamu melihat segalanya diliputi oleh aku adalah keadaan  Brahmi.”</p>
<p>Kapan saja kebenaran ini dilupakan, kemudian  jiwa terlibat dalam dunia obyek, dan melupakan alami yang sebenarnya. Ia menjadi korban dari permainan yang bertentangan dan ia tidak mendapatkan kedamaian.</p>
<p>“Dalam dunia orang bekerja keras untuk mencapai kebahagiaan dan mereka mencoba untuk menghindari ketidakbahagiaan. Mereka tidak mencapai kebahagiaan maupun kebebasan dari ketidakbahagiaan. Manusia harus menyadari yang satu ini. Pertimbangkan pelajaran ini dan kamu akan segera mencapai aku dan menjadi satu dengan-Ku.”</p>
<p>Ternyata, apa yang terjadi, perubahan yang terjadi pada badanku, pikiran serta perasaanku, status sosial serta ekonomi &#8211; semuanya tidak serta merta merubah-&#8221;ku&#8221;. Ketika kau menyadari hal itu, maka kau terbebaskan dari belenggu &#8220;aku&#8221; yang kecil dan bersifat individual. Kau berhadapan dengan Sang Aku Sejati, <em>Aatmaa</em>. Ketika &#8220;aku&#8221; menyadari hal itu, maka &#8220;aku&#8221; pun terbebaskan dari belenggu &#8211; dan pada saat itu juga Sang Aku Sejati &#8220;terungkap&#8221; dengan sendirinya! Wow, setiap orang yang terbebaskan dari individualitas &#8211; menemukan Sang Aku yang satu dan sama. Luar biasa! Maka, para resi merumuskan: &#8220;Itulah Kebenaran Hakiki&#8221;. Itulah Satya, Al Haqq.<strong><sup>*3 Panca Aksara</sup></strong></p>
<p>Wujud Ilahi menghilang dari penglihatannya, dan raja diliputi kedamaian  yang berada di luar semua pemahamannya. Ia bahagia dan ia mengetahui bahwa ia tidak pernah tak berbahagia. Beribu-ribu tahun dilalui sang raja dengan gembira dan dia tak mempunyai keterikatan dan tidak punya penderitaan. Ia menghabiskan waktunya di dalam menyanyikan pujian pada Tuhan dan demikian waktu lewat.</p>
<p>Raja Parikesit terharu, butir-butir air matanya membasahi kedua pipinya. “Terima Kasih Guru, tanpa panduan-Mu, diriku tidak dapat mengenal Tuhan. Semua menjadi jelas karena rahmat dan karunia Guru. Jay Gurudev!”</p>
<p>Kehidupan abadi tidak berarti bahwa seseorang dapat menghindari kematian. Sama sekali tidak, karena kelahiran dan kematian merupakan dua sisi kehidupan. Ia akan sadar bahwa yang mati adalah raga, bahwasanya jiwa tidak mati. Begitu ia mengidentifikasikan dirinya dengan jiwa, kematian raga tidak akan membuatnya gelisah lagi. Dalam kesadaran jiwa, kita semua hidup abadi. Hanya saja, ada yang sadar akan hal itu, ada yang belum sadar. <strong><sup>* 4 Bhagavad Gita </sup></strong></p>
<p>Namaste. Aku bersujud pada Dia yang berada dalam diri-Mu!</p>
<p><strong><sup>*1 Mawar Mistik</sup></strong>         Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.</p>
<p><strong><sup>*2  Reinkarnasi</sup></strong>           Reinkarnasi Melampaui Kelahiran Dan Kematian, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1998.</p>
<p><strong><sup>*3 Panca Aksara</sup></strong>            Panca Aksara Membangkitkan keagamaan dalam diri manusia, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007.<strong><sup>*</sup></strong></p>
<p><strong><sup>* 4 Bhagavad Gita               </sup></strong>Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama  2002.</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>Agustus 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Raja Parikesit, Resi Shuka dan Srimad Baghavatam]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/08/15/raja-parikesit-resi-shuka-dan-srimad-baghavatam/</link>
<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 22:58:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/08/15/raja-parikesit-resi-shuka-dan-srimad-baghavatam/</guid>
<description><![CDATA[Inilah “Kesadaran Tertinggi” yang dapat kita capai selama masih “berbadan”. Kita hanya memikirkan Di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Inilah “Kesadaran Tertinggi” yang dapat kita capai selama masih “berbadan”. Kita hanya memikirkan Dia. Kita hanya merasakan Dia&#8230;&#8230;.. namun semua itu juga tidak menghentikan perjalanan kita. Kita tidak lari dari kenyataan hidup. Kita masih tetap mendaki terus Gunung Kehidupan. Kita masih tetap melanjutkan perjalanan hidup kita. Kita masih tetap makan, minum, tidur, dan berkarya seperti biasa – hanya saja setiap tindakan kita, ucapan serta pikiran kita terwarnai oleh Warna Ilahi! Keadaan ini disebut Fana Fi Allah, Fana dalam Kesadaran Ilahi, dalam Cinta, dalam Kasih. Inilah Nirvana, Moksha -  Kebebasan Mutlak. Badan memang tidak bebas, masih harus patuh pada Hukum Fisika, Hukum Dunia. Tapi, jiwa kita sudah bebas! Dan, Jiwa yang bebas boleh tetap berada dalam badan yang mau tak mau masih harus patuh pada hukum-hukum dunia.</em> <strong><sup>*1 Ishq Mohabbat</sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kedamaian batin Raja Parikesit</span></strong></p>
<p>Baru dua hari bertemu Resi Shuka, perasaan Raja Parikesit menjadi sangat damai. Rasa kasihnya terhadap Gusti memenuhi seluruh jiwanya. Kisah Ilahi yang disampaikan Resi Shuka meresap ke dalam diri. Ketenangan dan kesucian Sungai Gangga menyempurnakan kedamaian batin sang raja.</p>
<p>Pertemuan dengan para suci membawa hasil. Tidak bisa tidak. Masalahnya, kita harus “bertemu” dulu. Bila sekadar bertatap muka atau bersalaman, ya tak akan terjadi apa-apa. Bertemu dengan para suci berarti “bertemu” dalam pengalaman, bertemu jiwa, bertemu batin, bertemu hati, bertemu rasa. Tidak sekadar bertemu-pikiran dan raga. Bila kehadiran para suci di dalam hidup ini belum juga membawa hasil, kesalahannya ada pada diri kita. Mungkin saja kita masih menutup diri, sehingga diisi apa pun tidak bisa. Belum bisa. <strong><sup>*2 Narada Bhakti Sutra <!--more--></sup></strong></p>
<p>Jiwa sang raja telah bertemu dengan jiwa sang resi, gelombang pikiran sang raja telah menyatu dengan gelombang pikiran sang resi, dan terjadilah lompatan kuantum bagi kesadaran sang raja. Sang raja sudah menjadi pencinta Tuhan. Cinta tanpa syarat, tak terbatas. Dia menjadi seorang pengasih. Kasih sejati, kasih Ilahi. Kenikmatan tiga dunia pun sudah tidak bisa mengikat dirinya. Dalam tradisi India kuno, alam semesta dibagi dalam 3 bagian utama. <em>Bhu</em> atau Bumi. <em>Bhuvah</em> atau alam di bawah tanah. <em>Svaha</em> atau alam di atas bumi, di luar bumi. Tiga Loka atau tiga dunia, tiga alam, bisa jugaditerjemahkan sebagai tiga masa – masa lalu, masa kini dan masa depan.  Sang raja sudah menjadi seorang pencinta, dia tidak terikat lagi dengan kenikmatan tiga dunia. Dia tidak mencintai karena ingin masuk surga atau karena ingin jiwanya diselamatkan. Dia mencintai karena cinta itu sendiri.</p>
<p>Sambil duduk hening ingatannya menerawang kepada kejadian 9 hari yang lewat. Rasanya baru kemarin saja, tetapi dirinya sudah sangat berubah, seakan-akan telah mendapatkan pelajaran bertahun-tahun. “Terima kasih Gusti yang bagi kami Gusti telah mewujud sebagai Resi Shuka yang memandu kami.” Sambil menangkupkan tangan dan menutup mata sang raja membayangkan wajah Resi Shuka, “Namaste Guru Shuka, kami menghormati keilahian yang berada pada diri-Mu!”</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Memperolok seorang resi  yang sedang samadhi</span></strong></p>
<p>Raja Parikesit ingat pada waktu itu, dia sedang berburu di hutan, hari sangat panas dan dirinya sangat kehausan. Dirinya masuk pondok seorang pertapa dan minta air penghapus dahaga. Seorang resi sedang khusyuk bermeditasi, matanya tertutup dan tidak peduli dengan kedatangan sang raja. Dirinya berkata, “Apakah Resi benar-benar bermeditasi sehingga pikiran dan indera terlupakan, ataukah hanya mencoba menghindari saya akibat keangkuhan seorang resi? Bahwasanya seorang maharaja pun belum mencapai kesadaran sempurna, sehingga seorang resi tidak perlu membuka mata?”</p>
<p>Dalam keadaan tak nyaman karena sangat kehausan, pikiran jernih sang raja sedikit terkesampingkan. Keangkuhan seorang maharaja bangkit, dirinya mengambil bangkai ular dan meletakkannya di leher sang resi. Dan sang raja pun pergi meninggalkan pondok tersebut&#8230;&#8230;.</p>
<p>Di dalam salah satu kamar, putra sang resi mendengar kata-kata ksatriya yang tidak sopan dan kemudian melihat ular yang dilingkarkan di leher ayahnya yang sedang bermeditasi. Putra sang resi menjadi marah, “Bagaimana etikanya seorang ksatriya dapat melakukan hal demikian bagi seorang brahmin? Tugas ksatriya adalah melindungi orang-orang suci. Hal ini dapat terjadi karena Sri Krishna sudah tidak ada tak ada di atas permukaan bumi lagi. Wahai ksatriya kukutuk dirimu agar digigit ular beracun dalam waktu seminggu.”</p>
<p>Manusia yang telah berkembang pribadinya secara utuh dapat mengendalikan pikirannya. Kapan harus diterjemahkannya menjadi ucapan, kapan menjadi tindakan, dan kapan dibiarkan sebagai pikiran saja. Tidak setiap &#8220;petir pikiran&#8221;-nya harus bersuara. Ini yang membedakan dia dari manusia-manusia lain yang belum berkembang seutuhnya. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa jarak antara pikiran dan ucapan atau tindakan dapat digunakan untuk menimbang dan mengevaluasi keadaan, sehingga kita tidak selalu reaktif seperti binatang-dihantam, menghantam kembali. Kita menjadi responsif, bertindak secara sadar. Seorang manusia yang berkembang pribadinya secara utuh menjadi responsif la tidak pernah reaktif. Hanya orang-orang yang pribadinya sudah berkembang secara utuh yang dapat membantu kita untuk mengembangkan diri kita secara utuh. Berada dekat orang-orang seperti itu, kadang kita tidak perlu menunggu untuk disapa, untuk diajak bicara atau mendengar. Bila <em>electric impulse</em> dalam diri kita bergetar pada gelombang yang sama dengan manusia utuh itu, tanpa ucapan pun kita dapat menangkap pemikirannya. <sup>*3 <strong>Neo Psyhic Awareness</strong></sup></p>
<p>Sang resi terganggu oleh kemarahan sang putra dan membuka mata, “Wahai putraku, kamu telah berdosa terhadap seorang maharaja. Akibat kesalahan kecil, kau mengutuk terlalu berat. Apabila sang maharaja mati, para penjahat akan berkembang biak, peran agama menurun dan terjadi kebingungan di masyarakat. Dan, semua kejahatan yang akan terjadi ini berasal dari ketergesa-gesaanmu dan akan membunuh kita semua. Semoga Gusti Yang Mahakuasa mengampuni  pemahamanmu yang belum matang ini.”</p>
<p>Sang resi berkata dengan penuh kewibawaan, “Akibat kemarahan, kau telah melupakan swadaharma. Kewajiban pertapa adalah untuk memaafkan. Kau tidak dapat menarik kutukanmu. Setelah berpulang, sang raja akan dikenang sepanjang zaman, sedangkan kau, apakah ada yang masih mengingatmu setelah kau mati nanti?”</p>
<p>Sang putra menangis penuh penyesalan, “Baik ayahanda, kami mohon ampun atas kesalahan kami, kami akan segera pergi ke istana dan mohon sang baginda mengetahui kutukan kami dan agar beliau dapat mempersiapkan diri.”</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Seminggu sebelum datang kematian</span></strong></p>
<p>Raja Parikesit teringat kembali kejadian yang telah berlalu, sesampai di istana dirinya merasa menyesal, mengapa melakukan tindakan yang tidak perlu. Dirinya telah menganggap sang resi yang sedang bermeditasi angkuh, padahal dia sadar dirinyalah yang angkuh. Orang menjadi tidak adil karena keangkuhannya. Rasa angkuh membuat orang menjadi keras kepala, merasa benar sendiri. Raja Parikesit sadar, bila keadaan ini dibiarkan makin lama ia menjadi makin keras dan akan bertindak tidak adil untuk mempertahankan pendapatnya.</p>
<p>Keangkuhan berada di balik segala tindakan yang jahat. Bebaskan dirimu dari keangkuhan. Bila kau tidak membebaskan diri dari rasa angkuh, kau tidak mengasihi. Bila kau tidak dapat berkorban demi kasih, lalu apa gunanya hidup ini? Berpikirlah tanpa keangkuhan, berbicaralah tanpa rasa angkuh, sadarilah ”jatidiri mu” yang berada di atas rasa angkuh. <strong><sup>*4 Haqq Moujud</sup></strong></p>
<p>Dirinya sadar dan dia segera kembali ke tempat sang resi untuk memohon maaf atas keteledorannya. Kedatangan dirinya tepat di saat terjadi percakapan antara sang resi dengan sang putra. Dirinya sadar, semuanya telah tersurat. Dirinya ingat bahwa Sang Avatara, Sri Krishna pun sengaja mengikuti hukum alam, hukum sebab-akibat. Kala di kehidupan sebelumnya menjadi Sri Rama dia telah memanah Subali. Dan di akhir hayatnya, Sri Krishna membiarkan seorang pemburu memanah kakinya yang menjuntai di hutan dikira kaki seekor rusa. Kalau pun dirinya akan mati digigit ular, dan peristiwa  itu memang harus terjadi, yang penting tindakan apa yang harus diambil sebelum kematian menjemputnya.</p>
<p>Dirinya ingat putra sang resi menangis di kakinya dan mengatakan kesalahannya karena sudah mengutuk sang raja. Entah apa yang memberinya kekuatan untuk memeluk putra resi tersebut, “Wahai putra resi, adalah keberuntunganku aku kau kutuk, sehingga aku tidak harus menanggung kesalahanku di kehidupanku mendatang karena telah berbuat tidak sopan dengan orang suci. Kau adalah utusan Sang Keberadaan, untuk menyampaikan berita yang tidak mungkin disampaikan oleh manusia biasa.”</p>
<p>Kelahiranku, kehidupanku, semua sudah ditentukan sebelumnya, tetapi bagaimana kuhadapi ketentuan itu sepenuhnya tergantung pada diriku (Saya harus merenungkan kata-kata ini sepanjang malam. Baru bisa menerjemahkan “maksud” Sang Maestro berdasarkan “pemahaman” saya). <strong><sup>*5 Nirtan</sup></strong></p>
<p>Seandainya manusia tahu satu minggu lagi dia akan mati, dan dia boleh bertindak apa saja, maka tindakan apa saja yang perlu diambil? Sebuah pertanyaan yang memeras otak. Tetapi otak tetap tak dapat memutuskan yang terbaik, karena otak selalu diliputi keraguan. Sebuah jawaban akan disangkal yang lain. Manusia perlu belajar bagaimana Raja Parikesit memutuskan mengambil tindakan apa saja sebelum kematiannya&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Sang raja ingat, dirinya segera kembali ke istana dan segera menobatkan putranya sebagai raja pengganti. Selanjutnya, dirinya pergi ke tepi Sungai Gangga. Para brahmin menghampirinya, memberikan berbagai nasehat, akan tetapi kata-kata para brahmin tidak dapat memuaskan dirinya. “Diriku akan mati dalam tujuh hari ini, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Dirinya ingat bahwa dirinya harus tenang, dirinya segera menutup mata dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa. “Apa yang mesti ditakuti? Setiap orang pasti mati, hanya aku tahu bahwa aku akan mati dalam tujuh hari mendatang. Itu saja.  Sudahlah Gusti aku pasrah kepada-Mu.” Ketidaktakutan menghadapi kematian, membuka dirinya. <em>Mind</em>-nya sudah mentok, pikirannya sudah buntu, hanya keyakinan pada Gusti yang meliputi dirinya.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Resi Shuka</span></strong></p>
<p>Kejujuran dan ketidak pahaman tentang apa yang harus dilakukan menjelang kematian serta kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa menggerakkan Resi Shuka, Putra Bhagawan Abiyasa. Resi Shuka dengan pancaran keilahiannya menemui Parikesit di tepi Sungai Gangga.</p>
<p>“Tujuh hari sudah cukup untuk membebaskanmu dari samsara. Dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Raja, janganlah tujuh hari, sekejap pun cukup untuk membebaskanmu dari samsara. Bersoraklah dengan gembira, sebut nama Govinda, dan saat itu pula kau terbebaskan dari samsara!” Yang dimaksud Resi Shuka bukan sekadar mengucapkan ulangan kata seperti burung beo. Bersorak dengan gembira  dan menyebut nama Govinda berarti menumbuh-kembangkan rasa cinta terhadap Ia Yang Maha Kuasa. Tidak takut, tidak pula menyembah-nyembah seperti budak tetapi mencintai-Nya. <strong><sup>*6 Bhaja Govindam</sup></strong></p>
<p>Dirinya sangat berbahagia dengan dukungan moril Resi Shuka. Seorang resi tidak akan asal berbicara, semua yang diucapkan seakan adalah sabda ilahi. Dirinya amat malu ketika Resi Shuka menyinggung pembangunan tempat ibadah tanpa kasih. Tanpa kasih perbuatan menjadi tak bermakna.</p>
<p>Dengan membangun sekian banyak tempat ibadah di mana-mana, sang penguasa menganggap dirinya sudah berbuat baik. Dia tidak peduli apakah tempat-tempat itu dimanfaatkan untuk beribadah atau untuk apa? Untuk menyebarkan kesejukan atau kebencian? Sebaik apa pun karma kita, bila tanpa kasih, sungguh tak berarti. Tanpa kepedulian yang lahir dari cinta, itu semua sungguh tak bermakna. Para rohaniawan pun demikian. Banyak di antara mereka yang hanya membaca buku dan meneruskan informasi kepada para jemaah, kepada umat masing-masing. Banyak yang tidak peduli apakah informasi yang mereka sampaikan itu “mengutuhkan” jiwa para pendengar atau justru sebaliknya, membagi, mengkotak-kotak dan mencabik-cabik jiwa mereka. Jiwa sendiri sudah tidak utuh, kemudian ketidakutuhan itu pula yang kita tularkan kepada orang lain. <strong><sup>*2 Narada Bhakti Sutra</sup></strong></p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Srimad Baghavatam</span></strong></p>
<p>Sang raja mendengarkan dengan seksama sabda sang resi, “Aku datang kepada raja untuk menceritakan tentang kemuliaan Tuhan. Ini adalah satu-satunya cerita berharga untuk didengar. Ayahku Bhagawan Abhiyasa telah menceritakan cerita suci ini pada diriku. Aku akan menceritakan cerita ilahi dan membuat tujuh hari sebagai hari paling agung dalam hidupmu. Cerita ini tidak hanya membantumu, tetapi membantu seluruh umat manusia.”</p>
<p>Sang raja begitu larut dalam kesucian kisah dan tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa kumpulan dialog antara dirinya dengan Resi Shuka ini kemudian diedit ulang oleh Abhiyasa dan diberi judul Shrimad Baghavatam—<em>The Book of God</em>, Pustaka Allah.</p>
<p>Sang raja duduk bersimpuh di depan sang guru, kemudian dengan sepenuh hati bersujud dan mencium kaki sang guru.</p>
<p><em>“Aku” sudah tidak eksis, tidak ada. Sekarang, rohku adalah jiwa-Mu, Murshid, Master, Guru. </em>(Dan pada saat itulah terjadi <em>transmission, shaktipaat</em>. Terjadi loncatan kuantum. Dalam sekejap, sang Murid memperoleh apa yang dimiliki oleh gurunya. Ia “ketularan” kesadaran Sang Murshid. Untuk itu, seorang murshid menggunakan berbagai cara untuk mengikis ego para muridnya. Kita melihat seorang Murid mencium kaki murshidnya, dan langsung berang: “Apaan tuh, masak seorang guru dikultuskan”. Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi pada saat-saat seperti itu. Kita tidak sadar bahwa kegerahan kita hanya membuktikan betapa kuatnya ego kita. Kita sendiri belum “mampu” menundukkan kepala. Ya tak apa. Tetapi, apa hak kita untuk mengomentari mereka yang sudah “mampu” melakukannya”.)  <strong><sup>*7 Vadan</sup></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Mengembangkan rasa kasih</span></strong></p>
<p>Mari kita melakukan introspeksi diri: Apa saja yang kita lakukan selama ini, mengembangkan rasa kasih tidak? Pendidikan agama di sekolah dasar mengembangkan rasa kasih atau justru menciptakan jurang pemisah berdasarkan agama? Mengikuti <em>talk-show</em> dan perdebatan antara “A” da “B” di televisi berkembang rasa kasih atau justru rasa tegang, rasa benci? Profesi atau pekerjaan saya menunjang pengembangan rasa kasih atau tidak? Begitu pula dengan persahabatan saya, pergaulan saya, lingkungan saya&#8230;.. Sebaliknya, bila dengan melihat kayu salib, atau kaligrafi Allah dan Muhammad, atau patung Buddha dan Laotze dan Kuan Yin timbul rasa kasih di dalam diri seseorang, maka kritikan kita terhadapnya sungguh tidak bermakna. Daripada berpolitik dan menyebarkan kebencian, lebih baik duduk diam menghadapi kaligrafi atau patung. Setidaknya bisa menimbulkan rasa kasih di dalam diri kita. Orang menganggap Anda gila, ya biarlah. Itu anggapan mereka. Hormatilah anggapan mereka. Tidak perlu membela diri. Lha mereka belum bisa melihat sisi lain kebenaran, mau dipaksa bagaimana? <em>But again</em>, silahkan berpolitik dan berusaha dan ber-“apa saja” bila semua itu menunjang pengembangan rasa kasih di dalam diri. <strong><sup>*2 Narada Bhakti Sutra</sup></strong> </p>
<p>Pada hari kutujuh, ketika seekor ular mematuk sang raja, sang raja sudah berada dalam alam samadhi. Di mana rasa suka dan duka sudah kehilangan makna. Raja Parikesit menghadapai maut dengan senyuman yang sudah menghiasi wajahnya selama satu minggu.</p>
<p>Sebuah solusi menghadapi kematian yang luarbiasa. Melepaskan pikiran, larut dalam rasa, rasa penuh kasih, kasih penuh keilahian. Versi yang masuk ke Nusantara, adalah bahwa Raja Parikesit melindungi diri dari ular Taksaka yang akan menggigitnya dalam seminggu, sehingga dia dijaga prajurit pengawal siang dan malam dan Taksaka masuk lewat buah jambu yang dimakannya. Versi yang sangat berbeda jauh dari kisah Srimad Baghavatam.</p>
<p>Srimad Baghavatam adalah kumpulan kisah yang disampaikan Resi Shuka kepada Raja Parikesit yang mengingatkan akan keilahian manusia. Srimad Baghavatam ditulis oleh Abhiyasa yang walaupun telah menulis Mahabharata dan Bhagavad Gita, dirinya belum puas juga. Dengan bimbingan Resi Narada, Abhiyasa diingatkan menulis tentang Tuhan, Pustaka Allah baru dapat berbahagia. Resi Narada menceritakan bahwa Resi Narada pun juga pernah mengalami hal seperti demikian&#8230;&#8230;.</p>
<p>Mohabbat bukanlah jalan. Bagaimana kau bisa mencintai Tuhan bila belum mencapai-Nya? Mohabbbat terjadi. Hubungan kasih baru bisa terjalin, bila kau sudah bertemu dengan Allah. <strong><sup>*1 Ishq Mohabbat</sup></strong></p>
<p>Terima kasih Guru, semua terberkati oleh-Mu. Tulisan kami selama ini dijiwai oleh Srimad Baghavatam. Sesuai perkembangan pemahaman kami tentunya. Bahan yang sama akan tertulis berbeda sesuai perkembangan jiwa. Jay Gurudev!</p>
<p>Namaste, kami menghormati Dia yang berada dalam diri-Mu.</p>
<p><strong>Keterangan:</strong></p>
<p><strong><sup>*1 Ishq Mohabbat</sup></strong>                       Ishq Mohabbat Dari Nafsu Berahi Menuju Cinta Hakiki, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2005.</p>
<p><strong><sup>*2 Narada Bhakti Sutra                        </sup></strong>Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001.</p>
<p><sup>*<strong>3 Neo Psyhic Awareness</strong></sup>              Neo Psyhic Awareness, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005.</p>
<p><strong><sup>*4 Haqq Moujud</sup></strong>                          Haqq Moujud Menghadirkan Kebenaran Sufi dalam Hidup Sehari-hari, Anand Krishna, 2004.</p>
<p><strong><sup>*5 Nirtan                                                     </sup></strong>Nirtan Tarian Jiwa Hazrat Inayat Khan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 2003.</p>
<p><strong><sup>*6 Bhaja Govindam</sup></strong>                      BHAJA GOVINDAM Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.</p>
<p><strong><sup>*7 Vadan</sup></strong>                                   Vadan Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003.</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>Agustus 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kali Yuga Zaman Kegelapan]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/08/11/kali-yuga-zaman-kegelapan/</link>
<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 09:33:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/08/11/kali-yuga-zaman-kegelapan/</guid>
<description><![CDATA[Orang yang terlalu cepat dan terlalu sering tergoda adalah orang yang berkeinginan banyak. Kadang ia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Orang yang terlalu cepat dan terlalu sering tergoda adalah orang yang berkeinginan banyak. Kadang ia tergoda oleh uang; kadang oleh janji ‘surga’ dan kenikmatan di sana; kadang ia menginginkan ketenaran di dunia; kadang ia mengharapkan kedudukan di alam sana. “Sedikit demi sedikit”, kata Shankara, “Sang Kala merampas nyawamu, tetapi keinginanmu tetap saja setinggi gunung.” Bahkan ketinggiannya bertambah bersama usia. Padahal usia yang bertambah, seharusnya membuat kita sadar akan ‘sisa waktu’ yang kita miliki</em>. <strong><sup>*1 Bhaja Govindam</sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pergolakan batin Raja Parikesit</span></strong></p>
<p>Hanya Resi Shuka, putra Bhagawan Abhiyasa yang dapat menenteramkan dirinya. Kisah yang disampaikan Resi Shuka membangkitkan kasih di dalam diri. Dan, Raja Parikesit sedang merenungi perjalanan hidupnya&#8230;&#8230;.</p>
<p>Kakek Yudistira telah menobatkan dirinya sebagai maharaja pengganti kakeknya. Kakeknya berpesan bahwa sang kakek hanya akan hidup di dunia sepanjang Gusti yang mewujud sebagai manusia untuk menumpas kejahatan masih hidup. Sri Krishna yang Agung telah menyelesaikan tugasnya di dunia. Dan, Kakek Yudistira dan semua saudaranya telah melepaskan diri dari ikatan dunia. Tugas dirinya sebagai generasi penerus adalah melanjutkan memimpin dunia.<!--more--></p>
<p>Bukan hanya kerabat kakeknya saja yang merasa kehilangan, Raja Parikesit juga dapat merasakan sedihnya Bunda Bumi ditinggal Sri Krishna. Seorang Avatara membuat Bunda bumi merasa bahagia. Manusia di atas permukaan bumi dipandu sang Avatara untuk menghormati lingkungan. Manusia di atas permukaan bumi dipandu sang Avatara untuk menyadari bahwa semua ciptaan sejatinya merupakan satu kesatuan. Satu bumi, satu langit dan satu kemanusiaan. Para pelaku adharma diibaratkan kanker yang merusak tubuh kesatuan, dan demi keseluruhan tubuh, maka kanker tersebut harus diangkat. Sang Avatara mengembalikan kesehatan dunia.</p>
<p>Perginya Sri Krishna, bagi Bunda Bumi adalah kehilangan yang nyata, dan Raja Parikesit melihat bahwa kondisi Bunda Bumi seperti keadaan seekor sapi yang kurus kering dirundung nestapa. Putra terbaiknya telah meninggalkan dia. Seakan Bunda Bumi melihat masa depan yang penuh kegelapan. Manusia akan melupakan dirinya, akan merusak dirinya, mengeksploitasi dirinya, seakan dirinya adalah benda mati yang dimanfaatkan untuk memuaskan nafsu angkara murka. Wilayah bumi akan diperebutkan raja-raja lalim demi kepuasan mereka.</p>
<p>Seorang yang berkesadaran sangat tinggi merupakan berkah bagi umat manusia. Auranya meningkatkan kesadaran seluruh umat manusia. Dan Sang Avatara yang berkesadaran sangat tinggi sudah pergi meninggalkan dunia..</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Hutang-hutang manusia</span></strong></p>
<p>Sebetulnya setiap manusia mempunyai hutang terhadap makhluk lainnya.</p>
<ol>
<li>Deva Rina, utang terhadap Dewa. Yang dimaksud adalah kemuliaan, kesadaran, pencerahan karena kata dewa berasal dari Divya, yang berarti yang mulia, yang terang, yang berasal dari cahaya. Elemen-elemen alami seperti api, air, angin, tanah dan ruang juga disebut dewa. Api membakar habis segala macam sampah. Air membersihkan. Angin dapat menyusup kemana-mana. Tanah menopang beban kita semua. Dan tanpa ruang kita tidak dapat eksis.</li>
<li>Pitra Rina, utang terhadap leluhur, atau barangkali lebih tepat hutang terhadap keluarga. Karena keluarga adalah kontinuitas dari leluhur dan leluhur adalah keluarga. Jika kita tidak menyelesaikan utang kita terhadap keluarga, kita akan dituntut untuk menyelesaikannya terhadap keluarga yang lebih besar – dunia ini. Para Mesias dan Buddha juga meninggalkan rumah, tetapi lain mereka lain kita. Kita melarikan diri dari tugas dan tanggung jawab, sementara mereka memikul tugas dan tanggung jawab yang lebih besar.</li>
<li>Rishi Rina, utang terhadap para bijak, atau terhadap kebijaksanaan itu. Nilai kebijakan tertinggi adalah: aku senang, kau pun harus senang. Aku bahagia, kau pun harus bahagia. Aku tidak dapat mengabaikan kepentinganmu demi kepentingan diri.</li>
<li>Nara Rina, utang terhadap sesama manusia. Seorang manusia yang tersadarkan dapat menyelamatkan seluruh umat manusia. Siddhartha seorang diri dapat menjadi cahaya bagi seluruh dunia. Isa seorang diri dapat mengubah sejarah peradaban manusia. Muhammad seorang diri mengantar dunia ke era baru.</li>
<li>Bhuta Rina, utang terhadap lingkungan. Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggung jawab terhadap kelestarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya. <strong><sup>*2 life workbook</sup></strong></li>
</ol>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Dharma dengan satu kaki</span></strong></p>
<p>Sepeninggal Sri Krishna, bukan hanya Bunda Bumi yang berduka, Bunda Dharma pun menghadapi masalah dalam penegakan Dharma. Dengan kewaskitaannya, Raja Parikesit seakan-akan melihat Bunda Dharma sebagai sapi berkaki satu. Kakinya yang tinggal satu pun sedang diserang oleh Sang Kala. Kaki pertama tapa, pengendalian diri sudah rusak karena manusia bertindak tanpa pengendalian diri. Kaki kedua kesucian diri dalam pikiran, ucapan dan tindakan. Kesucian pun gugur ternodai keterikatan. Kaki ketiga welas asih. Dan, welas asih pun telah musnah karena tertutup oleh hawa nafsu.</p>
<p>Hanya tinggal satu kaki yang bisa membuat dirinya masih tegak, yaitu kaki kebenaran. Betul-betul memasuki Zaman Kegelapan, Kali Yuga&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Raja Parikesit sangat marah terhadap Sang Kala yang tidak henti-hentinya berupaya menjatuhkan dharma&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Bunda Bumi dan Bunda Dharma sangat berharap akan dirinya. Dan, Raja Parikesit menghela napas, “Apakah raja-raja penggantiku di seantero bumi dapat memahami kondisi ini? Banyak manusia akan lalai, tidak waspada terhadap  keadaan genting berbahaya yang tidak disadarinya.  Sang Kegelapan siap menerkamnya dari depan, dari belakang dari atas dan dari bawah dirinya bahkan dari dalam pikirannya. Sang Kala telah mengalir bersama darah dalam tubuhnya. Kebajikan dan kualitas mulia telah meninggalkan diri manusia dengan perginya Sang Avatara. “</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kejahatan adalah bayang-bayang kebaikan</span></strong></p>
<p>Kebenaran yang masih dapat menegakkan Dharma pun terus dilukai dengan kebohongan oleh Sang Kala.</p>
<p>Seakan Kegelapan atau Kali paham akan pikiran jernih Sang Raja. Selanjutnya dia jatuh bersimpuh di depan kaki sang raja, “Hamba tahu, keturunan Arjuna tidak akan menyakiti seorang pemohon yang jatuh di kakinya.” Hamba tahu, paduka tidak ingin hamba tinggal di dalam kerajaan paduka. Paduka merasa, sekali saja hamba tinggal maka semua sahabat hamba: ketamakan, kebohongan, pencurian, kejahatan, kemunafikan, pertengkaran dan semua yang menyebabkan keburukan dan kebencian akan ikut menumpang.”</p>
<p>“Tetapi ijinkan kami berbicara terlebih dahulu. Paduka raja, seluruh bumi telah paduka kuasai. Gusti yang menciptakan kebaikan juga menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah bayang-bayang kebaikan. Hamba telah diciptakan, dan hamba tetap membutuhkan ruang agar diri hamba tetap eksis. Berikan hamba tempat di paling sudut yang paling tertutup. Bagaimana pun sudah merupakan bawaan hamba untuk tetap mendatangi pintu-pintu yang dibuka sendiri oleh manusia. Para manusia yang telah mengundang hamba dan sudah menjadi kewajiban hamba untuk tidak menolak undangan mereka.</p>
<p>Raja Parikesit, termenung lama, “Ada benarnya juga ucapan Kali.” “Baik, kamu harus pergi kecuali manusia membuka pintu untukmu, tetapi pintu-pintu tersebut hanyalah pintu judi,   pintu mabuk, pintu zinah dan pintu pembunuhan.”</p>
<p>“Mohon tambahkan satu pintu lagi Paduka!”</p>
<p>“Baik satu pintu lagi, pintu emas, kekayaan. Emas akan menyebabkan ketamakan, kebohongan, keangkuhan, gairah, kebencian dan kebengisan.”</p>
<p>Kali pergi dan tertawa dalam hati, “Aku hidup selamanya, sedangkan Raja Parikesit terbatas kehidupannya. Dia lupa kondisi manusia limaribu tahun setelah kejadian ini. Hampir seluruh manusia akan kukuasai. Ada beberapa saat, kala seorang suci menebarkan dharma, aku ditinggalkan, akan tetapi tak lama sesudahnya aku akan kembali lagi. Bahkan aku pun akan merasuk dalam ajaran sang suci sehingga setelah dia tak ada ajaran-ajarannya menjadi sesat. Raja Parikesit tak akan tahu, bahwa akan banyak ajaran berkembang dan musnah selama lima ribu tahun. Dan mereka mengklaim ajaran mereka paling benar. Padahal terbukti ajaran-ajaran kuno telah ditinggalkan, demikian pula ajaran-ajaran baru tanpa pembaharuan akan menjadi kuno dan ditinggalkan juga.”</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pintu-pintu masuk bagi Kali</span></strong></p>
<p>Berikut ini adalah pintu-pintu masuknya kali yang diuraikan dalam buku <strong><sup>*1 Bhaja Govindam</sup></strong>.</p>
<ol>
<li><strong>1.       </strong><strong>Pintu Pertama, Pintu Judi</strong></li>
</ol>
<p>Pengaruh kali dapat mengubah apa saja menjadi perjudian. Bank-bank kita, supermall beramai-ramai memberi hadiah dengan undian. Manusia pun berharap  memperoleh ‘lebih’ daripada apa yang menjadi haknya. Harapan itu spekulasi itu apa lagi kalu bukan berjudi?</p>
<ol>
<li><strong>2.       </strong><strong>Pintu Kedua, Pintu Mabuk </strong></li>
</ol>
<p>Pengaruh Kali masuk dalam keadaan manusia yang sedang mabuk. Bukan hanya mabuk narkoba dan minuman keras, akan tetapi mabuk harta, mabuk takhta dan mabuk wanita. Bahkan juga termasuk mabuk spiritualitas merasa paling hebat.</p>
<ol>
<li><strong>3.       </strong><strong>Pintu Ketiga, Pintu Zinah</strong></li>
</ol>
<p>Bagi Kali, ‘perzinahan’ tidak sebatas penyelewengan yang dilakukan seseorang terhadap pasangannya. Bagi Kali, ‘zinah’ berarti memaksakan kehendak diri. Mewujudkan keinginan dengan cara apa saja. Kadang memaksa dengan cara kasar dan keras. Kadang dengan cara halus, lembut—dengan merayu dan merengek. Menaklukkan hati orang, kemudian memperbudaknya, atau mempengaruhi pikiran orang demi kepentingan diri—semua itu perzinahan, <em>adultery</em>.</p>
<ol>
<li><strong>4.       </strong><strong>Pintu Keempat, Pintu Pembunuhan</strong></li>
</ol>
<p>Bagi kali, pintu keempat ini merupakan berkah tersendiri. Pembunuhan terjadi di mana-mana. Ada yang dibunuh dan ada yang bunuh diri. Ada yang membunuh orang lain, ada yang membunuh nuraninya sendiri. Tidak mendengarkan suara hati merupakan aksi pembunuhan terhadap nurani.</p>
<ol>
<li><strong>5.       </strong><strong>Pintu Kelima, Pintu Emas</strong></li>
</ol>
<p>Pintu Harta Berlebihan. Bila uang mengalir, kali tidak mampu mempengaruhi kesadaran. Bila harta tidak mengalir, berhenti, tertimbun di suatu tempat Kali masuk. Bila harta mengalir, roda ekonomi pun akan berputar dengan baik. Harta berlebihan yang ditimbun, tidak hanya menyusahkan karena pengaruh Kali yang dapat menyeret kesadaran ke titik terendah, tetapi juga menyusahkan orang lain. Bahkan menjadi sinterklas pun, telah merampas kemandirian orang lain, karena ketergantungan mereka terhadap diri sang sinterklas.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Lima butir Pencerahan dari Shankara</span></strong></p>
<p>Sebagai penutup kami mengutip  Lima Butir Penderahan dari buku <strong><sup>* 3 Five Step Awareness</sup></strong>. Bagaimana mempertahankan Kesadaran dalam zaman kegelapan.</p>
<ol>
<li><strong>1.       </strong><strong>Pertama, kenalilah dirimu</strong></li>
</ol>
<p>Tanah liat di seluruh dunia berada di luar jangkauanmu. Namun, segumpal tanah liat berada dalam jangkauanmu. Dengan mengetahui sifat segumpal itu, kau dapat mengetahui sifat tanah liat secara keseluruhan, secara utuh. Dengan mempelajari sifat benda-benda yang berada dalam jangkauanmu, kau dapat mempelajari sifat Yang Tak Terjangkau. Tanah liat itu digunakan untuk membuat berbagai macam peralatan, bahkan mainan, patung dan lain sebagainya. Bentuk peralatan dan benda-benda itu memang beda, tetapi intinya satu dan sama, tanah liat. Nama dan sebutan yang kita berikan pada setiap benda beda, namun perbedaan itu pun tidak mempengaruhi inti setiap benda. Walau berbeda bentuk, wujud atau rupa, maupun nama dan sebutannya, bahan dasarnya masih tetap sama, tanah liat.</p>
<p>Untuk memahaminya, pelajarilah dirimu. Gumpalan tanah liat itu adalah dirimu. Tat Tvam Asi – Itulah Kau. Dengan mempelajari diri yang berada dalam jangkauanmu, kau dapat mengetahui sifat dasar Yang Tak Terjangkau Itu!</p>
<ol>
<li><strong>2.       </strong><strong>Kedua, jagalah pergaulanmu</strong></li>
</ol>
<p>Dulu, kita masih bisa memilih: mau berteman, bersahabat, bergaul dengan para dewa, para malaikat, manusia, atau pada raksasa, para danawa. Sekarang, hal itu sudah tidak mungkin lagi, karena ketiga sifat malaikat, manusia dan raksasa berada dalam porsi yang sama dalam setiap insan. Karena itu, hendaknya kita mengembangkan ketiga nilai luhur <em>dam, datta, dan dayaa</em>, pengendalian diri, memberi atau berbagi, dan mengasihani.</p>
<p>Bila bertemu dengan seseorang yang telah berhasil mengendalikan diri, mengendalikan nafsu-nafsu rendahan, senang memberi atau berbagi, dan mengasihi tanpa memandang bulu, ciumlah tangan dia. Bertekuk-lututlah kehadapannya. Ia adalah Insan Kaamil, Manusia Sempurna.</p>
<ol>
<li><strong>3.       </strong><strong>Ketiga, pertahankan kesadaranmu</strong></li>
</ol>
<p>Awalnya, Keberadaan itulah yang ada. Unsur-unsur dasar dalam alam ini: tanah, air, api, angin, dan ruang kosong atau langit, semuanya berasal dari Keberadaan itu. Dunia benda ini, segala yang terlihat maupun tak terlihat oleh mata, semuanya berasal dari Keberadaan. Dan, setiap kita tertidur – tertidur lelap tanpa mimpi – kita kembali menyatu dengan Keberadaan yang adalah Kebenaran Sejati dibalik segalanya, yang menjadi dasar bagi segalanya.</p>
<p>Madu terbuat dari sari sekian banyak bunga&#8230; bunga-bunga yang berbeda warna, bentuk, dan nama. Sari setiap bunga ada di dalam madu, namun mereka tidak bisa berkata lagi, aku sari bunga mawar, aku sari bunga melati. Dalam keadaan tidur lelap tanpa mimpi, bagaikan sari setiap bunga, kita menyatu dengan Keberadaan. Saat itu, tidak ada lagi perbedaan antara jiwa yang menghuni manusia atau hewan. Saat terjaga, identitas badan kembali berperan. Identitas berdasarkan nama dan rupa kembali memisahkan manusia dari makhluk lain.</p>
<p>Kita semua tanpa kecuali, setiap saat ke luar dari alam kesadaran murni Keberadaan dan memasukinya kembali, namun kita tidak menyadarinya. Persis seperti seorang pejalan kaki yang melewati jalan raya di mana terpendam harta karun di bawah jalan. Ia melintasi jalan itu tetapi tidak menyadari keberadaan harta karun itu.</p>
<ol>
<li><strong>4.       </strong><strong>Keempat, tekun dan bersemangatlah selalu</strong></li>
</ol>
<p>Kata kunci untuk mempertahankan kesadaran ialah kerja keras. Dan, untuk bekerja keras tentunya dibutuhkan semangat dan ketekunan. Ciri khas Kebahagiaan Sejati adalah aktifitas kerja nyata, kerja keras, ketekunan, semangat. Ia yang bahagia tidak pernah bermalas-malasan. Mereka yang bermalas-malasan sesungguhnya belum bahagia. Mereka sekedar menikmati buah perbuatan mereka. Hasil perbuatan mereka di masa lalu. Kenikmatan mereka bersifat sementara. Pikirannya lumpuh, kehendaknya lemah. Kehendak adalah <em>will power</em> bukan keinginan. <em>Will power</em> berarti keyakinan pada diri sendiri, pada kemampuan diri dan kesiapsediaan untuk berkarya atas dasar kemampuan itu. Kebahagiaan Sejati datang dari  sesuatu yang tak terbatas, sementara kenikmatan adalah hasil dari perbuatan terbatas.</p>
<ol>
<li><strong>5.       </strong><strong>Kelima, berkaryalah sesuai dengan kesadaranmu</strong></li>
</ol>
<p>Tidak semua benih yang ditanam langsung tumbuh, bertunas dan berbuah. Ada yang membutuhkan waktu beberapa bulan. Ada yang berbuah setelah beberapa tahun. Sanchita adalah karma-karma dari masa lalu; akumulasi dari masa lalu, yang saat ini baru berbuah. Buahnya disebut Praarabdha. Sesuatu yang sudah tidak mungkin dielakkan. Kendati demikian, kita masih memiliki pilihan – yaitu memetik panen dengan mengaduh-aduh atau dengan girang, dengan bersuka cita, dengan menyanyi dan menari. Taruhlah panennya tidak sesuai dengan harapan – tak apa. Saat itu kita masih belum mahir dalam seni cocok tanam, maka tanaman kita di masa depan sudah pasti lebih baik.</p>
<p>Tetapi jangan lupa pula masih ada Sanchita Karma yang barangkali belum berbuah. Karma-karma tersebut adalah Agami Karma – karma yang akan datang. Kita tidak dapat mengubahnya, namun dengan memahaminya, kita menjadi tenang. Kita akan menghadapinya dengan tenang. Kita tak akan terbawa arus, tak akan hanyut dalam suka maupun duka yang berlebihan.</p>
<p>Setelah itu, hiduplah dalam kesadaran Ilahi. Sesungguhnya, setelah itu Kesadaran Ilahi datang sendiri. Persoalannya bukanlah setelah itu hidup dalam Kesadaran Ilahi, tetapi mempertahankan Kesadaran Ilahi.</p>
<p>Terima kasih Guru, semua terberkati oleh-Mu. Jay Gurudev! Namaste, kami menghormati Dia yang berada dalam diri-Mu.</p>
<p><strong><sup>*1 Bhaja Govindam</sup></strong>      BHAJA GOVINDAM Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand                                   Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.</p>
<p><strong><sup>*2 life workbook</sup></strong>          LIFE WORKBOOK, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan                              Cara Mengatasinya, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007.</p>
<p><strong><sup>* 3 Five Step Awareness</sup></strong> 5 Steps to Awareness, 40 Kebiasaan Orang yang Tercerahkan, Anand Krishna,                                  Gramedia Pustaka Utama, 2006.</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>Agustus 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kelahiran Parikesit, Sang Pewaris Tahta Hastina]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/07/01/kelahiran-parikesit-sang-pewaris-tahta-hastina/</link>
<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 21:07:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/07/01/kelahiran-parikesit-sang-pewaris-tahta-hastina/</guid>
<description><![CDATA[Peran mata harus dipahami dengan betul. Pemicu-pemicu di luar menggunakannya sebagai pintu untuk mas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Peran mata harus dipahami dengan betul. Pemicu-pemicu di luar menggunakannya sebagai pintu untuk masuk ke dalam diri kita. Misalnya Anda “melihat” sesuatu di showcase toko. Muncul keinginan untuk memperolehnya, membelinya, maka tangan akan mencari dompet. Kaki akan bergerak masuk ke dalam toko. Awal mulanya dari “penglihatan”. Kesadaran kita mengalir ke luar lewat sekian banyak indra, tetapi mata adalah indra utama, gerbang utama</em>. *<strong><sup>1. Atma Bodha</sup></strong> <strong></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Orang tua Parikesit</span></strong></p>
<p>Abimanyu adalah seorang tokoh dalam perang Bharatayuda. Ia adalah putera Arjuna dengan Wara Subadra, adiknya Sri Krishna. Konon Wara Subadra adalah titisan Dewi Widowati yang pernah menitis sebagai Dewi Citrawati, isteri Prabu Arjuna Sasrabahu yang titisan Wisnu, kemudian menitis menjadi Dewi Sinta, istri Sri Rama yang juga titisan Wisnu, dan dalam Zaman Dwapara Yuga menitis ke Wara Subadra, adik Sri Krishna, sang titisan Wisnu.</p>
<p>Abimanyu menghabiskan masa kecilnya di Dwarawati, kota tempat tinggal ibunya. Ia dilatih oleh ayahnya, Arjuna, dibimbing pakdhenya, Prabu Kresna, dan di<em>-‘momong’</em>, diasuh sejak kecil oleh Semar dan putra-putranya. Disebutkan bahwa Abimanyu adalah inkarnasi dari putera Soma, Dewa Bulan. Sang Dewa Bulan membuat perjanjian bahwa puteranya tinggal di bumi hanya selama 16 tahun.<!--more--></p>
<p>Abimanyu telah mempunyai istri Dewi Siti Sundari, salah satu putri Sri Krishna. Selesai bertapa, Abimanyu bertemu dengan Dewi Utari yang memiliki tanda-tanda  bahwa wanita cantik ini akan kuat menerima wahyu <em>‘cakraningrat’</em>. Oleh karena takut ditolak, Abimanyu menipu dengan mengatakan dirinya masih perjaka. “Kalau tidak percaya biarlah alam yang menjadi saksi”. Abimanyu masih menggunakan <em>‘mind’</em>, belum pasrah terhadap Gusti,  karena dia juga ingin kerajaan Wirata akan berkoalisi dengan Pandawa melawan Korawa. Abimanyu berusia 16 tahun saat ia terbunuh sebagai pahlawan dalam pertempuran Bharatayuda.</p>
<p>Parikesit adalah putra dari Abimanyu dengan Dewi Utari.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Wahyu <em>‘Cakraningrat’</em></span></strong></p>
<p>Wahyu Cakraningrat adalah wahyu <em>‘wijining ratu’</em>, wahyu pewaris raja. Alkisah banyak pemuda mencari wahyu cakraningrat agar keturunannya dapat  menjadi Maharaja. Disebutkan ada tiga pemuda yang mencari wahyu cakraningrat: Raden Abimanyu, Ksatriya Plangkawati putra Raden Arjuna dengan Dewi Wara Subadra; Raden Samba Wisnubratha, Ksatriya Parang Garuda, putra Prabu Krishna dengan Dewi Jembawati; dan Raden Lesmana Mandrakumara, Ksatriya Sarojabinangun, putra Prabu Suyudana dengan Dewi Banowati.</p>
<p>Ketiganya bertapa di Alas Krendhawahana, sebuah hutan ‘<em>gung liwang liwung, gawat keliwat-liwat, janma mara janma mati, sato mara sato mati’</em>, daerah angker tempat Bathari Durga bersemayam, makhluk apa pun yang masuk akan mati.</p>
<p>Pada suatu tengah malam, terlihat seberkas sinar yang sangat terang berkeliling di atas Alas Krendhawahana. Sinar itu tak lain adalah Wahyu Cakraningrat yang tengah mencari <em>‘wadah’</em>, pemuda yang sanggup menerimanya. Pertama-tama, Wahyu Cakraningrat “masuk” ke dalam diri Lesmana Mandrakumara. Merasa kemasukan wahyu, ia pun menyudahi tapanya. Dia sangat girang dan  berpesta pora merayakannya bersama para prajurit Korawa. Mereka mabok kelezatan makanan dan minuman. Tingkat kesadaran Lesmana Mandrakumara masih di cakra bawah, cakra makan minum, sehingga sang wahyu cakraningrat tidak dapat bertahan lama. Hawa nafsu makan dan minum Lesmana Mandrakumara membuat suasana panas dan sang wahyu pergi ke luar.</p>
<p>Selanjutnya, Wahyu Cakraningrat  “masuk” ke dalam diri Samba Wisnubratha. Merasa kemasukan wahyu, dia pun menyudahi tapanya. Bathari Durga tidak berkenan dengan hal tersebut dan mengubah dirinya menjadi bidadari yang cantik jelita. Dia pun menggoda Samba.  Samba Wisnubratha terpengaruh dan tergoda. Dia pun mencumbu dan memperlakukan si wanita itu layaknya istri sendiri. Akibatnya sangat fatal, Wahyu Cakraningrat yang berada dalam tubuhnya seketika keluar dan melesat, mencari pertapa lain. Pusat kesadaran Samba masih di cakra seks, energinya masih cair dan selalu bergerak ke bawah menuju cakra kedua.</p>
<p>Kemudian Wahyu Cakraningrat “masuk” ke dalam tubuh Abimanyu. Merasa kemasukan wahyu, ksatria putra Raden Arjuna ini pun merasa sangat bersyukur kepada Gusti. Mengetahui momongannya kemasukan wahyu, Semar pun mewanti-wanti agar Abimanyu semakin berhati-hati.</p>
<p>Semar adalah pemandu manusia yang bijak, yang mengikuti perintahnya akan selamat. Ketika bidadari jelmaan Bathari Durga menggodanya, Abimanyu pun selalu menghindar meskipun si wanita terus-menerus mengejarnya. Melihat momongannya dalam kesulitan, Semar segera membantu. Dia menghajar sang bidadari habis-habisan. Tiba-tiba, si wanita cantik itu berubah wujud aslinya sebagai Bathari Durga yang bersegera mohon maaf dan menghilang. Guru, dalam hal ini Semar, Sang Pemandu mempunyai pengaruh luar biasa terhadap muridnya. Keyakinan seorang murid terhadap Gurunya akan menyelamatkannya. Pada saat itu kesadaran Abimanyu belum sepenuhnya berupa kesadaran kasih yang berpusat di cakra keempat. Pada saatnya kesadaran Abimanyu akan meningkat karena selalu di<em>’momong’</em> oleh Semar.</p>
<p>Semar menasehati, “Raden Abimanyu, <em>‘momongan’-</em>ku, hormatilah Kebenaran Jati Diri-mu, jangan kau merendahkan Diri Sejati-mu dengan harta, tahta dan wanita yang hanya menyamankan pancaindra dan pikiran secara sementara. Begitu kau terpesona dan terikat dengan duniawi itu kau telah menduakan Gusti.  Gusti Kebenaran Abadi kau bandingkan dengan ilusi duniawi, hal tersebut termasuk tersesat dari jalan Kebenaran. Banyak manusia yang setiap saat mohon petunjuk agar diberikan jalan yang benar, jalan yang diridhoi, jalan yang tidak tersesat. Tetapi yang diinginkan mereka keduniawian dan bukan Gustinya sendiri, mereka menduakan Gusti. Bahkan Gusti pun hanya digunakan sebagai alat untuk mencari keduniawian. Apakah itu tidak berarti kesenangan egonya di-Tuhan-kan? Mungkinkah ego dapat terpuaskan? Contohlah Prabu Krishna, dia menjadi raja yang berpenampilan indah, tetapi semuanya tidak melekat di hatinya. Jangan terkecoh penampilan seseorang. Tindakan Sri Krishna selalu berpegang teguh pada Kebenaran.”</p>
<p> </p>
<p> <strong><span style="text-decoration:underline;">Senjata Aswatama</span></strong></p>
<p>Dewi Drupadi histeris, lima putra dan semua saudara laki-lakinya terbunuh pada malam hari selagi tidur. Aswatama telah membunuh seluruh keturunan Pandawa yang masih hidup, sebagai balas dendam atas kematian Drona, ayahnya. Saat Arjuna menemukan Aswatama, mereka berperang tanding. Akhirnya, Bramastra, senjata Brahma, senjata sangat canggih dari Aswatama dilepaskan. Arjuna merasakan bulu kuduknya meremang, dan diingatkan Sri Krishna untuk segera melepaskan senjata yang sama.</p>
<p>Saat kedua senjata mengudara, Sri Krishna berteriak menggelegar, “Batalkan segera arah senjata-senjata itu, apabila sempat bertemu dunia akan musnah dan kalian berdua harus menanggung akibatnya! “ Arjuna dapat mengendalikan, tidak demikian dengan Aswatama. Diarahkannya bramastra ke calon cucu Pandawa yang masih dalam kandungan, agar habis anak keturunan Pandawa. </p>
<p>Aswatama kalah berperang tanding dan diikat dengan tali secara memalukan. Sudah sepantasnya, karena dia telah membunuh putra-putra Pandawa di malam hari tanpa menggunakan etika. &#8230;&#8230; Ternyata Drupadi minta Aswatama dilepaskan, dia ingat ibu Aswatama akan merana bila dia dibunuh. Drupadi telah dapat merasakan kesedihan seorang ibu yang putranya terbunuh.</p>
<p>Arjuna memotong rambut kebrahmanaan Aswatama, mengambil permata di dahinya, dan mengusir Aswatama.  Sebuah penghinaan yang amat keji bagi Aswatama. Dia pergi dan dalam hati bertekad, “Ada suatu masa dimana anak keturunanku di Arva Sthan menaklukkan negara anak cucu kalian!”</p>
<p>Malam itu Dewi Utari lari terengah-engah menemui Sri Krishna. Dia merasa sebuah gumpalan energi gelap mengejar-ngejar dan mengancam kehidupan kandungannya. Sri Krishna paham, dan meminta Dewi Utari duduk diam, menutup mata dan berdoa. Dewi Utari merasakan kedamaian, dan dalam bayangannya Sri Krishna telah masuk ke dalam kandungannya menunggu bramastra datang, kemudian menangkap dan membawa senjata itu keluar dari tubuhnya.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Mencari Krishna</span></strong></p>
<p>Selama sekian bulan dalam kandungan ibunya, seorang anak tidak perlu mencari makanan. Ia mendapatkan suplai 24 jam secara kontinu. Saat itu ia mendapatkan suplai makanan dari peredaran darah ibunya. Organ-organ di dalam tubuhnya tidak perlu bekerja keras untuk mengolah makanan. Begitu lahir, ia tersadarkan bahwa suplai makanannya sudah terhenti, muncullah rasa takut yang sangat mencekam. Ia mencari makanan! Barangkali belum lapar betul, tetapi ia sudah tahu bahwa sekarang makanan tak dapat diperolehnya dengan cara biasa. Rasa takut yang muncul karena lapar, atau karena makanan itu, sesungguhnya menciptakan “semangat” dalam diri seorang anak. Yaitu semangat untuk mencari, semangat untuk berjuang, dan semangat untuk menemukan. <strong><sup>*2.Fear Management</sup></strong>.</p>
<p>Yang dicari bayi putra almarhum Abimanyu dan Dewi Utari itu bukan makanan, tetapi Sri Krishna yang telah menyelamatkan hidupnya. Sejak kecil ia selalu memeriksa setiap orang apakah dia Sri Krishna yang menyelamatkannya ketika masih berada dalam kandungan. Karena itu dia dinamakan Raden Parikesit, yang sejak kecil selalu melakukan “pariksa” terhadap setiap orang, yang selalu  mencari Sri Krishna.</p>
<p>Sementara ini, mata kita lebih banyak memboroskan energi. Perolehan energi lewat mata tidak seberapa. Kita sangat tergantung pada perolehan lewat kedua lubang hidung, mulut, dan pori-pori. Karena itu, banyak di antara kita yang mengalami gangguan pada saluran pernapasan. Energi yang kita peroleh tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Terjadinya ‘<em>short-supply of energy’ </em> ini menciptakan rasa takut dalam diri kita. Karena kekurangan energi, kita merasa terancam, lalu kita berusaha untuk “menarik” energi secara paksa. Seorang laki-laki bermata jelalatan, sesungguhnya sedang “menarik” energi. Seorang perempuan centil yang sedang menarik perhatian pun sesungguhnya sedang menarik energi. Orang yang berpoligami atau berpoliandri sedang menarik energi. Menambah jumlah istri, suami, atau simpanan, selir, pacar, semuanya adalah upaya untuk menarik enegi. Ketika menarik energi dengan cara itu pun terasa belum cukup, kita menciptakan konflik, friksi, perang. Dari adu pikiran dan adu mulut hingga adu otot semuanya adalah urusan tarik menarik energi. Perlombaan adalah cara untuk menarik energi. Namun cara itu sesungguhnya tidak sopan; tidak santun, tidak menghormati martabat manusia, tidak sesuai dengan derajat manusia. <strong><sup>*2. Fear Management</sup></strong></p>
<p>Raden Parikesit begitu berbahagia kala melihat Sri Krishna, tanpa ragu dia merangkak dan minta dipangku Kakek Krishna. Suasana begitu hening, angin semilir dari jendela sampai terdengar desisnya. Semua orang di tempat kejadian tersebut menahan napas, dan meleleh air mata mereka tanpa henti. Isakan tangis sahut menyahut menyemarakkan suasana haru. Mata Parikesit dan Sri Krishna berkaca-kaca.</p>
<p> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Energi Kasih</span></strong></p>
<p>Hubunganmu dengan murshid seharusnya hubungan hati, bukan hubungan pikiran. Seharusnya kau dapat merasakan luapan kasih yang ada dalam hati murshidmu untukmu. Bila kau masih berhubungan dengan pikiran, masih menggunakan rasio dan logika, kamu baru dalam tahap belajar dari dia. Kau baru menerima dia sebagai sebagai pengajar—bukan sebagai guru, sebagai murshid. <strong><sup>*3. Bhaja Govindam</sup></strong></p>
<p>Parikesit belum bisa bicara, Sri Krishna juga tidak perlu bicara, tetapi hati mereka telah tertaut erat.</p>
<p>Orang yang cukup peka terhadap energi dapat secara langsung merasakan bila ada yang berusaha untuk menarik energinya. Ia akan menjauhi orang itu, karena berada dekat orang itu akan menimbulkan friksi yang tak berguna. Sebaliknya dua orang yang saling mencintai tidak perlu saling memanipulasi. Interaksi antara keduanya berjalan sendiri tanpa tarik menarik. Keduanya merasa lebih segar karena keduanya memperoleh sesuatu. Dalam satu kelompok di mana 10 atau 20 orang saling mencintai, interaksi energi yang terjadi sedemikian dahsyatnya sehingga dalam radius 6 hingga 60 kilometer, setiap makhluk dapat merasakan getaran-getaran cinta. Apalagi jika jumlah orang yang saling mencintai dan mengasihi itu mencapai 100; getaran energi berlipat ganda dan menyebar hingga radius ribuan kilometer. <strong><sup>*2. Fear Management</sup></strong></p>
<p>Tidak perlu takut kita akan mulai dari mana untuk memperbaiki keadaan Ibu Pertiwi. Pada suatu acara Temu Hati dengan Bapak Anand Krishna. Dijelaskan bahwa seorang peneliti di Jepang meneliti tentang karakter monyet. Dia menempatkan 300 monyet di pulau A, dan 300 monyet di pulau B. Dan pulau A dan pulau B dipisahkan laut dengan jarak puluhan kilometer. Kemudian di Pulau A si peneliti ingin mempelajari cara berpikirnya monyet, dan satu monyet diajarkan untuk mencuci ketelanya sebelum dimakan. Tetapi seminggu kemudian si monyet ini makan lagi tanpa dicuci. Kemudian dipaksa lagi. Dan selama 6 bulan si Peneliti mengajarkan hal yang sama pada seratus monyet, sampai dari satu monyet akhirnya mencapai seratus monyet yang makan ubi setelah dicuci dulu. Ketika mencapai angka seratus, tiba-tiba esoknya 300 monyet semuanya mencuci ketela mereka.</p>
<p>Yang sulit dicerna akal adalah ketika di pulau A 100 monyet mulai mencuci ketela, di pulau B yang satupun monyet tidak diajari, ternyata semuanya mencuci ketela. Ini penelitian ilmiah sekali yang membuktikan ada satu benang merah yang mempersatukan satu jenis makhluk. Jadi satu keunggulan yang dicapai oleh seorang manusia itu menjadi milik seluruh umat manusia.</p>
<p>Kalau kita bicara dalam konteks yang lebih kecil, kesadaran yang dimiliki oleh satu orang Indonesia akan menjadi milik seluruh  bangsa Indonesia. Jadi jangan berkecil hati. Mencapai 100 orang yang berkesadaran akan setengah mati, tetapi setelah seratus orang sadar gaungnya akan cepat sekali. Jadilah 100 orang yang mencintai Ibu Pertiwi dan setelah itu kesadaran masyarakat akan cepat meningkat untuk mencintai Ibu Pertiwi. Fesbuk dapat menjadi sarana untuk saling mengasihi. Semoga!<strong></strong></p>
<p>Semua terjadi berkat rahmat Guru.</p>
<p>Jay Gurudev!</p>
<p>Keterangan:</p>
<p><strong><sup>*1. Atmabodha                 </sup></strong>: ATMA BODHA Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.</p>
<p><strong><sup>*2. Fear Management  </sup></strong>: FEAR MANAGEMENT, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.</p>
<p><strong><sup>*3. Bhaja Govindam       </sup></strong>: BHAJA GOVINDAM Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p>Juli 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ki Nartosabdho : Parikesit Grogol]]></title>
<link>http://wayangprabu.com/2009/05/28/ki-nartosabdho-parikesit-grogol/</link>
<pubDate>Thu, 28 May 2009 04:23:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Prabu</dc:creator>
<guid>http://wayangprabu.com/2009/05/28/ki-nartosabdho-parikesit-grogol/</guid>
<description><![CDATA[Berikut pagelaran wayang kulit oleh Ki Nartosabdho dengan lakon &#8220;Parikesit Grogol&#8221;. Sumb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Berikut pagelaran wayang kulit oleh Ki Nartosabdho dengan lakon &#8220;Parikesit Grogol&#8221;.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1739" title="parikesit_solo" src="http://wayangprabu.wordpress.com/files/2009/05/parikesit_solo.jpg" alt="parikesit_solo" width="400" height="657" /></p>
<p>Sumber pertama kali dari <a href="http://apdnsemarang.wordpress.com/mp3-wayang-kulit/">Mbak Galuh</a> kemudian diperbaiki audionya oleh <a href="edy_listanto@yahoo.com">Mas Edy Listanto</a></p>
<p>Audio filenya dapat <a href="http://www.4shared.com/dir/15744277/aba2e98d/Narto_sabdo_Parikesit_Grogol.html">diunduh disini</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dengan Nawa Wida Bhakti – SRAWANAM  Prabu Parikesit mencapai moksa.]]></title>
<link>http://sesuluh.wordpress.com/2009/04/16/dengan-nawa-wida-bhakti-%e2%80%93-srawanam-prabu-parikesit-mencapai-moksa/</link>
<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 12:03:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>sesuluh</dc:creator>
<guid>http://sesuluh.wordpress.com/2009/04/16/dengan-nawa-wida-bhakti-%e2%80%93-srawanam-prabu-parikesit-mencapai-moksa/</guid>
<description><![CDATA[Jnanam, Karma, dan Bhakti, dalam mewujudkan ajaran Hindu adalah merupakan satu kesatuan yang susah u]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jnanam, Karma, dan Bhakti, dalam mewujudkan ajaran Hindu adalah merupakan satu kesatuan yang susah untuk dipisahkan karena merupakan satuan intergral satu dengan yang lainnya. Svami Satya Narayana mengatakan : Ketiga jalan tersebut bak Gula batu, bentuk, berat, dan penampilan gula tersebut sangatlah berbeda, namun mereka mempunyai kesatuan yang utuh dan sulit untuk dibeda bedakan. Kalau Jnanam itu tidak diwujudkan dalam bentuk Bhakti, maka hanya tinggal didalam hati saja, Karma tanpa dilandasi dengan Jnanam maka karma akan ngawur tanpa arah, Jnanam dan karma tanpa bakti, akan bisa menimbulkan arogansi dan gersang, Bhakti tanpa Jnanam dan karma juga akan nyaplir. Karena itu Bhakti kepada tuhan merupakan ujung dari Jnanam dan karma.<br />
Berbakti kepada tuhan tidak hanya dalam wujud sembahyang baik itu di pura maupun di merajan.<br />
Dalam Bhagawata purana VII.5.23. menyebutkan ada sembilan bentuk Bhakti kepada tuhan yang disebutkan dengan :”NAWA WIDA BHAKTI” salah satu bentuk bhakti itu adalah Srawanam ( mendengarkan nasehat nasehat suci, Ajaran Dharma dengan penuh konsentrasi ) Kesimpulannya berbakti kepada tuhan dengan cara mendengarkan tentang ketuhanan, Ceritra ceritra tentang Tuhan, melalui ajaran Dharma ).</p>
<p>Prabu Parikesit adalah merupakan raja yang terakhir dari Astinapura. Atau cucu Pandawa yang mencapai Moksa beliau melakukan Bhakti kepada Tuhan dengan cara SRawanam.<!--more--><br />
Dalam ceritra mahabrata Prabu Parikesit diceritrakan berburu ke hutan, akhirnya memasuki pertapaan Rsi Samiti,  Didalam Kerajaan Astinapura, ada suatu etika, bila sang raja datang berkunjung layaknya disambut dengan istimewa, setiap orang menyambutnya, menghormati serta appreciate atas kunjungan sang raja.<br />
Disis lain disebuah pertapaan  pada saat itu, Rsi Samiti sedang mejalankan tribrata, Brata makan ( Upawasa ) Brata Tidur ( Jagra ) serta brata berbicara ( monobrata ) karena dalam kondisi Tribrata inilah beliau akhirnya tidak menyambut kedatangan sang Raja dengan sebagaimana mestinya.<br />
Prabu Parikesit sangat tersinggung atas keadaan ini, sehingga kemarahannya ditumpahkan kepada seekor ular yang sedang lewat disana, ular itupun dipukulnya sampai mati, yang akhirnya bangkai ular itu dikalungkan oleh Prabu parikesit dilehar Sang Rsi Samiti yang sedang melakukan Tribrata. Kemudian sang Rsi ditinggalkan begitu saja dalam tri brata dengan leher dikalungi bangkai ular.<br />
Sang Rsi Samiti memiliki seorang putra yang bernama Srenggi- (masih tergolong kanak kanak karena usianya baru 8 tahun ) Namun Srenggi mempunyai suatu bakat yang luarbiasa dalam ketekunannya melaksanakan Gayatri mantram, dalam usianya yang ke lima Srenggi sudah mampu melaksanakan japa mala Gyatri mantram sampai ribuan kali lebih lebih lagi, diluar Desanya sendiri.<br />
Ketika Srenggi kembali dari taman pesraman mengambil bunga yang tadinya dipersiapkan untuk sembahyang, alangkah kagetnya mereka ketika melihat dan menyaksikan kondisi Ayahandanya sang Rsi dengan posisi meditasi dengan bangkai ular yang melilit dilehernya. Srenggi berusaha untuk mencari tau siapa palaku dari perbuatan amoral seperti itu,  maka dapatlah srenggi jawaban pelakunya adalah seorang Raja ( Prabu Parikesit sebagai pelaku tunggal ) Srenggipun segera mengejar Prabu parikesit dan sekaligus melontarkan kutukan atas perlakuannya terhadap Ayahndanya sang Rsi. ”Dalam kurun waktu 7 hari Prabu Parikesit akan mati dengan cara yang menyedihkan digigit ular”.<br />
Rsi Samiti mendengarkan kesemuanya itu,  dan beliau mengetahui kemampuan putranya sang Srenggi, karena kesidhiannya, mengingat sejak kecil Srenggi sangat rajin dan tulus melakukan Japa Mala Kutukan tinggal kutukan tak boleh ditarik dengan apapun, akhirnya dalam kurun waktu yang ditentukan 7 Hari pasti akan terjadi kejadian yang sangat mengenaskan Prabu Parikesit sudah pasti akan menderita atas kutuknnya itu.<br />
Tinggal satu satunya yang dilakukan Sang Rsi sekarang adalah masuk ke Istana kerajaan dan menyampaikan masalah ini, sehingga dibuatkanlah sebuh podium dan dijaga ketat sehingga tidak ada lagi jalan ular bisa menghapiri Prabu parikesit.<br />
Dalam tujuh hari itulah dipergunakan bertobat oleh Sang Prabu Parikesit, selama 7 hari untuk Srawanam, yaitu mendengarkan dengan cara seksama Ikang Tinutur Pineh Ayu dari sang Rsi Samiti.<br />
Persis hari yang ke VII Jiwa sang Prabu Parikesit meninggalkan Raga ( alias Moksa ) dan akhirnya datanglah sang pelayan menyuguhkan Hidangan makan buat sang Prabu Parikesit, meskipun Makanan itu di Softir secara sempurna oleh Koki Istana, namun Ular tersebut bersembunyi dibalik kuping manggis, ketika sang Prabu mau makan manggis keluarlah ular tersebut dengan serta merta mematuk sang Prabu yang sebenanrnya sudah dalam keadaan Sunia &#8211; Berakhirlah Prabu Parikesit yang merupakan akhir dari bagian kejayaan Wangsa Bratha &#8211; di Astinapura.</p>
<p>Jero Mangku Sudiada &#8211; HDNET</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[RADEN PARIKESIT]]></title>
<link>http://wayangku.wordpress.com/2008/10/28/raden-parikesit/</link>
<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 20:02:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>bosangjay</dc:creator>
<guid>http://wayangku.wordpress.com/2008/10/28/raden-parikesit/</guid>
<description><![CDATA[Raden Parikesit Raden Parikesit adalah putera Raden Angkawijaya dengan Dewi Utari. Parikesit dilahir]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Raden Parikesit Raden Parikesit adalah putera Raden Angkawijaya dengan Dewi Utari. Parikesit dilahir]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin - Samarinda]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/03/15/menyusuri-trans-kalimantan-banjarmasin-samarinda/</link>
<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 15:22:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/03/15/menyusuri-trans-kalimantan-banjarmasin-samarinda/</guid>
<description><![CDATA[(13).   Tenggarong Di Waktu Sore Sejarah panjang masa kejayaan kerajaan Mulawarman dan kerajaan Kuta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2>(13).   Tenggarong Di Waktu Sore</h2>
<p>Sejarah panjang masa kejayaan kerajaan Mulawarman dan kerajaan Kutai Kartanegara adalah aset budaya yang terlalu sayang untuk dikesampingkan. Catatan sejarah dan peninggalannya itu sudah semestinya menjadi salah satu sumber daya yang masih sangat terbuka untuk digali potensinya.</p>
<p>Ketika Indonesia merdeka dan kemudian diberlakukan undang-undang daerah swapraja, keraton Kutai Kartanegara mulai seperti kehilangan rohnya. Kutai harus menjadi daerah swapraja, sementara Sultan AM Parikesit harus lengser keprabon dan menjadi rakyat biasa. Keraton Kutai tak ubahnya hanya sebuah bangunan kuno yang syukur-syukur tidak segera disulap menjadi mal atau hotel.</p>
<p>Beruntunglah, tanggal 25 Nopember 1971, atas keinginan masyarakat dan pemerintah, istana Tenggarong kemudian difungsikan sebagai museum, yang diberi nama Museum Negeri Mulawarman. Sejak itu keraton Kutai Kartanegara dan museum Mulawarman mulai terus berupaya mengembalikan pamornya sebagai salah satu obyek wisata unggulan di Indonesia, sebagaimana keraton Yogyakarta, Solo, Cirebon atau lainnya.</p>
<p>Tanggal 22 September 2001 adalah awal kebangkitan, hidupnya kembali kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Malahan pada tahun 2002 sempat menjadi tuan rumah Festival Keraton Nusantara III. Bagi warga Kalimantan Timur, khususnya masyarakat Kutai, museum yang letaknya menghadap sungai Mahakam ini sudah lama menjadi kebanggaan. Bagaimanapun bekas kerajaan yang megah ini adalah simbol bahwa Kutai mempunyai sejarah panjang. Kendati tidak meninggalkan bekas-bekas bangunan candi seperti di pulau Jawa.</p>
<p>Tinggal bagaimana upaya melestarikan kekayaan peninggalan sejarah Kutai ini dan mengelolanya agar laku dijual sebagai objek wisata sejarah dan budaya yang menarik. Potensi kekayaan budayanya sungguh sangat besar dengan budaya Dayak sebagai pesona utamanya. Lokasinya yang relatif jauh dari pusat pemerintahan memang bisa menjadi kendala. Namun melihat bahwa potensi-potensi wisata di pulau-pulau lain pun ternyata bisa berkembang, bukan tidak mungkin Tenggarong dan Kutainya kelak akan berjaya pula. Lokasinya yang mudah dijangkau dari Balikapapan akan memberikan nilai lebih.</p>
<p>Mulailah Pemda Kutai Kartanegara beserta punggawanya menyingsingkan lengan baju. Visi dan misi dicanangkan melalui semboyan yang terkesan begitu gagah berani : &#8220;Gerbang Dayaku&#8221; (akronim dari Gerakan Pengembangan dan Pemberdayaan Kutai). Para pejabat Kutai tentu tidak asal mengepas-paskan semboyan itu. Tersirat sebuah misi untuk memberdayakan seluruh komponen (pemerintah, legislatif, masyarakat, dan investor) dalam proses pembangunan secara berkesinambungan. Begitu penjabarannya.</p>
<p>Kesungguhan dan semangat pemerintah daerah kabupaten Kukar (Kutai Kartanegara) dalam upayanya memajukan daerahnya memang layak ditiru. Program dan kegiatan pembangunan seperti sambung-menyambung dan terkonsep dengan rapi. Tapi jangan lupa, kabupaten ini memang tergolong kabupaten yang <i>koaya</i> raya dibandingkan kabupaten lain di Indonesia.</p>
<p>***</p>
<p>Di seberang selatan agak <i>nengos</i> (miring) ke barat sedikit dari kompleks keraton Kutai Kartanegara terdapat sebuah lokasi wisata yang tergolong modern, yaitu Pulau Kumala. Lokasinya berada di tengah sungai Mahakam. Pulau seluas kira-kira 86 hektar ini dilengkapi dengan wahana kereta gantung (cable car) dan Sky Tower setinggi 80 meteran. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi dari daratan Tenggarong menuju Pulau Kumala, wahana-wahana modern itu memberi keasyikan berbeda. Para pelancong dapat menikmati panorama kota Tenggarong dan bentang Pulau Kumala dengan sungai Mahakamnya dari ketinggian. Selain menggunakan kereta gantung, juga ada sarana transportasi air dengan perahu ketinting untuk menyeberang dan mendarat di Pulau Kumala.</p>
<p>Kabarnya, wahana wisata di pulau Kumala ini akan terus dikembangkan dan dilengkapi guna semakin menarik wisatawan untuk berkunjung, dan tentu saja membelanjakan uang sakunya. Melihat sepintas tentang obyek wisata Pulau Kumala ini, pikiran saya lantas melayang jauh ke Pulau Sentosa di Singapura, yang sempat saya kunjungi pada tahun 2002.</p>
<p>Agaknya ide tentang Pulau Kumala ini terinspirasi oleh pengembangan Pulau Sentosa. Saya pikir itu ide brilian. Jangankan kok cuma terinspirasi, meniru persis <i>plek</i> pun tidak ada salahnya. Baru akan nampak salahnya (plus terkadang rada menjengkelkan) adalah setelah nanti ketahuan bagaimana professionalisme pengelolaannya.</p>
<p>Pemda Kukar punya alasan kuat untuk melakukan studi banding (kalau perlu magang) ke Pulau Sentosa, tanpa khawatir didemo. Pulau Kumala memang tidak seluas Pulau Sentosa, tapi konsep &#8220;gerbang dayasing&#8221; (gerakan pengembangan dan pendayagunaan singapura) patut dipelajari. Kita memang harus jujur, terkadang kita dibuat kagum dan terperangah oleh negeri jiran yang <i>sak uplik</i> itu. <i>Lha</i> bagaimana tidak, <i>wong</i> Singapura itu negeri yang &#8220;tidak punya apa-apa tapi sepertinya apa-apa punya&#8221;. Sementara kita ini negeri yang &#8220;apa-apa punya tapi sepertinya tidak punya apa-apa&#8221;.</p>
<p>Memang rada aneh <i>bin salabin</i>, seperti sulapan&#8230;.. Padahal kalau mau banyak-banyakan tukang sulap, jelas kita punya lebih banyak. Anak-anak muda kita juga jago beradu pikir, <i>menangan</i> kalau ikut olimpiade perorangan. Giliran olimpiade rombongan, bersebelas misalnya, keok terus. Barangkali kita memang belum pandai bekerja dalam tim. Padahal sebelum 61 tahun yang lalu tim kemerdekaan kita pernah berjaya mengusir penjajah. </p>
<p>Kembali ke pokok persoalan : <i>Haqqun-yakil</i>, di masa mendatang (ini bahasa diplomatis para pejabat untuk menyebut <i>embuh</i> kapan&#8230;..) Pulau Kumala pasti akan didatangi oleh para pelancong dari mana-mana, bukan <i>hil yang mustahal</i> kalau turis mancanegara pun bakal <i>kepincut</i>. Mudah-mudahan di masa mendatang (juga <i>embuh</i> kapan) saya sempat membawa keluarga untuk mengunjungi tempat ini.</p>
<p>***</p>
<p>Tenggarong dengan Pulau Kumalanya memang layak dipertimbangkan untuk dikunjungi jikalau ada kesempatan untuk piknik bersama keluarga. Sayang sekali sore itu kompleks keraton Kutai Kartanegara sudah tutup, kecuali kuburan raja-raja di sebelah baratnya (<i>lha</i> ngapain sore-sore masuk kuburan&#8230;..), sehingga saya hanya bisa berjalan-jalan berkeliling di kawasan luarnya saja.</p>
<p>Kawasan sekeliling keraton dan halaman museum, kawasan pelabuhan penyeberangan ke Pulau Kumala, dan pemandangan pantai sungai Mahakam dengan latar depan pulau Kumala, cukuplah untuk media relaksasi pikiran, sambil jalan-jalan di kala sore. Kesan pertama dari luar memang begitu menarik, saya percaya dalamnya juga. Itulah kota Tenggarong &#8220;Berseri&#8221;.</p>
<p>Yogyakarta, 21 Agustus 2006<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Abimanyu Terjebak Perangkap Mahadigda]]></title>
<link>http://wayangprabu.com/2008/02/27/abimanyu-terjebak-perangkap-mahadigda/</link>
<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 09:53:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Prabu</dc:creator>
<guid>http://wayangprabu.com/2008/02/27/abimanyu-terjebak-perangkap-mahadigda/</guid>
<description><![CDATA[  Abimanyu Terjebak Perangkap Mahadigda Dia putra Arjuna yang lahir dari cintanya yang pertama kepad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><img class="alignnone size-medium wp-image-870" title="abimanyu_solo" src="http://wayangprabu.wordpress.com/files/2008/02/abimanyu_solo.jpg?w=195" alt="abimanyu_solo" width="195" height="300" /><img class="alignnone size-medium wp-image-871" title="abimanyu_yogya" src="http://wayangprabu.wordpress.com/files/2008/02/abimanyu_yogya.jpg?w=198" alt="abimanyu_yogya" width="198" height="300" /><img class="alignnone size-full wp-image-869" title="abimanyu-jatim" src="http://wayangprabu.wordpress.com/files/2008/02/abimanyu-jatim.jpg" alt="abimanyu-jatim" width="189" height="288" /></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><a href="http://www.detikforum.com/showthread.php?t=892"><span>Abimanyu Terjebak Perangkap Mahadigda</span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dia putra Arjuna yang lahir dari cintanya yang pertama kepada seorang wanita yang bernama Sumbadra putri Raja Basudewa dari Dewi Badraini. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Abimanyu kekasihnya satria muda usia, sopan tutur bahasanya, hormat kepada orang tua dan tak segan menolong sesamanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Istrinya bernama Utari putri Raja Wirata, berputra seorang bernama parikesit yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan Astina menggantikan Prabu Yudhistira. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Sayang ia kurang wiwaha seperti kebanyakan anak muda. Tindakannya ceroboh menurut kata hati tak pandang bahaya mengancam akhirnya terjadi malapetaka menimpa dirinya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Malapetaka itu terjadi ketika satria Plengkawati itu hendak menolong pasukan pandawa yang terkepung rapat balatentara Kurawa di Tegal Kuru Setra Dengan keberanian yang luar biasa ditunjang semangat yang menyala-nyala, diterjangnya barikade musuh hingga porak poranda dan pasukan Pandawa pun terbebas dari malapetaka yang nyaris menghancurkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Namun rupanya si anak muda itu belum merasa puas, darah mudanya bergejolak, ia terus menghajar musuh seorang diri walau sempat diperingatkan para Pandawa agar tidak meneruskan maksudnya, tapi tak digubrisnya. Ia malah terus memacu kudanya melaju menggempur musuh hingga jauh menusuk jantung pertahanan Kurawa. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Akibatnya perbuatan yang berani tetapi tak berhati-hati itu berakibat fatal baginya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Pihak Kurawa yang lebih unggul dalam pengalaman taktik strategi perang telah memasang perangkap yang disebut Durgamarungsit, yaitu sebuah perangkap semacam bubu yang apabila orang masuk ke dalamnya tak akan bisa keluar lagi. Siasat itu ditambah lagi dengan perangkap yang lebih berbahaya lagi yaitu perangkap Gelar Maha Digua semacam pintu jebakan. Di setiap balik pintu telah bersembunyi sebagai algojo. Di situlah si anak muda belia itu dibantai, dibokong dari belakang, dihimpit dari pinggir, dihadang dari depan serta dihujani berbagai rupa senjata hingga bandanya arang kerancang. Akhirnya gugur ditikam dari belakang oleh tumenggung Kelana jayadrata.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Kualitas manusia Kurawa sungguh tak berperikemanusiaan, curang dan menyalahi aturan perang. Anak yang masih ingusan diperlakukan bagai binatang buruan dikepung dan dibantai oleh orang-orang yang bukan layak menjadi lawannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Akibatnya anak tewas secara tragis, Arjuna terpukul jiwanya. Ia tampak lesu tak bergairah hingga membuat para Pandawa prihatin mengingat Arjuna andalan dalam perang itu. Menyadari situasi yang tidak menguntungkan, Kresna memberi wejangan: &#8220;Adikku, sedih, nelangsa, sakit hati sudah lumrah dalam hidup ini. Itu pertanda kita masih memiliki perasaan. Tetapi janganlah kesedihan itu berlarut-larut hingga menghambat perjuangan yang sedang kita hadapi. Tabahkanlah hati adinda menghadapi cobaan ini. Gugurnya Abimanyu tidaklah sia-sia, dia telah membuktikan dirinya sebagai pejuang muda yang gagah perkasa pantang menyerah. Dia gugur sebagai kusuma bangsa yang akan dikenang sepanjang masa,&#8221; ujarnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Wejangan Kresna itu memberi pengertian, bahwa apa pun yang terjadi walau pahit dirasakannya, hendaknya diterima dengan kebesaran jiwa sebagai tolak ukur atas kelebihan dan kekurangan manusia. hati Arjuna terusik mendengar wejangan itu lalu berkata: &#8220;Duh kanda Batara. hamba bukans edih karena kematian anak. Hamba hanya tak rela &#8216;cara&#8217;nya anak itu mati. Hamba dapat merasakan seolah dia pun tak rela mati dengan cara demikian. Dia seolah tersentak diperlakukan bagai binatang buruan, dikepung dan dibantai oleh orang-orang yang hanya pantas menjadi lawan hamba. mereka orang-orang sakti tapi tak manusiawi. Karena itu hamba akan menuntut balas,&#8221; ujarnya penuh rasa dendam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Di saat itu pula emosinya sudah tak terbendung lagi dan tidak seorang pun menduga, ketika dengan tiba-tiba Arjuna berdiri tegak mengangkat senjata tinggi-tinggi seraya berkata: &#8220;Wahai bumi dan langit, wahai semua yang hidup, aku bersumpah dan minta kesaksianmu, bahwa esok hari sebelum matahari terbenam aku sudah harus membunuh si kelana Jayadrata. Jika aku gagal, aku akan masuk ke dalam Pancaka.&#8221; (Pancaka api unggun yang sengaja dibuat untul lebih geni). Usai sumpah seketika terdengar suara dari empat penjuru disertai angin kencana, kilat tatit menggelegar pertanda sumpah Arjuna telah didengar dan bumi langit menjadi saksi. Gegerlah para Pandawa disertai keprihatinan menyaksikan peristiwa yang tak diduga itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Mengkaji sumpah Arjuna berawal dari perasaan dendam yang mendalam, memprotes perlakuan Kurawa di luar batas kemanusiaan, telah mendorong sifat keakuannya untuk berbuat sesuatu yang di luar batas kemampuannya, membunuh seseorang dalam waktu yang relatif singkat sebelum matahari terbenam di ufuk barat. Itu adalah suatu kesanggupan yang tidak normal yang pasti akan menjadi beban moril yang amat berat. Akal dan pikiran sehat sudah tidak berfungsi. Tujuan akan menghabisi Jayadrata dalam waktu sehari sebelum matahari tenggelam ke peraduannya hanya merupakan impian belaka. Kecanggihan taktik strategi pakar Kurawa terutama Danghyang Dorna yang melindungi, terlalu sulit untuk dapat ditembus hanya oleh keberanian dan kekuatan fisik semata.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dorna telah membuat sebuah benteng yang kuat bagai baja terdiri dari ribuan balatentara Kurawa dan di situlah jayadrata disembunyikan. Meskipun beberapa lapis dapat dihancurkan, namun beratus lapis lagi masih berdiri tangguh. Sementara sang surya sudah semakin condong ke arah barat mendekati peraduannya. Untunglah Arjuna tertolong seorang pakar yang dapat mengubah suasana alam. Kresna segera menutup sinar matahari dengan senjata andalannya, Cakra hingga suasana alam seakan sedang petang. Bersoraklah kaum Kurawa kegirangan, karena Arjuna telah gagal membunuh Jayadrata dalam waktu sehari sebelum matahari terbenam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Kegembiraan semakin menjadi tatkala dilihatnya api unggun telah menyala berkobar menerangi alam sekelilingnya. Mereka ingin menyaksikan Arjuna terjun ke dalam api unggun memenuhi sumpahnya. Tetapi tidak seorang pun yang tahu, bahwa Ajuna telah berada di atas bukit yang tak jauh dari benteng tempat Jayadrata bersembunyi dan siapdengan senjata panahnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Mendengar sorak sorai dan berkobarnya api unggun bagaikan api neraka yang akan melumat habis Arjuna, Jayadrata tertarik ingin menyaksikan. Kemudian ia memperlihatkan diri. Tetapi baru saja kepalanya menyembul, tak diduga sebuah anak panah melesat bagai kilat dan&#8230; terpangkaslah kepalanya terpisah dari badannya larut terbawa angin dan lenyap ditelan awan. Seiring dengan itu, alam petang berubah menjadi terang benderang kembali, setelah senjata Cakra diambil oleh pemiliknya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Gegerlah kaum Kurawa menyaksikan kejadian yang tak masuk di akal itu. Hanya Dorna yang tanggap dan mengerti seraya berucap: &#8220;Hemmm, memang segala-galanya ada di pihak Pandawa. Kemenangan akhir pun akan diraih oleh mereka,&#8221; gumannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ebet Kadarusman</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
