<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pekerjaan-rumah-tangga &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/pekerjaan-rumah-tangga/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pekerjaan-rumah-tangga"</description>
	<pubDate>Sat, 25 May 2013 16:38:05 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[pekerjaan rumah tangga bukan KEWAJIBAN istri?!]]></title>
<link>http://mendidikanakku.wordpress.com/2013/04/16/pekerjaan-rumah-tangga-bukan-kewajiban-istri/</link>
<pubDate>Tue, 16 Apr 2013 03:12:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>mendidikanakku</dc:creator>
<guid>http://mendidikanakku.wordpress.com/2013/04/16/pekerjaan-rumah-tangga-bukan-kewajiban-istri/</guid>
<description><![CDATA[Terbesit dalam pikiran saya, begitu lelahnya menjadi seorang wanita apa lagi jika ia sudah menikah d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Terbesit dalam pikiran saya, begitu lelahnya menjadi seorang wanita apa lagi jika ia sudah menikah dimana ia harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangganya dari memasak, mencuci piring, mencuci baju, belanja kepasar, beres- beres rumah, mengurus anak belum lagi harus melayani suami. Sedangkan pekerjaan laki- laki monoton hanya mencari nafkah. <del>perempuan juga bisa</del> <!--more--></p>
<p>Hingga suatu hari saya membaca biografi seorang ulama yang melakukan segala pekerjaan rumah tangganya sampai- sampai si istri berkata, &#8220;semua telah engkau kerjakan, lalu aku harus mengerjakan apa?&#8221;. Dari situ saya mencari tahu, bagaimana hak-hak dan kewajiban suami istri sesungguhnya dalam pandangan Islam. Karena selama itu yang saya tahu, bahwa istri harus tunduk pada suami. Padahal maksud tunduk di sini bukan dalam segala hal, tetapi hanya dalam hal kepemimpinan suami dalam rumah tangga yang tidak bertentangan dengan ajaranNya, misal suami ingin tinggal di Jakarta, maka istri harus ikut suami dan masih banyak contoh lainnya.</p>
<p>Kesimpulannya, bahwa pekerjaan rumah tangga itu <strong>bukan kewajiban istri</strong> <del>horreeeeyyy</del>. Tetapiiii&#8230;, demi kemaslahatan dalam rumah tangga, baiknya hal ini tidak dijadikan senjata istri untuk meminta haknya <del>ongkang2 kaki</del> sehingga tdk mau membuatkan teh sekalipun untuk suaminya, karena dianggap itu bukan kewajibannya. <del>ini istri keblinger namanya</del> Namun suami juga tidak berhak memaksa istrinya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga tersebut.</p>
<p>Sebenarnya kewajiban istri itu hanyalah melayani kebutuhan biologis suaminya. Jika istri ingin melaksanakan pekerjaan tersebut, maka itu menjadi tugas (bukan kewajiban), dimana terlebih dahulu hal itu dibicarakan suami terhadap istri untuk membagi tugas tersebut, dan suami istri sepakat.</p>
<p>Karena ketidak tahuan antara hak dan kewajiban masing- masing, mudah sekali terjadi keributan karena pekerjaan domestik ini. Jika setelah didiskusikan suami tidak mau ikut membantu, tidak ada hal lain yang dapat dilakukan istri selain bersabar karena semua apa yang dikerjakannya pasti mendapat pahala kebaikan dariNya.</p>
<p>Memang harus diakui, budaya maskulin masih sangat kuat berada disekeliling kita, hingga ajaran akhlak sebenarnya yang dibawa Nabi saw tidak beredar membudaya. Dahulukan wanita kata Nabi saw dulu, dahulukan pria teriak kita sekarang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lalu, tahukah kalian bahwa menyusui anak juga bukan kewajiban istri, lalu&#8230;? tunggu catatan berikutnya.. <del>mau cuci piring dulu</del> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[its a bird, its a plane, its...SUPERMOM!]]></title>
<link>http://doctormum.wordpress.com/2010/04/01/its-a-bird-its-a-plane-its-supermom/</link>
<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 14:26:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>doctormum</dc:creator>
<guid>http://doctormum.wordpress.com/2010/04/01/its-a-bird-its-a-plane-its-supermom/</guid>
<description><![CDATA[Sejak menjalani hari2 menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten, rasanya berat sekali. Mengasuh batita]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak menjalani hari2 menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten, rasanya berat sekali. Mengasuh batita yg lagi gesit2nya, merapihkan rumah, memasak , menyetrika, hingga antar jemput anak sekolah&#8230;. Lelah juga bekerja tanpa henti, 24jam sehari, 7 hari seminggu tanpa libur ataupun cuti.</p>
<p>Bukan, bukan karena banyaknya kerjaan itu, namun yg menjadi beban buat saya yg terbiasa bekerja di kantor dan praktek adalah kerjaan yang tanpa henti. Bayangkan saja, baru selesai menyetrika tumpukan cucian, belum masuk lemari, tumpukan pakaian kotor sudah menanti di kamar mesin cuci. Baru saja selesai mencuci piring, belum masuk rak , sudah ada tumpukan perlatan kotor sisa memasak untuk makan berikutnya&#8230;.baru saja rumah terlihat rapih dan bersih, eh si kecil tanpa sengaja menumpahkan minuman/mainan kreatifnya hingga kembali sy harus turun tangan untuk membersihkan&#8230;</p>
<p>Kalau dipikirin terus, ga akan ada habisnya&#8230;</p>
<p>kadang jadi membandingkan dengan masa kerja dulu, kalau di kantor ada dateline kerjaan, ketawan perapa persen kerjaan kita selesai dan juga sesudah program berakhir bisa terlihat persentase keberhasilan kita. Berhubung selama ini saya di kantor selalu sesuai target , maka setelah disni kadang merasa depresi melihat hasil karya saya menjadi ibu rumah tangga: setrika selese, tapi tidak rapih atau licin, Memasak selalu sendiri (tidak makan diluar) tetapi rasanya masih jauh dari rumah makan, rumah juga tidak serapih rumah ibu2 ideal di sekitar saya.hiks&#8230;.sepertinya sy memang tidak berbakat jadi ibu rumah tangga. Kalo kedokteran ada sekolahnya, kalo ibu rumah tangga ada ga ya? hihihihi</p>
<p>Sering merasa kagum pada supermom yg saya kenal, ada sahabat yg jg tetangga saya yg jago masak, anaknya 2 namun rumahnya selalu rapih, kalau ngobrol dengannya yg dibahas seputar pendidikan anak dan menu yg sehat (sy cuma jadi pendengar yg baik =P), ada lagi sahabat lain, anaknya 4 tapi rumahnya selalu rapih, bersih, dan masak sendiri. Dan banyak lagi supermom lainnya&#8230;.(ga cukup disebutin disini)&#8230;..sedangkan saya, masih jauh dari ideal mom =P</p>
<p>Salah satu penyemangat saya: ucapan suami yg berkata: &#8220;kalo bunda ikhlas, insyaALLAH balasannya pahala, ga tanggung2 dri ALLAH&#8221;&#8230;&#8230;&#8230;enak juga ya dapet pahala&#8230;tapi ngejalaninnya ternyata tidaklah mudah.</p>
<p>Akhirnya untuk mengatasi masalah ini saya berusaha mencari hiburan. Diantaranya: online, membaca, nonton, menelfon teman , dan &#8220;hang out&#8221;.  So far memang menjadi solusi. Saat sy berencana hang out esok hari, hari ini juga saya selesaikan tumpukan setrikaan dan bersih2. Supaya saat pulang nanti , ga pusing lihat rumah berantakan.  Selain itu solusi yg lain, sy tidak mau &#8220;ngoyo&#8221; mengerjakan pekrjaan rumah tangga, bisa2,&#8230;..stres sy nanti&#8230;.dinikmatin aja.=)</p>
<p>Tidak heran ya, banyak pembantu /asisten rumah tangga yg sering tidak betah&#8230;karena pekerjaan dia itu berat , melelahkan dan menjenuhkan. (menurt sy)&#8230; Jadi pelajaran berharga buat sy agar tetap menghargai mreka yg berprofesi sbg PRT, karena ternyata pekerjaan mereka tidak mudah, Dokter aja ga kuat ngejalaninnya =P</p>
<p>Apa sy mendirikan kampus PRT /IRT saja ya, cukup dosennya mantan asisten sy di kampung bantal jawa tengah &#8230;.ibu dokter, ibu insinyur silahkan mendaftar&#8230;.=D hihihi</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ayo Bantu Ibu .... :-)]]></title>
<link>http://elinski.wordpress.com/2009/08/18/ayo-bantu-ibu/</link>
<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 06:19:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>elinski</dc:creator>
<guid>http://elinski.wordpress.com/2009/08/18/ayo-bantu-ibu/</guid>
<description><![CDATA[Saya nggak punya pembantu di rumah, jadi pekerjaan rumah tangga mesti dibagi dengan suami dan anak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saya nggak punya pembantu di rumah, jadi pekerjaan rumah tangga mesti dibagi dengan suami dan anak &#8211; walaupun kebanyakan tanggung jawab rumah tangga ada di tangan saya yang tidak kerja dan tidak sekolah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, sekarang, kasusnya adalah anak (tiri) saya sebelumnya tinggal dengan mama-nya yang punya pembantu, jadi waktu mulai tinggal dengan saya dia nggak pernah disuruh bantu bapak ibunya. Anak saya usianya 11 tahun waktu mulai tinggal dengan saya + bapaknya (suami saya) dan belajar untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga. Catat bahwa dia belajar melakukan pekerjaan rumah tangga di usia dimana dia sudah mulai bisa membantah dan pakai alasan macam2 untuk menghindar. Tapi sekarang dia bisa melakukan hal-hal berikut:</p>
<p>- Bantu bapaknya cuci piring</p>
<p>- Menaruh pakaian kotor di laundry basket</p>
<p>- Bantu bapaknya cuci mobil</p>
<p>- Packing sendiri kalau mau traveling atau menginap di rumah temannya</p>
<p>- Bantu saya masak</p>
<p>- Mematikan AC dan lampu kalau tidak dibutuhkan. Ini kelihatannya sepele &#8230; but trust me, kebanyakan teman2 anak saya yang pernah menginap masih belum bisa melakukan hal ini!</p>
<p>- Dia sudah bisa pergi ke supermarket untuk belanja (just in case saya kehabisan telor atau gula pas masak .. kebetulan supermarketnya tinggal nyebrang) dan bisa memilih sendiri buah yang masih segar (walaupun masih terbatas di pisang, anggur, strawberry, jeruk dan apel. Tapi this is better than most kids! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>- Recycling (kami membiasakan untuk memisahkan kaleng, kertas, gelas dan plastik)</p>
<p>Saya menganjurkan supaya anak diajari mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sedini mungkin, terutama kalau anda tidak punya pembantu. Ga cuma masalah meringankan beban anda sebagai Ibu, tapi ini juga  supaya anak belajar tanggung jawab dan tidak egois. Misalnya, kalau dia harus cuci piring, dia secara tidak langsung akan berpikir dua kali sebelum mengambil gelas baru tiap kali mau minum (karena dia harus ikut nyuci <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Masalahnya, gimana cara ngajarin hal-hal ini ke anak? Ini beberapa cara yang kami gunakan:</p>
<p><strong>1. Jelaskan dari awal apa tanggung jawabnya, dan efeknya kalau hal itu tidak dikerjakan. </strong>Tanggung jawab utama anak kami adalah membuang sampah ke tong sampah besar di lapangan parkir. Kalau hal ini tidak dikerjakan, rumah bakal bau sampah, plus tong sampah akan kepenuhan dan rumah kelihatan kotor. Kalau dia lupa melakukan hal ini, kami ingatkan, tapi kami tidak akan melakukan tugas ini untuk dia <span style="text-decoration:underline;">kecuali </span><span style="text-decoration:underline;">dia meminta kami</span> u/ menggantikan tugasnya saat itu karena alasan yang jelas (misalnya: karena sakit, atau banyak ulangan, dsb), atau minta tukar tugas. Selain mengajarkan tanggung jawab, kami gunakan hal ini untuk mengajarkan dia u/ mendelegasi ketika dibutuhkan.</p>
<p><strong>2. Tunjukkan bahwa semua anggota keluarga harus ambil bagian. </strong>Kadang2 ketika kita memulai hal ini, anak komplain karena sebelumnya tidak pernah dikasi tanggung jawab, atau merasa kalau tugas2 ini adalah tanggung jawab saya atau pembantu. Untuk hal ini, membantu sekali kalau keluarga punya &#8220;chore chart&#8221;. Di chart ini, ditulis bahwa bapak harus cuci mobil tiap kali habis hujan, atau setidaknya seminggu dua kali. Bapak harus cuci piring tiap kali saya masak makan malam. Pas weekend, suami saya bagian beresin tempat tidur di master bedroom. Saya harus laundry tiap hari Selasa dan Jumat. Saya masak tiap weekday night. Anak buang sampah seminggu sekali dan beresin kamarnya sendiri. Kalau ada &#8220;chore chart&#8221; yang gampang dilihat, anak tidak bisa argue bahwa hanya dia yang dikasi kerjaan &#8230; semua anggota keluarga punya tugasnya masing2.</p>
<p><strong>2. Ajarkan dia cara mengerjakannya, dan awasi beberapa kali. </strong>Misalnya utnuk memilih buah, saya ajak dia ke supermarket untuk pilih2 buah. Saya tunjukkan bedanya anggur yang bagus dengan yang jelek. Kali berikutnya, saya tanya dia, &#8220;Anggurnya bagusan yang mana, ini apa itu?&#8221; Setelah saya tahu kalau dia sudah bisa memilih, sekali waktu saya biarkan dia ke supermarket sendirian untuk membeli beberapa item.</p>
<p><strong>3. Jangan harapkan dia untuk sempurna di kali pertama</strong>. Pertama kali anak saya cuci piring, of course piringnya masih berminyak. Pertama kali dia menaruh cucian di rak piring, of course gelasnya menghadap ke atas, nggak ditunggingin <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />   Ga usah dimarahi &#8230; udah bagus dia mau bantu. Kasih tunjuk aja, &#8220;Kalau gelas, naruhnya begini ya, supaya cepet kering &#8230;&#8221; dan kalau cucian kurang bersih, kasih tau aja, &#8220;Coba rasakan dengan jari kamu &#8230; masih lengket ga? Kalau masih lengket, mungkin sabunnya kurang banyak atau bilasnya kurang bersih, coba diulang lagi &#8230;&#8221;</p>
<p><strong>4. Jangan paksa dia untuk mengerjakan sesuatu secepat anda dan persis seperti anda. </strong>Pertama-tama, ingat bahwa anda bisa melakukan hal-hal ini dengan cepat karena terbiasa. Anak anda baru belajar, jadi jangan diburu-buru. Kedua, misalnya, kalau memasukkan pakaian ke gantungan baju dan ke lemari, saya terbiasa semua pakaian menghadap ke satu sisi, dan gantungannya sama semua. Baju rumah, baju pergi, baju pesta, semua terpisah. Nah, anak saya masukkin kaosnya sering terbalik-balik dan pakaiannya menghadap ke kiri kanan, ga seragam. Naronya di lemari juga asal taro. Saya biarin aja &#8230; lha wong itu lemari pakaiannya sendiri kok, sebenernya khan ya terserah dia mau diatur bagaimana. Kalau dia happy dengan pakaian yang menghadap kemana-mana dan tidak kesulitan cari baju seragamnya di pagi hari, ya monggo &#8230; kalau dia kesulitan menemukan pakaiannya, lama2 toh dia akan belajar sendiri bagaimana supaya pakaiannya lebih teratur. Saya bukan orang yang naturally organized dan saya juga baru ngeh cara ngatur lemari pakaian yang efisien setelah menikah, jadi ga fair lah kalau saya mengharap anak bisa melakukan hal ini di usia 12 tahun <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>5. Jangan pelit dengan pujian.</strong> Kadang-kadang, melihat anak mecahin piring satu waktu belajar nyuci piring, atau kalo beresin tempat tidurnya masih miring-miring, kita tergoda untuk bilang, &#8220;Kok gini sih? Salah lagi &#8230;. Duh kamu &#8216;ni bagaimana sih???&#8221; Kalau anda bereaksi seperti ini, anak akan makin tidak minat untuk membantu. Kuncinya adalah kalau anak sedang belajar melakukan hal itu dengan benar, sebaiknya kita dampingi ketika melakukan hal itu supaya ga ada piring pecah atau kita tidak mengulang pekerjaannya. Berikan affirmation seperti: &#8220;Ya, benar begitu &#8230;&#8221;  &#8220;Seperti ini niy &#8230;.&#8221; &#8220;Ga sulit kan?&#8221;  &#8220;Tuh, kamu bisa kok!&#8221; &#8220;Wah, bersih dan rapi! Terimakasih ya!&#8221;  Positive reinforcement seperti ini akan berdampak lebih positif daripada nyuruh-nyuruh <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selamat mencoba, semoga sukses</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Inventory List Kalau Anda Tidak Punya Pembantu]]></title>
<link>http://beautifyyourhome.wordpress.com/2009/01/02/inventory-list-kalau-anda-tidak-punya-pembantu/</link>
<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 07:15:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>elinski</dc:creator>
<guid>http://beautifyyourhome.wordpress.com/2009/01/02/inventory-list-kalau-anda-tidak-punya-pembantu/</guid>
<description><![CDATA[Nggak mau pake pembantu di rumah karena rumahnya kecil, atau ingin punya privasi? Kalau ya, ada bebe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Nggak mau pake pembantu di rumah karena rumahnya kecil, atau ingin punya privasi? Kalau ya, ada bebe]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
