<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pemuda-masa-kini &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/pemuda-masa-kini/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pemuda-masa-kini"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 05:19:30 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[PEMUDA BERGERAK UNTUK PERKEMBANGAN]]></title>
<link>http://topscore.wordpress.com/2008/06/15/pemuda-bergerak-untuk-perkembangan/</link>
<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 16:25:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>simomulyo</dc:creator>
<guid>http://topscore.wordpress.com/2008/06/15/pemuda-bergerak-untuk-perkembangan/</guid>
<description><![CDATA[Pemuda, mahluk mitologis apakah itu? Banyak yang memberi tempat khusus pada mereka di aras perubahan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pemuda, mahluk mitologis apakah itu?  Banyak yang memberi tempat<br />
khusus pada mereka di aras perubahan, namun benarkah pemuda adalah<br />
konstituen perubahan?  Bisa jadi ya, tetapi tidak satu-satunya yang<br />
menyebabkan perubahan.  Suatu perubahan hadir karena segenap elemen<br />
dalam suatu sistem bergerak bersama-sama untuk berubah.  Ini yang<br />
dinamakan mestakung atau «semesta mendukung» oleh pakar fisika,<br />
Yohannes Surya.  Perubahan terjadi ketika suatu kumpulan elemen<br />
secara sadar mengkondisikan diri bergerak sepenuh daya dan akal<br />
secara tersinkronisasi.<br />
Walau pun demikian, bagi bangsa kita, mereka tetap saja diberi peran<br />
istimewa di pentas sejarah.  Dalam berbagai episode kenegaraan,<br />
mereka yang dinamakan «pemuda» dan entah bagaimana selalu berperan<br />
penting.  Baik pada peristiwa Sumpah Pemuda (1928), Proklamasi<br />
Kemerdekaan (1945), lalu kemelut politik di balik Orde Baru (1965)<br />
hingga reformasi politik (1998), kaum muda kerapkali ditemui berdiri<br />
di latar paling depan.<br />
Orang-orang berusia belia itu, dengan ciri khas seperti semangat,<br />
tekad dan keberanian – adalah perwujudan (representasi) dinamis dari<br />
suatu pergumulan kebangsaan.  Tidak heran bila peran istimewa ini<br />
lantas diberi bumbu romantisme yang kadang-kadang menjurus ke arah<br />
pemuliaan mirip dongeng.<br />
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, mendirikan Partai<br />
Nasional Indonesia – yang menjadi salah satu pelopor dalam<br />
perjuangan meraih kemerdekaan – pada 1927 tatkala beliau berusia 26<br />
tahun.  Setahun sebelumnya beliau meraih gelar sarjana teknik dan<br />
menjadi salah satu dari sedikit orang pribumi yang berhasil lulusan<br />
dari Technische Hooghe School (THS) di Bandung.  Tiga tahun kemudian<br />
beliau dipenjara di Bandung atas dakwaan hendak memberontak kepada<br />
penjajah dan menjelang usia ke 32 sekali lagi dibuang ke Ende,<br />
Flores.<br />
Atau, lihat Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto.  Jenderal<br />
yang suka senyum ini pernah memerintah Indonesia selama 32 tahun<br />
(1967-1998).  Beliau sudah aktif di ketentaraan Hindia Belanda sejak<br />
usia 20 tahun.  Setelah Pemerintah Jajahan Jepang menyerah pada<br />
1945, beliau masuk Tentara Nasional Indonesia.  Pada usia 29 tahun,<br />
beliau menumpas pemberontakan di Madiun dan mendapat pangkat Letnan<br />
Kolonel.</p>
<p>Lain lagi kisah Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama,<br />
Mohammad Hatta.  Beliau berangkat sekolah ke Negeri Belanda pada<br />
usia 19 tahun.  Memperoleh beasiswa yang hanya dipetik tak lebih<br />
dari segelintir pemuda di Nusantara saat itu.  Pada usia 21 tahun,<br />
beliau mendirikan Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda, yang<br />
menjadi cikal-bakal dari pergerakan mahasiswa Indonesia.  Pada usia<br />
28 tahun beliau dibuang ke Boven Digul di Papua, sebagai konsekuensi<br />
dari penolakannya atas maklumat penjajah Belanda atas Indonesia.<br />
Boleh jadi kita juga harus melihat tokoh perempuan, seperti S.K.<br />
Trimurti.  Pada usia 21 tahun beliau sudah menjadi kader Partai<br />
Indonesia (Partindo), bahkan ketika berumur 24 tahun sudah masuk<br />
penjara karena menyebar pamflet anti-pejajahan.  Penahanan itu<br />
terulang lagi ketika beliau berusia 27 tahun lantaran tulisan-<br />
tulisan tajam terhadap Pemerintah Hindia-Belanda, yang menyebabkan<br />
beliau ditahan sampai 1943.  Putra pertama S.K. Trimurti lahir di<br />
penjara.  Dialah perempuan berkebaya yang membelakangi kamera di<br />
sebelah kanan Fatmawati Soekarno dalam foto pengibaran Sang Saka<br />
Merah Putih seusai pembacaan naskah proklamasi, 17 Agustus 1945.<br />
Lalu, bagaimana pemuda bisa mendapat peran demikian berbunga-bunga<br />
dalam sejarah bangsa kita?<br />
Ini pertanyaan yang menarik namun sulit dijawab.  Satu hal yang<br />
pasti, usia muda dianggap bertalian dengan semangat untuk bergerak,<br />
berubah, membuka, mendobrak bahkan mencabar.  Konon, keindonesiaan<br />
yang dikenal kini adalah suatu «ide ekstrim» yang dihasilkan<br />
kumpulan-kumpulan pemuda terdidik, yang meskipun berkumpul atas<br />
afiliasi kedaerahan – seperti Budi Utomo atau Jong Amboneesche Bond –<br />
memiliki cita-cita mempersatukan diri sebagai rumpun puak senasib-<br />
sependeritaan.<br />
Cetusan Sumpah Pemuda (1928) adalah pelatuk tumbuhnya pergerakan<br />
nasional hingga akhirnya melahirkan Negara Kesatuan Republik<br />
Indonesia.  Bahkan, jika Soekarno dan Mohammad Hatta tidak<br />
diculik/didesak sekelompok pemuda yang dipimpin Soekarni –<br />
barangkali Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia akan mundur<br />
tanggalnya.<br />
Adalah para pemuda yang juga menjadi bintang dalam demonstrasi anti-<br />
pemerintah pada periode pancaroba di akhir tahun 1965 hingga<br />
pertengahan 1966 yang menandai berakhirnya pemerintahan Soekarno dan<br />
kenaikan Soeharto.  Meninggalnya Arif Rachman Hakim, mahasiswa<br />
Universitas Indonesia, akibat tembakan aparat menjadi letupan yang<br />
memperbesar gerakan massa yang menuntut dibubarkannya Partai Komunis<br />
Indonesia, dirombaknya kepemerintahan dan menjadi jalan panjang dari<br />
apa yang kita namakan kelahiran Orde Baru.<br />
Peristiwa serupa terulang tahun 1998.  Ketika kesulitan ekonomi<br />
akibat krisis moneter di Asia Tenggara menghancurkan sendi-sendi<br />
kenegaraan kita, pemerintah Orde Baru di bawah Jenderal Soeharto<br />
mendapatkan tekanan kuat dari rakyat.  Sikap represif yang<br />
ditunjukkan aparat membuahkan 7 orang martir, yang adalah para<br />
pemuda (mahasiswa) di Jakarta.  Insiden yang menimbulkan tumbal ini,<br />
menjadi efek pengganda (multiplier) secara politik.  Akibatnya<br />
muncul eksternalitas yang besar dan mendorong gerakan massa lebih<br />
luas menuntut turunnya Presiden Soeharto dari tampuk kepemerintahan.<br />
***<br />
Ada yang mengatakan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) berkembang<br />
antara lain karena dorongan kaum mudanya.  Ini pendapat yang<br />
memiliki landasan fakta.<br />
Di lingkup umat Kristen Jawa, perkembangan sejumlah jemaat memang<br />
disokong gerakan kaum muda.  Pada abad ke 19 pembentukan suatu<br />
jemaat Kristen Jawa umumnya berasal dari suatu komunitas yang para<br />
tokoh perintis.  Mojowarno misalnya memiliki Guru Injil bernama<br />
Paulus Tosari.  Pria bernama Kasan alias Jarjo ini dibaptis pada<br />
usia 32 tahun dan dua tahun kemudian sudah menjadi voorganger atau<br />
Guru Injil di sebuah komunitas Kristen di pelosok hutan Keracil yang<br />
kelak akan dikenal sebagai Mojowarno.<br />
Lain lagi Karolus Wiryoguno.  Pria ini cucu Sultan Cokroadiningrat<br />
II, Bupati Bangkalan. Kerabat Keraton Madura ini dibaptis pada usia<br />
30 tahun di Surabaya (1844) dan pergi ke pedalaman untuk mendirikan<br />
Desa Mojowangi.  Pada tahun 1850 ketika dia baru berusia 36 tahun<br />
dia sudah diangkat Residen Mojokerto menjadi Bau Aris I Mojowarno –<br />
satu-satunya pemimpin di bawah wedana yang bukan pangreh praja dan<br />
beragama Kristen!<br />
Pendiri Kertorejo, yang bernama Wakya alias Pak Kamirah baru berusia<br />
sekitar 20 tahun tatkala diusir dari Sidoarjo sekitar tahun 1830,<br />
sehingga harus mengungsi ke Hutan Tragal tak jauh dari Ngoro bersama<br />
istri dan anaknya yang belum berusia 40 hari!  Di sana dia bekerja<br />
keras bersama ayah mertuanya, membangun sebuah komunitas Kristen<br />
Jawa yang kelak dikenal sebagai Kertorejo.<br />
Di masa yang lebih kemudian, muncul pula tokoh pemuda semacam<br />
Yeruboham Mattheus, yang berusia 24 tahun ketika bekerja untuk koran<br />
Utusan Hindia milik tokoh Sarekat Islam di Surabaya, Haji Umar Said<br />
Cokroaminoto.  Pemuda ini adalah keturuan Kiai Matdakim Mattheus,<br />
tokoh terkenal perintis komunitas Kristen Jawa di Surabaya.<br />
Mattheus terlibat dalam sejumlah organisasi kepemudaan Kristiani,<br />
seperti Rencono Budiyo (berdiri 1898), Mardi Pracoyo (1913) bahkan<br />
Pakempalan Kaum Christen (PKC) pada 1918.  Bersama pemuda lain,<br />
seperti Samuel Martoatmodjo, Prawirotanoyo dan Kimus Wiriosubroto<br />
mereka menjadi penggerak kaum muda Kristen Jawa pada saat itu.<br />
Cukup menarik untuk diamati, setahun sebelum PKC didirikan,<br />
Yeruboham Mattheus sudah mengusulkan agar pemeliharaan kerohanian<br />
yang selama ini ditangani oleh orang asing yang merupakan utusan<br />
Nederlandsche Zending-genootschap (NZG) dan Java Comité (JC)<br />
dialihkan kepada rohaniawan bumiputra.  Usul ini cukup progresif<br />
lantaran ketika dilontarkan pada 1917, ide ini tidak cukup<br />
memperoleh dukungan karena di dalam MP sendiri duduk utusan lembaga<br />
penginjilan.<br />
Setelah PKC berdiri, pada tahun 1918, Bendahara organisasi itu yang<br />
bernama Dr. Ismail, mengusulkan kembali bersama-sama salah seorang<br />
sesepuh Jemaat Mojowarno bernama Nutriyo untuk memandirikan secara<br />
perlahan jemaat-jemaat Kristen Jawa sehingga tidak terlalu<br />
bergantung pada asuhan penginjil asing. Sebagai `uji coba&#8217; diusulkan<br />
Jemaat Mojowarno – yang saat itu merupakan kelompok tradisional<br />
Kristen Jawa terbesar di Jawa.<br />
Seiring itu, pada tahun 1919, Guru Injil di Mojowarno, Kiai Amasia<br />
telah berusia 65 tahun dan harus memasuki masa purna karya. Sebagai<br />
pengganti beliau, dilakukan pemilihan oleh Jemaat Mojowarno terhadap<br />
3 calon, yang akhirnya menempatkan Driyo Mestoko (usia 28 tahun)<br />
sebagai pengganti yang terpilih. Driyo bekerja pada Salatiga<br />
Zending, sebagai guru pada Sekolah Pendidikan Guru di Tingkir, yang<br />
dikelola Neukirchener Mission dari Jerman.<br />
Kedatangan Driyo Mestoko sebagai Guru Injil ke Mojowarno membawa<br />
beberapa hal yang relatif baru di Mojowarno.  Untuk waktu yang cukup<br />
lama, Driyo berada di Salatiga Zending di mana gereja yang<br />
dikembangkan di sana memiliki pola kongregasi yang lentur.<br />
Neukirchener Mission `tidak mengendalikan&#8217; Jemaat Kristen Jawa di<br />
Salatiga secara langsung, sebagaimana halnya yang dilakukan NZG di<br />
Jawa Timur.  Hal ini rupanya memberikan inspirasi bagi Guru Injil<br />
baru ini untuk bekerja dengan pendekatan pastoral yang berbeda dari<br />
sebelumnya. Dia mengembangkan kegiatan kepemudaan dan mendorong<br />
anggota gereja untuk lebih bergumul bagi pekabaran Injil.<br />
Gerakan ini yang menjadi salah satu modal bagi perkembangan<br />
Mojowarno secara pesat, bahkan semacam momentum bagi Jemaat<br />
Mojowarno untuk menuntut keleluasaan yang lebih besar bagi kepada<br />
NZG.  Jemaat Mojowarno akhirnya dimandirikan pada tahun 1923 dan<br />
Driyo Mestoko diangkat NZG menjadi «pendeta Jawa» pertama di Jawa<br />
Timur.<br />
Rupanya potensi konflik dalam hubungan antara umat Kristen dengan<br />
lembaga penginjilan dirasakan tidak saja di Jawa Timur namun juga<br />
secara meluas di hampir seluruh Pulau Jawa. Ketegangan juga<br />
dirasakan di Jawa Tengah di mana Nederlandsch Gereformeerde Zending<br />
Vereeniging (NGZV) bekerja, maupun di Jawa Barats, tempat pelayana<br />
Nederlandsch Zending Vereeniging (NZV).<br />
Atas inisiatif lembaga-lembaga penginjilan Belanda, seorang pakar<br />
agama yang menjadi utusan Nederlandsch Bijbel Genootschap (NBG)<br />
bernama Dr. Hendrick Kraemer, lalu dilibatkan sebagai konsultan.<br />
Pakar ini menawarkan tiga konsep penyelesaian untuk menjawab<br />
ketegangan tersebut: (1) mengembangkan teologi yang kontekstual<br />
dengan budaya Jawa; (2) melatih kaum bumiputra yang terpilih untuk<br />
menjadi tenaga kerohanian; dan (3) memandirikan secara bertahap<br />
jemaat-jemaat tradisional sehingga menjadi gereja-gereja otonom.<br />
Mengingat makin berkembangnya tuntutan identitas di antara umat<br />
Kristen di Jawa Timur, atas usul Kraemer ditempuh langkah awal pada<br />
tahun 1924 dengan mendirikan suatu forum bernama Panitia Pitoyo.<br />
Panitia ini mengumpulkan berbagai tokoh Kristen yang berpengaruh di<br />
Jawa Timur dan fungsinya adalah memberikan nasehat dalam hal membina<br />
hubungan antara NZG dengan Jemaat-jemaat Kristen Jawa.  Anggota<br />
Panitia ini para gembala jemaat, aktifis Kristen Jawa dan juga<br />
sejumlah tokoh masyarakat Kristen Jawa.<br />
Berdasar hasil kerja Panitia Pitoyo inilah, usaha pemandirian jemaat-<br />
jemaat tradisional di Jawa Timur mulai diikhtiarkan.  Untuk<br />
melengkapi konsep Kraemer, pada tahun 1925 didirikan pendidikan<br />
teologi 2 tahun di Kediri oleh NZG.  Sesuai kebutuhan yang<br />
berkembang, pendidikan ini dipindah ke Malang atas sponsor Zending<br />
de Nederlandsche Hervormde Kerk.  Pada tanggal 6 Januari 1927,<br />
diresmikan sebagai Sekolah Teologi Balewiyata yang didirikan untuk<br />
mendidik calon pendeta Jawa guna mengisi kekurangan gembala jemaat.<br />
Sejumlah anggota jemaat yang potensial dikirim mengikuti pendidikan<br />
agar kelak dapat menjadi pendeta di jemaat masing-masing.<br />
Selanjutnya, jemaat-jemaat tradisional Kristen di Jawa Timur lalu<br />
dikondisikan untuk menapak ke arah kemandirian. Peraturan kehidupan<br />
berjemaat yang secara terlepas disebut Serat Tatanan,<br />
diformalisasikan secara bertahap dan disempurnakan naskahnya untuk<br />
digunakan secara kolektif di Jawa Timur. Pada tanggal 15 Oktober<br />
1931, Pengurus Pusat NZG di Belanda menerbitkan surat keputusan<br />
Konsul Jenderal Th. Boetzelaer van Dubbeldam, yan menetapkan<br />
keberadaan jemaat-jemaat Kristen Jawa yang berada di bawah pembinaan<br />
NZG dan Java Comite akan dipersatukan dalam suatu wadah gereja di<br />
Jawa Timur.<br />
Pada hari Jum&#8217;at, 11 Desember 1931, diresmikanlah pendirian GKJW<br />
sebagai wadah yang dimaksud dalam keputusan Pengurus Pusat dimaksud.<br />
Sebagai wujud awal GKJW didirikan Majelis Agung (MA) sebagai wadah<br />
sinodial yang mempersatukan sejumlah Majelis Jemaat. Sidang perdana<br />
MA ini diadakan di Gereja Mojowarno, Sabtu 12 Desember 1931.<br />
Pesertanya ada 29 (2 orang berhalangan hadir) mewakili umat Kristen<br />
Jawa dan para penginjil NZG.<br />
***<br />
Sampai di sini, semua menyepakati pemuda merupakan elemen penting<br />
dalam perubahan di mana pun – tidak saja di tataran nasional namun<br />
juga di lingkup yang lebih sempit seperti komunitas Kristen Jawa.<br />
Memang sebagian besar tokoh besar di latar sejarah adalah mereka<br />
yang berusia muda dan berdedikasi tinggi.<br />
Namun di luar itu, perubahan adalah pergerakan secara bersama-sama<br />
oleh berbagai elemen.  Jika lebih banyak sorotan dimunculkan pada<br />
para pemuda, itu semata-mata karena daya gerak (driving force)<br />
mereka lebih tampak lantaran penuh semangat dan memiliki komitmen<br />
serta dedikasi tersendiri.<br />
Bagaimana mengelola ini semua menjadi suatu ramuan untuk bergerak<br />
dan berubah?<br />
Agaknya harus diciptakan suatu mestakung untuk membuat orang<br />
bergerak, berubah, menuju sesuatu yang baru.  Gereja memerlukan<br />
pemuda untuk bergerak, meskipun pemuda bukan satu-satunya elemen<br />
yang menyebabkan timbulnya perubahan di dalam gereja.<br />
Tantangan yang dihadapi GKJW ke depan tidak ringan.  Persoalan<br />
terbesar adalah «kemiskinan» yang secara laten mengikat kita.<br />
Bentuk kemiskinan yang paling nyata adalah kecilnya kapital (modal)<br />
yang terdistribusi di anggota-anggota gereja kita.  Akibatnya,<br />
anggota gereja kita terstratifikasi secara horizontal dan sulit<br />
melakukan pergerakan vertikal.  Bentuk kemiskinan yang lain – namun<br />
tidak terlalu disadari – adalah kemiskinan akal-budi.  Desakan<br />
globalisasi dan perekonomian serba liberal menyebabkan kita menjadi<br />
pragmatis, permisif, mencari selamat, masa bodoh, cuek, enggan dan<br />
lain sebagainya.  Tak pelak Pdt. Sutrisno secara tertulis pernah<br />
menyatakan keprihatinan, apakah GKJW masih bisa bertahan 20 tahun ke<br />
depan.<br />
Masa depan GKJW bukan merupakan potret hitam-putih yang serba-<br />
sederhana. Pelbagai persoalan GKJW yang ditengarai di masa depan,<br />
seperti regenerasi tenaga pelayanan, kemandirian ekonomi umat,<br />
kemajuan lembaga dan karya pelayanan, ternyata tak terlepas dari<br />
konteks sosial, politik dan ekonomi bangsa kita.<br />
Usaha mensiasati kesulitan yang dihadapi gereja, bisa saja<br />
membuahkan hasil yang baik, namun dapat pula semakin menjebak gereja<br />
dalam kesulitan-kesulitan kelembagaan.  Ambillah contoh kegiatan<br />
hari raya persembahan yang lazim dikenal dengan undhuh-undhuh.<br />
Sebagai tradisi di lingkup GKJW, perlu dilakukan revitalisasi agar<br />
kegiatan ini tidak semata menjadi usaha penggalian dana.  Belakangan<br />
ini pemaknaan undhuh-undhuh cenderung mengalami pendangkalan makna<br />
sehingga dikenal istilah undhuh-undhuh amplop.  Bahkan dapat terjadi<br />
komersialisasi di mana kegiatan ini dipasarkan sebagai wisata rohani<br />
yang sekarang diikhtiarkan di Jemaat Mojowarno!<br />
Contoh tadi sudah menunjukkan betapa transformasi gereja masih<br />
merupakan suatu perjalanan panjang. Rasanya selalu akan sulit<br />
menembus batas-batas struktural yang diciptakan sendiri di dalam<br />
tubuh gereja.  Setiap pengurus gereja, baik majelis atau bukan,<br />
pasti sadar pelayanan di abad ke 21 ini tidak lagi sederhana.  Umat<br />
kristiani – termasuk di GKJW – sekarang ini jauh lebih cerdas dalam<br />
menyikapi keperluan imannya, namun ironisnya kerapkali melakukan<br />
berbagai simplifikasi untuk secara cepat (instant) mendapat kepuasan<br />
emosional.<br />
Berbagai tema besar seperti: pemberdayaan ekonomi warga,<br />
persaudaraan sejati, atau basis keluarga Kristen, seringkali cuma<br />
bisa dioperasikan pada tataran konsep karena proses transaksi sosial<br />
di dalam tubuh Jemaat tidak berjalan. Malah tampak GKJW seakan-akan<br />
berada dalam ceruk kekristenan yang sangat introvert.  Samuel<br />
Huntington pernah mengatakan, pada zaman serba material, umat<br />
beragama cenderung semakin konservatif bahkan fundamentalis, namun<br />
anehnya, mereka justru hidup dengan gaya hedonis dan konsumtif.<br />
Demikianlah.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Unconcious Generation]]></title>
<link>http://agilonbetterment.wordpress.com/2007/05/16/unconcious-generation/</link>
<pubDate>Wed, 16 May 2007 09:45:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>agil fitranto rizkyandaru</dc:creator>
<guid>http://agilonbetterment.wordpress.com/2007/05/16/unconcious-generation/</guid>
<description><![CDATA[Akhir–akhir ini wajah pendidikan Indonesia dinodai dengan kasus-kasus yang tidak pantas disandang. L]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Akhir–akhir ini wajah pendidikan Indonesia dinodai dengan kasus-kasus yang tidak pantas disandang. L]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
