<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pendidikan-anak &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/pendidikan-anak/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pendidikan-anak"</description>
	<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 01:18:19 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Pendidikan Anak]]></title>
<link>http://atstsurayya.wordpress.com/2009/11/27/pendidikan-anak/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 13:07:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>atstsurayya</dc:creator>
<guid>http://atstsurayya.wordpress.com/2009/11/27/pendidikan-anak/</guid>
<description><![CDATA[Tausiyah Al Ustadz Muhammad ‘Umar As Sewed tentang “Pendidikan Anak” di Ma’had Al Anshor pada tangga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" title="graphic1" src="http://atstsurayya.wordpress.com/files/2009/03/graphic1.jpg?w=150" alt="graphic1" width="93" height="86" /></p>
<p style="text-align:center;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="NL">Tausiyah Al Ustadz Muhammad ‘Umar As Sewed tentang “<em>Pendidikan Anak</em>” di Ma’had Al Anshor pada tanggal 31 Oktober 2009 ba’da maghrib.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="NL"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="NL">Berikut link untuk mendowload kajiannya : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:60pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:150%;"><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Symbol;" lang="EN-GB">·</span><span style="font-size:7pt;line-height:150%;" lang="EN-GB"> </span><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">Pendidikan Anak</span><strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">&#124;</span></strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">MP3 Format Sound</span><strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">&#124;</span></strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">6,26</span><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">MB</span><strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">&#124;<a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/Pendidikan%20Anak/Pendidikan%20Anak%20-%20Ust%20Muhammad%20_%27Umar%20As%20Sewed.mp3">Download</a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:60pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:150%;"><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Symbol;" lang="EN-GB">·</span><span style="font-size:7pt;line-height:150%;" lang="EN-GB"> </span><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">Pendidikan Anak</span><strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">_</span></strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">Tanya Jawab<strong>&#124;</strong></span><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">MP3 Format Sound</span><strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">&#124;</span></strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">2,67</span><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">MB</span><strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">&#124;<a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/Pendidikan%20Anak/Pendidikan%20Anak_Tanya%20Jawab%20-%20Ust%20Muhammad%20_%27Umar%20As%20Sewed.mp3">Download</a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:60pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">Untuk mendownload, dengan meng-klik kiri kata </span><strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">Download.</span></strong><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;" lang="IN"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KEUTAMAAN MEMBACA ALQUR`AN ]]></title>
<link>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/26/keutamaan-membaca-alquran/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 14:33:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>hajimiskin</dc:creator>
<guid>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/26/keutamaan-membaca-alquran/</guid>
<description><![CDATA[Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda: &#8220;Perumpamaan orang mukmin yang membaca]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://bisyarah.files.wordpress.com/2008/09/bacaalquran.jpg?w=286&#038;h=277" border="1" alt="" width="286" height="277" align="left" />Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda: &#8220;Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur`an bagaikan buah limau baunya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur`an bagaikan buah raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit.&#8221; Muttafaqun `Alaihi.</p>
<p>Merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk selalu berinteraksi aktif dengan Al Qur`an, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir dan bertindak. Membaca Al Qur`an merupakan langkah pertama dalam berinteraksi dengannya, dan untuk mengairahkan serta menghidupkan kembali kegairahan kita dalam membaca Al Qur`an, kami sampaikan beberapa keutamaan membaca Al Qur`an sebagai berikut :</p>
<p><!--more--></p>
<p>1. <strong>Manusia yang terbaik</strong>.<br />
Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda : &#8220;Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya.&#8221; H.R. Bukhari.</p>
<p>2. <strong>Dikumpulkan bersama para Malaikat.</strong><br />
Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda : &#8220;Orang yang membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran.&#8221; Muttafaqun `Alaihi.</p>
<p>3. <strong>Sebagai syafa`at di Hari Kiamat.</strong><br />
Dari Abu Umamah Al Bahili t berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : &#8220;Bacalah Al Qur`an !, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya).&#8221; H.R. Muslim.</p>
<p>4. <strong>Kenikmatan tiada tara</strong><br />
Dari Ibnu `Umar t, dari Nabi bersabda : &#8220;Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam.&#8221; Muttafaqun `Alaihi.</p>
<p>5. <strong>Ladang pahala.</strong><br />
Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata, Rasulullah e : &#8220;Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan &#8220;Alif lam mim&#8221; itu satu huruf, tetapi &#8220;Alif&#8221; itu satu huruf, &#8220;Lam&#8221; itu satu huruf dan &#8220;Mim&#8221; itu satu huruf.&#8221; H.R. At Tirmidzi dan berkata : &#8220;Hadits hasan shahih&#8221;.</p>
<p>6. <strong>Kedua orang tuanya mendapatkan mahkota surga</strong><br />
Dari Muadz bin Anas t, bahwa Rasulullah e bersabda : &#8220;Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini. &#8221; H.R. Abu Daud.</p>
<p><strong>KEMBALI KEPADA AL QUR`AN</strong></p>
<p>Bukti empirik di lapangan terlihat dengan sangat jelas bahwa kaum muslimin pada saat ini telah jauh dari Al Qur`an Al Karim yang merupakan petunjuknya dalam mengarungi bahtera kehidupannya (The Way of Life). Firman Allah I :<br />
Berkatalah Rasul:&#8221;Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur&#8217;an ini sesuatu yang tidak diacuhkan&#8221;. (QS. 25:30)</p>
<p>Dan mereka (para musuh Islam) berusaha keras untuk menjauhkan kaum muslimin secara personal maupun kelompok dari sumber utama kekuatannya yaitu Al Qur`an Al Karim. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Al Qur`an Al Karim mengenai target rahasia mereka dalam memerangi kaum muslimin dalam firman-Nya :<br />
Dan orang-orang yang kafir berkata:&#8221;Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur&#8217;an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). (QS. 41:26)</p>
<p>Jal Daston selaku perdana menteri Inggris mengemukakan : &#8220;Selagi Al Qur`an masih di tangan umat Islam, Eropa tidak akan dapat mengusai negara-negara Timur.&#8221; (Lihat buku &#8220;Rencana Penghapusan Islam dan Pembantaian Kaum Muslimin di Abad Modern&#8221; oleh Nabil Bin Abdurrahman Al Mahisy / 13).<br />
Jauhnya umat terhadap Al Qur`an Al Karim merupakan suatu masalah besar yang sangat fundamental dalam tubuh kaum muslimin. Perkara untuk mempedomi petunjuk Allah I melalui kitab-Nya, bukan sekedar perbuatan sunnah atau suatu pilihan. Firman Allah I :<br />
Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu&#8217;min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu&#8217;min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata. (QS. 33:36)</p>
<p>Tegasnya, menjadikan kitab Allah Subhanahu wa Ta`ala sebagai sumber petunjuk satu-satunya dalam kehidupan dan mengembalikan segala masalah hanya kepada-Nya merupakan suatu keharusan oleh setiap diri kita. Kita sama-sama bersepakat bahwa dalam menanggulangi masalah kerusakan sebuah pesawat terbang, kita harus memanggil seorang insinyur yang membuat pesawat itu, dan kita sama-sama bersepakat bahwa seorang pilot yang akan mengoperasionalkan suatu pesawat terbang harus mengikuti buku petunjuk oprasional pesawat yang dikeluarkan dari perusahaan yang memproduksinya. Tetapi mengapa kita tidak mau menerapkan prinsip ini dalam diri kita sendiri. Allah I lah yang menciptakan kita dan hanya petunjuk-Nya yang benar. Sedang kita mengetahui bahwa pegangan yang mantap dan pengarahan yang benar hanyalah :<br />
Katakanlah:&#8221;Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)&#8221;. (QS. 2:120)</p>
<p>Ringkas dan tegas. Petunjuk Allah I itulah petunjuk. Selain dari itu bukan petunjuk. Tidak bertele-tele, tidak ada helah, tidak dapat ditukar. Rasulullah e bersabda :<br />
&#8220;Sesungguhnya Allah mengangkat beberapa kaum dengan Kitab (Al Qur`an) ini dan menghinakan yang lain dengannya pula.&#8221; H.R. Muslim.<br />
Karena itu jangan sampai kita mengikuti hawa nafsu mereka yang menyimpang dari garis yang tegas ini :<br />
Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)</p>
<p>Ringkasnya, ketika umat Islam telah jauh dari Kitabullah, maka musibah dan malapetaka serta segala jenis penyakit hati akan datang silih berganti, sebagaimana yang saat ini kita lihat sendiri secara kasat mata.</p>
<p>Kita berdoa kepada Allah I, semoga Dia I mengerakkan hati dan memudahkan langkah kita dan umat Islam lainnya untuk kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Nabinya e sehingga menjadi umat yang terbaik sebagaimana firman-Nya I :<br />
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. 3:110)</p>
<p>Oleh : Muh. Khairuddin Rendusara.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DOWNLOAD REKAMAN TABLIGH AKBAR: AGAR ANAK ANDA TIDAK MENJADI TERORIS]]></title>
<link>http://samosir.wordpress.com/2009/11/26/download-rekaman-tabligh-akbar-agar-anak-anda-tidak-menjadi-teroris/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 03:00:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>anas as-samosir</dc:creator>
<guid>http://samosir.wordpress.com/2009/11/26/download-rekaman-tabligh-akbar-agar-anak-anda-tidak-menjadi-teroris/</guid>
<description><![CDATA[Berikut ini adalah link (alamat tautan) rekaman daurah Tabligh Akbar: Agar Anak Anda Tidak Menjadi T]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Berikut ini adalah link (alamat tautan) rekaman daurah Tabligh Akbar: Agar Anak Anda Tidak Menjadi T]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mendidik Berbeda dengan Menghardik]]></title>
<link>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/mendidik-berbeda-dengan-menghardik/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 04:55:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>hajimiskin</dc:creator>
<guid>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/mendidik-berbeda-dengan-menghardik/</guid>
<description><![CDATA[Dekandensi Edukasi Anak Dulu dan Kini Mencerdaskan Tanpa Kekerasan mendidik atau menyiksa..? SAAT an]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><ul>
<li>Dekandensi Edukasi Anak Dulu dan Kini</li>
<li>Mencerdaskan   Tanpa Kekerasan</li>
</ul>
<p>mendidik atau menyiksa..? <a href="http://albertjoko.files.wordpress.com/2008/04/hikmah-kekerasanjpg.gif"><img src="http://albertjoko.files.wordpress.com/2008/04/hikmah-kekerasanjpg.gif?w=250&#038;h=169#38;h=169" alt="" width="250" height="169" /></a><br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>SAAT</strong> anak berbuat salah, tak jarang guru di sekolah gemas lalu menghukum secara fisik. Masihkah efektif cara mendidik anak seperti ini?</p>
<p>Boleh jadi di era 1960-an atau 1970-an, model hukuman fisik seperti itu cukup pas. Guru cenderung memperlakukan hukuman, seperti memukul tangan murid dengan penggaris kayu. Atau, orangtua yang berusaha mendidik anak di rumah dengan sabetan sapu lidi karena anak malas mengerjakan PR.</p>
<p>Satu persamaan alasannya, anak akan jera melakukan kesalahan yang sama. Di sekolah, ketakutan murid pada hukuman fisik cenderung bias, bila ditujukan menambah kekuatan atau wibawa guru.</p>
<p>Murid pun akan lebih mudah dikendalikan. Seiring berkembangnya metode pendidikan pada usia dini, hukuman badan sering digugat efektivitasnya. Orangtua mulai memiliki kesadaran.</p>
<p>Hukuman badan ada kalanya memang berdampak positif. Namun, terbuka pula peluang melahirkan dampak negatif.</p>
<p>ironi hukuman.. <a href="http://albertjoko.files.wordpress.com/2008/04/anakjpg.gif"><img src="http://albertjoko.files.wordpress.com/2008/04/anakjpg.gif?w=200&#038;h=201#38;h=201" alt="" width="200" height="201" /></a></p>
<p><!--more--></p>
<p>Director Kinderfield Preschool Kindergarten, Yustitia mengungkapkan, kini mayoritas sekolah tak lagi menggunakan istilah hukuman sebagai balasan atas perbuatan murid yang dianggap tak baik. Sebagian pendidik menyebut tindakannya sebagai konsekuensi.</p>
<p>“Tiap sekolah pasti memiliki program kedisiplinan dan konsekuensi belajar. Dari situ, dibuat aturan-aturan yang diterapkan di kelas. Salah di antaranya, anak diwajibkan duduk rapi ketika guru menjelaskan materi pelajaran, misalnya,” ujar Yustitia.</p>
<p>“Setiap guru pasti punya aturan masing-masing di kelas. Yang penting, anak harus diberi tahu mengenai aturan itu sejak awal sehingga mengerti telah berbuat salah,” tegas Head of Curriculum Planning and Development Departement Bina Gita Gemilang Primary School.</p>
<p>Kebijakan masing-masing sekolah berbeda. Toleransi dari tindakan anak-anak pun berbeda tiap sekolah. Utamanya, anak harus diinformasikan mengenai peraturan- peraturan yang berlaku di sekolahnya.</p>
<p>mengenal Allah… <img src="http://albertjoko.files.wordpress.com/2008/04/anak-perjuangan.jpg?w=300&#038;h=215#38;h=215" alt="" width="300" height="215" /></p>
<p>Penulis Kids Are Worth It, Barbara Coloroso meyakinkan, anak bisa saja belajar dari kesalahannya dan mengubah perilakunya tanpa hukuman. Justru semakin meningkatkan hukuman, tak akan mengajarkan anak mengenai sesuatu yang membangun.</p>
<p>“Di sisi lain, kata disiplin sesuai dengan artinya dalam bahasa latin adalah memberikan anak pengertian dalam hidup. Menjalankan disiplin, memiliki empat kelebihan dibandingkan sekadar menghukum,” tegas Barbara.</p>
<p>Ia sepakat disiplin akan menuntun anak yang berbuat salah, memahami kesalahannya, dan memberikan anak jalan untuk penyelesaian. “Yang paling penting adalah disiplin akan menjaga harga diri anak. Berbeda dengan hukuman yang akan menjatuhkannya,” urai Barbara.</p>
<p>Selain itu, para orangtua dan guru juga sering memberikan nasihat yang terkesan menggurui anak. Menurut Barbara, beberapa kalimat seperti: “Sudah seperti saya katakan” atau “Kamu menghabiskan waktu percuma!” tak akan berguna. Tindakan ini tak akan memberi informasi lain yang belum diketahui anak.</p>
<p>“Kalimat yang biasa dikatakan orangtua seperti, jika kamu belajar, kamu tak akan gagal. Atau jika kamu tidak memukul adikmu, maka kamu tak akan dihukum berada di kamar. Saya pikir anak-anak tidak membutuhkan informasi demikian, yang sudah diketahuinya,” katanya.<strong> (okz)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[6 Perilaku Anak yang Harus Diperbaiki ]]></title>
<link>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/6-perilaku-anak-yang-harus-diperbaiki/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 04:54:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>hajimiskin</dc:creator>
<guid>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/6-perilaku-anak-yang-harus-diperbaiki/</guid>
<description><![CDATA[Kebiasaan-kebiasaan di bawah ini terlihat sepele. Tetapi jika perilaku si kecil yang tak terpuji ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://albertjoko.files.wordpress.com/2008/04/anak-perjuangan.jpg?w=300&#038;h=215#38;h=215" alt="" width="300" height="215" /></p>
<p>Kebiasaan-kebiasaan di bawah ini terlihat sepele. Tetapi jika perilaku si kecil yang tak terpuji berikut ini dibiarkan, bisa berkembang menjadi kebiasaan buruk, yang malah membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga.  Apa saja gerangan kebiasaan tak baik ini, dan mengapa harus segera diperbaiki?</p>
<p>1. MEMOTONG PEMBICARAAN<br />
Mengapa Harus Dicegah: Kemungkinan anak sedang dalam keadaan sangat gembira, sehingga amat tak sabar untuk segera menceritakannya pada Anda. Jadilah ketika Anda sedang terlibat dalam sebuah pembicaraan dengan orang lain, si kecil menyela, memotong pembicaraan dengan hebohnya. &#8220;Mama, tadi di sekolah aku dapat stiker dari Bu Guru, soalnya aku pandai.&#8221;</p>
<p>Jika perilakunya ini dibiarkan, dengan kata lain Anda dengan senang hati menjawab atau menanggapinya, berarti Anda tidak mengajarkan bagaimana seharusnya menghargai, memperhatikan kepentingan orang lain, dan hanya memikirkan diri sendiri. Nah, kalau hal ini dibiarkan saja, akhirnya anak akan berpikir, dia berhak mengambil perhatian orang lain kapan saja dia mau dan tak perlu bertoleransi pada kepentingan/kesibukan orang lain. Anak juga akan mudah merasa frustrasi jika suatu ketika tidak diikuti kemauanya.</p>
<p>Cara Mencegah: Pada suatu kesempatan, jika Anda sedang menelepon atau berbincang dengan teman dan si kecil menyela, katakan padanya, dia harus menunggu dan jangan memotong pembicaraan yang sedang Anda lakukan. Carikan kesibukan untuknya atau biarkan dia bermain dengan suatu mainan yang membuat konsentrasinya terpusat ke situ.<br />
Seandainya dia memaksa bicara, dudukkan di kursi dan katakan dengan lembut, &#8220;Tunggu di sini sampai Mama selesai bicara, ya.&#8221; Begitu pembicaraan selesai, jelaskan pada anak, dia tidak akan mendapat yang diinginkan jika Anda sedang terlibat pembicaraan dengan orang lain. Jadi, jangan memotong pembicaran ketika Anda sedang berbicara.</p>
<p><!--more-->2. BERTINGKAH KASAR<br />
Mengapa harus Dicegah: Anda memang harus mencermati ketika si kecil memukul teman bermainnya, tapi tidak harus berlaku lebih agresif seperti mendorong atau menariknya. Sebab, jika Anda membiarkannya berperilaku kasar, bisa menjadi kebiasaan di samping seakan-akan Anda mengizinkan si kecil menyakiti orang lain.</p>
<p>Cara Mencegah: Langsung hadapi setiap perilaku agresif yang dilakukan anak secepatnya. Ajak atau panggil anak, kemudian katakan kepadanya sambil memberinya pengertian bahwa hal itu menyakitkan temannya. Katakan pula, bagaimana rasanya jika sebaliknya temanlah yang menyakiti/memukul dia.</p>
<p>Esoknya atau di lain waktu, pada waktu dia akan mulai bermain lagi, ingatkan bahwa ia tidak diperbolehkan bertindak kasar atau menyakiti orang lain. Cobalah untuk menolongnya dengan mengingatkannya agar tidak mengulangi perbuatan buruknya dan jika dia melakukan kekerasan lagi, stop bermain!</p>
<p>3. PURA-PURA TAK MENDENGAR<br />
Mengapa Harus Dicegah: Ulangi ucapan Anda sampai dua, tiga, bahkan empat kali agar dia mendengar dan mengerjakan apa yang Anda inginkan. Misalnya, membawa barang ke kamarnya atau membereskan mainan. Katakan padanya, tidak baik untuk pura-pura tak mendengar atau mengacuhkan apa yang Anda katakan dan tidak melaksanakan atau tidak melakukan apa yang harus dikerjakannya.</p>
<p>Anda harus terus mengingatkannya lagi dan lagi sampai ia melakukannya. Koreksi merupakan kekuatan di dalam pembentukan sifat dan jika Anda terus melakukan agar ia berperilaku baik, akhirnya anak akan menjadi biasa dengan segala sesuatu yang baik. Sebaliknya, jika dibiarkan, anak akan melawan, tak mau tahu aturan, dan lepas kontrol.</p>
<p>Cara Mencegah:Daripada berbicara sambil berteriak-teriak dari dalam kamar, sebaiknya datangi anak dan katakan padanya apa yang harus dilakukannya. Tatap mukanya, pandang matanya, saat berbicara padanya, dan tunggu sampai dia menjawab, &#8220;Ya.&#8221; Belai pundaknya, sebut namanya dengan lembut, matikan TV. Hal ini akan membuat perhatiannya penuh diberikan pada Anda.</p>
<p>Jika ia tetap tak peduli, tidak bergerak, beri hukuman padanya semisal tak boleh menonton film kartun favoritnya selama seminggu, tak boleh main sepeda, dan lainnya. Hal ini harus diterapkan pada anak agar kebiasaan buruknya itu tak terbawa hingga ia dewasa kelak.</p>
<p>4. TANPA ATURAN<br />
Mengapa Harus Dicegah: Pastinya menyenangkan jika anak dapat membeli sendiri snack atau DVD kesukaannya. Tapi cobalah tetap mengontrol kegiatannya supaya tetap sesuai dengan aturan yang berlaku dalam keluarga. Mungkin terdengar hebat jika anak usia 2 tahun sudah bisa dan terbiasa mengambil makanan dari lemari sendiri tanpa meminta izin pada Anda. Tapi tunggu sampai dia berumur 8 tahun, saat ia pergi ke rumah teman tetangga, mengambil semaunya tanpa meminta. Nah, memalukan, bukan?<br />
Cara Mencegah: Buat aturan-aturan di rumah dan bicarakan hal ini sesering mungkin dengan anak-anak. Misalnya, jika ia menginginkan cokelat, anak harus minta izin terlebih dahulu dan itu adalah peraturan yang berlaku di rumah Anda. Atau jika anak langsung menyalakan TV tanpa izin Anda, minta agar ia mematikannya dan setelah itu terangkan sambil mengajarkan padanya bahwa dia harus minta izin Anda terlebih dahulu jika ingin menonton TV.</p>
<p>Membuat dan menjalankan aturan akan menolong anak berdisplin, menghargai orang lain, dan tak cuma memikirkan kesenangan diri sendiri.</p>
<p>5. ATURAN MINIM<br />
Mengapa Harus Dicegah: Mungkin tidak pernah terpikir oleh Anda ketika anak masih kecil ia berteriak-teriak atau membiarkan ingus keluar dari hidung tanpa mengajarinya untuk menyekanya. Akhirnya, perilaku itu terbawa hingga ia besar dan sudah sulit diperbaiki.</p>
<p>Pada umumnya, perilaku yang tidak baik sering dimulai ketika anak berada dalam usia balita. Beberapa orang tua berpendapat, &#8220;Toh, nanti juga hilang sendiri,&#8221; Padahal, jika Anda tidak mengajarkannya sejak dini, bisa menjadi masalah besar di masa datang.</p>
<p>Cara Mencegah: Biasakan anak mengerti dan menaati perilaku serta tata terib dengan baik. Katakan sejak sedini mungkin, ada aturan untuk berbuat yang lebih baik di depan umum. Seperti misalnya jika anak pilek, beri dia tisu dan ajarkan cara membersihkan hidungnya jika ingus keluar, lalu buang tisu di tempat sampah. Jika ia mememerlukan sesuatu, biasakan untuk mendekat dan berkata dengan sopan, bukan berteraik-teriak memanggil-manggil.</p>
<p>Jika anak tetap melakukan apa yang telah diajarkan, Anda dapat menolak keinginannya dengan cara pergi sambil mengatakan bahwa Anda tidak mau menolongnya jika dia tetap berlaku yang tidak semestinya. &#8220;Kalau kamu ngomongnya sopan, Mama akan mendengarkannya.&#8221; Lakukan terus dengan konsisten.</p>
<p>6. MEMBESAR-BESARKAN KENYATAAN ALIAS BOHONG<br />
Mengapa Harus Dicegah: Jangan menganggap seolah-olah bukan suatu hal yang penting jika anak Anda mengatakan dia telah merapikan tempat tidurnya dengan susah payah padahal hal itu sama sekali tak benar. Atau dia bercerita kepada temannya bahwa liburan kemarin dia pergi ke Disney World padahal sebetulnya dia belum pernah ke sana. Bahkan naik pesawat terbang pun, belum pernah.</p>
<p>Jika hal ini terjadi, sangat penting untuk membicarakannya dengan anak dan jangan pernah dibiarkan! Soalnya, berbohong dapat menjadi suatu hal yang otomatis. Kalau anak belajar dan merasa bahwa dengan membual merupakan cara yang mudah agar dia dipandang lebih hebat oleh temannya atau mencegah terjadinya masalah yang lebih besar yang telah diperbuatnya, segera perbaiki tingkah laku anak!</p>
<p>Cara Mencegah: Jika Anda mendapati anak berbohong, ajak dia duduk bersama dan langsung bicarakan mengenai masalahnya. Misalnya, Anda mengatakan, &#8220;Memang sangat menyenangkan, ya, kalau kita bisa pergi ke Disney World. Mudah-mudahan suatu hari kita bisa pergi ke sana. Tapi kamu enggak boleh berbohong bilang pada temanmu sudah pergi ke sana. Sebab, kalau kamu suka berbohong, nanti jika kamu benar-benar melakukan sesuatu yang benar, tidak akan ada lagi yang percaya karena tahu kamu sudah berbohong. Nah, akhirnya kamu enggak punya teman. Enggak enak, kan?&#8221;</p>
<p>Atau jika anak berkata sudah menggosok giginya, periksa giginya. Jika ternyata belum, suruh dia segera menggosok gigi dengan bersih. Kontrol terus hal-hal seperti ini dan berikan mereka pengertian. Jangan pernah bosan melakukannya! Anda ingin si kecil berperilaku baik di saat ia besar nanti, kan? Sumber : Ir. Hendry Risjawan, MTC, CH, CHt, CHI, EITC</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencegah Perilaku Seksual Menyimpang pada Anak]]></title>
<link>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/mencegah-perilaku-seksual-menyimpang-pada-anak/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 04:48:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>hajimiskin</dc:creator>
<guid>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/mencegah-perilaku-seksual-menyimpang-pada-anak/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu kita dikagetkan dengan mencuatnya kasus Riyan, pemuda berperilaku seksual m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://www.indonesiaindonesia.com/attachments/download/514d1203534174-anak-sopan-truth.jpg"><img src="http://www.indonesiaindonesia.com/attachments/download/514d1203534174-anak-sopan-truth.jpg" alt="" width="189" height="272" /></a></p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2008/10/anak_muslim.jpg"></a>Beberapa waktu yang lalu kita dikagetkan dengan mencuatnya kasus Riyan, pemuda berperilaku seksual menyimpang (homoseksual) yang dengan sadar telah membunuh secara sadis beberapa ”teman dekatnya”. Sampai sekarang kasus tersebut masih terus ditangani polisi. Perilaku seksual menyimpang semacam itu sejatinya bukan sesuatu yang baru. Sejak jaman Nabi Luth AS, perilaku yang diistilahkan dengan Liwath ini sudah ada.</p>
<p>“<em>Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: ’Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?’ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ’Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.’ Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)</em>”. (<strong>QS. Al-A’raf: 80-83</strong>).</p>
<p>Perilaku homoseksual sejatinya merupakan bentuk perilaku seksual yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Hubungan seksual dalam Islam tidak hanya sekadar untuk memuaskan hawa nafsu semata, tetapi memiliki tujuan penting menyangkut kelangsungan kehidupan, yaitu untuk melanjutkan keturunan. Dengan begitu, maka hubungan seks sejenis jelas tidak dibenarkan karena tidak mungkin akan menghasilkan keturunan. Agar perilaku seksual menyimpang ini tidak berkembang, maka harus dilakukan pencegahan sedini mungkin. Dan Islam telah memberikan beberapa alternatif pencegahannya.</p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>Langkah-Langkah Pencegahan</strong></p>
<p><strong>1. Menjauhkan anak dari berbagai rangsangan </strong></p>
<p>Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Pada diri manusia terdapat potensi (dorongan) hidup yang senantiasa mendorong untuk melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Pertama yang disebut dengan kebutuhan jasmani (<em>hajatu al-’udhawiyah</em>) seperti makan, minum, dan membuang hajat. Kebutuhan ini menuntut pemenuhan yang bersifat pasti. Kalau tidak terpenuhi, seseorang akan mati. Tidak ada orang yang kuat terus menerus menahan lapar dan haus, begitu pula buang hajat. Kedua, adalah naluri (<em>gharizah</em>) yang menuntut adanya pemenuhan saja. Jika tidak dipenuhi, manusia tidak akan mati, tapi akan merasa gelisah, hingga terpenuhinya kebutuhan tersebut. Salah satu bentuk naluri (<em>gharizah</em>) adalah naluri mempertahankan jenis (<em>gharizah an-nau’</em>) yang manifestasinya bisa berupa dorongan seksual. Dari segi munculnya dorongan (tuntutan pemuasan), kebutuhan jasmani bersifat internal, yakni muncul dari dalam diri manusia sendiri. Orang ingin makan karena lapar, ingin minum karena haus, ada atau tidak ada makanan. Sementara naluri baru akan muncul kalau ada rangsangan-rangsangan dari luar. Dorongan seksual muncul misalnya setelah melihat atau membayangkan wanita yang cantik, membaca buku, nonton film dan sebagainya.</p>
<p>Demikian juga hasrat untuk melakukan homoseksual akan muncul bila terdapat rangsangan-rangsangan yang mendorong untuk mencoba atau melakukannya. Ada dua rangsangan yang umumnya merangsang manusia, yaitu pikiran dan realitas yang nampak. Pemikiran liberali telah mendorong orang untuk mencoba melakukan homoseks. Menurut paham ini, orang bebas melakukan apa saja termasuk dalam memenuhi dorongan seksualnya. Tolok ukurnya pun bersifat materialistik. Karenanya, aktivitas homoseksual ditempatkan sebatas sebagai cara memuaskan hasrat seksual. Padahal, dalam Islam, seksualitas merupakan nikmat Allah SWT untuk melanjutkan keturunan. Selain itu, alasan hak asasi manusia (HAM) sering kali dijadikan sebagai dalih. Selama pemikiran-pemikiran ini terus dikembangkan di tengah masyarakat atas nama kebebasan pribadi dan berekspresi, maka penyimpangan seksual tersebut akan tetap ada.</p>
<p>Islam adalah agama yang sempurna. Di dalamnya terdapat aturan-aturan tentang bagaimana seharusnya manusia memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri-naluri yang ada pada dirinya. Allah SWT telah menganugerahkan potensi-potensi tersebut sekaligus cara-cara pemenuhannya. Aturan-aturan ini dibuat tidak lain adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Allah yang menciptakan manusia, Dia pula yang paling tahu apa yang terbaik bagi hambaNya. Karena dorongan seksual ini baru akan muncul jika ada rangsangan dari luar, maka Islam telah memberi seperangkat pemahaman yang dapat mengatur kecenderungan seksual manusia secara positip, yaitu dengan seperangkat aturan dalam urusan pernikahan dan segala sesuatu yang terpancar darinya. Islam juga berusaha mencegah dan menjauhkan manusia dari segala hal yang bisa membangkitkan perasaan seksualnya.</p>
<p><strong>2. Menguatkan identitas diri sebagai anak laki-laki atau perempuan</strong></p>
<p>Telah ditentukan oleh Allah, bahwa segala sesuatu diciptakan secara berpasang-pasangan. Allah telah menciptakan malam, maka diiringi dengan siang. Begitu pula diciptakan laki-laki oleh Allah sebagai pasangan wanita.</p>
<p>Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.</p>
<p><em>Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan</em> (laki-laki dan perempuan).</p>
<p>Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan yang mendasar. Perbedaan tersebut telah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang kelak akan diperankannya. Mengingat perbedaan tersebut, maka Islam telah memberikan tuntunan agar masing-masing fitrah yang telah ada tetap terjaga. Islam menghendaki agar laki-laki memiliki kepribadian maskulin, dan perempuan memiliki kepribadian feminin. Islam tidak menghendaki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Pola asuh orang tua dan stimulasi yang diberikan, memiliki peran yang besar dalam memperkuat identitas anak sebagai laki-laki atau perempuan.</p>
<p>“<em>Dari Ibnu Abbas ra berkata: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang berlagak wanita, dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. Dalam riwayat yang lain: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki-laki</em>“. (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p><strong>3. Membatasi pergaulan sejenis</strong></p>
<p>Disamping telah memberikan aturan bagaimana bergaul dengan lawan jenis, Islam juga memberikan atauran hubungan sejenis. Terkait masalah ini, Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>”<em>Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki, jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut, begitu juga janganlah perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut</em>” (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Laki-laki yang melihat aurat laki-laki ataupun perempuan yang melihat aurat sesama perempuan akan terangsang. Hal ini dapat menjadi pemicu penyimpangan seksual. Apalagi kalau tidur dalam satu selimut.</p>
<p><strong>4. Secara sistemik menghilangkan berbagai hal di tengah masyarakat yang dapat merangsang orang untuk melakukan homoseksual. </strong></p>
<p>Saat ini banyak beredar VCD terkait dengan homoseksual. Bahkan tayangan-tayangan di televisi juga seringkali menghadirkan sosok laki-laki yang menyerupai perempuan. Di dunia maya juga berkeliaran promosi tentang itu. Dalam hal ini diperlukan kebijakan yang tegas dari Pemerintah agar masyarakat terjaga, dan anak-anak tidak terdorong untuk mencoba.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Pertumbuhan dan perkembangan masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat penting. Baik pertumbuhan organ fisiknya, psikologis dan sosialisasi atau interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pada masa ini hendaklah para orang tua memberikan bimbingan dan pengarahan termasuk di dalamnya masalah seksual. Hendaknya para orang tua memberikan bimbingan dengan bijaksana. Dalam hal ini Islam telah memberikan pedoman-pedomannya. Islam sebagai sistem ajaran yang lengkap telah memberikan tuntunan kepada para pemeluknya, termasuk masalah seksual. Pelanggaran dan ketidaktaatan terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah dan RasulNya akan menyebabkan kehancuran peradaban manusia.</p>
<p><strong><em>(Zulia Ilmawati, Psikolog, Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga)</em></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mendidik Anak Remaja]]></title>
<link>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/mendidik-anak-remaja/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 04:10:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>hajimiskin</dc:creator>
<guid>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/mendidik-anak-remaja/</guid>
<description><![CDATA[MEMANG tidak mudah mendidik anak supaya menjadi seorang anak yang hebat. Bagaikan sudah menjadi haki]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><em><a href="http://meisusilo.files.wordpress.com/2009/02/jilbab-4.jpg"><img src="http://meisusilo.files.wordpress.com/2009/02/jilbab-4-thumb.jpg?w=299&#038;h=242#38;h=242" alt="jilbab_4" width="299" height="242" align="left" /></a> </em></strong>MEMANG tidak mudah mendidik anak supaya menjadi seorang anak yang hebat. Bagaikan sudah menjadi hakikat ‘sunahtullah’ bahwa terdapat perbezaan antara mendidik anak lelaki dengan perempuan. Dalam pelbagai aspek seperti memberi nasihat, mendidik, menegur ajar, menyuruh dan sebagainya, terdapat cara yang berbeza terhadap jenis jantina anak. Hakikat inilah yang tidak diketahui oleh kebanyakan ibu bapa, menyebabkan mereka melakukan kesilapan dalam mendidik anak seperti anak lelaki dididik secara anak perempuan dan begitu juga sebaliknya. Akibatnya, keberkesanannya tidak tercapai.</p>
<p>Menjadi seorang ibu atau bapa adalah satu cabaran hidup (dan ganjaran) yang terbesar. Bagaimanapun, ibu bapa kepada remaja belasan tahun mungkin mempunyai tugas yang paling sukar di antara ibu bapa lain. Zaman remaja adalah satu perjalanan daripada zaman kanak-kanak menuju dewasa, daripada bergantung hampir sepenuhnya pada pandangan orang lain kepada bagaimana membuat keputusan yang bertanggungjawab secara berdikari. Ia boleh jadi satu peralihan yang sukar bagi remaja itu sendiri dan juga ibu bapa mereka, terutamanya dalam masyarakat di mana orang muda setiap hari berhadapan dengan risiko serius yang berkaitan dengan seks, keganasan, penyalahgunaan dadah, alkohol, merokok, dan gagal dalam pelajaran – risiko-risiko yang biasanya adalah berkaitan antara satu sama lain. Oleh kerana pelbagai risiko yang dihadapi oleh remaja berkait rapat antara satu sama lain, begitu jugalah dengan jalan penyelesaiannya.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Adalah mudah bagi ibu bapa untuk percaya bahawa pengaruh mereka terhadap anak-anak remaja mereka telah lupus sebaik sahaja anak mereka mencecah zaman remaja. Rakan-rakan dan media nampaknya lebih berkuasa. Tetapi kajian dan pengalaman menunjukkan dengan jelas: ibu bapa adalah penting dalam kehidupan remaja. Remaja belasan tahun memerlukan sokongan, panduan, dan perhatian daripada ibu bapa mereka sepertimana kanak-kanak juga. Dan remaja sendiri mengatakan bahawa mereka mahu mendengar apakah cabaran yang dihadapi oleh orang dewasa, walaupun mereka tidak selalunya berlagak seperti demikian.</p>
<p>Ibu bapa juga boleh membentuk komuniti di mana anak-anak mereka membesar. Sama ada anda bimbang mengenai tabiat minum arak, penyalahgunaan dadah, keganasan, masalah di sekolah, merokok, atau seks (atau kesemuanya sekali), nasihat terbaik bagi ibu bapa adalah sama: teruslah mempunyai hubungan yang rapat dengan anak-anak remaja anda. Idea-idea di bawah boleh membantu ibu bapa membuat perubahan dalam kehidupan anak-anak remaja mereka.</p>
<p>LUANGKAN MASA</p>
<p>Luangkanlah masa dengan anak-anak anda secara melibatkan diri dalam aktiviti-aktiviti yang sesuai dengan umur dan minat mereka. Kongsilah pengalaman dalam membina satu perhubungan yang mesra yang berasaskan kasih sayang dan kepercayaan yang merupakan asas bagi komunikasi pada masa hadapan. Makan bersama sekerap mungkin. Waktu makan adalah peluang terbaik untuk berbual-bual tentang perkara-perkara yang berlaku dalam kehidupan seharian mereka dan untuk merapatkan diri dengan anak-anak anda. Gunakanlah masa yang ada untuk berbual, bukannya berbalah. Membaca, menonton televisyen atau wayang, dan layarilah internet bersama-sama. Bersenam atau bersukan sebagai sebuah keluarga. Libatkan diri dalam aktiviti-aktiviti kemasyarakatan bersama-sama anak-anak anda.</p>
<p>BANTU REMAJA MENDAPATKAN KEYAKINAN DIRI</p>
<p>Keyakinan diri adalah sesuatu yang diperolehi, bukannya diberi. Berikan anak-anak anda peluang untuk belajar kemahiran-kemahiran tertentu dan mendapatkan keyakinan diri. Pujilah mereka atas tugas-tugas yang mereka telah selesaikan dengan baik, galakkan perkara-perkara positif dan tekankan perkara-perkara yang dilakukan dengan baik oleh anak-anak anda. Jika mereka ketinggalan atau cuai, cadangkan cara-cara untuk memperbaiki diri; jangan mengkritik. Kasih sayang dan rasa hormat akan menggalakkan mereka berkelakuan baik, bukannya ketakutan atau keaiban.</p>
<p>GALAKKAN REMAJA MELIBATKAN DIRI DALAM AKTIVITI POSITIF</p>
<p>Bantulah anak-anak anda mengenal pasti kelebihan, bakat dan minat mereka dan untuk mencari peluang di mana perkara-perkara ini boleh dikembangkan. Galakkan mereka melibatkan diri dalam kerja-kerja sukarela dalam komuniti anda, menjadi ahli kumpulan belia, atau turut serta dalam aktiviti kesenian atau sukan. Ini akan membuatkan mereka merasa ‘berguna’ di dalam masyarakat, menghubungkan mereka dengan kawan-kawan yang positif dan pemimpin-pemimpin di kalangan orang dewasa, dan juga memenuhkan jadual harian mereka.</p>
<p>BANTU REMAJA MENETAPKAN MATLAMAT</p>
<p>Bantu anak-anak memahami bagaimana pilihan yang mereka buat sekarang boleh mempengaruhi keseluruhan kehidupan mereka. Perkenalkan mereka dengan mereka yang berjaya di komuniti anda yang boleh menerangkan apa yang perlu dilakukan untuk berjaya. Remaja yang mempunyai matlamat jangka panjang dalam pelajaran atau pekerjaan kurang berkemungkinan untuk merosakkan masa hadapan mereka dengan melibatkan diri dalam perkara-perkara yang tidak sihat.</p>
<p>MENGHARGAI PENDIDIKAN</p>
<p>Libatkanlah diri dalam pendidikan anak-anak anda dan biarkan mereka tahu bahawa ia sangat penting bagi anda. Terangkan kepada mereka bagaimana pelajaran akan membantu mereka pada masa hadapan dan mengapa penting bagi mereka untuk mengambil perhatian serius perkara ini dari sekarang. Kegagalan dalam pelajaran biasanya adalah tanda-tanda untuk muncul masalah lain. Jika anda mendapati pelajarannya merosot, berbincanglah dengan mereka dan dengan guru-gurunya dengan segera.</p>
<p>LIBATKAN DIRI DENGAN SEKOLAH</p>
<p>Ibu bapa sering berhubungan dengan sekolah anak-anak semasa mereka di sekolah rendah, tetapi mula menjauh apabila mereka semakin membesar. Cubalah terus libatkan diri sehingga sekolah menengah. Beri perhatian kepada kelas-kelas yang diambil oleh anak-anak anda dan kerja rumah yang mereka bawa balik. Jadi ahli Persatuan Ibu Bapa atau organisasi lain yang ada kena mengena dengan sekolah.</p>
<p>Tawarkan diri untuk menjadi tutor, mentor atau penceramah jemputan. Berjumpa dengan pengetua, guru-guru, kaunselor dan jurulatih mereka. Hadirilah majlis-majlis, pameran, drama, pancaragam, nyanyian dan sukan yang dikendalikan oleh pihak sekolah. Jika anda tidak menghadirinya, anak-anak anda adalah orang yang pertama menyedarinya.</p>
<p>AMBIL TAHU</p>
<p>Buat peraturan yang jelas bagi anak-anak anda mengenai apa yang boleh mereka lakukan dan dengan siapa mereka boleh meluangkan masa, dan terangkanlah kepada mereka mengapa peraturan-peraturan ini penting. Tetapkan masa di mana mereka mesti balik dan jangan benarkan mereka menghadiri sebarang majlis tanpa ditemani orang dewasa.</p>
<p>Berusahalah lebih sedikit untuk mengetahui di mana anak-anak anda berada pada hari minggu dan selepas waktu sekolah, memandangkan waktu-waktu tersebut adalah ‘zon bahaya’, di mana anak-anak muda yang tidak dikawal mungkin berpeluang untuk menyalahgunakan dadah, melakukan jenayah dan terlibat dalam perbuatan-perbuatan berisiko yang lain. Matlamatnya adalah untuk menjadi seorang ibu bapa yang berwaspada tanpa terlalu memaksa. Ingat, dengan mengetahui di mana anak-anak anda berada dan apa yang mereka lakukan tidak bermakna anda suka membebel; ini bermakna anda seorang ibu atau bapa yang prihatin.</p>
<p>KENALI SIAPA KAWAN-KAWAN ANAK ANDA</p>
<p>Rakan-rakan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap satu sama lain, oleh itu adalah penting bagi anda untuk mengenali siapa kawan-kawan anak-anak anda dan ibu bapa mereka. Kebanyakan tekanan rakan sebaya adalah positif. Galakkan anak-anak remaja anda untuk meluangkan masa dengan kawan-kawan yang positif dan sihat. Jemput mereka datang ke rumah dan berbual-buallah dengan mereka secara terbuka.</p>
<p>SELALU BERBINCANG</p>
<p>Walaupun ia agak sukar untuk memulakan perbualan mengenai perkara ini, mulakannya apabila anak-anak anda ingin tahu dan mula mencerluskan soalan. Jelaskan kepada mereka bahawa setiap orang berasa terluka, takut, marah dan ragu-ragu, dan berbincang dengan mereka mengenai cara-cara yang betul untuk menangani emosi seperti ini. Pastikan bahawa anak-anak anda tahu bahaya rokok, dadah, alkohol, dan seks. Komunikasi yang kerap mengenai isu-isu seperti ini patut bermula sejak mereka kecil lagi dan berterusan hingga mereka remaja kerana soalan-soalan dan situasi terus berubah mengikut masa.</p>
<p>Tentulah, dengan remaja belasan tahun terutamanya, anda mungkin harus mengambil inisiatif untuk terus berkomunikasi. Binalah satu dialog dua hala dengan menjawab secara hormat setiap soalan atau topik dengan teliti. Bercakap dengan mereka, bukannya kepada mereka.</p>
<p>TERANGKAN NILAI-NILAI MURNI</p>
<p>Berkomunikasi dengan anak-anak mengenai isu-isu yang sukar adalah lebih berjaya apabila anda, sebagai seorang ibu atau bapa, jelas mengenai perasaan anda sendiri. Dengan bersikap terbuka dan jujur, anda boleh meluahkan nilai-nilai yang anda harapkan dengan cara yang menunjukkan keprihatinan. Kebanyakan ibu bapa bimbang dilihat sebagai seorang yang hipokrit, terutamanya jika mereka sendiri terlibat dalam perkara-perkara kurang sihat semasa mereka remaja, tetapi sekarang mereka mendesak anak-anak mereka untuk mengambil jalan lain. Kebanyakan remaja mempunyai ‘radar hipokrit’ yang baik.</p>
<p>Mereka biasanya cukup sofistikated untuk menyedari bahawa dalam dunia moden yang penuh dengan bahaya seperti AIDS, senjata automatik dan bahaya-bahaya lain, standard yang baru adalah perlu.</p>
<p>JADILAH MODEL YANG BAIK</p>
<p>Jadilah model atau contoh harian yang terbaik berkaitan dengan nilai-nilai dan standard yang anda harapkan. Tunjukkan kasih sayang, kejujuran, disiplin dan keterbukaan yang anda harapkan daripada anak-anak anda. Jika anda menyalahgunakan dadah atau minuman keras, sedarlah bahawa anak-anak anda sedang memerhatikan dan apa yang mereka lihat mungkin akan merosakkan niat baik anda untuk menghalang mereka dari menyalahgunakan bahan-bahan ini. Jangan merokok atau membenarkan sesiapa merokok di dalam rumah.</p>
<p>Tunjukkan contoh seseorang yang tidak menggunakan keganasan. Jika anda mahu anak-anak muda menolak keganasan, anda perlulah menunjukkan cara-caranya. Ibu atau bapa yang mempunyai teman lelaki atau wanita harus tahu bahawa anak-anak mereka melihat apa yang mereka lakukan, bukan setakat mendengar apa yang mereka perkatakan.</p>
<p>BERI PERHATIAN</p>
<p>Program-program sokongan bagi remaja yang bermasalah adalah baik, tetapi semua kanak-kanak dan remaja mampu memperolehi kebaikan daripada galakan, perhatian dan sokongan. Jangan memfokuskan perhatian kepada mereka hanya apabila ada masalah. Biarkan anak-anak anda tahu bahawa anda berbangga dengan mereka, walaupun kadangkala ia kelihatan seperti bukannya satu perkara yang besar.</p>
<p>HULURKAN BANTUAN</p>
<p>Perhatikan tanda-tanda penyalahgunaan dadah dan alkohol, kegagalan dalam pelajaran, kemurungan dan keganasan. Berikut adalah beberapa panduan yang boleh anda perhatikan:</p>
<ol>
<li>banyak masa diluangkan bersendirian dan mengasingkan diri dari keluarga dan rakan-rakan</li>
<li>perubahan yang mendadak dalam prestasi di sekolah,</li>
<li>perubahan kelakuan dan pertukaran emosi yang drastik,</li>
<li>tidak berminat mempunyai hobi atau beraktiviti sosial atau rekreasi,</li>
<li>dan perubahan pilihan rakan-rakan atau mengasingkan diri daripada kawan-kawan lama.</li>
</ol>
<p>Jangan takut untuk masuk campur dan mendapatkan bantuan dari luar. Kebanyakan komuniti mempunyai sumber-sumber bagi membantu ibu bapa membantu anak-anak mereka.</p>
<p>WUJUDKAN RUMAH SELAMAT</p>
<p>Jika anda mempunyai senjata api, pastikan ia sentiasa dikunci. Jangan bawa masuk dadah ke dalam rumah, dan sentiasa kuncikan kabinet barangan yang boleh membahayakan. Jangan merokok berdekatan anak-anak anda atau membenarkan orang lain berbuat demikian. Pastikan anak-anak remaja anda memakai tali pinggang keledar, belajar memandu dari sekolah memandu yang baik, dan tahu mengenai bahaya memandu secara laju.</p>
<p>TAHU APA YANG DITONTON, DIBACA, DAN DIDENGAR</p>
<p>Adalah tanggungjawab anda sebagai ibu bapa untuk menapis bahan-bahan yang sampai kepada anak-anak anda. Remaja pun memerlukan panduan untuk menjadi seorang pengguna media yang berpengetahuan. Tontonlah televisyen atau dengar muzik bersama anak-anak anda dan bantu mereka memahami perbezaan antara kehidupan sebenar dan apa yang digambarkan dalam media. Carilah masa yang sesuai untuk mengajar; karakter dan cerita yang digambarkan dalam media sering memberikan peluang untuk berbual mengenai isu-isu yang melibatkan anda dan anak-anak anda.</p>
<p>LIBATKAN DIRI DALAM MASYARAKAT</p>
<p>Ibu bapa boleh membuat perubahan dalam kehidupan anak-anak mereka, tetapi ibu bapa tidak boleh menyelesaikan kesemua masalah yang dihadapi oleh anak-anak mereka. Ibu bapa hendaklah melibatkan diri dalam mengubah persekitaran di mana anak-anak mereka menghadapi cabaran dan pilihan-pilihan yang sukar. Lebih banyak sokongan yang diberikan oleh masyarakat terhadap perkembangan positif remaja, lebih mudah bagi anda menjalankan tanggungjawab sebagai seorang ibu atau bapa. Galakkan pihak sekolah dan organisasi-organisasi lain untuk mengendalikan dan menjalankan aktiviti yang bebas rokok dan bebas dadah. Sokonglah penubuhan tempat-tempat rekreasi yang mesra remaja dan selamat daripada dadah, alkohol, dan rokok.</p>
<p>Ambil bahagian dalam organisasi-organisasi komuniti yang mempromosikan pihak polis untuk membantu kanak-kanak dan remaja, seperti menghalang penjualan rokok kepada kanak-kanak atau mengurangkan keganasan dalam masyarakat. Pergilah ke kedai-kedai yang mempromosikan pilihan-pilihan yang sihat bagi remaja. Bantulah remaja lain dalam masyarakat anda dengan menjadi mentor mereka atau mengambil remaja bekerja di tempat kerja anda. Libatkan diri dengan kumpulan belia di tempat anda atau di pusat komuniti setempat.</p>
<p>Dalam dunia serba moden sekarang ini, tanggungjawab sebagai ibu bapa semakin besar dan berat dalam mendidik anak bagi melahirkan generasi cemerlang pada masa akan datang. Justeru, ibu bapa juga seharusnya menambah ilmu dari semasa ke semasa bagi menangani karenah anak-anak remaja yang sduah semakin terkehadapan sekarang ini.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membentuk Moral Anak]]></title>
<link>http://layyinakita.wordpress.com/2009/11/24/membentuk-moral-anak/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 15:24:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Media Surviva</dc:creator>
<guid>http://layyinakita.wordpress.com/2009/11/24/membentuk-moral-anak/</guid>
<description><![CDATA[MEMBENTUK moral anak bisa dilakukan lewat story telling (dongeng). Kegiatan membaca dongeng dan berd]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MEMBENTUK moral anak bisa dilakukan lewat story telling (dongeng). Kegiatan membaca dongeng dan berd]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bekali Anak Pengetahuan Global]]></title>
<link>http://layyinakita.wordpress.com/2009/11/24/bekali-anak-pengetahuan-global/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 15:22:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>Media Surviva</dc:creator>
<guid>http://layyinakita.wordpress.com/2009/11/24/bekali-anak-pengetahuan-global/</guid>
<description><![CDATA[DI ERA globalisasi ini semua hal perlu dipersiapkan agar tidak tertinggal, termasuk membekali anak d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[DI ERA globalisasi ini semua hal perlu dipersiapkan agar tidak tertinggal, termasuk membekali anak d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peran Keteladanan Ayah Membina Anak]]></title>
<link>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/24/peran-keteladanan-ayah-membina-anak/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 08:28:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>hajimiskin</dc:creator>
<guid>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/24/peran-keteladanan-ayah-membina-anak/</guid>
<description><![CDATA[Ingatkah anda kisah kerelaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra pertamanya, Ismail, atas perintah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://www.muslimdaily.net/berita/anak_sholeh.jpg" alt="" align="left" />Ingatkah anda kisah kerelaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra pertamanya, Ismail, atas perintah Allah s.w.t? Ketika Ibrahim berkata kepada putranya ia memiliki ilham bahwa Allah ingin ia menyembelih Ismail, sang putra patuh tanpa keengganan sedikit pun.</p>
<p>Hal yang paling luar biasa dari kisah itu adalah, bagaimana Ismail begitu percaya sepenuhnya pada kebenaran ilham sang ayah.</p>
<p>Beberapa anak lelaki saat ini yang akan bereaksi serupa Ismail ketika orang tua berkata pada mereka, &#8220;Tuhan menginginkan aku mengorbankan dirimu?. Mungkin sebagian akan menjawab, &#8220;Apa Bapak sudah gila? Mereka mungkin bisa menerima gagasan berkorban untuk Allah, namun sulit meyakini ada hubungan kuat antara ayah dengan Allah, seperti yang dialami Ismail.</p>
<p><!--more-->Inilah letak peran penting seorang ayah dalam keluarga. Kepercayaan mendalam hanya dapat dihasilkan dari hubungan sangat dekat.</p>
<p>Pun, Sang ayah, Nabi Ibrahim sama sekali tidak was-was dan bingung terhadap rencana masa depan putranya. Ismail pun tak memiliki tujuan besar lain selain mematuhi sang ayah, dan bersedia melakukan apa pun perintah Allah. Tentu saja mereka berdua nabi dan dari segi keutamaan dan kedudukan jauh dari manusia biasa.</p>
<p>Namun ada hal-hal besar yang dapat dipelajari oleh keluarga Muslim saat ini. Pemaparan dari ahli psikologi keluarga, Marria Husain, dari situs keluarga Zawaj berikut layak untuk dijadikan acuan.</p>
<p><strong>Menghormati Kepercayaan Keluarga</strong></p>
<p>Orang tua harus terus menjaga nilai kelayakan dan kepercayaan dalam keluarga dengan selalu mengarahkan tujuan rumah tangga untuk beribadah kepada Allah. Faktor pemimpin keluarga sangat besar di sini, yakni ayah. Kini berapa keluarga yang benar-benar membesarkan anak sebagai semata-mata ibadah dan ikhlas kepada Allah.</p>
<p>Sebaliknya berapa banyak keluarga Musim yang mengguyur anak-anak mereka dengan kencang dalam hal keuangan dan material, atau mendorong mereka untuk meraih sebanyak mungkin gaji, jabatan, kedudukan, ketenaran dan materi lain.</p>
<p>Banyak orang tua yang cenderung mengambil alih mimpi anak. Tentu orang tua ingin melihat anak mereka berhasil, sekolah di tempat baik, mendapat jodoh yang baik, tapi itu bukan segalanya dan belum tentu yang diinginkan orang tua juga diinginkan anak.</p>
<p>Anak-anak saat ini dikorbankan untuk jadwal yang padat, bahkan saat mereka di usia kanak-kanak. Orang tua pun tak bisa melepaskan diri dari harapan tinggi pada anak-anak sekaligus melupakan bahwa anak-anak pun berhak menuntut dari orang tua, yakni waktu, kebersamaan, dan kasih sayang. Dalam tradisi para nabi, bila pria menghabiskan waktu bersama keluarga akan dinilai sebagai ibadah.</p>
<p><strong>Keluarga Butuh Cinta Ayah</strong></p>
<p>Cukup memprihatinkan saat ini, banyak keluarga Muslim dikorbankan karena selip pemahaman sang ayah. Pemahaman itu membuat lelaki berkeluarga meninggalkan keluarga demi aktif di komunitas luar.</p>
<p>Saat ini, menurut Maria Hussein, para lelaki kadang berpikir berlebihan dengan menganggap keluarga akan menghalangi kecintaan terhadap Allah, sehingga mereka berjarak dengan istri dan anak-anak. Yang terjadi, para lelaki tipe ini memang kerap terlibat dalam pelayanan komunitas, berlama-lama dalam masjd, menolong orang lain, sementara di rumah hanya berbincang sekedarnya, melakukan aktifitas seperlunya karena energi telah terkuras di luar sebelum akhirnya tidur kecapaian.</p>
<p>Namun, itu masih lebih baik. Maria menuliskan ada lagi tipe yang lebih parah, yakni tipe yang berjarak dari keluarga karena mengejar material. Persamaan kedua tipe ayah itu, sama-sama tidak memandang keluarga sebagai alat untuk beribadah dan mendapat keikhlasan Allah. Kedua tipe ayah di atas menurut Maria, dapat memberi dampak buruk bagi anggota keluarga lain.</p>
<p>Sang istri mungkin, yang awalnya sukarela  mendampingi suami dalam pernikahan dan membebaskan suami melakukan &#8216;hal lebih penting&#8217; untuk Allah, akan mengubah pandangan. Istri bisa jadi merasa diabaikan dan ditolak. Itu pun sangat mungkin terjadi pada anak. Apalagi bila anak mulai merasakan tanda-tanda bila ibu jengkel terhadap ayah.</p>
<p>Dampak kemudian akan lebih buruk. Bila beberapa bulan atau tahun, anak-anak terbiasa tinggal tanpa ayah itu sangat beresiko. Akan muncul perasaan tidak lagi butuh sosok ayah dan akhirnya hilang perasaan kedekatan. Artinya si ayah sebenarnya telah &#8216;kehilangan&#8217; anak mereka. Dalam kehidupan saat ini, tidak cukup bagi seorang ayah hanya datang dan membawa uang lalu merasa pekerjaan sudah beres.</p>
<p>Baik anak lelaki dan perempuan membutuhkan waktu bersama ayah. Anak lelaki yang terabaikan oleh ayah secara psikologi cenderung mengembangkan perilaku kasar, melanggar norma dan hukum dan selip secara seksual saat remaja.</p>
<p>Sementara anak perempuan yang tak mendapat cukup penghargaan, perhatian dan cinta kasih ayah akan lebih rentan dari serangan predator seksual. Hal itu karena, menurut Maria, dibawah sadar, mereka mencari kasih sayang atau peran pengganti ayah. Kebutuhan didorong perasaan putus asa untuk cinta kasih dan pengakuan kerap membuat remaja melakukan perilaku terlarang dan merusak.</p>
<p>Sementara anak-anak berbahagia yang mendapat kesempatan bersama sang ayah untuk bersenang-senang, beraktivitas bersama cenderung sedikit memiliki masalah sosial. Mereka bahkan akan mengembangkan pribadi lebih sehat, stabil dan memenuhi kewajiban pernikahan dengan baik pada tahun-tahun kemudian.<br />
[muslimdaily.net/rpblk]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tidak Perlu Membiasakan Ngomong Cadel Pada Anak]]></title>
<link>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/24/tidak-perlu-membiasakan-ngomong-cadel-pada-anak/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:16:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>hajimiskin</dc:creator>
<guid>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/24/tidak-perlu-membiasakan-ngomong-cadel-pada-anak/</guid>
<description><![CDATA[Uuh atit piyut&#8217;, coba cari kalimat itu dalam kamus Bahasa Indonesia pasti hasilnya nihil. Tapi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://www.muslimdaily.net/berita/babytalk.jpg" alt="" width="320" height="212" align="left" />Uuh atit piyut&#8217;, coba cari kalimat itu dalam kamus Bahasa Indonesia pasti hasilnya nihil. Tapi bahasa cadel seperti itu sudah sangat familiar diucapkan anak kecil. Maksud hati ingin lebih akrab dengan anak, penggunaan bahasa cadel yang keseringan malah bisa bikin anak cadel hingga dewasa.</p>
<p>Saat anak sedang dalam tahap belajar berbicara, terkadang anak belum mampu mengucapkan kata dengan benar atau biasa dikenal dengan istilah cadel. Tapi orangtua sebaiknya tidak mengikuti cara bicara anak tersebut.</p>
<p>Beberapa anak kecil seperti memiliki bahasa &#8216;planet&#8217; yang kadang sulit dimengerti oleh orang lain. Salah satunya adalah anak berbicara cadel yang terdengar lucu sehingga banyak orang dewasa yang justru mengikuti gaya bahasa si anak.</p>
<p>Namun, jika tidak diberi tahu bahwa si anak salah dalam mengucapkan kata, bisa-bisa kebiasaan cadel tersebut terbawa hingga si anak dewasa yang bisa membuat si anak malu karena diejek oleh teman-temannya.</p>
<p><!--more-->Berbicara cadel merupakan suatu hal yang umum terjadi pada anak-anak, tapi sebaiknya orangtua harus segera membiasakan anak untuk dapat mengucapkan kata yang benar. Dalam hal ini kesabaran serta keuletan dari orangtua sangat diperlukan.</p>
<p>Seperti dikutip dari Pediatrics, Kamis (29/10/2009) dibutuhkan waktu untuk dapat mengubah kebiasaan cadel pada anak, salah satunya bisa dengan menggunakan terapi bicara. Terapi ini menyesuaikan dengan karakteristik unik dari masing-masing anak seperti keterampilan motorik oral, kepribadian termasuk motivasi dan emosi si anak itu sendiri. Dan setiap anak membutuhkan waktu yang berbeda-beda.</p>
<p>Beberapa ahli mengatakan bahwa biasanya anak yang belum bisa mengucapkan suatu kata dengan benar, bisa disebabkan oleh belum adanya koordinasi yang sempurna antara bibir dan lidah.</p>
<p>Kunci keberhasilan dari terapi bicara ini adalah anak merasa sukses pada apa yang telah dilakukannya, bahkan untuk mengucapkan kata yang paling sederhana sekalipun. Ucapkan secara perlahan-lahan dan buat anak merasa nyaman dalam menjalani proses ini. Terapi bicara bisa menggunakan potongan teka-teki kata dan mengharuskan si anak mengucapkan kata tersebut, atau bisa juga dengan menggunakan sebuah cerita pendek.</p>
<p>Orangtua sebaiknya tidak membiasakan anak salah dalam mengucapkan suatu kata, beritahu anak bagaimana cara mengucapkan yang benar. Jika anak mengulanginya terus jangan dimarahi, tapi beritahu secara baik dimana letak kesalahan si anak. Jika orangtua tidak ingin memiliki anak yang cadel, biasakan untuk mengucapkan semua kata dengan benar agar si anak memiliki contoh yang baik. Mengikuti anak berbicara cadel bukanlah suatu cara untuk mendekatkan diri yang benar dengan si anak.<br />
[muslimdaily.net/dtk]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bolehkah Sholat Sambil Menggendong Anak yang Memakai Popok Diapers?]]></title>
<link>http://alhilyah.wordpress.com/2009/11/16/bolehkah-sholat-sambil-menggendong-anak-yang-memakai-popok-diapers/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 03:17:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>alhilyah</dc:creator>
<guid>http://alhilyah.wordpress.com/2009/11/16/bolehkah-sholat-sambil-menggendong-anak-yang-memakai-popok-diapers/</guid>
<description><![CDATA[Seringkali seorang ibu harus membawa anaknya yang masih bayi untuk ikut bersamanya ketika sholat..da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-824" style="margin:4px;" title="popok" src="http://ummushilah.0fees.net/wordpress/wp-content/uploads/2009/11/popok.jpg" alt="popok" width="149" height="127" /><em>Seringkali seorang ibu harus membawa anaknya yang masih bayi untuk ikut bersamanya ketika sholat..dan seringkali seorang ibu harus menggendong anaknya tersebut karena menangis atau berjalan-jalan kesana kemari..</em></p>
<p><em>Menggendong anak ketika sholat memang pernah dicontohkan oleh Nabi shollallohu alaihi wasallam sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Abu Qotadah : bahwasanya nabi shollallohu alaihi wasallam pernah menggendong Umamah bintu Zainab (cucunya) ketika sholat. Bila beliau sujud, beliau beliau meletakkannya.</em></p>
<p><em>Namun bagaimana jika anak tersebut memakai popok diapers seperti pada zaman sekarang, dimana di dalamnya terdapat najis? Apakah dibolehkan bagi seorang ibu menggendong anak tersebut? Berikut jawaban Ustadz Muhammad Arifin Badri hafidhohulloh mengenai hal ini..</em></p>
<p><em>Semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi para ibu..</em></p>
<p align="center">Oleh : Ustadz Muhammad Arifin Badri <em>hafidzohulloh</em></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum wr. wb.</em></p>
<p>Ketika berbincang dengan teman yang sudah menjadi ummahat, beliau bercerita, jika ia sedang sholat dan si anak mengangis maka ia akan ambil anaknya dan menggendongnya, jadi ia sholat dengan tetap menggendong si anak. Ketika ana tanyakan padanya, apakah rasul dulu juga seperti itu? ia bilang ya, apakah itu benar ustadz? apakah sholatnya tetap sah? karena setahu ana kan hanya diperbolehkan tiga gerakan saja? bagaimanakah sholat Rasulullah. <em>Jazakumullah</em> jika dijelaskan, ini sangat berguna jika sudah menjadi ummahat kelak. tentunya seorang ibu akan sangat resah jika anak menangis, sholat tdk dapat <em>khusyu’</em> dan tentunya akan ringan rasa itu jika diperbolehkan menggendong anak dalam sholat.</p>
<p><strong>Jawaban Ustadz:</strong></p>
<p><em><!--more-->Alhamdulillah</em>, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rosululloh, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat, <em>amiin</em>.</p>
<p>Langsung saja, betul, dahulu Rosululloh <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> kadang kala mengangkat cucunya, Hasan, Husain, Umamah <em>rodhiallohu anhum</em> ketika sedang sholat, bahkan suatu saat ketika beliau sedang sholat, beliau menggendong cucunya yang bernama Umamah bin Abil ‘Ash, sehingga ketika sedang berdiri, beliau menggendongnya, dan ketika ruku’ dan sujud, beliau menurunkannya, padahal kala itu beliau sholat mengimami para sahabatnya. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori dan Muslim dan juga lainnya. Oleh karena itu para ulama’ menegaskan bahwa boleh bagi orang yang sedang sholat untuk mengangkat, atau menggendong anak kecil.</p>
<p><strong>Akan tetapi ada satu hal yang perlu diingat, yaitu </strong><strong>ketika kita hendak menggendong anak kecil dalam sholat, maka anak tersebut harus dalam keadaan suci, tidak sedang ngompol, atau bajunya dalam keadaan najis, atau mengenakan popok atau diapers yang tentunya berisikan najis.</strong> Sebab orang yang sedang sholat diperintahkan untuk meninggalkan atau melepaskan setiap yang najis dari pakaian, atau sandal atau kaus kaki atau tempat ia sholat.</p>
<p>Dengan demikian bila anak kita mengenakan diapers, maka kita tidak boleh menggendongnya, karena biasanya si anak telah pipis atau bahkan buang air besar di dalamnya, sehingga bila kita menggendongnya berarti kita membawa najis ketika sedang sholat, dan ini tentunya terlarang. Dahulu Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah sholat mengenakan sandal, dan ketika di tengah-tengah sholat tiba-tiba beliau melepaskan kedua sandalnya, sehingga para sahabat pun ikut-ikutan melepaskan sandalnya. Seusai sholat Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengabarkan bahwa ia diberi tahu oleh Malaikat Jibril bahwa di sandalnya terdapat kotoran (najis), oleh karena itu beliau melepaskan sandalnya. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Al Baihaqi, Ad Darimi dan lain-lain. Semoga jawaban pendek nan singkat ini cukup memberikan gambaran bagi kita semua. <em>Wallohu a’lam bisshowab.</em></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Penanya: Winna</p>
<p>Dijawab Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri</p>
<p>Sumber : <a href="http://muslim.or.id/soaljawab/fiqh-dan-muamalah/soal-jawab-sholat-sambil-menggendong-anak.html" target="_blank">muslim.or.id</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mendidik Anak Menunaikan Sholat]]></title>
<link>http://keepsmiling4mom.wordpress.com/2009/11/15/mendidik-anak-menunaikan-sholat/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 11:59:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>aZti aRlina</dc:creator>
<guid>http://keepsmiling4mom.wordpress.com/2009/11/15/mendidik-anak-menunaikan-sholat/</guid>
<description><![CDATA[Alkisah, Abu Bakar As-Shidiq Radhiyalllahu’anhu hendak berangkat menuju masjid untuk menjadi imam sh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Alkisah, Abu Bakar As-Shidiq <em>Radhiyalllahu’anhu</em> hendak berangkat menuju masjid untuk menjadi imam shalat. Ketika melewati rumah putranya Abdullah, ia mendengar suara candaan mesra Abdullah dengan istrinya Atikah, seorang wanita yang cantik sholihah, yang baru saja dinikahi anaknya beberapa waktu lalu. Abu Bakar berlalu saja menuju masjid, dengan harapan sang anak akan segera menyusul bersama orang-orang beriman lainnya untuk melaksanakan sholat fardhu berjama’ah.</p>
<p>Begitu selesai mengimami sholat, yang pertama kali dicari Abu Bakar dari jamaahnya adalah anaknya,Abdullah. namun Abdullah tidak ada diantara para jamaah lainnya. Ketika pulang, Abu Bakar  melewati rumah anaknya kembali, masih terdengar suara canda mesra penuh kebahagiaan dari sepasang pengantin baru. Abu Bakar beristighfar berkali-kali, dengan pelan ia ketuk pintu rumah anaknya.</p>
<p>Abdullah begitu terpengarah melihat yang datang adalah ayahnya. Begitupun Atikah. Kepada Abdullah, Abu Bakar berkata : “Wahai anakku, kamu dapatkan kebahagiaan duniawi bersama istrimu, tapi engkau lalaikan perintah Allah, engkau lalaikan sholat berjama’ah”</p>
<p>“dan kau Atikah, engkau tidak bisa membahagiakan anakku. Kecantikamu, keikhlasanmu untuk berbakti kepada suami, telah menyebabkan suamimu lalai dalam mengerjakan shalat berjamaah”</p>
<p>“maka hari ini..” kata Abu Bakar kepada Abdullah, “ceraikanlah istrimu! pisahkan dia dari tempat tinggalmu. Talak dia! Dan anggap dia seperti wanita yang lain juga” ujar Abu Bakar tegas. Kedua pasangan itu pun pucat pasi. Abdullah pun akhirnya menceraikan Atikah.</p>
<p>Waktu berjalan. Abu Bakar melihat perubahan pada anaknya. Abu Bakar melihat penderitaan seorang suami yang terpaksa menceraikan istri yang sangat dicintainya. Sampai suatu hari, Abu Bakar mengizinkan Abdullah untuk rujuk kepada Atikah. Melainkan dengan syarat, jadikan ini pelajaran. “Jadikan ini sebagai pelajaran kecintaan kepada jihad fi sabilillah diatas kecintaanmu kepada siapa saja, termasuk kepada istrimu Atikah”.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Peran Orang Tua<br />
</strong>Cuplikan cerita diatas merupakan pelajaran yang bisa direnungi bersama, betapa para sahabat menjadikan sholat berjama’ah sebagai prioritas utama di atas apapun. Dan yang tak terlupakan dari siratan cerita tersebut adalah peran Abu Bakar. Peran seorang ayah dalam mendidik anaknya untuk sholat. Begitu perhatiannya hingga ia tidak lepas tanggung jawab meskipun sang anak sudah beranjak dewasa.</p>
<p>Hal tersebut juga sudah dicontohkan oleh Bapak para Anbiya, Ibrahim as. Ketika ia diperintahkan Allah untuk meninggalkan anak dan istrinya di Makkah, ia berdo’a “ Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat….” (Qs: Ibrahim : 37).</p>
<p>Dari sana terlihat bagaimana peran seorang Ibrahim dalam pendidikan terhadap anaknya. Langkah awal yang Ibrahim lakukan dalam pendidikan anaknya adalah mencarikan lingkungan yang dekat dengan masjid. Karena dari sanalah akan tebentuk anak-anak yang cinta masjid, dan terbentuk di lingkungan yang islami.</p>
<p>Dalam surah Ibrahim ayat 40 juga dipertegas bagaimana Ibrahim mendoakan anak cucunya agar senantiasa mendirikan sholat. Hal ini menekankan bahwa memang sholat adalah hal yang harus dilakukan di setiap masa, bukan hanya pada zaman ibrahim, melainkan cucu dan keturuannya. Sholat merupakan pembeda antar muslim dengan kafir, pembeda antara umat Muhammad dengan umat yang lainnya.</p>
<p>Rasulluah dalam haditsnya juga memerintahkan kepada orang tua untuk mengajarkan anaknya sholat ketika usia 7 tahun, dan jika pada usia 10 tahun belum mengerjakan sholat, orang tua diperbolehkan untuk memukulnya. Ini menunjukkan bahwa mendidik sholat bukanlah hal yang mudah. Bahkan harus dimulai sejak usia dini, bukan baligh.</p>
<p>Dalam ilmu pendidikan anak, seorang anak usia 0-5 tahun merupakan ‘peniru’ yang baik. Hendaknya orang tua peka dan menjadikan ini kesempatan untuk memberikan tauladan yang bisa ditiru oleh anak-anak mereka. Termasuk dalam masalah sholat.  Rasulullah pun mencontohkan hal yang sama, dalam hadits dari Abu Qatadah disebutkan “Rasulullah sholat bersama kami sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika ia sujud, diletakkanya Umamah. Dan bila ia berdiri digendongnya”. Sungguh sebuah tauladan yang sempurna, bagaimana menanamkan positive feeling  tentang sholat pada anak di usia dini.</p>
<p>Sehingga ketika anak berusia 7 tahun, orang tua tidak lagi sulit memerintahkan anaknya, karena memang sang anak sudah mendapatkan tauladan yang biasa ia lihat sehari-hari. Namun yang memprihatinkan sekarang, ternyata masih banyak orang tua yang tidak mengerti akan hal tersebut. Anak hanya diperlihatkan akan kesibukan orang tuanya, yang berangkat kerja sebelum subuh, dan pulang setelah isya. Lalu, kapan anak melihat orang tuanya sholat?</p>
<p>Keluarga Wirianingsih nampaknya patut dijadikan contoh. Ibu dari sepuluh anak penghafal al-Qur’an ini juga menceritakan, masa-masa ketika pertama ia dan suami mendidik anak-anaknya untuk sholat berjama’ah. “ Langkah awalnya adalah memberikan tauladan” ujar wiwi, sapaan akrab wirrianingsih, “dan ini tak lepas dari peran bapaknya anak-anak”.</p>
<p>Keberhasilan Wiwi dalam mendidik anak-anaknya memang sempat menjadi perhatian para ibu. Bagaimana tidak, anak-anak dari Istri Mutammimul Ula, anggota komisi II DPR dari fraksi PKS ini, senantiasa dekat dengan masjid. Bahkan ketika SC bersilaturahmi ke rumahnya -di komplk DPR Kali Bata-menjelang maghrib, anaknya yang sedang asyik bermain sepeda pun bergegas siap-siap untuk sholat maghrib berjamaah di masjid. “Alhamdulillah, mereka tidak sulit lagi disuruh. Kalo sedang main komputer siang-siang misalnya, kemudian terdengar adzan, dengan refleks mereka langsung mematikan komputer dan bergegas ke masjid” ujar aktivis Persatuan Muslimah ini.  Maka tak heran jika anak-anaknya hafal siapa saja anggota DPR yang biasa sholat subuh di masjid dan yang tidak.<br />
Namun Wiwi mengelak  jika semua itu adalah  hasil dari jerih payahnya sendiri dalam mendidik anak. “Pendidikan anak adalah integrated orang tua” kata Wiwi. Dan hal ini ia pertegas lagi dalam kata pengantar yang ia tulis, di sebuah  buku bertema keluarga, disana ia menjelaskan bahwa struktur pendidikan rumah tangganya dibangun dari setting pendidikan sang suami. “Yang membentuk anak-anak, termasuk saya, adalah Bapaknya. Saya pelaksananya saja. Ibarat membangun bangunan, suami saya membuat kerangkanya, dan saya yang mengisinya” jelas Wiwi.</p>
<p>Terlebih dalam mendidik anak untuk sholat berjama’ah di masjid. Wiwi mengaku suaminyalah yang paling berperan disini. “sholat di masjid itukan sunah yang utama bagi laki-laki, jadi Bapaknya yang lebih berperan. Saya hanya mengkondisikannya saja” kata wiwi .</p>
<p>Hal tersebut juga diakui oleh Muatammimul Ula, sejak anak pertamanya sudah dibiasakan dibangunkan subuh hari. Dan ketika anak-anak sudah bisa disiplin dalam hal ‘ngompol’, ia selalu mengajaknya ke masjid. “Biasanya saya bangunkan, kalo susah saya <em>gendong</em> ke kamar mandi untuk di wudhukan, pokoknya bagaimana caranya agar mereka harus sholat di masjid” ujar pria yang akrab disapa Tamim ini. Wiwi pun demikian, ia perlu menyiapkan kokoh dan gamis baru agar anak-anaknya semangat bangun untuk sholat di masjid, ” Biasanya anak-anak senang kalo pake kokoh baru, atau pakai gamis. Suasananya jadi ada dan mereka jadi semangat ” kata Wiwi menjelaskan.</p>
<p>Mendidik anak untuk istiqamah dalam sholat juga bukanlah hal yang mudah, hal ini terlihat dari bagaimana cerita Abu Bakar mendidik anaknya Abdullah. Begitupun bagi kedua pasangan ini. Tamim yang sibuk dengan pekerjaannya di bangku DPR, dan Wiwi yang sering mendapat undangan untuk mengisi acara di beberapa tempat ini,  selalu berusaha untuk tetap mengkontrol aktifitas anaknya meskipun hanya melalui telepon.</p>
<p>Orang tua memang mempunyai tugas yang berat dalam hal ini. Namun semuanya akan lebih mudah ketika orang tua sadar bahwa anak adalah titipan/ amanah dari Allah Swt. Sehingga sudah menjadi kewajiban orang tualah mendidik anak untuk mencintai Allah. Sebagaimana Alqur’an menyiratkan sebuah pesan kepada para orang tua, tentang bagaimana Ayah dambaan Alqur’an ini, Luqman, menasihati anaknya, <em>”Ya Bunayya laa tusyrik billah. Inna syirka ladzulmun ’adzhim.”</em> “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Kini, sudahkah hal demikian kita lakukan?</p>
<p>*Azti, Pernah di muat di SC Megazine</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Program Pengajian Anak Usia 5 - 12 Tahun]]></title>
<link>http://ldiiokutimur.wordpress.com/2009/11/14/program-pengajian-anak-usia-5-12-tahun/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 06:18:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>kholil</dc:creator>
<guid>http://ldiiokutimur.wordpress.com/2009/11/14/program-pengajian-anak-usia-5-12-tahun/</guid>
<description><![CDATA[PROGRAM PENGAJIAN ANAK USIA 5 &#8211; 12 TAHUN Program Pengajian Cabe Rawit LATAR BELAKANG Semakin b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[PROGRAM PENGAJIAN ANAK USIA 5 &#8211; 12 TAHUN Program Pengajian Cabe Rawit LATAR BELAKANG Semakin b]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cerita dari Sekolah Hapalan Quran Anak Balita(caberawit)]]></title>
<link>http://ldiiokutimur.wordpress.com/2009/11/14/cerita-dari-sekolah-hapalan-quran-anak-balitacaberawit/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 06:12:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>kholil</dc:creator>
<guid>http://ldiiokutimur.wordpress.com/2009/11/14/cerita-dari-sekolah-hapalan-quran-anak-balitacaberawit/</guid>
<description><![CDATA[Cerita dari Sekolah Hapalan Quran Anak Balita(caberawit) cerita bagus dari orang kita yg di negeri i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Cerita dari Sekolah Hapalan Quran Anak Balita(caberawit) cerita bagus dari orang kita yg di negeri i]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pendidikan Anak Usia Dini]]></title>
<link>http://ldiiokutimur.wordpress.com/2009/11/14/pendidikan-anak-usia-dini/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 06:03:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>kholil</dc:creator>
<guid>http://ldiiokutimur.wordpress.com/2009/11/14/pendidikan-anak-usia-dini/</guid>
<description><![CDATA[Pendidikan anak usia dini Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Pendidikan anak usia d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pendidikan anak usia dini Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Pendidikan anak usia d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Biasakan Belajar dari Rumah]]></title>
<link>http://desicandra.wordpress.com/2009/11/12/biasakan-belajar-dari-rumah/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 03:44:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>desicandra</dc:creator>
<guid>http://desicandra.wordpress.com/2009/11/12/biasakan-belajar-dari-rumah/</guid>
<description><![CDATA[Membiasakan belajar pada anak dimulai dari orang tua dan lingkungan rumah. Orang tua perlu menumbuhk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#008000;">Membiasakan belajar pada anak dimulai dari orang tua dan lingkungan<img class="alignright size-full wp-image-277" title="baby book" src="http://desicandra.wordpress.com/files/2009/11/baby-book.jpeg" alt="baby book" width="135" height="117" /> rumah. Orang tua perlu menumbuhkan kebiasaan dan kecintaan belajar dalam dirinya, barulah bisa menularkannya pada anak-anak. Sebisa mungkin lakukan cara berikut:</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#008000;"><span style="color:#800000;"><!--more-->Terbiasa untuk tidak menunda pekerjaan</span>, karena      anak akan melihat hal itu dan bisa mencontohnya. Jika orang tua rajin dan      contoh kongkret itu terlihat oleh buah hati anda, Insya Allah ia pun      mencontoh kebiasaan positif tersebut.</span></li>
<li><span style="color:#008000;"><span style="color:#800000;">Membiasakan diri mengembangkan      pengetahuan dengan membaca</span>, lalu ajak anak-anak untuk ikut berpartisipasi      dalam mencari buku-buku yang diperlukan. Kemudian, libatkan anak untuk      mengetahui makna isi buku tersebut dengan membaca bersama-sama.</span></li>
<li><span style="color:#008000;"><span style="color:#800000;">Bereksplorasi bersama buah hati</span>,      misalnya berkebun atau membersihkan kolam ikan. Dampingi dan berikan      penjelasan dengan cara menyenangkan karena dalam bereksplorasi itu      terdapat pembelajaran untuk buah hati anda.</span></li>
<li><span style="color:#008000;"><span style="color:#800000;">Terapkan pola asuh baik</span>, dimana      peraturan-peraturan yang anda buat tidak membuat anak tertekan</span></li>
</ol>
<p><span style="color:#008000;">Tambahan:</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Satu hal yang juga perlu diwaspadai orang tua adalah<strong> kebiasaan buruk ayah / ibu</strong> di masa muda yang tidak/belum ditinggalkan ketika menjadi orang tua, seperti:</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#800000;">malas beribadah, tidak sholat lima waktu berjamaah      di masjid untuk kaum laki-laki.</span></li>
<li><span style="color:#800000;">orang tua tidak menutup aurotnya dengan benar di      depan orang-orang yang tidak berhak melihat aurotnya</span></li>
<li><span style="color:#800000;">makan dan minum dengan tangan kiri, bahkan dengan      berdiri atau berjalan</span></li>
<li><span style="color:#800000;">menghabiskan waktu luang dengan banyak tidur atau      banyak menonton televisi</span></li>
<li><span style="color:#800000;">malas mandi</span></li>
<li><span style="color:#800000;">merokok</span></li>
<li><span style="color:#800000;">mengumpat</span></li>
<li><span style="color:#800000;">biasa bersendawa atau –maaf- kentut dengan suara      keras</span></li>
<li><span style="color:#800000;"> susah makan      atau terlalu pilih-pilih makanan</span></li>
<li><span style="color:#800000;">suka ngerumpi/menggosip bagi ibu-ibu</span></li>
<li><span style="color:#800000;">jorok, kurang menyukai kebersihan dan kerapihan</span></li>
<li><span style="color:#800000;">menggunakan bahasa yang kasar ketika berbicara</span></li>
<li><span style="color:#800000;">mengutil</span></li>
<li><span style="color:#800000;">mengomel</span></li>
<li><span style="color:#800000;">main curang/licik, main fitnah, </span></li>
<li><span style="color:#800000;">boros dalam belanja</span></li>
<li><span style="color:#800000;">suka sekali njajan</span></li>
<li><span style="color:#800000;">dll.</span></li>
</ol>
<p><span style="color:#008000;">Sering kurang kita sadari bahwa kebiasaan-kebiasaan kita akan dilihat dan kemudian ditiru oleh anak, karena itu luangkan selalu waktu untuk berintrospeksi diri dan berusaha mengurangi/menghilangkan kebiasaan buruk kita. Semoga kita dimudahkan ALLAH untuk mendidik anak kita dengan benar. Amiin.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">(Sumber: Parents Guide, Vol. VII, No. (, Juni 2009)</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pesan Untuk Pendidik Anak]]></title>
<link>http://anakshalih.wordpress.com/2009/11/11/pesan-untuk-pendidik-anak-2/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 14:22:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>anakshalihcom</dc:creator>
<guid>http://anakshalih.wordpress.com/2009/11/11/pesan-untuk-pendidik-anak-2/</guid>
<description><![CDATA[Sesungguhnya nikmat (yang diberikan) Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tidak terhitung dan diantara ni]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sesungguhnya nikmat (yang diberikan) Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tidak terhitung dan diantara ni]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dauroh (LIVE): TIPS Agar Anak Anda Tidak Menjadi TERORIS]]></title>
<link>http://samosir.wordpress.com/2009/11/11/dauroh-live-tips-agar-anak-anda-tidak-menjadi-teroris/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 03:31:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>anas as-samosir</dc:creator>
<guid>http://samosir.wordpress.com/2009/11/11/dauroh-live-tips-agar-anak-anda-tidak-menjadi-teroris/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Salafy.or.id dan Darussunnah.or.id Bismillahirrahmanirrahim Dengan Mengharap Ridlo Allah Ta’al]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Salafy.or.id dan Darussunnah.or.id Bismillahirrahmanirrahim Dengan Mengharap Ridlo Allah Ta’al]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Kita Melukis?]]></title>
<link>http://backrest.wordpress.com/2009/11/10/mengapa-kita-melukis/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 03:42:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>terusmuncul</dc:creator>
<guid>http://backrest.wordpress.com/2009/11/10/mengapa-kita-melukis/</guid>
<description><![CDATA[Sejak awal masa kehidupannya manusia gemar menggores-gores; baik dengan benda yang keras, dengan uju]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-size:medium;"></p>
<p></span>Sejak awal masa kehidupannya manusia gemar menggores-gores; baik dengan benda yang keras, dengan ujung jari tangan di permukaan tanah. Tujuannya adalah untuk memperjelas pengungkapan atau uraian pikiran, ide, perasaan, dan lain-lain. Menampilkan suatu pemikiran secara visual melalui gambar adalah suatu kegiatan yang relatif mudah dan dapat dilakukan semua orang, termasuk anak. Seni lukis anak dapat menjadi media bagi anak untuk mengungkapkan perasaannya, berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya dengan karakteristik masing-masing anak.</p>
<p>Pendidikan <a href="http://id.88db.com/id/Services/Post_Detail.page/Lesson_Instruction/Child_Courses_Lesson/?PostID=272725">kursus gambar</a> bagi anak tidak hanya melatih ketrampilan tangan, tetapi juga melatih mata, pembentukan persepsi serta menumbuhkan rasa estetika. Pendidikan dan kursus gambar/melukis tidak mutlak menjadikan seorang anak berprofesi sebagai pelukis, tetapi ia dapat menjadi “pelukis” dalam kehidupannya sehari-hari, menjadi seorang yang kreatif, inovatif, dinamis, berjiwa besar dalam keberagaman profesi yang dipilih oleh anak tersebut.</p>
<p>Metode pendidikan dari tempat <a href="http://id.88db.com/id/Services/Post_Detail.page/Lesson_Instruction/Child_Courses_Lesson/?PostID=272725">kursus gambar</a> bertujuan membantu anak mengembangkan bakat dan kreativitas melukis, menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri. Dengan sistem kelas non formal, anak dapat belajar melukis secara santai, bebas berekspresi mengungkapkan ide, dan adanya interaksi dengan teman sebaya akan menciptakan suatu iklim kompetisi yang sehat, saling belajar dari kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan terus mengasah ketrampilan sehingga ia dapat menjadi “pelukis” sejati dalam kehidupannya.</p>
<p><span style="font-size:xx-small;">darmaart.blogspot.com</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menghitung Biaya Pendidikan Anak Anda (Bagian 1)]]></title>
<link>http://modestadersonowati.wordpress.com/2009/11/09/menghitung-biaya-pendidikan-anak-anda/</link>
<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 15:18:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Modesta Dersonowati</dc:creator>
<guid>http://modestadersonowati.wordpress.com/2009/11/09/menghitung-biaya-pendidikan-anak-anda/</guid>
<description><![CDATA[Pernahkah Anda memikirkan sejak dini, ketika istri Anda sedang mengandung anak pertama Anda, kelak A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pernahkah Anda memikirkan sejak dini, ketika istri Anda sedang mengandung anak pertama Anda, kelak A]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hidupku adalah Asuransi Bagi Istri dan Anak-Anakku.]]></title>
<link>http://safir78.wordpress.com/2009/11/09/hidupku-adalah-asuransi-bagi-istri-dan-anak-anakku/</link>
<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 09:02:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>happy / prusafir78</dc:creator>
<guid>http://safir78.wordpress.com/2009/11/09/hidupku-adalah-asuransi-bagi-istri-dan-anak-anakku/</guid>
<description><![CDATA[Hidupku Adalah Asuransi Bagi Istri dan Anak-anakku Hidup terus berjalan melewati berbagai tahapan. I]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Hidupku Adalah Asuransi Bagi Istri dan Anak-anakku Hidup terus berjalan melewati berbagai tahapan. I]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Belajar dan Bermain dengan Game Edukatif]]></title>
<link>http://duniarumah.wordpress.com/2009/11/08/belajar-dan-bermain-dengan-game-edukatif/</link>
<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 15:05:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>duniarumah</dc:creator>
<guid>http://duniarumah.wordpress.com/2009/11/08/belajar-dan-bermain-dengan-game-edukatif/</guid>
<description><![CDATA[Children like playing, karena dunia anak memang dunia bermain. Dengan melihat tabiat anak yang suka ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Children like playing</em>, karena dunia anak memang dunia bermain. Dengan  melihat tabiat anak yang suka bermain itu, kita tak boleh melupakan bahwa mereka juga harus belajar tentang banyak hal. Bukan berarti kita melarang mereka bermain dan memaksa untuk belajar, tetapi kita harus mencari celah  bagaimana menjadikan suasana bermain menjadi saat-saat yang tepat untuk menggali dan mengembangkan potensinya.<!--more--></p>
<p>Salah satu karakter belajar anak adalah dengan bermain. Sekolah rumah yang kita upayakan tidak serta merta hanya menjadikan anak punya kemampuan menghafal atau mengerjakan soal-soal dengan baik, tetapi anak bisa memecahkan masalah, memperolah pengetahuan dan mengembangkan potensi di dirinya. Pengalaman langsung yang mereka dapatkan akan semakin memperkuat mereka dalam mengolah kemampuan dan menyerap informasi dengan baik.</p>
<p>Salah satu stimulasi yang pas buat mereka adalah dengan memberikan variasi permainan yang edukatif. Tak perlu biaya mahal untuk pengadaan alat permainan edukatif (APE), karena kita bisa memanfatkan barang bekas yang ada di rumah kita. Misal kardus, botol bekas bedak/kosmetik, tanggalan, gambar dari majalah, dll. </p>
<p>Kelihatannya memang simpel, tapi banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Selain anak bisa ber-having fun, kita sebagai pendidik lebih mudah memetakan kelemahan dan kelebihan anak berdasarkan minat dan bakatnya.  Nah, berikut ini adalah beberapa contoh permainan yang bisa kita berikan kepada anak. Permainan ini dibagi menjadi 7 kategori. Angka di dalam kurung merupakan acuan umur yang cocok untuk aktivitas tersebut.</p>
<p><strong>Kategori <em>Language and Reading</em></strong><br />
<em>The Silence Game</em> (2-6)<br />
	Ajaklah anak anda diam sediam-diamnya (tak perlu memaksa mereka untuk diam, tapi pahamkan bahwa ini adalah permainan dan bukan suruhan untuk diam), kemudian coba dengarkan suara-suara yang ada. Setelah beberapa saat, tanyalah anak anda dengan berbisik, apa saja yang ia dengar.<br />
	<em>Game</em> ini melatih self control dan observation skill.</p>
<p><em>The Object Game</em> (3-4)<br />
	Sediakan sekelompok benda yang dimulai dengan huruf depan yang sama. Misal: pena, pensil, penghapus. Perkenalkan benda tersebut satu persatu, sambil melafalkan nama-namanya dengan jelas dan bahwasannya benda –benda tersebut dimulai dengan huruf p. Lalu perkenalkan kelompok benda kedua, misal buku, bola, balon. Lakukan dengan cara yang sama. Kemudian suruh dia mengambil satu barang yang dimulai dengan huruf b lalu dengan p dan seterusnya.<br />
	<em>Game</em> ini melatih mengenal beginning sound.</p>
<p><em>Shapes</em> (4-5)<br />
	Buatlah bentuk-bnetuk geometris dari kertas karton yang cukup tebal. Misal persegi, lingkaran, segitiga, dll. Perkenalkan bentuk-bentuk itu pada anak dan suruh ia menjiplaknya dengan meletakkan karton berbentuk diatas kertas putih dengan menelusuri tepinya dengan pensil.<br />
	Game  ini melatih tangan mengontrol alat tulis.</p>
<p><em>Words Around the House</em> (5-6)<br />
	Buat label dengan ukuran yang agak besar nama-nama benda di sekitar rumah dengan menggunakan karton putih dan spidol. Mulai dari meja, kursi, jendela, pintu,dll. Kemudian minta anak meletakkan label pada masing-masing benda.<br />
	<em>Game</em> ini melatih anak belajar membaca.</p>
<p><strong>Kategori<em> Mathematics</em></strong><br />
<em>Sorting Buttons</em> (2-3)<br />
	Sediakan beberapa kancing dalam berbagai bentuk dan ukuran. Sediakan juga wadah apa saja. Tutup mata anak dengan sapu tangan atau yang lainny dan suruh anak menyortir kancing untuk dimasukkan ke dalam wadah. Hanya kancing yang berukuran dan berbentuk sama yang boleh masuk wadah.<br />
	<em>Game</em> ini melatih indera peraba.</p>
<p><em>Flat Shapes</em> (3-4)<br />
	Ambil beberapa karton atau bekas kartu yang ukurannya sama. Gambarlah bentuk geometris di tengahnya (bisa lingkaran, segitiga atau persegi), lalu potonglah dengan silet. Jadi kita memiliki bentuk geimetris dan bingkainya. Mintalah anak memcocokkan bentuk-bentuk tersebut pada bingkainya.<br />
	<em>Game</em> ini melatih anak mengenal bentuk dengan melibatkan indera peraba dan indera penglihatan.</p>
<p><strong>Kategori Geografi</strong><br />
<em>Plan of the house</em> (3-4)<br />
	Buatlah peta rumah anda dengan kertas besar. Kemudian guntinglah gambar-gambar perabot yang ada di majalah, misalnya sofa, lemari es, ranjang, meja makan,dll. Mintalah anak menempelkan perabot-perabot yang ada sesuai dengan ruangannya.<br />
	<em>Game</em> ini adalah awal pengenalan peta.</p>
<p><em>Where do I live?</em> (4-5)<br />
	Kumpulkan gambar-gambar tentang rumah yang berbeda (rumah joglo, iglo, sarang lebah, sangkar burung,dll). Minta anak memasangkan rumah tersebut dengan si empunya.</p>
<p><strong>Kategory <em>Science and Nature</em></strong><br />
<em>Cooking </em>(2-3)<br />
	Ajak anak beraktivitas di dapur. Libatkan mereka dalam proses membuat makanan. Misalya mencampur bahan atau membuat kue-kue kering atau makanan ringan lainnya.<br />
	Anak bisa belajar banyak dengan keterlibatannya langsung di dapur, seperti benda apa saja yang larut dalam air, bagaimana benda berubah karena dingin atau panas, mengenal macam-macam rasa (manis,asam, asin, pahit,dll)</p>
<p><em>Floating and sinking </em>(3-4)<br />
	Aktivitas ini bisa dilakukan di dapur atau di kamar mandi. Minta ia mencuci buah atau sayuran. Dari aktivitas yang dilakukannya itu anak belajar membedakan buah/sayur yang mengapung (floating), mana yang tenggelam (sinking). </p>
<p><em>Food Groups Game</em> (3-6)<br />
	Sediakan kertas besar dan gambar dari berbagai makanan (bisa menggunting dari majalah atau koran). Jenis-jenis makanan itu dibagi dalam 7 kategori, yaitu sayuran/buah, daging, susu, karbohidrat, kacang-kacangan, lemak, gula. Mintalah anak menempelkan gambar di kelompok yang benar.<br />
	<em>Game</em> ini untuk memperkenalkan keperdulian dan kebiasaan makan yang baik.</p>
<p><strong>Kategori <em>Sensory Development</em>.</strong><br />
<em>Mystery bag</em> (2-3)<br />
	Sediakan sebuah kantong. Masukkan benda ke dalam kantong (misalnya: kelereng, tisu, pensil, dll), kemudian suruh anak menebak benda apa itu dengan memasukkan tangannya ke dalam kantong tanpa boleh melihat ke dalamnya.<br />
	<em>Game</em> ini melatih indera peraba.</p>
<p><em>Sorting by Sound</em> (3-4)<br />
	Kumpulkan 10 botol bekas bedak bayi,sampo, dll yang sama persis dan tidak transparan. Kemudian cari 5 jenis benda kecil, misalnya: koin uang, manik-manik, potongan kertas, pasir atau kerang. Benda-benda ini nantinya akan dimasukkan ke dalam botol, oleh karena itu carilah benda yang beragam bunyinya ketika dikocok. Ada koin uang yang bergemerincing atau potongan kertas yang hampir tak berbunyi.<br />
	Masukkan koin uang, manik-manik, potongan kertas, pasir dan kerang. Masing-masing dua botol (sepasang). Kemudian suruh anak mencari pasangan botol dengan mengocok-ngocok botol tersebut dan membandingkan bunyi yang ditimbulkan isinya.<br />
	Game ini melatih indera pendengaran.</p>
<p><em>Memos</em> (5-6)<br />
Ini merupakan game memory card. Kartu dibalik di atas meja, lalu anak membuka dua kartu. Jika sama boleh diambil, jika tidak harus dibalik kembali.<br />
	Game ini melatih memori.</p>
<p><strong>Kategori <em>History</em></strong><br />
<em>Timeline of your child’s day</em> (3-4)<br />
	Sediakan kertas yang panjang dan beri garis dengan anka (jam) dari bangun tidur sampai mereka kembali tidur. Sediakan gambar aktivitas ketika sedang tidur, makan, belajar, dll. Suruh anak menaruh gambar-gambar tersebut di tempat/angka yang benar sesuai dengan jadwal harian anak..<br />
	Game ini membuat anak peka terhadap jalannya waktu dan membantu  memahami konsep waktu.</p>
<p><strong>Kategory <em>arts and Craft</em></strong><br />
<em>Printing Hands and Feet </em>(2-3)<br />
	Sediakan kertas besar ( bekas tanggalan bagian belakang yang masih kosong) dan cat air. Mintalah anak membuat cap dari tangan atau kakinya. Hasil karyanya bisa ditempelkan, dengan begitu anak belajar menghargai hasil karyanya.<br />
	Game ini mengembangkan sense of design (rasa seni) dan kreativitas.</p>
<p><em>Tearing, cutting and colage</em> (3-5)<br />
	Sediakan kertas kado, kertas tisu atau bekas kartu dan majalah. Minta anak merobek atau menggunting sesukanya. Kemudian suruh ia menempel di atas kertas putih.<br />
	<em>Game </em>ini melatih kreativitas dan merasakan tekstur yang berbeda dari bermacam-macam kertas (melatih indera peraba)</p>
<p><em>Sewing</em> (5-6)<br />
	Pada usia lima tahun anak sudah boleh menjahit. Sediakan benang dan jarum yang agak besar dan tidak telalu tajam. Sediakan pula kain yang berserat besar. Biarkan ia menjahit.<br />
	<em>Game</em> ini melatih motorik halus</p>
<p>	Nah, tentunya masih banyak lagi permainan yang bisa kita berikan pada anak. Anggapan kebanyakan orang bahwa menyelenggarakan sekolah rumah itu perlu biaya banyak, karena untuk pengadaan APE sangat mahal bisa ditepis. Kita bisa berkreasi sendiri membuat permainan dengan memanfaatkan apa yang ada. Yang pasti diperlukan kreativitas.(Ninik SH)</p>
<p>Source: Panduan Lengkap Homeschooling, Progessio</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ice Breaking komunikasi]]></title>
<link>http://apakabarpsbg.wordpress.com/2009/11/07/ice-breaking-komunikasi/</link>
<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 03:23:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>sunartombs</dc:creator>
<guid>http://apakabarpsbg.wordpress.com/2009/11/07/ice-breaking-komunikasi/</guid>
<description><![CDATA[Dalam sebuah organisasi arau institusi komunikasi merupakan hal utama yang harus dijakankan dengan b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dalam sebuah organisasi arau institusi komunikasi merupakan hal utama yang harus dijakankan dengan baik. Kesuksesan suatu program akan sangat tergantung dari komunikasi yang efektif dan lancar yang dilakukan oleh para pihak yang tergabung dalam organisasi itu.</p>
<div id="attachment_2642" class="wp-caption alignleft" style="width: 354px"><img class="size-medium wp-image-2642" title="Menafsirkan gambar" src="http://apakabarpsbg.wordpress.com/files/2009/11/dsc03783.jpg?w=390" alt="Menafsirkan gambar" width="344" height="167" /><p class="wp-caption-text">Menafsirkan gambar </p></div>
<p>Berikut ini adalah sebuah game sekaligus memberikan analogi bagaimana pengaruh komunikasi terhadap pencapaian tujuan organisasi/ institusi. Adapun langkah-langkah game-nya adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Bentuklah peserta pelatihan menjadi kelompok-kelompok.</li>
<li>Peserta diminta untuk memilih 1 orang yang paling pandai menggambar dan satu orang yang paling cerdas.</li>
<li>Setiap orang yang ditunjuk sebagai ahli menggambar, dipersilahkan maju untuk menggambar sesuatu yang menunjukkan visi atau motivasi kelompok, misalnya menggambar matahari sebagai gambaran bahwa kelompok tersebut akan memberikan pencerahan kepada semua orang yang ada di dunia ini.</li>
<li>Setelah selesai menggambar,  separoh ahli lukis dipersilahkan keluar ruangan. Sedangkan separoh yang lainnya dipersilahkan kembali kekelompok untuk menjelaskan apa makna gambar yang telah mereka buat tersebut.</li>
<li><a href="http://sunartombs.wordpress.com/2009/11/07/ice-breaking-komunikasi/">BACA SELENGKAPNYA DI SINI</a></li>
</ol>
<p><!--Session data--></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anak dan Orangtua dalam Lingkungannya]]></title>
<link>http://itoycaballero.wordpress.com/2009/11/06/anak-dan-orangtua-dalam-lingkungannya/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 18:32:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>itoycaballero</dc:creator>
<guid>http://itoycaballero.wordpress.com/2009/11/06/anak-dan-orangtua-dalam-lingkungannya/</guid>
<description><![CDATA[Suatu hari saya menjumpai situasi berikut. Di siang hari seorang anak kecil berusia empat tahun menj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Suatu hari saya menjumpai situasi berikut. Di siang hari seorang anak kecil berusia empat tahun menjerit dalam tangisannya sambil berkata, “Mamah belikan saya buku dan pulpen seperti Mas Itoy, saya mau belajar”. Betapa senang hatiku mendengar seorang anak seusia itu mempunyai keinginan baik seperti itu. Tetapi betapa terkejutnya ketika saya mendengar ibunya menjawab dengan nada kasar,”Nggak, buat apa? Kamu itu masih kecil! Lekas hentikan tangisanmu dan lebih baik kamu tidur! Dan sang anak tidak menghiraukan kata-kata ibunya, malahan tangisannya semakin keras. Kemudian sang ibu kembali melampiaskan amarahnya kepada si anak, “Sudah jangan nangis terus dan tolong ngertiin ibu! Seketika itu saya tersenyum sambil berkata dalam hati, “Hah, anak kecil diminta untuk mengerti orangtua? Orang tua yang aneh, kemudian piriranku berjalan otomatis, “Bagaimana mungkin orangtua lebih menyukai anaknya tidur ketimbang belajar. Memang untuk anak seumur itu pada lazimnya belum saatnya untuk menggunakan buku dan pulpen, tetapi bukankah kemauan anak itu sangat bagus, dia mau memulai maju ketika anak sebayanya belum memiliki niat ke arah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Secuil peristiwa di atas adalah salah satu contoh fenomena sosial yang mungkin sudah lumrah kita saksikan. Di sini saya jumpai kejanggalan: anak itu dituntut untuk menjadi sama dengan  lainnya, anak itu diminta untuk tunduk pada sesuatu yang kelihatannya mapan dan wajar, anak itu sedikit terkekang untuk memulai sesuatu yang menurutku sangat bagus dan yang memprihatinkan adalah si anak diminta untuk sesuatu yang tidak mungkin, yaitu diminta untuk mengerti jalan pikir orang tua. Mana mungkin anak kecil mengerti jalan pikir orang tua, sedangkan si anak belum pernah menjadi orang tua, justru sebaliknya orangtualah yang harusnya mengerti jalan pikir anaknya, karena orang tua pernah menjadi anak kecil, orangtua tahu bagaimana rasanya menjadi anak kecil yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan akan meniru apa yang dia lihat di depannya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Keesokan harinya tepat pada jam yang sama dimana pada saat itu dia terbiasa tidur siang sesuai dengan jadwal kesehariannya, si anak menghampiri saya sambil membawa secarik kertas dan secuil arang serta meminta saya untuk mengajarkan bagaimana caranya menggambar dan menulis. Saya semakin bangga dengan anak ini, kemauannya yang besar untuk maju itu tidak dapat dihentikan orang tuanya, memang si anak memiliki kedekatan dengan saya, kesehariannya banyak dilewati bersama saya dimana dia melampiaskan tangis dan tawanya padaku. Kutularkan sedikit pikiranku dan seringkali kucekoki dengan kata-kata ini, “Kalau disuruh mamah untuk tidur siang, jangan mau yah, lebih baik kamu bermain atau belajar apapun yang kamu suka”, “Tidur siang itu membuang-buang waktu dan itu sebenarnya hal yang kurang baik”. “Kalau nanti ibumu marah dan berkata, siapa yang mengajarkan kamu berkata seperti itu? Kamu harus menjawabnya dengan bangga, mas Itoy! Seringkali orangtuanya menegurku dengan nada bercanda, jangan kamu tiru orang gila itu! Kamu mau patuh pada siapa mas Itoy atau orangtuamu? Dan mereka juga berkata “Mas Itoy anak saya jangan diajarkan yang aneh-aneh lagi yah” Dan saya hanya menjawab, “Yang aneh itu kalian , anak kecil punya pikiran bagus kok dihalang-halangi” dan saya teruskan “Jangan dengarkan siapa yang bicara tetapi dengarkan apa yang dikatakan”. Inilah salah satu budaya kita yang senang mendengar dan kagum ketika yang berbicara adalah tokoh terkenal, disegani dan memiliki popularitas tinggi, dibanding mendengarkan apa yang baik tanpa melihat siapa yang berbicara. Kita terjebak dengan warisan penjajah yang dinamakan feodalisme, terkurung dengan pembodohan yang sebenarnya kita tidak sadar bahwa kita berada di dalam lingkaran itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Setelah melalui komunikasi dua arah dan kuberikan sedikit pengertian kepada mereka tanpa niat untuk mengguruinya, mereka akhirnya mengerti dan mau setuju dengan pemahaman saya bahwa niat saya dan si anak itu baik, dan saya tidak bermaksud mendahului peran mereka sebagai orangtua. Saya hanya mencoba meluruskan apa yang dibuat mereka kurang tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Setelah beberapa tahun saya tidak pernah berjumpa lagi dengan anak itu. Saya hanya mendengarkan kabarnya dari para tetangga. Kabar baiknya si anak selalu menjadi juara kelas dan senang sekali menyibukkan dirinya dengan menggambar, dari kesibukannya itu dia sering menjuarai lomba menggambar antar sekolah. Dan kabar buruknya adalah orangtua mereka kewalahan setengah mati untuk mengendalikannya karena si anak tumbuh menjadi anak yang keingintahuannya sangat berlebih,kreatif dan kritis sekali. Si anak sering menghujani pertanyaan-pertanyaan aneh seperti, “Kenapa sich mama dan papah nggak seperti mas Itoy, baik, pintar dan mengerti saya, mas Itoy bisa melakukan apa saja yang saya mau, mas Itoy nggak pernah marahin saya. Dan dia pernah membandingkan orangtuanya dan saya dalam lukisan, saya digambarkan seperti malaikat dan orangtuanya digambarkan dengan dua tanduk di kepalanya. Ketika bertemu saya bertanya, “Mengapa kamu bisa menggambarkan kedua orangtuamu seperti itu? Dan dia menjawab, “Mereka sering berkelahi dan sering mengajarkan kalau dipukul teman, kita harus membalasnya, suatu waktu saya sedang dalam penyaringan lomba menggambar di sekolah untuk pemilihan peserta yang mewakili Jakarta Timur, kemudian dalam acara itu ada seorang anak yang jahil mencoret lukisan saya, spontan kepalan tangan saya mendarat tepat di pipinya, hal itu diketahui oleh panitia, dan mereka mendiskualifikasi saya karena perbuatan saya itu”. Dan akhirnya si anak menyesali perbuatannya, si anak tahu bahwa sifat buruknya itu dapat menghambat prestasinya dan dia sangat menyalahkan orang tuanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tekanan menjadi orang tua</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu sumber kecemasan orangtua adalah pemikiran bahwa anak-anak mereka tidak begitu patuh dan berbakti. Mereka khawatir anak mereka akan mengabaikan mereka pada usia senja nanti. Mereka juga takut bahwa anak-anak itu akan membawa malu dan keresahan di tengah keluarga akibat tingkah laku yang mencemarkan nama baik keluarga. Biasanya cinta orang tua lebih besar dari cinta anak. Orang tidak bisa mengharapkan anak yang belum dewasa dan perpengalaman untuk menjadi berbakti dan mengasihi seperti orangtua mereka. Mereka belum menyadari nilai-nilai menjadi orangtua.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa kasus di mana orang tua telah memberikan yang terbaik dalam mendidik anaknya dan mengajarkan pada mereka nilai-nilai kebajikan, tapi semua usaha ini seperti sia-sia terhempas angin akibat sifat pembangkang dan keras kepala anaknya. Memang ada anak nakal berasal dari keluarga yang baik-baik. Dalam kasus seperti ini, orang tua tidak perlu bersedih karena mereka telah melakukan kewajiban sebagai orangtua. Orangtua mesti mengembangkan pengertian untuk mengubah apa yang mereka bisa ubah dan menerima apa yang tidak bisa mereka rubah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kahlil Gibran telah menggoreskan penanya untuk direnungkan para orang tua mengenai siapakah anak-anak mereka itu:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Anak-anakmu adalah bukan anak-anakmu</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Mereka adalah putera-puteri kehidupan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Yang merindukan dirinya sendiri</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Mereka datang melaluimu, namun tidak darimu</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Meskipun mereka bersamamu</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Mereka bukanlah milikmu</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Engkau boleh memberikan cintamu pada mereka</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Tapi tidak pemikiranmu</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Karena mereka memiliki pemikiran mereka sendiri</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Engkau boleh berusaha menyamai mereka</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Namun janganlah berusaha membuat mereka sama denganmu</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Beberapa orangtua menuntut banyak dari anak-anak mereka yang telah berkeluarga, yang mempunyai masalah mereka sendiri dan menanggung tekanan yang cukup berat dalam masyarakat. Jika orang tua mengeluh tentang anaknya yang tidak tahu berterima kasih, hal itu cuma akan makin menjauhkan  mereka akibat rasa malu dan bersalah. Tapi jika orang tua mengembangkan nilai-nilai keseimbangan batin, mereka akan tetap tenang dan tidak menuntut macam-macam dari anak-anaknya. Ini akan membawa rasa kedekatan dan pengertian yang lebih besar antara orangtua dan anak, dan menciptakan kesatuan yang diidamkan dalam keluarga.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jika kita menginginkan si anak untuk tumbuh dalam jalinan cinta dan kasih. Orang tua harus berhati-hati jika mereka ingin berbuat sesuatu di hadapan anak mereka. Syair berikut berisikan beberapa petunjuk praktis seni membesarkan anak.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Jika anak hidup dengan saling pengetian</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ia belajar menjadi sabar</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Jika anak hidup dengan dorongan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ia belajar percaya diri</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Jika anak hidup dengan pujian</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ia belajar menghargai</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Jika anak hidup dengan keadilan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ia belajar menjadi adil</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Jika anak hidup dalam rasa aman</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ia belajar memiliki keyakinan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Jika anak hidup dalam dukungan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ia belajar menyukai dirinya sendiri</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Jika anak diterima dan hidup dalam persahabatan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ia belajar menemukan cinta di dunia</em></strong> <strong>(GIE)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
