<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>penerbitan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/penerbitan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "penerbitan"</description>
	<pubDate>Sun, 19 May 2013 06:21:16 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Saatnya Beralih ke Blogger Buku]]></title>
<link>http://bukunya.wordpress.com/2011/03/29/saatnya-beralih-ke-blogger-buku/</link>
<pubDate>Tue, 29 Mar 2011 19:04:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>bukunya</dc:creator>
<guid>http://bukunya.wordpress.com/2011/03/29/saatnya-beralih-ke-blogger-buku/</guid>
<description><![CDATA[[by Okta Wiguna] Kerongkongan saya baru saja dimanjakan tegukan pertama ice cappuccino seorang kawan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://blog.tempointeraktif.com/wp-content/uploads/2011/03/bookblogger-300x269.jpg" alt="" /></p>
<p>[by Okta Wiguna] Kerongkongan saya baru saja dimanjakan tegukan pertama <em>ice cappuccino </em> seorang kawan menyodorkan buku yang ditulis teman dekatnya. Tujuan pertemuan kami di sore itu memang buku yang berisi kisah perjalanan di mancanegara itu.</p>
<p>Kawan itu menyampaikan harapan penulis buku agar bisa mendapat kesempatan diresensi. “Cuma bisa meneruskan ya, tidak bisa janji akan dimuat,” kata saya. “Tidak apa-apa, dicoba saja,” jawabnya.</p>
<p>Buku itu memang terbilang unik <!--more--> dari segi isi, tapi desain sampulnya memang tak mendukung bahkan penulisnya sendiri tak terlalu menyukainya. Si penulis juga terbilang mau berkeringat. Berkeliling ke toko buku melihat bukunya, mengadakan kuis di akun Twitter sendiri dan juga lewat akun penerbitnya. Mati-matian dia berusaha agar bukunya itu terus hidup.</p>
<p>Upaya kerasnya itu rupanya disalahartikan penulis lainnya dari penerbit yang sama. Ada yang cemburu karena bukunya itu dipromosikan sementara miliknya tidak. Padahal memang penulisnya itu yang mati-matian terus berupaya menghidupkan bukunya.<br />
Umur  publisitas sebuah buku memang singkat. Saat baru terbit memang ada kehebohan, terutama karena penerbit rajin mempromosikannya. Jika beruntung, sebuah buku mendapat ruang resensi di surat kabar atau  majalah. Tapi berminggu-minggu setelahnya, perlahan buku mulai tenggelam.  Kalau penulisnya sendiri tak mau kerja keras memperpanjangnya, maka usia publisitas karya bakalan pendek.</p>
<p>Itu juga yang dirasakan novelis Miriam Gershow. Saat novelnya <em>The Local News </em>terbit, semua ramai membicarakan dan memujinya, bahkan media sekelas The New York Times meresensinya . “Tapi setelah itu sepi sunyi,” kata Miriam.</p>
<p>Miriam mengutip cerita editornya tentang dua hal yang menentukan kesuksesan penjualan buku: akses dan word of mouth. Akses adalah urusan penerbit untuk mendistribusikan buku ke toko besar dan kecil. Sementara kabar dari mulut ke mulut adalah “kewajiban” penulis.<br />
<em>Word of mouth </em>bisa terjadi jika sebuah buku dimuat di media. Tapi media yang selalu  menuntut kebaruan tak akan melirik lagi jika sudah lewat jauh dari waktu terbit. Dulu ketika saya menangani rubrik buku, ada aturan tak tertulis untuk tak memuat (resensi) jika sudah lewat dari tiga bulan sejak buku diterbitkan, betapapun bagusnya.</p>
<p>Lantas apa solusinya? Miriam memilih blogger buku. Ia bahkan secara khusus mengatur tur untuk bertemu para narablog yang secara khusus menulis soal buku. Selama empat bulan selepas tanggal terbit bukunya, cerita soal The Local News terus hidup.  </p>
<p>Bahkan saat edisi <em>paperback </em>terbit &#8211;yang notabene isinya sama dengan versi <em>hardcover</em>&#8211; narablog masih mau membahasnya di blog mereka, sesuatu yang tak akan dilakukan suratkabar ataupun majalah. Miriam beruntung karena penerbitnya mendukung dengan menyuplai buku kepada para blogger secara cuma-cuma.</p>
<p><img src="http://blog.tempointeraktif.com/wp-content/uploads/2011/03/bb2-300x217.jpg" alt="" /></p>
<p>Buat Miriam, dari sudut pandang penulis blogger buku punya kelebihan daripada kritikus buku. Resensi yang mereka buat tak terlalu menyorot kualitas penulisan tapi soal seberapa nikmat buku itu: apakah mereka suka akhir ceritanya dan seperti apa perasaan mereka setelah membacanya. Hal-hal yang lebih menyentuh banyak pembaca. </p>
<p>Apakah dengan dimuat di blog penjualan buku terdongkrak?  Tak ada yang tahu pasti karena memang belum ada penelitian yang sahih soal itu. Yang jelas pemuatan di blog membuat umur publisitas buku lebih panjang dari biasanya. </p>
<p>Kalau melihat gambar <em>capture</em> dari blog <a href="http://surgabukuku.wordpress.com/">Surgabukuku</a> di awal tulisan ini, bisa dilihat resensi The Thirteenth Tale terbitan 2008 yang masih ada di rak-rak toko buku namun sudah hampir tiga tahun berhenti dibicarakan. Dalam dunia blog waktu bergerak secara berbeda dari media konvensional. </p>
<p>Memang di Indonesia jumlah blogger buku memang belum sebanyak narablog yang menulis soal kuliner dan travel, namun mari simak kutipan komentar-komentar dari sebuah blog buku berikut: </p>
<p><em>“… Saya lebih suka resensi di cyber daripada di koran-koran karena mereka lebih jujur dibanding resensi di media-media cetak.” &#8211; Tanzil </em></p>
<p><em>“… resensi membantu penggemar buku memilih buku-buku terbaik. Meski saya enggak punya cukup waktu buat mengelola blog buku, tapi saya sering blogwalking mencari resensi.” &#8211; Lina </em></p>
<p>Mereka sebagian saja dari pecinta buku yang gemar menjelajahi resensi di dunia maya, mulai dari situs Goodreads hingga blog-blog pribadi. Mereka ini yang jadi pembaca setia resensi yang dibuat narablog buku. Blogger buku juga biasanya saling berjejaring dengan blogger buku lainnya. Mereka punya pengaruh di situs microblogging seperti Twitter dan jejaring social macam Facebook, serta siap melahap berbagai informasi terkini soal buku.</p>
<p>Sayangnya memang penulis ataupun penerbit belum memanfaatkan potensi ini. Memang ada sebuah penerbit yang berbaik hati memberikan buku kepada blogger yang datang mengetuk pintu, tapi sebagian besar masih memfokuskan promosi lewat media konvensional. Tapi dengan semakin sedikitnya suratkabar dan majalah yang mau menyediakan ruang untuk rubrik buku, strategi seperti itu bakalan semakin berat. </p>
<p>Lagipula selain soal publisitas Miriam berpandangan blogger buku sangat penting buat jiwa seorang penulis.  Terlepas dari soal royalti, bukankah yang paling diinginkan penulis adalah karyanya dibaca dan diperbincangkan?</p>
<p>“Saya melihat blogger sebagai orang yang masih punya gairah besar terhadap buku, yang dengan rakus melahap bacaan, yang siang malam mendedikasikan waktu untuk membaca dan menulis soal buku,” kata Miriam. “Mereka mengingatkan saya bahwa yang saya lalukan tidaklah sia-sia.”</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tren Endorsement &amp; Bom Buku]]></title>
<link>http://bukunya.wordpress.com/2011/03/21/tren-endorsement-bom-buku/</link>
<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 08:26:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>bukunya</dc:creator>
<guid>http://bukunya.wordpress.com/2011/03/21/tren-endorsement-bom-buku/</guid>
<description><![CDATA[Sebuah surat menyertai paket berisi buku untuk aktivis Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla. P]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah surat menyertai paket berisi buku untuk aktivis Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla. Pengirim yang mengaku bernama Sulaiman Azhar itu meminta Ulil memberi endorsement buat bukunya,  Tak dinyana buku tebal itu berisi bom.</p>
<p>Kini memang tengah tren penulis atau penerbit meminta tokoh ternama, selebritas, ataupun sesama penulis memberikan komentar terhadap buku mereka, baik dalam bentuk kata pengantar atau yang kini tengah mewabah: testimonial singkat. </p>
<p>Bukunya berbicara dengan Pemimpin Redaksi Gagas Media Windy Ariestanty Bukune soal tren memberi endorsement dan bom buku, berikut ini petikan obrolan itu:</p>
<div id="attachment_395" class="wp-caption aligncenter" style="width: 504px"><a href="http://bukunya.files.wordpress.com/2011/03/windy.jpg"><img src="http://bukunya.files.wordpress.com/2011/03/windy.jpg?w=494&#038;h=427" alt="" title="windy" width="494" height="427" class="size-full wp-image-395" /></a><p class="wp-caption-text">Pemimpin Redaksi Penerbit Gagas Media Windy Ariestanty (dok. pribadi)</p></div>
<p><strong>Banyak penerbit yang meminta tokoh atau selebritas memberi edorsement buat buku terbitannya&#8230;<br />
</strong><br />
Setiap penerbit pasti punya alasan tersendiri. Tapi kalau dikembalikan ke fungsi dasarnya, endorsement itu bertujuan meyakinkan pembaca bahwa buku ini layak dibaca, tentunya dengan meminjam mulut pemberi testimonial.</p>
<p><strong>Alasan Gagas sendiri seperti apa? </strong></p>
<p>Kami sudah melakukannya sejak Gagas berdiri. Karena banyak menerbitkan karya penulis muda dan baru, maka fungsi endorsement saat itu untuk meyakinkan pembaca bahwa karya mereka bagus dan layak dibaca. </p>
<p>Endorsement kami mintakan dari penulis yang sudah punya nama atau para pesohor negeri yang memiliki pengaruh kepada pembaca. </p>
<p><strong>Apakah endorsement meningkatkan minat beli? </strong></p>
<p>Saya tidak tahu. Belum pernah melakukan riset tentang ini. Endorsement itu hanya untuk meyakinkan pembaca, buku layak dibaca. Banyak kasus juga buku dengan endorsement <em>segambrengan</em> enggak laku.</p>
<p><strong>Seperti apa sih model testimonial yang ampuh?</strong></p>
<p>Idealnya, memberikan pengakuan dan penilaian yang jujur mengapa ini layak dibaca. Kalau dilihat dari kacamata penerbit/penulis pastinya yang sanggup meyakinkan pembaca untuk membeli dan membaca buku yang ditulis dan diterbitkannya. Kalau dari kacamata pembaca, mereka memberi kesaksian tentang kekuatan buku ini dan apa yang akan didapatkan setelah membacanya.</p>
<p><strong>Apakah testimonial dari selebritis atau orang terkenal lebih meningkatkan penjualan?</strong></p>
<p>Karena si artis terkenal, “meminjam mulutnya” bisa menjadi cara sederhana berpromosi. Logikanya sederhana, pesohor memiliki pengaruh entah besar atau kecil. Buat saya sendiri, kalau ada buku denga  endorsement dari penulis favorit saya, <em>I&#8217;ll consider to buy it</em>. Saya cuma ingint tahu kenapa mereka menyukai buku itu. Apa yang menurut mereka bagus dari buku ini? </p>
<p><strong>Siapa yang mencari komentar itu, penulis atau penerbit?</strong><br />
Bisa keduanya. Di tempat kami, kadang ide ini muncul dari penerbit, tak jarang juga penulis yang berupaya mendapatkan endorsement.</p>
<p><strong>Adakah kriteria memilih orang-orang yang akan memberi endorsement?</strong><br />
Tentu saja. Biasanya dipilih orang yang ahli di bidang yang dibahas buku tersebut, penulis, pesohor lainnya, bahkan bisa saja dari pembaca awam. Sejauh memang komentarnya memberikan pandangan alasan buku itu layak dibaca.</p>
<p><strong>Apakah pemberi testimonial dibayar?</strong></p>
<p>Sejauh ini di Gagas tidak. Tapi setelah buku terbit kami mengirimkan buku yang di-endorse-nya sebagai ucapan terima kasih. Agak lucu kalau dibayar, salah-salah para endorser menjadi tidak objektif lagi. Bagaimana pun menurut saya, endorsement itu harus objektif, jangan sampai menipu pembaca.</p>
<p><strong>Tapi endorsement apalagi dalam bentuk testimonial singkat biasanya hanya berisi hal-hal yang bagus saja, bukankah itu sedikit &#8220;menipu&#8221;?</strong></p>
<p>Belakangan, Gagas malah jarang menggunakan endorsement, karena entah kenapa saya melihat ada kecenderungan endorsement yang diberikan hanya berdasarkan hubungan baik atau tidak enak hati, sehingga tidak lagi sesuai fungsinya. Akibatnya berpotensi menipu pembaca.</p>
<p>Endorsement yang baik tentunya yang objektif. Tapi bagaimana pun penerbit dan penulis punya kepentingan.Ini tak bisa ditampik. Jadi, sedari awal sebaiknya penerbit dan penulis sadar betul fungsi endorsement itu apa dan pemberi endorsement pun paham betul bahwa komentar yang objektif itu yang diperlukan. </p>
<blockquote><p>Banyak kasus juga buku dengan endorsement <em>segambrengan</em> enggak laku</p></blockquote>
<p><strong>Bagaimana dengan pembaca yang kecewa karena isi buku tak sebagus seperti kata pemberi endorsement?</strong></p>
<p>Bisa saya pahami. Merasa tertipu. Saya pun demikian kalau membeli lantas kecewa dengan endorsement yang bombastis itu. Ke depannya, saya tak akan lagi percaya kepada si endorser.</p>
<p><strong>Pernahkah diminta memberi testimoni?</strong></p>
<p>Pernah. Ada yang saya berikan, tapi ada juga yang saya tolak. Biasanya, saya minta naskah finalnya dan kalau setelah dibaca ternyata tidak bagus, ya saya kembalikan dengan disertai permintaan maaf. Tentu saya menjelaskan mengapa saya tidak bisa memberi endorsement. Ada yang menerima, ada juga yang marah-marah. </p>
<p>Bagaimana pun, saya tak ingin orang kehilangan kepercayaan kepada &#8216;mulut&#8217; saya. Penulis atau penerbit yang meminta endorsement kepada saya tidak membangun kredibilitas saya. Tentu, saya pun tak ingin kepercayaan orang di luar sana hancur hanya karena saya merasa tak enak hati, lalu memuji-muji. <em>I don&#8217;t buy that.</em></p>
<p><strong>Apa pendapat soal permintaan memberi endorsement yang ternyata itu buku berisi bom?</strong></p>
<p>Ini kan hanya cara yang dipilih oleh pelaku. Ada banyak cara menipu dan menjebak. Saya tidak menganggap hal ini luar biasa atau sebuah penghinaan. It was just about a trick. Sama aja kayak kasus pesan pendek dari ibu atau ayah yang minta dikirimi pulsa, atau diberitakan kecelakaan dan berada di rumah sakit lalu minta dikirim uang.</p>
<p><strong>Sekarang orang panik kalau dapat kiriman buku, apa komentar soal ini?</strong></p>
<p>Wajar. Orang jadi waspada. Reaksi yang wajar saja buat saya. Petaka mengintai di mana-mana. Bahkan di tempat yang kita kira aman.</p>
<p><strong>Apa Gagas akan menghentikan kuis berhadiah buku karena orang takut menerima paket buku?</strong></p>
<p>Tidak. Saya bahkan tidak memikirkan hal ini sampai pertanyaan ini diajukan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seminar Editor Malaysia]]></title>
<link>http://ezaleila.wordpress.com/2011/03/01/seminar-editor-malaysia/</link>
<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 09:44:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Siti Ezaleila Mustafa</dc:creator>
<guid>http://ezaleila.wordpress.com/2011/03/01/seminar-editor-malaysia/</guid>
<description><![CDATA[Persatuan Editor Malaysia (PEM) dengan kerjasama Majlis Buku Kebangsaan Malaysia (MBKM) akan menganj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://ezaleila.files.wordpress.com/2011/03/sem_poster_round023.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-636" title="SEM_Poster_Round02" src="http://ezaleila.files.wordpress.com/2011/03/sem_poster_round023.jpg?w=211&#038;h=300" alt="" width="211" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Persatuan Editor Malaysia (PEM) dengan kerjasama Majlis Buku Kebangsaan Malaysia (MBKM) akan menganjurkan Seminar Editor Malaysia pada 24 hingga 25 April 2011 di Seri Pacific Hotel, Kuala Lumpur sempena Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur nanti.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tema &#8220;Memartabatkan Kerjaya Editor&#8221;, seminar ini akan mengundang mereka yang terlibat secara langsung dengan profesion editor dan berpengalaman luas dalam industri penerbitan seperti Datuk Johan Jaafar (Media Prima), Puan Sri Diah (Karangkraf), Puan Ainon Mohd (PTS), SN A. Samad Said, Profesor Datuk Dr Abdullah Hassan (Persatuan Penterjemah Malaysia), dan ramai lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Antara tema kertas kerja yang akan dibicarakan oleh pembentang adalah seperti berikut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Peranan Editor Dalam Teknologi yang Berubah</li>
<li>Pendidikan &#38; Latihan Editor</li>
<li>Mengangkat Profesion Editor di Malaysia</li>
<li>Hubungan Editor dengan Penulis</li>
<li>Editor Dalam Dunia Persuratkhabaran dan Majalah</li>
<li>Editor dan Pemasaran</li>
<li>Editor, Etika, dan Pemerolehan Manuskrip</li>
</ul>
<p>Sesiapa yang ingin menyertai seminar ini boleh mengisi borang yang terdapat di <a href="http://ezaleila.files.wordpress.com/2011/03/brosur-seminar-editor-malaysia2.pdf">Brosur Seminar Editor Malaysia</a><a href="http://ezaleila.files.wordpress.com/2011/03/brosur-seminar-editor-malaysia.pdf"></a><a href="http://ezaleila.files.wordpress.com/2011/02/brosur-seminar-editor-malaysia.pdf"></a> yang disertakan di sini.</p>
		<div id="geo-post-581" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gebrakan Cinta Satu Malam]]></title>
<link>http://bangaswi.wordpress.com/2011/02/09/gebrakan-cinta-satu-malam/</link>
<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 17:45:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bang Aswi</dc:creator>
<guid>http://bangaswi.wordpress.com/2011/02/09/gebrakan-cinta-satu-malam/</guid>
<description><![CDATA[Indah nian. Begitu murah malah. Menikmati sebuah kepalsuan. Miriskah? Budaya yang taklagi membuat ge]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Indah nian. Begitu murah malah.<br />
Menikmati sebuah kepalsuan. Miriskah?<br />
Budaya yang taklagi membuat gerah.</p></blockquote>
<p>Masyarakat kita memang kreatif. Lihat saja Bandung, makanannya begitu variatif hingga disebut sebagai surga makanan. Orang luar kota tidak merasa lengkap kalau tidak mencicipi salah satunya. Belum industri kaosnya. Atau Yogyakarta yang disebut sebagai kota seniman. Kota-kota lain juga pasti sama, kreatif di bidang masing-masing. Tiap kota mencirikan sesuatu yang khas. Maka lahirlah oleh-oleh atau buah tangan untuk dibawa pulang.</p>
<p>Namun banyak juga yang kreatifnya kebablasan. Sudah ada lampu merah, masih saja diterobos tanpa peduli pada teriakan peluit petugas hukum. Alasannya pasti kembali ke dasar. Butuh makan. Apalagi coba? Dengan ini, keaslian pun diabaikan dan teronggok di tempat sampah. Sepele? Tidak juga. Betapa banyak, bahkan sampai ratusan dan ribuan orang berharap pada pemasukan produk asli. Sebut saja penulis, editor, ilustrator, desainer, lingkungan percetakan, distributor, agensi, dan seterusnya. Ini baru di lingkungan penerbitan buku atau majalah. Masih banyak lagi di luar sana.</p>
<p><!--more-->Sosok itu pernah membaca sebuah pesan milis. Sebut saja membajak, menjiplak, mencontek, plagiarism, menyadur, mengadaptasi, atau terinspirasi. Tentu semua itu taksama. Selalu ada bedanya. Dari kesemuanya, yang membedakan sebenarnya hanya satu. Yaitu penyebutan sumber, yaitu jujur mengakui karya orang lain, yaitu sifat tenggang rasa akan sebuah karya, yaitu takmencari untung semudah membalikkan tangan. Silakan berkontemplasi.</p>
<p>Contoh membajak adalah memperbanyak atau memfotokopi suatu produk dan menyebarluaskannya tanpa ijin. Contoh menjiplak adalah mengakui karya orang lain sebagai karya sendiri. Contoh menyadur adalah selalu menyebutkan sumber aslinya. Sedangkan contoh terinspirasi tidak jauh berbeda dengan menyadur, hanya saja tidak lengkap seperti menyadur.</p>
<p>Bagaimana dengan ‘Cinta Satu Malam’ yang dipopulerkan oleh Melinda? Sosok itu sebenarnya jengah. Apalagi melihat tayangannya yang tidak pada tempatnya. Siang hari di tengah-tengah tontonan anak-anak. Benar-benar tidak pantas. Dan setelah didalami, sosok itu semakin tidak <em>respect</em> pada proses penciptaan dan konten lagu itu. Hanya satu aspek saja yang disorot. Penjiplakan.</p>
<p>Lirik sudah pasti berbeda, tapi musiknya jelas-jelas menjiplak ‘Everytime We Touch’. Baik <em>intro</em> maupun <em>refrain</em>-nya sama. ‘Everytime We Touch’ dipopulerkan oleh Cascada, grup musik dari Jerman pada 2006. Vokalis utamanya adalah Natalie Horler. Lagu ini bahkan menjadi <em>The Best Selling Dance Song of 2006</em> dan memecahkan rekor di Swedia. Total penjualan ketiga album mereka sudah mencapai 15 juta dan untuk <em>single</em>-nya sudah mencapai 35 juta. Penghargaan internasional pun menghampiri Cascada melalui ajang <em>World Music Awards</em> atau <em>MTV Video Music Awards</em>.</p>
<p><em>So</em>, buat kawan-kawan yang penasaran dengan kedua lagu itu, bisa mencarinya di mesin pencari. Sosok itu mengunduh keduanya pun hanya untuk membandingkan. Dan keluarlah ulasannya dalam bentuk tulisan ini. Semoga kita semua bisa belajar dari kesalahan. Untuk diperbaiki tentu saja. Musik hanyalah salah satunya. Masih banyak yang harus dibenahi di kita. Dan hanya kita sendiri yang tahu. <em>Wallahu’alam</em>.[]</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Resensi Buku: Self Publishing by Miftachul Huda]]></title>
<link>http://bocahbancar.wordpress.com/2011/01/28/resensi-buku-self-publishing-by-miftachul-huda/</link>
<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 19:02:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muhammad Joe Sekigawa</dc:creator>
<guid>http://bocahbancar.wordpress.com/2011/01/28/resensi-buku-self-publishing-by-miftachul-huda/</guid>
<description><![CDATA[Bismillahirrohmaanirrohiim,, Entah berapa puluh hingga berapa ratus buku yang telah saya baca, namun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bismillahirrohmaanirrohiim,, Entah berapa puluh hingga berapa ratus buku yang telah saya baca, namun]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Persatuan Editor Malaysia (PEM)]]></title>
<link>http://ezaleila.wordpress.com/2011/01/08/persatuan-editor-malaysia-pem/</link>
<pubDate>Sat, 08 Jan 2011 05:27:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Siti Ezaleila Mustafa</dc:creator>
<guid>http://ezaleila.wordpress.com/2011/01/08/persatuan-editor-malaysia-pem/</guid>
<description><![CDATA[Editor merupakan pihak yang amat penting dalam industri penerbitan. Mereka inilah yang menjadi orang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Editor merupakan pihak yang amat penting dalam industri penerbitan. Mereka inilah yang menjadi orang tengah antara pengarang dengan pihak-pihak lain yang terlibat dalam keseluruhan proses penerbitan. Yang paling penting, mereka bertanggungjawab memastikan kualiti dan kesesuaian karya yang hendak diterbitkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tugas editor tidak terhad kepada penyuntingan naskhah, malah lebih luas daripada itu. Mereka turut memainkan peranan untuk membina judul, berbincang tentang idea dan konsep buku sebelum pengarang mula menulisnya, menyelia proses mekanikal bukunya dalam proses pengeluaran, membuat anggaran kos, membantu bahagian pemasaran memasarkan buku, merangka belanjawan dan penjadualan terhadap program penerbitan syarikat.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ezaleila.files.wordpress.com/2011/01/pem-sample-09.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-565" title="Logo PEM" src="http://ezaleila.files.wordpress.com/2011/01/pem-sample-09.jpg?w=280&#038;h=138" alt="" width="280" height="138" /></a>Menyedari kepentingan peranan editor dan perlunya satu platform untuk mengumpulkan semua editor di samping mengembangkan kerjaya dan profesionalisme editor, di Malaysia <strong>PERSATUAN EDITOR MALAYSIA (PEM)</strong> telah diwujudkan. Usaha  mewujudkan PEM telah giat dilakukan bermula dengan pengumpulan dan perbincangan para editor dan mereka yang terlibat dalam industri penerbitan di laman sosial Facebook  melalui kumpulan Forum Editor Malaysia.</p>
<p style="text-align:justify;">Susulan dari itu, Jawatankuasa Penaja yang terdiri daripada 19 orang ahli telah dibentuk dan beberapa mesyuarat diadakan bagi merealisasikan idea ini. Akhirnya pada 16 Disember 2010, PEM berjaya didaftarkan secara sah.</p>
<p style="text-align:justify;">Objektif PEM adalah seperti yang berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Menyatupadukan editor di Malaysia untuk kepentingan dan faedah kerjaya masing-masing.</li>
<li>Menjaga kebajikan dan kepentingan editor dalam perkhidmatan di organisasi masing-masing.</li>
<li>Membina dan memperkukuh profesionalisme editor dengan mengadakan program-program profesional melalui penganjuran latihan, seminar, forum, simposium, persidangan, kongres, dan dialog.</li>
<li>Mewujudkan hubungan dan kerjasama dengan pelbagai institusi/organisasi di dalam dan luar negara demi memajukan kerjaya dan profesionalisme editor di Malaysia.</li>
<li>Mengusahakan penerbitan buku dan buletin yang bersesuaian untuk menyebarkan maklumat kepada ahli dan masyarakat di samping menjana pendapatan persatuan.</li>
<li>Menjadi badan penasihat dan perunding kepada badan swasta dan kerajaan ke arah meningkatkan profesionalisme editor.<strong> </strong></li>
<li><strong> </strong>Menjadi rakan kongsi ilmu dan kepakaran dengan persatuan yang berkaitan dengan industri penerbitan negara.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Moga persatuan ini mendapat sokongan penuh daripada semua editor di Malaysia dalam merealisasikan semua objektifnya dan secara tidak langsung membantu meningkatkan industri penerbitan dan perbukuan negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Maklumat lanjut tentang PEM dan pendaftaran keahlian secara dalam talian boleh dilakukan dengan melayari laman rasmi PEM di <a href="http://www.editormalaysia.com" rel="nofollow">http://www.editormalaysia.com</a>. Pendaftaran juga boleh dilakukan dengan mengisi <a href="http://ezaleila.files.wordpress.com/2011/01/pem_borang-keahlian02.pdf">PEM_Borang Keahlian02</a> di sini.</p>
<p style="text-align:justify;">&#160;</p>
		<div id="geo-post-564" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kanak-kanak dan Pemilihan Bahan Bacaan]]></title>
<link>http://ezaleila.wordpress.com/2010/12/09/kanak-kanak-dan-pemilihan-bahan-bacaan/</link>
<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 13:07:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Siti Ezaleila Mustafa</dc:creator>
<guid>http://ezaleila.wordpress.com/2010/12/09/kanak-kanak-dan-pemilihan-bahan-bacaan/</guid>
<description><![CDATA[Kelakuan, kebolehan dan keupayaan membaca, dan minat golongan muda ini berbeza-beza mengikut peringk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kelakuan, kebolehan dan keupayaan membaca, dan minat golongan muda ini berbeza-beza mengikut peringkat umur. Setiap peringkat mempunyai ciri-ciri psikologi yang berbeza.  Oleh itu, persembahan dan penyampaian yang sesuai amat diperlukan dalam sesebuah bahan bacaan . Secara umumnya kanak-kanak dibahagikan kepada kumpulan-kumpulan umur seperti yang berikut:</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong>1. </strong><strong>umur 0-6 tahun (peringkat prasekolah)</strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Kanak-kanak pada peringkat umur ini belum lagi mempunyai fikiran yang kritis untuk memahami sebab dan akibat atau cara dan tujuan. Pengetahuan mereka tentang kenyataan adalah sangat sederhana.</p>
<p style="padding-left:30px;">Bbuku-buku untuk peringkat umur ini harus mengandungi teks yang pendek, penuh dengan aksi mudah yang menuju kepada kesimpulan yang memuaskan. Ia juga harus mempunyai perkaitan dengan dunia sehariannya agar dapat membantu mereka memahami dan menginterpretasikan dunia sekelilingnya.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong>2. </strong><strong>umur 6-8 tahun</strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Kanak-kanak yang berada pada peringkat umur ini mempunyai sifat ingin tahu dan mereka juga sudah mula mengerti serba sedikit apa-apa yang dibicarakan oleh orang dewasa.  Kanak-kanak selalunya telah bersedia untuk membaca jika</p>
<ul>
<li>tertanya-tanya tentang huruf dan perkataan dalam buku, akhbar atau kertas;</li>
<li>meluangkan masa “membaca” buku-buku bergambarnya;</li>
<li>suka mendengar cerita;</li>
<li>berminat dalam perkataan-perkataan dan leka untuk meningkatkan tatabahasanya; dan</li>
<li>berpura-pura menulis dan membaca—cuba untuk menyalin huruf-huruf dan nombor.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Pada peringkat ini, mereka mungkin sudah boleh membaca buku yang mengandungi teks yang banyak. Buku-buku bergambar juga masih sesuai untuk mereka kerana gambar-gambar yang terdapat dalam buku boleh memberi gambaran kepada teks. Mereka juga berminat dalam hal-hal yang berkaitan dengan binatang dan alam semula jadi.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong>3. </strong><strong>umur 8-10 tahun</strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Pada peringkat ini, kanak-kanak mempunyai daya imaginasi yang semakin berkembang dan mereka seronok dengannya. Oleh itu, untuk membantu kanak-kanak memenuhi keperluannya ketika berimaginasi, bahan bacaan yang mengandungi cerita dongeng dan cerita rakyat amat sesuai digunakan untuk mereka.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong>4. </strong><strong>umur 10-12 tahun</strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Pada peringkat ini, mereka telah mempunyai sikap kritis terhadap unsur-unsur kenyataan dan bersedia untuk menerima pengetahuan baharu.  Perkembangan tatabahasanya juga berkembang dengan cepat dan mempunyai kebolehan yang tinggi dalam mengungkapkan idea-idea yang abstrak. Mereka juga berusaha belajar untuk mendapatkan maklumat daripada buku. Mereka sudah mampu mengikuti arahan-arahan yang terdapat dalam buku mereka. Oleh itu, pada peringkat ini, buku yang berhubung dengan seni dan kerja tangan mampu menarik minat mereka.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Di samping itu, kanak-kanak lelaki dan perempuan sudah mula menunjukkan minat yang berbeza. Pada usia ini, kanak-kanak perempuan lebih berminat kepada alam persekolahan, kisah binatang, fantasi, dan sejarah manakala kanak-kanak lelaki pula lebih menggemari kisah pengembaraan, cerita lucu, dan buku yang berkaitan dengan subjek hobi, saintifik dan teknikal.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun pembahagian peringkat kanak-kanak mengikut umur tidak begitu jelas dan menimbulkan perbezaan, orang-orang dewasa yang terlibat dengan kanak-kanak perlu tahu serba sedikit tentangnya. Ini kerana setiap peringkat umur, kanak-kanak memerlukan bahan penerbitan yang berbeza dari segi persembahan dan bentuk bahannya.</p>
		<div id="geo-post-514" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemasaran Buku Melalui Laman Web]]></title>
<link>http://ezaleila.wordpress.com/2010/11/23/pemasaran-buku-melalui-laman-web/</link>
<pubDate>Tue, 23 Nov 2010 06:07:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Siti Ezaleila Mustafa</dc:creator>
<guid>http://ezaleila.wordpress.com/2010/11/23/pemasaran-buku-melalui-laman-web/</guid>
<description><![CDATA[Kemunculan teknologi Internet, web, dan perdagangan elektronik—atau lebih dikenali sebagai e-dagang—]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kemunculan teknologi Internet, web, dan perdagangan elektronik—atau lebih dikenali sebagai e-dagang—menawarkan peluang yang menarik dan membawa impak yang besar terhadap proses dan strategi pemasaran termasuk buku ilmiah. Ia menawarkan cara yang ekonomikal untuk mencapai khalayak dan pasaran yang luas dengan masa yang pantas kepada penerbit dan pengarang mahupun penjual buku.  Khalayak juga mendapat pilihan judul yang lebih banyak berbanding jika mereka membeli di kedai-kedai buku berhampiran kawasan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun terdapat kedai buku—yang dikenali sebagai <em>superstore</em>—yang menawarkan pilihan judul yang banyak, ia hanya boleh didapati di bandar-bandar besar.  Bagi mereka yang tidak mempunyai akses ke kedai buku seperti ini, Internet menawarkan pilihan judul yang luas dengan hanya berada di hadapan komputer berinternet dan mengeklik tetikus.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi Kremer (1998), perkara penting yang perlu difikirkan apabila ingin memasarkan atau menjual buku menerusi Internet ialah pembinaan laman web. Laman web ini dibina bukan hanya digunakan untuk tujuan promosi dan komunikasi pemasaran, malah boleh juga digunakan untuk tujuan penjualan. Dengan ini, laman web itu juga berfungsi sebagai kedai siber atau kedai buku dalam talian.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Yesil (1997), kedai siber, kedai maya atau kedai virtual “<em>is a storefront in cyberspace, a place where customers can shop from their home computer and where merchants can offer merchandise and services for a fraction of the overhed required in a physical storefront.</em>” Ia wujud pada bahagian Internet yang kenali sebagai <em>World Wide Web</em>. Laman <em>storefront </em>wujud untuk menjual sesuatu. Walau apa pun produknya, ia bertujuan untuk melaksanakan transaksi perniagaan secara dalam talian (<em>online</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Pembinaan laman web akan sentiasa mewujudkan aktiviti pemasaran dan penjualan ke seluruh dunia sepanjang masa selama 24 jam setiap hari. Laman web yang dibina juga dapat memberi penambahan nilai yang labih baik berbanding teknik komunikasi yang lain kerana ia dapat menyampaikan maklumat dalam pelbagai format seperti teks, bunyi, grafik, imej, dan animasi. Namun, laman web yang dibina perlu diketahui serta dapat menaik perhatian pelayar Internet. Jika kewujudan laman web yang dibina tidak diketahui, pemasaran buku di ruang siber atau Internet sukar dilakukan (Kremer 1998).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pemasaran buku menerusi laman web memberi impak yang besar kepada dunia perbukuan. Menurut beberapa kajian lepas, sehingga kini terdapat lebih daripada 100 laman web penerbit dan pengedar buku dari seluruh dunia dapat dilayari di Internet. Kajian yang dijalankan oleh Diebold (1999) terhadap 200 penerbit di Eropah mendapati 85 peratus daripada produk yang diterbitkan dapat dicari menerusi Internet. Daripada jumlah itu, 56 peratus penerbit melakukan jualan terus dari laman web masing-masing manakala 27 peratus daripadanya melakukan penjualan di kedai-kedai buku tempatan atau kedai buku dalam talian yang besar.</p>
		<div id="geo-post-499" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Resep Curian di Dapur Penerbit]]></title>
<link>http://bukunya.wordpress.com/2010/11/16/resep-curian-di-dapur-penerbit/</link>
<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 07:37:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>bukunya</dc:creator>
<guid>http://bukunya.wordpress.com/2010/11/16/resep-curian-di-dapur-penerbit/</guid>
<description><![CDATA[[by Okta Wiguna] Evida tak lagi mengunggah masakan atau kue bikinannya di blog With Food and Love, C]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>[by Okta Wiguna] Evida tak lagi mengunggah masakan atau kue bikinannya di blog <a href="http://dapurpippi.blogspot.com/">With Food and Love, Comes Warmth</a>. Padahal lima bulan lalu ia rajin menulis resep masakan yang dicoba, lengkap dengan foto hasilnya. “Saya jadi malas menulis hasil masakan saya, malas mengisi blog, bahkan mengintip blog saya sendiri pun enggan.”  </p>
<p>Maret lalu Evida kaget melihat sebuah buku resep yang tanpa permisi mengambil tulisan serta foto-foto di blognya. Apalagi, buku terbitan Surabaya itu bukan satu-satunya. Ia tak terlalu keberatan soal resepnya, toh ia sendiri mengutip dari sana-sini. “Tapi, enggak perlu mengambil foto-fotonya juga kan?” tulisnya.</p>
<p>Evida cuma satu dari banyak blogger yang resep ataupun foto masakannya dicuri penerbit. <!--more-->Mereka curhat di laman situs <a href="http://www.facebook.com/pages/Lawan-Pencurian-Foto-dan-Konten-Blog/109458419075884">Facebook Lawan Pencurian Foto dan Konten Blog!</a>. </p>
<p>Mereka inilah korban booming buku resep masakan. Mewabahnya tayangan memasak di televisi, mendadak membuat gairah menjajal aneka masakan melonjak. Buku resep pun diburu dan penjualannya sampai menyaingi novel-novel bestseller. </p>
<p>Seorang editor bahkan membisikkan beberapa penulis buku resep menangguk pembayaran royalti super besar. “Mereka tinggal duduk saja dan uang terus mengalir.”</p>
<p>Bukan cuma penulis yang diuntungkan, penerbit pun setali tiga uang. Buku jenis ini tak perlu repot mengolahnya, tak perlu repot menelaah kata dan kalimat. Tak perlu jadi juru masak berijazah pun asal datang bawa resep apalagi sekaligus foto contoh penyajian, naskah bisa diterbitkan. Bahkan patut diragukan apakah resep-resep tersebut sempat diuji coba karena saya belum pernah melihat kantor penerbit dengan dapur yang memadai buat memasak.</p>
<p>Fenomena buku masak ini bukan cuma di tanah air. Penerbit Bloomsbury yang kebingungan setelah serial Harry Potter habis pun beralih ke buku resep. Menurut Chief Executive Bloomsbury Nigel Newton, buku resep yang biaya produksinya murah menjadi jalan keluar kala tahun lalu krisis ekonomi memporak-porandakan keuangan perusahaan. </p>
<p>Namun masalah dalam dunia penerbitan selalu sama. Aliran naskah tak selancar yang diinginkan penerbit, padahal buat bersaing dalam genre ini ada dua syarat penting, yakni variasi menu dan terus-menerus menyuplai buku baru. </p>
<p>Sebuah penerbit yang bermarkas di Jakarta Selatan sebenarnya sangat tertarik meraup untung dari tren buku resep, namun mereka batal karena tak sanggup menyediakan banyak judul dalam waktu singkat. “Kalau cuma menaruh satu atau dua ya habis dilibas yang lain.”</p>
<p>Kebutuhan naskah yang tinggi itu memicu penjarahan resep dari sumber yang melimpah dan tak terlindungi dengan baik: blog. Bisa jadi penulisnya yang nakal sehingga penerbit mesti hati-hati betul menyeleksi naskah dan mengecek ulang terutama foto masakan yang dipakai dalam buku kalau tak mau tersandung aturan soal hak cipta. </p>
<p>Padahal daripada mencuri isinya, penerbit justru bisa menggandeng pemilik blog resep dan menerbitkan karya mereka daripada merampok. Pencurian karya hanya akan membuat semakin banyak blogger seperti Ervida  yang enggan menulis lagi dan ujung-ujungnya penerbit malah akan semakin sulit mencari naskah buat diterbitkan. Penerbit yang bengal, sudah sepantasnya diberi pelajaran.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kanak-kanak dan Buku]]></title>
<link>http://ezaleila.wordpress.com/2010/07/01/kanak-kanak-dan-buku/</link>
<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 16:57:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Siti Ezaleila Mustafa</dc:creator>
<guid>http://ezaleila.wordpress.com/2010/07/01/kanak-kanak-dan-buku/</guid>
<description><![CDATA[Buku kanak-kanak merupakan sesuatu yang amat penting dalam kehidupan mereka walaupun ia bukan merupa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Buku kanak-kanak merupakan sesuatu yang amat penting dalam kehidupan mereka walaupun ia bukan merupakan suatu keperluan. Buku bukan sekadar bahan untuk bacaan, tetapi bahan untuk mendidik kanak-kanak dalam proses mereka mengenal persekitaran dan dunia di samping membentuk perkembangan awal kanak-kanak. Buku juga dapat memudahkan kehidupan harian kerana melaluinya terkandung banyak perkara yang tidak dapat dijelaskan oleh orang dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Marshall (1982), terdapat pelbagai faedah yang akan diperoleh kanak-kanak melalui pembacaan bahan yang sesuai dengannya. Antara faedah tersebut adalah seperti yang berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mereka akan mengalami perkembangan dari segi proses berfikir, imaginasi, intelektual, perbendaharaan kata, bahasa, persepsi mental dan visual, serta menambahkan pengetahuan.</li>
<li>Mereka memperoleh akses kepada pemikiran dan pengalaman masyarakat, dan melalui skil membaca yang ada mereka juga boleh mengambil bahagian dalam masyarakat celik huruf seperti membaca notis dan arahan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Oleh itu, kanak-kanak perlu didedahkan dengan buku sejak mereka kecil lagi agar tabiat atau minat membaca sebati dalam diri mereka. Namun, pada peringkat umur berapakah kanak-kanak perlu didedahkan dengan buku tidak dapat dipastikan. Banyak pendapat dikemukakan tentang perkara ini. Secara teorinya, kanak-kanak boleh didedahkan dengan tabiat membaca sejak mereka di dalam kandungan ibu lagi.  Banyak pakar menyatakan, tabiat ibu semasa mengandung akan mempengaruhi tabiat kanak-kanak yang bakal dilahirkan. Namun, lazimnya kanak-kanak di Malaysia mula didedahkan dengan bahan bacaan ketika mereka berusia enam tahun, iaitu ketika di peringkat prasekolah atau ketika mereka berada di tadika.</p>
<p style="text-align:justify;">Buku kanak-kanak bukan sekadar dibaca oleh golongan kanak-kanak malah turut dibaca oleh orang dewasa. Ini kerana mereka terlibat dalam proses pemilihan dan pembelian buku bagi pihak kanak-kanak terutama bagi kanak-kanak yang masih kecil. Mereka juga terlibat dengan kanak-kanak melalui pembacaan bersama. Orang dewasa seperti guru dan ibu bapa akan membaca dengan kuat kandungan buku yang dipilih dan didengar dan/ diulangi oleh khalayak mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini, jelas dilihat peranan yang dimainkan oleh orang dewasa dalam usaha mendedahkan dunia buku kepada kanak-kanak.  Oleh itu, pemilihan buku yang sesuai amat diperlukan dan untuk memilih dan membelinya, mereka perlu membaca atau melihat kandungan buku-buku tersebut.  Di samping itu, mereka juga perlu mengetahui atau memahami kanak-kanak yang terlibat dengan mereka.  Dan ini lebih mudah jika mereka mengetahui keperluan dan minat kanak-kanak yang berbeza kerana pelbagai faktor. Mereka juga perlu tahu kelompok kanak-kanak yang terlibat kerana perkembangan dan keupayaan mereka berbeza–beza.</p>
		<div id="geo-post-440" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penggunaan Muka Taip]]></title>
<link>http://ezaleila.wordpress.com/2010/06/11/penggunaan-muka-taip/</link>
<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 20:06:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Siti Ezaleila Mustafa</dc:creator>
<guid>http://ezaleila.wordpress.com/2010/06/11/penggunaan-muka-taip/</guid>
<description><![CDATA[Dalam perekaan media, penggunaan muka taip (font) tidak dapat dielakkan kerana ia merupakan salah sa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam perekaan media, penggunaan muka taip (<em>font</em>) tidak dapat dielakkan kerana ia merupakan salah satu elemen yang penting.</p>
<p>Terdapat beberapa panduan dalam menggunakan muka taip dalam sesuatu perekaan.</p>
<p>o Jangan guna terlalu banyak muka taip yang berbeza; dua atau tiga sudah memadai.<br />
o Perlu konsisten.<br />
o Mengambil kira:</p>
<ol>
<li>Legibiliti  &#8211; dapat dibaca dengan mudah, difahami dan dinikmati; dicapai dengan penggunaan rupa taip yang mudah dibaca, penggunaan <em>leading</em>, dan panjang baris yang sesuai</li>
<li>Kesesuaian – merujuk pada elemen psikologi, tahap khalayak, dan harmoni.</li>
</ol>
<div>o Boleh guna saiz, keberatan, dan gaya yang berbeza jika perlu mewujudkan kepelbagaian.</div>
<div></div>
<div style="padding-left:30px;">
<ul>
<li><strong>BERHATI-HATI</strong>. Teks boleh <strong>MENJERIT</strong>, <em>berbisik</em>, merayu.</li>
</ul>
</div>
<div style="padding-left:30px;"></div>
<div style="padding-left:30px;"><a href="http://ezaleila.files.wordpress.com/2010/06/picture1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-418" title="Picture1" src="http://ezaleila.files.wordpress.com/2010/06/picture1.jpg?w=547&#038;h=85" alt="" width="547" height="85" /></a></div>
		<div id="geo-post-417" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja]]></title>
<link>http://nyonyabuku.wordpress.com/2010/05/02/declare-kamar-kerja-penerbit-jogja/</link>
<pubDate>Sun, 02 May 2010 06:34:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>nyonyabuku</dc:creator>
<guid>http://nyonyabuku.wordpress.com/2010/05/02/declare-kamar-kerja-penerbit-jogja/</guid>
<description><![CDATA[Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja Sebetulnya, Nyonya Buku agak telat baca buku Declare!. Makanya c]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_15" class="wp-caption alignleft" style="width: 208px"><a href="http://nyonyabuku.files.wordpress.com/2010/05/declare.jpg"><img class="size-medium wp-image-15 " title="Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja" src="http://nyonyabuku.files.wordpress.com/2010/05/declare.jpg?w=198&#038;h=300" alt="" width="198" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja</p></div>
<p>Sebetulnya, Nyonya Buku agak telat baca buku Declare!. Makanya cari sana sini enggak dapet-dapet karena buku ini dirilis tahun 2007. Plus, cuma dikit, mungkin.</p>
<p>Tahun 2008, Nyonya Buku sempet liat tuh buku di Gramedia Plaza Semanggi. Tapi enggak beli. heks&#8230; (kayaknya dulu karena duit kurang, hihihi. harga Declare Rp60 ribu dan Nyonya Buku dah nenteng lima buku).</p>
<p>Lama lama tuh buku enggak keliatan lagi. Pas kebetulan Nyonya Buku ke Yogyakarta, enggak nemu juga.  Nyari ke Tobucilnya Tarlen, enggak nemu. Malah dia juga nyari, katanya. Hehe. Trus, Nyonya Buku sok pede nanya ke penulisnya langsung, cuma dijawab, &#8220;cari di Toga Mas mungkin ada. Lha dulu nerbitinnya juga yaa gitu dehhh..&#8221;</p>
<p>Akhirnya, baru nemu bulan Maret 2010, di Toga Mas, Depok. Herannya, buku ini dikategorikan ke dalam buku-buku psikologi. Hehehehe&#8230;</p>
<p>Kenapa Nyonya Buku ngotot ama buku ini?</p>
<p><!--more--></p>
<p>Karena Nyonya Buku merasa penasaran betul ama dunia penerbitan. Dan buku ini bercerita tentang dunia penerbitan di Yogyakarta era 1998-2007. Dan para penerbit Jogja itu, buat Nyonya Buku, ialah kumpulan orang yang obsesif dan maniak dan cinta buku. hehehehe..</p>
<p>Era 97-2002, ketika Nyonya Buku masih kuliah, banyak buku-buku provokatif yang diterbitkan penerbit Jogja. Mulai dari terjemahannya Fritjof Tjapra, Karen Armstrong, sampai Ivan Illich.</p>
<p>Makanya Nyonya Buku berasa punya alasan personal untuk tau, kenapa sih saat itu penerbit Jogja &#8216;jagoan&#8217; bener.  Bahkan sampai ada karya-karya sastra kelas nobel yang dikemas seukuran buku saku pramuka dan dijual Rp5 ribuan di stasiun kereta (thx AS Laksana)</p>
<p>Penulis buku ini, Adhe Maruf, sebetulnya juga pelaku. Jadi dia bisa fasih dan gamblang blak-blakan bercerita fenomena menjamurnya penerbit buku indie di era itu, topik-topik provokatif yang muncul pada tahun itu, plus kembang kempisnya penerbit, buruknya manajemen dan pembelaan penerbit Jogja tentang copyright.</p>
<p>Isinya komplit. Adhe punya dokumentasi rapi mengenai isu saat itu, plus wawancara dengan para penerbit Jogja.</p>
<p><strong>So, Skip it or Pick it?</strong></p>
<p><strong>Pick it</strong> buat kalian yang tertarik dengan dunia penerbitan, karena buku ini membedah komplit. Sampai ada harga mesin cetak merek TOKO yang kondang itu, plus itung-itungan bisnis penerbitan. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pasar Buku yang Turun atau Kue yang Terbagi?]]></title>
<link>http://manistebu.wordpress.com/2010/04/27/pasar-buku-yang-turun-atau-kue-yang-terbagi/</link>
<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 00:34:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>manistebu</dc:creator>
<guid>http://manistebu.wordpress.com/2010/04/27/pasar-buku-yang-turun-atau-kue-yang-terbagi/</guid>
<description><![CDATA[Diskusi dengan Mas Tony dari Penerbit Aqwam Solo membawa saya pada catatan pagi ini soal menurunnya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Diskusi dengan Mas Tony dari Penerbit Aqwam Solo membawa saya pada catatan pagi ini soal menurunnya omzet beberapa penerbit dalam kurun 6 bulan terakhir ini. Awalnya ditengarai karena krisis, tetapi alih-alih menyebut krisis, toh malah ekonomi masyarakat secara umum bergerak normal dan bagaimanapun banyak perusahaan yang membukukan keuntungan berlipat, misalnya di bisnis teknologi informasi. Pada seorang penggiat buku, Mas Burhan Shadiq, sempat saya ungkapkan (meski kemudian chat terputus&#8230;) bahwa perkembangan teknologi informasi dan era digital turut mempengaruhi pasar buku Indonesia. Apa pasal? Meskipun banyak orang yang makin senang membaca serta menulis, mereka justru tumbuh pesat masuk dalam dunia digital, seperti kelahiran blog, facebook, twitter, dan juga portal-portal berita cepat saji. Orang lebih senang mengakses langsung dan sejenak &#8216;melupakan&#8217; buku tercetak. Lalu, kehadiran iPad sebentar lagi paling tidak juga akan berpengaruh terhadap perilaku, misalnya mengoleksi buku. Alih-alih membangun perpustakaan rumah dengan buku tercetak, orang-orang masa kini pun akan merasa simpel dengan menyimpannya di dalam iPad&#8211;bayangkan puluhan ribu judul buku!</p>
<p>Turunnya omzet dapat pula disebabkan momentum tertentu, misalnya dari group distributor Agromedia saya sempat mendengar asumsi bahwa momentum UN yang dimajukan pemerintah turut mempengaruhi minat orang membeli buku. Konsentrasi ortu dan para anak atau remaja adalah pada UN sehingga buku-buku yang sifatnya topik sekunder tak dilirik. Baru kemarin <em>Kompas</em> menurunkan hasil survey bahwa minat membaca masyarakat di perkotaan mulai tumbuh signifikan (<a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/24/15495174/Minat.Baca.Buku.Mulai.Tumbuh" rel="nofollow">http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/24/15495174/Minat.Baca.Buku.Mulai.Tumbuh</a>) dan tetap yang berjaya dicari adalah buku-buku bertema spiritual. Lalu, keluhan paling nyaring justru datang dari penerbit-penerbit spiritual Islam yang mengalami penurunan drastis omzet penjualan sejak kurun 6 bulan terakhir ini. Apa pasal? Benarkah UN mempengaruhi?</p>
<p>Saya cuma memainkan prediksi tentang kue penerbitan yang terbatas karena jumlah orang dengan minat baca tinggi sekaligus memiliki daya beli juga tidak terlampau banyak atau persentasenya kecil dibandingkan 240 juta lebih rakyat Indonesia. Kue terbatas ini makin sesak diperebutkan banyak penerbit, dari mulai penerbit gurem (<em>small publisher</em>), penerbit menengah (medium publisher), dan penerbit besar. Judul buku-buku baru dan penerbit baru makin atraktif nampang di rak-rak toko buku, terkadang satu topik dikerubuti oleh lebih dari 10 judul. Lihat saja dalam ranah spiritual Islam, topik shalat dhuha dikerubuti puluhan penerbit. Lebih umum lagi yang lagi ngetren sekarang topik bisnis &#8216;bermain&#8217; saham dikerubuti begitu banyak penerbit atau soal &#8216;otak tengah&#8217;.</p>
<p>Saya kurang tahu apakah ada peningkatan signifikan kunjungan ke toko buku semisal Gramedia. Apakah di antara ratusan pengunjung tiap hari memang ada pelanggan setia, artinya yang datang rutin berkali-kali? Berapa persentase pelanggan setia dan pelanggan dadakan? Kalau tidak tumbuh, berarti pertumbuhan judul dan jumlah eksemplar yang masuk ke toko tidak sebanding dengan jumlah calon pembaca.</p>
<p>Ada yang unik hasil survey <em>Kompas</em> bahwa pembaca Indonesia tidak terlalu memedulikan &#8216;penerbit&#8217; dan &#8216;penulis&#8217;. Nah loh, ini patut menjadi perhatian karena &#8216;nama besar&#8217; penerbit bukan menjadi jaminan best seller-nya sebuah produk. Penerbit gurem atau penerbit &#8216;kemarin sore&#8217; tiba-tiba bukunya mampu mencuri perhatian dan naik daun seperti ulat bulu&#8211;menggelitik rasa ingin tahu. Penulis pun setali tiga uang. Apa pernah pembaca Indonesia menelisik para penulis yang menyusun buku tentang bisnis rumahan atau bisnis dengan modal di bawah 2 jutaan?&#8211;selidik punya selidik terkadang penulisnya sendiri pun tidak punya bisnis! Apalagi buku-buku bertema bagaimana mendapatkan kekayaan dengan berbagai cara, selidik punya selidik lha penulisnya belum kaya. Jadi, sekarang memang lahir para penulis instan yang juga ditumbuhkan oleh dunia digital.</p>
<p>Mari kita simak beberapa buku <em>fast book instan</em> tersebut, terbanyak daftar pustakanya berasal dari blog. Celakanya sumber sekunder yang digunakan ini, misalnya dari blog, adalah hasil pengutipan dan pengutipan dari sumber utamanya. Adapun sang penulis instan tadi enggan melakukan cek serta ricek sumber aslinya. Saya pernah mendapatkan sebuah naskah tentang editing yang isinya hampir semua tulisan saya dan ketika saya melihat daftar pustaka, yang dirujuk adalah blog orang lain sebagai sumber yang dituliskan. Lha, saya penciptanya gak disebut-sebut. Hehehe.</p>
<p>Jadi, pergerakan &#8216;minat menulis&#8217; dan lahirnya penulis-penulis baru memang makin menggila karena begitu mudahnya orang mendefinisikan buku yang nyaris sebagian besar terbit tanpa &#8216;kedalaman&#8217; dan &#8216;keseriusan&#8217; menggarapnya, baik dengan riset maupun penelusuran sumber yang valid. Karena itu, tumbuh pula judul-judul buku yang penuh dengan topik dan tema saling bertubrukan serta desain yang memang semakin baik sehingga butuh keterampilan untuk &#8216;memilih&#8217; dan &#8216;memilah&#8217; buku mana yang paling tepat untuk para pembaca. Apakah banyak pembaca yang kecele? Setahu saya memang banyak yang demikian karena tertipu judul atau penampilan luar sebuah buku.</p>
<p>Kue pasar buku umum tidak tumbuh signifikan tampaknya, sedangkan penerbit, penulis, dan produksi judul terus tumbuh berangsur-angsur. Regulasi pemerintah yang menelikung bisnis buku teks di sekolah-sekolah, membuat beberapa penerbit buku teks sekolah mendapat ide memutar haluan ke bisnis penerbitan buku umum. Hal ini mendorong antrean kue yang makin sesak, apalagi sebagian besar penerbit buku teks itu bermodal kuat. Di sisi lain, banyak pula percetakan yang seperti mendapat katarsis untuk sekaligus menerbitkan buku biar mesin-mesinnya &#8216;punya makanan&#8217; juga. Alhasil, kini bos percetakan pun mencari para penggiat penerbitan ataupun penulis untuk direkrut guna mendirikan penerbit.</p>
<p>Jadi, zaman sekarang semakin mudah menerbitkan buku sekaligus semakin mudah menulis buku. Lalu, seorang teman membisikkan, &#8220;Gak apa-apa Pak Bambang, pasti ada yang namanya seleksi alam.&#8221; Betul, lambat laun penerbit dan penulis yang memang tidak punya <em>passion</em> dan <em>skill</em> sebenarnya dari penerbitan pasti tak berumur panjang. Namun, geliat industri saat ini dengan persaingannya dan kemajuan teknologi informasi sungguh memanjakan banyak orang untuk masuk pada industri yang terbilang elite di Amerika maupun Eropa ini.</p>
<p>Alhasil, memang para penggiat buku, khususnya penerbit di Indonesia selalu ditantang untuk berpikir kreatif, bukan soal produksi, tetapi juga soal pasar buku. Edukasi masyarakat adalah penting sehingga penerbit jangan hanya fokus pada bagaimana menjual sebanyak-banyaknya tanpa melakukan kontak langsung dengan pembaca maupun calon pembaca lewat community development maupun mengembangkan apa yang disebut duta-duta buku (ambasador buku) itu sendiri. Perlu ada sinergi antarpenerbit alih-alih mempertajam persaingan. Boleh jadi terdapat 1.001 ide sinergi yang dapat menumbuhkan minat baca sekaligus minat membeli secara signifikan kepada anak-anak, remaja, ibu-ibu, eksekutif muda, dan juga akademisi. Fokus kita bersama adalah memperbesar kue meskipun antrean penerbit makin panjang atau juga menyasar niche market yang mungkin masih sepi antrean. Sekali lagi, masih perlu kajian lebih mendalam&#8211;padahal kita sering tidak suka dengan yang dalam-dalam. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>:catatan perbukuan<br />
<strong>Bambang Trim</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pelangi dan Penerbitan Novel]]></title>
<link>http://ezaleila.wordpress.com/2010/04/25/pelangi-dan-penerbitan-novel/</link>
<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 18:06:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Siti Ezaleila Mustafa</dc:creator>
<guid>http://ezaleila.wordpress.com/2010/04/25/pelangi-dan-penerbitan-novel/</guid>
<description><![CDATA[Penerbitan Pelangi sudah sinonim dengan penerbitan buku akademik atau buku rujukan sekolah. Malah pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Penerbitan Pelangi sudah sinonim dengan penerbitan buku akademik atau buku rujukan sekolah. Malah penerbit yang berpusat di Johor ini juga dikenali sebagai penerbit buku pendidikan termasuk untuk kanak-kanak.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini, syarikat penerbitan itu mengorak langkah memasuki dunia baru yang di luar pengkhususannya dengan menerbitkan karya kreatif pula, iaitu novel Melayu. Malah, semasa PBAKL 2010 Pelangi telah mengadakan majlis pelancaran bagi novel-novel terbitannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya telah membaca dua judul daripadanya: <em>Jalan Seribu Liku</em> dan <em>Langit Mekah Berkabut Merah</em>. Pada mulanya saya menghadapi masalah untuk menentukan yang mana perlu dibaca dahulu setelah melihat hampir keseluruhan 10 judulnya menggunakan perkataan &#8220;cinta&#8221; atau &#8220;kasih&#8221; yang secara langsungnya menunjukkan novel-novel berkenaan menyentuh perihal percintaan. Tema yang sudah agak kurang saya minati.Namun, kedua-dua novel yang dibaca ini agak berbeza.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ezaleila.files.wordpress.com/2010/04/p4250389.jpg"><img class="size-medium wp-image-343 alignleft" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://ezaleila.files.wordpress.com/2010/04/p4250389.jpg?w=152&#038;h=203" alt="" width="152" height="203" /></a>Walaupun <em>Jalan Seribu Liku</em> karya Maskiah Masrom masih berfokuskan cinta remaja, ia sebenarnya membawa persoalan yang lebih besar daripada itu yang melibatkan jati diri dan agama. Novel ini memaparkan konflik watak utamanya, Christine Sita Dewi dibesarkan sebagai penganut dualisme, memilih kepercayaannya setelah bapanya yang beragama Kristian dan ibunya beragama Hindu membesarkannya mengikut agama masing-masing dengan membawanya ke gereja dan kuil setiap hari Ahad. Dalam memilih kepercayaannya yang satu, penulis novel ini berjaya memaparkan konflik watak utamanya dengan baik di samping memberi  penjelasan serba sedikit tentang agama-agama yang menyebabkan konflik watak utamanya. <em>Jalan Seribu Liku</em> sebenarnya pernah memenangi Hadiah Sastera  Darul Takzim pada tahun 2001.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Langit Mekah Berkabut Merah</em> karya Geidurrahman El-Mishry yang berlatarbelakangkan kota suci Makkah merupakan cebisan kisah benar seorang wanita Indonesia <a href="http://ezaleila.files.wordpress.com/2010/04/p42403831.jpg"><img class="alignright size-medium  wp-image-342" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://ezaleila.files.wordpress.com/2010/04/p42403831.jpg?w=162&#038;h=216" alt="" width="162" height="216" /></a>bernama Midah yang bekerja sebagai pembantu rumah di kota suci itu dengan niat untuk membantu keluarganya. Walaupun pada awalnya, ia dilihat sebagai peluang yang sangat berharga, lebih-lebih lagi rumah majikannya berdekatan dengan Masjidil Haram, kegembiraan itu tidak berpanjangan. Pelbagai dugaan diterima &#8211; gangguan seksual, tidak diberi makan, dilayan dengan teruk oleh majikan &#8211; sehingga menyebabkannya melarikan diri dari rumah majikannya. Namun, kehidupannya terus ditimpa malang apabila bekas majikannya menemuinya setelah mengetahui berita tentangnya di media dan membuat laporan yang Midah menjadi pekerja seks. Midah akhirnya dihukum rejam. Novel ini memaparkan kisah tragis antara Midah dengan watak heronya, Firdaus.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun masih memuatkan kisah percintaan, kedua-duanya membawa tema yang agak serius dan disampaikan oleh penulis-penulisnya dengan agak menarik. Percintaannya tidak terhad kepada angan-angan cinta remaja, malah melibatkan rasa cinta pada agama dan keluarga. Tahniah kepada Pelangi kerana berjaya mencari karya sebegini dan tidak terlalu mengikut trend pasaran yang berfokus pada novel popular ringan.</p>
<p style="text-align:justify;">
		<div id="geo-post-337" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Persidangan Antarabangsa Buku Kanak-kanak 2010]]></title>
<link>http://ezaleila.wordpress.com/2010/04/12/persidangan-antarabangsa-buku-kanak-kanak-2010/</link>
<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 15:07:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Siti Ezaleila Mustafa</dc:creator>
<guid>http://ezaleila.wordpress.com/2010/04/12/persidangan-antarabangsa-buku-kanak-kanak-2010/</guid>
<description><![CDATA[Persidangan Antarabangsa Buku Kanak-kanak 2010 anjuran MBBY dengan kerjasama MBKM dan MBIC yang diad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Persidangan Antarabangsa Buku Kanak-kanak 2010 anjuran MBBY dengan kerjasama MBKM dan MBIC yang diadakan pada 22-23 Mac yang lalu telah berlangsung dengan lancar.  Seperti yang dimaklumkan sebelum ini, persidangan ini memuatkan lima aktiviti utama, iaitu seminar, bengkel penulisan, bengkel ilustrasi, pameran, dan peraduan ilustrasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Persidangan itu telah dirasmikan oleh YABhg. Datin Seri Rosmah Mansor pada sebelah paginya. Majlis kemudian diikuti dengan sesi seminar oleh enam orang pembentang jemputan yang masing-masing terlibat secara langsung dengan sastera dan bahan bacaan kanak-kanak. Majlis ilmu ini sedikit sebanyak memberikan maklumat berguna tentang aktiviti penerbitan dan perbukuan buku kanak-kanak di negara luar terutama Iran, Turki, dan Nigeria melalui pembentangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Memandangkan ramai juga pengunjung blog ini yang mencari/membaca entri tentang buku kanak-kanak, saya sertakan <a href="http://ezaleila.files.wordpress.com/2010/04/paper_persidangan-bkk-2010.pdf">Paper_Persidangan BKK 2010</a> itu di sini. (Kertas kerja ini juga boleh diperoleh di laman web rasmi MBBY, iaitu <a href="http://www.mbby.net" rel="nofollow">http://www.mbby.net</a>.)</p>
		<div id="geo-post-305" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memahami Perekaan Buku]]></title>
<link>http://ezaleila.wordpress.com/2010/04/09/memahami-perekaan-buku/</link>
<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 17:54:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Siti Ezaleila Mustafa</dc:creator>
<guid>http://ezaleila.wordpress.com/2010/04/09/memahami-perekaan-buku/</guid>
<description><![CDATA[Dalam sebuah kursus yang saya kendalikan baru-baru ini, saya ditanya &#8220;adakah perekaan buku mem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah kursus yang saya kendalikan baru-baru ini, saya ditanya &#8220;adakah perekaan buku memerlukan pertimbangan dari segi psikologi khalayak&#8221; apabila saya menyentuh perkara berkaitan penggunaan dan peletakan gambar foto dalam sesebuah perekaan buku. Sama seperti yang sering saya tekankan kepada pelajar, perekaan bukan suatu kerja &#8220;syok sendiri&#8221;; asal cantik di mata, itu sudah memadai. Perekaan lebih daripada itu kerana ia melibatkan proses komunikasi. Pereka menjadi penghubung &#8211; melalui hasil kerjanya &#8211; antara pengarang dengan pembaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini kerana perekaan sebenarnya merujuk pada komunikasi visual, iaitu proses komunikasi yang bergantung pada kandungan visual seperti fotograf, ilustrasi, data, dan teks sebagai bahan yang membawa maklumat. Oleh itu, seseorang  pereka akan berusaha menyampaikan mesej pengarang sebaik mungkin kepada pembaca. Dalam setiap tugasnya, seseorang pereka perlu memikirkan cara yang sesuai untuk menyampaikan komunikasi itu dengan berkesan agar pembaca boleh menerima mesej pengarang dengan lancar tanpa gangguan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<blockquote style="text-align:justify;"><p>&#8220;… it&#8217;s about turning a good book into an effective, easy-to-use, or entertaining professional piece of literature.&#8221; &#8211; Colin Dunbar</p></blockquote>
<div style="text-align:justify;"><!--[if ppt]--><!--[endif]--></div>
<p style="text-align:justify;">Namun, tidak ramai yang sedar akan fungsi ini. Ramai yang beranggapan,  perekaan hanya melibatkan penentuan rupa hias sesebuah buku. Ia  sebenarnya lebih daripada itu.</p>
<blockquote style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Graphic design is an applied art.  That  means you don&#8217;t just design something to be pretty, you design it  to  WORK, to serve a purpose. Design projects that work are designed with  a  specific goal in mind: to sell, to teach, to warn, to communicate   feelings or information. ” &#8211;   Will-Harris</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Seorang pereka (selalunya bersama dengan editor) perlu mempertimbangkan banyak perkara sebelum memulakan tugasnya. Oleh sebab itu, perekaan didefinisikan sebagai &#8220;proses atau hasil daripada <em>merancang, menyusun, mereka, dan membentuk idea</em> untuk menghasilkan suatu konsep atau produk yang mempunyai nilai sama ada <strong>fungsional</strong>, <strong>estetika</strong>, atau <strong>komersial</strong>.&#8221; Ini bermakna perekaan sebenarnya merujuk pada hasil, proses, dan juga seni.</p>
<p style="text-align:justify;">
<blockquote style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">&#8220;Book design, like typography, is one of those things we take for  granted unless we practice them professionally; as readers most of us  don&#8217;t consciously notice how a page is laid out unless it screams to be  notices. But our ability to enjoy and use books depends partly on the  art and craft of the book designer.&#8221; -  John D. Berry</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pereka bukan sahaja perlu memikirkan elemen-elemen perekaan yang akan digunakan dan menyusunnya dalam bentuk yang berfungsi, malah perlu mengambil kira tiga fungsi utama buku: untuk dijual, untuk digunakan, dan untuk dibaca.</p>
<p style="text-align:justify;">
<blockquote style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“The designer must be at all times a mediator, an interpreter:  through his imagination, his experience and his knowledge of the art,  craft, and science of printing he converts the typescript into a book  and expresses the author&#8217;s words clearly and sympathetically to the  reader and yet his designed for a clear text, however good in itself, is  not enough; his integration into the text of the illustrations, their  print on pleasing paper, the book&#8217;s insertion into a strong binding  within an irresistible jacket, are needed to fuse the whole book into  the harmony that seems easy and irresistible.&#8221;  -  John Trevitt</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Petikan di atas menunjukkan bahawa perekaan buku bukan sahaja melibatkan elemen perekaan dari kulit depan hingga kulit belakang buku, malah ia juga melibatkan perekaan fizikal buku itu sendiri sebagai objek yang boleh digunakan (<em>usable object</em>) . Sebagai &#8220;usable object&#8221; yang melibatkan penggunaan tangan dan mata, setiap keputusan yang diambil akan mempengaruhi format, ketebalan, dan berat buku itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itu, setiap tugas perekaan akan berpusatkan pengguna. Oleh sebab itu, soalan-soalan seperti ini perlu dijawab sebelum melakukan sesuatu perekaan: Siapakan yang akan membaca atau menggunakannya? Bagaimanakah buku itu akan dibaca dan digunakan? Di manakah ia akan digunakan? Apakah tujuan buku itu digunakan? Selain itu, perekaan juga perlu mencerminkan profil pembaca di samping mengpotimumkan pemahaman   mesej yang dibawa oleh sesebuah buku.</p>
<blockquote style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“My work in book design always begins with the content&#8230;. And, I must understand the reader.&#8221;  &#8211; Solomon</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itu,sesuatu perekaan perlu melahirkan “suasana” yang diperlukan untuk pembaca “mewujudkan hubungan” dengan kandungan sesebuah buku. Buku perlu dibentuk sebagai ruang komunikasi kepada pembaca. Dan setiap aspek dalam buku mempunyai implikasi terhadap penggunaan praktikalnya. Maka, perekaan yang baik merupakan ekspresi visual yang berfungsi dalam interaksi yang optimis dengan komunikasi dan strategi.</p>
<blockquote style="text-align:right;">
<p style="text-align:justify;">“Right and wrong do not exist in graphic design. There is only effective and non-effective communication.”  &#8211; Peter Bilak</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">
		<div id="geo-post-294" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Daripada Penerbitan Bercetak kepada Penerbitan Elektronik]]></title>
<link>http://ezaleila.wordpress.com/2010/03/31/daripada-penerbitan-bercetak-kepada-penerbitan-elektronik/</link>
<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 18:08:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Siti Ezaleila Mustafa</dc:creator>
<guid>http://ezaleila.wordpress.com/2010/03/31/daripada-penerbitan-bercetak-kepada-penerbitan-elektronik/</guid>
<description><![CDATA[Kemajuan teknologi maklumat dan komunikasi (ICT), terutama dengan gabungan teknologi digital, pengko]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kemajuan teknologi maklumat dan komunikasi (ICT), terutama dengan gabungan teknologi digital, pengkomputeran, dan digital, sebenarnya boleh dimanfaatkan oleh penerbit dengan menghasilkan penerbitan elektronik atau penerbitan dalam talian. Ini ditambah pula dengan trend penggunaan ICT yang semakin meningkat yang memperlihatkan semakin ramai yang mencari maklumat dan membaca hanya menerusi Internet. Oleh sebab itu, selain bentuk penerbitan bercetak, banyak juga surat khabar dan majalah diterbitkan dalam bentuk penerbitan dalam talian seperti <em>Kompas Jakarta Post, Tempo, Detik, Berita  Harian, The Star, Utusan  Malaysia, Kosmo</em>, <em>Sinar  Harian</em>, dan sebagainya. Melalui penerbitan dalam talian ini, berita tentang pelbagai negara boleh diketahui dengan mudah oleh sesiapa sahaja tanpa batasan pada bila-bila masa.</p>
<p style="text-align:justify;">Penerbitan elektronik ialah suatu bentuk yang memperlihatkan bahan terbitan dikeluarkan dan disimpan secara elektronik bukan dalam bentuk cetakan. Malah ia merujuk pada proses yang menggunakan bantuan komputer untuk mencari, membentuk, menyimpan, dan mengemas kini kandungan maklumat kepada khalayak. Kualiti yang terhasil sama seperti penerbitan biasa (Saxena, 2009). Penerbitan elektronik boleh merujuk pada buku elektronik, periodikal elektronik, penerbitan mel elektronik, penerbitan multimedia, dan kandungan digital.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut UNCTAD, penerbitan bentuk ini memberi peluang kepada penerbit kecil untuk mengukuhkan kehadiran mereka di pasaran yang dimonopoli oleh penerbit-penerbit besar dalam industri budaya ini. Dengan mengurangkan kos dan peranan orang tengah, ia dapat membuka pasaran baharu kepada penerbit. Penerbitan elektronik terdiri daripada teknologi dan model perniagaan yang melibatkan penghasilan, penyelenggaraan, pengarkiban dan pengedaran dokumen (buku, jurnal, majalah, surat khabar dan lain-lain) dalam bentuk elektronik dan/atau melalui komputer.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini bermakna segala proses penerbitan bermula daripada penghasilan dokumen oleh penulis sehingga dokumen tersebut sampai kepada pembaca tidak lagi berasaskan kertas, tetapi berasaskan elektronik dan menggunakan teknologi pengkomputeran. E-buku membolehkan sesiapa sahaja membaca sebarang dokumen digital dalam format fail sama ada PDF, Word, atau HTML di komputer, telefon bimbit, atau pembantu digital peribadi (PDA)</p>
<p style="text-align:justify;">Di Indonesia, Penerbit Mizan menjadi perintis kepada penerbitan buku elektronik apabila menerbitkan Wasiat Sufi Imam Khomeini kepada Puteranya Ahmad Khomeini pada tahun 2001. Selepas itu, penerbit berkenaan juga menerbitkan buku elektronik tentang perjalanan syarikat berkenaan yang berjudul Mosaik Mizan. Orang ramai boleh mendapatkannya secara percuma dengan memuatturunkan fail dari laman webnya <a href="http://www.mizan.com" rel="nofollow">http://www.mizan.com</a> atau <a href="http://www.ekuator.com" rel="nofollow">http://www.ekuator.com</a>. Di Malaysia pula, terdapat beberapa penerbit yang berusaha mempopularkan penerbitan elektronik. Selain menerbitkan buku-buku bercetak, Dewan Bahasa dan Pustaka melalui Karyanet turut menerbitkannya dalam edisi elektronik. Orang ramai boleh membelinya dan membacanya dengan menggudnakan perisian Adobe Acrobat atau Adobe Reader. Malah melalui Karyanet juga disediakan komik elektronik, khusus untuk kanak-kanak.</p>
<p style="text-align:justify;">PTS Publications pula dengan kerjasama Metadome Sdn Bhd menerbitkan judul-judul terpilih edisi cetakannya kepada bentuk buku mudah alih (yang dikenali sebagai Mbook atau <em>mobile book</em>) dan ia dikatakan mendapat sambutan hangat. Mbook ialah aplikasi Java yang membolehkan buku dibaca dengan menggunakan telefon bimbit. Malah buku ini juga dilengkapi dengan ciri multimedia dan elemen interaktif yang menarik. Orang ramai boleh membaca novel atau bahan bacaan lain yang setebal 480 halaman menerusi telefon bimbit hanya dengan caj muat turun sebanyak RM5 sahaja menerusi skrin telefon bimbit. Yang diperlukan hanyalah telefon bimbit yang dilengkapi aplikasi Java, GPRS atau 3G.</p>
<p style="text-align:justify;">Kewujudan penerbitan elektronik juga membolehkan karya pengarang baharu dipasarkan dan dibaca dengan lebih mudah kerana sikap penerbit yang terlalu memilih dan tidak mahu menanggung risiko menerbitkan karya-karya baharu terutama oleh pengarang yang belum mencipta nama. Salah seorang pengarang di Malaysia yang menggunakan cara ini ialah Onn Yeoh. Beliau menggunakan teknologi ini dengan menghasilkan buku elektroniknya yang berjudul <em>Transition</em>—dalam format PDF—yang memaparkan perkara berkaitan era digital di <a href="http://www.transitionbook.com/buy_online.htm" rel="nofollow">http://www.transitionbook.com/buy_online.htm</a>. Mereka yang berminat diberi pilihan sama ada membeli keseluruhan buku berkenaan, membeli berdasarkan topik—“Technology”, “Issues”, “New Media” dan “Concepts” ataupun berdasarkan bab. Namun, tidak ramai pengarang di Malaysia yang memanfaatkan teknologi ini sepenuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
		<div id="geo-post-258" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dicari, Penulis Produktif]]></title>
<link>http://cintaibuku.wordpress.com/2010/03/30/dicari-penulis-produktif/</link>
<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 03:52:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Saiful Amin Ghofur</dc:creator>
<guid>http://cintaibuku.wordpress.com/2010/03/30/dicari-penulis-produktif/</guid>
<description><![CDATA[Penerbit yang sedang berkembang membutuhkan naskah berkualitas bertemakan pendidikan dan agama, bisa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Penerbit yang sedang berkembang membutuhkan naskah berkualitas bertemakan pendidikan dan agama, bisa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Divisi Mading dan Perpustakaan Al-Hasanah]]></title>
<link>http://rohisstis.wordpress.com/2010/03/05/divisi-mading-dan-perpustakaan-al-hasanah/</link>
<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 19:06:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rohis STIS</dc:creator>
<guid>http://rohisstis.wordpress.com/2010/03/05/divisi-mading-dan-perpustakaan-al-hasanah/</guid>
<description><![CDATA[Kegiatan ekstern Divisi Perpustakaan- Mading adalah melayani peminjaman buku perpustakaan Hirmah ser]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kegiatan ekstern Divisi Perpustakaan- Mading adalah melayani peminjaman buku perpustakaan Hirmah ser]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENERBITAN MAJALAH DI MALAYSIA]]></title>
<link>http://karismap.wordpress.com/2010/02/22/penerbitan-majalah-di-malaysia/</link>
<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 07:09:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>eaglebook</dc:creator>
<guid>http://karismap.wordpress.com/2010/02/22/penerbitan-majalah-di-malaysia/</guid>
<description><![CDATA[Penerbitan MajalahPenerbitan majalah di Malaysia merupakan suatu bidang yang jarang mendapat perhati]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_389" class="wp-caption alignleft" style="width: 113px"><A href="http://karismap.wordpress.com/2010/02/22/penerbitan-majalah-di-malaysia/mjlh-d-msia/" rel="attachment wp-att-389"><IMG class="size-thumbnail wp-image-389" title="mjlh d msia" height="150" alt="" src="http://karismap.files.wordpress.com/2010/02/mjlh-d-msia.jpg?w=103" width="103"></A><p class="wp-caption-text">Penerbitan Majalah</p></div>Penerbitan majalah di Malaysia merupakan suatu bidang yang jarang mendapat perhatian dalam penyelidikan, meskipun peranannya sangat penting sebagai suatu medium yang menyumbang terhadap pembinaan bahasa, budaya dan bangsa. Majalah bukan setakat menjadi bahan bacaan untuk pengisian masa senggang, tetapi memancarkan tahap pemikiran dan kemajuan masyarakat. Justeru, seperti juga halnya dengan penerbitan buku, penerbitan majalah mencerminkan tahap pembangunan negara berkenaan. Di Malaysia, penerbitan majalah berkembang dengan agak perlahan berbanding dengan penerbitan buku. Masalah paling besar yang dihadapi ialah pasaran yang agak kecil, yang diakibatkan daripada segmentasi bahasa dan latar belakang pembaca di negara ini. Perusahaan majalah di Negara ini terbahagi kepada bahasa yang digunakan seperti Bahasa Melay, Bahasa Inggeris, Bahasa Cina dan Bahasa Tamil. Segmentasi sedemikian menyempitkan pasaran majalah dan juga iklan. Justeru, banyak majalah yang tidak mampu bertahan lama di pasaran kerana sirkulasinya rendah dan pendapatan daripada iklan terbatas. Buku ini membincangkan pelbagai aspek dalam dunia penerbitan majalah di Malaysia, khususnya yang bersangkutan dengan penerbitan majalah dalam Bahasa Melayu. Perbincangan dalam buku ini bukan sahaja ditumpukan kepada aspek editorial majalah, malahan aspek sirkulasi dan pengiklanan.</p>
<p>Pen: <A href="http://umexpert.um.edu.my/cv_papar.php?id=ebd4280b6d451137ef9dc0c54010928a">Hamedi Mohd Adnan</A> (PM Dr.)<br />
ISBN 983 195 036 4<br />
Tahun: 2003<br />
Hlm: 288<br />
Harga: RM 20.00</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[literary agent cum script counsellor]]></title>
<link>http://temanpenulis.wordpress.com/2010/02/18/literary-agent-cum-script-counsellor/</link>
<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 07:56:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>temanpenulis</dc:creator>
<guid>http://temanpenulis.wordpress.com/2010/02/18/literary-agent-cum-script-counsellor/</guid>
<description><![CDATA[Hari ini membaca profil ringkas seorang yang menyebut (atau disebut) sebagai seorang script counsell]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini membaca profil ringkas seorang yang menyebut (atau disebut) sebagai seorang script counsellor. Ini bukan tema baru, rasanya. Tapi, konsultan kepenulisan jelas bukan profesi yang biasa.</p>
<p>Disebutkan, latar belakang beliaunya adalah istri seorang pekerja penerbitan buku. Karena sering bertemu para penulis, kemudian jadi tahu kalau di luar negeri ada yang namanya literary agent, yang di negeri ini rasanya belum lagi ada.</p>
<p>Beliaunya kemudian mendeskripsikan pekerjaannya, lebih kurang adalah editor plus plus. dari sisi penulis, bekerja sebagai editor lengkap yang membantu seorang penulis mempersiapkan naskah sampai siap untuk ditawarkan ke penerbit. Dari sisi penerbit, menjadi pemasok naskah akan menjadi peluang beliaunya, baik sebagai wakil penulis atau sebagai penulis atau ghost writer untuk naskah-naskah sesuai kebutuhan penerbit. Hal lain yang bisa ditangani oleh beliaunya adalah sebagai perancang dan pelaksana kegiatan promosi buku, baik mewakili penerbit ataupun penulis.</p>
<p>Aha, rasanya semua yang disebutkan di artikel itu sudah banyak dilakukan oleh teman-teman. Ada yang menekuninya secara profesional, dalam arti menjadikannya sebagai pekerjaan utama, dan ada juga yang dilakukan secara amatiran, sebagai pekerjaan sampingan di luar kantor atau profesi utama mereka.</p>
<p>Ada yang menjadi penulis bayangan atau penulis proyek, ada yang menjadi penyunting, ada yang mengurusi proses produksi, ada yang jadi publisis alias penyedia jasa promosi, ada yang jadi guru menulis, dan lain-lain pekerjaan soal kepenulisan dan perbukuan dan penerbitan.</p>
<p>Seperti teman-teman lain, aku juga sesekali menyediakan diri menangani pekerjaan semacam ini. Selama ini, semua lebih karena pertemanan saja. Karena pernah jadi penulis, pernah bekerja di semua lini penerbitan, pernah mengelola perpustakaan, pernah menjadi pendamping di sekolah menulis, jadilah aku tak bisa lepas dari lingkungan ini. Ada saja yang mengajak diskusi, memberi pekerjaan, atau dengan inisiatif sendiri mengisi kebutuhan di bidang baca-tulis ini.</p>
<p>Tapi, apakah profesi ini bisa dikembangkan secara profesional? Waktu yang akan menjawabnya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[Resensi Buku] Bisnis Laundry Kiloan]]></title>
<link>http://bangaswi.wordpress.com/2010/02/10/resensi-buku-bisnis-laundry-kiloan/</link>
<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 04:03:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bang Aswi</dc:creator>
<guid>http://bangaswi.wordpress.com/2010/02/10/resensi-buku-bisnis-laundry-kiloan/</guid>
<description><![CDATA[Peresensi : Sinta Nisfuanna Judul : Bisnis Laundry Kiloan Penulis : Bang Aswi Penerbit : Penebar Plu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-437" title="my_book" src="http://bangaswi.files.wordpress.com/2010/02/my_book.jpg?w=116&#038;h=165" alt="my_book" width="116" height="165" /></p>
<p>Peresensi : <a href="http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com/2010/02/bisnis-laundry-kiloan.html" target="_blank">Sinta Nisfuanna</a><br />
Judul : Bisnis Laundry Kiloan<br />
Penulis : Bang Aswi<br />
Penerbit : Penebar Plus<br />
Tahun : 2009<br />
Genre : Entrepreneur<br />
Tebal : 114 halaman<br />
ISBN : 978-979-3927-81-7<br />
Outsource Publishing : Indscript Creative</p>
<p>Budaya dinamis dan serba cepat sepertinya telah mewabah pada diri warga Indonesia, terutama bagi para pekerja dan mahasiswa. Banyaknya aktivitas kerap membuat mereka malas untuk berurusan dengan hal-hal yang dinilai sepele. Salah satunya ketika berurusan dengan cucian. Padahal, meningkatnya aktivitas pasti berbanding lurus dengan penggunaan pakaian. Tuntutan pekerjaan atau kuliah membuat mereka sulit untuk bisa menyisakan waktu sekadar mengurusi pakaian kotor yang memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahkan tidak jarang bisa membutuhkan waktu seharian, dari mulai mencuci, mengeringkan sampai menyetrika.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Melihat peluang ini beberapa orang mulai membuka usaha berkaitan dengan mencuci pakaian. Sebelum maraknya mesin cuci, banyak tukang cuci keliling yang mencari order dengan menawarkan jasanya dari rumah ke rumah. Sampai saat ini, dimana teknologi merajai zaman, tukang cuci manual masih ada. Hanya saja, tenaga manusia masih kalah telak dengan mesin dalam menerima volume orderan. Keterbatasan waktu dan tenaga para tukang cuci manual, membuat mereka membatasi diri dalam menerima permintaan konsumen. Walaupun di satu sisi, potensi kerusakan pada hasil pekerjaan mereka lebih kecil dan kebersihannya lebih terjamin, karena seperti yang diketahui bersama, kinerja manusia lebih luwes dibandingkan mesin.</p>
<p>Keterbatasan inilah yang membuat konsumen lebih suka memakai “jasa-mesin” atau biasa disebut <em>laundry</em>. Dengan waktu yang dijamin cepat sekaligus dapat mengerjakan dalam volume besar, <em>laundry</em> menjadi alternative utama untuk menangani urusan cuci mencuci. Dan <em>laundry</em>-pun tidak hanya menawarkan jasa cuci, tetapi juga mengerikan dan menyetrika, sehingga membuat pakaian yang tadinya kotor menjadi siap pakai.</p>
<p>Fenomena ini yang menjadi akar terbitnya buku berjudul “Bisnis Laundry Kiloan”. Buku yang diolah oleh <em>Indscript Creative</em> ini, memberikan gambaran cukup detail, mulai tahap persiapan sampai analisa biaya yang harus dikeluarkan untuk berdirinya bisnis <em>laundry</em>.</p>
<p>Sebelum memulai bisnis—apapun itu—akan lebih baik jika dilakukan survei lapangan atau <em>market test</em>. Hal ini perlu dilakukan untuk menilai apakah bisnis yang kita ambil memiliki prospek yang baik. Survei lapangan sendiri mencakup berbagai poin, sehingga nantinya pelaku bisnis memiliki kesiapan yang lebih matang. Permalahan yang juga perlu dipertimbangkan di awal adalah modal. Seringkali untuk permasalahan ini kita buru-buru mundur saat menyadari ketiadaan dana. Padahal masalah tersebut dapat diselesaikan dengan mudah jika kita mau berpikir kreatif.</p>
<p>Begitu survei menunjukkan hasil positif dan modal telah tersedia, maka langkah yang selanjutnya harus diambil adalah promosi. Banyak cara promosi yang dapat diambil, dari yang memasang poster, lewat internet, dengan trik –trik yang inovatif hingga promosi dari mulut ke mulut. Dari beragamnya alternatif promosi, metode <em>mouth to mouth</em> masih menjadi paling efektif dan efisien. Kenapa? Karena metode ini lebih cepat menyebar tanpa perlu mengeluarkan dana. Namun untuk promosi tersebut harus lah didukung dengan pelayanan yang maksimal seperti, ketelitian order, dan proses dari sejak cucian diterima hingga sampai ke tangan konsumen. Ketika konsumen mendapatkan kepuasan tak diragukan lagi mereka, secara sadar ataupun tidak, akan mengajak temannya untuk menggunakan jasa kita.</p>
<p>Selain langkah-langkah di atas, masalah pemeliharaan dan analisa biaya juga menjadi hal <em>urgent</em> yang membutuhkan perhatian ekstra. Pemeliharaan dilakukan supaya usia guna dari peralatan lebih panjang, karena hal ini akan secara langsung sangat berpengaruh dengan analisa biaya. Tak dipungkiri, bahwa salah satu dari tujuan berbisnis adalah meraih keuntungan. Dengan adanya analisa pengeluaran dan pemasukan biaya saat operasional, dapat membantu pelaku bisnis untuk mendapatkan gambaran tentang untung rugi yang akan didapatkan setiap bulannya. Sehingga saat adanya tanda-tanda kerugian, pebisnis dapat melakukan tindakan antisipasi.</p>
<p>Didukung dengan survei lapangan yang dilakukan penulis, buku ini layak untuk menjadi panduan bagi peminat bisnis <em>laundry</em>. Bahkan adanya tambahan cerita-cerita pengalaman dari <em>entrepreneur</em> yang sudah lama berkecimpung dalam bisnis <em>laundry</em>, sehingga dapat memberi gambaran pada pembaca tentang kondisi lapangan yang sebenarnya. Banyak suka dan duka yang mereka bagikan, tetapi satu hal yang dimiliki semua <em>entrepreneur</em> ini, yaitu keberanian meraih dan menggenggam peluang. Jadi, apa salahnya mulai melirik bisnis cuci-mencuci yang satu ini?[]</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Buku Kanak-kanak]]></title>
<link>http://ezaleila.wordpress.com/2010/02/04/buku-kanak-kanak/</link>
<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 06:15:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Siti Ezaleila Mustafa</dc:creator>
<guid>http://ezaleila.wordpress.com/2010/02/04/buku-kanak-kanak/</guid>
<description><![CDATA[Children’s books…are books chosen for us by others; either because they pleased us when we were youn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h6 style="text-align:justify;">Children’s books…are books chosen for us by others; either because they pleased us when we were young; or because we have reason for thinking that they please children today; or because we have read them lately, and believe that our adult enjoyment of them is one which younger people can share.&#8221;</h6>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dunia buku kanak-kanak bukan suatu yang mudah. Ia merupakan struktur yang kompleks yang berkaitan dengan dunia penulisan, penggambaran idea, psikologi, sosiologi dan pendidikan kanak-kanak, dan nilai estetikanya. Yang lebih rumit ialah nilai dan perlakuan golongan dewasa yang terlibat dengan kanak-kanak dan buku. Dunia buku kanak-kanak dihubungkaitkan dengan geografi, bahasa, keagamaan, ekonomi, dan corak komunikasi dan kehidupan sosial.</p>
<p style="text-align:justify;">Buku kanak-kanak merupakan suatu bentuk bahan bacaan yang ditulis dan ditawarkan kepada kanak-kanak dan dibaca (atau digunakan) oleh mereka. Ia selalunya mengandungi apa-apa yang difikirkan oleh golongan dewasa dan boleh difahami oleh kanak-kanak dan apa-apa yang dibenarkan untuk difahami oleh golongan kanak-kanak. Ini bermakna buku kanak-kanak—yang juga dirujuk kepada sastera kanak-kanak—mengandungi informasi dan perlakuan yang dibenarkan oleh golongan dewasa yang menulis dan menerbitkan bahan bacaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua buku kanak-kanak perlu “mengajar sesuatu” bukan setakat “memberitahu” kerana khalayak utamanya ialah kanak-kanak, iaitu golongan yang kurang berpengalaman dan kurang berpendidikan. Minda dan anggota badan mereka juga belum mencapai kematangan. Oleh itu, bahan bacaan yang bersesuaian amat diperlukan dalam usaha membentuk keperibadian dan keintelektualannya kerana pada ketika inilah kanak-kanak mula mengenali diri dan keadaan sekeliling mereka.  Sifat dan daya berfikir mereka yang jauh berbeza daripada golongan dewasa menyebabkan bahan bacaan untuk mereka juga berbeza. Oleh itu, pihak yang terlibat dalam penghasilan buku kanak-kanak perlu mengetahui keperluan—sama ada dari segi emosi mahupun fizikal—golongan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab khalayak utama buku kanak-kanak ialah golongan yang kurang berpendidikan dan kurang berpengalaman, penulis perlu “menurunkan tahap penulisan mereka” dengan memilih atau menggunakan perkataan yang mudah dan ayat-ayat yang pendek untuk memudahkan pemahaman khalayak mereka (Hunt 1994: 3). Penggunaan ayat yang mudah dan ringkas lebih berkesan dalam kebanyakan buku fiksyen seperti mitos, legenda, dan cerita-cerita penglipur lara. Namun, terdapat juga buku-buku tertentu yang memerlukan penggunaan ayat dan perkataan yang panjang untuk menyampaikan <em>mood</em>, <em>scene</em>, dan perbualan. Perkataan yang jarang digunakan kadangkala berupaya mewujudkan suasana humor, menyampaikan maklumat atau menjelaskan makna dalam konteks tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain ayat dan perkataan, kandungan yang terdapat dalam sesebuah buku kanak-kanak juga agak berbeza dengan buku untuk bacaan orang dewasa. Walaupun kebanyakan watak atau karektor dalam dunia mitos dan legenda terdiri daripada orang dewasa, jalan ceritanya agak mudah difahami, lebih-lebih lagi jika dibantu dengan ilustrasi, dan penamatnya sering mempunyai unsur teladan. Buku yang mengandungi watak kanak-kanak juga kini telah banyak di pasaran dan buku yang baik harus berkaitan dengan pengalaman kanak-kanak. Penulis biasanya akan berfikir seperti kanak-kanak untuk menghasilkan plot atau jalan cerita yang berkesan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi kanak-kanak yang masih muda dan di peringkat awal membaca, ilustrasi atau gambar diperlukan bagi membantu pemahaman mereka tentang kandungan buku yang dimilikinya. Penggunaan warna hitam putih dan warna-warna terang seperti biru, kuning merah, dan hijau digunakan dalam buku-buku ilustrasi kerana kanak-kanak amat menggemarinya. Mereka juga gemar mengidentifikasikan warna kepada sesuatu objek seperti kuning untuk matahari dan biru untuk laut.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut McColvin (1983), ukuran buku kanak-kanak boleh dilihat melalui tiga dasar utama: menarik, boleh dibaca, dan tahan lama. Ketiga-tiga ciri ini saling berhubungan antara satu sama lain. Bagi beliau, buku yang baik ialah buku yang menarik dilihat, senang dipegang, sejenis buku yang disukai atau digemari oleh kebanyakan kanak-kanak. Sesebuah buku itu menarik—menurut pandangan McColvin—jika ciri-ciri fizikalnya adalah seperti berikut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Bersifat “individu”, iaitu kelihatan tersendiri dan tidak kelihatan sama seperti kebanyakan buku lain.</li>
<li>Kelihatan terang, segar, dan positif.</li>
<li>Mempunyai saiz yang tepat, tidak terlalu besar, berat, tebal atau tidak terlalu kecil atau nipis.</li>
<li>Buku itu harus bergambar kecuali ia buku fiksyen untuk orang dewasa.</li>
<li>Menggunakan kertas yang baik: yang bermutu, sederhana tebal, agak keras dan tahan lasak atau tahan lama.</li>
<li>Muka taip yang digunakan harus terang, cukup besar agar senang dibaca dan mempunyai reka bentuk yang mudah dan sederhana.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em>A Manual of Children’s Librarians </em>pula menyenaraikan kualiti sesebuah buku itu dengan melihat kepada unsur bahasa dan humor. Baginya, sesebuah “buku harus mengandungi unsur-unsur sastera atau sekurang-kurangnya bahasa yang baik.” Ini kerana tujuan utama pembacaan adalah menyedarkan kanak-kanak tentang kebaikan dan kelebihan bahasa ibundanya sebagai alat perhubungan untuk menyampaikan idea dan maklumat. Bahasa yang baik merujuk kepada bahasa yang terang, jelas, mudah difahami, tepat maknanya dan mengandungi sedikit unsur-unsur keindahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam manual ini dinyatakan, “sesebuah buku harus mempunyai unsur-unsur lucu dan humor yang tepat” kerana inilah yang amat digemari oleh kanak-kanak. Dewasa ini, dapat diperhatikan kanak-kanak begitu gemar kepada buku-buku komik dan kartun kerana unsur-unsur lucu yang terkandung di dalamnya. Oleh itu, buku yang mengandungi unsur ini perlu diberikan kepada mereka untuk mengalihkan perhatian mereka daripada kartun atau komik yang kadangkala mengandungi unsur-unsur yang tidak sihat bagi perkembangan dan tumbesaran mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itu penulis, ilustrator, editor, penerbit, ibu bapa, guru, dan orang ramai memainkan peranan penting dalam menyediakan dan memilih bahan bacaan yang sesuai untuk golongan muda ini. Namun, ini bukanlah mudah kerana Malaysia kekurangan bahan bacaan terbitan untuk golongan ini. Walaupun permintaan terhadap bahan bacaan ini agak tinggi, penawarannya di Malaysia masih rendah, malah terpaksa bergantung dengan bahan bacaan import. Maka, tidak hairanlah golongan kecil ini lebih mengenali Snow White, Alice, Cinderella, Rapunzel, Prince Charming, Hansel dan Gretel berbanding Pak Pandir, Lebai Malang, Sang Buaya, Sang Kancil dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, apakah yang perlu dilakukan? Fikirkanlah.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
