<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>penulis &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/penulis/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "penulis"</description>
	<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 10:43:06 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[[cerpen] Senpai, ai shiteru! [15]]]></title>
<link>http://zkaicerita.wordpress.com/2009/12/24/cerpen-senpai-ai-shiteru-15/</link>
<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 14:49:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>zkai alia</dc:creator>
<guid>http://zkaicerita.wordpress.com/2009/12/24/cerpen-senpai-ai-shiteru-15/</guid>
<description><![CDATA[“Umi, petang ni Iman nak keluar dengan Yaya, boleh tak?” ujar Iman pada Puan Amni yang sedang menont]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“Umi, petang ni Iman nak keluar dengan Yaya, boleh tak?” ujar Iman pada Puan Amni yang sedang menont]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Belajar menjadi penulis]]></title>
<link>http://newsdigital.wordpress.com/2009/12/17/belajar-menjadi-penulis/</link>
<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 12:09:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>adimase</dc:creator>
<guid>http://newsdigital.wordpress.com/2009/12/17/belajar-menjadi-penulis/</guid>
<description><![CDATA[Sangat mudah bagi seseorang untuk berbicara menceritakan sebuah kejadian, pengalaman hidup,maupun me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sangat mudah bagi seseorang untuk berbicara menceritakan sebuah kejadian, pengalaman hidup,maupun me]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[cerpen] Senpai, ai shiteru [14]]]></title>
<link>http://zkaicerita.wordpress.com/2009/12/15/cerpen-senpai-ai-shiteru-14/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 06:19:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>zkai alia</dc:creator>
<guid>http://zkaicerita.wordpress.com/2009/12/15/cerpen-senpai-ai-shiteru-14/</guid>
<description><![CDATA[“Hello, assalamualaikum umi. Iman ni..” “Walaikumsalam.. Iman kat mana ni?” “Iman baru sampai stesen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“Hello, assalamualaikum umi. Iman ni..” “Walaikumsalam.. Iman kat mana ni?” “Iman baru sampai stesen]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[cerpen] Senpai, ai shiteru! [13]]]></title>
<link>http://zkaicerita.wordpress.com/2009/12/11/cerpen-senpai-ai-shiteru-13/</link>
<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 13:52:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>zkai alia</dc:creator>
<guid>http://zkaicerita.wordpress.com/2009/12/11/cerpen-senpai-ai-shiteru-13/</guid>
<description><![CDATA[Iman berjalan keluar dari kawasan kolej menuju ke kelas SUG111 yang berada di blok C. Matanya tersan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Iman berjalan keluar dari kawasan kolej menuju ke kelas SUG111 yang berada di blok C. Matanya tersan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naik Taksi, Memikirkan Laut]]></title>
<link>http://farahhidayati.wordpress.com/2009/12/09/taksi-laut/</link>
<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 07:54:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>farahh</dc:creator>
<guid>http://farahhidayati.wordpress.com/2009/12/09/taksi-laut/</guid>
<description><![CDATA[Saat mengobrol dengan sopir taksi yang saya tumpangi minggu lalu, tiba-tiba saya teringat buku Hemin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Saat mengobrol dengan sopir taksi yang saya tumpangi minggu lalu, tiba-tiba saya teringat buku Hemin]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menulis lagi...]]></title>
<link>http://mesrarakyat.wordpress.com/2009/12/09/menulis-lagi/</link>
<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 22:30:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>mesrarakyat</dc:creator>
<guid>http://mesrarakyat.wordpress.com/2009/12/09/menulis-lagi/</guid>
<description><![CDATA[Adakah anda sudah puas membaca? Rasanya anda semakin dahagakan lagi pembacaan jika anda memang seora]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Adakah anda sudah puas membaca? Rasanya anda semakin dahagakan lagi pembacaan jika anda memang seora]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[cari buku curi ilmu]]></title>
<link>http://mimut.wordpress.com/2009/12/08/cari-buku-curi-ilmu/</link>
<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 12:07:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>mimut</dc:creator>
<guid>http://mimut.wordpress.com/2009/12/08/cari-buku-curi-ilmu/</guid>
<description><![CDATA[paling menyenangkan memang kalau bisa mencuri ilmu. Ya, dengan cara membaca gratis di berbagai toko ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>paling menyenangkan memang kalau bisa mencuri ilmu. Ya, dengan cara membaca gratis di berbagai toko buku atau perpustakaan umum, kita bisa dengan leluasa menambah wawasan dan keterampilan kita secara gratis. </p>
<p>gratis. </p>
<p>gratis. </p>
<p>uuppss, kenapa diulang-ulang? ya, karena&#8230;&#8230; gratis! (kata-kata yang indah, haha)</p>
<p>tadi, sepanjang perjalanan pulang (jalan supratman dan sekitarnya) kulihat ada setidaknya 2 toko buku yang bisa aku datangi setiap saat. yang aku cari biasanya adalah buku-buku bisnis dan manajemen, atau buku bekas yang isinya menarik. tak lupa buku berbahasa asing yang menjadi tes uji nyali kemampuan berbahasa. (siap-siap pusing deh&#8230;)</p>
<p>pilihannya tentu banyak sekali. ada tema hobi, komputer, agama, motivasi, novel, komik, biografi, dan masih banyak lagi. namun, satu tema yang mencuri hatiku adalah psikologi populer. salah satu ilmu tentang perilaku manusia yang cukup membuat aku tersenyum sendiri. kadang buku psikologi menjadi bacaan humor buatku, atau kadang malah jadi horor. mengapa? karena aku seolah membaca kesalahan dan kekurangan aku. walau sering aku malah menertawakan kebodohanku selama ini.</p>
<p>dan tadi adalah saat berburu (membeli) buku baru versi lama. dapat! segera kubawa pulang. aku berlari&#8230; berlari&#8230; dan berbelok ke pantai. hm, menikmati sunset dengan membaca buku, sungguh inspiratif. ditemani secangkir teh manis, wafer cokelat, es sirup, sup jagung manis, cake cokelat, es pisang ijo, es buah, potato chips (wualah, ini cemilan atau jualan?), dan lain-lain.</p>
<p>ah, aku bermanja dengan suasana mendung di pantai ini. tertawa membaca kebodohanku, merenungi kesalahanku. mencoba meminta sang mentari jangan beranjak dulu ke barat.</p>
<p>namun sang waktu enggan berhenti walau sejenak. seketika pandanganku berubah. dari pemandangan sejuk senja di tepi pantai berubah menjadi jalanan kota yang padat dan berisik. aku kembali berada dalam ruang ini. kota. yang padat kendaraan dan sibuk orang-orangnya.</p>
<p>alarm jam tanganku berbunyi, mengingatkan pendeknya sang waktu. waktu untuk bernostalgia bersama buku-buku sudah habis. kembali ke rutinitas harian. toh, suatu saat nanti akan kutemui lagi. buku, sunset, dan segudang cemilan. serta jembatan jiwa yang selama ini bersembunyi dalam damainya rutinitas hidup.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[dalam roda kehidupan]]></title>
<link>http://mimut.wordpress.com/2009/12/06/dalam-roda-kehidupan/</link>
<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 14:22:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>mimut</dc:creator>
<guid>http://mimut.wordpress.com/2009/12/06/dalam-roda-kehidupan/</guid>
<description><![CDATA[sepanjang perjalananku ada orang-orang yang hobinya bertanya: &#8220;kapan sampai?&#8221; dan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>sepanjang perjalananku ada orang-orang yang hobinya bertanya: <strong>&#8220;kapan sampai?&#8221;</strong> dan <strong>&#8220;kok lama sekali perjalanannya?&#8221;</strong></p>
<p>kadang aku berpikir, apa sih yang mereka pikirkan? kalau ingin cepat sampai, terbang saja. tak usah ada di dalam kendaraanku. tak usah bersamaku.</p>
<p>ingin kuusir saja mereka. kuberi ongkos lebih, dan segera kupaksa turun dari kendaraanku. pergilah dengan kecepatan yang kalian inginkan. bagiku kalian hanyalah pengeluh yang pembosan.</p>
<p>aku nyaman dengan perjalananku ini. aku ingin memanjakan mataku dengan hamparan sawah hijau. kadang kulihat kendaraan lain menyalip, atau ada kendaraan lain yang memberi jalan dengan sopan. aku perhatikan wajah-wajah waspada setiap sopir yang berpapasan dengan kendaraanku. dan juga awan putih yang setia menemani di balik jendela. jika hujan deras datang, biasanya muncul pelangi dari arah barat. bukankah mereka adalah gabungan pemandangan yang indah?</p>
<p>aku menikmati setiap detik perjalanan ini. setiap detik waktu kehidupanku.</p>
<p>Tuhan, jika manusia-manusia di sampingku ini hanyalah cobaan kesabaranku, perusak hariku, pengganggu ceriaku, buatlah mereka sakit perut, ya Tuhanku. berilah kesadaran kepada mereka agar tidak banyak mengeluhkan perjalanan ini. Atau, buatlah mereka mengantuk, agar segera terlelap sepanjang perjalanan ini. kurasa, doaku yang kedua lebih manusiawi daripada doaku yang pertama. </p>
<p>aaakh, mungkinkah aku pernah menjadi seperti mereka? pengeluh dan pembosan? <em>maybe</em>. sepertinya pernah juga. ah, kalau begitu, aku tak ingin sakit perut. aku ingin menyadari kesempurnaan setiap milidetik yang aku lalui. semuanya sempurna dalam hikmah dan kejadiannya.</p>
<p>aku pun tersenyum kecil. kadang dalam episode kehidupanku kutemui sebuah <em>scene</em> yang menjadi cermin bagi diriku. <em>i was there</em>. aku pernah melaluinya. <em>deja vu</em>. kuharap mereka &#8211; para pembosan itu &#8211; menyadari apa yang telah mereka lakukan. dan tak perlu lagi aku menggerutu.</p>
<p>aku tetap menikmati setiap langkah perjalananku. dengan atau tanpa para pengeluh itu. Oh, mereka hanyalah tiupan debu jalanan yang akan selalu ada. mereka selalu berganti rupa. aku tahu itu. dan aku tak akan terganggu lagi.</p>
<p><em>never</em>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENULIS. . . KENIKMATAN DI (SETIAP) SHUBUH PAGI.]]></title>
<link>http://sahlanalfarizy.wordpress.com/2009/12/05/menulis-kenikmatan-di-setiap-shubuh-pagi/</link>
<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:35:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>sahlanalfarizy</dc:creator>
<guid>http://sahlanalfarizy.wordpress.com/2009/12/05/menulis-kenikmatan-di-setiap-shubuh-pagi/</guid>
<description><![CDATA[Bangun Jam 4 setiap hari, cukuplah. Sempatkan diri shalat malam dan sesekali tengoklah keluar dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bangun Jam 4 setiap hari, cukuplah. Sempatkan diri shalat malam dan sesekali tengoklah keluar dan&#8230;. Nikmatilah desiran angin di pagi hari. Halus menyentuh dinding organ kulit kita. Dan sesekali nikmatilah udara bersih di pagi hari. Menyenangkan sekali temans.</p>
<p>Aku akan meraskan penyesalan yang amat dalam, jika aku terbangun, pas ketika adzan berkumandang, artinya aku harus menyiapkan diri dengan terburu-buru, sedikit pontang panting menuju kamar mandi, dan. . . . Itu sangat menyebalkan sekali. Karena amanahku sebagai musyrif, ya tentu saja. Sebelum iqamat harus segera menggubrak gubrak santri SMP yg kebluknya minta ampun.</p>
<p>Selesei subuh, tak ada aktivitas yang paling indah selain menyemai rasa syukur kita dengan menyempatkan diri untuk. . . . Tilawah tentunya. Rasakanlah kenikmatan yang menjalar jalar disetiap desahan nafas a, ba, ta, tsa, atau surat-surat pendek yg menemani setiap murojaah kita. Rasakanlah kenikmatan itu teman. Rasakanlah, Please.</p>
<p>Selesei tilawah kitab suci. Perlahan, dan mulailah aktivitas menulis (lagi) di pagi hari. Sebentar saja please, satu atau dua huruf saja setiap pagi, atau&#8230;. Satu atau dua paragrap saja, atau&#8230;. Satu atau dua cerpen saja, atau&#8230;. Satu atau dua novel saja atau&#8230;, satu atau dua buku saja setiap pagi? Betapa akan terlihat keajaiban yang melesat-lesat. Coba kita hitung minimal 5 halaman setiap pagi. Sepuluh hari ke depan kita akan  mendapat 50 halaman. Lumayan. Terus kalau sebulan? Tak terasa akan terkumpul 150 halaman. Hebat sekali bukan?</p>
<p>Lalu? Kenapa harus di pagi hari?</p>
<p>Yang ku rasakan, biasanya keheningan di pagi hari, ide menulis akan terasa berlompatan, lewat air yang kita simbah. Lewat sendal jepit yg kita injak, selimut yang kita rapihkan dan secuil semut yg kita lihat di pagi hari. Semua ide terasa begitu banyak yang melewat kita, tinggal kita tangkap dan serang dengan tangkapan dan serangan yang lihai. Bunuhlah kemalasan tidur setelah shubuh, bahkan ngorok sampai kesiangan? Kuno. Nggak zaman lagi.</p>
<p>Perhatikanlah teman, kebiasaan yang kita pupuk akan menjadi karakter, dan kalau sudah menjadi karakter? Betapa susahnya kita merubah itu. Logikanya begini&#8230;. Awalnya, kita di biasakan tidur setiap habis shubuh, makan jika itu rutin kita lakukan, maka di mana pun kita berada akan mendarah daging,  setiap selesei shubuh, terasa kurang afdhol jika tak lagi memejamkan mata, itu virus berbahaya lho teman. Tetapi jika awalnya kita paksakan shalat tahajud, tilawah, shubuh, menulis, itu dan itu terus yang kita lakukan? Maka lihatlah, kita akan merasakan perubahan yg sangat dahsyat. Sebulan kedepan karya kita akan menumpuk. Dan cukup produktif dan&#8230;. Kalau kita tetap melanjutkan hobi tidur kita? Apa yang kita peroleh??? Sebuah peta? Oke. Kita hanya bisa membuat peta di atas bantal, dengan ukiran-ukiran yang sangat elegan. So, menulis di pagi hari? I love so much.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menulis... BAKAR DIRI DENGAN MENULIS]]></title>
<link>http://sahlanalfarizy.wordpress.com/2009/12/05/menulis-bakar-diri-dengan-menulis/</link>
<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:26:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>sahlanalfarizy</dc:creator>
<guid>http://sahlanalfarizy.wordpress.com/2009/12/05/menulis-bakar-diri-dengan-menulis/</guid>
<description><![CDATA[Hidup dalam lingkungan yang jauh dengan dunia menulis. Benar-benar menjadi tantangan bagiku. Bagaima]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hidup dalam lingkungan yang jauh dengan dunia menulis. Benar-benar menjadi tantangan bagiku. Bagaimana tidak. Coba saja tengok di sekitarku. Ah… sama sekali tidak ada yang mau bergelut dengan buku atau hanya sesekali saja membuka buku untuk membacanya, sepersekian detik saja perharinya. Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Fiuh.</p>
<p>Yang lebih menyebalkan lagi. Teman-teman sekamarpun –teman kuliah-. Tak peduli dengan segala sesutu yang berbau menulis, apalagi membaca? Padahal teman-temanku yang berempat itu keseluruhan mahasiswa sejurusan denganku, yang notabene harus akrab dengan buku. Tapi nyatanya yang aku lihat mereka justru malah seperti alergi melihat buku, dan tentu saja mereka akan sangat alergi dengan menulis. Hmmm… Apa tadi? Menulis? Hahaha… yang benar saja menulis?. Apa-apaan menulis? Nggak ada manfaatnya, begitu kira-kira cibiran mereka.</p>
<p>Aku seperti asing di sini. Di tempat ini. Ketika aku bergelut dengan duniaku…. Menulis. Di sampingku teman-temanku malah asik sibuk nelpon Yang kadang sesekali telingaku mendengar ocehan ocehan tidak pentingnya lewat telpon genggamnya. Misalnya : <em>“Iya ya besok kita nangkep kodok aja yuk di empang”</em> atau <em>“ayo dooonk makan dulu, nanti kamu sakit lhooo”</em>. Fiuh, menurutku itu tidak penting sekali. Pembicaraan kodok di empang bukan sesuatu yang elit dan itu tidaklah akan benar-benar dia lakukan. Itu hanya sebatas candaan saja, candaan biasa yang selalu berlangsung berjam-jam tanpa batas, tanpa tujuan dan tanpa manfaat yang bisa di ambil. Dan  itu merka lakukan cukup lama, sekitar satu sampai dua jam, bahkan lebih. Waktu nya selalu dan selalu di habiskan untuk menelpon. Alamaaak.</p>
<p>Lalu aku? Dengan aktivitasku yang tak pernah di mengerti orang lain, tak pernah di hargai orang lain bahkan tak pernah di apresiasi orang lain? Membuatku harus benar-benar menguras diri untuk selalu konsisten dan tetap semangat dengan duniaku –menulis- mungkin teman-temanku akan berpikir “Halaaah, iwan. Plis ya, hari gini jadi penulis? Kapan kaya nya? Nggak akan terkumpul tuuuh uang sekarung dengan menulis” begitulah selentingan komentar yang ku dengar. Dan itu berkali-kali.</p>
<p>Memang, ketika kita hidup berada dalam lingkungan yang berbeda, lingkungan yang sama sekali tak sudi untuk menyuport dunia kita, lingkungan yang alergi dengan dunia kita, lingkungan yang akan menyipitkan mata keheranannya ketika mendengar istilah istilah menulis. Akan sangat terdengar aneh. Maka di sanalah kadang kita di hadapi dengan beberapa pilihan : maju sendirian atau benar-benar mati dan melupakan semua mimpi-mimpi menjadi penulis. Hanya itu pilihanku ; maju atau mati, itu saja.</p>
<p>Mau tidak mau aku harus menjalankan proses kepenulisanku di sertai dengan dentuman tape combo yang di setel keras-keras oleh temanku. Memecahkan semua konsentrasiku dan aku harus berkali-kali mengulang membaca dari paragrap satu dengan paragraph yang lainya dengan konsentrasi yang sangat terganggu. Aku harus mengkonsentrasikan diriku sekali lagi dengan susah payah dan memikul perjuangan sendiri. Teman temanku mana ada yang memahami duniaku. Aku harus benar benar  berjuang sendirian.</p>
<p>Dan tidaklah berwenang aku menghentikan putaran kaset yang di putar temanku, walau keingin hatiku tentu saja ingin berteriak “DIAAAMMM… AKU BUTUH KONSENTRASIIIII&#8230;.“. Tidak. Itu tidak mungkin aku lakukan, teman. Karena mereka punya hak, termasuk hak menggangguku sampai puas. Hanya satu yang aku lakukan saat iu, aku menyumpal telingaku dengan headset ku dan aku memutar <em>winampnya</em> keras-keras sesuai dengan selera lagu yang aku inginkan. Dan itu cukup ampuh bagiku. Untuk menjerit sendirian, menjerit dan meronta dengan tokoh tokoh novelku. Sendirian. Ketika aku sedang dihadapkan dengan situasi seperti itu, maka aku biasanya akan segera membakar diri dengan menulis. Membakar semua amarahku, kekesalanku terhadap lingkungan dengan ….. menulis. Dan itu benar-benar ampuh. Eh sedikit ampuh. Karena dentuman musik itu bukan solusi terbaik, aku harus mengimbangi dunia imajinasi dengan dentuman musik di headset? Ahhh, tentu saja itu tidak mudah.</p>
<p>Aku tak boleh menyerah. Apapun keadaanya semuanya harus aku terima dengan lapang dada. Proses… ya nikmatilah proses. Karena kadang yang menjadi hambatan bukanlah dari orang orang terjauh. Tapi dari orang yang sangat dekat : teman, saudara, anak dan lain sebagainya. Yang harus kita lakukan saat ini hanyalah menikmati proses. Oke… mari kita nikmati prosesnya dan beberapa saat lagi kita akan menuai hasilnya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menulis... I LOVE YOU FULL... sastra]]></title>
<link>http://sahlanalfarizy.wordpress.com/2009/12/05/menulis-i-love-you-full-sastra/</link>
<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:16:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>sahlanalfarizy</dc:creator>
<guid>http://sahlanalfarizy.wordpress.com/2009/12/05/menulis-i-love-you-full-sastra/</guid>
<description><![CDATA[…. Pun hanya separagrap kalimat, dulu aku tak pernah memahami yang ku baca itu adalah sebuah cerita.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>…. Pun hanya separagrap kalimat, dulu aku tak pernah memahami yang ku baca itu adalah sebuah cerita.  Aku memang bukan manusia beruntung di lahirkan dari latar belakang keluarga yang suka bercerita. Aku tak pernah merasakan kisah-kisah dongeng sebelum tidur –walau hanya kisah kancil sekalipun- aku tidak pernah tau mengenai hal-hal yang berbau cerita.  Aku tidak pernah mengerti serunya dunia dongeng, imajinasi apalagi buku-buku komik? Tidak. Aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Ketika aku kecil, buku-buku cerita: novel, dongeng&#8230;. semuanya. Itu akan terasa asing jika aku menemukannya. Benar-benar asing.</p>
<p>Waktu aku kecil, aku pernah di suguhi PR bahasa Indonesia mengarang, berjudul hari minggu. Pulang ke rumah, aku tidak minat sedikitpun untuk mengarang, apa tadi? Mengarang? Apa maksudnya? Tak faham aku&#8230;. Benar-benar aku tak bisa memahaminya. Sehingga apa yang aku tulis waktu itu? Aku hanya menulis :</p>
<p><em>Pada hari minggu aku ke rumah nenek</em></p>
<p><em>Pada hari minggu aku main bersama.</em></p>
<p><em>Pada hari minggu aku naik pohon jambu</em></p>
<p><em>Pada hari minggu aku bermain layangan</em></p>
<p><em>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</em></p>
<p><em>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</em></p>
<p><em>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</em></p>
<p><em>Pada hari minggu aku jajan</em></p>
<p><em>Pada hari minggu aku jalan-jalan</em></p>
<p><em> </em>Ahhh, sangat sederhana sekali bukan? Standar. Sangat standar sekali. Bahkan maksud tugas mengarangpun waktu itu aku benar-benar tidak memahaminya, apalagi menghasilkan sepotong cerpen? Oh tidak. Aku tak benar-benar bisa melakukannya. Mengarang? Apa maksudnya??? Help me please.</p>
<p>Beranjak ke SMP, aku di takdirkan hidup di lingkungan pesantren. Lagi-lagi di sana aku tak pernah bisa walau hanya sedikit saja memahami kisah, buku cerita&#8230; semuanya. Pemahaman ceritaku sangat buruk sekali. Hanya saja, sejak SMP, kenapa aku senang sekali menulis surat ya? Teruama surat ******* terasa sangat mengasyikan sekali. Kenapa aku menulis surat? Karena memang tuntutan psikologisku yang memaksa untuk jatuh cinta. Benar sekali! Itulah alasan yang paling tepat. Aku senang menulis, bukan karena aku sudah faham nikmatnya membuat cerita. Tidak. Sama sekali aku tidak pernah mengetahui, nikmatnya mengarang. Sebentar!!! Apa tadi? Mengarang? Aku yakin tidak akan bisa dan tidak akan benar-benar memahaminya.</p>
<p>Ketika SMP selain hobby ku menulis surat. Aku kadang sesekali membuat Note sendiri: dengan cara kertas-kertas tak terpakai, aku jilid sendiri dengan hasil yang sangat parah. Di buku yang parah itu, aku sesekali menumpahkan kekesalan, atau hanya sekedar sentilan hati saja? Misal, waktu itu aku ingat betul di luar, teman-temanku asyik sekali hujan hujanan. Aku yang di dalam asrama, hanya menulis : <em>Eh, mungkin enak ya, hujan hujanan seperti mereka. </em> Cukup. Hanya itu saja yang aku tulis. Entah kenapa aku senang menulis? Entahlah. Dan tidak lama dari itu, tulisan singkatku di atas. Di baca rame-rame oleh temanku. Mereka benar-benar mencibirku dengan cibiran yang sangat parah. Di sana, aku merasa sakit hati dengan kuping yang memerah. Aku telah menulis diary, di bacakan orang se asrama dan&#8230;. itu sangat memalukan sekali kawan. Sejak dari itu aku kapok menulis diary. Benar-benar kapok, takut. Takut sekali tulisanku di umbar oleh teman-temanku. Tapi, lagi-lagi menulis cerita? Maaf aku benar-benar belum faham. Please.</p>
<p>Menginjak bangku SMA. Kebetulan perpustakaan sekolah lumayan lengkap. Banyak buku-buku tebal. Novel, cerpen, buku paket. Karena pemahaman tentang sastraku sangat buruk sekali. Aku belum faham sama sekali : itu buku novel, kumcer, sastra, aku benar-benar tidak faham. Hanya saja, dengan perpustakaan yang penuh dengan buku, terutama buku-buku tebal. Itu membuatku tertarik, seperti sepotong pitza yang siap aku telan. Aku selalu tergiyur dengan buku buku tebal. Entah apa isinya, aku tak peduli. Pokoknya aku sangat jatuh cinta dengan buku, terutama buku-buku tebal. Dan ya&#8230; sesekali buku paket pelajaran tentunya.</p>
<p>Karena aku sudah kadung jatuh cinta dengan buku-buku  (terutama buku-buku tebal). Aku semakin sering dan membabibuta meminjam buku-buku pepustakaan. Jangan salah dulu, aku hanya sekedar meminjam saja, kawan. Tanpa membaca. Jujur saja, hobby bacaku sangat rendah, tadi kan aku sudah bilang: aku kan hanya jatuh cinta dengan buku. Bukan membaca. Hehe.</p>
<p>Maka beberapa kali pula aku sering terkena kasus : peminjaman buku terbanyak yang belum di kembalikan (termasuk kamus bahasa indonesia, yang tebalnya nyampe beribu-ribu halaman. Aku benar-benar jatuh cinta dengan buku tebal, titik). Bukan hanya sekali dua kali  aku tertimpa kasus. Dengan berbagai ancaman: akan di tahan raport dan lain sebagainya, karena aku murid yang bermasalah dengan buku-buku. Aku terlalu banyak meminjam buku tanpa mengembalikanya. Apa??? Aduh, maaf, sudah kubilang tadi sekali lagi. Aku jatuh cinta dengan buku-buku itu. Jadi aku tidak mau mengembalikannya, sangat sayang sekali. Aku keukeuh, maksa, tetap tidak mau mengembalikan buku-buku tebal itu. Yang ku kembalikan hanya beberapa buku tipis yang&#8230;. menurutku tidak begitu menarik.</p>
<p>Buku di rumahku semakin banyak –maaf itu buku pinjaman, please sadar lah- tapi dengan banyaknya buku, apakah aku sudah faham kalau buku-buku yang ku pinjam itu buku novel? Aku benar-benar tidak menyadarinya sama sekali.</p>
<p>Dua tahun kuliah&#8230;. pun aku benar-benar belum faham dengan buku-buku sastra, aku hanya di sibukan dengan buku-buku formal mata kuliah yang menjenuhkan, tak ada yang menarik dengan buku-bukuku di awal kuliah, hanya sedikit buku kuliah yang menarik : psikologi perkembangan (Elizabeth Hurlock) itu saja, tidak ada yang lain. Intinya pemahaman tentang buku-buku cerita, sastra dan&#8230;. buku-buku yang berkaitan tidak ku sentuh. Tidak. Sama sekali tidak. Aku benar-benar belum ngeh dengan buku cerita apapun. Apapun titik.</p>
<p>Sebuah kebetulan yang membawa keberuntungan. Waktu itu aku iseng-iseng ikut perkumpulan Forum Lingkar Pena. Maka jejak-jejak cerita, cerpen, novel&#8230; mulai aku rambah. Sejak bergabungnya dengan FLP itulah aku seperti orang kesurupan, seperti orang yang berada di padang pasir : kehasuan yang membabi buta. Misalnya saat jalan-jalan ke toko buku Gramedia (Palembang). Maka biasanya aku akan segera berlari menaiki tangga tangga itu, untuk segera mengejar tempat buku-buku sastra di lantai tiga. Sampai di lantai tiga, semua buku buku sastra : novel, kumcer, puisi, semuanya berjejeran. Air liurku semakin tak tertahankan. Aku ingin mengeruk semua buku-buku itu. Maka setiap aku punya uang, aku seperti kesetanan, selalu saja ke toko buku untuk mencari buku cerita apa saja yang aku inginkan. Sangat nikmat sekali kawan. Benar-benar nikmat.</p>
<p>Maka ketika trend buku Novel <em>Laskar Pelangi</em> (Andrea hirata). Aku menjatuhkan pilihan skripsiku untuk membahas novel Laskar pelangi itu. Walau dengan sangat susah payah akhirnya di Acc, setelah melakukan perdebatan yang sangat panjang. Kenapa harus novel Laskar Pelangi? Karena aku telah jatuh cinta dengan sastra. Sastra teman, Fiuh. Dan kini&#8230;. lihatlah teman. Aku sedang membereskan kapal pecah di kamarku, benar benar berantakan. Satu persatu aku mencoba mengambil buku bukuku yang ku pinjam di SMA dulu. Ya Allah!!! Mataku terbelalak, terkejut tak terkira. Ternyata sebagian buku-buku yang ku pinjam dulu adalah buku sastra : Kartini, Bekisar Merah (Amad Tohari), Jalan bandungan (N.H Dini), Supernova (Dee) dan&#8230;.. masih banyak lagi buku-buku novel karya terbaik pada zamannya. Aku baru faham sekarang. Ya Allah&#8230;. please aku baru menyadarinya kenapa aku dulu senang sekali meminjam buku-buku itu. Buku-buku sastra yang sangat nikmat aku telan satu persatu, huruf perhuruf dan makna permakna. Kini aku baru menyadari. Betapa nikmatnya menelan setiap huruf sastra yang yang ku baca. Sebantar!!! Membaca saja aku sudah menikmatinya. Hey&#8230; kalau menuliskannya? Ahhh, tentunya akan sangat, sangat, sangat, sangat menikmatinya. Please, izinkan aku sedikit mengutif lagunya mbah Surip. ” I Love You Full&#8230;. Sastra.”</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ongkos freelance per jam]]></title>
<link>http://mimut.wordpress.com/2009/12/04/ongkos-freelance-per-jam/</link>
<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 02:02:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>mimut</dc:creator>
<guid>http://mimut.wordpress.com/2009/12/04/ongkos-freelance-per-jam/</guid>
<description><![CDATA[akhir tahun dan awal tahun merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. saatnya mengevaluas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>akhir tahun dan awal tahun merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. saatnya mengevaluasi tahunan kinerja kita dan mencapai harapan target baru untuk masa depan.</p>
<p>sejenak kubuka <em>link</em> untuk menghitung ongkos <em>freelance</em> per jam, target untuk tahun depan :<br />
<a href="http://freelanceswitch.com/rates/">http://freelanceswitch.com/rates/</a></p>
<p><em>link</em> tersebut merupakan kalkulator penghitung ongkos <em>freelance per hour</em> (per jam). menurutku, bisa juga diaplikasikan ke bisnis rumahan atau bisnis yang masih sederhana. komponen biaya yang digunakan untuk menghitung <em>rate</em> juga cukup lengkap.</p>
<p>tambahan : dapat digunakan untuk perhitungan biaya dalam rupiah. abaikan tanda $ di depan <em>field</em>.</p>
<p>dan hasil perhitungan versi bisnis aku adalah =</p>
<p>asumsi :<br />
1. jumlah hari kerja = 2 hari @ 10 jam, dibayar 75% dari jam kerja<br />
2. total biaya bisnis sekitar 16 juta/thn<br />
3. total biaya sehari-hari sekitar 30 jt/thn (<del datetime="2009-12-04T01:37:07+00:00">kok banyakan biaya sehari-hari sich????</del>)<br />
4. target tabungan pertahun sudah ditentukan</p>
<p>hasil :<br />
1. rate per hour minimal = Rp 100.000<br />
2. rate per hour maksimal = Rp 200.000</p>
<p>waooooow&#8230; banyak juga, hehehehehee&#8230; namun yang pasti, aku harus mengembangkan <em>skill</em> menjadi lebih <em>expert</em> lagi untuk mewujudkan <em>rate</em> tersebut. biaya berbanding lurus dengan kualitas, bukan?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tip Meningkatkan Semangat Menulis]]></title>
<link>http://esetianto.wordpress.com/2009/12/04/tip-meningkatkan-semangat-menulis/</link>
<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 23:37:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>e-k-o</dc:creator>
<guid>http://esetianto.wordpress.com/2009/12/04/tip-meningkatkan-semangat-menulis/</guid>
<description><![CDATA[Menulis sebenarnya bukan sesuatu yang susah. Saya yakin Anda semua bisa menulis, setidaknya menulis ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Menulis sebenarnya bukan sesuatu yang susah. Saya yakin Anda semua bisa menulis, setidaknya menulis ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenapa saya bercerita?]]></title>
<link>http://zkaicerita.wordpress.com/2009/12/04/kenapa-saya-bercerita/</link>
<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 16:54:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>zkai alia</dc:creator>
<guid>http://zkaicerita.wordpress.com/2009/12/04/kenapa-saya-bercerita/</guid>
<description><![CDATA[Ada yang pernah bertanya pada zkai.. &#8220;kenapa menulis?&#8221; &#8220;best ke?&#8221; &#8220;man]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ada yang pernah bertanya pada zkai.. &#8220;kenapa menulis?&#8221; &#8220;best ke?&#8221; &#8220;man]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[stranger dalam ingatan]]></title>
<link>http://mimut.wordpress.com/2009/12/03/stranger-dalam-ingatan/</link>
<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 16:33:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>mimut</dc:creator>
<guid>http://mimut.wordpress.com/2009/12/03/stranger-dalam-ingatan/</guid>
<description><![CDATA[ia bukan orang yang kukenal. tapi ia mengenalku, mengenal temanku. kalau kuingat lagi, ia pun (seing]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>ia bukan orang yang kukenal. tapi ia mengenalku, mengenal temanku. kalau kuingat lagi, ia pun (seingatku) pernah kulihat, hanya ingat pernah bertemu di suatu waktu di masa lampau. itu pun kalau tidak salah. bukankah semua orang awalnya menjadi <em>stranger</em> satu sama lain. dan jangan coba gali ingatanku mengenai dirinya. rasanya aku tak ingat dengan pasti. bagian memori di otakku yang memunculkan ingatan tersebut tampaknya mengalami <em>bad sector</em>.</p>
<p>kikuk.</p>
<p>ketika mencoba memecah hampa udara dengan perbincangan. tanpa perkenalan, tanpa sapaan. hanya &#8217;saya&#8217; atau &#8216;anda&#8217;. bicara pun seperlunya saja. huff&#8230; udara begitu sesak dalam ruangan aula besar berisi aku dan dia.</p>
<p>aku pun beranjak pergi meninggalkan dia. kuberikan seulas senyum dan sebuah kata, &#8220;duluan.&#8221;. pertanda aku tak ingin berlama-lama kehabisan oksigen. kalimat tanya berjumlah ratusan mencuat dalam pikiranku. namun, tak mampu aku sampaikan. mungkin nanti. itu pun kalau ketemu lagi.</p>
<p>terkadang manusia menunda apa yang ingin dilakukannya. entah karena pertimbangan, prinsip, ego, atau apalah namanya. penundaan itu hanyalah keterampilan saja. jika aku menunda untuk bertanya, maka keterampilanku dalam menyampaikan apa yang menjadi tanda tanya bagiku masih harus diasah lagi. bukan karena malu atau apa. hanya kurang terampil dalam membawa skill yang sudah dimiliki. malu, males, gak penting, dan sejuta alasan lainnya hanyalah kamuflase untuk membela diri.</p>
<p>dan aku hanya manusia.</p>
<p>aku masih penasaran sampai sekarang. andai pada waktu itu aku <del datetime="2009-12-03T16:09:35+00:00">berani</del> bertanya dan mengungkapkan keherananku, pastilah kini sudah kutemukan jawabannya. dan saat ini aku berharap masih ada kesempatan untuk bertemu lagi. hanya ada satu pertanyaan yang akan aku ajukan. dan aku yakin, pertanyaan tersebut akan menjadi awal sebuah perbincangan. </p>
<p><del datetime="2009-12-03T16:09:35+00:00">itu pun tergantung keterampilanku mengisi perbincangan selanjutnya. hmmm, moody&#8230;</del></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[sang cahaya]]></title>
<link>http://mimut.wordpress.com/2009/12/01/sang-cahaya/</link>
<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 04:39:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>mimut</dc:creator>
<guid>http://mimut.wordpress.com/2009/12/01/sang-cahaya/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Dream what you want to dream; go where you want to go; be what you want to be, because you ha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>&#8220;Dream what you want to dream; go where you want to go; be what you want to be, because you have only one life and one chance to do all the things you want to do.&#8221;</em></p>
<p>ya, hanya satu kali kesempatan. jika kita melewatkannya, wuzzz&#8230; kesempatan itu hilang lah sudah. tapi jangan kuatir, akan ada kesempatan-kesempatan berikutnya. namun, tak pernah sama.</p>
<p><em>&#8220;Heal the past, live the present, dream the future.&#8221;</em></p>
<p>spion itu tak pernah lepas dari tatapanku. tak heran, aku hampir menabrak kendaraan di depanku. oh, come on. konsentrasi pada apa yang ada di depanmu! ini hanyalah sebuah perjalanan. aku akan sampai di sana. di sebuah tempat yang menjadi impianku. tujuanku.</p>
<p>konsentrasi.</p>
<p>yup, aku ingin kembali dengan kendaraan yang dulu. yang membawaku menerjemahkan waktu dengan indah. tak ada mogok. tak ada kehabisan bensin. dan aku tak pernah lupa bagaimana rasanya melaju dengan angin. tidak ada bising. hanya senyuman di balik hawa sejuk pegunungan. </p>
<p>kini kupersiapkan ransel dan kendaraan yang lain. menuju bukit dan suasana pagi yang teduh. segelas teh hangat dan sekerat roti menjadi kawan setia. jauh cakrawala di sana mampu menggambarkan masa depan yang penuh cahaya. dan aku menikmati&#8230; cahaya sang matahari terbit.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[sedikit melupakan kebiasaan]]></title>
<link>http://mimut.wordpress.com/2009/11/30/sedikit-melupakan-kebiasaan/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 13:23:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>mimut</dc:creator>
<guid>http://mimut.wordpress.com/2009/11/30/sedikit-melupakan-kebiasaan/</guid>
<description><![CDATA[sudah beberapa bulan dan tahun ini, aku merasa sangat unmotivated. sekarang aku tahu penyebabnya. Ak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>sudah beberapa bulan <del datetime="2009-11-30T13:04:50+00:00">dan tahun </del>ini, aku merasa sangat <em>unmotivated</em>. sekarang aku tahu penyebabnya. Aku Jarang Baca Buku.</p>
<p>Membaca secara online ternyata berbeda rasanya dengan membaca secara konvensional. Biasanya ditemani secangkir teh manis dan wafer cokelat, kebiasaan membaca di sore hari menjadi rutinitas yang menyenangkan. Namun, jika pekerjaan sedang banyak dan menumpuk, kegiatan membacaku lama-lama terlupakan. Dan akibatnya, aku tak termotivasi seperti sekarang ini.</p>
<p>Aku bertekad kembali kepada buku-bukuku. Kembali ke Gra*** untuk curi-curi ilmu dengan menjadikan toko buku itu perpustakaan gratisan (hehe). Beli? ya, kadang-kadang aku beli buku juga. Biasanya aku beli buku psikologi populer atau novel. Hmmm, buku apa ya yang bagus sekarang ini?</p>
<p>Buku adalah sahabat setia. Terkadang isinya begitu menggugah, konyol, menghibur, dan sangat memotivasi. ada satu buku yang menjadi incaranku saat ini. aku lupa sih, judulnya. aku membaca <em>review </em>nya di koran PR seminggu yang lalu. kalau tidak salah tentang cara mengisi waktu yang &#8216;hanya&#8217; 24 jam dengan efektif dan efisien. Whoooo&#8230; menurutku buku itu sangat menarik. entah mengapa aku merasa waktuku berjalan sangat lambat. adakah yang kutunggu? aku juga tak tahu pasti.</p>
<p><strong>&#8220;Life is a journey, not a single destination we are all searching for happiness. It&#8217;s ok to feel &#8216;lost&#8217; sometimes, as it is in these lost times that we go inside ourselves and find more of our hidden potential. The next time you feel like life is going nowhere, take some quiet time to listen to the awesome power inside you. It&#8217;s there, just waiting to come out.&#8221;</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[My fave]]></title>
<link>http://mimut.wordpress.com/2009/11/30/my-fave/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 12:59:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>mimut</dc:creator>
<guid>http://mimut.wordpress.com/2009/11/30/my-fave/</guid>
<description><![CDATA[Andy Williams &#8211; Love Story (Where Do I Begin) Where do I begin To tell the story of how great ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><em>Andy Williams &#8211; Love Story (Where Do I Begin)</em> </strong></p>
<p><em>Where do I begin<br />
To tell the story of how great a love can be<br />
The sweet love story that is older than the sea<br />
The simple truth about the love she brings to me<br />
Where do I start</em></p>
<p><em>With her first hello<br />
She gave new meaning to this empty world of mine<br />
There’d never be another love, another time<br />
She came into my life and made the living fine<br />
She fills my heart</p>
<p>She fills my heart with very special things<br />
With angels’ songs, with wild imaginings<br />
She fills my soul with so much love<br />
That anywhere I go I’m never lonely<br />
With her around, who could be lonely<br />
I reach for her hand &#8211; it’s always there</p>
<p>How long does it last<br />
Can love be measured by the hours in a day<br />
I have no answers now but this much I can say<br />
I know I’ll need her till the stars all burn away<br />
And she’ll be there</p>
<p>How long does it last<br />
Can love be measured by the hours in a day<br />
I have no answers now but this much I can say<br />
I know I’ll need her till the stars all burn away<br />
And she’ll be there&#8230;.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Setelah Setahun....]]></title>
<link>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/11/30/setelah-setahun/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 12:26:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>sony heradi</dc:creator>
<guid>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/11/30/setelah-setahun/</guid>
<description><![CDATA[Saya baru sadar kalau ternyata sudah sekitar setahun ini saya menulis. Tidak banyak memang tulisan y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Saya baru sadar kalau ternyata sudah sekitar setahun ini saya menulis. Tidak banyak memang tulisan yang sudah saya buat, sebagian besar hasilnya malah aneh sekali. Tapi aneh biarlah aneh. Karena seaneh apapun tulisan saya, tetap saja akan ada yang mau membaca tulisan saya. Yaitu SAYA SENDIRI. Dan herannya walaupun tulisan saya banyak yang aneh, nyatanya ya masih ada orang yang mau membaca (selain saya sendiri tentunya). Semoga mereka tidak ketularan aneh seperti saya.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya. Semua ini adalah gara-gara perbuatan dua orang ini. Kedua orang itu adalah Alm.Umar Kayam dan Andrea Hirata. Gara-gara dua orang ini akhirnya saya jadi kayak gini. Gara-gara <em>mbaca</em> buku karya dua orang ini saya akhirnya kepingin ikutan nulis-nulis juga. Dan akhirnya sayapun mulai menulis dikit-dikit. Dikit dikit dikit dikit dikit teruuuuuuuuuuuuusss akhirnya&#8230; tetep tidak banyak. Tapi dari yang tidak banyak itu saya puas dan saya ketagihan. Saya tidak mau berhenti nulis (kecuali lagi males).</p>
<p style="text-align:justify;">Diawal saya mulai menulis, saya ya hanya asal menulis. Apa saja yang sedang berkelebat dibenak saya, itulah yang saya tulis. Pas lagi mikir tentang kondisi ekonomi (kebetulan background pendidikan saya ekonomi, jadi saya ngerti dikit-dikit lah) maka jadilah tulisan bertema ekonomi, saat lagi ingat Tuhan Yang Maha Pemurah maka jadilah tulisan bertema spiritualisme, saat lagi ada ide cerpen jadilah cerpen dan saat lagi tidak ada ide maka jadilah sebuah tulisan narsis.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada awalnya saya juga tidak punya media untuk “memajang” atau “memamerkan” atau “mempromosikan” tulisan saya. Saya hanya menulis, terus saya taruh di hardisk komputer saya. Begitu selama beberapa bulan diawal mula saya menulis. Lalu kemudian saya mengenal yang namanya blog. Sayapun membuat blog sendiri. Tulisan-tulisan aneh saya yang semula hanya tersimpan di hardisk komputer, saya taruh di <a href="http://www.sonyheradi.wordpress.com" target="_blank">blog saya</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu teman, bertanya sama saya. KENAPA MENULIS?. Saya jawab, menulis itu ASOY. ASik cOY. Sama asoy-nya dengan membaca, hobi saya yang lain. Bahkan pada kondisi tertentu, menulis bisa lebih asoy daripada membaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya kemudian bertanya lagi. APA YANG KAMU CARI DARI MENULIS?. Saya jawab&#8230;. sebenernya saya juga tidak tahu persis apa yang saya cari dari menulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya nanya lagi. TRUS NGAPAIN KAMU NULIS?. Ya saya jawab aja&#8230; kan tadi udah saya bilang, menulis itu ASOY. ASik cOY&#8230;..</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya <em>mrengut</em> (cemberut, red), kedua alisnya bertemu, bibirnya monyong seketika. Tapi ekspresi wajahnya berubah ketika saya jelaskan bahwa&#8230;. meskipun saya tidak tahu apa yang saya cari dari menulis, tapi saya dapat banyak hal dari menulis. Yang paling keren tentu saja adalah menulis telah menjadi sarana merubah ide yang semula berbentuk “tidak jelas” dan terkunci rapat di sebuah ruang yang bernama “benak” menjadi sesuatu yang lebih “kelihatan”. Hal lain yang saya dapat adalah saya bisa dapat teman baru (bahkan mungkin jodoh), pengalaman baru, ilmu baru dan&#8230;.. sebuah peluang untuk menambah penghasilan.</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya akhirnya bisa mengerti. Bahkan dia seakan terpengaruh, terinspirasi, terhipnotis dengan penjelasan saya. Ekspresi mukanya menjadi agak aneh, pandangannya menerawang, matanya berkaca-kaca, bibirnya tangannya kakinya dan seluruh tubuhnya bergetar seperti orang kedinginan. Sesaat kemudian bola matanya berubah menjadi hijau, kulitnya juga berubah warna menjadi kehijauan, tubuhnya membesar dan terus membesar sampai bajunya robek dan dia berteriak garang&#8230;. huuaaaaaarrrgghhhhh&#8230; Saya kaget setengah mati, teman saya berubah menjadi&#8230; kodok raksasa (bukan Hulk). Lalu&#8230;.. tidak usah dilanjutkan, terlalu aneh.</p>
<p>&#160;</p>
<p style="text-align:justify;">Karena saya tidak mau berhenti nulis (kecuali lagi males), maka tentu saja saya ingin meningkatkan kualitas tulisan saya. Saya tidak mau kalau hanya bisa banyak menulis tapi nggak ada kualitasnya. Yang saya mau adalah banyak menulis dengan kualitas yang ciamik.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak cara yang saya lakukan. Yang pertama tentu saja saya harus tetap menulis, tidak boleh berhenti. Yang kedua adalah banyak-banyak membaca, biar ada input alias inspirasi. Dan yang ketiga &#8211; ini penting sekali – adalah belajar kepada orang yang lebih jago. Dan untuk cara ketiga ini, saya memanfaatkan internet.</p>
<p style="text-align:justify;">Buka google, ketik “belajar menulis” di kolom kata kunci, tekan enter. Maka muncullah banyak situs tentang belajar menulis. Setelah klik sana sini, liat-liat. Perhatian saya tertuju pada situs yang bertajuk <a href="http://www.sekolahmenulisonline.com" target="_blank">SekolahMenulisOnline.com</a>. Menurut saya, situs inilah yang benar-benar mengajarkan bagaimana cara menulis yang baik, dengan metode yang relatif simple. <em>Cespleng</em> kata orang Jawa. Saat itu, saya ya hanya liat-liat saja, baca-baca saja, belum ada niat untuk daftar. Tapi dari liat-liat itu saya akhirnya bertemu dengan laki-laki ini&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p><a href="http://sonyheradi.wordpress.com/files/2009/11/jonru.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-81" title="jonru" src="http://sonyheradi.wordpress.com/files/2009/11/jonru.jpg?w=253" alt="" width="253" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Siapakah laki-laki ini ?. Saya tahu anda pasti berpikir ini adalah foto penyanyi Afgan 20 tahun yang akan datang. Jawabannya adalah bukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalo gitu ini pasti foto Om-nya Afgan ?. Jawabannya adalah bukan juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Papanya Afgan ?. Bukan juga</p>
<p style="text-align:justify;">Kakaknya Afgan ?. Bukan juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Afgan abis operasi plastik ?. Nggak mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;">Sopirnya Afgan ?. Ngawur.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembantunya Afgan ?. Tambah ngawur.</p>
<p style="text-align:justify;">Fansnya Afgan ?. Saya nggak tahu kalo itu, tapi mungkin saja.</p>
<p>&#160;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu siapa laki-laki misterius ini?.</p>
<p style="text-align:justify;">Namanya adalah JONRU. Bang Jonru (begitu saya menyebutnya) ini adalah orang yang mengelola situs Sekolah Menulis Online (SMO). Bang Jonru inilah orang yang saya sebut dengan ”orang yang lebih jago”. Orang yang sangat paham dunia kepenulisan dan orang yang mendedikasikan waktunya untuk mengajari orang-orang seperti saya. Yaitu orang-orang yang suka menulis dan ingin belajar menulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut saya, penulis seperti Bang Jonru ini unik dan agak langka. Kenapa unik dan agak langka ?. Karena Bang Jonru mendedikasikan waktunya untuk mengajari orang lain menulis, penulis model kayak gini nggak banyak lho&#8230; karena penulis biasanya hanya akan berkonsentrasi pada karyanya sendiri, bukan ”repot-repot” mengajari orang membuat karya tulisan yang bagus.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain SMO, Bang Jonru juga mengelola sebuah situs yang tidak kalah keren yaitu <a title="penulislepas.com" href="http://www.penulislepas.com" target="_blank">penulislepas.com</a>. Situs yang memfasilitasi penulis untuk ”memajang” karyanya didunia maya. Ini semakin membuktikan bahwa Bang Jonru adalah PENULIS UNTUK PENULIS.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka kemudian Bang Jonru kemudian saya tempatkan di peringkat ketiga sebagai orang yang bepengaruh besar terhadap perjalanan kepenulisan saya., setelah Alm. Umar Kayam dan Andrea Hirata.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang membuat Bang Jonru berada di peringkat ketiga ?. Karena dari membaca tulisan-tulisan Bang Jonru di internet, saya kemudian mempunyai ”cita-cita” yang baru dalam hal tulis menulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi kalo temen saya yang pernah berubah jadi kodok raksasa itu bertanya lagi sama saya. APA YANG KAMU CARI DARI MENULIS ?. Dengan yakin sekali saya akan menjawab&#8230;.. SAYA INGIN MENJADI PENULIS HEBAT&#8230; hanya saja saya harus hati-hati dalam menjawabnya. Saya takut dia berubah jadi kodok raksasa lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa itu PENULIS HEBAT ?. Bicara tentang penulis hebat, berbeda sedikit dengan PENULIS SUKSES. Kok gitu ?.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena PENULIS SUKSES adalah PENULIS HEBAT. Dan PENULIS HEBAT adalah cikal bakal seorang PENULIS SUKSES. Jadi kalau mau jadi PENULIS SUKSES harus jadi PENULIS HEBAT dulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjadi PENULIS HEBAT adalah persoalan mental. PENULIS HEBAT adalah penulis yang MENTALNYA HEBAT. Lihat saja penulis-penulis sukses seperti Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy atau Dewi Lestari. Jangan hanya lihat karyanya saja tapi lihat juga ”mentalitas” mereka sebagai seorang penulis. Mereka adalah penulis yang MENTALNYA HEBAT, makanya mereka menjadi PENULIS SUKSES.</p>
<p>&#160;</p>
<p style="text-align:justify;">Itu sajakah ?. Apakah hanya itu yang Bang Jonru berikan kepada saya ?. Sesuatu yang namanya ”cita-cita” itu saja?.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja tidak. Bang Jonru juga menunjukkan bagaimana cara mewujudkan ”cita-cita” tersebut. Jadi kalo diibaratkan, selain memberitahu bahwa saya bisa mendapatkan sebuah harta karun terpendam, Bang Jonru juga memberikan sebuah peta harta karun lengkap dengan kompas, sekop dan seabreg peralatan lainnya. Bang Jonru juga memberitahu dimana biasanya akan ada ”monster” yang menghadang dan bagaimana cara mengalahkannya. Jadi pantaslah kiranya kalo mendapatkan peringkat ketiga sebagai orang yang berpengaruh besar dalam perjalanan menulis saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua itu Bang Jonru berikan dalam satu paket karyanya yang berjudul CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT.</p>
<p><a href="http://sonyheradi.wordpress.com/files/2009/11/cover_penulishebat.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-82" title="cover_penulishebat" src="http://sonyheradi.wordpress.com/files/2009/11/cover_penulishebat.jpg?w=198" alt="" width="198" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk saat ini, buku ini belum ada versi cetaknya. Yang tersedia adalah versi e-booknya. Untuk sebuah e-book yang keren, harganya murah sekali. Hanya Rp. 49.500,- saja. Dengan harga segitu kita juga mendapat tambahan bonus berupa voucher diskon senilai Rp. 200.000,- dari SMO yang dikelola oleh Bang Jonru. Diskon sebesar ini adalah diskon terbesar yang pernah diberikan oleh SMO. Sebelumnya belum pernah sebesar ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan itu saja. Selain voucher diskon dari SMO, kita juga bisa mendapatkan banyak modul eksklusif dari SMO, otomatis terdaftar di kelas SMO free trial dan – ini yang keren – mendapatkan bimbingan penulisan dari Bang Jonru yang berlaku seumur hidup. Semua bonus-bonus itu tidak berlaku bila kita membeli versi cetaknya yang bisa terbit setiap waktu. Saya beruntung sekali bisa kenal Bang Jonru.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai detik ini, saya belum pernah bertemu Bang Jonru secara langsung. Selama ini kami berkomunikasi via <a href="http://www.facebook.com/penulishebat" target="_blank">Facebook</a> . Bang Jonru sebenarnya bisa dihubungi lewat <a href="http://twitter.com/penulishebat" target="_blank">akun twitternya</a> , tapi karena saya nggak punya akun twitter, jadi ya lewat facebook saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan baik-baik, saya beruntung sekali bukan ?. Nggak pernah ketemu orangnya, nggak pernah main kerumahnya (apa lagi), kalo pas lebaran ya nggak pernah ngirim parcel tapi saya mendapatkan begitu banyak ilmu yang sangat bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sadar bahwa menjadi penulis hebat itu tidak mudah. Perjalanan menulis saya baru setahun, jelas saya belum bisa apa-apa. Itulah kenapa saya harus belajar, belajar dan belajar. Belajar kepada orang yang lebih berpengalaman seperti Bang Jonru, membaca lebih banyak dan yang paling penting tentu saja saya tidak boleh berhenti menulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah belajar bersama Bang Jonru, saya juga tidak mungkin serta merta menjadi sehebat Andrea Hirata, Dewi Lestari apalagi J.K.Rowling. Tapi setidaknya tulisan saya menjadi tidak terlalu aneh. Semoga.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menulis hal-hal kecil]]></title>
<link>http://osolihin.wordpress.com/2009/11/28/menulis-hal-hal-kecil/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 17:58:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>osolihin</dc:creator>
<guid>http://osolihin.wordpress.com/2009/11/28/menulis-hal-hal-kecil/</guid>
<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb Apa yang Anda pikirkan sebelum menulis? Apa saja tema yang hendak ditu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb Apa yang Anda pikirkan sebelum menulis? Apa saja tema yang hendak ditu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[LAMAN INI SUDAH BERPINDAH TEMUI SAYA DI SINI : www.kalamnurani.com]]></title>
<link>http://kalamnurani.wordpress.com/2009/11/26/temui-saya-di-sini-httpwww-kalamnurani-com/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 08:27:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>kalamnurani</dc:creator>
<guid>http://kalamnurani.wordpress.com/2009/11/26/temui-saya-di-sini-httpwww-kalamnurani-com/</guid>
<description><![CDATA[Menjadi Seorang Penulis: Saya Sudah Siap Tanpa menoleh ke belakang, saya maju. Ketika orang lain ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Menjadi Seorang Penulis: Saya Sudah Siap Tanpa menoleh ke belakang, saya maju. Ketika orang lain ber]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Real Writer of The Bible Is...]]></title>
<link>http://gegenism.wordpress.com/2009/11/24/the-real-writer-of-the-bible-is/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 07:45:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>gegenism</dc:creator>
<guid>http://gegenism.wordpress.com/2009/11/24/the-real-writer-of-the-bible-is/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://gegenism.wordpress.com/files/2009/11/bible.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-463" title="bible" src="http://gegenism.wordpress.com/files/2009/11/bible.gif" alt="" width="256" height="241" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ngeblog Memotivasi &amp; Melatih Kemampuan Menulis]]></title>
<link>http://cucuharis.wordpress.com/2009/11/21/ngeblog-memotivasi-melatih-kemampuan-menulis/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 00:50:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>achoey</dc:creator>
<guid>http://cucuharis.wordpress.com/2009/11/21/ngeblog-memotivasi-melatih-kemampuan-menulis/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;A, apa alasanmu ngeblog?&#8221; Aku melihat bahwa blog bisa dijadikan sarana untuk memotivasi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[&#8220;A, apa alasanmu ngeblog?&#8221; Aku melihat bahwa blog bisa dijadikan sarana untuk memotivasi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[A Touchy Letter from An Ordinary Daughter to Her Extraordinary Mom in Sleman]]></title>
<link>http://zerolimitslife.wordpress.com/2009/11/20/a-touchy-letter-from-an-ordinary-daughter-to-her-extraordinary-mom-in-sleman/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 02:38:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>zerolimitslife</dc:creator>
<guid>http://zerolimitslife.wordpress.com/2009/11/20/a-touchy-letter-from-an-ordinary-daughter-to-her-extraordinary-mom-in-sleman/</guid>
<description><![CDATA[Jakarta, medio November 2009 Buat Ibu di Godean, Sleman Assalamualaikum, Bu&#8230; Bu, setelah sekia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Jakarta, medio November 2009</em></p>
<p><em>Buat Ibu di Godean, Sleman</em></p>
<p><em>Assalamualaikum, Bu&#8230;</em></p>
<p><em>Bu, setelah sekian lama tak berkirim kabar kepada ibu dan adik adik di rumah, maafkan kalau sekarang aku baru bisa menulis surat ini. Dan nyuwun sewu juga kalau surat ini ibu terima dari </em><em>Paklik Sus karena aku memang sengaja menitipkan ini kepada beliau, yang kudengar akan ke kampung untuk urusan menguburkan kembali almarhumah </em><em>Bulik Tati di kampung halaman. Ya, setelah tiga tahun dimakamkan di Jakarta, </em><em>Paklik dan anak anaknya sepakat mengambil apapun yang tersisa dari jasad almarhumah. Alasannyanya, agar tidak ruwet setiap tiga tahun sekali  mesti memperpanjang izin penggunaan tanah makam. Selain itu, kudengar juga </em><em>Paklik akan menetap seterusnya mulai tahun depan di Godean, menempati rumah yang lama cuma ditinggali oleh Kang Sarno bersama istri dan dua  anaknya. Jadi ya, memang alangkah lebih baiknya kalau </em><em>Bulik Tati dipindahkan makamnya ke situ agar </em><em>Paklik bisa setiap saat menengok dan merawat makam Ibu dari Aryo dan Gati itu.</em></p>
<p><em>Aku di sini baik baik saja, Bu, meskipun sempat beberapa kali gonta ganti pekerjaan. Ibu kan tahu, aku tak suka bekerja di belakang meja karena itu menjemukan dan bikin gemuk. Aku lebih suka bekerja jadi orang lapangan yang banyak gerak dan kerap beralih suasana dari satu tempat ke tempat lain. Itulah kenapa aku memilih jadi reporter dan meninggalkan pekerjaan sebagai pegawai bank ataupun staf administrasi.<br />
</em></p>
<p><em>Bu, Ibu tahu tidak, apa yang kuliput hari hari ini? Ya, kurasa ibu tahu karena kalau ibu menyalakan televisi dan menonton berita soal kasus cicak  dan buaya yang heboh itu, barangkali ibu akan mendapati wajahku sesekali tersorot kamera sedang mewawancarai sumber berita di antara kerumunan wartawan. Ya, kami centang perenang dan terengah engah mengikuti naik turunnya perseteruan para elit itu, Bu. Itu tekanan dari kantor yang harus kujalani. Jadi, ibu maklum saja kalau di kamera wajahku terlihat kusam dan kelelahan. </em></p>
<p><em>Aku sendiri sejatinya gak pede melihat wajahku</em><em> lho, Bu. Ibu kan tahu, aku biasa biasa saja meskipun setiap kali ibu selalu membujuk</em><em> wis cah ayu, kowe ki sing apik dhewe. Tapi aku sadar,  ibu cuma sedang menghiburku agar tak berkecil hati. Dan aku berterima kasih untuk dukungan itu.</em></p>
<p><em>Oh ya, Bu, kalau ibu tak sempat ke kota karena belakangan ini kabarnya sering hujan di sana (betul to?), tolong ibu suruh Dik Dimas saja untuk ke bank langganan Ibu yang berada di depan alun alun. Aku kemarin mentransfer uang yang tak seberapa besar. Uang itu, maksudku, kuhadiahkan kepada Ibu sebagai dana untuk membeli dua ekor kambing pada Idul Adha minggu depan. Ya, satu kambing untuk qurban ibu dan satunya lagi sebagai qurban almarhum ayah. Semoga ayah mendapatkan jalan yang lapang di sana dan ibu pun selalu sehat hingga bisa mengantarkan aku, Dimas dan Sasti hingga ke titik tertinggi dalam kehidupan ini&#8230;</em></p>
<p><em><!--more-->Bu, aku mau mengadu. Boleh kan? Tapi ibu janji tak akan menjadikan curhatanku ini sebagai beban tambahan, ya! Begini, Bu, akhir akhir ini aku merasa jenuh dengan pekerjaanku. Beberapa kali terpikir untuk kembali berpindah kerja mencari hal yang sama sekali baru dan lebih menantang. Aku telah beberapa kali keluar masuk mengikuti bursa kerja mencari cari adakah satu dua posisi yang rasanya pas dan sreg di hatiku.</em></p>
<p><em>Apa kamu sudah bosan kerja, barangkali ibu akan bertanya begitu. Dan, aku harus jujur menjawab ya. Aku memang bosan, jenuh dan capek. Awalnya kukira ini cuma karena aku butuh cuti belaka dan karenanya kuambil</em><em> off pada saat Lebaran kemarin hingga dua minggu penuh. Dan memang asyik kan, Bu, saat aku di rumah. Kita bisa keluyuran ke tempat </em><em>Bude Ti yang pintar masak, ke rumah</em><em> Bude Sulis yang jago bikin kue, ke rumah joglo</em><em> Pakde Jo yang nyentrik dan sekaligus mencari salak pondoh ataupun duren </em><em>mateng pohon di Kaligesing, Purworejo. Aku, Dimas dan Sasti habis dua </em><em>gluntung sementara Ibu dan istri Pakde Jo menyolek secuilpun tidak! Hahaa&#8230;</em></p>
<p><em>Yang jelas untuk kebersamaan seperti itu aku sadar butuh biaya. Sama seperti kenapa aku nekad mencari kerja ke Jakarta karena ya kupikir,  sudah masanya aku belajar cari uang sendiri di kota besar. Dan memang sama sekali tidak mudah, Bu. Pekerjaan sebagai reporter itu mengasyikkan tapi juga sulit karena dituntut harus bisa menyerap sekian banyak omongan orang yang kadang tak jelas juntrungannya menjadi sebuah berita yang bikin orang penasaran dan mau membeli koran atau membaca di internet.</em></p>
<p><em>Tapi Ibu kan tahu, dari dulu aku suka menulis. Apapun dulu kucoret coret dan kugambari. Ya buku tulis, ya papan tulis, ya koran dan juga tembok. Hahaa&#8230;Ibu dulu sering menjewerku kalau aku sudah mencorat coret tembok. Tapi aku bengal ya, Bu. Tembok yang tadinya putih jadi kusam dan tak karuan warnanya karena hobiku itu.</em></p>
<p><em>Dan sampai sekarang, menulis adalah jiwaku. Ibu tahu kenapa? karena dengan menulis aku merasa aman. Cuma, sekarang ini aku kan menulis berita. Yang kuinginkan sejatinya bukan itu. Aku ingin menulis semua yang ada di hatiku sekaligus apa yang kulihat di sekelilingku untuk jadi bahan makanan bagi jiwa.</em></p>
<p><em>Aku sok tahu ya, Bu? Sok melankolis atau sok penyair. Tapi sungguh, aku memimpikan bisa hidup dari menulis dan tak lagi diburu buru editor untuk meliput ini itu.</em></p>
<p><em>Aku ingin lewat tulisan tulisanku orang yang membacanya bisa merasa tertolong. Lagipula, aku jujur mengatakan bahwa cuma dengan menulislah aku menanggapi dan menghadapi hal hal yang bagiku terlalu mengganggu, menekan atau menyakitkan dengan cara yang sama sekali beda. Cara ini sungguh aman.</em></p>
<p><em>Bu, suratku panjang ya? Tapi aku yakin kok, sebagai mantan guru bimbingan dan penyuluhan atau guru BP, ibu tak akan bosan membaca keluh kesahku karena hanya memang kepada ibulah aku bisa mengadu tanpa takut bakal dianggap bodoh atu culun. Sama seperti hanya dengan menulislah aku berlindung. Maksudku, aku tidak bersembunyi di balik kata kata yang kutulis; justru aku menggunakan kata kata untuk menggali di dasar hatiku untuk menemukan kebenaran.</em></p>
<p><em>Selain itu, menulis adalah satu satunya cara bagiku yang berwajah biasa biasa saja ini untuk mengendalikan kondisi di sekelilingku. Menulis juga melatih kesabaran yang tak kumiliki dalam kehidupan sehari hari. Ibu kan tahu aku</em><em> grasah grusuh. Tapi, Bu, saat aku menulis, aku dipaksa seringkali berhenti karena kehabisan ide atau bingung merangkai kata kata agar yang kumaksud jelas ditangkap oleh yang membaca. </em></p>
<p><em>Aku pernah suatu kali meliput tentang kehidupan perempuan kupu kupu malam, Bu. Dan saat membuat laporannya, aku memaparkan hingga detil sekecil apapun latar belakang kenapa gadis sebayaku yang kuwawancarai memilih hidup dengan cara yang sulit seperti itu.</em></p>
<p><em>Dan Ibu pasti sependapat, aku melakukannya bukan untuk mengorek-ngorek aib ataupun sengaja membuka bau amis ataupun sengak si </em><em>Mbak kupu kupu malam itu. Dia tersiksa, Bu, sebenarnya. Tapi diakuinya juga, ia bahagia karena bisa mengirimkan uang ke kampung sekian juta per bulan kepada abah, emak dan adik adiknya yang tinggal di sebuah kawasan tandus di Indramayu.</em></p>
<p><em>Umumnya orang kan pasti akan dengan sebelah mata memandang profesi perempuan malang itu. Betul kan, Bu? Tapi aku jadi punya sudut pandang lain, yang harus bisa kuterjemahkan dalam rangkaian kalimat yang kubuat. Aku jadi benar benar harus tahu duduk perkaranya dan tak boleh menghakimi seenak wudelku sendiri.</em></p>
<p><em>Dan redakturku pun puas membaca laporan sehalaman yang kubuat itu, Bu. Kalau tidak salah, aku kirimkan satu </em><em>copy lembar koran tentang hal itu ke ibu. Ya kan?Ibu pasti membacanya sampai tuntas dan di ujung tulisan pastilah ibu mendapati namaku tertera di sana. Aku senang, Bu.</em></p>
<p><em>Tapi sekarang, kupikir pikir, aku tak mau lagi jadi reporter dan memilih menjadi penulis lepas. Bagaimana, apa Ibu setuju? Memang sih, Bu, kalau aku jadi penulis profesional, penghasilanku tak menentu karena ya tergantung dimuat tidaknya tulisan itu di media. Uang yang kukirim kepada Ibu dan adik adik akan berkurang dan bisa jadi sama sekali tak seperti yang sekarang.</em></p>
<p><em>Karenanya, aku mohon izin Ibu terlebih dahulu. Bolehkan aku jadi penulis profesional, Bu? Sungguh Bu, aku serius. Sama seriusnya ketika aku dulu pacaran dengan Wiwid yang sekarang sudah jadi pemimpin redaksi di sebuah harian terkenal di Jogja. Tapi kami tak berjodoh dan aku tak menyesalinya sama sekali.</em></p>
<p><em>Namun, kali ini aku&#8211;dan sudah sejak dulu sebenarnya&#8211;mengakui menulis adalah jodohku. Abjad abjad yang berserakan telah memilihku sekaligus memberikan kepadaku kuasa untuk merangkai mereka menjadi sebuah tulisan yang bakal berfungsi banyak bagi pembacanya: sebagai teman, sebagai pengingat ataupun sebagai petunjuk.<br />
</em></p>
<p><em>Jadi, Bu, menulis sesungguhnya mengajarkan banyak hal tidak saja kepada pembacanya, tapi juga kepada penulisnya sendiri. Kalau aku terkesan menggurui dalam tulisanku, maka itu sebenarnya aku sedang memperingatkan diriku sendiri, menasihati diriku sendiri agar mestinya begini atau begitu.</em></p>
<p><em>Aku juga dipaksa harus menghormati perbedaan, Bu, tatkala tulisanku dikomentari beragam oleh pembaca. Ada yang setuju denganku, ada yang menolak mentah mentah dan bahkan ada pula yang meremehkan dan menganggap apa yang kutulis cuma cincai cincai belaka. Tapi biarlah, beda kepala, beda isi otak, kan, Bu. Rambut boleh sama hitam tapi tak ada pendapat yang sama.</em></p>
<p><em>Bu, benar benar sudah kepanjangan ya suratku. Maklumlah, ini sekalian pelajaran menulis kreatif buatku. Hahaaa&#8230; Tapi sungguh, Bu, aku bermohon ibu bisa mempertimbangkan dan mengizinkan aku melepas pekerjaanku sekarang sebagai reporter dan memilih menjadi penulis profesional.</em></p>
<p><em>Kan </em><em>itung itung meneruskan apa yang ditekuni almarhum ayah saat menjadi carik desa dulu, Bu. Hihiii&#8230;Apapun yang kupaparkan di atas, mungkin tak terlalu mengenakkan buat Ibu. Tapi, aku merasakan bahwa takdirku sejatinya memang untuk jadi penulis. Aku dilahirkan dari rahim ibu untuk menulis.</em></p>
<p><em>Jadi, kutunggu balasan surat Ibu. Kalau bisa, sekalian ibu kirimi aku </em><em>krasikan dan </em><em>intip ya, Bu. itu kan makanan kesukaanku dari kecil! Ibu selipkan saja surat balasan Ibu di dalam sebuah kardus yang dikemas rapat dan minta tolong Dimas memaketkannya di kurir dekat stasiun.</em></p>
<p><em>Matur nuwun ya, Bu. Maafkan kalau aku menambah beban pikiran ibu. Tapi aku janji, ini adalah permintaan terakhirku untuk membuktikan bahwa dari rahim seorang perempuan bernama Hastari telah lahir seorang penulis berbakat. Ia mungkin tidak tenar tapi ia sungguh melegakan. </em></p>
<p><em>Dan bukankah itu amanat yang diberikan Tuhan kepada setiap orang, Bu? Ya, kita hadir untuk saling mengingatkan, membagi beban dan merayakan hidup. Dan aku melakukan itu semua dengan caraku. Dengan menjadi sorang penulis.</em></p>
<p><em>Kutunggu balasan Ibu terkasih dan salam sayang buat Dimas dan Sasti. Ibu ingat ya, cuma Ibu yang luar biasa di mataku! Eh, ada satu lagi yang hebat kok, Bu&#8230;Ya, itu adalah tulisan tulisanku kelak.<br />
</em></p>
<p><em>Wassalamualaikum dan peluk cium dariku,</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>&#8211;Ardhaneswari Ekalaksmi Sudjak&#8211;</em></p>
<p>Maafkan saya, saya menyesal, saya mengasihimu, terima kasih.</p>
<p><em>Peace beyond all understanding</em>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[what do i want]]></title>
<link>http://mimut.wordpress.com/2009/11/19/what-do-i-want/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 15:08:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>mimut</dc:creator>
<guid>http://mimut.wordpress.com/2009/11/19/what-do-i-want/</guid>
<description><![CDATA[speechless. i want something good. something great. but why dont you agree with me? why always be an]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>speechless.</p>
<p>i want something good. something great. but why dont you agree with me? why always be an interuption between you and me? why dont you understand&#8230;</p>
<p>i dont wanna talk about what i want. i  just dont wanna talk about it with you. because i dont want to be what you&#8217;ve said. i want to be me.</p>
<p>and i will take my future, i will do what i can do.</p>
<p>go away.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
