<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>penuntut-ilmu &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/penuntut-ilmu/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "penuntut-ilmu"</description>
	<pubDate>Mon, 20 May 2013 04:08:20 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Orang Jihad, Penuntut Ilmu, Dermawan Tapi Masuk Neraka Karena Tidak Ikhlas]]></title>
<link>http://abbymolana.wordpress.com/2013/01/14/orang-jihad-penuntut-ilmu-dermawan-tapi-masuk-neraka-karena-tidak-ikhlas/</link>
<pubDate>Mon, 14 Jan 2013 02:26:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>abbymolana</dc:creator>
<guid>http://abbymolana.wordpress.com/2013/01/14/orang-jihad-penuntut-ilmu-dermawan-tapi-masuk-neraka-karena-tidak-ikhlas/</guid>
<description><![CDATA[عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ z قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَو]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3><a href="http://abbymolana.files.wordpress.com/2013/01/ikhlash.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-36 alignleft" alt="ikhlash" src="http://abbymolana.files.wordpress.com/2013/01/ikhlash.jpg?w=260&#038;h=328" width="260" height="328" /></a></h3>
<div>
<div style="display:inline!important;text-align:left;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ z قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره</div>
</div>
<div id="post-body-1612246474067520029">
<div></div>
<p><em id="__mceDel"><br />
<a name="more"></a>Dari Abi Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : &#8216;Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?&#8217; Ia menjawab : &#8216;Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.&#8217; Allah berfirman : &#8216;Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).&#8217; Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: &#8216;Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?&#8217; Ia menjawab: &#8216;Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.&#8217; Allah berkata : &#8216;Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari&#8217; (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).&#8217; Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : &#8216;Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?&#8217; Dia menjawab : &#8216;Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.&#8217; Allah berfirman : &#8216;Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).&#8217; Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh :<br />
1. Muslim, Kitabul Imarah, bab Man Qaatala lir Riya&#8217; was Sum&#8217;ah Istahaqqannar (VI/47) atau (III/1513-1514 no. 1905).<br />
2. An Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari&#8217;, Sunan Nasa-i (VI/23-24), Ahmad dalam Musnad-nya (II/322) dan Baihaqi (IX/168).</p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Menyerah Dalam Belajar!]]></title>
<link>http://kunaasyaa.wordpress.com/2012/12/07/jangan-menyerah-dalam-belajar/</link>
<pubDate>Fri, 07 Dec 2012 13:04:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>أبو إسحاق العصري</dc:creator>
<guid>http://kunaasyaa.wordpress.com/2012/12/07/jangan-menyerah-dalam-belajar/</guid>
<description><![CDATA[Mungkin Anda –wahai para penuntut ilmu yang mulia- adalah orang yang merasa susah sekali menghafal,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin Anda –wahai para penuntut ilmu yang mulia- adalah orang yang merasa susah sekali menghafal, atau sudah belajar tapi <i>gak</i> paham-paham, cepat lupa, dan berbagai macam penyakit lainnya yang kadang membuat Anda patah arang. Terkadang saya pun juga begitu. Belajar fikih muamalah, tapi pahamnya <i>pas </i>pengajian, sampai rumah bingung lagi. Atau menghafal Al Qur’an di masjid, niatnya pulang ke rumah sambil <em>muroja’ah,</em> tapi apa yang mau di <em>muroja’ah</em> kalau baru keluar masjid lupa lagi?? Jika demikian adanya, mari kita simak bersama untaian nasihat oleh Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan <em>hafizhahullah </em>untuk kita semua berikut ini supaya semangat kita untuk belajar tetap membara.</p>
<p><b>Kita itu selevel dengan Ibnu Taimiyyah atau Bukhori!</b></p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan berkata, “Wahai penuntut ilmu, saya dan anda, serta Syaikhul Islam, Al Bukhori, Ibnu Hajar, dan ulama lainnya memiliki sebuah persamaan, yakni dalam firman Allah <i>Ta’ala </i>:</p>
<p style="text-align:center;"><b>وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</b></p>
<p style="text-align:center;">“Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dan Allah menjadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan, dan hati supaya kalian bersyukur” (QS. An Nahl : 78)</p>
<p>Kita semua sama-sama manusia biasa. Ayat ini adalah titik kesamaan seluruh manusia, baik para nabi maupun rasul yang Allah pilih serta para sahabat yang memiliki keutamaan dan terdepan dalam kebaikan. Maka ayat ini mengumpulkan kita semua dalam sebuah kesamaan (yakni sama-sama dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa-apa -pen).</p>
<p>Oleh karena itu, janganlah meremehkan kebaikan sedikitpun, dan janganlah kamu merendahkan dirimu. Tapi jangan juga kamu memuji-muji dirimu padahal kamu tahu kalau kamu tidak berhak mendapatkannya. Dan janganlah kamu memakai pakaian yang ukurannya kebesaran untuk dirimu.”</p>
<p><b>Cukup semalam untuk menghafal 200 bait</b></p>
<p>Beliau melanjutkan, “Jangan merendahkan dirimu jika kamu sulit menghafal, atau susah memahami, atau lambat membaca, atau cepat lupa… Semuanya itu adalah penyakit dan virus yang bisa hilang dengan mengikhlaskan niat dan mencurahkan usaha.</p>
<p>Imam Al ‘Askari bercerita tentang dirinya, ‘Dulu, menghafal adalah sesuatu yang tidak mungkin bagiku di awal-awal belajar. Kemudian aku biasakan diriku sehingga aku mampu menghafal <i>qasidah </i>(و قائم الأعماق خاوي المخترقن) dalam semalam, padahal <i>qasidah-</i>nya hampir berisi 200 bait’ (lihat <i>Al Hatstsu ‘ala Tholabil ‘Ilmi wal Ijtihad fii Tahshilihi, </i>karya Abul ‘Askari hal. 71).</p>
<p>Dan hal ini dicapai –tanpa ragu lagi- dengan kesungguhan yang terus-menerus”</p>
<p><b>Meninggalkan maksiat, obat paling ampuh</b></p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan menutup pembahasan ini dengan nasihat beliau sebagai berikut, “Dan tidak diragukan lagi bahwa meninggalkan maksiat adalah sebab yang paling besar yang membantu untuk menghafal. Asy Syafi’I mengatakan perkataan yang sangat indah :</p>
<p style="text-align:center;"><b>شكوت إلى وكيع سوء حفظي</b></p>
<p style="text-align:center;"><b>فأرشدني إلى ترك المعاصي</b></p>
<p style="text-align:center;"><b>و قال : اعلم بأن العلم نور</b></p>
<p style="text-align:center;"><b>و نور الله لا يؤتاه عاصي</b></p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku</p>
<p style="text-align:center;">Maka dia mengarahkanku untuk meninggalkan maksiat</p>
<p style="text-align:center;">Dan berkata : Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya</p>
<p style="text-align:center;">Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
</blockquote>
<p>&#160;</p>
<p>(Lihat <i>Ma’alim fii Thoriqi Tholabil ‘Ilmi, </i>hal. 28-29 dengan diringkas)</p>
<div>
<hr />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Faidah : Sebagian orang meragukan bait sya’ir ini adalah milik Syafi’i. Mereka beralasan bahwa Syaif’I bukanlah muridnya Waki’. Tapi hal itu terbantah karena Syafi’I meriwayatkan hadits dari Waki’ sebagaimana yang terdapat dalam <i>Kitab Ash Shodaqoh </i>dalam kitab <i>Al Umm’</i>. Adapun bait-bait tersebut maka sudah terkenal kalau itu milik Syafi’i</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kedudukan Hadits : “Tuntutlah Ilmu Walaupun Ke Negri Cina”]]></title>
<link>http://kunaasyaa.wordpress.com/2012/12/05/kedudukan-hadits-tuntutlah-ilmu-walaupun-ke-negri-cina/</link>
<pubDate>Wed, 05 Dec 2012 12:44:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>أبو إسحاق العصري</dc:creator>
<guid>http://kunaasyaa.wordpress.com/2012/12/05/kedudukan-hadits-tuntutlah-ilmu-walaupun-ke-negri-cina/</guid>
<description><![CDATA[Ungkapan “tuntutlah ilmu sampai ke negri Cina” adalah ungkapan yang sangat terkenal di tengah-tengah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ungkapan “<i>tuntutlah ilmu sampai ke negri Cina</i>” adalah ungkapan yang sangat terkenal di tengah-tengah kita. Bahkan ada yang  mengatakan ungkapan di atas adalah hadits Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>.  Benarkah demikian?<!--more--></p>
<p><b>Teks hadits</b></p>
<p style="text-align:center;">اطلبوا العلم ولو بالصين</p>
<p style="text-align:center;">“Tuntutlah ilmu walau ke negri Cina!”</p>
<p><b>Kedudukan hadits</b></p>
<p>Imam Ibnu Hibban <i>rahimahullah </i>mengatakan, “<strong>Hadits ini bathil, tidak ada asalnya. Imam Ahmad ditanya tentang hadits ini, lalu beliau mengingkarinya dengan keras</strong>” (<i>Ahadits Muntasyarah Laa Tastbutu ‘anin Nabiy </i>karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan<i>, </i>hal. 18)</p>
<p>Maka, terkenalnya suatu ungkapan yang dianggap hadits bukanlah jaminan bahwa hadits tersebut adalah hadits yang shahih dari Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>. Dan ungkapan yang dianggap hadits seperti ini banyak sekali, akan kami bawakan contohnya lagi di lain waktu, <i>insya Allah</i>.</p>
<p>&#160;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TERUSLAH MENUNTUT ILMU]]></title>
<link>http://gambarnasihat.wordpress.com/2012/11/09/teruslah-menuntut-ilmu/</link>
<pubDate>Fri, 09 Nov 2012 02:01:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>gambarnasihat</dc:creator>
<guid>http://gambarnasihat.wordpress.com/2012/11/09/teruslah-menuntut-ilmu/</guid>
<description><![CDATA[Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur-an]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur-an]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikatlah Ilmu Dengan Tulisan]]></title>
<link>http://kunaasyaa.wordpress.com/2012/11/08/ikatlah-ilmu-dengan-tulisan/</link>
<pubDate>Thu, 08 Nov 2012 01:59:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>أبو إسحاق العصري</dc:creator>
<guid>http://kunaasyaa.wordpress.com/2012/11/08/ikatlah-ilmu-dengan-tulisan/</guid>
<description><![CDATA[Segala puji hanyalah bagi Alla Ta’ala, Rabb Yang telah memberikan manusia petunjuk dan Yang telah me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji hanyalah bagi Alla <i>Ta’ala, </i>Rabb Yang telah memberikan manusia petunjuk dan Yang telah mengajari manusia ketika manusia keluar dari perut ibu mereka dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, beserta keluarga dan shahabat beliau, serta orang-orang yang menempuh jalan yang mereka tempuh hingga hari akhir.</p>
<p><b>Ikatlah ilmu dengan tulisan</b></p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align:center;"><b>قيدوا العلم بالكتابة</b></p>
<p style="text-align:center;">“Ikatlah ilmu dengan tulisan” (<i>Silsilah Ahadits Ash Shahihah </i>no. 2026)<!--more--></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <i>rahimahullah </i>berkata, “Seorang penuntut ilmu harus semangat dalam mengingat-ingat dan menghafalkan apa yang telah ia pelajari, baik dengan hafalan di dalam dada ataupun dengan menuliskannya. Sesungguhnya manusia adalah tempatnya lupa, maka jika dia tidak bersemangat untuk mengulang dan mereview pelajaran yang telah didapatkan, maka ilmu yang telah diraih bisa hilang sia-sia atau dia lupakan” (<i>Kitaabul ‘Ilmi </i>hal. 62)</p>
<p><b>Ilmu adalah buruan</b></p>
<p style="text-align:center;"><b>العلم صيد و الكتابة قيده &#8230;. قيد صيودك بالحبال الواثقة</b></p>
<p style="text-align:center;"><b>فمن الحماقة أن تصيد غزالة &#8230;. و تتركها بين الخلائق طالقة</b></p>
<blockquote><p>Ilmu adalah buruan, sedangkan tulisan adalah pengikat</p>
<p>Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat</p>
<p>Adalah sebuah kebodohan jika engkau berburu kijang</p>
<p>Lalu kau biarkan dia lepas pergi dengan hewan lainnya</p></blockquote>
<p><b>Catatlah walaupun di tembok!</b></p>
<p>Imam Asy Sya’bi <i>rahimahullah </i>pernah berkata, “Jika dirimu mendengar faidah ilmu, maka catatlah meskipun di tembok!” (Diriwayatkan oleh Khaitsamah, lihat <i>Hilyah Thalibil ‘Ilmi</i> hal. 53)</p>
<p><b>Jangan pelit untuk beli catatan, tapi jangan menyusahkan orang</b></p>
<p>Ustadz Yazid <i>hafizhahullah </i>memberikan nasihat yang bagus, “Seorang penuntut ilmu tidak boleh bakhil atau pelit untuk membeli buku tulis, ballpoint, kitab, dan berbagai sarana yang dapat membantunya untuk mendapatkan ilmu. Dalam memenuhi kebutuhannya itu dia tidak boleh bergantung kepada orang lain, tidak boleh meminta-minta, dan tidak boleh merepotkan orang lain, bahkan ia harus bersikap <i>zuhud</i> dan <i>qana’ah</i>” (<i>Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga </i>hal. 89)</p>
<p><b>Cara mencatat faidah ilmu</b></p>
<p>Syaikh Bakr Abu Zaid <i>rahimahullah </i>berkata, “Buatlah sebuah buku kumpulan faidah atau buku catatan untuk menulis faidah ilmu. Jika engkau memanfaatkan bagian belakang cover kitab untuk  mencatat faidah dari kitab tersebut, maka itu suatu hal yang baik. Lalu pindahlah catatanmu tadi ke buku catatanmu, urutkanlah sesuai dengan materinya, lalu cantumkanlah pokok bahasan, nama kitab, halaman, dan jilid kitab. Lalu tulislah di akhir catatanmu tadi : “Dinukil dari…” supaya tidak tercampur antara faidah yang dinukil dari kitab dan yang tidak dinukil dari kitab tersebut” (Diringkas dari <i>Hilyah Thalibil ‘Ilmi </i>hal. 52)</p>
<p>Inilah yang dapat saya tuliskan pada tulisan pertama di blog pribadi saya yang ketiga ini. Dan inilah alasan utama saya untuk membuat blog, yakni untuk mengikat buruan utama seorang penuntut ilmu, dia adalah ilmu syar’I dari Al Qur’an dan As Sunnah. Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>Allahu a’lam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan shahabat beliau semuanya.</p>
<p>20 Dzulhijjah 1433</p>
<p>Wisma MTI, Yogyakarta</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mutiara Nasihat Imam Asy ...]]></title>
<link>http://yahyaallijazy.wordpress.com/2012/09/15/mutiara-nasihat-imam-asy/</link>
<pubDate>Sat, 15 Sep 2012 12:52:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>yahyaallijazy</dc:creator>
<guid>http://yahyaallijazy.wordpress.com/2012/09/15/mutiara-nasihat-imam-asy/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Bersabarlah atas pahitnya perilaku kasar sang guru, karena melekatnya ilmu dengan menyertainy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<figure class="quote">
<blockquote>
<div style="text-align:left;" align="center"><em><a href="http://yahyaallijazy.files.wordpress.com/2012/09/cropped-books_on_a_shelf_6763.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-46" title="cropped-books_on_a_shelf_6763.jpg" src="http://yahyaallijazy.files.wordpress.com/2012/09/cropped-books_on_a_shelf_6763.jpg?w=497&#038;h=139" alt="" width="497" height="139" /></a><span style="color:#000000;"><em>&#8220;Bersabarla</em>h atas pahitnya perilaku kasar sang guru,</span></em></div>
<div style="text-align:left;" align="center"><span style="color:#000000;"><em>karena melekatnya ilmu dengan menyertainya.</em></span></div>
<div style="text-align:left;" align="center"><span style="color:#000000;"><em><br />
</em><em>Siapa yang belum merasakan kehinaan belajar sesaat,</em></span></div>
<div style="text-align:left;" align="center"><span style="color:#000000;"><em>ia akan mereguk hinanya kebodohan sepanjang hayat.</em></span></div>
<div style="text-align:left;" align="center"><span style="color:#000000;"><em>Siapa yang tidak belajar di masa mudanya,</em></span></div>
<div style="text-align:left;" align="center"><span style="color:#000000;"><em>bertakbirlah empat kali atas kematiannya.<!--more--></em></span></div>
<div style="text-align:left;" align="center"><span style="color:#000000;"> </span></div>
<div style="text-align:left;" align="center"><span style="color:#000000;"><em>Hidupnya seorang pemuda -demi Allah-</em></span></div>
<div style="text-align:left;" align="center"><span style="color:#000000;"><em>adalah dengan ilmu dan ketakwaan.</em></span></div>
<div style="text-align:left;" align="center"><span style="color:#000000;"><em>Sebab, jika keduanya tidak ada padanya,</em></span></div>
<div style="text-align:left;" align="center"><span style="color:#000000;"><em>maka tiada lagi jati dirinya&#8221; </em></span></div>
<div style="text-align:left;" align="center"></div>
<div style="text-align:left;" align="center"><em><span style="color:#000000;">- Asy Syafi&#8217;i, rahimahullah</span><br />
</em></div>
</blockquote>
</figure>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasihat Untuk Para Penuntut Ilmu]]></title>
<link>http://yahyaallijazy.wordpress.com/2012/09/14/nasihat-untuk-para-penuntut-ilmu/</link>
<pubDate>Fri, 14 Sep 2012 09:27:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>yahyaallijazy</dc:creator>
<guid>http://yahyaallijazy.wordpress.com/2012/09/14/nasihat-untuk-para-penuntut-ilmu/</guid>
<description><![CDATA[Ini nasehat dari Syeikh Abdulloh Al mar’iy ketika muhadhoroh di Yogyakarta كلنا طلبة العلم،يا حملة ا]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:left;" align="center">Ini nasehat dari Syeikh Abdulloh Al mar’iy ketika muhadhoroh di Yogyakarta</div>
<div align="center"></div>
<div align="center">
<blockquote>
<div align="center"><strong>كلنا طلبة العلم،يا حملة العلم اعملوا بما علمتم</strong></div>
</blockquote>
<div align="center"><strong>الحرص على الصدق و الإخلاص</strong></div>
<div align="center"><strong>الحرص على العمل الصالح</strong></div>
<div align="center"><strong>ينبغي حرصنا على العمل كحرصنا على العلم بل أشد</strong></div>
<div align="center"><strong>من اعظم الصوارف من طارق العلم هو عدم العمل بالعلم</strong></div>
<div align="center"><strong>من العمل بالعلم أن يكثر اللجوء إلى الله بالدعاء بالصلاة</strong></div>
<div align="center"><strong>العلم شجرة و العمل ثمرة</strong></div>
<div align="center"><strong>العلم وصيلة و العمل غاية</strong></div>
<div align="center"><strong>تصيل العلم بالجد و الإجتهاد</strong></div>
<div align="center"><strong>حفظ القرآن من أعظم ما يجب ما يعتنى طلبة العلم</strong></div>
<div align="center"><strong>الحرص على الإستمرار و المداومة و على الخير الذي نحن فيه</strong></div>
<div align="center"><strong>منهاجية في طلبة العلم</strong></div>
<div align="center"><strong>إخلاص من دون صبر لا يكفي</strong></div>
<div align="center"><strong>فضّل العلم لأننا يتّقى به الله</strong></div>
<div style="text-align:right;" align="center"></div>
<p><em>Kita semua adalah penuntut ilmu</em></p>
</div>
<div align="center"><em>Wahai para pembawa ilmu, amalkanlah apa yang kalian ilmui</em></div>
<div align="center"><em>Bersemangat dan bersikap jujur dan ikhlash</em></div>
<div align="center"><em>Bersemangat untuk beramal sholih</em></div>
<div align="center"><em>Hendaklah semangat kita dalam beramal seperti semangat kita dalam menuntut ilmu, bahkan lebih besar lagi</em></div>
<div align="center"><em>Salah satu faktor terbesarnya yang memalingkan dari jalan ilmu adalah tidak beramal dengan ilmu</em></div>
<div align="center"><em>Termasuk beramal dengan ilmu adalah banyak-banyak kembali kepada Allah dengan do’a dan sholat</em></div>
<div align="center"><em>Ilmu adalah pohon sedangkan amal adalah buahnya</em></div>
<div align="center"><em>Ilmu adalah sarana dan amal adalah tujuan</em></div>
<div align="center"></div>
<div align="center"><a href="http://yahyaallijazy.files.wordpress.com/2012/09/books_on_a_shelf_6763.jpg"><img title="books_on_a_shelf_6763" src="http://yahyaallijazy.files.wordpress.com/2012/09/books_on_a_shelf_6763.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a></div>
<div align="center"></div>
<div align="center"><em>Menuntut ilmu harus dengan sungguh-sungguh dan serius</em></div>
<div align="center"><em>Menghafal Qur’an termasuk perkara wajib yang paling agung yang harus di perhatikan bagi penuntut ilmu</em></div>
<div align="center"><em>Bersemangat untuk konsisten dan terus menerus dalam kebaikan yang kita tekuni</em></div>
<div align="center"><em>Menuntut ilmu dengan tertata dan terarah</em></div>
<div align="center"><em>Ikhlas tanpa sabar tidak cukup</em></div>
<div align="center"><em>Ilmu itu diutamakan karena ia menjadi sarana untuk bertaqwa kepada Allah</em></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Buang Potensimu, Penuntut Ilmu!]]></title>
<link>http://aljayyid.wordpress.com/2012/06/20/jangan-kau-buang-potensimu-wahai-penuntut-ilmu/</link>
<pubDate>Wed, 20 Jun 2012 07:15:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>angkat9pena</dc:creator>
<guid>http://aljayyid.wordpress.com/2012/06/20/jangan-kau-buang-potensimu-wahai-penuntut-ilmu/</guid>
<description><![CDATA[Kita lihat di antara barisan para penuntut ilmu ada orang-orang yang dianugerahi kemampuan yang agun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aljayyid.files.wordpress.com/2012/06/potensi.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-176" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://aljayyid.files.wordpress.com/2012/06/potensi.jpg?w=560&#038;h=420" alt="" width="560" height="420" /></a></p>
<p>Kita lihat di antara barisan para penuntut ilmu ada orang-orang yang dianugerahi kemampuan yang agung, yang luar biasa, yang membuat mereka pantas mendapat kemuliaan ilmu. Hanya saja cita-cita mereka yang rendah menghancurkan anugerah tersebut, menghilangkan eloknya keunggulan mereka, sehingga engkau dapati mereka merasa cukup dengan ilmu yang sedikit, mereka tidak suka membaca dan menelaah, mereka sering terlalaikan dari menuntut ilmu.</p>
<p>Betapa cepatnya mereka melepaskan potensi ini dan menghilangkan berkah waktu-waktu mereka. Hal itu terjadi karena kufur nikmat. Tentu saja ini menyebabkan nikmat tersebut pergi, sebagaimana syukur nikmat adalah penyeru untuk penambahan nikmat tersebut.<br />
Al-Farra’ rahimahullah berkata,</p>
<p>“Tidaklah aku merasa kasihan pada seseorang seperti rasa kasihanku kepada dua orang: Seorang yang menuntut ilmu, namun dia tidak mempunyai pemahaman, dan seorang yang paham tetapi tidak mencarinya. Dan aku sungguh heran dengan orang yang lapang untuk menuntut ilmu tetapi dia tidak belajar.” (Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi, 1/103)</p>
<p>Ibnul Jauzi rahimahullah memberi keterangan perkataan Abith Thayyib Al-Mutanabbiy:</p>
<p>Aku tidak melihat aib-aib manusia sebagai aib<br />
Seperti kekurangan orang-orang yang mampu untuk sempurna</p>
<p>Ibnul Jauzi berkata,<br />
“Seharusnya seorang yang berakal berhenti pada puncak yang memungkinkan baginya. Apabila tergambar bagi anak Adam tingginya langit, sungguh aku memandang bahwa keridhaanya dengan bumi termasuk kekurangan yang paling buruk.</p>
<p>Kalau seandainya kenabian diperoleh dengan kesungguh-sungguhan, aku melihat orang yang merasa tidak butuh untuk memperolehnya berada dalam tempat yang rendah. Jalan hidup yang indah menurut ahli hikmah adalah keluarnya jiwa kepada puncak kesempurnaanya yang memungkinkan baginya dalam berilmu dan beramal.”</p>
<p>Beliau juga berkata,<br />
“Secara global, dia tidak meninggalkan keutamaan yang mungkin ia peroleh kecuali dia berusaha memperolehnya. Sesungguhnya rasa puas adalah keadaan orang-orang rendahan.</p>
<p>Maka jadilah seorang lelaki yang kakinya menghujam di bumi<br />
Sedangkan cita-citanya setinggi bintang Tsurayaa</p>
<p>Kalau memungkinkan bagimu untuk melampaui setiap ulama dan orang-orang yang zuhud, maka lakukanlah. Mereka itu laki-laki, engkau juga laki-laki. Dan tidaklah seseorang duduk kecuali karena rendahnya dan hinanya cita-citanya.</p>
<p>Ketahuilah bahwa kamu berada dalam ajang perlombaan, sedangkan waktu-waktu akan habis. Maka, janganlah engkau kekal menuju kemalasan. Tidaklah luput sesuatu kecuali dengan kemalasan. Dan tidaklah dicapai sesuatu kecuali dengan kesungguhan dan tekad.” (Shaidul Khatir hal. 159-161.)</p>
<p>Wahai orang yang melihat pada dirinya ada tanda-tanda keunggulan dan kecerdasan, janganlah engkau mengharapkan satu pengganti dari ilmu. Janganlah engkau tersibukkan dengan selainnya selamanya. Jika engkau enggan, maka semoga Allah memberikan kemuliaan pada dirimu, dan memperbesar pahala muslimin padamu. Betapa sangat kerugianmu dan betapa besar musibahmu.</p>
<p>Tinggalkan darimu mengingat hawa nafsu dan para pencintanya<br />
Bangkitlah ke tempat yang tinggi, di sana ada mutiara<br />
Yang menghibur dengan tempat dakiannya dari setiap yang berharga<br />
Dan dari nikmat dunia, yang hakikat jernihnya adalah keruh<br />
Dan dari teman di sana yang melalaikan teman-teman duduknya<br />
Dan dari taman yang diselubungi cahaya dan bunga-bunga<br />
Bangkitlah menuju ilmu dengan kesungguhan tanpa rasa malas<br />
Seperti bangkitnya seorang hamba kepada kebaikan dengan segera<br />
Bersabarlah dalam memperolehnya dengan kesabaran kemuliaan baginya<br />
Tak akan mencapainya orang yang tidak bersabar</p>
<p>(Qasidah Asy-Syaikh As-Sa’di, sebagaimana dalam Al-Fatawa, 647)</p>
<p>Dan sesungguhnya, termasuk perkara-perkara yang bermanfaat yang dapat membantu tingginya cita-cita yaitu melihat jalan hidup para salaf radhiyallahu ‘anhum. Sesungguhnya keadaan mereka adalah puncak kesempurnaan secara ilmu dan amal. Jika seorang penuntut ilmu melihatnya dan menganggap rendah diri dan sedikit ilmu, maka dia akan berusaha untuk mengejar mereka dan meniru mereka. Dan barangsiapa meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.</p>
<p>Ibnul Jauzi berkata,<br />
“Demi Allah, ingatlah wajib atas kalian untuk memperhatikan jalan hidup salaf serta menelaah tulisan-tulisan mereka dan kabar-kabar mereka. Sungguh memperbanyak dalam menelaah kitab-kitab mereka adalah seperti melihat mereka.”</p>
<p>Beliau juga berkata,<br />
“Hendaklah dia memperbanyak menelaah (kehidupan salaf –ed.), sungguh ia akan melihat ilmu-ilmu salaf, dan tingginya cita-cita mereka yang menajamkan pikirannya, dan menggerakkan tekadnya untuk bersungguh-sungguh.” (Shayyidul Khatir, 440)</p>
<p>(Sumber: Awaiqut Thalab karya Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Abdul Karim, halaman 46-48).</p>
<p>sumber: ulamasunnah.wordpress</p>
<p>Oleh: Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Abdul Karim</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesalahan-Kesalahan yang Harus Dihindari Penuntut Ilmu]]></title>
<link>http://sutrisnolink.wordpress.com/2012/04/25/kesalahan-kesalahan-yang-harus-dihindari-penuntut-ilmu/</link>
<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 18:57:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuzakaria</dc:creator>
<guid>http://sutrisnolink.wordpress.com/2012/04/25/kesalahan-kesalahan-yang-harus-dihindari-penuntut-ilmu/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Sha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><a href="http://assunnahsukoharjo.files.wordpress.com/2012/04/ilmu31.jpg"><img class="size-full wp-image" src="http://assunnahsukoharjo.files.wordpress.com/2012/04/ilmu31.jpg?w=264" alt="Gambar" /></a></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.</em></p>
<p>Masih melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang adab menuntut ilmu , pada kesempatan ini kita akan membahas tentang kesalahan-kesalahan yang harus dihindari oleh seorang pentuntut ilmu. Pembahasan ini kami ringkas dari <strong>Kitabul Ilmi </strong>karya<strong> Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin</strong> <em>rahimahullah</em>. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sebagian Kesalahan yang Dilakukan Penuntut Ilmu yang Hendaknya Dihindari: </strong></p>
<p><strong>Pertama: Hasad</strong></p>
<p>Definisi hasad adalah tidak sukanya seseorang atas nikmat yang Allah berikan pada orang lain. Definisi ini sebagaimana disampaikan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah  <em>rahimahullah</em>. Hasad tidaklah mendatangkan bagi pemiliknya kecuali bahaya dan kerugian, diataranya:</p>
<p>-          Dengan hasad berarti ia benci dengan apa yang Allah telah takdirkan.</p>
<p>-          Hasad memakan kebaikan, sebagaimana api melahap kayu bakar.</p>
<p>-          Muncul dalam hatinya kesusahan dan kesedihan</p>
<p>-          Tasyabuh dengan sifat yahudi yang suka hasad</p>
<p>-          Meskipun ia hasad tidak mungkin dengannya ia dapat menghilangkan nikmat orang lain</p>
<p>-          Hasad menafikan sempurnanya iman. Rasulullah bersabda, <em>Tidak sempurna keimanan salah satu diatara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya</em> (HR Bukhari dan Muslim).<!--more--></p>
<p>-          Menyebabkan berpaling dari berdo’a kepada Allah atas keutamaaNya.  Padahal Allah berfirman,</p>
<p align="right">وَلاَ تَتَمَنَّوْاْ مَا فَضَّلَ اللّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُواْ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً </p>
<p><em>Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</em> (QS An Nisa’: 32)</p>
<p>-          Meremehkan nikmat Allah atas dirinya.</p>
<p>-          Hasan memicu untuk mencela dan mencari-cari kesalahan orang lain.</p>
<p>-          Hasad memicu untuk memusuhi orang lain</p>
<p><strong>Kedua: Berfatwa Tanpa</strong></p>
<p>Fatwa memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Dengannya pemiliknya berusaha menjelaskan masalah-masalah penting yang dihadapi umat dan berusaha memberi arahan yang benar. Maka selayaknya orang yang berfatwa adalah yang ahli, bukan sembarang orang. Berbahaya sekali jika ada orang berfatwa tanpa ilmu apa lagi dalam masalah halal dan haram. Untuk itu sebagai seorang penuntut ilmu jika ditanya sesuatu yang tidak diketahui jangan malu untuk mengatakan tidak tahu. Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan,</p>
<p align="right">فإن من العلم أن يقول لما لا يعلم الله أعلم</p>
<p><em>Sesunguhnya termasuk bagian dari ilmu adalah mengatakan Allahu A’lam atas apa-apa yang tidak diketahui</em>.</p>
<p><strong>Ketiga: Sombong</strong></p>
<p>Definisi sombong yang paling tepat adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, <em>Menolak kebenaran dan meremehkan manusia</em> (HR Muslim kitabul iman bab haramnya sombong dan penjelasannya). Sombong menyebabkan pemiliknya sulit untuk menerima kebenaran apalagi jika kebenaran itu datang dari orang-orang yang berada dibawahnya atau lawannya. Jika sudah sulit untuk menerima kebenaran maka ilmu pun sulit masuk pada dirinya. Sehingga amat tepat jika dikatakan,</p>
<p align="right">العلم حرب للفتى المتعالي                            كالسيل حرب للمكان العلي</p>
<p>“<em>Ilmu berpaling dari seorang pemuda yang merasa tinggi, sebagaimana berpalingnya suatu aliran dari tempat-tempat yang tinggi</em>”</p>
<p><strong>Keempat: Ta’ashub pada madzhab dan pendapat tertentu</strong></p>
<p>Diantara kesalahan besar yang hendaknya dihindari penuntut ilmu adalah berta’ashub pada suatu madzhab , pendapat atau masyayikh tertentu. Yang dengannya ia berwala’ (loyal) dan bara’ (berlepas diri).  Menganggap madzhab atau masyayikhnya saja yang diatas ilmu dan kebenaran sedang yang lain jahil, ahli bid’ah dan perkataan jelek lainnya. Sehingga terjadilah saling mencela dan menghujat diantara penuntut ilmu. Hendaknya penuntut ilmu menghidari dari hal-hal yang demikian karena hal tersebut akan melemahkan barisan kaum muslimin sendiri. Allah berfirman,</p>
<p align="right">وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ </p>
<p><em>Dan ta&#8217;atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.</em> (QS al Anfaal: 46)</p>
<p><strong>Kelima: Tampil sebelum mahir</strong></p>
<p>Perlu diperingatkan bahwa jangan sampai seorang penuntut ilmu maju/tampil dalam hal-hal ia yang belum memiliki keahlian padanya. Karena hal tersebut akan membuat dirinya terjatuh dalam kesalahan-kesalahan yang berbahaya seperti berfatwa tanpa ilmu dan lainnya. Jika ada seseorang yang suka tampil sebelum memiliki keahlian pada urusan tersebut hal ini menunjukkan atas beberapa hal:</p>
<p>-          Ujub pada diri sendiri dengan merasa dirinya seorang alim.</p>
<p>-          Menunjukkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan atas masalah-masalah yang terjadi.</p>
<p>-          Berkata atas (agama) Allah sesuatu yang ia tidak ketahui</p>
<p>-          Kebanyakan sulit menerima kebenaran karena jika sudah merasa alim merasa rendah jika harus mengakui kebenaran ada dipihak orang lain.</p>
<p><strong>Keenam: Su’udzan</strong></p>
<p>Tidak seyogyanya seorang penuntut ilmu selalu beburuk sangka dengan yang lainnya apalagi pada orang-orang yang berilmu dan dikenal baik agamanya. Allah berfirman,</p>
<p align="center">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ</p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa</em>. (Al Hujurat: 12)</p>
<p>Demikianlah beberapa kesalahan yang hendaknya dihindari para penuntut ilmu. Hendaknya seorang penuntut ilmu selalu menjaga lisan dan perbuatannya serta menyadari kedudukan dirinya. Sesungguhnya Allah telah memuliakan penuntut ilmu dengan ilmu yang ia miliki, menjadikannya contoh dan panutan, serta sebagai tempat bertanya jika ada masalah terjadi dimasyarakat. Allah berfirman,</p>
<p align="right">فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ </p>
<p><em>Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui</em>. (QS Al Anbiya’: 3)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga , sahabat, serta pengikutnya.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Selesai ditulis di Riyadh</strong><strong>,</strong><strong> </strong><strong>4 Jumadil Akhir </strong><strong>143</strong><strong>3</strong><strong> H (</strong><strong>25 April 2012</strong><strong>)</strong><strong>. </strong></p>
<p><strong>Abu Zakariya Sutrisno</strong></p>
<p><strong>Artikel</strong><strong>: </strong><a href="http://www.ukhuwahislamiah.com/">www.ukhuwahislamiah.com</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ringkasan Adab Penuntut Ilmu]]></title>
<link>http://sutrisnolink.wordpress.com/2012/04/17/ringkasan-adab-penuntut-ilmu/</link>
<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 05:43:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuzakaria</dc:creator>
<guid>http://sutrisnolink.wordpress.com/2012/04/17/ringkasan-adab-penuntut-ilmu/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://assunnahsurabaya.files.wordpress.com/2012/04/ilmu.jpg"><img src="http://assunnahsurabaya.files.wordpress.com/2012/04/ilmu.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" title="ilmu" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1109" /></a><strong>Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.</p>
<p>Berikut kami ringkaskan adab-adab dalam menuntut ilmu dari Kitabul Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Semoga bisa menjadi tambahan ilmu bagi yang belum mengetahui dan menjadi pengingat bagi yang lupa.</p>
<p>Adab pertama:<strong> Mengikhlaskan niat</strong><br />
Hendaknya niat utama menuntut ilmu syar’I hanya mengharap wajah Allah dan pahala di akhirat bukan karena yang lainnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya hanya mengarap wajah Allah, tetapi tidak mempelajarinya kecuali agar mendapat bagian dari kehidupan dunia maka ia tidak mendapatkan baunya surga di hari kiamat [1].<!--more--></p>
<p>Adab kedua: <strong>Menghilangkan kebodohan dalam diri sendiri dan orang lain</strong><br />
Hal ini karena pada asalnya manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh, dengan belajarlah ia akan memiliki ilmu. Allah ta’ala berfirman,<br />
وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ<br />
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS An Nahl: 78)</p>
<p>Adab ketiga: <strong>Berniat untuk membela syari’ah</strong><br />
Karena orang yang berilmulah yang mampu membantah ahlul bid’ah dan orang-orang yang menyimpang. Adapun sekedar kitab yang bertumpuk di perpustakaan (dan sumber ilmu yang lainnya) dia tidak bisa membela agama ini tanpa ada orang yang memperlajari dan menggunakannya sebagai hujah untuk membela agama. Sebagaiamana sebuah senjata, ia tidak berguna kecuali jika ada yang memakainya.</p>
<p>Adab keempat:<strong> Berlapang dada dalam masalah khilafiyah</strong><br />
Hendaknya hati selalu lapang dada dalam masalah-masalah yang khilafiyah (yang dibenarkan adanya perbedaan pendapat padanya). Adapun dalam masalah yang jelas/pasti (qath’i) maka tidak dibenarkan satu orang pun menyelisihinya. Allah ta’ala berfirman,<br />
وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ<br />
Dan ta&#8217;atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Anfaal: 46)</p>
<p>Adab kelima:<strong> Mengamalkan ilmu</strong><br />
Karena buah dan hasil dari ilmu adalah amal. Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya maka bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Rasulullah bersabda, Al Qur’an adalah hujah bagimu dan atas kamu. [2]</p>
<p>Adab keenam: <strong>Berdakwah di jalan Allah</strong><br />
Setelah memiliki ilmu hendaknya ia menjadi da’I yang menyeru dijalan Allah, kapan dan dimanapun kondisi yang memungkinkan untuk berdakwah. Sebagaimana yang telah dilakukan Rasulullah, sejak diutus menjadi Nabi dan Rasul beliau senantiasa berdakwah dimanapun beliau berada.</p>
<p>Adab ketujuh: <strong>Hikmah</strong><br />
Hendaknya seorang yang berilmu menghiasi dirinya dengan sifat hikmah, khususnya dalam berdakwah di jalan Allah. Beruntunglah orang-orang yang Allah karuniai dirinya sifat ini. Allah berfirman,<br />
يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ<br />
Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur&#8217;an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al Baqarah: 269)<br />
Sebaik-baik teladan dalam hikmah adalah Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam.  Diantara yang menunjukkan betapa hikmahnya Rasulullah adalah kisah yang masyhur tentang arab badui yang kencing di masjid [3], kisah sahabat Muawwiyah bin Hakam as Sulami yang bicara dalam sholat [4] dan lainnya.</p>
<p>Adab kedelapan: <strong>Sabar diatas ilmu</strong><br />
Allah berfirman,<br />
تِلْكَ مِنْ أَنبَاء الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ وَلاَ قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَـذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ<br />
Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad);  tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al Hud: 49)</p>
<p>Adab kesembilan: <strong>Mengormati ulama’ dan kedudukannya </strong><br />
Hendaknya seorang penuntut ilmu senantiasa menghormati para ulama’ dan kedudukan mereka dan lapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat diantara mereka. Patut disayangkan sebagian orang sibuk mencari kesalahan orang lain, menghibahi dan mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya, bahkan pada para ulama. Sungguh ini adalah kesalahan yang amat besar dan buruk akibatnya. </p>
<p>Adab kesepuluh:  <strong>Berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah</strong><br />
Karena keduanya adalah sumber utama ilmu syar’i. Hendaknya seorang penuntut ilmu selalu semangat untuk membaca, menghafal dan mempelajari keduanya. </p>
<p>Adab kesebelas: <strong>Tatsabut dan tsabat</strong><br />
Hendaknya seorang penuntut ilmu selalu berhati-hati dan berusaha memastikan dalam mengambil berita atau memahami sebuah hukum. Hendaknya pula ia kokoh dalam memperlajari sesuatu, jangan selalu berpindah dari pelajaran/kitab yang satu dan yang lainnya sehingga hasil yang didapat pun tidak maksimal. </p>
<p>Adab kedua belas: <strong>Semangat memahami maksud dari Allah dan RasulNya</strong><br />
Sebagian orang memiliki ilmu tetapi tidak memiliki pemahaman atasnya atau bahkan pemahamannya salah atas ilmu yang dimiliki. Perlu diketahui, kandangkala kesalahan dalam memahami sesuatu lebih fatal daripada kesalahan karena tidak mengetahuinya.</p>
<p>Demikianlah sebagian dari adab yang hendaknya dimiliki seorang penuntut ilmu. Hendaknya seorang penuntut ilmu senantiasa menjadi contoh yang baik sehingga bisa menjadi penyeru di jalan kebaikan dan menjadi pemimpin di dalam agama Allah. Dengan kesabaran dan keyakinan tercapailah kepemimpinan dalam agama. Allah berfirman,<br />
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ<br />
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar . Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS As Sajdah: 24)</p>
<p>Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulallah serta keluarga dan sahabatnya.</p>
<p>Selesai ditulis di Riyadh,  25 Jumadil Awal 1433 H (17 April 2012).<br />
<strong>Abu Zakariya Sutrisno</strong><br />
Artikel: <a href="http://www.ukhuwahislamiah.com" rel="nofollow">http://www.ukhuwahislamiah.com</a><br />
Notes:<br />
[1].	HR Ahmad (2/337), Abu Dawud, Ibnu Majah, Hakim dalam Mustadrak (1/160), Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonif (8/543). Berkata Hakim hadits shahih, sanadnya tsiqah<br />
[2].	HR Muslim dalam kitab wudhu’<br />
[3].	HR Bukhari dan Muslim<br />
[4].	HR Muslim</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bagaimanakah Adab dan Akhlak Seorang Penuntut Ilmu?]]></title>
<link>http://impianmusafir.wordpress.com/2012/02/11/bagaimanakah-adab-dan-akhlak-seorang-penuntut-ilmu/</link>
<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 13:05:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mujahidah Al-Hafizhah</dc:creator>
<guid>http://impianmusafir.wordpress.com/2012/02/11/bagaimanakah-adab-dan-akhlak-seorang-penuntut-ilmu/</guid>
<description><![CDATA[Bismillaah. Dalam sebuah hadits shohih telah dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;Alayhi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bismillaah. Dalam sebuah hadits shohih telah dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;Alayhi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Semangat Penuntut Ilmu (Audio)]]></title>
<link>http://muhemzen.wordpress.com/?p=384</link>
<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 09:07:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Imad Hizqiel</dc:creator>
<guid>http://muhemzen.wordpress.com/?p=384</guid>
<description><![CDATA[Abis ujan deres euy. Hawanya dingin-dingin menantang. Pengen tarik selimut kemudian pejamkan mata. H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Abis ujan deres euy. Hawanya dingin-dingin menantang. Pengen tarik selimut kemudian pejamkan mata. Hehe.. Tapi mendingan ga usahlah. Karena tidur sore membuat beberapa orang jadi ling-lung ketika bangun. Loading untuk kembali ke keadaan normal butuh waktu lama. Ok, berhubung lagi utak-atik dan ganti tema blog (sesuai usul admin <a href="http://satmo54.blogspot.com" target="_blank">satmo54.blogspot.com</a>, kata dia &#8216;tema -yang kemarin- agak aneh) tidak ada salahnya sekalian posting sesuatu untuk dishare ke sobat-sobat ane sekalian.</p>
<p>Nah, kali ini ane pengen berbagi sebuah file audio kajian yang bertema <em>&#8216;al-himmatul &#8216;aaliyah fii tholabil &#8216;ilmi&#8217;</em> (semangat/asa/kemauan yang tinggi dalam menuntut ilmu) yang dibawakan oleh Syaikh Ali Ibn Hasan Al-Halaby, salah seorang murid senior Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany -rahimahullah-.</p>
<p>Dalam muhadhoroh tersebut syaikh menjelaskan bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu melaksanakan misi besarnya ini dengan penuh semangat. Dengan membawakan beberapa perkataan para ulama serta beberapa kisah tentang tokoh-tokoh yang memiliki himmah &#8216;aaliyah dan semangat juang yang tinggi, muhadhoroh tersebut serasa membuat spirit lebih hidup dan api semangat untuk berjuang semakin berkobar.</p>
<p>Bahasa yang digunakan oleh syaikh sangat bagus -masya Allah-. Kebanyakan ulama yordania memang punya kelebihan di bagian bahasa. Jadi, beberapa risalah atau buku yang mereka tulis memang agak sedikit susah untuk diterjemahkan.</p>
<p>Sebenarnya file audio yang ane share disini awalnya adalah video kajian berformat *.avi yang berukuran sekitar 451 MB. Sebenernya, ane pengen upload videonya tapi quota internet ane ga support <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> . Maka, salah satu jalan pintasnya adalah &#8216;convert&#8217; file video tadi ke format audio yang hasil akhirnya berubah format menjadi *.m4a (mpeg-4 audio) dengan ukuran 31,97 MB. Pernah ane coba convert ke format *.mp3 tapi hasilnya lebih dari 32 MB. Hehe, maklum. Ane belum begitu mahir dalam converting multimedia files.</p>
<p>Ini link downloadnya : <a href="http://www.mediafire.com/?9128xce876cx2e2">http://www.mediafire.com/?9128xce876cx2e2</a>.</p>
<p>Semoga bermanfaat dan selamat menyimak <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
		<div id="geo-post-384" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">-6.920663</span>
			<span class="longitude">110.196673</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hadiah Terindah ]]></title>
<link>http://abdiyat.wordpress.com/2011/10/16/hadiah-terindah/</link>
<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 06:19:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abdiyat Sakrie</dc:creator>
<guid>http://abdiyat.wordpress.com/2011/10/16/hadiah-terindah/</guid>
<description><![CDATA[Adab Tholibul &#039;ilmi Ketika manusia menghabiskan waktu malam minggu dengan bioskop dan warung ko]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_348" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://abdiyat.files.wordpress.com/2011/10/img_0155.jpg"><img class="size-medium wp-image-348" title="IMG_0155" src="http://abdiyat.files.wordpress.com/2011/10/img_0155.jpg?w=300&#038;h=300" alt="Adab Tholibul 'ilmi" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Adab Tholibul &#039;ilmi</p></div>
<p>Ketika manusia menghabiskan waktu malam minggu dengan bioskop dan warung kopi, aku beruntung terdampar di pulau indah di sudut negara pogung, pogung rejo. Tidak besar memang tapi keindahannya menjadikan ia terasa besar dan nyaman. Aku tahu kalian tidak bisa membayangkannya, dan aku akan menceritakannya.</p>
<p>Allah ta&#8217;ala mengatakan dalam Al-qur&#8217;an:</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230;Katakanlah: <strong>&#8220;Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?&#8221;</strong> Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.&#8221; Azzumar (39):9</p>
<p>&#8220;&#8230;<strong>niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.</strong> Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221; Al-mujadalah (58):11<!--more--></p></blockquote>
<p>Kau dan aku sangat tahu dalam mengerjakan soal fisika,  Albert einstein pasti lebih jago daripada Taufiq Hidayat. Semua manusia juga pasti sepakat. Dan kau dan aku juga sangat yakin Taufiq Hidayat akan sangat mudah mengalahkan Albert Einstein di lapangan badminton. Albert Einstein lebih jago dari taufiq dalam fisika karena ia menghabiskan waktunya untuk mempelajari ilmu fisikanya, dan menjadi KO di lapangan badminton karena ia memang tidak pernah menekuni olahraga satu ini. Perbedaan itu muncul ketika ilmu yang mereka miliki berbeda. Sehingga keunggulan mereka berbeda bidang.</p>
<p>Yakinnya kita dengan kisah Albert Einstein dan Taufiq Hidayat, maka seyakin itu pula kita mengatakan tidak samanya orang yang mengetahui ilmu agama dengan orang yang tidak punya ilmu agama. Dan ini pasti, sepasti air tidak akan pernah mengalir ke atas. Baik akhlak maupun amalnya. Baik kedudukan ataupun kemuliaannya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Rasulullah sholallahu &#8216;alaihi wa salam berdoa pada Allah ta&#8217;ala : Ya Allah, tambahkanlah aku ilmu.&#8221; HR. Bukhori</p></blockquote>
<p>Tinta sejarah meceritakan Rasulullah tidaklah meminta pada Allah tambahan, kecuali tambahan ilmu, yaitu ilmu agama. Bukan ilmu kedokteran ataupun ilmu tehnik. Bukan IP tinggi dan bukan umur panjang. Bukan mobil BMW dan bukan rumah tingkat dua. Bukan wajah tampan bukan pula kedudukan. Kalaulah Rasulullah saja, manusia yang paling paham tentang agama ini meminta tambahan ilmu agama, apalagi kita yang bodoh (maaf, sedikit kasar) ini, yang kadang rukun iman dan rukun islam saja kadang masih lupa,yang juz 30 saja diluar kepala (makanya gak pernah hafal),yang rukun sholat saja dulu lupa sekarang tidak ingat, kita yang lebih kenal dengan anggota SM*SH dibanding anggota keluarga Muhammad sholallahu &#8216;alaihi wa salam, dan kita yang lebih paham ilmu dunia daripada ilmu agama. Kita lebih butuh untuk berdoa dengan doa itu.</p>
<blockquote><p>&#8220;Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur&#8217;an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).&#8221; Al-baqoroh (1):269</p></blockquote>
<p>Tercatat hingga lebih dari 10.000 siswa yang mendaftar Ujian Masuk UGM jurusan Kedokteran Umum 2008 lalu. Kursi yang diperebutkan sangat jauh dari jumlah pendaftar, dengan perbandingan 1:100. Semua merasa yakin bisa mendapatkannya, walau pada akhirnya harapan tak sesuai impian.</p>
<p>Begitu banyak orang yang ingin meraih kebahagiaan di dunia ini. Ada yang dengan kedirekturannya, ada yang dengan club malamnya, ada yang dengan sahamnya, ada yang dengan gadis-gadis simpanannya, ada yang dengan kedokterannya, ada yang dengan pacarnya, ada yang dengan pergaulannya, minuman kerasnya, narkobanya, ada yang..ada yang.. dan ada yang banyak lagi, yang semuanya akhirnya bermuara pada kubangan penyesalan dan kesia-siaan.</p>
<p>Layaknya bangku kuliah kedokteran, tidak semua orang berhak atas kesempatan belajar kedokteran UGM. Allah ta&#8217;ala juga telah memilih hambaNya siapa yang berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dengan memahami Al-qur&#8217;an dan Assunnah. Tidak semua orang merasa nikmat saat meneguk ilmu agama. Sebagaimana Allah juga telah membuat hati mereka sakit ketika meneguk kenikmatan dunia. Tiada pilihan yang lebih tepat, dan tiada pilihan yang lebih benar daripada pililhan Allah ta&#8217;ala Rabb semesta alam. Berbahagialah wahai pecandu ilmu agama!!</p>
<blockquote><p>Dari Mu&#8217;awiyah radhiallhu&#8217;anhu berkata, aku mendengar Rasulullah sholallahu&#8217;alaihi wa salam berkata,</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang <strong>dikehendaki Allah suatu kebaikan</strong> (pada dirinya) maka <strong>Allah akan pahamkan ia dalam masalah agama</strong>.&#8221; HR. Bukhori</p></blockquote>
<p>Jadi orang baik itu bukan jalan mudah. Menjadi seorang yang baik dimata manusia banyak orang yang bisa. Sampai-sampai seorang WTS pun bisa dibilang baik karena dia menjual dirinya untuk makan anak dan keluarganya. Karena kebaikan itu bukan memakai standar manusia, maka kebaikan bukanlah jalan datar atau bahkan jalan menurun yang landai.</p>
<p>Jangan pernah merasa baik ketika kita belum belajar ilmu agama. Bukankah seolah-olah Rasulullah sholallahu&#8217;alaihi wa salam ingin mengatakan itu kepada kita? Tidak adanya ilmu agama, memungkinkan seseorang itu bukanlah orang yang baik. Orang yang tahu agama bisa saja dimata manusia ia bukan orang baik karena penilaian menggunakan standar manusia, tapi dimata Allah kau dan aku pun tidak ada yang tahu bagaimana kedudukannya.</p>
<p>Kalau lah ilmu dan amal itu ibarat pohon dan buah. Ilmu itu pohonya dan amal itu buahnya. Sesungguhnya yang kita harapkan dari pohon adalah buahnya. Begitu pula dengan ilmu yang kita harapkan dari ilmu adalah amalnya. Dan tidak mungkin ada buah tanpa pohonnya, sebagaimana tidak mungkin ada amalan yang benar tanpa ilmu terlebih dahulu.</p>
<p>Hadiah terindah seseorang ketika mendapat tiket menjadi penuntut ilmu agama. Berdoalah semoga menjadi bagian yang dikehendaki Allah ta&#8217;ala untuk mendapat kebaikan dari memahami Al-qur&#8217;an dan Assunnah.</p>
<blockquote><p><em>&#8230;ciri khas muslim sejati adalah seorang penuntut ilmu (agama)&#8230;</em></p></blockquote>
<p>picture taken by instagram.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[نصيحة لطلبة العلم]]></title>
<link>http://muhemzen.wordpress.com/?p=138</link>
<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 16:49:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Imad Hizqiel</dc:creator>
<guid>http://muhemzen.wordpress.com/?p=138</guid>
<description><![CDATA[للشيخ عبد العزيز بن باز الحمد لله ، والصلاة والسلام على رسوله ، نبينا محمد وآله وصحبه أما بعد فلا ري]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align:right;" align="right">للشيخ عبد العزيز بن باز</h4>
<h4 style="text-align:right;" align="right">الحمد لله ، والصلاة والسلام على رسوله ، نبينا محمد وآله وصحبه</h4>
<h4 style="text-align:right;" align="right">أما بعد</h4>
<h4 style="text-align:right;" align="right">فلا ريب أن طلب العلم من أفضل القربات ، ومن أسباب الفوز بالجنة والكرامة لمن عمل به . ومن أهم المهمات الإخلاص في طلبه ، وذلك بأن يكون طلبه لله لا لغرض آخر ، لأن ذلك هو سبيل الانتفاع به ، وسبب التوفيق لبلوغ المراتب العالية في الدنيا والآخرة</h4>
<h4 style="text-align:right;" align="right">وقد جاء في الحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : &#8220;من تعلم علما مما يبتغي به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة &#8211; يعني ريحها -&#8221; أخرجه أبو داود بإسناد حسن</h4>
<p><!--more--></p>
<h4 style="text-align:right;" align="right">وأخرج الترمذي بإسناد فيه ضعف عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال : &#8220;من طلب العلم ليباهي به العلماء أو ليماري به السفهاء أو ليصرف به وجوه الناس إليه أدخله الله النار&#8221; فأوصى كل طالب علم ، وكل مسلم يطلع على هذه الكلمة ، بالإخلاص لله في جميع الأعمال عملا بقول الله سبحانه وتعالى : (فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا) وفي صحيح مسلم عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : &#8220;يقول الله عز وجل أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه&#8221;</h4>
<h4 style="text-align:right;" align="right">كما أوصى كل طالب علم ، وكل مسلم ، بخشية الله سبحانه ، ومراقبته في جميع الأمور ، عملا بقوله عز وجل : (إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ) وقوله سبحانه : (وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ) قال بعض السلف : رأس العلم خشية الله وقال عبد الله بن مسعود رضي الله عنه : كفى بخشية الله علما وكفى بالاغترار به جهلا وقال بعض السلف : من كان بالله أعرف كان منه أخوف ويدل على صحة هذا المعنى قول النبي صلى الله عليه وسلم لأصحابه : &#8220;أما والله إني لأخشاكم لله وأتقاكم له&#8221; فكلما قوي علم العبد بالله كان ذلك سببا لكمال تقواه وإخلاصه ووقوفه عند الحدود وحذره من المعاصي</h4>
<h4 style="text-align:right;" align="right">ولهذا قال الله سبحانه وتعالى : (إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ) فالعلماء بالله وبدينه ، هم أخشى الناس لله ، وأتقاهم له ، وأقومهم بدينه ، وعلى رأسهم الرسل والأنبياء عليهم الصلاة والسلام ، ثم أتباعهم بإحسان . ولهذا أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أن من علامات السعادة أن يفقه العبد في دين الله ، فقال عليه الصلاة والسلام ، من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين أخرجاه في الصحيحين من حديث معاوية رضي الله عنه ، وما ذاك إلا لأن الفقه في الدين يحفز العبد على القيام بأمر الله ، وخشيته وأداء فرائضه ، والحذر من مساخطه ويدعوه إلى مكارم الأخلاق ، ومحاسن الأعمال ، والنصح لله ولعباده</h4>
<h4 style="text-align:right;" align="right">فأسأل الله عز وجل أن يمنحنا وجميع طلبة العلم وسائر المسلمين الفقه في دينه ، والاستقامة عليه ، وأن يعيذنا جميعا من شرور أنفسنا ، وسيئات أعمالنا ، إنه ولي ذلك والقادر عليه . وصلى الله وسلم على عبده ورسوله محمد وعلى إله وصحبه</h4>
<p style="text-align:left;" align="right"><em>from admin documents</em></p>
		<div id="geo-post-138" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">-6.920663</span>
			<span class="longitude">110.196673</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[WAHAI PENUNTUT ILMU]]></title>
<link>http://orkeshati.wordpress.com/2011/06/08/wahai-penuntut-ilmu/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 23:25:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>rs2103</dc:creator>
<guid>http://orkeshati.wordpress.com/2011/06/08/wahai-penuntut-ilmu/</guid>
<description><![CDATA[“…Sesungguhnya ketakwaan adalah asas kebaikan seorang penuntut ilmu dan tanda bahwa dia bisa mengamb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“…Sesungguhnya ketakwaan adalah asas kebaikan seorang penuntut ilmu dan tanda bahwa dia bisa mengamb]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasehat Untukmu, Wahai Penuntut Ilmu.!]]></title>
<link>http://istiqlalbpp.wordpress.com/2011/04/08/nasehat-untukmu-wahai-penuntut-ilmu/</link>
<pubDate>Fri, 08 Apr 2011 23:25:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>istiqlalbpp</dc:creator>
<guid>http://istiqlalbpp.wordpress.com/2011/04/08/nasehat-untukmu-wahai-penuntut-ilmu/</guid>
<description><![CDATA[“Agama ini adalah nasihat.” Kemudian ditanyakan kepada beliau, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beli]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2><a title="Permanent link to Nasehat Untukmu, Wahai Penuntut Ilmu.!" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/10/nasehat-untukmu-wahai-penuntut-ilmu/"><br />
</a></h2>
<div>
<p>“<em>Agama  ini adalah nasihat.” Kemudian ditanyakan kepada beliau, “Untuk siapa,  wahai Rasulullah?” Beliau mengatakan, “Untuk Allah, Kitab-Nya,  Rasul-Nya, dan untuk para imam kaum muslimin dan orang-orang awam di  kalangan mereka</em>.” (Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya)</p>
<p>Berikut  ini adalah nasihat berharga yang ditinggalkan oleh seorang ‘alim yang  mulia yang kini telah tiada. Keharuman ilmunya yang semerbak tetap  dinikmati oleh para penuntut ilmu yang ingin meraup faidah darinya,  Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz, semoga Allah merahmatinya</p>
<p>Kuwasiatkan  bagi seluruh kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa  ta’ala dan mempelajari agama di berbagai madrasah ataupun tempat  menuntut ilmu agama lainnya, dan hendaknya mereka bertanya kepada ulama  mengenai hukum-hukum agama yang masih menjadi permasalahan bagi mereka,  karena Allah ta’ala berfirman:</p>
<p>“<em>Dan bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui</em>.” (Al-Anbiya: 7)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dalam agama</em>.”</p>
<p>Adapun  perkara yang paling penting dalam menuntut ilmu adalah membaca Al  Qur’an Al Karim dan memahami maknanya, serta mencurahkan perhatian dan  mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, juga  mengambil faidah dari kitab-kitab ahlus sunnah, kitab tafsir Al Qur’an  Al Karim, dan kitab-kitab yang menerangkan hadits-hadits Nabi  Shallallahu ‘alaihi wassalam buah karya para ulama yang terkenal dengan  keilmuannya, kebaikan agama dan akidahnya. Rasul Shallallahu ‘alaihi  wassalam bersabda:</p>
<p>“<em>Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya</em>.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya)</p>
<p>Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam juga mengatakan:</p>
<p>“<em>Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.  Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu dari rumah-rumah Allah  mereka membaca Kitabullah dan saling mengajarkannya di antara mereka,  kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmah,  dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka  kepada siapa saja yang ada di sisi-Nya. Barangsiapa yang  berlambat-lambat dalam amalannya, niscaya tidak akan bisa dipercepat  oleh nasabnya</em>.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)</p>
<p>Telah  diketahui bahwasanya mempelajari syariat Allah -yang untuk tujuan  itulah manusia diciptakan- adalah kewajiban yang paling penting. Allah  telah memudahkan jalan untuk menuntut ilmu bagi semua orang, baik itu  melalui siaran Idza’ah Al Qur’an Al Karim1, Nur ‘alad Darb2 maupun  halaqah-halaqah ilmu yang diadakan di masjid, atau melalui kajian  intensif ilmiah dan media yang lain. Seorang mukmin ataupun mukminah  wajib untuk memperhatikan dan mengambil faidah darinya, di mana pun dia  berada.</p>
<p>Yang  perlu diperhatikan adalah larangan menyimak segala sesuatu yang dapat  merusak hati dan akhlak, seperti nyanyian, kaset-kaset yang menyimpang,  atau pun alat-alat musik. Semua ini merusak hati dan akhlak, sehingga  wajib untuk memperingatkannya dan menasihatkan untuk meninggalkannya,  dalam rangka mengamalkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:</p>
<p>“<em>Demi  masa. Sesungguhnya manusia berada di dalam kerugian kecuali orang-orang  yang beriman dan beramal shalih dan orang-orang yang saling berwasiat  dengan al haq dan saling berwasiat di dalam kesabaran</em>.” (Al-‘Ashr: 1-3)</p>
<p>Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam:</p>
<p>“<em>Agama ini adalah nasihat.”  Kemudian ditanyakan kepada beliau, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?”  Beliau mengatakan, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk para  imam kaum muslimin dan orang-orang awam di kalangan mereka</em>.” (Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya)</p>
<p>Perkara  yang harus diperhatikan sungguh-sungguh dan harus saling diwasiatkan  oleh kaum muslimin semuanya, adalah menyeru manusia kepada Allah  Subhanahu wa ta’ala dan memerintahkan mereka pada kebaikan dan melarang  dari kemungkaran. Karena hal ini merupakan sebab terbesar yang dapat  memperbaiki hati dan masyarakat. Dengannya kemuliaan mereka akan tampak  dan kehinaan akan tertutupi. Dalil-dalil tentang hal ini sangatlah  banyak, di antaranya surat Al-‘Ashr dan hadits Ad-Diinu An-Nashihah di  atas, termasuk pula firman Allah Subhanahu wa ta’ala:</p>
<p>“<em>Dan  saling tolong-menolonglah kalian di dalam kebaikan dan takwa dan  janganlah kalian saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan</em>.” (Al-Maidah: 2)</p>
<p>“<em>Dan  orang laki-laki yang beriman dan wanita yang beriman adalah wali  sebagian yang lain. Mereka saling memerintahkan kepada hal yang ma’ruf  dan melarang kepada yang mungkar dan mereka mendirikan shalat dan mereka  menunaikan zakat. Dan mereka menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah  orang-orang selalu dirahmati oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mulia  dan Maha Sempurna Hikmah-Nya</em>.” (At-Taubah: 71)</p>
<p>Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam:</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala semisal dengan orang yang melakukannya</em>.” (Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya)</p>
<p>“<em>Barangsiapa  di antara kalian yang melihat satu kemungkaran hendaknya ia mengubah  dengan tangannya, apabila ia tidak mampu maka hendaknya ia mengubahnya  dengan lisannya, namun apabila ia tidak mampu maka dengan hatinya dan  ini adalah selemah-lemah keimanan</em>.” (Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya)</p>
<p>Di samping itu masih banyak ayat-ayat serta hadits-hadits dalam masalah ini.</p>
<p>Tidak  diragukan lagi bahwa kewajiban para pengajar lebih berat daripada  kewajiban murid-muridnya. Wajib bagi mereka untuk memperhatikan anak  didiknya dan mengarahkan mereka agar memiliki akhlak mulia, sifat-sifat  yang terpuji serta mengamalkan apa yang telah mereka ketahui. Kewajiban  para pengajar wanita adalah bertakwa kepada Allah dalam mendidik  murid-murid perempuan mereka, dan mengajarkan kepada mereka akhlak mulia  yang dilandasi oleh agama dan aqidah yang benar di dalam setiap  pelajaran dan nasihat, sehingga akan muncul generasi yang shalih dari  kalangan para pelajar dan pengajar, kelak di kemudian hari.</p>
<p>Kewajiban  para pengajar merupakan sesuatu yang besar, demikian pula dakwah kepada  Allah ta’ala merupakan kewajiban yang besar bagi setiap orang. Oleh  karena itu, setiap orang yang berilmu wajib mengajari anak-anaknya serta  keluarganya dan selain mereka sesuai kemampuannya. Begitu pula setiap  wanita yang berilmu, wajib mengajari anak-anak, saudara perempuannya dan  para wanita di sekelilingnya. Hendaknya ia mengambil kesempatan dalam  pertemuan-pertemuan, seperti walimah dan yang lainnya, untuk berdakwah  kepada Allah dan memerintahkan perkara yang ma’ruf serta mencegah dari  perkara-perkara yang mungkar, memberikan peringatan kepada kaumnya,  mengajari serta memberi petunjuk kepada mereka. Ketika melihat  saudaranya ber-tabarruj3 di hadapan laki-laki atau di jalanan, hendaknya  ia melarang dan memperingatkannya dari perbuatan seperti itu. Ia harus  pula memperingatkan anak-anak, saudara-saudara perempuan ataupun  tetangga dan selain mereka, dari rasa malas menunaikan shalat, mengajak  mereka untuk melakukan kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran.  Inilah kewajiban setiap orang, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala  berfirman:</p>
<p>“<em>Dan laki-laki yang beriman dan perempuan yang beriman sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain</em>.” (At-Taubah: 71)</p>
<p>Makna  / auliya disini adalah bahwasanya mereka saling mencintai karena Allah  sehingga mereka tidak saling bermusuhan. Seorang mukmin adalah wali bagi  saudaranya sesama muslim, demikian juga seorang mukminah adalah wali  bagi bagi saudaranya yang muslim. Mereka harus saling memerintahkan pada  kebaikan dan memperingatkan dari kemungkaran, saling menasihati karena  Allah. Dengan demikian, seorang suami seharusnya memerintahkan istrinya  kepada perkara yang ma’ruf dan melarangnya dari perkara yang mungkar,  demikian pula yang dilakukan seorang istri. Ketika melihat suaminya  melalaikan shalat, meminum minuman yang memabukkan, merokok atau  memotong jenggotnya, maka ia mengatakan kepada suaminya, “<em>Bertakwalah  kepada Allah, tidak sepantasnya kau melakukan hal ini. Bagaimana bisa  engkau menyukai perbuatan jelek seperti itu? Bagaimana bisa engkau  bermaksiat terhadap Rabbmu?</em>”</p>
<p>Hendaknya  dia menyampaikan ucapannya dengan kata-kata yang lembut dan cara yang  baik. Jangan sampai ia merasa sungkan ataupun bosan. Demikian pula  semestinya yang dia tunaikan terhadap ayahnya, saudaranya, ibunya,  tetangga maupun teman-temannya. Inilah yang wajib dilaksanakan oleh  setiap muslimin dan muslimat di mana pun mereka berada dan apa pun  profesi mereka. Hal ini adalah kewajiban mereka sesuai kemampuan dan  ilmu yang mereka miliki.</p>
<p>Aku  memohon kepada Allah dengan seluruh nama-nama-Nya yang terpuji dan  sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar Dia memberi taufik kepada kita beserta  seluruh kaum muslimin menuju perkara-perkara yang diridhai-Nya,  menunjukkan kepada kita jalan-Nya yang lurus dan menganugerahkan  pemahaman dan kekokohan dalam agama. Semoga kita dikaruniai taufik untuk  menegakkan kewajiban dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dan  saling menasihati kepada Allah dan hamba-hamba-Nya. Tak luput aku  wasiatkan kepada seluruh kaum muslimin agar mereka berdoa bagi  saudaranya yang jauh, yang tidak di hadapannya, dan hendaknya mendoakan  para pemimpin di dalam shalat atau ketika akhir malam agar mendapatkan  taufik dan hidayah serta kebaikan dan perbaikan.</p>
<p>Pemerintah  sangatlah membutuhkan doa, agar Allah memperbaiki mereka dan  memperbaiki keadaan masyarakat dengan adanya mereka serta memberi  petunjuk kepada mereka dan memberi petunjuk kepada masyarakat dengan  keberadaan mereka. Oleh sebab itu, mereka pantas untuk mendapatkan doa.  Bagi para pemimpin negeri ini (Saudi Arabia) dan seluruh pemimpin kaum  muslimin di mana pun berada, doakanlah mereka dengan kebaikan, taufik  dan hidayah. Doakanlah pula anak dan istri kalian, juga selain mereka,  agar mendapatkan petunjuk, taufik, kebaikan, taubat yang nashuha.</p>
<p>Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:</p>
<p>“<em>Katakanlah inilah jalanku</em>.” (Yusuf: 108)</p>
<p>Maknanya:  Katakanlah wahai Muhammad, inilah jalanku di mana aku dan para  pengikutku menyeru kepada Allah di atas bashirah (cahaya/ ilmu).</p>
<p>Demikianlah  para pengikut Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam baik dari kalangan  laki-laki maupun perempuan mereka menyeru manusia kepada Allah di atas  bashirah (cahaya/ilmu), memperingatkan manusia dari bermaksiat  kepada-Nya, dan mereka memberi bimbingan kepada manusia menuju kebaikan.  Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:</p>
<p>“<em>Serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik</em>.” (An-Nahl: 125)</p>
<p>Ayat  ini tidak terkhususkan bagi laki-laki tanpa mencakup wanita ataupun  sebaliknya, tetapi merupakan kewajiban bagi mereka semua sekadar ilmu  dan kemampuan mereka, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p>“<em>Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian</em>.” (At-Taghabun: 16)</p>
<p>Para  ulama serta para pengajar memiliki kewajiban besar, demikian pula para  pemuka dan tokoh masyarakat. Kewajiban mereka lebih berat dibanding yang  lainnya sesuai kemampuan ilmu dan kekuatan mereka. Hendaknya setiap  muslim mengetahui perkara yang menjadi kewajibannya dan memperhatikan  kewajiban tersebut serta mendekatkan diri dan bertakwa kepada Allah  dalam hal tersebut. Kita berada di akhir zaman di mana Islam semakin  asing, sehingga wajib bagi kita untuk saling bahu-membahu dan saling  tolong-menolong dalam kebaikan dan kebenaran.</p>
<p>Kami  memohon taufik kepada Allah dan memohon hidayah serta kekokohan dan  kesudahan yang baik bagi seluruh kaum muslimin. Semoga Allah memberi  taufik kepada kita semuanya menuju perkara yang diridhai-Nya dan semoga  Ia memberi petunjuk kepada kita menuju jalan-Nya yang lurus.  Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Dan shalawat serta  salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, para  shahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga  hari kiamat.</p>
<p>Dikutip dari <a href="http://www.asysyariah.com" rel="nofollow">http://www.asysyariah.com</a> Penulis : Ummu ‘Affan Nafisah bintu Abi Salim’ Judul asli : Untukmu, Para Penuntut Ilmu</p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sifat-sifat Penuntut Ilmu yang Sukses]]></title>
<link>http://bekasi2025.wordpress.com/2010/09/08/sifat-sifat-penuntut-ilmu-yang-sukses/</link>
<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 04:50:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>bekasi2025</dc:creator>
<guid>http://bekasi2025.wordpress.com/2010/09/08/sifat-sifat-penuntut-ilmu-yang-sukses/</guid>
<description><![CDATA[Dalam buku Miftah an Najah, DR. Aidh Al Qorni menuliskan beberapa sifat-sifat penuntut ilmu yang suk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam buku <strong>Miftah an Najah</strong>, DR. Aidh Al Qorni menuliskan beberapa sifat-sifat penuntut ilmu yang sukses:</p>
<ol>
<li>Selalu bersemangat dan antusis terhadap ilmu</li>
<li>Mengetahui besarnya manfaat ilmu</li>
<li>Menuntut ilmu secara bertahap, kalimat per kalimat, hadits perhadits dan bab per bab</li>
<li>Mengutamakan  hal-hal yang penting dan mendahulukan masalah-masalah yang pokok</li>
<li>Memperbanyak hafalan di waktu muda</li>
<li>Menyadari bakat diri dan mendalami bidang yang sesuai dengan bakatnya</li>
<li>Memanfaatkan berbagai cara dan sarana belajar yang tersedia. Misalnya: mendengarkan langsung dari guru, membaca buku, mendengar ceramah-ceramah, melakukan penelitian dan diskusi</li>
<li>Mengulang-ulang pelajaran yang diterima, menelusuri keakuratannya, mencermati permasalahan-permasalahannya, dan mendalami bidang keilmuannya</li>
<li>Berusaha untuk menciptakan inovasi baru, dan membuang jauh-jauh semangat taklid dan sifat latah</li>
<li>Memperhatikan bidang-bidang lain untuk sekedar mengambil inti gagasanya dan mengikuti perkembangan zaman</li>
<li>Berusaha menuliskan, mengajarkan, dan mengevaluasi ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya</li>
<li>Mengamalkan ilmunya untuk hal-hal yang berguna dan disyariaatkan.</li>
</ol>
<p>{Dikutip dari buku Rahasia sukses orang-orang besar (Miftah an Najah), DR. Aidh al Qorni, Qishti Press, 2006, hal. 55- 56}</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HILYATU THALIBIL ‘ILMI]]></title>
<link>http://darulwahyain.wordpress.com/2009/11/01/hilyatu-thalibil-%e2%80%98ilmi/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 03:20:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>darulwahyain</dc:creator>
<guid>http://darulwahyain.wordpress.com/2009/11/01/hilyatu-thalibil-%e2%80%98ilmi/</guid>
<description><![CDATA[Spesifikasi Kitab : Hilyatu Thalibil &#39;Ilmi Penulis : Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid Tebal : 7]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>Spesifikasi Kitab :</h2>
<div id="attachment_57" class="wp-caption alignleft" style="width: 92px"><img class="size-full wp-image-57" title="Hilyatu Thalibil 'Ilmi" src="http://darulwahyain.files.wordpress.com/2009/11/hilyatu-thalibil-ilmi.jpeg?w=82&#038;h=105" alt="Hilyatu Thalibil 'Ilmi" width="82" height="105" /><p class="wp-caption-text">Hilyatu Thalibil &#39;Ilmi</p></div>
<ul>
<li>Penulis : Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid</li>
<li>Tebal : 75 halaman</li>
<li>Bahasa : Arab</li>
<li>Ukuran : 14 x 21 halaman</li>
</ul>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Seorang penuntut ilmu syar’i menempati kedudukan yang mulia dalam Islam. Para malaikat –yang merupakan makhluk-makhluk mulia di kerajaan langit- merendahkan dan mengatupkan sayapnya kepada penuntut ilmu, karena menghormati dan menyukai perbuatan yang mereka lakukan. Kedudukan mulia ini menuntut seorang penuntut ilmu untuk memiliki etika, akhlak, dan adab yang sesuai dengan kedudukannya. Begitu pentingnya arti etika, akhlak dan adab bagi penuntut ilmu, sehingga  sebagian ulama melarang diajarkannya ilmu syar’i  kepada seseorang sebelum diajarkan kepadanya akhlak dan adab penuntut ilmu. Hal itu dimaksudkan, agar kemuliaan ilmu syar’i tidak ternoda oleh perilaku orang-orang berilmu yang tidak berakhlak sebagaimana mustinya.</p>
<p dir="ltr">Secara umum, kitab <em>Hilyatu Thalibil ‘Ilmi</em> berbicara tentang etika, adab dan akhlak yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu syar’i, meliputi :</p>
<ol>
<li>Etika yang terkait dengan diri sendiri</li>
<li>Etika yang terkait dengan tata cara menuntut ilmu</li>
<li>Etika terhadap guru</li>
<li>Etika dalam persahabatan</li>
<li>Etika terhadap dunia keilmuan</li>
<li>Melaksanakan konsekuensi ilmu</li>
<li>Larangan-larangan yang harus dihindari</li>
</ol>
<p dir="ltr">Kitab setebal  kurang lebih 75 halaman ini merupakan kitab pertama yang dipelajari di <strong>Ma’had Aly Darul Wahyain</strong>. Selain untuk mengenalkan akhlak dan adab penuntut ilmu, digunakannya kitab ini juga dimaksudkan untuk mengenalkan santri kepada <em>uslub-uslub</em> Bahasa Arab yang bermuatan sastra dan bercita rasa bahasa Arab tinggi. Sehingga, setelah menguasai buku ini, diharapkan santri dapat lebih mudah ketika membaca dan mengkaji kitab-kitab lain.</p>
<p dir="ltr">Kitab ini dipelajari setiap hari, mulai pukul 08.00 wib hingga sekitar pukul 12.00 wib (saat dikumandangkan adzan Zhuhur). Setiap hari, kitab ini dikaji oleh Ustadz Rosyid Ridlo Ba&#8217;asyir rata-rata tiga hingga empat halaman, dengan pengantar menggunakan Bahasa Arab. Ditargetkan satu kitab selesai dikaji dalam satu bulan. Insya Allah, admin akan meng<em>-upload</em> rekamannya di blog ini untuk Anda yang ingin mengikuti kajian dari rumah. Doakan, semoga kami dapat segera merealisasikannya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tipe-tipe penuntut ilmu ]]></title>
<link>http://tatyalfiah.wordpress.com/2009/10/30/tipe-tipe-penuntut-ilmu/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 06:44:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Taty</dc:creator>
<guid>http://tatyalfiah.wordpress.com/2009/10/30/tipe-tipe-penuntut-ilmu/</guid>
<description><![CDATA[Ada empat tipe penuntut ilmu atau pembelajar, yaitu 1. Tipe Gudang. Persis seperti gudang yang difun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ada empat tipe penuntut ilmu atau pembelajar, yaitu<br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;"><img class="alignleft size-full wp-image-354" title="lutu1" src="http://tatyalfiah.files.wordpress.com/2009/10/lutu1.gif?w=100&#038;h=140" alt="lutu1" width="100" height="140" /><img class="size-thumbnail wp-image-356 aligncenter" title="buku-1" src="http://tatyalfiah.files.wordpress.com/2009/10/buku-1.gif?w=112&#038;h=150" alt="buku-1" width="112" height="150" /></p>
<p><strong>1. Tipe Gudang.</strong><br />
Persis seperti gudang yang difungsikan hanya untuk menyimpan barang2, baik yang sudah usang maupun yang baru. Gudang juga biasanya digunakan oleh para pedagang (untuk penyimpanan barang yang akan ia jual).<br />
Seorang murid dengan tipe gudang, ia hanya menyimpan ilmu-ilmu yang ia peroleh tanpa melakukan analisa-analisa atau proses kreatif lainnya. Otaknya adalah gudang bagi ilmu-ilmu. Dan motif utama murid dengan tipe ini adalah murni ekonomi, menuntut ilmu untuk mencari nafkah, karenanya ia harus banyak menumpuk persediaan ilmu di otaknya untuk dijual kembali.<br />
<!--nextpage-->.<br />
<strong>2. </strong><strong>Tipe Laba-laba</strong>.<br />
Laba-laba adalah hewan yang kreatif. Ia tidak hanya menyimpan makanan di perutnya, tetapi juga makanan atau hasil dari apa yang ia peroleh, ia kembangkan untuk membangun sarang atau jaring laba-laba. Sarang laba-laba dibuat dengan teliti dan pnuh kesabaran dari apa yang ia peroleh, baik dari makanannya maupun dari benda2 di sekitarnya. Ada proses kreatif atas apa yang dilakukan oleh laba-laba. Namun, motif ia membangun jaring adalah untuk menangkap mangsa. Begitupun seorang murid, ia mungkin mempunyai daya kreatif yang luar biasa, ia tidak hanya memendam begitu saja ilmunya tetapi ia olah kembali sehingga menjadi sesuatu yang berbeda dari apa yang disampaikan gurunya. Tapi, seringkali motifnya adalah kurang baik, yaitu digunakan ke hal-hal yang negatif. Orang yang menipu uang rakyat bukan orang yang bodoh. Ia persis seperti laba-laba, membangun jaring untuk kepentingannya sendiri dan mencelakai orang lain.</p>
<p><strong>3. Tipe Lebah</strong>.<br />
Lebah memakan makanan yang baik-baik yaitu sari bunga. Lebah juga mempunyai daya kreatif yang sangat tinggi. Apa yang ia makan diproduksi kembali menjadi madu, yang sangat bermanfaat bukan hanya untuk komunitasnya tetapi juga untuk makhluk selainnya. Murid tipe ini adalah murid yang beruntung, karena ia mendapat sumber ilmu yang bagus lalu ia kembangkan dengan daya kreatifnya sehingga bermanfaat bagi banyak orang. Motifnya jelas bukan hanya ekonomi tetapi efek sosial.</p>
<p><strong>4. Tipe pohon. </strong><br />
Ini yang unik. Pohon tidak hanya makan dari sumber yang sehat tetapi juga kotoran, air yang kotor, dari buangan manusia, sampah2 yang bau. Tetapi uniknya ia olah seluruh sumber2 itu dan ia produksi di dalam dirinya lalu menjadi buah2an yang sangat bermanfaat juga bagi makhluk lain. Bayangkan betapa uniknya tipe pohon ini. Ia bisa melakukan filter yang sangat canggih dari segala sumber, baik yang sehat maupun yang kotor. Murid tipe ini yang jarang kita temui. Ia mampu memfilter segala sesuatu yang datang dari luar dirinya, bahkan dari dunia yang hitam sekalipun, lantas ia analisa dan menghasilkan produk yang sangat bermanfaat bagi banyak orang.</p>
<p>Yuuukkkkk&#8230;.mengkaji diri&#8230;tipe manakah diri kita ini&#8230;.????</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sikap Penuntut Ilmu Terhadap Masalah yang Diperselisihkan]]></title>
<link>http://albamalanjy.wordpress.com/2009/06/02/sikap-penuntut-ilmu-terhadap-masalah-yang-diperselisihkan/</link>
<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 07:40:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>albamalanjy</dc:creator>
<guid>http://albamalanjy.wordpress.com/2009/06/02/sikap-penuntut-ilmu-terhadap-masalah-yang-diperselisihkan/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Al-Lajnah ad-Da`imah lil Buhuts al-‘Ilmiyah wal Ifta` Pertanyaan:Ketika kami membaca kitab-kit]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Al-Lajnah ad-Da`imah lil Buhuts al-‘Ilmiyah wal Ifta` Pertanyaan:Ketika kami membaca kitab-kit]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PERHATIKAN AMALAN HATI]]></title>
<link>http://albamalanjy.wordpress.com/2009/05/15/perhatikan-amalan-hati/</link>
<pubDate>Fri, 15 May 2009 09:17:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>albamalanjy</dc:creator>
<guid>http://albamalanjy.wordpress.com/2009/05/15/perhatikan-amalan-hati/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Kholid bin Ali al-Musyaiqih &#8211; hafizhohulloh -. الحمد لله والصلاة والسلام على نبين]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Syaikh Kholid bin Ali al-Musyaiqih &#8211; hafizhohulloh -. الحمد لله والصلاة والسلام على نبين]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berbicara Tentang Jama'ah?]]></title>
<link>http://aabibun.wordpress.com/2009/03/19/berbicara-tentang-jamaah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 08:03:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>aabibun</dc:creator>
<guid>http://aabibun.wordpress.com/2009/03/19/berbicara-tentang-jamaah/</guid>
<description><![CDATA[Bismillah Akan dikutip bagian dari sebuah ceramah oleh Syaikh Abdul Wahab Al-Washaby Al-Yamani, keti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bismillah Akan dikutip bagian dari sebuah ceramah oleh Syaikh Abdul Wahab Al-Washaby Al-Yamani, keti]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Golongan dan Kedudukan Penuntut Ilmu]]></title>
<link>http://andihasad.wordpress.com/2008/07/21/kedudukan-penuntut-ilmu/</link>
<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 08:58:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Andi Hasad</dc:creator>
<guid>http://andihasad.wordpress.com/2008/07/21/kedudukan-penuntut-ilmu/</guid>
<description><![CDATA[Para penuntut ilmu terbagi atas 3 golongan. Pertama, golongan yang mencari ilmu demi menyebarkan keb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Para penuntut ilmu terbagi atas 3 golongan. Pertama, golongan yang mencari ilmu demi menyebarkan keb]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
