<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>perilaku &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/perilaku/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "perilaku"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 01:40:47 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[AKUNTABILITAS  DAN  PERUBAHAN ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/akuntabilitas-dan-perubahan/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 02:28:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/akuntabilitas-dan-perubahan/</guid>
<description><![CDATA[Pemerintahan bersih adalah syarat kemajuan suatu bangsa. Pemerintahan korup menyebabkan kemiskinan, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/haryatmoko.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3340" title="haryatmoko" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/haryatmoko.gif?w=116" alt="" width="116" height="150" /></a>Pemerintahan bersih adalah syarat kemajuan suatu bangsa. Pemerintahan korup menyebabkan kemiskinan, diskriminasi, dan konflik.</p>
<p>Indonesia masih terpuruk dalam sistem yang memudahkan penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Upaya perbaikan sistem dan pemberantasan korupsi menghadapi kendala karena sering kuat di gagasan, tetapi lemah merancang modalitas. Pilihan modalitas menentukan perubahan ke arah akuntabilitas. Padahal, upaya melembagakan akuntabilitas diperlukan.</p>
<p>Akuntabilitas harus mendapat prioritas karena mampu memperbaiki layanan publik. Upaya perbaikan sering mengalami kegagalan karena rancangan dan implementasi. Jika rancangan teruji, implementasi memerlukan momentum. Pilihan momentum ini cenderung diabaikan.</p>
<p>Kasus “cicak lawan buaya” seharusnya menjadi momentum pembaruan sistem penegakan keadilan. Karena tidak cepat bertindak, Presiden membiarkan lewat momentum pembaruan. Menolak campur tangan langsung karena menghormati proses hukum justru memberi kesan kentalnya muatan politik atas kasus itu. Padahal, pertaruhannya ialah akuntabilitas pelayanan publik dan penegakan keadilan.</p>
<p><strong>Akuntabilitas</strong></p>
<p>Akuntabilitas mendorong transparansi sehingga tindakan melawan hukum dan moral atau cara-cara tidak adil diketahui dan dikenai sanksi. “Akuntabilitas adalah nilai dasar sistem politik. Warga negara berhak mengetahui tindakan pemerintah karena kekuasaan itu mandat rakyat. Warga negara mempunyai satana untuk mengoreksi saat pemerintah melakukan sesuatu yang melawan hukum dan moral atau cara-cara tidak adil. Tiap warga negara berhak menuntut ganti rugi jika hak-hak mereka dilanggar pemerintah atau tidak mendapat layanan memadai yang seharusnya diterima&#8221; (B Guy Peters, 2007 : 15).</p>
<p><!--more-->Ada dua bentuk akuntabilitas menurut Guy Peters. <em>Pertama</em>, akuntabilitas sebagai tuntutan terhadap organisasi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan. Harus ada laporan terbuka terhadap pihak luar atau organisasi mandiri (legislator, auditor, publik) yang dipublikasikan. Peran Mahkamah Konstitusi menyingkap dugaan rekayasa kasus Bibit-Chandra amat bermakna. Bentuk akuntabilitas ini tidak lain adalah transparansi. Pengertian akuntabilitas yang pertama menekankan pentingnya institusi yang adil guna mendorong perilaku pejabat agar sesuai etika dengan memungkinkan pihak luar organisasi pemerintah mengidentifikasi, mempertanyakan, dan mengoreksi yang terjadi. Jadi kontrol dari luar memungkinkan mengorganisasi tanggung jawab melalui sanksi dan imbalan.</p>
<p><em>Kedua</em>, akuntabilitas dalam kerangka tanggung jawab, yaitu menjamin perilaku pejabat agar sesuai deontologi yang mengatur pelayanan publik. Akuntabilitas jenis ini lebih menekankan nilai-nilai yang telah dibatinkan sebagai pelayan publik sesuai tuntutan etis. Akuntabilitas ini menolong mempertajam makna tanggung jawab. Bentuk ini mengandaikan adanya sistem layanan publik yang telah terlembagakan secara baik. Kurangnya komitmen terhadap standar perilaku dan kelemahan dalam mengontrol kepentingan diri atau kelompok akan membahayakan sistem pelayanan publik yang sudah berjalan baik.</p>
<p><strong>Dilema moral dan politik</strong></p>
<p>Tampaknya pemerintah belum memiliki sistem pelayanan publik yang terlembagakan secara baik. Maka argumen menolak campur tangan langsung dalam proses hukum kasus “cicak lawan buaya” sebetulnya bentuk pengandaian keliru, seolah ada sistem yang sudah terlembaga secara baik. Pengandaian ini menjadi titik lemah karena, <em>pertama</em>, meski di tingkat wacana ada semangat melawan mafia peradilan, de facto perbaikan sistem penegakan keadilan dikurbankan dengan mempertahankan pejabat bermasalah.</p>
<p><em>Kedua</em>, mengandaikan komitmen standar perilaku pejabat, padahal kasus ‘cicak lawan buaya” sarat kepentingan. <em>Ketiga</em>, makelar kasus bukan kasus terpisah. Ia bagian reproduksi tindakan dan penguatan struktur busuk.</p>
<p>Dengan mereproduksi unsur-unsur struktural yang korup, pelaku memperkuat situasi yang memudahkan korupsi dan mengatur perkara. Struktur korup tidak lepas dari andil pelaku, dalam kesadaran refleksif dan praktis.</p>
<p>Dalam menyeleksi informasi, pelaku mengatur syarat-syarat sistem reproduksi. Artinya, apakah akan membiarkan berjalan seperti biasa atau mengubahnya (A Giddens, 1984 : 27 – 28). Pilihan bertindak Presiden atas kasus “cicak lawan buaya” bisa dilihat sebagai dilema moral dan politik : atau “membiarkan reproduksi struktur yang korup” dengan tidak campur tangan, atau “mengubah” guna penegakan keadilan meski kasus bisa berubah menjadi bumerang.</p>
<p>Pilihan pertama mengesankan pemerintah tidak serius. Upaya membangun sistem untuk menciptakan politik etis di kalangan penegakan hukum dan pelayanan publik akan dianggap pemanis bibir. Dampaknya akan melemahkan komitmen reformasi manajemen publik dan memperkuat ketidakpercayaan publik terhadap penegak hukum. Ketidakpuasan pun meluas, dan situasi kian buruk bila rekomendasi Tim 8 tidak diperhitungkan. Rekomendasi bia dianggap tindak lanjut proses akuntabilitas yang ingin menjawab tuntutan rasa keadilan masyarakat.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Akuntabilitas dan Perubahan, Haryatmoko &#124; Dosen Pascasarjana FIB UI, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta<br />
Kompas, 24.11.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HUKUM  TANPA  DETAK  KEADILAN ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/hukum-tanpa-detak-keadilan/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 02:18:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/hukum-tanpa-detak-keadilan/</guid>
<description><![CDATA[Tidak ada yang lebih jahat ketimbang penegakan hukum tanpa keadilan. Hukum tanpa keadilan ibarat tub]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/donny-gahral-adian.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3348" title="donny gahral adian" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/donny-gahral-adian.jpg?w=106" alt="" width="106" height="150" /></a>Tidak ada yang lebih jahat ketimbang penegakan hukum tanpa keadilan. Hukum tanpa keadilan ibarat tubuh tak bernyawa. Pasal-pasal pada secarik kertas tidak bermakna apa-apa. Pasal-pasal mati.</p>
<p>Patut dicatat, keadilan lebih dari sekadar nyawa bagi dokumen hukum. Institusi penegak hukum pun sepatutnya bernyawakan keadilan. Semua proses yang terjadi pada institusi itu harus bernapaskan keadilan. Proses yang terjadi bukan sekadar memenuhi proseduralitas dan formalitas legal. Kita harus berani mengatakan ini. Formalitas dan proseduralitas legal sekadar sarana bagi keadilan. Apabila sarana itu dipakai untuk melukai rasa keadilan, tidak ada pilihan lain : keputusan politik dijatuhkan berdasar doktrin kedaruratan.</p>
<p><strong>Luka keadilan</strong></p>
<p>Di negeri ini keadilan dilukai berkali-kali. Kriminalisasi KPK baru pemanasan saja. Belum lagi kasus itu terselesaikan, pers mendapat perlakuan sama. Dua unsur pimpinan redaksi dipanggil berdasar laporan pencemaran nama baik oleh Anggodo Widjojo. Sosok satu ini sepertinya berkeliaran di ruang hampa hukum, ikut mengendalikan hukum tanpa dia terjerat hukum.</p>
<p>Dari dua peristiwa itu, kita saksikan luka keadilan lain. Minah, seorang ibu tua, dikenai hukuman percobaan akibat mengambil tiga buah kakao untuk dijadikan bibit. Rasa keadilan kembali terkoyak. Sang hakim tahu, dia memutus berdasar hukum tertulis, bukan rasa keadilan. Dia menjadi hamba secarik kertas, bukan dewi keadilan yang mulia dan sublim.</p>
<p><!--more-->Compang-camping praktik penegakan hukum berujung pada ketidakpercayaan publik. Ini fatal. Ketidakpercayaan publik terhadap penegakan hukum dipicu absennya keadilan sebagai prinsip dasar sebuah tertib sosial. Keadilan adalah prinsip hidup bersama dalam sebuah tertib sosial bernama negara. Keadilan adalah maksud suci kelahiran negara itu sendiri. Jika maksud suci itu dikhianati aparat negara, alasan keberadaan negara bisa jadi tak ada lagi. Maka, perilaku institusional yang melukai keadilan dapat berakibat hilangnya tertib sosial, bernama negara.</p>
<p>Mungkin hal itu terdengar radikal. Namun, imajinasi kita harus dapat menerobos rezim aktualitas guna menemukan alasan politik. Apalagi kita sudah diingatkan filsuf Prancis, Louis Althusser. Rezim boleh berganti, tetapi aparat ideologis dan represif negara bergeming. Reformasi boleh berjalan lama, tetapi pengkhianatan terhadap keadilan berulang kali dilakukan tanpa punitas. Institusi penegak hukum tetap sama. Itu adalah alat kekuasaan untuk mengamankan diri secara ideologis dan represif dengan memutarbalikkan rasa keadilan masyarakat.</p>
<p><strong>Lalu apa ?</strong></p>
<p>Luka keadilan amat sulit disembuhkan. Politik pencitraan pasti tumpul saat berhadapan dengan rakyat yang terluka rasa keadilannya. Tim 8 sudah selesai bekerja. Rekomendasinya amat komprehensif dan untuk sementara meredam amuk politik rakyat. Namun, kita semua masih berharap, Presiden akan bertindak. Jika tidak (bertindak) dan pasif, dapat membuat kredibilitas Tim 8 rusak. Tim 8 akan dipersepsi rakyat sebagai bagian politik pencitraan.</p>
<p>Luka keadilan sudah cukup dalam. Kita ada di pengujung gerakan sosial yang masif. Rakyat bukan anak kecil yang terdiam setelag diberi baju baru. Hampir di semua media, rakyat yang anonim menjadi subyek lugas dan beridentitas. Rakyat bukan lagi ruang kosong dalam demokrasi. Dia muncul nyata di berbagai forum publik. Rakyat yang nyata memiliki kekuatan yang tidak kalah nyatanya.</p>
<p>Kita sudah menyaksikan bagaimana kriminalisasi tidak hany menyentuh pejabat negara atau pimpinan media. Ketidakadilan sudah dirasakan rakyat jelata bernama Minah. Minah lebih mudah dijadikan ikon guna mengidentifikasikan diri. Kejelataan Minah mampu memompa solidaritas dalam skala besar yang (dapat saja) memiliki konsekuensi politik serius.</p>
<p>Dalam kondisi abnormal seperti ini bukan saatnya berdebat tentang hukum tata negara. Konstitusi adalah dokumen yang dihidupkan keadilan. Konstitusi adalah sarana, bukan keadilan itu sendiri. Kehendak politik yang menciptakan konstitusi harus diperhatikan. Apa kehendak politik itu ? Kehendak politik adalah penciptaan sebuah tertib sosial berkeadilan. Kekuasaan terikat pada kehendak politik itu, bukan pasal-pasal mati konstitusi.</p>
<p>Saat keadulan terluka, kekuasaan dapat mengambil bentuk mistisnya. Kekuasaan eksekutif dapat melepas iktanan konstitusionalnya saat keadilan dalam bahaya. Presiden dapat melepaskan diri dari batas-batas konstitusional dan melakukan intervensi yang diperlukan atas yudikatif. Dengan demikian, Presiden melakukan dua hal sekaligus. Pertama, mengembalikan kepercayaan rakyat. Kedua, meletakkan batu pertama reformasi institusi penegak hukum. Intervensi yudikatif adalah langkah kongkret pertama dalam upaya pemberantasan mafia peradilan.</p>
<p>Presiden Soekarno keras menerabas prinsip Trias Politica saat membubarkan konstituante. Dekrot Presiden 5 Juli 1959 memang menjadi perdebatan hukum tata negara tanpa henti. Namun, dekrit itu, tak dapat disangkal, adalah monumen politik yang menunjukkan kepekaan dan ketegasan Presiden terhadao abnormalitas politik yang sedang terjadi.</p>
<p>Presiden memang tidak perlu bertindak sejauh itu, cukup melakukan dua hal. Pertama, memberhentikan proses hukum Bibit-Chandra. Ledua, mencopot pejabat yang terlibat persekongkolan jahat itu. Setelah itu, proses reformasi institusional berkelanjutan dilakukan. Tanpa itu semua, pemerintahan akan dihantui ketidakpercayaan rakyat yang kian menggumpal. Keadilan mungkin buta, tetapi dia dapat melihat di kegelapan.</p>
<p>Sumber   :</p>
<p>Hukum Tanpa Detak Keadilan, Donny Gahral Adian &#124; Dosen Filsafat Hukum UI<br />
Kompas, 23.11.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dua Pilihan Kehidupan]]></title>
<link>http://uungsupra.wordpress.com/2009/11/25/dua-pilihan-kehidupan/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 08:49:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>uungsupra</dc:creator>
<guid>http://uungsupra.wordpress.com/2009/11/25/dua-pilihan-kehidupan/</guid>
<description><![CDATA[Jerry selalu dikelilingi orang-orang, karena dia selalu dalam suasana hati yang baik dan selalu memp]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://uungsupra.wordpress.com/files/2009/11/tujuan-kehidupan-napoleon-hill.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-779" title="tujuan kehidupan napoleon hill" src="http://uungsupra.wordpress.com/files/2009/11/tujuan-kehidupan-napoleon-hill.jpg" alt="" width="236" height="172" /></a>Jerry selalu dikelilingi orang-orang, karena <strong><em>dia selalu dalam suasana hati yang baik dan</em></strong> <strong><em>selalu mempunyai hal positif untuk dikatakan</em></strong>. Jika seorang karyawan sedang mengalami hari yang buruk, <strong><em>Jerry ada di sana mengatakan kepada karyawan bagaimana melihat sisi positif dari situasi tersebut</em></strong>.</p>
<p> Melihat gayanya ini membuat saya sangat penasaran, maka pada suatu hari aku temui dan bertanya kepadanya, <strong><em>“Aku tidak mengerti! Anda tidak akan bisa menjadi orang yang positif sepanjang waktu. Bagaimana Anda bisa melakukannya?”</em></strong><!--more--></p>
<p> Jerry menjawab; “Setiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku sendiri; Jerry !, Anda punya dua pilihan hari ini. Anda dapat memilih berada dalam suasana hati yang baik atau Anda dapat memilih berada dalam suasana hati yang buruk. <strong><em>Aku memilih berada dalam suasana hati yang baik.”</em></strong></p>
<p> <strong><em>Setiap kali sesuatu yang buruk terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku dapat memilih untuk belajar dari hal buruk itu. Aku memilih untuk belajar dari hal itu. </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong><strong><em>Setiap kali seseorang datang kepada saya mengeluh, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat menunjukkan sisi positif kehidupan. Aku memilih sisi positif kehidupan.”</em></strong></p>
<p> “Ya, benar, tapi kenyataannya tidak semudah itu,” aku protes. “Ya, memang,” kata Jerry; “<strong>Hidup adalah tentang dua pilihan.</strong> Bila Anda membuang segala sampah dari dalam pikiran, setiap situasi adalah sebuah pilihan. Anda memilih bagaimana Anda bereaksi terhadap situasi. Anda memilih bagaimana orang akan mempengaruhi suasana hati Anda. <strong><em>Anda memilih berada dalam suasana hati yang baik atau yang buruk. </em></strong><strong><em>Intinya adalah tergantung pilihan Anda bagaimana Anda menjalani hidup.”</em></strong></p>
<p> Aku memikirkan apa kata-kata Jerry itu. Tak lama kemudian, aku meninggalkan industri restoran untuk memulai bisnis saya sendiri. <strong><em>Kami kehilangan kontak, tapi aku sering berpikir tentang dia ketika aku membuat pilihan tentang kehidupan, bukan bereaksi terhadap itu</em></strong>.</p>
<p> Beberapa tahun kemudian, aku mendengar bahwa Jerry melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan dalam bisnis restoran: dia meninggalkan pintu belakang terbuka pada suatu pagi dan terjadilah todongan senjata oleh tiga perampok bersenjata. Ketika mencoba untuk membuka brankas, tangannya, gemetar karena gugup, tergelincir ketika menekan kode-kode kombinasi, para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, <strong><em>Jerry ditemukan orang dengan relatif cepat dan dengan segera dibawa ke pusat gawat darurat setempat. Setelah 18 jam operasi dan berminggu-minggu perawatan intensif, Jerry keluar dari rumah sakit dengan pecahan peluru masih berada dalam tubuhnya.</em></strong></p>
<p> Aku menemui Jerry enam bulan setelah kecelakaan itu. Ketika saya bertanya bagaimana keadaanya, dia menjawab; ”Mau lihat bekas luka saya?” Aku menolak untuk melihat luka-lukanya, tapi bertanya padanya apa yang ada dalam pikirannya saat perampokan itu terjadi.</p>
<p> ”Hal pertama yang ada dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang,” jawab Jerry. ”Lalu, saat aku berbaring di lantai, <strong><em>aku ingat bahwa aku punya dua  pilihan: aku dapat memilih untuk hidup, atau aku dapat memilih untuk mati.</em></strong> <strong><em>Aku memilih untuk hidup.</em></strong>” Apakah kau tidak takut? Apakah Anda kehilangan kesadaran?”</p>
<p> Aku bertanya terus, dan Jerry melanjutkan, ”Paramedis memang hebat. Mereka terus mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan perawat, aku menjadi sangat takut. Dalam mata mereka, aku membaca,”Dia akan mati.” Aku tahu aku harus mengambil tindakan.</p>
<p> ”Apa yang Anda lakukan?” Aku bertanya. ”Yah, ada sesuatu yang besar, satu pertanyaan perawat dengan agak berteriak padaku,” kata Jerry; ”Dia bertanya apakah saya alergi terhadap sesuatu?”  ”Ya”, jawabku. Para dokter dan perawat berhenti bekerja selagi mereka menunggu jawabanku. Aku menarik napas dan berteriak, “Peluru!”</p>
<p> Diantara tawa mereka, aku berkata kepada mereka. <strong><em>Aku memilih untuk hidup. Bedahlah saya seolah-olah saya hidup, dan saya bukan orang mati.</em></strong> Jerry hidup berkat keahlian para dokter, tetapi juga karena sikap yang luar biasa. <strong><em>Saya belajar darinya bahwa setiap hari kita memiliki pilihan untuk hidup sepenuhnya.</em></strong></p>
<p> <strong><em>Dari ATTITUDE IS EVERYTHING, Francie Baltazar-Schwartz</em></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Percaya Anda Dapat Berhasil, maka Anda pun akan Benar-Benar Berhasil]]></title>
<link>http://definda.wordpress.com/2009/11/19/percaya-anda-dapat-berhasil-maka-anda-pun-akan-benar-benar-berhasil/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 00:16:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>finda</dc:creator>
<guid>http://definda.wordpress.com/2009/11/19/percaya-anda-dapat-berhasil-maka-anda-pun-akan-benar-benar-berhasil/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Berpikir dan Berjiwa Besar&#8221; kalimat ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[&#8220;Berpikir dan Berjiwa Besar&#8221; kalimat ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Y]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://kristenpost.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://kristenpost.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://kompasblog.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://kompasblog.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://gerejaindonesia.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://gerejaindonesia.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://kristianipost.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://kristianipost.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://christianpost.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://christianpost.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://kabargereja.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://kabargereja.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://newschristian.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://newschristian.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://news1000.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://news1000.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://news100.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://news100.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://newsprograme.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://newsprograme.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://kedung.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung</dc:creator>
<guid>http://kedung.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://antiokhia.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung</dc:creator>
<guid>http://antiokhia.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku]]></title>
<link>http://tabloidreformata.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung</dc:creator>
<guid>http://tabloidreformata.wordpress.com/2009/11/19/naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku/</guid>
<description><![CDATA[PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3271&#38;w=298" alt="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg" title="Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku" border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">     PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.</p>
<p><strong>Ekspresi sehari-hari</strong><br />Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  <a href="http://reformata.com/03271-naskah-agung-tuhan-menjadi-perilaku.html">baca selanjutnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[2 MANFAAT UTAMA RUMAH TANGGA SEHAT]]></title>
<link>http://puskelinfo.wordpress.com/2009/11/18/2-manfaat-utama-rumah-tangga-sehat/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 16:18:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>PuskelInfo</dc:creator>
<guid>http://puskelinfo.wordpress.com/2009/11/18/2-manfaat-utama-rumah-tangga-sehat/</guid>
<description><![CDATA[Menerapkan beberapa indikator perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) khususnya pada tingkatan rumah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-306" title="Rumah Sehat" src="http://puskelinfo.wordpress.com/files/2009/11/rumah-sehat.jpg" alt="Rumah Sehat" width="251" height="208" />Menerapkan beberapa indikator perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) khususnya pada tingkatan rumah tangga, memerlukan upaya yang berkesinambungan. Program PHBS mesti dilaksanakan secara terpadu oleh seluruh lapisan masyarakat dengan instansi kesehatan, sebagai sektor pelopor. Jika masyarakat telah berhasil mewujudkan suatu pola hidup bersih dan sehat dalam <a href="http://puskelinfo.wordpress.com/2009/11/15/10-indikator-phbs-tatanan-rumah-tangga/" target="_blank">tatanan rumah tangga</a>, sehingga menjadi <a href="http://puskelinfo.wordpress.com/2009/11/15/10-indikator-phbs-tatanan-rumah-tangga/" target="_blank"><strong>rumah tangga sehat</strong></a>, maka banyak manfaat yang akan bisa dirasakan pada masa kini dan ke masa depan, baik di tingkat rumah tangga maupun di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><strong>1. </strong><strong>Manfaat Bagi Rumah Tangga : </strong></span></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Setiap anggota keluarga menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit.</li>
<li>Anak-anak akan tumbuh sehat dan cerdas, sehingga kualitas generasi penerus lebih bermutu.</li>
<li>Anggota keluarga lebih giat bekerja, berarti <strong>produktifitas kerja</strong> bisa ditingkatkan.</li>
<li>Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><strong>2. </strong><strong>Manfaat Bagi Masyarakat : </strong></span></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Masyarakat mampu mengupayakan <strong>lingkungan sehat</strong> secara mandiri dan menyeluruh</li>
<li>Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan disekitarnya</li>
<li>Masyarakat bisa memanfaatkan pelayanan kesehatan kesehatan yang ada.</li>
<li>Masyarakat mampu mengembangan <strong>Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat</strong> (<strong>UKBM</strong>) seperti posyandu, tabungan ibu bersalin, arisan jamban, ambulans desa dan lain-lain.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em>(Sumber referensi : Buku Saku Rumah Tangga Sehat dengan PHBS, Pusat Promosi Kesehatan, Depkes RI, Jakarta, 2007, hal.3)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Perwujudan manfaat lainnya dari <a href="http://puskelinfo.wordpress.com/2009/11/15/10-indikator-phbs-tatanan-rumah-tangga/" target="_blank"><strong>rumah tangga sehat</strong></a>, tentu akan berdampak luas terhadap keberadaan derajat kesehatan bangsa dan negara kita. Upaya hidup sehat khususnya pada <a title="indikator PHBS rumah tangga" href="http://puskelinfo.wordpress.com/2009/11/15/10-indikator-phbs-tatanan-rumah-tangga/" target="_blank">tatanan rumah tangga</a> mesti terus dipromosikan dan dibudayakan bersama, mulai dari tempat tinggal masing-masing. Secara bertahap, jika hal ini sudah menjadi kebiasaan bersama, sehingga lingkungan tempat tinggal menjadi sehat, maka derajat kesehatan bangsa dan negara akan meningkat. Bagaimana menurut pendapat para sejawat dan sahabat?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[perilaku pengendara kendaraan]]></title>
<link>http://adrisayswithwords.wordpress.com/2009/11/17/perilaku-pengendara-kendaraan/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 00:41:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>adrisayswithwords</dc:creator>
<guid>http://adrisayswithwords.wordpress.com/2009/11/17/perilaku-pengendara-kendaraan/</guid>
<description><![CDATA[Pagi ini saya nganter adek ke sekolah,seperti biasa di jalan penuh dengan berbagai macam mahkluk pen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pagi ini saya nganter adek ke sekolah,seperti biasa di jalan penuh dengan berbagai macam mahkluk penghuni nya(hehe) dari mulai motor,mobil,sampe pengendara sepeda dan becak tumplek jadi satu..<br />
Sambil di jalan saya memperhatikan perilaku para pengendara kendaraan di indonesia yang terbilang &#8220;barbar&#8221; atau nekat!,tidak sabaran,gak mau kalah..<br />
Memang hal itu memicu rasa kesal,tapi melihat keadaan seperti ini siapa yang mau disalahkan?,apakah aparat kurang tegas mengatur?,atau bahkan memang kesadaran berkendara yang baik yang tidak dimiliki oleh setiap pengendara.<br />
Tetapi di sisi lain hendaknya dinas perhubungan dan kepolisian setempat lebih mengatur mengenai tata kota sekaligus jalan yang ada di dalamnya,karena melihat kondisi di lapangan,jumlah kendaraan bermotor memang sudah &#8220;overload&#8221;,kapasitas jalan tidak lagi memadai..<br />
Dan lagi hendaknya dibuatkan jalur khusus motor,karena tanpa bersikap subjektif,kita bisa melihat bahwa perilaku para &#8220;bikers&#8221; terkadang membuat naik pitam,karena tingkahnya yang main &#8220;selonong boy!&#8221;,dan lagi bagi pengendara sepeda jg hendaknya dibuatkan jalur khusus,karena pengendara sepeda dapat membantu mengurangi polusi udara,oleh karena itu pengendara sepeda juga patut dihargai..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hati Manusia yang Ajaib]]></title>
<link>http://chocomulatooo.wordpress.com/2009/11/15/hati-manusia-yang-ajaib/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 11:20:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>chocomulatooo</dc:creator>
<guid>http://chocomulatooo.wordpress.com/2009/11/15/hati-manusia-yang-ajaib/</guid>
<description><![CDATA[Adalah fitrah manusia ingin dicintai dan tak ingin dibenci siapapun, tapi keinginan ini tidak selama]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Adalah fitrah manusia ingin dicintai dan tak ingin dibenci siapapun, tapi keinginan ini tidak selama]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seorang Guru Yang "Menolak" US$ 75.000]]></title>
<link>http://spektrumku.wordpress.com/2009/11/15/seorang-guru-yang-menolak-us-75-000/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 04:43:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yari NK</dc:creator>
<guid>http://spektrumku.wordpress.com/2009/11/15/seorang-guru-yang-menolak-us-75-000/</guid>
<description><![CDATA[Siapa bilang nonton TV tidak ada gunanya? Jikalau tidak berlebihan dan menganggu aktivitas-aktivitas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-medium wp-image-1536" title="are-you-smarter-than-5th-grader-300a0607" src="http://spektrumku.wordpress.com/files/2009/11/are-you-smarter-than-5th-grader-300a0607.jpg?w=225" alt="Jeff Foxworthy dan Anak-Anak Kelas 5 Dalam &#34;Are You Smarter Than The 5th Grader?&#34; 2007" width="225" height="300" />Siapa bilang nonton TV tidak ada gunanya? Jikalau tidak berlebihan dan menganggu aktivitas-aktivitas lain, menonton televisi banyak manfaatnya, selain dapat menambah wawasan langsung juga dapat banyak memetik moral yang ada pada suatu acara yang baik. Seperti dalam acara &#8220;Are You Smarter Than the 5th grader?&#8221; yang dibawakan oleh Jeff Foxworthy yang saya tonton hari Rabu malam lalu (11/11) lewat stasiun televisi StarWorld, selayaknya banyak ditonton oleh para <span style="text-decoration:line-through;">pejabat</span> pemirsa di Indonesia.</p>
<p>Yang membuat episode tersebut menarik ada dua yaitu kedatangan murid-murid kelas 5 SD dari &#8220;Are You Smarter Than a 5th Grader?&#8221; tahun lalu yaitu tahun 2007 (episode ini dibuat tahun 2008) dan juga salah seorang pesertanya yang seorang guru TK dari Boston, Massachusetts bernama Chrissy Booras. Bagi mereka yang sering mengikuti acara ini tentu sudah mengetahui tata cara permainan ini. Setiap peserta diberi 10 pertanyaan mulai dari US$1.000 hingga US$500.000, jika berhasil menjawab kesepuluh pertanyaan tersebut maka peserta berhak menjawab pertanyaan bonus senilai US$1.000.000 (hampir sepuluh milyar rupiah..wow!). Nah dalam menjawab kesepuluh pertanyaan tersebut peserta bisa dibantu oleh anak-anak kelas lima yang berada di acara tersebut. Terdapat tiga bantuan yang ada yaitu: <em>Peep</em> (intip), <em>Copy</em> (kopas) dan juga <em>Save</em> (selamat). Dalam <em>Peep</em>, peserta boleh mengintip pekerjaan si anak kelas 5 SD tersebut dan boleh memakai jawaban anak kelas 5 SD tersebut atau boleh memakai jawaban lain. Dalam <em>Copy</em>, peserta harus menggunakan jawaban anak kelas 5 SD yang membantunya tersebut sedangkan <em>Save</em>, jika jawaban peserta salah maka jikalau jawaban si anak kelas 5 SD benar, maka otomatis si peserta terselamatkan dan dapat melanjutkan kuis ini.</p>
<p>Dan di sinilah istimewanya sang guru TK yang bernama Chrissy Booras ini. Ketika ia sampai pada pertanyaan kategori astronomi kelas 4 yang berbunyi (pertanyaan aslinya tentu saja dalam Bahasa Inggris):</p>
<p>Dalam skala Fahrenheit berapa derajadkah panas permukaan matahari?<br />
a) 10.000 derajad<br />
b) 1.000.000 derajad<br />
c) 35.000.000 derajad</p>
<p>Bagi mereka yang menyukai astronomi tentu tidak sulit menjawab pertanyaan ini, namun malangnya si ibu guru ini rupanya tidak menyukai astronomi. Namun yang menarik bukan ketidakbisaan si ibu guru untuk menjawab pertanyaan ini namun karena ia menolak untuk menggunakan fasilitas &#8220;Copy&#8221; yang ada. Si ibu guru ini sebelumnya sudah menggunakan kedua fasilitas bantu lainnya dan hanya tersisa fasilitas &#8220;Copy&#8221;. Pertanyaan ini bernilai US$175.000 sementara si ibu guru sudah mengumpulkan US$100.000. Namun si ibu guru &#8220;sayangnya&#8221; menolak menggunakan fasilitas &#8220;Copy&#8221; dan memilih keluar dari permainan dan &#8220;hanya&#8221; membawa pulang US$100.000. Padahal pertanyaan tersebut adalah pertanyaan pilihan berganda dan kemungkinan besar jawaban si anak kelas 5 SD yang menolongnya benar karena mereka adalah anak-anak kelas 5 SD yang terpilih dan pandai, dan memang jawaban si anak kelas 5 SD tersebut ternyata benar. Padahal jikalau si ibu guru menggunakan fasilitas &#8220;Copy&#8221; ia akan mendapat US$175.000 dan dapat berkemungkinan lanjut hingga mendapatkan US$1.000.000!</p>
<p>Alasan si ibu guru tidak menggunakan fasilitas &#8220;Copy&#8221; ini sangat mulia karena si ibu guru tidak suka mengkopas mentah-mentah jawaban seseorang di sekolah. Dan prinsip ini ia pertahankan di dalam kuis ini dan ia tidak tergiur dengan perbedaan uang US$75.000 (hampir Rp. 750 juta) yang sebenarnya dengan mudah dapat ia dapatkan. Lagipula si ibu guru mungkin khawatir bahwa ia akan menjadi contoh buruk bagi anak-anak didiknya. Menurut saya, mental bu guru ini sungguh jauh dari mental korup! Walaupun ia seorang guru yang banyak dikatakan sebagai &#8220;<em>the underpaid hero</em>&#8221; namun sungguh mentalnya dan juga harga dirinya sangat tinggi. Sebuah mental yang patut ditiru oleh para <span style="text-decoration:line-through;">pejabat</span> pemirsa di Indonesia!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[10 INDIKATOR PHBS TATANAN RUMAH TANGGA]]></title>
<link>http://puskelinfo.wordpress.com/2009/11/15/10-indikator-phbs-tatanan-rumah-tangga/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 16:15:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>PuskelInfo</dc:creator>
<guid>http://puskelinfo.wordpress.com/2009/11/15/10-indikator-phbs-tatanan-rumah-tangga/</guid>
<description><![CDATA[Untuk mencapai visi Indonesia Sehat 2010, Pusat Promosi Kesehatan, Departemen Kesehatan, telah melak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-301" title="Indonesia sehat 2010" src="http://puskelinfo.wordpress.com/files/2009/11/indonesia-sehat-2010.jpg" alt="Indonesia sehat 2010" width="189" height="123" />Untuk mencapai visi Indonesia Sehat 2010, Pusat Promosi Kesehatan, Departemen Kesehatan, telah melakukan upaya pemberdayaan masyarakat dengan melakukan sosialisasi mengenai pentingnya <span style="color:#0000ff;">PHBS </span>pada tingkatan rumah tangga. Apa dan bagaimana upaya PHBS tersebut, berikut rangkuman sumber pustaka dari Pusat Promosi Kesehatan (Promkes), Depkes RI.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><strong>Apa itu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS ) ? </strong></span></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">PHBS</span> adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan – kegiatan kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan–kegiatan kesehatan di masyarakat</li>
<li><span style="color:#0000ff;">PHBS</span> itu jumlahnya banyak sekali, bisa ratusan. Misalnya tentang Gizi: makan beraneka ragam makanan, minum Tablet Tambah Darah, mengkonsumsi garam beryodium, member bayi dan balita Kapsul Vitamin A. Tentang kesehatan lingkungan seperti membuang samapah pada tempatnya, membersihkan lingkungan.</li>
<li>Setiap rumah tangga dianjurkan untuk melaksanakan semua perilaku kesehatan.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><strong>Apa itu PHBS di Rumah Tangga? </strong></span></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">PHBS di Rumah Tangga</span> adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">PHBS di Rumah Tangga</span> dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga Sehat.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Rumah Tangga Sehat</span> adalah rumah tangga yang melakukan 10  (sepuluh) PHBS di Rumah Tangga yaitu :</li>
</ul>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan</li>
<li>Memberi ASI ekslusif</li>
<li>Menimbang bayi dan balita</li>
<li>Menggunakan air bersih</li>
<li>Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun</li>
<li>Menggunakan jamban sehat</li>
<li>Memberantas jentik di rumah</li>
<li>Makan buah dan sayur setiap hari</li>
<li>Melakukan aktivitas fisik setiap hari</li>
<li> Tidak merokok di dalam rumah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em>(Sumber referensi : Buku Saku Rumah Tangga Sehat dengan PHBS, Pusat Promosi Kesehatan, Depkes RI, Jakarta, 2007, hal.2)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana upaya penerapan 10 (sepuluh) <span style="color:#0000ff;">indikator PHBS</span> di tingkat rumah tangga, tentu sangat tergantung lagi dengan kesadaran dan peran serta aktif masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Sebab upaya mewujudkan lingkungan yang sehat akan menunjang pola perilaku kehidupan rakyat yang sehat secara berkelanjutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana menurut pendapat para sejawat dan sahabat?</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Janji Allah SWT Bagi Orang yang Akan Menikah]]></title>
<link>http://chocomulatooo.wordpress.com/2009/11/14/janji-allah-swt-bagi-orang-yang-akan-menikah/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 04:36:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>chocomulatooo</dc:creator>
<guid>http://chocomulatooo.wordpress.com/2009/11/14/janji-allah-swt-bagi-orang-yang-akan-menikah/</guid>
<description><![CDATA[Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermaca]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermaca]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Malu Karena Malu]]></title>
<link>http://chocomulatooo.wordpress.com/2009/11/14/jangan-malu-karena-malu/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 04:30:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>chocomulatooo</dc:creator>
<guid>http://chocomulatooo.wordpress.com/2009/11/14/jangan-malu-karena-malu/</guid>
<description><![CDATA[JANGAN MALU KARENA MALU Sumber: Friendster &nbsp; &nbsp; Penulis: Ummu Salamah Farosyah Semoga Allah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[JANGAN MALU KARENA MALU Sumber: Friendster &nbsp; &nbsp; Penulis: Ummu Salamah Farosyah Semoga Allah]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Niat Belum Terwujud Sudah Diberi Pahala?]]></title>
<link>http://chocomulatooo.wordpress.com/2009/11/14/mengapa-niat-belum-terwujud-sudah-diberi-pahala/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 04:20:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>chocomulatooo</dc:creator>
<guid>http://chocomulatooo.wordpress.com/2009/11/14/mengapa-niat-belum-terwujud-sudah-diberi-pahala/</guid>
<description><![CDATA[MENGAPA NIAT BELUM TERWUJUD SUDAH DIBERI PAHALA &nbsp; &nbsp; Hati Untuk Menilai Suatu Persoalan Hat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MENGAPA NIAT BELUM TERWUJUD SUDAH DIBERI PAHALA &nbsp; &nbsp; Hati Untuk Menilai Suatu Persoalan Hat]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
