<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pisang-rimpi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/pisang-rimpi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pisang-rimpi"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 12:19:16 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin - Samarinda]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/03/16/menyusuri-trans-kalimantan-banjarmasin-samarinda-22/</link>
<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 01:57:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/03/16/menyusuri-trans-kalimantan-banjarmasin-samarinda-22/</guid>
<description><![CDATA[(1).   Pergi Ke Rantau Sebenarnya hari masih belum sore-sore amat ketika saya mendarat di bandara Sy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2>(1).   Pergi Ke Rantau</h2>
<p>Sebenarnya hari masih belum sore-sore amat ketika saya mendarat di bandara Syamsudin Noor Banjarmasin yang terletak di Kotamadya Banjarbaru, Senin, 24 Juli 2006 yang lalu. Hanya karena propinsi Kalimantan Selatan ini masuk dalam wilayah Waktu Indonesia Tengah, maka sepertinya hari sudah sore karena sudah <i>jam limo keliwat limo</i>, meski arloji saya masih menunjukkan jam enambelas lebih lima menit, waktu Yogyakarta. Inilah kali pertama saya menjejakkan kaki di bumi Kalimantan. Jejakan pertama begitu menggoda, selebihnya tidak akan saya sia-siakan dengan banyak jejakan seminggu ke depan.</p>
<p>Sambil menunggu mobil jemputan, kami (saya dan beberapa teman) <i>ngopi </i>dulu di sudut pintu keluar bandara. Sekira setengah jam kemudian barulah kami meninggalkan bandara dan langsung meluncur ke arah utara. Berarti juga menjauh dari kota Banjarmasin yang berada kira-kira 25 km ke arah barat dari Banjarbaru. Kami terus melaju ke arah utara melewati kota Martapura. Kota Banjarbaru dan Martapura yang berjarak sekitar tiga kilometer sepertinya sudah menjadi satu kawasan kota besar. Martapura yang ketika di sekolah dulu dikenal sebagai kota penghasil intan, seakan tidak lagi mengesankan sebagai sebuah kota tambang melainkan sebuah kota yang sedang beranjak tumbuh dan padat penduduknya. Selain di buku-buku ilmu bumi dulu dikenal sebagai kota intan, di Kalimantan kini Martapura juga dikenal sebagai kota santri.</p>
<p>Hari sudah mulai benar-benar senja saat meninggalkan kota Martapura dan terus melaju ke arah utara mengikuti jalan Trans Kalimantan. Hari semakin gelap, tapi lalulintas di jalan yang beraspal mulus masih terlihat padat. Semakin malam semakin padat dengan puluhan bahkan mungkin ratusan truk pengangkut batubara. Kami berpapasan dengan truk-truk yang sedang mengangkut batubara dari banyak lokasi tambang di wilayah Kalimantan Selatan yang sedang menuju ke pelabuhan sungai, Trisakti, di Banjarmasin. Konvoi truk-truk pengangkut batubara itu memang hanya diijinkan melewati jalur lalulintas umum hanya pada malam hari. Para sopir truk pun seakan berkejaran agar bisa mengangkut batubara sebanyak-banyaknya untuk ditumpahkan ke dalam tongkang yang sudah menanti di pelabuhan, sebelum ayam jantan berkokok di pagi hari. Tidak mau kalah dengan Bandung Bondowoso yang mengejar menyelesaikan seribu candi.</p>
<p>***</p>
<p>Malam itu kami pergi ke Rantau. Rantau adalah ibukota kabupaten Tapin, satu dari sebelas kabupaten yang ada di wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Dari Martapura menuju Rantau ditempuh selama kurang-lebih dua jam perjalanan melintasi jalan darat sejauh kira-kira 70 km. Sudah lewat jam tujuh malam ketika akhirnya kami tiba di Rantau, melewati beberapa wilayah kecamatan, antara lain Binuang.</p>
<p>Kota kecamatan Binuang terkenal dengan produk makanan khasnya yaitu selai pisang rimpi. Nama kota kecil ini cukup dikenal oleh mereka yang sering berkunjung ke Kalsel, meski tidak semuanya tahu kalau ada produk makanan khas hasil olahan dari buah pisang. Pisang merupakan salah satu produk pertanian yang memang banyak dihasilkan di Binuang dan umumnya sebagian wilayah Kalsel. Dan produk selai pisang Binuang pun dikenal dengan sebutan rimpi Binuang. Meski saya tidak sempat berhenti membeli oleh-oleh di Binuang (<em>wong</em> baru saja menginjakkan kaki, kok sudah beli oleh-oleh&#8230;..) karena hari sudah gelap, tapi akan saya catat siapa tahu pada kesempatan lain saya sempat mampir untuk mencicipinya.</p>
<p>Rantau hanyalah kota kecil yang tidak terlampau padat penduduknya, dan di sanalah malam itu kami bermalam. Kota ini sengaja dipilih karena kebetulan ada seorang teman yang tinggal di sana, sekalian bersilaturahmi dengan keluarganya. Juga karena kota ini berada di tengah rute perjalanan, agar perjalanan darat menuju utara esok hari menuju perbatasan Kalimantan Timur menjadi tidak terlalu jauh. Sebenarnya lokasi yang kami tuju lebih dekat dicapai dari Balikpapan, hanya karena ingin melihat dunia lebih banyak, maka dipilih mencapainya dari Banjarbaru. Rugi sehari waktu tempuh, tapi untung ratusan kilometer jarak dijejak.</p>
<p>Seorang teman mengidentifikasi jalur jalan sepanjang Martapura &#8211; Rantau (dan ke utara lagi) sebagai rute jalan &#8220;seribu masjid&#8221;. Tentu ini guyonan plesetan. Pasalnya di sepanjang jalur jalan itu banyak betebaran bangunan masjid atau musola, baik yang sudah jadi maupun yang sedang dibangun, bahkan yang sedang dipikirkan untuk dibangun. Nyaris ada sebuah masjid atau musola berdiri di hampir setiap kampung di pinggir penggal jalan lintas Trans Kalimantan ini. Maklum, di sana memang banyak orang berpunya dari hasil batubara. Kalaupun tidak ada dana, maka tinggal memasang tong atau drum di tengah jalan dan siapkan sebuah jaring ikan untuk menampung lemparan uang dari para pengguna jalan. Mirip-mirip yang terjadi di jalur pantura (terlebih kalau bulan puasa), juga di Bantul ketika bantuan terlambat menjangkau para korban gempa.</p>
<p>Meskipun saya sendiri telanjur <i>su&#8217;udzdzon</i> (berprasangka buruk), saya toh tetap berusaha untuk <i>khusnudzdzon</i> (berprasangka baik), semoga semangat masyarakat setempat untuk memakmurkan dan menghidup-hidupi ribuan masjid itu sama atau lebih besar dari semangat untuk membangunnya. Sebelum nanti malah digunakan untuk arena uji nyali atau <em>uka-uka&#8230;..</em>     </p>
<p>Setiba di Rantau malam itu, kota ini tampak ramai. Rupanya di Rantau sedang ada hajatan besar untuk ukuran kota kecil seperti Rantau. Sore hari sebelum kami tiba, di Rantau ada pembukaan Porprov. Ini istilah yang kedengaran agak aneh di telinga saya. Maksudnya adalah Pekan Olah Raga Provinsi Kalimantan Selatan yang diselenggarakan di kabupaten Tapin. Di tempat lain biasanya disebut Porda. Maka Rantau pun hari-hari itu menjadi semarak dan ramai dengan aneka kegiatan olah raga, mencari atlit terbaik untuk menuju Pekan Olah Raga Nasional ke-17 yang akan diselenggarakan di provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2008.</p>
<p>Yogyakarta, 3 Agustus 2006<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
