<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pluralisme &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/pluralisme/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pluralisme"</description>
	<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 00:16:42 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[MASTURBASI INTELEKTUAL]]></title>
<link>http://risalahperjalanan.wordpress.com/2009/11/25/masturbasi-intelektual/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 01:24:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>risalahperjalanan</dc:creator>
<guid>http://risalahperjalanan.wordpress.com/2009/11/25/masturbasi-intelektual/</guid>
<description><![CDATA[Gejala ke arah masturbasi intelektual tampak nyata pada dirimu, Kawan. Engkau yang tak hendak kusebu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Gejala ke arah masturbasi intelektual tampak nyata pada dirimu, Kawan. Engkau yang tak hendak kusebut namamu dalam catatan ringkasku ini. Celoteh-celoteh yang seakan hendak membungkam rasa gelisah yang tak kutau pasti pangkal maupun ujungnya itu. Seakan tengah mencari-cari argumen untuk menguat-nguatkan diri yang tampak lapuk dipermainkan cuaca, tampak rapuh didera palu kehidupan.</p>
<p>Aku pernah sepertimu. Lari dari pokok persoalan. Ke rimba raya celoteh. Bermasturbasi dengan keliaran pikiran. Keluar masuk lorong-lorong kumuh, sebelum terbirit-birit ke rimba raya. Lalu disitu, bak seorang begawan bijak, engkau bertapa. Mengasing dari keriuhan hidup. Bahkan mengasing dari dirimu sendiri. Mencocok-cocokkan keliaran pikiran ke dalam hakikat, mencocok-cocokkan celoteh ke dalam hikmah. Aku memakluminya, Kawan.</p>
<p>Ketenangan semu yang diperoleh dari masturbasi pemikiran, dan celoteh-celoteh liar, mulai memerangkapmu dalam sunyi. Kurasakan rambatan sensasi yang tengah kau cicipi. Seperti tarian <em>darshan</em> ataupun <em>emanasi</em> jiwa. Atau istilah manapun yang kau inginkan. Itu ketenangan semu.</p>
<p>Terus terang, kawan. Aku mulai khawatir pada keadaanmu. Ya, engkau yang kukenal dari <em>diary</em> kehidupan. Agar tak sampai pada ujung “<em>ketidakwarasan</em>”, surutlah ke belakang. Jalan pencarian ketenangan tidak mesti ke rimba raya keliaran pemikiran, atau ke alam maya fantasi. <em>Iqra’ bismi robbika al-ladzii kholaq. Kholaqo al-insaana min ‘alaq. Iqra’ wa robbuka al-akrom. Alladzii ‘allama bi al-qolam. ‘Allama al-insaana maa lam ya’lam. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kecewa pada realitas? Tentu bukan mangkir solusinya. Bukan begitu, Kawan?</p>
<p>Kisaran, 24 Nopember 2009</p>
<p><strong>IKHWAN MUSLIM NASUTION</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[pluralisme]]></title>
<link>http://demorgant.wordpress.com/2009/11/20/pluralisme/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 13:43:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>demorgant</dc:creator>
<guid>http://demorgant.wordpress.com/2009/11/20/pluralisme/</guid>
<description><![CDATA[Dalam ilmu sosial, pluralisme adalah sebuah kerangka di mana ada interaksi beberapa kelompok-kelompo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dalam ilmu sosial, pluralisme adalah sebuah kerangka di mana ada interaksi beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan hasil tanpa konflik asimilasi.</p>
<p>Pluralisme adalah dapat dikatakan salah satu ciri khas masyarakat modern dan kelompok sosial yang paling penting, dan mungkin merupakan pengemudi utama kemajuan dalam ilmu pengetahuan, masyarakat dan perkembangan ekonomi.</p>
<p>Dalam sebuah masyarakat otoriter atau oligarkis, ada konsentrasi kekuasaan politik dan keputusan dibuat oleh hanya sedikit anggota. Sebaliknya, dalam masyarakat pluralistis, kekuasaan dan penentuan keputusan (dan kemilikan kekuasaan) lebih tersebar.</p>
<p>Dipercayai bahwa hal ini menghasilkan partisipasi yang lebih tersebar luas dan menghasilkan partisipasi yang lebih luas dan komitmen dari anggota masyarakat, dan oleh karena itu hasil yang lebih baik. Contoh kelompok-kelompok dan situasi-situasi di mana pluralisme adalah penting ialah: perusahaan, badan-badan politik dan ekonomi, perhimpunan ilmiah.</p>
<p>Bisa diargumentasikan bahwa sifat pluralisme proses ilmiah adalah faktor utama dalam pertumbuhan pesat ilmu pengetahuan. Pada gilirannya, pertumbuhan pengetahuan dapat dikatakan menyebabkan kesejahteraan manusiawi bertambah, karena, misalnya, lebih besar kinerja dan pertumbuhan ekonomi dan lebih baiklah teknologi kedokteran.</p>
<p>Pluralisme juga menunjukkan hak-hak individu dalam memutuskan kebenaran universalnya masing-masing.</p>
<p>Sumber : Wikipedia</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Religion et libertés linguistiques]]></title>
<link>http://sociorel.wordpress.com/2009/11/17/religion-libertes-linguisitiques/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 12:51:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>A.-L. Zwilling</dc:creator>
<guid>http://sociorel.wordpress.com/2009/11/17/religion-libertes-linguisitiques/</guid>
<description><![CDATA[La fondation Irmgard Coninx organise des tables rondes sur la transnationalité. Dans cette perspecti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>La fondation <a title="vers le site de Irmgard Coninx Stiftung" href="http://www.irmgard-coninx-stiftung.de/index.php?id=1" target="_blank">Irmgard Coninx</a> organise des tables rondes sur la transnationalité. Dans cette perspective, des bourses de recherche sont offertes à certains des participants. La 12ème table ronde se tiendra sur le thème: <a title="vers le site de Irmgard Coninx Stiftung" href="http://www.irmgard-coninx-stiftung.de/index.php?id=169" target="_blank">Cultural Pluralism Revisited: Religious and Linguistic Freedoms</a> . Elle aura lieu à Berlin du 7 au 11 avril 2010. Le concours est ouvert à tous les jeunes chercheurs (doctorant de moins de 5 ans), les détails sont <a title="télécharger le document en pdf" href="http://www.irmgard-coninx-stiftung.de/fileadmin/user_upload/pdf/cultural_pluralism/Cultural_Pluralism_Background_Paper.pdf" target="_blank">ici</a>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengingatkan Kembali FATWA MUI Tentang Pluralisme Liberalisme dan Sekularisme]]></title>
<link>http://ariefmas.wordpress.com/2009/11/17/mengingatkan-kembali-fatwa-mui-tentang-pluralisme-liberalisme-dan-sekularisme/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 17:42:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>M. Arief B.</dc:creator>
<guid>http://ariefmas.wordpress.com/2009/11/17/mengingatkan-kembali-fatwa-mui-tentang-pluralisme-liberalisme-dan-sekularisme/</guid>
<description><![CDATA[KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONEISA Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALI]]></description>
<content:encoded><![CDATA[KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONEISA Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALI]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pasar dan Pluralisme Masyarakat Bogor]]></title>
<link>http://teguhmanurung.wordpress.com/2009/11/15/pasar-dan-pluralisme-masyarakat-bogor/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 08:41:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>teguhmanurung</dc:creator>
<guid>http://teguhmanurung.wordpress.com/2009/11/15/pasar-dan-pluralisme-masyarakat-bogor/</guid>
<description><![CDATA[Seperti pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor, sekilas, pusat perniagaan yang terletak di se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Seperti pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor, sekilas, pusat perniagaan yang terletak di seberang  pintu masuk utama Kebun Raya Bogor (KRB) ini tampak tidak istimewa. Bau khas ikan asin dan aroma sayur-sayuran busuk menyeruak ketika pertama kali masuk ke tempat ini. Belum lagi kubangan-kubangan air dan tumpukan sampah yang mengunung di setiap sudut pasar melengkapi kesemerawutan lingkungan Pasar Bogor yang dijejali angkutan kota yang berhenti sembarangan untuk mendapatkan penumpang.</p>
<p><em>Toh</em>, dengan keadaan seperti itu, Pasar Bogor tidak pernah kehilangan pesonanya. Setiap hari, dari pagi hingga malam, aktivitas jual beli seakan tak berhenti berdetak.  Bagi masyarakat Pasar Bogor bukan sekedar pusat perniagaan, tempat transaksi ekonomi terjadi. Ia telah menjadi simbol historis, pusat interaksi, dan pertukaran budaya masyarakat Bogor</p>
<p><strong>Riwayat Pasar Bogor</strong></p>
<p><strong> </strong>Sampai dengan paruh pertama abad ke-18, tempat perisitirahatan ini merupakan daerah yang diperuntukan bagi orang-orang kulit putih. Setiap jengkal tanah di daerah ini merupakan milik pribadi gubernur jenderal. Ia kemudian membangun tempat peritirahatan pribadinya yang disebut Villa Buitenzorg, Istana Bogor sekarang. Selain itu, pengusasa tertinggi Hindia-Belanda ini hanya  memberi izin pembangunan infrastruktur, seperti rumah, sekolah, garnisium militer, dan gereja bagi pegawai kolonial. Tidak ada tempat bagi penduduk pribumi di kawasan ekslusif ini. Para <em>inlander</em> ditempatkan  di luar wilayah Buitenzorg, di daerah yang bernaung di bawah otoritas Kampung Baru, daerah sekitar Tanah Baru sekarang.</p>
<p>Tampaknya kebijakan rasial ini tidak berjalan lama. Walaupun beberapa kebijakan kolonial tegas mengatur fungsi <em>Buitenzorg</em>, namun gubernur jenderal, sang pemilik tanah, tergiur akan uang yang dapat dihasilkan apabila ia menyewakan tanah yang sangat luas itu kepada orang lain. Betul saja, dalam sebagia besar penghasilan gubernur jenderal,bukan berasal dari gaji pokok, tetapi bisnis sewa tanah. Tercatat, ada beberapa tempat yang disewakan untuk kaum-non Eropa.</p>
<p>Sekitar 1752 sudah terdapat pemukiman pribumi, yang disebut Kampung Bogor, yang  terletak di kompleks tanaman kaktus KRB sekarang . Data akte Van Girssen 7 April 1752, disebutkan kepala kampung yang berkuasa adalah Ngabehi Raksa Candra.  Dua tahun kemudian (1754), Bupati Kampung Baru, Demang Wiranata (1749-1758) mengajukan permohonan untuk mendirikan rumah di daerah Sukahati (Empang), yang merupakan halaman Villa Buitenzorg, kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel. Permohonan itu diterima dan sekitar 1770, Bupati Kampung Baru telah tinggal dan bahkan kemudian memindahkan Kantor Kabupaten Buitenzorg ke rumah itu.</p>
<p>Melihat bisnis sewa tanahnya sangat diminati dan mendatangkan pemasukan yang cukup besar, gubernur jenderal pada saat itu, Van der Parra (1761-1775) membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin menyewa tanah miliknya, termasuk untuk urusan ekonomi. Betul saja, tidak lama kemudian muncul permohonan untuk mendirikan sebuah pasar di Buitenzorg. Pasar itu berdekatan dengan Kampung Bogor dan tidak jauh dari Kantor Kabupaten Kampung Baru. Sekitar tahun 1770, pasar itu mulai beroperasi. Pada awalnya, pekan ini hanya dibuka seminggu sekali. Karena semakin ramai, sejak kepindahan kantor bupati ke Sukahati, pasar ini pun diadakan dua minggu sekali, setiap hari Senin dan Jumat.</p>
<p><strong>Memperkenalkan dan Mempolulerkan  Bogor</strong></p>
<p>Pusat perdagangan ini menjadi semakin terkenal. Oleh karena letaknya yang berdekatan dengan Kampung Bogor, maka para pasar ini kemudian disebut  Pasar Bogor. Tampaknya Gubernur Jenderal Van der Parra meraup keuntungan yang cukup besar dari pekan ini. Dalam laporan keuangan 1777, disebutkan pendapatan gubernur jenderal sebesar 14.000 ringgit, sekitar 8.000 ringgit berasal dari sewa tanah Pasar Bogor.</p>
<p>Selain itu, dimasukkannya <em>Buitenzorg </em>sebagai pusat perdagangan transit membuat waktu operasi pasar ini berubah lagi menjadi setiap hari. Salah satu komoditi unggulan pasar ini adalah sayur-sayuran  yang berasal dari perkebunan di Sindanglaya (Puncak), kemudian dikirimkan ke Pasar Bogor sebelum diangkut lagi ke Batavia.</p>
<p>Memasuki abad ke-19, menyusul rampungnya rel kereta api yang menghubungkan Batavia-Buitenzorg sepanjag 50 km pada 1873, arus perdagangan terutama hasil bumi dari Priangan yang dikirmkan ke Batavia semakin tinggi. Dalam cacatan Gerlings, seperti dikutip Devisari Tunas (2005), pada 1870-1880, sekitar 60 %  barang yang diangkut dari Buitenzorg ke Batavia adalah hasil bumi, seperti kopi, gula, kentang, kacang, beras, tepung, minyak sayur, minyak, dan kina.</p>
<p>Oleh karena pasar ini merupakan pusat perdagangan transit, pada awalnya pedagang yang berjualan di tempat ini tidak menetap. Mereka singgah dari pasar satu ke pasar yang lainnya, menjual barang dagangannya, dan setelah mendapatkan uang yang cukup kembali ke kampungnya. Namun demikian, semakin meningkatnya volume perdagangan dan jaminan keamanan yang ditawarkan  di Pasar Bogor, membuat para pedagang tidak ragu-ragu untuk menetap di wilayah di sekitar pasar ini. Kebanyakan dari mereka kemudian tinggal di lereng Ciliwung, daerah yang disebut Lebak Pasar.</p>
<p>Pekan ini menjadi pusat perniagaan multienis, menyusul didirikannya perkampungan Tionghoa (Handelstraat, Jalan Suryakencana sekarang) dan Arab (daerah Empang) pada akhir abad ke-19. Selain itu, pasar ini mendorong terbentuknya konsentrasi penduduk pribumi, yang bermukim di Kampung Pledang. Pada awalnya, kampung yang dihuni oleh pandai besi ini terletak kebun palem yang menjadi bagian KRB, dekat Kantor Pos Bogor sekarang. Namun demikian, menyusul didirikannya <em>Plantentuin (</em>KRB), maka kampung dipindahkan ke lokasi yang bertahan sampai sekarang (di seberang kantor pos).</p>
<p><strong>Pluralisme Masyarakat Bogor</strong></p>
<p>Sampai sekarang, asal-usul nama Bogor masih dalam polemik yang tak berujung.  Diskusi panjang ini pun hanya berkutat pada akar dan makna kata Bogor. Padahal masih banyak masalah, terutama yang berhubungan dengan identitas historis, yang belum terpecahkan. Berkaitan dengan itu, sesungguhnya, menilik dari berbagai peristiwa sejarah yang terjadi, maka silang pendapat ini dapat dicari jalan tengahnya dengan menghubungkan nama Bogor dengan kampung pribumi yang terletak di kawasan Buitenzorg, yaitu Kampung Bogor. Dengan dasar ini,  perdebatan ini dapat melangkah ke tahapan selanjutnya, yaitu sejak kapan sebenarnya nama Bogor mulai populer dipakai ?</p>
<p>Menurut Sejarawan Universitas Padjadjaran, M. Muhzin Zakaria, bersamaan dengan peningkatan kegiatan perdagangan di Pasar Bogor, tanpa disadari, dari interaksi antar para pedagang dan pembeli yang sering menyebut nama Bogor tanpa kata pasar di depannya. Kebiasaan ini cepat meluas dan meningkatkan eksistensi Buitenzorg sebagai pusat perdagangan transit antar Priangan dan Batavia. Bahkan, sebutan Bogor menjadi nama tidak resmi dari kota peristirahatan ini yang akrab di kalangan penduduk pribumi, di samping Buitenzorg yang merupakan nama resminya.</p>
<p>Argumen itu tampaknya cocok dengan realitas kekinian Masyarakat dan Kota  Bogor yang plural. Budaya Sunda sebagai identitas asli kota ini tidak menghambat sisi  kemajemukan itu. Apalagi masyarakat  menerima identitas itu sebagai pondasi kokoh yang melekatkan setiap unsur keragaman yang ada. Oleh karena itu,  Pasar Bogor,  bukan sekedar pasar tradisional tempat transaksi jual-beli terjadi. Ia menjadi simbol bersinerginya berbagai unsur kemajemukan dalam satu nafas kebudayaan Sunda.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vi er alle relative]]></title>
<link>http://teotao.wordpress.com/2009/11/10/vi-er-alle-relative/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 20:57:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Teo&#38;Tao</dc:creator>
<guid>http://teotao.wordpress.com/2009/11/10/vi-er-alle-relative/</guid>
<description><![CDATA[Om det virkelig skulle være slik at det finnes en entydig, endegyldig sannhet, er den utenfor rekkev]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Om det virkelig skulle være slik at det finnes en entydig, endegyldig sannhet, er den utenfor rekkevidde – for oss alle. Det er relativt sant, i hvert fall for meg.</strong></p>
<p> Nylig var det alternativmesse på Lillestrøm. Med prinsesser, engler og det hele. Krystaller, gjennomfotograferte auraer og velfylte karmakontoer i skjønn forening.</p>
<p> Midt i mangfoldet reises det obligatoriske, kristne spørsmålet: Hva er sant? (Så mye av kristen tro og tradisjon forutsetter jo dette, at sannhet er noe entydig som man enten underkaster seg eller forkaster.)</p>
<p> Og fra alternativtensingkoret kommer svaret unisont, med prinsesse Märtha som smilende forsanger: Det viktige er hva som er sant for deg.</p>
<p> De kristne grøsser: Oppløsende relativisme! Hvor blir det av den evige, endegyldige sannhet når alt er relativt?</p>
<p> Jeg mener at den gebrokne dialogen som oppstår mellom spørsmålet &#8220;hva er sant&#8221; og svaret &#8220;det som er sant for deg&#8221; snubler i en fundamental, gjensidig misforståelse.</p>
<p> Kanskje kunne de bokreligiøse dogmatikerne og alternative newagerne møtes i en felles erkjennelse, nemlig denne:</p>
<p> Vi er alle relative!</p>
<p> En slik twist forskyver den fryktede relativiteten fra det objektive til det subjektive, fra Sannheten til mennesket.</p>
<p>Vi er alle henvist til våre synsvinkler og begrensede perspektiver. Den fulle, objektive Sannheten er ikke tilgjengelig for oss, fordi den er relativisert i det øyeblikket vi møter den – eller den møter oss.</p>
<p>Erkjent sannhet er relativisert sannhet.</p>
<p>Denne innsikten – at endegyldig sannhet er utenfor erkjennelsens og språkets rekkevidde – formuleres langt bedre av buddhister enn av kristne, i forestillingene om to sannheter og om tomhet.</p>
<p>Men om man leser John P. Keenans utlegning av Markusevangeliet, finner man i det minste holdepunkter for å kunne hevde at Jesus også skjønte det.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemikiran Liberal Masih ditentang]]></title>
<link>http://jarikmataram.wordpress.com/2009/11/06/pemikiran-liberal-masih-ditentang/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 07:45:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>The Young Community</dc:creator>
<guid>http://jarikmataram.wordpress.com/2009/11/06/pemikiran-liberal-masih-ditentang/</guid>
<description><![CDATA[Kampanye anti pemikiran islam liberal nampaknya semakin gencar dilakukan aktifis-aktifis islam kanan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kampanye anti pemikiran islam liberal nampaknya semakin gencar dilakukan aktifis-aktifis islam kanan di NTB. Setelah baru lalu mengadakan diskusi-diskusi anti penyesatan, kemaren (5/11) mereka mengadakan seminar dengan tema “kajian pemikiran islam” di Gedung Graha Bakti Kantor Gubernur NTB. </p>
<p>Acara yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor cabang Mataram tersebut menghadirkan tiga aktifis garda depan penentang islam liberal yakni Dr. Adian Husaini (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia), dan dua aktifis dari <em>Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization</em> (INSISTS) Jakarta, DR. Hamid Fahmy Zarkasyi dan Dr. Nirwan Safrin. </p>
<p>Gubernur NTB TGH. Zainul Majedi dalam sambutannya mengatakan,  liberalisasi pemikiran dan hukum islam menjadi ancaman serius tehadap eksistensi agama Islam, persepsi dan pemahaman agama islam seperti ini harus dikaji lebih dalam. </p>
<p>“proses liberalisasi pemikiran dalam islam tidak lahir begitu saja, tapi sengaja diskenario dan direkayasa secara oleh pihak-pihak tertentu” tambah Gubernur yang  baru lalu mendapat rekor sebagai Gubernur termuda dari MURI itu.</p>
<p>Ketua penyelenggara kegiatan tersebut Dr. Lalu Wira mengatakan, acara ini dimaksudkan sebagai counter  dari pemikiran islam liberal yang selama ini berkembang ditengah masyarakat. </p>
<p>Selain menghadirkan para pembicara, panitia juga menghadirkan pimpinan pondok pesantren modern Gontor KH. Abdullah Zarkasyi dan beberapa pimpinan pondok pesantren di NTB seperti TGH. Safwan hakim Kediri dan TGH. Lalu Anas Hasry Anjani Lombok Timur. []</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PLURALISTISK, MARXISTISK OG NORMATIVT PERSPEKTIV]]></title>
<link>http://mediastudenten.wordpress.com/2009/11/03/pluralistisk-marxistisk-og-normativt-syn/</link>
<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 13:44:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>noxstar</dc:creator>
<guid>http://mediastudenten.wordpress.com/2009/11/03/pluralistisk-marxistisk-og-normativt-syn/</guid>
<description><![CDATA[Det finnes to grunnleggende måter å forstå samfunnet på innenfor samfunnsforskning, pluralistisk og ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Det finnes to grunnleggende måter å forstå samfunnet på innenfor samfunnsforskning, pluralistisk og marxistisk syn.</p>
<h2>Pluralistisk Perspektiv</h2>
<p><strong>Pluralistene ser samfunnet som</strong> sammensatt av konkurrerende grupper og interesser. Mediene vil kunne handle fritt ovenfor samfunnseliten, og handler uavhengig av staten, politiske partier og andre pressgrupper. En ser rett og slett mediet som en uavhengig institusjon som er styrt av sine egne eliter. I denne måten å se samfunnet på er det viktig med et stort mangfold i mediene, slik at flest mulige synspunkter og vinklinger vil komme frem i massemedia.</p>
<p>Noe som igjen vil gi brukerne større mulighet til å velge det de interesserer seg for, som igjen vil føre til at mediene folk &#8220;bryr&#8221; seg om, er de mediene som vil overleve i det lange løp. Kort oppsummert tror pluralistene at fri presse er den beste måten å få fram sannheten på.</p>
<p>Når forskjellige medier konkurrerer, vil de som har størst oppslutning vinne, og forhåpentligvis er de dem som presenterer sannheten for sitt publikum. De mediene som misbruker publikums tillit vil sakte men sikkert dø ut. En kan si at pluralistiske perspektive tar utgangspunkt i sentrale momenter ved den <strong><a href="http://no.wikipedia.org/wiki/Liberalisme">liberalistiske ideologien</a>.</strong></p>
<h2>Marxistisk Perspektiv</h2>
<p><strong>Marxistisk syn på media</strong> er helt annerledes enn det pluralistiske. I det marxistiske syn blir mediene i kontrast dominert av en elite som styrer media enten indirekte eller direkte. Indirekte styring kan forklares i at de som arbeider i media, kan ha illusjoner om at de er uavhengige og kristiske, men i virkeligheten blir de stor grad bundet til valg av tema og presentasjonsform.</p>
<p>Mediene blir brukt som en arena hvor klassens ideologi vil bli spredt. Kontrollen vil ligge hos monopolkapitalen &#8211; en minkende gruppe kapitalister som kontrollerer en større og større del av næringslivet. Styringen kan igjen sies å være indirekte på andre måter: bruk av premiering og forfremming av de journalistene som går harmonisk sammen med kapitalistenes ideologi &#8211; eller i hvert fall ikke undergraver kapitalistenes posisjon.</p>
<h2>Normativt Perspektiv</h2>
<p><strong>Et normativt perspektiv </strong> går ut på å argumentere for hvilke rolle media bør ha i dagens samfunn? Er media sitt hovedformål å holde befolkningen informert eller blir det som alle andre bedrifter, tjene penger? Dette er grunnlaget for å forstå et normativt perspektiv. For at demokratiet skal kunne fungere trenger vi at media holder befolkningen oppdatert på viktige saker.</p>
<p>Dette er en av grunnene for at NRK ble etablert og har forblitt statelig kontrollert. Det samme gjelder også pressestøtten som ble etablert for å holde oppe et ideologiske, variert og en regional pressesystem. Men alle er ikke enig om at den bør stille disse kravene til media. Noen mener at en heller bør se på media som fritt konkurrerende varer som på et marked. I en slik situasjon vil alle varen som kjøperen liker best overleve, og vi vil få et naturlig utvalg.</p>
<p><em>Kildehenvisning</p>
<ul>
<li><a href="http://no.wikipedia.org/wiki/Liberalisme">Liberalisme</a></li>
<li><a href="http://www.kunnskapssenteret.com/articles/2729/1/Pluralistisk-og-marxistisk-perspektiv-teori/Hva-er-forskjellen-mellom-et-pluralistisk-og-marxistisk-perspektiv-teori.html">Pluralistisk og Marxistisk perspektiv</a></li>
<li><a href="http://www.bokkilden.no/SamboWeb/produkt.do?produktId=107343">Media i samfunnet av Ture Schwebs og Helge Østbye</a></li>
</ul>
<p></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dedengkot JIL “Dihabisi” NU di Jawa Timur]]></title>
<link>http://un2kmu.wordpress.com/2009/11/03/dedengkot-jil-%e2%80%9cdihabisi%e2%80%9d-nu-di-jawa-timur/</link>
<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 09:29:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tio Alexander™</dc:creator>
<guid>http://un2kmu.wordpress.com/2009/11/03/dedengkot-jil-%e2%80%9cdihabisi%e2%80%9d-nu-di-jawa-timur/</guid>
<description><![CDATA[Ulil Abshar Abdalah Dholalah, syaitan nirrajim dedengkot Jaringan Iblis Laknatullah Forum Tabayyun d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ulil Abshar Abdalah Dholalah, syaitan nirrajim dedengkot Jaringan Iblis Laknatullah Forum Tabayyun d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dedengkot Aliran Sesat JIL (Jaringan Iblis Laknatulloh) Di Bantai Kiai Muda NU]]></title>
<link>http://aqse1.wordpress.com/2009/11/01/dedengkot-aliran-sesat-jil-jaringan-iblis-laknatulloh-di-bantai-kiai-muda-nu/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 09:40:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>aqse</dc:creator>
<guid>http://aqse1.wordpress.com/2009/11/01/dedengkot-aliran-sesat-jil-jaringan-iblis-laknatulloh-di-bantai-kiai-muda-nu/</guid>
<description><![CDATA[Forum Tabayyun dan Debat Forum Kiai Muda (FKM) NU dengan Ulil berlangsung seru. Tak kurang dari 500 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://aqse1.wordpress.com/files/2009/11/timthumb.jpeg?w=300" alt="timthumb" title="timthumb" width="300" height="198" class="alignleft size-medium wp-image-105" /><br />Forum Tabayyun dan Debat Forum Kiai Muda (FKM) NU dengan Ulil berlangsung seru. Tak kurang dari 500 orang hadir dalam kesempatan itu. Mereka datang dari Jember, Banyuwangi, Situbondo, Pasuruan dan Probolinggo. Seolah-olah forum itu menjadi tempat penumpahan uneg-uneg warga NU terhadap gagasan dan pemikiran Ulil mengenai Islam liberal yang diusungnya selama ini.</p>
<p>Debat yang dimoderatori Kiai Abdurrahman Navis itu mengangkat dua pemikirian Ulil yang sangat kontroversial, yaitu soal pluralisme agama dan kesakralan Al-Qur’an. FKM diberi kesempatan pertama untuk menyampaikan “uneg-uneg” terkait dengan pemikiran Ulil.</p>
<p>Peserta menanyakan hal urgen terkait masalah prinsip beragama. Diantaranya Masalah pluralisme agama, semua agama sama benar.</p>
<p>Dalam acara ini, nampak peserta sangat rapi menyiapkan berbagai bahan baik ucapan, tulisan dan pernyataan Ulil menyangkut paham liberal selama ini.</p>
<p>Ketika terpojok, Ulil malah berlindung kepada Gus Dur. Ia mengaku pemikirannya sudah dikembangkan oleh Gus Dur</p>
<p>Ketika terpojok, Ulil malah berlindung kepada Gus Dur. Ia mengaku pemikirannya sudah dikembangkan oleh Gus Dur. “Sebenarnya pemikiran soal pluralisme sudah diungkap oleh Gus Dur, kenapa baru sekarang ramai,”  ungkap Ulil dikutip situs www.nu.or.id.</p>
<p>Gus A’ab, menyayangkan tulisan-tulisan Ulil soal pluralisme agama selama ini. Pasalnya, Ulil telah menyamaratakan semua agama. Menurut Gus A’ab, pemikirian Ulil yang  menyatakan bahwa semua agama itu benar adalah salah besar. Yang betul, katanya, orang Islam wajib meyakini bahwa agama Islamlah yang benar, walaupun keyakinan itu tidak boleh sampai  menghilangkan toleransi terhadap kebenaran agama lain sesuai keyakinan  penganutnya.</p>
<p>“Jadi jangan pernah mengagggap semua agama benar. Kita harus tetap meyakini Islam itu yang benar tanpa harus menafikan kebenaran agama lain sesuai yan diyakini pemeluknya,” tukasnya Gus A’ab.<!--more--></p>
<p>Mendapat serangan itu, Ulil menghindar. “Tidak benar saya mengatakan  semua agama itu benar. Yang sama itu hanya agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Karena, tiga agama itu minimal mempunyai landasan teoleogi yang sama,” jelas Ulil.</p>
<p>Debat semakin seru, karena pengunjung banyak yang berteriak ketika Ulil lagi-lagi menghidari pernyataannya sendiri di berbagai tulisannya. Padahal, FKM membawa segepok foto copy tulisan Ulil yang berisi pemikiran  kontroversial itu.</p>
<p>Forum Kiai Muda (FKM) NU menilai paham JIL cenderung membatalkan otoritas para ulama salaf. Namun mengajak menghadapi JIL dengan dialog</p>
<p>Menurut Gus A’ab, pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) tidak bisa dikaitkan dengan NU, meskipun beberapa orang dari kelompok ini adalah anak NU, bahkan menantu salah seorang tokoh NU.</p>
<p>Ia menyatakan, keberadaan JIL sangat merisaukan warga NU, karena salah seorang pentolannya, Ulil Abshar-Abdalla adalah warga NU<br />
Di bawah ini pernyataan lengkap Forum Kiai Muda NU:<br />
Kesimpulan Forum Tabayyun dan Dialog Terbuka<br />
Antara Jaringan Islam Liberal dan Forum Kiai Muda (FKM) NU Jawa Timur<br />
Di PP Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur<br />
Ahad, 11 Oktober 2009</p>
<p>Dewasa ini sedang berlangsung perang terbuka dalam pemikiran (ghazwul fikri) pada tataran global. Melalui sejumlah kampanye dan agitasi pemikiran, seperti perang melawan terorisme dan promosi ide-ide liberalisme politik dan ekonomi neo-liberal, Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia berupaya menjinakkan ancaman kelompok-kelompok radikal, memanas-manasi pertikaian di antara kelompok radikal dan moderat dalam tubuh umat Islam, serta menyeret umat Islam dan bangsa ini ikut menjadi proyek liberal mereka.</p>
<p>Dengan memperhatikan perkembangan global tersebut, dan terdorong oleh kepentingan membela tradisi Ahlussunnah Waljamaah yang dianut oleh warga NU sebagai bagian dari identitas dan jati diri bangsa ini, Forum Kiai Muda Jawa Timur memberikan kesimpulan tentang hasil-hasil dialog dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai berikut:</p>
<p>1. Sdr. Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya tidak memiliki landasan teori yang sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak berupa kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan hanya sebagai pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung musim dan waktu (zhuruf), dan pesan sponsor yang tidak berakar dalam tradisi berpikir masyarakat bangsa ini.</p>
<p>2. Pada dasarnya pemikiran-pemikiran JIL bertujuan untuk membongkar kemapanan beragama dan bertradisi kaum Nahdliyin. Cara-cara membongkar kemapanan itu dilakukan dengan tiga cara: (1) Liberalisasi dalam bidang akidah; (2) Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran; dan, (3) Liberalisasi dalam bidang syariat dan akhlak.</p>
<p>3. Liberalisasi dalam bidang akidah yang diajarkan JIL, misalnya bahwa semua agama sama, dan tentang pluralisme, bertentangan dengan akidah Islam Ahlussunnah Waljamaah. Warga NU meyakini agama Islam sebagai agama yang paling benar, dengan tidak menafikan hubungan yang baik dengan penganut agama lainnya yang memandang agama mereka juga benar menurut mereka. Sementara ajaran pluralisme yang dimaksud JIL berlainan dengan pandangan ukhuwah wathaniyah yang dipegang NU yang mengokohkan solidaritas dengan saudara-saudara sebangsa. NU juga tidak menaruh toleransi terhadap pandangan-pandangan imperialis neo-liberalisme Amerika yang berkedok “pluralisme dan toleransi agama”.</p>
<p>4. Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran yang diajarkan JIL, misalnya al-Quran adalah produk budaya dan keotentikannya diragukan, tentu berseberangan dengan pandangan mayoritas umat Islam yang meyakini al-Quran itu firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan terjaga keasliannya.</p>
<p>5. Liberalisasi dalam bidang syari’ah dan akhlak di mana JIL mengatakan bahwa hukum Tuhan itu tidak ada, jelas bertolak belakang dengan ajaran Al Quran dan Sunnah yang mengandung ketentuan hukum bagi umat Islam. JIL juga mengabaikan sikap-sikap tawadhu’ dan akhlaqul karimah kepada para ulama dan kiai. JIL juga tidak menghargai tradisi pesantren sebagai modal sosial bangsa ini dalam mensejahterakan bangsa dan memperkuat Pancasila dan NKRI.</p>
<p>6. Ide-ide liberalisasi, kebebasan dan hak asasi manusia (HAM) yang diangkat oleh kelompok JIL dalam konteks NU dan pesantren tidak bisa dilepaskan dari Neo-Liberalisme yang berasal dari dunia kapitalisme, yang menghendaki agar para kiai dan komunitas pesantren tidak ikut campur dalam menggerakkan tradisinya sebagai kritik dan pembebasan dari penjajahan dan kerakusan kaum kapitalis yang menjarah sumber-sumber daya alam bangsa kita.</p>
<p>7. JIL cenderung membatalkan otoritas para ulama salaf dan menanamkan ketidakpercayaan kepada mereka, sementara di sisi lain mereka mengagumi pemikiran orientalis Barat dan murid-muridnya, seperti Huston Smith, John Shelby Spong, Nasr Hamid Abu Zaid, dan sebagainya.</p>
<p>8. Menghadapi pemikiran-pemikiran JIL tidak dilawan dengan amuk-amuk dan cara-cara kekerasan, tapi harus melalui pendekatan yang strategis dan taktis, dengan dialog-dialog dan pencerahan.</p>
<p>Forum Kiai Muda Jawa Timur,<br />
Tulangan, Sidoarjo, 11 Oktober 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[En préparation d'une communication pour une table ronde]]></title>
<link>http://journaldunthesard.wordpress.com/2009/10/30/en-preparation-dune-communication-pour-une-table-ronde/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 08:38:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>iwilex</dc:creator>
<guid>http://journaldunthesard.wordpress.com/2009/10/30/en-preparation-dune-communication-pour-une-table-ronde/</guid>
<description><![CDATA[Voilà un an que le laboratoire nouvellement créé s&#8217;était réuni pour trouver une orientation sc]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Voilà un an que le laboratoire nouvellement créé s&#8217;était réuni pour trouver une orientation sc]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KEKRISTENAN DAN PLURALISME: ADAKAH KRISTUS YANG LAIN?  Sebuah Refleksi Terhadap Finalitas Kristus  Oleh Pdt. Yarman Halawa, D.min  ]]></title>
<link>http://gracia4christ.wordpress.com/2009/10/28/kekristenan-dan-pluralisme-adakah-kristus-yang-lain-suatu-refleksi-terhadap-finalitas-kristus-oleh-pdt-yarman-halawa-d-min/</link>
<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 06:41:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>graciacitra4christ</dc:creator>
<guid>http://gracia4christ.wordpress.com/2009/10/28/kekristenan-dan-pluralisme-adakah-kristus-yang-lain-suatu-refleksi-terhadap-finalitas-kristus-oleh-pdt-yarman-halawa-d-min/</guid>
<description><![CDATA[Latar Belakang Pluralisme dalam masyarakat adalah fakta yang tidak dapat disangkali keberadaannya, k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Latar Belakang</strong><br />
Pluralisme dalam masyarakat adalah fakta yang tidak dapat disangkali keberadaannya, khususnya di tengah negara seperti Indonesia.  Meskipun demikian, perlu dibedakan antara pluralitas dengan pluralisme.  Hal ini penting untuk menghindari kekacauan atau kerancuan dari topik yang dibahas disini.</p>
<p>Kata Pluralitas mengacu pada konteks yang didalamnya kita hidup&#8211;suatu kompleksitas fenomena masyarakat yang terdiri dari berbagai macam kebudayaan, agama dan ideologi&#8211;.   Sedangkan Pluralisme adalah suatu paham, sikap yang menerima validitas atau keabsahan bahwa semua agama adalah sama.  Perhatikan perkataan Paul F. Knitter dalam bukunya &#8220;No Other Name?&#8221; ini, &#8220;Deep down, all religious are the same&#8211;different paths leading to the same goal.&#8221; (1)</p>
<p>Bagi kaum pluralis, masalah agama adalah masalah pribadi; sehingga tidaklah relevan untuk membicarakan benar tidaknya masalah agama.  Mereka menolak segala bentuk klaim agama yang bersifat absolut, unik, normatif, eksklusif atau final(itas).  Dalam spektrum pluralisme, setiap agama yang mengklaim dirinya absolut maka agama tersebut relatif atau absolut relatif.</p>
<p>Pluralisme bukanlah sekedar suatu konsep sosiologis, melainkan lebih merupakan sebuah &#8216;doktrin&#8217; teologis yang didasarkan kepada relativisme yang bersumber dari dunia barat yang &#8216;atomis&#8217; dan pandangan Hindu &#8216;oseanis&#8217;  (2) sehingga, keunikan dan finalitas Kristus dianggap sebagai sebuah mitos yang perlu ditinggalkan.</p>
<p>Bagaimana seharusnya sikap gereja terhadap pluralisme adalah topik yang akan dibahas dalam bagian ini.  Penulis mencoba untuk menyeleksi aspek-aspek yang dianggap krusial pada saat ini untuk dipaparkan secara singkat dan kemudian ditutup dengan kesimpulan sebagai jawaban terhadap topik ini.</p>
<p><strong>A.	SEJARAH IDENTIK DENGAN KESELAMATAN</strong><br />
Pada umumnya, kaum pluralis menolak adanya penyataan khusus (baca: keselamatan dalam Yesus Kristus).  Mereka beranggapan bahwa tidak ada penyataan yang berpredikat khusus dalam sejarah,  Seluruh sejarah adalah penyataan Allah.</p>
<p>Choan Seng Song, salah seorang teolog pluralisme melihat bahwa seluruh sejarah adalah sejarah Allah sekaligus sejarah keselamatan.  Ia menekankan bahwa waktu adalah ciptaan Allah dan milik Allah sendiri.  Oleh karena itu segala waktu yang berlalu dalam sejarah menjadi milik Allah tanpa ada perbedaan.  Sejarah bangsa-bangsa baik China, Indonesia bahkan Israel pun berada di dalam sejarah tindakan Allah.  Song berkata demikian,<br />
&#8220;…sejarah adalah di dalam Allah.  Ia berasal dari Allah dan kembali kepada Allah.  Allah tidak berdiri bertentangan dengan sejarah tetapi berada di dalam sejarah.  Dan Allah itu bekerja di dalam sejarah melalui para nabi yang arif bijaksana, melalui para raja, petani; melalui kita semua…&#8221;(3)</p>
<p>Jadi, Song melihat (baik implisit maupun eksplisit); bahwa, sejarah bangsa-bangsa dalam sistem keagamaan maupun sosial, politik, kebudayaanya, adalah sejarah keselamatan yang identik dengan penyataan Allah.  Tidak ada &#8220;sesuatu yang khusus&#8221; dari tindakan Allah bagi keselamatan manusia di muka bumi.  Pandangan Song ini tidak berbeda  dengan Paul F. Knitter yang menolak penyataan Allah dalam sejarah secara partikular dalam waktu, locus maupun persona tertentu seperti Israel dan sejarahnya, termasuk Yesus Kristus.  Menurut Knitter, sejarah adalah &#8220;the march of God through the world.&#8221;    (4) Dengan demikian masalah keselamatan tidak tergantung pada penyataan khusus (baca: Yesus Kristus), institusi agama, atau sistem kepercayaan tertentu karena Allah secara imanen telah, sedang, dan akan terus menyatakan diri-Nya kepada setiap manusia dalam konteks sejarahnya masing-masing.</p>
<p>Selanjutnya, kaum pluralis melihat bahwa Kristus adalah suatu manifestasi.  Maksudnya: gelar Kristus adalah sesuatu yang kosmis&#8211;suatu gelar yang dapat dikenakan kepada setiap medium keselamatan, termasuk yang non religius&#8211; yang merupakan misteri ilahi yang imanen dalam sejarah dan budaya manusia pada tempatnya masing-masing.  Raimundo Panikkar, teolog India mengungkapkan hal ini sebagai berikut:<br />
&#8220;Realitas ilahi terdapat dalam setiap nama yang ada di dalam masing-masing agama.  Dalam Hinduisme dikenal dalam Ishavara, dalam kekristenan dikenal dengan Yesus dari Nazareth.  Namun Kristus itu lebih dari pada Yesus dan<br />
tidak hanya dikenal melalui Yesus.  Kristus sebagai misteri ilahi bukanlah suatu realita yang mempunyai banyak nama; tetapi, dalam setiap nama yang berbeda-beda dalam berbagai agama, Kristus itu hadir dan menyelamatkan<br />
menurut pandangan masing-masing agama.&#8221; (5)</p>
<p>Dari beberapa pandangan kaum pluralis di atas, nampak jelas bahwa tidak ada pemisahan antara &#8220;yang menyatakan&#8221; dengan &#8220;yang dinyatakan,&#8221; &#8220;yang mencipta&#8221; dengan &#8220;yang diciptakan&#8221; karena keduanya identik.  Memang harus diakui bahwa tidaklah mudah untuk memecahkan relasi antara penyataan dengan sejarah.  Sejarah merupakan arena aktivitas Allah dan penyataan berada di dalam sejara; tetapi, tidak identik dengan sejarah secara keseluruhan, karena penyataan memiliki konotasi &#8220;aktivitas Allah yang khusus&#8221; (baca: aktivitas penyelamatan).  Pluralisme mengidentikan sejarah dengan sejarah keselamatan karena konsep yang humanistis-anthroposentris.  Memang benar Allah masih mengontrol jalannya sejarah; tetapi, apabila mencampuradukkan sejarah dengan penyataan khusus secara mutlak tanpa melihat unsur-unsur demonik dan kebobrokan manusia, akibatnya adalah fatal.  Karena bila hal ini terjadi maka peristiwa Ambon, Maluku, Aceh, Poso, Bom Bali, Bom JW Marriot, dan sebagainya, dapat di klaim sebagai &#8220;tindakan dalam ketaatan terhadap Allah&#8221;!</p>
<p>Kegagalan dalam melihat fakta dari karya penyelamatan Kristus di dalam sejarah boleh jadi karena ketidakmampuan untuk mengenali Dia.  Yohanes benar ketika ia menulis dalam injil, &#8220;Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya.  Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya&#8221; (Yohanes 1:10,11).  Dan tidak pernah ada di dalam sejarah sebuah pernyataan yang begitu dahsyat dan menggetarkan setiap hati kesaksian dari mereka yang sungguh-sungguh mengenal Dia, &#8220;Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.  Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seseorang, yang telah mendahului aku, sebab Ia telah ada sebelum aku.  Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia…Lihatlah Anak Domba Allah!&#8221; (Yohanes 1:29-31, 36).</p>
<p><strong>B.	SEMUA JALAN MENUJU KE ROMA</strong><br />
Pluralisme menolak keyakinan terhadap universalitas dan partikularitas Kristus.  Yang dimaksudkan dengan &#8216;universalitas&#8217; disini adalah bahwa Yesus dari Nazareth adalah satu-satunya mediator keselamatan bagi manusia.  Sedangkan &#8216;partikularitas&#8217; (baca: eksklusif) untuk menjelaskan universalitas Injil (yakni keselamatan di dalam Yesus Kristus) hanya efektif apabila di terima dengan iman.  Keselamatan tidak berlaku secara otomatis sebagaimana halnya di anut oleh kelompok universalisme.</p>
<p>Memang beberapa teolog seperti Hans Kung, Karl Rahner, Raimundo Panikkar, Victor I. Tanja; mengakui bahwa, keselamatan hanya dapat diperoleh melalui Yesus Kristus tetapi dengan catatan bahwa Yesus Kristus itupun juga dapat hadir di luar tembok kekristenan.  Sehingga sangatlah tidak bijak untuk membicarakan masalah hidup kekal dengan membedakan surga dan neraka.  Alasan yang paling mendasar adalah karena Kristus itu kasih adanya sehingga tidaklah mungkin ada neraka atau tempat penghukuman yang kekal.  J.A.T. Robinson dan N.S Fere berpendapat bahwa bila neraka ada maka surga hanya akan menjadi tempat dukacita abadi untuk meratapi mereka yang terhilang.(6)</p>
<p>Gustave H. Todrank melihat Kristus dari sisi yang lain.  Baginya Kristus tidaklah sinonim dengan Yesus.  Dalam bukunya &#8220;The Secular for a New Christ&#8221; ia melihat Kristus dalam konteks Alkitab yang berarti &#8220;yang diurapi Tuhan&#8221; sebagai suatu gelar yang lebih menunjuk kepada peranan dan fungsi dari pada nama pribadi.  Lebih jauh ia menambahkan: karena di dalam Alkitab banyak orang yang diurapi Tuhan maka Kristus tidak boleh disinonimkan dengan Yesus.  Baginya Yesus adalah &#8220;salah satu Kristus&#8221; atau &#8220;a Christ&#8221;, bukan &#8220;the Christ&#8221;. (7)    Bila pandangan ini menjadi patokan aplikatif maka dapatlah dianggap bahwa Gandhi, Mao Tse Tung, Martin Luther King, Calvin, Luther, dan lain-lain, dapat disebut sebagai &#8220;kristus-kristus&#8221; yang lain.  Hal inipun sesuai dengan pemahaman kaum pluralis yang memandang sejarah identik dengan sejarah keselamatan yang dinyatakan  dalam setiap budaya, bangsa, individu, dan agama!</p>
<p>Apapun bentuknya, kaum pluralis telah menolak keunikan dari pada Kristus berdasarkan pernyataan dari Kitab Suci: &#8220;diselamatkan oleh anugerah.&#8221;  Jelas disini bahwa arti dan makna anugerah Allah disia-siakan sedemikian rupa, karena anugerah baru dipandang sebagai anugerah apabila tanpa persyaratan.  Anugerah dengan persyaratan bukanlah anugerah.  Bila Allah benar-benar menganugerahkan keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada semua orang maka IA tidak tergantung terhadap sikap pribadi seseorang.  Apakah ini benar?</p>
<p>Akibat konsep yang humanistis-anthroposentris ini; maka, pluralisme telah mengakui dengan sesungguh-sungguhnya bahwa agama, kepercayaan, dan keyakinan apapun semuanya memiliki tujuan dan akibat yang sama.  Buddha, Hindu, Islam, Kebatinan/Kejawen, Kong Hu Cu hanya berbeda &#8220;kulit dan bajunya&#8221; tetapi &#8220;isi&#8221;nya sama saja.  Dengan demikian dapat juga dikatakan disini bahwa mereka mengabaikan istilah ataupun konsep berhala atau ilah zaman.  Tidak ada yang menyembah patung, kayu, batu atau obyek-obyek tertentu yang dipakai sebagai &#8220;medium&#8221; untuk kontak dengan &#8220;realitas ilahi.&#8221;  Kalau orang kristen mencap tradisi atau kepercayaan lain sebagai penyembah berhala maka kekeristenan adalah penyembah berhala karena memberhalakan Yesus!   Tom F. Driver salah seorang penulis artikel dalam buku &#8220;The Myth of Christ Uniqueness&#8221; mengistilahkan pemberhalaan kepada Kristus itu dengan istilah &#8220;Christolatry&#8221; (8) sebagai ungkapan pluralisme menolak klaim kekristenan yang meyakini kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan satu-satunya &#8220;Jalan, Kebenaran, dan Hidup&#8221; (Yohanes 14:6).</p>
<p>Kaum Pluralis meyakini bahwa klaim ini hanya berlaku bagi kekristenan saja dan tidak berlaku bagi kalangan lain.  Menurut mereka klaim ini baru berlaku jika dalam konteks dimana Kristus mencakup semua yang benar dalam agama lain.  Karena seluruh kebenaran bersumber dari Allah maka kebenaran-kebenaran dan kebaikan yang ada dalam agama lain harus dihubungkan dengan Kristus.  (9)</p>
<p>Akan tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kebenaran yang sesungguhnya hanya dapat di lihat, dirasakan dan dialami  melalui nama-Nya, &#8220;Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan&#8221; (Kisah Para Rasul 4:12).</p>
<p><strong>C.	MISI IDENTIK KEPENTINGAN DUNIA DAN MANUSIA</strong><br />
Pluralisme melihat misi sebagai upaya memperluas kerajaan Allah di bumi.  Harus di akui bahwa ada kebenaran yang terkandung dari cara pandang ini.  Akan tetapi penekanan misi disini adalah bahwa kerajaan Allah itu tidak hanya meliputi gereja dan kekristenan tetapi mencakup segala sesuatu.  Menurut mereka, salah satu faktor yang dominan mendatangkan konflik dan perpecahan diantara umat manusia adalah masalah agama.  Masalah ini hanya dapat diatasi apabila semua agama membuang sikap yang berpusat pada diri sendiri seperti: doktrin atau kerygma. (10))   Barangkali lagu &#8220;Imagine&#8221; yang dinyanyikan oleh John Lenon dapat menjadi gambaran nyata dari pengharapan mereka ini.</p>
<p>Pemahaman misi yang rancu karena menganggap bahwa misi kristen haruslah misi kasih dan bukanlah terutama kebenaran karena kebenaran memilah, menghakimi dan mempolarisasikan menjadi permasalahan yang fatal untuk diterima oleh seorang yang menyebut diri kristen yang sejati.  Perhatikan pernyataan yang tanpa salah dari Song yang mengatakan bahwa kebenaran tidak dapat menyatukan yang tidak dapat dipersatukan; hanya kasih yang mampu melakukannya.(11)</p>
<p>Latar belakang pemikiran bahwa misi tidaklah terutama untuk memberitakan kebenaran didasarkan pada konsep &#8220;misi adalah mengembangkan kerajaan Allah.&#8221;  Satu-satunya cara untuk mencapai tujuan ini adalah apabila gereja dapat bekerjasama dengan dunia.	Tekanan misi bukanlah masalah surga karena surga adalah &#8220;urusan Allah.&#8221;  Tentang hal ini Song berkata, &#8220;Kita tidak boleh mencampurinya karena kita hanya akan dapat merusaknya&#8221;.   (12) Tekanan misi harus dititik-beratkan pada kepentingan manusia dan dunia.  Rene Padila dalam ceramahnya &#8220;Evangelization &#38; The World&#8221; ketika mengatakan bahwa seluruh injil untuk seluruh manusia dan seluruh dunia, ia memaksudkannya sebagai pemulihan Allah yang tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial.  Ia menegaskan bahwa injil harus menjadi hub ungan manusia dengan &#8220;dunia-dunia dimana Kristus mati&#8221;. (13)</p>
<p>Hal ini memunculkan strategi baru dalam metodologi misi yang kemudian sangat dikenal dengan istilah dialog antar agama.  Victor I. Tanja mengatakan bahwa metodologi misi yang paling sesuai dan kontekstual dengan Indonesia pada saat ini adalah dialog dan bukan penginjilan.   (14) Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa dialog bersifat lebih rasional dan dapat diterima dalam setiap element yang berbeda karena mampu menciptkan sikap saling keterbukaan, belajar satu dengan yang lain, saling memberi, tumbuh bersama untuk mencapai tujuan.  Tujuan tersebut adalah: terciptanya harmoni dan kesejahteraan  umat manusia.  Akibat pemahaman metodologi misi yang demikian maka segala resiko yang mungkin terjadi dalam setiap kesempatan harus dipandang sebagai jalan terbaik.  Salah seorang teolog reformed yang terpengaruh dengan gerakan pluralisme ini adalah Prof. JG. Davis mengatakan bahwa, &#8220;…Kita harus rela menghadapi suatu resiko, apabila menemukan bahwa iman agama lain itu lebih baik/benar dari pada iman Kita sendiri…&#8221;. (15)</p>
<p>Pada kenyataanya metodologi misi ini yang lazim dikenal di Indonesia sebagai dialog antar umat beragama (inter-faith dialog) lebih banyak menghasilkan &#8216;pertobatan&#8217; kristen terhadap iman agama lain.  Di Inggris dan negara-negara lain di Eropa semakin marak dengan ucapan dan ungkapan pengakuan orang-orang berlabel kristen terhadap &#8216;iman yang benar&#8217; dalam agama lain tersebut.  Malcolm Archeson, Vicarius gereja Tisbury-England mengatakan bahwa Tuhan orang Islam dan Tuhan orang kristen adalah sama.   (16) Sebuah pernyataan yang sangat sulit untuk diucapkan oleh non-kristen sendiri.</p>
<p>Sesungguhnya kita diingatkan kembali kepada misi Tuhan Yesus Kristus ketika IA masih berada di dalam dunia ini, dari awal kehidupan dan pelayanan-Nya hingga kenaikan-Nya ke sorga.   Ia pernah berkata bahwa kedatangan-Nya adalah untuk mencari domba-domba yang tersesat (Matius 18:12-14).  Bahkan Ia menyatakan bagaimana seharusnya umat-Nya mengaku iman percaya mereka kepada-Nya, &#8220;Setiap orang yang mengakui Aku dihadapan manusia, Aku juga mengakuinya didepan Bapa-Ku yang di sorga.  Tetapi barangsiapa  menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-ku yang di sorga.&#8221; (Matius10:32,33).</p>
<p>Dalam terang kebenaran Alkitab misi dalam konsep pluralisme adalah suatu upaya untuk membangun dunia demi kesejahteraan dan kemaksmuran bersama tanpa memperhatikan hal-hal di luar batas kemampuan manusia untuk mengatasinya yaitu dosa dan segala akibatnya. Tentu saja hal ini akan sangat fatal akibatnya…dan mungkin hanya merupakan pengulangan  sejarah dari Menara Babel di dalam kitab Kejadian 11:1-10!!</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Pluralisme menolak finalitas Kristus yang merupakan dasar dari iman kristen.  Juga pluralisme merupakan suatu ajaran &#8220;anti Kristus&#8221; yang menyamakan bahkan menggantikan Kristus dari Nazareth dengan &#8220;kristus-kristus palsu&#8221; atau &#8220;kristus yang kosmis panteistis.&#8221;  Satu hal penting yang tidak dapat disangkali  bahwa pemahaman ini justeru muncul dari dalam kekristenan sendiri melalui oknum-oknum tertentu yang pengaruhnya tidak hanya di dalam tembok kekritenan lokal saja melainkan telah mendunia.  Pada masa sekarang keberadaan ajaran inipun terus mendapat kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya seiring dengan semangat humanisme global modern.</p>
<p>Gereja harus menolak pluralisme karena bersifat sinkretis; mencampuradukkan segala macam ajaran agama yang diyakini memiliki kebenaran-kebenaran tertentu yang saling melengkapi.  Gereja harus sadar akan bahaya dan fenomena dari ajaran ini yang dalam konteks kultural cukup mendapat angin untuk berkembang dengan subur dan kemudian merongrong wibawa kekristenan.  Pluralisme perlu diwaspadai khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk dan potensial menjadi lahan yang subur untuk berkembang dan menghambat serta mengancam kelangsungan eksistensi dan misi kristen yang tergantung pada fondasi keunikan dan finalitas Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Mediator Keselamatan.  Umat Tuhan yang sejati  perlu dengan bijaksana dan berhikmat mengingat akan kata-kata dari sang Juru Selamat sendiri: &#8220;<strong>Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.  Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14:6).&#8221;</strong></p>
<p><strong>Catatan: </strong></p>
<p><strong> </strong>(1) Paul F. Knitter,  <em>No Other Name?</em> (New York: Orbis Books, 1982).  P. 37.<br />
(2) David Ndoen,  <em>Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme</em> (makalah, 1995).  P. 1.  Bersifat &#8220;atomis&#8221; menunjukkan kepada suatu pemahaman bahwa segala sesuatu yang berkembang berasal dari satu ledakan inti.  Hal ini untuk menggambarkan bahwa keberagaman agama dan kepercayaan sebenarnya berakar dari satu inti  yang sama.   Sedangkan bersifat &#8220;oseanis&#8221; untuk menggambarkan bahwa segala sesuatu itu mengalir ke satu tujuan yang sama dimana manusia tidak berkuasa untuk memilah-milah mana yang benar dan yang salah karena pada dasarnya segala sesuatunya itu sudah ada filternya tersendiri.<br />
(3)  Choan Seng Song,  <em>Allah Yang Turut Menderita</em> (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993).  P. 81<br />
(4) Paul F. Knitter, <em>No Other Name?</em> halaman. 25.<br />
(5) Victor I. Tanja,  <em>Spiritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia</em>.  (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994).  Halaman 123-124.<br />
(6) R.B. Kuyper,  <em>For Whom Did Christ Die?</em> (Grand Rapids: Baker Book House, 1959).  Pp.13-14.<br />
(7) Yarman Halawa, <em>Karya Keselamatan Yang Efektif Bagi Umat Pilihan Allah Dan Relevansinya Dalam Misi: Sorotan Terhadap Gerakan Misi Arminianisme dan Universalisme.</em> (Pacet: Skripsi S1, 1999).  Halaman 84.<br />
(8) John Hick &#38; Paul F. Knitter,  <em>The Myth Of Christian Uniqueness.</em> (London: SCM, 1987).  Pp. 214-215.<br />
(9)  Untuk lebih jelas lihat  Lilian Tedjasudhana.  <em>Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan Keselamatan Satu-Satunya,</em> (Jakarta: Yayasa Bina Kasih/OMF, 1996).  Judul asli: <em>What&#8217;s So Unique About Jesus?</em><br />
(10) Knitter, p. 41.<br />
(11)  Song,  halaman 90.<br />
(12)  Ibid., halaman 89-91.<br />
(13)  Gerald H. Anderson &#38; Thomas F. Stransky.,  <em>Missions Trends No. 2: Evangelization</em>.  (Grand Rapids: Paulist Press, Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1978).  Pp. 46, 52-55).<br />
(14) Lihat Tanja, halaman 4-6.<br />
(15)  J.D. Douglas, ed.  <em>Let The Eartyh Hear His Voice. </em>(Minneapolis: Worldwide Publishers, 1975). P. 72.<br />
(16) Herlianto,  <em>Gereja Modern Mau Kemana?</em> (Bandung: Yabina, 1995).  Halaman 78.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>KEPUSTAKAAN</strong><br />
Alkitab<br />
Anderson, Gerald H. &#38; Stransky, Thomas F.,  <em>Missions Trends No. 2: Evangelization</em>.<br />
Grand Rapids:  Paulist Press, 1978.<br />
Douglas, JD.,  <em>Let The Earth Hear His Voice.</em> Minneapolis: Worldwide Pub. 1975.<br />
Hick, John &#38; Knitter, Paul F.,  <em>The Myth of Christian Uniqueness</em>.  London: SCM, 1987.<br />
Herlianto.,  <em>Gereja Modern Mau Kemana?</em>.  Bandung: Yabina, 1995.<br />
Halawa, Yarman., <em>Karya keselamatan yang Efektif bagi Umat Pilihan Allah Dan<br />
Relevansinya Dalam Misi: Sorotan terhadap Gerakan Misi Arminianisme Dan Universalisme</em> (<strong>skripsi S1</strong>).                         Pacet:  STTIAA, 1999.<br />
Kuyper, RB.,  For Whom Did Christ Die?  Grand Rapids:  Baker Book House, 1959.<br />
Knitter, Paul F.,  No Other Name?  New York: Orbis Books, 1985.<br />
Ndoen, David.,  Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme (makalah).  Sihanjung, 1995.<br />
Song, Choan Seng.,  <em>Allah Yang Turut Menderita.</em> Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1993.<br />
Tanja, Victor I.,  <em>Spiritualitas, Pluralitas Dan Pembangunan Di Indonesia.</em> Jakarta:<br />
BPK Gunung Mulia, 1994.<br />
Tedjasudhana, Lilian.,  <em>Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan keselamatan Yang<br />
Satu-Satunya.</em> Jakarta:  Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1996.  Judul asli: <em>What So Unique About Jesus?.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kiai Muda NU vs Ulil JIL]]></title>
<link>http://sangcinta.wordpress.com/2009/10/28/kiai-muda-nu-vs-ulil-jil/</link>
<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 01:53:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>masmulyalmahmud</dc:creator>
<guid>http://sangcinta.wordpress.com/2009/10/28/kiai-muda-nu-vs-ulil-jil/</guid>
<description><![CDATA[Kesimpulan Forum Tabayyun dan Dialog Terbuka Antara Jaringan Islam Liberal dan Forum Kiai Muda (FKM)]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:left;">Kesimpulan Forum Tabayyun dan Dialog Terbuka<br />
Antara Jaringan Islam Liberal dan Forum Kiai Muda (FKM) NU Jawa Timur<br />
Di PP Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur<br />
Ahad, 11 Oktober 2009<br />
<img class="aligncenter size-medium wp-image-8" title="nu" src="http://sangcinta.wordpress.com/files/2009/10/nu.jpg?w=300" alt="nu" width="300" height="180" /><br />
Dewasa ini sedang berlangsung perang pemikiran (ghazwul fikri) pada tataran global. Melalui sejumlah kampanye dan agitasi pemikiran, seperti perang melawan terorisme dan promosi ide-ide liberalisme politik dan ekonomi neo-liberal, Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia berupaya menjinakkan ancaman kelompok-kelompok radikal, memanas-manasi pertikaian di antara kelompok radikal dan moderat dalam tubuh umat Islam, serta menyeret umat Islam dan bangsa ini ikut menjadi proyek liberal mereka. <!--more--></p>
<p>Dengan memperhatikan perkembangan global tersebut, dan terdorong oleh kepentingan membela tradisi Ahlussunnah Waljamaah yang dianut oleh warga NU sebagai bagian dari identitas dan jati diri bangsa ini, Forum Kiai Muda Jawa Timur memberikan kesimpulan tentang hasil-hasil dialog dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Sdr. Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya tidak memiliki landasan teori yang sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak berupa kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan hanya sebagai pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung musim dan waktu (zhuruf), dan pesan sponsor yang tidak berakar dalam tradisi berpikir masyarakat bangsa ini.</li>
<li>Pada dasarnya pemikiran-pemikiran JIL bertujuan untuk membongkar kemapanan beragama dan bertradisi kaum Nahdliyin. Cara-cara membongkar kemapanan itu dilakukan dengan tiga cara: (1) Liberalisasi dalam bidang akidah; (2) Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran; dan, (3) Liberalisasi dalam bidang syariat dan akhlak.</li>
<li>Liberalisasi dalam bidang akidah yang diajarkan JIL, misalnya bahwa semua agama sama, dan tentang pluralisme, bertentangan dengan akidah Islam Ahlussunnah Waljamaah. Warga NU meyakini agama Islam sebagai agama yang paling benar, dengan tidak menafikan hubungan yang baik dengan penganut agama lainnya yang memandang agama mereka juga benar menurut mereka. Sementara ajaran pluralisme yang dimaksud JIL berlainan dengan pandangan ukhuwah wathaniyah yang dipegang NU yang mengokohkan solidaritas dengan saudara-saudara sebangsa. NU juga tidak menaruh toleransi terhadap pandangan-pandangan imperialis neo-liberalisme Amerika yang berkedok “pluralisme dan toleransi agama”.</li>
<li>Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran yang diajarkan JIL, misalnya al-Quran adalah produk budaya dan keotentikannya diragukan, tentu berseberangan dengan pandangan mayoritas umat Islam yang meyakini al-Quran itu firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan terjaga keasliannya.</li>
<li>Liberalisasi dalam bidang syari’ah dan akhlak di mana JIL mengatakan bahwa hukum Tuhan itu tidak ada, jelas bertolak belakang dengan ajaran Al Quran dan Sunnah yang mengandung ketentuan hukum bagi umat Islam. JIL juga mengabaikan sikap-sikap tawadhu’ dan akhlaqul karimah kepada para ulama dan kiai. JIL juga tidak menghargai tradisi pesantren sebagai modal sosial bangsa ini dalam mensejahterakan bangsa dan memperkuat Pancasila dan NKRI.</li>
<li>Ide-ide liberalisasi, kebebasan dan hak asasi manusia (HAM) yang diangkat oleh kelompok JIL dalam konteks NU dan pesantren tidak bisa dilepaskan dari Neo-Liberalisme yang berasal dari dunia kapitalisme, yang menghendaki agar para kiai dan komunitas pesantren tidak ikut campur dalam menggerakkan tradisinya sebagai kritik dan pembebasan dari penjajahan dan kerakusan kaum kapitalis yang menjarah sumber-sumber daya alam bangsa kita.</li>
<li>JIL cenderung membatalkan otoritas para ulama salaf dan menanamkan ketidakpercayaan kepada mereka, sementara di sisi lain mereka mengagumi pemikiran orientalis Barat dan murid-muridnya, seperti Huston Smith, John Shelby Spong, Nasr Hamid Abu Zaid, dan sebagainya.</li>
<li>Menghadapi pemikiran-pemikiran JIL tidak dilawan dengan amuk-amuk dan cara-cara kekerasan, tapi harus melalui pendekatan yang strategis dan taktis, dengan dialog-dialog dan pencerahan.</li>
</ol>
<p style="text-align:left;">
Forum Kiai Muda Jawa Timur,<br />
Tulangan, Sidoarjo, 11 Oktober 2009<br />
<em>sumber : swaramuslim.com</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bantahan JIL : Pluralisme, Bukan Islam yang Paling Benar]]></title>
<link>http://kaahil.wordpress.com/2009/10/25/bantahan-jil-pluralisme-bukan-islam-yang-paling-benar/</link>
<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 22:00:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>dr.Abu Hana :: أبو هـنـأ  ألفردان ::</dc:creator>
<guid>http://kaahil.wordpress.com/2009/10/25/bantahan-jil-pluralisme-bukan-islam-yang-paling-benar/</guid>
<description><![CDATA[Membongkar Kedok Jaringan Iblis Liberal &#8211; Memuja akal Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mencipta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Membongkar Kedok Jaringan Iblis Liberal &#8211; Memuja akal Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mencipta]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENDIDIKAN PLURALIS DAN ISLAM]]></title>
<link>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/24/pendidikan-pluralis-dan-islam/</link>
<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 08:24:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>wawankardiyanto</dc:creator>
<guid>http://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/24/pendidikan-pluralis-dan-islam/</guid>
<description><![CDATA[PENDIDIKAN PLURALIS DAN ISLAM (Menuju Pendidikan Agama Islam Berbasis Pluralitas) Latar Belakang Ban]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:left;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-197" title="images" src="http://wawankardiyanto.wordpress.com/files/2009/10/images4.jpg" alt="images" width="178" height="134" />PENDIDIKAN PLURALIS</strong><strong> DAN ISLAM</strong> (Menuju Pendidikan Agama Islam Berbasis Pluralitas)</p>
<p align="center">
<p>Latar Belakang</p>
<p>Banyak para ‘ahli dan pemuka agama’ telah berusaha dengan segala cara demi terciptanya hubungan yang mesra dan harmonis diantara umat beragama, di negeri Indonesia yang terkenal sangat pluralistik ini. Melalui tulisan-tulisan baik buku, majalah, jurnal bahkan melalui seminar dan mimbar-mimbar ‘khutbah’—mereka senantiasa menyarankan akan arti pentingnya kerjasama dan dialog antar umat beragama. Meskipun  nampaknya, saran-saran mereka belum memiliki ‘efek’ yang begitu menggembirakan.</p>
<p>Seringnya konflik dan pertikaian yang menggunakan ‘baju agama’, merebaknya aksi-aksi teroris, pembakaran dan pengrusakan sarana dan tempat-tempat ibadah di negara kita, masih saling curiga mencurigai antara umat Islam dan Kristen serta kepada agama-agama lainya, cukup membuktikan kegagalan para penganjur ‘perdamaian’ tersebut. Meskipun begitu, ‘doktrin’ perdamaian dan persahabatan ini harus senantiasa kita teruskan, kemudian kita coba kembangkan dan dakwahkan, melalui strategi-strategi baru yang lebih efektif dan relevan, kepada saudara-saudara kita, teman-teman dan peserta didik kita kapan pun dan dimana pun kita berada.</p>
<p>Untuk memperoleh keberhasilan bagi terealisasinya tujuan mulia yaitu perdamaian dan persaudaraan abadi di antara orang-orang yang pada realitasnya memang memiliki agama dan iman berbeda, perlulah kiranya adanya keberanian mengajak mereka  melakukan perubahan-perubahan di bidang pendidikan —terutama sekali melalui kurikulumnya yang berbasis keanekaragaman (pluralistas). Sebab, melalui kurikulum seperti ini, memungkinkan untuk bisa  ‘membongkar’ teologi agama masing-masing yang selama ini cenderung ditampilkan secara eklusif dan dogmatis. Sebuah teologi yang biasanya hanya mengklaim bahwa hanya agamanya yang bisa membangun kesejahteraan duniawi dan mengantar manusia dalam surga Tuhan. Pintu dan kamar surga itu pun hanya satu yang tidak bisa dibuka dan dimasuki kecuali dengan agama yang dipeluknya.</p>
<p>Padahal berteologi semacam itu, harus kita akui, sebagai sesuatu yang sangat menghawatirkan  dan dapat mengganggu keharmonisan masyarakat agama-agama dalam era pluralistik sekarang. Suatu era dimana seluruh masyarakat dengan segala unsurnya dituntut untuk dapat saling tergantung dan menaggung nasib secara bersama-sama demi terciptanya perdamaian abadi. Disinilah letak ‘tantangan’ bagi agama (termasuk Islam) untuk kembali mendefenisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Atau dengan meminjam bahasanya John Lyden, seorang ahli agama-agama, adalah “<em>what should one think about religions other than one’s own</em>? Apa yang harus dipikirkan oleh seorang muslim terhadap non-Muslim. Apakah masih sebagai seorang musuh atau sebagai seorang sahabat. Tentu saja masih adanya anggapan satu agama dengan yang lain sebagai musuh, harus dibuang jauh-jauh. Bukankah pada hakikatnya kita semua adalah sebagai seorang ‘saudara’ dan ‘sahabat’ dalam menghampiri yang mutlak? Bahkan, Islam melalui Al-Qur’an dan Hadistnya juga mengajarkan sikap-sikap toleran seperti ini bukan?</p>
<p><!--more--></p>
<p>Untuk bisa memperoleh pemahaman yang sejuk dan bisa menganggap orang lain sebagai ‘partner’ dalam menuju Tuhan, antara Islam dan non-Muslim di samping harus menampilkan teologi yang inklusif dan ramah, mereka juga harus memasuki dialog antaragama dengan mencoba memahami cara baru yang mendalam mengenai bagaimana Tuhan mempunyai jalan ‘penyelamatan’. Dalam konteks ini, tentu saja pengajaran agama Islam yang diajarkan di sekolah-sekolah harus memuat kurikulum berbasis keanekaragaman. Pendidikan agama Islam yang diberikan kepada siswa tidak menciptakan suatu pemahaman yang tunggal, melainkan kurikulum pendidikan yang dapat menunjang proses siswa menjadi manusia yang demokratis, pluralis dan menekankan penghayatan hidup serta refleksi untuk menjadi manusia yang utuh. Kurikulumnya mestilah mencakup subjek seperti: toleransi, Aqidah Inklusif, Fiqih Muqarran dan perbandingan agama serta tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama: bahaya diskriminasi: penyelesaian konflik dan mediasi: HAM; demokrasi dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan. Inilah sebuah kurikulum,  yang mampu menghantarkan peserta didik untuk melakukan dialog antaragama dan mampu memasuki persoalan-persoalan teologis dan melibatkan iman. Karena dialog yang sejati mustahil dilakukan tanpa memasuki persoalan-persoalan teologis dan melibatkan iman. Sehingga pada akhirnya setiap umat Islam akan mampu melakukan apa yang disebut John S. Dunne dengan “melintas” (“<em>passing over</em>”), melintas dari satu budaya kepada budaya lain, dari satu cara hidup kepada cara hidup lain, dari satu agama kepada agama lain. Ini diikuti oleh proses yang sama dan berlawanan yang kita sebut “kembali” (“<em>coming back</em>”), kembali dengan wawasan baru kepada budaya sendiri, cara hidup sendiri, agama sendiri.</p>
<p>Perlunya memperbaharui dan mengembangkan kurikulum PAI yang berbasis keanekaragaman tersebut dengan suatu pertimbangan kurikulum dan metode merupakan elemen penting dalam proses belajar mengajar. Berhasil dan tidaknya suatu tujuan pendidikan tergantung kurikulum yang dipersiapkan dan metode yang digunakannya. Tidak relevannya kurikulum dan metode yang dikembangkan di suatu sekolah dengan realitas kehidupan yang dialami oleh siswa, menyebabkan siswa teraliniasi dari lingkungannya alias tidak bisa peka terhadap perkembangan yang terjadi disekitarnya. Hal ini berarti, dalam konteks globalisasi, sekolah tersebut telah “gagal” untuk mengantarkan peserta didiknya untuk menjadi “anak” yang cerdas, tanggap dan dapat bersaing dipasaran bebas.</p>
<p>Selain itu, pentingnya mereformasi kurikulum PAI dengan menampilkan wajah Islam toleran dapat dijelaskan dari sudut pandang filsafat perenialisme, esensialisme dan progresifisme. Dalam pandangan perenialisme kurikulum adalah &#8220;<em>construct</em>&#8221; yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan. Sementara dalam prespektif filsafat progresivisme, posisi kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa depan di mana kehidupan masa lalu, masa sekarang, dan berbagai rencana pengembangan dan pembangunan bangsa dijadikan dasar untuk mengembangkan kehidupan masa depan. Dari sinilah sangat memungkinkan untuk mengajarkan prinsip –prinsip ajaran Islam yang humanis, demokratis dan berkeadilan kepada peserta didik. Sebuah prinsip-prinsip ajaran Islam yang sangat relevan untuk memasuki masa depan dunia yang ditandai dengan adanya keanekaragaman budaya dan agama.<br />
<strong>Pluralisme dan Pluralitas dalam Kritik Umat Islam </strong></p>
<p>Istilah Pluralisme (agama) sebenarnya mengandung 2 (dua) makna sekaligus, Pertama, deskripsi realitas bahwa di sana ada keanekaragaman agama. Kedua, perspektif atau pendirian filosofis tertentu menyikapi realitas keanekaragaman agama yang ada. Pluralisme modern memang dimulai dari kalangan Kristen yang melepaskan pandangan bahwa di luar Kristus tak ada keselamatan. Fatwa ini baru diumumkan setelah Konsili Vatikan ke II tahun 1965. Sikap ini memerlukan pembenaran ilmiah yang rasional. Karena itulah maka dikembangkan teori pluralisme agama yang dilakukan oleh teolog-teolog, seperti John Hick, Hans Kung dan Leonard Swidler, untuk menyebut tiga tokoh nyang terkemuka. Pandangan pluralisme ternyata sudah lama ditemukan oleh para sufi, seperti al Hallaj, Ibn al Arabi dan Jalaluddin Rumi. Belakangan di zaman modern, teori pluralisme dalam Islam juga dikembangkan oleh pemikir-pemikir Muslim kontemporer, seperti F. Schuon, Sayed Hossen Nasr, Hasan Askari dan Abdulaziz Sachedina.</p>
<p>Menurut Josh McDowell definisi pluralisme bisa dimaknai menjadi dua macam; Pertama, pluralisme tradisional (<em>Social Pluralism</em>) yang kini disebut <em>negative tolerance</em>. Pluralisme ini didefinisikan sebagai <em>respecting others beliefs and practices without sharing them</em> (menghormati keimanan dan praktik ibadah pihak lain tanpa ikut serta (<em>sharing</em>) bersama mereka). Kedua, pluralisme baru (<em>Religious Pluralism</em>) disebut dengan <em>positive tolerance</em> yang menyatakan bahwa <em>“every single individual’s beliefs, values, lifestyle, and truth claims are equal</em>” (setiap keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran dari setiap individu, adalah sama (equal).  (http : // www. ananswer. org/mac/ answering pluralism. html, diakses 11/06/05).</p>
<p>Dari pengertian pluralisme agama McDowell di atas, menurut M. Shiddiq Al-Jawi seorang alumnus dari pondok pesantren Al Azhar dalam artikelnya di Informatika, 10 Januari 2006, pluralisme jelas bukan sekedar fakta, tapi sudah menyangkut opini, yaitu suatu sikap atau pandangan filosofis tertentu dalam menilai fakta. Pendirian filosofis itu nampak dari penilaian, bahwa semua keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran, adalah sama/setara (equal). Maka dari itu, adalah suatu penyesatan atau disinformasi yang disengaja, kalau dikatakan bahwa pluralisme adalah hukum Tuhan atau <em>sunnatullah</em>. Benar, bahwa adanya keanekaragaman realitas, itu sunnatullah. Tapi perspektif atau pendirian filosofis tertentu menyikapi realitas plural itu, jelas bukan sunnatullah yang bersifat universal, melainkan suatu pendapat yang unique dan mengandung nilai atau pandangan hidup tertentu (<em>value-bound</em>).</p>
<p>Sebagai jalan keluar dan upaya klarifikasi, sebaiknya digunakan dua istilah, yaitu pluralitas, yang menunjuk pada fakta adanya kemajemukan, dan pluralisme, yang menunjuk pada opini atau perspektif tertentu dalam memandang realitas plural yang ada.</p>
<p>Terlepas dari itu, wacana pluralisme agama yang marak dewasa ini memang patut dikritisi secara cermat. Sebab di samping ada kerancuan pengertian seperti  dijelaskan di atas (dalam pluralisme itu terkandung deskripsi fakta dan pendirian filosofis sekaligus), juga ada beberapa hal lain yang patut untuk dikritisi. Setidaknya ada 4 (empat) poin kritik terhadap pluralisme agama menurut M. Shiddiq Al-Jawi:</p>
<p><em>Pertama</em>, aspek normatif. Secara normatif, yaitu dari kacamata Aqidah Islamiyah, pluralisme agama bertentangan secara total dengan Aqidah Islamiyah. Sebab pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah benar. Jadi, Islam benar, Kristen benar, Yahudi benar, dan semua agama apa pun juga adalah sama-sama benar. Ini menurut Pluralisme. Adapun menurut Islam, hanya Islam yang benar (QS 3:19), agama selain Islam adalah tidak benar dan tidak diterima oleh Allah SWT (QS 3:85).</p>
<p>Biasanya para penganjur pluralisme berdalil dengan QS 2:62 dan QS 5:69. Dalam QS 2:62 Allah berfirman (artinya) :</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiin, barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala dari Tuhan mereka dan tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS Al-Baqarah : 62)</em></p>
<p>Ayat itu oleh kaum pluralis-inklusif, dipahami sebagai pembenaran agama selain Islam, yaitu Yahudi, Kristen, dan Shabiin. Jadi, Islam, Yahudi, Kristen, Shabiin sama-sama benarnya.</p>
<p>Pemahaman seperti itu salah, karena dua alasan. Pertama, pemahaman itu mengabaikan ayat-ayat lain yang menjelaskan kekafiran golongan Yahudi dan Nasrani, misalnya ayat dalam QS Al-Bayyinah atau QS 5:72-75. Jadi, pemahaman kaum pluralis itu didasarkan pada metode penafsiran yang mengucilkan satu ayat, lalu ayat itu dipenjara dalam satu kotak sempit (bernama pluralisme), sementara ayat-ayat lain diabaikan begitu saja. Kedua, orang Yahudi, Kristen, dan Shabiin yang selamat, maksudnya adalah mereka yang beriman dan menjalankan amal saleh secara benar sebelum datangnya Muhammad SAW. Bukan setelah diutusnya Muhammad SAW (orang Kristen dan Yahudi sekarang). Sababun Nuzul ayat ini sebagaimana diriwayatkan Al-Wahidi dan As-Suyuthi, adalah adanya pertanyaan dari sahabat bernama Salman Al-Farisi RA kepada Nabi SAW tentang nasib kawan-kawannya dulu (Kristen) sebelum dia masuk Islam. Nabi menjawab, “Mereka di neraka.” Lalu turunlah ayat di atas yang menerangkan nasib baik mereka kelak di Hari Kiamat (Lihat kitab <em>Lubabun Nuqul</em>, As Suyuthi, dan <em>Asbabun Nuzul</em>, Al-Wahidi)</p>
<p><em>Kedua</em>, aspek orisinalitas. Asal-usul paham pluralisme bukanlah dari umat Islam, tapi dari orang-orang Barat, yang mengalami trauma konflik dan perang antara Katolik dan Protestan, juga Ortodok. Misalnya pada 1527, di Paris terjadi peristiwa yang disebut <em>The St Bartholomeus Day‘s Massacre</em>. Pada suatu malam di tahun itu, sebanyak 10.000 jiwa orang Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan semacam inlah yang lalu mengilhami revisi teologi Katolik dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Semula diyakini bahwa <em>extra ecclesiam nulla salus (outside the church no salvation), </em>tak ada keselamatan di luar gereja. Lalu diubah, bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja ada di luar gereja (di luar  agama Katolik/Protestan). Jadi, paham pluralisme agama ini tidak memiliki akar sosio historis yang genuine dalam sejarah dan tradisi Islam, tapi diimpor dari setting sosio historis kaum Kristen di Eropa dan AS.</p>
<p><em>Ketiga</em>, aspek inkonsistensi gereja. Andaikata hasil Konsili Vatikan II diamalkan secara konsisten, tentunya gereja harus menganggap agama Islam juga benar, tidak hanya agama Kristen saja yang benar. Tapi, fakta menunjukkan bahwa gereja tidak konsisten. Buktinya, gereja terus saja melakukan kristenisasi yang menurut mereka guna menyelamatkan domba-domba yang sesat (baca: umat Islam) yang belum pernah mendengar kabar gembira dari Tuhan Yesus. Kalau agama Islam benar, mengapa kritenisasi terus saja berlangsung? Ini artinya, pihak Kristen sendiri tidak konsisten dalam menjalankan keputusan Konsili Vatikan II tersebut.</p>
<p><em>Keempat</em>, aspek politis. Secara politis, wacana pluralisme agama dilancarkan di tengah dominasi kapitalisme yang Kristen, atas Dunia Islam. Maka dari itu, arah atau sasaran pluralisme patut dicurigai dan dipertanyakan, kalau pluralisme tujuannya adalah untuk menumbuhkan hidup berdampingan secara damai (<em>co-existence peacefull</em>), toleransi, dan hormat menghormati antar umat beragama. Menurut Amnesti Internasional, AS adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Sejak Maret 2003 ketika AS menginvasi Irak, sudah 100.000 jiwa umat Islam yang dibunuh oleh AS. Jadi, pertanyaannya, mengapa bukan AS yang menjadi sasaran penyebaran paham pluralisme? Mengapa umat Islam yang justru dipaksa bertoleransi terhadap arogansi AS? Bukankah AS yang sangat intoleran kepada bangsa dan umat lain, khususnya umat Islam? Bukankah tentara AS di Guantonamo (Kuba) yang membuang Al Qur‘an ke dalam WC? Mengapa umat Islam yang justru dipaksa ramah, tersenyum, dan toleran kepada AS, padahal justru umat Islamlah yang menjadi korban hegemoni AS yang biadab, kejam, brutal, sadis, dan tak berperikemanusiaan?</p>
<p>Dari keempat kritiknya terhadap pluralisme di atas, M. Shiddiq Al-Jawi berpendapat kiranya dapat dipetik suatu kesimpulan yang berharga, bahwa ide pluralisme agama wajib ditolak. Sebab ide tersebut bertentangan secara normatif dengan Aqidah Islam, tidak orisinal alias palsu karena tumbuh dalam setting sosio historis Barat, diimplementasikan secara inkonsisten, dan membahayakan umat Islam secara politis, karena akan membius umat agar tidak sadar telah diinjak-injak oleh hegemoni AS. Tujuan akhir dari konsep pluralisme agama sangat mudah dibaca, yaitu agar umat Islam hancur Aqidahnya, sehingga hegemoni kapitalisme yang kafir atas Dunia Islam semakin paripurna dan total. Karena Barat sangat memahami, bahwa Aqidah Islam adalah rahasia atau kunci vitalitas dan kebangkitan umat Islam. Maka kalau tidak segera dihancurkan, umat Islam akan bisa menjadi potensi ancaman serius untuk hegemoni Barat di masa datang. Maka sebelum umat Islam bangkit, Aqidah Islam dalam dada mereka harus dihancurkan dan dimusnahkan, agar umat Islam takluk dan tunduk patuh sepenuh-penuhnya kepada kaum penjajah kafir. Itulah tujuan sebenarnya dari wacana pluralisme agama ini, tidak ada yang lain.</p>
<p>Memang nafas kecurigaan besar yang tergambarkan dari empat refleksi M. Shiddiq Al-Jawi dalam menyikapi paham pluralisme agama tersebut dalam satu sisi dapat dibenarkan dan dipahami, tetapi dalam sisi yang lain ada “ketidakbenaran” yang mesti kita cermati yaitu sikap phobia berlebihan terhadap segala hal yang berbau Barat yang sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan. Memang kita umat Islam perlu waspada terhadap perang peradaban (<em>gazwul fikri</em>) yang sangat luar biasa dalam abad 21 ini, terlebih-lebih terhadap wacana perkembangan teori-teori dan konsep-konsep sosial. Tetapi kewaspadaan yang berlebihan hanya akan menghancurkan kita sendiri sebab hal itu akan memunculkan sikap pembelaan yang menutup diri (<em>eklusifisme</em>) sempit yang sudah bukan jamannya itu kita lakukan. Kewaspadaan yang baik perlu diimbangi dengan kewaskitaan yang baik pula. Waspada yang waskita adalah rumus dalam mengkritisi perang peradaban saat ini.</p>
<p>Bagi penulis ada beberapa kritik terhadap Pluralisme yang lebih baik dilakukan terhadapnya, Nasir Dimyati misalnya dari versi Syiah dalam artikelnya yang berjudul <em>Pluralisme Agama</em> tertanggal 24 April 2007 di http//islamalternatif.com/t_blank, secara panjang lebar mengkritisi fenomena pluralisme. John Hick –orang pertama yang mencetuskan atau yang menuangkan pluralisme—dalam bukunya berusaha memberi argumen atas teori ini, yaitu sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Dengan bersandar pada pemisahan antara nomena dan fenomena (antara kenyataan apa adanya dan kenyataan yang muncul di benak manusia) dan pada anggapan bahwa sesungguhnya inti semua agama adalah pengaruhnya dalam merubah kehidupan manusia, maka agama tidak lebih hanya sebuah ekspresi psikologis manusia yang dituangkan dalam penafsiran.</li>
</ol>
<p>Berangkat dari tidak terbatasnya kebenaran mutlak atau puncak kenyataan, maka segala macam gambaran dalam agama tentang kenyataan itu sampai batas-batas tertentu bisa dibenarkan. Hal ini bisa dianalogikan dengan cerita gajah dan beberapa orang buta. Mereka, ketika disuruh menceritakan bentuk gajah, akan memberi jawaban yang berbeda-beda.</p>
<p>Ada yang menyatakan bahwa gajah seperti pohon besar (karena ia hanya menyentuh kaki gajah), ada yang mengatakan bahwa gajah seperti kipas tebal dan lebar (karena ia memegang kuping gajah), dan lain-lain. Pada hakikatnya kata-kata yang digunakan untuk menceritakan ekspresi seseorang akan kenyataan adalah metafora belaka yang cepat mengubah kehidupan manusia, begitu pula halnya agama.</p>
<ol>
<li>Karena Tuhan Maha baik dan merindukan hamba-Nya, konsekuensinya adalah Dia harus menunjukkan hamba-Nya kepada jalan yang benar sehingga mencapai keselamatan. Oleh karena itu, tidak bisa dikatakan bahwa kebenaran hanya satu atau dua dan yang lain dalah kesesatan sementara disaat yang sama diyakini adanya kebaikan, dan petunjuk Tuhan yang tidak terbatas.</li>
<li>Variasi dalam memahami teks suci agama terjadi karena dua hal: kebisuan teks agama –seperti alam natural yang pada hakikatnya adalah sesuatu yang samar dan dapat diartikan dengan beberapa macam makna- dan pengaruh asumsi-asumsi pribadi dalam menafsirkan teks agama. Oleh karena itu, semua penafsiran itu menggambarkan kebenaran dalam teks tersebut. Akibatnya, tidak ada satu penafsiran pun yang dapat mengaku dirinya telah menggambarkan semua kebenaran dalam teks tersebut karena hal ini bertentangan dengan samarnya semua teks.</li>
</ol>
<p>Berbeda dengan pluralisme sebagai ideology yang ditolak oleh Islam, konsep pluralitas lebih diterima, dalam Alquran sendiri, pluralitas adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau <em>Sunnah Allah</em>, dan bahwa hanya Allah yang tahu dan dapat menjelaskan, di hari akhir nanti, mengapa manusia berbeda satu dari yang lain, dan mengapa jalan manusia berbeda-beda dalam beragama. Dalam al-Qura’an disebutkan, yang artinya: “Untuk masing-masing dari kamu (umat manusia) telah kami tetapkan Hukum (Syari’ah) dan jalan hidup (minhaj). Jika Tuhan menghendaki, maka tentulah ia jadikan kamu sekalian umat yang tunggal (monolitk). Namun Ia jadikan kamu sekalian berkenaan dengan hal-hal yang telah dikarunia-Nya kepada kamu. Maka berlombalah kamu sekalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah-lah tempat kalian semua kembali; maka Ia akan menjelaskan kepadamu sekalian tentang perkara yang pernah kamu perselisihkan” (QS 5: 48).</p>
<p>Dalam kaitannya yang langsung dengan prinsip inilah Allah, di dalam Alquran, menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika ia menunjukkan keinginan dan kesediaan yang menggebu untuk memaksa manusia menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “Jika Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri? (QS 10: 99).</p>
<p>Demikianlah beberapa prinsip dasar Alqur’an yang berkaitan dengan masalah pluralisme, pluralitas dan toleransi. Paling tidak, dalan dataran konseptual, Alquran telah memberi resep atau arahan-arahan yang sangat diperlukan bagi manusia Muslim untuk memecahkan masalah kemanusiaan universal, yaitu realitas pluralitas keberagamaan manusia dan menuntut supaya bersikap toleransi terhadap kenyataan tersebut demi tercapainya perdamaian di muka bumi. Karena Islam menilai bahwa syarat untuk membuat keharmonisan adalah pengakuan terhadap komponen-komponen yang secara alamiah berbeda.</p>
<p>Melihat peran pentingnya sikap pluralitas dan toleran untuk bisa mengakui dan menghormati  “perbedaan” dan sikap seperti ini ternyata memiliki landasan teologis dari Al-Qur’an maka, konsep pluralitas seperti ini sangat penting untuk ditekankan pada peserta didik melalui pendidikan agama, sebab persoalan teologi ini sampai sekarang masih menimbulkan kebingungan di antara agama-agama. Konsep teologi yang dapat diakui oleh umat Islam dalam hubungannya dengan pluralitas adalah teologi inklusifisme bukan teologi pluralisme. Teologi inklusif ini setidaknya masih mengedepankan sikap-sikap toleran, saling menghormati, pengakuan pluralitas dengan tidak mencampuradukkan dan melebur keyakinan agama masing-masing seperti yang diwajibkan dalam teologi pluralisme.</p>
<p>Demi tujuan itu, maka pendidikan sebenarnya masih dianggap sebagai instrumen penting. Sebab, “pendidikan” sampai sekarang masih diyakini mempunyai peran besar dalam membentuk karakter individu-individu yang dididiknya, dan mampu menjadi “guiding light” bagi generasi muda penerus bangsa. Dalam konteks inilah, pendidikan agama sebagai media penyadaran umat perlu membangun teologi inklusif dan pluralis, demi harmonisasi agama-agama (yang telah menjadi kebutuhan masyarakat agama sekarang).</p>
<p>Hal tersebut dengan suatu pertimbangan, bahwa salah satu peran dan fungsi pendidikan agama diantaranya adalah untuk meningkatkan keberagamaan peserta didik dengan keyakinan agama sendiri, dan memberikan kemungkinan keterbukaan untuk mempelajari dan mempermasalahkan agama lain sebatas untuk menumbuhkan sikap toleransi (Sealy, 1986: 43-44). Ini artinya, pendidikan agama pada prinsipnya, juga ikut andil dan memainkan peranan yang sangat besar dalam menumbuh-kembangkan sikap-sikap inklusif dalam diri siswa.</p>
<p>Apalagi, kalau mencermati pernyatan yang telah disampaikan oleh Alex R. Rodger (1982: 61) bahwa “pendidikan agama merupakan bagian integral dari pendidikan pada umumnya dan berfungsi untuk membantu perkembangan pengertian yang dibutuhkan bagi orang-orang yang berbeda iman, sekaligus juga untuk memperkuat ortodoksi keimanan bagi mereka”. Artinya pendidikan agama adalah sebagai wahana untuk mengekplorasi sifat dasar keyakinan agama di dalam proses pendidikan dan secara khusus mempertanyakan adanya bagian dari pendidikan keimanan dalam masyarakat. pendidikan agama dengan begitu, seharusnya mampu merefleksikan persoalan pluralitas, dengan mentransmisikan nilai-nilai yang dapat menumbuhkan sikap toleran, terbuka dan kebebasan dalam diri generasi muda.</p>
<p>Organisasi sekolah dan atmosfirnya harus mampu mewujudkan jalan menuju kehidupan secara personal dan sosial. Sekolah harus dapat mempraktekkan sesuatu yang telah diajarkanya. Dengan demikian, lingkungan sekolah tersebut dapat dijadikan percontohan oleh murid-murid untuk <em>learning by doing</em>. Di dalam sekolah, peserta didik seharusnya dapat mempelajari adanya kurikulum-kurikulum umum di dalam kelas-kelas heterogen. Hal ini diperlukan guna mendorong adanya persamaan ideal, membangun perasaan persamaan, dan memastikan adanya input dari peserta didik yang memiliki latar belakang berbeda.</p>
<p>Adanya serentetan kerusuhan-kerusuhan yang berbau SARA di Indonesia, menunjukkan bahwa secara kolektif kita sebenarnya tidak mau belajar tentang bagaimana hidup secara bersama secara rukun. Bahkan, dapat dikatakan, agen-agen sosialisasi utama seperti keluarga dan lembaga pendidikan, tampaknya penanaman sikap toleransi-inklusif belum optimal diajarkan untuk hidup bersama dalam masyarakat plural. Di sinilah letak pentingnya pengoptimalan pengajaran teologi inklusif yang plural melalui pendidikan agama. Sehingga, masyarakat Indonesia akan mampu membuka visi pada cakrawala yang semakin luas, mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama. Inilah pendidikan akan nilai-nilai dasar kemanusiaan untuk perdamaian, kemerdekaan, dan solidaritas.</p>
<p>Melalui pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam berbasis kemajemukan dengan mempertimbangkan pengembangan komponen-komponen, bahan, metode, peserta didik, media, lingkungan, dan sumber belajar Maksud dan tujuan pendidikan pluralis, dengan begitu akan dapat dijadikan sebagai jawaban atau solusi alternatif bagi keinginan untuk merespon persoalan-persoalan di atas. Sebab dalam pendidikannya, pemahaman Islam yang hendak dikembangkan oleh pendidikan berbasis pluralis adalah pemahaman dan pemikiran yang bersifat inklusif.</p>
<p>Melalui sistem pendidikannya, sebuah pendidikan yang berbasis pluralis akan berusaha memelihara dan berupaya menumbuhkan pemahaman yang inklusif pada peserta didik. Dengan  suatu orientasi untuk memberikan penyadaran terhadap para peserta didiknya akan pentingnya saling menghargai, menghormati dan bekerja sama dengan agama-agama lain.</p>
<h3>Prinsip-Prinsip Pluralitas dalam Islam</h3>
<p>1. Pluralitas dalam Islam</p>
<p>Dalam Islam berteologi secara inklusif dengan menampilkan wajah agama secara santun dan ramah sangat dianjurkan. Islam bahkan memerintahkan umat Islam untuk dapat berinteraksi terutama dengan agama Kristen dan Yahudi dan dapat menggali nilai-nilai keagamaan melalui diskusi dan debat intelektual/teologis secara bersama-sama dan dengan cara yang sebaik-baiknya (QS al-Ankabut/29: 46), tentu saja tanpa harus menimbulkan <em>prejudice</em> atau kecurigaan di antara mereka.</p>
<p>Karena menurut al-Qur’an sendiri, sebagai sumber normatif bagi suatu teologi inklusif. Karena bagi kaum muslimin, tidak ada teks lain yang menempati posisi otoritas mutlak dan tak terbantahkan selain Alqur’an. Maka, Alqur’an merupakan kunci untuk menemukan dan memahami konsep persaudaraan Islam-terhadap agama lain&#8212;pluralitas  adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau <em>Sunnah Allah</em>, sebagaimana firman Allah SWT: “ <em>Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui  Lagi Maha Mengenal</em>” (Al Hujurat 49: 13).</p>
<p>Kalau kita membaca dari ayat tersebut, secara kritis dan penuh keterbukaan, pastilah kita akan menemukan suatu kesimpulan bahwa Allah SWT sendiri sebenarnya secara tegas telah menyatakan bahwa ada kemajemukan di muka bumi ini. Perbedaan  laki-laki dan perempuan, perbedaan suku bangsa; ada orang Indonesia, Jerman, Amerika, orang Jawa, Sunda atau bule, adalah realitas pluralitas yang harus dipandang secara positif dan optimis. Perbedaan itu, harus diterima sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin atas dasar kenyataan itu. Bahkan kita disuruh untuk menjadikan pluralitas tersebut, sebagai instrumen untuk menggapai kemuliaan di sisi Allah SWT, dengan jalan mengadakan interaksi sosial antara individu, baik dalam konteks pribadi atau bangsa.</p>
<p>Kenapa kita diperintah untuk saling mengenal dan berbuat baik sama orang lain, meskipun berbeda agama, suku dan kulit dan dilarang untuk memperolok-olok satu sama lain? Jawabannya adalah bahwa hanya Allah yang tahu dan dapat menjelaskan, di hari akhir nanti, mengapa manusia berbeda satu dari yang lain, dan mengapa jalan manusia berbeda-beda dalam beragama: “<em>Untuk masing-masing dari kamu (umat manusia) telah kami tetapkan Hukum (Syari’ah) dan jalan hidup (minhaj). Jika Tuhan menghendaki, maka tentulah ia jadikan kamu sekalian umat yang tunggal (monolitk). Namun Ia jadikan kamu sekalian berkenaan dengan hal-hal yang telah dikarunia-Nya kepada kamu. Maka berlombalah kamu sekalian untuk</em> berbagai kebajikan. <em>Kepada Allah-lah tempat kalian semua kembali; maka Ia akan menjelaskan kepadamu sekalian tentang perkara yang pernah kamu perselisihkan”</em> (Q.S. Al Maaidah: 48).</p>
<p>Bahkan konsep unity in diversity, dalam Islam telah diakui keabsahanya dalam kehidupan ini. Untuk mendukung pernyataan ini, kita dapat melacak kebenaranya dalam perjalanan sejarah yang telah ditunjukkan oleh al-Qur’an, bahwa Islam telah memberi karaketer positif kepada komunitas non-Muslim, Ini bisa dilihat, misalnya, dari berbagai istilah eufemisme, mulai dari <em>ahl al-kitab, shabih bi ah al-kitab, din Ibrahim</em> sampai <em>dinan hanifan</em>. Dan secara spesifik, Islam malahan mengilustrasikan karakter para pemuka agama Kristen sebagai manusia dengan sifat rendah hati (<em>la yastakbirun</em>)  serta pemeluk agama Nasrani sebagai kelompok dengan jalinan emosional <em>(aqrabahum mawaddatan</em>) terdekat dengan komunitas Muslim (Q.S. Al Maidah: 82).</p>
<p>Dalam kaitannya yang langsung dengan prinsip untuk dapat menghargai agama lain dan dapat menjalin persahabatan dan perdamaian dengan ‘mereka’ inilah Allah, di dalam al-Qur’an, menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika ia menunjukkan keinginan dan kesediaan yang menggebu untuk memaksa manusia menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “<em>Jika Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri?</em> (Q.S. Yunus: 99).</p>
<p>Dari ayat tersebut tergambar dengan jelas bahwa persoalan kemerdekaan beragama dan keyakinan menjadi “tanggungjawab” Allah SWT, di mana kita semua dituntut toleran terhadap orang yang tidak satu dengan keyakinan kita. Bahkan nabi sendiri dilarang untuk memaksa orang kafir untuk masuk Islam. Maka dengan begitu, tidaklah dibenarkan “kita” menunjukkan sikap kekerasan, paksaan, menteror dan menakut-nakuti orang lain dalam beragama.</p>
<p>Apalagi kalau kita mau memahami secara benar, bahwa pada dasarnya menurut al-Qur’an, pokok pangkal kebenaran universal Yang Tunggal itu ialah paham Ketuhanan Yang Maha Esa, atau <em>tauhid.</em> Tugas para Rasul adalah menyampaikan ajaran tentang <em>tauhid</em> ini, serta ajaran tentang keharusan manusia tunduk dan patuh hanya kepada-Nya saja (Q. S. al-Ambiya’: 92) dan justru berdasarkan paham <em>tauhid</em> inilah, al-Qur’an mengajarkan paham kemajemukan keagamaan. Dalam pandangan teologi Islam, sikap ini menurut Budy Munawar Rahman (2001: 15), dapat ditafsirkan sebagai suatu harapan kepada semua agama yang ada; bahwa semua agama itu pada mulanya menganut prinsip yang sama, dan persis karena alasan inilah al-Qur’an mengajak kepada titik pertemuan (<em>kalimatun sawa’</em>): “<em>Katakanlah olehmu (Muhammad): Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimatun sawa’) antara kami dan kamu: yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya kepada apapun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan” selain Allah</em>” (Q.S. al-Maidah: 64).</p>
<p>Implikasi dari <em>kalimatun sawa’</em> ini menurut Alqur’an adalah: siapapun dapat memperoleh “keselamatan” asalkan dia beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, dan berbuat baik”. Jadi, dalam prespektif ini, al-Qur’an tidak mengingkari keberadaan pengalaman transendensi agama, semisal Kristen bukan? Islam malah mengetahui dan bahkan mengakui daya <em>penyelamatan </em>kaum lain (termasuk Kristen) itu dalam hubungannya dengan lingkup monoteisme yang lebih luas: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang Yahudi, Kristen, dan Shabiin, barang siapa dari mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan mengerjakan amal baik, maka mereka akan dapat ganjaran dari Tuhan mereka; dan tidak ada ketakutan dan tidak ada duka cita atas mereka” (Q.S 2: 62).</p>
<p>Hal itu sejalan dengan ajaran bahwa monoteisme merupakan dogma yang diutamakan dalam Islam. Monoteisme, yakni percaya kepada Tuhan yang Maha Esa, dipandang jalan untuk keselamatan manusia. Dalam al-Qur’an ayat 48 dan 116 surah al-Nisa’ menerangkan  bahwa Allah tidak mengampuni dosa orang yang mempersekutukan Tuhan tetapi mengampuni dosa selainnya bagi barang siapa yang dikehendaki Allah. Kedua ayat ini mengandung arti bahwa dosa dapat diampuni Tuhan kecuali dosa syirik atau politeis. Inilah satu-satunya dosa yang tak dapat diampuni Tuhan.</p>
<p>Alqur’an, dengan demikian, sebagaimana ditegaskan oleh Abdulaziz Sachedina dalam bukunya <em>The Islamic Roots of Democratic Pluralism</em> (2002: 59), adalah jelas memandang dirinya sebagai mata rantai kritis dalam pengalaman pewahyuan umat manusia—satu jalan universal yang dimaksudkan untuk semua makhluk. Secara khusus, Islam juga memiliki etos biblikal dan Kristen, dan Islam memiliki sikap yang luar biasa inklusif terhadap Ahli Kitab, yang dengan merekalah Islam terhubungkan melalui manusia pertama di muka bumi.</p>
<p>2.  Islam Memerintahkan Untuk Bersikap ‘Toleran’ Kepada Agama lain</p>
<p>Sedangkan secara umum, pandangan Islam terhadap agama lain (Ahli Kitab—pen) sangat positif dan sangat kontruktif. Hal ini dapat dilihat dari nilai dan ajarannya yang memberikan peluang dan mendorong kepada umat Islam untuk dapat melakukan interaksi sosial, kerja sama dengan mereka. Tentang hal ini, Farid Asaeck (2000: 206-207)), telah menunjukkan bukti-bukti sebagai berikut; <em>Pertama</em>, Ahli  Kitab, sebagai penerima wahyu, diakui sebagai bagian dari komunitas. Ditujukan kepada semua nabi, al-Qur’an mengatakan: “<em>Dan sungguh inilah umatmu, umat yang satu</em>” (QS al-Mu’miunun: 52). Sehingga konsep Islam tentang para pengikut Kitab Suci atau Ahli Kitab yaitu konsep yang memberikan pengakuan tertentu kepada para penganut agama lain, yang memiliki Kitab Suci dengan memberikan kebebasan menjalankan ajaran agamanya masing-masing.</p>
<p><em>Kedua</em>, dalam dua bidang sosial terpenting, makanan dan perkawinan, sikap murah hati al-Qur’an terlihat jelas, bahwa makanan “orang-orang yang diberi Alkitab” dinyatakan sebagai sah (halal) bagi kaum muslim dan makanan kaum muslim sah bagi mereka (QS al-Maidah: 5). Demikian juga, pria muslim diperkenankan mengawini “wanita suci dari Ahli Kitab” (QS al-Maidah: 5). Jika kaum Muslim diperkenankan hidup berdampingan dengan golongan lain dalam hubungan yang seintim hubungan perkawinan, ini menunjukkan secara eksplisit bahwa permusuhan tidak dianggap sebagai norma dalam hubungan Muslim-kaum lain.</p>
<p><em>Ketiga</em>, dalam bidang hukum agama, norma-norma dan peraturan kaum Yahudi dan Nasrani diakui (QS al-Maidah: 47) dan bahkan dikuatkan oleh Nabi ketika beliau diseru untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka (QS al-Maidah: 42-43). <em>Keempat, </em>kesucian kehidupan religius penganut agama wahyu lainya ditegaskan oleh fakta bahwa izin pertama yang pernah diberikan bagi perjuangan bersenjata dimaksudkan untuk menjamin terpeliharanya kesucian ini, “Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagai manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja dan sinagog-sinagog orang Yahudi, dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak di sebut nama Allah” (QS al-Hajj: 40).</p>
<p>Perintah Islam agar umatnya bersikap toleran, bukan hanya pada agama Yahudi dan Kristen, tetapi juga kepada agama-agama lain. Ayat 256 surat al-Baqarah mengatakan bahwa tidak ada paksaan dalam soal agama karena jalan lurus dan benar telah dapat dibedakan dengan jelas dari jalan salah dan sesat. Terserahlan kepada manusia memilih jalan yang dikehendakinya. Telah dijelaskan mana jalan benar yang akan membawa kepada kesengsaraan. Manusia merdeka memilih jalan yang dikehendakinya. Kemerdekaan ini diperkuat oleh ayat 6 surah al-Kafirun yang mengatakan: <em>Bagimulah agamamu dan bagiku agamaku</em>.</p>
<p>Demikianlah beberapa prinsip dasar al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah pluralitas dan anjuran untuk dapat menunjukkan sikap saling menghormati, ramah dan bersahabat dengan agama lain. Dengan begitu, jauh-jauh hari, al-Qur’an sesungguhnya telah mensinyalir akan munculnya bentuk “<em>truth claim</em>” (Abdullah, 1999: 68). Baik itu dalam wilayah intern umat beragama maupun wilayah antar-umat beragama. Kedua-duanya, sama-sama tidak <em>favourable</em> dan tidak kondusif bagi upaya membangun tata pergaulan masyarakat pluralistik yang sehat.</p>
<p>Oleh al-Qur’an, kecendrungan manusia untuk mengantongi “<em>truth claim</em>” yang potensial untuk ekplosif dan destruktif itu, kemudian dinetralisir dalam bentuk anjuran untuk selalu waspada terhadap bahaya ektrimitas dalam berbagai bentuknya. Dan manusia Muslim sendiri dituntut untuk senantiasa merendahkan hati dan bersedia dengan “kebenaran” (<em>al-haq</em>) dan kesabaran (<em>al-Shabar</em>) dalam setiap langkah dalam perjalanan hidupnya (surat al-Ashr: 1-3).</p>
<p>Paling tidak, dalam dataran konseptual, al-Qur’an telah memberi resep atau arahan-arahan yang sangat diperlukan bagi manusia Muslim untuk memecahkan masalah kemanusiaan universal, yaitu realitas pluralitas keberagamaan manusia dan menuntut supaya bersikap toleransi terhadap kenyataan tersebut demi tercapainya perdamaian di muka bumi. Karena Islam menilai bahwa syarat untuk membuat keharmonisan adalah pengakuan terhadap komponen-komponen yang secara alamiah berbeda.</p>
<p>Dengan begitu, dapat pula dikatakan konsepsi pluralitas dalam Islam sudah terbawa pada misi awal agama ini diturunkan, yakni membawa kasih terhadap seluruh alam tanpa batas-batas atau benturan-benturan dimensi apapun. Semua orang yang mengaku Islam haruslah menunjukkan sikap saling “mengasihi” kepada sesama manusia. Karena seseorang bisa disebut sebagai seorang muslim, menurut kanjeng nabi adalah <em>Al-Muslimu man salima Al-muslimuna min lisanihi wa yadihi</em>. Maksudnya adalah seorang muslim yang senantiasa menebarkan sikap damai dan rasa aman dihati masyarakatnya, Islam rahmatan lil alamin.</p>
<h3>Pendidikan berbasis Pluralitas</h3>
<p>Berangkat dari kesadaran adanya fenomena bahwa “satu Tuhan, banyak agama” merupakan fakta dan realitas yang dihadapi manusia sekarang. Maka, manusia sekarang harus didorong menuju kesadaran bahwa pluralitas memang sungguh-sungguh fitrah kehidupan manusia.</p>
<p>Mendorong setiap orang untuk dapat menghargai “keanekaragaman” adalah sangat penting segera dilakukan, terutama sekali di negara Indonesia yang pluralistik ini. Dampak krisis multi-dimensional yang melandanya, menyebabkan bangsa Indonesia menghadapi berbagai problem sosial. Salah satu problem besar dimana peran agama menjadi sangat dipertanyakan adalah konflik etnis, kultur dan religius, atau yang lebih dikenal dengan SARA.</p>
<p>Kegagalan agama dalam memainkan perannya sebagai problem solver bagi persoalan SARA erat kaitanya dengan pengajaran agama secara eklusif. Maka, agar bisa keluar dari kemelut yang mendera bangsa Indonesia terkait persoalan SARA, adalah sudah saatnya bagi bangsa Indonesia untuk memunculkan wajah pendidikan agama yang inklusif, pluralis dan humanis.</p>
<p>Pada tataran teologis, dalam pendidikan agama perlu mengubah paradigma teologis yang pasif, tektualis, dan eklusif.  Menuju teologi yang saling menghormati, saling mengakui eksistensi, berfikir dan bersikap positif, serta saling memperkaya iman. Hal ini dengan tujuan untuk membangun interaksi umat beragama dan antarumat beragama yang tidak hanya berkoeksistensi secara harmonis dan damai, tetapi juga bersedia aktif dan pro-aktif kemanusiaan.</p>
<p>Sebenarnya masyarakat Indonesia telah lama akrab dengan diktum Bhinneka Tunggal Ika. Namun sayangnya, konsep ini telah mengalami pemelintiran makna dan bias interpretasi, terutama sepanjang pemerintahan Orde Baru. Kebijakan sosial-politik saat itu cenderung uniformistik, sehingga tampaknya budaya milik kelompok dominanlah yang diajarkan dan disalurkan oleh sekolah dari satu generasi kepada generasi lainya.</p>
<p>Sekolah pada saat itu juga ditengarai hanya merefleksikan dan menggemakan stereotip dan prasangka antarkelompok yang sudah terbentuk dan beredar dalam masyarakat, tidak berusaha menetralisisir dan menghilangkanya. Bahkan, ada indikasi bahwa sekolah ikut mengembangkan prasangka dan mengeskalasi ketegangan antarkelompok melalui perundang-undangan yang mengkotak-kotakkan penyampaiaan pendidikan agama, isi kurikulum yang etnosentris, dan dinamika relasi sosial antarsekolah yang segregatif (Khisbiyah, 2000: 156-157). Bukan tak mungkin segregasi sekolah berdasarkan kepemelukan agama juga ikut memeperuncing prasangka dan proses demonisasi antara satu kelompok dengan kelompok lainya, baik secara langsung maupun atau tidak langsung .</p>
<p>Padahal, menurut S. Hamid Hasan, “keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan aspirasi politik, dan kemampuan ekonomi adalah suatu realita masyarakat dan bangsa Indonesia. Namun demikian, keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan aspirasi politik yang seharusnya menjadi faktor yang diperhitungkan dalam penentuan filsafat, teori, visi, pengembangan dokumen, sosialisasi kurikulum, dan pelaksanaan kurikulum, nampaknya belum dijadikan sebagai faktor yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan di negara kita” (Hasan, 2000: 511). Maka, akibatnya, wajar manakala terjadi kegagalan dalam pendidikannya (termasuk pendidikan agama), terutama sekali dalam menumbuhkan sikap-sikap untuk menghargai adanya perbedaan dalam masyarakat.</p>
<p>Selain itu, Kautsar Azhari Noer (2001) menyebutkan, paling tidak ada empat faktor penyebab kegagalan pendidikan agama dalam menumbuhkan sikap pluralis. Pertama, penekananya pada proses transfer ilmu agama ketimbang pada proses transformasi nilai-nilai keagamaan dan moral kepada anak didik; kedua, sikap bahwa pendidikan agama tidak lebih dari sekedar sebagai “hiasan kurikulum” belaka, atau sebagai “pelengkap” yang dipandang sebelah mata; ketiga, kurangnya penekanan pada penanaman nilai-nilai moral yang mendukung kerukunan antaragama, seperti cinta, kasih sayang, persahabatan, suka menolong, suka damai dan toleransi; dan keempat, kurangnya perhatian untuk perhatikan untuk mempelajari agama-agama lain (Noer dalam Sumartana, 2001: 239-240).</p>
<p>Melihat realitas tersebut, bahkan ditambah dengan adanya banyak konflik, kekerasan, dan bahkan kekejaman yang dijalankan atas nama agama, sebagaimana tersebut di atas, seharusnyalah yang menjadi tujuan refleksi atas pendidikan agama adalah mampu melakukan transformasi kehidupan beragama itu sendiri dengan melihat sisi ilahi  dan sosial-budayanya. pendidikan agama harus mampu menanamkan cara hidup yang lebih baik dan santun kepada peserta didik. Sehingga sikap-sikap seperti saling menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman agama dan budaya dapat tercapai di tengah-tengah masyarakat plural.</p>
<p>Dengan menyadari bahwa masyarakat kita terdiri dari banyak suku dan beberapa agama, jadi sangat pluralis. Maka, pencarian bentuk pendidikan alternatif mutlak diperlukan. Yaitu suatu bentuk pendidikan yang berusaha menjaga kebudayaan suatu masyarakat dan memindahkanya kepada generasi berikutnya, menumbuhkan akan tata nilai, memupuk persahabatan antara siswa yang beraneka ragam suku, ras, dan agama, mengembangkan sikap saling memahami, serta mengerjakan keterbukaan dan dialog. Bentuk pendidikan seperti inilah yang banyak ditawarkan oleh “banyak ahli” dalam rangka mengantisipasi konflik keagamaan dan menuju perdamaian abadi, yang kemudian terkenal dengan sebutan “pendidikan pluralis”.</p>
<p>Apakah sebenarnya pendidikan pluralis itu? Kalau kita melacak referensi tentang pendidikan pluralis, banyak sekali literatur mengenai pendidikan tersebut atau sering dikenal orang dengan sebutan “pendidikan multikultural”. Namun literatur-literatur tersebut menunjukkan adanya keragaman dalam pengertian istilah. Sleeter (dalam Burnet, 1991: 1) mengartikan pendidikan multikultural sebagai <em>any set of proces by which schools work with rather than against oppressed group</em>.  Banks, dalam bukunya <em>Multicultural education: historical development, dimension, and practice</em> (1993) menyatakan bahwa meskipun tidak ada konsensus tentang itu ia berkesimpulan bahwa di antara banyak pengertian tersebut maka yang dominan adalah pengertian pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk <em>people of color</em>.</p>
<p>Lebih jelasnya, menariklah kalau kita memperhatikan suatu defenisi tentang  pendidikan pluralis yang disampaikan Frans Magnez Suseno (dalam Suara Pembaharuan, 23 September, 2000), yaitu suatu pendidikan yang mengandaikan kita untuk membuka visi pada cakrawala yang semakin luas, mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama kita sehingga kita mampu melihat “kemanusiaan” sebagai sebuah keluarga yang memiliki baik perbedaan maupun kesamaan cita-cita. Inilah pendidikan akan nilai-nilai dasar kemanusiaan untuk perdamaian, kemerdekaan, dan solidaritas.</p>
<p>Senada dengan itu, Ainurrofiq Dawam menjelaskan defenisi pendidikan multikultural sebagai proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas  dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi  keragaman budaya etnis, suku, dan aliran (agama). Pengertian pendidikan multikultural yang demikian, tentu mempunyai implikasi yang sangat luas dalam pendidikan. Karena pendidikan itu sendiri secara umum dipahami sebagai proses tanpa akhir atau proses sepanjang hayat. Dengan demikian , pendidikan multikultural menghendaki penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya terhadap harkat dan martabat manusia darimana pun dia datangnya dan berbudaya apa pun dia. Harapanya, sekilas adalah terciptanya kedamaian yang sejati, keamanan yang tidak dihantui kecemasan, kesejahteraan  yang tidak dihantui manipulasi, dan kebahagiaan yang terlepas dari jaring-jaring manipulasi rekayasa sosial.</p>
<p>Muhammad Ali (dalam Kompas, 26 April 2002) menyebut pendidikan yang berorientasi pada proses penyadaran yang berwawasan pluralis secara agama sekaligus berwawasan multikultural, seperti itu, dengan sebutan “pendidikan pluralis multikultural”. Menurutnya,  pendidikan semacam itu harus dilihat sebagai bagian dari upaya komprehensif mencegah dan menaggulangi konflik etnis agama, radikalisme agama, separatisme, dan integrasi bangsa, sedangkan nilai dasar dari konsep pendidikan ini adalah toleransi.</p>
<p>Memperhatikan beberapa defenisi tentang pendidikan pluralis tersebut di atas, secara sederhana dapatlah pendidikan pluralis didefenisikan sebagai pendidikan untuk/tentang keragaman keagamaan dan kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan. pendidikan disini, dituntut untuk dapat merespon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok.</p>
<h3>Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Kemajemukan</h3>
<p>Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang   dinamis dan sarat perkembangan, karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan. Pemikiran ini mengandung konsekuensi bahwa penyempurnaan atau perbaikan kurikulum pendidikan agama Islam adalah untuk mengantisipasi kebutuhan dan tantangan masa depan dengan diselaraskan terhadap perkembangan kebutuhan dunia usaha atau industri, perkembangan dunia kerja, serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Konsep yang sekarang banyak diwacanakan oleh banyak ahli adalah kurikulum pendidikan berbasis pluralitas.</p>
<p>Sebagaimana disebut di atas, bahwa konsep pendidikan pluralitas adalah pendidikan yang berorientasi pada realitas persoalan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dan umat manusia secara keseluruhan.  pendidikan pluralitas digagas dengan semangat  besar “untuk memberikan sebuah model pendidikan  yang mampu menjawab tantangan masyarakat pasca modernisme”.</p>
<p>Melihat realitas tersebut, maka disinilah letak pentingnya menggagas pendidikan Islam berbasis pluralitas dengan  menonjolkan beberapa karakter sebagai berikut; <em>pertama </em>pendidikan Islam harus mempunyai karakter sebagai lembaga pendidikan umum yang bercirikan Islam. Artinya, di samping menonjolkan pendidikannya dengan penguasaan atas ilmu pengetahuan, namun karakter keagamaan juga menjadi bagian integral dan harus dikuasai serta menjadi bagian dari kehidupan siswa sehari-hari. Tentunya, ini masih menjadi pertanyaan, apakah sistem pendidikan seperti ini betul-betul mampu membongkar sakralitas ilmu-ilmu keagamaan dan dikhotomi keilmuan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu keagamaan.</p>
<p><em>Kedua ; </em>pendidikan Islam juga harus mempunyai karakter sebagai pendidikan yang berbasis pada pluralitas. Artinya, bahwa pendidikan yang diberikan kepada siswa tidak menciptakan suatu pemahaman yang tunggal, termasuk di dalamnya juga pemahaman tentang realitas keberagamaan.  Kesadaran pluralitas merupakan suatu keniscayaan yang harus disadari oleh setiap peserta didik. Tentunya, kesadaran tersebut tidak lahir begitu saja, namun mengalami proses yang sangat panjang, sebagai realitas pemahaman yang komprehenship dalam melihat  suatu fenomena.</p>
<p><em>Ketiga</em>; pendidikan Islam harus mempunyai karakter sebagai lembaga pendidikan yang menghidupkan sistem demokrasi dalam pendidikan. Sistem pendidikan yang memberikan keluasaan pada siswa untuk mengekspresikan  pendapatnya secara bertanggung jawab.  Sekolah memfasilitasi adanya “mimbar bebas”, dengan meberikan kesempatan kepada semua civitas untuk berbicara atau mengkritik tentang apa saja, asal bertanggung jawab. Tentunya, sistem demokrasi ini akan memberikan pendidikan pada siswa tentang realitas sosial yang mempunyai pandangan dan pendapat yang berbeda. Di sisi yang lain, akan membudayakan “reasoning” bagi civitas di lembaga pendidikan Islam.</p>
<p>Perlunya membentuk pendidikan Islam berbasis pluralitas tersebut, sekali lagi merupakan suatu inisiasi yang lahir dari realitas sejarah pendidikan khususnya di Indonesia yang dianggap gagal dalam membangun citra kemanusiaan. Dimana umumnya, pendidikan umum hanya mencetak orang-orang yang pinter namun tidak mempunyai integritas keilmuan dan akhlaq ilmuan. Ini yang kemudian melahirkan para koruptor yang justru menjadi penyakit dan menyengsarakan bangsa ini. Di satu sisi, pendidikan agama yang ada hanya menciptakan ahli agama yang cara berpikirnya parsial dan sempit. Akhirnya,  semakin banyak orang pinter ilmu agama semakin kuat pertentangan dan konflik dalam kehidupan. Inilah sistem pendidikan yang gagal dalam menciptakan citra kemanusiaan.</p>
<p>Untuk merealisasikan cita-cita pendidikan yang mencerdaskan seperti tersebut, lembaga pendidikan Islam perlu menerapkan sistem pengajaran yang berorientasi pada penanaman kesadaran pluralitas dalam kehidupan. Adapun beberapa program pendidikan yang sangat strategis dalam menumbuhkan kesadaran pluralitas adalah:  pendidikan sekolah harus membekali para mahasiswa atau peserta didik dengan kerangka (<em>frame work</em>) yang memungkinkannya menyusun dan memahami pengetahuan yang diperoleh dari lingkunganya (UNESCO, 1981).</p>
<p>Karena masyarakat kita majemuk, maka kurikulum PAI yang ideal adalah kurikulum yang dapat menunjang proses siswa menjadi manusia yang demokratis, pluralis dan menekankan penghayatan hidup serta refleksi untuk menjadi manusia yang  utuh, yaitu generasi muda yang tidak hanya pandai tetapi juga bermoral dan etis, dapat hidup dalam suasana demokratis satu dengan lain, dan menghormati hak orang lain.</p>
<p>Selain itu, perlu kiranya memperhatikan kurikulum sebagai proses. Ada empat hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengembangkan kurikulum sebagai proses ini, yaitu; (1) posisi siswa sebagai subjek dalam belajar, (2) cara belajar siswa yang ditentukan oleh latar belakang budayanya, (3) lingkungan budaya mayoritas masyarakat dan pribadi siswa adalah <em>entry behaviour </em>kultur siswa, (4) lingkungan budaya siswa adalah sumber belajar (Hamid, <em>op cit</em>: 522). Dalam konteks deskriptif ini, kurikulum pendidikan mestilah mencakup subjek seperti: toleransi, tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama: bahaya diskriminasi: penyelesaian konflik dan mediasi: HAM; demokrasi dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan.</p>
<p>Bentuk kurikulum dalam pendidikan agama Islam hendaknya tidak lagi ditujukan pada siswa secara individu menurut agama yang dianutnya, melainkan secara kolektif dan berdasarkan kepentingan bersama. Bila selama ini setiap siswa memperoleh pelajaran agama sesuai dengan agamanya, maka diusulkan agar lebih baik bila setiap siswa SLTP-PT memperoleh materi agama yang sama, yaitu berisi tentang sejarah pertumbuhan semua agama yang berkembang di Indonesia. Sedangkan untuk SD diganti dengan pendidikan budi pekerti yang lebih menanamkan nilai-nilai moral kemanusiaan dan kebaikan secara universal. Dengan materi seperti itu, di samping siswa dapat menentukan agamanya sendiri (bukan berdasarkan keturunan), juga dapat belajar memahami pluralitas berdasarkan kritisnya, mengajarkan keterbukaan, toleran, dan tidak eklusif, tapi inklusif (Darmaningtyas, 1999: 165).</p>
<p>Amin Abdullah (2001: 13-16) menyarankan “perlunya rekontruksi pendidikan sosial-keagamaan untuk memperteguh dimensi kontrak sosial-keagamaan dalam pendidikan agama”. Dalam hal ini, kalau selama ini praktek di lapangan, pendidikan agama Islam masih menekankan sisi keselamatan yang dimiliki dan didambakan oleh orang lain di luar diri dan kelompoknya sendiri—jadi materi pendidikan agama lebih berfokus dan sibuk mengurusi urusan untuk kalangan sendiri (i<em>ndividual </em>atau <em>private affairs</em>). Maka, pendidikan agama Islam perlu direkontruksi kembali, agar lebih menekankan proses edukasi sosial, tidak semata-mata individual dan untuk memperkenalkan konsep <em>social-contract</em>. Sehingga pada diri peserta didik tertanam suatu keyakinan, bahwa kita semua sejak semula memang berbeda-beda dalam banyak hal, lebih-lebih dalam bidang akidah, iman, credo, tetapi demi untuk menjaga keharmonisan, keselamatan, dan kepentingan kehidupan bersama, mau tidak mau, kita harus rela untuk menjalin kerjasama (cooperation) dalam bentuk kontrak sosial antar sesama kelompok warga masyarakat.</p>
<p>Pendek kata, agar maksud dan tujuan pendidikan agama Islam berbasis pluralitas dapat tercapai, kurikulumnya harus didesain sedemikian rupa dan <em>favourable</em> untuk semua  tingkatan dan jenjang pendidikan. Namun demikain, pada level sekolah dasar dan menengah adalah paling penting, sebab pada tingkatan ini, sikap dan perilaku peserta didik masih siap dibentuk. Dan perlu diketahui, suatu kurikulum tidak dapat diimplementasikan tanpa adanya keterlibatan, pembuatan dan kerjasama secara langsung antara para pembuat kurikulum, penulis <em>text book</em> dan guru.</p>
<p>Langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh pembuat kurikulum, penulis <em>text</em> <em>book</em> dan guru  untuk mengembangkan kurikulum PAI berbasis pluralitas di Indonesia, adalah sebagai berikut; <em>Pertama</em>, mengubah filosofi kurikulum dari yang berlaku seragam seperti saat ini kepada filosofi yang lebih sesuai dengan tujuan, misi, dan fungsi setiap jenjang pendidikan dan unit pendidikan. Untuk tingkat dasar, filosofi konservatif seperti esensialisme dan perenialisme haruslah dapat diubah ke filosofi yang lebih menekankan pendidikan sebagai upaya mengembangkan kemampuan kemanusiaan peserta didik baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat bangsa, dan dunia. Filosofi kurikulum yang progresif seperti humanisme, progresifme, dan rekontruksi sosial dapat dijadikan landasan pengembangan kurikulum.</p>
<p><em>Kedua</em>, teori kurikulum tentang konten (<em>curriculum content</em>) haruslah berubah dari teori yang mengartikan konten sebagai aspek substantif yang berisikan fakta, teori, generalisasi kepada pengertian yang mencakup pula nilai, moral, prosedur, dan ketrampilan yang harus dimiliki generasi muda.</p>
<p><em>Ketiga</em>, teori belajar yang digunakan dalam kurikulum masa depan yang memperhatikan keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan politik tidak boleh lagi hanya mendasarkan diri pada teori psikologi belajar yang bersifat individualistik dan menempatkan siswa dalam suatu kondisi <em>value free</em>, tetapi harus pula didasarkan pada teori belajar yang menempatkan siswa sebagai makhluk sosial, budaya, politik, dan hidup sebagai anggota aktif masyarakat, bangsa, dan dunia.</p>
<p><em>Keempat</em>, proses belajar yang dikembangkan untuk siswa haruslah pula berdasarkan proses yang memiliki tingkat <em>isomorphism</em> yang tinggi dengan kenyataan sosial. Artinya, proses belajar yang mengandalkan siswa belajar individualistis harus ditinggalkan dan diganti dengan cara belajar berkelompok dan bersaing secara kelompok dalam suatu situasi positif. Dengan cara demikian maka perbedaan antar-individu dapat dikembangkan sebagai suatu kekuatan kelompok dan siswa terbiasa hidup dengan berbagai keragaman budaya, sosial, intelektualitas, ekonomi, dan aspirasi politik.</p>
<p><em>Kelima, </em>evaluasi yang digunakan haruslah meliputi keseluruhan aspek kemampuan dan kepribadian peserta didik, sesuai dengan tujuan dan konten yang dikembangkan. Alat evaluasi yang digunakan haruslah beragam sesuai dengan sifat tujuan dan informasi yang ingin dikumpulkan. Penggunaan alternatif assesment (portfolio, catatan, observasi, wawancara) dapat digunakan.</p>
<p>Di samping perlunya memperhatikan langkah-langkah itu, untuk menuju sebuah PAI yang menghargai pluralitas, sebenarnya selain aspek kurikulum yang harus didesain, sebagaimana telah penulis uraikan, aspek pendekatan dan pengajaran. Pola-pola lama dalam pendekatan atau pengajaran agama harus segera dirubah dengan model baru yang lebih mengalir dan komunikatif. Aspek perbedaan harus menjadi titik tekan dari setiap pendidik. Pendidik harus sadar betul bahwa masing-masing peserta didik merupakan “manusia yang unik” (<em>human uniqe</em>), karena itu tidak boleh ada penyeragaman-peyeragaman. Dalam prespektif ini,  pendidikan agama Islam yang memberikan materi kajian perbandingan agama dan nilai-nilai prinsip Islam seperti; toleransi, keadilan, kebebasan dan demokrasi—untuk memperoleh suatu pemahaman di antara orang-orang yang berbeda iman itu—adalah sebuah keniscayaan.</p>
<h3>Menampilkan Islam Toleran Melalui Kurikulum</h3>
<p>Mengembangkan sikap pluralis pada peserta didik di era sekarang ini, adalah mutlak segera “dilakukan” oleh seluruh pendidikan agama di Indonesia demi kedamaian sejati. pendidikan agama Islam perlu segera menampilkan ajaran-ajaran Islam  yang toleran melalui kurikulum pendidikanya dengan tujuan dan menitikberatkan pada pemahaman dan upaya untuk bisa hidup dalam konteks perbedaan agama dan budaya, baik secara individual maupun secara kolompok dan tidak terjebak pada primordialisme dan eklusifisme kelompok agama dan budaya yang sempit. Sehingga sikap-sikap plural itu akan dapat ditumbuhkembangkan dalam diri generasi muda kita melalui dimensi-dimensi pendidikan agama dengan memperhatikan hal-hal seperti berikut:</p>
<p>Pendidikan agama seperti fiqih, tafsir tidak harus bersifat linier, namun menggunakan pendekatan <em>muqaron</em>. Ini menjadi sangat penting, karena anak tidak hanya dibekali pengetahuan atau pemahaman tentang ketentuan hukum dalam fiqih atau makna ayat yang tunggal, namun  juga diberikan pandangan yang berbeda. Tentunya, bukan sekedar mengetahui yang berbeda, namun juga diberikan pengetahuan tentang mengapa bisa berbeda.</p>
<p>Untuk mengembangkan kecerdasan sosial, siswa juga harus diberikan pendidikan lintas agama. Hal ini dapat dilakukan dengan program dialog antar agama yang perlu diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Islam . Sebagai contoh, dialog tentang “puasa” yang bisa menghadirkan para bikhsu atau agamawan dari agama lain. Program ini menjadi sangat strategis, khususnya untuk memberikan pemahaman kepada siswa bahwa ternyata puasa itu juga menjadi ajaran saudara-saudara kita yang beragama Budha. Dengan dialog seperti ini, peserta didik diharapkan akan mempunyai pemahaman khususnya dalam menilai keyakinan saudara-saudara kita yang berbeda agama. karena memang pada kenyataanya “Di Luar Islampun Ada Keselamatan”.</p>
<p>Untuk memahami realitas perbedaan dalam beragama, lembaga-lembaga pendidikan Islam bukan hanya sekedar menyelenggarakan dialog antar agama, namun juga menyelenggarakan program <em>road show</em> lintas agama. Program <em>road show</em> lintas agama ini adalah program nyata untuk menanamkan kepedulian dan solidaritas terhadap komunitas agama lain. Hal ini dengan cara mengirimkan siswa-siswa untuk ikut kerja bhakti membersihkan gereja, wihara ataupun tempat suci lainnya. Kesadaran pluralitas bukan sekedar hanya memahami keberbedaan, namun juga harus ditunjukkan dengan sikap konkrit bahwa diantara kita sekalipun berbeda keyakinan, namun saudara dan saling membantu antar sesama.</p>
<p>Untuk menanamkan kesadaran spiritual, pendidikan Islam perlu menyelenggarakan program seperti <em>spiritual work camp</em> (SWC), hal ini bisa dilakukan dengan cara mengirimkan siswa untuk ikut dalam sebuah keluarga selama beberapa hari, termasuk kemungkinan ikut pada keluarga yang berbeda agama. Siswa harus melebur dalam keluarga tersebut. Ia juga harus melakukan aktifitas sebagaimana aktifitas keseharian dari keluarga tersebut. Jika keluarga tersebut petani, maka ia harus pula membantu keluarga tersebut bertani dan sebagainya. Ini adalah suatu program yang sangat strategis untuk meningkatkan kepekaan serta solidaritas sosial. Pelajaran penting lainnya, adalah siswa dapat belajar bagaimana memahami kehidupan yang beragam. Dengan demikian, siswa akan mempunyai kesadaran dan kepekaan untuk menghargai dan menghormati orang lain.</p>
<p>Pada bulan Ramadhan, adalah bulan yang sangat strategis untuk menumbuhkan kepekaaan sosial pada anak didik. Dengan menyelenggarakan “<em>program sahur on the road”</em>, misalnya. Karena dengan program ini, dapat dirancang  sahur bersama antara siswa dengan anak-anak jalanan. Program ini juga memberikan manfaat langsung kepada siswa untuk menumbuhkan sikap kepekaan sosial, terutama pada orang-orang di sekitarnya yang kurang mampu.</p>
<p>Selain beberapa hal di atas, perlu kiranya mengajarkan materi Aqidah Inklusif. Sebagaimana telah banyak diketahui umat Islam, aqidah berasal dari bahasa Arab yang berarti “kepercayaan”, maksudnya ialah hal-hal yang diyakini oleh orang-orang beragama. Dalam Islam, aqidah selalu berhubungan dengan iman. Aqidah adalah ajaran sentral dalam Islam dan menjadi inti risalah Islam melalui Muhammad. Tegaknya aktivitas keislaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa orang itu memiliki akidah. Masalahnya karena iman itu bersegi teoritis dan ideal yang hanya dapat diketahui dengan bukti lahiriah dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, terkadang menimbulkan “problem” tersendiri ketika harus berhadapan dengan “keimanan” dari orang yang beragama lain. Apalagi persoalan iman ini, juga merupakan inti bagi semua agama, jadi bukan hanya milik Islam saja. Maka, tak heran jika kemudian muncul persoalan <em>truth claim</em> dan <em>salvation claim</em> diantara agama-agama, yang sering berakhir dengan konflik antar agama.</p>
<p>Untuk mengatasi persoalan seperti itu, pendidikan agama Islam melalui ajaran aqidahnya, perlu menekankan pentingnya “persaudaraan” umat beragama. Pelajaran aqidah, bukan sekedar menuntut pada setiap peserta didik untuk menghapal sejumlah materi yang berkaitan denganya, seperti iman kepada Allah swt, nabi Muhamad saw, dll. Tetapi sekaligus, menekankan arti pentingya penghayatan keimanan tadi dalam kehidupan sehari-hari. Intinya, aqidah harus berbuntut dengan amal perbuatan yang baik atau <em>akhlak al-Karimah</em> pada peserta didik. Memiliki akhlak yang baik pada Tuhan, alam dan sesama umat manusia.</p>
<p>Pendidikan Islam harus sadar, bahwa kerusuhan-kerusuhan bernuasan SARA seperti yang sering terjadi di Indonesia ini adalah akibat ekspresi keberagamaan yang salah dalam masyarakat kita, seperti ekspresi keberagamaan yang masih bersifat ekslusif dan monolitik serta fanatisme untuk memonopoli kebenaran secara keliru. Celakanya, ekspresi keagamaan seperti itu merupakan hasil dari “pendidikan agama”. pendidikan agama dipandang masih banyak memproduk manusia yang memandang golongan lain (tidak seakidah) sebagai musuh. Maka di sinilah perlunya menampilkan pendidikan agama yang fokusnya adalah bukan semata kemampuan ritual dan keyakinan tauhid, melainkan juga akhlak sosial dan kemanusiaan.</p>
<p>Pendidikan agama, merupakan sarana yang sangat efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai atau aqidah inklusif pada peserta didik. Perbedaan agama di antara peserta didik bukanlah menjadi penghalang untuk bisa bergaul dan bersosialisasi diri. Justru pendidikan agama dengan peserta didik berbeda agama, dapat dijadikan sarana untuk menggali dan menemukan nilai-nilai keagamaan pada agamanya masing-masing sekaligus dapat mengenal tradisi agama orang lain.</p>
<p>Target kurikulum Agama  Islam harus berorientasi pada akhlak. Bahkan dalam pengajaran akidahnya, kalau perlu semua peserta didik disuruh merasakan jadi orang yang beragama lain atau atheis sekalipun. Tujuanya adalah bukan untuk “konfersi”, melainkan dalam rangka agar mereka mempertahankan iman. Sebab, akidah itu harus dipahami sendiri, bukan dengan cara taklid, taklid tidak dibenarkan dalam persoalan akidah. Selain itu, pada masalah-masalah syari’ah. Dalam persoalan syariah, sering umat Islam juga berbeda pendapat dan bertengkar. Maka dalam hal ini pendidikan Islam perlu . memberikan pelajaran “fiqih muqarran”untuk memberikan penjelasan adanya perbedaan pendapat dalam Islam dan semua pendapat itu sama-sama memiliki argumen, dan wajib bagi kita untuk menghormati. Sekolah tidak menentukan salah satu mazhab yang harus diikuti oleh peseta didik, pilihan mazhab terserah kepada mereka masing-masing.</p>
<p>Melalui suasana pendidikan seperti itu, tentu saja akan terbangun suasana saling menenami dalam kehidupan beragama secara dewasa, tidak ada perbedaan yang berarti diantara “perbedaan”manusia yang pada realitasnya memang berbeda. Tidak dikenal superior ataupun inferior, serta memungkinkan terbentuknya suasana dialog yang memungkinkan untuk membuka wawasan spritualitas baru tentang keagamaan dan keimanan masing-masing.</p>
<p>Pendidikan Islam harus memandang “iman”, yang dimiliki oleh setiap pemeluk agama, bersifat dialogis artinya iman itu bisa didialogkan antara Tuhan dan manusia dan antara sesama manusia. Iman merupakan pengalaman kemanusiaan ketika berintim dengan-Nya (dengan begitu, bahwa yang menghayati dan menyakini iman itu adalah manusia, dan bukanya Tuhan), dan pada tingkat tertentu iman itu bisa didialogkan oleh manusia, antar sesama manusia dan dengan menggunakan bahasa manusia.</p>
<p>Tujuan untuk menumbuhkan saling menghormati kepada semua manusia yang memiliki iman berbeda atau mazhab berbeda dalam beragama, salah satunya bisa diajarkan lewat pendidikan akidah yang inklusif. Dalam pembelajaranya, tentu saja memberikan perbandingan dengan akidah yang dimiliki oleh agama lain (perbandingan agama). Meminjam bahasanya Alex Roger (1982: 61-62), pendidikan akidah seperti itu mensyaratkan adanya <em>fairly and sensitively</em> dan bersikap terbuka (<em>open minded</em>). Tentu saja, pengajaran agama seperti itu, sekaligus menuntut untuk bersikap “objektif” sekaligus “subjektif”.  Objektif, maksudnya sadar bahwa membicarakan banyak iman secara fair itu tanpa harus meminta pertanyaan mengenai benar atau validnya suatu agama. Subjektif berarti sadar bahwa pengajaran seperti itu sifatnya hanyalah untuk mengantarkan setiap peserta didik memahami dan merasakan sejauh mana keimana tentang suatu agama itu dapat dirasakan oleh orang yang mempercayainya.</p>
<p>Melalui pengajaran akidah inklusif seperti itu, tentu saja bukan untuk membuat suatu kesamaan pandangan, apalagi keseragaman, karena hal itu adalah sesuatu yang absurd dan agak mengkhianati tradisi suatu agama. yang dicari adalah mendapatkan titik-titik pertemuan yang dimungkinkan secara teologis oleh masing-masing agama. setiap agama mempunyai sisi ideal secara filosofis dan teologis, dan inilah yang dibanggakan penganut suatu agama, serta yang akan menjadikan mereka tetap bertahan, jika mereka mencari dasar rasional atas keimanan mereka. Akan tetapi, agama juga mempunyai sisi real, yaitu suatu agama menyejarah dengan keagungan atau kesalahan-kesalahan yang biasa dinilai dari sudut pandang sebagai sesuatu yang memalukan. Oleh karena itu, suatu dialog dalam perbandingan agama harus selalu mengandalkan kerendahan hati untuk membandingkan konsep-konsep ideal yang dimiliki agama lain yang hendak dibandingkan, dan realitas agama—baik yang agung atau yang memalukan—dengan realitas agama lain yang agung atau memalukan itu dengan demikian, akan dapat terhindar dari suatu penilai stndar ganda dalam melihat agama lain.</p>
<h3>Catatan</h3>
<p>Kalau tujuan akhir pendidikan adalah perubahan perilaku dan sikap serta kualitas seseorang, maka pengajaran harus berlangsung sedemikian rupa sehingga tidak sekedar memberi informasi atau pengetahuan melainkan harus menyentuh hati, sehingga akan mendorongnya dapat mengambil keputusan untuk berubah. Pendidikan agama Islam, dengan demikian, di samping bertujuan untuk memperteguh keyakinan pada agamanya, juga harus diorientasikan untuk menanamkan empati, simpati dan solidaritas terhadap sesama. Maka, dalam hal ini, semua materi buku-buku yang diajarkannya tentunya harus menyentuh tentang  isu pluralitas. Dari sinilah kemudian kita akan mengerti urgensinya untuk menyusun bentuk kurikulum pendidikan  agama berbasis pluralistas agama.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Afifi, al-Hadi, Muhammad, (1964), <em>al-Tarbiyah wa al-Taghoyyur al-Tsaqafi</em>, Kairo: Maktabah Angelo al-Mishriyyah.</p>
<p>Allen, Dougles, 1978, <em>Structure and Creativity in Religion</em>. The Houge the Netherlands: Mountan Publisher.</p>
<p>Arkoun, Mohammed, 2001, <em>Islam Kontemporer: menuju Dialog antar agama</em>, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Abdullah, Amin, M., (1999), <em>Studi Agama: Normativitas atau Historisitas</em>, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Azra, Azyumardi, 1998, <em>Esai-esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisme Menuju Milenium Baru</em>, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.</p>
<p>Barnadib, Imam, 1994<em>, Filsafat Pendidikan: Sistem dan Metode</em>, Yogyakarta, Andi Ofset.</p>
<p>Basri, Ghazali <em>at al,</em> (1991), <em>An Integrated Education System In A Multifaith and Multi-Cultural Country</em>, Malaysia: Muslim Yuth Movement Malaysia.</p>
<p>Basuki, Singgih, A., (1999<em>), “Kesatuan dan Keragaman Agama Dalam Pandangan Hazrat Inayat Khan</em>”, dalam Jurnal Penelitian Agama, Nomor 21, TH. VIII Januari-April, h. 151.</p>
<p>Beck, Clive, (1990), <em>Better Schools: A Value Perspective</em>, Britain: The Falmer Press, Taylor and Francis ICC.</p>
<p>Bogdan, Robert, C. and Biklen, Knoop, Sari, <em>Qualitative Research for Education, an Introduction to Theory and Methode</em>, Boston: Allyn and Bacon, 1993: 2</p>
<p>Bulac, Ali, 1998, “<em>The Medina Document</em>”, dalam Charles Kurzman (eds.), Liberal Islam, New York: Oxford University Press.</p>
<p>Darmaningtyas, (1999), <em>Pendidikan Pada Dan Setelah Krisis</em>, Yogyakarta: 1999.</p>
<p>Dawam, Ainurrofiq,  2003, <em>Emoh Sekolah</em>, Yogyakarta: Inspeal Ahimsa Karya Press.</p>
<p>Dewey, John, 1916, <em>Democracy and Education</em>, New York: Macmillan.</p>
<p>Durkheim, E., 1961, <em>Moral Education,</em> New York: The Free Press.</p>
<p>Effendy, Bachtiar, 2001, <em>Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan</em>, Yogyakarta: Galang Press.</p>
<p>Engineer, Ali, Asghar, 2001, <em>On Developing Theology of Peace In Islam, Islam and Modernity</em>. Oktober.</p>
<p>Esack, Farid, 2000, <em>Qur’an, Liberation, and Pluralism</em>, Diterjemahkan oleh: Watung A. Budiman, Bandung: Mizan.</p>
<p>Faruqi, Isma’il dan al-Faruqi, Lamnya, Lois, 1986, <em>The Cultural Atlas of Islam</em>, New York: Macmillan Publishing Company.</p>
<p>Hasan, Hamid, S., (2000<em>), “Pendekatan Multikultural Untuk Penyempurnaan Kurikulum Nasional”,</em> dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Edisi Bulan Januari-November, h. 510-524.</p>
<p>Hick, John, <em>Philosophy of Religion</em>, New Delhi: Prentice Hall, 1963.</p>
<p>Hidayat, Komaruddin, 1998, <em>Tragedi Raja Midas</em>, Jakarta: Paramadina.</p>
<p>Khisbiyah, Yayah <em>at al</em>., (2000), “<em>Mencari Pendidikan Yang Menghargai Pluralisme</em>” dalam Membangun Masa Depan Anak-anak Kita, Yogyakarta: Kanisius.</p>
<p>Mouw, Richard J and Griffon, Sander, 1993, <em>Pluralism and Horizon</em>, Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company.</p>
<p>Mulkhan, Munir, Abdul, (2002), <em>Nalar Spritual Pendidikan</em>, Yogyakarta: Tiara Wacana.</p>
<p>Nasr, Hossein, Sayyed, (1980), <em>Living Sufism</em>, London: Unwin Paperback.</p>
<p>Rachman, Munawar, , Budi, (2001), <em>Islam Pluralis</em>, Jakarta: Paramadina.</p>
<p>Rahmat, Jalaluddin, 1997, <em>Islam Inklusif</em>, Bandung: Mizan.</p>
<p>Rodger, Alex R., 1982, <em>Educational and Faith in Open Society</em>, Britain: The Handel Press.</p>
<p>Sealy, John, (1985), <em>Religious Education Philosophical Perspective</em>, London: George Allen &#38; Unwin.</p>
<p>Shihab, Alwi, <em>Islam Inklusif</em>, Bandung: Mizan.</p>
<p>Siradj, Aqiel, Said, (1999), <em>Islam Kebangsaan: Fiqih Demokratik Kaum Santri</em>, Jakarta: Pustaka Ciganjur.</p>
<p>Smith, W. C. <em>Toward Theology: Faith and the Comparative History of Religion</em>, London&#38;Basingstoke: The Macmillan Press, 1981.</p>
<p>Sumartana at al., (2001), <em>Pluralisme, Konflik, dan Pendidikan Agama di Indonesia</em>, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Tilar, H. A. R., 2000, <em>Paradigma Baru Pendidikan Nasional</em>, Jakarta: Rineka Cipta.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Orang yang Menjuluki Saya Nabi" Kata Abdullah alias Amaq Bakri]]></title>
<link>http://jarikmataram.wordpress.com/2009/10/22/orang-yang-menjuluki-saya-nabi-kata-abdullah-alias-amaq-bakri/</link>
<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 12:08:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>The Young Community</dc:creator>
<guid>http://jarikmataram.wordpress.com/2009/10/22/orang-yang-menjuluki-saya-nabi-kata-abdullah-alias-amaq-bakri/</guid>
<description><![CDATA[AmaQ Bakri alias Abdullah alias Papuq Junaedi menggegerkan masyarakat Nusa Tengara Barat. Pria yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>AmaQ Bakri alias Abdullah alias Papuq Junaedi menggegerkan masyarakat Nusa Tengara Barat. Pria yang dikabarkan pernah melakukan mi’raj seperti nabi muhammad ini dinilai memiliki ajaran yang kontrovesial. Berikut wawancara Fathul Rakhman, Wartawan dan Kontributor Jarik Mataram. </p>
<p><strong>Fathul Rakhman*</strong><br />
<!--more--><br />
Tak sulit menemukan Abdullah karena nyaris semua warga Desa Sambelia mengenalnya. Ia lebih dikenal dengan Amaq Bakri daripada nama aslinya Abdullah. Kebiasaan masyarakat Lombok, menamakan orang dengan nama anak pertamanya. Bakri adalah anak pertama abdullah sehingga melekat nama Abdullah. </p>
<p>Di Gubuk daya, Dasan Tinggi, Desa Sambelia kecamatan Sambelia  saya menemuinya beberapa waktu lalu. Di kampung terpencil paling ujung lombok timur itu saya disambut beberapa lelaki. Mereka adalah anaknya yang pertama  dan seorang cucunya. Setelah saya menyatakan ingin wawancara, pria yang bernama Bakri itupun mengantarkan saya ke kediaman bapaknya.</p>
<p>Rumah Abdullah ternyata cukup jauh dari warga sekitar, sekitar 1 kilo dari perkampungan. Bersama Urun isterinya,Abdullah tinggal di sebuah ladang yang memang dekat dengan perbukitan. Ladang ini dikenal masyarakat dengan nama Bebile. Konon di tempat inilah Kiyai Santri Loba, seorang ulama yang pernah membangun Sambelia di makamkan.</p>
<p>Hanya jalan setapak yang bisa dilalui untuk sampai di Bebile ini. Hanya cukup untuk dilewati satu sepeda motor. Kurang 15 menit, saya sampai di kediaman lelaki yang dikenal sebagai pemimpin kelompok perguruan Isti Jenar Raksa Gunung Rinjani ini. Kelompok tarekat yang mengajarkan ilmu Sanggar Putung.</p>
<p>Ada tiga bangunan di tempat kediaman Abdullah ini. Sebuah Berugak besar, Berugak kecil, dan bangunan rumah bedek 4 X 5 meter. Berugak Besar inilah bangunan yang paling besar diantara tiga bangunan lainnya. Abdullah menerima saya di Berugak besar ini.</p>
<p>Saya tiba di kediaman Abdullah tepat 12.30 siang. Bakri anaknya memberitahu saya bahwa bapaknya sedang ada tamu. Saya terpaksa menunggu d berugak besar. Beberapa menit kemudian sepasang pria-wanita berusia sekitar 29-31 tahunan dan seorang remaja laki-laki keluar rumah Abdullah. Belakangan saya ketahui ternyata mereka sedang dalam proses menjadi murid dari Abdullah. </p>
<p>Sementara itu, Abdullah keluar menemui saya dengan setelan celana coklat usang dan baju singlet, pria inipun menerima saya dengan ramah dan bersahaja. Ia memanggil kerabatnya untuk membuatkan saya kopi dan membawakan sepiring kue kering. </p>
<p>Tak lama obrolanpun dimulai. Abdullah bercerita panjang lebar tentang perjalanan hidupnya, termasuk hal-hal kontroversi yang sering diberitakan termasuk isu ia mengaku nabi. </p>
<p>“saya tak pernah bilang saya nabi, mungkin orang lain yang manggil begitu. Orang boleh panggil saya apa saja, tapi bukan saya yang mengatakan,’’ kelitnya ketika saya berulangkali menanyakan kepadanya apakah benar dia pernah mengaku menjadi nabi.</p>
<p>Pria yang tidak tahu berapa usianya ini (dia hanya ingat, ketika Jepang datang menjajah dia sudah remaja) memiliki 15 anak. Dari 15 orang ini, hanya delapan yang hidup, dan kini dia memililki 15 orang cucu. Dulu, Abdullah muda sudah mulai haus mencari ilmu, terutama ilmu kebatinan. Awalnya dia berguru pada seorang pria yang bernama Yakub. Lama dia berguru di sini, suatu hari ketika dia tertidur, dia mendengar suara aneh dalam tidurnya tersebut. Suara itu mengatakan ilmu yang dipelajarinya saat ini hanya untuk duniawi saja. Ada satu lagi ilmu yang harus dicarinya untuk selamat di dunia dan akhirat. </p>
<p>Karena penasaran dengan ilmu itu, Abdullahpun berkeliling mencari ilmu tersebut ke seluruh penjuru. Dari guru yang satu pindah ke guru yang lain. Dari semua guru yang dia temui, dia mendapatkan jawaban yang sama. “Ada satu ilmu yang bisa harus kamu cari agar kamu selamat dunia dan akhirat!”. </p>
<p>Karena penasaran, Abdullah memutuskan untuk menyendiri ke atas gunung. Melakoni tapa, memperbanyak zikir, dan amalan lainnya. Kegiatan menyepi ini ia lakukan puluhan tahun bahkan hingga berumah tangga dan memiliki anak.</p>
<p>Hingga, pada suatu sore menjelang maghrib, ditengah renungannya  Abdullah muda yang bernama Abdullah ini mendengar suara yang tidak asing lagi. Suara itu menunjuk ke arah sebuah pohon, tak jauh dari tempatnya duduk. Dia disuruh mendekat ke pohon itu. ‘’Kamu yang begitu menyiksa diri, pergilah kesana ke dekat pohon itu,’’ katanya menirukan suara yang dia dengar tatkala itu.</p>
<p>Iapun mengikuti perintah itu dan mendekati pohon. Di sela-sela pohon itu ia dapati sebuah tangga aneh karena anak tangganya hanya dua buah saja. Suara itu kemudian menyuruhnya menaiki tangga tersebut. Sesampai di tangga kedua, tiba-dia merasakan keanehan. ‘’Seperti ada dongkrak, tangga itu berputar-putar semakin tinggi dan terus makin tinggi. Saya ketakutan dan berpegangan keras,’’ ujarnya.</p>
<p>Tanpa ia sadari, Tangga tersebut telah membawanya melayang-layang diatas pepohonan. Tangga tersebut makin meninggi,sampai akhirnya dia melihat ada cahaya kuning, lalu naik lagi hingga melewati batas dunia. Dia mengaku ketakutan, dan terus berpegangan pada tangga tersebut. Dia menutup mata, sampai pada akhirnya kembali dia mendengar suara. ‘’Buka matamu, kamu telah sampai ke langit ketujuh,’’ katanya menirukan suara tersebut.</p>
<p>Dia kemudian disuruh berjalan di tanah yang wanarnya kuning. Rasanya, seperti berjalan diatas kapas” katanya.  Lalu suara itu muncul lagi, kali ini suara itu menyuruhnya berjalan ke sebuah arah, “disanalah surga” katanya menirukan suara itu.  Saat perjalanan menuu syurga itulah ia kembali menemui keanehan dia melihat seseorang yang sedang ia kejar. Ketika akhirnya mentok di sebuah dinding ia baru menyadari yang ia kejar itu bayanngannya sendiri. Di tempat gaib tersebut, dia bertatap muka langsung dengan bayangannya. Di sanalah surga itu.</p>
<p>Di surga ada semacam lapisan dari kaca, di atas kaca tersebut ada lubang kecil seperti jarum, dari sanalah keluar masuk angin yang terasa lembut. Dari sana dia kemudian melihat dengan dekat surga itu. ‘’Sangat indah, nikmat, senikmat orang menikah, makanya disebut surga dunia,’’ katanya tersenyum.</p>
<p>Dalam perjalanan ini, Abdullah merasa sudah melihat semua isi surga dan semua tingkatan surga. ‘’Tujuh tingkatan itu sama saja rasany cuma pengucapannya yang berbeda,’’ ujarnya. </p>
<p>Setelah selesai menelusuri setiap jengkal “surga”, Abdullah kembali ke tempat semula. Dia masih menemukan bekas jejak kakinya, dan sampai akhirnya dia kembali “turun” ke bumi. Pengalaman spiritual ini dialaminya malam Jumat tanggal bulan Maulid (Rabiul Awal), kira-kira tahu 1975 dengan kalender masehi.</p>
<p>Nah ketika proses pulang dari jalan-jalan ke surga itulah, Abdullah menemukan ilmu yang lama dicarinya. Penuturannya, ketika mau turun, tiba-tiba badannya terbelah dua. Dia melihat dengan jelas belahannya itu, dan saat itu dia berdialog dengan suara yang sering didengarnya itu. ‘’Inilah yang selama ini kamu cari di dunia selama ini. Sekarang bersihkanlah aku, bersihkan dengan kalimat La ilahaillallah,’’ ujarnya.</p>
<p>Rupanya yang dicari selama ini adalah hati. Setelah membersihkan hati itu, di bawahnya ada gumpalan hitam, itu adalah dosa, ketika dia memegangnya rasanya sangat tajam. Kemudian sang hati berkata, aku ini milik Allah, dan di dunia ini jalan untuk mengetahui Allah. ‘’Setelah itu kembali bersatu badan saya,’’ ujarnya.</p>
<p>Cukup lama dia memendam pengalaman ini. Dia hanya memeberitahu pada orang-orang terdekat, mulai saat itu juga sudah menyebar tentang pengalamannya ini. ‘’Saya tidak keliling berdakwah, orang itulah yang kesini setelah mereka mendapat petunjuk,’’ katanya.</p>
<p>Sampai pada akhirnya, ketika banyak muncul desas-desus ajarannya ini- saat itu belum memiliki nama—dia pun dipanggil aparat pemerintahan. Katanya, ajaran yang dia bawa meresahkan masyarakat. ‘’Saya dipermalukan saat itu dan diumumkan bahwa ilmu Sanggar Putung yang saya punya tidak boleh diajarkan,’’ tuturnya.</p>
<p>Pasca kejadian itu, malam harinya, kembali ia mengalami pengalaman spiritual, sama seperti pengalaman pertama, mi’raj. ‘’Tapi ini Jibril langsung yang membawa saya,’’ ujarnya. Sama seperti pengalaman pertamanya, hanya saja dalam proses mi’raj nya yang kedua ini, dia pulang membawa ijazah : ajaran yang dia bawa ini diberi nama Isti Jenar Raksa Gunung Rinjani.</p>
<p>Isti Jenar bermakna kebenaran yang ada di dalam tubuh kita, Raksa bermakna yang akan kita pelihara dalam diri kita, Gunung bermakna tubuh kita, dan Rinjani merupakan simbol manusia merupakan makhluk yang tertinggi derajatnya.</p>
<p>Di masa-masa tahun 1997 sampai tahu 2000 inilah Abdullah banyak dicerca masyarakat. Namun dia sendiri mengaku tidak masalah dengan pandangan masyarakat itu.</p>
<p>Tahun 2005 kembali dia merasakan perjalanan mi’raj yang ketiga. Namun kali ini, dia masuk dalam alam roh. Yang dalam tradisi Islam, alam yang hanya Allah sendiri yang tahu.</p>
<p>Kata Abdullah, ketika dia bertemu dengan roh-roh tersebut, roh tersebut serempak memanggil Bapak pada Abdullah. Abdullah menolak, namun roh-roh tersebut memberikan alasan bahwa bintang yang paling besar di langit adalah bintang Zohrah, dan bintang itu ada pada diri Abdullah. </p>
<p>Dari tiga pengalaman ruhaninya ini, Abdullah kemudian secara eksplisit mengatakan hasil perjalanan ruhaninya ini sebagai “wahyu”. Mendengar cerita ini, persis sama ketika Nabi Muhammad SAW melakukan Isra MI’raj, dimana salah satu “hasil” yang diperoleh adalah ajaran tentang salat. Dari penuturan pengalaman mi’raj inilah lalu berkembang isu, Abdullah mengaku nabi. Sebuah pengakuan yang tidak diucapkannya langsung.</p>
<p>Abdullah, mengatakan hasil mi’raj tersebut adalah pertama dia bisa melihat langsung, merasakan dan berintraksi dengan alam akhirat, kedua dia sempat berganti hidup, ketiga dia menerima kedudukan sebagai “Pande” yang dia analogikan seperti tukang Pande Besi, dalam hal ini Abdullah mendapat kedudukan sebagai Pande Manusia, keempat dia menjadi Jawa’, sebagai penunjuk jalan yang benar dan keenam sebagai Nandang atau setiap ucapan yang dia katakan merupakan kebenaran, penyeru amar ma’ruf nahi munkar.</p>
<p>Dalam menybarluaskan ajarannya ini, Abdullah tidak berkeliling seperti para dai umumnya. Katanya, orang yang mau berguru lah yang datang mencarinya. Orang tersebut datang, kata Abdullah, biasanya setelah mendapat petunjuk. </p>
<p>Dalam pengajian sehari-hari, biasanya dilakukan tiga malam dalam seminggu, malam Senin, malam Rabu, dan malam Jumat. Kini jumlah jamaahnya yang rutin datang 40 an orang. ‘’Banyak yang dari jauh, dari Sikur dan Mantang (Lombok Tengah),’’ ujarnya.</p>
<p>Tak ada ajaran khusus yang dia sampaikan, tak ada kitab yang dia ajarkan, dan tak ada syarat khusus. Hanya dalam setiap pertemuan jamaah diajak zikir. ‘’Kalau kuat sampai 5000 kali, kami hanya membaca La ilahaillallah,’’ katanya.</p>
<p>Dalam ajarannya juga tidak diharuskan datang mengaji tiap kali pertemuan. Ajaran Sanggar Putung, cukup diberikan sekali saja. ‘’Setelah itu tinggal menjaganya,’’ ujarnya.</p>
<p>Dua tahun terakhir, kata Abdullah, sering datang muballig mengajaknya diskusi dan bahkan mengajarknya keliling berdakwah. Dia pun pernah ikut, bahkan sampai menginap 40 malam. Hanya saja, dari pengalamannya bergaul dengan dai, dia mengatakan, ajaran yang disampaikan dia ibaratkan seperti botol. Apa yang ada di dalam botol semua ditumpah, apa yang dibaca di kibat, buku itu yang diberikan, tanpa tahu maknanya. ‘’Hanya mengucapkan saja, tanpa tahu maknanya,’’ ujarnya. (*)</p>
<p>* WARTAWAN dan Kontributor Jarik Mataram</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ada ‘Nabi’ di Lombok Timur ?]]></title>
<link>http://jarikmataram.wordpress.com/2009/10/22/ada-%e2%80%98nabi%e2%80%99-di-lombok-timur-mengaku-pernah-mi%e2%80%99raj-ke-langit-ketujuh-dan-melihat-surga/</link>
<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 10:24:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>The Young Community</dc:creator>
<guid>http://jarikmataram.wordpress.com/2009/10/22/ada-%e2%80%98nabi%e2%80%99-di-lombok-timur-mengaku-pernah-mi%e2%80%99raj-ke-langit-ketujuh-dan-melihat-surga/</guid>
<description><![CDATA[Marak diberitakan, seseorang laki-laki paruh baya bernama Amaq Bakri asal Desa sambelia Lombok Timur]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://jarikmataram.wordpress.com/files/2009/10/abdullah-alias-amaq-bakri1.jpg?w=99" alt="Abdullah alias Amaq  Bakri" title="Abdullah alias Amaq  Bakri" width="99" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-493" />Marak diberitakan, seseorang laki-laki paruh baya bernama Amaq Bakri asal Desa sambelia Lombok Timur mengaku menjadi nabi. Isu itu merebak setelah selebaran berjudul “seputar nabi palsu” beredar di tengah masyarakat.  Menurut  selebaran itu Amaq Bakri mengaku diri seorang nabi karena telah melakukan perjalanan isra’ mi’raj persis seperti yang dilakukan nabi muhammad.<br />
<!--more--></p>
<p>Kepala desa Sambelia, Umar mengiyakan adanya isu ini. Dikatakan Umar, isu tersebut pernah muncul tahun 1990 ketika Amaq Bakri pertama kali mengaku mengalami kejadian aneh “isra’ mi’raj” itu. Saat itu, Amaq Bakri sempat di sidang di kantor kecamatan oleh beberapa tokoh masyarakat, aparat desa dan aparat kecamatan. Namun karena Amaq bakri tak terbukti menyebarkan ajarannya, peserta sidang memaafkannya. Belakangan, isu Amaq Bakri mengaku nabi itu kembai menyeruak setelah selebaran gelap itu beredar di tengah masyarakat. </p>
<p>Amaq bakri ketika di temui dirumahnya (15/10) dusun Bebile, desa Sambalia, Kecamatan sambelia, Lombok Timur lantas membantah isu bahwa dirinya pernah mengaku nabi. Sebutan nabi sebenarnya diberikan dua orang yang mengaku wartawan dari Jawa dan pernah mewawancarainya. ‘’Dia langsung bilang berarti anda ini nabi. Saat itu saya stop ucapan mereka. saya tidak mengaku nabi,’’ katanya.</p>
<p>Hanya saja, Amaq Bakri tidak menolak jika ada orang yang menjulukinya nabi. Menurutnya itu hak setiap orang. ‘’Orang boleh panggil saya apa saja, yang penting bukan saya yang mengatakan begitu,’’. </p>
<p>Amaq Bakri membenarkan, tahun 1990-an ajarannya pernah menghebohkan Desa Sambelia dan berujung penyidangan dirinya di kantor kecamatan. ‘’Saya ingat itu tahun 1997 dan 9 kali saya di sidang. Saya malu sekali saat itu, dipertontonkan seperti maling,’’ ujarnya menggunakan bahasa Sasak.</p>
<p>Kasus heboh Amaq Bakri yang bernama asli Abdullah ini bermula ketika ia menuturkan pengalaman spritualnya kepada beberapa orang. Dalam pengalamannya itu, ia mengaku naik ke langit ketujuh dan melihat langsung surga. ‘’Bahasa dunianya mi’raj,’’ ujarnya.</p>
<p>Amaq bakri mengaku mengalami kejadian seperti ini dua kali, pertama tahun 1970 dan kedua tahun 2005. Pengalaman tahun 2005 bahkan lebih dalam, ia mengaku masuk ke alam roh. Pengalaman inilah yang ia tuturkan dan membuat gempar masyarakat sekitar. Karena hasil perjalanannya banyak yang dinilai tidak masuk dalam akal sehat masyarakat sempat menyebutnya Gila.</p>
<p>Beberapa pengalaman yang diceritakan amaq bakri, saat Isra’ Mi’raj itu ia dapat melihat syurga secara langsung, merasakan dan berintraksi dengan alam akhirat, sempat berganti hidup, menerima kedudukan sebagai “Pande” yang dia analogikan seperti tukang Pande Besi. Ia mengibaratkan dirinya mendapat kedudukan sebagai Pande Manusia.  Ia juga mengatakan di nobatkan allah sebagai Jawa’, sebagai penunjuk jalan yang benar. Tak hanya itu, Amaq Bakri dinobatkan seagai “Nandang” atau setiap ucapan yang dia katakan merupakan kebenaran, penyeru amar ma’ruf nahi munkar.</p>
<p>Amaq Bakri mengaku beberapa waktu lalu pernah ada muballigh yang datang ke tempatnya dan diminta untuk bertaubat. Muballigh itu bahkan sempat mengikuti pengajian-pengajiannya serta berdiskusi dengannya. Amaq bakri meduga muballigh inilah yang menyebarluaskan pemikirannya ini. </p>
<p>‘’Dia memang merekam dan katanya mau membuat jadi kaset,’’ ujarnya. </p>
<p>Sementara itu Asisten I Setda Lotim H Muhasim membenarkan kasus Abdullah alias Amaq Bakri alias papuq Junaedi ini merupakan kasus lama. Pemerintah daerah pun sudah sering mendekati dan melakukan pembinaan. ‘’Jamaahnya juga sudah sedikit,’’ ujarnya.</p>
<p>Kasus Abdullan ini sebenarnya tidak akan menjadi kontroversi kalau dia tidak menceritakan pada orang lain. Belakangan, bukan sekadar menceritakan pada orang lain tapi juga memiliki jamaah. Inilah yang kemudian menjadi keresahan masyarakat. ‘’Kalau masalah pengalaman spiritual itu masalah individu, ini dia mengajak orang lain,’’ ujarnya.</p>
<p>Kasus ini mencuat kembali, setelah sepekan ini merebak isu adanya orang yang mengaku nabi, setelah ditelusuri ternyata itu Amaq Bakri. Entah dari mana dan siapa yang kali pertama menghembuskan isu ini. ‘’Kami akan kesana nanti (hari ini, Red) untuk mendekati dan memberikan masukan pada Amaq Bakri,’’ ujarnya. (fat)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KEPEMIMPINAN NASIONAL DI ERA REFORMASI,  Tinjauan bagi Negeri Muslim Indonesia]]></title>
<link>http://fuadamsyari.wordpress.com/2009/10/18/kepemimpinan-nasional-di-era-reformasi-tinjauan-bagi-negeri-muslim-indonesia/</link>
<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 16:20:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>fuadamsyari</dc:creator>
<guid>http://fuadamsyari.wordpress.com/2009/10/18/kepemimpinan-nasional-di-era-reformasi-tinjauan-bagi-negeri-muslim-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[INDONESIA DI ERA REFORMASI Era Reformasi harus dibaca beda dengan era Orde Baru agar sikap dan peril]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<h3><strong>INDONESIA</strong><strong> DI ERA REFORMASI</strong></h3>
<p>Era Reformasi harus dibaca beda dengan era Orde Baru agar sikap dan perilaku kita lebih efektif dan efisien, khususnya dalam upaya Pembangunan Bangsa. Pada masa awal Orde Baru kekuasaan politik cenderung represif pada Islam karena dianggap menjadi salah-satu potensi ancaman pada rezim yang sedang berkuasa. Upaya sistematis dilakukan kekuasaan formal untuk menekan gerak sosial-politik umat Islam termasuk pemberian cap ‘ekstrim kanan, subversi, ekstrimis, DI-TII, dsb.’ yang ujung-ujungnya menekan aktifis Islam untuk tidak bisa bergerak maju dalam bidang sosial-politik. Bahkan partai politik yang berasas Islampun secara sistematis dibawa ke arah meninggalkan asas Islamnya, demikian pula dengan ormas Islam sekalipun yang akhirnya merubah asas Islam menjadi asas lain. <strong><em>Apakah dengan cara begitu Negeri Muslim ini lalu menjadi negara maju dan jaya?</em></strong> Ironisnya umat Islam Indonesia tidak berkutik menghadapi tekanan seperti itu dan ikut saja arus gerak politiking yang direkayasa oleh orang lain. Kita perlu introspeksi mampukah kiranya umat Islam Indonesia masih bisa bertahan bila terjadi lagi upaya depolitisasi Islam seperti itu? Dalam sejarah Orde Baru itulah proporsi umat Islam Indonesia terus merosot dari lebih 95% menjadi turun tinggal 86% saja. Sekali lagi justru pada status seperti itu ironisnya banyak tokoh Islam masih berani menepuk dada bahwa mereka berhasil membuat Islam jaya di negerinya.</p>
<p><!--more Read more &#62;&#62;&#62;-->Babak ke dua Orde Baru bisa ditandai mulai dari berdirinya ICMI tahun 1990 oleh para aktifis Islam khususnya  lulusan sekolah umum di dalam maupun di luar negeri. Cendekiawan muslim itu bergerak secara sistematis pula dari lokal ke lokal mengajarkan Islam secara utuh/kaaffah pada generasi muda terpelajar dan masyarakat luas tentang perlunya menggunakan metoda Islam dalam membangun bangsa dan perlunya melibatkan aktifis Islam dalam mengelola negara karena mayoritas rakyat Indonesia adalah muslim. Mereka menolak tegas isolasi atau peminggiran aktifis Islam dalam proses pembangunan nasional. Islam dan umat Islam pelan-pelan dibawa ke depan oleh aktifis Islam tersebut yang akhirnya secara formal mendirikan ICMI walau dengan tantangan yang besar dan berat dari kelompok sekuler dan musuh Islam. Dari ICMI itulah lalu diakui perlunya mengikut-sertakan aktifis Islam dalam berbagai persoalan bangsa secara makro sehingga orang tidak lagi tabu melihat Islam dalam lingkup sosial-politik. Cendekiawan muslim lalu diasosiasikan dengan kaum terpelajar Islam yang peduli lingkungannya, termasuk lingkungan pemerintahan dan kenegaraan. Melalui ICMI dilakukan konsolidasi umat Islam dari berbagai ormas, orpol, serta birokrasi sehingga nampak benar keakraban diantara mereka dalam membahas keIslaman, keIndonesiaan, dan ke Ilmuan. <strong><em>Sayangnya, masih ada saja tokoh Islam yang menolak ICMI bahkan antipati pada ICMI dengan tuduhan ‘sektarian, primordial, fanatik, dll.’ dan mendirikan forum plural sok demokratis, seperti Forum Demokrasi atau Fordem. </em></strong>Sungguh menyedihkan umat Islam di negeri ini, visinya sudah jungkir balik karena rekayasa musuh-musuh Islam, di mulai oleh penjajah Belanda dengan politik Islamnya sampai ke rezim-rezim sekuler yang memerintah negerinya.</p>
<h3>ANALISIS KERUSAKAN IDEOLOGI UMAT ISLAM INDONESIA</h3>
<p>Dalam pertarungan ideologi dunia amat disadari bahwa sejak dahulu sampai sekarang selalu terjadi kompetisi antar kelompok, baik secara damai maupun secara kekerasan melalui peperangan. Hal ini jelas sudah merupakan sunnatullah sosial-politik yang tidak bisa dihindarkan. <em>Islam sebagai agama yang juga mengajarkan  prinsip sosial-politik jelas memiliki pesaing dengan ideologi lain, yakni ideologi sekuler dengan bentuk-bentuk operasionalnya seperti: kapitalisme, komunisme, sosialisme, dan nasionalisme. <strong>Hakekat persaingan ideologi itu amatlah jelas yakni: <span style="text-decoration:underline;">persaingan metoda dalam mengelola suatu bangsa dan negara melalui kekuasaan formal</span>.</strong></em> Karena kekuasaan itu memiliki potensi memberi keuntungan individu manusia yang sedang berkuasa maka persaingan sosial-politik itu bisa menjadi amat tajam, sampai mempertaruhkan jiwa-raga melalui teror, intimidasi, penghianatan, dan peperangan. Demi kekuasaan pula maka seorang tokoh bisa saja <strong>menggunakan segala cara untuk berkuasa</strong> sehingga <strong><em>aspek metoda mengelola bangsa-negara sebagai suatu ideologi lalu sering menjadi sekunder</em></strong>, hanya menjadi pelengkap atau instrumen saja dalam upaya proses untuk merebut kekuasaan atau mempertahankan  kekuasaannya. Akibat dari perilaku seperti ini jelas sewaktu si tokoh berkuasa maka nasib rakyat menjadi semakin rusak karena dieksploitasi oleh penguasa yang ingin terus mempertahankan dan menikmati  kekuasaannya. Di sinilah <em>penjelasan mengapa ‘kekuasaan’ itu dikatakan cenderung ‘korup’.</em></p>
<p>Persaingan antara Islam politik dan ideologi lain di dunia intinya justru  terletak pada metoda pengelolaan negara, apakah menurut ajaran sosial-kenegaraan al Qur’an dan Sunnah Nabi atau menurut kehendak bebas pikiran manusia belaka. Pertarungan ideologi Islam dengan kapitalisme, nasionalisme, komunisme dan lain-lain-isme itu hakekatnya adalah <strong>pertarungan apakah ‘mau atau tidak’ menggunakan prinsip syar’i untuk mengatur bangsa dan negara</strong>. Di sinilah sebenarnya hakekat pertarungan itu, yakni pertarungan antara Manusia penganut Islam (Kaffah) dengan Manusia Sekuler (di dalam manusia sekuler ada orang Islam nya juga namun bervisi non-Islam dalam masalah sosial politik). Oleh sebab itu begitu manusia muslim menjadi <strong>sekuler, yakni menganggap Islam tidak mengajarkan sistem sosial-kenegaraan </strong>maka sesungguhnya manusia itu sudah menjadi budak ideologi diluar Islam alias <strong>kafir secara ideologis</strong>. Bila sudah kafir secara ideologis dia bisa saja memilih menjadi penganut kapitalisme, nasionalisme, komunisme, sosialisme, dll yang pada hakekatnya hanyalah sebagai varians ideologi sekuler tersebut. <strong><em>Sayangnya, sungguh amat banyak orang Islam Indonesia, termasuk tokoh-tokohnya, yang telah menjadi manusia sekuler, membuang tuntunan sosial-politik dari Allah swt.</em></strong></p>
<p>Persaingan ideologis skala dunia seperti diuraikan itu menjadi semakin tajam tatkala umat Islam dunia menjadi menyadari <strong><em>beratnya kerusakan dunia akibat diberlakukannya metoda sekuler dalam mengelola wilayah-negara</em></strong>. Sebagian umat Islam kemudian melakukan konsolidasi tahap demi tahap dan akhirnya di sana-sini berhasillah melakukan perlawanan terhadap ideologi sekuler dan memenangkan persaingan berat itu. Lahirnya Iran baru, Nigeria, Afganistan, Libya, dan bertahannya beberapa pemerintahan Islam di wilayah Timur Tengah jelas merupakan bentuk-bentuk kemenangan ideologi Islam terhadap ideologi sekuler. Rekayasa politik penganut faham sekularisme yang pada dasarnya dimotori negara Barat yang mayoritas penduduknya pemeluk Kristen jelas menjadi semakin menggebu. <strong><em>Sasaran utama mereka dalam memenangkan pertarungan ideologis itu tentu negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim</em></strong> seperti Indonesia. Mereka dengan segala macam bentuk tipu-muslihat sosial-politik berupaya agar negara mayoritas penduduk muslim itu tidak jatuh ke tangan pemeluk Islam yang benar (Islam kaffah, bukan pemeluk Islam sekuler). Strategi mereka sesungguhnya mudah dibaca, yakni: <strong><em>membelokkan faham keIslaman kaum muslimin untuk menjadi faham Islam sekuler, yakni Islam yang hanya berdimensi pribadi-ritual-spiritual.</em></strong> Sasaran atau target operasi mereka juga terarah, yakni sentra-sentra pengajaran Islam di negeri muslim. Strategi itu sesungguhnya tidak sulit untuk dikenali asal umat Islam sedikit saja mau berfikir jernih. Oleh target propaganda seperti itu (dengan modal dana yang besar pula)  maka tidak perlu diherankan jika tokoh Islam Sekuler yang lahir di negeri ini banyak yang jebolan Lembaga Pendidikan Islam. Sudah cukupkah pertahanan Lembaga Pendidikan Islam, Negeri maupun Swasta, di Indonesia oleh serangan frontal sekularisme Barat terhadap ideologi Islam bagi  anak didik mereka? <strong>Ini jelas tantangan bagi lembaga pendidikan Islam itu.</strong></p>
<p>Salah satu strategi andalan Barat dalam mensekularkan pikiran orang Islam atau tokoh Islam adalah melalui <strong><span style="text-decoration:underline;">propaganda jargon</span></strong>. <strong><em>‘Fight Radical Islam with Words, not Election’</em></strong> adalah salah satu strategi dasar perang ideologi yang dicanangkan mereka. Maka berhamburanlah istilah-istilah baru di dunia kaum muslimin, termasuk di Indonesia seperti: primordial, sektarian, skriptualis, fundamentalis, radikal, dll. Pada sisi lain mereka juga melempar istilah-istilah bernada simpatik seperti: <em>plural, moderat, jalan tengah, toleransi, teologi pembebasan, teologi pluralisme, kontekstual, substansialis, universalisme,</em> dll. Siapakah yang termakan jargon-jargon seperti itu? Mereka menjadi lupa dan meninggalkan ajaran sosial-politik yang diajarkan oleh  agamanya sendiri, bahkan lupa memasyarakatkan istilah dan simbul Islam..</p>
<h3>KEPEMIMPINAN  INDONESIA DI ERA REFORMASI</h3>
<p>Era reformasi jelas sebagai era <strong><em>persaingan ideologi secara sehat dan elegan, tanpa represi kekuasaan dan militer</em></strong>. Dalam era ini rakyat bebas berkumpul, berserikat, dan menyampaikan aspirasinya dalam bidang sosial-politik, tidak takut ditangkap, diteror, diintimidasi oleh kekuasaan politik dan militer. Dalam era seperti ini <strong>Kepemimpinan Islam</strong> (figur yang menjadi Pemimpin Organisasi Islam, khususnya PARTAI POLITIK ISLAM yang memang berjuang di front kekuasaan) harus dipegang oleh tokoh yang berani secara tegas menyatakan bahwa dia ingin <strong>mengelola negeri ini dengan cara atau metoda Islami demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia. </strong>Tokoh tersebut harus memiliki wawasan sosial-kenegaraan Islam sesuai dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah Nabi. Dia harus mampu menerjemahkan Syari’at Islam terkait kehidupan Sosial-kenegaraan (<em>tanpa sikap ‘taqiyah’ atau menutup-nutupii predikat Islamnya</em>), seperti: pola <strong>ketata-negaraan yang diajarkan agama Islam, pembangunan ekonomi nasional Islami, pertahanan-keamanan Islami, budaya nasional luhur-bermoral sesuai tuntunan Islam, pendidikan nasional Islami, dan hukum positif yamg dipandu ajaran Islam</strong>. Visi tegas seperti itu harus disosialisasikan secara intensif di dalam kalangan umat Islam agar memperoleh dukungan nyata dalam proses persaingan terbuka, <strong><em>khususnya saat pemilu dan pilkada</em></strong>. Umat Islam harus intensif dididik (diberi pelajaran, ceramah, pengajian, dakwah, fatwa) supaya <strong>memihak-memilih Partai Islam</strong> dan <strong>Pemimpin yang Pro Syariat</strong>. Tentu saja Pemimpin ideal di era ini juga harus berakhlaq mengikuti prinsip “asyiddaa’u ‘alal kuffari, rukhamaa’u baunahum”, yakni pemimpin yang lemah-lembut, santun, peduli pada penderitaan rakyat, penuh perhatian, bersikap ramah (tidak arogan dan jadi sok karena dipilih sebagai pemimpin), dan hidupnya sederhana walau dia sedang memiliki harta banyak (dari rizki yang halal).</p>
<h3>DARI KEPEMIMPINAN BAGI KELOMPOK ISLAM MENUJU KEPEMIMPINAN NASIONAL</h3>
<p>Ditinjau dari sisi lingkup bangsa-negara yang plural (semua bangsa-negara pada hakekatnya plural)  maka di Indonesia ini dikenal ada tiga macam tipe Pemimpin yang kini sedang bersaing ketat memperebutkan posisi. Dengan meminjam kosa kata MUSLIM, NASIONALIS, DAN SEKULER maka dapat dibedakan adanya tiga kategori pemimpin Indonesia, yakni: 1). <em>Nasionalis Sekuler; </em><strong>2)</strong><em>. Muslim Sekuler; </em>dan 3).<em> Muslim Nasionalis</em>. Untuk memberi penjelasan atas adanya ke tiga kelompok itu maka perlu  diberikan definisi operasional sebagai berikut: <strong><span style="text-decoration:underline;">Nasionalis Sekuler</span></strong> tidaklah memandang aspek apapun dari agama  dalam upayanya mengelola Indonesia, mereka murni mencari konsep pembangunan dari teori yang dikembangkan manusia seperti komunisme, sosialisme, kapitalisme, sinkretisme, dll.<strong> <span style="text-decoration:underline;">Muslim Sekuler</span></strong> masih memiliki kepedulian pada Islam di Indonesia namun hanya sisi ritual-spiritualnya belaka, sedang pada sisi sosial-kenegaraan mereka membuang tuntunan Islam dan mengambil teori pembangunan  yang direka manusia, sehingga tidak banyak beda dengan kelompok nasionalis sekuler dalam proses pengelolaan bangsa-negara. Sedang <strong><span style="text-decoration:underline;">Muslim Nasionalis</span></strong> adalah mereka yang cinta Indonesia, ingin membesarkan Indonesia, ingin membebaskan Indonesia dari semua krisis sosialnya dengan metoda sosial-kenegaraan Islam yang diajarkan oleh al Qur’an dan Sunnah Nabi.</p>
<p>Kalau dilihat dari sisi sejarah Indonesia, selama ini pemerintahan RI sudah pernah dipegang oleh golongan <em>nasionalis sekuler</em> dan <em>muslim sekuler</em>, namun belum pernah dipegang oleh <em>muslim nasionalis </em>(perhatikan definisi operasional sebelumnya). Secara syar’i jelas negeri ini seharusnya dipimpin  oleh kelompok <em>muslim nasionalis</em> agar bisa menjadi bangsa dan negara yang maju dan besar mengingat mayoritas penduduk Indonesia itu muslim (Negeri Muslim). Sayangnya kualitas umat Islam Indonesia masih lemah <strong>(karena salah ‘pengajaran keislamannya’)</strong>, khususnya di sisi aqidah, sehingga umat pada umumnya membiarkan dan bahkan mendukung tokoh nasionalis sekuler dan muslim sekuler untuk memegang kendali pemerintahan dan tidak mau memilih tokoh muslim nasionalis sebagai pemimpin negara. Pada era reformasi inilah kesempatan persaingan sehat dan jujur sedang terbuka lebar, dan insyaAllah semua komponen umat sudah menyadari kekeliruan mereka dalam memilih pemimpin nasionalnya selama ini. <strong>Ormas Islam, Parpol Islam, sentra pendidikan Islam seperti Pondok-Pesantren dan Perguruan Tinggi Islam perlu bekerja bahu-membahu mendukung Partai Islam dan Tokoh yang berani menegakkan syari’at Islam dalam bidang sosial-kenegaraan (<em>muslim nasionalis</em>) menjadi pemimpin bangsa-negara demi kejayaan umat dan bangsa Indonesia.</strong></p>
<p>Bagaimana ‘bench mark’ kepemimpinan ideal untuk negeri ini agar negeri segera menjadi negeri yang maju-adil-makmur-aman-sejahtera? Dilihat dari kepentingan negeri yang memiliki ciri utama: mayoritas penduduknya muslim, bekas dijajah ratusan tahun, dan relatif lemah kualitas pendidikan penduduknya namun kaya raya sumber daya alamnya, maka seharusnya pemimpin yang diperlukan adalah oarng yang memiliki karakter: <strong><em>ibadah mahdhanya tertib, akhlak kesehariannya bagus (jujur, amanah, shaddiq, ikhlas, sederhana), bervisi memihak kepentingan penduduk dengan  status sosial lemah khususnya mereka yang mustadhafiin, memiliki misi memberantas kemaksiatan- kemungkaran- kedholiman- kesesatan aqidah umat, dan teguh berjuang membawa misi kebenaran agama</em></strong>. Target utama Pemerintahan oleh Pemimpin tersebut akan menjadi <strong>utuh</strong>, yakni: KOKOHNYA KEDAULATAN NEGARA, KELUHURAN AKHLAK BANGSA, PENINGKATAN KEMAKMURAN RAKYAT, LINGKUNGAN SEHAT, DAN TERJAMINNYA KETERTIBAN-KEADILAN<strong><em>. Benarkah mereka yang sudah  terpilih itu (eksekutif-legislatif) telah memiliki kualitas  pemimpin ideal untuk bangsa ini</em></strong>? Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dalam langkah-langkah umat Islam Indonesia ke depan nanti.</p>
<p>Surabaya, medio Oktober 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang Surga]]></title>
<link>http://dokterpenulis.wordpress.com/2009/10/16/tentang-surga/</link>
<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 06:08:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>dokterpenulis</dc:creator>
<guid>http://dokterpenulis.wordpress.com/2009/10/16/tentang-surga/</guid>
<description><![CDATA[Suatu sore, setelah ngobrol ngalor ngidul, termasuk tentang Pakde Ketut, tetangga depan rumah yang k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Suatu sore, setelah ngobrol ngalor ngidul, termasuk tentang Pakde Ketut, tetangga depan rumah yang k]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ajakan Dzikir Anjing hu akbar di IAIN Bandung Satu Contoh Kasus]]></title>
<link>http://pikirancerah.wordpress.com/2009/10/13/ajakan-dzikir-anjing-hu-akbar-di-iain-bandung-satu-contoh-kasus/</link>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 08:28:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>rramdhoni</dc:creator>
<guid>http://pikirancerah.wordpress.com/2009/10/13/ajakan-dzikir-anjing-hu-akbar-di-iain-bandung-satu-contoh-kasus/</guid>
<description><![CDATA[Kasus ucapan mahasiswa IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Gunung Djati Bandung dalam ta&#8217;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kasus ucapan mahasiswa IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Gunung Djati Bandung dalam ta&#8217;]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Meluruskan Pemikiran Konstekstual]]></title>
<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/12/meluruskan-pemikiran-konstekstual/</link>
<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 02:08:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
<guid>http://alatsari.wordpress.com/2009/10/12/meluruskan-pemikiran-konstekstual/</guid>
<description><![CDATA[Bismillahirahmaanirrahiim, Washolatu wa&#8217;alaa rasulillahi wa&#8217;alaa &#8216;alihi wa ash hah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="margin-bottom:0;"><span style="background-color:#ffffff;">Bismillahirahmaanirrahiim, </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY">Washolatu wa&#8217;alaa rasulillahi wa&#8217;alaa &#8216;alihi wa ash hahibi ajma&#8217;in waman tabi&#8217;ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba&#8217;du.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kita tentu tidak asing dengan yang namanya Jaringan Islam Liberal yang mendapatkan dana dari FTA (Foundation to Asia) milik Yahudi tersebut. Kita tentu juga tidak asing dengan pemikiran-pemikiran mereka yang nyeleneh seputar agama Islam. Tentu saja, mereka adalah Mu&#8217;tazillah zaman sekarang, yang mana sebagian besar pemikiran-pemikiran mereka dulunya pernah berkembang di zaman tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Dan salah satu Imam besar yang pernah berhadapan dengan mereka adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahulloh. Jaman sekarang, di saat manusia sudah dibutakan oleh kecanggihan teknologi dan juga banyak diantara mereka yang sombong terhadap apa yang mereka temukan dengan akal mereka, manusia pun mulai sedikit-demi-sedikit meninggalkan apa yang disebut pegangan hidup mereka. Padahal pegangan hidup itulah yang bakal menyelamatkan mereka, baik dari dunia ini maupun nanti di kehidupan selanjutnya. Pegangan itulah yang disebut Al Qur&#8217;an dan As Sunnah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda, “<em>Aku tinggalkan kalian dalam keutamaan dan kemuliaan (ajaran agama) yang terang-benderang, malamnya seterang siangnya, dan tiada orang yang menyimpang darinya kecuali ia akan binasa.”</em> [Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Hakim dalam al-Mustadrak dari jalan periwayatan Imam Ahmad, dan oleh Ibnu Abi Ashim dengan sanad hasan dalam kitab as-Sunnah, hadits no. 48, dengan takhrij al-Albani, dan ia mensahihkannya dengan lanjutannya. Lihat kitab al-Muntaqa min Kitab at-Targhib wa Tarhib, 1/114, hadits no. 39]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dari Abu Najih ’Irbadh bin Sariyah rodhiallohu ‘anhu dia berkata, <em>“Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati kami dengan nasihat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata.</em> Kami bertanya, <em>“Wahai Rasulullah, seperti ini adalah nasihat perpisahan, karena itu berilah kami nasihat”</em>. Beliau bersabda, <em>“Aku wasiatkan kepada kalian untuk tetap menjaga ketakwaan kepada Alloh ‘azza wa jalla, tunduk taat (kepada pemimpin) meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak Habsyi. Karena orang-orang yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan, hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Alloh). Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid’ah adalah sesat.”</em> (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan shahih”)<!--more--><br />
</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Yang akan saya bahas kali ini adalah syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang ahlu kalam, liberal dan orang-orang yang mendukung mereka. Dan yang beberapa hal yang masyhur saat ini adalah pembahasan makna konstekstual. Mereka mengatakan bahwa dalam memahami dalil Al Qur&#8217;an dan As Sunnah itu tidaklah bersifat mutlak, tidaklah bersifat konstekstual, mereka istilahkan hal ini dengan <em>gebyah uyah</em><span style="font-style:normal;">, sebuah istilah yang menerima doktrin tanpa dipikir secara akal terlebih dahulu. Sebenarnya untuk membantah hal ini cukup dengan satu kalimat singkat, “Apakah ketika disuruh untuk beriman kepada Allah kita disuruh berpikir dulu baru kemudian beriman?”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Lontaran nasehat “Jangan berpikiran secara konstekstual” ini sebenarnya ditujukkan kepada salafiyin, kepada sebuah kelompok yang mereka namakan wahabi. Dan liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan sufisme sejak dari dulu berseberangan dengan kelompok yang mereka namakan wahabi. Jadi yang akan kita bahas di sini lebih dari sebuah pembahasan pemikiran serta meluruskan seperti apakah kita dalam menggunakan dalil-dalil dari Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sehingga yang dimaksud konstekstual itu tidak bernilai negatif terhadap orang-orang awam yang tidak faham masalah agama.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;"><strong>Al Qur&#8217;an sebagai Kalamulloh dan Hadits sebagai Khoirul Huda</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dalam khutbatul hajat, rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda, “Dan sebaik-baik perkataan adalah kalamulloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam”. Hal ini sering kita dengar ketika kita mendengarkan khutbah Jum&#8217;at dan juga ceramah-ceramah keagamaan. Namun tanpa kita sadari kita tidak faham maksudnya, dan juga kita tidak faham bagaimana mengamalkan nasehat beliau shallallahu&#8217;alaihi wa sallam yang mulia ini.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Apabila kita beriman kepada Al Qur&#8217;an dan kepada rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam maka, kita akan dihadapkan kepada persoalan, yaitu apakah kita menganggap Al Qur&#8217;an sebagai Kalamulloh ataukah sebagai makhluk. Mereka (kaum liberal) tentu saja menganggap Al Qur&#8217;an ini sebagai makhluk. Apa buktinya mereka menganggapnya sebagai makhluk? Mereka tidak lagi menghormati kedudukan Al Qur&#8217;an sebagai Kalamullah, kita bisa melihat bagaimana mereka mengambil sebagian ayat dan kemudian ditafsirkan menurut kata hati mereka. Atau mereka menganggap bahwa Al Qur&#8217;an itu adalah sebagai sebuah kitab yang mana sebagian isinya harus mengikuti perkembangan zaman. Jadi Al Qur&#8217;an mereka anggap adalah kitab seperti Injil orang-orang Nasrani sekarang ini yang bisa berubah karena perkembangan zaman, atau seperti Tauratnya orang-orang Yahudi sekarang ini yang sebagian isinya bisa ditolak atau diganti sebagaimana tafsiran menurut rahib mereka.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dengan kita bersyahadat Asyhadu anlaa ilaa haillallah wa ashyahadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh maka, kita punya konsekuensi yang besar. Tidak main-main konsekuensi ini, maka dari itulah dulu ketika orang-orang kafir Quraisy dihadapkan kepada dua kalimat syahadat ini, mereka tidak mau dan hanya sebagian saja yang mendapatkan petunjuk yang mau mengucapkannya dan masuk kepada Islam. Dengan bersyahadat kalimat tauhid, maka kita beriman kepada Allah, menunggalkan Allah dalam segala bentuk peribadatan, hanya mengagungkan-Nya, hanya memohon kepada-Nya, hanya bersujud kepada-Nya, dan hanya menghinakan diri kepada-Nya. Sehingga kita siap terhadap apa yang diaturnya, kita siap terhadap apa yang diperintahkan-Nya, kita siap terhadap apa yang diberikan Allah, kita juga siap terhadap konsekuensi apabila kita menentang perintahnya, yaitu siap menerima hukum Allah di dunia, dan siap mengikuti seorang manusia yang menjadi rasul yang membawa risalah untuk manusia. Sedangkan konsekuensi syahadat kedua adalah penyempurna dari syahadat yang pertama, yaitu mengambil seluruh syariat dari rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam, tidak menganggap rasul sebagai tuhan, tidak mengangkatnya sampai kepada derajat ketuhanan, meyakini apa yang dibawanya, membela ajarannya, membelanya baik dengan harta ataupun nyawa, dan apapun yang beliau sampaikan maka kita tunduk dan patuh seratus persen kepada beliau.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Inilah kekuatan Islam, inilah inti kekuatan Islam itu, yang apabila manusia lepas dari pemahaman ini, ataupun tidak faham terhadap masalah syahadat ini niscaya sia-sialah amalannya. Ibaratnya mereka mengetahui nama-nama arah mata angin utara, timur, barat, dan selatan, tapi tidak tahu yang mana utara, timur, barat dan selatan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Namun, ternyata JIL berkata lain terhadap syari&#8217;at yang dibawa oleh Allah dan rasul-Nya ini. Bagi JIL dengan manusia menyerahkan setiap masalah kembali kepada syari&#8217;at agama, maka hal itu adalah kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi adalah cara untuk lari dari masalah. Sebagaimana tulisan Ulil Abshar Abdalla sebagai berikut:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Pandangan bahwa syari’at adalah suatu “paket lengkap” yang  sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri.  Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah salah satu bentuk kemalasan berpikir atau lebih parah  lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah, sebentuk eskapisme, inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana.” (Islam Liberal &#38; Fundamental hal. 13).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Ini adalah hal pertama yang saya bahas. Pemikiran JIL di atas sangat berbahaya dan tidak sepantasnya hal itu diucapkan oleh seorang muslim yang sholat, yang faham terhadap syari&#8217;at, yang faham bahwa Allah adalah tempat bergantung.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kita jawab tulisan Ulil tersebut dengan firman Allah:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَد</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">اللَّهُ الصَّمَدُ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">Artinya:”Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dan tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada satu makhluk pun yang setara dengan Dia”. [Q.S. Al Ikhlash]</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Sebenarnya cukup firman Allah itu yang menjawab tulisan Ulil. Namun akan saya perjelas lebih lanjut lagi. Apabila kita menganggap bahwa Al Qur&#8217;an hanyalah doktrin, hanyalah sebuah konstekstual yang tidak mungkin diterima gebyah uyah begitu saja, maka sudah barang tentu hal ini salah. Allah menurunkan ayat-ayat yang muhkamat dan ayat-ayat yang mutasyabihat. Adapun ayat-ayat muhkamat, maka ayat-ayat tersebut bisa langsung dipraktekkan dan bisa langsung difahami. Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang tidak bisa ditafsiri secara langsung, tidak bisa difahami, dan perlu kita bertanya kepada orang yang tahu yaitu rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sebagai pembawa syari&#8217;at untuk menjelaskannya, maka dari itulah ada hadits sebagai penjelas dan penafsir dari ayat-ayat tersebut. Adapun ayat-ayat yang tidak dijelaskan oleh rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam tafsirannya, maka dikembalikan lagi kepada Allah Azza wa Jalla, sebagai yang menurunkan firman-Nya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan tidaklah seluruh permasalahan yang ada di dunia ini melainkan semuanya sudah terjawab di dalam kitab yang mulia ini. Di ayat kedua surat Al Ikhlash, Allah berfirman bahwa Dia adalah Dzat yang tempat bergantung segala sesuatu. Setiap makhluk yang bernafas, mereka pasti butuh oksigen, setiap manusia pasti membutuhkan rizki, yang mana hal itu diberikan oleh Allah secara cuma-cuma, dan setiap makhluk pasti punya masalah, dan cara untuk mengatasi persoalan masalah itu sudah barang tentu Allah juga yang tahu solusinya. Maka dari itulah Allah menurunkan firman-Nya, mengutus seorang rasul, sehingga manusia diberikan jalan, ditunjukkan jalan yang benar sehingga bisa selamat baik dunia maupun akhirat. Mustahil Allah membiarkan hamba-Nya melalang buana di dunia ini tanpa diberikan petunjuk untuk mengatasi segala persoalan yang mereka hadapi. Manusia diberikan akal untuk berfikir, namun akal manusia tersebut terbatas, akal bukanlah dewa yang harus dipuja dan disembah. Akal manusia terbatas, pada hal-hal yang dilihat dan dirasakan oleh panca indera. Sedangkan apa yang diketahui oleh Allah adalah melebihi apa yang bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indera manusia. Maka dari itulah orang yang menjadikan syari&#8217;at agama sebagai solusi atas berbagai masalah, maka dia lebih berakal daripada ahlu akal. Inilah kehebatan Al Qur&#8217;an sebagai Kalamullah dan Hadits sebagai sebaik-baik petunjuk.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Maka dari itulah Allah menurunkan banyak sekali syari&#8217;at untuk bisa mengatasi setiap persoalan yang dihadapi manusia. Misalnya, ketika seseorang ingin dipanjangkan umurnya, maka Allah dan rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita silaturahim, apabila suatu daerah tidak pernah turun hujan dan kekeringan, maka Allah menurunkan solusinya yaitu sholat minta hujan, apabila penduduk di suatu negeri banyak yang miskin, maka Allah menurunkan solusinya, yaitu berzakat, berinfaq, bershodaqoh. Apabila ada seseorang mengidap penyakit, syari&#8217;at yang mulia ini pun telah menurunkan obatnya, banyak sekali riwayat-riwayat yang menjelaskan bagaimana mereka bisa sembuh dengan ruqyah dengan ayat-ayat Al Qur&#8217;an, ataupun do&#8217;a-do&#8217;a yang diajarkan oleh rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam, atau dengan tibbun nabawi, seperti madu, habatus saudah, dan sebagainya. Inilah syari&#8217;at Allah yang maha luas. Kalau kita tidak bergantung kepada Allah terhadap masalah-masalah yang kita hadapi, lalu apakah kita harus berpikir sendiri terhadap diri kita, sedangkan kita sendiri adalah orang lemah? Manusia itu lemah, akal mereka terbatas, dan tentu saja membutuhkan tempat bergantung dalam setiap persoalan. Dan tidak ada tempat yang lebih baik untuk bergantung selain kepada Allah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;"><strong>Salahkah Kembali kepada Memahami Ayat Secara Konstekstual</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Pertama, kita lihat dulu maksud konstekstual ini. Apabila maksud konstekstual ini taqlid kepada salah seorang ulama, taqlid kepada orang-orang tertentu, atau golongan tertentu sudah barang tentu hal ini salah kaprah. Kedua, apabila maksud dari konstekstual ini adalah memahami Al Qur&#8217;an dan Al Hadits sesuai dengan pemikiran masing-masing dan tidak kembali kepada ayat-ayat Allah dengan pemahaman salafush sholeh, ini juga salah dan bisa menyesatkan. Ketiga, apabila maksud dari konstekstual ini adalah memahami Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam dan para shahabatnya, dan juga generasi yang mengikuti mereka, serta orang-orang beriman yang mengikuti mereka dengan baik, maka sudah barang tentu tuduhan konstekstual apabila dialamatkan kepada kelompok yang ketiga ini sangat salah besar.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Nyatanya tuduhan konstekstual itu selalu dialamatkan kepada wahabi atau salafiyin. Orang-orang liberal, dan orang-orang yang sefaham dengan mereka mengatakan bahwa wahabi atau salafiyin hanya memahami ayat-ayat secara ortodoksi, secara konstekstual, sehingga mereka tidak berkembang, mereka berpikir kuno dengan cara mengembalikan Islam seperti pada zaman shahabat. Orang-orang liberal menganggap hal ini salah, tapi mari kita bahas persoalan yang besar ini.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Al Qur&#8217;an dan Al Hadits adalah wahyu. Sebab wahyu itu ada dua, yaitu:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">1. Wahyu yang berbentuk teks dan kandungannya merupakan firman Allah Subhanahu wa ta&#8217;alaa, dan wahyu inilah yang dimaktub dalam Al Qur&#8217;an Al Kariim.</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">2. Wahyu yang kandungannya dari Allah Subhanahu wa ta&#8217;alaa, namun teks yang memuatnya diserahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam.</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Allah Subhanahu wa ta&#8217;alaa berfirman:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُون</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">artinya:”Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” [Q.S Al Baqarah: 151]</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Ibnu Katsir rahimahulloh ketika menafsiri ayat ini berkata, “Allah Ta’ala mengingatkan hamba-hamba-Nya akan kenikmatan-Nya yang telah dilimpahkan kepada mereka; berupa diutusnya Nabi Muhammad shollallahu&#8217;alaihi wasallam kepada mereka. Beliau membacakan kepada mereka ayat-ayat yang jelas kandungannya, dan beliau juga mensucikan diri mereka dari perangai yang hina, kepribadian yang kotor, dan perilaku orang-orang jahiliyyah. Sebagaimana beliau juga telah membawa mereka keluar dari kegelapan menuju kepada cahaya, mengajarkan kepada mereka Al Kitab yaitu Al Qur’an, Al Hikmah yaitu As Sunnah, dan mengajarkan kepada mereka apa-apa yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Dahulu mereka berada dalam kegelapan jahiliyyah, berperilaku bodoh, kemudian mereka berubah –berkat risalah dan kenabian dan menjadi berkepribadian para wali dan bertingkah laku para ulama’. Dengan demikian mereka telah menjadi orang yang paling dalam ilmunya, baik hatinya, jauh dari sikap mengada-ada, dan paling jujur ucapannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/195-196).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“Diriwayatkan dari sahabat Miqdan bin Ma’dikarib rodiallahu ‘anhu ia menuturkan: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketahuilah bahwa aku telah diberi (diturunkan kepadaku) Al Kitab dan yang serupa dengannya (yaitu As Sunnah) bersamanya, Ketahuilah bahwa aku telah diberi (diturunkan kepadaku) Al Qur’an dan dan yang serupa dengannya (yaitu As Sunnah) bersamanya. Ketahuilah bahwa tak lama lagi akan ada orang yang bersila diatas balai-balai dan ia dalam keadaan kenyang, berkata:‘Hendaknya kamu mengikuti Al Qur’an (saja) sehingga apa yang kamu dapatkan di dalamnya halal, maka halalkanlah, dan apa yang kamu dapatkan diharamkan di dalamnya, maka haramkanlah.’” (HSR Ahmad dan Abu Dawud)</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan seluruh para ulama ahli ushul dan fiqih telah sepakat bahwa Al Qur&#8217;an dan As Sunnah adalah satu sumber hukum yang mana keduanya adalah wahyu dan harus dita&#8217;ati. Maka dari itulah Allah menyuruh umat islam menjadikan rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sebagai suri tauladan yang baik. Sebab mustahil orang yang punya salah, bisa salah karena ucapan dan perbuatannya dijadikan sebagai suri tauladan. Inilah mukjizat Al Qur&#8217;an yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam. Ia dilindungi oleh Allah atas segala kesalahan, dan bagi siapa yang mengikutinya akan ada jaminan syafa&#8217;at darinya, dan akan dimasukkan ke dalam umatnya, dan berakhir di dalam jannah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">artinya:”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Q.S. Al Ahzab: 21]</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan setiap orang pasti perkataannya bisa ditinggalkan ataupun diterima, selain nabi Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhu:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY">“<span style="font-style:normal;">Tiada seorang pun melainkan perkataannya diterima dan sebagian lain ditolak, selain Nabi Shalalllahu&#8217;alaihi wa sallam” [ Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Al Kabir]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Mari kita lihat tulisan Ulil berikut:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Islam yang diwujudkan di madinah partikular, historis, dan kontekstual, sempurna untuk ukuran zamannya, tapi tidak sempurna untuk ukuran saat ini. Kita tidak bisa menerapkan apa saja yang diterapkan pada masa itu. Makanya, Islam pada masa Nabi one among others. Artinya, satu di antara kemungkinan untuk menerjemahkan Islam di muka bumi.” (Islam Liberal &#38; Fundamental, hal. 246).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Di sana jelas sekali pernyataan Islam liberal yang menuduh bahwa apa yang diperjuangkan oleh rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam, apa yang telah beliau korbannya harta dan darahnya, hanyalah satu dari bentuk Islam yang sebenarnya. Dan dikatakan apa yang beliau perjuangkan bukanlah Islam yang universal. Nanti akan kita bahas, kita perjelas saja maksud dari tulisan-tulisannya. Di tulisannya yang lain:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Nabi itu manusia biasa, tetapi diberi kelebihan oleh Allah. Dia itu aktor sosial yang menghendaki perubahan, seperti para pemimpin revolusi di dunia. Ia membangun idealisme, tapi tak semuanya bisa terwujud, karena struktur sosial tak bisa diubah sepenuhnya.” (Islam Liberal &#38; Fundamental, hal. 246).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Di sini sudah jelas bahwa Ulil, mengatakan bahwa nabi itu hanya aktor sosial, dan menyamakan nabi shallallahu&#8217;alaihi wa sallam seperti pemimpin-pemimpin revolusi lainnya, baik yang kafir ataupun muslim. Dan ini jelas sekali terlihat dari tulisannya yang berikut:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Menurut saya: Rasul Muhammad Saw adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).” (Idem hal 9-10).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kita bahas dulu pernyataan mereka di atas. Di awal kita telah bahas bahwasannya Al Qur&#8217;an adalah Kalamulloh, dan Hadits adalah wahyu kedua, sehingga rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam adalah seorang panutan yang wajib bagi setiap muslim untuk mengikuti perintah beliau. Dan Allah juga telah memfirmankan di dalam kitab yang mulia tentang Rasul sebagai Uswatun Hasanah. Dari sini tentu saja, kedudukan rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam, selain sebagai seorang hamba, beliau mempunyai kelebihan, mempunyai keistimewaan, tidak bisa disandingkan dengan orang-orang kafir, tidak bisa disetarakan dengan pemimpin revolusi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam berjuang, berdakwah untuk rabb semesta alam. Beliau tidak minta upah, beliau juga tidak pernah menginginkan kedudukan, beliau juga tidak pernah menginginkan wanita, beliau adalah orang yang paling ikhlash di muka bumi ini dalam berdakwah. Beliau juga tak butuh pengikut ataupun prajurit untuk berjuang, beliau tunduk pada aturan dan pada perintah Allah, dan dengan perkataannya yang baik itulah akhirnya banyak orang yang datang sendiri kepada beliau shallallahu&#8217;alaihi wa sallam, dan dengan mukjizat yang dibawa oleh beliaulah akhirnya banyak orang yang mendapatkan petunjuk.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan agama Islam, bukanlah sebuah agama mitos. Agama Islam itu adalah wahyu. Justru, kalau menganggap bahwa rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam hanyalah sebuah mitos, yang kita tahu sendiri apa itu definisi mitos, maka orang tersebut kalau tidak kafir ia pasti munafiq. Dengan menuduh rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam banyak kekurangannya, maka sudah pasti ia juga menuduh agama Islam ini ada kekurangannya. Padahal telah jelas dan Allah telah berfirman bahwa agama Islam yang beliau dakwahkan ini telah sempurna dan Allah telah memfirmankannya dalam sebuah ayat di surat Al Maidah ayat 3.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Diriwayatkan dari Imam Bukhari dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu&#8217;anha:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sering sholat malam, sampai kaki beliau bengkak. Aku bertanya, “Wahai rasululloh, kenapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu sebelum dan setelahnya?”. Rasululloh menjawab, “Apakah aku tidak pantas menjadi seorang hamba yang bersyukur?”.</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kita sebagai umat Islam harus mengakui bahwa rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam adalah sebaik-baik panutan. Namun tidak boleh mengangkatnya sampai kepada derajat ketuhanan. Beliau adalah hamba Allah yang paling mulia, dan tinggi derajatnya, namun kita tidak boleh menyamakan beliau seperti diri kita, dan orang lain. Beliau adalah manusia yang dijaga, sebab apabila beliau melakukan kesalahan, maka beliau ditegur oleh Allah dan teguran itu menjadi syari&#8217;at. Kemudian apabila beliau hendak berbuat yang dilarang Allah langsung menegurnya agar tidak berbuat demikian dan beliau langsung patuhi, sedangkan apabila beliau berkata sesuatu dan Allah mendiamkannya, maka menjadi syari&#8217;at, demikian juga ketika salah seorang shahabat melakukan sesuatu yang beliau mendiamkannya, maka itupun menjadi syari&#8217;at. Sehingga tiada satupun titik celah beliau berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri, dan tiada satupun titik celah beliau berbuat dosa, karena setiap langkah beliau terjaga.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Apakah rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam harus dikritisi dengan orang setingkat Ulil padahal beliau adalah satu-satunya orang yang harus diterima segala perkataannya? Ataukah kita yang sholat malam saja jarang, bahkan tidak pernah mungkin. Apakah kita yang sholat saja belum benar, puasa sunnah saja kadang-kadang, baca Al Qur&#8217;an saja mungkin masih kalah daripada baca koran mau mengkritisi rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam? Ataukah orang-orang seperti Ulil yang makan dari FTA-nya yahudi yang pantas untuk mengkritisi rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam?</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kita umat Islam, kalau kita taqlid kita hanya taqlid kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa yang dari Allah dan Rasul-Nya, maka kita terima, dan apa yang dilarang dari Allah dan rasul-Nya, maka kita tinggalkan. Inilah jalan Islam yang benar dan lurus, bukan jalan yang sesat.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Satu lagi kesesatan mereka adalah mengatakan bahwa nabi Muhammad shallallahu&#8217;alaihi wa sallam bukanlah nabi penutup. Sebagaimana tulisan Ulil berikut:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Nabi Muhammad sebagai ‘khatiman Nabiyyin’ seperti disebut dalam Al Qur’an tak diartikan sebagai penutup para nabi. Yang lebih tepat maknanya cincin. Ibarat jari diantara jari-jari lainnya, maka jari yang memakai cincin begitu diistimewakan, Karena itu sejarah kenabian akan tetap berlangsung setelah wafatnya Rasulullah.” (Islam Liberal &#38; Fundamental, hal. 244).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Darimanakah penafsiran ini, kalau tidak dari akal mereka? Jelas sekali bahwa kaum liberal mendukung nabi palsu, mendukung orang seperti Musailamah Al Kadzab, maka dari itu ketika dulu ada nabi palsu (Al Qiyadah Al Islamiyah) maka merekalah golongan yang pertama kali membela nabi palsu ini. Juga kita lihat bagaimana komentar-komentar mereka terhadap Ahmadiyah. Kita semua tahu bahwa Ulil bukan ahli hadits, ia juga bukan ahli tafsir, dan ia juga bukan nabi, maka dari itu apa yang ia katakan sudah pasti bisa tertolak, dan salah satu yang ditolak adalah apa yang ia tulis di atas.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Khotaman nabiyyin sudah pasti maksudnya adalah penutup nabi. Dan ia mengingkari hal ini sebagaimana tulisannya yang lain:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah ‘proses’ yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah ‘lembaga agama’ yang sudah mati, baku, jumud, dan mengukung kebebasan. Ayat “inna al dina ‘inda allah al Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai: ‘Sesunguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses yang tak pernah selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar).’” (Idem hal. 15).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Bagi saya, wahyu tidak berhenti pada zaman Nabi, wahyu terus bekerja dan turun kepada manusia.” (Idem, hal. 10).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dalam masalah wahyu, sudah dibahas di atas. Dan wahyu sudah berhenti sejak rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam wafat. Sejak beliau wafat, maka tiada satupun wahyu yang turun, kenabian telah berakhir dan apabila mengingkari hal ini ia sama saja mengingkari hari kiamat. Salah satu rukun Iman adalah mengingkari hari kiamat. Sedangkan salah satu tanda-tanda hari kiamat adalah dengan diutusnya nabi terakhir, penutup dari semua para nabi, dan juga dengan wafatnya beliau shallallahu&#8217;alaihi wa sallam maka tanda-tanda kiamat sudah ada. Kalau ini diingkari, maka sudah pasti JIL mengingkari juga hari kiamat.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">JIL yang mengatakan bahwa Islam ini adalah universal, universal yang mereka maksudkan adalah universal yang menolak syari&#8217;at. Padahal di Al Qur&#8217;an sudah jelas syari&#8217;at-syari&#8217;at yang harus diikuti, juga dalam hadits-hadits nabi, namun mereka berkata lain soal ini:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh: soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.” (Islam Liberal &#38; Fundamental, hal. 8, baca juga hal. 12, 14 &#38; 245).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Mereka menganggap bahwa jilbab, jenggot, qishash, ataupun rajam adalah budaya arab. Padahal budaya dengan syari&#8217;at itu adalah dua kata yang berbeda. Budaya adalah buatan manusia, sedangkan syari&#8217;at adalah sesuatu yang turun dari wahyu. Dan Islam menerima setiap budaya manusia, asalkan budaya itu tidak bertentangan dengan Islam. Dan syariat jenggot, jilbab, qishash, potong tangan, rajam, itu adalah syari&#8217;at yang sudah ada ketetapannya dan akan berlaku sampai nanti hari akhir. Inilah Islam yang sebenarnya, bukan Islam buatan mereka.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">JIL juga berpendapat, bahwa agar pendapat mereka tidak ditentang, mereka mengangkat isu kesederajatan sosial. Sebagaimana tulisan mereka:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Setiap doktrin yang hendak membentuk tembok antara ‘kami’ dan ‘mereka’ antara hizb Allah (golongan Allah) dan hizb syaithan (golongan setan) dengan penafsiran yang sempit atas dua kata itu, antara ‘Barat’ dan ‘Islam’; doktrin demikian adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia yang satu.” (Idem, hal. 14).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Islam menganggap dua orang itu saudara, apabila keduanya bersyahadat, satu agama, dan tunduk di bawah hukum Allah. Apabila mereka tidak bersyahadat, satu agama dan tidak menjalankan syari&#8217;at-syari&#8217;at Allah, maka mereka bukanlah Islam, bukan saudara. Maka pantaslah apabila budaya barat yang banyak bertolak belakang dengan syari&#8217;at Islam itu dikatakan sebagai salah satu bentuk hizb syaithon.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُون</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">artinya: “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi.” [Q.S. Al Mujadillah : 19]</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Ini bukti bahwa JIL adalah hizb syaithan, sebab apa yang mereka lakukan berusaha untuk memalingkan manusia dari jalan Islam yang benar, mereka berusaha dengan dana-dana dari orang-orang yahudi (sebut saja FTA) berusaha memalingkan manusia kepada ajaran Islam versi mereka. Dan mereka tidak sungkan-sungkan menampakkan tanduk setan mereka ketika memproklamirkan diri bahwa seluruh agama itu benar. Sebagaimana yang ditulis oleh Ulil:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan: semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti ini, jalan panjang menuju Yang Maha Benar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam keluarga besar yang sama, yaitu keluarga pencinta jalan menuju  kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.” (Idem, hal. 15).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Umat Islam harus berijtihad mencari formula baru dalam menerjemahkan nilai-nilai itu dalam konteks kehidupan mereka sendiri. “Islam”nya Rasul di Madinah adalah salah satu kemungkinan menerjemahkan Islam yang universal di muka Bumi; ada kemungkinan lain untuk menerjemahkan Islam dengan cara lain dalam konteks yang lain pula. Islam di Madinah adalah one among others, salah satu jenis Islam yang hadir di muka Bumi.” (Idem, hal. 10).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Untuk membantah dua paragraf ini Allah telah berfirman dalam sebuah kalimat yang singkat, padat dan jelas, firman Allah tersebut adalah:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-size:large;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY">artinya: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku atas dirimu, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu”. [Q.S. Al Maaidah ayat 3]</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah. Islam adalah satu-satunya agama yang bakal membawa manusia kepada jalan yang benar, pada keselamatan. Dan Islam ini sudah sempurna, tidak perlu kita melihat Islam-islam yang lain. Apa yang diperjuangkan oleh para shahabat, apa yang telah diperjuangkan oleh para ulama, mereka semua sudah menjelaskan kepada kita bahwa Islam itu sempurna, tidak perlu mencari Islam yang lain, dan inilah bukti bahwa tidak perlu formula baru untuk menerjemahkan nilai-nilai yang ada di dalam Islam.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kalau ada orang yang membenci ahli hadits, ada yang membenci hadits, maka mereka bukanlah golongan ahlussunnah. Imam Ahmad rahimahulloh ketika ditanya siapakah ahlussunnah, beliau mejawab, “Selain ahli hadits aku tidak tahu.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Apa itu JIL? Mereka bukanlah ahli hadits, mereka malah orang yang paling membenci hadits di dunia ini. Memang dalam tulisan mereka menggunakan sepenggal hadits, tapi setelah itu mereka banyak mengingkari. Mereka berusaha mengingkari sebuah ayat dengan ayat, ayat mereka lawan dengan hadits, hadits mereka lawan dengan ayat-ayat Al Qur&#8217;an. Sungguh mereka telah membalik agama ini, dan mereka suatu saat akan dibalik sendiri oleh Allah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Seandainya JIL mengatakan bahwa semua agama itu benar. Lalu kenapa mereka lebih membanggakan ajaran Nasrani atau katholik?</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">“<em>Jadi, Islam bukan yang paling benar. Pemahaman serupa, terjadi di Kristen selama berabad-abad. Tidak ada jalan keselamatan di luar gereja. Baru pada 1965 masehi, Gereja katolik di Vatikan merevisi paham ini. Sedangkan Islam yang berusia 1,423 tahun dari hijrah nabi, belum memiliki kedewasaan yang sama seperti Katolik.” (Idem, hal. 247).</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">JIL berusaha menutupi kemajuan-kemajuan yang ada pada diri Islam. Padahal kemajuan-kemajuan Islam itu terjadi sudah lama, banyak shiroh-shiroh yang menceritakan kemajuan Islam. Sebagaimana ilmuwan Al Jabbar, dengan aljabarnya, juga sebagaimana kemajuan yang dicapai umat Islam ketika menguasai banyak ilmu-ilmu, itu semua karena umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang benar. Yaitu jalan rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam dan jalan para shahabat.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Sekarang kita lihat bagaimana umat Islam bisa hancur. Kita masih ingat bagaimana sejarah orang-orang Tar-tar menyerang Baghdag. Mereka membakar kitab-kitab umat Islam, mereka menyebrang sungai Eufrat dan Trigis dengan menenggelamkan buku-buku umat Islam sampai-sampai seekor kuda bisa berjalan di atas tumpukan buku-buku itu. Dan di dalam sejarah sungai Eufrat dan Trigis itu sampai berwarna hitam karena tinta. Itu semua karena orang-orang munafik, orang-orang munafik yang berkhianat kepada Islam, mereka gila harta, gila kekuasaan, sehingga akhirnya tentara Tar-tar bisa masuk untuk menginjak-injak Islam, dan yang paling memalukan adalah manusia yang mati pertama kali adalah seorang wanita penari yang mereka menari di hadapan penguasa saat itu dengan cara terpanah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan tujuan JIL sudah pasti, ingin mengaburkan manusia dari Al Qur&#8217;an dan As Sunnah. Dari jalan yang terang benderang ini kepada jalan yang gelap. Mereka ingin membutakan manusia terhadap sejarah Islam yang mulia. Kita bisa lihat bagaimana Umar bin Abdul Aziz rahimahulloh yang ia adalah seorang pembaharu, di zamannya Islam mulia. JIL hanya menunjukkan kejelekan-kejelekan Islam dan mengubur dalam-dalam segala hal-hal yang paling baik yang ada di dalam sejarah Islam. Perbuatan mereka ini sungguh merupakan perbuatan yang jahat dan buruk.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Tujuan mereka sudah pasti ada sokongan dari orang-orang kafir untuk menguasai Islam dan menghancurkannya dari dalam. Umat Islam itu kuat karena mereka kembali kepada Al Qur&#8217;an dan As Sunnah. Hal ini sudah diketahui oleh orang-orang kafir. Maka dari itulah sekarang ini umat Islam lemah dan takut karena perbuatan mereka sendiri. Berapa banyak orang yang faham terhadap agama ini sekarang? Berapa banyak orang yang menyeru kepada kebenaran?</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah perbuatan fahisyah (perzinaan) merajalela di suatu masyarakat, hingga mereka berani melakukannya dengan terang-terangan, melainkan akan merajalela pula di  tengah-tengah mereka berbagai wabah dan penyakit yang  belum pernah menimpa umat sebelum mereka, dan tidaklah  mereka mengurangi takaran dan timbangan  (berbuat curang ketika menakar dan menimbang) melainkan mereka akan ditimpa kelaparan, kesusahan  dalam hidup, dan kezaliman para penguasa,dan tidaklah mereka enggan menunaikan zakat harta mereka, melainkan mereka akan dihalangi untuk mendapatkan hujan dari langit, dan kalau bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan pernah diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah, Al Baihaqi dan Al Hakim, serta dihasankan oleh Al Albani)</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dari hadits ini hikmah dan pelajarannya banyak yang bisa diambil. Kita lihat ketika perzinaan merajalela dan dianggap sebagai suatu kebiasaan bahkan terang-terangan dilakukan oleh sebagian manusia, Allah pun menurunkan HIV/AIDS, apakah dulu sudah ada penyakit ini? Hal ini karena manusia sudah melewati batas. Sekalipun para ahli mengatakan tentang bagaimana virus ini menular, tapi kenapa bisa ada virus ini mereka tak bisa mengetahuinya, dan Rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam telah meriwayatkan jauh sebelum penyakit ini datang.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Dan kita bisa lihat apa yang ada di bangsa kita dari hadits tersebut. Kekeringan padahal di negeri yang seharusnya hujan itu datang tiap tahun, kemudian juga kita bisa melihat bencana silih berganti, kita juga melihat bagaimana kesusahan-kesusahan terus-menerus bangsa ini, semuanya sudah diramalkan oleh rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sebelum kita lahir, sebelum kita menghirup udara bebas sekarang ini. Cara kita mengambil pelajaran adalah dengan melihat permasalahan yang ada, lalu kita membaca ayat-ayat dan hadits-hadits beliau shallallahu&#8217;alaihi wa sallam. Kemudian kita melihat bagaimana pemahaman para salafush sholeh terhadap ayat dan hadits tersebut, lalu bagaimana mereka mengamalkannya. Inilah yang benar.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Jadi konstekstual itu bukanlah sesuatu yang hina. Kalau konstekstual maksud JIL adalah menghina pemahaman orang-orang terdahulu, maka mereka adalah orang-orang mutaakhirin yang menyesatkan. Bahkan rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sudah meramalkan bahwa orang-orang mutaakhirin itu akan lebih jauh dari Islam. Allah telah berfirman: </span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';">وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيم</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”[Q.S. At Taubah : 100]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Kalau JIL menganggap bahwa konstekstual yang mereka maksudkan yaitu denga kembali kepada apa yang dibawa oleh rasululloh shallallahu&#8217;alaihi wa sallam sebagaimana yang difahami oleh orang-orang generasi awal adalah salah, maka mereka harus membuat ayat baru di dalam Al Qur&#8217;an yang mengatakan bahwa orang-oarng terdahulu yang masuk Islam, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak perlu diikuti lagi. Bagi saya, JIL bukanlah bagian dari Islam. Ia hanya mengambil kata Islam untuk meluluskan niatnya menyesatkan orang-orang Islam. Banyak orang-orang yang sudah tersesat dengan pemikiran mereka dan pemahaman mereka. Dan banyak juga para ulama baik para ulama yang ada di MUI, maupun di belahan lain di bumi ini, mereka selalu memfatwakan akan bahayanya pemahaman sekulerisme, pluralisme dan liberalisme.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;"><strong>Kesimpulan</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY">Dengan kita kembali kepada Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sebagai pemahaman yang benar, maka kita bukan berarti melakukan perbuatan yang salah. Justru mereka yang menuduh kita terlalu ortodok, kita terlalu dipermak oleh doktrin-doktrin “Terima dan amalkan” merekalah sebenarnya yang tidak faham terhadap agama ini dan ingin menjerumuskan manusia-manusia yang miskin ilmu dan orang-orang awam khususnya. Orang-orang yang mereka tidak pernah ngaji, tidak pernah tahu Islam, bahkan mereka yang setiap hari disuguhkan terhadap realita, terhadap ilmu-ilmu selain dari Islam akan manggut-manggut saja menerima apa yang dikatakan oleh JIL. Berbeda dengan mereka yang telah diberi hidayah oleh Allah, yang selalu mengkaji Islam dari buku-buku para ulama, dari pakar-pakar Islam yang sebenarnya, bukan dari JIL, maka mereka akan melihat banyak sekali kegoncangan yang ada pada pemikiran JIL. <strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;">Dan hal terbesar yang didakwahkan oleh JIL adalah, jangan lagi menjadikan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sebagai pedoman hidup, berpikirlah dengan metode sendiri tapi menggunakan nama Islam, sehingga manusia lambat laun akan mengatakan bahwa dengan kembali kepada Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sesuai dengan manhaj yang dibawa oleh para shahabat adalah sebuah metode yang usang.</span></span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Saya seringkali menahan amarah ketika melihat bagaimana orang-orang liberal yang mejadi bintang tamu di sebuah acara, baik itu acara seminar, atau diskusi kemudian mendatangkan pihak dari MUI, yang kita tahu secara jelas seolah-olah moderator mereka mengalahkan orang-orang yang berpihak kepada yang benar dan melawan liberal. Sungguh mereka (kaum liberal) akan terus berbuat kerusakan, namun mereka akan mengingkari dengan mengatakan “sesungguhnya kami berbuat perbaikan”. Hal ini sebagaimana mana yang telah kita ulas di bahas tentang tulisan-tulisan mereka dan Allah berfirman khusus mengenai orang-orang yang mengatakan perbaikan tapi sebenarnya mereka merusak,</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';">وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونأَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُون</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">artinya: “Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: &#8220;Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.&#8221; Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” [Q.S. Al Baqarah: 11-12]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY"><span style="background-color:#ffffff;">Allah memasukkan golongan seperti ini kepada orang-orang munafik. Dan mungkin ada benarnya bahwa JIL adalah orang-orang munafik. Secara dzahirnya memang mereka demikian. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan yang mereka ada-adakan, dan menjaga kita semua di atas jalan lurus yang telah ditunjukkan oleh para nabi dan rasul.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY">Allahua&#8217;lam bishawab.</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;font-weight:normal;" align="JUSTIFY">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syafii Maarif, Dari Pejuang "Negara Islam" menjadi "pejuang pluralisme]]></title>
<link>http://pikirancerah.wordpress.com/2009/10/09/syafii-maarif-dari-pejuang-negara-islam-menjadi-pejuang-pluralisme/</link>
<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 06:49:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>rramdhoni</dc:creator>
<guid>http://pikirancerah.wordpress.com/2009/10/09/syafii-maarif-dari-pejuang-negara-islam-menjadi-pejuang-pluralisme/</guid>
<description><![CDATA[Dalam beberapa waktu terakhir isu perang melawan terorisme dan teror bom renyah terdengar di telinga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dalam beberapa waktu terakhir isu perang melawan terorisme dan teror bom renyah terdengar di telinga]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Islam Komunis]]></title>
<link>http://kalipaksi.com/2009/10/01/islam-komunis/</link>
<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 09:26:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>sofwan.kalipaksi</dc:creator>
<guid>http://kalipaksi.com/2009/10/01/islam-komunis/</guid>
<description><![CDATA[gambar dari: flickr Ini cerita nyata, tentang seseorang bernama Lukman (nama alias, tentunya). Ini b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[gambar dari: flickr Ini cerita nyata, tentang seseorang bernama Lukman (nama alias, tentunya). Ini b]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jemaah Ahmadiyah NTB Dibolehkan Berhaji ]]></title>
<link>http://jarikmataram.wordpress.com/2009/09/29/jemaah-ahmadiyah-ntb-dibolehkan-berhaji/</link>
<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 10:21:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>The Young Community</dc:creator>
<guid>http://jarikmataram.wordpress.com/2009/09/29/jemaah-ahmadiyah-ntb-dibolehkan-berhaji/</guid>
<description><![CDATA[Kantor Wilayah Departemen Agama (Depag) Nusa Tenggara Barat (NTB) masih memperbolehkan warga Ahmadiy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://jarikmataram.wordpress.com/files/2009/09/foto-tokoh140.gif?w=126" alt="Foto-Tokoh140" title="Foto-Tokoh140" width="126" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-480" />Kantor Wilayah Departemen Agama (Depag) Nusa Tenggara Barat (NTB) masih memperbolehkan warga Ahmadiyah berhaji atau menunaikan ibadah haji meskipun ada larangan Pemerintah Arab Saudi.</p>
<p>&#8220;Kami tidak melarang mereka berhaji makanya tidak ada pendeteksian warga Ahmadiyah dalam daftar calon haji,&#8221; kata Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Depag NTB, Suhaimy Ismy, di Mataram, Senin (7/9), usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pemberangkatan calon haji dan dan pemulangan jamaah haji asal NTB.<br />
<!--more--><br />
Ia mengatakan, Pemerintah Arab Saudi yang melarang pengikut Ahmadiyah menunaikan ibadah haji karena beranggapan bahwa Ahmadiyah itu sudah dinyatakan pengikut di luar Islam. Kebijakan tegas Pemerintah Arab Saudi itu kemudian ditindaklanjuti berbagai organisasi Islam di Indonesia yang ikut melarang warga Ahmadiyah berhaji.</p>
<p>&#8220;Namun, itu tidak berarti kami melarang warga Ahmadiyah untuk menunaikan ibadah haji. Terserah Pemerintah Arab Saudi karena aturan negara itu berbeda dengan negara kita,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dengan demikian, tambah Suhaimy, pihaknya tidak dapat memastikan bahwa rombongan calon haji asal NTB yang akan diberangkatkan akhir Oktober mendatang, bebas dari pengikut Ahmadiyah.</p>
<p>Dengan kata lain, mungkin saja ada warga Ahmadiyah yang ikut berhaji pada musim haji tahun ini karena tidak dideteksi oleh pengurus haji.</p>
<p>Data versi Kanwil Depag NTB, jumlah calon haji asal NTB tahun ini dijatahkan sebanyak 4.550 orang dan yang sudah mendaftar sebanyak 4.494 orang, termasuk tim pendamping haji daerah.</p>
<p>Sementara pengikut Ahmadiyah di wilayah NTB diperkirakan mencapai 180 orang. Sebanyak 33 Kepala Keluarga (KK) atau 130 jiwa mendiami Mataram, Ibukota Provinsi NTB dan puluhan pengikut lainnya yang berjumlah 50 jiwa berada di Kabupaten Lombok Tengah.</p>
<p>Khusus di Mataram, sejak tiga tahun lalu sebanyak 130 orang mendiami asrama Transito Mataram setelah rumah mereka di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat dirusak dan dibakar massa. (Ant/OL-04) </p>
<p><strong>RESOURCE</strong> :<strong><a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2009/09/09/94507/91/14/Jemaah-Ahmadiyah-Dibolehkan-Berhaji">MEDIA INDONESIA</a></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pseudo-Moral, Kekerasan, dan Pelanggaran Hak Warga Negara]]></title>
<link>http://ismailhasani.wordpress.com/2009/09/25/pseudo-moral-kekerasan-dan-pelanggaran-hak-warga-negara/</link>
<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 07:21:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>ismail hasani</dc:creator>
<guid>http://ismailhasani.wordpress.com/2009/09/25/pseudo-moral-kekerasan-dan-pelanggaran-hak-warga-negara/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Praktik kekerasan atas nama Ramadhan merupakan bentuk pseudo-moral negara, yang membenarkan p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[&#8220;Praktik kekerasan atas nama Ramadhan merupakan bentuk pseudo-moral negara, yang membenarkan p]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
