<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>primitif &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/primitif/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "primitif"</description>
	<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 13:37:25 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Sejarah Manusia mengenal pakaian]]></title>
<link>http://scrapman.wordpress.com/2009/11/08/sejarah-manusia-mengenal-pakaian/</link>
<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 13:06:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>scrapman</dc:creator>
<guid>http://scrapman.wordpress.com/2009/11/08/sejarah-manusia-mengenal-pakaian/</guid>
<description><![CDATA[Sejak ratusan tahun yang lalu hingga kini mungkin secara universal orang setuju, berpakaian adalah d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img height="199" alt="Image" src="http://scrapman.files.wordpress.com/2009/11/image-555.jpg?w=150&#038;h=199" width="150" align="left" />Sejak ratusan tahun yang lalu hingga kini mungkin secara universal orang setuju, berpakaian adalah demi kesopanan. Kakek Adam dan nenek Hawa, karena melanggar larangan Tuhan memakan buah kebijakan, menjadi “tahu malu”, dan sejak itu berupaya untuk menutup bagian tubuhnya yang disadarinya membuat dirinya malu dengan selempek dedaunan. Adakah maksud lain dari “perilaku baru”nya itu?</p>
<p>Sebegitu jauh belum bisa dimengerti apa sebenarnya tujuan orang berpakaian itu secara pasti. Anthropolog dan psycholog menyatakan bahwa berpakaian ternyata mengandung arti yang sangat kompleks. Untuk memahami pendapat kedua bidang keahlian ini, kita haruslah mengesampingkan berbagai macam teori tentang “berpakaian“ yang telah berkembang pada zaman modern ini.</p>
<p>Penalaran paling umum dan paling logis, orang berpakaian disebabkan karena mereka mengatasi rasa dingin. Ernes Crawley mengatakan, budaya berpakaian berawal di daerah tropis belum ditemukan bukti pendukungnya. Penduduk asli Tierra del Fuego, walaupun kedinginan, disana tidak diketemukan pakaian dengan alasan yang masuk akal. Mereka hanya membuat perlindungan untuk melindungi diri dari angin. Orang primitif melindungi diri dari ganasnya cuaca bukan dengan cara berpakaian tetapi dengan masuk ke dalam gua atau “rumah”. Hingga masa kinipun orang Eskimo melepas semua pakaiannya begitu masuk ke dalam igloo (rumah)-nya. Orang primitif juga tidak melindungi diri dari hujan dengan cara berpakaian.</p>
<p><!--more-->
<p>“Orang perahu” dari Jepang akan melepas pakaiannya begitu turun hujan dan menyimpannya ditempat kering untuk dipakai kembali ketika hujan telah reda. Melindungi diri dari sengatan matahari mungkin merupakan bagian terpenting dari evolusi berpakaian. Membawa dedaunan untuk menutup kepala mungkin mengilhami terciptanya topi dan payung yang ada sekarang. Inipun juga masih bisa diperdebatkan.</p>
<p>Kalau misalnya tujuan berpakaian adalah melindungi fisik, harusnya yang pertama kali dilindungi adalah kaki (sepatu) dan dengkul (decker). Moccasin (sepatu dari kulit yang lembut dipakai orang Indian Amerika Utara) dibuat lebih dulu ketimbang cawat (sekarang celana dalam). Mengapa? Kalau bukan untuk kesopanan, mengapa orang primitif menggantung berbagai macam barang di pinggangnya sembari menutup auratnya.</p>
<p>Para anthropolog mencoba menjawab pertanyaan ini dengan apa yang dikenal dengan “ligature-hypothesis” (hipotesa ikat pinggang). Hampir semua orang primitif yang hidup hingga saat ini (termasuk kita?) menggunakan ikat pinggang.</p>
<p>Aslinya sih gunanya untuk mengurangi rasa lapar. Sekarang jadi pemeo, “kencangkan ikat pinggang” untuk mengatakan “ngirit”. Tetapi beberapa penulis yang lain mengatakan bahwa ikat pinggang awalnya adalah sebuah tali dan gunanya bukan untuk mengurangi rasa lapar. Tali inipun terbuat dari kulit kayu yang lunak dan tidak berfungsi untuk mengurangi rasa lapar seperti yang disebutkan dahulu. Umumnya hanya dikenakan oleh laki-laki. Gunanya untuk menggantungkan atau menyimpan bermacam barang yang termasuk katagori senjata dan amunisi, walaupun yang dimaksud amunisi hanyalah batu. Bukankah dengan demikian akan mempermudah gerak mereka ketika menghadapi musuh atau berburu.</p>
<p>Orang primitif tidak hanya menghadapi musuh sesama orang dan binatang buas. Tetapi juga musuh yang bersifat magis. Karena itu ikat pinggangpun ada yang berkekuatan magis. Ingat kolor warok Ponorogo yang besar?. Bagi manusia modern, tentu jauh dari konsep ini. Tetapi buat orang primitif, ada konsep yang berbeda berkenaan dengan apa yang disebutnya ”supranatural”. Bagaimana?. Anda pakai ikat pinggang? Bagaimana anda berpakaian, apakah anda punya konsep sendiri yang anda coba penuhi?. Selamat bersolek dan bercermin. .</p>
<p>(Disadur dari “Modesty in Dress” by James Laver, diterjemahkan oleh Boetan@168city.com)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Timing bagian 1]]></title>
<link>http://ditomusicman.wordpress.com/2009/10/23/timing-bagian-1/</link>
<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 11:06:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>ditomusicman</dc:creator>
<guid>http://ditomusicman.wordpress.com/2009/10/23/timing-bagian-1/</guid>
<description><![CDATA[Ini adalah salah satu  hal yang amat penting dalam permainan musik yang hendaknya semua musisi harus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ini adalah salah satu  hal yang amat penting dalam permainan musik yang hendaknya semua musisi harus]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Foto Perempuan Amazon yang sedang menyusui monyet!]]></title>
<link>http://kenmoksha.wordpress.com/2009/10/08/foto-perempuan-amazon-yang-sedang-menyusui-monyet/</link>
<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 21:39:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>kenmoksha</dc:creator>
<guid>http://kenmoksha.wordpress.com/2009/10/08/foto-perempuan-amazon-yang-sedang-menyusui-monyet/</guid>
<description><![CDATA[Foto wanita pribumi menyusui monyet Woolly (Lagothrix lagotricha) di hutan hujan Amazon. Anehnya, su]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">Foto wanita pribumi menyusui monyet Woolly (Lagothrix lagotricha) di hutan hujan Amazon. Anehnya, sudah biasa bagi perempuan pribumi di Amazon untuk menyusui monyet muda yang ibunya telah meninggal. Sering selama berburu, si ibu monyet dibunuh untuk diambil anaknya. Pribumi Amazon sering mengadopsi monyet muda sebagai hewan peliharaan, maka para wanitanya akan menyusui bayi monyet yang induknya dibunuh.</div>
<div style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-983" title="Indigenous-Woman-Nursing-Monkey" src="http://kenmoksha.wordpress.com/files/2009/10/indigenous-woman-nursing-monkey.jpg" alt="Indigenous-Woman-Nursing-Monkey" width="400" height="436" /></div>
<div style="text-align:center;">sumber: <a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2479212" target="_blank"><strong><em>disini</em></strong></a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENGERIKAN...!!! bayi manusia jadi santapan di taiwan??]]></title>
<link>http://coexindie.wordpress.com/2009/09/09/mengerikan-bayi-manusia-jadi-santapan-di-taiwan/</link>
<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 10:14:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>coexindie</dc:creator>
<guid>http://coexindie.wordpress.com/2009/09/09/mengerikan-bayi-manusia-jadi-santapan-di-taiwan/</guid>
<description><![CDATA[Jaman Jahiliyah sudah diambang Pintu &#8211; Di Taiwan Manusia memakan bayi manusia. Seluruh Umat wa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jaman Jahiliyah sudah diambang Pintu &#8211; Di Taiwan Manusia memakan bayi manusia.<br />
Seluruh Umat wajib mewaspadainya &#8211; <span style="font-weight:bold;">Beware of what you eat</span> !!</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Jangan Kaget melihat gambar yang satu ini</span>!!<br />
Yang akan anda saksikan adalah sebuah &#8220;Kenyataan&#8221;, jangan bergidik atau takut !!<br />
&#8220;Ini adalah makanan Taiwan yang paling &#8220;HOT&#8221; Di Taiwan, jenazah bayi dapat<br />
dibeli dengan harga $50 &#8211; $70 dari Rumah Sakit untuk menuhi permintaan yang<br />
tinggi &#8220;Bayi Panggang&#8221;.<!--more-read more-&#62;--></p>
<p>Saya pribadi menilai orang ini sangatlah biadab, tidak waras dan tidak punya hati nurani sesama manusia. inilah orang primitif yang tinggal dijaman modern. apakah ini tanda2 dekatnya hari akhir?? wallahu alam..</p>
<p><strong> </strong><strong><strong><span style="color:Purple;"><img style="width:386px;height:500px;" src="http://img27.picoodle.com/img/img27/4/7/6/buatforum/f_cinese10m_e8acb95.jpg" border="0" alt="" /></span></strong></strong></p>
<p><strong><strong><br />
</strong></strong></p>
<p><strong><strong><img src="http://img29.picoodle.com/img/img29/4/7/7/f_download3m_fc504a6.jpg" border="0" alt="" /></strong></strong></p>
<p><strong><strong> </strong></strong></p>
<p><strong><strong><img style="width:424px;height:500px;" src="http://img27.picoodle.com/img/img27/4/7/6/buatforum/f_gigi5m_c618143.jpg" border="0" alt="" /></strong></strong></p>
<p><strong><strong><img style="width:409px;height:500px;" src="http://img34.picoodle.com/img/img34/4/7/6/buatforum/f_bambin11m_f652ce4.jpg" border="0" alt="" /></strong></strong></p>
<p><strong><strong><img src="http://img28.picoodle.com/img/img28/4/7/7/f_download7m_b37e5d1.jpg" border="0" alt="" /></strong></strong></p>
<p>lihat sumbernya di <a href="www.lieagneshendra.blog.friendster.com" target="_blank"><span style="text-decoration:underline;">sini</span></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[NEGARA BODOH, RAKYAT PINTAR]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/08/08/negara-bodoh-rakyat-pintar/</link>
<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 03:25:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/08/08/negara-bodoh-rakyat-pintar/</guid>
<description><![CDATA[Semakin tinggi pendidikan modern kita, semakin bodoh pengetahuan kita tentang Indonesia. Sistem peng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1909" title="jakob-sumardjo" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/08/jakob-sumardjo.jpg?w=109" alt="jakob-sumardjo" width="109" height="150" />Semakin tinggi pendidikan modern kita, semakin bodoh pengetahuan kita tentang Indonesia. Sistem pengetahuan “bodoh” Indonesia ternyata kearifan lokal tertinggi bangsa ini.</p>
<p>Praktik pembabatan hutan di Sumatera, Kalimantan, dan Papua adalah kebodohan pemerintah dalam memamerkan pengetahuan modernnya yang setengah-setengah. Hutan itu kebudayaan yang tidak dikenal manusia modern. Bangsa ini sebagian besar telah hidup dengan hutan dan dalam hutan selama ribuan tahun. Dan, permata Khatulistiwa ini tetap subur, kaya raya memakmurkan penghuninya.</p>
<p><strong>Siapa yang bodoh ?</strong></p>
<p>Dalam waktu kurang dari satu abad, muncul homo-homo sok modern Indonesia yang menghancurkan hutan dan kebudayaannya. Infrastruktur bangsa Indonesia dari hutan, perkebunan, pertanian, dihancurkan sendiri oleh manusia-manusia modern Indonesia. Mereka menilai, bangsa Indonesia yang berkebudayaan “primitif” dalam pertanian, perkebunan, dan kehutanan perlu dimodernkan dengan cara bodoh mereka.</p>
<p>Siapa yang sebenarnya bodoh ? Siapa yang sebenarnya berpikiran maju ? Siapa yang sebenarnya berpikir kontekstual ? Orang modern kota atau penduduk pedesaan dan kehutanan di Indonesia ? Siapa yang sebenarnya merusak Indonesia, rakyat atau pemerintahannya ?<br />
<!--more-->Jika pemerintahan Indonesia modern ini tak pernah ada, apakah kemakmuran dan kekayaan bumi Indonesia akan bertambah kaya atau ambruk ?</p>
<p>Kenyataannya, sebelum kolonial Belanda datang, berbagai bangsa di dunia mendatangi bumi Khatulistiwa ini untuk membeli hasil hutan dan pertanian. Pada jaman kolonial, kekayaan Indonesia masih memberi kemakmuran berlimpah bagi Belanda, justeru dari hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, dan produk baru pertambangan.</p>
<p>Setelah Republik Indonesia berdiri, mengapa kekayaan dan kemakmuran hilang ? Negara miskin, rakyat miskin ! Telah lahir pesulap-pesulap hebat kaliber David Copperfield yang melenyapkan kekayaan-kesuburan-kemakmuran berabad-abad dalam waktu puluhan tahun.</p>
<p>Siapa yang sebenarnya bodoh ? Rakyat atau pemerintah ?</p>
<p>Kita yang berpendidikan modern perkotaan mengaku mengetahui dan memahami apa itu kemodernan dan menganggap penduduk desa dan penduduk hutan sebagai manusia primitif yang bodoh. Sebenarnya orang modern tak tahu apa-apa tentang kebudayaan hutan dan kebudayaan pertanian. Pengetahuan mereka dicomot dari kebudayaan pertanian dan kebudayaan hutan bangsa lain yang ditulis kaum modernis asing pula.</p>
<p>Jika hutan dan pertanian tetap subur makmur saat kita merdeka, sebenarnya menunjukan adanya konsep pertanian, perkebunan, dan kehutanan luar biasa yang dimiliki penduduk desa dan penduduk hutan yang “bodoh-bodoh” itu ! Mereka telah ribuan tahun hidup dalam dan dengan hutan, tanpa ada berita kebakaran yang teratus kali terjadi seusai kemerdekaan.</p>
<p><strong>Budaya hutan</strong></p>
<p>Yang mampu mendayagunakan hutan secara efektif dan efisien pada jaman paling mutakhir ini adalah penduduk hutan sendiri yang telah ribuan tahun mengikuti tradisi budaya hutan mereka dari nenek moyangnya. Orang modern Indonesia hanya tahu, hutan menghasilkan kayu buat industri. Padahal, budaya hutan menghasilkan pertanian padi, palawija, perkebunan, hasil hutan seperti rotan, perca, madu, kampar, dan lainnya. Itu sebabnya jika hutan digunduli, kebudayaan hutan hancur tak bermakna. Hidup tak mungkin lagi.</p>
<p>Kebakaran hutan akibat sistem ladang berpindah ? Itu buah pikiran bodoh orang modern yang buta huruf kebudayaan bangsa sendiri. Mereka harus membaca literatur antropologi, sosiologi, etnologi, dan ekologi masyarakat hutan di Indonesia. Atau mereka disuruh masuk hutan dulu biar tahu bagaimana cara hidup masyarakat hutan.</p>
<p>Hutan bagi masyarakat hutan bukan tanpa peta, Mereka hafal batang-batang kayu dan tabiatnya, hafal batas-batas alamnya, hafal mana hutan lapangan yang dibiarkan tumbuh alami, mana hutan perladangan, mana hutan pekarangan rumah. Hutan yang rimba raya bagi orang kota adalah liku-liku gang perkampungan kalau di kota. Penduduk hutan tahu “jalan besar” untuk pulang di tengah lebatnya hutan. Hutan itu rumah dan kampung halaman mereka. Justeru kita orang modern kota harus banyak berguru ilmu kepada mereka.</p>
<p>Siapa pula yang lebih tahu bahasa tanah daripada petani-petani desa ? Dengan penciuman mereka tahu mana tanah yang subur, sakit, tak produktif, seperti kita segera tahu siapa yang berjabatan tinggi di kantor dan siapa yang pegawai rendahan.</p>
<p>Jadi, rakyat yang kurang pendidikan modern inikah yang lebih bodoh dari mereka yang duduk di perguruan tinggi dengan tumpukan buku-buku berbahasa asing ? Atau kita yang modern di kota-kota ini justeru harus belajar kembali kearifan-kearifan lokal yang selama ini disingkirkan sebagai primitif dan ketinggalan jaman ?</p>
<p>Kita ini bodoh tentang tanah air, berbangsa, berbahasa, bersistem kepercayaan, dan beradat lembaga lokal-lokal kita yang amat bermacam ragam ini.</p>
<p>Kita maunya menyapu bersih “kebodohan-kebodohan” ini dengan cara kita sendiri yang bodoh pula.</p>
<p>Sumber :</p>
<p>Negara Bodoh, Rakyat Pintar – Jakob Sumardjo &#124; Esais<br />
Kompas, 18.04.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mental Primitif]]></title>
<link>http://theordinaryroad.wordpress.com/2009/06/14/mental-primitif/</link>
<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 04:06:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mirza</dc:creator>
<guid>http://theordinaryroad.wordpress.com/2009/06/14/mental-primitif/</guid>
<description><![CDATA[Aku heran dengan sebagian masyarakat yang lebih senang berkumpul karena persamaan kedaerahannya. Ken]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Aku heran dengan sebagian masyarakat yang lebih senang berkumpul karena persamaan kedaerahannya. Ken]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kedewasaan sosial dapat diraih anak]]></title>
<link>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/04/25/kedewasaan-sosial-dapat-diraih-anak/</link>
<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 01:00:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>admins123</dc:creator>
<guid>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/04/25/kedewasaan-sosial-dapat-diraih-anak/</guid>
<description><![CDATA[Kedewasaan sosial bisa diraih anak dengan adanya penerimaan sosial dari lingkungannya terhadap anak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kedewasaan sosial bisa diraih anak dengan adanya penerimaan sosial dari lingkungannya terhadap anak sebagai orang dewasa yang setara dengan orang dewasa lainnya. Jika anak disikapi dan diperlakukan secara dewasa, maka ia akan lebih cepat menjadi dewasa. Adapun kedewasaan psikologis bisa diraih anak lewat proses pendidikan dan pelatihan yang memperhatikan empat aspek, yaitu identitas diri, tujuan hidup, pertimbangan dalam memilih, serta tanggung jawab. Pembentukan kedewasaan psikologis dan sosial perlu menjadi perhatian serius dalam proses pendidikan anak menuju fase usia belasan tahun. Baik orang tua maupun guru di sekolah perlu memperhatikan ketimpangan yang selama ini terjadi pada remaja dan merealisasikan solusinya dengan memperhatikan hal-hal yang telah diterangkan di atas.</p>
<p>Dengan demikian, pada saat memasuki masa baligh, anak sudah siap untuk memasuki fase dewasa awal dalam tahap pertumbuhannya, dan bukannya menjadi remaja yang penuh gejolak (turbulence) seperti yang kita saksikan pada hari ini. Akhirnya, semua hal di atas bisa diimplementasikan dengan baik tanpa perlu membuat kebudayaan surut kembali ke belakang ke masa-masa primitif. Dengan begitu kesehatan pertumbuhan manusia serta kemajuan masyarakat bisa berjalan beriringan, tanpa perlu salah satunya mengorbankan pihak yang lain.</p>
<p><a href="http://warnetgue.com">Ingin tambah sukses ?? Ayo gabung peluang usaha warnet, balik modal dalam satu tahun,  garansi modal kembali !!!</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Proses alamiah pertumbuhan setiap manusia]]></title>
<link>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/04/25/proses-alamiah-pertumbuhan-setiap-manusia/</link>
<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 00:56:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>admins123</dc:creator>
<guid>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/04/25/proses-alamiah-pertumbuhan-setiap-manusia/</guid>
<description><![CDATA[Sebagaimana telah dijelaskan, berbagai problem serta gejolak masa remaja yang terjadi pada hari ini ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sebagaimana telah dijelaskan, berbagai problem serta gejolak masa remaja yang terjadi pada hari ini muncul karena adanya kesenjangan yang serius antara kedewasaan biologis dan kedewasaan psikologis serta sosial pada diri anak. Kesenjangan ini tidak terjadi pada masyarakat primitif serta pada masyarakat masa lalu. Ia terjadi pada remaja-remaja modern karena masyarakat telah memundurkan jadwal kedewasaan psikologis dan sosial dari jadwal kedewasaan biologis anak. Semua ini bertentangan dengan proses alamiah dari pertumbuhan tiap manusia.</p>
<p>Tugas pendidikan dan psikologi islam adalah memastikan bahwa pertumbuhan manusia berjalan sesuai dengan fitrahnya serta memastikan terbentuknya manusia yang utuh dan paripurna (al-insan al-kamil). Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali jika kesenjangan yang telah disebutkan tadi bisa dihapuskan. Oleh karena itu, proses kedewasaan psikologis dan sosial anak perlu dibentuk sejak dini, sehingga ketika anak memasuki tahap kedewasaan biologis, ia sudah siap untuk memiliki dua aspek kedewasaan lainnya.</p>
<p><a href="http://warnetgue.com">Ingin tambah sukses ?? Ayo gabung peluang usaha warnet, balik modal dalam satu tahun,  garansi modal kembali !!!</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sortie culturelle]]></title>
<link>http://regardnaif.wordpress.com/2009/04/18/sortie-culturelle/</link>
<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 19:02:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Naïf</dc:creator>
<guid>http://regardnaif.wordpress.com/2009/04/18/sortie-culturelle/</guid>
<description><![CDATA[ La fréquentation des expositions est une activité parfaitement hyghiénique pour l&#8217;esprit. C]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"> La fréquentation des expositions est une activité parfaitement hyghiénique pour l&#8217;esprit. C&#8217;est l&#8217;occasion d&#8217;un entraînement des sens et du jugement pour découvrir si le spectacle est sur les murs ou devant les murs. En tout cas, même lorsqu&#8217;il s&#8217;agit de peinture, il faut garder l&#8217;ouïe alerte. Les discours du public étant parfois aussi savoureux que les oeuvres présentées.</p>
<p style="text-align:justify;">Ainsi, lorsqu&#8217;une grande bringue s&#8217;écrie: &#8220;La vierge est au fond du couloir à gauche!&#8221; Il y a de quoi rester abasourdi, puisque plusieurs vierges sont affichées dans chaque salle. Et s&#8217;il s&#8217;agit d&#8217;une visiteuse, la moyenne d&#8217;âge et le style d&#8217;icelles rendent cette hypothèse assez peu plausible, la majorité ayant employé davantage de couleur et d&#8217;enduit que les peintres en avaient eu besoin pour leurs oeuvres, avec un goût légèrement moins sûr.</p>
<p style="text-align:justify;">Sinon, il y a l&#8217;inévitable cohorte de la visite collective.  Elle s&#8217;avance lentement mais sûrement comme une chenille, et à peine croit-on l&#8217;avoir devancée et qu&#8217;on veut prendre son temps devant un morceau qui en mérite la peine, la voix du guide claironne: &#8220;Machin travaillait pour les nobles et les seigneurs, pour ceuxqui avaient de l&#8217;argent.&#8221; Sous-entendu, vous avez de la chance de pouvoir admirer ses chefs d&#8217;oeuvre pour une somme modique et heureusement que la culture aujourd&#8217;hui s&#8217;est démocratisée. C&#8217;est vrai quoi des artistes qui chercheraient à se faire du pognon sur le dos de leurs contemporains cela n&#8217;existe plus. Et puis au Moyen-Âge, les riches, ce n&#8217;étaient que des salauds qui construisaient leur église, leur hôtel-dieu, qui fondaient leur couvent grâce à l&#8217;argent arraché aux malheureux qui n&#8217;avaient pas accès aux splendeurs de ces bâtiments. Et les bourgeois avec leurs cathédrales, quelle folie des grandeurs!</p>
<p style="text-align:justify;">Enfin arrive la paire de rombières. De nombreuses heures de vol vers les expositions les plus variées, un regard assuré de l&#8217;une qui assène à l&#8217;autre: &#8220;Ils n&#8217;avaient pas encore trouvé la perspective, c&#8217;est tout plat!&#8221; Elles doivent quand même avoir un peu de purée dans les yeux ou dans le cerveau, parce que les plus belles pièces emploient la technique du trompe l&#8217;oeil, et que les figures se détachent du fond. D&#8217;ailleurs, un défaut naïf de vision des couleurs confireme cette impression en regardant une vierge qui se détache, comme le visage du Christ enfant qu&#8217;elle tient, tandis que le corps de l&#8217;enfant reste accroché au fond. Avec un examen plus précis, le peintre a bien fait son ouvrage, c&#8217;est la vision des couleurs défaillante qui joue un tour.</p>
<p style="text-align:justify;">Finalement on peut dire ce qu&#8217;on veut, mais les primitifs italiens valent largement les bricoleurs contemporains. A se demander comment il se fait qu&#8217;ils arrivaient à traiter le même sujet avec tant de variété et un bonheur parfois inégal, quand aujourd&#8217;hui on baptise les mêmes morceaux de tôle vaguement peints des noms les plus étranges. A croire, que l&#8217;art industriel à la Jeff Koons, n&#8217;arrive à être créatif que dans la fine appellation d&#8217;attrape gogos.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gejolak emosi yang menonjol pada masyarakat primitif ]]></title>
<link>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/04/17/gejolak-emosi-yang-menonjol-pada-masyarakat-primitif/</link>
<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 03:10:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>admins123</dc:creator>
<guid>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/04/17/gejolak-emosi-yang-menonjol-pada-masyarakat-primitif/</guid>
<description><![CDATA[Tidak terjadinya gejolak emosi yang menonjol pada masyarakat primitif di atas adalah disebabkan oleh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tidak terjadinya gejolak emosi yang menonjol pada masyarakat primitif di atas adalah disebabkan oleh adanya pemberian status sosial yang jelas di usia dini  di masa-masa awal pubertas mereka, di samping adanya persiapan psikologis anak pada masa-masa sebelumnya. Sarlito Wirawan Sarwono juga menegaskan dalam bukunya bahwa remaja yang mendapat status sosial yang jelas di usia dini biasanya tidak mengalami gejolak yang menonjol. ”Pengalaman menunjukkan bahwa remaja yang telah mendapat status sosialnya yang jelas dalam usia dini, tidak menampakkan gejolak emosi yang terlalu menonjol seperti rekan-rekannya yang lain yang harus menjalani masa transisi dalam tempo yang cukup panjang,” tulisnya.</p>
<p>Berdasarkan semua pemaparan dan fakta-fakta di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kelabilan serta gejolak masa remaja yang berlebihan adalah realitas masyarakat modern yang merupakan dampak dari perubahan budaya. Gejolak dan krisis ini terjadi karena masyarakat serta kebudayaan pada hari ini telah memundurkan jadwal kedewasaan anak di luar dari jadwal alamiah yang dimilikinya. Pada saat puber (sekitar umur 12 tahun), anak mengalami kedewasaan biologis yang ditandai oleh mimpi basah (wet dreaming) dan berkembangnya organ-organ seksual. Dengan adanya kedewasaan biologis ini, remaja memiliki kemampuan biologis yang sama dengan orang-orang dewasa lainnya ia dapat menikah dan mempunyai anak.</p>
<p><a href="http://warnetgue.com">Ingin tambah sukses ?? Ayo gabung peluang usaha warnet, balik modal dalam satu tahun,  garansi modal kembali !!!</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Masyarakat primitif yang belum bersentuhan dengan kebudayaan modern]]></title>
<link>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/04/17/masyarakat-primitif-yang-belum-bersentuhan-dengan-kebudayaan-modern/</link>
<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 03:06:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>admins123</dc:creator>
<guid>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/04/17/masyarakat-primitif-yang-belum-bersentuhan-dengan-kebudayaan-modern/</guid>
<description><![CDATA[Pada masa lalu serta pada masyarakat primitif yang belum bersentuhan dengan kebudayaan modern, anak-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada masa lalu serta pada masyarakat primitif yang belum bersentuhan dengan kebudayaan modern, anak-anak memperoleh status kedewasaan mereka tidak lama setelah terjadinya puber. Anak-anak ini, dengan cara yang berbeda-beda, telah dipersiapkan secara psikologis dan sosial untuk memahami dan menerima kedewasaan mereka pada awal atau pertengahan usia belasan tahun mereka. Bahkan, masyarakat-masyarakat primitif pada umumnya memiliki upacara tersendiri untuk ’melantik’ anak-anak mereka sebagai orang dewasa. Dengan demikian, anak-anak itu mengetahui dan mengalami momen kedewasaan sosial mereka secara tegas, setegas momen kedewasaan biologis yang mereka rasakan di masa puber. Yang terpenting dari itu semua, remaja-remaja pada masyarakat primitif tidak mengalami gejolak serta krisis seperti yang dialami remaja-remaja modern.</p>
<p>Ada beberapa bukti dari masyarakat primitif yang bisa dihadirkan di sini. Penelitian antropologis oleh Margaret Mead di kepulauan Samoa dan Papua memperlihatkan bahwa “anak laki-laki menjadi pria dewasa dan anak wanita menjadi wanita dewasa tanpa mengalami kecemasan dan kesukaran emosional yang di Amerika dianggap tak terhindarkan.” Orang-orang Indian di benua Amerika serta suku-suku primitif di Afrika Selatan juga mempunyai upacara khusus untuk melantik anak-anak mereka menjadi orang dewasa. Bahkan orang-orang Yahudi modern masih memelihara upacara Bar Mitzvah di sinagog-sinagog untuk mengangkat secara resmi anak-anak lelaki mereka yang berusia 13 tahun (12 tahun untuk anak-anak perempuan) menjadi orang dewasa.</p>
<p><a href="http://warnetgue.com">Ingin tambah sukses ?? Ayo gabung peluang usaha warnet, balik modal dalam satu tahun,  garansi modal kembali !!!</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kemajuan sains yang semakin modern]]></title>
<link>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/04/17/kemajuan-sains-yang-semakin-modern/</link>
<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 03:01:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>admins123</dc:creator>
<guid>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/04/17/kemajuan-sains-yang-semakin-modern/</guid>
<description><![CDATA[Tanner melanjutkan penjelasannya, pada masyarakat primitif, tahun-tahun masa kanak-kanak memberikan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tanner melanjutkan penjelasannya, pada masyarakat primitif, tahun-tahun masa kanak-kanak memberikan segala waktu belajar yang diperlukan orang agar dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaannya. Akibatnya, kedewasaan seksual dan kedewasaan sosial dicapai hampir bersamaan. Selang waktu antaranya paling lama hanyalah dua atau tiga tahun saja. Sejarah membuktikan bahwa pada masa-masa yang lalu, remaja seperti yang kita pahami sekarang sama sekali tidak ada. Sarlito Wirawan Sarwono, dalam bukunya Psikologi Remaja, juga menyatakan hal senada. Konsep remaja tidak dikenalkan pada masa-masa yang lalu.</p>
<p>“Walaupun konsep tentang anak sudah dikenal sejak abad ke-13, tetapi konsep tentang remaja sendiri baru dikenal secara meluas dan mendalam pada awal abad ke-20 ini saja dan berkembang sesuai dengan kondisi kebudayaan misalnya karena adanya pendidikan formal yang berkepanjangan, karena adanya kehidupan kota besar, terbentuknya ‘keluarga-keluarga’ batih sebagai pengganti keluarga-keluarga besar ….”</p>
<p>Jadi, perkembangan kebudayaan telah menunda kedewasaan anak dan menciptakan realitas kelompok usia yang baru, yaitu remaja, yang merupakan peralihan antara kelompok usia anak-anak dan dewasa. Pengamatan atas realitas baru ini kemudian melahirkan konsep tentang remaja sebagaimana yang dipahami masyarakat sekarang ini. Hanya saja, realitas baru yang dibentuk oleh kebudayaan modern ini rupanya juga ikut menyebabkan munculnya berbagai persoalan serta krisis berkepanjangan pada anak usia belasan tahun. Seperti yang dikatakan Ahmad Faqih, kemajuan sains modern telah memberikan kontribusi terhadap munculnya diskrepansi dan dehumanisasi.</p>
<p><a href="http://warnetgue.com">Ingin tambah sukses ?? Ayo gabung peluang usaha warnet, balik modal dalam satu tahun,  garansi modal kembali !!!</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pembentukan kedewasaan psikologis dan sosial]]></title>
<link>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/03/29/pembentukan-kedewasaan-psikologis-dan-sosial/</link>
<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 01:19:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>admins123</dc:creator>
<guid>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/03/29/pembentukan-kedewasaan-psikologis-dan-sosial/</guid>
<description><![CDATA[Kedewasaan sosial bisa diraih anak dengan adanya penerimaan sosial dari lingkungannya terhadap anak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kedewasaan sosial bisa diraih anak dengan adanya penerimaan sosial dari lingkungannya terhadap anak sebagai orang dewasa yang setara dengan orang dewasa lainnya. Jika anak disikapi dan diperlakukan secara dewasa, maka ia akan lebih cepat menjadi dewasa. Adapun kedewasaan psikologis bisa diraih anak lewat proses pendidikan dan pelatihan yang memperhatikan empat aspek, yaitu identitas diri, tujuan hidup, pertimbangan dalam memilih, serta tanggung jawab.</p>
<p>Pembentukan kedewasaan psikologis dan sosial perlu menjadi perhatian serius dalam proses pendidikan anak menuju fase usia belasan tahun. Baik orang tua maupun guru di sekolah perlu memperhatikan ketimpangan yang selama ini terjadi pada remaja dan merealisasikan solusinya dengan memperhatikan hal-hal yang telah diterangkan di atas. Dengan demikian, pada saat memasuki masa baligh, anak sudah siap untuk memasuki fase dewasa awal dalam tahap pertumbuhannya, dan bukannya menjadi remaja yang penuh gejolak (turbulence) seperti yang kita saksikan pada hari ini.</p>
<p>Akhirnya, semua hal di atas bisa di implementasikan dengan baik tanpa perlu membuat kebudayaan surut kembali ke belakang ke masa-masa primitif. Dengan begitu kesehatan pertumbuhan manusia serta kemajuan masyarakat bisa berjalan beriringan, tanpa perlu salah satunya mengorbankan pihak yang lain.</p>
<p><a href="http://warnetgue.com">Ingin tambah sukses ?? Ayo gabung peluang usaha warnet, balik modal dalam satu tahun,  garansi modal kembali !!!</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dampak dari perubahan budaya]]></title>
<link>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/03/24/dampak-dari-perubahan-budaya/</link>
<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 01:15:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>admins123</dc:creator>
<guid>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/03/24/dampak-dari-perubahan-budaya/</guid>
<description><![CDATA[Berdasarkan semua pemaparan dan fakta-fakta yang ada, dapat disimpulkan bahwa kelabilan serta gejola]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Berdasarkan semua pemaparan dan fakta-fakta yang ada, dapat disimpulkan bahwa kelabilan serta gejolak masa remaja yang berlebihan adalah realitas masyarakat modern yang merupakan dampak dari perubahan budaya. Gejolak dan krisis ini terjadi karena masyarakat serta kebudayaan pada hari ini telah memundurkan jadwal kedewasaan anak di luar dari jadwal alamiah yang dimilikinya. Pada saat puber (sekitar umur 12 tahun), anak mengalami kedewasaan biologis yang ditandai oleh mimpi basah (wet dreaming) dan berkembangnya organ-organ seksual. Dengan adanya kedewasaan biologis ini, remaja memiliki kemampuan biologis yang sama dengan orang-orang dewasa lainnya seperti ia dapat menikah dan mempunyai anak.</p>
<p>Bersamaan dengan masuknya seseorang ke fase kedewasaan biologis, lewat pubertas, hasrat serta kebutuhan untuk menjadi dewasa secara psikologis dan sosial juga muncul. Dipisahkan dan ditandainya kedua jenis kedewasaan yang terakhir ini, yaitu kedewasaan psikologis dan sosial, dari kedewasaan biologis telah menyebabkan kebingungan, kegamangan, serta pada gilirannya gejolak dan krisis pada diri remaja. Gejolak tersebut terjadi karena pemisahan serta penundaan tadi bertentangan dengan proses alamiah yang ada pada diri seseorang.</p>
<p>Oleh karena itu, tugas utama psikologi islam adalah mencari jalan agar pertumbuhan remaja bisa kembali berlangsung secara sehat berdasarkan proses alamiahnya, tanpa harus meninggalkan fase kebudayaan modern dan kembali ke kebudayaan primitif. Dengan kata lain, psikologi islam perlu menarik dan merevitalisasi nilai-nilai lama yang lebih alamiah, positif, dan islami untuk memberi solusi yang terbaik bagi pertumbuhan remaja di dunia modern.</p>
<p><a href="http://warnetgue.com">Ingin tambah sukses ?? Ayo gabung peluang usaha warnet, balik modal dalam satu tahun,  garansi modal kembali !!!</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pentingnya status sosial yang jelas di usia dini]]></title>
<link>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/03/22/pentingnya-status-sosial-yang-jelas-di-usia-dini/</link>
<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 15:01:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>admins123</dc:creator>
<guid>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/03/22/pentingnya-status-sosial-yang-jelas-di-usia-dini/</guid>
<description><![CDATA[Ada beberapa bukti dari masyarakat primitif yang bisa dihadirkan di sini. Penelitian antropologis ol]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ada beberapa bukti dari masyarakat primitif yang bisa dihadirkan di sini. Penelitian antropologis oleh Margaret Mead di kepulauan Samoa dan Papua memperlihatkan bahwa “anak laki-laki menjadi pria dewasa dan anak wanita menjadi wanita dewasa tanpa mengalami kecemasan dan kesukaran emosional yang di Amerika dianggap tak terhindarkan”. Orang-orang Indian di benua Amerika serta suku-suku primitif di Afrika Selatan juga mempunyai upacara khusus untuk melantik anak-anak mereka menjadi orang dewasa.</p>
<p>Bahkan orang-orang Yahudi modern masih memelihara upacara Bar Mitzvah di sinagog-sinagog untuk mengangkat secara resmi anak-anak lelaki mereka yang berusia 13 tahun (12 tahun untuk anak-anak perempuan) menjadi orang dewasa.  Tidak terjadinya gejolak emosi yang menonjol pada masyarakat primitif di atas adalah disebabkan oleh adanya pemberian status sosial yang jelas di usia dini di masa-masa awal pubertas mereka di samping adanya persiapan psikologis anak pada masa-masa sebelumnya.</p>
<p>Sarlito Wirawan Sarwono juga menegaskan dalam bukunya bahwa remaja yang mendapat status sosial yang jelas di usia dini biasanya tidak mengalami gejolak yang menonjol. ”Pengalaman menunjukkan bahwa remaja yang telah mendapat status sosialnya yang jelas dalam usia dini, tidak menampakkan gejolak emosi yang terlalu menonjol seperti rekan-rekannya yang lain yang harus menjalani masa transisi dalam tempo yang cukup panjang,” tulisnya.</p>
<p><a href="http://warnetgue.com">Ingin tambah sukses ?? Ayo gabung peluang usaha warnet, balik modal dalam satu tahun,  garansi modal kembali !!!</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemicu Gejolak pada Remaja Modern]]></title>
<link>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/03/22/pemicu-gejolak-pada-remaja-modern/</link>
<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 14:30:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>admins123</dc:creator>
<guid>http://konsultasikehidupan.wordpress.com/2009/03/22/pemicu-gejolak-pada-remaja-modern/</guid>
<description><![CDATA[Secara alamiah setiap anak seharusnya sudah menjadi dewasa pada saat baligh, atau tak lama setelah b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Secara alamiah setiap anak seharusnya sudah menjadi dewasa pada saat baligh, atau tak lama setelah baligh, tapi masyarakat modern mempunyai jadwal yang berbeda mengenai kapan seharusnya seorang anak menjadi dewasa. Masyarakat kemudian memaksakan pemunduran jadwal kedewasaan anak sedemikian rupa karena mereka harus melewati masa pendidikan formal yang panjang serta dikarenakan beberapa faktor lainnya, sementara pada saat yang sama jadwal alamiahnya pun tetap berjalan sebagaimana biasa. Jadi, bukannya menyesuaikan diri dengan jadwal alamiah, masyarakat modern memilih untuk memaksakan jadwal baru yang mereka anggap baik. Hal inilah yang kemudian menjadi pemicu gejolak pada remaja modern sebagaimana akan dijelaskan lebih jauh nantinya.</p>
<p>Tanner melanjutkan penjelasannya, ”Pada masyarakat primitif, tahun-tahun masa kanak-kanak memberikan segala waktu belajar yang diperlukan orang agar dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaannya. Akibatnya, kedewasaan seksual dan kedewasaan sosial dicapai hampir bersamaan. Selang waktu antaranya paling lama hanyalah dua atau tiga tahun saja.” Sejarah membuktikan bahwa pada masa-masa yang lalu, remaja seperti yang kita pahami sekarang sama sekali tidak ada.</p>
<p>Sarlito Wirawan Sarwono, dalam bukunya Psikologi Remaja, juga menyatakan hal senada. Konsep remaja tidak dikenal pada masa-masa yang lalu. Beliau mengatakan, “Walaupun konsep tentang anak sudah dikenal sejak abad ke-13, tetapi konsep tentang remaja sendiri baru dikenal secara meluas dan mendalam pada awal abad ke-20 ini saja dan berkembang sesuai dengan kondisi kebudayaan misalnya karena adanya pendidikan formal yang berkepanjangan, karena adanya kehidupan kota besar, terbentuknya keluarga-keluarga batih sebagai pengganti keluarga-keluarga besar.</p>
<p><a href="http://warnetgue.com">Ingin tambah sukses ?? Ayo gabung peluang usaha warnet, balik modal dalam satu tahun,  garansi modal kembali !!!</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kebenaran ada pd tiga!]]></title>
<link>http://tertiga.wordpress.com/2009/03/15/kebenaran-ada-pada-tiga/</link>
<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 05:42:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
<guid>http://tertiga.wordpress.com/2009/03/15/kebenaran-ada-pada-tiga/</guid>
<description><![CDATA[Kebenaran demi kebenaran telah kita tapaki sejak SD hingga nanti. Semua pribadi-pribadi memiliki keb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a rel="attachment wp-att-1138" href="http://tertiga.wordpress.com/2009/03/15/kebenaran-ada-pada-tiga/kebenaran-ada-pd-tiga/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1138" title="Kebenaran ada pd tiga" src="http://tertiga.wordpress.com/files/2009/03/kebenaran-ada-pd-tiga.jpg?w=150" alt="" width="150" height="147" /></a>Kebenaran demi kebenaran telah kita tapaki sejak SD hingga nanti. Semua pribadi-pribadi memiliki kebenaran dasar sendiri tentunya. Sebut saja kebenaran itu adalah kebenaran primitif. Kebenaran suami beda dgn kebenaran istri, beda dgn tetangga, dst. Banyak pribadi seolah merasa telah menemukan sebuah kebenaran hakiki. Banyak kebenaran yg seolah tahan uji seperti kebenaran pada dalil-dalil Fisika. Kebenaran alamiah bagai kebenaran murni yg tak terbantah, namun ternyata kebenaran-kebenaran itu pun terdapat banyak anomali, ada banyak paradoksal, ada banyak tak terteliti akal.</p>
<p>Kebenran demi kebenarna fisika terus diuji secara mikro dan secara nano ataupun secara pico. Kebenaran-kebenaran itu terus berubah sejalan dgn penemuan-penemuan alat uji yg baru. Kebenaran itu bertumbuh, bahkan jika kecepatan cahaya menjadi mudah diaplikasikan kelak, maka kebenaran Fisika klasik pd tumbang.</p>
<p>Kebenaran-kebenaran dunia tercatat dlm  sejarah manusia.<br />
Kebenaran-kebenaran ini memuat kebenaran lojik alamiah<br />
Bercampur kebenaran-kebenaran spiritual rohaniah.</p>
<p>Kebenaran dunia anutan dari kebenaran-kebenaran kelompok,<br />
Himpunan dari kebenaran-kebenaran pribadi menjadi kelompok,<br />
Yaitu kebenaran pribadi yang bersesuaian satu sama lain.</p>
<p>Banyak kebenaran kelompok menjurus pd keserakahan duniawi.<br />
Kebenaran seperti itu selalu terjungkal oleh kelompok lain,<br />
Atau oleh bekas kelompoknya yg setia dulunya.<br />
Ketamakan saling memakan diujungnya.</p>
<p>Pertumpahan darah terjadi dimana-mana demi kelompok,<br />
Atau demi mempertahankan kebenaran kerajaannya,<br />
Atau demi penganugerahan kebenaran kuasanya,<br />
Atau demi kebenaran kemerdekaan negaranya.</p>
<p>Saat ini,<br />
Kebenaran Negara adalah kebenaran kelompok kita yg termentok.<br />
Utk negara, kebenaran pribadi kita atau kelompok kita<br />
Harus sedikit dikorbankan demi kebenaran Negara kita.<br />
Kita tidak bisa sembarang berkata,<br />
<em><strong> &#8220;Ini tanah milik Allah!&#8221;,<br />
</strong></em>Lalu kita bikin Ruko di atasnya! Wah!</p>
<p>Yg kita reka-reka sekarang bukanlah  kedua kebenaran di atas,<br />
Yaitu kebenaran pribadi atau pun kebenaran kelompok,<br />
Melainkan-kebenaran Illahi, ya kan?</p>
<p><em><strong>&#8220;Bila Allah memberikan curahan hujan dan matahari,<br />
Walau kpd orang-orang yg membenci-Nya sekalipun&#8221;<br />
</strong></em>Adalah merupakan salah satu kebenaran Illahi,<br />
Maka kebenaran seperti ini lah yg perlu dihayati,<br />
Kebenaran yang perlu diadopsi semaksimal bisa,<br />
Yang tak perlu lagi harus ditegak-tegakkan<br />
Untuk menjadi rahmat bagi alam semesta!<br />
Kan?</p>
<p>Di sinilah kita sering salah lingkuh,<br />
Bahwa kebenaran yg hrs ditegagkan<br />
Adalah kebenaran yg ada di atas kertas,<br />
Kebenaran yg sesuai isi tempurung kepala,<br />
Kebenaran yang pake logika-logika dunia,<br />
Kebenaran yang harus masuk akal dan dalil!</p>
<p>Menurutku bukalah kebenaran yang demikian yang dimaksud,<br />
Karena yang demikian itu terlalu cocok dgn kebenaran duniawi.<br />
Bagi dunia, di atas kertas harus sama dlm hati boleh beda.<br />
Bagi Allah, di atas kertas boleh beda dlm hati harus sama.</p>
<p>Ke dalam hati yg teduh lah Dia mau berkenan hadir,<br />
Bukan ke dalam tempurung kepala yang penuh benar.<br />
Kesimpulanku sementara ini adalah:</p>
<p><strong>Ada Tiga Kebenaran,<br />
<em>&#8212;<span style="color:#008000;">Kebenaran pribadi,</span><br />
&#8212;<span style="color:#ff0000;">Kebenaran kelompok,</span><br />
&#8212;<span style="color:#0000ff;">Kebenaran Illahi.</span></em></strong></p>
<p>Salam Pikir Tiga!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pencerahan Lirik Tertiga!]]></title>
<link>http://tertiga.wordpress.com/2009/02/24/pencerahan-lirik-lagu-tertiga/</link>
<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 03:22:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
<guid>http://tertiga.wordpress.com/2009/02/24/pencerahan-lirik-lagu-tertiga/</guid>
<description><![CDATA[Klik lirik &#8220;Tertiga&#8221; ini. Pencerahanku: Kata &#8220;tiga&#8221; adalah persangkaan tak e]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><span style="color:#ff0000;"><a href="http://tertiga.wordpress.com/2009/02/16/tiga-esa-saksi-aksi-mimpi-terjaga/" target="_blank"><span style="color:#ff0000;"><a rel="attachment wp-att-1159" href="http://tertiga.wordpress.com/2009/02/24/pencerahan-lirik-lagu-tertiga/aku1-4/"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-1159" title="Aku1" src="http://tertiga.wordpress.com/files/2009/02/aku11.jpg?w=150" alt="" width="150" height="147" /></a>Klik lirik &#8220;Tertiga&#8221; ini.</span></a></span></strong></p>
<p><strong>Pencerahanku:</strong><br />
Kata &#8220;tiga&#8221; adalah persangkaan tak esa.<br />
Kata yg seolah harus selalu mati-matika-n,<br />
Demi Ilmupasti tak boleh ada pada rohani!?</p>
<p>Awalan &#8220;ter&#8221; bisa berarti &#8220;tak sengaja&#8221;, &#8230;&#8230;.. tersenggol.<br />
Awalan &#8220;ter&#8221; bisa juga berarti &#8220;sangat&#8221;, &#8230;&#8230;.. termuskil.<br />
Awalan &#8220;ter&#8221; bisa juga berarti &#8220;keupayaan&#8221;, .. tersaji.</p>
<p>Tertiga boleh berarti<br />
Upaya sangat tiga secara tak sengaja.</p>
<p>Upaya meniga, mungkin suatu keharusan yg sesuai dgn yg ada.<br />
Sangat tiga, berarti suatu presisi yg tak kurang dan tak lebih.<br />
Tak sengaja metiga, berarti bukan untuk matematika.</p>
<p>Tertiga bisa jadi merupakan &#8220;totalitas&#8221; komponenku,<br />
Komponen aku bangun dan komponen aku tidur!<br />
Komponen itu adalah tubuh, jiwa dan roh.</p>
<p>Komponen tubuh selalu menuntut,<br />
Komponen roh selalu menurut,<br />
Komponen jiwa adalah pemecut.</p>
<p>Saat bangun, ada kesadaran jiwa pada tubuh;<br />
Roh bagai tak ada tampak atau tak ada cerita.<br />
Tubuh berkarya nyata beraksi merdeka.</p>
<p>Saat tidur ada ketidak sadaran jiwa pada tubuh.<br />
Tubuh bagai tak tampak atau tak ada cerita.<br />
Roh bagai beraksi dengan gambar-gambar,<br />
Me-rewind hidup atau mem-forward-nya.</p>
<p>Jadi, inti lirik lagu tertiga adalah:<br />
Aku (jiwa) dlm remang bersaksi,<br />
Meliput aku (roh) dlm terang beraksi,<br />
Kepada aku (tubuh) dlm bimbang berreaksi.<br />
Reaksi kepada suka dan duka yg gamang!</p>
<p>Semua kejadian saat itu peranku.<br />
Yang tunggal, yg berpesona tiga,<br />
Yang bernuansa esa!</p>
<p><em><strong><span style="color:#ff0000;">Aku bersaksi dengan jiwa,</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;">Aku beraksi dalam roh,</span></strong><br />
<strong><span style="color:#008000;">Aku berreaksi pada tubuh.</span></strong></em></p>
<p>Pantesan lah kita berkata &#8220;kami&#8221; ketika besaksi,<br />
Pantesan juga kita berkata &#8220;aku&#8221; ketika beraksi,<br />
Periksalah lagi kepantasan-kepantasan itu!</p>
<p>Apa itu kebetulan,<br />
Atau itu lah pembetulan,<br />
Atau itu betul-betul kebenaran!</p>
<p>Salam Pikir Tiga!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa bayi mimpi!]]></title>
<link>http://tertiga.wordpress.com/2009/02/17/bayi-mimpi-apa/</link>
<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 14:40:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
<guid>http://tertiga.wordpress.com/2009/02/17/bayi-mimpi-apa/</guid>
<description><![CDATA[Bayi dominan tubuh, Bayi berinsting primitif, Bayi belum berego-superego! Perhatikan bayi yg sedang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a rel="attachment wp-att-1133" href="http://tertiga.wordpress.com/2009/02/17/bayi-mimpi-apa/bayi3/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1133" title="Bayi3" src="http://tertiga.wordpress.com/files/2009/02/bayi3.jpg?w=150" alt="" width="150" height="147" /></a>Bayi dominan tubuh,<br />
Bayi berinsting primitif,<br />
Bayi belum berego-superego!</strong></p>
<p><strong><em><span style="color:#008000;">Perhatikan bayi yg sedang tidur lelap di kala berkejut,</span><br />
<span style="color:#ff0000;">Perhatikanlah juga bayi yg sedang tidur lelap di kala bersedih,</span><br />
<span style="color:#0000ff;">Perhatikan jugalah bayi sedang tidur lelap itu di kala bersenyum.</span></em></strong></p>
<p>Perhatikan lah,<br />
Maksudku raut wajah, gerak, air mata, mimik, suara, dll.<br />
Ada beda nyata di kala berkejut, bersedih dan bersenyum,<br />
Mustahil kita mengetahui gerangan apa ada dalam alam dia,<br />
Selain satu pasti bahwa ada yang patut dipercaya &#8220;ada&#8221;.<br />
Mustahil juga lah bayi itu sedang bersandiwara, kan?</p>
<p>Kuperhatikan,<br />
Anjingku juga demikian;  Aya-aya wae, pikirku!<br />
Tapi dia tidak bisa bersenyum di kala tidur.</p>
<p>Dan bungaku begitu juga,<br />
Tapi dia hanya bisa berkejut;<br />
Terdahsyat jam satu dini hari;<br />
Jam pertumbuhan tercepat.</p>
<p>Jadi, bila kuperhatikan dalam segala hal,<br />
Secara micro ato secara nano dgn pikir tiga,<br />
Maka semakin &#8220;aya aya wae&#8221; yang perlu bagi diri.</p>
<p>Berpikir menerawang  dengan kaca-mata Yang Maha Kuasa,<br />
Kita tidak bisa melihat apa-apa selain &#8220;Bim sala bim biasa dan ada&#8221;,<br />
Ada  tragedi dunia di belakang sejarah manusia dan ada di depannya.</p>
<p>Aku percaya, manusia diciptakan sempurna.<br />
Dalam kita ada tubuh, ada jiwa, ada roh,<br />
Dalam anjing  ada tubuh ada jiwa,<br />
Dalam bunga ada tubuh tok,<br />
Begitu lah dominannya,<br />
Kurasa!</p>
<p>Salam Pikir Tiga!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Isu Politik di Perak: penjelasan Ir. Mohammad Nizar Jamaluddin]]></title>
<link>http://hazrul7.wordpress.com/2009/02/08/isu-politik-di-perak-penjelasan-ir-mohammad-nizar-jamaluddin/</link>
<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 11:23:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>hazrul7</dc:creator>
<guid>http://hazrul7.wordpress.com/2009/02/08/isu-politik-di-perak-penjelasan-ir-mohammad-nizar-jamaluddin/</guid>
<description><![CDATA[BismilahirRahmanirRahim. Saya bersyukur ke hadrat Allah SWT atas kesihatan tubuh badan dan kesabaran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[BismilahirRahmanirRahim. Saya bersyukur ke hadrat Allah SWT atas kesihatan tubuh badan dan kesabaran]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Un Papa Papou parmi « 6 milliards d’autres »]]></title>
<link>http://toutpetits.wordpress.com/2009/02/02/un-papa-papou-parmi-%c2%ab-6-milliards-d%e2%80%99autres-%c2%bb/</link>
<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 18:54:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>toutpetits</dc:creator>
<guid>http://toutpetits.wordpress.com/2009/02/02/un-papa-papou-parmi-%c2%ab-6-milliards-d%e2%80%99autres-%c2%bb/</guid>
<description><![CDATA[Revoyez je vous prie l’article du 18 janvier http://toutpetits.wordpress.com/2009/01/18/«-6-milliard]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong></strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong></strong></p>
<div><strong></strong></div>
<p><strong></p>
<p class="Publishwithline">Revoyez je vous prie l’article du 18 janvier <a href="http://toutpetits.wordpress.com/2009/01/18/%C2%AB-6-milliards-d%E2%80%99autres-%C2%BB-avec-yann-arthus-bertrand/">http://toutpetits.wordpress.com/2009/01/18/«-6-milliards-d’autres-»-avec-yann-arthus-bertrand/</a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-weight:normal;">Presque à la fin, je vous orientais vers le site magnifique à bien des titres de Yann Arthus-Bertrand </span><a href="http://www.6milliardsdautres.org/"><span><span style="font-weight:normal;">« 6 milliards d’Autres »</span></span></a></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-weight:normal;">Tout en bas ou presque je reprenais, pour vous dire mon admiration d’un des héros de ce formidable hommage à l’humanité, un titre d’</span></span></span><a href="http://fr.wikipedia.org/wiki/Des_Papous_dans_la_t%C3%AAte"><span><span style="font-weight:normal;">une célèbre émission de France Culture</span></span></a><span><span><span style="font-weight:normal;">, dont voici l’intégrale du 7 juin 2008, grâce à Dailymotion :<br />
</span></span></span><a href="http://www.dailymotion.com/video/x6a5cx_des-papous-dans-la-tete-a-la-cite-d_creation"><span style="font-weight:normal;">http://www.dailymotion.com/video/x6a5cx_des-papous-dans-la-tete-a-la-cite-d_creation</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="padding-left:30px;"><span style="font-weight:normal;"><em>(« </em></span><span><span><span style="font-weight:normal;"><em>Intégrale de l&#8217;enregistrement en public, le 7 juin 2008, de l&#8217;émission de France culture &#8220;Des papous dans la tête&#8221; orchestrée par Françoise Treussard avec : Dominique Muller, Hélène Delavault, Eva Almassy, Patrick Besnier, Patrice Caumon, Patrice Delbourg, Patrice Minet, Jacques Vallet, Lucas Fournier, Serge Joncour et Hervé Le Tellier.</em></span></span></span><span><span><span style="font-weight:normal;"><em> </em></span></span></span><span><span style="font-weight:normal;"><em><br />
</em></span><span><span style="font-weight:normal;"><em>Une soirée de jeux « avec contraintes » qui a rassemblé, dans un joyeux mélange, les littéraires et les scientifiques sur invitation de la Bibliothèque des sciences et de l&#8217;industrie (BSI) de la Cité des sciences. »</em></span></span><span><span style="font-weight:normal;"><em>)</em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-weight:normal;"><em>Quelques informations ici également</em> :</span><a href="http://www.radiofrance.fr/chaines/france-culture2/emissions/papous/"><span style="font-weight:normal;">http://www.radiofrance.fr/chaines/france-culture2/emissions/papous/</span></a><span style="font-weight:normal;">, seulement pour que vous savouriez l’humour, la passion des mots…, qui président à cette émission.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-weight:normal;"><em>Yann Arthus-Bertrand, lui ne cherche pas à nous amuser, à nous faire rire. Il ne « joue » pas avec les mots et les idées. Il fait œuvre d’ethnologue, et sans doute bien davantage </em>: tant et tant de sagesse, d’humanité agit sur nous comme une sorte de psychanalyse qui nous réconforte, nous lie, nous relie, nous réconcilie avec tous ces innombrables « Autres » si différents et cependant si proches de nous.<br />
<strong>Dans l’article du blog </strong></span></span></span><span style="text-decoration:underline;"><span><a href="http://toutpetits.wordpress.com/2009/01/18/%C2%AB-6-milliards-d%E2%80%99autres-%C2%BB-avec-yann-arthus-bertrand/"><span>« 6 milliards d’Autres avec Yann Arthus-Bertrand »</span></a></span></span><span><span> <span> </span>j’écrivais :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="padding-left:30px;"><span><span style="font-weight:normal;"><em>« J’ai maintenant « des Papous dans la tête »,</em></span></span><span><span><span style="font-weight:normal;"><em> </em></span></span></span><span><span style="font-weight:normal;"><em>dans les yeux</em></span></span><span><span><span style="font-weight:normal;"><em>, dans les oreilles et dans le cœur , depuis que j’ai entendu</em></span></span></span><span><span><span style="font-weight:normal;"><em> </em></span></span></span><span><span style="font-weight:normal;"><em>ce papa Papou</em></span></span><span><span><span style="font-weight:normal;"><em> </em></span></span></span><span><span><span style="font-weight:normal;"><em>dire avec tant de conviction son souci d’un avenir digne pour son fils,</em></span></span></span><span><span><span style="font-weight:normal;"><em> </em></span></span></span><span><span style="font-weight:normal;"><em>son Petit-Bout Papou</em></span></span><span><span><span style="font-weight:normal;"><em>, d’un avenir conforme à</em></span></span></span><span><span><span style="font-weight:normal;"><em> </em></span></span></span><span><span style="font-weight:normal;"><em>sa civilisation, à sa culture papoue qu’il sent menacée par ce que les missionnaires appellent le progrès et que lui, du plus profond de tout son être sent comme un péril mortel. »</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-weight:normal;"><em>Yann Arthus-Bertrand, lui, invite par le miracle de l’image et du son HD (haute définition, parfaits pour le respect dû à ses hôtes) de vrais Papous, d’une vérité absolue, irréfutable.</em><br />
</span></span></span><span style="font-weight:normal;">Ainsi, je vous recommandais :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;padding-left:30px;"><span style="font-weight:normal;"><em>Essayez de réécouter 25 mn de la formidable émission avec Laurence Piquet : </em></span><a href="http://www.france5.fr/videos/?id=3238"><span style="font-weight:normal;"><em>Vous l’avez à disposition, ici, gratuitement</em></span></a><span style="font-weight:normal;"><em>, pour quelques jours encore.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-weight:normal;"><em></em>Dans cet enregistrement vidéo le papa Papou qui nous interpelle si fort, nous prétendument civilisés, était là, miséreux et sublime à la fois, crevant l’écran.<br />
L’émission est toujours disponible, mais moyennant quelques euros.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-weight:normal;"><em>Je me suis permis de relever à la volée ses propos si dignes, si pétris de bon sens, si pleins d’une absolue sincérité qui le mène, plein d’indignation, aux confins de la colère et de la révolte.<br />
Ces paroles, solennelles et belles comme un poème, comme une incantation, vous les trouvez ci-dessous.</em><br />
<strong><em>J’ai eu la chance de retrouver, sur Dailymotion, « mon » Papou.</em></strong><br />
Regarde-le, admirez-le, compatissez à sa désolation si sincère, et tremblez pour tous les puissants qui piétinent ainsi tout ce qui lie un individu à ses pairs, ses frères et à toute la longue lignée dont il est issu.<br />
La prise de vue est différente, les « paroles » aussi ont été quelque peu modifiées. Écoutez et comparez : l’essentiel est bien là. Le « poème » ci-dessous est la version de la vidéo de Yann Arthus-Bertrand, celle de l’émission de Laurence Piquet.<br />
</span><span><a href="http://www.dailymotion.com/video/x6uw8x_6-milliards-dautres-transmettre_creation" target="_self"><span style="font-weight:normal;">http://www.dailymotion.com/video/x6uw8x_6-milliards-dautres-transmettre_creation</span></a></span><span><span><span style="font-weight:normal;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-weight:normal;">Le second « Autre » de cette vidéo n’est qu’un pauvre, très pauvre Papou. Très « primitif », quasi préhistorique, puisqu’il mentionne comme savoir-faire importants de sa civilisation les arcs, les flèches, les haches de pierre… Mais ce papa Papou, ce « sauvage » est infiniment respectable et admirable dans son souci, sa préoccupation, son angoisse désespérée de ne pas avoir pu transmettre à ses enfants aussi l’essentiel de sa culture : la loi traditionnelle et l’art de faire la cour. C’est-à-dire ce qui dans la culture Papou prépare comme il convient à la transmission de la vie.</span></span></span><span style="font-weight:normal;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-weight:normal;"><em>Voilà ce que j’ai appris à mes enfants :<br />
se percer le nez.<br />
se construire des haches de pierre.<br />
se faire des vêtements en écorce de tapa.<br />
manier les arcs et les flèches, tout ça.</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-weight:normal;"><em>J’allais leur enseigner notre loi traditionnelle<br />
Et les initier à l’art de faire la cour.<br />
Mais les missionnaires sont venus et m’ont dit :<br />
« Abandonnez vos coutumes !<br />
Elles sont maléfiques ! Elles viennent du diable ! »</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-weight:normal;"><em>Alors, je n’ai pas transmis nos lois à mes enfants.<br />
Je ne leur ai pas enseigné nos rites.<br />
et aujourd’hui mes enfants volent.<br />
Ils font ces choses que ma loi ne permet pas.<br />
Et le gouvernement arrive,<br />
Les emmène loin de moi et les met en prison.<br />
Tout ça parce que je n’ai pas pu<br />
transmettre nos coutumes à mes enfants.</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-weight:normal;"><em>Nos méthodes d’instruction étaient très puissantes<br />
et douloureuses.<br />
Si j’avais pu les initier<br />
Mes enfants n’en seraient pas là.<br />
Voilà la loi véritable.</em></span></p>
<p></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Politic of fear masih berlaku di Indonesia]]></title>
<link>http://justopini.wordpress.com/2009/01/05/politic-of-fear-masih-berlaku-di-indonesia/</link>
<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 23:42:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>fosifrenzy</dc:creator>
<guid>http://justopini.wordpress.com/2009/01/05/politic-of-fear-masih-berlaku-di-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Menakut-nakuti merupakan kebiasaan untuk menundukkan seseorang. Di negara ketiga, termasuk Indonesia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Menakut-nakuti merupakan kebiasaan untuk menundukkan seseorang. Di negara ketiga, termasuk Indonesia, saya lihat praktek seperti ini banyak dilakukan di mana-mana. Di lembaga perkantoran, keorganisasian, maupun lembaga-lembaga keagamaan. Semua memakai langkah ancaman untuk memaksakan kehendaknya terhadap orang lain. Ancaman pemutusan hubungan kerja lah, ancaman tidak digaji lah, dan sebagainya.</p>
<p>Kebanyakan orang-orang di dunia ketiga [baca: Indonesia] memang takut dengan ancaman, apalagi ancaman pemutusan hubungan kerja. Ini dikarenakan, menurut saya, kebanyakan masyarakat terbiasa hidup di kelas bawah yang selalu harus patuh dan tunduk pada atasan. Karena orang yang terbiasa hidup sebagai atasan tidak pernah merasa takut dengan ancaman apapun. Dia tidak takut kehilangan apa-apa.</p>
<p>Kebiasaan hidup di kelas bawah ini banyak ditanamkan oleh orang-orang tua di dunia ketiga, termasuk guru-guru pendidik dan guru-guru agama yang kebanyakan gila hormat dan menuntut semua perkataannya harus dituruti oleh anak didiknya atau masyarakatnya. Benih-benih seperti ini dibawa sang anak ke dunia dewasa, bahkan ke dunia politik. Sehingga diapun memiliki pandangan yang sangat berbahaya terhadap hidup ini. Misalnya, menganggap dirinya tidak berwibawa saat perkataannya tidak dituruti, padahal setiap punya kehendak masing-masing yang juga harus dihormati. </p>
<p>Benih-benih seperti ini sering menjadi cikal-bakal dunia kediktatoran. Saat seseorang merasa dirinya sangat penting dan sebagai satu-satunya patokan, dan perkataannya harus dituruti atau dalam bahasa hukum perkataannya menjadi undang-undang, maka dia tidak akan pernah bisa mentolerir hal-hal yang berseberangan dengan pendapat dia. Yang berseberangan akan dianggap pembangkang, dan politic of fear menjadi andalan. </p>
<p>Memang hanya kaum bawahan yang memiliki rasa takut terhadap atasan. Takut tidak makan lah, takut tidak punya jabatan lah, takut diusir lah dan seterusnya. Orang yang mau ditakut-takuti seperti itu tidak lebih dari watak seorang pembantu. Orang kaum atasan tidak takut untuk mengekspresikan keinginannya, dia bisa seratus persen menjadi dirinya, tanpa takut dengan ancaman atau tindakan menakut-nakuti lainnya.</p>
<p>Jika Indonesia masih menganut budaya pembantu seperti ini, sampai kapan pun, bangsa ini tidak akan maju dan sejajar dengan dunia barat. Budaya takut terhadap sesuatu jika terus ditanamkan pada anak-anak kita, akan mengarah kepada pencekalan kreatifitas generasi yang akan datang. Kesetaraan manusia akan terancam kembali kepada dunia perbudakan.[fosi_frenzy]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antropologi]]></title>
<link>http://pusatpengetahuan.wordpress.com/2008/11/27/antropologi/</link>
<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 08:48:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>pusatpengetahuan</dc:creator>
<guid>http://pusatpengetahuan.wordpress.com/2008/11/27/antropologi/</guid>
<description><![CDATA[Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu et]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Antropologi</strong> adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.</p>
<p>Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.</p>
<p><strong><a href="http://pengetahuanumum.com/2008/11/27/antropologi/">Antropologi &#8211; Baca Selengkapnya</a></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
