<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>puasa &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/puasa/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "puasa"</description>
	<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 05:51:13 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Tips dan Cara Mengatasi Haus Lapar Puasa Ramadhan - Melupakan Hawa Nafsu yang Membatalkan Puasa di Bulan Ramadan ]]></title>
<link>http://riyadulmubtadiin.wordpress.com/2009/11/29/tips-dan-cara-mengatasi-haus-lapar-puasa-ramadhan-melupakan-hawa-nafsu-yang-membatalkan-puasa-di-bulan-ramadan/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 13:06:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kang Aam</dc:creator>
<guid>http://riyadulmubtadiin.wordpress.com/2009/11/29/tips-dan-cara-mengatasi-haus-lapar-puasa-ramadhan-melupakan-hawa-nafsu-yang-membatalkan-puasa-di-bulan-ramadan/</guid>
<description><![CDATA[Puasa Ramadhan adalah puasa yang wajib dikerjakan oleh setiap umat islam yang masih hidup di seluruh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Puasa Ramadhan adalah puasa yang wajib dikerjakan oleh setiap umat islam yang masih hidup di seluruh]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengertian, Definisi dan Tata Cara Puasa Ramadhan, Senin Kamis, Nazar, Sya'ban, Petengahan Bulan, Asyura, Arafah dan Syawal]]></title>
<link>http://riyadulmubtadiin.wordpress.com/2009/11/29/pengertian-definisi-dan-tata-cara-puasa-ramadhan-senin-kamis-nazar-syaban-petengahan-bulan-asyura-arafah-dan-syawal/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 12:52:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kang Aam</dc:creator>
<guid>http://riyadulmubtadiin.wordpress.com/2009/11/29/pengertian-definisi-dan-tata-cara-puasa-ramadhan-senin-kamis-nazar-syaban-petengahan-bulan-asyura-arafah-dan-syawal/</guid>
<description><![CDATA[Arti puasa menurut bahasa adalah menahan. Menurut syariat islam puasa adalah suatu bentuk aktifitas ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Arti puasa menurut bahasa adalah menahan. Menurut syariat islam puasa adalah suatu bentuk aktifitas ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Qurban at Idul Adha]]></title>
<link>http://asistenafd.wordpress.com/2009/11/27/qurban-at-idul-adha/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 04:28:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bily Aryadi</dc:creator>
<guid>http://asistenafd.wordpress.com/2009/11/27/qurban-at-idul-adha/</guid>
<description><![CDATA[Today we qurban a cow for Idul Adha at Medan city. This is a message from Al Quran that we must scar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://media.shozu.com/cache/portal/media/17201f1/16777777"><img src="http://media.shozu.com/cache/portal/media/17201f1/16777777_blog" /></a><br />Today we qurban a cow for Idul Adha at Medan city. This is a message from Al Quran that we must scarifice the cow, camel or goat. This is only a symbol that we must care to each other. All the man are same and equal except who more taqwa to Allah.
<p align="right"><a href="http://www.shozu.com/portal/?utm_source=upload&#38;utm_medium=graphic&#38;utm_campaign=upload_graphic/" target="_blank"><img src="http://www.shozu.com/resources/messages/logo_blog.gif" alt="Posted by ShoZu" border="0" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Qurban dan Puasa]]></title>
<link>http://samanui.wordpress.com/2009/11/26/qurban-dan-puasa/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 12:58:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>SAMAN UI</dc:creator>
<guid>http://samanui.wordpress.com/2009/11/26/qurban-dan-puasa/</guid>
<description><![CDATA[Pengasuh Prof.Dr. Tgk Muslim Ibrahim, MA Pertanyaan Ustadz Pengasuh KAI yang saya hormati, Assalamu’]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pengasuh Prof.Dr. Tgk Muslim Ibrahim, MA Pertanyaan Ustadz Pengasuh KAI yang saya hormati, Assalamu’]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puasa Hari Tarwiyah]]></title>
<link>http://alyphmedia.wordpress.com/2009/11/26/puasa-hari-tarwiyah/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 01:30:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>alyphmedia</dc:creator>
<guid>http://alyphmedia.wordpress.com/2009/11/26/puasa-hari-tarwiyah/</guid>
<description><![CDATA[Hari ini tanggal 8 Dzulhijjah 1430 H. Wah besok harus bangun pagi nih, kan harus sahur untuk Puasa A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hari ini tanggal 8 Dzulhijjah 1430 H. Wah besok harus bangun pagi nih, kan harus sahur untuk Puasa Arafah &#8230; semangad !!!. Waktu menunjukkan pukul 22.25 &#8230; tulit tutut tutut &#8230; K550i ku berbunyi. Rupanya SMS dadi seorang temen di remais yang masih duduk di bangku SMP. SMS dengan cara penulisan yang aneh tuh isinya seperti ini &#8220;Mas.,td kn q puasa, tp niat&#8217;e bgung soale q lupa n5ne thu puasa pa!!.,la trus puasane btal g?&#8221;. SMS dia ini mengingatkanku pada soal CPNS DEPAG yang menanyakan kapankah hari Tarwiyah. Mau tau tentang hari Tarwiyah ? Benarkah ada puasa hari Tarwiyah ? Lebih jelasnya simak uraian di bawah ini ^_^.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA['Arafah]]></title>
<link>http://hazadeen.wordpress.com/2009/11/26/arafah/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 00:17:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>al-ikhsan</dc:creator>
<guid>http://hazadeen.wordpress.com/2009/11/26/arafah/</guid>
<description><![CDATA[Aisyah menceritakan ketika Muhammad sollallahu &#8216;alaihi wasallam berkata-kata tentang yaumul Ar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Aisyah menceritakan ketika Muhammad sollallahu &#8216;alaihi wasallam berkata-kata tentang yaumul Ar]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puasa Hari Arafah]]></title>
<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2009/11/25/puasa-hari-arafah/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 12:46:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Muslim Al Falimbany</dc:creator>
<guid>http://alfalimbany.wordpress.com/2009/11/25/puasa-hari-arafah/</guid>
<description><![CDATA[Puasa arafah termasuk dari puasa-puasa sunnah dalam Islam yang mempunyai keutamaan yang besar. Dari ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Puasa arafah termasuk dari puasa-puasa sunnah dalam Islam yang mempunyai keutamaan yang besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshari -radhiallahu anhu- dia berkata:</p>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ , فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ</strong></h3>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan beliau -alaihishshalatu wassalam- ditanya tentang puasa pada hari arafah, maka beliau menjawab, “Dia menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” </em>(HR. Muslim no. 1162)<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Hadits ini jelas menunjukkan disunnahkannya berpuasa pada hari arafah, yaitu pada tanggal 9 zulhijjah. Sampai-sampai Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata dalam Taudhih Al-Ahkam (3/210), “Puasa hari arafah adalah puasa sunnah yang paling utama berdasarkan ijma’ para ulama.”</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ash-Shan’ani berkata dalam As-Subul, “Sebagian ulama ada yang mempertanyakan maksud dari dihapuskannya dosa yang belum terjadi, yaitu dosa yang akan terjadi di tahun yang akan datang. Dan hal ini dijawab bahwa yang dimaksudkan di sini adalah orang tersebut akan diberikan taufik untuk setahun yang akan datang agar dia tidak mengerjakan dosa, akan tetapi taufik ini dinamakan sebagai penghapusan dosa untuk menyesuaikannya dengan keutamaan setahun sebelumnya (berupa penghapusan dosa). Ataukah yang dimaksudkan di sini adalah jika dia terjatuh ke dalam dosa pada tahun yang akan datang, maka dia akan diberikan taufik oleh Allah untuk mengamalkan amalan yang bisa menghapuskan dosa tersebut.” Lihat Subul As-Salam (2/339) cet. Daar Al-Kutub Al-Arabi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hukum Puasa Arafah Bagi yang Berada di Arafah (Sedang Haji).</strong><br />
Ada tiga pendapat dalam permasalahan ini:<br />
1.    Diharamkan.<br />
Ini adalah pendapat Yahya bin Said Al-Anshari dan ini yang dikuatkan oleh Ash-Shan’ani.<br />
Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata, <em>“Nabi -alaihishshalatu wassalam- melarang melakukan puasa arafah di arafah.” </em>(HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, dan Ibnu Majah)</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi hadits ini lemah karena berasal dari jalan Mahdi Al-Abdi Al-Hajari dari Ikrimah dari Abu Hurairah, sementara Mahdi Al-Hajari ini adalah rawi yang majhul hal. Al-Uqaili berkata, “Tidak ada yang mendukung riwayatnya. Telah diriwayatkan dari beliau -alaihishshalatu wassalam- dengan sanad-sanad yang baik bahwa beliau tidak melakukan puasa arafah di arafah, akan tetapi tidak shahih dari beliau adanya larangan untuk puasa arafah di arafah.”<br />
2.    Disunnahkan untuk berbuka di arafah.<br />
Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka berdalil dengan hadits Maimunah bintu Al-Harits dan Ummu Al-Fadhl bintu Al-Harits yang keduanya diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1575, 1887, 1888) dan Muslim (no. 1123) bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- meminum susu pada hari arafah.<br />
3.    Disunnahkan berpuasa di arafah.<br />
Ibnu Az-Zubair, Usamah bin Zaid, dan Aisyah -radhiallahu anhum- berpuasa arafah di arafah. Hal itu membuat kagum Al-Hasan dan dia membawakan pendapat ini juga dari Utsman. Ibnu Al-Mundzir menukil pendapat ini dari Ishak bin Rahawaih, dan merupakan pendapat lama dari Asy-Syafi’i. Al-Khaththabi juga membawakan pendapat ini dari Ahmad dan ini pendapat yang dipilih oleh Al-Ajurri. Hanya saja sebagian di antara ulama di atas ada yang memberikan batasan sunnahnya jika puasa itu tidak membuat badannya lemah untuk melakukan wuquf dan berdoa di arafah.<br />
Mereka berdalil dengan keumuman hadits, <em>“Dia menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”</em><br />
Adapun hadits Maimunah dan Ummu Al-Fadhl, maka Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata, “Kedua hadits ini dijadikan dalil akan disunnahkannya berbuka (tidak puasa) pada hari arafah di arafah. Hanya saja pendalilan ini kurang tepat, karena perbuatan beliau -alaihishshalatu wassalam- semata tidaklah menafikan disunnahkannya berbuka pada hari itu. Karena terkadang beliau meninggalkan sesuatu yang disunnahkan hanya untuk menunjukkan bolehnya, sehingga dalam keadaan itu lebih utama bagi beliau untuk tidak berpuasa karena adanya maslahat dakwah.” Lihat Fath Al-Bari (4/238)</p>
<p style="text-align:justify;">Tarjih:<br />
Yang kuat -wallahu a’lam- adalah pendapat yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar yaitu pendapat yang ketiga berdasarkan argumen yang beliau sebutkan. Apalagi konteks hadits Maimunah dan Ummu Al-Fadhl menyebutkan bahwa para sahabat berbeda pendapat mengenai apakah Nabi -alaihishshalatu wassalam- berpuasa arafah di arafah ataukah tidak -dan ketika itu beliau tengah berada di arafah-, maka kedua shahabiah ini mengirimkan susu kepada Nabi -alaihishshalatu wassalam- lalu beliau minum sementara beliau berdiri di arafah -dalam sebagian riwayat: di atas tunggangannya- sementara para sahabat melihat beliau minum. Maka yang nampak dari sini adalah beliau minum hanya untuk menunjukkan beliau tidak mewajibkan berpuasa pada hari itu.<br />
Hanya saja hukum sunnah ini tentu saja berlaku jika puasa itu tidak membuat badannya lemah untuk melakukan wuquf dan berdoa di arafah -sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama-. Jika puasa tersebut membuatnya lemah sehingga tidak bisa maksimal untuk beribadah di arafah maka lebih afdhal baginya untuk berbuka dan tidak berpuasa. Wallahu a’lam bishshawab.<br />
[Lihat: Al-Majmu’ (6/349-350), Al-Inshaf (3/310), dan Al-Muhalla masalah. 793]</p>
<p style="text-align:justify;">[Rujukan utama: Ithaf Al-Anam bi Ahkam wa Masail Ash-Shiyam hal. 158-160]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sumber: http://al-atsariyyah.com/?p=1340&#38;utm_source=feedburner&#38;utm_medium=email&#38;utm_campaign=Feed%3A+RSS-Website-Ilmiah-Islamiyah-Salafi+%28AL-ILMU.WEB.ID%29&#38;utm_content=Yahoo!+Mail</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hari Raya Qurban]]></title>
<link>http://adamroz.wordpress.com/2009/11/25/hari-raya-qurban/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 11:28:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>adamroz</dc:creator>
<guid>http://adamroz.wordpress.com/2009/11/25/hari-raya-qurban/</guid>
<description><![CDATA[Pak Sabar dan Om Fathur menyiapkan posisi sapi untuk kemudian di sembelih Hari Raya Qurban atau umat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://adamroz.wordpress.com/files/2009/11/hari-raya-qurban-1-of-11.jpg"><img src="http://adamroz.wordpress.com/files/2009/11/hari-raya-qurban-1-of-11.jpg" alt="" title="hari raya qurban (1 of 1)" width="509" height="382" class="aligncenter size-full wp-image-112" /></a><br />
<em>Pak Sabar dan Om Fathur menyiapkan posisi sapi untuk kemudian di sembelih</em></p>
<p>Hari Raya Qurban atau umat Islam sering menyebutnya Hari Raya Idul Adha, adalah salah satu hari besar agama Islam. Hari besar ini merupakan sunnah yang ada pada zaman Nabi Ismail yang kemudian terus berlanjut sampai sekarang. Saya tidak akan membahas tentang bagaimana sejarahnya, tapi saya akan menceritakan tentang bagaimana suasana hari besar tersebut. </p>
<p>Saat ini saya sedang study di Malang, dan saya masih merindukan euphoria hari besar keagamaan di kampung halaman saya, Balikpapan. Saya tinggal di daerah yang ramai dan warganya sangat kompak. Di hari-hari menjelang Idul Adha seperti ini saya sering merindukan suasana di rumah. Saya coba membuka album foto saya untuk menceritakan kembali suasana yang saya ridukan. Foto-foto ini diambil tahun 2006 tepatnya 3 tahun yang lalu.</p>
<p><a href="http://adamroz.wordpress.com/files/2009/11/idul-qurban-1-of-1.jpg"><img src="http://adamroz.wordpress.com/files/2009/11/idul-qurban-1-of-1.jpg" alt="" title="idul qurban (1 of 1)" width="510" height="452" class="aligncenter size-full wp-image-113" /></a><br />
<em>Senyum ceria yang selalu ditampilkan dalam kebersamaan</em></p>
<p><a href="http://adamroz.wordpress.com/files/2009/11/1potong-sapi1.jpg"><img src="http://adamroz.wordpress.com/files/2009/11/1potong-sapi1.jpg" alt="" title="1potong sapi" width="510" height="239" class="aligncenter size-full wp-image-105" /></a><br />
<em>Bahu-membahu memindahkan sapi untuk dikuliti &#8211;&#62; Walaupun berat, kalau dilakukan secara bersama akan terasa ringan juga.. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p><a href="http://adamroz.wordpress.com/files/2009/11/daging-sapi1.jpg"><img src="http://adamroz.wordpress.com/files/2009/11/daging-sapi1.jpg" alt="" title="daging sapi" width="510" height="376" class="aligncenter size-full wp-image-108" /></a><br />
<em>Membagi daging sapi untuk kemudian dibungkus dan disalurkan kepada warga sekitar</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puasa Hari Arafah]]></title>
<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/11/25/puasa-hari-arafah/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 09:33:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
<guid>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/11/25/puasa-hari-arafah/</guid>
<description><![CDATA[Puasa arafah termasuk dari puasa-puasa sunnah dalam Islam yang mempunyai keutamaan yang besar. Dari ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignright" title="arafah" src="http://www.hajiumroh.com/image/t-arafah.jpg" alt="" width="240" height="304" /></p>
<div>
<p>Puasa arafah termasuk dari puasa-puasa sunnah dalam Islam yang mempunyai keutamaan yang besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshari -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ , فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ</strong><br />
<em>“Dan beliau -alaihishshalatu wassalam- ditanya tentang puasa pada hari arafah, maka beliau menjawab, “Dia menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” </em>(HR. Muslim no. 1162)<br />
Hadits ini jelas menunjukkan disunnahkannya berpuasa pada hari arafah, yaitu pada tanggal 9 zulhijjah. Sampai-sampai Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata dalam Taudhih Al-Ahkam (3/210), “Puasa hari arafah adalah puasa sunnah yang paling utama berdasarkan ijma’ para ulama.”<br />
Imam Ash-Shan’ani berkata dalam As-Subul, “Sebagian ulama ada yang mempertanyakan maksud dari dihapuskannya dosa yang belum terjadi, yaitu dosa yang akan terjadi di tahun yang akan datang. Dan hal ini dijawab bahwa yang dimaksudkan di sini adalah orang tersebut akan diberikan taufik untuk setahun yang akan datang agar dia tidak mengerjakan dosa, akan tetapi taufik ini dinamakan sebagai penghapusan dosa untuk menyesuaikannya dengan keutamaan setahun sebelumnya (berupa penghapusan dosa). Ataukah yang dimaksudkan di sini adalah jika dia terjatuh ke dalam dosa pada tahun yang akan datang, maka dia akan diberikan taufik oleh Allah untuk mengamalkan amalan yang bisa menghapuskan dosa tersebut.” Lihat Subul As-Salam (2/339) cet. Daar Al-Kutub Al-Arabi.</p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>Hukum Puasa Arafah Bagi yang Berada di Arafah (Sedang Haji).</strong><br />
Ada tiga pendapat dalam permasalahan ini:<br />
1.    Diharamkan.<br />
Ini adalah pendapat Yahya bin Said Al-Anshari dan ini yang dikuatkan oleh Ash-Shan’ani.<br />
Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata, <em>“Nabi -alaihishshalatu wassalam- melarang melakukan puasa arafah di arafah.” </em>(HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, dan Ibnu Majah)<br />
Akan tetapi hadits ini lemah karena berasal dari jalan Mahdi Al-Abdi Al-Hajari dari Ikrimah dari Abu Hurairah, sementara Mahdi Al-Hajari ini adalah rawi yang majhul hal. Al-Uqaili berkata, “Tidak ada yang mendukung riwayatnya. Telah diriwayatkan dari beliau -alaihishshalatu wassalam- dengan sanad-sanad yang baik bahwa beliau tidak melakukan puasa arafah di arafah, akan tetapi tidak shahih dari beliau adanya larangan untuk puasa arafah di arafah.”<br />
2.    Disunnahkan untuk berbuka di arafah.<br />
Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka berdalil dengan hadits Maimunah bintu Al-Harits dan Ummu Al-Fadhl bintu Al-Harits yang keduanya diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1575, 1887, 1888) dan Muslim (no. 1123) bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- meminum susu pada hari arafah.<br />
3.    Disunnahkan berpuasa di arafah.<br />
Ibnu Az-Zubair, Usamah bin Zaid, dan Aisyah -radhiallahu anhum- berpuasa arafah di arafah. Hal itu membuat kagum Al-Hasan dan dia membawakan pendapat ini juga dari Utsman. Ibnu Al-Mundzir menukil pendapat ini dari Ishak bin Rahawaih, dan merupakan pendapat lama dari Asy-Syafi’i. Al-Khaththabi juga membawakan pendapat ini dari Ahmad dan ini pendapat yang dipilih oleh Al-Ajurri. Hanya saja sebagian di antara ulama di atas ada yang memberikan batasan sunnahnya jika puasa itu tidak membuat badannya lemah untuk melakukan wuquf dan berdoa di arafah.<br />
Mereka berdalil dengan keumuman hadits, <em>“Dia menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”</em><br />
Adapun hadits Maimunah dan Ummu Al-Fadhl, maka Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata, “Kedua hadits ini dijadikan dalil akan disunnahkannya berbuka (tidak puasa) pada hari arafah di arafah. Hanya saja pendalilan ini kurang tepat, karena perbuatan beliau -alaihishshalatu wassalam- semata tidaklah menafikan disunnahkannya berbuka pada hari itu. Karena terkadang beliau meninggalkan sesuatu yang disunnahkan hanya untuk menunjukkan bolehnya, sehingga dalam keadaan itu lebih utama bagi beliau untuk tidak berpuasa karena adanya maslahat dakwah.” Lihat Fath Al-Bari (4/238)</p>
<p>Tarjih:<br />
Yang kuat -wallahu a’lam- adalah pendapat yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar yaitu pendapat yang ketiga berdasarkan argumen yang beliau sebutkan. Apalagi konteks hadits Maimunah dan Ummu Al-Fadhl menyebutkan bahwa para sahabat berbeda pendapat mengenai apakah Nabi -alaihishshalatu wassalam- berpuasa arafah di arafah ataukah tidak -dan ketika itu beliau tengah berada di arafah-, maka kedua shahabiah ini mengirimkan susu kepada Nabi -alaihishshalatu wassalam- lalu beliau minum sementara beliau berdiri di arafah -dalam sebagian riwayat: di atas tunggangannya- sementara para sahabat melihat beliau minum. Maka yang nampak dari sini adalah beliau minum hanya untuk menunjukkan beliau tidak mewajibkan berpuasa pada hari itu.<br />
Hanya saja hukum sunnah ini tentu saja berlaku jika puasa itu tidak membuat badannya lemah untuk melakukan wuquf dan berdoa di arafah -sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama-. Jika puasa tersebut membuatnya lemah sehingga tidak bisa maksimal untuk beribadah di arafah maka lebih afdhal baginya untuk berbuka dan tidak berpuasa. Wallahu a’lam bishshawab.<br />
[Lihat: Al-Majmu’ (6/349-350), Al-Inshaf (3/310), dan Al-Muhalla masalah. 793]</p>
<p>[Rujukan utama: Ithaf Al-Anam bi Ahkam wa Masail Ash-Shiyam hal. 158-160]</p>
<p>sumber : <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1340">http://al-atsariyyah.com/?p=1340</a></p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syarat hewan kurban]]></title>
<link>http://asistenafd.wordpress.com/2009/11/25/syarat-hewan-kurban/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 09:09:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bily Aryadi</dc:creator>
<guid>http://asistenafd.wordpress.com/2009/11/25/syarat-hewan-kurban/</guid>
<description><![CDATA[1. Sehat2. Bebas dari segala penyakit3. Tidak cacat4. Tidak pincang5. Tidak buta sebelah6. Tidak ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>1. Sehat<br />2. Bebas dari segala penyakit<br />3. Tidak cacat<br />4. Tidak pincang<br />5. Tidak buta sebelah<br />6. Tidak terjangkit penyakit kulit<br />7. Tidak kurus</p>
<p>Kambing harus sudah berumur satu tahun. Sapi berumur dua tahun.</p>
<p>Daging harus didistribusikan secara baik. Korban bencana alam lebih diprioritaskan.</p>
<p>Sumber : kompas (25/11/09) hal 25.
<p align="right"><a href="http://www.shozu.com/portal/?utm_source=upload&#38;utm_medium=graphic&#38;utm_campaign=upload_graphic/" target="_blank"><img src="http://www.shozu.com/resources/messages/logo_blog.gif" alt="Posted by ShoZu" border="0" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puasa Arafah]]></title>
<link>http://herdiantobing.wordpress.com/2009/11/25/puasa-arafah/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 06:34:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>binggocorp</dc:creator>
<guid>http://herdiantobing.wordpress.com/2009/11/25/puasa-arafah/</guid>
<description><![CDATA[Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada hari Arafah. Apakah hari Arafah didasarkan atas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada hari Arafah. Apakah hari Arafah didasarkan atas]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Derajat Hadits Puasa Hari Tarwiyah]]></title>
<link>http://blackveil.wordpress.com/2009/11/25/derajat-hadits-puasa-hari-tarwiyah/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 04:32:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>blackveil</dc:creator>
<guid>http://blackveil.wordpress.com/2009/11/25/derajat-hadits-puasa-hari-tarwiyah/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Sudah terlalu sering saya ditanya tentang puasa pada hari ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Sudah terlalu sering saya ditanya tentang puasa pada hari ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kelebihan berpuasa pada 9 Zulhijjah]]></title>
<link>http://ipijteknologi.wordpress.com/2009/11/25/kelebihan-berpuasa-pada-9-zulhijjah/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 03:54:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>indahayatisamsi</dc:creator>
<guid>http://ipijteknologi.wordpress.com/2009/11/25/kelebihan-berpuasa-pada-9-zulhijjah/</guid>
<description><![CDATA[(1280 x 1024)]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://farm3.static.flickr.com/2716/4130651375_96d2126c3a.jpg" alt="" width="500" height="400" /></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://farm3.static.flickr.com/2716/4130651375_8286407872_o.jpg">(1280 x 1024) </a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puasa Hari Arafah]]></title>
<link>http://blackveil.wordpress.com/2009/11/25/puasa-hari-arafah/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 03:34:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>blackveil</dc:creator>
<guid>http://blackveil.wordpress.com/2009/11/25/puasa-hari-arafah/</guid>
<description><![CDATA[Abu Muawiah Puasa Hari Arafah Puasa arafah termasuk dari puasa-puasa sunnah dalam Islam yang mempuny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Abu Muawiah Puasa Hari Arafah Puasa arafah termasuk dari puasa-puasa sunnah dalam Islam yang mempuny]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puasa (Shaum) Arafah yuu,,]]></title>
<link>http://paibiopai.wordpress.com/2009/11/25/puasa-shaum-arafah-yuu/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 01:40:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>paibiopai</dc:creator>
<guid>http://paibiopai.wordpress.com/2009/11/25/puasa-shaum-arafah-yuu/</guid>
<description><![CDATA[Shaum merupakan ibadah mahdhah, artinya pelaksanannya harus merujuk pada contoh Rasulullah saw. kare]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Shaum merupakan ibadah mahdhah, artinya pelaksanannya harus merujuk pada contoh Rasulullah saw. kare]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Air Putih untuk Buka Puasa]]></title>
<link>http://intansafitria.wordpress.com/2009/11/24/air-putih-untuk-buka-puasa/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:29:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>intansafitria</dc:creator>
<guid>http://intansafitria.wordpress.com/2009/11/24/air-putih-untuk-buka-puasa/</guid>
<description><![CDATA[Ketika waktu berbuka, kebanyakan dari kita—jujur saja—lebih tertarik pada air minum yang dingin, ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ketika waktu berbuka, kebanyakan dari kita—jujur saja—lebih tertarik pada air minum yang dingin, berwarna, seperti air jeruk, sirup, kola, dan sebagainya. Padahal, di atas semua itu, air putihlah yang utama. Kenapa?</p>
<p>Air dalam tubuh diantaranya berfungsi menjaga kesegaran, membantu pencernaan dan mengeluarkan racun. Namun, tahukah Anda, ternyata banyak manfaat yang direguk dari air putih, selain nikmatnya kesegaran, apalagi setelah seharian berpuasa.</p>
<p><a href="http://intansafitria.wordpress.com/files/2009/11/air.jpeg"><img class="alignright size-full wp-image-159" title="air" src="http://intansafitria.wordpress.com/files/2009/11/air.jpeg" alt="" width="153" height="168" /></a></p>
<p>Banyak orang yang tidak mengetahui khasiat air selain untuk menghilangkan dahaga saja. Air dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan cara yang mudah dan murah. Berikut beberapa manfaat air putih yang mungkin dapat kita jadikan acuan saat akan mengkonsumsi minuman di luar dari air putih.<!--more--></p>
<p><strong>1. Memperlancar Sistem Pencernaan</strong></p>
<p>Mengkonsumsi air dalam jumlah cukup setiap hari akan memperlancar sistem pencernaan sehingga kita akan terhindari dari masalah-masalah pencernaan seperti maag ataupun sembelit. Pembakaran kalori juga akan berjalan efisien.</p>
<p><strong>2. Air Putih Membantu Memperlambat Tumbuhnya Zat-Zat Penyebab Kanker, plus mencegah penyakit batu ginjal dan hati.</strong></p>
<p><strong> </strong>Minum air putih akan membuat tubuh lebih berenergi.</p>
<p><strong>3. Perawatan Kecantikan</strong> Bila kurang minum air putih, tubuh akan menyerap kandungan air dalam kulit sehingga kulit menjadi kering dan berkerut. Selain itu, air putih dapat melindungi kulit dari luar, sekaligus melembabkan dan menyehatkan kulit. Untuk menjaga kecantikan pun, kebersihan tubuh pun harus benar-benar diperhatikan, ditambah lagi minum air putih 8 – 10 gelas sehari.</p>
<p><strong>4. Menyehatkan Jantung</strong></p>
<p>Air juga diyakini dapat ikut menyembuhkan penyakit jantung, rematik, kerusakan kulit, penyakit saluran papas, usus, dan penyakit kewanitaan. Bahkan saat ini cukup banyak pengobatan altenatif yang memanfaatkan kemanjuran air putih.</p>
<p><strong>5. Melangsingkan Badan</strong></p>
<p>Air putih juga bersifat menghilangkan kotoran-kotoran dalam tubuh yang akan lebih cepat keluar lewat urine. Bagi yang ingin menguruskan badan pun, minum air hangat sebelum makan (sehingga merasa agak kenyang) merupakan satu cara untuk mengurangi jumlah makanan yang masuk. Apalagi air tidak mengandung kalori, gula, ataupun lemak. Namun yang terbaik adalah minum air putih pada suhu sedang, tidak terlalu panas, dan tidak terlalu dingin. Mau kurus?, minum air putih saja.</p>
<p><strong>6. Tubuh Lebih Bugar</strong></p>
<p>Khasiat air tak hanya untuk membersihkan tubuh saja tapi juga sebagai zat yang sangat diperlukan tubuh. Kita mungkin lebih dapat bertahan kekurangan makan beberapa hari ketimbang kurang air. Sebab, air merupakan bagian terbesar dalam komposisi tubuh manusia.</p>
<p><strong>7. Penyeimbang tubuh .</strong></p>
<p>Jumlah air yang menurun dalam tubuh, fungsi organ-organ tubuh juga akan menurun dan lebih mudah terganggu oleh bakteri, virus. Namun, tubuh manusia mempunyai mekanisme dalam mempertahankan keseimbangan asupan air yang masuk dan yang dikeluarkan. Rasa haus pada setiap orang merupakan mekanisme normal dalam mempertahankan asupan air dalam tubuh. Air yang dibutuhkan tubuh kira-kira 2-2,5 l (8 – 10 gelas) per hari. Jumlah kebutuhan air ini sudah termasuk asupan air dari makanan (seperti dari kuah sup, soto), minuman seperti susu, teh, kopi, sirup. Selain itu, asupan air juga diperoleh dari hasil metabolisme makanan yang dikonsumsi dan metabolisme jaringan di dalam tubuh. Jadi ketika malam hari, pastikan cukup air putih masuk ke dalam tubuh.</p>
<p>Air juga dikeluarkan tubuh melalui air seni dan keringat. Jumlah air yang dikeluarkan tubuh melalui air seni sekitar 1 liter per hari. Kalau jumlah tinja yang dikeluarkan pada orang sehat sekitar 50 – 400 g/hari, kandungan aimya sekitar 60 – 90 % bobot tinja atau sekitar 50 – 60 ml air sehari.</p>
<p>Sedangkan, air yang terbuang melalui keringat dan saluran napas dalam sehari maksimum 1 liter, tergantung suhu udara sekitar. Belum lagi faktor pengeluaran air melalui pernapasan. Seseorang yang mengalami demam, kandungan air dalam napasnya akan meningkat. Sebaliknya, jumlah air yang dihirup melalui napas berkurang akibat rendahnya kelembapan udara di sekitarnya.</p>
<p>Tubuh akan menurun kondisinya bila kadar air menurun dan kita tidak segera memenuhi kebutuhan air tubuh tersebut. Kardiolog dari AS, Dr James M. Rippe memberi saran untuk minum air paling sedikit seliter lebih banyak dari apa yang dibutuhkan rasa haus kita. Pasalnya, kehilangan 4% cairan saja akan mengakibatkan penurunan kinerja kita sebanyak 22 %! Bisa dimengerti bila kehilangan 7%, kita akan mulai merasa lemah dan lesu.</p>
<p>Asal tahu saja, aktivitas makin banyak maka makin banyak pula air yang terkuras dari tubuh. Untuk itu, pakar kesehatan mengingatkan agar jangan hanya minum bila terasa haus Kebiasaan banyak minum, apakah sedang haus atau tidak, merupakan kebiasaan sehat!</p>
<p>Jika berada di ruang ber-AC, dianjurkan untuk minum lebih banyak karena udara yang dingin dan tubuh cepat mengalami dehidrasi. Banyak minum juga akan membantu kulit tidak cepat kering. Di ruang yang suhunya tidak tetap pun dianjurkan untuk membiasakan minum meski tidak terasa haus untuk menyeimbangkan suhu. (sa/berbagaisumber)</p>
<p>eramuslim.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah ]]></title>
<link>http://jejakjejakjejak.wordpress.com/2009/11/23/sepuluh-hari-pertama-bulan-dzulhijah/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 10:34:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewanggapradhana</dc:creator>
<guid>http://jejakjejakjejak.wordpress.com/2009/11/23/sepuluh-hari-pertama-bulan-dzulhijah/</guid>
<description><![CDATA[Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).<!--more-->” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” [1]<br />
Di dalam sepuluh hari bulan Dzulhijah terdapat hari Arofah dan hari an nahr (Idul Adha). Kedua hari tersebut adalah hari yang mulia sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin Qurth, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari an nahr (Idul Adha) kemudian yaumul qorr (hari setelah hari an nahr).” [2]<br />
Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah<br />
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits Ibnu ‘Abbas di atas menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.” [3]<br />
Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah.” Lalu beliau memberi pengecualian yaitu jihad dengan mengorbankan jiwa raga. Padahal jihad sudah kita ketahui bahwa ia adalah amalan yang mulia dan utama. Namun amalan yang dilakukan di awal bulan Dzulhijah tidak kalah dibanding jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) dibanding jihad. [4]<br />
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhol (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhol (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhol untuk beramal akan memiliki pahala berlebih karena pahalanya yang akan dilipatgandakan.” [5] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.” [6]<br />
Amalan di Awal Dzulhijah<br />
Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu [7]. Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya [8], …” [9]<br />
Namun ada sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang menyebutkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.” [10] Mengenai riwayat ini, Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Dzulhijah, yaitu hadits pertama. Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di mayoritas hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya. [11]<br />
Kesimpulan: Boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Dzulhijah (dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah) atau berpuasa pada sebagian harinya.<br />
Catatan: Kadang dalam hadits disebutkan berpuasa pada sepuluh hari awal Dzulhijah. Yang dimaksudkan adalah mayoritas dari sepuluh hari awal Dzulhijah, hari Idul Adha tidak termasuk di dalamnya dan tidak diperbolehkan berpuasa pada hari ‘Ied. [12]<br />
Keutamaan Hari Arofah<br />
Di antara keutamaan hari Arofah (9 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits berikut, “Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arofah (yaitu untuk orang yang berada di Arofah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” [13]<br />
Keutamaan yang lainnya, hari arofah adalah waktu mustajabnya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.” [14] Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan. [15] Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Do’a ketika ini adalah do’a yang mustajab karena dilakukan pada waktu yang utama.<br />
Jangan Tinggalkan Puasa Arofah<br />
Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” [16] Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. [17] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat. [18]<br />
Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” [19]<br />
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa hari Arofah di Arofah. Beliau mengatakan, “Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada hari Arofah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa ketika itu. Begitu pula dengan ‘Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arofah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya.” [20]<br />
Dari sini, yang lebih utama bagi orang yang sedang berhaji adalah tidak berpuasa ketika hari Arofah di Arofah dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafa’ur Rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman), juga agar lebih menguatkan diri dalam berdo’a dan berdzikir ketika wukuf di Arofah. Inilah pendapat mayoritas ulama. [21]<br />
Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzulhijah)<br />
Ada riwayat yang menyebutkan, “Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.” Ibnul Jauzi [22], Asy Syaukani [23], dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah). [24]<br />
Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah karena hadisnya dha’if (lemah). Namun jika berpuasa karena mengamalkan keumuman hadits shahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, maka itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.<br />
Jika Tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia Berbeda dengan Indonesia<br />
Jika wukuf di Arofah lebih dulu dari tanggal 9 Dzulhijah di Indonesia, manakah yang harus diikuti dalam berpuasa Arofah?<br />
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Dalam puasa hari Arofah, engkau tetap mengikuti negerimu.” Alasan beliau adalah kita tetap mengikuti hilal di negeri ini bukan mengikuti hilal Saudi Arabia. Jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara kita selang satu hari setelah ru’yah di Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara kita, maka kita seharusnya kita berpuasa Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah. Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya” (HR. Bukhari dan Muslim).<br />
Semoga Allah memudahkan kita beramal sholih dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi-Nya. [Muhammad Abduh Tuasikal]<br />
_____________<br />
[1] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim<br />
[2] HR. Abu Daud no. 1765. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih<br />
[3] Latho-if Al Ma’arif, hal. 456<br />
[4] Lihat Latho-iLatho-if Al Ma’ariff Al Ma’arif, hal. 457 dan 461<br />
[5] Idem<br />
[6] Latho-if Al Ma’arif, hal. 458<br />
[7] Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 116, 119-121, Dar Al Imam Ahmad<br />
[8] Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi<br />
[9] HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih<br />
[10] HR. Muslim no. 1176, dari ‘Aisyah<br />
[11] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459-460<br />
[12] Lihat Fathul Bari, 3/390 dan Latho-if Al Ma’arif, hal. 460<br />
[13 HR. Muslim no. 1348, dari ‘Aisyah<br />
[14] HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan<br />
[15] Lihat Tuhfatul Ahwadziy, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Ala, 8/482, Mawqi’ Al Islam<br />
[16] HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah<br />
[17] Lihat Fathul Bari, 6/286<br />
[18] Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 4/179, Mawqi’ Al Islam<br />
[19] HR. Tirmidzi no. 750. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih<br />
[20] HR. Tirmidzi no. 751. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih<br />
[21] Lihat Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 2/137, Al Maktabah At Taufiqiyah<br />
[22] Lihat Al Mawdhu’at, 2/565, dinukil dari http://dorar.net<br />
[23] Lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah, hal. 96, dinukil dari http://dorar.net<br />
[24] Lihat Irwa’ul Gholil no. 956<br />
[25] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 17/25, Asy Syamilah</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ada apa dengan Bulan Dzulhijah...?]]></title>
<link>http://assunah.wordpress.com/2009/11/22/ada-apa-dengan-bulan-dzulhijah/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 11:31:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zubair</dc:creator>
<guid>http://assunah.wordpress.com/2009/11/22/ada-apa-dengan-bulan-dzulhijah/</guid>
<description><![CDATA[Bismillah. Keutamaan Sepuluh Hari di Awal Bulan Dzulhijah Di antara yang menunjukkan keutamaan sepul]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Bismillah.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter" title="Bulan Dzulhijah" src="http://1.bp.blogspot.com/_XX8NH0-E_-8/SSkzPt57aaI/AAAAAAAAAH8/wk3FhNyKCcA/s400/kaabah.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Keutamaan Sepuluh Hari di Awal Bulan Dzulhijah</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<!--more--><br />
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ . يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ<br />
<em>“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).”</em> Para sahabat bertanya: <em>“Tidak pula jihad di jalan Allah?”</em> Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: <em>“Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[</em>1]</p>
<p style="text-align:justify;">Di antaranya lagi yang menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut adalah firman Allah Ta’ala,<br />
وَلَيَالٍ عَشْرٍ<br />
<em>“Dan demi malam yang sepuluh.”</em> (QS. Al Fajr: 2). Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah.[2] Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.[3] Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah.[4] Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.[5]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, <em>“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).”</em> Para sahabat bertanya: <em>“Tidak pula jihad di jalan Allah?” </em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: <em>“Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”</em>[6]</p>
<p>Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, <em>“Hadits ini menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.”</em>[7]</p>
<p>Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, <em>“Tidak pula jihad di jalan Allah?”</em> Beliau pun menjawab, <em>“Tidak pula jihad di jalan Allah.”</em> Lalu beliau memberi pengecualian yaitu jihad dengan mengorbankan jiwa raga. Padahal jihad sudah kita ketahui bahwa ia adalah amalan yang mulia dan utama. Namun amalan yang dilakukan di awal bulan Dzulhijah tidak kalah dibanding jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) dibanding jihad.[8]</p>
<p>Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhol (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhol (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhol untuk beramal akan memiliki pahala berlebih karena pahalanya yang akan dilipatgandakan.”[9] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.”[10]</p>
<p>Sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijah sama dengan amalan satu tahun. Bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari, sedangkan hari Arofah sama dengan 10.000 hari. Keutamaan ini semua berlandaskan pada riwayat fadho’il yang lemah (dho’if). Namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Dzulhijah berdasarkan hadits shohih seperti hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan di atas.[11]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Amalan yang Dianjurkan di Sepuluh Hari Pertama Awal Dzulhijah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.[12] Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,<br />
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.<br />
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[13], …”[14]</p>
<p>Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. [15]</p>
<p>Namun ada sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang menyebutkan,<br />
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَائِمًا فِى الْعَشْرِ قَطُّ<br />
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.”[16] Mengenai riwayat ini, para ulama memiliki beberapa penjelasan.</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan puasa ketika itu –padahal beliau suka melakukannya- karena khawatir umatnya menganggap puasa tersebut wajib.[17]</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal menjelaskan bahwa ada riwayat yang menyebutkan hal yang berbeda dengan riwayat ‘Aisyah di atas. Lantas beliau menyebutkan riwayat Hafshoh yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan puasa pada sembilan hari awal Dzulhijah. Sebagian ulama menjelaskan bahwa jika ada pertentangan antara perkataan ‘Aisyah yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sembilan hari Dzulhijah dan perkataan Hafshoh yang menyatakan bahwa beliau malah tidak pernah meninggalkan puasa sembilan hari Dzulhijah, maka yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Dzulhijah.</p>
<p>Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di mayoritas hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya.[18]</p>
<p>Kesimpulan: Boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Dzulhijah (dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah) atau berpuasa pada sebagian harinya.</p>
<p>Catatan: Kadang dalam hadits disebutkan berpuasa pada sepuluh hari awal Dzulhijah. Yang dimaksudkan adalah mayoritas dari sepuluh hari awal Dzulhijah, hari Idul Adha tidak termasuk di dalamnya dan tidak diperbolehkan berpuasa pada hari ‘Ied.[19]</p>
<p style="text-align:justify;">
<strong>Keutamaan Hari Arofah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara keutamaan hari Arofah (9 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits berikut,<br />
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ<br />
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arofah (yaitu untuk orang yang berada di Arofah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”[20]</p>
<p>Itulah keutamaan orang yang berhaji. Saudara-saudara kita yang sedang wukuf di Arofah saat ini telah rela meninggalkan sanak keluarga, negeri, telah pula menghabiskan hartanya, dan badan-badan mereka pun dalam keadaan letih. Yang mereka inginkan hanyalah ampunan, ridho, kedekatan dan perjumpaan dengan Rabbnya. Cita-cita mereka yang berada di Arofah inilah yang akan mereka peroleh. Derajat mereka pun akan tergantung dari niat mereka masing-masing.[21]</p>
<p>Keutamaan yang lainnya, hari arofah adalah waktu mustajabnya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ<br />
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.”[22] Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan.[23] Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Do’a pada hari Arofah adalah do’a yang mustajab karena dilakukan pada waktu yang utama.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan Tinggalkan Puasa Arofah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ<br />
“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”[24] Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.[25] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.[26]</p>
<p>Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah.<br />
Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,<br />
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ وَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ<br />
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.”[27]</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa hari Arofah di Arofah. Beliau mengatakan,<br />
حَجَجْتُ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ أَبِى بَكْرٍ فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ عُمَرَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَصُمْهُ. وَأَنَا لاَ أَصُومُهُ وَلاَ آمُرُ بِهِ وَلاَ أَنْهَى عَنْهُ<br />
“Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada hari Arofah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa ketika itu. Begitu pula dengan ‘Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arofah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya.”[28]</p>
<p>Dari sini, yang lebih utama bagi orang yang sedang berhaji adalah tidak berpuasa ketika hari Arofah di Arofah dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafa’ur Rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman), juga agar lebih menguatkan diri dalam berdo’a dan berdzikir ketika wukuf di Arofah. Inilah pendapat mayoritas ulama.[29]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzulhijah)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada riwayat yang menyebutkan,<br />
صَوْمُ يَوْمَ التَّرْوِيَّةِ كَفَارَةُ سَنَة<br />
“Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.”<br />
Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih.[30] Asy Syaukani mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih dan dalam riwayatnya ada perowi yang pendusta.[31] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).[32]</p>
<p>Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah karena hadisnya dha’if (lemah). Namun jika berpuasa karena mengamalkan keumuman hadits shahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, maka itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Siapakah yang Harus Diikuti dalam Puasa Arofah?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Permasalahan ini sering muncul dari berbagai pihak ketika menghadapi hari Arofah. Ketika para jama’ah haji sudah wukuf tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia, padahal di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijah, mana yang harus diikuti dalam puasa Arofah? Apakah ikut waktu jama’ah haji wukuf atau ikut penanggalan Hijriyah di negeri ini sehingga puasa Arofah tidak berpapasan dengan wukuf di Arofah?</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mendapat pertanyaan sebagai berikut,<br />
إذا اختلف يوم عرفة نتيجة لاختلاف المناطق المختلفة في مطالع الهلال فهل نصوم تبع رؤية البلد التي نحن فيها أم نصوم تبع رؤية الحرمين؟<br />
“Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arofah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci)?”</p>
<p>Syaikh rahimahullah menjawab,<br />
هذا يبنى على اختلاف أهل العلم: هل الهلال واحدفي الدنيا كلها أم هو يختلف باختلاف المطالع؟ والصواب أنه يختلف باختلاف المطالع، فمثلاً إذا كان الهلال قد رؤي بمكة، وكان هذا اليوم هو اليوم التاسع، ورؤي في بلد آخر قبل مكة بيوم وكان يوم عرفة عندهم اليوم العاشر فإنه لا يجوز لهم أن يصوموا هذا اليوم لأنه يوم عيد، وكذلك لو قدر أنه تأخرت الرؤية عن مكة وكان اليوم التاسع في مكة هو الثامن عندهم، فإنهم يصومون يوم التاسع عندهم الموافق ليوم العاشر في مكة، هذا هو القول الراجح، لأن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول: «إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا» وهؤلاء الذين لم يُر في جهتهم لم يكونوا يرونه، وكما أن الناس بالإجماع يعتبرون طلوع الفجر وغروب الشمس في كل منطقة بحسبها، فكذلك التوقيت الشهري يكون كالتوقيت اليومي.<br />
“Permasalahan ini adalah derivat dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah.</p>
<p>Misalnya di Mekkah terlihat hilal sehingga hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan di negara lain, hilal Dzulhijjah telah terlihat sehari sebelum ru’yah Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah adalah tanggal 10 Dzulhijjah di negara tersebut. Tidak boleh bagi penduduk Negara tersebut untuk berpuasa Arofah pada hari ini karena hari ini adalah hari Iedul Adha di negara mereka.</p>
<p>Demikian pula, jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara itu selang satu hari setelah ru’yah di Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara tersebut. Penduduk negara tersebut berpuasa Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut mereka meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah.</p>
<p>Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya.” (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Orang-orang yang di daerah mereka hilal tidak terlihat maka mereka tidak termasuk orang yang melihatnya.</p>
<p>Sebagaimana manusia bersepakat bahwa terbitnya fajar serta tenggelamnya matahari itu mengikuti daerahnya masing-masing, demikian pula penetapan bulan itu sebagaimana penetapan waktu harian (yaitu mengikuti daerahnya masing-masing).” [33] –Demikian penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah-. Namun kami menghargai pendapat yang berbeda dengan penjelasan Syaikh di atas. Hendaklah kita bisa menghargai pendapat ulama yang masih ada ruang ijtihad di dalamnya.</p>
<p>Demikian pembahasan kami mengenai amalan di awal Dzulhijah dan puasa Arofah. Semoga Allah memudahkan kita beramal sholih dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Footnote:</p>
<p>[1] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.<br />
[2] Lihat Taisir Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 923, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H.<br />
[3] Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 6/153, Mawqi’ At Tafasir.<br />
[4] Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, hal. 159, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan tahun 1424 H.<br />
[5] Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 469, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H.<br />
[6] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.<br />
[7] Latho-if Al Ma’arif, hal. 456.<br />
[8] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 457 dan 461.<br />
[9] Idem<br />
[10] Latho-if Al Ma’arif, hal. 458.<br />
[11] Idem<br />
[12] Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 116, 119-121, Dar Al Imam Ahmad.<br />
[13] Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi.<br />
[14] HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.<br />
[15] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459.<br />
[16] HR. Muslim no. 1176, dari ‘Aisyah<br />
[17] Fathul Bari, 3/390, Mawqi’ Al Islam<br />
[18] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459-460.<br />
[19] Lihat Fathul Bari, 3/390 dan Latho-if Al Ma’arif, hal. 460.<br />
[20] HR. Muslim no. 1348, dari ‘Aisyah.<br />
[21] Lihat Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, Al Mala ‘Alal Qori, 9/65,Mawqi’ Al Misykah Al Islamiyah.<br />
[22] HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.<br />
[23] Lihat Tuhfatul Ahwadziy, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Ala, 8/482, Mawqi’ Al Islam.<br />
[24] HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah.<br />
[25] Lihat Fathul Bari, 6/286.<br />
[26] Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 4/179, Mawqi’ Al Islam.<br />
[27] HR. Tirmidzi no. 750. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih<br />
[28] HR. Tirmidzi no. 751. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.<br />
[29] Lihat Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 2/137, Al Maktabah At Taufiqiyah.<br />
[30] Lihat Al Mawdhu’at, 2/565, dinukil dari <a href="http://dorar.net/" target="_blank">http://dorar.net</a><br />
[31] Lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah, hal. 96, dinukil dari <a href="http://dorar.net/" target="_blank">http://dorar.net</a><br />
[32] Lihat Irwa’ul Gholil no. 956.<br />
[33] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20/47-48, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tafsir Surat Al Baqoroh Ayat 185]]></title>
<link>http://abukarimah.wordpress.com/2009/11/22/tafsir-surat-al-baqoroh-ayat-185/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 05:08:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>didiksuyadi</dc:creator>
<guid>http://abukarimah.wordpress.com/2009/11/22/tafsir-surat-al-baqoroh-ayat-185/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِل]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://abukarimah.wordpress.com/files/2009/11/book-photo1_0012.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-44" title="book-photo1_001" src="http://abukarimah.wordpress.com/files/2009/11/book-photo1_0012.jpg" alt="" width="59" height="82" /></a>Sya</strong><strong>ikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ) (البقرة:185)</strong><strong> </strong></p>
<hr size="2" noshade="noshade" />
<p style="text-align:left;">Firman Alloh <strong> </strong><em>ta&#8217;ala</em> <strong>شهر رمضان</strong></p>
<p><strong>الشهر </strong>adalah sesuatu yang terletak di antara dua hilal. Dan dinamakan demikian karena kemasyhuran-nya. Oleh karena itu para ulama’ berbeda pendapat apakah hilal itu sesuatu yang ada di ufuk meskipun  tidak terlihat atau sesuatu yang terlihat dan terkenal. Dan yang benar adalah pendapat yang kedua. Karena sekedar munculnya hilal (awal bulan) di ufuk tidaklah memberikan konsekuensi adanya hukum syar’i sampai terlihat dengan jelas dan dapat disaksikan kecuali jika di sana ada penghalang berupa mendung atau yang semisal dengannya.</p>
<p>{ <strong>شهر </strong>} adalah <strong><em>mudhof</em></strong> (kata benda yang disandarkan ke kata benda yang lain) sedangkan <strong>رمضان </strong> adalah <strong><em>mudhof ‘ilaih</em></strong>-nya (kata benda yang disandari kata benda sebelumnya) termasuk <strong><em>mamnu’ minas shorfi</em></strong> (kata benda yang selamanya tidak boleh di tanwin) karena dua sebab yaitu nama dan adanya tambahan alif dan nun. Diambil dari kata <strong>الرَّمْض </strong>.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Para ulama’ juga berbeda pendapat (tentang penamaan Ramadhan) mengapa dinamakan Ramadhan. Dikatakan karena dia membakar dosa dan dikatakan juga karena Ramadhan adalah sesuatu yang pertama kali dinamakan dengan bulan dan dia muncul di waktu yang sangat panas sekali dan membakar. Sehingga dinamakan Ramadhan. Dan pendapat yang kedua inilah yang lebih dekat pada kebenaran, karena penamaan bulan Ramadhan ini datangnya sebelum islam.</p>
<p>Firman Alloh <em>ta&#8217;ala</em><strong><em> </em>شهر رمضان</strong> statusnya dalam kalimat sebagai <strong><em>khobar </em></strong>dari <strong><em>mubtada’</em></strong> yang dihilangkan yaitu <strong>هي </strong>. Hari-hari yang telah ditentukan adalah bulan Ramadhan.</p>
<hr size="2" noshade="noshade" />Firman Alloh <em>ta&#8217;ala </em> <strong>الذي أنزل فيه القرآن </strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>الذي </strong>adalah shifat dari <strong>شهر </strong>yang i’rob-nya <strong><em>marfu’</em></strong>. { <strong>أُنزل فيه القرآن</strong> } yaitu Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>yang telah menurunkannya (Al Qur’an) di bulan Ramadhan tersebut. Dan sudah di pahami bahwa yang namanya turun itu dari atas. Dan Al Qur’an adalah <strong><em>kalamulloh </em></strong>(firman Alloh)  dan Alloh berada di atas langit yaitu arsy.</p>
<p><strong>القرآن </strong>adalah <strong><em>mashdar</em></strong> (kata benda yang dibentuk dari kata kerja) seperti <strong>الغفران </strong>dan <strong>والشكران </strong>semuanya adalah mashdar. Akan tetapi apakah dia (<strong>القرآن</strong>) itu bermakna <strong><em>isim fa’il</em></strong> atau <strong><em>isim maf’ul</em></strong> ?</p>
<p>Dikatakan dia bermakna isim maf’ul yaitu <strong>المقروء </strong>(sesuatu yang dibaca) dan dikatakan pula bermakna yaitu <strong>القارئ </strong>(yang membaca). Maka makna yang pertama yang lebih jelas. Berdasarkan makna yang kedua karena Al Qur’an itu mengumpulkan semua makna yang ada dalam kitab sebelumnya atau mengumpulkan semua kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Bisa juga kita katakan <strong>القرآن </strong>itu bermakna <strong><em>isim fa’il</em></strong> atau <strong><em>isim maf’ul</em></strong>. Apakah maksud dari <strong>القرآن </strong>di sini adalah jenisnya maka bisa mencakup sebagiannya saja atau maksudnya umum ? yaitu mencakup semua Al Qur’an. Jika «<strong>أل</strong>» berfungsi untuk menunjukkan keumuman maka maksud dari <strong>القرآن</strong> dalam ayat di atas adalah semua Al Qur’an. Inilah pendapat yang masyhur dikalangkan para ulama’ tafsir zaman sekarang. (Akan tetapi jika kita mengambil pendapat ini) akan bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Karena kenyataannya Al Qur’an itu turun di bulan Ramadhan, Syawal, Dzul Qo’idah, Dzul Hijah dan semua bulan (yang lain). Akan tetapi mereka (para ulama’ yang berpendapat demikian) menjawab hal ini bahwa diriwayatkan dari Ibnu Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> bahwa Al Qur’an turun dari <strong><em>lauh mahfudz</em></strong> ke <strong><em>baitul izzah</em></strong> di bulan Ramadhan dan malaikat Jibril mengambil al Qur’an dari baitul izzah ini kemudian menurunkannya kepada Rosululloh <strong>صلى الله عليه وسلم</strong><strong> . </strong>Akan tetapi atsar ini <strong><em>dhoif.</em></strong> Oleh karena itu yang benar bahwa «<strong>أل</strong>» yang ada dalam kata <strong>القرآن </strong>di sini berfungsi untuk menunjukkan jenis bukan menunjukkan keumuman. Sehingga makna dari</p>
<p>{ <strong>أنزل فيه القرآن</strong> } adalah Al Qur’an pertama kali turun di dalam bulan ini (Ramadhan). Sebagaimana firman Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong> {</strong><strong>إنا أنزلناه في ليلة مباركة} [الدخان: 3]</strong></p>
<p>dan firman-Nya</p>
<p style="text-align:right;"><strong>{</strong><strong>إنا أنزلناه في ليلة القدر} [القدر: 1]</strong></p>
<p>yaitu <strong>Kami mulai menurunkannya</strong>.</p>
<hr size="2" noshade="noshade" />Firman Alloh <em>ta&#8217;ala</em> <strong>هدًى للناس</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>{ <strong>هدًى </strong>} adalah <strong><em>maf’ul min ajlihi</em></strong> (menerangkan sebab mengerjakan suatu perbuatan) atau <strong>hal </strong>dari<strong> </strong>{ <strong>القرآن </strong>}. Jika sebagai <strong><em>maf’ul min ajlihi </em></strong>maknanya (Al Qur’an) turun untuk memberi hidayah kepada manusia. Sedangkan jika sebagai <strong>hal</strong> maknanya Al Qur’an turun sebagai pemberi petunjuk untuk manusia. Dan makna yang kedua ini lebih dekat pada kebenaran.</p>
<p>{ <strong>هدًى </strong>} diambil dari <strong>الهداية </strong>yaitu petunjuk. Maka Al Qur’an itu menunjukkan manusia kepada sesuatu yang bermanfaat bagi agama dan dunia mereka. Sedangkan <strong>الناس </strong><strong> </strong>itu asalnya dari<strong> الأناس </strong>Sebagaimana perkataan penyair :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وكل أناس سوف تدخل بينهم دويهية تصفر منها الأنامل</strong></p>
<p>Akan tetapi karena kebanyakan penggunaannya sehingga dihapus hamzahnya untuk meringankan bacaan. Sebagaimana dihapusnya hamzah yang ada pada isim tafdhil  «<strong>خير</strong>» dan «<strong>شر</strong>» Dan yang dimaksud dengan <strong>الناس </strong><strong> </strong>adalah<strong> البشر </strong>(manusia) karena sebagian dari mereka dengan yang lainnya saling membutuhkan dan tolong-menolong.</p>
<p>Maka maksud dari { <strong>هدًى للناس</strong> } adalah semua manusia mendapat petunjuk dengannya &#8211; baik orang mukmin maupun orang kafir- yaitu <strong>hidayah ilmiah</strong>. Sedangkan <strong>hidayah amaliah</strong> itu hanya untuk orang yang bertaqwa sebagaimana di awal surat Al Baqoroh. Maka Al Qur’an itu memberi hidayah ilmiah dan hidayah amaliah untuk orang-orang yang bertaqwa. Sedangkan untuk manusia secara umum dia sebagai hidayah ilmiah.</p>
<p>Firman Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>{ <strong>وبينات </strong>} adalah <strong><em>shifat </em></strong>untuk <strong><em>maushuf</em></strong> (sesuatu yang diberi shifat) yang dihilangkan, jika disebutkan menjadi <strong>وآيات بينات</strong>.</p>
<p>Sebagaimana firman Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>{</strong><strong>بل هو آيات بينات في صدور الذين أوتوا العلم} [العنكبوت: 49]</strong></p>
<p>Maknanya adalah Al Qur’an mencakup ayat-ayat yang jelas yaitu yang terang. Dia mengandung semua hidayah dan bukti-bukti yang menunjukkan akan kebenaran khabar yang ada di dalamnya. Dan menunjukkan keadilan hukum-hukum yang ada di dalam Al Qur’an.</p>
<p>Firman Alloh { <strong>من الهدى</strong> } adalah shifat untuk { <strong>بينات</strong> } yaitu bahwa (Al Qur’an itu mengandung ayat-ayat) yang jelas berupa petunjuk dan penjelasan.</p>
<p>Firman Alloh { <strong>والفرقان </strong>} adalah mashdar atau isim mashdar, maksudnya bahwa Al Qur’an itu membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kebaikan dan keburukan, antara sesuatu yang bermanfaat dan yang membahayakan, antara golongan Alloh dan musuh Alloh. Al Qur’an adalah pembeda segala sesuatu. Oleh karena itu orang yang mendapatkan taufiq dari petunjuk Al Qur’an maka dia mendapatkan perbedaan yang nyata di antara perkara yang samar (menurut sebagian orang). Sedangkan orang yang di dalam hatinya ada penyimpangan maka semua perkara menjadi samar baginya. Dia tidak dapat membedakan perkara yang sudah jelas sekali bedanya.</p>
<hr size="2" noshade="noshade" />Firman Alloh { <strong>فمن شهد منكم الشهر</strong> }</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>شهد </strong>maknanya bersaksi dan dikatakan pula maknanya hadir. Berdasarkan pendapat yang pertama jadi hilanglah kesulitan yang ada dalam firman Alloh { <strong>الشهر </strong>} karena bulan adalah sesuatu di antara dua hilal. Dan sesuatu-nya tersebut tidak dapat disaksikan. Jawabannya adalah bahwa di dalam ayat ini ada sesuatu yang di hilangkan yang jika disebutkan  <strong>فمن شهد منكم هلال الشهر فليصمه</strong> Dan pendapat yang kedualah yang lebih benar yaitu bahwa maksud dari { <strong>شهد </strong>} adalah <strong>حضر </strong>(hadir). Yang menguatkan pendapat ini adalah firman Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;">{ <strong>ومن كان مريضاً أو على سفر</strong> }</p>
<p>karena firman Alloh { <strong>على سفر</strong> } adalah lawan dari hadir.</p>
<p>Firman Alloh { <strong>فليصمه </strong>} adalah hendaknya dia puasa di siang harinya.</p>
<p>Firman Alloh { <strong>ومن كان مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر</strong> }</p>
<p>kalimat ini telah berlalu akan tetapi Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>menyebutkan</p>
<p>{ <strong>فمن شهد منكم الشهر فليصمه</strong> } Ayat ini menghapus hukum dari ayat sebelumnya bahkan ada yang menduga bahwa ayat ini menghapus hukum sehingga orang yang sakit dan safar berbuka. Alloh mengulanginya untuk menguatkan rukhsoh ini. Karena sesungguhnya rukhsoh itu tetap ada, Ini merupakan keunggulan bahasa Al Qur’an. Oleh karena itu kalimat yang ada dalam ayat ini tidaklah semata-mata diulang (tanpa ada makna) akan tetapi diulang karena ada faedahnya.  Oleh karena itu Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>berfirman</p>
<p style="text-align:right;"><strong> </strong> <strong>فمن شهد منكم الشهر فليصمه</strong></p>
<p>dan tidak mengatakan</p>
<p>{ <strong>ومن كان&#8230;.</strong> } dan seterusnya, karena ini menghapus secara umum.</p>
<p>Firman Alloh { <strong>ومن كان مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر</strong> }</p>
<p>telah berlalu penjelasan i’rob dan makna kalimat ini.</p>
<p>Firman Alloh { <strong>يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر</strong> } merupakan alasan dari</p>
<p>{ <strong>ومن كان مريضاً أو على سفر</strong>} dan seterusnya. Dan  { <strong>يريد </strong>} maksudnya adalah menyukai maka termasuk <strong><em>irodah syar’iyah. </em></strong>Maknanya Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>menyukai kemudahan bagi kalian. Bukanlah maksud irodah yang ada dalam ayat ini <strong><em>irodah kauniyah</em></strong> karena seandainya Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>menginginkan kemudahan secara kauni kepada kita maka tidak ada perkara yang sulit bagi manusia selamanya.<strong> </strong>Maka maksud dari irodah dalam ayat ini pasti irodah syariyah. Oleh karena selama-lamanya tidaklah pernah didapatkan &#8211; <strong>والحمد لله</strong> – dalam syariat ini kesulitan.</p>
<hr size="2" noshade="noshade" />Firman Alloh { <strong>ولتكملوا العدة</strong> }</p>
<p>&#160;</p>
<p>Huruf wawu yang ada dalam ayat ini adalah <strong><em>wawu athof. </em></strong>Dan huruf lam-nya adalah <strong><em>lam ta’lil</em></strong> oleh karena itu di kasroh. Ini merupakan athof (dihubungkan) dengan firman Alloh { <strong>اليسر </strong>} yaitu Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian dan Dia menginginkan supaya kalian menyempurnakan puasa. Kata kerja «<strong>أراد</strong>» jika di mutaaddikan (dijadikan kata kerja transitif) dengan huruf lam maka huruf lam ini memberikan tambahan makna, oleh karena itu ada faedahnya. Karena fi’il (kata kerja) «<strong>أراد</strong>» merupakan fi’il mutaaddi (kata kerja transitif) dengan sendirinya (tanpa adanya tambahan lam).</p>
<p>Sebagaimana firman Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>{</strong><strong>والله يريد أن يتوب عليكم} [النساء: 27] .</strong></p>
<p>Dan maksud ayat { <strong>لتكملوا العدة</strong> } di sini adalah supaya kalian menyempurnakan bilangan puasa yaitu Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>menghendaki secara syar’i kepada kita supaya menyempurnakan bilangan puasa.</p>
<p>Firman Alloh { <strong>لتكملوا </strong>} ada dua cara baca yaitu dengan meringankan huruf mim dan mentasjidkannya. Keduanya maknanya sama saja.</p>
<p>Firman Alloh { <strong>ولتكبروا الله</strong> } huruf wawu-nya fungsinya untuk kata hubung.</p>
<p>{ <strong>لتكبروا </strong>} dihubungkan pada { <strong>لتكملوا </strong>} dengan mengulang huruf jer (huruf lam). Yaitu supaya kalian mengucapkan الله أكبر . Takbir mengandung makna membesarkan dengan pengagungan dan kebesaran baik secara maknawi maupun hissi (indera). Karena (perumpamaan) langit yang tujuh dan bumi berada dalam satu tangan Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>seperti biji yang berada di tangan salah seorang di antara kita. Dan Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>lebih besar dari segala sesuatu.</p>
<p>Firman Alloh : { <strong>على ما هداكم</strong> }</p>
<p>{ <strong>على </strong>} dikatakan fungsinya untuk ta’lil (menjelaskan sebab) bukan menunjukkan ketinggian. Yaitu supaya kalian mengucapkan takbir kepada-Nya karena Dia telah memberi petunjuk kepada kalian.</p>
<p>Digunakan ungkapan kata { <strong>على </strong>} dan bukan<strong><em> lam</em></strong> &#8211; <strong>والله أعلم</strong> – menunjukkan bahwa takbir itu dilakukan di akhir bulan (Ramadhan) karena paling atas dari sesuatu adalah akhir dari sesuatu tersebut. <strong>ما </strong>yang ada dalam ayat ini adalah <strong>ما</strong> masdhariyah sehingga jika dijadikan masdharnya menjadi <strong>على هدايتكم</strong> (dikarenakan hidayah Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>kepada kalian) . Hidayah di sini mencakup hidayah ilmu dan hidayah amal. Yang terkadang diungkapkan dengan hidayah Irsyad dan hidayah taufiq.</p>
<p>Maka manusia jika berpuasa Ramadhan dan menyempurnakan puasanya maka Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>telah menganugerahkan dua hidayah kepadanya yaitu hidayah ilmu dan hidayah amal.</p>
<hr size="2" noshade="noshade" />Firman Alloh { <strong>ولعلكم تشكرون</strong> }</p>
<p>&#160;</p>
<p>yaitu kalian menegakkan syukur kepada Alloh <strong>تعالى</strong><strong>. Dan </strong>«<strong>لعل</strong>» di sini fungsinya untuk ta’lil (menerangkan sebab). Bersyukur atas empat hal yaitu kehendak Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>kepada kita berupa kemudahan, tidak adanya kesulitan, menyempurnakan bilangan puasa, dan bertakbir atas apa yang ditunjukkan kepada kita. Semua perkara ini adalah nikmat yang membutuhkan rasa syukur kita kepada Alloh <strong>تعالى</strong><strong>. </strong>Oleh karena itu Alloh<strong> </strong><strong>تعالى</strong><strong> </strong>berfirman</p>
<p>{ <strong>ولعلكم تشكرون</strong> }</p>
<p>dan yang dimaksud dengan syukur adalah dengan melaksanakan ketaatan kepada pemberi nikmat dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.</p>
<hr size="2" noshade="noshade" /><strong>Faedah-faedah ayat :</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>1</strong>. Menjelaskan bahwa hari-hari yang telah ditentukan yaitu yang diglobalkan oleh Alloh <strong>تعالى</strong> pada ayat sebelumnya adalah bulan Ramadhan.</p>
<p><strong>2</strong>. Keutamaan bulan Ramadhan ini ketika Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>mewajibkan puasa kepada para hamba-Nya.</p>
<p><strong>3</strong>. Sesungguhnya Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>menurunkan Al Qur’an di bulan Ramadhan ini. Dan telah berlalu tafsirnya apakah awal turunnya atau Al Qur’an turun secara sempurna. Yang dzohir bahwa maksudnya adalah awal turunnya Al Qur’an. Karena Alloh <strong>تعالى</strong> berbicara (melalui Al Qur’an) ketika turunnya. Dan Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>telah menurunkannya secara berbeda-beda. Maka hal ini menunjukkan bahwa Al Qur’an itu semuanya tidak turun pada bulan ini.</p>
<p><strong>4</strong>. Al Qur’an adalah kalamulloh (firman Alloh <strong>تعالى</strong><strong>) </strong>karena yang menurunkannya adalah Alloh تعالى Sebagaimana yang ada dalam banyak ayat yaitu Alloh menyandarkan turunnya Al Qur’an kepada diri-Nya. Dan Al Qur’an adalah perkataan yang tidak mengkin ada kecuali ada yang mengatakannya. Berdasarkan hal ini maka Al Qur’an adalah kalamulloh baik secara lafadz maupun maknanya.</p>
<p><strong>5</strong>. Al Qur’an mengandung hidayah kepada semua manusia berdasarkan firman Alloh { <strong>هدًى للناس</strong> }.</p>
<p><strong>6</strong>. Al Qur’an mengandung ayat-ayat yang sudah jelas yang tidak samar bagi seorang pun juga kecuali orang yang telah ditutup hatinya oleh Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>yang tidak ada faedahnya ayat Al Qur’an baginya. Sebagaimana firman Alloh<strong> </strong><strong>تعالى</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>{ </strong><strong>وما تغني الآيات والنذر عن قوم لا يؤمنون } [يونس: 101]</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>7</strong>. Al Qur’an yang mulia merupakan pembeda yaitu membedakan antara yang benar dan salah, antara yang manfaat dan yang madhorot, antara wali Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>dan musuh-Nya, dan yang selainnya yang merupakan hikmah dari sifat furqon dari Al Qur’an.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>8</strong>. Wajibnya puasa ketika masuk bulan Ramadhan. Dan masuknya bulan Ramadhan ditetapkan dengan menyempurnakan sya’ban 30 hari atau dengan melihat hilal. Dan telah ada dalam hadits bahwa bulan Ramadhan dapat ditetapkan jika telah di lihat oleh satu orang yang tsiqoh (dapat dipercaya).</p>
<p style="text-align:left;"><strong>9</strong>. Tidak wajib puasa sebelum masuknya bulan Ramadhan. Cabang dari faidah ini adalah seandainya di malam ke-30 dari bulan sya’ban mendung atau ada sesuatu yag menghalangi terlihatnya hilal maka tidak berpuasa pada hari tersebut. Karena belum ada yang menetapkan datangnya bulan Ramadhan. Ini adalah pendapat yang kuat di antara pendapatnya para ulama’ bahkan dhohir hadits Ammar bin Yasar <strong>رضي الله عنهما</strong> menyatakan bahwa puasa pada hari yang meragukan maka dia telah durhaka kepada Abul Qosim (Nabi Muhammad) yaitu puasanya dapat dosa.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>10</strong>. Para ulama mengatakan bahwa ungkapan dengan { <strong>شهر رمضان</strong> } lebih utama, boleh juga dengan «<strong>رمضان</strong>» saja tanpa <strong>شهر</strong></p>
<p>Berdasarkan sabda Nabi <strong>صلى الله عليه وسلم</strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>«من صام رمضان إيماناً واحتساباً&#8230; ومن قام رمضان إيماناً واحتساباً»</strong></p>
<p>dan sabda Beliau</p>
<p style="text-align:right;"><strong>«إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة»</strong></p>
<p>dan tidaklah tepat ulama’ yang membenci ungkapan «<strong>رمضان</strong>» (tanpa menyebutkan <strong>شهر </strong>)</p>
<p><strong>11</strong>. Kemudahan dari Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>kepada para hamba-Nya ketika Alloh <strong>تعالى</strong> memberi keringanan bagi orang yang sakit yang berat baginya jika berpuasa dan musafir untuk berbuka dan wajib bagi mereka menggantinya di waktu yang lain.</p>
<p><strong>12</strong>. Penetapan shifat irodah (kehendak) bagi Alloh <strong>تعالى</strong><strong> .</strong></p>
<p>Irodah Alloh <strong>تعالى</strong><strong> ada dua macam :</strong> <strong> </strong></p>
<p><strong>a. إرادة كونية</strong> ( irodah kauniyah ) yang bermakna <strong>المشيئة </strong>(kehendak)</p>
<p>Irodah ini pasti terjadi baik hal tersebut sesuatu yang dicintai Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>atau tidak. Sebagaimana firman Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>{فمن يرد الله أن يهديه يشرح صدره للإسلام ومن يرد أن يضله يجعل صدره ضيقاً حرجاً كأنما يصعد في السماء} [الأنعام: 125]</strong></p>
<p>Ayat ini mirip dengan firman Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>{من يشأ الله يضلله ومن يشأ يجعله على صراط مستقيم} [الأنعام: 39]</strong> <strong> </strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>b. </strong> <strong>إرادة شرعية</strong> ( irodah syar’iyah ) yang bermakna <strong>المحبة </strong>( cinta )</p>
<p>Irodah ini belum tentu terjadi dan irodah ini hanya berkaitan dengan sesuatu yang dicintai oleh Alloh <strong>تعالى</strong><strong> . </strong>Sebagaimana firman-Nya</p>
<p style="text-align:right;"><strong>{والله يريد أن يتوب عليكم ويريد الذين يتبعون الشهوات أن تميلوا ميلاً عظيماً * يريد الله أن يخفف عنكم وخلق الإنسان ضعيفاً} [النساء: 27، 28] .</strong></p>
<p><strong>13</strong>.  Sesungguhnya syariat Alloh <strong>تعالى</strong><strong> </strong>dibangun di atas kemudahan. Karena ini adalah kehendak Alloh { <strong>يريد الله بكم اليسر</strong> } dan telah shahih dari Nabi <strong>صلى الله عليه وسلم</strong> bahwa beliau bersabda</p>
<p style="text-align:right;"><strong>«إن الدين يسر ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه»</strong></p>
<p>dan Nabi <strong>صلى الله عليه وسلم</strong> ketika mengutus utusan beliau bersabda</p>
<p style="text-align:right;"><strong>«يسروا ولا تعسروا؛ وبشروا ولا تنفروا»</strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>«فإنما بعثتم ميسرين؛ ولم تبعثوا معسرين»</strong></p>
<p><strong>14</strong>.  Tidak adanya kesulitan, kesukaran dalam syariat ini, berdasarkan firman Alloh { <strong>ولا يريد بكم العسر</strong> }</p>
<p><strong>15</strong>.  Sesungguhnya satu perkara jika antara halal dan haram dan asalnya bukan perkara yang haram maka yang dimenangkan adalah yang halal. Karena hal ini lebih mudah dan dicintai Alloh <strong>تعالى</strong><strong>.</strong></p>
<p><strong>16</strong>.  Perintah untuk menyempurnakan bilangan yaitu dengan melaksanakan bilangan puasa secara sempurna.</p>
<p><strong>17</strong>.  Disyariatkannya takbir setelah sempurnanya bilangan puasa (selesai puasa). Berdasarkan firman Alloh</p>
<p style="text-align:right;"><strong>{ ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم }</strong></p>
<p>Hendaknya seorang yang takbir mengucapkan</p>
<p style="text-align:right;"><strong>«الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد»</strong></p>
<p>Atau mengucapkan</p>
<p style="text-align:right;"><strong>«الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد»</strong></p>
<p>Atau mengucapkan</p>
<p style="text-align:right;"><strong>«الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد»</strong></p>
<p>Permasalahan dalam hal ini luas.</p>
<p><strong>18</strong>.  Sesungguhnya Alloh mensyariatkan sesuatu pasti ada hikmahnya dan untuk tujuan yang agung. Berdasarkan firman Alloh { <strong>لعلكم تشكرون</strong> }</p>
<p><strong>19</strong>.  Isyarat bahwa melaksanakan ketaatan kepada Alloh merupakan bagian dari syukur. Yang menjadi dasar hal ini adalah sabda Nabi <strong>صلى الله عليه وسلم</strong></p>
<p style="text-align:right;" dir="rtl"><strong>«إن الله طيب لا يقبل إلا طيباً وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين ، فقال تعالى: {يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا الله} ؛ وقال تعالى: {يا أيها الرسل كلوا من الطيبات واعملوا صالحاً}»</strong></p>
<p style="text-align:left;" dir="rtl">Hal ini menunjukkan bahwa syukur adalah amal shalih.</p>
<p><strong>20</strong>.  Sesungguhnya orang yang bermaksiat kepada Alloh menunjukkan kalau dia tidak menegakkan syukur (kepada Alloh). Besar kecilnya tergantung maksiat yang dia lakukan.</p>
<p dir="rtl"><strong>تنبيه:<br />
استنبط بعض الناس أن من كانوا في الأماكن التي ليس عندهم فيها شهور، مثل الذين في الدوائر القطبية، يصومون في وقت رمضان عند غيرهم عدة شهر؛ لأن الشهر غير موجود؛ وقال: إن هذا من آيات القرآن؛ فقد جاء التعبير صالحاً حتى لهذه الحال التي لم تكن معلومة عند الناس حين نزول القرآن؛ لقوله تعالى: { ولتكملوا العدة }.</strong></p>
<p style="text-align:left;" dir="rtl"><strong>Bisa di lihat <a href="http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_17563.shtml" target="_blank">di sini</a><br />
</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sesungguhnya shaum itu untuk-Ku]]></title>
<link>http://dewiumahkayu.wordpress.com/2009/11/20/sesungguhnya-shaum-itu-untuk-ku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 19:20:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewiumahkayu</dc:creator>
<guid>http://dewiumahkayu.wordpress.com/2009/11/20/sesungguhnya-shaum-itu-untuk-ku/</guid>
<description><![CDATA[Ibadah shaum, bukan ketentuan untuk satu golongan atau risalah kerasulan. Sejak zaman para Anbiya se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ibadah shaum, bukan ketentuan untuk satu golongan atau risalah kerasulan. Sejak zaman para Anbiya se]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sudah menangkah?]]></title>
<link>http://syahrulmujib.wordpress.com/2009/11/19/sudah-menangkah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 13:58:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>syahrulmujib</dc:creator>
<guid>http://syahrulmujib.wordpress.com/2009/11/19/sudah-menangkah/</guid>
<description><![CDATA[&lt;!&#8211; /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:&#8221;Century Got]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="post-body entry-content"><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--> &#60;!&#8211;  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	mso-font-alt:&#8221;Century Gothic&#8221;; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:&#8221;Arial Black&#8221;; 	panose-1:2 11 10 4 2 1 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:&#8221;Comic Sans MS&#8221;; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-bidi-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&#62; <!--[if gte mso 10]&#62;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;}  &#60;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.2pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Selamat tinggal Ramadan, selamat datang bulan kemenangan bulan dimana kita bisa menikmati hasil jerih payah setelah selama satu bulan kita berusaha mati-matian menjauhkan diri dari segala macam perbuatan yang tercela. walaupun mungkin bagi sebagian orang menganggap betapa cepatnya bulan ini berlalu. dan menganggap Ramadan yang penuh barokah dan maghfirohnya terasa begitu saja lewat, padahal kebaikan yang dilakukan masih jauh dari harapan. rugi? jelas bagi orang -orang yang menganggap bahwa Ramadan adalah bulan  tempaan, bulan dimana kita berusaha untuk mengekang hawa nafsu agar  bisa kita jinakkan, agar kita bisa belajar untuk berlaku jujur walaupun tidak ada orang yang melihat , seandainya kita membatalkan puasa ditengah hari adalah sebuah kerugian yang tak terkira. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">lalu setelah Ramadan berlalu apa yang telah kita dapatkan? bagi sebagian orang yang pertama kali menjawab adalah kebebasan. ya, bebas melakukan apa saja. Bebas kembali beraktifitas yang mungkin selama Ramadan terasa dikekang, terasa pakewuh dan risih jika dilakukan dibulan Ramadan. kita bisa saksikan di media menjelang Ramadan, betapa gencarnya aksi-aksi pekat (penyakit masyarakat) yang dilakukan oleh sebagian ormas dan diberbagai daerah. tak ketinggalan pula sweeping dari aparat dengan  dalih untuk menghormati bulan Ramadan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">lalu apalah artinya itu semua, jika setelah Ramadan hal &#8211; hal yang dilakukan mulai menjelang Ramadan sampai Ramadan itu sendiri berakhir, tak berbekas sama sekali. apakah bulan selain Ramadan dianggap tidak suci? atau memang hanya selama Ramadan saja hal tersebut dilakukan ataukah itu hanyalah tradisi yang hanya dilakukan untuk menghormati bulan Ramadan saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">mari semuanya kita bertafakur, apakah kita memang sudah meraih kemenangan? dan apakah Ramadan telah membuat kita benar &#8211; benar menjadi taqwa sebagaimana yang termaktub dalam Alqur&#8217;an? mari bersama-sama kita tingkatkan ibadah kita. selama Ramadan kita mampu untuk bangun malam, kita mampu melakukan tadarus Alqur&#8217;an, mampu mengkhatamkan berulang kali hanya dalam tempo satu bulan. bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin. mari kita pertahankan kemenangan kita, jangan kita nodai kemenangan ini dengan melakukan perbuatan yang bisa merusak amal kita selama Ramadan, kita telah kembali menuju fitroh ibarat kertas sekarang ini adalah lembaran baru, lembaran yang masih kosong, jadi jangan sampai kita isi dengan perbuatan yang akan merugikan kita sendiri. kita tingkatkan ketakwaan kepadanya bukankah pepatah arab mengatakan bahwa ‘id bukan diperuntukkan bagi orang yang berpakaian yang baru dan mewah akan tetapi ‘id diperuntukkan bagi orang yang ketaqwaannya bertambah. jadi, sudahkah kita meraih kemenangan yang sesungguhnya?</span></p>
</div>
<p>&#160;</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">
<h3><a href="http://jepitmu.blogspot.com/2009/09/sudah-menangkah.html">Sudah menangkah?</a></h3>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengaplikasikan Ramadan dalam Pergaulan]]></title>
<link>http://syahrulmujib.wordpress.com/2009/11/19/mengaplikasikan-ramadan-dalam-pergaulan/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 13:34:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>syahrulmujib</dc:creator>
<guid>http://syahrulmujib.wordpress.com/2009/11/19/mengaplikasikan-ramadan-dalam-pergaulan/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah. Puji syukur kita ucapkan kepada Allah swt yang telah mempertemukan kita kembali denga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3><a href="http://jepitmu.blogspot.com/2009/09/mengaplikasikan-ramadan-dalam-pergaulan.html"><br />
</a></h3>
<p>Alhamdulillah. Puji syukur kita ucapkan kepada Allah swt yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan suci Ramadan. Bulan yang penuh barokah, rahmat dan magfirohnya. Bulan dimana kita bisa menumpuk pahala, karena jika kita beribadah didalamnya tentu saja bakal diberi balasan yang berlipat. Sungguh sangat beruntung sekali kita dapat menjumpainya.</p>
<p>Puasa dibulan Ramadan merupakan ajang pembuktian. Dimana kita harus menjaga diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak fajar hingga terbenamnya matahari. Pun pada Ramadan kita juga bisa banyak belajar mulai dari bersabar, menahan diri dari sifat-sifat tercela bahkan sampai belajar untuk berlaku jujur.</p>
<p>Belajar bersabar</p>
<p>Dengan Ramadan kita diajarkan untuk bersabar menghadapi godaan-godaan. Bayangkan kita tentu saja akan merasakan lapar dan dahaga sepanjang hari dan tentu saja ini akan mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Bahkan kadang mungkin muncul pertanyaan untuk apa sih kita berlapar-lapar puasa?</p>
<p>Jika menilik lebih jauh, puasa itu sebenarnya merupakan salah satu sarana pembuktian akan ketaqwaan kita. Sudah mafhum bahwa puasa &#8212; seperti yang di nash dalam al qur’an &#8212; diperuntukkan bagi orang yang memang beriman agar menjadi orang yang bertaqwa kepada Nya. Jadi bukan sembarang orang yang bisa menunaikannya, hanya orang-orang yang benar-benar memiliki imanlah yang merasa terpanggil.</p>
<p>Selain itu Ramadan juga mengajarkan kepada kita bagaimana kita berlaku jujur. Baik pada diri sendiri maupun orang lain. Kita bisa saja makan dan minum ditempat sepi yang dimungkinkan tidak ada orang yang melihat. Akan tetapi karena kita yakin bahwa walaupun tidak ada seorangpun melihat namun ada dzat yang maha melihat yang mengawasi gerak gerik kita. Dan akhirnya timbullah rasa jujur.</p>
<p>Alangkah bijaksananya jika hal-hal yang bisa kita pelajari dibulan Ramadan kita aplikasikan pada kehidupan kita sehari-hari. Alangkah indahnya jika kita bisa berlaku jujur pada diri kita sendiri tidak hanya pada saat Ramadan saja. Alangkah damainya jika kita bisa menghindari sifat-sifat tercela yang bisa merusak citra diri kita sendiri. Apalagi diluar Ramadan.</p>
<p>Jadi apa yang kita peroleh selama Ramadan tidak hanya sekadar rasa lapar dan haus. Akan tetapi ada hal-hal yang besar yang bisa kita ambil pelajaran yang mungkin tidak terfikirkan diluar Ramadan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FADILAH PUASA 'AROFAH]]></title>
<link>http://dhanimadani.wordpress.com/2009/11/19/fadilah-puasa-arofah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 05:43:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Dhani</dc:creator>
<guid>http://dhanimadani.wordpress.com/2009/11/19/fadilah-puasa-arofah/</guid>
<description><![CDATA[Puasa &#8216;Arofah biasa dilaksanakan setiap tanggal 9 Dz. Hijjah oleh orang2 Islam yang ingin lebi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Puasa &#8216;Arofah biasa dilaksanakan setiap tanggal 9 Dz. Hijjah oleh orang2 Islam yang ingin lebi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ada Apa di 10 Hari Pertama Dzulhijjah]]></title>
<link>http://danangwirawan.wordpress.com/2009/11/18/ada-apa-di-10-hari-pertama-dzulhijjah/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 16:41:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>dan</dc:creator>
<guid>http://danangwirawan.wordpress.com/2009/11/18/ada-apa-di-10-hari-pertama-dzulhijjah/</guid>
<description><![CDATA[Umat Islam sepertinya banyak yang belum mengetahui tentang hebatnya keutamaan beramal shaleh pada se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Umat Islam sepertinya banyak yang belum mengetahui tentang hebatnya keutamaan beramal shaleh pada se]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[puasa 9 dzulhijah]]></title>
<link>http://kaji.wordpress.com/2009/11/18/puasa-9-dzulhijah/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 02:26:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>snydez</dc:creator>
<guid>http://kaji.wordpress.com/2009/11/18/puasa-9-dzulhijah/</guid>
<description><![CDATA[puasa sunah di tanggal 9 dzulhijah sangat disarankan karena bisa menghapus dosa setahun sebelum dan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>puasa sunah di tanggal 9 dzulhijah sangat disarankan karena bisa menghapus dosa setahun sebelum dan setahun sesudah.</p>
<p>dosa setahun ga usah dibayangkan. bayangkan aja dosa sehari.<br />
sebagai contoh, melihat aurat wanita itu dosa. bayangkan setiap hari ngeliat rambut wanita yang berbeda-beda. padahal sehelai rambut wanita itu aurat, bayangkan ngeliat rambut keseluruhan.<br />
bayangkan dosa nya. itu baru sehari.</p>
<p>sedangkan siksa neraka yang paling ringan adalah, menginjak bara api sampai otak meleleh.</p>
<p>jadi bayangkan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
