<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pura &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/pura/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pura"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 10:01:26 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Almas puras.]]></title>
<link>http://nongrato.wordpress.com/2009/11/28/almas-puras/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 22:49:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>nongrato</dc:creator>
<guid>http://nongrato.wordpress.com/2009/11/28/almas-puras/</guid>
<description><![CDATA[No sé, no sé, sólo sé que hoy ya han pasado seis meses, pese a lo que pase, la hoja y el pincel se h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>No sé, no sé, sólo sé que hoy ya han pasado seis meses, pese a lo que pase, la hoja y el pincel se hunden en el sofá.</p>
<p>Como mucho eres gitana. En parte, ya sé quién eres con sólo rozarte.  Lamentaciones de vagabundos de este mundo. No es cuestión de acierto, esclavo del tiempo lento.</p>
<p>Despojos de esos ojos, me levanto, y ya ves, aquí estoy, otra vez.</p>
<p>Me pregunto si fueron mis decisiones, pues estoy aprendiendo a vivir sin el libro de instrucciones. Sólo me gusta tu piel, acostarme y olvidarme de esta vida, sin estar al tanto de la moneda que cayó del canto.</p>
<p>Hay veces que prefiero cerrar los ojos, dejar que el mundo gire, aunque nadie lo mire.</p>
<p>Quiero silencio, estoy cansado de esta versión de un mundo de cemento.</p>
<p>Soy lo que soy, he visto llorar, reír, he visto más de lo que tienes en tu maletín.</p>
<p>He visto al amor y al odio en la barra de un bar fumando porros abrazados a un dólar.</p>
<p>He visto inicios que no tienen ni un final.</p>
<p>Que nadie respire.</p>
<p>Quiero silencio.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jadwal Kegiatan Yayasan Spiritual Dharma Sastra Bulan Desember 2009]]></title>
<link>http://spiritualkundalinibali.wordpress.com/2009/11/27/jadwal-kegiatan-yayasan-spiritual-dharma-sastra-bulan-desember-2009/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 15:12:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>spiritualkundalini</dc:creator>
<guid>http://spiritualkundalinibali.wordpress.com/2009/11/27/jadwal-kegiatan-yayasan-spiritual-dharma-sastra-bulan-desember-2009/</guid>
<description><![CDATA[Jadwal Kegiatan Yayasan Spiritual Dharma Sastra Bulan Desember 2009 Selasa, 1 Desember 2009 Meditasi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong>Jadwal Kegiatan Yayasan Spiritual Dharma Sastra Bulan Desember 2009</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Selasa, 1 Desember 2009 Meditasi di GOR Ngurah Rai mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Jumat, 4 Desember 2009 Meditasi Kundalini Ajaib di Wantilan Poh Gading mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Minggu, 6 Desember 2009 Melukat di Pantai Mertasari mulai 06.00 wita – selesai</li>
<li>Selasa, 8 Desember 2009 Meditasi di GOR Ngurah Rai mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Jumat, 11 Desember 2009 Meditasi Kundalini Ajaib di Wantilan Poh Gading mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Minggu, 13 Desember 2009 Melukat di Pesraman Semanik mulai jam 09.00 wita – selesai</li>
<li>Selasa, 15 Desember 2009 Meditasi di GOR Ngurah Rai mulai jam 20.00 wita – selesai<!--more--></li>
<li>Jumat, 18 Desember 2009 Meditasi  di Wantilan Poh Gading mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Minggu, 20 Desember Tirta Yatra ke Pura Lempuyang Luhur mulai jam 06.00 wita – selesai</li>
<li>Selasa, 22 Desember 2009 Meditasi di GOR Ngurah Rai mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Jumat, 25 Desember 2009 Meditasi Kundalini Ajaib di Wantilan Poh Gading mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Minggu, 27 Desember Tirta Yatra ke Pura Batukaru mulai jam 19.00 – selesai</li>
<li>Selasa, 29 Desember 2009 Meditasi di GOR Ngurah Rai mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em>NB : Jadwal diatas sewaktu-waktu dapat berubah</em></p>
<p>Untuk info lebih lanjut bisa hubungi sekretariat Yayasan Spiritual Dharma Sastra, Jalan Lembu Sura Kav. I No 3, Br Poh Gading, Ubung Kaja – Denpasar Utara, Bali, Telp 0361 – 8509601 dan telp klinik usadha 0361 – 8078842</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bali ... Part 2]]></title>
<link>http://motoyuk.wordpress.com/2009/11/24/bali-part-2/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 15:48:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>motoyuk</dc:creator>
<guid>http://motoyuk.wordpress.com/2009/11/24/bali-part-2/</guid>
<description><![CDATA[Semua foto dibuat dengan Canon EOS 40D dan Canon EF-S 17-55 f2.8 IS &quot;Awan Besakih&quot; | 17mm ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Semua foto dibuat dengan Canon EOS 40D dan Canon EF-S 17-55 f2.8 IS &quot;Awan Besakih&quot; | 17mm ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[riligion kemoning]]></title>
<link>http://kemoning.wordpress.com/2009/11/11/riligion-kemoning/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 06:16:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>kemoning villages</dc:creator>
<guid>http://kemoning.wordpress.com/2009/11/11/riligion-kemoning/</guid>
<description><![CDATA[ada beberapa temoat persembahyangan bagi beberapa umat di sini seperti Gereja dan Pura. namun di des]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>ada beberapa temoat persembahyangan bagi beberapa umat di sini seperti Gereja dan Pura.<br />
namun di desa ini lebih banyak/dominasi yang berumat hindu.</p>
<p>Pura:<br />
di desa ini ada 3 pura utama yaitu:<br />
-pura dalem yang merupakan tempat beristananya dewa ciwa.<br />
-Pura Bale Agung dimana tempat beristananya dewa Brahma.<br />
-Pura Puseh tempat beristananya dewa wisnu.</p>
<p>namun Pura dalem di desa ini masih milik beberapa desa/bajar dan akan tetap begitu sampai kapanpun.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Julia Robert Syuting di Bali Tanpa Permisi]]></title>
<link>http://scbsradiolombok.wordpress.com/2009/10/30/julia-robert-syuting-di-bali-tanpa-permisi/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 07:16:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hana</dc:creator>
<guid>http://scbsradiolombok.wordpress.com/2009/10/30/julia-robert-syuting-di-bali-tanpa-permisi/</guid>
<description><![CDATA[Denpasar &ndash; Bali: Syuting film yang dibintangi Julia Robert &ldquo;Eat Pary, Love&rdquo; ternya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Denpasar &ndash; Bali: Syuting film yang dibintangi Julia Robert &ldquo;Eat Pary, Love&rdquo; ternya]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pura-pura bisu]]></title>
<link>http://demalungjava.wordpress.com/2009/10/28/pura-pura-bisu/</link>
<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 09:09:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>demalungjava</dc:creator>
<guid>http://demalungjava.wordpress.com/2009/10/28/pura-pura-bisu/</guid>
<description><![CDATA[tanggal 26 April 2005, saya baru pulang dari Yogyakara bersama salah satu teman saya. lalu lintas be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">tanggal 26 April 2005, saya baru pulang dari Yogyakara bersama salah satu teman saya. lalu lintas begitu padat sehingga membuat saya begitu lelah harus konsentrasi, alias ga bisa santai.. setelah sampai Pingit (kabupaten Temanggung), terjadi kemacetan yang lumayan padat. karena kami menggunakan motor jadi bisa goyang ala geyol, sluman-slumun yang penting slamet. setelah tikungan yang lumayan tajam sekitar 45 derajat. dag dig dug jantungku berpacu, kaget banget karena didepan (5 meter) ada Razia polisi. akupun menguragi kecepantan.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Selamat sore Pak&#8221; tanya salah seorang polisi yang masih berpangkat Kopral. aku masih terdiam karena masih ndredeg. kemudian spontan teman saya menjawab &#8221; eh, maaf pak teman saya bisu.&#8221; wah kurang ajar banget!! gerutuku dalam hati, tapi setelah mendengar penjelasan dari teman saya polisi yang masih berpangkat kopral itu memanggil komandannya. mungkin dia masih belum tahu pasal no. berapa untuk menilang orang yang bisu,</p>
<p style="text-align:justify;">komandan polisi datang mengahampiri saya. lalu bertanya pada teman saya, karena setahu dia saya benar-benar bisu. SIM, STNK dan dari mana yang komandan polisi itu tanyakan.. kemudian temanku mengeluarkan bahasa tipuannya sambil mengahadap ke arahku dan &#8220;<em><strong> bah ha wa bah sa wa hag bi bah ha</strong></em>&#8221; sambil tangannya mengisyaratkan yang dia maksud. aku pun juga berakting sama dengan teman saya tadi, seperti dua orang bisu yang sedang berkomunikasi&#8230; ahh, ada ada saja ulah temanku ini, setelah SIM dan STNK diperiksa, kami dipersilahkan melanjutkan pejalanan,. dan kata yang masih saya ingat sampai sekarang &#8221; mas sok mben neh nek lungo ojo karo wong bisu&#8221;, aku tertawa dalam hati..  langsung saja aku tancep gas!!! setelah 100 meteran dari tempat razia aku berhenti dan melepaskan tawa&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">bagi kawan-kawan yang menjumpai razia.. bisa saja berpura-pura bisu..</p>
<p style="text-align:justify;">pasti lebih cepat prosesnya, tidak berbelit-belit..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jadwal Kegiatan Yayasan Spiritual Dharma Sastra Bulan Nopember 2009]]></title>
<link>http://spiritualkundalinibali.wordpress.com/2009/10/28/jadwal-kegiatan-yayasan-spiritual-dharma-sastra-bulan-nopember-2009/</link>
<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 03:21:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>spiritualkundalini</dc:creator>
<guid>http://spiritualkundalinibali.wordpress.com/2009/10/28/jadwal-kegiatan-yayasan-spiritual-dharma-sastra-bulan-nopember-2009/</guid>
<description><![CDATA[Jadwal Kegiatan Yayasan Spiritual Dharma Sastra Bulan Nopember 2009 Minggu, 1 Nopember 2009 melukat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3 style="text-align:justify;">Jadwal Kegiatan Yayasan Spiritual Dharma Sastra Bulan Nopember 2009</h3>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Minggu, 1 Nopember 2009 melukat di Pesraman Semanik mulai jam 09.00 wita – selesai</li>
<li>Selasa, 3 Nopember 2009 Meditasi di GOR Ngurah Rai mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Jumat, 6 Nopember 2009 Meditasi di Wantilan Poh Gading mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Minggu, 8 Nopember 2009 Gebyar Kundalini di Gedung Nari Graha Renon mulai jam 09.00 wita – selesai</li>
<li> Selasa, 10 Nopember 2009 Meditasi di GOR Ngurah Rai mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Jumat, 13 Nopember 2009 Meditasi Kundalini Ajaib di Wantilan Poh Gading mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Minggu, 15 Nopember Melukat di Pura Tirta Empul mulai jam 06.00 wita – selesai<!--more--></li>
<li>Selasa, 17 Nopember 2009 Meditasi di GOR Ngurah Rai mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Jumat, 20 Nopember 2009 Meditasi Kundalini Ajaib di Wantilan Poh Gading mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Minggu, 22 Nopember Tirta Yatra ke Pura Batu Bolong Canggu mulai jam 09.30 wita – selesai</li>
<li>Selasa, 24 Nopember 2009 Meditasi di GOR Ngurah Rai mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Jumat, 27 Nopember 2009 Meditasi Kundalini Ajaib di Wantilan Poh Gading mulai jam 20.00 wita – selesai</li>
<li>Minggu, 29 Nopember Tirta Yatra ke Pura Indra Kusuma Jembrana mulai jam 09.30 – selesai</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>NB : Jadwal diatas sewaktu-waktu dapat berubah</em></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk info lebih lanjut bisa hubungi sekretariat Yayasan Spiritual Dharma Sastra, Jalan Lembu Sura Kav. I No 3, Br Poh Gading, Ubung Kaja – Denpasar Utara, Bali, Telp 0361 – 8509601 dan telp klinik usadha 0361 – 8078842</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Leio-te e Longe de ti, por Olavo Bilac]]></title>
<link>http://poemasepensamentos.wordpress.com/2009/10/25/leio-te-e-longe-de-ti-por-olavo-bilac/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 20:12:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mari</dc:creator>
<guid>http://poemasepensamentos.wordpress.com/2009/10/25/leio-te-e-longe-de-ti-por-olavo-bilac/</guid>
<description><![CDATA[LEIO-TE Leio-te: — o pranto dos meus olhos rola: — Do seu cabelo o delicado cheiro, Da sua voz o tim]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>LEIO-TE</p>
<p>Leio-te: — o pranto dos meus olhos rola:<br />
— Do seu cabelo o delicado cheiro,<br />
Da sua voz o timbre prazenteiro,<br />
Tudo do livro sinto que se evola …</p>
<p>Todo o nosso romance: – a doce esmola<br />
Do seu primeiro olhar, o seu primeiro<br />
Sorriso, – neste poema verdadeiro,<br />
Tudo ao meu triste olhar se desenrola.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Para ler o restante clique no link abaixo e conheçam nosso novo blog</strong></span></p>
<p><a href="http://www.poemasepensamentos.com.br/2009/10/25/leio-te-e-longe-de-ti-por-olavo-bilac/">http://www.poemasepensamentos.com.br/2009/10/25/leio-te-e-longe-de-ti-por-olavo-bilac/</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Introduzione alla Teoria dei Giochi - Parte 1]]></title>
<link>http://seipernove42.wordpress.com/2009/10/08/introduzione-alla-teoria-dei-giochi-parte-1/</link>
<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 19:10:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>scardax</dc:creator>
<guid>http://seipernove42.wordpress.com/2009/10/08/introduzione-alla-teoria-dei-giochi-parte-1/</guid>
<description><![CDATA[Cominciamo oggi una serie di articoli che parlano della Teoria dei Giochi e delle sue applicazioni, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Cominciamo oggi una serie di articoli che parlano della Teoria dei Giochi e delle sue applicazioni, dall&#8217;evoluzionismo alla computer science passando per l&#8217;economia. Per il momento non c&#8217;é nulla di completamente definito, quindi li scrivero&#8217; man mano a seconda del gradimento e/o delle richieste (e prendetelo come un consiglio: se vi piace, commentate! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ).</em></p>
<p><em><span style="font-style:normal;">La <strong>Teoria dei Giochi</strong> é estremamente interessante perché, in fin dei conti, il suo oggetto di studio é tanto astratto da risultare anche difficilmente definibile: in termini generali, si occupa di analizzare tutte quelle situazioni in cui due o più agenti (razionali) si confrontano in un&#8217;attività competitiva, o cooperativa, cercando di prevalere sugli altri, o formando opportune alleanze. Ma quante situazioni di questo tipo potete immaginare? Provate a rifletterci per pochi attimi:</span></em></p>
<ul>
<li>Animali in lotta per prevalere in un determinato habitat naturale.</li>
<li>Computer connessi in rete che cercano di ottenere l&#8217;accesso al mezzo condiviso (ad esempio un cavo telefonico, o l&#8217;etere).</li>
<li>Ognuno dei moduli cerebrali che si sforzano di guadagnare l&#8217;attenzione del settore cosciente del cervello.</li>
<li>Aziende in competizione, politici in gara per un seggio.</li>
<li>Giochi nel termine ludico della parola: scacchi, dama, backgammon&#8230;</li>
</ul>
<p>Questa varietà di applicazioni spiega il suo enorme successo: in pratica, non vi é materia che non l&#8217;abbia sfruttata per i propri scopi. La teoria dei Giochi, quindi, <span style="text-decoration:underline;">non é altro che un insieme di strumenti</span>, a disposizione di chiunque ne necessiti: se riuscite a modellare una qualche situazione con uno delle tante definizioni di &#8220;gioco&#8221; che la teoria vi mette a disposizione, potrete sfruttare tutte le tecniche risolutive a lui associate per ottenere importanti chiarimenti sulla situazione stessa.</p>
<p>Cominciamo dalla situazione più semplice in assoluto: ci sono una serie di giocatori, e ciascuno é chiamato a compiere una qualche scelta, all&#8217;insaputa delle decisioni degli altri. Dalla decisione complessiva dipende l&#8217;esito del gioco. Questo (o, meglio, il modello matematico corrispondente) viene detto <strong>gioco in forma normale</strong>, e costituisce il mattoncino fondamentale con cui vengono costruite ed analizzate tutte le situazioni più complesse.</p>
<p>Come possiamo definirlo matematicamente? Abbiamo bisogno di tre categorie di oggetti:</p>
<ol>
<li>Un insieme I per i giocatori: il caso più semplice é quello in cui ve ne sono due, ma niente impedisce che ve ne siano di più (purché in numero finito).</li>
<li>Per ciascun giocatore, un insieme di azioni <img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=A_i+&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='A_i ' title='A_i ' class='latex' /> che gli é permesso compiere. Generalmente queste vengono dette le sue <strong>strategie</strong> (e l&#8217;insieme indicato con <img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=S_i&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='S_i' title='S_i' class='latex' />), ma nei casi più complessi i due concetti sono separati: qui, ad ogni scelta di un&#8217;azione corrisponde una strategia, ma in generale questo non é vero.</li>
<li>Una qualche funzione che ci indichi il grado di soddisfazione di ogni giocatore per ogni possibile esito del gioco. Il gioco ha una diversa conclusione per ogni possibile combinazione delle scelte dei giocatori: indicando l&#8217;insieme di queste scelte con S (matematicamente, é un prodotto cartesiano degli insiemi delle azioni di ciascun giocatore), possiamo dire che ad ogni giocatore deve essere associata una <strong>funzione di utilità</strong> <img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=u_i%28s%29%3A+S+%5Crightarrow+R&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='u_i(s): S \rightarrow R' title='u_i(s): S \rightarrow R' class='latex' />, ovvero una funzione che ritorni un numero reale per ogni esito.</li>
</ol>
<p>L&#8217;ultimo punto é quello più misterioso: come ottenere questa funzione? In realtà, é estremamente semplice, perché é importante solo che i suoi valori permettano di comparare fra loro due diverse scelte. Per costruirla, é sufficiente ordinare tutti i possibili esiti di un gioco dal peggiore al migliore (dal punto di visto del giocatore per il quale la stiamo costruendo) e poi assegnare valori numerici crescenti a ciascuno di essi. Facciamo un esempio preso dal mondo reale:</p>
<p>E&#8217; tardo pomeriggio, e state decidendo con il vostro compagno (o la vostra compagna) come passare la serata. Lui (o lei) preferirebbe andare al cinema, mentre voi preferireste andare a teatro. Se non riuscite a mettervi d&#8217;accordo, rimanete a casa entrambi.</p>
<p>Vi sono due persone in ballo, ed in competizione, quindi é sicuramente terreno fertile per la teoria dei Giochi. Vediamo come ottenere la forma normale di questo gioco:</p>
<ol>
<li>L&#8217;insieme dei giocatori ha due elementi, voi ed il vostro compagno/a. Per facilità, lasciatemi chiamarvi A e B. Quindi <img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=I+%3D+%5C%7B+A%2C+B+%5C%7D&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='I = \{ A, B \}' title='I = \{ A, B \}' class='latex' />.</li>
<li>Ognuno di voi ha le stesse due azioni possibili: decidere di andare al cinema (chiamiamola C), e decidere di andare a teatro (chiamiamola T). Quindi <img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=A_A+%3D+A_B+%3D+%5C%7B+C%2C+T+%5C%7D&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='A_A = A_B = \{ C, T \}' title='A_A = A_B = \{ C, T \}' class='latex' />.</li>
<li>Assumiamo che ciascuno di voi due preferisca uscire per fare qualcosa (pur avendo una preferenza fra le due alternative). Assegnando 0 all&#8217;utilità dello stare a casa, 1 all&#8217;uscire andando dove preferisce l&#8217;altro, e 2 al fare quello che si preferisce, e riorganizzando tutte queste informazioni in una comoda tabella, otteniamo:</li>
</ol>
<p><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		TD P { margin-bottom: 0cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="4" width="233">
<col width="45"></col>
<col width="97"></col>
<col width="65"></col>
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="45">A / B</td>
<td width="97">C</td>
<td width="65">T</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="45" height="43">C</td>
<td width="97">(2, 1)</td>
<td width="65">(0, 0)</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="45" height="55">T</td>
<td width="97">(0, 0)</td>
<td width="65">(1, 2)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>La tabella dovrebbe essere abbastanza intuitiva da leggere: le righe sono le possibili azioni del primo giocatore, le colonne le possibili azioni del secondo giocatore, ogni casella un esito del gioco con relative utilità.</p>
<p>Ma ora, cosa ce ne facciamo di questo modello? Se fossimo A, cosa dovremmo giocare per vincere? E se fossimo B? Nel prossimo post vedremo alcuni esempi di concetti risolutivi che ci permetteranno di rispondere, almeno parzialmente, a queste domande.</p>
<p>Prima di concludere, pero&#8217;, un ultimo dettaglio. Abbiamo detto che il giocatore ha una strategia possibile per ogni azione: in realtà, ne ha molte di più. Ciascun giocatore potrebbe decidere di associare una qualche distribuzione di probabilità al suo insieme di strategie, e decidere in funzione di quello. Ad esempio, A potrebbe decidere di giocare C il 60% delle volte e T un altro 40%: questa é quella che viene detta <strong>strategia mista</strong>, in opposizione alle <strong>strategie pure</strong> (la scelta sicura di un&#8217;azione).</p>
<p>Più che mista, quest&#8217;ultima trovata puo&#8217; sembrare molto mistica: che vuol dire &#8220;<em>scegliere in funzione di una distribuzione di probabilità</em>&#8220;? Riempire una ciotola di palline colorate ed estrarne una a caso? Tirare una monetina? Quando mai si vedono cose del genere nella realtà? In realtà, é più comprensibile se lo vediamo come un espediente matematico: il più delle volte le strategie miste servono per modellare alcuni casi particolari, come quando non sappiamo con certezza quello che giocherà un giocatore, o quando vogliamo rappresentare la &#8220;scelta media&#8221; di un insieme di giocatori, o ancora quando vogliamo rappresentare la scelta di uno stesso giocatore, ma quando si trova davanti al gioco un numero ripetuto di volte.</p>
<p>E questo é tutto per i giochi in forma normale. Commenti, consigli, proposte ed insulti: commentate!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pura]]></title>
<link>http://dianputra.wordpress.com/2009/09/30/pura/</link>
<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 11:26:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>d14najus</dc:creator>
<guid>http://dianputra.wordpress.com/2009/09/30/pura/</guid>
<description><![CDATA[kutipan: wikipedia Pura adalah istilah untuk tempat ibadah agama Hindu di Indonesia. Pura di Indones]]></description>
<content:encoded><![CDATA[kutipan: wikipedia Pura adalah istilah untuk tempat ibadah agama Hindu di Indonesia. Pura di Indones]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BIOGRAFI IDA AYU INTEN GANETRI]]></title>
<link>http://spiritualkundalinibali.wordpress.com/2009/09/23/biografi-ida-ayu-inten-ganetri/</link>
<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 15:26:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>spiritualkundalini</dc:creator>
<guid>http://spiritualkundalinibali.wordpress.com/2009/09/23/biografi-ida-ayu-inten-ganetri/</guid>
<description><![CDATA[Biografi Ida Ayu Inten Ganetri Ibu Ida Ayu Inten Ganetri adalah seorang guru spiritual yang berasal ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Biografi Ida Ayu Inten Ganetri</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu Ida Ayu Inten Ganetri adalah seorang guru spiritual yang berasal dari Griya Pangsan Kecamatan Petang Kabupaten Badung dan bersuamikan Ida Bagus Sunia Putra dari Griya Giri Sunia Br Uma Anyar Mambal. Beliau lahir di Denpasar, Bali pada tanggal 17 Oktober 1964, semenjak kecil sesungguhnya sudah memiliki bakat dan kemampuan spiritual berupa penglihatan mata batin yang tajam sehingga orang di sekitarnya merasakan keheranan sekaligus takjub melihat berbagai fenomena yang ditunjukkannya, diantaranya : kata-katanya yang selalu menjadi kenyataan dan kemampuan beliau dalam berkomunikasi dengan berbagai mahluk tidak nyata yang dijumpai dalam berbagai aktivitasnya.<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-96" style="border:2px solid black;margin:10px;" title="Ida Ayu Inten Ganetri" src="http://spiritualkundalinibali.wordpress.com/files/2009/09/b-dayu.jpg" alt="Ida Ayu Inten Ganetri" width="300" height="300" />Dalam keseharian, didampingi oleh seorang suami dan dua putra putri yang selalu setia menyertai, saat ini beliau memimpin sebuah usaha Konsultan Perencana yang menyandang misi sosial dan spiritual yang bergerak di bidang perencanaan bangunan tempat suci dan bangunan tempat tinggal tradisional Bali.<!--more--><br />
Dalam <a href="http://spiritualkundalinibali.wordpress.com/2009/05/15/proses-perjalanan-seorang-spiritual-kundalini/">perjalanan spiritualnya</a>, olah karena suatu alasan beliau pernah memohon agar mata batinnya di tutup untuk sementara waktu, namun beberapa waktu kemudian berkenan di buka kembali oleh Yang Maha Kuasa. Ibu Dayu yang sebelumnya telah mengalami berbagai cobaan, secara gaib sering dikunjungi oleh para Dewa-Dewi yang bersemayam di berbagai Pura besar terutama yang ada di Bali.<br />
Setelah dipingit beberapa lama, Ibu Dayu yang memilki sifat pendiam, ramah, cerdas, suka menolong baik dengan terang-terangan ataupun secara diam-diam, sejatinya tidak ingin dikenal dan memperlihatkan diri, namun karena tugas dan kewajiban dalam kehidupan ini sejak tahun 2007 baru “diijinkan” untuk keluar mengabdi di masyarakat khususnya dalam bidang spiritual.<br />
Secara niskala Ibu Dayu Inten Ganetri merupakan anak bungsu dari sepuluh “Tokoh Spiritual” yang ada dan sekarang bersama-sama Bapak I Putu Ngurah Ardika yang merupakan Guru Sejati Kundalini menjadi Guru Spiritual untuk mangajarkan dan menyebarkan dharma dan cinta kasih kepada masyarakat di bawah naungan Yayasan Spiritual Dharma Sastra.</p>
<address>
</address>
<address>Dikutip dari Buku Makna Air karangan Ida Ayu Inten Ganetri</address>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pura Luhur Batukaru]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/11/pura-luhur-batukaru/</link>
<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 12:17:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/11/pura-luhur-batukaru/</guid>
<description><![CDATA[Pura Luhur Watukaru berlokasi di hutan kawasan kaki Gung Watukaru, di Desa Wangaya Gede kecamatan Pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/batukaru.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-249" title="batukaru" src="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/batukaru.jpg" alt="batukaru" width="161" height="121" /></a>Pura Luhur Watukaru berlokasi di hutan kawasan kaki Gung Watukaru, di Desa Wangaya Gede kecamatan Penebel Tabanan.  Pura ini dapat ditempuh dari Kota Denpasar kurang lebih 42 kilometer kearah utara.  Dengan kondisi jalan yang sangat bagus sehingga sangat memudahkan untuk ditempuh dengan kendaraan bermotor.</p>
<p>Pengungkapan asal usul sejarah Pura Luhur Watukaru sulit, walaupun disitus pura ini terdapat peninggalan purbakala seperti beberapa profil area, tombak dengan tipe Bali kuno antara abad ke X – XIII, sehingga para akhli mengemukakan bahwa Pura Luhur Watukaru didirikan sekitar abad XI Masehi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pura Ulun Danu - Bratan]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/11/pura-ulun-danu-bratan/</link>
<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 12:09:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/11/pura-ulun-danu-bratan/</guid>
<description><![CDATA[Pura ulun Danu Beratan terletak di Desa Candi Kuning, kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan sekitar 5]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/ulun-danu-2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-243" title="ULUN DANU (2)" src="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/ulun-danu-2.jpg" alt="ULUN DANU (2)" width="161" height="121" /></a>Pura ulun Danu Beratan terletak di Desa Candi Kuning, kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan sekitar 50 kilometer dari kota Denpasar.  Lokasi Bangunan Pura berada di tepian Danau Beratan.   Nama Pura ini diambil dari nama danau didekat pura yaitu Banau Beratan.</p>
<p>Dari beberapa sumber berdasarkan data arkeologi Pura Ulun Danu Beratan bahwa dilokasi saat ini telah digunakan untuk melakukan kegiatan sepiritual sejak jaman megalitik, hal itu dibuktikan dengan ditemukannya sebuah sarkopag dan sebuah papan batu yang berasal dari tradisi megalitik sekitar tahun 500 sebelum masehi.  Kedua artefak tersebut saat ini ditempatkan masing-masing diatas Babaturan (teras).</p>
<p>Dari sumber data dalam Babad Mengwi secara tersirat diuraikan bahwa I Gusti Agung Putu sbagai pendiri kerajaan Mengwi mendirikan Pura dipinggir Danau Beratan sebelum mendirikan Pura Taman Ayun.  Lebih dalam lontar babad Mengwi tersebut tidak dijelaskan tahun berapa Puru Ulun Danu beratan Didirikan, namun diperkirakan sebelum tahun saka 1556 atau 1634 Masehi.</p>
<p>Pura Ulun Danu Beratan terdiri atas 4 kompleks pura yaitu: Pua Lingga Petak, Pura penataran Pucak Mangu, Pura Terate Bang dan Pura Dalem Purwa.  Dari empat kompleks pura tersebut Pura Ulun Danu berfungsi untuk memuja keagungan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti untuk memohon anugrah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia dan keajegan alam semesta.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tanah lot]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/11/tanah-lot/</link>
<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 11:59:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/11/tanah-lot/</guid>
<description><![CDATA[Obyek wisata tanah lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/tanah-lot-xxx.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-237" title="tanah lot xxx" src="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/tanah-lot-xxx.jpg" alt="tanah lot xxx" width="161" height="121" /></a>Obyek wisata tanah lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam (sunset), turis-turis biasanya ramai pada sore hari untuk melihat keindahan sunset di sini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di<span style="text-decoration:underline;"> <a title="Bali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bali">Bali</a></span>, <a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>. Di sini ada dua pura yang terletak di di atas batu besar yang luasnya kurang lebih 3 are. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan <a title="Pura Uluwatu" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pura_Uluwatu&#38;action=edit">Pura Uluwatu</a>. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Sad Kahyangan, yaitu pura-pura yang merupakan sendi-sendi pulau Bali. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.</p>
<p>Legenda</p>
<p>Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang <a title="Brahmana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brahmana">brahmana</a> yang mengembara dari <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>. Beliau adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran <a title="Hindu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu">Hindu</a> dan membangun <a title="Sad Kahyangan" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sad_Kahyangan&#38;action=edit">Sad Kahyangan</a> tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Beliau menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Beliau juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben &#8216;akhirnya&#8217; menjadi pengikut Danghyang Nirartha.</p>
<p>Menurut data arkeologis, pada sebuah bangunan atau pelinggih ditemukan sebuah menhir yang berfungsi sebagai media pemujaan untuk memuja potensi dan kekuatan alam.  Pelinggih ini terletak dihalaman teratas dari Pura Tanah Lot.  Pada pelinggih tersebut juga ditemukan sebuah lingga yang berfungsi untuk memuja Dewa Siwa.</p>
<ol>
<li>Sunset      Terrace</li>
</ol>
<p>Merupakan tempat menikmati sunset terbaik. Suasana sunset dengan latar belakang         Pura Luhur Tanah Lot dan laut lepas dengan gelombang yang khas pantai selatan. Dari   tempat ketinggian diatas tebing sunset dapat dinikmati sambil menikmati makanan dan       minuman yang disediadakan oleh jejeran warung-warung yang menyiapkan minuman          khas berupa kelapa muda serta minuman lain.  Suasana yang tidak terlupakan jika anda       menikmati suasana yang tepat berada di depan pura.</p>
<ol>
<li>Pura      Enjung Galuh</li>
</ol>
<p>Pura Enjung Galuh berlokasi diatas enjung yaitu batu jarang yang menjorok ke laut.            Dilihat dari Abhisekanya Pura Galuh ini jelas bahwa Istadewata yang berparahyangan di       Pura ini berwujud sahakti yaitu Bhatari Sri shaktinya Dewa Wisnu.  Pura Enjung Galuh ini          berfungsi untuk memohon Kesuburan dan kesejahteraan.   Hari Pujawalinya jatuh pada       hari Rabu Umanis, wara Medangsia sesuai dengan kalender Bali.</p>
<ol>
<li>Pura      Batu Bolong</li>
</ol>
<p>Pura batu Bolong berlokasi di salah satu enjung di segara kidul Tanah Lot yang ditengah-    tengahnya berlubang(bolong) sehingga pura ini disebut Pura Batu Bolong.  Bentuk  bolong berbentuk bulan sabit, sehingga jika dipotret dari enjung galuh menciptakan            panorama yang indah dank has ditambah dengan deburan ombak yang saling        berbenturan.  Pujawalinya yaitu pada hari Rabu Wage, wara Langkir sesuai dengan  kalender Bali.</p>
<ol>
<li>Pura      Luher Pekendungan</li>
</ol>
<p>Bermula dari perjalanan Ida Pedanda Sakti Bawu Rawuh dari pura Rambut Siwi lanjut ke     Pura Srijong, dimana beliau melihat sinar suci menyala dengan terangnya di Segara          Kidul Tanah Lot, yang menjadi lokasi Puru Luhur Tanah Lot dan Pura Luhur        Pekendungan.  Melalui Pura Srijong beliau melanjutkan perjalannannya menuju sinar          suci tersebut, namun sebelumnya sempat melakoni Yoga Semadi di Desa Sanggulan ,        dan akhirnya beliau sampai kesebuah tempat disebelah barat Segara Kidul Tanah Lot          dimana beliu kembali melakukan Yoga Semadi.  Ditempat yang berhutan lebat yang  bernama ALAS KENDUNG yang kemudian  menjadi Abhiseka Pura Luhur Pekendungan.    Pura Luhur Pakendungan disamping sebagai Pura Dang Kahyangan juga befungsi             sebagai Pura Pengulun Subak di Wilayah Kediri Tabanan.</p>
<ol>
<li>Surya      Mandala Cultural Park</li>
</ol>
<p>Surya Mandala culture parks merupakan panggung terbuka (open stage) untuk       pementasan taria-tarian kesenian tradisional seperti Kecak 200.  Lokasi Surya mandala             Culture Parks ini berada di bagian barat Pura Luhur Tanah Lot, tepatnya disebelah barat       Pura Enjung Beji.</p>
<ol>
<li>Pasar      Seni/Art Market</li>
</ol>
<p>Obyek wisata Tanah Lot dilengkapi dengan fasilitas berupa Pasar seni bagi wisatawan        yang ingin membeli oleh-oleh, khususnya oleh-oleh kesenian Bali.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pura Goa Lawah]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/11/pura-goa-lawah/</link>
<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 11:56:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/11/pura-goa-lawah/</guid>
<description><![CDATA[Tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi karena letaknya strategis dipinggir pantai dengan pemanda]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/goa-lawah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-234" title="goa lawah" src="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/goa-lawah.jpg" alt="goa lawah" width="161" height="121" /></a>Tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi karena letaknya strategis dipinggir pantai dengan pemandangan laut dan pulau Nusa Penida di kejauhan serta penataan pantainya yang asri dan indah. Di pantai kadang-kadang wisatawan dapat menyaksikan kegiatan upacara adat dan juga dapat melihat kelelawar bergelantungan di tepi goa.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pura Goa lawah lokasinya sekitar 49 kilimeter dari kota Denpasar, tepatnya di Desa Pesinggahan Kecamatan Dawan, Klungkung.  Pura Goa Lawah menempati areal seluas, lebar 20,39 meter dan panjang 28,46 meter dengan beberapa bangunan yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Pemandangan ditempat ini terasa unik, sebuah goa kelihatan dibawah pohon yang rindang, sementara dimulut goa terdapat beberapa pelinggih. Pura Goa Lawah menempati wilayah pantai yang bertemu dengan wilayah perbukitan.   Dipelataran pura berdiri kukuh beberapa meru dan stana lainnya.</p>
<p>Pura Goa lawah merupakan pura Sad Kahyanan, yang merupakan perpaduan antara laut dan gunung (Nyegara Gunung), yang mengandung suatu rasa terimakasih ke Hadapan Ida Sanghyang Widhi dalam manifestasi Girinatha (pelindung gunung) dan baruna sebagai penguasa laut.  Tempat seperti ini merupakan tempat pilihan untuk mendirikan tempat suci, karena  merupakan tempat para Rsi mendapatkan pikiran suci.  Suasana Pura Goa Lawah yang diiringi cicit riuh suara ribuan kelelawar setiap hari yang bergelayutan didinding goa dan juga berterbangan menambah indah suasana dilokasi Pura.</p>
<p>Dari sejarahnya Pura Goa Lawah mengenai siapa yang membangunnya dan kapan dibangun masih bisa diungkap misterinya karena bangunan pemujaan terlalu tua usianya, sehingga tidak ada nara sumber yang benar-benar mengetahui mengenai seluk beluk Pura Goa Lawah.  Namun jika kita merunut dari kata Goa Lawah  maka dapat diartikan secara harfiah adalah “Goa” berarti goad an “Lawah” berarti kelelawar, Jadi Goa Lawah berarti goa kelelawar.</p>
<p>Walaupun disebutkan dalam beberapa lontar, namun lontar-lontar yang ada jarang menyebutkan secara jelas  siapa yang mendirikan dan kapan pura ini didirikan.  Disamping itu beberapa lontar hanya mengemukakan status pura.  Namun ada sekilas tulisan yang menyimpulkan secara garis besar bahwa Pura-Pura Besar yang berstatus Kahyangan jagat dan Sad Kahyangan dibangun oleh pendeta terkenal Mpu Kuturan.</p>
<p>Keberadaan Pura Goa Lawah dibangun sebagai symbol perwujudan potensi “Bhuana Agung” kekuatan Supranatural, wujud perlambang daya alam yang diharapkan dapat berkelanjutan sebagai tempat “Nyegara Gunung” dengan letak lokasi dan lingkungan terpilih dari berbagai aspek keunggulan lingkungan alamnya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[REVITALISASI TWA SURANADI LOMBOK BARAT]]></title>
<link>http://abhinarfatah.wordpress.com/2009/09/11/revitalisasi-suranadi/</link>
<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 00:59:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>abhinarfatah</dc:creator>
<guid>http://abhinarfatah.wordpress.com/2009/09/11/revitalisasi-suranadi/</guid>
<description><![CDATA[Suranadi, kawasan wisata alam dan religi. Disini tedapat hutan konservasi seluas 57 Ha. Perannya san]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'>
<p>Suranadi, kawasan wisata alam dan religi. Disini tedapat hutan konservasi seluas 57 Ha. Perannya sangat penting dalam menjaga kondisi air tanah dan mikro lingkungan alami. Juga terdapat sumber mata air yang disucikan oleh umat Hindu. Terdapat tiga pura yang menggambarkan prosesi aktivitas dalam ritual Hindu. Salah saPura pertama di Lombok Barat. Revitalisasi ditujukan untuk menstimulir kawasan agar berkembang lebih baik lagi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pura Besakih]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/08/pura-besakih/</link>
<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 15:05:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/08/pura-besakih/</guid>
<description><![CDATA[Pura Agung Besakih terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, berada di lereng sebelah barat daya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/besakih.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-201" title="besakih" src="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/besakih.jpg" alt="besakih" width="161" height="121" /></a>Pura Agung Besakih</strong> terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, berada di lereng sebelah barat daya Gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di Bali. Akses dari Kota Denpasar untuk mencapai tempat ini berjarak sekitar 25 km ke arah utara dari Kota Semarapura – Kabupaten Klungkung.</p>
<p>Perjalanan menuju Pura Besakih melewati panorama Bukit Jambul yang juga merupakan salah satu obyek dan daya tarik wisata Kabupaten Karangasem.</p>
<p>Letak Pura Besakih sengaja dipilih di desa yang dianggap suci karena letaknya yang tinggi, yang disebut <em>Hulundang Basukih </em>yang kemudian menjadi Desa Besakih. Nama Besakih diambildari Bahasa Sansekerta, <em>wasuki</em> atau dalam bahasa Jawa Kuno <em>basuki</em> yang berarti selamat. Selain itu, nama Pura Besakih didasari pula oleh mithologi <em>Naga Basuki</em> sebagai penyeimbang Gunung Mandara.</p>
<p>Banyaknya peninggalan zaman megalitik, seperti menhir, tahta batu, struktur teras pyramid yang ditemukan di kompleks Pura Besakih menunjukkan bahwa sebagai tempat yang disucikan nampaknya Besakih berasal dari zaman yang sangat tua, jauh sebelum adanya pengaruh Agama Hindu.</p>
<p>Kompleks Pura Besakih dibangun berdasarkan keseimbangan alam dalam konsep <em>Tri Hita Karana</em>, dimana penataannya disesuaikan berdasarkan arah mata angin agar struktur bangunannya dapat mewakili alam sebagai simbolisme adanya keseimbangan tersebut. Masing-masing-masing-masing arah mata angin disebut <em>mandala</em> dengan dewa penguasa yang disebut <em>“Dewa Catur Lokapala”</em> dimana mandala tengah sebagai porosnya, sehingga kelima mandala dimanifestasikan menjadi <em>“Panca Dewata”.</em></p>
<p>Penjabaran struktur bangunan Pura Besakih berdasarkan konsep arah mata angin tersebut, adalah :  Pura Penataran Agung Besakih sebagai pusat mandala di arah Tengah dan merupakan pura terbesar dari kelompok pura yang ada, yang ditujukan untuk memuja Dewa Çiwa;  Pura Gelap pada arah Timur untuk memuja Dewa Içwara;  Pura Kiduling Kereteg pada arah Selatan untuk memuja Dewa Brahma;  Pura Ulun Kulkul pada arah Barat untuk memuja Dewa Mahadewa;  Pura Batumadeg pada arah Utara untuk memuja Dewa Wisnu.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pura Rambut Siwi]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/08/pura-rambut-siwi/</link>
<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 15:01:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/08/pura-rambut-siwi/</guid>
<description><![CDATA[Rambut Siwi terletak 18 Km arah ke timur dari Kota Negara dan 78 Km arah ke barat dari kota Denpasar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Rambut Siwi terletak 18 Km arah ke timur dari Kota Negara dan 78 Km arah ke barat dari kota Denpasar. Dapat dicapai dengan semua jenis kendaraan serta tempat parkir yang cukup luas.  Disini terdapat pura Sad Kahyangan dan dibangun erat kaitannya dengan kedatangan seorang Pendeta dari Majapahit yang melakukan perjalanan ke agamaan ke Bali dan singgah di tempat ini untuk memberikan ajaran Agama Hindu.</p>
<p>Karena hormatnya penduduk setempat kepada sang pendeta yang bernama Dang Hyang Nirartha itu, dimintalah rambutnya untuk dipuja  dan disimpan di Pura  ini sehingga nama Pura ini disebut Pura Rambut Siwi. Dari Pura ini pula dapat kita menikmati pemandangan laut lepas dan matahari terbenam/ Sunset.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Samsung WF8120 SXW: lavatrice a caro prezzo ]]></title>
<link>http://paoblog.wordpress.com/2009/09/07/samsung-wf8120-sxw-lavatrice-a-caro-prezzo/</link>
<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 13:38:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>paoblog</dc:creator>
<guid>http://paoblog.wordpress.com/2009/09/07/samsung-wf8120-sxw-lavatrice-a-caro-prezzo/</guid>
<description><![CDATA[Samsung WF8120 SXW è una delle lavatrici di ultimo grido: costa ben 1.000 euro. Soldi ben spesi? For]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Samsung WF8120 SXW è una delle lavatrici di ultimo grido: costa ben 1.000 euro. Soldi ben spesi? Forse no&#8230;</p>
<p><strong>Contro gli odori</strong><br />
La sua funzione più sbandierata, Pura+ (l&#8217;uso di ioni d&#8217;argento contro i cattivi odori) non si basa su un preciso principio fisico. Inoltre i vantaggi dichiarati (lavaggio a basse temperature e risparmio energetico) si ottengono già con i normali detersivi che sono efficaci anche a 30°gradi.</p>
<p><strong>Cestello capiente, anche troppo&#8230;</strong><br />
L&#8217;altro elemento pubblicizzato è la capacità del cestello: 12 kg. In media, però, gli italiani lavano circa 3 chili di vestiti e quindi le lavatrici con carichi così capienti non servono e se sottoutilizzate consumano più di quelle con carichi normali.</p>
<p>Fonte: <a href="http://www.altroconsumo.it/">www.altroconsumo.it</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pura Gunung Kawi - Sebatu]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/07/pura-gunung-kawi-sebatu/</link>
<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 12:52:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/07/pura-gunung-kawi-sebatu/</guid>
<description><![CDATA[Gunung Kawi Sebatu terletak di Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang Gianyar, sekitar 40 kilometr dari ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/sebatu.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-177" title="sebatu" src="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/sebatu.jpg" alt="sebatu" width="161" height="121" /></a>Gunung Kawi Sebatu terletak di Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang Gianyar, sekitar 40 kilometr dari kota Denpasar. Gunung Kawi Sebatu memiliki sumber air yang cukup besar yang dialirkan untuk keperluan pertanian serta air untuk keperluan penduduk  seperti air minum dan mandi.</p>
<p>Dalam sejarahnya ketika Raja Mayadenawa berkuasa, tempat ini merupakan lintasan pelarian Raja Mayadenawa bersama pengikutnya menuju Desa Taro setelah terdesak melawan para Dewata di Desa Besakih. Karena rasa takutnya kepada Dewata  yang mengejarnya Mayadenawa serta pengikutnya lari tunggang langgang dan terpeleset diantara bebatuan pegunungan.  Karena penduduk asli yang tidak berdosa dalam keadaan bahaya , maka Dewa Wisnu memberikan sumber air kehidupan bagi penduduk dalam wujud air suci.  Sebagai rasa Syukur penduduk maka ditempat ini dingun sebuah pura tempat pemujaan Dewa Wisnu yang dikemal dengan nama Pura Gunung Kawi yang dilengkapi pancuran beraneka fungsi.</p>
<p>Dilokasi Pura Gunung Kawi Sebatu belum banyak terdapat fasilitas bagi pengunjung, kecuali warung-warung minuman dan makanan. Sebatu memang sudah cukup lama dikenal oleh wisatawan karena menghasilkan seni pahat yang berkualitas dengan gaya setempat. Seniman dengan bakat seni tinggi menghasilkan karya seprti patung-patung kayu dan barang-barang souvenir lainnya yang berkualitas.  Karena hal itu maka jumlah kedatangan wisatawan meningkat setiap tahunnya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tirta Empul - Tampaksiring]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/07/tirta-empul-tampaksiring/</link>
<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 12:47:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/07/tirta-empul-tampaksiring/</guid>
<description><![CDATA[Tirta Empul terletak di Desa Tampak Siring, Kecamatan Tampak Siring Gianyar sekitar 39 Kilometer dar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/tirta-empul.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-174" title="tirta empul" src="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/tirta-empul.jpg" alt="tirta empul" width="161" height="121" /></a>Tirta Empul terletak di Desa Tampak Siring, Kecamatan Tampak Siring Gianyar sekitar 39 Kilometer dari Kota Denpasar.  Lokasi Tirta Empul merupakan lembah yang dikelilingi daerah yang lebih tinggi, disebelah baratnya terletak Istana Presiden Republik Indonesia.</p>
<p>Nama Tirta Empul termuat dalam sebuah prasasti yang disimpan di Pura Sakenan, Desa Manukaya, Tampak Siring.  Dalam dijelaskan Tirta Empul dinamakan “Tiertha ri air hampul” yang lama kelamaan berubah menjadi Tirtha Hampul sampai akhirnya menjadi Tirtha Empul.  <em>Tirtha ri air hampul</em> maksudnya  adalah “Patirthaan yang airnya mengepul atau kolam suci yang airnya mengepul”</p>
<p>Dalam lontar usana Bali diceritakan bahwa Tirtha Empul diciptakan oleh Batara Indra dalam peperangannya dengan Mayadenawa yang melarang rakyat untuk melakukan upacara upacara yadnya sehingga sering terjadi bencana alam, wabah penyakit serta pertanian yang tidak berhasil yang menyebabkan rakyat menjadi sengsara.  Dalam sebuah pertempuran di Tampaksiring dikisahkan bahwa pasukan Mayadenawa terdesak, untuk menghilangkan jejak maka mereka berjalan kaki miring sehingga konon daerah itu dinamakan Tampaksiring.  Didaerah itu pula Mayadenawa menciptakan kolam yang airnya beracun, oleh karena pasukan Batara Indra kehausan mereka banyak yang meminim air tersebut sehingga mati dan pingsan.   Mengetahuai hal itu Batara Indra sebera menancapkan umbul-umbul kedalam tanah sehingga keluarlah air  yang akhirnya  diminumkan kepada bala tentaranya yang telah mati dan pingsan sehingga hidup kembali.</p>
<p>Mata air yang mengepul dari dalam tanah  pada tahun 882 Saka  atau 960 masehi ditata menjadi kolam yang disucikan oleh Raja Indrajayasinghawarmadewa dengan nama “Tirtha ri air hampul” seperti yang termuat dalam prasasti Prasasti Pura Sakenan.  Selain data efigrafi di Pura Tirtha Empul juga ditemukan  peninggalan arkeologi seperti :</p>
<ol>
<li>Lingga      Yoni</li>
</ol>
<p>Yang terletak pada halaman II (Jaba tengah) diatas sebuah altar, lingga yoni merupakan symbol pemujaan Dewa Siwa bersama saktinya Dewi Parwati untuk memohonkan kesuburan pertanian</p>
<ol>
<li>Arca      Singa</li>
</ol>
<p>Dalam mitologi Hindu Singa adalah kendaraan Dewi Durga dalam pengejaran raksasa Raktawija.</p>
<ol>
<li>Tepasana</li>
</ol>
<p>Adalah bangunan yang berupa pelinggih pada mulanya hanya berupa teras, namun telah dilakukan restorasi pada tahun 1967 masehi. Tepasana ini merupakan Dewa Indra yang telah menciptakan Tirtha Empul.</p>
<ol>
<li>Kolam      Tirtha Empul</li>
</ol>
<p>Kolam dengan luas 15 X 50 meter ini dialirkan kea rah hilir melalui beberapa pancuran yang digunakan sebagai tirtha dalam upacara ritual.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Goa Gajah]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/07/goa-gajah/</link>
<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 12:34:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/07/goa-gajah/</guid>
<description><![CDATA[Goa Gajah lokasinya berada disebelah barat Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh Gianyar, sekitar 27 kilo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/goa-gajah1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-167" title="goa gajah" src="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/goa-gajah1.jpg" alt="goa gajah" width="161" height="121" /></a>Goa Gajah lokasinya berada disebelah barat Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh Gianyar, sekitar 27 kilometer dari Kota Denpasar.  Goa ini dibangun ditepi jurang dari pertemuan sebuah sungai kecil yaitu sungai Pangkung yang airnya bercampur dengan sungai Petanu yang mengalir dibawahnya.  Daerah pertemuan dua sungai ini yang dinamakan “Campuhan/campuran” dipandang memiliki tenaga magis atas dasar konsep yang dikenal dengan “Rwabhineda”.  Atas dasar konsep inilah tampaknya Goa Gajah sengaja dibangun diantara dua sungai.</p>
<p>Kata Goa Gajah diduga berasal dari kata “Lwa Gajah” nama vihara atau pertapaan bagi bhiksu dalam agama Budha.  Nama tersebut terdapat dalam Lontar Negarakertagama yang disusun Mpu Prapanca pada tahun 1365 masehi.  Lwa atau Iwah berarti sungai.  Oleh karena itu yang dimaksudkan disini adalah pertapaan yang terletak di sungai Gajah atau di air gajah.  Hal itu memberi tanda bahwa pertapaan “Lwa Gajah” terletak di subak Air Gajah.</p>
<p>Dalam Prasastitahun saka 1103 yang dikeluarkan Raja Jaya Pangus disebutkan bahwa “Air Gajah” adalah pertapaan bagi pendeta Siwa.  Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa pertapaan yang sekarang bernama Goa Gajah pada masa lampau bernama :</p>
<ol>
<li>Air      Gajah yaitu pertapaan bagi pendeta Siwa</li>
<li>Lwa      Gajah yaitu pertapaan bagi Bhiksu atau pendeta Bhuda.</li>
</ol>
<p>Selain nama Air gajah dan Lwa Gajah, juga disebutkan nama pertapaan “Antakunjarapada” yaitu dalam prasati Dawan 975 Saka dan Pandak Bandung yahun Saka 993. Ditinjau dari arti katanya maka “Kunjara” berarti gajah, “anta” berarti akhir atau batas, pada berarti tempat atau wilayah.  Jika dipadukan kata ini berarti “Perbatasan wilayah Gajah” maksudnya barangkali adalah pertapaan yang terletak pada perbatasan wilayah subak “Air Gajah”.</p>
<p>Struktur dan relief Goa Gajah dapat dijelaskan sebagai berikut : Goa Gajah dengan Strukktur berbentuk huruf “T” yang terdiri dari Bagian luar berupa lorong berbentuk vertical, terbagi menjadi 2 bagian, dimana pada tiap-tiap bagian memiliki 2 ceruk.  Bagian dalam ruangan utama utama memiliki 11 buah ceruk berbentuk horizontal.  Pada ujung barat terdapat arca dewa Ganesa, sedangkan diujung timur terletak 3 buah lingga pada sebuah lapik dan masing-masing lingga dikelilingi lingga kecil.</p>
<p>Goa Gajah merupakan bentuk tiruan dari pertapaan kunjarakunja yang ada di daerah India selatan, di daerah pegunungan kunjara tempat pertapaan Rsi Agastya maka relief yang dipahatkan adalah pahatan-pahatan alam pegunungan.  Pada mulut Goa yaitu pada bagian dinding sebelah kiri atau timur terdapat tulisan singgkat “hurup type Kediri atau Kediri Kwadrat” dari awal abad ke 11.  Kala tersebut fungsinya adalah indentik dengan Bhoma yang terdapat pada gapura dari sebuah pura, yaitu menjaga kesucian pertapaan dan memberikan perlindungan.</p>
<p>Beberapa meter dari mulut goa yaitu pada bagian tengah halam goa terdapat kolam pertirtaan yaitu tempat mengambil tirta atau air suci untuk keperluan upacara.  Kolam itu ditemukan oleh Krijgsman dari dinas purbakala pada tahun 1954.  Kolam tersebut dilengkapi arca pancuran widyadara widyadari yang diatur berjajar dalam 2 kelompok tiga tiga sejumlah 6 arca.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pura Meduwe Karang]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/06/pura-meduwe-karang/</link>
<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 11:57:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/06/pura-meduwe-karang/</guid>
<description><![CDATA[Terletak di Desa Kubutambahanm, Kecamatan Kubutambahan ± 12 km sebelah timur Kota Singaraja, kurang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/meduwe-karang.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-149" title="meduwe karang" src="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/meduwe-karang.jpg" alt="meduwe karang" width="161" height="121" /></a>Terletak di Desa Kubutambahanm, Kecamatan Kubutambahan ± 12 km sebelah timur Kota Singaraja, kurang lebih 1 km dari pertigaan Singaraja, Kubutambahan dan Kintamani. Pura ini tempat memohon agar tanaman di tegalan bias berhasil dan baik. Gugusan tangga mengantarkan pengunjung ke suatu areal luar pura (Jabaan) yang luas yang di bagian depannya dihiasi patung-patung batu padas, 34 jumlahnya, yang diambil dari tokoh-tokoh dan adegan-adegan ceritera Ramayana.</p>
<p>Lingkungan Pura Maduwe Karang adalah salah satu lingkungan Pura di Bali yang telah dikenal wisatawan mancanegara sebelum Perang Dunia Kedua. Di Jaman itu wisatawan mancanegara datang ke Bali melalui laut di Pelabuhan Buleleng. Di tempat ini sambil menunggu angkutan umum para wisatawan mempergunakan waktu untuk mengunjungi Lingkungan Pura Beji di Desa Sangsit, Lingkungan Pura Maduwe Karang di Desa Kubutambahan.Lingkungan Pura ini terdiri dari tiga tingkat yaitu <em>Jaba Pura</em> di luar lingkungan pura atau <em>Jabaan</em>, <em>Jaba Tengah</em>, dan <em>Jeroan</em>, bagian paling dalam adalah yang paling disucikan. Dua buah tangga batu menanjak menuju Jaba Pura, yang di bagian depannya dihiasi patung-patung batu padas, tiga puluh empat jumlahnya, yang diambil dari tokoh-tokoh dan adegan-adegan ceritera Ramayana.</p>
<p>Patung yang berdiri di tengah-tengah memperlihatkan Kumbakarna yang sedang berkelahi dan dikeroyok oleh kera-kera laskar Sang Sugriwa. Yang unik, pada bagian dinding di sebelah utara terdapat ukiran relief orang naik sepeda yang roda belakangnya terdapat daun bunga tunjung. Daya tarik lain adalah pahatan Durga dalam manifestasinya sebagai Rangda, dalam posisi duduk dengan kedua lututnya terbuka lebar sehingga alat kelaminnya jelas kelihatan. Tangan kanannya diletakkan di atas kepala seorang anak kecil yang berdiri di sebelah lututnya, kaki kanannya diletakkan di atas binatang bertanduk yang sedang berbaring. Pada bagian lain dari dinding lingkungan pura ini terdapat pahatan seorang penunggang kuda terbang dan pahatan Astimuka. Tokoh ini dilukiskan sama dengan Sang Hyang Gana (Ganesha), yakni dewa dengan muka gajah. Kungkungan Pura Maduwe Karang ini terletak di Desa Kubutambahan, 12 km sebelah Timur Singaraja.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yang unik, pada bagian bawah dinding disebelah utara terdapat ukiran relief orang naik sepeda yang roda belakangnya terbuat dari daun bunga teratai.</p>
<p>Berdasarkan asal usul sejarah Pura Meduwe Karang, yang bersumber dari hasil studi dan penelitian sejarah Pura-Pura di Bali tahun 1981/1982 oleh pemerintah daerah Bali yang bekerjasama dengan Institut Hindhu Dharma (IHD) Denpasar, Pura Maduwe Karang, di bangun pada abad ke 19 Masehi, tepatnya pada tahun 1890 oleh para migrasi local, yang berasal dari Desa Bulian, sebuah Desa Bali Kuno, ke lokasi Desa Kubutambahan.</p>
<p>Sesuai dengan istilah yang dipergunakan , disebut Pura Maduwe Karang berarti yang memilikim Karang (memiliki lahan, yang berupa tanah tegalan) di Desa Kubutambahan, permukiman Baru migrant asal  desa Bulian. Sehingga dengan demikian , Pura Maduwe Karang berstatus dan berkedudukan sebagai Pura perlak (Pura subak abian) yang diempon , diemong, disungsung dan disiwi oleh karma Subak Kubutambahan yang asal-usulnya berasal dari imigran petani desa Bulian. Dengan kata lain Pura Maduwe Karang</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pura Pulaki]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/06/pura-pulaki/</link>
<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 11:45:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/06/pura-pulaki/</guid>
<description><![CDATA[Pura Pulaki terletak di Desa Banyu Poh, Kecamatan Grokgak Buleleng sekitar 49 km sebelah barat kota ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/pulaki.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-140" title="pulaki" src="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/pulaki.jpg" alt="pulaki" width="107" height="161" /></a>Pura Pulaki terletak di Desa Banyu Poh, Kecamatan Grokgak Buleleng sekitar 49 km sebelah barat kota Singaraja.  Nama Pura Pulaki lebih dikenal daripada pura dalem melanting karena sesungguhnya Pura Dalem melanting merupakan kesatuan dari Pura Pulaki.   Dari tinjauan sejarahnya pendirian Pura Pulaki berhubungan erat dengan Perjalanan Tirtayatera yang dilakukan oleh Danghyang Nirartha di Pulau Bali pada pemerintahan Raja gelgel, Dalem Waturenggong 1460 – 1552 Masehi.</p>
<p>Fungsi Pura Pulaki adalah sebagai tempat suci untuk memuja Sanghyang Widhi dan memuja keagungan jiwa Sri Patni Kaniten yang mencapai moksa.  Pura Pulaki tergolong sebagai Pura Kahyangan Jagat dan Dang Kahyangan karena berkaitan dengan Danghyang Nirartha</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pura Ponjok Batu]]></title>
<link>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/06/pura-ponjok-batu/</link>
<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 11:43:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>kronenbali</dc:creator>
<guid>http://kronenbali.wordpress.com/2009/09/06/pura-ponjok-batu/</guid>
<description><![CDATA[Lokasi dari Pura Ponjok Batu terletak di Dusun Alasari, Desa Pacung Kecamatan Tejakula sekitar 24 Ki]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/ponjok-batu.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-137" title="ponjok batu" src="http://kronenbali.wordpress.com/files/2009/09/ponjok-batu.jpg" alt="ponjok batu" width="161" height="107" /></a>Lokasi dari Pura Ponjok Batu terletak di Dusun Alasari, Desa Pacung Kecamatan Tejakula sekitar 24 Kilometer arah timur dari Kota Singaraja.  Areal Pura Ponkok Batu luasnya sekitar 35 are berupa batu-batu hitam dengan posisi agak menjorok kepantai seperti sebuah tanjung atau ponjok.  Atas dasar posisi dan lingkungan itu maka tempatnya dinamakan Ponjok batu.</p>
<p>Pura Ponjok Batu didirikan sekitar abad ke-16, dimana pendiriannya dikaitkan dengan pelaksanaan Tirtayatra  Danghyang Nirartha ketika melakukan Tirta yatra di Daerah Bali Utara, Lombok dan Sumbawa.  Menurut Lontar Dwijendra Tattwa fungsi Pura Ponjok Batu adalah untuk memuja keagungan Danghyang Nirartha sebagai seorang guru dalam memantapkan ajaran agama Hindu, khususnya Siwaistis dengan diperkuat adanya pelinggih khusus di Pura Ponjok Batu yang disebut pelinggih Danghyang Nirartha.   Status Pura Ponjok Batu adalah sebagai Kahyangan Jagat dan dapat dikelompokkan sebagai Dang Kahyangan karena berhubungan erat  dengan seorang Dang Guru sebagai Cinta Indonesia.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
