<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ramayana &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/ramayana/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ramayana"</description>
	<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 16:34:44 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Raavana and Rajneeti to release in May 2009]]></title>
<link>http://fenilandbollywood.wordpress.com/2009/11/25/raavana-and-rajneeti-to-release-in-may-2009/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 09:28:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>fenilseta</dc:creator>
<guid>http://fenilandbollywood.wordpress.com/2009/11/25/raavana-and-rajneeti-to-release-in-may-2009/</guid>
<description><![CDATA[After going through several unpredictable but similar events, Mani Ratnam&#8217;s Raavana and Prakas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[After going through several unpredictable but similar events, Mani Ratnam&#8217;s Raavana and Prakas]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dharma Bhakti Teguh Para Garuda]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/23/dharma-bhakti-teguh-para-garuda/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 04:35:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/23/dharma-bhakti-teguh-para-garuda/</guid>
<description><![CDATA[Kata “manusia” atau “manushya” berasal dari dua suku kata, “manas” dan “ishya”. “Ishya” berarti Kebe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Kata “manusia” atau “manushya” berasal dari dua suku kata, “manas” dan “ishya”. “Ishya” berarti Keberadaan. “Manas” berarti Pikiran. Apabila Keberadaan atau eksistensi bertemu dengan pikiran, maka lahirlah manusia. </em></p>
<p><em>Apabila manusia melepaskan dirinya dari pikiran, maka ia adalah Keberadaan atau Eksistensi. Keberadaan  <strong>+</strong> Pikiran = Manusia, sebaliknya Manusia <strong>–</strong> Pikiran = Keberadaan. Energi dan apa yang kita sebut “materi” sama-sama merupakan bagian dari Keberadaan. </em></p>
<p><em>Elemen-elemen air, api, udara, tanah, dan lain sebagainya – semuanya merupakan bagian dari Keberadaan. Mengidentitaskan diri kita dengan energi berarti mengidentitaskan diri kita dengan salah satu unsur Keberadaan</em>. <strong><sup>*1 Kundalini Yoga</sup></strong> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kelahiran Sang Garuda</span></strong></p>
<p>Daksa memberikan putri-putrinya untuk dijadikan istri Resi Kasyapa. Pernikahannya dengan Diti menurunkan Hiranyaksa dan Hiranyakasipu. Perkawinannya dengan Aditi melahirkan Indra dan Vamana. Perkawinannya dengan Dewi Kadru melahirkan para ular dan para naga, sedangkan perkawinannya dengan Dewi Winata melahirkan Aruna dan Garuda. Dari satu kakek yang sama, para cucunya ada yang menjadi tokoh penegak dharma dan beberapa yang lain menjadi pemimpin golongan adharma.</p>
<p>Dewi Winata bersaing dengan Dewi Kadru. Dewi Kadru melahirkan ribuan butir telur yang menjadi ular dan naga, di antaranya menjadi naga Varuna dan Vasuki. Dewi Winata hanya melahirkan dua butir telur, dan karena lama tidak menetas, yang satu butir dipecahnya sebelum waktunya menetas dan menjadi Burung Aruna yang cacat. Kesalahan tindakannya nantinya harus dibayar dengan menjadi budak beberapa masa. Tugas Dewi Winata adalah memelihara dan membesarkan putra kandung dengan suka cita, akan tetapi karena tindakannya, dia harus merawat ribuan putra ibu lain dengan terpaksa.<!--more--></p>
<p>Pada suatu hari Dewi Kadru bertaruh dengan Dewi Winata, mengenai warna ekor kuda Uchaiswara yang keluar dari samudera ketika para asura dan para dewa bersatu mengaduk samudera untuk mencari tirta amerta. Tirta amerta adalah air kehidupan yang membuat makhluk hidup abadi tak dapat mati.</p>
<p>Para anak-anak ular dan naga memberi tahu ibunya bahwa sang ibu yang memegang taruhan warna ekor kuda tersebut hitam akan kalah, karena sejatinya ekor kuda tersebut berwarna putih. Dewi Kadru minta para anaknya bersatu menutupi ekor kuda agar menjadi nampak berwarna hitam. Naga Varuna, Basuki dan beberapa yang lain menolak dan dikutuk akan mati menjadi hewan persembahan. Para naga yang dikutuk kemudian bertapa mohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Akhirnya kedua dewi tersebut melihat bahwa ekor kuda berwarna hitam dan Dewi Winata menjadi budak Dewi Kadru untuk merawat anak-anak putra Dewi Kadru.</p>
<p>Telor Winata lainnya akhirnya menetas menjadi Garuda. Garuda paham bahwa dirinya harus berterima kasih kepada ibunya yang telah menyebabkan dirinya lahir di dunia. Dalam diri Garuda sudah ada benih kasih. Dia kemudian mencari ibunya dan akhirnya mengetahui bahwa ibunya menjadi budak perawat para ular dan naga. Garuda berusaha sekuat tenaga membebaskan, akan tetapi para ular dan naga sangat lincah di samudera. Akhirnya Garuda bernegosiasi dengan memberikan pengganti untuk dapat membebaskan ibunya dari perbudakan. Para ular dan naga minta barter “tirta amerta”, air yang membuat mereka tidak mati. Garuda berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan air tersebut. Segala halangan dan rintangan dilewatinya untuk mendapatkan tirta amerta.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Benih kasih yang berpotensi menjadi bhakti dalam diri Garuda</span></strong></p>
<p>Dewa Wisnu melihat kesungguhan dalam diri Garuda. Seorang Guru telah melihat adanya benih kasih dalam diri muridnya. Dia paham bahwa benih tersebut berpotensi mekar menjadi lembaga dan muridnya dapat mencapai keadaan bhakti. Salah satu syarat untuk meningkatkan kesadaran adalah berani dan yakin<em>, fearless and no doubt</em> terhadap Kebenaran. Garuda dalam upaya menyelamatkan ibunya telah melepaskan keraguan dan ketakutan.</p>
<p>Wisnu melihat benih kasih itu dalam Garuda ketika mencari tirta amerta. Wisnu bermaksud memberikan tirta amerta untuk diminum Garuda, tetapi Garuda menolak. “Terima Kasih Gusti, tirta amerta ini untuk membebaskan ibu saya dari perbudakan. Saya percaya kebijakan-Mu, saya yakin dan tidak ragu, bila memang tetap mau memberi anugerah, hamba juga tak pantas menolak, berikanlah anugerah lainnya, Gusti”.</p>
<p><em>Bhakti berarti pengabdian tanpa pamrih. Pengabdian yang sesungguhnya merupakan manifestasi Kasih. Tanpa Kasih, kita tidak dapat mengabdi</em>. <strong><sup>*2 Bhagavad Gita</sup></strong></p>
<p>Wisnu amat berkenan dengan sopan santun dan etika Garuda dan minta Garuda menjadi kendaraan Wisnu. Garuda tidak hanya mendapatkan kehidupan abadi, tetapi setiap saat selalu mendampingi Yang Maha Memelihara, sebuah keadaan penuh berkah bagi seorang bhakta. Selanjutnya, Garuda mohon pamit untuk menyelesaikan tugas keduniawiannya, membebaskan perbudakan ibunya. Kita-kita ini selalu menunda panggilan Ilahi. Guru adalah Duta Ilahi, yang mengingatkan kita adanya benih kasih di dalam diri.</p>
<p>Di tengah perjalanan Dewa Indera menghentikan Garuda dan berpesan kepadanya, agar memberikan tirta amerta kepada para naga setelah Dewi Winata dibebaskan terlebih dahulu, agar dia tidak terpedaya ulah para ular dan naga.</p>
<p>Garuda minta Dewi Winata dibebaskan dan para naga diminta mandi dulu untuk membersihkan diri dari kesalahan yang telah mereka lakukan. Para ular dan naga mematuhi permintaan Garuda, mereka membebaskan Dewi Winata, dan mandi mensucikan diri.  Ketika mereka sedang mandi ,tirta amerta direbut para Dewa, sehingga para ulardan naga tak dapat hidup abadi, akan tetap mati walau dia dapat berganti kulit, meremajakan diri. Hukum sebab-akibat berjalan sangat rapi. Yang menipu akan ditipu.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Obsesi Rahwana dalam keduniawian</span></strong></p>
<p>Berbeda dengan Garuda yang taat kepada Sang Gusti, Rahwana tunduk pada ego pribadi. Bagi Garuda, ego hanya semacam tingkat kesadaran yang harus dilampaui, jati dirinya bukan ego, ego hanya salah satu identitas dari tingkat kesadaran bukan jati dirinya. Bagi Rahwana ego adalah dirinya. Seseorang yang kaya, terkenal dan sangat berkuasa, selalu ingin melebarkan kekuasaannya dan ingin mempunyai istri yang sangat luar biasa untuk menyempurnakan kebesarannya.</p>
<p><em>Raksasa adalah makhluk sejenis manusia. Rasa dan pikiran mereka sudah berkembang. Hanya mereka seperti  “bhuta”, seperti “makhluk yang tidak berbadan”, berarti seperti kayu gelondongan yang belum dipahat. Sebenarnya, kita semua ini masih raksasa. Kita-kita ini adalah manusia yang belum menjalani proses finishing dan polishing. Belum terjadi penghalusan dalam diri kita. Kita memang sudah dilahirkan sebagai manusia, tetapi tanpa adanya proses penghalusan itu, jiwa kita, rasa kita, nurani atau intuisi kita, tidak akan berkembang. Suara nurani masih merupakan potensi yang terpendam</em>. <strong><sup>*3 Wedhatama </sup></strong></p>
<p>Nenek moyang kita mengetahui hal tersebut. Rahwana merasa kebahagiaan itu diperolehnya dari luar. Akan tetapi luar itu tak mempunyai batas. Keserakahan itu tak dapat dipuaskan sampai nyawa direnggut dari tubuhnya. Obsesi nya adalah mendapatkan pasangan wanita yang sangat cantik, titisan Dewi Widowati. Rahwana dikisahkan mempunyai kerajaan besar di seberang samudera, akan tetapi dia punya “raksasa connection” yang masih tinggal di hutan di wilayah peradaban manusia.</p>
<p>Pada awalnya Rahwana ingin mendapatkan Dewi Citrawati isteri Prabu Harjuna Sasrabahu. Dewi Citrawati dikenal sebagai titisan Dewi Widowati. Dalam hal ini Rahwana menghadapi dua ksatriya tangguh, pertama Patih Suwanda atau Raden Sumantri dari kerajaan Maespati dan Prabu Harjuna Sasrabahu yang konon merupakan titisan Wisnu. Dalam kisah yang berkembang di India, Harjuna Sasrabahu adalah Raja Kartaviryarjuna, yang merupakan perwujudan Dattatreya, percikan Wisnu.</p>
<p>Patih Suwanda akhirnya dapat dibunuhnya. Kemudian setiap bertarung dengan sang prabu selalu kalah. Maka Rahwana membuat tipu muslihat membuat kabar seakan-akan sang prabu meninggal. Dewi Citrawati sangat sedih dan bunuh diri. Sang prabu terlalu sedih atas kematian istrinya dan meninggalkan istana dan kala bertemu Parasurama, sang prabu dibunuh oleh Parasurama yang juga merupakan titisan Wisnu.</p>
<p>Setelah bertemu Sri Rama, Parasurama mengundurkan diri, sehingga di atas bumi ada dua pemimpin. Kelompok adharma dipimpin Rahwana sudah lama eksistensinya, sedangkan kelompok dharma dipimpin Sri Rama masih baru. Rahwana dan para raksasa berada dalam kelompok “yang tidak sadar”, sedangkan Sri Rama adalah manusia sadar.</p>
<p><em>“Manusia sadar” bagaikan bibit yogurt. Satu sendok teh sudah cukup untuk membuat semangkuk yogurt. Satu orang sudah cukup untuk memancing kesadaran sekelompok manusia. Itu sebabnya setiap agama menganjurkan doa bersama. Itu sebabnya ada tempat-tempat ibadah. Satu manusia sadar yang hadir bisa membantu sekian banyak orang di sekitarnya, kendati orang sadar itu sendiri tidak akan menganggapnya “bantuan”. Dia tidak merasa membantu siapa-siapa</em>. <strong><sup>*4 Narada Bhakti Sutra   </sup></strong></p>
<p>Belasan tahun kemudian, Rahwana mendengar bahwa Dewi Widowati menitis pada Dewi Kausalya puteri Raja Banasura dari Kerajaan Kausala. Dewi Kausalya terkenal sangat cantik, layaknya seorang bidadari.</p>
<p>Dewi Kausalya dikisahkan menderita sakit lumpuh dan sang ayahanda mengadakan sayembara barang siapa yang dapat menyembuhkannya akan dijadikan suami sang putri. Adalah seorang pendeta brahmacari, tidak menikah bernama Resi Rawatmaja adik dari Banasura, seorang ahli pengobatan dapat menyembuhkannya, maka dia akan dinikahkan dengan sang putri.</p>
<p>Pada hari pernikahannya Rahwana datang menyerbu dan membunuh Raja Banasura. Resi Rawatmaja bersama Dewi Kausalya dilarikan oleh Garuda Sempati ke gunung. Rahwana mengejar dan memanah sayap Sempati, dan Sempati jatuh. Sempati memberikan salah satu bulu pusakanya kepada Kausalya yang dapat membawanya terbang kepada Pendeta Dasarata, seorang pendeta sahabat saudara misannya Garuda Jatayu. Rahwana yang marah membunuh Resi Rawatmaja dan menggunduli bulu sempati dan menendangnya hingga jatuh luka parah di Gunung Warawendya. Sebelum meninggal, Resi Rawatmaja mengutuk Rahwana akan mati dibunuh Putra Kausalya.</p>
<p>Dasarata adalah pendeta yang berguru pada Resi Yogiswara dan bersahabat dengan Jatayu, putra Aruna kakaknya Garuda. Dasarata sebetulnya menolak melindungi Kausalya, karena pada zaman itu mereka yang menang perang berhak memegang tahta dan mengawini putrinya. Tetapi datang petunjuk Dewata, putri inilah yang akan menurunkan titisan Wisnu dan meneruskan tahta Kerajaan Kausala yang beribukota di Ayodya. Akhirnya Dasarata mau membantunya.</p>
<p>Pendeta muda Dasarata menciptakan sekuntum bunga sebagai Kausalya tiruan dan diserahkan kepada Rahwana yang mengejar pelarian Kausalya. Rahwana berkenan dan memberikan kerajaan Kausala dengan ibukota Ayodya kepada Dasarata. Dan jadilah Dasarata menjadi raja di Kosala.</p>
<p>Konon Rahwana membawa Kausalya palsu ke Alengka dan begitu sampai di sana sang putri palsu meninggal dunia. Rahwana protes kepada para dewa dan minta Kausalya dihidupkan lagi. Para dewa mengatakan akan ada waktunya Dewi Widowati menitis kembali di dunia, sebagai pengganti Rahwana dianugerahi Dewi tari sebagai permaisurinya. Tatkala Rahwana diceritai Sarpakenaka, bahwa Dewi Widowati telah menitis ke dewi Sinta, Rahwana berjuang dengan segala cara untuk mendapatkan Dewi Sinta, isteri Sri Rama.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Sang Jatayu, garuda putra Aruna</span></strong></p>
<p>Jatayu adalah putera dari Aruna dan keponakan dari Garuda. Jatayu adalah sahabat Raja Dasarata ayah Sri Rama.</p>
<p>Tatkala melihat Dewi Sinta dilarikan Rahwana, Jatayu menghadangnya. Dewi Sinta adalah menantu Raja Dasarata sahabatnya. Dan Sri Rama adalah Wisnu yang mewujud untuk menegakkan dharma. Jatayu sudah tua dan kalah melawan Rahwana dan jatuh terluka parah. Jatayu tidak mengeluh dan berkata pelan, “Bagi manusia awam aku kalah bertanding dan mungkin dianggap akan menemui kematian secara sia-sia. Manusia awam tidak tahu bahwa hidup itu untuk menyelesaikan tugas, bermain sebaik-baiknya melakoni peran pemberian Gusti. Saya kalah bertarung, tetapi diri saya menang, dharma dalam diri saya menang melawan ketakutan terhadap bagian adharmik saya. Gusti, jangan ambil nyawaku, sebelum aku bertemu dengan Sri Rama, Gusti yang mewujud, aku akan menceritakan kejadian siapa penculik Dewi Sinta dan aku berbahagia meninggalkan dunia, aku menang terhadap ketakutan yang berada dalam diriku.”</p>
<p>Ketika Sri Rama dan Laksmana menelusuri hutan Dandaka mencari jejak Dewi Sinta, mereka menemukan Jatayu yang luka parah. Setelah menyampaikan pesan terakhirnya, Jatayu lega dan saat menyebut Ram..Ram..Rama, dia menemui kematian.</p>
<p>Lain Jatayu, lain kita manusia awam, setiap saat yang kita pikirkan hanya harta benda duniawi, itulah yang kita ingat menjelang ajal.</p>
<p><em>Apa yang terjadi bila aku mati? Rumahku yang mewah, kendaraanku, tabunganku, usahaku—semoga anak-anakku dapat merawat, memelihara, memperbanyak. Dalam keadaan sekarat pun pikiran seperti itu yang muncul. Harta, uang, fulus&#8230; sepanjang umur itu saja yang kita pikirkan. Saat mati pun pikiran yang sama yang muncul</em>. <strong><sup>*5 Bhaja Govindam </sup></strong></p>
<p>Sri Rama dan Laksmana mengadakan ritual pengabuan sederhana sebagai penghormatan terakhir dan meningalkan tempat tersebut. Banyak ksatria yang mendambakan kematian Jatayu, di saat terakhir menyebut nama Gusti. Obsesi terakhir sebelum kematian menyebabkan jiwa seseorang tertarik gravitasi dan lahir kembali. Akan tetapi yang bila obsesi terakhirnya bertemu Gusti, maka selesailah keterikatannya dengan dunia.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kepahlawanan Sempati</span></strong></p>
<p>Sempati adalah salah satu anak Garuda. Rahwana mengejar dan memanah sang burung yang terbang melarikan Resi Rawatmaja dan Kausalya. Sempati jatuh dan bulu burung Sempati dirontokkan semua oleh Rahwana. Akan tetapi Sempati sempat memberikan sehelai bulu burung pusakanya untuk dipegang Kausalya yang dapat menerbangkan sang putri minta perlindungan kepada pendeta muda  Dasarata sahabat Jatayu. Kausalya selamat, akan tetapi Resi Rawatmaja terbunuh dan Sempati yang terluka parah di tendang Rahwana sampai ke gunung Warawendya.</p>
<p>Sempati menghabiskan seluruh hidupnya di Gunung Warawendya dan menunggu datangnya putra Kausalya yang diramalkan sebagai titisan Wisnu yang akan mengalahkan Rahwana.</p>
<p>Hanuman, Anggada, Jambawan dan beberapa kera mencari jejak Rahwana dan mereka sampai di Gunung Warawendya. Mereka baru saja diracun oleh Dewi Sayempraba, raksasa wanita bagian dari jaringan Rahwana-Connection. Dalam keadaan setengah sekarat mereka sampai ke pantai di depan samudera yang luas sekali. Mereka kehilangan jejak Rahwana. Dalam keadaan sekarat, datanglah burung sangat besar yang sedang kelaparan sehingga mereka merasa kematian sudah dekat. Mereka merasa sedang menjalankan tugas Sri Rama, hanya terbersit perasaan kecewa karena gagal dan kematian sudah menjemputnya.</p>
<p>Hanuman, Anggada dan Jambawan juga sudah pasrah, kalau memang mati keracunan, atau dimakan burung yang kelaparan sudah tidak dapat apa-apa&#8230;..  Jambawan berkata, “Sudahlah sahabat-sahabatku, mari kita tiru tindakan ksatria Jatayu yang rela mati demi Sri Rama&#8230;&#8230;.”</p>
<p><em>Begitu kau menerima kematian, kau membuka diri terhadap segala macam kemungkinan. Bicara tentang kematian saja dapat menutup diri seseorang. Manusia tidak berani bicara tentang kematian karena ia takut. Rasa takut menutup diri mereka. Begitu kau menerima kematian, dirimu terbuka lebar dan alam pun mulai mengalir, menyirami jiwamu. Aku berubah total. Esoknya yang Bangun bukan aku yang sama lagi. Benar. Terjadi transformasi kuantum dalam dirimu</em>. <strong><sup>*6 Reinkarnasi </sup></strong></p>
<p>Demi mendengar Jatayu disebut-sebut, bergetarlah dada Sempati. Jatayu adalah saudara misan sepermainan, seperti saudaranya sendiri. Sempati menanyakan perihal Jatayu dan menganggap Hanuman dan sahabat-sahabatnya sebagai sahabatnya. Jatayu yang mempunyai ilmu pengobatan dari Resi Rawatmaja menyembuhkan mereka dari racun yang masuk dalam tubuh mereka.</p>
<p>Sempati memberitahu bahwa Dewi Sinta dibawa Rahwana memakai puspakh, sejenis wahana terbang. Sempati menunjukkan arah Alengka. Sempati sebagai keturunan garuda yang sakti, bisa melihat dari jarak jauh. Silahkan meneruskan perjalanan. Mereka berterima kasih dan melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Kepasrahan dalam menghadapi kematian telah mengubah Hanuman, Anggada dan Jambawan. Mereka sudah lahir kembali, mereka menjadi manusia yang lain.</p>
<p>Dalam perjalanan, Jambawan meyakinkankan bahwa Hanuman adalah kera yang sakti, sewaktu kecil bisa terbang menuju matahari. Sri Rama memilih Hanuman sebagai komandan pasti mempunyai alasan. Hanuman timbul keyakinannya, melompat dan tiba-tiba terbang ke angkasa, dan semua teman-temannya bertepuk sorak.</p>
<p>Keyakinan seseorang membebaskan dia dari belenggu ketidakmampuan. Gusti Yesus berkata kepada orang buta yang sembuh setelah memegang jubahnya, “Kamu sembuh bukan karena saya, “keyakinan”-mu lah yang telah membantu menyembuhkan matamu.”</p>
<p>Dalam diri Sempati ada benih kekesatriaan burung Garuda. Jatayu sudah meninggal dalam menunjukkan bhaktinya kepada Sri Rama. Bahkan Jatayu tidak mau mati dan menunggu kedatangan Sri Rama. Sebelum akhir hayatnya, Jatayu hanya berpikir untuk bertemu Sri Rama. “Aku pun sudah tua seperti Jatayu, sudah waktunya meninggalkan dunia. “ Dan dengan segenap pikirannya tertuju pada Sri Rama, samar-samar dia melihat Resi Rawatmaja dan Jatayu menjemputnya, mari Saudaraku bersama kita menghadap Gusti&#8230;&#8230;”</p>
<p><em>Banyak diantara kita hanya “mengaku” tidak takut. Di balik pengakuan kita, tersembunyi “rasa takut” yang amat sangat mencekam. Kenapa kita takut mati? Apa yang membuat kita takut? Kita takut karena mengganggap kematian sebagai titik akhir. Kita takut karena kita pikir kematian akan merampas segala-galanya dari kita-bahkan “kekitaan” itu sendiri. Dan kalau anda merenungkan sejenak, rasa takut pun muncul karena “ego”. Seolah-olah kalau anda mati, dunia ini akan kekurangan sesuatu. Kita takut mati karena tidak memahami kematian itu apa.</em><strong><sup> *7 ABC Kahlil Gibran</sup></strong> </p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Proses Daur Ulang</span></strong></p>
<p><em>Pada dasarnya manusia memiliki dua pandangan tentang kehidupan: Yang satu menganggap kehidupan sebagai garis yang datar. Yang lain menganggap kehidupan sebagai lingkaran: kita harus berakhir pada titik permulaan, untuk membuat lingkaran yang sempurna. Pihak pertama ini bermasalah, yang merasa harus mengejar waktu, karena ia mulai dari satu titik dan harus berakhir pada titik yang lain. Selain itu, karena ujung pangkalnya pun tidak terlihat, ia gelisah. Ia selalu terburu-buru; ia tidak pernah hidup tenang.  </em></p>
<p><em>Pihak kedua melihat kehidupan sebagai lingkaran: kematian bukanlah penghabisan, namun hanya proses daur ulang. Secara ilmiah pun kita mengetahui bahwa dalam dunia ini tidak ada sesuatu yang musnah. Bentuknya dan nama berubah, namun tak pernah musnah. Air bisa berbentuk es atau uap. Uap itu menyatu dengan alam, menjadi awan dan kembali lagi dalam bentuk air. Begitu pula jiwa manusia: lahir, mati dan lahir kembali dan mati lagi. Kehidupan tidak pernah musnah.</em></p>
<p><em>Proses daur ulang kehidupan ini berjalan terus, sampai pada suatu titik di mana jiwa mencapai kesempurnaan, mencapai kekosongan yang absolut  dan menjadi bagian dari alam semesta. Dalam keadaan itu pun, jiwa sebenarnya tidak musnah</em>. <strong><sup>*2 Baghavad Gita</sup></strong> </p>
<p><em>Di Medan perang Kurukshetra, Arjuna bertanya kepada Krishna, Apabila aku mati sebelum memperoleh pencerahan, sebelum sadar sepenuhnya, lalu bagaimana ? Sepanjang hidup aku mengejar. Lantas belum sampai, keburu mati. Bukankah segala jerih payahku sia-sia? </em></p>
<p><em>Tidak Arjuna, usaha serta jerih payahmu tidak akan pernah sia-sia. Setelah mati,kau akan lahir kembali dalam keluarga saleh. Kau akan berada dalam lingkungan yang menunjang evolusi spiritualmu. Kehidupan sekarang merupakan kesinambungan dari masa lalu</em>.  <strong><sup>*8 Atisha</sup></strong></p>
<p>Terima Kasih Guru. Semoga kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara. Namaste.</p>
<p><strong><sup>*1 Kundalini Yoga</sup></strong>        Kundalini Yoga, dalam hidup sehari-hari, Anand Krishna, PT. Gramedia Pustaka</p>
<p>                             Utama, 1999.</p>
<p><strong><sup>*2 Bhagavad Gita</sup></strong>        Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, PT Gramedia Pustaka Utama  2002.</p>
<p><strong><sup>*3 Wedhatama                 </sup></strong>Wedhatama Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999.</p>
<p><strong><sup>*4 Narada Bhakti Sutra   </sup></strong>Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand</p>
<p>                                Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001.</p>
<p><strong><sup>*5 Bhaja Govindam         </sup></strong>Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.</p>
<p><strong><sup>*6 Reinkarnasi                  </sup></strong>Reinkarnasi Melampaui Kelahiran Dan Kematian, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1998.</p>
<p><strong><sup>*7 ABC Kahlil Gibran       </sup></strong>Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999.</p>
<p><strong><sup>*8 Atisha</sup></strong>                  Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif, Anand Krishna, PT Gramedia</p>
<p>                             Pustaka Utama, 2003.                                                              </p>
<p>Informasi buku silahkan menghubungi</p>
<p><a href="http://booksindonesia.com/id/">http://booksindonesia.com/id/</a></p>
<p>Situs artikel terkait</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>November 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Once the five fingers of a hand argued a ... ]]></title>
<link>http://saiyouthdl.wordpress.com/2009/11/23/once-the-five-fingers-of-a-hand-argued-a/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 04:32:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>SaiYouthIN</dc:creator>
<guid>http://saiyouthdl.wordpress.com/2009/11/23/once-the-five-fingers-of-a-hand-argued-a/</guid>
<description><![CDATA[Once the five fingers of a hand argued among themselves as to which finger was great. The middle fin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Once the five fingers of a hand argued among themselves as to which finger was great. The middle fin]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Birthday Address 23rd November...]]></title>
<link>http://lovein.wordpress.com/2009/11/23/birthday-address/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 04:25:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>SaiYouthIN</dc:creator>
<guid>http://lovein.wordpress.com/2009/11/23/birthday-address/</guid>
<description><![CDATA[LEAD  A  HAPPY  LIFE  WITH  A  FEELING  OF  CAMARADERIE  AND  FRATERNITY All names and forms are but]]></description>
<content:encoded><![CDATA[LEAD  A  HAPPY  LIFE  WITH  A  FEELING  OF  CAMARADERIE  AND  FRATERNITY All names and forms are but]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[When Ram and Lakshman appeared identical]]></title>
<link>http://tahaz.wordpress.com/2009/11/23/when-ram-and-lakshman-appeared-identical/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 00:11:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Taha</dc:creator>
<guid>http://tahaz.wordpress.com/2009/11/23/when-ram-and-lakshman-appeared-identical/</guid>
<description><![CDATA[bhuuSayantau imam desham candra suuryau iva a.mbaram | paraspareNa sadR^ishau pramaaNa ingita ceSTit]]></description>
<content:encoded><![CDATA[bhuuSayantau imam desham candra suuryau iva a.mbaram | paraspareNa sadR^ishau pramaaNa ingita ceSTit]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Il Re e la Benevolenza]]></title>
<link>http://benvenutiinparadiso.wordpress.com/2009/11/22/il-re-e-la-benevolenza/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 15:57:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>silvanasono</dc:creator>
<guid>http://benvenutiinparadiso.wordpress.com/2009/11/22/il-re-e-la-benevolenza/</guid>
<description><![CDATA[Re Rama abbraccia Shri Hanuman Una delle qualità più importanti che dovrebbe avere un re è la benevo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_1589" class="wp-caption alignleft" style="width: 217px"><a href="http://benvenutiinparadiso.wordpress.com/files/2009/11/ramahugginghanuman.jpg"><img class="size-medium wp-image-1589 " title="Re Rama abbraccia Shri Hanuman" src="http://benvenutiinparadiso.wordpress.com/files/2009/11/ramahugginghanuman.jpg?w=207" alt="Shri Rama abbraccia Shri Hanuman" width="207" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Re Rama abbraccia Shri Hanuman</p></div>
<p style="text-align:justify;">Una delle qualità più importanti che dovrebbe avere un re è la benevolenza.<br />
La benevolenza è una forma evoluta della saggezza che si esprime attraverso il nostro amore. La benevolenza è la capacità di mettere chiunque a proprio agio indipendentemente dall&#8217;estrazione sociale e dal proprio grado; è quindi anche espressione di umiltà. E&#8217; la capacità di prendere decisioni per il bene di tutti, prima che per il proprio interesse.</p>
<p style="text-align:justify;">Ciò che frena questa qualità dal manifestarsi sono, quindi, la mancanza di responsabilità e all&#8217;estremo opposto il &#8220;senso del dovere&#8221; e il &#8220;senso di responsabilità&#8221; (più chiaramente, &#8220;il sentirsi responsabili&#8221;, come se tutto il mondo fosse sulle nostre spalle).<br />
<!--more-->In questo modo, da una parte tendiamo a diventare negligenti e indulgenti e del tutto ignoriamo le esigenze degli altri e spesso pure quelle di noi stessi. Mentre dall&#8217;altra, tendiamo a diventare duri ed esigenti nei confronti degli altri ed anche di noi stessi; siamo continuamente in uno stato di tensione e ci sentiamo molto legati a ciò che &#8220;dobbiamo essere&#8221; o ciò che &#8220;dobbiamo fare&#8221; e lo pretendiamo anche dagli altri. In questo modo si perde la flessibilità e la capacità di vedere nel cuore della gente.<br />
Al contrario, la benevolenza diffonde dentro di noi come un sentimento leggero e morbido, ogni spigolatura si assottiglia dentro e fuori di noi e ci spinge solo a &#8220;ben volere&#8221;, come suggerisce la parola stessa.</p>
<p style="text-align:justify;">Vediamo che a livello del nostro sistema sottile, questa qualità risiede proprio a livello del cuore (Anahat chakra), nella parte destra. Mentre il Sè, ovvero l&#8217;amore potenziale si trova nella parte sinistra e ci dà la capacità di gioire di noi stessi, l&#8217;amore &#8220;attivo&#8221; o &#8220;manifesto&#8221; si trova nella parte destra e ci dà la capacità di offrire questo amore agli altri.</p>
<p style="text-align:justify;">Una particolare incarnazione Divina si è manifestata migliaia di anni fa nella forma di re perfetto ed è Shri Rama: Egli aveva tutte le qualità del perfetto re ed era capace di qualunque sacrificio per il benvolere del suo popolo. Sulla Sua epica vita è stata scritta un opera: il Ramayana.</p>
<div style="border:1px solid #548ada;"><strong>Ti è piaciuto l&#8217;articolo? <a title="Clicca su Ok per votarmi!" href="http://oknotizie.virgilio.it/info/20641ae8727852b0/il_re_e_la_benevolenza.html" target="_blank">Vota Ok oppure No.</a> </strong><strong>Grazie!</strong></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shri YogaVashihtha Maharamayan]]></title>
<link>http://shivhari.wordpress.com/2009/11/21/shri-yogavashihtha-maharamayan/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 19:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>shivam</dc:creator>
<guid>http://shivhari.wordpress.com/2009/11/21/shri-yogavashihtha-maharamayan/</guid>
<description><![CDATA[Shri YogaVashihtha Maharamayan-1 View this document on Scribd Shri YogaVashihtha Maharamayan-2 View ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#333399;"><strong>Shri YogaVashihtha Maharamayan-1</strong><br />
</span><object id="7331112" name="7331112" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" align="middle" height="500" width="100%">
<param name="movie" value="http://documents.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=7331112&access_key=key-23sjxu609spskvsvd7zt&page=&version=1&auto_size=true&viewMode="><param name="quality" value="high"><param name="play" value="true"><param name="loop" value="true"><param name="scale" value="showall"><param name="wmode" value="opaque"><param name="devicefont" value="false"><param name="bgcolor" value="#ffffff"><param name="menu" value="true"><param name="allowFullScreen" value="true"><param name="allowScriptAccess" value="always"><param name="salign" value="">
<embed src="http://documents.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=7331112&access_key=key-23sjxu609spskvsvd7zt&page=&version=1&auto_size=true&viewMode=" name="7331112_object" quality="high" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true" scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff" menu="true" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash" align="middle"  height="500" width="100%"></embed>
</object>
<div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%"><a href="http://www.scribd.com/doc/7331112">View this document on Scribd</a></div></p>
<p><span style="color:#333399;"><strong>Shri YogaVashihtha Maharamayan-2</strong><br />
</span><object id="7798805" name="7798805" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" align="middle" height="500" width="100%">
<param name="movie" value="http://documents.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=7798805&access_key=key-2jjcqkk8sz2lhjn6f159&page=&version=1&auto_size=true&viewMode="><param name="quality" value="high"><param name="play" value="true"><param name="loop" value="true"><param name="scale" value="showall"><param name="wmode" value="opaque"><param name="devicefont" value="false"><param name="bgcolor" value="#ffffff"><param name="menu" value="true"><param name="allowFullScreen" value="true"><param name="allowScriptAccess" value="always"><param name="salign" value="">
<embed src="http://documents.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=7798805&access_key=key-2jjcqkk8sz2lhjn6f159&page=&version=1&auto_size=true&viewMode=" name="7798805_object" quality="high" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true" scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff" menu="true" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash" align="middle"  height="500" width="100%"></embed>
</object>
<div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%"><a href="http://www.scribd.com/doc/7798805">View this document on Scribd</a></div></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[कपटधार्मिकः बकः - Pseudo-righteous Heron]]></title>
<link>http://samskritwisdom.wordpress.com/2009/11/20/%e0%a4%95%e0%a4%aa%e0%a4%9f%e0%a4%a7%e0%a4%be%e0%a4%b0%e0%a5%8d%e0%a4%ae%e0%a4%bf%e0%a4%95%e0%a4%83-%e0%a4%ac%e0%a4%95%e0%a4%83-pseudo-righteous-heron/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 12:49:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>bharateeya</dc:creator>
<guid>http://samskritwisdom.wordpress.com/2009/11/20/%e0%a4%95%e0%a4%aa%e0%a4%9f%e0%a4%a7%e0%a4%be%e0%a4%b0%e0%a5%8d%e0%a4%ae%e0%a4%bf%e0%a4%95%e0%a4%83-%e0%a4%ac%e0%a4%95%e0%a4%83-pseudo-righteous-heron/</guid>
<description><![CDATA[एषा कथा वाल्मीकेः रामायणे अस्ति वा न वा इति नाहं जानामि। तथापि एषा कथा नितरां रुचिरास्ति इत्यतः एतस्]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-size:15px;">एषा कथा वाल्मीकेः रामायणे अस्ति वा न वा इति नाहं जानामि। तथापि एषा कथा नितरां रुचिरास्ति इत्यतः एतस्याः कथनं अत्र युक्तमिति मन्ये।</span></p>
<p><span style="font-size:15px;">एकदा श्रीरामलक्षणौ पम्पानद्यां स्नानार्थं गतवन्तौ। तत्र तौ शनैः शानैः चलन्तं एकं जरठं बकं अपश्यताम्। एनं दृष्ट्वा श्रीरामः लक्ष्मणं एवं अब्रवीत् -</span> </p>
<p><span style="font-size:15px;"><strong>&#8220;पश्य लक्ष्मण पम्पायां बकोयं परमधार्मिकः।<br />
शनैः शनैः पदं धत्ते जीवानां वधशंकया॥&#8221;</strong></span></p>
<p><span style="font-size:15px;">एतद् निशम्य तत्रस्थः कश्चित् मण्डूकः श्रीरामं एवं न्यवेदयत्।</span></p>
<p><span style="font-size:15px;"><strong>सहवासी विजानाति सहवासी विचेष्टितम्।<br />
बकोऽयं वर्ण्यते राय तेनाहं निष्कुलीकृतः॥</strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Mind is the Performer of Action-Part 1]]></title>
<link>http://bhaktibliss.wordpress.com/2009/11/20/the-mind-is-the-performer-of-action/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 04:55:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>bhaktibliss</dc:creator>
<guid>http://bhaktibliss.wordpress.com/2009/11/20/the-mind-is-the-performer-of-action/</guid>
<description><![CDATA[(Synopsis of a lecture given by Jagadguru Shri Kripalu Ji Maharaj on November 17, 2009, in Bhatinda,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>(Synopsis of a lecture given by Jagadguru Shri Kripalu Ji Maharaj on November 17, 2009, in Bhatinda, India)</p>
<p>In India and in the world, a lot of religious activity and fervor are seen nowadays. There are so many temples, mosques, gurudwaras, and every other kind of place of worship, and although people go to these every day, and practice devotion according to their religion, still we find that sinful tendencies are increasing everywhere. </p>
<p>So much has changed in the last 100 years &#8211; what will happen in the future? So much spiritual practice wasn&#8217;t seen in the past as is seen nowadays. When so many things are being done in the name of religion, why are there so many wrong things happening in the world? </p>
<p>This question is asked by those who don&#8217;t believe in any religion and their question is correct. Why do people follow a religion when so many contrary results are seen everywhere?  You may say that you are doing this to receive a benefit after your death. But you will receive after death only what you received when you were still alive. Nothing is added or subtracted from this. </p>
<p>For example, whatever a student writes in an exam book during a test is what he will be graded on. No test scorer will pull a good grade out of his pocket for a student just like that. If in the present our ideas and character are not good, then what miracle will occur after our death? God will only give us the consequence that corresponds to our present actions.</p>
<p>The answer to this question is straightforward. The ones who are our religious guides or spiritual teachers nowadays are wrong. What today&#8217;s gurus have taught us about dharma and action is wrong. What is the very first teaching of dharma?  Pay special attention to this point. There is something wrong in this very first teaching. What is it? We have been wrongly taught who is the performer of action.  </p>
<p>Our gurus made a mistake by not telling us at the very beginning who is the performer of action. There are only two kinds of devotion &#8211; devotion to God or devotion to the world. Apart from the individual souls, there are only two entities, God and Maya (the world). There is no third entity whose devotion we could do. The one who practices devotion to God is called a believer (dharmatma).  The one who worships the world is called an atheist (nastik).</p>
<p><a href="http://bhaktibliss.wordpress.com/files/2009/11/mind.jpg"><img src="http://bhaktibliss.wordpress.com/files/2009/11/mind.jpg" alt="" title="performer of action" width="188" height="233" class="alignright size-full wp-image-1174" /></a>So the practioner of dharma and the performer of action is the mind. Remember this always. This is where we are making a mistake. Action doesn&#8217;t refer to your senses. God does not regard the activity of our senses as &#8216;action&#8217;. </p>
<p>In the battle of the Mahabharat, Arjuna killed millions, but these actions were not noted by Lord Krishna. Hanuman Ji killed millions in Lanka, but none of these action were noted by Lord Ram. Even our worldly government won&#8217;t charge a person with a crime if he is not at fault for what happened. If a driver accidentally hit and killed a person who unexpectedly threw himself in front of his car, the court wouldn&#8217;t give the driver a fine of even ten rupees. It wasn&#8217;t the driver&#8217;s fault. He wasn&#8217;t judged according to his physical actions, rather on his mental intention. It was just an accident.</p>
<p>A riot is happening in a city. The magistrate orders the police to open fire. They open fire and one hundred people die. The court asks, &#8220;Who fired the bullets?&#8221; The police answer, &#8220;We did.&#8221; The court says, &#8220;You will get the death sentence.&#8221; The police respond, &#8220;No, we won&#8217;t. Go to the magistrate and ask him why he gave us this order.&#8221; The court goes to the magistrate and asks him. He says, &#8220;Your honor, if I had not given this order, then instead of one hundred dying, thousands would have died.&#8221; He is not convicted of any crime.</p>
<p>You all play jokes on each other on April Fools Day. If someone decided to take you to court for some foolishness you did, if you say, &#8220;But your honor, it was April Fools Day,&#8221; the judge will say, &#8220;Oh, I see. Case dismissed!&#8221; No charge would be filed because there was no mental motivation to commit a crime.</p>
<p>Action refers to your mental motivation, your intention. Because of this, it is the mind that is the cause of your liberation from Maya or your bondage in Maya. </p>
<p><strong>(Continued in Part 2)</strong></p>
<p>© Jagadguru Kripalu Parishat and Bhakti Bliss, 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Significance of Diwali]]></title>
<link>http://iv5k.wordpress.com/2009/11/19/the-significance-of-diwali/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 08:32:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>wizinc</dc:creator>
<guid>http://iv5k.wordpress.com/2009/11/19/the-significance-of-diwali/</guid>
<description><![CDATA[A young second generation Indian in the US was asked by his mother to explain the significance of ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="color:rgb(0,0,0);font-family:arial;"><span style="font-weight:bold;font-size:130%;"><span>A young second </span></span><span style="font-weight:bold;font-size:130%;"><span>generation Indian in the US was asked by his mother to   explain the significance of &#8220;Diwali&#8221; to his younger brother, this is how he went about it&#8230;</span></span><span style="font-size:130%;"> </span></p>
<p style="font-family:arial;"><span style="font-size:130%;"><span>&#8220;</span></span><span style="font-size:100%;">So, like this dude had, like, a big cool kingdom and people liked him. But, like, his step-mom, or something, was kind of a bitch, and she forced her husband to, like, send this cool-dude, he was Ram, to some national forest or something&#8230; since he was going, for like, something like more than 10 years or so. </span></p>
<p style="font-family:arial;"><span style="font-size:100%;">He decided to get his wife and his bro. along&#8230;you know&#8230;so that they could all chill out together. But DUDE, the forest was reeeeal scary shit&#8230;really man&#8230;they had monkeys and devils and shit like that. But this dude, Ram, kicked ass with darts and bows and arrows&#8230; so it was Fine. But then some bad gangsta boys, some jerk called Ravan, picks up his babe (Sita) and lures her away to his hood. And boy, was our man, and also his bro., Lakshman, pissed&#8230; And you DON&#8217;t piss this son-of-a-gun cuz, he just kicks ass and like&#8230; all the gods were with him. So anyways, you don&#8217;t mess with gods. </span></p>
<p style="font-family:arial;"><span style="font-size:100%;"><br />SO, Ram, and his bro. get an army of monkeys&#8230; Dude, don&#8217;t ask me how they trained the damn monkeys&#8230; just go along with me, ok&#8230; so, Ram, Laksh. And their monkeys whip this gangsta&#8217;s ass in his ownhood. Anyways, by this time, their time&#8217;s up in the forest&#8230;And anyways&#8230;it gets kinda boring, you know&#8230; no TV or malls or shit like that. So, they decided to hitch a ride back home&#8230;and when the people realize that our dude, his bro. </span></p>
<p style="color:rgb(0,0,0);font-family:arial;"><span style="font-size:100%;">And the wife are back home&#8230; they thought, well, you know, at least they deserve something nice&#8230; and they didn&#8217;t have any bars or clubs in those days&#8230;so they couldn&#8217;t take them out for a drink, so they, like, decided to smoke and shit&#8230;and since they also had some lamps, they lit the lamps also&#8230; so it was pretty cooool&#8230;you know with all those fireworks&#8230;Really, they even had some local band play along with the fireworks..And you know, what, dude, that was the very first, no kidding..,that was the very first music-synchronised fireworks&#8230; you know, like the 4th of July stuff, but just, more cooler and stuff, you know. And, so dude, THAT was how, like, this festival started.</span><span style="font-size:130%;"><span>&#8220;</span></span><span style="font-size:130%;"> </span></p>
<p>   <span style="color:rgb(0,0,0);font-family:arial;font-size:100%;"><span><span style="font-size:130%;"><span style="font-weight:bold;">The mother fainted.</span></p>
<p></span><span style="font-size:130%;">ROFLMAO <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  I&#8217;m trying to trace the origin of this fantastic email fwd to no avail .. Anyone with info, please leave a comment ..</span><br /></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kelahiran Rahwana Dan Sekelumit Tentang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/19/kelahiran-rahwana-dan-sekelumit-tentang-sastra-jendra-hayuningrat-pangruwating-diyu/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 21:04:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/19/kelahiran-rahwana-dan-sekelumit-tentang-sastra-jendra-hayuningrat-pangruwating-diyu/</guid>
<description><![CDATA[Energi dalam tubuh manusia berpusat disekitar pusar. Pembangkitnya berada di situ. Lalu, biasanya ad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Energi dalam tubuh manusia berpusat disekitar pusar. Pembangkitnya berada di situ. Lalu, biasanya ada dua kemungkinan. Mengalir ke bawah, atau mengalir ke atas. Jika mengalir ke bawah, instink-instink hewani dalam diri manusia akan terstimuli. Instink-instink hewani yang kita warisi berkat evolusi panjang itu akan bangkit kembali dan mencari mangsanya. Kemudian, demi kenyamanan diri, kita bisa mencelakakan apa saja. Sebaliknya, jika mengalir ke atas, energi itu akan membuat anda menjadi lebih kreatif dan konstruktif. Anda akan menjadi unik, orisinil dan karena itu anda akan menjadi berkah bagi lingkungan sekitar anda</em>. <strong><sup>*1 Medis dan Meditasi</sup></strong><em></em></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Latar belakang keluarga para pelaku dalam Ramayana</span></strong></p>
<p>Prabu Dasarata penuh hasrat mendapatkan seorang putra, sehingga mengawini tiga orang wanita yang ternyata tiga-tiganya belum dapat memberikan putra juga. Akhirnya dengan suatu upacara ritual ketiga istrinya melahirkan empat putra. Keempat putranya saling mengasihi.</p>
<p>Kemudian karena sang prabu kalah janji dengan istri ketiga, maka putra terkasihnya Sri Rama harus meninggalkan istana yang menyebabkan kesedihan sang prabu yang membawanya keujung kematian.</p>
<p>Resi Gotama bertapa seratus tahun dengan harapan mendapatkan anugerah isteri seorang bidadari. Dewi Windradi adalah seorang bidadari yang bersedia menjadi istrinya, akan tetapi dia memiliki cupu manik Astagina yang pada setiap saat konon dapat berhubungan dengan Bathara Surya lewat cupu tersebut.</p>
<p>Pasangan suami istri tersebut melahirkan tiga anak, Guwarsa yang akhirnya menjadi Subali, Guwarsi yang menjadi Sugriwa dan Retno Anjani yang melahirkan Hanuman.  Dua bersaudara Subali dan Sugriwa berseteru hingga akhirnya Subali mati dipanah Sri Rama. Sedangkan Hanuman melakukan <em>“total surender”</em> pada Sri Rama, sang avatara.</p>
<p>Dewi Sukesi, putri raja Alengka Prabu Sumali, seorang wanita yang sangat percaya diri dan bersemangat. Sang putri menerima saran sang ayahanda bahwa pemilihan pasangan hidup melalui pertarungan antar ksatria tidak perlu diperpanjang lagi. Dewi Sukesi kemudian memilih pasangan hidup siapa pun yang dapat menjabarkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.<!--more--></p>
<p>Resi Wisrawa adalah seorang raja yang meninggalkan kenyamanan istana demi peningkatan kesadaran. Akan tetapi sang resi masih punya keterikatan dengan sang putra yang menggantikannya sebagai raja Lokapala. Sang putra mabuk kepayang ingin mempersunting Dewi Sukesi, akan tetapi ketakutan karena semua ksatria yang datang meminang sang putri dibunuh oleh Patih Harya Jambumangli adik Prabu Sumali yang diam-diam jatuh cinta kepada sang keponakan.</p>
<p>Resi Wisrawa berangkat ke Alengka  untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Akan tetapi sewaktu menguraikan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu kepada Dewi Sukesi, mereka berdua terlena dan melakukan hubungan suami istri. Dari mereka lahirlah Rahwana, Sarpakenaka, Kumbakarna dan Wibisana. Sarpakenaka yang hiperseks sakit hati dengan Dewi Sinta dan minta sang kakak menculiknya. Kumbakarna tidak menyetujui keserakahan Rahwana memilih makan dan tidur serta tidak mau melihat kesewenang-wenangan kakaknya. Wibisana tidak cocok dengan tindakan kakaknya dan ketika kakaknya menculik istri Sri Rama, ksatria avatara idolanya, maka dia menyeberang ke pihak Sri Rama.</p>
<p>Kisah Ramayana yang berkembang di Nusantara, penuh dengan berbagai karakter pelaku, dengan berbagai hubungan kekerabatan yang bagaimana pun sampai saat ini masih relevan untuk dipetik hikmahnya. Berbagai karakter dan persoalan rumah tangga tersebut terasa dekat dengan DNA bangsa Indonesia. <em>“Setting”</em> panggung dan zaman sudah berubah, akan tetapi karakter para pelaku dan pelbagai permasalahan kekerabatan pada hakikatnya tidak jauh berbeda. Bahkan sampai saat ini masih banyak orang tua yang menamakan anaknya, Rama, Bharata, Laksmana, Sinta, Sita dan lainnya.</p>
<p>Walaupun Epos Ramayana berawal dari India, tetapi begitu sampai Nusantara, nuansanya disesuaikan. Bahkan di India tidak ada satu pun candi dengan relief  batu tentang Ramayana. Hal tersebut menunjukkan betapa tingginya peradaban kita saat itu. Akan tetapi, pada saat ini justru beberapa produk budaya kita, yang secara jujur pernah “kurang mendapat perhatian”, telah dirawat oleh bangsa lain. Semoga putra-putri Indonesia menyadari jati diri budaya bangsa, melestarikannya dan bangkit dari keterpurukannya.</p>
<p><em>Saatnya kita kembali kepada ajaran leluhur, kepada budaya asal Nusantara, kepada kearifan lokal, kebijakan nenek moyang. Saatnya kita menghormati dan menghargai alam, lingkungan. Hubungan dengan alam dan sesama makhluk hidup &#8211; bukanlah hubungan horizontal sebagaimana dicekokkan kepada kita selama bertahun-tahun. Pun hubungan kita dengan Tuhan bukanlah vertikal. Tuhan tidak berada di atas sana, di lapisan langit kesekian. Pemahaman vertikal-horizontal seperti ini telah memisahkan kita dari alam. Tuhan berada dimana-mana, Ia meliputi segalanya, sekaligus bersemayam di dalam diri setiap makhluk inilah inti ajaran leluhur kita. Inilah kearifan lokal kita. Dan, hanyalah pemahaman seperti ini yang dapat menyelamatkan kita dari kemusnahan dan kehancuran</em>. <strong><sup>*2 Panca Aksara</sup></strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Latar belakang Resi Wisrawa dan Dewi Suksesi</span></strong></p>
<p>Prabu Sumali, Raja Alengka sadar bahwa sayembara memperebutkan Dewi Sukesi, sang putri dengan cara perang tanding antar ksatriya telah menimbulkan pertumpahan darah yang tidak seharusnya terjadi. Telah banyak ksatria mati di tangan Harya Jambumangli adik, sekaligus patih kerajaan Alengka. Akan tetapi permintaan sang putri untuk bersedia menjadi isteri dari orang yang sanggup mengupas Sastrajendra Pangruwating Diyu membuatnya sangat gundah. Bagaimana pun sang putri adalah seorang gadis yang tegas dan dia terlanjur memanjakan dan menuruti apa pun kemauan sang putri. Dewi Sukesi memang berbeda dari Dewi Sinta yang pasrah kepada ayahandanya, Sang Prabu Janaka yang bijaksana untuk mencarikan jodoh baginya.</p>
<p>Resi Wisrawa sedang mengupas ilmu Sastrajendra Pangruwating Diyu di taman keputren bersama Dewi Sukesi. <em>‘Sastrajendra’</em>, Tulisan Agung tersebut tak jauh dari pemahaman tentang manusia itu sendiri, tentang <em>‘gumelaring jagad’</em>, asal-usul jagad, <em>‘sejatining urip’</em>, makna hidup, <em>‘sejatining panembah’, </em>pengabdian kepada Gusti dan <em>‘sampurnaning pati’,</em> kesempurnaan kematian.</p>
<p>Konon Guru adalah seseorang yang mendapatkan pengetahuan langsung dari Keberadaan. Sedangkan murid sejati adalah seseorang yang berkeinginan tunggal atau <em>“murad”</em> untuk mengalami penyatuan dengan Keberadaan, manunggal dengan Gusti. Yoga juga berarti penyatuan dengan Ilahi. Sang murid telah paham bahwa dunia ini hanya ilusi, permainan pikiran, sehingga Keberadaan menghendaki dia bertemu dengan Guru untuk membimbingnya dalam menjalani kehidupan spiritualnya. Sang Guru dan sang murid hanya melaksanakan ridho Sang Keberadaan. Mungkin contoh yang baik hubungan antara Guru dan murid adalah hubungan antara Sri Rama dengan Hanuman. Hanuman pasrah total kepada Sri Rama yang merupakan wujud keilahian. Lain Hanuman lain kita, kepasrahan kita hanya di bibir saja.</p>
<p><em>Ucapan-ucapan seperti, “Aku sudah pasrah. Aku sudah berserah diri sepenuhnya” hanya menunjukkan betapa naifnya kita. Di balik ucapan-ucapan kita seperti itu masih ada keinginan terselubung, untuk menonjolkan diri kita. Kepasrahan kita membutuhkan pengakuan orang lain. Ego kita masih tetap ada. Dan selama masih ada ego, tidak ada cinta, tidak akan ada kasih</em>. <strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong></p>
<p>Resi Wisrawa dalam mengupas Sastrajendra masih menuruti ego pribadi untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Dewi Sukesi dalam menerima pengetahuan juga masih mempunyai keterikatan terhadap ego pribadi untuk mencari suami. Mereka menuruti hasrat ego-nya, bukan ridho Sang Keberadaan, belum mencerminkan hubungan antara Guru dan murid.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Terpelesetnya Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi dalam pengupasan Sastrajendra</span></strong></p>
<p>Beberapa penjelasan Resi Wisrawa, “Pada waktu kita sudah lepas dari keterikatan, kehilangan rasa memiliki, termasuk memiliki diri sendiri, kita masuk dalam “kematian”. Di balik “kematian” itulah justru ada “kehidupan” sejati. Kehidupan yang tidak berawal dan tidak berakhir, yang bebas dari belenggu keterikatan.”</p>
<p><em>Mereka yang jiwanya telah mati sibuk mencari kehidupan. Mereka yang jiwanya hidup mengejar kematian. Suatu paradoks tetapi Begitulah adanya. Apabila anda tidak merasa hidup, Anda akan selalu mengejar kehidupan. Apabila Anda tidak merasa sehat, Anda akan mengejar kesehatan. Apa pun yang Anda rasakan tidak “ada” dalam diri Anda, akan Anda kejar. Anda akan membanting tulang untuk memperolehnya. Sebaliknya, mereka yang merasakan dirinya hidup, mereka yang telah mengenal kehidupan dari dekat, mereka yang telah puas menjalani kehidupan tidak akan mengejar kehidupan lagi. Mereka yang sehat tidak mengejar kesehatan</em>. <strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong></p>
<p>“Kita berada dalam keindahan cinta. Alam semesta ini adalah perwujudan cinta Sang Keberadaan. Manusia, hewan, tanaman tak mungkin ada tanpa cinta. Cinta dan keindahan terdapat dalam naluri, integensia setiap manusia.”</p>
<p>“Ibarat sungai diam yang mengalirkan air yang selalu baru. Bukan jatidiri yang berjalan, tetapi waktulah yang berjalan. Cinta melampaui waktu. Tubuh fisik boleh berubah sesuai usia, akan tetapi cinta itu sendiri abadi. Masa lalu tidak ada, masa depan belum tiba dan yang ada hanya saat ini dan hal ini perlu dirayakan.”</p>
<p>“Dalam cinta itu ada kerinduan, bukan kerinduan terhadap hal-hal duniawi yang bersifat sementara, tetapi kerinduan kepada hal yang tidak dimengerti. Kebahagian dalam kerinduan tersebut bukan karena kepemilikan, tetapi karena ridho Sang Keberadaan. Pasrah total terhadap Keberadaan.”</p>
<p><em>Cinta tidak bertujuan, tak akan pernah bertujuan. Mereka yang belum kenal cinta selalu bingung. Mereka tidak dapat membayangkan suatu “tindakan” tanpa tujuan. Cinta yang ada pamrihnya, yang bersyarat, bukan cinta lagi. Lakukan introspeksi diri selama ini apakah Anda mencintai Allah? Jangankan pengorbanan dalam cinta, selama ini mungkin cinta pun belum pernah menyentuh jiwa kita, ruh kita, batin kita. Dan apabila kita belum mencicipi manisnya Kasih Allah, manisnya Cinta Tuhan, selama itu pula kita akan selalu berkiblat pada dunia benda pada segala sesuatu yang fana, yang semu. Berkorban dalam Cinta Allah berarti menolak segala sesuatu yang fana. Dengan Cinta, dan hanya Cinta saja yang dapat menyingkirkan bayangan gelap dari yang bukan Allah itu. Dengan Cinta dan Cinta saja, jiwa manusia dapat memenangkan kembali sumber kesucian itu dan menemukan tujuan utama yaitu penyatuan kembali dengan kebenaran</em>. <strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong><em></em></p>
<p><em>Cinta, kasih adalah pengalaman tertinggi, terakhir, yang dapat dialami oleh manusia. Setelah itu, apa lagi, what next? Saya tidak tahu. Dalam cinta yang tak terbatas itu, Mansur dan Rabiah menghilang. Dalam kasih yang tak terhingga itu, Isa dan Buddha lenyap tanpa bekas. Mereka tidak kembali untuk menjelaskan apa yang terjadi. Mereka menyatu dengan cinta, dengan kasih itu sendiri. Apabila Anda mengalami cinta, mengalami kasih, sebenarnya Anda juga sedang mengalami Isa dan Buddha, Mahavir dan Muhammad, Zarathustra dan Nanak. Cinta adalah jalan, sekaligus tujuan. Kasih adalah penuntun yang mengantar kita ke tujuan akhir kita. Dan tujuan akhir itu adalah kasih pula, cinta juga</em>. <strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong><em></em></p>
<p>“Sifat keraksasaan dalam diri harus diruwat, dikembalikan ke keadaan asalnya. Dan untuk mensucikan jiwa, kita harus menggunakan raga. Anakku Sukesi, mari kita kembali ke bumi untuk menyelesaikan tugas kita mengendalikan keraksasaan, mengendalikan “Diyu” dalam diri!” Dewi Sukesi merasa belum terpuaskan keingintahuannya dan belum mau menyudahi penguraian tentang Satrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.</p>
<p>Begitu larutnya mereka dalam penjabaran Sastrajendra, sampai mereka lupa bahwa “Diyu”, sang raksasa dalam diri mereka yang lama terpendam bangkit dan menutup kesadaran mereka. Keduanya bahkan gagal memaknai Sastrajendra, Sang Tulisan Agung. Mereka melakukan hubungan suami istri. Mereka tidak dinikahkan oleh orang tua atau dinikahkan oleh pelaksana ritual pernikahan, tetapi mereka dinikahkan oleh syahwat mereka.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kelahiran putra-putri Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi</span></strong></p>
<p>Mind seseorang berwujud energi, dan energi tidak bisa mati, yang mati hanyalah raganya. Mind yang tak berbadan tersebut akan mencari raga baru untuk melanjutkan obsesi dan menerima akibat dari tindakan yang pernah dibuatnya sesuai aturan alam, hukum sebab-akibat.</p>
<p><em>Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind (MEBESM) yang tidak ikut mati membentuk synap-synap asli dalam otak bayi yang baru lahir. Demikian, otak bayi mewarisi informasi, keinginan, dan obsesi yang tersimpan dalam MEBESM tersebut. Bahkan, MEBESM bisa memilih tempat dan situasi di mana tersedia stimulus-stimulus sesuai dengan yang dibutuhkannya. Dalam arti kata lain, “kita” memilih tempat lahir. Bahkan orang tua pun pilihan kita sendiri</em>. <strong><sup>*1 Medis dan Meditasi</sup></strong><em></em></p>
<p>Peristiwa terpelesetnya Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi mengakibatkan kelahiran putra-putrinya. Dikatakan terpeleset, mungkin juga kurang tepat. Mungkin sudah ada cetak biru Keberadaan untuk melahirkan pemimpin para raksasa yang mengumpulkan para raksasa untuk berperang secara frontal. Mungkin perang tersebut berguna untuk pengurangan populasi raksasa guna penyesuaian daya dukung bumi terhadap kehidupan para raksasa.</p>
<p>Apabila Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi tidak terpeleset, mungkin akan  ada skenario lain untuk pengurangan populasi raksasa tersebut. Bagi kita yang penting adalah bahwa kita dapat menarik hikmah dari kisah tersebut demi peningkatan kesadaran. Skenario yang lain tidak perlu diperdebatkan, karena hanya analisa mind belaka.</p>
<p>Yang jelas secara alami, setiap proses produksi selalu menghasilkan <em>“side product”</em> yang harus dibuang. Proses pencernaan juga menghasilkan sampah yang harus dibuang. Membuang <em>“side product” </em>sampah psikis dalam latihan meditasi disebut katarsis, <em>cleansing</em> agar diri tetap sehat. Bahkan dogma-dogma lama yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar pun harus di-<em>cleansing</em> agar manusia dapat menerima kemajuan dan hidup dalam kekinian. Pengurangan populasi raksasa atau hewan semacam dinosaurus pun diperlukan dan merupakan <em>cleansing</em> bagi bumi, demi kesehatan bumi. Dan selalu saja setelah <em>cleansing</em> atau katarsis ada rasa kelegaan yang dalam.</p>
<p>Yang jelas kita diminta mengamati sifat “Diyu”, sifat keraksasaan dalam diri, yang masih ada dalam DNA kita, hasil evolusi masa lalu yang sering tidak terkendalikan. Kita telah memilih lahir lagi demi peningkatan evolusi kita. Oleh karena itu jangan hanya berhenti menikmati suka atau duka atas suatu kejadian yang dialami. Di balik setiap kejadian tersirat hikmah atau tujuan atas kejadian tersebut.</p>
<p><em>Pasangan Anda, istri Anda, suami Anda, orang tua dan anak dan cucu Anda, atasan dan bawahan Anda, mereka semua adalah dosen-dosen pengajar. Mereka yang melacurkan diri demi kepingan emas dan mereka yang melacurkan jiwa demi ketenaran dan kedudukan, mereka semua adalah guru Anda. Anjing jalanan dan cacing-cacing di got, lembah yang dalam, bukit yang tinggi dan lautan yang luas, semuanya sedang mengajarkan sesuatu</em>. <strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong></p>
<p>Dewi Sukesi mengandung akibat buah cinta terlarangnya dengan Resi Wisrawa. Dan, kemudian dari rahimnya terlahir segumpal darah, bercampur sebuah wujud telinga dan kuku. Segumpal darah itu menjadi raksasa bernama Rahwana yang melambangkan nafsu angkara manusia. Sedangkan telinga menjadi raksasa sebesar gunung yang bernama Kumbakarna, yang meski pun berwujud raksasa tetapi hatinya bijak, ia melambangkan penyesalan ayah ibunya. Sedangkan kuku menjadi raksasa wanita yang bertindak semaunya bernama Sarpakenaka. Kelak Wisrawa dan Sukesi melahirkan seorang putera bernama Gunawan Wibisana. Anak terakhir ini berupa manusia sempurna yang baik dan bijaksana, karena terlahir dari cinta sejati, jauh dari hawa nafsu kedua orang tuannya.</p>
<p>Wibisana lahir normal, disusui sang ibu dengan penuh kasih dan menjadi lebih lembut. Kejadian di awal kelahiran mempunyai pengaruh besar terhadap seorang anak. Seorang anak yang lahir dari operasi cesar, dia lahir begitu mudah tanpa perjuangan, sehingga jangan sampai masa kanak-kanaknya dimanja, agar dia memiliki daya juang. Bayi yang lahir juga perlu diletakkan agak jauh dari buah dada ibunya, agar dia berjuang mendapatkan air susu pertama. Daya juang tersebut diperlukan dalam kehidupan selanjutnya.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Sifat-sifat Rahwana, Sarpakenaka, Kumbakarna dan Wibisana</span></strong></p>
<p><em>Menurut filsafat Yoga, seperti yang dijabarkan oleh Patanjali dan lainnya, ada tujuh lapis kesadaran, digambarkan sebagai chakra atau roda. Tiga chakra pertama adalah kebutuhan dasar, makan/minum, seks, dan tidur. Ini adalah kebutuhan yang dilakukan oleh hewan juga. Cakra keempat adalah cinta yang membedakan kita dari dunia hewan. Tentu saja, ini menjadi lapisan pertama kesadaran manusia. Lapisan ini berhubungan dengan bagian otak neo-cortex, sedangkan tiga lapisan pertama berhubungan dengan bagian otak yang mengatur anggota tubuh. Tiga lapisan terakhir adalah lapisan pemurnian, perluasan pandangan, dan pencerahan. Lapisan-lapisan ini membawa kita menuju Yang Maha Kuasa, menuju Keilahian. Jadi, menurut yoga, kita semua menuju ke arah yang sama, Tuhan</em>. <strong><sup>*4 Si Goblok</sup></strong><em></em></p>
<p>Dalam diri manusia, ada tujuh chakra, akan tetapi putra-putri Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi nampak lebih menonjol pada chakra-chakra tertentu.</p>
<p>Chakra ketiga, kenyamanan, apabila tak terkendalikan menyebabkan manusia mengikuti ahamkara, ego, ingin menang sendiri. Rahwana yang juga disebut Dasamuka bisa dimaknai mempunyai sepuluh kepala, sepuluh otak, sangat cerdas dan mempunyai keserakahan yang luar biasa. Rahwana merupakan perwujudan dari sifat rajas yang agresif dan dominasi unsur alami api yang beraura kemerahan.</p>
<p>Chakra kedua berkaitan dengan kreatifitas dan hubungan dengan seks. Sarpakenaka sangat kreatif, sehingga dapat mengubah wujud dirinya menjadi wanita cantik penggoda Sri Rama dan Laksmana. Seandainya saja Sarpakenaka bisa mentransformasikan energi seks menjadi energi yang kreatif, dirinya  akan sangat berguna bagi dunia. Sayangnya dia malah menjadi hiperseks, sudah mempunyai dua suami masih mempunyai PIL (Pria Idaman Lain) Kala Maricha, komandan prajurit andalan Rahwana. Sarpakenaka melambangkan sifat keagresifan dan dominasi unsur api yang beraura kuning.</p>
<p>Chakra pertama berkaitan dengan hal-hal mendasar, misalnya makan dan minum. Kumbakarna selain menuruti hasrat makan minum dan tidur, sebetulnya sudah muncul kesadaran tentang kebenaran. Dia tidak setuju dengan keserakahan Rahwana, tetapi dia tidak berani melawan dan malah melarikan diri dengan cara makan dan tidur. Kumbakarna didominasi unsur tanah beraura hitam yang tamas, malas.</p>
<p>Energi Wibisana, sudah tidak berupa cairan yang mengalir ke bawah perut, tetapi berwujud uap yang mengarah ke atas, mengaktifkan chakra keempat, bersifat satvik, tenang dengan aura putih, dengan dominasi unsur ruang. Wibisana sudah siap menjadi murid Sri Rama yang telah melampaui unsur-unsur alami.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Gigih dalam menegakkan dharma</span></strong></p>
<p>Kami kutip nasehat Bapak Anand Krishna dalam buku <strong><sup>*5 be the Change</sup></strong>            </p>
<p><em>Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma. Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu.</em></p>
<p><em>Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas.</em></p>
<p><em>Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma. Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta. Janganlah mengharapkan pujian dari siapa pun jua. Janganlah menjadikan pujian sebagai pemicu untuk berkarya lebih lanjut. Berkaryalah terus menerus walau dicaci, dimaki, ditolak&#8230;&#8230;.. Berkaryalah karena keyakinan pada apa yang mesti kita kerjakan</em>. <strong><sup>*5 be the Change</sup></strong></p>
<p>Terima Kasih Guru. Semoga kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara. Namaste.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><sup>*1 Medis dan Meditasi</sup></strong>                 Medis dan Meditasi, Anand Krishna bersama Dr. B. Setiawan, PT Gramedia Utama, 2002.<em></em></p>
<p><strong><sup>*2 Panca Aksara</sup></strong>          Panca Aksara Membangkitkan keagamaan dalam diri manusia, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007.</p>
<p><strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong>          Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.</p>
<p><strong><sup>*4 Si Goblok</sup></strong>                Si Goblok Catatan Perjalanan Orang Gila, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna, 2009.</p>
<p><strong><sup>*5 be the Change</sup></strong>         Be The CHANGE, Mahatma Gandhi&#8217;s Top 10 Fundamentals for Changing the World, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.</p>
<p>Informasi buku silahkan menghubungi</p>
<p><a href="http://booksindonesia.com/id/">http://booksindonesia.com/id/</a></p>
<p>Situs artikel terkait</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>November 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Marble wonder -- Birla Mandir -- in Secunderabad]]></title>
<link>http://arjunpuri.wordpress.com/2009/11/18/marble-wonder-birla-mandir-in-secunderabad/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 19:37:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>arjunpuri</dc:creator>
<guid>http://arjunpuri.wordpress.com/2009/11/18/marble-wonder-birla-mandir-in-secunderabad/</guid>
<description><![CDATA[In the evening, I, Taraka and her daughter Gayatri left to see a dance programme at her sister’s dau]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>In the evening, I, Taraka and her daughter Gayatri left to see a dance programme at her sister’s daughter’s school. Though we couldn’t stay for long, we made sure that we were present for a few minutes to encourage the little kid and left for Birla Mandir.</p>
<p>After parking the car at a nearby place, we headed towards Birla Mandir. By this time I had come to know how chaotic the traffic in Hyderabad is. People had scant respect for the traffic rules and I was feeling like driving in some maddening crowd.</p>
<p>The steps leading to the temple and small shops along the steps were bustling with tourists. Shops were making brisk business and tourists were busy buying articles.</p>
<p>As it was weekend, the crowd was huge. We had to keep our phones and camera in the cloak room. We went to the temple and Taraka was excited to show the place where she and jeeju had solemnized their wedding <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Birla Mandir on the Naubath Pahad is a magnificent Hindu temple of Lord Venkateshwara, built of 2,000 tonnes of pure Rajasthani white marble. The Birla Foundation has constructed several similar temples in India.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1161" title="birlamandir" src="http://arjunpuri.wordpress.com/files/2009/11/birlamandir.jpg?w=400" alt="" width="400" height="269" /><br />
The Birla Mandir was built by Raja Baldev Birla. In 1938, the temple was inaugurated by Mahatma Gandhi. Everyone was not given the permission to enter the premises of temples. Gandhi placed the condition that he would inaugurate the temple only if people belonging to all strata of the society were permitted to offer their prayers in the temple.</p>
<p>The architecture of the temple is a blend of South Indian, Rajasthani and Utkala temple architectures.</p>
<p>The tower over the main shrine reaches a height of 165 ft, whereas the towers over the shrines of Venkateshwara’s consorts, Padmavati and Andal reach a height of 116 ft. The presiding deity is about 11 ft tall and a carved lotus forms the umbrella on the roof. The consorts of Lord Venkateswara, Padmavati and Andal are housed in separate shrines. There is a brass flagstaff in the temple premises which rises to a height of 42 ft.</p>
<p>The temple is built on a 280 feet high hillock called the Naubath Pahad in 13 acres. The construction took 10 years and was consecrated in 1976 by Swami Ranganathananda of Ramakrishna Mission. The temple does not have traditional bells, as Swamiji wished that the temple atmosphere should be conducive for meditation.</p>
<p>Though the chief deity is Lord Venkateshwara, the temple has pan-Hindu character with deities of Shiva, Shakti, Ganesh, Hanuman, Brahma, Saraswati, Lakshmi and Saibaba. Selected teachings of holy men and Gurbani are engraved on temple walls.</p>
<p>There is also a shrine dedicated to Lord Buddha. Beautiful Fresco paintings, throwing light on the life and works of Buddha, adorn the walls of this temple. At the rear end of the temple, there is an artificial landscape with mountains and waterfalls.</p>
<p>The intricate carvings of the temple, the ceiling and the mythological figures are standing testimony to the dexterity and sculptural excellence of the craftsmen. Beautiful scenes from the great epics of Ramayana and Mahabharata are finely sculpted in marble. A number of lofty steps lead the visitor to the sanctum sanctorum. Along the winding path are many marble statues of gods and goddesses of Hindu mythology located in the midst of gardens.</p>
<p>The view from the highest level of the temple offers the viewer a spectacular view of the Hussain Sagar Lake, Andhra Pradesh Secretariat, Assembly and Birla Planetarium, the Public Gardens and Lumbini Park.</p>
<p>The temple is open between 7 am and 12 noon and between 3 pm and 9 pm.</p>
<p>We sat for a while there and discussed several issues before we left the place. By the time we reached the house, I had gone half mad, thanks to the traffic. Driving in Bangalore is not difficult, but elsewhere it is, for we are more disciplined and follow traffic rules at any cost. But in Hyderabad, it is the vice versa. People look at us strangely if we talk about traffic rules and discipline!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bharatayuda vs Ramayana]]></title>
<link>http://kartunmania.wordpress.com/2009/11/18/bharatayuda-vs-ramayana/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 01:53:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>kartunmania</dc:creator>
<guid>http://kartunmania.wordpress.com/2009/11/18/bharatayuda-vs-ramayana/</guid>
<description><![CDATA[Koran Tempo edisi 15 Nopember 2009 LOTIF &#8211; Karya : Beng Rahadian Wayang kulit? Hmm.. Menurut a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Koran Tempo edisi 15 Nopember 2009 LOTIF &#8211; Karya : Beng Rahadian Wayang kulit? Hmm.. Menurut a]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ATTN - bold "ATTN," it is not receiving enough attention.]]></title>
<link>http://treebeard31.wordpress.com/2009/11/17/attn-bold-attn-it-is-not-receiving-enough-attention/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 15:29:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pradeep</dc:creator>
<guid>http://treebeard31.wordpress.com/2009/11/17/attn-bold-attn-it-is-not-receiving-enough-attention/</guid>
<description><![CDATA[Image via Wikipedia When Bill Gates was in India, he had a chance 2 listen Ramayana from Atal Behari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Image via Wikipedia When Bill Gates was in India, he had a chance 2 listen Ramayana from Atal Behari]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ramayana, our National Reader]]></title>
<link>http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/17/ramayana-our-national-reader/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 06:54:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Prabu</dc:creator>
<guid>http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/17/ramayana-our-national-reader/</guid>
<description><![CDATA[Judul Buku Ramayana, our National Reader Pengarang Soenardjo Haditjaroko M.A. Penerbit Djambatan Tah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="109" valign="top"><strong>Judul Buku</strong></td>
<td width="319" valign="top"><strong>Ramayana, our National Reader</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="109" valign="top"><strong>Pengarang</strong></td>
<td width="319" valign="top">Soenardjo Haditjaroko M.A.</td>
</tr>
<tr>
<td width="109" valign="top"><strong>Penerbit</strong></td>
<td width="319" valign="top">Djambatan</td>
</tr>
<tr>
<td width="109" valign="top"><strong>Tahun</strong></td>
<td width="319" valign="top">1961</td>
</tr>
<tr>
<td width="109" valign="top"><strong>Bahasa</strong></td>
<td width="319" valign="top">Bahasa Inggris</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sebuah buku kuno tahun 1961, yang ditulis oleh pengarangnya dengan tujuan mulia. Buku ini saya temukan di rumah Klaten. Beberapa tulisan dan catatan dalam buku, saya lihat adalah tulisan Bapak. Mungkin di tulis untuk membaca sambil belajar Bahasa Inggris dulu.</p>
<p><a href="http://wayangpustaka.wordpress.com/files/2009/11/cover-dalam.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-123" title="Cover Dalam" src="http://wayangpustaka.wordpress.com/files/2009/11/cover-dalam.jpg?w=193" alt="" width="193" height="300" /></a></p>
<p>Selain diharapkan sebagai bacaan untuk umum dan murid sekolah (SMP, SMA), penulisnya juga berharap dengan mempelajari budaya nasional setidaknya dapat membantu mempertebal kesadaran nasional dan kepribadian nasional.</p>
<p>Sang Penulis, Soenardjo Haditjaroko M.A., adalah Kepala Urusan Pengadjaran BahasaInggeris di Djawatan Pendidikan Umum, Departemen P. D. dan K.</p>
<p>Masih ada nggak ya materi tentang pelajaran tentang wayang di kurikulum sekolah kita sekarang ?</p>
<p><a href="http://www.4shared.com/file/153719758/91189cda/Ramayana-Our_National_Reader.html">Ebooknya disimpan disini.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[playlist #89 (11/16/2009)-songs for 'stick' season]]></title>
<link>http://worldofmusichome.wordpress.com/2009/11/16/playlist-89-11162009-songs-for-stick-season/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 01:55:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Cheryl</dc:creator>
<guid>http://worldofmusichome.wordpress.com/2009/11/16/playlist-89-11162009-songs-for-stick-season/</guid>
<description><![CDATA[Hanksville, VT World of Music Pgm #89 – Songs for &#8217;stick&#8217; season: Autumn&#8217;s ending,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<div id="attachment_3823" class="wp-caption aligncenter" style="width: 451px"><a href="http://worldofmusichome.wordpress.com/files/2009/11/2007-nov-1stsnow.jpg"><img class="size-medium wp-image-3823" title="2007-Nov-1stSnow" src="http://worldofmusichome.wordpress.com/files/2009/11/2007-nov-1stsnow.jpg?w=300" alt="" width="441" height="289" /></a><p class="wp-caption-text">Hanksville, VT</p></div>
</div>
<div><strong>World of Music</strong></div>
<div><strong> </strong>Pgm #89 – Songs for &#8217;stick&#8217; season: Autumn&#8217;s ending, winter&#8217;s not quite here yet. A few uplifting tunes will go a long way to keep the spirits up while we wait for the snow.</div>
<div><em>Listen Mondays 3-5pm EDT  – at 105.9FM in Burlington, VT or online at <a rel="#someid0" href="http://www.theradiator.org/" target="_blank">The Radiator</a></em></div>
<div><em> </em>—-</div>
<div><strong>Nas with Youssou N&#8217;Dour &#38; Neneh Cherry</strong>: Wake Up (It&#8217;s Africa Calling) / Open Remix /www.intrahealth.org/open/ (download) &#8211; (USA / SENEGAL)</div>
<div>&#8212;-</div>
<div><strong>Nation Beat</strong>: Sobe A Poeira (Let Your Hair Down, Come Fall Into My Arms) / Legends of the Preacher &#8211; Modiba 7 &#8211; (NY CITY)</div>
<div><strong>Orchestra Baobab</strong>: Cabral / Made in Dakar / Nonesuch 433788 &#8211; (SENEGAL)</div>
<div><strong>Hermanas Ferrin</strong>: Pensamiento (Thoughts) / Mi Linda Guajira / La Raiz Sonora 8484172 &#8211; (CUBA)</div>
<div><strong>MC Yogi featuring Krishna Das</strong>: Rock On Hanuman / Elephant Power / White Swan Records 83 &#8211; (INDIA)</div>
<div>&#8212;-</div>
<div><strong>Alasdair Fraser &#38; Paul Machlis</strong>: Ruileadh Cailleach, The Bird&#8217;s Nest, Harris Dance / Scotland the Real / Smithsonian Folkways 40511 &#8211; (SCOTLAND)</div>
<div><strong>John McCutcheon</strong>: Waiting For Snow / Wintersongs / Rounder 8038 &#8211; (USA)</div>
<div><strong>Rolf Lislevand &#38; friends</strong>: Piva (by Joan Ambrosio Dalza) / Diminutio / ECM 2088 &#8211; (NORWAY) *NEW*</div>
<div><strong>Marta Topferova</strong>: Mar Y Cielo (Sea and Sky) / Trova / World Village 468090 &#8211; (CZECH REPUBLIC / USA) *NEW*</div>
<div><strong>Cedric Watson</strong>: J&#8217;ai Été Tout Auteur du Pays / Cedric Watson / Valcour Records 4 &#8211; (TEXAS)</div>
<div>&#8212;-</div>
<div><strong>The Lost Fingers</strong>: You (Shook Me All Night Long) &#38; Pump Up The Jam / Lost In The &#8217;80s / Sony 88697556082 &#8211; (QUÉBEC) *NEW*</div>
<div><strong>Easy Star All-Stars</strong>: Money / Dub Side Of The Moon / Easy Star Records 21606 &#8211; (JAMAICA)</div>
<div><strong>Los Mocosos</strong>: Spill The Wine / Shades Of Brown / Six Degrees 657036 &#8211; (SAN FRANCISCO)</div>
<div><strong>The Denver Dub Collective</strong>: I Would Die 4 U / Purple Dub / www.DenverDubCollective.com 1 &#8211; (DENVER) *NEW*</div>
<div>&#8212;-</div>
<div><strong>Gordon Sanchez</strong>: L&#8217;Aléas de L&#8217;Hiver (The Uncertainties of Winter) / Acoustic France / Putumayo 281 &#8211; (FRANCE)</div>
<div><strong>Tiris</strong>: El Leil, El Leil (The Night, The Night) / Sandtracks / Sandblast 1 &#8211; (WESTERN SAHARA)</div>
<div><strong>Marta Gómez:</strong> Negrito / Entre Cada Palabra /Chesky 301 &#8211; (COLOMBIA) *NEW*</div>
<div><strong>Bebo y Cigala:</strong> La Bien Pagá (Good Wages) / Lágrimas Negras (Black Tears) / Calle54 653086 &#8211; (CUBA / SPAIN)</div>
<div>&#8212;-</div>
<div><strong>Andy Narell &#38; Relator</strong>: Pan on Sesame Street / University of Calypso / Heads Up 3168 &#8211; (TRINIDAD) *NEW* &#8211; 40th anniversary of PBS&#8217; &#8220;Sesame Street&#8221; last week</div>
<div><strong>Aurelio Martinez</strong>: Yau (&#8220;Uncle&#8221; &#8211; traditional Garifuna) / Garifuna Soul / Stonetree 26 &#8211; (BELIZE)</div>
<div><strong>Alicia Villareal</strong>: Soy Lo Prohibido / Soy Lo Prohibido / Universal 440 414 824 &#8211; (MEXICO)</div>
<div><strong>Khaled</strong>: Melha / Kenza / Ark 21 Records 186 850 012 &#8211; (ALGERIA)</div>
<div>&#8212;-</div>
<div><strong>Black Sea Hotel</strong>: Dimianinka / Black Sea Hotel / www.BlackSeaHotelUSA.com 2008 &#8211; (BULGARIA / USA)</div>
<div><strong>Abou Chihabi</strong>: Lewo! Lewo! (Today! Today!) / Folkomor Ocean / Playasound 65188 &#8211; (LA RÉUNION)</div>
<div><strong>B*Side Players</strong>: Radio Afro Mexica / Radio Afro Mexica / Global Noize 127 &#8211; (SAN DIEGO) *NEW*</div>
<div><strong>DJ Bitman</strong>: My Computer Is Funk / Latin Bitman / Nacional Records 20002 &#8211; (CHILE)</div>
<div>&#8212;-</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[songs for 'stick' season]]></title>
<link>http://worldofmusichome.wordpress.com/2009/11/15/songs-for-stick-season/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 18:00:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Cheryl</dc:creator>
<guid>http://worldofmusichome.wordpress.com/2009/11/15/songs-for-stick-season/</guid>
<description><![CDATA[Autumn&#8217;s closing out, winter&#8217;s not quite here yet. We&#8217;re waiting for snow. This we]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-medium wp-image-3812" title="John McCutcheon Wintersongs" src="http://worldofmusichome.wordpress.com/files/2009/11/john-mccutcheon-wintersongs.jpg?w=300" alt="John McCutcheon Wintersongs" width="239" height="239" />Autumn&#8217;s closing out, winter&#8217;s not quite here yet. We&#8217;re waiting for snow.</p>
<p>This week&#8217;s <em>World of Music</em> features Wisconsin native John McCutcheon with a song about anticipating the snow, from his <em>Wintersongs</em>. We&#8217;ll make musical stops in Norway, Scotland, and Senegal in the weekly world tour &#8211; and find out what happens when a contemporary DJ remixes traditional stories from India&#8217;s ancient epic, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ramayana" target="_blank">the Ramayana</a>. The result is unforgettable. The Easy Star All-Stars give up &#8220;Money&#8221; from <em>Dub Side of the Moon</em>, and the Denver Dub Collective channels Prince from their brand new release <em>Purple Dub</em>.</p>
<p><em>World of Music</em> is a seasonal blend of blues, jazz, poetry, and world music every Monday on the Radiator, 3-5pm ET. <a rel="#someid3" href="http://www.theradiator.org/" target="_blank">Online</a>, or at 105.9FM in Burlington, VT.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[महाभारत-रामायण-वेदानां कालनिर्णयः - Scientific dating of Mahabharata, Ramayana &amp; Vedas]]></title>
<link>http://samskritwisdom.wordpress.com/2009/11/13/dating-of-ramayana-mahabharata/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 17:25:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>bharateeya</dc:creator>
<guid>http://samskritwisdom.wordpress.com/2009/11/13/dating-of-ramayana-mahabharata/</guid>
<description><![CDATA[अस्मत्पूर्वजैः एतद्देशस्य इतिहासः न सम्यक् लिखितः इति प्रायशः वयं सर्वे चिन्तयामः। अस्माकं इतिहासस्य]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://samskritwisdom.wordpress.com/files/2009/11/cover-dating-ramayana.jpg?w=195" alt="cover dating ramayana" title="cover dating ramayana" width="195" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-166" /><br />
अस्मत्पूर्वजैः एतद्देशस्य इतिहासः न सम्यक् लिखितः इति प्रायशः वयं सर्वे चिन्तयामः। अस्माकं इतिहासस्य कालानुक्रमविषयेऽपि वैदेशिकाः भारतीयाश्च पण्डिताः न एकमताः। श्रीरामः श्रीकृष्णः कश्चिदन्यः महापुरुषो वा कस्मिन् शतके जीवन्नासीदिति याथातथ्येन वक्तुं इतः पर्यन्तं दुष्करमेवासीत्।</p>
<p>परन्तु अधुना पुण्यनगरवासिना डा. पद्मनाभ विष्णु वर्तक वर्येण त्रिंशत् वर्षाणां अनुसन्धानानन्तरं महाभारत-रामायणयोः वेदस्य च कालाः निर्णीताः। एतेषु ग्रन्थेषु सूचितानां ज्यौतिषिकोल्लेखानां, पौराणिकैः पाषाणशिलालेखैः, ऐतिहासिक प्रमाणैश्च सह समर्थयित्वा डा. वर्तकवर्यः रामायणभारतादीनां कालनिर्णयं कृतवान्।</p>
<p>डा. वर्तकस्य मतमनुसृत्य महाभारतयुद्धं क्रिस्तोः पूर्वं ५५६२ वर्षे, रामरावणयोः संग्रामः क्रिस्तोः पूर्वं ७२९२ वर्षे च अभवताम्। तथा च ऋग्वेदस्य आदिमसूक्तानां रचना क्रिस्तोः पूर्वं २३७२० तमे वर्षे अभवत् इत्यपि सः निर्णीतवान्। एतद्विषये डा. वर्तकवर्येण आङ्गलभाषायां पुस्तकद्वयं रचितमस्ति। ते द्वेऽपि पुस्तके इदानीं अन्तर्जालके उपलभ्येते। एतयोः अन्वये अधः प्रदत्ते स्तः।</p>
<p><a href="http://hinduebooks.blogspot.com/2009/11/scientific-dating-of-mahabharata-war.html" target="_blank"><strong>The Scientific Dating of Mahabharata War</strong></a></p>
<p><a href="http://hinduebooks.blogspot.com/2009/11/scientific-dating-of-ramayana-and-vedas.html" target="_blank"><strong>The Scientific Dating of Ramayana and the Vedas</strong></a></p>
<p><img src="http://samskritwisdom.wordpress.com/files/2009/11/vartak.jpg?w=127" alt="vartak" title="vartak" width="127" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-167" /><strong>ग्रन्थकारस्य सङ्केतः </strong><br />
डा. पी. वी. वर्तक्,<br />
५५१, शनिवार् पेठ्,<br />
पुणे, महाराष्ट्रम्<br />
दूरध्वनिः &#8211; ०२०-२४४५०३८७<br />
कार्यसमयः &#8211; प्रातः ९-११ एवं सायं ६-८</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hanuman Sang Duta Pembawa Pesan Ilahi]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/13/hanuman-sang-duta-pembawa-pesan-ilahi/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 01:42:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/13/hanuman-sang-duta-pembawa-pesan-ilahi/</guid>
<description><![CDATA[Perang antara Rama dan Rahwana hanyalah sebuah sandiwara. Banyak sekali diantara kita yang mengira p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Perang antara Rama dan Rahwana hanyalah sebuah sandiwara. Banyak sekali diantara kita yang mengira perang itu hanya dongeng berkala, tetapi kurang lebih 8,000 tahun sebelum Masehi, perang semacam itu memang ada dan harus terjadi, untuk membersihkan bumi ini dari ‘sub-human species’ bentuk kehidupan yang terciptakan karena hubungan seksual antar manusia dan binatang. Apa yang kita sebut raksasa atau ‘demon’ itu merupakan jenis kehidupan yang memang harus dilenyapkan. Bagaimana juga yang dilenyapkan hanyalah “bentuk” atau “wujud” kehidupan tersebut. Jiwa mereka, roh mereka justru mengalami evolusi, peningkatan, dan lahir kembali sebagai manusia. Rahwana berperan sebagai raja para raksasa, sehingga ia mampu mengumpulkan mereka di satu tempat, di medan perang. Lalu datang Sri Rama, dan dalam satu minggu, selesailah pekerjaan itu</em>. <strong><sup>*1 Atisha</sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Peringatan Alam sebelum bencana tiba</span></strong></p>
<p><em>Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada, semuanya merupakan bagian dari cetak-biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat menentukan cetak-biru baru untuk masa depan kita. Hal ini perlu direnungkan sejenak</em>. <strong><sup>*2 Reinkarnasi</sup></strong></p>
<p>Empat tangan Wisnu dapat dimaknai sebagai peringatan Keberadaan terhadap manusia. Tangan pertama Wisnu dengan telapak tangan terbuka menghadap ke muka dimaknai sedang memberi berkah sekaligus memaafkan. Kesalahan awal manusia dimaafkan-Nya, apabila kita segera taubat.  Tangan kedua memegang terompet dari kulit kerang, perbuatan salah yang dilakukan terus menerus, diperingatkan-Nya dengan teguran suara yang keras. Tangan ketiga memegang chakra, Keberadaan masih juga memberi waktu untuk bertaubat. Dan, begitu seseorang masih nekat melakukan kesalahan, maka dia akan dihantam gada Wisnu yang dipegang oleh tangan keempatnya.</p>
<p>Semua tindakan mempunyai akibat masing-masing, akan tetapi sebelum melakukan tindakan yang semakin tidak harmonis dengan alam, kita dingatkan Keberadaan melalui berbagai tahapan peringatan.<!--more--></p>
<p>Demikian pula dengan kejadian bencana banjir. Ketika masyarakat memotong hutan hanya untuk keperluan  rumah tangga, Alam masih memaafkan. Tetapi apabila masyarakat mulai menggunduli hutan, datanglah teguran, sungai yang kotor membawa lumpur akibat bukit yang gundul mulai tererosi. Alam pun menggerakkan lembaga advokasi yang memperingatkan bahayanya menggunduli hutan. Alam masih menunggu agar masyarakat bertobat dengan melakukan reboisasi. Setelah beberapa lama penggundulan hutan berjalan, maka banjir akan datang sebagai hantaman gada dari Alam.</p>
<p>Demikian pula peristiwa Global Warming, Pencairan Es di Kutub, menghijaunya lereng Himalaya yang tadinya selalu diselimuti es, banyaknya badai dan naiknya permukaan air laut, semuanya merupakan peringatan alam. Demikian pula tindakan rekayasa dalam bidang hukum di negara kita yang semakin keterlaluan akan mendapatkan perlakuan yang sama.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Hanuman sebagai ‘Utusan’pembawa peringatan</span></strong></p>
<p>Hanuman sebagai duta, utusan pembawa peringatan dari Sri Rama. Hanuman ibarat terompet kerang Wisnu sebelum gada sang Wisnu bekerja.</p>
<p>Hanuman dengan kekuatannya dapat terbang menyeberangi lautan sampai di Alengka. Ia melihat Alengka sebagai benteng pertahanan yang kuat sekaligus kota yang dijaga dengan ketat. Ia melihat penduduknya menyanyikan mantra-mantra Weda dan lagu pujian kemenangan kepada Rahwana. Sebagian masyarakat tidak setuju dengan keangkaraan Rahwana, tetapi mereka diam membisu. Hanuman menyamar sebagai monyet kecil dan mencari tempat Dewi Sinta. Hanuman melihat Rahwana merayu Dewi Sinta, akan tetapi Rahwana tidak berhasil.</p>
<p>Setelah Rahwana pergi meninggalkan Dewi Sinta, Hanuman menghampiri Dewi Sinta dan menceritakan maksud kedatangannya. Hanuman menyerahkan cincin milik Rama dan menyarankan agar Dewi Sinta terbang bersamanya ke hadapan Sri Rama, namun Dewi Sinta menolak. Ia paham Sri Rama akan datang ke Alengka untuk menghancurkan adharma. Kemudian Hanuman mohon restu dan pamit kepada Dewi  Sinta.</p>
<p>Karena ketahuan pengawal istana, Hanuman dikepung para raksasa . Sambil melarikan diri Hanuman memporak-porandakan taman Asoka di istana Rahwana. Ia membunuh puluhan tentara termasuk prajurit pilihan Rahwana. Akhirnya ia dapat ditangkap Indrajit, putra Rahwana dengan senjata <em>‘Bramastra’</em>, senjata Brahma. Senjata itu melilit tubuh Hanuman. Ketika Rahwana hendak memberikan hukuman mati kepada Hanuman, Wibisana membela Hanuman agar hukuman bagi Hanuman diringankan, mengingat Hanuman adalah seorang Duta, ‘Utusan’. Seorang ‘Utusan’ yang datang membawa kabar peringatan, agar Rahwana mengembalikan dewi Sinta, atau Sri Rama akan menghancurkan Alengka.</p>
<p>Hanuman hanya dibakar ekornya, akan tetapi dengan ekor terbakar itulah dia melepaskan diri dari bramastra dan membakar sebagian kota Alengka. Bagaimana pun Rahwana tetap tidak mau berubah, dan akan menghadapi datangnya pasukan Sri Rama. Pada akhirnya Rahwana mati bersama kaum raksasa. Demi evolusi manusia, kaum raksasa memang harus mati. Akan tetapi jiwa raksasa tetap terbawa dalam genetik manusia ribuan tahun sesudahnya.</p>
<p>Hanuman adalah pemberi peringatan kepada kaum raksasa dipimpin Rahwana, agar segera sadar dan kembali ke jalan yang benar. Bila Rahwana dan para raksasa sadar, mengembalikan Dewi Sinta, menegakkan kebenaran, meninggalkan adharma, maka kemusnahan raksasa dapat terhindar.</p>
<p>Dunia ini ada karena ada keseimbangan dari dualitas antara Yin dan Yang, Maskulin dan feminin, malam dan siang, dingin dan panas, lembut dan keras, bahkan dharma dan adharma. Akan tetapi kala adharma meraja lela, sehingga terjadi ketidakseimbangan yang nyata, Keberadaan akan menggunakan cara yang belum kita pahami untuk menyeimbangkannya.</p>
<p>Bersyukurlah karena kita telah diberi peran keberadaan yang patut dibanggakan. Siapa yang mau berperan sebagai Rahwana yang serakah dan kalah? Peran Rahwana sungguh sulit. Tidakkah Rahwana tergerak kala melihat Kumbakarna meninggal, melihat para petinggi Alengka meninggal, kenapa masih meneruskan pertarungan yang memusnahkan semua raksasa, padahal dia belum menikmati Dewi Sinta sebagai isterinya?</p>
<p>Rahwana patuh terhadap peran yang diberikan Keberadaan kepadanya. Rahwana dan Kumbakarna adalah inkarnasi kedua dari Jaya dan Wijaya, penjaga Wisnu di istana Vaikuntha, dan karena kesalahannya harus lahir ke dunia sebagai musuh Wisnu. Sebelumnya mereka lahir sebagai Hiranyakasipu danj Hiranyaksa. Dan di zaman Dwapara Yuga lahir sebagai Sisupala dan Dantavakra yang setelah mati, mereka kembali menjadi penjaga istana Vaikuntha.</p>
<p><em>Berterimakasihlah pada alam semesta bahwa kau diberi peranan yang membawakan pujian banyak orang. Kasihanilah mereka yang kurang beruntung, yang tidak mendapatkan peranan sebaik peranan kamu. Dan, dibalik semua itu sadarilah adanya tangan Sang Dalang yang menentukan setap gerak-gerikmu</em>. <strong><sup>*3 Reformasi</sup></strong></p>
<p>Hanuman juga merupakan pembawa pesan bagi mereka yang hidup tertekan dalam lingkungan penuh kezaliman. Hanuman memberi ketenangan kepada Dewi Sinta, agar bersabar karena adharma akan dikalahkan. Hanuman membawa ‘ayat cincin’ tanda kebesaran Sri Rama agar Dewi Sinta tetap bertahan dalam kebenaran. Akan ada waktunya mulut para raksasa dikunci dan anggota tubuh mereka diminta menyampaikan apa yang telah diperbuatnya. Mereka akan mendapatkan balasan karma yang setimpal.</p>
<p>Bagi Dewi Sinta cincin Sri Rama merupakan surat cinta, surat cinta yang tidak dibaca melalui mata, indera penglihat, tetapi dibaca melaui mata hati. Bagi Dewi Sinta cincin tersebut adalah bisikan hati Sri Rama.</p>
<p><em>Setiap kitab suci memang merupakan sebuah surat cinta kepadamu lewat para nabi, para avatar, para mesias, dan para Buddha.&#8221; Maka, pengajian, paath seperti itu, menjadi doa bagi saya. Karena saat itu terdengar jelas oleh jiwa saya bisikan Dia yang saya cintai</em>. <strong><sup>*4 Neo Psyhic Awareness</sup></strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Latar belakang kehidupan Hanuman</span></strong></p>
<p>Kera adalah binatang yang mempunyai sifat, terampil, lincah, sederhana, kuat dan patuh terhadap ‘majikan’-nya, hanya saja mereka akan kembali ke sifat asalnya ketika berada dalam kelompoknya. Hanuman bukanlah kera biasa. Dia adalah putra Anjani, seorang ibu berwajah kera yang bertapa puluhan tahun, agar mendapatkan keturunan yang mulia. Anjani adalah saudara perempuan dari Subali dan Sugriwa putra dari Resi Gotama dan ibu Windradi.</p>
<p>Beruntunglah Hanuman yang mendapatkan ‘majikan’, ‘guru’ bijak Sri Rama sehingga dia bisa melepaskan ‘kekeraan’-nya.</p>
<p>Konon Hanuman adalah putra dari Bathara Guru. Kisah para leluhur pun sering dibengkokkan. Bathara Guru, Sang Pendaur Ulang sering dikatakan <em>‘cluthak’</em>, suka tergiur wanita cantik yang mandi telanjang, atau pun wanita yang sedang bertapa nungging layaknya Anjani di Telaga Madirda. Sebuah konspirasi untuk menjauhkan diri kita dari dongeng wayang yang telah mendarah daging yang sudah manjadi bagian dari budaya kita.</p>
<p>Bathara Guru disimbolkan dengan lingga dan yoni. Segala sesuatu dimulai dengan bertemunya energi Yin dan Yang. Dari sperma dan ovum. Pertemuannya mungkin fisik, tetapi yang memelihara satu sel inti yang berkembang menjadi tubuh sempurna dengan jutaan sel adalah kekuatan alam pendaur ulang. Seorang ayah dan ibu hanya mempersatukan, memfalitasi pertemuan sperma dengan sel telur. Akan tetapi, fasilitas air ketuban, placenta dan perlengkapannya yang menjaga kehidupan sel telur tersebut adalah ciptaan kekuatan alam, kekuatan sang pendaur ulang. Bahkan dalam kloning pun, tetap ada kekuatan misteri yang mengembangbiakkan dan memellihara sel inti. Pembuat kloning mengambil sel hidup, bukan benda mati dan menghidupkannya. Hidup tetap merupakan misteri. Dan Bathara Guru pun penuh misteri.</p>
<p>Anjani memberdayakan unsur angin, Dewa Bayu, dan melahirkan putra bernama Hanuman yang berbulu putih. Konon, pada saat Hanuman masih kecil, ia mengira matahari adalah buah yang bisa dimakan, kemudian terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa Indra melihat hal itu dan menjadi cemas dengan keselamatan matahari. Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petir vajra-nya ke arah Hanuman sehingga kera kecil itu jatuh dan menabrak gunung.</p>
<p>Melihat hal itu, Dewa Bayu menjadi ngambek dan berdiam diri. Angin tidak bertiup di bumi, dan semua makhluk di bumi menjadi lemas. Para Dewa pun memohon kepada Bayu agar tidak ngambek. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya. Dewa Brahma dan Dewa Indra memberi anugerah bahwa Hanuman sehingga kebal dari segala macam senjata, serta kematian akan datang hanya dengan kehendaknya sendiri. Hanuman menjadi makhluk yang abadi atau <em>‘Chiranjiwin’</em>.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pengabdian Hanuman kepada Sri Rama</span></strong></p>
<p>Dalam menjalankan tugasnya melenyapkan adharma, seorang avatara selalu memerlukan beberapa murid sebagai teman seperjalanan. Yang diajak master adalah para pemain kawakan yang sudah saatnya naik kelas. Dewi Sinta yang hilang diculik hanyalah penyebab awal hancurnya adharma. Bagi Hanuman, semua kejadian yang dialaminya berpuncak pada waktu bertemu Sri Rama. Hanuman merasa tugas yang diberikan Sri Rama kepadanya, bukan untuk kepentingan Sri Rama, tetapi untuk meningkatkan kesadaran dirinya. Semua potensi spiritual yang berada dalam dirinya seakan bangkit setelah bertemu Sri Rama.</p>
<p>Hanuman tidak tertarik pada tahta dan kenyamanan.  Hanuman tidak ikut Subali yang menang persaingan memperebutkan tahta terhadap Sugriwa, bahkan Hanuman ikut Sugriwa yang terusir dari istana. Walaupun demikian Hanuman juga tidak bermusuhan dengan Subali, sehingga Hanuman tidak ikut campur dalam perseteruan antara kedua pamannya. Hanuman sudah muak dengan ‘kedunia-kerawian’.</p>
<p>Hanuman telah paham bahwa seseorang lahir dengan sifat genetik tertentu, kemudian sejak kecil dididik orang tua, lingkungan, pendidikan dan pengalaman. Kerangka kebenaran bagi setiap orang akan berbeda.  Bahkan kedua pamannya Sugriwa dan Subali yang berseteru mempunyai landasan kebenaran masing-masing. Sugriwa merasa benar, karena sesuai pesan Subali apabila darah putih mengalir dari dalam goa ketika Subali bertarung dengan Raksasa Maesasura, berarti Subali mati dan goa ditutup. Sedangkan Subali merasa benar dan menyalahkan Sugriwa, mengapa setelah itu Sugriwa mengambil hadiah Dewi Tara yang sebenarnya diberikan kepada dia yang membunuh sang raksasa.</p>
<p>Hanuman sudah muak dengan dengan kebenaran duniawi, yang bisa dibelokkan sesuai kepentingan masing-masing pribadi. Konon, kemuakan terhadap keduniawian itulah yang membawa Sri Rama bertemu dengannya. Hanuman sudah siap bertemu dengan seorang Guru.</p>
<p>Hanuman mendengar dari ibunya bahwa paman-pamannya Sugriwa dan Subali pada awalnya adalah anak-anak yang baik. Akan tetapi dalam perjalanan hidupnya, godaan dari luar berupa kenikmatan indera dan godaan dari dalam berupa peningkatan ego sering tak terkendalikan.</p>
<p><em>Jangan kira sekali terjinakkan hewan di dalam diri menjadi jinak untuk selamanya. Tidak demikian.  Hewan-hewan buas nafsu, keserakahan, kebencian, kemunafikan, dan lain sebagainya—termasuk majikan mereka yaitu gugusan pikiran yang kita sebut mind—membutuhkan pengawasan ketat sepanjang hari, sepanjang malam&#8230;.. sepanjang tahun&#8230;..sepanjang hidup</em>. <strong><sup>*5 Bhaja Govindam</sup></strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Guru</span></strong></p>
<p>Bertemu Sri Rama, Hanuman mulai paham bahwa Sugriwa mencari Tuhan untuk kepentingan duniawi, pembalasan dendam kepada Subali. Hanuman berdoa semoga dalam perjalanan berikutnya Sugriwa semakin meningkat kesadarannya. Hanuman menjadi paham bahwa Jatayu rela mati demi Tuhan dalam menegakkan kebenaran dengan melawan Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Hanuman bisa menghayati mengapa Subari menunggu bertemu Tuhan, baru rela mati, demikian pula Raksasa Kabandha.</p>
<p>Hanuman merasa beruntung menemukan Guru, dan dia patuh terhadap perintah Gurunya. Akan tetapi Hanuman paham bahwa sebelum kematian datang menjemputnya, dia harus selalu waspada.</p>
<p><em>Keberhasilan seseorang tidak dapat dinilai selama ia masih hidup. Bagaimana ia mengakhiri hidupnya itulah yang menentukan keberhasilannya</em>. <strong><sup>*6 SMS Wisdom</sup></strong></p>
<p>Konon seseorang bisa disebut Guru apabila dia mendapatkan pengetahuan langsung dari Keberadaan. Sekadar membaca dan memahami kebenaran dari catatan belum pantas menjadi seorang Guru. Kemudian seorang Guru juga harus pernah menjadi murid, sehingga dia dapat membina muridnya. Sri Rama pernah berguru kepada Resi Vasishtha dan Resi Wiswamitra, sehingga Sri Rama adalah kriteria Guru yang benar.Selanjutnya, Hanuman melepaskan semua pendapat pribadinya dan patuh terhadap Sri Rama. Hanuman telah mencapai ‘one pointedness’, ‘ekagrata’, seluruh kegiatan hidupnya hanya untuk Sri Rama. Hanuman selalu mengingat Sri Rama di setiap waktu, Hanuman selalu berzikir tentang Sri Rama.</p>
<p><em>Zikir harus diartikan sebagai “kesadaran” yang mewarnai segala aspek kehidupan. Mengingat “Dia” setiap saat dan di setiap tempat. Entah berada dalam kamar mandi atau kamar tidur atau kamar kerja. Allah berada di mana-mana</em>. <strong><sup>*7 Islam Esoteris </sup></strong></p>
<p><em>Zikir : Pengertiannya bukan sekedar zikir bertasbeh pada jam-jam tertentu atau untuk waktu tertentu tetapi, melibatkan Tuhan dalam setiap pikiran, ucapan, dan perbuatan sepanjang hari dan sepanjang malam. Dalam alam mimpi pun, zikir rohani berjalan terus!  Mengenang, mengingat, dan berceritera tentang-Nya sepanjang usia itulah zikir. Senantiasa berupaya untuk memberi-Nya tontonan yang baik itulah zikir. Ya, dia sedang menonton kita apakah kita sudah membawakan peran kita dengan baik? </em><strong><sup>*8 Haqq Moujud <em></em></sup></strong></p>
<p>Guru sebagai wujud ilahi yang hidup jauh lebih sulit daripada seorang suci  yang sudah meninggal dunia. Bila seorang suci sudah mati, maka kita lebih bebas memaknai petunjuk mendiang sang suci.</p>
<p>Konon diceritakan bahwa Musa berjalan mengikuti Khidir dan tidak boleh bertanya mengapa sang guru berbuat sesuatu yang di luar nalar. Pertama, Musa bingung mengapa Khidir melubangi perahu milik orang desa. Bertambah bingung kala Khidir juga merobohkan rumah kosong milik seorang anak piatu, dan bahkan membunuh seorang anak kecil dalam perjalanannya.</p>
<p>Musa baru sadar ketika Khidir memberi penjelasan, bahwa dia melobangi perahu, karena rombongan raja akan datang merampas perahu yang  masih baik, dan selamatlah perahu yang telah dilobangi. Khidir juga menjelaskan bahwa rumah tersebut harus dirobohkan agar pama-paman sang anak tidak menemukan warisan perhiasan yang ditinggalkan orang tua sang anak, sampai sang anak menjadi dewasa dan bisa membangun rumah kembali. Kemudian anak kecil tersebut dibunuh, karena bila menjadi besar dia akan membunuh kedua orang tuanya dan mengganggu orang se desa.</p>
<p>Demikianlah maka Hanuman tidak mempersoalkan mengapa Sri Rama membunuh Subali saat bertarung dengan Sugriwa. Mengapa Sri Rama harus memusnahkan ratusan ribu bangsa raksasa demi istrinya. Bagi Hanuman. Sri Rama memahami kehidupan masa lalu dan masa depan seseorang, sehingga secara utuh tindakan Dia adalah tindakan bijaksana.</p>
<p>Seorang dokter harus mengamputasi salah satu bagian tubuh untuk menyelamatkan nyawa pasiennya. Apakah ia pantas dijuluki zalim? Sri Rama bagaikan seorang ahli bedah. Di medan perang Alengka, ia sedang melakukan operasi besar-besaran. Bagi seorang ‘Avalokita’, tumor ganas bukan untuk dibenci atau dihindari, tetapi untuk diangkat. Jika ia melakukan bedah dan mengangkat tumor, bukan karena ia membenci tumor. Tetapi karena ia ingin menyelamatkan tubuh.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Beberapa quotation tentang Guru</span></strong></p>
<p>Berapa quotation dari buku Bapak Anand Krishna tentang Guru.</p>
<p><em>Jika memutuskan untuk berguru, bergurulah pada seseorang yang kita percayai 100%. Janganlah berguru pada seseorang karena pengetahuan orang itu. Kita harus berguru karena kepercayaan kita. Berarti “keputusan untuk berguru” harus datang dari diri kita sendiri, kita boleh ada pertimbangan dari luar yang mempengaruhi keputusan kita. Masukan dari luar hanya merupakan bahan pertimbangan. Kita yang mempertimbangkan dan memutuskan. Janganlah berguru pada seseorang hanya karena banyak orang berguru kepadanya. Bila jumlah pengikut menjadi pertimbangan, sesungguhnya kita berguru pada “jumlah”, pada “kuantitas” tidak pada guru. Kita tidak akan memperoleh sesuatu yang berharga</em>. <strong><sup>*9 Life Workbook</sup></strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><em>Seorang Guru duduk di tengah. Para siswa duduk melingkar, menghadapinya. Apa arti pola duduk seperti itu? Sang murshid harus menjadi centrepoint hidup kita. Titik tengah kehidupan kita. Dan jangan lupa, yang menjadi centrepoint bukanlah wujud dia. Tetapi apa yang “diwakilinya”. Dan setiap murshid mewakili hanya satu Lembaga – Lembaga Non-Lembaga&#8230;. Kasih. Dengan semangat permainan, berupayalah untuk mencapai titik tengah di dalam diri sendiri. Untuk menemukan kasih di dalam diri sendiri. Guru di luar diri hanya mewakili Murshid di dalam diri setiap murid. Dalam semangat itu, salami setiap teman seperjalanan. Keberadaan mereka sangat membantu. Energi kebersamaan sangat menunjang evolusi batin. Sebaliknya, hindari mereka yang justru menarik Anda ke belakang, karena tidak senang melihat kemajuan Anda. Tidak perlu membenci, tidak perlu memusuhi mereka. Just ignore them. Dicueki saja</em>. <strong><sup>*10 Narada Bhakti Sutra </sup></strong></p>
<p><em>Sang Murshid mengetuk pintu rumah kita. Guru berada di luar pintu&#8230; dan kembali terciptalah dualitas: “Aku sudah bertatap muka dengan Yang Maha Kuasa&#8230;&#8230; apakah aku masih harus berhubungan dengan seorang guru?”&#8230;&#8230;&#8230;.. Seorang guru datang dalam hidup kita bukan karena kehendaknya, tetapi karena dikehendaki-Nya. Kedatangan Seorang murshid atau seorang guru dalam hidup kita “terjadi” karena dikehendaki oleh-Nya. Itulah kenapa kita sujud kepadanya, karena sesungguhnya dengan sujud kepadanya kita sedang sujud kepada-Nya</em>. <strong><sup>*11 Kidung Agung</sup></strong></p>
<p>Terima Kasih Guru. Semoga kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara. Namaste.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><sup>*1 Atisha</sup></strong>                   Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2003.</p>
<p><strong><sup>*2 Reinkarnasi</sup></strong>            Reinkarnasi Melampaui Kelahiran Dan Kematian, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1998.</p>
<p><strong><sup>*3 Reformasi</sup></strong>              Reformasi, Gugatan Seorang “Ibu”, Anand Krishna, PT Grasindo, 1998.</p>
<p><strong><sup>*4 Neo Psyhic Awareness                    </sup></strong>Neo Psyhic Awareness, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005.</p>
<p><strong><sup>*5 Bhaja Govindam</sup></strong>      Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.</p>
<p><strong><sup>*6 SMS Wisdom               </sup></strong>SMS Wisdom, Anand Krishna.</p>
<p><strong><sup>*7 Islam Esoteris              </sup></strong>Islam Esoteris kemuliaan dan Keindahannya, Anand Krishna dan Achmad Chodjim, Gramedia Pustaka Utama, 2000.</p>
<p><strong><sup>*8 Haqq Moujud               </sup></strong>Haqq Moujud Menghadirkan Kebenaran Sufi dalam Hidup Sehari-hari, Anand Krishna, 2004.<em></em></p>
<p><strong><sup>*9 Life Workbook</sup></strong>        Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007.</p>
<p><strong><sup>*10 Narada Bhakti Sutra </sup></strong>Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand                                  Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001.</p>
<p><strong><sup>*11 Kidung Agung</sup></strong>        Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.</p>
<p>silahkan menghubungi</p>
<p><a href="http://booksindonesia.com/id/">http://booksindonesia.com/id/</a></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>November 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Scientific Dating of the Ramayana and the Vedas]]></title>
<link>http://bharateeya.wordpress.com/2009/11/12/the-scientific-dating-of-the-ramayana-and-the-vedas/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 08:33:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>bharateeya</dc:creator>
<guid>http://bharateeya.wordpress.com/2009/11/12/the-scientific-dating-of-the-ramayana-and-the-vedas/</guid>
<description><![CDATA[Quite a number of efforts have been made by various scholars to determine the dates of the Mahabhara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Quite a number of efforts have been made by various scholars to determine the dates of the Mahabhara]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sita Sings the Blues]]></title>
<link>http://desifeminists.wordpress.com/2009/11/12/sita-sings-the-blues/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 00:16:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>desifeminists</dc:creator>
<guid>http://desifeminists.wordpress.com/2009/11/12/sita-sings-the-blues/</guid>
<description><![CDATA[I got to the party fashionably late. Sita Sings the Blues is a retelling of the Ramayana through Nin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>I got to the party fashionably late. <em><a href="http://www.thirteen.org/sites/reel13/blog/watch-sita-sings-the-blues-online/347/" target="_blank">Sita Sings the Blues</a></em> is a retelling of the Ramayana through Nina Paley&#8217;s eyes. It&#8217;s recent, but been around for some time. Thanks to Paley and sponsors for making the animated film available to many. It is cute and witty, and the animation &#8211; beautiful. I caught some minor flaws, like ignoring the fact that Kaikeyi was a warrior queen who saved Dasaratha&#8217;s life, and missing certain details like Surpanakha enticing Laxmana or Ravana dressing up as a sage to fool Sita, but that&#8217;s cool. You can read some other discussions on it <a href="http://harekrishnawomen.wordpress.com/2009/02/27/sita-sings-the-blues/" target="_blank">here</a> and <a href="http://whirledview.typepad.com/whirledview/2009/02/valentine-thoughts-the-unconditional-love-trap.html" target="_blank">here</a>.</p>
<p>As usual, conservative folks got their panties in a bunch over the supposed irreverence of the film. I take hurt sentiments seriously, and many feminists have protested misogynistic literature themselves, but I don&#8217;t agree with the premise of the conservatives when they criticize literary works. You can get a glimpse of their attitudes (read the comments) over another retelling of the Ramayana <a href="http://timesofindia.indiatimes.com/india/Ramayana-gets-a-feminist-twist-/articleshow/1198690.cms" target="_blank">here</a>.</p>
<p><em>Sita Sings the Blues</em> is hardly irreverent, especially considering that the Ramayana is an epic with many versions. How absurd would it be if the Greeks got crazy over retellings of the Iliad and Odyssey. Conservative Hindus have this absurd attitude where they despise Muslims for their frenzy and fatwas against Salman Rushdie or Theo van Gogh, then they themselves set a similar example whenever an Indian epic is retold. And God forbid the retelling be from a feminist point of view, then suddenly it hurts the sentiments of the Hindus, never mind that the Indian epics are literature already retold thousands of times, and they aren&#8217;t even central tenets of Hindu spirituality!! Hindu epics and even stories of deities are acted out in Hindi drama serials all the time, yet they don&#8217;t cause a fiasco because they repeat the same patriarchal bullshit of mainstream versions of the stories.</p>
<p>One of the complaints against this animation is the clothing of Sita, although it&#8217;s not unusual for Hindu deities and epic characters to be scantily clad, since clothing of the ancient times were different. It&#8217;s only in modern conservative depictions that women wear long sleeve blouses and covering saris; there&#8217;s more evidence for a freer clothing style back in the day, rather than what we wear today. Anyone who gets offended by Nina Paley&#8217;s or any other feminist&#8217;s retelling of <em>Ramayana</em> needs to think whether the Ashvamedha Yagna that Dasaratha performs in Valmiki&#8217;s <em>Ramayana</em> is offensive or not. Surely, you don&#8217;t think that forcing Kausalya to have sex with a horse and Dasaratha offering his other wives to Brahmins for sex is less offensive than Sita showing some cleavage???</p>
<p>The whole fiasco over sentiments is based on the faulty premise of equating literature with &#8220;absolute truth.&#8221; We forget that these epics are filled with myths and imaginations that reflect the creativity, or perhaps ulterior motives, of its authors. The better approach is to acknowledge that these epics are after all just text, with readers creating the meaning behind them. To use a Hindu cliche, you have to recognize and extract the spirit of the text as a lotus is &#8220;pure&#8221; even among the murky water it grows in.</p>
<p>That being said, I now feel inspired to create my own meaning of the <em>Ramayana</em>, though I suspect many other women have found this meaning before me. Whenever I think of controversial literature, I think about my Feminist Theory class in college where we discussed <em>Spike Lee&#8217;s Huckleberry Finn</em>. Too bad the script has not become a movie yet, but the premise of the script is to use the original text by Mark Twain, only to give it a whole new meaning by telling it from Jim&#8217;s point of view. Here, Jim is not the helpless superstitious slave as Tom Swayer sees him, but he&#8217;s a very intelligent person who&#8217;s acting comical to survive amongst hostile white people. It also reminds me of Shehrazade of <em>Arabian Nights</em>, who tells stories to delay, and eventually prevent what would have been her inevitable death. These characters could have been quite strong only if you think of them that way.</p>
<p>That would be a refreshing way to view Sita, Rama or Ravana, without changing the story or the text of the Ramayana. Whereas conservative misogynists have used Sita&#8217;s character to teach women to be oppressed, feminists can easily point out that Sita gains nothing from her unconditional love, thus rejecting the need for it altogether. Rama gains nothing either. It&#8217;s fascinating to think about how a supposed villain like Ravana was actually honorable towards Sita while supposedly honorable Rama did not fulfill his duties as Sita&#8217;s husband. I think, ultimately the <em>Ramayana</em> teaches the fallacy of good vs. evil in the material world and questions what we think of as truth and reality. I think Sita provides the most compelling proof for Hindu women that marriage, husband, children, and unconditional love of the material world does not hold the key to happiness. You can remain as &#8220;pure&#8221; and virginal as you want to, it ain&#8217;t gonna satisfy your man if his priorities are elsewhere. The earlier you realize it, the less suffering you&#8217;ll go through. I think Jessica Valenti would find <em>Ramayana</em> to be a big <em>Purity Myth</em>! Above all, epics like the <em>Ramayana</em> and <em>Mahabharata</em> are full of contradictions, because as Sri Sri Ravi Shankar points out, truth is contradictory. If Self-realization and God-realization were so easy, we would&#8217;ve all been happy.</p>
<p>Here&#8217;s a final bone for you to chew on: Ramayana is actually one of three encounters between Vishnu and his two guards in heaven, Jay and Vijay. Jay and Vijay had angered Vishnu so he gave them a choice of being born seven times as Vishnu&#8217;s friend, or being born three times, with short lives, as Vishnu&#8217;s enemies, as a lesson for their sins. In one of those three lives, Jay and Vijay were Ravana and Kumbhakarna. So there you go, all this hoop-la about a story that was a mere play between Vishnu and his guards. Indeed, the world is a theater!</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[THE PERCEPTION OF REALITY - "MAYA" IS A FUNDAMENTAL FORCE]]></title>
<link>http://bhavanajagat.wordpress.com/2009/11/11/the-perception-of-reality-maya-is-a-fundamental-force/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 17:42:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>bhavanajagat</dc:creator>
<guid>http://bhavanajagat.wordpress.com/2009/11/11/the-perception-of-reality-maya-is-a-fundamental-force/</guid>
<description><![CDATA[&quot;What you leave behind is not what is engraved in stone monuments, but what is woven into the l]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_1049" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px"><img class="size-full wp-image-1049" title="TRIBUTE TO CAPTAIN. R. R. RAO" src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/tribute-to-captain-r-r-rao.jpg" alt="TRIBUTE TO CAPTAIN. R. R. RAO" width="470" height="320" /><p class="wp-caption-text">&#34;What you leave behind is not what is engraved in stone monuments, but what is woven into the life of others.&#34;</p></div>
<p><strong>&#8216;A MILLION HAPPY LANDINGS&#8217; &#8211; A LONG AVIATION CAREER   :</strong></p>
<p><strong>Captain. R. R. Rao, Aviation Consultant, SKYCARE Aviation Society ( India ) as a pilot, General Secretary of the Indian Commercial Pilots Association, a Manager, and as a Flight Instructor, won the hearts of several thousands of pilots, colleagues, and students. His dedication for aviation and his constant drive to improve safety of flight will forever remain his greatest contribution to all pilots and the flying public.</strong></p>
<p><strong>A   PSALM   OF   LIFE   :</strong></p>
<p><strong><em>&#8220;Tell me not in mournful numbers,</em></strong></p>
<p><strong><em>Life is but an empty dream!</em></strong></p>
<p><strong><em>For the soul is dead that slumbers,</em></strong></p>
<p><strong><em>And things are not what they seem.&#8221;</em></strong></p>
<p><strong><em>( Henry Wadsworth Longfellow, 1807-1882 )</em></strong></p>
<p><strong>&#8216;THINGS ARE NOT WHAT THEY SEEM&#8217; &#8211; AN ENCOUNTER WITH REALITY AND AN ILLUSION  :</strong></p>
<div id="attachment_1050" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px"><img class="size-full wp-image-1050" title="1948 Single Engine Aircraft - An encounter with Reality and Illusion." src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/1948-single-engine-aircraft.jpg" alt="1948 Single Engine Aircraft - An encounter with Reality and Illusion." width="470" height="352" /><p class="wp-caption-text">Myself, and my friends, while I was ten years of age, walked eight miles to view a single engine, fixed wing aircraft that had arrived at an airfield in Rajahmundry.</p></div>
<div id="attachment_1051" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px"><img class="size-full wp-image-1051" title="Rajahmundry Airport at Madhurapudi." src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/rajahmundry-airport.jpg" alt="Rajahmundry Airport at Madhurapudi." width="470" height="352" /><p class="wp-caption-text">During 1958, this airfield at Madhurapudi, Rajahmundry was not providing any civil aviation service.</p></div>
<p><strong>During the academic year of 1958-1959, at about ten years of age, I was a 9th Grade ( IV FORM ) student at Danavaipeta Municipal High School, Rajahmundry, Andhra Pradesh, India. Amongst other subjects, I was  studying Physics and the Laws of Physics that operate in the physical world. One day, myself, and a few of my classmates saw a small airplane circling in the sky over Rajahmundry. At that time, we had no Airport in Rajahmundry. The airfield at Madhurapudi had one runway and had no terminal building. It is located 8 miles away from Danavaipeta. Myself, and my friends had spontaneously decided to physically see this aircraft and had walked all the way to the airfield under the hot Sun. Fortunately, the plane had returned and we found it parked on the runway. We found the pilot relaxing under the shade of the plane. Captain. R. R. Rao, my uncle was that pilot. As far as my memory goes, that was my very first time I was meeting him during my life and it was also the last time that I had met him during my life. During that brief and purely chance encounter, he had asked me to climb into the cockpit and had guided me in checking the instrument panels, operate the wing flaps and the tail while explaining a few basic aspects about flying a plane. Apart from this reality of meeting my pilot uncle at Madhurapudi airfield, I had also witnessed for the first time in my life the illusionary phenomenon known as Mirage. Rajahmundry gets very hot but we do not get the right atmospheric conditions to actually witness a highway or a hot road Mirage. I had learned about it in my Science class but the actual sensory experience of this illusion in the natural world is really memorable.</strong></p>
<p><strong>THE PERCEPTION OF PHYSICAL WORLD  :</strong></p>
<p><strong>Human perception is the process and experience of gaining sensory information about objects and events of the natural world. The process of perception translates sensory stimulation into organized experience. That mental impression or percept is the joint product of the stimulation and of the process which involves the intuitive and rational parts of the brain. However, a real, physical world exists independent of man&#8217;s experience. A real, physical world has existed long before man&#8217;s arrival and man&#8217;s  physical interaction with the elements of nature. The branches of Physics concerned with electromagnetic energy, optics, and mechanics describe the apparent physical world. When physical energy such as light interacts with the perceiving individual, percepts are formed. The degree of correspondence between percepts and the physical objects or events to which they relate also depends upon certain other external factors beyond human control. There could be a difference between Real World and the &#8216;Perceived World&#8217;. Sometimes, man perceives physical objects or events that may not exist in reality, and yet other times man fails to perceive physical objects or events that may actually exist and the manner in which they really exist. These perceptual problems are not attributable to the sense organs and are not due to inadequate sensory endowment. Apart from the basic Four Fundamental Forces that operate this physical world, there is another Fundamental Force that alters or transforms human perception. The Force of Gravitation gives the man the ability to experience his body weight and like all other objects in the environment, man exists on the face of Earth according to the Laws of Motion and the influence of Gravitation.</strong></p>
<p><strong>FLYING  AND  PERCEPTUAL APPRECIATION OF REALITY  :</strong></p>
<p><strong>Flying demands an acute awareness of the physical world. Man interacts with his physical environment using his sense organs of vision, hearing, touch, and smell. To move effectively, we must perceive our own movements to balance ourselves. The eye is by far the most effective organ for sensing. Movement detectors exist in the human brain. The vestibular organs located in the inner ears provide us with the sense of balance and equilibrium apart from other kinesthetic sensations from muscles, tendons, and joints. A visual field containing familiar objects provides a stable framework against which relative motion may be judged. For purposes of path recognition and navigation while flying in air, the pilot requires reliable perception of the vertical and horizontal dimensions. Preservation of perceptual constancy for the vertical and horizontal dimensions during the flight are based on the parallel activity of vision and the vestibular sense of balance or equilibrium. Even in flying small aircraft it has been shown that the pilot becomes disoriented unless he preserves visual control of the horizontal dimension. The movement of an airplane produces centrifugal and centripetal forces, particularly as the plane tilts or changes direction, which easily mislead a person&#8217;s vestibular( balance ) receptors. For this reason, in high-altitude flying the horizontal line of the surface of the Earth is simulated for the pilot by an optical display unit. When an aircraft takes off to begin the flight, and when it returns to land at the end of the flight, the perception of depth and distance are of critical importance. The perception of depth and distance depends on information transmitted through various sense organs. Sensory cues indicate the distance at which objects in the environment are located from the perceiving individual. Man has the ability to differentiate his own body from the surrounding environment. Man has the ability to perceive his own movement, and also the movement of other objects in his physical environment. But, man has no sensory perception of the reality of the movement of his earthly home in space. Man only recognizes relative motion of objects in his visual field. Just recall the illusion that your train is moving, when in reality, it is really the moving train alongside that is seen through the window; and the moving train on the adjoining track is falsely accepted as the visual frame of reference.</strong></p>
<p><strong>PERCEPTUAL  CONSISTENCY  AND  CONSTANCY  :</strong></p>
<div id="attachment_1052" class="wp-caption aligncenter" style="width: 479px"><a href="Man tends to perceive his changing environment in which he lives with a degree of consistency and constancy. His intuitive and rational parts of the brain work together to provide a mental percept which could be different from the actual sensory information it receives."><img class="size-full wp-image-1052" title="The Moon Illusion - Perceptual Consistency and Constancy" src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/the-moon-illusion.jpg" alt="The Moon Illusion - Perceptual Consistency and Constancy" width="469" height="335" /></a><p class="wp-caption-text">The intuitive and rational parts of brain interact to modify sensory information. In these images, the moon is of the same size but is perceived differently.</p></div>
<p><strong>Spatial perception tends to ensure that a person experiences the continually changing circumstances of the environment in which he moves and lives with some degree of stability or constancy. Some degree of selectivity in perception is required for the survival of the individual. The individual gradually learns about the significance of observable ( empirical ) spatial cues. There is a well known apparent difference in the size of the moon when it is at the horizon and when it is fully risen. The horizon moon, though it is actually further away from the observer, looks much larger than it does when it is high in the sky and closer. The retinal images in the eye of the high moon and the horizon moon are about the same, but the perceived size of the moon differs grossly. Indian thinkers have always asserted that &#8216;TRUTH&#8217; and &#8216;REALITY&#8217; have the qualities of consistency and constancy and hence are not subject to sensory perceptions which tend to vary because of external influences.</strong></p>
<p><strong>THE  NATURE  OF  ILLUSIONS  :</strong></p>
<div id="attachment_1053" class="wp-caption aligncenter" style="width: 370px"><img class="size-full wp-image-1053 " title="Pencil in Water Illusion" src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/pencil-in-water-illusion.jpg" alt="Pencil in Water Illusion" width="360" height="480" /><p class="wp-caption-text">Stimulus Distortion Illusion - A visual or optical illusion produced by the refraction or bending of light rays as it passes from one substance to another in which the speed of light is significantly different. A ray of light passing from one transparent medium(Air) to another(Water) is bent at the surface where the air and water meet.Thus the pencil standing in water seems bent.</p></div>
<div id="attachment_1054" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px"><img class="size-full wp-image-1054" title="Desert Mirage- The Perception of Reality- MAYA is a Fundamental Force." src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/desert-mirage.jpg" alt="Desert Mirage- The Perception of Reality- MAYA is a Fundamental Force." width="470" height="313" /><p class="wp-caption-text">Mirage is an illusion that depends on atmospheric conditions.</p></div>
<div id="attachment_1055" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px"><img class="size-full wp-image-1055" title="inferior_mirage - An optical illusion produced when the stimulus presented to the senses has been altered by environmental conditions that affect the refractive index of the air." src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/inferior_mirage.jpg" alt="inferior_mirage - An optical illusion produced when the stimulus presented to the senses has been altered by environmental conditions that affect the refractive index of the air." width="470" height="144" /><p class="wp-caption-text">The vision of a pool of water is created by light passing the layers of hot air above the heated surface of the land. The cooler layers of air are denser and refract the sun&#39;s rays at different angles than the less dense strata of heated air. The result is the appearance of water where there is none.</p></div>
<div id="attachment_1056" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px"><img class="size-full wp-image-1056 " title="Perceiver - Distortion Illusion or Figure and Ground Illusion" src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/figure-and-ground-illusion.jpg" alt="Figure and Ground Illusion" width="470" height="358" /><p class="wp-caption-text">This Illusion depends upon the &#39;Perceiver&#39; and his selection of figure and ground.Illusion of organizational phenomena caused by perceptual distinction between figure and ground.</p></div>
<p><strong>Perceptions accord more often with object&#8217;s properties than with the sensory stimulation. Perceptual constancies cause one to perceive the world more correctly than would be expected from sensory stimulation. Illusions are perceptions where perception accords neither with how the sensory receptors are stimulated nor with the characteristics of the objects themselves. Illusions are pervasive phenomena. Such experiences have been regularly and consistently reported by virtually everyone. Illusions are defined as special perceptual experiences in which information arising from &#8220;real&#8221; external stimuli leads to an incorrect perception or false impression.An illusion is not a simple error in perception. Illusions have features whose nature it is to evoke an incorrect perception. Illusions describe subjective perceptual experience that contradicts objective reality. Some of these false impressions arise from factors beyond an individual&#8217;s control. Bending or refraction is a property of light rays. We seek light energy for its ability to provide a realistic experience. When the illumination is insufficient, such as in a dark room, a rope could be misinterpreted as a snake(&#8220;Rajju Sarpa Bhranti&#8221;). The moment the room is illuminated with light, the darkness is gone, and the misconception is destroyed. Indian traditions encourage individuals to avoid the products or results of an illusionary experience. A rational individual would not chase a mirage to find water. When we use sensitive instruments, we take care to avoid optical errors while recording our observations. Any impression that contradicts the &#8216;facts of reality&#8217;, or fails to report the &#8216;true&#8217; character of an object or an event should be discarded. The apparent daily motion of the Sun and stars across the sky is an illusion that we experience all through our existence. This illusion is not caused by any of the Four Fundamental Forces that operate in the universe. Gravitation is the universal force of attraction that affects all matter and it could explain the consistency of Earth&#8217;s orbit around the Sun. Gravitation is not the force that is mediating the mechanism that gives us alternating periods of darkness and light while the reality of Sun is different.</strong></p>
<div id="attachment_1057" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px"><img class="size-full wp-image-1057" title="Sunrise is an Illusion" src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/sunrise-is-an-illusion.jpg" alt="Sunrise is an Illusion" width="470" height="352" /><p class="wp-caption-text">Sunrise, Sunset, and the apparent motion of Sun across our sky is an illusion with which we exist all of our lives.</p></div>
<p><strong>MAYA  IS  A  FUNDAMENTAL  FORCE  :</strong></p>
<p><strong>The most important motion of the Earth is its rotation or spinning on an axis. This is the motion that gives us the experience of alternating days and nights while in reality, the Sun shines brightly all the time.The speed of the earth&#8217;s rotation can be described in two ways, the angular speed and the linear speed( of a point on the surface of the Earth). The angular or Omega speed of Earth is 0.00007272 radians per second or about 0.5 degrees of rotation in two minutes. The Linear speed or the Linear velocity on the surface of the Earth is 0.278 miles per second or about 1,000 miles per hour. It is surprisingly a very fast motion. While it spins on its axis, the Earth orbits the Sun at a speed of 18.6 miles per second( 30 Kms/Second ). On an average, Earth travels about 66,660 miles per hour and in a year Earth travels about 584 million miles. Earth also partakes of the Sun&#8217;s motion as a member of the Milky Way Galaxy. The Sun revolves around the galactic center at a speed of about 155 miles per second( 250 Kms/Second ). We exist upon this planet Earth with no sensory perception of the physical motions of the Earth.We exist in a universe without knowing the reality of our physical movement and position in a system that is constantly in motion. However, the periodicity of man&#8217;s earthly existence depends upon Earth&#8217;s spin. Man&#8217;s fundamental biological functions are synchronized with the rhythmic phases of environmental changes caused by Earth&#8217;s rotation. Apart from &#8216;Sleep-Wakefulness&#8217; Cyles, man seems to be unable to live without some concept of time. Through conditioning to time, and by way of biological rhythms ( Diurnal Rhythm, Solar Rhythm, or Circadian Rhythm), human physiology provides a biological clock that offers points of reference for temporal orientation. The biological clock induces age related changes. As long as Earth is spinning, it would cause both environmental changes as well as physical changes in our bodies. Since, we do not have the ability to stop the Force/Power/Energy that is causing the rotational spin, we are encouraged to dissociate our sense of &#8216;Identity&#8217; with our physical body which is subject to physical changes such as old age and death. To perceive is to become aware of a stimulation in the present. The present is only a point along the continuum of becoming an instant when future is transformed into past. As the Earth is constantly spinning beyond man&#8217;s control, the instant known as &#8216;present&#8217; gets transformed into &#8216;past&#8217;. Indian tradition claims that &#8216; reality&#8217; could not be an experience of past, present, or future. Reality has to exist in a state that is unchanging and eternal. A Fundamental Force that moves the Earth and contributes to this spin governs man&#8217;s earthly existence. Man is virtually ruled and dominated by this Force/Power/Energy which causes the rotation of Earth on its axis. No other planet that we know today exhibits an Earth like spin. The length of day and night is totally different on planet Venus. One day on planet Venus is equal to 243 Earth days. Moon spins with the same speed as it revolves around the Earth, one face always points towards the Earth. The Moon rotates on it&#8217;s axis and revolves around the Earth in 27  1/3 days. Because of the rotation and revolution speed being the same, man never sees the dark side of the Moon. Man celebrates &#8216;Full Moon&#8217; Days when in reality Moon is never fully lit. Man marks his Lunar Calendar with important events with his limited knowledge about the waxing and waning phases of Moon. Man is literally trapped to exist upon Earth and live in accordnace with the changes it brings while it is spinning. These are the trappings of the Fundamental Force which I would like to describe as &#8220;MAYA&#8221; which provides the man with an illusionary sensory experience of Sunrise and Sunset. The physical world is real. Sun is a real object. Darkness and Light are actual, real visual experiences. But, Sunrise and Sunset, in reality are not actual events in man&#8217;s life and existence. The reality of man, the reality of man&#8217;s identity does not belong to the material realm where man perceives the physical world in which he exists. &#8220;Maya&#8221; is also described as &#8220;AVIDYA&#8221; which contributes to ignorance and it would not let man gain true knowledge of his identity. Man gains true knowledge when he gets away from the trappings of Maya and recognizes that there is no dawn or dusk and he has the same identity of that Light described as &#8220;PARAM JYOTI&#8221; which shines with constancy and consistency and is the Ultimate Reality. </strong></p>
<div id="attachment_1058" class="wp-caption aligncenter" style="width: 290px"><img class="size-full wp-image-1058" title="Adi Shankaracharya - MAYA is a Fundamental Force." src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/adi-shankaracharya.jpg" alt="Adi Shankaracharya - MAYA is a Fundamental Force." width="280" height="400" /><p class="wp-caption-text">Man&#39;s perception of Reality is changed by the external Force/Power/Energy known as Maya. &#34;MAAYA MAYA MIDAM AKHILAM HITVAA&#34;</p></div>
<p><strong>The only Force/Power/Energy which can help man to overcome &#8220;AVIDYA&#8221;, the Force that causes the Illusion of Sunrise and Sunset, is the Force that I have described before as &#8220;KRUPA&#8221;( Krupa &#8211; A Force to Preserve Human Existence, published on August 10, 2009). I have described the importance of Gravitational Force in my post titled &#8216;Earthly Existence &#8211; Enjoy the Fragrance&#8217; published on November 20, 2008. Man should realize that he is not the perceiver. He is not the organ of perception. What has been perceived does not describe his true identity or the &#8216;Real World&#8217;. Since its time of origin, the Milky Way Galaxy, the Sun, and Earth have existed in a state of motion. The universe is still expanding, the Galaxies are moving apart and we do not know our precise location in this ever changing universe. As long as man is attached to his physical body, man would experience the changes in his environment and also in his body that causes old age and death. He need to illuminate his mind with a light that illuminates the three planes of human existence, the physical, the mental, and the causal or spiritual dimensions in a constant and consistent manner.</strong></p>
<div id="attachment_1063" class="wp-caption aligncenter" style="width: 237px"><img class="size-full wp-image-1063" title="Gayatri Maha Mantra - The Perception of Reality" src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/gayatri-maha-mantra.jpg" alt="Gayatri Maha Mantra - The Perception of Reality" width="227" height="283" /><p class="wp-caption-text">Gayatri Maha Mantra connects the person to the illuminating power of Light, a power that shines constantly and consistently and this illumination is not associated with the property of refraction that contributes to illusions.</p></div>
<div id="attachment_1059" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px"><img class="size-full wp-image-1059" title="Lord Rama - The Fundamental Force of &#34;MAYA&#34;" src="http://bhavanajagat.wordpress.com/files/2009/11/lord_rama11.jpg" alt="Lord Rama - The Fundamental Force of &#34;MAYA&#34;" width="470" height="352" /><p class="wp-caption-text">Lord Rama&#39;s earthly journey is celebrated according to a calendar which is created by the Force of Maya. The position of Sun, Moon, Planets and Stars that describe the major events of &#39;RAMAYANA&#39; in reality are not actual positions but are only apparent postions perceived by man. Man needs the Force of &#34;KRUPA&#34; to overcome the trappings of &#34;MAYA&#34;.</p></div>
<p><strong>The personality of Rama had an earthly existence. The name of Rama is identified as Eternal Truth. His name is associated with the power to destroy the Force of illusion that causes old age and death.</strong></p>
<p><strong><em>Jayatu, Jayatu Mantram, Janma saaphalya Mantram,</em></strong></p>
<p><strong><em>Janana marana chheda klesha vichheda Mantram,</em></strong></p>
<p><strong><em>Sakala nigama Mantram, sarva saastraika mantram,</em></strong></p>
<p><strong><em>Raghupati nija Mantram, Raama Raameti Mantram.</em></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[A Story told in Pictures]]></title>
<link>http://ronakmsoni.wordpress.com/2009/11/11/a-story-told-in-pictures/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 14:56:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ronak M Soni</dc:creator>
<guid>http://ronakmsoni.wordpress.com/2009/11/11/a-story-told-in-pictures/</guid>
<description><![CDATA[I watched Nina Paley&#8217;s Sita Sings the Blues around an hour ago, and I thought of a great way t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>I watched Nina Paley&#8217;s <em>Sita Sings the Blues</em> around an hour ago, and I thought of a great way to write about this film: just show lots of screenshots, and add a minimum amount of commenting from below. Ought to be enough, right? Obviously, I refuse to do that because the thing I liked best about it was being continuously surprised visually. In fact, I&#8217;m going to go the exact opposite way, by showing only one or two screenshots.</p>
<p>The closest parallel I can think of to this movie is Julie Taymor&#8217;s <em>Across the Universe</em>, which used Beatles songs to talk about a love story. <em>Sita Sings the Blues</em> uses Annette Hanshaw&#8217;s Blues music to tell the <em>Ramayana</em> and Nina Paley&#8217;s &#8217;similar&#8217; &#8211; I&#8217;ll come back to this later &#8211; story . The two major differences between the two are that the latter is animated, and while the latter merely uses the music the former exists solely for it. The major difference <em>I felt</em>, however, was that, for me, the former worked as a movie. Don&#8217;t get me wrong, I very much enjoyed this movie. Never in its eighty or so minutes did I feel like looking away. It&#8217;s just that there were characters on the screen, and I didn&#8217;t feel anything of what they felt.</p>
<p>The importance of this fact, however, is rapidly dwindling with time. Why? Simple; because watching this movie was an experience that was worth not thinking much of it as a movie. Would I have been happier, more involved, if I cared for the storyline? Yes, very much. Do I hate this movie because I didn&#8217;t care for the people in it? Nah, I&#8217;m too young for that.</p>
<p>Before I go to the most important part of this review, let me talk about the &#8217;similarities&#8217; that Miss Paley found. They do exist; there&#8217;s no denying that. A warning, however, to people who have never read the <em>Ramayana</em>: the story is twisted almost completely out of shape. It&#8217;s like this, you see: <a title="Hang around till the last story; it's just amazing" href="http://www.youtube.com/watch?v=8T_jwq9ph8k" target="_blank">people will see what they want to</a>. (This is just a warning to a reader who hasn&#8217;t read the <em>Ramayana</em>, not a complaint against the movie.)</p>
<p>Now, after having not talked about the visual style of this movie for way too long, let me talk about it. Actually, I can&#8217;t. You see, its visual style is intrinsically connected to the storytelling style as well as the background score, so I&#8217;ll try and talk about all three together (though I probably won&#8217;t be able to). The movie has, basically, four distinct styles, which I will call modern-day, talking-myth, sita-singing-the-blues and free-for-all.</p>
<p>Modern-day is very rudimentary, really. It&#8217;s just meant to fill us up on Miss Paley&#8217;s life, and how she got the inspiration to make this movie. The most interesting thing about it is how the image keeps on shifting; unlike our normal expectation from cartoons, which is a naturalistic movement, this was just hastily hand-drawn, so that one frame is not the result of a naturalistic movement from the last but a very noticeable shift. I say it is hastily hand-drawn, but I have to point out that this shift dies down when called for, which is just a tribute to Miss Paley&#8217;s (all other ways to refer to her seem wrong) skills as an animator. So, why was it done this way? To provide some relief from the attack on our senses that is the rest of the movie, is my guess, and because the world the target audience is familiar with doesn&#8217;t need to be filled in. Anyway, here&#8217;s a screenshot from this style:</p>
<p style="text-align:center;">
<div id="attachment_162" class="wp-caption aligncenter" style="width: 378px"><a href="http://ronakmsoni.wordpress.com/files/2009/11/screenshot.png"><img class="size-full wp-image-162" title="Screenshot in 'modern-day' style" src="http://ronakmsoni.wordpress.com/files/2009/11/screenshot.png" alt="Screenshot in 'modern-day' style" width="368" height="277" /></a><p class="wp-caption-text">Look at the subject line</p></div>
<p>There&#8217;s the talking-myth style which is used when the characters from the <em>Ramayana</em> are talking, in prose. It is a clever amalgamation of the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mithila_Painting" target="_blank"><em>Madhubani</em></a> style of painting, <a href="http://puppetindia.com/shadow.htm" target="_blank">Indian Shadow puppetry</a> and <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mughal_painting" target="_blank">more <em>Mughal</em>-influenced renditions</a>, and these are just the ones I picked up. I congratulate Miss Paley in knowing more about Indian art forms than almost the whole of India. I refuse to show screenshots of this as it is so mindlessly inventive that  can&#8217;t think of a suitably dull moment.</p>
<p>Then there&#8217;s the sita-sings-the-blues. This is what has received most attention, and, you know, it stars Annette Hanshaw, singing the blues. Now, this part really irked me; why is it that, no matter what, Sita looks happy? It is monstrously irritating.</p>
<p style="text-align:center;">
<div id="attachment_164" class="wp-caption aligncenter" style="width: 378px"><a href="http://ronakmsoni.wordpress.com/files/2009/11/screenshot-1.png"><img class="size-full wp-image-164" title="Screenshot of 'sits-sings-the-blues' style" src="http://ronakmsoni.wordpress.com/files/2009/11/screenshot-1.png" alt="Screenshot of 'sits-sings-the-blues' style" width="368" height="277" /></a><p class="wp-caption-text">Give us this day our daily popcorn</p></div>
<p>Free-for-all, my favourite. This is the dullest bit I could think of.</p>
<div id="attachment_165" class="wp-caption aligncenter" style="width: 501px"><a href="http://ronakmsoni.wordpress.com/files/2009/11/screenshot-2.png"><img class="size-full wp-image-165" title="Screenshot from 'free-for-all' style" src="http://ronakmsoni.wordpress.com/files/2009/11/screenshot-2.png" alt="Screenshot from 'free-for-all' style" width="491" height="369" /></a><p class="wp-caption-text">Her beginning is where I end</p></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Caves of Andhra Pradesh]]></title>
<link>http://andhrapradeshtourism.wordpress.com/2009/11/11/caves-of-andhra-pradesh/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 11:52:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Gopal</dc:creator>
<guid>http://andhrapradeshtourism.wordpress.com/2009/11/11/caves-of-andhra-pradesh/</guid>
<description><![CDATA[Andhra Pradesh is a place which can make you wonder, it has got everything that can satisfy a touris]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Andhra Pradesh is a place which can make you wonder, it has got everything that can satisfy a tourists. Some say Andhra Pradesh is called the Rice Bowl of India. It has several mind blowing tourist destinations. With a land having such a glorious past cannot be missed. Andhra Pradesh is mentioned in <a href="http://www.britannica.com/EBchecked/topic/357806/Mahabharata" target="_blank">Mahabharata</a>, Ramayana, Puranas and <a href="http://www.answers.com/topic/j-taka-tales" target="_blank">Jataka Tales</a>. The different caves in Andhra Pradesh takes us back to an era where the legends lived among humans, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mythology" target="_blank">mythology</a> coexisted among reality. It is an exuberating experience to explore the caves and reanimate the lost legends. The major caves are Belum caves which are the second largest cave in the Indian sub continent, Bora caves in Kirinrandal where the Gosthani  River flows through the cave, Undavalli caves where rock cut Buddhist architecture can be seen and Yaganti caves.</p>
<p>Andhra Pradesh has an international airport in Hyderabad with a wide network of flights in and outside the nation. Hyderabad railway station is also one of the major railway stations in the country hence the accessibility is of least concern. There are also several <a href="http://www.holidayiq.com/Popular-Andhra-Pradesh-Hotels-Resorts-Reviews-Ratings-Tariff-Rates-275-16-yes-state.html" target="_blank">hotels</a> and resorts in Andhra Pradesh.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ramayana]]></title>
<link>http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/10/ramayana/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 08:32:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Prabu</dc:creator>
<guid>http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/10/ramayana/</guid>
<description><![CDATA[Judul Buku Ramayana Pengarang Sunardi D. M. Penerbit Balai Pustaka Tahun 1992 (Cetakan keempat) Baha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="109" valign="top"><strong>Judul Buku</strong></td>
<td width="319" valign="top"><strong>Ramayana</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="109" valign="top"><strong>Pengarang</strong></td>
<td width="319" valign="top">Sunardi D. M.</td>
</tr>
<tr>
<td width="109" valign="top"><strong>Penerbit</strong></td>
<td width="319" valign="top">Balai Pustaka</td>
</tr>
<tr>
<td width="109" valign="top"><strong>Tahun</strong></td>
<td width="319" valign="top">1992 (Cetakan keempat)</td>
</tr>
<tr>
<td width="109" valign="top"><strong>Bahasa</strong></td>
<td width="319" valign="top">Indonesia</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-39" title="Sunardi DM-Ramayana" src="http://wayangpustaka.wordpress.com/files/2009/11/sunardi-dm-ramayana.jpg" alt="Sunardi DM-Ramayana" width="400" height="553" /></p>
<p>Buku ini merupakan kelanjutan dari cerita Arjuna Sasrabahu.  Berdasarkan tulisan di Pendahuluan buku ini ditulis berdasarkan referensi-referensi :</p>
<ul>
<li>Serat Padhalangan Ringgit Purwa jilid 36 (Jatuhnya Negri Ayodya, Perkawinan Dasarata, Lahirnya Dewi Sinta dan Anoman, Perkawinan Rama dan Sinta, Rama Gandrung, Prabu Rama, Pasanggrahan Maliawan, Anoman Duta, Rama Tambak, Anggada Duta dan Bukbis), dan jilid 37 (Trikaya Tewas, Trisirah Tewas, Kumbakarna Tewas, Megananda Tewas, Rahwana Tewa, Tambak Undur, Sinta Obong, Rama Nitik dan Rama Nitis).</li>
<li>Juga diramu dengan cerita-cerita silsilah yang terdapat dalam buku Arjuna Sasrabahu karangan Raden Ngabehi Sindusastra terbitan Balai Pustaka 1930, jilid 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 (lahirnya tokoh-tokoh Alengka, lahirnya kera anak dewa).</li>
<li>Sumber yang lain adalah adalah buku Serat Rama terbitan Van Dorp &#38; Co Semarang dan Surabaya tahun 1911, dan buku almanak yang memuat cerita Ramawijaya terbitan Kolf Bunning Yogyakarta tahun 1922 (nama pengarang tidak disebutkan)</li>
</ul>
<p><a href="http://www.4shared.com/file/87063412/2a5105b1/5Sunardi_DM_-_Ramayana.html">Ebooknya dapat diunduh disini</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
