<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>rasulullah &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/rasulullah/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "rasulullah"</description>
	<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 03:03:55 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Kisah Cinta Yang Menakjubkan]]></title>
<link>http://frisformasi.wordpress.com/2009/11/28/kisah-cinta-yang-menakjubkan/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 15:55:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>frismyads</dc:creator>
<guid>http://frisformasi.wordpress.com/2009/11/28/kisah-cinta-yang-menakjubkan/</guid>
<description><![CDATA[Di dalam Gua Tsur Rasululloh saw dan Abu Bakar ra bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy. Rasa lelah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://frisformasi.wordpress.com/files/2009/11/gua_tsur.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-603" title="gua_tsur" src="http://frisformasi.wordpress.com/files/2009/11/gua_tsur.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Di dalam Gua Tsur Rasululloh saw dan Abu Bakar ra bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy. Rasa lelah mengharuskan mereka beristirahat. Dan Abu bakar pun mempersilahkan kedua pahanya untuk dijadikan bantalan kepala Rasulullah. Keadaan begitu hening saat keduanya melepas lelah. Rasulullah saw memejamkan matanya sementara Abu Bakar ra mengawasi. Dalam penggalan waktu istirahat mereka, Abu Bakar yang terjaga melihat ular mendekati tempat mereka berdua. Keringat dingin mengucur dari dahinya saat ular itu semakin mendekati kakinya. Hingga akhirnya <!--more-->sang ular menusukan taring tajamnya pada salah satu kaki Abu Bakar ra. Abu bakar berusaha menahan sakit dengan tidak menggerakan tubuhnya. Matanya berderai merasakan betapa sakit luka yang di derita. Hingga Rasululloh terbangun dan terkejut melihat keadaan sahabatnya. Sambil menahan rasa sakit bertuturlah Abu Bakar tentang peristiwa yang menimpanya. Kemudian Rasululloh berkata “Mengapa engkau tidak menghindarinya?” Sambil menahan rasa sakit Abu Bakar ra menjawab “Jika aku menggerakan kakiku, aku takut mengganggu istirahat engkau ya Rasulullah.”</p>
<p>Itulah sepenggal kisah cinta dua orang kekasih Allah. Pengorbanan Abu bakar ra adalah buah dari ketulusan cinta kepada Rasulullah saw. Dan memang seperti itulah seharusnya cinta, ia adalah manifestasi pengorbanan dari sang pecinta kepada yang dicintainya. Pengorbanan menjadi salah satu tolak ukur kedalaman cinta seseorang. Sementara tingkatan tertingginya adalah saat sang pencinta mengorbankan sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya demi kebahagiaan orang yang dicintai.</p>
<p><a href="http://frisformasi.wordpress.com/files/2009/11/gua.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-604" title="gua" src="http://frisformasi.wordpress.com/files/2009/11/gua.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Ibrahim as mematuhi perintah Allah untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail as karena cinta, walau saat penyembelihan Allah mengganti dengan seekor domba. Abdurahman Bin Auf mendermakan seluruh hartanya karena cinta, Ali Bin Abi Thalib menggantikan tidur Nabi saat hijrah karena cinta. Khansa menyuruh ketiga putranya berjihad di medan perang karena cinta. Para sahabat Rasulullah berperang demi tegaknya keadilan Islam dengan menggadaikan harta dan jiwa mereka karena cinta. Cinta suci nan hakiki yakni Cinta untuk yang menciptakan cinta, Allah swt. Tak ada parameter yang paling akurat menilai seberapa dalam cinta seseorang kecuali pengorbanan.</p>
<p>Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya),( QS.Al Ahzab :23 )</p>
<p>Begitu pula cinta kita kepada manusia, kepada orang tua, pasangan hidup, anak-anak, sahabat dan lainnya. Kebahagiaan bagi pecinta sejati adalah saat ia mampu mempersembahkan kebahagiaan bagi orang yang dicintainya walaupun terkadang harus ditukar dengan sesuatu yang paling berharga yang ia miliki.</p>
<p>Seorang ibu yang sering kali tak peduli dengan keadaan dirinya asalkan anaknya bahagia adalah bentuk pengorbanan atas nama cinta. Seorang ayah bersusah payah bekerja menafkahi keluarganya adalah bentuk pengorbanan atas nama cinta</p>
<p>Cinta dan pengorbanan adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan satu sama lainnya, sayap bagi sang burung untuk menjelajahi cakrawala, angin yang menerbangkan serbuk sari pada sang bunga, embun yang menghadiahi pagi dengan kesegarannya dan ruh bagi raga yang dicipta-Nya.</p>
<p>Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki semangat pengorbanan. Seperti Rasulullah kepada Tuhannya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Para Sahabat]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/para-sahabat/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 02:40:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/para-sahabat/</guid>
<description><![CDATA[SAHABAT RASULULLAH Abbas bin Abdul Muththalib Abd’llah Bin Mas’ud Abdullah Bin Abbas Abdullah Bin Ja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sahabat.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sahabat.jpg" alt="" title="sahabat" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-676" /></a></p>
<p></strong></p>
<p><strong><br />
SAHABAT RASULULLAH</strong></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/abbas-bin-abdul-muththalib/">Abbas bin Abdul Muththalib</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/abdllah-bin-masud/">Abd’llah Bin Mas’ud</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/abdullah-bin-abbas/">Abdullah Bin Abbas</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/abdullah-bin-jahsy-ra/">Abdullah Bin Jahsy. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/24/abdullah-ibnu-rawahah-radhiallahu-anhu/">Abdullah Ibnu Rawahah. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/abdullah-ibnu-ummi-maktum-ra/">Abdullah Ibnu Ummi Maktum .ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/abdurrahman-bin-abi-bakar/">Abdurrahman Bin Abi Bakar</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/24/abdurrahman-bin-auf-radhiallaahu-anhu/">Abdurrahman bin ‘Auf. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/abu-ubaidah-ibnul-jarrah-ra/">Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/24/abu-hurairah-radhiallahu-anhu/">Abu Hurairah. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/abu-lubabah-bin-abdil-mundzir-ra/">Abu Lubabah bin Abdil Mundzir .ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/abu-sufyan-bin-harb-ra/">Abu Sufyan Bin Harb. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/abu-sufyan-bin-haris/">Abu Sufyan Bin Haris</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/amr-bin-ash/">‘Amr Bin ‘Ash</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/hudzaifah-ibnul-yaman/">Hudzaifah Ibnul Yaman</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/imran-bin-hushain/">Imran Bin Hushain</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/24/khabbab-bin-arats-ra/">Khabbab Bin Arats. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/24/khalid-bin-walid-radhiallahu-anhu/">Khalid bin Walid. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/mushab-bin-umair/">Mush’ab Bin Umair</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/saad-bin-muadz/">Sa’ad Bin Muadz</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/salim-maula-abu-hudzaifah/">Salim, Maula Abu Hudzaifah</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/salman-al-farisi-ra/">Salman Al-Farisi. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/suhail-bin-amar/">Suhail Bin ‘Amar</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/24/thufeil-bin-amr-ad-dausi-radhiallahu-anhu/">Thufeil bin ‘Amr Ad-dausi. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/24/tsabit-bin-qeis-radhiallahu-anhu/">Tsabit Bin Qeis. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/ubai-bin-kaab/">Ubai Bin Ka’ab</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/umeir-bin-saad/">Umeir Bin Sa’ad</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/24/utsman-bin-mazhun-radhiallahu-anhu/">Utsman bin Mazh’un. ra</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/25/zaid-bin-haritsah/">Zaid Bin Haritsah</a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-haram-binti-malhan/">Ummu Haram Binti Malhan </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/asma-binti-umais/">Asma` Binti ‘Umais </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-sulaim-binti-malhan/">Ummu Sulaim binti Malhan </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/said-bin-amir-radhiallaahu-anhu/">Sa’id bin Amir -radhiallaahu ‘anhu </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/sumayyah-binti-khayyat/">Sumayyah binti Khayyat </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/abdullah-bin-hudzafah-as-sahmiy/">Abdullah Bin Hudzafah as-Sahmiy </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/asma-binti-yazid-bin-sakan/">Asma` Binti Yazid Bin Sakan </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/maimunah-binti-al-harits/">Maimunah Binti Al-Harits </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/juwairiyah-binti-al-harits/">Juwairiyah Binti al-Harits </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/zainab-binti-jahsy-2/">Zainab binti Jahsy </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/khaulah-binti-tsalabah/">Khaulah Binti Tsa�labah </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-habibah-ramlah-binti-abu-sufyan/">Ummu Habibah, Ramlah Binti Abu Sufyan </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-salamah-2/">Ummu Salamah </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/shafiyyah-binti-huyai/">Shafiyyah Binti Huyai </a></p>
<p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-fadhl/">Ummu Fadhl </a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ummu Haram Binti Malhan]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-haram-binti-malhan/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:39:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-haram-binti-malhan/</guid>
<description><![CDATA[Ummu Haram Binti Malhan -radhiallaahu &#8216;anha- (Wanita Yang Syahid Di Laut) Beliau adalah Ummu H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul99.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul99.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul99" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-674" /></a></p>
<p>Ummu Haram Binti Malhan -radhiallaahu &#8216;anha-</strong></p>
<p>(Wanita Yang Syahid Di Laut)</p>
<p>Beliau adalah Ummu Haram binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghannam bin Adi bin Nazar al-Anshariyah an-Najjariyyah al-Madaniyyah.</p>
<p>Beliau adalah saudari Ummu Sulaiman, bibi dari Anas bin Malik pembantu Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam, Beliau adalah istri dari sahabat yang agung yang bernama Ubadah bin ash-Shamit. Kedua saudaranya adalah Sulaim dan Haram; keduanya ikut di dalam perang Badar dan Uhud dan kedua-duanya syahid pada perang Bi’ir Ma’unah. Adapun Haram adalah seorang pejuang yang tatkala ditikam dari belakang beliau mengatakan, “Aku telah berjaya demi Rabb Ka’bah”.</p>
<p>Ummu Haram termasuk wanita yang terhormat, beliau masuk Islam, berbai’at kepada Nabi shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam dan ikut berhijrah. Beliau meriwayatkan hadis Anas bin Malik meriwayatkan dari beliau dan ada juga yang lain yang meriwayatkan dari beliau.</p>
<p>Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam memuliakan beliau dan pernah mengunjungi beliau di rumahnya dan istirahat sejenak di rumahnya. Beliau dan Ummu Sulaim adalah bibi Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam baik apabila dihubungkan dengan sepersusuan ataupun dikaitkan dengan nasab, sehingga menjadi halal menyendiri keduanya.</p>
<p>Anas bin Malik berkata; “Rasulullah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam masuk ke rumah kami, yang mana tidak ada yang didalam melainkan saya, ibuku (Ummu Sulaim) dan bibiku Ummu Haram. Beliau bersabda : “Berdirilah kalian, aku akan shalat bersama kalian”. Maka beliau shalat bersama kami pada saat bukan waktu shalat wajib.</p>
<p>Ummu Haram berangan-angan untuk dapat menyertai peperangan bersama mujahidin yang menaiki kapal untuk menyebarkan dakwah dan membebaskan manusia dari peribadatan kepada sesama hamba menuju peribadatan kepada Allah saja. Akhirnya Allah mengabulkan angan-angannya dan mewujudkan cita-citanya. Tatkala dinikahi oleh sahabat agung yang bernama Ubadah bin Shamit, mereka keluar untuk berjihad bersama dan Ummu Haram mendapatkan syahid disana dalam perang Qubrus (Syprus).</p>
<p>Anas berkata: “Adalah Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam apabila pergi ke Quba’ beliau mampir kerumah Ummu Haram binti Malhan, kemidian Ummu Haram mwnyediakan makanan bagi beliau. Adapun suami Ummu Haram adalah Ubadah bin Shamit. Pada suatu hari Rasululllah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam mampir kerumah beliau, Ummu Harampun menyediakan untuk beliau, makanan kemudian Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam menyandarkan kepalanya dan Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam tertidur. Tidak beberapa lama kemudian beliau bangun lalu beliau tertawa. Ummu Haram bertanya, “Apa yang membuat anda tertawa ya Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam?” Beliau bersabda: “Sekelompok manusia dari kelompok-Ku, mereka berperang di jalan Allah I dan berlayar di lautan sebagaiman raja-raja diatas pasukannya atau laksana para raja yang memimpin pasukannya”.</p>
<p>Ummu Haram berkata: “Wahai Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam do`akanlah agar aku termasuk golongan mereka”.</p>
<p>Kemudian Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam mendo`akan Ummu Haram lalu meletakkan kepalanya dan melanjutkan tidurnya. Sebentar kemudian beliau terbangun dan tertawa.</p>
<p>Ummu Haram bertanya, “Wahai Rasulullah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam apa yang membuat anda tertawa?”.</p>
<p>Rasulullah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“Sekelompok manusia dari umatku akan diperlihatkan kepadaku tatkala berperang di jalan Allah Ta&#8217;ala laksana raja bagi pasukannya”.</p>
<p>Ummu Haram berkata : “Wahai Rasululllah! do`akanlah agar saya termasuk golongan mereka”.</p>
<p>Rasululllah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>“Engkau termasuk golongan para pemula”.</p>
<p>Anas bin Malik berkata: Ummu Haram keluar bersama suaminya yang bernama Ubadah bin Shamit. Tatkala telah melewati laut, beliau naik seekor hewan kemudian hewan tersebut melemparkan beliau hingga wafat. Peristiwa tersebut terjadi pada perang Qubrus (Syprus), sehingga beliau dikubur disana. Ketika itu pemimpin pasukan adalah Mu`awiyah bin Abi Sufyan pada masa khalifah Utsman bin Affan, semoga Allah merahmati mereka seluruhnya.</p>
<p>Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 27 Hijriyah.</p>
<p>Begitulah, Ummu Haram adalah termasuk salah satu dari keluarga mulia yang setia terhadap prinsip yang dia pegang, yang mana beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk menyebarkan ‘aqidah tauhid yang murni. Beliau tidak mengharapkan setelah itu melainkan ridha Allah `Azza wa jalla.</p>
<p>(<em>Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN</em>)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Asma` Binti 'Umais]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/asma-binti-umais/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:38:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/asma-binti-umais/</guid>
<description><![CDATA[Asma` Binti &#8216;Umais -radhiallaahu &#8216;anha- Beliau adalah Asma’ binti Ma`d bin Tamim bin Al-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul98.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul98.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul98" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-672" /></a></p>
<p>Asma` Binti &#8216;Umais -radhiallaahu &#8216;anha-</strong></p>
<p>Beliau adalah Asma’ binti Ma`d bin Tamim bin Al-Haris bin Ka`ab Bin Malik bin Quhafah, dipanggil dengan nama Ummu Ubdillah. Beliau adalah termasuk salah satu di antara empat akhwat mukminah yang telah mendapat pengesahan dari Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya: &#8220;Ada empat akhwat mukminat yaitu Maimunah, Ummu Fadl, Salma dan Asma&#8221; .</p>
<p>Beliau masuk Islam sebelum kaum muslimin memasuki rumah al-Arqam. Beliau adalah istri pahlawan di antara sahabat yaitu Ja`far bin Abi Thalib, sahabat yang memiliki dua sayap sebagaimana gelar yang Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam berikan terhadap beliau. Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam manakala ingin mengucapkan salam kepada Abdullah bin Ja`far beliau bersabda :</p>
<p>‘Selamat atas kamu wahai putra dari seorang yang memiliki dua sayap (Dzul janahain).”</p>
<p>Asma’ termasuk wanita muhajirah pertama, beliau turut berhijrah bersama suaminya yaitu ja`far bin Abi Thalib menuju Habasyah, beliau merasakan pahit getirnya hidup di pengasingan. Adapun suaminya adalah juru bicara kaum muslimin dalam menghadapi raja Habasyah, an-Najasyi.</p>
<p>Di bumi pengasingan tersebut beliau melahirkan tiga putra yakni Abdullah, Muhammad dan Aunan. Adapun putra beliau yaitu Abdullah sangat mirip dengan ayahnya, sedangkan ayahnya sangat mirip dengan Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam, sehingga hal itu menggembirakan hati beliau dan menumbuhkan perasaan rindu untuk melihat Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ja`far :</p>
<p>“engkau menyerupai bentuk (fisik)-ku dan juga akhlakku.”</p>
<p>Ketika Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam memerintahkan bagi para muhajirin untuk bertolak menuju Madinah maka hampir-hampir Asma’ terbang karena girangnya, inilah mimpi yang menjadi kenyataan dan jadilah kaum Muslimin mendapatkan negeri mereka dan kelak mereka akan menjadi tentara-tentara Islam yang akan menyebarkan Islam dan meninggikan kalimat Allah.</p>
<p>Begitulah, Asma ‘ keluar dengan berkendaraan tatkala hijrah untuk kali yang kedua dari negri Habasyah menuju negeri Madinah. Tatkala rombongan muhajirin tiba di Madinah, ketika itu pula mereka mendengar berita bahwa kaum muslimin baru menyelesaikan peperangan dan membawa kemenangan, takbirpun menggema di segala penjuru karena bergembira dengan kemenangan pasukan kaum Muslimin dan kedatangan muhajirin dari Habsyah.</p>
<p>Ja`far bin Abi Thalib datang disambut oleh Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam dengan gembira kemudian beliau cium dahinya seraya bersabda :</p>
<p>“Demi Allah aku tidak tahu mana yang lebih menggembirakanku, kemenangan khaibar ataukah kedatangan ja`far.”</p>
<p>Asma’ masuk ke dalam rumah Hafshah binti Umar tatkala Nabi menikahinya, tatkala itu Umar masuk ke rumah Hafshah sedangkan Asma’ berada di sisinya, lalu beliau bertanya kepada Hafshah, ‘Siapakah wanita ini?” Hafshah menjawab, “Dia adalah Asma’ binti Umais? Umar bertanya, inikah wanita yang datang dari negeri Habasyah di seberang lautan?’ Asma menjawab, “Benar.” Umar berkata; ‘Kami telah mendahului kalian untuk berhijrah bersama Rasul, maka kami lebih berhak terhadap diri Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam dari pada kalian. “Mendengar hal itu Asma’ marah dan tidak kuasa membendung gejolak jiwanya sehingga beliau berkata: “Tidak demi Allah, kalian bersama Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau memberi makan bagi yang kelaparan di antara kalian dan mengajarkan bagi yang masih bodoh diantara kalian, adapun kami di suatu negeri atau di bumi yang jauh dan tidak disukai yakni Habasyah, dan semua itu adalah demi keta`atan kepada Allah dan Rasul-Nya shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian Asma’ diam sejenak selanjutnya berkata: “Demi Allah aku tidak makan dan tidak minum sehingga aku laporkan hal itu kepada Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam, kami diganggu dan ditakut-takuti, hal itu juga akan aku sampaikan kepada Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam, aku akan tanyakan kepada beliau, demi Allah aku tidak berdusta, tidak akan menyimpang dan tidak akan menambah-nambah.”</p>
<p>Tatakala Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam datang, maka berkata Asma’ kepada Nabi shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Nabi Allah sesungguhnya Umar berkata begini dan begini.” Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Umar, “Apa yang telah engkau katakan kepadanya?”. Umar menjawab, “Aku katakan begini dan begini”. Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam bersabda kepada Asma`:</p>
<p>“Tiada seorangpun yang berhak atas diriku melebihi kalian, adapun dia (Umar) dan para sahabatnya berhijrah satu kali akan tetapi kalian ahlus safinah (yang menumpang kapal) telah berhijrah dua kali.”</p>
<p>Maka menjadi berbunga-bungalah hati Asma’ karena pernyataan Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam tersebut lalu beliau sebarkan berita tersebut di tengah-tengah manusia, hingga orang-orang mengerumuni beliau untuk meminta penjelasan tentang kabar tersebut. Asma’ berkata: “Sungguh aku melihat Abu Musa dan orang-orang yang telah berlayar (berhijrah bersama Asma’ dan suaminya) mendatangiku dan menanyakan kepadaku tentang hadits tersebut, maka tiada sesuatu dari dunia yang lebih menggembirakan dan lebih besar artinya bagi mereka dari apa yang disabdakan Nabi shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.”</p>
<p>Manakala pasukan kaum muslimin menuju Syam, di antara ketiga panglimanya terdapat suami dari Asma’ yakni Ja`far bin Abi Thalib. Di sana di medan perang Allah memilih beliau di antara sekian pasukan untuk mendapatkan gelar syahid di jalan Allah.</p>
<p>Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah Asma’ dan menanyakan ketiga anaknya, merekapun berkeliling di sekitar Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah mencium mereka dan mengusap kepala mereka hingga kedua matanya melelehkan air mata. Berkatalah Asma’ dengan hati yang berdebar-debar menyiratkan kesedihan, “Demi ayah dan ibuku, apa yang membuat anda menangis? Apakah telah sampai suatu kabar kepada anda tentang Ja`far dan sahabatnya?” Beliau menjawab, “Benar, dia gugur hari ini.”</p>
<p>Tidak kuasa Asma’ menahan tangisnya kemudian Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam menghiburnya dan berkata kepadanya:<br />
“Berkabunglah selama tiga hari, kemudian berbuatlah sesukamu setelah itu.”<br />
Selanjutnya Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada anggota keluarga beliau:<br />
“Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja`far, karena telah datang peristiwa yang menyibukkan mereka.”</p>
<p>Tiada yang dilakukan oleh wanita mukminah ini melainkan mengeringkan air mata, bersabar dan berteguh hati dengan menghaarapkan pahala yang agung dari Allah. Bahkan sewaktu malam beliau bercita-cita agar syahid sebagimana suaminya. terlebih lebih tatkla beliau mendengar salah seorang laki-laki dari Bani Murrah bin Auf berkata: &#8220;Tatkala perang tersebut, demi Allah seolah-olah aku melihat Ja`far ketika melompat dari kudanya yang berwarna kekuning-kuningan kemudian beliau berperang hingga terbunuh. Beliau sebelum terbunuh berkata:</p>
<p>Wahai jannah (surga) yang aku dambakan mendiaminya<br />
harum semerbak baunya, sejuk segar air minumnya<br />
tentara Romawi menghampiri liang kuburnya<br />
terhalang jauh dari sanak keluarganya<br />
kewajibankulah menghantamnya kala menjumpainya</p>
<p>Kemudian Ja`far memegang bendera dengan tangan kanannya tapi dipotonglah tangan kanan beliau, kemudian beliau membawa dengan tangan kirinya, akan tetapi dipotonglah tangan kirinya, selanjutnya beliau kempit di dadanya dengan kedua lengannya hingga terbunuh.</p>
<p>Asma` mendapatkan makna dari sabda Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam yang pernah berkata kepada anaknya :<br />
&#8220;Assalamu`alaikum wahai putra dari seorang yang memiliki dua sayab.&#8221;</p>
<p>Rupanya Allah menggantikan kedua tangan Ja`far yang terputus dengan dua sayap yang dengannya beliau terbang di jannah sekehendaknya. Seorang ibu yang shalihah tersebut tekun mendidik ketiga anaknya dan membimbing mereka agar mengikuti jejak yang telah ditempuh oleh ayahnya yang telah sayahid, serta membiasakan mereka dengan tabi`at iman.</p>
<p>Belum lama berselang dari waktu tersebut Abu Bakar Ash-Shidiq datang untuk meminang Asma` Binti Umais setelah wafatnya istri beliau Ummu Rumaan. tiada alasan lagi bagi Asma` menolak pinangan orang seutama Abu Bakar Ash Shidiq, begitulah akhirnya Asma` berpindah ke rumah Abu Bakar Ash Shidiq untuk menambah cahaya kebenaran dan cahaya iman dan untuk mencurahkan cinta dan kesetiaan di rumah tangganya.</p>
<p>Setelah sekian lama beliau malangsungkan pernikahan yang penuh berkah, Allah mengaruniai kepada mereka berdua seorang anak laki-laki. Mereka ingin melangsungkan haji wada`, maka Abu Bakar menyuruh istrinya untuk mandi dan meyertai haji setelah Rasulullah shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam memintanya. Kemudian Asma` menyaksikan peristiwa demi peristiwa yang besar, namun peristiwa yang paling besar adalah wafatnya pemimpin anak Adam dan terputusnya wahyu dari langit. Kemudian beliau juga menyaksikan suaminya yakni Abu Bakar memegang tampuk kekhalifahan bagi kaum muslimin sehingga suaminya merampungkan problematika yang sangat rumit seperti memerangi orang murtad, memerangi orang-orang yang tidak mau berzakat serta mengirim pasukan Usamah dan sikapnya yang teguh laksana gunung tidak ragu -ragu dan tidak pula bimbang, demikian pula beliau menyaksikan bagaimana pertolongan Allah diberikan kepada kaum muslimin dengan sikap iman yang teguh tersebut.</p>
<p>Asma` senantiasa menjaga agar suaminya senantiasa merasa senang dan beliau hidup bersama suminya dengan perasaan yang tulus turut memikul beban bersama suaminya dalam urusan umat yang besar.</p>
<p>Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama sebab khalifah Ash-Shidiq sakit dan semakin bertambah parah hingga keringat membasahi pada bagian atas kedua pipi beliau. Ash-Shidiq dengan ketajaman perasaan seorang mukmin yang shiddiq merasakan dekatnya ajal beliau sehingga beliau bersegera untuk berwasiat. Adapun di antara wasiat beliau adalah agar beliau dimemandikan oleh istrinya Asma` binti Umais, di samping itu beliau berpesan kepada istrinya agar berbuka puasa yang mana beliau berkata: &#8220;Berbukalah karena hal itu membuat dirimu lebih kuat.&#8221;</p>
<p>Asma` merasa telah dekatnya wafat beliau sehingga beliau membaca istirja` dan memohon ampun sedangkan kedua mata beliau tidak berpaling sedikitpun dari memandang suaminya yang ruhnya kembali dengan selamat kepada Allah. Hal itu membuat Asma` meneteskan air mata dan bersedih hati, akan tetapi sedikitpun beliau tidak mengatakan sesuatu melainkan yang diridhai Allah Tabaraka Wa Ta`ala, beliau tetap bersabar dan berteguh hati.</p>
<p>Selanjutnya beliau menunaikan perkara penting yang diminta oleh suaminya yang telah tiada, karena beliau adalah orang yang paling bisa dipercaya oleh suaminya. Mulailah beliau memandikan suaminya dan hal itu menambah kesedihan dan kesusahan beliau sehingga beliau lupa terhadap wasiat yang kedua. Beliau bertanya kepada para muhajirin yang hadir, &#8220;Sesungguhnya aku sedang berpuasa, namun hari ini adalah hari yang sangat dingin, apakah boleh bagiku untuk mandi?&#8221; mereka menjawab, &#8220;Tidak.&#8221;</p>
<p>Di akhir siang sesuai dimakamkannya Ash-Shidiq tiba-tiba Asma` binti Umais ingat wasiat suaminya yang kedua yakni agar beliau berbuka (tidak melanjutkan shaum). Lantas apa yang hendak dilakukannya sekarang? sedangkan waktu hanya tinggal sebentar lagi, menunggu matahari tenggelam dan orang yang shaum diperbolehkan untuk berbuka? apakah dia akan menunggu sejenak saja untuk melanjutkan shaumnya?</p>
<p>Kesetiaan terhadap suaminya telah menghalangi beliau untuk mengkhianati wasiat suaminya yang telah pergi, maka beliau mengambil air dan minum kemudian berkata: &#8220;Demi Allah aku tidak akan melanggar janjinya hari ini.&#8221;</p>
<p>Setelah kepergian suaminya, Asma` melazimi rumahnya dengan mendidik putra-putranya baik dari Ja`far maupun dari Abu Bakar, beliau menyerahkan urusan anak-anaknya kepada Allah dengan memohon kepada-Nya untuk memperbaiki anak-anaknya dan Allahpun memperbaiki mereka hingga mereka menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa. Inilah puncak dari harapan beliau di dunia dan beliau tidak mengetahui takdir yang akan menimpa beliau yang tersembunyi di balik ilmu Allah.</p>
<p>Dialah Ali bin Abi Thalib saudara dari Ja`far yang memiliki dua sayap mendatangi Asma` untuk meminangnya sebagai wujud kesetiaan Ali kepada saudaranya yang dia cintai yaitu Ja`far begitu pula Abu Bakar Ash Shidiq.</p>
<p>Setelah berulang-ulang berfikir dan mempertimbangkannya dengan matang maka beliau memutuskan untuk menerima lamaran dari Abi Thalib sehingga kesempatan tersebut dapat beliau gunakan untuk membantu membina putra-putra saudaranya Ja`far. Maka berpindahlah Asma` ke dalam rumah tangga Ali setelah wafatnya Fatimah Az Zahra dan ternyata beliau juga memiliki suami yang paling baik dalam bergaul. Senantiasa Asma` memiki kedudukan yang tinggi di mata Ali hingga beliau sering mengulang-ulang di setiap tempat, &#8220;Di antara wanita yang memiliki syahwat telah menipu kalian, maka aku tidak menaruh kepercayaan di antara wanita melebihi Asma` binti Umais”.</p>
<p>Allah memberikan kemurahan kepada Ali dengan mangaruniai anak dari Asma` yang bernama Yahya dan Aunan, berlalulah hari demi hari dan Ali menyaksikan pemandangan yang asing yakni putra saudaranya Ja`far sedang berbantahan dengan Muhammad bin Abu Bakar dan masing-masing membanggakan diri dari yang lain dengan mengatakan, &#8220;Aku lebih baik dari pada kamu dan ayahku lebih baik dari pada ayahmu.&#8221; Ali tidak mengetahui apa yang mereka berdua katakan? Dan bagaimana pula memutuskan antara keduanya karena beliau merasa simpati dengan keduanya? Maka tiada yang dapat beliau lakukan selain memanggil ibu mereka yakni Asma` kemudian berkata: &#8220;Putuslah antara keduanya! &#8220;Dengan pikirannya yang tajam dan hikmah yang mendalam beliau berkata: &#8220;Aku tidak melihat seorang pemuda di Arab yang lebih baik dari pada Ja`far dan aku tidak pernah melihat orang tua yang lebih baik dari pada Abu Bakar.&#8221; Inilah yang menyelesaikan urusan mereka berdua dan kembalilah kedua bocah tersebut saling merangkul dan bermain bersama, namun Ali merasa takjub dengan bagusnya keputusan yang diambil Asma` terhadap anak-anaknya, dengan menatap wajah istrinya, beliau berkata: &#8220;Engkau tidak menyisakan bagi kami sedikitpun wahai Asma`?&#8221; Dengan kecerdasan yang tinggi dan keberanian yang luar biasa ditambah lagi adab yang mulia beliau berkata: Di antara ketiga orang pilihan, kebaikan anda masih di bawah kebaikan mereka.&#8221;</p>
<p>Ali tidak merasa asing dengan jawaban istrinya yang cerdas, maka beliau berkata dengan kesatria dan akhlaq yang utama berkata: &#8220;Seandainya engkau tidak menjawab dengan jawaban tersebut niscaya aku cela dirimu.&#8221;</p>
<p>Akhirnya kaum mislimin memilih Ali sebagai Khalifah setelah Utsman bin Affan, maka untuk kedua kalinya Asma` menjadi istri bagi seorang khalifah yang kali ini adalah Khalifah Rasyidin yang ke empat, semoga Allah meridhai mereka semua.</p>
<p>Asma` turut serta memikul tanggung jawab sebagai istri khalifah bagi kaum muslimin dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang besar. Begitu pula dengan Abdullah bin Ja`far dan Muhammad bin Abu Bakar berdiri disamping ayahnya dalam rangka membela kebenaran. Kemudian setelah berselang beberapa lama wafatlah putra beliau Muhammad bin Abu Bakar dan musibah tersebut membawa pengaruh yang besar pada diri beliau, akan tetapi Asma` seorang wanita mukminah tidak mungkin meyelisihi ajaran Islam dengan berteriak-teriak dan meratap dan hal lain-lain yang dilarang dalam Islam. Tiada yang beliau lakukan selain berusaha bersabar dan memohon pertolongan dengan sabar dan shalat terhadap penderitaan yang beliau alami. Asma` selalu memendam kesedihannya hingga payudaranya mengeluarkan darah.</p>
<p>Belum lagi tahun berganti hingga bertambah parah sakit beliau dan menjadi lemah jasmaninya dengan cepat kemudian beliau meninggal dunia. Yang tinggal hanyalah lambang kehormatan yang tercatat dalam sejarah setelah beliau mengukir sebaik-baik contoh dalam hal kebijaksanaan, kesabaran dan kekuatan.</p>
<p>(Diambil dari buku ‘Mengenal Shabiah Nabi’, terbitan Penerbit at-Tibyan, dengan sedikit penambahan atau pengurangan)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ummu Sulaim binti Malhan]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-sulaim-binti-malhan/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:37:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-sulaim-binti-malhan/</guid>
<description><![CDATA[Ummu Sulaim binti Malhan -radhiallaahu &#8216;anha- Beliau bernama Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul97.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul97.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul97" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-670" /></a></p>
<p>Ummu Sulaim binti Malhan -radhiallaahu &#8216;anha-</strong></p>
<p>Beliau bernama Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah.</p>
<p>Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama Malik bin Nadlar untuk segera menikahinya. Dari hasil pernikahannya ini lahirlah Anas bin Malik, salah seorang shahabat yang agung.</p>
<p>Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid muncul sehingga menyebabkan orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam.</p>
<p>Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam awal-awal dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya didalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala yang telah beliau buang tanpa ragu.</p>
<p>Adapun halangan pertama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik suaminya yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari agamamu?”. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: ”Tidak, bahkan aku telah beriman”.</p>
<p>Suatu ketika beliau menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: “Katakanlah La ilaha illallah.” (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan, “Janganlah engkau merusak anakku”. Maka beliau menjawab: “Aku tidak merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya”.</p>
<p>Perasaan gengsi dengan dosa-dosa menyebabkan Malik bin Nadlar menentukan sikap terhadap istrinya yang –menurutnya- keras kepala dan tetap ngotot berpegang kepada akidah yang baru, maka Malik tidak memiliki alternatif lain selain memberi khabar kepada istrinya bahwa dia akan pergi dari rumah dan tidak akan kembali hingga istrinya mau kembali kepada agama nenek moyangnya.</p>
<p>Manakala Malik mendengar istrinya dengan tekad yang kuat karena teguh terhadap pendiriannya mengulang-ulang kalimat “Ashadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, maka Malik pergi dari rumah dalam keadaan marah dan kemudian bertemu dengan musuh sehingga akhirnya dia dibunuh.</p>
<p>Ketika Ummu Sulaim mengetahui bahwa suaminya telah terbunuh, beliau tetap tabah mengatakan: “Aku tidak akan menyampih Anas sehingga dia sendiri yang memutusnya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku”.</p>
<p>Kemudian Ummu Anas menemui Rasulullah yang dicintai dengan rasa malu kemudian beliau mengajukan agar buah hatinya, Anas dijadikan pembantu oleh guru manusia yang mengajarkan segala kebaikan. Rasulullah menerimanya sehingga sejuklah pandangan Ummu Sulaim karenanya.</p>
<p>Kemudian orang-orang banyak membicarakan Anas bin Malik dan juga ibunya dengan penuh takjub dan bangga. Begitu pula Abu Thalhah mendengar kabar tersebut sehingga menjadikan hatinya cenderung cinta dan takjub. Kemudian dia beranikan diri melamar Ummu Sulaim dan menyediakan baginya mahar yang tinggi. Akan tetapi, tiba-tiba saja pikirannya menjadi kacau dan lisannya menjadi kelu tatkala Ummu Sulaim menolak dengan wibawa dan penuh percaya diri dengan berkata: “Sesungguhnya tidak pantas bagiku menikah dengan orang musyrik. Ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa tuhan-tuhan kalian adalah hasil pahatan orang dari keluarga fulan, dan sesungguhnya seandainya kalian mau membakarnya maka akan terbakarlah tuhan kalian”.</p>
<p>Abu Thalhah merasa sesak dadanya, kemudian dia berpaling sedangkan dirinya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat dan dia dengar. Akan tetapi cintanya yang tulus mendorong dia kembali pada hari berikutnya dengan membawa mahar yang lebih banyak, roti maupun susu dengan harapan Ummu Sulaim akan luluh dan menerimanya.</p>
<p>Akan tetapi Ummu Sulaim adalah seorang da`iyah yang cerdik yang tatkala melihat dunia menari-nari dihadapannya berupa harta, kedudukan dan laki-laki yang masih muda, dia merasakan bahwa keterikatan hatinya dengan Islam lebih kuat dari pada seluruh kenikmatan dunia. Beliau berkata dengan sopan: “Orang seperti anda memang tidak pantas ditolak, wahai Abu Thalhah, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan saya adalah seorang muslimah sehingga tidak baik bagiku menerima lamarnmu”. Abu Thalhah bertanya: “lantas apa yang anda inginkan?”, beliau balik bertanya: “Apa yang saya inginkan?”. Abu Thalhah bertanya: “apakah anda menginginkan emas atau pera?”. Ummu Sulaim berkata: “Sesungguhnya aku tidak menginginkan emas ataupun perak akan tetapi saya menginginkan agar anda masuk Islam”. “Kepada siapa saya harus datang untuk masuk Islam?”, tanya Abu Thalhah. Beliau berkata: “Datanglah kepada Rasulullah untuk itu!”. Maka pergilah Abu Thalhah untuk menemui Nabi yang tatkala itu sedang duduk-duduk bersama para sahabat. Demi melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Telah datang kepada kaliaan Abu Thalhah sedang sudah tampak cahaya Islam dikedua matanya”.</p>
<p>Selanjutnya Abu Thalhah menceritakan kepada Nabi tentang apa yang dikatakan oleh Ummu Sulaim, maka da menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keislamannya.</p>
<p>Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Ummu sulaim berkata:<br />
“Demi Allah! orang yang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hannya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu”.</p>
<p>Sungguh ungkapan tersebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol dihatinya secara sempurna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cerdas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darinya untuk diperistri, atau ibu bagi anak-anaknya?”.</p>
<p>Tanpa terAsa lisan Abu Thalhah mengulang-ulang: “Aku berada diatas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah”.</p>
<p>Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya, Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya: “Wahai Anas! Nikahkanlah aku dengan Abu thalhah”. Kemudian beliaupun dinikahkan dengan Islam sebagai mahar.</p>
<p>Oleh karena itulah Tsabit meriwayatkan hadits dari Anas :<br />
“Aku belum pernah mendengar seorang wanitapun yang paling mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam”.</p>
<p>Ummu Sulaim hidup bersama Abu Thalhah dengan kehidupan suami-istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.</p>
<p>Ummu Sulaim adalah profil seorang istri yang menunaikan hak-hak suami isteri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan seorang da`iyah.</p>
<p>Begitulah Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang utama yakni Ummu Sulaim sehingga pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim.</p>
<p>Marilah kita dengarkan penuturan Anas bin Malik yang menceritakan kepada kita bagaimana perlakuan Abu Thalhah terhadap kitabullah dan komitmennya terhadap al-Qur`an sebagai landasan dan kepribadian. Anas bin Malik berkata :</p>
<p>“Abu Thalhah adalah orang yang paling kaya di kalangan Anshar Madinah, adapun harta yang paling disukainya adalah kebun yang berada di masjid, yang biasanya Rasulullah masuk ke dalamnya dan minum air jernih didalamnya. Tatkala turun ayat :<br />
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu nafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Q,.s. &#194;li’ Imran: 92).</p>
<p>Seketika Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya Allah telah berfirman di dalam kitab-Nya (yang artinya), “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” Dan sesungguhnya harta yang paling aku sukai adalah kebunku, untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah dengan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah sesuka kamu, wahai Rasulullah”.</p>
<p>Rasulullah bersabda :<br />
“Bagus …..bagus.. itulah harta yang menguntungkan…. Itulah harta yang paling menguntungkan…..aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu”.</p>
<p>Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada sanak kerabat dan anak-anak dari pamannya.</p>
<p>Allah memuliakan kedua suami-istri ini dengan seorang anak laki-laki sehingga keduanya sangat bergembira dan anak tersebut menjadi penyejuk pandangan bagi keduanya dengan pergaulannya dan tingkah lakunya. Anak tersebut diberi nama Abu ‘Umair. Suatu ketika anak tersebut bermain-main dengan seekor burung lalu burung tersebut mati. Hal itu menjadikan anak tersebut bersedih dan menangis. Pada waktu itu, Rasulullah melewati dirinya maka beliau berkata kepada anak tersebut untuk menghibur dan bermain dengannya: “Wahai Abu Umair! Apa yang dilakukan oleh anak burung pipit itu?”.</p>
<p>Allah berkehendak untuk menguji keduanya dengan keduanya dengan seorang anak yang cakap dan dicintai, suatu ketika Abu Umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan olehnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayahnya apabila kembali dari pasar, pertama kali yang dia kerjakan setelah mengucapkan salam adalah bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum merasa tenang sebelum melihat anaknya.</p>
<p>Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka ibu Mu`minah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridla dan baik. Sang ibu membaringkannya ditempat tidur sambil senantiasa mengulangi kalimat: “Inna lillahi wa inna ilahi raji`un”. Beliau berpesan kepada anggota keluarganya: “Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalha hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya”.</p>
<p>Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan bersemangat menyambut suaminya dan menjawab pertanyaannya seperti biasanya: “Apa yang dilakukan oleh anakku?”. Beliau menjawab: “dia dalam keadaan tenang”.</p>
<p>Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena khawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulaim mendekati beliau dan mempersiapkan malam baginya, lalu beliau makan dan minum sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangi-wangian, kemudian keduanyapun berbuat sebagai mana layaknya suami istri.</p>
<p>Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan mencampurinya serta merasa tenang dengan keadaan anaknya maka beliau memuji Allah karena tidak membuat risau suaminya dan beliau biarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.</p>
<p>Tatkala diakhir malam beliau berkata kepada suaminya: “Wahai Abu Thalhah! bagaimana pendapatmu seandainya suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipannya tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk menolaknya?”. Abu Thalhah menjawab: “Tentu saja tidak boleh”. Kemudian Ummu Sulaim berkata lagi: “Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?”. Abu Thalhah berkata: “Berarti mereka tidak adil”. Ummu Sulaim berkata: ”Sesunggguhnya anakmu titipan dari Allah dan Allah telah mengambilnya, maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu”.</p>
<p>Abu Thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan marah: “kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?”.</p>
<p>Beliau ulang-ulang kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja` (Inna lillahi wa inna ilahi raji`un) lalu bertahmid kepada Allah sehingga berangsur-angsur jiwanya menjadi tenang.</p>
<p>Keesokan harinnya beliau pergi menghadap Rasulullah dan mengabarkan kapada Rasulullah tentang apa yang terjadi, kemudian Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua”.<br />
Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah selanjutnya Anas berkata: “Wahai Rasulullah, bahwasanya Ummu Sulaim melahirkan tadi malam”. Maka Rasulullah mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut (menggosokan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi). Anas berkata: “Berilah nama baginya, wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda: “namanya Abdullah” .</p>
<p>Ubbabah, salah seorang rijal sanad berkata: “Aku melihat dia memiliki tujuh anak yang kesemuanya hafal al-Qur`an”.<br />
Diantara kejadian yang mengesankan pada diri wanita yang utama dan juga suaminya yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka berdua dimana umat manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah berkata:</p>
<p>“Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar”. Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada dirumahnya, namun beliau menjawab: “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya tidak berbeda. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya”.<br />
Maka berdirilah salah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah seraya berkata: “Saya wahai Rasulullah”. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim): “Apakah kamu memiliki makanan?”. Istrinya menjawab: “Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak”. Abu Thalhah berkata: ”Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua sumi-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah”. Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian” .</p>
<p>Di akhir hadits disebutkan: “Maka turunlah ayat (artinya):<br />
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Q,.s. al-Hasyr :9).</p>
<p>Abu Thalhah tidak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan khabar gembira tersebut kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Qur`an yang senantiasa dibaca.</p>
<p>Ummu Sulaim tidak hanya cukup menunaikan tugasnya untuk mendakwahkan Islam dengan penjelasan saja, bahkan beliau antusias untuk turut andil dalam berjihad bersama pahlawan kaum muslimin. Tatkala perang Hunain tampak sekali sikap kepahlawanannya dalam memompa semangat pada dada mujahidin dan mengobati mereka yang luka. Bahkan beliau juga mempersiapkan diri untuk melawan dan menghadapi musuh yang akan menyerangnya. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam shahihnya dan Ibnu Sa`ad di dalam Thabaqat dengan sanad yang shahih bahwa Ummu Sulaim membawa badik (pisau) pada perang Hunain kemudian Abu Thalhah berkata: “Wahai Rasulullah! ini Ummu Sulaim berkata: “Wahai Rasulullah apabila ada orang musyrik yang mendekatiku maka akan robek perutnya dengan badik ini”.</p>
<p>Anas berkata: “Rasulullah berperang bersama Ummu Sulaim dan para Wanita dari kalangan Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka”.</p>
<p>Begitulah Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim bahkan Rasulullah telah memberi kabar gembira bahwa beliau termasuk ahli surga. Beliau bersabda :<br />
“Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya: “Siapa itu?”. Mereka berkata: “Dia adalah Rumaisha` binti Malhan ibu dari Anas bin Malik”.</p>
<p><em>Selamat untukmu wahai Ummu Sulaim, karena anda memang sudah layak mendapatkan itu semua, engkau adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati, seorang da`iyah yang bijaksana, seorang pendidik yang sadar sehingga memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama diantara ulama Islam, selamat untukmu…..selamat untukmu… </em></p>
<p>(Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN, Hal. 204)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sa'id bin Amir -ra]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/said-bin-amir-radhiallaahu-anhu/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:36:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/said-bin-amir-radhiallaahu-anhu/</guid>
<description><![CDATA[Sa&#8217;id bin Amir -radhiallaahu &#8216;anhu- Sa&#8217;id bin Amir adalah orang yang membeli akhir]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul96.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul96.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul96" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-668" /></a></p>
<p>Sa&#8217;id bin Amir -radhiallaahu &#8216;anhu-</strong></p>
<p>Sa&#8217;id bin Amir adalah orang yang membeli akhirat dengan dunia, dan ia lebih mementingkan Allah dan Rasul-Nya atas selain-Nya. (Ahli sejarah).</p>
<p>Adalah seorang anak muda Sa&#8217;id bin Amir Al-Jumahi salah satu dari beribu-ribu orang yang tertarik untuk pergi menuju daerah Tan&#8217;im di luar kota Makkah, dalam rangka menghadiri panggilan pembesar-pembesar Quraisy, untuk menyaksikan hukuman mati yang akan ditimpakan kepada Khubaib bin &#8216;Adiy, salah seorang sahabat Muhammad yang diculik oleh mereka.</p>
<p>Kepiawaian dan postur tubuhnya yang gagah, ia mendapatkan kedudukan yang lebih dari pada orang-orang, sehingga ia dapat duduk berdampingan dengan pembesar-pembesar Quraisy, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan orang-orang yang mempunyai wibawa lainnya.<br />
Dengan demikian ia dapat melihat dengan jelas tawanan Quraisy yang terikat dengan tali, suara gemuruh perempuan, anak-anak dan remaja senantiasa mendorong tawanan itu menuju arena kematian, karena kaum Quraisy ingin membalas Muhammad atas kematian orang-orangnya ketika perang Badar dengan cara membunuhnya.</p>
<p>Ketika rombongan yang garang ini dengan tawanannya, sampai di tempat yang telah disediakan, anak muda Sa&#8217;id bin Amir Al-Jumahi berdiri tegak memandangi Khubaib yang sedang diarak menuju kayu penyaliban, dan ia mendengar suaranya yang teguh dan tenang di antara teriakan wanita-wanita dan anak-anak, Khubaib berkata, &#8220;Izinkan saya untuk shalat dua raka&#8217;at sebelum pembunuhanku ini jika kalian berkenan.&#8221;</p>
<p>Kemudian ia memandanginya, sedangkan Khubaib menghadap kiblat dan shalat dua raka&#8217;at, alangkah bagusnya dan indahnya shalatnya itu&#8230;</p>
<p>Kemudia ia melihat, Khubaib seandainya menghadap pembesar-pembesar kaum dan berkata, &#8220;Demi Allah! Jjika kalian tidak menyangka bahwa saya memperpanjang shalat karena takut mati, tentu saya telah memperbanyak shalat&#8230;&#8221;</p>
<p>Kemudian ia melihat kaumnya dengan mata kepalanya, mereka memotong-motong Khubaib dalam keadaan hidup, mereka memotongnya sepotong demi sepotong, sambil berkata, &#8220;Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu dan kamu selamat?&#8221;, maka ia menjawab- sementara darah mengucur dari badannya, &#8220;Demi Allah! Saya tidak suka bersenang-senang dan berkumpul bersama istri dan anak sedangkan Muhammad tertusuk duri&#8221; . Maka orang-orang melambaikan tangannya ke atas, dan teriakan mereka semakin keras, &#8220;Bunuh!-bunuh&#8230;!.&#8221;</p>
<p>Kemudian Sa&#8217;id bin Amir melihat Khubaib mengarahkan pandangannya ke langit dari atas kayu salib, dan berkata, &#8220;Ya Allah ya Tuhan kami! Hitunglah mereka dan bunuhlah mereka satu persatu serta janganlah Engkau tinggalkan satupun dari mereka&#8221;, kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya, dan di badannya tidak terhitung lagi bekas tebasan pedang dan tusukan tombak.</p>
<p>Orang-orang Quraisy telah kembali ke Makkah, dan mereka telah melupakan kejadian Khubaib dan pembunuhannya karena banyak kejadian-kejadian setelahnya.<br />
Akan tetapi anak muda Sa&#8217;id bin Amir Al-Jumahi tidak bisa menghilangkan bayangan Khubaib dari pandangannya walau sekejap mata.</p>
<p>Ia memimpikannya ketika sedang tidur, dan melihatnya dengan khayalan ketika matanya terbuka, Khubaib senantiasa terbayang di hadapannya sedang melakukan shalat dua raka&#8217;at dengan tenang di depan kayu salib, dan ia mendengar rintihan suaranya di telinganya, ketika Khubaib berdo&#8217;a untuk kebinasaan orang-orang Quraisy, maka ia takut kalau ia tersambar petir atau ketiban batu dari langit.</p>
<p>Khubaib telah mengajari Sa&#8217;id sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Ia mengajarinya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah aqidah dan jihad di jalan aqidah itu hingga akhir hayat.<br />
Ia mengajarinya juga bahwa iman yang kokoh akan membuat keajaiban dan kemu&#8217;jizatan.<br />
Dan ia mengajarinya sesuatu yang lain, yaitu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki yang dicintai oleh para sahabatnya dengan kecintaan yang sedemikian rupa, tidak lain adalah nabi yang mendapat mandat dari langit.</p>
<p>Semenjak itu Allah membukakan dada Sa&#8217;id bin Amir untuk Islam, lalu ia berdiri di hadapan orang banyak dan memproklamirkan kebebasannya dari dosa-dosa Quraisy, berhala-berhala dan patung-patung mereka, dan menyatakan ikrarnya terhadap agama Allah.</p>
<p>Sa&#8217;id bin Amir berhijrah ke Madinah, dan mengabdikan diri kepada Rasulullah , dan ia ikut serta dalam perang Khaibar dan peperangan-peperangan setelahnya.</p>
<p>Dan ketika Nabi yang mulia dipanggil menghadap Tuhannya, -saat itu beliau sudah meridhainya- ia mengabdikan diri dengan pedang terhunus di zaman dua khalifah Abu Bakar dan Umar, dan hidup bagaikan contoh satu-satunya bagi orang mu&#8217;min yang membeli akhirat dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atas segala keinginan hawa nafsu dan syahwat badannya.</p>
<p>Kedua khalifah Rasulullah telah mengetahui tentang kejujuran dan ketakwaan Sa&#8217;id bin Amir, keduanya mendengar nasihat-nasihatnya dan memperhatikan pendapatnya.<br />
Pada awal kekhilafahan Umar, ia menemuinya dan berkata, &#8220;Wahai Umar, aku berwasiat kepadamu, agar kamu takut kepada Allah dalam urusan manusia, dan janganlah kamu takut kepada manusia dalam urusan Allah, dan janganlah ucapanmu bertentangan dengan perbuatanmu, karena sesungguhnya ucapan yang paling baik adalah yang sesuai dengan perbuatan&#8230;</p>
<p>Wahai Umar, hadapkanlah wajahmu untuk orang yang Allah serahkan urusannya kepadamu, baik orang-orang muslim yang jauh atau yang dekat, cintailah mereka sebagaimana kamu mencintai dirimu dan keluargamu, dan bencilah untuk mereka sesuatu yang kamu benci bagi dirimu dan keluargamu, dan tundukkanlah beban menjadi kebenaran dan janganlah kamu takut celaan orang yang mencela dalam urusan Allah.</p>
<p>Maka Umar berkata, Siapakah yang mampu menjalankan itu wahai Sa&#8217;id?!.&#8221;<br />
Ia menjawab, &#8220;Orang laki-laki sepertimu mampu melakukannya, yaitu di antara orang-orang yang Allah serahkan urusan umat Muhammad kepadanya, dan tidak ada seorangpun perantara antara ia dan Allah.&#8221;</p>
<p>Setelah itu Umar mengajak Sa&#8217;id untuk membantunya dan berkata, &#8220;Wahai Sa&#8217;id; Kami menugaskan kamu sebagai gubernur atas penduduk Himsh.&#8221; maka ia berkata, Hai Umar!: Aku ingatkan dirimu terhadap Allah; Janganlah kamu menjerumuskanku ke dalam fitnah. Maka Umar marah dan berkata, Celaka kalian, kalian menaruh urusan ini di atas pundakku, lalu kalian berlepas diri dariku!!. Demi Allah aku tidak akan melepasmu.&#8221; Kemudian ia mengangkatnya menjadi gubernur di Himsh, dan beliau berkata, &#8220;Kami akan memberi kamu gaji.&#8221; Sa&#8217;id berkata, &#8220;Untuk apa gaji itu wahai Amirul mu&#8217;minin? karena pemberian untukku dari baitul mal telah melebihi kebutuhanku.&#8221; Kemudian ia berangkat ke Himsh.</p>
<p>Tidak lama kemudian datanglah beberapa utusan dari penduduk Himsh kepada Amirul mu&#8217;minin, maka beliau berkata kepada mereka, &#8220;Tuliskan nama-nama orang fakir kalian, supaya aku dapat menutup kebutuhan mereka.&#8221; Maka mereka menyodorkan selembar tulisan, yang di dalamnya ada Fulan, fulan dan Sa&#8217;id bin Amir. Umar bertanya: Siapakah Sa&#8217;id bin Amir ini?.&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Gubernur kami.&#8221; Umar berkata, &#8220;Gubernurmu fakir?&#8221; Mereka berkata, &#8220;Benar, dan demi Allah sudah beberapa hari di rumahnya tidak ada api.&#8221; Maka Umar menangis hingga janggutnya basah oleh air mata, kemudian beliau mengambil seribu dinar dan menaruhnya dalam kantong kecil dan berkata, Sampaikan salamku, dan katakan kepadanya Amirul mu&#8217;minin memberi anda harta ini, supaya anda dapat menutup kebutuhan anda.&#8221;</p>
<p>Saat para utusan itu mendatangi Sa&#8217;id dengan membawa kantong, lalu Sa&#8217;id membukanya ternyata di dalamnya ada uang dinar, lalu ia meletakkannya jauh dari dirinya dan berkata: (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada-Nya)- seolah-olah ia tertimpa musibah dari langit atau ada suatu bahaya di hadapannya, hingga keluarlah istrinya dengan wajah kebingungan dan berkata, &#8220;Ada apa wahai Sa&#8217;id?!, Apakah Amirul mu&#8217;minin meninggal dunia?. Ia berkata, &#8220;Bahkan lebih besar dari itu.&#8221; Istrinya berkata, &#8220;Apakah orang-orang muslim dalam bahaya?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Bahkan lebih besar dari itu.&#8221; Istrinya berkata, &#8220;Apa yang lebih besar dari itu?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah telah datang ke rumahku.&#8221; Istrinya berkata, &#8220;Bebaskanlah dirimu darinya.&#8221; -saat itu istrinya tidak mengetahui tentang uang-uang dinar itu sama sekali-. Ia berkata, &#8220;Apakah kamu mau membantu aku untuk itu?&#8221; Istrinya menjawab, &#8220;Ya!&#8221; Lalu ia mengambil uang-uang dinar dan memasukkannya ke dalam kantong-kantong kecil kemudian ia membagikannya kepada orang-orang muslim yang fakir.</p>
<p>Tidak lama kemudian Umar bin al-Khattab ? datang ke negeri Syam untuk melihat keadaan, dan ketika beliau singgah di Himsh -waktu itu disebut dengan &#8216;Al-Kuwaifah&#8217; yaitu bentuk kecil dari kalimat Al-Kufah-, karena memang Himsh menyerupainya baik dalam bentuknya atau banyaknya keluhan dari penduduk akan pejabat-pejabat dan penguasa-penguasanya. Ketika beliau singgah di negeri itu, penduduknya menyambut dan menyalaminya, maka beliau berkata kepada mereka, &#8220;Bagaimana pendapat kalian tentang gubernur kalian?&#8221;</p>
<p>Maka mereka mengadukan kepadanya tentang empat hal, yang masing-masing lebih besar dari yang lainnya. Umar berkata, Maka aku kumpulkan dia dengan mereka, dan aku berdo&#8217;a kepada Allah supaya Dia tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya, karena aku sebenarnya menaruh kepercayaan yang sangat besar kepadanya. Dan ketika mereka dan gubernurnya telah berkumpul di hadapanku, aku berkata, &#8220;Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?&#8221;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8220;Beliau tidak keluar kepada kami kecuali jika hari telah siang.&#8221; Maka aku berkata, &#8220;Apa jawabmu tentang hal itu wahai Sa&#8217;id?.&#8221; Maka ia terdiam sebentar, kemudian berkata, &#8220;Demi Allah sesungguhnya aku tidak ingin mengucapkan hal itu, namun kalau memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku tidak mempunyai pembantu, maka aku setiap pagi membuat adonan, kemudian aku tunggu sebentar sehingga adonan itu menjadi mengembang, kemudian aku buat adonan itu menjadi roti untuk mereka, kemudian aku berwudlu dan keluar menemui orang-orang.&#8221; Umar berkata, &#8220;Lalu aku berkata kepada mereka, &#8220;Apa lagi yang anda keluhkan darinya?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Sesungguhnya beliau tidak menerima tamu pada malam hari.&#8221; Aku berkata, &#8220;Apa jawabmu tentang hal itu wahai Sa&#8217;id?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Sesungguhnya Demi Allah aku tidak suka untuk mengumumkan ini juga, aku telah menjadikan siang hari untuk mereka dan malam hari untuk Allah Azza wa Jalla.&#8221; Aku berkata, &#8220;Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?&#8221;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8220;Sesungguhnya beliau tidak keluar menemui kami satu hari dalam sebulan.&#8221; Aku berkata, &#8220;Dan apa ini wahai Sa&#8217;id?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Aku tidak mempunyai pembantu wahai Amirul mu&#8217;minin, dan aku tidak mempunyai baju kecuali yang aku pakai ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan aku menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui mereka pada sore hari.&#8221; Kemudian aku berkata: &#8220;Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Beliau sering pingsan, hingga ia tidak tahu orang-orang yang duduk dimajlisnya.&#8221; Lalu aku berkata, &#8220;Dan apa ini wahai Sa&#8217;id?&#8221; Maka ia menjawab, &#8220;Aku telah menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adiy, kala itu aku masih musyrik, dan aku melihat orang-orang Quraisy memotong-motong badannya sambil berkata, &#8220;Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu?&#8221; maka ia berkata, &#8220;Demi Allah aku tidak ingin merasa tenang dengan istri dan anak, sementara Muhammad tertusuk duri&#8230;Dan demi Allah, aku tidak mengingat hari itu dan bagaimana aku tidak menolongnya, kecuali aku menyangka bahwa Allah tidak mengampuni aku&#8230; maka akupun jatuh pingsan.&#8221;</p>
<p>Seketika itu Umar berkata, &#8220;Segala puji bagi Allah yang tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya.&#8221; Kemudian beliau memberikan seribu dinar kepadanya, dan ketika istrinya melihatnya ia berkata kepadanya, &#8220;Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kami dari pekerjaan berat untukmu, belilah bahan makanan dan sewalah seorang pembantu untuk kami&#8221;, Maka ia berkata kepada istrinya, &#8220;Apakah kamu menginginkan sesuatu yang lebih baik dari itu?&#8221; Istrinya menjawab, &#8220;Apa itu?&#8221; Ia berkata, &#8220;Kita berikan dinar itu kepada yang mendatangkannya kepada kita, pada saat kita lebih membutuhkannya.&#8221; Istrinya berkata, &#8220;Apa itu?&#8221;, Ia menjawab, &#8220;Kita pinjamkan dinar itu kepada Allah dengan pinjaman yang baik.&#8221; Istrinya berkata, &#8220;Benar, dan semoga kamu dibalas dengan kebaikan.&#8221; Maka sebelum ia meninggalkan tempat duduknya dinar-dinar itu telah berada dalam kantong-kantong kecil, dan ia berkata kepada salah seorang keluarganya, &#8220;Berikanlah ini kepada jandanya fulan. dan kepada anak-anak yatimnya fulan, dan kepada orang-orang miskin keluarga fulan, dan kepada fakirnya keluarga fulan&#8221;.</p>
<p>Mudah-mudahan Allah meridhai Sa&#8217;id bin Amir al-Jumahi, karena ia adalah termasuk orang-orang yang mendahulukan(orang lain) atas dirinya walaupun dirinya sangat membutuhkan.(1)</p>
<p>(1). <em>Untuk tambahan tentang biografi Sa’id bin Amr al-Jumahi, lihatlah: Al-Tahdzib:4/51, Ibnu ‘Asakir:6/145-147, Shifat al-Shafwah:1/273, Hilyatul auliya’:1/244, Tarih al-Islam:2/35, Al-Ishabah:3/326, Nasab Quraisy:399</em>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sumayyah binti Khayyat]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/sumayyah-binti-khayyat/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:34:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/sumayyah-binti-khayyat/</guid>
<description><![CDATA[Sumayyah binti Khayyat -radhiallaahu &#8216;anha- Dialah Sumayyah binti Khayyat, hamba sahaya dari A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul95.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul95.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul95" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-666" /></a></p>
<p>Sumayyah binti Khayyat -radhiallaahu &#8216;anha-</strong></p>
<p>Dialah Sumayyah binti Khayyat, hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughiroh. Beliau dinikahi oleh Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekkah sehingga tidak ada kabilah yang dapat membela, menolak dan mencegah kezaliman atas dirinya, karena dia hidup sebatang kara. Posisinya menjadi sulit dibawah naungan aturan yang berlaku pada masa Jahiliyah.</p>
<p>Begitulah Yasir mendapatkan dirinya menyerahkan perlindungannya kepada Bani Makhzum. Beliau hidup dalam kekuasaan Abu Huzaifah. Dia akhirnya dinikahkan dengan budak wanita bernama Sumayyah, tokoh yang kita bicarakan ini. Beliau hidup bersamanya dalam suasana yang tenteram. Tidak berselang lama dari pernikahan tersebut, merekapun dikaruniai dua orang anak, yaitu ‘Ammar dan Ubaidullah</p>
<p>Tatkala ‘Ammar hampir menjelang dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki beliau mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin Abdullah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam kepada beliau. Maka berfikirlah ‘Ammar bin Yasir sebagaimana yang difikirkan oleh penduduk Mekkah, sehingga kesungguhan beliau di dalam berfikir dan lurusnya fitrah beliau, menggiringnya untuk memeluk Dienul Islam.</p>
<p>‘Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya.</p>
<p>Beliau menceritakan kejadian yang beliau alami hingga pertemuannya dengan Rasulullah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam, kemudian menawarkan kepada keduanya untuk mengikuti dakwah yang baru tersebut. Ternyata Yasir dan Sumayyah menyahut dakwah yang penuh berkah tersebut dan bahkan mengumumkan keislamannya sehingga Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.</p>
<p>Dari sinilah dimulai sejarah yang agung bagi Sumayyah yang bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar terbit untuk pertama kalinya.</p>
<p>Bani Makhzum mengetahui akan hal itu, karena ‘Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka telah masuk Islam bahkan mengumumkan keislamannya dengan kuat sehingga orang-orang kafir menyikapinya dengan menentang dan memusuhi mereka.</p>
<p>Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari dien mereka. Mereka memaksa dengan cara menyeret mereka ke padang pasir tatkala cuaca sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan diatas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan Ahad….Ahad…., beliau ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang diucapkan juga oleh Yasir, ‘Ammar dan Bilal.</p>
<p>Suatu ketika Rasulullah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah tersiksa secara kejam, maka beliau menengadahkan tangannya ke langit dan berseru :<br />
“Bersabarlah keluarga Yasir karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga”</p>
<p>Sumayyah mendengar seruan Rasulullah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam, maka beliau bertambah tegar dan optimis dengan kewibawaan imannya. Dia mengulang-ulang dengan berani: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar”.</p>
<p>Sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang sepele dalam rangka memperjuangkan aqidahnya. Di hatinya telah dipenuhi kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para Thaghut yang zhalim, yang mana mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya sekalipun hanya satu langkah semut.</p>
<p>Sementara Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya. Sumayyah pun telah mematrikan dalam dirinya untuk bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Tatkala para Thaghut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah maka musuh Allah, Abu jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkannya sangkur yang berada dalam genggamannya ke tubuhnya. Maka terbanglah nyawa beliau dari raganya yang beriman dan bersih. Dan beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan contoh yang baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan, yang mana beliau telah mengerahkan segala apa yang beliau miliki, dan menganggap remeh kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya yang mahal dalam rangka meraih keridhaan Rabb-nya. “Dan mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanan”.</p>
<p>(Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Abdullah Bin Hudzafah as-Sahmiy]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/abdullah-bin-hudzafah-as-sahmiy/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:33:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/abdullah-bin-hudzafah-as-sahmiy/</guid>
<description><![CDATA[&#8216;Abdullah Bin Hudzafah as-Sahmiy -radhiallaahu &#8216;anhu- (Dipaksa Mencium Kepala Kaisar, As]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul94.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul94.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul94" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-664" /></a></p>
<p>&#8216;<strong>Abdullah Bin Hudzafah as-Sahmiy -radhiallaahu &#8216;anhu-</strong></p>
<p>(Dipaksa Mencium Kepala Kaisar, Asalkan Tawanan Kaum Muslimin Bebas )</p>
<p>&#8220;Sudah sepatutnya setiap Muslim mencium kepala Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy dan saya adalah orang pertama yang melakukannya&#8221; (Umar bin al-Kaththab)</p>
<p>Pemeran cerita kita kali ini adalah salah seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy.<br />
Boleh saja sejarah tidak mengangkat pembicaraan tentang tokoh ini sebagaimana telah berjuta-juta orang arab sebelumnya yang tidak pernah diangkat. Akan tetapi Islam yang agung telah menakdirkan Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy bertemu dengan para pembesar dunia pada zaman itu; Kisra Persia dan Kaisar Romawi. Kisah ini kemudian diabadikan oleh sejarah sepanjang zaman.<br />
Kisahnya bersama Kisra raja persia terjadi pada tahun ke-enam Hijriyyah ketika Nabi Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam berkeinginan mengirimkan sekelompok para sahabatnya untuk mengantarkan surat kepada raja-raja &#8216;Ajam (non Arab). Surat tersebut berisi ajakan beliau kepada mereka untuk memeluk Islam. Dan Rasul Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam sangat menyadari bahwa tugas ini amat berbahaya.</p>
<p>Para utusan itu akan pergi ke negeri nun jauh yang belum pernah menjalin perjanjian sebelumnya. Mereka tidak mengerti bahasanya dan tidak mengetahui tabi&#8217;at-tabi&#8217;at rajanya. Kemudian mereka akan mengajak raja-raja itu untuk meninggalkan agamanya dan berpisah dengan kebesaran dan kerajaannya serta memeluk agama suatu kaum yang beberapa di antara mereka adalah penduduk wilayah yang tunduk terhadap kekuasaan mereka.</p>
<p>Ini adalah perjalanan yang berbahaya. Yang pergi dalam perjalanan itu akan dianggap hilang dan yang bisa kembali pulang seolah-olah dilahirkan kembali.<br />
Untuk itu Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya dan berpidato di hadapan mereka. Setelah memuji dan menyanjung Allah, bersyahadat lalu berkata:</p>
<p>(Amma ba&#8217;du, Sesungguhnya aku ingin mengutus sebagian kamu kepada raja-raja &#8216;Ajam, maka janganlah kamu membantah kepadaku sebagaimana bani Israil membantah kepada Isa bin Maryam).</p>
<p>Maka para sahabat Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, kami siap melaksanakan apa yang engkau kehendaki, maka utuslah kami dengan sesuka hati engkau.&#8221;<br />
Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam memilih enam orang sahabatnya untuk menyampaikan surat-suratnya kepada raja-raja Arab dan &#8216;Ajam, dan di antara ke-enam orang tersebut adalah &#8216;Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy, ia dipilih untuk menyampaikan surat Nabi Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam kepada Kisra Persia.</p>
<p>&#8216;Abdullah bin Hudzafah menyiapkan kendaraannya dan berpamitan dengan istri dan anaknya, lalu bergerak melaksanakan tugasnya dengan turun dan naik gunung, sendirian tidak ada yang menemaninya kecuali Allah, hingga ia sampai ke negeri Persia, kemudian ia meminta izin masuk untuk menemui sang kisra dan menyerahkan surat kepadanya.</p>
<p>Sang kisrapun memerintahkan agar istananya dihiasi dan memanggil pembesar-pembesar Persia untuk hadir di kerajaannya, Kemudian &#8216;Abdullah bin Hudzafah dipersilahkan masuk.<br />
Abdullah bin Hudzafah menemui penguasa Persia itu dengan pakaian tipis yang membalut tubuhnya yang dirangkap jubahnya yang kasar, tampak padanya kesederhanaan orang Arab.<br />
Namun ia sangat percaya diri, berdiri tegap, nampak pada penampilannya kewibawaan Islam dan bercokol dalam hatinya kebesaran Iman.</p>
<p>Ketika Kisra melihatnya sedang menghadapnya, ia menunjuk salah seorang ajudannya untuk mengambil surat dari tangannya, maka Abdullah berkata, &#8220;Tidak!, Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam menyuruhku supaya aku menyerahkan surat ini langsung ke tanganmu dan aku tidak akan mengingkari perintah Rasulullah.&#8221;<br />
Lalu Kisra berkata, &#8220;Biarkan ia mendekat kepadaku.&#8221; dan setelah ia mendekat kepadanya, Kisra mengambil surat dari tangannya.<br />
Kemudian Kisra memanggil juru tulis arab dari negeri penduduk Hirah dan menyuruhnya supaya membuka surat dan membacanya di hadapannya. Dan ternyata di dalamnya,</p>
<p>&#8220;Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad utusan Allah kepada Kisra pembesar Persia, kesejahteraanlah bagi orang yang mengikuti petunjuk&#8230;&#8221;</p>
<p>Ketika Kisra mendengar sepotong surat ini, maka menyalalah kemarahan di dadanya, mukanya merah dan otot lehernya melembung besar, karena Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam memulai dengan menyebutkan…?, lalu ia menarik surat dari tangan juru tulisnya dan merobek-robeknya tanpa mengetahui apa yang tertulis dalam surat itu, lalu ia berteriak: Apakah ia menulis surat kepadaku dengan seperti ini, sedangkan ia adalah hambaku!!&#8221;</p>
<p>Lalu ia menyuruh supaya Abdullah bin Hudzafah dikeluarkan dari singgasananya, lalu ia dikeluarkan.<br />
Abdullah bin Hudzafah keluar dari kerajaan Kisra, dan ia tidak tahu apa yang akan ditakdirkan oleh Allah kepadanya&#8230;dibunuh atau dibiarkan pergi?.<br />
Akan tetapi ia masih bisa berkata, &#8220;Demi Allah aku tidak perduli terhadap keadaanku setelah aku menyampaikan surat Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam .&#8221; dan ia menaiki kendaraannya dan pergi.</p>
<p>Dan ketika Kisra telah reda dari marah, ia menyuruh supaya Abdullah dipanggil masuk kembali kepadanya, namun Abdullah tidak ditemukan&#8230; lalu mereka mencarinya akan tetapi mereka tidak menemukan jejaknya&#8230; Hingga mereka mencari di jalan yang menuju ke negeri arab dan mereka menemukannya namun ia telah jauh.</p>
<p>Dan ketika Abdullah menemui Nabi Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam ia menceritakan apa yang terjadi tentang Kisra dan surat yang dirobek olehnya, Rasul langsung berkata, &#8220;Mudah-mudahan Allah merobek-robek kerajaan-nya.&#8221;</p>
<p>Adapun Kisra, ia telah menulis surat kepada Badzan wakilnya yang ditugaskan di Yaman, &#8220;Utuslah dua orang prajuritmu yang kuat-kuat kepada orang yang muncul di Hijaz ini, dan perintahkanlah keduanya agar membawanya kepadaku&#8230;&#8221;, maka Badzan mengutus dua orang terbaiknya kepada Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam, ia juga membekali surat untuk diberikan kepadanya, di dalam surat itu ia menyuruhnya supaya beliau berangkat bersama kedua orang itu untuk menemui Kisra dengan segera&#8230;Dan ia meminta dari kedua orang itu untuk mendengar khabar Nabi Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam dan memata-matainya, dan menyampaikan berita yang diperolehnya kepadanya.</p>
<p>Kedua orang itu segera berangkat sehingga mereka sampai ke Thaif dan menjumpai para pedagang Quraisy, lalu keduanya bertanya kepada mereka tentang Muhammad Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam, maka mereka menjawab, &#8220;Ia berada di Yatsrib!.&#8221;</p>
<p>Kemudian para pedagang itu bergegas menuju ke Mekkah dengan riang untuk menyampaikan khabar gembira, mereka mengucapkan selamat bagi orang-orang Quraisy sambil berkata, &#8220;Bersenang-senanglah kalian, karena Kisra telah menangani Muhammad dan kalian bakal aman dari kejahatannya.&#8221;</p>
<p>Adapun kedua orang tadi, mereka telah pergi menuju kota Madinah dan bertemu Nabi Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam, dan memberikan surat Badzan kepadanya, dan keduanya berkata kepada beliau, Sesungguhnya raja diraja Kisra telah menulis surat kepada raja kami Badzan supaya ia mengutus orang kepadamu, orang itu akan membawamu kepadanya&#8230; Dan kami telah mendatangimu supaya kamu pergi bersama kami kepadanya, jika kamu menuruti kami, kami akan memberi tahu Kisra tentang sesuatu yang berguna bagi kamu dan ia akan menahan siksaannya darimu, dan jika kamu tidak mau, maka ia adalah orang yang kamu telah tahu keganasannya, kekerasannya dan kemampuannya untuk membinasakanmu dan kaummu. Maka Rasul Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam tersenyum dan berkata kepada keduanya, &#8220;Hari ini, kembalilah kamu berdua ke tempat tendamu dan datanglah kamu berdua besok ke sini.&#8221;</p>
<p>Dan keesokan harinya keduanya datang kepada Nabi Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam dan mereka berkata kepadanya, &#8220;Apakah kamu telah siap untuk berangkat bersama kami kepada Kisra?&#8221; Beliau berkata kepada mereka berdua, &#8220;Kamu berdua tidak akan menemukan Kisra setelah hari ini&#8230; Allah telah membinasakannya, anaknya (Syirwaih) telah membunuhnya pada malam ini&#8230; di bulan ini&#8230;&#8221; Maka keduanya mencermati wajah Nabi dan mulai nampaklah keheranan di wajah mereka, dan keduanya berkata, &#8220;Apakah anda sadar apa yang anda katakan? bolehkah kami menulis hal itu kepada Badzan? Beliau menjawab, &#8220;Ya, dan katakan kepadanya Bahwa agamaku akan sampai ke seluruh kekuasaan Kisra, dan jika kamu masuk Islam aku akan memberikan apa yang kamu kuasai, dan aku jadikan kamu raja atas kaummu.&#8221;</p>
<p>Kedua orang itu keluar dari Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi Wa Sallam dan pulang menemui Badzan dan menyampaikan khabar; maka Badzan berkata, &#8220;Jika apa yang dikatakan Muhammad benar, maka ia adalah seorang nabi, dan jika tidak benar, maka kita akan pikirkan lagi nanti.&#8221;</p>
<p>Tidak lama kemudian datanglah surat Syirwaih kepada Badzan, ia berkata dalam surat itu, &#8220;Amma ba&#8217;du, aku telah membunuh Kisra, dan aku tidak membunuhnya kecuali karena balas dendam untuk kaumku, ia telah banyak membunuh pembesar-pembesar mereka, memboyong perempuan-perempuan mereka dan menjarah harta mereka, jika suratku ini telah datang kepadamu, maka jadilah kamu dan kaummu orang-orang yang taat kepadaku.&#8221;</p>
<p>Ketika Badzan membaca surat Syirwaih, ia tidak melanjutkan bacaannya, akan tetapi ia melemparkannya ke sampingnya dan ia menyatakan masuk Islam, dan begitu pula orang-orangnya dari Persia yang ada di Yaman semua masuk Islam.<br />
Ini adalah kisah pertemuan Abdullah bin Hudzafah dan Kisra raja Persia.</p>
<p>Lalu bagaimana pertemuannya dengan Kaisar pembesar Romawi?</p>
<p>Pertemuannya dengan Kaisar adalah terjadi pada zaman khalifah Umar bin al-Khaththab radliyall&#226;hu &#8216;anhu pada saat itu ia mempunyai kisah yang sangat indah&#8230;</p>
<p>Pada tahun kesembilan hijriyah Umar bin al-Khaththab mengutus pasukan untuk memerangi Romawi, dan diantaranya Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy. Kaisar pembesar Romawi sendiri telah mendengar khabar tentang pasukan-pasukan kaum muslimin yang mempunyai kebenaran iman, kekokohan aqidah dan keteguhan jiwa dalam menegakkan jalan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Maka Kaisar menyuruh pasukannya bahwa jika mereka mendapatkan tawanan dari kaum muslimin, supaya mereka tidak membunuhnya dan membawa kepadanya dalam keadaan hidup&#8230; Dan Allah memang telah berkehendak bahwa Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy jatuh tertawan oleh pasukan Romawi, lalu mereka membawanya kepada rajanya, dan mereka berkata, &#8220;Dia termasuk sahabat Muhammad yang lebih dahulu memeluk agamanya, dan ia telah menjadi tawanan kami, lalu kami hadirkan ia kepada engkau.&#8221;<br />
Raja Romawi menatap Abdullah bin Hudzafah agak lama dan berkata, &#8220;Aku akan menawari kamu sesuatu!&#8221;</p>
<p>Ia berkata, &#8220;Apa itu?&#8221;<br />
Maka ia berkata, &#8220;Aku tawari kamu untuk masuk Nasrani&#8230;jika kamu menerima aku akan membebaskan kamu, dan aku beri kamu kedudukan. Maka tawanan itu berkata dengan lantang dan yakin, Tidak!&#8230;Kematian adalah seribu kali lebih aku cintai daripada apa yang kamu tawarkan kepadaku itu!&#8221;<br />
Maka Kaisar berkata, &#8220;Sungguh aku melihatmu sebagai orang pemberani&#8230;Jika kamu menerima tawaranku, aku beri kamu jabatan dan aku bagi kerajaanku kepadamu.<br />
Maka tawanan yang terikat itu tersenyum dan berkata, &#8220;Demi Allah jika kamu memberiku semua apa yang kamu miliki dan semua apa yang dimiliki orang-orang arab supaya aku meninggalkan agama Muhammad dalam sekejap mata, aku tidak akan melakukannya!&#8221;<br />
Ia berkata, &#8220;Kalau begitu aku akan membunuhmu.&#8221;<br />
Ia berkata, &#8220;Terserah kamu.&#8221; Kemudian ia menyalibnya, dan ia berkata kepada para ahli panahnya dengan bahasa romawi &#8220;Panahlah dekat tangannya, sambil ia menawarinya untuk masuk nasrani, dan Abdullah menolaknya.<br />
Lalu ia berkata, &#8220;Panahlah dekat kakinya.&#8221; Dan ia menawarkan kepadanya supaya ia meninggalkan agama Muhammad, tetapi ia menolak.</p>
<p>Setelah itu Kaisar menyuruh supaya mereka berhenti menyakitinya, dan supaya menurunkannya dari kayu salib, kemudian ia meminta supaya didatangkannya panci besar, lalu panci itu diisi dengan minyak dan diletakkan di atas api sehingga minyak itu mendidih, lalu kaisar meminta supaya didatangkan dua orang tawanan dari kaum muslimin, lalu ia menyuruh supaya salah seorang dari keduanya diceburkan di dalamnya, maka bertebaranlah dagingnya dan tulangnya nampak menganga.</p>
<p>Lalu Kaisar menengok ke arah Abdullah bin Hudzafah dan mengajaknya untuk memeluk agama Nasrani, akan tetapi tawaran itu ditolaknya dengan amat keras, bahkan lebih keras dari sebelumnya.<br />
Dan setelah Kaisar telah putus asa, ia menyuruh supaya Abdullah diceburkan di panci yang dipakai untuk menceburkan kedua sahabatnya. Dan ketika ia telah didekatkan dengan panci itu, keluarlah air matanya, maka berkatalah orang-orang Kaisar kepada rajanya, &#8220;Ia menangis!&#8221;</p>
<p>Maka Kaisar menyangka bahwa ia telah jera dan berkata, Kembalikan ia kepadaku.&#8221; Ketika ia telah sampai di depannya, Kaisar menawarinya untuk memeluk agama Nasrani dan ia menolak, maka Kaisar berkata, &#8220;Sialan kamu, lalu apa yang membuatmu menangis?&#8221;</p>
<p>Ia menjawab, &#8220;Yang membuatku menangis adalah bahwa aku berkata kepada diriku, &#8216;Kamu diceburkan di panci ini sekarang lalu jiwamu melayang, dan sesunggungnya aku menginginkan kalau aku mempunyai nyawa sejumlah rambutku lalu diceburkan semuanya di panci ini di dalam jalan Allah.&#8217;&#8221;<br />
Maka berkatalah Kaisar durjana itu, &#8220;Maukah kamu mencium kepalaku dan aku membebaskanmu?&#8221;<br />
Maka Abdullah berkata, beserta semua tawanan muslim juga?&#8221;<br />
Kaisar berkata, &#8220;Dan semua tawanan muslim juga.&#8221; Abdullah berkata, Aku bergumam dalam hati, Aku mencium kepala salah satu dari musuh Allah lalu ia membebaskanku dan tawanan muslim semuanya, tidak masalah bagiku.&#8221;</p>
<p>Lalu ia mendekatinya dan mencium kepalanya, maka raja Romawi itu menyuruh supaya tawanan-tawanan muslim dikumpulkan dan diserahkannya kepadanya, maka diserahkanlah mereka kepadanya.</p>
<p>Abdullah bin Hudzafah datang kepada Umar bin al-Khaththab radliyall&#226;hu &#8216;anhu dan menceritakan kisahnya, maka sangat bergembiralah al-Faruq, dan ketika beliau melihat tawanan-tawanan, beliau berkata, &#8220;Setiap orang islam selayaknya mencium kepala Abdullah bin Hudzafah&#8230; dan aku orang pertama yang melakukannya!&#8221; Lalu beliau berdiri dan mencium kepalanya&#8230;.*</p>
<p>* Untuk bahan tambahan tentang biografi Abdullah bin Hudzafah, silah baca:<br />
<em>1. al-Ishabah fi tamyizi ash-shahabah oleh Ibnu Hajar, 2:287-288<br />
2. as-sirah an-nabawiyyah oleh Ibnu Hisyam, tahqiq as-saqa<br />
3. Hayatus al-Shahabah oleh Muhammad Yusuf al-Kandahlawiy, jilid 4<br />
4. Tahdzibu at-Tahdzib, 5:185<br />
5. Imta&#8217;ul asma&#8217;, 1:308,444<br />
6. Husnu ash-Sahabah, Hal.503<br />
7. Muhbar, Hal.77<br />
8. Tarikh Islam oleh adz-Dzahabiy, 2:88</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Asma` Binti Yazid Bin Sakan]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/asma-binti-yazid-bin-sakan/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:32:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/asma-binti-yazid-bin-sakan/</guid>
<description><![CDATA[Asma` Binti Yazid Bin Sakan -radhiallaahu &#8216;anha- Beliau adalah Asma` binti Yazid bin Sakan bin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul93.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul93.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul93" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-662" /></a></p>
<p>Asma` Binti Yazid Bin Sakan -radhiallaahu &#8216;anha-</strong></p>
<p>Beliau adalah Asma` binti Yazid bin Sakan bin Rafi` bin Imri`il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris al-Anshariyysh, al-Ausiyyah al-Asyhaliyah.</p>
<p>Beliau adalah seorang ahli hadis yang mulia, seorang mujahidah yang agung, memiliki kecerdasan, dien yang bagus dan ahli argumen, sehingga beliau menjuliki sebagai “juru bicara wanita”.</p>
<p>Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh Asma` adalah kepekaan inderanya dan kejelian perasaannya serta kehalusan hatinya. Selebihnya dalam segala sifat sebagaimana yang dimiliki oleh wanita-wanita Islam yang lain yang telah lulus dari madrasah nubuwwah yakni tidak terlalu lunak (manja) dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dianiaya dan dihina, bahkan beliau adalah seorang wanita yang pemberani, tegar dan mujahidah. Beliau menjadi contoh yang baik dalam banyak medan peperangan.</p>
<p>Asma` mendatangi Rasulullah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam pada tahun pertama hijrah dan beliau belum berbai`at kepadanya dengan bai`at Islam. Rasulullah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam membai`at para wanita dengan ayat yang tersebut dalam surat al-Mumtahanah. Yaitu firman Allah :</p>
<p>“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akn membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q,.s. al-Mumtahanah:12).</p>
<p>Bai`at dari Asma` binti Yazid adalah untuk jujur dan ikhlas, sebagaimana yang disebutkan riwayatnya dalam kitab-kitab sirah bahwa Asma` mengenakan dua gelang emas yang besar, maka Nabi SAW bersabda :</p>
<p>“Tanggalkanlah kedua gelangmu wahai Asma`, tidakkah kamu takut jika Allah mengenakan gelang kepadamu dengan gelang dari api neraka?”</p>
<p>Maka segerahlah beliau tanpa ragu-ragu dan tanpa komentar untuk mengikuti perintah Rasululah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam, maka beliau melepaskannya dan meletakkannya di depan Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Setelah itu Asma` aktif untuk mendengar hadist Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam yang mulia dan beliau bertanya tentang persoalan-persoalan yang menjadikan ia faham dalam urusan dien. Beliau pulalah yang bertanya kepada Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara thaharah bagi wanita yang selesai haidh. Beliau memiliki kepribadian yang kuat dan tidak malu menanyakan sesuatu yang haq. Oleh karena itulah Ibnu Abdil Barr berkata: “Beliau adalah seorang wanita yang cerdas dan bagus diennya”.</p>
<p>Beliau dipercaya oleh kaum muslimah sebagai wakil mereka untuk berbicara dengan Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam tentang persoalan –persoalan yang mereka hadapi. Pada suatu ketika Asma` mendatangi Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam dan bertanya : “Wahai Rasulullah , sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslmah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Ta`ala mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membai`atmu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jum`at, mengantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?</p>
<p>Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada para sahabat dan bersabda : “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”.</p>
<p>Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!”</p>
<p>Kemudian Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“<em>Kembalilah wahai Asma` dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, mengikuti (patuh terhadap) apa yang ia disetujuinya, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki</em>”.</p>
<p>Maka kembalilah Asma` sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan apa disabdakan Rasuslullah shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Dalam dada Asma` terbetik keinginan yang kuat untuk ikut andil dalam berjihad, hanya saja kondisi ketika itu tidak memungkinkan untuk merealisasikannya. Akan tetapi setelah tahun 13 Hijriyah setelah wafatnya Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam hingga perang Yarmuk beliau menyertainya dengan gagah berani.</p>
<p>Pada perang Yarmuk ini, para wanita muslimah banyak yang ikut andil dengan bagian yang banyak untuk berjihad sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bid&#226;yah wa an-Nih&#226;yah, beliau membicarakan tentang perjuangan mujahidin mukminin. Beliau berkata: “Mereka berperang dengan perang besar-besaran hingga para wanita turut berperang di belakang mereka dengan gagah berani”.</p>
<p>Dalam bagian lain beliau berkata: “Para wanita menghadang mujahidin yang lari dari berkecamuknya perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu. Adapun Khaulah binti Tsa`labah berkata:</p>
<p>Wahai kalian yang lari dari wanita yang bertakwa<br />
Tidak akan kalian lihat tawanan<br />
Tidak pula perlindungan<br />
Tidak juga keridhaan</p>
<p>Beliau juga berkata dalam bagian lain: “Pada hari itu kaum muslimah berperang dan berhasil membunuh banyak tentara Romawi, akan tetapi mereka memukul kaum muslimin yang lari dari kancah peperangan hingga mereka kembali untuk berperang”.</p>
<p>Dalam perang yang besar ini, Asma binti Yazid menyertai kaum muslumin bersama wanita mukminat yang lain berada di belakang para Mujahidin mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan senjata, memberikan minum bagi para mujahidin dan mengobati yang terluka diantara mereka serta memompa semangat juang kaum muslimin.</p>
<p>Akan tetapi manakala berkecamuknya perang, manakala suasana panas membara dan mata menjadi merah, ketika itu Asma` lupa bahwa dirinya adalah seorang wanita. Beliau hanya ingat bahwa dirinya adalah muslimah, mukminah dan mampu berjihad dengan mencurahkan dengan segenap kemampuan dan kesungguhannya. Hanya beliau tidak mendapatkan apa-apa yang di depannya melainkan sebatang tiang kemah, maka beliau membawanya dan berbaur dengan barisan kaum muslimin. Beliau memukul musuh-musuh Allah ke kanan ke kiri hingga dapat membunuh sembilan orang tentara Romawi, sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam Ibnu Hajar tentang beliau: “Dialah Asma` binti Yazid bin Sakan yang menyertai perang Yarmuk, ketika itu beliau membunuh sembilan tentara Romawi dengan tiang kemah, kemudian beliau masih hidup selama beberapa tahun setelah peperangan tersebut.</p>
<p>Asma` keluar dari peperangan dengan membawa luka di punggungnya dan Allah menghendaki beliau masih hidup setelah itu selama 17 tahun karena beliau wafat pada akhir tahun 30 Hijriyah setelah menyuguhkan kebaikan kepada umat.</p>
<p>Semoga Allah merahmati Asma` binti Yazid bin Sakan dan memuliakan dengan hadis yang telah beliau riwayatkan bagi kita, dan dengan pengorbanan yang telah beliau usahakn, dan telah beramal dengan sesuatu yang dapat dijadikan pelajaran bagi yang lain dalam mencurahkan segala kemampuan dan susah demi memperjuangkan al-Haq dan mengibarkan bendera hingga dien ini hanya bagi Allah.</p>
<p>(Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN, Hal. 172-176)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Maimunah Binti Al-Harits]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/maimunah-binti-al-harits/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:31:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/maimunah-binti-al-harits/</guid>
<description><![CDATA[Maimunah Binti Al-Harits -radhiallaahu &#8216;anha- Dialah Maimunah binti al-Harits bin Huzn bin al-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul92.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul92.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul92" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-660" /></a></p>
<p>Maimunah Binti Al-Harits -radhiallaahu &#8216;anha-</strong></p>
<p>Dialah Maimunah binti al-Harits bin Huzn bin al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah al-Hilaliyah. Saudari dari Ummul Fadhl istri Abbas. Beliau adalah bibi dari Khalid bin Walid dan juga bibi dari Ibnu Abbas.</p>
<p>Beliau termasuk pemuka kaum wanita yang masyhur dengan keutamaannya, nasabnya dan kemuliaannya. Pada mulanya beliau menikah dengan Mas’ud bin Amru ats-Tsaqafi sebelum masuk Islam sebagaimana beliau. Namun beliau banyak mondar-mandir ke rumah saudaranya Ummul Fadhl sehingga mendengar sebagian kajian-kajian Islam tentang nasib dari kaum muslimin yang berhijrah. Sampai kabar tentang Badar dan Uhud yang mana hal itu menimbulkan bekas yang mendalam dalam dirinya.</p>
<p>Tatkala tersiar berita kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar, kebetulan ketika itu Maimunah berada didalam rumah saudara kandungnya yaitu Ummu Fadhl, maka dia juga turut senang dan sangat bergembira. Namun manakala dia pulang ke rumah suaminya ternyata dia mendapatkannya dalam keadaan sedih dan berduka cita karena kemenangan kaum muslimin. Maka hal itu memicu mereka pada pertengkaran yang mengakibatkan perceraian. Maka beliau keluar dan menetap di rumah al-‘Abbas.</p>
<p>Ketika telah tiba waktu yang telah di tetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah yang mana Nabi Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam diperbolehkan masuk Mekkah dan tinggal di dalamnya selama tiga hari untuk menunaikan haji dan orang-orang Quraisy harus membiarkannya. Pada hari itu kaum muslimin masuk Mekkah dengan rasa aman, mereka mencukur rambut kepalanya dengan tenang tanpa ada rasa takut. Benarlah janji yang haq dan terdengarlah suara orang-orang mukmin membahana,”Labbaikall&#226;humma Labbaika Labbaika L&#226; Syar&#238;ka Laka Labbaik…”. Mereka mendatangi Mekkah dalam keadaan tertunda setelah beberapa waktu bumi Mekkah berada dalam kekuasaan orang-orang musyrik. Maka debu tanah mengepul di bawah kaki orang-orang musyrik yang dengan segera menuju bukit-bukit dan gunung-gunung karena mereka tidak kuasa melihat Muhammad dan para sahabatnya kembali ke Mekkah dengan terang-terangan, kekuatan dan penuh wibawa. Yang tersisa hanyalah para laki-laki dan wanita yang menyembunyikan keimanan mereka sedangkan mereka mengimani bahwa pertolongan sudah dekat.</p>
<p>Maimunah adalah salah seorang yang menyembunyikan keimanannya tersebut. Beliau mendengarkan suara yang keras penuh keagungan dan kebesaran. Beliau tidak berhenti sebatas menyembunyikan keimanan akan tetapi beliau ingin agar dapat masuk Islam secara sempurna dengan penuh Izzah (kewibawaan) yang tulus agar terdengar oleh semua orang tentang keinginannya untuk masuk Islam. Dan diantara harapannya adalah kelak akan bernaung di bawah atap Nubuwwah sehingga dia dapat minum pada mata air agar memenuhi perilakunya yang haus akan aqidah yang istimewa tersebut, yang akhirnya merubah kehidupan beliau menjadi seorang pemuka bagi generasi yang akan datang. Dia bersegera menuju saudara kandungnya yakni Ummu fadhl dengan suaminya ‘Abbas dan diserahkanlah urusan tersebut kepadanya. Tidak ragu sedikitpun Abbas tentang hal itu bahkan beliau bersegera menemui Nabi Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan Maimunah untuk Nabi. Akhirnya Nabi menerimanya dengan mahar 400 dirham. Dalam riwayat lain, bahwa Maimunah adalah seorang wanita yang menghibahkan dirinya kepada Nabi Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam maka turunlah ayat dari Allah Tabaraka Ta’ala (artinya) :</p>
<p>“….Dan perempuan mukmin yang menyerahkan diri kepada Nabi kalau Nabi mengawininya sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin….”( al-Ahzab: 50)</p>
<p>Ketika sudah berlalu tiga hari sebagaimana yang telah ditetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah, orang-orang Quraisy mengutus seseorang kepada Nabi Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengatakan: ”Telah habis waktumu maka keluarlah dari kami”. Maka Nabi Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan ramah:</p>
<p>“Bagaimana menurut kalian jika kalian bairkan kami dan aku marayakan pernikahanku ditengah-tengah kalian dan kami suguhkan makanan untuk kalian???!”</p>
<p>Maka mereka manjawab dengan kasar: ”Kami tidak butuh makananmu maka keluarlah dari negeri kami!”.</p>
<p>Sungguh ada rasa keheranan yang disembunyikan pada diri kaum musyrikin selama tinggalnya Nabi Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam di Mekkah, yang mana kedatangan beliau meninggalkan kesan yang mendalam pada banyak jiwa. Sebagai bukti dialah Maimunah binti Harits, dia tidak cukup hanya menyatakan keislamannya bahkan lebih dari itu beliau daftarkan dirinya menjadi istri Rasul Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam sehingga membangkitkan kemarahan mereka. Untuk berjaga-jaga, Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam tidak mengadakan walimatul ‘Urs dirinya dengan Maimunah di Mekkah. Beliau mengizinkan kaum muslimin berjalan menuju Mekkah. Tatkala sampai disuatu tempat yang disebut ”Sarfan” yang beranjak 10 mil dari Mekkah maka Nabi Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam memulai malam pertamanya bersama Maimunah radhiallaahu &#8216;anha. Hal itu terjadi pada bulan Syawal tahun 7 Hijriyah.</p>
<p>Mujahid berkata:”Dahulu namanya adalah Bazah namun Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam menggantinya dengan Maimunah. Maka sampailah Maimunah ke Madinah dan menetap di rumah nabawi yang suci sebagaimana cita-citanya yang mulai, yakni menjadi Ummul Mukminin yang utama, menunaikan kewajiban sebagai seorang istri dengan sebaik-baiknya, mendengar dan ta’at, setia serta ikhlas. Setelah Nabi Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam menghadap ar-Rafiiqul A’la, Maimunah hidup selama bertahun-tahun hingga 50 tahunan. Semuanya beliau jalani dengan baik dan takwa serta setia kepada suaminya penghulu anak Adam dan seluruh manusia yakni Muhammad bin Abdullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam. Hingga, karena kesetiaannya kepada suaminya, beliau berpesan agar dikuburkan di tempat dimana dilaksanakan Walimatul ‘urs dengan Rasulullah.</p>
<p>‘Atha’ berkata:”Setelah beliau wafat, saya keluar bersama Ibnu Abbas. Beliau berkata:”Apabila kalian mengangkat jenazahnya, maka kalian janganlah menggoncang-goncangkan atau menggoyang-goyangkan”. Beliau juga berkata:”Lemah lembutlah kalian dalam memperlakukannya karena dia adalah ibumu”.</p>
<p>Berkata ‘Aisyah setelah wafatnya Maimunah: ”Demi Allah! telah pergi Maimunah, mereka dibiarkan berbuat sekehendaknya. Adapun, demi Allah! beliau adalah yang paling takwa diantara kami dan yang paling banyak bersilaturrahim”.</p>
<p>Keselamatan semoga tercurahkan kepada Maimunah yang mana dengan langkahnya yang penuh keberanian tatkala masuk Islam secara terang-terangan membuahkan pengaruh yang besar dalam merubah pandangan hidup orang-orang musyrik dari jahiliyah menuju dienullah seperti Khalid dan Amru bin ‘Ash radhiallaahu &#8216;anhu dan semoga Allah meridhai para sahabat seluruhnya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Juwairiyah Binti al-Harits]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/juwairiyah-binti-al-harits/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:30:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/juwairiyah-binti-al-harits/</guid>
<description><![CDATA[Juwairiyah Binti al-Harits -radhiallaahu &#8216;anha- Beliau adalah Juwairiyah Binti al-Harits Bin A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul91.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul91.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul91" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-658" /></a></p>
<p>Juwairiyah Binti al-Harits -radhiallaahu &#8216;anha-</strong></p>
<p>Beliau adalah Juwairiyah Binti al-Harits Bin Abi Dhirar bin al-Habib al-Khuza’iyah al-Mushthaliqiyyah.</p>
<p>Beliau adalah secantik-cantik seorang wanita. Beliau termasuk wanita yang ditawan tatkala kaum muslimin mengalahkan Bani Mushthaliq pada saat perang Muraisi’.</p>
<p>Hasil Undian Juwairiyyah adalah bagian untuk Tsabit Bin Qais bin syamas atau anak pamannya, tatkala itu Juwairiyyah berumur 20 tahun. Dan akhirnya beliau selamat dari kehinaan sebagai tawanan/rampasan perang dan kerendahannya. Beliau menulis untuk Tsabit bin Qais (bahwa beliau hendak menebus dirinya), kemudian mendatangi Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam agar mau menolong untuk menebus dirinya. Maka menjadi iba-lah hati Nabi Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam melihat kondis seorang wanita yang mulanya adalah seorang sayyidah merdeka yang mana dia memohon beliau untuk mengentaskan ujian yang menimpa dirinya. Maka beliau bertanya kepada Juwairiyyah: ”Maukah engkau mendapatkan hal yang lebih baik dari itu ?”. Maka dia menjawab dengan sopan: ”Apakah itu Ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab: ”Aku tebus dirimu kemudian aku nikahi dirimu!”. Maka tersiratlah pada wajahnya yang cantik suatu kebahagiaan sedangkan dia hampir-hampir tidak perduli dengan kemerdekaan dia karena remehnya. Beliau menjawab:”Mau Ya Rasulullah”. Maka Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Aku telah melakukannya”.</p>
<p>‘Aisyah, Ummul Mukmini berkata:”Tersebarlah berita kepada manusia bahwa Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam telah menikahi Juwairiyyah binti al-Harits bin Abi Dhirar. Maka orang-orang berkata:”Kerabat Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam! Maka mereka lepaskan tawanan perang yang mereka bawa, maka sungguh dengan pernikahan beliau Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam dengan Juwairiyyah manjadi sebab dibebaskannya seratus keluarga dari Bani Mushthaliq. Maka aku tidak pernah mengetahui seorang wanita yang lebih berkah bagi kaumnya daripada Juwairiyyah.</p>
<p>Dan Ummul Mukminin ‘Aisyah menceritakan perihal pribadi Juwairiyyah:”Juwairiyyah adalah seorang wanita yang manis dan cantik, tiada seorangpun yang melihatnya melainkan akan jatuh hati kepadanya. Tatkala Juwairiyyah meminta kepada Rasulullah untuk membebaskan dirinya sedangkan -demi Allah- aku telah melihatnya melalui pintu kamarku, maka aku merasa cemburu karena menduga bahwa Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam akan melihat sebagaimana yang aku lihat.</p>
<p>Maka masuklah pengantin wanita, Sayyidah Bani Mushthaliq kedalam rumah tangga Nubuwwah. Pada Mulanya, nama Beliau adalah Burrah namun Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam menggantinya dengan Juwairiyyah karena khawatir dia dikatakan keluar dari biji gandum.</p>
<p>Ibnu Hajar menyebutkan di dalam kitabnya, al-Ishabah tentang kuatnya keimanan Juwairiyyah radhiallaahu &#8216;anha. Beliau berkata: ”Ayah Juwairiyyah mendatangi Rasul dan berkata: ”Sesungguhnya anakku tidak berhak ditawan karena terlalu mulia dari hal itu. Maka Nabi Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bagaimana pendapatmu seandainya anakmu disuruh memilih di antara kita; apakah anda setuju?”.</p>
<p>“Baiklah”, katanya. Kemudian ayahnya mendatangi Juwairiyyah dan menyuruhnya untuk memilih antara dirinya dengan Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau menjawab:”Aku memilih Allah dan Rasul-Nya”.</p>
<p>Ibnu Hasyim meriwayatkan bahwa akhirnya ayah beliau yang bernama al-Harits masuk Islam bersama kedua putranya dan beberapa orang dari kaumnya. Ummul Mukminin, Juwairiyyah wafat pada tahun 50 H. Ada pula yang mengatakan tahun 56 H.</p>
<p>Semoga Allah merahmati Ummul Mukminin, Juwairiyyah karena pernikahannya dengan Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam membawa berkah dan kebaikan yang menyebabkan kaumnya, keluarganya dan orang-orang yang dicintainya berpindah dari memalingkan ibadah untuk selian Allah dan kesyirikan menuju kebebasan dan cahaya Islam beserta kewibawaannya. Hal itu merupakan pelajaran bagi mereka yang bertanya-tanya tentang hikmah Rasulullah Shallall&#226;hu ‘alaihi wa sallam beristri lebih dari satu.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Zainab binti Jahsy]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/zainab-binti-jahsy-2/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:28:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/zainab-binti-jahsy-2/</guid>
<description><![CDATA[Zainab binti Jahsy -radhiallaahu &#8216;anha- Dia adalah Ummul mukminin, Zainab binti Jahsy bin Raba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul90.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul90.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul90" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-656" /></a></p>
<p>Zainab binti Jahsy -radhiallaahu &#8216;anha-</strong></p>
<p>Dia adalah Ummul mukminin, Zainab binti Jahsy bin Rabab bin Ya&#8217;mar. Ibu beliau bernama Ummyah Binti Muthallib, Paman dari paman Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam . Pada mulanya nama beliau adalah Barra&#8217;, namun tatkala diperistri oleh Rasulullah, beliau diganti namanya dengan Zainab.</p>
<p>Tatkala Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam melamarnya untuk budak beliau yakni Zaid bin Haritsah (kekasih Rasulullah dan anak angkatnya), maka Zainab dan juga keluarganya tidak berkenan. Rasulullah bersabda kepada Zainab, &#8220;Aku rela Zaid menjadi suamimu&#8221;. Maka Zainab berkata: &#8220;Wahai Rasulullah akan tetapi aku tidak berkenan jika dia menjadi suamiku, aku adalah wanita terpandang pada kaumku dan putri pamanmu, maka aku tidak mau melaksanakannya. Maka turunlah firman Allah (artinya): &#8220;Dan Tidaklah patut bagi laki-laki yang mu&#8217;min dan tidak (pula) bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan–urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata&#8221;. (Al-Ahzab:36).</p>
<p>Akhirnya Zainab mau menikah dengan Zaid karena ta&#8217;at kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, konsekuen dengan landasan Islam yaitu tidak ada kelebihan antara orang yang satu dengan orang yang lain melainkan dengan takwa.</p>
<p>Akan tetapi kehidupan rumah tangga tersebut tidak harmonis, ketidakcocokan mewarnai rumah tangga yang terwujud karena perintah Allah yang bertujuan untuk menghapus kebiasaan-kebiasaan dan hukum-hukum jahiliyah dalam perkawinan.</p>
<p>Tatkala Zaid merasakan betapa sulitnya hidup berdampingan dengan Zainab, beliau mendatangi Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam mengadukan problem yang dihadapi dengan memohon izin kepada Rasulullah untuk menceraikannya. Namun beliau bersabda: &#8220;Pertahankanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah&#8221;.</p>
<p>Padahal beliau mengetahui betul bahwa perceraian pasti terjadi dan Allah kelak akan memerintahkan kepada beliau untuk menikahi Zainab untuk merombak kebiasaan jahiliyah yang mengharamkan menikahi istri Zaid sebagaimana anak kandung. Hanya saja Rasulullah tidak memberitahukan kepadanya ataupun kepada yang lain sebagaimana tuntunan Syar&#8217;i karena beliau khawatir, manusia lebih-lebih orang-orang musyrik, akan berkata bahwa Muhammad menikahi bekas istri anaknya. Maka Allah &#8216;Azza wajalla menurunkan ayat-Nya: &#8220;Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya:&#8221;Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah&#8221;, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih kamu takuti. Maka tatkala Zaid yang telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini ( istri-istri anak-anak angkat itu ) apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi&#8221;. (Al-Ahzab:37).</p>
<p>Al-W&#226;qidiy dan yang lain menyebutkan bahwa ayat ini turun manakala Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan &#8216;Aisyah tiba-tiba beliau pingsan. Setelah bangun, beliau tersenyum seraya bersabda:&#8221;Siapakah yang hendak memberikan kabar gembira kepada Zainab?&#8221;, Kemudian beliau membaca ayat tersebut. Maka berangkatlah seorang pemberi kabar gembira kepada Zainab untuk memberikan kabar kepadanya, ada yang mengatakan bahwa Salma pembantu Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam yang membawa kabar gembira tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa yang membawa kabar gembira tersebut adalah Zaid sendiri. Ketika itu, beliau langsung membuang apa yang ada di tangannya kemudian sujud syukur kepada Allah.</p>
<p>Begitulah, Allah Subhanahu menikahi Zainab radliall&#226;hu &#8216;anha dengan Nabi-Nya melalui ayat-Nya tanpa wali dan tanpa saksi sehingga ini menjadi kebanggaan Zainab dihadapan Ummahatul Mukminin yang lain. Beliau berkata:&#8221;Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian akan tetapi aku dinikahkan oleh Allah dari atas &#8216;Arsy-Nya&#8221;. Dan dalam riwayat lain,&#8221;Allah telah menikahkanku di langit&#8221;. Dalam riwayat lain,&#8221;Allah menikahkan ku dari langit yang ketujuh&#8221;. Dan dalam sebagian riwayat lain,&#8221;Aku labih mulia dari kalian dalam hal wali dan yang paling mulia dalam hal wakil; kalian dinikahkan oleh orang tua kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari langit yang ketujuh&#8221;.</p>
<p>Zainab radliall&#226;hu &#8216;anha adalah seorang wanita shalihah, bertakwa dan tulus imannya, hal itu ditanyakan sendiri oleh sayyidah &#8216;Aisyah radliall&#226;hu &#8216;anha tatkala berkata:&#8221;Aku tidak lihat seorangpun yang lebih baik diennya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturrahmi dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarrub kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla&#8221;.</p>
<p>Beliau radliall&#226;hu &#8216;anha adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, beliau menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah, yakni beliau bagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Tatkala &#8216;Aisyah mendengar berita wafatnya Zainab, beliau berkata:&#8221;Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, menyantuni para yatim dan para janda&#8221;. Kemudian beliau berkata: &#8220;Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam bersabda kepada para istrinya: &#8216;Orang yang paling cepat menyusulku diantara kalian adalah yang paling panjang tangannya…&#8217; &#8220;.</p>
<p>Maka apabila kami berkumpul sepeninggal beliau, kami mengukur tangan kami di dinding untuk mengetahui siapakah yang paling panjang tangannya di antara kami. Hal itu kami lakukan terus hingga wafatnya Zainab binti Jahsy, kami tidak mendapatkan yang paling panjang tangannya di antara kami. Maka ketika itu barulah kami mengetahui bahwa yang di maksud dengan panjang tangan adalah sedekah. Adapun Zainab bekerja dengan tangannya menyamak kulit kemudian dia sedekahkan di jalan Allah.</p>
<p>Ajal menjemput beliau pada tahun 20 hijriyah pada saat berumur 53 tahun. Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab turut menyalatkan beliau. Penduduk Madinah turut mengantar jenazah Ummul Mukminin, Zainab binti Jahsy hingga ke Baqi&#8217;. Beliau adalah istri Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam yang pertama kali wafat setelah wafatnya Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wa sallam, semoga Allah merahmati wanita yang paling mulia dalam hal wali dan wakil, dan yang paling panjang tangannya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ummu Salamah]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/khaulah-binti-tsalabah/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:28:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/khaulah-binti-tsalabah/</guid>
<description><![CDATA[Khaulah Binti Tsa’labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh) Beliau adalah Khau]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul89.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul89.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul89" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-654" /></a></p>
<p><strong>Khaulah Binti Tsa’labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh)</strong></p>
<p>Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`.</p>
<p>Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, &#8220;Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.&#8221; Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, &#8220;Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.</p>
<p>Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, <em>&#8220;Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.” </em></p>
<p>Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, <em>&#8220;Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya&#8221;.</em></p>
<p>Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, &#8220;Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku&#8221;.</p>
<p>Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.</p>
<p>Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliau bersabda, &#8220;Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang ditimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), <em>&#8220;Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: &#8220;dan bagi oranr-orang kafir ada siksaan yang pedih.&#8221;(Al-Mujadalah:1-4) </em></p>
<p>Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:</p>
<p>Nabi : <em>Perintahkan kepadanya (suami Khansa`) untuk memerdekan seorang budak</em></p>
<p>Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.</p>
<p>Nabi : <em>Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut</em></p>
<p>Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.</p>
<p>Nabi : <em>Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin</em></p>
<p>Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.</p>
<p>Nabi : <em>Aku bantu dengan separuhnya</em></p>
<p>Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.</p>
<p>Nabi : <em>Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik.”</em> Maka Khaulah pun melaksanakannya.</p>
<p>Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.</p>
<p>Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, &#8220;Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, <em>&#8220;Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…&#8221;</em> (Al-Mujadalah: 1)</p>
<p>Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, &#8220;Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah.&#8221; Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.</p>
<p>Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, &#8220;Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!&#8221; Umar kemudian menegurnya, &#8220;Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka <strong><em>Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. </em></strong>&#8220;</p>
<p>Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ummu Habibah, Ramlah Binti Abu Sufyan]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-habibah-ramlah-binti-abu-sufyan/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:26:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-habibah-ramlah-binti-abu-sufyan/</guid>
<description><![CDATA[Ummu Habibah, Ramlah Binti Abu Sufyan Alangkah perlunya kaum muslimin hari ini untuk mengkaji perjal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul88.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul88.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul88" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-652" /></a></p>
<p>Ummu Habibah, Ramlah Binti Abu Sufyan</strong></p>
<p>Alangkah perlunya kaum muslimin hari ini untuk mengkaji perjalanan hidup sayyidah yang agung ini, agar mereka menyadari betapa jauhnya perbandingan antara mereka dengan generasi awal yang keluar dari madrasah nubuwwah, sehingga mereka mengetahui betapa pengaruh iman itu sangat menakjubkan pada jiwa mereka yang menyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya. Hingga mereka menjadi lentera yang menebarkan petunjuk dan cahaya. Dan di antara lentera tersebut adalah Ummul Mukminin, Ramlah binti Abu Sufyan seorang pemuka Quraisy dan pimpinan orang-orang musyrik hingga Fathu Makkah. Akan tetapi Ramlah binti Abu Sufyan tetap beriman sekalipun ayahnya memaksa beliau untuk kafir ketika itu. Dan Abu Sufyan tak kuasa memaksakan kehendaknya agar putrinya tetap dalam keadaan kafir. Justru beliau menunjukkan kuatnya pendirian dan mantapnya kemauan. Beliau rela menanggung beban yang melelahkan dan beban yang berat karena memperjuangkan aqidahnya.</p>
<p>Pada mulanya beliau menikah dengan Ubaidullah bin jahsy yang Islam seperti beliau. Tatkala kekejaman orang-orang kafir atas kaum muslimin mencapai puncaknya, Ramlah berhijrah menuju Habsyah bersama suaminya. Dan disanalah beliau melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Habibah dan dengan nama anaknya inilah beliau dijuluki (Ummu Habibah).</p>
<p>Ummu Habibah senantiasa bersabar dalam memikul beban lantaran memperjuangkan diennya dalam keterasingan dan hanya seorang diri, jauh dari keluarga dan kampung halaman bahkan terjadi musibah yang tidak dia sangka sebelumnya. Beliau bercerita:</p>
<p>&#8220;Aku melihat didalam mimpi, suamiku Ubaidullah bin Jahsy dengan bentuk yang sangat buruk dan menakutkan. Maka aku terperanjat dan terbangun, kemudian aku memohon kepada Allah dari hal itu. Ternyata tatkala pagi, suamiku telah memeluk agama Nasrani. Maka aku ceritakan mimpiku kepadanya namun dia tidak menggubrisnya&#8221;.</p>
<p>Si murtad yang celaka ini mencoba dengan segala kemampuannya untuk membawa istrinya keluar dari diennya namun Ummu Habibah menolaknya dan dia telah merasakan lezatnya iman. Bahkan beliau justru mengajak suaminya agar tetap didalam Islam namun dia malah menolak dan membuang jauh ajakan tersebut dan dia semakin asyik dengan khamr. Hal itu berlangsung hingga dia mati.</p>
<p>Hari-hari berlalu di bumi hijrah sementara dirinya berada dalam dua ujian; pertama, jauh dari sanak saudara dan kampung halaman. Kedua, ujian karena menjadi seorang janda tanpa seorang pendamping. Akan tetapi beliau dengan keimanan yang tulus yang telah Allah karuniakan kepadanya, mampu menghadapi ujian berat tersebut.Beliau wujudkan firman Allah (artinya):</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan memberikan rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.Dan berangsiapa yang telah bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu&#8221;.(ath-Thalaq:2-3).</p>
<p>Allah berkehendak untuk membulatkan tekadnya, maka dia melihat dalam mimpinya ada yang menyeru dia: &#8220;Wahai Ummul Mukminin….!&#8221;. Maka beliau terperanjat dan terbangun karena mimpi tersebut. Beliau menakwilkan mimpi tersebut bahwa Rasulullah kelak akan menikahinya.</p>
<p>Setalah selesai masa &#8216;iddahnya, tiba-tiba ada seorang jariyah dari Najasyi yang memberitahukan kepada beliau bahwa dirinya telah dipinang oleh pimpinan semua manusia seutama-utama shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada beliau. Alangkah bahagianya beliau mendengar kabar gembira tersebut hingga beliau berkata: &#8220;Semoga Allah memberikan kabar gembira untukmu&#8221;. Kemudian beliau menanggalkan perhiasan dan gelang kakinya untuk diberikan kepada Jariyah (budak wanita) yang membawa kabar tersebut saking senangnya. Kemudian beliau meminta Khalid bin Sa&#8217;ad bin al-&#8217;Ash untuk menjadi wakil baginya agar menerima lamaran Najasyi yang mewakili Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wasallam untuk menikahkan beliau dengan Ummu Habibah setelah Rasulullah menerima kabar tentang keadaan beliau dan ujian yang dia hadapi dalam menapaki jalan diennya. Sedangkan tiada seorangpun yang menolong dan membantu dirinya. Pada suatu sore, Raja Najasyi mengumpulkan kaum muslimin yang berada di Habasyah, maka datanglah mereka dengan dipimpin oleh Ja&#8217;far bin Abi Thalib, putra paman Nabi Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wasallam. Selanjutnya Raja Najasyi berkata:</p>
<p>&#8220;Segala puji bagi Allah Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Kemanan, Yang Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa bin Maryam &#8216;alaihissalaam .</p>
<p>Amma ba&#8217;du, Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam telah mengirim surat untukku untuk melamarkan Ummu Habibah binti Abu Sufyan dan Ummu Habibah telah menerima lamaran Rasulullah, adapun maharnya adalah 400 dinar&#8221;. Kemudian beliau letakkan uang tersebut didepan kaum muslimin.</p>
<p>Kemudian Khalid bin Sa&#8217;id berkata:&#8221;Segala puji bagi Allah, aku memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang Allah mengutusnya dengan membawa hidayah dan dein yang haq untuk memenangkan dien-Nya walaupun orang-orang musyrik benci.</p>
<p>Amma ba&#8217;du, aku terima lamaran Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam dan aku nikahkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan, semoga Allah memberkahi Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam. Selanjutnya Najasyi menyerahkan dinar tersebut kepada Khalid bin Sa&#8217;id kemudian beliau terima. Najasyi mengajak para sahabat untuk mangadakan walimah dengan mengatakan: &#8220;Kami persilahkan anda untuk duduk karena sesungguhnya sunnah para Nabi apabila menikah hendaklah makan-makan untuk merayakan pernikahan&#8221;.</p>
<p>Setelah kemenangan Khaibar, sampailah rombongan Muhajirin dari Habasyah, maka Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Dengan sebab apa aku harus bergembira,karena kemenangan Khaibar atau karena datangnya Ja&#8217;far?&#8221;</p>
<p>Sedangkan Ummu Habibah bersama rombongan yang datang. Maka bertemulah Rasululah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam dengannya pada tahun keenam atau ketujuh hijriyah. Kala itu Ummu Habibah berumur 40 tahun saat menduduki sebagai bintang berseri diantara istri-istri beliau dan jadilah beliau Ummul Mukminin.</p>
<p>Ummu Habibah menempatkan urusan dien pada tempat yang pertama, beliau utamakan aqidahnya daripada famili. Beliau telah mengumandangkan bahwa loyalitas beliau adalah untuk Allah dan Rasul-Nya bukan untuk seorangpun selaiin keduanya. Hal itu dibuktikan sikap beliau terhadap ayahnya, Abu Sufyan, tatkala suatu ketika ayahnya tersebut masuk ke rumah beliau sedangkan beliau ketika itu telah menjadi istri Rasul Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam di Madinah. Sang ayah datang untuk meminta bantuan kepada beliau agar menjadi perantara antara dirinya dengan Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam untuk memperbaharui perjanjian Hudaibiyah yang telah dikhianati sendiri oleh orang-orang musyrik. Abu Sufyan ingin duduk diatas tikar Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam, namun tiba-tiba dilipat oleh Ummu Habibah, maka Abu Sufyan bertanya dengan penuh keheranan: &#8220;Wahai putriku aku tidak tahu mengapa engkau melarangku duduk di tikar itu, apakah engkau malarang aku duduk diatasnya?&#8221;. Beliau menjawab dengan keberanian dan ketenangan tanpa ada rasa takut terhadap kekuasaan dan kemarahan ayahnya: &#8220;Ini adalah tikar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam sedangkan engkau adalah orang musyrik yang najis, aku tidak ingin engkau duduk diatas tikar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam&#8221;. Abu Sufyan berkata:&#8221;Demi Allah engkau akan menemui hal buruk sepeningalku nanti&#8221;. Namun Ummu Habibah menjawab dengan penuh wibawa dan percaya diri: &#8220;bahkan semoga Allah memberi hidayah kepadaku dan juga kepada anda wahai ayah, pimpinan Quraisy, apa yang menghalangi anda masuk Islam? sedangkan engkau menyembah batu yang tidak dapat melihat maupun mendengar!!&#8221;. Maka Abu Sufyan pergi dengan marah dan membawa kegagalan.</p>
<p>Sungguh beliau berhak menyandang segala kebesaran dan keagungan sebagai Ummul Mukminin, Ummu Habibah radhiallaahu &#8216;anhuma. Seandainya para wanita itu seperti beliau niscaya hasilnyapun seperti yang terjadi pada beliau.</p>
<p>Setelah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam menghadap ar-Rafiiqul A&#8217;la, Ummu Habibah melazimi rumahnya. Beliau tidak keluar rumahnya kecuali untuk shalat dan beliau tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji hingga sampailah waktu wafat yang di tunggu-tunggu tatkala berumur tujuh puluhan tahun. Beliau wafat setelah memberikan keteladanan yang paling tinggi dalam menjaga kewibawaan diennya dan bersemangat atasnya, tinggi dan mulya jauh dari pengaruh jahiliyah dan tidak menghiraukan nasab manakala bertentangan dengan aqidahnya, semoga Allah meridhainya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ummu Salamah]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-salamah-2/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:25:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-salamah-2/</guid>
<description><![CDATA[Ummu Salamah -radhiallaahu &#8216;anha- Beliau adalah Hindun binti Abi Umayyah bin Mughirah al-Makhz]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul87.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul87.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul87" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-650" /></a></p>
<p>Ummu Salamah -radhiallaahu &#8216;anha-</strong></p>
<p>Beliau adalah Hindun binti Abi Umayyah bin Mughirah al-Makhzumiyah al-Qursyiyah. Bapaknya adalah putra dari salah seorang Quraisy yang diperhitungkan (disegani) dan terkenal dengan kedermawanannya.</p>
<p>Ayahnya dijuluki sebagai &#8220;Zaad ar-Rakbi &#8221; yakni seorang pengembara yang berbekal. Dijuluki demikian karena apabila dia melakukan safar (perjalanan) tidak pernah lupa mengajak teman dan juga membawa bekal bahkan ia mencukupi bekal milik temannya. Adapun ibu beliau bernama &#8216;Atikah binti Amir bin Rabi&#8217;ah al-Kinaniyah dari Bani Farras yang terhormat.</p>
<p>Disamping beliau memiliki nasab yang terhormat ini beliau juga seorang wanita yang berparas cantik, berkedudukan dan seorang wanita yang cerdas.Pada mulanya dinikahi oleh Abu Salamah Abdullah bin Abdil Asad al-Makhzumi, seorang shahabat yang agung dengan mengikuti dua kali hijrah. Baginya Ummu Salamah adalah sebaik-baik istri baik dari segi kesetiaan, kata&#8217;atan dan dalam menunaikan hak-hak suaminya. Dia telah memberikan pelayanan kepada suaminya di dalam rumah dengan pelayanan yang menggembirakan. Beliau senantiasa mendampingi suaminya dan bersama-sama memikul beban ujian dan kerasnya siksaan orang-orang Quraisy. Kemudian beliau hijrah bersama suaminya ke Habasyah untuk menyelamatkan diennya dengan meninggalkan harta, keluarga, kampung halaman dan membuang rasa ketundukan kepada orang-orang zhalim dan para thagut. Di bumi hijrah inilah Ummu Salamah melahirkan putranya yang bernama Salamah.</p>
<p>Bersamaan dengan disobeknya naskah pemboikotan (terhadap kaum muslimin dan kaumnya Abu Thalib) dan setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthallib dan Umar bin Khaththab radhiallaahu &#8216;anhuma , kembalilah sepasang suami-isteri ini ke Mekkah bersama shahabat-shahabat yang lainnya.</p>
<p>Kemudian manakala Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam mengizinkan bagi para shahabatnya untuk hijrah ke Madinah setelah peristiwa Bai&#8217;atul Aqabah al-Kubra, Abu Salamah bertekad untuk mengajak anggota keluarganya berhijrah. Kisah hijrahnya mereka ke Madinah sungguh mengesankan, maka marilah kita mendengar penuturan Ummu Salamah yang menceritakan dengan lisannya tentang perjalanan mereka tatkala menempuh jalan hijrah. Berkata Ummu Salamah:</p>
<p>&#8220;Tatkala Abu Salamah tetap bersikeras untuk berhijrah ke Madinah, dia menuntun untanya kemudian menaikkan aku ke atas punggung unta dan membawa anakku Salamah. Selanjutnya kami keluar dengan menuggang unta, tatkala orang-orang dari Bani Mughirah melihat kami segera mereka mencegatnya dan berkata: &#8216;Jika dirimu saja yang berangkat maka kami tidak kuasa untuk mencegahnya namun bagaimana dengan saudara kami (Ummu Salamah yang berasal dari Bani Mughirah) ini?&#8217;. Kemudian mereka merenggut tali kendali unta dari tangannya dan mencegahku untuk pergi bersamanya. Ketika Bani Abdul Asad dari kaum Abi Salamah melihat hal itu, mereka marah dan saling memperebutkan Salamah hingga berhasil mengambilnya dari paman-pamannya, mereka mengatakan:&#8217;Tidak! demi Allah kami tidak akan membiarkan anak laki-laki kami bersamanya jika kalian memisahkan istri dari keluarga laki-laki kami&#8217;. Mereka memperebutkan anakku, Salamah lalu melepaskan tangannya, kemudian anakku dibawa pergi bergabung dengan kaum bapaknya, sedangkan aku tertahan oleh Bani Mughirah.</p>
<p>Maka berangkatlah suamiku seorang diri hingga sampai ke Madinah untuk menyelamatkan dien dan nyawanya. Selama beberapa waktu lamanya, aku merasakan hatiku hancur dalam keadaan sendiri karena telah dipisahkan dari suami dan anakku. Sejak hari itu, setiap hari aku pergi keluar ke pinggir sebuah sungai, kemudian aku duduk disuatu tempat yang menjadi saksi akan kesedihanku. Terkenang olehku saat-saat dimana aku berpisah dengan suami dan anakku sehingga menyebabkan aku menangis sampai menjelang malam. Kebiasaan tersebut aku lakukan kurang lebih selama satu tahun hingga ada seorang laki-laki dari kaum pamanku yang melewatiku. Tatkala melihat kondisiku, ia menjadi iba kemudian berkata kepada orang-orang dari kaumku: &#8216;Apakah kalian tidak membiarkan wanita yang miskin ini untuk keluar? Sungguh kalian telah memisahkannya dengan suami dan anaknya&#8217;. Hal itu dikatakan secara berulangkali sehingga menjadi lunaklah hati mereka, kemudian mereka berkata kepadaku: &#8216;Susullah suamimu jika kamu ingin&#8217;. Kala itu anakku juga dikembalikan oleh Bani Abdul Asad kepadaku. Selanjutnya aku mengambil untaku dan meletakkan anakku dipangkuannya. Aku keluar untuk menyusul suamiku di Madinah dan tak ada seorangpun yang bersamaku dari makhluk Allah.</p>
<p>Manakala aku sampai di at-Tan&#8217;im aku bertemu dengan Utsman bin Thalhah. Dia bertanya kepadaku:&#8217;Hendak kemana anda wahai putri Zaad ar-Rakbi?&#8217;. &#8216;Aku hendak menyusul suamiku di Madinah&#8221;, jawabku. Utsman berkata: &#8216;apakah ada seseorang yang menemanimu?. Aku menjawab: &#8216;Tidak! demi Allah! melainkan hanya Allah kemudian anakku ini&#8217;. Dia menyahut: &#8216;Demi Allah engkau tidak boleh ditinggalkan sendirian&#8217;. Selanjutnya dia memegang tali kekang untaku dan menuntunnya untuk menyertaiku. Demi Allah tiada aku kenal seorang laki-laki Arab yang lebih baik dan lebih mulia dari Ustman bin Thalhah. Apabila kami singgah di suatu tempat, dia mempersilahkan aku berhenti dan kemudian dia menjauh dariku menuju sebuah pohon dan dia berbaring dibawahnya. Apabila kami hendak melanjutkan perjalanan, dia mendekati untaku untuk mempersiapkan dan memasang pelananya kemudian menjauh dariku seraya berkata: &#8216;Naiklah!&#8217;. Apabila aku sudah naik ke atas unta dia mendatangiku dan menuntun untaku kembali. Demikian seterusnya yang dia lakukan hingga kami sampai di Madinah. Tatkala dia melihat desa Bani Umar bin Auf di Quba&#8217; yang merupakan tempat dimana suamiku, Abu Salamah berada di tempat hijrahnya. Dia berkata:&#8217;Sesungguhnya suamimu berada di desa ini, maka masuklah ke desa ini dengan barokah Allah&#8217;. Sementara Ustman bin Thalhah langsung kembali ke Makka&#8221;.</p>
<p>Begitulah, Ummu Salamah adalah wanita pertama yang memasuki Madinah dengan sekedup unta sebagaimana beliau juga pernah mengikuti rombongan pertama yang hijrah ke Habasyah. Selama di Madinah beliau sibuk mendidik anaknya &#8211; inilah tugas pokok bagi wanita &#8211; dan mempersiapkan sesuatu sebagai bekal suaminya untuk berjihad dan mengibarkan bendera Islam. Abu Salamah mengikuti perang Badar dan perang Uhud. Pada Perang Uhud inilah beliau terkena luka yang parah. Beliau terkena panah pada begian lengan dan tinggal untuk mengobati lukanya hingga merasa sudah sembuh.</p>
<p>Selang dua bulan setelah perang Uhud, Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam mendapat laporan bahwa Bani Asad merencanakan hendak menyerang kaum muslimin. Kemudian beliau memanggil Abu Salamah dan mempercayakan kepadanya untuk membawa bendera pasukan menuju &#8220;Qathn&#8221;, yakni sebuah gunung yang berpuncak tinggi disertai pasukan sebanyak 150 orang. Di antara mereka adalah &#8216;Ubaidullah bin al-Jarrah dan Sa&#8217;ad bin Abi Waqqash.</p>
<p>Abu Salamah melaksanakan perintah Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam untuk menghadapi musuh dengan antusias. Beliau menggerakkan pasukannya pada gelapnya subuh saat musuh lengah. Maka usailah peperangan dengan kemenangan kaum muslimin sehingga mereka kembali dalam keadaan selamat dan membawa ghanimah. Disamping itu, mereka dapat mengembalikan sesuatu yang hilang yakni kewibawaan kaum muslimin tatkala perang Uhud.</p>
<p>Pada pengiriman pasukan inilah luka yang diderita oleh Abu Salamah pada hari Uhud kembali kambuh sehingga mengharuskan beliau terbaring ditempat tidur. Di saat-saat dia mengobati lukanya, beliau berkata kepada istrinya: &#8220;Wahai Ummu Salamah, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Tiada seorang muslimpun yang ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan kalimat istirja&#8217; (inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un), dilanjutkan dengan berdo&#8217;a:&#8217;Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya&#8217; melainkan Allah akan menggantikan yang lebih baik darinya&#8221;.</p>
<p>Pada suatu pagi Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam datang untuk menengoknya dan beliau terus menunggunya hingga Abu Salamah berpisah dengan dunia. Maka Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam memejamkan kedua mata Abu Salamah dengan kedua tangannya yang mulia, beliau mengarahkan pandangannya ke langit seraya berdo&#8217;a:</p>
<p>&#8220;Ya Allah ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dalam golongan Al-Muqarrabin dan gantikanlah dia dengan kesudahan yang baik pada masa yang telah lampau dan ampunilah kami dan dia Ya Rabbal&#8217;Alamin&#8221;.</p>
<p>Ummu Salamah menghadapi ujian tersebut dengan hati yang dipenuhi dengan keimanan dan jiwa yang diisi dengan kesabaran beliau pasrah dengan ketetapan Allah dan qadar-Nya.Beliau ingat do&#8217;a Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Salamah yakni:</p>
<p>&#8220;Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini…&#8221;</p>
<p>Sebenarnya ada rasa tidak enak pada jiwanya manakala dia membaca do&#8217;a: &#8220;Wakhluflii khairan minha&#8221; (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya) karena hatinya bertanya-tanya: &#8216;Lantas siapakah gerangan yang lebih baik daripada Abu Salamah?&#8217;. Akan tetapi beliau tetap menyempurnakan do&#8217;anya agar bernilai ibadah kepada Allah.</p>
<p>Ketika telah habis masa iddahnya, ada beberapa shahabat-shahabat utama yang bermaksud untuk melamar beliau. Inilah kebiasaan kaum muslimin dalam menghormati saudaranya, yakni mereka manjaga istrinya apabila mereka terbunuh di medan jihad. Akan tetapi Ummu Salamah menolaknya.</p>
<p>Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam turut memikirkan nasib wanita yang mulia ini; seorang wanita mukminah, jujur, setia dan sabar. Beliau melihat tidak bijaksana rasanya apabila dia dibiarkan menyendiri tanpa seorang pendamping. Pada suatu hari, pada saat Ummu Salamah sedang menyamak kulit, Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam datang dan meminta izin kepada Ummu Salamah untuk menemuinya. Ummu Salamah mengizinkan beliau. Beliau ambilkan sebuah bantal yang terbuat dari kulit dan diisi dengan ijuk sebagai tempat duduk bagi Nabi. Maka Nabi pun duduk dan melamar Ummu Salamah. Tatkala Rasulullah selesai berbicara, Ummu Salamah hampir-hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tiba-tiba beliau ingat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Salamah, yakni; &#8220;Wakhlufli khairan minha&#8221; (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya), maka hatinya berbisik:&#8217;Dia lebih baik daripada Abu salamah&#8217;. Hanya saja ketulusan dan keimanannya menjadikan beliau ragu, beliau hendak mengungkapkan kekurangan yang ada pada dirinya kepada Rasulullah. Dia berkata:&#8221;Marhaban ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku tidak mengharapkan anda ya Rasulullah…hanya saja saya adalah seorang wanita yang pencemburu, maka aku takut jika engkau melihat sesuatu yang tidak anda senangi dariku maka Allah akan mengadzabku, lagi pula saya adalah seorang wanita yang telah lanjut usia dan saya memiliki tanggungan keluarga. Maka Rasulullah Shallall&#226;hu &#8216;alaihi wasallam bersabda:&#8221;Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita yang telah lanjut usia, maka sesungguhnya aku lebih tua darimu dan tiadalah aib manakala dikatakan dia telah menikah dengan orang yang lebih tua darinya. Mengenai alasanmu bahwa engkau memiliki tanggungan anak-anak yatim, maka semua itu menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita pencemburu, maka aku akan berdo&#8217;a kepada Allah agar menghilangkan sifat itu dari dirimu. Maka beliau pasrah dengan Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam . Dia berkata:&#8221;Sungguh Allah telah menggantikan bagiku seorang suami yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Maka jadilah Ummu Salamah sebagai Ummul mukminin. Beliau hidup dalam rumah tangga nubuwwah yang telah ditakdirkan untuknya dan merupakan suatu kedudukan yang beliau harapkan. Beliau menjaga kasih sayang dan kesatuan hati bersama para ummahatul mukminin.</p>
<p>Ummu Salamah adalah seorang wanita yang cerdas dan matang dalam memahami persoalan dengan pemahaman yang baik dan dapat mengambil keputusan dengan tepat pula. Hal itu ditunjukkan pada peristiwa Hudaibiyah manakala Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan para shahabatnya untuk menyembelih qurban selepas terjadinya perjanjian dengan pihak Quraisy. Namun ketika itu, para shahabat tidak mengerjakannya karena sifat manusiawi mereka yang merasa kecewa dengan hasil perjanjian Hudaibiyah yang banyak merugikan kaum muslimin. Berulangkali Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan mereka akan tetapi tetap saja tak seorangpun mau mengerjakannya. Maka Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam masuk menemui Ummu Salamah dalam keadaan sedih dan kecewa. Beliau ceritakan kepada Ummu Salamah perihal kaum muslimin yang tidak mau mengerjakan perintah beliau. Maka Ummu Salamah berkata:&#8221;Wahai Rasulullah apakah anda menginginkan hal itu?. Jika demikian, maka silahkan anda keluar dan jangan berkata sepatah katapun dengan mereka sehingga anda menyembelih unta anda, kemudian panggillah tukang cukur anda untuk mencukur rambut anda (tahallul).</p>
<p>Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam menerima usulan Ummu Salamah. Maka beliau berdiri dan keluar tidak berkata sepatah katapun hingga beliau menyembelih untanya. Kemudian beliau panggil tukang cukur beliau dan dicukurlah rambut beliau. Manakala para shahabat melihat apa yang dikejakan oleh Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam, maka mereka bangkit dan menyembelih kurban mereka, kemudian sebagian mereka mencukur sebagian yang lain secara bergantian. Hingga hampir-hampir sebagian membunuh sebagian yang lain karena kecewa. Setelah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam menghadap Ar-Rafiiqul A&#8217;la, maka Ummul Mukminin, Ummu Salamah senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi. Beliau selalu andil dengan kecerdasannya dalam setiap persoalan untuk menjaga lurusnya umat dan mencegah mereka dari penyimpangan, terlebih lagi terhadap para penguasa dari para Khalifah maupun para pejabat. Beliau singkirkan segala kejahatan dan kezhaliman terhadap kaum muslimin, beliau terangkan kalimat yang haq dan tidak takut terhadap celaan dari orang yang suka mencela dalam rangka melaksanakan perintah Allah. Tatkala tiba bulan Dzulqa&#8217;dah tahun 59 setelah hijriyah, ruhnya menghadap Sang Pencipta sedangkan umur beliau sudah mencapai 84 tahun. Beliau wafat setelah memberikan contoh kepada wanita dalam hal kesetiaan, jihad dan kesabaran.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shafiyyah Binti Huyai]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/shafiyyah-binti-huyai/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:23:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/shafiyyah-binti-huyai/</guid>
<description><![CDATA[Shafiyyah Binti Huyai -radhiallaahu &#8216;anha- Beliau adalah Shafiyyah binti Huyai binti Akhthan b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul86.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul86.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul86" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-648" /></a></p>
<p>Shafiyyah Binti Huyai -radhiallaahu &#8216;anha-</strong></p>
<p>Beliau adalah Shafiyyah binti Huyai binti Akhthan bin Sa&#8217;yah cucu dari Al-Lawi bin Nabiyullah Israel bin Ishaq bin Ibrahim a.s,termasuk keturunan Rasulullah Harun a.s.Shafiyyah adalah seorang wanita yang cerdas dan memiliki kedudukan yang terpandang,berparas cantik dan bagus diennya.Sebelum Islamnya beliau menikah dengan Salam bin Abi Al-Haqiq,kemudian setelah itiu dia menikah dengan Kinanah bin Abi Al-Haqiq.Keduanya adalah penyair yahudi.Kinanah terbunuh pada waktu perang Kkaibar,maka beliau termasuk wanita yang di tawan bersama wanita-wania lain.Bilal&#8221;Muadzin Rasululllah &#8221; menggiring Shafiyyahdan putri pamannya.mereka meleweti tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi.Shafiyyah diam dan tenang dan tidak kelihatan seduh dan tidak pula meratap mukanya,menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya.</p>
<p>Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah saw,Shafiyyah dalam keadaan sedih namun tetap diam,sedangkan putri pamanya kepalanya penuh pasir,merobek bajunya karena maresa belum cukup ratapannya.Maka Rasulullah saw bersabda:Sedangkan tersirat rasa tidak suka pada wajah beliau:</p>
<p>&#8220;Enyahkanlah syetan ini dariku.&#8221;</p>
<p>Kemudian beliau saw mendekati Shafiyyah kemudian mengarahkan pandangan atasnya dengan ramah dan lembut,kemudian bersabda kepada Bilal:</p>
<p>&#8220;Wahai Bilal aku berharap engkau mendapat rahmat tatkala engkau bertemu dengan dua orang wanita yang suaminya terbunuh.&#8221;</p>
<p>Selanjutnya Shafiyyah dipilih untuk beliau dan beliau mengulurkan selendang belieu kepada Shafiyyah,hal itu sebagai pertandan bahwa Rasulullah saw telah memilihnya untuk dirinya.Hanya kaum muslimin tidak mengetahui apakah Shafiyyah di ambil oelh Rasulullah sebagai istri atau sebagai buadak atau sebagai anak ?Maka tatkala beliau berhijab Shafiyyah,maka barulah mereka tahu bahwa Rasulullah saw mengambilnya sebagai istri.Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas r.a bahwa Rasulullah tatkala mengambil Shafiyyah binti Huyai belaiu bertanya kepadanya,&#8221;Muakah engkau menjadi istriku?&#8221;Maka Shafiyyah menjawab,&#8221;Ya Rasulullah sungguh aku telah berangan-angan untuk itu tatkala masih musyrik,maka bagaimana mungkin aku tidak inginkan hal itu manakala Allah memungkinkan itu saat aku memeluk Islam ?&#8221;</p>
<p>Kemudian tatkala Shafiyyah telah suci Raslullah saw menikahinya,sedangkan maharnya adalah merdekanya Shafiyyah .Nabi saw menanti sampai Khaibar kembali tenang.Setalah Setelah beliau perkirakan rasa takut telah hilang pada siri Shafiyyah,beliau mengajaknya pergi Shafiyyah yang beliau bawa di belakang beliau,kemudian beranjak menuju ke sebuah rumah yang berjarak enam mil dari Khaibar.Nabi saw menginginkan diri Shafiyyah ketika itu,namun dia menolaknya.Ada rasa kecewa padadir Nabi karena penolakan tersebut.</p>
<p>Kemudian Rasulullah saw melanjutkan perjalanannya ke Madinah bersama bala tentaranya,tatkala mereka sampai di Shabba&#8217;jauh dari Khaibar mereka berhenti untuk beristirahat.Pada saat itulah timbul keinginan untuk merayakan walimatul &#8216;urs.Maka didatangkanlah Ummu Anas bin Malik r.a,beliau menyisir rambut Shafiyyah,menghiasi dan memberi wewangian hingga karena kelihaian dia dalam merias,Ummu Sinan Al-Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan cantik dari Shafiyyah.Maka diadakanlah walimatul &#8216;urs,maka kaum muslimin memakan lezatnya kurma,mentega,dan keju Khaibar hingga kenyang.Rasulullah saw mask kekamar Shafiyyah sedangkan masih terbayang pada beliau penolakan Shafiyyah tatkala ajakan beliau yang pertama,maka Shafiyyah menerima Nabi untuk menjalani manjalani malam pertam dengan lembut beliau menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan.Beliau bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi&#8217;,pada malam itu beliau bermimpi bahwa bulan telah jatuh kekamarnya.Tatkala bangun belaiu ceritakan hal itu kepada Kinanah.maka dia berkata dengan marah:&#8221;Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu berangan-angan mendapatkan raja Hijaz Muhammad.Maka dia tampar wajahnya beliau dengan keras sehingga bekasnya masih ada,Nabi saw mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya,&#8221;Mengapa engaku menolak dariku tatkala kita menginap yang pertama?&#8221;Maka beliau menjawab,&#8217;Saya khawatir terhadap diri anda karena dekat Yahudi .Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hatinya maka Nabi melewati malam pertamanya tatkala Shafiyyah berumur 17 tahun.</p>
<p>Tatkala rombongan sampai di Madinah Rasulullah perintahkan agar pengantin wanita tidak langsung di ketemukan dengan istri-istri beliau yang lain.Beliau turunkan Shafiyyah di rumah sahabatnya yang bernama Haritsah bin Nu&#8217;man.Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabat tersebut ,mereka datang untuk melihat kecantikannya.Nabi saw memergoki &#8216;Aisyah keluar sambil menutupi dirinya serta berhati-hati (agar tidak dilihat Nabi) kemudian beliau masuk kerumah Haritsah bin Nu&#8217;man .Maka beliau menunggunya sampai &#8216;Aisyah keluar.Maka tatkala beliau keluar,Rasulullah memegang bajunya seraya bertanya dengan tertawa,&#8221;bagaimana menurut mendapatmu wahai yang kemerah-merahan?&#8221;&#8216;Aisyah menjawab sementara cemburu menghiasi dirinya,&#8221;Aku lihat dia adalah wanita Yahudi.&#8221;Maka Rasulullah saw membantahnya dan bersabda:</p>
<p>&#8220;Jangan berkata begitu….karena sesungguhnya dia telah Islam dan bagus keislamannya.&#8221;</p>
<p>Selajutnya Shafiyyah berpindah ke rumah Nabi menimbulkan kecemburuan istri-istri beliau yang lain karena kecantikannya.Mereka juga mengucapkan selamat atas apa yang telah beliau raih.Bahkan dengan nada mengejek mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy,wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing.</p>
<p>Bahkan suatu ketika sampai keluar dari lisan Hafshah kata-kata ,&#8221;Anak seorang Yahudi &#8220;hingga menyebabkan beliau menangis .Tatkala itu Nabi masuk sedangkan Shafiyyah masih dalam keadaan menangis.Beliau bertanya,&#8221;Apa yang membuatmu menangis?&#8221;Beliau menjawab,Hafshah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah anak seorang Yahudi.Rasulullah saw bersabda:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnys engkau adalah seorang putri seorang Nabi dan pamanmu adalah seorang Nabi,suamipun juga seorang Nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu ?&#8221;Kemudian beliau bersabda kepada Hafshah,&#8221;Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!&#8221;</p>
<p>Maka kata-kata Nabi itu menjadi penyejuk,keselamatan dan keamanan bagi Shafiyyah.Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain maka diapun berkata:&#8221;Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku,padahal suamiku adalah Muhammad ,ayahku adalah Harun dan pamanku adalah Musa?&#8221;</p>
<p>Shafiyyah r.a wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun,ketika masa pemerintahan Mu&#8217;awiyah.Beliau dikuburkan di Baqi&#8217; bersama Ummuhatul Mukminin.Semoga Allah meridhai mereka semua.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ummu Fadhl]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-fadhl/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:22:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/28/ummu-fadhl/</guid>
<description><![CDATA[Ummu Fadhl (Istri al-&#8217;Abbas Paman Nabi) Nama beliau adalah Lubabah binti al-Haris bin Huzn bin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul85.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/mutiara-sahabatrasul85.jpg" alt="" title="mutiara sahabatrasul85" width="510" height="158" class="alignnone size-full wp-image-646" /></a></p>
<p>Ummu Fadhl (Istri al-&#8217;Abbas Paman Nabi)</strong></p>
<p>Nama beliau adalah Lubabah binti al-Haris bin Huzn bin Bajir bin Hilaliyah. Beliau adalah Lubabah al-Kubra, ia dikenal dengan kuniyahnya (Ummu Fadhl) dan juga dengan namanya mereka kenal. Ibu dari Lubabah r.ha adalah Khaulah binti `Auf al-Qurasyiyah. Ummu Fadhl adalah salah satu dari empat wanita yang dinyatakan keimanannya oleh Rasulullah SAW. Keempat wanita tersebut adalah Maimunah, Ummu Fadhl, Asma` dan Salma.</p>
<p>Adapun Maimunah adalah Ummul Mukminin r.ha saudara kandung dari Ummu Fadhl. Sedangkan Asma` dan Salma adalah kedua saudari dari jalan ayahnya sebab keduanya adalah putri dari `Umais.</p>
<p>Ummu Fadhl r.ha adalah istri dari Abbas, paman Rasulullah SAW., dan ibu dari enam orang yang mulia, pandai dan belum ada seorang wanitapun yang melahirkan laki-laki semisal mereka. Mereka adalah Fadhl, Abdullah al-Faqih, Ubaidullah al-Faqih, Ma`bad, Qatsam dan Abdurrahman. Tentang Ummu Fadhl ini Abdullah bin Yazid berkata,<br />
<em>Tiada seorangpun yang melahirkan orang-orang yang terkemuka<br />
Yang aku lihat sebagaimana enam putra Ummu Fadhl<br />
Putra dari dua orang tua yang mulia<br />
Pamannya Nabiyul Musthafa yang mulia<br />
Penutup para Rasul dan sebaik-baik rasul</em></p>
<p>Ummu Fadhl r.ha masuk Islam sebelum hijrah, beliau adalah wanita pertama yang masuk Islam setelah Khadijah (Ummul Mukminin r.ha) sebagaimana yang dituturkan oleh putra beliau Abdullah bin Abbas, &#8220;Aku dan Ibuku adalah termasuk orang-orang yang tertindas dari wanita dan anak-anak.&#8221;</p>
<p>Ummu Fadhl termasuk wanita yang berkedudukan tinggi dan mulia di kalangan para wanita. Rasulullah SAW., terkadang mengunjungi beliau dan terkadang tidur siang di rumahnya.</p>
<p>Ummu Fadhl adalah seorang wanita yang pemberani dan beriman, yang memerangi Abu Lahab si musuh Allah dan membunuhnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dari Ikrimah berkata, &#8220;Abu Rafi` budak Rasulullah saw berkata, ‘Aku pernah menjadi budak Abbas, ketika Islam datang maka Abbas masuk Islam disusul oleh Ummu Fadhl, namun Abbas masih disegani terhadap kaumnya.</p>
<p>Abu Lahab tidak dapat menyertai perang Badar dan mewakilkannya kepada Ash bin Hisyam bin Mughirah, begitulah kebiasaan mereka manakala tidak mengikuti suatu peperangan maka ia mewakilkan kepada orang lain.</p>
<p>Tatkala datang kabar tentang musibah yang menimpa orang-orang Quraisy pada perang Badar yang mana Allah telah menghinakan dan merendahkan Abu Lahab, maka sebaliknya kami merasakan adanya kekuatan dan `izzah pada diri kami. Aku adalah seorang laki-laki yang lemah, aku bekerja membuat gelas yang aku pahat di bebatuan sekitar zam-zam, demi Allah suatu ketika aku duduk sedangkan di dekatku ada Ummu fadhl yang sedang duduk, sebelumnya kami berjalan, namun tidak ada kebaikan yang sampai kepada kami, tiba-tiba datanglah Abu Lahab dengan berlari kemudian duduk, tatkala dia duduk tiba-tiba orang-orang berkata, &#8220;Ini dia Abu Sufyan bin Harits telah datang dari Badar. Abu Lahab berkata, &#8220;Datanglah kemari sungguh aku menanti beritamu.</p>
<p>Kemudian duduklah Abu Jahal dan orang-orang berdiri mengerumuni sekitarnya. Berkatalah Abu Lahab, &#8220;Wahai putra saudaraku beritakanlah bagaimana keadaan manusia (dalam perang Badar).?&#8221; Abu Sufyan berkata, &#8220;Demi Allah tatkala kami menjumpai mereka, tiba-tiba mereka tidak henti-hentinya menyerang pasukan kami, mereka memerangi kami sesuka mereka dan mereka menawan kami sesuka hati mereka. Demi Allah sekalipun demikian tatkala aku menghimpun pasukan, kami melihat ada sekelompok laki-laki yang berkuda hitam putih berada di tengah-tengah manusia, demi Allah mereka tidak menginjakkan kakinya di tanah.”</p>
<p>Abu Rafi` berkata, &#8220;Aku mengangkat batu yang berada di tanganku, kemudian berkata, ‘Demi Allah itu adalah malaikat. Tiba-tiba Abu Lahab mengepalkan tangannya dan memukul aku dengan pukulan yang keras, maka aku telah membuatnya marah, kemudian dia menarikku dan membantingku ke tanah, selanjutnya dia dudukkan aku dan memukuliku sedangkan aku adalah laki-laki yang lemah. Tiba-tiba berdirilah Ummu Fadhl mengambil sebuah tiang dari batu kemudian beliau pukulkan dengan keras mengenai kepala Abu Lahab sehingga melukainya dengan parah. Ummu Fadhl berkata, ‘Saya telah melemahkannya sehingga jatuhlah kredibilitasnya.’</p>
<p>Kemudian bangunlah Abu Lahab dalam keadaan terhina, Demi Allah ia tidak hidup setelah itu melainkan hanya tujuh malam hingga Allah menimpakan kepadanya penyakit bisul yang menyebabkan kematiannya.”</p>
<p>Begitulah perlakuan seorang wanita mukminah yang pemberani terhadap musuh Allah sehingga menjadi gugurlah kesombongannya dan merosotlah kehormatannya karena ternoda. Alangkah bangganya sejarah Islam yang telah mencatat Ummu Fadhl r.ha sebagai teladan bagi para wanita yang dibina oleh Islam.</p>
<p>Ibnu Sa`d menyebutkan di dalam <em>ath-Thabaqat al-Kubra</em> bahwa Ummu Fadhl suatu hari bermimpi dengan suatu mimpi yang menakjubkan, sehingga ia bersegera untuk mengadukannya kepada Rasulullah SAW, ia berkata, &#8220;Wahai Rasulullah saya bermimpi seolah-olah sebagian dari anggota tubuhmu berada di rumahku.&#8221; Rasulullah SAW., bersabda:,<br />
&#8220;Mimpimu bagus, kelak Fatimah melahirkan seorang anak laki-laki yang nanti akan engkau susui dengan susu yang engkau berikan buat anakmu (Qatsam).”</p>
<p>Ummu Fadhl keluar dengan membawa kegembiraan karena berita tersebut, dan tidak berselang lama Fatimah melahirkan Hasan bin Ali RA., yang kemudian diasuh oleh Ummu Fadhl.</p>
<p>Ummu fadhl berkata, &#8220;Suata ketika aku mendatangi Rasulullah SAW., dengan membawa bayi tersebut maka Rasulullah SAW., segera menggendong dan mencium bayi tersebut, namun tiba-tiba bayi tersebut mengencingi Rasulullah SAW., lalu beliau bersabda, &#8220;Wahai Ummu Fadhl peganglah anak ini karena dia telah mengencingiku.&#8221;</p>
<p>Ummu Fadhl berkata, &#8220;Maka aku ambil bayi tersebut dan aku cubit sehingga dia menangis, aku berkata, &#8220;Engkau telah menyusahkan Rasulullah karena engkau telah mengencinginya.&#8221; Tatkala melihat bayi tersebut menangis Rasulullah SAW., bersabda, &#8220;Wahai Ummu Fadhl justru engkau yang menyusahkanku karena telah membuat anakku menangis.&#8221; Kemudian Rasulullah SAW., meminta air lalu beliau percikkan ke tempat yang terkena air kencing kemudian bersabd,<br />
<em>&#8220;Jika bayi laki-laki maka percikilah dengan air, akan tetapi apabila bayi wanita maka cucilah.”</em></p>
<p>Di dalam riwayat lain, Ummu Fadhl berkata, &#8220;Lepaslah sarung anda dan pakailah baju yang lain agar aku dapat mencucinya.&#8221; Namun nabi bersabda,<br />
&#8220;Yang dicuci hanyalah air kencing bayi wanita dan cukuplah diperciki dengan air apabila terkena air kencing bayi laki-laki.”</p>
<p>Di antara peristiwa yang mengesankan Lubabah binti al-Haris r.ha adalah tatkala banyak orang bertanya kepada beliau ketika hari Arafah apakah Rasulullah SAW., shaum ataukah tidak.? Maka dengan kebijakannya, beliau menghilangkan problem yang menimpa kaum muslimin dengan cara beliau memanggil salah seorang anaknya kemudian menyuruhnya untuk mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah SAW., tatkala beliau berada di Arafah, kemudian tatkala dia menemukan Rasulullah SAW., dengan dilihat oleh semua orang beliau menerima segelas susu tersebut kemudian meminumnya.</p>
<p>Di sisi yang lain Ummu Fadhl r.ha mempelajari Hadits asy-Syarif dari Rasulullah SAW., dan beliau meriwayatkan sebanyak tiga puluh hadits. Adapun yang meriwayatkan dari beliau adalah sang putra beliau Abdulllah bin Abbas RA., Tamam yakni budaknya, Anas bin Malik dan yang lain-lain.</p>
<p>Kemudian wafatlah Ummu Fadhl r.ha pada masa khalifah Ustman bin Affan r.a setelah meninggalkan kepada kita contoh yang baik yang patut ditiru sebagai ibu yang shalihah yang melahirkan tokoh semisal Abdullah bin Abbas, kyai umat ini dan Turjumanul Qur`an (yang ahli dalam hal tafsir al-Qur`an), Begitu pula telah memberikan contoh terbaik bagi kita dalam hal kepahlawanan yang memancar dari akidah yang benar yang muncul darinya keberanian yang mampu menjatuhkan musuh Allah yang paling keras permusuhannya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/syaikh-abdul-muhsin-al-abbad/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 16:56:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/syaikh-abdul-muhsin-al-abbad/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Beliau adalah al-Allamah al-Muhaddits al-Faqih az-Zahid al-Wara’ asy-Sy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam17.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam17.jpg" alt="" title="sabda islam17" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-628" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/syaikh-abdul-muhsin-al-abbad/" title="Permanent Link: Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad">Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad</a></h2>
<p>Beliau adalah al-Allamah al-Muhaddits al-Faqih az-Zahid al-Wara’ asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad al-’Abbad al-Badr -semoga Allah memelihara beliau dan memperpanjang usia beliau dalam ketaatan kepada-Nya dan memberkahi amal dan lisan beliau-, dan kami tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah Azza wa Jalla. Beliau lahir di ‘Zulfa’ (300 km dari utara Riyadh) pada 3 Ramadhan tahun 1353H. Beliau adalah salah seorang pengajar di Masjid Nabawi yang mengajarkan kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud dan saat ini beliau masih memberikan pelajaran Sunan Turmudzi. Beliau adalah seorang ‘Alim Robbaniy dan pernah menjabat sebagai wakil mudir (rektor) Universitas Islam Madinah yang waktu itu rektornya adalah al-Imam Abdul Aziz bin Bazz -rahimahullahu-.</p>
<p>Beliau sangat dekat dengan al-Imam al-Allamah Abdul Aziz bin Bazz -rahimahullahu-, bahkan karena kedekatan beliau dengan al-Imam, ketika Imam Bin Bazz tidak ada (tidak hadir) maka Syaikh Abdul Muhsinlah yang menggantikan beliau, sehingga tak heran jika ada yang mengatakan bahwa Universitas Islam Madinah dulu adalah Universitasnya Bin Bazz dan Abdul Muhsin.</p>
<p>Semenjak kecil beliau telah biasa berkutat dengan ilmu, sehingga ketika beliau telah menginjak dewasa, tampak pada beliau perangai dan skill sebagai seorang muhadits yang ulung, yang sering dirujuk oleh masyaikh dan thullabul ilmi lainnya. Kedekatan beliau dengan masyaikh kibar telah mengukir keilmuan beliau hingga saat ini, dimana usia beliau saat ini kurang lebih 73 tahun dan beliau masih sanggup untuk memberikan muhadharah dan nasihat dan menyampaikan pelajaran hadits (terutama Sunan Abi Dawud) baik riwayah maupun dirayah. Beliau juga masih menjadi dosen di Universitas Islam Madinah dengan izin khusus kerajaan yang mana hal ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam berdakwah dan menuntun ummat ke jalan yang lurus dan benar.</p>
<p><strong>Diantara guru-guru beliau adalah :</strong></p>
<p>al-Allamah asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim -rahimahullahu-<br />
al-Allamah Abdullah bin Abdurrahman al-Ghaits -rahimahullahu-<br />
al-Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz -rahimahullahu-<br />
al-Allamah asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithy -rahimahullahu-<br />
al-Allamah asy-Syaikh Abdurrahman al-Afriqy -rahimahullahu-<br />
al-Allamah asy-Syaikh Abdur Razaq Afifi -rahimahullahu-<br />
al-Allamah asy-Syaikh Umar Falatah -rahimahullahu-<br />
dan masih banyak lagi. Yang disebutkan di atas adalah guru-guru beliau yang paling mempengaruhi diri beliau.</p>
<p>Beliau memiliki putra yang juga ‘alim yang bernama Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad, yang produktif dan cemerlang. Beliau memiliki banyak murid, diantaranya adalah :Syaikh al-Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhaly<br />
Syaikh al-Allamah Ubaid al-Jabiry<br />
Syaikh al-Allamah Abdul Malik Ramadhani al-Jazairy<br />
Syaikh al-Allamah Sulaiman ar-Ruhaily<br />
Syaikh al-Allamah Ibrahim ar-Ruhaily<br />
Dan masih banyak lagi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syaikh Shalih ibn Fauzan]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/syaikh-shalih-ibn-fauzan/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 16:55:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/syaikh-shalih-ibn-fauzan/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah ibn Fauzan Beliau adalah yang mulia Syaikh Dr. Shalih ibn Fauz]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam16.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam16.jpg" alt="" title="sabda islam16" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-626" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/syaikh-shalih-ibn-fauzan-ibn-abdullah-ibn-fauzan/" title="Permanent Link: Syaikh Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah ibn Fauzan">Syaikh Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah ibn Fauzan</a></h2>
<p>Beliau adalah yang mulia Syaikh Dr. Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah dari keluarga Fauzan dari suku Ash Shamasiyyah.Beliau lahir pada tahun 1354 H/1933 M. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih muda, jadi beliau dididik oleh keluarganya. Beliau belajar al Quran, dasar-dasar membaca dan menulis dengan imam masjid di kotanya, yaitu yang mulia Syaikh Hamud ibn Sulaiman at Tala’al, yang kemudian menjadi hakim di Kota Dariyyah (bukan dar’iyyah di Riyadh) di sebuah wilayah Qhosim.</p>
<p>Syaikh Fauzan kemudian belajar di sekolah negara bagian ketika baru dibuka di Ash Shamasiyyah pada tahun 1369 H/1948 M. Beliau menyelesaikan studinya di sekolah Faisaliyyah di Buraidah pada tahun 1371 H/1950 M. Kemudian, beliau ditugaskan sebagai guru sekolah taman kanak-kanak. Selanjutnya, beliau masuk di institute pendidikan di Buraidah ketika baru dibuka pada tahun 1373 H/1952 M, dan lulus dari sana tahun 1377 H/1956 M. Beliau kemudian masuk di Fakultas Syari’ah (Universitas Imam Muhammad) di Riyadh dan lulus pada tahun 1381 H/1960 M. Setelah itu, beliau memperoleh gelar master di bidang fiqih, dan meraih gelar doctor dari fakultas yg sama, juga spesialis dalam bidang fiqih.</p>
<p>Setelah kelulusannya dari Fakultas Syari’ah, beliau ditugaskan sebagai dosen di institut pendidikan di Riyadh, kemudian beralih menjadi pengajar di Fakultas Syari’ah. Selanjutnya, beliau ditugasi mengajar di departemen yang lebih tinggi, yaitu Fakultas Ushuluddin. Kemudian beliau ditugasi untuk mengajar di mahkamah agung kehakiman, di mana beliau ditetapkan sebagai ketua. Beliau lalu kembali mengajar di sana setelah periode kepemimpinannya berakhir. Beliau kemudian menjadi anggota Komite Tetap untuk Penelitian dan Fatwa Islam (Kibaril Ulama), sampai sekarang.</p>
<p>Yang mulia Syaikh adalah anggota ulama kibar, dan anggota komite bidang fiqih di Mekkah (cabang Rabithah), dan anggota komite untuk pengawas tamu haji, sembari juga mengetuai keanggotaan pada Komite Tetap untuk Penelitian dan Fatwa Islam. Beliau juga imam, khatib, dan dosen di Masjid Pangeran Mut’ib ibn Abdul Aziz di al Malzar.</p>
<p>Beliau juga ikut serta dalam surat-menyurat untuk pertanyaan di program radio “Noorun ‘alad-Darb”, sambil beliau juga ikut serta dalam mendukung anggota penerbitan penelitian Islam di dewan untuk penelitian, studi, tesis, dan fatwa Islam yang kemudian disusun dan diterbitkan. Yang mulia syaikh Fauzan juga ikut serta dalam mengawasi peserta tesis dalam meraih gelar master dan gelar doctor.</p>
<p>Beliau mempunyai murid-murid yang sering menimba ilmu pada pertemuan dan pelajaran tetapnya.</p>
<p>Beliau sendiri termasuk bilangan para ulama terkemuka dan ahli hukum, yang mayoritas para tokohnya antara lain:</p>
<p>Yang mulia <a href="http://www.fatwa-online.com/scholarsbiographies/15thcentury/ibnbaaz.htm">Syaikh ‘Abdul-’Azeez ibn Baaz</a> (rahima-hullaah);Yang mulia <a href="http://www.fatwa-online.com/scholarsbiographies/15thcentury/ibnhumayd.htm">Syaikh ‘Abdullaah ibn Humayd</a> (rahima-hullaah);Yang mulia <a href="http://www.fatwa-online.com/scholarsbiographies/14thcentury/ashshanqeetee.htm">Syaikh Muhammad al-Amin ash-Shanqiti</a> (rahima-hullaah);Yang mulia <a href="http://www.fatwa-online.com/scholarsbiographies/14thcentury/ibnafeefee.htm">Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi</a> (rahima-hullaah);Yang mulia Syaikh Saalih Ibn ‘Abdur-Rahmaan as-Sukayti;Yang mulia Syaikh Saalih Ibn Ibraaheem al-Bulaihi;Yang mulia Syaikh Muhammad Ibn Subayyal;Yang mulia Syaikh ‘Abdullaah Ibn Saalih al-Khulayfi;Yang mulia Syaikh Ibraaheem Ibn ‘Ubayd al-’Abd al-Muhsin;Yang mulia Syaikh Saalih al-’Ali an-Naasir;</p>
<p>Beliau juga pernah belajar pada sejumlah ulama-ulama dari Universitas al Azhar Mesir yang mumpuni dalam bidang hadist, tafsir, dan bahasa Arab.</p>
<p>Beliau mempunyai peran dalam menyeru atau berdakwah kepada Allah dan mengajar, memberikan fatwa, khutbah, dan membantah kebatilan.</p>
<p>Buku-buku beliau yang diterbitkan banyak sekali, namun yang disebutkan berikut hanya sedikit antara lain Syarah al Aqidatul Waasitiyya, al Irshadul Ilas Sahihil I’tiqad, al Mulakhkhas al Fiqih, makanan-makanan dan putusan-putusan berkenaan dengan sembelihan dan buruan, yang mana ini merupakan bagian gelar doktornya. Juga kitab at Tahqiqat al Mardiyyah yang merupakan bagian gelar master beliau. Lebih lanjut judul-judul yang masuk putusan-putusan berhubungan dengan kepercayaan wanita, dan sebuah bantahan terhadap buku Yusuf Qaradhawi berjudul al Halal wal Haram.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Kedua: Kisah Kematian Nabiyullah Adam 'Alayhissalam]]></title>
<link>http://abuilyasku.wordpress.com/2009/11/27/kisah-kedua-kisah-kematian-nabiyullah-adam-%e2%80%98alayhi-salam/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 15:53:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Ilyas</dc:creator>
<guid>http://abuilyasku.wordpress.com/2009/11/27/kisah-kedua-kisah-kematian-nabiyullah-adam-%e2%80%98alayhi-salam/</guid>
<description><![CDATA[Sumber: Kisah-Kisah Shohih Seputar Nabi dan Rasul karya DR. ‘Umar Sulaiman al-Asyqor (Guru Besar Uni]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sumber: Kisah-Kisah Shohih Seputar Nabi dan Rasul karya DR. ‘Umar Sulaiman al-Asyqor (Guru Besar Uni]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam Ash Shan'ani]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-ash-shanani/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 14:48:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-ash-shanani/</guid>
<description><![CDATA[Imam Ash Shan’ani (wafat 1182 H) Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ismail bin Shalah Al-Amir Al-Ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam14.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam14.jpg" alt="" title="sabda islam14" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-622" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/08/06/imam-ash-shan%E2%80%99ani-wafat-1182-h/" title="Permanent Link: Imam Ash Shan’ani (wafat 1182 H)">Imam Ash Shan’ani (wafat 1182 H)</a></h2>
<p>Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ismail bin Shalah Al-Amir Al-Kahlani Ash Shan’ani. Ia dilahirkan pada tahun 1059 H di daerah yang bernama Kahlan, dan kemudian ia pindah bersama ayahnya ke Kota Shan’a ibukota Yaman.</p>
<p>Ia menimba ilmu dari ulama yang berada di kota Shan’a lalu kemudian beliau rihlah (melakukan perjalanan) ke Kota Makkah dan membaca hadits dihadapan para ulama besar yang ada di Makkah dan Madinah.</p>
<p>Ia menguasai berbagai disiplin ilmu sehingga ia mengalahkan teman temannya seangkatannya. Ia menampakkan kesungguhannya, berhenti ketika ada dalil, jauh dari taklid dan tidak memperdulikan pendapat pendapat yang tidak ada dalilnya.</p>
<p>Ia mendapatkan ujian dan cobaan yang menimpa semua orang yang mengajak kepada kebenaran dan mendakwahkannya secara terang terangan pada masa masa penuh fitnah dari orang yang sezaman dengan beliau, Allah Subhananahu wata’ala tela menjaga beliau dari makar mereka dan melindungi beliau dari kejelekan mereka.</p>
<p>Kahlifah Al Manshur yang termasuk penguasa Yaman mempercayakan kepada beliau untuk memberikan khutbah di Masjid Jami’ Shan’a. Ia terus menerus menyebarkan ilmu dengan mengajar, memberi fatwa, dan mengarang. Ia tidak pernah takut terhadap celaan manusia ketika ia berada dalam kebenaran dan ia tidak memperdulikan dalam menjalankan kebenaran akan ditimpa ujian, sebagaimana telah menimpa orang orang yang mengikhlaskan agama mereka untuk Allah, ia lebih mendahulukan kerihaan Allah diatas keridhaan manusia.</p>
<p>Sangat banyak orang orang yang datang menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang orang yang datang menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang orang yang khusus maupun masyarakat umum, mereka membaca dihadapan beliau berbagai kitab kitab hadits dan mereka mengamalkan ijtihad ijtihad beliau serta menampakkannya kepada orang orang.</p>
<p>Beliau memiliki banyak karangan, diantara karangannya adalah:</p>
<p>- Subulus salam</p>
<p>- Minhatul Ghaffar</p>
<p>- Syarhut Tanfih Fi Ulumil Hadits dan lain lain.</p>
<p>Beliau memiliki karangan karangan yang lain yang ditulis secara terpisah yang seandainya dikumpulkan maka akan menjadi berjilid jilid.</p>
<p>Ia memiliki syair yang fasih dan tersusun rapi yang kebanyakan berisi tentang pembahasan pembahasan ilmiah dan bantahan terhadap orang orang di zaman beliau. Kesimpulannya beliau adalah seorang ulama yang melakukan pembaharuan terhadap agama.</p>
<p>Ia wafat pada hari ketiga bulan Sya’ban tahun 1182 H pada umur beliau 123 tahun. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas. Amin.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/syaikh-muhammad-bin-abdil-wahhab/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 14:39:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/syaikh-muhammad-bin-abdil-wahhab/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Nasab (silsilah beliau) Beliau adalah As Syaikh Muhammad Bin Abdul ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam13.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam13.jpg" alt="" title="sabda islam13" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-620" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/syaikh-muhammad-bin-abdil-wahhab/" title="Permanent Link: Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab">Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab</a></h2>
<p><strong>Nasab (silsilah beliau)</strong></p>
<p>Beliau adalah As Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Bin Sulaiman Bin ‘Ali Bin Muhammad Bin Ahmad Bin Rasyid At Tamimi. Beliau dilahirkan pada tahun 1115 H -bertepatan dengan 1703 M- di negeri ‘Uyainah daerah yang terletak di utara kota Riyadh, dimana keluarganya tinggal.</p>
<p>Beliau tumbuh di rumah ilmu di bawah asuhan ayahanda beliau Abdul Wahhab yang menjabat sebagai hakim di masa pemerintahan Abdullah Bin Muhammad Bin Hamd Bin Ma’mar. Kakek beliau, yakni Asy Syaikh Sulaiman adalah tokoh mufti yang menjadi referensi para ulama. Sementara seluruh paman-paman beliau sendiri juga ulama.</p>
<p>Beliau dididik ayah dan paman-pamannya semenjak kecil. Beliau telah menghafalkan Al Qur’an sebelum mencapai usia 10 tahun di hadapan ayahnya. Beliau juga memperdengarkan bacaan kitab-kitab tafsir dan hadits, sehingga beliau unggul di bidang keilmuan dalam usia yang masih sangat dini. Disamping itu, beliau sangat fasih lisannya dan cepat dalam menulis. Ayahnya dan para ulama disekitarnya amat kagum dengan kecerdasan dan keunggulannya. Mereka biasa berdiskusi dengan beliau dalam permasalahan-permasalah ilmiyah, sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari diskusi tersebut. Mereka mengakui keutamaan dan kelebihan yang ada pada diri beliau. Namun beliau tidaklah merasa cikup dengan kadar ilmu yang sedemikian ini, sekalipun pada diri beliau telah terkumpul sekian kebaikan. Beliau justru tidak pernah merasa puas terhadap ilmu.</p>
<p><strong>Rihlah Beliau dalam Menuntut Ilmu</strong></p>
<p>Beliau tinggalkan keluarga dan negerinya untuk berhaji. Seusai haji, beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah dan menimba ilmu dari para ulama’ di negeri itu. Di antara guru beliau di Madinah adalah:</p>
<p>* As Syaikh Abdullah Bin Ibrahim Bin Saif dari Alu (keluarga) Saif An Najdi. Beliau adalah imam bidang fiqih dan ushul fiqih.<br />
* As Syaikh Ibrahim Bin Abdillah putra Asy Syaikh Abdullah bin Ibrahim Bin Saif, penulis kitab Al Adzbul Faidh Syarh Alfiyyah Al Faraidh.<br />
* Asy Syaikh Muhaddits Muhammad Bin Hayah Al Sindi dan beliau mendapatkan ijazah dalam periwayatannya dari kitab-kitab hadits.</p>
<p>Kemudian beliau kembali ke negerinya. Tidak cukup ini saja, beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke negeri Al Ahsa’ di sebelah timur Najd. Disana banyak ulama mahdzab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Beliau belajar pada mereka khususnya kepada para ulama mahdzab Hambali. Di antaranya adalah Muhammad bin Fairuz , beliau belajar fiqih kepada mereka dan juga belajar kepada Abdullah Bin Abdul Lathif Al Ahsa’i.</p>
<p>Tidak cukup sampai disitu, Bahkan beliau menuju ke Iraq, khususnya Bashrah yang pada waktu itu dihuni oleh para ulama ahlul hadits dan ahlul fiqih. Beliau menimba ilmu dari mereka, khususnya Asy Syaikh Muhammad Al Majmu’i, dan selainnya. Setiap kali pindah maka beliau mendapatkan buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim muridnya, beliau segera menyalinnya dengan pena. Beliau menyalin banyak buku di Al Ahsa’ dan Bashrah, sehingga terkumpullah kitab-kitab beliau dalam jumlah yang besar.</p>
<p>Selanjutnya beliau bertekad menuju negeri Syam, karena di sana ketika itu terdapat ahlul ilmi dan ahlul hadits khususnya dari mahdzab Hambali. Namun setelah menempuh perjalanan ke sana, terasa oleh beliau perjalanan yang sangat berat. Beliau ditimpa lapar dan kehausan, bahkan hampir beliau meninggal dunia di perjalanan. Maka beliaupun kembali ke Bashrah dan tidak melanjutkan rihlahnya ke negeri Syam.</p>
<p>Selanjutnya beliau bertolak ke Najd setelah berbekal ilmu dan memperoleh sejumlah besar kitab, selain kitab-kitab yang ada pada keluarga dan penduduk negeri beliau. Setelah itu beliau pun berdakwah mengadakan perbaikan dan menyebarkan ilmu yag bermanfaat serta tidak ridha dengan berdiam diri membiarkan manusia dalam kesesatan.</p>
<p><strong>Dakwah Beliau</strong></p>
<p>Kondisi keilmuan dan keagamaan manusia waktu itu benar-benar dalam keterpurukan yang nyata, hanyut dalam kegelapan syirik dan bid’ah. Sehingga khurafat, peribadatan kepada kuburan mayat dan pepohonan merajalela. Sedangkan para ulamanya sama sekali tidak mempunyai perhatian terhadap aqidah salaf dan hanya mementingkan masalah-masalah fiqih. Bahkan diantara mereka justru memberikan dukungan kepada pelaku kesesatan-kesesatan tersebut.</p>
<p>Adapun dari segi politik, mereka tepecah belah, tidak memiliki pemerintahan yang menyatukan mereka. Bahkan setiap kampung mempunyai amir (penguasa) sendiri. ‘Uyainah mempunyai penguasa sendiri, begitu pula Dir’iyyah, Riyadh, dan daerah-daerah lainnya. Sehingga pertempuran, perampokan, pembunuhan dan berbagai tindak kejahatan pun terjadi diantara mereka.</p>
<p>Melihat kondisi yang demikian mengenaskan bangkitlah ghirah (kecemburuan) beliau terhadap agama Allah Subahnahu Wata’ala juga rasa kasih sayang beliau terhadap kaum muslimin. Mulailah beliau berdakwah menyeru manusia ke jalan ALlah Subhanahu Wata’ala, mengajarkan tauhid, membasmi syirik, khurafat dan bid’ah-bid’ah serta menanamkan manhaj Salafush Shalih. Sehingga berkerumunlah murid-murid beliau baik dari Dir’iyyah maupun ‘Uyainah.</p>
<p>Selanjutnya beliau mendakwahi amir ‘Uyainah. Pada awalnya sang amir menyambit baik dakwah tauhid ini dan membelanya. Sampai-sampai ia menghancurkan kubah Zaid Bin Al-Khattab yang menjadi tempat kesyirikan atas permintaan Asy Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab. Namun karena adanya tekanan dari amir Al Ahsa’ akhirnya amir ‘Uyainah pun menghendaki agar Asy Syaikh keluar dari ‘Uyainah. Maka berangkatlah beliau menuju ke Dir’iyyah tanpa membawa sesuatupun kecuali sebuah kipas tangan guna melindungi wajahnya. Beliau terus berjalan di tengah hari seraya membaca (Qur’an surat Ath Thalaq:2-3 yang artinya -red):</p>
<p>“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah pasti Allah memberinya jalan keluar dan rizki dari arah yang tiada disangka-sangka”(Ath Thalaq:2-3)</p>
<p>Beliau terus mengulang-ulang ayat tersebut sampai tiba di tempat murid terbaiknya yang bernama Ibnu Suwailim yang ketika itu merasa takut dan gelisah, mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan juga syaikhnya karena penduduk negeri itu telah saling memperingatkan untuk berhati-hati dengan syaikh. Maka beliau (Syaikh -red) pun menenangkannya dengan mengatakan, “Jangan berpikir yang bukan-bukan, selamanya. Bertawakallah kepada Allah Subahahu Wata’ala. Niscaya Dia akan menolong orang-orang yang membela agamanya.”</p>
<p>Berita kedatangan Asy Syaikh diketahui seorang shalihah, istri amir Dir’iyyah, Muhammad Bin Su’ud. Dia lalu menawarkan kepada suaminya agar membela syaikh ini karena beliau adalah nikmat dari Allah Subahahu Wata’ala yang dikaruniakan kepadanya, maka hendaklah dia bersegera menyambutnya. Sang istri berusaha menenangkan dan membangkitkan rasa cinta pada diri suaminya terhadap dakwah dan terhadap seorang ulama. Maka sang amir mengatakan, “(Tunggu) beliau datang kepadaku”. Istrinya menimpali “Justru pergilah anda kepadanya, karena jika anda mengirim utusan dan mengatakan ‘datanglah kepadaku’, bisa jadi manusia akan mengatakan bahwa amir meminta beliau untuk datang ditangkap. Namun jika anda sendiri yang mendatanginya, maka itu merupakan suatu kehormatan bagi beliau dan bagi anda.”</p>
<p>Sang amir akhirnya mendatangi Asy Syaikh, mengucapkan salam dan menanyakan perihal kedatangannya. Asy Syaikh Rahimahullah menerangkan bahwa tidak lain beliau hanya mengemban dakwah para Rasul yakni menyeru kepada kalimat tauhid LAA ILAHA ILLALLAH. Beliau menjelaskan maknanya, dan beliau jelaskan pula bahwa itulah aqidah para Rasul. Sang amir mengatakan, “Bergembiralah dengan pembelaan dan dukungan”. Asy Syaikh rahimahullah menimpali, “Berbahagialah dengan kemuliaan dan kekokohan. Karena barang siapa menegakkan kalimat LAA ILAHA ILLALLAH ini, pasti Allah akan memberikan kekokohan kepadanya.” Sang amir menjawab, “Tapi saya punya satu syarat kepada anda.” Beliau bertanya, “Apa itu?” Sang amir menjawab, “Anda membiarkanku dan apa yang aku ambil dari manusia.” Jawab Asy Syaikh rahimahullah, “Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wata’ala memberikan kecukupan kepada anda dari semua ini, dan membukakan pintu-pintu rizki dari sisi-Nya untuk anda.” Kemudian keduanya berpisah atas kesepakatan ini. Mulailah Asy Syaikh berdakwah dan sang amir melindungi dan membelanya, sehingga para Thalabul Ilmi (penuntut ilmu) berduyun-duyun datang ke Dir’iyyah. Semenjak itu beliau menjadi imam sholat, mufti dan juga qadhi. Maka terbentuklah pemerintahan tauhid di Dir’iyyah.</p>
<p>Kemudian Asy Syaikh mengirim risalah ke negeri-negeri sekitarnya, menyeru mereka kepada aqidah tauhid, meninggalkan bid’ah dan khurafat. Sebagian mereka menerima dan sebagian lagi menolak serta menghalangi dakwah beliau, sehingga merekapun diperangi oleh tentara tauhid dibawah komando amir Muhammad Bin Su’ud dengan bimbingan dari beliau rahimahullah. Hal itu menjadi sebab meluasnya dakwah tauhid di daerah Najd dan sekitarnya. Bahkan amir ‘Uyainah pun kini masuk di bawah kekuasaan Ibnu Su’ud, begitu pula Riyadh, dan terus meluas ke daerah Kharaj, ke utara dan selatan. Di bagian utara sampai ke perbatasan Syam, di bagian selatan sampai di perbatasan Yaman, dan di bagian timur dari Laut Merah hingga Teluk Arab. Seluruhnya dibawah kekuasaan Dir’iyyah, baik daerah kota maupun gurunnya.</p>
<p>Allah Subhanahu Wata’ala melimpahkan kebaikan, rizki, kecukupan, dan kekayaan kepada penduduk Dir’iyyah. Maka berdirilan pusat perdagangan di sana, dan bersinarah negeri tersebut dengan ilmu dan kekuasaan sebagai berkah dari dakwah salafiyah yang merupakan dakwah para Rasul.</p>
<p><strong>Karya-karya Beliau</strong></p>
<p>Karya beliau sangat banyak, dia ntaranya:</p>
<p>* Kitab Tauhid Al Ladzi Huwa Haqqullah ‘ala Al ‘Abid<br />
* Al Ushul Ats Tsalatsah<br />
* Kasfusy Syubhat<br />
* Mukhtasar Sirah Rasul<br />
* Qawaidul ‘Arba’ah dan lainnya<br />
<strong><br />
</strong><strong>Wafat Beliau</strong></p>
<p>Beliau wafat pada tahun 1206 H. Semoga Allah Subhanahu Wata’la melimpahkan rahmatnya kepada beliau, meninggikan derajat dan kedudukannya di Jannah-Nya yang luas serta mengumpulkan beliau bersama orang-orang shalih dan para syuhada’. Amin Ya Robbal ‘Alamin.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shiddiq Hasan Khan]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/shiddiq-hasan-khan/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 14:39:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/shiddiq-hasan-khan/</guid>
<description><![CDATA[Shiddiq Hasan Khan Nasabnya Beliau adalah Al-Imam Al-’Allamah Al-Ushuli Al-Muhaddits Al-Mufassir As-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam12.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam12.jpg" alt="" title="sabda islam12" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-618" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/shiddiq-hasan-khan/" title="Permanent Link: Shiddiq Hasan Khan">Shiddiq Hasan Khan</a></h2>
<p><strong>Nasabnya</strong></p>
<p>Beliau adalah Al-Imam Al-’Allamah Al-Ushuli Al-Muhaddits Al-Mufassir As-Sayyid Shiddiq bin Hasan bin Ali bin Luthfullah Al-Husaini Al-Bukhari Al-Qinnauji. Nasab beliau berakhir pada Al-Imam Husain, cucu terkecil dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.</p>
<p><strong>Kelahiran dan Pertumbuhannya</strong></p>
<p>Beliau lahir pada bulan Jumadil Ula tahun 1248 H (sekitar 1832) di Negeri Berlhi tanah air kakeknya yang terdekat dari pihak ibu. Kemudian keluarga beliau pindah ke kota Qinnauj, tanah air kakek-kakeknya. Ketika tahun keenam ayahnya wafat. Tinggallah ia di bawah asuhan ibunya dalam keadaan yatim. Shiddiq kecil tumbuh sebagai seorang yang afif (memelihara diri), bersih dan cinta kepada ilmu dan para ulama.</p>
<p><strong>Ilmu Beliau dan Belajarnya</strong></p>
<p>Beliau safar ke Delhi untuk menyempurnakan pelajarannya di sana. Beliau bersungguh-sungguh mendalami Al-Qur’an dan As-Sunnah dan membukukan ilmu keduanya. Beliau memiliki keinginan yang kuat untuk mengumpulkan buku-buku, mendapatkan pemahaman tambahan dalam membacanya serta meraih faedah-faedahnya, khususnya kitab-kitab tafsir, hadits dan ushul. Kemudian beliau safar ke Bahubal untuk mencari biaya penyambung hidup beliau. Di sana beliau mendapatkan faedah besar, yaitu menikah dengan Ratu Bahubal dan beliau digelari dengan Nawwab Jaah Amirul Malik bi Hadar.</p>
<p><strong>Guru-guru Beliau</strong></p>
<p>Guru beliau cukup banyak, di antaranya Syaikh Muhamad Ya’qub, saudara Syaikh Muhammad Ishaq cucu Syaikh Al-Muhaddits Abdul Aziz Ad-Dahlawi. Di antara guru beliau juga Syaikh Al-Qadhi Husain bin Al-Muhsin As-Sa’bi Al-Anshari Al-Yamani Al-Hadidi, murid dari Asy-Syarif Al-Imam Muhammad bin Nashir Al-Hazimi murid dari Imam Asy-Syaukani. Guru beliau juga adalah Syaikh Abdul haq bin Fadhl Al-Hindi, murid dari Al-Imam Asy-Syaukani juga, dan masih banyak lagi.</p>
<p><strong>Karangan-karangan Beliau</strong></p>
<p>Dalam mengarang, beliau memiliki kemampuan yang menakjubkan, yaitu dapat menulis beberapa kitab dalam satu hari dan mengarang beberapa kitab tebal dalam beberapa hari. Karangan-karangan beliau dalam beberapa bahasa hingga 222 buah. Demikian yang dihimpun oleh Syaikh Abdul Hakim Syafaruddin, pentashih dan penta’liq kitab At-Taajul Mukallal. Beliau berkata, “Di antaranya 54 berbahasa Arab, 42 berbahasa Persia, dan 107 dengan bahasa Urdu”. Dan beliau belumlah menghitung jumlah yang sebenarnya.</p>
<p>Kitab-kitab beliau memenuhi dan mencapai segala penjuru dunia islam. Banyak para ulama tafsir dan hadits yang menulis risalah tentang beliau yang berisi pujian kepada kitab-kitabnya dan mendoakan kebaikan kepada beliau. Beliau juga dianggap sebagai tokoh kebangkitan Islam dan mujaddid. Di antara karangan beliau yang tercetak dengan bahasa Arab:</p>
<p>• Fathu Bayaan fi Maqashisil Qur’an<br />
• Nailul Maran min Tafsiiri Aayatil Ahkam<br />
• Ad-Dinul Khalish<br />
• Husnul Uswah bimaa Tsabata ‘anilhiwa Rasuulihi fin Niswah<br />
• ‘Aunul Bari bi Halli Adillatil Bukhari<br />
• As-Sirajul Wahhaj min Kasyfi Mathaalihi Shahihi Muslim bin Al-Hajjaj<br />
• Al-Hittah fi Dzikrish Shihabis Sittah<br />
• Quthfus tsamar fii Aqidatil Atsar<br />
• Al-Ilmu Khaffaq fil Ilmil Itsiqaq<br />
• Abjadul Ulum<br />
Dan masih banyak lagi.</p>
<p><strong>Wafat Beliau</strong></p>
<p>Beliau wafat pada tahun 1307 H, bertepatan dengan 1889 M. Maka masa kehidupan beliau adalah 59 tahun qamariyah atau 57 tahun syamsiah. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas.<br />
<em><br />
</em><em>Referensi:</em><br />
<em>Indahnya Surga Dahsyatnya Neraka, karya Asy-Syaikh Ali Hasan, terbitan Pustaka Al-Haura’ Jogjakarta, halaman 81-84</em></p>
<p>)*Catatan:<br />
Di atas beliau digelari dengan Al-’Allamah Al-Ushuli Al-Muhaddits Al-Mufassir As-Sayyid. Artinya adalah sebagai berikut:<br />
• Al-’Allamah : Orang yang banyak sekali ilmunya<br />
• Al-Ushuli: Ahli ilmu ushul (ilmu-ilmu dasar dalam agama)<br />
• Al-Muhaddits: Ahli dalam ilmu hadits<br />
• Al-Mufassir: Ahli tafsir<br />
• Adapun As-Sayyid, saya belum mendapatkan maksudnya apa. Mungkin beliau digelari dengan As-Sayyid karena beliau masih keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, wallahu a’lam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syaikh Abdurahman Nashir As-Sa'diy]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/syaikh-abdurahman-nashir-as-sadiy/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 14:39:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/syaikh-abdurahman-nashir-as-sadiy/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Abdurahman Nashir As-Sa’diy (Wafat 1376 H) Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah As-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam11.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam11.jpg" alt="" title="sabda islam11" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-616" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/04/syaikh-abdurahman-nashir-as-sadiy-wafat-1376-h/" title="Permanent Link: Syaikh Abdurahman Nashir As-Sa’diy (Wafat 1376 H)">Syaikh Abdurahman Nashir As-Sa’diy (Wafat 1376 H)</a></h2>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah As-Sa’diy dilahirkan di kota Unaizah, Qasim, wilayah Najd, Kerajaan Saudi Arabia. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia saat usianya masih kecil, akan tetapi beliau memiliki kecerdasan yang luar biasa ditambah keinginannya yang sangat besar untuk menuntut ilmu. Mulai menghafal Al-Quran pada usia dini hingga diselesaikan dengan baik dan sempurna pada usia dua belas tahun, kemudian setelah itu dia mulai menuntut ilmu dan berguru kepada sejumlah ulama yang datang ke negerinya. Beliau benar-benar berjuang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak mungkin.</p>
<p>Pada usia dua puluh tiga tahun, beliau mulai menggabungkan antara menuntut ilmu dan mengajar, mengambil manfaat dan memberi manfaat, begitulah seterusnya beliau habiskan waktu dan seluruh kehidupannya. Banyak sekali orang yang menimba ilmu dan mengambil manfaat darinya.</p>
<p><strong>Gurunya.<br />
</strong>Diantara guru-gurunya adalah :</p>
<ul>
<li>Syekh Ibrahim bin Hamad bin Jasir, kepadanyalah beliau pertama kali membaca kitab.</li>
<li>Syekh Saleh bin Utsman, Qadhi Unaizah. Darinya beliau mengambil Ushulul Fiqh, Fiqh, Tauhid, Tafsir dan bahasa Arab hingga wafatnya. Syekh Shaleh adalah seorang ulama yang sangat menguasai fiqh dan ushulnya, memiliki pemahaman yang sempurna tentang tauhid. Hal itu dikarenakan beliau berkonsentrasi pada kitab-kitab mu’tabarah (terpercaya) dan memberikan perhatian khusus pada karangan-karangan Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayim. Beliau juga memberikan perhatian yang tinggi terhadap tafsir dan cabang-cabang ilmunya. Syekh As-Sa’dy mengaji kepadanya hingga menguasai ilmunya dan jadilah beliau perpanjangan tangan dari syekhnya tersebut.</li>
</ul>
<p><strong>Karangannya.<br />
</strong>Diantara karangan-karangannya berupa kitab tafsir adalah:</p>
<ul>
<li>Taisirul Karimil Mannan fi Tafsir Kalamil Rahman (Kemudahan dari Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi dalam Tafsir Kalam Ilahi), terdiri dari delapan juz.</li>
<li>Taisirul Lathiifil Mannan fi Khulasati Tafsiril Quran (Kemudahan dari Yang Maha Halus dalam ringkasan tafsir Al-Quran).</li>
<li>Qowa’idul Hassaan li Tafsiril Quran (Kaidah-kaidah yang bagus dalam tafsir Al-Quran).</li>
</ul>
<p>Karangan-karangan lain selain itu dan dianjurkan untuk dibaca adalah:</p>
<ul>
<li>Al-Irsyad ilaa Ma’rifatil Ahkam (Petunjuk untuk memaha-mi hukum-hukum).</li>
<li>Ar-Riyadh an-Nadhirah (Taman-taman yang bercahaya)</li>
<li>Bahjatu Qulubil Abrar (Kegembiraan hati orang-orang yang bertaqwa)</li>
<li>Manhajus Salikin wa Taudhihul Fiqh Fid Diin (Pedoman orang yang beribadah dan pejelasan fiqh dalam agama)</li>
<li>Hukmu Syurb Ad-Dukhan wa Bai’uhu wa Syiro’uhu (Hukum menghisap rokok, menjual dan membelinya).</li>
<li>Al-Fatawa As-Sa’diyah (Fatwa-fatwa Syekh Sa’dy).</li>
<li>Beliau juga memiliki tiga kumpulan khutbah-khutbah yang bermanfaat.</li>
<li>Al-Haqqul Wadhih Al-Mubin bi Syarhi Tauhidil Anbiyaa wal Mursalin (Kebenaran yang jelas dan nyata dalam penjelasan tentang tauhid para nabi dan rasul).</li>
<li>Taudhihul Kaifiyah As-Syafiah (Penjelas yang cukup dan memuaskan).</li>
</ul>
<p>Masih banyak lagi karangan beliau dalam bidang fiqh, tauhid, hadits, Ushul, kajian-kajian sosial dan fatwa-fatwa tentang berbagai hal.</p>
<p><strong>Wafatnya:<br />
</strong>Beliau mengalami sakit keras dengan tiba-tiba yang mengisyaratkan akan dekatnya kematiannya. Maka pada malam Kamis tanggal 23 Jumadil Tsaniah tahun 1376 H, beliau berpulang ke rahmatullah di kota Unaizah, meninggalkan kesedihan yang mendalam dalam jiwa orang-orang yang mengenalnya atau mendengar tentangnya atau yang berguru kepadanya. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas dan menjadikan ilmunya dan karangan-karangannya bermanfaat bagi kita. Amiin.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syaikh Ahmad Syakir]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/syaikh-ahmad-syakir/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 14:38:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/syaikh-ahmad-syakir/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Ahmad Syakir Beliau adalah Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir bin Muhammad bin Ahmad bin Ab]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam10.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/sabda-islam10.jpg" alt="" title="sabda islam10" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-614" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/syaikh-ahmad-syakir/" title="Permanent Link: Syaikh Ahmad Syakir">Syaikh Ahmad Syakir</a></h2>
<p>Beliau adalah Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir bin Muhammad bin Ahmad bin Abdil Qadir. Beliau lahir di Kairo Mesir pada tanggal 29 Jumadil Akhir 1309 (sekitar akhir abad ke-19), pada hari Jum’at ketika fajar menyingsing. Beliau masih keturunan shahabat Rasulullah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.</p>
<p>Asy-Syaikh Ahmad Syakir mulai menjadi seorang penuntut ilmu sejak usianya belumlah mencapai sepuluh tahun. Ayah beliaulah yang menjadi guru utama beliau. Beliau belajar berbagai cabang ilmu. Ketika ayahnya yang sebelumnya adalah kepala hakim di Sudan pindah ke kota Iskandariyah, Asy-Syaikh Ahmad Syakir juga turut serta. Beliau pun kemudian tumbuh terbimbing di lingkungan ulama. Di antara ulama tersebut adalah Asy-Syaikh Abdussalam Al-Faqi, dimana beliau belajar syair dan sastra Arab dari beliau. Waktu itu usia beliau belumlah sampai 20 tahun, akan tetapi beliau telah bersemangat untuk mempelajari ilmu hadits.</p>
<p>Ketika ayahnya diangkat menjadi wakil rektor Universitas Al-Azhar, Asy-Syaikh Ahmad Syakir juga ikut belajar di Universitas tersebut. Di sana beliau belajar dari beberapa orang ulama, di antaranya: Asy-Syaikh Ahmad Asy-Syinqithi, Asy-Syaikh Syakir Al-Iraqi dan Asy-Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi.</p>
<p>Menurut kesaksian Asy-Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqi -salah seorang sahabat beliau-, Asy-Syaikh Ahmad Syakir memiliki kesabaran yang begitu tinggi. Hapalannya pun kuat tidak tertandingi. Beliau juga memiliki kemampuan tinggi dalam memahami hadits dan bagus mengungkapkannya dengan akal dan nash. Beliau juga dalam pandangan ilmunya serta tidak taqlid kepada seorang pun.</p>
<p>Asy-Syaikh Ahmad Syakir telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia Islam. Beliau telah memberikan ta’liq dan tahqiq (komentar serta pembahasan yang teliti) kepada banyak karya ulama.</p>
<p><strong>Di antara karya beliau adalah:</strong></p>
<p>&#183; Syarh Musnad Imam Ahmad (belum selesai sampai beliau wafat)</p>
<p>&#183; Tahqiq terhadap Al-Ihkam karya Ibnu Hazm</p>
<p>&#183; Tahqiq terhadap Alfiyatul Hadits karya As-Suyuthi</p>
<p>&#183; Takhrij terhadap Tafsir At-Thabari bersama saudara beliau Mahmud Syakir</p>
<p>&#183; Tahqiq terhadap kitab Al-Kharaj karya Yahya bin Adam</p>
<p>&#183; Tahqiq terhadap kitab Ar-Raudathun Nadhiyah karya Shiddiq Hasan Khan</p>
<p>&#183; Syarh Sunan At-Tirmidzi (belum selesai sampai beliau wafat)</p>
<p>&#183; Tahqiq Syarh Aqidah Thahawiyah</p>
<p>&#183; Umdatut Tafsir ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (belum selesai sampai beliau wafat)</p>
<p>&#183; Ta’liq dan Tahqiq terhadap Al-Muhalla karya Ibnu Hazm.</p>
<p>Asy-Syaikh Ahmad Syakir wafat pada hari Sabtu tanggal 26 Dzulqa’dah 1377 H atau bertepatan dengan tanggal 9 Juni 1958. Karya-karya beliau senantiasa menjadi rujukan para ulama. Termasuk ahli hadits di masa kita ini, yaitu Asy-Syaikh Albani rahimahullah.(*)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
