<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>relai &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/relai/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "relai"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 13:41:45 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[RELAI]]></title>
<link>http://4ld1.wordpress.com/2009/08/13/relai/</link>
<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 12:07:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>4ld1</dc:creator>
<guid>http://4ld1.wordpress.com/2009/08/13/relai/</guid>
<description><![CDATA[Kita mengenal banyak sekali jenis relay yang digunakan pada kendaraan kita semisalnya pada klakson, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kita mengenal banyak sekali jenis relay yang digunakan pada kendaraan kita semisalnya pada klakson, ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Polarisasi "Kyai Kampung" dan "Kyai Kampus"]]></title>
<link>http://santribuntet.wordpress.com/2008/06/20/polarisasi-kyai-kampung-dan-kyai-kampus/</link>
<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 08:40:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>kurtubi</dc:creator>
<guid>http://santribuntet.wordpress.com/2008/06/20/polarisasi-kyai-kampung-dan-kyai-kampus/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Muhamad Kurtubi Antara pendidikan pesantren dan pendidikan non pesantren ada semacam polarisas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn%3A742VZDjei9rI7M%3Ahttp%3A%2F%2Frbaryans.files.wordpress.com%2F2007%2F10%2Fc0003.jpg&#038;w=130&#038;h=126" alt="polarisasi" width="130" height="126" /><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Oleh: <strong>Muhamad Kurtubi</strong><br />
Antara pendidikan pesantren dan pendidikan non pesantren  ada semacam polarisasi pada pembimbingnya. Hal inipun berpengaruh pada cara pandang juga dalam hal  menjalani kehidupan selanjutnya baik oleh para santri maupun para murid-muridnya.<br />
</span></p>
<p><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ilmu yang diajarkan di pesantren memang sarat dengan muatan kearifan, akhlaq dan ketulusan sehingga antara guru-murid tejalin berkelindan hingga kapanpun. Tetapi berebeda dengan sistem &#8220;pendidikan modern&#8221;  yang dikembangkan di sekolah umum dan kampus-kampus.</span></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Bahkan yang terjadi di masyarakat jika ada pertentangan antar golongan atau &#8220;unjuk gigi&#8221; daro para pembawa pesan ilahi, semua itu terkait dengan &#8220;ruh ilmu&#8221; yang yang mengalir pada masing-masing pembawanya.</span> <span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Kyai dalam tradisi pesantren merupakan figur yang selalu dihormati, dikagumi dan dimulyakan. Sebab di sanalah estafet ilmu pengetahuan agama diperoleh. Namun bagi tradisi keilmuan modern, se&#8217;alim apapun seorang guru di sekolah atau dosen di kampus, tidak mendapat penghormatan ala pesantren. Misalnya dicium tanganya saat bersalaman, dihormati keluarganya, dihargai sikapnya, dan diikuti nasehat-nasehatnya.<br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Itulah salah satu hal yang membedakan tradisi keilmuan tradisional dan modern. Namun tak perlu disesali, penghormatan dan penghargaan &#8220;kyai modern&#8221; sudah lebih dahulu didapat dari instansi atau lembaga di atasnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sementara guru (kyai) pesantren sebutan penghormatan itu dikukuhkan justru oleh murid-muridnya (santri). Jika dihitung-hitung barangkali impas juga (sebanding). Lihat saja, sebutan: Guru besar, prof., Dr., dr., Msc., dst bukankah semua itu merupakan penghormatan juga? Plus sederet tunjangan hidup dan nama besar itu bisa terkukuhkan dalam selembar ijazah (surat keputusan). Apalagi jika menjadi pejabat negara, pasti gelar-gelar itu berpengaruh terhadap penghasilan bulanannya. Itulah bentuk penghormatan yang tidak diperoleh bagi kyai kampung.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sementara bagi <strong>&#8220;kyai kampung&#8221; </strong>tidak ada korelasi antara sebutan kyai dengan penghasilannya. Mereka (para kyai), Insya Allah ikhlas dalam mengajar para santrinya. Jangan lupa, banyak sekali kalangan santri didikannya yang tidak membayar biaya bulanan. Contohnya, saat penulis mondok di Buntet Pesantren adalah jenis &#8220;santri gratisan&#8221;. Menikmati fasilitas hidup di pesantren secara gratis, sementara penulis dibebaskan mendalami ilmu-ilmu agama dan ilmu di sekolah formal. Sebuah fenomena langka dalam tradisi keilmuan modern.<br />
</span></p>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ruh  Ilmu</span></strong></div>
</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Pesantren justru lahir karena kharisma para guru di dalamnya. Sehingga kyai merupakan figur yang melatar belakangi eksistensi sebuah pesantren. Walaupun belum ada penelitian, tapi bolehlah jika ada sebuah asumsi mengatakan: apakah benar, semakin alim (mumpuni) ilmu seorang kyai, semakin kuat daya pikat bagi santri-santrinya. Sebaliknya, semakin kurang mumpuni ilmu yang dimilikinya, akan berdampak pada daya pikat (kharisma) seorang kyai.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Meskipun asumsi di atas sangat lemah, dan mudah dibantah, setidaknya, asumi ini, bisalah dijadikan bahan obrolan dalam tulisan ini. Hal ini bisa disamakan dengan mutu sebuah sekolah (perguruan) yang jor-joran promosi dan dibuat menarik, meski mutunya tidak diperhatikan, maka pada awalnya sekolah akan ramai dikunjungi murid-muridnya. Namun bisa saja, sekolah akan bubar dan sepi peminat, jika mutunya (kedalaman ilmu) tidak diperhatikan dengan serius.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Intinya, ruh sebuah perguruan baik modern maupun tradisional adalah pada mutu pembawa pesan ilahinya. Jika <strong>&#8220;ruh ilmu&#8221; </strong>itu dipertahankan, maka kehidupan akan terus mewujud. Sebaliknya, akan sakit dan kembang kempis manakala ruh itu &#8220;ogah-ogahan&#8221; dipupuk. Tidak jarang pesantren itu ramai oleh santri jika di sana terpola sebuah <strong>&#8220;ruh ilmu&#8221; </strong>yang mewujud dalam diri tokohnya maupun pada manajemen lembaganya. Sebaliknya, tidak jarang pesantren yang diasuh tanpa <strong>&#8220;ruh ilmu&#8221; </strong>akan sepi peminat.<br />
</span></p>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Paramater</span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sulit sekali mengukur kealiman (kedalaman ilmu) seseorang. Tetapi setidaknya, asum­si umum patut diper­tim­bang­kan. Misalnya, menurut pandangan umum, ukuran kealiman itu bisa diperoleh manakala kyai itu memiliki karya tertulis ataupun karya tertutur. Hal lain, bisa dilihat dari tingkah laku dan prilaku kesehariannya. Di samping itu berbagai kepedulian dan kearifan dalam menyikapi persoalan. Hampir setiap orang dengan mudah melihat bagaimana akhlak seorang yang dianggap &#8220;cerdik pandai&#8221; itu. Nah, sikap-sikap pembawaan seorang kyai ini setidaknya dapat melabeli &#8220;alim&#8221; atau tidaknya seorang kyai.<br />
</span></div>
</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Atau secara spesifik asumsi umum itu bisa diurai: </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><em>pertama</em>, dari karya-karya yang diterohkan dalam berbagai tulisannya. Apakah diakui oleh kalangan ilmuan lain ataupun tidak; membawa manfaat secara umum atau tidak; memberikan khasanah (kekayaan) baru dalam bidangnya atau tidak; dan membawa pesan perubahan prilaku mulia atau sebaliknya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Kedua,</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> jika tidak ahli dalam menulis, tetap bisa dikategorikan kyai kampung yang alim. Hal itu bisa diukur misalnya dalam setiap &#8220;ilmu tutur&#8221;-nya. Bagaimana ia menuturkan dan menjelaskan berbagai persoalan dari sudut pandang ilmu yang dikuasainya: apakah konprehensif (mencakup) atau tidak, membawa kepentingan golongan atau pluralis, membawa kedamaian atau sebaliknya, menetramkan atau menggelisahkan, membawa pesan kepedulian atau pengabaian, menciptakan sinergi etika atau anti-etis, membimbing individu masyarakat atau justru mengambangkannya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ketiga, </span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">wilayah privatnya. Maksudnya adalah kedekatan interaksi vertikalnya. Di kalangan santri, ada pemahaman secara umum, bahwa kyai yang memiliki kedalaman rohani, biasanya karena interval vertikalnya sangat rapat, ditambah wawasan keilmuannya yang komprehensif. Disamping itu, inverval horizontalnya pun juga rapat. Ibarat gelombang FM (frekuensi modulation) akan lebih jernih ketimbang gelombang AM. Hal itu karena FM memiliki karakter gelombang yang modulasi dan intervalnya sangat rapat.<br />
</span></p>
<p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:XXJD03ecmXHxTM:http://www.globalsecurity.org/military/library/policy/army/accp/ss0002/ss0002a0009.gif" alt="FM modulation wave" width="114" height="134" /><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Tidak jarang, <strong>&#8220;kyai FM&#8221; ini sangat dicintai masyarakatnya. </strong>Persis seperti radio FM yang lebih diminati masyarakat kita. Sehingga di mana-mana seluruh gelombang radio berpindah pada jalur FM. Hal ini karena karakter kuat pada gelombangnya juga jernih suaranya. Demikian itu bila ilmu ini melekat pada seorang &#8220;kyai FM&#8221;, maka tidak mustahil, pancaran gelombang ilmunya kuat, prilakunya santun dan nasehatnya jelas, dan tentu saja enak di dengar telinga. Pada akhirnya, tidak mustahil pancaran ilmu dari &#8220;kyai FM&#8221; ini akan di relay ulang di setasiun daerah masing-masing santrinya dan tentu masyarkat sekitar santri itu akan ramai-ramai mendengar lantunan gelombang &#8220;kyai FM&#8221; yang indah itu.<br />
</span></p>
<div style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Gelar &#8220;Asal Gobleg&#8221;</span></em></strong></div>
</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Jika saja ketiga asumsi umum di atas tidak ada, maka dikhawatirkan muncul istilah yang kurang enak didengar. Sebuah istilah bagi orang Jakarta ketika melabeli sesuatu yang tidak serius atau asal-asalan dengan istilah &#8220;asal gobleg&#8221;.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Orang kerap mencibir untuk sarjana pendidikan modern pada akronim S.Ag. Harusnya sarjana agama, tapi dicibir dengan akronim &#8220;sajana asal gobleg&#8221;. Jika demikian, sangat dikhawatirkan seandainya ada &#8220;kyai&#8221; atau &#8220;santri&#8221; yang hanya membela label saja namun kurang perhatian pada khasanah ilmunya tidak mustahil orang akan melabeli dengan istilah ini. Karenanya kita berharap jangan sampai segelintir orang mengarahkan kepada kyai atau kepada santri  dengan istilah &#8220;santri asal gobleg&#8221;. Semoga kita terhindar dan berlindung pada Allah swt.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" style="float:left;border:2px solid black;margin:2px;" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:xeL1kuobwSEaSM:http://obor2.blogsome.com/images/koruptortampan.jpg" alt="Koruptor" width="125" height="196" /><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Kitapun tidak bisa menutup mata. Sebab tidak jarang, kampus-kampus kita banyak yang menghasilkan sarjana-sarjana &#8220;asal gobleg&#8221;. Jika saja mereka menjadi mitra pemerintah atau manajemen publik, urusannya makin kacau. Kepentingan keilmuan akan tidak &#8220;nyambung&#8221; dengan kepentingan publik. Kemanfaatan ilmu untuk kemaslahatan umum, akan diberangus dengan kepentingan pribadi.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Tidak aneh, jika munculnya sifat-sifat hedonistik: korupsi, kolusi dan nepotisme buta pada bangsa ini, benar-benar membutakan semua wacana dan menutupi sinar ilmu yang menyinari semangat kedamaian dan ketentraman. Akhirnya, hanya berharap semoga semua itu bisa terkikis dengan semangat revolusi untuk terus-menerus menggiati berbagai disiplin ilmu dari masing-masing keahlian.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Upaya untuk mengatasi permasalahan ini bagi penulis sangatlah tidak mumpuni. Karena penulis bukanlah ilmuwan yang bisa memaparkan hasil penelitian ataupun refleksinya. Secercah harapan untuk mengatasi itu tentu saja bisa lahir dari setiap individu. Ataupun bisa lahir dari para pengendali kebijakan setiap lembaga modern atau tradisional yang peduli pada tetesan semangat keilmuan.<br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Harapan ini semata-mata merupakan ikhtiar guna membangun bangsa yang kini telah banyak dipengaruhi oleh sarjana-sarjana &#8220;asal gobleg&#8221; yang diluluskan oleh segelintir lembaga kampus kota. Semoga kita berharap besar jangan sampai lembaga kampus kampung (pesantren) ikut-ikutan arus dengan meluluskan S.Ag (santri &#8220;asal gobleg&#8221;).</span> <span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><em>Wallahu a&#8217;lam bishshowab</em>. (*)</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Intel va pousser le Wifi jusqu'à 100 kilomètres]]></title>
<link>http://arketic.wordpress.com/2008/03/27/intel-va-pousser-le-wifi-jusqua-100-kilometres/</link>
<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 15:09:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Cheysson</dc:creator>
<guid>http://arketic.wordpress.com/2008/03/27/intel-va-pousser-le-wifi-jusqua-100-kilometres/</guid>
<description><![CDATA[(PC INpact) Intel travaille actuellement sur des routeurs Wifi un peu particuliers puisqu’ils seront]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Arial;"><font color="#333333">(PC INpact) Intel travaille actuellement sur des routeurs Wifi un peu particuliers puisqu’ils seront capables d’émettre sur de très grandes distances, créant ainsi une alternative viable au Wimax à des coûts réduits.</font></span><span style="font-size:8.5pt;color:#333333;font-family:Arial;">Ces routeurs, tout à fait spécifiques, qu’Intel compte vendre sous la barre des 500 dollars par unité, sont capables d’émettre un signal Wifi sur presque 100 Km. Il est nécessaire toutefois, pour atteindre cette distance, qu’aucun élément ne contrarie la trajectoire des ondes. Évidemment, il ne faut pas s’attendre à des miracles du côté des débits, puisque ces derniers devraient tourner autour des 6,5 Mb/s, ce qui est cependant suffisant pour offrir un accès au web, aussi faible soit-il.</span><span style="font-size:8.5pt;color:#333333;font-family:Arial;">Cette solution Wifi est baptisée Rural Connectivity Platform (RCP) et sera commercialisée en <a href="http://fr.news.yahoo.com/fc/inde.html"><font color="#003399">Inde</font></a> dès cette année (durant le troisième trimestre). Il faut dire que les routeurs sont particulièrement adaptés aux zones rurales et aux régions de la planète où les coûts d’achat et d’entretien sont des arguments déterminants. Or, la consommation d’un routeur RCP étant de 5 à 6 Watts, il est tout à fait possible d&#8217;envisager une alimentation par énergie solaire.</span><span style="font-size:8.5pt;color:#333333;font-family:Arial;">Sur ce blog d’Intel consacré à la recherche, vous trouverez d’autres informations concernant ces routeurs particuliers. Vous y verrez comment chaque antenne peut être orientée vers un routeur particulier pour créer des relais et ainsi former un maillage complet d’une grande zone géographique.</span><span style="font-size:8.5pt;color:#333333;font-family:Arial;"></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
