<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>reog-ponorogo &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/reog-ponorogo/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "reog-ponorogo"</description>
	<pubDate>Wed, 19 Jun 2013 12:20:09 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Serumpun?]]></title>
<link>http://coretanpinggir.com/2009/08/29/serumpun/</link>
<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 08:23:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>coretanpinggir</dc:creator>
<guid>http://coretanpinggir.com/2009/08/29/serumpun/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://coretanpinggir.files.wordpress.com/2009/08/bangsa-serumpun-indonesia-malaysia.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-full wp-image-1095" title="Bangsa Serumpun indonesia malaysia" src="http://coretanpinggir.files.wordpress.com/2009/08/bangsa-serumpun-indonesia-malaysia.jpg?w=460&#038;h=562" alt="Bangsa Serumpun indonesia malaysia" width="460" height="562" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Malaysia Gemar Meng-Claim Budaya Asli Milik Bangsa Indonesia?]]></title>
<link>http://tribas.wordpress.com/2009/08/26/mengapa-malaysia-gemar-meng-claim-budaya-asli-milik-bangsa-indonesia/</link>
<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 02:14:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tri Basoeki Soelisvichyanto</dc:creator>
<guid>http://tribas.wordpress.com/2009/08/26/mengapa-malaysia-gemar-meng-claim-budaya-asli-milik-bangsa-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Tari Pendet, Bali? Rasanya gatal tangan ini ingin menulis, sedikit beropini mengenai ke&#8221;gokil]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tari Pendet, Bali? Rasanya gatal tangan ini ingin menulis, sedikit beropini mengenai ke&#8221;gokil]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lagi tari pendet diklaim Malaysia]]></title>
<link>http://berandakawasan.wordpress.com/2009/08/24/lagi-tari-pendet-diklaim-malaysia/</link>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 23:17:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>masbloro</dc:creator>
<guid>http://berandakawasan.wordpress.com/2009/08/24/lagi-tari-pendet-diklaim-malaysia/</guid>
<description><![CDATA[Lagi lagi Malaysia berulah, setelah reog ponorogo, batik dan angklung diklaim sebagai budaya Malaysi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='640' height='390' src='http://www.youtube.com/embed/QARV4YeH3dE?version=3&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span><br />
Lagi lagi Malaysia berulah, setelah reog ponorogo, batik dan angklung diklaim sebagai budaya Malaysia, lewat iklannya di Discovery channel Malaysia mengklaim tari bali pendet dan wayang sebagai budaya mereka.</p>
<p>Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan jaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi &#8220;ucapan selamat datang&#8221;, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa.</p>
<p>Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakkan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakkan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik. Tari putri yang memiliki pola gerak yang lebih dinamis dari tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan, ditampilkan setelah tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan dan perlengkapan sesajen lainnya.</p>
<p>Diklaimnya budaya Indonesia oleh Malaysia diakibatkan oleh kurang perdulinya bangsa kita terhadap budaya sendiri. Lihat di tv berapa kali kita bisa melihat tayangan budaya kita dalam sehari. Rasa indonesia kita baru muncul setelah budaya kita diklaim oleh Malaysia. Tidak ada upaya nyata selain marah mengutuk Malaysia.  Ayolah kita instropeksi diri dengan menghagai budaya negeri sendiri. Banyak seniman kita yang hidup miskin, makin sedikit anak muda yang mau belajar tari, batik atau wayang. Mereka lebih senang belajar menjadi DJ, balet atau musik rock yang bisa menghasilkan lebih banyak uang dari pada belajar kesenian tradisional yang tidak menjual.</p>
<p>Malaysia mungkin bisa lebih menghargai kesenian karena mereka membutuhkan indentitas budaya untuk dijual sebagai pariwisata. Seperti reog ponorogo, dalam sebuah liputan di koran ternyata yang memainkan reog orang Indonesia yang telah menjadi warga Malaysia. Mereka memainkan reog sebagai obat rasa kangen terhadap tanah kelahiran mereka seperti juga masyarakat kita memainkan barongsai.<br />
Masyarakat lokal Malaysia ternyata bisa menerima dan bahkan disambut dengan baik oleh pemerintah Malaysia hingga akhirnya diangkat sebagai budaya Malaysia. Seperti juga kita menerima budaya barongsai dari china.</p>
<p>Mulai sekarang mari kita bangkitkan budaya kita, jika kita punya hajat kalo bisa undanglah reog ponorogo atau sisingaan atau wayang untuk memeriahkan acara. dengan begitu kebudayaan kita akan tumbuh dan berkembang. bukan hanya di indonesia tapi diseluruh dunia. Sehingga kesenian kita bukan hanya menjadi milik kita tapi milik dunia. Dunai pasti akan mengenang asal usulnya seperti halnya bulutangkis dan sepakbola.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aura Kasih kasihani Malaysia sebab tak ada yang bisa dibanggakan]]></title>
<link>http://artistainment.wordpress.com/2009/08/24/aura-kasih-kasihani-malaysia-sebab-tak-ada-yang-bisa-dibanggakan/</link>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 13:23:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Artistainer</dc:creator>
<guid>http://artistainment.wordpress.com/2009/08/24/aura-kasih-kasihani-malaysia-sebab-tak-ada-yang-bisa-dibanggakan/</guid>
<description><![CDATA[Pencurian budaya milik Indonesia kembali dilakukan oleh  Malaysia setelah gempar seni budaya reog Po]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pencurian budaya milik Indonesia kembali dilakukan oleh  Malaysia setelah gempar seni budaya reog Po]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Reyog dalam Pandangan Saya]]></title>
<link>http://andymse.wordpress.com/2009/08/12/reyog-dalam-pandangan-saya/</link>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 12:18:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Andy MSE</dc:creator>
<guid>http://andymse.wordpress.com/2009/08/12/reyog-dalam-pandangan-saya/</guid>
<description><![CDATA[Nonton Festival Reyog Mini di Alun-alun Kab. Ponorogo 08/08/2009 sungguh mengasyikkan. Yang jelas, t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Nonton Festival Reyog Mini di Alun-alun Kab. Ponorogo 08/08/2009 sungguh mengasyikkan. Yang jelas, t]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[kekayaan seni dalam negri]]></title>
<link>http://cobasedikitpeka.wordpress.com/2009/06/14/kekayaan-seni-dalam-negri-2/</link>
<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 16:50:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>tonywidiyanto</dc:creator>
<guid>http://cobasedikitpeka.wordpress.com/2009/06/14/kekayaan-seni-dalam-negri-2/</guid>
<description><![CDATA[Indonesia dikenal sebagai Negara yg kaya akan keragaman seni dan budayanya. Namun sayang apresiasi u]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia dikenal sebagai Negara yg kaya akan keragaman seni dan budayanya. Namun sayang apresiasi untuk seni dan budaya kita masihlah kurang. sehingga tak sedikit dari mereka (pelakon seni) akhirnya melakukan pentas keliling untuk mengais rejeki demi bertahan hidup.<br />
Beberapa hari yang lalu ada segerombolan orang yg berhenti di depan rumahku. Mereka berjumlah kurang lebih 10 orang dengan membawa peralatan yg mereka tumpangkan di atas becak. Rasa penasaranpun membuatku keluar rumah dan melihat apa yg terjadi. Ternyata mereka adalah sekelompok seniman Reog Ponorogo(mini). Tak lama kemudian setting dadakan mulai mereka pasang. Alunan musik daerah dan atraksi menarikpun mulai disuguhkan. Para penonton yg juga warga sekitar mulai berdatangan dan memberikan “Saweran”.  Wahhh benar2 perjuangan hidup mencari uang itu susah ya…<br />
<img src="http://cobasedikitpeka.files.wordpress.com/2009/06/reog1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="reog" title="reog" width="300" height="225" class="alignleft size-full wp-image-70" /></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tak ada kata BONEK bagi Surabaya dalam menarik turis asing]]></title>
<link>http://totosp.wordpress.com/2009/06/05/tak-ada-kata-bonek-bagi-surabaya-dalam-menarik-turis-asing/</link>
<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 03:40:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Toto</dc:creator>
<guid>http://totosp.wordpress.com/2009/06/05/tak-ada-kata-bonek-bagi-surabaya-dalam-menarik-turis-asing/</guid>
<description><![CDATA[Bonek atau bondo nekat, julukan populer bagi supporter bola Persebaya. Namun dalam urusan menjaring]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-955" title="Patung Suroboyo 01" src="http://totosp.files.wordpress.com/2009/05/patung-suroboyo-01.jpg?w=210&#038;h=300" alt="Patung Suroboyo 01" width="210" height="300" />Bonek atau bondo nekat, julukan populer bagi supporter bola Persebaya. Namun dalam urusan menjaring turis asing, Surabaya sangat serius, jauh dari &#8216;bondo nekat&#8217; itu. Ya, dibandingkan tentangganya, Bali &#38; Jogja, industri wisata Surabaya seakan berada dalam bayang-bayang popularitas kedua tujuan turis itu. Surabaya dan Jawa Timur sendiri sebenarnya memiliki nilai jual cukup untuk bisa mengejar tetangganya dalam menarik minat turis untuk datang. Bromo sudah cukup populer dan memiliki nilai jual tinggi. Kawasan Malang dan sekitarnya juga layak untuk didatangi turis asing. Sebagai kota industri dan jasa, Surabaya memiliki potensi untuk wisata sejarah, religi, budaya, dan belanja. Infrastruktur kota ini boleh dibilang sangat memadai, Surabaya juga memiliki akses bagus dari kota-kota lain di Indonesia dan bahkan negara-negara kawasan regional. Data terakhir menunjukkan Surabaya &#38; Jatim &#8216;hanya&#8217; menerima kunjungan turis asing kurang dari 10% dibandinglan Bali. Angka yang kecil dibandingkan dengan potensinya. Kendati industri wisata belum sekuat tentangganya, usaha pelaku industri wisata (pemerintah &#38; swasta) boleh diacungi jempol. Apa yang mereka lakukan?</p>
<p><!--more--><img class="alignright size-full wp-image-993" title="Sparkling Surabaya2" src="http://totosp.files.wordpress.com/2009/06/sparkling-surabaya21.jpg?w=123&#038;h=66" alt="Sparkling Surabaya2" width="123" height="66" /></p>
<p>Coba tengok apa yang telah dilakukan oleh Surabaya Tourism and Promotion Board. STPB seperti tidak menyerah dalam upayanya menjual Surabaya. Untuk ukuran kota dengan industri wisata yang belum maju, STPB telah memiliki perwakilan di negara-negara lain. STPB juga gencar mengenalkan <em>tagline</em> Surabaya sebagai &#8216;Sparkling Surabaya&#8217;. STPB rajin membuat even-even wisata dan mengikuti promosi di berbagai daerah dan negara lain.</p>
<p>Menyadari tidak cukup populernya tujuan wisata di Surabaya bagi turis asing, para pelaku industri akhirnya harus kreatif mengemas produk wisatanya. Memang Surabaya dapat turut menawarkan Bromo, wisata heritage, wisata belanja, dan juga wisata kota. Namun, Surabaya memang tidak seperti Bali yang memiliki segalanya, juga tidak seperti Jogja yang sudah terkenal dengan budayanya. Surabaya akhirnya harus menjual sesuatu yang berbeda dan menggali dan mengemas ulang potensi yang ada. Dan muncullah  paket golf, paket wisata heritage, paket budaya, dan MICE. Dalam paket-paket itu Surabayapun harus menggandeng kota-kota lain di Jawa Timur. </p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-991" title="Sparkling Surabaya" src="http://totosp.files.wordpress.com/2009/06/sparkling-surabaya.jpg?w=150&#038;h=100" alt="Sparkling Surabaya" width="150" height="100" />Kota ini juga termasuk rajin menyelenggarakan Travel Mart, seperti yang baru saja usai yakni Majapahit Travel Fair yang rutin diselenggarakan. Disinilah Surabaya berusaha mempertemukan pelaku industri sebagai seller dan buyer dari luar negeri. STPB juga rajin mengikuti even-even sejenis di daerah lain, dan bahkan negara-negara lain.</p>
<p>Mei lalu, Surabaya berulang tahun yang ke 716. Ulang tahun ini dikemas agar menarik minat turis asing. Maka digelarlah Surabaya Shopping Festival (SSF) dan even-even budaya lainnya. Meskipun SSF ini masih jauh dari kesuksesan Singapore Great Sale, tapi penyelenggara berhasil menawarkan obral tahunan ini dengan menggandeng beberapa airline asing.</p>
<p>Pemkot Surabaya memberikan dukungan kuat untuk industrinya. Surabaya ini sekarang lagi giat-giatnya menata kotanya, membangun banyak taman kota, memperbaiki trotoar, merapikan keberadaan PKL, menata sungai-sungainya. Menggusur bangunan liar dikiri kanan rel kereta api.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1005" title="Surabaya Heritage Track" src="http://totosp.files.wordpress.com/2009/06/surabaya-heritage-track.jpg?w=300&#038;h=177" alt="Surabaya Heritage Track" width="300" height="177" />Yang patut dicontoh dari kota ini adalah keterlibatan swasta untuk bersama-sama mendorong tingkat kunjungan turis. Contoh terbaru adalah Sampoerna House, museum yang dulunya pabrik rokok ini menyiapkan bus wisata gratis yang mengunjungi tempat-tempat peninggalan sejarah di Surabaya, namanya Surabaya Heritage Track. Bis dengan warna merah terang ini sepintas mirip bis-bis wisata kota di negara-negara lain. Pengusaha pusat-pusat perbelanjaan juga kompak dalam suksesnya ajang Surabaya Shopping Festival, padahal di hari-hari biasa mereka bersaing dalam mengaet pengunjung.</p>
<p>Dengan beroperasinya Suramadu, Surabaya memiliki jualan baru untuk ditawarkan. Tidak heran jika dikemas menarik, wisata Suramadupun dapat sepopuler Sydney Bridge atau Golden Gate San Fransisco. Tol Porong yang terputus karena lumpur Lapindo juga akan segera dibangun. Lumpur Lapindo ini seakan menjadi mimpi buruk bagi industri wisata di Surabaya dan Jatim. Betapa tidak, bahwa Bromo menjadi daya tarik bagi turis yang mengunjungi Surabaya. Putusnya tol menambah sulit dan ketidaknyamanan turis dalam menjangkau Bromo. Lapangan golf yang biasa dijajakan Surabaya beberapa berada di luar Surabaya seperti Finna Golf dan Taman Dayu, juga harus melintasi daerah ini. Begitu juga agrowisata kota Malang &#38; Batu juga melintasi kawasan Porong.</p>
<p>Surabaya cukup sadar bahwa untuk menjaring turis asing tidak cukup dilakukan dengan cara biasa seperti tetangganya. Bali dan Jogja sangat mudah menggaet turis massal, tetapi tidak demikian buat Surabaya. Surabayapun dituntut lebih kreatif dan menggaet turis dengan peminatan khusus (unik). Kreatifitas ini sebenarnya sudah tampak jauh sebelum ini. Bekas kapal selam, KRI Pasopati,  yang digunakan saat perang mempertahankan Papuapun diangkat dan dijadikan museum, Monkasel namanya. Masjid berarsitek Chinapun, Masjid Muhammad Cheng Ho, dijajakan dan akhirnya cukup diminati turis. Gedung-gedung kuno, Tugu Pahlawan dan Jembatan Merah lumayan terawat.</p>
<p>Dengan upaya dan kreatifitas itu, tidak heran jika suatu saat nanti Surabaya menjadi tujuan turis dan mendekatkan jarak dengan Bali atau Jogja. Bravo Surabaya, Green &#38; Clean City.</p>
<p>Baca juga <a title="Suramadu, ikon baru wisata kota Surabaya" href="http://totosp.wordpress.com/2009/04/13/suramadu-ikon-baru-wisata-kota-surabaya/" target="_blank">Suramadu, ikon baru wisata kota Surabaya</a></p>
<p>Surabaya dapat dijangkau langsung dengan pesawat dari :</p>
<ul>
<li>Berbagai kota di Indonesia (hampir semua Airline di Indonesia)</li>
<li>Singapura (Garuda, Silk Air, ValuAir, China Airlines)</li>
<li>Johor Bahru (Air Asia)</li>
<li>Kuala Lumpur (Air Asia, Malaysia Airline, Merpati)</li>
<li>Hongkong (Cathay Pacific, Garuda)</li>
<li>Taipei (Eva Air via Kaohsiung &#38; China Airline via Singapore)</li>
<li>Bandar Seri Begawan (Royal Brunei)</li>
</ul>
<a name="pd_a_1665360"></a>
<div class="PDS_Poll" id="PDI_container1665360" style="display:inline-block;"></div>
<div id="PD_superContainer"></div>
<script type="text/javascript" charset="UTF-8" src="http://static.polldaddy.com/p/1665360.js"></script>
<noscript><a href="http://polldaddy.com/poll/1665360">Take Our Poll</a></noscript>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Reog Ponorogoku]]></title>
<link>http://tantrapuan.wordpress.com/2009/05/12/reog-ponorogoku/</link>
<pubDate>Tue, 12 May 2009 19:16:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>tantrapuan</dc:creator>
<guid>http://tantrapuan.wordpress.com/2009/05/12/reog-ponorogoku/</guid>
<description><![CDATA[Reog Ponorogoku oleh Dheka Dwi Agusti N Aku sedih waktu reog jadi gunjingan orang-orang Bangsaku sep]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Reog Ponorogoku oleh Dheka Dwi Agusti N Aku sedih waktu reog jadi gunjingan orang-orang Bangsaku sep]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Reog Ponorogo atau Barongan?]]></title>
<link>http://holyimp.wordpress.com/2009/03/20/reog-ponorogo-atau-barongan/</link>
<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 19:49:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>holyimp</dc:creator>
<guid>http://holyimp.wordpress.com/2009/03/20/reog-ponorogo-atau-barongan/</guid>
<description><![CDATA[Tolonglah jangan pecah-belahkan Nusantara.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='640' height='390' src='http://www.youtube.com/embed/84FK9eCltBY?version=3&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span>
<p>Tolonglah jangan pecah-belahkan Nusantara. </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Reog Ponorogo]]></title>
<link>http://goehphoto.wordpress.com/2009/02/04/reog-ponorogo/</link>
<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 05:39:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>goehphoto</dc:creator>
<guid>http://goehphoto.wordpress.com/2009/02/04/reog-ponorogo/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Grebeg Suro "Festival Reog Ponorogo"]]></title>
<link>http://ri3zky.wordpress.com/2008/12/30/grebeg-suro-festival-reog-ponorogo/</link>
<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 05:57:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>riZky</dc:creator>
<guid>http://ri3zky.wordpress.com/2008/12/30/grebeg-suro-festival-reog-ponorogo/</guid>
<description><![CDATA[Setelah acara yang diadakan ditahun tahun sebelumnya berhasil dan mencapai puncaknya yang digelar pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-368" title="baner1" src="http://ri3zky.files.wordpress.com/2008/12/baner1.jpg?w=463&#038;h=115" alt="baner1" width="463" height="115" /></p>
<p>Setelah acara yang diadakan ditahun tahun sebelumnya berhasil dan mencapai puncaknya yang digelar pada tanggal 5 hingga 8 Januari 2008 di Alon-Alon Ponorogo, kini acarapun digelar kembali. Ponorogo menggelar acara akbar tahunan berjuluk <strong>&#8220;Festival Reog Nasional XV&#8221;</strong> yang bertempat di Alon-Alon Ponorogo. Acara ini kerab dijuluki Grebeg Suro.</p>
<p><strong>Grebeg Suro</strong> merupakan event budaya tersebar di kabupaten Ponorogo yang diselenggarakan dalam rangka menyongsong Tahun Baru Islam atau Tahun baru Saka yang sering dikenal sebagai tanggal satu Suro. Selain hal di atas,<strong> Grebeg Suro</strong> merupakan peristiwa ritual budaya yang sekaligus menjadi ajang pesta rakyat Ponorogo. Rangkaian acara Grebeg Suro meliputi <strong>Festival Reyog Nasional</strong> yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke15.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Festival Reog Ponorogo ke XV yang diselenggarakan telah dibuka resmi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X hari Rabu tanggal 23 Desember 2008. Acara berlangsung sngat meriah. Pembukaan Grebeg Suro tak jauh beda dari yang sebelumnya tentunya penampilan Reog dan Kesenian lainnya dari beberapa daerah. Yang sudah menjadi langganan setiap di malam satu suro ini, disiang harinya terdapat acara <strong>Pawai</strong> yang bisa dikata dengan sebutan <strong>Kirab</strong>. Kirab ini seperti karanaval yang diikuti oleh perangkat kabupaten seperti Bupati dan wakilnya dan anak buah sampai para camat di kabupaten Ponorogo. Serta sekolah SMP, SMA, MTs, MA di Ponorogo ikut serta acara kirab ini. Tak lupa pula dimalam suro selalu bertakjubkan kembang api yang  dipertontonkan dan diakhiri dengan acara <strong>Larung Risalah Doa</strong> di Telaga Ngebel.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-369" title="dsc01940" src="http://ri3zky.files.wordpress.com/2008/12/dsc01940.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dsc01940" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;">Kirab dari SMK 2 dan SMA 3 Ponorogo</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-370" title="dsc01954" src="http://ri3zky.files.wordpress.com/2008/12/dsc01954.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dsc01954" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;">Pertukaran Pelajar yang terdapat di SMA Negeri 1 Ponorogo</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-371" title="dsc01950" src="http://ri3zky.files.wordpress.com/2008/12/dsc01950.jpg?w=225&#038;h=300" alt="dsc01950" width="225" height="300" /></p>
<p style="text-align:center;">Atraksi yang berasal dari SMP Negeri Ponorogo</p>
<p>Tak hanya warga Kota Ponorogo saja yang bersedia menyaksikan acara ini, dari beberapa kota diluar Ponorogopun ikut serta meramaikan acara ini. Selama kurang lebih 8 hari acara digelar, tak sepi dari pengunjung yang berdatangan semakin hari semakin ramai. Apalagi jika menjelang malam satu suro, semakin larut malam pengunjung tak henti-hentinya datang. Begitu pula dengan peserta group reog yang ikut serta dalam acara Festival Reog Ponorogo XV, bisa dibilang peserta dari Sabang sampai Merauke yang ikut acara ini.</p>
<p>Berikut daftar peserta Grup Reyog di acara Fastival Reog Ponorogo XV</p>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;background:red none repeat scroll 0 50%;width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:white;">No.</span></strong></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:white;">Nama Grup Reyog</span></strong></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:white;">Asal</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Singo   Tirang</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Semarang</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, Jawa Tengah</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Reyog   Pulo Gadung</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Timur, DKi Jakarta</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sardulo Seto</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Batu, Jawa Timur</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Liman   Singo Budoyo</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kab.   Lampung Timur, Lampung</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jwalita   Praja</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kab.   Trenggalek, Jawa Timur</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">6.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Singo   Duto Bantarangin</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kab.   Gunung Kidul DIY</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">7.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Singo   Joyo Jati</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Balikpapan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, Kaltim</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">8.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Margo   Mulyo</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Tarakan, Kaltim</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">9.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Singo   Mulang Joyo</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Metro, Lampung</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">10.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dewan   Kebudayaan Reyog</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Prop.   Lampung</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">11.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Karya   Budaya</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kab.   Keerum, Papua</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">12.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Suro   Menggolo</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Tanjung Pinang, Kepulauan Riau</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">13.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lancang   Kuning</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Tanjung Pinang, Kepulauan Riau</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">14.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pudak   Arum</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">PT. Semen   Gresik, Jawa Timur</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">15.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Gembong Hadijaya</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kab.   Nganjuk, Jawa Timur</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">16.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Purbaya</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Surabaya</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, Jawa Timur</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">17.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Suryo   Budoyo</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">DKI </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jakarta</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">18.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pemkab.   Wonogiri</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kab.   Wonogiri, Jawa Tengah</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">19.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">PSRM   Sarduloanurogo</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Universitas   Jember, Jawa Timur</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">20.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Seni   Reyog Raja Laut</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kab.   Bengkalis, Riau</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">21.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Margo   Rukun</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kab.   Waropen, Papua</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">22.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Karyo   Singo Yudho</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kutai   Kartangera, Kaltim</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">23.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kusumo Budoyo</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kab.   Blitar, Jawa Timur</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">24.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bantarangin</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Probolinggo, Jawa Timur</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:.45in;padding:0 5.4pt;" width="43" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">25.</span></p>
</td>
<td style="width:135pt;padding:0 5.4pt;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Singo   Manggolo</span></p>
</td>
<td style="width:189pt;padding:0 5.4pt;" width="252" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Balikpapan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, Kaltim</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Reog Tempoe Doeloe, Masa Kini, Masa depan ]]></title>
<link>http://elzhito.wordpress.com/2008/12/20/reog-tempoe-doeloe-masa-kini-masa-depan/</link>
<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 14:24:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>akang zhitoer</dc:creator>
<guid>http://elzhito.wordpress.com/2008/12/20/reog-tempoe-doeloe-masa-kini-masa-depan/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; Sebentar lagi pergantian tahun dalam penanggalan Islam akan segera datang. Untuk menyambut ke]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">&#160;</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-66" title="shandypug09reog" src="http://elzhito.files.wordpress.com/2008/12/shandypug09reog.jpg?w=263&#038;h=300" alt="shandypug09reog" width="263" height="300" />Sebentar lagi pergantian tahun dalam penanggalan Islam akan segera datang. Untuk menyambut kedatangannya banyak masyarakat Muslim yang merayakannya. Di berbagai daerah diselenggarakan acara-acara untuk memperingati 1 Muharam dalam penanggalan Islam yang sekaligus bertepatan dengan 1 Suro dalam penanggalan Jawa. Salah satunya  di Kabupaten Ponorogo. Untuk menyambut pergantian tahun Islam dan pergantian tahun Jawa ini, pemerintah Kabupaten Ponorogo selalu menggelar acara rutin yaitu Grebeg Suro. Di dalam rangkaian acara Grebeg Suro terdapat even bertaraf Nasional, yaitu Festival Reog Nasional. Festival ini bertujuan untuk menjaga kelestarian kesenian Reog Ponorogo dan menunjukan bahwa Ponorogo merupakan Bumi Reog. Tempat dimana kesenian adiluhung ini berasal. Ponorogo yang dulunya merupakan tanah Wengker memang diyakini sebagai tempat Reog lahir. Hal ini didasari warisan cerita turun temurun tentang asal usul Reog. Ada berbagai versi cerita tentang asal usul Reog</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Yang pertama versi Bantarangin. Bantarangin merupakan kerajaan yang ada di Ponorogo yang dipimpin seorang raja bernama Prabu Kelana Sewandana. Menurut versi ini, asal mula reog ketika Prabu Kelana Sewandana berkelana mencari pendamping hidup yang ditemani oleh pasukan berkuda dan patihnya yang setia, Bujangganong. Pilihan sang prabu jatuh ke gadis putri raja Kediri, Dewi Sanggalangit. Perjuangan untuk memboyong Dewi Sanggalangit tidak semudah membalikkan telapak tangan, sang putri mau dijadikan istri sang prabu jika sang prabu mampu memenuhi persyaratan yang diajukannya. Ia minta kepada sang prabu agar menciptakan sebuah kesenian yang belum pernah ada sebelumnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><!--more-->Kedua, versi Ki Ageng Kutu Suryangalam. Versi ini mencereritakan pemberontakan Ki Ageng Kutu atau yang sering disebut Demang Suryangalam. Ki Ageng Kutu merupakan abdi kerajaan pada masa pemerintahan Bra Kertabumi. Ki Ageng Kutu murka akan kepemimpinan Bra Kertabumi yang dianggap sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu kuat menerima pengaruh rekan Cinanya dan dikendalikan oleh permaisurinya. Demang Suryangalam akhirnya keluar dari kerajaan dan mendirikan perguruan yang mendidik pemuda-pemuda setempat. Sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintahan Bra Kertabumi, Ki Ageng Kutu menciptakan barongan yang terbuat dari kulit macan gembong yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan kepala singa dan permaisuri dilambangkan burung merak. Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai &#8220;Singa Barong&#8221;, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan di atasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggang kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya. Pagelaran Reog dijadikan Ki Ageng Kutu sebagai cara pelawanan masyarakat lokal melalui kepopuleran reog.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Ketiga, versi Batoro Katong. Batoro Katong adalah bupati pertama yang memerintah di Ponorogo. Barongan dijadikan salah satu alat untuk mengumpulkan massa dan sebagai media komunikasi yang efektif. Batoro Katong memerintahkan kepada Ki Ageng Mirah untuk membuat cerita legendaris mengenai kerajaan Bantarangin yang oleh sebagian besar masyarakat dipercaya sebagai sejarah asal-usul Reog Ponorogo. Batoro Katong memanfaatkan kesenian barongan sebagai media dakwah menyebarkan Islam di Tanah Wengker. Nama barongan kemudian dirubah menjadi reyog, yang diambil dari bahasa Arab riyoqun yang berarti khusnul khotimah.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Terlepas dari versi asal-usul reog, bagaimanakah perkembangan reog itu sendiri?</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Reog mengalami perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu hingga menjadi reog seperti yang kita lihat saat ini. Perubahan-perubahan mendasar dapat kita lihat dari beberapa hal antara lain</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><strong>Tulisan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kata Reog dulunya adalah Reyog. Kata reyog yang diubah menjadi Reog dikarenakan kebijakan pemerintah daerah. Kebijakan pemda menghapuskan huruf “y” dalam reyog ini memang didasarkan pada penulisan dalam Kamus Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Depdiknas pada tahun 1983. Dalam kamus itu memang dituliskan bukan reyog tetapi reog. Belakangan penulisan reog dijadikan slogan kota oleh pemda, yang berarti resik, omber, dan  girang gumirang. Padahal dalam prinsip konco reyog, terutama Embah Bikan, dan (alm) Embah Mujab dan juga yang tersirat dalam Babad Ponorogo menjelaskan bahwa reyog itu mereprsentasikan makna teologis-kultural masyarakat Ponorogo yang masih bernama Wengker waktu itu. Reyog mereka maknai  (r) rasa kidung, (e) engwang sukma adilihung, (y) Yang Widhi, (o) olah kridaning Gusti, dan (g) gelar gulung kersaning Kang Moho Kuoso.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Penggantian reyog menjadi reog pada saat itu sempat menimbulkan polemik. Bupati Ponorogo yang saat itu dijabat oleh Markum Singodimejo yang mencetuskan nama reog tetap mempertahankan sebagai slogan resmi Kabupaten Ponorogo. Peran pemerintah dalam pergeseran itu cukup signifikan, dengan berbagai instruksi bupati, wajah reog sedikit demi sedikit beribah menjadi lebih teratur dan seragam.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><strong>Pergeseran nilai makna gemblak</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Bicara tentang Reog tidak bisa lepas dari istilah penari jathil, yaitu sejenis tarian yang menjadi bagian dari reog. Pada awalnya kata jathil di masyarakat diidentikkan dengan istilah gemblak. Kenapa demikian? Karena gemblak berasal dari jathil. Istilah gemblak terjadi pada zaman Demang Suryangalam. Selain menjadi demang ia juga mendirikan sebuah perguruan, para siswanya diberi ilmu kesaktian dan kebal terhadap semua senjata, merekalah yang disebut warok. Untuk menjadi warok harus menjalankan laku, syaratnya seorang warok harus bisa mengekang hawa nafsu, menahan lapar dan haus serta tidak bersentuhan dengan perempuan. Jika para calon warok ini tidak bisa mengekang hawa nafsu untuk berhubungan seksual dengan perempuan, maka lunturlah semua ilmu yang dimilikinya. Akibatnya para warok mengambil anak asuh yang disebut gemblak. Dahulu warok dikenal mempunyai banyak gemblak, yaitu anak lelaki belasan tahun usia 12-15 berparas tampan dan terawatyang dipelihara sebagai kelangenan, yang kadang lebih disayang ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang mengakar pada komunitas reog. Bagi seorang warok hal tersebut wajar dan diterima masyarakat.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Dijaman moderen ini makna gemblak sudah mulai bergeser kearah yang positif. Gemblak saat ini sudah sulit ditemui, tradisi memelihara gemblak saat ini mulai luntur. Gemblak yang dulunya biasa berperan sebagai penari jathil, kini perannya digantikan oleh remaja putrid. Pergeseran nilai gemblak membuat tari jathil semakin berkembang</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><strong>Alur cerita</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Pada awalnya reog tidak mempunyai alur cerita dan bentuk keseniannya menyerupai arak-arakkan, yang berhenti disetiap perempatan jalan sebagai panggungnya. Tidak ada urut-urutan cerita. Reog pada saat itu hanya untuk hobi belaka dan jauh dari komersial. Namun seiring perkembangan jaman, Reog sudah banyak mendapat sentuhan-sentuhan dari seniman-seniman reog lulusan dari sekolah seni. Mereka memberikan gerakan-gerakan yang tertata koreografisnya dan adanya estetika panggung. Disitu ada alur cerita, ada urutan siapa yang tampil lebih dahulu. Urutan yang tampil pertama adalah warok, kemudian jathil, bujangganong, Kelana Sewandana kemudian dadak merak. Jadilah format reog festival seperti saat ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Lalu bagaimanakah nasib Reog masa depan?</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Ditengah-tengah budaya barat yang terus-terusan merasuk ke bangsa kita, sulit memang mempertahankan kesenian tradisional seperti Reog. Keberadaan reog di masa depan ditentukan generasi muda itu sendiri, bagaimana mereka mau menghargai dan sampai kapan terus melestarikannya di tengah berbagai pengaruh modernitas yang deras menyerbu. Namun pemuda lebih tertarik akan perkembangan budaya dari luar daripada harus melestarikan budaya tradisional adiluhung ini. Kalau hal ini terus dibiarkan, tidak menuntut kemungkinan kejadian pengklaiman Reog sebagai budaya milik negara lain akan terjadi lagi. Atau bahkan reog akan hilang dari bumi tempat asalnya dan tinggal namanya saja.  Semua pihak harus berperan mendorong generasi penerus untuk lebih “cinta” terhadap budaya tradisional. Mulai kecil harus ditanamkan sikap untuk terus melestarikan budaya warisan leluhur ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><em>dikutip dari berbagai sumber<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Reog Ponorogo]]></title>
<link>http://sudhew.wordpress.com/2008/07/28/reog-ponorogo/</link>
<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 05:02:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>sudhew</dc:creator>
<guid>http://sudhew.wordpress.com/2008/07/28/reog-ponorogo/</guid>
<description><![CDATA[Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Reog Ponorogo Hanya Milik Indonesia!!!]]></title>
<link>http://ctoonz.wordpress.com/2008/06/13/reog-ponorogo-hanya-milik-indonesia/</link>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 06:54:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>ctoonz</dc:creator>
<guid>http://ctoonz.wordpress.com/2008/06/13/reog-ponorogo-hanya-milik-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Reog Ponorogo adalah kebudayaan dari daerah Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Ada juga Reog Sunda yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img style="vertical-align:top;" src="http://www.flickr.com/photos/harisj/2253360625/" alt="Reog Ponorogo" width="320" height="240" />Reog Ponorogo adalah kebudayaan dari daerah Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Ada juga Reog Sunda yang berasal dari Jawa Barat. Kedua kesenian ini HANYA ADA DI INDONESIA dan TIDAK ADA di negara lain. Reog Ponorogo terkenal dengan tarian dari penari yang menggunakan topeng harimau dan hiasan bulu merak. Reog Ponorogo sangat indah dilihat dan sangat menghibur dengan alunan gendang.</p>
<p>Malaysia pernah mengakui bahwa Reog Ponorogo adalah kesenian asli dari Malaysia, padahal sebenarnya itu SALAH BESAR!! Reog Ponorogo adalah kesenian asli dari Indonesia dan BUKAN dari negara lain. Dengan alasan bahwa Indonesia dan Malaysia adalah negara tetangga, mereka ingin menjadikan Reog Ponorogo menjadi kesenian mereka.</p>
<p>Ternyata bukan hanya Reog Ponorogo saja yang pernah dikopi Malaysia. Alat musik Angklung dan Kolintang juga pernah dikopi oleh Malaysia, mereka mengklaim bahwa alat-alat musik tersebut adalah alat musik asli dari Malaysia, padahal itu adalah SALAH BESAR!! Rupanya Malaysia memang senang sekali mencari masalah dengan Indonesia, sudah sepantasnya Indonesia mengajukan hak cipta atas semuuuuuuuuuua kebudayaan dan kesenian ASLI dari Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Malaysia: to Blame? I Don't Think So]]></title>
<link>http://inficio.wordpress.com/2008/01/05/malaysia-to-blame-i-dont-think-so/</link>
<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 03:13:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>Infinite Inficio</dc:creator>
<guid>http://inficio.wordpress.com/2008/01/05/malaysia-to-blame-i-dont-think-so/</guid>
<description><![CDATA[What is up with me and these long titles? Well, nevermind. I&#8217;ve noticed that plenty of Indones]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>What is up with me and these long titles? Well, nevermind.</p>
<p>I&#8217;ve noticed that plenty of Indonesian people around me, whether it be in real life, or forums, have been quite &#8220;hostile&#8221; towards Malaysia. Not in the sense that they&#8217;re aiming machine gun shots at Malaysians, obviously, but by frequently referring to them as &#8220;thieves&#8221;.</p>
<p>Now, because I am usually clueless about the ongoings of my own country (I&#8217;m not proud of this), I just knew about it since a few weeks ago (see? not that late). I think it stemmed from the incidence in which Malaysia &#8220;stole&#8221; the dance Reog Ponorogo, though the <a href="http://www.kompas.com/ver1/Dikbud/0711/29/105558.htm">Malaysian ambassador admitted, &#8220;<i>Reog Ponorogo milik Indonesia</i>!&#8221;</a> (it belongs to Indonesia!), to quote him. There&#8217;s the case about this song, too, but since I don&#8217;t know about that, I won&#8217;t go saying things about it in case I am immensely wrong about it.</p>
<p>Firstly, this is all my could-be-quite-subjective opinion on it, so please don&#8217;t whine in an annoying manner. It&#8217;s up to you to define what would be annoying, but I don&#8217;t think there&#8217;s many of those kind of people reading my blog (if any). I am not an expert on culture, or whatever other &#8220;thieveries&#8221; Malaysia has committed, so also feel free to correct me where I&#8217;m wrong. I&#8217;m just going by what I know.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Now,  didn&#8217;t Malaysia use to be  something like a part of Indonesia? Besides, we&#8217;ve been beside each other since, like, forever (ha)  that our cultures ought to be  similar.  They also never claimed that Reog Ponorogo belonged to them (well, even if they did, the ambassador changed that), they just said that it&#8217;s available as a tourist attraction. Things such as culture aren&#8217;t patented/copyrighted, so we have no rights to stop them from carrying out the dance.</p>
<p>They could also end up developing it as something that&#8217;ll be completely different from the original Reog Ponorogo. Just like manga that stemmed off American cartoons with strange proportions that now has the ability to overtake it in popularity, if it hasn&#8217;t already.</p>
<p>Sorry, it just had to lead to manga. Change of topic time.</p>
<p>I&#8217;ve heard something about the &#8220;thievery&#8221; of batik, too, but once more, it&#8217;s not patented, so there&#8217;s no such thing as thievery of batik. But were Malaysia to <i>patent </i>batik, then I would strongly disagree. No one, Indonesia, nor Malaysia, in fact, any other country, should patent such a thing. Culture is to be shared by everyone. If I&#8217;m not wrong, such textile-dyeing technique has been performed since a <i>millennium</i> ago, most likely in Ancient Egypt, aka the source of everything. It can also be found in some African/Asian countries. Do you see them claiming it? So Indonesians, if you don&#8217;t want Malaysians to claim things as theirs (if they do), you shouldn&#8217;t either.</p>
<p>Batik isn&#8217;t exclusively Indonesia&#8217;s. Did Siberia or Nigeria or Cameroon or whatever get mad at Indonesia for being the one most famous for it? Sheesh.</p>
<p>So for those still whining over it: <b>PLZ CRY MOAR </b></p>
<p>Note the fact that however, I am glad that this caused people to start realizing just how precious our diverse cultures are. Unity in Diversity!</p>
<p>Another note is that by insulting Malaysia, you are being fucking hypocrites in a way. Indonesia has made countless carbon copies of popular TV shows from other countries, which are, in fact, <i>copyrighted</i>. Yes, I know that you&#8217;re probably aware of this, and you know that it&#8217;s definitely stealing by the international definition, and that you probably don&#8217;t consider yourself as a part of these people. But just letting you know. =)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyoal IHateIndon.blogspot.com]]></title>
<link>http://purna.wordpress.com/2007/12/07/menyoal-ihateindonblogspotcom/</link>
<pubDate>Fri, 07 Dec 2007 06:20:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>purna</dc:creator>
<guid>http://purna.wordpress.com/2007/12/07/menyoal-ihateindonblogspotcom/</guid>
<description><![CDATA[Baru saja saya membuat tulisan Should I Hate You Malaysia?, sekarang malah booming tulisan-tulisan y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Baru saja saya membuat tulisan Should I Hate You Malaysia?, sekarang malah booming tulisan-tulisan y]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Barongan Malaysia Bukan Reog Ponorogo]]></title>
<link>http://rusdimathari.wordpress.com/2007/11/25/barongan-malaysia-bukan-reog-ponorogo/</link>
<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 05:04:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>rusdi mathari</dc:creator>
<guid>http://rusdimathari.wordpress.com/2007/11/25/barongan-malaysia-bukan-reog-ponorogo/</guid>
<description><![CDATA[Meskipun temanya mirip, tari Barongan dari Malaysia tidak sama dengan Reog. Filosofi dan sejarah dua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3>Meskipun temanya mirip, tari Barongan dari Malaysia tidak sama dengan Reog. Filosofi dan sejarah dua tarian itu juga berbeda. Sengketa tentang kesenian Indonesia yang katanya diklaim oleh Malaysia akhir-akhir ini sebenarnya cermin dari ketidakbecusan pemerintah Indonesia memelihara kesenian tradisional dan para senimannya.</h3>
<p><!--more--></p>
<h3>Oleh Rusdi Mathari</h3>
<h3>TAK cukup hanya mengklaim lagu <em>Rasa Sayange</em> Malaysia kembali diberitakan mengklaim kesenian Reog sebagai kesenian asli mereka. Meski persoalan sebernarnya belum dibuktikan secara empiris apakah kesenian itu benar-benar Reog dari Ponorogo atau bukan, publik Indonesia terlanjur patah arang dengan Malaysia. Negara tetangga itu dinilai “tak tahu malu”, “selalu mencari gara-gara” dan sebagainya.</h3>
<h3>Protes dan nada kemarahan dari publik Indonesia bertebaran di banyak media tanah air, terutama dari seniman Reog Ponorogo dan penduduk Jawa Timur. Bupati Ponorogo bahkan menyempatkan untuk mengadakan konferensi pers dan memprotes klaim tersebut. Anak-anak muda di Bandung memproduksi kaos oblong bertuliskan “Visit Malingasia” plesetan dari ikon tahun kunjungan wisata Malaysia “Visit Malaysia.” Tapi apa benar Malaysia telah mengklaim Reog?</h3>
<h3>Dalam situs resmi Kementerian Pariwisata Malaysia tercantum Barongan, sebagai salah satu kesenian tradisional Malaysia. Tarian itu menggambarkan kisah di zaman Nabi Sulaiman ketika binatang-binatang bisa bercakap. Konon, seekor harimau telah melihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Karena terlihat oleh harimau merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Seorang pamong bernama Garong yang mengiringi puteri raja yang sedang menunggang kuda kebetulan melewati kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama dengan dua binatang tadi. Menurut situs tadi, tarian itu berkembang di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.</h3>
<h3>Jika benar apa yang ditulis oleh situs tersebut Barongan Malaysia tentu saja berbeda dengan Reog, baik dari latar belakang sejarah, tarian maupun filosofinya. Kesenian Reog adalah kisah kedigdayaan yang penuh aroma magis dan latar belakangnya sama sekali terbebas dari kisah-kisah keagamaan (Islam). Dari sejarahya, tarian ini sudah ada sejak abad ke 12 masehi di zaman Kerajaan Kadiri.</h3>
<h3>Dikisahkan di dalam <em>Asal Usul Reog Ponorogo</em> di situs <em>Wikipedia.org</em> telah terjadi pertempuran antara Raja Ponorogo dengan Singa Barong penjaga hutan Lodoyo. Pujangga Anom nama raja itu telah membangunkan dan membuat marah singa tersebut, karena mencuri 150 anak macan dari hutan Lodoyo. Anak-anak macan itu rencananya akan dia gunakan sebagai mas kawin pernikahannya dengan seorang puteri dari Raja Kadiri. Pertempuran antara Pujangga Anom dan singa penjaga hutan Lodoyo kemudian tak terelakkan. Kisah itu lalu menjadi legenda pada rakyat Ponorogo dan sekitarnya tentang keberanian dan ketabahan orang-orang Ponorogo dan diwujudkan dalam bentuk tarian Reog.</h3>
<h3>Dalam tarian Reog para penari bukan saja menampilkan gerakan-gerakan badan yang mempesona namun juga menyertakan suasana magis. Para penari dipercaya berada dalam keadaaan kesurupan meskipun yang sesungguhnya terjadi mereka mendahului tarian Reog dengan ritual puasa dan semedi. Adegan ketika seorang penari memanggul topeng besar berupa kepala singa yang di atasnya dihiasai dengan bulu merak adalah salah satu contoh kuatnya aroma magis tersebut.</h3>
<h3>Satu topeng singa bisa mencapai setengah kwintal (50 kilogram) bahkan lebih dan topeng itu hanya disanggah oleh penarinya dengan gigi-gigi: seutas bambu yang melintang di bagian dalam topeng digigit kuat-kuat. Sering pula dijumpai di atas topeng itu duduk seorang penari lain yang bergoyang-goyang. Teman saya, Canang Indriatmo dari Malang pernah ikut dalam rombongan tari Reog dan dia duduk di atas topeng singa yang disanggah oleh gigi-gigi seorang penari itu. Jika berat penari yang duduk di atas topeng singa itu berbobot 50 kilogram, maka penari yang menyangga topeng dengan gigi-giginya itu harus menahan berat sekitar 100 kilogram.</h3>
<h3>Dalam praktiknya, tarian Reog bisa dipentaskan untuk beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar nasional. Tarian ini biasanya terdiri dari dua atau tiga rangkaian tarian pembukaan. Tarian pertama dibawakan oleh 6-8 pria yang berpakaian serba hitam dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.</h3>
<h3>Tarian berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada Reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Meskipun dinamakan tari jaran kepang tarian ini berbeda dengan seni tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.</h3>
<h3>Di sebutkan oleh situs <em>Wikipidea.org</em> setelah tarian pembukaan selesai baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni Reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita tentang pendekar. Dengan kata lain, adegan dalam seni tari Reog tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan.</h3>
<h3>Barongan Malaysia tidak seperti itu dan itulah yang membedakan tarian itu dengan Reog dari Ponorogo. Mungkin tema tariannya agak mirip meskipun harus dikatakan antara keduanya terdapat perberbedaan yang jauh. Namun andai pun dianggap mirip, hal itu hanya terletak pada temanya yang mengusung tema singa atau macan. Tema semacam itu juga bisa dijumpai dalam tarian Sisingaan dari Kuningan Jawa Barat dan Barongsai tarian khas Cina. Dan jika dilihat dari filosofinya, Barongan Malaysia cenderung bernuansa keagaamaan (penyebaran Islam) sementara filosofi Reog adalah keberanian dan ketabahan.</h3>
<h3>Adapun soal lagu Rasa Sayange, klaim Indonesia sebagai pencipta lagu tersebut juga tidak kuat. Dalam pernyatannya Jero Wacik selaku Menteri Budaya dan Pariwisata menegaskan, Indonesia tidak memiliki bukti kuat yang menunjukkan lagu itu adalah karya warganya. Persoalan utamanya adalah pencipta lagu Rasa Sayange tertulis NN (<em>no name</em>) alias tidak diketahui penciptanya.</h3>
<h3>Kenyataan atas lagu Rasa Sayange yang tidak ditemukan penciptanya dan kemudian diklaim sebagai lagu milik Malaysia itu memang pahit bagi publik Indonesia. Lagu ini adalah lagu yang sering didendangkan oleh anak-anak muda di tanah air ketika mereka bersuka cita di bawah terang bulan pada musim panen, melakukan perjalanan pariwisata atau berkemah. Namun nasi telah menjadi bubur. Malaysia telah lebih dulu mendaftarkan lagu itu sebagai lagu negara mereka.</h3>
<h3>Dalam pernyataan yang dikutip harian <em>The Star</em>, Menteri Ke­budayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia, Rais Yatim mengatakan, Indonesia tidak bisa mengklaim sebagai pemilik lagu itu, karena la­gu itu merupakan lagu rakyat Malaysia. Rais juga meminta Indonesia untuk membuktikan lagu itu sebagai mi­lik­ny­a. “’Saya tidak mengerti. Saya sudah je­laskan kepada <em>Jakarta Post</em>, bahwa Rasa Sayange merupakan lagu rakyat untuk kepulauan nusantara (<em>Malay archipelago</em>). Jadi Indonesia tidak da­pat mengklaim bahwa itu lagu mereka,’’ ujar Rais seperti dikutip <em>Antara</em>.</h3>
<h3>Malaysia mungkin saja memang telah “mencuri” beberapa kesenian tradisional Indonesia. Namun yang semestinya harus disikapi adalah tindakan pemerintah Republik Indonesia. Sejak zaman Sukarno hingga SBY, pemerintah dan parlemen cenderung tidak pernah becus memberi perhatian dan mengurus kesenian-kesenian tradisional Indonesia misalnya dengan mendaftarkannya sebagai hak kekayaan intelektual. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mempertahankan kekuasaan politik, menumpuk kekayaan, melakukan korupsi, dan sebagainya. Sementara urusan kesenian dan juga nasib para seniman tradisional dibiarkan terlunta-lunta.</h3>
<h3>Suatu saat nanti, jangan terkejut jika Malaysia kemudian juga mendaftarkan permainan tradisional seperti Congkak, Ketinting dan sebagainya sebagai permainan tradisional mereka. Di situs Kementerian Pariwisata Malaysia nama-nama permainan tradisional itu sudah terpampang sebagai kesenian tradisional mereka. Jadi masihkah kita akan terus menyalahkan Malaysia, setelah dulu Indonesia juga tidak punya bukti atas klaim kepulauan Sipidan Ligitan?</h3>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MALAYSIA BERULAH LAGI]]></title>
<link>http://ma6ma.wordpress.com/2007/11/24/malaysia-berulah-lagi/</link>
<pubDate>Sat, 24 Nov 2007 05:36:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>mahma mahendra</dc:creator>
<guid>http://ma6ma.wordpress.com/2007/11/24/malaysia-berulah-lagi/</guid>
<description><![CDATA[setelah berulang kali menyiksa para TKW kita, setelah menyiksa wasit karate kita, setelah mengambil]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>setelah berulang kali menyiksa para TKW kita, setelah menyiksa wasit karate kita, setelah mengambil sipadan dan ligitan, setelah mengklaim angklung sebagai kesenian malingsia, setelah mengklaim wayang kulit sebagai budaya mereka, setelah mengklaim batik sebagai budaya mereka, setelah mengklaim lagu rasa sayange. sekarang malingsia berulah lagi, dalam <a href="http://www.heritage.gov.my/kekkwa/viewbudaya.php?id=469" target="_blank">situs kementrian malingsia</a> mereka mempromosikan kesenian yang menurut mereka bernama barongan, yang menggambarkan kisah nabi sulaiman yang bercakap2 dengan hewan. tapi yang terlihat adalah bentuk dari reog itu adalah mirip atau malah bisa dibilang sama.<br />
<!--morepenasaran…?--><br />
<a href="http://ma6ma.files.wordpress.com/2007/11/barongan2.jpg" title="barongan2.jpg"><img src="http://ma6ma.files.wordpress.com/2007/11/barongan2.jpg" alt="barongan2.jpg" /></a></p>
<p>sementara itu di ponorogo sekarang sedang ramai menentang klaim itu. kepala dinas seni budaya mengatakan klo dadak merak reog itu buatan indonesia, dibuat pengrajin ponorogo (hahahaha&#8230;. sukurin).dan juga bupati ponorogo saat ini sedang menyelidiki kasus klaim ini karena pemerintah daerah ponorogo sudah mematenkan reog ponorogo, sehingga klo malingsia mau klaim mereka akan menempuh jalur hukum.</p>
<p>sebenarnya apa sih yang dipikirin sama pemerintah malingsia itu? mungkin mereka memang gak punya budaya untuk dilestarikan, sampe2 harus main klaim budaya orang lain.</p>
<p>ayolah, katanya anda adalah negara muslim tapi kok  gak jujur sih&#8230; .apa susahnya bilang klo reog itu milik indonesia.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Reog Ponorogo moved to Malaysia?]]></title>
<link>http://mybusybrain.wordpress.com/2007/11/23/reog-ponorogo-moved-to-malaysia/</link>
<pubDate>Fri, 23 Nov 2007 00:37:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>MBB</dc:creator>
<guid>http://mybusybrain.wordpress.com/2007/11/23/reog-ponorogo-moved-to-malaysia/</guid>
<description><![CDATA[After the Rasa Sayange claimed by our beloved neighbour Malaysia, now it is the local East Java danc]]></description>
<content:encoded><![CDATA[After the Rasa Sayange claimed by our beloved neighbour Malaysia, now it is the local East Java danc]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Malaysia Klaim Reog Ponorogo]]></title>
<link>http://dendemang.wordpress.com/2007/11/22/malaysia-klaim-reog-ponorogo/</link>
<pubDate>Wed, 21 Nov 2007 19:15:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Wibisono Sastrodiwiryo</dc:creator>
<guid>http://dendemang.wordpress.com/2007/11/22/malaysia-klaim-reog-ponorogo/</guid>
<description><![CDATA[Setelah gagal mengklaim lagu Rasa Sayange, Malaysia mencoba mengklaim kesenian yang lain. Adalah kes]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" vspace="10" align="left" width="160" src="http://farm3.static.flickr.com/2168/2052507729_f40d9149e8_m.jpg" hspace="10" alt="Ada tulisan Malaysia diatas Reog" height="240" />Setelah gagal mengklaim lagu Rasa Sayange, Malaysia mencoba mengklaim kesenian yang lain. Adalah kesenian rakyat Jawa Timur: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Reog">Reog Ponorogo</a> yang diklaim Malaysia sebagai kesenian mereka.</p>
<p>Kalau kesenian <a href="http://dendemang.wordpress.com/2007/10/05/malaysia-klaim-wayang-kulit/">Wayang Kulit yang mereka klaim</a> tidak diubah namanya maka Reog mungkin karena ada embel embel nama daerah Ponorogo maka namanya diubah menjadi Tarian Barongan. Padahal wujud Reog itu bukan naga seperti Barongsai tapi wujud harimau dan burung merak.</p>
<p>Malaysia bingung mencari nama baru sehingga dapat yang mudah saja, <a href="http://www.heritage.gov.my/kekkwa/viewbudaya.php?id=469">Tarian Barongan</a>. Bukan itu saja, kisah dibalik tarian itupun diubah. Mirip seperti mereka mengubah lirik lagu Rasa Sayange. Kalau saja mereka menyertakan informasi dari mana asal tarian tersebut maka tidak akan ada yang protes.</p>
<p><img border="0" vspace="10" align="right" width="160" src="http://farm3.static.flickr.com/2072/2052507735_d745e24ee3_m.jpg" hspace="10" alt="Kuda Kepang, aslinya Kuda Lumping" height="240" />Padahal apa susahnya mencantumkan nama asli dan bangsa pemiliknya. Seperti yang mereka lakukan pada kesenian Kuda Kepang yang kalau di Indonesia lebih dikenal dengan nama Kuda Lumping. <a target="_blank" href="http://www.heritage.gov.my/kekkwa/viewbudaya.php?id=478">Malaysia mencantumkan nama asal kesenian Kuda Kepang dari Jawa</a>. Kenapa tidak dilakukan pada kesenian yang lain seperti Reog Ponorogo, Wayang Kulit, Batik, Angklung, Rendang dll.</p>
<p>Kalau saja mereka lakukan itu maka konflik kedua negara bisa dihindari. Melihat kasus <a href="http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&#38;id=46461">lagu Rasa Sayange yang akhirnya mereka akui sebagai lagu asal Indonesia</a> maka sebaiknya Malaysia segera mengkonfirmasi semua kesenian asal Indonesia yang mereka kira asli milik mereka. Supaya rakyat kedua negara tidak bersitegang seperti sekarang.</p>
<p>Ayolah Malaysia, daripada harus seperti lagu Rasa Sayange dulu, capek kan&#8230;</p>
<blockquote><p>Sembari menunggu reaksi Malaysia atas protes mari kita ambil kesempatan ini untuk memperdalam pengetahuan kita tentang Reog Ponorogo dalam tulisan terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Reog">http://id.wikipedia.org/wiki/Reog</a></li>
<li><a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/15/tanahair/1266679.htm">http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/15/tanahair/1266679.htm</a></li>
<li><a href="http://www.joglosemar.co.id/peoplecult/reog/index.html">http://www.joglosemar.co.id/peoplecult/reog/index.html</a></li>
<li><a href="http://www.indosiar.com/v2/culture/culture_read.htm?id=5664">http://www.indosiar.com/v2/culture/culture_read.htm?id=5664</a></li>
</ul>
</blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[REOG  INSPIRASI  PERBAIKAN HKI INDONESIA]]></title>
<link>http://arifmalik.wordpress.com/2007/11/21/reok-inspirasi-perbaikan-haki-indonesia/</link>
<pubDate>Wed, 21 Nov 2007 11:16:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Cak Arif</dc:creator>
<guid>http://arifmalik.wordpress.com/2007/11/21/reok-inspirasi-perbaikan-haki-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Melihat pemberitaan tentang sepak terjang tetangga kita, saya melihat begitulah liberalisasi akan be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Melihat pemberitaan tentang sepak terjang tetangga kita, saya melihat begitulah liberalisasi akan be]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
