<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>resapan-air &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/resapan-air/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "resapan-air"</description>
	<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 06:48:42 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Buku LRB]]></title>
<link>http://lrbiopori.wordpress.com/2009/11/16/buku-lrb/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 11:42:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iksa</dc:creator>
<guid>http://lrbiopori.wordpress.com/2009/11/16/buku-lrb/</guid>
<description><![CDATA[Sudah ada bukunya lho&#8230; Forwarded message From: Kamir Brata &lt;kamirbrata&gt; Sudah lama rasan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sudah ada bukunya lho&#8230;</p>
<p>Forwarded message<br />
From: <strong>Kamir Brata</strong> &#60;kamirbrata&#62;</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">Sudah lama rasanya saya umumkan di milis ini bahwa buku sederhana Lubang Resapan Biopori sudah diterbitkan oleh Penebar Swadaya dan tersedia di Toko Buku Gramedia.
<p>&#160;</p>
<p>Saya mengharapkan adanya komentar dari linkers ini. Pak jangan mimpilah, dengan hanya membaca buku kepedulian lingkungan akan tergerak, apalagi yang memang merasa tidak punya waktu disertai perasaan tidak tertarik untuk membacanya.</p>
<p>Kalau ada keluhan jalan rusak misalnya pedulikah kita untuk berbuat mengurangi penyebabnya? Se-olah2 hanya kesalahan PU yg mungkin biasa memakan aspal, dan menunda perbaikan sampai nunggu rusak berat supaya jadi proyek perbaikan yang mahal.</p>
<p>Waktu jalan dibuat, kelembaban tanah di bawah jalan konstruksi jalan turut andil memberikan dukungan. Ketika tidak ada upaya pemeliharaan kelembaban tanah di sekitar jalan. Kira2 lama kelamaan tanah dibawahnya menjadi kering, retaklah tanah pendukungnya, masuklah air terkumpul dalam retakan, lunaklah bagian itu, ambleslah konstruksi di sekitar itu, lepaslah ikatan aspal krn genangan air disitu dst dst. Apalagi air dari sekitarnya malah lari dibuang ke jalan. Fenomena ketidak pedulian peresapan air hujan ini yang mudah diamati di Perumahan Elit di mana kaplingnya sengaja ditinggikan supaya tidak kebanjiran tapi jalan dan saluran boleh diluapi buangan air pemilik kaplingnya. Piye terusnya kalau hanya menyalahkan orang lain. Nah tentu yang paling mudah yang menggerakkan qolbunya masing2 untuk berbuat masing2, kemudian mengajak tetangganya masing2 untuk tidak membuang air hujan dan sampah organiknya.</p>
<p>We lah, lagi2 lagi2 pesannya begitu begitu begitu terus2. Mengko dikirae maksake LRB, monggo karo cara liyane.</p>
<p><em><strong>Kamir R.Brata</strong></em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Biopori di UNS]]></title>
<link>http://lrbiopori.wordpress.com/2009/10/15/biopori-di-uns/</link>
<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 18:07:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iksa</dc:creator>
<guid>http://lrbiopori.wordpress.com/2009/10/15/biopori-di-uns/</guid>
<description><![CDATA[Forwarded message From: Kamir Brata LUBANG RESAPAN BIOPORI PENGABDIAN PRODI ILMU TANAH August 13, 20]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Forwarded message<br />
From: <strong>Kamir Brata</strong></p>
<table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="470">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<h1>LUBANG RESAPAN BIOPORI PENGABDIAN PRODI ILMU TANAH</h1>
<p>August 13, 2009 in <a href="http://kontak.staff.uns.ac.id/category/nomor-32xvi2009/" title="View all posts in Nomor: 32/XVI/2009">Nomor: 32/XVI/2009</a> by <a href="http://kontak.staff.uns.ac.id/author/kontak/" title="Articles by kontak">kontak</a> &#124; <a href="http://kontak.staff.uns.ac.id/2009/08/13/lubang-resapan-biopori-pengabdian-prodi-ilmu-tanah/#comments">No comments</a></p>
<p>Meningkatnya jumlah manusia menuntut konsekuensi terhadap pemenuhan berbagai kebutuhan hidup, diantaranya adalah pemukiman tempat tinggal. Hal itu akan meningkatkan luas penutupan lahan dan mengurangi luasan lahan peresapan air ke dalam tanah apalagi dengan semakin banyaknya permukaan tanah yang tertutup beton atau aspal. Kurangnya resapan air ke dalam tanah menyebabkan kurangnya cadangan air tanah (<em>ground water</em>) sehingga apabila musim kemarau tiba akan terjadi kekurangan air /kekeringan, begitu juga sebaliknya bila musim penghujan akan terjadi banjir karena sebagian besar air tidak bisa meresap ke dalam tanah melainkan akan mengalir sebagai aliran permukaan. Oleh karena itu perlu adanya Lubang Resapan Biopori (LRB). Lubang Resapan Biopori (LRB) adalah teknologi yang dapat membantu meningkatkan resapan air ke dalam tanah, yang berarti membantu fungsi drainase.<br />
Untuk itu tim pengabdian masyarakat Jurusan/ Prodi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNS yang dipimpin Ir. Sumani, M.Si pada akhir Juni 2009 yang lalu melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat di wilayah Pucangsawit, kecamatan Jebres, Surakarta dengan tema “Teknologi Lubang Resapan Biopori untuk Meningkatkan Resapan Air dan Pencegahan Banjir di Pucangsawit, Jebres, Surakarta”. Penyuluhan ini merupakan langkah awal karena pengabdian ini akan dilanjutkan dengan kegiatan berikutnya yaitu dengan pembuatan percontohan lubang resapan biopori.<br />
(<em><strong>Humas Fak. Pertanian</strong></em>). <a href="http://kontak.staff.uns.ac.id/2009/08/13/lubang-resapan-biopori-pengabdian-prodi-ilmu-tanah/">http://kontak.staff.uns.ac.id/2009/08/13/lubang-resapan-biopori-pengabdian-prodi-ilmu-tanah/</a></p>
<p><em><strong>Kamir R.Brata<br />
</strong></em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>__._,_</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GAMBUT, PENYANGGA BANJIR BANJARMASIN]]></title>
<link>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2008/12/16/gambut-penyangga-banjir-banjarmasin/</link>
<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 12:03:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>HE. Benyamine</dc:creator>
<guid>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2008/12/16/gambut-penyangga-banjir-banjarmasin/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: HE. Benyamine Perkembangan Kecamatan Gambut begitu pesat. Bangunan baru mulai memadati sepanja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: HE. Benyamine Perkembangan Kecamatan Gambut begitu pesat. Bangunan baru mulai memadati sepanja]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Masih dari Belanda: Budaya Bersepeda, Resapan Air dan Kanal]]></title>
<link>http://sudewi2000.wordpress.com/2008/11/17/masih-dari-belanda-budaya-bersepeda-resapan-air-dan-kanal/</link>
<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 14:13:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
<guid>http://sudewi2000.wordpress.com/2008/11/17/masih-dari-belanda-budaya-bersepeda-resapan-air-dan-kanal/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis 9 Juni 2008 Ada beberapa pelajaran yang kutemui di Belanda. Pertama, sikap dan gaya hidup ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ditulis 9 Juni 2008</p>
<p>Ada beberapa pelajaran yang kutemui di Belanda. Pertama, sikap dan gaya hidup yang menunjukkan ramah lingkungan. Transportasi umum bersih dan ramah, tidak mengeluarkan asap polusi. Sarana yang mudah dijangkau dan menyenangkan membuat banyak orang memilih untuk naik trem atau kereta api (train) untuk bepergian jarak jauh. <a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/11/p1110620.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-638" title="Swary Utami Dewi)" src="http://sudewi2000.wordpress.com/files/2008/11/p1110620.jpg?w=300" alt="Swary Utami Dewi)" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Untuk jarak dekat, sepeda menjadi “keharusan” bagi semua orang yang tinggal di Belanda. Mungkin di Belanda lebih banyak jumlah sepeda daripada penduduknya, komentar seorang teman yang sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Belanda, menikah dan beranak pinak di sana. Jangan heran di sana menjadi pemandangan lazim jika lelaki atau perempuan bergaya eksekutif atau mengenakan baju mode paling mutakhir nampak begitu nyaman mengayuh sepeda, yang rata-rata menyerupai sepeda onthel di Indonesia. Jadi, biarpun Belanda berpenduduk sangat padat, polusi bukanlah sesuatu yang lazim ditemui layaknya Jakarta.</p>
<p><!--more--></p>
<div id="attachment_639" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/11/p1110618.jpg"><img class="size-medium wp-image-639" title="image" src="http://sudewi2000.wordpress.com/files/2008/11/p1110618.jpg?w=300" alt="Swary Utami Dewi)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Budaya Bersepeda di Belanda (Foto: Swary Utami Dewi)</p></div>
<p>Hal kedua yang patut ditiru adalah penjagaan resapan air. Utamanya jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda, bahan penutup jalan adalah sejenis batu yang dibentuk persegi empat, jajaran genjang atau bentuk lainnya. Yang unik, ketika disusun untuk membentuk trotoar misalnya, sengaja dibiarkan ada celah selebar beberapa mili atau sentimeter. Tujuannya tidak lain agar air hujan bisa meresap di antara celah-celah dan merembes ke tanah. Beberapa kali juga aku menemukan rumput-rumput kecil menyeruak bebas di antara celah mungil tadi. Pelajarannya, alam memang bisa diubah, tapi peruntukkannya bisa tetap dijaga.</p>
<p>Hal lain yang kusukai adalah keberadaan kanal yang banyak ditemui di Belanda. Di kanal tersebut, air mengalir bebas. Jarang sekali aku melihat sampah ditemui di kanal. Jikapun ada, paling hanya reruntuhan daun atau ranting yang jatuh dari pepohonan yang tumbuh subur di sepanjang kanal. Mungkin ini yang harus ditiru kota-kota di Indonesia yang dilewati sungai. Sistem kanal yang dibuat cukup lebar, membuat air, termasuk air hujan, bisa tertampung dan mengalir dengan baik. Budaya tidak membuang sampah di kanal juga menjadikan kanal tidak tersumbat. Mmh, beda dengan Jakarta dan Banjarmasin, keluhku, di mana sungai-sungai berukuran kecil atau sedang kerap tersumbat di sana sini dan kemudian menimbulkan bau tidak sedap. Akibatnya, ada hujan sedikit saja seperti di Jakarta, bisa dipastikan luapan air akan terjadi.</p>
<div id="attachment_640" class="wp-caption alignright" style="width: 430px"><a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/11/p1120762.jpg"><img class="size-full wp-image-640" title="image" src="http://sudewi2000.wordpress.com/files/2008/11/p1120762.jpg" alt="Swary Utami Dewi)" width="420" height="315" /></a><p class="wp-caption-text">Salah Satu Kanal di Pusat Den Haag, Menjadi Hiasan Kota (Foto: Swary Utami Dewi)</p></div>
<p>Selain itu, kanal yang terjaga dengan baik, kadang dilengkapi dengan bangku di bawah pepohonan yang tumbuh di pinggirnya, menjadikan kanal-kanal di Belanda sebagai tempat nyaman untuk duduk sekedar melepas lelah. Tenang sambil mengawasi riak air dan itik berenang. Begitulah yang kualami ketika aku menyempatkan diri duduk di pinggir kanal tepat di seberang ISS.</p>
<p>Beberapa hal tadi: budaya bersepeda, menjaga resapan air dan kanal yang tertata rapi kiranya dapat dijadikan bahan renungan bagi negeri kita. Tidak ada salahnya kan jika kita belajar yang baik dari negeri seberang?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[info: Jakarta akan tenggelam 6 Desember 2025]]></title>
<link>http://enorockz.wordpress.com/2008/04/21/info-jakarta-akan-tenggelam-6-desember-2025/</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 08:29:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>enorockz</dc:creator>
<guid>http://enorockz.wordpress.com/2008/04/21/info-jakarta-akan-tenggelam-6-desember-2025/</guid>
<description><![CDATA[BERITA &#8211; hariansib.com &#8211; Akibat pembangunan kota yang tidak tertata rapi dan daerah resa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>BERITA &#8211; hariansib.com &#8211; Akibat pembangunan kota yang tidak tertata rapi dan daerah resapan air digunakan untuk pembangunan akan menyebabkan ibukota Indonesia akan tenggelam pada 6 Desember 2025. Tenggelamnya Jakarta pada tanggal tersebut berdasarkan siklus astronomikal 18.6 tahun. Pada saat itu, tinggi permukaan laut akan naik drastis sehingga bisa menenggelamkan kota berpenduduk 12 juta jiwa tersebut.</p>
<p>Walau perubahan iklim dituding penyebab naiknya permukaan laut, namun hasil penelitian menunjukkan permasalahan utama tenggelamnya Jakarta adalah karena pembangunan yang tidak terkendali. Alasan utamanya bukanlah perubahan iklim atau apa pun, jelas Jan Jaap Brinkman, teknisi yang bekerja di badan konsultan Belanda, Delft Hydraulics seperti dilansir harian Singapura The Strait Times, Rabu (16/4).</p>
<p>Komite Perubahan Iklim, badan yang berhubungan dengan pemerintahan-Inter memperkirakan tinggi permukaan laut pada tahun 2025 akan naik 5 cm. Namun Brinkman mengatakan ketinggian Jakarta akan berada 40-60 cm lebih rendah dibandingkan ketinggian sekarang. Wilayah yang terkena dampak jika Jakarta tenggelam adalah daerah-daerah yang dekat dengan Laut Jawa.</p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan tanpa perlindungan yang lebih baik, permukaan laut akan mencapai wilayah pemukiman penduduk tahun 2025. Dan tinggi permukaan laut akan mencapai puncaknya pada 6 Desember 2005, peringati Brinkman. Namun sebelumnya akan terjadi lebih sering banjir.</p>
<p>Achmad Lanti, pejabat pengawas air di ibukota mengatakan sekitar 40 persen sungai dan danau di Jakarta tidak saling terhubung. Untuk memperbaiki layanan, pemerintah DKI Jakarta tahun 1997 telah memprivatisasi suplai air. Namun dua operator asing gagal memenuhi janjinya mensuplai air untuk 75 persen warga pada tahun lalu.</p>
<p>Lebih lanjut, ia mengatakan sekitar setengah air yang disalurkan pipa air hilang karena dicuri atau kebocoran. Kadang-kadang mereka yang melakukan pencurian secara individual dan organisasi kejahatan yang saya sebut mafia air, jelasnya.</p>
<p>Ahli infrastruktur untuk Bank Dunia di Indonesia, Hongjoo Hahm, mengatakan sistem drainase yang dibangun semasa pemerintahan Belanda sudah tidak bisa lagi mencegah terjadinya banjir. Skala banjir dikatakan Belanda akan terjadi setiap 25 tahun sekali, namun kini setiap tahun banjir selalu melanda Jakarta, jelasnya seperti dikutip The Strait Times.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jakarta Tenggelam Tahun 2025]]></title>
<link>http://ketikataku.wordpress.com/2008/04/20/jakarta-tenggelam-tahun-2025/</link>
<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 14:05:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>ketikataku</dc:creator>
<guid>http://ketikataku.wordpress.com/2008/04/20/jakarta-tenggelam-tahun-2025/</guid>
<description><![CDATA[Akibat pembangunan kota yang tidak tertata rapi dan daerah resapan air digunakan untuk pembangunan a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://ketikataku.files.wordpress.com/2008/04/25banjir.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-98" src="http://ketikataku.wordpress.com/files/2008/04/25banjir.gif?w=128" alt="" width="128" height="85" /></a>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Akibat pembangunan kota yang tidak tertata rapi dan daerah resapan air digunakan untuk pembangunan akan menyebabkan ibukota Indonesia akan tenggelam pada 6 Desember 2025. Tenggelamnya Jakarta pada tanggal tersebut berdasarkan siklus astronomikal 18.6 tahun. Pada saat itu, tinggi permukaan laut akan naik drastis sehingga bisa menenggelamkan kota berpenduduk 12 juta jiwa tersebut.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Walau perubahan iklim dituding penyebab naiknya permukaan laut, namun hasil penelitian menunjukkan permasalahan utama tenggelamnya Jakarta adalah karena pembangunan yang tidak terkendali. “Alasan utamanya bukanlah perubahan iklim atau apa pun,” jelas Jan Jaap Brinkman, teknisi yang bekerja di badan konsultan Belanda, Delft Hydraulics seperti dilansir harian Singapura The Strait Times, Rabu (16/4).</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Komite Perubahan Iklim, badan yang berhubungan dengan pemerintahan-Inter memperkirakan tinggi permukaan laut pada tahun 2025 akan naik 5 cm. Namun Brinkman mengatakan ketinggian Jakarta akan berada 40-60 cm lebih rendah dibandingkan ketinggian sekarang. Wilayah yang terkena dampak jika Jakarta tenggelam adalah daerah-daerah yang dekat dengan Laut Jawa.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Hasil penelitian menunjukkan tanpa perlindungan yang lebih baik, permukaan laut akan mencapai wilayah pemukiman penduduk tahun 2025. Dan tinggi permukaan laut akan mencapai puncaknya pada 6 Desember 2005, peringati Brinkman. Namun sebelumnya akan terjadi lebih sering banjir.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Achmad Lanti, pejabat pengawas air di ibukota mengatakan sekitar 40 persen sungai dan danau di Jakarta tidak saling terhubung. Untuk memperbaiki layanan, pemerintah DKI Jakarta tahun 1997 telah memprivatisasi suplai air. Namun dua operator asing gagal memenuhi janjinya mensuplai air untuk 75 persen warga pada tahun lalu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Lebih lanjut, ia mengatakan sekitar setengah air yang disalurkan pipa air hilang karena dicuri atau kebocoran. “Kadang-kadang mereka yang melakukan pencurian secara individual dan organisasi kejahatan yang saya sebut mafia air,” jelasnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Ahli infrastruktur untuk Bank Dunia di Indonesia, Hongjoo Hahm, mengatakan sistem drainase yang dibangun semasa pemerintahan Belanda sudah tidak bisa lagi mencegah terjadinya banjir. “Skala banjir dikatakan Belanda akan terjadi setiap 25 tahun sekali, namun kini setiap tahun banjir selalu melanda Jakarta,” jelasnya seperti dikutip The Strait Times.(hn/TST)</span></p>
<p></span></p>
<p></span></p>
<p></span></p>
<p></span></p>
<p></span></p>
<p></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Biopori di halaman rumah]]></title>
<link>http://hasant.wordpress.com/2008/03/06/biopori-di-halaman-rumah/</link>
<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 08:15:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>san</dc:creator>
<guid>http://hasant.wordpress.com/2008/03/06/biopori-di-halaman-rumah/</guid>
<description><![CDATA[Akhirnya jadi juga saya mempunyai lubang resapan biopori (LRB), atau yang lebih dikenal dengan luban]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Akhirnya jadi juga saya mempunyai lubang resapan biopori (LRB), atau yang lebih dikenal dengan luban]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Air Tanah Sumur Artesis, Debitnya Tergantung Resapan Air]]></title>
<link>http://artesis.wordpress.com/2007/09/05/air-tanah-sumur-artesis-debitnya-tergantung-resapan-air/</link>
<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 03:39:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>cheriatna</dc:creator>
<guid>http://artesis.wordpress.com/2007/09/05/air-tanah-sumur-artesis-debitnya-tergantung-resapan-air/</guid>
<description><![CDATA[Air Tanah Sumur Artesis, Debitnya Tergantung Resapan Air Air merupakan bagian terbesar dari kehidupa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em><strong>Air Tanah Sumur Artesis, Debitnya Tergantung Resapan Air</strong></em></p>
<p>Air merupakan bagian terbesar dari kehidupan manusia. Setiap kegiatan yang dilakukan pada keseharian manusia tidak terlepas dari fungsi dan manfaat air, mulai untuk diminum, digunakan mandi dan mencuci, hingga sebagai bagian dari produksi industri. Karena itu, tak heran bila krisis air dianggap sebagai momok yang menakutkan.</p>
<p>Demikian pula yang terjadi di Bandung dan sekitarnya. Krisis air mulai membayangi hidup dari kota berpenduduk 2,6 juta jiwa ini. Pertumbuhan jumlah penduduk di Bandung yang lebih dari 2 persen per tahun menyebabkan pasokan air bersih yang tersedia tidak bisa mencukupi kebutuhan masyarakatnya yang terus bertambah. Akibatnya, pencarian sumber-sumber air alternatif seperti sumur artesis (air tanah dalam) pun jadi pilihan penduduk untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Hal ini pula yang dirasakan dan dilakukan penduduk di Kelurahan Cibeunying, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.</p>
<p>&#8220;Penduduk di daerah ini terus bertambah. Padahal, kelurahan ini ini termasuk daerah krisis air, apalagi kalau musim kemarau,&#8221; ujar Seda Supriyatna (47), salah seorang pengelola bak penampung air di daerah RW 10 RT 3 Awiligar, Kelurahan Cibeunying, Kabupaten Bandung.</p>
<p>Setiap tahun, kata Seda, ada saja jumlah penduduk yang pindah ke daerah Awilegar, baik orang kota yang kena gusur ataupun penduduk luar Bandung yang baru pindah. Bahkan, berkisar 80 persen warga di kelurahan ini adalah pendatang. Akibatnya, kebutuhan air bersih setiap tahun terus meningkat, tetapi debit air yang mampu dihasilkan sumur artesis di tempat itu cenderung berkurang tiap tahunnya. Oleh karena itu, Kepala Pengelola Air Bersih PT Tirta Ligar Budi Winarno mengatakan, perlu dicari sumber air baru yang bisa memenuhi kebutuhan penduduk di Kelurahan Cibeunying, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.</p>
<p>Punggung bukit</p>
<p>Sebenarnya, dilihat dari jarak, kelurahan itu bisa dibilang tidak jauh dari pusat Kota Bandung, hanya sekitar 10 kilometer ke arah timur laut, tepat di perbatasan Bandung dan Kabupaten Bandung. Namun, topografi dan hidrogeologi daerah itu yang terletak di punggung bukit mengakibatkan daerah itu sulit mendapatkan air. Terlebih lagi, letak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bandung sangat jauh dari kelurahan ini.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya di sini banyak sumur artesis yang dibuat penduduk dan airnya dijual kepada warga di sekitarnya. Sedikitnya ada tiga sumur, salah satunya dikelola Tirta Ligar. Pelanggan Tirta Ligar sendiri berjumlah 140 keluarga,&#8221; kata Budi.</p>
<p>Menurut Budi, kebutuhan air bersih warga di daerah Awiligar sekitar 0,86 m3 per hari, sedangkan yang mampu dipenuhi hanya sekitar 0,61 m3 per hari. Pasalnya, debit air di sumur artesis milik Tirta Ligar sedalam 150 meter itu makin berkurang. Saat pertama kali dibangun tahun 2003, debitnya 3 liter per detik, dan kini hanya 1 liter per detik. Akibatnya, pelanggan terpaksa bergiliran untuk mendapat aliran air.</p>
<p>Turunnya debit air di sumur itu, kata Budi, dikarenakan pembangunan yang kian marak di kawasan Bandung utara yang merupakan daerah resapan air tanah. &#8220;Selain itu, bangunan-bangunan (yang) dimiliki oleh masyarakat kalangan atas sebagian besar memiliki sumur bor (artesis) sendiri sehingga debit air yang mengalir ke bawah jadi berkurang dan sering macet,&#8221; ujar Budi.</p>
<p>Tirta Ligar yang dibangun dengan bantuan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung itu merupakan satu dari sekian banyak pengelola sumur artesis yang dibisniskan. Pengguna air bersih dari sumur artesis, kata Rison, Bendahara Tirta Ligar, ada yang berlangganan atau membeli eceran.</p>
<p>Setidaknya, jelas Rison, yang juga staf Kelurahan Cibeunying, hanya 10 persen warga Awiligar yang memanfaatkan air bersih dari PDAM Kota Bandung, 40 persen memanfaatkan sumur artesis, dan sisanya mengandalkan sumur pribadi atau sumber mata air di daerah tersebut. &#8220;Air PDAM tidak bisa naik ke daerah itu karena terlalu tinggi. Jika bisa, debitnya juga kecil,&#8221; Rison menambahkan.</p>
<p>Pelanggan rumahan setiap bulannya dikenakan biaya abonemen sebesar Rp 10.000. Sementara itu, tarif pemakaian bersifat progresif, yaitu pemakaian air 0-10 m3 dikenakan biaya Rp 2.000 per m3, 10-20 m3 tarifnya Rp 2.450 per m3, 20-30 m3 tarifnya Rp 2.900 per m3, sedangkan pemakaian di atas 30 m3 dikenakan tarif Rp 3.900 per m3.</p>
<p>Biaya awal pemasangan adalah Rp 1,5 juta untuk yang dicicil 5 kali, sedangkan pelanggan yang membayar tunai hanya dikenakan biaya Rp 1,25 juta. &#8220;Awalnya hanya ada 10 pelanggan, sekarang sudah sekitar 140 pelanggan. Rata-rata mereka membayar Rp 20.000-Rp 30.000 per bulannya,&#8221; tutur Rison.</p>
<p>Sebenarnya ada sumber mata air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dengan bebas, namun jaraknya cukup jauh, sekitar 300 meter dari permukiman penduduk dengan jalan yang curam untuk bisa mencapainya. &#8220;Jadi, orang sekarang lebih memilih beli air daripada jauh-jauh ambil air ke bawah dan waktunya lama. Belum lagi capai karena memanggul air dari bawah ke atas,&#8221; kata Seda. (Timbuktu HarThana)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
