<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>riya &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/riya/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "riya"</description>
	<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 21:17:21 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Showing Off (Riya) In Worship]]></title>
<link>http://theauthenticbase.wordpress.com/2009/12/02/showing-off-riya-in-worship/</link>
<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 19:58:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>عمر ابن مظهر</dc:creator>
<guid>http://theauthenticbase.wordpress.com/2009/12/02/showing-off-riya-in-worship/</guid>
<description><![CDATA[Showing Off (Riya) In Worship QUESTION: Is there any chance of getting blessings from an act ruined ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Showing Off (Riya) In Worship QUESTION: Is there any chance of getting blessings from an act ruined ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bila Status Facebook dijadikan ajang Pamer]]></title>
<link>http://aditya06.wordpress.com/2009/11/25/bila-status-facebook-dijadikan-ajang-pamer/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 00:29:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>aditya06</dc:creator>
<guid>http://aditya06.wordpress.com/2009/11/25/bila-status-facebook-dijadikan-ajang-pamer/</guid>
<description><![CDATA[عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong></strong></p>
<p align="right"><font size="3" face="Traditional Arabic"><strong>عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .</strong></font></p>
<p align="right"><strong><font face="Traditional Arabic"></font><font size="3">[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة</font>]</strong></p>
<p align="justify"><strong>Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob <em>rodhiyallohu ‘anhu</em>, dia berkata: Aku mendengar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : <em>“Sesungguhnya setiap&#160; perbuatan<sup> </sup>tergantung niatnya.&#160; Dan&#160; sesungguhnya&#160; setiap&#160; orang&#160; (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”</em></strong></p>
<p align="justify"><strong>(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://aditya06.files.wordpress.com/2009/11/facebook.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;margin-left:0;border-top:0;margin-right:0;border-right:0;" title="facebook" border="0" alt="facebook" align="left" src="http://aditya06.files.wordpress.com/2009/11/facebook_thumb.jpg?w=244&#038;h=94" width="244" height="94" /></a>Tak dapat disangkal lagi bahwa Facebook telah menjadi semacam candu dan kebutuhan sehari-hari bagi kebanyakan orang, tak terkecuali bagi para tholabul ilmi. Sebagian besar memang memanfaatkan Facebook untuk membangun pertemanan sekalipun justru efek negatif timbul didalamnya (seperti pacaran), namun bagi para tholabul ilmi, Facebook digunakan sebagai salah satu media untuk berdakwah, membangun ukhuwah dan berdagang. Perbedaan nampak jelas terlihat antara Facebook milik tholab dengan Facebook kebanyakan, terutama pada status dan notes. Tholab sering memanfaatkan notes untuk berbagi ilmu, adapun status digunakan untuk menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi. </p>
<p> <!--more-->
<p align="justify"><strong>Sisi Buruk.</strong></p>
<p align="justify">Namun, walaupun tidak digunakan untuk sesuatu hal negatif seperti pacaran, ekses negatif tetap saja muncul. Taruhlah sebagian sering update status untuk menuliskan aktivitas yang telah ia kerjakan. Jika ia telah menyelesaikan tugas kuliah, maka updatenya adalah “Tugas kuliah selesai”. Jika suatu pekerjaan terselesaikan, maka updatenya adalah “Pekerjaan terselesaikan”, dan bila ia telah menunaikan ibadah tertentu, maka tentu saja updatenya terkait dengan ibadah tersebut. </p>
<p align="justify">Berkaitan dengan hal tersebut, maka kita perlu memperhatikan hadits Nabi di atas bahwasannya ibadah itu tergantung pada niat dan semua akan berpulang pada niat tersebut. Disitu juga disinggung soal hijrah, dimana bila hijrah dilaksanakan demi mencari keridhaan Alloh maka ia akan mendapat pahala dalam hijrahnya. Tetapi bila hijrahnya bukan untuk itu melainkan untuk urusan dunia dan ingin menikah dengan seorang wanita, maka semua itulah yang akan menjadi ganjarannya. Ia sama sekali tidak mendapat pahala disisi Alloh. Hijrah disini hanyalah satu contoh, adapun substansinya berlaku untuk semua jenis ibadah, tak hanya hijrah. </p>
<p align="justify"><strong>Dakwah Berujung Riya.</strong></p>
<p align="justify">Memasang status Facebook semisal, “Alhamdulillah, sudah mengerjakan sholat Tahajjud” atau “Puasa senin-kamis” dan yang semisalnya bisa jadi akan menyeret si pembuat status tersebut kepada perkara riya bila ia memang berniat untuk mendapat pujian atas ibadahnya itu, baik berbentuk di “like” orang atau dikomentari. </p>
<p align="justify">Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:</p>
<blockquote><p align="justify"><em>“Sesungguhnya api neraka pertama kali dinyalakan dengan bahan bakar orang yang berilmu, orang yang berinfaq dan orang yang terbunuh dalam jihad, jika mereka melakukannya agar disanjung orang lain.”</em></p>
</blockquote>
<p align="justify">(HR. Muslim (<em>Al-Imarah</em>, 1905) dan At Tirmidzi (<em>Az Zuhd</em>, 2382)</p>
<p>Perbuatan riya merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh orang munafik, mereka ingin agar ibadahnya dipertontonkan orang banyak, sebagaimana dalam Firman Alloh:</p>
<p align="right"><font size="3" face="Traditional Arabic"><strong>إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا</strong></font></p>
<p align="justify"><em>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Alloh, dan Alloh akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Alloh kecuali sedikit sekali.”</em> (QS. An Nisaa’: 142).</p>
<p align="justify">Maka dari itu, hendaknya kita senantiasa waspada terhadap jeratan ini. Keberadaan Facebook memang memiliki nilai lebih untuk perkembangan dakwah ini, tetapi (sekalipun) bila situs jejaring sosial tersebut dimanfaatkan untuk dakwah hanya sekedar untuk menuliskan ritual ibadah yang telah dikerjakannya dengan maksud mendapat perhatian orang banyak, bisa berbentuk di “like” atau dikomentari, maka apalah bedanya hal tersebut dengan orang yang memanfaatkan Facebook untuk perbuatan sia-sia seperti pacaran. Sama-sama tidak bermanfaat bahkan bisa menyeret pelakunya ke dalam perbuatan dosa. </p>
<p align="justify">Pelajaran bagi kita yang memanfaatkan jejaring sosial ini untuk berdakwah, tetapi niatkanlah dakwah tersebut untuk mencari keridhaan ilahi. </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Riya']]></title>
<link>http://mytemporarykitchen.wordpress.com/2009/11/06/riya/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 00:52:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>mytemporarykitchen</dc:creator>
<guid>http://mytemporarykitchen.wordpress.com/2009/11/06/riya/</guid>
<description><![CDATA[pasti pernah denger khan kata riya’ di atas? ingin membahas sedikit mengenai hal riya’ ini. kebanyak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>pasti pernah denger khan kata riya’ di atas?</p>
<p>ingin membahas sedikit mengenai hal riya’ ini.</p>
<p>kebanyakan dari kita umat muslim pasti sudah tahu bahwa riya’ adalah sebuah sifat tercela. pingin tau gak sih sebenarnya, apa riya’ itu…?<!--more--></p>
<p>setau aku riya’ itu adalah melakukan sesuatu amal ibadah dengan tujuan agar terlihat orang orang lain – pamer ibadah lah yah, simpelnya… contoh gampangnya, kalo lagi sholat ndiri ngebut surebut sholatnyah, bacanya surat2 pendek, sementara kalo lagi ada yang ngeliat sholatnya, abis al-fatihah bacanya surat al-baqarah mpe abiezz…(lammaaaa maksodnyah, biar diliat orang sholatnya khusyuuu’)</p>
<p>atau kalo bersedekah pake diliatin ke orang dengan tujuan pamer : weitsss aku ni kaya lhooo&#8230;duitnya banyak … (ck ck ck&#8230;)</p>
<p>jadinya, ibadah yang niatnya seharusnya hanya untuk mencari ridho Allah SWT dikotori niatnya dengan keinginan pamer ibadah itu.</p>
<p>dan tahukah sahabat…riya’ itu ternyata merupakan syirik kecil! Dan kata ibu ustadzah yang biasa menjadi narasumber di pengajian ibu2 kompleks, dosa riya’ itu lebih besar daripada dosa membunuh! Astaghfirullahaladziim, astaghfirullahaladziim… istighfar berkali-kali sudah selayaknya kita ucapkan bila mendengar hal ini. bayangkan! lebih besar dari dosa membunuh!</p>
<p>riya’ selain yang melakukannya berdosa juga menghapuskan amal ibadahnya… sementara untuk orang membunuh, dosanya pada saat membunuh saja tapi tidak menghapus amal ibadahnya…apalagi dosa membunuh karna tidak sengaja atau membela diri juga dosanya akan berbeda dengan orang yang sengaja membunuh…dan riya’ ternyata dosanya lebih besar dari itu…</p>
<p>apa yang bisa kita lakukan, sementara batas antara riya’ dan tidak riya’ itu ternyata tipiiiis sekali.</p>
<p>mungkin kita harus mulai lebih ikhlas dalam beribadah ya…tiap kali beribadah, yang kita harap hanya hanya dan hanya keridhoan Allah SWT. lupakan pujian orang, lupakan semua hal di samping berharap ridho Allah. karena setan sepertinya tetap menggoda manusia even pada saat dia sedang berusaha untuk beribadah di jalan Allah…</p>
<p>aku juga sepertinya belum bisa menjalankan keikhlasan ibadah tersebut 100% ya… jujur dalam hati ini ngeri sekali kalau ternyata ada hal-hal riya’ yang tidak sengaja aku lakukan… sedih sekali apabila ibadah yang senantiasa kita usahakan untuk dilakukan ternyata amalnya tidak ada, malah mendatangkan dosa karna menjadi syirik kecil tersebut&#8230; semoga dengan memperbanyak istighfar dapat mengikis sedikit demi sedikit sifat buruk itu.</p>
<p>mungkin sahabat punya masukan lain tentang bahasan ini : mungkin definisi riya’ yang lebih jelas, atau contoh riya’ dalam kehidupan sehari2, atau ada solusi lain untuk menghilangkan sifat riya’ dalam diri kita…?? phlizzz share yaaa…</p>
<p>semoga Allah Ta&#8217;ala selalu memberikan rahmat dan ridho-Nya.</p>
<p>Allahualam bishowab.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perihal Perjuangan]]></title>
<link>http://lydecker86.wordpress.com/2009/11/01/perihal-perjuangan/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 02:33:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Raihan_Alot</dc:creator>
<guid>http://lydecker86.wordpress.com/2009/11/01/perihal-perjuangan/</guid>
<description><![CDATA[Bismillah.. [Jika anda mulakan pembacaan, sila tamatkan khususnya pada subtopik Perhitungan] Alunan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bismillah.. [Jika anda mulakan pembacaan, sila tamatkan khususnya pada subtopik Perhitungan] Alunan ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penyakit menurut Rasulullah SAW]]></title>
<link>http://wongkendal.wordpress.com/2009/10/28/penyakit-menurut-rasulullah-saw/</link>
<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 02:18:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Misro Tech</dc:creator>
<guid>http://wongkendal.wordpress.com/2009/10/28/penyakit-menurut-rasulullah-saw/</guid>
<description><![CDATA[Allah menciptakan bumi dan segala sisinya ini dengan berpasang-pasangan yakni diantaranya, ada siang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Allah menciptakan bumi dan segala sisinya ini dengan berpasang-pasangan yakni diantaranya, ada siang ada malam, ada kurus ada gemuk, ada tua ada muda, dan begitu juga dengan sehat dan sakit, karena setiap penyakit itu ada obatnya.</p>
<p>Seperti sabda Rasulullah SAW kepada menantunya Ali r. a, &#8220;Wahai Ali, setiap sesuatu itu pasti ada penyakitnya.<!--more--><br />
Penyakit bicara adalah bohong<br />
Penyakit ilmu adalah lupa<br />
Penyakit ibadah adalah riya&#8217;<br />
Penyakit akhlaq mulia adalah kagum pada diri sendiri<br />
Penyakit berani adalah menyerang<br />
Penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian<br />
Penyakit tampan adalah sombong<br />
Penyakit bangsawan adalah membanggakan diri<br />
Penyakit malu adalah lemah<br />
Penyakit mulia adalah menyombongkan diri<br />
Penyakit kaya adalah kikir<br />
Penyakit agama adalah nafsu yang diperurutkan&#8230;..<br />
Ketika berwasiat kepada Ali r.a Rasulullah SAW bersabda &#8221; Wahai Ali, orang yang riya&#8217; itu punya tiga ciri, yaitu: rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian, dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Wahai Ali, jika engkau dipuji orang maka berdo&#8217;alah, :Ya ALLAH jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakanya, ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi darinya dan janganlah kata-katanya mengakibatkan siksaan bagiku&#8230;&#8221;</p>
<p>Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas&#8217;ud r.a berkata, &#8221; Dengarkanlah bacaan Al-Qur&#8217;an atau daranglah ke majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan ALLAH SWT jika belum terobati juga, maka mintalah kepada ALLAH SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu&#8230;&#8221;</p>
<p>Begitulah sekiranya kutipan hadist dan amanah yang diberikan untuk Ali r.a menantu Rasulullah SAW, begitu juga dengan kita yang lemah ini tentunya lebih banyak penyakitnya lagi, untuk itu berhati-hatilah wahai saudaraku dimanapun kamu berada dan kemanapun kamu pergi. mungkin dengan membaca kalimat diatas kita sejenak sadar dan merenungkan tapi beberapa saat kemudian pasti kita lalai seperti halnya kita seperti biasanya lagi, tetap ada penyakit yang masih nempel dihati kita masing-masing.</p>
<p>Semoga menjadi pelajaran untuk kita semua, dan semoga bermanfaat. Amin&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Riya Dulmungin]]></title>
<link>http://ewot.wordpress.com/2009/10/24/riya-dulmungin/</link>
<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 05:48:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>ewot</dc:creator>
<guid>http://ewot.wordpress.com/2009/10/24/riya-dulmungin/</guid>
<description><![CDATA[Kita hidup saling berdekatan, jadi tujuan utama hidup ini adalah membantu orang lain, dan jika anda ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kita hidup saling berdekatan, jadi tujuan utama hidup ini adalah membantu orang lain, dan jika anda ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penyakit Riya, Bakhil dan Kikir]]></title>
<link>http://syiarislam.wordpress.com/2009/10/19/penyakit-riya-bakhil-dan-kikir/</link>
<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 03:38:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>nizaminz</dc:creator>
<guid>http://syiarislam.wordpress.com/2009/10/19/penyakit-riya-bakhil-dan-kikir/</guid>
<description><![CDATA[Riya Riya adalah berbuat kebaikan/ibadah dengan maksud pamer kepada manusia agar orang mengira dan m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong>Riya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Riya adalah berbuat kebaikan/ibadah dengan maksud pamer kepada manusia agar orang mengira dan memujinya sebagai orang yang baik atau gemar beribadah seperti shalat, puasa, sedekah, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ciri-ciri riya:</p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang riya berciri tiga, yakni apabila di hadapan orang dia giat tapi bila sendirian dia malas, dan selalu ingin mendapat pujian dalam segala urusan. Sedangkan orang munafik ada tiga tanda yakni apabila berbicara bohong, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. (HR. Ibnu Babawih).</p>
<p style="text-align:justify;"><img title="More..." src="http://media-islam.or.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang riya’, maka amal perbuatannya sia-sia belaka.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia” [QS. Al-Baqarah: 264]</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” [Al Maa’uun 4-6]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Riya membuat amal sia-sia sebagaimana syirik. (HR. Ar-Rabii&#8217;)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sesungguhnya riya adalah syirik yang kecil. (HR. Ahmad dan Al Hakim)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Imam Al Ghazali mengumpamakan orang yang riya itu sebagai orang yang malas ketika dia hanya berdua saja dengan rajanya. Namun ketika ada budak sang raja hadir, baru dia bekerja dan berbuat baik untuk mendapat pujian dari budak-budak tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Nah orang yang riya juga begitu. Ketika hanya berdua dengan Allah Sang Raja Segala Raja, dia malas dan enggan beribadah. Tapi ketika ada manusia yang tak lebih dari hamba/budak Allah, maka dia jadi rajin shalat, bersedekah, dan sebagainya untuk mendapat pujian para budak. Adakah hal itu tidak menggelikan?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Agar terhindar dari riya, kita harus meniatkan segala amal kita untuk Allah ta’ala (Lillahi ta’ala).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Bakhil atau Kikir</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Bakhil alias Kikir alias Pelit alias Medit adalah satu penyakit hati karena terlalu cinta pada harta sehingga tidak mau bersedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Ali ‘Imran 180]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Padahal segala harta kita termasuk diri kita adalah milik Allah. Saat kita lahir kita tidak punya apa-apa. Telanjang tanpa busana. Saat mati pun kita tidak membawa apa-apa kecuali beberapa helai kain yang segera membusuk bersama kita.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya harta yang kita simpan itu bukan harta kita yang sejati. Saat kita mati tidak akan ada gunanya bagi kita. Begitu pula dengan harta yang kita pakai untuk hidup bermegah-megahan seperti beli mobil dan rumah mewah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa” [Al Lail 8-11]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Yang justru jadi harta yang bermanfaat bagi kita di akhirat nanti adalah harta yang kita belanjakan di jalan Allah atau disedekahkan. Harta tersebut akan jadi pahala yang balasannya adalah istana surga yang luasnya seluas langit dan bumi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” [Al Hadiid 21]</p>
<p style="text-align:justify;">Insya Allah bersambung&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Baca juga:</p>
<h2><a href="http://media-islam.or.id/2009/10/08/penyakit-hati-sombong-iri-dan-dengki-dan-cara-mengobatinya/">Penyakit Hati Sombong, Iri, dan Dengki dan Cara Mengobatinya</a></h2>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Dangers of Ar-Riya ]]></title>
<link>http://trueword.wordpress.com/2009/10/18/the-dangers-of-ar-riya/</link>
<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 12:55:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>abdalmutakkabir</dc:creator>
<guid>http://trueword.wordpress.com/2009/10/18/the-dangers-of-ar-riya/</guid>
<description><![CDATA[Bismillah. عَنْ  مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ  أَنَّ رَسُولَ اللهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَا]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bismillah.</p>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;"><span style="font-size:24pt;font-family:&#34;font-weight:bold;" lang="AR-LB">عَنْ  مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ  أَنَّ رَسُولَ     اللهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ:  &#8220;<span style="color:#ff0000;">إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ     عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ</span>&#8220;</span></span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;"><span style="font-size:24pt;font-family:&#34;font-weight:bold;" lang="AR-LB"> قَالُوا: وَمَا     الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟</span></span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;"><span style="font-size:24pt;font-family:&#34;font-weight:bold;" lang="AR-LB"> قَالَ:  <span style="color:#cc0066;"><span style="color:#cc0066;"><span style="color:#000000;">&#8220;</span><span style="color:#ff0000;">الرِّيَاءُ،  يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ     لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ  إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ     اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ  تُرَاءُونَ  فِي الدُّنْيَا     فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً</span></span></span>&#8220;</span></span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;"><span style="font-size:24pt;font-family:&#34;font-weight:bold;" lang="AR-LB"> </span></span></strong><strong><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:large;"><span style="font-size:18pt;font-family:&#34;font-weight:bold;" lang="AR-LB">أخرجه أحمد وصححه الألباني</span></span></strong></p>
<p><span style="font-family:verdana,sans-serif;">It is narrated from Mahmood ibn Labeed [RA] that the Messenger of Allah [SAWS] said, &#8220;</span><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:verdana,sans-serif;">Indeed the thing that I fear most for you is the minor shirk.</span></span><span style="font-family:verdana,sans-serif;">&#8221; </span><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /> <span style="font-family:verdana,sans-serif;">The companions asked, &#8220;And what is minor shirk, Oh Messenger of Allah [SAWS]?&#8221; </span><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><span style="font-family:verdana,sans-serif;"> He [SAWS] said, &#8220;</span><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:verdana,sans-serif;">It is </span><em>Ar-Riyaa</em><span style="font-family:verdana,sans-serif;">. Allah will say to the people of </span><em>riyaa</em><span style="font-family:verdana,sans-serif;"> on the Day of Judgement &#8211; when the people are being re-payed for their deeds &#8211; &#8216;Go to those who you showed off your deeds to in the worldly life then see if you can find any reward with them!&#8217;</span></span><span style="font-family:verdana,sans-serif;">&#8221; </span><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /> <br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><span style="font-family:verdana,sans-serif;color:#000099;">[Reported by Imam Ahmad and Authenticated by Shaikh Al-Albani]</span><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /></p>
</div>
<p><strong><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><span style="font-family:verdana,sans-serif;text-decoration:underline;">Vocabulary from the Hadith:</span></strong><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /> <span style="font-family:verdana,sans-serif;">الرِّيَاءُ &#8211; </span><em>Ar-Riyaa</em><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><span style="font-family:verdana,sans-serif;">Linguistically, </span><em>riyaa</em><span style="font-family:verdana,sans-serif;"> means showing, displaying something. </span><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /> <span style="font-family:verdana,sans-serif;"> In the Shariah, </span><em>riyaa</em><span style="font-family:verdana,sans-serif;"> means a good deed done with the intention that people may see it and praise the doer for the action.</span><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /> <br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><strong><span style="font-family:verdana,sans-serif;text-decoration:underline;">Lessons from the Hadith:</span></strong><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><span style="font-family:verdana,sans-serif;">&#8220;So you will see the person doing </span><em>riyaa</em><span style="font-family:verdana,sans-serif;"> beautifying the deed in-front of people. And he does not intend obedience to Allah with this beautification of his action. </span><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /> <br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><span style="font-family:verdana,sans-serif;">Truly, some of the most important reasons for </span><em>riyaa </em><span style="font-family:verdana,sans-serif;">are exhibitionism/pretentiousness, desiring position of significance and weakness of faith. Moreover, the most dangerous consequences of </span><em>riyaa</em> are deprivation of acceptance of deeds with Allah and the loss of trust/reliance between people. <br style="font-family:verdana,sans-serif;" /> <br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><span style="font-family:verdana,sans-serif;">Allah has certainly set two foundational conditions for the acceptance of deeds. They are: </span><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /> <span style="font-family:verdana,sans-serif;">1) The action is good, righteous action within the bounds of the Shariah and compliant with the Qur&#8217;an and Sunnah. </span><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><span style="font-family:verdana,sans-serif;"> 2) The action is done purely for the sake of Allah, far removed from every type of shirk, whether it is major shirk or minor shirk; and </span><em>riyaa</em><span style="font-family:verdana,sans-serif;"> is a type of shirk.&#8221;</span><br style="font-family:verdana,sans-serif;" /> <br style="font-family:verdana,sans-serif;" /><span style="font-family:verdana,sans-serif;">Explanation taken from </span><a style="font-family:verdana,sans-serif;" href="http://www.balligho.com/" target="_blank">www.balligho.com</a><span style="font-family:verdana,sans-serif;">, author of the explanation is not mentioned.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikhlas dan Bahaya Riya']]></title>
<link>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/10/14/ikhlas-dan-bahaya-riya/</link>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 22:43:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
<guid>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/10/14/ikhlas-dan-bahaya-riya/</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Ustadz Firanda -hafizhahullah- “Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Penulis: Ustadz Firanda  -hafizhahullah-</p>
<p>“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhari: 1).</p>
<p><!--more-->Berkata Abdurrahman bin Mahdi, “Kalau seandainya aku menulis sebuah kitab yang terdiri atas bab-bab maka aku akan menjadikan hadits Umar bin Al-Khattab yaitu hadits Al A’maalu bin Niyyaat di setiap bab” (Jami’ul Ulum 1/8).</p>
<p>Imam Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini adalah sepertiga ilmu” (Jami’ul ‘Ulum 1/9).</p>
<p>Imam Ahmad berkata, “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits, hadits Umar rodiallahu’anhu, ”Hanya saja amal-amal itu berdasarkan niatnya”, hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha, Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang baru dalam agama ini yang bukan dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang halal jelas dan yang haram jelas”. (Jami’ul ‘Ulum 1/9).</p>
<p>Sesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, hal dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah menerima kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman Allah, “Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).</p>
<p>Maka perkara apa saja yang merupakan perkara agama Allah jika hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya, adapun jika diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah (siapapun juga ia) maka Allah tidak akan menerimanya, karena Allah tidak menerima amalan yang diserikatkan, Dia hanyalah meneriman amalan agama yang kholis (murni) untukNya. Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut kepada pelakunya bahkan Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala (ganjaran) amalannya tersebut kepada yang dia syarikatkan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya:</p>
<p>Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan ksyirikannya”).</p>
<p>Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, “Lafal ‘amalan’ disini adalah nakiroh dalam konteks kalimat syart maka memberi faedah keumuman sehingga mencakup seluruh jenis amalan kebaikan baik amalan badan, amalan harta. Maupun amalan yang mengandung amalan badan dan amalan harta (seperti haji dan jihad)”. (At-Tamhid hal. 401).</p>
<p><strong>Definisi ikhlas menurut etimologi (menurut peletakan bahasa)</strong><br />
Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya. Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama sekali tidak tercampur dengan campuran dari luar, dan dikatakan “harta ini adalah murni untukmu” maksudnya adalah tidak ada seorangpun yang bersyarikat bersamamu dalam memiliki harta ini. Hal ini sebagaimana firman Allah tentang wanita yang menghadiahkan dirinya untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,</p>
<p>Dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. (QS. Al Ahzaab: 50).</p>
<p>Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS. An Nahl: 66).</p>
<p>Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: “Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya”. (QS. Yusuf: 80). Yaitu para saudara Yusuf menyendiri untuk saling berbicara diantara mereka tanpa ada orang lain yang menyertai pembicaraan mereka.</p>
<p><strong>Definisi ikhlas menurut istilah syar’i (secara terminologi)</strong><br />
Syaikh Abdul Malik menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas namun hakikat dari definisi-definisi mereka adalah sama. Diantara mereka ada yang mendefenisikan bahwa ikhlas adalah “menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah tatkala beribadah”, yaitu jika engkau sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia. Ada yang mengatakan juga bahwa ikhlas adalah “membersihkan amalan dari komentar manusia”, yaitu jika engkau sedang melakukan suatu amalan tertentu maka engkau membersihkan dirimu dari memperhatikan manusia untuk mengetahui apakah perkataan (komentar) mereka tentang perbuatanmu itu. Cukuplah Allah saja yang memperhatikan amalan kebajikanmu itu bahwasanya engkau ikhlas dalam amalanmu itu untukNya. Dan inilah yang seharusnya yang diperhatikan oleh setiap muslim, hendaknya ia tidak menjadikan perhatiannya kepada perkataan manusia sehingga aktivitasnya tergantung dengan komentar manusia, namun hendaknya ia menjadikan perhatiannya kepada Robb manusia, karena yang jadi patokan adalah keridhoan Allah kepadamu (meskipun manusia tidak meridhoimu).</p>
<p>Ada juga mengatakan bahwa ikhlas adalah “samanya amalan-amalan seorang hamba antara yang nampak dengan yang ada di batin”, adapun riya’ yaitu dzohir (amalan yang nampak) dari seorang hamba lebih baik daripada batinnya dan ikhlas yang benar (dan ini derajat yang lebih tinggi dari ikhlas yang pertama) yaitu batin seseoang lebih baik daripada dzohirnya, yaitu engkau menampakkan sikap baik dihadapan manusia adalah karena kebaikan hatimu, maka sebagaimana engkau menghiasi amalan dzohirmu dihadapan manusia maka hendaknya engkaupun menghiasi hatimu dihadapan Robbmu.</p>
<p>Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas adalah, “melupakan pandangan manusia dengan selalu memandang kepada Allah”, yaitu engkau lupa bahwasanya orang-orang memperhatikanmu karena engkau selalu memandang kepada Allah, yaitu seakan-akan engkau melihat Allah yaitu sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tentang ihsan “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Ia melihatmu”. Barangsiapa yang berhias dihadapan manusia dengan apa yang tidak ia miliki (dzohirnya tidak sesuai dengan batinnya) maka ia jatuh dari pandangan Allah, dan barangsiapa yang jatuh dari pandangan Allah maka apalagi yang bermanfaat baginya? Oleh karena itu hendaknya setiap orang takut jangan sampai ia jatuh dari pandangan Allah karena jika engkau jatuh dari pandangan Allah maka Allah tidak akan perduli denganmu dimanakah engkau akan binasa, jika Allah meninggalkan engkau dan menjadikan engkau bersandar kepada dirimu sendiri atau kepada makhluk maka berarti engkau telah bersandar kepada sesuatu yang lemah, dan terlepas darimu pertolongan Allah, dan tentunya balasan Allah pada hari akhirat lebih keras dan lebih pedih. (Dari ceramah beliau yang berjudul ikhlas. Definisi-definisi ini sebagaimana juga yang disampaikan oleh Ahmad Farid dalam kitabnya “Tazkiyatun Nufus” hal. 13).</p>
<p>Berkata Syaikh Abdul Malik, “Ikhlas itu bukan hanya terbatas pada urusan amalan-amalan ibadah bahkan ia juga berkaitan dengan dakwah kepada Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja (tetap) diperintahkan oleh Allah untuk ikhlas dalam dakwahnya”.</p>
<p>Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108).</p>
<p>Yaitu dakwah hanyalah kepada Allah bukan kepada yang lainnya, dan dakwah yang membuahkan keberhasilan adalah dakwah yang dibangun karena untuk mencari wajah Allah. Aku memperingatkan kalian jangan sampai ada diantara kita dan kalian orang-orang yang senang jika dikatakan bahwa kampung mereka adalah kampung sunnah, senang jika masjid-masjid mereka disebut dengan masjid-masjid ahlus sunnah, atau masjid mereka adalah masjid yang pertama yang menghidupkan sunnah ini dan sunnah itu, atau masjid pertama yang menghadirkan para masyayikh salafiyyin dalam rangka mengalahkan selain mereka, namun terkadang mereka tidak sadar bahwa amalan mereka hancur dan rusak padahal mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya. Dan ini adalah musibah yang sangat menyedihkan yaitu syaitan menggelincirkan seseorang sedikit-demi sedikit hingga terjatuh ke dalam jurang sedang ia menyangka bahwa ia sedang berada pada keadaan yang sebaik-baiknya. Betapa banyak masjid yang aku lihat yang Allah menghancurkan amalannya padahal dulu jemaahnya dzohirnya berada di atas sunnah karena disebabkan rusaknya batin mereka, dan sebab berlomba-lombanya mereka untuk dikatakan bahwa jemaah masjid adalah yang pertama kali berada di atas sunnah, hendaknya kalian berhati-hati…” (Dari ceramah beliau yang berjudul ikhlas).</p>
<p><strong>Syuhroh (Popularitas)</strong><br />
Ketenaran (popularitas) memang mahal harganya. Betapa banyak orang yang rela mengorbankan banyak harta benda hanya karena untuk memperoleh ketenaran. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para penyanyi, ataupun para bintang film. Mereka selalu berusaha tampil beda agar bisa menarik perhatian umat dunia. Bahkan ada yang rela untuk melakukan hal-hal yang aneh dan yang diharamkan oleh Allah hanya untuk memperoleh popularitas (sebagaimana penulis membaca pengakuan seorang wanita yang rela untuk berfoto setengah telanjang -bukan setengah lagi, tapi 90%, karena hanya tersisa beberapa utas benang atau secarik kain yang menutupi tubuhnya, “awas jangan dibayangkan!!”-, padalah dia hanya dibayar sangat rendah. Dia mengaku bahwasanya semua itu agar dia menjadi tenar. Na’udzu billahi min dzalik), yang toh setelah perjuangan dan pengorbanannya tersebut dia belum tentu tersohor. Kalaupun terkenal, toh belum tentu bertahan lama. Namun bagaimanapun popularitas merupakan sesuatu impian yang didambakan oleh banyak manusia (kafir maupun muslim).</p>
<p>Sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini. Hampir seluruh keanehan-keanehan yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya dikarenakan cinta popularitas. Kita lihat ada orang yang mengecet rambutnya bewarna warni, ada yang kepalanya setengah gundul dan setengahnya rambutnya panjang hingga bahunya dan dicat hijau (sebagaimana yang pernah dilihat oleh Syaikh Abdur Rozaq), ada yang rambutnya cuma ditengah saja panjang adapun sisanya gundul (sebagaimana penulis pernah lihat seorang dari tanah air yang model cukurannya seperti itu padahal dia lagi umroh), ada yang dipotong seperti warna macan tutul (botak gundul, botak gundul), ada yang tengahnya gundul dan kanan kiri kepalanya ada rambutnya, ada yang seluruh kepalanya gundul namun tersisia satu pelintiran yang panjang sekali, dan model-model yang lainnya yang banyak sekali dan aneh-aneh. Ini, padahal baru masalah rambut, belum masalah telinga, hiasan leher, apalagi model pakaian. Yang semua ini hanyalah dilakukan demi ketenaran. Demi Allah, seandainya salah mereka itu tinggal di hutan yang tidak ada manusianya sama sekali kecuali dia sendiri, dan dia hanya berteman binatang dan pepohonan, demi Allah dia tidak akan melakukan hal-hal aneh yang telah dia lakukan, karena tidak ada manusia yang memperhatikannya. Kalau dia tetap aneh juga maka dia akan terkenal diantara para hewan. Popularitas merupakan kenikmatan dunia yang mahal harganya.</p>
<p>Penyakit cinta ketenaran ternyata tidak hanya menimpa orang awam saja yang tidak mengetahui perkara-perkara agama, namun juga menjangkiti para ahli ibadah dan para penuntut ilmu syar’i. Walaupun memang bentuknya berbeda, namun hakekatnya sama adalah cinta popularitas. Ahli ibadah juga pingin kesungguhannya dalam beribadah diketahui oleh para ahli ibadah yang lain, ahli ilmu pun ingin orang lain tahu bahwasanya dia adalah seorang yang pandai, sehingga akhirnya martabatnya tinggi dihadapan manusia. Penyakit inilah yang dalam kamus agama disebut penyakit riya’ (pingin dilihat orang) dan sum’ah (pingin didengar orang).</p>
<p>Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apapun, dibungkus rapat jangan sampai ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan mendapatkan kehormatan dimata manusia. Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia. Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, -sekecil apapun kebaikan itu, jangan sampai ada yang tahu, siapapun orangnya (saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan istrinya) tidak ada yang mengetahui kebaikannya- , tentunya mereka akan mencapai martabat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas). Mereka berusaha sekuat mungkin agar yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah Allah. Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di sisi Allah. Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45).</p>
<p>Dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no 6500 beliau berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”.</p>
<p>Berkata Syaikh Abdul Malik, “Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah” (Dari ceramah beliau yang berjuduk ikhlas).</p>
<p>Oleh karena itu banyak para imam salaf yang benci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keihlasan mereka, dan karena mereka kawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.</p>
<p>Berkata Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan, “Ini Ayyub” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni: “Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249), dan Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232), dan sanadnya shahih.” (Sittu Duror hal 46)).</p>
<p>Berkata Imam Ahmad: “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”. (As-Siyar 11/210).</p>
<p>Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia mendoakannya dia berkata: “Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”. (As-Siyar 11/211).</p>
<p>Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya”. (As-Siyar 11/211).</p>
<p>Pernah Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian manusia”. (As-Siyar 11/211).</p>
<p>Berkata Hammad, “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun perkata padanya, “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab: ”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pen)”. Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata: ”Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!.” Berkata Syaikh Abdul Malik: ”Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d (7/248) dan Al-Fasawi (2/239), dan sanadnya shahih”. (Sittu Duror hal 47).</p>
<p>Berkata Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr, “Ad-Dlohhak bin Qois keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri”), maka berkata Yazid :”Saya di sini!”, berkata Ad-Dlohhak: ”Berdirilah!, mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya lalu berdoa: ”Ya Allah, sesungguhnya para hambaMu memintaku untuk berdoa kepadaMu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya. Kemudian dia berkata: ”Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal.” Lihat takhrij kisah ini secara terperinci dalam buku Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Romadloni hal. 47.</p>
<p>Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa tidak tentram dengan ketenarannya bahkan dia meminta kepada Allah agar mencabut nyawanya agar terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah penyakit yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan meninggalkan dunia ini. Allahu Akbar.. ! inilah akhlak salaf (Berkata Guru kami Syaikh Abdul Qoyyum, “Adapun orang-orang yang memerintahkan para pengikutnya atau rela para pengikutnya mencium tangannya lalu ia berkata bahwa ia adalah wali Allah maka ia adalah dajjal”). Namun banyak orang yang terbalik, mereka malah menjadikan ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh nikmat sehingga mereka berusaha untuk meraihnya dengan berbagai macm cara.</p>
<p>Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata: ”Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata, ”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah”. Ini merupakan hadits yang marfu’ dari Nabi, yang diriwayatkan dari banyak sahabat, seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu “Abbas, Ibnu Ma’ud, Ummu Salamah, Abu Umamah, Mu’awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik. Berkata Syaikh Al-Albani: ”Kesimpulannya hadits ini dengan jalannya yang banyak serta syawahidnya adalah hadits yang shahih, tidak diragukan lagi. Bahkan termasuk hadits mutawatir menurut sebagian ahli hadits muta’akhirin” (As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908).</p>
<p>Dan dari ‘Amr bin Tsabit berkata, ”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya: ”Apa ini”, lalu dijawab: ”Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah”.</p>
<p>Berkata Ibnu ‘Aisyah: ”Ayahku berkata kepadaku: ”Saya mendengar penduduk Madinah berkata: ”Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain” Lihat ketiga atsar tersebut dalam Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu hal. 9.</p>
<p>Lihatlah bagaimana Ali bin Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk Madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau.</p>
<p>Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari ”Bagaimana sholat malam engkau”, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata, “Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia” (Dinukil dari kitab Az- Zuhud, Imam Ahmad).</p>
<p>Tidak seorangpun diantara kita yang meragukan akan kesungguhan para sahabat dalam beribadah. Namun walaupun demikian, mereka tidaklah ujub, atau memamerkan amalan mereka kapada manusia, jauh sekali dengan kita. Adapun sebagian kita (atau sebagian besar, atau seluruhnya (kecuali yang dirahmati oleh Allah), Allahu Al-Musta’an, sudah amalannya sedikit, namun diceritakan kemana-mana (Bahkan kalau bisa orang sedunia mengetahuinya). Ada yang berkata, ”Dakwah saya disana…, disini…”, ada juga yang berkata,”Yang menghadiri majelis saya jumlahnya sekian dan sekian…” (padahal kalau dihitung belum tentu sebanyak yang disebutkan, atau memang benar yang hadir majelisnya banyak tetapi tidak selalu. Terkadang yang hadir dalam sebagian majelisnya cuma sedikit, namun tidak dia ceritakan, atau yang hadir banyak tapi pada ngantuk semua, juga tidak dia ceritakan. Pokoknya dia ingin gambarkan pada manusia bahwa dia adalah da’i favorit), ada yang berkata, “Saya sudah baca kitab ini, kitab itu.. hal ini sebagaimana termuat dalam kitab ini atau kitab itu…”(padahal belum tentu satu kitabpun dia baca dari awal hingga akhir, atau bahkan belum tentu dia baca sama sekali secara langsung kitab itu. Namun dia ingin gambarkan pada manusia bahwa mutola’ahnya banyak, agar mereka tahu bahwa dia adalah orang yang berilmu dan gemar membaca). Yang mendorong ini semua adalah karena keinginan mendapat penghargaan dan penghormatan dari manusia.</p>
<p>Lihatlah Tamim Ad-Dari tidak membuka pintu yang bisa mengantarkannya terjatuh dalam riya, sehingga dia tidak mau menjawab orang yang bertanya tentang ibadahnya. Namun sebaliknya, sebagian kaum muslimin sekarang justru menjadikan kesempatan pertanyaan seperti itu untuk bisa menceritakan seluruh ibadahnya, bahkan menanti-nanti untuk ditanya tentang ibadahnya, atau dakwahnya, atau perkara yang lainnya.</p>
<p>Ayyub As-Sikhtiyani sholat sepanjang malam, dan jika menjelang fajar maka dia kembali untuk berbaring di tempat tidurnya. Dan jika telah terbit fajar maka diapun mengangkat suaranya seakan-akan dia baru saja bangun pada saat itu. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/8).</p>
<p>Berkata Muhammad bin A’yun, ”Aku bersama Abdullah bin Mubarok dalam peperangan di negeri Rum. Tatkala kami selesai sholat isya’ Ibnul Mubarok pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun –bersama tombakku yang ada ditanganku- menggenggam tombakku dan meletakkan kepalaku diatas tombak tersebut, seakan-akan aku juga sudah tertidur. Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku sudah tertidur, maka diapun bangun diam-diam agar tidak ada sorangpun dari pasukan yang mendengarnya lalu sholat malam hingga terbit fajar. Dan tatkala telah terbit fajar maka diapun datang untuk membagunkan aku karena dia menyangka aku tidur, seraya berkata “Ya Muhammad bangunlah!”, Akupun berkata: ”Sesungguhnya aku tidak tidur”. Tatkala Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat sholat malamnya maka semenjak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku. Dan tidak pernah juga ramah padaku pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia tidak suka tatkala mengetahui bahwa aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal itu selalu nampak di wajahnya hingga beliau wafat. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menymbunyikan kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok” (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim 1/266).</p>
<p>Wahai saudaraku, ketahuilah… sesungguhnya ikhlas adalah sesuatu yang sangat berat, penuh perjuangan untuk bisa meraihnya. Pintu-pintu yang bisa dimasuki syaitan untuk bisa merusak keikhlasan kita terlalu banyak. Tatkala kita sedang beramal maka syaitanpun berusaha untuk bisa menjadikan kita riya’, kalau tidak bisa menjadikan kita riya’ di permulaan amal, maka dia akan berusaha agar kita riya’ di pertengahan amal. Kalau tidak mampu lagi maka di akhir amalan kita. Oleh karena itu kita dapati para salaf dahulu memngecek niat mereka ditengah amalan mereka, apakah masih tetap ikhlas atau sudah berubah?. Diriwayatkan dari Sualaiman bin Dawud Al-Hasyimi: ”Terkadang saya menyampaikan sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala saya sampaikan sebagian hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata satu hadits saja membutuhkan banyak niat” Disebutkan oleh Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Tarikh beliau (9/31), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (11/412), dan Ad-Dazahabi dalam Siyar (10/625), lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).</p>
<p>Lihatlah bagaimana hati-hatinya salaf dalam menjaga niat mereka, untuk bisa menyampaikan satu hadits saja (yang mungkin hanya beberapa buah kata) dia memperhatikan niatnya berulang-ulang. Bagaimana dengan kita sekarang? Bukan cuma berpuluh-puluh kata yang kita lontarkan, bahkan beribu-ribu kata (tatkala mengisi pengajian, atau memberi pendapat atau nasehat tatkala diminta, atau yang lainnya…) pernahkah kita mengecek niat kita disela-sela pembicaraan kita??. Terkadang seseorang di awal sedang mengisi pengajian, dia mendapati niatnya ikhlas. Namun tatkala di tengah pengajian, disaat dia memandang bagaimana para pendengarnya terkagum-kagum dengan kefasihannya melontarkan dalil disaat itulah syaitan berperan aktif untuk merubah niatnya. Waspadalah wahai para saudaraku… sesungguhnya hanya sedikit yang selamat dari tipu daya syaitan.</p>
<p>Sungguh benarlah perkataan Sufyan Ats-Tsauri, ”Saya tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih berat daripada niat, karena niat itu berbolak-balik (berubah-ubah)” (Hilyatul Auliya (7/ hal 5 dan 62), lihat Jami’ul ‘Ulul wal Hikam hal 70, tahqiq Al-Arnauth).</p>
<p>Kalau seseorang telah selamat dari tipu daya syaitan hingga selesai amalnya, ingatlah…syaitan tidak putus asa. Dia mulai menggelitik hati orang tersebut dan merayu orang tersebut untuk menceritakan amalan solehnya pada manusia, dan syaitan menipunya dengan berkata, ”Ini bukanlah riya…, supaya kamu bisa dicontohi manusia…”. Akhirnya terjebaklah orang tersebut dan diapun mengungkapkan kebaikan-kebaikannya dihadapan orang, maka bisa jadi diapun menceritakan kabaikan-kebaikannya pada manusia karena riya’, maka ini merupakan kecelakaan baginya, atau kalau tidak maka minimal pahalanya berkurang. Karena pahala amalan yang sirr (disembunyikan) lebih baik daripada amalan yang diketahui orang lain.</p>
<p>Allah berfirman, yang artinya:<br />
“Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Baqoroh: 271).</p>
<p>Berkata Ibnu Kasir dalam Tafsirnya, ”Asalnya isror (amalan secara tersembunyi tanpa diketahui orang lain) adalah lebih afdol dengan dalil ayat ini dan hadits dalam shohihain (Bukhori dan Muslim) dari Abu Huroiroh, beliau berkata: “Berkata Rasulullah : ”Tujuh golongan yang berada dibawah naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, Imam yang adil, dan seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya” Diriwayatkan oleh Al-Bukhori (1423) dan Muslim (2377). Berkata Imam Nawawi: ”Berkata para Ulama bahwanya penyebutan tangan kanan dan kiri menunjukan kesungguhan dan sangat dismbunyikannya serta tidak diketuhinya sedekah. Perumpamaan dengan kedua tangan tersebut karena dekatnya tangan kanan dengan tangan kiri, dan tangan kanan selalu menyertai tangan kiri. Dan maknanya adalah seandainya tangan kiri itu seorang laki-laki yang terjaga maka dia tidak akan mengetahui apa yang diinfak oleh tangan kanan karena saking disembunyikannya.” (Al-Minhaj 7/122), hal ini juga sebagaimana penjelasan Ibnu Hajr (Al-Fath 2/191).</p>
<p>Rosulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: ”Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung kalau Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah berkata, “Ada yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhlukMu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu api.”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu yang lebih kuat dari pada api?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu angin” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada angin?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui tangan kanannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahamad dalam Musnadnya 3/124 dari hadits Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar, ”Dari hadits Anas dengan sanad yang hasan marfu’” (Al-Fath 2/191).</p>
<p>Sungguh benar orang yang berkata, “Jangan heran kalau engkau melihat seorang yang bisa jalan di atas air, karena syaitan juga bisa berjalan di atas air. Janganlah heran kalau engkau melihat seorang yang berjalan terbang diudara, karena syaitan juga bisa terbang di udara. Tapi heranlah engkau jika engkau melihat seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya namun tangan kirinya tidak mengetahuinya, karena syaitan tidak bersedekah (apalagi dengan ikhlas) (Untaian kalimat ini, penulis tidak mengetahui siapa yang mengucapkannya. Namun penulis pernah mendengarnya dari seorang petugas penjaga mushola dikapal laut, tatkala menyampaikan nasehat pada awak penumpang kapal. Mungkin saja dialah yang mengucapkan perkataan ini pertama kali. Namun bagaimanapun perkataan ini benar maknanya jika ditinjau dari kacamata syar’i, Wallahu A’lam).</p>
<p>Ingat perkataan Ibnul Qoyyim, “Tidaklah akan berkumpul keikhlasan dalam hati bersama rasa senang untuk dipuji dan disanjung dan keinginan untuk memperoleh apa yang ada pada manusia kecuali sebagaimana terkumpulnya air dan api…” (Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 423). Wahai Dzat yang membolak-balikan hati-hati (manusia) tetapkanlah hatiku di atas agamaMu.</p>
<p><strong>Hukum menyembunyikan amal</strong><br />
Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan menyembunyikan amalan kebajikan (karena hal ini lebih menjauhkan dari riya) itu hanya khusus bagi amalan-amalan mustahab bukan amalan-amalan yang wajib. Berkata Ibnu Hajar: ”At-Thobari dan yang lainnya telah menukil ijma’ bahwa sedekah yang wajib secara terang-terangan lebih afdhol daripada secara tersembunyi. Adapun sedekah yang mustahab maka sebaliknya.” (Al-Fath 3/365). Sebagian mereka juga mengecualikan orang-orang yang merupakan teladan bagi masyarakat, maka justru lebih afdhol bagi mereka untuk beramal terang-terangan agar bisa diikuti dengan syarat mereka aman dari riya’, dan hal ini tidaklah mungkin kecuali jika iman dan keyakinan mereka yang kuat.</p>
<p>Imam Al-Iz bin Abdus Salam telah menjelaskan hukum menyembunyikan amalan kebajikan secara terperinci sebagai berikut. Beliau berkata, “Keta’atan (pada Allah) ada tiga:</p>
<ol>
<li>Yang pertama, adalah amalan yang disyariatkan secara dengan dinampakan seperti adzan, iqomat, bertakbir, membaca Quran dalam sholat secara jahr, khutbah-kutbah, amar ma’ruf nahi mungkar, mendirikan sholat jumat dan sholat secara berjamaah, merayakan hari-hari ‘ied, jihad, mengunjungi orang-orang yang sakit, mengantar jenazah, maka hal-hal seperti ini tidak mungkin disembunyikan. Jika pelaku amalan-amalan tersebut takut riya, maka hendaknya dia berusaha bersungguh-sungguh untuk menolaknya hingga dia bisa ikhlas kemudian dia bisa melaksanakannya dengan ikhlas, sehingga dengan demikian dia akan mendapatkan pahala amalannya dan juga pahala karena kesungguhannya menolak riya, karena amalan-amalan ini maslahatnya juga untuk orang lain.</li>
<li> Yang kedua, amalan yang jika diamalkan secara tersembunyi lebih afdhol dari pada jika dinampakkan. Contohnya seperti membaca qiro’ah secara perlahan tatkala sholat (yaitu sholat yang tidak disyari’atkan untuk menjahrkan qiro’ah), dan berdzikir dalam sholat secara perlahan. Maka dengan perlahan lebih baik daripada jika dijahrkan.</li>
<li> Yang ketiga, amalan yang terkadang disembunyikan dan terkadang dinampakkan seperti sedekah. Jika dia kawatir tertimpa riya’ atau dia tahu bahwasanya biasanya kalau dia nampakan amalannya dia akan riya’, maka amalan (sedekah) tersebut disembunyikan lebih baik daripada jika dinampakkan.</li>
</ol>
<p>Adapun orang yang aman dari riya’ maka ada dua keadaannya:</p>
<ol>
<li> Yang pertama, dia bukanlah termasuk orang yang diikuti, maka lebih baik dia menyembunyikan sedekahnya, karena bisa jadi dia tertimpa riya’ tatkala menampakkan sedekahnya.</li>
<li>Yang kedua, dia merupakan orang yang dicontohi, maka dia menampakan sedekahnya lebih baik karena hal itu membantu fakir miskin dan dia akan diikuti. Maka dia telah memberi manfaat kepada fakir miskin dengan sedekahnya dan dia juga menyebabkan orang-orang kaya bersedekah pada fakir miskin karena mencontohi dia, dan dia juga telah memberi manfaat pada orang-orang kaya tersebut karena mengikuti dia beramal soleh.” Qowa’idul Ahkam 1/125 (Sebagaimana dinukil oleh Sulaiman Al-Asyqor dal kitabnya Al-Ikhlash hal 128-129).</li>
</ol>
<p>Tentunya kita lebih mengetahui diri kita, kita termasuk orang yang aman dari riya atau tidak.</p>
<p><strong>Mengobati penyakit cinta ketenaran</strong><br />
Berkata Abdullah bin Mas’ud, “Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orangpun yang berjalan di belakangku, dan kalian pasti akan melemparkan tanah di kepalaku, aku sungguh berangan-angan agar Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil dengan Abdullah bin Rowtsah”. (Al-Mustadrok 3/357 no. 5382).</p>
<p>Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((“Untaian kalimat ini adalah madrasah (pelajaran), dan hal ini tidak diragukan lagi karena tersohornya seseorang mungkin terjadi jika orang tersebut memiliki kelebihan diantara manusia, bahkan bisa jadi orang-orang mengagungkannya, bisa jadi orang-orang memujinya, bisa jadi mereka mengikutinya berjalan di belakangnya. Seseorang jika semakin bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan sadar dan mengetahui bahwa dosa-dosanya banyak, dan banyak, dan sangat banyak. Oleh karena tidaklah suatu hal yang mengherankan jika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada Abu Bakar –padahal ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam – yang selalu membenarkan (apa yang dikabarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam-pen), yang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah berkata tentangnya, “Jika ditimbang iman Abu Bakar dibanding dengan iman umat maka akan lebih berat iman Abu Bakar”, namun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkannya untuk berdo’a di akhir sholatnya, “Robku, sesungguhnya aku telah banyak mendzolimi diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali engkau maka ampunilah aku dengan pengampunanMu”. Yang mewasiatkan adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan yang diwasiatkan adalah Abu Bakar As-Shiddiq. Semakin bertambah ma’rifat seorang hamba kepada Robnya maka ia akan takut kepada Allah, takut kalau ada yang mengikutinya dari belakang, khawatir ia diagungkan diantara manusia, khawatir diangkat-angkat diantara manusia, karena ia mengetahui hak-hak Allah sehingga dia mengetahui bahwa ia tidak akan mungkin menunaikan hak Allah, ia selalu kurang dalam bersyukur kepada Allah, dan ini merupakan salah satu bentuk dosa.</p>
<p>Diantara manusia ada yang merupakan qori’ Al-Qur’an dan tersohor karena keindahan suaranya, keindahan bacaannya, maka orang-orangpun berkumpul di sekitarnya. Diantara manusia ada yang alim, tersohor dengan ilmunya, dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, kewaro’annya, maka orang-orangpun berkumpul di sekelilingnya.</p>
<p>Diantara mereka ada yang menjadi da’i yang terkenal dengan pengorbanannya dan perjuangannya dalam berdakwah maka orang-orang pun berkumpul di sekelilingnya karena Allah telah memberi petunjuk kepada mereka dengan perantaranya. Demikian juga ada yang terkenal dengan sikapnya yang selalu menunaikan amanah, ada yang tersohor dengan sikapnya yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan demikianlah… Posisi terkenalnya seseorang merupakan posisi yang sangat mudah menggelincirkan seseorang, oleh karena itu Ibnu Mas’ud mewasiatkan kepada dirinya sendiri dengan menjelaskan keadaan dirinya (yang penuh dengan dosa), dan menjelaskan apa yang wajib bagi setiap orang yang memiliki pengikut…</p>
<p>Hendaknya setiap orang yang tersohor (dengan kebaikan) atau termasuk orang yang terpandang untuk selalu merendahkan dirinya diantara manusia dan menampakkan hal itu, bukan malah untuk semakin naik derajatnya di hadapan manusia namun agar semakin terangkat derajatnya di hadapan Allah, dan ini semua kembali kepada keikhlasan, karena diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia namun agar tersohor dan ini adalah termasuk (tipuan) syaitan. Dan diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia dan Allah mengetahui hatinya bahwasanya ia benar dengan sikapnya itu, ia takut pertemuan dengan Allah, ia takut hari di mana dibalas apa-apa yang terdapat dalam dada-dada, hari di mana nampak apa yang ada disimpan di hati-hati, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan pembicaraan mereka di hadapan Allah.</p>
<p>Ini adalah pelajaran yang berharga bagi setiap yang dipanuti dan yang mengikuti. Adapun pengikut maka hendaknya ia tahu bahwa orang yang diikutinya itu tidak boleh diagungkan, namun hanyalah diambil faedah darinya berupa syari’at Allah atau faedah yang diambil oleh masyarakat, karena yang diagungkan hanyalah Allah kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Adapun manusia yang lain maka jika mereka baik maka bagi mereka rasa cinta pada diri kita. Dan hendaknya orang yang tersohor untuk selalu takut, rendah, dan mengingat dosa-dosanya, mengingat bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah, ingat bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak diikuti oleh dua orang di belakangnya.</p>
<p>Oleh karena itu tatkala Abu Bakar dipuji di hadapan manusia maka ia berkutbah setelah itu dan riwayat ini shahih sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata: “Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka persangkakan dan ampunkanlah apa-apa yang mereka tidak ketahui”, ia mengucapkan doa ini dengan keras untuk mengingatkan manusia bahwasanya ia memiliki dosa sehingga mereka tidak berlebih-lebihan kepadanya. Apakah hal ini sebagaimana yang kita lihat pada kenyataan dimana orang yang diagungkan semakin menjadi-jadi agar diagungkan dirinya??, orang yang mengagungkan juga semakin mengagungkan orang yang diikutinya?? Ini bukanlah jalan para sahabat radhiallahu ‘anhum, Umar terkadang ujub dengan dirinya -dan dia adalah seorang khalifah, orang kedua yang dikabarkan dengan masuk surga setelah Abu Bakar-, maka ia pun memikul suatu barang di tengah pasar untuk merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa dirinya besar.</p>
<p>Diantara kesalahan-kesalahan adalah sifat ujub (takjub dengan diri sendiri), yaitu seseorang memandang dirinya waw (hebat). Ada diantara salafus shalih yang jika hendak menyampaikan suatu (mau’idzoh) dan jika ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan majelis tersebut, kenapa?, karena keselamatan jiwanya lebih utama dibandingkan keselamatan jiwa orang lain, karena ia melihat ramainya orang yang telah berkumpul dan ia menyadari bahwa dirinya mulai merasakan bahwa dirinya senang karena kehadiran mereka, yang pada diam memperhatikannya, dan memperhatikannya, maka iapun mengobati dirinya dengan meninggalkan mereka maka merekapun membicarakannya akibat hal tersebut, Namun yang paling penting adalah keselamatan jiwa dan hatinya dihadapan Allah. Dan keselamatan hatinya lebih utama dibandingkan keselamatan hati orang lain…”)). (Dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh yang berjudul Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud).</p>
<p><strong>Riya itu samar</strong><br />
Sungguh benar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya riya itu samar sehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat berjama’ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jama’ah yang lain yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang pertama adalah karena pandangan manusia. (Tazkiyatun Nufus hal 15).</p>
<p>Berkata Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita”, lalu Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis kita ini adalah suatu mejelis yang mencelakakan kita “, Sufyan berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata, “Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah berhias untukmu”, lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu”. (Tarikh Ad-Dimasyq 48/404).</p>
<p>Perhatikanlah wahai saudaraku… sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang diberi taufik oleh Allah. Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat menjadi kejelekan-kejelekan, dan mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya.</p>
<p>“Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az Zumar: 48).</p>
<p>“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfy: 104).</p>
<p><strong>Maroji’:</strong></p>
<ol>
<li>Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, dar As-Salam, Riyadh, cetakan pertama Tahun 2000 masehi</li>
<li>Al-Minhaj syarh Sohih Muslim, Imam Nawawi, Dar Al-Ma’rifah</li>
<li>Jami Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Ibnu Rojab, tahqiq Al-Arnauth</li>
<li>Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, Syaikh Abdul Malik Romadhoni, maktabah Al-Asholah</li>
<li>Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Al-Banna, dar Ibnu Hazm, cetakan pertama</li>
<li>Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, Dar Ibnul Jauzi</li>
<li>Al-Ikhlash, Sulaiman Al-Asyqor, dar An-Nafais</li>
<li>Silsilah Al-Ahadits As-Sohihah, Syaikh Al-Albani</li>
<li>Aina Nahnu min Akhlak As-Salaf, Abdul Aziz bin Nasir Al-Jalil, Dar Toibah</li>
<li>Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud, transkrip dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh</li>
<li>Tazkiyatun Nufus, Ahmad Farid</li>
</ol>
<p>Artikel muslim.or.id, disalin dari alatsari.wordpress.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Download Kajian 'Bahaya Riya']]></title>
<link>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/10/14/download-kajian-bahaya-riya/</link>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 22:24:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
<guid>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/10/14/download-kajian-bahaya-riya/</guid>
<description><![CDATA[Bismillah. as-Sholatu was salamu &#8216;ala Rosulillah. Amma ba&#8217;du. Sesungguhnya riya&#8217; a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bismillah. as-Sholatu was salamu &#8216;ala Rosulillah. Amma ba&#8217;du.</p>
<p>Sesungguhnya riya&#8217; adalah dosa yang sangat besar dan menggugurkan amal. Ia begitu samar merayap di dalam hati laksana samarnya rayapan seekor semut di atas sebongkah batu hitam. Sebuah bahaya yang lebih dikhawatirkan oleh Nabi kalau-kalau menimpa para sahabatnya&#8230;, maka tentunya kita lebih rawan lagi untuk terserang &#8216;penyakit ganas&#8217; ini!</p>
<p><!--more-->Berikut ini link download kajian berjudul &#8216;Bahaya Riya&#8221; yang disampaikan oleh Ustadz Zaid Susanto, Lc. -hafizhahullah- (beliau sekarang menjadi mudir/direktur di Ma&#8217;had Jamilurrahman as-Salafy, Bantul) pada saat kajian wisma yang diadakan oleh Divisi Wisma Yayasan Pendidikan Islam al-Atsari Yogyakarta di Masjid Siswa Graha (Utara Fakultas Teknik UGM) beberapa waktu yang silam.</p>
<p>Silakan dengarkan dan marilah kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bersihkan riya&#8217; sekarang juga!</p>
<p>Download kajian dari <a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Zaid%20Susanto/Bahaya%20Riya%27/Bahaya%20Riya%27.mp3?l=12" target="_blank">kajian.net</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[RIYA’ DALAM BERIBADAH]]></title>
<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2009/10/09/riya-dalam-beribadah/</link>
<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 09:00:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>ilyas</dc:creator>
<guid>http://muhamadilyas.wordpress.com/2009/10/09/riya-dalam-beribadah/</guid>
<description><![CDATA[Di antara syarat diterimanya amal shaleh adalah bersih dari riya’ dan sesuai dengan sunnah. Orang ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Di antara syarat diterimanya amal shaleh adalah bersih dari riya’ dan sesuai dengan sunnah. Orang yang melakukan ibadah dengan maksud agar dilihat oleh orang lain, maka ia telah terjerumus kepada perbuatan syirik kecil, dan amalnya menjadi sia-sia belaka. Misalnya melaksanakan shalat agar dilihat orang lain.</p>
<p>Allah Subhanahu wata&#8217;ala berfirman:</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan Allah. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (Q.S; An Nisaa&#8217;: 142).</p></blockquote>
<p>Demikian pula jika ia melakukan suatu amalan dengan tujuan agar diberitakan dan didengar oleh orang lain, maka ia termasuk syirik kecil. Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi wassala memberikan peringatan kepada mereka dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu&#8217;anhu:</p>
<blockquote><p>“Barangsiapa melakukan perbuatan sum’ah (ingin didengar oleh orang lain), niscaya Allah akan menyebarkan aibnya, dan barang siapa melakukan perbuatan riya’, niscaya Allah akan menyebarkan aibnya”. (Hadits riwayat Muslim, 4/ 2289.)</p></blockquote>
<p>Barang siapa melakukan suatu ibadah tetapi ia melakukannya karena mengharap pujian manusia di samping ridha Allah Subhanahu wata&#8217;ala, maka amalannya menjadi sia-sia belaka, seperti disebutkan dalam hadits qudsi :</p>
<blockquote><p>“Aku adalah yang Maha Cukup, tidak memerlukan sekutu, barang siapa melakukan suatu amalan dengan dicampuri perbuatan syirik kepada-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia dan (tidak Aku terima) amal syiriknya”. (Hadits riwayat Muslim, hadits; No : 2985.)</p></blockquote>
<p>Barang siapa melakukan suatu amal shaleh, tiba-tiba terdetik dalam hatinya perasaan riya’, tetapi ia membenci perasaan tersebut dan ia berusaha untuk melawan serta menyingkirkannya, maka amalannya tetap sah.</p>
<p>Berbeda halnya jika ia hanya diam dengan timbulnya perasaan riya’ tersebut, tidak berusaha untuk menyingkirkan dan bahkan malah menikmatinya, maka menurut jumhur (mayoritas) ulama, amal yang dilakukannya menjadi batal dan sia-sia.</p>
<p>Sumber:</p>
<p>“Dosa-dosa yang Dianggap Biasa” oleh Syeikh Muhammad bin Shaleh al Munajjid Bab 2 RIYA’ DALAM BERIBADAH</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Riyak - Syirik yang terkecil]]></title>
<link>http://hikmatun.wordpress.com/2009/10/03/riyak-syirik-yang-terkecil/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 18:23:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ahmad Nizam</dc:creator>
<guid>http://hikmatun.wordpress.com/2009/10/03/riyak-syirik-yang-terkecil/</guid>
<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum w.b.t&#8230;&#8230;. Riyak / menunjuk-nunjuk adalah antara perangai manusia ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum w.b.t&#8230;&#8230;. Riyak / menunjuk-nunjuk adalah antara perangai manusia ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[cours N°3 : L’ostentation ]]></title>
<link>http://dourous.net/2009/10/02/cours-n%c2%b03-l%e2%80%99ostentation/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 16:25:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abou Haroun</dc:creator>
<guid>http://dourous.net/2009/10/02/cours-n%c2%b03-l%e2%80%99ostentation/</guid>
<description><![CDATA[écouter le dars : (appuyez sur le lecteur ci-dessus puis patientez quelques secondes ) - télécharger]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3><img class="alignnone size-full wp-image-1226" title="dangerss" src="http://dourous.wordpress.com/files/2009/10/dangerss.jpg" alt="dangerss" width="735" height="136" /></h3>
<h2><span style="color:#000000;"><strong>écouter le dars :</strong><em><strong> </strong> </em><br />
</span></h2>
<p><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"> </span></span><span style='text-align:left;display:block;'><p><object type='application/x-shockwave-flash' data='http://wordpress.com/wp-content/plugins/audio-player/player.swf' width='290' height='24' id='audioplayer1'><param name='movie' value='http://wordpress.com/wp-content/plugins/audio-player/player.swf' /><param name='FlashVars' value='&amp;bg=0xf8f8f8&amp;leftbg=0xeeeeee&amp;lefticon=0x666666&amp;rightbg=0xcccccc&amp;rightbghover=0x999999&amp;righticon=0x666666&amp;righticonhover=0xffffff&amp;text=0x666666&amp;slider=0x666666&amp;track=0xFFFFFF&amp;border=0x666666&amp;loader=0x9FFFB8&amp;soundFile=http%3A%2F%2Fdourous.wordpress.com%2Ffiles%2F2009%2F10%2Flostentation.mp3' /><param name='quality' value='high' /><param name='menu' value='false' /><param name='bgcolor' value='#FFFFFF' /></object></p></span><span style="font-size:small;"> </span></p>
<h4><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#3366ff;"><em><em>(appuyez sur le lecteur ci-dessus puis patientez quelques secondes )</em></em></span></span></span></h4>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;">-<br />
</span></span></p>
<h2>télécharger le dars :</h2>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"> <a href="http://dourous.wordpress.com/files/2009/10/lostentation.mp3"><img title="Telecharger" src="http://dourous.wordpress.com/files/2009/10/telecharger.gif" alt="Telecharger" width="138" height="36" /></a></span></p>
<h4><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#3366ff;"><em>(appuyez sur le click droit de votre souris sur l&#8217;icone ci-dessus puis choisissez &#8220;enregistrer la cible sous&#8221; )</em></span></span></span></h4>
<p style="text-align:center;">-</p>
<p><em><strong>Laissez nous vos avis, remarques, critiques et questions en commentaire ci-dessous ou sur notre adresse mail :</strong></em></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#3366ff;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:center;"><em><a href="http://dourous.wordpress.com/files/2008/10/mailh.jpg"><img title="mailh" src="http://dourous.wordpress.com/files/2008/10/mailh.jpg" alt="mailh" width="232" height="35" /></a></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saat Sedekah Menjadi Musibah dan Komoditas Politik]]></title>
<link>http://ramapermana.wordpress.com/2009/09/23/saat-sedekah-menjadi-musibah-dan-komoditas-politik/</link>
<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 08:20:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>ramapermana</dc:creator>
<guid>http://ramapermana.wordpress.com/2009/09/23/saat-sedekah-menjadi-musibah-dan-komoditas-politik/</guid>
<description><![CDATA[Ahad, 20 September 2009 lalu, hampir seluruh umat muslim merayakan hari idul fitri setelah 29 hari m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ahad, 20 September 2009 lalu, hampir seluruh umat muslim merayakan hari idul fitri setelah 29 hari m]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bollywood storms Kolkata Fashion Week]]></title>
<link>http://fenilandbollywood.wordpress.com/2009/09/16/bollywood-storms-kolkata-fashion-week/</link>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 11:29:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>fenilseta</dc:creator>
<guid>http://fenilandbollywood.wordpress.com/2009/09/16/bollywood-storms-kolkata-fashion-week/</guid>
<description><![CDATA[STEALING THE SHOW: Manish Malhotra (centre) with his showstoppers Amrita Rao and Bhaichung Bhutia St]]></description>
<content:encoded><![CDATA[STEALING THE SHOW: Manish Malhotra (centre) with his showstoppers Amrita Rao and Bhaichung Bhutia St]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Nabi yang Ujub (Perhatikan ini wahai ikhwah yang selalu membanggakan diri!!!)]]></title>
<link>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/09/kisah-nabi-yang-ujub-perhatikan-ini-wahai-ikhwah-yang-selalu-membanggakan-diri/</link>
<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 02:08:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Aisyah Al Kediri</dc:creator>
<guid>http://alatsari.wordpress.com/2009/09/09/kisah-nabi-yang-ujub-perhatikan-ini-wahai-ikhwah-yang-selalu-membanggakan-diri/</guid>
<description><![CDATA[Imam Ahmad meriwayatkan dari Suhaib berkata, &#8220;Apabila  Rasulullah shalat, beliau membisikkan s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Imam Ahmad meriwayatkan dari Suhaib berkata, &#8220;Apabila  Rasulullah shalat, beliau membisikkan sesuatu yang tidak aku  mengerti dan tidak menjelaskan kepada kami. Beliau bertanya, &#8216;Apakah kalian memperhatikanku?&#8217; Kami menjawab, &#8216;Ya.&#8217; Beliau  bersabda, &#8216;Sesungguhnya aku teringat salah seorang Nabi yang  memiliki pasukan dari kaumnya–dalam riwayat lain, &#8216;membanggakan umatnya&#8217;–Dia berkata,   &#8216;Siapa yang menandingi mereka? Atau siapa yang bisa melawan mereka? Atau ucapan seperti itu.&#8217;</p>
<p>Maka diwahyukan kepadanya, &#8220;Pilihlah satu dari tiga perkara untuk kaummu: Kami menguasakan musuh dari selain mereka atas mereka, atau kelaparan, atau kematian.&#8221; Maka Nabi itu bermusyawarah dengan kaumnya dan mereka berkata, &#8220;Engkau adalah Nabiyullah, engkau yang memutuskan. Pilihlah untuk kami.&#8221; Lalu dia mendirikan shalat setiap kali mereka sedang menghadapi urusan penting,  mereka mengatasinya melalui shalat. Maka dia shalat sesuai dengan kehendak Allah.</p>
<p>Nabi melanjutkan, &#8220;Kemudian dia berkata, &#8216;Ya Rabbi, adapun musuh dari selain mereka, maka jangan. Adapun kelaparan, maka jangan. Akan tetapi aku memilih kematian.&#8217; Lalu kematian dikirim kepada mereka, dan yang mati di kalangan mereka sebanyak tujuh puluh ribu.</p>
<p>Nabi bersabda, &#8220;Bisikanku yang kalian perhatikan itu adalah aku berkata, &#8216;Ya Allah, dengan-Mu aku berperang, dengan-Mu aku melawan dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.&#8221;<!--more--><br />
<strong>TAKHRIJ HADITS</strong></p>
<p>Syaikh Albani dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah, 5/588, no. 2455. Dia berkata, &#8220;Diriwayatkan oleh Ahmad (6/16), Abdur Rahman bin Mahdi menyampaikan kepada kami, Sulaiman bin Al-Mughirah menyampaikan kepada kami dari Tsabit bin Abdur Rahman bin Abi Laila dari Suhaib berkata&#8230;</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Sanad ini shahih di atas syarat Syaikhain, didukung oleh riwayat Ma&#8217;mar dari Tsabit Al-Bunani yang sejenis tanpa doa, yang di akhir hadits dan   riwayat lain dan tambahannya adalah tambahannya.&#8221; Dia menambahkan, &#8220;Dan jika dia menyampaikan hadits ini, dia pun menyampaikan hadits yang lain bahwa ada seorang raja dan raja itu memiliki seorang dukun&#8230;&#8221; Hadits selengkapnya.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Tirmidzi (2/236-237). Diriwayatkan oleh Muslim (8/229-231) dan Ahmad dalam riwayatnya (1/16-17) dari jalan Hammad bin Salamah: Tsabit menyampaikan kepada kami tanpa hadits yang pertama, dan Tirmidzi berkata, &#8220;Hadits<br />
hasan gharib.&#8221;</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Dan sanadnya di atas syarat Syaikhain juga.&#8221;</p>
<p>Hadits ini disebutkan pula oleh Syaikh Nashir (Albani) dalam As-Shahihah (3/50), no. 1061. Dia berkata tentang takhrij-nya,&#8221;Diriwayatkan oleh Ibnu Nashr dalam Ash-Shalah (2/35). Ishaq bin Ibrahim menyampaikan kepada kami, Abu Usamah memberitakan kepada kami, Sulaiman bin Al-Mughirah menyampaikan kepada kami dari Tsabit Al-Bunani dari Abdur Rahman bin Abu Laila dari Suhaib, lalu dia menyebutkan haditsnya.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Ini adalah sanad shahih di atas syarat Syaikhain.&#8221;</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/333, 6/16) dari dua jalan yang lain dari Sulaiman bin Al-Mughirah dan dari jalan Hammad bin Salamah. Tsabit menyampaikan kepada kami hadits senada dengannya, dan di dalamnya terdapat tambahan bahwa shalat itu adalah shalat Subuh, dan berbisik itu terjadi sesudah shalat pada hari-hari perang Hunain. Dan Darimi meriwayatkan darinya (2/217)   ucapannya, &#8220;Ya  Allah, dengan-Mu aku  berusaha, dengan-Mu aku melawan, dan dengan-Mu aku berperang.&#8221; Dan sanad keduanya shahih di atas syarat Muslim.</p>
<p><strong> PENJELASAN HADITS</strong></p>
<p>Rasulullah memberitakan kepada kita di dalam hadits ini kisah tentang seorang Nabiyullah dengan umat yang besar jumlahnya dan tangguh. Dia melihat pemberian Allah ini dan takjub dengan apa yang dilihatnya. Dalam dirinya muncul kekaguman bahwa tidak ada yang mampu menghadapi umatnya, tidak ada yang bisa mengalahkannya.</p>
<p>Semestinya orang yang menduduki kursi kenabian tidak boleh bersikap demikian, karena ujub dengan diri sendiri atau dengan anak atau harta atau umat adalah penyakit yang buruk. Seorang mukmin dalam menghadang musuhnya tidak tertipu oleh bala tentaranya yang banyak, tidak kecut dengan bala tentaranya yang sedikit, karena kemenangan hanya dari Allah semata.</p>
<p style="text-align:right;">وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّه</p>
<p>&#8220;Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah.&#8221; (QS. Ali Imran: 126)</p>
<p style="text-align:right;">كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِين</p>
<p>&#8220;Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 249)</p>
<p>Kadangkala membanggakan jumlah yang besar justru menjadi penyebab kekalahan.</p>
<p style="text-align:right;">لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِين</p>
<p>&#8220;Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu pada waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu  tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.&#8221; (QS. At-Taubah: 25)</p>
<p>Nabi ini dihukum pada kaumnya. Allah meminta kepadanya untuk memilih bagi    umatnya satu dari tiga perkara. Dikuasakannya    musuh dari selain mereka atas mereka atau kelaparan atau kematian.</p>
<p>Aku bertanya pada   diriku sendiri, rahasia apakah gerangan sehingga Nabi itu disuruh memilih satu dari tiga perkara. Maka aku mendapati bahwa satu dari tiga hal itu bisa melemahkan, bahkan melenyapkan kekuatan sebuah umat. Ia menghilangkan ujub yang ada di hati Nabi itu dan umatnya. Jika  Allah menguasakan musuh dari selain mereka atas mereka, maka musuh itu  akan   menghinakan dan merenggut kehormatan mereka. Jika kelaparan yang menimpa, maka kekuatan mereka lenyap dan mudah untuk dikalahkan. Jika mati, maka jumlah mereka berkurang.</p>
<p>Memilih satu dari tiga perkara adalah perkara yang membingungkan dan perlu pertimbangan yang matang. Nabi ini telah berunding dengan umatnya dan mereka    menyerahkan perkara itu kepadanya, karena dia adalah Nabiyullah. Para Nabi diberi petunjuk dan langkahnya adalah lurus.</p>
<p>Pilihan Nabi ini cukup tepat. Dia memilih kematian, bukan kelaparan atau kekuasaan musuh atas mereka. Jika seseorang yang hanya menimbang dengan tolak ukur dunia, niscaya dia memilih lain dari apa yang dipilih oleh Nabi itu.</p>
<p>Mungkin sebagian orang yang berpikiran dangkal berpendapat bahwa pilihan tepat adalah dikuasakannya musuh atas mereka, karena mereka akan tetap hidup walaupun musuh bisa saja membunuh sebagian dari mereka. Akan tetapi, Nabi ini tidak rela jika kaumnya dihina dan diinjak-injak. Dan pembunuhan tidak bisa terelakkan jika musuh mereka menguasai mereka. Kelaparan adalah perkara berat. Bisa jadi kelaparan menjadi penyebab kalahnya mereka dari musuh mereka, bahkan mungkin banyak yang mati karenanya.</p>
<p>Memilih kematian adalah memilih sesuatu yang pasti datang. Siapa yang hari ini tidak mati, maka dia akan mati besok atau lusa, tidak ada tempat berlari dan berlindung darinya. Nabi ini memilih kematian buat umatnya. Orang-orang yang kembali kepada Tuhan mereka diharapkan bisa diterima di sisi-Nya, dan orang-orang yang hidup sesudah mereka diharapkan bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka. Bisa  jadi setelah mereka mati, Allah memberi ganti dalam jumlah yang banyak jika Dia berkehendak. Segala perkara berada di tangan Allah.</p>
<p>Nabi ini shalat. Begitulah para Nabi dan orang-orang shalih manakala      menghadapi perkara besar, mereka berdiri shalat. Maka dia shalat sesuai yang dikehendaki oleh Allah untuk shalat. Lalu Allah memberinya taufik untuk memilih perkara yang paling ringan. Dia berkata kepada Tuhannya, &#8220;Adapun musuh dari selain mereka, maka jangan. Kelaparan juga jangan, akan tetapi kematian.&#8221;</p>
<p>Kematian menyebar di kalangan mereka seperti api yang menyebar di hamparan rumput kering. Satu per satu wafat. Kematian menjemput dan membinasakan generasi   yang tumbuh. Dalam satu hari ada tujuh puluh ribu yang wafat. Akibat dari ujub yang ada pada Nabi ini kepada kaumnya sangatlah mengerikan. Rasulullah khawatir akibat seperti ini bisa menimpa para sahabatnya. Maka beliau berbisik setelah shalat, &#8220;Ya Allah, dengan-Mu aku berusaha, dengan-Mu aku melawan, dan dengan-Mu aku berperang.&#8221; Dan beliau mengingat kisah Nabi ini, maka beliau berdoa dengan doa seperti di atas kepada Allah, mengumumkan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan serta hanya bergantung kepada kekuatan dan daya para sahabatnya. Dalam menghadapi musuh Nabi berpegang kepada Allah semata, tanpa selain-Nya. Hanya dari-Nya pertolongan dan kemenangan,dan tiada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan-Nya.</p>
<p><strong>PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADITS</strong></p>
<p>1. Rasulullah memberi pengertian kepada sahabat-sahabatnya tentang sebab-sebab kelemahan dan kebinasaan. Di antaranya adalah ujub terhadap diri.<br />
2. Akibat ujub sangatlah mengerikan, sebagaimana yang terjadi pada umat Nabi tersebut. Hal itu karena ujub melemahkan tawakkal dan berpijak kepada Allah,  serta menjadikan seseorang hanya bergantung kepada sebab-sebab materi.<br />
3. Hendaknya para pemimpin, para panglima dan para pengendali   urusan harus     waspada. Jangan sampai Allah menurunkan apa yang telah Allah timpakan kepada kaum Nabi ini. Pada zaman ini kita sering melihat dan mendengar banyaknya kekaguman para pemimpin dan panglima terhadap tentara dan pengikut mereka.<br />
4. Bisa jadi sebab turunnya ujian adalah sesuatu yang samar, hanya diketahui oleh orang yang mengerti agama Allah. Musibah seperti ini bisa menimpa kaum shalih yang berjihad, sementara mereka tidak mengetahui darimana sebabnya.<br />
5. Adanya umat yang baik dalam jumlah besar sebelum kita. Pada kalangan mereka terdapat orang-orang yang berperang dan berjihad di jalan Allah. Dalam rentang waktu yang pendek, jumlah orang yang mati mencapai tujuh puluh ribu orang.<br />
6. Seorang muslim dianjurkan untuk melaksanakan shalat jika menghadapi       suatu perkara besar. Semoga Allah membimbingnya kepada pilihan yang paling lurus. Termasuk hal ini adalah Istikharah yang disyariatkan oleh Allah setelah dua rakaat.<br />
7. Dalam perkara yang mengharuskan memilih, seorang muslim hendaknya tidak    tergesa-gesa. Dia harus bermusyawarah seperti yang dilakukan oleh Nabi ini. Dia harus memikirkan dengan matang, menimbang antara pilihan-pilihan yang ada. Dia harus berdoa kepada Allah agar memberinya taufik sehingga bisa memilih dengan benar.</p>
<p>[Diambil dari Shahih Qashash Syaikh Dr. Umar Al Asyqar Edisi Terjemah Indonesia Kisah-kisah Shahih Seputar Para Nabi dan Rasul, Terbitan Pustaka Elba, Surabaya]</p>
<p>Dari saya, kisah ini adalah sebuah kisah yang penuh hikmah, yang mana sekarang ini banyak sekali manusia yang bersifat ujub. Mereka bangga dengan diri mereka yang telah berinfaq, bersedekah, membantu orang, padahal hal itu akan mengakibatkan rusaknya amal. Bayangkan saja seandainya seorang yang beramal dengan pahala sebesar gunung, kemudian dia bangga dengan amalnya, maka sifat bangganya ini akan menjadi riya&#8217;, tidak ikhlas karena Allah, maka di hari akhir ia akan dapati amalannya bagai debu yang berterbangan.</p>
<p>Sebagaimana dengan sikap saudara-saudara kita di salah satu partai, mereka selalu menampakkan sifat ujub mereka, agar orang-orang yang diluar mereka mengatakan wah ini lho, wah dan wah. Mereka bangga telah menolong korban gempa sementara lainnya tidak menolong. Mereka bangga telah berdakwah di parlemen, mereka bangga telah berdakwah untuk anak-anak jalanan, mereka juga bangga telah begini begitu, juga bangga dengan pengikut mereka yang banyak. Mereka melakukan itu semua untuk pamer. Allhu Musta&#8217;an.</p>
<p>Saya pribadi menilai, orang-orang yang mengaku mengikuti salafush sholeh tidak perlu menampakkan amalan-amalan mereka, tidak perlu membanggakan diri. Boleh jadi apa yang mereka lihat tidak seperti apa yang mereka ketahui. Kenapa mereka harus bertanya kepada salafiyin,<strong> <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;">&#8220;Apa yang telah diperbuat oleh salafiyin? Apakah mereka terjun langsung ketika terjadi bencana? Apakah mereka telah terjun langsung ketika ada kristenisasi?&#8221;</span></span></strong></p>
<p><strong>Kita jawab,</strong> &#8220;Sesungguhnya amalan itu tidaklah untuk diperlihatkan.</p>
<p>Rosulullah bersabda: ”Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung kalau Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah berkata, “Ada yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhlukMu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu api.”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu yang lebih kuat dari pada api?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu angin” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada angin?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui tangan kanannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahamad dalam Musnadnya 3/124 dari hadits Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar, ”Dari hadits Anas dengan sanad yang hasan marfu’” (Al-Fath 2/191).</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِير</p>
<p>yang artinya:<br />
“Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali.<span style="color:#ff0000;"><strong> Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”</strong></span> (QS. Al-Baqoroh: 271).</p>
<p>Saya yakin salafiyin tidak perlu dipuji atas tindakan mereka. Salafiyin juga tidak perlu mendapatkan pujian atas tersembunyinya amal-amal mereka. Salafiyin juga tidaklah bangga atas apa yang telah mereka lakukan, ketika seseorang menanyakan apa yang sudah kita perbuat, maka tentu saja kita berbuat yang terbaik tanpa perlu diberitahukan. Kalau manusia memandang perlu untuk diberitakan, buat apa? <em><span style="text-decoration:underline;">Apakah dengan memberitahukan amalan seseorang itu akan mendapatkan nilai yang lebih dari Allah Azza Wa Jalla?</span></em> Sementara Allah berfirman bahwasannya yang menyembunyikan amalan itu lebih baik?</p>
<p>Dengarlah wahai saudaraku yang duduk di parlemen, yang mereka berada di partai dan membanggakan partainya. Sesungguhnya amalan kepada Allah itu haruslah ikhlas dan bebas dari riya&#8217; dan sifat ujub. Sebab kedua sifat itu akan menghapus apa yang telah kalian lakukan.&#8221;</p>
<p>Nasehat saya yang berikutnya adalah, bahwasannya mereka yang bangga akan jumlah, maka dalam kisah di atas ada peringatan besar.<strong> Jangan bangga terhadap jumlah yang lebih, sekali-kali jangan merasa bahwa jumlah kaum muslimin yang banyak itu adalah sumber kekuatan. Kekuatan itu nomor dua, yang nomor satu adalah kualitas iman yang ada di dalam hati</strong>. Apabila kualitas iman itu bagus, niscaya baguslah seluruh amalannya. Lihatlah bagaimana ketika Perang Badar, lihatlah bagaimana ketika Perang Yarmuk, jumlah umat muslim tidaklah sebanding dengan jumlah musuh yang ada. Makanya <em><strong><span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;">Khalid bin Al Walid radhiyallahu&#8217;anhum berkata, &#8220;Janganlah kalian jadikan jumlah sebagai penentu kemenangan, sesungguhnya kalian kalah akibat dari dosa-dosa kalian&#8221;</span></span></strong></em> (Al Bidayah Wan Nihayah)</p>
<p>Banyak sekali nash-nash baik di Al Qur&#8217;an dan As Sunnah bahwasannya banyaknya umat belum tentu menjadi sebab kemenangan, justru yang menjadi kemenangan adalah mereka yang di dalam hatinya imannya benar, dan <span style="text-decoration:underline;">karena iman mereka benar niscaya Allah akan menurunkan pertolongan dan ini adalah janji Allah</span>. Buat apa kalian wahai saudaraku yang masuk partai memikirkan jumlah sementara hati-hati kalian masih dipenuhi bid&#8217;ah, khurafat dan takhayul? Apakah mau bersatu di atas aqidah yang amburadul, campur aduk dan tidak sesuai aqidah yang benar? Sungguh peristiwa perang Uhud ataupun perang Hunain adalah sebuah gambaran yang jelas bahwasannya ketika umat tidak sempurna imannya, tidak mengikuti Allah dan Rasul-Nya maka Allah tidak akan menolong mereka. Kalau hal ini tidak difahami oleh setiap muslim, niscaya percuma saja perjuangan kalian membentuk partai, kemudian mengatakan partai hanyalah sarana yang penting dakwahnya. Tidak perlu seseorang berdakwah untuk menasehati orang yang gemar berzina dengan ikut mendirikan pelacuran atau lokalisasi, atau tidak perlu juga untuk menasehati orang yang berjudi harus menyediakan meja untuk berjudi kemudian berdakwah di tengah perjudian. Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa salam adalah sebaik-baik contoh. Lihatlah bagaimana beliau tidak mengikuti atau membantu kesyirikan, atau membantu orang-orang menuangkan arak di saat kaum kafir Quraisy mabuk, pernahkah ada nash rasululloh shallallahu&#8217;alaih.i wa sallam membantu kesyirikan kaum kafir ataupun membantu menuangkan minuman seseorang untuk mabuk lalu berdakwah? Padahal kala itu umat beliau masih sedikit dan lemah. Sama seperti kita, di negara yang dipenuhi orang-orang liberal, sekuler dan nasionalis, perlukah dakwah itu dengan mendukung mereka?</p>
<p>Islam sesungguhnya agama yang mulia, bersih dari segala jenis kekufuran. Demokrasi jelas kekufuran. Dan orang yang mengatakan bahwa Demokrasi adalah salah satu jalan untuk meraih kemenangan, maka dia telah menyalahi nash-nash yang ada, dia melesat jauh dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.</p>
<p><strong>Kesimpulannya,</strong> karena sifat ujub mereka melakukan hal-hal yang baik di dalam partai mereka, tidak bermanfaat sama sekali. Dan sekali lagi ujub bisa merusak amal, bisa merusak pahala dan mendatangkan kekalahan bagi kaum muslimin. Kalau ingin kaum muslimin menang, maka sempurnakan iman di hati mereka. Hanya itu sajalah yang bisa mengantarkan manusia menuju kemenangan, sebab setelah iman itu sempurna, maka sudah pasti Allah selalu menepati janji, yaitu dengan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong dirinya sendiri. Yaitu dengan cara menyempurnakan iman mereka, menegakkan dien di dalam hati mereka. Dan tidak ada cara lain selain menuntut ilmu syar&#8217;i, memahaminya, beramal, dan mendakwahkan. Inilah jihad yang ada ketika belum dikumandangkan jihad oleh Ulil Amri.</p>
<p>Wallahua&#8217;lam bishawab</p>
<p>[Ditulis oleh Abu Aisyah Al Kediri pada waktu shubuh, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, keluarganya, dan kaum muslimin]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[Miko] True Tears OST (w/ scans)]]></title>
<link>http://loliduo.wordpress.com/2009/09/03/miko-true-tears-ost-w-scans/</link>
<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 23:46:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>Miko</dc:creator>
<guid>http://loliduo.wordpress.com/2009/09/03/miko-true-tears-ost-w-scans/</guid>
<description><![CDATA[Tracklist: 01. Reflectia (Tv Size) 02. Nyuushakou ni, Migite wo Kazasu 03. Sora wa Itsumo Nagarete 0]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tracklist: 01. Reflectia (Tv Size) 02. Nyuushakou ni, Migite wo Kazasu 03. Sora wa Itsumo Nagarete 0]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikhlas]]></title>
<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/08/29/ikhlas/</link>
<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 10:49:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
<guid>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/08/29/ikhlas/</guid>
<description><![CDATA[Ikhlas adalah lawan dari riya. Kalau riya&#8217; itu artinya diniatkan karena ingin mendapat pujian ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ikhlas adalah lawan dari riya. Kalau riya&#8217; itu artinya diniatkan karena ingin mendapat pujian dari selain Allah, maka ikhlas itu artinya segala perbuatan atau amalnya diniatkan karena Allah s.w.t. Semua ibadah atau amal perbuatan kita akan sia-sia jika kita tidak ikhlas. Bahkan Rasullullah mengkhawatirkan umatnya dari syirik kecil yaitu riya&#8217;. Ya karena pada dasarnya manusia suka dipuji.<!--more--></p>
<p>Lalu bagaimana jika timbul riya&#8217; dalam amal kita? Yang pertama-tama kita lakukan adalah setiap amal perbuatan kita kita niatkan karena Allah. Jika dalam perjalanannya timbul riya&#8217; meski hanya setitik segeralah kita mohon ampun dan meluruskan kembali niat kita. Memang tidak mudah untuk menjaga amal kita agar tidak hilang pahalanya. Amal kita akan hilang pahalanya jika kita menyebut-nyebutnya karena riya&#8217; atau karena ingin dipuji, atau karena sombong, atau karena ingin menyakitkan orang lain. Memang, kita boleh menyebut amal  kebaikkan kita dengan tujuan agar orang lain mencontohnya. Tapi kita harus super waspada. Maka banyak orang yang beramal secara sembunyi-sembunyi karena takut akan riya&#8217;.</p>
<p>Ada yang membuat rangkuman seperti bahwa kata &#8220;Ikhlas&#8221; itu dapat diuraikan berdasarkan huruf-hurufnya. I berarti iman, k berarti kokoh, h berarti halus, l berarti lurus, a berarti amanah, dan s berarti sabar dan akhirnya sejahtera. Memang jika dikaji ikhals memang antara lain memiliki unsur-unsur tersebut. Namun sebenarnya ikhlas itu mengandung pengertian yang lebih luas lagi. Ikhlas berarti pengakuan yang tulus terhadap keesaan Allah dan persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Konsekwensi dari pengakuan ini, maka manusia akan selalu berusaha untuk taat kepada perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya. (bersambung)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seberapa Ikhlas Kau Beribadah?]]></title>
<link>http://shodiq.com/2009/08/10/seberapa-ikhlas-kau-beribadah/</link>
<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 01:47:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bams Winarso</dc:creator>
<guid>http://shodiq.com/2009/08/10/seberapa-ikhlas-kau-beribadah/</guid>
<description><![CDATA[Assalamualaikum Wr Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya sehingga di kesempatan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Assalamualaikum Wr Wb</p>
<div align="justify">Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya sehingga di kesempatan kali ini aku dan pembaca masih bisa bertemu dalam keadaan sehat walafiat. Meskipun kita bertemu melalui dunia maya, namun silaturahmi secara batin dengan saling mendoakan jauh lebih nikmat, apalagi jika dilakukan dengan Ikhlas. Nah, kali ini aku ingin membahas tentang Ikhlas dan essensinya.</p>
<p>P<strong>engertian Ikhlas dan Essensinya</strong><br />
Menurut bahasa, di dalam kata Ikhlas terkandung beberapa makna yang menggambarkan inti dari Ihklash, yaitu; jernih, bersih, suci dari campuran dan pencemaran, baik berupa materi maupun non materi. Rasulullah saw pernah bersabda tentang sifat yang mulia ini, <em>“Barangsiapa yang tujuan utamanya meraih pahala akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya dalam kalbunya, menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tujuan utamanya meraih dunia, niscaya Allah akan menjadikan kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua potensi yang dimilikinya, dan dunia tidak akan datang sendiri kepadanya kecuali menurut apa yang telah ditakdirkan untuknya“.</em> (HR: Tirmidzi).</p>
<p>Ikhlas adalah modal sekaligus bekal dan kemudi ama sholih dalam keadaan apapun, keikhlasan menjadi pintu dari segala amal kebaikan baik berupa pahala dari pemberian materi ataupun non materi seperti ilmu, nasehat dan pikiran. Dengan Ikhlaslah pahala kebaikan itu akan diterima oleh Allah SWT, pilar Ikhlas menjadi sangat penting ketika seseorang menginginkan ridho-Nya atas segala amal perbuatannya di dunia meskipun sedikit. seperti yang ditegaskan dalam sebuah riwayat Ad-Dailami, “Ikhlaslah kamu dalam beramal, maka cukuplah amal yang sedikit yang kamu lakukan”.</p>
<p><strong>Buruknya Riya</strong><br />
Lawan dari Ikhlas adalah Riya. Makna riya dapat diartikan di mana seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”</p>
<p>Bahkan Riya disebut oleh Rasulullah saw sebagai bagian dari kemusyrikan. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad).</p>
<p>Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)</p>
<p>Seperti kisah nyata yang aku temui di sebuah desa kecamatan yang makmur dan maju. Di desa tersebut ada tiga orang kaya yang memiliki kekayaan yang luar biasa dalam ukuran penduduk di sana. Sebut saja mereka bertiga Haji Jasman, Haji Pardi dan Haji Tarno. Ketiganya telah menunaikan ibadah haji pada tahun 2004, ketika itu aku masih berada di sana.</p>
<p>Ketiga Haji itu terkenal dermawan kepada masyarakat miskin dan sering menyumbangkan sejumlah uang pada saat hari raya Idul Fitri tiba. Hanya saja ada yang menarik perhatianku atas perilaku ketiganya. Kebetulan di desa itu memiliki kebiasaan menyebutkan nama penyumbang yang memberikan sebagian hartanya baik kepada mesjid, anak yatim maupun madrasah. Tapi ada yang menarik dari ketiga Pak Haji nan kaya tersebut. Ketiganya tampak terlibat dalam persaingan untuk menjadi penyumbang uang terbanyak. Seperti pada hari raya Idul Fitri tahun 2006, Pak Haji Jasman terlihat sangat bangga ketika namanya disebut dengan lantang sebagai penyumbang terbesar tahun ini.</p>
<p>Nah, persaingan itu semakin terlihat ketika di tahun berikutnya giliran Pak Haji Tarno yang menyumbangkan uang tertinggi dibandingkan kedua Pak Haji yang lain. Dan hebatnya, pada saat itu juga Haji Jasman yang terkenal tak mau kalah lantas mengeluarkan sejumlah uang yang lebih besar dibandingkan sumbangan Pak Haji Tarno. Kontan saja para jemaah lain tertawa sambil tepuk tangan. Aku bisa melihat betapa bangganya Haji Jasman mendengar sorak sorai yang dianggapnya sebagai pujian (wallau ‘Alam)</p>
<p>Pada hari raya tahun lalu pun ketiga Haji itu masih terlibat persaingan untuk menjadi penyumbang terbanyak. Haji Pardi yang kabarnya baru saja menjual tanahnya senilai setengah Milyar rupiah langsung berdiri dan menyerahkan sejumlah uang yang jujur saja jumlahnya membuat saya tercengang. Jemaah di sampingku waktu itu lantas berbisik, <em>“Pasti Haji Tarno dan Haji Jasman panas.”</em> Lalu aku balas, <em>“Panas kenapa?” </em>Jemaah yang berbisik tadi mendekatkan lagi wajahnya ke arahku, <em>“Soalnya gelar penyumbang terbanyak direbut sama Haji Pardi.”</em></p>
<p>Aku yang semula tidak begitu memahami kata-katanya orang tadi perlahan mulai mengerti setelah mendengar cerita bahwa ketiganya memang sering berkompetisi untuk menjadi penyumbang terbanyak di mesjid itu. Ketiganya sering kali membanggakan predikat penyumbang terbanyak ke tetangga dan kerabat mereka. Bahkan jika gelar itu direbut oleh orang lain, mereka tak segan-segan mengatakan bahwa uang sumbangan orang itu berasal dari hasil yang tidak benar alias haram.</p>
<p>Persaingan dalam beribadah memang disukai Allah SWT, tapi benarkan cara yang mereka pakai dengan tidak mengindahkan nilai keihklasan dalam ibadah mereka.</p>
<p>Gambaran seperti ini telah diceritakan, saat Rasulullah saw meminta dari pada sahabatnya untuk bersedekah. Umar ra berkata, <em>&#8216;Kebetulan aku mempunyai harta, maka aku berkata, &#8216;Pada hari ini aku mendahului (melebihi) Abu Bakar ra, jika aku bisa mendahuluinya pada suatu hari- lalu aku datang dengan setengah hartaku. Rasulullah saw bertanya, &#8216;Apakah yang engkau sisakan untuk keluargamu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Seumpamanya (sama seperti jumlah ini).&#8217; Dan Abu Bakar ra datang dengan semua miliknya, maka beliau bertanya, &#8216;Wahai Abu Bakar, apakah yang engkau sisakan untuk keluargamu? Maka ia menjawab, &#8216;Aku tinggalkan untuk mereka Allah SWT dan Rasul-Nya.&#8217; Saat itulah Umar ra berkata, &#8216;Aku tidak bisa mendahuluinya (melebihinya) untuk selamanya</em>. Shahih Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Manaqib, bab ke-41, hadits 2902/3939 (Hasan).</p>
<p>Seperti inilah persaingan di antara sesama teman sejawat dengan rasa cinta dan hormat, bukan dengan rasa dendam dan penghinaan.</p></div>
<p>Demikian, kesempurnaan hanya milik Allah SWT<br />
Wassalam</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[neleri kullanabiliriz, neleri yiyip içebiliriz, Nifas, nikah, nikah tazelemek, oral seks, organ nakli, oruç, osmanlı, osmanlı hakkında, peruk, Peygamber, peygamber efendimiz, quran, radio islam, radioislam, radyo islam, radyo selam, radyoislam, rasulullah islam, rüya, rüşvet, regaip, riya, saç ektirmek, sabır, sadaka, sahabeler, sahihibuhari, Sünnet, sünnet – bid’at nedir, süt kardeşlik, selamlaşmak, sigara]]></title>
<link>http://islamsitem.wordpress.com/2009/08/09/neleri-kullanabiliriz-neleri-yiyip-icebiliriz-nifas-nikah-nikah-tazelemek-oral-seks-organ-nakli-oruc-osmanli-osmanli-hakkinda-peruk-peygamber-peygamber-efendimiz-quran-radio-islam-radio/</link>
<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 00:22:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>yavuzsultanselim</dc:creator>
<guid>http://islamsitem.wordpress.com/2009/08/09/neleri-kullanabiliriz-neleri-yiyip-icebiliriz-nifas-nikah-nikah-tazelemek-oral-seks-organ-nakli-oruc-osmanli-osmanli-hakkinda-peruk-peygamber-peygamber-efendimiz-quran-radio-islam-radio/</guid>
<description><![CDATA[neleri kullanabiliriz, neleri yiyip içebiliriz, Nifas, nikah, nikah tazelemek, oral seks, organ nakl]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>neleri kullanabiliriz, neleri yiyip içebiliriz, Nifas, nikah, nikah tazelemek, oral seks, organ nakli, oruç, osmanlı, osmanlı hakkında, peruk, Peygamber, peygamber efendimiz, quran, radio islam, radioislam, radyo islam, radyo selam, radyoislam, rasulullah islam, rüya, rüşvet, regaip, riya, saç ektirmek, sabır, sadaka, sahabeler, sahihibuhari, Sünnet, sünnet – bid’at nedir, süt kardeşlik, selamlaşmak, sigara</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[islam]]></title>
<link>http://islamsitem.wordpress.com/2009/08/08/islam/</link>
<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 23:59:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>yavuzsultanselim</dc:creator>
<guid>http://islamsitem.wordpress.com/2009/08/08/islam/</guid>
<description><![CDATA[islam en yüce dindir abdest, Adak, Adalet, Ahiret, Ahlak, ahlak bilgileri, Aile, al islam, Allah, al]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>islam en yüce dindir</p>
<p>abdest, Adak, Adalet, Ahiret, Ahlak, ahlak bilgileri, Aile, al islam, Allah, alış veriş bilgileri, amentü, ana baba hakkı, arapca ilahi, arefe, avcılık, Ayetler, aşure, çet, üç aylar, bank islam, batıl inançlar, bayram, bayram mesajlari, büyü, büyü sihir ve bâtıl inançlar, büyük âlimlerin hayatı, bedava ilahi mp3, beddua etmek, berat, bereket, Bid&#8217;at, borsa, boşanmak, buhari, cartoon danish islam, cartoon denmark islam, cartoon island, Cehennem, chat, chat sohbet, Cihad, cihat, dan islam komunikasi, dawat e islami, dawate islami, dövme, dünya, denmark islam, dilenmek, din, din i ilahi, dini, dini bilgi, dini bilgiler, dini dosya, dini download, dini ekart, dini forum, dini hikaye, dini hikayeler, dini resimler, dini şiir, dini şiirler ve menkıbeler, dinibilgiler, dinimiz islam, dinimiz ve diğer dinler, dinimizislam, dinle, download ilahi, doğru iman bilgileri, dua, duanın önemi-çeşitli dualar, Duygular, DİNİ SOHBET, e-card, e-kart, ecard, ehli beyt, ekart, eshabı kiram, eshabın hepsi cennetliktir, esmaul husna, estetik ameliyat, evlat edinmek, evlat hakkı, evlenmek, evlilik ve aile bilgileri, ezgi, ezgi dinle, ezgi indir, ezgiler, faiz, fitne, five pillar of islam, forum, forumislam, fıkıh, gambar kebesaran ilahi, Gayb, günah, gusül, gusül abdesti, gıybet, hac, hac rehberi, hadis, hak din, hakikat, haram, Hayz, hayz ve nifas bilgileri, hülle, helal, hikmetli sözler, history of islam, hıristiyanlık, ibadet, ibni sebe, ibni sebecilik, ictihat, idarecilik, idarecilik bilgileri, iftira, ilahi, ilahi dinle, ilahi dinlemek, ilahi indir, ilahi mp3, ilahi sözleri, ilahi sesli, ilahi tr.com, ilahiler, ilmihal, iman, islam, islam ahlakı, islam chat, islam hadhari, islam online, islam online.net, islam picture, islam religion, islam sohbet, islam today, islam way, islam way.com, islam web, islam world, islamda kadın, islami, islami bilgi, islami dosya, islami download, islami ekart, islami evlilik, islami forum, islami hikaye, islami içerik, islami multimedya, islami portal, islami resimler, islami ruya tabirleri, islami site, islami siteler, islami sohbet odaları, islami sohpet, islami sorular, islami toplist, islami şiir, islami şiirler, islamiforum, islamisite, islamisohbet, islamiyet, islamiyyet, islamyolum.com Bir, israf, jamaat e islami, kadir gecesi, kandil mesajlari, kâr zarar ortaklığı, kürtaj, kürtçe ilahi, küsmek, kütübi sitte, kebesaran ilahi, kebesaran ilahi sengkarai, kelimei şehadet, keramet, kibir, komşuluk, kul hakkı, kur&#8217;an-ı kerim, Kur&#8217;anı kerim, kuran, kuran dinle, kuran oku, kuran sesli, Kurban, kurban ve adak, kurban ve ramazan bayramı.&#8221; /&#62;, kıssa, lanet, lezbiyenlik, livata, maliki mezhebi, maliki mezhebini taklit, masturbasyon, mübarek gün ve geceler, mübarek günler, mübarek geceler, müctehit, mürtet, müzik, müzik ve teganni sapık fırkalar, müziksiz ilahiler, mehr, menkıbe, merak edilen konular, mevlit, Mezhep, mezhep ve mezhepsizlik, mirac, miras, misvak, mucize, muhammad islam, muhammed, Muhammed aleyhisselam, muhammet, musluman genç, muta, namaz, namaz &#8211; abdest, namaz sureleri, namaz vakitleri, nation of islam, nazar, nazar boncuğu, nefs, neleri kullanabiliriz, neleri yiyip içebiliriz, Nifas, nikah, nikah tazelemek, oral seks, organ nakli, oruç, osmanlı, osmanlı hakkında, peruk, Peygamber, peygamber efendimiz, quran, radio islam, radioislam, radyo islam, radyo selam, radyoislam, rasulullah islam, rüya, rüşvet, regaip, riya, saç ektirmek, sabır, sadaka, sahabeler, sahihibuhari, Sünnet, sünnet &#8211; bid&#8217;at nedir, süt kardeşlik, selamlaşmak, sigara, sigorta, sihir, sitesidir, siyer, SOHBET, sohbet chat, sohbetler, sorularla islamiyet, takva, takıyye, tövbe, tüp bebek, türkçe ilahi, tecvid, tecvit, tefsir, teganni, tesettür, tesettür ve setr-i avret, tevazu, tevekkül, Tevrat, uşur, uşur ve sadaka, vehhabilik, vesvese, video ilahi, yahudilik, yemin kefareti, yusuf islam, Zebur, zekat, zina, şükür, şehit, şirk, İncil, İSLAMİ CHAT, İSLAMİ SOHBET</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
