<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>sastra-indonesia &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/sastra-indonesia/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "sastra-indonesia"</description>
	<pubDate>Sat, 25 May 2013 21:40:37 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Garuda punya pesona ]]></title>
<link>http://harululu.wordpress.com/2012/02/26/garuda-punya-pesona/</link>
<pubDate>Sun, 26 Feb 2012 14:13:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rina</dc:creator>
<guid>http://harululu.wordpress.com/2012/02/26/garuda-punya-pesona/</guid>
<description><![CDATA[Dan garuda terbang bersama anggrek bulan berdua, menebar pesona Nusantara Jurusan Rina sibuk banget]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dan garuda terbang bersama anggrek bulan berdua, menebar pesona Nusantara Jurusan Rina sibuk banget]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Waktu Kita Selalu Salah]]></title>
<link>http://saranghaeindonesia.wordpress.com/2012/02/25/cerpen-mengapa-waktu-kita-selalu-salah/</link>
<pubDate>Sat, 25 Feb 2012 09:34:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rhesi Elmia Ningsih</dc:creator>
<guid>http://saranghaeindonesia.wordpress.com/2012/02/25/cerpen-mengapa-waktu-kita-selalu-salah/</guid>
<description><![CDATA[Angin sore senja menerpa wajahku berulang kali, saat kutemui diriku lagi-lagi di atas sebuah batu be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Angin sore senja menerpa wajahku berulang kali, saat kutemui diriku lagi-lagi di atas sebuah batu besar di dekat air terjun. Entah kenapa akhir-akhir ini aku meluangkan waktu untuk datang dan berkunjung kesini hampir tiga atau empat kali dalam seminggu. Mungkin sebuah perasaan kesepian yang teramat sangat membuatku menghindari rasa kesepian yang menyergap itu saat berada dirumah. Perasaan tenang segera menyelinap menggantikan perasaan tegang dan hampa yang selalu aku rasakan  tiap kali mengingat wajah isteriku, saat aku datang ketempat ini dan melihat jutaan kupu-kupu yang beraneka warna seakan terbang mengelilingiku. Entah kenapa rasa cinta dan sayang yang teramat padanya, membuatku selalu ingin memeluknya saat melihat ia menangis dalam doa,  tengah malam ia menumpahkan sujud dan tangisnya dalam dekapan kesunyian. Darahku terasa mendesir, inginku marah pada takdir, karena tak membiarkan rumah kami dihiasi oleh jerit tangis bayi. Sudah 5 tahun. Aku dan isteriku menikah, namun tak pernah ada tanda-tanda kebahagian yang dirindukan itu datang. Aku memang tak pernah menampakkan kegelisahan bahkan kekecewaanku padanya, aku mencoba bersikap wajar dan selalu mengatakan kepadanya bahwa semua akan indah pada waktunya, namun dalam hati kecilku yang sangat dalam tentu aku tak bisa membohongi diriku sendiri untuk berharap mendapat keajaiban dan merasakan menjadi seorang ayah. Membayangkan diriku menggendong anakku, mengajarinya fotografi, membuatnya mengagumi alam bahkan kupu-kupu membuatku tersenyum sendiri dengan menahan semua perasaan yang bergelayut dibenakku.</p>
<p><!--more-->Aku sangat mencitai isteriku, Ning. Bagiku dia adalah sesosok bidadari cantik yang matanya tajam, dan sarat akan ketegasan. Rambutnya panjang hitam dan indah, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, bibirnya mungil namun mengesankan. Perawakannya yang tinggi dan kurus, sesuai dengan porsi tubuhnya. Gaya dan penampilannya pun modis, membuat rekan-rekan kerjaku bahkan teman ku seringkali mencibir, mengapa aku begitu beruntung telah mendapatkannya, seorang wanita cantik, cerdas, dan berkarakter. Namun, kenapa aku selalu tak bisa mengutarakan keinginanku yang terbesar padanya?. Mengapa seolah tiada pernah waktu berpihak padaku untuk satu atau dua detik saja memeluknya dan mengatakan semua perasaan terpendamku padanya. Sesaat kutenggelamkan lagi muka ku dalam apitan kedua siku kaki dan telapak tanganku. Hingga tanpa sadar mataku sedari tadi menatap dan memperhatikan kupu-kupu berwarna pink yang memutar mengelilingi sesosok perempuan muda yang tertawa lepas, di tepi air terjun Baltimurung. Ku lihat sepasang mata teduh itu telah menatapku dalam senyum…</p>
<p>***</p>
<p>Aku terus memperhatikan laki-laki yang  tengah  duduk di atas sebuah batu besar yang sedang menelungkupkan mukanya dilutut. Sejak tadi kuperhatikan ia termenung, berulang kali tersenyum, bahkan terlihat sedang menghembuskan nafas berat berkali-kali. aku pikir mungkin saja dia sedang mempunyai masalah yang teramat berat. Disebelahnya tergeletak kamera canon, yang bersandar pada tas hitam kecilnya. Kupikir mungkin ia menyukai fotografi. Namun, setelah kuperhatikan cukup lama, objeknya hanya kupu-kupu yang ia terlihat tengah bidik. Sesaat lalu, ia memperhatikanku sesaat waktu aku tengah bernyanyi riang bersama kupu-kupu dan gerojokan air yang mengalir dari atas tebing yang tinggi itu. Aku tersenyum tulus kearahnya, sebelum ia menenggelamkan mukanya kembali. Aku sempat merasa kecewa, namun saat ia kembali menengadah dan tersenyum kearahku, degub jantungku rasanya dipompa keras, sungguh menawan, aku belum pernah melihat senyum semenarik itu dari seorang pria. Dia lalu mengambil kameranya dan membidik sasarannya tepat kearahku. Sontak, muka ku memerah dan aku pun menundukkan muka ku memandang apa saja yang ada dibawah permukaan air terjun yang bening ini. Aku malu, ini pengalaman pertamaku, karena aku hanya seorang gadis desa yang tak punya banyak kepercayaan untuk berpose didepan seorang laki-laki tampan dan menarik sepertinya. Kurasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama, dan taukah apa yang kusumpahkan dalam hati kecilku. Aku ingin ia menjadi milikku, sungguh pemikiran egois, sementara aku tak pernah tahu siapa dia…</p>
<p>***</p>
<p>Daeng, atau mas Daeng itu adalah nama suamiku. Seorang laki-laki yang  jujur dan apa adanya. Ia juga seorang yang setia, terbukti hingga lima tahun perkawinan kami, meski tanpa dihiasi satu anggota pelengkap lagi, yakni bayi idaman kami, namun ia tetap sayang dan mencintaiku. Laki-laki tampan ini, adalah seorang yang sukses karirnya, dan aku bahagia hidup bersamanya, bukan karena limpahan harta yang ia berikan, namun kasih sayang dan perhatiannya membuatku begitu mencintainya. Akhir-akhir ini mas Daeng seringkali telat atau tidak makan siang bersama ku di rumah, ia lebih sering berkunjung ke Baltimurung, ke air terjun dan ketempat favoritnya itu. Hampir tiga atau empat kali dalam seminggu. Sebenarnya hal itu sedikit membuatku curiga dan cemburu, namun aku takkan sampai hati mengutarakannya, aku lebih senang memendam semua perasaan itu, agar ia tak terbebani dengan perasaan cemburuku yang bodoh dan tak beralasan ini. Toh ia memang seorang yang mengagumi alam dan kekayaan  bangsa yang seharusnya dipublikasikan seluas-luasnya sebagai harta berharga bangsa ini, menurutnya.</p>
<p>Aku berniat untuk membawakan makan siang mas Daeng ke Baltimurung, kebetulan hari ini aku mempunyai waktu luang untuk tidak mengajar, karena tadi pagi tiba-tiba sekolah mempunyai acara khusus siswa, sehingga aku bisa pulang dan menyiapkan makan siang untuk suamiku. Sesampainya aku di Baltimurung, aku celingukan memandang sekeliling area, yang mungkin saja habis diguyur hujan, sehingga keadaan tanahnya cukup licin, dan membuat aku kesulitan untuk berjalan. Entah kenapa kepala ku rasanya pusing sehingga keseimbanganku sedikit bermasalah, hampir saja aku terpeleset dan mungkin akan terbawa arus kalau saja, seorang wanita muda tidak menarikku dengan cepat dan gesit. Ia berprawakan cukup kuat untuk menahan ku agar tidak jatuh di antara jajaran batu yang licin. Ia lalu tersenyum padaku dan mengucapkan sepatah kata yang membuatku terpana menatapnya. “mbak, baik-baik saja?”. Ujarnya dengan lembut, dan sorot mata penuh dengan kekhawatiran, aku tertegun, wanita muda ini sangat cantik, dan begitu halus namun ia kuat. Aku menatapnya dengan perasaan haru bercampur lega bahwa untung ada dia yang meyelamatkanku. Ia segera undur diri dan melangkah bersama gerimis yang mulai turun kembali, setelah berpamitan padaku. Aku menatapnya, dengan doa tulus untuknya, semoga gadis secantik dan sebaik dia mendapatkan orang sebaik dan setampan suamiku, ujarku dengan mengulum senyum…</p>
<p>Mas Daeng terlihat tergopoh panik, mungkin saja ia melihat kejadian itu. Ia segera berlari dan menghampiriku, dengan muka pucat ia memegang tangan ku dan bersyukur berkali-kali lalu bahwa aku tidak mengalami hal yang hampir saja merenggut mungkin nyawaku. aku tersenyum menenangkannya, aku sungguh mencintainya…</p>
<p>***</p>
<p>Sungguh kejam diriku ini, sungguh hina semua ini, sungguh aku tak kan pernah mengira, mengapa harus kesetianku ternoda oleh perasaan yang tak selayaknya ada. Padahal hatiku telah terpenuhi oleh perasaan cinta terhadap satu orang, tapi kenapa masih ada cela?. Aku sungguh tak habis pikir dengan akal dan logika yang terkalahkan oleh perasaan terlarang ini. Aku mengutuk diriku yang terbawa jauh mengalahkan logika yang selama ini aku gunakan. Kini aku benar-benar takluk pada perasaan cinta yang tak selayaknya ada. Diah, nama itu sekarang tengah meraung dikepalaku, beriringan dengan Ning, wanita yang kucintai sepanjang hidupku ini…mengapa Tuhan mempertemukan ku di waktu yang salah? Mengapa saat aku terbawa rasa yang tidak pernah mau dikalahkan oleh logika,,,ah,,aku pasrah..aku mencintaimu Ning..namun Diah..ingin kumatikan rasa ini..harus kukatakan…</p>
<p>***</p>
<p>Aku benar-benar jatuh cinta, untuk yang pertama kalinya. Dia sungguh menyempurnakan hidupku, dia mengisi setiap kekosongan yang ada pada relung terdalam hatiku. Ia ada untukku beberapa bulan terakhir sejak perjumpaan pertama dengannya dulu. Saat dia tengah dirundung masalah diatas sebuah batu besar ia menelungkupkan kepalanya dan ia memotrerku. Ia pun lalu menhampiriku dan mengatakan bahwa ia mencintai tempat ini dan menyukai kupu-kupu seperti aku. Sejak saat itu, kami kerap bertemu, dan saling berceloteh tentang kesukaan kami yakni kupu-kupu dan alam. Sejak saat itu pula kami mulai mempelajari bahasa kupu-kupu yang kami terjemahkan sendiri maknanya. Aku mengenalnya semakin dalam mengenalnya, semakin ku tak ingin melepasnya. Meski baru-baru ini aku tahu, bahkan dari mulutnya sendiri bahwa ia telah mempunyai seorang istri yang teramat ia cintai, dan ia tak bisa meneruskan hubungan terlarang ini, namun entah mengapa aku begitu egois dan dengan bodohnya menganggap itu bukanlah suatu masalah besar yang mesti ia tanggung, jika ternyata ia pun sangat mencintai laki-laki itu. Meski perasaan ini terlarang, tapi aku sudah terlanjur mencintainya, aku tidak bisa membunuh perasaan ini, takkan pernah bisa, aku memahaminya, mungkin lebih dari sekedar siapa pun yang memahaminya, bahwa ia teramat mencintai isterinya, namun karena itu aku sangat mencintainya. Aneh memang tapi ada…</p>
<p>***</p>
<p>Setiap hari, aku semakin pasrah dengan keadaan ini, entah kenapa akhir-akhir ini mas Daeng sering bertingkah aneh dan membuatku khawatir. Aku bertanya tentang keadaan di kantor, ia bilang lancar-lancar saja. Lantas apa? Apa mungkin persoalan bayi lagi? Ah..aku merasa bersalah, mengapa, aku tak bisa memberikan apa yang dia inginkan. Aku merasa lemah sebagai wanita. Kadang ego ku mengatakan haruskah aku melepas mas Daeng untuk wanita lain yang lebih sempurna? Namun aku tak kuasa memikirkannya. Aku teramat sangat mencintainya…</p>
<p>Semoga tuhan mendengar doa hambanya, semoga tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk keluarga kami.</p>
<p>***</p>
<p>Tujuh bulan setelah aku menikah sirih tanpa sepengetahuan Ning, isteriku. Aku merasakan sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Diah sekarang hamil tiga bulan. Dia mengandung anakku, anak yang selama ini aku rindukan kehadirannya, anak yang akan menemani hari-hari tuaku nanti, anak yang akan kuajarkan semuanya tentang alam yang indah ini. Anak yang akan dapat berlari dan menyambutku serta memberantakkan rumah saat aku pulang dari kelelahanku. Anak yang akan menjadi pengibur lara ku dan kesepianku. Anak yang akan kutumpahkan seluruh kasih dan sayang, yang dulu tak pernah aku rasakan, karena sejak kecil aku tidak pernah mempunyai ayah seperti kebanyakan teman-teman sekolahku. Kini aku akan menjadi sosok yang hebat itu. Aku bahagia namun merasa miris dan menangis, aku teringat Ning, bagaimana jika ia tahu hal ini? Bagaimana jika ia meninggalkanku, aku tidak sanggup. Ning harus tahu, entah cepat atau lambat…</p>
<p>***</p>
<p>Entah apa yang terjadi pada suamiku, akhir-akhir ini ia semakin bersikap aneh, kadang ia terlihat begitu bahagia saat setibanya dari tempat favoritnya itu, kadang saat sedang bersamaku dia terlihat sangat murung dan selalu menggenggam erat tanganku serta selalu mengatakan bahwa ia sangat mencintaiku dan tak ingin aku meninggalkannya atau membencinya. Sebenarnya apa maksudnya, aku tidak pernah memahaminya seperti ia memahamiku. Meski aku tahu semua kesukaannya, dari makanan, sampai kegemaran, tahu hal yang dibencinya dari udang hingga tempat keramaian, aku tetap tak pernah tahu isi pikirannya atau cara berpikirnya. Kadang aku merasa, aku tak mengenalnya sebaik ia mengenalku. Kadang aku merutuki diri, isteri macam apa aku yang tak pernah menyadari keinginan terdalam suaminya. Sebenarnya aku juga sedang dalam kebimbangan yang luar biasa. Akankah waktu sanggup menjawab pula. Namun aku membawa kabar gembira.</p>
<p>***</p>
<p>Aku tak kan pernah tega mengatakan hal yang sebenarnya mengganggu perasaanku pada Ning, aku takkan pernah tega mengatakan bahwa aku akan mempunyai anak dari seorang istri kedua, atau lebih tepatnya selingkuhan yang tengah mengandung anakku. Karena sudah pasti itu akan menyayat perasaanya sangat dalam. Apalagi kulihat akhir-akhir ini ia sangat bahagia, terlihat dari pancaran matanya yang selalu berbinar ceria saat menatapku. Hingga aku takkan bisa memaafkan diriku lagi jika sampai hati merebut senyumnya. Air mata membanjiri mataku, mengalir berasama kebimbangan yang aku alami antara bahagia dan bersalah.</p>
<p>***</p>
<p>Hadirnya aku dalam rumah tangga mas Daeng dan mbak Ning memang sebuah kesalahan. Namun, aku tetap menyadari bahwa cinta mas Daeng pada isteri pertamanya itu teramat besar, hingga meski ia telah mendapatkan kebahagiaan yang selama ini ia inginkan yakni akan hadirnya seorang bayi takkan pernah bisa mengalahkan rasa cintanya. Sampai kapan mas Daeng harus menyimpan semua ini, aku juga tidak tahu, aku cuma takut waktunya salah?. Padahal sebenarnya aku rela saja menjadi yang kedua karena aku juga sangat mencintainya, dan entah kenapa dari cerita-cerita mas Daeng, aku begitu menyayangi mbak Ning dan merasa ikhlas jika harus berdampingan dengannya atau bahkan dinomorsekiankan.</p>
<p>***</p>
<p>Harusnya saat ini adalah saat yang tepat untuk aku mengatakannya pada mas Daeng. Aku benar-benar-benar ingin melihat ekspresi wajahnya yang pasti akan menjerit senang mendengar kabar ini. Aku benar-benar ingin membuatnya bahagia. Aku akan membuat kejutan untuknya, hari ini.</p>
<p>***</p>
<p>Aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Ning. Tekadku sudah bulat, aku harus member tahu Ning yang sesungguhnya, aku takkan tega membohonginya terus menerus hingga aku mati. Takkan pernah, dan apa pun konsekuensinya akan kuterima dengan ikhlas, karena ini salahku seutuhnya, Ning dan Diah tidak bersalah. Namun, kenapa perasaanku begitu gundah. Untuk itu aku akan menenangkan diri terlebih dahulu di tempat kenangan kami bertiga. Hujan begitu deras mengalir, aku melamun dalam keheningan hujan, kupu-kupu telah bersembunyi untuk melindungi diri. Sementara aku di atas batu besar menenangkan diri dan mencoba menyusun kata-kata untuk Ning. Oh aku merasa bersalah, amat sangat, dan tanpa sengaja aku merogoh ponsel dan dilayar hp ku muncul nama Ning, aku begitu tergopoh hingga tak menyadari bahwa aku terperosok dan terbawa arus air yang menggila. Dalam kegundahan aku berkata “kenapa waktu kita selalu salah?” tak pernah ada penjelasan yang mungkin tersampaikan. Ning aku mencintaimu…tiba-tiba semuanya gelap.</p>
<p>***</p>
<p>Kaget dan sedih menangis bahkan meraung hanya itu yang bisa aku perbuat mendengar hal yang mengerikan terjadi pada mas Daeng. Secepat itu kau meninggalkan aku mas, bahkan aku pun belum sempat kau perkenalkan dengan mbak NIng. Atau bahkan kau belum sempat melihat anakmu lahir. Kau kejam mas, kau tega, menelantarkan aku, namun aku tahu apa yang harus kuperbuat untukmu …aku mencintaimu mas,,,amat sangat.</p>
<p>***</p>
<p>Aku seperti orang gila yang tak punya arah tujuan hidup lagi, seakan separuh hidupku terbawa dengan hembusan nafas terakhir mas Daeng dalam pelukku. Dia memandangku dengan senyum untuk terakhir kalinya. Hatiku sakit tak kuat rasanya merasakan dan membayangkan hidup tanpa orang yang kucintai. Dengan berat dan tegar aku ikhlas melepas kepergiannya, kupertegas senyumku dan kukatakan betapa aku mencitainya, dan meminta maaf karena selama ini tak bisa memahaminya. Aku lupa untuk mengatakan bahwa aku hamil, sebuah kesalahan terbesarku. Andai di saat ia tersenyum terakhir tadi aku mengatakannya mungkin sekarang mas Daeng bahagia. Maafkan aku mas.</p>
<p>***</p>
<p>Di sinilah sekarang aku ada, di Baltimurung tempat semua kenangan yang mas Daeng torehkan. Aku tahu bahwa mbak Ning pasti akan kesini dengan menemui kupu-kupu yang merupakan jelmaan mas Daeng menurutku dan mbak Ning mungkin. Sungguh gila tapi aku percaya. Aku akan mengatakannya.</p>
<p>***</p>
<p>Dua bulan berlalu kemantian mas Daeng, sekarang aku di Baltimurung tempat favorit suamiku. Sekarang aku tengah berbicara dengan seorang wanita. Aku bingung dengan semua penjelasan wanita cantik dihadapanku ini. Ia yang sedari tadi menjadi penerjemahku dengan kupu-kupu tiba-tiba mengatakan bahwa ia tengah mengandung anak mas Daeng. Kuperhatikan lagi, ternyata benar ia tengah mengandung, dan katanya sudah lima bulan, padahal usia kandunganku baru tiga bulan. Aku tidak bisa terima ini, ini hal yang paling mustahil. Tapi aku melihat kejujuran di matanya. Kini aku baru tahu bahwa sebab keanehan mas ternyata adalah semua ini. Jadi ia sering terlihat bahagia karena ini. Oh tuhan betapa tidak bergunanya aku menjadi seorang istri.</p>
<p>“mbak Ning, jangan pernah salah paham kepada mas Daeng, dia laki-laki yang baik, dia sangat mencintai mbak sampai akhir hayatnya, terkadang saya juga iri, namun saya tidak pernah mengharap apa pun mbak, saya hanya tidak tahu kenapa saya juga teramat mencintainya”</p>
<p>Aku hanya tertegun mendengar semua omongannya. Awalnya aku marah serasa ingin mencekik bahkan membunuh wanita di depanku yang merupakan selingkuhan mas Daeng atau istri kedua atau apalah. Namun, melihatnya yang begitu memahami mas Daeng aku merasa malu dan terpukul. Akhirnya aku hanya bisa menangis dalam diam tak pernah menyangka mas Daeng mengkhianatiku namun mencintaiku.  Wanita yang lebih muda dari ku ini tiba-tiba mendekat dan memelukku. Ia juga menangis sama sepertiku, aku tahu ia juga tidak salah mencintai mas Daeng, karena mas Daeng memang lelaki yang menarik. Namun, yang tak habis kupikir kenapa wanita ini lebih memahami mas Daeng daripada aku. Akhirnya aku luruh dalam peluknya.</p>
<p>“mbak, maafkan aku mencintai mas Daeng, namun izinkanlah aku mengabdi dan menyayangi mbak Ning layaknya kakakku, aku ingin mbak bisa menerima kehadiranku, dan anak-anak mas Daeng tetap rukun dalam persaudaraan” ujarnya dengan isak tangis pula.</p>
<p>Mendengar itu aku semakin malu, kenapa wanita ini begitu mengerti setiap keinginan mas Daeng, mungkin jika ia ada di sini ia akan memeluk kami berdua. Perlahan aku menurunkan egoku dan sedikit demi sedikit mulai dapat mencerna logika. Aku memeluk ia balik setelah beberapa saat. Ia terlihat kaget, namun pada akhirnya ia semakin kencang menangis. Aku tersenyum penuh kerelaan. Perlahan kuangkat wajahnya perlahan dan kuperhatikan dengan seksama. Aku terkejut.</p>
<p>“astaga, kamu gadis itu, gadis dalam doaku setelah menolongku”.</p>
<p>“tolong apa? Doa apa?” ujarnya masih bingung.</p>
<p>Ning semakin tersenyum lebar dan menyeka air mata gadi itu. “kenapa waktu kita selalu salah? Ternyata Tuhan menyiapkan semuanya dengan begitu indah”.</p>
<p>Cerpen</p>
<p>Untuk memenuhi tugas mata kuliah</p>
<p>Apresiasi Prosa Fiksi</p>
<p>yang dibina oleh Bapak Wahyudi Siswanto</p>
<p>Oleh :</p>
<p>Rhesi Elmia Ningsih</p>
<p>100211400466</p>
<p>Offering A</p>
<p><strong></strong>UNIVERSITAS NEGERI MALANG</p>
<p>FAKULTAS SASTRA</p>
<p>JURUSAN SASTRA INDONESIA</p>
<p>Jum’at, 22 September 2011</p>
		<div id="geo-post-18" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">-7.962405</span>
			<span class="longitude">112.617181</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[D. Zawawi Imron Raih South East Asia Write Award 2011 di Bangkok]]></title>
<link>http://rochem.wordpress.com/2012/02/24/d-zawawi-imron-raih-south-east-asia-write-award-2011-di-bangkok/</link>
<pubDate>Thu, 23 Feb 2012 18:18:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rochem</dc:creator>
<guid>http://rochem.wordpress.com/2012/02/24/d-zawawi-imron-raih-south-east-asia-write-award-2011-di-bangkok/</guid>
<description><![CDATA[Sastrawan D. Zawawi Imron meraih Hadiah Sastra Asia Tenggara atau South East Asia Write Award 2011,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="size-full wp-image-1344 alignleft" title="d-zawawi-imron-di-indonesiaproud-wordpress-com" src="http://rochem.files.wordpress.com/2012/02/d-zawawi-imron-di-indonesiaproud-wordpress-com.png?w=172&#038;h=209" alt="" width="172" height="209" />Sastrawan D. Zawawi Imron meraih Hadiah Sastra Asia Tenggara atau South East Asia Write Award 2011, yang dilaksanakan di Mandarin Oriental, Bangkok pada 16 Februari 2012.</p>
<p style="text-align:justify;">Upacara penganugerahan yang sedianya diselenggarakan pada bulan November 2011 lalu telah diundur pelaksanaannya akibat banjir yang melanda Thailand akhir tahun lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Penghargaan sastra kepada D. Zawawi Imron disampaikan oleh Putri Sirivannari Nariratana, mewakili Putra Mahkota Kerajaan Thailand, Pangeran Maha Vajiralongkorn.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain Zawawi Imron, 7 sastrawan lainnya dari negara anggota ASEAN menerima Hadiah Sastra yang sama, yakni Mohamad Zefri Ariff (Brunei Darussalam), Bounthanong Xomxayphol (Laos), Mohd Zakir Syed bin Othman (Malaysia), Romulo P. Baquiran Jr. (Filipina), Robert Yeo Cheng Chuan (Singapura), Jadej Kamjorndet (Thailand), dan Nguyen Chi Trung (Vietnam).</p>
<p style="text-align:justify;">Hadiah Sastra yang dimenangkan oleh Zawawi Imron didasarkan pada salah karya sastranya berupa kumpulan puisi berjudul ‘Kelenjar Laut’ (The Glands of the Sea) yang dipublikasikan pada 2007 serta keseluruhan karya sastra yang dihasilkan selama kariernya.</p>
<p style="text-align:justify;">Zawawi Imron lahir di Sumenep, Madura, 21 September 1943, merupakan salah satu penyair Indonesia yang aktif dan telah mewarnai perkembangan sastra Indonesia sejak awal 1980-an. Sebagai warga Madura, karya-karya Zawawi sangat diwanai dengan kehidupan laut dan tradisi masyarakat maritim.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadiah Sastra Asia Tenggara merupakan penghargaan yang dikeluarkan oleh Kerajaan Thailand setiap tahun sejak 1979, dan dianugerahkan bagi pegiat sastra dan penyair di negara-negara ASEAN. Dalam sambutannya setelah menerima anugerah tersebut, Zawawi Imron menyampaikan berbagai aliran dan tema sastra merupakan suatu bentuk kebebasan berekspresi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Adalah menjadi pilihan saya untuk menyuarakan keyakinan akan nurani, selain menyumbangkan pemikiran bagi pemeliharaan peradaban untuk terciptanya dunia yang damai tanpa kebencian dan permusuhan.” Baginya syair juga menggambarkan kecintaannya pada tanah airnya: Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: kemlu.go.id (KBRI Bangkok)</p>
		<div id="geo-post-1341" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">-7.008500</span>
			<span class="longitude">113.369711</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tarian Kisah Gus Tf Sakai]]></title>
<link>http://othervisions.wordpress.com/2012/01/02/tarian-kisah-gus-tf-sakai/</link>
<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 23:53:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>ary amhir</dc:creator>
<guid>http://othervisions.wordpress.com/2012/01/02/tarian-kisah-gus-tf-sakai/</guid>
<description><![CDATA[Bila kau berada dalam sebuah persoalan, Yani, pandanglah kehidupan dari sisi mana kau bisa tertawa.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bila kau berada dalam sebuah persoalan, Yani, pandanglah kehidupan dari sisi mana kau bisa tertawa.]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemujaku]]></title>
<link>http://lovalend.wordpress.com/2011/12/16/pemujaku/</link>
<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 09:55:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>imey</dc:creator>
<guid>http://lovalend.wordpress.com/2011/12/16/pemujaku/</guid>
<description><![CDATA[Terlalu lama Kau dituntun ke jalanku Terlalu lama pula Aku menyadarinya &nbsp; Namun semua rencana i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Terlalu lama Kau dituntun ke jalanku Terlalu lama pula Aku menyadarinya &nbsp; Namun semua rencana i]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Program Studi Indonesia : antara alasan dan harapan]]></title>
<link>http://pujiekalestari.wordpress.com/2011/11/10/program-studi-indonesia-antara-alasan-dan-harapan/</link>
<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 04:18:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Puji Eka Lestari</dc:creator>
<guid>http://pujiekalestari.wordpress.com/2011/11/10/program-studi-indonesia-antara-alasan-dan-harapan/</guid>
<description><![CDATA[Bisa melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia merupakan impian bagi setiap lulusan SMA di Ind]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bisa melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia merupakan impian bagi setiap lulusan SMA di Ind]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Program Studi Indonesia FIB UI: Semester 1]]></title>
<link>http://harululu.wordpress.com/2011/11/01/program-studi-indonesia-fib-ui-semester-1/</link>
<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 03:32:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rina</dc:creator>
<guid>http://harululu.wordpress.com/2011/11/01/program-studi-indonesia-fib-ui-semester-1/</guid>
<description><![CDATA[Sebenarnya aku mau posting ini dari bulan Mei, tapi Rina terlalu malas dan selalu kering ide untuk n]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sebenarnya aku mau posting ini dari bulan Mei, tapi Rina terlalu malas dan selalu kering ide untuk n]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penulis dan Karya Sastra Indonesia]]></title>
<link>http://latihanrekweb.wordpress.com/2011/10/09/penulis-dan-karya-sastra/</link>
<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 11:49:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>sastrawan07</dc:creator>
<guid>http://latihanrekweb.wordpress.com/2011/10/09/penulis-dan-karya-sastra/</guid>
<description><![CDATA[Pada setiap angkatan Sastra Indonesia ada beberapa penulis dengan karya sastranya yang cukup terkena]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pada setiap angkatan Sastra Indonesia ada beberapa penulis dengan karya sastranya yang cukup terkenal</p>
<p style="padding-left:60px;"><span class="Apple-style-span" style="color:#339966;font-style:italic;">1. Karya Sastra Pujangga Lama</span></p>
<p>Sejarah</p>
<ul>
<li>Sejarah Melayu (<em>Malay Annals</em>)Hikayat</li>
</ul>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<ul>
<li>Hikayat Abdullah</li>
<li>Hikayat Aceh</li>
<li>Hikayat Amir Hamzah</li>
<li>Hikayat Andaken Penurat</li>
<li>Hikayat Bayan Budiman</li>
<li>Hikayat Djahidin</li>
<li>Hikayat Hang Tuah</li>
<li>Hikayat Iskandar Zulkarnain</li>
<li>Hikayat Kadirun</li>
</ul>
</td>
<td>
<ul>
<li>Hikayat Kalila dan Damina</li>
<li>Hikayat Masydulhak</li>
<li>Hikayat Pandawa Jaya</li>
<li>Hikayat Pandja Tanderan</li>
<li>Hikayat Putri Djohar Manikam</li>
<li>Hikayat Sri Rama</li>
<li>Hikayat Tjendera Hasan</li>
<li>Tsahibul Hikayat</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Syair</p>
<ul>
<li>Syair Bidasari</li>
<li>Syair Ken Tambuhan</li>
<li>Syair Raja Mambang Jauhari</li>
<li>Syair Raja Siak</li>
</ul>
<p>Kitab agama</p>
<ul>
<li><em>Syarab al-&#8217;Asyiqin</em> (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri</li>
<li><em>Asrar al-&#8217;Arifin</em> (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri</li>
<li><em>Nur ad-Daqa&#8217;iq</em> (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai</li>
<li><em>Bustan as-Salatin</em> (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri</li>
</ul>
<div><span style="font-size:small;"><span class="Apple-style-span" style="line-height:24px;"><br />
</span></span></div>
<ul>
<li>
<address><span style="color:#339966;">2. Karya Sastra Melayu Lama</span></address>
<address><span style="color:#339966;"><br />
</span></address>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<ul>
<li>Robinson Crusoe (terjemahan)</li>
<li>Lawan-lawan Merah</li>
<li>Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)</li>
<li>Graaf de Monte Cristo (terjemahan)</li>
<li>Kapten Flamberger (terjemahan)</li>
<li>Rocambole (terjemahan)</li>
<li>Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)</li>
<li>Bunga Rampai oleh A.F van Dewall</li>
<li>Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe</li>
<li>Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan</li>
<li>Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya</li>
<li>Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)</li>
<li>Cerita Nyi Paina</li>
<li>Cerita Nyai Sarikem</li>
<li>Cerita Nyonya Kong Hong Nio</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--more--></li>
</ul>
<ul>
<li>
<address><span style="color:#339966;">3. Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka</span></address>
<address><span style="color:#339966;"><br />
</span></address>
<ul>
<li>Merari Siregar</li>
</ul>
<dl>
<dd>
<ul>
<li>Azab dan Sengsara (1920)</li>
<li>Binasa kerna Gadis Priangan (1931)</li>
<li>Cinta dan Hawa Nafsu</li>
</ul>
</dd>
</dl>
<ul>
<li>Marah Roesli</li>
</ul>
<dl>
<dd>
<ul>
<li>Siti Nurbaya (1922)</li>
<li>La Hami (1924)</li>
<li>Anak dan Kemenakan (1956)</li>
</ul>
</dd>
</dl>
<ul>
<li>Muhammad Yamin</li>
</ul>
<dl>
<dd>
<ul>
<li>Tanah Air (1922)</li>
<li>Indonesia, Tumpah Darahku (1928)</li>
<li>Kalau Dewi Tara Sudah Berkata</li>
<li>Ken Arok dan Ken Dedes (1934)</li>
</ul>
</dd>
</dl>
<ul>
<li>Nur Sutan Iskandar</li>
</ul>
<dl>
<dd>
<ul>
<li>Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)</li>
<li>Cinta yang Membawa Maut (1926)</li>
<li>Salah Pilih (1928)</li>
<li>Karena Mentua (1932)</li>
<li>Tuba Dibalas dengan Susu (1933)</li>
<li>Hulubalang Raja (1934)</li>
<li>Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)</li>
</ul>
<div>
<address><span style="color:#339966;">4.Karya Sastra Pujangga Baru</span></address>
<address><strong><span style="color:#339966;"><br />
</span></strong></address>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<ul>
<li>Sutan Takdir Alisjahbana
<ul>
<li>Dian Tak Kunjung Padam (1932)</li>
<li>Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)</li>
<li>Layar Terkembang (1936)</li>
<li>Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Hamka
<ul>
<li>Di Bawah Lindungan Ka&#8217;bah (1938)</li>
<li>Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)</li>
<li>Tuan Direktur (1950)</li>
<li>Didalam Lembah Kehidoepan (1940)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Armijn Pane
<ul>
<li>Belenggu (1940)</li>
<li>Jiwa Berjiwa</li>
<li>Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)</li>
<li>Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)</li>
<li>Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Sanusi Pane
<ul>
<li>Pancaran Cinta (1926)</li>
<li>Puspa Mega (1927)</li>
<li>Madah Kelana (1931)</li>
<li>Sandhyakala Ning Majapahit (1933)</li>
<li>Kertajaya (1932)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Tengku Amir Hamzah</li>
<ul>
<li>Nyanyi Sunyi (1937)</li>
<li>Begawat Gita (1933)</li>
<li>Setanggi Timur (1939)</li>
</ul>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<address><span style="color:#339966;">5.Karya Sastra Angkatan 1945</span></address>
<address><strong><span style="color:#339966;"><br />
</span></strong></address>
<ul>
<li>Chairil Anwar
<ul>
<li>Kerikil Tajam (1949)</li>
<li>Deru Campur Debu (1949)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
<ul>
<li>Tiga Menguak Takdir (1950)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Idrus
<ul>
<li>Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)</li>
<li>Aki (1949)</li>
<li>Perempuan dan Kebangsaan</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Achdiat K. Mihardja
<ul>
<li>Atheis (1949)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Trisno Sumardjo
<ul>
<li>Katahati dan Perbuatan (1952)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Utuy Tatang Sontani
<ul>
<li>Suling (drama) (1948)</li>
<li>Tambera (1949)</li>
<li>Awal dan Mira - drama satu babak (1962)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Suman Hs.</li>
<ul>
<li>Kasih Ta&#8217; Terlarai (1961)</li>
<li>Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)</li>
<li>Pertjobaan Setia (1940)</li>
</ul>
</ul>
<div>
<address><span style="color:#339966;">6. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 &#8211; 1960-an</span></address>
<address><strong><span style="color:#339966;"><br />
</span></strong></address>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<ul>
<li>Pramoedya Ananta Toer
<ul>
<li>Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)</li>
<li>Bukan Pasar Malam (1951)</li>
<li>Di Tepi Kali Bekasi (1951)</li>
<li>Keluarga Gerilya (1951)</li>
<li>Mereka yang Dilumpuhkan (1951)</li>
<li>Perburuan (1950)</li>
<li>Cerita dari Blora (1952)</li>
<li>Gadis Pantai (1965)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Nh. Dini
<ul>
<li>Dua Dunia (1950)</li>
<li>Hati jang Damai (1960)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Sitor Situmorang
<ul>
<li>Dalam Sadjak (1950)</li>
<li>Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)</li>
<li>Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)</li>
<li>Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)</li>
<li>Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Mochtar Lubis</li>
<ul>
<li>Tak Ada Esok (1950)</li>
<li>Jalan Tak Ada Ujung (1952)</li>
<li>Tanah Gersang (1964)</li>
<li>Si Djamal (1964)</li>
</ul>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</div>
</dd>
</dl>
</li>
</ul>
<p style="padding-left:60px;"><span class="Apple-style-span" style="color:#444444;font-family:Georgia, 'Bitstream Charter', serif;font-size:16px;font-style:italic;line-height:24px;"><span style="color:#339966;">7. Karya Sastra Angkatan 1966</span></span></p>
<ul>
<li>
<dl>
<dd>
<div>
<div>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<address><strong><span style="color:#339966;"><br />
</span></strong></address>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<ul>
<li>Taufik Ismail
<ul>
<li>Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia</li>
<li>Tirani dan Benteng</li>
<li>Buku Tamu Musim Perjuangan</li>
<li>Sajak Ladang Jagung</li>
<li>Kenalkan</li>
<li>Saya Hewan</li>
<li>Puisi-puisi Langit</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Sutardji Calzoum Bachri
<ul>
<li>O</li>
<li>Amuk</li>
<li>Kapak</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Abdul Hadi WM
<ul>
<li>Meditasi (1976)</li>
<li>Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)</li>
<li>Tergantung Pada Angin (1977)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Sapardi Djoko Damono
<ul>
<li>Dukamu Abadi (1969)</li>
<li>Mata Pisau (1974)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Goenawan Mohamad</li>
<ul>
<li>Parikesit (1969)</li>
<li>Interlude (1971)</li>
<li>Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)</li>
<li>Seks, Sastra, dan Kita (1980)</li>
</ul>
</ul>
<div><span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;"><br />
</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</div>
</dd>
</dl>
</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;"><span class="Apple-style-span" style="color:#444444;font-family:Georgia, 'Bitstream Charter', serif;font-size:16px;font-style:italic;line-height:24px;"> <span style="color:#339966;">8. </span><span style="color:#339966;">Karya Sastra Angkatan 1980 &#8211; 1990an</span></span></p>
<ul>
<li>
<dl>
<dd>
<div>
<div>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<address> </address>
<address><strong><span style="color:#339966;"><br />
</span></strong></address>
<ul>
<li>Ahmadun Yosi Herfanda
<ul>
<li>Ladang Hijau (1980)</li>
<li>Sajak Penari (1990)</li>
<li>Sebelum Tertawa Dilarang (1997)</li>
<li>Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)</li>
<li>Sembahyang Rumputan (1997)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Y.B Mangunwijaya
<ul>
<li>Burung-burung Manyar (1981)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Darman Moenir
<ul>
<li>Bako (1983)</li>
<li>Dendang (1988)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Budi Darma
<ul>
<li>Olenka (1983)</li>
<li>Rafilus (1988)</li>
</ul>
</li>
</ul>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<address><span style="color:#339966;">9. Karya Sastra Angkatan Reformasi</span></address>
<address><span style="color:#008000;"><strong><br />
</strong></span></address>
<ul>
<li>Widji Thukul</li>
<ul>
<li>Puisi Pelo</li>
<li>Darman</li>
</ul>
</ul>
<address><span style="color:#008000;"><span style="color:#000000;"><br />
</span></span></address>
<address><span style="color:#008000;"><span style="color:#000000;">10. Karya Sastra Angkatan 2000-an</span></span></address>
<div><span style="color:#008000;"><strong><br />
</strong></span></div>
<div>
<ul>
<li>Ayu Utami
<ul>
<li>Saman (1998)</li>
<li>Larung (2001)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Seno Gumira Ajidarma
<ul>
<li>Atas Nama Malam</li>
<li>Sepotong Senja untuk Pacarku</li>
<li>Biola Tak Berdawai</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Dewi Lestari
<ul>
<li>Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)</li>
<li>Supernova 2.1: Akar (2002)</li>
<li>Supernova 2.2: Petir (2004)</li>
</ul>
</li>
<li>Andrea Hirata
<ul>
<li>Laskar Pelangi (2005)</li>
<li>Sang Pemimpi (2006)</li>
<li>Edensor (2007)</li>
<li>Maryamah Karpov (2008)</li>
<li>Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)</li>
</ul>
</li>
</ul>
</div>
</div>
</div>
</dd>
</dl>
</li>
</ul>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Angkatan Sastra Indonesia]]></title>
<link>http://latihanrekweb.wordpress.com/2011/10/09/angkatan-sastra-indonesia/</link>
<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 10:58:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>sastrawan07</dc:creator>
<guid>http://latihanrekweb.wordpress.com/2011/10/09/angkatan-sastra-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Pujangga Lama Salah satu halaman Hikayat Abdullah Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li><span class="Apple-style-span" style="color:#000000;font-size:22px;line-height:32px;">Pujangga Lama</span></li>
</ul>
<div>
<div style="padding-left:330px;"><img class="alignright" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/af/AbdullahbinAbdulKadir-HikayatAbdullah-1849.jpg/220px-AbdullahbinAbdulKadir-HikayatAbdullah-1849.jpg" alt="" width="220" height="304" /></p>
<div>
<div></div>
<p>Salah satu halaman Hikayat Abdullah</p></div>
</div>
</div>
<p><span class="Apple-style-span" style="color:#444444;font-family:Georgia, 'Bitstream Charter', serif;font-size:16px;line-height:24px;">Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.</span></p>
<ul>
<li><span class="Apple-style-span" style="color:#000000;font-size:22px;line-height:32px;">Sastra Melayu Lama</span></li>
</ul>
<p>Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 &#8211; 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti &#8220;Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya&#8221;, orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.<!--more--></p>
<ul>
<li><span class="Apple-style-span" style="color:#000000;font-size:22px;line-height:32px;">Angkatan Balai Pustaka</span></li>
</ul>
<div>
<div><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Abdoel_moeis.jpg&#38;filetimestamp=20110227031045"><img class="alignright" title=" Abdul Muis sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/4/47/Abdoel_moeis.jpg" alt="" width="180" height="229" /></a></div>
</div>
<p>Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.</p>
<p>Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.</p>
<p>Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai &#8220;Raja Angkatan Balai Pustaka&#8221; oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah &#8220;novel Sumatera&#8221;, dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.<sup>[2]</sup></p>
<p>Pada masa ini, novel <em>Siti Nurbaya</em> dan <em>Salah Asuhan</em> menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu.</p>
<ul>
<li><span class="Apple-style-span" style="color:#000000;font-size:22px;line-height:32px;">Pujangga Baru</span></li>
</ul>
<div>
<div><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/2/25/Sutan_takdir_alisjahbana.jpg" alt="" width="145" height="200" /></p>
<div>
<div></div>
<p>Sutan Takdir Alisjahbanapelopor Pujangga Baru</p></div>
</div>
</div>
<p>Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.</p>
<p>Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 &#8211; 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya <em>Layar Terkembang</em>, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel <em>Tenggelamnya Kapal van der Wijck</em> dan <em>Kalau Tak Untung</em> menjadi karya penting sebelum perang.</p>
<p>Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :</p>
<ol>
<li>Kelompok &#8220;Seni untuk Seni&#8221; yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah</li>
<li>Kelompok &#8220;Seni untuk Pembangunan Masyarakat&#8221; yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<ul>
<li><span class="Apple-style-span" style="color:#000000;font-size:22px;line-height:32px;">Angkatan 1945</span></li>
</ul>
<div style="color:#444444;font-size:16px;line-height:24px;">
<div><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Chairil_Anwar.jpg&#38;filetimestamp=20090308103329"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7c/Chairil_Anwar.jpg/220px-Chairil_Anwar.jpg" alt="" width="220" height="291" /></a></p>
<div><a title="Chairil Anwar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar">Chairil Anwar</a> pelopor Angkatan 1945</div>
</div>
</div>
<p style="color:#444444;font-size:16px;line-height:24px;">Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan &#8217;45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi <a title="Chairil Anwar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar">Chairil Anwar</a>. Sastrawan angkatan &#8217;45 memiliki konsep seni yang diberi judul &#8220;Surat Kepercayaan Gelanggang&#8221;. Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan &#8217;45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain <em>Tiga Manguak Takdir</em>, pada periode ini cerpen <em>Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma</em> dan <em>Atheis</em> dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.</p>
<ul>
<li><span class="Apple-style-span" style="color:#000000;font-size:22px;line-height:32px;">Angkatan 1950 &#8211; 1960-an</span></li>
</ul>
<div>
<div><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Pramoedyaanantatoer.jpg&#38;filetimestamp=20050524104114"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/0/03/Pramoedyaanantatoer.jpg/220px-Pramoedyaanantatoer.jpg" alt="" width="220" height="243" /></a></p>
<div>
<div></div>
<p>Pramoedya Ananta Toer novelis generasi 1950-1960</p></div>
</div>
</div>
<p>Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.</p>
<p>Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965dengan pecahnya G30S di Indonesia.</p>
<ul>
<li><span class="Apple-style-span" style="color:#000000;font-size:22px;line-height:32px;">Angkatan 1966 &#8211; 1970-an</span></li>
</ul>
<div>
<div><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/0/0a/Taufik_ismail.jpg" alt="" width="150" height="180" /></p>
<div>
<div></div>
<p>Taufik Ismail sastrawan Angkatan 1966</p></div>
</div>
</div>
<p>Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.<sup>[3]</sup> Semangat <em>avant-garde</em> sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono danSatyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.</p>
<p>Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya.</p>
<ul>
<li><span class="Apple-style-span" style="color:#000000;font-size:22px;line-height:32px;">Angkatan 1980 &#8211; 1990an</span></li>
</ul>
<div>
<div><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/b/b3/Hilman_Hariwijaya.jpg/220px-Hilman_Hariwijaya.jpg" alt="" width="220" height="359" /></p>
<div>
<div><img src="http://bits.wikimedia.org/skins-1.18/common/images/magnify-clip.png" alt="" width="15" height="11" /></div>
<p>Hilman Hariwijaya penulis cerita remaja pada dekade 1980 dan 1990</p></div>
</div>
</div>
<p>Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.</p>
<p>Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.</p>
<p>Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: <em>Pada Sebuah Kapal</em>, <em>Namaku Hiroko</em>, <em>La Barka</em>, <em>Pertemuan Dua Hati</em>, dan <em>Hati Yang Damai</em>. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.</p>
<p>Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.</p>
<p>Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.</p>
<p>Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.</p>
<ul>
<li><span class="Apple-style-span" style="color:#000000;font-size:22px;line-height:32px;">Angkatan Reformasi</span></li>
</ul>
<p>Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang &#8220;Sastrawan Angkatan Reformasi&#8221;. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.</p>
<p>Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra &#8212; puisi, cerpen, dan novel &#8212; pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.</p>
<ul>
<li><span class="Apple-style-span" style="color:#000000;font-size:22px;line-height:32px;">Angkatan 2000-an</span></li>
</ul>
<div>
<div><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Andrea_Hirata.jpg&#38;filetimestamp=20081006084158"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/c/c8/Andrea_Hirata.jpg/220px-Andrea_Hirata.jpg" alt="" width="220" height="330" /></a></p>
<div>
<div></div>
<p>Andrea Hirata salah satu novelis tersukses pada dekade pertama abad ke-21</p></div>
</div>
</div>
<p>Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya &#8220;Sastrawan Angkatan 2000&#8243;. Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sastra Indonesia]]></title>
<link>http://latihanrekweb.wordpress.com/2011/10/09/sastra-indonesia/</link>
<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 10:42:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>sastrawan07</dc:creator>
<guid>http://latihanrekweb.wordpress.com/2011/10/09/sastra-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sastra Indonesia</strong>, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah &#8220;Indonesia&#8221; sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.</p>
<p>Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.</p>
<p>Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:</p>
<ul>
<li>lisan</li>
<li>tulisan</li>
</ul>
<p>Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:</p>
<ul>
<li>Angkatan Pujangga Lama</li>
<li>Angkatan Sastra Melayu Lama</li>
<li>Angkatan Balai Pustaka</li>
<li>Angkatan Pujangga Baru</li>
<li>Angkatan 1945</li>
<li>Angkatan 1950 &#8211; 1960-an</li>
<li>Angkatan 1966 &#8211; 1970-an</li>
<li>Angkatan 1980 &#8211; 1990-an</li>
<li>Angkatan Reformasi</li>
<li>Angkatan 2000-an</li>
</ul>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Daigakuen no Nikki part 22: Hamlet pun panik saat gak punya karcis commuter line]]></title>
<link>http://harululu.wordpress.com/2011/10/01/daigakuen-no-nikki-part-22-hamlet-pun-panik-saat-gak-punya-karcis-commuter-line/</link>
<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 14:44:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rina</dc:creator>
<guid>http://harululu.wordpress.com/2011/10/01/daigakuen-no-nikki-part-22-hamlet-pun-panik-saat-gak-punya-karcis-commuter-line/</guid>
<description><![CDATA[Untuk mengerjakan sebuah tugas yang kecil, kita butuh pengorbanan yang besar. Rina sudah berkali-kal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Untuk mengerjakan sebuah tugas yang kecil, kita butuh pengorbanan yang besar. Rina sudah berkali-kal]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yo! I'm back.]]></title>
<link>http://imaginedangerously.wordpress.com/2011/09/15/yo-im-back/</link>
<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 05:17:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>IWasNoOne</dc:creator>
<guid>http://imaginedangerously.wordpress.com/2011/09/15/yo-im-back/</guid>
<description><![CDATA[Annyeonghaseyo! Sudah cukup lama juga gue ga buka ini blog. Postingan terakhir malah tentang tempat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Annyeonghaseyo! Sudah cukup lama juga gue ga buka ini blog. Postingan terakhir malah tentang tempat]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tugas kuliah: Pidato kematian (-_-)"]]></title>
<link>http://harululu.wordpress.com/2011/09/07/tugas-kuliah-pidato-kematian-_/</link>
<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 04:35:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rina</dc:creator>
<guid>http://harululu.wordpress.com/2011/09/07/tugas-kuliah-pidato-kematian-_/</guid>
<description><![CDATA[Entah kenapa &#8220;pidato kematian&#8221; menjadi salah satu search engine term yang sering Rina li]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Entah kenapa &#8220;pidato kematian&#8221; menjadi salah satu search engine term yang sering Rina li]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Uga Wangsit Siliwangi]]></title>
<link>http://seratcentini.wordpress.com/2011/09/06/uga-wangsit-siliwangi/</link>
<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 18:25:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>serat centini</dc:creator>
<guid>http://seratcentini.wordpress.com/2011/09/06/uga-wangsit-siliwangi/</guid>
<description><![CDATA[Terjemahan bebas Uga Wangsit Siliwangi. Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mund]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Terjemahan bebas Uga Wangsit Siliwangi.</em></p>
<p>Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu beliau sebelum menghilang :<br />
<em>“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”</em></p>
<p><!--more--></p>
<p>&#160;</p>
<p>Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!</p>
<p>Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!</p>
<p>Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!</p>
<p>Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah!</p>
<p>Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa diteemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. dan bahkan berlebihan kalau bicara.</p>
<p>Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.</p>
<p>Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.</p>
<p>Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!</p>
<p>Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.</p>
<p>Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.</p>
<p>Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.</p>
<p>Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah.  Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.</p>
<p>Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.</p>
<p>Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.<br />
Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.</p>
<p>Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!</p>
<p>Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.</p>
<p>Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.</p>
<p>Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!</p>
<p>sumber: <a href="http://nurahmad.wordpress.com/" rel="nofollow">http://nurahmad.wordpress.com/</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Loser No More Part2]]></title>
<link>http://lovalend.wordpress.com/2011/08/24/loser-no-more-part2/</link>
<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 21:53:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>imey</dc:creator>
<guid>http://lovalend.wordpress.com/2011/08/24/loser-no-more-part2/</guid>
<description><![CDATA[Pengelak Sebutan itu yg pantas utkmu Lelaki lemah yg tak bisa menghilangkan jejak masa lalu Namun te]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pengelak Sebutan itu yg pantas utkmu Lelaki lemah yg tak bisa menghilangkan jejak masa lalu Namun te]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Loser NO MORE]]></title>
<link>http://lovalend.wordpress.com/2011/08/09/pecundang/</link>
<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 01:17:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>imey</dc:creator>
<guid>http://lovalend.wordpress.com/2011/08/09/pecundang/</guid>
<description><![CDATA[Guru terbaikku itu kembali lagi Mengungkit perih masa lalu Tak ingin ku sesali lagi Tak ingin ku ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Guru terbaikku itu kembali lagi Mengungkit perih masa lalu Tak ingin ku sesali lagi Tak ingin ku ter]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tuhan (Mungkin) Rindu, Bapak Anton M. Moeliono]]></title>
<link>http://renjanatuju.wordpress.com/2011/07/26/tuhan-mungkin-rindu-bapak-anton-m-moeliono/</link>
<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 20:45:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Atre</dc:creator>
<guid>http://renjanatuju.wordpress.com/2011/07/26/tuhan-mungkin-rindu-bapak-anton-m-moeliono/</guid>
<description><![CDATA[Ibu, terbangun kaget dini hari, saya mendengar kabar sedih. Selalu, kepergian seorang guru bisa biki]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ibu, terbangun kaget dini hari, saya mendengar kabar sedih. Selalu, kepergian seorang guru bisa biki]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Madre]]></title>
<link>http://ticklemind.wordpress.com/2011/07/19/madre/</link>
<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 08:00:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>wulanratih</dc:creator>
<guid>http://ticklemind.wordpress.com/2011/07/19/madre/</guid>
<description><![CDATA[Madre merupakan buku baru karangan Dewi &#8216;Dee&#8217; Lestari. Informasi mengenai akan terbitnya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Madre merupakan buku baru karangan Dewi &#8216;Dee&#8217; Lestari. Informasi mengenai akan terbitnya]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Spasi]]></title>
<link>http://ticklemind.wordpress.com/2011/07/12/spasi/</link>
<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 10:59:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>wulanratih</dc:creator>
<guid>http://ticklemind.wordpress.com/2011/07/12/spasi/</guid>
<description><![CDATA[Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Segera: Jakarta Stage Literature Festival 2011]]></title>
<link>http://rebmagz.wordpress.com/2011/06/13/segera-jakarta-stage-literature-festival-2011/</link>
<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 04:09:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>REBMAGZ</dc:creator>
<guid>http://rebmagz.wordpress.com/2011/06/13/segera-jakarta-stage-literature-festival-2011/</guid>
<description><![CDATA[Di era konsumerisme ini, produktivitas individu kadang sering di kesampingkan. Padahal tindakan sepe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Di era konsumerisme ini, produktivitas individu kadang sering di kesampingkan. Padahal tindakan sepe]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[9 Matahari]]></title>
<link>http://ticklemind.wordpress.com/2011/06/10/9-matahari/</link>
<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 00:33:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>wulanratih</dc:creator>
<guid>http://ticklemind.wordpress.com/2011/06/10/9-matahari/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Keinginan kuat itu tekad, bukan nekat&#8230;&#8221; judul BAB I itu begitu dahsyat dan membua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[&#8220;Keinginan kuat itu tekad, bukan nekat&#8230;&#8221; judul BAB I itu begitu dahsyat dan membua]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Daigakuen no Nikki part 19: Halo, Maba~ (I)]]></title>
<link>http://harululu.wordpress.com/2011/06/02/daigakuen-no-nikki-part-19-halo-maba-i/</link>
<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 19:17:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rina</dc:creator>
<guid>http://harululu.wordpress.com/2011/06/02/daigakuen-no-nikki-part-19-halo-maba-i/</guid>
<description><![CDATA[Dua hari yang lalu adalah daftar ulang mahasiswa baru angkatan 2011 jalur SNMPTN undangan. Aku dan t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dua hari yang lalu adalah daftar ulang mahasiswa baru angkatan 2011 jalur SNMPTN undangan. Aku dan t]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memburu Tanah Tabu bersama Rara]]></title>
<link>http://harululu.wordpress.com/2011/05/15/memburu-tanah-tabu-bersama-rara/</link>
<pubDate>Sun, 15 May 2011 13:37:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rina</dc:creator>
<guid>http://harululu.wordpress.com/2011/05/15/memburu-tanah-tabu-bersama-rara/</guid>
<description><![CDATA[Hari Jumat, aku dan Rara pergi ke Taman Ismail Marzuki. Eitss&#8230; Jangan salah. Kami ke sana buka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Hari Jumat, aku dan Rara pergi ke Taman Ismail Marzuki. Eitss&#8230; Jangan salah. Kami ke sana buka]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sebenarnya lulusan program studi Indonesia bisa terjun ke dunia hukum kok...]]></title>
<link>http://harululu.wordpress.com/2011/05/11/sebenarnya-lulusan-program-studi-indonesia-bisa-terjun-ke-dunia-hukum-kok/</link>
<pubDate>Wed, 11 May 2011 07:33:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rina</dc:creator>
<guid>http://harululu.wordpress.com/2011/05/11/sebenarnya-lulusan-program-studi-indonesia-bisa-terjun-ke-dunia-hukum-kok/</guid>
<description><![CDATA[Hari ini di kelas,  dosenku menganjurkan Rina dan teman-teman untuk memperdalam sejarah bahasa. Inti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Hari ini di kelas,  dosenku menganjurkan Rina dan teman-teman untuk memperdalam sejarah bahasa. Inti]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tugas Kuliah: Esai Sastra]]></title>
<link>http://harululu.wordpress.com/2011/05/03/tugas-kuliah-esai-sastra/</link>
<pubDate>Tue, 03 May 2011 13:15:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rina</dc:creator>
<guid>http://harululu.wordpress.com/2011/05/03/tugas-kuliah-esai-sastra/</guid>
<description><![CDATA[Setelah sekian lama, Rina menulis sesuatu yang berguna dan lebih &#8220;bermartabat&#8221; di blog i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Setelah sekian lama, Rina menulis sesuatu yang berguna dan lebih &#8220;bermartabat&#8221; di blog i]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
