<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>sawah &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/sawah/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "sawah"</description>
	<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 19:25:29 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[MASIHKAH JAWA LUMBUNG BERAS NASIONAL ? ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/30/masihkah-jawa-lumbung-beras-nasional/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 02:31:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/30/masihkah-jawa-lumbung-beras-nasional/</guid>
<description><![CDATA[Sebagai lumbung beras nasional, Pulau Jawa ada di titik amat kritis. Di satu sisi, karena ketergantu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/03masihkah-jawa-lumbung-beras-nasional-01.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3417" title="03masihkah jawa lumbung beras nasional 01" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/03masihkah-jawa-lumbung-beras-nasional-01.jpg?w=125" alt="" width="125" height="150" /></a>Sebagai lumbung beras nasional, Pulau Jawa ada di titik amat kritis. Di satu sisi, karena ketergantungan akut semua perut pada beras, swasembada beras menjadi keharusan bagi siapa pun yang memerintah negeri ini.</p>
<p>Beras adalah pangan mahapenting di negeri berpenduduk 230 juta ini, tak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial-politik. Karena itu, sejak Orde Baru hingga kini, baik harga, pasokan, maupun distribusi beras dikendalikan. Posisi Jawa menjadi penting karena memasok 56-60 persen (kebutuhan) beras nasional.</p>
<p>Di sisi lain, Jawa merupakan episentrum ekonomi nasional. Sekitar 70 persen uang negeri ini berputar di Jawa (Baswir, 2003). Hal ini membuat aktivitas ekonomi di Jawa berputar bak gasing. Laju industrialisasi, transformasi ekonomi, dan jumlah penduduk yang besar membuat tekanan pada lahan menjadi panas. Pertumbuhan ekonomi mendongkrak mutu sosial-ekonomi lahan nonpertanian.</p>
<p><strong>Di simpang jalan</strong></p>
<p>Perkawinan antara permintaan dan rente lahan nonpertanian yangterus meningkat ini membuat tekanan pada lahan berjalan masif. Ini membuat keberadaan hutan, sawah, dan ladang ada di simpangjalan : tetap dipertahankan sebagai kawasan penyangga dan penghasil pangan atau dikonversi.</p>
<p><!--more-->Dampak dari tekanan lahan itu bisa dilihat dari rutinitas banjir, longsor, dan kekeringan di sejumlah kota di Jawa. Namun, sejauh mana kondisi tutupan hutan dan daerah aliran sungai (DAS) sebagai penyuplai air irigasi, khususnya terkait jaminan produksi pangan dari sawah, belum banyak diketahui. Ketersediaan informasi ini penting sebagai penanda kritis-tidaknya Pulau Jawa sebagai penyangga pangan nasional.</p>
<p>Hasil intrepretasi citra Landsat 2006/2007 oleh Barus dan kawan-kawan (2009) menunjukan, tutupan lahan hutan total di Jawa tinggal 14 persen, jauh dari angka ideal (30 persen) untuk menjaga lingkungan fisik dan areal sawah. Dari 156 DAS di Jawa, hanya 10 DAS (6,4 persen) yang punya tutupan luas hutan lebih dari 30 persen, bahkan 50 DAS (32 persen) di antaranya tutupan hutannya nol persen. Akibatnya, sebagian besar sub-DAS di Jawa berpotensi besar dilanda banjir/longsor rutin. Air hujan yang seharusnya bisa mengisi air tanah dan pelan-pelan dialirkan karena adanya tutupan hutan, berubah menjadi air limpasan permukaan, yang tidak saja mubazir, tetapi juga menjadi (peng)gerus lapisan subur tanah.</p>
<p>Menurut Barus dkk, dari empat kelas daerah tawan longsir (1-4, dari rendah/tidak ada sampai besar), kategori kelas tiga menempati rerata 80 persen dari tiap sub-DAS dan kelas 4 menempati areal 10 persen.</p>
<p>Dari empat kelas daerah rawan banjir, kategori kelas tiga mempunyai rerata 65 persen dari tiap sub-DAS, dan kelas empat sekitar 20 persen. Berpijak dari kombinasi ketiga kondisi itu – DAS kritis, rawan banjir, dan rawan longsor – sebenarnya lingkungan fisik di Jawa sudah rusak/kritis.</p>
<p>Apabila musim hujan, sebagian besar sawah akan banjir dan longsor. Sebaliknya, sawah akan kekeringan pada musim kemarau. Rutinitas banjir dan longsir akan membuat padi puso, DAS dan jaringan irigasi rusak. Padi adalah tanaman rakus air. Tanpa ketersediaan air memadai. Produksi padi ada di zona bahaya. Banjir, longsor, dan kekeringan akan mengancam eksistensi Jawa sebagai lumbung padi nasional.</p>
<p><strong>Jawa, basis produksi beras</strong></p>
<p>Untuk mempertahankan Jawa sebagai basis produksi beras, harus dilakukan aneka langkah cepat dan simultan.</p>
<p><em>Pertama</em>, menetapkan zonasi agroekologi sawah. Konsep pewilayahan didasari kenyataan, tiap tanaman memiliki perbedaan tingkat kesesuaian lahan. Dari zonasi agroekologi sawah oleh Nurwadjedi (2009), luas sawah mencapai 2,87 juta hektar (40 persen) dari 7,16 juta hektar kawasan budidaya di Jawa. Sebagian besar (93 persen) sawah itu berjenis tanah fluvial dan volkanik yang amat subur dibandingkan dengan tanah di luar Jawa, dengan kondisi irigasi beragam (dari teknis hingga tadah hujan). Dengan penetapan ini, sawah dalam zonasi harus dilindungi eksistensinya.</p>
<p>Penetapan dan perlindungan lahan ini merupakan amanat UU Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, ditetapkan 16 September 2009, melalui UU ini, kawasan dan lahan pertanian pangan ditetapkan (jangka panjang, menengah, dan tahunan) lewat perencanaan kabupaten/kota, provinsi, dan nasional (Pasal 11-17).</p>
<p>Keberadaan kawasan dan lahan dilindungi hanya bisa dikonversi untuk kepentingan umum. Itu pun dengan syarat mahaberat (Pasal 44-46) : didahului kajian kelayakan dan rencana alih fungsi, pembebasan kepemilikan, dan ada lahan pengganti 1-3 kali yang dikonversi plus infrastruktur. Siapa yang melakukan alih fungsi lahan yang dilindungi bisa dipidana 2-7 tahun dan denda Rp 1 – 7 milliar. Pidana ditambah jika pelakunya pejabat (Pasal 72-74).</p>
<p><em>Kedua</em>, segera dilakukan rehabilitasi tutupan hutan, menekan laju degradasi lahan dan bencana banjir. Terkait ini, penerapan pengelolaan sumber daya air terpadu dan prinsip hilir membayar hulu tidak bisa ditunda-tunda. Karakteristik air terkait daerah hulu-hilir. Konsekuensinya, batas hidrologis tidak selalu identik dengan batas administratif.</p>
<p>Pengelolaan sumber daya air harus menimbang kesatuan hidrologis sebagai satu kesatuan wilayah. Ini penting karena DAS-DAS besar di Jawa, seperti DAS Solo, Ciliwung, dan Citanduy, bersifat lintas provinsi dan melewati puluhan kabupaten/kota. Daerah hilir sebagai pengguna (irigasi dan PAM) harus memberi insentif hulu untuk melakukan konservasi dan rehabilitasi. Tanpa dua langkah ini, degradasi sawah terus berlangsung. Jika itu terjadi, lumbung beras Jawa tinggal cerita.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Masihkah Jawa Lumbung Beras Nasional ?, Khudori &#124; Penulis Buku Ironi Negeri Beras ; Peminat Sosial-Ekonomi Pertanian dan Globalisasi<br />
Kompas, 18.11.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KUNCINYA MENDEKAT PADA IBU BUMI ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/30/kuncinya-mendekat-pada-ibu-bumi/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 01:54:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/30/kuncinya-mendekat-pada-ibu-bumi/</guid>
<description><![CDATA[Para petani yang melakukan metode organik tak memiliki resep tunggal untuk meningkatkan kesuburan la]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/14kuncinya-mendekat-pada-ibu-bumi-01.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3374" title="14kuncinya mendekat pada ibu bumi 01" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/14kuncinya-mendekat-pada-ibu-bumi-01.jpg?w=150" alt="" width="150" height="143" /></a>Para petani yang melakukan metode organik tak memiliki resep tunggal untuk meningkatkan kesuburan lahan serta mengatasi gangguan hama dan penyakit tanaman. Masing-masing menemukan teknik sendiri. Kuncinya adalah mendekat pada ibu bumi, memahami keluh kesahnya, dan memberi apa yang dimauinya.</p>
<p>Kata kunci itu barangkali terdengar abstrak bagi sebagian orang. Namun, bagi petani yang telah menerapkannya, metode tersebut sangat nyata. Jauh lebih nyata dibandingkan dengan menggantungkan tanah mereka pada rezim pupuk dan pestisida kimia yang datang dari negeri yang entah.</p>
<p>Disamping teknik yang telah dikenal umum, dengan membuat kompos berbahan baku kotoran hewan atau dedaunan, sejumlah petani organik menemukan teknik dan bahan terbaik untuk pupuk sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing.</p>
<p>Misalnya, Purwanto, petani dari Dusun Klebenm Kelurahan Sidorejo, Godean, Sleman, Yogyakarta, menemukan pupuk dari fermentasi telur itik busuk – dipilih dari telur itik yang gagal menetas dari usaha penetasan telur yang dimilikinya.</p>
<p>Petani 34 tahun ini, selain mengolah lahan warosan mertua seluas 450 meter persegi, juga mengembangkan usaha penetasan bebek sejak tiga tahun terakhir. Setiap bulan dia menetaskan sekitar 2.500 telur dengan tingkat kegagalan sekitar 5 persen.</p>
<p>Limbah telur ini awalnya biang masalah karena biasanya dia membuang telur busuk itu ke sungai. Tetangganya protes karena muncul bau busuk luar biasa. “Suatu malam saya menemukan ide, kenapa telur itu tidak saya pendam di dalam sawah ? Telur kan makanan bergizi bagi manusia, pasti juga baik bagi padi,” demikian logika sederhananya.</p>
<p>Selama dua tahun terakhir dia mempraktikan metode temuannya itu dan sudah sekitar 4.000 telur bebek lengkap dengan cangkangnya yang ditanam di sawah. “Panenan ternyata bagus,” kata Purwanto.</p>
<p>Di Klaten, sekelompok petani memfermentasi limbah tetes tebu dari pabrik gula, yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan. Sedangkan di Margoluwih, Sayegan, Yogyakarta, Kelompok Joglo Tani menggunakan air kencing kelinci untuk membuat pupuk.</p>
<p><!--more-->Para praktisi organik ini percaya bahwa ibu bumi dan tanaman merupakan sosok yang hidup dan bernapas. Karena itu, kebutuhan terhadap unsur hara juga berlainan pada waktu, jenis tanaman, dan tempat yang berbeda. Dengan mengenal dan membaca tanda-tanda alam, para penggiat organik ini menemukan cara masing-masing.</p>
<p>“Saya pernah dianggap gila karena tiap hari merenung di tengah sawah, “ kata Purwanto. Waktu itu tanaman padinya yang mulai mengunging dikeroyok tikus. Beberapa resep tradisional dicoba, tapi tdak mempan. “Tikus itu hewan pintar, mereka juga belajar,” katanya.</p>
<p>Dia akhirnya menemukan teknik merendam sawah saat malam – ketika tikus-tikus iu menyerbu – dan cepat mengeringkan kembali saat pagi. Untuk sementara padinya aman walaupun mungkin suatu saat tikus itu akan menemukan cara menyerang pada saat tengah hari bolong.</p>
<p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/14kuncinya-mendekat-pada-ibu-bumi-02.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3376" title="14kuncinya mendekat pada ibu bumi 02" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/14kuncinya-mendekat-pada-ibu-bumi-02.jpg?w=122" alt="" width="122" height="150" /></a>Di Purbalingga, pelopor pertanian organik, Mbah Gatot, menggunakan gula untuk melawan tikus. Pertama-tama, dia mencari liang tikus yang masih aktif, yaitu yang masih ada bekas lalu linyas hewan pengerat itu. Lalu di bagian luar liang ditaruj beberapa sendok gula merah atau gula putih. Tujuannya agar setiap ada tikus yang lewat, rambut tikus itu tertempel gula dan terbawa masuk ke dalam liangnya. Gula akan mendatangkan semut, dan semut akan mengusir tikus. Itulah logikanya. Logika yang dipahami dan ditemukan dari hasil pengamatan sendiri, kemudian dicobakan.</p>
<p>Beberapa teknik itu gagal, sebagian berhasil. Tetapi, pada prinsipnya mereka berdialog, belajar, dan mencoba sendiri.</p>
<p>Teknik paling ampuh mengatasi tikus, menurut Purwanto, sudah dikenal oleh petani sejak lama, yaitu menggunakan preadtor tikus, misalnya ular, burung hantu, atau elang, “Tetapi, sekarang predator tikus itu dihabisi oleh predator yang lebuh rakus, manusia,” dan sebagai akibatnya, “petani yang sekarang kesuliyan melawan tikus itu,” kata Purwanto menerangkan konsep rantai makanan.</p>
<p><strong>Jejaring hidup</strong></p>
<p>Seperti ditulis oleh Rachel Carson dalam Silent Spring (1962), buku klasik yang menguvah cara pandang dunia Barat terhadap pupuk dan pestisida kimia, sejarah kehidupan adalah interaksi dengan lingkungan. Saling tergantung dan saling dukung. Tak ada yang tak berguna dalam jejaring alam ini, semua memiliki peranan.</p>
<p>Jauh sebelum manusia menjadi dominan, alam telah menemukan keseimbangannya sendiri. Manusia tidak mencipta apa-apa, termasuk tanaman pangan yang sekarang dikenal, mulai dari padi-padian, gandum, jagung, hingga umbi-umbian. Manusia hanya menyeleksi, memodifikasi, dan membiakkan dengan cepat (sesuai) yang diinginkannyaserta menyisihkan yang dianggap tak berguna.</p>
<p>Aneka tanaman itu sudah ada di bumi, demikian juga serangga yang tergantung padanya. Dan, seperti manusia, spesies pesaing itu juga beradaptasi. Ketika kemudian manusia menganggap spesies itu sebagai hama dan menyerangnya dengan zat kimia mematikan, mereka pun belajar untuk bertahan dengan kemampuan adaptasi yang jauh lebih canggih dibandingkan manusia karena mereka jauh lebih tua.</p>
<p>Contoh yang populer adalah penggunaan dichloro diphenyl trichloroethane (DDT). Pada tahap awal penggunaannya, DDT dianggap pahlawan yang mampu mengalahkan serangga pengganggu, tetapi hanya sebentar karena muncul berbagai varian baru serangga yang lebih kebal terhadap racun ini. Demikian seterusnya, walaupun jenis dan dosis racun ditambah, spesies pesaing itu tetap bertahan dan semakin kebal.</p>
<p>Rachel Carson mengamati, alih-alih menghabisi hama pengganggu, tracun kimia itu justru membunuh aneka spesies yang berguna bagi manusia, seperti lebah penyerbuk dan burung pemakan hama. Pada gilirannya, racun kimia yang ditujukan kepada spesies pengganggu juga menggerogoti tubuh manusia. Singkatnya, menurut Rachel, “perang dengan racun kimia tak akan pernah dimenangi manusia.”</p>
<p>Walaupun tak pernah membaca Silent Spring atau buku-buku sejenis itu, Purwanto tahu betul bahwa racun kimia memang bukan jawaban untuk pertanian. “Kita cukup mendekat pada alam untuk tahu bahwa metode pertanian organik adalah yang terbaik untuk kehidupan,” kata petani muda dari dusun kecil ini. Dia sangat yakin gerakan menuju organik adalah perjuangan “untuk keberlangsungan lingkungan, dan akhirnya untuk keberlangsungan hidup manusia di bumi juga.”</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Kuncinya Mendekat pada Ibu Bumi, Ahmad Arif<br />
Kompas, 18.09.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sawah @Kertalangu]]></title>
<link>http://potrek.wordpress.com/2009/11/18/sawah-kertalangu/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 15:24:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>gsumardika</dc:creator>
<guid>http://potrek.wordpress.com/2009/11/18/sawah-kertalangu/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://potrek.wordpress.com/files/2009/11/img_2237.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-18" title="Sawah di Kertalangu" src="http://potrek.wordpress.com/files/2009/11/img_2237.jpg?w=300" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bali, Ubud, Warjihouse kroniek afl. 34]]></title>
<link>http://balibatin.wordpress.com/2009/11/12/bali-ubud-warjihouse-kroniek-afl-2/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 08:01:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ineke</dc:creator>
<guid>http://balibatin.wordpress.com/2009/11/12/bali-ubud-warjihouse-kroniek-afl-2/</guid>
<description><![CDATA[VERVALLEN VROUW “Cantik sekali” (heel mooi) wordt mij vaak toegeroepen. Het klinkt leuk, maar ze moe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>VERVALLEN VROUW</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-662" title="3 dames" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/11/3-dames.jpg?w=271" alt="3 dames" width="271" height="300" /></p>
<p>“Cantik sekali” (heel mooi) wordt mij vaak toegeroepen.</p>
<p>Het klinkt leuk, maar ze moeten natuurlijk niet overdrijven. De spiegel zegt mij dat ik er hoogstens acceptabel uitzie voor mijn leeftijd en in het donker misschien zelfs redelijk aardig. Maar de pensioengerechtigheid straalt eraf, al duurt het nog 5 jaar voordat ik dit recht mag consumeren. In Nederland trekken de stratenmakers (bestaan die trouwens nog?) zich al jaren niets meer van mij aan en in mijn tien jaar jongere vriendin meent menigeen een dochter te herkennen. Als ik zeg, dat ik al bijna zestig ben, trekt men ongelovig de wenkbrauwen op: “Really?” Dat kan zowel betekenen dat je er  jonger uitziet als ouder. Als iemand een foto van mij ziet die flatteert, wordt mijn leeftijd lager geschat. Dan kan de werkelijkheid natuurlijk alleen maar tegenvallen. Maar ja, iedereen heeft toch de neiging om zich van de gunstige kant te laten zien. Zelfs als ik naar mijn eigen spiegelbeeld kijk, ga ik er zodanig voor staan, dat het resultaat meevalt. Het is dan ook een shock om argeloos naar de grond te kijken en dan ineens te zien, dat zelfs de huid rond mijn knieën bij elke stap futloos voor- en achterwaards bewegen. Dat zag je vroeger alleen bij oude vrouwen. Inderdaad, die van boven de zestig. Godsamme.</p>
<p> <img class="alignnone size-medium wp-image-664" title="verval (7)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/11/verval-7.jpg?w=208" alt="verval (7)" width="208" height="300" /></p>
<p>Een Balinese vriend van mij (nog geen 30) maakte laatst een foto. Ik zat tussen twee vriendinnen in, die ook nog met hem op de foto moesten. Op het moment dat hij de foto nam riep hij spontaan uit: “Two beautiful ladies and a very old one in the middle.” Ik was zeer onthutst en dat is duidelijk op de foto te zien. Ik heb de foto uitvoerig bekeken en ik moet zeggen: Ik vind de foto leuk. Hij is volstrekt eerlijk en er is niets mis mee. Het geeft me voldoening te zien, dat ik me op mijn gemak voel; dat ik veel heb meegemaakt en dat ik tussen de jongelui me amper bewust ben van het leeftijdsverschil.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-665" title="verval (9)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/11/verval-9.jpg?w=300" alt="verval (9)" width="300" height="231" /></p>
<p>De geest lijkt niet mee te groeien met het lichaam. Toch is dat wel gebeurd.<br />
Want waar die twee lieve jongedames nog aan moeten beginnen heb ik allemaal al gehad. Ik heb mijn selectie in het leven al gemaakt. Ik weet inmiddels wat ik wil en ik zie wat het me heeft gebracht. Het leven vraagt niet zo veel meer van me, maar ik màg alles nog. Wat jaloezie en ruzie betreft is de wind gaan liggen. Complimentjes zijn leuk, maar ik maak me er niet druk over. Ik doe eindelijk waar ik zin in heb en dat blijkt nog heel veel te zijn. En nu kijk ik naar me eige. Ik denk: jeetje, dat ik daar nu zo tegenop heb gezien! Het zit allemaal niet meer zo strak. Maar het knelt ook niet meer, haha.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-666" title="verval (13)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/11/verval-13.jpg?w=300" alt="verval (13)" width="300" height="204" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beluuuuuuuuuut ??]]></title>
<link>http://a2dede.wordpress.com/2009/11/05/beluuuuuuuuuut/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 00:59:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>a2dede</dc:creator>
<guid>http://a2dede.wordpress.com/2009/11/05/beluuuuuuuuuut/</guid>
<description><![CDATA[Belut &#8230; ?  kebayangnya pasti licin, kaya uler dan berwarna hitam. Belut merupakan jenis ikan y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignright" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:WbCdSt6nBsIdnM:http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SgXDqSo6EhI/AAAAAAAAABc/Ra7oGVD09Dg/s320/BELUT2.gif" alt="" width="156" height="120" />Belut &#8230; ?  kebayangnya pasti licin, kaya uler dan berwarna hitam. Belut merupakan jenis ikan yang berbeda bentuk dari ikan biasa. Belut banyak ditemukan di daerah pesawahan.</p>
<div>Di Indonesia terdapat tiga jenis ikan belut, yaitu belut sawah (Monopterus albus Zuieuw), belut rawa (Synbranchus bengalensis Mc. Clell), dan belut bermata sangat kecil (Macrotema caligans Cant). Belut sawah merupakan jenis yang paling dikenal di Indonesia, sedangkan belut rawa jumlahnya terbatas sehingga kurang begitu dikenal.</div>
<div></div>
<div>Panjang seekor belut sangat bervariasi. Monopterus indicus hanya berukuran 8,5 cm, sementara belut marmer Synbranchus marmoratus diketahui dapat mencapai 1,5m.</div>
<div></div>
<div>Kebanyakan budi daya belut dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi. Dilihat dari komposisi gizinya, belut mempunyai nilai energi yang cukup tinggi, yaitu 303 kkal per 100 gram daging. Nilai energi belut jauh lebih tinggi dibandingkan telur (162 kkal/ 100 gram tanpa kulit) dan daging sapi (207 kkal per 100 gram).<!--more--></div>
<div></div>
<div><img class="alignleft" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:X_K5OEzQTD7nJM:http://2.bp.blogspot.com/_y7YXfD-rlcw/R9fWnc7PbQI/AAAAAAAAAF8/y5J3Xi3kO9Y/s200/sambal%2Bgoreng%2Bbelut.JPG" alt="" width="163" height="163" />Nilai protein pada belut (18,4 g/ 100 g daging) setara dengan protein daging sapi (18,8 g/ 100g), tetapi lebih tinggi dari protein telur (12,8 g/100 g). Seperti jenis ikan lainnya, nilai cerna protein pada belut juga sangat tinggi, sehingga sangat cocok untuk sumber protein bagi semua kelompok usia, dari bayi hingga usia lanjut.</div>
<div></div>
<div>Leusin berguna untuk perombakan dan pembentukan protein otot. Asam glutamat sangat diperlukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan asam aspartat untuk membantu kerja neurotransmitter.</div>
<div>Tingginya kadar asam glutamat pada belut menjadikan belut berasa enak dan gurih. Dalam proses pemasakannya tidak perlu ditambah penyedap rasa berupa monosodium glutamat (MSG).</div>
<div></div>
<div>Kandungan arginin (asam amino nonesensial) pada belut dapat memengaruhi produksi hormon pertumbuhan manusia yang populer dengan sebutan human growth hormone (HGH). HGH ini yang akan membantu meningkatkan kesehatan otot dan mengurangi penumpukan lemak di tubuh. Hasil uji laboratorium juga menunjukkan bahwa arginin berfungsi menghambat pertumbuhan sel-sel kanker payudara.</div>
<div></div>
<div>Belut kaya akan zat besi (20 mg/100 g), jauh lebih tinggi dibandingkan zat besi pada telur dan daging (2,8 mg/ 100g). Konsumsi 125 gram belut setiap hari telah memenuhi kebutuhan tubuh akan zat besi, yaitu 25 mg per hari. Zat besi sangat diperlukan tubuh untuk mencegah anemia gizi, yang ditandai oleh tubuh yang mudah lemah, letih, dan lesu.</div>
<div></div>
<div>Zat besi berguna untuk membentuk hemoglobin darah yang berfungsi membawa oksigen ke. seluruh jaringan tubuh. Oksigen tersebut selanjutnya berfungsi untuk mengoksidasi karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi untuk aktivitas tubuh. Itulah yang menyebabkan gejala utama kekurangan zat besi adalah lemah, letih, dan tidak bertenaga. Zat besi juga berguna untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit infeksi.</div>
<div></div>
<div>Belut juga kaya akan fosfor. Nilainya dua kali lipat fosfor pada telur. Tanpa kehadiran fosfor, kalsium tidak dapat membentuk massa tulang. Karena itu, konsumsi fosfor hares berimbang dengan kalsium, agar tulang menjadi kokoh dan kuat, sehingga terbebas dari osteoporosis. Di dalam tubuh, fosfor yang berbentuk kristal kalsium fosfat umumnya (sekitar 80 persen) berada dalam tulang dan gigi.</div>
<div></div>
<div><img class="alignright" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn%3AeD5nfK4o2MNoqM%3Ahttp%3A%2F%2Fharimurtiana070707.files.wordpress.com%2F2008%2F11%2Fbelutnungsep.png&#038;w=154&#038;h=116" alt="" width="154" height="116" />Fungsi utama fosfor adalah sebagai pemberi energi dan kekuatan pada metabolisme lemak dan karbohidrat, sebagai penunjang kesehatan gigi dan gusi, untuk sintesis DNA serta penyerapan dan pemakaian kalsium. Kebutuhan fosfor bagi ibu hamil tentu lebih banyal dibandingkan saat-saat tidak mengandung, terutama untuk pembentukan tulang janinnya. Jika asupan fosfor kurang, janin akan mengambilnya dari sang ibu. Ini salah satu penyebab penyakit tulang keropos pada ibu. Kebutuhan fosfor akan terpenuhi apabila konsumsi protein juga diperhatikan.</div>
<div></div>
<div>Kandungan vitamin A yang mencapai 1.600 SI per 100 g membuat belut sangat baik untuk digunakan sebagai pemelihara sel epitel. Selain itu, vitamin A juga sangat diperlukan tubuh untuk pertumbuhan, penglihatan, dan prows reproduksi.</div>
<div></div>
<div>Belut juga kaya akan vitamin B. Vitamin B umumnya berperan sebagai kofaktor dari suatu enzim, sehingga enzim dapat berfungsi normal dalam proses metabolisme tubuh. Vitamin B juga sangat penting bagi otak untuk berfungsi normal, membantu membentuk protein, hormon, dan sel darah merah.</div>
<div></div>
<div>Meskipun mempunyai nilai gizi yang tinggi, kandungan lemak pada belut juga cukup tinggi, yaitu mencapai 27 g per 100 g. Lebih tinggi dibandingkan lemak pada telur (11,5 g/100 g) dan daging sapi (14,0 g/100 g).</div>
<div>Di antara kelompok ikan, belut digolongkan sebagai ikan berkadar lemak tinggi. Kandungan lemak pada belut hampir setara dengan lemak pada daging babi (28 g/100 gram). Menurut publikasi yang dikeluarkan oleh Singapore</div>
<div>General Hospital, belut termasuk makanan berkolesterol tinggi dan wajib untuk diwaspadai.</div>
<div></div>
<div>Walaupun kadar lemaknya tinggi, belut tidak perlu dihindari dalam pola makan kita. Bagaimanapun, lemak memegang peran penting sebagai somber kelezatan, sumber energi, penyedia asam lemak esensial, dan tentu saja sebagai pembawa vitamin min larut lemak (A, D, E dan K).</div>
<div>Pada lemak ikan terdapat vitamin D yang cukup tinggi, yaitu 10 kali lipat dibandingkan bagian dagingnya dan 50 kali lipat vitamin D yang terdapat pada susu. Vitamin D sangat berguna bagi tubuh untuk membantu penyerapan kalsium dan menghalanginya dad proses resorpsi (pelepasan kalsium dad tulang).</div>
<div></div>
<div>Upaya untuk mengurangi kadar lemak pada belut adalah dengan cara dipanggang di atas bara api. Proses pemanggangan akan menyebabkan lemak mencair dan keluar dari daging belut, menetes ke bara api. Sebaiknya belut tidak diolah dengan cara digoreng, agar kadar lemaknya tidak bertambah banyak.</div>
<div></div>
<div>Seperti pada jenis ikan lain, belut juga mengandung asam lemak omega 3. Kadar omega 3 pada lemak ikan, termasuk belut, sangat bervariasi tetapi berkisar antara 4,48 persen sampai dengan 11,80 persen. Kandungan omega 3 pada ikan, tergantung kepada jenis, umur, ketersediaan makanan, dan daerah penangkapan.</div>
<div></div>
<div>Dan hasil penelitian, diketahui bahwa bagian tubuh ikan memiliki lemak dengan komposisi omega 3 yang berbeda-beda. Kadar omega 3 pada bagian kepala sekitar 12 persen, dada 28 persen, daging permukaan 31,2 persen, dan isi rongga perut 42,1 persen (berdasarkan berat kering).</div>
<div></div>
<div><span style="color:#888888;">#dari berbagai sumber.</span></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bali, Ubud, walking at the slopes of a river]]></title>
<link>http://sawahtrekking.wordpress.com/2009/11/04/bali-ubud-walking-at-the-slopes-of-a-river/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 00:46:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>tourtaxiubud</dc:creator>
<guid>http://sawahtrekking.wordpress.com/2009/11/04/bali-ubud-walking-at-the-slopes-of-a-river/</guid>
<description><![CDATA[WALK  3 This walk takes place in the wonderful, capricious landscape of Sayan, well known for its lu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>WALK  3</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-43" title="rivertrekking (37)" src="http://sawahtrekking.wordpress.com/files/2009/11/rivertrekking-37.jpg?w=300" alt="rivertrekking (37)" width="300" height="225" /></p>
<p>This walk takes place in the wonderful, capricious landscape of Sayan, well known for its luxury hotels.</p>
<p>In the area opposite the hotels there are a few small villages, mostly populated by farmers, who made their rice paddies where the jungle allowed them. Beside that they have small fields where they cultivate vegetables and fruit trees. Of course the cow-house is there too, and closer to the houses you will often find a pigsty. Right across the fields and jungle the water flows and Wayan follows these channels a long way to get from one field to the next. Sometimes he even wades in the water to climb to a higher level. In fact, most of the walk is on the slope of the river.</p>
<p>At the opposite side you will see now and then a luxury resort with swimming pools and colorful parasols. But mostly the view is over the green scenery in which the speedy river glitters in the sun.<br />
This walk starts from a village temple at the border of the ricefields. In the first part, the walk follows the small dikes which hold the water in the sawah. Gradually the sawahs pass into a more rough area, partly cultivated for fruit and vegetables, partly ranking woods. The water for irrigation is flowing through strong concrete gutters, which makes it possible to cross the slopes more easily. Often the people from the village take a bath in these irrigation gutters, and do their washing in the same time. Sometimes you only find some pieces of soap like silent witnesses. Moving on, you will see strange ruins: Unfinished buildings abandoned to the jungle or overwhelmed stairs leading to the river. Behind this all is a story which one of the villagers can explain to us in complete detail.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-44" title="rivertrekking (39)" src="http://sawahtrekking.wordpress.com/files/2009/11/rivertrekking-39.jpg?w=300" alt="rivertrekking (39)" width="300" height="225" /></p>
<p>Because of its scenery the river slopes of Sayan are very popular for foreign tourists and investors. The result of this has been, that the price of the land on the slopes rised considerably however, the land itself is not very interesting for farming. The big hotels promise their guests a free view towards beautiful scenery. They needed to keep their promise, therefore somehow they needed to stop the rise of new buildings on the opposite side of the ridge. They bought it off. The consequences were enormous…</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-45" title="riviertrekking (52)" src="http://sawahtrekking.wordpress.com/files/2009/11/riviertrekking-52.jpg?w=225" alt="riviertrekking (52)" width="225" height="300" /></p>
<p>One of the consequences has been that the village at the other side of the river was split in two parts. Another result was that three enormous temples arised in a rather small village. The well-being in the village is striking with the nice houses and the cosy gardens.</p>
<p>The walk ends up through this village. You will leave the jungle through a farmer’s plantation and arrive on the square in front of the three temples where an enormous waringin tree throws its shadow over the road. An oasis of peace. From the square you walk through the main street with cosy houses on the left and the right, now and then a small warung and children playing. Nothing much remind to us of the struggle that was going on in former days.</p>
<p>At the end of the street you have returned at the temple where you started the walk.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-46" title="walk 3 15-7-09 (4)" src="http://sawahtrekking.wordpress.com/files/2009/11/walk-3-15-7-09-4.jpg?w=225" alt="walk 3 15-7-09 (4)" width="225" height="300" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bali, Ubud, Walking in the sawahs, Tegallantang]]></title>
<link>http://sawahtrekking.wordpress.com/2009/11/04/bali-ubud-walking-in-the-sawahs-tegallantang/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 00:14:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>tourtaxiubud</dc:creator>
<guid>http://sawahtrekking.wordpress.com/2009/11/04/bali-ubud-walking-in-the-sawahs-tegallantang/</guid>
<description><![CDATA[Walk 2 This walk starts shortly behind the village of Petulu, well known for its daily landing heron]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Walk 2</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-38" title="uitbreiding wandeling 2 (6)" src="http://sawahtrekking.wordpress.com/files/2009/11/uitbreiding-wandeling-2-6.jpg" alt="uitbreiding wandeling 2 (6)" width="470" height="308" /></p>
<p>This walk starts shortly behind the village of Petulu, well known for its daily landing herons.<br />
The landscape here is quite varied and small sawah terraces follow the seamless the jungle-like landscapes and vice versa.Some parts of the trip you walk along river-shunts used to irrigate the sawahs. Some pieces lead over small dikes along the sawah. The landscape is worthwhile to stand still regularly and take a good look around.<br />
High peaks and deep valleys and a variety of vegetation make you feel like you’re walked into a fairy tale. The peace and silence are only disturbed by the song of a bird, the sound of streaming water, or the rustle of a flying  mouse or snake. Even on very small pieces of ground you can find a sawah with fresh green blades of rice. The clear water is delivered through small gutters to lower land. Where you don’t find rice, cassava or beans, nature takes over.  Simply put: the landscape is very beautiful.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-39" title="wandeling 2, groep Sabine (12)" src="http://sawahtrekking.wordpress.com/files/2009/11/wandeling-2-groep-sabine-12.jpg?w=300" alt="wandeling 2, groep Sabine (12)" width="300" height="225" /></p>
<p>Wayan finds several ways to lead his guests through the scenery.  For his younger guests usually in good physical health, he does not avoid climbs or other barricades. But he is always alert to find alternative ways for older people or those who are not capable to take the strenuous path. The difficult path is at the beginning of the trek and the path gets easier as the trek progresses.</p>
<p>Half way Wayan leads you through a small village to get a local snack or refreshment. But for people who enjoy so, he passes nice places for a picnic in the scenic environment. In the village you can take a look in the workshop where the dried rice will be stripped of its husk by a machine. In the end the rice will be weighed and packed.<br />
<img class="alignnone size-medium wp-image-40" title="met Carla en Anne wandel. 2 (7)" src="http://sawahtrekking.wordpress.com/files/2009/11/met-carla-en-anne-wandel-2-7.jpg?w=300" alt="met Carla en Anne wandel. 2 (7)" width="300" height="225" /></p>
<p>Sometimes, in the middle of the woods suddenly a cow will stand staring at you, being disturbed eating lunch. Most rice farmers have one cow or more and feed them with the grass that grows around the sawahs. At the border of his sawah the farmer places a sign, mostly a stick with fresh palm leafs, to show others that he needs the grass around for his own cow so that nobody is allowed to take it.</p>
<p>The walk will take about 2 ½ hours. People who start the walk around four o’clock, can pass Petulu afterwards to watch the herons returning home.<br />
A simple warung between the padddy fields offers the possibility to enjoy a refreshment while you are watching the birds. A beautiful end of the day before twilight.</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MANFAAT AIR DALAM KEHIDUPAN KITA]]></title>
<link>http://vtrediting.wordpress.com/2009/10/25/manfaat-air-dalam-kehidupan-kita/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 06:06:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>vtrediting</dc:creator>
<guid>http://vtrediting.wordpress.com/2009/10/25/manfaat-air-dalam-kehidupan-kita/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Untuk hari ini saja apakah Anda sudah menggunakan air dengan baik?&#8221;, begitulah kiranya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-weight:bold;">&#8220;Untuk hari ini saja apakah Anda sudah menggunakan air dengan baik?&#8221;, begitulah kiranya pertanyaan yang diajukan kepada sehat dengan reiki dan teman-teman saat berkunjung ke Songbanyu Gunung Kidul beberapa hari lalu? Pertanyaan spontan dari petani kepada tamu nya orang Jakarta ini mengingatkan kita semua akan arti pentingnya air dalam hidup ini. Sebab air merupakan sarana kehidupan sehari-hari sampai urusan terapi kesehatan pun juga memakai air.</span></p>
<p>Peranan air begitu penting dalam hidup ini. Saat lahir lalu tumbuh berkembang dari bayi hingga dewasa bahkan tatkala ajal telah tiba jasad ini akan selalu bersentuhan dengan air. Dengan air pula kita membersihkan diri, minum dan bergaul. Contohnya ya itu tadi&#8230;bapak petani di daerah Gunung Kidul memperlakukan air sebagai teman bekerja. Beliau mengolah tanah sawah, mencangkul lalu menanam bibit padi di hamparan tanah sawah yang telah diairi. Dengan sabar pula beliau merawat tanaman padi agar dalam masa tumbuhnya selalu kecukupan air. Artinya air bisa menjadi penyeimbang kehidupan.</p>
<p>Lantas hubungan air dengan tubuh manusia? Tubuh manusia sendiri terdiri 70 persen air. Dalam urusan terapi kebugaran tubuh, Charles Darwin ilmuwan yang mengeluarkan teori evolusi pada tahun 1857 pernah bertanya mengapa mandi air dingin bisa menyembuhkan dirinya dari gangguan rasa sakit, nyeri dan rasa mual yang dideritanya. Ia penasaran tidak mendapatkan jawaban akan manfaat air yang menyembuhkan penyakitnya. Barulah sebuah lembaga riset trombosis di London menemukan jawabannya.</p>
<p><!--more-->Menurut riset penelitian ini, jika orang selalu mandi dengan air dingin, peredaran darahnya akan membaik sehingga tubuh menjadi segar dan bugar, apalagi mandi di pagi hari sebelum beraktivitas setelah kita melakukan olahraga harian. Peneliti juga menemukan mandi air dingin akan meningkatkan produksi sel darah putih dalam badan dan dengan sendirinya meningkatkan kemampuan seseorang terhadap serangan virus.</p>
<p>Khabar baiknya mandi air dingin pagi hari dapat meningkatkan produksi hormon testosteron kaum pria serta hormon estrogen pada wanita. Dengan rutin mandi air dingin kesuburan dan kegairahan asmara mereka bisa meningkat. Lebih hot dari biasanya, apalagi bila mandi dilakukan sebelum beduk subuh bergema membangunkan kita dari tidur malam yang lelap. Dengan mandi air dingin di pagi hari jaringan tubuh membaik, kuku lebih sehat dan kuat, rambut pun tumbuh lebat.</p>
<p>Terapi pengobatan dengan air dingin juga membantu menyembuhkan penyakit asma. Tapi harus diingat kadar air mandi haruslah sekitar 15 derajat celcius. Tubuh manusia stabil pada suhu 37 derajat celcius juga karena air. Cairan dalam tubuh kita juga berperan sebagai pengatur panas dengan cara penguapan dan evaporasi. Perhitungannya setiap penguapan 1 gram air dapat menurunkan panas tubuh sebanyak 6 kalori. Tapi ingat bila penguapan kebablasan akan terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan dalam tubuh. Ini yang tidak boleh terjadi.</p>
<p>Adanya dehidrasi dalam tubuh yang kebablasan mengakibatkan kontrol suhu tubuh kehilangan kontrol. Akibatnya siap-siap saja kita kena serangan sengatan panas ( heat stroke ) yang mengakibatkan kram, pingsan atau denyut jantung lebih cepat. Kehilangan 1 &#8211; 2 % cairan tubuh saja dampaknya bisa menurunkan konsentrasi. Oleh karena itu sikap waspada akan kekurangan air dalam tubuh perlu menjadi perhatian kita semua. Bila dibiarkan berlarut-larut ujung-ujungnya bisa gawat.</p>
<p>Seiring meningkatnya aktivitas fisik seperti berolahraga di udara terbuka atau kegiatan petani bekerja di sawah, tentu saja kebutuhan air minum semakin meningkat. Apalagi jika suhu tubuh tinggi dan sedang stress maka rasa haus akan semakin terasa. Meski manfaat minum air saat haus untuk menghilangkan dahaga, alangkah baiknya setidaknya kita minum air putih 1 liter lebih banyak dari yang dibutuhkan ketika rasa haus tiba, begitu saran Dr. James M. Rippe, kardiolog dari Sekolah Medis Massachusetts Amerika Serikat.</p>
<p>Bagi kita yang tinggal di daerah tropis, soal hilangnya cairan tubuh harus lebih diperhatikan. Untuk mengisi ulang cairan tubuh harus menggunakan cairan yang tepat&#8230;siapa lagi kalau bukan air putih. Jim Jones, pakar makanan terkemuka di AS sangat prihatin karena banyak orang ingin hidup sehat tapi melupakan air putih. Orang jaman sekarang lebih senang minum  kopi, teh atau air kola. Manfaat kesehatan yang diberikan air putih tidak dapat digantikan oleh minuman apa pun di pasaran. Termasuk di sini sari buah-buahan yang penuh vitamin sekalipun. Memang nutrisi sari buah sangat penting tapi tidak bisa membersihkan tubuh kita.</p>
<p>Dengan segala manfaatnya air bisa menjadi obat, minuman, terapi air dan tentu saja untuk pengairan di sawah dan ladang. Air hujan sebagai rahmat dari Yang Maha Kuasa sebentar lagi akan selalu tercurah dari langit. Musim hujan telah tiba. Kalau kebanyakan turun akan menjadi bencana banjir. Itu yang tidak kita harapkan, karena itu semoga kita semakin peduli akan keberadaan air dalam kehidupan ini. Apakah itu air hujan, air tanah atau air yang bersumber dari lelehan bongkahan es di daerah bersalju, semuanya membawa manfaat.</p>
<p>Sumber tulisan Mind, Body and Soul (disunting) gambar : blog detik.com</p>
<div id="attachment_1471" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><img class="size-full wp-image-1471" title="cewek minum air putih" src="http://vtrediting.wordpress.com/files/2009/10/cewek-minum-air-putih2.jpg" alt="Saat haus minum air putih itu perlu." width="298" height="225" /><p class="wp-caption-text">Saat haus minum air putih itu perlu.</p></div>
<div id="attachment_1472" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-1472" title="petani mengairi sawah" src="http://vtrediting.wordpress.com/files/2009/10/petani-mengairi-sawah1.jpg" alt="Petani tengah menyiangi rumput." width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Petani tengah menyiangi rumput.</p></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Setan itu bernama pacaran]]></title>
<link>http://denfatur.wordpress.com/2009/10/25/setan-itu-bernama-pacaran/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 04:44:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>denfatur</dc:creator>
<guid>http://denfatur.wordpress.com/2009/10/25/setan-itu-bernama-pacaran/</guid>
<description><![CDATA[Ketika seseorang beranjak dewasa, muncullah benih di dalam jiwa untuk mencintai lawan jenisnya. Ini ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ketika seseorang beranjak dewasa, muncullah benih di dalam jiwa untuk mencintai lawan jenisnya. Ini ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bali, Ubud, verliefde vakantiegangers, Warjihouse kroniek aflevering 33]]></title>
<link>http://balibatin.wordpress.com/2009/10/15/bali-ubud-verliefde-vakantiegangers-warjihouse-kroniek-aflevering-33/</link>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 09:50:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ineke</dc:creator>
<guid>http://balibatin.wordpress.com/2009/10/15/bali-ubud-verliefde-vakantiegangers-warjihouse-kroniek-aflevering-33/</guid>
<description><![CDATA[Zesde en laatste deel. Gde zat een beetje mismoedig op de stoeprand. Hij had die dag nog geen ritje ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Zesde en laatste deel.</p>
<p>Gde zat een beetje mismoedig op de stoeprand. Hij had die dag nog geen ritje gehad. Zijn vriendinnetje was er vandoor en ik was ook niet al te vriendelijk naar hem toe.</p>
<p>“I know it; I am a bad person.” beschuldigde hij zichzelf om mij de wind uit de zeilen te nemen.<br />
-“You can do a lot to change that”.<br />
-“I have a bad karma.”<br />
-“Bull shit.”<br />
-“You are not Balinese; you don’t understand.”<br />
-“Bull shit.”<br />
-“I really love her.”<br />
-“And you really love the other one the same.”<br />
-“No, but she’s always after me. I already said to her that I want Janine, but she won’t leave me alone.”<br />
-“I think you were not clear enough to her.”<br />
-“I was, but she is so aggressive.”<br />
-Then be more aggressive too.”<br />
-“It is too hard for me to be unkind to anyone.”<br />
-“But now you have hurt Janine, is that not unkind?”<br />
-“You understand nothing about it.”<br />
-“Are you sure?.”<br />
-“No….. My life is so hard; I don’t want to live anymore.”<br />
Gde hing met zijn hoofd in zijn handen, vol zelfmedelijden en ik kon –hoe dan ook- niet meer boos op hem zijn.</p>
<p>“Taxi?” vroeg hij werktuiglijk aan een voorbijganger.<br />
-“Yes please”, was het onverwachte antwoord, “how much to Penestanan?”<br />
Gde verrees energiek uit zijn droefenis en begon zijn onderhandelingen.</p>
<p>Na een paar dagen kreeg ik een sms-je van Janine. Ze had een leuk onderdak gevonden in de streek Sidemen en aardige mensen ontmoet. Ze genoot van de prachtige omgeving en zond haar groeten aan: “you, Ketut and the serial lover.” Ketut kon zijn oren niet geloven. –“Greetings to me?” Hij zond direct een sms-je terug en grapte: “Don’t dream too much about me. Ok?” Met ondeugende ogen liet hij het me zien. Haar antwoord was: “Ok, I won’t, haha.”<br />
Daarna hoorden we een tijdje niets van haar.<br />
Na een week kreeg ik opnieuw een sms-je, waarin ze meldde: “coming back home on Sunday.”<br />
En daar kwam ze: verwaaid, maar vrolijk en uitgerust.<br />
Gde zat nog dezelfde avond bij haar op het terras en liet haar de hele avond niet meer alleen. Ik hoorde hun praten; de kamer ingaan, de kamer uitkomen, samen eten, en weer praten. Het klonk heel rustig allemaal en ik bemoeide me nergens mee.<br />
Laat op de avond stond Aiko al weer naast de auto op Gde te wachten. Niet vergeefs, kreeg ik in de gaten. Ketut wist er meer van, maar zweeg in alle talen.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-636" title="Kadek and Janine" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/kadek-and-janine.jpg?w=300" alt="Kadek and Janine" width="300" height="293" /></p>
<p>Vandaag, de dag na Galungan, kwam de ontknoping.<br />
Janine gebruikte het ontbijt samen met een tevreden jongeman, die ik nog niet eerder had ontmoet. Hij werd aan mij voorgesteld als Kadek, haar vriend uit Karangasem. Wegens de feestdagen had hij een paar dagen vrij van zijn werk en hij kwam zijn nieuwe vriendinnetje ophalen om zijn vrije dagen met haar door te brengen. Janine pakte haar rugzak in en stalde haar koffertje in mijn kamer. Even later vertrokken ze samen op de motorbike.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-643" title="17-10-09, de boom in (3)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/17-10-09-de-boom-in-3.jpg?w=219" alt="17-10-09, de boom in (3)" width="219" height="300" /></p>
<p>Ik heb er verder niets aan toe te voegen.<br />
Alleen het piepschuimen vliegtuigje ligt nog op de kast in Janine’s voormalige kamer.<br />
Nu zoek ik nog een heel erg hoge boom om het  voorgoed in te hangen. “Ketut, can you help me please?”</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-644" title="17-10-09, de boom in (9)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/17-10-09-de-boom-in-9.jpg" alt="17-10-09, de boom in (9)" width="247" height="239" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bali, Ubud, verliefde vakantiegangers, Warjihouse kroniek aflevering 32]]></title>
<link>http://balibatin.wordpress.com/2009/10/15/bali-ubud-verliefde-vakantiegangers-warjihouse-kroniek-aflevering-32/</link>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 06:37:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ineke</dc:creator>
<guid>http://balibatin.wordpress.com/2009/10/15/bali-ubud-verliefde-vakantiegangers-warjihouse-kroniek-aflevering-32/</guid>
<description><![CDATA[Vijfde deel.   Hoewel verregend, trokken we nadat we uit de Goa Gajah naar boven waren gekomen, verd]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Vijfde deel.</p>
<p> <img class="alignnone size-medium wp-image-632" title="Goa Gajah" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/goa-gajah-6.jpg?w=199" alt="Goa Gajah" width="199" height="300" /></p>
<p>Hoewel verregend, trokken we nadat we uit de Goa Gajah naar boven waren gekomen, verder naar het strand. Het water gutste inmiddels langs mijn brillenglazen en belemmerde mijn zicht enorm, maar ik hield mijn blik gericht op de witte regenjas van Janine, die af en toe vrolijk achterom keek.</p>
<p>Aan de kust regende het aanmerkelijk minder en Ketut keek critisch toe (we never do like that) hoe Janine en ik direct onze sandalen uitschopten om in de branding te gaan staan. Weer stonden we te praten over de liefdesperikelen en steeds kwam er  iets in Janine naar boven, dat moest worden meegewogen om tot een conclusie te komen. Enerzijds was ze geshockeerd, dat de liefde niet voor 100 % wederzijds bleek,  anderzijds kon ze zo moeilijk afstand nemen van haar eigen verliefdheid, die de basis was geweest van haar komst naar Bali. Het hardop uitspreken van haar gedachten werkte therapeutisch.</p>
<p>Werktuigelijk sprongen we nu en dan terug voor een hoger oprijzende golf en dat ging zo door totdat de zoom van mijn omhooggehouden rok drijfnat was.<br />
Inmiddels was het ook weer iets harder gaan regenen. We liepen terug naar Ketut, die in een lokale warung was gaan zitten om te schuilen. Aan zijn ogen zag ik, dat Ketut steeds meer voor Janine was gaan voelen. Ze was zo dichtbij en allerliefst, maar behoorde aan zijn ondankbare broer. En dan nog, als het uit zou raken tussen die twee; met goed fatsoen kon hij haar daarna niet het hof maken. Hij liet zich dan ook ontvallen: “ Why do all the girls fall in love with my brother? I am a much better person. I would never threat a girl like that!” Het ontlokte een gulle lach aan Janine, maar nog geen liefde.  </p>
<p>Toen het regenen minderde, maakten we direct aanstalten om naar Ubud terug te gaan. Ik was liever voor het donker thuis.<br />
Mede door de donkere lucht, schemerde het al eer we in Warjihouse aankwamen en ik had het echt koud. Ketut reed direct door naar huis, want zijn familie had geen idee, waar hij uithing.<br />
Ik stelde Janine voor om een douche in mijn badkamer te nemen, waar warm water was. Onze kleding was doorweekt en de situatie zou aanleiding kunnen zijn tot een flinke verkoudheid. Haar kamer –de zogeheten backpacker’s room- had alleen koud water. Toen we allebei waren opgewarmd, kwam Janine nog even bij mij op het terrasje zitten. Ze had haar besluit genomen: Ze wilde een motor huren bij Nyoman en een weekje over Bali rondtoeren. Helemaal alleen. Dan kon ze rustig bij zichzelf overdenken, hoe het nu verder moest. Haar bagage stalde ze tijdelijk bij een vriend en ik zou er voor zorgen, dat na een week haar kamer weer beschikbaar was. Een beetje opgelucht omdat ze nu wist, wat ze wilde, trok ze Ubud in voor het avondeten. Ik had het zelf even druk met het beantwoorden van de mail die was blijven liggen. Pas tegen 10 uur ging ik er even uit voor een portie nasi goreng.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-630" title="vliegtuigje" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/04-10-09.jpg?w=300" alt="vliegtuigje" width="300" height="215" /></p>
<p>Toen ik langs de kamer van Janine liep, zag ik aan het hangslot, dat ze nog niet thuis was.<br />
Op de tafel van haar terrasje lag een piepschuimen speelgoedvliegtuigje.<br />
Het lag er vreemd en doelloos, als had het zojuist een noodlanding gemaakt.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Air.... Sawah vs Manusia]]></title>
<link>http://zefka.wordpress.com/2009/10/12/air-sawah-vs-manusia/</link>
<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 05:31:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>zefka</dc:creator>
<guid>http://zefka.wordpress.com/2009/10/12/air-sawah-vs-manusia/</guid>
<description><![CDATA[Pulang kampung lebaran kemarin sungguh membuatku geregetan dengan apa yg terjadi di persawahan di ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><a href="http://zefka.wordpress.com/files/2009/10/dsc02889-copy.jpg?w=768" target="_blank"><img class="size-large wp-image-1145 alignleft" style="border:1px solid black;margin:4px;" title="DSC02889 copy" src="http://zefka.wordpress.com/files/2009/10/dsc02889-copy.jpg?w=768" alt="DSC02889 copy" width="160" height="233" /></a>Pulang kampung lebaran kemarin sungguh membuatku geregetan dengan apa yg terjadi di persawahan di kampungku. Ternyata apa yg aku khawatirkan dulu benar2 terjadi dan melanda persawahan di kampungku.</p>
<p style="text-align:justify;">Musim kemarau di Jawa tahun ini kayaknya memang lebih panjang daripada tahun2 sebelumnya. Banyak lahan sawah yg tidak digarap untuk menghasilkan produk pertanian (tidak ditanami tanaman produktif), para petani hanya menggarap lahannya untuk persiapan tanam di musim penghujan nantinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah dari beberapa tahun yang lalu, untuk mensiasati kondisi kemarau yg panjang biasanya para petani di kampungku menggunakan air dari sumur bor yg biasanya mempunyai kedalaman 15-20m, yg airnya di naikkan dengan bantuan mesin diesel. Sumur bor yg hanya di bikin dengan teknologi seadanya, masih menggunakan tenaga manusia untuk memutar pipa bor (lihat pict di atas). Hampir semua petani mempunyai satu sumur atau bahkan ada yg lebih dari dua sumur untuk mengairi lahan sawahnya. Jadi meskipun kemarau tetapi sumber air masih bisa didapatkan. Maklum saja, sistem irigasi yg profesional belum berkembang di kampungku, kebanyakan masih mengandalkan air hujan untuk pengairannya.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi sekarang semua sudah berubah drastis, sumur bor yg biasanya sangat membantu ternyata sudah kering, gak ada air yg bisa digunakan untuk mengairi sawah lagi. Kemungkinan memang disebabkan kemarau yg panjang sehingga muka air tanah turun. Tetapi kemungkinan juga di picu oleh dibuatnya sumur bor yg relatif lebih dalam untuk keperluan rumah tangga (semacam kayak PDAM lokal) yg dibuat oleh tetangga desa (lihat pict di bawah ini).  Tetangga sebelah memang terkenal sebagai desa yg susah untuk mendapatkan air untuk kebutuhan rumah tangganya. Kalo desa kami sih&#8230; aman2 aja, masih bisa mengandalkan sumur2 dangkal.</p>
<div id="attachment_1157" class="wp-caption aligncenter" style="width: 478px"><a href="http://zefka.wordpress.com/files/2009/10/sumur1.jpg" target="_blank"><img class="size-full wp-image-1157" style="border:1px solid black;margin-top:4px;margin-bottom:4px;" title="sumur" src="http://zefka.wordpress.com/files/2009/10/sumur1.jpg" alt="sumur" width="468" height="282" /></a><p class="wp-caption-text">Lokasi penyebaran sumur petani serta batas desa (garis biru putus2 )</p></div>
<p style="text-align:justify;">Sumur milik tetangga desa ini dibikin kira2 pertengahan tahun ini, waktu itu kondisi sumur2 petani masih wajar2 saja. Tetapi setelah sumur ini beroperasi, para petani mulai merasakan debit sumurnya yg semakin menurun terutama untuk sumur2 yg letaknya relatif berdekatan. Dan di puncak musim kemarau, seperti akhir2 ini, banyak sumur petani yg sudah enggan mengeluarkan airnya. Sumur milik PDAM lokal ini dipompa dengan menggunakan mesin yg kapasitasnya jauh lebih besar daripada milik para petani dan beroperasi lebih dari 12 jam perhari.</p>
<p style="text-align:justify;">Dampaknya juga mulai dirasakan oleh sumur2 di pemukiman kami yg jaraknya sekitar 500m ke arah Barat dari lokasi sumur milik tetangga desa ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang lokasi tempat sumur sekarang ini terkenal dengan sumber daya airnya yg cukup melimpah dan kebetulan letaknya berada di sekitar batas desa. hehehe&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Air kan gak pandang batas geografis suatu desa ya, dimana ada akuifer yg enak untuk ditempati ya dia akan nongkrong disitu aja.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang menimbulkan pilihan yg dilematis, mau tetap mempertahankan sumur2 para petani untuk mengairi lahan sawahnya atau membiarkan sumur2 petani mati, dengan konsekuensi para petani tidak dapat bercocok tanam. Atau memberikan kehidupan untuk tetangga desa (dengan mencukupi kebutuhan air mereka) dengan tetap mempertahankan sumur yg relatif dalam itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bingung&#8230;.. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  Tanaman di persawahan : padi, jagung, kacang, sayuran, dll butuh air untuk tumbuh. Manusia butuh padi (beras), jagung, sayuran dll  untuk mencukupi nutrisinya, untuk bertahan hidup. Manusia jg butuh air untuk kebutuhan sehari-harinya.  Sawah atau manusia?</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi ingat kuliah hidrogeologi dulu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  drawdown, akuifer bebas, airtanah dangkal/dalam, akuifer tergantung/tertekan&#8230;..</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin efek negatif dari sumur tetangga desa itu akan dirasakan menjadi minimal jika sumur itu mengambil airtanah dalam kali ya&#8230;  jadi kan sumur2 yg masih mengambil airtanah dangkal seperti sumur2 para petani itu masih bisa mengeluarkan air.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bali, Ubud, verliefde vakantiegangers, Warjihouse kroniek aflevering 31,]]></title>
<link>http://balibatin.wordpress.com/2009/10/10/bali-ubud-verliefde-vakantiegangers-warjihouse-kroniek-aflevering-31/</link>
<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 00:47:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ineke</dc:creator>
<guid>http://balibatin.wordpress.com/2009/10/10/bali-ubud-verliefde-vakantiegangers-warjihouse-kroniek-aflevering-31/</guid>
<description><![CDATA[Vierde deel.   Tijdens haar wandeling had Janine besloten om te vertrekken. Ze voelde zich door Gde ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Vierde deel.</p>
<p> <img class="alignnone size-medium wp-image-616" title="Warjihouse room 1" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/warjihouse-room-1.jpg?w=300" alt="Warjihouse room 1" width="300" height="225" /></p>
<p>Tijdens haar wandeling had Janine besloten om te vertrekken. Ze voelde zich door Gde bedrogen en ze geneerde zich zelfs, dat ze erin was getuind. Ketut meende dat Janine en ik een gesprek hadden gehad als ‘meiden onder elkaar’ en had niet werkelijk geluisterd. Toen Janine aanstalten maakte om naar haar kamer te gaan wilde hij haar dan ook volgen om met de les Bahasa Indonesia te beginnen. Janine wimpelde het af. “I am not so motivated any more”, zei ze treurig en Ketut keek vragend in mijn richting. Ik gebaarde hem even te blijven zitten en toen Janine uit het zicht was verdwenen, legde ik Ketut uit wat er de afgelopen nacht was voorgevallen. Ketut boog zijn hoofd en siste tussen zijn tanden: “Fuck.” en: “Shit.” Hij kon rekenen op mijn bijval, maar dat veranderde niets aan de situatie.</p>
<p>Janine overwoog om naar Java of Lombok af te reizen, ver van de onheilsplek. In mijn hart gaf ik haar gelijk, maar gezien de omstandigheden vond ik het geen goed idee. Ze zou zich in Java heel eenzaam kunnen voelen, in haar uppie tussen stroever en ongastvrijer volk. Aan Gili Trawangan had ze al slechte herinneringen door een eerder bezoek. Niet bepaald een aanbeveling om daar heen te gaan. Bovendien zat Janine met een zeer beperkt budget en reizen is hoe dan ook relatief duur. Ik stelde Ketut voor om haar een dagje op sleeptouw te nemen, zodat ze wat afleiding had en de zaak even op zich kon laten inwerken. Ketut voelde daar helemaal niets voor. Hij wilde zich er niet aan branden. Het was een probleem van zijn broer, niet het zijne. Maar ik accepteerde geen ‘nee’ en hij zwichtte. De vraag was waar we heen moesten. Als ik zelf een probleem heb, maak ik graag een lange strandwandeling.<br />
De koffers van Janine waren al gepakt en zij stond op het punt om ze haar kamer uit te sleuren toen Ketut en ik haar terras op kwamen. “Please, wait.” Ik stelde haar voor om met Ketut en mij een dagje op stap te gaan. Op twee motorbikes. Ze stemde onmiddellijk toe. Waarheen? Ik: naar het strand. Ketut: naar de waterval. Janine: alles goed.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-621" title="waterval" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/waterval.jpg?w=300" alt="waterval" width="300" height="193" /></p>
<p>We begonnen bij de waterval, omdat die plek het dichtst bij ons vertrekpunt was. Het regende zachtjes, maar dat leek de pret slechts te verhogen. De waterval was door de regen van de laatste tijd groter dan ooit. Met veel lawaai stortte de rivier zich ruim veertig meter de diepte in. Wij daalden de helling af naar dezelfde diepte en sprongen van steen naar steen om zo dicht mogelijk bij de waterval te komen.</p>
<p><img title="bij de waterval" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/bij-de-waterval.jpg?w=300" alt="bij de waterval" width="300" height="210" /></p>
<p>Ondanks haar slapeloze nacht genoot Janine zichtbaar en Ketut week niet van haar zijde.<br />
Onvermoeibaar klom ze later de helling weer op en toen we verder reden naar de volgende bestemming, begon het wat harder te regenen. De oudheidkundige opgravingen van Yeh Puluh had ze nog niet gezien. Ketut vergezelde ons niet, maar sloeg halverwege af, de sawah in. Terwijl Janine en ik voortliepen langs het stenen stripverhaal uit de oudheid, stortte Janine haar hart uit.<br />
Ze had eigenlijk al lang het gevoel gehad, dat de liefde niet helemaal wederzijds was, maar elke keer als hij lieve woordjes tegen haar sprak door de telefoon, was haar hart weer gaan smelten. Gisteren had hij haar nog gevraagd: “Please, marry me.” Hun relatie verkeerde absoluut niet in het stadium dat ze daar positief op kon antwoorden en met een wanhoopsgebaar had ze haar ogen ten hemel gericht. Daar zag ze in de ranke top van de hoogste boom een hopeloos gestrand, klein vliegtuigje hangen.<br />
“I marry you when you bring me the airplane over there.” had ze impulsief geantwoord.</p>
<p><img title="Yeh Pulu" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/yeh-pulu.jpg?w=300" alt="Yeh Pulu" width="300" height="197" /> </p>
<p>Ik vroeg haar wat ze met hem van plan was. Het was duidelijk dat ze het niet meer zag zitten. Maar het afscheid van een mooie droom deed pijn. En zich helemaal uit het veld laten slaan, nee, dat wilde ze ook niet. Ze dacht er over om rond te reizen en zo veel mogelijk van haar vakantie te genieten nu ze er toch was. Ik was het hartgrondig met haar eens en adviseerde haar om op Bali te blijven. Voor weinig geld kon ze een motorbike huren en het hele eiland rondcrossen.<br />
De reliefs van Yeh Puluh gingen over in een stukje wild gebied met daarachter rijstvelden. We verwachtten daar Ketut wel weer tegen te komen, dus we klommen omhoog, de sawah’s in. Verbaasd werden we aangestaard door de boeren, die daar aan het werk waren. In de verte liep Ketut. Toen hij ons zag, voegde hij zich snel bij ons. Er zou een pad zijn dat binnendoor van Yeh Puluh naar Goa Gajah leidde. Of we zin hadden om met hem dat pad te zoeken. We waren inmiddels drijfnat, maar Janine stemde enthousiast in. Het was intussen te glibberig geworden om op sandalen te blijven lopen, dus we trokken allemaal onze schoenen uit om op onze blote voeten verder te waden. Volgens zeggen moesten we de rivier volgen, maar dat was onmogelijk. De enige andere mogelijkheid was door een dorpje te trekken, dat hoog op de helling lag. De zoektocht, de omgeving en het verregende gezelschap deden denken aan de verhalen van Tolkien. Een klein, gevarieerd gezelschap met een kwetsbare hoofpersoon, wier queeste is haar ‘lieveling’ in de hel te werpen.</p>
<p> </p>
<p>Wordt vervolgd.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sebelum matahari terbenam...........]]></title>
<link>http://hakimjohari.wordpress.com/2009/10/10/sebelum-matahari-terbenam/</link>
<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 17:26:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>hakimjohari</dc:creator>
<guid>http://hakimjohari.wordpress.com/2009/10/10/sebelum-matahari-terbenam/</guid>
<description><![CDATA[Titi Serong, Yan Kedah. *ps: dah lame tak blk, padahal sejam je pun nak pegi. Bulan depan kene wajib]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Titi Serong, Yan Kedah. *ps: dah lame tak blk, padahal sejam je pun nak pegi. Bulan depan kene wajib]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bali, Ubud, verliefde vakantiegangers, Warjihouse kroniek aflevering 30,]]></title>
<link>http://balibatin.wordpress.com/2009/10/06/bali-ubud-verliefde-vakantiegangers-warjihouse-kroniek-aflevering-30/</link>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 04:22:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ineke</dc:creator>
<guid>http://balibatin.wordpress.com/2009/10/06/bali-ubud-verliefde-vakantiegangers-warjihouse-kroniek-aflevering-30/</guid>
<description><![CDATA[Derde deel.   Enkele ochtenden later: Ketut zit bij mij op het terras om te kletsen bij een kop koff]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Derde deel.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-610" title="the nice culture" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/the-nice-culture.jpg?w=300" alt="the nice culture" width="300" height="260" /> </p>
<p>Enkele ochtenden later:<br />
Ketut zit bij mij op het terras om te kletsen bij een kop koffie. Omdat zijn broer Gde het te druk heeft met het afhalen en rondtoeren van gasten, neemt Ketut de lessen Bahasa Indonesia waar en hij is er vroeg bij om zijn plicht te vervullen. Maar de kamer van Janine is nog gesloten en haar koffie onaangeroerd. Nu en dan staat Ketut op om over de struiken heen te zien, of zijn leerlinge al uit haar slaap is ontwaakt. Ketut is vol lof over Janine. Ze neemt alles zo snel op. In een week had ze er meer van opgestoken dan ik in een jaar.<br />
Opeens staat Janine voor ons. Vermoeid, bepaald niet blij. Ik vermoed, dat ze te lang heeft geslapen, maar integendeel, zegt ze, ze heeft geen oog dicht gedaan. Ze komt net terug van een lange wandeling. Stukje bij beetje vertelt ze wat ze de afgelopen nacht heeft meegemaakt. De avond tevoren was ze naar de straat gelopen om te zien of haar lover aanwezig was bij de taxi-standplaats. En ja, daar stond zijn auto. Het regende een beetje en Gde schuilde in de auto. Toen hij Janine zag verschijnen, kwam hij direct de auto uit. Janine achtte het een beter idee om samen in de auto te gaan zitten, maar Gde trok haar mee onder het afdakje van een winkel. Iets in het gedrag van Gde maakte haar achterdochtig. “Why not?” drong ze aan. O.k. dan. Er zàt al iemand in de auto. “I want you to meet her”, Gde veranderde van aanpak. Hij trok Janine mee naar de auto en opende het achterportier. En daar zat ze: “This is Aiko.” Stoïcijns keek Aiko Janine aan. En Janine was helemaal uit het veld geslagen. Gde niet. Hij meende iets te moeten regelen hier. Omdat er niet genoeg plaats was op de achterbank stelde hij voor om naar de kamer van Janine te gaan en daar verder te praten. Geen van beide waren zij ingegaan op een huwelijksvoorstel en nu wilde hij de kool en de geit sparen. Op Janines terras nam Gde het woord en kwam met het voorstel om Janine bij Aiko onder te brengen. Janine zou een vriendin hebben om mee op te trekken, op de momenten dat Gde aan het werk was. Heel gezellig, als vriendinnen onder elkaar en op die manier zou hij bij beide even vaak langs komen. Toen Aiko haar wenkbrauwen even fronste, zei hij: “Janine is not rich, you know, but she can help you cleaning the house of course.” Triomfantelijk keek hij van de een naar de ander alsof hij zojuist het ei van Columbus had uitgevonden. Beide dames zwegen ijzig. Daarom besloot Gde dat het tijd werd om weer aan het werk te gaan. Met het regenweer zou er wel veel vraag zijn naar een taxi. “Better you talk together”, bood hij zijn vriendinnen aan, “like ladies among each other.&#8221;<br />
Hij oogstte geen bijval maar had zijn best gedaan en meende dat hij er goed aan deed om de dames even alleen te laten. Hij trof een uitgestorven straat aan en ging naar huis. Aiko kon wel bij Janine slapen; daar waren immers twee bedden.<br />
Intussen raakten Aiko en Janine inderdaad aan de praat. Aiko vertelde dat ze al een tijdje met Gde bevriend was. Hij zocht een westerse vrouw om een gezin mee te stichten. Maar Aiko had niet willen trouwen en ze wilde ook geen kinderen. Ze wilde gewoon een leuke vriend. Gde had gezegd, dat hij dan met een ander zou trouwen. Dat begreep ze. Maar nu zich een ander aandiende was ze niet bereid om afstand te doen van haar geliefde. En Gde vond haar leuk genoeg om dat haar te gunnen. Bovendien had Janine nog niet ingestemd met een huwelijk. Omdat ze waren uitgepraat en het bleef regenen, kroop elk in een bed. Geen van beide deed een oog dicht. ’s-Morgens om 7 uur was het opgehouden met regenen en Aiko was lopend naar huis gegaan. Hoe vermoeid Janine ook was, ze kon niet meer slapen en besloot een lange wandeling te maken.</p>
<p> <img class="alignnone size-medium wp-image-611" title="27-09-09 (11)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/27-09-09-11.jpg?w=300" alt="27-09-09 (11)" width="300" height="225" /></p>
<p>Wordt vervolgd</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sawah Sagil In Memory]]></title>
<link>http://pandahaccer.com/2009/10/02/sawah-sagil-in-memory/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 21:02:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>pandahaccer</dc:creator>
<guid>http://pandahaccer.com/2009/10/02/sawah-sagil-in-memory/</guid>
<description><![CDATA[Salam..setelah sekian lame x shot landscape&#8230;at last..Sawah Sagil,Air Hitam,Johor.Perjalanan dr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Salam..setelah sekian lame x shot landscape&#8230;at last..Sawah Sagil,Air Hitam,Johor.Perjalanan dr Kluang hanye mengambil mase 25min.Antara sebab kepulangan aku ke Malaysia adalah utk melawat sawah ni dan trime kasih kepade Ayie sbb bawa aku ke sini.At last,berjaye gak aku jejak kaki ke sawah ni.Aku hanye berpeluang utk shot landscape kat sawah ni dlm 1jam 15min dalam area nk sunset.So&#8230;enjoy!!<br />
<img src="http://pandahaccer.wordpress.com/files/2009/10/panorama-siap.jpg" alt="panorama siap" title="panorama siap" width="720" height="428" class="aligncenter size-full wp-image-248" /><br />
<img src="http://pandahaccer.wordpress.com/files/2009/10/dsc_2281.jpg" alt="DSC_2281" title="DSC_2281" width="720" height="528" class="aligncenter size-full wp-image-250" /><br />
<img src="http://pandahaccer.wordpress.com/files/2009/10/sawah1.jpg" alt="sawah1" title="sawah1" width="720" height="523" class="aligncenter size-full wp-image-249" /><br />
<img src="http://pandahaccer.wordpress.com/files/2009/10/sawah2.jpg" alt="sawah2" title="sawah2" width="720" height="683" class="aligncenter size-full wp-image-252" /><br />
<img src="http://pandahaccer.wordpress.com/files/2009/10/sawah4.jpg" alt="sawah4" title="sawah4" width="720" height="720" class="aligncenter size-full wp-image-251" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MEMANDANG INDONESIA DARI MERAUKE ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/10/02/memandang-indonesia-dari-merauke/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 01:25:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/10/02/memandang-indonesia-dari-merauke/</guid>
<description><![CDATA[Saat mendapat gelar adat Warku Gebze dan dianggap Namek (saudara laki-laki) bagi masyarakat adat suk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2962" title="aripin-panigoro" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/10/aripin-panigoro.jpg?w=142" alt="aripin-panigoro" width="142" height="150" />Saat mendapat gelar adat Warku Gebze dan dianggap Namek (saudara laki-laki) bagi masyarakat adat suku Malind Marori di Kampung Wasur, Merauke, Papua, pertengahan Agustus lalu, saya “ditikam” sebuah kesadaran baru. Memandang Indonesia dari Merauke ternyata lebih nyata ketimbang dari Jakarta dan kota besar lain.</p>
<p>Hamparan tanah seluas 11 juta hektar di Papua selatan, Kabupaten Merauke, Asmat, Mappi, Boven Digoel, itu belum banyak tersentuh tangan pertanian, misalnya, mengingatkan penulis akan sempitnya sawah petani saat ini.</p>
<p>Luas sawah di republik tinggal sekitar 12 juta hektar. Jika tanah yang idle di Merauke itu disentuh tangan-tangan produktif, ketahanan pangan kita akan menggeliat dan sangat kuat. Lebih dari itu, hasil pertanian itu juga bisa diolah menjadi energi terbarukan (biofuel) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.</p>
<p>Pendeknya, dari kesunyian dan “keperawanan” Merauke, saya bisa memahami pemikiran Thomas L Friedman (2008) tentang realitas dunia kekinian yang panas, datar, dan kumuh. Juga keinginannya untuk sebuah revolusi hijau di seluruh dunia agar kelangsungan hidup bumi tetap terjaga. Untuk itu semua, kita butuh pangan, pendidikan, dan energi.</p>
<p><strong>Segitiga pertahanan<br />
</strong><br />
Fenomena dunia yang datar, sama seperti gejala yang lain, selalu merupakan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuka peluang bagi siapa pun untuk maju dan berkembang tanpa adanya ganjalan diskriminatif. Di sisi lain, ia juga mengancam siapa pun yang tak bisa bertahan dalam pertempuran tanpa batas wilayah itu. Dunia begitu sempit dan mereka yang tak berkemampuan pasti akan terjepit dan tertinggal.</p>
<p><!--more-->Dilihat dari Merauke, terasa sekali Indonesia masih perlu kerja keras dan persiapan sistemik dalam menyongsong tekanan dunia yang semakin panas, datar, dan kumuh tersebut.</p>
<p>Perasaan bening seperti itu, selama ini sering terhalang tingginya gedung-gedung mewah, hotel-hotel berbintang, dan fasilitas teknologi informasi canggih yang tersedia di Jakarta dan kota besar lainnya. Padahal, di balik itu, sejatinya kita masih lemah. Tiga pilar yang menjadi segitiga pertahanan, yaitu pangan, pendidikan, dan energi, masih kurang berdaya.</p>
<p>Dalam produksi pangan, misalnya, saat ini kita masih jauh dari perkasa. Kecuali beras, hampir semua bahan pangan masih impor. Sementara itu, sumber pangan alternatif sejauh ini belum dikembangkan.</p>
<p>Mengikuti logika dunia yang datar, kegagalan panen akan berubah menjadi hantu menakutkan apabila sekuen waktunya bersamaan dengan kelangkaan produksi pangan dunia. Bukan saja harga bahan dan produk pangan menjadi mahal, tetapi suhu politik domestik bisa berubah memanas seketika.</p>
<p><strong>Energi dan pendidikan<br />
</strong><br />
Sementara itu, dalam hal energi, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa cadangan minyak yang kita miliki semakin menipis, jika tidak boleh disebut habis. Tekanan dunia yang datar, bukan saja memaksa pemerintah mengambil kebijakan untuk  mengikuti harga minyak dunia, tetapi juga memaksa para pelaku bisnis energi berusaha untuk menemuka sumur baru dan sumber energi alternatif.</p>
<p>Pergumulan untuk menemukan sumber-sumber energi itu dan mengembangkan energi yang terbarukan kini sedang berlangsung.</p>
<p>Sama seperti pilar pangan dan energi, pilar pendidikan juga masih lemah. Padahal, ia adalah titik keseimbangan dalam model segitiga pertahanan menghadapi dunia yang datar. Jika Cina sudah mempunyai lebih dari 30.000 doktor dalam bidang sains dan teknologi, Indonesia diduga baru mempunyai sepersepuluhnya.</p>
<p>Karena itu, lompatan yang luar biasa perlu dilakukan untuk mengejar ketertinggalan di ranah pendidikan, khususnya menyangkut pengembangan nanoteknologi, bioteknologi, teknologi informasi, dan neurosains.</p>
<p>Integrasi keempat bidang tersebut dalam pilar pangan, pendidikan, dan energi akan memperkokoh soliditas segitiga pertahanan dalam menghadapi dunia yang panas, datar, dan kumuh. Tanpa penguatan tersebut, pertempuran yang kita lakukan di dunia yang datar adalah semu. Kita sudah (kalah) dari semula.</p>
<p>Mendatarkan Indonesia</p>
<p>Dari Merauke, terlihat jelas bahwa di antara lintasan dunia yang datar, keadaan Indonesia sendiri justru masih diwarnai lembah-lembah curam dan bukit-bukit berbatu.</p>
<p>Ilustrasi itu merupakan suatu analogi bahwa selain segitiga pertahanan (pangan, pendidikan, energi) yang belum kuat, banyak praktik bisnis di negeri ini masih jauh dari efisiensi dan rasionalitas. Segmentasi pasar domestik masih begitu memprihatinkan.</p>
<p>Untuk ongkos angkut kontainer, misalnya, jarak dari Jakarta ke Batam biayanya hampir dua kali lipat dibandingkan dengan jarak Singapura ke California. Padahal, ukuran kontainer itu sama besar. Hal yang sama juga terjadi pada ongkos angkut dan harga buah-buahan. Harga buah impor bisa jadi lebih murah daripada biaya lokal karena mahalnya ongkos angkut antar pulau dan pungutan lain yang harus dibayar.</p>
<p>Adalah tuga kita bersama untuk mendatarkan Indonesia. Tanpa lalu lintas barang dan pelayanan yang bebas (free movement of goods and services) serta kuatnya segitiga pertahanan (pangan, pendidikan, energi) di republik, dunia yang panas dan datar akan melibas kita.</p>
<p>Dari Merauke, ketika mendapatkan gelar adar Warku Gebze, saya meyakini bangkitnya optimisme Indonesia, dalam waktu sesingkat-singkatnya.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Memandang Indonesia dari Merauke, Arifin Panigoro &#124; Seorang pelaku usaha dan Peminat Masalah Sosial-Politik</p>
<p>Kompas, 29.08.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bali, Ubud, verliefde vakantiegangers, Warjihouse kroniek aflevering 29]]></title>
<link>http://balibatin.wordpress.com/2009/10/01/bali-ubud-verliefde-vakantiegangers-warjihouse-kroniek-aflevering-29/</link>
<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 04:49:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ineke</dc:creator>
<guid>http://balibatin.wordpress.com/2009/10/01/bali-ubud-verliefde-vakantiegangers-warjihouse-kroniek-aflevering-29/</guid>
<description><![CDATA[Tweede deel.   Janine heeft besloten om Bahasa Indonesia te leren en neemt een kijkje in de plaatsel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tweede deel.</p>
<p> <img class="alignnone size-medium wp-image-596" title="verliefde meiden" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/verliefde-meiden.jpg?w=300" alt="verliefde meiden" width="300" height="220" /></p>
<p>Janine heeft besloten om Bahasa Indonesia te leren en neemt een kijkje in de plaatselijke bibliotheek, waar cursussen worden aangeboden. 12 lessen komen op Rp. 700.000. Janine zit er een beetje tegenaan te hikken, want erg groot is haar budget niet. Aan de andere kant is zo’n cursus natuurlijk welbesteed en als ze ooit in Bali zou gaan wonen -waar ze vurig op hoopt- zou het goed van pas komen. Dan krijgt Janine een beter idee: Als Gde haar les geeft, vangt ze twee vliegen in één klap. Dan zijn ze gezellig samen en hebben ze nog wat te doen ook. Enthousiast doet Janine Gde het voorstel om haar les te geven in het Indonesisch, zodat ze geld bespaart en bovendien samen een gezellige tijdpassering hebben. Gde vindt het een goed plan. In plaats van aan de bibliotheek betaalt Janine Rp 700.000 aan Gde en dan zijn ze gezellig samen. Zo had Janine het nog niet bekeken en ze moet even aan de gedachte wennen. Maar al gauw ziet ze de redelijkheid ervan in en als ze toch geld uitgeeft, dan maar liever aan haar eigen schatje. Wanneer zullen ze beginnen? Gde hoeft daar niet lang over na te denken; het kan nu meteen. Gde begint enthousiast aan les 1 met de vertaling van: goedemorgen, hoe gaat het met u? Waar kom je vandaan? Ik heet Janine. Ik ben 24 jaar. enz. enz. Ze hebben een hele leuke ochtend en Janine heeft er veel van opgestoken.<br />
Als ze na de les samen aan de lunch zitten, krijgt Gde een telefoontje. Hij checkt in zijn display wie hem belt en haast zich van hun tafeltje weg om op te nemen. Eenmaal terug, meldt hij: “This was my mother. She needs my help to bring something big to my aunty. So, I have to go now. Ehh…. Can you please give me the 700.000 rupiah?”<br />
Het duurt een paar seconden voor Janine zich realiseert wat Gde haar vraagt, maar omdat Gde blijft staan, rommelt ze nerveus in haar tas om haar beursje eruit te vissen. Ze heeft niet meer dan 500.000 bij zich. Ach, dat geeft toch niet, wimpelt Gde het probleem weg; die andere 200.000 komen later wel. Hij pakt het geld aan en spurt er vandoor.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-602" title="in love" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/copy-of-sandra-wayan-02-10-091.jpg?w=300" alt="in love" width="300" height="197" /></p>
<p>Een beetje overdonderd blijft Janine achter en bedenkt zich dan, dat de lunch nog betaald moet worden, maar dat haar geld op is. De kalme eigenaresse van de warung begrijpt de situatie en knikt bemoedigend. Janine mag later betalen, no problem. Lopend gaat Janine de lange weg terug naar huis langs de winkeltjes van Hanoman street. Als ze bij het voetbalveld komt, staat daar Ketut, de broer van Gde. “Selamat Siang” begroet Janine hem. Ketut lacht haar toe en prijst haar pas verworven kennis van het Bahasa Indonesia. Janine vertelt Ketut wat Gde en zij die ochtend hebben gedaan. Ketut vindt het ook een heel goed idee. Waarom je geld weggeven aan de bibliotheek, als Gde ook les kan geven ! En nu was Gde weer aan het werk? Nee, dat niet direct, maar hij moest zijn moeder helpen om iets naar tantetje te brengen? Janine wist ook niet wanneer Gde zou terugkomen. Ketut veronderstelde, dat Gde een transport had en stelde Janine voor om haar de omgeving op de brommer te laten zien. Janine aarzelde. Stel dat Gde snel klaar was en hij haar niet kon vinden, omdat ze met Ketut op stap was?<br />
Maar al snel kwam het verlossende sms-je: Gde had het druk de rest van de dag. “I will miss you, honey”<br />
Dus Janine stapte bij Ketut achterop de motor en ze reden even langs de ATM om geld te pinnen, dan langs de warung om de lunch te betalen en daarna de rijstvelden in. Janine vond Ketut allervriendelijkst. Ketut begreep haar situatie. Maar ja, er moest ook af en toe gewerkt worden. Omdat Janine, als verloofde van Gde nu bij de familie hoorde, voelde hij zich ook een beetje verantwoordelijk voor haar. “In our family we always help each other”. Het kwam heel warm op Janine over, die hechte familieband. In Frankrijk was het wel anders. Haar broer zou zich echt niet ontfermen over haar vriendje. Ketut wist heel wat te vertellen over de positie en de rol van vrouwen in de Balinese gemeenschap. Janine zoog alles in zich op en het leek haar een hele eer om ooit in een Balinese gemeenschap te worden opgenomen. Intussen voerde hun tochtje langs kleine dorpjes, heuvels en dalen, een rivier, een watervalletje. Het werd al bijna donker, toen ze weer in Ubud arriveerden. Omdat Gde nog niets van zich had laten horen, gebruikten Janine en Ketut samen het avondeten. Pas om 11 uur in de avond kwam Gde weer opdagen. Janine maakte zich juist klaar voor de nacht. Gde plofte neer op haar bed. “I am sooo tired. But I am sooo happy to see you again.”</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-597" title="sooo tired" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/10/sooo-tired.jpg?w=229" alt="sooo tired" width="229" height="300" /></p>
<p>Wordt vervolgd</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Main Ke Sawah Yuuuk^.^ biar tambah cinta alam]]></title>
<link>http://aisaidluv.wordpress.com/2009/09/30/main-ke-sawah-yuuuk-biar-tambah-cinta-alam/</link>
<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 16:02:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>aisaidluv</dc:creator>
<guid>http://aisaidluv.wordpress.com/2009/09/30/main-ke-sawah-yuuuk-biar-tambah-cinta-alam/</guid>
<description><![CDATA[Pesona alam menyimpan sejuta makna Yang hanya bisa dirasakan oleh mata hati Jika kita tahu apa makna]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-258 aligncenter" title="21092009(009)" src="http://aisaidluv.wordpress.com/files/2009/09/21092009009.jpg?w=300" alt="21092009(009)" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-280" title="A" src="http://aisaidluv.wordpress.com/files/2009/09/a.jpg?w=225" alt="A" width="300" height="301" /></p>
<p style="text-align:center;">Pesona alam menyimpan sejuta makna</p>
<p style="text-align:center;">Yang hanya bisa dirasakan oleh mata hati</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-260" title="21092009(010)" src="http://aisaidluv.wordpress.com/files/2009/09/21092009010.jpg?w=300" alt="21092009(010)" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-282" title="I" src="http://aisaidluv.wordpress.com/files/2009/09/i.jpg?w=300" alt="I" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;">Jika kita tahu apa makna yang tersirat</p>
<p style="text-align:center;">dibalik penciptaan alam semesta</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-261" title="21092009(011)" src="http://aisaidluv.wordpress.com/files/2009/09/21092009011.jpg?w=300" alt="21092009(011)" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-283" title="L" src="http://aisaidluv.wordpress.com/files/2009/09/l.jpg?w=300" alt="L" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;">Tentu kita akan belajar menghargai alam dan</p>
<p style="text-align:center;">takut untuk menyakitinya</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-262" title="21092009(013)" src="http://aisaidluv.wordpress.com/files/2009/09/21092009013.jpg?w=300" alt="21092009(013)" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-284" title="A1" src="http://aisaidluv.wordpress.com/files/2009/09/a1.jpg?w=300" alt="A1" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;">Andai saja setiap orang menggunakan naluri hatinya</p>
<p style="text-align:center;">untuk peduli pada alam, maka segala bentuk bencana</p>
<p style="text-align:center;">alam pasti bisa dihindari, dan tak perlu terjadi</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-263" title="21092009(014)" src="http://aisaidluv.wordpress.com/files/2009/09/21092009014.jpg?w=300" alt="21092009(014)" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-285" title="Bunga bakung" src="http://aisaidluv.wordpress.com/files/2009/09/bunga-bakung.jpg?w=300" alt="Bunga bakung" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:justify;">Sejatinya, <!--more-->alam memiliki kekayaan yang beraneka ragam.  Menikmati keindahan alam, bagiku layaknya melepas semua lelah dan penat yang bergelora dalam jiwa, dan saat jiwaku menyatu dengan alam, seolah hadirkan suara keheningan yang menyentuh relung jiwaku.  Seolah mendapatkan energi baru, dan ketika kuhirup udara segar yang menyelimuti alam, seakan segala penat sirna di benakku.  Menghabiskan waktu dalam kesendirian di sebah alam terbuka, selalu membuatku merasa bebas lepas dari segala penat yang kurasa.  Terima kasih Ya Allah&#8230;.. karena Engkau telah menciptakan pesona alam yang begitu indah.  Semoga akan banyak orang yang sadar dan menghargai betapa agungnya setiap hal yang Engkau ciptakan di dunia ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Btw, ada yang kurang dari kepulanganku ke kampung halaman pada saat lebaran, rencana mau main ke curug bersama adik  saya terpaksa batal, hehehe mungkin krn waktu&#8217;y aja kurang tepat, karena banayak kerabat yang berkunjung ke rumah pada saat lebaran.  Tapi kekecewaan itu sedikit terobati, karena saya mengajak adik-adik sepupu yang terbiasa dengan hiruk pikuk kebisingan kota bermain ke sawah.  oh iya, pas pagi-pagi mumpung lg sempet dan belum banyak tamu, saya mengajak adik saya tracking, seneng benget berdua adik saya menyusuri jalanan yang udah bertahun-tahun kutinggalkan, kangen masa anak-anak euy hehehehe.  Yeah, pagi itu, untuk sejenak aku jadi bocah petualang, sebuah kebiasaaan waktu kecil yg jd ank petualang terpaksa  kutinggalkan demi mengejar impian.  Dan saat impian itu telah terwujud, saya tetaplah seorang yang mencintai kampung halamannya, walaupun kini dan nanti mungkin saya tidak menetap disana.  Hmmmmm ternyata meski udah bertahun-tahun saya hidup di kota besar, tak mengubah sedikitpun rasa cinta saya pada alam pedesaaanku.  Dulu saya sering berpetualang dari satu bukit ke bukit lain, menemani nenekku tercinta kalau lg mengunjungi eyang buyutku, atau pun saya  tracking bareng teman-teman pengajian, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, tapi kini mereka udah pada nikah.  So, kalau pas pulang terus  lg kangen pengen jalan kaki menyusuri pedesaan, maka saya meminta adik saya menemani hehehe.  Wah, pokonya kalau saya dan adik saya ada waktu lg,  harus mewujudkan hasrat berpetualang menikmati alam, dan main ka curug ah.  yeahh next time lah^^</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Malaysia : TKI's Life is so Cheap here...]]></title>
<link>http://mostinspiringwords.wordpress.com/2009/09/30/malaysia-tkis-life-is-so-cheap-here/</link>
<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 07:23:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>most inspiring words</dc:creator>
<guid>http://mostinspiringwords.wordpress.com/2009/09/30/malaysia-tkis-life-is-so-cheap-here/</guid>
<description><![CDATA[Paying attention to the news that 2 TKI  (Indonesian migrant workers)  dead  in malaysia, everyday! ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Paying attention to the news that 2 TKI  (Indonesian migrant workers)  <a href="http://www.surya.co.id/2009/06/04/setahun-700-tki-mati-di-malaysia-bnp2tki-jatim-desak-penyelidikan.html">dead  in malaysia, everyday!<br />
</a></p>
<p>The number of  Indonesian migrant workers (TKI) that invaded Malaysia to hunt ringgit  should get more attention from the government. Averagely,  700 people die in Malaysia every year.</p>
<p>Indonesian migrant workers in Malaysia has a sum of 1.2 million, mostly in the informal sector, such as oil palm plantation workers, construction workers and domestic servants. Among that amount, between 400-700 workers die every year. This means that every month there are 58 workers died, or about <strong>two people every day</strong>.</p>
<div id="attachment_61" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><img class="size-full wp-image-61" title="TKI2" src="http://mostinspiringwords.wordpress.com/files/2009/09/tki2.jpg" alt="TKI2" width="450" height="450" /><p class="wp-caption-text">INDONESIAN MIGRANT WORKER</p></div>
<p style="text-align:center;">
<p>According to Indonesian Embassy, they died by various reasons,  work accidents, traffic accidents, illness and so forth.</p>
<p>Although Embassy said that they promised guarantee of the safety of all workers in Malaysia, both official and illegal, this data can not be easily ignored. The guarantee that&#8217;s essential to any rights that harm workers must be fulfilled. Moreover, each day an average of 1000 workers complained to the Embassy about the problems that befall them. And&#8230;. what? Nothing was done by the Embassy. They just collect the complains and throw them to the trash bin away!</p>
<p>So, how cheap the live is?</p>
<p>For Indonesian government I just could say: SAVE TKI&#8217;S LIVE, just take your action, No Talkative!!!</p>
<p>For TKI : RA USAH NANG MALAYSIA DEK, MBAK, BU, KANG, CAK, PAK! LUWEH PENAK KERJO NANG OMAH KONO, LEK ENEK SAWAH YO MACULO, RA ENEK SAWAH YO ISO GAWE USAHA DEWE, OJO GOLEK MATI NANG MALAYSIA, NYAWAMU GOR SIJI!</p>
<p>WE HAVE ONLY ONE LIFE IN THIS WORLD. No matter how rich you are, none will sell their life for you. So, keep it dude!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[yang Indah indah..Pemandangan Cantik...]]></title>
<link>http://saungfermentasi.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/</link>
<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 13:16:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>adityarial</dc:creator>
<guid>http://saungfermentasi.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-525" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/bunakeng2/"><img class="alignnone size-full wp-image-525" title="pantai bunaken" src="http://organikganesha.files.wordpress.com/2009/09/bunakeng2.jpg?w=570&#038;h=427" alt="pantai bunaken" width="570" height="427" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-526" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/dsc_0164/"><img class="alignnone size-full wp-image-526" title="asik" src="http://organikganesha.files.wordpress.com/2009/09/dsc_0164.jpg?w=570&#038;h=379" alt="asik" width="570" height="379" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-527" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/panorama-in-bali-3/"><img class="size-full wp-image-527 aligncenter" title="panorama-in-bali" src="http://organikganesha.files.wordpress.com/2009/09/panorama-in-bali-3.jpg?w=512&#038;h=584" alt="panorama-in-bali" width="512" height="584" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-531" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/beautiful_nature_01/"><img class="alignnone size-full wp-image-531" title="alam indah" src="http://organikganesha.files.wordpress.com/2009/09/beautiful_nature_01.jpg?w=570&#038;h=385" alt="alam indah" width="570" height="385" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-532" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/3536090699_acd08afe58_b/"><img class="alignnone size-full wp-image-532" title="bukit indah" src="http://organikganesha.files.wordpress.com/2009/09/3536090699_acd08afe58_b.jpg?w=570&#038;h=380" alt="bukit indah" width="570" height="380" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-533" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/beautiful-nature-14/"><img class="alignnone size-full wp-image-533" title="alam indah.beautiful nature" src="http://organikganesha.files.wordpress.com/2009/09/beautiful-nature-14.jpg?w=400&#038;h=265" alt="alam indah.beautiful nature" width="400" height="265" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-534" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/rice-field5/"><img class="alignnone size-full wp-image-534" title="sawah.tani.rice-field" src="http://organikganesha.files.wordpress.com/2009/09/rice-field5.jpg?w=570&#038;h=381" alt="sawah.tani.rice-field" width="570" height="381" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-537" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/538787434_ce84b9bdbd_o-vi/"><img class="alignnone size-full wp-image-537" title="sawah di jepang" src="http://organikganesha.files.wordpress.com/2009/09/538787434_ce84b9bdbd_o-vi.jpg?w=500&#038;h=473" alt="sawah di jepang" width="500" height="473" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-538" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/indahnyaaa/"><img class="alignnone size-full wp-image-538" title="indahnyaaa" src="http://organikganesha.files.wordpress.com/2009/09/indahnyaaa.jpg?w=470&#038;h=353" alt="indahnyaaa" width="470" height="353" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[yang Indah indah..Pemandangan Cantik...]]></title>
<link>http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/</link>
<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 13:16:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>AdityaRial</dc:creator>
<guid>http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-525" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/bunakeng2/"><img class="alignnone size-full wp-image-525" title="pantai bunaken" src="http://organikganesha.wordpress.com/files/2009/09/bunakeng2.jpg" alt="pantai bunaken" width="570" height="427" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-526" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/dsc_0164/"><img class="alignnone size-full wp-image-526" title="asik" src="http://organikganesha.wordpress.com/files/2009/09/dsc_0164.jpg" alt="asik" width="570" height="379" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-527" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/panorama-in-bali-3/"><img class="size-full wp-image-527 aligncenter" title="panorama-in-bali" src="http://organikganesha.wordpress.com/files/2009/09/panorama-in-bali-3.jpg" alt="panorama-in-bali" width="512" height="584" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-531" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/beautiful_nature_01/"><img class="alignnone size-full wp-image-531" title="alam indah" src="http://organikganesha.wordpress.com/files/2009/09/beautiful_nature_01.jpg" alt="alam indah" width="570" height="385" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-532" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/3536090699_acd08afe58_b/"><img class="alignnone size-full wp-image-532" title="bukit indah" src="http://organikganesha.wordpress.com/files/2009/09/3536090699_acd08afe58_b.jpg" alt="bukit indah" width="570" height="380" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-533" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/beautiful-nature-14/"><img class="alignnone size-full wp-image-533" title="alam indah.beautiful nature" src="http://organikganesha.wordpress.com/files/2009/09/beautiful-nature-14.jpg" alt="alam indah.beautiful nature" width="400" height="265" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-534" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/rice-field5/"><img class="alignnone size-full wp-image-534" title="sawah.tani.rice-field" src="http://organikganesha.wordpress.com/files/2009/09/rice-field5.jpg" alt="sawah.tani.rice-field" width="570" height="381" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-537" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/538787434_ce84b9bdbd_o-vi/"><img class="alignnone size-full wp-image-537" title="sawah di jepang" src="http://organikganesha.wordpress.com/files/2009/09/538787434_ce84b9bdbd_o-vi.jpg" alt="sawah di jepang" width="500" height="473" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-538" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/29/yang-indah-indah/indahnyaaa/"><img class="alignnone size-full wp-image-538" title="indahnyaaa" src="http://organikganesha.wordpress.com/files/2009/09/indahnyaaa.jpg" alt="indahnyaaa" width="470" height="353" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Green, Green Sawah..at Shah Alam???]]></title>
<link>http://ammarue.wordpress.com/2009/09/27/green-green-sawah-at-shah-alam/</link>
<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 05:40:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>ammarue</dc:creator>
<guid>http://ammarue.wordpress.com/2009/09/27/green-green-sawah-at-shah-alam/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter size-full wp-image-38" title="3263367947_f8fda3b9f0" src="http://ammarue.wordpress.com/files/2009/09/3263367947_f8fda3b9f0.jpg" alt="3263367947_f8fda3b9f0" width="500" height="334" /></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-35" title="3263175503_6f3376dabc" src="http://ammarue.wordpress.com/files/2009/09/3263175503_6f3376dabc.jpg" alt="3263175503_6f3376dabc" width="500" height="334" /></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-36" title="3263192339_e94e29bf12" src="http://ammarue.wordpress.com/files/2009/09/3263192339_e94e29bf12.jpg" alt="3263192339_e94e29bf12" width="500" height="334" /></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-40" title="3264243174_5a198337f1_b" src="http://ammarue.wordpress.com/files/2009/09/3264243174_5a198337f1_b.jpg" alt="3264243174_5a198337f1_b" width="685" height="1024" /></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-39" title="3263970318_8a333375bd_b" src="http://ammarue.wordpress.com/files/2009/09/3263970318_8a333375bd_b.jpg" alt="3263970318_8a333375bd_b" width="685" height="1024" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bali, Ubud,een wandeling langs de helling van Sayan]]></title>
<link>http://balibatin.wordpress.com/2009/09/16/bali-ubudeen-wandeling-langs-de-helling-van-sayan/</link>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 05:14:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ineke</dc:creator>
<guid>http://balibatin.wordpress.com/2009/09/16/bali-ubudeen-wandeling-langs-de-helling-van-sayan/</guid>
<description><![CDATA[WANDELING 3 Deze wandeling vindt plaats in het prachtige grillige landschap van Sayan, dat bekend st]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>WANDELING 3</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-555" title="walk 3 (1)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/09/walk-3-1.jpg?w=300" alt="walk 3 (1)" width="300" height="225" /></p>
<p>Deze wandeling vindt plaats in het prachtige grillige landschap van Sayan, dat bekend staat om zijn luxe hotels.<br />
In het gebied tegenover de hotels liggen een paar kleine dorpjes, veelal bewoond door boeren, die rijstterrassen hebben aangelegd, waar de jungle dat toeliet. Verder beschikken ze over akkers, waar ze groenten verbouwen en fruitbomen. Uiteraard ontbreekt ook het koeienstalletje niet en treft men dichter bij de huizen vaak een varkenskot aan. Dwars door akkers en jungle wordt het water rondgeleid en niet zelden volgt Wayan deze kanaaltjes om van de ene naar de andere kant te komen. Soms doorwaadt hij zelfs een kanaaltje, waar het water tot aan de knie reikt. In feite loopt men het grootste deel van de trip halverwege de rivierhelling.<br />
Op de andere oever ziet men nu en dan een luxe ressort met parasols en zwembaden. Maar meestal heeft men een prachtig uitzicht over het groen begroeide dal, waartussen hier en daar het snelstromende water opglinstert.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-556" title="walk 3 (2)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/09/walk-3-2.jpg?w=300" alt="walk 3 (2)" width="300" height="225" /></p>
<p>De wandeling begint bij een dorpstempel die grenst aan een gebied met sawahs. Het eerste stukje loopt men over de smalle dijkjes, die het water in de sawah tegenhouden. Geleidelijk aan gaan de sawahs over in ruiger gebied, deels in cultuur gebracht voor fruit en groenten, deels om zich heen woekerende natuur. Het bevloeiingswater wordt voortgeleid door stevige betonnen goten, die het mogelijk maken om makkelijk het gebied te doorkruisen. Niet zelden treft men badende dorpelingen aan, die vaak tezelfder tijd de was doen. Soms liggen er alleen de restjes zeep als stille getuigen. Maar naarmate men verder gaat komt men ook vreemde ruines tegen. Onvoltooide bouwwerken, prijsgegeven aan de jungle. Een overwoekerde trap, die ooit naar de rivier leidde. Hier steekt een verhaal achter, dat ons één der dorpelingen uitvoerig uit de doeken heeft gedaan.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-557" title="walk 3 (3)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/09/walk-3-3.jpg?w=300" alt="walk 3 (3)" width="300" height="225" /></p>
<p>Om zijn natuurschoon is de rivierhelling van Sayan erg in trek bij buitenlandse toeristen en investeerders. Het gevolg daarvan was, dat de grondprijs op de helling enorm steeg, terwijl het land voor de boeren zelf minder aantrekkelijk was als akker of sawah.<br />
Echter, de hotels hadden hun gasten vrij uitzicht op natuurschoon beloofd. De hoteleigenaren hadden er dus alles voor over om bebouwing aan de andere zijde tegen te gaan. Zij kochten het af. En dat had enorme gevolgen&#8230;.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-558" title="walk 3 (4)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/09/walk-3-4.jpg?w=300" alt="walk 3 (4)" width="300" height="225" /></p>
<p>Eén van de gevolgen was uiteindelijk, dat het dorpje op de andere helling in tweeën werd gesplitst. Een ander gevolg was, dat er in het dorpje drie enorme tempels verrezen, die niet in verhouding staan tot het aantal inwoners. Wat ook opvalt, is dat de bewoners er warmpjes bij zitten. Ze hebben keurige woningen en gezellige tuinen.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-559" title="walk 3 (5)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/09/walk-3-5.jpg?w=300" alt="walk 3 (5)" width="300" height="225" /></p>
<p>De tocht eindigt met een wandeling door dit dorpje. Als men de jungle verlaat en door een boomgaard en langs moestuinen het dorpje bereikt, komt men uit op het pleintje voor de drie tempels, waar een reusachtige waringin zijn schaduw over de weg werpt. Een oase van rust.<br />
Vandaar loopt men door de dorpsstraat waar men links en rechts de gezellige huisjes ziet met hier en daar een kleine warung en spelende kinderen. Niets wijst op de onrust die daar heeft gewoed.<br />
Aan het einde van de straat komt men weer terug bij de tempel aan de rand van de sawahs.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-560" title="walk 3 (6)" src="http://balibatin.wordpress.com/files/2009/09/walk-3-6.jpg?w=300" alt="walk 3 (6)" width="300" height="225" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
