<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>sempalan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/sempalan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "sempalan"</description>
	<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 23:51:39 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[ Muncul Belasan Aliran Nyeleneh, Pakem Kota Malang Diaktifkan Lagi ]]></title>
<link>http://maslahiy.wordpress.com/2009/09/02/muncul-belasan-aliran-nyeleneh-pakem-kota-malang-diaktifkan-lagi/</link>
<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 12:31:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Maslahiy Malang</dc:creator>
<guid>http://maslahiy.wordpress.com/2009/09/02/muncul-belasan-aliran-nyeleneh-pakem-kota-malang-diaktifkan-lagi/</guid>
<description><![CDATA[MALANG &#8211; Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) minta masyarakat Kota Malang melaporka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MALANG &#8211; Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) minta masyarakat Kota Malang melaporka]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ciri2 Kelompok Sesat dalam Islam]]></title>
<link>http://yony23.wordpress.com/2009/08/12/ciri2-kelompok-sesat-dalam-islam/</link>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 03:32:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>YonY23</dc:creator>
<guid>http://yony23.wordpress.com/2009/08/12/ciri2-kelompok-sesat-dalam-islam/</guid>
<description><![CDATA[Jika ada suatu kelompok, baik yang berkedok kelompok pengajian maupun lainnya memiliki salah satu ci]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Jika ada suatu kelompok, baik yang berkedok kelompok pengajian maupun lainnya memiliki salah satu ci]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gerakan Sempalan di Kalangan Ummat Islam Indonesia]]></title>
<link>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/09/29/gerakan-sempalan-di-kalangan-ummat-islam-indonesia/</link>
<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 23:45:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>jalansetapak08</dc:creator>
<guid>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/09/29/gerakan-sempalan-di-kalangan-ummat-islam-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Martin van Bruinessen, &#8220;Gerakan sempalan di kalangan umat Islam Indonesia: latar belakang sosi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Martin van Bruinessen, <span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;">&#8220;Gerakan       sempalan di kalangan umat Islam Indonesia: latar belakang sosial-budaya&#8221;       (&#8220;Sectarian movements in Indonesian Islam: Social and cultural       background&#8221;), <em><br />
Ulumul Qur&#8217;an</em> vol. III no. 1, 1992, 16-27.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&#34;">Gerakan         Sempalan di Kalangan </span><span style="font-size:16pt;font-family:&#34;">Ummat         Islam Indonesia:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&#34;">Latar         Belakang Sosial-Budaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Martin         van Bruinessen</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Istilah         &#8220;<em>gerakan sempalan</em>&#8221; beberapa tahun terakhir ini menjadi         populer di Indonesia sebagai sebutan untuk berbagai gerakan atau aliran         agama yang dianggap &#8220;aneh&#8221;, alias menyimpang dari aqidah,         ibadah, amalan atau pendirian mayoritas umat. Istilah ini, agaknya,         terjemahan dari kata &#8220;<em>sekte</em>&#8221; atau &#8220;<em>sektarian</em>&#8220;,</span><a name="_ftnref1" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn1"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[1]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> kata yang mempunyai berbagai konotasi negatif, seperti protes terhadap         dan pemisahan diri dari mayoritas, sikap eksklusif, pendirian tegas         tetapi kaku, klaim monopoli atas kebenaran, dan fanatisme. Di Indonesia         ada kecenderungan untuk melihat gerakan sempalan terutama sebagai         ancaman terhadap stabilitas dan keamanan dan untuk segera melarangnya. </span><span style="font-family:&#34;">Karena         itu, sulit membedakan gerakan sempalan dengan gerakan terlarang atau         gerakan oposisi politik. Hampir semua aliran, faham dan gerakan yang         pernah dicap &#8220;<em>sempalan</em>&#8220;, ternyata memang telah dilarang         atau sekurang-kurangnya diharamkan oleh Majelis Ulama. Beberapa contoh         yang terkenal adalah: <em>Islam Jamaah</em>, <em>Ahmadiyah Qadian</em>, <em>DI/TII</em>,         <em>Mujahidin</em>&#8216;nya Warsidi (Lampung), <em>Syi&#8217;ah</em>, <em>Baha&#8217;i</em>,         &#8220;<em>Inkarus Sunnah</em>&#8220;, <em>Darul Arqam</em> (Malaysia), <em>Jamaah         Imran</em>, gerakan <em>Usroh</em>, aliran-aliran tasawwuf berfaham <em>wahdatul         wujud</em>, <em>Tarekat Mufarridiyah</em>, dan gerakan <em>Bantaqiyah</em> (Aceh).         Serangkaian aliran dan kelompok ini, kelihatannya, sangat beranekaragam.         Apakah ada kesamaan antara semua gerakan ini? Dan apa faktor-faktor yang         menyebabkan munculnya gerakan-gerakan tersebut? Tanpa pretensi         memberikan jawaban tuntas atas pertanyaan ini, makalah ini berusaha         menyoroti gerakan sempalan dari sudut pandang sosiologi agama.</span><a name="_ftnref2" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn2"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[2]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&#34;"><strong>Gerakan         sempalan: ada definisinya?</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Berbicara         tentang &#8220;gerakan sempalan&#8221; berarti bertolak dari suatu         pengertian tentang &#8220;ortodoksi&#8221; atau &#8220;mainstream&#8221; (aliran         induk); karena gerakan sempalan adalah gerakan yang menyimpang atau         memisahkan diri dari ortodoksi yang berlaku. </span><span style="font-family:&#34;">Tanpa         tolok ukur ortodoksi, istilah &#8220;sempalan&#8221; tidak ada artinya.         Untuk menentukan mana yang &#8220;sempalan&#8221;, kita pertama-tama harus         mendefinisikan &#8220;mainstream&#8221; yang ortodoks. Dalam kasus ummat         Islam Indonesia masa kini, ortodoksi barangkali boleh dianggap diwakili         oleh badan-badan ulama yang berwibawa seperti terutama MUI, kemudian <em>Majelis         Tarjih</em> Muhammadiyah, <em>Syuriah</em> NU, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Istilah &#8220;gerakan sempalan&#8221; memang lazim dipakai, secara         normatif, untuk aliran agama yang oleh lembaga-lembaga tersebut dianggap         sesat dan membahayakan. </span><span style="font-family:&#34;">Akan         tetapi, definisi ini menimbulkan berbagai kesulitan untuk kajian         selanjutnya. Misalnya, apakah Ahmadiyah Qadian atau Islam Jamaah baru         merupakan gerakan sempalan setelah ada fatwa yang melarangnya? Atau,         meminjam contoh dari negara tetangga, berbagai aliran agama yang pernah         dilarang oleh Jabatan Agama pemerintah pusat Malaysia, tetap dianggap         sah saja oleh Majelis-Majelis Ugama Islam di negara-negara bagiannya. </span><span style="font-family:&#34;">Bagaimana         kita bisa memastikan apakah aliran tersebut termasuk yang sempalan?         Ortodoksi, kelihatannya, adalah sesuatu yang bisa berubah menurut zaman         dan tempat, dan yang &#8220;sempalan&#8221;  pun bersifat kontekstual.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> </span><span style="font-family:&#34;">Pengamatan         terakhir ini boleh jadi menjengkelkan. </span><span style="font-family:&#34;">Dari         sudut pandangan orang Islam yang &#8220;concerned&#8221;, yang sesat         adalah sesat, apakah ada fatwanya atau tidak. Dalam visi ini, <em>Ahlus         Sunnah wal Jama&#8217;ah</em> merupakan &#8220;mainstream&#8221; Islam yang         ortodoks, dan yang menyimpang darinya adalah sempalan dan sesat. </span><span style="font-family:&#34;">Kesulitan         dengan visi ini menjadi jelas kalau kita menengok awal abad ke-20 ini,         ketika terjadi konflik besar antara kalangan Islam modernis dan kalangan         &#8220;tradisionalis&#8221;. Dari sudut pandangan ulama tradisional, yang         memang menganggap diri mewakili <em>Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</em>, kaum         modernis adalah sempalan dan sesat, sedangkan para modernis justeru         menuduh lawannya menyimpang dari jalan yang lurus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Kalau kita mencari kriteria yang obyektif untuk mendefinisikan dan         memahami gerakan sempalan, kita sebaiknya mengambil jarak dari         perdebatan mengenai kebenaran dan kesesatan. Gerakan sempalan tentu saja         juga menganggap diri lebih benar daripada lawannya; biasanya mereka         justeru merasa lebih yakin akan kebenaran faham atau pendirian mereka.         Karena itu, kriteria yang akan saya gunakan adalah kriteria sosiologis,         bukan teologis. Gerakan sempalan yang tipikal adalah kelompok atau         gerakan yang <em>sengaja memisahkan diri</em> dari &#8220;mainstream&#8221;         umat, mereka yang cenderung <em>eksklusif</em> dan seringkali <em>kritis         terhadap para ulama yang mapan</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Dalam pendekatan sosiologis ini, &#8220;ortodoksi&#8221; dan &#8220;sempalan&#8221;         bukan konsep yang mutlak dan abadi, namun relatif dan dinamis. Ortodoksi         atau mainstream adalah faham yang dianut mayoritas umat &#8212; atau lebih         tepat, mayoritas ulama; dan lebih tepat lagi, golongan ulama yang         dominan. Sebagaimana diketahui, sepanjang sejarah Islam telah terjadi         berbagai pergeseran dalam faham dominan &#8211; pergeseran yang tidak lepas         dari situasi politik. Dalam banyak hal, ortodoksi adalah faham yang         didukung oleh penguasa, sedangkan faham yang tidak disetujui dicap sesat;         gerakan sempalan seringkali merupakan penolakan faham dominan dan         sekaligus merupakan  protes sosial atau politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Faham aqidah Asy&#8217;ari, yang sekarang merupakan ortodoksi, pada masa &#8216;Abbasiyah         pernah dianggap sesat, ketika ulama Mu&#8217;tazili (yang waktu itu didukung         oleh penguasa) merupakan golongan yang dominan. Jadi, faham yang         sekarang dipandang sebagai ortodoksi juga pernah merupakan sejenis         &#8220;gerakan sempalan&#8221;. Bahwa akhirnya faham Asy&#8217;ari-lah yang         menang, juga tidak lepas dari faktor politik. Kasus ini mungkin bukan         contoh yang terbaik &#8212; golongan Asy&#8217;ari tidak dengan sengaja memisahkan         diri dari sebuah &#8220;mainstream&#8221; yang sudah mapan; faham yang         mereka anut berkembang dalam dialog terus-menerus dengan para lawannya.         Contoh yang lebih tepat adalah gerakan Islam reformis Indonesia pada         awal abad ini (seperti <em>Al Irsyad</em> dan <em>Muhammadiyah</em>) yang         dengan tegas menentang &#8220;ortodoksi&#8221; tradisional yang dianut         mayoritas ulama, dan dari sudut itu merupakan gerakan sempalan. Sejak         kapan mereka tidak bisa lagi dianggap gerakan sempalan dan menjadi         bagian dari ortodoksi? Di bawah ini akan dibahas beberapa faktor yang         mungkin berperan dalam proses perkembangan suatu <em>sekte</em> menjadi <em>denominasi</em>.         Untuk sementara, dapat dipastikan bahwa penganut gerakan reformis pada         umumnya tidak berasal dari kalangan sosial yang marginal, namun justru         dari orang Islam kota yang sedang naik posisi ekonomi dan status         sosialnya, dan bahwa dalam perkembangan sejarah telah terjadi proses         akomodasi, saling menerima, antara kalangan reformis dan tradisional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Apakah di antara &#8220;gerakan sempalan&#8221; masa kini ada juga yang         berpotensi menjadi &#8220;ortodoksi&#8221; di masa depan? Tidak satu orang         pun yang akan meramal bahwa aliran seperti Bantaqiyah bisa meraih banyak         penganut di Indonesia. Perbandingan antara gerakan reformis, apalagi         madzhab aqidah Asy&#8217;ari, dan gerakan sempalan yang disebut di atas,         terasa sangat tidak tepat. </span><span style="font-family:&#34;">Orang         Islam pada umumnya merasa (kecuali para penganut gerakan tersebut,         barangkali), bahwa mereka secara fundamental berbeda. Tetapi &#8230; apa         sebetulnya perbedaan ini, selain perasaan orang bahwa yang pertama         mengandung kebenaran, sedangkan yang terakhir adalah sesat? Padahal,         aliran tersebut menganggap dirinya sebagai pihak  yang benar,         semntara yang lain sesat! Sejauhmana penilaian kita obyektif dalam hal         ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Memang di antara gerakan sempalan tadi terdapat aliran yang kelihatannya         punya dasar ilmu agama yang sangat tipis. Penganut aliran itu biasanya         juga orang yang marginal secara sosial dan ekonomi, dan berpendidikan         rendah. Tetapi tidak semua gerakan sempalan demikian. Baik dalam <em>Islam         Jama&#8217;ah</em> maupun gerakan <em>Syi&#8217;ah </em>Indonesia, malahan juga dalam <em>Ahmadiyah</em> dan gerakan <em>tasawwuf wahdatul wujud </em>terdapat pemikir yang         memiliki pengetahuan agama yang cukup tinggi dan  pandai         mempertahankan faham mereka dalam debat. Mereka sanggup menemukan <em>nash</em> untuk menangkis semua tuduhan kesesatan terhadap mereka, dan tidak         pernah kalah dalam perdebatan dengan ulama yang &#8220;ortodoks&#8221; &#8212;         sekurang-kurangnya dalam pandangan mereka sendiri dan         penganut-penganutnya. Mereka dapat dianggap &#8220;sempalan&#8221; karena         mereka merupakan minoritas yang secara sengaja memisahkan diri dari         mayoritas ummat. Sebagai fenomena sosial, tidak terlihat perbedaan         fundamental antara mereka dengan, misalnya, Al Irsyad pada masa         berdirinya. Dan perlu kita catat bahwa di Iran pun, <em>Syi&#8217;ah</em> berhasil menggantikan <em>Ahlus Sunnah</em> sebagai faham dominan baru         kira-kira lima abad belakangan!</span><a name="_ftnref3" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn3"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[3]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> </span><span style="font-family:&#34;">Lalu,         bagaimana dengan <em>Darul Islam</em> dan gerakan <em>Usroh</em>? Keduanya         dapat dianggap gerakan sempalan juga, baik dalam arti bahwa mereka tidak         dibenarkan oleh lembaga-lembaga agama resmi maupun dalam arti bahwa         mereka memisahkan diri dari mayoritas. Namun saya tidak pernah mendengar         kritik mendasar terhadap aqidah dan ibadah mereka. </span><span style="font-family:&#34;">Yang         dianggap sesat oleh mayoritas umat adalah amal <em>politik </em>mereka.         Seandainya pada tahun 1950-an bukan Republik yang menang tetapi <em>Negara         Islam Indonesia</em>&#8216;nya Kartosuwiryo, merekalah yang menentukan         ortodoksi dan membentuk &#8220;mainstream&#8221; Islam. Seandainya itu         yang terjadi, tidak mustahil sebagian &#8220;mainstream&#8221; Islam         sekarang inilah yang mereka anggap sebagai &#8220;sempalan&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&#34;">Klasifikasi         gerakan sempalan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Untuk         menganalisa fenomena gerakan sempalan secara lebih jernih, mungkin ada         baiknya kalau kita merujuk kepada kajian sosiologi agama yang sudah ada         untuk melihat apakah ada temuan yang relevan untuk situasi Indonesia.         Hanya saja, karena sosiologi agama adalah salah satu disiplin ilmu yang         lahir dan dikembangkan di dunia Barat, sasaran kajiannya lebih sering         terdiri dari umat Kristen ketimbang penganut agama-agama lainnya. Oleh         karena, itu belum tentu <em>a priori</em> temuannya benar-benar relevan         untuk dunia Islam. Beberapa konsep dasar yang dipakai barangkali sangat         tergantung pada konteks budaya Barat. Mengingat keterbatasan ini,         biarlah kita melihat apa saja telah ditemukan mengenai muncul dan         berkembangnya gerakan sempalan pada waktu dan tempat yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> </span><span style="font-family:&#34;">Dua         sosiolog agama Jerman mempunyai pengaruh besar terhadap studi mengenai <em>sekte</em> selama abad ini, mereka adalah Max Weber dan Ernst Troeltsch. Weber         terkenal dengan tesisnya mengenai peranan sekte-sekte protestan dalam         perkembangan <em>semangat kapitalisme</em> di Eropa, dan dengan teorinya         mengenai <em>kepemimpinan karismatik</em>. Troeltsch, teman dekat Weber,         mengembangkan beberapa ide Weber dalam studinya mengenai munculnya         gerakan sempalan di Eropa pada abad pertengahan.</span><a name="_ftnref4" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn4"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[4]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> Troeltsch memulai analisanya dengan membedakan dua jenis wadah um</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">at         beragama yang secara konseptual merupakan dua kubu bertentangan, yaitu <em>tipe         gereja</em> dan <em>tipe sekte</em>. Contoh paling murni dari tipe gereja         barangkali adalah Gereja Katolik abad pertengahan, tetapi setiap         ortodoksi (dalam arti sosiologis tadi) yang mapan mempunyai aspek tipe         gereja. Organisasi- organisasi tipe gereja biasanya berusaha mencakup         dan mendominasi seluruh masyarakat dan segala aspek kehidupan. Sebagai         wadah yang <em>established</em> (mapan), mereka cenderung konservatif,         formalistik, dan berkompromi dengan penguasa serta elit politik dan         ekonomi. Di dalamnya terdapat hierarki yang ketat, dan ada golongan         ulama yang mengklaim monopoli akan ilmu dan karamah, orang awam         tergantung kepada mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Tipe sekte, sebaliknya, selalu lebih kecil dan hubungan antara sesama         anggotanya biasanya egaliter. Berbeda dengan tipe gereja, keanggotaannya         bersifat sukarela: orang tidak dilahirkan dalam lingkungan sekte, tetapi         masuk atas kehendak sendiri. Sekte-sekte biasanya berpegang lebih keras         (atau kaku) kepada prinsip, menuntut ketaatan kepada nilai moral yang         ketat, dan mengambil jarak dari penguasa dan dari kenikmatan material.         Sekte-sekte biasanya mengklaim bahwa ajarannya lebih <em>murni</em>, lebih         konsisten dengan wahyu Ilahi. Mereka cenderung membuat pembedaan tajam         antara para penganutnya yang suci dengan orang luar yang awam dan penuh         kekurangan serta dosa. Seringkali, kata Troeltsch, sekte- sekte muncul         pertama-tama di kalangan yang berpendapatan dan pendidikan rendah, dan         baru kemudian meluas ke kalangan lainnya. Mereka sering cenderung         memisahkan diri secara fisik dari masyarakat sekitarnya, dan menolak         budaya dan ilmu pengetahuan sekuler.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Selain sekte, Troeltsch menyoroti suatu jenis gerakan lagi yang muncul         sebagai oposisi terhadap gereja (atau ortodoksi yang lain), yaitu         gerakan <em>mistisisme</em> (<em>tasawwuf</em>). Sementara sekte memisahkan         diri dari gereja karena mereka menganggap gereja telah kehilangan         semangat aslinya dan terlalu berkompromi, gerakan- gerakan mistisisme         merupakan reaksi terhadap formalitas dan &#8220;kekeringan&#8221; gereja.         Gerakan <em>mistisisme</em>, menurut Troeltsch, memusatkan perhatian         kepada penghayatan ruhani-individual, terlepas dari sikapnya terhadap         masyarakat sekitar. (Oleh karena itu, Troeltsch juga memakai istilah         &#8220;individualisme religius&#8221;). Penganutnya bisa saja dari         kalangan <em>establishment</em>, bisa juga dari kalangan yang tak setuju         dengan tatanan masyarakat yang berlaku. Mereka biasanya kurang tertarik         kepada ajaran agama yang formal, apalagi kepada lembaga-lembaga agama (gereja,         dan sebagainya). Yang dipentingkan mereka adalah hubungan langsung         antara individu dan Tuhan (atau alam gaib pada umumnya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Analisa         Troeltsch ini berdasarkan pengetahuannya tentang sejarah gereja di Eropa,         dan tidak bisa diterapkan begitu saja atas budaya lain. Organisasi         &#8220;tipe gereja&#8221; tidak terdapat dalam setiap masyarakat, tetapi         tanpa kehadiran suatu gereja pun sekte bisa saja muncul. Ketika tadi         saya bertanya &#8220;gerakan sempalan itu menyempal dari apa?&#8221;, saya         sebetulnya mencari apakah ada sesuatu wadah umat yang punya ciri <em>tipe         gereja</em>, dalam terminologi Troeltsch. Ortodoksi Islam Indonesia         seperti diwakili oleh MUI dan sebagainya, tentu saja tidak sama dengan         Gereja Katolik abad pertengahan; ia tidak mempunyai kekuasaan atas         kehidupan pribadi orang seperti gereja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Situasi di Amerika Serikat masa kini, sebetulnya, sama saja.         Hampir-hampir tidak ada wadah tipe gereja versi Troeltsch, yang begitu         dominan terhadap seluruh masyarakat. Yang ada adalah sejumlah besar         gereja-gereja Protestan (sering disebut <em>denominasi</em>), yang berbeda         satu dengan lainnya dalam beberapa detail saja, dan tidak ada di         antaranya yang dominan terhadap yang lain. Denominasi-denominasi         Protestan ini mempunyai baik ciri <em>tipe sekte</em> maupun ciri <em>tipe         gereja</em>. Gerakan mistisisme, seperti yang digambarkan Troeltsch,         beberapa dasawarsa terakhir ini sangat berkembang di dunia Barat dengan         mundurnya pengaruh gereja. Para penganutnya seringkali dari kalangan         yang relatif berada dan berpendidikan tinggi, bukan dari lapisan         masyarakat yang terbelakang.</span><a name="_ftnref5" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn5"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[5]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Kajian         berikut yang sangat berpengaruh adalah studi Richard Niebuhr, sosiolog         agama dari Amerika Serikat, mengenai dinamika sekte dan lahirnya <em>denominasi</em>.</span><a name="_ftnref6" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn6"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[6]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> Teori yang diuraikan dalam karya ini sebetulnya agak mirip teori sejarah         Ibnu Khaldun. Niebuhr melihat bahwa banyak sekte, yang pertama-tama         lahir sebagai gerakan protes terhadap konservatisme dan kekakuan gereja         (dan seringkali juga terhadap negara), lambat laun menjadi lebih lunak,         mapan, terorganisir rapih dan semakin formalistik. Setelah dua-tiga         generasi, aspek kesukarelaan sudah mulai menghilang, semakin banyak         anggota yang telah lahir dalam lingkungan sekte sendiri. Semua anggota         sudah tidak sama lagi, bibit-bibit hierarki internal telah ditanam,         kalangan pendeta- pendeta muncul, yang mulai mengklaim bahwa orang awam         memerlukan jasa mereka. Dengan demikian bekas sekte itu sudah mulai         menjadi semacam gereja sendiri, salah satu di antara sekian banyak         denominasi. Dan lahirlah, sebagai reaksi, gerakan sempalan baru, yang         berusaha menghidupkan semangat asli&#8230; dan lambat laun berkembang         menjadi denominasi&#8230; dan demikianlah seterusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Teori Niebuhr ini sekarang dianggap terlalu skematis; sekte- sekte tidak         selalu menjadi denominasi. Niebuhr bertolak dari pengamatannya terhadap         situasi Amerika Serikat yang sangat unik; semua gereja di sana memang         merupakan denominasi yang pernah mulai sebagai gerakan sempalan dari         denominasi lain. Siklus perkembangan yang begitu jelas, agaknya,         berkaitan dengan kenyataan bahwa masyarakat Amerika Serikat terdiri dari         para immigran, yang telah datang gelombang demi gelombang. Setiap         gelombang pendatang baru menjadi lapisan sosial paling bawah; dengan         datangnya gelombang pendatang berikut, status sosial mereka mulai naik.         Pendatang baru yang miskin seringkali menganut sekte-sekte radikal;         dengan kenaikan status mereka sekte itu lambat laun menghilangkan         radikalismenya dan menjadi sebuah denominasi baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Tigapuluh tahun sesudah Niebuhr, sosiolog Amerika yang lain, Milton         Yinger, merumuskan kesimpulan dari perdebatan mengenai sekte dan         denominasi, bahwa sekte yang lahir sebagai protes sosial cenderung untuk         bertahan sebagai sekte, tetap terpisah dari mainstream, sedangkan sekte         yang lebih menitikberatkan permasalahan moral pribadi cenderung untuk         menjadi denominasi. Itu tentu berkaitan dengan dasar sosial kedua jenis         sekte ini &#8211; sekte radikal cenderung untuk merekrut anggotanya dari         lapisan miskin dan tertindas. Dengan demikian hubungan sekte ini dengan         negara dan denominasi yang mapan akan tetap tegang. Jenis sekte yang         kedua lebih cenderung untuk menarik penganut dari kalangan menengah, dan         akan lebih mudah berakomodasi dengan, dan diterima dalam, <em>status quo</em>.</span><a name="_ftnref7" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn7"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[7]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> Pengamatan ini, agaknya, relevan untuk memahami perbedaan antara Al         Irsyad atau Muhammadiyah di satu sisi dan sebagian besar gerakan         sempalan masa kini di sisi lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Klasifikasi         sekte dalam beberapa jenis dengan sikap dan dinamika masing-masing         dikembangkan lebih lanjut oleh seorang sosiolog Inggeris, Bryan Wilson.         Ia berusaha membuat tipologi yang tidak terlalu tergantung kepada         konteks budaya Kristen Barat. Tipologi ini disusun berdasarkan sikap         sekte-sekte terhadap dunia sekitar.</span><a name="_ftnref8" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn8"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[8]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> Wilson melukiskan tujuh <em>tipe ideal</em> (model murni) sekte.         Sekte-sekte yang nyata biasanya berbeda daripada tipe-tipe ideal ini,         yang hanya merupakan model untuk analisa. Dalam kenyataannya, suatu         sekte bisa mempunyai ciri dari lebih dari satu tipe ideal. </span><span style="font-family:&#34;">Tetapi         hampir semua tipe ideal Wilson terwakili oleh gerakan sempalan yang         terdapat di Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Tipe pertama adalah sekte <em>conversionist</em>, yang perhatiannya         terutama kepada perbaikan moral individu. Harapannya agar dunia akan         diperbaiki kalau moral individu-individu diperbaiki, dan kegiatan utama         sekte ini adalah usaha untuk meng-<em>convert</em>, men- <em>tobat</em>-kan         orang luar. Contoh tipikal di dunia Barat adalah Bala Keselamatan; di         dunia Islam, gerakan dakwah seperti <em>Tablighi Jamaat</em> mirip tipe         sekte ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Tipe kedua, sekte <em>revolusioner</em>, sebaliknya mengharapkan perubahan         masyarakat secara radikal, sehingga manusianya menjadi baik. Gerakan         messianistik (yang menunggu atau mempersiapkan kedatangan seorang <em>Messias</em>,         <em>Mahdi</em>, <em>Ratu Adil</em>) dan <em>millenarian</em> (yang         mengharapkan meletusnya zaman emas) merupakan contoh tipikal. </span><span style="font-family:&#34;">Gerakan         ini secara implisit merupakan kritik sosial dan politik terhadap <em>status         quo</em>, yang dikaitkan dengan <em>Dajjal</em>, <em>Zaman Edan</em> dan         sebagainya. Gerakan messianistik, seperti diketahui, banyak terjadi di         Indonesia pada zaman kolonial &#8212; dan memang ada sarjana yang menganggap         bahwa gerakan jenis ini hanya muncul sebagai reaksi terhadap kontak         antara dua budaya yang tidak seimbang.</span><a name="_ftnref9" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn9"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[9]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Kalau harapan eskatologis tetap tidak terpenuhi, suatu gerakan yang         semula revolusioner akan cenderung untuk tidak lagi bekerja untuk         transformasi dunia sekitar tetapi hanya memusatkan diri kepada         kelompoknya sendiri atau keselamatan ruhani penganutnya sendiri &#8211;         semacam <em>uzlah</em> kolektif. Mereka mencari kesucian diri sendiri         tanpa mempedulikan masyarakat luas. Wilson menyebut gerakan tipe ini <em>introversionis</em>.         Gerakan <em>Samin</em> di Jawa merupakan kasus tipikal gerakan mesianistik         yang telah menjadi introversionis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Tipe keempat, yang dinamakan Wilson <em>manipulationist</em> atau <em>gnostic</em> (&#8220;ber-ma&#8217;rifat&#8221;) mirip sekte introversionis dalam hal         ketidakpeduliannya terhadap keselamatan dunia sekitar. Yang membedakan         adalah klaim bahwa mereka memiliki ilmu khusus, yang biasanya         dirahasiakan dari orang luar. Untuk menjadi anggota aliran seperti ini,         orang perlu melalui suatu proses <em>inisiasi</em> (<em>tapabrata</em>) yang         panjang dan bertahap. Tipe ini biasanya menerima saja nilai-nilai         masyarakat luas dan tidak mempunyai tujuan yang lain. Klaim mereka hanya         bahwa mereka memiliki metode yang lebih baik untuk mencapai tujuan itu. <em>Theosofie</em> dan <em>Christian Science </em>merupakan dua contoh jenis sekte ini di         dunia Barat. Di Indonesia, ada banyak aliran kebatinan yang barangkali         layak dikelompokkan dalam kategori ini; demikian juga kebanyakan tarekat,         yang mempunyai amalan-amalan khusus dan sistem bai&#8217;at.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Tipe lainnya adalah sekte-sekte <em>thaumaturgical</em>, yaitu yang         berdasarkan sistem pengobatan, pengembangan tenaga dalam atau penguasaan         atas alam gaib. Pengobatan secara batin, kekebalan, kesaktian, dan         kekuatan &#8220;paranormal&#8221; lainnya merupakan daya tarik         aliran-aliran jenis ini, dan membuat para anggotanya yakin akan         kebenarannya. </span><span style="font-family:&#34;">Di         Indonesia, unsur-unsur thaumaturgical terlihat dalam berbagai aliran         kebatinan dan sekte Islam, seperti <em>Muslimin-Muslimat</em> (di Jawa         Barat).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Tipe ke-enam adalah sekte <em>reformis</em>, gerakan yang melihat usaha         reformasi sosial dan/atau amal baik (karitatif) sebagai kewajiban         esensial agama. Aqidah dan ibadah tanpa pekerjaan sosial dianggap tidak         cukup. Yang membedakan sekte-sekte ini dari ortodoksi bukan aqidah atau         ibadahnya dalam arti sempit, tetapi penekanannya kepada konsistensi         dengan ajaran agama yang murni (termasuk yang bersifat sosial).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Gerakan <em>utopian</em>, tipe ketujuh, berusaha menciptakan suatu         komunitas ideal di samping, dan sebagai teladan untuk, masyarakat luas.         Mereka menolak tatanan masyarakat yang ada dan menawarkan suatu         alternatif, tetapi tidak mempunyai aspirasi mentransformasi seluruh         masyarakat melalui proses revolusi. </span><span style="font-family:&#34;">Tetapi         mereka lebih aktivis daripada sekte introversionis; mereka berdakwah         melalui contoh teladan komunitas mereka. Komunitas utopian mereka         seringkali merupakan usaha untuk menghidupkan kembali komunitas umat         yang asli (komunitas Kristen yang pertama, jami&#8217;ah Madinah), dengan         segala tatanan sosialnya. Di Indonesia, kelompok Isa Bugis (dulu di         Sukabumi, sekarang di Lampung) merupakan salah satu contohnya, <em>Darul         Arqam</em> Malaysia dengan &#8220;Islamic Village&#8221;nya di Sungai         Penchala adalah contoh yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&#34;">Gerakan         sempalan Islam di Indonesia dan tipologi sekte</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Dalam         tipologi sekte di atas ini, Wilson sudah menggambarkan suatu spektrum         aliran agama yang lebih luas daripada spekrum gerakan sempalan Indonesia         yang disebut di atas. Meski demikian, beberapa gerakan di Indonesia agak         sulit diletakkan dalam tipologi ini. Kriteria yang dipakai Wilson adalah         sikap sekte terhadap dunia sekitar, namun terdapat berbagai gerakan di         Indonesia yang tidak mempunyai sikap sosial tertentu dan hanya          membedakan diri dari &#8220;ortodoksi&#8221; dengan ajaran atau amalan         yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Satu tipe terdiri dari aliran-aliran kebatinan atau tarekat dengan         ajaran yang &#8220;aneh&#8221;, yang masih sering muncul di hampir setiap         daerah. Sebagian aliran ini memang mirip sekte <em>gnostic</em>, dengan         sistem <em>bai&#8217;at</em>, hierarki internal dan inisiasi bertahap dalam         &#8220;ilmu&#8221; rahasia, sebagian juga memiliki aspek <em>thaumaturgical</em>,         dengan menekankan pengobatan dan kesaktian, tetapi aspek thaumaturgical         jarang menjadi intisari aliran tersebut seperti dalam gerakan pengobatan         ruhani di Amerika Serikat.</span><a name="_ftnref10" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn10"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[10]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> Sebagian besar tidak mempunyai ciri sosial yang menonjol, tidak ada         penolakan terhadap norma-norma masyarakat luas. Mereka tidak         mementingkan aspek sosial dan politik dari ajaran agama, melainkan         kesejahteraan ruhani, ketentraman dan/atau kekuatan gaib individu.         Penganutnya bisa berasal dari hampir semua lapisan masyarakat, tetapi         yang banyak adalah orang yang termarginalisir oleh perubahan sosial dan         ekonomi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Suatu jenis lain terdiri dari gerakan <em>pemurni</em>, yang sangat         menonjol dalam sejarah Islam: gerakan yang mencari inti yang paling asli         dari agamanya, dan melawan segala hal (ajaran maupun amalan) yang         dianggap tidak asli. Beberapa gerakan pemurni sekaligus adalah gerakan         reform sosial, seperti Muhammadiyah, tetapi tidak semuanya berusaha         mengubah masyarakat. </span><span style="font-family:&#34;">Gerakan         pemurni yang paling tegas di Indonesia, agaknya, <em>Persatuan Islam</em> (<em>Persis</em>). Dalam konteks ini perlu kita sebut kelompok yang         dikenal dengan nama <em>Inkarus Sunnah</em>, karena mereka juga mengklaim         ingin mempertahankan hanya sumber Islam yang paling asli saja. Seperti         diketahui, mereka kurang yakin akan keasliannya hadits, dan menganggap         hanya Qur&#8217;an saja sebagai sumber asli. Oleh karena itu, nama yang mereka         sendiri pakai adalah <em>Islam Qur&#8217;ani</em>. Namun dalam kasus terakhir         ini, saya tidak yakin apakah mereka layak disebut gerakan sempalan;         mereka tidak cenderung untuk memisahkan diri dari ummat lainnya, dan         saya belum jelas apakah mereka merupakan gerakan terorganisir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Gerakan         <em>Islam Jama&#8217;ah</em> alias <em>Darul Hadits</em> juga merupakan suatu         kasus yang tidak begitu mudah digolongkan. Dengan penekanannya kepada         hadits (walaupun yang dipakai, konon, hadits-hadits terpilih saja),         gerakan ini mengingatkan kepada gerakan pemurni (ini mungkin menjelaskan         daya tariknya bagi orang berpendidikan modern). Namun beberapa ciri         jelas membedakannya dari gerakan pemurni atau pembaharu dan membuatnya         mirip sekte <em>manipulationist / gnostic</em>. Dari segi organisasi         internal, <em>Islam Jama&#8217;ah</em> mirip tarekat atau malahan gerakan         militer, dengan bai&#8217;at dan pola kepemimpinan yang otoriter dan         sentralistis (<em>amir</em>). Tidak ada penolakan terhadap nilai-nilai         masyarakat pada umumnya, dan tidak ada cita-cita politik atau sosial         tertentu. </span><span style="font-family:&#34;">Unsur protes tidak terlihat dalam gerakan ini;         mereka hanya sangat eksklusif dan menghindar dari berhubungan dengan         orang luar. Faktor yang juga perlu disebut adalah kepemimpinan <em>karismatik</em>.</span><a name="_ftnref11" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn11"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[11]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> Pendiri dan <em>amir</em> pertama, Nur Hasan Ubaidah, dikenal sebagai ahli         ilmu <em>kanuragan</em> dan <em>kadigdayan</em> yang hebat, dan dalam         pandangan orang banyak, itulah yang membuat penganutnya tertarik dan         terikat pada gerakan ini. Penganutnya pada umumnya tidak berasal dari         kalangan bawah tetapi dari kalangan menengah; namun banyak diantara         mereka, agaknya, pernah mengalami krisis moral sebelum masuk gerakan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Dari         segi kepemimpinan, gerakan <em>Darul Arqam</em> di Malaysia (yang sekarang         juga sudah mempunyai cabang di Indonesia) sedikit mirip Islam Jama&#8217;ah;         gerakan ini sangat tergantung kepada pemimpin karismatik, Ustaz Ashaari         Muhammad. Tetapi sikap Darul Arqam terhadap dunia sekitar sangat berbeda:         mereka ingin mengubah masyarakat dan menawarkan model alternatif, yang         dicontohkan dalam &#8220;Islamic Village&#8221; mereka. Dengan kata lain,         inilah suatu gerakan <em>utopian</em>; melalui dakwah aktif mereka terus         mempropagandakan alternatif mereka. Kegiatan sosialnya terbatas pada         kalangan mereka sendiri; selain usaha konversi (<em>dakwah</em>:         memasukkan penganut baru), mereka tidak banyak berhubungan dengan         masyarakat sekitar &#8212; walaupun dalam praktek mereka masih tergantung         pada masyarakat luar untuk pendapatan mereka. Hubungan di dalam kelompok,         antara sesama anggota, hangat dan intensif; kontrol sosial dinatara         mereka juga tinggi. Namun, mereka menjauhkan  diri dari ummat         lainnya, sehingga sering dituduh terlalu eksklusif. Di samping sikap         utopian ini, Darul Arqam juga merupakan gerakan <em>messianis</em>; mereka         meyakini kedatangan <em>Mahdi</em> dalam waktu sangat dekat, dan         mempersiapkan diri untuk peranan di bawah kepemimpinan Mahdi nanti.</span><a name="_ftnref12" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn12"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[12]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> Beberapa tahun terakhir ini aspek messianis ini telah menjadi semakin         menonjol; gerakan ini lambat laun bergeser dari utopian menjadi         revolusioner.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Gerakan         yang lebih murni aspek <em>utopian</em>nya adalah yang disebut gerakan <em>Usroh</em> di Indonesia. Saya tidak yakin apakah ini memang suatu gerakan         terorganisir, dengan kepemimpinan dan strategi tertentu. Kesan saya,         gerakan ini adalah suatu <em>trend</em>, suatu pola perkumpulan yang cepat         tersebar, tanpa banyak koordinasi antara sesama <em>usroh</em>. Ini memang         suatu gerakan protes politik (walaupun perhatiannya terutama kepada         urusan agama dalam arti sempit, tidak kepada isu- isu politik umum).         Namun mereka tidak berharap mengubah tatanan masyarakat atau sistem         politik secara langsung; para <em>usroh</em> (&#8220;keluarga&#8221;)         merupakan komunitas yang menganggap diri mereka sebagai alternatif yang         lebih <em>Islami</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> <em>Ahmadiyah</em> (Qadian), <em>Baha&#8217;i</em> dan <em><span style="text-decoration:underline;">Syi&#8217;ah</span></em> tidak lahir  dari         rahim kalangan umat Islam Indonesia sendiri, tetapi &#8220;diimport&#8221;         dari luar negeri ketika sudah mapan. </span><span style="font-family:&#34;">Ketiganya         merupakan faham agama yang sudah lama berdiri di negara lain sebelum         masuknya ke Indonesia. Pada masa awalnya, ketiganya mempunyai aspek <em>messianis</em>,         namun kemudian berubah menjadi introversionis, tanpa sama sekali         menghilangkan semangat awalnya. Pemimpin karismatik aslinya (Ghulam         Ahmad, Baha&#8217;ullah, Duabelas Imam) tetap merupakan titik fokus         penghormatan dan cinta yang luar biasa. Dalam <em>Syi&#8217;ah</em>, semangat         revolusioner kadang-kadang tumbuh lagi (seperti terakhir terlihat di         Iran sejak 1977), dan itulah agaknya yang merupakan daya tarik utama         faham <em>Syi&#8217;ah</em> bagi para pengagumnya di Indonesia. Sedangkan <em>Ahmadiyah</em> telah menampilkan diri (di India- Pakistan dan juga di Indonesia)         terutama sebagai sekte <em>reformis</em>,</span><a name="_ftnref13" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn13"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[13]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> yang belakangan menjadi sangat introversionis dan menghindar dari         kegiatan di luar kalangan mereka sendiri. Walaupun sekte Baha&#8217;i juga         mempunyai beberapa penganut di Indonesia, mereka rupanya tidak berasal         dari kalangan Islam, sehingga Baha&#8217;i di sini tidak dapat dianggap         sebagai gerakan sempalan Islam (seperti halnya di negara aslinya, Iran).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Tiga gerakan ini memain peranan sangat berlainan di Indonesia, dan         meraih penganut dari kalangan yang berbeda. Gerakan Syi&#8217;ah adalah yang         paling dinamis. Ia mulai sebagai gerakan protes, baik terhadap situasi         politik maupun kepemimpinan ulama Sunni; pelopornya adalah pengagum         revolusi Islam Iran. Kepedulian sosial (perhatian terhadap <em>mustadl&#8217;afin</em>)         dan politik ditekankan. Dalam perkembangan berikut, penekanan kepada         dimensi politik Syi&#8217;ah semakin dikurangi, dan minat kepada tradisi         intelektual Syi&#8217;ah Iran ditingkatkan.</span><a name="_ftnref14" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn14"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[14]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> Dengan kata lain, gerakan Syi&#8217;ah Indonesia sudah bukan gerakan sempalan         revolusioner lagi dan cenderung untuk menjadi introversionis. Tetapi         gerakan ini tetap berdialog dan berdebat dengan golongan Sunni, mereka         tidak terisolir. Di antara semua gerakan sempalan masa kini, hanya         gerakan Syi&#8217;ah yang agaknya mempunyai potensi berkembang menjadi suatu <em>denominasi</em>,         di samping gerakan pemurni dan pembaharu yang Sunni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&#34;"><strong>Gerakan         sempalan: gejala krisis atau sesuatu yang wajar saja?</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Tinjauan         sepintas ini menunjukkan bahwa gerakan sempalan Islam di Indonesia cukup         berbeda satu dengan lainnya. </span><span style="font-family:&#34;">Latar         belakang sosial mereka juga berbeda-beda. Tidak dapat diharapkan bahwa         kemunculannya bisa dijelaskan oleh satu dua faktor penyebab saja. Ada         kecenderungan untuk melihat semua gerakan sempalan sebagai suatu gejala         krisis, akibat sampingan proses modernisasi yang berlangsung cepat dan         pergeseran nilai. Tetapi gerakan-gerakan seperti yang telah digambarkan         di atas bukanlah fenomena yang baru. Prototipe gerakan sempalan dalam         sejarah Islam adalah kasus <em>Khawarij</em>, yang terjadi jauh sebelum         ada modernisasi. </span><span style="font-family:&#34;">Gerakan         <em>messianis</em> juga telah sering terjadi selama sejarah Islam, di         kawasan Timur Tengah maupun Indonesia. Sedangkan tarekat sudah sering         menjadi penggerak atau wadah protes sosial rakyat atau elit lokal antara         1880 dan 1915. Gerakan pemurni yang radikal juga telah sering terjadi,         setidak- tidaknya sejak gerakan <em>Padri</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Timbulnya segala macam sekte dan aliran &#8220;mistisisme&#8221; juga         bukan sesuatu yang khas untuk negara sedang berkembang. Justeru di         negara yang sangat maju, seperti Amerika Serikat, fenomena ini sangat         menonjol. Jadi, hipotesa bahwa gerakan sempalan di Indonesia timbul         sebagai akibat situasi khusus ummat Islam Indonesia masa kini tidak         dapat dibenarkan. Saya mengira juga, bahwa jumlah aliran baru yang         muncul setiap tahun (sekarang) tidak jauh lebih tinggi ketimbang tiga         dasawarsa yang lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Yang         dipengaruhi oleh iklim sosial, ekonomi dan politik, agaknya, bukan <em>timbulnya </em>aliran-aliran itu sendiri, tetapi <em>jenis</em> aliran yang banyak         menjaring penganut baru. Periode 1880 sampai 1915, misalnya, merupakan         masa jaya tarekat di Indonesia; pengaruh dan jumlah penganutnya         berkembang cepat. Gerakan atau aliran agama lainnya tidak begitu         menonjol pada masa itu. Tarekat-tarekat telah menjadi wadah         pemberontakan rakyat kecil terhadap penjajah maupun pamong praja pribumi,         tidak karena terdapat sifat revolusioner pada tarekat itu sendiri,         tetapi karena jumlah dan latar belakang sosial penganutnya, karena         struktur organisasinya (vertikal-hierarkis), dan karena aspek &#8220;<em>thaumaturgical</em>&#8220;nya         (kekebalan, kesaktian).</span><a name="_ftnref15" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn15"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[15]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Pada masa berikutnya, sekitar 1915-1930, semua tarekat mengalami         kemerosotan pengaruh karena berkembangnya organisasi modern Islam         bersifat sosial dan politik, terutama Sarekat Islam. Walaupun SI         merupakan organisasi modern dengan pemimpin-pemimpin berpendidikan barat,         cabang-cabang lokalnya ada yang mirip sekte messianis atau tarekat,         khususnya pada masa awalnya. Cokroaminoto kadang-kadang disambut sebagai         ratu adil dan diminta membagikan air suci; ada juga kyai tarekat yang         masuk SI dengan semua penganutnya dan berusaha mempergunakan SI sebagai         wajah formal tarekatnya.</span><a name="_ftnref16" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn16"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[16]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Fenomena yang paling menonjol pada masa itu, bahwa banyak aliran agama         menunjukkan <em>aktivisme politik dan sosial</em>. Namun setelah         pemberontakan-pemberontakan 1926 diberantas dan kebijaksanaan pemerintah         Hindia Belanda menjadi lebih repressif (dan setelah pemimpin-pemimpin         nasionalis dibuang), muncullah aliran-aliran agama baru yang <em>introversionis</em>,         yaitu yang berpaling dari aktivitas sosial dan politik kepada         penghayatan agama secara individual, dan yang bersifat mistis (sufistik).         Dasawarsa 1930an melihat lahirnya berbagai aliran kebatinan yang masih         ada sampai sekarang, seperti <em>Pangestu</em> dan <em>Sumarah</em>, dan         juga masuk dan berkembangnya dua tarekat baru, yaitu <em>Tijaniyah</em> dan <em><span style="text-decoration:underline;">Idrisiyah</span></em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Korelasi antara represi politik dengan timbulnya aliran sufistik yang         introversionis terlihat lebih jelas ketika partai Masyumi dibubarkan.         Neo-tarekat seperti <em>Shiddiqiyah</em>, dan juga <em>Islam Jama&#8217;ah</em> timbul di kalangan bekas penganut Masyumi di Jawa Timur. Di daerah         lainnya juga cukup banyak kasus bekas aktivis Masyumi yang masuk aliran         mistik. Setelah penumpasan PKI, neo- tarekat <em>Shiddiqiyah</em> dan <em>Wahidiyah</em>,         serta tarekat lama <em>Syattariyah</em> di Jawa Timur, mengalami         pertumbuhan pesat dengan masuknya tidak sedikit orang dari kalangan         abangan. </span><span style="font-family:&#34;">Mereka         ketika itu ingin, dengan alasan yang dapat dimengerti, membuktikan         identitasnya sebagai Muslim dan sikap non-politik mereka.</span><a name="_ftnref17" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn17"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[17]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> Dan pada lima tahun terakhir ini kita menyaksikan bahwa tarekat dan         aliran mistik lainnya berkembang dengan pesat, dalam semua kalangan         masyarakat &#8211; suatu fenomena yang agaknya berkaitan erat dengan         depolitisasi Islam.</span><a name="_ftnref18" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn18"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[18]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&#34;"><strong>Gerakan         sempalan yang &#8220;radikal&#8221;</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Di         atas, saya lebih banyak menyebut aliran &#8220;introversionis&#8221; dan         mistik daripada aliran yang radikal dan aktivis &#8211; &#8220;sekte&#8221;         dalam arti sempitnya Troeltsch. Pertama-tama karena saya lebih         mengetahui tentang aliran sufistik itu, tetapi juga karena aliran         radikal relatif jarang terjadi di Indonesia, dan jumlah penganutnya,         sejauh penilaian saya, agak kecil. <em>Yang perlu kita tanyakan, mungkin,         bukan kenapa terjadi gerakan sempalan yang radikal di Indonesia, tetapi         kenapa gerakan demikian begitu jarang terjadi</em> (dibandingkan,         misalnya, dengan Amerika Serikat, India ataupun Malaysia).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Dalam beberapa dasawarsa terakhir kita melihat beberapa perubahan dalam         ortodoksi Islam Indonesia, yang dapat ditandai dengan istilah &#8220;akomodasi&#8221;         dan &#8220;depolitisasi&#8221;. Secara teoretis, kita bisa meramalkan         bahwa setiap perubahan dalam ortodoksi akan menimbulkan beberapa reaksi         dalam bentuk gerakan sempalan yang tujuannya berlawanan dengan perubahan         tersebut. Makin dekat ortodoksi kepada establishment politik dan         ekonomis, makin kuat kecenderungan kepada protes sosial dalam bentuk         gerakan sempalan yang radikal, seperti kita bisa lihat dalam sejarah         gereja di Eropa misalnya. Kita juga bisa meramal bahwa penganut gerakan         sempalan itu tidak terutama berasal dari &#8220;mainstream&#8221; kalangan         beragama (katakanlah, yang dibesarkan di keluarga NU atau keluarga         Muhammadiyah, dalam kasus Indonesia), tetapi dari kalangan yang relatif         marginal. Justeru orang yang masih baru berusaha menjalankan ajaran         agama secara utuh, para mukallaf, dan orang berasal dari keluarga yang         sekuler atau abangan yang mencari identitas dirinya dalam Islam.         Kalangan &#8220;santri&#8221;, karena mereka lebih dekat kepada         tokoh-tokoh yang &#8220;ortodoks&#8221;, lebih cenderung mengikuti         perubahan sikap ortodoksi. Mereka juga, agaknya, sudah dibudayakan dalam         tradisi Sunni, yang selalu akomodatif. Sedangkan orang &#8220;baru&#8221;         justeru sering cenderung mencari ajaran yang &#8220;murni&#8221;,         sederhana dan tegas, tanpa memperhatikan situasi dan kondisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Gejala menonjol dalam beberapa gerakan sempalan yang radikal adalah         latar belakang pendidikan dan pengetahuan agama banyak anggotanya yang         relatif rendah, tetapi diimbangi semangat keagamaan yang tinggi.         Sebagian besar mereka, sejauh pengamatan saya, sangat idealis dan sangat         ingin mengabdi kepada agama dan masyarakat. Mereka adalah orang yang         sadar akan kemiskinan dan korupsi, ketidakadilan dan maksiat di         masyarakat sekitarnya; dalam kehidupan pribadi, banyak dari mereka telah         menghadap kesulitan untuk mendapat pendidikan dan pekerjaan yang baik         dan mengalami banyak frustrasi lainnya. </span><span style="font-family:&#34;">Dan mereka yakin bahwa Islam sangat relevan untuk         masalah-masalah sosial ini. Mereka tahu, yang sering dilontarkan         tokoh-tokoh Islam, bahwa Islam tidak membenarkan sekularisme, bahwa         agama dan masalah sosial dan politik tidak dapat dipisahkan. Tetapi         mereka kecewa melihat bahwa kebanyakan tokoh-tokoh tadi senantiasa siap         berkompromi dalam menghadapi masalah politik dan sosial. Para ulama         tidak memberi penjelasan yang memuaskan tentang sebab-sebab semua         penyakit sosial tadi, apalagi memberikan jalan keluar yang konkrit dan         jelas. Hal-hal yang diceramahkan dan dikhotbahkan oleh kebanyakan ulama         terlalu jauh dari realitas yang dihadapi generasi muda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Karena adanya jurang komunikasi antara tokoh-tokoh agama dan kalangan         muda yang frustrasi tetapi idealis ini, tokoh-tokoh tadi tidak mampu         menyalurkan aspirasi dan idealisme mereka ke dalam saluran yang lebih         moderat dan produktif. Pemuda-pemuda radikal, di pihak lain, justeru         karena masih dangkalnya pengetahuan agama mereka, menganggap bahwa         seharusnya Islam mempunyai jawaban yang sederhana, jelas dan kongkrit         atas semua permasalahan &#8212; inilah watak khas setiap sekte. Orang yang         bilang bahwa permasalahan tidak sesederhana itu, bahwa dalam sikap Islam         juga ada segala macam pertimbangan, dan bahwa jawaban yang keras dan         tegas belum tentu yang paling benar, dianggap tidak konsisten atau malah         mengkhianati agama yang murni. </span><span style="font-family:&#34;">Tidak         mengherankan kalau kritik dan serangan gerakan  radikal terhadap         ulama &#8220;ortodoks&#8221; kadang-kadang lebih keras daripada terhadap         para koruptor dan penindas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Timbulnya pemahaman agama yang radikal di kalangan muda sebetulnya wajar         saja, dan pada sendirinya bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Umat yang         hanya terdiri dari satu ortodoksi yang monolitik berarti sudah         kehilangan dinamika dan gairah hidup. Dalam sejarah gereja di dunia         Barat, sekte-sekte radikal sering telah berfungsi sebagai hati nurani         ummat, dan hal demikian juga dapat dilihat dalam  sejarah umat         Islam. Gerakan sempalan radikal mendorong ortodoksi untuk setiap saat         memikirkan kembali relevansi ajaran agama dalam masyarakat kontemporer,         dan untuk mencari jawaban atas masalah dan tantangan baru yang         terus-menerus bermunculan. Bahaya baru muncul kalau komunikasi antara         ortodoksi dan gerakan sempalan terputus dan kalau mereka diasingkan.         Karena kurangnya pengalaman hidup dan pengetahuan agama, mereka dengan         sangat mudah bisa saja dimanipulir dan/atau diarahkan kepada kegiatan         yang tidak sesuai dengan kepentingan umat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&#34;"><strong>Gerakan         sempalan sebagai pengganti keluarga</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Sebagai         akibat urbanisasi dan monetarisasi ekonomi, banyak ikatan sosial yang         tradisional semakin longgar atau terputus. </span><span style="font-family:&#34;">Dalam         desa tradisional, setiap orang adalah anggota sebuah <em>komunitas</em> yang cukup intim, dengan kontrol sosial yang ketat tetapi juga dengan         sistem perlindungan dan jaminan sosial. Jaringan keluarga yang luas         melibatkan setiap individu dalam sebuah sistem hak dan kewajiban yang &#8212;         sampai batas tertentu &#8212; menjamin kesejahteraannya. Dalam masyarakat         kota modern, sebaliknya, setiap orang berhubungan dengan jauh lebih         banyak orang lain, tetapi hubungan ini sangat dangkal dan tidak         mengandung tanggungjawab yang berarti. Komunitas, seperti di desa atau         di keluarga besar, sudah tidak ada lagi, dan kehidupan telah menjadi         lebih individualis. Itu berarti bahwa dari satu segi setiap orang lebih         bebas; tetapi dari segi lain, tidak ada lagi perlindungan yang         betul-betul memberikan jaminan. Banyak orang merasa terisolir, dan         merasa bahwa tak ada orang yang betul-betul bisa mereka percayai &#8212;         karena sistem kontrol sosial dengan segala sanksinya sudah tidak ada         lagi, dan karena orang lain juga lebih mengutamakan kepentingan         individual masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Dalam situasi ini, aliran agama sering bisa memenuhi kekosongan yang         telah terjadi karena menghilangnya komunitas keluarga besar dan desa.         Namun untuk dapat berfungsi sebagai komunitas, aliran ini mestinya cukup         kecil jumlah anggotanya, sehingga mereka bisa saling mengenal. Aspek         komunitas dan solidaritas antara sesama anggota diperkuat lagi kalau         aliran ini membedakan diri dengan tajam dari dunia sekitarnya. Inilah,         agaknya, daya tarik aliran yang bersifat <em>eksklusif </em>(yaitu         menghindar dari hubungan dengan umat lainnya) atau <em>gnostic</em> (yang         mengklaim punya ajaran khusus yang tidak dimengerti kaum awam dan         menerapkan sistem bai&#8217;at).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Dalam penelitian saya di sebuah perkampungan miskin di kota Bandung,         saya sempat mengamati bagaimana berbagai aliran agama mempunyai fungsi         psikologis positif yang sangat nyata. Baik tarekat maupun sekte memenuhi         kebutuhan akan komunitas dan memberi perlindungan sosial dan psikologis         kepada anggotanya, sehingga mereka tidak terisolir lagi.         Penganut-penganut aliran ini &#8212; terlepas dari tipe aliran dan ajarannya         &#8211; ternyata lebih mampu mempertahankan harga diri dan nilai-nilai moral         daripada orang lain. Dalam berbagai tarekat dan aliran lain, para         anggota saling memanggil &#8220;<em>ikhwan</em>&#8220;, dan itu bukan         sebutan simbolis belaka; mereka memang sering bertindak sebagai saudara         sesama anggota. Pergaulan dan komunikasi antara para ikhwan tidak         terbatas pada waktu sembahyang atau berdzikir saja; mereka saling         mengunjungi di rumah dan saling menolong, misalnya, mencari pekerjaan.         Di dalam aliran-aliran ini terdapat kontrol sosial yang kuat dan         dorongan kepada konformisme, tetapi juga sistem tolong-menolong yang         menjaminkan keamanan yang dibutuhkan. Walaupun lingkungan mereka         dianggap penuh bahaya, maksiat dan penipuan, kepada sesama ikhwan mereka         bisa saling percaya; di bawah perlindungan tarekat mereka merasa aman         dari ancaman dan tantangan yang mereka alami di dunia sekitar. Ternyata         bukan tarekat dan aliran kebatinan saja, tetapi juga kelompok sangat         non-sufistik seperti jamaah <em>Persis</em> (yang merupakan minoritas         kecil di sana dan berpendirian sektarian) mempunyai fungsi yang sama.</span><a name="_ftnref19" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn19"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[19]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> Di suatu lingkungan dimana egoisme, sinisme, curiga-mencurigai, iri hati         dan pemerosoton semua nilai semakin berkembang, anggota aliran tadi bisa         bertahan dan hidup lebih aman dan tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Demikian juga halnya mahasiswa (terutama yang berasal dari kota kecil         atau desa) yang hidup di sebuah lingkungan kota yang serba baru dan aneh         bagi mereka; kelompok-kelompok studi agama dan sebagainya memberikan         perlindungan dan rasa aman, dimana mereka bisa merasa &#8220;at         home&#8221;. Lebih-lebih kalau kelompok itu bisa memberikan mereka sebuah         kerangka analisa masyarakat sekitarnya dan keyakinan bahwa mereka         sebetulnya sebuah minoritas yang lebih baik, murni dan suci, dan         mempunyai misi menyebarkan kemurnian dan kesuciannya. Perasaan minder,         yang sering dialami mahasiswa berlatarbelakang sederhana ketika         berhadapan dengan sebuah lingkungan yang &#8220;canggih&#8221;, mendapat         kompensasi dalam &#8220;keluarga&#8221; baru mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Beberapa gerakan agama di kampus dapat dilihat sebagai gejala konflik         budaya (&#8220;Islam yang konsisten&#8221; melawan &#8220;sekularisme yang         bebas nilai&#8221;) yang tak lepas dari perbedaan status sosial-ekonomis.         Tidak mengherankan kalau di kalangan pemuda/mahasiswa pernah muncul         gerakan sempalan yang bersifat messianis-revolusioner, yang ingin         merombak tatanan masyarakat dan/atau negara (seperti kasus <em>Jama&#8217;ah         Imran</em>). </span><span style="font-family:&#34;">Tapi         itu tidak berarti bahwa semua anggota gerakan tersebut juga punya         aspirasi revolusioner. Dalam kasus <em>Jama&#8217;ah Imran</em> misalnya, saya         mempunyai kesan bahwa sebagian besar pengikutnya, berbeda dengan         kelompok intinya, sebetulnya tidak tertarik kepada aspek revolusioner (atau         subversif)nya.</span><a name="_ftnref20" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn20"><sup><span style="font-family:&#34;color:#000000;">[20]</span></sup></a><span style="font-family:&#34;"> Mereka pertama-tama masuk Jama&#8217;ah Imran didorong oleh rasa ingin tahu         semata atau karena tertarik kepada ceramah-ceramahnya yang &#8220;pedas&#8221;;         yang kemudian mengikat mereka adalah aspek <em>komunitas</em>nya. Aspek         komunitas ini diperkuat oleh bai&#8217;at dan melalui suasana yang sangat         emosional dalam pengajian, di mana para hadirin sering sampai menangis         &#8212; hal yang juga terjadi dalam banyak tarekat. Jamaah Imran telah         menjadi keluarga baru untuk banyak pemuda dan pemudi, sampai terjadinya         kegiatan kekerasan. Peristiwa Cicendo ternyata menghancurkan suasana         keluarga, dan sebagian besar pengikut segera memutuskan semua hubungan         dengan jamaah; yang tinggal hanya kelompok inti yang kecil saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&#34;"><strong>Kata         penutup</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;">Sejauh         yang  sempat saya amati, gerakan sempalan Islam di Indonesia         biasanya tidak muncul di tengah-tengah kalangan umat, tetapi di         pinggirannya. Sebagiannya mungkin bisa dilihat sebagai aspek dari proses         pengislaman yang sudah mulai berlangsung enam atau tujuh abad yang lalu         dan masih terus berlangsung. Sebagian juga (terutama gerakan yang &#8220;radikal&#8221;)         bisa dilihat sebagai &#8220;komentar&#8221; terhadap ortodoksi yang telah         ada, dengan usul koreksi terhadap hal-hal yang dianggapnya kurang         memadai. </span><span style="font-family:&#34;">Selama         dialog antara ortodoksi dan gerakan sempalan masih bisa berlangsung,         fenomena ini mempunyai fungsi positif. Terputusnya komunikasi dan         semakin terasingnya gerakan sempalan tadi mengandung bahaya. Kalau         ortodoksi tidak responsif dan komunikatif lagi dan hanya bereaksi dengan         melarang-larang (atau dengan diam saja), ortodoksi sendiri merupakan         salah satu sebab penyimpangan &#8220;ekstrim&#8221; ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&#34;"> Terlepas dari hubungan ortodoksi dengan umat &#8220;pinggiran&#8221;,         aliran-aliran agama mempunyai suatu fungsi sosial yang cukup penting         untuk para penganutnya, yaitu sebagai pengganti ikatan keluarga dan         pemberi perlindungan dan keamanan psikologis- spiritual. Peran ini tidak         dapat dimainkan oleh organisasi agama besar, justeru karena yang         diperlukan adalah hubungan intim dalam sebuah komunitas yang terpisah         dari masyarakat/umat yang luas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;">
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn1" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref1"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[1]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Istilah ini konon pertama kali dipakai oleh Abdurrahman Wahid sebagai           pengganti kata &#8220;<em>splinter group</em>&#8220;, kata yang tidak           mempunyai konotasi khusus aliran agama, tetapi dipakai untuk kelompok           kecil yang memisahkan diri (menyempal) dari partai atau organisasi           sosial dan politik. Untuk &#8220;<em>splinter group</em>&#8221; yang           merupakan aliran agama, kata &#8220;<em>sekte</em>&#8221; lazim dipakai.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn2" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref2"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[2]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Artikel ini berdasarkan makalah saya untuk seminar &#8220;Gerakan           Sempalan di Kalangan Ummat Islam Indonesia&#8221;, yang diselenggerakan           oleh Yayasan Kajian Komunikasi Dakwah di Jakarta, 11 Februari 1989,           kemudian diperbaiki dengan masukan dari diskusi dengan para peserta           program S-2 di IAIN Sunan Kalijaga (Yogyakarta) yang ikut kuliah saya           tentang Sosiologi Agama.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn3" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref3"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[3]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Seperti diketahui, Syi&#8217;ah Itsna&#8217;asyariyah sekarang merupakan <em>ortodoksi</em> di Iran. Namun sampai abad ke-10 hijriyah (abad ke-16 Masehi),           mayoritas penduduk Iran masih menganut madzhab Syafi&#8217;i. Faham ini baru           menjadi dominan  setelah dinasti Safawiyah memproklamirkan Syi&#8217;ah           sebagai agama resmi negara dan mendatangkan ulama Syi&#8217;i dari Irak           Selatan.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn4" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref4"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[4]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Ernst Troeltsch, <em>The Social Teachings of the Christian Churches</em>.           London, 1931 (aslinya diterbitkan dalam bahasa Jerman pada tahun           1911). Lihat juga pengamatan Weber tentang sekte-sekte protestan di           Amerika Serikat: &#8220;Sekte-sekte protestan dan semangat kapitalisme&#8221;,           dalam Taufik Abdullah, editor, <em>Agama, Etos Kerja dan Perkembangan           Ekonomi</em>, Jakarta: LP3ES, 1979, hal. 41-78.</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn5" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref5"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[5]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Pengamatan tajam dan menarik tentang fenomena sekte dan mistisisme di           Amerika Serikat masa kini (dengan analisa yang bertolak dari tipologi           Troeltsch) terdapat dalam: Robert Bellah dkk, <em>Habits of the Heart:           Individualism and Commitment in American Life</em>. New York: Harper           &#38; Row, 1986, khususnya hal. 243-8.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn6" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref6"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[6]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> H. Richard Niebuhr, <em>The Social Sources of Denominationalism</em>.           New York: Holt, 1929.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn7" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref7"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[7]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Lihat: J. Milton Yinger, <em>Religion, Society and the Individual</em>.           New York: MacMillan Co., 1957, khususnya hal. 147-55.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn8" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref8"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[8]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Salah satu tulisannya, &#8220;Tipologi sekte&#8221;, telah diterjemahkan           dalam bahasa Indonesia dan dimuat dalam: Roland Robertson (ed.), <em>Agama:           dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis</em>. Jakarta: Rajawali,           1988, hal. 431-462. Sayangnya, terjemahannya mengandung banyak           kesalahan sehingga tulisan ini sulit difahami. Untuk lebih lengkap dan           jelas, lihat bukunya <em>Sects and Society</em> (Heinemann / California           University Press, 1961).</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn9" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref9"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[9]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Beberapa tulisan Sartono Kartodirdjo merupakan kajian penting tentang           gerakan millenarian di Indonesia, antara lain &#8220;Agrarian           Radicalism in Java: its Setting and Development&#8221;, dalam: Claire           Holt (ed), <em>Culture and Politics in Indonesia</em>. Ithaca: Cornell           University Press, 1972, hal. 71-125. Teori umum dan beberapa kasus           penting dibahas dalam: Michael Adas, <em>Prophets of Rebellion:           Millenarian Protest Movements against the European Colonial Order</em>.           University of North Carolina Press, 1979 (terjemahan Indonesia: <em>Ratu           Adil: Tokoh dan Gerakan Milenarian Menentang Kolonialisme Eropa</em>.           Jakarta: Rajawali 1988).</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn10" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref10"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[10]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Ada pengamatan menarik bahwa beberapa aliran kebatinan pada zaman           revolusi mengembangkan latihan kesaktian (silat dengan tenaga dalam,           &#8220;ilmu kontak&#8221;, kekebalan dan sebagainya), yang pada masa           kemudian dianggap terlalu kasar dan digantikan dengan latihan kejiwaan           yang lebih halus. Lihat: Paul Stange, <em>The Sumarah Movement in           Javanese Mysticism</em>, Ph.D. thesis, University of Wisconsin,           Madison, 1980, bab 5. Berbagai tarekat juga (terutama Qadiriyah)           menunjukkan aspek <em>thaumaturgical</em> pada masa revolusi, yang           kemudian ditinggalkan lagi.</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn11" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref11"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[11]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Saya memakai istilah <em>karismatik</em> di sini dalam arti asli kata:           baik pemimpin karismatik maupun pengikutnya percaya bahwa ia           dianugerahi <em>karamah</em> atau <em>kesaktian</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn12" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref12"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[12]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Mereka menganggap almarhum Syeikh Muhammad bin Abdullah Suhaimi (seorang           muslim Jawa di Singapura, mantan guru dari Ustaz Ashaari Muhammad)           sebagai <em>Mahdi</em>. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Walaupun           sudah meninggal dunia, beliau diharapkan akan datang dalam waktu dekat.           Syeikh Suhaimi konon telah bertemu dengan Nabi dalam keadaan jaga, dan           menerima <em>Aurad Muhammadiyah</em>, yang diamalkan Darul Arqam, dari           Beliau. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Lihat: Ustaz Hj. Ashaari Muhammad, <em>Aurad           Muhammadiyah, Pegangan Darul Arqam</em>. Kuala Lumpur: Penerangan Al           Arqam, 1986; juga: Ustaz Ashaari Muhammad, <em>Inilah pandanganku</em>.           Kuala Lumpur: Penerangan Al Arqam, 1988</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn13" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref13"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[13]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Ahmadiyah pernah memainkan peranan penting dalam proses pengislaman (atau           &#8220;pen-<em>santri</em>-an&#8221;) kaum terdidik di Indonesia pada masa           penjajahan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dalam <em>Jong Islamieten Bond</em> dan <em>Sarekat           Islam</em> pengaruhnya sangat berarti. Baru setelah organisasi modernis           lainnya berkembang terus, Ahmadiyah menghilangkan fungsinya sebagai           pelopor reformisme dan rasionalisme dalam Islam. Berkembangnya kritik           semakin keras terhadap faham kenabian Ahmadiyah Qadian bisa dilihat           sebagai simptom konsolidasi ortodoksi Islam di Indonesia.</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn14" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref14"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[14]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Pergeseran ini, antara lain, terlihat dalam urutan terjemahan karya           penulis Syi&#8217;ah: Ali Syari&#8217;ati disusul oleh Murtadha Muthahhari dan           kemudian Baqir Al-Shadr. Khomeini pertama-tama dilihat sebagai           pemimpin revolusi saja, kemudian juga sebagai ahli <em>&#8216;irfan</em> (tasawwuf           dan metafisika). Sekarang diskusi-diskusi lebih sering berkisar           sekitar filsafat atau persoalan <em>&#8216;ishmah</em> (apakah para Imam           Duabelas <em>ma&#8217;shum</em>?) daripada situasi politik Iran.</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn15" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref15"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[15]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Lihat pengamatan tentang peranan tarekat dalam pemberontakan Banten           dalam: Sartono Kartodirdjo, <em>The Peasant&#8217;s Revolt of Banten in 1888</em>.           The Hague: Nijhoff, 1966.</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn16" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref16"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[16]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Lihat, antara lain, laporan tentang konflik antara kyai tarekat yang           memimpin cabang lokal di Madura dengan pengurus pusat, dalam buku <em>Sarekat           Islam Lokal</em> (editor Sartono Kartodirdjo). Jakarta: Arsip Nasional,           1975. Di Jambi, sebuah aliran kekebalan (&#8220;<em>ilmu abang</em>&#8220;)           meniru contoh SI dan menamakan diri Sarekat Abang, dan kemudian           mencoba mengambil over cabang lokal SI. Tentang Cokroaminoto sebagai           &#8220;ratu adil&#8221;, lihat: A.P.E. Korver, <em>Sarekat Islam           1912-1916</em>. Universitas Amsterdam, 1982 (terjemahan Indonesia: <em>Ratu           Adil</em>, Grafiti Pers).</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn17" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref17"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[17]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Untuk pengamatan menarik tentang berkembangnya aliran tersebut, lihat           artikel Moeslim Abdurrahman, &#8220;Sufisme di Kediri&#8221;, dalam <em>Sufisme           di Indonesia </em>[<em>Dialog</em>, edisi khusus, Maret 1978], hal.           23-40.</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn18" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref18"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[18]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Suatu fenomena menarik adalah berkembangnya kecenderungan kepada <em>mistisisme</em> di kalangan menengah di ibukota, seperti dicerminkan dalam majalah <em>Amanah</em>.           Mistisisme kelas menengah ini rupanya jarang terorganisir tetapi           bersifat &#8220;individualisme religius&#8221; (menurut istilah           Troeltsch; bandingkan komentar dalam catatan 5). Majalah tersebut           sering menyoroti &#8220;pengalaman rohani&#8221; tokoh-tokoh terkenal.           Rubrik renungan tasawwuf dalam majalah ini juga cenderung kepada           individualisme, dengan menyinggung hubungan pribadi dengan Tuhan           semata, dan sejenisnya.</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn19" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref19"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#000000;">[19]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Lihat: Martin van Bruinessen, &#8220;Duit, jodoh, dukun: Remarks on           cultural change among poor migrants to Bandung&#8221;, <em>Masyarakat           Indonesia</em> XV, 1988, 35-65 (khususnya 55-60).</span></p>
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn20" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref20"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">[20]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Kesan ini berdasarkan percakapan dengan mahasiswa-mahasiswa di Bandung           pada tahun 1983, serta laporan pers tentang pengadilan anggota Jamaah           Imran. Di antara buku-buku tentang kasus ini yang telah terbit, yang           paling informatif adalah: Anjar Any, <em>Dari Cicendo ke Meja Hijau:           Imran Imam Jamaah</em>. Solo: CV. Mayasari, 1982. Namun buku ini hanya           menceritakan tentang kegiatan kekerasan kelompok inti saja, tidak           banyak tentang pengikut biasa, yang tidak langsung terlibat dalam           kegiatan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sumber: <a href="http://www.let.uu.nl/~Martin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm" target="_blank">http://www.let.uu.nl/~Martin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm</a></p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gerakan Sempalan di Kalangan Ummat Islam Indonesia: Latar Belakang Sosial-Budaya]]></title>
<link>http://ahmadsahidin.wordpress.com/2008/09/19/gerakan-sempalan-di-kalangan-ummat-islam-indonesia-latar-belakang-sosial-budaya/</link>
<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 07:29:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ahsa</dc:creator>
<guid>http://ahmadsahidin.wordpress.com/2008/09/19/gerakan-sempalan-di-kalangan-ummat-islam-indonesia-latar-belakang-sosial-budaya/</guid>
<description><![CDATA[Oleh MARTIN VAN BRUINESSEN Istilah &#8220;gerakan sempalan&#8221; beberapa tahun terakhir ini menjad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh MARTIN VAN BRUINESSEN Istilah &#8220;gerakan sempalan&#8221; beberapa tahun terakhir ini menjad]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MUI se-Madura Desak Bubarkan Ahmadiyah]]></title>
<link>http://idrusali85.wordpress.com/2008/07/14/mui-se-madura-desak-bubarkan-ahmadiyah/</link>
<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 05:24:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>iaaj</dc:creator>
<guid>http://idrusali85.wordpress.com/2008/07/14/mui-se-madura-desak-bubarkan-ahmadiyah/</guid>
<description><![CDATA[sumber hidayatullah.com Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Madura, mendesak Presiden SBY mengeluarkan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[sumber hidayatullah.com Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Madura, mendesak Presiden SBY mengeluarkan ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[2/3 Anjing Malam Reuni &amp; Bernjanji]]></title>
<link>http://edoen.wordpress.com/2008/06/17/23-anjing-malam-reuni-bernjanji/</link>
<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 16:26:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>mlim</dc:creator>
<guid>http://edoen.wordpress.com/2008/06/17/23-anjing-malam-reuni-bernjanji/</guid>
<description><![CDATA[Apa yang terjadi ketika hanya dua dari tiga anjing malam melakukan reuni di sebuah negara berbau ket]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Apa yang terjadi ketika hanya dua dari <a href="http://edoen.wordpress.com/2007/02/22/tiga-anjing-malam/" target="_blank">tiga anjing malam</a> melakukan reuni di sebuah negara berbau ketek (baca=keju) sekitar 13 tahun setelah lunturnya pamor mereka?</p>
<p>&#8230;.. cinta yang tulus di dalam hatiku&#8230;&#8230; begitulah mereka bernjanji&#8230;</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/xwFTTXgMtYo&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/xwFTTXgMtYo&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bentrok FPI-AKKBB, Ada Skenario Pengalihan SKB Pelarangan Ahmadiyah]]></title>
<link>http://hksuyarto.wordpress.com/2008/06/09/bentrok-fpi-akkbb-ada-skenario-pengalihan-skb-pelarangan-ahmadiyah/</link>
<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 13:49:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>hksuyarto</dc:creator>
<guid>http://hksuyarto.wordpress.com/2008/06/09/bentrok-fpi-akkbb-ada-skenario-pengalihan-skb-pelarangan-ahmadiyah/</guid>
<description><![CDATA[Sumber : http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=56&amp;Itemid=1 Ketua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sumber : http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=56&amp;Itemid=1 Ketua]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gerakan Sempalan di Kalangan Ummat Islam Indonesia: Latar Belakang Sosial-Budaya]]></title>
<link>http://cdsindonesia.wordpress.com/2008/04/23/gerakan-sempalan-di-kalangan-ummat-islam-indonesia-latar-belakang-sosial-budaya/</link>
<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 01:19:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>cdsi</dc:creator>
<guid>http://cdsindonesia.wordpress.com/2008/04/23/gerakan-sempalan-di-kalangan-ummat-islam-indonesia-latar-belakang-sosial-budaya/</guid>
<description><![CDATA[Istilah &#8220;gerakan sempalan&#8221; beberapa tahun terakhir ini menjadi populer di Indonesia seba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Istilah &#8220;gerakan sempalan&#8221; beberapa tahun terakhir ini menjadi populer di Indonesia seba]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keluarga Dalton]]></title>
<link>http://edoen.wordpress.com/2007/04/29/keluarga-dalton/</link>
<pubDate>Sun, 29 Apr 2007 18:18:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>mlim</dc:creator>
<guid>http://edoen.wordpress.com/2007/04/29/keluarga-dalton/</guid>
<description><![CDATA[Dalam keluarga besar PSM-ITB yang bahagia, lucu, menggemaskan, kadang harmonis kadang fales, serta p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://goofy313g.free.fr/calisota_online/exist/dalton1.jpg" align="top" height="164" width="482" /></p>
<p>Dalam keluarga besar <a href="http://www.psm-itb.itgo.com/" target="_blank">PSM-ITB</a> yang bahagia, lucu, menggemaskan, kadang harmonis kadang fales, serta penuh ke-kacau-balau-an, terdapat beberapa keluarga kecil. Salah satu-nya adalah keluarga Dalton. Anda kaget? Ya, betul, anda tidak salah baca. Keluarga Dalton adalah bagian dari keluarga <a href="http://www.psm-itb.itgo.com/" target="_blank">PSM-ITB</a> dan tercatat sebagai Edoeners pula!</p>
<p><!--more-->Keluarga Dalton, yang terdiri dari empat Dalton bersaudara dan seorang ibu, sangat disegani, ditakuti, dan disangari. Bagaimana edoeners lainnya tidak segan, ke-empat Dalton bersaudara beserta emak-nya ini tampangnya sangatlah serius dengan kaca mata tebal yang nongkrong di hidung mereka yang jelas sekali batangnya. Mereka pun sering menatap edoeners lainnya dengan pandangan sangar, kosong, nanar, nanang, nunut, manut, loloma, loloma, loloma.</p>
<p>Apa sih yang melintas dalam benak anda kalau mendengar kata-kata Dalton bersaudara???<br />
Orang normal yang suka membaca kisah petualangan Lucky Luke tentunya akan teringat Avarell, William, Jack dan Joe Dalton. Tapi bagi orang-orang melebihi normal yang bercokol di PSM ITB selama waktu tertentu, perwujudan Dalton bersaudara yang lebih afdol muncul dalam bentuk Harold Dalton TA 87, Bonar Dalton SI 89, Ming Hui Dalton IF 90, dan jangan lupa Melvin Dalton Simatupang IF 9? yang legendaris.</p>
<p>Keempat bandi&#8230;.  eh &#8230; cowok di atas memenuhi kriteria yang memadai untuk beraksi seperti Dalton bersaudara. Selain memiliki jenis suara yang sama, kecuali si bungsu Melvin yang termasuk kelompok, uhm&#8230;, tenoraltosoprabasoka (yang adalah termasuk jenis suara langka yang merupakan penggabungan antara Michael Jackson, Mickey Mouse, vacuum cleaner dan deritan engsel pintu yang tak berminyak) dan tinggi yang beragam (mengikuti pola tangga nada dengan interval yang tumpang tindih antara mol and kres ), mereka juga sama-sama mengagumi seseorang yang menjadi panutan mereka berempat, yang tak lain dan tak bukan adalah Mak Dalton alias Dedet Suredet AR 92, yang ditengah kesibukannya beraksitrekturia masih sempat mendidik anak-anak-nya untuk berburu, menembak, menggali lubang, dan menggundaling.</p>
<p>Layaknya seorang ibu dengan empat anak cowok yang bringas, sangar, dan preman (walaupun pada dasarnya mereka berhati selembut kambing, eh, domba), Mak Dalton sangat memperhatikan dan &#8216;menyayangi&#8217; mereka. Ini terbukti dari kalimat khas, &#8220;Kadieu, siah!!!!&#8221; yang digunakan untuk memanggil anak2nya.</p>
<p>Walaupun sangat menyayangi anak-anaknya, Mak Dalton cukup streng dalam mengepalai keluarga. Empat jadi-jadian bandit legendaris jaman si Lukirekireaje ini sama sekali tidak dimanja, malah sepertinya keempat Dalton bersaudara dibiarkan hidup bebas sorak-sorak bergembira karena Mak Dalton menganut paham pendidikan liar dan gembel-isme.  Jejak-jejak liar-gembel-isme ini terbukti dan terpatri dalam atribut2 Dalton bersaudara yang unik, ajaib dan tiada duanya, seperti:</p>
<ul>
<li>Jaket himpunan merah rombeng yang aromanya begitu aduhai. Jaket ini sempat diburu oleh matador-matador top dunia karena katanya aromanya bisa membuat banteng liar termehe-mehe terhuek-huek sempoyongan.</li>
<li>Kemeja kotak-kotak yang disinyalir hanya sempat dicuci 2 kali setahun, yakni sesudah sang pemilik jatuh ke air comberan dan ketika pemuda Dalton satu ini jatuh cinta di antara becak-becak di Yogyakarta <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  (bukan jatuh cinta pada mas tukang becak ya?)</li>
<li>Colt buntung yang kadang2 harus ditekan bersama-sama oleh berbagai tubuh alias didorong dari Sekre sampai Bandung coret alias Cimahi, serta</li>
<li>Suara delapan oktav yang melebihi Mariah Carey.</li>
</ul>
<p>Biarpun mereka hidup hanya ditemani oleh seorang ibu yang bawel-surawel dan dedet-suredet, Dalton bersaudara terlihat bahagia dan sepertinya tidak memerlukan kehadiran seorang tokoh ayah dalam hidup mereka.  Gosip yang pernah menyebar mengisahkan tentang seorang anggota PSM lain yang berbentuk seperti Pembantu Rektor III ITB saat itu, sebagai figur ayah yang malu-malu tapi tidak mau bertanggung jawab. Sementara itu berita dari burung2 koak di jalan Ganesha memaparkan bahwa sang ayah memilih untuk lari tanggung jawab karena merasa tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa ke-empat anak laki-lakinya memiliki selera makan yang dashyat yayat surasyat. Selain selalu banjir keringat ketika makan, mereka juga sering membuat para doggie di ITB lari ketakutan.</p>
<p>Tak dapat disangkal, ritual makan bersama adalah tali pemersatu keluarga Dalton. Ibu dan anak-anak memiliki hobi makan bersama di sejenis kedai makanan yang menghidangkan segala jenis binatang yang dalam sejarah kehidupannya sempat menguik maupun menggonggong. Mereka memang bersahabat baik dengan pemilik dan simpatisan lapau Gundaling si putra Peting.</p>
<p>Saat ini keempat Dalton bersaudara sudah tersebar di muka bumi. Dalton terkolot telah memilih jalan hidup sesuai hobi turut mensukseskan tersebarnya kanker paru. Dalton ke-dua  sukses mengelabu&#8230; &#8211; eh mendapatkan sebentuk penyanyi Sopran (sesuai peruntukan &#8211; Sopran untuk Bass, Alto untuk Tenor &#8211; tapi tidak menghalangi terjadi skandal antara sesama Tenor maupun antara Tenor dan Bass).  Dalton ke-tiga kemungkinan masih menjalankan bisnis sebagai pendekar selaksa virus walaupun sudah beralih fungsi sebagai preacher sekaligus dessicant di sebuah gereja. Yang masih misterius adalah keberadaan anggota Dalton termuda, yakni Melvin Averell Dalton. Apa sebab musabab menghilangnya Dalton yang satu ini? Apakah ini ada hubungannya dengan absennya Mak Dalton dari dunia dalam berita? Mungkinkah Mak Dalton dan Dalton bersaudara bersatu kembali? Aaah, mungkin hanya Ran Tan Plan yang tahu jawabannya. Guk&#8230;guk&#8230;guk.</p>
<p><em>by: Rontjes RAD &#38; Lady Day </em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Himastron]]></title>
<link>http://edoen.wordpress.com/2007/02/27/himastron/</link>
<pubDate>Tue, 27 Feb 2007 18:57:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>mlim</dc:creator>
<guid>http://edoen.wordpress.com/2007/02/27/himastron/</guid>
<description><![CDATA[Himastron? Himpunan Mahasiswa Elektron&#8230;ik kah? Tentu saja bukan, itu mah HME yah? Menurut Saha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://edoen.files.wordpress.com/2007/02/picture-1.png" title="picture-1.png"><img src="http://edoen.files.wordpress.com/2007/02/picture-1.png?w=198&#038;h=149" alt="picture-1.png" height="149" width="198" /></a></p>
<p>Himastron? Himpunan Mahasiswa Elektron&#8230;ik kah? Tentu saja bukan, itu mah HME yah? Menurut Sahat (baca kolom Comment) sih Himastron itu Himpunan Mahasiswa Astronomi. Tapi yang lebih beken (di kalangan PSM),  tidak lain dan tidak bukan adalah Himastron ala sempalan PSM yang keberadaan-nya ditentukan oleh sebuah colekan.</p>
<p><!--more-->Dengan gaya colekan jari-nya yang khas, Ronny aka Ron-ron alias Rontje memang merupakan salah satu tokoh central di PSM-ITB di masa-nya. Tak heran kalau keberadaan Ronny ini telah menimbulkan gejolak massa, sampai-sampai muncul sekelompok mahasiswa yang tahu-tahu secara alamiah &#8220;dinamakan&#8221; (hati-hati, bukan menamakan diri) Himastron, alias Himpunan Mahasiswa Teman-teman-nya Ronny.Tak pernah tersurat, apa-apa yang menjadi kriteria anggota Himastron. Awalnya sih, mereka tidak ingin menamakan diri mereka Himastron walaupun disebut Himastron. Tapi kegiatan berenang bersama secara rutin akhirnya membuat para anggota Himastron tak ragu lagi merangkul jati diri mereka.</p>
<p>Angin rumor sepoi-sepoi mengabarkan bahwa para Himastron ini begitu sehati-sejoli, bahkan celana renang mereka pun seragam. <strike>Rumor yang lebih panas membisikan bahwa motif celana renang mereka adalah berbonga-bonga.</strike> <em>Rumor (yang benar, setelah diklarifikasi oleh sang kuncen di kolom komentar) yang lebih sekedar rumor menyatakan bahwa para Himastron menganut moto &#8220;semakin mini semakin hot&#8221;. </em>Sayangnya tidak ada bukti-bukti visual yang menjustifikasi rumor ini<em>, karena seperti dikemukakan oleh Ronny, sang Ketua, Himastron ini melarang anggota2 nya untuk berpose di depan kamera ketika mereka berenang. Karena takut adegan &#8220;Cibinong&#8221; terjadi.</em></p>
<p><em>&#8220;Bonga-bonga&#8221; ternyata bukan ciri-ciri celana renang Himastron tetapi ciri-ciri gaya berbicara anggota2 Himastron yang mengikuti gaya &#8220;wei-tjeh&#8221; nya Ronny. Sulit dijelaskan bagaimana karakteristik &#8220;wei-tjeh&#8221; ini. Tapi bisa dibilang bahwa 1 wei-tjeh = &#8211; 1 hambrol. Dan wei-tjeh bertolak belakang dengan sangar atau preman.  </em></p>
<p>Selain berenang bareng, kadang-kadang para anggota Himastron makan bersama di kedai-kedai teman-teman-nya Himastron yang berada di sekitar kampus ITB dan, tentu saja, Unpad. Salah satu kedai sahabat Himastron adalah Warung&#8230; duh&#8230;. siapa sih&#8230;. anak Unpad yang temen-nya Febby tea, kalau tak salah namanya Yayad (?).</p>
<p>Himastron, pada masa jayanya, merupakan networked organization yang paling terkenal. Eksistensi serta perkembangan-nya bergantung pada teman-teman teman-temannya Ronny yang tentu saja masing-masing sangat piawai dalam bersosialisi. Bagaimana dan kumaha keadaan Himastron saat ini? Kita tunggu wawancara istimewa dengan pakar Himastron dan beberapa anggota Himastron di posting mendatang.</p>
<p><em>ciao,</em></p>
<p><em>lady day</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tiga Anjing Malam]]></title>
<link>http://edoen.wordpress.com/2007/02/22/tiga-anjing-malam/</link>
<pubDate>Thu, 22 Feb 2007 10:14:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>mlim</dc:creator>
<guid>http://edoen.wordpress.com/2007/02/22/tiga-anjing-malam/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Three Wolves and Stars&#8221; from Laroche Gallery. &#8220;Gugaaauuuuuu&#8221; begitulah kain]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://laroche-gallery.com/AdvHTML_Upload/THREE%20WOLVES%20AND%20STARS%20-%20email.jpg" alt="Tiga Anjing" height="203" width="288" /></p>
<p><em>&#8220;Three Wolves and Stars&#8221; from <a href="http://laroche-gallery.com/AdvHTML_Upload/THREE%20WOLVES%20AND%20STARS%20-%20email.jpg" target="_blank">Laroche Gallery</a>. </em></p>
<p>&#8220;Gugaaauuuuuu&#8221; begitulah kaingan tiga anjing PSM di malam hari. Selain menggugau, tiga anggota PSM-ITB &#8212; yang kadang menyamar jadi pria-pria &#8220;hampir&#8221; sejati, satria bergitar yang sangar, preman Kebon Bibit, atau gadis Tahiti &#8212; ini juga memperlihatkan ciri-ciri sejati anjing malam yakni mengencingi bukan saja setiap kolom batu yang berjejer di koridor Student Center ITB tapi juga di Aula Barat dan Aula Timur. Kurang diketahui, apakah mereka betul-betul telah menaklukan semua kolom/tiang yang ada saat itu. Kemungkinan besar mereka sempat melewatkan beberapa tiang yang telah dibooking duluan oleh sepeda motor bebeknya Hambrol.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Bram(us erectus) &#8216;90, Hans(ye) &#8216;89, dan mas Purbo(eu Sangar) &#8216;89 diperkirakan sudah menjadi anjing malam jauh sebelum PSM lahir. Namun, mereka baru menemukan jati-diri yang murni setelah dipertemukan oleh Pembantu Rektor III Indra Jati Sidi yang nama aslinya adalah Paruhum Aritonang alias Bang Uhum &#8216;87 dan Hambrol &#8216;87 di Festival (FPS-ITB) 1992. Kerja malam-malam sunyi sepi aku duduk sendiri tiada yang menemani telah membuat para anjing malam yang kesepian ini mulai saling merapatkan diri satu sama yang lain. Mereka tidur bersama, makan bersama, dan menggugau bersama walaupun kencing di tiang yang berbeda-beda. Lewat FPS 1992 inilah <strong>Tiga Anjing Malam</strong> lahir dan diproklamirkan.</p>
<p>Di pagi hari, ketika salah satu anjing malam &#8212; yang berkulit putih mulus dan berambut panjang ikal sedikit melebihi bahu &#8212; bangun, mandi dan menggosok gigi, di mata anjing2 malam lainnya, dia telah berubah menjadi Gadis Tahiti dan menjadi rebutan kedua anjing malam lainnya yang telah berubah menjadi pria-pria sangar, bringas, dan kepreman-premanan. Walaupun tak pernah terungkap secara jelas, disinyalir cinta segitigah tidak sama sisi telah terjalin di antara mereka. Ikatan yang jelas terungkap adalah antara preman Kebun Bibit dan Gadis Tahiti. Walaupun kemudian ikatan ini retak dengan adanya sesosok Melvin yang muncul tanpa kata dan suara namun memiliki decakan yang penuh karisma.</p>
<p>Hari ini, ketiga anjing malam  memang sudah terpisah secara fisik. Namun hati dan jiwa mereka masih terpaut. Ini terbukti dengan adanya gugau-gugau yang masih menggaung di dunia virtual. Apakah gugau-gugau ini merupakan jeritan hati dari cinta segitiga yang tak kesampaian? Ataukah hanya sekedar gugau-gugau hasil gabungan antara emosi dan sendawa yang ditahan selama bertahun-tahun? Entahlah, itu semua masih tetap misteri gelap malam sepi sunyi aku sendiri yang hanya diketahui ketiga anjing malam tersebut.</p>
<p><em>gugauuuuu,</em></p>
<p><em>lady day</em></p>
<p><a href="http://edoen.files.wordpress.com/2007/02/3anjingmalam.jpg" title="3anjingmalam.jpg"><img src="http://edoen.files.wordpress.com/2007/02/3anjingmalam.jpg?w=397&#038;h=313" alt="3anjingmalam.jpg" height="313" width="397" /></a></p>
<p><em>atas: MPS (anj), Uhum, Bram (anj)</em></p>
<p><em>bawah: Hambrol, Hans (anj) </em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kapal Keruk]]></title>
<link>http://edoen.wordpress.com/2007/02/21/kapal-keruk/</link>
<pubDate>Wed, 21 Feb 2007 22:03:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>mlim</dc:creator>
<guid>http://edoen.wordpress.com/2007/02/21/kapal-keruk/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;&#8230;&#8230;&#8230; Kapal keroek tetap djaja!!!&#8221; Begitulah bunyi larik terakhir Mars ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em><img src="http://www.pipp.dkp.go.id/images/PPS_Jakarta_kapal_keruk.jpg" align="texttop" height="219" width="314" /></em></p>
<p><em>&#8220;&#8230;&#8230;&#8230; Kapal keroek tetap djaja!!!&#8221;</em></p>
<p>Begitulah bunyi larik terakhir <em><strong>Mars Kapal Keruk</strong></em>  yang begitu sering-nya dikumandangkan beberapa preman PSM di jaman awal tahun 90-an.  Menamakan diri mereka <strong>Kapal Keruk</strong> (KK) 01, 02, 03, dan seterusnya, beberapa lelaki djomblo di <a href="http://www.psm-itb.itgo.com/" target="_blank">PSM-ITB</a> yang tak kenal putus asa, tapi sudah putus urat malu, memang betul-betul memiliki pekerjaan utama &#8220;mengeruk&#8221;. Bermodalkan mobil milik orang tua, atau mobil rombengan yang kadang kehilangan salah satu pintu, atau bahkan sepeda motor bebek yang ngaberebet, para KK yang biasanya menunggu korbannya pada saat cewe-cewe PSM bubar latihan.</p>
<p><!--more--> Masa-masa PPLK (Program Pengenalan Lingkungan Kampus) adalah masa-masa subur bagi para KK yang juga sering menyambi sebagai Boeaja (catatan: KK 01 tidak selalu identik dengan Boeaja O1). Para lelaki yang biasanya bercelana jeans yang cuma dicuci 2 bulan sekali ini selalu berdjejer kayak pindang di depan pintu sekre dua kali seminggu di malam anak2 PPLK-PSM bubaran. Mereka senyum-senyum meringis, beberapa dengan rangkaian gigi kuning yang menarik kuda, sambil memutar-mutar sekerenceng kunci. Tak jelas apa itu kunci mobil, motor, sepeda pinjeman atau sekedar kunci WC Plano yang memang selalu dikuasai PSM-ers.</p>
<p>Kapal keruk tertentu lebih sukses mengeruk akibat mobil mereka yang agak sedikit layak dipertontonkan pada khalayak ramai. Mobil Kijang putih berstikerkan H****T milik salah satu dari mereka cukup sukses dengan keberhasilan bukan saja mengeruk cewe2 tapi juga cowo2 dan bentjong2 seantero Bandung, dari KPAD Gerlong, Taman Maluku sampai Antapani. Kapal keruk yang lain harus puas dengan sisa-sisa mereka sehingga beberapa Kapal Keruk menyatakan bertobat dan mulai mendaptar di kelompok sempalan P3 alias <strong>PPP</strong> (Pria Pencinta Pria) atau <strong>Himastron </strong>(Himpunan Mahasiswa yang Teman-Teman-nya Ronny).</p>
<p>Entah mengapa, budaya Kapal Keruk ini mulai memudar sejak tahun 1994-an. Dengar-dengar akibat terlalu banyaknya cewe-cewe PSM yang punya mobil, sehingga budaya cowo-nebeng-cewe malah menjadi lebih popular daripada budaya ngeruk.</p>
<p>Kini, Kapal Keruk hanyalah tinggal nama. Anggota-anggotanya sudah berhasil mendapatkan hasil kerukan dan bahkan menciptakan beberapa calon Kapal Keruk junior. Semoga saja mereka sudah berhenti mengeruk dan mulai menimbun&#8230;..</p>
<p><em>manggaaaaa,</em></p>
<p><em>lady day</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Himagid -- it's (not) all about size!]]></title>
<link>http://edoen.wordpress.com/2007/02/21/himagid-its-not-all-about-size/</link>
<pubDate>Wed, 21 Feb 2007 08:31:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>mlim</dc:creator>
<guid>http://edoen.wordpress.com/2007/02/21/himagid-its-not-all-about-size/</guid>
<description><![CDATA[Salah satu sempalan PSM-ITB yang cukup terkenal sejagat-raya adalah HIMpunan MAhasiswi priGID (free ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://edoen.files.wordpress.com/2007/02/boob-cake.jpg" title="boob-cake.jpg"><img src="http://edoen.files.wordpress.com/2007/02/boob-cake.jpg?w=220&#038;h=185" alt="boob-cake.jpg" height="185" width="220" /></a></p>
<p>Salah satu sempalan <a href="http://www.psm-itb.itgo.com/" target="_blank">PSM-ITB</a> yang cukup terkenal sejagat-raya adalah <strong>HIM</strong>punan <strong>MA</strong>hasiswi pri<strong>GID </strong>(free tapi menggi<strong>GID</strong>) alias <strong>Himagid</strong>. Tak jelas kapan sempalan yang satu ini berdiri. Yang pasti dia terlahir di balik tirai biru belel di balik lemari berdebu dimana terletak kasur lecek tempat nyi Fufu suka menidurkan dirinya pada saat siboek-siboek-nya begadang yang darimana kemungkinan dalam rangka sebelum pestifal Trisakti.</p>
<p><!--more-->Ide membentuk Himagid berawal dari aktivitas ukur-mengukur dan lirik-melirik dan juga dalam rangka menanggapi perbincangan para cowo psm yang sering menatap bayangan lekukan beberapa cewe anggota psm yang mendahului langkah para cewe tersebut.</p>
<p>Waktu itu, setelah merasa menemukan kesamaan dalam ukuran dan lekukan, dengan perkecualian seseorang (yang tak bersedia disebut namanya tapi jelaslah teraba dan terpandang mengapa dia terkecuali, hihihi), Mer, Rini, Tiwi, Odhoy dan Susan (all &#8216;89) sepakat untuk  membentuk Himagid. Dengan pertimbangan satu, dua, tiga hal dan satu hal lainnya (naon coba?), Mer dikukuhkan sebagai Ketua, Rini sebagai Sekum,  Tiwi sebagai Sekretaris, Odhoy sebagai Bendahara dan Susan sebagai Seksi segala sesuatu (lupa nih).  Nita 89 kemudian bergabung karena dianggap memenuhi kriteria dalam hal ukuran.</p>
<p>Setelah beberapa saat terbentuk, anggota2 inti Himagid ini secara selektip merekrut anggota-anggota baru dari angkatan2 yang lebih muda.  Berhasil terjaring adalah mereka2 yang memiliki ukuran berakhiran minimal B, diantaranya adalah Ira TL&#8217;91.</p>
<p>Saat laporan ini dituliskan, ketua Himagid masih dalam keadaan segar bugar dan masih bisa mempertahankan ukuran yang memadai untuk menjadi Ketua serta mempertahankan reputasi Himagid di dunia internasional. Anggota-anggota intipun masih dalam keadaan segar hijau dan ranum. Namun, kebenaran kalimat terakhir ini, sampai saat tulisan ini diturunkan, masih belum dapat dibuktikan.</p>
<p><em>ttd,</em></p>
<p><em>lady day &#8212; ketua Himagid of all time</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Oke Karaoke]]></title>
<link>http://edoen.wordpress.com/2007/02/21/oke-karaoke/</link>
<pubDate>Wed, 21 Feb 2007 07:15:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>mlim</dc:creator>
<guid>http://edoen.wordpress.com/2007/02/21/oke-karaoke/</guid>
<description><![CDATA[OKE KARAOKE. adalah salah satu dari banyak perkumpulan-perhimpunan a.k.a. sempalan tak jelas di PSM-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>OKE KARAOKE. adalah salah satu dari banyak perkumpulan-perhimpunan a.k.a. sempalan tak jelas di <a href="http://www.psm-itb.itgo.com/" target="_blank">PSM-ITB</a>. OK ini adalah seonggok bujang-bujang PSM &#8216;89 hampir lapuk yang sampe tingkat opat belum juga punya cewe.</p>
<p>Siapa dan bagaimanakah Oke Karaoke, bisa dibaca di <a href="http://edoen.files.wordpress.com/2007/02/scan0030.gif" title="Oke Karaoke" target="_blank">sini</a> dan lanjutkeun di <a href="http://edoen.files.wordpress.com/2007/02/scan0031.gif">sinih</a>.</p>
<p>Jangan lupa juga baca kolom <a href="http://edoen.files.wordpress.com/2007/02/scan0032.gif" target="_blank">Oke-Karaoke menjawab</a>, untuk tahu lebih banyak tentang seluk-beluk-lekuk-lekuk si OK.</p>
<p>Sebagai bukti sisa2 jaman2 keperjakaan Oke-Karaoke, berikut adalah transkripsi digital surat sakti yang bersangkutan. <em>Nuhun untuk bibik Rini &#8216;89 yang sudah mengetikeun surat buhun ini</em>.</p>
<p><strong>SURAT PERJANJIAN</strong></p>
<p><!--more-->Syarat Pasangan:<br />
1.    Cewek asli, ada surat dokter<br />
2.    Mahasiswi ITB, adik atau kakak kelas (=nggak boleh<br />
seangkatan, red)<br />
3.    Anggota himpunan (=non TPB, kalau bukan himpunan harus dijadiin anggota himpunan, red)<br />
4.     Usaha saat ini = 0<br />
5.    Usaha mulai tanggal 27 Nov 1993 sampai 11 Feb 1994.<br />
Di antara rentang tanggal tersebut, yang berhasil menggaet wajib lapor, untuk kemudian diteliti oleh komisi penyelidik<br />
6.    Harus membuktikan dengan foto pose mesra berdua<br />
7.    Boleh saling menjegal</p>
<p>Hadiah Berupa:<br />
- sumbangan Rp.5000 dari setiap orang yang menandatangani perjanjian ini<br />
- kalau tidak berhasil, wajib membayari cewek PSM &#8216;89 panitia perjanjian (makan2)</p>
<p>Sanksi:<br />
- bila mengundurkan diri, bayar Rp.10.000,- dan tetap bayarin panitia</p>
<p>Surat perjanjian ini terbuka bagi semua cowok PSM &#8216;89, dengan mendaftarkan diri pada panitia.</p>
<p>Saksi-saksi:<br />
Mer, AR &#8216;89<br />
Rini, PL &#8216;89<br />
Tiwi, PL &#8216;89</p>
<p>NB:<br />
- tidak boleh menyogok panitia<br />
- panitia tidak boleh menjegal, tapi boleh mendoakan<br />
- panitia tidak boleh membantu<br />
- tidak diadakan surat-menyurat</p>
<p>Peserta:<br />
1.    Bimo, SI &#8216;89<br />
2.    Dodi, SI &#8216;89<br />
3.    Fritz, SI &#8216;89<br />
4.    Purbo, GD &#8216;89<br />
5.    Jahja, TI &#8216;89<br />
6.    Aldo, EL &#8216;89</p>
<p>Aula Barat, 17.15 WIB<br />
2 hari sebelum konser &#8216;93</p>
<p>catatan:</p>
<p>Sampai 11 Feb 1994, ternyata tak satupun dari para OK-ers yang berhasil menggaet cewe. Namun, sampai tulisan ini diturunkan, OK-ers ini belum juga mentraktir panitia. Jadi setelah 13 tahun, mungkin sudah saatnya ke-enam cowo bekas OK ini ditagih!!! Hayooo! Mana siah!?!!</p>
<p><em>mmMer aka Lady Day</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
