<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>seputar-perjalanan-udara &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/seputar-perjalanan-udara/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "seputar-perjalanan-udara"</description>
	<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 20:14:11 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Cuaca Panas, Pesawat Pun Begoyang Keras]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2009/10/28/cuaca-panas-pesawat-pun-begoyang-keras/</link>
<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 05:33:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2009/10/28/cuaca-panas-pesawat-pun-begoyang-keras/</guid>
<description><![CDATA[Cuaca seminggu terakhir ini terasa begitu panas, terutama di wilayah pulau Jawa. Beberapa hari yll s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Cuaca seminggu te<img class="alignleft size-medium wp-image-1720" style="margin-left:12px;margin-right:12px;" title="IMG_2696_r" src="http://yiskandar.wordpress.com/files/2009/10/img_2696_r2.jpg?w=300" alt="IMG_2696_r" width="212" height="158" />rakhir ini terasa begitu panas, terutama di wilayah pulau Jawa. Beberapa hari yll suhu tertinggi di Jogja berhasil menembus angka 37,7 derajat Celcius. Panasnya seperti di Mekkah, kata seorang teman yang belum pernah ke Mekkah. Tapi hari-hari terakhir ini <em>naga-naganya</em> sudah mulai mau hujan. Lumayan, meski baru mau…..</p>
<p>Menjelang tengah hari minggu lalu, pesawat Garuda Boeing 737-800 yang saya tumpangi dari Jogja sudah mengurangi ketinggian dan siap-siap mendarat di bandara Cengkareng. Dari ketinggian nampak bentang kota metropolitan Jakarta. Suhu udara di darat dilaporkan 32 derajat Celcius. Cuaca langit Jakarta juga dilaporkan cerah. Namun tiba-tiba badan pesawat bergoncang agak keras. Goncangannya agak berbeda tidak seperti biasanya kalau sedang menabrak awan. Mulanya biasa saja. Namun makin lama goncangan itu berlangsung semakin kuat dan berulang-ulang, badan pesawat <em>njumbul-njumbul</em> naik-turun sambil sedikit goyang kiri goyang kanan, seperti sedang berkendaraan melewati jalan rusak. Penumpang mulai rada tegang.</p>
<p>Ketika saya lihat ke luar jendela ternyata cuaca sangat cerah dan bersih. “<em>Waduh</em>, ada apa ini”, pikiran saya mulai menerka-nerka. Jangan-jangan…… Tapi kok pilotnya tidak memberi informasi apapun. Goyangan berlangsung terus menyertai pesawat yang semakin menurun, hingga akhirnya…. <em>mak jedug</em>, menyentuh landasan bandara Cengkareng. <em>Alhamdulillah</em>, kata saya dalam hati masih diliputi ketidak-tahuan apa sebenarnya yang sedang terjadi.</p>
<p>Ketika pesawat sudah berhenti, penumpang di sebelah kanan saya tiba-tiba menjadi akrab dengan penumpang lain di belakangnya. Rupanya mereka terakrabkan oleh rasa takut. Sepertinya sudah saling tidak bisa menahan diri untuk mengekspresikan ketakutannya selama beberapa menit menjelang mendarat tadi. Ketakutan membawa keakraban.</p>
<p>Saya menguping percakapannya. “Kedua kaki saya sudah gemetaran tadi”, kata penumpang di samping kanan saya kepada teman barunya yang duduk di belakangnya, yang kemudian menimpali : “Saya juga sudah <em>sport</em> jantung tadi. Saya hanya berusaha yakin dengan nama besar Garuda saja”. Rupanya memiliki nama besar ada juga gunanya, kata saya iseng dalam hati. Setidak-tidaknya lebih dipercaya, meski kalau memang mau celaka, ya celaka <em>aja</em>. Tidak ada hubungannya dengan nama besar atau nama kecil.</p>
<p>Penumpang yang di belakang tadi rupanya memang begitu ketakutan setelah pengalaman tadi, lalu katanya : “Pulangnya nanti saya mau naik kereta saja. Takut, saya…”, begitu kira-kira katanya kemudian.</p>
<p>“Kenapa?” tanya penumpang yang duduk di sebelah saya. Sudah jelas ketakutan <em>kok</em> ya ditanya kenapa. Namun jawaban jujur penumpang yang ditanya tadi membuat saya berteka-teki. Katanya : “Kalau naik kereta atau mobil, kalau ada apa-apa <em>kan</em> masih bisa ditemukan. <em>Lha</em> kalau naik pesawat, hilang entah kemana”. Agak tersenyum kecut juga saya mendengar kata-kata itu. Kemudian mereka berdua mulai berjalan keluar dari pesawat dan pembicaraan mereka pun terhenti. Padahal saya berharap penumpang di sebelah kanan saya tadi bertanya : Apanya yang hilang dan apanya yang ditemukan?.</p>
<p>***</p>
<p>Saya masih merasa penasaran kenapa tadi pesawat begitu bergoncang lebih dari biasanya ketika badan pesawat menabrak awan. Saya telanjur berprasangka buruk, jangan-jangan pilotnya baru dan belum cukup pengalaman. Baru ketika hendak keluar dari pesawat dan melewati seorang pramugari saya sempatkan bertanya : “Mbak, kenapa tadi goncangannya kuat sekali?”.</p>
<p>Jawab pramugari itu dengan kalem seperti tidak ada apa-apa (ya memang sebenarnya tidak ada apa-apa) : “Karena ada tekanan udara panas dari bawah, pak”.</p>
<p>Ooo, begitu to…… Sungguh baru paham saya bahwa suhu udara di darat yang demikian panasnya ternyata dapat menyebabkan adanya tekanan kuat hingga mendorong dan melawan gerak turun pesawat yang hendak mendarat.</p>
<p>Maka kalau pada hari-hari dimana suhu udara begitu panas dan terpaksa harus naik pesawat di saat tengah hari, bersiap-siaplah untuk mengalami goncangan yang rada menyiutkan nyali seperti dialami oleh dua penumpang tadi. Tapi memasuki musim penghujan dan langit mendung berawan, hal yang sama juga bisa terjadi. Kalau kemudian benar ada apa-apa, semoga saja dapat ditemukan…. Lho, apanya?</p>
<p>Yogyakarta, 26 Oktober 2009<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Kecil Tentang Pesawat Salah Parkir]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2009/07/04/kisah-kecil-tentang-pesawat-salah-parkir/</link>
<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 04:02:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2009/07/04/kisah-kecil-tentang-pesawat-salah-parkir/</guid>
<description><![CDATA[Minggu lalu (27/06/09), pesawat Lion Air mengalami insiden di bandara Selaparang, Mataram, NTB. Tida]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-medium wp-image-1378" style="margin-left:12px;margin-right:12px;" title="IMG_2919_r" src="http://yiskandar.wordpress.com/files/2009/07/img_2919_r.jpg?w=300" alt="IMG_2919_r" width="190" height="142" />Minggu lalu (27/06/09), pesawat Lion Air mengalami insiden di bandara Selaparang, Mataram, NTB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Berita di berbagai media menyebutkan pesawat tergelincir, ada juga yang menulis keliru belok dan ada yang melaporkan salah parkir. Apapun kejadian yang sebenarnya, yang pasti telah terjadi sesuatu yang tidak seharusnya yang berpotensi menyebabkan kecelakaan yang lebih fatal.</p>
<p>Media menceritakan bahwa pesawat jenis MD 90 yang seharusnya berputar di ujung landasan ternyata sudah memutar duluan sebelum mencapai ujung landasan. Sepertinya sang pilot tidak sabar menunggu mencapai ujung landasan yang berarti harus menambah jarak tempuh 500 meter lagi. Atau pilotnya “lupa” bahwa badan pesawat MD 90 tergolong langsing tapi bongsor memanjang, sehingga ketika memutar tidak bisa dipaksa untuk sekali “jadi”. Kalau mobil bisa atret maju-mundur, <em>lha</em> kalau pesawat perlu dibantu kendaraan pendorong.</p>
<p>Tulisan ini bukan bermaksud membahas apa yang terjadi, melainkan : “Kok bisa <em>sih</em> kesalahan yang tidak seharusnya itu terjadi?”. Jangan-jangan karena sikap keteledoran atau kesembronoan menganggap remeh masalah kecil dalam bisnis penerbangan. Untung masih di darat, lha kalau terjadinya di awang-awang, <em>njuk piye</em> (lalu bagaimana)?</p>
<p>***</p>
<p>Insiden di bandara Selaparang itu mengingatkan saya pada peristiwa kecil yang pernah saya alami di bandara Supadio, Pontianak, sekitar setahun yang lalu. Peristiwa yang terjadi sangat sederhana dan nyaris tidak ada yang memperdulikan. Tapi bagi saya dan seorang teman, kejadian ini menjadi bahan guyonan meski rada getir.</p>
<p>Menjelang tengah hari, pesawat Batavia Air yang saya tumpangi dari Yogyakarta mendarat di bandara Supadio, Pontianak. Sepanjang perjalanan baik-baik saja, meski keberangkatannya sempat terlambat dua jam. Ketika pesawat bergerak menuju apron area parkirnya, dari dalam pesawat saya lihat ada petugas darat yang kedua tangannya mengayun-ayunkan piranti pemberi tanda agar pesawat terus bergerak.</p>
<p>Petugas parkir itu (saya sebut saja begitu) berada di ujung slot parkir No. 7 (tulisan angka 7 berwarna putih sangat jelas tertulis <em>buesar-buesar</em> di aspal bandara). Ketika pesawat mendekat, tinggal satu tangan petugas parkir yang berayun yang berarti pesawat harus belok mengikuti garis slot parkir yang dimaksud. Eh,  <em>lha kok</em> ternyata pesawatnya <em>bablas</em> saja melewati slot No. 7 menuju ke slot No. 6. Melihat hal itu saya berpikir barangkali memang bukan di situ lokasi parkir pesawat yang saya tumpangi. Seandainya saya duduk di dekat sopir pesawatnya, mungkin pundak sopirnya saya <em>seblak</em> (tepuk) dan saya ingatkan : “Parkirnya kebablasan, mas…”.</p>
<p>Ternyata benar. Beberapa detik kemudian pesawat berputar 180 derajat, kembali menuju ke slot parkir No. 7. Untung area parkiran di slot No. 6 sedang kosong sehingga pesawat bisa bermanuver bebas untuk berbalik arah. Seandainya di situ ada pesawat lain yang parkir, pasti akan butuh kendaraan pendorong untuk mundur lagi. Dalam hati saya bertanya-tanya, kok bisa-bisanya salah parkir. Sebab sebelum pesawat menuju apron kawasan parkir tentunya sudah diberitahu oleh petugas darat dimana dia harus parkir dan petugas parkir pun sudah memberi tanda dengan <em>eblek-eblek</em> (piranti berwarna oranye yang diayun-ayunkan) di kedua tangannya.</p>
<p>Ketika akhirnya turun dari pesawat, teman seperjalanan saya bertanya menyindir kepada pramugarinya sambil guyon : “Pilotnya baru ya, mbak?”. Si mbak pramugari rupanya juga tidak menyadari apa yang terjadi dan menjawab serius : “Oh, tidak pak”.</p>
<p>***</p>
<p>Maka kalau kini saya mencatat ada dua kejadian pilot salah parkir atau salah belok atau kekeliruan apapun yang nampaknya kecil dan sederhana, itu terjadi di darat. Bagaimana kalau kekeliruan kecil semacam ini terjadinya di awang-awang langit? Jangan-jangan insiden atau malah tragedi kecelakaan pesawat yang akhir-akhir ini sering terjadi juga bermula dari kekeliruan kecil yang dilakukan entah oleh siapapun?</p>
<p>Hal-hal besar, baik atau buruk, sukses atau gagal, jatuh atau bangun, seringkali bermula dari hal-hal kecil yang nampaknya sederhana dan tidak apa-apa. Kisah tragis, kisah sukses, dan kisah-kisah tak terduga lainnya, seringkali berawal dari hal-hal kecil yang nampaknya tidak ada apa-apanya. Karena itu sebaiknya siapapun (baik mereka yang sedang sukses maupun yang sedang terpuruk) agar bisa belajar untuk memaknai setiap hal sebagai sebuah awal dari sesuatu yang (bisa menjadi) besar.</p>
<p>Para pendahulu kita (pendahulu dalam negeri maupun pendahulu luar negeri) telah membuktikannya tanpa mereka menyadari hasilnya. Maka kita para pewaris, pengikut dan penggembira mestinya bersyukur bisa belajar dari pendahulu kita itu.  Ungkapan “Small is Beautiful” hanya bermakna bagi mereka yang paham artinya besar itu apa, baik dalam hal yang positif maupun negatif, bencana maupun anugerah.</p>
<p>Yogyakarta, 4 Juli 2009 (‘Met Ultah Amerika….!)<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Di Terminal 1 Cengkareng]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2009/07/03/di-terminal-1-cengkareng/</link>
<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 16:28:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2009/07/03/di-terminal-1-cengkareng/</guid>
<description><![CDATA[Di Terminal 1-B bandara Cengkareng, Jakarta. Menatap layar monitor info keberangkatan Batavia Air so]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Di Terminal 1-B bandara Cengkareng, Jakarta. Menatap layar monitor info keberangkatan Batavia Air sore tadi, hampir semua penerbangan berkode STD jam sekian, yang berarti&#8230; d-i-t-u-n-d-a berjamaah&#8230; Jadi kemalaman sampai rumah.</p>
<p>***</p>
<p>Kalau <em>check-in</em> di Terminal 1 A-B-C bandara Cengkareng, jangan percaya begitu saja pada No. Gate yang tertulis pada karcis <em>boarding</em> maupun layar monitor, sebab seringkali masih teka-teki&#8230;.</p>
<p><span style="color:#000080;">(Beberapa kali saya kecele mengandalkan info No. Gate pada karcis<em> boarding</em>. Kenyataannya seringkali berubah tanpa pemberitahuan via <em>halo-halo</em> umum, sehingga ketika saya <em>ngepas</em> tiba waktu <em>boarding</em> baru masuk ruang tunggu ternyata ruangannya sepi karena penumpang lain sudah pindah ruangan). </span></p>
<p>Jakarta, 3 Juli 2009<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sudah Tahu Tidak Etis, Tapi Diulang-ulang Juga]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/08/04/sudah-tahu-tidak-etis-tapi-diulang-ulang-juga/</link>
<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 02:28:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/08/04/sudah-tahu-tidak-etis-tapi-diulang-ulang-juga/</guid>
<description><![CDATA[Kita tentu masih ingat kejadian beberapa waktu yang lalu tentang laporan kemajuan teknologi ponsel b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kita tentu masih ingat kejadian beberapa waktu yang lalu tentang laporan kemajuan teknologi ponsel berkamera yang diperankan oleh penyanyi Maria Eva dengan seorang anggota DPR (peristiwanya maksud saya, bukan film-nya&#8230;). Di tengah asyiknya menikmati acara infotainment bersama keluarga, lalu tiba-tiba tersaji adegan liar di layar.</p>
<p>Meski ada bagian yang ditutupi, tapi <em>toh</em> hakekatnya rekaman itu tetap ditayangkan. Dan, televisi pun tidak merasa puas hanya menayangkan cukup sekali-dua, melainkan <em>berrrrrr</em>-ulang-ulang disajikan sejak pagi, siang, sore, malam hingga keesokan harinya lagi. Apa tidak terbayangkan bagaimana perasaan keluarga pelaku skandal yang notabene tidak tahu ujung-pangkalnya, saat melihat tayangan yang berulang-ulang itu. Apa tidak terbayang bagaimana blingsatannya para orang-tua yang sedang duduk di depan televisi bersama anak-anaknya, saat adegan itu ditayangkan.</p>
<p>***</p>
<p>Hari-hari ini, rekaman kotak hitam tentang percakapan dalam <em>cockpit</em> pesawat Adam Air DHI 574 yang hilang di selat Makassar pada 1 Januari 2007 yll. bertebaran di mana-mana. Tidak hanya dengan mudah diunduh dari internet, melainkan juga tidak henti-hentinya ditayangkan di televisi lengkap dengan transkrip dialognya.</p>
<p>Pertama, saya merasa merinding membayangkan suasana detik-detik terakhir sebelum pesawat itu hilang ditelan laut. Kedua, saya merasa trenyuh dengan apa yang dirasakan oleh para keluarga korban setelah mendengar percakapan itu. Ketiga, saya <em>nggrundel</em> kok tega-teganya stasiun televisi mengulang-ulang tayangan itu. </p>
<p>Terlepas dari kontroversi kebenaran rekaman kotak hitam yang telanjur menyebar bak virus flu burung (sedang virus flu burung saja tidak segegap-gempita itu). Jelas itu tidak asli, <em>wong</em> rekaman aslinya ada di gudangnya KNKT. Barangkali yang dimaksudkan adalah kontroversi apakah rekaman itu sesuai aslinya atau rekayasa atau sebuah &#8220;karya seni&#8221; seperti pertunjukan operet kampung hasil gabungan dari penggalan lagu-lagu.</p>
<p>Juga terlepas dari kontroversi bagaimana mungkin dokumen yang bersifat rahasia itu bisa bocor di tengah masyarakat. Kalau setrum PLN atau air PDAM bocor masih &#8220;masuk akal&#8221; karena jaringannya ada di mana-mana dan untuk memperolehnya harus membayar (semakin) mahal. Atau soal-soal ujian nasional bocor masih &#8220;wajar&#8221; karena menyangkut gengsi dan biaya sekolah yang (juga semakin) mahal. <em>Lha</em>, kalau arsip kotak hitam kan hanya ada satu dan masyarakat sebenarnya tidak pernah menginginkan bocorannya.</p>
<p>Anggaplah rekaman itu benar sesuai aslinya. Tersiarnya rekaman itu tentu menjadi berita eksklusif yang bernilai tinggi bagi media. Akan tetapi bagi keluarga korban atau mereka yang memiliki sangkut dan paut apalagi hubungan darah dengan keluarga korban, jelas itu bukan peristiwa yang menyenangkan. Bahkan cenderung menyakitkan yang membuka luka dan kepedihan lama.</p>
<p>Sedang saya yang bukan siapa-siapanya saja rasanya <em>kok</em> tidak tega berulang-ulang mendengarkan rekaman itu. Tapi media televisi malah seperti berlomba menayangkan berulang-ulang. Tidak cukup sekedar memberitakan, membahas, mendiskusikan atau mengkajinya, melainkan lengkap dengan ilustrasi dan transkrip yang semakin mendramatisir.</p>
<p>Saya membayangkan, apa yang akan dirasakan oleh keluarga korban ketika sedang santai menonton televisi bersama keluarga di rumah kemudian terhidang di layar televisi tayangan itu. Tidak cukup sekali bahkan. Pagi, siang, sore, malam, seperti tiada jeda. Betapa kepedihan hati tiba-tiba seperti <em>diublek-ublek</em>.</p>
<p>Apa televisi kita sudah kehilangan empati tentang kejadian-kejadian semacam ini? Apa tidak cukup ditayangkan sekali saja, lalu selebihnya cukuplah dengan kajian atau diskusi yang lebih berbobot dan elegan, ketimbang memutar-mutar rekaman berulang-ulang. Toh, bagi masyarakat pada umumnya rekaman semacam itu sebenarnya tidak banyak membawa manfaat.</p>
<p>Semua pihak rasanya tidak seberapa bodoh untuk memahami bahwa tayangan seperti itu sebenarnya tidak etis dan juga tidak memberi nilai tambah apapun bagi masyarakat. Tapi <em>kok</em> ya tidak seberapa pintar untuk memutuskan bahwa tidak perlu diulang-ulang penayangannya.    </p>
<p>Itulah televisi kita. Seperti tidak bisa membedakan kapan siang dan kapan malam. Kapan acaranya ditonton orang dewasa dan kapan ditonton anak-anak. Kapan televisinya bisa bernilai informatif, kapan menghibur, kapan mendidik dan kapan menyakitkan. Atau, jangan-jangan untuk turut mencerdaskan bangsanya pun, ya&#8230;..kapan-kapan saja&#8230;..</p>
<p>Atau, memang&#8230;..</p>
<p>(Maaf, mengutip penggalan transkrip kotak hitam yang beredar di internet :<br />
<em>Voice on DHI 574 cockpit :</em> <em>ok&#8230;.. that&#8217;s confirm&#8230; that&#8217;s confirm<br />
affirm<br />
iya khan.. ngaco<br />
ngaco FIDSnya udah &#8212;-, FMSnya&#8230;<br />
</em><em>FMS telah mengacaukan dirinya sendiri&#8230; UEDANN opo&#8230;.)</em></p>
<p>Yogyakarta, 3 Agustus 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jujur Tapi Khilaf, Atau Malu?]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/08/02/jujur-tapi-khilaf-atau-malu/</link>
<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 06:49:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/08/02/jujur-tapi-khilaf-atau-malu/</guid>
<description><![CDATA[Panggilan boarding untuk penumpang pesawat dengan nomor penerbangan Garuda Wiro Sableng (GA 212) jur]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Panggilan <em>boarding</em> untuk penumpang pesawat dengan nomor penerbangan Garuda Wiro Sableng (GA 212) jurusan Jakarta-Jogja dikumandangkan di Terminal F bandara Soekarno-Hatta. Penumpang segera bergegas menuju pintu keberangkatan. Kali ini penumpang tidak langsung diarahkan memasuki lorong belalai gajah menuju kabin pesawat, melainkan turun untuk naik bis pengantaran dulu. Wah, sopir pesawatnya tadi parkir kejauhan, pikir saya.</p>
<p>Satu per satu penumpang menaiki tangga pesawat melalui pintu depan. Nampaknya saya harus agak bersabar, sebab saya kebagian nomor tempat duduk 19 yang berarti jauh berada di belakang. Ketika sudah berada di dalam pesawat, saya lihat ada sekelompok penumpang berdiri bergerombol di ujung belakang. Agak riuh. Ada demo? Pasti bukan, karena terlihat pada cengengesan.</p>
<p>Setelah tiba di belakang barulah saya tahu, rupanya pesawat Garuda yang <em>narik</em> trayek ke Jogja sore itu baris tempat duduknya hanya sampai nomor 18. Sementara penumpang yang berdiri bergerombol adalah pemegang karcis bernomor tempat duduk 19 sampai 21, termasuk saya. Hanya karena penumpang percaya bahwa Garuda akan mampu mengatasinya, artinya tidak bakalan tidak dapat tempat duduk, maka penumpang tetap bersabar sambil <em>ketawa-ketiwi</em>.</p>
<p>Akhirnya seorang petugas datang sambil membawa daftar penumpang yang sudah diperbaiki rupanya. Lalu satu-persatu penumpang yang masih berdiri dibelakang itu dibacakan namanya dan diberitahu nomor tempat duduk yang benar. Legalah, semua penumpang. Setidak-tidaknya tidak harus berdiri bergelantungan atau duduk di bangku yang disisipkan di lorong pesawat.</p>
<p>Entah kenapa pesawat Boeing 737-300 yang jumlah baris tempat duduknya sampai nomor 21 yang biasa <em>narik</em> trayek Jakarta-Jogja, kali itu diganti dengan Boeing 737-500 yang lebih kecil. Tapi rupanya penggantian pesawat ini mendadak sehingga tidak <em>nyambung</em> ke petugas <em>check-in</em>, walhasil pengaturan tempat duduk sewatu <em>check-in </em>belum disesuaikan.</p>
<p>Penghargaan pantas diberikan untuk petugas Garuda yang cukup lincah dan dengan sigap mengatasi kesemrawutan di ujung belakang kabin pesawat, sehingga urat kesabaran penumpang belum sempat menegang, melainkan masih bersuasana goyonan plesetan ala Jogja (&#8220;sambil menunggu disediakan bangku yang akan dipasang di lorong seperti naik bisa antar kota saat mudik lebaran&#8221;).</p>
<p>Akhirnya pesawat pun siap tinggal landas dengan tanpa kehilangan banyak waktu penundaan. Saya pikir, masalah dan hambatan senantiasa ada dalam pengelolaan sistem angkutan udara. Cuma yang membedakan antara maskapai yang satu dan lainnya adalah keterampilan petugasnya untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, lincah dan ramah. <em>Ora klelat-klelet</em>&#8230;&#8230; (tidak ogah-ogahan atau asal-asalan). Sayangnya keterampilan seperti ini tidak ada sekolahnya, melainkan bisa dilatih sebagai bagian dari tanggungjawab profesional, apapun profesinya.</p>
<p>Awalnya saya melihat dan merasakan peristiwa ini sebagai kejadian yang biasa-biasa saja. Tidak menarik untuk saya ingat-ingat. Sampai kemudian ada <em>halo-halo</em> dari ujung depan sana yang menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan keberangkatan. Dan ini yang berbeda : &#8220;karena alasan kurangnya profesional petugas&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;. Pada bagian titik-titik dari <em>halo-halo</em> awak kabin ini tidak terlalu jelas saya dengar. Tapi kedengarannya mirip-mirip ucapan <em>garuda.., gadura.., garadu.. atau gadaru&#8230;.., gitu&#8230;</em></p>
<p>Tapi okelah. Dalam banyak hal kita sering menganggap bahwa &#8220;Siapa&#8221; tidaklah terlalu penting, karena biasanya cenderung untuk subyektif. Jauh lebih penting mengetahui &#8220;Kenapa&#8221; atau &#8220;Bagaimana&#8221;, sebab dari sana biasanya akan lebih obyektif dan ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan itu sudah terjawab, yaitu &#8220;kurangnya profesional petugas&#8230;..&#8221;, seperti pengakuan jujur awak pesawat.</p>
<p>Ini sesuatu yang baru bagi saya. Selama ini, ilmu permintaan maaf ini sudah saya hafal di luar kepala. Kalau bukan &#8220;karena alasan teknis&#8221;, ya &#8220;karena alasan operasional&#8221;. Tapi rupanya perbendaharaan alasan di kepala saya harus ditambah. Masih ada alasan yang lain, yaitu &#8220;karena alasan kurangnya profesional&#8221;. Sebuah pengakuan yang kedengaran begitu jujur dan menyentuh (bukan hati, melainkan rasa tangungjawab).</p>
<p>Pengakuan jujur yang rasanya pantas diapresiasi. Hanya sedikit saja sayangnya, yaitu kedengaran agak malu-malu burung&#8230;&#8230; Pasalnya seingat saya, baru kali itulah saya mendengar pengumuman yang diperdengarkan di dalam pesawat dengan tanpa disertai terjemahan bahasa Inggrisnya&#8230;&#8230;</p>
<p>Moga-moga prasangka saya salah. Bukan karena malu menerjemahkan di hadapan penumpang asing, melainkan hanya karena khilaf saja. Tapi khilaf bisa jadi adalah bagian dari profesionalisme kalau keseringan, alias <em>bolak-balik</em> khilaf&#8230;.</p>
<p>Yogyakarta, 2 Agustus 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Teman Seperjalanan Yang Baik Hati]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/07/31/teman-seperjalanan-yang-baik-hati/</link>
<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 12:39:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/07/31/teman-seperjalanan-yang-baik-hati/</guid>
<description><![CDATA[Akhirnya datang juga&#8230;., kesempatan memperoleh tiket burung Garuda dengan harga wajar untuk per]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Akhirnya datang juga&#8230;., kesempatan memperoleh tiket burung Garuda dengan harga wajar untuk perjalanan Jayapura &#8211; Timika &#8211; Denpasar &#8211; Jakarta. Padahal sebelumnya hanya bisa naik maskapai murah-meriah karena harga tiket Garuda sudah melambung ke puncak tangga. Sudah terbayang bahwa perjalanan panjang kali ini bakal lebih bisa saya nikmati dibandingkan kalau saya naik burung-burung yang lain.</p>
<p>Malam sebelumnya masih di Jayapura, adalah malam yang panjang dan melelahkan, sementara esok paginya harus menuju bandara Sentani yang berjarak sekitar satu jam dari kota Jayapura. Saya sudah menyusun skenario bahwa selama perjalanan ke Jakarta, pilot Garudanya mau saya tinggal tidur saja. Sisa rasa kantuk semalam sebelumnya mau saya lampiaskan sepanjang perjalanan udara Jayapura &#8211; Jakarta.</p>
<p>Rupanya skenario perjalanan saya tidak berlangsung sesuai plot. Itu karena di samping atau sebelah kanan saya duduk dua orang penumpang yang asli orang Papua yang sedang menempuh perjalanan menuju Denpasar. Perjalanan mereka kali ini adalah perjalanan pertamanya dengan pesawat besar keluar dari tanah Papua. Selama ini hanya <em>midar-mider</em> naik pesawat di seputaran kota-kota kecil di Papua saja. Salah seorang tetangga saya, penumpang di sebelah kanan saya itu ternyata adalah teman seperjalanan yang sungguh baik hati.</p>
<p>Dalam perjalanan Jayapura &#8211; Timika, segera saya terlelap bahkan sejak sebelum pesawat tinggal landas dengan sempurna. Ketika ada pembagian makanan kecil dan minum oleh mbak pramugari, tetangga saya ini membangunkan saya sambil menyodorkan sekotak makanan yang diestafet dari mbak pramugari, tanpa sepatah kata pun.</p>
<p>Setelah itu saya tidak bisa tidur lagi karena cuaca yang sedang cerah memperlihatkan pemandangan indah pegunungan tengah daratan Papua di bawah sana. Sedangkan penumpang di sebelah kanan saya itu turut melongok mendekat ke jendela yang ada di sebelah kiri saya. Bukan cuma itu, melainkan sambil bercerita tentang kawasan di bawah sana yang dia sangat mengenalnya.</p>
<p>Dalam perjalanan Timika &#8211; Denpasar, saya tertidur lagi. Ketika tiba pembagian makan siang, penumpang di sebelah saya <em>njawil</em> (menyolek) tangan saya. Rupanya meja lipat di depan saya sudah dibukakan dan sekotak makan siang juga sudah tersaji. Kenyang makan, saya pun melanjutkan tidur.</p>
<p>Rupanya masih ada pembagian ransum makanan ringan. Sewaktu mbak pramugari berkeliling membagikannya lagi, penumpang di sebelah saya itu kembali membangunkan saya.</p>
<p>Barangkali tetangga di sebelah saya itu beranggapan bahwa tidak baik menolak pemberian suguhan makanan, sehingga saya perlu dibangunkan. Atau, dia sekedar berbuat baik agar saya tidak terlewat diberi suguhan. Tapi, <em>njuk ora sido turu aku</em>&#8230;&#8230; (saya jadi tidak bisa tidur&#8230;.)</p>
<p>&#8220;Untungnya&#8221;, teman seperjalanan saya yang baik hati itu turun di Denpasar. Begitu baiknya sehingga mereka merasa perlu berpamitan kepada saya sebelum turun. Di Bali mereka hendak mengikuti pelatihan tentang radio, katanya. Saya membalas dengan menyampaikan ucapan selamat bertugas dan terima kasih. Ucapan terima kasih saya yang tulus atas kebaikannya, tapi tidak atas semangat pembangunannya (maksudnya, membangunkan orang yang sedang tidur <em>ngleker</em> di pesawat&#8230;.).</p>
<p>Tidak disuguhi minuman, kehausan. Disuguhi kue <em>thok</em> tanpa minum, <em>keseredan</em>. Tapi terlalu banyak suguhan di dalam pesawat, ternyata juga bisa menjengkelkan&#8230;&#8230;</p>
<p>Akhirnya, perjalanan lanjutan Denpasar &#8211; Jakarta dapat berlangsung dengan tenang, aman dan terkendali. Skenario untuk meninggal tidur pilot pun berjalan sesuai plotnya. Ya, karena tidak ada lagi aktifitas pembangunan oleh penumpang di sebelah saya.</p>
<p>Yogyakarta, 31 Juli 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gratis Makanannya, Bayar Minumannya]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/07/31/gratis-makanannya-bayar-minumannya/</link>
<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 00:41:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/07/31/gratis-makanannya-bayar-minumannya/</guid>
<description><![CDATA[Coba bayangkan : Anda sedang bertamu. Kemudian tuan rumah berbaik hati menyuguhi Anda dengan kue don]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="size-medium wp-image-488 alignleft" style="margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://yiskandar.wordpress.com/files/2008/07/p6220005_r1.jpg?w=300" alt="" width="270" height="191" /></p>
<p>Coba bayangkan : Anda sedang bertamu. Kemudian tuan rumah berbaik hati menyuguhi Anda dengan kue donat yang dari tampilannya saja sudah membuat rasa tidak sabar menunggu dipersilakan menikmatinya. Akhirnya sebuah donat pun langsung membuat <em>mak sek</em>&#8230;., di tenggorokan hingga tembolok.</p>
<p>Lalu Anda menunggu lima menit, lima belas menit, setengah jam, hingga sejam, ternyata setetes air pun tidak disuguhkan kepada Anda. Sementara air liur di tenggorokan dan tembolok sudah terserap habis oleh donat yang barusan lewat dan semakin membuat Anda sesak napas. Mau minta minum takut dikatakan tidak sopan.</p>
<p>Cara terbaik untuk keluar dari situasi serba tidak enak ini adalah segera mohon diri, lalu mampir ke warung terdekat membeli minuman. Apapun makanannya, minumnya ya air&#8230;</p>
<p>***</p>
<p>Itulah yang terjadi dalam perjalanan udara dengan burung Singa dari Jakarta menuju Makasar pada suatu tengah malam. Kalau sebelumnya tak setetes air pun mengalir di pesawat, kini tetap juga tidak mengalir tapi diberi bonus ransum kue donat cap Dunkin&#8217; Donuts dalam kantong kertas yang tampilan luarnya cukup menggairahkan. Sepotong donat gemuk yang di atasnya ditaburi gula pasir halus sungguh merangsang untuk segera dilahap.</p>
<p>Untung saya agak ngantuk, jadi ransum donat saya sisipkan dulu di kantong kursi. Sementara penumpang di sebelah saya yang nampaknya seorang dari Ambon langsung menyikatnya hingga habis. Sesaat kemudian, si Abang dari Ambon itu nampak <em>tolah-toleh</em>. Saya menduga pasti kehausan cari minum. Agak lama, barulah muncul mbak pramugari cantik di tengah malam di atas pesawat mendorong gerobak dagangannya menawarkan minuman. Kali ini tentu bukan pembagian gratis, melainkan siapa mau minum harus membelinya. Dan, laku keras&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Sebuah trik bisnis. Ya, trik bisnis&#8230;.. Dalih, alasan, atau malah mau <em>ngeyel</em> seperti apapun, pokoknya itu pasti trik bisnis (Cuma, <em>gimana ya&#8230;. rasanya kok enggak seberapa cerdas, gitu&#8230;). </em>Makanannya disediakan gratis, tapi minumannya harus <em>mbayar</em>. Si burung Singa boleh berkilah. <em>Toh</em>, maskapai sudah berbaik hati menyuguhkan makanan gratis kepada penumpangnya. Perkara penumpangnya lalu mau beli minuman apa tidak, ya terserah saja&#8230;. Maka, penumpang pun ter-fait-a-compli pada situasi tidak ada pilihan, di atas ketinggian lebih 10 km.</p>
<p>Memang tidak ada yang salah dengan trik bisnis semacam ini. Dalam banyak kasus, banyak bentuk, banyak cara, banyak situasi, trik bisnis seperti ini banyak digunakan oleh para penjual atau pedagang dalam rangka meningkatkan omset penjualan dan keuntungannya. Sah-sah saja.</p>
<p>Gratiskan ikannya, kail dan umpannya <em>mbayar</em>. Gratiskan <em>software</em>-nya, jasa pelatihan dan purna jual-nya <em>mbayar</em>. Jual rugi mobilnya, suku cadang dan perawatannya dijual mahal. <em>All you can eat</em>, karcis masuk untuk bisa <em>eat</em>-nya mahal. Gratis biaya perawatan setahun, gratis ikut seminar, gratis <em>nambah</em> nasi, tapi biaya awalnya dinaikkan. Sepertinya lumrah-lumrah saja.</p>
<p>Ada yang bisa dipelajari dan dihikmahi dari trik bisnis semacam ini, baik oleh penjual maupun pembeli. Agaknya, ajakan teliti sebelum menjual dan membeli, atau jeli sebelum bernegosiasi dan bertransaksi, masih layak dikiblati. Agar tidak merasa dikibuli di belakang hari, melainkan tahu dan paham dengan apa yang sedang terjadi. Dengan demikian, maka kaidah-kaidah jual-beli (oleh kedua belah pihak) tetap tidak menyalahi kaidah bisnis yang saling menguntungkan dan saling ikhlas dalam berserah-terima jasa maupun barang.</p>
<p>Jadi? Sebaiknya Anda waspada kalau sedang dalam perjalanan dengan pesawat tiba-tiba disuguhi makanan gratis. Sabar dulu untuk menikmatinya. Atau malah tanyakan dulu ada pembagian minumannya atau tidak, kecuali Anda siap untuk membeli atau setidak-tidaknya Anda telah siap lahir-batin untuk kehausan atau <em>keseredan</em> (apa bahasa Indonesianya, ya&#8230;).</p>
<p>Juga kalau kebetulan Anda sedang bertamu, lalu tidak biasanya suguhan kue keluar lebih dahulu. Segera aktifkan piranti deteksi dini dan lakukan <em>quick assessment</em>. Jika kesimpulannya menunjukkan bahwa tuan rumahnya adalah penganut fanatik aliran burung Singa, segera tanyakan warung terdekat, lalu Anda pamit sebentar untuk beli minuman&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Yogyakarta, 30 Juli 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ingin Sembuh Dari Penyakit? Menulislah...]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/07/27/ingin-sembuh-dari-penyakit-menulislah/</link>
<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 01:30:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/07/27/ingin-sembuh-dari-penyakit-menulislah/</guid>
<description><![CDATA[Di dalam pesawat Jakarta &#8211; Jogja, saya membunuh waktu dengan membuka-buka koran Media Indonesi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft" style="margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/07/img_0848_r2.jpg?w=300" alt="" width="226" height="126" />Di dalam pesawat Jakarta &#8211; Jogja, saya membunuh waktu dengan membuka-buka koran <em>Media Indonesia</em>, terbitan tanggal 24 Juli 2008. Saya menemukan sebuah artikel yang sangat menarik. Menarik karena topiknya terkait dengan kesukaan saya menulis. Judul tulisan itu adalah &#8220;Menulis Bisa Sembuhkan Semua Penyakit&#8221; (selengkapnya di <a href="http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MTg1ODQ" target="_blank">Media Indonesia, 24 Juli 2008</a>).</p>
<p>Sangking semangatnya saya mencerna tulisan itu, sampai saya baca beberapa kali. Sebab saya menemukan sesuatu yang luar biasa yang selama ini tidak pernah terpikir meski bisa terasakan, dan ternyata kini ada yang sudah membuktikannya.</p>
<p>Tersebutlah Gatut Susanta yang telah membuktikan bahwa menulis itu sehat dan sehat itu bisa dicapai dengan menulis. Resep yang didapatnya tanpa sengaja itu kini dirasakan kemanjurannya. Komplikasi penyakit yang ada pada dirinya selalu dilawannya dengan menulis, setiap hari.</p>
<p>Itulah yang dialami langsung Gatut Susanta, 43, warga Kota Bogor, Jawa Barat, kelahiran Madiun, Jawa Timur. Lima komplikasi penyakit, yakni hepatitis, gagal ginjal, pengentalan darah dan penyempitan pembuluh otak, serta infeksi kandung kemih, yang dideritanya sejak Februari 2005, bisa sembuh total.</p>
<p>&#8220;Obatnya menulis dan terus menulis hingga akhirnya saya bisa menyelesaikan 15 judul buku,&#8221; tutur insinyur sipil itu saat ditemui <em>Media Indonesia</em> di ruang VIP RS Karya Bhakti Bogor.</p>
<p>Lalu, apa hubungannya antara giat menulis dan proses penyembuhan suatu penyakit, terutama penyakit yang sangat serius, seperti kanker dan sejenisnya?</p>
<p>&#8220;Mungkin dengan menulis, akan membuat orang selalu tenang, menerima dan mensyukuri apa yang diterima dan dialami saat itu, dan tetap berusaha untuk sembuh,&#8221; kata Gatut.</p>
<p>Penjelasan Gatut yang terakhir inilah yang bagi saya paling masuk akal. Bagi orang yang suka menulis, seringkali tidak ada bedanya antara pengalaman baik atau buruk, peristiwa menyenangkan atau menyedihkan. Situasi dan kondisi seperti apapun sepertinya membangkitkan energi untuk mengekspresikannya dengan penuh rasa menerima dan bersyukur. Bahkan ketika sedang tidak ada kejadian menarik pun lalu dicoba-coba berbuat keisengan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda guna membangkitkan ide dan inspirasi.</p>
<p>Hal-hal yang menjengkelkan bagi orang lain, bagi seorang penulis justru menjadi pengalaman menarik dan menimbulkan inspirasi untuk menangkap hikmahnya untuk dituangkan ke dalam tulisan. Pengalaman buruk bagi seseorang, di pikiran seorang penulis bisa menjadi pengalaman yang berharga. Kejadian tidak biasa, bagi seorang penulis justru menjadi pengalaman langka yang terlalu sayang untuk dilewatkan.</p>
<p>Pendeknya tidak ada hal-hal buruk yang membuat jengkel, sedih, susah, repot, rumit, melainkan kemudian bisa dimanipulasi (bukan dihilangkan) untuk dinikmati agar tidak membuat stress, melainkan dapat dinikmati dan dihikmahi dengan rasa syukur.</p>
<p>Maka yang penting sekarang, sehatkanlah dan sembuhkanlah penyakit Anda dengan giat menulis. Tentang apa saja, tidak peduli apapun gaya penulisan Anda. Mau gaya dada, gaya punggung, gaya kupu-kupu, gaya batu atau tanpa gaya sekalipun. Berani menulis dulu, baik dan benar kemudian. Jadikanlah sehat dan sembuh sebagai salah satu tujuannya, agar Anda tidak punya waktu untuk memikirkan komentar &#8220;miring&#8221; orang lain, melainkan menjadikan komentar &#8220;miring&#8221; itu sebagai pengungkit ide dan inspirasi untuk menulis lagi dan lagi dan lagi&#8230;..</p>
<p>Tidak percaya? Menulis dan teruslah menulis&#8230;.., maka nanti Anda baru akan mempercayainya. Selamat menulis.</p>
<p>Yogyakarta, 25 Juli 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berani Terbang Murah Harus Berani Kehausan]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/07/11/berani-terbang-murah-harus-berani-kehausan/</link>
<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 15:05:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/07/11/berani-terbang-murah-harus-berani-kehausan/</guid>
<description><![CDATA[Bepergian dengan pesawat pada seputar waktu peak season, seperti misalnya musim libur akhir tahun aj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bepergian dengan pesawat pada seputar waktu <em>peak season</em>, seperti misalnya musim libur akhir tahun ajaran sekolah, mencari tiket pesawat minta ampun susahnya. Apalagi kalau tidak memesan jauh hari sebelumnya. Kalaupun akhirnya dapat juga, biasanya harus rela membayar harga tiket jauh lebih mahal dari biasanya. Belum lagi kalau inginnya naik burung garuda (maskapai Garuda Indonesia), dijamin bakal berebut <em>seat</em> yang tersisa dengan harga bisa lebih dua kali lipat harga tiket maskapai lain. Artinya, apapun pesawatnya, <em>mbayarnya </em>tetap lebih mahal dari biasanya.</p>
<p>Untuk alasan mencari harga termurah di antara yang mahal, maka pilihan terbang dengan burung garuda terpaksa dikesampingkan. Maka alternatifnya adalah harus berani menunggang pesawat dari maskapai bertarif murah. Tapi terkadang naik pesawat bertarif murah juga bukan pilihan, melainkan karena memang tinggal itu adanya. Ya, karena sedang <em>peak season</em> itu tadi.</p>
<p>Berniat terbang ke Jayapura dari Jogja. Rupanya karcis burung garuda sudah ludes. Lalu pilihan jatuh ke burung singa (Lion Air) yang ternyata harga tiketnya lebih murah. Rutenya Jogja &#8211; Jakarta &#8211; Makasar &#8211; Jayapura. Waktu tempuh di udara total 6,5 jam belum termasuk waktu transit. Waktu tempuhnya sih, oke saja. Hanya saja burung singa ini pelit ransum air, atau memang menerapkan prinsip hemat air. Sepanjang enam setengah jam yang terdiri dari satu jam tambah dua jam tambah tiga setengah jam, tak setetes air minum pun digelontorkan, apalagi mengalir sampai jauh&#8230;&#8230;</p>
<p>Empat hari kemudian kembali dari Jayapura ke Jogja. Tidak ada pilihan lain selain kembali naik burung singa yang ternyata harga tiketnya sudah lebih dua kali harga ketika berangkatnya. Apa boleh buat. Tetap juga berlaku prinsip hemat air, tidak ada pembagian ransum sekalipun segelas air putih. Kalau kepingin minum dan lupa membawa bekal ya salahnya sendiri. Berani naik pesawat bertarif murah berarti harus siap kehausan di udara.</p>
<p>Dua hari kemudian harus menuju Kuala Lumpur. Kali ini sengaja memilih maskapai bertarif murah yang bebas tempat duduk (maksudnya, bebas memilih alias dulu-duluan masuk pesawat). Meskipun namanya Air Asia, tapi <em>sumprit</em>&#8230; selama dua setengah jam duduk di dalam pesawat tidak ada pembagian air. Kalau kepingin minum ya harus membeli ke gerobak dorongnya mbak pramugari. Empat hari kemudian kembali ke Jakarta naik burung asia yang sama, yang sudah pasti juga tanpa <em>dropping</em> air di udara.</p>
<p>Terkadang bukan soal harga airnya. Tapi, masak iya pelit amat <em>sih</em>&#8230;&#8230;. Di warung saya harga segelas akua paling mahal <em>gopek</em> (lima ratus rupiah). Seingat saya maskapai bertarif murah di Amerika pun masih sempat membagikan segelas kecil air mineral. Membereskan sampah plastik kosongnya juga mudah. Sementara maskapai burung besi lainnya berlambang benang ruwet (Sriwijaya Air) dan perut semar (Batavia Air) masih berbaik membagi ransum.</p>
<p>Sebagai alternatif barangkali di dalam pesawat bisa disediakan <em>kendi</em> (tempat air dari tanah) seperti orang-orang desa yang suka menyediakan <em>kendi</em> di depan rumah saat musim panen tiba. Sehingga siapa saja yang sedang lewat dan kehausan bebas menggelonggong (minum dengan cara tidak menempelkan <em>cucuk kendi</em> ke mulut), sepuasnya&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Ketika iseng-iseng saya kirim SMS kepada bagian <em>customer care</em> tentang usulan membagi ransum air putih, dijawab : &#8220;pesan anda akan segera kami tindak lanjuti&#8221;. Saya merasa perlu bersiap mafhum bahwa &#8220;ditindaklanjuti&#8221; tidak sama artinya dengan &#8220;dipenuhi&#8221;. Jadi, nampaknya saya harus tetap berpegang pada pesan bijak : berani terbang murah harus berani kehausan.</p>
<p>Yogyakarta, 11 Juli 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengalaman Pertama]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/pengalaman-pertama/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 04:43:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/pengalaman-pertama/</guid>
<description><![CDATA[Selalu ada yang menarik dengan yang namanya pengalaman pertama. Misalnya bekerja dan gaji pertama, m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Selalu ada yang menarik dengan yang namanya pengalaman pertama. Misalnya bekerja dan gaji pertama, mengemudi dengan SIM pertama, mendaki gunung pertama kali, termasuk malam pertama (di tempat baru, misalnya). Begitu juga pengalaman pertama saya naik pesawat Sriwijaya Air yang lagi narik trayek Surabaya &#8211; Semarang, beberapa hari yll.</p>
<p>Ketika maskapai murah-meriah-resah yang lain sudah <em>ogah</em> repot-repot <em>ngurusi</em> konsumsi penumpang pesawat, alias cukup air putih saja, Sriwijaya Air masih berbaik hati membagi konsumsi. Cuma konsumsinya tidak disajikan ketika di atas pesawat, melainkan dibagikan satu-satu ketika penumpang sedang <em>boarding</em> siap menuju ke pesawat.</p>
<p>Sebungkus kue plus akua gelas (apapaun merek air putihnya, sebut saja akua) sudah disiapkan di dalam kantong plastik berkualitas lumayan bagus (setidaknya bukan tas kresek hitam-tipis). Maka ketika tiba waktunya penumpang menaiki tangga pesawat, terlihat serombongan orang-orang yang masing-masing menenteng kantong ransum konsumsi cap Sriwijaya Air. Ada yang tampak santai menentengnya, tapi ada juga yang terlihat kerepotan karena bawaan tas kabinnya sudah cukup banyak.</p>
<p>Rupanya pesawat Boeing 737 seri 200 yang sore itu saya tumpangi, memiliki ukuran tempat bagasi kabin yang tidak terlalu besar. Terpaksa sebagian tas kabin penumpang ada yang harus diminta keikhlasannya untuk dibagasikan alias dipindah ke bagasi di luar kabin. Tentu saja ada yang ikhlas dan ada pula yang tidak.</p>
<p>Seorang <em>bule</em> yang fasih berbahaa Indonesia rupanya keberatan dan bertahan salah satu tasnya yang berukuran agak besar tidak mau dipindah untuk dibagasikan. Setelah adu argumentasi dengan seorang awak kabin yang jamaknya berparas ayu (ya ada juga yang tidak jamak&#8230;), si <em>bule</em> tampak kesal. Lalu tangan kirinya menyampakkan tentengan ransum kantong kue begitu saja sekenanya, sambil tangan kanan mendorongkan salah satu tas kabinnya untuk dibagasikan. Kok ya kebetulan ransum kue itu mengenai dua awak kabin lainnya yang sedang sibuk dengan daftar manifest. Kedua awak itu pun melongo terkejut dengan apa yang barusan menimpanya.</p>
<p>Melihat perilaku si <em>bule</em> yang kurang sopan itu, sempat juga hati ini ikut meradang. Dalam hati saya mendukung kebijakan mbak pramugari yang sepertinya adalah pimpinan awak kabin, mengingat keterbatasan tempat bagasi di dalam kabin. Perihal pindah-memindah barang bawaan kabin penumpang semacam ini sebenarnya sudah lumrah terjadi dan umumnya berlangsung tanpa masalah, nyaris bisa saling memahami.</p>
<p>Namun ketika saya sudah duduk di bangku pesawat, tiba-tiba saya dikejutkan dengan adu argumentasi antara mbak pramugari yang tadi dengan seorang penumpang di depan saya. Pokok soalnya hal yang sama yaitu masalah pembagasian. Saat itu juga saya cabut dan batalkan dukungan saya tadi kepada mbak pramugari, demi melihat cara mbak pramugari berdialog dengan penumpang di depan saya untuk menyelesaikan masalah bagasi-membagasi.</p>
<p>Cara bicara mbak pimpinan awak kabin itu sama sekali tidak mencerminkan seorang yang seharusnya menjaga citra merek dagang maskapai yang sedang diembannya. Bukannya berdialog dengan ramah dan menyejukkan, melainkan malah <em>ngelok-ke</em> (mencela) penumpang di depan saya sambil memamerkan paras ketus dan bersungut-sungut (ekspresi wajah yang sulit saya lukiskan). Kata-kata dan nada suaranya sama sekali tidak seindah dan semesra ketika dia mendesah : &#8220;have a nice flight&#8230;.&#8221;.</p>
<p>Untungnya penumpang yang menjadi korban perilaku tidak simpatik dari mbak pimpinan awak kabin itu tergolong jenis mahluk yang sabar, sehingga tidak memilih untuk membalas dengan cara <em>pethenthengan</em> (marah), melainkan tenang dan santai saja. Padahal saya sendiri dalam hati justru <em>gethem-gethem</em>&#8230;.., berempati turut merasa jengkel.</p>
<p>Saya yakin penumpang itu adalah seorang yang suka menjaga hati ala Aa&#8217; Gym. Ee&#8230;, barangkali saja mbak pramugari yang mengenakan <em>blazer</em> merah hati cerah tadi barusan diputus sama pacarnya. Atau, waktu berangkat kerja tadi sepatunya menginjak <em>tembelek lencung</em> (tahi ayam kental berwarna kuning kecoklatan yang aromanya tidak satu pun parfum Perancis mampu menyamainya). Atau, sakit giginya kambuh lalu kesenggol pintu.</p>
<p>Apapun alasannya, apa yang saya saksikan itu sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang pramugari terhadap penumpangnya. Pengalaman pertama saya naik pesawat berlambang benang ruwet dan berwarna <em>body</em> putih-merah-biru-putih telah memberikan pelajaran berharga tentang artinya pelayanan kepada pelanggan, yang oleh oknum awak Sriwijaya Air berhasil didemonstrasikan dengan sangat mengecewakan.</p>
<p>Entah mata pelajaran tentang pelayanan seperti apa yang pernah diajarkan kepada mbak pimpinan awak kabin itu sehingga tidak bisa membedakan antara pelanggan adalah raja dan pelanggan adalah obyek penderita (meskipun ada juga raja yang menderita&#8230;..).</p>
<p>Semarang, 30 April 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dinaikkan Kelas Oleh Garuda]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/dinaikkan-kelas-oleh-garuda/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 04:39:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/dinaikkan-kelas-oleh-garuda/</guid>
<description><![CDATA[Seperti biasa ketika panggilan boarding dikumandangkan, para penumpang termasuk saya segera berbaris]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Seperti biasa ketika panggilan <em>boarding</em> dikumandangkan, para penumpang termasuk saya segera berbaris antri menuju pintu 2 bandara Adisutjipto, Jogja. Tiba giliran kartu <em>boarding</em> saya diperiksa, saya dipersilakan untuk menyisih dulu. &#8220;Wah, ada masalah apa ini?&#8221;, begitu pikir saya spontan, karena tidak biasanya hal seperti ini terjadi.</p>
<p>Rupanya saya diberitahu bahwa kartu <em>boarding</em> saya diganti, yang tadinya berwarna hijau bertuliskan &#8220;Economy Class&#8221; ditukar dengan yang berwarna ungu bertuliskan &#8220;Executive Class&#8221;. Tanpa basa-basi kalimat pengantar, kecuali sekadar : <em>&#8220;Boarding pass-nya diganti ya, pak&#8221;</em>. Begitu saja kata si embak petugas Garuda..</p>
<p>Jelas saya &#8220;tidak puas&#8221; (maksudnya, kok tidak ada penjelasannya&#8230;). Ketika saya tanya kenapa? Jawabnya singkat : <em>&#8220;Di-upgrade&#8221;</em>. <em>Lha</em> ya sudah tahu kalau di-<em>upgrade</em>.</p>
<p>Biar tidak kelamaan, akhirnya ya saya komentari sendiri saja sekenanya : <em>&#8220;Up grade otomatis ya, mbak&#8221;.</em></p>
<p><em>&#8220;Iya&#8221;</em>, jawab pendek si embak (rupanya bukan hanya senjata, pintu dan kunci yang bisa otomatis, <em>upgrade</em> juga bisa&#8230;).</p>
<p>Ya sudah. Tiba-tiba saja ayunan langkah saya menuju pesawat yang parkirnya agak jauh terasa lebih ringan, cara berjalan saya pun menjadi agak gaya, dan pandangan ke sekeliling pelataran parkir pesawat pagi itu terasa lebih jernih. Itu karena tadi pagi saat matahari belum <em>mecungul</em>, sebelum jam enam pagi, saya sudah mendapat rejeki dinaikkan kelas oleh Garuda.</p>
<p>Sebenarnya memang bukan peristiwa yang luar biasa. Hanya karena sudah lama saya tidak menerima jenis rejeki seperti ini maka menjadi begitu istimewa. Saking istimewanya hingga saya berpikir, bagaimana caranya agar rejeki semacam ini bisa berulang kembali.</p>
<p>***</p>
<p>Sebagai penumpang pesawat kelas eksekutif, tentu saja berhak menerima fasilitas, perlakuan dan pelayanan berbeda dibanding penumpang kelas ekonomi. Tempat duduk lebih longgar dan lebar, sajian pembukanya bukan permen melainkan jus, diberi pinjaman handuk kecil hangat, bekal untuk sarapan plus penyajiannya juga beda, bolak-balik ditanya dan ditawari apa mau ditambah minumnya (tapi makanannya tidak).</p>
<p>Bukan itu yang menjadi pemikiran saya (diperlakukan enak saja masih dipikir, apalagi kalau tidak enak&#8230;), melainkan kenapa tiket saya bisa di-<em>upgrade</em>?</p>
<p>Saya memang anggota <em>Frequent Flyer</em> Garuda, tapi kalau karena itu mestinya banyak juga penumpang lain yang juga jadi <em>member Frequent Flyer</em>. Sementara ketika saya coba mengamati tempat duduk kelas eksekutif, di sana masih ada 6 kursi kosong dari 16 kursi kelas eksekutif yang tersedia. Jangan-jangan diundi? Rasanya tidak mungkin juga. Kurang kerjaan amat&#8230;!</p>
<p>Mestinya bagian pertiketan atau pelaporan penumpang yang tahu jawabannya. Tapi kok jadi saya yang kurang kerjaan kalau mau menanyakan kepada mereka.</p>
<p>Yang ada di pikiran saya sebenarnya adalah kalau saya tahu apa alasannya, maka saya akan tahu apa persyaratannya (conditions). Kalau tahu persyaratannya, maka lain waktu saya akan berusaha memenuhi persyaratan itu. Untuk apa lagi kalau bukan agar dinaikkan kelas lagi oleh Garuda.</p>
<p>Bagaimana menjadikan peristiwa tadi pagi sebagai <em>lesson learn</em>. Jika ada kemenangan kecil (small winning) bisa kita raih untuk mendatangkan keuntungan, maka hanya dengan mengetahui dan memahami kondisinya maka kemenangan-kemenangan kecil berikutnya akan dapat kita kumpulkan sehingga menjadi keuntungan besar.  </p>
<p>He&#8230;he&#8230;he&#8230;,  terima kasih Garuda. Sampeyan tidak salah memilih penumpang untuk diberi rejeki&#8230;. (atau dikasihani?).</p>
<p>Jakarta, 2 April 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Maskapai ”Pokoke Mabur”, Oedan Tenan...]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/maskapai-%e2%80%9dpokoke-mabur%e2%80%9d-oedan-tenan/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 04:34:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/maskapai-%e2%80%9dpokoke-mabur%e2%80%9d-oedan-tenan/</guid>
<description><![CDATA[Pada mulanya saya membaca olokan maskapai &#8220;Pokoke Mabur&#8221; (yang penting terbang) saya taf]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada mulanya saya membaca olokan maskapai &#8220;Pokoke Mabur&#8221; (yang penting terbang) saya tafsirkan hanyalah sekedar gaya bahasa sebagai ekspresi ketidakpuasan dan keprihatinan terhadap perilaku maskapai Adam Air dalam menjalankan bisnisnya. Saya setuju dengan olokan itu karena kedengaran enak di telinga.</p>
<p><em>Ee&#8230; lha kok</em> kenyataan yang sebenarnya malah jauh lebih parah dari sekedar julukan itu.<em> </em>Coba bayangkan, naik pesawat terbang tinggi lebih 9 km di atas permukaan bumi, dengan kondisi pesawat yang asal terbang. Kata Departemen Perhubungan, ada baut-baut dan paku pesawat yang tidak lengkap. &#8220;Ini, kan berbahaya sekali&#8221;, kata Budhi Mulyawan Suyitno, Dirjen Perhubungan Udara (<em>Eee&#8230;alah</em>, Pak De&#8230; Pak De&#8230;., <em>kok</em> baru sekarang Sampeyan <em>ngasih</em> tahu saya, telanjur 3 tahun ini saya <em>midar-mider</em> dengan pesawat &#8220;Pokoke Mabur&#8221;, jangan-jangan pesawat yang menghunjam di laut dekat Sulawesi karena ada bagian yang <em>coplok</em> di udara&#8230;.).</p>
<p>Bukan itu saja, menurut koran &#8220;Kontan&#8221; hari ini, Adam Air ternyata tidak mengoperasikan pesawatnya sesuai aturan. <em>Proficiency check</em> alias kecakapan pilotnya tidak dilakukan oleh instruktur yang sudah ditunjuk, pelatihan sumber daya manusia tidak sesuai program (sesuatu yang tidak ikut aturan, oleh orang Jawa disebut <em>sak geleme dhewe</em>&#8230;). Malah koran &#8220;Kompas&#8221; hari ini juga menyebut bahwa perawatan pesawat udara tidak sesuai <em>company maintenance manual</em>, dan ketidakmampuan teknis memperbaiki kerusakan (jadi kalau ada kerusakan pesawat jangan-jangan malah menjadi semakin rusak, <em>lha wong ora biso ndandani&#8230; </em>tidak bisa memperbaiki&#8230;).      </p>
<p>Maka mulai hari ini ijin terbang (operational specification) maskapai &#8220;Pokoke Mabur&#8221; milik PT. Adam Air Sky Connection itu pun dicabut.</p>
<p>***</p>
<p>Terlepas dari konflik internal dari para pemegang sahamnya, entah itu karena perkara <em>mismanagement</em> atau ketidakpuasan pribadi, yang jelas konsumen pengguna jasa angkutan udara telah menjadi taruhannya selama ini.</p>
<p>Entah itu kebodohan, kekonyolan atau kekejaman, setiap kali pesawat Adam Air mengudara, maka para penumpang dan awaknya ibarat sedang bermain <em>trapeze</em>, sirkus bergelantungan di udara tanpa jaring pengaman. Tinggal tunggu waktu siapa dari pemain sirkus udara itu yang kebagian sial gagal melakukan akrobatiknya dengan mulus dan selamat, meloncat dari satu gantungan ke gantungan lainnya sambil bermanuver di udara. Benar-benar &#8220;pokoke mabur&#8221;, <em>oedan tenan</em>&#8230;&#8230;</p>
<p>Mengingat kembali bagaimana awak kabinnya terlihat asal-asalan memperagakan prosedur dan tatacara dalam keadaan darurat dan juga bagaimana sopir-sopirnya mendaratkan pesawat hingga sering <em>mak jegluk</em>&#8230;., bisa jadi semua itu adalah ekspresi di luar kesadarannya dari sikap <em>ora urus</em>, tidak perduli dan &#8230;., ya &#8220;pokoke mabur&#8221; itu tadi.</p>
<p>Huh&#8230;! <em>Miris</em> rasanya kalau ingat bahwa yang disampaikan oleh Dirjen Perhubungan Udara itu benar adanya. Dan, mestinya ya benar. Masak <em>sih,</em> <em>ngarang-ngarang</em>&#8230;..</p>
<p>Kini pemerintah masih memberi kesempatan Adam Air untuk memperbaiki kinerja buruknya dalam waktu tiga bulan. Maka pertanyaannya adalah, apakah pihak manajemen Adam Air mampu &#8220;menyulap&#8221; semua kegagalan dan ketidakmampuan itu menjadi lebih baik dan sesuai prosedur keselamatan yang benar dalam waktu tiga bulan ke depan? Menurut kalendar di rumah saya, tiga bulan ke depan jatuh pada tanggal 18 Juni 2008 (dengan empat tanggal merah di dalamnya), pas <em>peak season</em> musim liburan sekolah.</p>
<p><em>Have a safe and nice flight&#8230;..!</em></p>
<p>Yogyakarta, 19 Maret 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketika Harus Naik Pesawat ”Pokoke Mabur”]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/ketika-harus-naik-pesawat-%e2%80%9dpokoke-mabur%e2%80%9d/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 04:29:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/ketika-harus-naik-pesawat-%e2%80%9dpokoke-mabur%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[Maunya terbang ke Jakarta dari Jogja naik burung Garuda, namun apa daya terkadang harga tiket yang t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Maunya terbang ke Jakarta dari Jogja naik burung Garuda, namun apa daya terkadang harga tiket yang tersisa melonjak tinggi sekali. Seperti tadi pagi, harga tiket burung besi Garuda hampir empat kali lipat harga tiket murah-meriah-resah-gelisah dari maskapai &#8220;Pokoke Mabur&#8221; yang cuma Rp 229.000,-. Selisih yang hampir 900 ribu rupiah tentu sangat cukup untuk mandi pakai 60 liter minyak goreng yang juga lagi melonjak harganya.</p>
<p>Namanya juga <em>pokoke mabur</em> (yang penting terbang), maka jangan heran kalau awaknya pun <em>pokoke mramugari</em> (pakai huruf depan &#8216;m&#8217;, yang artinya yang penting menjalankan tugas sebagai pramugari).</p>
<p>Baru saja pesawat <em>atret</em> mundur hendak siap-siap menuju landasan, peragaan busana <em>emergency</em> segera dimulai. Seorang pramugari bertugas di bagian tengah kabin dan seorang pramugara di ujung depan kabin. Seorang lagi hanya kedengaran suaranya sebab bertugas membacakan tatacara penggunaan piranti <em>emergency </em>dalam dua bahasa.</p>
<p>Paras cantik tidak menjamin identik dengan cara membaca yang cantik pula alias enak didengarkan. Ya, karena <em>pokoke</em> (yang penting) dibacakan, itu tadi. Soal cara membaca ini, kalau dipikir-pikir (meskipun tidak usah dipikir sebenarnya juga sudah ketahuan) hanya beda sedikit saja dengan cara membacanya keponakan saya yang belum tamat SD.</p>
<p>Asal <em>dilarak</em>&#8230; diseret saja membacanya agar cepat selesai. Tidak jelas mana koma mana titik. Tidak jelas urut-urutannya, seperti kepulauan Indonesia yang sambung-menyambung menjadi satu minus Sipadan dan Ligitan. Termasuk tidak ada jeda mana yang bahasa Indonesia mana yang <em>coro Londo</em>. Pendeknya, buru-buru seperti <em>kebelet </em>mau ke belakang&#8230;..</p>
<p>Akibatnya, antara bacaan naskah dan peragaannya nyaris seperti balapan, dulu-duluan selesai. Jangankan penumpangnya, pramugari yang memeragakan pun sebenarnya bingung mengikuti urut-urutan tatacara yang sedang dibacakan. Ketika penggunaan masker oksigen masih dibacakan dalam bahasa Inggrisnya, tapi sang peraga sudah mengangkat tinggi-tinggi kartu petunjuk keselamatan.</p>
<p>Maka ketika penggunaan kartu petunjuk keselamatan dalam bahasa Inggris belum selesai dibacakan, pramugara yang di depan sudah balik kanan menuju kabin depan dan pramugari yang di tengah langsung kabur duluan ke kabin belakang. Jadi benar, memang sedang <em>kebelet </em>ke belakang&#8230;.. (bagian belakang pesawat maksudnya).</p>
<p>Entah karena telanjur terbiasa begitu atau memang saking tidak menariknya &#8220;acara&#8221; peragaan itu, maka penumpang pun seperti tidak ada yang memerdulikannya. Penumpang nampak asyik dengan jalan pikiran masing-masing. Ibarat sebuah acara pementasan, maka ini adalah pementasan yang gagal.</p>
<p>Belum lama pesawat <em>take-off</em> dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman belum dipadamkan, tiba-tiba penumpang yang duduk tepat di sebelah kiri saya berdiri hendak ke WC. Tentu saja langsung diberi kode oleh pramugari agar duduk kembali. Barulah saya tahu rupanya penumpang di sebelah saya itu sejak awal tadi tidak mengenakan sabuk pengaman dan tidak ketahuan.</p>
<p>***</p>
<p>Malamnya saya kembali ke Jogja naik pesawat &#8220;Pokoke Mabur&#8221; lainnya. Rasanya sudah belasan kali saya ikut penerbangan terakhir ke Jogja dengan pesawat ini dan belum pernah sekali pun <em>mabur</em> (terbang) tepat waktu. Saking seringnya, sehingga kalau &#8220;hanya&#8221; terlambat satu jam sudah tidak perlu <em>dihalo-halo</em> lagi. Semua pihak sepertinya sudah sama-sama maklum. Mestinya sekalian saja secara resmi jadwalnya dimundurkan satu jam. <em>Wong</em> sudah terbukti sering sekali begitu.</p>
<p>Tiba saatnya <em>boarding</em>, rupanya hanya pintu depan pesawat Boeing 737-900ER yang dipasangi tangga, sedangkan pintu belakang tidak digunakan. Karuan saja dua ratusan penumpang <em>tumplek-blek</em> bergerombol di depan tangga menunggu giliran naik satu-persatu. Jarang-jarang saya mengalami kejadian seperti ini.</p>
<p>Ada seorang penumpang yang rupanya cukup kritis menanyakan kepada seorang awak kabin, kenapa pintu belakang tidak dibuka. Lalu dijawab bahwa tidak ada tangganya. Penumpang itu rupanya belum puas dan masih ingin memastikan bahwa tidak dibukanya bukan karena macet.</p>
<p>Pertanyaan yang sangat logis. Sebab masih lebih baik pintu tidak dibuka karena tidak ada tangga (meskipun sebenarnya aneh bin ajaib), daripada tidak dibuka karena pintunya macet atau rusak.</p>
<p>***</p>
<p>Meski pesawat jenis Boeing 737-900ER itu tergolong pesawat baru, tapi ketika roda-rodanya menjejak bumi bandara Adisutjipto, <em>tak urung mak jegluk</em>&#8230;. Menghentak cukup keras sehingga mengagetkan sebagian besar penumpangnya.</p>
<p>Maka, kalau terpaksa menggunakan jasa maskapai &#8220;Pokoke Mabur&#8221;, perlu memperbanyak doa untuk mengendalikan rasa resah-gelisah di atas tiket murah-meriah, agar <em>pokoke tekan nggone</em> (yang penting sampai tujuan dengan selamat). Jangan sampai pesawatnya <em>mabur</em> &#8230;.. tinggi sekali dan tidak kembali lagi&#8230;.. (diucapkan dengan logat Banyumasan).-</p>
<p>Yogyakarta, 5 Maret 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Oops…. Saya Ketumpahan Teh Panas]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/oops%e2%80%a6-saya-ketumpahan-teh-panas/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 04:23:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/oops%e2%80%a6-saya-ketumpahan-teh-panas/</guid>
<description><![CDATA[Saat sedang mengantri untuk boarding di bandara Adisutjipto Yogya, tiba-tiba saya disapa oleh seoran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saat sedang mengantri untuk <em>boarding</em> di bandara Adisutjipto Yogya, tiba-tiba saya disapa oleh seorang teman lama. Karuan saja suasana jadi seru, ngobrol <em>ngalor-ngidul</em> sambil bergerak mengikuti antrian. Saking asyiknya, obrolan masih terus berlanjut sambil jalan memasuki pesawat hingga di dalam pesawat, ketika peragaan busana <em>emergency</em> oleh awak kabin, sampai pesawat <em>take-off</em>, hingga tiba saatnya pembagian makanan dan minuman.</p>
<p>Pembicaraan sepertinya tidak habis-habis, ditambah lagi teman lama saya ini tergolong manusia yang suka cerita-cerita. Rencana semula mau tidur di pesawat pertama yang menuju Jakarta jadi batal.</p>
<p>Sajian teh panas sesuai pesanan pun segera dibagikan oleh pramugari. Saat mbak pramugari menyodorkan segelas, eh&#8230; seplastik, eh&#8230; segelas plastik (gelas kok plastik, pokoknya ya itulah&#8230;&#8230;), tiba-tiba <em>mak grujug</em>&#8230;&#8230;.! Segelas teh panas tumpah di atas pangkuan, membasahi baju, celana dan yang ada di baliknya. <em>Mak nyosss&#8230;., lha wong wedhang</em> (air minum) panas <em>je</em>&#8230;.. Mau bergerak bangkit ya susah. Terpaksa harus agak menahan rasa panasnya.</p>
<p>Mau marah sama siapa? Malah nanti jadi tontonan penumpang lain, mengalahkan lucunya acara &#8220;Just for Laugh&#8221; yang lagi ditayangkan di televisi kecil yang menggantung di tengah kabin pesawat.</p>
<p>Mbak pramugari pun berkali-kali meminta maaf. Juga teman saya yang duduk di sebelah kanan saya di dekat jendela. Karena saya duduk di tengah, maka acara serah-terima segelas teh panas itu terjadi tepat di depan saya. Ya sudah. Kedua pihak saya beri maaf. Inilah akibatnya kalau kelewat asyik ngobrol, sampai kurang konsentrasi sewaktu acara serah-serahan teh panas.</p>
<p>Mbak pramugari mungkin merasa sudah menyerahterimakan segelas teh panas kepada teman saya, sementara teman saya sambil terus ngobrol meski sudah mengulurkan tangannya tapi sebenarnya belum benar-benar menerima segelas teh panas itu. Maka segelas teh panas itu telah berada dalam ketidakseimbangan antara lepas dari tangan lentik mbak pramugari tapi belum diterima oleh tangan kasar teman saya yang buruh tambang. Tinggal saya yang jadi pelanduk tak berkutik di tengah-tengah. Ya <em>ke-sok-an</em> (ketumpahan) teh panas itu tadi jadinya&#8230;.</p>
<p>Dua gepok tisu putih lalu disodorkan oleh mbak pramugari dalam dua kali pemberian, lalu masih ditambah dengan dua gulung handuk kecil putih untuk menyeka air. Tapi ya tetap saja telanjur basah. Apa ya mau buka baju dan celana untuk mengusap bagian tubuh yang basah. Tapi saya menghargai langkah tanggap darurat mbak pramugari, meski itu tidak menyelesaaikan masalah.</p>
<p>Untungnya&#8230;. (sudah jelas-jelas sial kok masih untung), yang tumpah adalah teh tawar panas, dan bukan kopi manis panas. Saya pun tidak sedang mengenakan kemeja putih.</p>
<p>Nampaknya mulai saat ini saya mesti lebih waspada, atau memasang status &#8220;Siaga&#8221; hingga &#8220;Awas&#8221; seperti menyongsong gejolak gunung Merapi, jika tiba acara serah-serahan minuman di dalam pesawat. Siapa tahu penumpang di sebelah saya sedang kurang konsentrasi, atau justru pramugari atau garanya yang tidak konsentrasi.</p>
<p>Sekalipun bisa marah dan berbunyi-bunyi, tapi kalau sudah telanjur basah apalagi plus meninggalkan noda di baju, padahal mau hadir di <em>meeting</em> atau melakukan presentasi. <em>Njuk terus mau ngapain</em>?</p>
<p>Yogyakarta, 1 Maret 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Garuda Mengembalikan Kelebihan Uangku]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/garuda-mengembalikan-kelebihan-uangku/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 04:18:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/garuda-mengembalikan-kelebihan-uangku/</guid>
<description><![CDATA[Kebetulan urusan di Jakarta selesai lebih cepat dari rencana, maka saya langsung menuju bandara Soek]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kebetulan urusan di Jakarta selesai lebih cepat dari rencana, maka saya langsung menuju bandara Soekarno-Hatta untuk kembali ke Jogja. Harapan saya, e-tiket yang sudah dipesan via tilpun untuk penerbangan GA216 tujuan Yogyakarta jam 19:25 WIB, siapa tahu dapat saya majukan jadwalnya ikut penerbangan yang lebih awal.</p>
<p>Tiba di <em>counter</em> Garuda terminal F, saya langsung lapor dengan menyebutkan kode <em>booking</em>. Setelah itu saya tanyakan apakah bisa ikut penerbangan lebih awal. Oleh petugas dijawab bisa, tapi tinggal yang penerbangan GA214 jam 18:30. Sedangkan penerbangan yang lebih awal yaitu GA212 jam 16:30 sudah penuh. Saya setuju untuk diubah ke GA214. Lumayan, lebih awal satu jam. Meski untuk itu dikenakan biaya <em>rebooking</em> sebesar Rp 50.000,-</p>
<p>Sampai di <em>counter check-in</em> di dalam, saya tergoda untuk iseng menanyakan apakah bisa maju ikut penerbangan GA212 jam 16:30. Pasti akan sangat menghemat waktu, dibandingkan kalau mesti menunggu di bandara sampai jam penerbangan terakhir. Oleh petugasnya dijawab sudah penuh, tapi bisa dicoba sebagai cadangan. Saya pun mengiyakan tanda setuju. Maka tiket yang sudah terdaftar untuk penumpang GA214 lalu didaftar sebagai penumpang cadangan GA212.</p>
<p>Tiba waktunya, nama saya dipanggil tanda status cadangan saya lolos untuk ikut terbang bersama GA212. Tapi&#8230;. (ada tapinya), tiket saya harus di-<em>upgrade</em> berubah dari kelas dari B ke M. <em>Embuh</em>, apa artinya&#8230;.., yang saya tahu adalah saya dipersilakan pergi ke kasir dan membayar biaya tambahan. Setelah tanya kasir, ternyata biaya tambahannya Rp 285.000,- Sejenak saya berpikir, diambil atau tidak? Apakah ini biaya tambahan yang layak dibayar untuk memperoleh tempat di GA212?</p>
<p>Pilihannya : tidak diambil berarti tidak perlu menambah biaya dan tetap terbang jam 18:30, atau diambil dengan menambah biaya tetapi bisa tiba di rumah lebih awal sebelum waktu maghrib. Akhirnya saya putuskan untuk diambil dan saya bayar biaya tambahan. Setelah lunas, lalu <em>check-in</em>, kemudian menuju ruang tunggu. Tiba di ruang tunggu untuk lewat saja karena langsung dipersilakan masuk pesawat yang akan segera mengangkasa menuju Yogyakarta.   </p>
<p>Pintu pesawat sudah siap ditutup ketika tiba-tiba ada seorang petugas Garuda perempuan berwajah cukup ayu (<em>lha wong</em> perempuan&#8230;..) tergopoh-gopoh mencari-cari saya. Waduh&#8230;&#8230;! <em>Salah opo aku</em>&#8230;&#8230;. Jangan-jangan ada kekeliruan sehingga saya harus balik kanan batal naik pesawat itu, atau biaya tambahannya kurang? Pasalnya, di depan penumpang lainnya yang sudah &#8220;sit biyuti&#8221; (bahasa Thukul, maksudnya duduk manis) di dalam pesawat menunggu berangkat, mbak petugas Garuda itu menanyakan kertas bersampul biru, bukti pembayaran biaya tambahan tadi.</p>
<p>Setelah saya tunjukkan kertas bersampul warna biru tua berlambang Garuda yang diminta, mbak petugas Garuda mengatakan bahwa kertas birunya diminta lagi karena tadi ada kekeliruan&#8230;. Sampai di sini&#8230;<em>mak deg atiku</em>&#8230;&#8230; Lalu disambung, bahwa tadi ada kelebihan pembayaran, maka tiket birunya diganti dan kelebihan pembayaran dikembalikan. Sampai di sini&#8230; baru <em>mak plong atiku</em>&#8230;&#8230;</p>
<p>Rupanya jumlah biaya tambahan untuk naik kelas sebagai penumpang pesawat GA212, yang seharusnya saya bayar adalah Rp 171.000,- dan bukan Rp 285.000,- (saya benar-benar tidak tahu bagaimana rumus hitungannya). Pokoknya ya saya iyakan saja.</p>
<p>Saya sempat bertanya : &#8220;Kok bisa ketahuan kalau kelebihan, mbak?&#8221;.</p>
<p>Mbak petugas Garuda hanya menjawab cepat : &#8220;Iya, pak&#8221;, sambil tersenyum, sambil memberikan bukti pembayaran pengganti dan kelebihan uangnya (saya maklum, pertanyaan saya pasti susah dijawab cepat, karena saya tidak memberi pilihan jawaban seperti soal test pilihan ganda).</p>
<p>Mbak petugas Garuda segera meninggalkan saya menuju keluar pesawat. Saya pun duduk kembali. Pintu pesawat lalu ditutup dan pesawat segera mundur lalu bersiap terbang. Beberapa saat kemudian, baru iseng-iseng saya hitung uang kelebihannya, dan jumlahnya ternyata Rp 114.000,- pas.</p>
<p>Saya berpikir dalam hati (mestinya kalau berpikir ya dalam otak, tapi kok kedengaran aneh kalau saya katakan &#8220;saya berpikir dalam otak&#8221;). Sudahlah, pokoknya saya cuma <em>mbatin</em>. Pertama (<em>mbatin</em> saja kok ya ada urut-urutannya&#8230;..), kok sempat-sempatnya petugas Garuda memeriksa kembali bahwa saya telah membayar lebih. Kedua, kok sempat-sempatnya menyusul saya ke dalam pesawat yang siap berangkat (padahal jaraknya lumayan jauh dari <em>counter</em> kasir), dengan membawa uang kelebihan yang pas jumlahnya. Ketiga, seandainya kelebihan itu tidak dikembalikan pun sebenarnya saya tidak tahu dan tidak perduli.</p>
<p>Maka untuk kejadian yang simpatik ini, saya menaruh apresiasi setinggi-tingginya kepada Garuda. Untuk hal yang baik ini saya berharap mudah-mudahan bukan karena oknum, melainkan memang perbaikan kinerja. Kalau karena oknum, maka ganti petugas, ya <em>embuh</em>&#8230;&#8230; kejadiannya. Tapi kalau karena perbaikan kinerja&#8230;&#8230;., jayalah burung besi pembawa benderaku Indonesiaku&#8230;..</p>
<p>Saya mengapresiasi, bukan karena Garuda telah mengembalikan kelebihan uangku (Rp 114.000,- mungkin dapat dibelikan 228 potong tempe kedelai goreng tepung, irisan tipis, ukuran 6 cm x 8 cm, cukup dibagikan tetangga se-RT sama anak-anak dan kucingnya), tapi lebih karena perwujudan professionalisme kerja. Terima kasih Garuda!</p>
<p>Yogyakarta, 22 Januari 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seandainya Bisa Memilih]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/seandainya-bisa-memilih/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 04:11:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/seandainya-bisa-memilih/</guid>
<description><![CDATA[Di bawah cuaca hujan kecil-kecil, akhirnya burung besi itu terbang juga meninggalkan Yogyakarta menu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Di bawah cuaca hujan kecil-kecil, akhirnya burung besi itu terbang juga meninggalkan Yogyakarta menuju Balikpapan. Pesawat baru Airbus 319 milik maskapai Mandala Air yang saya tumpangi sore itu memang tampak sekali masih terasa <em>kinyis-kinyis</em> dan bau toko.</p>
<p>Jok tempat duduknya masih terlihat bersih, warna dinding-dindingnya masih cerah dan belum berubah kusam, lumen lampu penerangnya masih terang, interior dalamnya juga terkesan mewah, sistem halo-halonya juga kedengaran empuk dan pas. Juga piranti peraga penyelamatan masih terlihat gres. Raungan deru mesin pesawatnya pun kedengaran halus (tapi ya tetap saja menderu, <em>wong</em> namanya juga pesawat). Singkat kata, nyaman sekali rasanya duduk di dalam pesawat baru itu dan siap terbang bersama Mandala.</p>
<p>Perasaan kurang nyaman yang biasanya selalu menyertai bila terbang dengan pesawat non-Garuda seolah-olah termanipulasi (meskipun naik Garuda juga tidak selalu nyaman). Rasanya Mandala Air pantas berbangga dengan pesawat barunya yang masih seumur jagung (dalam arti yang sebenarnya, yaitu 3,5 bulan). Seiring dengan perubahan di bawah manajemen barunya, dan juga logo barunya yang berbentuk segi delapan (lebih menyerupai delapan kubah masjid) berwarna keemasan di bagian luarnya dan biru di dalamnya, lalu di tengahnya adalah lima bunga berwarna biru muda (bangunan simetri yang dipaksakan sebenarnya, <em>wong</em> luarnya segi delapan kok dalamnya lima&#8230;..). Ya sudah, pokoknya logo baru, karena logo itu perlu.</p>
<p>Tentu hal yang menggembirakan kalau ternyata maskapai lain juga mulai menyadari bahwa memiliki pesawat baru itu sudah sepantasnya menyertai strategi bisnis jasa angkutan udara yang semakin kompetitif dan dibutuhkan, tapi sering diolok-olok tidak semakin aman.</p>
<p>Tiba di bandara Sepinggan, Balikpapan, hari sudah gelap. Saat <em>landing</em> biasanya menjadi detik-detik mendebarkan, karena yang sudah-sudah tidak banyak sopir-sopir pesawat yang piawai mendaratkan pesawatnya dengan halus mulus. Tapi dengan menaiki pesawat baru, perasaan itu seolah terlupakan. Mestinya ya akan mendarat dengan mulus pula.</p>
<p>Ee&#8230;, tapi rupanya prasangka baik saya salah. Tahu-tahu <em>mak jedug</em>&#8230;.., burung besi itu menghentak bumi, <em>ndlosor</em> menginjakkan kakinya di landasan Sepinggan. Kalau ini jelas faktor keahlian sopirnya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan baru atau tidaknya pesawat. Meski hari sudah malam, tapi cuaca di Balikpapan sedang <em>cerah-benderah</em>.</p>
<p>Meskipun demikian, keseluruhan kesan yang saya rasakan terbang dengan pesawat baru memang cukup membawa kenyamanan dan ketenangan. Lebih-lebih pada saat sebelum terbang, sang pilot yang kalau menilik namanya pasti berasal dari Sumatera Utara, mengajak para penumpang untuk berdoa menurut iman dan kepercayaan masng-masing, layaknya Pak RT yang akan memimpin rapat kampung. Ajakan yang Indonesia <em>bangeth</em>&#8230;! (pakai &#8216;h&#8217; di belakangnya), tapi sungguh ajakan yang simpatik.</p>
<p>Seandainya penumpang pesawat dapat memilih sebelum menaiki pesawat seperti halnya memilih bis atau taksi yang bagus atau baru, tentu semua penumpang akan berebut pesawat yang baru. Hanya memilih yang tidak <em>mak jedug</em> saja, yang hanya Tuhan dan sopirnya (sopir pesawat maksudnya) yang tahu&#8230;..</p>
<p>Balikpapan, 7 Januari 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Biarkan Alarm Berbunyi, Penumpang Tetap Berlalu]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/biarkan-alarm-berbunyi-penumpang-tetap-berlalu/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 04:06:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/biarkan-alarm-berbunyi-penumpang-tetap-berlalu/</guid>
<description><![CDATA[Barangkali kini Nano alias Surya Erli Suparjan sedang sedih karena gagal terbang gratis ke Banjarmas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Barangkali kini Nano alias Surya Erli Suparjan sedang sedih karena gagal terbang gratis ke Banjarmasin naik pesawat Lion. Atau muram karena berurusan dengan pihak berwajib (maksudnya pihak yang selalu merasa wajib membela diri dan wajib menyalahkan orang lan), gara-gara penyusupannya ke pesawat Lion dilaporkan oleh sang pramugari. &#8220;Oo&#8230;. kamu ketahuan&#8230;&#8230;&#8221;, senandung mbak pramugari.</p>
<p>Tapi saya membayangkan, mas Nano kini justru sedang tersenyum karena berhasil mengelabuhi petugas bandara dengan memakai baju &#8220;Security&#8221; hingga masuk ke dalam pesawat, bak drama penyusupan di film-film asing (kalau film Indonesia biasanya dramanya agak konyol). Mas Nano pun bersenandung : &#8220;Oo&#8230;. kamu kecolongan&#8230;&#8230;&#8221;.</p>
<p>Mestinya otoritas bandara memberi penghargaan kepada mas Nano karena sukses membuktikan kelemahan sistem keamanan bandara internasional yang dibangga-banggakan negara tetangganya Republik Mimpi.</p>
<p>Kecolongan? Kata ini memberi konotasi bahwa terjadinya baru sekali dan kebetulan ketahuan.</p>
<p>***  </p>
<p>Sabtu sore di bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu. Tiba di pintu keberangkatan, seorang Satpam memeriksa tiket pesawat lalu mempersilakan saya masuk. Segera disongsong oleh mesin pemeriksa barang dan penumpang. Gawangan <em>scanner</em> pun berbunyi &#8220;tit&#8230;tit&#8230;tit&#8230;&#8221; disertai lampu merah kecil nyala berkedip. Biasanya akan langsung disambut oleh petugas Satpam yang menyuruh mengangkat tangan dan menggeledah tubuh penumpang. Tapi kali itu kok sepi. Setelah <em>tolah-toleh</em>, tak seorang Satpam pun muncul untuk menggeledah. Ya, sudah. Saya ambil barang yang sudah melewati pemeriksaan sinar-X, lalu <em>check-in</em>.</p>
<p>Kemudian memasuki ruang tunggu. Untuk kedua kalinya peristiwa <em>sken-menyeken</em> harus dilalui. Melewati gawangan pemindai, alarm pun berbunyi dan lampu merah menyala. Kejadian seperti di depan tadi juga berulang. Juga sepi petugas. Juga sudah <em>tolah-toleh</em>. Juga tak seorang pun Satpam menghampiri. Ya, sudah. Ambil ransel dan laptop, lalu duduk di ruang tunggu sambil menyeruput kopi Bengkulu.</p>
<p>Kemana gerangan para petugas <em>security</em> yang bertanggungjawab terhadap keamanan bandara? Petugas yang ada di bagian depan yang memeriksa karcis pesawat terlihat <em>cuek</em>. Petugas di bagian pemeriksaan barang juga terlihat serius memelototi layar monitor. Tapi petugas yang menggeledah penumpang tidak ada.</p>
<p>***</p>
<p>Tiba di bandara Soekarno-Hatta langsung transit dengan pesawat yang menuju ke Yogyakarta. Memasuki galeri ruang tunggu, kembali harus melewati pemeriksaan barang dan penumpang. Pasti di bandara Soekarno-Hatta lebih ketat, <em>wong</em> ini bandara kelas dunia, pikir saya.</p>
<p>Ransel dan laptop berhasil melewati terowongan pemindai. Giliran pemiliknya melewati gawangan pemindai, alarm berbunyi dan lampu merah menyala. Tapi saya <em>kok</em> dibiarkan saja sama <em>security</em> yang ada di situ. Tidak satu pun dari dua orang <em>security</em> yang berdiri gagah di sana bergairah menyambut saya untuk menggeledah atau memeriksa darimana sumber bunyinya (mungkin benar, penampilan saya kurang menggairahkan karena lusuh pulang dari lapangan), Ya, sudah. Wong saya <em>dicuekin</em> saja, sayapun ambil barang lalu melenggang menuju ruang tunggu.</p>
<p>Lalu dimana fungsi pengamanan bandara? Setidak-tidaknya pada dua pengalaman pada hari yang sama di dua bandara yang masih ada hubungan suami-istri (Fatmawati Soekarno di Bengkulu dan Soekarno-Hatta di Jakarta). Jelas ini bukan kecolongan, melainkan kesengajaan.</p>
<p>&#8220;Ah, menyesal aku tidak membawa bom rakitan dari Bengkulu ke Jogja&#8221;, begitu kira-kira kata oknum teroris seandainya waktu itu ikut terbang bersama saya&#8230;..</p>
<p>Yogyakarta, 7 Desember 2007<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naik Air Asia? Pilih Rebutan Atau Ngalah]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/naik-air-asia-pilih-rebutan-atau-ngalah/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 04:01:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/naik-air-asia-pilih-rebutan-atau-ngalah/</guid>
<description><![CDATA[Terbang menuju Balikpapan dari Jakarta bersamaan arus balik usai lebaran. Tidak banyak pilihan pesaw]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Terbang menuju Balikpapan dari Jakarta bersamaan arus balik usai lebaran. Tidak banyak pilihan pesawat, kecuali kalau sudah <em>booking</em> jauh hari sebelumnya. Maka dapatlah tiket pesawat Air Asia (dulu AWAIR). Maskapai yang diakui bertarip murah dan cukup nyaman, dengan semboyannya &#8220;Now everyone can fly&#8221;. Banyak penghargaan internasional telah berhasil diraih. Salah satunya untuk tahun 2007, maskapai ini juga meraih predikat World Airline Awards &#8211; Best Low Cost Airline in Asia by SkyTrax. Meski Air Asia sudah cukup lama mengangkasa di Indonesia, tapi siang itu adalah pengalaman pertama bagi saya.</p>
<p>Pada karcis <em>boarding</em> tidak tertulis nomor kursi. Ketika saya tanyakan, jawabannya adalah bahwa berlaku rejim tempat duduk bebas (bukan bebas tempat duduk, nanti dikira lesehan). Saya <em>manggut-manggut</em> saja. Ketika tiba di ruang tunggu dan tampak penumpangnya berjubel, langsung terbayang apa yang akan terjadi ketika nanti panggilan <em>boarding</em> dikumandangkan.</p>
<p>Jam keberangkatan tergolong <em>on-time</em>, telat-telat beberapa menit masih okelah&#8230;. Konon, ketepatan waktunya berada pada level 90%-an. Begitu panggilan <em>boarding</em> menggema, spontan semua penumpang berdiri dan <em>mak grudug</em>&#8230;. mendekat ke pintu lorong yang menuju ke pesawat. Tapi ada kebijaksanaan tambahan. Bagi yang membeli karcis <em>Xpress Boarding</em> (akan dipanggil namanya) dipersilakan untuk masuk pesawat duluan. Barulah kemudian para penumpang &#8220;penggembira&#8221; alias peserta antrian umum sisanya berebut menuju pintu lorong.</p>
<p>Fasilitas <em>Xpress Boarding</em> dijual kepada penumpang siapa saja. Untuk penerbangan domestik harganya Rp 25.000,- (dewasa) dan Rp 12.500,- (anak-anak dan usia lanjut). Untuk penerbangan internasional sekitar dua kalinya. Cukup murah. Tapi tampaknya tidak banyak yang memanfaatkan fasilitas ini. Padahal dengan fasilitas ini dijanjikan bisa masuk pesawat duluan yang berarti dapat memilih tempat duduk. Fasilitas ini diberikan gratis hanya kepada mereka yang sudah <em>udzur</em>, usia di atas 65 tahun. Saya bayangkan kalau suatu saat nanti banyak penumpang yang membeli fasilitas <em>Xpress Boarding</em>, akan berebutan juga jadinya.</p>
<p>Serunya justru ketika giliran penumpang &#8220;penggembira&#8221; dipersilakan mulai masuk pesawat. Seperti mau antri beli karcis kereta api mudik atau nonon sepak bola. Para penumpang berebut untuk duluan, agak dorong-dorongan, meski lebih sopan dan tidak separah antrian pembagian zakat. Tapi tetap saja kudu siap agak himpit-himpitan karena didorong antrian yang di belakangnya.</p>
<p>Tidak itu saja. Selepas lorong terminal rupanya pesawatnya parkir agak jauh. Jadi harus naik bis pengantaran penumpang menuju ke pesawat. Penumpang pun pada memilih untuk berdiri di dekat pintu dan rela bergelantungan agar nanti bisa duluan naik tangga pesawat. Sampai-sampai sopir bis dan petugasnya harus berteriak-teriak agar tempat duduk yang telah tersedia berada di bagian depan dan belakang bis supaya diisi terlebih dahulu.</p>
<p>Ketika bis tiba di dekat pesawat dan pintu otomatis terbuka, para &#8220;penggembira&#8221; ini berhamburan menuju tangga pesawat. Barulah setelah sampai di dalam pesawat, <em>longak-longok</em> dan <em>tolah-toleh</em> mencari tempat duduk dan memilih kalau masih ada. Kalau kebetulan berada di urutan belakang saat memasuki pesawat, terpaksa harus menerima tempat duduk mana saja yang masih kosong tersisa.</p>
<p>Karena saya baru pertama kali menggunakan jasa maskapai Air Asia, saya membayangkan apa iya setiap hari kejadiannya seperti itu. Padahal setiap hari ada banyak penerbangan Air Asia. Saya tidak tahu persisnya, apakah mengatur nomor tempat duduk ada kaitannya dengan harga tiket yang murah. Saya tidak paham hubungan-hubungan efisiensi ekonomisnya.</p>
<p>Yang saya tahu bahwa untuk naik pesawat Air Asia diperlukan bekal kesiapan tambahan, yaitu siap rebutan untuk masuk ke pesawat lebih dahulu atau siap (me)<em>ngalah</em> yang penting tetap bisa duduk di dalam pesawat.</p>
<p>Kalau ada pepatah Jawa, &#8220;wong ngalah gede wekasane&#8221; (orang yang mau mengalah akan meraih kebaikan di belakang hari). Mestinya juga ada pepatah &#8220;wong rebutan gede rekasane&#8221; (orang yang mau berebut memerlukan energi ekstra). Bedanya, kalau yang pertama tanpa modal, dan &#8220;imbalan&#8221;-nya entah apa dan kapan. Kalau yang kedua bermodal tenaga dulu baru kemudian dapat hasil sesaat, ya milih tempat duduk itu. Tinggal pilih yang mana, mau rebutan atau <em>ngalah</em>&#8230;..   </p>
<p>Yogyakarta, 31 Oktober 2007.<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pake HP Rame-rame]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/pake-hp-rame-rame/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 03:54:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/pake-hp-rame-rame/</guid>
<description><![CDATA[Tulisan ini terinspirasi oleh posting di beberapa milis tentang bahaya sinyal HP atau telepon gengga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tulisan ini terinspirasi oleh posting di beberapa milis tentang bahaya sinyal HP atau telepon genggam bagi aktifitas penerbangan. Bahkan yang lebih mengerikan, diceriterakan juga tentang beberapa peristiwa kecelakaan angkutan udara yang diduga akibat dari sinyak HP yang mengganggu lalulintas komunikasi dan navigasi pesawat terbang.</p>
<p>Mudah-mudahan para pemilik dan pengguna HP mulai lebih memahami bahaya serius dari gangguan sinyal ini, bukannya <em>nggugu karepe dhewe</em> (semaunya sendiri)&#8230;, <em>wong HP</em>, HP-nya sendiri&#8230;.!</p>
<p>***</p>
<p>Setelah tertunda agak lama, akhirnya sore itu pesawat Mandara Air jurusan Balikpapan &#8211; Yogyakarta sudah melayang-layang di angkasa kota Yogyakarta. Sebentar lagi akan mendarat. Ikat pinggang sudah dikencangkan, sandaran kursi sudah ditegakkan, meja di depan tempat duduk sudah dilipat. Sampai kemudian berkumandang pengumuman dari pramugari bahwa cuaca buruk dan awan tebal masih bergelayut di atas kota Yogyakarta membuat jarak pandang tidak aman bagi pesawat untuk mendarat. Maka penerbangan dialihkan dan dijadwalkan mendarat di bandara Juanda Surabaya 30 menit kemudian.</p>
<p>Semua penumpang diam, <em>manut</em> saja. Tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang protes, tidak ada yang berani bersorak : &#8220;Huuuuuu&#8230;..&#8221;. Agaknya semua mafhum, lebih baik diberi bonus mampir Surabaya ketimbang dipaksakan mendarat dengan mengambil resiko menanggung bayang-bayang ancaman kecelakaan.</p>
<p>Kira-kira tiga puluh menit kemudian, pesawat pun mendarat dengan agak mulus di landasan bandara Juanda. Begitu pesawat berhenti, <em>mandeg greg</em>&#8230;.., spontan terdengar aneka nada suara telepon genggam dinyalakan. Sangking penasarannya saya berdiri, dan menjadi satu-satunya penumpang yang langsung berdiri selain pramugari, lalu saya sempatkan melempar pandangan ke sekeliling penumpang pesawat.</p>
<p><em>Sumprit&#8230;.,</em> hampir semua penumpang asyik dengan telepon genggamnya. Kalau bisa saya kelompokkan, saat itu ada tiga golongan penumpang. Golongan pertama, adalah penumpang yang langsung berteriak : <em>&#8220;Halooo&#8230;..&#8221;</em>, lalu diikuti pembicaraan bahwa pesawatnya mendarat di Surabaya&#8230;.., tiba di Yogya terlambat <em>embuh</em> kapan&#8230;.., tidak usah dijemput saja&#8230;.., nanti dikabari lagi&#8230;.., tunggu ya&#8230;&#8230;, dan kalimat-kalimat pembuka yang semacam itu. Ada yang bicaranya pelan, ada juga yang volumenya seperti bakul pasar sehingga membuat sebagian penumpang lainnya <em>senyam-senyum</em>.</p>
<p>Golongan kedua, adalah penumpang yang <em>nggethuk&#8230;</em> keasyikan memainkan jari-jarinya  di atas tuts sedang menulis SMS. Saya yakin bunyi SMS-nya tidak jauh-jauh dari kata-kata yang saya ceritakan di atas.</p>
<p>Golongan ketiga, adalah penumpang yang duduk tidak perduli, entah karena tidak membawa HP, atau memang tidak merasa perlu melakukan apapaun, atau yang HP-nya kurang ramah sinyal seperti HP saya (sebab waktu membeli HP dulu lupa membeli sinyalnya sekalian&#8230;..).</p>
<p>Inilah kemajuan teknologi. Salah satu keuntungan dari HP adalah sebagai alat komunikasi jika terjadi keadaan yang di luar rencana. Ya, seperti ketika perjalanan Balikpapan &#8211; Yogyakarta sore itu. Maka terjadilah peristiwa <em>pake HP rame-rame</em> seperti potong padi di sawah&#8230;. Belum sempat mesin pesawat mereda gemuruhnya, seisi pesawat sudah riuh dengan <em>hola-halo</em> dan tat-tit-tut&#8230;.. Untung saja tidak nekat ketika pesawat masih di udara.</p>
<p>Untung ada HP, bisa menjadi hiburan di kala (sebenarnya) hati sedang kesal karena akhirnya mesti menunggu pesawat diterbangkan kembali ke Yogyakarta saat hari mulai gelap.</p>
<p>Yogyakarta, 6 Juni 2007<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Uluk Salam]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/uluk-salam/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 03:43:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/uluk-salam/</guid>
<description><![CDATA[Selama ini kalau saya bisa memilih untuk terbang di dalam negeri, maka saya akan menggunakan pesawat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Selama ini kalau saya bisa memilih untuk terbang di dalam negeri, maka saya akan menggunakan pesawat cap Garuda. Menurut pendapat para penerbang (orang yang suka bepergian dengan pesawat terbang), pesawat Garuda kalau <em>landing</em> masih lebih enak dan mulus dibandingkan pesawat lainnya. Sebab (masih katanya) di banyak pengalaman, pesawat cap lainnya kalau <em>landing</em> suka <em>njumbul-njumbul</em> dan tidak terasa mulus. Belum lagi terkadang diberi bonus berhenti di luar lapangan alias terpeleset kebablasan.</p>
<p>Meski saya tahu bahwa ini adalah kesimpulan yang digeneralisir, <em>toh</em> (diam-diam) saya sepakat. <em>Lha iya</em>, mana ada hubungannya antara mendaratnya pesawat dengan perusahaan penerbangannya, apalagi dengan keterampilan pilotnya. Tapi, ya gitu lah&#8230;</p>
<p>Maka ketika saya hendak terbang ke Jakarta dari Yogyakarta pada tanggal 26 Desember 2006 beberapa waktu yang lalu, pertama yang terlintas dalam pikiran adalah pesan tiket dengan penerbangan pertama di pagi hari dengan pesawat Garuda. Tapi begitu tahu harga tiketnya, saya jadi berpikir dua tiga kali. Pasalnya ketika pesan tiket dua hari sebelum tanggal keberangkatan, harga tiket Garuda untuk penerbangan Jogja &#8211; Jakarta pulang pergi adalah Rp 1,25 juta lebih. Sementara harga tiket pesawat Adam Air untuk jurusan dan waktu yang sama hanya Rp 550 ribu lebih sedikit. Wah, kok <em>njeglek</em> sekali bedanya&#8230;.?</p>
<p>Ya jelas, akhirnya saya memilih terbang dengan pesawat Adam Air yang warna <em>body</em>-nya dominan kuning keoranye-oranyean (wah, <em>angel tenan</em>&#8230;..). Mau <em>landing njumbul-njumbul</em> ya biarin sudah! Lha harga yang harus dibayar untuk tiket Garuda bisa saya pakai ke Jakarta dua kali bolak-balik, atau mengajak tetangga saya ke Jakarta naik Adam Air. Bahkan masih sisa. (Tapi kalau ingat kejadian terbaru pesawat Adam Air jurusan Surabaya &#8211; Manado kehilangan kontak dan entah mampir kemana, rasanya jadi bergidik bulu romaku&#8230;..).</p>
<p>Memang terkadang harga tiket pesawat dan penentuan harganya suka membingungkan. Konon tergantung waktu dan tempat yang dipersilakan. Konon lainnya tergantung biro travel dimana kita pesan. Terkadang dengan Garuda bisa diperoleh dengan harga lebih rendah dibanding perusahaan penerbangan lainnya. Tapi kalau lagi apes, malah dapat harga jauh lebih mahal.</p>
<p>***</p>
<p>Ada yang agak berbeda dengan pesawat Adam Air yang saya tumpangi pagi itu. Biasanya sang pramugari berhalo-halo menyambut penumpangnya dengan awalan salam Selamat Pagi, Selamat Siang atau Selamat Malam kepada para penumpang yang terhormat. Ucapan salam semacam ini, atau dalam istilah Jawa suka disebut dengan <em>uluk</em> salam, memang menjadi prosedur wajib bagi setiap perusahaan penerbangan.</p>
<p>Namun pagi itu <em>uluk</em> salamnya berbeda. Bukan Selamat Pagi, melainkan <em>Assalamualaikum</em> dan Salam Sejahtera kepada para penumpang yang terhormat. Rasa-rasanya saya belum pernah mendengar <em>uluk</em> salam seperti ini sepanjang pengalaman saya terbang domestik. Seperti kebiasaan saya, saya mereka-reka&#8230;&#8230;.. Apa memang prosedur <em>uluk</em> salamnya Adam Air sudah ganti? Atau karena kebetulan hari itu berada di antara hari Natal dan hari Idul Adha? Namun yang pasti, saya merasakan nuansa batin yang agak berbeda.</p>
<p>Ketika keesokan malamnya saya masuk ke dalam pesawat guna menempuh perjalanan kembali ke Jogja, juga dengan Adam Air, diam-diam saya menanti-nanti <em>uluk</em> salam seperti apa yang akan disampaikan oleh sang pramugari.</p>
<p>Eh, rupanya si embak pramugari kembali beruluk salam dengan ucapan Selamat Malam dan <em>Good Evening</em>. Jadi rupanya kemarin pagi itu hanya sekedar improvisasi atas inisiatif sang pembaca naskah saja, saya pikir. Ya sudah. Namun setidak-tidaknya kemarin saya telah menemukan suasana batin yang agak berbeda.</p>
<p><em>Good Morning</em> Selamat Pagi.<br />
Pesawat kuning <em>uluk</em> salamnya ganti, tapi hanya sekali&#8230;..  </p>
<p>Yogyakarta, 2 Januari 2007.<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yang Terpaksa Dan Yang Ingin]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/yang-terpaksa-dan-yang-ingin/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 03:35:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/yang-terpaksa-dan-yang-ingin/</guid>
<description><![CDATA[Jam sudah menunjukkan lebih jam sepuluh malam di Yogya, ketika HP milik seorang teman tiba-tiba berd]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jam sudah menunjukkan lebih jam sepuluh malam di Yogya, ketika HP milik seorang teman tiba-tiba berdering memanggil-manggil. Di seberang sana terdengar suara seseorang meminta agar besok bertemu di Jakarta. Karena sisa waktu yang sangat sempit dan mendadak, maka satu-satunya cara untuk mencapai Jakarta dengan cepat adalah pagi-pagi besoknya pergi ke bandara lalu terbang.</p>
<p>Hanya masalahnya, teman yang mau ke Jakarta ini adalah seseorang yang agak-agak mengidap aviophobia (takut terbang). Tentu saja ini adalah situasi yang sangat tidak disukainya, karena berarti dia tidak punya alternatif untuk <em>nyepur</em>.</p>
<p>Semalaman sengaja dia tidak segera berangkat tidur, melainkan justru berusaha mengurangi jam tidurnya. Bagaimana agar sisa waktu tidur malamnya tinggal sesedikit mungkin, sebelum besok paginya naik pesawat ke Jakarta. Hal ini memang disengaja dan bukan karena didera rasa gelisah.</p>
<p>Hasilnya ternyata cukup mujarab untuk menyiasati atau menaklukkan rasa takut terbang. Begitu pantat menempel tempat duduk di dalam pesawat ketika masih di bandara Adisutjipto, tidak lama kemudian teman saya tertidur pulas. Hal yang sama terulang kembali sebelum pesawat mendarat di Cengkareng.</p>
<p>Maka, ketika teman saya ini terpaksa harus naik pesawat terbang juga, dia pun rela kehilangan detik-detik <em>take-off</em> dan <em>landing</em>&#8230;&#8230;</p>
<p>***</p>
<p>Barangkali kita masih ingat ketika dulu pernah punya keinginan : bagaimana ya rasanya naik pesawat terbang?. Akhirnya kesampaian juga. Itupun karena naik pesawat kemudian menjadi bagian dari tuntutan pekerjaan. Terutama bagi mereka yang menjadi orang lapangan (maksudnya, bukan pekerja kantoran), sehingga harus <em>mibar-miber</em> kesana-kemari naik pesawat terbang.</p>
<p>Namun lain halnya kalau yang kepingin merasakan naik pesawat terbang itu adalah para kepala sekolah di sebuah kecamatan di lereng gunung Merbabu, tetangganya gunung Merapi yang mau <em>njeblug</em> itu. <em>Boro-boro</em> tuntutan pekerjaan, menuntut pun belum tentu kesampaian.</p>
<p>Maka beramai-ramailah para kepala sekolah beserta keluargnya urunan untuk melakukan darmawisata ke Jakarta dan Bandung tiga hari dua malam. Jangan dilupakan bahwa selain menjadi kepala sekolah, mereka umumnya adalah juga petani di desanya. <em>Itinerary</em> pun disusun, pokoknya berangkat naik pesawat terbang, pulangnya naik kereta api. Entah selama di Jakarta mau berdarma dan berwisata kemana tidak penting, asal ada acara naik pesawat dan naik kereta api. Pasalnya, dari 47 orang anggota rombongan itu hanya tiga orang.diantaranya yang pernah merasakan naik pesawat terbang dan hanya sepuluh orang diantaranya yang pernah merasakan naik kereta api.</p>
<p>Maka pada Jum&#8217;at pagi <em>umun-umun</em> kemarin berkumpullah serombongan kepala sekolah dan keluarganya turun gunung lalu berduyun-duyun menuju bandara Adisutjipto. Belum jam enam pagi mereka sudah bergerombol di depan terminal keberangkatan. Tidak ketinggalan masing-masing sudah membawa sekotak kardus berisi kue resoles, arem-arem dan <em>klethikan</em> untuk bekal sarapan pagi.</p>
<p>Lalu tiba saatnya sang pimpinan rombongan memberi komando kepada 47 orang berseragam kaos putih untuk memasuki terminal keberangkatan. Tidak lama lagi mereka bakal menikmati bagaimana rasanya naik pesawat terbang&#8230;.. <em>ngueng&#8230;ngueng&#8230;ngueeeeeng</em>&#8230;.., lalu lusa naik kereta api&#8230;.. <em>tut&#8230;tut&#8230;tuuuut</em>&#8230;&#8230;</p>
<p>Sayang, saya tidak berada dalam satu pesawat dengan rombongan itu. Terbayang betapa sang pimpinan rombongan harus pandai mengontrol urat sabarnya melayani anggota rombongannya. Pasti seru bin heboh di dalam kabin sana, atau sebaliknya malah sama sekali sunyi-senyap, tegang&#8230;.. <em>&#8220;Have a nice flight pak dan bu guru&#8230;..!&#8221;.</em></p>
<p>Cengkareng, 13 Mei 2006.<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aviophobia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/aviophobia/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 03:30:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/04/aviophobia/</guid>
<description><![CDATA[Terpaksa kemarin malam saya kembali ke Yogyakarta dari Jakarta dengan menggunakan jasa kereta api. R]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Terpaksa kemarin malam saya kembali ke Yogyakarta dari Jakarta dengan menggunakan jasa kereta api. Rasanya sudah belasan tahun, saya lupa persisnya, tapi pasti lebih sepuluh tahunan saya tidak pernah menggunakan jasa persepuran ini. Terakhir saya naik sepur antara Jogja-Jakarta sewaktu saya hanya mengenal dua jenis sepur, kalau tidak Senja Utama, ya Fajar Utama. Setelah itu, setelah dikenal sepur jenis Argo-argoan, saya belum pernah menaikinya hingga hari Jum&#8217;at yang lalu.</p>
<p>Bagi pelaku pengguna sepur <em>njum&#8217;at-ngahad</em> (Jum&#8217;at-Minggu) yang biasa menempuh perjalanan ulang-alik mingguan Jogja-Jakarta atau Jogja-Surabaya v.v. (vulang-vergi), barangkali pengalaman naik kereta api malam adalah hal yang sangat biasa. Tapi bagi saya malam itu seperti orang <em>ndeso</em> yang baru pertama kali naik kereta api, kelas eksekutif lagi. </p>
<p>Naik kereta api malam itu sebenarnya di luar rencana saya. Sewaktu berangkat kami bertiga, seorang  teman memilih berangkat naik kereta api, seorang lainnya bersama saya naik pesawat. Seorang teman kembali ke Jogja sehari lebih awal, maka tinggal saya dan seorang teman lain kembali ke Jogja menyusul belakangan. Inilah masalahnya, ternyata teman saya ini takut naik pesawat, sehingga kembali ke Jogja lagi dengan menggunakan jasa kereta api. Rasanya kurang lucu, kalau pergi dengan seorang teman seperjalanan <em>kok</em> kembalinya yang satu naik kereta yang lain naik pesawat. Selain itu, kami bisa kehilangan kesempatan untuk mendiskusikan banyak hal setelah melalui padatnya acara di Jakarta, lebih tepat sebenarnya saya sebut padatnya lalulintas kota Jakarta (<em>tobat tenan urip ning Jakarta, biso tuwek ning ndalan &#8230;..</em>).</p>
<h3><em>Ndeso Tenan&#8230;</em></h3>
<p>Jadilah naik kereta Argolawu jurusan Jakarta-Solo, turun di Jogja. Sepertinya asing memasuki <em>statsimun</em> Gambir setelah sekian belas tahun tidak pernah saya masuki. Hal yang membanggakan, sekarang terkesan lebih tertib dan rapi, dibanding sekian tahun yang lalu (entah kalau dibanding bulan lalu). Demikian halnya <em>statsimun</em> Tugu juga sudah banyak berubah dan lebih enak dilihat.</p>
<p>Tapi ada sedikit &#8220;ganjalan&#8221; di  Gambir, saya jadi kesulitan untuk melampiaskan keinginan untuk <em>udut</em>. Dimana-mana dipasang tanda dilarang merokok, lengkap dengan tulisan Perda DKI. Bahkan di peron tempat tunggu kereta pun tempat <em>udut-</em>nya mesti mojok jauh<em>.</em> Tapi sejujurnya, ini &#8220;ganjalan&#8221; yang membuat saya senang dan bangga. Ternyata bisa juga masyarakat diajak patuh untuk menjaga lingkungan udara yang sudah kurang bersih ini. Meski masih terlihat ada orang yang curi-curi menebar asap.</p>
<p>Teman saya membisiki, kalau mau <em>udut</em> nanti saja di dalam kereta. Lho? Ternyata yang dimaksud adalah ketika kereta sudah berjalan, kita bisa keluar gerbong lalu <em>ngudut</em> di bordes, di sambungan gerbong, atau di luar pintu gerbong. <em>Good idea! </em>Setidak-tidaknya tidak mengganggu orang lain. &#8220;Tips&#8221; itupun saya turuti. Puas menghisap dan menebar asap beracun di bordes, saya hendak kembali ke tempat duduk. Eh, <em>lha kok</em> pintu kereta tidak mau dibuka. Digeser sedikit, kembali <em>nutup</em> lagi. Digeser lagi, kembali <em>nutup</em> lagi. <em>Feeling</em> mulai bekerja, pasti ada yang salah. Iseng-iseng saya <em>tunyuk</em> saja tombol <em>nyenil </em>kecil warna hijau. Berhasil, berhasil,  &#8230;&#8230;, pintu gerbong pun membuka dengan sendirinya.</p>
<p>Setelah di dalam gerbong, saya berniat baik menutup lagi pintunya agar penumpang lain yang duduk di dekat pintu tidak <em>kanginan</em>. Digeser kok berat, tidak mau <em>nutup</em>. Digeser lagi, tetap berat tidak juga mau <em>nutup</em>. Akhirnya saya <em>cuekin aja</em>, terbuka ya<em> biarin</em>, pikir saya. Baru beberapa langkah menuju tempat duduk, eee&#8230; malah pintunya <em>nutup</em> sendiri&#8230;.. Tobil anak kadal&#8230;&#8230;! <em>Wah, jan ndeso tenan aku iki&#8230;.. </em>(Semoga saja tidak ada penumpang lain yang sempat memperhatikan tingkah saya).</p>
<p>Sebelum memutuskan untuk naik kereta ke Jogya, teman saya mewanti-wanti. Katanya di dalam gerbong kereta eksekutif biasanya suhu udaranya sangat dingin, makanya biasanya orang-orang sudah persiapan membawa jaket atau baju hangat. Karena sejak semula saya memang tidak merencanakan naik kereta, maka ya tidak persiapan membawa jaket. Teman saya memberi saran, sebaiknya nanti pakai bajunya rangkap-rangkap agar tidak kedinginan, meskipun di kereta akan dipinjami selimut.</p>
<p>Nasihat yang baik saya pikir, saya pun akhirnya mengenakan baju rangkap tiga. Dua kaos plus kemeja, yang sudah kategori baju kotor, pun dikenakan lagi dan difungsikan sebagai baju hangat. Rupanya <em>air condition</em> di gerbong kereta api memang hanya mengenal dua tombol, kalau tidak dingin ya mati. Jadi, pilihannya ya kedinginan atau kepanasan. Ya sudah, wong memang kompromi antara &#8220;air&#8221; dan &#8220;condition&#8221;-nya sudah begitu. Yang jelas baju rangkap tiga yang saya kenakan cukup membantu untuk tidak kedinginan di dalam gerbong selama perjalanan. Terbukti dua-tiga jam setelah kereta meninggalkan Gambir, saya sudah terlelap, tahu-tahu menjelang jam 5 pagi sudah ada yang berteriak : &#8220;Jogja&#8230;.. Jogja&#8230;&#8230;&#8221;  </p>
<h3>Takut Terbang</h3>
<p>Tentang teman yang takut naik pesawat, sehingga memilih naik sepur Jogja-Jakarta v.v. (vulang-vergi). Dulunya katanya tidak begitu. <em>Midar-mider</em> naik pesawat biasa saja, sampai suatu ketika sedang tugas ke lapangan naik <em>chopper</em>, rupanya <em>chopper</em>-nya muntir-muntir mau jatuh tidak jadi. Sejak itulah teman saya ini trauma naik pesawat. Orang yang takut naik pesawat seperti ini biasa disebut orang itu menderita <em>flight phobia</em>. Ada juga yang menyebutnya<em> aviophobia,</em> <em>aviatophobia </em>atau<em> aerophobia</em>. Maksud kesemua istilah itu sama, yaitu takut terbang atau takut naik pesawat.</p>
<p>Trauma semacam ini, takut terbang, diam-diam banyak juga sebenarnya orang yang mengalaminya. Penyebabnya bisa macam-macam, salah satunya ya seperti pengalaman teman saya itu tadi. Menurut catatan di Amerika, satu dari delapan orang memilih bepergian menggunakan sarana angkutan darat dan menghindari bepergian dengan angkutan udara. Untuk beberapa alasan, ternyata di antara penyebab dasarnya adalah takut naik pesawat atau menderita trauma <em>flight phobia</em> atau <em>aviophobia</em> itu. Untungnya, bepergian menggunakan angkutan darat atau melakukan perjalanan (traveling) lewat darat di Amerika adalah sesuatu yang sangat  mudah dan menyenangkan. Mau pakai jalintim-teng-bar-ut-sel (jalan lintas timur-tengah-barat-utara-selatan), tidak perlu khawatir ngantri semalaman untuk melewati jalan yang menyungai. <em>Lha</em> kalau kita mau <em>ngotot</em> menghindari naik pesawat, apalagi ke luar Jawa, sebaiknya dipertimbangkan masak-masak.</p>
<p>Lebih dari sekedar masalah kesehatan atau keselamatan, ketakutan semacam ini merupakan perilaku &#8220;aneh&#8221; yang menyebabkan seseorang bisa dengan tiba-tiba saja terserang panik yang luar biasa saat naik pesawat terbang. Jangan kaget kalau saat Anda naik pesawat tiba-tiba Anda dipeluk erat-erat oleh penumpang di sebelah Anda yang kebetulan mengidap trauma <em>aviophobia</em>. Mendingan kalau dia seorang wanita yang sejak semula membuat Anda <em>klisikan</em>, <em>lha</em> kalau seorang nenek <em>ngemut</em> susur? Itulah sebabnya mereka yang menderita trauma <em>flight phobia</em> atau <em>aviophobia</em> daripada tiba-tiba merasa panik yang tak biasa, mendingan menghindari naik pesawat.</p>
<p>Ketika teman saya yang naga-naganya menderita <em>flight phobia</em> itu hendak merencanakan perjalanan pergi ke suatu pulau yang berarti harus menyeberang lautan, sementara dia merasa <em>deg-deg pyur</em> tidak karuan sejak tiga hari tiga malam sebelum berangkat kalau mesti naik pesawat, maka harus ada jalan keluarnya. Seorang teman lain memberi &#8220;nasehat&#8221; alternatif : naik kendaraan darat kemudian disambung naik kapal, atau&#8230;&#8230;. nyeberang lautan naik <em>genthong</em> saja&#8230;&#8230;.    </p>
<p>Yogyakarta &#8211; 18 Maret 2006<br />
Yusuf Iskandar  </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
