<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>shaum &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/shaum/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "shaum"</description>
	<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 12:52:08 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Puasa (Shaum) Arafah yuu,,]]></title>
<link>http://paibiopai.wordpress.com/2009/11/25/puasa-shaum-arafah-yuu/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 01:40:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>paibiopai</dc:creator>
<guid>http://paibiopai.wordpress.com/2009/11/25/puasa-shaum-arafah-yuu/</guid>
<description><![CDATA[Shaum merupakan ibadah mahdhah, artinya pelaksanannya harus merujuk pada contoh Rasulullah saw. kare]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Shaum merupakan ibadah mahdhah, artinya pelaksanannya harus merujuk pada contoh Rasulullah saw. kare]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tarikh Tasyri' (sejarah penetapan syariat) Shaum Ramadhan]]></title>
<link>http://boedaxbandung88.wordpress.com/2009/11/23/tarikh-tasyri-sejarah-penetapan-syariat-shaum-ramadhan/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 08:12:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>boedaxbandung88</dc:creator>
<guid>http://boedaxbandung88.wordpress.com/2009/11/23/tarikh-tasyri-sejarah-penetapan-syariat-shaum-ramadhan/</guid>
<description><![CDATA[TARIKH TASYRI&#8217;  (SEJARAH PENETAPAN SYARIAT) SHAUM RAMADHAN Selama 13 tahun hidup di Mekah sebe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>TARIKH TASYRI&#8217;  (SEJARAH PENETAPAN SYARIAT) SHAUM RAMADHAN</p>
<p style="text-align:justify;">Selama 13 tahun hidup di Mekah sebelum hijrah, yakni sejak tahun 1 dari masa kenabian, Nabi Muhamad telah 13 kali mengalami Ramadhan, yaitu di mulai dari Ramadhan tahun ke-1 dari masa kenabian yang bertepatan dengan bulan Agustus tahun 611 M hingga tahun ke-13 yang bertepatan dengan bulan April tahun 622 M, namun selama waktu itu belum disyariatkan ibadah shaum pada bulan Ramadhan, yang telah disyariatkan adalah</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">shaum 3 hari setiap bulan, yang kemudian dikenal dengan sebutan ayyamul bidh, yakni tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan pada kalender Hijriyah.</li>
<li style="text-align:justify;">Shaum setiap tanggal 10 Muharram, yang kemudian dikenal dengan sebutan asyura.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kedua shaum inilah yang senantiasa dilaksanakan oleh Rasul selama 13 tahun di Mekah. Bahkan ibadah shaum ini telah disyariatkan pula kepada para Nabi dan umat sebelum Muhamad.<br />
<!--more--><br />
Setelah Nabi mendapat perintah untuk hijrah, Nabi kemudian berangkat menuju Madinah, “Sebelum sampai di Madinah (waktu itu bernama Yatsrib), Rasulullah saw. singgah di Quba pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 13 kenabian/24 September 622 M  waktu Dhuha (sekitar jam 8.00 atau 9.00). Di tempat ini, beliau tinggal di keluarga Amr bin Auf selama empat hari (hingga hari Kamis 15 Rabi’ul Awwal/27 September 622 M. dan membangun mesjid pertama (yang disebut mesjid Quba). Pada hari Jumat 16 Rabi’ul Awwal/28 September 622 M, beliau berangkat menuju Madinah. Di tengah perjalanan, ketika beliau berada di Bathni wadin (lembah di sekitar Madinah) milik keluarga Banu Salim bin ‘Auf, datang kewajiban Jumat (dengan turunnya ayat 9 surat al-Jum’ah). Maka Nabi salat Jumat bersama mereka dan khutbah di tempat itu. Inilah salat Jumat yang pertama di dalam sejarah Islam. Setelah melaksanakan salat Jumat, Nabi melanjutkan perjalanan menuju Madinah”. (Lihat,Tarikh at-Thabari, I:571; Sirah Ibnu Hisyam, juz III, hal. 22; Tafsir al-Qurthubi, juz XVIII, hal. 98).<br />
Keterangan ini menunjukkan bahwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, bukan bulan Muharram. Antara permulaan hijrah Nabi dan bulan Muharam ketika itu terdapat jarak atau sudah terlewat sekitar 82 hari, karena awal Muharram ketika itu jatuh pada tanggal 15 Juli 622 M.<br />
Ketika tahun I Nabi di Madinah, beliau masih menjalan syariat Shaum sebelumnya, yakni ayyamul bidh dan asyura, bahkan hingga bulan Sya’ban tahun ke-2 hijrah yang waktu itu bertepatan dengan bulan Pebruari 624 M. Jadi, sekitar 17 bulan sejak di Madinah, yaitu sejak Rabi’ul Awal hingga Sya’ban tahun ke-2 Nabi masih menjalankan ibadah shaum selain Ramadhan. Kemudian di akhir bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriah, setelah selesai salat ashar berjama’ah, Nabi berkhutbah di hadapan para sahabat</p>
<h3 style="text-align:right;">أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ شَهْرٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا</h3>
<p style="text-align:justify;">Hai manusia! Telah menaungi kamu bulan yang agung, bulan yang penuh dengan berkah, bulan yang padanya ada satu malam lebih baik dari seribu bulan. Allah tetapkan shaum padanya sebagai satu kewajiban, dan salat pada malamnya sebagai tathawu (sunnat). H.r. Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi, dan Al-Haitsami<br />
Dalam riwayat Ahmad dengan redaksi</p>
<h3 style="text-align:right;">قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ – أحمد –</h3>
<p style="text-align:justify;">Nabi bersabda demikian, karena pada bulan Sya’ban tahun ke-2 itu Allah menurunkan ayat</p>
<h3 style="text-align:right;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ</h3>
<p style="text-align:justify;">Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu shaum, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Beberapa hari yang ditentukan, maka siapa yang sakit atau berpergian di antara kamu, maka hendaklah ia menghitung (qadla) pada hari-hari lainnya dan atas orang yang merasa payah boleh membayar fidyah dengan memberi  makanan pada orang yang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari, maka itulah yang lebih baik baginya.Q.s. al-Baqarah : 183-184<br />
Dalam penurunan ayat ini sebagai pedoman kewajiban shaum Ramadhan ada tiga hal yang harus dicermati<br />
a. aspek historis/sejarah nuzul ayat ini<br />
Ayat ini turun pada hari Kamis tanggal 28 Sya’ban tahun ke-2 H yang bertepatan dengan tanggal 23 Pebruari 624 M” Bila kita hitung sejak saat itu hingga akhir hayat Nabi tinggal di madinah, berarti beliau sempat melaksanakan ibadah shaum sebanyak sembilan kali sebelum beliau wafat pada Senin/Sabtu 12 Rabi’ al-Awwal 11 H/6 Juni 632 M (Lihat, Tabel)<br />
Shaum pertama berawal pada hari Ahad, 26 Februari 624, dan Idul Fithrinya jatuh pada hari Senin, 26 Maret 624. Berarti lama shaum 29 hari.<br />
Menurut atsar Ibnu Mas’ud dan Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah saw. semasa hidupnya lebih banyak shaum Ramadhan 29 hari daripada 30 hari. Shaum Ramadhan pada zaman Rasulullah ini menarik perhatian astronom muslim untuk dibuktikan dengan hisab astronomi.<br />
Dr. T. Djamaluddin, peneliti bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, Lapan, Bandung, telah menghisab posisi hilal awal Ramadhan dan Syawwal semasa Rasulullah hidup dari tahun ke-2 &#8211; 10 H. Analisis astronomi memang menunjukkkan selama sembilan tahun itu enam kali Ramadhan panjangnya 29 hari, hanya tiga kali yang 30 hari (lihat tabel)<br />
Dari analisis astronomi diketahui bahwa pada zaman Nabi, shaum dilakukan pada musim semi dan musim dingin dengan waktu shaum mulai sekitar pukul 04:30 sampai sekitar 16:40 pada musim dingin.<br />
Salah satu Idul Fithri pada zaman Nabi terjadi pada hari Jum’at, yaitu 1 Syawwal 3 H yang bertepatan dengan 15 Maret 625. Inilah satu-satunya Idul Fithri yang jatuh pada hari Jum’at semasa Rasulullah hidup. Mungkin inilah kejadian yang berkaitan dengan hadis yang membolehkan meninggalkan shalat Jum’at bila pagi harinya telah mengikuti salat hari raya. Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari ini (Jum’at) telah berkumpul dua hari raya, maka siapa yang mau, (salat hari rayanya) telah mencukupi salat Jum’atnya, tetapi kami tetap akan melakukan salat Jum’at”.H.r. Abu Daud Abu Hurairah<br />
Implikasi hukum dengan turunnya ayat in<br />
Sebelum shaum Ramadan diwajibkan, yang wajib dilaksanakan adalah shaum Asyura dan shaum tiga hari setiap bulan, yaitu setiap tanggal 13,14, dan 15 yang disebut ayyamul bidl. Maka dengan turun ayat ini jadilah shaum wajib itu hanya pada bulan Ramadan, sedangkan kedua shaum tersebut hukumnya menjadi sunat.</p>
<p style="text-align:justify;">c. Proses penetapan hukum shaum ramadhan<br />
Kewajiban shaum Ramadhan ditetapkan melalui dua tahap;<br />
Tahap pertama dengan turunnya surat al-Baqarah : 183-184.</p>
<h3 style="text-align:right;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ</h3>
<p style="text-align:justify;">Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu shaum, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Beberapa hari yang ditentukan, maka siapa yang sakit atau berpergian di antara kamu, maka hendaklah ia menghitung (qadla) pada hari-hari lainnya dan atas orang yang merasa payah boleh membayar fidyah dengan memberi  makanan pada orang yang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari, maka itulah yang lebih baik baginya.Q.s. al-Baqarah : 183-184<br />
Pada tahap ini kewajiban shaum Ramadhan masih berbentuk takhyir atau pilihan alternatif, yakni antara shaum dan fidyah<br />
Tahap kedua, lalu Allah menurunkan ayat selanjutnya (185)</p>
<h3 style="text-align:right;">شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمْ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمْ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</h3>
<p style="text-align:justify;">(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.<br />
Pada tahap ini kewajiban shaum Ramadhan sudah tidak berbentuk takhyir atau pilihan alternatif, tetapi sudah berbentuk ta’yin (pilihan satu-satunya) kecuali bagi mereka yang dibolehkan secara syar’i, mereka terkena kewajiban qadha atau fidyah<br />
Setelah ayat ini turun timbul pemahaman yang keliru pada myoritas sahabat dalam masalah ketentuan pelaksanaan shaum, yaitu para shahabat Nabi SAW menganggap bahwa makan, minum dan menggauli istrinya pada malam hari bulan Ramadhan, hanya boleh dilakukan selama mereka belum tidur. Di antara mereka Qais bin Shirmah dan Umar bin Khaththab. Qais bin Shirmah (dari golongan Anshar) merasa kepayahan setelah bekerja pada siang harinya. Karenanya setelah shalat Isya, ia tertidur, sehingga tidak makan dan minum hingga pagi. Adapun Umar bin Khaththab menggauli istrinya setelah tertidur pada malam hari bulan Ramadhan. Keesokan harinya ia menghadap kepada Nabi SAW untuk menerangkan hal itu. Maka turunlah ayat</p>
<h3 style="text-align:right;">أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنْ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</h3>
<p style="text-align:justify;">Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma&#8217;af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri&#8217;tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa” (Q.s. Al Baqarah: 187). Dengan turunnya ayat tersebut gembiralah kaum Muslimin” H.r. Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim, yang bersumber dari Mu&#8217;adz bin Jabal.<br />
Dari data sejarah ini ada hal yang patut kita jadikan ibrah (pelajaran) guna mempertebal keyakinan kita bahwa Alquran itu adalah salah satu bukti benarnya kekuasaan Allah, bagaimana tidak kita yang sudah 14 abad hidup setelah Rasul, masih mengakui aturan Allah dalam Quran di antaranya shaum Ramadhan. Dengan demikian, aturan Allah itu bersifat kekal abadi tidak mengalami revisi atau ada masa kadaluwarsa, sehingga tidak dipergunakan lagi, hal ini tentu saja akan berbeda dengan aturan yang dibuat oleh manusia.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ibnu Muchtar<br />
bani.muchtar@yahoo.co.id<!--more--></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Landasan Syar'i keutamaan Shaum]]></title>
<link>http://dewiumahkayu.wordpress.com/2009/11/20/landasan-syari-keutamaan-shaum/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 19:27:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewiumahkayu</dc:creator>
<guid>http://dewiumahkayu.wordpress.com/2009/11/20/landasan-syari-keutamaan-shaum/</guid>
<description><![CDATA[Shaum adalah bentuk ketaatan pada Sang Khalik untuk mencapai derajat taqwa. Tanpa shaum tidak mungki]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Shaum adalah bentuk ketaatan pada Sang Khalik untuk mencapai derajat taqwa. Tanpa shaum tidak mungki]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sesungguhnya shaum itu untuk-Ku]]></title>
<link>http://dewiumahkayu.wordpress.com/2009/11/20/sesungguhnya-shaum-itu-untuk-ku/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 19:20:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewiumahkayu</dc:creator>
<guid>http://dewiumahkayu.wordpress.com/2009/11/20/sesungguhnya-shaum-itu-untuk-ku/</guid>
<description><![CDATA[Ibadah shaum, bukan ketentuan untuk satu golongan atau risalah kerasulan. Sejak zaman para Anbiya se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ibadah shaum, bukan ketentuan untuk satu golongan atau risalah kerasulan. Sejak zaman para Anbiya se]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mendapatkan Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah]]></title>
<link>http://hikmah32.wordpress.com/2009/11/18/mendapatkan-keutamaan-10-hari-pertama-bulan-dzulhijjah/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 10:54:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>hikmah32</dc:creator>
<guid>http://hikmah32.wordpress.com/2009/11/18/mendapatkan-keutamaan-10-hari-pertama-bulan-dzulhijjah/</guid>
<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang Maha Kasih dan Maha Sayang kepada hamba-hambaNya yang beriman.  Sebagian]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Segala puji bagi Allah yang Maha Kasih dan Maha Sayang kepada hamba-hambaNya yang beriman.  Sebagian dari karunia Allah dan anugerah-Nya adalah Dia menjadikan untuk hamba-hamba-Nya yang shalih waktu-waktu tertentu dimana hamba-hamba-Nya tersebut dapat memperbanyak amal shalihnya. Diantara waktu-waktu tertentu itu adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzulhijjah. Hal ini berkenaan dengan firman Allah Ta’ala:</p>
<p><a title="pic1.jpg" href="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/07/pic1.jpg"><img src="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/07/pic1.jpg" alt="pic1.jpg" /></a></p>
<p>”<em>Demi Fajar, dan malam yang sepuluh.” (Al Hajr: 1-2)</em></p>
<p>Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ala telah bersumpah dengan “sepuluh hari” pertama dari bulan Dzulhijjah ini. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ibnu Jarir ath Thabari dan Ibnu Katsir rahimakumullah dalam kitab tafsir mereka.</p>
<p>Hari-hari sepuluh pertama bulan Dzulhijjah ini memiliki beberapa keutamaan dan keberkahan, dan penjelasannya sebagai berikut:</p>
<p><strong>1.</strong> <strong>Beramal shalih pada sepuluh hari ini memiliki keutamaan yang lebih dibanding dengan hari-hari lainnya.</strong></p>
<p>Imam Al Bukhari telah meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, bahwa beliau bersabda:</p>
<p>“<em>Tidaklah ada amal yang lebih utama daripada amal-amal yang dikerjakan pada sepuluh hari Dzulhijjah ini.” Lalu para sahabat bertanya, “Tidak juga Jihad?” Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab,”Tidak juga Jihad, kecuali seseorang yang keluar (untuk berjihad) sambil mempertaruhkan diri (jiwa) dan hartanya,lalu kembali tanpa membawa sesuatupun.” </em>(HR. Bukhari).</p>
<p>Dari Said bin Jubair rahimahullah, dan dia yang meriwayatkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma yang lalu, <em>“Jika kamu masuk ke dalam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka bersungguh-sungguhlah sampai hampir saja ia tidak mampu menguasainya (melaksanakannya).”</em> (HR. Ad Darimi, hadits hasan)</p>
<p>Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Baari: “<em>Sebab yang jelas tentang keistimewaan sepuluh hari di bulan Dzulhijjah adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji. Dan itu tidak ada di hari-hari selainnya.” </em></p>
<p><strong>2.</strong> <strong>Keutamaan yang lebih khusus pada hari kesembilan sebagai hari ‘Arafah.</strong></p>
<p>Pada hari kesembilan, para jama’ah Haji melaksanakan wukuf di ‘Arafah, dan wukuf ini merupakan rukun utama dari ibadah Haji. Oleh karenanya, hari itu menjadi hari yang memiliki keutamaan yang agung dan keberkahan yang melimpah. Diantara keutamaannya, bahwa sesungguhnya Allah menggugurkan dosa-dosa (dosa kecil) selama dua tahun bagi orang yang berpuasa pada hari ‘Arafah.</p>
<p>Dari Abu Qatadah al Anshari radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Arafah, maka beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, <strong><em>“</em></strong><em>(Puasa pada hari itu) mengugurkan dosa-dosa setahun yang lalu dan dosa-dosa setahun berikutnya.” </em>(HR.Muslim)</p>
<p>Disunnahkan pula untuk berpuasa ‘Arafah bagi mereka yang tidak berhaji (yang berada di luar ‘Arafah). Sebagaimana petunjuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, adalah beliau berbuka (tidak berpuasa) ketika berada di ‘Arafah pada hari ‘Arafah (sedang ber haji). <em>(lihat shaih Bukhari kitab al Hajj dan shahih Muslim kitab ash Shiyaam)</em></p>
<p>Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, “Berbukanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pada hari ‘Arafah itu mengandung beberapa hikmah, diantaranya memperkuat do’a di ‘Arafah, bahwa berbuka dai puasa yang wajib saja di saat perjalanan safar lebih utama , maka apa lagi dengan puasa yang hanya hukumnya sunnah…” Ibnul Qoyyim melanjutkan, “Guru kami, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengambil jalan yang berbeda dengan orang lain, yaitu bahwa hari ‘Arafah merupakan hari raya bagi mereka yang sedang berwukuf di ‘Arafah dikarenakan pertemuan mereka di sana, seperti pertemuan mereka di hari raya (yaumul ‘Ied), dan pertemuan ini hanya khusus bagi mereka yang berada di ‘Arafah saja, tidak bagi yang selain mereka…” <em>(Zaadul Ma’aad)</em></p>
<p>Dan di antara keberkahan hari ‘Arafah berikutnya, pada hari itu banyak orang yang dibebaskan oleh Allah Ta’ala, dia mendekat ke langit dunia dan membangga-banggakan para jama’ah Haji di hadapan para Malaikat. Dari ‘Aisyah radhiallahu anha, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p>“<em>Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari adzab neraka daripada hari ‘Arafah. Sesungguhnya Dia (pada hari itu) mendekat, kemudian menbangga-banggakan mereka (para jama’ah haji) dihadapan para malaikat.” Lalu Dia bertanya,”Apa yang diinginkan oleh para jama’ah haji itu?” </em>(HR. Muslim)</p>
<p>Dan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “<em>Pada hari ‘Arafah sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, lalu membangga-banggakan mereka (para jama’ah haji) di hadapan para malaikat, maka Allah berfirman,’Perhatikan hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut berdebu dan tersengat teriknya matahari, datang dari segala penjuru yang jauh. Aku bersaksi kepada kalian (para malaikat) bahwa Aku telah mengampuni mereka.’” </em>(HR.Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al Laalikai, dan Imam al Baghawi, hadits shahih)</p>
<p><strong>3.<strong> </strong></strong><strong>Keutamaan hari ke sepuluh bulan Dzulhijjah, yaitu ‘Iedul Adh-ha yang disebut juga yaumul Nahr.</strong></p>
<p>Dalil yang menunjukkan keutamaan dan keagungan hari ‘Iedul Adh-ha adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Qurth radhiallahu anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda:</p>
<p>“<em>Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘Iedul Adh-ha (yaumul Nahr) kemudian sehari setelahnya…” </em>(HR. Abu Dawud)</p>
<p>Dan hari yang agung ini dinamakan juga sebagai hari Haji Akbar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p><a title="pic2.jpg" href="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/07/pic2.jpg"><img src="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/07/pic2.jpg" alt="pic2.jpg" /></a></p>
<p>“<em>Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar.” </em>(At Taubah: 3)</p>
<p>Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga menyebut hari agung ini dengan sebutan yang sama. Karena sebagian besar amalan-amalan manasik Haji dilakukan pada hari ini, seperti menyembelih kurban, memotong rambut, melontar jumrah dan Thawaf mengelilingi Ka’bah. <em>(Zaadul Ma’aad).</em> Pada hari yang penuh berkah ini, kaum muslimin berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Ied dan mendengarkan khutbah hingga para wanita pun disyari’atkan agar keluar rumah untuk kepentingan ini. Sebagaimana dalam ash Shahihain, bahwa Ummu ‘Athiyyah Nusaibah binti al Harits berkata:</p>
<p>“<em>Kami para wanita diperintahkan untuk keluar pada hari ‘Ied hingga hingga kami mengeluarkan gadis dalam pingitan. Juga mengajak keluar wanita-wanita yang sedang haidh, berada di belakang orang-orang. Mereka bertakbir dengan takbirnya dan mereka berdo’a dengan do’anya. Mengharapkan keberkahan dan kesucian dari hari yang agung ini.”<strong> </strong></em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Al Hafidz Ibnu Hajar berkomentar tentang maksud dari kehadiran para wanita tersebut di hari agung ini, sehingga para wanita berhalangan tidak luput dari perintah keluar untuk menghadirinya: “Maksud dari kehadiran mereka adalah menampakkan syi’ar Islam dengan memaksimalkan berkumpulnya kaum muslimin agar barakah hari yang mulia ini dapat meliputi mereka semua.” <em>(Fathul Baari)</em></p>
<p>Pada hari ini dan setelahnya, yaitu pada hari-hari tasyriq, kaum muslimin bertaqarrub kepada Allah Ta’ala melalui penyembelihan hewan kurban. Dan menyembelih hewan kurban merupakan sebuah syi’ar yang agung dari syi’ar Islam.</p>
<p>Namun apakah sepuluh hari Dzulhijjah ini lebih mulia dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjawab persoalan ini dengan jawaban yang tuntas, dimana beliau menyatakan, “Sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama daripada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Dan sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam bulan Dzulhijjah.” (<em>Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah)</em></p>
<p>Muridnya Ibnul Qoyyim rahimahullah juga menyatakan,” Ini menunjukkan bahwa sepuluh malan terakhir dari bulan Ramadhan menjadi lebih utama karena adanya laitatul Qadr, dan lailatul Qadr ini merupakan bagian dari waktu-waktu malamnya. sedangkan sepuluh hari Dzulhijjah mejadi lebih utama karena hari-harinya (siangnya), karena didalamnya terdapat yaumun Nahr (hari berkurban), hari ‘Arafah dan hari Tarwiyah (hari ke delapan Dzulhijjah). <em>(Zadul Maa’ad)</em></p>
<p><strong>MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARI’ATKAN</strong></p>
<p><strong>1.</strong> <strong>Shalat</strong></p>
<p>Disunnahkan untuk bersegera dalam melaksanakan hal-hal yang wajib dan memperbanyak amalan-amalan sunnah, karena itu adalah sebaik-baik cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Telah diriwayatkan dari Tsauban radhiallahu anhu, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p>“<em>Hendaklah kamu memperbanyak sujud untuk Allah. Karena kamu tidak bersujud kepada Allah sebanyak satu kali sujud kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan Allah akan menghapuskan darimu satu kesalahan.” </em>(HR. Muslim)</p>
<p>Ketetapan ini berlaku umum, untuk segala waktu.</p>
<p><strong>2. Melaksanakan Haji dan ‘Umrah</strong></p>
<p>Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, salah satunya adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:</p>
<p>“<em>Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yg dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga.” </em>(HR. Muslim)</p>
<p><strong>3. Berpuasa Pada Hari-Hari Tersebut, Terutama Pada Hari ‘Arafah</strong></p>
<p>Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadits qudsi, artinya:</p>
<p>“<em>Puasa itu adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.”</em></p>
<p>Diriwayatkan dai Abu Said Al Khudri radhiallahu anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p>“<em>Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p>“<em>Berpuasa pada hari ‘Arafah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” </em>(HR. Muslim)</p>
<p>Dari Hinaidah bin Khalid radhiallahu anhu, dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata:</p>
<p>“<em>Adalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berpuasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan.” </em>(HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i)</p>
<p>Imam Nawawi berkata tentang puasa sepuluh hari bulan Dzulhijjah: “Sangat di sunnahkan.”</p>
<p><strong>4. Takbir, Tahlil dan Tahmid Serta Dzikir</strong></p>
<p>Sebagaimana firman Allah Ta’ala:</p>
<p><a title="pic3.jpg" href="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/07/pic3.jpg"><img src="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/07/pic3.jpg" alt="pic3.jpg" /></a></p>
<p>“…<em>dan agar mereka menyebutkan nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” </em>(Al Hajj: 28)</p>
<p>Para ahli tafsir menafsiri bahwa yang dimaksud dengan “hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut.</p>
<p>Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>“Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.</p>
<p>Imam Bukhari rahimahullah berkata:” Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu anhum keluar ke pasar pada hari-hari sepuluh (sepuluh hari pertama) dalam bulan Dzulhijjah seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orang pun mengikuti takbir keduanya.”</p>
<p>Dia juga berkata,” Umar bertakbir dikubahnya sampai orang-orang masjid mendengarnya, maka mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang ada di pasar-pasar sampai gemuruh takbir itu menguasai pendengaranku.”</p>
<p>Ibnu ‘Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu, bertakbir juga setelah melakukan shalat, saat berada di atas ranjangnya, di perkemahannya, di majelisnya, dan diwaktu berjalan di jalan-jalan sepanjang hari-hari itu. Disunnahkan pula untuk bertakbir dengan suara yang keras berdasarkan perbuatan Umar, anak lelakinya dan Abu Hurairah.</p>
<p><strong><em>Bentuk Takbir</em></strong></p>
<p>Telah diriwayatkan tentang bentuk-bentuk takbir yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabi’in diantaranya:</p>
<p><em>a.</em> <em>Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar kabiraa</em></p>
<p><em>b. Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamdu.</em></p>
<p><em>c. Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, wa lillaahil hamdu.</em></p>
<p>Tidak boleh mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majelis dan mengucapkannya dengan satu suara. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para salaf. Menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Hal tersebut berlaku pada semua dzikir dan berdo’a, kecuali jika ia tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.</p>
<p><strong>5. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat dan Dosa, Sehingga Akan Mendapatkan Ampunan dan Rahmat Allah Ta’ala.</strong></p>
<p>Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba Allah Ta’ala dan ketaatan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah Ta’ala kepadanya. disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakal seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya.”<strong> </strong></em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>6. Banyak Beramal Shalih</strong></p>
<p>Memperbanyak amalan-amalan shalih berupa ibadah sunnah seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Amalan yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah utama. Sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.</p>
<p><strong>7. Berkurban Pada Hari Raya Qurban dan Hari-Hari Tasyriq</strong></p>
<p>Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yakni ketika Allah menebus putranya dengan sembelihan yang agung dan juga sunnah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Tentang keutamaan hari raya kurban , telah di jelaskan diatas dalam pasal ketiga (keutamaan yaumul Nahr) keutamaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah.</p>
<p><strong>8. Melaksanakan Shalat Idul Adh-ha dan Mendengarkan Khutbahnya.</strong></p>
<p>Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyari’atkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti: nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukkan dan sejenisnya. Dimana hal tersebut akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukannya selama sepuluh hari.</p>
<p>Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.</p>
<p>Ayo&#8230;mari kita raih keutamaan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ramadhan, Bulan I'dad dan Jihad]]></title>
<link>http://kaferemaja.wordpress.com/2009/10/26/ramadhan-bulan-idad-dan-jihad/</link>
<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 11:37:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>kaferemaja</dc:creator>
<guid>http://kaferemaja.wordpress.com/2009/10/26/ramadhan-bulan-idad-dan-jihad/</guid>
<description><![CDATA[Muqaddimah Pembicaraan tentang bulan Ramadhan tidak lepas dari pembicaraan tentang jihad. Karena tid]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Muqaddimah Pembicaraan tentang bulan Ramadhan tidak lepas dari pembicaraan tentang jihad. Karena tid]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membelah Arus]]></title>
<link>http://insansains.wordpress.com/2009/10/06/membelah-arus/</link>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 16:51:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Insan</dc:creator>
<guid>http://insansains.wordpress.com/2009/10/06/membelah-arus/</guid>
<description><![CDATA[(Sumber gambar : Nuvailia &#8211; Rindu Allah &#8211; 10jan07) Dalam bus kopaja 609 dari arah Blok M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1277" title="Rindu Allah - Nuvailia - 10jan07" src="http://insansains.wordpress.com/files/2009/10/rindu-allah-nuvailia-10jan07.jpg" alt="Rindu Allah - Nuvailia - 10jan07" width="259" height="386" />(<em>Sumber gambar : <strong>Nuvailia</strong> &#8211; Rindu Allah &#8211; 10jan07</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bus kopaja 609 dari arah Blok M, saya sempat ditanya berulang-ulang oleh seorang gadis berjilbab rapi yang duduk di samping saya. “<em>Jam berapa sekarang ya mas?</em>”. Meski saya lebih menyukai panggilan “Kang” atau “Aa” (panggilan di rumah), saya memaklumi panggilan “Mas”-nya karena kami baru bertemu. Tak berani saya memandang wajahnya, dan nampaknya dia pun begitu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak selang beberapa lama, untuk kedua kalinya ia menanyakan pertanyaan yang sama, “<em>Jam berapa sekarang ya mas?</em>” Saya pun menjawab “<em>10 menit lagi jam enam mba</em>”. Tak lama terdengarlah suara adzan maghrib, “<em>Allahu akbar.. Allahu akbar..</em>.”. Dan gadis itu pun terlihat tergesa merobek resleting tasnya dan mengambil sebotol air mineral. Matanya memejam, bibirnya berbisik pelan, sedangkan ujung botol air mineral itu menempel di bibir bawahnya. Berdoa adalah satu-satunya hal yang terpikir oleh saya terhadap apa yang tengah dilakukan oleh gadis yang memancing saya memutar beberapa derajat sudut pandangan saya. Dia pun kemudian meneguk perlahan. Saya seakan merasakan tenggorokannya yang semula kering, kini basah. Ibarat bunga yang nyaris layu, namun kembali segar tersirami.</p>
<p style="text-align:justify;">Oh… ternyata tadi ia sedang berpuasa. Subhanallah…! Setelah seperempat botol air tersebut berpindah ke lambungnya, kini ia membuka plastik hitam yang sejak tadi digenggamnya. “<em>Mau gorengan mas?</em>” tanya wanita muda itu. “<em>Oh… tidak terima kasih</em>” tolak saya halus. “<em>Susah banget puasa kalau bukan di bulan Ramadhan</em>!”, katanya disela kunyahan pisang molennya, “<em>Banyak sekali godaannya</em>!” lanjutnya setelah menelan kunyahan halus di mulutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepalanya jelas terlihat menengok kiri-kanan. Tak tahu apa yang dicari. Tiba-tiba dia pun berdiri, “kiri bang.. kiri..”. Gadis itu turun dan bus kopaja pun berjalan. Saya menengok ke sebelah kanan ternyata terlihat kubah mesjid, saya pun dengan tergesa berdiri dan minta turun hendak mendirikan shalat maghrib. Berharap masih bisa ikut jamaah masjid tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Air keran membasahi anggota wudhu saya. Dingin sekaligus meninggalkan kesegaran. Saya jadi teringat pada gadis di kopaja tadi. Mungkin inilah yang dirasakannya ketika berbuka tadi, panas Jakarta dan dahaga yang menyiksa tiba-tiba lenyap dengan hadirnya bahagia ketika tegukan pertama.</p>
<p style="text-align:justify;">Berpuasa di bulan Ramadhan tentunya tidak lebih sulit dibandingkan berpuasa di bulan lainnya. Sangat sulit untuk menjadi berbeda dan mempertahankan prinsip yang berbeda dengan yang diyakini kebanyakan orang. Memegang teguh prinsip di tengah desakan dari pihak yang berseberangan tentulah sangat sulit. Jika prinsip yang berseberangan dengan kita adalah hal positif dan kita terdesak untuk berbuat positif juga, maka hal tersebut justu sangat baik. Tetapi jika hal yang sebaliknya terjadi, dimana prinsip yang negatif yang berkembang pada orang kebanyakan, saat kita tidak kuat, maka dengan sangat mudah kita terseret di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika teman-teman kampus pulang sebelum mata kuliah berakhir, meskipun tak jelas dosen hadir atau tidak, maka sangat sulit untuk membendung hasrat ingin pulang juga. Ketika teman-teman kantor bekerja sebagai individu terpisah dari kerjasama sebagai suatu team besar, maka susah sekali untuk tidak mengikuti pola mereka, tidak menerapkan pola elu-elu-gue-gue. Ketika banyak teman memilih jalan pintas, mampukah kita untuk tegas dan berkata “<em>Tidak</em>”?</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah renungan saya sambil berjalan menuju mihrab mesjid, ternyata jamaah telah bubar. Di shaf depan saya menunggu, mencari teman untuk shalat berjamaah. Nihil. Namun tiba-tiba seorang perempuan yang baru saja saya temui di kopaja datang. Mukanya basah oleh air wudhu. “<em>Mba.. kita berjamaah ya&#8230;</em>” pinta saya. Dia pun tersenyum dan mengangguk.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertemuan kami hanya sesingkat itu, tapi dengan pertemuan itu Allah telah mengajarkan saya satu hal. Benar sekali perkataan rosul, bahwa suatu saat orang yang memegang teguh prinsip keislaman itu, ibarat seorang yang memegang besi yang telah menjadi bara api. Panas bahkan melukai. Pertanyaannya mampukah kita?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya : Tentu saja mampu. Buktinya, gadis yang duduk disamping saya kala itu berhasil mempertahankan shaumnya ditengah godaan-godaan yang datang padanya. (<strong>Insan Sains</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jakarta, 17 Syawal 1430H, 23:31 WIB</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puasa Syawal-an]]></title>
<link>http://hazimahmadi.wordpress.com/2009/10/05/puasa-syawal-an/</link>
<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 09:14:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>hazimahmadi</dc:creator>
<guid>http://hazimahmadi.wordpress.com/2009/10/05/puasa-syawal-an/</guid>
<description><![CDATA[Bulan Syawal 1430H sudah melewati pertengahan. Namun ritual puasa Syawalan yang dulu biasa dilakukan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bulan Syawal 1430H sudah melewati pertengahan. Namun ritual puasa Syawalan yang dulu biasa dilakukan hingga in the middle of the month belum juga selesai. Apakah makin bertambah usia makin malas ya ibadahnya, naudzubillahi mindzalika.</p>
<p>Hari ini baru dapat dua hari, dari enam hari yang disunnahkan. Semoga tetap istiqomah, diberi kekuatan ruhani untuk menyelesaikannya. Amien.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hewan pun Mampu Shaum!]]></title>
<link>http://binekas.wordpress.com/2009/10/02/hewan-pun-mamapu-shaum/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 12:51:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>binekas</dc:creator>
<guid>http://binekas.wordpress.com/2009/10/02/hewan-pun-mamapu-shaum/</guid>
<description><![CDATA[shaumDibulan Ramadhan sebagai seorang muslim kita diwajibkan melakukan shaum selama sebulan penuh da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[shaumDibulan Ramadhan sebagai seorang muslim kita diwajibkan melakukan shaum selama sebulan penuh da]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Enam Hari Syawal Genapkan Puasa Setahun...]]></title>
<link>http://4moslem.wordpress.com/2009/10/01/enam-hari-syawal-genapkan-puasa-setahun/</link>
<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 04:00:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Faisal Abdi</dc:creator>
<guid>http://4moslem.wordpress.com/2009/10/01/enam-hari-syawal-genapkan-puasa-setahun/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan dir]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter size-full wp-image-739" title="kaligrafi bismillah" src="http://4moslem.wordpress.com/files/2009/09/kaligrafi-bismillah1.jpeg" alt="kaligrafi bismillah" width="146" height="47" /></p>
<p><strong><span style="color:#008000;">&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.&#8221;</span> (QS. Al Maa&#8217;idah : 35)</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah mengutus para rasul-rasulNya dengan petunjuk dan jalan yang benar. Dia lah Allah, Tuhan yang memiliki Langit dan Bumi, dan apa-apa yang ada di antaranya. Dia lah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bagi tiap-tiap makhluk-Nya, dan bagi hamba-hambaNya yang ingin mendekatkan diri kepadaNya.</p>
<p>Allah swt telah mewajibkan puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Tiap amal ibadah orang-orang yang berpuasa, dilipatgandakan ganjarannya di bulan ini. Dan di hari kemenangan, dikumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid, hingga mendirikan shalat sunnah 2 rakaat. Dan dari itu semua tanda kemenangan kita selama menunaikan ibadah di bulan Ramadhan adalah bahwa kita dapat membawa kebiasaan beribadah di bulan suci ini hingga bulan-bulan berikutnya.<!--more--></p>
<p>Tiap amalan wajib yang dikerjakan manusia adalah pendekatan yang paling disukai oleh Allah swt, dan dengan amalan tambahan atau sunnah yang dilakukan hingga dicintai oleh Allah swt. Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadits Qudsi,</p>
<p>“<em>Dan tiada amal yang dikerjakan oleh hamba-Ku – dengan maksud untuk mendekatkan dirinya pada-Ku</em> – <em>yang lebih Aku cintai, selain ibadah wajib yang Aku perintahkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.</em>” <strong>(HR. Bukhari)</strong></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Puasa Syawal Wujud Pendekatan Diri</strong></span></p>
<p>Setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan, maka ibadah yang paling membekas yang kita wujudkan sebeagai pendekatan diri kepada Allah adalah dengan melaksankan ibadah puasa syawal. Puasa adalah ibadah yang berfungsi sebagai pintu kebaikan dan perisai dari segala kebiasaan buruk manusia. Rasulullah saw bersabda,</p>
<p>&#8220;<em>Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai,&#8230;</em>&#8221; (HR. Tirmidzi)</p>
<p>Jadi, dengan melaksanakan ibadah puasa Syawal, kita berharap ia jadi perisai bagi kita, pintu kebaikan, dan amal yang mendekatkan diri pada Allah. Dan ini jadi bukti bahwa &#8220;madrasah&#8221; ramadhan yang telah kita lalui sebelumnya membekas dari hati dan langkah kita.</p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Puasa Syawal Genapkan Puasa Setahun</strong></span></p>
<p>Hal ini dijelaskan di beberapa hadits. Dari Abu Ayyub Al Anshori ra., Rasululllah saw bersabda,</p>
<p>“<em>Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.</em>” <strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<p>Dalam hadits lain yang diriwayat dari Tsauban, Rasulullah saw bersabda,</p>
<p>“<em>Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.</em> [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” <strong>(HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)</strong></p>
<p>Dari hadits-hadits di atas dijelaskan bagaimana seseorang yang berpuasa syawal selama enam hari, maka ia telah seperti puasa setahun. Karena tiap amalan adalah 10 kebaikan semisal bagi orang menggenapkan shaum Ramadhannya dengan puasa syawal. Hingga 1 bulan Ramadhan semisal 10 bulan, dan 6 hari syawal semisal 60 hari (2 bulan).</p>
<p><strong><span style="color:#008000;">Puasa di Awal Syawal Berturut-turut Setelah Mengqodho&#8217; Ramadhan</span><br />
</strong></p>
<p>Puasa syawal dianjurkan oleh sebagian besar ulama untuk dilaksanakan di awal syawal secara berturut-turut. Hal ini seperti yang dijelaskan Imam Nawawi dalam <em>Syarh Muslim</em> mengatakan,</p>
<p>“<em>Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut</em> (sehari) <em>setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.</em>”</p>
<p>Hal ini berarti jika ada halangan atau udzur hingga seseorang tidak dapat melaksanakan puasa syawal di awal bulan secara berturut-turut, maka ia dapat melaksanakannya semampunya hingga akhir syawal. Dan ia tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal.</p>
<p>Namun satu hal lagi yang perlu diperhatikan bahwa jika ada shaum Ramadhan yang tertinggal, maka hendaknya terlebih dahulu mengqodho bilangan puasa yang tertinggal. Karena Allah swt lebih menyukai hambaNya mengerjakan ibadah yang diwajibkan kepadanya.</p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Penutup</strong></span></p>
<p>Rasulullah saw bersabda,</p>
<p>“<em>Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.</em>”<strong> (HR. Bukhari)</strong></p>
<p>Oleh karena itu, kita berharap semoga dengan melakukan ibadah puasa di bulan syawal, sebagai amalan sunnah, kita dapat lebih mendekatkan diri kita kepada Allah, sehingga Allah swt mencintai dan meridhoi kita. Dan keutamaan puasa syawal dapat kita peroleh. Amin&#8230;</p>
<p>Wallahu &#8216;alam bish showab</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fatwa 3 Imam Tentang Puasa Syawwal Sebelum Menyelesaikan Qodho’ Romadhon]]></title>
<link>http://alhilyah.wordpress.com/2009/09/28/fatwa-3-imam-tentang-puasa-syawwal-sebelum-menyelesaikan-qodho%e2%80%99-romadhon/</link>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 13:28:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>alhilyah</dc:creator>
<guid>http://alhilyah.wordpress.com/2009/09/28/fatwa-3-imam-tentang-puasa-syawwal-sebelum-menyelesaikan-qodho%e2%80%99-romadhon/</guid>
<description><![CDATA[Bolehkah mengerjakan puasa 6 hari di bulan Syawal sebelum mengqodho’ puasa romadhon? Fatwa Syaikh Al]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">Bolehkah mengerjakan puasa 6 hari di bulan Syawal sebelum mengqodho’ puasa romadhon?</p>
<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-490" style="border:1px solid pink;margin:7px;" title="Syawwal" src="http://ummushilah.0fees.net/wordpress/wp-content/uploads/2009/09/pink-moon-150x150.jpg" alt="Syawwal" width="165" height="165" />Fatwa Syaikh Albani rohimahulloh:</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan</strong> : Apakah bagi orang yang ingin berpuasa 6 hari di bulan Syawal disyaratkan untuk mengqodho’ puasa yang ditinggalkan pada bulan romadhon terlebih dulu?</p>
<p><strong>Jawaban</strong> : Ya, karena sesuatu yang wajib itu harus didahulukan daripada sesuatu yang sunnah. Dan karena manusia itu tidak memiliki dirinya dan tidak mengetahui sampai kapan umurnya. Terkadang ajal itu datang kepadanya dalam bentuk yang terbaik, akan tetapi ia sedang dalam kondisi yang buruk, yaitu ajal mendatanginya ketika ia sedang berpuasa hari di bulan Syawal tetapi ia mati dalam keadaan berbuat maksiat karena ia  belum 6 mengqodho’ puasanya yang wajib, padahal puasa Syawal itu hanyalah puasa tathowwu’ (sunnah).<!--more--></p>
<p>Mungkin engkau ingat perkataan yang ada di sebagian kitab Atsar, kemungkinan di Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, akan tetapi yang aku ingat secara yakin perkataan tersebut ada di kitab Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yaitu perkataan Abu Bakar ash-Shiddiq rodhiayllohu anhu, beliau berkata –yang maknanya- :</p>
<p>“Sesungguhnya Alloh azza wa jalla tidaklah menerima ibadah nafilah (sunnah) sebelum ditunaikannya ibadah yang fardhu.” <span style="color:#ff0000;">*</span></p>
<p>Syaikh bertanya : Engkau ingat atsar ini?</p>
<p>Penanya menjawab : Atsar yang anda sebutkan itu terkenal, akan tetapi aku tidak tahu keshohihannya, apakah atsar tersebut shohih?</p>
<p>Syaikh menjawab : Saya yakin atsar tersebut shohih.</p>
<p>Kemudian atsar ini hanya sebagai penguat, karena seandainyapun kita belum tahu tentang atsar ini secara mutlak atau kita telah mengetahui bahwa sanadnya dho’if, maka tidak mengurangi apapun karena perkataan (tentang puasa Syawwal) yang saya sebutkan tadi telah mencukupi.</p>
<p style="text-align:left;">[Sumber : Silsilatul Huda wan Nur, kaset no. 753]</p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ff0000;"><em>*</em></span><em> Lihat : Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 8/145 – al-Maktabah asy-Syamilah, -pent.</em></p>
<p align="right"><strong><img class="alignright size-thumbnail wp-image-489" style="margin:7px;" title="pink-moon2" src="http://ummushilah.0fees.net/wordpress/wp-content/uploads/2009/09/pink-moon2-150x150.jpg" alt="Syawwal2" width="150" height="150" /></strong></p>
<p><strong>Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahulloh:</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan</strong> : Apakah boleh puasa 6 hari di bulan Syawwal sedangkan saya masih punya hutang puasa Romadhon? Karena saya memiliki keinginan yang kuat untuk mengerjakannya, akan tetapi dengan begitu saya tidak bisa meng-qodho’ dikarenakan sebab tertentu seperti belajar dan yang semisal itu dan juga urusan rumah tangga. Mohon beri kami petunjuk, jazakumulloh khoiron.</p>
<p><strong>Jawaban</strong> : Yang wajib adalah meng-qodho’ dulu sebelum mengerjakan puasa 6 hari Syawwal. Janganlah engkau puasa 6 hari Syawwal melainkan sesudah menyelesaikan qodho’, berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :
</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="AR-SA">من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال</span></p>
<p>“Barangsiapa puasa Romadhon kemudian mengikutinya dengan mengerjakan puasa 6 hari di bulan Syawwal…”</p>
<p>Jadi barangsiapa yang punya hutang qodho’ berarti puasa Romadhonnya belum lengkap, maka ia wajib mengerjakan sisanya dan puasa syawwal 6 hari adalah setelah puasa Romadhon tersebut. Maka yang wajib adalah meng-qodho’ dulu baru kemudian puasa 6 hari Syawwal.</p>
<p>[Sumber : Fatawa Nur ‘ala Darb, kaset no. 918]</p>
<p><strong><img class="size-full wp-image-493 alignleft" style="border:1px solid pink;margin:7px;" title="Syawwal3" src="http://ummushilah.0fees.net/wordpress/wp-content/uploads/2009/09/moonpink.jpeg" alt="moonpink" width="114" height="147" /></strong></p>
<p><strong>Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rohimahulloh:</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan</strong> : Jika seseorang puasa 6 hari Syawwal sebelum menyelesaikan qodho’, apakah puasa 6 hari Syawwal tersebut bermanfaat dan diganjar?</p>
<p><strong>Jawaban</strong> : Tidak, tidak bermanfaat. Karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="AR-SA">من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال</span></p>
<p>“Barangsiapa puasa Romadhon kemudian mengikutinya dengan mengerjakan puasa 6 hari di bulan Syawwal…”</p>
<p>Dab telah maklum bahwa orang yang masih memiliki hutang puasa Romadhon tidaklah dikatakan bahwa dia telah selesai mengerjakan puasa Romadhon. Misalnya jika ia punya hutang 10 hari, apakah bisa dikatakan bahwa ia sudah selesai mengerjakan puasa Romadhon? Tidak, tapi dikatakan bahwa ia sudah mengerjakan sebagian puasa Romadhon, yaitu 20 hari. Oleh karena itu hendaknya ia memulai dengan meng-qodho’ dulu baru setelah itu mengerjakan puasa 6 hari Syawwal. Seandainya ia memulai puasa 6 hari dulu sebelum meng-qodho’, maka tidak akan diganjar dengan ganjaran yang dijelaskan oleh Nabi shollallohu alaihi wa sallam, yaitu bahwa :</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="AR-SA">من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر</span></p>
<p>“Barangsiapa puasa Romadhon kemudian mengikutinya dengan mengerjakan puasa 6 hari di bulan Syawwal, maka seolah-olah ia puasa selama setahun” diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>[Sumber : Fatawa al-Harom al-Makki 1410, kaset no. 7]</p>
<p>Diterjemahkan dari : <a href="http://www.baiyt-essalafyat.com/vb/showthread.php?t=10855">http://www.baiyt-essalafyat.com/vb/showthread.php?t=10855</a></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="AR-SA"><br />
* سئل الإمام الألباني/سلسلة الهدى والنور/ شريط رقم: (753)<br />
السائل : هل يشترط لمن أراد أن يصوم الست من شوال أن يقضي ما عليه من رمضان ؟<br />
فأجاب: نعم؛ لأن الفرض مقدم على النفل، ولأن الإنسان لا يملك نفسه وعمره؛ فقد يأتيه الأجل وفي أحسن صورة، ولكنه في أقبح صورة؛ يأتيه الأجل وهو يصوم الأيام الست فيموت عاصياً؛ لأنه لم يقضي ما عليه من فرض، وهو صائم التطوع.<br />
ولعلك تذكر معي عبارة تروى في بعض كتب الآثار لعله في مصنف ابن أبي شيبة، لكني أذكر يقيناً أنها في فتاوى شيخ الإسلام ابن تيمية عن أبي بكر الصديق -رضي الله عنه- قال ما معناه: &#8220;إن الله -عز وجل- لا يقبل النافلة قبل أداء الفريضة&#8221;.<br />
- الشيخ سائلاً: تذكر شيئاً من هذا ؟<br />
- السائل مجيباً: الأثر كما تفضلت مشهور، لكن لا أدري عن صحته، هل هو صحيح؟<br />
- الشيخ مجيباً: لا؛ هو صحيح يقيناً.</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="AR-SA"> ثم هذا الأثر هو يُستشهد به ويُستأنس به؛ لأننا لو لم نعلمه مطلقاً أو علمناه بسند ضعيف ما نخسر شيئاً؛ لأن الكلام الذي ذكرته آنفاً يكفينا</span>
</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="AR-SA"> </span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="AR-SA">* سئل الإمام ابن باز/ فتاوى نور على الدرب/ شريط رقم: (918)</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="AR-SA">السائل: هل يجوز صيام الست من شوال وأنا عليَّ صيام من شهر رمضان؟ لأن لدي رغبة شديدة في ذلك، ولكن لا أستطيع القضاء نظراً لظروف معينة، منها الدراسة وما أشبه ذلك، ومنها الحياة الزوجية. وجهونا جزاكم الله خيراً. فأجاب: الواجب القضاء قبل الست، لا تصوم الست إلا بعد القضاء لقول النبي صلى الله عليه وسلم:{من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال} فمن عليه قضاء ما صام رمضان؛ عليه بقية، فالست تكون تابعة لرمضان، فالواجب القضاء ثم الست.</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="AR-SA"><br />
* وقال الإمام العثيمين/فتاوى الحرم المكي/1410/شريط7)</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="AR-SA">لو صام ستة أيام من شوال قبل القضاء فهل ينفعه ذلك وتجزئه هذه الستة من شوال؟<br />
والجواب: لا، لا تنفعه؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول:{من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال}.<br />
{مَن صام رمضان} ومعلوم أن من بقي عليه أيام من رمضان لا يقال إنه صام رمضان؛ فإذا كان عليه عشرة أيام مثلاً فهل يقال إنه صام رمضان؟</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="AR-SA">لا؛ يقال صام بعض رمضان، عشرين يوماً منه، وعلى هذا فيبدأ بالقضاء ثم يصوم ستة أيام من شوال.<br />
فلو بدأ بالستة قبل القضاء لم يحصل على الأجر الذي بينه الرسول عليه الصلاة والسلام، وهو أن {من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر} رواه مسلم<strong>.</strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ramadhan In Love]]></title>
<link>http://deezeeka.wordpress.com/2009/09/27/ramadhan-in-love/</link>
<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 10:09:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>deezeeka</dc:creator>
<guid>http://deezeeka.wordpress.com/2009/09/27/ramadhan-in-love/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Semoga Allah mempertemukan kita di Ramadhan berikutnya&#8230;.&#8221; Andai aku tak salah men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://deezeeka.wordpress.com/files/2009/09/aa.jpg" alt="AA" title="AA" width="96" height="141" class="aligncenter size-full wp-image-484" /><br />
&#8220;Semoga Allah mempertemukan kita di Ramadhan berikutnya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Andai aku tak salah mengartikan kata-kata dalam sms ini. Bisa saja kan, kata-kata yang semestinya terkirim seperti &#8220;Semoga Allah menyampaikan kita di ramadhan berikutnya.&#8221;</p>
<p>Kita sudah lama tak bertemu. Rindu nggak yaa, sama debaran jantung itu? Sama gemas, keringat dingin, gugup, plus happy tanpa ada sebab.</p>
<p>Ramadhanku&#8230;biarlah aku dalam kesibukanmu. Kesibukan menghidupkan malam dengan tarawih, tadarus, kegiatan LDK, sehingga aku tak memikirkan mahluk yang Allah ciptakan entah untuk siapa itu..</p>
<p>Ramadhanku&#8230;.biarkanlah seseorang melayangkan rasa rindunya dalam sujud tangis berkepanjangan, dalam tilawah yang syahdu, dalam shaum yang tawadhu.</p>
<p>Ramadhanku, jikalau pada akhirnya aku tak sampai padanya, biarlah aku sampai pada Rabb-ku. Biarlah cintaku bermuara hanya pada-Nya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shaum Syawal, Yuk...]]></title>
<link>http://azzahramuslimah.wordpress.com/2009/09/27/shaum-syawal-yuk-2/</link>
<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 07:22:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>'Iffah</dc:creator>
<guid>http://azzahramuslimah.wordpress.com/2009/09/27/shaum-syawal-yuk-2/</guid>
<description><![CDATA[Ajakannya telat ya?? Ini kan udah tanggal 8 Syawal… Afwan ya… Tapi masih bisa kan?? Kan sisanya masi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ajakannya telat ya?? Ini kan udah tanggal 8 Syawal… Afwan ya… Tapi masih bisa kan?? Kan sisanya masi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Idul Fitrih  (Lebaran)]]></title>
<link>http://lapodding.wordpress.com/2009/09/26/idul-fitrih-lebaran/</link>
<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 23:24:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>lapodding</dc:creator>
<guid>http://lapodding.wordpress.com/2009/09/26/idul-fitrih-lebaran/</guid>
<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim Menurut sejarah Idul Fithri untuk pertama kali dilakukan yakni pada tahun2 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim Menurut sejarah Idul Fithri untuk pertama kali dilakukan yakni pada tahun2 ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puasa 6 Hari di Bulan Syawal]]></title>
<link>http://firarif.wordpress.com/2009/09/17/puasa-6-hari-di-bulan-syawal/</link>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 21:23:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>arif aja deh</dc:creator>
<guid>http://firarif.wordpress.com/2009/09/17/puasa-6-hari-di-bulan-syawal/</guid>
<description><![CDATA[Dalil-dalil tentang Puasa Syawal Dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu: &#8220;Rasulullah shallallahu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dalil-dalil tentang Puasa Syawal Dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu: &#8220;Rasulullah shallallahu ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Takwa dan Karakteristik Orang-orang Bertakwa]]></title>
<link>http://arraudhahmedan.wordpress.com/2009/09/13/takwa-dan-karakteristik-orang-orang-bertakwa/</link>
<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 15:58:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>arraudhahmedan</dc:creator>
<guid>http://arraudhahmedan.wordpress.com/2009/09/13/takwa-dan-karakteristik-orang-orang-bertakwa/</guid>
<description><![CDATA[Taqwa adalah target utama disyari’atkannya Shaum seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh : 183]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Taqwa adalah target utama disyari’atkannya Shaum seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh : 183. Sebab itu, saat kita bicara soal Ramadhan dengan segala aktivitasnya, tema taqwa sangat relevan untuk kita bahas.<br />
<!--more--></p>
<p>Taqwa dan Karekteistik Orang-Orang Bertaqwa</p>
<p>Taqwa adalah target utama disyari’atkannya Shaum seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh : 183. Sebab itu, saat kita bicara soal Ramadhan dengan segala aktivitasnya, tema taqwa sangat relevan untuk kita bahas.</p>
<p>Taqwa adalah karakter, sikap, prilaku dan kebiasaan. Taqwa adalah hasil, bukan proses. Proses menuju taqwa, di antaranya adalah dengan menjalankan Ramadhan berdasarkan manajemen Rasul Saw. seperti yang sudah kita bahas sebelumnya. Taqwa adalah buah dari keimanan yang mendalam yang melahirkan ketaatan, ibadah, harapan dan ketakutan mutlak kepada sang Pencipta, yakni Allah Ta’ala saat menjalankan kehidupan di dunia yang fana ini.</p>
<p>Sebab itu, taqwa harus dapat dilihat pengaruh dan ciri-cirinya dalam kehidupan. Taqwa harus menjadi tema terpenting setelah iman. Karena iman yang tidak melahirkan taqwa tidak akan bermanfaat banyak dalam kehidupan dunia dan tidak pula di akhirat kelak.</p>
<p>Saking pentingnya, dalam Al-Qur’an tedapat sekitar 158 ayat yang membahas taqwa dan juga puluhan hadits Rasul Saw. Di antara cakupan makna taqwa adalah takut, beribadah, meninggalkan maksiat, mengesakan dan ikhlas kepada Allah.</p>
<p>Dari ayat dan hadits tersebut kita dapat mengetahui dengan mudah karakteristik muttaqin (orang-orang bertaqwa). Di antaranya seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh : 3 – 5 dan 177 serta surat Ali Imran : 133 – 138. Dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa di antara sifat muttaqin ialah :</p>
<p>1. MENJADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK HIDUP</p>
<p>2. MEMAHAMI KONSEP KEIMANAN DENGAN BENAR</p>
<p>3. MEMILIKI TANGGUNG JAWAB SOSIAL (BERINFAQ DALAM KEADAAN LAPANG DAN SEMPIT)</p>
<p>4. MENEGAKKAN SHOLAT DAN ZAKAT (AHLI IBADAH)</p>
<p>5. MEMILIKI MORALITAS YANG TINGGI (MENEPATI JANJI, MAMPU MENAHAN MARAH)</p>
<p>6. SABAR MENGHADAPI BERBAGAI KESULITAN HIDUP</p>
<p>7. MAMPU MENGENDALIKAN MARAH / DIRI</p>
<p>8. MEMILIKI SIFAT PEMA’AF</p>
<p>9. BANYAK BERZIKIR &#38; ISTIGHFAR (BERTAUBAT) PADA ALLAH</p>
<p>10. SELALU MUHASABAH DIRI TERHADAP ATURAN MAIN ALLAH</p>
<p>Kunci Sukses Training Manajemen Syahwat Ramadhan</p>
<p>Banyak pertanyaan yang muncul saat kita mejalankan Ramadhan. Di antaranya : Kenapa ibadah Ramadhan, shaumnya sebulan penuh dan berulang setiap tahun? Kenapa malamnya disyari’atkan untuk qiyam (menghidupkan malam dengan berbagai ibadah dan taqorrub ilallah)? Kenapa Ramadhan menjadi waktu yang termahal dan teristimewa bagi kaum Mukmin? Kenapa Lailatul Qadr (malam Qadar) yang nilainya melebihi 1.000 bulan terdapat di malam-malam Ramadhan, khususnya malam-malam sepuluh hari terakhir? Siapkah kita melaksanakan berbagai aktivitas Ramadhan yang dicontohkan Rasul Saw, baik siang maupun malamnya? Sejauh mana kita memahami keistimewaan yang ada dalam bulan tesebut dan sejauh mana kita dapat meraihnya kemudian dapat pula mengimplementasikannya dalam kehidupan kita….</p>
<p>Kalau ada yang bertanya : Kapan waktu termahal, teristimewa dan terindah dalam hidup Anda? Pasti banyak ragam jawaban yang akan kita dengar, tergantung kepada kepahaman dan orientasi hidup masing-masing. Ada yang menjawab, waktu termahal, teristimewa dan terindah dalam hidupnya adalah saat berbulan madu dengan istri/suami yang dicintainya. Ada pula yang menjawab saat ulang tahunnya yang kesekian dan kesekian tahunnya. Ada lagi yang menjawab saat diangkat menjadi pejabat atau meraih target kedudukan atau puncak karir yang dicita-citakannya, atau saat menyambut kelahiran anak yang sudah lama dirindukannya. Tentu ada pula yang menjawab saat meraih nilai kekayaan atau harta yang diimpikannya sejak lama seperti memiliki mobil mahal, rumah mewah, kebun yang luas, dinar dan dirham (uang) yang menumpuk dan sebagainya.</p>
<p>Semua jawaban tersebut sesungguhnya mencerminkan kekurangpahaman terhadap keistimewaan yang Allah ciptakan dalam bulan Ramadhan. Atau bisa saja faham, namun belum atau tidak berdaya melawan belenggu hawa nafsunya. Sebab itu tidak jarang kita lihat Ramadhan berlalu tanpa ada bekas taqwa yang menghiasi kehidupan sehari-hari. Hawa nafsu tetap saja sebagai tuhan yang dita’ati. Spirit ibadah dan taqarrub pada Allah tetap saja melemah kendati sudah melewati Ramadhan puluhan kali.</p>
<p>Kalau saja ibadah Ramadhan dijalankan sesuai manajemen Rasul Saw. baik kualitas maupun kuantitas, maka 8,47 % dari umur kita adalah shiyam dan qiyam (Training Manajemen Syahwat dan Ibadah). Jika ditambah dengan 6 hari bulan Syawal, maka 9,88 % dari hidup kita adalah Training Manajemen Syahwat dan Ibadah. Jika diteruskan dengan Senin, Kamis dan ayyamulbidh, maka 42,93 % dari hidup kita adalah Training Manajemen Syahwat dan Ibadah. Apabila kita tambahkan Ramadhan dengan shaum 6 hari di bulan Syawal dan diteruskan dengan shaum nabi Daud, maka 55,08 % dari umur kita adalah mengikuti Training Manajemen Syahwat dan Ibadah. Alangkah indahnya jika kita mampu melaksanakannya.</p>
<p>Secara kualitas, ada dua hal yang perlu diperhatikan :</p>
<p>1. Makna shaum, yakni menahan diri dari berbagai godaan syahwat. Artinya, jka kita benar-benar serius ingin mencapai derajat taqwa, syahwat harus dikendalikan, bukan hanya terhadap yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi juga terhadap yang halal. Orang-orang bertaqwa, seperti yang dikatakan Arraghib Al-Asfahani : Harus mampu menahan diri dari apa saja yang menyebabkan dosa pada Allah. Yang demikian itu hanya terlaksana dengan meninggalkan apa saja yang dilarang Allah dan meninggalkan sebagian yang dibolehkan jika berimplikasi kepada dosa dan lalai mengingat Allah. Misalnya, dengan mobil mahal, rumah mewah, pakaian bermerek dan sebagainya, jika menimbulkan rasa angkuh, sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain yang di bawahnya, maka berarti hal-hal yang dibolehkan tersebut telah menjerumuskannya ke dalam dosa. Orang-orang yang bertaqwa paham betul hal tersebut akan membahayakannya. Sebab itu dia dengan mudah mampu menghindarinya. Bukan sebaliknya, mencar-cari dalil pembenarannya.</p>
<p>2. Makna qiyam (berdiri tegak dan penuh spirit beribadah kepada Allah). Qiyam Ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini sepenuhnya untuk ibadah dan ketaatan pada Allah, bukan yang lainnya. Orang yang mampu menghambakan dirinya hanya kepada Allah adalah orang yang beriman kepada-Nya, memiliki ilmu tentang agama / aturan main yang diciptakan-Nya dan mampu memenej syahwat yang ada dalam dirinya. Sebab itu, Manajemen Ramadhan Rasul Saw. tidak cukup dengan shiyam saja atau qiyam saja. Keduanya berjalan seiring dan dilaksakan siang dan malam serta dilandasi iman dan ihtisaban seperti Beliau jelaskan dalam haditsnya. Ramadhan dengan konsep qiyamnya, juga mengajarkan kepada kita bahwa setiap kita harus memiliki ibadah unggulan, di luar ibadah fardhu, yang mungkin kita lakuan dengan intensitas yang tinggi dan kontinyu, sebagaimana para Sahabat Rasul Saw.</p>
<p>Inilah dua kunci utama kesuksesan orang-orang yang menjalankan ibadah Ramadhan, yakni shiyam dan qiyam. Jika kedua hal tersebut dapat terlaksana dengan baik, maksimal dan seimbang di bulan Ramadhan termasuk pada 10 hari terakhir Ramadhan, maka tidak diragukan manfaat Training Manajemen Syahwat selama Ramadhan insyaa Allah efektif dalam pembentukan karakter muttaqin (orang-orang yang bertaqwa).</p>
<p>Semoga Ramadhan kita tahun ini benar-benar menajdi titik tolak perubahan manajemen hidup kita sesuai dengan manajemen hidup Rasul Saw. termasuk manajemen Ramadhannya. Amin</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ramadhan : Berpuasa dengan Iman dan Ihtisab]]></title>
<link>http://4moslem.wordpress.com/2009/09/11/ramadhan-puasa-dengan-iman-dan-ikhlas/</link>
<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 03:10:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Faisal Abdi</dc:creator>
<guid>http://4moslem.wordpress.com/2009/09/11/ramadhan-puasa-dengan-iman-dan-ikhlas/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter size-full wp-image-705" title="kaligrafi bismillah" src="http://4moslem.wordpress.com/files/2009/08/kaligrafi-bismillah1.jpeg" alt="kaligrafi bismillah" width="146" height="47" /></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa&#8221; (QS. Al Baqarah : 183)<br />
</strong></span></p>
<p>Allah swt telah mewajibkan shaum (puasa) Ramadhan sebagai salah satu dari rukun Islam, sebagaimana telah diwajibkanNya atas orang-orang yang sebelumnya, sebagai wujud ketaqwaan kepadaNya.</p>
<p>Ramadhan adalah bulan yang didalamnya Al Qur&#8217;an Al Karim pertama kali diturunkan Rasulullah saw, yang dikenal dengan Nuzulul Qur&#8217;an, tepatnya pada malam 17 Ramadhan. Bulan yang suci dimana pada bulan inilah kitab suci untuk pertama kalinya diwahyukan kepada Rasulullah saw.</p>
<p>Pada bulan Ramadhan ini terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadr. Pada malam ini Allah menurunkan malaikat-malaikatNya dan Allah memberikan keselamatan padanya hingga menjelang fajar.<!--more--></p>
<p>Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda,</p>
<p>&#8220;<em>Barang siapa yang berpuasa atas dasar iman dan ihtisab, hanya ingin mendapatkan balasan dari Allah, maka ia diampuni dosa-dosa yang telah lalu</em>&#8221; <strong>(HR. Bukhari Muslim)</strong></p>
<p>Dari hadits di atas, dapat dilihat bahwa ganjaran dari seorang yang berpuasa adalah pengampunan dosa-dosanya yang telah lalu oleh Allah swt. Namun disini, Rasulullah menyatakan bahwa dasar dari puasa yang dilakukan oleh seorang yang ingin mendapatkan ganjaran tersebut, adalah iman dan ihtisab.</p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Iman dan Ihtisab<br />
</strong></span></p>
<p>Menurut pengertian bahasa, iman berarti percaya dan yakin, sedangkan menurut pengertian syariat, iman adalah keyakinan dalam hati yang diucapkan atau dilafadzkan dengan lisan, dan diaplikasikan dengan amal perbuatan. Allah swt menjelaskan dalam Al Quran ciri-ciri mukmin yang sebenar-benarnya,</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat- ayatNya bertambahlah iman mereka</em> (karenanya), <em>dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.</em> (yaitu) <em>orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki</em> (ni&#8217;mat) <em>yang mulia</em>. &#8221; <strong>(QS. Al Anfaal : 2-4)</strong></p>
<p>Dari ayat di atas, tingkatan tertinggi dari keimanan seseorang, oleh Allah swt diciri-cirikan dengan:</p>
<ul>
<li>Bergetar hatinya saat mendengar asma Allah disebutkan.</li>
<li>Bertambah keimanannya bila dibacakan ayat-ayat Allah.</li>
<li>Selalu Bertawakkal.</li>
<li>Menunaikan Shalat dan Menafkahkan rezekinya di jalan Allah.</li>
</ul>
<p><em>Ihtisab </em>berarti hitungan, koreksi, penilaian. Jika kita kaji berdasarkan hadits Rasulullah saw, makna dari ihtisab adalah suatu koreksi diri dan penilaian sendiri pada amal kita selama Ramadhan, apakah amalan itu akan mendapatkan ridho dari Allah swt. Sehingga ihtisab akan membawa pada pengharapan terhadap ridho Allah swt.</p>
<p>Pada bulan Ramadhan, sebaiknya kita lebih banyak introspeksi diri, baik dari amal perbuatan kita, maupun dari ibadah-ibadah yang kita lakukan. Bulan ini dapat dijadikan sebagai momen evaluasi diri. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda,</p>
<p>&#8220;<em>Berapa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapat manfaat apa-apa dari puasanya kecuali hanyalah lapar dan dahaga</em>&#8221; <strong>(HR. Ibnu Majah)</strong></p>
<p>Dari hadits di atas, Rasulullah menjelaskan bagaimana banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apapun termasuk ridho Allah swt kecuali lapar dan haus. Sehingga untuk mencapai suatu ridho Allah, hendaknya puasa yang dilakukan berdasarkan iman dan ihtisab dalam hati.</p>
<p>Sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah swt dan lebih menjadikan hati kita peka terhadap sesama manusia, puasa yang kita lakukan bersama dengan ibadah-ibadah yang lain, seharusnya lebih berdasarkan pada keimanan yang kuat dan melakukan ihtisab dari amal-amal yang kita lakukan. Allah swt berfirman,</p>
<p>&#8220;<em>Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika hanya seberat biji dzarrah pun, pasti Kami mendatangkan nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.</em>&#8221; <strong>(QS. Al Anbiya : 47)</strong></p>
<p>Semoga Allah swt meridhoi amal ibadah kita selama Ramadhan, dan semoga kita dapat menjadikan bulan ini sebagai sarana introspeksi dan evaluasi diri untuk mempertebal dan memperkuat iman di dalam hati. Wallahu &#8216;alam bish showab.</p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Referensi:</strong></span><br />
1.  <a href="http://www.bernas.co.id/news/CyberNas/NASIONAL/4108.htm">Bulan Evaluasi dan Koreksi Diri</a>, Waryono Abdul Ghafur, www.bernas.co.id, Sept 2006<br />
2.  <a href="http://dores-kedaikopi.blogspot.com/2007/09/ihtisab.html">Ihtisab</a>, Dores Pnde MS, www.dores-kedaikopi.blogspot.com, Sept 2007</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bulan Ramadhan, Kemuliaan Amaliyah nan penuh Hikmah]]></title>
<link>http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/2009/09/10/bulan-ramadhan-kemuliaan-amaliyah-nan-penuh-hikmah/</link>
<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 11:35:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>nikmatilahhidupmu</dc:creator>
<guid>http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/2009/09/10/bulan-ramadhan-kemuliaan-amaliyah-nan-penuh-hikmah/</guid>
<description><![CDATA[Bulan Ramadhan, Kemuliaan Amaliyah nan penuh Hikmah Oleh: Muhammad Taufiq bin Abdulbakri bin Yusuf B]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:left;" dir="ltr">
<p style="text-align:left;" dir="ltr">
<h2 style="text-align:center;"><strong>Bulan Ramadhan, Kemuliaan Amaliyah nan penuh Hikmah</strong></h2>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-66" title="Bismillah..." src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/basmalah_emas.gif" alt="Bismillah..." width="216" height="83" /><br />
</strong></p>
<p><strong>Oleh: Muhammad Taufiq bin Abdulbakri bin Yusuf</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignleft" title="ramadhan" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/ramadhan.jpeg" alt="ramadhan" width="133" height="93" />Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia dan agung, bulan yang penuh berkah dan kebaikan. Bulan yang penuh anugrah, bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah, bulan yang penuh dengan balasan pahala.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Pada bulan tersebut Allah memberikan kesempatan kepada hambaNya untuk mengumpulkan point-point pahala melalui beberapa amalan yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Seperti puasa, sholat tarawih, baca al-quran, berinfaq dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:left;" dir="ltr">Allah berfirman :</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ</strong><strong> </strong></h2>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.<em> (Al-Baqarah : 185)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Pada bulan ramadhan pintu neraka ditutup, pintu sorga dibuka dan syetan-syetan dibelenggu. Maksudnya adalah kebaikan tersebar dimana-mana dan orang antusias untuk melakukannya, kemaksiatan diminimalisir kalaupun tidak habis seratus persen, banyak orang yang tidak suka perbuatan tersebut meraja lela pada bulan ramdhan. Bisikan syetanpun melemah terhadap hamba Allah yang beriman dibandingkan diluar ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Suatu bukti nyata bahwa pada bulan ramdhan banyak sekali hamba-hamba Allah yang pemurah, dermawan dan baik hati saling berlomba-lomba memberikan kelebihan harta yang mereka miliki. Ikut berbahagia dengan datangnya bulan ramadhan, ada yang memberikan makanan berbuka puasa baik dirumah maupun di masjid (kalau dimesir namanya <em>&#8220;Maidatur Rahman&#8221;</em>), pembagian buku Islam gratis, sampai lomba menulis artikel di blog seperti yang di selenggarakan oleh <a href="http://dijaminmurah.com" target="_blank">dijaminmurah.com</a> dengan hadiah yang menarik dan berharga terkhusus kepada 5 pemenang utama dan 15 pemenang selanjutnya pada lomba ngeblog <span style="color:#0000ff;"><a href="http://lomba.dijaminmurah.com/" target="_blank">dijaminmurah 09</a></span>.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dan ingat-ingat kembali seputar bulan Ramadhan (jika sekiranya ada yang lupa, karena moment ini hanya sekali dalam setahun), diantaranya adalah:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Bulan Ramadhan adalah bulan alquran<a href="#_ftn1">[1]</a></li>
<li style="text-align:justify;">Adanya Malam lailatul Qodar</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignright size-full wp-image-30" title="ramadhan-2" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/ramadhan-2.jpeg" alt="ramadhan-2" width="124" height="97" />Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur&#8217;an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk membawa) segala urusan, Selamatlah malam itu hingga terbit fajar.&#8221; <em>(Al Qadar : 1-5)<!--more--></em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Rasul bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.&#8221;   <em>(Bukhari (4/225) dan Muslim (1169))</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;siapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu<em>.&#8221; (HR. Bukhari (4/217) dan Muslim (759))</em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Dibelenggunya syaitan, ditutup pintu-pintu neraka dan di bukanya pintu-pintu surga</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, &#8220;Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya, pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat, juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.&#8221;<em> (HR. Ahmad dan An-Nasa&#8217;i)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu : bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga), Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. &#8220;Beliau ditanya, &#8216;Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar&#8217; Jawab beliau, &#8216;Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.&#8221; <em>(HR. Ahmad)</em><em> Isnad<strong> </strong></em>hadits<strong> </strong>tersebut<strong> </strong><em>dha&#8217;if,<strong> </strong></em>dan<strong> </strong>diantara<strong> </strong>bagiannya<strong> </strong>ada <em>nash-nash<strong> </strong></em>lain<strong> </strong>yang memperkuatnya.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>KEKHUSUSAN DAN KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN LAINNYA</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>1.      Puasa Ramadhan adalah rukun keempat dalam Islam. Firman Allah <em>Ta&#8217;ala </em>:</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan asas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa&#8221;. <em>(Al-Baqarah : 183).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Islam didirikan di atas lima sendi, yaitu : syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji ke Baitul Haram.&#8221; <em>(Hadits Muttafaq &#8216;Alaih).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Ibadah puasa merupakan salah satu sarana penting untuk mencapai takwa, dan salah satu sebab untuk mendapatkan ampunan dosa-dosa, pelipat gandaan kebaikan, dan pengangkatan derajat. Allah telah menjadikan ibadah puasa khusus untuk diri-Nya dari amal-amal ibadah lainnya. Firman Allah dalam hadits yang disampaikan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>: &#8220;Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum dari pada aroma kesturi.&#8221;<em> (Hadits Muttafaq &#8216;Alaih).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Maka untuk memperoleh ampunan dengan puasa Ramadhan, harus ada dua syarat berikut ini:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mengimani dengan benar akan kewajiban ini.</li>
<li>Mengharap pahala karenanya di sisi Allah <em>Ta &#8216;ala.</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>2. Pada bulan ini terjadi peristiwa besar yaitu Perang Badar</strong>, yang pada keesokan harinya Allah membedakan antara yang haq dan yang bathil, sehingga menanglah Islam dan kaum muslimin serta hancurlah syirik dan kaum musyrikin.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>3. Pada bulan suci ini terjadi pembebasan kota Makkah Al-Mukarramah</strong>, dan Allah memenangkan Rasul-Nya, sehingga masuklah manusia ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong dan Rasulullah menghancurkan syirik dan paganisme (keberhalaan) yang terdapat di kota Makkah, dan Makkah pun menjadi negeri Islam.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Betapa banyak berkah dan kebaikan yang terdapat dalam bulan Ramadhan. Maka kita wajib memanfaatkan kesempatan ini untuk bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan beramal shalih, semoga kita termasuk orang-orang yang diterima amalnya dan beruntung.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Maka seyogianya waktu-waktu pada bulan Ramadhan dipergunakan untuk berbagai amal kebaikan, seperti shalat, sedekah, membaca Al-Qur&#8217;an, dzikir, do&#8217;a dan <em>istighfar. </em>Ramadhan adalah kesempatan untuk menanam bagi para hamba Allah, untuk membersihkan hati mereka dari kerusakan.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Juga wajib menjaga anggota badan dari segala dosa, seperti berkata yang haram, melihat yang haram, mendengar yang haram, minum dan makan yang haram agar puasanya menjadi bersih dan diterima serta orang yang berpuasa memperoleh ampunan dan pembebasan dari api Neraka.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>MOTIFASI BULAN RAMADHAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>1. Pengampunan dosa</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Shalat lima waktu, shalat Jum&#8217;at ke shalat Jum &#8216;at lainnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan. &#8221; <em>(HR.Muslim).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>2. Dikabulkannya do&#8217;a dan pembebasan dari api neraka</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda (yang artinya): &#8220;Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam bulan ramadhan, dan semua orang muslim yang berdo&#8217;a akan dikabulkan do&#8217;anya.&#8221; <em>(HR Bazzar (3142), Ahmad (2/254) dari jalan A&#8217;mas, dari Abu Shalih dari Jabir, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1643) darinya dengan ringkas dari jalan lain, hadits shahih . Do&#8217;a yang dikabulkan itu ketika berbuka, sebagaimana akan datang penjelasannya lihat &#8220;Misbahuh Azzujajah&#8221; (no. 604) karya Al-Bushiri).</em><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>3. Orang yang puasa termasuk shidiqin dan syuhada</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Amr bin Murrah Al-Juhani Radhiallahu&#8217;anhu berkata: Datang seorang pria yang datang kepada Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wasalam kemudian berkata :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Ya Rasulullah! Apa pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak untuk diibadahi kecuali Allah, engkau adalah Rasulullah Shalallahualaihi wasalam, aku shalat lima waktu, aku tunaikan zakat, aku lakukan puasa Ramadhan dan shalat tarawih di malam harinya, termasuk orang yang manakah aku ? Beliau menjawab : &#8220;Termasuk dari shidiqin dan syuhada&#8221;. <em>(HR Ibnu Hibban (no. 11-zawaidnya) sanadnya SHAHIH).</em><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>BEBERAPA AMALAN DI BULAN RAMADHAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>PUASA DAN KEUTAMAANNYA.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Pada bulan Ramadhan kita yang telah memenuhi syarat<a href="#_ftn2">[2]</a> diwajibkan oleh Allah untuk melaksanakan puasa<a href="#_ftn3">[3]</a> sebulan penuh. Yang terhitung sejak terlihatnya <em>hilal, </em>atau setelah bulan Sya&#8217;ban genap 30 hari. Puasa Ramadhan wajib dilakukan apabila <em>hilal </em>awal bulan Ramadhan disaksikan seorang yang dipercaya, sedangkan awal bulan-bulan lainnya ditentukan dengan kesaksian dua orang yang dipercaya.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>SUNAH-SUNAH PUASA :</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mengakhirkan sahur sampai akhir waktu malam, selama tidak dikhawatirkan terbit fajar.</li>
<li>Segera berbuka puasa bila benar-benar matahari terbenam.</li>
<li>Memperbanyak amal kebaikan, shalat lima waktu berjamaah, menunaikan zakat harta, memperbanyak shalat sunat, sedekah, membaca Al-Qur&#8217;an dan amal kebajikan lainnya.</li>
<li>Jika dicaci maki, supaya mengatakan: &#8220;Saya berpuasa,&#8221; dan jangan membalas mengejek orang yang mengejeknya, tetapi membalas itu semua dengan kebaikan agar mendapatkan pahala dan terhindar dari dosa.</li>
<li>Berdo&#8217;a ketika berbuka sesuai dengan yang diinginkan. Seperti membaca do&#8217;a: &#8220;Ya Allah hanya untuk-Mu aku berpuasa, dengan rizki anugerah-Mu aku berbuka. Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, terimalah amalku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui &#8220;</li>
<li>Berbuka dengan kurma segar, jika tidak punya maka dengan kurma kering, dan jika tidak punya cukup dengan air.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Makan dan minum dengan sengaja. Jika dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.</li>
<li><em>Jima&#8217; </em>(bersenggama)<a href="#_ftn4">[4]</a>.</li>
<li>Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan transfusi darah bagi orang yang berpuasa.</li>
<li>Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab lainnya dengan sengaja. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluarnya tanpa sengaja.</li>
<li>Keluarnya darah haid dan nifas. Manakala seorang wanita mendapati darah haid, atau nifas batallah puasanya, baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari.</li>
<li>Sengaja muntah, dengan mengeluarkan makanan atau minuman dari perut melalui mulut. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. ”siapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha, sedang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib qadha.&#8221; (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi). Dalam lafazh lain disebutkan : &#8220;siapa yang muntah tanpa disengaja, maka ia tidak (wajib) mengganti puasanya).&#8221;<em> DiriwayatRan oleh Al-Harbi dalamGharibul Hadits (5/55/1) dari Abu Hurairah secara maudu&#8217; dan dishahihRan oleh AI-Albani dalam silsilatul Alhadits Ash-Shahihah No. 923.</em></li>
<li>Murtad dari Islam (semoga Allah melindungi kita darinya). Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan. Firman Allah <em>Ta&#8217;ala: </em>Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. &#8221; <em>(Al-An&#8217;aam:88).</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Tidak batal puasa orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu, lupa atau dipaksa. Demikian pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau air tanpa disengaja.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Abu Hurairah : Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji, jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : &#8220;Aku sedang puasa, Aku sedang puasa.&#8221;<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>BEBERAPA HAL YANG BOLEH DILAKUKAN OLEH ORANG YANG BERPUASA</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img title="siwak" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/siwak.jpeg" alt="siwak" width="116" height="116" /> <img class="alignnone size-full wp-image-13" title="jarum suntik" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/jarum-suntik.jpeg" alt="jarum suntik" width="81" height="111" /> <img title="obat tetes mata" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/obat-tetes-mata.jpeg" alt="obat tetes mata" width="65" height="150" /> <img title="mandi" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/gayung.jpeg" alt="mandi" width="121" height="56" /></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bersiwak dan menggosok gigi. <em>(HR. Bukhori (2/311), Muslim (252))</em></li>
<li>Dalam keadaan junub ketika masuk waktu subuh. <em>(HR. Bukhori (4/123), Muslim (1109))</em></li>
<li>Berkumur-kumur dan memasukan air ke dalam hidung. <em>(HR. Tirmidzi (3/146)</em></li>
<li>Mengeluarkan darah, suntikan yang tidak mengandung makanan.</li>
<li>Berbekam dalam keadaan puasa.<em> (HR. Bukhari (4/155 &#8211; Fath)</em></li>
<li>Mencicipi masakan selama tidak melewati tenggorokan. <em>Ibnu Abi Syaibah (3/47), Baihaqi (4/261)</em></li>
<li>Bercelak dan tetes mata dan lainnya yang masuk ke mata. <em> Imam bukhari</em></li>
<li>Mandi atau menyiramkan air ke kepala. <em>(HR. Abu Dawud (2365), Ahmad (5/376,380,408,430) sanadnya SHAHIH).</em></li>
<li>Bercengkrama dan mencium istri.<em> (HR Bukhori (4/131), Muslim (1106)).</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>ORANG-ORANG YANG MENDAPAT <em>RUKHSOH</em> (KERINGANAN) UNTUK TIDAK BERPUASA</strong></p>
<p style="text-align:center;" dir="ltr"><strong><img class="aligncenter" title="bus" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/bus.jpeg" alt="bus" width="150" height="113" /> <img title="sakit" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/sakit.jpeg" alt="sakit" width="111" height="120" /> <img title="kakek" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/kakek.jpeg" alt="kakek" width="125" height="78" /> <img title="nenek" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/nenek.jpeg" alt="nenek" width="125" height="78" /> <img title="hamil kartun" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/hamil-kartun.jpeg" alt="hamil kartun" width="118" height="89" /> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Musafir : orang yang bepergian jauh.<em> (lihat albaqarah 185 dan HR Bukhari (4/156), Muslim (1121)))</em></li>
<li>Sakit <em>(lihat albaqarah 185)</em></li>
<li>Tua renta (lihat <em>(HR Bukhari (4505)</em></li>
<li>Haid dan Nifas</li>
<li>Hamil dan menyusui. (lihat <em>(HR Tirmidzi (715), Nasai (4/180), Abu Dawud (3408), Ibnu Majah (16687). Sanadnya hasan.</em></li>
<li>Orang yang butuh berbuka karena kondisi darurat untuk menyelamatkan orang lain. Seperti : menyelamatkan seseorang dari kebakaran, tenggelam, kdan eruntuhan atau selainnya. Sekiranya tidak mungkin menolong calon korban kecuali dengan kekuatan maka dia mesti makan dan minum dan boleh berbuka.<em> </em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Ket:</strong> Khusus untuk orang tua renta, ibu hamil dan menyusui cukup kewajibannya membayar fidyah<a href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Sedangkan untuk musafir, sakit yang masih ada harapan sembuh, wanita haid dan nifas wajib mengqodho/mengganti puasa sebanyak yang ditinggalkannya. Namun apabila sakit tersebut tidak ada harapan sembuh karena lamanya maka kewajibannya adalah bayar fidyah.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>SAHUR </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignleft" title="waktu sahur" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/waktu-subuh.jpeg" alt="waktu sahur" width="130" height="90" />Dari Amr bin &#8216;Ash radhiallahu &#8216;anhu Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi wasallam bersabda (yang artinya): &#8220;Pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab adalah makan sahur<em>&#8220;.   (HR Muslim (1096)).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>KEUTAMAAN SAHUR</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Berkah : Dari Salman radhiallahu &#8216;anhu Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda (yang artinya): &#8220;Barokah ada pada tiga perkara : Jama&#8217;ah, Tsarid dan makan sahur.&#8221; <em>(HR. Thabrani dalam &#8220;Al-Kabir&#8221; (6127), Abu Nu&#8217;aim pada &#8220;Dzikru Akhbari Ashbahan&#8221; (1/57))</em></li>
<li>Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur. Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu &#8216;anhu Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda (yang artinya): &#8220;Sahur itu makanan yang barokah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan malaikat- Nya bershalawat kepada orang-orang yg sahur.&#8221;</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>SUNNAH SAHUR  ADALAH MENGAKHIRKANNYA DAN DENGAN KURMA</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignright size-full wp-image-22" title="kurma" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/kurma.jpg" alt="kurma" width="126" height="137" />Anas radhiallahu &#8216;anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiallahu &#8216;anhu: &#8220;Kami makan sahur bersama Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasallam, kemudian beliau shalat, aku tanyakan (kata Anas): &#8220;Berapa lama jarak antara adzan dan sahur? Beliau menjawab: &#8220;Kira-kira 50 ayat membaca Al-Qur&#8217;an.&#8221; <em>(HR. Bukhori (4/118), Muslim (1097)).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignleft" title="kurma merah" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/kurma-merah.jpeg" alt="kurma merah" width="130" height="98" />Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasallam (yang artinya): &#8220;Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah korma.&#8221;   <em>(HR Abu Daud (2/303), Ibnu Hibban (223) Baihaqi (4/237)).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>HUKUM SAHUR</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Ada sebagian ulama yang menekankannya anjurannya dengan beberapa alas an diantaranya: lafaz hadits berupa perintah, sebagai pembeda dengan puasa ahlul kitab, Al-Hafidz Ibnu Hajar menukilkan dalam kitabnya &#8220;Fathul Bari&#8221; (4/139) ijma&#8217; atas sunnahnya.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>DIANTARA KEUTAMAAN PUASA ADALAH</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>1. Puasa telah diwajibkan kepada seluruh umat.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Allah berfirman :</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ </strong><strong> </strong></h2>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. <em>(Al-Baqarah:183)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>2. Puasa merupakan sebab diampuninya dosa dan penghapus kesalahan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari abu hurairah Rasul shallallahu `alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">“Siapa yang berpuasa dibulan ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. <em>(shahih Bukhari &#38; Muslim)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Iman kepada Allah dan ridho dengan diwajibkannya puasa terhadap dirinya, Mengharapkan pahala dan balasannya kepada Allah, dia tidak membenci kewajiban tersebut dan tidak pula ragu terhadap balasan dan pahalanya.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Abu Hurairah Rasul bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">“Shalat lima waktu, dari jumat ke jumat yang akan datang dan ramadhan ke ramadhan menjadi penghapus dosa diantara keduanya apabila dia menjahui dosa-dosa besar”. <em>(shahih Muslim)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>3. Puasa pahalanya tanpa batas.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Abu Hurairah, Rasul Shollallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">“Seluruh amal anak adam untuknya kecuali puasa, sesungguhnya itu untuk Ku dan Aku yang akan membalasinya. Puasa adalah tameng, maka apabila salah seorang kamu berpuasa janganlah berkata keji, jangan pula membuat keributan. Apabila salah seorang mencelanya atau ingin membunuhnya maka katakanlah kepadanya “saya berpuasa”. Demi jiwa Muhammad yang berada di Tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih baik dari pada aroma kesturi (misk). Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, pertama ketika dia berbuka dan yang kedua ketika dia menjumpai Rabb-Nya dalam keadaan berpuasa”. <em>(Bukhari &#38; Muslim).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dalam riwayat muslim Rasul bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">“Setiap amal anak Adam satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh sampai seratus kali lipat. Allah berfirman kecuali puasa sesungguhnya itu untuk Ku dan Aku yang akan membalasinya, dia meninggalkan syahwat dan makannya karena Ku”.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>4. Puasa dapat menjadi syafa’at (penolong) terhadap orang yang mengamalkannya pada hari kiamat kelak.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Abdullah bin Umar rodhiallahu `anhu dari nabi bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">“Puasa dan al-quran keduanya menjadi syafa`at pada hari kiamat. Puasa berkata: “Ya Allah, dia meninggalkan makan dan hawa nafsunya maka berikanlah syafa’atku untuknya”. Al-quran berkata: “dia tinggalkan tidur malam karena membacaku maka berikanlah dia syafa’at, maka keduanya menjadi syafa’at”. <em>(Shahih atas syarat Imam Muslim, riwayat Ahmad, Thabrani dan Hakim).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Keutamaan puasa tidak didapati sehingga orang yang berpuasa menjaga adab-adabnya, maka bersungguh-sunguhlah dalam memnatapkan puasa kalian, menjaga batasan-batasan Allah dan bertobat kepada Nya atas kelalaian atas itu.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>5. </strong><strong>Puasa adalah perisai (pelindung)</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Wahai sekalian para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu baah (menikah dengan berbagai macam persiapannya), hendaknya menikah, karena menikah lebih menundukan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa (pemutus syahwat) baginya.&#8221; <em>HR. Bukhori (4/106) dan Muslim (no. 1400) dari Ibnu Mas&#8217;ud</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Tidaklah ada seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim <em>&#8220;. (HR. Bukhori (6/35), Muslim (1153) dari Abu Sa&#8217;id AlKhudri, ini adalah lafadh Muslim. Sabda Rasulullah Sholallahu &#8216;alaihi wasalam : 70 musim yakni : perjalanan 70 tahun demikian dikatakan dalam &#8220;Fathul Bari&#8221; (6/48))</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>6. Puasa sebagai jaminan untuk masuk sorga</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Abi Umamah radhiallahu &#8216;anhu :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Aku berkata : &#8220;Ya Rasulullahu Shalallahu &#8216;alaihi wasallam tunjukkan padaku amalan yang bisa memasukanku ke syurga; beliau menjawab: &#8220;Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu.&#8221; <em>(HR Nasa&#8217;I (4/165), Ibnu Hibban (hal. 232 Mawarid), Al-Hakim (1/421) sanadnya SHAHIH) </em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Sahl bin Sa&#8217;ad radhiallihu &#8216;anhu, dari Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : &#8220;sesungguhnya dalam syurga ada satu pintu yang disebut dengan rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. jika telah masuk orang terahir yang puasa ditutuplah pintu tersebut, barang siapa yang masuk akan minum, dan barang siapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya.&#8221; <em>(HR. Bukhori (4/95). Muslim (1152) tambahan akhir dalam riwayat Ibnu Khuzhaimah dalam kitab Shahihnya (1903))</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>ANCAMAN BAGI ORANG YANG MEMBATALKAN PUASA RAMADHAN DENGAN SENGAJA</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Abi Umamah Al-Bahili Radhiallahu&#8217;anhu, Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Ketika aku tidur, datanglah dua orang pria kemudian memegang dhobaya (dua lenganku) membawaku kesatu gunung yang kasar (tidak rata), keduanya berkata: &#8220;Naik, aku katakan : &#8220;aku tidak mampu, keduanya berkata: &#8220;kami akan memudahkanmu,&#8221; akupun naik hingga ketika aku sampai ke puncak gunung ketika itulah aku mendenganr suara yang keras. Akupun bertanya : &#8220;Suara apakah ini ? Mereka berkata: &#8220;Ini adalah teriakan penghuni neraka kemudian keduanya membawaku, ketika aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki diatas, mulut mereka rusak/robek, darah mengalir dari mulut mereka. Aku bertanya: &#8220;Siapakah mereka ? keduanya menjawab : &#8220;mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka (sebelum tiba waktu berbuka).&#8221; <em>(Riwayat An-Nasa&#8217;I dalam &#8220;Al-Kubra&#8221; sebagaimana dalam &#8220;tuhfatul Asyraf&#8221; (4/166) dan Ibnu Hibban (no. 1800- zawahidnya) dan Al-Hakim (1/430) dari jalan Abdur Rahman bin Yazid bin Jabir, dari Salim bin Amir, dari Abu Umamah. Sanadnya SHAHIH).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>TENTANG QODHO PUASA RAMADHAN</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Bahwasanya dalam mengqodho puasa tidak wajib segera dilakukan, namun lebih baik jika disegerakan karena kita tidak tahu kapan ajal tiba.</li>
<li>Tidak ada dalil shahih yang mewajibkan berturut-turut ataupun dipisah, yang kuat adalah boleh memilih antara keduanya.</li>
<li>Apabila orang yang mempunyai hutang puasa ramadhan wafat sebelum mengqodhonya maka walinya cukup membayarkan fidyah untuknya. Bukan menggantikan puasanya sebagaimana dalam hadits hutang puasa nazar.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>PUASA RAMADHAN DAN MANFAATNYA MENURUT KESEHATAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><em>&#8221;Berpuasalah maka anda akan sehat</em>.<a href="#_ftn7">[7]</a>&#8221;<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Ibadah puasa mengandung banyak hikmah, salah satu hikmah puasa yaitu dapat membantu usaha terhadap pencegahan dan penyembuhan penyakit, antara lain yaitu :<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>1. </strong><strong>Menurunkan berat badan dan mencegah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Obesitas" target="_blank">obesitas</a> (kegemukan)</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Semua orang tahu kalau obesitas disebabkan karena tubuh kelebihan asupan zat gizi, baik itu karbohidrat ataupun lemak. Untuk menghilangkan kegemukan tersebut, selain dengan olahraga, salah satu metode yang bisa digunakan adalah starvation diet (diet lapar), yang di dalam Islam sama saja dengan melakukan puasa.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>2. Mengurangi risiko kencing manis (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Diabetes_mellitus" target="_blank">diabetes mellitus</a>) tipe II. </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Bila mengkonsumsi karbohidrat berlebihan dalam waktu yang lama, akan terjadi penumpukan gula (glukosa) dalam darah, dan ini akan mengakibatkan timbulnya penyakit kencing manis. Penyakit terjadi karena terlalu banyak makan mengakibatkan kelenjar ludah di perut lelah, sehingga pankreas tak cukup lagi menghasilkan insulin yang berfungsi mengolah gula. Gula yang tidak dapat diolah tersebut tetap beredar di pembuluh darah, kemudian dikeluarkan melalui air kencing sehingga rasanya manis dan akibatnya kencing tersebut dikerubungi oleh semut. Selain itu, kelebihan gula di dalam darah juga dapat menimbulkan obesitas (kegemukan). Karena itu, puasa—yang secara harafiah artinya tidak makan—dapat mencegah penyakit kencing manis dan obesitas tesebut.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>3. Mencegah pengerasan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pembuluh_darah" target="_blank">pembuluh darah</a>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignright" title="pembuluh darah" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/pembuluh-darah.jpeg" alt="pembuluh darah" width="127" height="84" />Bila kita makan terlalu banyak, terutama yang berlemak, akibatnya kelebihan lemak akan disimpan di dalam jaringan. Suatu saat nanti, jaringan lemak tersebut tidak dapat lagi menampung lagi, sehingga lemak tersebut beredar di dalam darah. Kondisi ini disebut hyperkolesterolaemia.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Kelebihan lemak di dalam darah tersebut akan tertimbun di pembuluh darah dan akan mengakibatkan arteriosklerosis (pengerasan pembuluh darah). Hal ini akan sangat membahayakan bagi organ-organ yang mendapatkan aliran darah dari pembuluh darah yang telah menyempit tersebut. Organ tersebut akan kekurangan darah dan dapat menimbulkan kematian, terutama bila yang terkena tersebut adalah organ vital seperti jantung. Dengan puasa maka kelebihan-kelebihan lemak tersebut akan dibakar sebagai cadangan energi sehingga lemak tersebut akan berkurang atau bahkan hilang sama sekali.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>4. Menurunkan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi" target="_blank">tekanan darah tinggi</a>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignleft size-full wp-image-24" title="tekanan darah tinggi" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/tekanan-darah-tinggi.jpeg" alt="tekanan darah tinggi" width="116" height="109" />Salah satu penyebab penyakit ini adalah kelebihan garam (natrium) di dalam darah. Terapinya adalah dengan diet rendah garam, atau bisa juga puasa, di mana konsumsi semua makanan, termasuk yang mengandung garam, dihentikan sama sekali selama batas waktu tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>5. Menyembuhkan ulkus peptikum.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignright" title="ulkus peptikum" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/ulkus-peptikum.jpeg" alt="ulkus peptikum" width="120" height="83" />Merupakan penyakit akibat kerusakan mukosa lambung, yang terjadi atas pengaruh asam dan pepsin. Ulkus peptikum berarti produksi asam lambung yang berlebihan sehingga mengakibatkan kerusakan dinding lambung, karena asam lambung tersebut bersifat korosif terhadap dinding lambung. Pada saat puasa, getah lambung hanya akan memproduksi asam lambung dalam jumlah sedikit. Hal ini disebabkan oleh perintah otak, karena manusia secara tidak sadar telah memprogram otak untuk berniat menunda jam makan.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>6.  Menurunkan kolestrol. </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Selain itu, puasa juga dapat menurunkan kolesterol dan trigliserida tinggi, mencegah gangguan jantung dan stroke, dan memperbaiki kerja maag.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>7. Memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong><img class="alignleft" title="alat pencernaan" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/alat-pencernaan.jpeg" alt="alat pencernaan" width="102" height="134" /> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Pada hari-hari ketika tidak sedang berpuasa, alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras, oleh karena itu sudah sepantasnya alat pencernaan diberi istirahat.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>8. Membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi). </strong>Dengan puasa, berarti membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita sehingga menghasilkan<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Enzim" target="_blank"> enzim</a> <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Antioksidan" target="_blank">antioksidan</a> yang dapat membersihkan zat-zat yang bersifat racun dan karsinogen dan mengeluarkannya dari dalam tubuh.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>9. Menambah jumlah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_darah_putih" target="_blank">sel darah putih</a>. </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignright" title="sel darah putih" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/sel-darah-putih.jpeg" alt="sel darah putih" width="89" height="74" /></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Sel darah putih berfungsi untuk menangkal serangan penyakit sehingga dengan penambahan sel darah putih secara otomatis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>10. </strong><strong>Menyeimbangkan kadar asam dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Basa" target="_blank">basa</a> dalam tubuh</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>11. </strong><strong>Memperbaiki fungsi <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hormon" target="_blank">hormon</a>, meremajakan sel-sel tubuh,</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>12. </strong><strong>Meningkatkan fungsi organ tubuh</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dr Mahmud Ahmad Najib (Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Ain-Syams Mesir) menguraikan dalam bukunya yang berjudul <em>”Pemeliharaan Kesehatan dalam Islam”</em> tentang manfaat puasa diantaranya adalah:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>1. Manfaat bagi Kesehatan Badan (jasmani).</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Puasa memperkecil sirkulasi darah sebagai perimbangan untuk mencegah keluarnya keringat dan uap melalui pori-pori kulit serta saluran kencing tanpa perlu menggantinya. Menurutnya curah jantung dalam mendistribusikan darah keseluruh pembuluh darah akan membuat sirkulasi darah menurun. Dan ini memberi kesempatan otot jantung untuk beristirahat, setelah bekerja keras satu tahun lamanya. Puasa akan memberi kesempatan pada jantung untuk memperbaiki vitalitas dan kekuatan sel-selnya.</li>
<li>Puasa memberi kesempatan kepada alat-alat pencernaan untuk beristirahat setelah bekerja keras sepanjang tahun. Lambung dan usus beristirahat selama beberapa jam dari kegiatannya, sekaligus memberi kesempatan untuk menyembuhkan infeksi dan luka yang ada sehingga dapat menutup rapat. Proses penyerapan makanan juga berhenti sehingga asam amoniak, glukosa dan garam tidak masuk ke usus. Dengan demikian sel-sel usus tidak mampu lagi membuat komposisi glikogen, protein dan kolesterol. Disamping dari segi makanan, dari segi gerak (olah raga), dalam bulan puasa banyak sekali gerakan yang dilakukan terutama lewat pergi ibadah.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>2. Manfaat bagi Kesehatan Rohani (Mental).</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Perasaan (mental) memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Mendapat rasa senang, gembira, rasa puas serta bahagia, merupakan tujuan bermacam-macam ikhtiar manusia sehari-hari. Bila seseorang menangani gangguan kesehatan, tidak boleh hanya memperhatikan gangguan badaniah saja, tetapi sekaligus segi kejiwaan dan sosial budayanya. Rohani datang dari Allah, maka kebahagiaan hanya akan didapat apabila makin dekat kepada pencipta-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Di dalam bulan puasa disunahkan untuk makin berdekat diri dengan Allah SWT baik lewat shalat, membaca Alquran, zikir, berdoa, istighfar, dan qiyamul lail. Selama sebulan secara terus-menerus akan membuat rohani makin sehat, jiwa makin tenang. Dengan memperbanyak ingat kepada Allah, makin yakin bahwa semua yang ada datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya jua. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah antara lain:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” <em>(QS:Al Baqarah 45).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">”Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim kecuali merugi.” <em>(QS:Al-Isra’ 82)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">”Orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” <em>(QS:Ar-Ra’d 28).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">”Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”<em> (QS:Al Fajr 27-30).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>3. Manfaat Puasa bagi hubungan sosial. </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dalam mengajarkan nilai ibadah itu adalah terwujudnya keseimbangan antara cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia. Demikian juga nilai ibadah puasa, tidak hanya terjalinnya hubungan yang semakin dekat kepada Allah, tetapi juga semakin dekat dengan sesamanya. Makin seringnya beribadah bersama, bersama keluarga, tetangga, dan masyarakat sekeliling, maka makin kenal akan sesamanya, makin menyadari kebutuhan hidup bermasyarakat. Makin timbul keinginan berbagi rahmat bersama-sama di dunia dan makin ingin bersama-sama masuk surga. Pahala nilai shodaqoh berlipat ganda termasuk memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa. Menyakiti hati orang lain dan aneka gangguan terhadap sesamanya sangat dianjurkan untuk ditinggalkan. Kalau tidak maka nilai puasa seseorang sangatlah rendah. Hal ini dijelaskan di dalam firman Allah ta&#8217;ala:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">”Hai orang-orang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada lagi syafa’at. Dan oang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” <em>(QS:Al Baqarah 254)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” <em>(QS:Al Hujurat 10)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya langit dan bumi dan disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang bebuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” <em>(QS Al Imran 133-135).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>QIYAM RAMADHAN/SHALAT TARAWIH</strong><a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignleft" title="tarawih" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/tarawih.jpeg" alt="tarawih" width="130" height="84" /></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda : &#8220;siapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.&#8221; <em>(Hadits Muttafaq &#8216;Alaih)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>HUKUMNYA </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Qiyam Ramadhan (shalat malam Ramadhan) hukumnya sunnah mu&#8217;akkadah (ditekankan), dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam dan beliau anjurkan serta sarankan kepada kaum Muslimin. Juga diamalkan oleh Khulafa&#8217; Rasyidin dan para sahabat dan tabi&#8217;in.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>KEUTAMAANNYA </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Qiyamul lail (shalat malam) disyariatkan pada setiap malam sepanjang tahun. Besar Keutamaannya dan banyak pahalanya. Firman Allah Ta&#8217;ala :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Artinya &#8220;Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya&#8221; (Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur, untuk mengejakan shalat malam), sedang mereka berdo&#8217;a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. &#8221; <em>(As-Sajdah: 16).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (dengan mengatakan: Hadits ini hasan shahih dan hadist ini dinyatakan shahih oleh Al-Hakim) dari Abdullah bin Salam, bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Wahai sekalian manusia, sebarkan salam, beri makanlah orang miskin, sambungkan tali kekeluargaan dan shalatlah pada waktu malam ketika semua manusia tidur, niscaya kalian masuk Surga dengan selamat. &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasalllam :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Sebaik-baik shalat setelah fardhu adalah shalat malam.&#8221; <em>(HR. Muslim).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>JUMLAH RAKAAT QIYAM RAMADHAN/TARAWIH</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong> </strong><img class="alignright size-full wp-image-30" title="ramadhan-2" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/ramadhan-2.jpeg" alt="ramadhan-2" width="124" height="97" />Salafush Sholih (orang-orang sholih dahulu) berbeda pendapat tentang batasan raka&#8217;at, ada yang mengatakan 41 rekaat, 39 rekaat, 29 rekaat, 23 rekaat, 19 rekaat, 13 rekaat dan 11 rekaat. Namun pendapat yang paling kuat dan sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam adalah 11 atau 13 rekaat. Dari &#8216;Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha berkata:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam tidak pernah shalat malam di bular Ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka&#8217;at.&#8221;  <em>(Dikeluarkan oleh Bukhari (3/16) dan Muslim (736))</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Beberapa jumlah witir yang berdasarkan sabda rasul :</strong><em> </em></p>
<ul>
<li>1. Rekaat : &#8220;siapa yang ingin melakukan witir dengan satu raka&#8217;at maka lakukanlah. &#8221; (<em>HR. Abu Dawud dan An-Nasa&#8217;i.)</em></li>
</ul>
<ul>
<li>3 rekaat  : &#8220;siapa yang ingin melakukan witir dengan tiga raka &#8216;at maka lakukanlah. &#8221; <em>(HR. Abu Dawud dan An-Nasa&#8217;i)·</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Hal ini boleh dilakukan dengan sekali salam, atau shalat dua raka&#8217;at dan salam kemudian shalat raka&#8217;at ketiga.</p>
<ul>
<li>5 rekaat, dilakukan tanpa duduk dan tidak salam kecuali pada raka&#8217;at akhir. &#8220;siapa yang ingin melakukan witir dengan lima raka&#8217;at maka lakukanlah. &#8221; <em>(HR. Abu Dawud dan An-Nasa&#8217;i).</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Aisyah radhiallahu &#8216;anha, beliau mengatakan : &#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam biasanya shalat malam tiga belas raka&#8217;at, termasuk di dalamnya witir dengan lima raka &#8216;at tanpa duduk di salah satu raka&#8217;at pun kecuali pada raka&#8217;at terakhir.&#8221; <em>(Hadits Muttafaq &#8216;Alaih).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Ketiga hadits tersebut dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban.</p>
<ul>
<li>7 rekaat, dilakukan sebagaimana lima raka&#8217;at. Berdasarkan penuturan Ummu Salamah radhiallahu &#8216;anha : &#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam biasanya melakukan witir dengan tujuh dan lima raka&#8217;at tanpa diselingi dengan salam dan ucapan.&#8221; <em>(HR, Ahmad, An-Nasa&#8217;i dan Ibnu Majah).</em></li>
</ul>
<ul>
<li>9 rekaat</li>
<li>11 rekaat</li>
<li>13 rekaat</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dan yang afdhal adalah salam setiap dua rakaat kemudian witir dengan satu raka&#8217;at.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dalil yang paling kuat adalah 11 raka&#8217;at. (Yaitu berdasarkan hadits Aisyah radiallahu&#8217;anha yang artinya : &#8221; Tiadalah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam menambah (rakaat), baik di bulan Ramadhan atau (di bulan) lainya lebih dari sebelas rakaat&#8221;. <em>(HR. Al-Bukhari dan An-Nasa&#8217;i).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Terkadang ada sebagian masjid yang memilih 23 rekaat (penulis pernah mengalaminya), tapi mereka sholatnya ngebut (seolah-olah mengikuti lomba sholat cepat), bacaannya juga tergesa-gesa, hal tersebut disindir oleh nabi sebagaimana sabdanya:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Orang yang sholat tanpa tuma&#8217;ninah seperti seekor ayam mematuk makanannya&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Nah kalau begini kenyataannya, maka 11 atau 13 rekaat yang tuma&#8217;ninah lebih baik daripada 23 rekaat tadi, sehingga makmum tidak ketinggalanan perkara yang wajib dalam sholat serta hal-hal yang di sunnahkan. Bukankah begitu!.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>WAKTU QIYAM RAMADHAN/TARAWIH </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Shalat malam Ramadhan mencakup shalat pada permulaan sampai akhir malam.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Jangan sampai meninggalkan shalat tarawih, agar memperoleh pahala dan ganjarannya. Dan jangan segera pulang sebelum mengikuti imam sampai selesai, sholat tarawih agar mendapatkan pahala shalat semalam suntuk. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;siapa mendirikan shalat malam bersama imam sehingga selesai, dicatat baginya shalat semalam suntuk.&#8221; <em>(HR. Para penulis kitab Sunan, dengan sanad shahih) Lihat kitab Majalisu Syahri Ramadhan, oleh Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm. 26-30.</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p><strong>MEMBACA AL-QURAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Membaca Al-Quran ada dua macam:</p>
<ul>
<li> Membaca secara hukum, yaitu membenarkan kabar-kabar yang terkandung didalamnya, mengamalkan hukum-hukumnya dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya.</li>
<li>Membaca secara lafaz saja</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-59" title="cahaya AL-QURAN" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/cahaya-al-quran.gif" alt="cahaya AL-QURAN" width="144" height="102" />Dari Ibnu Mas&#8217;ud radhiallahu &#8216;anhu, katanya : Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda : &#8220;Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf.&#8221; (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Aisyah radhiallahu &#8216;anhu, katanya : Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda : &#8220;Orang yang membaca Al-Qur&#8217;an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.&#8221; (Hadits Muttafaq &#8216;Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Al-Qur&#8217;anul Karim.</p>
<p><strong>BERSEDEKAH</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignright" title="sedekah" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/sedekah.jpeg" alt="sedekah" width="121" height="123" />Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas raldhiallahu &#8216;anhuma, ia berkata : &#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al-Qur&#8217;an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al-Qur&#8217;an. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad dengan tambahan : &#8220;Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya.&#8221; Dan menurut riwayat Al-Baihaqi, dari Aisyah radhiallahu &#8216;anha : &#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam jika masuk bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>MALAM LAILATUL QODAR</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong> </strong>Malam lailatur qadar lebih baik dari seribu bulan <em>(lihat. Al Qadar : 1-5).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>KAPAN YA WAKTUNYA?</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignleft" title="malam lailatul qadar" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/malam-lailatul-qadar.jpeg" alt="malam lailatul qadar" width="133" height="106" />Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bahwa malam tersebut terjadi pada tanggal malam 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. <em>(Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Iraqi telah mengaran suatu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bi Dzikri Lailatul Qadar, membawakan perkataan para ulama dalam masalah ini)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>BAGAIMANA CARA MENDAPATKANNYA?</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">bangunlah (untuk menegakkan shalat) pada sepuluh malam terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu utu ktu, perbanyaklah perbuatan ketaatan. Dari &#8216;Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Adalah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya<em>.&#8221;  (HR. Bukhari (4/233) dan Muslim (1174))</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu<em>.&#8221; (HR. Bukhari (4/217) dan Muslim (759))</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>ADA NGGAK SIH TANDA-TANDANYA?</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari &#8216;Ubai Radhiyallahu &#8216;anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.&#8221;  <em>(Muslim (762))</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu ia berkata, kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam, dan beliau bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah<em>.&#8221; (Muslim (1170 /Perkataan, syiqi jafnah, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadhi &#8216;Iyadh berkata, &#8220;Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.&#8221;)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu &#8216;anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah- merahan<em>.&#8221;   (Thayalisi (394), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Siapa saja yang boleh mendapatkannya? Setiap muslim berhak untuk mendapatkannya.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>I&#8217;TIKAF <a href="#_ftn9"><strong>[9]</strong></a></strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignright" title="i'tikaf" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/itikaf.jpeg" alt="i'tikaf" width="65" height="110" />Dan yang lebih utama yaitu pada akhir bulan Ramadhan karena Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam seringkali beri&#8217;tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan hingga Allan Yang Maha Perkasa dan Mulia mewafatkan beliau<em>.  (Riwayat Bukhari (4/266) dan Muslim (1173) dari &#8216;Aisyah)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Syarat I&#8217;tikaf adalah dimasjid, sebagaiman firman Allah:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">&#8220;Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu, sedangkan kamu beri&#8217;tikaf di Masjid.&#8221;<em> (Al Baqarah : 187)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Apa saja yang boleh dilakukan oleh orang yang I&#8217;tikaf?</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Diperbolehkan keluar dari masjid jika ada hajat</li>
<li>Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang i&#8217;tikaf untuk mendirikan tenda (kemah) kecil pada bagian dibelakan masjid sebagai tempat dia beri&#8217;tikaf<a href="#_ftn10">[10]</a></li>
<li>Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang beri&#8217;tikaf untuk meletakkan kasur atau ranjangnya di dalam tenda tersebut<a href="#_ftn11">[11]</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>SAYA SEORANG WANITA, APAKAH BOLEH I&#8217;TIKAF?</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Seorang wanita boleh i&#8217;tikaf dengan didampingi suaminya ataupun sendirian. Berdasarkan ucapan &#8216;Aisyah Radhiyyallahu &#8216;anha, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam i&#8217;tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau kemudian istri-istri beliau i&#8217;tikaf setelah itu&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Diperbolehkan bagi seorang istri untuk mengunjungi suaminya yang berada di tempat i&#8217;tikaf, dan suami diperbolehkan mengantar istri sampai ke pintu masjid.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>TENTANG ZAKAT FITRAH</strong><a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignleft" title="zakat" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/zakat.jpeg" alt="zakat" width="117" height="105" />Berkata Ibnul Atsir : &#8220;Zakat fitrah (fithr) adalah untuk mensucikan badan&#8221; <em>(An Nihayah 2:307)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Seorang muslim yang mempunyai kemampuan dia wajib mengeluarkan zakat fithrah untuk dirinya dan seluruh orang yang dibawah tanggungannya. Dan diberikan kepada orang yang berhak menerimanya yaitu fakir miskin.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam bersabda &#8220;zakat fithrah sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” <a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Waktu Zakat fithrah ditunaikan adalah:</strong></p>
<ol>
<li>waktu yang utama : yaitu pagi hari sebelum shalat &#8220;ied dan tidak boleh diakhirkan (setelah) shalat atau dimajukan penunaiannya kecuali satu atau dua hari (sebelum &#8216;Ied) berdasarkan riwayat perbuatan Ibnu Umar radhiallahu &#8216;anhu.<a href="#_ftn15">[15]</a></li>
<li>Waktu yang boleh, yaitu satu atau dua hari sebelum hari raya idul fitri.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Jenis Zakat Fithrah adalah makanan manusia</strong>, jadi tidak sah kalau anda menunaikannya dengan memberikan makanan hewan ternak misalnya. Yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat adalah berupa satu gantang gandum, satu gantang kurma, satu gantang susu, satu gantang anggur kering atau salt (sejenis gandum yang tidak berkulit), karena hadits Abu Sa&#8217;id Al Khudri Radhiallahu anhu: “Kami mengeluarkan zakat (pada zaman Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam) satu gantang makanan, satu gantang gandum, satu gantang korma, satu gantang susu kering, satu gantang anggur kering.”200)<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignright" title="beras" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/beras.jpeg" alt="beras" width="116" height="87" />Intinya adalah makanan pokok pada suatu daerah, bisa berupa beras dan sebagainya. Walaupun demikian ada sebagian orang lebih memilih menggantinya dengan uang dengan pertimbangan tertentu. Namun syaikh kami<a href="#_ftn17">[17]</a> salah seorang Ulama pakar Hadits di Mesir Syaikh Majdi Arafat mengatakan dalam beberapa pertemuan kajian Islam bahwa yang lebih utama adalah makanan pokok. Keterangan tambahan anda bisa baca disini: Majalis Syahru Ramadhan, Syaikh Ibnu `Utsaimin, hal.143. penerbit Daarul aqidah, Cairo-egypt.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Ukuran zakat fitrah</strong><a href="#_ftn18">[18]</a> sudah sama-sama kita ketahui yaitu <span style="font-family:Arial,sans-serif;">satu <em>sha’ </em>(gantang) dari makanan pokok negara setempat. Satu <em>sha’</em> untuk ukuran Kg sekitar 2,4 kg (namun realitanya di indonesia digenapkan jadi 2,5 kg. agar lebih mudah) </span></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Hikmah zakat fitrah adalah terpenuhinya kebutuhan pangan bagi orang miskin, sehingga menjaga diri mereka dari meminta-minta. Dan semoga mereka bisa turut bersuka cita dengan tibanya hari idul fitri.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>BEBERAPA HADITS-HADITS LEMAH SEPUTAR RAMADHAN</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Bulan Ramadhan tergantung antara langit dan bumi, tidak diangkat ke hadirat Allah kecuali oleh zakat fitrah. [palsu]</em><a href="#_ftn19">[19]</a></li>
<li><strong>Bila datang bulan </strong><em>Ramadhan</em><strong>, pada awal malamnya Allah swt memperhatikan makhluk-Nya, Bila Allah telah memperhatikan makhluk-Nya, maka Ia tidak akan mengazab selamanya. Dan Allah setiap malamnya membebaskan sejuta manusia dari siksaan api neraka. [palsu]</strong>.<a href="#_ftn20">[20]</a></li>
<li>&#8220;Barangsiapa melakukan i&#8217;tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan <em>Ramadhan</em>, maka baginya pahala dua ibadah haji dan dua ibadah umrah&#8221;<a href="#_ftn21">[21]</a></li>
<li>&#8220;Barangsiapa tidak berpuasa sehari di bulan <em>Ramadhan</em> sedangkan ia dalam keadaan bermukim (tidak dalam bepergian), maka hendak-nya ia menyembelih seekor unta betina. Apabila tidak memilikinya maka hendaklah ia memberi makan fakir miskin tiga puluh Kati kurma. &#8220;.<a href="#_ftn22">[22]</a></li>
<li>&#8220;(Puasa) <em>Ramadhan</em> di Madinah lebih baik seribu kali daripada (puasa) <em>Ramadhan</em> di tempat lain,…&#8221; <a href="#_ftn23">[23]</a></li>
<li>Barangsiapa mendapatkan <em>Ramadhan</em> di Mekkah, kemudian ia berpuasa dan mengamalkan shalat malam sesuai kemampuannya, maka Allah akan mencatat baginya (pahala) seratus ribu pahala <em>Ramadhan</em> di tempat lain, Allah juga mencatat baginya setiap hari dan malamnya {seperti pahala) membebaskan budak, dan setiap harinya diberi (pahala) menyediakan kuda perang fi sabilillah, serta setiap hari dan malamnya diberi (pahala) amalan kebaikan.&#8221; <a href="#_ftn24">[24]</a></li>
<li>Barangsiapa mendapatkan <em>Ramadhan</em>, padahal ia masih berkewajiban mengqadha sebagian puasa yang terdahulu, maka tidaklah diterima puasanya. Dan siapa saja yang berpuasa sunnah, padahal dia masih berkewajiban membayar puasanya, maka puasa sunnah yang dilakukannya tidak diterima, hingga ia membayar puasa yang diutangnya.&#8221; <a href="#_ftn25">[25]</a></li>
<li>“Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya…”<a href="#_ftn27">[27]</a></li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li>&#8220;Permulaan bulan <em>Ramadhan</em> adalah rahmat, pertengahannya adalah (pengampunan), dan a<em>khimya adalah pembebasan dari neraka. <a href="#_ftn26"><strong>[26]</strong></a></em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">10.  &#8220;Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka…”<a href="#_ftn28">[28]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">11.  “Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” <a href="#_ftn29">[29]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">12. “Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun tersebut.”<a href="#_ftn30">[30]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">13.  Rajab adalah bulan Allah, Sya&#8217;ban adalah bulanku (nabi), Ramadhan adalah bulan ummatku. (hadits Palsu) <a href="#_ftn31">[31]</a></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>BEBERAPA PERMASALAHAN DAN SOLUSINYA</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Selama ramadhan biaya yang dikeluarkan lebih banyak dari sebelumnya. Solusi: belanjalah sesuai kebutuhan dan jangan berlebih-lebihan sebagaimana yang terjadi dalam buka puasa yaitu membeli beraneka macam makanan berbuka yang pada akhirnya banyak terbuang karena kapasitas perut terbatas.</li>
<li>Asmara subuh<a href="#_ftn32">[32]</a> : yaitu setelah sholat subuh berjama&#8217;ah di masjid sekelompok pemuda dan pemudi berjalan bareng, ngobrol kesana dan kemari, canda dan kadang ada yang pacaran. Solusinya : hendaknya orang tua memberikan arahan pada anak-anak mereka, bahwa perbuatan tersebut tidak baik, apalagi dibulan ramadhan.</li>
<li>Tidak sholat wajib/tarawih<a href="#_ftn33">[33]</a> karena bikin kue untuk hari raya. Solusinya: waktu alternative mungkin bisa di kerjakan setelah shalat tarawih,pagi setelah shalat subuh (dari pada langsung tidur bisa mengundang penyakit) atau siang hari setelah zuhur.</li>
<li>Keluarnya para wanita ke masjid/musholla dengan memakai parfum dan berdandan, sedangkan hal tersebut bisa mendatangkan fitnah bagi laki-laki yang memandangnya. Solusinya : Seorang suami/bapak hendaknya melarang istri dan anak wanitanya keluar rumah/kemasjid apabila mereka berdandan dan memakai parfum (karena ada larangan yang kuat dari rasul)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>TIPS SEHAT SELAMA BULAN RAMADHAN</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>1. </strong><strong>Sahur yang sehat :</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-78" title="sayur-sayuran" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/sayuran.jpeg" alt="sayur-sayuran" width="150" height="113" /> <img class="alignnone size-full wp-image-79" title="nasi merah" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/nasi-merah1.jpeg" alt="nasi merah" width="83" height="116" /><br />
</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Konsumsilah makanan yang dicerna dalam jangka waktu lama (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbohidrat" target="_blank">karbohidrat</a> kompleks : gandum, beras merah).</li>
<li>Perbanyak makan sayuran karena sayuran mengandung serat yang cukup lama dicerna sehingga menimbulkan rasa kenyang lebih lama</li>
<li>Tingkatkan asupan cairan dalam jumlah cukup (3-4 gelas air)</li>
<li>Jangan minum minuman yang mengandung <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kafein" target="_blank">kafein</a> karena bersifat diuretik dan dapat menimbulkan keluhan sakit kepala akibat dari efek adiksi</li>
<li>Konsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral</li>
<li>Hindari makanan yang digoreng (deep fried) karena dapat menimbulkan keluhan kesehatan seperti mual, heart burn, kembung, dan peningkatan berat badan</li>
<li>Konsumsilah makanan dan minuman dalam jumlah cukup dan seimbang.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Berbuka puasa yang sehat</strong>:</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-80" title="jus buah" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/jus-buah.jpeg" alt="jus buah" width="97" height="145" /> <img class="alignnone size-full wp-image-81" title="air putih" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/air-putih.jpeg" alt="air putih" width="92" height="116" /></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Segerakanlah berbuka puasa jika sudah tiba waktunya</li>
<li>Berbuka puasa sebaiknya diawali dengan makanan yang memiliki kadar <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Glukosa" target="_blank">glukosa</a> alami untuk pemulihan energi di dalam tubuh, seperti kurma dan jus buah.</li>
<li>Makanan yang terlalu banyak mengandung gula tambahan seperti kolak, biji salak, es buah, dan sebagainya, kurang baik untuk dikonsumsi</li>
<li>Makanlah secara perlahan-lahan, bertahap, dan kunyahlah dengan sempurna untuk membantu pencernaan tubuh menyesuaikan diri setelah berpuasa seharian</li>
<li>Jangan menyantap hidangan berbuka terlalu banyak, istirahatkan perut Anda setelah berbuka dengan ibadah shalat kemudian menyantap hidangan utama</li>
<li>Untuk makan malam, konsumsilah makanan yang sehat dengan komposisi seimbang antara <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbohidrat" target="_blank">karbohidrat</a> kompleks (nasi merah, pasta, roti gandum), <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protein" target="_blank">protein</a> (ayam, ikan, kacang-kacangan), serat (sayuran), lemak, vitamin, dan mineral</li>
<li>Konsumsilah cairan dalam jumlah cukup (1,5-2 L/hari) dari waktu berbuka hingga waktu sahur untuk menghindari kondisi dehidrasi (kekurangan cairan)</li>
<li>Jangan jadikan berbuka puasa merupakan ajang balas dendam dengan mengonsumsi makanan sebanyak-banyaknya. Karena dapat menyebabkan kembung, konstipasi (sulit BAB), heart burn, nyeri perut, dll.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Makanan yang tepat selama Ramadhan</strong></p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="50%">
<p dir="ltr"><strong>Makanan yang Dihindari</strong></p>
</td>
<td width="50%">
<p dir="ltr"><strong>Alternatif Makanan Sehat</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p dir="ltr"><img title="tempe goreng" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/tempe-goreng.jpeg" alt="tempe goreng" width="116" height="116" />Makanan yang digoreng dengan minyak dalam jumlah banyak dan sangat panas (deep fried food), seperti snak gorengan (pisang goreng, tahu, tempe)</p>
</td>
<td valign="top">
<p dir="ltr"><img title="nasi merah" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/nasi-merah.jpeg" alt="nasi merah" width="83" height="116" />Karbohidrat kompleks yang dapat memberi rasa kenyang lebih lama seperti nasi merah, kentang, roti gandum, roti yang dipanggang, kacang-kacangan. Sayuran yang banyak mengandung serat juga dicerna lebih lama dan menimbulkan perasaan kenyang</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p dir="ltr"><img title="es-teler, enak...tapi harus dihindari ya :-(" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/es-teler.jpeg" alt="es-teler, enak...tapi harus dihindari ya :-(" width="103" height="124" />Makanan dengan kadar gula tinggi seperti kolak, biji salak, es teler, es buah, coklat, cake dalam jumlah berlebihan.</p>
</td>
<td valign="top">
<p dir="ltr"><img title="tumisan" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/tumisan.jpeg" alt="tumisan" width="130" height="90" />Makanan yang dipanggang, ditumis, dikukus, atau direbus lebih baik dibandingkan makanan yang digoreng</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p dir="ltr"><img title="daging berlemak" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/daging-berlemak.jpeg" alt="daging berlemak" width="134" height="96" />Makanan dengan kadar lemak tinggi seperti kulit ayam, jerohan, santan, daging berlemak</p>
</td>
<td valign="top">
<p dir="ltr"><img title="buah2an" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/buah2an.jpeg" alt="buah2an" width="90" height="68" />Makanan yang mengandung rasa manis alami seperti kurma dan buah-buahan.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">4. <strong>Bersihkan Sisa Makanan Sebaik-baiknya</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignleft size-full wp-image-83" title="gosok gigi " src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/gosok-gigi-2.jpeg" alt="gosok gigi " width="118" height="118" />Sikat gigi minimal dua kali sehari sebagaimana pesan dokter gigi, Bersihkan juga sela gigi dengan dental floss dan sikat permukaan lidah perlahan setelah sikat gigi, Anda akan terkejut menyadari perbedaannya. Karena daerah yang menyebabkan bau mulut tak sedap di antaranya adalah sela-sela gigi dan lidah. Sisa makanan di sela gigi dan permukaan lidah itulah yang lama kelamaan akan membusuk oleh <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bakteri" target="_blank">bakteri</a> dan menghasilkan senyawa<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sulfur" target="_blank"> sulfur</a>, penyebab bau mulut.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>5. Jangan berpuasa</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Bagi Ibu hamil dan menyusui sebaiknya tidak usah berpuasa, karena janin/bayi membutuhkan sari makanan yang bersumber dari sang ibu.</li>
<li>Bagi Gangguan jantung (gagal jantung, aritmia atau gangguan irama jantung)</li>
<li>Sebelum dan sesudah operasi besar</li>
<li>Defisiensi <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nutrisi" target="_blank">nutrisi</a> (malnutrisi)</li>
<li>Ulkus lambung dan ulkus peptikum yang tidak terkontrol dengan baik (perlukaan pada saluran pencernaan)</li>
<li>Dirawat di rumah sakit karena penyakit tertentu (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Akut" target="_blank">akut</a> maupun <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kronik" target="_blank">kronik</a>)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. Berolah Raga</strong> : karena dapat melancarkan aliran darah, menguatkan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Otot" target="_blank">otot</a>, meningkatkan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metabolisme" target="_blank">metabolisme</a>, dan ketahanan tubuh. Tapi ingat jangan olahraga yang berat-berat atau lama, anda cukup berolah raga dengan intensitas ringan, seperti berjalan kaki, jogging, atau bersepeda.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. Makanlah kurma dan rasakan khasiatnya untuk kesehatan anda.</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><img class="alignleft" title="kurma kuning" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/kurma-kuning.jpeg" alt="kurma kuning" width="146" height="97" />Nilai gizi utama kurma terletak di dalam kandungan gulanya yang terdiri atas glukosa dan<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fruktosa" target="_blank"> fruktosa</a> antara 60-70% (tergantung varietas). Selain gula, kurma juga mengandung air (20%), protein (2-3%), serat (8,5%), dan sedikit sekali kandungan lemak jenuh. Selain itu kurma dilengkapi oleh vitamin A, B1, B2, B6, C, serta berbagai jenis mineral dan asam organik.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Dengan mengonsumsi kurma 3-5 buah ketika berbuka, maka stamina tubuh akan cepat pulih karena kurma sangat baik sebagai sumber energi. Tidak heran dengan berbagai kandungan yang terdapat di dalamnya, nabi sendiri menganjurkan kurma sebagai makanan pembuka. Jadi tunggu apa lagi, segeralah penuhi asupan kurma di kala sahur dan berbuka!.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Semoga Ramadhan saat ini kita menjadi semakin dekat kepada Allah, berkurangnya dosa, melimpahnya pahala. Cinta kepada kebaikan dan membenci kmaksiatan. Sholawat dan salam untuk nabi kita Muhammad shollallahu alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai akhir zaman, amin.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><strong>R E F E R E N S I</strong> :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Masailu wa ahkam fii Ramadhan, Syaikh Majdi Arafat, Egypt.</li>
<li>Ash-Shiyam, hikam wa ahkam, Syaikh Usamah Al-Qusy, Cairo</li>
<li>Majalis Syahru Ramadhan, Syaikh Ibnu `Utsaimin, daarul `aqidah, Cairo-Egypt</li>
<li>Shifati Shaumin Nabiyy, Syaikh Salim bin &#8216;Id Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid</li>
<li>Silsilah Ahadits Adh-Dhoifah, Syaikh Al-Albany</li>
<li>Tuntunan Ibadah Di Bulan Ramadhan, Syaikh M. Ibn Jaarullah Al Jaarullah</li>
<li>Risalah Ramadhan, Kumpulan 44 Fatwa Muqbil bin Hadi al-Wadi’I, Pustaka Ats-TsiQaat<em>Press</em></li>
<li>Pemeliharaan Kesehatan dalam Islam, Dr Mahmud Ahmad Najib, artikel</li>
<li>Klikdokter</li>
<li>Gambar : google.co.id</li>
</ol>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><img title="Foote Note" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/lampu-berjalan.gif" alt="Foote Note" width="430" height="11" /></p>
<p style="text-align:center;" dir="ltr">
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Footenote :</strong></span></p>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Al-Baqarah : 185. lihat kembali pada awal artikel.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref2">[2]</a> . Syarat-syarat sahnya puasa ada enam<strong> :</strong> Islam, Berakal, <em>Tamyiz : </em>dapat membedakan yang baik dengan yang buruk. Tidak haid dan Tidak nifas, Berniat: Niat itu tempatnya di hati, tidak ada tuntunan melafadzkannya dari rasul walaupun manusia menganggapnya baik. Nabi bersabda, <em>“Setiap amalan bergantung pada niat dan bagi setiap seseorang (akan mendapatkan) apa yang dia niatkan.”. niat adalah maksud atau tujuan, maka bangunmu untuk sahur sudah menjadi niat.</em> Kewajiban untuk berniat sejak malam itu khusus bagi puasa wajib, karena Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasallam pernah datang ke Aisyah selain bulan ramadhan beliau berkata : &#8220;Apakah engkau punya santapan siang ? kalau nggak ada aku berpuasa&#8221;. <em>(HR Muslim (1154))</em>. Lihat: fatwa puasa, 44 fatwa syaikh muqbil bin Hadi al-Wadi’i</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref3">[3]</a> . Yaitu menahan diri dari makan, minum dan bersenggama mulai dari terbit fajar yang kedua sampai terbenamnya matahari. Firman <em>Allah Ta &#8216;ala:</em> &#8220;…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam &#8230; &#8220;(Al-Baqarah: 187),</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref4">[4]</a> . Apabila hal ini terjadi (biasanya sih banyak menimpa pengantin baru J ) maka seorang laki-laki wajib membayar kifarat (istri tidak) yaitu puasa 2 bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka member makan 60 orang miskin. Lihat : Bukhari (11/516), Muslim (1111). Namun apabila dua pilihan tadi dia tidak mampu maka gugurlah kewajiban kifarat. Subhanallah, betapa mudahnya islam ini. Lihat : Al Baqarah : 286</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref5">[5]</a> . <em>(HR Ibnu Khuzaimah (1996), Al-Hakim (1/430- 431). sanadnya SHAHIH)</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref6">[6]</a> . Yaitu memberi makan setiap hari seorang miskin sebanyak puasa yang tertinggal.  <em>(HR Bukhari (8/135))</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref7">[7]</a> . Al Kamil (7/2521). Hadits ini lemah karena ada perawinya Nahsyal yang matruk dan pendusta.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref8">[8]</a> . lihat : “<em>Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>”, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Penerjemah : Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Penerbit “Cahaya Tauhid Press.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref9">[9]</a> . Yaitu berdiam (tinggal) di atas sesuatu. Dan dapat dikatakan bagi orang-orang yg tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai mu&#8217;takif dan &#8216;akif. Hukum I&#8217;tikaf adalah sunnah.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref10">[10]</a> . Aisyah pernah melakukannya atas perintah rasul. Lihat : Shahih Bukhari (4/226) dan Shahih Muslim (1173)).</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref11">[11]</a> . Hadits tersebut dikeluarkan oleh <em>Ibnu Majah (642-zawaidnya) dan Al Baihaqi</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref12">[12]</a> . <em>Lihat : Bukhari (4/240) dan Muslim (2157) dan tambahan ada pada Abu Dawud (7/142-143 di dalam Aunul Ma&#8217;bud).</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref13">[13]</a>. Zakat fithri wajib atas kaum muslimin, anak kecil, besar, laki-laki, perempuan, orang yang merdeka maupun hamba. Lihat : [HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984)]</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref14">[14]</a> . Lihat : Majmu&#8217; Fatawa, Ibnu Taimiyyah (2/71-78) dan Zaadul Ma&#8217;ad, Ibnul Qoyyim (2/44).</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref15">[15]</a> . Lihat kitab Ahkamul &#8216;Idain fis Sunnah Al Muthaharah karya Ali Hasan Ali Abdul Hamid, cet.maktabah Al Islamiyah</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref16">[16]</a> . [HR Bukhari (3/294) dan Muslim (985)]</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref17">[17]</a> . Penulis, Mahasiswa Alazhar yang juga mengikuti kajian rutin dengan beliau di Mitghamr-egypt</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref18">[18]</a> . lihat : Hadits Abu Daud (2340), Nasa&#8217;I (7/281), Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref19">[19]</a> . No. 43. <em>Silsilah Hadits Dhoif</em>, Syaikh Al-Albany</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref20">[20]</a> . No. 299. <em>Silsilah Hadits Dhoif</em>, Syaikh Al-Albany</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref21">[21]</a> . No. 518. <em>Silsilah Hadits Dhoif</em>, Syaikh Al-Albany</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref22">[22]</a> . No.623. <em>Silsilah Hadits Dhoif</em>, Syaikh Al-Albany</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref23">[23]</a> . No.831. <em>Silsilah Hadits Dhoif</em>, Syaikh Al-Albany</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref24">[24]</a> . No.832. <em>Silsilah Hadits Dhoif</em>, Syaikh Al-Albany</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref25">[25]</a> . No.838. <em>Silsilah Hadits Dhoif</em>, Syaikh Al-Albany</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref26">[26]</a> . <em>No.1569</em>. <em>Silsilah Hadits Dhoif</em>, Syaikh Al-Albany</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref27">[27]</a> . Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Mauduat (2/188-189) dan Abul Ya&#8217;la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al Muthalibul &#8216;Aaliyah (Bab/A-B/ tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah dari Abu Mas&#8217;ud Al Ghifari.</p>
<p style="text-align:justify;">-Hadits ini maudhu&#8217; (palsu), penyakitnya pada Jabir bin Ayyub, biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata: “Masyhur dengan kelemahannya.” Juga dinukilkan perkataan Abu Nu&#8217;aim, “Dia suka memalsukan hadits,” dan Bukhari, berkata, “Mungkarul hadits” dan dari An Nasa&#8217;i, “matruk (ditinggalkan) haditsnya.”</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref28">[28]</a> . Hadits ini juga panjang, kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al Ashbahani dalam At Targhib (q/178, tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad&#8217;an dari Sa&#8217;id bin Al Musayyib dari Salman.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">Hadits ini sanadnya dhaif, karena lemahnya Ali bin Zaid,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref29">[29]</a> . Dhoif jiddan (lemah sekali). Tidak kita ragukan kebenarannya secara kesehatan namun tidak mesti di sandarkan ke nabi. <em>&#8220;Ash-Shiyam, hikam wa ahkam&#8221;</em>, Syaikh Usamah Al-Qusy, Cairo. Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa&#8217;id, dari Ad Dhahhak dari ibnu Abbas. Nahsyal termasuk yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad Dhahhak tidak mendengarkan dari ibnu Abbas. Diriwayatkan oleh At Thabrani di dalam Al Ausath (1/q 69/ Al Majma&#8217;ul Bahrain) dan Abu Nu&#8217;aim di dalam Ath Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhair bin muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih dari Abi hurairah. Dan sanad hadits ini lemah.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref30">[30]</a> . Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu&#8217;allaq* dalam Shahih-nya (4/160 -Fathul Bari) tanpa sanad. Ibnu Khuzaimah telah memalsukan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870), At Tirmidzi (723), Abu Daud (2397), Ibnu Majah (1672) dan Nasa&#8217;i di dalam Al Kubra sebagaimana dalam Tuhfatu Asyraaf (10/373), Baihaqi (4/228) dan Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta&#8217;liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref31">[31]</a> . Lihat Al-Maudu&#8217;at, Ibnu Jauzi. <em>&#8220;Masailu wa ahkam fii Ramadhan&#8221;</em>, Syaikh Majdi Arafat, Egypt.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref32">[32]</a> . Maaf, ini sekedar istilah anak-anak muda kita. Kalau dimesir tidak ada. -pen</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr"><a href="#_ftnref33">[33]</a> . Sunnah di masjid berjama&#8217;ah dan bukanlah wajib, dikerjakan di rumahpun bernilai pahala.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="ltr">
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-68" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/bga-matahari.gif" alt="" width="600" height="53" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.mediafire.com/file/wrtjy1mdga2/10%20besar%20lomba%20artikel.%20taufiq.pdf.zip" target="_blank"><img class="aligncenter size-full wp-image-94" title="download disini!" src="http://nikmatilahhidupmu.wordpress.com/files/2009/09/download_button.gif" alt="download disini!" width="179" height="67" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Perhatian: </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Artikel ini disusun dalam rangka mengikuti lomba ngeblog <a href="http://lomba.dijaminmurah.com/" target="_blank">dijaminmurah.com</a> Bagi pengunjung yang menemukan blog ini baik sengaja ataupun tidak anda bebas membacanya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Boleh dicopy paste dengan syarat menyertakan link artikel ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad Taufiq bin Abdulbakri bin Yusuf.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mozaik : Bulan Ramadan]]></title>
<link>http://tulisansederhana.wordpress.com/2009/09/08/mozaik-bulan-ramadan/</link>
<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 13:36:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>anto rudiana</dc:creator>
<guid>http://tulisansederhana.wordpress.com/2009/09/08/mozaik-bulan-ramadan/</guid>
<description><![CDATA[Satu kenikmatan yang luar biasa ketika kita diberi kesempatan untuk bisa menikmati betapa manisnya j]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Satu kenikmatan yang luar biasa ketika kita diberi kesempatan untuk bisa menikmati betapa manisnya jamuan Alloh SWT di bulan yang penuh Berkah, Rahmat dan Ampunan ini. Betapa tidak, semuanya  Alloh SWT berikan untuk hamba-hamba-Nya yang menjalankan ibadah di bulan yang agung ini.</p>
<p>Jika kita renungkan, Ramadan merupakan saat yang tepat untuk membentuk karakter kita, agar menjadi manusia yang lebih baik dan bisa menjalankan fungsinya sebagai Rahmatan Lil Alamin. Yaitu manusia yang memberikan manfaat yang luas dengan keberadaannya, baik untuk pribadi, keluarga, lingkungan dan yang terpenting bagi agamanya. Kawan, shaum hakikatnya bukan hanya menahan lapar dan dahaga, atau hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan biologis saja. Shaum memberikan lebih, bagaimana kita rasakan betapa kita diajarkan untuk bisa menjadi pejuang dalam keadaan lapar dan dahaga, kita pun bisa meraba perasaan saudara-saudara kita yang kurang beruntung, yang selalu merasakan lapar baik siang dan malam. Ramadan juga mengajarkan kita untuk ikhlas dan tulus menjalankan ibadah.</p>
<p>Kawan, aku tak bermaksud sediktpun untuk menggurui. Aku hanya mengajak mari, di bulan yang penuh Rahmat ini kita hidupkan hati kita dengan saling memberi. Tak cukup hanya ritual saja, seyogyanya kita bisa benar-benar menjalankan fungsi kita sebagai rahmatan lil alamin. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengenalkan Anak Berpuasa]]></title>
<link>http://mutiarapena.wordpress.com/2009/09/07/mengenalkan-anak-berpuasa/</link>
<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 04:17:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>mutiarapena</dc:creator>
<guid>http://mutiarapena.wordpress.com/2009/09/07/mengenalkan-anak-berpuasa/</guid>
<description><![CDATA[Bulan suci Ramadhan merupakan waktu yang paling ditunggu-tunggu kaum muslimin. Berpuasa di bulan itu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-27" title="mengenalkan ramadhan kepada anak" src="http://mutiarapena.wordpress.com/files/2009/09/mengenalakan-ramadhan-kepada-anak.jpg" alt="mengenalkan ramadhan kepada anak" width="220" height="159" />Bulan suci Ramadhan merupakan waktu yang paling ditunggu-tunggu kaum muslimin. Berpuasa di bulan itu, hukumnya adalah wajib. Tak terkecuali anak-anak. Namun, apakah kita telah mengajarkan putra-putri kita untuk berpuasa?</p>
<p>Merujuk ajaran yang memerintahkan orangtua agar menyuruh anak-anaknya shalat mulai usia tujuh tahun, Pakar Pendidikan Anak Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam mengatakan, dari perintah shalat, maka dapat disamakan dengan puasa dan haji.</p>
<p>Mengajarkan anak berpuasa akan menuntun anak untuk belajar mengenal islam secara bertahap. Jadi, anak akan tahu bahwa pada bulan Ramadhan setiap muslim diwajibkan berpuasa. Pengenalan dengan puasa Ramadhan dapat dilakukan sejak anak masih balita. Tentunya sesuai dengan porsi kemampuan anak. Tidak ada pemaksaan dan proses pengenalannya dibuat sesuai daya tangkap anak.</p>
<p>Jika anak sudah masuk pada anak usia SD perlu juga diberi pengertian mengenai makna berpuasa dari aspek sosial. Misalnya, puasa menumbuhkan empati. Agar seseorang mengetahui bagaimana keadaan orang lain yang kurang beruntung tidak dapat makan.</p>
<p>Berikut ini beberapa tips mengenalkan berpuasa sejak dini pada anak.</p>
<p><em>Pertama,</em><strong> </strong>perkenalan.<strong> </strong>Ini merupakan tugas orangtua untuk menjelaskan kepada anak-anak apa arti, makna, dan manfaat berpuasa. Jika tidak dijelaskan sejak dini, bulan Ramadan akan jatuh seperti “perayaan tahunan”. Usia balita dianggap paling pas membiasakan anak dengan kesiapan, pemahaman sederhana dan rutinintas puasa. Berikan pemahaman sederhana yang dapat dikonkritkan sementara anak masih berusia balita.</p>
<p>Sesuaikan dengan pemikiran anak yang masih sulit mengembangkan sesuatu yang bersifat konseptual. Orangtua harus bisa melatih anak untuk berpuasa. Tapi melatih anak berpuasa tidak bisa dilakukan dengan cara paksa. Ada baiknya perkenalan dilakukan dengan cara seperti mendongeng cerita &#8211; cerita yang biasa anda lakukan, tetapi kali ini ceritanya berhubungan dengan puasa dan bulan ramadhan. Atau juga bisa mengajak anak dalam kegiatan pawai Ramadhan.</p>
<p><em>Kedua,</em><strong> </strong>buat suasana baru dirumah. <strong> </strong>Suasana rumah yang berubah juga akan mempengaruhi semangat anak. Misalnya dengan mengubah penataan rumah, mempersiapkan ruang khusus untuk sholat berjamaah dan tadarus Al-Qur&#8217;an. Ajak anak-anak menghiasi ruang tersebut dengan tulisan kaligrafi dan gambar islami.</p>
<p>Kamar tidur anak juga dapat dihias dengan tulisan hadist, motto ataupun semboyan yang akan membangkitkan semangat mereka jika nanti menahan lapar dan haus ketika puasa. Tempelkan juga target dan jadwal kegiatan yang telah disusun bersama. Ibu sebaiknya mempersiapkan bintang-bintang yang siap ditempel untuk setiap rencana yang berhasil dicapai anak. Kerjakan bersama anak agar ia termotivasi untuk mendapatkan bintang sebanyak mungkin sampai akhir Ramadhan.<strong></strong></p>
<p><em>Ketiga,</em> buat Perjanjian perihal jam waktu puasa. Setelah anak &#8220;berkenalan&#8221; dengan puasa dan bulan Ramadhan itu sendiri, ajak dia berbicara, untuk menyepakati jam puasa yang akan dia jalani. Jangan memberatkan anak dengan memberlakukan puasa diatas kemampuannya. Jeli dalam melihat kemampuan dan kondisi anak. Jika anak baru mampu berpuasa sampai jam 10 pagi, biarkan untuk beberapa waktu.</p>
<p>Secara perlahan, tambah waktu anak berpuasa. Turuti apa yang dia sanggupi, anda tidak boleh memaksa untuk mengulur waktu yang telah disepakati tersebut. Jika ia sudah berhasil melakukannya, coba bicarakan kembali untuk menambah jam puasa ia untuk hari esok, begitu seterusnya. Yang perlu diperhatikan disini adalah, kita harus jeli melihat kemampuan anak dan tidak memaksanya untuk menyelesaikan puasanya jika ia sudah merasa tidak sanggup, dengan begitu anak akan merasa lebih nyaman dan menganggap puasa adalah salah satu ibadah yang menyenangkan. <strong></strong></p>
<p><em>Keempat, </em>menu makanan yang bervariasi.<strong> </strong>Ibu dapat mulai menyusun menu dengan gizi yang seimbang untuk anak yang puasa. Juga mulai melatih pola makan dari 3 kali sehari menjadi 2 kali saja. Penyusunan menu ini untuk menghindari terjadinya kekurangan zat gizi pada anak. Kecukupan gizi pada anak akan terpenuhi apabila saat berbuka dan makan sahur mereka mengkonsumsi makanan yang beragam dalam jumlah yang cukup. Sediakan makanan yang anak sukai, sehingga mereka akan lebih tertarik untuk memakannya saat waktu sahur dan berbuka puasa.<strong></strong></p>
<p><em>Kelima, </em>ajarkan nilai-nilai positif bulan Ramadhan.<strong> </strong>Anda dan suami bisa saling bekerja sama untuk menciptakan kegiatan &#8211; kegiatan yang positif selama bulan Ramadhan, tetapi tidak menguras energi si anak. Seperti bercerita tentang kisah-kisah para rasul dan nabi, dan makna Bulan Ramadhan itu sendiri. Beri pemahaman yang baik, sehingga anak akan merasa nyaman dan tertarik melakukan puasa.</p>
<p>Puasa sesungguhnya melatih kedisiplinan dan kejujuran anak, untuk bangun pada saat sahur dan bersikap jujur untuk mengungkapkan jika ia tidak kuat menjalankan puasa pada waktu yang telah kita sepakati, jadi anak tidak akan berbohong. Sesekali juga, ajaklah anak untuk mengikuti tarawih dan jelaskan apa maknanya, agar dia tau hal itu hanya terjadi pada saat Bulan Ramadhan.</p>
<p><em><img class="alignright size-thumbnail wp-image-35" title="hadiah" src="http://mutiarapena.wordpress.com/files/2009/09/hadiah2.jpg?w=145" alt="hadiah" width="145" height="150" />Keenam, </em>beri hadiah. Anda boleh memberikan hadiah sebagai tanda keberhasilan ia telah melewati puasa, walaupun hanya beberapa jam sampai setengah hari. Hadiah tidak harus mahal dan berupa barang, pujian dari anda juga cukup membuat dia merasa bangga atas dirinya sendiri. Pujian yang anda berikan untuknya, akan sangat memotivasi anak untuk tetap berpuasa dan meningkatkan kemampuannya untuk hari-hari berikutnya. <strong></strong></p>
<p>Senantiasa lakukan pendekatan persuasif terhadap anak disertai pemahaman dan kontrol yang disesuaikan dengan usia.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hiasi Ramadhan Bersama Keluarga Yuk!]]></title>
<link>http://mutiarapena.wordpress.com/2009/09/07/hiasi-ramadhan-bersama-keluarga-yuk/</link>
<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 03:14:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>mutiarapena</dc:creator>
<guid>http://mutiarapena.wordpress.com/2009/09/07/hiasi-ramadhan-bersama-keluarga-yuk/</guid>
<description><![CDATA[Bagi kebanyakan orang yang bekerja di luar rumah atau perkantoran, mencari kesempatan waktu luang ap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-17" title="selamat ramadhan" src="http://mutiarapena.wordpress.com/files/2009/09/ramadhan.jpg" alt="selamat ramadhan" width="314" height="235" />Bagi kebanyakan orang yang bekerja di luar rumah atau perkantoran, mencari kesempatan waktu luang apalagi berlibur di bulan Ramadhan bukan hal mudah. Berbagai proyek dan program kerja mungkin justru menumpuk di bulan itu. Tapi&#8230;bagaimana kalau Ramadhan ini Ramadhan terakhir Anda? Jangan mau rugi! Ayo habiskan Ramadhan bersama orang-orang tercinta. Mari kita berusaha semaksimal mungkin melewatkan hari-hari paling berharga ini justru bersama keluarga. Ini merupakan bukti kecintaan Anda kepada keluarga dan ingin menjadikan rumah dan keluarga Anda sebagai syurga Anda di bumi.</p>
<p>Jangan mengira bahwa hari-hari akan berlalu kosong dan membosankan selama bulan Ramadhan ini.  Juga jangan mengira bahwa kegiatan Ramadhan bersama keluarga hanya akan terbatas pada menyediakan makanan sahur serta mengadakan buka puasa bersama keluarga. Dengan sedikit kreativitas, Anda justru akan memperoleh hari-hari Ramadhan tersibuk dan terbaik Anda di rumah! Ada beberapa kegiatan yang bisa menjadi alternatif Anda dan keluarga yang sesuai dengan atmosfer bulan penuh berkah ini.</p>
<p><em>Pertama</em>, Menyiapkan mushala keluarga, mulailah dengan menyiapkan fasilitas terpenting untuk semua program ini, yakni sebuah mushala keluarga. Anda tidak harus membangun atau membongkar tempat tinggal Anda; cukup bergotong royong membersihkan salah satu sudut terbaik rumah lalu melengkapi dan menghiasinya.</p>
<p><em>Kedua,</em> mengajarkan keterampilan kepada si kecil, mengundang tetangga untuk pengajian di rumah, membaca atau mendengarkan Al-Qur’an atau bedah buku seputar dunia islam insya Allah merupakan aktivitas yang bermanfaat.</p>
<p><em>Ketiga,</em> berbelanja bersama keluarga untuk kebutuhan puasa dan persiapan Lebaran kiranya juga merupakan aktivitas yang menggembirakan. Berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan modern membuat Anda tidak perlu berpanas-panasan. Anda bisa memperhitungkan waktu sehingga dapat berbuka puasa di tempat itu.</p>
<p><em>Keempat,</em> sejumlah komunitas islami biasanya menggelar program-program wisata Ramadhan. Misalnya, wisata hati ustad Yusuf Mansyur di Tanggerang dan wisata rohaninya AA Gym di Bandung. Saat liburan Anda juga bisa menambah amalan dan pahala pada bulan suci Ramadhan ini.</p>
<p><em>Kelima,</em> jalan-jalan di ruang publik saat ngabuburit juga bisa menjadi aktivitas ringan yang menyenangkan. Ngabuburit atau menunggu datangnya waktu berbuka puasa biasanya dilakukan 1 atau 2 jam menjelang waktu berbuka. Di Jakarta, kawasan Monas biasanya dipadati warga pada sore hari. Begitu pula Pantai Marunda di daerah Tanjung Priok. Bisa juga sambil menunggu berbuka diwarnai dengan permainan-permainan tebak doa atau aktifitas lainnya.</p>
<p><em>Keenam,</em> toko buku kerap dijadikan pilihan banyak orang untuk menghabiskan waktu pada bulan puasa. Anda tidak harus membeli buku. Banyak toko buku yang memperbolehkan pengunjung untuk membaca di tempat. Sambil jalan-jalan, Anda bisa juga menambah keilmuan dengan membaca buku.</p>
<p><em><img class="alignright size-full wp-image-18" title="anak masak bersama ibu" src="http://mutiarapena.wordpress.com/files/2009/09/anak-masak.jpg" alt="anak masak bersama ibu" width="235" height="314" />Ketujuh, </em>membuat makanan. Bagi kaum perempuan saat liburan adalah kesempatan untuk menyalurkan hobi yang mungkin banyak tertunda karena kesibukan kerja. Anak yang lebih kecil akan membutuhkan aktifitas yang lebih ceria. Memasak makanan khas Ramadhan dan Idul Fitri bersama ibu merupakan pengalaman mengasyikkan. Ini merupakan momen kebersamaan yang baik antara Ibu dan anak. Kuenya sekaligus bisa jadi stok sajian Lebaran. Bisa juga diantar ke masjid untuk berbuka.</p>
<p><em>Kedelapan, </em> bersih-bersih rumah. Menyambut datangnya hari raya Idul Fitri kita bisa mempercantik tampilan rumah untuk menyambut datangnya tamu pada hari kemenangan. Membersihkan rumah bersama keluarga kiranya dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan. Usahakan semua anggota keluarga ikut andil dalam aktifitas ini agar rasa kebersamaan dan saling memiliki lebih terjaga.</p>
<p><em>Kesembilan,</em> berburu Lailatul Qadar (malam seribu bulan). Pada malam ganji pada sepuluh hari terakhir Ramadhan diyakini mempunyai banyak sekali keistimewaan pahala dari Allah SWT. Ajak semua anggota keluarga menyelenggarakan shalat malam dan melakukan ibadah lainnya bersama keluarga.</p>
<p><em> Kesepuluh, </em>safari Tarawih. Beberapa kali buat agenda safari tarawih selama Ramadhan. Misalkan, malam kesekian kita tarawih di Istiqlal, kemudian ke Al Azhar dan seterusnya. Bepergian bersama orangtua menarik bagi anak, mengapa tidak kita ajak anak untuk bersama kita menikmati suasana Ramadhan di tengah ummat?    Selamat menjalankan ibadah puasa.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puasa Ramadhan bagi Anak Kecil yang Belum Baligh]]></title>
<link>http://firarif.wordpress.com/2009/09/03/puasa-ramadhan-bagi-anak-kecil-yang-belum-baligh/</link>
<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 16:27:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>arif aja deh</dc:creator>
<guid>http://firarif.wordpress.com/2009/09/03/puasa-ramadhan-bagi-anak-kecil-yang-belum-baligh/</guid>
<description><![CDATA[Sengaja kami letakkan bab ini, karena kami sering mendengar sebagian orang tua melarang anak-anaknya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sengaja kami letakkan bab ini, karena kami sering mendengar sebagian orang tua melarang anak-anaknya]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tuntunan Singkat Berpuasa]]></title>
<link>http://ibnuaq.wordpress.com/2009/09/02/tuntunan-singkat-berpuasa/</link>
<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 02:12:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>ibnuaq</dc:creator>
<guid>http://ibnuaq.wordpress.com/2009/09/02/tuntunan-singkat-berpuasa/</guid>
<description><![CDATA[Berpuasa Ramadhan bagi sebagian besar umat Islam adalah hal rutin tahunan. Begitu pula berpuasa sunn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-333" title="crescent moon" src="http://ibnuaq.wordpress.com/files/2009/09/crescent-moon.jpg" alt="crescent moon" width="111" height="111" />Berpuasa Ramadhan bagi sebagian  besar umat Islam adalah hal rutin tahunan. Begitu pula berpuasa sunnah pada hari  Senin dan Kamis atau lainnya.   Namun mungkin masih ada yang belum kita ketahui tata cara (kaifiyat) dan  hukum-hukumnya.  Berikut adalah ringkasan  tuntunan ibadah Ramadhan yang penulis ambil dari Kitab “<strong>Al Wajiz – Ensiklopedia Fiqh</strong>” yang  disusun oleh Syaikh Abdul ‘Azhim ibn Badawi Al-Khalafi  terbitan Pustaka As-Sunnah, Jakarta  dan juga dari berbagai sumber lainnya.  Semoga bermanfaat.</p>
<p><!--more--></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Tuntunan Singkat  Dalam Berpuasa</span></strong></p>
<p>Mengerjakan ibadah puasa secara  benar dengan berdasarkan dalil &#8211; tentunya menjadi syarat diterimanya suatu  ibadah karena akan menghindarkan kita dari perbuatan bid’ah (perbuatan  mengada-adakan hal baru di dalam ibadah) sebagaimana kaidah dalam ushul fiqih  yaitu “al-ashlu fii ibadati al-buthlan hatta yaquma ad-dalilu ala amrihi” (pada  dasarnya semua ibadah terlarang sampai adanya dalil yang memerintahkannya).  Kaidah ini berdasarkan hadits dari &#8216;Aisyah  sbb:</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>Rodhiyallahu anha</em>, Rasulullah <em>Shollallohu ‘alayhi wasallam</em>“ bersabda:  Man amila amalan laysa ‘alayhi amruna fahuwa roddun.”</p>
<p>Artinya: barangsiapa yang  melakukan perbuatan yang tidak ada perintah dari kami (agama ini), maka ia  tertolak  (HR. Muslim No. 1718).</p>
<p>Dalil yang dimaksud tentunya  adalah Al-Qur’an dan Hadits ‘shahih’ bukan hadits yang berstatus dhoif (lemah)  terlebih lagi maudhu’ (palsu).</p>
<p><strong>Hukum Berpuasa </strong></p>
<p>Hukum Berpuasa adalah wajib  sebagaimana dituliskan dalam QS. Al Baqoroh 183 yang artinya: “Wahai orang-orang  yang beriman telah diwajibkan atas kalian shiyam (berpuasa) sebagaimana  diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.”</p>
<p>Ibadah puasa dilakukan dengan  tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan suami-istri (jima’) pada siang  hari Ramadhan (terbit fajar hingga matahari tenggelam).</p>
<p>Selain ketiga hal di atas,  hal-hal lain yang wajib ditinggalkan ketika berpuasa adalah: perkataan dan  perbuatan bohong, perkataan yang keji/kotor dan sendau gurau.  Tentunya juga perbuatan maksiat/mungkar  lainnya -  sebab bila itu dilakukan maka  tidaklah seseorang berpuasa kecuali hanya mendapat lapar dan haus belaka.</p>
<p>Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Puasa itu bukanlah hanya menahan dari makan dan minum saja, tetapi puasa itu adalah menahan diri dari sendau-gurau (laghwi) dan perkara keji (rafats)…”  (HR. Ibnu Khuzaimah (1996), Al-Hakim (I/430-431) dengan sanad shahih).</p>
<ul>
<li> Hal-hal yang dibolehkan  dalam berpuasa antara lain:</li>
</ul>
<p>-   Dalam keadaan junub ketika memasuki waktu Shubuh ;</p>
<p>-    Bersiwak, berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung) dengan  ringan ;</p>
<p>-    Mencium istri bagi yang dapat menguasai dirinya misalnya bagi  orang yang sudah tua tetapi dilarang bagi para pemuda ;</p>
<p>-    Celak mata ;</p>
<p>-    Membasahi kepala karena udara panas,  dsb.</p>
<ul>
<li> Rukhsah (keringanan) bagi  orang untuk tidak berpuasa antara lain:</li>
</ul>
<p>a)   Diwajibkan untuk qodho (mengganti  di hari lain):</p>
<p>-  Musafir (yaitu orang yang safar / bepergian jauh) ;</p>
<p>-  Orang yang sakit dan dapat sembuh;</p>
<p>-  Wanita haid dan nifas</p>
<p>b)   Tidak diwajibkan meng-qodho  tetapi wajib memberikan fidyah (makanan bagi orang miskin per hari yang  ditinggalkan untuk satu orang miskin):</p>
<p>-  Orang yang tua renta atau lemah / sakit terus menerus</p>
<p>-  Wanita hamil dan menyusui   bila dirasa berat dan khawatir akan mengganggu kesehatan si bayi   *)</p>
<p>*)  Khusus mengenai menyusui ini perlu  diperhitungkan masa-masa haid dan nifas di kala menyusui yang menurut pendapat sebagian ahli ilmu  harus di-qodho.</p>
<p><strong>Penentuan Awal Ramadhan dan Awal  Syawal</strong></p>
<p>Sedangkan penentuan datangnya  bulan Ramadhan sendiri terkait dengan bulan sebelumnya yaitu bulan Sya’ban.  Dengan menentukan bilangan bulan Sya’ban maka ditentukan awal bulan  Ramadhan.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Rodhiyallahu anhu</em>, Rasulullah <em>Shollallohu ‘alayhi wasallam</em> bersabda:  “Berpuasalah kamu bila sudah melihat hilal (Ramadhan) dan berbukalah kamu bila  sudah melihat hilal (Syawal), jika mendung atas kalian, maka genapkanlah bulan  Sya’ban menjadi 30 hari.” (Muttafaqun ‘alayhi: Muslim II:762 No.19 dan 1081 dan  ini lafazhnya, Fathul Bari IV: 119 No. 1909 dan Nasa’I IV: 133)).</p>
<p>Hadits ini mengandung  pengertian untuk melakukan penetapan secara pasti datangnya bulan Ramadhan  dengan metode rukyat (melihat).</p>
<p>Penetapan secara pasti ini  diperlukan karena bila ada seseorang berpuasa di hari-hari yang meragukan maka  ia telah durhaka kepada Nabi Muhammad <em>Shollalloohu ‘alayhi wasallam.</em> Ini diketahui dari hadits hasan sebagaimana  disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta’liq (3/141-142) yang berbunyi:  “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan sungguh ia telah durhaka  kepada Abul Qosim (Muhammad <em>Shollallohu  ‘alayhi wasallam</em>).”</p>
<p><strong>Niat Puasa</strong></p>
<p>Apabila telah diyakininya masuk  bulan Ramadhan dengan rukyatul bashoriyah (melihat dengan mata telanjang) maka  ia diwajibkan berniat sebagaimana hadits berikut:</p>
<p>Dari Hafshah <em>Rodhiyallahu anha</em>, Rasulullah <em>Shollallohu ‘alayhi wasallam</em> bersabda: “Barangsiapa yang tidak meniatkan  puasa sebelum waktu fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (Shahih, Shahihul  Jami’us Shaghir No. 6538, ‘Aunul Ma’bud VII:122 Bi, 2437, Tirmidzi I:116 No.  726, Nasa’I IV: 196 dengan redaksi yang sama).</p>
<p>Niat di malam hari (sebelum  fajar) tersebut tidaklah berlaku untuk puasa sunnah.</p>
<p><em>Perhatian</em>:  Mengenai  bentuk/cara  niat tidak berarti harus diucapkan/dilafazhkan, karena niat adalah amalan  hati bukan amalan lisan (lidah).</p>
<p><strong>Waktu Puasa</strong></p>
<p>Masih banyak orang yang belum jelas  mengenai batasan waktu dalam berpuasa.  Sebagian menganggap berpuasa dimulai  dari waktu imsak (menahan). Sesungguhnya berpuasa dilakukan dari sejak terbit  &#8220;fajar shodiq&#8221; hingga terbenam matahari di ufuk sebelah barat.  Perlu diketahui, ada 2 macam jenis fajar  yaitu “Fajar Kadzib”, fajar yang mendahului datangnya “Fajar Shodiq” (fajar  sesungguhnya). Tanda datangnya fajar kadzib ialah fajar yang berwarna putih  panjang membujur naik ke atas.  Sedangkan  fajar shodiq yaitu fajar yang berwarna merah melintang.  Fajar kadzib tidak mengharamkan makan dan  minum sedangkan fajar shodiq tanda dihalalkannya sholat Subuh yang berarti pula  telah masuk waktu berpuasa (diharamkannya makan, minum dan jima’).</p>
<p>“Makan dan minumlah kalian hingga  terang bagimu benang putih dari benang hitam dari waktu fajar.” (QS. Al-Baqoroh:  187).</p>
<p>Dengan demikian, waktu  <em>imsak</em> bukanlah waktu diharamkannya makan dan minum tetapi hanya upaya  berhati-hati dan hendaknya tidaklah hal tersebut (waktu imsak) menjadikan haram  sesuatu yang Allah Sub-haanahu wa ta’ala halalkan.</p>
<p>Mengenai waktu berbuka puasa  ialah waktu matahari telah tenggelam namun tidak berarti menunggu datangnya  waktu gelap malam (telah hilang sinar matahari).</p>
<p><strong>Sahur dan Berbuka</strong></p>
<p>Makan sahur merupakan sesuatu hal  yang jangan ditinggalkan walaupun hanya seteguk air, karena ada keberkahan di  dalamnya. Bahkan para malaikat bersholawat kepada orang-orang yang sahur.</p>
<p>Dari Anas <em>Rodhiyallahu anhu</em>, Rasulullah <em>Shollallohu ‘alayhi wasallam</em> bersabda:  “Sesungguhnya sahur ini adalah suatu barakah yang Allah berikan kepada kalian,  maka janganlah ditinggalkan.”   (Muttafaqun ‘alayhi, Fathul Bari IV: 139 No. 1923, Muslim II: 770 No.  1095, Tirmidzi I: 106 No. 703, HR. An-Nasa’i IV:145 dan Ahmad V:270).</p>
<p>Disunnahkan pula untuk  mengakhirkan waktu sahur hingga mendekati waktu fajar shodiq (adzan Shubuh) dan  menyegerakan berbuka ketika terbenam matahari (adzan Maghrib) dan tidak menunggu gelap malam  hingga tampak bintang-bintang .</p>
<p><strong>Makanan Pembuka</strong></p>
<p>Tidak ada batasan dalam makanan  untuk berbuka puasa, namun ada makanan kebiasaan Nabi <em>Shollalloohu ‘alayhi wasallam </em>saat  berbuka puasa sebagaimana hadits berikut:</p>
<p>“Nabi <em>Shollalloohu ‘alayhi wasallam </em>biasa  berbuka dengan ruthob (kurma muda) sebelum beliau sholat (Maghrib). Jika tidak  ada ruthob maka beliau berbuka dengan tamr (kurma matang) dan jika tidak ada  tamr, maka beliau meneguk seteguk air.” (Shahih, HR. Ahmad III:163, Abu  Dawud  II:306, Ibnu Khuzaimah  III:277-278, Tirmidzi III:70).</p>
<p><strong>Doa Berbuka</strong></p>
<p>Doa orang yang berpuasa tidak  tertolak yaitu saat berbuka.  Adapun do’a  utama yang diajarkan oleh Rasulullah adalah:</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-330" style="border:0 none;" title="doa buka" src="http://ibnuaq.wordpress.com/files/2009/09/doa-buka1.jpg" alt="doa buka" width="431" height="54" /></p>
<p><strong><em>“Dzahabazh- zhoma-u wabtallatil-uruuq  wa tsabatal ajru insyaa’ Allah.</em>” </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Artinya: “Telah hilang rasa haus  dahaga dan telah basah tenggorokan dan semoga tetaplah pahala.”   (Hasan Shahih, Abu Dawud No. 2066, ‘Aunul  Ma’bud VI: 482 No.2340).</p>
<p>Banyak hal yang belum sempat  dituliskan, untuk lebih lengkapnya maka alangkah baiknya bila dapat membaca kitab nya secara langsung.</p>
<p>Wallahu ‘alam bishshowab.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
