<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>silih-asih &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/silih-asih/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "silih-asih"</description>
	<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 00:43:46 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Gunungan]]></title>
<link>http://rioseto.wordpress.com/2009/07/17/gunungan/</link>
<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 08:10:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>rioseto</dc:creator>
<guid>http://rioseto.wordpress.com/2009/07/17/gunungan/</guid>
<description><![CDATA[Samasekali bukan ahli perwayangan, hanya tahu gunungan itu dipakai memulai dan mengakhiri sebuah lak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://rioseto.wordpress.com/files/2009/07/gunungan1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1490" title="gunungan1" src="http://rioseto.wordpress.com/files/2009/07/gunungan1.jpg?w=189" alt="gunungan1" width="189" height="300" /></a></p>
<p>Samasekali bukan ahli perwayangan, hanya tahu gunungan itu dipakai memulai dan mengakhiri sebuah lakon dalam pertunjukan wayang kulit dan wayang golek. (Wayang orang, ada?) Banyak tafsiran mengenai gunungan, namun pada dasarnya semua berhubungan dengan awal (atau akhir) sebuah kehidupan. Iya benar juga, akhirnya diambil gunungan sebagai simbol atau falsafah yang mendasari saya berbloging.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Di gambar gunungan ada <em>rumah</em>, <em>lantai</em>, dan <em>pintu</em>, yang merepresentasikan ‘<em>home</em>’.  Semasa kecil kita memperoleh pembekalan <em>ketrampilan</em>, <em>pengetahuan</em>, <em>sikap mental</em>, dan <em>cinta</em>, di sini. Pembekalan yang diterima, menjadi fondasi atau kekuatan awal kita berkiprah di dunia.</p>
<p>Memandang ke luar, yang terlihat hanyalah sebuah dunia “gelap” penuh dengan misteri (hutan), namun nun jauh di ujung puncak sana, ada satu titik cahaya terang yang tampak begitu cantik, indah, dan harum (bunga melati, bunga teratai?). Ke sana kita ingin menuju. Apa daya?</p>
<p>Tidak ada pilihan lain kecuali menjalaninya. Perjalanan pun dimulai… . Belajar kenal dengan penghuni hutan, lihat kiri, yang sedih, yang fakir, yang lapar, yang sakit, yang sengsara, yang bodoh, yang jahat, yang kikir; lihat ke kanan, yang gembira, yang kaya, yang kenyang, yang bugar, yang senang, yang pintar, yang baik, yang murah hati. Apakah penyebab ini semua? Apa akibat dari ini semua? Mengapa semua harus ada?</p>
<p>Kita tahu dampaknya. Kita sendiri tidak luput saat meniti jalan lurus menuju puncak, yang hanya setapak saja (batang pohon), bisa dengan mudah tergoda, terpeleset, tergelincir dan tersesat, lupa dengan tujuan semula (hutan belantara). Itulah mengapa kita diajari untuk teguh, berjalan tegap menuju sasaran, sambil menumbuhkan cabang, ranting, dan daun ke sekitar kita, beramal berbagi ilmu, berbagi kasih sayang menolong sesama, saling mengangkat, saling melindungi, saling menghidupi. <em>Silih asih, silih asah, silih asuh</em> (<em>silih</em>, bahasa sunda, artinya <em>saling</em>).</p>
<p>Terimakasih teknologi blog, berkat ini dan rekan-rekan bloger, yang telah mengingatkan, semogalah saya dan blog kian mudah menapaki jalan gunungan hingga tiba di puncak.</p>
<hr />Dari saya yang ngawur, boleh ganggu rekan-rekan bloger untuk mendapatkan pencerahan di sekitar topik ini? Tidak perlu terlalu seriuslah, untuk pengetahuan kita-kita saja&#8230;</p>
<p>Simbol kepangkatan perwira dan perwira tinggi dalam ABRI memakai melati dan bintang? Arsitektur bandara Adi Sumarmo (Solo) mengambil bentuk gunungan? Ada hubungan geometri gunungan, daun sirih, dan simbol <em>love </em>(terbalik)? Bentuk ajimat ‘kalimusada’ di pewayangan untuk menghidupkan yang &#8220;mati&#8221;(?), mirip gunungan.</p>
<p>Untuk yang mau mendalami gunungan (tidak ada yang bahasa indonesia?)<br />
[1] <a title="Gunungan1" href="http://www.semarweb.com/wayang.html" target="_blank">Gunungan1</a> [2] <a title="Gunungan2" href="http://www.indonesianshadowplay.com/classes.html" target="_blank">Gunungan2</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nematoda Patogen Serangga - NPS]]></title>
<link>http://isroi.wordpress.com/2008/05/26/nematoda-pengganggu-serangga-nps/</link>
<pubDate>Mon, 26 May 2008 08:51:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>isroi</dc:creator>
<guid>http://isroi.wordpress.com/2008/05/26/nematoda-pengganggu-serangga-nps/</guid>
<description><![CDATA[Hari minggu aku di saung Pak Haji Zaka untuk melakukan pelatihan padi organik. Salah satu materi pel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hari minggu aku di saung Pak Haji Zaka untuk melakukan pelatihan padi organik.  Salah satu materi pelatihaannya adalah pembuatan pestisida hayati. Kali ini yang dipraktekan adalah pengembangbiakan NPS (Nematoda Patogen Serangga).  NPS ini digunakan untuk mengatasi serangan hama pengerek batang padi.  Aku bukan orang HPT jadi pengetahuanku tentang hal ini sangat sedikit.  Apa yang aku uraikan di sini adalah seperti yang dijelaskan oleh Pak Haji Zaka.  Semoga bermanfaat.
</p>
<p><!--more--></p>
<p>NPS adalah nematode, hewan golongan cacing yang sangat-sangat keci. Karena begitu kecilnya tidak bisa kita melihatnya dengan mata telanjang.  Nematoda ini adalah parasit bagi ulat serangga.  Ulat yang diserang oleh nematode ini akan  &#8217;sakit,klenger&#8217;, dan akhirnya mati mengenaskan. Oleh karena kemampuannya itu, kita bisa minta bantuan pada para pasukan NSP ini untuk membasmi hama-hama ulat pengerek batang padi yang sangat mengganggu tanaman padi.
</p>
<p>Alat yang diperlukan:
</p>
<ul>
<li>Bak plastik yang tutupnya diberi jendela dan ditutup kain kassa.  Fungsi jendela ini untuk aerasi.
</li>
<li>Kertas merang atau kertas saring atau kertas tissue. Manfaatnya untuk menyerap air dan menjaga kelembaban.
</li>
<li>Alat gelas kecil
</li>
<li>Kain kecil yang bersih
</li>
<li>Pinset jika ada
</li>
<li>Botol untuk menampung NPS
</li>
</ul>
<p>Bahan:
</p>
<ul>
<li>Bibit/kultur NPS
</li>
<li>Ulat hongkong, biasa tersedia di toko penjual makanan burung
</li>
</ul>
<p><img src="http://isroi.files.wordpress.com/2008/05/052608-2242-nematodapen1.jpg?w=400" width="400">
	</p>
<p style="margin-left:18pt;">Gambar 1. Ulang hongkong dipakai sebagai inang pembiakan NPS
</p>
<ul>
<li>Air bersih, bisa pake air mineral,
</li>
<li>Peled untuk pakan ulat hongkong.
</li>
</ul>
<p>Cara kerja:
</p>
<ol>
<li> NPS diperoleh dari balai/puslit/universitas yang memiliki kultur stok ini.  Bibit ini sekali saja membelinya, setelah itu bisa dipelihara sendiri dan dipakai terus menerus.
</li>
</ol>
<p><img src="http://isroi.files.wordpress.com/2008/05/052608-2242-nematodapen2.jpg?w=400" width="400">
	</p>
<p style="margin-left:18pt;">Gambar 2. Kultur stok NPS yang disimpan di dalam botol air kemasan
</p>
<ol>
<li>Siapkan bak plastik kecil yang ditutupnya telah diberi jendela.
</li>
</ol>
<p><img src="http://isroi.files.wordpress.com/2008/05/052608-2242-nematodapen3.jpg?w=400" width="400">
	</p>
<p style="margin-left:18pt;">Gambar 3.  Bak plastik untuk tempat pembiakan NPS
</p>
<ol>
<li>Letakkan lembaran kertas merang/tissue ke dalam bak plastik.
</li>
<li>Tuangkan air kultur NPS ke di atas kertas hingga basah.  Sisa air dimasukkan kembali ke dalam botol.
</li>
</ol>
<p><img src="http://isroi.files.wordpress.com/2008/05/052608-2242-nematodapen4.jpg?w=400" width="400">
	</p>
<p style="margin-left:18pt;">Gambar 4.  Kertas dibasahi dengan kultur NPS hingga seluruh kertas basah oleh air
</p>
<ol>
<li>Ulat hongkong diletakkan di atas kertas.
</li>
</ol>
<p><img src="http://isroi.files.wordpress.com/2008/05/052608-2242-nematodapen5.jpg?w=400" width="400">
	</p>
<p style="margin-left:18pt;">Gambar 5.  Ulat hongkong diletakkan ke dalam bak yang sudah ada NPS-nya.
</p>
<p style="margin-left:18pt;">Dengan cara ini maka nematode akan menginfeksi ulat hongkong.  Nematoda akan berkembang biak di dalam inang itu sehingga akhirnya ulat mati.  Jangan lupa diberi sedikit pellet untuk makanan ulat hongkong.
</p>
<ol>
<li>Bak plastik ditutup dan diinkubasi selama 2 hari.
</li>
</ol>
<p><img src="http://isroi.files.wordpress.com/2008/05/052608-2242-nematodapen6.jpg?w=400" width="400">
	</p>
<p style="margin-left:18pt;">Gambar 6.  Bak plastik ditutup dan diinkubasi selama 2 hari.
</p>
<p style="margin-left:18pt;">Dalam waktu 2 hari, ulat  yang terinfeksi akan mati.   Ulat yang mati karena terinfeksi nematode berwarna coklat cerah. Ulat mati yang berwarna hitam atau coklat tua bukan mati karena infeksi nematode.
</p>
<p style="margin-left:18pt;"><img src="http://isroi.files.wordpress.com/2008/05/052608-2242-nematodapen7.jpg?w=400" width="400">
	</p>
<p style="margin-left:18pt;">Gambar 7. Ulat yang mati karena nematode.
</p>
<ol>
<li>Siapkan bak lain untuk tempat panen nematode.  Dalam bak itu diletakkan tempat alas gelas kecil yang diletakkan dalam posisi terbalik.  Tambahkan air di dalam bak tersebut.  Kemudian tutup alas gelas dengan kain putih bersih. Basahi juga kain tersebut.
</li>
</ol>
<p><img src="http://isroi.files.wordpress.com/2008/05/052608-2242-nematodapen8.jpg?w=400" width="400">
	</p>
<p style="margin-left:18pt;">Gambar 8.  Alat gelas yang diletakkan dalam posisi terbalik.
</p>
<ol>
<li>Ulat yang mati karena nematode dipilih dan dipisahkan dari ulat-ulat yang lain.  Ulat-ulat tersebut diletakkan di atas kain yang telah disiapkan sebelumnya.
</li>
</ol>
<p><img src="http://isroi.files.wordpress.com/2008/05/052608-2242-nematodapen9.jpg?w=400" width="400">
	</p>
<p style="margin-left:18pt;">Gambar 9.  Ulat yang mati terinfeki nematode diletakkan di atas kain basah.
</p>
<p style="margin-left:18pt;"><img src="http://isroi.files.wordpress.com/2008/05/052608-2242-nematodapen10.jpg?w=400" width="400">
	</p>
<p style="margin-left:18pt;">Gambar 10.  Ulat mati terinfeksi nematode di atas kain basah.
</p>
<p style="margin-left:18pt;">Kemudian ulat ini dibiarkan hingga 21 hari.  Nematoda akan berkembang biak di dalam tubuh inang.  Ketika cairan tubuh inang mulai habis, nematode akan keluar dari tubuh inang dan akan mengikuti air ke bawah nampan.  Pada hari ke-16 nematoda akan mulai keluar.  Hal ini ditunjukkan dengan air yang mulai keruh.  Pindahkan air yang telah keruh ini ke dalam botol penyimpanan.  Tambahkan lagi air ke dalam bak plastik.  Ulat akan keluar lagi pada hari ke-18 dan 21.  Setelah 21 hari ulat sudah kering dan nematode sudah tidak lagi ada di dalam ulat.
</p>
<ol>
<li>Nematoda di simpan di dalam botol.
</li>
</ol>
<p><img src="http://isroi.files.wordpress.com/2008/05/052608-2242-nematodapen11.jpg?w=400" width="400">
	</p>
<p style="margin-left:18pt;">Gambar 11.  Nematoda di simpan di dalam botol sebelum dipakai.
</p>
<ol>
<li>Satu botol NPS dilarutkan untuk 2 tangki penyemprot.  NPS ini siap disemprotkan ke padi di lahan.</li>
</ol>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENGGAGAS KEHIDUPAN BERBANGSA DALAM KEBERAGAMAN YANG BERPEDOMAN PADA TATANAN SILIH ASAH, SILIH ASIH, DAN SILIH ASUH]]></title>
<link>http://cdsindonesia.wordpress.com/2008/03/25/menggagas-kehidupan-berbangsa-dalam-keberagaman-yang-berpedoman-pada-tatanan-silih-asah-silih-asih-dan-silih-asuh/</link>
<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 11:13:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>cdsi</dc:creator>
<guid>http://cdsindonesia.wordpress.com/2008/03/25/menggagas-kehidupan-berbangsa-dalam-keberagaman-yang-berpedoman-pada-tatanan-silih-asah-silih-asih-dan-silih-asuh/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Dian A Yamin &nbsp; Kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini sangat memprihatinkan. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Dian A Yamin &nbsp; Kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini sangat memprihatinkan. ]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
