<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>sosok-kita &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/sosok-kita/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "sosok-kita"</description>
	<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 06:21:21 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Nurul, Semangat Memintarkan Anak-anak Gunung]]></title>
<link>http://kabariberita.wordpress.com/2009/08/27/nurul-semangat-memintarkan-anak-anak-gunung/</link>
<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 04:58:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>kabariberita</dc:creator>
<guid>http://kabariberita.wordpress.com/2009/08/27/nurul-semangat-memintarkan-anak-anak-gunung/</guid>
<description><![CDATA[Nurul Karimah Sakit hati tak selalu berbuah dendam. Sebaliknya, sakit hati diakui Nurul Karimah just]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Nurul Karimah Sakit hati tak selalu berbuah dendam. Sebaliknya, sakit hati diakui Nurul Karimah just]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[“TIDAK BANYAK USKUP KATOLIK PUNYA CUCU"]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/05/28/%e2%80%9ctidak-banyak-uskup-katolik/</link>
<pubDate>Thu, 28 May 2009 12:56:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/05/28/%e2%80%9ctidak-banyak-uskup-katolik/</guid>
<description><![CDATA[Perayaan Ekaristi Syukur 55 Tahun Pentahbisan Uskup Mgr. W.J. Demarteau, MSF  Paroki Bunda Maria – B]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Perayaan Ekaristi Syukur 55 Tahun Pentahbisan Uskup Mgr. W.J. Demarteau, MSF</strong></p>
<p> <strong>Paroki Bunda Maria – Banjarbaru, 5 Mei 2009</strong></p>
<p><!--more--></p>
<p>Sore itu langit begitu cerah. Sekitar seribu orang umat dari 4 paroki kota (Paroki Katedral “Keluarga Kudus” Banjarmasin, Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan, Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Veteran dan Paroki Bunda Maria Banjarbaru) telah berkumpul di Paroki Bunda Maria Banjarbaru bersama 30-an orang Imam dari 4 Keuskupan di Regio Kalimantan Timur (Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Palangkaraya dan Keuskupan Tanjung Selor), para Suster, Bruder, dan Frater ikut serta berdoa dan bersyukur dalam Perayaan Ekaristi Syukur 55 Tahun Pentahbisan Uskup Mgr. W.J. Demarteau, MSF. Perayaan Ekaristi dimulai pada pukul 18.00 Wita dipimpin oleh Konselebran Utama Mgr. F.X. Prajasuta, MSF (Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin), didampingi oleh Mgr. Petrus Boddeng Timang, Pr (Uskup Keuskupan Banjarmasin), Mgr. Florentinus Sului (Uskup Keuskupan Agung Samarinda), Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap (Uskup Keuskupan Agung Pontianak), Mgr. Isak Dora, Pr (Uskup Emeritus Keuskupan Sintang), Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF (Uskup Keuskupan Palangkaraya), Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF (Uskup Keuskupan Tanjung Selor) dan yang berbahagian Mgr. W.J. Demarteau, MSF (Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin).</p>
<p>Perayaan Ekaristi ini pun terasa lebih istimewa dengan kehadiran 2 orang keponakan Mgr. Demarteau, yaitu Mrs. Nancy dan Mrs. Maryo yang datang jauh-jauh dari negeri kincir angin Belanda untuk bergembira bersama Oom mereka. “Kita berkumpul di sini bersama Mgr. Demarteau untuk memuji Tuhan atas rahmat Tahbisan Uskup 55 tahun yang lalu dan juga selama 55 tahun menjadi Uskup; tidak hanya ketika beliau pensiun, namun sesudah pensiun beliau tetap memiliki jasa yang besar bagi Keuskupan ini,” ucap Mgr. Prajasuta mengawali homili singkatnya. “Maka sudah selayaknya kita juga berterimakasih dengan Mgr. Demarteau yang telah bersedia dijadikan alat Tuhan untuk meneruskan kasih-Nya kepada umat di Keuskupan Banjarmasin, yang dahulu mencakup Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Dari beliau kita bisa belajar banyak. Bayangkan saja, ketika beliau turney waktu itu selama 6 bulan dalam perjalanan memakai perahu yang masih mendayung. Beliau juga masih mengalami medan yang amat berat dan sulit sekali, tetapi semua beliau laksanakan dengan senang hati. Semangat misioner inilah yang pantas ditiru oleh saya, para Imam dan umat sekalian. Mari kita mohon rahmat Tuhan supaya hati kita dikobarkan untuk mewartakan Kabar Gembira yaitu memeruskan kebaikan kasih Allah kepada sesama kita,” himbaunya.</p>
<p>Mgr. Prajasuta memuji figur Mgr. Demarteau sebagai figur Uskup yang sederhana dan penuh perhatian khususnya kepada orang-orang miskin. Teladan semangat hidup yang sulit ditemukan pada masa sekarang ini. “Saya pribadi sangat terkesan dengan sikap hidup beliau. Saya yakin pada hari sepuhnya, Mgr. Demarteau mendoakan kita semua. Banyak hal-hal besar yang beliau lakukan bagi kita semua, bagi Gereja Indonesia pada masa tua beliau melalui hening dan doa-doanya. Marilah kita bersyukur dikaruniai seorang pendoa seperti beliau.” Di akhir homilinya, Mgr. Prajasuta juga menyampaikan homilinya secara singkat dalam bahasa Belanda. Homili yang begitu singkat tersebut dibuka dan ditutup dengan lagu karya Mgr. Prajasuta, masing-masing lagu HATI BARU dan BERSERAH DIRI.</p>
<p>Dalam kata sambutan yang disampaikan Mrs. Nancy dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Pastor Pieter Sinnema, MSF, terungkap ucapan terimakasih yang begitu mendalam atas perhatian dan cinta yang diberikan kepada Oom mereka selama ini. “Kami berterimakasih atas nama Oom kami dan famili kepada Kongregasi MSF dan kami berterimakasih karena dilaksanakan pesta yang bagus ini. Kami juga berterimakasih karena diterima dengan tangan terbuka selama kami berada di sini. Trimakasih kepada semua umat, khususnya kepada Ibu-ibu yang merawat Oom kami. Sungguh, pesta ini menjadi cahaya tersendiri bagi kami,” ucap Mrs. Nancy menutup sambutannya.</p>
<p>Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF selaku Provinsial MSF Kalimantan dalam sambutannya berujar, “Kita bersyukur kepada Allah yang telah mengutus Mgr. Demarteau untuk berkarya bagi Gereja Kalimantan. Dalam diri dan hidu Mgr. Demarteau kita dapat meneladani hidup seorang Katolik; seorang Imam Allah yang sungguh mempercayai bahwa Allah itu baik dan bahwa Allah yang baik itu akan menolong kita. Kita dapat melihat dan meneladani apa yang dinamakan kesetiaan, ketekunan dan semangat hidup untuk maju. Terimakasih atas teladan hidup yang Mgr. Demarteau berikan bagi kami semua,” tutupnya.</p>
<p>“Tidak banyak Uskup Katolik di dunia ini yang mempunyai cucu,” kata Mgr. Timang dalam sambutannya. “Beliau adalah Mgr. Demarteau; yang setelah sekian tahun menjadi Uskup, beliau kemudian mentahbiskan Mgr. Prajasuta dan Mgr. Prajasuta telah mentahbiskan cucu dari Mgr. Demarteau (Mgr. Harjosusanto-red). Sehingga ada alasan ekstra bagi saya untuk mengucapkan terimakasih kepada Mgr. Demarteau. Mgr. Demarteau telah 55 tahun sebagai Uskup, sedangkan saya baru lima setengah bulan sebagai Uskup. Namun saya tidak perlu takut menjadi Uskup di Banjarmasin ini, karena saya selalu diingatkan oleh Mgr. Prajasuta bahwa umat di Banjarmasin ini adalah umat yang murah hati dalam segala aspeknya.” Dalam kesempatan berikutnya Mgr. Timang menyapa sekaligus mengucapkan terimakasih kepada keluarga besar Mgr. Demarteau yang diwakili oleh kedua keponakannya. Mgr. Timang menyampaikannya dalam bahasa Belanda yang fasih.</p>
<p>Usai Perayaan Ekaristi, umat dijamu dengan santap malam bersama. Rombongan para Uskup, Imam, Suster, Biarawan/Biarawati secara khusus menikmati santap malam di ruang malam Wisma Sikhar – Banjarbaru. Tampak diantara mereka Mgr. Demarteau bersama keponakannya dalam suasana kekeluargaan yang penuh kegembiraan. Proficiat kepada Mgr. W.J. Demarteau, MSF atas Perayaan Syukur 55 tahun Pentahbisan Uskup. Berkat dan kasih Tuhan bersama Monsinyur selalu.</p>
<p>Perjalanan Hidup Mgr. W.J. Demarteau, MSF. Mgr. W.J. Demarteau, MSF lahir di desa Horn (Belanda Selatan), pada tanggal 24 Januari 1917 pukul 10.00 pagi. Demarteau kecil adalah putera ke-5 pasutri Sebastianus Hubertus Demarteau dan Yohanna Moors. Sore harinya, dalam cuaca yang teramat dingin (150C di bawah nol), ia dibaptis dengan nama Wilhelmus (Wim). Wim kecil dibesarkan dalam sebuah keluarga besar. Ia mempunyai 4 orang kakak dan 3 orang adik. Dalam keluarganya, Wim kecil mengalami suasana asah-asih-asuh yang begitu hangat. Wim masuk TK di Horn (1921 – 1923). Saat itu Wim merasa kurang senang, karena ia beranggapan bahwa TK itu hanya “cocok” untuk anak perempuan, sebab di TK tidak diajarkan baca tulis. Tahun 1929 Wim menamatkan SD-nya di Horn. Setelah dapat membaca, Wim menjadi seorang “kutu buku”. Ketika itu orangtua Wim berlangganan “Bode v.d.Heilige Familie”, majalah bulanan yang diterbitkan para imam MSF. Majalah “Bode v.d.Heilige Familie”, memuat naskah-naskah dan surat-surat yang ditulis oleh para misionaris MSF, yang sejak tahun 1926 berkarya di Borneo (sekarang Kalimantan). Ternyata, Wim kecil sangat terkesan dengan surat-surat tersebut. Wim berkata pada ibunya, “Mama, besok kalau saya sudah besar, saya akan menjadi Pater dan pergi ke Borneo.” Ibunya menjawab, “Wim, engkau sangat sayang pada mama, mana mungkin engkau mau meninggalkan mama?!” Dengan semangat yang berkobar-kobar Wim kecil berkata kepada Ibundanya, “Mama, saya pergi ke Borneo dan di Borneo saya juga dapat sangat menyayangi mama.” Sekelumit kisah tersebut kemudian menghantarkan mimpi Wim kecil pada sebuah kenyataan. Ia sungguh-sungguh dikirim sebagai seorang Misionaris ke daratan Borneo (sekarang Kalimantan-red). Akhir Juli 1946 ia mendapatkan pemberitahuan bahwa akan dikirim ke Indonesia. Ia menyambut berita ini dengan kegembiraan yang meluap-luap. Keberangkatan P. Demarteau mengalami beberapa kali penundaan, karena pada waktu itu kapal-kapal lebih diprioritaskan untuk mengangkut “pasukan Belanda” ke Indonesia. Pada tanggal 11 April 1947 P. Demarteau bersama 2 orang rekannya sesama imam MSF berangkat menuju Indonesia. Sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 1 Mei 1947, kapal yang mereka tumpangi merapat di Tanjung Priok, Jakarta. Setelah 2 kali gagal terbang ke Banjarmasin, akhirnya pada tanggal 21 Mei 1947 pesawat yang ditumpangi P. Demarteau berhasil mendarat di Banjarmasin. Saat tiba di bandara, ia diberitahu bahwa akan menerima tugas sebagai pastor paroki di Katedral Banjarmasin. Ketika pertama kali tiba di Banjarmasin, P. Demarteau merasakan bahwa keadaan pada waktu itu tidak nyaman, tidak aman, banyak kerusuhan, kekerasan dan pertumpahan darah! Tanggal 27 Desember 1947, pertikaian Indonesia-Belanda dihentikan. Sampai akhir tahun 1949 Gereja Katolik tidak boleh bekerja di Kalimantan Selatan (Kalsel) kecuali di kota Banjarmasin. Akibatnya hampir semua misionaris bekerja di Kalimantan Timur (Kaltim) dan hanya Ordinarus dan dua/tiga pastor tinggal di Banjarmasin. Dewan Keuskupan Banjarmasin berpendapat bahwa situasi mendesak agar Kalimantan Timur menjadi keuskupan sendiri demi keselamatan dan perkembangan gereja di Kalsel. Tanggal 12 Desember 1951 P. Demarteau memutuskan untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) demi memantapkan keberadaannya sebagai seorang misionaris. Tahun 1952, Mgr. J. Groen, MSF mulai mempersiapkan pemisahan Kaltim dari Banjarmasin, akan tetapi karena beliau sakit maka rencana tersebut kemudian dibekukan baik di Banjarmasin maupun di Roma. Pada bulan April 1953 Mgr. J. Groen, MSF, Vikaris Apostolik Banjarmasin wafat di Surabaya.</p>
<p>Takhta Suci Vatikan kemudian menunjuk P. Demarteau sebagai Uskup, menggantikan Mgr. Groen. Pada tanggal 5 Mei 1954 P. Demarteau ditahbiskan menjadi Uskup di Gereja Katedral Banjarmasin oleh duta Vatikan Mgr. De Jonghe d’Ardoye dan sebagai co-consencrator adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dan Mgr. T. van Valenberg, OFM Cap. Dalam tahbisannya, Mgr. W. J. Demarteau, MSF mengambil motto : “Apostolus Jesu Christi” yang berarti “Utusan Yesus Kristus.” Logo uskup Mgr. W. J. Demarteau, MSF digambar oleh seorang Rahib Benediktus berkebangsaan Perancis dari Biara Benediktin di Oosterhout – Belanda. Simbol tersebut bermakna bahwa panggilan Mgr. W. J. Demarteau, MSF melalui kongregasi adalah menjadi misionaris dan uskup bagi daerah yang masih memerlukan “terang Injil.” Pada waktu itu Keuskupan Banjarmasin meliputi Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah-Kalimantan Timur, yang luasnya 12 kali lipat negeri Belanda (+ 410.000 km2). Mengingat luas dan sulitnya medan pelayanan, Mgr. Groen telah mengadakan langkah-langkah awal di Roma agar Kaltim dijadikan wilayah Gerejawi terpisah dari Keuskupan Banjarmasin. Usaha tersebut dilanjutkan oleh Mgr. W. J. Demarteau, MSF. Meski sebelumnya mendapat tanggapan yang negatif, namun Mgr. Demarteau tetap gigih memperjuangkan usaha tersebut agar pemekaran itu mendapatkan ijin dari Takhta Suci. Kegigihannya berbuah manis, sebab pada bulan September 1954 terjadi perundingan di Roma untuk membahas hal itu. Pada tanggal 25 Pebruari 1955 Vikariat Apostolik Samarinda resmi berdiri. Jika pada tahun 1954 Mgr. Demarteau menyetujui permintaan Roma untuk diangkat menjadi Uskup, maka pada tahun 1955, Roma ganti menyetujui permintaan Mgr. Demarteau untuk pemekaran Keuskupan Banjarmasin. Tahun 1954, gereja praktis belum dikenal di wilayah Keuskupan, khususnya di pedalaman Kalsel dan Kalteng. Uskup yang masih muda ini bersama-sama dengan para imam, biarawan, biarawati, para guru dan rasul-rasul awam, dengan rahmat TUHAN terus berkarya dengan giat dan penuh pengorbanan.</p>
<p>Pada tanggal 23 Oktober 1983 Mgr. W. J. Demarteau, MSF mentahbiskan Mgr. F.X. Prajasuta, MSF sebagai Uskup Keuskupan Banjarmasin. Sampai saat ini Keuskupan Banjarmasin telah dimekarkan menjadi 4 keuskupan (Banjarmasin, Samarinda, Palangkaraya, dan Tanjung Selor).</p>
<p>reported by : Dionisius Agus Puguh Santosa &#38; Albertus Bambang Utoyo; Divisi LITBANG KOMKEP Keuskupan Banjarmasin</p>
<p>Foto : Pastor Felix Sumarjono, MSF</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PATER JEAN BERTHIER MS DI PENGHUJUNG LANSIAKU…]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/04/pater-jean-berthier-ms-di-penghujung-lansiaku%e2%80%a6/</link>
<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 04:06:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/04/pater-jean-berthier-ms-di-penghujung-lansiaku%e2%80%a6/</guid>
<description><![CDATA[Di atas kasur busa dalam kamar tamu Provinsialat Banjarbaru, bekas garasi mobil yang diubah menjadi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">Di atas kasur busa dalam kamar tamu Provinsialat Banjarbaru, bekas garasi mobil yang diubah menjadi rangkaian kamar tidur tamu, aku terbaring kelelahan setelah mengikuti serentetan pertemuan pendalaman mengenai Sang Pendiri MSF. <!--more-->Pertengahan September memang dialokasikan waktunya khusus untuk suatu pertemuan ini. Mata mulai terpicing, tapi sulit tidur akibat ributnya para konfrater muda yang sedang menikmati rokok di teras depan Provinsialat. Sebenarnya ada kamar rekreasi, tetapi mereka menyingkir satu persatu, setelah <em>remote control</em> televisi dikuasai seorang konfrater yang terus-menerus mengubah tayangan. Padahal para konfrater muda lagi demam siaran bola. Maka jadilah teras depan Provinsialat menjadi ajang rekreasi.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">BUKIT LA SALETTE</p>
<p></strong></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">Sesuatu yang luar biasa terjadi! Tidak seperti biasanya, rekaman pencerahan sejarah, pribadi dan hidup rohani sang pendiri tiba-tiba muncul seperti “Film documenter”. Aku mulai membayangkan kehidupan di La Salette dan sekitarnya, membayangkan kedua anak desa Corps: Melanie Calvat dan Maximin Giraud yang didatangi Bunda Maria untuk membawa pesan pertobatan. Aku mengenang kembali ketika dengan khusuk aku berdoa di depan arca Bunda Maria La Salette dalam kedinginan udara pegunungan kemudian menciduk air yang membual-bual dari mata air dekat arca Bunda Maria, lalu meminumnya sebagai air hidup untuk mohon kekuatan dalam hidup imamatku. Terkenang juga acara jalan Salib yang sangat melelahkan dan pendakian bukit kecil di belakang penginapan, yang juga sangat melelahkan akibat ketipisan udara. Terkenang juga ketika aku tercenung di samping makam pendiri dan berdoa untuk konggregasi, provinsi Kalimantan dan diriku.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">GRAVE DULU DAN KINI</p>
<p></strong></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">Dari La Salette lamunanku terbang ke Grave. Kunjungan pertamaku masih disambut para imam dan bruder eks Kalimantan. Br. Longinus MSF membawaku menelusuri tiap-tiap sudut biara, taman sekitar biara dan pemakaman biara di mana beberapa misionaris eks Kalimantan dimakamkan, termasuk Mgr. Jac. Romeijn, MSF. Terakhir mengunjungi makam Sang Pendiri dalam kapel samping biara. Kunjungan kedua ke Grave, hanya untuk meneteskan air mata, meratapi “bekas” biara yang sudah disulap interiornya menjadi ruang pameran dan keluarga. Bekas kapel pemakaman Sang Pendiri telah rata dengan tanah dan menjadi taman parkir. Biara perdana ini telah dijual karena ketiadaan anggota MSF yang bisa merawatnya. Inilah “film documenter” yang berputar dalam benakku malam itu, sementara gelak tawa para rekan muda masih membahana dengan kepulan asap rokok.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">PATER JEAN BERTHIER MS YANG (TIDAK) KUKENAL</p>
<p></strong></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">Malam ini lalu menjadi malam pencerahan. Tiga puluh enam tahun menjadi imam dan empat puluh dua tahun bergabung dalam Kongregasi MSF, belum pernah bisa mengenal Pendiri secara mendalam. Hanya kulit ari, sehingga kecintaan terhadap Pendiripun tidak mendalam dan tidak terlalu dipusingkan. Ketika pilihan jatuh untuk menjadi imam MSF, bukan karena kecintaan dan pengenalan pada MSF. Hanya karena tidak ada pilihan lain setelah cita-cita menjadi Trapist ditentang habis-habisan oleh seorang imam trapis asal desaku. Bukan juga karena mengidolakan seorang imam MSF, karena para MSF disekitarku adalah figur yang “menakutkan” diriku sebagai anak-anak. Mereka banyak marah dan menghukumku. Bahkan dalam perjalanan menuju novisiat, aku tak diijinkan masuk pastoran untuk menjumpai pemimpin regio. Di Novisiat mulai mengenal nama P. Jean Berthier MSF, tidak terlalu mendalam, hanya tahu bahwa beliau adalah pendiri MSF. Kaul demi kaul, tahun demi tahun dilewati tanpa membawa kesan berarti terhadap Sang Pendiri. Banyak buku beliau tetapi semua dalam bahasa Perancis. Baru setelah menjadi imam, mulai sadar akan kekeliruan diriku. Sedikit demi sedikit mulai mencari tahu siapakah beliau. Tetapi belum sampai ke tingkat yang mendalam, hanya sebatas pengetahuan. Ada kesan bahwa beliau sangat pelit. Surat-surat dan tulisannya memenuhi setiap halaman kertas sehingga tidak ada keinginan untuk membaca. Secara lahiriah, <em>lay out</em> tulisan-tulisannya sama sekali tidak ada seni sehingga tidak ada daya tarik. Ketika memimpin pendidikan calon-calon MSF ada kesan sangat keras dan terlalu menekankan <em>“ora et labora”.</em> Berangkali aku mempunyai kesan agak “kurang ajar”: Beliau bukan tokoh yang menarik!</p>
<p align="justify">Pelan-pelan terbersit suatu pemahaman yang tidak tergalikan sebelumnya, kesan-kesan yang muncul ke permukaan, yang sangat mendalam dan tersembunyi, yang tidak muncul begitu saja kalau tidak direnungkan secara mendalam dan serius. Ibarat fajar menyingsing di ufuk Timur, mulai terungkapkan sesuatu yang luar biasa. Ada sesuatu yang sangat yang tidak terdapat pada tokoh-tokoh spiritualitas kelas dunia. Kaul kemiskinan dihayatinya dan diungkapkannya dengan penghargaan yang sangat besar terhadap pemberian Tuhan, dengan penghematan yang bisa masuk kategori ekstrim. Dari segi ini aku melihat mengapa beliau sangat menghemat kertas, sehingga tidak ada ruang kosong dalam selembar kertas yang ditulisinya. Mungkin itu suatu protes juga terhadap ketamakan manusia rakus yang tidak menghargai dan berterima kasih atas pemberian Tuhan, seperti para pencinta lingkungan hidup yang tidak mau menggunakan <em>tissue</em> dan tusuk gigi sebagai protes terhadap pembabatan hutan. Penghayatan kemiskinan yang terwujudkan dalam penghematan, hidup sederhana, bahkan protes tersembunyi tsb, sungguh-sungguh memberikan arti dalam penampilanku di tengah dunia yang menjanjikan segalanya.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong>P. JEAN BERTHIER, KOMUNIKATOR ULUNG</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Relasi antar sesama, terutama dengan masyarakat, sangat mengagumkan. Kemampuan prima dalam berkomunikasi dan berkorelasi sangat luar biasa, sepertinya pemanfaatan jurus hipnotis yang mampu menaklukkan siapun juga termasuk mereka yang antipati terhadapnya. Relasi dengan para janda dan ibu-ibu muda, termasuk remaja-remaja putri tidak menggoyahkan kaul selibatnya. Ketaatan pada atasan tidak diragukan, sungguhpun banyak peristiwa yang mengundang sikap perlawanan, termasuk sikap setia pada konggregasi asalnya.</p>
<p align="justify">Disamping semuanya itu ada tiga hal yang sungguh-sungguh merasuk dan mempengaruhi jiwaku. <em>Pertama</em>, pemanfaatan positif menghadapi kondisi fisik. Beliau bukan bertubuh atletis dan tidak memiliki kesehatan prima. Penyakit sepertinya punya kenyamanan mendiami dan menggerogoti tubuhnya. Tetapi dalam kondisi seperti itu, beliau malah menjadi pengkhotbah handal, dan pemberi retret terkenal. Serangan penyakit dilawan dengan kegiatan-kegiatan rohani. Luar biasa! <em>Kedua</em>, semangat misi merasuki dirinya sampai ke tulang sumsumnya. Sungguhpun tidak pernah direalisir dengan menjadi missionaris, tetapi seluruh sisa hidupnya digunakan untuk menyiapkan pengikutnya untuk menjadi missionaris. Jiwa missionarisnya sungguh-sungguh luar biasa, sehingga mendapat predikat: missionaris tanpa lelah. <em>Ketiga</em>, spiritualitas yang sangat mendalam. Tulisan-tulisannya dengan kasat mata menggambarkan bagaimana spiritualitas seorang Jean Berthier MS. Sulit untuk melukiskan dengan kata-kata, tetapi aku dapat merasakannya.</p>
<p align="justify">Satu refleksiku yang bisa kuungkapkan: Dia menjadikan aku seorang MSF lahir batin! Dia membuat aku sangat mencintai MSF! Dia seorang hebat dan luar biasa!</p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">St. Lukas-Samarinda, 21-11-2008</p>
<p align="justify">P. Frans Huvang Hurang, MSF.</p>
<p></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TAPAK-TAPAK KESUCIAN]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/03/tapak-tapak-kesucian/</link>
<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 03:42:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/03/tapak-tapak-kesucian/</guid>
<description><![CDATA[Pater Jean Berthier MS adalah seorang pribadi yang layak dipuji, seorang kristiani tersohor dalam pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-family:Arial;">Pater Jean Berthier MS adalah seorang pribadi yang layak dipuji, seorang kristiani tersohor dalam pelbagai keutamaan. Dia seorang yang luar biasa dengan kasih berlimpah-limpah kepada Allah, dengan kesetiaan mendalam kepada Gereja. Berikut ini beberapa kesaksian dari tokoh yang mengenalnya dari dekat.<!--more--></p>
<p><strong><em>Kesaksian dari Jan Sprangers,</p>
<p>Imam dan Deken di Grave (Cuyk)</p>
<p></em><strong><span style="text-decoration:underline;">PATER JEAN BERTHIER MS: BAPA YANG MURAH HATI</p>
<p></span>Pater Jan Sprangers menyampaikan khotbah istimewa dalam kesempatan pemakaman P. Berthier. Ia mengenal P. Berthier baik dari luar maupun dari dalam, baik karya maupun pribadi Bapa Pendiri. Ia memuji kepribadian dan keutamaanya, khususnya mengenai (1) kasih kebapakan dan (2) kemurahan hatinya.</p>
<p>P. Jan Sprangers mengungkapkan bahwa Allah mengirimkan hati kebapakan untuk anak-anak P. Berthier saat itu. Ia mengenang beberapa hal dalam buku P. Berthier yang berjudul Imama. P. Berthier menggarisbawahi hal ini: di antara sebutan yang diterapkan pada para imam, sebutan yang paling terhormat adalah ‘bapa’. Di depan para murid Berthier, P. Sprangers menegaskan: “Dia mencintai kalian dengan hangat dan sepenuh hati. Tentunya kalian sungguh menangkap perhatiannya yang dilimpahkan untuk mendampingi perkembangan kalian dalam rangka mendidik dan menguduskan kamu sekalian&#8230; Kamu masing-masing kiranya mampu mengatakan suatu kelemahlembutan yang luar biasa yang dimilikinya bagi kalian, untuk tiap-tiap orang dari kamu, dan untuk karya panggilan imamat yang telah ia rintis demi kemuliaan Allah”.</p>
<p>P. Jan Sprangers melanjutkan bahwa Pater Berthier dikasihi juga oleh pelbagai pribadi dengan perhatian yang istimewa bagi dunia saat ini. Hidupnya yang transparan, keluhuran jiwanya, sifat tidak mencari keuntungan dirinya, serta sikap mengorbankan dirinya; semuanya itu memberinya penghargaan, simpati, serta pujian dari mereka yang beruntung telah berjumpa dengannya. Yang mengenalnya secara tidak langsung pun merasa beruntung. Ia sungguh dikasihi karena ia seorang yang baik di mata semua orang; menyenangkan hati karena kesahajaannya, kebaikannya, serta kesederhanaan sikapnya untuk menanggapi tiap pendapat dengan bebas.</p>
<p>“Meski ia memiliki aneka kemampuan, tak pernah ia menyombongkan diri. Walaupun ia merupakan pribadi yang sungguh berkualitas ia tidak menonjolkan diri. Meskipun ia beroleh begitu banyak keberhasilan dalam karya-karyanya, ia tidak ingin diagung-agungkan, justru ia menjauhkan diri dari sikap supaya dielu-elukan&#8230; Ia begitu besar di mata sesamanya dan begitu sederhana, biasa, dan sahaja di depan matanya sendiri.”</p>
<p>Simpati dan pujian besar dari semua orang ini merupakan ujian dan godaan yang bertubi-tubi untuk seorang beriman, sekalipun sungguh suci. Ia tidak jatuh dalam godaan supaya dipuji-puji; ia tinggal dalam kesederhanaan di hadapan Allah. Dikuatkan oleh teladannya, marilah kita ikuti jejaknya sambil berupaya menjadi ragi Kristus dan menjadi harum karena tinggal dalam Dia.</p>
<p><strong><em>Kesaksian dari P. Marie Auguste Rivoire, seorang abbas Cartusian, yang pernah menjadi murid P. Berthier di Corps (dekat La Salette).</p>
<p></em><strong>PATER JEAN BERTHIER MS: SEORANG SANTO DAN CENDEKIAWAN</p>
<p></strong>“Pater Berthier merupakan sekaligus seorang santo dan cendekiawan; seorang model misionaris, pekerja yang rajin, seorang pribadi yang terbakar oleh semangat kerasulan, sunguh aktif dan memiliki kekayaan hidup interior, keras namun sekaligus lunak dan penuh kasih, mampu memikat hati dan menyatukan jiwa.</p>
<p>Ia seorang abdi Tuhan dan pendoa, amat berbakti kepada Maria, peka dalam bertutur-kata, terpuji, dianugerahi iman yang menyala, serta kaya akan gagasan ilahi. Ia merupakan sosok jiwa yang cekatan dengan kegigihan seperti baja, di atas rata-rata orang pada umumnya. Seorang imam pada zamannya, pengajar yang memakai metode para santo-santa yang agung, bukan seorang orator namun tetap saja seorang pengkhotbah yang memikat dan terkenal, bagaikan sinar yang mampu membakar tanpa membutakan mata, seperti cahaya yang menghangatkan tanpa menghanguskan – itulah dia!</p>
<p>Rendah hati, sahaja, peka, lebih memperhatikan buah-buah jangka panjang dari pada akibat-akibat sesaat. Pencinta para miskin, pelaku keugaharian, dan seorang pekerja. Berkarakter keras dan tegas &#8211; sebagaimana para kudus dan para pendiri kongregasi, penuh dan kaya akan keutamaan. Memadukan martabat dan kebaikan hati, kemampuan pribadi dan kesederhanaan. Sekaligus memiliki dan mengembangkan kepribadian yang unik, cocok untuk karya-karya agung begitu penting dan bertahan berabad-abad. Itulah dia!</p>
<p>Kita memuji dan bersyukur untuk hidup dan karya-karyanya yang terwujud berkat kasih Allah dan demi Kerajaan Allah.</p>
<p>P. Santiago Fernandez del Campo, MSF</p>
<p></strong></strong></strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[P. Jean Berthier MS: Pejuang Misi Tanpa Kenal Lelah]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/03/p-jean-berthier-ms-pejuang-misi-tanpa-kenal-lelah/</link>
<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 00:55:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/03/p-jean-berthier-ms-pejuang-misi-tanpa-kenal-lelah/</guid>
<description><![CDATA[Menjelang peringatan hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November 2008, muncul wacana dan ide u]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span style="font-family:Verdana;">Menjelang peringatan hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November 2008, muncul wacana dan ide untuk mengangkat alm. Presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional. Wacana ini cukup mengundang sikap pro-kontra di kalangan masyarakat. Ada banyak polemik yang muncul terlebih ketika wacana ini justru muncul dari kalangan tokoh politik dan diusulkan oleh suatu partai politik tertentu. Orang mulai bertanya ada apa di balik wacana tersebut?<!--more--><font face="Verdana"></p>
<p align="justify">        </p>
<p></font></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Verdana;">Team Redaksi majalah <em>HIDUP</em> dalam edisi mengenai hari pahlawan, menampilkan beberapa pejuang Katolik yang secara resmi mendapat gelar dari pemerintah sebagai pahlawan nasional. Sementara membolak-balik majalah tersebut saya menjadi bertanya kapan yah, P. Berthier masuk dalam daftar para kudus yang bisa dikenang oleh selurh umat Allah sebagai salah satu tokoh pejuang misi, misionaris tanpa kenal lelah?</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"></p>
<p align="justify">Tentu saja menjadi perkara yang tidak mudah bagi Takhta Suci untuk mengangkat seseorang menjadi santo atau santa dalam Gereja bilamana kriteria-krieteria yang ditentukan belum memenuhi. Dan mungkinkah hal yang sama ini berlaku bagi P. Berthier. Seraya menunggu proses kanonisasi selanjutnya, tarekat MSF tentu saja setiap tahun mengenang beliau dengan penuh rasa hormat, karena P. Berthier adalah pendiri tarekat MSF. Dan tidak berlebihan juga kalau dalam proses penantian yang panjang ini, muncul pertanyaan: “Kapan Pater Berthier menjadi orang Kudus”?</p>
<p align="justify">Pada hemat saya, rasanya tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa menjadi orang kudus, pertama-tama bukan persoalan pembuktian ilmiah, melainkan persoalan iman. Iman itu antara lain diungkapkan dalam doa-doa. Maka akan menjadi lebih indah kalau upaya-upaya manusiawi berupa doa-doa devosi yang berkaitan dengan Pater Berthier, diperkenalkan kepada umat. P. Berthier, bagi para anggota MSF, sudah menjadi “orang kudus”, tetapi umat mungkin belum banyak yang mengenal sosok P. Berthier, “Misonaris Tanpa Kenal Lelah”.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong>Daniel Rusen</p>
<p></strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PERAYAAN EKARISTI SYUKUR ULANG TAHUN MGR. W. J. DEMARTEAU, MSF]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/01/29/perayaan-ekaristi-syukur-ulang-tahun-mgr-w-j-demarteau-msf/</link>
<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 01:03:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/01/29/perayaan-ekaristi-syukur-ulang-tahun-mgr-w-j-demarteau-msf/</guid>
<description><![CDATA[ “Bapak Uskup sungguh menyadari apa arti menjadi rasul Yesus Kristus. Monsinyur sungguh mengerti bag]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><em></em></p>
<p align="justify"> <em><span style="font-size:medium;font-family:Arial;">“Bapak Uskup sungguh menyadari apa arti menjadi rasul Yesus Kristus. Monsinyur sungguh mengerti bagaimana menjadi seorang rasul Yesus Kristus. Dari situlah saya banyak belajar.” ucap Pastor Teddy dalam homili singkatnya.</span></em></p>
<div><span lang="IN"></span></div>
<p><span lang="IN"><span lang="IN"></p>
<p align="justify">Paroki Bunda Maria Banjarbaru, Sabtu, 24 Januari 2009<!--more--></p>
<p></span></span></p>
<p align="justify">Sore itu, Sabtu, 24 Januari 2009, bertempat di Paroki Bunda Maria Banjarbaru, tepat pada pukul 17.30 Wita dilangsungkan Perayaan Ekaristi Syukur Ulang Tahun Mgr. W.J. Demarteau, MSF yang ke-92 tahun. Perayaan Ekaristi Syukur dipersembahkan oleh Konselebran Utama Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF selaku Provinsial MSF Kalimantan didampingi oleh 6 orang Pastor Kongregasi MSF diantaranya Pastor Petrus Prillion, MSF, Pastor Yosef Kristianto, MSF, Pastor Yohanes Berchmans Marharsono, MSF, Pastor Agustinus Doni Tupen, MSF, Pastor Herman Stahlhacke, MSF dan Pastor Felix Sumarjono, MSF. </p>
<p align="justify">Dalam homili singkatnya, Pastor Teddy banyak berkisah tentang pengalaman pribadinya bersama Mgr. Demarteau.</p>
<p><span lang="N">“</span><em><span lang="IN">Salah satu hal yang saya syukuri dalam hidup saya adalah perjumpaan saya dengan Mgr. Demarteau. Beliau memilih motto tahbisan Uskup “Apostolus Jesu Christi</span><span lang="N">”</span><span lang="IN"> </span><span lang="N">–</span></em></p>
<p align="justify">
<div><span lang="IN"><em>yang merupakan saripati kehidupan beliau. Bapak Uskup sungguh menyadari apa arti menjadi rasul Yesus Kristus. Monsinyur sungguh mengerti bagaimana menjadi seorang rasul Yesus Kristus. Dari situlah saya banyak belajar. Bapak Uskup meyakini bahwa sesulit apapun masalah yang dihadapi dalam karya perutusan beliau, Allah Yang Baik akan menolong. Dan itu sangat diyakini oleh Bapak Uskup.</em><span lang="N">–</span><em></em></span></div>
<p><span lang="IN"><em></p>
<p align="justify"><span lang="IN">ternyata dapat menjadi baik juga.</span></p>
<p align="justify">Sekarang bagaimana kita bisa meyakini Allah itu baik, apalagi dalam kondisi kehidupan yang repot dan penuh tantangan?</p>
<p align="justify">Kita bisa meyakini bahwa Allah itu baik bila kita sungguh dekat dengan Allah. Hal ini pun juga salah satu teladan yang diberikan Monsinyur kepada saya; sehingga saya sangat berterimakasih karena beliau dekat dengan Allah. Maka saat ini kita bisa merenung bersama, seberapa jarak kedekatan kita dengan Allah? Akhirnya, selamat ulang tahun kepada Bapak Uskup Mgr. Demarteau. Terimakasih atas banyak pelajaran berharga yang Bapak Uskup berikan kepada saya dan kepada kami semua.”</p>
<p align="justify"> </p>
<div><em></em></div>
<p><em></p>
<p align="justify">1. Secara pribadi saya bertemu pertama kali dengan Mgr. Demarteau pada tahun 1962 dengan banyak kesan didalamnya. Sesuai dengan intisari motto tahbisan beliau, itu sangat kami alami dalam keluarga. Beliau sungguh melayani umat sampai ke pedalaman dan dari rumah ke rumah. Keluarga saya dulu dilayani beliau, meskipun tempat tinggal kami terbilang jauh yaitu di daerah Gunung Kupang sana. Sewaktu Ayah saya meninggal dunia, beliau sangat sedih. Kesedihan beliau adalah karena tidak ada seorang sopir yang mengantarkan beliau untuk melayani keluarga kami. Beliau mengenal anggota keluarga saya dengan baik.</p>
<p align="justify">2. Kami dari Dewan Paroki pada awalnya mempunyai maksud untuk merayakan pesta ulang tahun beliau. Akan tetapi beliau tidak ingin ulang tahunnya kali ini dirayakan karena kondisi kesehatan beliau yang tidak mengijinkan. Bila umat ingin mengucapkan selamat ulang tahun, beliau tidak mau ucapan “semoga panjang umur”. Jadi cukup “selamat ulang tahun” saja.</p>
<p> </p>
<p></em></p>
<p align="justify">Setelah menyampaikan sambutannya, Bapak Margono mewakili Dewan Paroki dan umat mempersembahkan sebuah bingkisan untuk Mgr. Demarteau yang tengah berbahagia di hari jadinya. Di saat berikutnya, beberapa orang pengurus Dewan Paroki memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada beliau.</p>
<p align="justify">Dalam Perayaan Ekaristi Syukur tahun ini, hadir 2 orang keponakan Mgr. Demarteau yang jauh-jauh datang dari negeri Kincir Angin <span lang="IN">Belanda yaitu Mrs. Monic dan Mrs. Carla, yang duduk di dekat sang paman tercinta. Mereka didampingi oleh Pastor Pieter Sinnema, MSF yang bertugas sebagai Pastor Paroki Santa Theresia Balikpapan.</span></p>
<div><span lang="IN"><strong></strong></span><span lang="IN"><strong></p>
<p align="justify">Lahir di Horn</p>
<p> </p>
<p></strong><strong><span lang="IN">Belanda </span></strong></span></p>
<div></div>
<p><span lang="IN"></p>
<p align="justify">Pada tanggal 24 Januari 1917 pukul 10.00 pagi, lahirlah Demarteau kecil di desa Horn (Belanda Selatan) sebagai putera ke-5 pasutri Sebastianus Hubertus Demarteau dan Yohanna Moors. Sore harinya, dalam cuaca yang teramat dingin (150C di bawah nol), ia dibaptis dengan nama Wilhelmus (Wim). Wim kecil dibesarkan dalam sebuah keluarga besar. Ia mempunyai 4 orang kakak dan 3 orang adik. Dalam keluarganya, Wim kecil mengalami suasana asah-asih-asuh yang begitu hangat. Wim masuk TK di Horn (1921-1<span lang="IN">923). Saat itu Wim merasa kurang senang, karena ia beranggapan bahwa TK itu hanya “cocok” untuk anak perempuan, sebab di TK tidak diajarkan baca tulis. Tahun 1929 Wim menamatkan SD-nya di Horn. Setelah dapat membaca, Wim menjadi seorang “kutu buku”. Ketika itu orangtua Wim berlangganan “Bode v.d.Heilige Familie”, majalah bulanan yang diterbitkan para imam MSF. Majalah “Bode v.d.Heilige Familie”, memuat naskah-naskah dan surat-surat yang ditulis oleh para misionaris MSF, yang sejak tahun 1926 berkarya di Borneo (sekarang Kalimantan). Ternyata, Wim kecil sangat terkesan dengan surat-surat tersebut. </span></p>
<p align="justify">Wim berkata pada ibunya, “Mama, besok kalau saya sudah besar, saya akan menjadi pater dan pergi ke Borneo.” Ibunya menjawab, “Wim, engkau sangat sayang pada mama, mana mungkin engkau mau meninggalkan mama?!” Dengan semangat yang berkobar-kobar Wim kecil berkata kepada Ibundanya, “Mama, saya pergi ke Borneo dan di Borneo saya juga dapat sangat menyayangi mama.”</p>
<p align="justify"> <strong>Masuk Seminari Menengah MSF di Kaatsheuvel</strong></p>
<p align="justify">Tahun 1929, setamat SD Wim kecil masuk Seminari Menengah MSF di Kaatsheuvel. Masa Seminari Menengah dilaluinya dengan lancar. Tanggal 7 September 1935 Wim menerima “jubah” sebagai tanda bahwa ia diterima di Novisiat MSF di Nieuwkerk. Sejak saat itu, ia dipanggil frater. Fr.Wim menjalani masa novisiat-nya dengan sungguh hati.</p>
<p align="justify">Fr. Wim diterima sebagai anggota Kongregasi MSF dengan mengikrarkan kaul sementara pada tanggal 8 September 1936. Pada tanggal 10 September 1936 Fr. Wim mulai kuliah di Seminari Tinggi MSF di Oudenbosch. Bagi seorang “kutu buku”, Oudenbosch merupakan tempat “istimewa” karena buku-buku bermutu tersedia berlimpah di sini. Fr. Wim mengucapkan kaul kekal di Oudenbosch <span lang="IN">Belanda pada tanggal 8 September 1939, dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 27 Juli 1941 dalam usia yang masih sangat muda, yaitu 24 tahun.</span></p>
<p align="justify"> <strong>Dikirim ke Tanah Misi Borneo (Kalimantan)</strong></p>
<p align="justify">Pater Demarteau ternyata masih harus menyelesaikan studinya selama 2 tahun lagi, disamping melaksanakan tugas-tugas pastoral <span lang="IN">diantaranya pendampingan kaum muda di Keuskupan Breda. Akhir tahun 1943, Ia mendapat tugas tetap di Amsterdam, di “Open Deur” (=pintu terbuka), sebuah lembaga gerejawi yang melayani mereka-mereka yang mau mengenal dan menjadi Katolik.</span></p>
<p align="justify">Akhir Juli 1946 P. Demarteau mendapatkan pemberitahuan bahwa ia akan dikirim ke Indonesia. Ia menyambut berita ini dengan kegembiraan yang meluap-luap. Keberangkatan P. Demarteau mengalami beberapa kali penundaan, karena pada waktu itu kapal-kapal lebih diprioritaskan untuk mengangkut “pasukan Belanda” ke Indonesia.</p>
<p align="justify">Pada tanggal 11 April 1947 P. Demarteau bersama 2 orang rekannya sesama imam MSF berangkat menuju Indonesia. Sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 1 Mei 1947, kapal yang mereka tumpangi merapat di Tanjung Priok, Jakarta. Setelah 2 kali gagal terbang ke Banjarmasin, akhirnya pada tanggal 21 Mei 1947 pesawat yang ditumpangi P. Demarteau berhasil mendarat di Banjarmasin. Saat tiba di bandara, ia diberitahu bahwa akan menerima tugas sebagai pastor paroki di Katedral Banjarmasin. Ketika pertama kali tiba di Banjarmasin, P. Demarteau merasakan bahwa keadaan pada waktu itu tidak nyaman, tidak aman, banyak kerusuhan, kekerasan dan pertumpahan darah! Tanggal 27 Desember 1947, pertikaian Indonesia-Belanda dihentikan.</p>
<p align="justify"> Sampai akhir tahun 1949 Gereja Katolik tidak boleh bekerja di Kalimantan Selatan (Kalsel) kecuali di kota Banjarmasin. Akibatnya hampir semua misionaris bekerja di Kalimantan Timur (Kaltim) dan hanya Ordinarus dan dua/tiga pastor tinggal di Banjarmasin. Dewan Keuskupan Banjarmasin berpendapat bahwa situasi mendesak agar Kalimantan Timur menjadi keuskupan sendiri demi keselamatan dan perkembangan gereja di Kalsel.</p>
<p align="justify"> <strong>Menjadi WNI</strong></p>
<p align="justify">Tanggal 12 Desember 1951 P. Demarteau memutuskan untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) demi memantapkan keberadaannya sebagai seorang misionaris. Tahun 1952, Mgr. J. Groen, MSF mulai mempersiapkan pemisahan Kaltim dari Banjarmasin, akan tetapi karena beliau sakit maka rencana tersebut kemudian dibekukan baik di Banjarmasin maupun di Roma. Pada bulan April 1953 Mgr. J. Groen, MSF, Vikaris Apostolik Banjarmasin wafat di Surabaya. Takhta Suci Vatikan kemudian menunjuk P. Demarteau sebagai Uskup, menggantikan Mgr. Groen.</p>
<p align="justify"> <strong>Ditahbiskan sebagai Uskup Banjarmasin Kedua</strong></p>
<p align="justify">Pada tanggal 5 Mei 1954 P. Demarteau ditahbiskan menjadi Uskup di Gereja Katedral Banjarmasin oleh duta Vatikan Mgr. De Jonghe d<span lang="N">’</span><span lang="IN">Ardoye dan sebagai co-consencrator adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dan Mgr. T. van Valenberg, OFM Cap. Dalam tahbisannya, Mgr. W. J. Demarteau, MSF mengambil motto : “Apostolus Jesu Christi” yang berarti “Utusan Yesus Kristus.” Logo uskup Mgr. W. J. Demarteau, MSF digambar oleh seorang Rahib Benediktus berkebangsaan Perancis dari Biara Benediktin di Oosterhout </span><span lang="N">–</span><span lang="IN">Belanda. Simbol tersebut bermakna bahwa panggilan Mgr. W. J. Demarteau, MSF melalui kongregasi adalah menjadi misionaris dan uskup bagi daerah yang masih memerlukan “terang Injil.”</span></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p align="justify"> </p>
</div>
<p></em><span lang="IN">Sedangkan dalam sambutannya, Ketua Dewan Paroki Bunda Maria Banjarbaru Bapak Robertus Margono menyampaikan 2 hal pokok, yaitu :</span></span>Sebagai seorang Provinsial MSF, saya sering datang kepada beliau untuk mohon berkat dan doa; terlebih ketika ada tugas-tugas berat yang harus saya lakukan. Saya belajar dari Bapak Uskup bahwa Allah itu baik dan Allah yang baik itu akan menolong. Hal itu tadi juga kita jumpai dalam bacaan pertama dan Injil hari ini. Dalam bacaan pertama terdapat kisah Yunus yang semula ingin lari dari perutusan Allah dengan segala cara; yang melalui banyak kejadian akhirnya membuat Yunus menyadari bahwa Allah itu baik. Di lain pihak, penduduk Niniwe yang sepertinya tidak mungkin untuk diubah, karena kondisinya sudah sedemikian buruknya</p>
<p align="justify"> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Promosi Pater Berthier]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2008/12/03/pater-berthier/</link>
<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 13:05:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2008/12/03/pater-berthier/</guid>
<description><![CDATA[Dewan Pimpinan Umum MSF 17 -29 Januari 2005 di Wisma Kana, Salatiga secara khusus menggali tema Kelu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div></div>
<p><span style="font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">Dewan Pimpinan Umum MSF 17 -29 Januari 2005 di Wisma Kana, Salatiga secara khusus menggali tema Keluarga Kudus, Pater Berthier, serta sejarah MSF. Bahan-bahan tentang pater Berthier yang telah disiapkan oleh para pembicara: Rm Wim van der Weiden, MSF, Rm. Adam Bajorski, MSF, Rm Itacir Brassiani, MSF, Rm Benyamin Rabemanantsoa, MSF dan Rm Paul Yan Olla, MSF . Anda dapat download masing masing judul:</p>
<p></span></p>
<p align="justify"><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2008/12/pengkhotbah2.pdf">pengkhotbah</a></p>
<p align="justify"><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2008/12/pengarang2.pdf">pengarang</a></p>
<p align="justify"><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2008/12/pembina1.pdf">pembina</a></p>
<p align="justify"><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2008/12/pendiri1.pdf">pendiri</a></p>
<p align="justify"><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2008/12/zaman-berthier1.pdf">zaman-berthier</a></p>
<p align="justify"><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2008/12/dokumen-zaman-berthier1.pdf">dokumen-zaman-berthier</a></p>
<p align="justify"><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2008/12/sukses-berthier1.pdf">sukses-berthier</a></p>
<p align="justify"><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2008/12/misionaris1.pdf">misionaris</a><!--more--></p>
<p align="justify"> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemberkatan Patung dan Pondok pater Berthier]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2008/12/01/pemberkatan-patung-dan-pondok-pater-berthier/</link>
<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 01:53:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2008/12/01/pemberkatan-patung-dan-pondok-pater-berthier/</guid>
<description><![CDATA[Dapat download slideshow: presentasi misi berthier   Misionaris tanpa Kenal Lelah Bertempat di halam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dapat download slideshow: <a href="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2008/12/misi-berthier.ppt">presentasi misi berthier</a></p>
<p> </p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><span style="font-size:24pt;font-family:Arial;"><strong>Misionaris tanpa Kenal Lelah</strong></span></span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Bertempat di halaman Provinsialat MSF Kalimantan, Banjarbaru, tepat pada pukul 18.00 WITA, Kamis, 27 Nopember 2008, dilakukan Ibadat Pemberkatan Patung dan Pondok Pater Jean Berthier MS – Pater Pendiri Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (<em>Misionarii a Sacra Familia</em>) yang diberi gelar : “Misionaris tanpa Kenal Lelah”. Ibadat dipersembahkan oleh Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF (Provinsial MSF Kalimantan). Dalam kesempatan ini hadir Uskup Keuskupan Banjarmasin Mgr. Dr. Petrus Boddeng Timang, Pr, dan 2 orang Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin yaitu Mgr. W.J. Demarteau, MSF dan Mgr. F.X. Prajasuta, MSF, para Pastor, Suster, Frater, Biarawan/Biarawati dan umat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> <!--more--></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Dalam renungan yang disampaikannya, Pastor Teddy berkata, “<em>Upacara pemberkatan patung dan pondok Pater Berthier ini semestinya dilakukan beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada perayaan mengenang 100 tahun wafatnya Pater Berthier, tanggal 16 Oktober 2008 kemarin. Akan tetapi harus mengalami penundaan karena alasan yang sangat mendasar sekali, yaitu pada saat itu patungnya sendiri belum datang. Sebenarnya patung ini sudah siap dua setengah minggu sebelum hari H, akan tetapi pada waktu itu otoritas Pelabuhan Surabaya melarang kapal-kapal berlayar karena adanya ombak besar. Saat itu sempat terpikir untuk mempergunakan cargo (pesawat), akan tetapi setelah ditimbang ternyata berat patungnya sendiri overweight. Kalau mempergunakan cargo berat maksimal 75 kg, sedangkan patung Pater Berthier ini beratnya hampir mencapai 300 kg!</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pada dinding pondok, ada tulisan dalam bentuk plakat yang berbunyi P. Jean Berthier : Misionaris tanpa Kenal Lelah. Gelar ini diusulkan oleh Kongregasi yang mengurus kanonisasi Pater Berthier. Dari buku riwayat hidup Pater Berthier yang ada di tangan Anda sekalian, Anda dapat mengetahui perjalanan dan perjuangan hidup Pater Berthier. Dari kisah itu kita dapat mengetahui bahwa Pater Berthier sungguh menjadi Imam yang tak kenal lelah berkarya bagi kepentingan Gereja. Beliau pada awalnya adalah seorang Imam Projo yang kemudian memilih untuk masuk Kongregasi MS. Karena kerja kerasnya, beliau jatuh sakit dan dalam keadaan sakit ini beliau tetap mengajar calon-calon Imamnya. Dari perjalanan dan perjuangan hidupnya tersebut, maka gelar “Misionaris Tanpa Kenal Lelah” pun diberikan kepada Pater Berthier.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Arial;">Hari ini adalah bertepatan dengan peringatan 70 tahun perutusann Misionaris MSF perdana ke Chili, sehingga hari ini menjadi tepat bagi peresmian patung dan pondok Pater Berthier. Di pondok ini kita tidak hanya dapat sekedar berdoa saja, akan tetapi pondok ini dapat pula dijadikan sebagai tempat animasi bagi siapapun untuk mengenang Pater Jean Berthier. Semoga semangat Misi yang diteladankan oleh Pater Berthier dapat kita warisi dan kita kembangkan dengan sebaik-baiknya.</span></em><span style="font-family:Arial;">”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Usai membawakan renungannya Pastor Teddy kemudian melakukan pemberkatan patung dan pondok Pater Berthier yang didahului dengan doa dan kemudian dilanjutkan dengan pemercikan air suci. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Setelah Ibadat pemberkatan patung dan pondok Pater Berthier berakhir, para Uskup dan semua yang hadir dijamu dengan santap malam bersama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pater Jean Berthier Lahir di Châtonnay</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Jean Baptis Berthier lahir di Châtonnay – sebuah desa di Perancis Tenggara, 24 Pebruari 1840. Ayahanda Berthier adalah seorang petani yang mempunyai karakter tegas dan berkemauan keras, sedangkan Ibundanya adalah seorang yang berkarakter tenang, berhati lembut dan mempunyai kebiasaan rajin berdoa. Perpaduan kedua karakter inilah yang kemudian dapat kita temukan pada diri Jean Berthier.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Jean kecil mempunyai tubuh yang lemah dan sering sakit-sakitan, oleh karena itu Ayahnya berpendapat bahwa ia kurang cocok bekerja di bidang pertanian. Maka Ayah Jean pun kemudian mengirim Jean ke sekolah. Bila cuaca buruk, maka Jean seringkali diantarkan oleh Ayahnya ke sekolah. Jean disekolahkan di sebuah sekolah milik Yayasan Bruder Hati Yesus dan Maria. Sesudah tamat Sekolah Dasar, Jean mendapatkan pelajaran tambahan diantaranya Bahasa Latin dari Pastor Parokinya yang bernama Pastor Champon. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pastor Champon adalah seorang Pastor yang mempunyai wawasan luas dan seringkali berkomunikasi dengan para Misionaris darimana saja. Surat-surat dari para Pastor, Bruder maupun Suster dari “tanah misi” seringkali dibahas oleh Pastor Champon di Pastorannya. Misalnya saja surat dari Mgr. Gandy (Uskup Agun Pondichery – India) dan Mgr. Pellet yang berkarya sebagai Uskup di Afrika dan sebagai Jenderal Kongregasi Misi Lyon.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pergaulan dengan Pastor Champon inilah yang kemudian menumbuhkan benih panggilan dalam diri Jean Berthier. Benih itu tumbuh subur manakala ia masuk Seminari, meskipun ia menerima protes dari Ayahnya namun Ibunya sangat mendukung jalan hidup yang dipilih oleh Jean Berthier. Di Seminari inilah panggilan Jean Berthier sebagai seorang Imam semakin jelas. Kebanyakan teman-teman Jean menilai bahwa Jean sebaiknya menjadi seorang Rahib atau Misionaris.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Ketika memperoleh kesempatan untuk berlibur, Jean Berthier berkunjung ke Biara Grande Chartreuse di Grenoble, kemudian berziarah ke La Salette. Ia pergi bersama Aloysius Lassare (yang dikemudian hari menjadi Misionaris Ordo Kapusin dan menjadi Uskup) dan Massaia (yang dikemudian hari menjadi Kardinal dan berkarya di Ethiopia. Di La Salette, rombongan Jean Berthier bertemu dengan rombongan lainnya dari Paris. Diantara rombongan dari Paris tersebut terdapat Yustus de Bretenieres (yang dikemudian hari menjadi Uskup Misionaris yang kemudian wafat sebagai martir di Korea). Nampaknya kunjungan tersebut sangat berkesan di hati Jean, sehingga dalam Buku Hariannya ia menulis, “Di sini aku akan kembali.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Masuk Kongregasi Misionaris dari La Salette (MS)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Tanggal 5 April 1862 Jean Berthier menerima tahbisan sebagai Diakon dan menurut rencana akan ditahbiskan menjadi Imam pada bulan Juli tahun berikutnya. Keputusan ini dibuat karena Jean dianggap masih terlampau muda, namun di sisi lain Jean merasa keberatan dengan keputusan ini. Maka sehari setelah temannya ditahbiskan, Jean pergi ke La Salette. Kemudian ia masuk Novisiat Kongregasi Misionaris dari La Salette hingga ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 20 September 1862 dengan hanya dihadiri oleh Magister dan seorang teman di kapel pribadi Uskup Grenoble.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sejak tarekat Misionaris dari La Salette (MS) didirikan pada tahun 1852, jumlah anggota tetap memang sangat sedikit. Pater Archier, MS – Pemimpin Kongregasi Maria dari La Salette sejak tahun 1876, mengusulkan agar didirikan Sekolah Apostolik di La Salette. Gagasan ini disambut dengan antusias oleh rekan-rekan Misionaris dari La Salette dan Uskup Grenoble. Kemudian Pater Berthier memikirkan dan melaksanakan rencana tersebut selekas mungkin. Dan 12 tahun kemudian, karya tersebut telah mampu menghasilkan 32 orang Imam dimana 5 orang diantaranya berada di Norwegia untuk melaksanakan tugas misi. Di sini peran Pater Berthier sangat nampak sekali sebagai motor penggerak bagi Sekolah Apostolik tersebut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kelahiran Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Selama Pater Berthier terlibat dalam kegiatan pendidikan Kongregasi dan ketika bertugas di paroki-paroki di Perancis, Pater Berthier berulang kali mengalami kesedihan karena harus menolak para pemuda yang hendak menjadi Imam maupun Misionaris oleh karena alasan “umur” dan “kemiskinan.” Di sini Pater Berthier merasa prihatin karena pada kenyataannya tenaga Misionaris terbatas. Keprihatinan ini kemudian diwujudkan Pater Berthier dengan jalan mengajukan usulan kepada Kongregasi La Salette untuk mendirikan lagi Sekolah Apostolik bagi “panggilan terlambat” dan karena alasan kemiskinan. Namun permohonan ini ditolak.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sekalipun ditolak, namun ambisi Pater Berthier tetap berkobar. Apalagi setelah membaca ensiklik “Santa Dei Civitas” yang diterbitkan pada tanggal 3 Desember 1880 oleh Paus Leo XIII, yang mendesak agar Misi Katolik diperhatikan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pada tahun 1893 Kardinal Langénieux mengundang Pater Berthier untuk memberikan retret bagi para Imam di Keuskupan Agung Rheims. Secara pribadi, Pater Berthier pernah membicarakan ambisinya untuk memulai karya baru untuk panggilan terlambat dan karena alasan kemiskinan. Seusai retret yang dihadiri oleh Kardinal Langénieux sendiri, Kardinal berjanji akan mencarikan dukungan di Roma bagi rencana Pater Berthier tersebut. Setahun kemudian, Pater Berthier dipanggil ke Roma. Setiba di Roma, Pater Berthier langsung diantar ke Sekretaris Negara yaitu Kardinal Rampolla. Kardinal Rampolla menilai bahwa usulan Pater Berthier sangat tepat dan meminta kepadanya untuk segera menyusun rencana kerja yang akan disampaikan kepada Sri Paus. Kejadian ini terjadi pada tanggal 13 Nopember 1894. Tanpa disangka-sangka, karya Pater Berthier ternyata mendapat dukungan dari Paus Leo XIII. “Inilah suatu karya tepat dan saya berharap agar diwujudkan selekas mungkin,” kata Sri Paus. Supaya segala sesuatunya lancar, maka Paus Leo XIII menunjuk Kardinal Langénieux sebagai Pelindung.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Karya Misi MSF Bermula di kota Grave, Belanda</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pada tanggal 27 September 1895, Pater Berthier tiba di Grave, sebuah kota kecil di pinggiran Sungai Maas, Belanda. Setengah tahun sebelumnya, Pater Berthier sudah membeli sebuah gedung tua bekas tangsi militer. Di sinilah kemudian didirikan Rumah Induk MSF, tempat dimana para Misionaris Keluarga Kudus dididik. Lapangan bekas tempat latihan militer dijadikan kebun sayuran. Tanggal 28 September 1895, Pater Berthier menerima ijin tertulis dari Uskup ‘s-Hertogenbosch, dan memulai karya di Grave dengan 10 orang murid. Bulan-bulan pertama, para murid baru terus berdatangan ke Grave, akan tetapi tahun-tahun pertama menjadi masa-masa yang sulit karena tidak ada seorang pun murid dari kelompok awal ini yang bertahan. Sejak tahun 1898, terwujud suatu kelompok murid yang tetap bertahan sebagai anggota awal dari sebuah Kongregasi baru.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pada tanggal 4 Oktober 1900, 5 orang Novis mengucapkan Kaul. Tanggal 4 Oktober 1903, diadakan Kapitel yang pertama yang dihadiri oleh 30 orang Frater yang telah mengucapkan Profesi. Pada tanggal 20 Agustus 1905, 3 orang Frater/Diakon MSF ditahbiskan menjadi Imam.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Selama Pater Berthier hidup di Grave, ia kerapkali diserang oleh bronchitis yang kronis beserta sakit perut. Hingga pada tanggal 16 Oktober 1908 pagi, setelah diberikan Sakramen Perminyakan oleh Pater Trampe, Pater Jean Baptis Berthier dipanggil kembali menghadap Allah Bapa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Usaha, tenaga dan semangatnya untuk karya mencari tambahan tenaga Misionaris, yaitu mereka yang terlambat panggilan dan miskin, telah dirahmati oleh Tuhan. Tugas Pater Berthier kemudian digantikan oleh Pater Josef Carl, MSF yang dipilih pada Kapitel Pertama. Kongregasi MSF yang didirikan oleh Pater Berthier pada tahun 1895 mendapatkan pengakuan resmi dari Sri Paus pada tahun 1911. Sampai dengan tahun 1957, Kongregasi MSF dipimpin dan diatur dari kota Grave, Belanda. Namun sesudah itu, MSF kemudian berpusat di Roma, Italia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sejak tahun 1910, Kongregasi MSF telah mengirim para Misionarisnya ke berbagai negara di berbagai belahan dunia. Saat ini Kongregasi MSF berkarya di Belanda, Argentina, Brasilia Utara, Brasilia Timur, Brasilia Selatan, Chili, Kanada, Meksiko, Amerika Serikat, Belgia – Perancis, Spanyol, Jerman, Norwegia, Indonesia (Kalimantan mulai 1926, Jawa mulai 1932 dan Flores 1993), Madagaskar, Polandia, Swiss, Italia, Austria, Belorusia, Ukraina dan Papua New Guini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Semangat (spiritualitas) tarekat bersumber kepada Keluarga Kudus dari Nazareth : “<em>Janganlah kamu lupa bahwa penghargaan dan cinta kasih satu sama lain lebih penting dari segala aturan Konstitusi, dan tiap aturan maupun kaul bermaksud mengobarkan dalam hati anggotanya cinta kasih kepada Allah dan sesama. Oleh karena itu patutlah kamu sekalian sedapat-dapatnya saling dahulu-mendahului dalam memberi hormat, tetap sehati sejiwa, kerjasama saling membantu, saling menghibur dalam kesusahan dan membesarkan hati, serta saling mendorong.</em>” (Konstitusi tahun 1895, no. 15)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Tugas misioner seturut cita-cita Pater Berthier selaku Pater Pendiri Kongregasi MSF untuk saat ini dilanjutkan dengan mengembangkan 3 karya kerasulan : Kerasulan Keluarga, Kerasulan Panggilan dan Kerasulan Misioner. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Bunda Maria dari La Salette : “Pelindung Kongregasi MSF”</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Para Misionaris Keluarga Kudus menghormati “Bunda Maria yang Tercinta dari La Salette” sebagai Pelindung Kongregasi. Kisah penampakan Bunda Maria di La Salette diawali dengan kisah perjumpaan 2 orang anak dengan Bunda Maria pada tanggal 19 September 1846. Kedua anak itu adalah Melanie Calvat (14 tahun) dan Maximin Giraud (11 tahun) yang berasa dari Desa Corps yang terletak 35 km dari Grenoble, Perancis. Seperti halnya dengan anak-anak yang lain di daerah mereka, maka Melanie dan Maximin tidak bisa bersekolah dan harus bekerja untuk membiayai kehidupan mereka. Di suatu ketika, saat terjaga dari tidur siang, mereka berdua terkejut karena mendapati kawanan sapi dan kambing yang mereka gembalakan sudah tidak ada di dekat mereka. Saat itu mereka berada di sekitar lembah Sungai Seize.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Setelah mereka cari-cari, akhirnya mereka mendapati bahwa ternak mereka ada di seberang sehingga mereka tidak khawatir lagi. Akhirnya mereka berdua kembali ke tempat semula. Di dekat sebuah sumur mereka melihat cahaya yang terang benderang berbentuk seperti bola. Cahaya itu kemudian terbuka, dari dalamnya terlihat cahaya yang lebih terang, bergerak dan berputar. Dalam cahaya tersebut, duduklah seorang wanita cantik. Wanita itu memegang kepala dan rambutnya yang indah sekali, bermahkotakan untaian bunga mawar. Wanita itu kemudian berdiri, melipat tangan dan berkata kepada Melanie dan Maximin, “<em>Silahkan anak-anak, marilah kesini. Jangan takut ! Saya datang ke sini untuk membawa pesan penting.</em>” Kedua anak itupun mendekati wanita itu. Kemudian wanita itu melanjutkan kata-katanya, “<em>Kalau bangsa saya tidak mau bertobat, saya tidak bisa menahan lagi tangan Putera saya; begitu berat sudah ! Saya sudah lama menderita untuk kalian dan penderitaan ini tidak dapat ditanggung oleh siapapun. Kalian diberikan waktu selama 6 hari untuk bekerja dan pada hari ke-7 kalian diberikan waktu untuk beristirahat. Namun ternyata para pekerja tidak menghormati nama Putera saya. Bahkan ketika panen gagal, nama Putera saya dihina.</em>”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pada awalnya kedua anak itu tidak mengerti apa yang disampaikan oleh wanita di hadapannya. Kemudian wanita itu mulai melanjutkan kata-katanya dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh anak-anak itu. Pada intinya wanita itu menyampaikan pesan tentang merosotnya penghormatan terhadap hari Minggu dan penyalahgunaan nama Tuhan dan berharap supaya keadaan tersebut diperbaiki dengan membiasakan diri berdoa dan mengikuti Ibadat pada hari Minggu. Pesan ini diterima berulang kali. Pada awalnya Melanie dan Maximin tidak mengetahui siapa wanita tersebut sebenarnya. Sesampainya di rumah mereka menceritakan perjumpaan mereka dengan wanita itu, lalu mulai jelaslah bagi mereka bahwa wanita yang mereka ceritakan adalah Santa Perawan Maria. Oleh 3 orang kemudian dicatat mengenai kisah penampakan Bunda Maria di La Salette dan banyak dokumen kemudian menyusul. Yang menarik adalah, anak-anak itu selalu menceritakan hal yang sama tanpa perubahan apapun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Satu setengah abad sesudah penampakan Bunda Maria di La Salette, situasi dunia tidak menjadi lebih baik. Sifat acuh tak acuh manusia terhadap Tuhan masih banyak terjadi, bahkan banyak orang yang tidak mau tahu tentang Tuhan. Materialisme dan hal-hal yang bersifat duniawi menjadi sesuatu yang menonjol. Tetes air mata Bunda Maria juga dituangkan untuk kita sekarang ini. Ajakan untuk rajin berdoa tetap berlaku untuk kita semua. Perlu pertobatan umat manusia, juga perbaikan relasi antara manusia dengan sesamanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Rumah Induk MSF Masa Kini : “Menjadi Galeri Seni” – <em>Galerie de Rog</em></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Saat ini, Rumah Induk MSF di Grave telah berubah fungsi menjadi Galeri Seni dengan nama <em>Galerie de Rog</em>. Rumah ini memang penuh kenangan akan Pater Berthier, juga kenangan akan para Misionaris awal MSF pada masa itu. Sudah lama rumah ini dijual oleh Kongregasi MSF Belanda dengan banyak bertimbangan. Kendati tidak lagi menjadi milik MSF, akan tetapi masih ada 2 bagian dari <em>Galerie de Rog</em> yang boleh dikatakan masih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah kehidupan Pater Pendiri dan sejarah Kongregasi MSF.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Bagian pertama adalah pemakaman di halaman belakang <em>Galerie de Rog</em>, dimana disini terbaring puluhan Konfrater MSF yang telah beristirahat dalam damai. Bagian kedua adalah sebuah prasasti yang dipasang pada dinding luar <em>Galerie de Rog</em>. Pada prasasti ini tertulis kalimat : “<em>Jean Berthier 1840 – 1908, Pendiri Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus 1895, Dari rumah ini, telah menyebar para misionaris ke Eropa, Asia, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, untuk mewartakan Injil kepada ‘mereka yang jauh’. Hari ini, 16 Oktober 1908, adalah saat Tuhan memanggilnya (P. Jean Berthier) untuk selamanya</em>.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Lebih dari 100 tahun yang lalu, Pater Berthier telah mengubah tangsi militer menjadi biara religius. Seratus tahun kemudian, dunia modern telah mengubah kembali biara religius menjadi galeri seni. Pesan di alenia terakhir dari Kapitel Umum MSF ke-XII kepada semua anggota Kongregasi MSF kiranya dapat dijadikan pula permenungan bersama bagi kita semua, “<em>Pada kesempatan mempersiapkan perayaan 100 tahun wafatnya Pendiri, kita ingin mengingat kata-kata dari Paus Yohanes Paulus II : ‘Kalian tidak hanya memiliki sebuah sejarah mulia untuk dikenang, tetapi juga sejarah besar untuk dibangun! Pandanglah masa depan, tempat di dalamnya kalian akan diinspirasi oleh Roh, yang bersama kalian ingin melakukan hal besar.</em>” (VC, 110)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">REFERENSI :</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:Arial;"><span><span style="font-size:small;">1.</span><span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">P. Sinnema, MSF. <strong><em>Sebiji Sesawi (Buku Kenangan MSF 100 Tahun dan Karyanya di Kalimantan)</em></strong>. Provinsialat MSF Kalimantan. Banjarbaru. 1995.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:Arial;"><span><span style="font-size:small;">2.</span><span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">P. Agustinus Doni Tupen, MSF. <strong><em>Tangsi Militer, Biara MSF dan Galerie de Rog</em> dalam Musafir edisi nomor 4 Tahun IX. Majalah Keluarga untuk Para Misionaris MSF Kalimantan dan Para Sahabat Pater Berthier. </strong>Provinsialat MSF Kalimantan. Banjarbaru. 2007.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:Arial;"><span><span style="font-size:small;">3.</span><span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">P. Wim van der Weiden, MSF. <strong><em>Pater Jean Berthier : Pendiri Tarekat MSF</em>. </strong>Provinsialat MSF Kalimantan. Banjarbaru. 2008.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"> </p>
<div><span style="font-family:Arial;"></span></div>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-family:Arial;">Reported by : Dionisius Agus Puguh Santosa </span></p>
<div><span style="font-family:Arial;"></span></div>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Divisi LITBANG KOMKEP Keuskupan Banjarmasin</span></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peringatan 100 Tahun Pater Berthier, MS (Pendiri Kongregasi MSF)]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2008/11/25/peringatan-100-tahun-pater-berthier-ms-pendiri-kongregasi-msf/</link>
<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 01:52:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2008/11/25/peringatan-100-tahun-pater-berthier-ms-pendiri-kongregasi-msf/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Misionaris tanpa Kenal Lelah”     P. Teddy, MSF : “Jika dari Sabang sampai Merauke mempunyai ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:24pt;font-family:Arial;" lang="IN">&#8220;Misionaris tanpa Kenal Lelah”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;" align="center"><em><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;" lang="IN">P. Teddy, MSF : “Jika dari Sabang sampai Merauke mempunyai kepedulian yang tinggi, maka Gereja Indonesia akan berkembang, sehingga Gereja maupun Karya Misi akan terus berkembang pula.”</span></em><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sore itu, Kamis, 16 Oktober 2008, bertempat di Paroki Bunda Maria Banjarbaru, tepat pada pukul 17.30 WITA dipersembahkan Perayaan Ekaristi untuk mengenang 100 tahun wafatnya Pater Jean Berthier MS – Pater Pendiri Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (<em>Misionarii a Sacra Familia</em>) atau yang lebih dikenal dengan Kongregasi MSF. Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Konselebran Utama Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF (Provinsial MSF Kalimantan) didampingi oleh Pastor Agustinus Doni Tupen, MSF, Pastor Yohanes Berchmans Marharsono, MSF (Direktur Seminari Johaninum Banjarbaru) dan Pastor Timotius I Ketut Adi Hardhana, MSF.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"><!--more--> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Di awal Kata Pembuka, Pastor Teddy berujar, “<em>Perayaan 100 tahun mengenang wafatnya Pater Berthier ini dirayakan di 14 Provinsi MSF di seluruh dunia, juga di paroki-paroki dimana para Misionaris MSF berkarya. Mulai hari ini, 16 Oktober 2008 sampai dengan tanggal 16 Oktober 2009 nanti diperingati sebagai Tahun Berthier, dimana disepanjang Tahun Berthier akan diadakan berbagai macam kegiatan untuk mengenang, berdoa dan bersyukur sekaligus meneladani Pater Pendiri MSF – Pater Jean Berthier. Pater Berthier adalah seorang pengkhotbah, pengarang, pendidik calon-calon Imam dan Pendiri Kongregasi MSF</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sebelum membawakan homilinya, Pastor Teddy mengajak umat yang hadir untuk menyaksikan tayangan perjalanan hidup Pater Berthier, yang dibuat oleh pastor P.Sinnema MSF. Setelah tayangan usai, Pastor Teddy kemudian bercerita secara sepintas mengenai Pater Berthier. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">“<em>Slide atau tayangan tadi menggambarkan bagaimana Jean Berthier yang sejak kecil sering mendengar kisah Bunda Maria La Salette dari neneknya. Ketertarikan ini kemudian mengantarkan Pater Berthier untuk menjadi seorang Imam. Karena bantuan pastor parokinya, maka Pater Berthier akhinya menjadi Imam untuk menjawab panggilan Tuhan. Tuhan memanggil tiap-tiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Seiring perjalanan waktu, panggilan dari Tuhan ini kita terima melalui berbagai peristiwa. Pater Berthier sendiri sebelumnya tidak pernah membayangkan bahwa ia nantinya akan mendirikan Kongregasi MSF.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Saat ia telah menjadi Imam Kongregasi La Salette, jumlah Imam sangat terbatas. Maka didirikanlah Sekolah Apostolik untuk mendidik para Imam. Di saat mengurusi pendidikan Imam inilah keprihatinan Pater Berthier muncul, oleh sebab banyak pemuda yang tidak bisa menjadi Imam karena panggilan terlambat dan karena alasan kemiskinan. Keprihatinan ini kemudian memunculkan ide untuk mendirikan Kongregasi MSF.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Itulah salah satu cara Allah memanggil ! Allah memanggil melalui peristiwa-peristiwa, melalui peristiwa-peristiwa tersebut Allah hendak menunjukkan rencana atau kehendak-Nya, dalam hal ini juga melalui berbagai misteri yang terjadi. Untuk memahami rencana atau kehendak Allah ini diperlukan kepekaan kita. Dalam hal ini Pater Berthier menggunakan kepekaan hatinya untuk menangkap apa yang dikehendaki Allah sekaligus mengetahui apa yang dibutuhkan oleh Gereja.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Seperti yang kita lihat saat ini, kepedulian terhadap Gereja mulai menurun, sehingga tidak mustahil bila banyak Seminari-seminari akhirnya kosong. Tapi untuk di Indonesia, kita masih patut berbangga karena kita lihat masih ada yang peduli dengan Gereja-gereja maupun Paroki-paroki, meski dalam realitanya saat ini kita dapati juga adanya Biara-biara yang mulai kosong. Di sini yang penting bukan sekedar seberapa besar kepedulian kita saja secara pribadi; akan tetapi dituntut pula agar kita mengajak yang lainnya untuk sama-sama peduli !</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jika dari Sabang sampai Merauke mempunyai kepedulian yang tinggi, maka Gereja Indonesia akan berkembang, sehingga Gereja maupun Karya Misi akan terus berkembang pula.</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Perayaan Ekaristi kali ini dihadiri Mgr. W.J. Demarteau, MSF (Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin), Biarawan/Biarawati, para Seminaris Johaninum Banjarbaru dan umat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pater Jean Berthier Lahir di Châtonnay</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jean Baptis Berthier lahir di Châtonnay – sebuah desa di Perancis Tenggara, 24 Pebruari 1840. Ayahanda Berthier adalah seorang petani yang mempunyai karakter tegas dan berkemauan keras, sedangkan Ibundanya adalah seorang yang berkarakter tenang, berhati lembut dan mempunyai kebiasaan rajin berdoa. Perpaduan kedua karakter inilah yang kemudian dapat kita temukan pada diri Jean Berthier.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jean kecil mempunyai tubuh yang lemah dan sering sakit-sakitan, oleh karena itu Ayahnya berpendapat bahwa ia kurang cocok bekerja di bidang pertanian. Maka Ayah Jean pun kemudian mengirim Jean ke sekolah. Bila cuaca buruk, maka Jean seringkali diantarkan oleh Ayahnya ke sekolah. Jean disekolahkan di sebuah sekolah milik Yayasan Bruder Hati Yesus dan Maria. Sesudah tamat Sekolah Dasar, Jean mendapatkan pelajaran tambahan diantaranya Bahasa Latin dari Pastor Parokinya yang bernama Pastor Champon. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pastor Champon adalah seorang Pastor yang mempunyai wawasan luas dan seringkali berkomunikasi dengan para Misionaris darimana saja. Surat-surat dari para Pastor, Bruder maupun Suster dari “tanah misi” seringkali dibahas oleh Pastor Champon di Pastorannya. Misalnya saja surat dari Mgr. Gandy (Uskup Agun Pondichery – India) dan Mgr. Pellet yang berkarya sebagai Uskup di Afrika dan sebagai Jenderal Kongregasi Misi Lyon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pergaulan dengan Pastor Champon inilah yang kemudian menumbuhkan benih panggilan dalam diri Jean Berthier. Benih itu tumbuh subur manakala ia masuk Seminari, meskipun ia menerima protes dari Ayahnya namun Ibunya sangat mendukung jalan hidup yang dipilih oleh Jean Berthier. Di Seminari inilah panggilan Jean Berthier sebagai seorang Imam semakin jelas. Kebanyakan teman-teman Jean menilai bahwa Jean sebaiknya menjadi seorang Rahib atau Misionaris.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ketika memperoleh kesempatan untuk berlibur, Jean Berthier berkunjung ke Biara Grande Chartreuse di Grenoble, kemudian berziarah ke La Salette. Ia pergi bersama Aloysius Lassare (yang dikemudian hari menjadi Misionaris Ordo Kapusin dan menjadi Uskup) dan Massaia (yang dikemudian hari menjadi Kardinal dan berkarya di Ethiopia. Di La Salette, rombongan Jean Berthier bertemu dengan rombongan lainnya dari Paris. Diantara rombongan dari Paris tersebut terdapat Yustus de Bretenieres (yang dikemudian hari menjadi Uskup Misionaris yang kemudian wafat sebagai martir di Korea). Nampaknya kunjungan tersebut sangat berkesan di hati Jean, sehingga dalam Buku Hariannya ia menulis, “Di sini aku akan kembali.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Masuk Kongregasi Misionaris dari La Salette (MS)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Tanggal 5 April 1862 Jean Berthier menerima tahbisan sebagai Diakon dan menurut rencana akan ditahbiskan menjadi Imam pada bulan Juli tahun berikutnya. Keputusan ini dibuat karena Jean dianggap masih terlampau muda, namun di sisi lain Jean merasa keberatan dengan keputusan ini. Maka sehari setelah temannya ditahbiskan, Jean pergi ke La Salette. Kemudian ia masuk Novisiat Kongregasi Misionaris dari La Salette hingga ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 20 September 1862 dengan hanya dihadiri oleh Magister dan seorang teman di kapel pribadi Uskup Grenoble.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sejak tarekat Misionaris dari La Salette (MS) didirikan pada tahun 1852, jumlah anggota tetap memang sangat sedikit. Pater Archier, MS – Pemimpin Kongregasi Maria dari La Salette sejak tahun 1876, mengusulkan agar didirikan Sekolah Apostolik di La Salette. Gagasan ini disambut dengan antusias oleh rekan-rekan Misionaris dari La Salette dan Uskup Grenoble. Kemudian Pater Berthier memikirkan dan melaksanakan rencana tersebut selekas mungkin. Dan 12 tahun kemudian, karya tersebut telah mampu menghasilkan 32 orang Imam dimana 5 orang diantaranya berada di Norwegia untuk melaksanakan tugas misi. Di sini peran Pater Berthier sangat nampak sekali sebagai motor penggerak bagi Sekolah Apostolik tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Kelahiran Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Selama Pater Berthier terlibat dalam kegiatan pendidikan Kongregasi dan ketika bertugas di paroki-paroki di Perancis, Pater Berthier berulang kali mengalami kesedihan karena harus menolak para pemuda yang hendak menjadi Imam maupun Misionaris oleh karena alasan “umur” dan “kemiskinan.” Di sini Pater Berthier merasa prihatin karena pada kenyataannya tenaga Misionaris terbatas. Keprihatinan ini kemudian diwujudkan Pater Berthier dengan jalan mengajukan usulan kepada Kongregasi La Salette untuk mendirikan lagi Sekolah Apostolik bagi “panggilan terlambat” dan karena alasan kemiskinan. Namun permohonan ini ditolak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sekalipun ditolak, namun ambisi Pater Berthier tetap berkobar. Apalagi setelah membaca ensiklik “Santa Dei Civitas” yang diterbitkan pada tanggal 3 Desember 1880 oleh Paus Leo XIII, yang mendesak agar Misi Katolik diperhatikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pada tahun 1893 Kardinal Langénieux mengundang Pater Berthier untuk memberikan retret bagi para Imam di Keuskupan Agung Rheims. Secara pribadi, Pater Berthier pernah membicarakan ambisinya untuk memulai karya baru untuk panggilan terlambat dan karena alasan kemiskinan. Seusai retret yang dihadiri oleh Kardinal Langénieux sendiri, Kardinal berjanji akan mencarikan dukungan di Roma bagi rencana Pater Berthier tersebut. Setahun kemudian, Pater Berthier dipanggil ke Roma. Setiba di Roma, Pater Berthier langsung diantar ke Sekretaris Negara yaitu Kardinal Rampolla. Kardinal Rampolla menilai bahwa usulan Pater Berthier sangat tepat dan meminta kepadanya untuk segera menyusun rencana kerja yang akan disampaikan kepada Sri Paus. Kejadian ini terjadi pada tanggal 13 Nopember 1894. Tanpa disangka-sangka, karya Pater Berthier ternyata mendapat dukungan dari Paus Leo XIII. “Inilah suatu karya tepat dan saya berharap agar diwujudkan selekas mungkin,” kata Sri Paus. Supaya segala sesuatunya lancar, maka Paus Leo XIII menunjuk Kardinal Langénieux sebagai Pelindung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Karya Misi MSF Bermula di kota Grave, Belanda</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pada tanggal 27 September 1895, Pater Berthier tiba di Grave, sebuah kota kecil di pinggiran Sungai Maas, Belanda. Setengah tahun sebelumnya, Pater Berthier sudah membeli sebuah gedung tua bekas tangsi militer. Di sinilah kemudian didirikan Rumah Induk MSF, tempat dimana para Misionaris Keluarga Kudus dididik. Lapangan bekas tempat latihan militer dijadikan kebun sayuran. Tanggal 28 September 1895, Pater Berthier menerima ijin tertulis dari Uskup ‘s-Hertogenbosch, dan memulai karya di Grave dengan 10 orang murid. Bulan-bulan pertama, para murid baru terus berdatangan ke Grave, akan tetapi tahun-tahun pertama menjadi masa-masa yang sulit karena tidak ada seorang pun murid dari kelompok awal ini yang bertahan. Sejak tahun 1898, terwujud suatu kelompok murid yang tetap bertahan sebagai anggota awal dari sebuah Kongregasi baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pada tanggal 4 Oktober 1900, 5 orang Novis mengucapkan Kaul. Tanggal 4 Oktober 1903, diadakan Kapitel yang pertama yang dihadiri oleh 30 orang Frater yang telah mengucapkan Profesi. Pada tanggal 20 Agustus 1905, 3 orang Frater/Diakon MSF ditahbiskan menjadi Imam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Selama Pater Berthier hidup di Grave, ia kerapkali diserang oleh bronchitis yang kronis beserta sakit perut. Hingga pada tanggal 16 Oktober 1908 pagi, setelah diberikan Sakramen Perminyakan oleh Pater Trampe, Pater Jean Baptis Berthier dipanggil kembali menghadap Allah Bapa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Usaha, tenaga dan semangatnya untuk karya mencari tambahan tenaga Misionaris, yaitu mereka yang terlambat panggilan dan miskin, telah dirahmati oleh Tuhan. Tugas Pater Berthier kemudian digantikan oleh Pater Josef Carl, MSF yang dipilih pada Kapitel Pertama. Kongregasi MSF yang didirikan oleh Pater Berthier pada tahun 1895 mendapatkan pengakuan resmi dari Sri Paus pada tahun 1911. Sampai dengan tahun 1957, Kongregasi MSF dipimpin dan diatur dari kota Grave, Belanda. Namun sesudah itu, MSF kemudian berpusat di Roma, Italia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sejak tahun 1910, Kongregasi MSF telah mengirim para Misionarisnya ke berbagai negara di berbagai belahan dunia. Saat ini Kongregasi MSF berkarya di Belanda, Argentina, Brasilia Utara, Brasilia Timur, Brasilia Selatan, Chili, Kanada, Meksiko, Amerika Serikat, Belgia – Perancis, Spanyol, Jerman, Norwegia, Indonesia (Kalimantan mulai 1926, Jawa mulai 1932 dan Flores 1993), Madagaskar, Polandia, Swiss, Italia, Austria, Belorusia, Ukraina dan Papua New Guini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Semangat (spiritualitas) tarekat bersumber kepada Keluarga Kudus dari Nazareth : “<em>Janganlah kamu lupa bahwa penghargaan dan cinta kasih satu sama lain lebih penting dari segala aturan Konstitusi, dan tiap aturan maupun kaul bermaksud mengobarkan dalam hati anggotanya cinta kasih kepada Allah dan sesama. Oleh karena itu patutlah kamu sekalian sedapat-dapatnya saling dahulu-mendahului dalam memberi hormat, tetap sehati sejiwa, kerjasama saling membantu, saling menghibur dalam kesusahan dan membesarkan hati, serta saling mendorong.</em>” (Konstitusi tahun 1895, no. 15)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Tugas misioner seturut cita-cita Pater Berthier selaku Pater Pendiri Kongregasi MSF untuk saat ini dilanjutkan dengan mengembangkan 3 karya kerasulan : Kerasulan Keluarga, Kerasulan Panggilan dan Kerasulan Misioner. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Bunda Maria dari La Salette : “Pelindung Kongregasi MSF”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Para Misionaris Keluarga Kudus menghormati “Bunda Maria yang Tercinta dari La Salette” sebagai Pelindung Kongregasi. Kisah penampakan Bunda Maria di La Salette diawali dengan kisah perjumpaan 2 orang anak dengan Bunda Maria pada tanggal 19 September 1846. Kedua anak itu adalah Melanie Calvat (14 tahun) dan Maximin Giraud (11 tahun) yang berasa dari Desa Corps yang terletak 35 km dari Grenoble, Perancis. Seperti halnya dengan anak-anak yang lain di daerah mereka, maka Melanie dan Maximin tidak bisa bersekolah dan harus bekerja untuk membiayai kehidupan mereka. Di suatu ketika, saat terjaga dari tidur siang, mereka berdua terkejut karena mendapati kawanan sapi dan kambing yang mereka gembalakan sudah tidak ada di dekat mereka. Saat itu mereka berada di sekitar lembah Sungai Seize.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Setelah mereka cari-cari, akhirnya mereka mendapati bahwa ternak mereka ada di seberang sehingga mereka tidak khawatir lagi. Akhirnya mereka berdua kembali ke tempat semula. Di dekat sebuah sumur mereka melihat cahaya yang terang benderang berbentuk seperti bola. Cahaya itu kemudian terbuka, dari dalamnya terlihat cahaya yang lebih terang, bergerak dan berputar. Dalam cahaya tersebut, duduklah seorang wanita cantik. Wanita itu memegang kepala dan rambutnya yang indah sekali, bermahkotakan untaian bunga mawar. Wanita itu kemudian berdiri, melipat tangan dan berkata kepada Melanie dan Maximin, “<em>Silahkan anak-anak, marilah kesini. Jangan takut ! Saya datang ke sini untuk membawa pesan penting.</em>” Kedua anak itupun mendekati wanita itu. Kemudian wanita itu melanjutkan kata-katanya, “<em>Kalau bangsa saya tidak mau bertobat, saya tidak bisa menahan lagi tangan Putera saya; begitu berat sudah ! Saya sudah lama menderita untuk kalian dan penderitaan ini tidak dapat ditanggung oleh siapapun. Kalian diberikan waktu selama 6 hari untuk bekerja dan pada hari ke-7 kalian diberikan waktu untuk beristirahat. Namun ternyata para pekerja tidak menghormati nama Putera saya. Bahkan ketika panen gagal, nama Putera saya dihina.</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pada awalnya kedua anak itu tidak mengerti apa yang disampaikan oleh wanita di hadapannya. Kemudian wanita itu mulai melanjutkan kata-katanya dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh anak-anak itu. Pada intinya wanita itu menyampaikan pesan tentang merosotnya penghormatan terhadap hari Minggu dan penyalahgunaan nama Tuhan dan berharap supaya keadaan tersebut diperbaiki dengan membiasakan diri berdoa dan mengikuti Ibadat pada hari Minggu. Pesan ini diterima berulang kali. Pada awalnya Melanie dan Maximin tidak mengetahui siapa wanita tersebut sebenarnya. Sesampainya di rumah mereka menceritakan perjumpaan mereka dengan wanita itu, lalu mulai jelaslah bagi mereka bahwa wanita yang mereka ceritakan adalah Santa Perawan Maria. Oleh 3 orang kemudian dicatat mengenai kisah penampakan Bunda Maria di La Salette dan banyak dokumen kemudian menyusul. Yang menarik adalah, anak-anak itu selalu menceritakan hal yang sama tanpa perubahan apapun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Satu setengah abad sesudah penampakan Bunda Maria di La Salette, situasi dunia tidak menjadi lebih baik. Sifat acuh tak acuh manusia terhadap Tuhan masih banyak terjadi, bahkan banyak orang yang tidak mau tahu tentang Tuhan. Materialisme dan hal-hal yang bersifat duniawi menjadi sesuatu yang menonjol. Tetes air mata Bunda Maria juga dituangkan untuk kita sekarang ini. Ajakan untuk rajin berdoa tetap berlaku untuk kita semua. Perlu pertobatan umat manusia, juga perbaikan relasi antara manusia dengan sesamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Rumah Induk MSF Masa Kini : “Menjadi Galeri Seni” – <em>Galerie de Rog</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Saat ini, Rumah Induk MSF di Grave telah berubah fungsi menjadi Galeri Seni dengan nama <em>Galerie de Rog</em>. Rumah ini memang penuh kenangan akan Pater Berthier, juga kenangan akan para Misionaris awal MSF pada masa itu. Sudah lama rumah ini dijual oleh Kongregasi MSF Belanda dengan banyak bertimbangan. Kendati tidak lagi menjadi milik MSF, akan tetapi masih ada 2 bagian dari <em>Galerie de Rog</em> yang boleh dikatakan masih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah kehidupan Pater Pendiri dan sejarah Kongregasi MSF.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Bagian pertama adalah pemakaman di halaman belakang <em>Galerie de Rog</em>, dimana disini terbaring puluhan Konfrater MSF yang telah beristirahat dalam damai. Bagian kedua adalah sebuah prasasti yang dipasang pada dinding luar <em>Galerie de Rog</em>. Pada prasasti ini tertulis kalimat : “<em>Jean Berthier 1840 – 1908, Pendiri Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus 1895, Dari rumah ini, telah menyebar para misionaris ke Eropa, Asia, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, untuk mewartakan Injil kepada ‘mereka yang jauh’. Hari ini, 16 Oktober 1908, adalah saat Tuhan memanggilnya (P. Jean Berthier) untuk selamanya</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Lebih dari 100 tahun yang lalu, Pater Berthier telah mengubah tangsi militer menjadi biara religius. Seratus tahun kemudian, dunia modern telah mengubah kembali biara religius menjadi galeri seni. Pesan di alenia terakhir dari Kapitel Umum MSF ke-XII kepada semua anggota Kongregasi MSF kiranya dapat dijadikan pula permenungan bersama bagi kita semua, “<em>Pada kesempatan mempersiapkan perayaan 100 tahun wafatnya Pendiri, kita ingin mengingat kata-kata dari Paus Yohanes Paulus II : ‘Kalian tidak hanya memiliki sebuah sejarah mulia untuk dikenang, tetapi juga sejarah besar untuk dibangun! Pandanglah masa depan, tempat di dalamnya kalian akan diinspirasi oleh Roh, yang bersama kalian ingin melakukan hal besar.</em>” (VC, 110)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">REFERENSI :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1.<span style="font:7pt &#34;">      </span></span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">P. Sinnema, MSF. <strong><em>Sebiji Sesawi (Buku Kenangan MSF 100 Tahun dan Karyanya di Kalimantan)</em></strong>. Provinsialat MSF Kalimantan. Banjarbaru. 1995.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2.<span style="font:7pt &#34;">      </span></span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">P. Agustinus Doni Tupen, MSF. <strong><em>Tangsi Militer, Biara MSF dan Galerie de Rog</em> dalam Musafir edisi nomor 4 Tahun IX. Majalah Keluarga untuk Para Misionaris MSF Kalimantan dan Para Sahabat Pater Berthier. </strong>Provinsialat MSF Kalimantan. Banjarbaru. 2007.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>3.<span style="font:7pt &#34;">      </span></span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">P. Wim van der Weiden, MSF. <strong><em>Pater Jean Berthier : Pendiri Tarekat MSF</em>. </strong>Provinsialat MSF Kalimantan. Banjarbaru. 2008.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:right;margin:0;" align="right"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dionisius Agus Puguh Santosa</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pater Jean Berthier MS. Pendiri Tarekat MSF]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2008/11/22/pater-jean-berthier-ms-pendiri-tarekat-msf/</link>
<pubDate>Sat, 22 Nov 2008 08:31:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2008/11/22/pater-jean-berthier-ms-pendiri-tarekat-msf/</guid>
<description><![CDATA[Masa Kanak-Kanak Jean Berthier lahir pada tgl. 24 Februari 1840 di Châtonnay, sebuah desa kecil di D]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Masa Kanak-Kanak<br />
Jean Berthier lahir pada tgl. 24 Februari 1840 di Châtonnay, sebuah desa kecil di Dauphiné, sebagai anak sulung dari sebuah keluarga petani sederhana. Dari ayahnya ia mewarisi semangat ketekunan dan kemauan yang kuat, yang tampak dalam sikapnya di kemudian hari. Dari ibunya Jean mewarisi kebaikan penuh kasih. Ibu adalah seorang perempuan yang menghayati secara mendalam hidup keagamaannya, yang memberi pendidikan katolik secara baik kepada anak-anaknya. Di kemudian hari Jean berkata: “Saya berpikir bahwa satu dari rahmat terbesar yang Tuhan berikan kepadaku adalah seorang ibu yang saleh. Dia menegur, dia membina saya dan tidak membiarkan saya melakukan sesuatu yang negatif. Ibuku mengerti bahwa ia pertama-tama adalah seorang katolik, dan baru kemudian seorang ibu, dan bahwa tugasnya yang paling penting adalah: menjadikan saya seorang pengikut Kristus.”<br />
<!--more--><br />
Ayah dari Berthier bangga dengan anak sulungnya yang sangat pandai dan rajin. Oleh sebab itu ia ingin putranya menerima pendidikan yang baik. Tidak boleh dilewatkan barang sehari-pun tanpa pergi ke sekolah. Maka selama bulan-bulan musim dingin, ketika banyak salju di jalan, ayah sering memanggul Jean ke sekolah. Selama musim dingin ia mengajar Jean membaca Kitab Suci dan mengucapkan dengan betul nama-nama yang sukar. Oleh karena daya ingatnya luar biasa Jean mampu mengingat teks-teks yang panjang, dan karena alasan itu romo paroki memintanya membawakan di luar kepala Kisah Sengsara di gereja selama pekan suci. Waktu itu Jean baru berumur 9 tahun!<br />
Pada akhir kelas enam di Sekolah Dasar romo paroki mengusulkan akan memberikan kepada Jean dan kepada beberapa teman sekelasnya, yang semua telah menjadi putra altar, satu tahun pendidikan khusus sebagai persiapan bagi seminari menengah. Ayahnya berkeberatan, sebab untuk masa depan Jean, keinginannya hanya satu: Jean harus selekas mungkin mulai membantu bapanya dalam usaha pertanian, agar di kemudian hari ia menjadi seorang petani yang sukses. Tetapi romo paroki dan ibunya membujuk ayahnya untuk membiarkan Jean mengikuti tahun persiapan khusus itu. Lagi pula segala waktu kosong di sekolah mau dipakai Jean untuk melaksanakan tugasnya sebagai anak sulung, yakni membantu ayahnya di ladang.<br />
Bersama dengan pastor pembantu, pastor kepala paroki membimbing para calon seminaris ini dengan program sangat intensif, dengan materi yang biasanya diberikan pada tahun-tahun pertama di seminari. Ini adalah salah satu usaha dari pastor paroki untuk mempromosikan panggilan bagi imamat. Selama 46 tahun bekerja sebagai pastor paroki di Châtonnay sekitar 30 imam dan hampir 60 orang suster muncul dari paroki itu. Ketika tahun persiapan itu hampir selesai, si ayah harus diyakinkan bahwa sebaiknya ia memberi ijin kepada Jean untuk mengikuti keinginannya, yakni masuk seminari. Ibu sangat menolong dan berkat dorongan yang kuat dan terus-menerus dari pastor paroki akhirnya ayah menyerah.</p>
<p>Perjalanan Menuju Imamat<br />
Jean berumur 13 tahun ketika ia bersama teman-temannya dari Châtonnay masuk seminari menengah di keuskupan Grenoble. Para pengajarnya begitu terkesan akan kemampuan Berthier kecil dan akan hasil yang baik dari tahun persiapan di desa kelahirannya sehingga ia langsung dimasukkan ke kelas tiga. Bulan-bulan pertama menjadi masa yang sangat sulit baginya. Ia rindu kampung halamannya. Ia juga harus mengejar banyak sekali bahan pelajaran, sehingga hampir kehilangan harapan untuk bisa meneruskan program itu. Tetapi otaknya yang baik dan daya kemauannya yang keras membantu untuk mengatasi krisis itu, dan pada akhir tahun ia mencapai ranking yang tinggi.<br />
Di seminari ia belajar mata pelajaran yang paling penting, yakni bahasa Latin dan bahasa Perancis, sedemikian baik, sehingga sepanjang hidupnya ia dapat menggunakan kedua bahasa itu tanpa kesalahan. Selain itu ia sangat tertarik pada ilmu tumbuh-tumbuhan, suatu ketertarikan yang dia bawa selama hidupnya dan ia bagikan dengan gembira pada murid-muridnya. Sering kali ia dapat memandang suatu bunga atau suatu tanaman dengan rasa kagum, dan ia bersyukur pada Sang Pencipta untuk semua keindahan itu. Jean adalah seorang seminaris yang serius dan saleh, yang tidak tertarik pada olah raga dan permainan-permainan. Setiap waktu luang dia gunakan untuk membaca. Waktu liburan di rumah selama musim panas dimanfaatkannya untuk membantu ayahnya di ladang. Hari-hari kerja yang panjang ia lalui di ladang, karena selama musim panas banyak hal harus dikerjakan. Maklumlah, pada waktu itu belum ada mesin-mesin pertanian.<br />
Pada tahun 1857 Jean pindah ke Grenoble, di mana ia harus belajar filsafat selama satu tahun, dan kemudian mulai belajar teologi di seminari tinggi. Masa empat tahun di seminari tinggi itu sangat berpengaruh dalam hidup Jean Berthier. Di seminari itu ia diajar oleh beberapa dosen yang sangat kompeten dan juga saleh, dan selama empat tahun itu Jean berhasil mengumpulkan bekal ilmiah dan rohani, yang di kemudian hari sangat berguna bagi dirinya. Ia menuntut banyak dari dirinya, dan yakin bahwa ia harus menjadi seorang imam yang mampu dan saleh, dan untuk itu ia harus meletakkan fondasi yang baik selama di seminari. Kelak pada akhir hidupnya, Pater Berthier berkata: “Sejak belajar di seminari tinggi saya tidak bisa mengerti bagaimana seorang imam dapat membiarkan satu menit tanpa berbuat sesuatu.” Ia sendiri selalu sibuk, tetapi juga mempunyai talenta khusus untuk membagi waktu antara studi dan aktivitas lain dalam satu hari, sehingga satu tugas bisa menjadi suatu variasi bagi tugas yang lain.<br />
Selalu sadar akan tugas-tugasnya di masa depan sebagai imam, Jean mulai mengumpulkan koleksi-koleksi kutipan dari tulisan para Bapa Gereja, dari teolog besar dan pengkhotbah ulung, dan juga contoh-contoh dan cerita-cerita dikumpulkan dan diatur, supaya pada suatu saat di kemudian hari dapat dipakai dalam khotbah-khotbahnya. Dalam arsip MSF di Roma tersimpan kumpulan besar dari catatan-catatan dan bahan praktis untuk khotbah dan katekese. Selama tahun-tahun di seminari ini ia banyak berpikir tentang masa depannya: menjadi imam, ya! Tetapi di manakah dan bagaimana? Selama beberapa tahun di seminari ia mencita-citakan tugas sebagai imam di paroki yang paling miskin dari keuskupan untuk hidup dan bekerja dalam semangat santo pastor dari Ars yang meninggal beberapa tahun sebelumnya. Di lain pihak ia tertarik pada hidup religius yang paling sukar dan keras seperti dipraktikkan oleh para pertapa Kartusian. Selama liburan besar tahun 1861, sebelum tahun terakhir di seminari, ia bersama beberapa teman sekelas berziarah ke La Salette, tempat di mana Bunda Maria 15 tahun sebelumnya menampakkan diri. Jean begitu terkesan oleh kelompok kecil Misionaris La Salette, sehingga ia berkata: “Ke sini aku akan kembali!” Keraguannya tentang masa depannya telah hilang. Segera setelah ujian terakhir di seminari ia langsung pergi ke La Salette dan masuk di biara para Misionaris La Salette.</p>
<p>Misionaris La Salette<br />
Tidak lama setelah masuk biara, Jean ditahbiskan menjadi imam pada tgl. 20 September 1862, pada umur 22 tahun. Tahun novisiat yang dimulai dua hari sebelumnya harus dilaksanakan selama 3 tahun karena ia sakit beberapa kali selama di novisiat. Ia perlu pergi berkali-kali dari biara di atas gunung yang amat dingin itu untuk memulihkan kesehatannya. Selama periode-periode istirahat itu ia menjadi guru dalam keluarga bangsawan dan membantu di sebuah paroki kecil. Akhirnya pada bulan September 1865, ia boleh mengucapkan profesi pertama dalam Kongregasi MS dan melakukan kembali aktivitas normalnya. Sepanjang hidupnya ia selalu menderita karena kesehatannya yang buruk. Tetapi itu tidak menjadi halangan untuk melakukan jatah pekerjaan dari dua atau tiga imam yang sehat!<br />
Kongregasi Misionaris La Salette didirikan tahun 1852 oleh uskup Grenoble untuk menjamin pelayanan imam bagi para peziarah yang datang ke La Salette selama musim panas. Kelompok imam masih kecil dan khususnya pada akhir pekan datang banyak peziarah yang memerlukan pelayanan pastoral. Kegiatan pelayanan yang tetap adalah: perayaan liturgi penyambutan kedatangan para peziarah, perayaan ekaristi, kisah tentang penampakan lengkap dengan penjelasan, prosesi lilin pada malam hari. Selain itu banyak waktu harus dipakai bagi pelayanan pengakuan dosa dan konsultasi pribadi. Juga pelayanan yang lebih &#8220;duniawi&#8221; bagi para peziarah yang menginap di La Salette harus dilakukan oleh para pater karena tiada pembantu-pembantu awam.<br />
Sepanjang musim dingin pegunungan La Salette tidak mungkin dikunjungi. Para misionaris ditugaskan untuk meningkatkan dan menyegarkan iman umat melalui semacam retret paroki (misi umat) di wilayah keuskupan Grenoble. Misi umat merupakan kegiatan sangat intensif dalam reksa pastoral di paroki-paroki. Tergantung dari besarnya paroki, para misionaris datang berdua atau bertiga. Tugas mereka ialah berkhotbah dan memberikan ceramah rohani, melakukan perayaan bagi kelompok-kelompok umat yang berbeda (anak-anak, remaja, bapa-bapa, ibu-ibu, dll). Melalui sakramen tobat dan pelajaran katekese para misionaris mengembangkan pemahaman agama dan memperdalam iman. Para Pater harus bekerja keras sepanjang hari selama misi umat. Sering ada begitu banyak permintaan dari paroki-paroki, sehingga setelah misi intensif dan melelahkan di salah satu paroki, para misionaris hanya mempunyai beberapa hari beristirahat, sebelum memulai lagi misi di paroki yang lain. Selain dari misi, ada juga permintaan retret untuk kelompok imam atau suster.<br />
Begitulah hidup Pater Berthier dipenuhi kesibukan pastoral, yang tidak jarang menuntut juga suatu tindak lanjut melalui surat-menyurat dengan orang-orang yang ingin menghidupi panggilan mereka sebagai awam, religius atau imam lebih serius, dan yang menginginkan pengarahan rohani darinya.</p>
<p>Pengkhotbah<br />
Sebagaimana telah kita lihat, para Misionaris La Salette disibukkan oleh aktivitas pastoral di atas gunung suci (La Salette) selama musim panas dan selama musim dingin di paroki-paroki. Satu dari tugas-tugas paling penting adalah berkhotbah. Karena peziarah silih berganti datang, maka tidak perlu dipersiapkan setiap hari khotbah-khotbah yang baru. Demikian juga dengan misi-misi di paroki: hampir semua bahan dapat digunakan berkali-kali. Tentu saja tidak mungkin juga setiap kali disiapkan khotbah, konferensi dan ceramah rohani yang baru sebab waktu persiapan sangat terbatas. Tetapi pengulangan khotbah tentu mengandung risiko bahwa khotbah disampaikan hampir secara mekanik, tanpa penjiwaan dan semangat. Para rekan mengatakan bahwa Pater Jean selalu mencari sedikit waktu luang sebagai persiapan terakhir bagi setiap khotbah dan konferensi rohaninya, untuk menghindari risiko di atas. Berkat ingatannya yang luar biasa dengan mudah ia dapat menceritakan contoh-contoh dan cerita-cerita pendek yang banyak tersimpan di kepalanya. Dengan demikian khotbahnya menjadi lebih ringan dan mudah dimengerti melalui contoh, anekdot, dan cerita yang hidup. Sering kali ia begitu menjiwai khotbahnya, sehingga ikut merasakan emosi yang ingin ditimbulkan di dalam hati para pendengarnya dan mempengaruhi para pendengarnya. Beberapa kali bahkan ia sampai menitikkan air mata ketika menceritakan dan menjelaskan kisah bunda Maria yang menangis.<br />
Itu semua menjadikan Pater Berthier seorang pengkhotbah favorit, dan para konfraternya secara spontan setuju menunjuknya untuk berkhotbah di La Salette pada hari-hari pesta bunda Maria. Salah seorang konfraternya yang sering bersamanya memberikan misi umat mengatakan bahwa dalam tahun-tahun itu tidak satu misi pun dari Pater Berthier gagal. Ia mempunyai talenta untuk memasukkan dalam khotbah sederetan sarana dan unsur variasi untuk menarik perhatian umat yang tidak selalu mudah, karena sering umat kelelahan sebab bekerja sepanjang hari, sebelum mendengarkan khotbah pada malam hari.<br />
Satu bagian penting dari misi umat adalah kunjungan keluarga ke rumah-rumah. Biasanya para imam mengunjungi semua keluarga pada minggu pertama untuk mendorong mereka ambil bagian dalam misi umat dan menghadiri acara-acaranya. Pater Berthier selalu amat mendesak kehadiran kaum laki-laki. Jika mereka tertarik, maka misi umat mengalami kesuksesan. Dengan segala bakat intelektual dan afektif ia mengajak kaum laki-laki yang sering sudah bertahun-tahun tidak ke gereja, untuk jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia berhasil mempertobatkan dan membawa banyak dari mereka pada pengakuan dosa. Ia menggunakan segala daya ciptanya untuk menarik para kakek dan ayah ke gereja dengan melibatkan anak atau cucu dalam perayaan: mereka boleh membacakan Kitab Suci, atau menyanyikan lagu, atau melantunkan suatu deklamasi.<br />
Salah satu prinsip Pater Berthier adalah: suatu khotbah harus sederhana dan mudah dimengerti. Tidak pernah ia membawa khotbah hanya untuk kaum terpelajar, melainkan untuk semua, termasuk pembantu rumah tangga yang kurang berpendidikan. Seni berkhotbah yang baik adalah menerangkan bahan yang sukar dan penting sedemikian rupa sehingga umat biasa pun bisa mengertinya. Sesungguhnya contoh-contoh dan anekdot yang dipilihnya dengan baik sering membuat khotbah jadi mudah dimengerti dan sering tak terlupakan.</p>
<p>Pengarang<br />
Tidak berapa lama setelah masuk Kongregasi Maria La Salette, Jean harus menghentikan beberapa kali masa novisiatnya karena sakit. Atasan memberikan tempat kerja yang ringan di mana ada cukup waktu untuk istirahat. Tetapi ia mengeluh kepada romo pemimpin novis, yang berkata kepadanya: &#8220;Jika engkau tidak bisa melaksanakan suatu karya yang berat, maka selalu bisa mengarang sesuatu!&#8221; Ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu, dan ia langsung menerima nasihat dan mulai mengarang. Sampai hari terakhir hidupnya ia terus menulis, sehingga kita mempunyai, di samping banyak sekali karangan, 35 buku besar dan kecil. Beberapa buku kecil, tetapi ada juga dengan 1000-2000 halaman. Sebagian besar dicetak ulang kerap kali dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa lain. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Pater Berthier adalah salah satu pengarang rohani favorit dari abad ke-19. Jumlah buku yang terjual selama hidupnya melebihi satu juta eksemplar.<br />
Ia menulis sebagaimana ia berkhotbah, untuk setiap kelompok orang dan umur: anak-anak, muda-mudi, ayah-ibu, para suster, para imam. Dalam arti tertentu buku-bukunya merupakan semacam kelanjutan dari khotbahnya; melalui buku-bukunya ia mau memperluas sidang pendengarnya. Barangsiapa membaca buku-buku, yang dikarangnya bagi pelbagai kelompok awam, dapat membayangkan bagaimana Pater Berthier mengarang: ia selalu melihat orang-orang itu di hadapannya, persis sama seperti ketika ia berkhotbah. Gayanya sama dalam khotbah dan dalam tulisannya: praktis dan enak dicerna; bahan yang sukar selalu dijelaskan dengan banyak contoh dan cerita yang menyenangkan. Ia menggunakan banyak kutipan dari Bapa-Bapa Gereja, dari teolog dan pengkhotbah yang tersohor.<br />
Ia tidak pernah mencapai taraf sebagai pengarang yang berbakat tinggi, sehingga kita tidak boleh menantikan dari dia karya dengan nilai sastra yang besar. Ia seorang praktisi yang telah melihat dengan cermat segala kemungkinan dari naskah tercetak: orang bisa menjangkau ribuan orang, sedangkan sidang pendengar dari seorang pengkhotbah tidak melebihi beberapa ratus orang. Untuk sungguh mencapai kelompok orang yang besar itu, ia juga harus menjadi seorang pedagang dan manager yang baik. Kumpulan surat yang besar tersimpan dalam arsip MSF di Roma, menggambarkan dengan baik bagaimana ia ingin menjangkau sebanyak mungkin pembaca. Oleh karena itu harga buku-bukunya harus serendah mungkin, sedangkan promosi dan pengiriman buku-bukunya diserahkan kepada sejumlah sukarelawan dan sukarelawati yang setia.<br />
Buku-buku karangan Pater Berthier, yang ditulis untuk para imam, direncanakan sebagai suatu pertolongan agar mereka dapat hidup dan bertugas sebaik mungkin sebagai imam. Bagi mereka ia telah menyusun suatu buku &#8220;ringkas&#8221; (800 halaman!) dengan segala informasi yang harus dimiliki seorang imam untuk menunaikan tugasnya dengan baik: segala bagian teologi dan hukum Gereja diringkaskan dalam buku ini secara sederhana dan gemilang. Seorang imam akan menemukan dengan mudah jawaban atas pertanyaan dan masalahnya. Itulah &#8220;Kompendium Teologi Dogmatik dan Moral&#8221;. Selain dari itu ia telah menyusun suatu buku besar (&#8220;Imam dan Pelayanan Sabda&#8221;, hampir 2000 halaman!) untuk menolong para imam dalam tugasnya sebagai pengkhotbah: ratusan contoh khotbah dan ceramah rohani disajikan untuk semua kesempatan dan pesta entah lengkap atau dalam bentuk skema atau ringkasan. Dengan demikian sang pengkhotbah amat dibantu untuk menyusun suatu khotbah yang baik.</p>
<p>Pendidik Calon-Calon Imam<br />
Pada tahun 1876 Kongregasi Misionaris La Salette berumur hampir 25 tahun. Tetapi anggota kongregasi masih sangat sedikit. Hanya ada 10 anggota, jumlah yang terlalu sedikit untuk sekian banyak aktivitas di gunung suci, dan selama musim dingin di paroki-paroki. Karena alasan ini diputuskan membuka sebuah sekolah apostolik sebagai awal dari program pendidikan calon imam tarekat. Pater Berthier sebagai anggota yang paling pandai diminta untuk mendirikan dan mengelola sekolah baru tersebut. Pada musim panas tahun 1876 sekolah di Corps dimulai dengan 15 siswa, tetapi jumlah siswa berkembang dengan cepat. Jean tidak hanya menjabat direktur sekolah, tetapi ia juga satu-satunya pengajar full-time. Sejak awal tujuan sekolah ini dirumuskan dengan jelas: membentuk para imam yang saleh dan cakap. Oleh karena itu latihan-latihan kerohanian mengambil tempat penting dalam program harian. Program studi selama 4 tahun berpusat pada studi bahasa Latin dan bahasa Perancis, sementara pelajaran lain mendapat porsi waktu yang sangat terbatas. Pater Berthier berpendapat bahwa titik berat dari pendidikan imam ditemukan setelah sekolah apostolik, yaitu di novisiat, yang berpusat pada aspek-aspek spiritual panggilan, dan di skolastikat di mana para calon imam memperoleh kemampuannya dengan belajar filsafat dan teologi. Sekolah apostolik berfungsi hanya sebagai persiapan bagi novisiat dan skolastikat. Oleh karena itu ia membatasi waktu di sekolah apostolik menjadi hanya empat tahun. Tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa tahun ajaran itu lebih panjang dari pada di sekolah menengah biasa. Sebab para siswa tidak pulang untuk liburan. Mereka mengikuti program pelajaran di sekolah yang hanya sedikit lebih ringan daripada biasa!<br />
Ketika para siswa angkatan pertama menyelesaikan sekolah apostolik dan mereka harus masuk novisiat, situasi keagamaan di Perancis menjadi sangat problematis. Undang-undang antiklerikal dari tahun 1880 hampir-hampir tidak memungkinkan pendirian sebuah biara atau seminari. Karena alasan itu Pater Berthier dan para seminaris harus lari ke luar negeri. Di Swis Barat ditemukan tempat pengungsian di Loèche. Tetapi karena situasi finansial untuk kaum rohaniwan di Perancis semakin parah, maka periode pendidikan para pengungsi di Loèche diwarnai oleh kemiskinan yang hebat. Pater Jean tidak begitu khawatir dengan situasi ini. Sebab ia berpendapat bahwa sebuah masa persiapan yang sulit akan menghasilkan calon-calon misionaris yang bisa beradaptasi dengan kehidupan yang sulit sebagai misionaris dalam misi umat atau di Afrika dan Asia. Sampai tahun 1889, tugas utama Pater Berthier adalah mendidik calon-calon imam. Waktu untuk menulis, untuk berkhotbah dan untuk memberi misi umat dan retret menjadi sangat terbatas.</p>
<p>Pendiri Kongregasi MSF<br />
Setelah dibebaskan dari tugas sebagai formator, pada tahun 1889, Pater Berthier membaktikan seluruh tenaga untuk menulis buku dan melakukan aktivitas pastoral di atas gunung suci La Salette, dan selama musim dingin di paroki-paroki. Buku-bukunya yang paling penting yang juga telah menuntut paling banyak waktu persiapan, telah dikarang pada tahun-tahun ini: buku-buku tentang hidup membiara dan tentang imamat, dan buku-buku pegangan bagi para imam.<br />
Pada masa-masa ini Pater Berthier sangat tersentuh oleh pengalaman yang terus-menerus berulang. Ada banyak pemuda antara 15-30 tahun yang ingin menjadi imam, tetapi tidak dapat merealisasikan keinginan mereka, sebab seminari tidak menerima para calon yang berumur lebih dari 14 tahun. Ia yakin bahwa di antara mereka ada calon-calon yang bagus. Selain dari itu, pada waktu yang sama Paus Leo XIII berbicara berulang kali tentang sangat kurangnya tenaga misionaris untuk mewartakan Kabar Gembira di Afrika dan Asia. Secara khusus dalam ensiklik Sancta Dei Civitas, Paus mengajak para uskup untuk mencoba segala kemungkinan guna menyiapkan dan mengutus sebanyak mungkin misionaris. Sebagai seorang yang amat praktis Pater Berthier melihat di satu pihak permintaan, dan di pihak lain tawaran. Ia berbicara dengan para pemimpinnya, tentang keinginannya untuk membuka sebuah seminari khusus atau sebuah sekolah apostolik untuk mengumpulkan “panggilan terlambat” itu, guna mendidik mereka menjadi misionaris. Tetapi ia tidak dapat meyakinkan para pemimpinnya. Apa yang harus dilakukan sekarang? Ia berbicara dengan orang lain, secara khusus dengan beberapa pejabat Gereja, seperti Kardinal Langénieux, uskup Reims, dan Kardinal Rampolla, Sekretaris Negara Vatikan. Kardinal Rampolla berbicara dengan Paus Leo XIII. Dalam audiensi tgl. 15 November 1894 Sri Paus berbicara dengan Kardinal Langénieux dan sangat memuji rencana Pater Berthier. Beliau memberkati rencana ini dan berharap agar cepat dapat direalisasikan. Paus Leo juga menyampaikan kepada Kardinal segala kuasa untuk mempermudah usaha-usaha selanjutnya, termasuk pendirian suatu kongregasi baru.<br />
Disemangati oleh keinginan Sri Paus, Pater Berthier langsung memulai persiapan itu. Undang-undang antiklerikal di Perancis tidak memungkinkan pendirian suatu kongregasi atau biara baru di situ. Maka ia mempertimbangkan kemungkinan di Kanada atau di Belanda, dan memilih kemungkinan kedua, sebab Kanada “terlalu jauh”. Di Belanda tinggal beberapa sahabat yang ia kenal sejak mereka berziarah ke La Salette, khususnya keluarga Brouwers dari Tilburg. Dengan bantuan mereka Pater Berthier dalam beberapa bulan dapat menemukan sebuah rumah yang ia suka dan tidak terlalu mahal, yakni sebuah tangsi (asrama prajurit) yang tua, yang tidak dipakai lagi, di Grave, sebuah kota benteng kecil. Penampilan rumah begitu jelek sehingga pada permulaan wali kota tidak berani memperlihatkannya. Tetapi Pater Berthier merasa cocok dengan rumah ini, karena: besar, cukup untuk sekitar seratus murid, sederhana, tidak mewah. Hal ini cocok sebagai tempat pembinaan di mana calon-calon misionaris dapat belajar hidup keras dan sederhana, seperti di tempat misi nanti. Selain itu kongregasi baru ini diberi nama Kongregasi para Misionaris Keluarga Kudus. Keluarga Kudus juga selalu mengalami situasi miskin, katanya. Lapangan untuk latihan militer di bekas tangsi itu bisa diubah menjadi kebun sayuran. Pater Berthier begitu antusias tentang tempat tersebut, sehingga ia langsung membeli rumah dan tanah di sekitarnya.<br />
Di bawah bimbingannya para penderma dan wanita-wanita, yang sampai waktu itu selalu menolong dia dengan penjualan buku-bukunya, mulai sekarang membuat propaganda bagi kongregasi baru. Pada tgl. 28 September 1895 Pater Berthier menerima ijin tertulis dari uskup &#8217;s-Hertogenbosch, dan memulai di Grave bersama dengan sepuluh murid, fondasi baru di dalam tangsi tua. Selama bulan-bulan pertama para murid baru terus berdatangan ke Grave. Tetapi tahun-tahun pertama adalah masa yang sangat sulit dan tidak ada seorang pun dari kelompok murid pertama yang masih tersisa. Dengan dibantu oleh dua wanita Perancis untuk urusan pekerjaan rumah Pater Berthier terus melanjutkan usahanya. Sejak tahun 1898 terwujud suatu kelompok murid yang tetap bertahan, sebagai anggota awal dari kongregasi baru. Pada tahun-tahun pertama Pater Pendiri merangkap tugas sebagai pemimpin dan pengajar. Sampai saat tahbisan imam-imamnya yang pertama pada tahun 1905 ia ditolong hanya selama periode-periode pendek saja, oleh beberapa imam lain, termasuk dua imam dari kongregasinya sendiri MS. Ia mempunyai kebiasaan untuk melibatkan para mahasiswa di kelas atas dan para frater yang belajar filsafat dan teologi untuk mengajar di kelas-kelas bawah. Ini bukan solusi ideal, tetapi satu-satunya kemungkinan untuk menjalankan pendidikan dengan sarana-sarananya yang terbatas. Tujuan Pater Berthier dengan pendidikan di Grave sama seperti dulu: ia ingin membentuk misionaris-misionaris yang saleh dan cakap. Sama seperti yang ia lakukan 15 tahun sebelumnya dalam kongregasinya MS, demikian pula di Grave. Titik berat pendidikannya terletak pada tahap novisiat dan pada studi filsafat-teologi. Sekolah apostolik hanya mempersiapkan bagi tahap-tahap berikut, sehingga boleh dibatasi pada pendidikan minimal yang perlu. Tuntutan yang paling penting di sekolah apostolik ialah para murid harus belajar secara sempurna bahasa Latin dan bahasa Perancis. Pelajaran lain diajarkan tidak mendalam. Kalau ada siswa yang sudah belajar beberapa waktu di luar, maka waktu mereka di sekolah apostolik dapat diperpendek.<br />
Kehidupan di Grave sangat ekstrim dalam hal kemiskinan, baik rumah maupun perabot, yang telah dibuat oleh para siswa sendiri. Bagian tidak kecil dari waktu dipakai untuk kerja tangan untuk menekan biaya semaksimal mungkin. Pater Pendiri mempunyai uang, tetapi ia ingin mendidik sebanyak mungkin calon dengan sarana yang terbatas itu. Dalam kelompok siswa hampir segala keahlian dikuasai, dan begitulah kelompok &#8220;Pater-Pater Perancis&#8221; (demikianlah mereka disebut orang di Grave!) mandiri dalam hampir apa saja. Hidup di Grave sukar, tuntutan-tuntutan dari Pater Berthier terhadap para muridnya tinggi, tetapi para murid dan frater dari periode itu memberi kesaksian yang sama bunyinya: pribadi Pendiri membuat hidup tidak hanya tertahankan melainkan bahkan bahagia! Di bawah bimbingannya semua merasa sebagai satu keluarga, yang mengejar cita-cita yang luhur. Dengan kesederhanaannya yang luar biasa – ia mengambil bagian 100% dalam hidup para siswa &#8211; Pendiri menjadi teladan bagi mereka.<br />
Meskipun Pater Berthier selalu menderita karena kesehatannya kurang baik, yang khususnya pada musim dingin menyebabkan banyak gangguan, namun ia telah bekerja dengan tekun sampai hari terakhir hidupnya. Ia sangat sibuk di Grave sebagai pemimpin dan pengajar dan harus memberi perhatian kepada para siswa dan para frater. Selain dari itu ia terus-menerus menulis buku dan karangan untuk majalah &#8220;Messager de la Sainte Famille&#8221; (Utusan dari Keluarga Kudus) suatu majalah bulanan yang didirikannya dan yang untuk sebagian besar diisi sendiri juga. Tetapi tugas yang menuntut paling banyak energi adalah menyiapkan beberapa kali cetak ulang dari buku-bukunya yang paling penting untuk para imam dan religius. Ia membaca banyak dan menginginkan agar buku itu selalu up to date. Ia tidak bisa hidup tenang tanpa bekerja; nanti, katanya, saya akan beristirahat di surga!<br />
Pada musim gugur tahun 1908 Pater Berthier sangat menderita karena sakit bronkitis, tetapi ia merasa tidak perlu beristirahat di tempat tidur, dan kemudian melakukan pekerjaan rutin. Pada tanggal 16 Oktober ia bangun seperti biasa guna memulai aktivitas hariannya. Tetapi serangan penyakit memaksanya kembali berbaring di tempat tidur, dan satu jam kemudian beliau wafat. Dengan semangat pastoral yang luar biasa ia sungguh menjadi seorang imam untuk seluruh umat kristiani: sebagai pengkhotbah, pengarang, pendidik calon-calon imam, dan pendiri suatu kongregasi misionaris.</p>
<p>Wim van der Weiden MSF</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Willibald Pfeufer MSF "Pastor Pedalaman"]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2008/10/12/pastor-pedalaman/</link>
<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 12:55:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2008/10/12/pastor-pedalaman/</guid>
<description><![CDATA[“O Sakit yang Menguntungkan…” Sepenggal kalimat dalam Pujian Paskah atau Exultet “o dosa yang mengun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>“O Sakit yang Menguntungkan…”</strong></p>
<p>Sepenggal kalimat dalam Pujian Paskah atau <strong>Exultet</strong> “o dosa yang menguntungkan” bisa diubah menjadi “o sakit yang menguntungkan” untuk menggambarkan kisah perjalanan panggilan tokoh kita pada edisi musafir kali ini. Dialah P. Willibald Pfeuffer MSF.</p>
<p>Berawal  dari kejadian yang tak disengaja ketika terjatuhnya barang yang diturunkan dari Truk dan menimpa kakinya sehingga jalan hidupnya berubah. Selama masa sakitnya beliau banyak merenungkan  jalan hidupnya dan banyak membaca bacaan yang berkaitan dengan panggilan khusus dan seminari yang diterbitkan sekolah MSF. Karena bacaan-bacaan itu Willi muda meraskan adanya benih panggilan dan kemudian mengikuti jejak adiknya yang telah lebih dahulu masuk  Gymnasium (sekolah setingkat SMP dan SMU) yang dikelola oleh tarekat MSF. Karena beliau terlambat dan sudah berumur maka pendidikan di Gymnasium ditempuh  Putra Kaistern Jerman, kelahiran 30 Mei 1940 ini  selama 6 tahun dari waktu normal selama 9 tahun. Ini dikarenakan  setamat sekolah dasar beliau sempat menempuh pendidikan pertanian  meski  hanya sekali seminggu selama 3 tahun sembari bekerja pada sebuah perusahaan pembuat tepung dan pabrik Roti di Kota Wermeck Jerman selama 3 tahun.<!--more--></p>
<p>Setelah menyelesikan pendidikan di Gymansium, putera pasangan petani Ludwig Pfeuffer dan Klara Pfeuffer (Geb Poop) melanjutkan  pendidikan ke Novisiat  dan akhirnya ditahbiskan menjadi imam tanggal 15 Juli 1972. Karena ada tawaran dari Mgr Wilhelmus Demarteau  MSF, yang dsiampaikan kepada Pemimpin Umum MSF pada waktu itu, maka Pastor Willi datang dan memulai karyanya di bumi Kalimantan Tengah.</p>
<p>Sampai sekarang meski didera sakit gula dan berbagai penyakit lainnya, pastor Willi tetap bersemangat melaksanakan tugas pelayanannya; suatu semangat misioner yang luar biasa yang membuat beliau tidak mudah menyerah. Beliau sering menceritakan semangat dan perjuangannya ketika berkeliling dari stasi ke stasi dengan berjalan kaki demi pelayanan pada umat yang dicintainya.</p>
<p><strong>Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Aku yang memilih kamu.</strong></p>
<p>Setelah menyelesaikan pendidikan Teologi (1968-1972) di Universitas Yohanes Gutenburg di Mainz, Jerman, Willibald MSF ditahbiskan menjadi imam di Katedral Mainz Oleh Uskup Mainz, Mgr  Hermanus Volk pada tanggal 15 Juli 1972. Moto tahbisan imamat yang dipilih adalah Sabda Yesus: <em>“Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Aku yang memilih kamu”</em>. Dengan moto tahbisan seperti itu, Pastor Willi meninggalkan Jerman menuju ke tanah misi Borneo tanggal 21 Mei 1973.  Tepatnya tanggal 10 Juni 1973, Pastor Willi tiba dengan pesawat di Bandara H. Asan, kota Sampit, dijemput oleh Pastor Klein MSF.</p>
<p>Selanjutnya Pastor Willi bekerja di pedalaman melayani beberapa stasi dari paroki Sampit, semua wilayah yang sekarang ini telah menjadi paroki Parenggean dan Paroki Rantau Pulut serta sebagain daerah Katingan, Kalimantan Tengah. Pada tanggal 27 Oktober 1985 stasi Palangan resmi menjadi paroki<em> Ecce Homo</em>, maka Pastor Willi diangkat menjadi Pastor paroki &#8211; sebelumnya beliau hanya disebut sebagai “Pastor Pedalaman”. Namun sejak 22 September 1994, “Pastor Pedalaman” ini ‘masuk kota’ Sampit menjadi pastor paroki Sampit dan sekaligus menjadi ketua Yayasan Siswarta cabang Sampit menggantikan P. A. Sumartosetyoko MSF yang kembali ke Jawa.</p>
<p>Sejak 13 Oktober 1999 Pastor Willi diangkat menjadi administrator Keuskupan Palangka Raya sampai ditahbsikan uskup Palangkaraya  yakni Mgr A. Sutrisnaatmaka MSF pada tanggal 7 Mei 2001. Tanggal 10 Mei 2001 kembali ke Sampit dan meneruskan tugasnya sebagai pastor paroki Sampit sampai sekarang.</p>
<p>Tigapuluh lima tahun (35 tahun) Pastor Willi bersama dengan rekan imam lain, katekis, para suster, dan petugas pastoral lain telah melayani umat di kawasan Kabupaten Kota Waringin Timur Kalimantan Tengah, kawasan yang pernah “kelabu” karena peristiwa “kerusuhan Sampit” tahun 2001. Pastor Willi adalah salah satu dari “sukarelawan” yang ikut serta menyelamatkan “jiwa-jiwa yang terancam” akibat peristiwa ini. Ya&#8230;. di tengah suasana genting seperti itu, motto tahbisan imamat, <strong>“bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Aku yang memilih kamu”</strong> telah menjadi senjata iman yang kuat. Dengan motto tahbisan seperti ini pula, “Pastor Pedalaman” ini dengan setia mengajak umat parokinya, mengumpulkan dana pendidikan untuk para Seminaris di dua Seminari:<strong> Seminari MSF Johaninum Banjarbaru</strong> dan<strong> Seminari “Raja Damai”</strong> milik Keuskupan di Palangka Raya. Tanggal 30 Mei 2008, “Pastor Pedalaman”   merayakan ulang tahun ke-68. Usia yang tidak muda lagi tentu saja. Siapa mau menjadi “Pastor Pedalaman” berikutnya&#8230;.???? <em>(P. Kosmas Boli Tukan, MSF)</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bang Ali "sosok relawan Desa Blukon"]]></title>
<link>http://pnpmkotalumajang.wordpress.com/2008/09/13/bang-ali-sosok-relawan-desa-blukon/</link>
<pubDate>Sat, 13 Sep 2008 08:07:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>pnpmkotalumajang</dc:creator>
<guid>http://pnpmkotalumajang.wordpress.com/2008/09/13/bang-ali-sosok-relawan-desa-blukon/</guid>
<description><![CDATA[Bang Ali, Siapa tidak kenal dengan nama tersebut. Jangankan warga Blukon, tetapi warga Lumajang kota]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><a href="http://pnpmkotalumajang.files.wordpress.com/2008/09/100_1997.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-10 aligncenter" title="100_1997" src="http://pnpmkotalumajang.wordpress.com/files/2008/09/100_1997.jpg?w=128" alt="" width="128" height="95" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><!--[if gte vml 1]&#62;                    &#60;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span><span style="font-family:Arial;">Bang Ali, Siapa tidak kenal dengan nama tersebut. Jangankan warga Blukon, tetapi warga Lumajang kota bahkan juga banyak yang tahu nama tersebut. Sosok sederhana tersebut adalah <span> </span>seorang yang sangat sibuk di organisasi, baik organisasii sosial maupun masyarakat yang lan termasuk politik. Tetapi yang hebat, sosok tersebut mampu memilah dimana dia harus menmpatkan, apakah dengan baju ormas, Orpol mapun yang lain. Tidak ada benturan kepentingan diantara organisasi tersebut. Ya. Ali Efendi, Sosok tersebut adalah Koordinator BKM Amanah Desa Blukon.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Ditemui dirumahnya, dengan ramah Bang Ali melayani wawancara reporter Amanah sore tersebut. Berikut Petikan wawamcara tersebut :</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Assalamualikum, Sore Bang Ali, Apa kabar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Wassalamualikum, Sore juga. Kabar baik</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&#62;--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal">
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--[if !vml]--><!--[endif]--><strong><span style="font-family:Arial;">Maaf menganggu sebentar. Ni kami mau tahu latar belaknag Bang Ali bersedia terjun menjadi relawan di P2KP</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Ah tidak apa-apa. Awalnya saya itu tidak tahu apa itu P2KP, meski saya aktif di organisasi Desa dan parpok, tetapi saya waktu itu saya sempat ragu terhadap program ini. Saya sempat berfikir jangan-jangan ini seperti yang dulu-dulu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Apa yang mendasari bang Ali berubah pikiran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Faskelnya memberi sosialisasinya lain. Bawa Gambar,buku pedoman, vcd dan menaril. Setelah saya baca-baca, ternyata konsepnya sungguh bagus. Sehingga waktu ditawari jadi relawan, saya berfikir apa salahnya saya coba.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Terus Gimana ceritanya Bang Ali bisa menjadi PK BKM dan bahkan Koordinator</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Saya tidak tidak punya tujuan apapun selain membantu warga yang kuirang mampu. Itu mengalir saja. Saya ikut terlibat mulai Pemetaan Swadaya, Perencanaan PJM sampai Pembentukan BKM. Waktu Pemilihan PK-BKM kan tanpa kampanye, tanpa pencalonan dan sebagainya. Masyarakat yang memilih. Namanya saya termasuk diantara 13 nama yang terpilih menjadi PK-BKM. Terus 13 orang PK-BKM mengadakan musyawarah untuk menentukan Koordinator. Mereka memberikan Amanah kepada saya. Itu saja,mengalir dengan sendirinya</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Ngomong-ngomong, selain menjadi PK-BKM, bang Ali kan aktif di Parpol, bagaimana menempatkan diri</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Bagi saya semuanya adalah bagaian dari Perjuangan untui, rakyat. Prinsip kita bukan mencari kerja di Organisasi tertapi adalah pengabdian. Pas di BKM, maka saya berdiri sebagai relawan untuk membantu warga miskin di desa Blukon. Pas di parpol, saya berdiri sebagai kader untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Jadi Baju boleh beda, tetapi kalau sudah berbicara masyarakat miskin, yang berbicara dalah Keikhlasan, kejujuram Adil dan dapat dipercaya. Itu saja</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Apakah Bang Ali waktunya tidak tersita </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Semua bisa diatur waktunya. BKM kan banyak rapat malam.BKM kan kolektif,bukan saya saja . Ya kit bagi peran. Kalau pelaksanaan langsuing olehPanitia dan UPL. Siang saya bekerja. Waktu untu keluarga bisa sore.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Apa Harapan Bang Ali terhadap prgram ini</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Saya sangat bersyukur masyarakat bisa terbantu dengan adanya program ini. Apalagi program PNPM-P2KP ini tidak hanya memberikan bantuan pendanaan, tetapi jugamemberikan pembelajran kepada kita bagaimana tentang tatacara melakuan perencaaan, pembangunan, evaluasi juga memberikan kepada kita tentang arti demokrasi, tarnsparansi,keadilan dan sebagiunya. Sungguh banyak mandaat yang bisa kita petik dari program ini. Harapam saya program ini berkelnajutan sehingga proses pembelajaran bisa terus di masyarakat.<span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Pesan Bang Ali untuk Pelaku PNPM-P2KP?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Mari kita bekerjasama untuk membangunan desa kita. Kemandirian akan tumbuh manakala kita bekerja dengan Jujur, Iklhasm Adil dan bertanggungjawab. Ayo kita Bersama menuju kemandirian. </span></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sebuah Konser Syukur]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/sebuah-konser-syukur/</link>
<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 10:41:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/sebuah-konser-syukur/</guid>
<description><![CDATA[  Pada tanggal 11 Mei 2007, Pastor Garin mengadakan sebuah konser syukur. Konser itu diadakan di sek]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> <img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/11/konser02.jpg" alt="konser02.jpg" /></p>
<p>Pada tanggal 11 Mei 2007, Pastor Garin mengadakan sebuah konser syukur. Konser itu diadakan di sekolah musik tempat ia menuntut ilmu, T.L. Da Victoria, di Via Caboto 20, Roma. Konser syukur itu dihadiri sekitar 100 undangan. Mereka adalah para anggota komunitas Generalat MSF, 4 anggota komisi persiapan kapitel General, para student MSF di Roma, beberapa staf kedutaan RI, dan sejumlah teman baik P. Garin, baik yang berwarga Negara Indonesia maupun Italia.<br />
Konser syukur dibagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, konser dibuka dengan sebuah doa yang dilagukan dengan judul “Di Batas Bayangmu”. Segera sesudah itu, Garin sebagai konduktor konser memainkan beberapa nomor lagu hasil komposisinya sendiri untuk instrument gitar yang dia pelajari selama 4 tahun di Roma. Dengan ditemani oleh seorang student lain, Garin memainkan sebuah duet yang berjudul “Prelude Triparti”. Konser mengalir dengan tenang dan relax, lebih-lebih ketika dia memainkan lagu berjudul “Tari Gong” dan “Tumpi Wayu”. Dua lagu yang berasal dari Kalimantan ini dimainkannya bersama dua musisi Italia yang memainkan instrument marimba. Bagian pertama dari konser ini, diakhiri dengan sebuah duet gitar yang mengalunkan lagu “saltarello Batente”. Lagu ini merupakan komposisi dari sang maestro di sekolah musik itu.</p>
<p><img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/11/konser01.jpg" alt="konser01.jpg" /></p>
<p>Masih dengan gitar, Garin membuka bagian kedua konser syukur ini dengan memainkan sebuah “Serenata” , berduet dengan piano klasik. Suasana konser ini menjadi semakin sempurna, ketika setiap lagu yang dinyanyikan oleh para vokalisnya diiringi dengan flute, gitar, bongo, tamburin, dan piano.</p>
<p>Sore itu terasa sekali ritme musik instrumental memenuhi seluruh ruangan. Suasana menjadi lebih syahdu ketika para musisi mengiringi beberapa lagu yang berjudul “Ku Bersyukur” dan “Jalanku”. Pada bagian akhir, Antonio Garinsingan berterimakasih kepada siapa saja yang memberi kesempatan untuk belajar di sekolah ini, tempat ia belajar untuk membuat komposisi dan arrangement lagu. Sore itu hasil karyanya telah ditampilkan dalam konser syukur. Para hadirin berdiri dan menyambut dengan tepuk tangan. (Risdi).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mgr. F.X. Prajasuta, MSF]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/mgr-fx-prajasuta-msf/</link>
<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 15:12:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/mgr-fx-prajasuta-msf/</guid>
<description><![CDATA[Perayaan Ekaristi Syukur Tri Windu Tahbisan Uskup Keuskupan Banjarmasin Dionisius Agus Puguh Santosa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Perayaan Ekaristi Syukur<br />
Tri Windu Tahbisan Uskup Keuskupan Banjarmasin</strong></p>
<p><em>Dionisius Agus Puguh Santosa</em></p>
<p>Pada tanggal 23 Oktober 2007 kemarin, mulai pukul 18.30 Wita dilangsungkan Perayaan Ekaristi Syukur Tri Windu Tahbisan Uskup Mgr. F.X. Prajasuta, MSF di Paroki Katedral “Keluarga Kudus” Banjarmasin.</p>
<p>Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Mgr. F.X. Prajasuta, MSF sebagai Konselebran Utama didampingi oleh Pastor Agustinus Dodik Ristanto, CM, Pastor Christophorus Katijanarso, CM, Pastor Aloysius Darmakusuma, MSF, Pastor Theodorus Yuliono, MSC bersama 14 orang imam se-Keuskupan Banjarmasin.</p>
<p><img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/11/prajasuta.jpg" alt="prajasuta.jpg" /></p>
<p>Perayaan Ekaristi syukur dihadiri oleh para frater, suster dari berbagai kongregasi yang berkarya di Keuskupan Banjarmasin, juga oleh umat dari 3 Paroki Kota (Paroki Katedral “Keluarga Kudus” Banjarmasin, Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan dan Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Veteran) dan dari luar kota Banjarmasin, diantaranya dari Banjarbaru dan Pelaihari.<!--more--></p>
<p>Sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, dibacakan perjalanan hidup Bapak Uskup semenjak lahir hingga pada perjalanan 24 tahun sebagai Uskup di Keuskupan Banjarmasin. Pembacaan dilakukan oleh Pastor Dodik, CM. Di antaranya Pastor Dodik berujar, “Mgr. Prajasuta, MSF lahir pada tanggal 3 Nopember 1931 di Nguntaranadi, Bethal, Wonogiri. Beliau menyelesaikan seminari pada tahun 1953. Kemudian masuk seminari di Belanda pada tanggal 8 September 1954 dan mengucapkan Kaul Pertama. Romo Prajasuta ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 19 Desember 1959 di Roma. Kemudian studi di Roma sampai tahun 1962. Dan kembali ke tanah air untuk berkarya. Pada tahun 1962 berkarya di Purwadadi, Jawa Tengah, kemudian pada tahun 1964 berpindah karya ke Solo lalu tahun 1964 berpindah karya ke Solo. Pada tahun 1966 Romo Prajasuta berkarya di Seminari Tinggi Yogyakarta. Pada saat ini ada sebuah kisah yang menarik terjadi. Ketika itu ada seorang ibu yang bermimpi sewaktu anaknya sedang sakit. Dalam mimpi itu, sang ibu disuruh datang ke suatu alamat untuk bertemu dengan seseorang. Tidak tahu alamat siapa dan harus bertemu dengan siapa, ibu tersebut mencari alamat tersebut yang ternyata adalah alamat Seminari Tinggi di Kentungan, di Jalan Kaliurang, Yogyakarta.</p>
<p>Ketika datang di Seminari, ibu tersebut berjumpa dengan Romo Prajasuta dan ibu tersebut menjadi yakin kalau anaknya akan sembuh. Sungguh suatu peristiwa yang aneh akan tetapi benar-benar terjadi dan ini merupakan sebuah peristiwa iman bagi kita semua. Pada tahun 1977 Romo Prajasuta pindah ke Kalimantan dan kemudian ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Banjarmasin pada tanggal 23 Oktober 1983 oleh Mgr. W.J. Demarteau, MSF.”</p>
<p>Perayaan Ekaristi pun dimulai. Kemegahan lantunan lagu-lagu Gregorian yang dibawakan oleh Paduan Suara Paroki “Sacra Familia” terdengar semakin menambah hikmatnya pelaksanaan prosesi acara.</p>
<p>“Dalam kesempatan ini saya hanya ingin bersyukur kepada Tuhan yang berkenan menyertai perjalanan saya sebagai Gembala, karena saya sungguh menyadari bahwa sebenarnya saya tidak pantas, saya tidak mampu, saya mempunyai banyak kekurangan. Maka bukan basa-basi jika saya berkata bahwa hendaknya setiap hari kita harus senantiasa bertobat, dan yang pertama-tama harus bertobat adalah Uskupnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya mengucapkan terimakasih kepada para imam, biarawan/biarawati juga kepada seluruh umat atas dukungannya selama ini dalam wujud apapun. Saya juga ingin mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua saya yang secara sadar telah mendidik anak-anaknya secara Kristiani, sehingga menjadikan saya siap dipanggil Tuhan untuk panggilan ini. Sejak kecil saya memang dibiasakan oleh kedua orang tua untuk berdoa rosario, sehingga saya bersyukur kepada kedua orang tua saya yang begitu memperhatikan pendidikan rohani anak-anaknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya ingin membuka keprihatinan saya sebagai Uskup, karena dewasa ini masih begitu langka anak muda yang mau dipanggil Tuhan untuk menjadi imam, biarawan/biarawati. Akan tetapi saya percaya pada waktunya Tuhan akan berkarya di Keuskupan ini, sehingga akan ada lebih banyak panggilan. Saya berharap agar keluarga-keluarga mendidik anak-anaknya secara Kristiani dan membiasakan melakukan doa keluarga untuk menunjang panggilan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya sungguh menyadari penyertaan Tuhan dalam kondisi jatuh bangun. Doa Yesus Pusat Hidupku nomor 2 senantiasa saya doakan supaya saya selalu ingat bahwa panggilan saya hanyalah satu yaitu “Meneruskan kasih Allah.”<br />
Sapaan, doa-doa, senyum dari kalian semua sangat menguatkan saya didalam menjalankan tugas-tugas saya sebagai seorang Uskup. Kepada kalian semua saya berharap jangan hanya mendoakan Uskup saja tetapi doakanlan juga para imam agar dari kepribadian mereka sungguh-sungguh dapat menghadirkan kasih Kristus.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti akan ada serah terima jabatan Vikaris Jenderal Keuskupan Banjarmasin dari Pastor Darmakusuma kepada Pastor Yuliono, karena Pastor Darmakusuma akan berpindah tugas ke Keuskupan Palangkaraya. Kepada Pastor Darmakusuma, saya mengucapkan terima kasih atas kesediaannya dalam rangka melayani umat di Keuskupan ini. Terimakasih juga kepada Pastor Yuliono yang bersedia menerima tugas jabatan sebagai Vikjend Keuskupan Banjarmasin yang baru. Terimakasih juga saya ucapkan kepada Pastor Siswasumarta, MSF yang akan pindah ke Keuskupan lain, semoga di tempat tugas yang baru nanti bisa berkarya kembali untuk umat di sana. Terimakasih pula kepada Pastor F.X. Sumantoro Pranjono, MSF yang akan pindah tugas juga. Beliau adalah Ekonom Keuskupan Banjarmasin, terimakasih atas jasa-jasa beliau selama berkarya di Keuskupan ini. Nanti kita akan menyambut pastor-pastor baru pada waktunya. Dan saya minta kepada saudara-saudara semua agar senantiasa berdoa bagi Keuskupan ini agar terus berkembang.” demikian homili Mgr. F.X. Prajasuta, MSF dalam Perayaan Ekaristi Syukur Tri Windu Tahbisan beliau sebagai Uskup.</p>
<p>Acara selanjutnya dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Bapak Uskup. Usai berkat penutup, dilanjutkan dengan serah terima jabatan dari Vikjend Keuskupan Banjarmasin yang lama Pastor Darmakusuma kepada penggantinya Pastor Yuliono disaksikan oleh Bapak Uskup dan dirangkaikan dengan penyerahan tali asih dari umat 3 paroki kota yang masih-masing diwakili oleh Ketua Dewan Paroki bersama istri.</p>
<p>Perayaan Ekaristi ditutup dengan lagu ”Ti Rin Grazio O Mio Signore”. Lagu ini pernah dinyanyikan secara khusus oleh Bapak Uskup untuk Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II (alm) dan menjadi salah satu lagu kesukaan Bapa Suci. Lagu ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul &#8220;Trima kasih O Tuhan Allahku&#8221; dan diaransemen oleh Bapak Paul Widyawan dari Pusat Musik Liturgi Yogyakarta dan sering dinyanyikan jika ada Perayaan Ekaristi dengan Mgr. Prajasuta sebagai konselebran utamanya.</p>
<p>Setelah Perayaan Ekaristi berakhir, segenap imam, biarawan/biarawati dan umat yang hadir makan bersama di halaman Gereja dengan iringan musik dan lagu. Dalam kesempatan ini Bapak Uskup dan beberapa orang Pastor ikut menyumbangkan lagu. Secara keseluruhan acara berlangsung dengan sukses dan lancar dan semua berkat kerjasama yang baik seluruh umat, khususnya Dewan Paroki Kota. Proficiat kepada Mgr. F.X. Prajasuta, MSF ! Tuhan memberkati Bapak Uskup selalu, amin.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dua Kenangan Istimewa dari Pastor Gerardus H. Borst MSF]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/05/23/dua-kenangan-istimewa-dari-pastor-gerardus-h-borst-msf/</link>
<pubDate>Wed, 23 May 2007 12:20:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/05/23/dua-kenangan-istimewa-dari-pastor-gerardus-h-borst-msf/</guid>
<description><![CDATA[“Kami juga mengucapkan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama 10 tahun terakhir i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/05/p-borst-semasa-hidup.jpg" title="p-borst-semasa-hidup.jpg"><img vspace="10" align="left" width="300" src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/05/p-borst-semasa-hidup.jpg?w=300" hspace="10" alt="Pastor G. H. Borst, MSF semasa hidup" style="width:300px;" /></a>“Kami juga mengucapkan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama 10 tahun terakhir ini telah mendampingi dan merawat Pastor Borst, MSF selama tinggal di Biara Wisma Simeon…”, demikian disampaikan Alex de Jong yang mewakili keluarga ketika memberikan sambutan dalam Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah mendiang Pastor Gerardus Hendrikus Borst, MSF yang wafat pada tanggal 17 Mei 2007, bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus. <!--more--></p>
<p><strong>Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan JenazahParoki Bunda Maria Banjarbaru, Minggu, 20 mei 2007 </strong></p>
<p>Pagi itu, langit tampak begitu cerah. Mendekati pukul 10.00 Wita, umat dari kota Banjarmasin, Banjarbaru dan sekitarnya mulai memadati Gereja Bunda Maria Banjarbaru untuk turut serta menghadiri Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah Pastor G. H. Borst, MSF, sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang yang wafat pada tanggal 17 Mei 2007 yang lalu. </p>
<p>Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Bapak Uskup Banjarmasin Mgr. F.X. Prajasuta, MSF selaku konselebran utama, didampingi oleh Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF selaku Provinsial MSF Kalimantan dan Pastor Aloysius Darmakusuma, MSF selaku Pastor Kepala Paroki Bunda Maria Banjarbaru.Misa dibuka dengan sebuah lagu Gregorian yang diambil dari nyanyian Madah Bakti No. 578. Prosesi pun berlanjut tahap demi tahap dengan iringan lagu-lagu Gregorian di dalamnya. </p>
<p>“Kalau saya ingin menggambarkan Pastor Borst, maka Pastor Borst adalah pastor dengan hati; inilah yang menjadikan beliau sangat dicintai oleh umat. Saya ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk umat yang memberikan perhatian kepada Pastor Borst. Pastor Borst adalah seorang pastor yang tidak pernah lepas dari rosarinya. Ini menunjukkan bahwa Pastor Borst tak pernah henti berdevosi kepada Perawan Maria. Dengan mengantarkan seorang imam yang dipanggil Tuhan, saya ingin mengingatkan kepada umat agar selalu mendoakan dan selalu siap sedia bila kelak anak-anaknya dipanggil Tuhan untuk menjadi imam. Untuk itu mari kita meneladari Pastor Borst dengan segala kesederhanaannya.” demikian diantaranya disampaikan Mgr. Prajasuta dalam homilinya mengenang Pastor Borst, MSF.  </p>
<p>Sebelum Perayaan Ekaristi ditutup, disampaikan beberapa sambutan, diantaranya dari P. Teddy Aer, MSF selaku Propinsial MSF Kalimantan. Pastor Teddy tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Pastor Borst atas segala sumbangsihnya bagi Gereja di Kalimantan, khususnya di Keuskupan Banjarmasin tercinta. </p>
<p>Sambutan berikutnya datang dari perwakilan keluarga mendiang Pastor Borst yang datang jauh-jauh dari negeri Belanda – Alex de Jong yang memberikan sambutannya dalam bahasa Belanda yang langsung diterjemahkan oleh Pastor Sinnema, MSF. Alex kemudian berkisah tentang cerita-cerita Pastor Borst yang disampaikannya melalui surat. Dalam salah satu surat yang ditulisnya, Pastor Borst tampak begitu bangga dengan Gereja dan perkembangan umat yang dilayaninya. Sebelum menutup sambutannya, Alex atas nama keluarga menyampaikan ucapan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama ini begitu setia merawat dan melayani Pastor Borst, ” Kami juga mengucapkan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama 10 tahun terakhir ini telah mendampingi dan merawat Pastor Borst, MSF selama tinggal di Biara Wisma Simeon…,” ujarnya. </p>
<p>Sambutan ketiga datang dari Pastor A. Siswasumarta, MSF selaku Pastor Kepala Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Veteran. Pastor Siswa berujar, ”Ada 2 kenangan istimewa dari Pastor Borst yang hingga kini masih diingat oleh saya dan umat di Paroki Veteran, yaitu : Pertama, Pastor Borst itu tidak mudah mempercayai umat; dalam artian beliau sangat memperhatikan tugas-tugas tertentu yang memang harus dikerjakan oleh seorang pastor, dan yang kedua, Pastor Borst adalah seorang pastor yang sangat mengenal umat yang dilayaninya; bila ada umat yang jarang kelihatan di Gereja, maka dengan segera Pastor Borst akan mengadakan kunjungan ke rumah.”</p>
<p><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/05/demarteau-berdoa.jpg" title="demarteau-berdoa.jpg"><img vspace="10" align="left" width="300" src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/05/demarteau-berdoa.jpg" hspace="10" alt="Mgr Demarteau berdoa di depan peti jenazah" style="width:300px;" /></a>Dalam Perayaan Ekaristi ini, hadir Uskup Emeritus Mgr. W.J. Demarteau, MSF yang didampingi oleh Ibu Maria yang berada tak jauh dari sisi beliau. Sedangkan dari pihak keluarga Pastor Borst hadir Mrs. Bep Borst, Mr. Aad Neijemhuizen dan Alex de Jong yang duduk di deretan bangku seberang – tak jauh dari tempat Mgr. Demarteau berada. </p>
<p>Perayaan Ekaristi berakhir pada pukul 12.00 Wita, dilanjutkan dengan perarakan jenazah Pastor Borst, MSF untuk mengantarkan mendiang ke peristirahatannya yang terakhir di Kompleks Pemakaman Kristen yang terletak di Kecamatan Landasan Ulin, Km. 24 Banjarbaru. </p>
<p><strong>Perarakan Menuju Tempat Peristirahatan Terakhir  </strong></p>
<p>Dimulai dari Gereja Bunda Maria Banjarbaru yang terletak di Jalan A. Yani Km. 36, arak-arakan bergerak lambat di bawah terik sinar matahari yang sangat menyengat. Siang itu mulai pukul 12.00 Wita, rombongan umat berjajar rapi dan tertib di sisi kiri jalan sembari mengiringi mobil jenazah yang membawa mendiang Pastor Borst yang berada di barisan depan menuju Pemakaman Kristen yang terletak di Kecamatan Landasan Ulin, Km. 24 Banjarbaru. Berada paling depan sebuah sepeda motor dengan 2 orang pengendara terlihat begitu sigap membawa bendera hitam yang melambai-lambai di sepanjang jalan sebagai tanda perkabungan&#8230;</p>
<p>Menjelang pukul 12.30 Wita, arak-arakan tiba di kompleks pemakaman. Peti jenazah pun segera di keluarkan dan diusung oleh beberapa orang umat menuju ke liang lahat yang telah disediakan. Tanah disekitar galian tersebut masih tampak basah rupanya. Di sisi kiri berjajar secara berturut-turut adalah makam Fr. M. Gregorius Rudolf, MSF, Pastor Karl Klein, MSF, Pastor Yohanes Henricus Wieggers, MSF, Br. Alexsander Apui, MSF, Pastor Jacobus Kusters, MSF dan Pastor Antonius van Rossum, MSF. </p>
<p>Di atas sana, tepat di atas lokasi makam ada sepotong awan hitam yang seolah-olah menjadi payung alam di tengah udara siang hari ini yang terasa begitu terik. Langit yang semula berwarna biru terang, dalam beberapa saat menjadi berwarna biru keunguan, sepertinya ingin turut menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian Pastor Borst&#8230;</p>
<p>Upacara di pemakaman dipimpin oleh Provinsial MSF Kalimantan – P. Teddy Aer, MSF. ”Saudara, saudara terkasih, Tuhan Yesus Kristus telah bersabda: ”Biji gandum yang tidak ditanam dan mati, akan tetap tinggal sebiji; tetapi jika mati, akan berbuah banyak sekali,” demikian seruan Pastor Teddy kepada seluruh umat yang hadir di sekitar lokasi pemakaman. </p>
<p>Prosesi pun berjalan sedemikian rupa dan sangat hikmat. Dan pada akhirnya, peti jenazah mendiang Pastor Borst pun diturunkan perlahan ke dalam lubang yang telah disediakan. Sebelum dilakukan penimbunan tanah, perwakilan dari keluarga mendiang Pastor Borst sempat mendoakan doa Bapa Kami dalam bahasa ibu mereka yaitu bahasa Belanda yang didampingi oleh Mgr. F.X. Prajasuta, MSF dan P. Sinnema, MSF.</p>
<p><strong>Dua Hari Sebelumnya, Misa Requiem, Jumat, 18 Mei 2007  </strong></p>
<p>”Tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang mampu melawan kehendak Yang Maha Kuasa. Dan kita percaya bahwa kehendak Tuhan adalah yang terbaik buat Pastor dan Konfrater kami, Pastor Borst, MSF,” demikian disampaikan Pastor Teddy, MSF sebagai kata pembukaan dalam Misa Requiem Pastor Borst, MSF.</p>
<p>Sehari setelah Pastor Borst meninggal dunia, bertempat di Paroki Bunda Maria Banjarbaru dilangsungkan Misa Requiem mendiang Pastor Borst, MSF. Misa dipersembahkan oleh Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF didampingi oleh Pastor Timotius I Ketut Adi Hardana, MSF dan Pastor Prilion, MSF. </p>
<p>Dalam homilinya, Pastor Teddy sempat bercerita tentang kenangan detik-detik terakhir menjelang Pastor Borst wafat. Pastor Teddy berkisah, ”Lebih kurang 3 minggi yang lalu, Pastor Felix menelpon saya dan berkata bahwa Pastor Borst harus dibawa ke Rumah Sakit Suaka Insan. Katanya Pastor Borst mengalami gatal-gatal di sekujur badan. Beberapa hari setelah dirawat, kondisi Pastor Borst mulai membaik. Salah seorang Suster yang merawat sempat memberikan pujian atas membaiknya kondisi Pastor Borst. Saya pun sempat memuji Pastor Borst saat itu. Tapi kondisi ini tidak bertahan lama, karena 2 – 3 hari berikutnya kondisi Pastor Borst kembali drop! Saat itu Pastor Borst berujar bahwa beliau ingin segera kembali ke Biara Wisma Simeon untuk bertemu dengan Mgr. Demarteau, karena Pastor Borst merasa bahwa Mgr. Demarteau-lah yang paling mengenalnya karena mereka telah berteman selama 72 tahun lamanya. Beberapa hari yang lalu Pastor Doni mengatakan bahwa kondisi Pastor Borst drop namun belum mau diberikan Sakramen Minyak Suci. Saya dan Pastor Doni sebenarnya ingin pergi ke Yogya. Setengah jam setelah saya dan Pastor Doni meninggalkan Wisma St. Lukas Samarinda, saya mendapat berita dari Pastor Felix yang mengatakan kalau Pastor Borst dalam kondisi kritis! Dan setengah jam berikutnya, tepat pada pukul 10.15 Wita – tepat pada hari Kenaikan Tuhan Kita Yesus Kristus, saya mendapat kabar bahwa Pastor Borst, MSF meninggal dunia&#8230;Dalam tempo yang begitu cepat semuanya terjadi – seperti yang dialami Ayub dalam Bacaan I tadi, yaitu tentang datangnya berita kesedihan. Hal ini pun berlaku untuk kita semua, kendati mempunyai kekuatan dan andai pun semua kekuatan itu digabungkan, maka tetap tidak akan mampu melawan keputusan bahwa Pastor Borst akan meninggalkan. Tapi kita bisa belajar dari Ayub yang dengan imannya berucap, ”Tuhan yang memberi, Tuhan yang memanggil.” Tuhan telah memberikan beliau kepada Gereja Kalimantan, kepada Keuskupan Banjarmasin, kepada Kongregasi MSF, dan jualah yang mengambil kembali beliau. Terpujilah Dia! Tuhan pasti tahu apa yang terbaik bagi Pastor Borst yang kita cinta bersama. Marilah kita tunduk bersama pada kehendak Tuhan ini dengan menjadikannya sebagai sebuah pengalaman dengan bersyukur atas kehadiran beliau yang telah mewartakan Injil bagi Gereja Kalimantan. Dalam harapan ini, mari kita teruskan ibadat ini dengan bingkai kerelaan kita untuk menghantar Pastor/Konfrater dan saudara kita yang terkasih – Pastor Borst kembali kepada Allah&#8230;”</p>
<p>Kenangan akan Pastor Borst, MSF  Pastor Gerardus Hendrikus Borst, MSF Lahir di Rotterdam (Belanda) pada tanggal 23 Januari 1921. Masuk Seminari Menengah pada tahun 1935 di Kaatsheuvel (Belanda) kemudian masuk Novisiat pada tahun 1941 di Nieukerk (Belanda). Seminari tinggi dijalani Pastor Borst di Odenbosch (Belanda) mulai tahun 1942 dan mengucapkan Kaul Kekal di Oudenbosch pada tahun 1945. Pastor Borst ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 27 Juli 1947 di  Oudenbosch.  </p>
<p>Pada bulan Februari 1949, Pastor Borst berangkat ke Kalimantan. Pada mulanya beliau tinggal di Kalimantan Timur untuk memperdalam Bahasa Indonesia. Tahun 1950 – 1953 menjadi Dosen Seminari Menengah di Banjarmasin. Selanjutnya tahun 1953 menjadi Pastor Paroki di Kuala Kapuas. Pada tahun 1954, karena Seminari Menengah Banjarmasin dipindahkan ke Sanga-sanga (Kalimantan Timur), maka Pastor Borst ikut pindah ke Sanga-sanga. Tahun 1956 Pastor Borst menjabat sebagai Pastor Paroki di kota Samarinda. Tahun 1958 Pastor Borst berkesempatan mengambil cuti perdana untuk kembali ke negeri Belanda. Kemudian pada tahun 1959, Pastor Borst menjadi Pastor Paroki di Muara Teweh (Kalimantan Tengah). Tahun 1968, Pastor Borst menjabat sebagai pastor kedua di Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus, Veteran – Banjarmasin, menggantikan Pastor Gielens, MSF yang harus kembali ke Eropa karena alasan kesehatan. </p>
<p>Pada Februari 1997, sesudah merayakat pesta emas Imamatnya, Pastor Borst pindah ke Banjarbaru dan menjadi emeritus atas permohonan Mgr. F.X. Prajasuta, MSF dan mulai tinggal di Biara MSF Wisma Simeon. Dalam perkembangan selanjutnya Pastor Borst menderita penyakit parkinson dan diabetes mellitus. Karena sakitnya ini, beberapa kali Pastor Borst harus keluar masuk Rumah Sakit ”Suaka Insan” Banjarmasin untuk menjalani pengobatan.  <br />
Lama kelamaan kesehatan Pastor Borst semakin menurun dan akhirnya hanya berbaring di tempat tidur saja. Pada tanggal 17 Mei 2007, tepat pada Hari Raya Kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus, pukul 10.15 Wita, sesudah menerima Sakramen Minyak Suci, Pastor Borst, MSF dipanggil menghadap Bapa di Surga.</p>
<p><strong>”Selamat jalan Pastor Borst, kami akan mengiringi perjalanan pastor dengan doa-doa kami&#8230;”</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Uskup Titulair Arsinoe]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/26/uskup-titulair-arsinoe/</link>
<pubDate>Wed, 26 Jul 2006 12:12:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/26/uskup-titulair-arsinoe/</guid>
<description><![CDATA[  Di usianya yang hampir menginjak 90 tahun ini, Mgr. Demarteau tetap beraktivitas dengan membaca, m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em> <img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2006/07/sosokkita_a.jpg" alt="Mgr Demarteau MSF, Uskup Emeritus Banjarmasin" /></em></p>
<p><em>Di usianya yang hampir menginjak 90 tahun ini, Mgr. Demarteau tetap beraktivitas dengan membaca, mengasah otak supaya tidak lusuh berkarat (Red: Ungkapan Beliau) dan juga jalan santai setiap sore di depan “rumah masa depan” Wisma Simeon-Banjarbaru-KALSEL.<br />
Untuk mengetahui lebih dekat “kisah kasih” kehidupan Mgr. Demarteau di “rumah masa depan” Wisma Simeon, ikutilah petikan wawancara singkat Bung MUSAFIR (BM) bersama Beliau  dalam bentuk tulisan berhubung pendengaran Beliau yang sudah “tuli total”.<!--more--></em></p>
<p><strong>BM :</strong> Selamat siang Monseigneur. Sudah lama Bapak Uskup tinggal di Wisma Simeon ini (sekitar 5/6 tahun). Apakah Bapak Uskup merasa kerasan tinggal di Wisma ini ?</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Selamat siang Frater. Saya krasan tinggal di Wisma Simeon. Menurut <strong>Codex</strong> (Kitab Hukum Kanonik) Gereja Katolik, seorang Uskup Emeritus berhak memilih tempat tinggalnya. Tahun 1983 saya memilih Banjarbaru, tempat yang tidak terlalu dekat dengan Uskup Baru dan sekaligus tidak terlalu jauh dari penggantinya. Sampai dengan tahun 1997 saya masih dapat bekerja di paroki Banjarbaru sebagai pastor meskipun sebagai pastor pembantu. Syukurlah saya tinggal di tengah-tengah umat yang mencintai saya dan yang saya cintai. Pada umumnya saya merasa tenang dan senang hati tinggal di Banjarbaru khususnya di Wisma Simenon. Kadang hati saya gelisah kalau berpikir mengenai tanggung jawab saya di hadapan Tuhan berkenaan dengan pelaksanaan tugas selama menjabat sebagai Uskup Banjarmasin dan sebagai Uskup Emeritus. Mudah-mudahan Tuhan mengasihani aku.</p>
<p><strong>BM :</strong> Selama berada di Wisma Simeon, kegiatan apa saja yang biasanya dilakukan oleh Bapak Uskup?</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Selama di Wisma ini  saya mencoba memperbaiki kekurangan-kekurangan saya pada waktu yang telah lewat dalam hidupku. Dengan terus terang saya akui bahwa, saat ini waktu untuk berdoa lebih banyak daripada sebelumnya. Saya berdoa untuk ujud-ujud global, umum, misalnya: untuk ujud Paus yang baru, untuk keselamatan Gereja, untuk korban tanah longsor di Philippina, untuk korban aksi terorisme, untuk korban kelaparan di Afrika, dll. Saya tidak hanya berdoa banyak untuk diri saya sendiri tetapi bagi dan demi yang lain juga. Di samping itu, saya membaca banyak buku (kalau ada buku yang menarik), memecahkan teka-teki silang supaya otak saya yang lusuh ini tidak berkarat. Jalan santai pada sore hari di depan wisma menjadi rutinitas yang tidak pernah saya lupakan, karena memberikan kekuatan pada saya. Itulah kegiatan seorang uskup yang hampir berumur 90 tahun.</p>
<p><strong>BM :</strong> Monseigneur, dari pertemuan dan pembicaraan dengan beberapa umat yang mengenal Bapak Uskup, mereka mengharapkan agar Bapak Uskup masih bersedia untuk memimpin Perayaan Ekaristi di Gereja paroki Banjarbaru. Apakah Bapak Uskup sendiri masih ada keinginan untuk memimpin Perayaan Ekaristi sebagaimana yang diharapkan oleh umat paroki ?</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Setiap hari saya selalu dan ingin merayakan Ekaristi, karena menambah iman, harapan dan kasihku berkat pertemuan riil dengan Kristus, Imam Agung. Tetapi saya keberatan untuk memimpin Perayaan Ekaristi, karena ada beberapa alasan, antara lain: pertama, sakit vertigo yang kontinu membuat saya pusing dan kadang begitu hebat sehingga saya tidak mampu berdiri lebih lama dan membaca dengan suara yang nyaring. Kedua, masalah pendengaran. Sudah lama pendengaran saya kurang baik bahkan akhir-akhir ini sangat merosot, sehingga sekarang benar-benar tuli total, sehingga bunyi guntur pun tidak saya dengar. Karena masalah “ketulian” ini, maka bagi saya pribadi, komunikasi antara saya sebagai imam yang mempersembahkan misa dengan umat yang hadir sangat sulit. Santo Agustinus (1600 thn yang lalu) di Afrika Utara menulis kurang-lebih demikian; “Sebagai Uskup saya tinggal di tengah-tengah kamu sebagai gembala yang memimpin, tetapi kadang-kadang saya tinggal di antara kamu sebagai saudara seiman yang percaya akan Kristus yang sama. Saya setuju dengan Uskup Agustinus. Maka walaupun saya Uskup, saya suka merayakan Ekaristi/misa (sebagai umat) bersama umat paroki Banjarbaru.</p>
<p><strong>BM :</strong> Pada tahun ini MSF Indonesia, khususnya MSF Provinsi Kalimantan akan merayakan 80 tahun karya Misi MSF di Indonesia, tepatnya di Kalimantan. Apa pesan Bapak Uskup bagi para pastor, frater dan postulant MSF Kalimantan serta para Suster, Bruder dan Petugas Gereja yang berkarya di Kalimantan ?</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Kalau kita mau merayakan 80 tahun misi di Kalimantan, kita harus terutama menyatakan bahwa kita sungguh bersyukur kepada Tuhan yang atas namanya para anggota MSF diutus dan berkarya mulai dari tahun 1926 sampai tahun 2006 ini. Tahun 1926, perutusan Yesus terulang kembali melalui tarekat MSF. Pada waktu mengutus para rasulNya ke kampung-kampung Palestina, Yesus berucap; “ Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35). Start karya misi mereka sangat berat. Mereka harus menanggung panas terik matahari secara riil dan kiasan. Air baptis mengering dalam sangku baptisan di gereja. Menanti, menunggu, sabar, berdoa dan tidak putus asa. Seperti padi bertumbuh dalam keheningan benih ilahi, Injil pun bertumbuh tumbuh dalam keheningan. Tuhan ikut membuka jalan melalui hutan Borneo. Para misionaris terus menabur dan Tuhan memberi pertumbuhan. Syukur kepada Tuhan. Kita berterima kasih kepada semua anggota MSF yang sudah atau yang masih bekerja di Kalimantan termasuk para misionaris non-MSF, juga tidak kami lupakan.   </p>
<p>Jumlah anggota MSF yang telah meninggal:<br />
MSF Belanda  : 62<br />
MSF Jerman  :   2<br />
MSF Indonesia :   8</p>
<p><strong>BM :</strong> Apa harapan Bapak Uskup bagi perkembangan karya kerasulan MSF Kalimantan dalam kerangka perkembangan iman dan Gereja di Kalimantan ?</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Setiap orang yang memeriksa Buku Petunjuk Gereja Katolik (2005) tidak akan menyangsingkan perkembangan Karya Kerasulan MSF di Kalimantan. Misalnya di Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Palangkaraya, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Tanjung Selor, ada daerah di mana hampir seluruh penduduk Dayak beragama Katolik (termasuk di Keuskupan Agung Pontianak dan Keuskupan Sanggau).  Memang pendalaman iman harus dinomorsatukan. Ada roh yang baik, tetapi ada juga roh jahat, yang aktif. Bermacam benih ditaburkan dan hasilnya bukan padi, melainkan alang-alang dan rerumputan. Para petugas Gereja menabur benih ilahi dan benih itu akan mengalahkan benih yang tidak baik.<br />
Maka semoga anggota MSF Provinsi Kalimantan, di masa yang akan datang terus berkarya untuk “Menyempurnakan yang Lusuh, agar tidak berkarat”, seperti aktivitas saya saat ini.</p>
<p><strong>BM :</strong> Terima kasih banyak banyak Uskup. Doa kami, para anggota muda MSF mengiringi perjalanan hidup dan panggilan Bapak Uskup</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Sama-sama, God Bless You !<br />
           Salam Mgr. W. Demarteau MSF (Uskup em)</p>
<p><em>Bung MUSAFIR</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
