<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>spiritualisme &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/spiritualisme/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "spiritualisme"</description>
	<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 00:21:45 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Mensyukuri Musibah: Mampukah?]]></title>
<link>http://jagatalit.com/2009/11/30/mensyukuri-musibah-mampukah/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:33:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
<guid>http://jagatalit.com/2009/11/30/mensyukuri-musibah-mampukah/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Kang, sekarang saya tidak merasa sakit lagi,&#8221; kata Adhi dengan wajah berseri. &#8220;Ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Kang, sekarang saya tidak merasa sakit lagi,&#8221; kata Adhi dengan wajah berseri. &#8220;Bahkan saya pun tak lagi merasa takut dan khawatir. Mungkinkah perasaan seperti ini yang dirasakan para Wali Allah, seperti yang sering Akang ceritakan itu?&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Adhi, itu bukan ceritaku.&#8221; Begitu timpalku. &#8220;Tapi itu &#8216;kan bunyi salah satu ayat dalam Al-Quran, yang menyebutkan bahwa para Wali Allah atau para Kekasih Allah sesungguhnya tidak pernah merasa takut, khawatir ataupun berduka cita sepanjang hidupnya, lantaran mereka selalu berserah diri sepenuhnya kepada Sang Khalik.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Saya tahu itu. Dan, seperti para beliau,  saya juga telah berserah diri sepenuhnya kepada Allah,&#8221; ujar Adhi dengan wajah yang tetap sumringah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sudah biasa saya mendengarkan celoteh Adhi tentang berbagai keresahan religiusitasnya. Tentang gugatannya terhadap Tuhan, yang menurutnya tidak pernah adil. Tentang berbagai ajaran agama, yang menurutnya tidak pernah memberikan jawaban atas berbagai persoalan kehidupan. Tentang berbagai kisah para Nabi yang menurutnya hanya dongeng pengantar tidur belaka. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya selalu mendengarkan celotehnya dengan sabar, dan saya tidak pernah mendebatnya. Buat apa? Dia pernah mengecap pendidikan pesantren seperti saya, dan bahkan di pesantren yang sama. Dia pernah mengenyam pendidikan di sebuah fakultas teologi, yang &#8212; <em>ndilalah</em> &#8212; merupakan fakultas saya juga, dulu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya merasa hanya buang-buang waktu saja kalau saya berdebat dengannya, karena dia tahu betul argumen yang akan saya bangun untuk mendebatnya. Kata para dukun, seguru seilmu janganlah saling ganggu. Jadi, saya pun tidak pernah &#8220;mengganggu&#8221; pikiran-pikirannya. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tetapi kedatangannya hari itu benar-benar berbeda. Wajahnya tidak sekusut biasanya. Tidak ada gugatan terhadap Tuhan, seperti yang biasa disampaikannya. Adhi kelihatan sangat gembira. Padahal, ia baru saja keluar dari rumah sakit setelah sekitar dua pekan menginap di sana.  Dua pekan sebelumnya, ia menjalani operasi usus tahap pertama. Ada kanker ganas dalam stadium lanjut menggerogoti ususnya. Kata dokter, Adhi tinggal &#8220;menunggu waktu&#8221;.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Saya sudah siap,&#8221; kata Adhi. &#8220;Saya sudah berterimakasih padaNya. Saya berterimakasih atas kanker yang diberikanNya kepada saya. Saya berterimakasih karena sayalah yang telah dipilihNya untuk menikmati penderitaan ini. Saya berterimakasih karena saya telah diajariNya untuk bersyukur. Bersyukur tidak hanya karena kenikmatan hidup yang telah dilimpahkanNya kepada saya. Tetapi juga karena penyakit yang kini menggerogoti tubuh saya.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Seperti biasa, saya terdiam mendengarkan celotehnya. Ternyata itu merupakan celotehnya terakhir. Sepekan setelah itu, Adhi berpulang tanpa pamit. Dan, ia memang tidak perlu pamit kepada siapapun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tentu saja saya tidak pernah bertemu lagi dengan Adhi, bahkan dalam mimpi. Tetapi saya tidak akan pernah lupa pada pelajaran konkret yang disampaikannya sebelum pergi: berterimakasihlah selalu padaNya, termasuk atas musibah yang diberikanNya. Mampukah saya? Rasanya, tidak.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Billy Soemawisastra</strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pour connaître Louis Lavelle, philosophe spiritualiste français]]></title>
<link>http://actuphilo.com/2009/10/26/pour-connaitre-louis-lavelle-philosophe-spiritualiste-francais/</link>
<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 23:23:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hervé Moine</dc:creator>
<guid>http://actuphilo.com/2009/10/26/pour-connaitre-louis-lavelle-philosophe-spiritualiste-francais/</guid>
<description><![CDATA[Il y a 100 ans, Louis Lavelle était reçu à l&#8217;agrégation de philosophie. Une séance publique de]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Il y a 100 ans, Louis Lavelle était reçu à l&#8217;agrégation de philosophie. Une séance publique de l’Association Louis Lavelle, aura lieu sous la présidence de Jean-Louis Vieillard-Baron, professeur à l’université de Poitiers,</p>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#808080;"><strong>mercredi 2 décembre 2009 à 15 h </strong></span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><strong>Centre André Malraux, salle Molière</strong></h2>
<h2 style="text-align:center;"><strong>112, rue de Rennes, Paris 6<sup>ème</sup></strong></h2>
<p><strong><a href="http://actuphilo.wordpress.com/files/2009/11/louis-lavelle.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1672" title="Louis Lavelle" src="http://actuphilo.wordpress.com/files/2009/11/louis-lavelle.jpg" alt="Louis Lavelle" width="180" height="251" /></a></strong></p>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><strong>Lavelle et le spiritualisme français</strong></span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><strong><span style="color:#800000;">Le philosophe comme témoin</span><br />
</strong></h2>
<p style="text-align:justify;">Cette séance se déroulera en deux parties, la première qui verra l’intervention d’Andréa Bellantone évoquera : <strong>« Lavelle et le spiritualisme français  »</strong> et la seconde de Philippe Perrot aura pour thème : <strong>« Le philosophe comme témoin »</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Ces deux interventions déboucheront chacune sur une discussion publique.</p>
<p>L’entrée est libre.</p>
<p>Pour en savoir davantage sur cette séance et sur l’association :</p>
<ul>
<li><a href="http://association-lavelle.chez-alice.fr/">http://association-lavelle.chez-alice.fr/</a></li>
<li>e-mail : <a href="http://">association.louis.lavelle@orange.fr</a></li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Louis Lavelle est né à     Saint-Martin-de-Villeréal (Lot et Garonne) le 15 juillet 1883. Agrégé de     philosophie (1909), docteur avec une thèse sur <em>La Dialectique du monde     sensible</em>, professeur à la Sorbonne en 1932 et au Collège de France à     partir de 1941, il fonda, avec René Le Senne, la collection     « Philosophie de l’esprit » chez Aubier en 1934. Élu en     1947 membre de l’<strong><a href="http://www.institut-de-france.fr/franqueville/second_siecle/recherche_tome2.htm" target="_blank">Académie des     sciences morales et politiques</a></strong>, Louis Lavelle meurt à     Parranquet (Lot-et-Garonne) le 1<sup>er</sup> septembre 1951.</p>
</blockquote>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[WRITE, THAT'S ALL!]]></title>
<link>http://curusetra.wordpress.com/2009/08/19/266/</link>
<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 19:11:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>HILAL ALIFI</dc:creator>
<guid>http://curusetra.wordpress.com/2009/08/19/266/</guid>
<description><![CDATA[1. Nun. Demi Pena dan apa yang mereka tulis! - Al-Qur’an | Al-Qalam 68:01 Bacalah! Dan Tuhanmulah ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_267" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-267" title="pen-and-paper_tradeshow2" src="http://curusetra.wordpress.com/files/2009/08/pen-and-paper_tradeshow2.jpg?w=300" alt="pen-and-paper_tradeshow2" width="300" height="168" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">1.<br />
<span style="color:#99cc00;">Nun. Demi Pena dan apa yang mereka tulis!<br />
- Al-Qur’an &#124; Al-Qalam 68:01</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#99cc00;">Bacalah! Dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,<br />
Yang mengajar dengan pena<br />
- Al-Quran &#124; Al-‘Alaq 96:03</span></p>
<p><span style="color:#99cc00;">. . . dan janganlah penulis enggan menuliskannya,<br />
sebagaimana Allah mengajarkannya. . .<br />
- Al-Quran &#124; Al-Baqarah 2:282</span>
</p>
<p style="text-align:justify;">2.<br />
Menulislah, karena menulis sangat bermanfaat. Seperti dicontohkan dalam film <em>Feedom Writers</em>.
</p>
<p style="text-align:justify;">Alkisah, ada seorang guru yang ditugaskan menjadi wali kelas di sebuah sekolah di Amerika. Penghuni ruang kelas itu ternyata multi etnis; ada yang keturunan Tionghoa, berkulit hitam, keturuan Amerika Latin, India, dll. Keragaman identitas ini menjadikan suasana kelas menjadi kaku, satu sama lain saling menutup diri. Ini diperparah dengan dunia luar mereka yang keras, sehingga membuat mereka mencurigai teman-teman sekelasnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Kenyataan ini tentu mengejutkan sang guru. Anak-anak muda itu tidak acuh pada materi pelajaran. Mereka mendatangi ruangan kelas itu hanya agar mereka tampak seperti manusia normal seperti pemuda-pemudi Amerika biasanya. Hal ini berlangsung hingga beberapa pertemuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hingga suatu saat, ketika sedikit demi sedikit sang guru mengupayakan pemecahan masalah itu, dia mendapat ide untuk memberikan tiap-tiap muridnya sebuah buku catatan. Dia perintahkan agar semua murid menuliskan apapun dibenaknya. Apapun, hingga yang paling menjengkelkan sekalipun.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah beberapa saat, tiap murid diperlisahkan untuk membaca tulisan temannya. Dari sini, barulah mereka tahu apa yang dihadapi teman-temannya dan bagaimana keseharian mereka. Mereka menjadi mengenal satu sama lain, sehingga amat bodoh untuk membuat jarak dengan mereka, apalagi mencurigai mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah gairah yang dihasilkan oleh tulisan. Dan murid-murid di kelas itu merasakannya. Bahkan, gairah itu semakin membuncah, hingga mereka berani menerbitkan catatan-catatan mereka menjadi sebuah buku. Dan baru-baru ini, buku itu difilmkan.</p>
<p style="text-align:justify;">3.<br />
Menulislah, karena menulis itu memang amat-sangat bermanfaat! Dalam salah satu catatan buku harianya, Ahmad Wahib mengeluhkan kegemaran membacanya yang tak terbendung. Ini keterlaluan, pikirnya. Sebaiknya, ”membaca” juga diimbangi dengan kebiasaan ”merenung” dan ”melihat” realitas secara langsung. Dengan ”merenung” dan ”melihat”, kita tidak lagi hanya menyerap gagasan yang ditelorkan orang lain, melainkan mengolah gagasan dan menyimpulkan pendapat sendiri.
</p>
<p style="text-align:justify;">Melengkapi hasil permenungan Ahmad Wahib ini, saya ingin menambahkan satu lagi: menulis. Imbangi kebiasaan kita ”membaca”, ”merenung” dan ”melihat” dengan kebiasaan ”menulis”. Karena dengannya, kita tidak lagi membiarkan gagasan-gagasan itu terbenam di dalam diri kita, melainkan kita lepaskan ke dunia luar. Hal ini, disadari atau tidak, akan berdampak lebih banyak ketimbang kita membiarkan gagasan kita tidak tertulis.</p>
<p style="text-align:justify;">4.<br />
Dengan sangat telaten, Umar bin al-Khattâb menganjurkan kepada Abû Bakar agar menuliskan Al-Qur’an dalam satu jilid buku. Awalnya Abû Bakar menolak usulan itu. Namun setelah berkali-kali dikasih alasan oleh Umar, akhirnya penulisan itu berlangsung juga.
</p>
<p style="text-align:justify;">Penulisan Al-Qur’an dalam satu buku ini diawali dengan niat tulus agar Firman Tuhan tidak dilupakan umat manusia. Dan niat ini memang berhasil. Namun, siapa yang bakal menyangka bahwa manfaatnya bisa melebihi itu? Sebuah kitab suci ini, yang merekam Firman Tuhan yang terucap melalui lidah Nabi Muhammad, yang ditulis oleh tangan-tangan tulus, telah memancarkan nilai-nilai ilahi ke dalam kehidupan umat Muslim yang agung di seluruh dunia, sejak pertama kali diturunkan ke bumi hingga saat ini, bahkan nanti.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, apa pula yang menghalangi saya untuk menulis? Kenyataan telah memberi satu jawaban tegas: menulislah!</p>
<p style="text-align:justify;">5.<br />
Menulislah, karena memang kita perlu menulis! Menulis dapat membantu kita mengorganisir gagasan yang berserakan dibenak kita dan membuat kita mampu melihat sekeliling kita secara lebih jelas. Entah kekuatan apa yang tersembunyi dalam kata-kata, namun kata-kata yang kita tulis memberi dampak yang dahsyat terhadap otak ketimbang kata-kata yang kita ucapkan.
</p>
<p style="text-align:justify;">Menulis juga bisa menjadi terapi jiwa. Secara psikologis, menulis merupakan akses dan komukasi dengan sisi subtil dari jiwa kita. Ia juga merupakan media berekspresi, yang secara psikologis punya kemampuan menyembuhkan pula.</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih dari itu, menulis merupakan tindakan spritual. Kita sudah maklum bahwa manusia tidak cuma terdiri dari tumpukan tulang dan daging, namun terdapat juga ruh. Karena itu, kebutuhan untuk berbagi pengalaman alam spiritual juga merupakan perjalanan ruh. Namun, perlu diingat bahwa perasaan, emosi dan pengalaman dalam dunia spritual tidak mudah dibagikan ke orang lain seperti kita berbagi pengalaman perjalanan atau pengalaman mencicipi masakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di saat kita tahu bahwa tulisan kita bisa membantu, menyembuhkan, mencerahkan dan memberi kedamaian kepada sesama manusia, kita baru menyadari pentingnya tindakan kita. Menulis adalah tindakan suci. Pengetahuan tentang cara menulis dikasihkan kepada manusia seakan sebagai anugerah untuk mempercepat petualangan kesadarannya. Inilah kenapa, transmisi pengetahuan disimbolkan dengan perkataan ”Tuhan mengajarkan dengan Pena”.</p>
<p style="text-align:justify;">6.<br />
Sebagian kita mungkin beranggapan bahwa tindakan menulis mensyaratkan banyak hal; bahwa kita harus tahu ini-itu; bahwa sia-sia belaka menulis tanpa dampak yang jelas; bahwa menulis harus mendatangkan uang; dan lain-lain. Semuanya itu memberi kesan bahwa tidakan menulis adalah suatu beban berat.
</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang baliklah anggapan itu. Tindakan menulis bukannya menambahkan beban dalam hidup kita. Menulis itu justru melepaskan beban. Camkanlah ini baik-baik: ”Apabila kita ingin tahu sejauh mana peran kita di dunia ini, maka menulislah.” kata Paulo Coelho. ”Berusahalah untuk membenamkan jiwamu dalam tulisan, meskipun tidak ada yang membacanya —atau, bahkan, sunggupun ada seseorang yang marah karena tulisanmu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, menulislah karena kita perlu menulis. Menulislah karena menulis itu sendiri baik untuk kita, berguna untuk jiwa kita. Menulislah tanpa beban harus begini atau begitu. Kalaupun suatu saat nanti tulisan kita berdampak sesuatu, positif ataupun negatif, anggaplah itu sebuah bonus dari Tuhan atas tindakan kita.[]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI (Bagian 1)]]></title>
<link>http://ajidedim.wordpress.com/2009/08/10/tazkiyah-sains-dan-teknologi-bagian-1/</link>
<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 00:50:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>ajidedim</dc:creator>
<guid>http://ajidedim.wordpress.com/2009/08/10/tazkiyah-sains-dan-teknologi-bagian-1/</guid>
<description><![CDATA[TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI: KELUAR DARI CARUT MARUT SAINS-TEKNOLOGI MODERN[1] Dr. Aji Dedi Mulawar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center"><strong><em>TAZKIYAH</em></strong><strong> SAINS DAN TEKNOLOGI:</strong></p>
<p align="center"><strong>KELUAR DARI CARUT MARUT SAINS-TEKNOLOGI MODERN</strong><a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Dr. Aji Dedi Mulawarman<a href="#_ftn2">[2]</a></strong></p>
<p><strong>1. PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Perkembangan peradaban dunia dimana kita berada saat ini berjalan merupakan babakan teknologi dengan percepatan yang tidak pernah ditemui progresifitasnya dalam rentang kebudayaan manusia sebelumnya. Kecepatan perubahan teknologi modern dapat disebut –dengan meminjam metafora Giddens– Juggernaut, truk besar yang meluncur tanpa kendali. Kondisi teknologi memang telah melesat kencang tanpa kendali, yaitu dari kendali induknya, ilmu pengetahuan. Begitu berkuasanya teknologi sampai kemudian Naisbitt dan Philips (2001, 21)  menganggap manusia telah masuk dalam Zona Mabuk Teknologi dimana:</p>
<p>&#8230;kondisi teknologi telah menjadikan dirinya hukum alam dan memberinya hak dalam kehidupan sehari-hari kita tanpa dapat dicabut, membuat aktivitas formal dan dunia alamiah kita telah ’diatur’ oleh peranti lunak yang kian lama kian canggih. <span style="text-decoration:underline;">Zona Mabuk Teknologi, adalah kehampaan spiritual</span> yang mengecewakan dan berbahaya, serta mustahil keluar dari dalamnya, kecuali jika kita menyadari bahwa kita memang berada di dalamnya. (garis bawah tambahan penulis).</p>
<p>Mengapa Naisbitt dan Philips berkata seperti itu? Memang teknologi di satu pihak memperbaiki dan mendukung kehidupan manusia, akan tetapi di sisi lain menghancurkan dan bahkan memiliki sifat <em>dasamuka</em>.  Teknologi modern sebagai ’anak kandung’ – hasil dan turunan langsung dari ilmu pengetahuan – saat ini telah menghasilkan paradoksal-paradoksal. Teknologi menurut Jacob (1993) pada gilirannya mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan. Ada selang waktu antara penemuan ilmiah dan penerapannya, yang makin lama makin singkat. Juga selang antara penemuan-penemuan baru makin singkat, dengan kata lain makin <em>frekuen</em> dan bertubi-tubi. Jacob (1993) menggambarkan bahwa teknologi telah menjadi kultus dan didewa-dewakan, seakan teknologi adalah jimat dan paspor satu-satunya menuju kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan. Bahkan pengkultusan teknologi telah menimbulkan masyarakat materialistis konsumtif, yang sayangnya tidak merata karena sumber dunia yang terbatas; seperti kata Mahatma Gandhi, ”sumber-sumber dunia cukup untuk memuaskan kebutuhan manusia, tetapi tidak cukup untuk memuaskan kerakusan manusia”.</p>
<p>Keinginan sains dikembangkan dalam bentuk teknologi untuk memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia telah berbalik menjadi kesengsaraan umat manusia, hancurnya daya dukung lingkungan dan alienasi manusia dari lingkungannya serta hanya memberikan kesejahteraan bagi segelintir manusia. Kesenjangan kaya dan miskin makin melebar, seperti tak terselesaikannya kasus kemelaratan masyarakat negara-negara berkembang yang mayoritas di bumi ini, dimana kelimpahan sandang, pangan, papan dan kemakmuran-kemakmuran lainnya yang  terkonsentrasi di negara-negara maju yang tidak lebih dari 20 negara dari ratusan negara di dunia.</p>
<p>Hegemoni <em>source</em> sains dengan teknologi mutakhirnya <em>Cyber-technology</em> bahkan dianggap Pilliang (2004) telah meninggalkan Tuhan dan menciptakan Tuhan Digital, yaitu dengan memunculkan kegilaan-kegilaan mentalitas dunia maya. Belum lagi lalu lintas moneter lintas batas dan penguasaan  teknologi serta produksi yang berada pada segelintir perusahaan multinasional, yang otomatis memunculkan hegemoni politik ekonomi dan menggeser kekuatan ekonomi negara berkembang dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah menjadi pemain pinggiran yang tak pernah terselesaikan nasibnya kecuali menjadi ’perusahaan jajahan kolonial’ dari perusahaan multinasional dalam bentuk menjadi sub-ordinat dari kekuasaan perusahaan multinasional yang didukung oleh pemerintahan yang juga korup. Bentuk lalu lintas moneter lintas batas dan penguasaan  teknologi serta produksi menurut Capra (2001) bertujuan untuk kepastian aliran atau arus kas perusahaan “bermain monopoli” di berbagai <em>flows of things</em> untuk mengantisipasi “dadu mesin” dari bursa saham disebut <em>Electronically Operated Global Casino</em> (Casino Global Elektronik), atau dalam bahasa Castells disebut <em>Automaton</em> (Capra 2003, 120)<a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Perusahaan juga telah dikooptasi sinergi politik kepentingan ekonomi pemilik modal (<em>owners</em>) dan manajemen (<em>agent</em>) yang kemudian menegasikan karyawan, buruh, lingkungan sosial serta lingkungan alam (lihat misalnya penelitian yang dilakukan Tinker 1980 dan 1984; Cooper 1980; Cooper dan Sherer 1984; Gray, Owen dan Maunders 1988; Gray, Kouhy dan Lavers 1995; Gray, Owen dan Adams 1996; Lehman 1999; Stadden 2002). Belum lagi kerusakan-kerusakan dan krisis-krisis akut lingkungan alam yang diakibatkan ketamakan manusia dalam eksploitasi teknologi yang tak terukur, mulai dari perlombaan senjata, eksploitasi energi dan pertambangan, penggundulan hutan besar-besaran, pemakaian kosmetik, obat-obatan dan pupuk kimiawi, dan lain sebagainya<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Menyelesaikan masalah teknologi tidak dapat dilakukan dengan mengeliminir dampak teknologi saja. Eliminasi dampak sama seperti menyembuhkan pusing akibat dampak dari gangguan asam lambung dengan minum Paramex. Menyembuhkan gangguan asam lambung sebenarnya tidak hanya dengan minum obat maag saja. Menyembuhkan gangguan asam lambung harus disertai dengan perubahan radikal pada beberapa hal seperti pola makan sehat, menjaga keseimbangan pikiran, tubuh dan mental. Menyembuhkan kekacauan realitas akibat teknologi juga semestinya tidak menyelesaikan masalah dengan mereduksi dampak teknologi saja. Menyembuhkan dampak teknologi juga tidak hanya menyelesaikan konsep teknologi, tetapi juga harus masuk lebih jauh pada pembentuk konsep teknologi itu sendiri, yaitu sains atau ilmu beserta atribut-atribut filosofis yang menempel di dalamnya.</p>
<p>Bersambung&#8230;. ke bagian 2. Mencari Akar Masalah</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Makalah pernah disampaikan dalam Kuliah Peradaban di Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari,  Malang, 8 Januari 2007 dan Latihan Kader II HMI Cabang Yogyakarta,  30 Juni 2007. Makalah ini merupakan salah satu bagian dari rencana buku yang akan diterbitkan penulis dengan judul Peradaban dan Ilmu Islami: Menggugat Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Dosen Program Doktor Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang; Direktur Eksekutif Lembaga Studi Ekonomi dan Keuangan Islam, CISFED, Jakarta. Direktur KB-TK-SD Bertaraf Internasional Masjidil ’Ilm Bani Hasyim,  Singosari, Malang, Jawa Timur. Email: <a href="mailto:ajidedim@yahoo.co.id">ajidedim@yahoo.co.id</a> HP: 081-555-600-745</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Automaton</em> menurut Castells adalah ciptaan inti ekonomi hasil proses globalisasi keuangan yang secara tegas mengatur kehidupan manusia. Bukan robot-robot yang menghilangkan lapangan kerja atau komputer-komputer pemerintah, tetapi mesin-mesin globalisasi berbentuk transaksi keuangan elektroniklah yang mengambil alih dunia manusia. Logika automaton bukanlah aturan-aturan pasar tradisional, dinamika aliran keuangan yang digerakkannya saat ini di luar kendali-kendali pemerintahan negara, perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga keuangan. Akan tetapi pada keluwesan dan ketepatan teknologi informasi dan komunikasi baru, regulasi ekonomi global yang efektif secara teknis menjadi masuk akal.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Dalam bahasa dan penjelasan yang lebih komprehensif dan lugas misalnya Fritjof Capra dalam bukunya <em>The Hidden Connections</em> (2001); Fritjof Capra dalam <em>The Turning Point</em> yang diterjemahkan Penerbit Bentang tahun 1997; atau yang lebih klasik seperti Lewis Mumford  dalam <em>The Automation of Technology: Are We Becoming Robots?</em> (1964); lihat juga Teknologi dan Dampak Kebudayaannya Volume II yang disunting oleh YB. Mangunwijaya (1985); Masa Depan Islam karangan Ziauddin Sardar edisi terjemahan yang diterbitkan Pustaka Bandung (1987); Bruce Rich dalam bukunya Menggadaikan Bumi edisi terjemahan Indonesia yang diterbitkan oleh INFID 1999; Dunia yang Berlari: Mencari Tuhan-tuhan Digital (2004) karangan Yasraf Amir Pilliang; Manusia, Ilmu dan Teknologi: Pergumulan Abadi dalam Perang dan Damai karangan T. Jacob edisi kedua tahun 1993; dan banyak lagi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[THOU AND I]]></title>
<link>http://curusetra.wordpress.com/2009/07/19/thou-and-i/</link>
<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 18:53:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>HILAL ALIFI</dc:creator>
<guid>http://curusetra.wordpress.com/2009/07/19/thou-and-i/</guid>
<description><![CDATA[I am He whom I love, and He whom I love is I. we are two spirit dwelling in on body, If thou seest m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_166" class="wp-caption aligncenter" style="width: 73px"><img class="size-full wp-image-166" title="ik-kaligrafi-4a" src="http://curusetra.wordpress.com/files/2009/07/ik-kaligrafi-4a.gif" alt="ik-kaligrafi-4a" width="63" height="80" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p style="text-align:center;">I am He whom I love, and He whom I love is I.<br />
we are <em>two</em> spirit dwelling in on body,<br />
If thou seest me, thou seest Him;<br />
And if thou seest Him, thou seest us both.<br />
&#8211;<span style="color:#00ff00;"><em>Al-Hallaj</em></span></p>
<blockquote>
<div id="attachment_168" class="wp-caption alignright" style="width: 73px"><img class="size-full wp-image-168" title="ik-kaligrafi-3a" src="http://curusetra.wordpress.com/files/2009/07/ik-kaligrafi-3a.gif" alt=" " width="63" height="80" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p>We are the spirit of One, though we dwell by turns in two bodies.<br />
&#8211; <em><span style="color:#00ff00;">Al-Jili</span><br />
</em></p></blockquote>
<p>Happy the moment when we are seated in the palace, thou and I,<br />
With two forms and with two figures, but with one soul, thou and I.<br />
&#8211; <em><span style="color:#00ff00;">Jalal ad-Din Rumi</span></em></p>
<div id="attachment_169" class="wp-caption alignleft" style="width: 76px"><img class="size-full wp-image-169" title="ik-kaligrafi-6a" src="http://curusetra.wordpress.com/files/2009/07/ik-kaligrafi-6a.gif" alt="ik-kaligrafi-6a" width="66" height="84" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[P e n c u r i]]></title>
<link>http://suharyanto.wordpress.com/2009/06/15/p-e-n-c-u-r-i/</link>
<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 07:08:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>suharyanto</dc:creator>
<guid>http://suharyanto.wordpress.com/2009/06/15/p-e-n-c-u-r-i/</guid>
<description><![CDATA[(Sebuah Cerpen) Oleh: Suharyanto Aku dan istriku baru saja selesai membereskan pekarangan rumah baru]]></description>
<content:encoded><![CDATA[(Sebuah Cerpen) Oleh: Suharyanto Aku dan istriku baru saja selesai membereskan pekarangan rumah baru]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SPIRITUALISME ALA AVATAR AANG]]></title>
<link>http://curusetra.wordpress.com/2009/04/07/spiritualisme-ala-avatar-aang/</link>
<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 03:18:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>HILAL ALIFI</dc:creator>
<guid>http://curusetra.wordpress.com/2009/04/07/spiritualisme-ala-avatar-aang/</guid>
<description><![CDATA[Setelah setahun lebih, akhirnya saya bisa menyelesaikan episode terakhir dari film kartun serial kes]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Setelah setahun lebih, akhirnya saya bisa menyelesaikan episode terakhir dari film kartun serial kesayangan: <em>Avatar; The Last Airbender, </em>pada sore hari 28 September 2008 (kemaren malam [5/04/09] episode akhir film ini baru tayang di Global TV)<em>. </em>Serial yang hanya terdiri dari 61 episode ini sebetulnya bisa saya selesai tonton hanya dalam dua hari. Hanya saja, karena proses pencarian dan penantian yang agak rumit, menjadikan saya bisa menyelesaikannya selama setahun lebih.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-94" title="220px-aang_official" src="http://curusetra.wordpress.com/files/2009/04/220px-aang_official.png" alt="220px-aang_official" width="220" height="233" />Film ini sudah sangat populer di Indonesia. Sejak Global TV menyiarkannya tiap pagi dan sore, ternyata tidak sedikit yang menyukai film ini. Secara tidak sengaja, sering saya melihat orang-orang di sekitar saya (baik yang saya kenal maupun yang tidak) menonton film ini dengan rasa antusiasme yang tak tersembunyi di wajah mereka. Atau pada saat tertentu mereka membicarakannya, tanpa kami tahu bahwa masing-masing menyukai film ini.</p>
<p>Karena itu, tidaklah perlu kiranya saya menceritakan tiap tokoh dalam dalam film ini sekaligus karakter masing-masing dari mereka. Cukuplah pembaca menekuni sendiri tiap sore dan pagi di Global TV, setidaknya akan kalian temui tiap tokoh dan karakter masing-masing secara global. Namun, ada baiknya saya sebutkan satu-persatu tiap tokoh utama dari film kita ini:<!--more--></p>
<ul class="unIndentedList">
<li> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Aang">Aang</a>, si pengendali udara terakhir.</li>
<li> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Katara">Katara</a>, si pengendali air.</li>
<li> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sokka">Sokka</a>, saudara Katara.</li>
<li> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Toph">Toph</a>, si pengendali bumi.</li>
<li> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Appa">Appa</a></li>
<li> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zuko">Zuko</a>, si pengendali api.</li>
<li> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Iroh">Iroh</a>, pamannya Zuko.</li>
<li> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Azula">Azula</a>, adik Zuko.</li>
</ul>
<div id="attachment_93" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-93" title="sokka_katara_meet_aang" src="http://curusetra.wordpress.com/files/2009/04/sokka_katara_meet_aang.jpg?w=300" alt="kumpul" width="300" height="226" /><p class="wp-caption-text">kumpul</p></div>
<p>Pertama kali pertemuan saya dengan film ini, yakni ketika saya menonton episode pertama (<em>The Boy in the Iceberg</em>), tidak ada kesan khusus yang saya rasakan. Yang saya rasakan saat itu sama seperti ketika saya menonton film kartun yang lain. Namun, ketika saya mengikuti episode-episode sesudahnya, saya mulai menyadari bahwa film ini bukan film asal-asalan (seperti kebanyakan film kartun serial yang saya temui), tapi merupakan sebuah film yang digarap secara serius dan disisipi wawasan yang padat.</p>
<p>Untuk menyebut salah satu indikator keseriusan film ini, konsep empat elemen kekuatan bukanlah konsep yang asal-asalan. Dalam studi filsafat Yunani, kita akan menemukan empat elemen ini dengan sangat mudah sekali. Begitu juga dalam Budhisme, empat elemen ini adalah satu-kesatuan yang tidak terpisahkan. Hal ini dijelaskan dalam episode 29, <em>Bitter Work, </em>ketika Iroh menjelaskan teknik pengendalian apinya kepada keponakannya, Zuko: &#8220;<em>The Fire Nation symbolizes power and desire, the Earth Kingdom symbolizes endurance and diversity, the Air Nomads symbolize freedom from worldly concerns, and the Water Tribes symbolize love and community, especially in the face of change.</em>&#8221; Iroh menjelaskan sambil menggambar simbol masing-masing negara. Selanjutnya, dia meneruskan, seseorang bisa mendapatkan kebijaksanaan dengan memahami tiap-tiap elemen. Jika kebijaksanaan disimpulkan hanya dari satu tempat, ia akan jadi kaku dan pengap. Kombinasi dari keempat elemen dalam seseoranglah yang membuat Avatar begitu kuat, dan kombinasi itu bisa pula membuat seseorang menjadi kuat.</p>
<p>Contoh lain yang bisa disebutkan di sini adalah ketika Aang menemui Guru Pathik agar bisa mengajarinya menguasai Keadaan Avatar (<em>Avatar State</em>) pada episode 39, <em>The Guru. </em>Sang Guru mengatakan bahwa Aang harus menyeimbangkan dirinya sendiri dulu sebelum menyeimbangkan dunia. Untuk menguasai Keadaan Avatar, Aang harus membuka Cakra yang ada dalam tubuhnya. Tapi apa itu cakra? Dengan sangat apik sang Guru mencontohkannya dengan kolam yang tersumbat ganggang. Dengan menyingkirkan ganggang penyumbat, air di dalam kolam akan mengalir, seperti halnya energi dalam tubuh bisa mengalir jika ketujuh cakra di dalam tubuh dibuka.</p>
<p>Demikianlah, di episode ini Aang belajar membuka cakra dalam tubuhnya. Ada tujuh cakra dalam tubuh kita. Pertama, Cakra Bumi, terdapat di tulang belakang. Ia berkaitan dengan kebutuhan untuk bertahan hidup, dan dihalangi oleh rasa takut.</p>
<p>Kedua, Cakra Air, berkaitan dengan rasa bahagia, dan dihalangi oleh rasa bersalah. Sang Guru berkata bahwa Aang harus menerima apa yang telah terjadi dan agar jangan mempengaruhi penilaiannya sendiri.</p>
<p>Ketiga, Cakra Api, terdapat di dalam perut. Cakra ini berkaitan dengan kehendak-berkuasa (<em>Will power</em>) dan tersumbat oleh rasa malu.</p>
<p>Keempat, Cakra Udara. Terdapat di dalam hati, berkaitan dengan rasa cinta, dan dihalangi oleh duka cita. Sang Guru berkata bahwa cinta adalah sebentuk energi dan mengalir ke semua hal.</p>
<p>Kelima, Cakra Suara, terdapat di dalam kerongkongan. Ia berkaitan dengan kebenaran, dan dihalangi oleh dusta terhadap diri sendiri. Guru Pathik berkata bahwa semua orang harus menerima siapa dirinya, sungguhpun dia tidak pernah menginginkannya.</p>
<p>Keenam, Cakra Cahaya, bertempat di dahi, berkaitan dengan persoalan pemahaman, dan disumbat oleh ilusi-ilusi. Ilusi terbesar, kata Guru Pathik, adalah ilusi keterpisahan: segala sesuatu tampaknya terpisah-pisah, tapi kenyataannya adalah satu dan sama.</p>
<p>Terakhir, Cakra Pikiran, terdapat di ubun-ubun (<em>crown of the head</em>), berkaitan dengan energi kosmik, dan dihalangi oleh cinta duniawi. Sang Guru menyatakan bahwa jika Aang ingin energi kosmik murni kembali masuk kepadanya, dia harus menyingkirkan semua cinta duniawi, termasuk Katara. Persyaratan ini membuat Aang akhirnya memutuskan untuk tidak mendapatkan kekuatan mengendalikan Keadaan Avatarnya, dan pergi menyelamatkan Katara yang berada dalam bahaya.</p>
<p>Kalau mau disebutkan semua, tentu akan banyak sekali bukti keseriusan penggarapan film ini. Di tiap episode, saya pasti mendapatkan kata-kata bijak yang diucapkan oleh salah satu tokoh. Belum lagi kebijaksanaan yang dikemas dalam lelucon, plot, atau lain-lain.</p>
<p>Inti yang saya tangkap dari kisah Avatar ini adalah bagaimana seorang Aang, sungguhpun ia adalah sang Avatar, <em>toh </em>dia juga tetap saja manusia yang punya kelemahan dan kekurangan (apalagi dia juga masih anak-anak). Statusnya sebagai Avatar memang selalu menghantuinya sejak awal kisah karena baginya Avatar adalah status dengan tanggung jawab yang besar. Mestinya, hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi manusia normal selayaknya manusia pada umumnya. Kita kemudian dikasih tontonan bagaimana Aang merasa marah, kesal, jatuh cinta, bercanda tawa, sedih, takut, dan segala macam ekspresi emosional lainnya.</p>
<p>Puncak dari kisah Aang dan kawan-kawannya ini terdapat dalam 4 episode terakhir. Secara berurutan masing-masing berjudul: <em>Sozin&#8217;s Comet Part 1, The Phoenix King; Sozin&#8217;s Comet Part 2, The Old Masters; Sozin&#8217;s Comet Part 3, Into the Inferno; Sozin&#8217;s Comet Part 4, Avatar Aang</em>. Dari sini, hampir semua misteri yang sebelumnya masih menjadi tanda tanya di benak kita tersingkap. Kita dikasih tahu bagaimana kerajaan Omashu direbut kembali oleh Bumi dari kekuasaan Kerajaan Api; bagaimana pertemuan Zuko dengan pamannya, Iroh, setelah dia mengkhianati dan memenjarakan sang paman; kenapa Iroh sangat menyukai buah catur bergambar bunga tulip; bagaimana Kerajaan Bumi direbut kembali setelah sebelumnya sempat dikuasai Kerajaan Api; bagaimana nasib akhirnya Azula, si perempuan cantik tapi licik; dan terutama, bagaimana Ozai dikalahkan oleh Aang.</p>
<p>Satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Aang bingung untuk memutuskan apakah dia harus membunuh Ozai (membunuh bukanlah karakter Aang) atau masih adakah cara lain untuk menyelamatkan dunia? Kebingungannya ini membuatnya bertengkar dengan kawan-kawannya. Sehingga, malamnya dia berjalan dalam keadaan tidur ke suatu pulau. Di tempat ini dia mendapat ide untuk bertanya pada empat Avatar pendahulunya: Avatar Roku, Avatar Kyoshi, Avatar Kuruk dan Avatar Yangchen. Namun keempatnya menjawab, demi menyelamatkan dunia Aang harus membunuh Ozai. Hingga titik ini, Aang sadar, dia tidak punya pilihan lain. Namun, sebelum keputusan itu benar-benar bulat, Aang sadar bahwa pulau yang dia tempati itu bergerak, dan akhirnya dia tahu bahwa pulau itu adalah punggung seekor Kura-kura Singa (<em>Lion Turtle</em>). Ditanyakannya kepada Kura-kura Singa bagaimana menghentikan Ozai tanpa harus membunuhnya, dan dijawab oleh Kura-kura Singa sambil menyentuh dahi dan dada Aang dengan dua jarinya: &#8220;<em>The true mind can weather all lies and illusions without being lost. </em><em>The true heart can touch the poison of hatred without being harmed. From beginningless time, darkness thrives in the void, but always yields to purifying light.</em>&#8221; Kata ini sungguh bermakna padat dan kuat. Saya dapat rasakan itu.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenangan Natal yang Tersisa: Spiritualitas Natal dalam SMS]]></title>
<link>http://jagatalit.com/2009/01/05/kenangan-natal-yang-tersisa-spiritualitas-natal-dalam-sms/</link>
<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 17:32:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Arthur J. Horoni</dc:creator>
<guid>http://jagatalit.com/2009/01/05/kenangan-natal-yang-tersisa-spiritualitas-natal-dalam-sms/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Arthur J. Horoni Saya    mendapat 47 SMS ucapan selamat Natal di penghujung Desember 2008 yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;"><img class="alignleft size-full wp-image-905" title="foto-arthur1" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2009/01/foto-arthur1.jpg" alt="foto-arthur1" width="225" height="282" />Oleh: Arthur J. Horoni</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya    mendapat 47 SMS ucapan selamat Natal di penghujung Desember 2008 yang baru saja kita lewati. Pesan paling awal, tiba 24 Desember 2008, dari sobatku &#8212; tapi kami lebih dekat dan saling menyapa dengan sebutan “saudaraku” &#8212; seorang Muslim. Ia menulis,  “Saudaraku, Sang Mesias tak ke mana-mana. Dia senantiasa ada dalam hati manusia. Sang Mesias menghapus dosa para gembalaannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya terhenyak. Saudaraku ini paham betul spirit <em>atawa</em> roh Natal: <strong>penebusan dan pembebasan dosa umat oleh Sang Mesias</strong>. Roh Natal bukan pesta-pora gemerlap rekayasa manusia, namun karya pembebasan umat manusia dari belenggu dosa karena Allah mengasihi manusia dan alam ciptaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tentu saja saya berterimakasih sungguh atas sapaan saudaraku itu, dan saya jawab dengan mengutip baris-baris puisi Natal Sitor Situmorang: “Menyambut Kristus kita menyambut revolusi, menyambut Kristus kita membangun dunia baru.” Penyair ini melukiskan dengan tepat spirit Natal: perubahan total yang cepat. Seratus delapan puluh  derajat, menuju pemulihan: hubungan kasih dengan Allah dan kasih terhadap sesama untuk membangun dunia baru. Tentu yang lebih berkeadilan, yang membuahkan perdamaian sejati, seraya menghargai alam ciptaan Sang Khalik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Perdamaian sejati sebagai spirit Natal juga dipesankan saudaraku Muslim yang lain:  ”Selamat Hari Natal.  Semoga kedamaian Natal yang bersemayam di hati kita,  menyebar ke seluruh semesta.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ada lagi sobat dari Aceh menulis,  ”Semoga kasih sayang dan karunia Tuhan mengiringi hari-hari bahagia kita semua.” Luar biasa roh Natal yang sejati ini. Ia melintas batas. Ia memperkenankan manusia sebagai ciptaan Allah, untuk menegakkan kasih sayang yang membuahkan keadilan dan perdamaian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ada juga petuah yang saya rasakan lebih bernas dari khotbah pendeta yang sudah rutin. Datang dari saudaraku yang anak  Sukabumi.  “Tanpa kita sadari, dalam kepenuhan Allah, segala sesuatu akan menjadi baik dan menjadikan engkau tenang. Alangkah indahnya ketika Kristus masuk dalam hidupmu, melenyapkan semua kekhawatiran.  Semoga Damai Natal mewarnai kehidupan kita dalam menjalankan tugas dan aktivitas sehari-hari.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dari sobat-sobat saya yang Kristen, banyak petatah-petitih tentu saja. Syukurlah bukan khotbah. Terasa sebagai cermin akhir tahun yang menyemangati kerja. ”Saat itu Dia lahir di Betlehem. Saat ini Dia lahir di hati kita, untuk Keadilan, Perdamaian  bagi Rakyat dan Bumi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Juga ada yang berkelakar nakal, namun menyentuh untuk introspeksi: “Yang membuatmu mahal bukan dari penampilanmu, bukan dari harta yang kamu punya, tapi kamu mahal karena dalam hati dan pikiranmu ada Kristus. <em>Met Natal Yauwww</em>…&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Hahaha</em> … Tentu ini membuat saya tergelak sukacita. Ini spirit  Natal, kabar sukacita yang menumbuhkan pengharapan akan hari depan yang lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Spirit Natal ikhwal penebusan, pembebasan, perubahan, kasih, keadilan, perdamaian, belarasa, keutuhan ciptaan dan hari depan, sungguh melintas batas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Andaikan kita mau mulai mempraktekkan semua itu secara sederhana, kecil-kecilan saja, dengan tidak larut dalam pesta-pora akhir tahun, tidak mabuk belanja, tidak merugikan apalagi merampas milik orang lain, mau berbagi kasih dan keprihatinan, berdamai dengan diri sendiri, mungkin kita mampu menggulirkan perubahan ke arah hari depan yang lebih berpengharapan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Medan</strong><strong>, Awal Januari 2009</strong>.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Bouraq Machine]]></title>
<link>http://bouraqmachine.wordpress.com/2008/12/25/the-bouraq-machine/</link>
<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 16:23:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pusan Fauzan</dc:creator>
<guid>http://bouraqmachine.wordpress.com/2008/12/25/the-bouraq-machine/</guid>
<description><![CDATA[This is from Islam’s ancient story. In Islam history and believe, Muhammad fly from Mekkah to Jeruss]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>This is from Islam’s ancient story.</p>
<p>In Islam history and believe, Muhammad fly from Mekkah to Jerussalem and then to place that higher than 7th sky called Sidratul Munthaha and back again to his home only in one night. He fly with Jibril (Gabriel) using vehicle called Buraaq. On that place Sidratul Muntaha, Allah give Shalat to muhammad and muhammad teach shalat to moslems.</p>
<p>This events is “Isra’ Mi’raj”.<br />
————————————————-</p>
<p>I write this in my own version. I need to explain to you all about Bouraq, The mysterious case in Islam history, with my own opinion and my own style. This is not islamization or bla bla things.. I just need scientifically and logically solve this mysteri.</p>
<p>The Bouraq Machine .. the secret of Bouraq via BW point of view.</p>
<p>If you interest you can read that step by step in this blog&#8217;s pages.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Natal, antara Perayaan dan Peringatan]]></title>
<link>http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/12/24/natal-antara-perayaan-dan-peringatan/</link>
<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 14:15:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>teguhmanurung</dc:creator>
<guid>http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/12/24/natal-antara-perayaan-dan-peringatan/</guid>
<description><![CDATA[Menjelang Hari Natal dan Tahun Baru, banyak teman hampir selalu mengatakan, “Hari Natal dan Tahun Ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Menjelang Hari Natal dan Tahun Baru, banyak teman hampir selalu mengatakan, “Hari Natal dan Tahun Baru nanti mau liburan ke mana?” Setiap saya menjawab “akan berkumpul bersama keluarga di rumah”, pasti mereka kaget.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Reaksi ini mungkin mengambarkan pandangan saudara-saudara non-Kristen terhadap perayaan natal yang serba <em>glamour</em> dan mewah. Hal ini sebenarnya tidak mutlak benar karena sebenarnya latar sejarah kelahiran Yesus Kristus kontradiktif dengan peringatannya pada masa sekarang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Sepanjang pengetahuan saya, Yesus Kristus lahir dalam keadaan yang tragis. Ketika itu, Israel dianeksasi Romawi, bayi laki-laki dibunuh karena Kaisar Agustus telah mendengar akan ada raja besar yang lahir. Lebih dari itu, Maria dituding mengadung di luar menikah karena hubungannya dengan Yusuf hanya sebatas tunangan. Apalagi kebijakan Kaisar Agustus untuk mendata semua penduduk semakin memberatkan beban Maria yang kala itu sedang hamil tua. Dalam suasana yang serba kalut itu, Maria dan Yusuf tidak dapat menemukan tempat penginapan yang layak, dan akhirnya hanya kandang domba yang tersisa untuk tempat ia bermalam dan bersamaan dengan itu Yesus pun lahir di tempat tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Natal sebagai Peringatan </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Berkaca dari proses kelahiran Yesus Kristus, seharusnya umat Kristiani sekarang harus dapat memaknai Natal tersebut secara mendalam. Artinya, bukan kemewahan, penghambur-hamburan uang, dan segala hal yang <em>glamour</em>. Makna Natal yang sesungguhnya hanya dapat dirasakan manakala setiap orang Kristen mencoba mendekonstruksi proses kelahiran Yesus itu sendiri dan penderitaan Maria dan Yusuf. <span> </span>Bagaimana penderitaan Maria dan Yusuf yang harus berjalan jauh dalam kondisi hamil tua dan tidak ada satu orang pun yang mau menerima mereka di rumahnya, dan hanya satu orang yang akhirnya mempersilahkan mereka untuk menginap, itu pun di kandang domba. Anehnya, Yesus yang “dianggap” raja itu lahir di tempat yang tidak semestinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Kalaupun agak sulit untuk membayangkan proses kelahiran Yesus itu sendiri, dalam menghadapi Natal, seorang Kristen paling tidak harus mempunyai hati yang bersih untuk memperingati hari Natal ini. Harus ada niat tulus, misalnya, pergi ke gereja bukan semata-mata agenda tahunan, selain Hari Paskah, tetapi ada keinginan untuk menyambut Yesus sebagai juru selamat manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Lebih indah rasanya apabila setiap orang Kristen dapat merayakan Natal dengan penuh kesederhanaan. Bukan dengan baju baru, pohon natal, hidangan yang mewah, dan lain sebagainya, tetapi sebuah kesahajaan dan tidak berpusat kepada spiritualitas. Hal ini bias diwujudkan, misalnya, dengan pergi ke suatu tempat yang sunyi, tanpa segala hal yang berlebihan, berdoa, merenung, dan merefleksikan diri tentang makna kelahiran Yesus itu sendiri. Dengan begitu, diharapkan kehangatan Natal akan lebih berarti dan berkesan bagi kehidupan umat manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Natal sebagai Perayaan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Yesus merupakan suatu pribadi yang luar biasa. Dalam Alkitab diceritakan bahwa misi kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk mneghapuskan dosa manusia. Akan tetapi, seperti yang dikemukakan di atas, awal kehidupan kehidupannya selalu dilingkupi oleh penderitaan. Hal ini bahkan terjadi pada saat ia dewasa, bahkan sampai proses penyalibannya. Namun begitu, ia tetap menjadi pribadi yang sederhana, mau melayani, dan tidak mau menimpakan beban hidupnya kepada orang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Walaupun dalam latar historis yang tidak mengenakkan, namun Yesus sendiri tidak ingin mengajak umatnya untuk merasakan penderitaannya dalam setiap peringatan kelahirannya. Sebaliknya, Natal menjadi perayaan, sebuah titik balik kehidupan manusia ketika sang mesias lahir ke dunia ini untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Itulah sebabnya, dalam setiap perayaan Natal, umat Kristiani selalu mengedepankan sukacita, selain damai, baik dalam kebaktian di gereja maupun segala kegiatan di luar gereja. Hal yang menjadi masalah adalah ketika makna sukacita ini diterjemahkan dengan cara menghambur-hamburkan uang, yang sebenarnya jauh tidak penting daripada memaknai natal dengan cara menebarkan sukacita natal itu melalui ucap kata, gerak-gerik, dan pikiran kepada seluruh umat manusia. Bukankah Yesus pernah mengatakan “Jadilah garam dan terang dunia”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Perayaan Natal dengan penuh kesukacitaan merupakan makna Natal yang terindah. Akan tetapi hendaknya rasa sukacita ini tidak disalahartikan sehingga menciptakan streotip di lingkungan masyarakat non-Kristiani bahwa inti dari perayaan Natal itu harus serba mewah dan <em>glamour</em>. Hal ini bukan saja berpotensi menciptakan kesenjangan sosial di tengah masyarakat, tetapi juga telah mencederai makna Natal itu sendiri. Rayakan Natal dengan sukacita, yaitu dengan cara menebarkan benih kedamaian ke seluruh dunia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Selamat Natal dan Tahun Baru. Jadikan Natal sebagai peringatan dan perayaan yang tidak mengedepankan unsure materi tetapi spritualitas sehingga pesan universal Natal dapat sampai dan diterima seluruh manusia di bumi ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong> </strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Noisy = Bising]]></title>
<link>http://mocher.wordpress.com/2008/12/09/noisy-bising/</link>
<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 09:16:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>mocher</dc:creator>
<guid>http://mocher.wordpress.com/2008/12/09/noisy-bising/</guid>
<description><![CDATA[Ya,  Noisy / bising / kegaduhan itulah yang meliputi kehidupan manusia dewasa ini. Nerima atau nggak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ya,  Noisy / bising / kegaduhan itulah yang meliputi kehidupan manusia dewasa ini. Nerima atau nggak]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya]]></title>
<link>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-sang-pendekar-cahaya/</link>
<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 21:35:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
<guid>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-sang-pendekar-cahaya/</guid>
<description><![CDATA[The warrior knows that the most important words in all languages are the small words. Yes. Love. God]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-737" title="paulo-coelho-desert-in-the-gulf" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/paulo-coelho-desert-in-the-gulf.jpg?w=300" alt="paulo-coelho-desert-in-the-gulf" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;">The warrior knows </span></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;">that the most important words in all languages</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;"> are the small words. </span></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;">Yes. Love. God. </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#333399;"><span style="font-family:Georgia;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em></em><strong><span style="font-family:Georgia;">(</span><span style="font-family:Georgia;">Paulo Coelho</span></strong><strong><span style="font-family:Georgia;">)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Sudah lama saya ingin menulis tentang Paulo Coelho. Tetapi saya tak pernah bisa menentukan, dengan kalimat apa saya harus memulainya. Orang ini “terlalu besar” buat saya. Di usianya yang sudah tergolong tua &#8212; dilahirkan di Rio de Janeiro, Brazil, 1947 – ia justru semakin produktif. Sudah belasan novel spiritual yang ditulisnya, dan novel-novel itu telah diterjemahkan ke sekitar 56 bahasa di dunia. Beberapa novel hasil karyanya menjadi <em>best seller</em>s internasional, dan terjual dalam puluhan juta <em>copy</em>. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Jumlah penggemarnya mencapai puluhan juta orang, tersebar di sekitar 150 negara. Novel-novel yang ditulisnya telah memberikan inspirasi bagi puluhan juta pembacanya, karena umumnya berisi renungan tentang kehidupan. Renungan tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup, menyiasati takdir, dan berhubungan dengan sesama manusia dengan landasan Cinta. Bahkan lebih jauh dari itu, dalam berbagai novelnya, Paulo Coelho selalu menyiratkan bahwa hidup yang dianugrahkan Tuhan harus senantiasa disyukuri, dengan cara menjalani hidup secara ikhlas dan sebaik-baiknya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Nuansa spiritual yang diwarnai ajaran berbagai agama (terutama agama-agama Timur Tengah), terasa sangat kental dalam novel-novelnya seperti </span></span><em><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">The Alchemist, The </span></span><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> Pilgrimage, The Zahi</span></span></em><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><em>r</em>, dan <em>The Fifth Mountain</em>. Ada juga novel-novel psikologis seperti <em>Brida, Veronika Dicides to Die, Eleven Minutes, The Devil and Miss Prym</em>, atau <em>By the River Piedra I Sat Down and Wept. </em>Kesemua novelnya berisi renungan tentang kehidupan, meski masing-masing novelnya ditulis dengan gaya penuturan dan <em>angle</em> yang berbeda.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="size-medium wp-image-688 aligncenter" title="coelho-lagi3" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/coelho-lagi3.jpg?w=300" alt="coelho-lagi3" width="300" height="210" /><img class="alignnone size-medium wp-image-689" title="paulo-coelho-memanah" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/paulo-coelho-memanah.jpg?w=300" alt="paulo-coelho-memanah" width="300" height="199" /><br />
</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tetapi Paulo Coelho bukan “hanya” seorang novelis. Ia juga seorang penutur kebijakan atau pendakwah lintas agama. Dakwah-dakwahnya bisa dilihat melalui berbagai situs <em>online</em> yang ia miliki, seperti </span><span style="font-family:Georgia;"><a href="http://paulocoelhoblog.com/" target="_blank">paulocoelhoblog.com</a> dan <a href="http://www.warriorofthelight.com/">www.warriorofthelight.com.</a> Berikut, salah satu renungan spiritualnya, pada <a href="http://paulocoelhoblog.com/" target="_blank">http://paulocoelhoblog.com</a>:<br />
</span></span>
</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Pilgrimage is a duty in Muslim and Christian religions, do you think that’s the plan of God for human beings to actually travel in their souls? </span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;">We are all on a pilgrimage whether we like it or not and the target, or goal, the real Santiago, if you like, is going from birth to death. You must get as much as you can from the journey, because &#8211; in the end &#8211; the journey is all you have. It doesn’t matter what you accumulate in terms of material wealth, because you are going to die anyway, so why not live? When you realize that you can be brave and that is the first tenant of any spiritual quest &#8211; to take risks.</span></em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Jika Paulo Coelho Blog berisi renungan harian yang di-<em>update</em> setiap hari dengan berbagai isu keseharian, Warrior of the Light berisi renungan yang lebih mendalam dan di-<em>update</em> secara bulanan. Renungan-renungan itu biasanya dilengkapi kutipan ajaran-ajaran sipiritual,  yang berasal dari  khasanah berbagai agama dan kebudayaan, termasuk kata-kata bijak dari para Sufi. Sesuai dengan nama situsnya &#8212; Warrior of the Light atau Pendekar Cahaya &#8212; melalui situs ini Coelho bermaksud mengajak semua orang untuk selalu mencari Cahaya Kebenaran dalam hidupnya. Dan, Cahaya Kebenaran itu, sudah ada tuntunannya dalam berbagai kebudayaan dan agama.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-690" title="coelho1" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/coelho1.jpg?w=300" alt="coelho1" width="300" height="200" /><img class="aligncenter size-medium wp-image-691" title="coelho3" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/coelho3.jpg?w=300" alt="coelho3" width="300" height="200" /></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Melalui Warrior of the Light maupun Paulo Coelho Blog, sang mestro ini seakan ingin mengatakan bahwa semua agama hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni mengagungkan Tuhan dan menghormati kehidupan (baik kehidupan diri kita sendiri maupun kehidupan orang lain). Sehingga agama tidak perlu saling dipertentangkan, karena masing-masing memiliki kebenaran (yang hakikatnya, sama). Berikut, salah satu <em>postingan</em> Paulo Coelho, dalam Warrior of the Light, dengan topik <em>The Languanges that God Speaks</em>:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Below are some of those prayers:</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
<strong><span style="font-family:Georgia;">Dhammapada (attributed to Buddha)</span></strong><strong><br />
</strong><strong><span style="font-family:Georgia;"> </span></strong>Instead of a thousand words,<br />
Better just one,<br />
One that brings peace.<br />
Instead of a thousand verses,<br />
Better just one,<br />
One that shows beauty.<br />
Instead of a thousand songs,<br />
Better just one,<br />
One that spreads joy.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Mevlana Jelaluddin Rumi, 13th century</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
Out there, besides what is right and what is wrong, there is an enormous field.<br />
That is where we will meet.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Prophet Mohammed, 7th century</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
<strong><span style="font-family:Georgia;"> </span></strong></span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;">Oh Allah! I come to you because you know all, even what is hidden.<br />
If what I am doing is good for me and my religion, for my life now and later, then let the task be easy and blessed.<br />
If what I am doing now is bad for me and my religion, for my life now and later, then keep me far from this task.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Jesus of Nazareth, Matthew 7;7-8</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
Ask, and it shall be given you;<br />
seek and you shall find;<br />
knock, and it shall be opened unto you:<br />
For every one that asks receives;<br />
and he that seeks finds:<br />
And to him that knocks,<br />
it shall be opened.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Jewish prayer for peace</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"> We shall go the mountain of the Lord, where we shall walk with Him. We shall change our swords into plows and our spears into baskets for harvesting fruit.<br />
Let no nation raise its sword against another, and let us never learn the art of war. And no-one should fear his neighbor, because thus spoke the Lord.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Lao Tsu, China – 6th century B.C.</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
For there to be peace in the world, the nations must live in peace.<br />
For there to be peace among nations, cities must not rise up against one another. For there to be peace in the cities, neighbors must get on well with one another. For there to be peace among neighbors, harmony must reign in the home. For there to be harmony at home, it must be found in your own heart.</span></em></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-full wp-image-686" title="warrior-of-the-light-online" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/warrior-of-the-light-online.jpg" alt="warrior-of-the-light-online" width="324" height="74" /></span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Paulo Coelho, tampaknya sangat menyadari keampuhan media internet. Sehingga ia pun memanfaatkan jaringan sosial <em>online</em> seperti Facebook. Di Facebook,  ia bisa ditemui melalui <a href="http://www.facebook.com/home.php?#/group.php?gid=2391842607" target="_blank">Paulo Coelho Fans Club</a>, halaman khusus <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=5383259567#/pages/Paulo-Coelho/11777366210" target="_blank">Paulo Coelho</a> dan <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=5383259567" target="_blank">The Best of Paulo Coelho</a>. Meski jaringan ini dikelola oleh para penggemarnya, Coelho sering pula menjawab langsung pertanyaan-pertanyaan para penggemarnya melalui Facebook. Induk dari semua situs milik Paulo Coelho, adalah <a href="http://www.paulocoelho.com/">www.paulocoelho.com</a>. Tentu saja Coelho tidak sendirian mengelola situs-situsnya. Ada pekerja khusus yang menanganinya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Melalui situs-situs tersebut, kita juga bisa mengetahui kegiatan harian sang maestro. Jadwalnya sangat padat. Hampir setiap hari, Coelho memberikan ceramah di berbagai negara. Ceramah-ceramahnya bisa diakses melalui <a href="http://www.paulocoelho.com.br/engl/index.html" target="_blank">You Tube</a>, dan foto-fotonya bisa diunduh melalui <a href="http://www.paulocoelho.com.br/engl/index.htm" target="_blank">www.flickr.com</a>. Termasuk kata-kata bijaknya yang dikemas dalam format JPEG. Selain dalam bahasa Inggris, situs-situs ini tersedia dalam bahasa-bahasa lainnya seperti Portugis, Spanyol, Itali, Prancis, Belanda, Jerman, Polandia, Arab, Rusia, Cina, Persia. Sayangnya, belum ada yang berbahasa Indonesia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-741" title="coelho-lagi1" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/coelho-lagi1.jpg" alt="coelho-lagi1" width="300" height="380" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Paulo Coelho, tidak hanya bicara soal cinta dan kemanusiaan. Anjuran-anjurannya kepada semua orang agar peduli pada nasib sesama, juga diwujudkan dalam bentuk kongkret. Pada 1996, ia mendirikan Paulo Coelho Intitute. Sebuah lembaga nirlaba yang juga bernama Creche Escola Meninos da Luz, Lar Paulo de Tarso. Lembaga sosial yang berpusat di Rio de   Janeiro, Brazil, itu menampung dan menghidupi ratusan anak terlantar dan orang-orang lanjut usia, hingga sekarang. Biaya pengelolaannya berasal dari <em>royalties</em> buku-buku yang ditulis Paulo Coelho. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-full wp-image-694" title="coelho-institute2" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/coelho-institute2.jpg" alt="coelho-institute2" width="301" height="411" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Dalam usianya yang semakin tua, Paulo Coelho tampaknya tak pernah kehabisan gagasan. Semangat hidupnya semakin tinggi. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang selalu diajaknya untuk menjadi pendekar cahaya, pencari kebenaran. Sementara bagi orang-orang yang tidak mampu, Coelho berupaya membantu mereka agar dapat melihat cahaya kehidupan. Cahaya yang dianugerahkan Sang Pencipta. Berlebihankah saya, bila saya mengatakan bahwa Paulo Coelho adalah seorang Sufi modern?</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Georgia;">Billy Soemawisastra</span></strong></span></p>
<h5 style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Georgia;"><span style="color:#003366;"><em>[Sumber tulisan dan foto:<a href="http://www.paulocoelho.com/" target="_blank"> www.paulocoelho.com</a>, <a href="http://www.warriorofthelight.com/" target="_blank">www.warriorofthelight.com</a>, <a href="http://paulocoelhoblog.com/" target="_blank">paulocoelhoblog.com</a>]</em></span></span></strong></span></h5>
<h4><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Georgia;"> </span></strong></span></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">
<p class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> </span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya]]></title>
<link>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-dan-perjalanan-hidupnya/</link>
<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 21:28:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
<guid>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-dan-perjalanan-hidupnya/</guid>
<description><![CDATA[Brazil, negeri bekas jajahan Portugis di Amerika Selatan itu, hanyalah sebuah negara berkembang. Dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Brazil, negeri bekas jajahan Portugis di Amerika Selatan itu, hanyalah sebuah negara berkembang. Dan, sebagaimana umumnya negara berkembang, kegiatan tulis-menulis alias kesastraan, taklah mampu menopang hidup para sastrawannya. </span></span><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Apatah lagi membuat seorang sastrawan menjadi kaya raya dari hasil karyanya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> Puluhan tahun lalu, masyarakat Brazil pun bahkan mungkin tidak pernah membayangkan akan memiliki seorang sastrawan yang tersohor ke seantero jagat, dan ikut mengharumkan nama negerinya. Apalagi sastrawan yang namanya kini mendunia itu, pernah dikenal sebagai &#8220;anak nakal&#8221; pencandu mariyuana dan anggota kaum urakan alias hippies. Ia pun pernah dipenjara karena dianggap menentang pemerintah.<br />
</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Anak nakal itu bernama Paulo Coelho, yang sempat dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena dikira terkena ganguan mental. Padahal di dalam diri anak itu, terpendam bakat yang sangat kuat. Bakat seni yang menuntunnya menjadi penyair, pemain teater dan penulis lirik lagu. Ia pun mencoba menulis novel, namun  novel-novel awal yang ditulisnya tidak mendapat sambutan masyarakat, hingga ia pun sempat frustrasi. Barulah setelah novelnya, <em>The Alchemist</em>, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan menjadi novel terlaris, nama Paulo Coelho melejit menjadi salah seorang novelis paling terkenal di tingkat dunia, dan membuat bangga masyarakat Brazil.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-712" title="coelho_santiago" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/coelho_santiago.jpg?w=300" alt="coelho_santiago" width="300" height="201" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Paulo Coelho dilahirkan di tengah sebuah keluarga kelas menengah, di Rio de Janeiro, Brazil, 1947. Ayahnya, Pedro, adalah seorang insiyur, dan ibunya, Lygia, seorang ibu rumah tangga. Pada usia 7 tahun, Paulo dimasukkan ke sekolah Jesuit San Ignacio, Rio de Janeiro. Bakat menulisnya sudah terlihat di sekolah ini. Ia sering menulis puisi dan esei sastra, hingga ia pun memenangkan juara pertama dalam lomba penulisan puisi di sekolahnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Pedro dan Lygia tidak begitu bergembira dengan prestasi Paulo di bidang tulis-menulis. Kedua orangtua ini mencita-citakan anaknya menjadi insinyur, mengikuti jejak sang ayah. Melihat perilaku Paulo yang berbeda dari anak-anak lainnya,  Pedro dan Lygia khawatir putranya terkena gangguan mental. Pada usia 17 tahun, dua kali ia dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa untuk mendapatkan terapi psikiatri. Hasilnya, ia dinyatakan sehat secara mental.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tidak lama kemudian ia aktif  di teater, dan bekerja sebagai wartawan. Lagi-lagi orangtua Paulo gundah. Di kalangan masyarakat kelas menengah Brazil, ketika itu, teater dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bermoral. Untuk ketiga kalinya, Pedro dan Lygia membawa Paulo ke dokter jiwa, dan psikiater yang memeriksanya, dengan tegas mengatakan bahwa Paulo Coelho tidak menderita gangguan mental.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="alignleft size-medium wp-image-717" title="veronika" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/veronika.jpg?w=199" alt="veronika" width="199" height="300" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Apa yang dilakukan orangtuanya justru membuat Paulo depresi. Ia merasa kehidupan pribadinya terlalu jauh dicampuri. Pengalaman batinnya ini ia tuangkan 13 tahun kemudian, ke dalam sebuah novel yang diterbitkan di Brazil, 1988, <em>Veronika Decides to Die</em>. “Saya mendapatkan lebih dari 12.000 email,” ujar Coelho. “Berisi pengakuan bahwa apa yang saya tuangkan dalam novel itu, punya banyak kemiripan dengan pengalaman mereka.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tahun 1960-an, adalah era <em>flower generation</em>. Kehidupan hippies mewabah di seluruh dunia. Termasuk di Brazil.  Paulo, yang baru menginjak  usia 20-an dan gemar bertualang itu menyemplungkan diri ke dalam kehidupan kaum hippies. Ia memanjangkan rambutnya, dan sempat pula menjadi pencandu obat terlarang. Kegiatan berteaternya semakin meningkat, dan hobi menulisnya semakin menjadi-jadi. Pernah ia mencoba menerbitkan majalah, namun hanya tahan dua terbitan. Sementara itu, ia <em>drop out</em> dari sekolah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Awal 1970-an, atas ajakan Raul Seixas, seorang musisi dan <em>composer</em> Brazil, Paulo menulis lirik lagu. Lagu-lagu yang liriknya dibuat oleh Paulo Coelho, banyak yang menjadi <em>top hit</em> di Brazil. Bahkan salah satu album rekaman lagu-lagunya, terjual sebanyak 500 ribu keping piringan hitam. Itulah awal dirinya mengenal uang dalam jumlah besar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Kerja sama Paulo Coelho dengan Raul Seixas berlanjut hingga 1976. Selama itu lebih dari 60 lagu ditulisnya bersama Raul. Pada masa itu pula Paulo dan Raul aktif dalam pergerakan memperjuangkan kebebasan berpendapat. Di antaranya dengan menerbitkan buku-buku komik berjudul <em>Kring-ha</em>, sebagai sindiran atas tindakan represif pemerintah Brazil terhadap rakyatnya. Akibatnya Paulo dan Raul pun dipenjara dengan tuduhan  subversif. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Selepas dari penjara, Paulo Coelho mendapatkan pekerjaan tetap di perusahaan rekaman Polygram, dan menikah dengan isteri pertamanya. Tahun 1977, ia pindah ke London, mencoba mengadu nasib sebagai penulis, namun tak banyak mendatangkan hasil. Ia pun kembali ke Brazil, dan bekerja di perusahaan rekaman lainnya, CBS. Namun kehidupan rumah tangganya porak-poranda.  Ia pun bercerai dari isteri pertamanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tahun 1979, ia berjumpa teman lamanya, Christina Oiticica, yang kemudian dinikahinya hingga sekarang. Setelah menikah, pasangan suami-isteri ini mengadakan perjalanan keliling Eropa. Singgah di berbagai negara. Di Jerman, ketika ia berkunjung ke bekas kamp konsentrasi di Dachau, Paulo mengaku bertemu dengan orang misterius yang menyampaikan visi tentang masa depannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Dua bulan kemudian, di sebuah café di Amsterdam, ia berjumpa orang yang sama. Kali ini ia mengobrol cukup lama dengan orang yang tidak disebutkan jatidirinya itu. Orang itu menganjurkan agar Paulo kembali memperdalam Katolikisme, dan mempelajari simbol-simbol Kristiani. Orang itu juga menganjurkan agar perjalanan Paulo Coelho dilanjutkan dengan menelusuri Road to Santiago (rute perjalanan ziarah abad pertengahan, yang membentang antara Prancis dan Spanyol). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="alignleft size-medium wp-image-714" title="the-pilgrimage" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/the-pilgrimage.jpg?w=198" alt="the-pilgrimage" width="198" height="300" />Paulo pun mengikuti anjuran orang tersebut. Ia  melakukan perjalanan ziarah Road to Santiago, pada 1986. Setahun kemudian, pengalamannya itu ia tuangkan dalam novel berjudul, <em>The Pilgrimage</em>. Buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbit kecil di Brazil, dan tidak banyak memperoleh sambutan. Tahun 1988, ia mencoba menulis novel yang sama sekali berbeda dari novel sebelumnya, <em>The Alchemist</em>. Sebuah novel yang penuh metapora dan simbol-simbol kehidupan, dipadu dengan pengetahuannya tentang ilmu kimia, yang pernah ia pelajari selama 11 tahun. Buku ini pun ternyata tidak memperoleh sambutan yang memuaskan. Edisi pertamanya hanya terjual 900 eksemplar, dan penerbitnya tidak mau lagi mencetak ulang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> <img class="alignright size-medium wp-image-715" title="alchemist" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/alchemist.jpg?w=198" alt="alchemist" width="198" height="300" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tetapi ternyata masih ada kesempatan kedua. Tahun 1990, sebuah penerbit buku yang cukup besar, Rocco, menerbitkan novelnya, <em>Brida</em>. Sebuah novel tentang cinta dan pengorbanan, yang kemudian laris terjual. Kesuksesan Coelho dengan <em>Brida</em>, membuat para pembaca melirik kembali dua novel yang pernah terbit sebelumnya, <em>The Alchemist</em> dan <em>The Pilgrimage</em>. Tak dinyana, kedua novel itu berhasil menjadi <em>best sellers,</em> dan justru mengalahkan popularitas <em>Brida</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Sambutan terhadap <em>The Alchemist</em>, tidak hanya terbatas pada pembaca Brazil. Beberapa penerbit dari negara lain tertarik untuk menerjemahkan dan menerbitkannya di negara masing-masing. Novel yang semula ditulis dalam bahasa Portugis itu, kemudian muncul dalam berbagai bahasa. <em>The Alchemist</em> dan <em>The Pilgrimage</em> menjadi buku yang paling banyak dicetak ulang di Brazil dan Portugis, dan bahkan kemudian di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Guinnes Book of Records  pun mencatat <em>The Alchemist</em>, sebagai buku yang paling laris di dunia dan  buku yang paling banyak diterjemahkan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><em><img class="alignleft size-medium wp-image-768" title="brida2" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/brida2.jpg?w=185" alt="brida2" width="185" height="300" />The Alchemist, </em>yang kemudian menjadi maskotnya Paulo Coelho, sedikitnya telah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa, dan dibaca di 150 negara. Kesuksesan Paulo Coelho dengan <em>The Alchemist</em>-nya, terus berlanjut pada buku-buku novel berikutnya, yang juga diterjemahkan ke sejumlah bahasa dan dibaca di banyak negara. Di Indonesia, kini bahkan dengan mudah kita bisa menemukan karya-karya Paulo Coelho versi bahasa Indonesia di berbagai toko buku, yang umumnya diterbitkan oleh penerbit Gramedia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Bukan hanya <em>The Alchemist</em>, yang semakin laris. Tetapi juga buku-buku Paulo Coelho lainnya seperti <em>The Zahir, Fifth Mountain, Eleven Minutes, By The River Piedra I Cry and I swept, The Devil and Miss Prym</em>, serta buku-buku lainnya. Ada juga <em>The Warrior of The Light</em>, sebuah buku berisi esei tentang kehidupan, cinta dan Tuhan. Sayangnya buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ini merupakan versi cetak dari website <a href="http://www.warriorofthelight.com/">www.warriorofthelight.com</a>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="size-medium wp-image-719 alignnone" title="the-zahir" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/the-zahir.jpg?w=185" alt="the-zahir" width="185" height="300" /><img class="size-medium wp-image-721 alignnone" title="11-minutes" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/11-minutes.jpg?w=197" alt="11-minutes" width="197" height="300" /><img class="size-medium wp-image-722 alignnone" title="river-piedra" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/river-piedra.jpg?w=199" alt="river-piedra" width="189" height="281" /><img class="size-medium wp-image-723 alignnone" title="the-devil-and-miss-prym" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/the-devil-and-miss-prym.jpg?w=204" alt="the-devil-and-miss-prym" width="193" height="284" /><img class="size-medium wp-image-724 aligncenter" title="warrior-of-the-light" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/warrior-of-the-light.jpg?w=199" alt="warrior-of-the-light" width="199" height="300" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tahun 2000, Paulo Coelho berkunjung ke Iran. Ia merupakan penulis non-Muslim pertama sejak 1979, yang melakukan kunjungan resmi ke Iran. Ia datang ke negeri itu atas undangan  The International for Dialogue Among Civilizations. Semula ia merasa pesimis dan khawatir bahwa masyarakat Iran akan menyambutnya dengan sikap dingin, karena ia seorang penulis non-Muslim. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tetapi kenyataan yang ditemuinya, justru sebaliknya.  Ia tak hanya disambut dengan penuh kehangatan, namun juga memperoleh <em>royalties</em> yang cukup besar dari pemerintah Iran, atas buku-bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persia dan dibaca secara luas oleh masyarakat Iran. Paulo Coelho pun menjadi pengarang non-Muslim pertama, yang mendapatkan <em>royalties</em> hak cipta dari pemerintah Iran.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-725" title="coelho-lagi2" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/coelho-lagi2.jpg?w=300" alt="coelho-lagi2" width="300" height="199" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Ribuan penggemarnya di Iran berbondong-bondong untuk memperoleh tanda tangan Paulo Coelho, dan mendengarkan ceramahnya. Paulo Coelho tidak pernah membayangkan dirinya akan memperoleh sambutan yang luar biasa, di negeri berpenduduk mayoritas Muslim itu. “Saya telah memperoleh banyak penghargaan. Saya telah memperoleh banyak cinta. Tetapi di atas semua itu, saya memperoleh banyak pengertian dari Anda semua atas karya-karya saya, dan semua ini sangat menyentuh lubuk hati saya terdalam,” ujar Coelho, dengan penuh haru.<br />
</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">“Sungguh merupakan kejutan yang sangat besar bagi saya,” lanjut Coelho. “Jiwa saya telah datang ke sini sebelum diri saya. Buku-buku saya telah dipersembahkan dan saya menemukan teman-teman lama di antara orang-orang yang tidak pernah saya kenal sebelum ini. Sehingga saya pun  tidak merasa menjadi orang asing di negeri ini. Saya merasakan kebahagiaan yang amat sangat, dan kini saya percaya bahwa dialog antar-manusia, dari hati ke hati, bisa dilakukan di mana pun. Iran telah membuktikan hal itu.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="size-medium wp-image-726 aligncenter" title="paulo-bersama-fans-di-teater-palacio-valdes" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/paulo-bersama-fans-di-teater-palacio-valdes.jpg?w=300" alt="paulo-bersama-fans-di-teater-palacio-valdes" width="300" height="202" /><img class="alignnone size-medium wp-image-727" title="coelho-dan-para-penggemarnya" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/coelho-dan-para-penggemarnya.jpg?w=300" alt="coelho-dan-para-penggemarnya" width="300" height="205" /><br />
</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Penghargaan pemerintah dan masyarakat Iran terhadap Paulo Coelho, membuktikan bahwa penulis besar ini bisa diterima semua kalangan, karena karya-karyanya yang universal dan menyuarakan kemanusiaan. Terutama juga karena spirit pluralisme yang dimilikinya, yang memandang dunia ini sebagai dunia yang penuh keragaman. Ini tercermin dari tulisan-tulisannya yang sering mengacu pada berbagai ajaran agama dan kebudayaan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Cukup banyak penghargaan yang telah didapatkan Paulo Coelho, dari berbagai lembaga di dunia. Dan, jutaan dollar telah diraihnya dari hasil penjualan buku-bukunya, sehingga ia pun berada dalam jajaran para penulis terkaya di dunia. Tetapi sebagian harta yang didapatnya, ia hibahkan untuk membantu masyarakat miskin di negerinya. Ia juga tak pernah berhenti mengajak semua orang untuk terus menjalin saling pengertian, agar tercipta dunia yang damai bagi semua. Itu sebabnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun memintanya menjadi Duta PBB untuk perdamaian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Billy Soemawisastra</span></span></strong></p>
<h5 class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><em>[Sumber tulisan dan foto: <a href="http://www.paulocoelho.com/" target="_blank">www.paulocoelho.com</a>]</em></span></span></strong></h5>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beberapa Renungan Paulo Coelho]]></title>
<link>http://jagatalit.com/2008/12/09/beberapa-renungan-paulo-coelho/</link>
<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 21:13:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
<guid>http://jagatalit.com/2008/12/09/beberapa-renungan-paulo-coelho/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="size-full wp-image-697 aligncenter" title="coelho-lagi5" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/coelho-lagi5.jpg" alt="coelho-lagi5" width="300" height="372" /></p>
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-698" title="renungan-coelho11" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/renungan-coelho11.jpg?w=300" alt="renungan-coelho11" width="301" height="301" /></p>
<p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-699 aligncenter" title="renungan-coelho2" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/renungan-coelho2.jpg?w=300" alt="renungan-coelho2" width="303" height="303" /><img class="size-medium wp-image-700 aligncenter" title="renungan-coelho3" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/renungan-coelho3.jpg?w=300" alt="renungan-coelho3" width="301" height="301" /><img class="size-medium wp-image-701 aligncenter" title="paulo-coelho2" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/paulo-coelho2.jpg?w=219" alt="paulo-coelho2" width="301" height="414" /><img class="size-medium wp-image-702 aligncenter" title="renungan-coelho4" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/renungan-coelho4.jpg?w=300" alt="renungan-coelho4" width="301" height="301" /><img class="aligncenter size-full wp-image-703" title="renungan-coelho5" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/renungan-coelho5.jpg" alt="renungan-coelho5" width="302" height="167" /><img class="size-full wp-image-705 alignnone" title="renungan-coelho61" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/renungan-coelho61.jpg" alt="renungan-coelho61" width="302" height="165" /><img class="aligncenter size-full wp-image-706" title="renungan-coelho7" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/renungan-coelho7.jpg" alt="renungan-coelho7" width="300" height="166" /><img class="aligncenter size-medium wp-image-707" title="paulo-coelho1" src="http://jagatalit.wordpress.com/files/2008/12/paulo-coelho1.jpg?w=222" alt="paulo-coelho1" width="301" height="406" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Atas Nama Tuhan…..   ]]></title>
<link>http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/11/14/atas-nama-tuhan%e2%80%a6/</link>
<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 08:53:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Robert Manurung</dc:creator>
<guid>http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/11/14/atas-nama-tuhan%e2%80%a6/</guid>
<description><![CDATA[TAK SEORANG PUN yang berhak mengklaim sebagai wakil Tuhan di dunia ini. Oleh : Robert Manurung KITA ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[TAK SEORANG PUN yang berhak mengklaim sebagai wakil Tuhan di dunia ini. Oleh : Robert Manurung KITA ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tuhan Rohmatilah Kami]]></title>
<link>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/27/tuhan-rohmatilah-kami/</link>
<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 05:55:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pusan Fauzan</dc:creator>
<guid>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/27/tuhan-rohmatilah-kami/</guid>
<description><![CDATA[segala yang ada di langit dan di bumi tidak akan bisa menyelamatkan kami dari murkaMu .. Hanya Engka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>segala yang ada di langit dan di bumi tidak akan bisa menyelamatkan kami dari murkaMu ..<br />
Hanya Engkau sendiri yang bisa menyelamatkan kami..<br />
Wahai Engkau yang dicintai segenap makhlukMu ..<br />
Kami memohon pertolongan dengan NamaMu ..<br />
Kami memohon ridhoMu ..<br />
Kami tidak berdaya .. Engkau lah yang bisa menguatkan kami<br />
Ampuni kami &#8230;<br />
Engkau Maha Sabar dan Maha Halus &#8230;<br />
Maha Pemaaf lagi Maha Bijaksana &#8230;<br />
Wahai Engkau yang jauh diatas segenap pujian ..<br />
Rohmatilah kami &#8230;..</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p>by Pusan Fauzan</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tuhan Tolonglah Kami]]></title>
<link>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/27/tuhan-tolonglah-kami/</link>
<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 05:55:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pusan Fauzan</dc:creator>
<guid>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/27/tuhan-tolonglah-kami/</guid>
<description><![CDATA[Tuhan .. hamba mohon hujanilah kami dengan hujan rohmatMu .. Hanya Engkau satu-satunya yang bisa men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tuhan .. hamba mohon hujanilah kami dengan hujan rohmatMu ..<br />
Hanya Engkau satu-satunya yang bisa menolong kami<br />
Dendam dalam hati kami adalah kelemahan kami ..<br />
Tolonglah kami &#8230;. Tolonglah kami .. Tolonglah kami &#8230;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>by Pusan Fauzan</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Didikan Luqman Kepada Anaknya]]></title>
<link>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/24/didikan-luqman-kepada-anaknya/</link>
<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 12:35:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pusan Fauzan</dc:creator>
<guid>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/24/didikan-luqman-kepada-anaknya/</guid>
<description><![CDATA[Didikan Luqman kepada anaknya Menuruti orang itu memang nggak ada habisnya, seperti kisah Luqman saa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2>Didikan Luqman kepada anaknya</h2>
<p>Menuruti orang itu memang nggak ada habisnya, seperti kisah Luqman saat mendidik anaknya, diajaknya anaknya kepasar dengan membawa keledai. Awalnya Luqman yang naik keledai itu. Lewatlah di suatu desa. Orang-orang disitu berteriak mencemooh. &#8220;Lihatlah itu,  seorang Bapak yang tega pada anaknya. Udara panas begini, anaknya disuruh jalan kaki sedang Bapaknya enak-enak di atas keledai.&#8221; . &#8220;Catat itu anakku &#8220;kata Luqman, kemudian ganti dia yang berjalan sedang anaknya dinaikkan keledai. Lewatlah mereka di satu desa lagi. Orang-orang di desa itu melihat mereka dengan mencemooh,&#8221;Lihat itu , jaman sudah edan, itulah contoh anak durhaka pada orang tua, anaknya enak-enak naik keledai, sedang Bapaknya yang sudah tua disuruh jalan kaki diudara panas seperti ini&#8221;.&#8221;Catat itu anakku&#8221;, kata Luqman lagi. Kini, dua-duanya berjalan kaki. Jadi iring-iringan bertiga dengan keledainya berjalan kaki. Lewatlah mereka di satu desa. Orang-orang di desa itu mencemooh,&#8221;Lihat itu, orang-orang bodoh, mereka bercapek-capek jalan kaki sementara ada tunggangan keledai dibiarkan saja&#8221;.&#8221;Catat itu anakku&#8221;kata Luqman . Mereka mencari bambu panjang, dan sekarang keledainya mereka panggul berdua. Lewatlah mereka disatu desa lain. Orang-orang di situ melihat mereka dan mencemooh,&#8221;Lihat itu Bapak dan anak sama-sama gila, Keledai tidak apa-apa dipanggul. Enaklah jadi keledainya.&#8221; Lukman berkata pada anaknya&#8221; Catat itu waahai anakku. Kalau engkau menuruti omongan orang-orang, maka tidak akan pernah benar. Maka kuatkanlah keyakinanmu.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sang Kuasa]]></title>
<link>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/24/sang-kuasa/</link>
<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 12:25:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pusan Fauzan</dc:creator>
<guid>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/24/sang-kuasa/</guid>
<description><![CDATA[Sang Kuasa Wahai Sang Kuasa … Engkau senantiasa disebut-sebut setiap makhluk… Kami semua menyebut na]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2>Sang Kuasa</h2>
<p>Wahai Sang Kuasa …<br />
Engkau senantiasa disebut-sebut setiap makhluk…<br />
Kami semua menyebut namaMu…</p>
<p>Allaah.. Tuhan kami….<br />
Tiadalah yang bisa merahmati kami selain Engkau….</p>
<p>Allaah… Engkau jauh diatas segenap pujian kami yang memujiMu…<br />
dan Engkau Maha Tahu bahwa kami tidaklah mungkin bisa bersyukur dengan benar…<br />
Engkaulah yang Maha Bersyukur pada Engkau sendiri….</p>
<p>Allaah… ampunilah aku yang tidak bisa menunaikan kewajiban kepadaMu dengan benar…<br />
Kami melihatMu sesuai dengan batas-batas yang Engkau kehendaki…</p>
<p>Allaah… telah Engkau putuskan hubungan segenap makhluk kepadaku…<br />
dengan menutupi pandangan mereka yang tidak pernah benar…<br />
jika mereka berprasangka … itu karena Engkau Yaa Allaahu Azza Wajalla…</p>
<p>Allaah… Tiada Yang Wujud kecuali Engkau sendiri….<br />
Yang dicemburui semua makhluk… mereka mencintaiMu.. kami mencintai Engkau…<br />
Engkau mebolak-balikkan hati siapa saja yang Engkau kehendaki…</p>
<p>Allaahu…Allaahu.. Allaahu.. Allaahu…. Allaahu…. Azza Wajalla….<br />
Qoof… Aliif… Yaa.. Shood… Qoof…<br />
Engkau yang membuat aku beribadah… bukan aku sendiri….<br />
Sang kafir jahannam ini sungguh sangat berterima kasih… meskipun tidak cukup untukMu Yaa Rabb…<br />
Dan KehendakMu lah yang Benar….</p>
<p>Wahai Rabb… Allaahu Akbar…<br />
Semua yang hamba lakukan hanyalah sebutir debu…..<br />
Segenap disiplin yang aku lakukan untuk melepas keakuanku….<br />
dan tiada Tuhan selain Engkau…..</p>
<p>Wahai Adam, Nuh, Daud, Sulaiman, Musa, Isa, Muhammad….<br />
Allaahu laa ilaa ha illaLLaah…<br />
Muhammad rasuuluLLaah….</p>
<p>Allaah… yaa Rabb….<br />
sungguh Engkau Maha Tahu tingkatan tasawwuf paling rendah….</p>
<p>Allaah… sekali lagi aku berlindung dari segenap prasangka…<br />
baik prasangka orang lain…<br />
ataupun prasangka ku sendiri…</p>
<p>Allaahu… Engkau Maha Pengampun…</p>
<p>Allaah.. Yaa Rabb….<br />
mereka membunuhku karena mencintai Mu…<br />
………Rahmatilah kami………..<br />
………………………………………</p>
<p>Bismillaahirrahmaanirrahiim<br />
Qul huwaAllaahu Ahad..<br />
Allaahushshomad…<br />
Lam yalid walam yuulad….<br />
walam yakunLLahuu kufuwan Ahad…</p>
<p>………………………………………</p>
<p>Lakukanlah ini ditempatku Yaa Rabb….<br />
dan tiada yang bisa memisahkan aku dengan Engkau….</p>
<p>&#8220;Sungguh.. Aku ini Tuhanmu dan tiada sesuatu kecuali Aku&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saduran Dari Ibnu Atha'ilah]]></title>
<link>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/22/saduran-dari-ibnu-athailah/</link>
<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 15:06:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pusan Fauzan</dc:creator>
<guid>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/22/saduran-dari-ibnu-athailah/</guid>
<description><![CDATA[“ Syaichmu bukanlah seseorang yang kau dengar pembicaraannya . Syaichmu adalah seseorang yang kau an]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="post_message_333591"><em>“ Syaichmu bukanlah seseorang yang kau dengar pembicaraannya . Syaichmu adalah seseorang yang kau anut. Dia bukanlah seseorang yang ekspresinya mengemuka dihadapanmu , melainkan seseorang yang tandanya mengalir dalam dirimu. Syaichmu bukan orang yang memanggilmu untuk datang ke pintu , melainkan yang menyingkapkan tabir diantara kau dan Dia . Bukanlah Syaichmu yang kata katanya menghadangmu , dia adalah yang keberadaannya memanggulmu . Syaichmu adalah orang yang membebaskanmu dari penjara keinginan dan membuatmu memasuki hadirat Tuhan.Syaichmu adalah orang yang memanifestasikan cermin hatimu sampai cahaya Tuhanmu memanifestasikan diri diatasnya . Dia membawamu kepada Allah swt dan kau pergi kepada – Nya. Dia pergi bersamamu sampai kau datang kepada-Nya . Dan Dia masih tetap akan bersamamu sampai dia meletakkan mu dia antara tangan-Nya. Dia mengarahkanmu ke dalam cahaya kehadiran sampai dia berkata kepadamu,”</em> <em>Disinilah kau, dan ini Tuhanmu!”</em></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Doa Mohon Pertolongan]]></title>
<link>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/22/doa-mohon-pertolongan/</link>
<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 07:22:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pusan Fauzan</dc:creator>
<guid>http://pusanfauzan.wordpress.com/2008/10/22/doa-mohon-pertolongan/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Yaa Allaah .. Engkau yang memanggilku dan hanya Engkau pula yang membuatku menjawab panggilan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#8220;Yaa Allaah .. Engkau yang memanggilku dan hanya Engkau pula yang membuatku menjawab panggilanmu. Tiada sekutu bagiMu. Sungguh semua ini demi kebaikan diriku sendiri dan Engkau tidak butuh apapun dari ku. Engkau diatas segala pujianku dan Engkau jauh dari segenap sifat yang aku lukiskan padaMu. Bimbinglah aku si kafir ini.. yang tidak mungkin bisa bersyukur kepadamu dengan benar. Engkaulah yang berSyukur pada diriMu sendiri. Wahai Engkau yang menghijabi diriMu dengan Nama-nama dan Shifat &#8230;. tolonglah aku&#8230;&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[NASRULLAH DAN SPIRITUALISME THE ORCHID REALTY]]></title>
<link>http://oiptraining.wordpress.com/2008/10/15/nasrullah-dan-spiritualisme-the-orchid-realty/</link>
<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 17:16:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>orchidtraining</dc:creator>
<guid>http://oiptraining.wordpress.com/2008/10/15/nasrullah-dan-spiritualisme-the-orchid-realty/</guid>
<description><![CDATA[Mungkin tidak banyak yang mengetahui sosok seorang Nasrullah. Bagi kami, karyawan The Orchid Realty,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Mungkin tidak banyak yang mengetahui sosok seorang Nasrullah. Bagi kami, karyawan The Orchid Realty,]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bencana Alam sebagai Hilangnya Yang Suci (The Sacred)]]></title>
<link>http://tediaurig.wordpress.com/2008/08/10/bencana-alam-sebagai-hilangnya-yang-suci-the-sacred/</link>
<pubDate>Sun, 10 Aug 2008 07:57:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>tediaurig</dc:creator>
<guid>http://tediaurig.wordpress.com/2008/08/10/bencana-alam-sebagai-hilangnya-yang-suci-the-sacred/</guid>
<description><![CDATA[Seperti layaknya petinju yang hampir kalah, tanah Indonesia terus-menerus dipukul bertubi-tubi oleh ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Seperti layaknya petinju yang hampir kalah, tanah Indonesia terus-menerus dipukul bertubi-tubi oleh ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kemanusiaan di Ambang Krisis]]></title>
<link>http://tediaurig.wordpress.com/2008/08/10/kemanusiaan-di-ambang-krisis/</link>
<pubDate>Sun, 10 Aug 2008 07:53:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>tediaurig</dc:creator>
<guid>http://tediaurig.wordpress.com/2008/08/10/kemanusiaan-di-ambang-krisis/</guid>
<description><![CDATA[Kondisi kemanusiaan kita berada dalam ambang krisis kehancuran. Hampir segala daya upaya terampuh di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kondisi kemanusiaan kita berada dalam ambang krisis kehancuran. Hampir segala daya upaya terampuh di]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
