<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>struktur &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/struktur/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "struktur"</description>
	<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 21:40:20 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Struktur khilafah]]></title>
<link>http://blogwardhanie.wordpress.com/2009/12/23/struktur-khilafah/</link>
<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 15:40:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>wardhanie</dc:creator>
<guid>http://blogwardhanie.wordpress.com/2009/12/23/struktur-khilafah/</guid>
<description><![CDATA[Jika khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan, lalu seperti apa? Apa seperti republik, kerajaan at]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jika khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan, lalu seperti apa?</p>
<p>Apa seperti republik, kerajaan atau bahkan sama sekali berbeda? Argh, kenapa selama belajar Islam di sekolahan saya tidak pernah mendapatkannya? Oh Kemal, anda bener-benar sukses besar. Anda telah menghapus khilafah dari sejarah bahkan dari benak kami kaum muslimin. Alhamdulillah dari <a href="http://khilafah.com/index.php/the-khilafah/structure" target="_blank">sini</a>, saya mendapat banyak informasi. Secara rinci struktur negara khilafah adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Khalifah.</li>
<li>Para Mu’awin (Wuzrat at-Tafwidh), yakni para pembantu Khalifah dalam bidang pemerintahan.</li>
<li>Wuzarat at-Tanfidz, yakni para pembantu Khalifah dalam bidang administrasi.</li>
<li>Para Wali (Gubernur).</li>
<li>Amirul Jihad.</li>
<li>Departeman Keamanan Dalam Negeri.</li>
<li>Departemen Luar Negeri.</li>
<li>Departemen Industri.</li>
<li>Peradilan.</li>
<li>Departemen-Departemen Negara untuk Pelayanan Masyarakat).</li>
<li>Baitul Mal (Kas Negara).</li>
<li>Departemen Penerangan.</li>
<li>Majelis Umat.</li>
</ol>
<p>Hmm, jadi khilafah itu berbeda dengan republik dan tidak sama dengan kerajaan. Sebuah konstitusi mutlak membutuhkan institusi untuk menerapkannya. Sama halnya dengan konstitusi syariat yang membutuhkan institusi khilafah. Khilafahlah yang akan mengatur segala hal agar berjalan sesuai perintah 4JJ. Baca ini lebih detail.</p>
<p>C’mon bring back khilafah!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GEMPA TERBESAR SEPANJANG SEJARAH ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/12/21/gempa-terbesar-sepanjang-sejarah/</link>
<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 04:04:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/12/21/gempa-terbesar-sepanjang-sejarah/</guid>
<description><![CDATA[Gempa bumi yang mengguncang Alor dan Nabire baru saja reda. Tiba-tiba, hari Minggu (26/12) pagi, kit]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/12/gempa-itu-trbesar-spnjg-sejarah.jpeg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3796" title="gempa itu trbesar spnjg sejarah" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/12/gempa-itu-trbesar-spnjg-sejarah.jpeg?w=126" alt="" width="126" height="150" /></a>Gempa bumi yang mengguncang Alor dan Nabire baru saja reda. Tiba-tiba, hari Minggu (26/12) pagi, kita – bahkan dunia – dikejutkan oleh guncangan yang meluluhlantakan sebagian wilayah barat Indonesia. Kali ini kawasan Meulaboh dan sekitarnya di Nanggroe Aceh Darussalam yang menderita.</p>
<p>Catatan jaringan seismik dunia, di antaranya yang bersimpul di United States Geological Survey (USGS), seperti dikemukakan Dani Hilman Natawijaya – peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) – tergolong yang terbesar sepanjang sejarah.</p>
<p>Kekuatan gempa yang terjadi di Samudera Hindia atau berjarak 149 kilometer sebelah barat Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ; terpantau oleh Global Seismic Network sebesar 8,2 Mw (Moment Magnitude). Sementara itu, data seismograf di Pusat Gempa Nasional (PGN) Jakarta menunjukkan bahwa gempa hari itu berkekuatan 6,8 skala Richter. Namun, laporan CNN menyebutkan, kekuatan gempa tersebut mencapai 8,9 pada skala Richter, sedangkan jaringan televisi BBC merujuk angka 8,5 pada skala Richter.</p>
<p>Menurut Dr Prih Haryadi Kepala Pusat Sistem Data dan Informasi Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), gempa tektonik pernah terjadi di Cile pada tahun 1960 dengan kekuatan 9,5 Mw. Setelah itu, pada tahun 1964 terjadi gempa berintensitas 8,5 Mw di Alaska.</p>
<p><!--more--><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/12/rangkaian-3-gempa-besar-01.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3797" title="rangkaian 3 gempa besar 01" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/12/rangkaian-3-gempa-besar-01.jpg" alt="" width="500" height="259" /></a></p>
<p>Gempa berskala besar, kata Prih, menimbulkan patahan berdimensi ratusan kilometer jaraknya dari pusat gempa hingga memicu gempa lain. Gempa di Aceh menimbulkan dampak kegempaan hingga radius 200 kilometer. Di antaranya memicu gempa di Kepulauan Nicobar di sebelah utara pusat gempa pada jarak 550 kilometer serta mengguncang Pulau Andaman.</p>
<p>Selain menimbulkan getaran yang kuat, gempa kali ini juga menyebabkan timbulnya deformasi vertikal di sumber gempa. Deformasi berupa penurunan permukaan dasar laut tersebut mengakibatkan penjalaran energi kinetik menjadi gelombang tsunami di pantai. Daerah yang rawan tsunami adalah daerah yang berpantai landai dan berupa teluk. Pada daerah teluk, energi gelombang terperangkap hingga naik ke darat.</p>
<p>Ancaman gempa tsunami berada sepanjang pertemuan lempeng mulai dari timur Kepulauan Maluku, selatan Nusa Tenggara dan Jawa, hingga barat Sumatera. Umumnya, gempa subduksi di laut yang berkekuatan minimal 6,2 pada skala Richter sudah dapat menimbulkan gelombang tsunami. Namun, yang lebih kecil dari itu pun dapat mengakibatkan gelombang pasang, bergantung pada lokasinya dan pola subduksi serta topografi dasar laut.</p>
<p>Gempa di Meulaboh dilaporkan bukan saja telah menimbulkan tsunami di daerah barat NAD, tetapi juga menerjang Pulau Sabang. Gempa di Nicobar yang berkekuatan 7,3 pada skala Richter ini – yang dipicu oleh gempa Meulaboh – menurut perkiraan Prih, adalah yang menyebabkan timbulnya tsunami di Songla dan Phuket (Thailand).</p>
<p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/12/rangkaian-3-gempa-besar-02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3798" title="rangkaian 3 gempa besar 02" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/12/rangkaian-3-gempa-besar-02.jpg" alt="" width="500" height="223" /></a></p>
<p>Menurut Kepala Pusat Penelitian geoteknologi LIPI Dr Heri Haryono, gempa yang posisinya di dekat Pulau Simeulue (NAD) itu terjadi karena mekanisme kompresi atau subduksi, yaitu lempeng Samudera Hindia menujam bagian bawah lempeng Asia Tenggara (yang merupakan sublempeng Benua Eurasia). Karena yang terjadi adalah gempa subduksi yang menyebabkan menurunnya permukaan dasar laut di tempat pertemuan lempeng tersebut, maka akan timbul gelombang laut yang merambat dan menerjang pantai di dekatnya.</p>
<p>Sejak tiga tahun terakhir ini, papar Heri, peneliti LIPI melakukan penelitian di sekitar Pulau Siberut, yang menurut cacatan sejarah beberpa kali terjadi gempa berkekuatan besar di sana. Dalam rangka meneliti kegempaan, di lokasi itu dipasang sejumlah tiang untuk pemantauan global positioning system (GPS). Tujuannya adalah mengetahui deformasi permukaan tanah akibat gempa. Selain itu, tingkat dan pola kegempaan dipelajari dari adanya kerusakan dan pertumbuhan terumbu karang.</p>
<p>Munculnya Kepulauan Mentawai dan beberapa pulau di Samudera Hindia yang berada di barat Sumatera, di antaranya Pulau Batu, Siberut, Nias, hingga Simeulue, kata Heri lagi, tepat pada daerah pertemuan kedua lempeng tersebut.</p>
<p>Pulau-pulau yang menyembul ke permukaan laut itu merupakan hasil dari proses tabrakan atau interaksi dua lempeng yang berlangsung ribuan tahun hingga jutaan tahun lalu. “Pelepasan energi terjadi di situ. Hal itulah yang menyebabkan pulau-pulau tersebut rawan gempa besar,” ucap Heri.</p>
<p>Menurut catatan sejarah kegempaan, papar Dani Hilman, daerah barat Aceh hingga Bengkulu beberapa kali mengalami gempa besar. Pada tahun 1833, Pulau Pagai Utara dan Selatan diterjang gempa berkekuatan 8,9 Mw, dan pada tahun 1961 gempa di selatan Pulau Nias tercatat 8,9 Mw.</p>
<p>Gempa di Kepulauan Pagai dan Kepulauan Nias periode ulangnya 200 hingga 300 tahun. Karena itu, menurut dia, perlu diwaspadai munculnya gempa-gempa besar di pulau-pulau barat Sumatera. Tercatat pada wal tahun 2004 Pulau Simeuleu diguncang gempa berkekuatan 7,7 pada skala Richter.</p>
<p>Adanya gempa-gempa besar di daerah itu, lanjut Dani, perlu diperhatikan penduduk di daerah sekitarnya. Dalam membangun rumah dan gedung-gedung bertingkat, misalnya, haruslah yang berstruktur tahan gempa.</p>
<p>Dani juga mengingatkan bahwa setelah gempa 8,9 Mw di Meulaboh, penduduk di daerah itu perlu mewaspadai gempa susulan yang masih sekitar 7,5 pada skala Richetr selama dua minggu sejak gempa utama. Apabila rumah penduduk setempat telah retak-retak, sebaiknya tidak dihuni selama waktu itu.</p>
<p>Penelitian di lapangan perlu dilakukan untuk menganalisis apakah gempa di barat Meulaboh hanya menimbulkan efek tsunami ke sebelah utara saja atau juga ke selatan, yaitu ke Pulau Nias, Siberut, Batu, dan Pagai. Dia memperkirakan gempa di dekat Simeuleu akan memicu pulau-pulau di selatannya.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Gempa Itu Terbesar Sepanjang Sejarah &#124; Kompas, 27.12.2009<br />
Grafis : Rianto / Bestari &#8211; Rangkaian Tiga Gempa Besar &#124; Kompas, 28.12.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mendamaikan Agen dan (atau) Struktur]]></title>
<link>http://savindievoice.wordpress.com/2009/12/04/mendamaikan-agen-dan-atau-struktur/</link>
<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 08:43:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>savindievoice</dc:creator>
<guid>http://savindievoice.wordpress.com/2009/12/04/mendamaikan-agen-dan-atau-struktur/</guid>
<description><![CDATA[Mengatasi problematika hubungan antara agen dan struktur dalam ilmu sosial adalah proyek yang sangat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://savindievoice.wordpress.com/files/2009/12/219098_full.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-147" title="219098_Full" src="http://savindievoice.wordpress.com/files/2009/12/219098_full.jpg?w=199" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
<p>Mengatasi problematika hubungan antara agen dan struktur dalam ilmu sosial adalah proyek yang sangat ambisius, sekaligus mungkin prestisius. Dalam skala yang berbeda mungkin bisa disamakan dengan upaya ilmu biologi dalam memetakan struktur genetik manusia, atau upaya ilmu fisika dalam menentukan struktur dasar pembentuk semua materi di dunia ini.</p>
<p>Agen secara sederhana bisa kita pahami sebagai individu maupun kelompok terorganisir, organisasi, dan bangsa (Burns, 1986). Sementara struktur merujuk ke tingkat makro, yaitu sistem sosial berskala besar.</p>
<p>Masalah agen dan struktur sebenarnya tidak terlalu dipermasalahkan pada masa klasik. Terbukti upaya mengatasi ’keributan kecil’ ini muncul pada abad modern. Keributan mulai membesar tatkala jarak antara agen dan struktur bukan hanya menjauh, tapi sudah menegasikan satu sama lain. Tapi beda bila kita tanya pada pemerhati masalah ini. Hubungan antara agen dan struktur merupakan tema utama dalam ilmu-ilmu sosial. Margaret Archer menegaskan bahwa masalah agen dan struktur adalah masalah fundamental dalam sosiologi modern.</p>
<p>Bila kita absen siapa saja yang berorientasi agen atau individu, maka muncullah nama teori interaksionisme simbolik. Sedangkan yang memuja peran struktur adalah pendekatan fungsionalisme struktural, Marxisme, dan teori ’berbau’ sistem yang cukup banyak variannya.</p>
<p>Ada beberapa tokoh yang harus kita beri apresiasi di sini dengan dedikasi mereka mengatasi dikotomi agen-struktur. Berdasarkan buku &#8220;Teori Sosiologi Modern&#8221; dari George Ritzer dan Douglas Goodman, mereka diantaranya adalah Anthony Giddens, Margareth Archer, dan Pierre Bourdieu. Kita akan membahas pemikiran mereka satu-persatu.</p>
<p>Anthony Giddens, sang pangeran modernisme, mungkin paling terkenal dalam ambisinya untuk mengintegrasikan agen-struktur dalam kerangka besar teori strukturasi (<em>structuration theory</em>). Bangunan mewah yang dibangunnya, teori strukturasi, memerlukan imajinasi dan fantasi lebih untuk memahaminya. Dengan meramu berbagai masukan teoritis, Giddens mencoba merubah kontradiksi menjadi suatu resonansi yang tak terpisahkan antara agen dan struktur.</p>
<p>Kata kunci untuk memahami teori strukturasi adalah ’praktik sosial yang berulang dalam konteks ruang dan waktu’. Inilah landasan utama untuk mengatasi pertentangan agen vs struktur. Praktik atau yang lebih konkrit disebut sebagai aktivitas manusia dalam konteks ruang dan waktu tertentu inilah yang memunculkan struktur itu sendiri. Lalu dimana posisi struktur sosial yang seharusnya mengatur tindakan agen tersebut? Praktik sosial yang diciptakan berulang-ulang itulah yang memunculkan struktur sosial. Jadi posisi struktur di sini bukan suatu hal yang mendeterminasi tindakan individu, tapi merupakan hasil dari tindakan individu tersebut secara berulang-ulang.</p>
<p>Keagenan (<em>agency</em>) dalam konsepsi Giddens merupakan peran sosial individu tersebut, bukan tujuan yang harus dilakukan sebagai akibat struktur (teori sistem!). Jadi jelas sistem bukan penguasa atas tindakan individu. Struktur sosial tidak akan terjadi apabila agen juga tidak melakukan praktik sosialnya. Karena itu sistem sosial didefinisikan Giddens sebagai praktik sosial atau hubungan yang direproduksi antara aktor dan kolektivitas yang diorganisir. Premis Giddens ini yang sering dirujuk para penempuh jalan tengah globalisasi, yang tumbuh benih imannya tatkala membaca literatur Giddens bahwa agen punya peran dalam arus globalisasi ini.</p>
<p>Pemikiran Margareth Archer mengenai agen-struktur bisa dikatakan merupakan salah satu kritik terhadap Teori Strukturasi Giddens. Archer (1988) memperkenalkan konsep yang mungkin asing bagi kita, konsep ”morphogenesis”. Secara konseptual, morphogenis menyiratkan perubahan, sedangkan lawannya, morphostatis menyiratkan suatu keadaan statis.</p>
<p>Archer secara gamblang menyatakan ketidaksukaannya terhadap dualitas Giddens yang menyebabkan kaburnya peluang mengamati secara komprehensif bagaimana agen dan struktur saling mempengaruhi. Seakan-akan ada unsur yang hilang dari analisis konvensional mengenai agen-struktur. Dan bagian yang hilang itulah yang kemudian dimunculkan dalam konsep hubungan agen dan kultur untuk lebih memperlihatkan aspek kontekstualitasnya walaupun akhirnya juga tak luput dari berbagai kritik.</p>
<p>Kultur menjadi kata kunci bagi hubungan agen-kultur <em>a la</em> Archer. Inilah konsep yang dinamis dan secara implisit menyebutkan bahwa ini adalah faktor inheren dari relasi agen-struktur. Interaksi dan tindakan agen memunculkan struktur yang juga bereaksi dan berubah seiring tindakan dan interaksi para agennya. Dan perubahan itu senantiasa akan menciptakan perluasan struktural.</p>
<p>Pierre-Felix Bourdieu (meninggal pada 23 Januari 2002) merupakan ilmuwan sosial yang cukup komplit labelnya. Mulai sosiolog, antropolog, post-strukturalis, sampai post-modernisme. Cukup beralasan jika Bourdieu menggeluti masalah agen-struktur ini mengingat kegandrungannya pada masalah masyarakat dengan setiap dinamika interaksi dan struktur obyektif-subyektifnya. Realitas sosial inilah yang memaksa Bourdieu untuk melangkahi pertentangan agen-struktur karena sudah tidak memadai lagi digunakan sebagai alat analisis masyarakat.</p>
<p>Kata kunci dalam memutus ketidaklinearan agen dan struktur bagi Bourdieu adalah konsep ”habitus” dan ”ranah” (<em>field</em>). Dua konsep inilah yang nantinya menggantikan konsep ’agen’ dan ’struktur’ yang sudah usang karena sangat kompleksnya realitas sosial. Habitus merupakan semacam struktur ketidaksadaran dari individu-individu dan menciptakan suatu norma atau tatanan tingkah laku dalam konteks kelas-kelas dalam masyarakat. Kelas? Iya, kelas sosial memang masih populer dalam khazanah filsafat Prancis, terutama bagi Bourdieu. Dan habitus inilah yang berfungsi sebagai pembeda karena melalui habitus tercipta suatu skema yang membentuk praktik sosial tertentu yang mencerminkan kelasnya. Karena itulah Bourdieu juga mendefiniskan habitus sebagai rasa tentang kedudukan seseorang sebagai konsekuansi proses diferensiasi sosial.</p>
<p>Field (diterjemahkan juga sebagai ranah atau medan atau lingkungan) punya konotasi yang agak seram dalam pemikiran Bourdieu. Ranah tidak hanya merujuk kepada suatu keterangan tempat, tapi tempat dimana proses habitus terjadi. Ranah adalah lingkungan perjuangan. Di ranah inilah berbagai modalitas utama yang dikemukakan Bourdieu, ekonomi, kultur, sosial, simbolik; saling berkompetisi. Dan sejauh mana agen berperan akan ditentukan oleh kuantitas serta kualitas modalitas yang mereka punyai.</p>
<p>Secara umum, ketiga pemikiran ini berusaha merekonstruksi hubungan agen-struktur yang telah mati suri. Metode-metode yang dipergunakan menekankan karakteristik menghindari kontradiksi maupun dikotomi antara agen melawan struktur. Strategi Giddens dalam merekonstruksi pengertian agen dan struktur mencapai keseimbangannya dalam teori strukturasi dan menghasilkan konsep baru yang menekankan pada praktik sosial. Praktik sosial tampaknya juga menjadi salah satu kata kunci dari Bourdieu. Dengan cukup radikal, Bourdieu berani mengartikulasikan ketidakpercayaannya terhadap konsep lama &#8216;agen&#8217; dan &#8217;struktur&#8217; dan diganti konsep habitus dan ranah dengan aspek diskursif yang cukup dominan. Sedangkan Archer membangkitkan kembali aspek kultural dan menyelipkannya dalam pertentangan agen dan struktur.</p>
<p>Selalu muncul dukungan sekaligus kritik terhadap proyek keilmuan ini. Kritik yang paling sering diungkapkan adalah mengenai proyek pendamaian struktur-agen yang dipandang insignifikansinya dalam pengembangan ilmu sosial itu sendiri. Ilmu sosial lebih membutuhkan teori yang bersifat antitesis daripada suatu sintesis (Craib, 1992). Inilah dinamika sekaligus pertarungan yang secara tidak langsung mengkatalisator perkembangan ilmu sosial.</p>
<p>Mungkin benar apa yang diungkapkan Sztompka (1991) bahwa analisis terhadap relasi agen-struktur lebih berkaitan erat dengan analisis historis-dinamis, dan karena itu semoga para pendebat ini tidak terjebak dalam kepompong waktu, karena perdebatan utama bukanlah siapa yang kalah-menang, tapi bagaimana merumuskan suatu konseptual yang dinamis dalam mengoptimasi baik struktur maupun agen. Optimasi struktur bagi agen adalah bagaimana membuka transparansi struktur yang menjamin partisipasi agen dalam tingkatan tertentu. Sehingga struktur bukanlah suatu tembok penjara bagi seorang narapidana. Sedangkan optimasi agen bagi struktur mensyaratkan rasionalisasi pemikiran agen sedemikian rupa sehingga tercipta suatu rasionalitas sistem yang tidak akan melampaui batas rasionalisasi pemikiran agen tersebut. Di sini jelas agensi bukanlah suatu konsep totalitarianisme, tapi rasionalitas kolektif untuk menciptakan suatu sistem yang lebih humanis.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jacket type steel fixed platform]]></title>
<link>http://rahmat88aceh.wordpress.com/2009/12/03/jacket-type-steel-fixed-platform/</link>
<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 14:27:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>rahmat riski</dc:creator>
<guid>http://rahmat88aceh.wordpress.com/2009/12/03/jacket-type-steel-fixed-platform/</guid>
<description><![CDATA[Struktur Jacket Type Steel Fixed Platform yang banyak dipakai untuk ekploitasi Migas Di Indonesia Fi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Struktur Jacket Type Steel Fixed Platform yang banyak dipakai untuk ekploitasi Migas Di Indonesia Fi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[364 – 333]]></title>
<link>http://collets3642009.wordpress.com/2009/11/30/364-%e2%80%93-333/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 04:44:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Liz</dc:creator>
<guid>http://collets3642009.wordpress.com/2009/11/30/364-%e2%80%93-333/</guid>
<description><![CDATA[Mohn Light Freiheit bedeutet Verantwortlichkeit; das ist der Grund, warum sich die meisten Menschen ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><a href="http://www.mygall.net/LizCollet" target="_blank"><img class="aligncenter size-full wp-image-745" title="Collage Quartett BIG wh green frame fc" src="http://collets3642009.wordpress.com/files/2009/11/collage-quartett-big-wh-green-frame-fc.jpg" alt="" width="480" height="480" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.mygall.net/LizCollet" target="_blank"><strong><span style="color:#99cc00;">Mohn Light</span></strong></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">Freiheit bedeutet Verantwortlichkeit;</p>
<p style="text-align:center;">das ist der Grund, warum sich die meisten Menschen vor ihr fürchten.</p>
<p style="text-align:center;">
George Bernard Shaw</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">*</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengurus Periode 2009-2010]]></title>
<link>http://km3majalengka.wordpress.com/2009/11/26/pengurus-periode-2009-2010/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 03:42:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>km3majalengka</dc:creator>
<guid>http://km3majalengka.wordpress.com/2009/11/26/pengurus-periode-2009-2010/</guid>
<description><![CDATA[Pengurus Pusat Pimpinan Pusat : Agus Syuhada, S. HI. Sekretaris Pusat : Yeni Fikriyah Suryana, S. Pd]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Pengurus Pusat</strong></p>
<p>Pimpinan Pusat : Agus Syuhada, S. HI.</p>
<p>Sekretaris Pusat : Yeni Fikriyah Suryana, S. Pd.</p>
<p>Bendahara Pusat : Feni Dimitri</p>
<p>Komisi-Komisi :</p>
<p>1. Isu Kedaerahan :</p>
<ul>
<li>Koordinator : Ika Herawati, S. Pd.</li>
<li>Anggota : Erwin Slamet, Rakem</li>
</ul>
<p>2. Pembinaan dan Pemberdayaan Kader :</p>
<ul>
<li>Koordinator : Nirmala Dewi</li>
<li>Anggota : Maman Abdurrahman, Mala Hayati</li>
</ul>
<p>3. Kehumasan</p>
<ul>
<li>Koordinator : Abdul Qodir</li>
<li>Anggota : Uus Putra, Faridatul Millah</li>
</ul>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Pengurus Wilayah Da&#8217;wah Kampus</strong></p>
<p>Penanggung Jawab :</p>
<p>1. Universitas Muhamadiyah Malang : Agus Syuhada, S. HI.</p>
<p>2. Institut Pertanian Bogor : I&#8217;ah Suniah</p>
<p>3. Universitas Diponegoro : Rd. Anis Khoirunnisa</p>
<p>4. Universitas Soedirman : Diah Pernamasari</p>
<p>5. Universitas Pasundan : Acep Andrian Subagja</p>
<p>6. Institut Teknologi Bandung : Linda Hindiana, S. Si.</p>
<p>7. Politeknik Bandung : Hanni Nurhidayah</p>
<p>8. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati : Arif Muflihin</p>
<p>9. Universitas Padjadjaran : Aang Chumaedi</p>
<p>10. Universitas Pendidikan Indonesia : Deni</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Informasi :</strong></p>
<p>Kontak Pusat :</p>
<ul>
<li>Agus Syuhada, S. HI. (081333841515)</li>
<li>Yeni Fikriyah Suryana, S. Pd (081320142142)</li>
</ul>
<p>E-mail : km3majalengka@yahoo.co.id</p>
<p>FB : Keluarga Majalengka</p>
<p>Group FB : Keluarga Mahasiswa Muslim Majalengka</p>
<p>Blog : http://km3majalengka.wodpress.com</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Struktur Data. Array]]></title>
<link>http://ibumei.wordpress.com/2009/11/25/struktur-data-array/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 04:16:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>ibumei</dc:creator>
<guid>http://ibumei.wordpress.com/2009/11/25/struktur-data-array/</guid>
<description><![CDATA[Array merupakan kumpulan data dimana setiap elemen memakai nama yang sama dan bertipe sama.  Pada ar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Array merupakan kumpulan data dimana setiap elemen memakai nama yang sama dan bertipe sama.  Pada array, setiap elemen diakses dengan membedakan indeksnya.  Contoh Array :</p>
<p>Misal nya ada Variabel array A yang terbagi menjadi  5 bagian   yaitu  :</p>
<p>23      15         45        12        14</p>
<p>A[0]   A[1]    A[2]    A[3]    A[4]</p>
<p><!--more-->masing-masing nilai di setiap lokasi mempunyai identitas yang sama yaitu A dan nomor indeks yang ditulis di dalam tanda kurung siku &#8216;[..]&#8216;.  sehingga terlihat bahwa : A[0] terisi nilai 23 atau biasa ditulis A[0]=23, A[1]=15, A[2]=45, A[3]=12, A[4]=14.</p>
<p>Jenis Array</p>
<p>1. Array Dimensi satu</p>
<p>Array dimensi satu adalah suatu variabel yang terbagi atas beberapa baris atau beberapa kolom.  Banyaknya indeks yang menandakan alamat pada variabel array ini hanya satu saja, yaitu yang menandakan baris ke-  atau kolom ke-.</p>
<p>Deklarasi array :  &#60;type data&#62;   nama_variabel [ukuran]</p>
<p>dengan Type  menyatakan jenis elemen array (int, char, unsigned dan lain-lain)</p>
<p>Ukuran  menyatakan jumlah maksimal elemen array</p>
<p>Contoh :   int   A[10];      &#8211;&#62; berarti Varibel A terbagi menjadi 10 baris/kolom dengan type integer</p>
<p>Untuk menginputkan nilai, mengoperasikan dan menampilkan nilai pada variabel array, dapat dideklarasikan satu per satu atau menggunakan fungsi perulangan agar lebih simple dalam penulisan programnya.</p>
<p>Contoh Program :</p>
<p>#include&#60;conio.h&#62;<br />
#include&#60;iostream.h&#62;<br />
main()<br />
{  int  A[10], i;<br />
for(i=0;i&#60;=9;i++)<br />
A[i]=i+1;<br />
for(i=0;i&#60;=9;i++)<br />
cout&#60;&#60;A[i]&#60;&#60;&#8221;     &#8220;;<br />
getch();<br />
}</p>
<p>2. Array Dimensi Dua</p>
<p>Array dimensi dua adalah variabel array yang terbagi berdasarkan baris dan kolom. Banyaknya indeks yang menandakan alamat pada array ini ada dua yaitu menunjuk  (baris, kolom) ke-</p>
<p>Deklarasi Array dimensi dua :   &#60;type&#62;   nama_variabel[ukuran_baris][ukuran_kolom]</p>
<p>dengan                  type    adalah type data pada array</p>
<p>ukuran baris adalah banyaknya pembagian baris pada array</p>
<p>ukuran kolom adalah banyaknya pembagian kolom pada array</p>
<p>Contoh array dimensi dua adalah matrik (merupakan susunan angka yang ditulis berdasarkan baris dan kolom)</p>
<p>Program :</p>
<p>#include&#60;conio.h&#62;</p>
<p>#include&#60;iostream.h&#62;</p>
<p>main()</p>
<p>{  int  A[10][10], i,j ;</p>
<p>for(i=0;i&#60;=9;i++)</p>
<p>{ for(j=1;j&#60;=9;j++)</p>
<p>cin&#62;&#62;A[i][j]; }</p>
<p>for(i=0;i&#60;=9;i++)</p>
<p>{  {for(j=0;j&#60;=9;j++)</p>
<p>cout&#60;&#60;A[i][j]&#60;&#60;&#8221;      &#8220;;</p>
<p>} cout&#60;&#60;endl;  }</p>
<p>getch();</p>
<p>}</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Orchideen]]></title>
<link>http://jenniferkoch.wordpress.com/2009/11/23/orchideen/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 19:56:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>jenniferkoch</dc:creator>
<guid>http://jenniferkoch.wordpress.com/2009/11/23/orchideen/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://jenniferkoch.wordpress.com/files/2009/11/orchideen_bf_bearbeitet.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-70" title="Orchideen_BF_bearbeitet" src="http://jenniferkoch.wordpress.com/files/2009/11/orchideen_bf_bearbeitet.jpg?w=130" alt="" width="130" height="300" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kokerei Prosper]]></title>
<link>http://jenniferkoch.wordpress.com/2009/11/23/kokerei-prosper/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 19:50:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>jenniferkoch</dc:creator>
<guid>http://jenniferkoch.wordpress.com/2009/11/23/kokerei-prosper/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://jenniferkoch.wordpress.com/files/2009/11/kokerei-prosper.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-64" title="Kokerei Prosper" src="http://jenniferkoch.wordpress.com/files/2009/11/kokerei-prosper.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ur led är tiden]]></title>
<link>http://koncepteriet.wordpress.com/2009/11/23/ur-led-ar-tiden/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 13:29:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lena Sjödin</dc:creator>
<guid>http://koncepteriet.wordpress.com/2009/11/23/ur-led-ar-tiden/</guid>
<description><![CDATA[Kronologi är överskattat. Läser just nu Åsa Larsson spänningsromaner i fel ordning och tycker att de]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kronologi är överskattat. Läser just nu Åsa Larsson spänningsromaner i fel ordning och tycker att det tillför läsningen en känsla av att all tid man har ändå är nu. Tycker Peter Kihlgårds &#8220;Kicki och Lasse&#8221; är en förebild här. Slutet är början och början är slutet. Genialt. Sen är hans texter det rakt igenom. Oavsett var de börjar eller slutar.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Allt har en början]]></title>
<link>http://koncepteriet.wordpress.com/2009/11/23/allt-har-en-borjan/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 13:08:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lena Sjödin</dc:creator>
<guid>http://koncepteriet.wordpress.com/2009/11/23/allt-har-en-borjan/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Äntligen stod prästen i predikstolen&#8221;, är Selma Lagerlöfs berömda inledning på Gösta Be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#8220;Äntligen stod prästen i predikstolen&#8221;, är Selma Lagerlöfs berömda inledning på Gösta Berlings saga. De första meningarna i alla texter är helt avgörande för fortsättningen. Allt har en början, och den ska vara fångande, inspirerande, innefattande textens essens, briljant och utmanande. Det kanske blir för svårt det här, tänker jag högt och möjligheten finns ju att sluta blogga innan den där kritiska början. Fast jag kör ändå. Äntligen.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kater finden es sicher spannender als unsereins: Spam]]></title>
<link>http://veroskater.wordpress.com/2009/11/19/kater-finden-es-spannender-spam/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 18:28:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vero</dc:creator>
<guid>http://veroskater.wordpress.com/2009/11/19/kater-finden-es-spannender-spam/</guid>
<description><![CDATA[Quelle: Wikipedia.de bzw. gemeinfreie Datei Nach mehreren Monaten, in denen ich das zumeist nach ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Quelle: Wikipedia.de bzw. gemeinfreie Datei Nach mehreren Monaten, in denen ich das zumeist nach ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beban Dinamis (Dinamika Struktur)]]></title>
<link>http://rahmat88aceh.wordpress.com/2009/11/19/beban-dinamis-dinamika-struktur/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 13:05:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>rahmat riski</dc:creator>
<guid>http://rahmat88aceh.wordpress.com/2009/11/19/beban-dinamis-dinamika-struktur/</guid>
<description><![CDATA[Dinamis dapat diartikan &#8220;Bervariasi&#8221; terhadap waktu dalam konteks gaya yang bekerja (eks]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dinamis dapat diartikan &#8220;Bervariasi&#8221; terhadap waktu dalam konteks gaya yang bekerja (eks]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[JavaScript: Funktionsbibliothek - Namensraum simulieren]]></title>
<link>http://bletra.wordpress.com/2009/11/17/javascript-funktionsbibliothek-namensraum-simulieren/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 07:23:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>bletra</dc:creator>
<guid>http://bletra.wordpress.com/2009/11/17/javascript-funktionsbibliothek-namensraum-simulieren/</guid>
<description><![CDATA[In JavaScript sind Funktionen essentiell. Es gibt eine Möglichkeit ähnlich, wie in anderen Programmi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>In JavaScript sind Funktionen essentiell. Es gibt eine Möglichkeit ähnlich, wie in anderen Programmiersprachen eine Klasse von statischen Funktionen zu definieren. Es ist eben nur keine Klasse, aber ähnlich zu verwenden. Im DOM fehlen mir einige Funktionen, also definiere ich sie und lege sie in einem globalen Array mit Literalen als Schlüssel ab.</p>
<pre class="brush: jscript;">
var UBTDomHelper = {
	/* set attribute for given node, if not null or undefined */
	SetNodeAttribute: function (node, attribute, value) {
		if (node) {
			node.setAttribute(attribute, value);
		}
	},
	/* set nodeValue for given node, if not null or undefined */
	SetNodeValue: function (node, value, separator) {
		if (node &#38;&#38; value != null &#38;&#38; (value!='undefined')) {
			this.ClearNode(node);
			if (separator.length &#62; 0 &#38;&#38; value.indexOf(separator) != -1) {
				var lines = value.split(separator);
				for(var i=0; i&#60;lines.length; i++) {
					node.appendChild(document.createTextNode(lines[i]));
					node.appendChild(document.createElement(&#34;br&#34;));
				}
			}
			else {
				node.appendChild(document.createTextNode(value));
			}
		}
	},
	/* remove all children of a given node */
	ClearNode: function (node) {
		if (node) {
			while(node.hasChildNodes()) {
				node.removeChild(node.firstChild);
			}
		}
	}
};
</pre>
<p>Sobald die Datei im HTML eingebunden ist, kann ich an anderer Stelle mit</p>
<pre class="brush: jscript;">
UBTDomHelper.SetNodeAttribute(node, attribute, value);
</pre>
<p>darauf zugreifen.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CERITA SI KABAYAN:  TRANSFORMASI, PROSES PENCIPTAAN, MAKNA, DAN FUNGSI]]></title>
<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/cerita-si-kabayan-transformasi-proses-penciptaan-makna-dan-fungsi/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 06:30:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>metasastra</dc:creator>
<guid>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/cerita-si-kabayan-transformasi-proses-penciptaan-makna-dan-fungsi/</guid>
<description><![CDATA[Memen Durachman &nbsp; Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh betapa kayanya teks cerita Si K]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong> </strong></p>
<p><strong>Memen Durachman</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p>Penelitian ini dilatar belakangi oleh betapa kayanya teks cerita Si Kabayan mengalami transformasi. Teks cerita Si Kabayan pada awalnya hanyalah sastra lisan/tradisi lisan. Akan tetapi, mengalami transformasi dalam tradisi tulis. Bahkan, teks cerita Si Kabayan mengalami transformasi juga dalam tradisi kelisanan kedua. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tentang struktur teks-teks cerita Si Kabayan dan transformasinya, proses penciptaan, makna, dan fungsinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Artinya, seluruh teks dideskripsikan dari segi struktur dan transformasinya, proses penciptaan, makna, dan fungsinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur cerita Si Kabayan umumnya sederhana baik dari segi alur, tokoh, dan latar. Transformasi yang terjadi berupa ekspansi dan konversi. Proses penciptaannya didasari oleh skema. Maknanya umumnya tentang kearifan menghadapi hidup. Fungsinya, umumnya berkaitan dengan pengesahan kebudayaan, alat pemaksa belakunya norma-norma sosial, dan alat pengendali sosial, alat pendidikan, hiburan, memprotes ketidak adilan dalam masyarakat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata kunci: penutur, transformasi, proses penciptaan, makna, fungsi, ekspansi, konversi, struktur, skema.<!--more--></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><em>Abstract</em></strong></p>
<p><em>The background of the research is to show how great the transformation of Si Kabayan story is. The story of Si Kabayan  formerly was oral tradition. Later, it transformed into written record. Surprisingly, the story has emerged into second period of oral tradition. The research is aimed to get the description about the structure of Si Kabayan story text, its transformation, creation process, meaning and function. The applied method is descriptive.  It means that the analysis is done by describing the whole text into its text structure, transformation, creation process, and function. The result of the research is that the structure of Si Kabayan story is mostly simple in story plot, the character, and the background. The transformation is in expansion and conversion form. The creation process is based on the scheme. The whole meaning of the story is the wisdom in facing life. The function is related to approved culture as well as tool for conducting social norm, for social control, education,  entertainment, social protest in society. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Key words</em><em>: transformation, creation process, function, expansion, conversion, structure, scheme.</em></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p>Cerita Si Kabayan termasuk jenis cerita lucu, cerita humor atau cerita jenaka. Ketiga terminologi itu tidak memiliki perbedaan arti mendasar. Ketiganya bisa saja diperlakukan sama. Sekalipun demikian, terminologi yang hampir disepekati di kalangan para peneliti sastra adalah cerita jenaka. Fang (1991:14) mendefinisikan cerita jenaka sebagai cerita tentang tokoh lucu, menggelikan atau licik, dan licin. Sementara itu, Zaidan, dkk. (1991:23) mengartikan cerita jenaka sebagai cerita olok-olok atau kelakar, cerita penghibur yang mengandung kelucuan, perbandingan atau sindiran.</p>
<p>Cerita jenaka terdapat diseluruh nusantara bahkan di seluruh dunia. Di Aceh, dikenal cerita <em>Si Miskin </em>atau <em>Si Meuseukin.</em> Di Minangkabau, dikenal cerita <em>Pak Pandir, Nenek Kabayan, Pak Belalang, </em>dan <em>Lebai Malang.</em> Di Melayu, terdapat juga cerita <em>Pak Belalang, Si Luncai,</em> dan <em>Pak Kaduk.</em> Di Batak, dikenal cerita <em>Ama ni Pandil, Si Lahap, Si Bilalong, Si Jonaha </em>atau<em> Jonaka, Si Bobak, </em>dan <em>Si Andikir. </em>Sementara di Jawa orang mengenal cerita <em>Pak Pandir, Joko Dolog, Joko Lelur dan Joko Bodo.</em> Di Madura orang mengenal cerita <em>Madhuluk</em>. Di Bali, dikenal cerita <em>Angklung Gadang</em> dan <em>Bungkeling</em>. Di Toraja, ada cerita <em>Bunga Pale, I Tongga, Mariala La Gare, Laoo </em>dan cerita <em>La Bango. </em>Di Bima, dikenal cerita <em>La Lalai.</em> Di Sawu, ada cerita <em>Papeka. </em>Di Sumbawa, ada cerita <em>Banunas. </em>Di Buru, ada cerita <em>Ka Lampo. </em>Dari dunia Arab dikenal cerita Abu Nawas. Dari Turki dikenal cerita <em>Nasrudin Hoja</em>. Dalam bahasa Jerman dan Belanda cerita-cerita demikian disebut sebagai <em>Uilespiegel</em> (Coster Wijsman, 1929: 10-14; Djamaris, 1991: 277; Fang, 1991: 13-23; Rostoyati; 1979: 86-87; Zaidan, 1991: 23). Cerita-cerita lucu di Nusantara tersebut pada umunya tidak mengalami transformasi sekaya seperti cerita si Kabayan.</p>
<p>Snouck Hourgronye (dalam Coster-Wijsman, 1929: 10-12) menyebutkan sekian banyak cerita humor atau cerita lucu (cerita jenaka) Cerita Si Kabayanlah yang menjadi pusat siklusnya. Cerita tersebut sebagian besar berada dalam siklus cerita Si Kabayan. Bahkan, lebih lanjut Coster-Wijsman (1929: 14) menyatakan bahwa  cerita-cerita lain hanya dianggap sebagai varian dari cerita Si Kabayan.</p>
<p>Sementara itu Fang, (1991: 14) menyebutkan cerita Si Kabayan sebagai cerita jenaka yang paling terkenal. Cerita Si Kabayan mencakup semua ciri cerita jenaka. Ada kalanya Ia (maksudnya Si Kabayan) bodoh sekali, ada kalanya ia licik, dan ada kalanya pun ia jujur dan selamat dari bahaya yang mengancamnya.</p>
<p>Cerita Si Kabayan mengalami transformasi tidak hanya ke dalam bentuk sastra tulis, tetapi juga kembali ke kelisanan tahap kedua, meminjam istilah Walter J. Ong (1982). Artinya, cerita Si Kabayan mengalami pula transformasi ke dalam teks lisan yang berdasarkan teks tulis. Ia mengalami pula transformasi kedalam bentuk drama dan film.</p>
<p>Penelitian ini banyak menjawab persoalan-persoalan berikut. <em>Pertama</em>, bagaimanakah proses transformasi cerita Si Kabayan terjadi? bagaimana pula kaitan antara teks-teks transformasi cerita Si Kabayan dengan cerita Si Kabayan dalam sastra lisan? <em>Kedua, </em>bagaimana proses penciptaan cerita Si Kabayan pada sastra lisan dan cerita Si Kabayan pada teks-teks transformasi? <em>Ketiga, </em>makna apa yang terdapat pada cerita Si Kabayan pada sastra lisan dan cerita Si Kabayan pada teks-teks transformasi? <em>Keempat, </em>bagaimana fungsi cerita Si Kabayan pada sastra lisan dan cerita Si Kabayan pada teks-teks transformasi?</p>
<p>Penelitian ini bertujuan memperoleh deskripsi hal-hal berikut. <em>Pertama, </em>proses transformasi yang terjadi dalam cerita Si Kabayan pada teks-teks transformasi dan kaitannya dengan cerita Si Kabayan pada sastra lisan. <em>Kedua, </em>proses penciptaan cerita Si Kabayan pada sastra lisan dan cerita Si Kabayan pada teks-teks transformasi. <em>Ketiga, </em>makna yang terdapat dalam cerita Si Kabayan pada sastra lisan dan cerita Si Kabayan pada teks-teks transformasi. <em>Keempat, </em>fungsi cerita Si Kabayan pada sastra lisan dan cerita Si Kabayan pada teks-teks transformasi.</p>
<p>Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Artinya, penelitian ini mendeskripsikan Cerita Si Kabayan dan transformasinya, proses penciptaan, makna, dan fungsinya di dalam masyarakat.</p>
<p><strong>2.  Tinjauan Pustaka</strong></p>
<p>Dalam analisisnya penelitian ini menggunakan beberapa teori. Teori-teori tersebut sebagai berikut.</p>
<p><em>Pertama</em>, untuk melihat transformasi teks Cerita Si Kabayan digunakan teori dari Michael Riffatere (1978). Teori tersebut menyatakan dalam kaitannya dengan hipogram teks diproduksi melalui dua cara yaitu ekspansi dan konversi (Riffatere, 1978: 47-80). Ekspansi yaitu perluasan atau pengembangan hipogram atau matriksnya. Sedangkan konversi adalah pemutarbalikan hipogram atau matriksnya.</p>
<p><em>Kedua</em>, untuk menganalisis proses penciptaan Cerita Si Kabayan pada sastra lisan maupun Cerita Si Kabayan pada teks lain digunakan teori skema dari Amin Sweeney (1980). Sweeney (1980: 39-40) menyatakan penciptaan (komposisi) dalam masyarakat tradisional Melayu bersifat skematik. Skema merupakan dasar dalam setiap komposisi (penciptaan). Dasar penciptaan berupa skema tersebut mulai dari membangun alur cerita hingga ke persoalan diksi.</p>
<p><em>Ketiga</em>, berkenaan dengan mitos. Teori ini sebenarnya berkaitan dengan pemaknaan. Untuk itu, digunakan teori mitos dan teori signifikasi Roland Barthes (1972: 109-137). Mitos adalah suatu sistem komunikasi, suatu ujaran. Semua hal bisa menjadi mitos selama ditentukan dalam wacana. Mitos sangat ditentukan oleh cara penyampaian. Sementara itu teori signifikasi yaitu pemaknaan dalam dua tahap. Artinya, tanda pada tahap pemaknaan pertama, dapat menjadi penanda pada tahap pemaknaan berikutnya.</p>
<p><em>Keempat</em>, berkaitan dengan fungsi Cerita Si Kabayan pada sastra lisan maupun teks-teks lain. Untuk menganalisis fungsi teks Cerita Si Kabayan didasarkan pada pendapat Suripan Sadi Hutomo. Menurut Hutomo (1991: 69-74) fungsi sastra lisan adalah sistem proyeksi, pengesahan kebudayaan, alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial dan alat pengendali sosial, alat pendidikan anak, memberikan suatu jalan yang dibenarkan oleh masyarakat agar dia dapat lebih superior daripada orang lain, memberikan seseorang suatu jalan yang diberikan oleh masyarakat agar dia dapat mencela orang lain, memprotes ketidakadilan dalam masyarakat, hiburan semata atau untuk melarikan diri dari himpitan hidup sehari-hari.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>3. Hasil Penelitian dan Pembahasan</strong></p>
<p><strong>3.1 Hasil Penelitian</strong></p>
<p>Hasil penelitian ini berupa teks-teks cerita Si Kabayan. Teks-teks <em>pertama</em> meliputi cerita-cerita Si Kabayan dalam sastra lisan. <em>Kedua</em>, teks-teks ceria-cerita Si Kabayan dalam transformasinya. Transformasinya meliputi transformasi dalam tradisi tulis dan dalam tradisi kelisanan kedua. Secara keseluruhan tampak pada tabel berikut.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Teks-teks Cerita Si Kabayan pada sastra lisan yaitu sebagai berikut.</p>
<p>&#160;</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="568">
<tbody>
<tr>
<td width="40"><strong>No.</strong></td>
<td width="104"><strong>Asal   Wilayah</strong></td>
<td width="305"><strong>Judul   Cerita</strong></td>
<td width="120"><strong>Keterangan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="40" valign="top">1.</p>
<p>2.</p>
<p>3.</p>
<p>4.</td>
<td width="104" valign="top">Priangan</p>
<p>Bogor</p>
<p>Purwakarta</p>
<p>Cirebon</td>
<td width="305" valign="top">Si Kabayan Ngala Nangka</p>
<p>Si Kabayan Mayar   Hutang</p>
<p>Si Kabayan Maling   Kalapa</p>
<p>Si Kabayan Ngala   Tutut</td>
<td width="120" valign="top">
<p>&#160;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Cerita yang berasal dari wilayah Banten tidak dianalisis secara khusus. Hal ini didasarkan pada Cerita Si Kabayan dari wilayah Banten tidak termasuk <em>Genre</em> <em>Lelucon</em>. Walaupun demikian, Cerita Si Kabayan tersebut akan menjadi bahan bandingan bila diperlukan.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Teks Cerita Si Kabayan transformasi yaitu sebagai berikut</p>
<p>&#160;</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="48">No.</td>
<td width="132" valign="top">Identitas teks</p>
<p>Ragam</td>
<td width="318">Judul,   Pengarang, Tahun Terbit/Tahun Tayang/Tahun Pementasan</td>
<td width="102">Keterangan</td>
</tr>
<tr>
<td width="48" valign="top">1.</td>
<td width="132" valign="top">Tradisi tulis</p>
<ol>
<li>Cerita Anak</li>
<li>Cerita (biasa)</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li>Komik</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li>Cerpen</li>
</ol>
</td>
<td width="318" valign="top">
<p>&#160;</p>
<p><em>Ulah   Kabayan</em>, Iwan Wardiman, 1997</p>
<p>“Si Kabayan jadi   Sufi” dalam <em>Si</em> <em>Kabayan</em> <em>jadi</em> <em>Sufi,</em> Yus R. Ismail,   2004.</p>
<p><em>Si   Kabayan dan Iteung Tersayang</em>, Gerdi W.K, 1999.</p>
<p>“Gual-guil” Godi Suwarna, 1985 dalam <em>Murang-maring.</em></p>
<p>&#160;</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p>&#160;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="48" valign="top">2.</td>
<td width="132" valign="top">Tradisi Lisan Kedua</p>
<ol>
<li>Drama</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li>Film</li>
</ol>
</td>
<td width="318" valign="top"><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Guru   Kabayan</em> Etti R. S., dalam <em>Heulang Nu Ngajak Bengbat</em>,   2004.</p>
<p><em>Si   Kabayan Bola Cinta, </em>Eddy D. Iskandar, tanpa tahun<em> </em></td>
<td width="102" valign="top">
<p>&#160;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.2 Pembahasan</strong></p>
<p>Untuk memudahkan pembahasan dikemukakan hal-hal berikut. <em>Pertama,</em> kesepuluh teks cerita Si Kabayan –baik dari sastra lisan maupun transformasinya- diperlakukan sama. <em>Kedua,</em> kesepuluh teks tersebut diurutkan mulai dari cerita Si Kabayan dalam sastra lisan, cerita Si Kabayan dalam tradisi tulis, dan cerita Si Kabayan dalam tradisi kelisanan kedua.</p>
<p>Oleh karena itu selanjutnya penyebutan teks-teks tersebut secara berturut sebagai berikut. Teks <em>pertama,</em> merujuk kepada cerita “Si Kabayan Ngala Nangka”. Teks <em>kedua,</em> merujuk kepada cerita “Si Kabayan Mayar Hutang”. Teks <em>ketiga</em>, merujuk kepada cerita “Si Kabayan Maling Kalapa”. Teks <em>keempat,</em> merujuk kepada cerita “Si Kabayan Ngala Tutut”. Teks <em>kelima,</em> merujuk kepada cerita “Ulah Kabayan”. Teks <em>keenam,</em> merujuk kepada “Si Kabayan Jadi Sufi”. Teks <em>ketujuh</em>, merujuk kepada cerita “Si Kabayan dan Iteung Tersayang”. Teks <em>kedelapan,</em> merujuk kepada cerita “Gual-Guil”. Teks <em>kesepuluh,</em> merujuk kepada cerita “Guru Kabayan” teks X merujuk kepada cerita “Si Kabayan Bola Cinta”.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>3.2.1 Struktur Teks dan Tranformasinya</strong></p>
<p>Teks <em>pertama</em> memiliki karakteristik struktur sebagai berikut. <em>Pertama,</em> dari segi alur deskripsi hubungan kausalnya sebagai berikut.</p>
<p>Perintah Abah kepada Si Kabayan untuk memetik nangka di kebun menyebabkan Si Kabayan pergi juga ke kebun, walaupun agak malas. Karena itu, sesampainya di kebun setelah yakin buah nangka yang dicarinya ketemu dan matang, ia pun menebas buah nangka tersebut dari tangkainya. Sekali tebas buah nangka itu sudah tergeletak di tanah. Karenanya ia mencoba mengangkat buah nangka itu. Ternyata berat dan merepotkan.</p>
<p>Karena berat dan merepotkan, ia hanyutkan saja buah nangka itu ke sungai. Tindakan itu juga didorong oleh pikiran bahwa sesuatu yang matang itu harus tahu jalan pulang.</p>
<p>Oleh karena itu, pulanglah ia dengan tangan hampa. Abah keheranan mengapa Si Kabayan pulang dengan tangan hampa, mana gerangan buah nangkanya. Pertanyaan itu dijawab oleh Si Kabayan dengan enteng bahwa buah nangka itu sudah pulang duluan melalui sungai karena ia yakin buah nangka itu tahu jalan pulang. Abah sangat kecewa sekali dengan jawaban tersebut. Namun, kekecewaan Abah tersebut hanya melahirkan reaksi  Si Kabayan yang tenang-tenang saja.</p>
<p><em>Kedua,</em> dari segi tokoh, tokoh utama cerita ini adalah Si Kabayan. Ia digambarkan agak malas, tetapi ia juga pandai menyindir orang lain, terutama Abah. Abah digambarkan sebagai orang tua yang mudah marah dan tidak jeli karena mudah terjebak oleh pikiran-pikiran Si Kabayan.</p>
<p><em>Ketiga,</em> dari segi latar, teks pertama ini tidak menunjukkan penanda latar eksplisit. Hanya, secara implisit cerita itu berlangsung di <em>lembur</em> (<em>kampung</em>).</p>
<p>Teks <em>kedua </em>memiliki karakteristik struktur sebagai berikut. <em>Pertama,</em> deskripsi hubungan kausalitasnya sebagai berikut. Yang menggerakkan cerita ini adalah janji Si Kabayan akan melunasi utang pada suatu waktu. Janji tersebut mengakibatkan kebingungan. Ia sendiri belum bisa melunasi utang tersebut. Karena kebingungan, Si Kabayan mencari akal untuk ‘<em>memperdaya’</em> penagih utang. Akal-akalan itu mengakibatkan Si Kabayan pura-pura menjadi ayam ‘<em>seberang’</em>.</p>
<p>Janji Si Kabayan untuk melunasi utangnya pada suatu waktu  mengakibatkan penagih utang menemuinya. Ia minta Si Kabayan melunasi utang-utangnya. Karena Si Kabayan sedang pergi –sebagaimana dituturkan istrinya- istrinyalah yang menemui penagih utang itu. Ia mengatakan mau membayar utang dengan ayam ‘<em>seberang’</em> yang ada dalam kurungan. Karena dikatakan demikian, penagih utang pun membuka kurungan ayam untuk memeriksa.</p>
<p>Karena kurungan dibuka, Si Kabayan -yang pura-pura jadi ayam seberang- lari kabur menceburkan diri ke sungai; ayam ‘<em>seberang’</em> –-dalam pandangan penagih utang—itu pun lepas dan lari sekencang-kencangnya. Penagih utang itu tidak tahu kalau ia dikelabui.</p>
<p>Oleh karena ayam itu lepas, Istri Si Kabayan menyalahkan penagih utang. Karena merasa bersalah, penagih utang itu menyatakan utang Si Kabayan lunas. Begitu pula ketika Si Kabayan  menemui penagih utang. Karena ayamnya lepas, penagih utang itupun menyatakan utang-utang Si Kabayan lunas.</p>
<p><em>Kedua</em>, dari segi tokoh bisa dirangkum sebagai berikut. Si Kabayan dan istrinya bersekongkol untuk memperdayai penagih utang. Akan tetapi, penagih utang itu bukan orang yang jeli sehingga mudah saja ia tertipu dengan jebakan sepasang suami istri ini. Ia mudah merasa bersalah. Rasa bersalah ini ‘dimanfaatkan’ dengan baik oleh kedua suami-istri ini. Mereka berhasil memperdayai penagih utang tersebut.</p>
<p><em>Ketiga,</em> cerita ini tidak memiliki penanda latar secara eksplisit. Latar tempat –apalagi latar waktu- hanya ditunjukkan oleh penanda-penanda implisit yang mengarah pada latar <em>lembur</em> (<em>kampung</em>).</p>
<p>Secara keseluruhan cerita ini tidak menunjukkan keterikatan pada ruang dan waktu tertentu. Artinya, yang dipentingkan dari cerita ini adalah persoalan gagasan/makna yang tersembunyi di balik peristiwa, tokoh, dan latar yang ada. Cerita lebih diabdikan pada gagasan atau makna tertentu, bukan ‘menceritakan’ sesuatu yang terjadi pada ruang dan waktu tertentu.</p>
<p>Teks <em>ketiga </em> memiliki karakteristik struktur sebagai berikut. <em>Pertama, </em>dari segi alur, deskripsi kausal peristiwa-peristiwa/hal-hal yang terdapat di dalamnya sebagai berikut. Hal yang menggerakan cerita ini adalah keinginan Nyi Iteung menikmati kelapa muda, ia sedang mengidam. Keinginan itu menyebabkannya meminta tolong suaminya memetik kelapa muda. Karena dimintai tolong istrinya, Si Kabayan pun pergi ke kebun mertuanya untuk memetik kelapa muda.</p>
<p>Kepergian Si Kabayan ke kebun mertuanya mengakibatkan Si Kabayan berusaha mencuri kelapa muda. Ia menemukannya di kebun Wak Haji. Karena di kebun mertuanya tak ada kelapa muda Usahanya menemukannya di kebun mertuanya tidak berhasil, maka Si Kabayan pun memetik kelapa muda milik Wak Haji.</p>
<p>Ketika ia memetik kelapa muda milik Wak Haji awalanya Wak Haji tidak ada. Tiba-tiba Wak Haji datang ke kebunnya, dan karena melihat Si Kabayan memetik kelapanya, Wak Haji menegur Si Kabayan kenapa mencuri kelapanya. Karena ditegur Wak Haji demikian, Si Kabayan menjawab bahwa dia sedang mencari jalan ke langit.</p>
<p><em>Kedua</em>, berkaitan dengan tokoh. Ketiga tokoh tersebut digambarkan penutur sangat proporsional. Si Kabayan mendapat penggambaran yang amat kompleks karena berkaitan dengan kompleksitas persoalan yang ingin dikemukakan cerita ini. Kompleksitas tersebut sudah cukup diwakili Si Kabayan. Kehadiran tokoh Nyi Iteung dan Wak Haji tampaknya hanya memperkuat kompleksitas yang dihadapi tokoh Si Kabayan. Oleh karena itu, penggambaran kedua tokoh terakhir ini tidak begitu penting.</p>
<p><em>Ketiga, </em>latar cerita. Tidak ada penanda latar yang eksplisit pada cerita ini. Satu-satu penanda latar tempat yang menunjukan <em>lembur</em> adalah <em>kebon </em>(<em>kebun</em>). Biasanya <em>kebon </em>memang ada di <em>lembur </em>(<em>Kampung</em>).</p>
<p>Teks <em>keempat</em> strukturnya memiliki karakteristik sebagai berikut. <em>Pertama, </em>cerita ini memiliki kausalitas sebagai berikut. Karena miskin bahkan tidak punya uang untuk membeli lauk sekalipun, Nyi Iteung minta Si Kabayan mengambil siput ke sawah untuk lauk. Karena itu, pergilah Si Kabayan ke sawah hendak mengambil siput. Sawah itu menyebabkan Si Kabayan ketakutan karena di dalamnya tampak bayangan langit. Karena takut itulah Si Kabayan mengambil siput dengan cara memancingnya. Keruan saja Si Kabayan tidak berhasil mengambil siput dengan memancingnya. Karena siput sulit sekali dipancing.</p>
<p>Sementara itu, Nyi Iteung sangat kesal menunggu Si Kabayan pulang membawa siput dari sawah. Kekesalan itu menyebabkannya menyusul Si Kabayan  ke sawah. Karena Si Kabayan duduk di atas pematang memancing siput, Nyi Iteung bertanya, bagaimana hasil siputnya. hal itu dijawab Si Kabayan dengan mengatakan betapa sulitnya memancing siput. Tentu saja Nyi Iteung kesal mendengar jawaban Si Kabayan seperti itu. Kekesalan itu diakibatkan pula oleh ketidakberhaislan Si Kabayan  memancing siput.</p>
<p>Kekesalan Nyi Iteung itu mengakibatkan Nyi Iteung mendorong Si Kabayan ke sawah  dan mengajak Si Kabayan pulang. Ajakan Nyi Iteung kepada Si Kabayan pulang juga dikarenakan kekesalan Nyi Iteung atas kemalasan Si Kabayan. Karena didorong Nyi Iteung ke sawah, Si Kabayan pun tercebur, ia mengatakan betapa dangkalnya sawah itu. Oleh karena itu Nyi Iteung membalasnya dengan mengatakan Si Kabayan malas sekali.</p>
<p>Ajakan Nyi Iteung pada Si Kabayan agar segera pulang menyebabkan Si Kabayan senang sekali. Rasa senang diajak pulang itu karena perut Si Kabayan sudah sangat lapar. Ketika sampai di rumah, Nyi Iteung menyuguhi Si Kabayan makan hanya dengan garam. Hal itu juga disebabkan karena Si Kabayan tidak berhasil memancing siput.</p>
<p><em>Kedua,</em> pada cerita ini tokohnya hanya dua orang yaitu Si Kabayan dan Nyi Iteung. Si Kabayan digambarkan malas dan membesar-besarkan persoalan. Nyi Iteung digambarkan sebagai perempuan yang tidak sabar. Ia sangat kesal mendapatkan suaminya mengambil siput, tapi dengan cara memancingnya. Karena sampai kapanpun tidak akan pernah berhasil. Menurut pendapatnya Si Kabayan  bukan bodoh, tapi malas. Si Kabayan malas bekerja keras dan malas kena air.</p>
<p>Keduanya selalu berinteraksi dalam aposisi biner. Oleh karena itu, pemahaman akan watak, perilaku Si Kabayan tidak mungkin tanpa dikaitkan dengan perilaku, watak Nyi Iteung.</p>
<p><em>Ketiga,</em> latar cerita ini sebagai berikut. Pada cerita ini pun tak ada penanda latar waktu dan tempat yang eksplisit. Hanya ada penanda latar yang implisit yaitu <em>sawah</em>. Artinya, cerita terjadi di perkampungan yang entah dimana dan entah kapan.</p>
<p>Bisa dipahami, karena cerita ini -seperti juga cerita-cerita lainnya- tidak hendak ‘mencerminkan’ peristiwa yang terikat oleh ruang dan waktu. Melainkan cerita –lebih khusus peristiwa-peristiwa– yang bisa terjadi dimana saja dan kapan saja.</p>
<p>Keempat teks pertama ini seluruhnya berasal dari sastra lisan. Oleh karena itu, teks ini diperlakukan sebagai teks hipogram. Artinya, keempat teks ini dijadikan sebagai rujukan/teks sumber bagi teks-teks transformasi.</p>
<p>Sementara itu teks <em>kelima </em>sampai teks <em>kesepuluh</em> merupakan teks transformasi. Oleh karena itu, dalam pembahasan strukturnya selalu dikaitkan dengan hipogramnya.</p>
<p>Teks <em>kelima </em>memiliki karakteristik struktur sebagai berikut. <em>Pertama</em>, alurnya sebagai berikut. Cerita diawali oleh kekesalan Ambu kepada Si Kabayan karena semua orang bekerja, sementara Si Kabayan masih tidur saja. Kekesalan itu terutama karena Si Kabayan punya kebiasaan selalu bangun terlambat. Karena kesal Ambu dan Nyi Iteung berusaha membangunkan Si Kabayan. Usaha keduanya hanya membuahkan kegagalan. Kegagalan itu juga disebabkan oleh kemalasan Si Kabayan.</p>
<p>Kegagalan itu menyebabkan Ambu menyiram Si Kabayan dengan segayung air. Namun Si Kabayan bereaksi bahwa dia bisa mandi sendiri. Reaksi itu menimbulkan kemarahan Ambu dan Ambu memerintahkan Si Kabayan memetik Buah Nangka.</p>
<p>Perintah itu menyebabkan Si Kabayan ia pura-pura sakit perut. Akan tetapi, hal itu direaksi Ambu dengan dingin. Ambu tidak percaya dan tahu itu hanya akal-akalan Si Kabayan.</p>
<p>Si Kabayan pun terpaksa pergi ke kebunn. Ia pun berusaha memetik buah nangka. Usaha itu membuahkan hasil. Namun, karena buah nangka itu besar dan berat, keberhasilan tersebut hanya melahirkan keinginan Si Kabayan memperdayai Abah. Keinginan itu menyebabkan dirinya masuk karung agar disangka buah nangka.</p>
<p>Sementara itu Ambu, Nyi Iteung, dan Abah heran mengapa Si Kabayan belum juga pulang, padahal sudah sore hari. Keheranan tersebut menimbulkan desakan Nyi Iteung dan Ambu agar Abah menyusul ke kebun. Dengan berat hati pergilah Abah ke kebun karena didesak terus menerus.</p>
<p>Sesampai di kebun, Abah heran karena Si Kabayan tidak ada  yang ada hanya dua karung nangka. Hal itu tentu menyebabkan Abah kesal. Kekesalan juga disebabkan oleh karena Si Kabayan tidak ada dan di situ hanya ada dua karung nangka. Kekesalan itu  menimbulkan kegembiraan Si Kabayan dan tindakan Abah memanggul kedua karung tersebut. Salah satu karung menyebabkan keheranan Abah karena ternyata berat sekali.</p>
<p>Karena berat sekali Abah membanting karung nangka itu berulang-ulang. Hal itu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa yang diderita Si Kabayan. Rasa sakit itu menyebabkannya memohon ampun kepada Abah. Kenyataan itu menimbulkan kekesalan Abah dan Si Kabayan meminta hukuman. Ia dijewer dan harus menggendong Abah ke rumah.</p>
<p><em>Kedua,</em> hubungan antartokoh cerita ini sebagai berikut. <em>Pertama</em>, tokoh utama cerita ini adalah Si Kabayan. <em>Kedua,</em> dalam berbagai soal, Si Kabayanlah yang memegang peran, sehingga kalau dipasangkan menjadi Si Kabayan versus Ambu, Si Kabayan versus Nyi Iteung, Si Kabayan versus Abah.</p>
<p><em>Ketiga, </em>Latar cerita tersebut sebagai berikut. Penempatan nama Kampung Ciboloho (Wardiman, 1998:7) sebagai latar tempat berlangsungnya rentetan peristiwa bukanlah merujuk pada kampung Ciboloho dalam dunia nyata atau secara geografis. Penunjukan nama Kampung Ciboloho hanyalah merupakan penanda bahwa peristiwa-peritiwa dalam cerita ini berlangsung di <em>lembur</em> (<em>kampung</em>). Oleh karena itu apapun namanya, itu hanya penanda yang merujuk pada suasana <em>lembur</em> tadi.</p>
<p>Akan tetapi, menarik mencari kaitan antara teks cerita ini dengan hipogramnya, cerita-cerita Si Kabayan dalam sastra lisan. Bila dalam hiprogramnya Si Kabayan selalu unggul, dalam cerita ini tidak demikian. Bila dalam hipogramnya  Si Kabayan tidak mendapat hukuman, dalam cerita ini Si Kabayan mendapat hukuman dari Abah.</p>
<p>Bisa dipahami, Cerita ini dimaksudkan sebagai bacaan anak-anak. Ada pertimbangan-pertimbangan didaktis. Seperti tadi, Si Kabayan salah harus dihukum. Pembahanan peristiwa Abah menghukumi Si Kabayan itu lebih didaktis sifatnya agar anak-anak tidak meniru kejelekan Si Kabayan.</p>
<p>Teks <em>keenam </em> memiliki karakteristik struktur sebagai berikut. <em>Pertama, </em>kaitan kausal didalamnya sebagai berikut. Kemiskinan Si Kabayan semakin bertambah pada jaman krisis. Oleh karena itu, ia mengubah perilakunya. Ia lebih banyak berbuat baik, dan merenung di surau pinggir sungai. Perubahan itu juga karena ia berharap orang-orang kaya dan Pak Pejabat yang ada di kampungnya akan menolong dia.</p>
<p>Harapan itu hanya melahirkan ketidakpedulian orang-orang kaya dan Pak Pejabat di kampungnya. Ketidakpedulian orang-orang kaya dan Pak Pejabat dan ketidakpedulian orang-orang kampung terhadap kehidupannya membual Si Kabayan merasa lelah berbuat baik. Hal ini melahirkan keputusasaan. Ia berniat mencuri nira. Niat itupun ditindaklanjuti, ia naik pohon nira milik Ki Silah.</p>
<p>Perubahan perilaku Si Kabayan tersebut menyebabkan dua hal. <em>Pertama</em>, orang-orang kampung menganggapnya sufi. <em>Kedua</em>, Ki Silah tidak percaya Si Kabayan menjadi sufi. Anggapan-anggapan orang-orang kampung Si Kabayan jadi sufi hanya membuat dia lelah berbuat baik.</p>
<p>Ketidakmampuan Ki Silah menyebabkannya menyewa mata-mata untuk memata-matai perilaku Si Kabayan. Karena itu, mata-mata itu selalu mengintip Si Kabayan termasuk ketika Si Kabayan naik pohon nira Ki Silah karena ia yakin Si Kabayan akan mencuri nira Ki Silah, Si Buraong –mata-mata Ki Silah– melaporkan hal tersebut kepada Ki Silah, Pak Kiai, dan orang-orang sekampung.</p>
<p>Karena diberitahu Si Buraong, orang-orang kampung, Pak Kiai, dan Ki Silah berdatangan ke tempat Si Kabayan naik ke pohon nira. Ki Silah. Karena itu, Pak Kiai memintanya turun. Karena menghargai Pak Kiai, Si Kabayan pun turun.</p>
<p>Karena Si Kabayan sudah turun, Pak Kiai bertanya apakah benar ia mencuri nira Ki Silah. Atas pertanyaan ini, Si Kabayan menjawab bahwa ia sedang meneliti jalan ke surga yang tidak ada di kampungnya. Jawaban itu, menimbulkan pertanyaan salah seorang warga, mengapa hal itu terjadi.  Si Kabayan menjawab karena terhalang oleh orang kaya yang kikir yang tidak peduli sesama. Bahkan baginya lebih baik menyewa mata-mata.</p>
<p>Jawaban Si Kabayan itu menyebabkan Pak Kiai menatap menyalahkan Ki Silah dan kepercayaan orang-orang kampung bahwa Si Kabayan sufi semakin kuat. Karena Pak Kiai menatap Ki Silah dengan tatapan menyalahkan, Ki Silah merasa malu.</p>
<p><em>Kedua,</em> tokoh-tokoh dalam cerita ini bisa dirangkum sebagai berikut. <em>Pertama, </em>pada kelompok Si Kabayan ada Pak Kiai dan orang-orang kampung. <em>Kedua, </em>pada kelompok Ki Silah ada dia dan Si Buraong. Perbedaan kelompok tersebut berkaitan dengan kepercayaan bahwa Si Kabayan jadi sufi. Kelompok pertama percaya, kelompok kedua menentangnya.</p>
<p><em>Ketiga,</em> berkaitan dengan latar cerita ini bisa dijelaskan sebagai berikut. Penyebutan latar tempat <em>Kampung</em> <em>Dudidang</em> (Ismail, 2004: 21) Sebenarnya sama dengan yang terjadi pada cerita “Ulah Kabayan”. Penyebutan tersebut, hanya penanda bahwa latar peristiwa dalam  cerita tersebut di <em>lembur (kampung)</em>. <em>Kampung Dudidang </em>tidak merujuk kepada suatu kampung yang benar-benar ada dalam dunia nyata. Artinya, peristiwa bisa terjadi di mana saja.</p>
<p>Penyebutan latar waktu… <em>sejak harga-harga kebutuhan pokok naik…</em> juga sama dengan kasus tadi. Jaman ini bisa terjadi kapan pun. Samar-samar mengisyaratkan terjadi di Indonesia, bila latar tersebut dihubungkan  dengan tahun terbitnya buku ini. Akan tetapi, hal itu tidak punya argumen yang kuat.</p>
<p>Secara keseluruhan teks ini merupakan transformasi dari cerita <em>“Si Kabayan Mencuri Kelapa”</em>. Hanya, di sana-sini mengalami perluasan hipogram atau ekspansi, terutama pada peristiwa dan dialog ketika Si Kabayan ditanya Pak Kiai dan warga. Pengembangan hipogram ini terjadi juga pada setting waktu. Dalam cerita Si Kabayan dalam sastra lisan tak pernah diceritakan kapan waktu terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut, terutama waktu yang sifatnya kalendris.</p>
<p>Teks <em>ketujuh</em> memiliki karakteristik struktur sebagai berikut. <em>Pertama</em>, alur cerita ini dapat digambarkan dalam deskripsi berikut. Kemalasan Si Kabayan bangun pagi  dipergoki Abah. Karenanya, Abah menakut-nakuti jangan-jangan Nyi Iteung dibawa kabur orang. Kemalasan Si Kabayan bangun pagi itu juga menyebabkan terjadinya pertengkaran dirinya dengan Nyi Iteung. Tindakan Abah seperti itu menyebabkan Si Kabayan mencari-cari Nyi Iteung ke berbagai tempat.</p>
<p>Tindakan Abah seperti itu menimbulkan rasa benci Si Kabayan kepada Abah. Kebencian Si Kabayan kepada Abah disebabkan pula oleh beberapa hal, yaitu ketersinggungan Si Kabayan atas pernyataan Abah kenapa Si Kabayan rajin kalau Nyi Iteung sakit saja, rasa iri Si Kabayan kepada Abah waktu ia memperbaiki genteng, abah enak-enakan dipijit Nyi Iteung, dan perkataan Abah yang jelek-jelek tentang Si Kabayan waktu dirinya memperbaiki genteng rumah Abah yang bocor.</p>
<p>Tindakan Si Kabayan mencari Nyi Iteung ke mana-mana itu menyebabkannya bertemu dengan Ambu. Ambu menyatakan Nyi Iteung sedang ke pasar. Karena sudah terlanjur Si Kabayan ada di kebun, Ambu pun minta tolong Si Kabayan membantunya. Karena tahu Nyi Iteung sedang ke pasar, maka Si Kabayan pun pulanglah sambil memanggil-manggil Nyi Iteung.</p>
<p>Hal itu menimbulkan keheranan Nyi Iteung. Keheranan itu menimbulkan jawaban Si Kabayan bahwa ia menghawatirkan Nyi Iteung dan menyebabkan Si Kabayan mengadukan Abahnya kepada Nyi Iteung. Pengaduan itu hanya menimbulkan jawaban bahwa Nyi Iteung sudah paham sifat Si Kabayan dan sifat Abah. Pernyataan Si Kabayan menghawatirkan Nyi Iteung menyebabkan Nyi Iteung senang mendengarnya.</p>
<p>Karena Si Kabayan menghawatirkan Nyi Iteung, maka ketika Nyi Iteung sakit, ia mengerjakan semua pekerjaan rumah, kecuali memasak. Karena itulah ia meminta makanan kepada mertuanya. Namun, hal itu ditolak Abah. Penolakan itu menyebabkan Si Kabayan menyatakan bahwa Nyi Iteung sakit. Oleh karena itulah, Abah mengabulkan permintaan Si Kabayan tadi.</p>
<p>Karena tahu Nyi Iteung sakit, maka Abah pun menengoknya. Karena itulah Abah menyayangkan mengapa Si Kabayan rajin itu kalau Nyi Iteung sakit saja. Pernyataan ini menimbulkan ketersinggungan Si Kabayan. Pernyataan ini menyebabkan Si Kabayan mempermainkan Abah dan kebencian Si Kabayan kepada Abah semakin membesar.</p>
<p>Tindakan Si Kabayan mempermainkan Abah menimbulkan ketersinggungan Abah. Ketersinggungan Abah itu menyebabkan Si Kabayan senang dan Si Kabayan ditegur Ambu. Karena itu, Si Kabayan minta maaf.</p>
<p>Perasaan Si Kabayan melihat Abah panik menyebabkannya menyindir Abah dengan ciri-ciri provokator ketika mereka ngobrol-ngobrol di ruang kopi. Karena itu, Abah pun tersinggung dan pulang duluan. Ketersinggungan ini menimbulkan ketakutan Si Kabayan waktu esoknya Nyi Iteung memintanya mengantar cabe untuk Ambu. Ketersinggungan Abah itu menyebabkan perubahan perilaku Abah kepada Si Kabayan. Perubahan itu pun disebabkan oleh ketakutan Abah bahwa provokator itu akan ditangkapi.</p>
<p>Pertengkaran Si Kabayan dengan Nyi Iteung menimbulkan kesadaran Si Kabayan bahwa akarnya adalah uang. Kesadaran itu menimbulkan khayalan Si Kabayan kalau jadi dukun pasti banyak uang dan rencana Si Kabayan mencari peluang usaha di kota.</p>
<p>Rencana itu hanya menimbulkan kegagalan karena kebiasaannya yang mudah tertidur di manapun. Akan tetapi, kegagalan itu melahirkan rencana berikutnya yaitu ia akan survey, tapi disertai Nyi Iteung agar ada yang akan membangunkannya kalau tertidur.</p>
<p>Sekali waktu Abah minta tolong kepada Si Kabayan untuk memperbaiki genteng rumahnya yang bocor. Hal itu pada saat yang sama menimbulkan iri Si Kabayan kepada Abah karena Abah dipijiti Nyi Iteung. Akan tetapi, permintaan tolong Abah ini menimbulkan keinginannya mempermainkan Abah. Rasa iri itu menyebabkan kebencian Si Kabayan kepada Abah makin membesar. Karena nikmat dipijit Nyi Iteung, tak terasa Abah menjelek-jelekan Si Kabayan. Hal ini menambah kebencian Si Kabayan kepada Abah bertambah lagi.</p>
<p>Perkataan Abah yang menjelek-jelekan Si Kabayan yang dikupingnya di atas genteng itu menyebabkan Si Kabayan ceroboh, ia terjatuh. Karenanya Ambu, Nyi Iteung, dan Abah sibuk menolongnya. Padahal Si Kabayan hanya pingsan pura-pura. Hal itu amat menyenangkan Si Kabayan, tetapi menimbulkan ketersinggungan Nyi Iteung.</p>
<p>Karena itulah, Si Kabayan minta maaf kepada Nyi Iteung dengan penuh iba. Karena itu, Nyi Iteung pun memaafkan Si Kabayan. Hal itu menimbulkan kesadaran bersama, Nyi Iteung dan Si Kabayan, bahwa hidup itu penuh sandiwara.</p>
<p><em>Kedua, </em>tokoh-tokoh cerita ini sebagai berikut. Si Kabayan digambarkan malas. Abah digambarkan selalu sengit kepada Si Kabayan. Ambu digambarkan sangat bijaksana. Nyi Iteung digambarkan sebagai istri yang baik dan anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Terakhir, orang-orang di warung yang gemar pada hal-hal yang sensasional.</p>
<p>Tampaknya kehadiran tokoh orang-orang itu hanya penting menjadi pemicu Si Kabayan menyindir mertuanya, Abah, dengan ciri-ciri propokator yang dekat dengan kehidupan Abah. Akan tetapi, keempat tokoh cerita ini, Si Kabayan, Abah, Ambu, dan Nyi Iteung, digambarkan pencerita secara sempurna. Mereka memiliki sisi baik, tetapi juga memiliki sisi buruk. Artinya, mereka dihadirkan sebagai manusia-manusia yang wajar.</p>
<p><em>Ketiga, </em>secara rinci gambaran latar cerita ini sebagai berikut. Tidak ada satu pun penyebutan nama tempat dan waktu secara eksplisit. Hanya, memang seluruh kejadian berlangsung di <em>lembur</em> (<em>kampung</em>).</p>
<p>Tampaknya pencerita tidak mementingkan di mana dan kapan cerita ini terjadi. Yang penting, cerita ini di abdikan pada makna/gagasan tertentu, terutama melalui peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh utamanya dan tokoh lainnya.</p>
<p>Tampaknya struktur teks ini lebih merupakan pengembangan/ekspansi hipogramnya. Ekspansi itu terutama tampak pada penggambaran keempat tokohnya yang memiliki sisi yang lengkap, sisi baik dan sisi buruk. Pengembangan lain tampaknya berkaitan dengan topik obrolan masyarakat yang bicara soal provokator. Hal ini ada kaitannya dengan konteks social –terutama tahun terbit– buku ini, yaitu masa-masa awal reformasi (1999). Pada masa itu banyak dibicarakan soal-soal provokator yang mengacaukan negara kita.</p>
<p>Teks <em>kedelapan </em> memiliki karakteristik sebagai berikut. Yang menggerakkan cerita ini adalah keinginan Kabayan agar dirinya gendut karena merasa selama ini ia terlalu kurus. Keinginan gendut itu melahirkan keinginan menjadi Kuwu. Keinginan gendut, keinginan menjadi Kuwu, dan karena kematian Juragan Kuwu itu menyebabkan adanya pilihan Kuwu yang diikuti oleh Kabayan sebagai salah satu calonnya. Pilihan Kuwu tersebut melahirkan Kabayan sebagai pemenangnya, sekalipun kemenangan itu dipandang aneh oleh banyak pihak. Kemenangan itu melahirkan kegemaran Kuwu Kabayan berpidato, sekalipun pidatonya kacau balau dan ia pun mengajak warganya membangun jalan. Ajakan itu menghasilkan kesepakatan. Konsekuensi dari kesepakatan adalah rakyat mengumpulkan sumbangan. Setelah sumbangan terkumpul Kuwu Kabayan pun memisahkan sumbangan itu untuk keperluannya sendiri karena hal itu didorong pula oleh keinginan untuk gendut tadi dan pembangunan jalan pun dilaksanakan. Uang sumbangan yang ia sisihkan untuk kepentingannya sendiri itu, ia belanjakan semaunya terutama ia membeli timbangan. Setelah punya timbangan, ia pun menimbang badannya. Ia gembira karena ternyata berat badannya bertambah sepuluh kilo.</p>
<p>Sementara itu, karena pembangunan jalan selesai, Anemer itu pun menyerahkannya kepada Kuwu Kabayan Kuwu Kabayan pun mendapat pujian dari Juragan Camat atas keberhasilannya itu. Namun, ketika Anemer itu menyerahkan jalan yang telah selsai dibangunnya, Kuwu Kabayan memperotes karena ternyata jalan itu tidak dibangun sesuai kesepakatan. Karena itu, Anemer itu berusaha menyuap Kuwu Kabayan  yang menghasilkan penolakan Kuwu Kabayan. Penolakan itu dirasakan Anemer sebagai kepura-puraan Anemer itu pun menambah uang sogokannya hingga menjadi tiga juta rupiah dan Kuwu Kabayan pun menerimanya dengan senang hati.</p>
<p>Karena ia makan uang sogokan dari Anemer dan uang  yang ia pisahkan dari sumbangan pembangunan jalan, maka berat badan Kuwu Kabayan pun bertambah menjadi 80 Kg Keberhasilan ini menimbulkan keinginan baru berupa keinginan menambah berat badannya. Keinginan itu alih-alih menjadi keinginan membangun taman-taman yang ada patung-patungnya seperti di kota. Karena ia yakin kalau berhasil berat badannya pun akan bertambah pula. Karena itu  Kuwu Kabayan meminta persetujuan rakyat dan rakyat pun menyetujuinya. Mereka pun mengumpulkan sumbangan kembali, maka pembangunan taman dan patung  itu akhirnya dilaksanakan. Karena itu berat badan Kuwu Kabayan pun bertambah menjadi 90 kg.</p>
<p>Semangat menambah berat badan, karena ia berhasil menaikan berat badannya lagi, semakin bertambah. Oleh karena itu, ia pun ingin membangun mesjid agar tidak kalah oleh masjid kota, maka pembangunan pun dilaksanakan, tetapi hal itu menimbulkan kecurigaan orang-orang. Karena membangun masjid maka berat badan Kuwu Kabayan  bertambah menjadi 1 Kwintal, berat badan Kuwu Kabayan setiap hari bertambah. Ia kaget setiap kali menimbang badannya. Karena berat badan Kuwu Kabayan setiap hari ia sangat kerepotan dengan berat badannya itu. Hal ini menimbulkan menimbulkan ketakutan Kuwu Kabayan untuk menimbang berat badan dan bercermin. Yang mengakibatkan ia melempari setiap kaca yang ditemuinya. Dan bahkan ia tidak mampu berjalan. Oleh karena itu, ia mendatangkan dukun untuk mengobati penyakitnya.</p>
<p>Kerepotan penderitaan Kuwu Kabayan berakumulasi, ia bahkan tidak bisa berdiri. Kondisi ini menyebabkan orang-orang menyumpahi dia, ia digeletakan begitu saja di lantai karena berkali-kali ranjang roboh, dan perilakunya sekarang adalah mengerang-ngerang kesakitan dan minta ampun, perutnya bergerak-gerak seperti hendak melahirkan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran para pejabat, kalau-kalau Kuwu Kabayan cepat mati. Karena khawatir, mereka bermaksud memberikan penghargaan atas jasa Kuwu Kabayan dalam pembangunan.</p>
<p>Kuwu Kabayan pun mendapat penghargaan. Oleh karena itu, para pejabat itu naik ke panggung, masyarakat penasaran ingin melihat Kuwu Kabayan, macam-macam pula reaksi mereka, ada yang takjub, kaget, kasihan, bahkan ada yang menyumpahinya. Pemberian penghargaan itu menimbulkan pula keributan di atas panggung yang mengakibatkan ketiga pejabat itu berteriak minta tolong. Pemberian penghargaan pun menimbulkan pula keajaiban  berupa perut ketiga pejabat itu makin membesar hingga kini ada empat bola raksasa yang meloncat-loncat, membumbung tinggi ke angkasa, dan meledak hampir bersamaan, maka terjadilah geger, mereka saling berebut uang yang berhamburan  dari perut para pejabat itu. Mereka tak peduli itu uang haram atau tidak. Mereka berebut dengan segala cara.</p>
<p><em>Kedua, </em>berkaitan dengan tokoh, deskripsinya sebagai berikut. Tokoh utama cerpen ini adalah Si Kabayan. Ia hadir secara kualitatif  maupun kuantitatif. Secara kualitatif Si Kabayan memang merupakan penggerak, yang digerakkan, dan yang dominan sampai pada puncak konflik. Secara kuantitatif Si Kabayan hadir mendominasi keseluruhan teks dari awal sampai akhir. Tokoh-tokoh lain hanya hadir sebagai tokoh pembantu.</p>
<p>Selain tokoh utama dan tokoh pembantu, yang perlu dikemukakan pada analisis ini antara lain berkenaan dengan tokoh individual dan tokoh kolektif. Selain itu, adanya tokoh pengukuh mitos dan tokoh penentang mitos.</p>
<p>Rakyat menunjukkan ambivalensinya. Di satu pihak mereka merupakan pengukuh mitos kekuasaan serakah, di pihak lain rakyat juga penentang mitos kekuasaan serakah. Sekalipun hal itu dilakukan dengan perlawanan yang paling lemah. Tampaknya ini semacam tanda bahwa manusia sesungguhnya semua haus kekuasaan manakala dirinya merasa kuat.</p>
<p><em>Ketiga, </em>berkaitan dengan latar cerita ini. Satu-satunya penyebutan latar eksplisit adalah penyebutan frase <em>Jaman ayeuna,</em> <em>aya hiji jalma</em>. Penyebutan latar waktu yang eksplisit itu tampaknya digunakan pencerita untuk menegaskan bahwa ini terjadi masa kini, tetapi frase berikutnya <em>aya hiji jalma</em> menunjukkan  bahwa cerita pendek itu (<em>genre yang dipilih pengarang)</em> ada kaitannya dengan <em>genre</em> masa lalu, yaitu dongeng. Dongeng itu ditunjukkan dengan perilaku si Kabayan, tetapi Kabayan itu menjadi pejabat masa kini.</p>
<p>Kaitan antara struktur teks ini dengan hipogramnya adalah berupa pemutarbalikan hipogram atau konversi. Konversi atau pemutarbalikan terutama berkaitan dengan watak si Kabayan yang dalam banyak cerita lisan lebih digambarkan seperti seorang yang tidak punya keinginan. Apalagi keinginan berkuasa. dan menggunakan kekuasaan dengan semena-mena seperti tampak pada cerpen “Gual-guil” ini.</p>
<p>Selain terjadi konversi terutama berkaitan dengan watak tokoh Si Kabayan terjadi pula ekspansi/perluasan hipogram. Perluasan itu berkaitan dengan persoalan kekuasaan. Pada banyak cerita lisan tidak ada yang mempersoalkan kekuasaan. Kalaupun ada, tidak seluas, seintens seperti pada cerpen ini.</p>
<p>Teks <em>kesembilan</em> memiliki karakteristik sebagai berikut. <em>Pertama,</em> alur cerita ini sebagai berikut. Pertengkaran kedua anak yang berebut layang-layang itu mengkagetkan Kabayan yang sedang terkantuk-kantuk di depan rumahnya. Kabayan marah karena terganggu. Karena itulah kedua anak itu pun meminta maaf kepada kabayan.</p>
<p>Permohonan maaf dikabulkan Kabayan seraya menyuruh belajar kepada kedua anak itu. Mereka pun menjelaskan mereka tidak sekolah karena miskin. Karena itu, Kabayan menawarkan biar mereka sekolah dengannya. Tawaran tersebut menimbulkan kegembiraan pada kedua anak itu. Kegembiraan itu menyebabkan mereka belajar dengan semangat yang menggebu.</p>
<p>Semangat belajar yang menggebu menyebabkan beberapa akibat yaitu kegembiraan Kabayan, penilaian Kabayan mereka belajar sangat cepat, kesungguhan Kabayan dalam mendidik mereka walau dengan sarana seadanya, seperti pakai koran bekas. Akan tetapi, kesungguhan Kabayan itu menimbulkan ejekan dari Sudagar. Kabayan pun balik mengejeknya daripada <em>maling,</em> lebih baik <em>mulung.</em> Mereka pun saling mengejek.</p>
<p>Kesungguhan Kabayan juga membuahkan penghargaan dari pemerintah. Sekalipun demikian, Kabayan meresponnya biasa-biasa saja. Ia tidak merasa sudah berbakti. Ia merasa “<em>tidak berbuat apa-apa</em>”.</p>
<p><em>Kedua,</em> kedua tokoh dalam cerita ini bisa digambarkan seperti berikut. <em>Pertama,</em> tokoh Si Kabayan. <em>Kedua, </em>tokoh Ujang dan Otong. <em>Ketiga,</em> tokoh Saudagar. <em>Keempat</em>, tokoh karyawan Disdik.</p>
<p>Tokoh pertama dan tokoh kedua digambarkan utuh dari kedua sisi, baik dan buruk. Tokoh ketiga lebih ditonjolkan sisi buruknya. Tampaknya ini sejenis kritik kepada siapapun yang beperilaku seperti itu. Tokoh terakhir juga tidak mendapat gambaran baik juga. Tampaknya kritik juga karena melihat konteks sosialnya, prototip mereka memang seperti itu.</p>
<p><em>Ketiga,</em> latar cerita ini sebagai berikut. Seperti dalam cerita-cerita Si Kabayan lainnya, umunya latar tidak mendapat gambaran yang eksplisit. Tampaknya penulis naskah drama ini setuju dengan kecenderungan cerita Si Kabayan yang menyiratkan persoalan-persoalan hidup. Peristiwa itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.</p>
<p>Memang suasananya suasana <em>lembur.</em> Akan tetapi, tidak ada penanda eksplisit yang menunjukkan latar tersebut bisa dirujuk dalam kehidupan nyata.</p>
<p>Secara keseluruhan teks drama ini merupakan  ekspansi/perluasan bagi hipogramnya, yaitu ceritan-cerita Si Kabayan. Perluasan hipogram tersebut terutama berkaitan dengan ketulusan Kabayan jadi guru dan peran Si Kabayan jadi guru. Ekspasi juga tampak pada tokoh Sudagar sebagai tokoh yang bertentangan dengan Si Kabayan. Begitu pula peristiwa Si Kabayan mendapat penghargaan juga merupakan ekspansi dari hipogramnya.</p>
<p>Teks <em>kesepuluh </em> memiliki karakteristik sebagai berikut. <em>Pertama</em>, alur cerita ini sebagai berikut. Perilaku Abah berdandan menimbulkan reaksi Ambu yang sewot. Ambu berpraduga macam-macam, tapi itu semua Abah bantah. Bagaimanapun karena sudah keren, Abah pun pergi, pura-pura mencari si Iteung, padahal menemui Bu Juju, janda muda yang berjualan warung kopi.</p>
<p>Tentu saja, Bu Juju amat senang dengan kehadiran Abah. Mereka berbincang-bincang mesra layaknya sepasang kekasih. Sambutan Bu Juju seperti itu  membuat  kesenagan  Abah  mengunjunginya berulang &#8211; ulang –termasuk ketika mau jadi wasit- layaknya seorang remaja dan menimbulkan kekagetan Si Kabayan menyaksikan mereka.</p>
<p>Kekagetan Si Kabayan itu menyebabkan dia mengurungkan niatnya yang semula mau ke warung Bu Juju membeli sesuatu dan menimbulkan kegembiraan pada Si Kabayan: ia mengetahui kelemahan Abah. Karena urung ke warung Bu Juju, Si Kabayan bertemu Armasan yang memang sedang mecari Si Kabayan. Ia mengatakan Nyi Iteung mencari Si Kabayan.</p>
<p>Mendengar kabar seperti itu, kontan Si Kabayan mencari Nyi Iteung. Ketika mencari Nyi Iteung, ia melihat ada orang gila mengganggu Nyi Iteung yang ketakutan, ia pun berusaha melindungi Nyi Iteung. Karena dilindungi seperti itu Nyi Iteung pun senang, dan ia pun mengusir orang gila itu. Ia mengatakan ia adalah Abah, ayahnya Nyi Iteung.</p>
<p>Perasaan senang dilindungi seperti itu menyebabkan Nyi Iteung minta Si Kabayan menemaninya nonton layar tancap keesokan harinya. Si Kabayan pun menyambutnya dengan senang hati. Karena itu, keesokan harinya mereka pun menonton layar tancap disertai Armasan dan Nyi Imas.</p>
<p>Ketika mereka menonton, Si Kabayan kaget melihat Abah menonton juga dengan Bu Juju. Kekagetan Si Kabayan ini menimbulkan kekagetan Abah ketika Nyi Iteung menyampaikan salam Si Kabayan untuk Abah dan menyebabkan Si Kabayan menemui Abah ‘mengancam’ akan melaporkannya kepada Ambu. Hal itu membuat Abah kaget Si Kabayan tahu Abah berdua dengan Bu Juju.</p>
<p>Kesenangan Abah mengunjungi Bu Juju berulang-ulang termasuk ketika Abah akan jadi wasit pertandingan bola. Ketidak hadiran itu menyebabkan kedudukan Abah digantikan tukang lahang (minuman dari air nira). Karena tukang lahang tidak bisa memimpin pertandingan sepak bola, maka pertandingan itu pun kacau, penuh kekonyolan.</p>
<p>Kesenangan Abah mengunjungi Bu Juju menyebabkannya kaget ketika ada orang gila mengatakan kenal Abah, tapi profilnya mirip Si Kabayan. Kekagetan itu menyebabkan kebencian Abah kepada Si Kabayan makin menjadi. Kebencian itu menyebabkan Abah memarahi Nyi Iteung agar tidak memilih Si Kabayan sebagai calon suami dan Abah  mengusir Si Kabayan waktu datang menemui Nyi Iteung. Ketika Abah memarahi Nyi Iteung Ambu menentang Abah dan mengatakan Si Kabayan jujur dan setia tidak seperti Abah.</p>
<p>Pengusiran Abah terhadap Si Kabayan menyebabkan Si Kabayan mengancam akan melaporkan perilaku Abah kepada Ambu. Ancaman itu menyebabkan perubahan penerimaan Abah kepada Si Kabayan. Perubahan tersebut menimbulkan kegembiraan Nyi Iteung dan Abah menyatakan Si Kabayan setia dan jujur secara ironis.</p>
<p><em>Kedua,</em> tokoh-tokoh cerita ini sebagai berikut. Tokoh pertama adalah Si Kabayan. Tokoh lainnya, Abah, Ambu + Nyi Iteung, Bu Juju, Armasan + Nyi Imas, orang gila, tukang Lahang, dan para pemain bola.</p>
<p>Keseluruhan tokoh-tokoh tersebut berpusat, bermuara kepada Si Kabayan dan Abah. Keduanyalah yang menggerakkan cerita ini. Tanpa keduanya cerita ini tidak akan berlangsung.</p>
<p><em>Ketiga</em> adalah latar. Gambaran rincinya adalah berikut. Satu-satunya penyebutan latar yang eksplisit adalah <em>Kampung</em> <em>500</em>. Penyebutan kampung ini sembarang saja. Penyebutan ini juga mengisyaratkan kejadian bisa di mana saja. yang penting terjadi di kampung.</p>
<p>Secara tersamar latar waktu cerita ini pada saat PERSIB sedang jaya-jayanya. Hal itu berkali-kali disebut oleh beberapa tokoh a.l. Bu Juju, <em>…ada pertandingan sepak bola Persib lawan Pelita Jaya…</em>(Iskandar, tanpa tahun: 6), Si Kabayan: <em>Pan sudah ada Persib</em> (Iskandar, tt: <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> dan oleh pencerita ketika menjelaskan pakaian tim sepak bola: <em>mereka mengenakan seragam biru-biru </em>(Iskandar, tanpa tahun: 21). Seragam biru-biru adalah seragam persib.</p>
<p>Walaupun demikian, cerita ini tidak terikat oleh waktu tersebut. Penanda <em>Persib</em> hanya menandakan bahwa cerita ini berasal dari Pasundan.</p>
<p>Transformasi yang terjadi berupa perluasan hipogram atau ekspansi. Ekspansi yang terjadi terutama pada watak positif Si Kabayan (jujur dan setia) dan persoalan kekinian yaitu cinta Abah-Bu Juju, Si Kabayan-Nyi Iteung, Armasan-Nyi Imas.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>3.2.2 Proses Penciptaan</strong></p>
<p>Proses penciptaan cerita-cerita Si Kabayan dalam sastra lisan pada dasarnya spontan. Akan tetapi, spontanitas itu berdasarkan ingatan atau hafalan pada cerita Si Kabayan yang ditransmisikan oleh generasi sebelumnya.</p>
<p>Oleh karena itu, pada dasarnya seluruh cerita Si Kabayan diciptakan didasari oleh skema cerita yang telah mereka miliki. Skema itu mereka miliki secara intuitif. Intuisi itu mereka miliki karena mereka mengalami proses tranmisi secara alamiah dan wajar.</p>
<p>Berbeda halnya dengan proses penciptaan cerita Si Kabayan dalam tradisi tulis dan tradisi kelisanan kedua. Pada kedua tradisi ini para pengarang pada umumnya mendasarkan ciptaannya juga pada skema cerita yang telah mereka miliki.</p>
<p>Hanya, pada proses penciptaannya tidak selalu spontan, tetapi lebih terencana. Artinya, cerita Si Kabayan yang mereka ciptakan itu melewati proses panjang seperti pengingatan, pembacaan ulang, dan studi yang relatif mendalam mengenai cerita-cerita Si Kabayan sebelumnya.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>3.2.3 Makna</strong></p>
<p>Secara umum makna cerita-cerita Si Kabayan itu adalah upaya mengarifi kehidupan. Kehidupan manusia itu dihadapkan pada keterbatasan-keterbatasan. Akan tetapi, keterbatasan-keterbatasan itu selalu berada pada bingkai ketakterbatasan Tuhan. Secara rinci makna masing-masing teks sebagai berikut.</p>
<p>Teks <em>pertama </em>berkenaan dengan persoalan bahwa manusia ‘dewasa’  itu seharusnya memiliki arah/tujuan hidup yang jelas. Kejelasan itu membuatnya tidak mudah tersesat.</p>
<p>Teks <em>kedua</em> berkenaan dengan persoalan hendaknya kita tidak mudah tertipu oleh keadaan tertentu. Oleh karena itu, dituntut kejelian memandang sesuatu. Kejelian itu akan membuat kita berada pada rentangan antara kikir dan murah.</p>
<p>Teks <em>ketiga</em> berkaitan dengan bahwa ‘mencintai’ itu cukup ‘sekedarnya’. Oleh karena itu, kita tidak boleh berlebihan. Ketika berlebihan kita akan terbentur pada keterbatasan kita sebagai manusia yang bermuara pada ketakterbatasan Tuhan.</p>
<p>Teks <em>keempat</em> berkaitan dengan kebiasaan manusia yang suka membesar-besarkan persoalan. Kebiasaan itu biasanya didorong oleh ketakutan yang berlebihan. Oleh karena itu, jalan terbaik adalah menghadapi hidup secara realistis.</p>
<p>Teks <em>kelima</em> berkaitan dengan persoalan kemalasan manusia. Kemalasan ini mudah mendorong manusia memperdayai manusia lainnya.</p>
<p>Teks <em>keenam</em> berkaitan dengan persoalan keiklasan kita dalam menjalani kehidupan. Keiklasan itu akan membawa kita hidup lebih proposional. Keiklasan juga akan membantu kita menyadari keterbatasan manusia dan ketakterbatasan Tuhan.</p>
<p>Teks <em>ketujuh</em> berkaitan dengan persoalan kehati-hatian dalam menjalani hidup. Hidup tidak boleh dijalani penuh ketakutan atau juga menganggap enteng hidup. Hidup di antara kedua ekstrim tadi.</p>
<p>Teks <em>kedelapan</em> berkaitan dengan persoalan kekuasaan yang cenderung korup. Siapapun ketika memegang kekuasaan akan cenderung menyalahgunakan kekuasaannya itu, termasuk orang-orang yang semula tertindas oleh kekuasaan.</p>
<p>Teks <em>kesembilan</em> berkaitan dengan persoalan ketulusan dalam menjalani hidup. Jika kita tulus, kita akan cenderung lebih proposional dalam hidup. Ketulusan juga akan cenderung membawa kita pada upaya menjaga fitrah hidup.</p>
<p>Teks <em>kesepuluh</em> berkaitan dengan persoalan pengendalian diri manusia. Pengendalian diri ni sebenarnya sejalan dengan fitrah manusia.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>3.2.4 Fungsi</strong></p>
<p>Fungsi cerita Si Kabayan yang paling menonjol adalah sebagai alat pendidikan dan sebagai hiburan. Bisa dipahami, fungsi pendidikan ini menonjol karena terutama dalam konteks penuturan cerita Si Kabayan selalu dikaitkan dalam situasi pendidikan atau dalam konteks pendidikan. Cerita Si Kabayan sering dituturkan oleh guru/ustad/orang tua untuk ‘mengajarkan’ sesuatu. Untuk kepentingan itulah terutama cerita-cerita Si Kabayan dituturkan.</p>
<p>Fungsi kedua yang menonjol adalah fungsi hiburan. Tidak bisa dipungkiri siapapun yang mendengar/membaca cerita Si Kabayan akan terhibur. Fungsi hiburan ini sesungguhnya adalah fungsi dasar cerita Si Kabayan ini. Baru kemudian fungsi didaktis tadi.</p>
<p>Fungsi berikutnya adalah sebagai pengesahan kebudayaan. Cerita-cerita Si Kabayan yang ada ‘seolah-olah’ mengesahkan perilaku tertentu. Perilaku-perilaku itu berkaitan dengan aspek kebudayaan-kebudayaan tertentu.</p>
<p>Fungsi lainnya adalah pemaksa berlakunya norma-norma sosial, pengendali sosial. Misalnya berkaitan dengan bagaimana seorang suami harus berperilaku sebagai suami yang baik.</p>
<p>Terakhir adalah fungsi memprotes ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Fungsi ini terutama diemban oleh cerpen “Gual-guil”. Teks ini seolah-olah memprotes kekuasaan yang disalahgunakan secara sewenang-wenang. Agar lebih jelas perhatikan bagan berikut.<strong> </strong></p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="653" height="407">
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<p>&#160;</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="37">No</td>
<td width="192">Fungsi</p>
<p>Judul Cerita</td>
<td width="96">Pengesahan       Kebudayaan</td>
<td width="96">Alat       Pemaksa/</p>
<p>Pengendali       sosial</td>
<td width="90">Alat       Pendidikan</td>
<td width="72">Hiburan</td>
<td width="60">Protes</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">1.</td>
<td width="192">Si Kabayan Ngala       Nangka</td>
<td width="96">ü</td>
<td width="96">ü</td>
<td width="90">ü</td>
<td width="72">ü</td>
<td width="60">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">2.</td>
<td width="192">Si Kabayan Mayar       Hutang</td>
<td width="96">ü</td>
<td width="96">ü</td>
<td width="90">ü</td>
<td width="72">ü</td>
<td width="60">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">3.</td>
<td width="192">Si Kabayan Maling       Kalapa</td>
<td width="96">ü</td>
<td width="96">-</td>
<td width="90">ü</td>
<td width="72">ü</td>
<td width="60">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">4.</td>
<td width="192">Si Kabayan Ngala Tutut</td>
<td width="96">ü</td>
<td width="96">ü</td>
<td width="90">ü</td>
<td width="72">ü</td>
<td width="60">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">5.</td>
<td width="192">Ulah Kabayan</td>
<td width="96">-</td>
<td width="96">-</td>
<td width="90">ü</td>
<td width="72">-</td>
<td width="60">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">6.</td>
<td width="192">Si Kabayan Jadi Sufi</td>
<td width="96">ü</td>
<td width="96">ü</td>
<td width="90">ü</td>
<td width="72">ü</td>
<td width="60">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">7.</td>
<td width="192">Si Kabayan Dan Iteung       Tersayang</td>
<td width="96">-</td>
<td width="96">-</td>
<td width="90">ü</td>
<td width="72">ü</td>
<td width="60">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">8.</td>
<td width="192">“Gual-guil”</td>
<td width="96">-</td>
<td width="96">-</td>
<td width="90">-</td>
<td width="72">ü</td>
<td width="60">ü</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">9.</td>
<td width="192">Guru Kabayan</td>
<td width="96">-</td>
<td width="96">-</td>
<td width="90">ü</td>
<td width="72">ü</td>
<td width="60">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">10.</td>
<td width="192">Si Kabayan Bola Cinta</td>
<td width="96">-</td>
<td width="96">-</td>
<td width="90">ü</td>
<td width="72">ü</td>
<td width="60">-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&#160;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Tabel Fungsi Cerita Si Kabayan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>4. Simpulan</strong></p>
<p>Berdasarkan analisis, diperoleh beberapa kesimpulan. kesimpulan tersebut sebagai berikut. <em>Pertama, </em>struktur<em> </em>cerita Si Kabayan pada umumnya sederhana. Semua peristiwa terfokus pada apa yang dilakukan, dialami atau diucapkan Si Kabayan. Ketiadaan penyebutan latar yang eksplisit –kalau pun ada hanya penanda latar <em>lembur</em> yang sembarang- menunjukkan yang dipentingkan cerita-cerita Si Kabayan bukan persoalan cerita ini ‘mencerminkan’ peristiwa-peristiwa yang terikat oleh ruang dan waktu tertentu. Akan tetapi, yang dipentingkan adalah makna/gagasan dibalik peristiwa, perilaku, ucapan Si Kabayan khususnya dan tokoh-tokoh lain umumnya. Intertekstual yang terjadi umumnya adalah <strong>ekspansi</strong>. Ekspansi yang terjadi adalah ekspansi tokoh Si Kabayan atau persoalan yang dihadapinya. Hal itu tidak demikian halnya dengan cerita anak “Ulah Kabayan” dan cerpen “Gual-guil”. Intertekstual yang terjadi adalah jenis pemutarbalikan hipogram. Terjadinya intertekstual jenis ekspansi dan konversi terutama didasari oleh proses penciptaan –yang memberi ruang bagi visi penulis secara pribadi-, keragaman makna, dan fungsi cerita Si Kabayan.</p>
<p><em>Kedua, </em>proses penciptaan cerita Si Kabayan pada umumnya didasari oleh skema yang telah penutur/pengarang/pencipta miliki secara intuitif. Skema tersebut juga menunjukkan proses pelisanan yang sempurna.</p>
<p><em>Ketiga, </em>makna-makna cerita Si Kabayan terutama berkaitan dengan bagaimana mengarifi kehidupan atau bagaimana menghadapi kehidupan dengan arif. Kearifan hidup juga terutama diletakkan dalam kontras antara keterbatasan manusia dengan ketakterbatasan Tuhan.</p>
<p><em>Keempat,</em> fungsi cerit-cerita Si Kabayan umumnya menekankan pada fungsi pengesahan kebudayaan dan pemaksa berlakunya norma-noram sosial dan sebagai alat pengendali sosial. Fungsi berikutnya yang juga dominan adalah fungsi didaktis dan fungsi hiburan. Hanya cerpen “Gual-guil” lah yang menekankan fungsinya memprotes ketidakadilan yang terjadi dimasyarakat. Ketidak adilan itu berupa penyalahgunaan kekuasaan secara sewenang-wenang.</p>
<p>Berdasarkan analisis yang sudah dilakukan, penelitian ini mengajukan beberapa saran. Saran-saran tersebut sebagai berikut.</p>
<p><em>Pertama,</em> kategori cerita lelucon oleh Aarne dan Thompson, Brunvan, dan Danandjadja sebaiknya ditinjau kembali. Kategori lelucon orang bodoh dan orang pintar tampaknya tidak memadai. Harus ada kategori berikutnya berkaitan dengan lelucon orang unik/tokoh unik seperti yang ditunjukkan Si Kabayan.</p>
<p><em>Kedua,</em> masyarakat sebaiknya tidak memahami cerita-cerita Si Kabayan hanya dari segi denotasi. Masyarakat harus menyadari bahwa cerita-cerita Si Kabayan diabdikan pada makna-makna tertentu. Oleh karena itu, cerita-cerita Si Kabayan tidak terikat oleh ruang dan waktu tertentu. Masyarakat harus menyadari tokoh Si Kabayan bukanlah prototip manusia manapun. Ia hanya ‘manusia gagasan’ yang diciptakan masyarakat pemiliknya sebagai metafora. Oleh karena itu, cerita-cerita Si Kabayan harus dipahami sebagai alegori.</p>
<p><em>Ketiga,</em> diharapkan ada perekaman cerita-cerita Si Kabayan secara menyeluruh dan lengkap. Setelah itu, dilakukan pula kajian yang mendalam terhadapnya.  Selain itu, dilakukan pula transformasi sesuai sasaran pembaca/penikmat yang dituju. Dengan demikian, cerita-cerita Si Kabayan akan tetap ‘hidup’ seperti sudah terbukti selama ini. Bagaimanapun cerita Si Kabayan termasuk cerita jenaka/lelucon yang paling bisa bertahan, bahkan berkembang secara kreatif di Nusantara.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Barthes, Roland. 1972. <em>Mythologies.</em> a.b. Jonathan Cape. London: Vintage.</p>
<p>Coster Wijsman, Lina Maria. 1929. Uilespiegel – Verhalen <em>in Inodnesie in Het Biezonder in de Soendalandaen. </em>Disertasi pada Universitas Leiden.</p>
<p>Etti R.S. 2005. “Guru Kabayan” dalam <em>Heulang nu Ngajak Bengbat: Antologi Pengarang Paguyuban Sastra Suda </em>(PPSS) Bandung: Kiblat.</p>
<p>Gerdi W.K  1999b. <em>Si Kabayan dan Iteung Yang Terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan.</em> Surabaya. HISKI Jawa Timur.</p>
<p>Gerdi W.K. 1999a. <em>Si Kabayan dan Iteung Tersayang. </em>Jakarta: Grasindo.</p>
<p>Hutomo, Suripan Sadi. 1989. <em>Mutiara tak Terlupakan.</em> Surabaya: HISKI Cabang Surabaya.</p>
<p>Iskandar, Edi D. Tanpa Tahun. <em>Si Kabayan Bola Cinta. </em>Naskah Skenario Film.<em> </em></p>
<p>Ismail Yus R. 2004.  <em>Si Kabayan Jadi Sufi I. </em>Bandung: Girimukti Pusaka.</p>
<p>Riffatere, Michael. 1978. <em>Semiotic of Poetry. </em>Bloomington: Indiana University Press.</p>
<p>Rosidi, Ajip. 1977. <em>Si Kabayan dan Beberapa Dongeng Sunda lainnya.</em> Jakarta: Gunung Agung.</p>
<p>Rosidi, Ajip. 1984. <em>Manusia Sunda: Sebuah Esay tentang Tokoh-tokoh dan Sejarah .</em> Jakarta: Idayu Press.</p>
<p>Suwarna, Godi. 1985. <em>Murang-maring: Kumpulan Carita Pondok. </em>Bandung: Medal Agung.</p>
<p>Sweeney, Amin. 1980. <em>Author and Audiences in Traditional Malay Literature. </em>Berkeley: University of California.</p>
<p>Wardiman, Iwan. 1997. <em>Ulah Kabayan.</em> Jakarta: Paryu Barkah Prantana.</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Länka i texterna?]]></title>
<link>http://louisemacksey.wordpress.com/2009/11/14/lanka-i-texterna/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 12:24:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>louisemacksey</dc:creator>
<guid>http://louisemacksey.wordpress.com/2009/11/14/lanka-i-texterna/</guid>
<description><![CDATA[En sak jag tänkte på igår&#8230;ska vi länka i texterna som vi har på hemsidan? Har inte gjort det ä]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>En sak jag tänkte på igår&#8230;ska vi länka i texterna som vi har på hemsidan? Har inte gjort det än&#8230;tänkte att det är ju mer webbanpassat kanske? Men är det mer blogg än statisk sida? Vad tycker du fia?&#60;3</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CEK CONSTRAINT]]></title>
<link>http://alekateepis.wordpress.com/2009/11/13/cek-constraint/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 20:20:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>ALEK</dc:creator>
<guid>http://alekateepis.wordpress.com/2009/11/13/cek-constraint/</guid>
<description><![CDATA[Mungkin suatu saat kita membutuhkan informasi mengenai constraint-constraint apa saja yang dimiliki ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Mungkin suatu saat kita membutuhkan informasi mengenai constraint-constraint apa saja yang dimiliki ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nie mehr langweilige Daten - Hans Rosling und TED]]></title>
<link>http://schongehoert.wordpress.com/2009/11/12/nie-mehr-langweilige-daten-hans-rosling-und-ted/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 18:21:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Der Heiße Scheiß</dc:creator>
<guid>http://schongehoert.wordpress.com/2009/11/12/nie-mehr-langweilige-daten-hans-rosling-und-ted/</guid>
<description><![CDATA[Wie furchtbar klingt schon alllein die Formulierung &#8220;statistische Erhebungen&#8221;? Wie sehr ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Wie furchtbar klingt schon alllein die Formulierung &#8220;statistische Erhebungen&#8221;? Wie sehr erschreckt man bei der Anfrage nach faktischer Analyse von der Bedeutung und Zusammensetzung der Familienstruktur in Beziehung zu Gesundheit und Wohlstand innerhalb der letzten 50 Jahre?</p>
<p>Ich hoffe Ihr stimmt mir zu, wenn Ihr dieses Video gesehen habt: Es ist leicht sich für denselben Inhalt zu begeistern wenn die Information gut aufbereitet wurde. Bühne frei für <a href="http://de.wikipedia.org/wiki/Hans_Rosling">Hans Rosling</a> bei <a href="http://www.ted.com/">TED</a>. [Tip: Wer sich für Bildung begeistert und Schule nicht mag sollte regelmäßig TED schauen]</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/hVimVzgtD6w&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/hVimVzgtD6w&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span>  </p>
<p>PS: Daher auch meine Begeisterung für <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Open_government">Open Government</a> / OpenData. Wir zahlen mit unseren Steuern bereits, das die Daten über uns selbst gesammelt werden, die wir so oft auch noch selbst an verschiedenen Stellen einreichen. Warum sollten wir keinen Zugriff haben? Manche Entscheidung hätten wir in Sachen Wahlen, Volksentscheid und so weiter wahrscheinlich ganz anders getroffen.</p>
<p>PPS: Achte bitte darauf wie Hans die Entscheidung hochintelligenter Studenten zu einer Aufgabe und deren schlechten Ergebnissen in Vergleich zu der hohen Erfolgsrate von Schimpansen setzt. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Viel Spaß.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[&gt;&gt; Oxymoron als Paradigma ___________]]></title>
<link>http://diewerkbank.com/2009/11/12/oxymoron-als-paradigma-___________/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 00:54:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>cxs</dc:creator>
<guid>http://diewerkbank.com/2009/11/12/oxymoron-als-paradigma-___________/</guid>
<description><![CDATA[De Cecco Headquarter | Massimiliano Fuksas | Stahlbau Pichler Programm und Form Kazuyo Sejima vom ja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://werkbank.wordpress.com/files/2009/11/1253051537-050408-pes-100-070-675x9001.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2724" title="Inside Out" src="http://werkbank.wordpress.com/files/2009/11/1253051537-050408-pes-100-070-675x9001.jpg" alt="Inside Out" width="600" height="450" /></a></p>
<pre><a href="http://www.fuksas.it/#/progetti/0803/" target="_blank">De Cecco Headquarter &#124; Massimiliano Fuksas &#124; Stahlbau Pichler</a></pre>
<p><a href="http://www.labiennale.org/en/architecture/director/direcor.html" target="_blank"><em>Programm und Form</em></a></p>
<p>Kazuyo Sejima vom japanischen Architekturbüro <a href="http://www.designboom.com/eng/interview/sanaa.html" target="_blank">SANAA</a> wird die Kuratorin der Architekturbiennale in Venedig 2010. Dies gab der Präsident der Venedig-Biennale, Paolo Baratta, am 9. November 2009 bekannt.</p>
<p><a href="http://werkbank.wordpress.com/files/2009/11/fuksas-pichler-stahlbau1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2720" title="Fuksas Pichler Stahlbau" src="http://werkbank.wordpress.com/files/2009/11/fuksas-pichler-stahlbau1.jpg" alt="Fuksas Pichler Stahlbau" width="600" height="378" /></a></p>
<pre>De Cecco Pescara &#124; Fassade von <a href="http://www.stahlbaupichler.com/ru/gallery/verwaltungsgebaude.php?nr=6" target="_blank">Stahlbau Pichler, Bozen</a></pre>
<p>Als Leitmotiv der Biennale gibt Sejima eine Reihe (geeinter) Gegensatzpaare vor: <em>„innen und außen, individuell und öffentlich, Programm und Form, physisch und virtuell&#8230; sowie Kunst und Architektur, Natur und Mensch. Vielleicht kann das Oxymoron für ein produktives neues Paradigma stehen, können diese Zweierverbindungen </em>(binaries)<em> zu einer Dualität führen, die fähig ist, die Grenzen zu verwischen. </em></p>
<p><em><a href="http://werkbank.wordpress.com/files/2009/11/fuksas-de-cecco.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2722" title="Fuksas De Cecco" src="http://werkbank.wordpress.com/files/2009/11/fuksas-de-cecco.jpg" alt="Fuksas De Cecco" width="600" height="378" /></a></em></p>
<p>Verwaltungsgebäude <a href="http://www.dececco.it/" target="_blank">De Cecco</a>, Pescara by M&#38;D Fuksas</p>
<p><em>Wie kann die unerwartete gegenseitige Abhängigkeit außergewöhnlicher Räume einen gemeinschaftlichen/symbiotischen Dialog zwischen Nachbarschaften </em>(adjacencies)<em> führen?<br />
Zudem gibt es einen anderen Bereich, der mich gleichermaßen interessiert: Menschen in der Architektur, menschliche Begegnungen sowohl in öffentlichen als auch in privaten Szenarien, sowohl als Schaffende als auch als Benutzer von Architektur. Dies ist ein Aspekt individuellen Lebens im Austausch mit der Gemeinschaft. Er kann so einfach formuliert werden wie ‚Menschen treffen sich in Architektur‘. Insgesamt kann die Biennale sowohl ein neues und aktives Forum für zeitgenössische Ideen als auch für ein intensives Studium von Gebäuden selbst sein.“</em></p>
<p><em><a href="http://werkbank.wordpress.com/files/2009/11/12294_8.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2723" title="Oxymoron oder Eklektizismus" src="http://werkbank.wordpress.com/files/2009/11/12294_8.jpg" alt="Oxymoron oder Eklektizismus" width="600" height="399" /></a></em></p>
<p><a href="http://europaconcorsi.com/projects/2002-Polo-Direzionale-De-Cecco/images/1329086/slideshow" target="_blank">&#62;&#62; De Cecco Headquarter &#124; Slideshow by Europaconcorsi</a><em></em></p>
<p><a href="http://www.stahlbaupichler.com/ru/gallery/verwaltungsgebaude.php?nr=6" target="_blank">&#62;&#62; Stahlbau Pichler, Bozen</a></p>
<p><a href="http://www.archdaily.com/35373/de-cecco-businness-center-massimiliano-doriana-fuksas/" target="_blank">&#62;&#62; mehr Bilder &#124; ArchDaily</a><em><br />
</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Struktur Organisasi IT dan Peran Divisi IT]]></title>
<link>http://jojonet.wordpress.com/2009/11/11/struktur-organisasi-it-dan-peran-divisi-it/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 05:25:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>teguh</dc:creator>
<guid>http://jojonet.wordpress.com/2009/11/11/struktur-organisasi-it-dan-peran-divisi-it/</guid>
<description><![CDATA[Berikut ini adalah Artikel Tentang Struktur Organisasi IT, Peran dari Divisi IT, dan Perusahaan IT. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Berikut ini adalah Artikel Tentang Struktur Organisasi IT, Peran dari Divisi IT, dan Perusahaan IT. ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Startsidan på nya gavle.se]]></title>
<link>http://dialog.gavle.se/2009/11/10/startsidan/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 12:25:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nina Gillberg, projektledare</dc:creator>
<guid>http://dialog.gavle.se/2009/11/10/startsidan/</guid>
<description><![CDATA[Genom att vi på förstasidan har tre olika ingångar (vi kallar dem &#8220;hubbsidor&#8221;), förutom ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://gavlese.wordpress.com/files/2009/11/01_start_091127.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-142" title="01_start_091127" src="http://gavlese.wordpress.com/files/2009/11/01_start_091127.jpg" alt="Startsidan på nya gavle.se" width="480" height="537" /></a></p>
<p>Genom att vi på förstasidan har tre olika ingångar (vi kallar dem &#8220;hubbsidor&#8221;), förutom den traditionella grundstrukturen, tydliggör vi fler vägar in till samma innehåll.</p>
<p>Hubbsidorna är skräddarsydda mötesplatser mellan kommunen och våra viktigaste målgrupper för webbkommunikationen och byggs upp oberoende av hur vår organisation är strukturerad.</p>
<p><strong>Vi använder ett &#8220;utifrån och in&#8221; perspektiv istället för &#8220;inifrån och ut&#8221;!</strong> </p>
<p>Informationen ska vara anpassad för respektive målgrupp. Förslaget att arbeta målgruppsanpassat är i dagsläget unikt för det kommunala Sverige.</p>
<p><strong>Tyck gärna till om nya startsidan på gavle.se!</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Crumbs from your table]]></title>
<link>http://externawebbprojektet.wordpress.com/2009/11/09/crumbs-from-your-table/</link>
<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 14:21:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>externawebbprojektet</dc:creator>
<guid>http://externawebbprojektet.wordpress.com/2009/11/09/crumbs-from-your-table/</guid>
<description><![CDATA[Dessa ord sjunger U2 i refrängen på låten med samma titel på plattan How to dismantle an atomic bomb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Dessa ord sjunger U2 i refrängen på låten med samma titel på plattan How to dismantle an atomic bomb. Jag hade tänkt skriva några ord om smulor men inte om dessa smulor utan brödsmulor.</strong></p>
<p>Tydlighet är ett ledord i projektet för den externa webben. Jag har i tidigare inlägg pratat om en tydlig vänsternavigering med pilar/plustecken samt en färgplatta som signalerar för besökaren var man befinner sig på webbplatsen. Brödsmulor är ett annat sätt att förtydliga navigeringen på webben. Speciellt användbar är den om man har djupa strukturer på webbplatsen (d.v.s. många undersidor).</p>
<p><img class="size-full wp-image-153 alignleft" title="Brödsmula" src="http://externawebbprojektet.wordpress.com/files/2009/11/brodsmula.jpg" alt="Brödsmula" width="400" height="122" /></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>Som Internetanvändare är man lite olika. En del använder sig inte så mycket av de hjälpmedel som finns medan andra använder sig desto mer av dem. Jag tänkte fråga vad du tycker om brödsmulor: -hjälper de dig i ditt surfande på en webbplats och använder du dig av dem oavsett om vänsternavigeringen har många undersidor eller inte?</p>
<p>/Andreas</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lektion No. 1]]></title>
<link>http://ektordolas.wordpress.com/2009/11/06/lektion-no-1/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 13:10:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>ektordolas</dc:creator>
<guid>http://ektordolas.wordpress.com/2009/11/06/lektion-no-1/</guid>
<description><![CDATA[För dem som fortfarande inte har koll på begreppen&#8230;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://ektordolas.wordpress.com/files/2009/11/struktur.jpg" alt="struktur" title="struktur" width="500" height="333" class="alignnone size-full wp-image-15" />För dem som fortfarande inte har koll på begreppen&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Die Bedeutung von vielleicht]]></title>
<link>http://meineweltistanders.wordpress.com/2009/11/05/die-bedeutung-von-vielleicht/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 22:01:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kiefner Sabine</dc:creator>
<guid>http://meineweltistanders.wordpress.com/2009/11/05/die-bedeutung-von-vielleicht/</guid>
<description><![CDATA[Gedanken einer Asperger-Autistin über die Schwierigkeit im Umgang  mit dem Wort &#8220;vielleicht]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Gedanken einer Asperger-Autistin über die Schwierigkeit im Umgang  mit dem Wort &#8220;vielleicht]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
