<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>sufi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/sufi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "sufi"</description>
	<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 01:36:48 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Haji, Sebuah Pengembaraan]]></title>
<link>http://storiesfromtheroad.wordpress.com/2009/11/27/haji-sebuah-pengembaraan/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:49:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>-dN5</dc:creator>
<guid>http://storiesfromtheroad.wordpress.com/2009/11/27/haji-sebuah-pengembaraan/</guid>
<description><![CDATA[By Moeslim Abdurrahman Di kalangan sufi, ada kisah menarik yang sering diceritakan, terutama menjela]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>By <a href="http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/moeslim-abdurrahman/index.shtml" target="_blank">Moeslim Abdurrahman</a></em></p>
<p><a href="http://storiesfromtheroad.wordpress.com/files/2009/11/kabah.jpg"><img src="http://storiesfromtheroad.wordpress.com/files/2009/11/kabah.jpg?w=300" alt="" title="Kabah" width="290" height="249" class="alignright size-medium wp-image-1026" /></a>Di kalangan <strong>sufi</strong>, ada kisah menarik yang sering diceritakan, terutama menjelang orang mau berangkat <strong>haji</strong>. Dalam kisah itu diceritakan tentang dua santri, yaitu Si Fulan dan Si Rojul. Sebelum menuju ke <strong><em>Tanah Suci</em></strong>, kedua santri itu tidak lupa sowan dulu, pamitan kepada Kiai, guru yang mereka hormati yang selama ini menjadi panutan <em>spiritual</em> mereka.</p>
<p>Dengan senang hati, Sang Guru mendoakan agar kedua santri nanti memperoleh <strong>haji mabrur</strong>. Sudah tentu, sebagai seorang <strong>kiai</strong>, selain membekali <em><strong>doa</strong></em>, biarpun agak singkat, ia juga memberikan nasihat yang penting-penting. Tetapi, yang selalu ditekankan dalam nasihat itu, Kiai bilang, ingat ya bekal yang paling pokok menunaikan <strong>ibadah haji</strong> itu tidak lain adalah <strong><em>iman dan takwa</em></strong> itu sendiri.</p>
<p><!--more--><br />
Banyak orang berhaji, kata Kiai tersebut, hanya datang dengan jasmani, sambil membawa daftar permintaan dan mengingat-ingat doa apa yang seharusnya dibaca di tempat-tempat tertentu, tanpa berusaha secara rohaniah melakukan penyerahan batin dan <em>spiritual</em> sepenuh-penuhnya, sebagai <em>submission</em> kepada Khalik, Tuhan seru sekalian alam.</p>
<p>Seusai mendengarkan nasihat Kiai, dengan rasa hormat dan terharu, kedua santri tersebut mulailah melakukan perjalanan menuju <strong>Mekkah</strong>, kota suci, tempat berdirinya <strong><em>bayt</em>-Allah</strong>, <strong>kiblat</strong> kaum Muslimin di seluruh dunia. Mereka sengaja berpisah, masing-masing menempuh rutenya sendiri, yang penting keduanya akan bertemu di tanah haram, agar dalam perjalanan itu ada pengalaman yang berbeda, ada juga <em>horizon</em> yang berbeda.</p>
<p>Singkat cerita, selama kedua santrinya pergi haji itu, tidak ada kabar tidak ada berita. Tahu-tahu, begitu selesai musim haji, eh.. Si Fulan dan Si Rojul datang lagi menemui Kiai-nya.</p>
<p>Dengan <em>syukur alhamdulillah</em>, Kiai tersebut menyambut, merasa gembira, karena kedua santri kesayangannya telah pulang. Bagaikan seorang anak yang baru dilahirkan, Kiai tersebut memandang keduanya dengan mata berseri-seri karena setiap orang pulang dari haji memang dianggap dosa-dosanya lunas, kembali putih dan bersih seperti warna kapas.</p>
<p>Bahkan, kata Kiai itu, selama 40 hari kepulangannya, Si Fulan dan Rojul masih membawa berkah dan dapat memberkahi orang lain. Betapa si Fulan gembira dengan sambutan Kiai-nya itu. Ia kemudian mulai menceritakan bagaimana perjalanan haji yang telah ditempuhnya.<br />
Sewaktu pertama kali masuk <strong>Masjidil Haram</strong>, ia bilang hampir-hampir tak bisa melanjutkan langkah kakinya. Dengan sedikit terharu, ia menggambarkan betapa suasana emosionalnya tatkala itu melihat, oh.. inilah rumah Tuhan yang didirikan kembali oleh Nabi Ibrahim AS yang kemudian menjadi arah sujud berjuta-juta umat Islam sekarang ini. Sambil tak henti-hentinya membaca <em>subhanallah</em>, Si Fulan menangis tersedu-sedu karena dalam hidupnya ternyata, toh.., dikaruniai kesempatan bisa datang ke Mekkah, dan bisa bersembahyang di dekat <strong>Kabah</strong> dan secara fisik memang sangat dekat sekali. Si Fulan kemudian melakukan <em>tawaf</em>, mencium Hajar Aswad, dan tidak lupa ia berdoa di Multazam. </p>
<p>Perasaan terharu dan sempat menangis yang kedua kalinya adalah tatkala ia mendaki bukit Rahmah di <strong>Arafah</strong>. Betapa di tempat itu, ia ingat kisah Nabi Adam AS yang dipertemukan kembali dengan istrinya setelah turun dari surga.</p>
<p>Yang ketiga, dalam seluruh paket perjalanan hajinya itu, Si Fulan juga mengaku tidak bisa menahan tangisnya sewaktu di <strong>Madinah</strong> berziarah ke makam Rasulullah. Sungguh, ujarnya sebagai seorang pelaku sufi yang selama ini selalu mendambakan dalam mimpinya agar bisa bertemu Nabi Muhammad, ia merasa bahagia sekali ada disana, dekat tempat jasad nabi tersebut disemayamkan.</p>
<p>Dengan rendah hati tampak sekali Si Fulan ingin segera mendapat konfirmasi dari Kiai-nya, apakah dengan menangis di tiga tempat tadi, hal itu merupakan tanda-tanda bahwa hajinya mabrur. Dengan agak lamban akhirnya Kiai menjawab dengan singkat sekali, katanya, &#8220;<em>Insya Allah, insya Allah, Lan..</em>&#8221; </p>
<p>Kini, giliran Si Rojul. Ia bilang, &#8220;<em>Kiai, sebelumnya saya mohon maaf,</em>&#8221; begitulah dengan suara lirih dan nada tampak penyesalan. Dengan jujur Rojul bilang bahwa perjalanannya ternyata tak sampai ke Tanah Suci.</p>
<p>&#8220;<em>Sungguh maaf Kiai, bekal saya habis di tengah jalan,</em>&#8221; ucapnya. Bekal itu, oleh Rojul, katanya, habis diberikan kepada anak-anak yatim, orang-orang tua yang lapar, fakir-miskin yang menjumpainya selama dalam perjalanannya. Jadi, alhasil, Si Rojul urung, tidak sampai niatnya ke Mekkah, apalagi menunaikan <strong>wukuf</strong> di Arafah dan menziarahi makam Rasulullah. Sambil terharu dan sedikit terisak-isak. Rojul menyudahi cerita pahitnya.</p>
<p>Anehnya, berbeda dengan yang dirasakan oleh Si Rojul, Kiai sepuh yang alim itu, setelah mendengarkan betapa terjal jalan setapak yang pernah dilalui Rojul menuju ke Tanah Suci ini, dengan sangat spontan berkomentar, &#8220;<em>Alhamdulillah,</em>&#8221; yang diucapkannya beberapa kali menunjukkan kepuasan batinnya.</p>
<p>&#8220;<em>Kau Rojul,</em>&#8221; ungkapnya, &#8220;<em>Ternyata telah mengerjakan haji mabrur yang sesungguh-sungguhnya.</em>&#8221; Sebab, tambahnya, &#8220;<em>Kamu dengan niat ikhlas selama ini ternyata sudah <strong>berihram</strong>. Memakai pakaian itu dalam hidupmu, dalam hati dan dan jiwamu, biarpun secara fisik ibadah hajimu belum sampai ke Arafah.</em>&#8221; </p>
<p>Dan kata Kiai ini, memang tidak semua orang yang telah pergi haji memperoleh makna substantif ibadahnya seperti itu. Sebab, ritual haji, yang sebenarnya lebih banyak didominasi oleh ibadah gerak untuk merekonstruksi sejarah kenabian monoteistik itu, jika dilaksanakan tanpa refleksi, tanpa perenungan kritis, ya bisa saja memuaskan secara emosional seperti ungkapan tangisnya Si Fulan tadi. Apalagi kalau orang yang pergi <em>wukuf</em> hanya sekadar ingin mencuci dosa pribadi, maka bunyi <em>istigfar</em> tak akan membekas secara <em>spiritual</em> dan memberikan implikasi yang bermakna bagi kehidupan sosial.<br />
Sebab, tanpa kesadaran yang mendalam bahwa noda kesalehan yang harus kita bersihkan di samping yang sifatnya perorangan, disana tentu ada banyak <strong>dosa struktural</strong>, yakni bagian dari tanggung jawab kita bersama untuk membangun <strong>kesetaraan, keadilan</strong>, dan <strong>keadaban publik</strong>.</p>
<p>Dalam hal ini, simbolisasi berpakaian ihram dalam haji, tidak lain, saya kira merupakan pernyataan dan peringatan tentang betapa penting menegakkan secara terus-menerus komitmen <em>keberagamaan</em> dan <em>kesalehan egalitarianistik</em> seperti itu, apalagi dalam kehidupan yang <em>hedonistik</em> dan <em>individualistik</em> sekarang ini.</p>
<p>Masuk dalam horizon makna yang luas seperti itu adalah pilihan kita. Pilihan tatkala harus merumuskan diri kita sendiri, apa yang kita maksud dengan ibadah, dengan kesalehan selama ini.</p>
<p>Dan kisah tentang Kiai dan dua santrinya itu, saya kira tidak lain dan tidak bukan memberikan pelajaran yang bagus, betapa pentingnya kita selalu mencari makna yang lebih substantif di luar semaraknya <em>ritual</em> selama ini, yang ditandai misalnya dengan semakin meningkatnya jumlah jemaah haji setiap tahun dan bisa jadi akan semakin banyaknya hewan kurban yang secara seremonial akan kita sembelih, sehabis shalat Idhul Adha besok paginya.</p>
<p>Jakarta, 26 November 2009<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><strong><a href="http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/moeslim-abdurrahman/index.shtml" target="_blank">Moeslim Abdurrahman</a>.</strong> Master dan doktor antropologi <em>University of Illinois, Urbana</em>, Amerika Serikat. <em>Direktur Ma&#8217;arif Institute for Culture</em>, dan <em>Direktur Lembaga Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial</em> (LPIS). <em>Ketua Al-Maun Institute</em>, Jakarta.</p>
<p><em>(Sumber: Kompas Cetak)</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Happy Eid!]]></title>
<link>http://wulfrunasufi.wordpress.com/2009/11/27/happy-eid-3/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 02:59:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Paul Salahuddin Armstrong</dc:creator>
<guid>http://wulfrunasufi.wordpress.com/2009/11/27/happy-eid-3/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignnone size-full wp-image-1512" title="Happy Eid ul Adha 2009" src="http://wulfrunasufi.wordpress.com/files/2009/11/happy-eid-ul-adha-2009.jpe" alt="" width="500" height="375" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Abraham]]></title>
<link>http://wulfrunasufi.wordpress.com/2009/11/27/abraham/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 02:20:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Paul Salahuddin Armstrong</dc:creator>
<guid>http://wulfrunasufi.wordpress.com/2009/11/27/abraham/</guid>
<description><![CDATA[By Paul Salahuddin Armstrong “When the boy was old enough to work with his father, Abraham said, ‘My]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>By Paul Salahuddin Armstrong</strong></p>
<p><strong><em>“When the boy was old enough to work with his father, Abraham said, ‘My son, I have seen myself sacrificing you in a dream. What do you think?’ He said, ‘Father, do as you are commanded and, God willing, you will find me steadfast.’ When they had both submitted to God, and he had laid his son down on the side of his face, We called out to him, ‘Abraham, you have fulfilled the dream.’ This is how We reward those who do good ― it was a test to prove [their true characters] ― We ransomed his son with a momentous sacrifice, and We let him be praised by succeeding generations: ‘Peace be upon Abraham!’ This is how We reward those who do good: truly he was one of our faithful servants.”</em></strong><br />
The Qur’an 37:102-111 (M.A.S. Abdul-Haleem)</p>
<p><strong><em>“Isaac spoke up and said to his father Abraham, Father? Yes, my son? Abraham replied. The fire and wood are here, Isaac said, but where is the lamb for the burnt offering? Abraham answered, God himself will provide the lamb for the burnt offering, my son. And the two of them went on together. When they reached the place God had told him about, Abraham built an altar there and arranged the wood on it. He bound his son Isaac and laid him on the altar, on top of the wood. Then he reached out his hand and took the knife to slay his son. But the angel of the LORD called out to him from heaven, Abraham! Abraham! Here I am, he replied. Do not lay a hand on the boy, he said. Do not do anything to him. Now I know that you fear God, because you have not withheld from me your son, your only son. Abraham looked up and there in a thicket he saw a ram caught by its horns. He went over and took the ram and sacrificed it as a burnt offering instead of his son. So Abraham called that place The LORD Will Provide. And to this day it is said, On the mountain of the LORD it will be provided.”</em></strong><br />
Genesis 22:7-14 (NIV)</p>
<p>The story is familiar to Jews, Christians and Muslims; the prophet Abraham, peace be upon him, was asked by God to make the ultimate sacrifice, his beloved son, though perhaps disagreeing on which son Abraham was asked to surrender, the meaning of this account doesn’t change. Who could make such a sacrifice, when we’d give everything for our children? Abraham dearly loved both his sons and their mothers, he surely would not have wanted to harm either of them in any way or form. To understand this account, we need to look beyond the worldly veils disguising it’s true meaning. Everything that manifests in the physical world begins with an intention, a beginning within a person’s heart.</p>
<p><strong><em>To continue reading, <a title="Abraham" href="../abraham/" target="_self">click here</a>&#8230;</em></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SERUMPUN KATA DARI MELAYU ]]></title>
<link>http://mknr.wordpress.com/2009/11/26/serumpun-kata-dari-melayu/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 15:03:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>mknr</dc:creator>
<guid>http://mknr.wordpress.com/2009/11/26/serumpun-kata-dari-melayu/</guid>
<description><![CDATA[Semak belukar di padang ilalang mencari biji di tumpukan jerami … Sulit nian mencari tahu siapa gera]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Semak belukar di padang ilalang mencari biji di tumpukan jerami …</p>
<p style="text-align:justify;">Sulit nian mencari tahu siapa gerangan si penulis ….</p>
<p style="text-align:justify;">Benang perak bertepian emas dirajut menjadi kain nan elok …</p>
<p style="text-align:justify;">Pandai nian merangkai kata menjadi kalimat yang manfaat….</p>
<p style="text-align:justify;">Buah ranum masak pohon lidah mengenyam rasa lezatnya….</p>
<p style="text-align:justify;">Sempurnanye tulisan di blog ni karena Tuhan Sang Pemberi Ilmu…..</p>
<p style="text-align:justify;">Butiran pasir di pantai aneka ikan di dalam laut perahu nelayan berlayar….</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak nian kebesaran Tuhan tuntutlah ilmu sampai ke negeri seberang…..</p>
<p style="text-align:justify;">Padi telah menguning pertande akan di tuai lumbung padi siap terisi…</p>
<p style="text-align:justify;">Butiran beras berkumpul menangis haru menanti waktu untuk ditanak ….</p>
<p style="text-align:justify;">Harap cemas dinanti adakah kate syukur terucap dari mulut yang mengunyahnya</p>
<p style="text-align:justify;">Awan berjalan tertiup angin di atas gunung yang menjulang tinggi ….</p>
<p style="text-align:justify;">Matahari terik memancarkan sinarnya ke bumi panaslah dirase…</p>
<p style="text-align:justify;">Asap kendaraan mengepul sangat pekat menambah panas bumi ini….</p>
<p style="text-align:justify;">Hilir mudik manusia lalu lalang kendaraan membuat pening kepala….</p>
<p style="text-align:justify;">Hujatan caci maki terdengar karena cuaca panas membuat hatipun memanas…</p>
<p style="text-align:justify;">Peluh keringat menetes deras di sekujur tubuhbau menyengat mulai terase….</p>
<p style="text-align:justify;">Semua menyeruak ingin sampai lebih cepat keselamatan di abaikan…..</p>
<p style="text-align:justify;">Buah mangga buah kedondong sabar dooooong…….</p>
<p style="text-align:justify;">Bunga melati bunga mawar kumbang datang ingin mengisap madunye…</p>
<p style="text-align:justify;">Hati suci nan tulus tentulah baik tindak tanduknye…..</p>
<p style="text-align:justify;">Harum bunga semerbak tentulah banyak orang suke …</p>
<p style="text-align:justify;">Riak air gemericik kicau burung melantun merdu semilir angin meresap dikulit….</p>
<p style="text-align:justify;">Hamparan padang rumput nan hijau terbentang luas…..</p>
<p style="text-align:justify;">Sang gembala meniup serulingnya domba-domba lahap menyantap rumput….</p>
<p style="text-align:justify;">Sang mentari tersenyum awan cerah berkumpul memberi tande suka cita…..</p>
<p style="text-align:justify;">Membuat hati menjadi tenang dan damai kebesaran Tuhan nampaklah jelas….</p>
<p style="text-align:justify;">Akankah keindahan itu sirna jika manusia-manusia serakah tibe ……</p>
<p style="text-align:justify;">Akankah manusia beriman terkalahkan oleh penguase dunia ….</p>
<p style="text-align:justify;">Cam mane jadinya dunia ni jike semua tu terjadi !!!!!!!!!!</p>
<p style="text-align:justify;">Ade sikit maksud dari negeri hikayat …..</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah rumah tersaji beberape macam buah-buahan yang sangat menggoda untuk disantap tetapi si empunya rumah hanya menyediakan alat bantunya saje tak hendak membantu untuk membuka atau mengulitinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Buah mangga ranum sangat manis di persandingkan dengan buah durian yang menyengat keduanya punye cite rase yang berbeda, keduanye sangat lezat bagi para penyukenya, tentunya jika ingin menyantap kedua buah tersebut harus pula gune alat bantu untuk membuka dan memotongnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sudut lain ade setampah buah anggur masak dan manis yang siap disantap tanpa perlu bersusah payah menggunakan alat bantu, lidah sudah dapat merasakan segarnya buah anggur.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk pelepas dahaga disajikan banyak butir kelapa yang masih terbungkus kulit luar nampak segar jika air kelapa melewati tenggorokan di saat udara panas.</p>
<p style="text-align:justify;">Para tamu datang dari beragam golongan ade pula yang cacat tak berlengan atau tak melihat tetapi mereka diminta untuk menyantap buah yang sudah tersaji, mereka tersentak dan berpikir ape maksudnya dari semua itu ?&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ape maksud dibalik niat si empunya rumah tu !!!!!!!!!!</p>
<p style="text-align:justify;">Sekeranjang buah manggis saudara-saudara semajelis……</p>
<p style="text-align:justify;">Tari serumpun dari ranah melayu lenggak lenggok tubuh gemulai….</p>
<p style="text-align:justify;">Buah apel merah warnanye buah nanas berkulit tajam…..</p>
<p style="text-align:justify;">Susu perah dari lembu ambil garam dari laut…..</p>
<p style="text-align:justify;">Kincir angin roda berputar dulang emas dihempaskan….</p>
<p style="text-align:justify;">Sirip ikan nampak terlihat di laut lepas pertande ada kehidupan….</p>
<p style="text-align:justify;">Bulan purnama bersinar terang cenayang asik merajut duste….</p>
<p style="text-align:justify;">Malam semakin pekat lolongan anjing saling menyahut…..</p>
<p style="text-align:justify;">Sunyi senyap di dusun hingar bingar gemerlapnya kota…..</p>
<p style="text-align:justify;">Asik masyuk berbuat maksiat sudah menjadi santapan pokok…..</p>
<p style="text-align:justify;">Kenduri menjadi ritual budaya menjadi kewajiban ibadah menjadi selingan..</p>
<p style="text-align:justify;">Pundi-pundi uang terus diburu bejana-bejana amal di banggakan…..</p>
<p style="text-align:justify;">Benda-benda pusaka menjadi sandarannya, ramalan di yakininya…….</p>
<p style="text-align:justify;">Makam-makam keramat dan cenayang tempat meminta sesuatu….</p>
<p style="text-align:justify;">Percaya dan yakin kepada mitos atau takhyul yang menyesatkan….</p>
<p style="text-align:justify;">Buah belimbing jatuh ke tanah keledai berjalan lunglai…..</p>
<p style="text-align:justify;">Kuda menarik pedati kerbau membajak sawah ….</p>
<p style="text-align:justify;">Carilah pembimbing jangan menyerah teruslah berupaya…..</p>
<p style="text-align:justify;">Ayam tidak mengembik kambing tidak berkokok…..</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan jadi manusia bodoh karena kepandaiannya…..</p>
<p style="text-align:justify;">Burung terbang tinggi di angkasa, cacing bergumul dengan tanah….</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia pandai berkeinginan untuk mengetahui asal usulnya …..</p>
<p style="text-align:justify;">Matahari di atas bumi di bawah daratan berisi tanah lautan berisi air…</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia berhati mulia tentu ingin mengenal yang menciptakan itu….</p>
<p style="text-align:justify;">Para kerabat yang berbudi luhur jangan cari siapa penulis diblog ini tetapi cari dan pakailah hikmah-hikmah yang berguna atau carilah manfaat dari tulisan-tulisannya. Disaring dan dikaji lebih mendalam lagi sharinglah dengan yang lebih memahami dan lebih paham tentang Ilmu Ketuhanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan dari semua tulisan adalah mengajak manusia mengenal dirinya untuk dapat mencintai dan dicintai oleh Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan dalam mencintai umatnya tidak membeda-bedakan keyakinan atau agama, tidak melihat yang kaya atau miskin, muda atau tua, pria atau wanita, berpangkat atau tidak, rakyat jelata atau pejabat tinggi, pemuka agama atau bukan, tetapi semua di hadirat Tuhan sederajat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan berkehendak memilih siapa saja dari umat-Nya yang dikehendaki untuk diselamatkan dan diampuni.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan Maha Pengasih dan Pengampun maka Tuhan akan mengampuni manusia – manusia yang berdosa jika mereka minta pengampunan kepada-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seberapa banyak dosa-dosanya meskipun sudah bergelimang lumpur berbuat maksiat setiap harinya atau tubuhnya penuh hiasan tatto tetap akan diampuni jika umat-Nya meminta dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. </p>
<p style="text-align:justify;">Untuk umat-Nya yang bertobat Tuhan tidak akan mempersulitnya dengan aneka ritual yang macam-macam dan jangan pernah kena tipu daya dari yang mengaku pandai dengan mengatakan bahwa pertobatan dapat ditukar dengan alat bayar atau dengan benda-benda atau hewan meski dengan alasan apapun karena Pengampunan Tuhan tidak untuk diperjualbelikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan terkecoh oleh dalil-dalil yang mereka keluarkan, sesungguhnya mereka adalah sesat karena telah menjual ayat-ayat Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan hanya menginginkan umat-Nya yang bertobat berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan buruknya lalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dengan terus menerus mengingat-Nya dan bersandar hanya kepada-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Datanglah kepada Tuhan dengan menghadap seorang diri di ruang pribadimu bertobatlah dengan luluh lantah dan berjanjilah kepada-Nya karena Tuhan Maha Melihat dan Maha Tahu isi hati umat-Nya. Cukuplah dirimu dan Tuhan yang Tahu tanpa harus bercerita kepada siapapun juga tentang pertobatan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Segerakanlah pertobatan itu karena kamu tidak tahu kapan penjemput maut datang, jangan sia-siakan sisa hidupmu untuk hal-hal yang tak berguna di hadapan Tuhan. Perbanyaklah menghadap Tuhan untuk mohon ampun dan mohon untuk terus dibimbing dan dituntun di jalan yang lurus dan benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Bersikap lapang dada dalam menerima segala ujian dan cobaan dari Tuhan dengan terus mengingat dan memujinya dalam hati jangan mengandalkan diri sendiri dalam mengarungi kehidupan ini tetapi bersandarlah hanya kepada Tuhan. Jalani sisa hidupmu dengan penuh suka cita, ikuti kehendak-Nya didasari karena kamu mencintai Tuhan dan berharap ingin jumpa dengan-Nya kelak.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan melihat keatas terus, menilai sosok manusia dari tampak luar saja, jangan berkecil hati dan takut tidak diampuni atas segala dosa-dosa yang telah diperbuat, jangan membuat study banding dengan melihat pemuka agama, ahli kitab, ulama kondang, rekan yang ibadahnya tekun, hafal ayat-ayat dan dalil-dalil tetapi perlu diketahui bahwa mereka belum tentu lebih mulia di hadapan Tuhan karena Tuhan lebih mengetahui isi hati umat-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka yang mengaku-aku pandai hanya pandai berdebat tetapi belum dapat memahami dan dipakai untuk diri dan keluarganya, di beritahupun tak mau dengar karena merasa paling tahu dan paling pandai tetapi manusia yang banyak melakukan kelalaian karena ketidaktahuanya lebih cepat dapat introspeksi diri dan memahami apa yang dituturkan si pembimbing dalam mengajaknya untuk mencari kebenaran dan kembali kepada Tuhan tanpa melalui banyak perdebatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan malu dan takut untuk bertobat abaikan gunjingan rekan-rekan yang membuatmu jauh dari Tuhan karena mereka tidak dapat menyelamatkanmu di hadirat Tuhan, mereka hanya bisa berceloteh mengatakan kamu tidak gaul dan lain sebagainya, biarkan jangan hiraukan, takutlah jika kamu tidak ditoleh oleh Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Celoteh manusia hanya sesaat tetapi jika kamu tidak ditoleh oleh Tuhan maka kamu akan menjadi manusia yang paling merugi selamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudahi dugem, sudahi maksiat, segeralah bersujud untuk mohon ampun, waktumu tidak banyak lagi, jangan sia-siakan waktu selagi ada kesempatan, segerakan untuk bertobat.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan pernah menunda waktu untuk bertobat dengan alasan tunggu tua atau tunggu ini tunggu itu, hal demikian sudah tidak berlaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini lihatlah Tuhan telah banyak memberikan peringatan keras kepada manusia di muka bumi, bencana besar dan musibah sering melanda baik di darat laut maupun udara, apa yang sedang terjadi ternyata Tuhan sudah membinasakan manusia sekarang bukan dalam hitung satu atau dua manusia tetapi sudah dalam hitungan yang sangat besar yaitu puluhan, ratusan bahkan ribuan manusia binasa dalam sekejap.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah manusia tak takut ketika pencabut nyawa datang ia sedang berzina di penginapan atau sedang di tempat dugem dengan mulut bau alkohol memabukan sedang memakai obat-obatan terlarang sehingga wafatnya dalam keadaan overdosis wafatnya dalam keadaan kotor pulang dari menjual tubuh…….</p>
<p style="text-align:justify;">Disaat meregang nyawa, penyesalanpun tiada guna selanjutnya siap menanti siksa kubur dan siksa neraka yang sangat pedih.</p>
<p style="text-align:justify;">Renungkan bagaimana keluarga yang ditinggalkan pasti sangat berduka dan sangat malu dengan cara wafat yang memalukan pasti jadi bahan gunjingan dan cercaan khalayak !!!!</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk apa bergaya dengan penampilan luar yang mutakhir mencari popularitas dengan menghalalkan segala cara, berita-berita dari layar kaca berisi banyak macam cara untuk membuka dan mencari-cari aib orang lain, anak-anak di jadikan alat untuk mencari nafkah dengan alasan ini dan itu yang sebenarnya adalah kebanggaan dari si orang tuanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia-manusia menggunakan mistik kegelapan dari dunia orang mati yaitu menggunakan budak iblis untuk mencari ketenaran dan mencari nafkah, hal yang demikian terjadi tetapi banyak manusia mengagumi dan memujanya sehingga nampak terlihat jelas begitu banyak manusia yang tanpa disadari sudah dipengaruhi oleh iblis dengan mengakui kehebatannya. </p>
<p style="text-align:justify;">Manusia bangga memamerkan kekayaannya di hadapan umum mengaku dari hasil jerih payahnya dan kepandaiannya atau karena keahliannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Segera benahi dan cepatlah menyadari kekeliruan atas apa-apa yang telah dilakukan, janganlah mau diperbudak oleh hawa nafsu dunia dengan hanya mengejar popularitas atau mengejar kekayaan, menghujat sana sini menjadi dalang untuk memperkeruh suasana membuat opini-opini dengan dalil untuk mensejahterakan masyarakat lebih baik benahi diri dan keluarga lebih dahulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan jadi manusia yang paling pandai untuk dunia dengan pandai membuat opini-opini atau pandai menghujat sesamanya dengan dalil-dalil yang dibuat oleh manusia juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan jadi manusia sombong dan angkuh, merasa ia yang paling benar dengan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain atau ingin memasukkan seseorang ke balik jeruji hanya karena ambisi dan egonya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan jadi manusia pecundang yang tidak punya hati nurani demi mengejar nafsu dunia lalu tega menyakiti sesamanya, membalas kebaikan dengan keburukan kepada orang yang telah membantunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang kamu kejar dan sudah kamu peroleh itu semua adalah semu dan sesaat, bukan itu yang Tuhan inginkan darimu, hai manusia !!!!</p>
<p style="text-align:justify;">Bukalah mata lebar-lebar, tajamkan pendengaran, bersihkan hatimu……</p>
<p style="text-align:justify;">Tolong dengan amat karena wujud kasih memintamu untuk menanggalkan segala atribut dunia sejenak lalu benamkan dirimu di hadirat Tuhan silahkan gali dan cari ada apa disana dan tolong tanyakan apakah sudah benar apa yang kamu lakukan selama ini ??????</p>
<p style="text-align:justify;">Jawablah dengan sejujur-jujurnya jika jawabanmu mengakui kamu salah selama ini maka kamu akan mendapatkan tuntunan untuk segera bertobat dan merubah gaya hidupmu yang salah !!!!</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi ketika jawabanmu mengatakan perilaku ini sudah benar maka silahkan lanjutan ambisimu mengejar dunia karena hatimu tertutup daki !!!!!!</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan penuh kasih dengan selalu mengijinkan manusia untuk memilih jalan hidupnya di dunia maupun untuk hidup kekalnya di akherat.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>KASIH SAYANG TUHAN SELALU MENYERTAI UMATNYA</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAGI YANG PERCAYA KEPADA-NYA</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>KUCURAN RAHMAT DAN AMPUNAN SELALU DI BERIKAN</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAGI UMAT YANG MEMINTA KEPADA-NYA</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Baba Fareed Poetry]]></title>
<link>http://aemalis.wordpress.com/2009/11/26/baba-fareed-poetry/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 11:34:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>aemalis</dc:creator>
<guid>http://aemalis.wordpress.com/2009/11/26/baba-fareed-poetry/</guid>
<description><![CDATA[Baba Fareed Says]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_117" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://aemalis.wordpress.com/files/2009/11/baba-fareed-wordp.jpg"><img src="http://aemalis.wordpress.com/files/2009/11/baba-fareed-wordp.jpg" alt="Uth Fareeda" title="Baba Fareed-WORDp" width="500" height="378" class="size-full wp-image-117" /></a><p class="wp-caption-text">Baba Fareed Says</p></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Message of Shah Bhittai &amp; Baba Bulhey Shah]]></title>
<link>http://aemalis.wordpress.com/2009/11/26/message-of-shah-bhittai-baba-bulhey-shah/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 09:03:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>aemalis</dc:creator>
<guid>http://aemalis.wordpress.com/2009/11/26/message-of-shah-bhittai-baba-bulhey-shah/</guid>
<description><![CDATA[Mesage of Shah bhittai and Baba Bulhey shah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_109" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://aemalis.wordpress.com/files/2009/11/sh-bhitai-bulha-wp1.jpg"><img src="http://aemalis.wordpress.com/files/2009/11/sh-bhitai-bulha-wp1.jpg?w=300" alt="The Sufism" title="Sh Bhitai &#38; Bulha-wp" width="300" height="300" class="size-medium wp-image-109" /></a><p class="wp-caption-text">Mesage of Shah bhittai and Baba Bulhey shah</p></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Insight from the Masters of Wisdom on the Manifestation of Reality By Mawlana 'Abd al-Rahman Jami]]></title>
<link>http://ahmedamiruddin.wordpress.com/2009/11/26/insight-on-the-manifestation-of-reality-by-mawlana-abd-al-rahman-jami/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 06:19:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmedamiruddin</dc:creator>
<guid>http://ahmedamiruddin.wordpress.com/2009/11/26/insight-on-the-manifestation-of-reality-by-mawlana-abd-al-rahman-jami/</guid>
<description><![CDATA[Excerpted from: Rashahat ‘Ain al-Hayat [Beads of Dew from the Source of Life: Histories of the Khwaj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://ahmedamiruddin.wordpress.com/files/2009/11/hallaj_doors.jpg" alt="" title="HALLAJ_DOORS" width="384" height="226" class="aligncenter size-full wp-image-1254" /></p>
<p>Excerpted from: Rashahat ‘Ain al-Hayat [Beads of Dew from the Source of Life: Histories of the Khwajagan: The Masters of Wisdom]. Translated by Muhtar Holland. Al-Baz Publishing. P. 174,208.</p>
<p>[The venerable Mawlana 'Abd al-Rahman Jami said],</p>
<p>-&#8221;Today I recieved an insight that I had not seen anywhere before.  The manifestation of Reality [Haqiqah] is the form seen in the mirror, not the mirror itself.  This quality does not exist in the mirror&#8230;</p>
<p>[The venerable Mawlana 'Ala ad-Din said],</p>
<p>-&#8221;When Husain ibn Mansur [al-Hallaj] said: &#8220;I am the Truth [ana'l Haqq],&#8221; he was referring to his own reality [in the sense that nothing really exists except Allah, the Divine Truth].  When Pharaoh said: &#8220;I am your Lord [ana Rubu-ka],&#8221; he was describing his own apparent form.  If Pharaoh had understood his own reality, his saying &#8220;I&#8221; would also have been acceptable&#8221;.  </p>
<div id="attachment_1258" class="wp-caption aligncenter" style="width: 407px"><img src="http://ahmedamiruddin.wordpress.com/files/2009/11/tombe_hallaj.jpg" alt="" title="tombe_hallaj" width="397" height="312" class="size-full wp-image-1258" /><p class="wp-caption-text">Tomb of Husain ibn Mansur al-Hallaj, Baghdad, Iraq</p></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Nuevo Nacimiento"iraní: Inauguración]]></title>
<link>http://netempusfugat.wordpress.com/2009/11/25/nuevo-nacimientoirani-inauguracion/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 11:52:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>ptrc2</dc:creator>
<guid>http://netempusfugat.wordpress.com/2009/11/25/nuevo-nacimientoirani-inauguracion/</guid>
<description><![CDATA[En el Centro Intercultural Persépolis se inaugura hoy miércoles, 25 de noviembre, a las 20h la expos]]></description>
<content:encoded><![CDATA[En el Centro Intercultural Persépolis se inaugura hoy miércoles, 25 de noviembre, a las 20h la expos]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Erstes Treffen von Sufiorden und Sufis vom 27. -29. November 2009 in Luwigshafen]]></title>
<link>http://andreaskellner.wordpress.com/2009/11/24/erstes-treffen-von-sufiorden-und-sufis-vom-27-29-november-2009-in-luwigshafen/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 20:24:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>heddesheim</dc:creator>
<guid>http://andreaskellner.wordpress.com/2009/11/24/erstes-treffen-von-sufiorden-und-sufis-vom-27-29-november-2009-in-luwigshafen/</guid>
<description><![CDATA[Ende November wird es zum ersten Mal in Deutschland bzw. im deutschsprachigen Raum ein Treffen der i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ende November wird es zum ersten Mal in Deutschland bzw. im deutschsprachigen Raum ein Treffen der in den deutschsprachigen Ländern aktiven Sufiorden in Mannheim &#8211; Ludwigshafen geben, zu dem auch viele am Sufismus und mystischen Wegen interessierte Menschen erwartet werden.</p>
<p>Sufismus wird auf verschiedene Art und Weise definiert: Die Aufhebung von Ego und Selbst-Zentriertheit des Menschen oder die Überwindung der Anhaftungen, an alles was Außen ist. Durch spirituelle Wiedererweckung, durch verschiedene Übungen sollen Gewahr-Sein und Achtsamkeit im Augenblick, soll die Unterordnung unter den Willen Gottes entwickelt werden. Ständiges Bestreben, alle der Schöpfung und damit Menschen und Natur schadenenden Verhaltensweisen aufzugeben und sich stattdessen gute, dem Leben dienende Eigenschaften anzueignen ist das Ziel.</p>
<p>Dieser Prozess der Bewusstwerdung ist gemeint, wenn die Sufis sagen „Stirb bevor du stirbst“ und damit gleichzeitig zum Ausdruck bringen, dass es möglich ist, vor dem Tod das Wesen von Gott zu schauen und seine Liebe zu erfahren.</p>
<p>Bei dem <a href="http://mannheimer-institut.de/downloads/Flyer_Sufitreffen_2009.pdf" target="_blank">Sufitreffen</a> vom 27. November 13.00 Uhr bis 29. November 2009  in Ludwigshafen können die Sufis der verschiedenen Orden ebenso, wie am Sufismus und mystischen Wegen interessierte Menschen, sich informieren und in den Dialog eintreten.</p>
<p>Vorträge von <a href="http://www.sufimovement.net/">Shaikh ul Mashaikh Mahmud Khan</a> und <a href="http://de.wikipedia.org/wiki/Michaela_M._%C3%96zelsel" target="_blank">Dr. Michaela M. Özelsel</a>, von <a href="http://www.friedenspaedagogik.de/themen/globales_lernen__1/diskussionsbeitraege_aspekte_globalen_lernens/notwendig_ist_ein_globales_ethos_dr_guenther_gebhard" target="_blank">Dr. Günther Gebhardt</a> von Stiftung Weltethos und <a href="http://www.newsline.com.pk/NewsMay2006/interviewmay2006.htm" target="_blank">Prof. Jürgen Wasim Frembgen</a> und der Dialog mit den TeilnehmerInnen beleuchten am Freitag und Samstag die Innen- wie auch die Außensicht auf den Sufismus.</p>
<p>Die Teilnehmer können am Samstag in getrennten kleinen Veranstaltungen die einzelnen Sufiorden, deren historische Entwicklung und ihre Wege von Meditation und Kontemplation kennenlernen und im Anschluss daran bei einer Podiumsdiskussion den Sheikhs und Vertretern der Sufiorden nochmals ihre Fragen stellen.</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/6LUOkl2YO-U&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/6LUOkl2YO-U&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p>Am Freitagabend wird mit einem gemeinsamen Essen das Opferfest begangen. Anschliessend gibt es ein Konzert mit der Gruppe <a href="http://www.gayanshala.sufismus.de/hosneva.htm" target="_blank">Hosh Neva</a> und dem weltbekannten <strong>Oud-Solisten <a href="http://www.orientalischemusikakademie.de" target="_blank">Necati Celik</a></strong>. Begleitet wird er vom Derwisch-Tanz Talip Elmasulu. Daran schließt um etwa Mitternacht die lange Nacht der Sufis mit der Gruppe Tümata, Dr. Rahmi Oruc Güvenc und Freunden aus Istanbul an.</p>
<p>Der Sonntagvormittag bis 13.00 Uhr ist dann Gruppenarbeiten gewidmet. Es geht darum herauszuarbeiten, wie Sufis zum interreligiösen, interkonfessionellen, politischen und gesellschaftlichen Dialog beitragen können.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Acquiring Divine Love through disciplining the soul]]></title>
<link>http://khushu.wordpress.com/2009/11/24/acquiring-divine-love-through-disciplining-the-soul/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 08:09:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Khushu</dc:creator>
<guid>http://khushu.wordpress.com/2009/11/24/acquiring-divine-love-through-disciplining-the-soul/</guid>
<description><![CDATA[بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ In the Name of Allah Most-Compassionate, Most-Merciful Acquiri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ In the Name of Allah Most-Compassionate, Most-Merciful Acquiri]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENYONGSONG KEMATIAN RAGA DENGAN SUKA CITA]]></title>
<link>http://mknr.wordpress.com/2009/11/24/menyongsong-kematian-raga-dengan-suka-cita/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 01:20:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>mknr</dc:creator>
<guid>http://mknr.wordpress.com/2009/11/24/menyongsong-kematian-raga-dengan-suka-cita/</guid>
<description><![CDATA[Demi masa dunia beserta isinya akan hancur lebur benda-benda antariksa akan berjatuhan dan tidak ada]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Demi masa dunia beserta isinya akan hancur lebur benda-benda antariksa akan berjatuhan dan tidak ada lagi kehidupan di dunia ini jika semua itu telah terjadi pertanda akan bergantinya alam sementara menjadi alam keabadian.</p>
<p>Kapankah itu terjadi ! Tidak ada seorangpun yang tahu kapan terjadinya !!! Tuhan telah memberitahukan tanda-tandanya kepada manusia untuk mempersiapkan diri menghadapi pergantian alam tersebut melalui firman-firman-Nya yang disampaikan oleh para utusan.</p>
<p>Kini tanda-tanda akan adanya pergantian alam tersebut sudah mulai tampak seharusnya manusia sudah siap jika mengalami kejadian tersebut !!!</p>
<p>Bukankah manusia sudah tahu bahwa alam yang sekarang dinikmatinya adalah alam sementara yaitu alam yang digunakan untuk manusia mempersiapkan diri membawa bekal-bekal yang cukup untuk menuju alam keabadian.</p>
<p>Jika manusia sudah cukup bekalnya seharusnya sudah tidak ada yang ditakuti jika pergantian alam itu tiba dengan tidak lagi menghiraukan rumor-rumor yang beredar menceritakan kebinasaan dunia.</p>
<p>Semakin tanda-tanda diperlihatkan oleh Tuhan seharusnya manusia semakin berupaya mempersiapkan diri untuk kembali ke alam keabadian dengan memperbanyak bekal yaitu tinggalkan yang dimurkai oleh Tuhan laksanakan apa yang diperintahkan, hiduplah dengan kasih kepada sesama, banyaklah berbuat kebajikan tanpa berharap imbalan baik dari sesama apalagi berharap imbalan dari Tuhan.</p>
<p>Banyak-banyaklah bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas apa-apa yang sudah kamu dapat dan nikmati.</p>
<p>Manusia seharusnya tidak memperdebatkan dan takut menghadapi kiamat besar tetapi mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi kiamat kecil atau kematian raga yaitu berpisahnya raga dengan ruh dan jiwanya.</p>
<p>Kematian raga kapan waktunya dan dalam keadaan bagaimana manusia tidak ada yang tahu, apa sudah siap untuk menyambut kematian raga !!!!</p>
<p>Sahabat-sahabat sejatiku yang terkasih…….</p>
<p>Tubuh manusia atau raga terdiri dari begitu banyak unsur senyawa zat-zat yang hidup mereka mempunyai masa atau waktu dalam kehidupannya semua itu dikendalikan oleh Kuasa Tuhan.</p>
<p>Tuhan menjadikan <strong>raga</strong> sebagai tempat tinggal jiwa dan ruh tetapi nanti yang kembali kepada Tuhan adalah Jiwa dan Ruhnya saja, raga akan hancur binasa karena raga mempunyai masa atau batas waktu.</p>
<p>Raga mempunyai akal pikiran dan daya ingat tetapi semua itu bersifat sementara juga sangat mudah lenyap dengan bertambahnya usia atau terkena suatu penyakit.</p>
<p>Raga selalu diliputi dengan berbagai macam keinginan disertai hawa nafsu untuk memuaskan kebutuhannya dimana raga selalu diberi busana-busana indah untuk mendapatkan pujian juga diberi santapan dengan panganan-panganan yang lezat yang semua itu hanya raga yang menikmatinya lalu untuk jiwa dan ruh busana dan panganannya apakah sudah dicukupi !!!</p>
<p>Sedangkan mereka yang nantinya akan menghadap Tuhan ! Apa mereka tidak malu ya atau takut menghadap Tuhan dengan tidak berbusana juga dalam keadaan lapar ???&#8230;.</p>
<p>Kasihan sekali jiwa dan ruhnya jika raga tidak mengajak mereka untuk menyatu dengan menggunakan busana yang sama dan menyantap panganan yang sama. Seharusnya raga baik hati dan mau berdamai dengan jiwa dan ruhnya untuk mencukupi mereka juga dengan memberi busana dan panganan yang memang diperuntukan bagi mereka dan bukan memberi busana atau panganan yang untuk raga saja.</p>
<p>Jika itu sudah dicukupi mereka pasti tidak malu atau takut ketika menghadap Tuhan dan sudah siap kapan saja dijemput untuk pulang kembali kepada Tuhan</p>
<p>Raga diberi akal pikiran untuk digunakan menuntut ilmu terutama ilmu ketuhanan raga juga punya hati yang digunakan untuk mencerna memilah menimbang dan memutuskan apakah ini benar atau salah, apakah ini baik atau buruk apakah ini bisa menyelamatkan ruh dan jiwa atau tidak.</p>
<p>Raga seharusnya memikirkan juga tentang keselamatan jiwa dan ruhnya, jangan hanya raga saja yang harus dituruti kemauannya oleh jiwa dan ruh.</p>
<p><strong>Jiwa</strong> adalah salah satu makhluk hidup ciptaaan Tuhan yang tidak binasa atau kekal tetapi ada sebagian jiwa yang akan dibinasakan oleh Tuhan yaitu ketika ia sampai di pintu gerbang surga karena surga tidak di huni oleh jiwa tetapi surga dihuni oleh ruh.</p>
<p>Jiwa bentuknya seperti bayangan, ia tidak mempunyai akal pikiran atau hati tapi ia dapat berbicara.</p>
<p>Jiwa terbentuk ketika manusia lahir dengan menghirup udara dunia pertama kali sejak itulah jiwa sudah mempunyai tanggung jawab dan terus mengikuti raga tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Raga dapat tertidur nyenyak tetapi jiwa tetap terjaga, raga diamputasi karena suatu penyakit atau bentuk raga cacat tidak sempurna tetapi bentuk jiwa tetap sempurna dan utuh.</p>
<p>Semua perbuatan raga akan terekam dalam jiwa mulai dari usia 0 (nol) bulan sampai wafatnya raga dan rekaman tersebut tidak ada yang tercecer atau rusak semua terekam sangat rinci dan detil melalui setiap helaan nafasmu meski dalam tidur sekalipun seperti apa mimpimu, berapa kali kamu membalikkan tubuh, berapa banyak kamu mendengkur, apa isi igauanmu, apa yang kamu hayalkan dan lakukan sebelum tidur dan lain sebagainya itulah contoh kecil dimana jiwa nantinya akan membeberkan semua prilaku raga.</p>
<p>Jiwa sangat penurut apa yang dilakukan oleh raga, ia pasti akan mengikutinya.</p>
<p>Sebenarnya jiwa dapat di ajak bangkit dan bekerja sama dengan raga tetapi raga harus berupaya menekan segala nafsu dunia dan mau mengganti busana dan santapan kesehariannya. Untuk membangkitkan jiwa maka raga harus mau menggunakan busana takwa dan menyantap santapan rohani dalam kesehariannya baru jiwa akan bangkit dan selamat.</p>
<p>Hal demikian tidaklah sulit jika di niatkan dan ada kemauan, ada keinginan yang kuat dari raga untuk mencari keselamatan yang kekal.</p>
<p>Untuk kebutuhan raga di dunia manusia rela melakukan apa saja atau dengan cara apapun bersusah payah demi memuaskan raga mendapatkan sesuatu.</p>
<p>Untuk kebutuhan jiwa dan ruhnya hendaknya manusia harus lebih giat dan lebih berupaya mencari cara untuk keselamatannya yaitu membersihkan hati dari daki-daki dunia lalu mendekatlah kepada Tuhan.</p>
<p><strong>Ruh</strong> adalah Mahkluk hidup yang sangat kecil suci bersih sangat patuh dan ia makhluk yang paling kekal. Ruh ada sebelum raga dan jiwa diciptakan semua ruh mempunyai nama yang diberi oleh Tuhan sebelum ruh dimasukan ke dalam raga mereka dikenalkan dahulu pada Tuhan dan diminta kembali nanti dalam keadaan selamat maksudnya adalah setelah tugas selesai mereka diminta kembali dan bertemu dengan Tuhan dalam keadaan tetap suci dan bersih.</p>
<p>Ruh berjanji setia kepada Tuhan dan akan kembali dengan selamat namun apa yang terjadi setelah ruh masuk dalam tubuh manusia, ia menjadi terkungkum dikalahkan oleh raga yang hanya mengikuti hawa nafsu dunia saja ruh tidak dapat berbuat apa-apa karena dibiarkan oleh raga untuk menjadi yang tertinggal, raga seperti tidak mengenalnya ruh sangat bersedih ia takut akan janjinya pada Tuhan tetapi apa daya ruh tidak diajak berdamai dengan raga.</p>
<p>Tuhan menciptakan manusia sangat sempurna ada raga, jiwa dan ruh dari ketiganya mempunyai tugas yang berbeda-beda tetapi dari tugas yang berbeda mereka dapat menjadi satu kesatuan yang kompak jika manusia mau memberi kesempatan pada ketiganya untuk berdamai dan bersatu dengan tujuan yang sama yaitu ingin kembali ke sisi Tuhan dengan selamat.</p>
<p>Raga bertugas untuk dapat melakukan perbuatan karena diberi akal fikiran.</p>
<p>Jiwa bertugas sebagai pendamping dan perekam kegiatan raga.</p>
<p>Ruh bertugas untuk menyatakan kebenaran dan mengajak untuk berbuat baik dengan penuh kasih sayang.</p>
<p>Jiwa dan ruh sebelum dimasukkan oleh Tuhan kedalam tubuh manusia tidak ada perjanjian perihal kamu pengikut siapa atau agama apa atau jadi keturunan siapa tetapi yang diminta Tuhan adalah mereka kembali dalam keadaan tetap suci bersih dan tetap mengenali dan mengakui Tuhan yang menciptakannya.</p>
<p>Jika demikian untuk apa sekarang sesama manusia memperdebatkan masalah keyakinan atau agama apalagi sampai menyakiti sesamanya baik lahir maupun bhatin lebih baik benahi dirimu dan keluargamu dahulu jangan campuri urusan orang lain yang belum tentu kamu lebih baik atau lebih mulia dari mereka dihadapan Tuhan.</p>
<p>Sahabat-sahabat yang berbahagia ……</p>
<p>Semua manusia di muka bumi ini akan mengalami proses pemisahan dimana raga akan ditinggalkan oleh jiwa dan ruhnya raga akan menjadi bangkai tidak bisa berbuat apa-apa lagi sedangkan jiwa dan ruh tetap hidup di alam yang lain.</p>
<p>Tidak ada pengecualian baik ia presiden, raja, pejabat tinggi, pemuka agama, artis, fakir miskin, tua muda, pria wanita semua mengalami proses yang sama.</p>
<p>Sebenarnya manusia yang akan kembali kepada Tuhan menjelang detik-detik terakhirnya telah mengetahui apakah ia akan selamat atau tidak ketika pencabut nyawa datang dengan keharuman dan berwajah sukacita penuh senyuman memancarkan kebahagiaan pertanda ia datang untuk mencabut ruh-ruh yang tetap suci dan bersih, sebaliknya ketika ia datang bermuka garang dan masam dengan gigi gemerutuk menahan amarah pertanda ia akan mencabut ruh-ruh yang kotor dan berdaki.</p>
<p>Jika yang datang menjemput ramah dan santun pasti ruh akan menyambut baik dan bersukacita jiwa pun ikut merasakan hal yang sama karena tahu ia akan selamat kembali kepada Tuhan maka raga tidak akan merasakan sakit ketika ruh dan jiwa keluar dari tubuhnya disebabkan sang pencabut nyawa sangat hati-hati dan perlahan – lahan dalam mencabutnya.</p>
<p>Jika yang datang menjemput dengan amarah dan berwajah garang pasti ruh sangat takut menghadapinya jiwapun ikut merasakan hal yang sama karena tahu siksa yang akan diterima alias tidak selamat kembali kepada Tuhan kondisi yang demikian raga akan merasakan sakit yang amat sangat ketika ruh dan jiwa keluar dari tubuhnya di sebabkan mereka dicabut paksa dengan kemarahan dari sang pencabut nyawa.</p>
<p>Setelah pencabut nyawa membawa ruhnya maka raga terbujur kaku tak berdaya menjadi bangkai yang siap di apakan saja oleh manusia yang hidup dan meninggalkan semua yang dicintainya termasuk harta bendanya yang berlimpah. Sang mayit hanya ditutupi kain batik dan wajahnya ditutupi kerudung putih tipis busana dan perhiasan mahal yang dibanggakan dilucuti dari tubuhnya.</p>
<p>Isak tangis menyelimuti keluarga sang mayit terdengar puji-pujian atau ayat-ayat kitab dilantunkan ada pula celoteh-celoteh pertanyaan di antara para pelayat perihal sebab wafatnya sang mayit.</p>
<p>Suasana duka tampak di kediaman sang mayit kesibukan dari keluarga terlihat</p>
<p>sanak saudara jauh berdatangan teman kerabat tetangga datang melayat untuk memberikan penghormatan terakhir.</p>
<p>Persiapan untuk penguburan dimulai dari sang mayit dimandikan sampai upacara pelepasan jenazah dilakukan sesuai dengan keyakinan yang diyakini oleh sang mayit atau keluarganya.</p>
<p>Tahukah kamu apa yang dilakukan oleh jiwa sang mayit  !!!&#8230;.</p>
<p>Setelah ruhnya dibawa oleh pencabut nyawa, jiwa melihat raganya terbujur kaku lalu jiwa bertanya ke sana kemari kepada para pelayat dan keluarganya tetapi tidak ada yang menghiraukannya meski ia meratap minta tolong, semua prosesi dilihat dan diikutinya sampai raga dimasukkan ke dalam liang lahat untuk ditimbun menjadi gundukan tanah yang diatasnya ditaburkan aneka bunga warna warni, selama proses upacara berlangsung jiwa masih bisa menyapa atau menyalami para pengantar untuk mengucapkan kata-kata perpisahan dan berterima kasih kepada para pengantar dan keluarganya tetapi ada pula jiwa-jiwa yang meratap minta tolong agar jangan ditinggalkan sendirian karena takut dan tahu bahwa ia akan mengalami siksa kubur tetapi para pengantar juga keluarganya tidak menyadari hal tersebut semua tampak tenang dan biasa saja.</p>
<p>Andai para pengantar jenazah dan keluarga sang mayit tahu dan menyadari apa yang terjadi di pemakaman pasti mereka bergidik dan tidak lagi datang ke pemakaman dengan bergaya pakai kacamata hitam dan baju bagusnya sambil berkomunikasi dengan handphonenya atau berkelompok berdiri disekitar makam dengan nyamannya tanpa rasa takut sedikitpun sambil bercerita ini dan itu tanpa memperdulikan si penghuni makam.</p>
<p>Sesungguhnya disemua pemakaman pasti ada yang mengalami siksa kubur  dengan terdengarnya suara dentuman yang sangat keras, desis dari binatang melata, bau busuk yang menyengat, suara gemuruh dan gaduh dari dalam kubur, lengkingan jerit tangis kesakitan minta tolong disertai rintihan yang menyayat hati dari para penghuni kubur membuat hati yang bisa melihat dan mendengar pasti sangat takut dan sangat miris.</p>
<p>Jeritan mereka sia-sia karena tidak ada yang dapat menolongnya karena mereka bertanggung jawab atas dirinya sendiri meskipun makamnya di buat sebagus apapun oleh keluarganya tetap tidak mempengaruhi dari si mayit.</p>
<p>Semua raga yang telah berpisah dari ruhnya tetap akan mengalami siksa kubur atau nikmat kubur meskipun raganya di kremasikan, raganya hilang di laut, raganya diawetkan untuk dijadikan praktek atau raganya di mummy tetap dalam waktu singkat sang mayit wajib menerima buku catatannya dan mempertanggungjawabkan segala perbuatan-perbuatannya selama raga hidup</p>
<p>karena alam kubur tidak dibatasi oleh ruang dan waktu maka hukuman tetap berlangsung atau nikmat kubur tetap diberikan bagi jiwa yang selamat.</p>
<p>Siksa kubur diperuntukkan bagi jiwa-jiwa yang ingkar akan nikmat yang sudah diberikan Tuhan kepada raganya. Selama hidup raga selalu dipakai untuk bermaksiat atau menikmati apa yang di larang oleh Tuhan dengan tidak melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya, raga tidak mengenal Tuhan karena</p>
<p>selalu dunia yang mereka kejar dan raga juga mempunyai Tuhan yang lain yaitu <strong>UANG</strong> yang mereka yakini dengan <strong>UANG</strong> semua bisa dilakukan dan dapat dijadikan sandaran bagi kehidupan masa depannya.</p>
<p>Ternyata <strong>UANG</strong> tidak bisa membayar petugas alam kubur agar tidak menyiksanya, <strong>UANG</strong> yang dahulu dituhankan kini membuat dirinya menjadi celaka dan tidak bisa menolongnya.</p>
<p>Ketika para pengantar terakhir membalikkan tubuhnya sang mayit sudah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya semasa raganya hidup, siksa kubur yang amat pedih segera menjeratnya ketika sang mayit mendapatkan buku yang berwarna hitam dari petugas alam kubur, beragam macam siksa kubur di timpakan kepada sang mayit tergantung dengan perbuatannya ketika raga hidup.</p>
<p>Hewan melata mulai memangsanya, gada-gada runcing siap menghajarnya, timah panah mulai melelehkannya, cambuk cemeti mulai memecutinya, besi-besi panas nan runcing menusuki kemaluannya, panganannya adalah batubara nan panas dan minumannya adalah darah dan nanah berisi belatung yang sangat bau dan menjijikan itulah sekelumit contoh kecil dari siksa kubur dan jiwa yang merasakannya sampai hari kebangkitan.</p>
<p>Siksa kubur ini masih diperhitungkan berdasarkan kesalahan-kesalahannya sendiri dan kelalaiannya terhadap Tuhan. Dapat dipastikan jika sudah menjalani siksa kubur tentunya akan mengalami siksa neraka yang lebih berat mengapa!!</p>
<p>Karena siksa kubur adalah kesalahan diri sendiri dan kelalaian kepada Tuhan untuk siksa neraka akan diperhitungkan berdasarkan kelalaian kepada Tuhan, kesalahan diri dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain yaitu dengan sesama manusia, hewan, tumbuhan, udara, air, bebatuan, api, matahari, bulan, bintang, petir, awan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Bagi sang mayit yang menerima buku putih dari petugas alam kubur tentunya sangat bersuka cita karena alam kubur yang ditempatinya berubah menjadi bak istana indah dengan tamannya dan dihiasi aneka tumbuhan bunga nan elok dipandang mata mengeluarkan keharuman nan menyejukkan membuatnya nyaman tak ingin beranjak pergi, sehingga ketika dibangkitkan untuk memasuki tahap berikutnya yaitu dimana peradilan besar akan dimulai mereka merasa begitu cepat waktu untuk meninggalkan istananya.</p>
<p>Bagi penghuni alam kubur yang seperti ini juga sebenarnya belum benar-benar murni akan menjadi penghuni surga, mengapa !!!!!!!!</p>
<p>Karena kenikmatan yang ia dapat adalah belum diperhitungkan dengan kesalahan kepada sesama manusia, tumbuhan, udara, air, bebatuan, api, matahari, bulan, bintang, petir, awan, tanah dan lain sebagainya.</p>
<p>Filmnya diputar saksi-saksi dihadirkan lalu hati yang menentukan kebenarannya, apa niatnya ketika melakukan ini dan itu selanjutnya menanti putusan dari Tuhan apakah kamu dikenal atau tidak oleh Tuhan, apakah dosa-dosanya diampuni atau tidak !!!! Jika jiwa dan ruhnya dikenali maka keselamatan didapat karena mendapatkan ampunan dari Tuhan dan menjadi penghuni surga tetapi jika tidak dikenali maka celakalah akibatnya karena dosa-dosanya tidak diampuni oleh Tuhan maka neraka tempatnya.</p>
<p>Bagi jiwa-jiwa yang sudah merasakan nikmat terbebas dari siksa kubur ketika mereka kembali harus menjalani masa penghakiman yang sangat adil dan bijaksana dimana Tuhan sebagai pemutusnya maka jiwa-jiwa tersebut tidak dapat mengelak atau membantah lagi dan siap untuk dijadikan penghuni neraka apabila perhitungan menunjukan bahwa kesalahannya lebih banyak kepada sesama dan makhluk ciptaan Tuhan yang lain dan tidak dapat pengampunan dari Tuhan. karena manusia seperti ini melakukan segala ibadahnya berharap mendapatkan imbalan atas jerih payahnya tetapi Tuhan telah menggenapinya yaitu dibebaskannya mereka dari siksa kubur dan menikmati surga sementara-Nya.</p>
<p> “ <strong>Alam kubur akan dirasakan oleh semua manusia dari manusia pertama yaitu Adam sampai manusia terakhir di hari kiamat tanpa terkecuali</strong> “.</p>
<p>Sahabat-sahabat yang terkasih……</p>
<p>Tentunya sangat ingin jiwa-jiwanya dikenali oleh Tuhan untuk diberi jaminan keselamatan yang abadi, untuk itu selagi ada kesempatan sebelum raga berpisah dengan jiwa dan ruh gunakanlah waktu yang sedikit ini untuk mengenal Tuhan dan mencintainya jangan sia-siakan sisa hidupmu untuk hal-hal yang merugikan jiwamu janganlah memberikan cintamu secara berlebihan kepada sang kekasih, keluarga, harta, jabatan atau apapun yang selain Tuhan, yang semuanya nanti kamu tinggalkan dan tidak bisa menjamin keselamatanmu di akherat.</p>
<p>Mulailah membenahi diri dengan banyak mendekatkan diri kepada Tuhan, jangan percaya ramalan, paranormal, dukun, hipnotis atau bermain-main dengan hal-hal yang berbau mistik dan jangan percaya takhyul karena ritual-ritual budaya turun temurun yang semua itu dapat mengakibatkan kamu jauh dari Tuhan.</p>
<p>Percayakan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas apa-apa yang terjadi pada mu, serahkan beban-bebanmu pada-Nya, jadilah manusia yang berserah diri dan selalu bersyukur kepada Tuhan.</p>
<p>Jangan sembarangan menyeru nama Tuhan untuk hal-hal yang tidak di sukai oleh-Nya atau hanya pandai menyeru secara lisan saja tetapi sebenarnya kamu tidak mengenal dan mencintainya.</p>
<p>Lisan selalu menyeru nama Tuhan berkali-kali dalam sehari semalam, tetapi apalah guna jika di hatimu masih ada tuhan-tuhan lain yaitu di hatimu masih berisi rasa cemas rasa khawatir takut yang berlebihan, tidak ada keyakinan kepada Tuhan, lebih mencintai makhluk ciptaan Tuhan seperti cinta kepada kekasih, cinta kepada suami, cinta kepada istri, sayang yang berlebihan kepada anak atau orang tua atau saudara, lebih mendewakan uang, pangkat jabatan, ketenaran dan lain sebagainya….</p>
<p>Bagaimana ada ruang untuk Tuhan jika kamu masih mengandalkan diri sendiri dalam mengarungi kehidupan ini dengan tidak mensyukuri dan berterima kasih atas apa-apa yang sudah kamu nikmati tetapi selalu mengeluh kurang ini kurang itu !!!!!!!</p>
<p>Meskipun Lisan selalu menyeru nama Tuhan selagi raga hidup tetapi mengapa Tuhan tidak mengenalnya, apa yang terjadi ? dimana kesalahannya !</p>
<p> “ <strong>Ketika Manusia membutuhkan Tuhan di hari penghakiman dan minta di selamatkan agar dapat masuk surga dengan mengatakan bahwa ketika di dunia ia selalu menyeru nama Tuhan terus menerus tetapi Tuhan menjawab sesungguhnya AKU tidak mengenalmu</strong> “</p>
<p>Itulah kerugian terbesar bagi manusia-manusia yang tidak mengenal Tuhannya. mereka hanya melakukan ritual-ritual ibadah tidak dengan hatinya tetapi hanya melaksanakan kewajiban-kewajiban perintah Tuhan tanpa ingin mengenal apalagi berdasarkan cinta kepada Tuhan.</p>
<p>Jika di sadari manusia dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya dapat beramal dan lain sebagainya sebenarnya itu atas ijin Tuhan dan bukan karena kemampuan dirinya sendiri. jadi manusia itu sebenarnya tidak mempunyai daya dan upaya tanpa pertolongan Tuhan maka manusia tidak boleh sombong dan angkuh dalam mengarungi kehidupannya.</p>
<p>Semasa raga masih bersatu dengan jiwa dan ruhnya kesempatan untuk mengenal Tuhan tidak dipergunakan dengan sebaik-baiknya mereka lebih memilih mengenal dan mencintai makhluk-makhluk ciptaan Tuhan.</p>
<p>Mereka lebih mendewakan atau mengkultuskan makhluk ciptaan Tuhan tentu saja Tuhan murka karena disekutukan atau di sejajarkan dengan makhluk ciptaan-Nya.</p>
<p>Manusia lebih memilih takut kepada makhluk ciptaan Tuhan contohnya antara lain adalah bawahan mempunyai rasa takut dan sangat patuh kepada atasannya suami takut dan patuh kepada istrinya atau sebaliknya, anak takut dan patuh kepada orang tuanya, manusia takut kepada hantu atau makhluk buruk, manusia takut akan siksa kubur, manusia takut masuk neraka tetapi kenapa mereka tidak takut dan patuh kepada yang menciptakan semua itu ?&#8230;.</p>
<p>Manusia lebih mendahulukan kepentingan dunianya daripada kepentingan akheratnya, persiapan untuk akheratnya masuk urutan nomor sekian karena dinilai tidak penting atau disepelekan atau dilakukan tetapi dengan ala kadarnya saja sedangkan untuk persiapan masa depan dunia sudah dipikirkan dengan matang sampai harus di asuransikan meski sang anak baru lahir, untuk menyambut hari raya yang masih satu tahun ke muka saja sudah sejak awal dipersiapkan dengan menyisihkan penghasilannya yang akan habis jika selesai hari raya begitu seterusnya dan menyimpan banyak uang atau harta benda untuk bekal masa depan keturunannya dan bekal untuk masa tuanya pertanda manusia tidak percaya kepada<strong> Tuhan Yang Maha Mencukupi</strong> semua diperhitungkan sangat teliti dan hidup hemat untuk bekal masa depan di dunia beragam cara dipakai untuk menimbun harta benda, manusia sudah tidak memperdulikan hukum atau aturan semua dilanggar demi memuaskan hawa nafsu dunia.</p>
<p>Anak dipacu untuk mengenyam pendidikan yang tinggi usia balita sudah harus pandai ini dan itu, orang tua takut anaknya akan tertinggal dan menjadi bodoh karena perkembangan tekhnologi yang semakin maju pesat, takut tidak mendapatkan pekerjaan, takut anaknya hidup susah atau miskin …….</p>
<p>Sangat-sangat miris menyaksikan keadaan manusia yang demikian mereka sudah sangat-sangat salah dalam menafsirkan firman-firman Tuhan tentang kehidupan di dunia mereka sudah terjebak dan dirasuki oleh iblis sehingga tidak mau mendengar atau mempelajari kebenaran dari firman-firman Tuhan.</p>
<p><strong>Bagi manusia yang mau mengenal dan mencintai Tuhan maka semua kebutuhan hidupnya di dunia akan dicukupi tetapi bagi manusia yang lebih mencintai dunia maka mereka akan menjauh dari Tuhan</strong>     </p>
<p><strong>“ TUHAN TIDAK PERNAH MENJAUH DARI UMATNYA TETAPI UMATNYA YANG MENJAUH DARINYA “</strong></p>
<p>Perdalam lagi pengetahuanmu tentang ilmu-ilmu Ketuhanan pelajari dan pahami firman-firman-Nya rubahlah gaya hidupmu mulailah siapkan bekal untuk menyongsong kematian raga dengan suka cita demi menghantarkan jiwa dan ruh kembali ke hadirat Tuhan dengan selamat.</p>
<p><strong>Tingkatkan ibadahmu dengan niat karena ingin mencintai dan dicintai Tuhan</strong> perbanyak berbuat kebajikan dengan mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan keyakinan perbanyaklah melakukan kepekaan-kepekaan <strong>jadilah manusia yang mau melayani dan bukan manusia yang ingin dilayani</strong> maafkanlah semua orang-orang yang telah menyakiti atau menyinggungmu bersikaplah rendah hati dan jadilah manusia yang bijaksana dalam berfikir dan bertindak selalu berfikir positif dalam menghadapi hidup.</p>
<p>Tanggalkan ego untuk mengejar nafsu dunia bergantilah menjadi keinginan yang sangat besar untuk mengenal dan mencintai Tuhan.</p>
<p>Kosongkan relung hatimu dan ijinkan Tuhan Yang Tunggal untuk menempatinya maka kamu akan selamat dan menanti kematian raga dengan suka cita.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>MATIKANLAH DIRIMU SEBELUM KAMU DIMATIKAN</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>LEBIH BAIK HINA DI MATA MANUSIA</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>DARI PADA HINA DIHADAPAN TUHAN</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>GOD IS THE BEST FOR MY LIFE</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Happy Birthday]]></title>
<link>http://wulfrunasufi.wordpress.com/2009/11/24/happy-birthday/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 00:24:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Paul Salahuddin Armstrong</dc:creator>
<guid>http://wulfrunasufi.wordpress.com/2009/11/24/happy-birthday/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignnone size-full wp-image-1482" title="WulfrunaSufi - 2 years old" src="http://wulfrunasufi.wordpress.com/files/2009/11/wulfrunasufi-2-years-old1.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sahibul Hikayat]]></title>
<link>http://baihaqiakhmad.wordpress.com/2009/11/23/sahibul-hikayat/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 10:41:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Baihaqi</dc:creator>
<guid>http://baihaqiakhmad.wordpress.com/2009/11/23/sahibul-hikayat/</guid>
<description><![CDATA[Nasruddin adalah seorang Muslim yang suci, tapi kadang dia melanggar aturan dengan sengaja melanggar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Nasruddin adalah seorang Muslim yang suci, tapi kadang dia melanggar aturan dengan sengaja melanggar]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Manusia Hanya Bisa Mencela]]></title>
<link>http://baihaqiakhmad.wordpress.com/2009/11/23/manusia-hanya-bisa-mencela/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 10:21:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>Baihaqi</dc:creator>
<guid>http://baihaqiakhmad.wordpress.com/2009/11/23/manusia-hanya-bisa-mencela/</guid>
<description><![CDATA[Suatu hari, Nasruddin pergi ke kota bersama anaknya. Dalam perjalanan ke kota tersebut sang anak nai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Suatu hari, Nasruddin pergi ke kota bersama anaknya. Dalam perjalanan ke kota tersebut sang anak nai]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apakah Tuhan Itu Ada?]]></title>
<link>http://baihaqiakhmad.wordpress.com/2009/11/23/apakah-tuhan-itu-ada/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 10:13:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>Baihaqi</dc:creator>
<guid>http://baihaqiakhmad.wordpress.com/2009/11/23/apakah-tuhan-itu-ada/</guid>
<description><![CDATA[Dalam sebuah pesta ulang tahun anaknya, seorang komunis yang kaya raya sengaja mengumpulkan anak-ana]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dalam sebuah pesta ulang tahun anaknya, seorang komunis yang kaya raya sengaja mengumpulkan anak-ana]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Maulana Jalaluddin Rumi, Menari di Depan Tuhan]]></title>
<link>http://ryaninux.wordpress.com/2009/11/22/maulana-jalaluddin-rumi-menari-di-depan-tuhan/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 20:34:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>ryaninux</dc:creator>
<guid>http://ryaninux.wordpress.com/2009/11/22/maulana-jalaluddin-rumi-menari-di-depan-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[“AKAN tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak, dan makam kita tegak di jantung kota. Gelombang de]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“AKAN tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak, dan makam kita tegak di jantung kota. Gelombang de]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Principle Rule of the Order of the Masters of Wisdom [Tariqat i-Khwajagan] By Khwaja 'Abdu'llah Isfahani]]></title>
<link>http://ahmedamiruddin.wordpress.com/2009/11/22/the-principle-rule-of-the-order-tariqat-i-khwajagan-by-khwaja-abdullah-isfahani/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 19:37:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmedamiruddin</dc:creator>
<guid>http://ahmedamiruddin.wordpress.com/2009/11/22/the-principle-rule-of-the-order-tariqat-i-khwajagan-by-khwaja-abdullah-isfahani/</guid>
<description><![CDATA[Excerpted from: Rashahat &#8216;Ain al-Hayat [Beads of Dew from the Source of Life: Histories of the]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://ahmedamiruddin.wordpress.com/files/2009/11/10.jpg" alt="" title="10" width="500" height="376" class="aligncenter size-full wp-image-1228" /></p>
<p>Excerpted from: <em>Rashahat &#8216;Ain al-Hayat </em> [Beads of Dew from the Source of Life: Histories of the Khwajagan: The Masters of Wisdom]. Translated by Muhtar Holland. Al-Baz Publishing. P. 118-119.</p>
<p>Khwaja ‘Abdu’llah Isfahani was yet another of the venerable Khwaja Ala ad-Din’s affiliates. He said: When the venerable Khwaja first honoured me with his company, he recited these verses to me:</p>
<p><em>Let no trace of you remain;<br />
In this alone perfection lies.<br />
In Oneness make your being naught;<br />
Communion lies in this alone.</em></p>
<p>Khwaja ‘Abdu’llah Isfahani wrote a very useful treatise on the Order of the Masters of Wisdom, under the patronage of a distinguished descendent of the Prophet (Allah bless him and give him peace).  We shall now present some excerpts from this work:</p>
<p>&#8220;The principle rule of this Order [Tariqat i-Khwajagan] is the following: From whichever perfect guide the seeker receives initiation, he must preserve the guide’s image in the treasure of his heart, until the time when he begins to demonstrate how his heart has been affected by the warmth and quality of that connection.  As for what is necessary after that, it is not to abandon that same image, but to embrace it much more tightly than ever.  The seeker must rivet that image to his heart, with his eyes, his ears and all his faculties.</p>
<p>What is called the “heart” is the centre of the comprehensive human reality, of which all the higher and lower elements of the universe are detailed particulars.  The seeker must exert himself to experience the substance of that lofty reality, by expressing the affirmation of Oneness in his heart, using the formula: “There is nothing in existence, other than Allah!”  By making this effort, whatever temptation may be whispered, he will consider it as being from Allah and existing because of Allah.  This is because that whispered temptation is also one of the mental entities, and also like so many things that are false and absurd, it actually represents a manifestation of the Truth.  If this procedure is followed, an ardour will arise in the heart, putting an end to trouble and dispelling dangers.</p>
<p>Even when whispered temptation departs, it is essential to cling to the same relationship.  If whispered temptation still refuses to go away, the seeker must pronounce the word “Allah” in a slowly drawn-out manner, while striving to establish the meaning of Oneness in the heart.   He must continue to pronounce the word “Allah” until the moment when boredom and weariness overcome the lower self.  If signs of tiredness and exhaustion appear, he must desist.</p>
<p>As the spiritual traveller is obliged to know and understand, while he is making progress in the state of detachment from himself, and in his relationship with the great saints, attention to other things amounts to something resembling unbelief [kufr].&#8221;</p>
<p><em>To be in oneself is unbelief [kufr],<br />
while transcending oneself is true faith [iman].</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rahman Baba]]></title>
<link>http://ayesha5.wordpress.com/2009/11/22/rahman-baba/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 11:41:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ayesha</dc:creator>
<guid>http://ayesha5.wordpress.com/2009/11/22/rahman-baba/</guid>
<description><![CDATA[Rahman Baba (1653-1711) is a renowned Pushto Sufi poet. He is fondly called the Nightingale of Pukht]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Rahman Baba (1653-1711) is a renowned Pushto Sufi poet. He is fondly called the Nightingale of Pukhtoonkhuwa. In the preface of the book called ‘The Nightingale of Peshawar’ by Jens Enevoldsen, Professor Pareshan Khattak writes:</p>
<blockquote><p>Pashtuns are proud of Khushal Khan Khattak, the warrior-poet of the nation, the venerate Ahmad Shah Abdali, they have a taste for Hamid Baba and Kazim Khan Shaida and they appreciate even lesser poets. But Rahman Baba rules their hearts and minds. Love of Rahman Baba is in the blood of every Pushtun. His advice is binding, his decisions are final.</p></blockquote>
<p>Rahman Baba is often quoted by literate and illiterate people alike. His couplets could be seen painted on the local buses and rickshaws.</p>
<p>As Professor Preshan Khahttak explains about the poetic style of Rahman Baba:</p>
<blockquote><p>He as a master craftsman, coveys his thoughts through word association rather than through the direct meaning of the words themselves. He was so skilled in use of his language for his words have something to say to everyone who reads them. To the uninitiated his words are simple, soft and easy. For the mystical mind they are unfathomably deep.</p></blockquote>
<p><strong>About the Author</strong></p>
<p>Jens Kristian Enevoldsen (1922-1991) was born in Esbjerg, Denmark. He earned an MA Theology (1954) and was the Minister of churches in Erritsoe (1954-58) Tjorring (1972-81) and Utterslev (1981-89).</p>
<p>Jens Enevoldsen came to Pakistan in 1958. He taught European History at the University of Peshawar and was a volunteer researcher at the Pushtu Academy. Jens worked to increase the awareness of the Pashtu literature in the North West Frontier Province and the West.</p>
<p>With Lorens Hedelund and in cooperation with the Pashtu Academy he started mobile Pashtu Literature Service, travelling to villages throughout the NWFP.</p>
<p>Throughout the Frontier, Jens Enevoldsen was known by his Pushto name, Ghulam Isa, ‘Servant of Jesus’. As a padre, teacher and scholar Jens Enevoldsen sought to build bridges between his faith and that of his Muslims friends.</p>
<p><em>Taken from ‘The Nightingale of Peshawar’ </em></p>
<p>I have taken that poem from the above mentioned book translated by Jens Enevoldsen.</p>
<p><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-2686" title="Abdul-Rahman-Momand" src="http://ayesha5.wordpress.com/files/2009/11/abdul-rahman-momand3.jpg?w=120" alt="" width="120" height="150" /></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Bad Days</strong></p>
<p style="text-align:center;">When bad days come<br />
What can the clever do?<br />
When fate shows up<br />
What can a wise man do?</p>
<p style="text-align:center;">The parents pray:</p>
<p style="text-align:center;">God give us offspring good!<br />
When luck is bad<br />
What can the parents do?</p>
<p style="text-align:center;">A big hand may<br />
Set friend from friend apart<br />
When that hand stays<br />
What can the lovers do?</p>
<p style="text-align:center;">You pray, you curse<br />
But God alone decides</p>
<p style="text-align:center;">If God won’t act<br />
What can your prayers do?</p>
<p style="text-align:center;">By force or gold<br />
No one has made his luck<br />
Be weak or strong<br />
In this, what can you do?</p>
<p style="text-align:center;">The moth complained<br />
About the candle’s heat<br />
RAHMAN, what can</p>
<p style="text-align:center;">Your tears, your laughter do?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Terbitnya Matahari Pencerahan]]></title>
<link>http://baihaqiakhmad.wordpress.com/2009/11/22/terbitnya-matahari-pencerahan/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 07:37:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Baihaqi</dc:creator>
<guid>http://baihaqiakhmad.wordpress.com/2009/11/22/terbitnya-matahari-pencerahan/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Gede Prama Seorang sahabat yang kerap disebut-sebut di dunia sufi adalah Nasrudin. Bagi sebag]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh : Gede Prama Seorang sahabat yang kerap disebut-sebut di dunia sufi adalah Nasrudin. Bagi sebag]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Regarding Inner Spiritual Authority Transmitted from the Prophet (S) By H.E Mawlana Shaykh Nazim Adil al-Haqqani ]]></title>
<link>http://ahmedamiruddin.wordpress.com/2009/11/22/the-authority-of-awliya-allah-by-h-e-al-ghawth-mawlana-shaykh-nazim-adil-al-haqqani/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 06:50:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmedamiruddin</dc:creator>
<guid>http://ahmedamiruddin.wordpress.com/2009/11/22/the-authority-of-awliya-allah-by-h-e-al-ghawth-mawlana-shaykh-nazim-adil-al-haqqani/</guid>
<description><![CDATA[“Look, I am not speaking from myself. I am always in contact with the Spiritual Power Center. The Pr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://ahmedamiruddin.wordpress.com/files/2009/11/alkhidr1.jpg" alt="" title="AlKhidr" width="442" height="315" class="aligncenter size-full wp-image-1216" /></p>
<p>“Look, I am not speaking from myself.  I am always in contact with the Spiritual Power Center.  The Prophet’s servant Anas Ibn Malik once said the following about his life with the Holy Prophet &#8211; and from his description you may know whether our methods resemble his, on whom be Peace, or whether we are following some other way.  Anas reported: “I served the Messenger of Allah for ten years, and never once did I hear him object to any of my actions, saying ‘Do this’ when I hadn’t done something I should have done, or ‘Don’t do this’ or ‘Why did you do this?’ when I had done something wrong.”</p>
<p>Now do you understand, or not? This is proof that comes down to us from the Prophet; and just as that tradition is still intact that we may refer to it today, so also <em>the inner spiritual authority passed down from the Prophet to our Grandsheikh and then to us remains intact.  That spiritual authority for the guidance of people has come down to me, has been given to me</em>.  I am not such a person who appoints himself to be a guide for people – no, rather I have been given authority by those who have authority to give.</p>
<p><em>Our way is a way of authority and integrity, and a way that is safe for a seeker to follow</em>.  Because of the high rank that this Path holds among the various ways, the seeker who wishes to follow this path must abandon himself to the discretion, wisdom and understanding of the Sheikh.  Our Grandsheikh often said to me: “O Nazim Effendi, don’t put my words and actions in a scale and weigh them.  Don’t say ‘Why is that Sheikh saying such-and such or doing so-and-so’.  If you are thinking and evaluating in such a manner you will never be able to derive any benefit at all from your teacher, and we will leave you on your way and go on ours.  In order to follow us you must follow without judging or objecting.  Only if you can follow in this manner may you come to know anything of our realities.</p>
<p>Why did Allah Almighty tell the story of Moses and Khidr in the Holy Qur’an? What does that story have to tell us about using our minds to judge that is beyond our understanding? What is our position when we think that we know so much whereas we actually know nothing?</p>
<p>Yes, that tale was told so that we might take wisdom from it, not just for amusement, for people to read and enjoy such an entertaining story.  It is an undisputable fact that hidden wisdom may be found in the actions of Saints, even if those actions appear to contradict our idea of how things should be done.  For your own good you must learn how you can acquire the attributes necessary to go with such people.</p>
<p>As far as the actions of your Sheikh are concerned, don’t try to weigh and evaluate them with your mind, even if you be the Prophet Moses! For if you be a Moses, someone else may be a Khidr, and so despite your station, he may be above you and may be able to teach you.  Moses kept weighing Khidr’s actions (Peace be upon them both!) and Khidr kept saying: “Don’t confront me or object to anything I do until I explain its meaning to you.” Finally, when Moses  found it too difficult to keep these instructions and objected to the actions of Khidr which were beyond his understanding, Khidr told him: “You  will never be able to be patient with me &#8211; go on your way.”</p>
<p>So, all that the follower of a Sufi Path may do is to try and learn from the Sheikh’s way of dealing with people and from the Sheikh’s attributes in general.  A follower can never fully understanding the meanings and implications of an authorized Sheikh’s actions.  He cannot know what orders may be coming to the Sheikh from the Holy Prophet.  He who has the guidance of the Holy Prophet has been given the wisdom and authority to catch people from the road of self-destruction and degradation and bring them to the Path of Eternal Happiness. </p>
<p><strong>Source:</strong> Mercy Oceans: Pink Pearls, p. 44-48</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sufism explains 'i think it should be blue' clients]]></title>
<link>http://jaclynthast.wordpress.com/2009/11/22/sufism-explains-i-think-it-should-be-blue-clients/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 04:20:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>jaclynthast</dc:creator>
<guid>http://jaclynthast.wordpress.com/2009/11/22/sufism-explains-i-think-it-should-be-blue-clients/</guid>
<description><![CDATA[Having always been interested in all types of philosophy, I&#8217;ve borrowed a book from a musician]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://jaclynthast.wordpress.com/files/2009/11/inayat-khan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-54" title="inayat khan" src="http://jaclynthast.wordpress.com/files/2009/11/inayat-khan.jpg?w=300" alt="" width="300" height="226" /></a>Having always been interested in all types of philosophy, I&#8217;ve borrowed a book from a musician friend of mine called &#8220;The Mysticism of Sound and Music, the Sufi Teaching of Hazrat Inayat Kahn&#8221;. Since being in school, my mind has really opened up and Im beginning to look at everything from a designers point of view. I have realized that my mojo-amplification and ability to develop high-level concepts comes from my knowledge of different philosophies. I decided that I was going to read this book with my designer hat on and see what I could get from the book that would assist me with my career. </p>
<p>The <em>exceedingly</em> nut-shelled version of Sufism is that the world and everything in it is made up of vibrations, ergo, everything is music. The teachings of Inayat Kahn (1882-1927) are popular among musicians, as you may of guessed, and apparently after reading his book one will perceive his own actions as music. I cannot comment on this as I am only on page 46 out of 304, but I will be sure to let you know upon completion of said book.</p>
<p>Last night at approximately 1:32 am, I came upon his essay ‘The Spiritual Significance of Colour and Sound”. In it, he writes of Harmony being a fact, not something one can point out. “Harmony is the result of the relation between colour and colour, the relation between sound and sound, and the relation between colour and sound”. We love certain colours throughout our lives, and as we grow or evolve, we lose contact with those colours. (There was a time when I was enamored by green. Lime green in particular. Currently I am more partial to purple.)<br />
He says whether or not one is attracted to a certain colour “depends upon a person’s condition, whether he is emotional, passionate, romantic, warm or cold, whether sympathetic or agreeable”.  As I was reading this I was thinking  ‘makes sense.’ Depending on your mood you’re attracted to certain colours. Its also been proved that interacting with certain colours can effect your mood, hence colour theory 101.<br />
If you’re designing something that is to convey romanticism, it probably wont be neon green, pink, orange and yellow. As the designer you know colour is so important and to envoke those emotions you may chose deeper, richer, colours such as dark red, purple or gold. They user may not be feeling romantic, but after interacting with your piece they should feel how you intended them to feel. At this point, what I read had only confirmed something I already knew. Then, I read this;</p>
<blockquote><p>There are some whom striking colours appeal, to others pale colours. The reason is that striking colours have intense vibrations; the pale colours have smooth and harmonious vibrations, and it is according to the emotional condition of the man that he enjoys certain colours.</p></blockquote>
<p>You may think that that has merely reconfirmed something I already knew as I did. I know from my experiences reading about different philosophies that there is always something on every page that can help you to grow as a designer. Philosophy helps you to open your mind and view the world from a different perspective. I completed the essay and to my dismay, I had read all out the spiritual significance of colour and not learned anything! I re-read the entire essay and when I came to the above quote and realized how it could assist me with my career;</p>
<p>It means that when presenting your work to a client, what they say regarding colour in your design has absolutely nothing to do with you, even if the whole design community agrees that sea foam is the only answer. How do you go about convincing someone that sea foam is the inevitable solution when they are vibrating on the neon green/ pink/ orange/ yellow level?! When you hear things like “I just don’t like it” or “It should be blue/ purple/ burgundy” its not only because they just don’t know any better, it is because according to their mood and their evolutional stage in their life (or their wife’s or mother in law’s), it is the inevitable answer to the problem. I don’t know if you’ll find this as profound as I did, but knowing this it may help to diffuse squabbles with clients over colour, or to simply not get so frustrated when they pull the ‘my wife thinks’ card. Its a way you can understand the guys in suits across the table whether you choose to believe that our actions are music or not.  </p>
<p>Check his writing out online at www.sufimessage.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Prayer for Protection from H1N1 Flu Virus By Sayyid Ahmed Amiruddin]]></title>
<link>http://ahmedamiruddin.wordpress.com/2009/11/22/prayer-for-protection-from-h1n1-flu-virus-by-sayyid-ahmed-amiruddin/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 03:31:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmedamiruddin</dc:creator>
<guid>http://ahmedamiruddin.wordpress.com/2009/11/22/prayer-for-protection-from-h1n1-flu-virus-by-sayyid-ahmed-amiruddin/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://ahmedamiruddin.wordpress.com/files/2009/11/amuletflyer1.jpg"><img src="http://ahmedamiruddin.wordpress.com/files/2009/11/amuletflyer1.jpg" alt="" title="AmuletFlyer1" width="500" height="832" class="aligncenter size-full wp-image-1211" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Infighting Everywhere]]></title>
<link>http://cowpensdroppings.wordpress.com/2009/11/21/infighting-everywhere/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 07:05:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jim</dc:creator>
<guid>http://cowpensdroppings.wordpress.com/2009/11/21/infighting-everywhere/</guid>
<description><![CDATA[Local: You can see it on the local news in Cowpens, five in the morning til twelve at night. Cops ch]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><span style="color:#800000;">Local: </span></h2>
<p><span style="color:#800000;"><strong>You can see it on the local news in Cowpens, five in the morning til twelve at night. Cops chasing robbers all over the South Carolina Upstate, robbers scheming on any easy pickings, like late night drunks or defenseless old homeowners, thugs shooting thugs over drug deals gone bad, even grannies knocking off banks, and spouses whupping up on their own kind. At another level of infighting, the high schools and their loyalists are getting fanatic all week in preparation for the Friday night showdowns under the floodlights, almost primping for the cameras,  all for the show. Organized university coaching staffs huddle in the stands, plotting the execution, the seduction of the biggest and fastest high school boys under the lights to come over and &#8220;play for us, not them&#8221; next year. You could call it competition at all levels. Both cops and robbers are ex-footballers. I would call it misdirected hormonal energy at all levels. There is no real &#8220;play&#8221; in the struggles. What else can young males do these days with all that energy?</strong></span></p>
<h2><span style="color:#800000;">National: </span></h2>
<p><span style="color:#800000;"><strong>There&#8217;s a war within a war within a war going on in Columbus, Ohio. I have known Somalis for over 42 years, in schools, on dusty African roads, in tea shops, at weddings, under mortar fire, between jobs, in their kitchens and in their boudoirs. I hunted with them and was hunted by them. Every one I ever met or knew was a Muslim. No exceptions. Some of them were brilliant, some ambitious, generous and kind, some extra clever. Most of them were clan-centric, proud of themselves, and could give out a ribbing  just as well as take one. Some of them are just plain bad news. </strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Now here in the US, there is an extension of the ideological conflict going on between two groups of Somalis that should be better understood. The Traditional Somali grew up in a sorta &#8220;Sufi&#8221; form of Islam. They dance, make poetry, sing songs in groups and enjoy social company. Especially when it rains. They have memorized thousands of lines of poetry, for example, just about how wonderful life is when it rains. That&#8217;s the way it is in a dry place when you are a nomad with animals to keep. The second group of Somalis, here and in Somalia, have been influenced by the &#8220;Wahaabi&#8221; form of Islam. This form is imported from Saudi Arabia. It is foreign to the Traditional Somali. &#8221;Wahaabis&#8221; are the polar opposites of the &#8220;Sufis.&#8221; They chop off hands for minor offences, hate to see anything Western, they grow funny little goatees, they stone to death girls that break their draconian rules, and they are the most sexually repressed group of boys and men I have ever witnessed, including the hard core Southern Baptists I grew up with in Tulsa and the Pilgrims I read about in the US history books. They don&#8217;t want to see a woman&#8217;s ankle skin nor see her breasts held up by a bra. Their test is to make the girls and women shake their breasts to prove they have no bras underneath the black costumes. The jiggle will set you free.</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Now these two groups are represented in Columbus, Ohio in two of the mosques there. There is a Peace Mosque and a War Mosque. You think the war mosque, the Wahaabis, can leave the Peace Mosque, the Sufis, alone and let&#8217;m be? No way. For details, here&#8217;s the scoop: </strong></span><a href="http://pajamasmedia.com/blog/al-qaeda-in-somalia-supporters-blamed-for-ohio-arson/"><span style="color:#800000;"><strong><span style="color:#0000ff;">http://pajamasmedia.com/blog/al-qaeda-in-somalia-supporters-blamed-for-ohio-arson/</span></strong></span></a></p>
<h2><span style="color:#800000;">International: </span></h2>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Now, two years ago I suggested to an academic friend who follows the Somali chaos that the Al-Qaeda supported factions in Somalia would eventually step on the toes of the traditional Somali religious folks, and I was right on that prediction. Somalis hate outsiders. Not just Europeans or Americans. They hate Kenyans, they hate Ethiopians, they hate Chinese and Indians, they hate Arabs. My Somali language teacher, a famous retrobate, but a very intelligent reprobate, once explained to our small language class in New York: &#8220;Somalis are the most democratic people in the world. We hate everyone equally.&#8221;</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>So all outsiders are treated with disdain. One Somali proverb translates: &#8220;There are two kinds of people in the world. The quick and the dumb. Somalis are quick. The rest are dumb.&#8221; So what can Somalis do once they have evicted all foreigners (and many of their own women and children) by means of violent, senseless fighting. Rape and plunder, blood and glory. Now the men and boys are left with only themselves to deal with, their Toyota land cruisers, AK-47s, the 50 mm mounted machine guns, the &#8220;BOSS&#8221; T-shirts, their cell phones, and their bad breath. </strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>There are peaceful areas in Somalia, which is overall the size of Texas. I will attend to those areas of calm on another day. But now we must look at the infighting among the religious sub-groups and wonder why? Why? Why? Lots of shifting loyalties, but always sub-clan based. The basic fighting is between Wahaabi influenced and Sufi influenced gangs. The international press calls them &#8220;militias.&#8221; At any given time, no international expert really knows which side one militia will fight for tomorrow. </strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>See </strong><a href="http://allafrica.com/stories/200911191086.html"><strong><span style="color:#0000ff;">http://allafrica.com/stories/200911191086.html</span></strong></a><strong> for a peek into yesterday&#8217;s news. The Central Somali Government, fabricated by outsiders, is apologizing to the Sufi clerics, but it is not clear whether they will be &#8220;with us or against us&#8221; by the time we hear the next report.</strong> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
