<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>suka &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/suka/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "suka"</description>
	<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 19:37:27 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[(bukan) layang-layang]]></title>
<link>http://lelakimiskinsombong.wordpress.com/2009/12/24/bukan-layang-layang/</link>
<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 21:00:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Dimas Pramudya Kurniawan</dc:creator>
<guid>http://lelakimiskinsombong.wordpress.com/2009/12/24/bukan-layang-layang/</guid>
<description><![CDATA[Aku diam bukan berarti tidak ada yang aku pendam dalam-dalam tentang peristiwa yang sudah berlalu. A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Aku diam bukan berarti tidak ada yang aku pendam dalam-dalam tentang peristiwa yang sudah berlalu. Aku di sini bukan mencoba untuk menanti atau pun  berusaha untuk mengobati. Aku berbalik arah bukan karena aku menyerah dan mengaku kalah. Aku cuma ingin sejenak menelusuri kembali apa yang sudah terlewati. Percaya lah, kamu sudah aku bebaskan. Dan pernahkah aku menganggapmu seperti burung dalam sangkar? Atau pun memperlakukanmu seperti layang-layang? Tidak! Tidak sekali pun aku akan memperlakukanmu demikian. Kamu telah aku bebaskan dan aku memilih untuk melihatmu bahagia. Itu saja.<br />
</em></p>
<p><em>Karena aku sudah cukup mengerti bagaimana sulitnya mengobati yang tersakiti. Karena aku sangat memahami bagaimana rasanya menanti apa yang tidak akan pernah kembali. Dan masa lalu bukan lah kenyataan pilu yang membuat kita malu untuk meletakkannya dalam album kenangan atau pun menceritakan pada orang-orang.  Karena masa lalu yang membuat kita merasa yakin waktunya sudah dekat. Untuk kita mampu melompat lebih tinggi lagi dan juga sanggup berjalan dengan kepala lebih tegak. </em><em>Tanpa disangka-sangka, ada b</em><em>anyak hal yang sudah menunggu di kejauhan sana. Dan jikalau kamu ingin kembali. Kirim kabar terlebih  dahulu. Belakangan aku sering mengunci pintu. Kamu bisa mengirim sepucuk surat atau sebungkus cokelat. Setidaknya aku bisa tahu itu kamu.</em></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.photosbypersa.com/images/20070725114337_kite3.jpg"><img class="aligncenter" title="layang-layang" src="http://www.photosbypersa.com/images/20070725114337_kite3.jpg" alt="" width="450" height="675" /></a></p>
<blockquote>
<h5><strong><strong>Aku tidak perlu memegang benang untuk bisa melihatmu terbang</strong></strong></h5>
<h5><strong><strong>Aku tidak perlu mengikat erat-erat untuk menjadikanmu dekat</strong></strong></h5>
<h5><strong><strong>Kamu telah aku bebaskan<br />
</strong></strong></h5>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[I have a dream. You??]]></title>
<link>http://yenicendol.wordpress.com/2009/12/24/i-have-a-dream-you/</link>
<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 13:28:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>cendol</dc:creator>
<guid>http://yenicendol.wordpress.com/2009/12/24/i-have-a-dream-you/</guid>
<description><![CDATA[Hei,,met malam semuanya hari ini pun saya bersyukur karena matahari masih terbit seperti biasa .Alla]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hei,,met malam semuanya<br />
hari ini pun saya bersyukur karena matahari masih terbit seperti biasa .Allah memang selalu menyayangi manusia. Aku gak bisa bayangin kalo satu hari aja bumi gak berotasi dan sebagian bumi gelap,sementara sebagian yg lain tetap terang. Fyuh,,bgmana ya?haha. Sudahlah ndol,hentikan omong kosongmu itu.. Kamu pasti akan berkata bgtu.. Hehe..</p>
<p>Kemarin,eh,bukan kmrn deng,beberapa hari yg lalu aku nonton film sang pemimpi. Ya,lanjutannya laskar pelangi.<br />
Aku gak bermaksud review film itu kok, aku ini kurang lihai membicarakan hal2 kayak gtu.<br />
Yang pasti aku suka settingnya. Pas sekali. Lautnya,jalanannya,sekolahannya,langitnya, indah sekali. Aku seperti terseret ke dalamnya.<br />
Tokohnya juga mempunyai karakter yg kuat. Kualitas aktingnya juga tidak diragukan..menurutku sich,hehe.<br />
Tokoh yg kusukai itu pemimpin orkes melayu yg ngajarin arai main gitar. Lupa namanya.<br />
Bagus dia,,lucu. Dan entah kenapa aku terkesan.<br />
Tentang pesan moralnya,sebaiknya kamu liat sendiri. Kurasa dgn begitu akan lbh mengena.</p>
<p>Setelah melihat film itu,aku jadi sedikit berpikir. </p>
<p>aku sendiri,,apa aku punya mimpi yg ingin kuwujudkan?<br />
Jawabannya : ada.<br />
Apa sudah tercapai?<br />
Jwb: belom.<br />
Mimpi apaan?<br />
Jwb: memangnya ada yg mau tahu? Walaupun ada yg nanya,aku ragu apa aku mau terus terang.</p>
<p>Aku yg sekarang sedang takut bermimpi.. Somebody,please help me&#8230;haha.. Dasar orang awam!!<br />
You know,sementara ini aku ingin memperbaiki diri dulu. Setelah tegap berdiri,baru aku bisa melangkah maju..begitu yg kupikirkan detik ini.</p>
<p>Tapi mimpi semua perempuan itu kurasa agak mirip. Apa tuh?? Apalagi kalo bukan punya keluarga yg sakinah..?hehehe,setuju kan?</p>
<p>Siapapun kamu,,doakan saya agar saya tidak jadi orang yg menyebalkan. Saya juga akan mendoakan kamu agar kamu bisa meraih mimpi2mu. Okay?</p>
<p>Salam peace. I love you..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[XPDC G. NUANG BERSAMA KARAT]]></title>
<link>http://hanismi.wordpress.com/2009/12/23/xpdc-g-nuang-bersama-karat/</link>
<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 22:54:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>hanismi</dc:creator>
<guid>http://hanismi.wordpress.com/2009/12/23/xpdc-g-nuang-bersama-karat/</guid>
<description><![CDATA[bismilLah~~~Pada hari jumaat lalu (17 Disember 2009) aku berkesempatan menyertai ekspidisi mendaki G]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>bismilLah~~~<br />Pada hari jumaat lalu (17 Disember 2009) aku berkesempatan menyertai ekspidisi mendaki Gunung Nuang yang terletak di Hulu Langat, Selangor.
<div style="text-align:justify;">G. Nuang merupakan gunung yang tertinggi di selangor. Aku berasa amat berkobar-kobar untuk mendakinya sampai ke puncak.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p10502451.jpg" style="clear:left;float:left;margin-bottom:1em;margin-right:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p10502451.jpg?w=300" width="320" /></a>Selepas memastikan segala kelengkapan cukup dan memadai. Kami bertolak dari shah alam jam 3.30pm. Hujan lebat di pertengahan perjalanan kami sedikit pun tidak mematahkan semangat yang masih lagi berkobar-kobar di dada.</div>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:justify;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050269.jpg" style="clear:right;float:right;margin-bottom:1em;margin-left:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050269.jpg?w=300" width="320" /></a>Setelah sampai di kaki G.Nuang kami bersiap dengan beg masing-masing beserta kamera dan juga lampu suluh kerana kami diberitahu kemungkinan akan sampai ke &#8220;base camp&#8221; pukul 9 malam.</div>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:justify;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050276.jpg" style="clear:right;float:right;margin-bottom:1em;margin-left:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050276.jpg?w=300" width="320" /></a>Setelah hampir sejam kami berjalan, kami berhenti sebentar untuk melepaskan lelah yang sudah lama berkumpul di dalam paru paru. Kemudian perjalanan disambung untuk mencari tempat yang sesuai mendirikan solat maghrib. </div>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:justify;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050281.jpg" style="clear:right;float:right;margin-bottom:1em;margin-left:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050281.jpg?w=300" width="320" /></a>Saya sempat disapa oleh makhluk kecil ini. Lalu membiarkan ia menghisap darahku sehingga kenyang sambil mengharapkan ia dapat sedut lemak-lemak di badanku sekali.</div>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:center;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p10502891.jpg" style="clear:left;float:left;margin-bottom:1em;margin-right:1em;"><img border="0" height="320" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p10502891.jpg?w=168" width="180" /></a></div>
<div style="text-align:justify;">Selepas selesai solat maghrib di tepi sungai, kami sambung perjalanan dan sampai ke &#8220;base camp&#8221; iaitu Kem Lolo. Di sana beberapa kumpulan lain yang menyertai kami sudah pun sampai dan mendirikan khemah serta tempat teduh masing-masing. Lalu kami bersiap mendirikan solat isya&#8217; dan mandi dengan air sungai yang seju di kala hujan kurang lebat.</div>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:center;"></div>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:center;"></div>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:center;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050300.jpg" style="clear:right;float:right;margin-bottom:1em;margin-left:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050300.jpg?w=300" width="320" /></a></div>
<div style="text-align:justify;">Jam 9.30 malam kami disajikan dengan makan malam dengan menu nasi beriani+ayam masak merah+acar sayur+papadom. Sungguh enak masakan Aunty Aisyah.</div>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:justify;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050317.jpg" style="clear:left;float:left;margin-bottom:1em;margin-right:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050317.jpg?w=300" width="320" /></a>Sesi suai kenal disusuli pula selepas itu di mana kami berkenalan dengan otai mendaki iaitu Uncle Rashid dari KARAT Adventure serta rakan-rakan.</div>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:center;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050304.jpg" style="clear:right;float:right;margin-bottom:1em;margin-left:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050304.jpg?w=300" width="320" /></a></div>
<div style="text-align:justify;">[Selingan seketika]</div>
<div style="text-align:justify;">Kami kemudian tidur untuk mengumpul tenaga mendaki ke puncak esok hari.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">
</div>
<div style="text-align:justify;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050322.jpg" style="clear:left;float:left;margin-bottom:1em;margin-right:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050322.jpg?w=300" width="320" /></a></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Esok hari (Sabtu 18 Disember 2009)
<div style="text-align:justify;">Sarapan pagi yang enak sekali iaitu Nasi Lemak.</div>
</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050326.jpg" style="clear:left;float:left;margin-bottom:1em;margin-right:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050326.jpg?w=300" width="320" /></a></div>
<div style="text-align:justify;">Selepas kenyang masing-masing bersiap membawa apa yang perlu untuk ke puncak gunung seperti makanan, minuman, baju hujan dan juga lampu suluh.</div>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:center;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050334.jpg" style="clear:right;float:right;margin-bottom:1em;margin-left:1em;"><img border="0" height="320" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050334.jpg?w=168" width="180" /></a></div>
<p>
<div style="text-align:justify;">Sejam perjalanan kami sampai di Kem Pacat. berhenti sebentar untuk berehat dan menghilangkan penat dan haus. Tentunya tidak melepaskan peluang bergambar dengan alam ciptaanNya.</div>
<p>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:center;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050342.jpg" style="clear:right;float:right;margin-bottom:1em;margin-left:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050342.jpg?w=300" width="320" /></a></div>
<div style="text-align:justify;">Kagum dengan Mak Anjang (kanan sekali) walaupun sudah berumur 50an tetapi masih kuat dan semangat mendaki gunung (aku dah panchet awal-awal)</div>
<p>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:center;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050347.jpg" style="margin-left:1em;margin-right:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050347.jpg?w=300" width="320" /></a></div>
<div style="text-align:justify;">Setelah hampir 4 jam kami sampai ke puncak. kepenatan&#160; yang dirasai sepanjang pendakian hilang serta merta kerana kegembiraan serta diiringi dengan hawa yang sejuk selepas hujan.</div>
<p>
<div style="text-align:justify;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050353.jpg" style="clear:right;float:right;margin-bottom:1em;margin-left:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050353.jpg?w=300" width="320" /></a>Kesempatan ini kami ambil dengan bergambar sepuasnya untuk dijadikan kenangan. Amat sejuk! dan aku dah lapar lalu makan nasi berlauk rendang daging yang dibungkus sebelum pendakian tadi.</div>
<div class="separator" style="clear:both;text-align:center;"><a href="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050355.jpg" style="margin-left:1em;margin-right:1em;"><img border="0" height="180" src="http://hanismi.wordpress.com/files/2009/12/p1050355.jpg?w=300" width="320" /></a></div>
<div style="text-align:center;">Tahniah kepada aku sebab berjaya panjat G. Nuang. Awesome!</p>
</div>
<p>alhamdulilLah~~~</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[nyanyian rindu]]></title>
<link>http://lelakimiskinsombong.wordpress.com/2009/12/22/nyanyian-rindu/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 17:15:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>Dimas Pramudya Kurniawan</dc:creator>
<guid>http://lelakimiskinsombong.wordpress.com/2009/12/22/nyanyian-rindu/</guid>
<description><![CDATA[&#8230; Hai sayang, &#8230; Apa kabarmu di sana? Masihkah kamu bersembunyi dan menepi? Sungguh teras]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div><em>Hai sayang, </em></div>
<div><em><span style="color:#000000;">&#8230;</span><br />
</em></div>
<div><em>Apa kabarmu di sana? Masihkah kamu bersembunyi dan menepi? Sungguh terasa lama sekali tahun demi tahun berganti. Aku sudah coba mencari, mengikuti jejak-jejak langkahmu berlari walau pun sudah mulai memudar namun masih sanggup aku kejar. Hanya saja&#8230;, hanya saja tiba-tiba jejakmu tidak kutemukan lagi sejak di persimpangan jalan. Dan aku mulai kebingungan untuk menentukan ke arah mana langkahmu kemudian dilanjutkan.</em></div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div><em>Sungguh, aku tidak bermaksud mengganggumu dalam menelusuri jejak masa lalu. Tidak juga mengajakmu berbicara mengenai kita dan juga segala apa yang mungkin masih tersisa di antara jutaan peristiwa. Aku pun sedang tidak ingin mengajakmu berbincang mengenai temaramnya cahaya rembulan dan terangnya kerlip ribuan bintang di bentangan langit malam. Jikalau  memang ada yang ingin aku lakukan saat ini hanya lah berjumpa. Itu saja. Karena kita bisa berbicara tanpa kata dan kita pun mampu mendengar tanpa nada. </em></div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div><em>Masih ingatkah kamu sayang,</em></div>
<div><em><span style="color:#000000;">&#8230;</span><br />
</em></div>
<div><em>Bahwasannya kita pernah berjanji untuk tidak saling membenci, tidak  akan pernah menabuh genderang untuk berperang, dan&#8230; yah kita memang menyadari bahwa kita tidak pernah berjanji untuk bersama sehidup semati.</em></div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div>&#8220;Tidak ada yang abadi di muka bumi ini.&#8221;<em>, katamu sedikit berorasi.</em></div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div>&#8220;Ada!&#8221;<em>, kataku lantang sedikit menginterupsi.</em></div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div>&#8221; Apa itu?&#8221;<em>, Tanyamu sambil mengerutkan dahi.</em></div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div><em>Aku berdiri, aku pandangi bola matamu yang sepertinya ingin menghindari. &#8220;</em>Energi&#8230; Dia diciptakan untuk hidup abadi. Tak bisa mati. Meski dicoba dengan senjata tajam atau pun senjata api.&#8221;</div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div>&#8220;Ah, tapi energi selalu berubah bentuk. Dia tidak konsisten. Tidak setia. Dan tidak percaya diri. Kalau ada laki-laki seperti dia aku tidak akan lagi mau kenal dan menyapa. Bahkan sekedar mengingat nama.&#8221;</div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div>&#8220;Huss!! Hati-hati kalau bicara. Kalau sampai dia mendengar habis lah kita. Bisa-bisa tutup perkara.&#8221;,<em> Kataku sambil menempelkan telunjuk ke bibir kamu. Yang merah muda.</em></div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div>&#8220;Dia?&#8221;</div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div>&#8220;Ya, si cinta yang terlalu gemar bermetamorfosa. Seakan pencarian yang tidak ada habisnya dalam mencari bentuk yang sempurna. Sama seperti energi dan bisa jadi dia salah satu bentuk energi itu sendiri. Justru adakah hal yang sempurna di dunia? Kenyataan mana lagi yang ingin kamu dustakan?&#8221;</div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div><em>Kamu kebingungan. Kamu obrak-abrik tumpukan lembar ujian berharap menemukan jawaban di sana, </em>&#8220;Hmm&#8230;&#8221;</div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div>&#8220;Apa cinta juga tidak percaya diri? Sehingga sering kali dia memutuskan untuk pergi dan berlari. Memilih bersembunyi.&#8221;<em>, Tanyaku pada si lawan bicara.</em></div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div>&#8220;Saat cinta memilih untuk pergi bukan karena dia tidak percaya diri. hanya saja&#8230; dia masih belum memahami. Usianya masih dini. Sayangnya, banyak yang tidak mengerti soal hal ini.&#8221;<em>,</em> <em>belamu saat itu.</em></div>
<div><em><span style="color:#000000;">&#8230;</span><br />
</em></div>
<div><em>Lalu kapan kamu akan menyudahi dan kembali lagi ke sini? Pada kenyataan yang harus kamu jalani. Pada detik demi detik yang akan selalu mempunyai arti. Pada kisah yang akan kamu ceritakan pada anak cucumu nanti. Tentang hidup yang akan berakhir tidak lama lagi. Akankah kamu melewatkan kesempatan ini?</em></div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div><em>Oleh karenanya aku ingin bertemu dan bertamu. Juga aku ingin  menunjukkan satu perhitungan dan kalkulasi mengenai berbagai macam teori relativitas yang sedang semarak abadi ini. Yang aku temukan dalam malam ketika mata sulit terpejam. Bahwasanya jarak itu relatif, waktu juga relatif. Kecepatan yang notabene jarak dibagi waktu juga akan menjadi relatif karena keduanya. Oleh karenanya, tidak peduli berapa mil jarak memisahkan, berapa windu waktu berlalu, dan berapa cepat usaha untuk berlari, bersembunyi atau pun mencari. Semua hal masih bisa terjadi dan terkadang sulit diantisipasi karena mereka tidak ada yang abadi. Kalau pun ada yang abadi di dunia ini, dia adalah energi. Yang sanggup menjaga lentera di hati ini agar tetap menyinari. Yang bisa  memberi semangat supaya perjuangan ini tidak pernah berhenti. Yang mampu mengobati tanpa terapi berhari-hari. </em></div>
<div><span style="color:#000000;">&#8230;</span></div>
<div><em>Oleh karenanya cepatlah kembali.</em></div>
<div><em> Karena aku sudah menemukan bentuk energi yang kamu cari selama ini.</em></div>
<div><em>Tenang, aku menawarkan dengan harga promosi. Garansi uang kembali.</em></div>
<div><span style="color:#000000;"><em>&#8230;<br />
</em></span></div>
<div><em><br />
</em></div>
<div><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/5VMdiX5tq5A&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/5VMdiX5tq5A&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></div>
<blockquote>
<h5><strong>Coba engkau dengar lagu ini</strong></h5>
<h5><strong>Aku yang tertidur dan tengah bermimpi</strong></h5>
<h5><strong>Langit-langit kamar jadi penuh gambar</strong></h5>
<h5><strong>Wajahmu yang bening, sejuk, segar</strong></h5>
<p><strong>(Ebiet G Ade &#8211; Nyanyian Rindu)<br />
</strong></p></blockquote>
<div><em><br />
</em></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perbedaan Antara Suka, Sayang dan Cinta]]></title>
<link>http://yogacuy.wordpress.com/2009/12/22/perbedaan-antara-suka-sayang-dan-cinta/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 11:19:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>yoga</dc:creator>
<guid>http://yogacuy.wordpress.com/2009/12/22/perbedaan-antara-suka-sayang-dan-cinta/</guid>
<description><![CDATA[Suka adalah saat kamu ingin memiliki seseorang. . . Sayang adalah saat kamu ingin membahagiakan oran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://yogacuy.wordpress.com/files/2009/12/sweet_couple_by_shizero.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-219" title="Sweet_Couple_by_shizero" src="http://yogacuy.wordpress.com/files/2009/12/sweet_couple_by_shizero.jpg?w=300" alt="" width="300" height="286" /></a></strong></p>
<p><strong>Suka</strong> adalah saat kamu ingin memiliki seseorang. . .</p>
<p><strong>Sayang</strong> adalah saat kamu ingin membahagiakan orang itu. . .</p>
<p>Dan <strong>cinta</strong> adalah saat kamu akan berkorban untuk orang itu . . .<!--more--></p>
<p>Saat kamu bersedih dan menangis maka seseorang yang <strong>menyukaimu</strong> akan berkata &#8220;sudahlah jangan menangis lagi&#8221;.</p>
<p>tp seseorang yang <strong>menyayangi</strong> akan diam dan ikut menangis bersamamu . . .</p>
<p>Dan seseorang yang <strong>mencintaimu</strong> akan membiarkanmu menangis dan menunggumu hingga tenang lalu berkata &#8220;Mari kita selesaikan ini bersama&#8221;.</p>
<p>Saat seseorang yang <strong>menyukaimu</strong> berada disampingmu maka dia akan bertanya &#8220;bolehkah aku menciummu?&#8221;</p>
<p>tp seseorang yang <strong>menyayangimu</strong> akan berkata &#8220;biarkan aku memelukmu&#8221;</p>
<p>dan seseorang yg <strong>mencintaimu</strong> takkan berbicara..dia hanya akan selalu memegang erat tanganmu seakan dia takkan mau membiarkanmu terjatuh . . .</p>
<p>Saat kamu<strong> menyukai</strong> seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka kamu akan marah dan takkan mau lg berbicara dengannya..</p>
<p>Tp jika kamu <strong>menyayangi</strong> seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka kamu akan menangis karenanya..</p>
<p>Dan jika kamu <strong>mencintai</strong> seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka kamu akan tersenyum walau itu pahit dan berkata &#8220;dia hanya belum tahu apa yg dia lakukan&#8221;</p>
<p><strong>suka</strong> hanyalah keegoisan diri sendiri…<br />
<strong>Sayang </strong>adalah memberi dan menerima..<br />
Dan <strong>cinta</strong> adalah rela berkorban…</p>
<p><strong>Suka</strong> hanya akan berbuat jika itu menyenangkan..<br />
<strong>Sayang</strong> berbuat karena ingin selalu ada untuknya..<br />
Dan <strong>cinta</strong> berbuat karena tak ingin membuatnya terluka tak peduli bgaimana keadaan kita. . .</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:left;">Sumber :</p>
<p style="text-align:left;">http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2623250</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencintai Apa Adanya]]></title>
<link>http://maggiezone.wordpress.com/2009/12/22/mencintai-apa-adanya/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 08:18:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Maggie</dc:creator>
<guid>http://maggiezone.wordpress.com/2009/12/22/mencintai-apa-adanya/</guid>
<description><![CDATA[bukan mencintai ada apanya Kita sering kan denger pepatah ini, kita harus mencintai seseorang apa ad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[bukan mencintai ada apanya Kita sering kan denger pepatah ini, kita harus mencintai seseorang apa ad]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Temanku]]></title>
<link>http://samn0body.wordpress.com/2009/12/21/temanku/</link>
<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 14:01:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>samn0body</dc:creator>
<guid>http://samn0body.wordpress.com/2009/12/21/temanku/</guid>
<description><![CDATA[Ketika aku SMA, ada seorang teman wanitaku yang menyatakan rasa sukanya kepadaku langsung di hadapan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://samn0body.wordpress.com/files/2009/12/love-letter12.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-154" title="love-letter12" src="http://samn0body.wordpress.com/files/2009/12/love-letter12.jpg?w=150" alt="" width="150" height="109" /></a></p>
<p>Ketika aku SMA, ada seorang teman wanitaku yang menyatakan rasa sukanya kepadaku langsung di hadapanku. Dalam otakku saat itu, “Bagaimana dia tau aku pernah suka seorang wanita?” Kami tentu saja tidak pernah menjalin hubungan lebih daripada teman.</p>
<p>Mari kita sebut saja namanya Santy. Dia adalah murid transferan dari Jakarta ketika kelas satu. Badannya yang besar dan menjulang tinggi membuat semua orang menyadari keberadaannya. Dan logat bicaranya yang tidak biasa membuat teman-teman sekelas langsung mengingat namanya.</p>
<p>Kelas satu. Semua masih canggung, terutama aku yang notabene tidak berasal dari SD dan SMP yang sama dengan sebagian besar murid-murid di kelasku maupun di kelas-kelas yang lain.</p>
<p>Jadi aku yang duduk sendiri di belakang, menerawang keluar jendela, terkejut ketika sosok populer itu berhenti di bangkuku. “Boleh gue duduk di sini?” Beberapa detik aku memandanginya dan tidak berkata apa-apa. Namun aku mengangguk kemudian dan dia meletakkan tasnya yang super besar ke atas meja. Aku menggeser kursiku agak ke samping untuk memberikannya ruang lebih.</p>
<p>“Gue Santy. Loe?” tanyanya sambil menyodorkan tangannya. Kusambut tangan itu dan kami berjabat tangan. “Samantha,” jawabku sambil tersenyum ringan. “Senyum loe bagus,” pujinya. Kurasa pipiku merona merah karena dia tertawa kecil.</p>
<p>“Aku Gabby. Ini Indi,” Gabby yang duduk di depanku menggeser pantatnya dan menghadap ke belakang sambil menyeloteh. Aku lebih banyak mendengarkan mereka bercengkrama. Pikiranku ketika itu lebih banyak memikirkan di mana Windy. Dia mungkin melanjutkan pendidikannya di sekolah yang kutinggalkan, atau mungkin dia tidak bersekolah lagi dan mulai bekerja.</p>
<p>Karena tempat duduk kami yang bersebelahan dengan jendela, aku lebih banyak memandang keluar atau hanya menikmati sapuan angin sepoi-sepoi pada sore hari. Suatu hari dia menggenggam tanganku tiba-tiba. “Sam, kok kelihatan selalu sedih sih? Ada apa? Loe bisa bicara ke gue kok. Gue mau jadi teman baik loe.”</p>
<p>She caught me off guard at that time. Aku hanya melongo memandanginya. “Kenapa memang? Ga boleh gue jadi teman baik loe?” tanyanya lagi. Aku menggelengkan kepalaku seketika. “Bukan. Maksud aku, kita bisa berteman. Terima kasih.”</p>
<p>Dia tertawa nyaring. “Kok berterima kasih sih?” katanya setelah selesai tertawa. Beberapa teman memandangi kami. Aku tidak suka dipandangi seperti itu. “Habis kamu tiba-tiba ngomong kaya gitu. Aku ga tau harus bilang apa,” jawabku.</p>
<p>“Bilang aja ‘ok’. Susah banget,” katanya. “Ok,” jawabku.</p>
<p>Berikutnya pertemanan kami semakin erat. Dia sering main ke rumahku setelah pulang sekolah. Dia memonopoli aku dari teman-teman lamaku. Pada akhir pekan dia mengharuskan aku main ke rumahnya hingga sore. Intinya, ke manapun aku pergi, dia selalu ada di sampingku.</p>
<p>Berteman dengan Santy sebenarnya menyenangkan. Dia pintar dan sangat ceria. Namun kadang dia bisa benar-benar rendah diri dan membuatku ingin menguncang badannya.</p>
<p>Hingga pada suatu hari. Di halaman sekolah sepulang sekolah. Hari sudah mulai gelap.</p>
<p>Santy (S): Main ke rumah gue besok?</p>
<p>Aku(A): Nggak. Teman-teman SMPku ngajak kumpul di rumah mereka. Minggu depan aja main ke rumah kamu.</p>
<p>S: Kok gitu? Kan loe uda janji.</p>
<p>A: Hah? Kapan?</p>
<p>S: Kan setiap Minggu main ke tempat gue, jadi gue kira Minggu ini juga.</p>
<p>A: Teman-teman SMPku ngajak kumpul. Masa’ aku nolak. Aku juga rindu sama mereka.</p>
<p>S: Oh, jadi mereka lebih penting dari gue?</p>
<p>A: Apa sih, San. Kamu kok jadi aneh kaya gini? Norak deh.</p>
<p>S: (Diam, seolah ingin menangis) Sam, kenapa loe nggak ngerti. Gue sayang sama loe. Gue mau selalu bareng loe.</p>
<p>A: (Diam, berkeringat dingin) Santy, kita ini teman. Tapi aku ada teman yang lain. Cuma Minggu ini aja aku ketemu mereka.</p>
<p>S: Loe nggak ngerti. Gue sedang bilang ke loe, gue cinta loe.</p>
<p>A: (Diam. Pucat) Jangan begini. Kita teman. Dan akan selamanya berteman. Bila kamu nggak bisa, kita sebaiknya ga usa berteman lagi.</p>
<p>Santy tidak mengatakan apa-apa. Dia menyelonong pergi. Lusanya, dia berganti tempat duduk dengan dengan Gabby. Selama kelas 1 dia berusaha tidak berbicara denganku dan aku menuruti kemauannya.</p>
<p>Baru ketika kelas 3 kami mulai berteman lagi. Kami masih berpura-pura melupakan insiden ketika kelas 1.</p>
<p>Sekarang, ketika aku menerima undangan selamatan rumah barunya, aku tersenyum lucu sendiri. Wanita itu, wanita yang dulu dengan lugunya menembakku, sekarang telah bersuami dan beranak satu.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(don't) lie to me]]></title>
<link>http://lelakimiskinsombong.wordpress.com/2009/12/18/dont-lie-to-me/</link>
<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 18:41:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Dimas Pramudya Kurniawan</dc:creator>
<guid>http://lelakimiskinsombong.wordpress.com/2009/12/18/dont-lie-to-me/</guid>
<description><![CDATA[Phrameswari sayang, Malam ini ayah mendengar lagu yang cukup menarik untuk disimak. Membuat hati ini]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Phrameswari sayang,</em></p>
<p><em>Malam ini ayah mendengar lagu yang cukup menarik untuk disimak. Membuat hati ini merasa disingung. Ingatan Ayah melompat tidak karuan menuju kenangan beberapa (puluh) tahun silam. Saat Ayah masih berseragam merah putih, masih ingusan, cengeng dan pembohong. Saat itu Ayah tidak punya cara lain untuk membela diri. Lidah ini belum terbiasa berkelit dan bersilat. Ayah sering berbohong dan mengatakan uang jajan Ayah tidak dibelikan es, padahal sebaliknya. Ayah sering berbohong saat terlambat masuk sekolah dan tidak mengerjakan tugas.</em></p>
<p><em>Ayah sudah terbiasa berbohong. Semenjak dini. Ayah belajar secara otodidak. Tanpa pengajar. Tanpa latihan. Dan hampir semua laki-laki seperti itu. Oleh karena itu, kelak saat kamu dewasa nanti setengah laki-laki yang kamu temui adalah pembohong. Dan setengahnya lagi adalah penipu. Jadi berhati-hati ya, sayang. Ayah akan beberkan semua cara dan tipuan kamera, trik dan tipu muslihat laki-laki setelah kamu dewasa nanti. Dengan satu syarat. Jangan pernah bohong dengan Ayah ya. Meski itu baik menurut kamu.</em></p>
<p><em>Ya, lagu ini bercerita tentang itu. Tentang kebohongan. Ya? Ingin mendengar? Oh? Tidak. Ayah tidak bisa menyanyikannya. Tidak bisa menyanyi tepatnya. Kamu boleh suruh Ayah apa saja. Asal bukan satu hal itu. Karena jika Ayah menyanyi, alih-alih mirip dengan penyanyi aslinya, menyanyikan dengan nada yang seharusnya saja sudah membuat Ayah kewalahan. Juga keringatan. Jadi biar Ayah panggilkan ibumu saja. Dia penyanyi nomor satu. Suaranya luar biasa merdu. Itu alasan ke tujuh belas kenapa Ayah menikahi ibumu dulu.</em></p>
<p><em>Sebentar, Ayah ambilkan bangku untuk ibumu. Kasihan ibumu kalau harus menggendongmu sampai terlelap. Hari sudah gelap dan malam sudah larut, kamu cepat tidur ya. Mimpi yang indah. Oiya hampir lupa, karena berbohong puluhan tahun lalu lah pada akhirnya gitar ini terbeli dan sekarang kamu pun bisa menikmati. Selain ibumu beberapa tahun belakangan.</em></p>
<p><em>Baiklah kita mulai, tiga&#8230; dua&#8230; satu&#8230;</em></p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/UMaaXq97Rf4&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/UMaaXq97Rf4&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<blockquote>
<h5><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong>a white lie, </strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></h5>
<h5><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong>everybody does it cause it feels alright and it&#8217;s more polite</strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></h5>
<h5><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong>but a lie still a lie even when it&#8217;s white<br />
</strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></h5>
</blockquote>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sebaiknya anda tau "Menggunakan Blog....sebaiknya gimana ya??"]]></title>
<link>http://bilover.wordpress.com/2009/12/18/sebaiknya-anda-tau-menggunakan-blog-sebaiknya-gimana-ya/</link>
<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 11:38:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>bilover</dc:creator>
<guid>http://bilover.wordpress.com/2009/12/18/sebaiknya-anda-tau-menggunakan-blog-sebaiknya-gimana-ya/</guid>
<description><![CDATA[Blog memang sudah tidak asing lagi didalam dunia maya, terlebih untuk kalangan muda belia yang baru ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Blog memang sudah tidak asing lagi didalam dunia maya, terlebih untuk kalangan muda belia yang baru mengenal internet atau pun yang sudah mengenal dan menjadikan blog untuk mencari sumber pengahasilan. Tidak heran kalau blog cukup banyak berkembang dan aplikasi-aplikasi mendukung blog demikian berkembang pesat seperti : blogspot, wordpress, dll yang digunakan bloger. Namun demikian banyak diantara kita belum mengerti apa fungsi blog dan apa sebenarnya yang terbaik untuk publikasi, sehingga tidak jarang banyak kasus-kasus yang cukup dapat menyeret seseorang kedalam dunia hukum hanya sebuah blog atau kegiatan online lainnya.</p>
<p>Pada tema ini saya pribadi ingin memberikan pandangan menurut saya pribadi, apa sebenarnya blog dan kenapa ada media free online ini yang cukup mudah digunakan masyarakat maya tanpa syarat yang banyak serta tidak mengeluarkan uang untuk mendapatknya.</p>
<ul>
<li><strong>Nuansa positif :</strong> Kenapa saya mengatakan demikian, karena blog juga meruapakan suatu sistem informasi yang berfungsi menyampaikan apa yang ditulis oleh pemiliknya kepada pengguna internet yang sedang online. Sehingga diharapkan apapun itu yang dituliskan haruslah bertanggung jawab serta bernilai baik dan tidak memberikan dampak negatif kepada pengunjung blog anda.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>No Commnet attack : </strong>Kita memang memiliki emosi, dimana yang terdiri dari kesabaran, kesenangan dan kebencian. Apabila kita memiliki masalah pada seseorang ataupun instansi-instansi janganlah pernah menggunakan media online apapun itu yang tidak mendapatkan perijinan langsung pemerintah untuk menyampaikan inspirasi emosi anda. Contoh kasus di televisi sudah banyak hanya karena facebook, twitter seseorang menjalani hukum yang berat karena apapun itu asalannya tidaklah baik menggunakan media online menyerang pihak lain hanya karena anda memiliki masalah, sebaiknya anda melaporkan langsung masalah anda kepihak berwajib kecuali anda siap menerimanya.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Saling berbagi : </strong>Blog memang dilahirkan bertujuan untuk saling sharing satu dengan yang lainnya dalam dunia maya dimana setiap mereka yang membutuhkan informasi positif dapat menerima informasi baik dari para bloger lainnya baik dalam ilmu pengetahun atau informasi lainya.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Tempat curhat :</strong> Wah, ini memang menarik sekali karena sebagai tempat curhat. Saya pribadi lebih setuju kalau blog menjadi tempat curhat anda kepada mereka yang online. Dimana setiap individu selalu membutuhkan informasi yang bervariasi agar tidak menjadi jenuh. Curhatan seseorang bisa memberikan dia inspirasi yang menarik serta membuat dia prihatin atas keadaan anda. Kepada anda yang menjadikan tempat curhat anda akan mendapatkan dorongan-dorongan baru dari mereka yang memberikan komentar yang baik sehingga anda tidak sendirian dalam menjalani masalah pribadi ini. Bisa saja jika anda beruntung curhat anda dijadikan novel oleh penulis yang tertarik sekali dengan jalan hidup anda dan peduli serta baik dijadikan pandangan sosial.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Catatan penting : </strong>Seperti saya tentunya, pribadi saya menggunakan blog sebagai catatan penting pribadi saya dimana saya mengambil tulis blog dari bloger lainnya lalu mempublikasikna di bilover.wordpress.com namun hargailah etika profesi seseorang dengan menuliskan darimana anda mendapatkan sumbernya. Kecuali anda menemukan ide dan menuliskan diblog anda maka orang lain yang menuliskan kembali harusnya melakukan hal yang sama.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Bisnis : </strong>Saya setuju dengan judul ini, bisnis adakalanya anda menggunakan blog sebagai sumber pendapatan lain. Karena bisnis bisa dilakukan dimana saja asal ada kemauan dan banyak sekali bloger yang memberikan dan menuliskan tentang bisnis online melalui blog. Tetapi berbisnislah dengan norma-norma agama.</li>
</ul>
<p>Demikian ungkapan saya tentang blog itu sebaiknya gimana apabila, nantinya saya memiliki ide yang baru maka dan pastinya akan saya tuliskan dan sampaikan disini. ^_^</p>
<p>Mari Bloger dengan Baik&#8230;!!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sebaiknya anda tau "Keamanan Hotspot"]]></title>
<link>http://bilover.wordpress.com/2009/12/18/sebaiknya-anda-tau-keamanan-hotspot/</link>
<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 10:54:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>bilover</dc:creator>
<guid>http://bilover.wordpress.com/2009/12/18/sebaiknya-anda-tau-keamanan-hotspot/</guid>
<description><![CDATA[Sistem keamanan Wi-Fi masih jauh dari sempurna. Dari dua pilihan sistem keamanan yang tersedia (WEP ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sistem keamanan Wi-Fi masih jauh dari sempurna. Dari dua pilihan sistem keamanan yang tersedia (WEP atau WAP), manakah yang layak anda gunakan. Fleksibilitas dan kenyamanan koneksi merupakan dampak positif yang paling kita rasakan saat menggunakan jaringan Wi-Fi. Akan tetapi, koneksi Wi-FI juga menyimpan risiko keamanan tersendiri. Sifat yang secara nirkabel secara tidak langsung membuka celah PC anda bagi siapa saja yang ikut serta dan bila perlu menyadap lalu-lintas data yang ditransmisikan dalam jaringan Wi-Fi.<br />
Hingga saat ini dua standar keamanan dalam jaringan Wi-Fi sudah disodorkan. Standar yang pertama adalam WEP (Wired Equivalent Protocol), disusul standar WPA (Wi-Fi Protected Access). WEP mengamankan lalu lintas informasi pada jaringan Wi-Fi dengan menggunakan sistem “kunci pengaman” yang disebut “WEP key”. Dengan WEP key ini semua lalu lintas data terlebih dahulu di-encode atau encrypt sebelum ditransmisikan ke udara sehingga mencegah akses terhadap pihak yang tidak berkepentingan.</p>
<p>Adapun standar keduanya yaitu WPA dilahirkan sebagai solusi keamanan jaringan Wi-Fi temporary menunggu kehadiran standar keamanan yang lebih baik yaitu 802.11i. Meskipun sama-sama menggunakan sistem kunci pengamana untuk meng-encode data, WPA berbeda dibandingkan dengan WEP karena menggunakan kunci pengamanan yang sifatnya dinamis alias selalu berubah-ubah saat melakukan proses enkripsi untuk setiap paketnya. Kunci pengamanan dinamis yang disebut Temporal Key Integrity Protocol (TKIP) ini tentu saja lebih mempersulit terjadinya penyadapan data.<br />
Meskipun WPA lebih aman untuk digunakan, ada satu hal yang perlu anda perhatikan. Beberapa perangkat Wi-Fi yang muncul pertama kali akan bermasalah saat mencoba mengakses jaringan Wi-Fi dengan sistem keamanan WPA. Sebagian dapat diatasi dengan meng-upgrade firmware-nya sebagian lagi tidak memiliki pintu masuk ke jaringan tersebut karena tidak dapat di-upgrade. Oleh karena itu pilihannya adalah jaringan yang lebih aman ataukah jaringan yang kurang kompatibel.<br />
Konfigurasi WEP</p>
<p>WEP akan mengenkripsi seluruh data untuk meningkatkan kemanan. Ada 2 enkripsi level (panjang key), yaitu 64-bit atau 128-bit. Seluruh wireless devices pada jaringan harus menggunakan seting WEP yang sama (same level &#38; same keys). Silahkan meng-enable WEP pada AP/Wireless router sebelum kita menghidupkan WEP pada wireless adapter.</p>
<p>1. Silahkan buka wireless utility dengan mengklik icon pada task bar.<br />
2. Pastikan anda telah menset WEP encryption pada AP/wireless router sebelumnya. Sebaiknya menggunakan HEX format untuk encryption key.<br />
3. Double-click icon pada system tray untuk membuka Wireless Configuration Utility HW.31. Click pada Configuration tab.<br />
4. Enable Encryption.<br />
5. Pilih Key Length.<br />
6. Pilih Key number dan masukkan HEX WEP key. Ini harus sama dengan setingan AP/Wireless router anda.<br />
7. 64-bit The key seharusnya memiliki 10 Hex Digits (0-9, A-F).<br />
Contoh: 1234567ADF<br />
128-bit The key should be 26 Hex Digits (0-9, A-F).<br />
Contoh: 12345678901234567890ABCDEF</p>
<p>Konfigurasi WPA<br />
1. Double-click icon pada system tray untuk membuka Wireless Configuration Utility HW.31.<br />
2. Klik pada Configuration tab.<br />
3. Enable Encryption.<br />
4. Pilih WPA-PSK.<br />
5. Masukkan Passphrase.</p>
<p>Tips mengamankan Jaringan Wireless</p>
<p>1. Penggantian username dan passwords<br />
sekarang ini sudah tersedia web tools yang dilengkapi dengan halaman login. Sehingga hanya user yang memiliki hak akses yang dapat mengakses alamat jaringan.</p>
<p>2. Mengaktifkan enkripsi yang sesuai<br />
Pada umumnya semua perangkat Wi-Fi mendukung teknik enkripsi. Agar teknik ini berfungsi dengan baik, maka seluruh perangkat Wi-Fi pada suatu LAN harus memiliki setingan enkripsi yang sama.</p>
<p>3. Pengubahan default SSID<br />
Semua access point dan router menggunakan network name yang disebut SSID. Setiap perusahaan pada umumnya pasti memiliki satu SSID. Jika ada orang yang mengetahui default SSID dari jaringan kita, maka mereka akan melihat keburukan jaringan kita dan memungkinkan mereka untuk menyerang. Sehingga kita perlu mengubah default SSID saat mengkonfigurasi LAN.</p>
<p>4. Mengaktifkan MAC Address Filtering<br />
Setiap perangkat Wi-Fi memiliki identitas yang unik disebut “physical address” atau “MAC address”. Access Point dan router menjaga track MAC address dari seluruh perangkat yang terhubung kepadanya.</p>
<p>5. Me-nonaktifkan SSID broadcast<br />
Pada jaringan Wi-Fi, jika kita melakukan akses maka access point atau router akan mem-broadcast SSID dari jaringan. Fasilitas ini didisain untuk bisnis dan mobile hotspots dimana Wi-Fi clients sangat mobile. Fasilitas SSID broadcast pada mayoritas Wi-Fi Access Point dapat dinon-aktifkan oleh administrator jaringan.</p>
<p>6. Menandai alamat IP static pada perangkat<br />
Beberapa jaringan rumahan menggunakan pengalamatan IP dinamis. Teknologi DHCP membuat mudah dan cepat untuk merealisasikannya. Sayangnya, fasilitas dari IP dinamis ini menguntungkan para attacker, karena dapat mengisi alamat IP yang valid dari DHCP pool. Matikan DHCP pada router atau access point kemudian set range alamat IP, lalu set perangkat yang terhubung untuk penyesuaian. Gunakan range private IP (contoh 10.0.0.x) untuk mencegah komputer dari yang secara langsung diambil dari internet.</p>
<p>7. Posisi router atau access point yang aman<br />
Signal Wi-Fi secara normal dapat menjangkau keluar ruangan. Sejumlah kecil kelemahan dari luar bukan suatu masalah, tetapi sejauh ini signal dapat terjangkau. Signal Wi-Fi sering dapat keluar jalur dan melewati jaringan tetangga. Saat instalasi jaringan wireless home, posisi access point atau router menentukan jangkauannya. Cobalah untuk memposisikan perangkat ini berdekatan dengan pusat jaringan daripada dengan jendela untuk meminimalisasi kelemahan.</p>
<p>Sumber : http://mostce.hot-me.com/sharing-sharing-f8/keamanan-hotspot-t101.htm</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Suka Muni Refuses to get Married : Devi Bhagavatham 14th and 15th Adhyaya, first Skanda]]></title>
<link>http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/17/suka-muni-refuses-to-get-married-devi-bhagavatham/</link>
<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 10:46:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>satyask</dc:creator>
<guid>http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/17/suka-muni-refuses-to-get-married-devi-bhagavatham/</guid>
<description><![CDATA[Chapter 14 and 15 , first Skanda, Devi Bhagavatham : Source and Reference : See Previous : Vyasa’s m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div><strong><em><img class="alignleft" style="border:3px solid black;margin:3px;" src="http://www.vaishnodevitempleoakville.com/site/UserFiles/front-durga--fromvaishnodevi-com-.jpg" alt="" width="458" height="305" />Chapter 14 and 15 , first Skanda, Devi Bhagavatham :</em></strong> <a href="http://www.sacred-texts.com/hin/db/bk01ch14.htm" target="_blank">Source and Reference :</a></div>
<div><strong><em>See Previous : </em></strong></div>
<ul>
<li><a title="Vyasa’s meditation and Suka’s birth : Devi Bhagavatham : 10th and 14th Adhyaya of the First Skanda" href="http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/09/vyasa-meditates-for-a-son-devi-bhagavatham-10th-adhyaya-of-the-first-skanda/">Vyasa’s meditation and Suka’s birth : Devi Bhagavatham : 10th and 14th Adhyaya of the First Skanda</a></li>
<li><a title="Vyasa desires a son : Devi Bhagavatham : 4th Adhyaya of the First Skanda" href="http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/06/vyasa-desires-a-son-devi-bhagavatham-4th-adhyaya-of-the-first-skanda/">Vyasa desires a son : Devi Bhagavatham : 4th Adhyaya of the First Skanda</a></li>
<li><a title="Devi Bhagavatham : 1-3 Adhyayas of the First Skanda" href="http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/05/devi-bhagavatham-1/">Devi Bhagavatham : 1-3 Adhyayas of the First Skanda</a></li>
</ul>
<p><a href="http://ancientindians.wordpress.com/suka-the-son-of-vyasa-%e0%a4%b6%e0%a5%81%e0%a4%95-%e0%a4%ae%e0%a4%b9%e0%a4%b0%e0%a5%8d%e0%a4%b7%e0%a4%bf/" target="_blank">Suka</a> was a perfect student. He learnt the Vedas and the sastras from his Guru Brhaspati and gave him his guru-dakshina. (<em>fee</em>) at the end of his study. He was a perfect <a href="http://ancientindians.wordpress.com/viswamitra-and-the-gayatri-mantra/" target="_blank">brahmachari</a>. (<em>Brahmacharya, is the first stage of a man&#8217;s life where he contemplates the Brahman and is a student serving his guru. During this stage he is also required to be a celibate, in addition to his other duties. Of course in modern India any unmarried man is casually referred to as a brahmachari, even if he spends zero time contemplating the brahman.</em>)</p>
<p>When Suka came home, his father, <a href="http://ancientindians.wordpress.com/veda-vyasa/" target="_blank">Krishna Dwaipayana, Veda Vyasa</a> welcomed him lovingly and started anxiously searching for the right sort of a bride for Suka Muni, <em>as any father of the present Kaliyuga would.</em></p>
<p>He told his son, that a man without sons would be kept out of heaven and implored him to marry an appropriate girl. He told him how hard a penance he had to undertake before getting Suka as his son. He did not want Suka going through all that. &#8220;Vyâsa deva said :&#8211; “O son! I have got you after I had performed very severe tapasyâ, for one hundred years, and worshipped Bhagavân <a href="http://ancientindians.wordpress.com/siva/" target="_blank">S&#8217;ankara</a> in the sole object of having you. O highly wise one! I will ask some king and will give you sufficient wealth for your family expenses. So that you, having attained this much desired youth, enjoy the householder&#8217;s life.&#8221;”</p>
<p><em><strong>Much as boys today refuse to get married and lose their freedom, Suka also protested.</strong></em><em> </em>&#8220;S’ûka Deva said :&#8211; “O father! Kindly say this to me what pleasure is there in this earth that is not mixed with pain. The happiness, that is mixed with pain, is not called happiness by the wise. O highly fortunate one! when I will marry, I will become certainly submissive to that woman; see then how happiness can be possible to one who is dependent; especially to one, dependent on one&#8217;s wife. Rather freedom can be obtained one day when one is tied to an iron or wooden pillar; but never freedom will come to that man who is tied by his wife and children.&#8221;</p>
<p><em>He continued,</em> &#8220;When I studied first, the <a href="http://satyaveda.wordpress.com" target="_blank">Veda </a>in detail, it struck me that the Vedas dealt with the S&#8217;âstra of Karma mârga and it is all full of Himsâ.  Then I took Brihaspati as my Guru to show me the way to true wisdom; but soon I found that he, too, was attacked with the dreadful disease Avidyâ (ignorance) and plunged in the terrible ocean of world, full of Mâyâ&#8230; The house is called &#8220;Griha&#8221; because it catches hold of a man firmly. So what happiness can you expect from the house which is like a prison? O father! I am therefore afraid.&#8221;</p>
<p><strong><em>(While I respect Suka Muni&#8217;s views on Vedas, Marriage and on Brishaspati &#8211; <span style="text-decoration:underline;">I do not endorse them</span>).</em></strong></p>
<p><em><strong>Vyasa then tried to correct Suka&#8217;s way of thinking. </strong>He said, </em>&#8221; O Son! The house is never a prison, nor is it the cause of any bondage; the householder whose mind is unattached, can get Mok<span style="text-decoration:underline;">s</span>a, in spite of his being such. Truthful, holy, earning wealth by just means and performing, according to rules the rites and ceremonies, as stated in the Vedas and doing S&#8217;râddhas duly, a householder can certainly get Mok<span style="text-decoration:underline;">s</span>a. See a man who is a Brahmachâri, who is an ascetic, who is a Vânaprasthî or follows any other method or vow, all have got to worship the householder after mid-day. The dharmic householder, too; welcomes them all, with sweet words, and gives them food, with great love and respect, and thus does them an amount of good. For this reason the householder&#8217;s stage is the most excellent of all; and I have not seen or heard of any other Âs&#8217;rama superior to it. For this reason <a href="http://ancientindians.wordpress.com/vasishtha/" target="_blank">Vas&#8217;i</a><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://ancientindians.wordpress.com/vasishtha/" target="_blank">st</a></span><a href="http://ancientindians.wordpress.com/vasishtha/" target="_blank">ha</a> and other Âchâryas resorted to householder&#8217;s life, in spite of their being endowed with great wisdom O highly fortunate one! If one performs duly the rites and ceremonies of the Vedas, there is nothing that is impracticable to him. Be it the birth in a good family, or the enjoyment of heavens say, or be it Mok<span style="text-decoration:underline;">s</span>a, whatever desires, it is fructified to success.&#8221;</p>
<p>Then Vyasa explained to Suka that after the Grihastha Asrama, he could take up, Vanaprastha and then finally Sannyasa Asramas.</p>
<p><em>Suka argued in favour of bachelorhood, he</em> said that neither <a href="http://ancientindians.wordpress.com/indra-deva-the-ancient-indian-hero/" target="_blank">Indra,</a> the king of the <a href="http://ancientindians.wordpress.com/who-were-the-devas/" target="_blank">devas</a>, nor the <a href="http://ancientindians.wordpress.com/the-god-of-the-devas/" target="_blank">Trimurthis </a>themselves were free in marriage. He said that even the wise <a href="http://ancientindians.wordpress.com/devas-and-brahmans/" target="_blank">brahmans</a> perfect in Vedas had to praise the rich for wealth and for food.   &#8221;If there be contentment in the mind, any how the belly can be filled with leaves, roots and fruits; but if there be wife, sons and grandsons and many dependent relatives, then to feed them all, much trouble and anxiety are experienced&#8230; So teach me, O Father! the S’âstras on Yoga and eternal truth that will give perfect happiness; no advice in karma kân<span style="text-decoration:underline;">d</span>a (the series of actions) will bring me pleasure. Now advise me how the karmas can be exhausted; how the root of the three sorts of karmas, Sanchita, Prârabdha, and Vartamâna, giving torments of birth, death, etc., the Avidyâ, the great ignorance, can be destroyed?&#8221;</p>
<p>Hearing Suka&#8217;s answer Vyasa was very disappointed and shed many tears of pain and sorrow. Then Suka wondered at the power of Maya (Devi) who controlled the mind of his father, Vyasa, the expert who had divided the Vedas. He realised that Maya was the most powerful and internally bowed to her, the creator of Brahma and all the Devas. Then he persuaded his father that he had absolutely no interest in the Grhastha and Vanaprastha stages of life and that he would move directly to Sannyasa. He begged his father to show him the way.</p>
<p><strong><em>Then Vyasa relented,</em></strong> finally moved by his son&#8217;s firmness in not entering Samsara, and accepting his son&#8217;s rejection of the Agni and Karma Kanda of the Vedas, revealed to him the Devi Bhagavatham, suitable for one, who wishes to avoid samsara (worldly life).</p>
<p><strong><em>Authorship and Copyright Notice : Satya Sarada Kandula : All Rights Reserved.</em></strong></p>
<p><strong><em>All rights for sourced material vest with the source.</em></strong></p>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:1339px;width:1px;height:1px;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=TmKo72JSLac">http://www.youtube.com/watch?v=TmKo72JSLac</a><a href="http://www.youtube.com/watch?v=TmKo72JSLac">http://www.youtube.com/watch?v=TmKo72JSLac</a><a href="http://www.youtube.com/watch?v=TmKo72JSLac">http://www.youtube.com/watch?v=TmKo72JSLac</a><a href="http://www.youtube.com/watch?v=TmKo72JSLac">http://www.youtube.com/watch?v=TmKo72JSLac</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Suka main Facebook dan Twitter?]]></title>
<link>http://sukasukaarrieaja.wordpress.com/2009/12/16/suka-main-facebook-dan-twitter/</link>
<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 10:00:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>sukasukaarrieaja</dc:creator>
<guid>http://sukasukaarrieaja.wordpress.com/2009/12/16/suka-main-facebook-dan-twitter/</guid>
<description><![CDATA[Suka main Facebook? Keranjingan update perkembangan kamu lewat Twitter? Tak perlu malu dengan hobby ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Suka main Facebook? Keranjingan update perkembangan kamu lewat Twitter? Tak perlu malu dengan hobby kamu itu, karena ternyata, hobby seperti itu juga bisa menjadi profesi.   </p>
<p>Kabar baik untuk para penggila social media, belakangan ini sedang banyak perusahaan yang mencari Anda. Trend ini sudah cukup besar di Amerika, dan sedang menunjukkan gejala-gejalanya di Indonesia. Perusahaan-perusahaan membutuhkan profesi baru yang disebut social media whiz, pelaku social media (terutama yang paling dominan seperti Facebook dan Twitter) untuk menghidupkan account brand mereka.   </p>
<p>Setiap perusahaan mempunyai kebutuhan yang berbeda untuk social media whiz ini. Kesamaan dari semuanya adalah mereka butuh orang yang dapat berinteraksi dengan aktif di dalam social media, seseorang yang memang hidup di habitat itu sehingga sudah terbiasa melakukan apa yang menjadi budaya di dalam lingkungan itu. Seorang yang pandai menulis status dan menjawab komentar dengan menarik sehingga pembaca terus mengikuti kelanjutannya. Secara khusus dia juga harus menguasai bidang yang sedang dibicarakan dan memahami karakter audience yang menjadi sasarannya.   </p>
<p>Misalnya, sebuah perusahaan produsen anggur (wine) baru-baru ini mengiklankan mencari seorang social media whiz dengan syarat dia adalah seorang wine enthusiast, seorang pencinta anggur, bisa dikatakan begitu. Gaji yang ditawarkan adalah 10.000 USD per bulan, atau lebih dari Rp 100 juta rupiah!!! Wow… Tugasnya adalah mempromosikan produk anggur perusahaan tersebut di blog, Facebook dan Twitter. Kedengarannya menyenangkan bukan?  </p>
<p>Hal ini tidak hanya terjadi di Amerika lho. Belum lama ini seorang teman saya juga direkrut sebuah perusahaan untuk melakukan Facebook. Pekerjaannya seperti mimpi bagi kalian yang penyuka dan bernapas di habitat social media. Tugasnya setiap hari: membuka Facebook, menjawab komentar, melempar topik, memonitor masukan-masukan yang masuk, dan setiap minggu mendiskusikannya dengan pemilik brand. Pemilik brand ingin tahu apa saja yang dibicarakan orang tentang produk mereka dan bagaimana kemudian menjawabnya sehingga menciptakan citra positif terhadap produk tersebut. </p>
<p>Yang menarik, pekerjaan seperti ini biasanya bisa dikerjakan di mana saja, asal ada koneksi internet. Entah itu di rumah, di cafe, di atas kasur, di bathtub, di pantai, terserah. Apalagi sekarang dengan menjamurnya blackberry, komentar dari konsumen juga semakin cepat, sehingga sebagai produsen juga harus menanggapi dengan lebih cepat. Pekerjaan seperti ini terkadang tidak mengenal waktu, 24 jam harus waspada, tapi bila Anda menikmatinya, tidak ada masalah bukan?  </p>
<p>Apalagi sekarang sedang heboh-hebohnya para capres dan cawapres berkampanye. Sudahkah mereka menggunakan social media ini dengan baik? Coba kalian perhatikan. Di Facebook sudah banyak kampanye capres/cawapres kita. Tidak hanya itu, mereka juga mendekati blogger-blogger. Twitter mungkin segera akan menjadi sasaran.   </p>
<p>Nah, setelah membaca artikel ini, perlakukanlah mainan kamu (Facebook, Twitter, dll itu) dengan lebih serius. Manfaatkanlah sebisanya untuk menunjukkan kepiawaian kamu. Siapa tahu kamu dilirik salah satu capres/cawapres menjadi pelaku social media buat mereka yang ingin mendekati kaum muda? Kita tidak pernah tahu…  </p>
<p>Atau bila politik bukan bidangmu, mulailah serius nge-blog atau Facebook dengan topik yang menjadi andalanmu. Misalkan kamu seorang penggila film dan teman-teman sering mendengarkan komentarmu tentang film-film terbaru yang kamu tonton. Pamerkanlah hal itu, bisa di blog ataupun di Facebook. Siapa tahu bioskop 21 atau Blitz memerlukan jasa kamu. Sekali lagi, kita tidak pernah tahu, bukan?  </p>
<p>Jadi, siapa bilang Facebook, Twitter, cuma mainan?  </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[mummy's flying stories.....]]></title>
<link>http://ilhamzamry.wordpress.com/2009/12/12/mummy-flying/</link>
<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 04:09:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>ilhamzamry</dc:creator>
<guid>http://ilhamzamry.wordpress.com/2009/12/12/mummy-flying/</guid>
<description><![CDATA[hahha, tajuk tak henggat, nak ceta pasl hold weekdays hari tu, mummy jalan2 gak heheh ada yang dgn a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>hahha, tajuk tak henggat, nak ceta pasl hold weekdays hari tu, mummy jalan2 gak heheh ada yang dgn anak2 ada takde anak2, mummy ngan daddy jek&#8230;<br />
cerita pertama : wann ielham ada seminar kat pd, stay kat tiara beach resort, tak plan pun nak jenguk dia, last2 dia sms lala yang dia terjatuh glupppp&#8230;mummy pun sedikit cemas lah kelam kabut, call call dia tak pape cuma kasut dia patah..heheh mak mak&#8230;banyak2 kasut kakak belikan mak pakai kasut lama gak kenapa?? last2 call lah my darling hubby kat tempat kerja, dia kata ok lah kita belikan kasut mak jap lagi abang balik kita gi pd, pd ngan rembau pun tak jauh manaer&#8230;heheh i sgt suka dan syggggg kat abang&#8230;muahhhhhhhh&#8230;.</p>
<p>ni lah mak dgn kawan2 dia&#8230;&#8230;deorang ni kan mmg rapat gila, dan perangai pun sama&#8230;.satu kepala&#8230;hehhe<br />
<a href="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091828.jpg"><img src="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091828.jpg?w=300" alt="" title="081220091828" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-892" /></a></p>
<p><a href="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091829.jpg"><img src="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091829.jpg?w=300" alt="" title="081220091829" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-893" /></a></p>
<p><a href="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091830.jpg"><img src="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091830.jpg?w=300" alt="" title="081220091830" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-894" /></a></p>
<p>mummy ngan makndak pun berfoya-foya&#8230;.ambil kesemptan yang tak berapa sempat..heheh<br />
<a href="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091836.jpg"><img src="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091836.jpg?w=300" alt="" title="081220091836" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-895" /></a></p>
<p><a href="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091840.jpg"><img src="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091840.jpg?w=300" alt="" title="081220091840" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-896" /></a></p>
<p><a href="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091837.jpg"><img src="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091837.jpg?w=300" alt="" title="081220091837" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-898" /></a></p>
<p>tengoklah sendiri bakal atlet ni, berlari jek tau dia, ngan belakang baju yang kotor dan basah&#8230;hissssss&#8230;.<br />
<a href="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091841.jpg"><img src="http://ilhamzamry.wordpress.com/files/2009/12/081220091841.jpg?w=300" alt="" title="081220091841" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-899" /></a></p>
<p>ok done, tetiba my darling hubby datang ..wangi2 br lepas shower and says, cepat cepat!!!!!  harus berebut pc..so tak dpat le nak conti next story ni yek&#8230;&#8230;nanti2 lah buat entry lain ptg kang, sbb pc server mummy tak dapat upload pic lah lembab sgt2, tu le dulu lagi dah request laptop ngan abang&#8230;abang tak makbulkan..hhuuuuuhuh!!! babaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii all :p</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vyasa's meditation and Suka's birth : Devi Bhagavatham : 10th and 14th Adhyaya of the First Skanda]]></title>
<link>http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/09/vyasa-meditates-for-a-son-devi-bhagavatham-10th-adhyaya-of-the-first-skanda/</link>
<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 11:07:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>satyask</dc:creator>
<guid>http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/09/vyasa-meditates-for-a-son-devi-bhagavatham-10th-adhyaya-of-the-first-skanda/</guid>
<description><![CDATA[Chapter 10, first Skanda, Devi Bhagavatham : Source and Reference : See Also : Vyasa desires a son :]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><em>Chapter 10, first Skanda, Devi Bhagavatham :</em></strong> <a href="http://www.sacred-texts.com/hin/db/bk01ch10.htm" target="_blank">Source and Reference</a> :</p>
<p><img class="alignleft" style="border:3px solid black;margin:3px;" src="http://faculty-staff.ou.edu/C/Christa.Chilson-1/TriDevi.jpg" alt="image of Devi/Maya" width="454" height="600" /></p>
<p><strong><em>See Also :</em></strong></p>
<ul>
<li><a title="Vyasa desires a son : Devi Bhagavatham : 4th Adhyaya of the First Skanda" href="http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/06/vyasa-desires-a-son-devi-bhagavatham-4th-adhyaya-of-the-first-skanda/">Vyasa desires a son : Devi Bhagavatham : 4th Adhyaya of the First Skanda</a></li>
<li><a title="Devi Bhagavatham : 1-3 Adhyayas of the First Skanda" href="http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/05/devi-bhagavatham-1/">Devi Bhagavatham : 1-3 Adhyayas of the First Skanda</a></li>
</ul>
<p>&#8220;On the very beautiful summit of Mount Meru, <a href="http://ancientindians.wordpress.com/veda-vyasa/" target="_blank">Vyâsa</a>, the son of Satyavati, firmly determined, practised very severe austerities for the attainment of a son. Having heard from <a href="http://ancientindians.wordpress.com/narada-bhakthi-sutras/" target="_blank">Nârada</a>, he, the great ascetic, repeated the one syllabled mantra of Vâk and worshipped the Highest Mahâmayâ with the object of getting a son. He asked, Let a son be born to me as pure and as spirited and powerful as fire, air, earth, and Âkâs’a. <strong><em>He thought over in his mind that the man possessed of S’akti is worshipped in this world and the man devoid of S’akti is censured here, and thus came to the conclusion that S’akti is therefore worshipped every where; and, therefore,worshipped Bhagavân Mahes&#8217;vara coupled with the auspicious Âdyâ S’akti </em></strong>and spent away one hundred years without any food. He began his tapasyâ on that mountain summit which was ornamented with the garden of Karnikâr, where all the <a href="http://ancientindians.wordpress.com/who-were-the-devas/" target="_blank">Devas</a> play, and where live the Munis highly ascetic, the <a href="http://ancientindians.wordpress.com/aditi/" target="_blank">Âdityas</a>, Vasus, Rudras, Marut, the two As&#8217;vîns, and the other mindful Ri<span style="text-decoration:underline;">s</span>is, the knowers of Brahmâ and where the <a href="http://ancientindians.wordpress.com/kinnaras/" target="_blank">Kinnaras</a> always resound the air with their songs of music, etc.; such a place Vyâsa Deva preferred for his tapasyâ.”</p>
<p>&#8220;The whole universe was pervaded with the spirit of asceticism of the intelligent <a href="http://ancientindians.wordpress.com/parasara/" target="_blank">Parâsara&#8217;s</a> son Vyâsa Deva;<strong><em> and the hairs of his head were clotted and looked tawny, of the colour of flames.&#8221;</em></strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Seeing his penance, </span><a href="http://ancientindians.wordpress.com/indra-deva-the-ancient-indian-hero/" target="_blank">Indra</a><span style="text-decoration:underline;">, the husband of Saci got scared. :</span> <em>(By the way, The name Saci itself is a variant of Sakthi.)</em></p>
<p><em>This is again one of the surprising and recurring themes in our legends. Why would SataKratu, the Deva of the <a href="http://ancientindians.wordpress.com" target="_blank">Vedas</a> be worried by the tapas or penance of rshis or <a href="http://ancientindians.wordpress.com/rakshasas/" target="_blank">rakshasas</a>? And that too of the penance of Vyasa of all rshis? </em></p>
<ul>
<li><em>Some researchers like prof P.L. Bhargava think that all negative passages about Indra were later added to the <a href="http://ancientindians.wordpress.com/basis-of-puranas/" target="_blank">Puranas.</a></em></li>
<li><em>Some Vedic translators of the Aurobindo School like Prof R.L. Kashyap say that Indra represents our senses which must be crossed before reaching the divine.</em></li>
<li><em>The traditional explanation is that one who performs severe penance can attain any level  from Indra-Padam(state)/ Patha &#8211; (path : <a href="http://satyaveda.wordpress.com/2008/12/21/vishu-bindu-indra/" target="_blank">Vishu</a>) to even Dhruva (Polaris) padam (Patham)</em></li>
<li><em>It may be a poetic way of saying that Vyasa&#8217;s penance was of such a high intensity that he could have had Indra -Padam/Patham, if he had wanted it.</em></li>
<li><em>In a a more recent context, whenever Gandhiji undertook a fast for a purpose, the British Rulers were afraid of the consequences.</em></li>
<li><em>(Today, fasts are on for a separate state of Telangana)</em></li>
</ul>
<p>&#8220;<a href="http://ancientindians.wordpress.com/siva/" target="_blank">Bhagavân Rudra</a>, seeing Indra thus afraid, fatigued and morose, asked him :&#8211; “O Indra, why do you look so fear-stricken to-day? O Lord of the Devas! What is the cause of your grief? Never show your jealousy and anger to the ascetics; f<strong><em>or the mindful ascetics always practise severe asceticism with a noble object and worship Me, knowing Me to be possessed of the all powerful S’akti; </em></strong>they never want ill of any body”. When Bhagavân Rudra said this, Indra asked him :&#8211; “What is his object?” At this S’ankara said :&#8211; &#8220;For the attainment of a son, Parasâra&#8217;s son is practising so severe austerities; now one-hundred years is being completed; I will go to him, and give him to-day the auspicious boon of a son.&#8221; Thus speaking to Indra, Bhagavân Rudra, the Guru of the world, went to Vyâsa Deva and, with merciful eyes, said :&#8211; “<em><span style="text-decoration:underline;">O sinless Vâsavi&#8217;s son</span></em>! Get up; I grant to you the boon, that you will get a son very fiery, luminous and spirited like the five elements fire, air, earth, water and Âkâs&#8217;a, the supreme Jñânî, the store of all auspicious qualities, of great renown, beloved to all, ornamented with all Sattvik qualities, truthful and valorous.&#8221;</p>
<p><em>Thus Siva reassured Indra and granted Vyasa&#8217;s desire.</em></p>
<p><em>Vyasa went back to his hermitage, tired and happy. As he rubbed together two Arani sticks to start a fire, he wondered how he would ever have a son without a wife. He was an old ascetic, set in his ways and he did not want a wife, however helpful or perfect, who would bind him to the world.  At this instant he saw the beautiful apsarasa Ghrtaci in the sky. (Ghratci is also the mother of Drona). He did not wish to fall for the charms of this devakanya, because he knew from Narada, how much trouble the apsara Uravasi was to Pururava. It would be a terrible distraction from his penance and spiritual goals. </em></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a href="http://meridaadimaa.blogspot.com/2009_05_29_archive.html" target="_blank"><img style="border:3px solid black;margin:3px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_CYAJj-ur-CM/Sh-lK1njXzI/AAAAAAAAAV0/jxfPAXFeZ9s/s320/Premna_serratifolia.JPG" alt="" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Agnimandha, Arani : Click for source</p></div>
<p><strong><em>Chapter 10, first Skanda, Devi Bhagavatham : <a href="http://www.sacred-texts.com/hin/db/bk01ch14.htm" target="_blank">Source and Reference : </a></em></strong></p>
<p><em>On her part, Ghrtaci had a fear of being cursed by rshis in general, so she turned into a Suka (parrot) and flew away. Overcome by his attraction for Ghrtaci and firmly determined not to get distracted, Vyasa went on kindling the Arani sticks&#8230;&#8221; when arose from that Ara<span style="text-decoration:underline;">n</span>î the wonderfully beautiful form of S’ûka deva, looking like a second Vyâsa. This boy, born of Ara<span style="text-decoration:underline;">n</span>î fuel, looked there brilliant like the blazing fire of the sacrificial place, whereon oblations of ghee are poured. Seeing that son,Vyâsa Deva was struck with great wonder and thought thus :&#8211; “What is this? How is it that my son is born without any woman.” Thinking for a while, he came to the conclusion, that this had certainly come to pass as the result of boon granted to him by S&#8217;iva. No sooner the fiery S’ûka Deva, was born of Ara<span style="text-decoration:underline;">n</span>î, he looked brilliant, like fire, by his own tejas (spirit/brilliance). At that time Vyâsa Deva began to look with one steady gaze the blissful form of his son as a second Gârhapatya Fire, brilliant with the Divine fire.  <strong><em>The river Ganges came there from the Himalayas and washed all the inner nerves of the child S’ûka Deva, by her holy waters and showers of flowers were poured on his head.</em></strong></em></p>
<p><em><em>A lot of divine events happened&#8230; </em><span style="font-style:normal;">&#8220;&#8230; the celestial drums were sounded and the celestial nymphs began to dance and the lords of the Gandharvas Visvâvasu, Nârada, Tumburu and others began to sing with great joy for the sight of the son. Then were dropped down from the sky the divine rod (Da<span style="text-decoration:underline;">nd</span>a), Kaman<span style="text-decoration:underline;">d</span>alu, and the antelope skin. No sooner the extraordinarily brilliant S’ûka Deva was born than he grew up, and Vyâsadeva, who is master of endless learning and how to impart them to others, performed th<a href="http://ancientindians.wordpress.com/viswamitra-and-the-gayatri-mantra/" target="_blank">e son&#8217;s Upanayana ceremony</a>. No sooner the child was born than all the Vedas with all their secrets and epitomes began to flash in the mind of S’ûka Deva, as it reigned in Vyâsa Deva.  Bhagavân Vyâsa Deva <strong><em>gave the name of the child as S’ûka as during the moment of his birth he saw the form of Ghritâchî in the form of the S’ûka bird..&#8221;</em></strong></span></em></p>
<p><em><span style="font-style:normal;">S’ûka then accepted Brihaspati as his guru and began devotedly, with his whole head and heart to perform duly the Brahmacharya vow (the life of studentship and celibacy). The Muni S’ûka remained in the house of his Guru and studied the four Vedas with their secrets and epitomes and all the other Dharma S&#8217;âstras and gave Dak<span style="text-decoration:underline;">s</span>inâ to the Guru duly according to proper rules, and returned home to his father Kri<span style="text-decoration:underline;">sn</span>a Dvaipâyana. Seeing his son S’ûka, Vyâsadeva got up and received him with great love and honour and embraced him and took the smell of his head. The holy Vyâsa asked about his welfare and about his studies and requested him to stay in that auspicious Âs&#8217;rama. </span></em></p>
<p><em><span style="font-style:normal;">Vyâsa then thought of S’ûka&#8217;s marriage and he became anxious and began to enquire where a beautiful girl of a Muni can be found.</span></em></p>
<p><em><strong>Authorship and Copyright Notice : All Rights Reserved : Satya Sarada Kandula</strong></em></p>
<p><strong><em>All Rights for Source Material Vest with the Source.</em></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vyasa desires a son : Devi Bhagavatham : 4th Adhyaya of the First Skanda]]></title>
<link>http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/06/vyasa-desires-a-son-devi-bhagavatham-4th-adhyaya-of-the-first-skanda/</link>
<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 06:04:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>satyask</dc:creator>
<guid>http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/06/vyasa-desires-a-son-devi-bhagavatham-4th-adhyaya-of-the-first-skanda/</guid>
<description><![CDATA[yA devI sarva bhUtESu, sarva lOkESu samsthita, namas tasyai, namas tasyai, namas tasyai, namo namah!]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><em>yA devI sarva bhUtESu, sarva lOkESu samsthita, namas tasyai, namas tasyai, namas tasyai, namo namah!</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<div id="attachment_4745" class="wp-caption alignleft" style="width: 398px"><a href="http://www.4to40.com/images/activities/artcraft/coloringbook8/durga.gif" target="_blank"><img class="  " style="border:3px solid black;margin:3px;" src="http://www.4to40.com/images/activities/artcraft/coloringbook8/durga.gif" alt="" width="388" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Durga Devi</p></div>
<p><strong><em>Chapter 4, first Skanda, Devi Bhagavatham :</em></strong> <a href="http://www.sacred-texts.com/hin/db/bk01ch04.htm" target="_blank">Source and Reference</a> :</p>
<p>The rshis of Naimisaranya, headed by Saunaka wanted to know how Suka was born. Who was his mother? Was he really born of the Arani sticks used to kindle fire? Then <a href="http://ancientindians.wordpress.com/ugrasrava/" target="_blank">Suta</a> answered them as follows.</p>
<p>One day, <a href="http://ancientindians.wordpress.com/veda-vyasa/" target="_blank">Vyasa</a> was walking on the banks of the <a href="http://ancientindians.wordpress.com/saraswathi-river/" target="_blank">Saraswathi River</a>. There he saw some sparrows feeding their lovely baby bird with a lot of care though they themselves had not eaten yet.</p>
<p>He thought  &#8221;When the birds have so much filial affection towards their child, it is no wonder that men, who want services from their sons, show their affection towards their sons! This pair of sparrows will not perform the happy marriage of their young one and will not see the face of their son’s wife, nor do they expect dharmic or financial or manual services from their son. Nor will the child perform the S’râdh ceremony at Gayâ; nor will the child offer the oblation of a blue bull on the day of offering the sacrifice to its ancestor (the bull is then let loose and held sacred); yet the pair of sparrows have so much affection towards their young one!<strong><em> Oh! in this world to touch the body of the son, especially to nurture the sons, is the highest happiness in life.&#8221; This is called Putra Parishvanga Sukham. The joy of hugging one&#8217;s own son.</em></strong></p>
<p>He further thought, &#8220;There is no heaven for a sonless man, nor anyone to inherit his wealth and other creations. This will make him restless at the time of his death and lead to  a bad next state. &#8220;</p>
<p>Then, he went to the top of the Sumeru Mountain and decided to pray for a son. While he was wondering which luminary would bless him quickly with an excellent son, <a href="http://ancientindians.wordpress.com/narada-bhakthi-sutras/" target="_blank">Narada Devarashi</a> came there, and Vyasa quickly explained his desire and asked his question. Then Narada recounted an incident where Brahma asked the same question of Sriman Narayana.</p>
<p>As soon as he heard the question, Sriman Narayana went into meditation, surprising Brahma.</p>
<p>Brahma said, &#8221; Thou art the Origin of all, the Cause of all causes, the Creator, Preserver and Destroyer and the capable Doer of all actions. O Maharaja! at Thy will, I create this whole universe and Rudra destroys iu due time this world. He is always under Thy command. O Lord! By Thy command the Sun roams in the sky; the wind blows in various auspicious or inauspicious ways and the fire is giving heat and the cloud showers rain. I don’t see in the three Lokas any one superior to Thee. Then whom art Thou meditating while being questioned by your very intelligent son&#8221;</p>
<p>Then Sriman Narayana said, &#8220;Though the Devas, Dânavas and Manavas and all the Lokas know that You are the Creator, I am the Preserver and Rudra is the Destroyer, yet it is to be known that the saints, versed in the <a href="http://satyaveda.wordpress.com" target="_blank">Vedas</a>, have come to this conclusion by inference from the Vedas that the creation, preservation, and destruction are performed by the creative force, preservative force and destructive force. The Rajasik creative force residing in you, the  Sattvik preservative force residing in me, and the Tamasik destructive force residing in Rudra are the all-in-all. When these Saktis become absent, you become inert and incapable to create, I to preserve and <a href="http://ancientindians.wordpress.com/siva/" target="_blank">Rudra</a> to destroy&#8230; O intelligent Suvrata! We all are always under that Force directly or indirectly; hear instances that you can see and infer. At the time of Pralaya, I lie down on the bed of Ananta, subservient to that Force; again I wake up in the time of creation duly under the influence of Time&#8230; I am always subservient to that Maha S’akti; (under Her command). O Lotus-born! I always meditate on that S’akti; and I do not know any other than this S’akti”.</p>
<p>Therefore, Narada advised Vyasa that he should calmly meditate on the Devi in his heart.</p>
<p><strong><em>Authorship and Copyright Notice : All Rights Reserved : Satya Sarada Kandula</em></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Devi Bhagavatham : 1-3 Adhyayas of the First Skanda]]></title>
<link>http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/05/devi-bhagavatham-1/</link>
<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 14:16:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>satyask</dc:creator>
<guid>http://ancientindians.wordpress.com/2009/12/05/devi-bhagavatham-1/</guid>
<description><![CDATA[Devi : Photo and Phot Editing Credit : Satya Sarada Kandula : All Rights Reserved &#8220;I meditate ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_4725" class="wp-caption alignnone" style="width: 570px"><a href="http://ancientindians.wordpress.com/files/2009/12/dsc01240.jpg" target="_blank"><img class="size-full wp-image-4725 " style="border:3px solid black;margin:3px;" title="Devi" src="http://ancientindians.wordpress.com/files/2009/12/dsc01240.jpg" alt="" width="560" height="468" /></a><p class="wp-caption-text">Devi : Photo and Phot Editing Credit : Satya Sarada Kandula : All Rights Reserved</p></div>
<p><strong><em>&#8220;I meditate on the beginning-less Brahmâvidyâ who is Sarvachaitanyarûpâ, of the nature of all-consciousness;  May She stimulate our buddhi to the realisation of That. (<a href="http://satyaveda.wordpress.com/tat-tvam-asi/" target="_blank">Tat</a>)</em></strong></p>
<p><strong><em>&#8220;May that Highest Primal S’akti who is known as Vidyâ in the Vedas; who is omniscient, who controls the innermost of all and who is skilled in cutting off the knot of the world (Samsara), who cannot be realised by the wicked and the vicious, but who is visible to the Munis in their meditation, may that Bhagavatî Devî give me always the buddhi fit to describe the Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>a!&#8221;</em></strong></p>
<p><strong><em>&#8220;I call to my mind the Mother of all the worlds who creates this universe, whose nature is both real (sat) and and unreal (asat), preserves and destroys by Her Râjasik, Sâttvik and Tâmasik qualities and in the end resolves all these into Herself and plays alone in the period of Dissolution &#8211; at this lime, I remember my that Mother of all the worlds.&#8221;</em></strong></p></blockquote>
<p>What the S’rîmad Bhâgavat is to the Vai<span style="text-decoration:underline;">sn</span>avas, the Devî Bhâgavatam is to the S’âktas.</p>
<p>At the Vivaswan Kshetra (Naimisaranya), Saunaka and others requested Suta to tell them the Puranas.</p>
<p>The Sastras are vast and filled with Jalpas, Vadas and Arthvadas (<em>kinds of debates.</em>) And, amongst these S’âstras again, the Vedânta is the Sâttvik, the Mimâmsas are the Râjasik and the Nyâya S’âstras with Hetuvâdas, are the Tâmasik; so the S’âstras are varied. Similarly, the <a href="http://ancientindians.wordpress.com/basis-of-puranas/" target="_blank">Purâ</a><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://ancientindians.wordpress.com/basis-of-puranas/" target="_blank">n</a></span><a href="http://ancientindians.wordpress.com/basis-of-puranas/" target="_blank">a</a>s are of three kinds :&#8211; (1) S’attvik, (2) Râjasik and (3) Tâmasik. So Saunaka and others wished to hear the Bhagavatham of 18000 verses which gives Dharma, Kama and Moksha.</p>
<p>The Devi Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>a, the best of the Âgamas, approved of by all the <a href="http://satyaveda.wordpress.com" target="_blank">Vedas</a> and the secret of all the S’âstras was then narrated by <a href="http://ancientindians.wordpress.com/ugrasrava/" target="_blank">Suta.</a></p>
<p><strong><em>Skandhas and Adhyayas of the Devi Puranam :</em></strong></p>
<p>&#8220;The Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>a S’rimad Bhâgavat (Devî Bhâgavat) is excellent and holy; eighteen thousand pure S’lokas are contained in it. Bhagavân <a href="http://ancientindians.wordpress.com/veda-vyasa/" target="_blank">Kri</a><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://ancientindians.wordpress.com/veda-vyasa/" target="_blank">sn</a></span><a href="http://ancientindians.wordpress.com/veda-vyasa/" target="_blank">a Dvaipâyan</a> has divided this Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>a into twelve auspicious Skandhas (Books) and three hundred and eighteen chapters. Twenty chapters compose the first Skandha; twelve chapters in the second Skandha; thirty chapters in the the third Skandha; twenty-five chapters in the fourth Skandha, thirty-five, in the fifth; thirty-one, in the sixth; forty, in the seventh; twenty-four, in the eighth; fifty chapters in the ninth; thirteen, in the tenth; twenty-four in the eleventh and fourteen chapters are contained in the twelfth Skandha, O Munis! Thus the Dvaipâyan Muni has arranged his chapters in each Skandha.&#8221;</p>
<p>&#8220;S’ivA is beyond Prâkritic attributes, eternal and ever omnipresent; She is without any change, immutable, unattainable but by yoga; She is the refuge of the universe and Her nature is Turîya Chaitanya. Mahâ Lakshmi is Her Sattvikî S’akti; <a href="http://ancientindians.wordpress.com/saraswathi-river/" target="_blank">Sarasvati</a> is Her Râjasik S’akti and Mahâ Kâlî is Her Tâmasik S’akti; these are all of feminine forms.&#8221;</p>
<p><strong><em>Sarga, Pratisarga and Characteristics of Puranas :</em></strong></p>
<ul>
<li>&#8220;The assuming of bodies by these three S’aktis for the creation of this universe is denominated as &#8220;Sarga&#8221; (creation) by the high souled persona (Mahârpuru<span style="text-decoration:underline;">s</span>a), skilled in S’astras.</li>
<li>And the further resolution of these three S’aktis into Brahmâ, Vi<span style="text-decoration:underline;">sn</span>u and Mahes&#8217;a for the creation, preservation, and destruction of this universe is denominated (in this Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>a) as Pratisarga (secondary creation.)</li>
<li>The description of the kings of the solar and lunar dynasties and the families of Hira<span style="text-decoration:underline;">n</span>ya Kasipu and others is known as the description of the lineages of kings and their dynasties.</li>
<li>The description of Svâyambhûva and, other Manus and their ruling periods is known as Manvantaras.</li>
<li>And the description of their descendants is known as the description of their families.  O best of Munis! all the Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>as are endowed with these five characteristics.&#8221;</li>
</ul>
<p><strong><em>The names of the Veda Vyasas of each Dvapara Yuga : </em></strong></p>
<ul>
<li>At every <a href="http://oldthoughts.wordpress.com/kalpas-yugas-manvantaras/" target="_blank">Manvantara,</a> in each <a href="http://oldthoughts.wordpress.com/how-many-kinds-of-yugas-are-there/" target="_blank">Dvâpara Yuga</a>, Veda Vyâsa expounds the Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>as duly to preserve Dharma.</li>
<li>Veda Vyâsa is no other person than Vi<span style="text-decoration:underline;">sn</span>u Himself; He, in the form of Veda Vyâsa, divides the (one) Veda into four parts, in every Dvâpara Yuga, for the good of the world.</li>
<li>The<a href="http://ancientindians.wordpress.com/devas-and-brahmans/" target="_blank"> Brahmâ</a><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://ancientindians.wordpress.com/devas-and-brahmans/" target="_blank">n</a></span><a href="http://ancientindians.wordpress.com/devas-and-brahmans/" target="_blank">as </a>of the Kali Yuga are shortlived and their intellect (Buddhi) is not sharp; they cannot realise the meaning after studying the Vedas; knowing this in every Dvâpara Yuga Bhagavân expounds the holy Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>a Samhitas. The more so because women, S’udras, and the lower Dvijas are not entitled to hear the Vedas; for their good, the Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>as have been composed.</li>
<li>The present auspicious Manvantara is Vaivasvata; it is the seventh in due order; and the son of Satyavati, the best of the knowers of Dharma, is the Veda Vyâsa of the 28th Dvâpara Yuga of this seventh Manvantara. He is my Guru;</li>
<li>In the next Dvâpara, Yuga Asvatthama, the son of Drona will be the Veda Vyâsa. Twenty-seven Veda Vyâsas had expired and they duly compiled each their own Purâna Samhitas in their own Dvâpara Yugas.</li>
<li>In the first Dvâpara, Brahmâ Himself divided the Vedas;</li>
<li>In the second Dvâpara, the first Prajapati Vyâsa did the same;</li>
<li>So S’akra, (<a href="http://ancientindians.wordpress.com/indra-deva-the-ancient-indian-hero/" target="_blank">Indra</a>) in the third,</li>
<li>Brihaspati, in the fourth,</li>
<li>Surya in the fifth;</li>
<li>Yama, in the sixth,</li>
<li>Indra, in the seventh,</li>
<li><a href="http://ancientindians.wordpress.com/vasishtha/" target="_blank">Vasi</a><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://ancientindians.wordpress.com/vasishtha/" target="_blank">st</a></span><a href="http://ancientindians.wordpress.com/vasishtha/" target="_blank">ha</a>, in the eighth;</li>
<li>Sarasvata Ri<span style="text-decoration:underline;">s</span>i in the ninth,</li>
<li>Tridhama, in the tenth;</li>
<li>Trivri<span style="text-decoration:underline;">s</span>a, in the eleventh,</li>
<li><a href="http://ancientindians.wordpress.com/bharadwaja/" target="_blank">Bharadvâja</a>, in the twelfth;</li>
<li>Antariksa, in the thirteenth;</li>
<li>Dharma, in the fourteenth;</li>
<li>Evaruni in the fifteenth;</li>
<li>Dhananjaya, in the sixteenth;</li>
<li><a href="http://ancientindians.wordpress.com/kanva-maharshi/" target="_blank">Medhatithi</a> in the seventeenth;</li>
<li>Vrati, in the eighteenth;</li>
<li>Atri, in the nineteenth;</li>
<li><a href="http://ancientindians.wordpress.com/gautama-maharshi/" target="_blank">Gautama</a> in the twentieth,</li>
<li>Uttama, whose soul was fixed on Hari, in the twenty-first,</li>
<li>Vâjasravâ Vena, in the twenty second;</li>
<li>His family descendant Soma, In the twenty-third;</li>
<li>Trinavi<span style="text-decoration:underline;">n</span>du, in the twenty-fourth;</li>
<li><a href="http://ancientindians.wordpress.com/bhrgu-bhrigu/" target="_blank">Bhârgava</a>, in the twenty-fifth;</li>
<li><a href="http://ancientindians.wordpress.com/vasishtha/" target="_blank">Sakti</a>, in the twenty-sixth,</li>
<li>Jâtûkar<span style="text-decoration:underline;">n</span>ya in the twenty-seventh</li>
<li>and Kri<span style="text-decoration:underline;">sn</span>a Dvaipâyana became the twenty-eighth Veda Vyâs in the Dvâpara Yugas.</li>
</ul>
<p><strong><em>Benefits :</em></strong></p>
<p>This removes all troubles, yields all desires, and gives Moksa and is full of the meanings of the Vedas. This treatise contains the essence of all the S’astras and is dear always to the Mamuksas (those who want Moksa or liberation).</p>
<p>Thus, compiling the Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>as Veda Vyâsa thought this Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>a to be the best; so he settled that his own son the high-sould <a href="http://ancientindians.wordpress.com/2009/10/04/vyasas-greatest-son-suka-%e0%a4%b6%e0%a5%81%e0%a4%95-%e0%a4%ae%e0%a4%b9%e0%a4%b0%e0%a5%8d%e0%a4%b7%e0%a4%bf/" target="_blank">S’uka Deva</a> <strong><em>born of the dry woods used for kindling fire (arani)</em></strong>, having no passion for the worldly things, would be the fit student to be taught this Purâ<span style="text-decoration:underline;">n</span>a and therefore taught him; at that time Suta was a fellow student along with S’uka Deva and heard every thing from the mouth of Vyâsa Deva himself.</p>
<p><strong><em>Thus end the first 3 chapters of the first Skanda of the Devi Purana.</em></strong></p>
<p><em><strong><a href="http://www.sacred-texts.com/hin/db/db02.htm" target="_blank">Source and Reference:</a> Translation by Swami Vijñanananda : </strong></em><em><strong>[1921-22] </strong></em></p>
<p><em><strong>Authorship and Copyright Notice : All Rights Reserved : Satya Sarada Kandula</strong></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mau tau perasaan kita sesungguhnya kepada seseorang?]]></title>
<link>http://deltapapa.wordpress.com/2009/12/05/mau-tau-perasaan-kita-sesungguhnya-kepada-seseorang/</link>
<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 09:11:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>deltapapa</dc:creator>
<guid>http://deltapapa.wordpress.com/2009/12/05/mau-tau-perasaan-kita-sesungguhnya-kepada-seseorang/</guid>
<description><![CDATA[Lagi naksir seseorang? Mau tahu perasaan kita sesungguhnya terhadap seseorang? Dihadapan orang yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Lagi naksir seseorang? Mau tahu perasaan kita sesungguhnya terhadap seseorang? Dihadapan orang yang ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[oh malunyer...]]></title>
<link>http://kemashady.wordpress.com/2009/12/04/oh-malunyer/</link>
<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 14:30:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>kemashady</dc:creator>
<guid>http://kemashady.wordpress.com/2009/12/04/oh-malunyer/</guid>
<description><![CDATA[adoiii&#8230; hari nie mmg memalukan sungguh&#8230; cmne ble kantoi nie&#8230;hahahaha&#8230; segan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[adoiii&#8230; hari nie mmg memalukan sungguh&#8230; cmne ble kantoi nie&#8230;hahahaha&#8230; segan ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[~mawaddah~kalau tuhan kita kenali....]]></title>
<link>http://ilhamzamry.wordpress.com/2009/12/03/mawaddahkalau-tuhan-kita-kenali/</link>
<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 13:15:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>ilhamzamry</dc:creator>
<guid>http://ilhamzamry.wordpress.com/2009/12/03/mawaddahkalau-tuhan-kita-kenali/</guid>
<description><![CDATA[Kalau Tuhan kita kenali,Kasih sayang dan peranan-Nya,Kalau Tuhan kita fahami,Keagungan dan kekuasaan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong> Kalau Tuhan kita kenali,Kasih sayang dan peranan-Nya,Kalau Tuhan kita fahami,Keagungan dan kekuasaan-Nya<br />
Kalau Tuhan kita rasakan,Betapa Dia sangat cintakan hamba-Nya,Kita akan sanggup berjuang, sanggup mati kerana<br />
Kita akan sanggup berkorban apa saja kerana-Nya</p>
<p>Kalau Tuhan dikenali ,<br />
Cintailah Tuhan,Dia adalah segalanya,Korbankanlah apa sahaja kerana-Nya</p>
<p>Cintakan Tuhan, Cinta paling mahal,Cintakan selain Tuhan, cinta murahan</p>
<p>Kalau Tuhan kita kenali,Dialah segala-galanya,Kalau Tuhan kita fahami<br />
Dialah Pengurus seluruh keperluan kita,Kalaulah kita faham,Tuhan ini siapa sebenarnya<br />
Kita akan sanggup menerima ujian kerana-Nya<br />
Kita sanggup buat apa sahaja demi cinta pada-Nya<br />
Kita akan sanggup menderita demi cinta pada-Nya<br />
Cintakan Tuhan cinta yang abadi,</p>
<p>yaAllah yarabbi lama betul tak dengar lagu2 kumpulan mawaddah nih, nasyid dia mmg best gila zaman2 study kami mmg suka sgt2 ngan nasyid dan lagu2 agama dia&#8230;..ni skrg kemarul datang sbb lala nak perform nasyid, suh dia bawak lagu nih&#8230;..best gila&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</strong></p>
<p><a href="http://http://nasyidmawaddah.blogspot.com/"> <strong>boleh dgr dan download kat sini&#8230;&#8230;.</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memikat Hati Pria dalam 8,2 Detik]]></title>
<link>http://bocipalz.wordpress.com/2009/11/30/memikat-hati-pria-dalam-82-detik/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:54:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>bocipalz</dc:creator>
<guid>http://bocipalz.wordpress.com/2009/11/30/memikat-hati-pria-dalam-82-detik/</guid>
<description><![CDATA[Menurut penelitian, cinta pada pandangan pertama bisa terjadi dalam waktu 8,2 detik. Oleh: Petti Lub]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong><em>Menurut penelitian, cinta pada pandangan pertama bisa terjadi dalam waktu 8,2 detik.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Oleh: Petti Lubis, Mutia Nugraheni</p>
<p style="text-align:justify;">
VIVAnews &#8211; Makin lama pria menatap seorang wanita, maka ia makin tertarik pada wanita tersebut. Dan sebaliknya, semakin singkat pria menatap wanita sekitar kurang dari 4 detik, maka ia kurang atau tidak tertarik.</p>
<p>Hal itu diketahui melalui penelitian yang dilakukan tim psikolog dan dipublikasikan dalam Journal of Sexual Behaviour. Dalam jurnal tersebut juga diungkapkan saat seorang pria menatap wanita lebih dari 8,2 detik, kemungkinan besar ia jatuh cinta pada pandangan pertama.<!--more--></p>
<p>Peneliti melakukan penelitian dengan memasang kamera tersembunyi untuk melihat pergerakan mata 115 pria dan wanita saat sedang berbincang dengan aktor dan aktris. Lalu, mereka ditanyakan komentar tentang ketertarikan mereka pada orang yang diajak berbicara.</p>
<p>Dari data pergerakan mata menunjukkan, pria yang berbincang dengan aktris terlihat sangat tertarik melalui tatapan matanya selama 8,2 detik. Lalu, pria yang menatap kurang dari 4 detik, menunjukkan ketidaktertarikan.</p>
<p>Para peneliti percaya, pria menggunakan kontak mata sebagai alat untuk mencari dan pertimbangan dalam menentukan partner seksual. Tetapi, hal itu tidak terjadi pada para wanita. Kaum hawa cenderung membutuhkan waktu lama untuk bisa tertarik pada seseorang, dan menganggap perbincangan dengan para aktor hanya perkenalan.</p>
<p><strong>komentar:</strong><br />
haa? 8,2 detik?? itu yang bermain hormon apa? atas apa? feromon?<br />
yang jadi lawan bicara adalah aktor dan aktris.. yaa pantas saja.. sudah mempunyai bayangan/imajinasi lain ketimbang isi pembicaraan..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bicara poligami...(15)]]></title>
<link>http://milkyway27.wordpress.com/2009/11/30/bicara-poligami-12/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:07:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>milkyway27</dc:creator>
<guid>http://milkyway27.wordpress.com/2009/11/30/bicara-poligami-12/</guid>
<description><![CDATA[Ada seorang ustaz, da’ie, harakiyy, pernah berkata utk memahami syariat poligami di dalam Islam bias]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ada seorang ustaz, da’ie, harakiyy, pernah berkata utk memahami syariat poligami di dalam Islam bias]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perbedaan antara suka,,sayang,,dan cinta !]]></title>
<link>http://tukangsapumasjid.wordpress.com/2009/11/30/perbedaan-antara-sukasayangdan-cinta/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 06:44:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>tukangsapumasjid</dc:creator>
<guid>http://tukangsapumasjid.wordpress.com/2009/11/30/perbedaan-antara-sukasayangdan-cinta/</guid>
<description><![CDATA[Perbedaan antara suka,,sayang,,dan cinta ! Suka adalah saat kamu ingin memiliki seseorang. . . Sayan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Perbedaan antara suka,,sayang,,dan cinta !</p>
<p>Suka adalah saat kamu ingin memiliki seseorang. . .</p>
<p>Sayang adalah saat kamu ingin membahagiakan orang itu. . .</p>
<p>Dan cinta adalah saat kamu akan berkorban untuk orang itu . . .</p>
<p>Saat kamu bersedih dan menangis maka seseorang yg “menyukaimu” akan berkata ’sudahlah jgn menangis lg’</p>
<p>tp seseorang yg ‘menyayangi’ akan diam dan ikut menangis bersamamu . . .</p>
<p>Dan seseorang yg ‘mencintaimu’ akan membiarkanmu menangis dan menunggumu hingga tenang lalu berkata ‘mari kita selesaikan ini bersama’</p>
<p>saat seseorang yg menyukaimu berada disampingmu maka dia akan bertanya ‘bolehkah aku menciummu?’</p>
<p>tp seseorang yg menyayangimua maka dia akan berkata ‘biarkan aku memelukmu’</p>
<p>dan seseorang yg mencintaimu takkan berbicara..dia hanya akan selalu memegang erat tanganmu seakan dia takkan mau membiarkanmu terjatuh . . .</p>
<p>Saat kamu menyukai seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka kamu akan marah dan takkan mau lg berbicara dengannya..</p>
<p>Tp jika kamu menyayangi seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka kamu akan menangis karenanya..</p>
<p>Dan jika kamu mencintai seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka kamu akan tersenyum walau itu pahit dan berkata ‘dia hanya belum tahu apa yg dia lakukan’</p>
<p>suka hanyalah keegoisan diri sendiri…<br />
Sayang adalah memberi dan menerima..<br />
Dan cinta adalah rela berkorban…</p>
<p>Suka hanya akan berbuat jika itu menyenangkan..<br />
Sayang berbuat karena ingin selalu ada untuknya..<br />
Dan cinta berbuat karena tak ingin membuatnya terluka tak peduli bgaimana keadaan kita. . .</p>
<p>sumber:kaskus</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perbezaan antara Suka, Cinta &amp; Sayang (Pt.2)]]></title>
<link>http://dambakasih.wordpress.com/2009/11/30/perbezaan-antara-suka-cinta-sayang-pt-2/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 01:51:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>dambakasih</dc:creator>
<guid>http://dambakasih.wordpress.com/2009/11/30/perbezaan-antara-suka-cinta-sayang-pt-2/</guid>
<description><![CDATA[Dihadapan orang yang kau cintai, musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah Dihadapan orang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dihadapan orang yang kau cintai, musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah</p>
<p>Dihadapan orang yang kau sukai,musim dingin tetap saja musim dingin hanya suasananya lebih indah sedikit</p>
<p>Dihadapan orang yang kau cintai, jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat</p>
<p>Dihadapan orang yang kau sukai,kau hanya merasa senang dan gembira saja</p>
<p>Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai, matamu berkaca-kaca</p>
<p>Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai, engkau hanya tersenyum saja</p>
<p>Dihadapan orang yang kau cintai, kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam</p>
<p>Dihadapan orang yang kau sukai, kata kata hanya keluar dari pikiran saja</p>
<p>Jika orang yang kau cintai menangis, engkaupun akan ikut menangis disisinya</p>
<p>Jika orang yang kau sukai menangis, engkau hanya menghibur saja</p>
<p>Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga.</p>
<p>Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi<br />
tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.</p>
<p>&#8220;Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta&#8230; ada perasaan yang lebih mendalam. Yaitu rasa sayang&#8230;. rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah.</p>
<p>Perasaan yang dapat membuat mu berkorban untuk orang yang kamu sayangi. Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi.</p>
<p><strong>Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia.. walaupun harus kehilangan.&#8221;</strong></p>
<p><em>sumber : http://www.wattpad.com</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perbezaan antara Suka, Cinta &amp; Sayang]]></title>
<link>http://dambakasih.wordpress.com/2009/11/30/perbezaan-antara-suka-cinta-sayang/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 01:32:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>dambakasih</dc:creator>
<guid>http://dambakasih.wordpress.com/2009/11/30/perbezaan-antara-suka-cinta-sayang/</guid>
<description><![CDATA[Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoanmu sendiri. Saat kau MENYAYANGI sese]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saat kau <strong>MENYUKAI</strong> seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoanmu sendiri.</p>
<p>Saat kau <strong>MENYAYANGI</strong> seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri.</p>
<p>Saat kau <strong>MENCINTAI</strong> seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.</p>
<p>Saat kau <strong>menyukai</strong> seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,&#8221;Bolehkah aku menciummu?&#8221;</p>
<p>Saat kau <strong>menyayangi</strong> seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,&#8221;Bolehkah aku memelukmu?&#8221;</p>
<p>Saat kau <strong>mencintai</strong> seseorang dan berada disisinya maka kau akan menggenggam erat tangannya&#8230;</p>
<p><strong>SUKA</strong> adalah saat ia menangis, kau akan berkata &#8220;Sudahlah, jgn menangis.&#8221;</p>
<p><strong>SAYANG</strong> adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.</p>
<p><strong>CINTA</strong> adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dibahumu<br />
sambil berkata, &#8220;Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama. &#8220;</p>
<p><strong>SUKA</strong> adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,&#8221;Ia sangat cantik/tampan dan menawan.&#8221;</p>
<p><strong>SAYANG</strong> adalah saat kau melihatnya kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu.</p>
<p><strong>CINTA</strong> adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,&#8221;Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku..&#8221;</p>
<p>Pada saat orang yang kau<strong> SUKA</strong> menyakitimu,maka kau akan marah dan tak mau lagi bicara padanya.</p>
<p>Pada saat orang yang kau <strong>SAYANG</strong> menyakitimu,engkau akan menangis untuknya.</p>
<p>Pada saat orang yang kau <strong>CINTAI</strong> menyakitimu,kau akan berkata,&#8221;Tak apa<br />
dia hanya tak tau apa yang dia lakukan.&#8221;</p>
<p>Pada saat kau <strong>suka</strong> padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu.</p>
<p>Pada saat kau <strong>sayang</strong> padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH.</p>
<p>Pada saat kau <strong>cinta</strong> padanya, kau akan selalu MENANTINYA dengan setia dan tulus&#8230;</p>
<p><strong>SUKA</strong> adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan.</p>
<p><strong>SAYANG</strong> adalah kau akan menemaninya disaat dia memerlukan.</p>
<p><strong>CINTA</strong> adalah kau akan menemaninya tak perduli bagaimana pun keadaanmu.</p>
<p><strong>SUKA</strong> adalah hal yang menuntut.</p>
<p><strong>SAYANG</strong> adalah hal memberi dan menerima.</p>
<p><strong>CINTA</strong> adalah hal yang memberi dengan rela.</p>
<p><em>sumber : http://www.sioloon.com</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Wypelnione dziurki]]></title>
<link>http://duzejestpiekne.wordpress.com/2009/11/29/wypelnione-dziurki/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 15:19:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>duzejestpiekne</dc:creator>
<guid>http://duzejestpiekne.wordpress.com/2009/11/29/wypelnione-dziurki/</guid>
<description><![CDATA[Ostre dymanko]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://duzejestpiekne.wordpress.com/files/2009/11/dp-slut-11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-80" title="dp-slut-11" src="http://duzejestpiekne.wordpress.com/files/2009/11/dp-slut-11.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p><strong>Ostre dymanko</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
