<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>sukarno &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/sukarno/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "sukarno"</description>
	<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 21:20:05 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Antara SBY, Raja Jawa dan Fasisme Jawa]]></title>
<link>http://moendg07.wordpress.com/2009/11/23/antara-sby-raja-jawa-dan-fasisme-jawa/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 03:08:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vara</dc:creator>
<guid>http://moendg07.wordpress.com/2009/11/23/antara-sby-raja-jawa-dan-fasisme-jawa/</guid>
<description><![CDATA[Pengamat politik Ikrar Nusa Bakti pernah menyatakan bahwa &#8220;SBY berlaku layaknya raja padahal b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pengamat politik Ikrar Nusa Bakti pernah menyatakan bahwa &#8220;SBY berlaku layaknya raja padahal b]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KONTESTASI IDEOLOGI DI INDONESIA: ISLAM, SEKULER, DAN MODERAT]]></title>
<link>http://santrikeren.wordpress.com/2009/11/20/kontestasi-ideologi-di-indonesia-islam-sekuler-dan-moderat/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 04:12:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>santrikeren</dc:creator>
<guid>http://santrikeren.wordpress.com/2009/11/20/kontestasi-ideologi-di-indonesia-islam-sekuler-dan-moderat/</guid>
<description><![CDATA[Awal terjadinya Piagam Jakarta yaitu pada saat dimulainya sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-165" title="perang ideologi" src="http://santrikeren.wordpress.com/files/2009/11/perang-ideologi.jpg" alt="perang ideologi" width="113" height="113" />Awal terjadinya Piagam Jakarta yaitu pada saat dimulainya sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk menentukan dasar Negara Indonesia. Pada sidang BPUPKI tersebut terdapat proses perdebatan dan perbedaan pendapat yang dipengaruhi oleh tiga macam ideologi, yaitu: Pertama, ideologi kebangsaan; Kedua, ideolog;Islam dan Ketiga, ideologi Barat Modern sekuler.</p>
<p>Pada tanggal 29 April 1945, bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito, dibentuklah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) oleh pemerintah Jepang sebagai upaya pelaksanaan janji mereka tentang kemerdekaan Indonesia. BPUPKI beranggotakan 62 orang yang diketuai oleh Radjiman Widjodiningrat. Pada hari terakhir sidang pertama BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno, salah seorang anggota, menyampaikan usulan fundamen filsafat negara, yang dikenal dengan Pancasila.</p>
<p>.<!--more-->      Dalam perkembangannya, ketika pembahasan mengenai hubungan agama dan negara semakin mengerucut, anggota BPUPKI yang masuk dalam kategori ideologi. Kebangsaan dan Barat Modern sekuler ini bergabung menjadi satu kelompok yang Disebut nasionalis sekuler, sedangkan para anggota BPUPKI yang berideologi Islam dikenal dengan sebutan nasionalis Islam. Ternyata di dalam Naskah Persiapan UUD 1945 jilid II yang disusun oleh Yamin, tidak satupun memuat pidato para anggota Nasionalis Islam. Dalam hal ini, yang dimuat hanyalah tiga, yaitu (1) pidato Soekarno, (2) pidato Yamin, dan (3) pidato Soepomo. Sedangkan,menurut catatan, BPUPKI juga berhasil merumuskan dasar negara dan bentuk pemerintahan melalui pemungutan suara. Terdapat 45 suara pemilih dasar negara adalah kebangsaan, sedang 15 suara memilih Islam sebagai dasar negara.</p>
<p>Setelah sidang pertama berakhir, dibentuklah panitia kecil yang beranggotakan sembilan orang, yang lalu dikenal dengan nama “Panitia Sembilan”. Melalui perbincangan yang serius akhirnya Panitia Sembilan berhasil mencapai suatu kesepakatan antara Islam dan Nasionalis. Pada tanggal 10 Juli 1945, Soekarno menyampaikan pidatonya pada sidang BPUPKI. Soekarno juga menyampaikan rancangan preambule UUD hasil rapat Panitia Sembilan. Dalam rancangan preambule tersebut muncullah kalimat yang sampai saat ini tetap menjadi persengketaan &#8220;…Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.&#8221; Rancangan preambule itu ditandatangani oleh Panitia Sembilan pada tanggal 22 Juni 1945 di Jakarta. Oleh karena itu, rancangan preambule itu dikenal sebagai Piagam Jakarta.</p>
<p>Sehari setelah pidato Soekarno, yakni pada tanggal 11 Juli 1945, seorang Protestan anggota BPUPKI, Latuharhary, langsung menyatakan keberatan atas tujuh kata di belakang kata Ketuhanan pada Piagam Jakarta. Agus Salim melihatnya secara netral, walaupun ia lebih condong mendukung Piagam Jakarta. Namun beberapa orang anggota BPUPKI berkeberatan, termasuk Wongsonegoro dan Hoesein Djajadiningrat. Dua pasal rancangan pertama UUD yang paut dengan pokok bahasan ini ialah Pasal 4 dan Pasal 28.</p>
<p>Pasal 4 ayat (2) berbunyi &#8220;Yang dapat menjadi Presiden dan Wakil Presiden hanya orang Indonesia asli&#8221;, sedangkan Pasal 28 berbunyi &#8220;Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama apapun dan untuk beribadat menurut agama masing-masing&#8221;. Abdul Wahid Hasjim mengajukan dua usulan. Pertama, Pasal 4 ayat (2) tersebut ditambah dengan anak kalimat &#8220;yang beragama Islam&#8221;. Kedua, Pasal 28 diubah isinya menjadi &#8220;Agama negara ialah agama Islam, dengan menjamin kemerdekaan orang-orang yang beragama lain untuk….&#8221; Agus Salim tidak sependapat dengannya, namun Hasjim mendapat dukungan dari Sukiman. Soekarno selalu memposisikan diri bahwa rancangan preambule adalah hasil kompromi dua pihak, yaitu Nasionalis dan Islam. Padahal tidak kurang tokoh Muhammadyah, seperti Ki Bagus Hadikusumo, yang didukung oleh Kyai Ahmad Sanusi, tidak menyetujui tujuh kata anak kalimat Ketuhanan.</p>
<p>Pada tanggal 18 Maret 1945 dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai Soekarno dengan wakilnya Hatta untuk menetapkan UUD. Ternyata sebelum waktu penetapan, Hatta menyampaikan empat usulan perubahan rancangan UUD yang sudah ditetapkan oleh BPUPKI. Usulan tersebut sebagai berikut:</p>
<p>1. Kata Mukhadimah diganti dengan kata Pembukaan.</p>
<p>2. Kalimat Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya</p>
<p>diganti dengan Ketuhanan yang Maha esa.</p>
<p>3. Mencoret kata-kata &#8220;dan beragama Islam&#8221; pada Pasal 6 ayat (1) yang berbunyi</p>
<p>&#8220;Presiden ialah orang Indonesia Asli dan beragama Islam&#8221;.</p>
<p>4. Sejalan dengan usulan kedua, maka Pasal 29 pun berubah.</p>
<p>Usulan perubahan diterima bulat oleh PPKI. Soekarno juga menekankan bahwa UUD 1945 tersebut hanyalah sementara, yang akan diubah oleh MPR setelah Indonesia dalam suasana lebih tenteram. Ada alasan kuat mengapa Hatta mengajukan empat usulan perubahan tersebut. Dalam buku karya Hatta dengan judul Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dikutip oleh Anshari (1981), Hatta mengatakan bahwa ia didatangi oleh seorang perwira Jepang, yang ia sendiri lupa namanya, pada tanggal 17 Agustus 1945 petang. Perwira itu membawa pesan bahwa bahwa orang Kristen di kawasan Kaigun sangat berkeberatan atas tujuh kata dalam Pembukaan UUD. Walaupun mereka mengakui bahwa tujuh kata itu tidak mengikat mereka, namun mereka memandang hal itu sebagai diskriminasi terhadap golongan minoritas. Hatta sendiri sudah menjelaskan kepada perwira tersebut bahwa ketetapan rancangan UUD merupakan hasil kesepakatan dua pihak, Islam dan Nasionalis. Perwira tersebut meyakinkan Hatta bahwa wilayah Indonesia bagian Timur akan menolak bergabung ke dalam negara persatuan Indonesia. Hatta akhirnya lebih memilih persatuan ketimbang perpecahan dan menerima keberatan orang Kristen. Tentu saja ketetapan PPKI tersebut membuat sakit hati pihak Islam. Akan tetapi mereka tidak dapat menolaknya, karena suasana waktu itu sangat darurat. Mereka masih berharap akan memasukkan misi mereka di masa yang akan datang.</p>
<p>Pihak Islam fundamentalis tidak menyerah. Mereka masih melihat peluang perubahan UUD 1945 seperti yang dikatakan Soekarno pada sidang PPKI. Sepuluh tahun setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 15 Desember 1955, diadakanlah Pemilu untuk memilih wakil-wakil rakyat untuk duduk di Konstituante, sebuah lembaga pembuat UUD sebagai pengganti UUD 1945. Presiden Soekarno melantik anggota-anggota Konstituante pada tanggal 10 November 1956. Partai-partai Islam meraih 230 kursi, sedang partai lainnya (Nasionalis, Kristen, Sosialis, dan Komunis) meraih 286 kursi.</p>
<p>Pada sidang Konstituante terjadilah perdebatan yang berlarut-larut tentang dasar negara. Para wakil partai-partai Islam tetap memegang Pancasila sebagaimana dirumuskan dalam Piagam Jakarta. Para wakil-wakil lainnya menyetujui kembali kepada UUD 1945. Namun demikian kedua pokok masalah itu menemui jalan buntu, karena tidak dapat diputuskan dengan suara sekurang-kurangnya dua pertiga anggota Konstituante. Menghadapi suasana kritis ini Presiden Soekarno turun tangan. Pada tanggal 5 Juli 1959 ia mengeluarkan dekrit, yang salah satu isinya ialah pemberlakuan lagi UUD 1945 dan pembubaran Konstituante.</p>
<p>Namun demikian, sejak tahun 1959 di masa sistem Demokrasi Terpimpin, perjuangan peletakkan Islam sebagai dasar Negara mulai berkurang. Permasalahannya adalah perjuangan Soekarno yang sangat kuat untuk mendasarkan negara atas Pancasila. Selain itu juga, pada saat itu, umat Islam sudah tidak begitu solid lagi untuk terus memperjuangkannya. Contohnya, partai-partai Islam (NU, Perti, dan PSII) sama sekali tidak pernah menyatakan ketidaksetujuannya atas pembubaran Masyumi oleh Soekarno pada tahun 1960 akibat protes keras Masyumi terhadap sistem Demokrasi Terpimpin. Dengan demikian, upaya untuk merumuskan Islam sebagai landasan Negara tidak lagi menemukan semangatnya.</p>
<p>Dalam agama Islam memang tidak terdapat atau ditemukan referensi utuh yang dapat dijadikan rujukan murni tentang bagaimana hubungan agama dengan negara, sehingga yang demikian itu semakin menambah tidak menyatunya sikap dan pendapat yang berkembang, dikarenakan petunjuk yang ada masih mengandung multi interpretatif. Akibatnya, dalam soal konsepsi relasi Islam dan Negara pun, umat Islam juga tidak memiliki pandangan yang seragam.</p>
<p>Mengenai hal ini, setidaknya dapat kita bedakan tiga tipologi kelompok aliran pandangan dalam soal relasi agama-negara tersebut</p>
<p>Pertama, mereka yang berpandangan bahwa Islam merupakan agama sempurna yang mengatur segala aspek kehidupan umat manusia, termasuk mengatur kehidupan bernegara (fundamentalis).</p>
<p>Kedua, adalah pendapat yang berpandangan Islam hanya memberikan dasar-dasar universal sementara yang diserahkan sepenuhnya kepada umat manusia. Mereka berpendapat bahwa agama adalah sesuatu yang privat. Aliran ini sering disebut sebagai sekulerisme, yaitu suatu paham yang memisahkan persoalan keagamaan dari persoalan kenegaraan (sekuler).</p>
<p>Ketiga, adalah kelompok yang berpandangan bahwa antara agama dan Negara memiliki hubungan komplementer, di mana masing-masing saling melengkapi. Sehingga sering dikatakan bahwa agama memerlukan Negara dan Negara memerlukan agama (moderat).</p>
<p>Perbedaan konsepsi mengenai relasi Islam-Negara juga sempat menjadikan wajah perpolitikan Indonesia menegang. Tingkat ketegangan itu makin meningkat tajam diakibatkan terjadinya benturan pandangan antara kelompok Nasionalis dengan kelompok Islam.</p>
<p>Pendapat salah satu tokoh nasional, Soekarno, seorang pembela pemisahan agama dengan Negara, mengatakan bahwa Islam di Indonesia bukanlah urusan Negara. Sementara itu, sebagian kalangan Islam berpandangan bahwa Islam dan Negara merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, menurut kelompok ini, hukum-hukum yang diberlakukan dalam sebuah negara harus didasarkan pada tiga prinsip: Pertama, kesatuan wilayah Islam; Kedua, kesatuan rujukan syariat yang tertinggi, yang tercermin dalam Al-Quran dan Al-Sunnah; dan Ketiga, kesatuan kepemimpinan yang tersentralisir yang tercermin dalam pemimpin yang tertinggi atau khalifah, yang memimpin daulah orang Islam dengan ajaran Islam.        Tetapi sebagaimana telah diungkapkan di atas, tidak semua umat Islam memilki pandangan tersebut. Ada umat Islam yang berpandangan bahwa Islam hanya memberikan dasar-dasar etis universal, termasuk di dalamnya adalah mengenai persoalan berbangsa dan bernegara. Bagi kalangan ini, Islam tidak mengatur secara komprehensif bagaimana sebuah Negara itu didirikan dan atas dasar apa negara itu dibangun.</p>
<p>Perbedaan cara pandang dalam internal Islam mengenai soal relasi Agama-Negara karena akibat langsung dari adanya dua paradigma berbeda di lingkungan umat Islam sendiri. Pertama, paradigma yang mengkonstruksi pemikiran bahwa Islam di Indonesia memiliki kekhususan namun tidak mengingkari adanya sifat keuniversalannya. Kedua, paradigma yang menekankan bahwa Indonesia adalah bagian dari dunia Islam  yang universal.</p>
<p>Akar perbedaan paradigma atau cara berpikir umat Islam tentang Islam Indonesia merupakan implikasi langsung dari adanya kaidah-kaidah yang ada dalam dasar-dasar pembentukan hukum Islam Adanya perbedaan cara pandang dalam sejarah Islam kontemporer di Indonesia selalu ditandai dengan perdebatan tentang penerapan ajaran Islam.</p>
<p>Satu pihak mengatakan bahwa Islam yang bersifat holistik harus dipahami juga bersifat organik, yaitu hubungan Islam dengan segala aspek kehidupan harus dalam bentuknya yang legal-formal. Sementara pihak lain memahami totalitas ajaran Islam dalam dimensi yang lebih substantif, yaitu mendahulukan isi dari bentuk formalnya yang menjadi acuan dalam kehidupan sosial masyarakat Islam.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Baasir, Faisal. <em>Etika Politik: Pandangan Seorang Politisi Muslim</em>. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2003.</p>
<p>Basalim, Umar. <em>Pro-Kontra Piagam Jakarta di Era Reformasi</em>. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu. 2002.</p>
<p>Effendy, Bahtiar. <em>Islam dan Negara Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia</em>. Jakarta: Paramadina. 1998.</p>
<p><a href="http://panmohamadfaiz.files.wordpress.com/2008/03/islam-dan-persaingan-ideologi-di-parlemen-oleh-pan-mohamad-faiz.pdf">http://panmohamadfaiz.files.wordpress.com/2008/03/islam-dan-persaingan-ideologi-di-parlemen-oleh-pan-mohamad-faiz.pdf</a>.piagam jakarta</p>
<p><!--more--></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Biografi Presiden Soekarno]]></title>
<link>http://niazuramaria.wordpress.com/2009/11/17/biografi-presiden-soekarno/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 15:42:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>niazuramaria</dc:creator>
<guid>http://niazuramaria.wordpress.com/2009/11/17/biografi-presiden-soekarno/</guid>
<description><![CDATA[Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..</p>
<p>Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar &#8220;Ir&#8221; pada 25 Mei 1926.</p>
<p>Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.</p>
<p>Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.</p>
<p>Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.</p>
<p>Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.</p>
<p>Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai &#8220;Pahlawan Proklamasi&#8221;.</p>
<p>dikutip: <a href="http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-presiden-soekarno.html">http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-presiden-soekarno.html</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sungguh Terlalu]]></title>
<link>http://arishms.wordpress.com/2009/11/04/sungguh-terlalu/</link>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 14:19:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>aris rinaldi</dc:creator>
<guid>http://arishms.wordpress.com/2009/11/04/sungguh-terlalu/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Leiden Is Lijden]]></title>
<link>http://abiezs.wordpress.com/2009/11/01/leiden-is-lijden/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 16:21:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abie</dc:creator>
<guid>http://abiezs.wordpress.com/2009/11/01/leiden-is-lijden/</guid>
<description><![CDATA[Sudah banyak kisah hidup para pemimpin besar telah saya baca. Sukarno dengan kebesaran dan kharisman]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Sudah banyak kisah hidup para pemimpin besar telah saya baca. Sukarno dengan kebesaran dan kharismanya, Adolf Hitler dengan kehebatannya menaklukkan Eropa, NapoleonBonaparte dengan rasa percaya dirinya, hingga Seorang yang paling mulia Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi Wassallam.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua kisah-kisah kehidupan meereka, para pemimpin besar tersebut memiliki banyak kesamaan di berbagai aspek. Bukan maksud saya untuk mensejajarkan atau membandingkan mereka. Saya ingin menarik kesimpulan terhadap kisah-kisah hidup mereka yang mengagumkan dan inspiratif. Kehidupan mereka adalah untuk orang lain, bukanlah untuk diri mereka sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, para pemimpin. Mereka telah mendedikasikan hidup mereka untuk orang lain, selain mimpi mereka tentunya. Mimpi setiap pemimpin sesungghuhnya sama, ingin melihat dunia yang lebih baik, setidaknya dari kacamata mereka sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Leiden is Lijden, itulah yang dikatakan Haji Agus Salim dalam sebuah percakapan dengan para pemuda pada suatu malam di beranda rumahnya. Memimpin adalah menderita, itulah yang beliau katakan. Pertama kali saya membaca kata itu, pikiran saya segera beralih membayangkan kaki bengkak milik Rasulullah akibat begitu panjangnya shalat beliau untuk mendoakan ummatnya, pikiranku kembali melayang membayangkan betapa beratnya nafas Panglima Besar Sudirman yang harus duduk di tandunya berminggu-mingguu hanya untuk menepati janjinya dalam mempertahankan eksistensi bangsa dan teringat pula saya akan sempitnya ruang sel Sukamiskin tempat Sukarno membayar mimpi besarnya melihat Indonesia lepas dari belenggu kolonialisme.</p>
<p style="text-align:justify;">Para pemimpin besar yang mengubah dunia mampu menghadapi semua penderitaan dengan satu kunci, yaitu mimpi. Mimpi-mimpi dan idealisme yang mereka pegang teguh itulah yang mengubah segala penderitaan mereka menjadi sebuah kenikmatan tiada tara. Sebuah keinginan melihat bangsa Palestina bebaslah yang membuat Yasser Arafat senantiasa tersenyum, mimpi akan kejayaan Ras Arya-lah yang menghantarkan Adolf Hitler duduk di kursi Der Fuhrer serta mimpi akan persamaan derajat kaum kulit hitam denga ras lainnya-lah yang membuat Nelson Mandela rela dibui bertahun-tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kedudukan mereka sebagai pemimpin, mereka nyaris tidak lagi memiliki waktu untuk kehidupan lagi, layaknya manusia biasa pada umumnya yang dapat bersantai dan bersenang-senang. Waktu santai mereka adalah ketika mereka mengadakan perjalanan atau bahkan tidak ada sama sekali, sedangkan kesenangan para sosok luar biasa tersebut adalah dengan melihat senyum bahagia ummat dan rakyat yang mereka pimpin. Hampir seluruh waktu mereka baktikan untuk sebuah keyakinan, mimpi dan tujuan yang mereka miliki. Ketika mereka berbicara, mereka membicarakan kepentingan rakyat. Ketika mereka berdoa, mereka berdoa yang terbaik untuk ummat. Dan ketika mereka mati, mereka mati untuk keyakinan mereka, untuk apa yang mereka perjuangkan, untuk mimpi mereka, untuk ummat, rakyat dan kaum yang mereka pimpin.</p>
<p style="text-align:justify;">Leiden is Lijden, pada akhirnya saya memahami makna sebenarnya dari kalimat luar biasa ini. Sedikit, namun tepat menghujam hati nurani saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan penuh keyakinan dan pengharapan kepada Tuhan, layaknya apa yang dimiliki pemimpin-pemimpin hebat, saya beermimpi untuk dapat merasakan penderitaan mereka, menikmati setiap penderitaan dengan keyakinan mimpi yang dipegang teguh.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya berimpi suatu saat, di tengah malam, seorang anak muda yang visioner menuliskan nama saya di antara nama-nama pemimpin yang telah menderita untuk apa yang mereka yakini.</p>
<p style="text-align:justify;">Abie Zaidannas<br />
Jakarta, 11 Oktober 2008</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Öffentlich-rechtliche Rotbestrahlung]]></title>
<link>http://nachrichtenbrief.wordpress.com/2009/11/01/offentlich-rechtliche-rotbestrahlung/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 04:33:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Peter Nasselstein</dc:creator>
<guid>http://nachrichtenbrief.wordpress.com/2009/11/01/offentlich-rechtliche-rotbestrahlung/</guid>
<description><![CDATA[Um die notwendige Hausarbeit psychisch zu überstehen, höre ich mir während des Putzens und Waschens ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Um die notwendige Hausarbeit psychisch zu überstehen, höre ich mir während des Putzens und Waschens Berichte und Reportagen aus dem Radio an, die ich vorher aufgenommen habe. Dieses Wochenende war es eine ältere Folge der „Sendung für politische Literatur“ <strong>Andruck</strong> im Deutschlandfunk (28.09.09). Die Sendung war geradezu der Prototyp dessen, was ich mir seit 40 Jahren tagtäglich anhören muß.</p>
<p>Hier die Eingangssätze:</p>
<blockquote><p>Warum ist der Westen so verhaßt in der südlichen Hemisphäre? Warum setzen sich die Völker Asiens, Afrikas und Lateinamerikas so energisch zur Wehr, gegen den Imperialismus, gegen den alten und neuen Kolonialismus europäischer Mächte und der USA? (…)</p></blockquote>
<p>Ich verweise auf <a href="http://derstandard.at/fs/1246543890345/derStandardat-Interview-Summe-von-sechs-Marshallplaenen-wurde-nach-Afrika-gepumpt?_seite=3&#38;sap=2">die Kritik des deutschen Botschafters in Kamerun Volker Seitz</a>: Ausbeutung? Der Westen hat <em>gigantische</em> Summen ins unabhängige Afrika gepumpt! Und im übrigen war der Kolonialismus ein Zusatzgeschäft.</p>
<p>Aber weiter mit dem <strong>Deutschlandfunk</strong>:</p>
<blockquote><p>Keine Frage, der Westen steht am Pranger der Dritten Welt. Es waren Männer wie Gammel Abdel Nasser, Pandit Nehru, Achmed Sukarno und Fidel Castro, die ihn auf die Anklagebank setzten, die Imperialismus und Kolonialismus gnadenlos geißelten und das Signal zur Erhebung der jahrhundertelang unterdrückten Völker der südlichen Hemisphäre gaben. (…)</p></blockquote>
<p>Gehen wir doch einmal diese Heroen der Linken durch:</p>
<p>Nasser war ein „Nationalsozialist“, der viele Nazis ins Land holte, um ihn im Kampf gegen die Juden zu unterstützen.</p>
<p>Nehru und Sukarno vertraten ebenfalls eine Art „Nationalsozialismus“, der diese Länder nachhaltig wirtschaftlich ruiniert hat und in Indonesien schließlich in antichinesischen Massakern mündete. Dazu muß man wissen, daß in Südostasien das „Händlervolk“ der Chinesen traditionell ähnlich betrachtet wurde, wie die Juden in Europa.</p>
<p>Wenn man die Sache prozentual betrachtet hat Castro mehr Bürger des eigenen Landes interniert als Stalin. Ganz zu schweigen davon, daß er ein Land, das bei seiner Machtübernahme einen europäischen Lebensstandard hatte, wahrscheinlich für immer zugrundegerichtet hat.</p>
<p>Das also sind die Helden des „profilierten Globalisierungskritikers“ Jean Ziegler, dessen Buch <strong>Der Hass auf den Westen</strong> <a href="http://www.dradio.de/dlf/sendungen/andruck/1041668/">vorgestellt wird</a>. Der Titel sagt wahrscheinlich mehr über den <em>modern liberal</em> Ziegler als über die Menschen in der Dritten Welt!</p>
<p>Als <a href="http://www.dradio.de/dlf/sendungen/andruck/1041674/">zweiter Beitrag</a> wird ein neues Buch über Karl Marx vorgestellt. Daß diese Besprechung nichts anderes als eine Werbesendung für den Marxismus ist, wird allein schon daran ersichtlich, daß selbst die leichte Kritik des Buchautors an Marx, er habe ein „weltfrommes“ eschatologisches Programm vertreten, vom Rezensenten zurückgewiesen wird</p>
<p>Im übrigen ist das Zitat von Marx, das in diesem Zusammenhang gesendet wird, schon interessant:</p>
<blockquote><p>Das jetzige Geschlecht gleicht den Juden, die Moses durch die Wüste führt: „Es hat nicht nur eine neue Welt zu erobern, es muß untergehen, um den Menschen Platz zu machen, die einer neuen Welt gewachsen sind.“</p></blockquote>
<p>Ich muß dabei an die 100 000 000 Opfer des Kommunismus denken, die Platz machen mußten für die neue Welt.</p>
<p>Aber wir haben ja schon gesehen: unsere ach so humanistischen (Pseudo-) Intellektuellen denken nie an die Opfer!</p>
<p>In den beiden anschließenden Rezensionen geht es um die deutsche Geschichte.</p>
<p>Da ist erstmal <a href="http://www.dradio.de/dlf/sendungen/andruck/1042311/">ein Radioessay</a> über ein 1961 erstmals erschienenes Buch zum Ersten Weltkrieg und der daran anschließende Historikerstreit, der sich daran entbrannte, daß in dem Buch der Versailler Vertrag gerechtfertigt wurde: Deutschland sei Schuld am Krieg gewesen, der von Anfang an eine imperialistische Ausrichtung hatte.</p>
<p>Prophetisch ist der vom Rezensenten zu Anfang zitierte Beitrag von Gerhard Ritter zur damaligen Diskussion:</p>
<blockquote><p>In diesem Werk wird ein erster Gipfel erreicht in der politisch-historischen Modeströmung unserer Tage: In der Selbstverdunkelung deutschen Geschichtsbewußtseins, das seit der Katastrophe von 1945 die frühere Selbstvergötterung verdrängt hat und nun immer einseitiger sich durchzusetzen scheint. Nach meiner Überzeugung wird sich das nicht weniger verhängnisvoll auswirken als der Überpatriotismus von ehedem. So vermag ich das Buch nicht ohne tiefe Traurigkeit aus der Hand zu legen: Traurigkeit und Sorge im Blick auf die kommende Generation. </p></blockquote>
<p>Man denke nur an Joschka Fischer, aus der besagten Generation, der offen bekannt hat, Deutschland müsse man von außen eindämmen und von innen völkisch ausdünnen. Mit anderen Worten: das deutsche Volk muß vernichtet werden!</p>
<p>In <a href="http://www.dradio.de/dlf/sendungen/andruck/1042177/">der Besprechung</a> eines neu erschienenen Buches zum 18. Jahrhundert in Deutschland, wird die deutsche Fehlentwicklung darauf zurückgeführt, daß Deutschland nie so zentralisiert und „aufklärerisch“ war wie Frankreich, d.h. nie so war, wie es im Inneren des <em>modern liberal</em> aussieht: die Zentrale, „das Gehirn“, bestimmt alles.</p>
<p>Die Fehlentwicklung habe im 18. Jahrhundert begonnen:</p>
<blockquote><p>Man verwies Politik und Gesellschaft ins zweite oder dritte Glied und erwärmte sich an Literatur und Musik. Das Verhängnis einer solchen Verhaltensweise bestand darin, daß es immer wieder zu Durchbrüchen ins Politische kam, bei denen ein ressentimentdurchtränktes Volk auch machtpolitisch die Spitzenposition für sich beanspruchte, die es in Kunst und Kultur innehatte. </p></blockquote>
<p>Immerhin beschließt die Sendung <a href="http://www.dradio.de/dlf/sendungen/andruck/1042181/">eine neutrale Rezension</a> über ein Buch, das die Anfänge des Roten Kreuzes vor 150 Jahren zum Thema hat. </p>
<p>Derartige Sendungen sind die Norm! Diese Gehirnwäsche Woche für Woche, ja Tag für Tag, seit mindestens vier Jahrzehnten! Die Hegemonie der linken „Intellektuellen“ ist erdrückend. Dies ist nur wegen der Panzerung der überwältigen Mehrzahl der Bevölkerung möglich, denn das linke Gesindel ist selbst saublöd und hätte im freien Austausch der Ideen keinerlei Überlebenschance. Saublöd, weil sie ihr Gehirn nicht zum Denken benutzen, sondern umgekehrt bei ihnen das Denken der Abwehr der bioenergetischen Impulse dient. Diese zutiefst sexualfeindliche („bioenergie-feindliche“) Charakterstruktur erklärt, warum sie dem Westen im allgemeinen und dem eigenen Volk im besonderen so viel Mißtrauen, Haß und Verachtung entgegenbringen und warum sie die faschistischen Unterdrücker der lebendigen Impulse in dieser Welt so sehr lieben.</p>
<p>Der Prototyp dieses ekelerregenden Journaillegewürms war die stalinistische Journalistin, die Reich ins Gefängnis gebracht hat:</p>
<p><img src="http://nachrichtenbrief.wordpress.com/files/2009/10/brady.jpg" alt="brady" title="brady" width="450" height="335" class="aligncenter size-full wp-image-4920" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indeks : SEJARAH INDONESIA....... A to Z]]></title>
<link>http://cokiehti.wordpress.com/2009/10/16/indeks-sejarah-indonesia-a-to-z/</link>
<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 10:48:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>baguscokie</dc:creator>
<guid>http://cokiehti.wordpress.com/2009/10/16/indeks-sejarah-indonesia-a-to-z/</guid>
<description><![CDATA[Postingan ini khusus kami sediakan sebagai tambahan guna menambah wawasan kita tentang sejarah perju]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Postingan ini khusus kami sediakan sebagai tambahan guna menambah wawasan kita tentang sejarah perju]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://aritobink.wordpress.com/2009/10/15/8/</link>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 09:05:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>aritobink</dc:creator>
<guid>http://aritobink.wordpress.com/2009/10/15/8/</guid>
<description><![CDATA[presiden pertam indonesia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter size-full wp-image-7" title="sukarno" src="http://aritobink.wordpress.com/files/2009/10/6416_102192249790795_100000000609757_65468_4632820_n.jpg" alt="sukarno" width="453" height="604" />presiden pertam indonesia</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[kutipan bung karno:character and nation building]]></title>
<link>http://historia66.wordpress.com/2009/10/09/kutipan-bung-karnocharacter-and-nation-building/</link>
<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 23:32:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>historia66</dc:creator>
<guid>http://historia66.wordpress.com/2009/10/09/kutipan-bung-karnocharacter-and-nation-building/</guid>
<description><![CDATA[Membangun karakter Bangsa Bung Karno mengatakan, sudah lama ia memikirkan untuk memberikan dasar neg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h1>Membangun karakter Bangsa</h1>
<p>Bung Karno mengatakan, sudah lama ia memikirkan untuk memberikan dasar negara kepada negara Indonesia Merdeka. Ia sampai pada satu kesimpulan, dasar yang diusulkan adalah PANCASILA, yang dikatakannya sudah dipikirkannya selama 16 tahun dan sekarang dipersembahkan sebagai lima mutiara mahal harganya, yaitu Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi, keadilan Sosial, dan  ketuhanan yang Maha Esa. Setelah dirumuskan kembali, mutiara Ketuhanan yang Maha Esa, dinaikkan menjadi sila pertama dan internasionalisme ditegaskan menjadi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.</p>
<p>Character and Nation Building, bung Karno menjelaskan, “membangun manusia Indonesia baru tidak mudah. Apalagi bangsa Indonesia pernah dijajah belanda selama tiga setengah abad lamanya dan Jepang selama tiga setengah tahun. Bangsa Indonesia sudah terbiasa sebagai bangsa kuli di antara bangsa-bangsa lainnya.”</p>
<p>“pembangunan nasional Indonesia di segala bidang, terutama pembangunan character dan nation  yang universal, baik ekonomi, social, mental akhlak, keagamaan maupun politik. Dalam Amanat Penderitaan Rakyat ada beberapa unsure politik ekonomi, social, akhlak dan agama, juga kebudayaan, yaitu kultur yang membuat manusia Indonesia baru.”</p>
<p>Bung Karno selanjutnya menegaskan, “saya selalu anjurkan agar Indonesia ini bangun kembali membuang jauh-jauh mental penjajah dan kembali kepada kepribadian bangsa Indonesia. Character and nation building penting sekali, karena merupakan dasar dari segala kehidupan bangsa indonesi. Mau membangun negara dan bangsa diperlukan karakter, akhlak yang mulia, mental yang baik. Suatu bangsa tidak akan membangun apa pun dengan karakter mental yang bobrok, karakter dan mental yang sudah rusak. Maka dari itu pembangunan karakter adalah penting sekali, sukar sekali dan memerlukan waktu yang tidak pendek, memerlukan waktu lama.”</p>
<p>Bung Karno meneruskan, “dalam masa nation building bermacam-macam bahaya dan godaan timbul. Karena itu, nation building membutuhkan bantuan berupa revolusi mental. Segala pekerjaan baik kecil maupun besar tidak dapat dikerjakan oleh tenaga-tenaga yang tidak mempunyai akhlak yang mulia dan bermental baik.”</p>
<p>“Revolusi adalah suatu hal yang harus dijalankan dengan aksimu dan idemu sendiri. For a fighting nation there is no journey’s end.”</p>
<p>Salah satu jalan untuk mengembalikan karakter bangsa ini adalah sikap tanggung jawab, “Jalankanlah peran sesuai posisinya masing-masing”, begitu Siswono mangatakan. Gede Raka menambahkan, bahwa Apa yang kita lakukan saat ini akan menjadi “butterlfly effect” di kemudian hari. Bangun karakter bangsa, karena “Knowledge is power, but Character is more.”</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BAB V Bandung: Gerbang Ke Dunia Putih]]></title>
<link>http://imamputraprayitna.wordpress.com/2009/09/26/bab-v-bandung-gerbang-ke-dunia-putih/</link>
<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 11:35:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Imam</dc:creator>
<guid>http://imamputraprayitna.wordpress.com/2009/09/26/bab-v-bandung-gerbang-ke-dunia-putih/</guid>
<description><![CDATA[MINGGU terakhir bulan Juni tahun 1921, aku memasuki kota Bandung, kota seperti Princeton atau kota p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>MINGGU terakhir bulan Juni tahun 1921, aku memasuki kota Bandung, kota seperti Princeton atau kota pelajar lainnya dan kuakui bahwa aku senang juga dengan diriku sendiri. Kesenangan itu sampai sedemikian sehingga aku sudah memiliki sebuah pipa rokok. Jadi dapat dibayangkan, betapa menyenangkan masa yang kulalui untuk beberapa waktu. Salah satu bagian daripada egoisme ini adalah berkat suksesku dalam pemakaian peci, kopiah beludru hitam yang menjadi tanda pengenalku, dan menjadikannya sebagai lambang kebangsaan kami. <!--more-->Pengungkapan tabir ini terjadi dalam pertemuan Jong<br />
Java, sesaat sebelum aku meninggalkan Surabaya. Sebelumnya telah terjadi pembicaraan yang hangat karena apa yang menamakan dirinya kaum intelligensia, yang menjauhkan diri dari saudara‐saudaranya<br />
rakyat biasa, merasa terhina jika memakai blangkon, tutup kepala yang biasa dipakai orang jawa dengansarung, atau peci yang biasa dipakai oleh tukang becak dan rakyat jelata lainnya. Mereka lebih menyukai<br />
buka tenda daripada memakai tutup kepala yang merupakan pakaian sesungguhnya dari orang Indonesia.<br />
Ini adalah cara dari kaum terpelajar ini mengejek dengan halus terhadap kelas‐kelas yang lebih rendah.<br />
</strong></p>
<p><strong>Orang‐orang ini bodoh dan perlu belajar, bahwa seseorang tidak akan dapat memimpin rakyat banyak jika tidak menjatuhkan diri dengan mereka. Sekalipun tidak seorang juga yang melakukan ini diantara<br />
kaum terpelajar, aku memutuskan untuk rnempertalikan diriku dengan sengaja kepada rakyat jelata.<br />
Dalam pertemuan selanjutnja kuatur untuk memakai peci, pikiranku agak tegang sedikit. Hatiku berkatakata.<br />
Untuk memulai suatu gerakan yang jantan seperti ini secara terang‐terangan memang memerlukan keberanian. Sambil berlindung di belakang tukang sate di jalanan yang sudah mulai gelap dan menunggu kawan‐kawan seperjuangan yang berlagak tinggi lewat semua dengan buka tenda dan rapi, semua<br />
berlagak seperti mereka itu orang Barat kulit putih, aku ragu‐ragu untuk sedetik. Kemudian aku bersoal dengan diriku sendiri, &#8220;Jadi pengikutkah engkau, atau jadi pemimpinkah engkau &#8221; , &#8220;Aku pemimpin,&#8221;<br />
jawabku menegaskan. &#8220;Kalau begitu, buktikanlah,&#8221; kataku lagi pada diriku. &#8220;Hayo maju. Pakailah pecimu. Tarik napas yang dalam! Dan masuk SEKARANG!!! &#8220;Begitulah kulakukan. Setiap orang memandang heran<br />
padaku tanpa kata‐kata. Di saat itu nampaknya lebih baik memecah kesunyian dengan buka bicara, &#8220;Janganlah kita melupakan demi tujuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakyat dan bukan berada diatas rakyat. &#8220;Mereka masih saja memandang.<br />
</strong></p>
<p><strong>Aku membersihkan kerongkongan. &#8220;Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia. Peci yang memberikan sifat khas perorangan ini, seperti yang dipakai oleh pekerja‐pekerja dari bangsa Melayu, adalah asli kepunyaan rakyat kita. Namanya malahan berasal dari penakluk kita. Perkataan Belanda &#8216;pet&#8217; berarti kupiah. &#8216;Je&#8217; maksudnya kecil. Perkataan itu sebenarnya &#8216;petje&#8217;. Hayolah saudarasaudara, mari kita angkat kita punya kepala tinggi‐tinggi dan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia<br />
Merdeka. &#8220;Pada waktu aku melangkah gagah keluar dari kereta api di stasiun Bandung dengan peciku yang memberikan pemandangan yang cantik, maka peci itu sudah menjadi lambang kebangsaan bagi para pejuang kemerdekaan. Kalau sekarang peci itu bagiku lebih merupakan sebagai lambang untuk<br />
pertahanan diri. Sesungguhaya, kepalaku kian hari semakin botak. Karena orang Islam diharuskan mencuci rarnbutnya setelah dia berhubungan dengan seorang perempuan, maka kawan‐kawan menggangguku, &#8220;Hei Sukarno, itu barangkali yang membikin Bung botak.&#8221; Apapun alasannya, aku<br />
gembira karena telah mempunyai pandangan ke depan 44 tahun yang lalu untuk membikin peci ini begitu hebat, sehingga masyarakat sekarang menganggap tidak pantas jika membuka peci di muka umum. Pak<br />
Tjokro mempunyai seorang kawan lama di Bandung. Dan orang ini telah sering mendengar tentang pemuda yang rnendapat perlindungan dari Pak Tjokro.<br />
</strong></p>
<p><strong>Ketika aku pindah dari Jawa Timur ke daerah Jawa Barat ini, Pak Tjokro telah meggusahakan tempatku menginap di rumah tuan Hadji Sanusi. Aku pergi lebih dulu tanpa Utari untuk mengatur tempat dan melihat‐lihat kota, rumah mana yang akan menjadi tempat tinggal kami selama empat tahun begitulah<br />
menurut perkiraanku di waktu itu. Aku merasa hawanya dingin dan wanitanya cantik‐cantik. Kota Bandung dan aku dapat saling menarik dalam waktu yang singkat. Seorang laki‐laki yang sudah setengah baya yang memperkenalkan dirinya sebagai Sanusi datang sendiri menjemputku dan membawaku ke rumahnya. Dengan segera aku mengetahui, bahwa perjalanan pendahuluan ini tidaklah sia‐sia. Sekalipun aku belum memeriksa kamar, tapi jelas bahwa ada keuntungan tertentu dalam rumah ini. Keuntungan<br />
yang utama sedang berdiri di pintu masuk dalam sinar setengah gelap, bentuk badannya nampak jelas dikelilingi oleh cahaya lampu dari belakang.<br />
</strong></p>
<p><strong>Perawakannya kecil, sekuntum bunga merah yang cantik melekat di sanggulnya dan suatu senyuman yang menyilaukan mata. Ia isteri Hadji Sanusi, Inggit Garnasih. Segala percikan api, yang dapat memancar<br />
dari seorang anak duapuluh tahun dan masih hijau tak berpengalaman, menyambar‐nyambar kepada seorang perempuan dalam umur tigapulahan yang sudah matang dan berpengalaman. Di saat pertama<br />
aku melangkah melalui pintu masuk aku berpikir, &#8220;Aduh, luarbiasa perempuan ini.&#8221; Aku sadar, lebih baik  aku cepat‐cepat berhenti mengingatnya. Karena itu ingatan kepada nyonya rumah itu kuhilangkan dari<br />
pikiranku —untuk sementara— kemudian menyuruh datang Utari dan memusatkan pikiran pada persoalan masuk Sekolah Teknik Tinggi mengejar gelar Insinjur, bukan untuk merusak perkawinan orang.<br />
Di waktu sekarang kami mempunyai Universitas Indonesia di Jakarta, Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta, Universitas Airlangga di Surabaya, Universitas Lambung Mangkurat di Kalimantan dan berlusin‐lusin universitas penuh sesak menurut kemampuannya. Akan tetapi pada waktu aku memasuki<br />
Sekolah Teknik Tinggi kami hanya 11 orang anak Indonesia. Aku termasuk salah seorang dari 11 orang yang berrnuka hitam, terapung‐apung kian kemari dalam lautan kulit putih berarnbut merah, berjerawat<br />
dan bermata hijau seperti kucing. Seperti dugaan kami, anak‐anak Belanda tidak mau tahu dengan kami di dalam kampus itu. Kalaupun rnereka memberi perhatian kepada kami, itu hanya untuk membusukkan kami atau menyorakkan, &#8220;Hei kamu, anak inlander bodoh, mari sini!.&#8221; Aku tidak tahu kekuatan apa yang ada padaku.<br />
</strong></p>
<p><strong>Aku hanya tahu, bahwa sekalipun aku tidak mengucapkan sepatah kata, kehadiranku saja sudah cukup untuk menutup mulut orang‐orang yang menghina, lalu menghentikan perintah‐perintahnya. Kami membanting tulang di Sekolah. Pekerjaan rumah banyak sekali. Kuliah‐kuliah yang diberikan enam hari dalam seminggu ditambah dengan ujian tertulis setiap triwulan selama sebulan penuh, sungguh‐sungguh rasanya seperti akan mematahkan tulang punggung karena bertekun. Waktuku tidak banyak untuk Utari.<br />
Akupun tidak banyak mempunyai persamaan dengan dia. Selagi aku belajar ilmu pasti, ilmu alam dan mekanika, yang bernama isteriku itu berada di pekarangan belakang bermain dengan kawan‐kawan perempuannya. Selagi aku mempidatoi perkumpulan pemuda di waktu malam, bayi yang telah kukawini bergelut dengan seorang anak, kemenakan nyonya Inggit. Kami menempuh jalan masing‐masing. Dia masih hijau sekali. Sifat pemalunya terlalu berkelebihan, sehingga jarang berbicara denganku, kalaupun<br />
ada.Kami tidur berdampingan di satu tempat tidur, tapi secara jasmaniah kami sebagai kakak beradik. Di Bandung dia jatuh sakit. Sementara dia terbaring dengan payah aku merawatnya. Berkali‐kali aku melap<br />
tubuhnya yang panas dengan alkohol, dari ujung kepala sampai ke ujung jari kakinya, namun tak sekalipun aku menjamahnya. Ketika ia sudah pulih kembali antara kamipun tidak terdapat perhubungan jasmani.<br />
</strong></p>
<p><strong>Kami bahkan dengan setulus hati tidak mengidamkan satu sama lain dalam arti cinta antara laki‐laki dan<br />
dara yang sebenarnya. Maksudku, dia tidak mernbenciku dan aku tidak membencinya, akan tetapi ini bukanlah perkawinan yang lahir dari perasaan berahi yang menyala‐nyala. Tidak banyak kesempatan untuk menggunakan waktu bagi kesenangan diri, oleh karena seluruh jiwa dan ragaku segera penuh<br />
dengan berbagai kesukaran. Setelah tinggal di Bandung selama dua bulan, surat kabar memuat beritaberita besar tentang kegiatan revolusioner yang terakhir, aksi pemogokan di Garut. Kejadian ini dianggap sebagai persoalan afdeling, yaitu persoalan daerah. Pemerintah Kolonial sudah dibikin susah oleh pertumbuhan Nasionalisme yang pesat. Nyamuk celaka yang baru mendengung‐dengung di tahun 1908 dengan semboyan‐semboyan politik tanpa kekerasan, sekarang telah menjadi besar dan mengandung<br />
racun ketidakpuasan dengan gigitannya yang mematikan. Para pekerja sudah diorganisir; mereka menuntut hak; menuntut undang‐undang perburuhan yang menjamin jam kerja yang lebih pendek daripada 18 jam; menuntut upah yang pantas dan menuntut suatu masyarakat yang bekerja tanpa<br />
&#8220;Exploitation de l&#8217;homme par l&#8217;homme&#8221;. Di Indonesia telah bertunas organisasi para pekerja seperti Persatuan Buruh Gula dan Serikat Pekerja Rumah Gadai.<br />
</strong></p>
<p><strong>Dalam jaman dimana orang Barat telah mengenal pemogokan sebagai hak dari serikat‐serikat buruh untuk mencoba memperbaiki nasibnya yang menyedihkan, maka pemerintah Hindia Belanda dalam<br />
usahanya untuk mematikan &#8220;sifat‐radikal&#8221; dan &#8220;Komunisme&#8221;, sebagaimana mereka menamakannya, mengeluarkan undang‐undang baru, Artikel 161. Yaitu larangan terhadap pemogokan. Hukum pidana bahkan sekarang menetapkan, bahwa barangsiapa yang menghasut seseorang untuk melakukan<br />
pemogokan diancam dengan hukurnan enam tahun penjara. Ini sangat menusuk hatiku pribadi, karena para pembesar berkeyakinan bahwa pemogokan di Garut dipupuk oleh Sarekat Islam. Di hari itu juga<br />
mereka menahan Tjokroaminoto. Keluarga Pak Tjokro sedang berada dalam kekurangan. Penderitaan mereka adalah penderitaanku juga. Apa akal &#8230; Apa akal &#8230;. Apakah aku akan madu terus dan memikirkan<br />
diri sendiri serta apa yang kuharapkan dapat tercapai di hari esok? Ataukah aku akan mundur ke belakang dan memikirkan Pak Tjokro dan apa yang telah dikerjakannya untukku di hari kemarin? Dihadapanku terentang jalan raya berlapiskan emas yang menuju kepada ijazah sekolah tinggi. Dibelakangku<br />
terhampar jalanan kembali menuju kamar yang gelap dan kehidupan yang suram. Soalnya adalah mana yang lebih penting mana yang lebih mudah dapat dikorbankan oleh seorang anak Bumiputera? Gerbang<br />
menuju dunia putihkah? Atau mengorbankan kesetiaan kepada prinsipnyakah? Bagiku tidak ada kesangsian jiwa. &#8220;Saya akan meninggalkan Bandung besok menuju Surabaya, &#8220;dengan tegas<br />
kusampaikan kepada nyonya Inggit di dapur esok paginya. &#8220;Untuk berapa lama?&#8221; tanyanjy. &#8220;Saya tidak tahu. Barangkali untuk selama‐lamanya. Ini tergantung kepada lamanya hukuman Pak Tjokro. Apakah<br />
enam bulan atau dua puluh tahun, selama itu pula saya harus berbuat apa yang harus saya perbuat.&#8221; Ia menjydiakan kopi tubruk, kopi hitam pekat yang tak dapat kutinggalkan, dan tangannya gemetar sedikit.<br />
&#8220;Dengan meninggalkan sekolah ada kemungkinan engkau melepaskan segala harapan untuk mencapai cita‐citamu,&#8221; hanja itu ucapanncya , &#8220;Saya menyadari hal itu.<br />
</strong></p>
<p><strong>Saya juga menyadari, bahwa Pak Tjokro mertuaku. Saya anak tertua dari keluarganya. Tapi soalnjy bukan itu saja, lebih lagi dari itu. Saya harus berbakti pada orang yang kupuja itu dan kepada prinsipku.&#8221; Tapi<br />
isterinya yang baru tidak menulis surat kepadamu untuk minta bantuan,&#8221; ia mengemukakan. &#8220;Anaknya juga tidak memberi kabar apa‐apa tentang kesukaran mereka. Malahan tak seorangpun meminta engkau<br />
datang. &#8220;Saya harus pergi. Kurasakan dalam dadaku, bahwa itu menjadi tugas saya &#8230;. Tidak! Saya rasakan ini sebagai hak istimewaku untuk bisa menyelamatkan mercusuar ini yang telah menunjukkan<br />
jalan kepadaku. &#8220;Aku memperhatikan bubuk kopi turun hingga ia mengendap ke dasar cangkir. &#8220;Saya mendapat kabar, bahwa penahanan terhadap Pak Tjokro dua hari yang lalu itu tidak diduga samasekali.<br />
Belanda mendadak menggedor rumahnya di tengah malam buta dan menggiringnya dengan ujung bajonet ke dalam tahanan. Dia tidak mendapat kesempatan untuk mengatur keluarga yang dicintainya.<br />
</strong></p>
<p><strong>Dan tak seorangpun yang akan mengawasi mereka. Jadi nampaknya jelas bagimu, bahwa dari semua pengikutnya yang jumlahnya jutaan orang itu hanya engkau yang akan memikul kewadjiban itu diatas<br />
pundakmu?&#8221; ,Ya, itu kewajiban saya. Dia mergulurkan tangannya pada waktu saya memerlukan rumah dan tempat berteduh. Sekarang saya harus berbuat begitu pula kepadanya Mengejar kehidupan sendiri, sementara orang yang sudah diakui keluarga berada dalam kesusahan bukanlah cara orang Indonesia.&#8221;<br />
Maksudmu,&#8221; katanya lunak, &#8220;Bahwa itu bukanlah cara Soekarno.&#8221; Di pagi itu juga aku rnelaporkan keberhentianku mengikuti kuliah. Presiden dari Sekolah Teknik Tinggi, Professor Klopper, rupanya kuatir terhadap tindakanku ini. &#8220;Sudah menjadi kebiasaanmu, bahwa seluruh keluarga memberikan korban<br />
mereka untuk meneruskan pendidikan dari salah seorang anggotanya yang berbakat, bukan?&#8221; ia menanyaku dengan ramah.,&#8221;Ya, tuan. Saya kira, bahkan kelaparan pun tak dapat mencegah keluarga saya mengadakan biaya yang perlu bagi pendidikan anaknya. Sebagai mantri guru bapak membanting<br />
tulang seperti pekerja lainnya.<br />
</strong></p>
<p><strong>Ibu duduk berjam‐jam lamanya melukis kain batik sampai tengah malam hingga pelita dan pemandangan matanya mendjadi samar. Supaya dapat mengumpulkan dengan susah payah uang 300 rupiah untuk uang<br />
kuliah setahun, orangtua saya baru‐baru ini menambah orang bayar makan. Kakak saya dan suaminya juga membantu setiap bulan.&#8221;Kalau dibelakang hari,&#8221; Professor Klopper melanjutkan, &#8220;Engkau hanya ditempatkan sebagai pekerja di lapangan, bagaimana engkau membayar kembali kepada orang‐orang yang menyokongmu selama belaja ?&#8221;, &#8220;Itu bukanlah kebiasaan kami,&#8221; aku menerangkam ,&#8221;Mereka akan marah kalau saya mencoba yang demikian. Cara kami sebaliknya. Kami harus selalu bersedia membantu<br />
orang yang pernah menolong kita di waktu ia memerlukannya. Itulah yang dinamakan gotong‐royong.<br />
Saling membantu. Dan karena itulah saya harus pulang.&#8221; Di hari berikutnya aku mengumpulkan isteriku, mengumpulkan segala harapan dan idamanku dan membawa semua ia pulang ke Surabaya. Supaya dapat membantu rumah tangga aku bekerja sebagai klerk di stasiun kereta api. Kedudukanku adalah<br />
sebagai Raden Sukarno, BKL. Der Eerste Klasse. Eerste Categorie.&#8221;<br />
</strong></p>
<p><strong>Sebagai seorang klerk kantor kelas satu golongan satu aku menelan uap dan asap selama tujuh jam dalam sehari, karena kantorku yang tidak dimasuki hawa bersih berhadapan dengan rel dari pelataran stasiun yang menyedihkan. Tugas beratku yang utama adalah membuat daftar gaji untuk para pekerja. Oleh karena bekerja sehari penuh, aku tidak punya kesempatan mengulangi pelajaran. Akan tetapi ada baiknya, karena tempat yang luar biasa ramainya ini menjadi tempat keluar masuk kereta api yang datang<br />
dari kota‐kota lain seperti Madiun, Djogja, Malang, Bandung dan aku dapat berhubungan dengan massa pekerja. Tak pernah aku menyia‐nyiakan kesempatan untuk menaburkan bibit Nasionalisme. Aku menerima 165 rupiah sebulan. 125 kuserahkan kepada ketuarga Pak Tjokro. Di waktu mereka patah semangat dan bersusah hati, kubawa mereka menonton film dengan apa yang masih tersisa dari uangku yang 40 rupiah itu. Atau kubelikan barang‐barang kecil seperti kartu pos bergambar. Hanya ini yang dapat<br />
kuadakan, akan tetapi besar artinya bagi mereka. Kuberikan pakaianku untuk dipakai. Aku menjaga disiplin mereka dengan pukulan sandal pada belakangnya.<br />
</strong></p>
<p><strong>Aku mendalankan segala tugas orangtua, sampai kepada menyunatkan Anwar. Aku sendiri mencari obat, mencari orang alim dan menyelenggarakan selamatannya. Bertahun‐tahun kemudian, setelah Anwar<br />
mendjadi seorang tokoh politik, aku mengganggunya, &#8220;Nah, jangan kaulupakan, akulah yang menyunatkanmu. &#8220;Pada waktu Pak Tjokro dijatuhi hukuman karena persoalan politik, Belanda melarang anak‐anaknya untuk melanjutkan sekolah. Jadi, Sukarnolah yang mengajar mereka. Akupun mengajar mereka menggambar. Untuk membeli kertas atau batu tulis tidak ada uang, akan tetapi dinding rumah di Jalan Plambetan dipulas dengan kapur putih. Bukankah dinding putih baik untuk digambari? Maka<br />
kugambarkan dari luar kepala gambar persamaan, dan karikatur dari bintang film kesayanganku, Frances Ford. Terlepas dari persoalan apakah kami menjadi tokoh‐tokoh politik di masa‐masa yang akan datang<br />
atau tidak, maka pada waktu itu sesungguhnyalah kami merupakan suatu rumah tangga yang terdiri dari anak‐anak jang ketakutan dan lapar dalam arti yang murni. Dan Aku? Aku adalah yang paling besar, hanya itu.<br />
</strong></p>
<p><strong>Pak Tjokro dibebaskan pada bulan April 1922. setelah tujuh bulan meringkuk dalam tahanan. Bulan Juli,pada waktu mulai tahun pelajaran baru secara resmi, aku kembali ke Sekolah Teknik Tinggi dan kembali kepada nyonjy Inggit. Utari dan aku tidak dapat lebih lama menempati satu tempat tidur, bahkan satu kamarpun tidak. Jurang antara kami berdua semakin lebar. Sebagai seorang yang baru kawin kasih sayangku kepadanya hanja sebagai kakak. Sebagai kepala rumah tangga dari Pak Tjokro perananku<br />
sebagai seorang bapak. Yang tidak dapat dibayangkan sekarang adalah perasaanku sebagai seorang suami. Aku telah memperhatikan, kalau engkau membelah dada seseorang termasuk aku sendiri maka akan terbaca dalam dadanya itu bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tercapai apabila si isteri merupakan perpaduan dari pada seorang ibu, kekasih dan seorang kawan. Aku ingin diibui oleh temanhidupku. Kalau aku pilek, aku ingin dipijitnya. Kalau aku lapar, aku ingin memakan makanan yang<br />
dimasaknya sendiri. Manakala bajuku koyak, aku ingin isteriku menarnbalnya. Dengan Utari keadaannya terbalik. Aku yang menjadi orang tuanya, dia sebagai anak.<br />
</strong></p>
<p><strong>Ia bukan idamanku, oleh karena tidak ada tarikan lahir dan dalam kenyataan kami tak pernah saling mencintai. Sebagai teman seperjuangan, orang yang demikian tidak sanggup menemaniku pada waktu tenagaku terpusat pada penyelamatan dunia ini, sedang dia sementara itu main bola tangkap. Sudah<br />
menjadi suatu kebiasaanku untuk menoleh kepada seorang wanita supaya hatiku dapat terhibur. Kalau harus diadakan pilihan antara wanita yang memiliki tangan yang cantik dengan seorang yang memiliki<br />
hati yang lembut, maka aku seringkali tertarik pada yang terakhir ini. Aku tidak lebih mengutarnakan hubungan lelak iperempuan, akan tetapi aku memerlukan hati yang lembut dan dorongan yang besar dan<br />
mulia yang hanya dapat diberikan oleh hati seorang wanita. Inggit dan aku berada bersama‐sama setiap malam. Aku adalah orang yang selalu bangun dan membaca. Inggitpun lambat pergi tidur karena harus<br />
menyiapkan makan untuk hari berikutnya. Dia selalu ada disekelilingku. Dia adalah nyonya rumah. Aku orang bayar makan. Kami berteduh dibawah atap yang sama. Aku melihatnya di pagi hari sebelum ia menggulung sanggulnya. Dia melihatku dalam pakaian piyama. Aku senantiasa makan bersama‐sama<br />
dengan dia. Memakan makanan yang dimasaknya sendiri. Sayuran seperti lodeh, yaitu sayuran yang dimasak dengan santan pakai cabe yang kusenangi atau oncom yang juga kusukai ataupun makanan lain<br />
yang khusus dibuatnya untuk menyenangkan hatiku. Dia itulah bukan isteriku yang membereskan karnarku, melayaniku, memperhatikan pakaianku dan mendengarkan buah pikiranku. Dialah orang yang bertindak sebagai ibu kepadaku, bukan Utari.<br />
</strong></p>
<p><strong>Tuan Sanusi orang yang sudah berumur dan sama sekali tidak peduli terhadap isterinya. Seorang penjudi dengan kegemarannya yang luar biasa main bilyar. Setiap malam ia berada di rumah bola untuk mencobakan kecakapannya. Pada praktekola mereka bercerai di satu rumah. Rumah tangga mereka tidak<br />
berbahagia. Sebagai suami isteri, mereka serumah, lain tidak. Lalu masuklah kedalam lingkungan ini seorang muda yang bernafsu dan berapi‐api. Ia sangat tertarik kepadanya. Ia melihat dalam diri perempuan itu seorang wanita yang sadar, bukan kanak‐kanak, seperti yang satunya yang masih main<br />
kucing‐kucingan di luar. Keberanian ini mulai bangkit. Aku seorang yang sangat kuat dalam arti jasmaniah dan di hari‐hari itu belum ada televisi &#8230;.. hanya Inggit dan aku di rumah yang kosong. Dia kesepian. Aku<br />
kesepian. Perkawinannya tidak betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan adalah wajar, bahwa hal‐hal yang demikian itu tumbuh. Inggit dan aku banjak mengalami saat‐saat yang menyenangkan bersamasama.<br />
Kami keduanya mempunyai perhatian yang sama. Dan barangkali juga &#8230;.. yah, kami keduanya bahkan sama mencintai Sukarno. Disamping hakekatnya sebagai seorang perempuan, diapun memuja Sukarno secara menghambakan diri sama sekali dan membabi buta baik atau buruk, benar atau salah.<br />
Tidak lain dalam hidupnya kecuali Sukarno serta segala apa yang menjadi pikiran, harapan dan idaman Sukarno. Aku berbicara dia mendengarkan.<br />
</strong></p>
<p><strong>Aku berbicara dengan sangat gembira; dia menghargai. Utari menyadari apa yang terjadi, akan tetapi ia mengetahui, bahwa persatuan kami tidak akan membawa kebahagiaan. Karena ia tidak pernah mengenalku dalam arti suami isteri ang sebenarnya, maka tidak timbul iri hati dari pihaknya. Hadji<br />
Sanusipun mengetahui apa ang sedang berkembang, akan tetapi perkawinannya sudah sejak lama rusak.<br />
Aku tidak merasa bahwa aku merebutnya dari sang suami ataupun merusak suatu rumah tangga yang berbahagia, sebagaimana yang dikatakan oleh majalah‐majalah luar negeri. Tidak ada sesuatu yang akan dirusakkan. Bahkan Sanusi sendiripun tidak ada usaha untuk merebut hati isterinya lagi. Tanpa<br />
mendramakannya dengan teliti, kukira tentu ada bersembunyi perasaan‐perasaan bersalah. Aku tidak ingat betul, apakah aku mengalaminya sedemikian banyak ketika itu ataukah aku rnengeluarkannya sekarang sebagai usaha untuk menerangkan tindakan‐tindakan itu. Akupun tidak tahu, bagaimana perasaan rakyatku mengenai Presidennya yang membicarakan ini sarnpai sedemikian jauh. Aku tidak menghendaki mereka menjadi<br />
malu. Anggaplah, karena peristiwa percintaan sedang tumbuh di waktu itu aku mencoba menganalisa kejahatannya. Dan aku tidak pernah berhenti menganalisanya. Kumaksud bukan affair Inggit saja. Yang kumaksud adalah seluruh kehidupanku. Seakan aku menganalisa secara abadi kekuatan‐kekuatan yang ada dalam diriku. Dan kekuatan‐kekuatan yang ada di sekelilingku. Otakku dan jiwaku selalu bernyalanyala dengan perjuangan yang tak habis‐habis antara yang baik dan yang jahat. Setelah enam bulan<br />
berada di Bandung aku sendiri rnembawa Utari pulang kerumah bapaknya. &#8220;Pak,&#8221; kataku. &#8220;Saya mengembalikan Utari kepada bapak.&#8221; &#8220;Keputusan siapa ini?&#8221; tanya Pak Tjokro., &#8220;Saya, Pak. Sayalah yang ingin bercerai. &#8220;Kemudian ia hanya bertanya, &#8220;Apakah dia menerima keputusanmu?&#8221; Aku menjawab, &#8220;Ya.<br />
Dia sudah tentu susah karena, walaupun bagaimana, anak‐anak gadis kita menganggap perceraian itu suatu kernunduran.<br />
</strong></p>
<p><strong>Dia barangkali merasa sedikit bingung, sebab selama dua tahun kami kawin aku tak pernah menyentuhnya. Sebenarnya dia tidak ingin bercerai, akan tetapi diapun menyadari bahwa jalan inilah yang paling baik bagi kami berdua. &#8220;Pak Tjokro mengangguk diam. &#8220;Pak, saya menunggu sampai bapak<br />
keluar dari tahanan untuk menyampaikan hal ini. Perkawinan kami sudah tidak baik dari permulaannya dan tidak akan baik untuk seterusnya. Tanpa perceraian tidak dapat dibina perkawinan yang berbahagia.<br />
&#8220;Pak Tjok menghargai apa yang kukatakan. Ia tidak menanyakan persoalan‐persoalan pribadi. Dan setelah kejadian ini Pak Tjokro sekeluarga dan aku selalu dalam hubungan yang baik. Hubungan kami tetap seperti sebelumnya. Apa yang kuucapkan secara resmi hanyalah, &#8220;Saya jatuhkan talak satu<br />
kepadarnu,&#8221; dan perkawinan kami berakhir. Jadi, cara kami bercerai ringkas saja. Tidak melalui banyak prosedur. Dalarn agama Islam terdapat tiga tingkatan perceraian. Talak satu masih membuka jalan untuk rujuk kembali dalarn tempo 100 hari. Talak dua, tingkat yang lebih kuat dari yang pertama, mengulangi maksud untuk bebas dari isterirnu, akan tetapi masih mernbuka kesempatan sedikit sekiranya masih ingin bergaul dengan dia.<br />
</strong></p>
<p><strong>Tingkat terakhir adalah untuk menyatakan, &#8220;Saya ceraikan engkau.&#8221; Setelah talak tiga ini jatuh, hubungan perkawinan sudah diputuskan dengan resmi dan si suami tidak dapat mengawini kembali isterinya itu, kecuali.jika si isteri kawin dulu sementara dengan laki‐laki lainya. Hukurn Islam tidak mengizinkan perempuan menceraikan lakinya. Pun tidak dapat menolak untuk diceraikan. Tentu saja kalau suaminya sangat kejam dan ia mengadu kepada Kadi, &#8220;Suami saya memukul saya,&#8221; atau kalau dia bersumpah, &#8220;Dia<br />
tidak pernah datang kepada saya dan menurut kenyataan dia tidak pernah mempergauli saya selama berbulan‐bulan,&#8221; dan memohon kepada Kadi supaya mengizinkannya bercerai atas alasan yang tertentu<br />
itu, maka Kadi itu dapat menceraikannya. Hakim agama ini mempunyai kekuasaan untuk memberi izin guna meringankan keadaan ini menurut Nabi Muhammad s.a.w. Hukum‐Hukum Islam diadakan di padang pasir. Dan dimana di padang pasir orang bisa mencari ahli hukum atau Surat Perceraian? Itulah sebabnya mengapa kami tidak mempunyai aturan seperti di Barat. Jadi, di tahun 1922, aku hanya menyerahkan pengantinku yang masih kanak‐kanak itu kepada bapaknya, dan itulah seluruhnya.<br />
</strong></p>
<p><strong>Aku kembali ke Bandung dan kepada cintaku yang sesungguhnya. Suatu malam, setelah kami bersamasama selama satu tahun, aku mengusulkan. Ini adalah usul yang sangat sederhana. Kami hanya berdua seperti<br />
biasa dan aku berkata pelahan, &#8220;Aku mencintaimu.&#8221; Dia. &#8220;Akupun begitu,&#8221; keluar cepat dari mulutnya.<br />
Aku ingin mengawinimu&#8221; kubisikkan. &#8220;Akupun ingin menjadi isterimu,&#8221; dia membalas berbisik. &#8220;Apakah menurut pendapatmu kita akan rnendapat kesulitan?&#8221; Tidak,&#8221; katanya lunak. &#8220;Aku akan bicara dengan<br />
Sanusi besok. &#8220;Sanusi mau bekerja sama. Dalam tempo yang singkat Inggitpun bebas. Tidak terjadi adegan yang serarn seperti di layar putih. Kukira dia merasa, bahwa inilah jalan yang paling baik ditempuh. Setelah itu Inggit, dia dan aku senantiasa dalam hubungan yang baik. Kenyataannya, tidak<br />
lama kemudian dia kawin lagi. Dalam waktu yang singkat Utaripun kawin dengan Bachrum Salam, kawan sama‐sama bayar makan di rumah Pak Tjokro. Mereka memperoleh delapan orang anak dan ketika buku<br />
ini ditulis mereka masih menjadi suami isteri. Jadi nampak kedua belah pihak tidak begitu merasa luka. Inggit dan aku kawin di tahun 1923.<br />
</strong></p>
<p><strong>Keluargaku tak pernah menyuarakan satu perkataan mencela ketika aku berpindah dari isteriku yang masih gadis kepada isteri lain yang selusin tahun lebih tua daripadaku. Apakah mereka menekan perasaannya karena perbuatanku, ataupun merasa malu kepada Pak Tjokro, aku tak pernah ‐<br />
mengetahuinya. Inggit yang bermata besar dan memakai geIang di tangan itu tidak mempunyai masa lampau yang gemilang. Dia sama sekali tidak terpelajar, akan tetapi intellektualisme bagiku tidaklah<br />
penting dalam diri seorang perempuan. Yang kuhargai adalah kemanusiaannya. Perempuan ini sangat mencintaiku. Dia tidak memberikan pendapat‐pendapat. Dia hanya memandang dan menungguku, dia<br />
mendorong dan memuja. Dia memberikan kepadaku segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh buku. Dia memberiku kecintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri. Ia memberikan segala apa yang kuperlukan yang tidak dapat kuperoleh semenjak aku meninggalkan rumah ibu. Psikiater akan<br />
mengatakan bahwa ini adalah pencarian kembali kasih sayang ibu.<br />
Mungkin juga, siapa tahu. Jika aku mengawininya karena alasan ini, maka ia terjadi secara tidak sadar. Dia. waktu itu dan sekarangpun masih seorang perempuan yang budiman. Pendeknya, kalau dipikirkan secara sadar, maka perasaan‐perasaan yang dibangkitkannya padaku tidak lain seperti pada seorang kanak‐kanak. Inggit dalam masa selanjutnya dari hidupku ini sangat baik kepadaku. Dia adalah ilhamku.<br />
Dialah pendorongku. Dan aku segera memerlukan semua ini. Aku sekarang sudah menjadi mahasiswa di tingkat kedua. Aku sudah kawin dengan seorang perempuan yang sangat kuharapkan dengan perasaan berahi. Aku sekarang sudah melalui umur 21 tahun. Masa jedjakaku sudah berada dibelakangku. Tugas hidupku merentang di depanku. Pikiran embryo yang dipupuk oleh Pak Tjokro dan mulai menemukan bentuk di Surabaya tiba‐tiba pecah menjadi kepompong di Bandung dan dari keadaan chrysalis berkembanglah seorang pejuang politik yang sudah matang. Dengan Inggit berada disampingku aku<br />
melangkah maju memenuhi amanat menudju cita‐cita.</strong></p>
<p><strong>&#8212;- TO  BE  CONTINUE &#8212;-<br />
</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peta "United States of Indonesia" 1946]]></title>
<link>http://karanglayung.wordpress.com/2009/08/29/majalah-time-23-desember-1946/</link>
<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 14:04:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>karanglayung</dc:creator>
<guid>http://karanglayung.wordpress.com/2009/08/29/majalah-time-23-desember-1946/</guid>
<description><![CDATA[  Di perpustakaan universitas kebetulan ada arsip majalah terbitan lama, misalnya bundel majalah Tim]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> </p>
<p>Di perpustakaan universitas kebetulan ada arsip majalah terbitan lama, misalnya bundel majalah <strong>Time </strong>sejak tahun 1930 an sampai dengan tahun 1970 an. Majalah <strong>Time</strong> terbitan 23 Desember 1946 mencantumkan gambar <strong>Ir. Sukarno</strong> sebagai gambar sampul dan memuat artikel mengenai keadaan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan yang bahan utama nya berasal dari tulisan <em>Robert Sherrod</em>, koresponden majalah <strong>Time</strong> di <em>Batavia</em>, yang dikirim melalui kawat waktu itu. Salinan gambar sampul maupun artikel sepanjang 4 halaman tersebut sudah saya pindai dan saya cantumkan di bawah ini.</p>
<p>Ada beberapa hal yang menarik dari artikel ini yang bisa jadi tidak semua bisa kita peroleh dari buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah Indonesia atau dari arsip-arsip yang ada di dalam negeri, misalnya:</p>
<ul>
<li>peta &#8220;<em>defacto</em> Indonesia&#8221; pada tahun 1946, 1 tahun setelah Proklamasi, di mana Belanda yang dengan perasaan terpaksa mengusulkan kompromi, agar kemerdekaan Indonesia dilakukan secara bertahap, di mana pada tahap itu wilayahnya hanya terdiri dari Jawa, Sumatera, dan Madura (mengenai perkembangan wilayah/peta &#8220;de facto&#8221; Indonesia 1945-1963 memang di cantumkan dalam buku-buku pelajaran sejarah).</li>
<li>pendapat <em>Robert Sherrod</em> bahwa lagu &#8220;Indonesia Raya&#8221;, irama nya sebagian &#8220;menjiplak&#8221; dari lagu yang sudah ada: &#8220;<em>Boola-Boola</em>&#8221; (lagu Belanda?)</li>
<li>dan mungkin yang paling penting, menjawab pertanyan hipotetik: Apakah setelah memprokamirkan kemerdekaannya waktu itu bangsa Indonesia benar-benar kelihatan mampu menyelenggarakan pemerintahan secara mandiri? koresponden Robert Sherrod menjawab sendiri pertanyaan itu: &#8220;<em>They have done surprisingly well, and with some assistance &#8211; Dutch or otherwise &#8211; I think they can.&#8221;</em> Bahkan <em>Van Mook</em> sendiri mengatakan bahwa selama 5 tahun terakhir tersebut (1941-1945) bangsa Indonesia nampak mengalami proses pematangan yang cepat, yang bahkan belum pernah teramati selama 50 tahun sebelumnya.&#8221;</li>
<li>ada juga catatan sejarah yang bisa mengundang senyum: Perdana Menteri <strong>Syahrir</strong> waktu itu sempat menjalin hubungan akrab dengan <em>John McKerreth</em>, konsul jenderal Inggris. Ketika pasukan Inggris akhirnya ditarik dari Indonesia, Syahrir menyampaikan penghargaanya kepada Inggris sambil &#8220;menyentil&#8221; Belanda: &#8220;<em>You introduced to our country some attractive traits of western culture that our people have rarely seen before from the white people they know: your politeness, kindness, and dignified self-restrain &#8230;&#8221;</em>  Ketika Van Mook, sebagai wakil bangsa Belanda kelihatan tersinggung dikatakan sebagai &#8220;less civilized&#8221; ketimbang Inggris, Syahrir dengan kalem menjawab, yang kira-kira bunyinya: &#8220;<em>don&#8217;t worry meneer.&#8221; &#8220;Pokoknya kalo pasukan sampeyan nanti mau angkat kaki dari Indonesia, Belanda bakal gue puji setinggi langit deh, melebihi bangsa Inggris ..</em> &#8221; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<p> </p>
<table border="0" cellpadding="15" bgcolor="#ffff00">
<tbody>
<tr>
<td bgcolor="#cccc00"> <a rel="attachment wp-att-741" href="http://karanglayung.wordpress.com/2009/08/29/majalah-time-23-desember-1946/sukarno_a0-2/"><img class="alignnone size-full wp-image-741" title="sukarno_A0" src="http://karanglayung.wordpress.com/files/2009/08/sukarno_a01.png" alt="sukarno_A0" width="449" height="646" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td bgcolor="#cccc00"> <a rel="attachment wp-att-748" href="http://karanglayung.wordpress.com/2009/08/29/majalah-time-23-desember-1946/sukarno_c1/"><img class="alignnone size-full wp-image-748" title="sukarno_C1" src="http://karanglayung.wordpress.com/files/2009/08/sukarno_c1.png" alt="sukarno_C1" width="452" height="634" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td bgcolor="#cccc00"> <a rel="attachment wp-att-750" href="http://karanglayung.wordpress.com/2009/08/29/majalah-time-23-desember-1946/sukarno_c2/"><img class="alignnone size-full wp-image-750" title="sukarno_C2" src="http://karanglayung.wordpress.com/files/2009/08/sukarno_c2.png" alt="sukarno_C2" width="453" height="653" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td bgcolor="#cccc00"> <a rel="attachment wp-att-751" href="http://karanglayung.wordpress.com/2009/08/29/majalah-time-23-desember-1946/sukarno_c3/"><img class="alignnone size-full wp-image-751" title="sukarno_C3" src="http://karanglayung.wordpress.com/files/2009/08/sukarno_c3.png" alt="sukarno_C3" width="455" height="652" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td bgcolor="#cccc00"> <a rel="attachment wp-att-752" href="http://karanglayung.wordpress.com/2009/08/29/majalah-time-23-desember-1946/sukarno_c4/"><img class="alignnone size-full wp-image-752" title="sukarno_C4" src="http://karanglayung.wordpress.com/files/2009/08/sukarno_c4.png" alt="sukarno_C4" width="452" height="652" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[waspadai penipuan dengan dasar iming² yang menggiurkan]]></title>
<link>http://nurkalakalidasa.wordpress.com/2009/08/28/waspadai-penipuan-dengan-dasar-iming%c2%b2-yang-menggiurkan/</link>
<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 09:30:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurkalakalidasa</dc:creator>
<guid>http://nurkalakalidasa.wordpress.com/2009/08/28/waspadai-penipuan-dengan-dasar-iming%c2%b2-yang-menggiurkan/</guid>
<description><![CDATA[belakangan saya sering mendapatkan beberapa teman yang tertipu puluhan juta bahkan ada yang mencapai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>belakangan saya sering mendapatkan beberapa teman yang tertipu puluhan juta bahkan ada yang mencapai ratusan oleh beberapa oknum yang mengaku dirinya pemegang kunci uang amanah sukarno. modus nya yaitu iming² jika membantu akan mendapatkan bagian yang jumlahnya mungkin bisa bikin tergiur. apapun jenis penipuan pastilah bersumber pada iming² yang menggiurkan kita dimana jaman sekarang tidaklah mudah mendapatkan uang sebesar itu tanpa harus bekerja menghabiskan waktu. dan yang lebih memprihatinkan lagi teman saya tersebut ternyata berpendidikan tinggi S1-S3 yang beberapa dari mereka lulusan luar negeri seperti amerika dan inggris. timbulah pertanyaan&#8212;&#62; KOK BISA? ternyata jawabnya adalah waspada terhadap diri sendiri, jangan merasa diri kita paling pintar, karena mungkin itulah awal dari kehancuran kita.</p>
<p>perihal orang pintar, paranormal, dukun dlsb patutlah diri kita waspada. janganlah mudah mempercayai orang lain yang baru kita kenal tanpa dasar yang kuat (buta). pahamilah sesuai pengetahuan anda, apabila terjadi kejanggalan lebih baik kita tarik diri dari lingkungan tersebut.</p>
<p>perlu diperhatikan, banyak orang bisa, tau, hebat, super dlsb. tapi mereka dengan kemampuan tersebut yang jujur mungkin cuman sedikit. </p>
<p>pesan saya untuk saudara-saudara pembaca sekalian &#8220;jalani hidup kita sesuai kemampuan kita, sesuai apa yang ada pada diri kita, jangan melampaui batas diri kita sendiri&#8221;.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DIJUAL "DI BAWAH BENDERA REVOLUSI"  Karangan Ir Sukarno  Dijual buku "DI BAWAH BENDERA REVOLUSI" Terbit tahun 1964, jilid I, cetakan ketiga   Kondisi : Mulus  Harga : Rp.5 juta   Hub : Erfin Syafrizal   Hp 08561004540 Ph 021 71421631 Ph 0251 3032554]]></title>
<link>http://iklan789.wordpress.com/2009/08/26/dijual-di-bawah-bendera-revolusi-karangan-ir-sukarno-dijual-buku-di-bawah-bendera-revolusi-terbit-tahun-1964-jilid-i-cetakan-ketiga-kondisi-mulus-harga-rp-5-juta-hub-erfin-syafr/</link>
<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 01:32:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>iklan789</dc:creator>
<guid>http://iklan789.wordpress.com/2009/08/26/dijual-di-bawah-bendera-revolusi-karangan-ir-sukarno-dijual-buku-di-bawah-bendera-revolusi-terbit-tahun-1964-jilid-i-cetakan-ketiga-kondisi-mulus-harga-rp-5-juta-hub-erfin-syafr/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a rel="attachment wp-att-198" href="http://iklan789.wordpress.com/2009/08/26/dijual-di-bawah-bendera-revolusi-karangan-ir-sukarno-dijual-buku-di-bawah-bendera-revolusi-terbit-tahun-1964-jilid-i-cetakan-ketiga-kondisi-mulus-harga-rp-5-juta-hub-erfin-syafr/sukarno-2/"><img class="aligncenter size-large wp-image-198" title="DIJUAL &#34;DI BAWAH BENDERA REVOLUSI&#34;  Karangan Ir Sukarno  Dijual buku &#34;DI BAWAH BENDERA REVOLUSI&#34; Terbit tahun 1964, jilid I, cetakan ketiga   Kondisi : Mulus  Harga : Rp.5 juta   Hub : Erfin Syafrizal   Hp 08561004540 Ph 021 71421631 Ph 0251 3032554" src="http://iklan789.wordpress.com/files/2009/08/sukarno1.jpg?w=819" alt="DIJUAL &#34;DI BAWAH BENDERA REVOLUSI&#34;  Karangan Ir Sukarno  Dijual buku &#34;DI BAWAH BENDERA REVOLUSI&#34; Terbit tahun 1964, jilid I, cetakan ketiga   Kondisi : Mulus  Harga : Rp.5 juta   Hub : Erfin Syafrizal   Hp 08561004540 Ph 021 71421631 Ph 0251 3032554" width="819" height="1024" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno, 1965-1967 (1)]]></title>
<link>http://putrarafflesia.wordpress.com/2009/08/21/amerika-serikat-dan-penggulingan-soekarno-1965-1967-1/</link>
<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 09:03:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>putrarafflesia</dc:creator>
<guid>http://putrarafflesia.wordpress.com/2009/08/21/amerika-serikat-dan-penggulingan-soekarno-1965-1967-1/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis pada Ags21, 2009 oleh Putra rafflesia Amerika Serikat dan Pengulingan Soekarno, 1965-1967 Pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3 style="text-align:left;">Ditulis pada <span>Ags21, 2009</span> oleh Putra rafflesia</h3>
<h3 style="text-align:center;"><span style="color:#ff6600;"><strong>Amerika Serikat dan Pengulingan Soekarno, 1965-1967</strong></span></h3>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#ff6600;">Peter Dale Scott</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Profesor <strong>Peter Dale Scott</strong> (PDS) melalui <em>paper-</em>nya mengungkapkan campur tangan Amerika Serikat dalam pengulingan Presiden Soekarno dengan cara kotor dan berdarah tahun 1965-1967. Seluruh catatan dalam periode yang sulit dimengerti akan tetap berada di luar jangkauan analisis yang terlengkap sekalipun. Fakta sesungguhnya yang terjadi tidak terdokumentasi; dan sementara dokumentasi yang beredar ditemukan banyak kontroversial dan tidak teruji faktanya. Pembantaian pengikut Soekarno yang beraliran kiri (sosialis) merupakan hasil dari konspirasi politik yang meninggalkan ketakutan (<em>paranoid</em> atau <em>phobia</em>) yang meluas, dan menjadikan ini suatu tragedi yang melampaui dari tujuan suatu kelompok atau koalisi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-4440"> </span>Dalam hal ini, Dale Scott tidak hanya memberi kesan bahwa provokasi dan kekerasan pada tahun 1965 hanya berasal dari militer Indonesia yang beraliran kanan yang telah bekerja sama dengan Amerika Serikat, bersama (termasuk penting, tapi jarang disebut/diuraikan) intelijen Inggris, Jerman dan Jepang. Namun dari keseluruhan papernya, Dale Scott menemukan peristiwa ini sebagai konspirasi yang rumit dan terselubung. Kompleksitas dan ambiguistias sejarah pembantaian berdarah Indonesia 1965-1967 yang sesungguhnya masih lebih sederhana dan mudah dipercaya oleh masyarakat daripada sejarah versi dari Presiden Soeharto dan Permerintahan Amerika Serikat.</p>
<p style="text-align:justify;">Klaim mereka (<em>versi Soeharto dan Pemeritahan Amerika</em>) yang masih bermasalah itu menjelaskan bahwa pada 30 September 1965, sebuah gerakan yang disebut sebagai Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) melakukan kudeta (pembunuhan 6 jenderal militer), merupakan gerakan penyerangan “kiri” terhadap “kanan”, lalu memberi legalitas restorasi kekuasaan yang diikuti oleh usaha pembantaian golongan kiri oleh golongan tengah. Dalam skenario ini, Soeharto menempatkan dirinya sebagai sosok golongan “tengah” (<em>padahal Soeharto dan AH Nasution merupakan sosok kanan, sementara Jenderal Ahmad Yani merupakan sosok tengah</em>) atau istilah yang digunakan politikus era saat ini adalah “politik jalan tengah”. Ini semata-mata hanya menjadi “kendaraan” simpatik sekaligus pengelabuan kepada rakyat yang mana sesungguhnya mereka sedang berkonspirasi dengan kekuataan asing yakni Amerika Serikat cs atau lebih tepatnya “golongan kanan yang tulen”.</p>
<p style="text-align:justify;">**************</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan berusaha menelusuri data-data Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) khususnya bukti yang mendiskreditkan tesis anti-PKI, Dale Scott melalui penelusuran dokumen <span style="text-decoration:underline;">Coen Holtazappel</span> “<em>The 30 September Movement</em>“, maka didapatkan suatu kesimpulan bahwa gerakan 30 September 1965 merupakan gerakan konspirasi yang berpura-pura melakukan kudeta, padahal yang melakukan sekaligus merancang konpirasi ini adalah golongan kanan “tulen” Angkatan Darat dengan maksud untuk menghabisi golongan tengah militer terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Golongan kanan tulen ini adalah Soeharto dan AH Nasution yang anti-komunis (terlibat dalam hal ini adalah Sarwo Edhi). Sedangkan golongan tengah militer adalah mereka yang loyal tapi kritis terhadap Soekarno dan Pancasila, yang tidak bersekutu dengan PKI ataupun Amerika. Mereka adalah 6 Jenderal yang dibunuh. Dengan kudeta “pura-pura”, setelah golongan tengah Angkatan Darat dihabisi, maka golongan kanan dengan mudah merintis pembersihan golongan kiri (termasuk rakyat sipil) dengan slogan dan provokasi. Habisnya golongan tengah dan sipil kiri merupakan rencana langkah-langkah yang harus diambil demi mengukuhkan serta membentuk pemerintahan militer diktator. [<em>catatan: ini juga terjadi di negara Chile yang mana Jenderal Pinochet bertindak seperti Soeharto</em>].</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam paper Dale Scott, ia berkesimpulan bahwa dalam konspirasi “Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno, 1965-1967″ ditemukan tiga tahapan besar yakni:</p>
<ol>
<li><strong>Gestapu- 30 September 1965</strong> : merupakan “kudeta” yang dilakukan oleh sayap kiri “gadungan”</li>
<li><strong>KAP-Gestapu</strong> : yakni gerakan anti Gestapu dengan membantai PKI beserta ratusan ribu orang simpatisan PKI sebagai the dead of socialism.</li>
<li><strong>Pendegradasian Pengaruh dan </strong><strong>Kekuasaan </strong><strong>Soekarno</strong> : secara terus menerus hingga tidak bersisa, hingga rakyat tidak diperbolehkan belajar atau mengikuti ajaran Bung Karno.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pemaparan Dale Scott hanya membahas dua dari tiga phasa besar ini yakni phasa KAP-Gestapu dan Pendegradasian pengaruh dan kekuasaan Soeharto. Sedangkan phasa pertama, menurut penulis istilah kudeta pada tahap pertama bersifat fiktif, karena tidak adanya bukti-bukti pengambilalihan kekuasaan pada tahap ini oleh PKI. Buktinya Presiden Soekarno tidak digulingkan pada 30 September – 1 Oktober 1965 oleh PKI. Justru, Presiden Soekarno digulingkan oleh Soeharto cs setelah Gestapu-30 September dalam rangkaian “3 tahapan konspirasi”.</p>
<p style="text-align:center;"><img title="Nusantaraku" src="http://nusantaranews.files.wordpress.com/2009/08/barpostnusantaraku.gif?w=600&#038;h=15#38;h=15" alt="Nusantaraku" width="600" height="15" /></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>3 Tahapan Besar Penggulingan Soekarno</strong></span></p>
<div style="width:360px;"><img title="Menunggu Eksekusi" src="http://www.namebase.org/gifs/indones.gif" alt="Menunggu Eksekusi" width="350" height="355" />Ratusan orang dieksekusi secara massal</div>
<p style="text-align:justify;">Sebelum membahas keterlibatan Amerika Serikat  yang oleh CIA sendiri menyebut peristiwa 1965 sebagai “salah satu pembunuhan massal terburuk sepanjang abad 20″, marilah kita <em>flash back</em> kembali masalah-masalah apa saja yang menghantar terjadinya pembunuhan massal terburuk ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Harold Crouch, menjelang tahun 1965, staf umum Angkatan Darat (AD) Indonesia pecah menjadi dua kubu. Jauh sebelumnya, para jenderal tersebut (baik tengah maupun kanan) adalah anti-PKI, namun menjelang 1965 para jenderal ini pecah menjadi dua kubu pasca memburuknya kondisi kesehatan Soekarno (<em>yang mana Soekarno jatuh pingsan</em>). Kedua kubu tersebut adalah:</p>
<ol>
<li><strong>Kubu Tengah AD Indonesia</strong><br />
Kubu tengah adalah kelompok yang tetap loyal pada Soekarno, namun disisi lain mereka menentang kebijakan Soekarno tentang <span style="text-decoration:underline;">Persatuan Nasional</span> (Nasakom) dimana PKI masuk dalam kekuatan nasional tersebut.<br />
Kubu tengah dipimpin oleh <span style="text-decoration:underline;">Jenderal Ahmad Yani </span>dan diikuti kawan-kawannya.</li>
<li><strong>Kubu Kanan AD Indonesia</strong><br />
Kubu kanan merupakan mereka yang menentang kebijakan Soekarno maupun Ahmad Yani yang tetap loyal pada Bung Karno. Kubu ini dipimpin oleh <span style="text-decoration:underline;">AH Nasution</span> dan <span style="text-decoration:underline;">Soeharto</span> yang anggotanya diantaranya adalah Basuki Rachmat dan Sudirman dari Seskoad.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kisah penggulingan Soekarno yang sederhana (<em>dan belum terungkap secara menyeluruh</em>) adalah ketika musim “gugur” (September) 1965, Ahmad Yani beserta kelompok intinya dibunuh, hal yang kemudian menjadi jalan “legal” bagi upaya merebut kekuasaan oleh kekuatan-kekuatan anti-Yani (<em>dan yang pasti juga adalah anti Soekarno yang melindungi PKI</em>) dari kubu sayap kanan yang berafiliasi dengan Soeharto. Kunci perebutan kekuasaan ini adalah apa yang dinamakan “coup” (kudeta) 30 September, yang berdalih bahwa menyelamatkan Soekarno, <span style="text-decoration:underline;">namun sesungguhnya target utama “kudeta” tersebut adalah membunuh para jenderal besar AD yang paling loyal terhadap Soekarno yakni kelompok Ahmad Yani.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini dapat ditelusuri dari pertemuan AD yang berlangsung pada bulan Januari 1965 yang dihadiri oleh petinggi AD termasuk didalamnya adalah A Yani dan tidak terkecuali Soeharto. Pada pertemuan tersebut,  <span style="text-decoration:underline;">ada sekelompok petinggi AD yang kecewa (tidak senang) dengan Ahmad Yani dan pendukungny</span>a. Dan pertemuan Januari 1965 menjadi petaka para jenderal yang loyal terhadap Soekarno.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai informasi, pada pertemuan Januari 1965, terdapat wacana untuk merebut kekuasaan ketika kondisi Presiden Soekarno memburuk untuk mencegah jatuhnya kekuasaan pada kelompok PKI. Namun rencana kudeta ini ditolak oleh Ahmad Yani. Pendapat A Yani didukung oleh empat orang petinggi AD lain yang masuk dalam kubu Yani. A Yani bersama 4 jenderal lain yang mendukung pendapat Yani pada pertemuan Januari 1965 dibunuh pada 1 Oktober 1965. Sebaliknya, mereka yang termasuk dalam kelompok Anti-Yani, justru bebas dari “kudeta” 30 September 1965. Dari kelompok yang anti Yani pada pertemuan Januari 1965, setidaknya 3 orang diantaranya yakni Soeharto, Basuki Rachmat dan Sudirman dari Seskoad menjadi tokoh utama yang menumpas “golongan kiri” dan golongan A Yani yang loyal pada Soekarno.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Tidak seorang Jenderal yang anti Soekarno pun yang menjadi target “kudeta 30S</span>“, dengan satu pengecualian yakni Jenderal AH Nasution. Namun perlu dicatat bahwa AH Nasution “dapat” bebas dari pembunuhan disisi lain anaknya Ade Irma Suryani dan ajudannya Lettu Pierre Tendean yang dibunuh. AH Nasution berhasil melarikan diri tanpa mengalami luka berat, dan kemudian mendukung gerakan pembasmian PKI dan ideologi Soekarno pasca 30S.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjelang tahun 1961, CIA dikecewakan oleh AH Nasution yang semula dianggap sebagai “aset/orang” yang handal, namun kemudian dalam beberapa catatan ternyata AH Nasution tetap taat kepada Soekarno dalam berbagai kebijakan penting. Dan menjelang tahun 1965, kekecewaan ini sangat terasa bagi pihak yang mengoposisi AH Nasution, setelah bukti keterlibatan Amerika Serikat dalam perpecahan Vietnam. Lalu bagaimana <em>track record </em>hubungan Soeharto vs Nasution sampai-sampai AH Nasution sempat menjadi sasaran target “kudeta Gestapu”?</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1959, AH Nasution memeriksa kasus dugaan tindakan korupsi yang dilakukan Soeharto. Karena kasus ini, Soeharto diberi sanksi dengan memindahtugaskan Soeharto sebagai Panglima Diponegoro. Akibat kejadian 1959, hubungan Soerharot dan AH Nasution cukup “dingin”. [Crouch, <em>The Army</em>, p. 40; Brian May, <em>The Indonesian Tragedy</em> (London: Routledge and Kegan Paul, 1978), pp. 221-2.]</p>
<p style="text-align:justify;">**************</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;"><strong>Pernyataan Distorsi : Skenario Membalikkan Fakta Sudah Direncankan Sejak Awal</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Salah satu hal yang paling tidak manusiawi adalah mereka yang berusaha mendistorsi fakta realitas dengan mengkambinghitamkan suatu kejadian serta menggiring opini publik ditengah keruhnya suasana. Suka mempolitisir suatu peristiwa dengan alasan yang tidak korelatif. Misalnya kasus Bom Ritz Carlton.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak awal pasca pembunuhan 6 Jenderal besar yang loyal terhadap Soekarno, telah beredar pernyataan-pernyataan yang berusaha mendistorsi dengan realitas. Pernyataan Letkol Untung mengenai “Gestapu”, begitu juga distorsi ini oleh Soeharto dengan menginstruksikan pembasmian kelompok sosialis. Pada tanggal 1 Oktober 1965, Letnan Kolonel Untung mengumumkan kepada publik bahwa pada hari ini (1 Oktober 1065), Soekarno dilindungi (tawan) oleh kelompok Gestapu (PKI). Padahal pada tanggal 1 Oktober 1965, Soekarno tidak di”lindungi” oleh PKI. Ini sudah pernyataan yang didistorsi.</p>
<p style="text-align:justify;">Belum sampai disana, pada persidangannya Letkol Untung juga mengatakan bahwa para jenderal (yang tewas dalam konspirasi Gestapu) dengan dukungan CIA merencanakan kudeta pada tanggal 5 Oktober 1965, karena telah disiagakannya pasukan militer dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Barat ke Jakarta.  Padahal sesungguhnya, pasukan-pasukan militer tersebut disiapkan di Jakarta untuk parade hari ABRI 5 Oktober 1965.</p>
<p style="text-align:justify;">Untung sengaja tidak mengatakan hal yang sesungguhnya, padaha ia masuk dalam panitia persiapan peringatan hari ABRI tersebut. Dan lebih dashyatnya, padahal dia sendiri yang telah mengambil bagian dalam memilih kesatuan-kesatuan pasukan untuk parade hari ABRI tersebut. Untung juga tidak mengatakan bahwa kesatuan-kesatuan yang terpilih itu (termasuk bekas Batalion-nya yakni Batalyon 454/Banteng Raiders) telah menyediakan sekutu-sekutu untuk melakukan pembunuhan para Jenderal. Lalu, Letkol Untung dieksekusi mati dengan fakta persidangan yang absurd.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun ada catatan yang sering terlupakan dalam sejarah bahwa Letkol Untung (Pasukan Tjakrabirawa)  yang melakukan “kudeta gadungan” memiliki hubungan khusus dengan Soeharto. Untung adalah anak buah Soeharto, dan Soeharto bersama Tien Soeharto pada tahun 1965 melakukan perjalanan panjang untuk sekadar menghadiri pernikahan Untung di Kebumen dari Jakarta. Lalu, mengapa Untung begitu bodoh melakukan kudeta yang kemudian Soeharto pula yang menghabisi nyawanya?</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana distorsi Soeharto?<br />
Sesaat penculikan dan pembunuhan para Jenderal yang loyal terhadap Soekarno, tanpa bukti jelas Soeharto menuduh PKI + Angkatan Udara RI (AURI) melakukan pembunuhan enam jenderal. Lalu mengkambinghitamkan  sekaligus memvonis hukuman mati (<span style="text-decoration:underline;">namun pada akhirnya dipenjara 29 tahun</span>)  Marsekal Madya Omar Dhani pada Desember 1966 (<em>Almarhum meninggal pada 24 Juli 2009 silam)</em> yang loyal terhadap Soekarno [<a href="http://rosodaras.wordpress.com/2009/07/25/wafatnya-sukarnois-sejati-omar-dhani/" target="_blank">wawancaranya bisa dibaca di sini</a>]. Alasan Soaharto menghubungkan Omar Dhani dalam peristiwa Gestapu hanya karena lokasi mayat-mayat para jenderal ditemukan di Lubang Buaya di dekat Bandara Halim Perdana Kusuma. Disamping itu, Soeharto menghubungkan Omar Dhani karena para Gerwani melakukan latihandi kawasan dekat Halim Perdana Kusuma.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal, pada saat itu, sesungguhnya Soeharto mengerti betul bahwa pembunuhan para jenderal itu dilakukan oleh unsur-unsur AD yang ditunjuk oleh Letkol Untung (sahabat dekat Soeharto sendiri). Untung pernah ditempatkan sebagai prajurit di bawah komando Soeharto. Fakta ini semakin jelas dari pernytaan Soeharto sendiri, “<span style="color:#993300;"><em>Dalam perjalan saya ke Mabes Kostrad (markasnya Soeharto), saya berpapasan dengan prajurit Baret Hijau (Pasukan Untung) yang telah ditempatkan dibawah Komando Kostrad (komando Soeharto), namun mereka tidak memberi hormat pada saya”</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Catatan: <em>Batalyon Infanteri (Yonif) 454/Banteng Raiders yang menjadi pasukan pendukung Untung dalam Gestapu sesungguhnya merupakan pasukan Raiders yang dilatih dengan bantuan dana dari Amerika Serikat. Dari korelasi ini, sangatlah mungkin pasukan Raiders (Untung) – Amerika – Soeharto menjadi satu kesatuan dalam konspirasi ini.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"><strong><span style="color:#ff0000;">Lanjutan Seri -2</span></strong> : <a href="http://nusantaranews.wordpress.com/2009/08/14/amerika-serikat-dan-penggulingan-soekarno-1965-1967-2/" target="_blank">Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno, 1965-1967 (2)</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><img title="Nusantaraku" src="http://nusantaranews.files.wordpress.com/2009/08/barpostnusantaraku.gif?w=600&#038;h=15#38;h=15" alt="Nusantaraku" width="600" height="15" /></p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini saya ambil dari cuplikan <em>paper</em> dari<strong> Prof  Peter Dale Scot</strong>t dengan judul <a href="http://www.namebase.org/scott.html" target="_blank">The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967</a>. Tulisan tersebut merupakan investigasi mendalam dari berbagai sumber yang disusun bertahun-tahun dan pertama kali di publikasikan pada Desember 1984.  Peter Dale Scott adalah profesor di <strong>Universitas California di Berkeley</strong> dan juga anggota  Dewan Penasehat “Public Informatioan Research”.</p>
<p>Dalam rangka memperingati HUT RI 1945-2009<br />
Salam Nusantaraku, 30 Juli 2009<br />
endrawan</p>
<p>Disadur dari Intisari :<br />
<a href="http://www.namebase.org/scott.html" target="_blank">Peter Dale Scott : The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[IBSN: SEJARAH BAGI PARA PEMBANGKANG]]></title>
<link>http://gus7.wordpress.com/2009/08/18/ibsn-sejarah-bagi-para-pembangkang/</link>
<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 23:20:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>BaNi MusTajaB</dc:creator>
<guid>http://gus7.wordpress.com/2009/08/18/ibsn-sejarah-bagi-para-pembangkang/</guid>
<description><![CDATA[MR. Sjafruddin Prawiranegara Sosok Pahlawan Nasional Pangeran Antasari mendapatkan kehormatan dalam ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MR. Sjafruddin Prawiranegara Sosok Pahlawan Nasional Pangeran Antasari mendapatkan kehormatan dalam ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bung Karno pernah dicoba dibunuh 6 kali]]></title>
<link>http://ableh212.wordpress.com/2009/08/17/bung-karno-pernah-dicoba-dibunuh-6-kali/</link>
<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 04:52:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>ableh212</dc:creator>
<guid>http://ableh212.wordpress.com/2009/08/17/bung-karno-pernah-dicoba-dibunuh-6-kali/</guid>
<description><![CDATA[Sejak 1950 sampai 1965 telah terjadi 6 kali percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno, yaitu : Penggr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-medium wp-image-109" title="soekarno" src="http://ableh212.wordpress.com/files/2009/08/soekarno1.jpg?w=211" alt="soekarno" width="211" height="300" /></p>
<p>Sejak 1950 sampai 1965 telah terjadi 6 kali percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno,</p>
<p>yaitu :</p>
<ol>
<li> Penggranatan di Cikini                                                                                Terjadi pada tanggal 30 Nopember 1957, di Cikini, dimana pada saat itu Bung Karno menghadiri peringatan ulang tahun Yayasan Perguruan Cikini. Guntur dan Megawati adalah murid SD Yayasan Perguruan Cikini. Bung Karno sempat meninjau berkeliling sekitar 25 menit, dan ketika pulang tiba-tiba terdengar ledakan hebat, yang belakangan adalah ledakan granat yang dilempar dari sekitar sekolah. Para pelakunya Juyuf Ismail, Saadon bin Mohammad, Tasrif bin Husein, dan Moh Tasin bin Abubakar berhasil dibekuk dan di hadapkan ke pengadilan militer. Mereka di jatuhi hukuman mati pada 28 April 1958.</li>
<li>Penembakan dengan Pesawat MIG-17 ke Istana Negara <strong> </strong> Pada tanggal 9 Maret 1960, Bung Karno sedang berada di Istana Merdek. Sebuah pesawat terbang MIG 15 terbang rendah dan meluncurkan roket tepat mengenai Istana Merdeka. Namun, Tuhan telah menggerakkan tangan-Nya untuk melindungi Bung Karno. Letnan Penerbang maukar, <!--more-->pilot pesawat itu mendaratkan pesawatnya di persawahan daerah garut karena kehabisan bahan bakar. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati, tetapi sebelum sempat menjalani hukumannya, Bung Karno mengumumkan amnesty umum terhadap PRRI/PERMESTA  Yang pernah memberontak. Maukar yang termasuk unsure PRRI.PERMESTA, langsung dibebaskan.</li>
<li>Usaha penembakan dalam acara Idhul Adha                                         Pada tanggal 14 Mei 1962, saat orang-orang mukmn termasuk Bung Karno sedang berjajar dalam shaf hendak mealksanakan Sholat Iedul Adha dengan mengambil tempat di lapangan rumput antara Istana Merdeka dan Istana Negara, tiba-tiba terdengar tembakan pistol bertubi-tubi diarahkan kepada Bung Karno dari jarak 4 shaf dibelakangnya. Ketika diperiksa, penembak mengaku melihat Bungkarno yang dibidiknya, ada dua orang dan menjadi bingunglah ia jendak menembak yang mana. ZTembakannya meleset tidak mengenai Bung Karno yang menjadi sasaran, sebaliknya menyerempet bahu Ketua DPR Zainul Arifin dari NU yang mengimami shalat. Orang tersebut divonis mati, tetapi ketika disodorkan kepada Bung Karno untuk membubuhkan tandatangan untuk di eksekusi, Bung Karno tidak sampai hati untuk merentangkan jalan menuju kematiannya, karena ia berpikir bahwa pembunuh sesungguhnya adalah orang-orang terpelajar ultra fanatic yang merencanakan perbuatan itu.    Seorang kiai yang memimpin pesantren di daerah Bogor H. Moh Bachrm, dituduh mengatur rencana tersebut dan memerintahkan melakukannya. Setelah meletus G30S, tempat tahanannya dipindahkan dari RTM ke Penjara Salemba berbaur dengan ribuan tahanan G30S. ditempat itu juga ditahan seorang kapten CPM yang pernah menginterograsinya. Haji Moh. Bachrum menyangkal semua tuduhan. Sikapnya terhadap tahanan G30S, sangat baik dan selama di Salemba, ia ditunjuk mengimami sembahyang berjamaan yang diikuti oleh semua tahanan yang beragama Islam yang diselenggarakan di lapangan penjara. Ia bebas lebih cepat dari pada para tahanan G30S, karena dianggap berkelakuan baik.</li>
<li> Serangan mortar dari gerombolan Kahar Muzakar                                  Di jalanan keluar dari Laangan Terbang mandai menuju Kota. Peluru mortar diarahkan untuk mengenai kendaraan Bung Karno, tetapi ternyata meleset jauh</li>
<li>Pelemparan granat di Makassar     <strong> <span style="font-weight:normal;">Bung Karno dilempar granat pada malam hari di Jalan Cenderawasih, saat Bung Karn dalam perjalanan menuju Gedung Olahraga mattoangnn untuk mengghadiri suatiu acara. Lemparan granat itu meleset dan jatuh mengenai mobil lain yang beriringan dengan mobil Bung Karno dan tidak menimbulkan cedera apa-apa</span></strong></li>
<li><strong><span style="font-weight:normal;">Terjadi ketika suatu hari Bung Karno dalam perjalanandari Bogor ke Jakarta dalam satu iring-iringan. Bung Karno melihat sendiri seorang laki-laki dengan gerak-gerik aneh seperti maling. Dan tiba-tiba saja melemparkan granat ke arah mobil Bung Karno.</span></strong></li>
</ol>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jakarta (August 17)]]></title>
<link>http://tbelfield.wordpress.com/2009/08/14/jakarta-august-17/</link>
<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 21:30:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>tbelfield</dc:creator>
<guid>http://tbelfield.wordpress.com/2009/08/14/jakarta-august-17/</guid>
<description><![CDATA[Photo: Sukarno &#8220;Sipping Kopi Tubruk, the strong black Javanese coffee I cannot live without, d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Photo: Sukarno &#8220;Sipping Kopi Tubruk, the strong black Javanese coffee I cannot live without, d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Persetujuan Dengan Bung Karno]]></title>
<link>http://rotyyu.wordpress.com/2009/08/14/persetujuan-dengan-bung-karno/</link>
<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 14:47:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>rotyyu</dc:creator>
<guid>http://rotyyu.wordpress.com/2009/08/14/persetujuan-dengan-bung-karno/</guid>
<description><![CDATA[Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji Aku sudah cukup lama dengan bicaramu dipanggang d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji<br />
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu<br />
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu<br />
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945<br />
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu<br />
Aku sekarang api aku sekarang laut</p>
<p>Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat<br />
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar<br />
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak &#38; berlabuh</p>
<p>Chairil Anwar</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BUKU LANGKA DIBAWAH BENDERA REVOLUSI PRESIDEN SUKARNO]]></title>
<link>http://bukubukubekas.wordpress.com/2009/08/06/buku-langka-dibawah-bendera-revolusi-presiden-sukarno/</link>
<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 09:22:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>bukubukubekas</dc:creator>
<guid>http://bukubukubekas.wordpress.com/2009/08/06/buku-langka-dibawah-bendera-revolusi-presiden-sukarno/</guid>
<description><![CDATA[Judul: Dibawah Bendera Revolusi Djilid Pertama Penulis: Sukarno Tebal: 627 Penerbit: Panitya Penerbi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Judul: Dibawah Bendera Revolusi Djilid Pertama Penulis: Sukarno Tebal: 627 Penerbit: Panitya Penerbi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ustadz Jendral Soedirman: Roh Tentara Indonesia]]></title>
<link>http://asetow.wordpress.com/2009/07/25/ustadz-jendral-soedirman-roh-tentara-indonesia/</link>
<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 10:47:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>asetow</dc:creator>
<guid>http://asetow.wordpress.com/2009/07/25/ustadz-jendral-soedirman-roh-tentara-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Desa Bodaskarang jati merupakan desa kecil di wilayah Kecamatan Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah. S]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Desa Bodaskarang jati merupakan desa kecil di wilayah Kecamatan Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah. S]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MISTERI SETAN 10 - DARAH BIRU]]></title>
<link>http://dikharis.wordpress.com/2009/07/24/misteri-setan-10-darah-biru/</link>
<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 03:54:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>dikharis</dc:creator>
<guid>http://dikharis.wordpress.com/2009/07/24/misteri-setan-10-darah-biru/</guid>
<description><![CDATA[Semua dedengkot zionis satu garis darah yg sama?, siapa sajakah mereka, benarkah?, gimana bisa terja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/kHbVoumPufs&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/kHbVoumPufs&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p><span>Semua dedengkot zionis satu garis darah yg sama?, siapa sajakah mereka, benarkah?, gimana bisa terjadi ya?..au dah, lo silahkan analisa sendiri dan boleh dipercaya boleh tidak </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jakarta (Sukarno Under Attack)]]></title>
<link>http://tbelfield.wordpress.com/2009/07/19/jakarta-sukarno-under-attack/</link>
<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 19:24:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>tbelfield</dc:creator>
<guid>http://tbelfield.wordpress.com/2009/07/19/jakarta-sukarno-under-attack/</guid>
<description><![CDATA[Photo: Sukarno, Life Magazine, John Dominis, 1960 After God made Sukarno he broke the mould. Sukarno]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Photo: Sukarno, Life Magazine, John Dominis, 1960 After God made Sukarno he broke the mould. Sukarno]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Presiden | Ramalan Jayabaya]]></title>
<link>http://deltapapa.wordpress.com/2009/07/09/presiden-ramalan-jayabaya/</link>
<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 08:27:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>deltapapa</dc:creator>
<guid>http://deltapapa.wordpress.com/2009/07/09/presiden-ramalan-jayabaya/</guid>
<description><![CDATA[Pemilihan Presiden Tahun 2009 sudah berlangsung, hasiln quick count sudah mengindikasikan siapakah P]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pemilihan Presiden Tahun 2009 sudah berlangsung, hasiln quick count sudah mengindikasikan siapakah P]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Activist-Artist Looks for Life’s True Colors]]></title>
<link>http://lekhikaa.wordpress.com/2009/07/02/activist-artist-looks-for-life%e2%80%99s-true-colors/</link>
<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 15:14:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Titania Veda</dc:creator>
<guid>http://lekhikaa.wordpress.com/2009/07/02/activist-artist-looks-for-life%e2%80%99s-true-colors/</guid>
<description><![CDATA[Published Jakarta Globe, 3 July 2009 Enrico Soekarno plans to return to the use of color in his next]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Published Jakarta Globe, 3 July 2009 Enrico Soekarno plans to return to the use of color in his next]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kekalahan SBY di Depan Mata]]></title>
<link>http://moendg07.wordpress.com/2009/06/30/kekalahan-sby-di-depan-mata/</link>
<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 20:31:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vara</dc:creator>
<guid>http://moendg07.wordpress.com/2009/06/30/kekalahan-sby-di-depan-mata/</guid>
<description><![CDATA[Serangan-serangan yang tidak santun serta blunder yang dilakukan oleh kubu SBY, disengaja ataupun ti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Serangan-serangan yang tidak santun serta blunder yang dilakukan oleh kubu SBY, disengaja ataupun ti]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
