<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>taubat &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/taubat/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "taubat"</description>
	<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 14:04:05 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Sambutlah dakwah itu ....]]></title>
<link>http://muharrikdaie.wordpress.com/2009/12/12/sambutlah-dakwah-itu/</link>
<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 18:54:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>muharrikdaie</dc:creator>
<guid>http://muharrikdaie.wordpress.com/2009/12/12/sambutlah-dakwah-itu/</guid>
<description><![CDATA[Salam buat semua &#8230; Semangat menulis masih ada lagi. Ramai yang membantu membarakan semangat in]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Salam buat semua &#8230; Semangat menulis masih ada lagi. Ramai yang membantu membarakan semangat in]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Bertaubatnya Seorang Pemimpin Komunis LEON TROTSKY]]></title>
<link>http://sianaksurau.wordpress.com/2009/12/05/kisah-bertaubatnya-seorang-pemimpin-komunis-leon-trotsky/</link>
<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 00:35:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>sianaksurau</dc:creator>
<guid>http://sianaksurau.wordpress.com/2009/12/05/kisah-bertaubatnya-seorang-pemimpin-komunis-leon-trotsky/</guid>
<description><![CDATA[Leon Trotsky adalah salah seorang yang paling terkenal di antara sejawatnya di partai komunis, salah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Leon Trotsky adalah salah seorang yang paling terkenal di antara sejawatnya di partai komunis, salah]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bicara poligami...(15)]]></title>
<link>http://milkyway27.wordpress.com/2009/11/30/bicara-poligami-12/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:07:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>milkyway27</dc:creator>
<guid>http://milkyway27.wordpress.com/2009/11/30/bicara-poligami-12/</guid>
<description><![CDATA[Ada seorang ustaz, da’ie, harakiyy, pernah berkata utk memahami syariat poligami di dalam Islam bias]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ada seorang ustaz, da’ie, harakiyy, pernah berkata utk memahami syariat poligami di dalam Islam bias]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ditutup (sementara)]]></title>
<link>http://degoblog.wordpress.com/2009/11/30/ditutup-sementara/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 06:43:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>KangUsup</dc:creator>
<guid>http://degoblog.wordpress.com/2009/11/30/ditutup-sementara/</guid>
<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh, salam sejahtera untuk kita semua, semoga kita sem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#3366ff;">Assalamu&#8217;alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,</span></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#3333ff;">salam sejahtera untuk kita semua, semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah Tuhan Yang Maha Esa. salam hangat penuh kasih.Ditutup (sementara) ?</p>
<p>Benar, saudaraku sekalian.<br />
dengan berat hati saya harus menutup sementara, dalam artian tidak memposting dan membalas segala bentuk komentar-komentar para sahabat sekalian terkasih. sekali lagi mohon maaf. dikarenakan, banyak hal yang harus diselesaikan secara seksama dan sungguh-sungguh, demi saya pribadi, keluarga, dan rekan-rekan disekitar saya. kemungkinan akan lama tidak aktif, karena selain menyelesaikan kewajiban, saya pun akan melakukan intropeksi total dan pertaubatan total, <span style="font-style:italic;">Insya Allah.</span> dan melakukan pengasingan diri kebeberapa tempat, yang menurut saya sarat akan nuansa alam dan spiritualitas yang tinggi. mohon doanya, semoga langkah hijrah saya akan berhasil dan dimudahkan oleh Allah Swt. amin</p>
<p>sehubungan dengan akan kita jumpainya bulan Muharram sebagai pertanda tahun baru Islam. saya juga mengucapkan;</p>
<blockquote><p>Selamat Tahun Baru 1431 H<br />
untuk seluruh saudaraku seaqidah dimanapun kalian berada</p></blockquote>
<p></span></div>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_x2yHLTtYt-g/SxNlft33koI/AAAAAAAAANk/fsnKwx86oD4/s1600/muharram-starone.jpg"><img style="display:block;text-align:center;cursor:pointer;width:320px;height:230px;margin:0 auto 10px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_x2yHLTtYt-g/SxNlft33koI/AAAAAAAAANk/fsnKwx86oD4/s400/muharram-starone.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<p>***<br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/_x2yHLTtYt-g/SxNl7TUgUCI/AAAAAAAAANs/jXWmBFbgkd0/s1600/maalhijrah.jpg"><img style="display:block;text-align:center;cursor:pointer;width:263px;height:320px;margin:0 auto 10px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_x2yHLTtYt-g/SxNl7TUgUCI/AAAAAAAAANs/jXWmBFbgkd0/s400/maalhijrah.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#3366ff;">semoga kita akan menjadi pribadi Muslim yang semakin kaffah ditengah arus liberalisasi Islam oleh sebagian umat Islam sendiri, belum lagi dari luar yang tidak henti-hentinya menhujami Islam dengan segala cara. kita jangan terperdaya dan terpengaruh, tetaplah kepada ajaran yang lurus. semoga kita tetap diberikan kekuatan untuk memakmurkan dunia ini, dengan tetap berlandaskan dengan nilai-nilai Islami. semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang berhasil dunia dan akhirat.</span></div>
<p>***</p>
<p><span style="color:#ffff00;">dan untuk rekan-rekan Kristiani,</span><br />
<span style="color:#ffff00;">saya ucapkan selamat natal dan tahun baru 2010 Masehi, semoga dengan momentum ini akan lebih mengeratkan tali toleransi antar umat beragama. jangan lupa, sempatkanlah ke Gereja, dan baca dan pelajarilah Alkitab.</span></p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_x2yHLTtYt-g/SxNn0_QaTqI/AAAAAAAAAN0/2lf9SAx0p_M/s1600/nataldantahunbaru.jpg"><img style="display:block;text-align:center;cursor:pointer;width:300px;height:400px;margin:0 auto 10px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_x2yHLTtYt-g/SxNn0_QaTqI/AAAAAAAAAN0/2lf9SAx0p_M/s400/nataldantahunbaru.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<p>terima kasih,</p>
<p>salam hangat penuh kasih</p>
<p>ttd</p>
<p><strong>Air Mata<br />
</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anugerah Allah Bagi Pembuat Dosa]]></title>
<link>http://ruanghikmah.wordpress.com/2009/11/29/anugerah-allah-bagi-pembuat-dosa/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 15:04:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>ruanghikmah</dc:creator>
<guid>http://ruanghikmah.wordpress.com/2009/11/29/anugerah-allah-bagi-pembuat-dosa/</guid>
<description><![CDATA[Betapa Allah sangat menyayangi hamba-hambaNya. Setiap saat, rahmatNya senantiasa tercurah kepada sem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Betapa Allah sangat menyayangi hamba-hambaNya. Setiap saat, rahmatNya senantiasa tercurah kepada sem]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Taubatan Nasuha]]></title>
<link>http://mastoro.wordpress.com/2009/11/28/taubatan-nasuha/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 13:58:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>mastoro</dc:creator>
<guid>http://mastoro.wordpress.com/2009/11/28/taubatan-nasuha/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa kali saya menerima pertanyaan dan komentar seputar tentang taubat.. Cobalah simak berikut i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Beberapa kali saya menerima pertanyaan dan komentar seputar tentang taubat..</p>
<p>Cobalah simak berikut ini,<br />
“Saya melakukan sebuah dosa besar,saya telah bertaubat,tetapi saya mengulangi lagi perbuatan dosa tsb,<br />
apakah jika saya bertaubat,taubat saya akan diterima oleh Allah?”<br />
“Saya termasuk orang yang rajin beribadah,sholat tidak pernah saya tinggalkan,tetapi ketika saya bertemu dengan pacar saya, saya bisa melakukan zina.Saya bertaubat,tetapi saya juga selalu mengulangi perbuatan dosa tsb.”<br />
“Saya adalah seorang murid yang pernah melakukan dosa besar,saya bertaubat secara lisan,hati dan perbuatan di depan Guru Ngaji saya di hadapan Allah bersumpah meninggalkan dosa yang pernah saya lakukan dan mengganti dengan amal ibadah yang banyak. Namun beberapa tahun kemudian saya melakukan kembali dosa yang sama..apakah saya masih akan diampuni Allah?</p>
<p>Dari ketiga cuplikan di atas mencerminkan bahwa betapa Taubat yang diartikan banyak orang adalah bukan Taubat Nashuha. Melainkan tobat Cabe. ( udah tau pedas masih dimakan juga, udah tau salah masih diulang juga). Ditinggalkan tapi di kemudian hari diulangi lagi,bahkan lebih parah lagi tuh dosa. Karena apa, pertama kali orang melakukan dosa karena tidak memahami akan dosa tsb, Allah masih memberikan adzab yang setimbal dengan dosanya. Akan tetapi ketika seseorang tahu itu sebuah dosa,tetapi dilakukan juga,<br />
adzab yang diberikan Allah lebih besar daripada ketika seseorang tidak memahami bahwa hal itu merupakan dosa.</p>
<p>Perintah dari Allah supaya kita bertaubat dijumpai dalam banyak ayat Al-Quran. Namun taubat yang dimaksudkan adalah taubat yang sebenar-benarnya, yang disebuat <strong>Taubat Nashuha. </strong>Yaitu tidak kembali kepada kesalahan yang sebelumnya diperbuat dan mengganti dengan amal ibadah yang banyak.Setiap taubat yang sungguh-sungguh dari dosa sebesar apapun, akan dibukakan pintu ampunan oleh Allah, bahkan Al-Quran menggambarkan kebahagiaan Allah itu seperti seorang gembala yang kehilangan peliharaannya, kemudian menemukannya kembali. Sebegitu senangnya Allah menerima kembalinya kita pada-Nya karena Allah memiliki sifat Ghofurur Rohim,Maha Pengampun.</p>
<p>Taubat seseorang itu bisa dilihat dari beberapa hal:<br />
1. Mengendalikan lisan dari ucapan yang tidak berguna<br />
2. Jauh dari rasa iri,dengki dan sikap permusuhan<br />
3. Menghindari lingkungan/teman yang buruk<br />
4. Taat pada perintah Allah dan menjauhi laranganNya</p>
<p>Tanda apa yang bisa diketahui bahwa taubat seseorang diterima?<br />
1. Berkumpul dengan orang yang sholeh dan tidak bergaul dengan teman buruk. (Sebenarnya yang namanya teman hendaknya selalu mengajak kepada kebaikan, jika ada teman yang mengajak pada kedzaliman berarti ia bukanlah teman tetapi musuh dalam selimut. Karena senang jika kita dalam keburukan)<br />
2. Senantiasa menjauhi perbuatan dzalim dan rajin beribadah<br />
3. Tidak terpancang hanya pada kepentingan dunia, sebaliknya selalu ingat akan adanya Akherat sehingga apa yang dilakukan di dunia adalah persiapan untuk hari akhir.<br />
4. Tawakal atas rezeki yang diberikan Allah setelah berikhtiar</p>
<p>Tingkatan Taubat menurut Imam Ghazali adalah sbb:<br />
Pertama: bertaubatnya seseorang dan istiqomahnya ia di jalan Allah hingga akhir hayatnya.Sehingga ia disebut As-Sabiq Bil Khairat yang artinya mampu merubah perilaku buruk dengan kebaikan. inilah taubat yang sebenarnya/Taubat Nashuha yang insyaAllah akan mendapat ridho Allah dalam kehidupannya baik di dunia maupun di akherat.<br />
Kedua: Orang yang bertaubat dari dosa besar,tetapi dalam perjalanan taubatnya selalu mendapat ujian hingga tidak sengaja ia terjatuh dalam dosa,tetapi hatinya senantiasa sedih dan menyesal sehingga ia berusaha memperbarui tindakannya dengan memperbaiki niatnya.<br />
Ketiga: orang yang bertaubat untuk beberapa lama tapi kemudian hawa nafsu mengalahkannya sehingga ia berbuat dosa lagi.Namun demikian ia masih mau melakukan amal shaleh,ia masih meminta pertolongan Allah agar mampu mengendalikan hawa nafsunya.<br />
Keempat: orang yang bertaubat hanya sebentar saja,tapi kemudian berbuat dosa lagi tanpa dibarengi penyesalan sedikitpun,bagaikan orang lalai bahwa ia telah bertaubat.Pada tingkatan ini ditakutkan orang bisa meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.Yaitu ajal menjemputnya saat ia melakukan dosa, bukan saat ia bertaubat.Naudzubillah.</p>
<p>Semoga dengan tahunya kita semua akan taubat,membuat kita benar-benar bertaubat meninggalkan dosa besar,terus bertaubat dari dosa-dosa kecil,senantiasa memperbarui niat dan melakukan lebih banyak amal shaleh.</p>
<p>Ya Ghofur Ya Bashir..<br />
Engkau Maha Melihat segala perbuatan kami yang tampak dan tersembunyi<br />
Engkau juga mengetahui segala dosa dan taubat yang kami lakukan<br />
Kepada siapa lagi kami memohon ampun jika bukan Engkau yang Mengampuni kami?<br />
Mudahkanlah jalan taubat kami Ya Allah,Ya Fatah..Ya Rozak.. ya Latif.. Ya Allah…<br />
Aminnn..</p>
<p>&#160;</p>
<p>di kutip dari http://bening1.wordpress.com/2009/04/06/324/</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kebangkitan]]></title>
<link>http://noboru26.wordpress.com/2009/11/25/kebangkitan/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 17:29:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Noboru Akabara</dc:creator>
<guid>http://noboru26.wordpress.com/2009/11/25/kebangkitan/</guid>
<description><![CDATA[Ada perasaan hampa saat menyadari betapa hidupku kian nista. Hari demi hari kujalani dengan sepotong]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ada perasaan hampa saat menyadari betapa hidupku kian nista. Hari demi hari kujalani dengan sepotong]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DOSA, TAUBAT &amp; SADDAM]]></title>
<link>http://ustjai.wordpress.com/2009/11/23/dosa-taubat-saddam/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 22:34:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>ustjai</dc:creator>
<guid>http://ustjai.wordpress.com/2009/11/23/dosa-taubat-saddam/</guid>
<description><![CDATA[Oleh, Ahmad Jailani Abdul Ghani www.ustjai.wordpress.com 23/11/2009 Sepatutnya kita mengajar masyara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh,</p>
<p>Ahmad Jailani Abdul Ghani</p>
<p><a href="http://www.ustjai.wordpress.com">www.ustjai.wordpress.com</a></p>
<p>23/11/2009</p>
<p>Sepatutnya kita mengajar masyarakat tentang sifat Allah yang Maha Menerima Taubat. Tiada dosa yang tidak diampunkan Allah jika kita benar-benar bertaubat kepadanya.</p>
<p>Imam Bukhari meriwayatkan dalam sahihnya tentang seorang sahabat yang bernama Abdullah tetapi mendapat gelaran himar. Dia banyak menggembirakan Nabi SAW. Tetapi dia mempunyai sifat yang tidak baik iaitu minum arak. Pada suatu ketika, dia dibawa ke hadapan Nabi SAW untuk disebat lantaran kesalahan minum arak. Para sahabat yang lain mengutuk beliau ketika mana dia disebat. Lalu baginda menegah perbuatan mencerca Abdullah itu dengan mengatakan bahawa hati Abdullah sangat kasih kepada Allah dan Rasul.</p>
<p>Ramai orang soleh yang melakukan dosa, atau juga orang kebanyakan yang sangat jahat dalam kehidupannya, tetapi di penghujung kehidupannya, dia mencari Allah SWT. Kewajipan kita ialah sentiasa berbaik sangka dan berdoa agar orang yang derhaka itu diampunkan dosanya oleh Allah SWT, apatah lagi jika terdapat tanda-tanda taubatnya.</p>
<p>Mari kita lihat pandangan Shaikh Yusuf Al-Qaradawi tentang Saddam Hussein yang sangat zalim itu tetapi terdapat tanda-tanda taubat di penghujung kehidupannya. Semoga kita berkasih sayang sesama manusia dan menghindari persengketaan.</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/7qr7CjhkBl0&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/7qr7CjhkBl0&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p>Sekian,</p>
<p>Ahmad Jailani Abdul Ghani</p>
<p><a href="http://www.ustjai.wordpress.com/">www.ustjai.wordpress.com</a></p>
<p>23/11/2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KISAH BERKAT DISEBALIK MEMBACA BISMILLAH]]></title>
<link>http://tazkirah.wordpress.com/2009/11/24/kisah-berkat-disebalik-membaca-bismillah/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 17:45:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>kelantaniah</dc:creator>
<guid>http://tazkirah.wordpress.com/2009/11/24/kisah-berkat-disebalik-membaca-bismillah/</guid>
<description><![CDATA[Ada seorang wanita tua yang taat beragama tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mahu mengerja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ada seorang wanita tua yang taat beragama tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mahu mengerja]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tobatnya Sang Penggali Mayat]]></title>
<link>http://saatulihsan.wordpress.com/2009/11/23/tobatnya-sang-penggali-mayat/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 06:54:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>saatulihsan</dc:creator>
<guid>http://saatulihsan.wordpress.com/2009/11/23/tobatnya-sang-penggali-mayat/</guid>
<description><![CDATA[Dalam sebuah kisah yang masyhur dari Ibnu Hubaiq yang meriwayatkan dari bapaknya, ‘Yusuf bin Asbath ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dalam sebuah kisah yang masyhur dari Ibnu Hubaiq yang meriwayatkan dari bapaknya, ‘Yusuf bin Asbath ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pintu Taubat Masih Terbuka]]></title>
<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/11/23/pintu-taubat-masih-terbuka/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 02:46:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
<guid>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/11/23/pintu-taubat-masih-terbuka/</guid>
<description><![CDATA[Bismillaahir rahmaanir rahiim Romadhon telah lewat membawa kenangan yang banyak bagi kaum muslimin. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bismillaahir rahmaanir rahiim</p>
<p>Romadhon telah lewat membawa kenangan yang banyak bagi kaum muslimin. Secercah harapan terpatri dalam sanubari setiap insan yang mencoba menggapai ridho ilahi. Dari balik penghambaan dan penghinaan diri di hadapan Allah Robb semesta alam, lahir sebuah cita dan rasa untuk menapaki jalan-jalan yang disinari oleh lentera-lentera keimanan, ilmu, dan amal sholeh.</p>
<p>Gema takbir, tahmid, dan tahlil menembus relung hati yang paling dalam; gembira, dan bangga dengan kebersaman kaum muslimin di Hari Raya Ied itu. Sang Khothib mulai menabur ilmu, menebar hikmah. Kata demi kata menyeruak dalam kalbu setiap manusia. Nampak sebuah sosok nun jauh terdiam seribu bahasa, menyesali, dan menangisi noda dan bercak hitam dari dosa yang ia lakukan dahulu. Dia hanya bisa terdiam menangis sambil mendengar nasihat dari seorang khothib. Segala kenangan pahit dari kehidupan yang ternodai dengan kedurhakaan kepada Allah Sang Maha Pencipta tiba-tiba muncul satu demi satu. Khotib itu seakan-akan berbicara kepadanya, &#8220;Kenapa engkau dahulu lalai di masa lalumu…engkau lancang kepada Allah, tak mau menundukkan wajah bersujud kepada-Nya…engkau merasa aman dari dosa sehingga berani menenggak khomer…kenapa engkau mendurhakai orang tuamu, padahal dialah merawatmu dengan penuh kasih. Lalu engkau balas dengan kedurhakaan. Segala penderitaan, dan musibah, mereka lalui demi merawat dirimu. Kebaikan itu engkau balas dengan kekejaman, kekasaran, ketidaksopanan, dan seterusnya. Usai sholat ied ini engkau pulanglah kepada orang tuamu; peluklah dan cium kedua tangannya dengan penuh sayang sambil meminta maafnya&#8221;. Sosok manusia ini semakin membludak kesedihannya. Butiran-butiran air mata penyesalan dan taubat menetes bak embun suci di pagi hari membasahi bumi. Dia melirik karena malu dilihat orang, ternyata sekumpulan manusia pun menangis saat mendengar khotib. Sosok ini bertanya, &#8220;Adakah pintu taubat bagiku?&#8221; Sang Khothib ketika itu mengakhiri khutbahnya, &#8220;Pintu taubat bagi orang-orang yang berdosa masih terbuka…&#8221;.</p>
<p>Setelah itu sang khotib pun mulai membawakan ayat-ayat suci, dan kalam nabawi.</p>
<p>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersamanya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: &#8220;Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.&#8221;. (QS. At-Tahrim : 8).</p>
<p>&#8220;Masihkah Ada Pintu Taubat Bagiku?&#8221; Pertanyaan ini juga pernah terlontar dari mulut seorang bajingan durjana yang pernah melumuri kehidupannya dengan berbagai macam maksiat. Dia adalah sebuah pribadi yang biadab sampai ia telah menumpahkan darah, dan membunuh 100 nyawa sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah hadits yang shohih.</p>
<p>Pembaca yang budiman, cerita dan kisah pembunuh 100 nyawa tersebut, ada baiknya kami sajikan agar para pembaca bisa meneguk ibroh dari lautan ilmu yang terdapat dalam kalam nabawi (sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-).</p>
<p><!--more--></p>
<p>Kisahnya, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>كَانَ فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ نَفْسًا, فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ, فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ , فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ نَفْسًا فَهَلْ لَهْ مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فَقَالَ: لاَ, فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً, ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ, فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ, فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ , فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فَقَالَ: نَعَمْ, وَمَنْ يَحُوْلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ ؟ اِنْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا , فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُوْنَ اللهَ, فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ, فَإِنَّهَا أَرْضُ سُوْءٍ, فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيْقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ, فَاخْتَصَمَتْ فِيْهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ, فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ : جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ, وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ, فَأَتَاهُ مَلَكٌ فِيْ صُوْرَةِ آدَمِيٍّ, فَجَعَلُوْهُ حَكَمًا بَيْنَهُمْ, فَقَالَ: قِيْسُوْا مَا بَيْنَ اْلأَرْضَيْنِ , فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ, فَقَاسُوْهُ فَوَجَدُوْهُ أَدْنَى إِلَى اْلأَرْضِ الَّتِيْ أَرَادَ, فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ</p>
<p>&#8220;Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 nyawa. Dia bertanya tentang orang yang paling berilmu di atas permukaan bumi. Lalu ditunjukkanlah seorang rahib (ahli ibadah). Kemudian ia pun datang kepada sang rahib seraya mengatakan bahwa dirinya telah membunuh 99 nyawa. Apakah masih ada taubat baginya? &#8220;tidak ada!!&#8221;, tukas si rahib. Maka orang itu membunuh si rahib dan menyempurnakan (bilangan 99) dengan membunuh si rahib menjadi 100 nyawa. Kemudian ia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu di atas pemukaan bumi. Lalu ditunjukkan seorang yang berilmu (ulama’) seraya menyatakan bahwa dirinya telah membunuh 100 nyawa, apakah masih ada taubat baginya. Orang yang berilmu itu menyatakan bahwa siapakah yang menghalangi antara dirinya dengan taubat? &#8220;Berangkatlah engkau ke negeri demikian dan demikian, karena disana ada sekelompok manusia yang menyembah Allah -Ta’ala- . Maka sembahlah Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali kembali ke kampungmu, karena ia adalah kampung yang jelek&#8221;, kata orang yang beilmu itu. Orang itu pun berangkat sampai di tengah perjalanan, ia di datangi oleh kematian. Maka para malaikat rahmat, dan malaikat adzab (siksa) pun bertengkar tentang orang itu. Malaikat rahmat berkata, &#8220;Dia (bekas pembunuh) ini telah datang dalam keadaan bertaubat lagi menghadapkan hatinya kepada Allah -Ta’ala-&#8221;. Malaikat adzab berkata, &#8220;Orang ini sama sekali belum mengamalkan suatu kebaikan&#8221;. Lalu mereka (para malaikat itu) pun didatangi oleh seorang malaikat dalam bentuk seorang manusia. Mereka (para malaikat) pun menjadikannya sebagai hakim. Malaikat (yang menjadi hakim) berkata, &#8220;Ukurlah antara dua tempat itu; kemana saja laki-laki lebih itu dekat, maka berarti ia kesitu&#8221;. Mereka mengukurnya; ternyata laki-laki itu lebih dekat ke negeri yang ia inginkan. Akhirnya malaikat rahmat menggenggam (ruh)nya&#8221;. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Anbiyaa’, bab: Am Hasibta anna Ashhaba Kahfi war Roqim (3283), Muslim dalam Kitab At-Taubah, bab: Qobul Taubah Al-Qotil Wa in Katsuro qotluh (2766), Ibnu Majah dalam Kitab Ad-Diyat, bab: Hal li Qotil Al-Mu’min Taubah (2622)]</p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang shohih dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika beliau menceritakan sebagian diantara berita-berita gaib orang-orang Bani Isra’il. Berita ini beliau terima melalui wahyu dari Allah, bukan dari kitab Taurat, atau Injil.</p>
<p>Hadits ini banyak mengandung mutiara hikmah yang terpancar dari wahyu Allah -Ta’ala- . Para ulama’ telah mengeluarkan hikmah, dan faedah-faedahnya dalam kitab-kitab hadits.</p>
<p>Di dalam hadits ini terdapat bimbingan bagi kita agar seorang ketika ingin bertaubat, maka hendaknya ia meninggalkan kampung halamannya yang penuh dengan maksiat atau kekafiran, karena dikhawatirkan ia akan kembali kepada kebiasaannya berupa maksiat atau kekafiran yang pernah ia lakukan dahulu sebelum taubat. Selain itu, teman juga punya pengaruh besar dalam mengembalikan seseorang ke lembah maksiat. Berapa banyak manusia yang dahulu mau bertaubat, bahkan sudah bertaubat dari kebiasaannya, seperti zina, khomer, dan lainnya. Namun beberapa saat kemudian ia kembali lagi kepada kebiasaannya yang buruk tersebut. Oleh karena itu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ, فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ</p>
<p>&#8220;Seorang itu berada di atas jalan hidup (kebiasaan) temannya. Lantaran itu, hendaknya seseorang diantara kalian memeperhatikan orang yang ia temani&#8221;. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4833), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2378). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (927)]</p>
<p>Abu Hamid-rahimahullah- berkata, &#8220;Menemani orang yang bersemangat akan membangkitkan semangat. Menemani orang yang zuhud akan membuat kita zuhud terhadap dunia, karena tabiat manusia tercipta untuk selalu menyerupai dan meneladani orang&#8221;. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy bi Syarh Jami’ At-Tirmidziy (7/42), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah]</p>
<p>Jadi, seorang yang mau bertaubat, atau sudah bertaubat, namun ia masih tetap bergaul dan bersahabat dengan teman-teman lamanya dari kalangan ahli maksiat, maka yakin bahwa orang itu tak bisa bertaubat dengan benar. Kalaupun ia bisa bertaubat, maka taubatnya tak akan nashuha (murni).</p>
<p>Al-Hafizh Abul Fadhl Ibnu Hajar Al-Asqolaniy-rahimahullah- berkata ketika mengomentari hadits pembunuh 100 nyawa di atas, &#8220;Di dalam hadits ini terdapat keutamaan berpindah dari kampung yang ia bermaksiat di dalamnya, karena sesuai dengan pengalaman, orang seperti ini akan terkalahkan (terpengaruh), entah karena ia teringat dengan perbuatan-perbuatannya yang lalu sebelum ia taubat, dan terpengaruh dengannya, atau entah karena ada orang yang menolongnya kepada maksiat, dan mendorongnya kepada hal itu. Oleh karena ini, pada akhir hadits beliau bersabda, &#8220;…dan janganlah engkau kembali ke kampungmu, karena ia adalah kampung yang jelek&#8221;. Jadi, di dalamnya terdapat isyarat bahwa seorang yang mau bertaubat seyogyanya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamanya yang telah biasa ia lakukan dahulu di masa ia bermaksiat, dan berpindah darinya seluruhnya&#8221;. [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (6/517), cet. Darul Ma’rifah]</p>
<p>Inilah jalan bagi orang yang mau bertaubat. Seorang yang mau taubat nasuha, ia harus meninggalkan maksiat, menyesali maksiatnya, dan bertekad kuat untuk tidak kembali lagi kepadanya. Jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia kembalikan, dan meminta maaf kepadanya. [Lihat Riyadhus Sholihinmin Kalam Sayyid Al-Mursalin (hal. 17), karya An-Nawawiy -rahimahullah-]</p>
<p>Taubat nashuha (taubat yang murni dan sungguh-sungguh) tak mungkin akan tercapai dan berkelanjutan, kecuali jika seseorang tak mau meninggalkan lingkungannya yang rusak, lalu mencari lingkungan yang jauh dari perkara-perkara yang mendorong dirinya terjatuh dalam maksiat. Oleh karena itu, seorang dianjurkan untuk berangkat mencari lingkungan orang-orang beriman, dan beramal sholeh yang terhiasi oleh cahaya ilmu. Sehingga ia bisa mendapatkan teman dari kalangan orang sholeh, dan berilmu yang membantu dirinya untuk selalu taat, dan tegar dalam meninggalkan maksiat.</p>
<p>Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilaliy -hafizhahullah- berkata saat memetik beberapa buah faedah hadits di atas, &#8220;(Di dalam hadits ini terkandung beberapa faedah, di antaranya,) disyari’atkan berpindah dari kampung yang ia bermaksiat kepada Allah di dalamnya menuju kepada negeri yang Allah tidak dimaksiati di dalamnya, atau penduduknya lebih sedikit kejelekannya dibandingkan yang pertama. Seyogyanya bagi orang yang bertaubat agar ia meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang ia biasa kerjakan di masa ia senang bermaksiat, dan berubah, serta menyibukkan diri dengan selainnya. Menemani orang yang berilmu agama, bertaqwa, dan sholeh akan sangat membantu untuk taat kepada Allah, dan mengekang setan. Bersabarnya seseorang dalam usaha mencari orang-orang yang sholeh merupakan dalil (tanda) yang menunjukkan tentang benarnya kemauan seseorang dalam bertaubat kepada Allah&#8221;. [Lihat Bahjah An-Nazhirin (1/62), cet. Dar Ibnul Jauziy, 1422 H]</p>
<p>Jadi, seseorang yang jujur taubatnya akan nampak pada dirinya tanda-tanda perubahan, dan usaha untuk berubah. Oleh karena itu, seorang tak mungkin akan dikatakan jujur bertaubat, jika ia masih dalam kebiasaannya bermaksiat, dan tidak ada usaha pada dirinya untuk meninggalkan teman-temannya lamanya yang menjerumuskan dirinya dalam lembah maksiat. Seorang tak cukup hanya mengucapkan, &#8220;Astaghfirullah&#8221; (Aku memohon ampunan dosa kepada), lalu tak ada perubahan pada dirinya untuk baik, dan tak mau meninggalkan teman-teman lamanya.</p>
<p>Terakhir kami nasihatkan dengan firman Allah -Ta’ala- ,</p>
<p>&#8220;Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung&#8221;. (QS. An-Nuur: 31).</p>
<p>sumber : <a href="http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1417">http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1417</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Episode Hidup]]></title>
<link>http://edymas.wordpress.com/2009/11/22/episode-hidup/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 22:47:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Edi</dc:creator>
<guid>http://edymas.wordpress.com/2009/11/22/episode-hidup/</guid>
<description><![CDATA[Hari berganti hari, detik berganti detik tak terasa umur selalu berkurang, jatah umur kita selalu be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Hari berganti hari, detik berganti detik tak terasa umur selalu berkurang, jatah umur kita selalu be]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ujian]]></title>
<link>http://tazkirah.wordpress.com/2009/11/20/ujian/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 17:24:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>kelantaniah</dc:creator>
<guid>http://tazkirah.wordpress.com/2009/11/20/ujian/</guid>
<description><![CDATA[Bala sentiasa turun kepada orang yang berdosa agar ianya bertaubat. Ujian juga sentiasa menduga oran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bala sentiasa turun kepada orang yang berdosa agar ianya bertaubat. Ujian juga sentiasa menduga oran]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indahnya Taubat ...]]></title>
<link>http://adityahadi.wordpress.com/2009/11/14/indahnya-taubat/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 21:17:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>KutuBacaBuku</dc:creator>
<guid>http://adityahadi.wordpress.com/2009/11/14/indahnya-taubat/</guid>
<description><![CDATA[Diriwayatkan bahwa seorang salaf berkata, “Sesungguhnya seorang hamba bisa jadi berbuat suatu dosa, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Diriwayatkan bahwa seorang salaf berkata, “Sesungguhnya seorang hamba bisa jadi berbuat suatu dosa, ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[IMAN, HATI, TAGHUT DAN IBLIS]]></title>
<link>http://sangmentari.wordpress.com/2009/11/14/iman-hati-taghut-dan-iblis/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 10:27:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>sangmentari</dc:creator>
<guid>http://sangmentari.wordpress.com/2009/11/14/iman-hati-taghut-dan-iblis/</guid>
<description><![CDATA[DALAM meniti hari-hari yang sering disibukkan dengan perkara yang kekadang itu melalaikan dan membaz]]></description>
<content:encoded><![CDATA[DALAM meniti hari-hari yang sering disibukkan dengan perkara yang kekadang itu melalaikan dan membaz]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Maafku, Ya Allah]]></title>
<link>http://smaissuda.wordpress.com/2009/11/12/maafku-ya-allah/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 05:37:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>sholeh isnanto</dc:creator>
<guid>http://smaissuda.wordpress.com/2009/11/12/maafku-ya-allah/</guid>
<description><![CDATA[Posted: 09 Nov 2009 12:58 AM PST Sebagai manusia, tentu saja sangat wajar jika kita jatuh dalam kesa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Posted: 09 Nov 2009 12:58 AM PST Sebagai manusia, tentu saja sangat wajar jika kita jatuh dalam kesa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Musibah, Antara Pahala dan Dosa]]></title>
<link>http://mediailmuku.wordpress.com/2009/11/11/musibah-antara-pahala-dan-dosa/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 04:35:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>mediailmuku</dc:creator>
<guid>http://mediailmuku.wordpress.com/2009/11/11/musibah-antara-pahala-dan-dosa/</guid>
<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Salawat dan salam semoga tercurah k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Salawat dan salam semoga tercurah kepada teladan kaum beriman Muhammad bin Abdullah, dan juga para pengikutnya yang setia kepada ajaran-ajarannya di saat suka maupun duka. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Musibah gempa kembali mengguncang. Korban pun berjatuhan. Manusia kembali teringat akan kelemahan dan keterbatasan dirinya. Kehidupan ada akhirnya, dan kelak mereka akan dihidupkan untuk menerima balasan atas amal yang mereka perbuat di alam dunia. Melihat saudara kita yang tertimpa musibah, tentunya kita merasa iba dan berusaha untuk bisa meringankan penderitaan mereka. Di sisi lain, kita juga bisa memetik pelajaran berharga di balik deraan musibah dan bencana. Apakah kita termasuk orang yang bersabar ketika musibah itu tiba, dan apakah kita termasuk orang yang bersyukur kepada-Nya ketika masa-masa lapang dan senang?</p>
<p><!--more--><strong>Takdir Allah Yang Maha Bijaksana</strong></p>
<p>Sesungguhnya musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.”</em> (QS. at-Taghabun: 11)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menukil keterangan Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> bahwa yang dimaksud dengan izin Allah di sini adalah perintah-Nya yaitu ketetapan takdir dan kehendak-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa barang siapa yang tertimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi dengan takdir dari Allah kemudian dia pun bersabar, mengharapkan pahala, dan pasrah kepada takdir yang ditetapkan Allah niscaya Allah akan menunjuki hatinya. Allah akan gantikan kesenangan dunia yang luput darinya -dengan sesuatu yang lebih baik, pent- yaitu berupa hidayah di dalam hatinya dan keyakinan yang benar. Allah berikan ganti atas apa yang Allah ambil darinya, bahkan terkadang penggantinya itu lebih baik daripada yang diambil. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> ketika menafsirkan firman Allah (yang artinya), <em>“Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya.”</em> Maksudnya adalah Allah akan tunjuki hatinya untuk merasa yakin sehingga dia menyadari bahwa apa yang -ditakdirkan- menimpanya pasti tidak akan meleset darinya. Begitu pula segala yang ditakdirkan tidak menimpanya juga tidak akan pernah menimpa dirinya (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [4/391] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p>Beliau -Ibnu Katsir- juga menukil keterangan al-A&#8217;masy yang meriwayatkan dari Abu Dhabyan, dia berkata, <em>“Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini &#8216;barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya&#8217; dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, &#8216;Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.”</em> Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa&#8217;id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, <em>“Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja&#8217; yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un.”</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [4/391] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa ayat di atas berlaku umum untuk semua musibah, baik yang menimpa jiwa/nyawa, harta, anak, orang-orang yang dicintai, dan lain sebagainya. Maka segala musibah yang menimpa hamba adalah dengan ketentuan qadha&#8217; dan qadar Allah. Ilmu Allah telah mendahuluinya, kejadian itu telah dicatat oleh pena takdir-Nya. Kehendak-Nya pasti terlaksana dan hikmah/kebijaksanaan Allah memang menuntut terjadinya hal itu. Namun, yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah hamba yang tertimpa musibah itu menunaikan kewajiban dirinya ketika berada dalam kondisi semacam ini ataukah dia tidak menunaikannya? Apabila dia menunaikannya maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah di dunia dan di akherat. Apabila dia mengimani bahwasanya musibah itu datang dari sisi Allah sehingga dia merasa ridha atasnya dan menyerahkan segala urusannya -kepada Allah, pent- niscaya Allah akan tunjuki hatinya. Dengan sebab itulah ketika musibah datang hatinya akan tetap tenang dan tidak tergoncang seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang tidak mendapat karunia hidayah Allah di dalam hatinya. Dalam keadaan seperti itu Allah karuniakan kepada dirinya -seorang mukmin- keteguhan ketika terjadinya musibah dan mampu menunaikan kewajiban untuk sabar. Dengan sebab itulah dia akan memperoleh pahala di dunia, di sisi lain ada juga balasan yang Allah simpan untuk-Nya dan akan diberikan kepadanya kelak di akherat. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Sesungguhnya hanya akan disempurnakan balasan bagi orang-orang yang sabar itu dengan tanpa batas hitungan.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman </em>[1/867]<em>, </em>software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p>Beliau melanjutkan, dari sinilah dapat dimengerti bahwa barang siapa yang tidak beriman terhadap takdir Allah ketika terjadinya musibah dan dia meyakini bahwa apa yang terjadi sekedar mengikuti fenomena alam dan sebab-sebab yang tampak niscaya orang semacam itu akan dibiarkan tanpa petunjuk dan dibuat bersandar kepada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba disandarkan hanya kepada kekuatan dirinya sendiri maka tidak ada yang diperolehnya melainkan keluhan dan penyesalan yang hal itu merupakan hukuman yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum hukuman di akherat akibat telah melalaikan kewajiban bersabar. Di sisi yang lain, ayat di atas juga menunjukkan bahwasanya setiap orang yang beriman terhadap segala perkara yang diperintahkan untuk diimani, seperti iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, takdir yang baik dan yang buruk, dan melaksanakan konsekuensi keimanan itu dengan menunaikan berbagai kewajiban, maka sesungguhnya hal ini merupakan sebab paling utama untuk mendapatkan petunjuk Allah dalam menyikapi keadaan yang dialaminya sehingga dia bisa berucap dan bertindak dengan benar. Dia akan mendapatkan petunjuk ilmu maupun amalan. Inilah balasan paling utama yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Maka orang-orang beriman itulah orang yang hatinya paling mendapatkan petunjuk di saat-saat berbagai musibah dan bencana menggoncangkan jiwa kebanyakan manusia. Keteguhan itu ditimbulkan dari kokohnya keimanan yang tertanam di dalam jiwa mereka (dengan sedikit peringkasan dari<em> Taisir al-Karim ar-Rahman </em>[1/867]<em>, </em>software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menjelaskan bahwa di dalam ayat di atas terkandung beberapa pelajaran yang agung, yaitu:</p>
<ol>
<li>Segala musibah yang menimpa itu terjadi dengan      qadha&#8217; dan qadar dari Allah <em>ta&#8217;ala</em></li>
<li>Merasa ridha terhadap takdir tersebut dan bersabar      dalam menghadapi musibah merupakan bagian dari nilai-nilai keimanan, sebab      Allah menamakan sabar di sini dengan iman</li>
<li>Kesabaran itu akan membuahkan hidayah menuju      kebaikan di dalam hati dan kekuatan iman dan keyakinan (<em>I&#8217;anat      al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid</em> [3/140] software Maktabah      asy-Syamilah)</li>
</ol>
<p><strong>Kedudukan Sabar dan Pengertiannya</strong></p>
<p>Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.”</em> (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>nya [31079] dan al-Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;ab al-Iman</em> [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam <em>Dha&#8217;if al-Jami&#8217;</em> [3535], lihat <em>Shahih wa Dha&#8217;if al-Jami&#8217; as-Shaghir</em> [17/121] software Maktabah asy-Syamilah). Walaupun secara sanad atsar ini dinilai lemah, namun secara makna bisa diterima. Hal itu dikarenakan cakupan sabar yang demikian luas dalam agama Islam. Ia mencakup sikap seorang hamba dalam menghadapi berbagai perintah dan larangan serta berbagai keadaan yang dialami manusia di dalam kehidupan, di saat senang maupun susah. Untuk itu, marilah kita cermati pengertian sabar ini agar jelas bagi kita bahwa hidup tanpa kesabaran pada akhirnya akan menyeret manusia dalam jurang kekafiran.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menjelaskan, <em>“Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta&#8217;ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), &#8216;Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka&#8217;. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari&#8217;at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. Para ulama menyebutkan bahwa sabar itu ada tiga macam: sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah, dan sabar saat menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan.”</em> (<em>I&#8217;anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid</em> [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p><strong>Ketika kesabaran lenyap</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu</em> <em>&#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua buah perkara dalam diri manusia yang merupakan bentuk kekafiran. Mencaci maki garis keturunan dan meratapi mayit.”</em> (HR. Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud hadits ini adalah kedua perbuatan ini tergolong perbuatan orang-orang kafir (<em>Syarh an-Nawawi &#8216;ala Muslim</em> [2/57] software Maktabah asy-Syamilah). Imam Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa hadits ini mencakup dua makna. Yang pertama yang dimaksud kufur di sini adalah kufur nikmat -tidak sampai mengeluarkan dari agama, pent- sedangkan yang kedua yang dimaksud adalah keduanya digolongkan sebagai perbuatan orang-orang kafir (<em>Kaysf al-Musykil min Hadits Shahihain</em> [1/1025] software Maktabah asy-Syamilah).</p>
<p>Di antara pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah:</p>
<ol>
<li>Diharamkannya mencaci maki nasab/garis keturunan      dan meratapi mayit</li>
<li>Isyarat yang menunjukkan bahwasanya kedua      perbuatan ini akan tetap muncul di dalam umat ini</li>
<li>Bisa jadi di dalam diri seseorang terdapat sifat      atau ciri kekafiran namun dia tidak bisa dicap sebagai orang kafir      -semata-mata karena hal itu-</li>
<li>Islam melarang segala sesuatu yang mengarah kepada      perpecahan (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, Syaikh      Muhammad bin Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi, hal. 272)</li>
</ol>
<p><strong>Hikmah di balik derita</strong></p>
<p>Tidaklah kita ragukan barang sedikitpun bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana, tidak sedikit pun Allah menganiaya hamba-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, &#8216;Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya&#8217;. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”</em> (QS. al-Baqarah: 155-157)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.”</em> (HR. Muslim). Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan bahwa ada kalanya Allah <em>ta&#8217;ala</em> memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi dalam <em>al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid</em>, hal. 275)</p>
<p>Di antara pelajaran berharga bagi kehidupan kita dari hadits yang agung ini adalah:</p>
<ol>
<li>Allah memiliki kehendak yang sesuai dengan      kemuliaan dan keagungan diri-Nya</li>
<li>Kebaikan dan keburukan semuanya ditakdirkan oleh      Allah <em>ta&#8217;ala</em></li>
<li>Cobaan/musibah yang menimpa orang-orang yang      beriman merupakan salah satu tanda kebaikan baginya selama hal itu tidak      menyebabkannya meninggalkan kewajiban atau terjatuh dalam perkara yang      diharamkan</li>
<li>Semestinya seseorang merasa khawatir atas      kenikmatan dan kesehatan yang selama ini senantiasa dia rasakan. Sebab      boleh jadi itu adalah istidraj/bentuk penundaan hukuman baginya, sementara      dia tahu betapa banyak maksiat yang telah dilakukannya, <em>wal &#8216;iyadzu      billah</em>.</li>
<li>Wajibnya untuk berprasangka baik kepada Allah atas      segala perkara dunia yang tidak mengenakkan yang menimpa diri kita</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bahwa pemberian Allah      kepada hamba-Nya tidak selalu mencerminkan bahwa Allah meridhai hal itu      untuknya. Seperti contohnya orang yang setiap kali hendak minum khamr      kemudian dia selalu mendapatkan kemudahan untuk mendapatkannya, atau      bahkan memperolehnya secara gratis. Maka ini semua bukanlah bukti kalau      Allah menyukai hal itu untuknya (diambil dari <em>al-Jadid fi Syarhi Kitab      at-Tauhid</em>, hal. 275 dengan sedikit tambahan keterangan dan      contoh)</li>
</ol>
<p>Inilah uraian ringkas yang bisa kami sajikan dalam tuisan yang sangat sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin </em>[Ari Wahyudi]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Taubat dari Perbuatan Zina]]></title>
<link>http://firarif.wordpress.com/2009/11/10/taubat-dari-perbuatan-zina/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 02:26:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>arif aja deh</dc:creator>
<guid>http://firarif.wordpress.com/2009/11/10/taubat-dari-perbuatan-zina/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari Ada pemuda-pemudi melakukan zina beberapa waktu ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari Ada pemuda-pemudi melakukan zina beberapa waktu ya]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shalat Sunnah Yang Berkaitan Dengan Sebab Tertentu]]></title>
<link>http://alhafizh84.wordpress.com/2009/11/07/shalat-sunnah-yang-berkaitan-dengan-sebab-tertentu/</link>
<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 03:48:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>alhafizh84</dc:creator>
<guid>http://alhafizh84.wordpress.com/2009/11/07/shalat-sunnah-yang-berkaitan-dengan-sebab-tertentu/</guid>
<description><![CDATA[Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al_Qahthani dalam kitab Shalatut Ta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Writed by:  Hafiz Muthoharoh, S.Pd.I</p>
<p>Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al_Qahthani dalam kitab Shalatut Tathawwu’ Mafhum wa Fadhailu wa Aqsam wa Anwa’ wa Adab fi Dhau’i Al_Kitabi wa As_Sunnati mengatakan bahwa shalat_shalat yang berkaitan dengan sebab_sebab tertentu adalah :</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid</strong></p>
<p>Menurut pendapat yang benar bahwa hukum shalat sunnah tahiyatul masjid adalah sunnah muakkad bagi orang yang masuk masjid kapan saja. Dasarnya adalah hadits Qatadah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu masuk masjid, hendaknya ia melakukan ruku’ (shalat) dua rakaat sebelum duduk.” Dalam lafaz lain disebutkan, “Apabila seseorang di antara kalian masuk masjid, janganlah ia duduk sebelum shalat dua rakaat.” [Hadits <strong>shahih</strong>, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al_Bukhari dalam kitab Ash_Shalah, hadits no. 444; dan diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, hadits no. 714]</p>
<p>Demikian juga berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdullah bahwa ada seseorang yang bernama Sulaik Al_Ghathfani pada hari Jumat datang ke masjid, dan pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhuthbah. Ia langsung duduk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Hai Sulaik, bangun dan shalatlah dua rakaat, dan perpendeklah kedua rakaat itu.” Kemudian beliau bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu datang di hari Jum’at sementara imam sedang berkhuthbah, hendaknya ia shalat dua rakaat, dan hendaknya ia mempering kas kedua rakaatnya.” [Hadits <strong>shahih</strong>, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al_Bukhari dalam kitab Al_Jumu’ah, hadits no. 830 dan 931; dan diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Al_Jumu’ah, hadits no. 59]</p>
<p>Perintah untuk melakukan shalat Tahiyatul Masjid memberikan pelajaran tentang hakikat wajibnya melakukan tahiyat (penghormatan) terhadap masjid dengan melakukan shalat sunnah tahiyat, dan larangan itu menunjuk kan diharamkannya meninggalkan shalat tersebut. Namun para ulama berbeda pendapat tentang apakah hal itu wajib atau hanya disunnahkan. Yang benar – insya Allah – bahwa hukumnya adalah sunnah muakkad.</p>
<p>Imam An_Nawawi berkata, “Hadits itu mengandung anjuran untuk shalat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat dan hukumnya adalah sunnah berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Hadits itu juga meng andung anjuran untuk melakukan tahiyatul masjid itu di segala waktu.” [Lihat An_Nawawi, Syarah Muslim, hal. V/233; lihat juga Muhammad Asy_Syaukani, Nailul Authar, hal. II/260]</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Shalat Sunnah Sesudah Wudhu</strong></p>
<p>Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Tidaklah setiap muslim yang berwudhu dengan sebaik_baiknya, kemudian ia bangkit melakukan shalat dua rakaat dengan sepenuh hati dan jiwanya, melainkan pasti akan masuk surga.” [Hadits <strong>shahih</strong> diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ath_Thaharah, hadits no. 234]</p>
<p>Adapun hukum shalat sunnah sesudah wudhu adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang ditekankan untuk dilakukan di segala waktu, baik siang maupun malam hari. Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Bilal pada waktu shalat Shubuh, “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku sebuah amalan yang paling diharapkan pahalanya yang telah engkau kerjakan dalam Islam. Karena aku mendengar suara terompamu di hadapanku di surga (dalam mimpi tadi malam).” Bilai berkata, “Aku tidak pernah mengamalkan amalan yang lebih memiliki harapan pahala selain kebiasaanku bila setiap kali berwudhu di siang maupun malam hari, pasti shalat dengan wudhu itu sebatas yang mampu aku lakukan.” [Hadits <strong>shahih, </strong>diriwayatkan oleh Al_ Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al_Bukhari dalam kitab At_Tahajjud, hadits no. 1149; dan diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Fadhailush Shahabah, hadits no. 2458]</p>
<p>Imam An_Nawawi berkata, “Hadits ini mengandung penjelasan tentang keutamaan shalat sunnah sesudah wudhu, bahwa hukumnya adalah sunnah, dan itu boleh dilakukan di waktu terlarang, yaitu ketika matahari terbit, di waktu istiwa, ketika matahari tenggelam, sesudah shalat shubuh, dan sesudah shalat ashar. Karena shalat sunnah sesudah wudhu termasuk shalat yang memiliki sebab tertentu.” [Lihat An_Nawawi, Syarah Muslim, hal. XV/246; dan lihat juga Al_Hafizh Ibnu Hajar Al_Asqalani, Fathul Bari, hal. III/35]</p>
<p>Penulis berkata, “Hadits ini secara tegas menjelaskan bahwa shalat sunnah sesudah wudhu ini boleh dilakukan kapan saja, baik pada waktu siang maupun malam hari.”</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Shalat Sunnah Istikharah</strong></p>
<p>Dalil shalat sunnah istikharah ini adalah hadits dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengajarkan kepada kami untuk beristikharah (meminta pilihan dari Allah) dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami surat Alquran. Beliau bersabda, “Apabila salah seorang di antaramu berniat melakukan satu urusan, hendaklah ia shalat sunnah dua rakaat, kemudian berdoa, :</p>
<p>“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan dengan ilmu_Mu, meminta kekuasaan dengan kekuasaan_Mu, serta memohon dari keutamaan_Mu yang paling agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sementara kami tidak punya kuasa; sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, sementara kami tidak memiliki ilmu apa_apa. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini – kemudian hendaklah ia menyebutkan bentuk urusan tersebut – baik bagiku, agamaku, kehidupanku dan akhir dari urusan_urusanku yang cepat ataupun yang lambat, takdirkanlah dan mudahkanlah bagiku, kemudian berikanlah keberkahan bagiku dalam urusan ini. Namun apabila urusan ini jelek bagiku, bagi agamaku, bagi kehidupanku dan bagi akhir dari urusan_urusanku yang cepat maupun yang lambat, maka jauhkanlah dariku, dan jauhkanlah diriku darinya, kemudian takdirkanlah bagiku kebaikan manapun berada, setelah itu berikanlah keridhaan_Mu kepadaku.” [Hadits <strong>shahih</strong>, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dalam kitab At_Tahajjud, hadits no. 1162; juga dalam kitab As_Sa’awat, hadits no. 6382]</p>
<p>Syaikul Islam Ibnu Taimiyah lebih memilih pendapat yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh melakukan shalat istikharah di waktu larangan bila berkaitan dengan urusan yang bila ditangguhkan ke waktu lain (yang bukan waktu larangan shalat) akan tertinggal. [Lihat Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, hal. XXIII/215; dan kitab Al_Ikhtiyarat Al_Fiqhihiyyah, hal. 101]</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Shalat Sunnah Taubat</strong></p>
<p>Hukum shalat sunnah taubat adalah sunnah. Dasarnya adalah hadits dari Ali radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan, Aku adalah seorang laki_laki yang mempunyai kebiasaan bila mendengar sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung kuambil manfaatnya sebisaku. Namun bila aku mendengarnya melalui salah seorang sahabat beliau, maka aku akan meminta ia bersumpah. Apabila ia sudah bersumpah, aku akan mempercayainya. Abu Abar Ash_Shiddiq telah menceritakan sebuah hadits kepadaku dan sungguh benar apa yang diceritakan oleh Abu Bakar. Ia menceritakan, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ber sabda, “Tidaklah setiap hamba yang berbuat dosa, lalu berwudhu dengan baik kemudian berdiri melakukan shalat dua rakaat, setelah itu ia memohon ampunan kepada Allah, melainkan pasti akan Allah ampuni dosa_dosanya.”</p>
<p>Kemudian beliau membaca ayat berikut: &#8220;Dan (juga) orang_orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa_dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.&#8221; <strong>[QS. Ali Imran (3): 135]</strong></p>
<p>Syaikul Islam Ibnu Taimiyah memilih pendapat yang menyatakan bahwa shalat sunnah taubat tersebut boleh juga dilakukan termasuk dalam waktu larangan. Karena shat taubat itu wajib dilakukan secara langsung. Dan sang pelaku dosa akan terus terbebani dosa hingga ia shalat sunnah taubat dua rakaat. [Lihat Ibnu Taimiyah, Fatawa Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, hal. XXIII /215]</p>
<p><strong>5. </strong><strong>Shalat Sunnah Datang dari Bepergian</strong></p>
<p>Seorang muslim ketika datang dari bepergian, hendaklah shalat sunnah dua rakaat di masjid sebelum ia pulang ke rumahnya. Dasarnya adalah hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membeli seekor unta dariku. Ketika beliau pulang dari bepergian kembali ke kota Madinah, beliau memerintahkan diriku untuk masuk masjid dan shalat sunnah dua rakaat.” [Hadits <strong>shahih</strong>, diriwayatkan oleh Al_Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al_Bukhari dalam kitab Ash_ Shalah, hadits no. 443; dan diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, hadits no. 72]</p>
<p>Dari Kaab bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah kembali dari bepergian kecuali di waktu Dhuha di siang hari. Bila pulang, beliau pertama kali datang ke masjid dan shalat sunnah dua rakaat, kemudian duduk. [Hadits <strong>shahih</strong>, diriwayat kan oleh Al_Bukhari dan Muslim]</p>
<p>Imam An_Nawawi berkata, “Hadits_hadits di atas mengandung anjuran untuk shalat sunnah dua rakaat di masjid bagi orang yang pulang dari bepergian ketika pertama kali datang. Shalat itu dimaksudkan untuk yang pulang dari bepergian, bukan sebagai shalat sunnah Tahiyatul masjid. Hadits_hadits terdahulu secara tegas menunjukkan hal itu. Hadits_hadits tersebut juga mengandung ajaran untuk datang dari bepergian di awal siang. Bagi orang yang memiliki kehormatan atau pangkat atau orang yang banyak dibutuhkan orang banyak meski sekedar untuk menyalaminya dianjurkan untuk duduk terlebih dahulu sepulang bepergian di dekat rumahnya yang menyolok agar mudah dikunjungi, baik itu di masjid atau di tempat lain.” [Lihat An_Nawawi, Syarah Muslim, hal. V/236; dan lihat juga Al_Hafizh Ibnu Hajar Al_Asqalani, Fathul Bari, hal. I/537]</p>
<p>Demikianlah beberapa shalat sunnah yang dilakukan karena berkaitan dengan sebab_sebab tertentu. Mudah_mudahan Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa memberi kan kita kekuatan untuk dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari_hari. Aamiin !!!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[tujuh dosa besar]]></title>
<link>http://ghoten.wordpress.com/2009/11/05/tujuh-dosa-besar/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 22:57:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>ghoten</dc:creator>
<guid>http://ghoten.wordpress.com/2009/11/05/tujuh-dosa-besar/</guid>
<description><![CDATA[TUJUH DOSA BESAR siapa saja yang melakukan tujuh dosa besar dan ia tidak baertaubat sampai akhir hay]]></description>
<content:encoded><![CDATA[TUJUH DOSA BESAR siapa saja yang melakukan tujuh dosa besar dan ia tidak baertaubat sampai akhir hay]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cepatlah Sebelum Terlambat!!!]]></title>
<link>http://islammurni.wordpress.com/2009/11/05/cepatlah-sebelum-terlambat/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 06:04:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>islam murni</dc:creator>
<guid>http://islammurni.wordpress.com/2009/11/05/cepatlah-sebelum-terlambat/</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi Murajaah: Ustadz Abu Sa&#8217;ad, MA Allah subhanahu wa ta&#8217;ala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi Murajaah: Ustadz Abu Sa&#8217;ad, MA Allah subhanahu wa ta&#8217;ala]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyongsong Kematian dengan Segenap Taubat]]></title>
<link>http://rawatjenazah.wordpress.com/2009/11/04/menyongsong-kematian-dengan-segenap-taubat/</link>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 00:17:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abah Fajar</dc:creator>
<guid>http://rawatjenazah.wordpress.com/2009/11/04/menyongsong-kematian-dengan-segenap-taubat/</guid>
<description><![CDATA[Pintu Taubat Belum Ditutup Setelah kita mengetahui pada edisi yang lalu bahwa kematian adalah suatu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pintu Taubat Belum Ditutup Setelah kita mengetahui pada edisi yang lalu bahwa kematian adalah suatu ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Allah Rindu...]]></title>
<link>http://fsthevanie.wordpress.com/2009/11/01/allah-rindu/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 23:22:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>sthevanie</dc:creator>
<guid>http://fsthevanie.wordpress.com/2009/11/01/allah-rindu/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; entah sudah berapa kali&#8230; shalat ini tak pernah lagi diniatkan untuk benar-benar menghad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[&nbsp; entah sudah berapa kali&#8230; shalat ini tak pernah lagi diniatkan untuk benar-benar menghad]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hidup di Perut PaUs!!]]></title>
<link>http://usmanzaki.wordpress.com/2009/10/29/hidup-di-perut-paus/</link>
<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 10:36:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>tanto1405</dc:creator>
<guid>http://usmanzaki.wordpress.com/2009/10/29/hidup-di-perut-paus/</guid>
<description><![CDATA[AlhamduLillah, atas izin Allah, kita udah sampe level kedua di Bulan Ramadhan..yaitu level turunnya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>AlhamduLillah, atas izin Allah, kita udah sampe level kedua di Bulan Ramadhan..yaitu level turunnya AMpunan ALLah…</p>
<p>Kita kudu gunakan 10 hari yang kedua ini sebaek mungkin…</p>
<p>Karena bisa jadi,…<br />
kehidupan kita yang sumpek, kuliah yg ga lulus2, ribut ma pacar, ga juga dapet kerjaan, gaji ga cukup..<br />
MungkiN semua itu karena Allah belum mengampuni kita!!</p>
<p>Bayangin aja,…<br />
Kalo tiap hari kita melakukan dosa,…iri, ngrasani, ngece, misuh2, ngapusi, kemaki…maka otomatis, jarak kita ma Allah bakal semakin jauh…</p>
<p>Kalo jarak kita ma Allah udah makin jauh..ya wajar kalo hidup kita jadi susah gini…</p>
<p>Kayak Nabi Yunus tuh,…<br />
Ketika beliau Melakukan Kesalahan,..beliau Langsung diteLan Ikan Paus sebagai Peringatan dari ALLah!!</p>
<p>Tapi Di perut ikan PauS inilah, Nabi Yunus kemudian sadar dan bertaubat kepada Allah dengan membaca :<img class="alignleft" title="Paus Biru" src="http://www.helsinki.fi/~lauhakan/whale/images/whabab.gif" alt="" width="217" height="163" /><br />
<strong><em>“Laa ILLaha Illa Anta SubhanaKa inni kuntu Minadz DzoliMiin”</em></strong><br />
-Tiada Tuhan selain Engkau dan Aku ini Termasuk Hamba yang Zalim-</p>
<p>Seketika itu juga, Allah mrintahin Paus untuk Nyemburin Nabi Yunus ke daratan, dan beliau akhirnya Selamat n hidup sukses bareng umatnya….</p>
<p>Sekarang kita introspeksi diri kita nih,…<br />
Jangan2,..hidup kita yang sempit, gerah, g nyaman,<br />
… n pokoknya Hidup yang ngrasa ga tenang ini..</p>
<p>Bisa jadi,..<br />
karena kita sekarang lagi <strong>DIHIDUPIN</strong> oleh ALLAh di<strong>“PERUT PAUS”!! …</strong></p>
<p>So, Kalo kita pengen sukses..contoh aja naBi Yunus…<br />
cepet2 minta ampun ma ALLah, trus Taubat yang bener!!! ^_^</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
