<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>tauhid &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/tauhid/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "tauhid"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 02:33:41 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Pentingnya Mempelajari TAUHID !!]]></title>
<link>http://ahnaaf.wordpress.com/2009/11/28/pentingnya-mempelajari-tauhid/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 11:05:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahnaf</dc:creator>
<guid>http://ahnaaf.wordpress.com/2009/11/28/pentingnya-mempelajari-tauhid/</guid>
<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Penulis : Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi Dakwah merup]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>Penulis : Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi</p>
<p>Dakwah merupakan ibadah yang agung. Sayangnya, dakwah telah banyak disalahgunakan untuk membungkus kampanye politik dalam rangka mencari pengikut, merekrut simpatisan dan kader partai, atau sekedar mencari dunia. Di sisi lain, ada da’i yang mengkhususkan pada persoalan-persoalan politik hingga melupakan hal-hal mendasar dalam Islam. Lalu bagaimanakah sesungguhnya dakwah Rasulullah  itu? <!--more--></p>
<p>Terlalu banyak seruan atau ‘dakwah’<em> ilallah</em> (menuju Allah) yang kita jumpai di sekeliling kita. Masyarakat pun dengan mudahnya mengatakan bahwa ‘dakwah itu semuanya sama’. Benarkah? Lalu manakah seruan yang benar yang akan mendekatkan kepada Allah?</p>
<p>Beragamnya seruan itu sendiri telah menjadi sunnatullah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya Abdullah bin Mas’ud bercerita di mana Rasulullah membuat satu garis lurus dan mengatakan: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau membuat garis-garis yang banyak dari arah kanan dan arah kiri dan beliau mengatakan: “Ini adalah jalan-jalan dan tidak ada satupun dari jalan tersebut melainkan syaitan menyeru di atasnya.” Kemudian beliau membacakan firman Allah: “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka tempuhlah ia dan jangan kalian menempuh jalan yang banyak tersebut yang pada akhirnya akan memecah diri-diri kalian dari jalan-Nya.”</p>
<p>As Sa’dy menjelaskan apa yang dimaksud dengan jalan yang lurus tersebut di dalam kitab tafsirnya: “Adalah jalan yang sangat jelas yang akan menyampaikan kita kepada Allah dan kepada surga-Nya. Jalan yang lurus itu adalah mengenal yang hak dan mengamalkannya.”<br />
Rasulullah juga telah menjelaskan akan munculnya para da’i yang menyeru di atas jurang neraka. Dalam hadits Hudzaifah bin Yaman yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Hudzaifah mengatakan: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan dan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan yang khawatir akan menimpaku. Lalu aku berkata: “Ya Rasulullah, tatkala kami berada dalam kehidupan jahiliyah Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan? Rasulullah menjawab: “Ya.” Aku berkata lagi: “Apakah setelah kejelekan ini ada kebaikan?” Rasulullah menjawab: “ Ya, akan tetapi ada asapnya.” Aku mengatakan: “Apakah asapnya wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Kaum yang mengambil petunjuk selain petunjukku kamu kenal dan kamu ingkari.” Aku berkata: “Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu para da’i yang berada di pintu neraka dan barangsiapa yang memenuhi seruannya, maka akan mencampakkannya ke jurang neraka tersebut.”</p>
<p>Kedua hadits di atas menjelaskan tentang adanya sunnatullah munculnya berbagai seruan yang semuanya mengangkat panji Islam dan mengatasnamakan Islam. Akan tetapi seruan yang benar adalah satu dan jalan yang benar adalah satu dan tidak berbilang. Allah berfirman:<br />
<em> “Tidaklah setelah kebenaran itu melainkan kesesatan.” </em> (Yunus: 32)</p>
<p>Hadits tadi juga menjelaskan bahwa jalan yang tidak benar itu lebih banyak daripada jalan yang benar. Demikian juga dengan da’i yang menyeru kepada kesesatan, lebih banyak dibanding dengan para penyeru kebenaran.</p>
<p><strong>Kedudukan Tauhid</strong><br />
Tidak ada keraguan lagi bahwa tauhid memiliki kedudukan yang tinggi bahkan yang paling tinggi di dalam agama. Tauhid merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal z. Rasulullah berkata kepadanya: <em> “Hai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah? Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau mengatakan: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” </em> <strong>( HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>1. Tauhid merupakan dasar dibangunnya segala amalan yang ada di dalam agama ini. Rasulullah bersabda:<br />
<em> “Islam dibangun di atas lima dasar, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa pada bulan Ramadhan.” </em> <strong>(Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Umar)</strong></p>
<p>2. Tauhid merupakan perintah pertama kali yang kita temukan di dalam Al Qur’an sebagaimana lawannya (yaitu syirik) yang merupakan larangan paling besar dan pertama kali kita temukan di dalam Al Qur’an, sebagaimana firman Allah:</p>
<p><em> “Hai sekalian manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yang telah menjadikan bumi terhampar dan langit sebagai bangunan dan menurunkan air dari langit, lalu Allah mengeluarkan dengannya buah-buahan sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah”. <em> <strong>(Al-Baqarah: 21-22)</strong></p>
<p>Dalil yang menunjukkan hal tadi dalam ayat ini adalah perintah Allah “sembahlah Rabb kalian” dan “janganlah kalian menjadikan tandingan bagi Allah”.</p>
<p>3. Tauhid merupakan poros dakwah seluruh para Rasul, sejak Rasul yang pertama hingga penutup para Rasul yaitu Muhammad . Allah berfirman:<br />
<em> “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (yang menyeru) agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thagut.” </em> (An-Nahl: 36)</p>
<p>4. Tauhid merupakan perintah Allah yang paling besar dari semua perintah. Sementara lawannya, yaitu syirik, merupakan larangan paling besar dari semua larangan.<br />
Allah berfirman:<br />
<em> “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah kecuali kepada-Nya dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” </em> (Al-Isra: 23)<br />
<em> “Dan sembahlah oleh kalian Allah  dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. </em>” (An-Nisa: 36)</p>
<p>5. Tauhid merupakan syarat masuknya seseorang ke dalam surga dan terlindungi dari neraka Allah, sebagaimana syirik merupakan sebab utama yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka dan diharamkan dari surga Allah. Allah berfirman:<br />
<em> “Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah maka Allah akan mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada bagi orang-orang dzalim seorang penolongpun.” </em> (Al-Maidah: 72)</p>
<p>Rasulullah  bersabda:<br />
<em> “Barang siapa yang mati dan dia mengetahui bahwasanya tidak ada ilah yang benar kecuali Allah, dia akan masuk ke dalam surga.” </em> (Shahih, HR Muslim No.26 dari Utsman bin Affan)</p>
<p>Rasulullah  bersabda:<br />
<em> “Barangsiapa yang kamu jumpai di belakang tembok ini bersaksi terhadap Lailaha illallah dan dalam keadaan yakin hatinya, maka berilah dia kabar gembira dengan surga.” </em> (Shahih, HR Muslim No.31 dari Abu Hurairah)</p>
<p>6. Tauhid merupakan syarat diterimanya amal seseorang dan akan bernilai di hadapan Allah. Allah berfirman:<br />
<em> “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dan mengikhlaskan bagi-Nya agama. </em>” (Al-Bayinah: 5)</p>
<p><strong>Tauhid Poros Dakwah Para Rasul</strong></p>
<p>Menggali dakwah seluruh para rasul dan sepak terjang mereka dalam memikul amanat dakwah ini, niscaya akan kita temukan keanehan di atas keanehan yang seandainya kita yang memikulnya, sunggguh kita tidak akan sanggup.</p>
<p>Dakwah membutuhkan keikhlasan agar bisa bernilai di sisi Allah dan untuk mengikat diri kita dengan pemilik dakwah itu, yaitu Allah, serta mendapatkan segala apa yang dipersiapkan di negeri akhirat. Dakwah membutuhkan keberanian untuk tidak gentar, takut, dan lari ketika menghadapi segala tantangan. Dakwah membutuhkan kesabaran terhadap segala ujian dan tantangan di atasnya. Dakwah membutuhkan istiqamah untuk selalu bersemangat di atas dakwah meskipun kebanyakan orang tidak menerimanya. Dakwah membutuhkan iman yang kuat dan yakin terhadap pertolongan pemilik dakwah ini yaitu Allah. Dakwah membutuhkan tawakal, kelembutan, dan segala bentuk akhlak yang mulia.</p>
<p>Allah telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa yang menjadi poros dakwah para rasul adalah seruan untuk mentauhidkan Allah sebagaimana firman Allah:<br />
<em> “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat itu seorang rasul (yang menyeru) agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thagut. </em>” (An-Nahl: 36)</p>
<p>Dari ayat ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengambil beberapa faidah di dalam kitabnya <strong>At Tauhid</strong>, di antaranya: Hikmah dari diutusnya seluruh para rasul, bahwa risalah itu mencakup seluruh umat, dan agama para nabi itu adalah satu.</p>
<p>Dari semua faidah ini, sangat jelas bahwa risalah para Rasul adalah satu yaitu risalah tauhid. Tugas dan tujuan mereka adalah satu yaitu mengembalikan hak-hak Allah agar umat ini menyembah hanya kepada-Nya. Atau dengan kata lain, memerdekakan manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Rabbnya manusia.</p>
<p><strong>Tauhid, Wahai Para Da’i!</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany mengatakan dalam risalahnya <strong>Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam</strong>: “Melihat jeleknya situasi yang menimpa saudara kita se-Islam, maka kita mengatakan situasi yang jelek ini tidak lebih jelek dibanding dengan kejahatan situasi jahiliah dulu ketika Allah mengutus Rasulullah…”</p>
<p>Berdasarkan hal itu, maka obatnya adalah obat yang disebarkan oleh Rasulullah di masa jahiliah. Maka dari itu, bagi setiap da’i agar tampil mengobati jeleknya pemahaman umat terhadap kalimat La ilaha illallah dan mengobati keadaan itu dengan obat tersebut. Yang demikian itu sangat jelas jika kita mencoba untuk merenungi apa yang difirmankan oleh Allah:<br />
<em> “Sungguh telah nampak bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi siapa yang mengharapkan Allah dan hari akhir, dan bagi orang yang mengingat Allah. </em>” (Al-Ahdzab: 21)</p>
<p>Kemudian beliau (Syaikh Albany) mengatakan: “Maka Rasul kita Muhammad  adalah suri teladan yang baik dalam mengobati segala problem yang menimpa kaum muslimin di masa kita sekarang ini, bahkan dalam setiap waktu dan keadaan. Yang demikian itu menuntut kita agar seharusnya memulai sebagaimana Rasulullah memulai yaitu pertama kali memperbaiki akidah kaum muslimin yang sudah rusak, yang kedua ibadah mereka, dan yang ketiga akhlak. Saya bukan berarti ingin memisahkan antara yang pertama dari yang paling penting menuju yang penting kemudian yang di bawahnya lagi. Akan tetapi yang saya maksudkan adalah agar setiap orang Islam terlebih khusus da’inya untuk memberikan perhatian yang besar (terhadap akidah, red).”</p>
<p>Kenyataan yang menimpa umat secara menyeluruh dan kaum muslimin secara khusus adalah kerusakan hubungan mereka dengan Allah. Bahkan sampai kepada puncak menyekutukan Allah dalam peribadatan dan mengangkat tandingan-tandingan bagi Allah, baik itu dalam wujud manusia atau benda-benda yang tidak bisa bergerak dan berbuat apa-apa.</p>
<p>Penyakit ini telah mendarah daging seperti pohon yang telah menancap akarnya. Bahkan telah menjadi penyakit kanker yang setiap saat merenggut nyawa manusia. Oleh karena itu, sungguh sangat dibutuhkan obat yang tepat dan dokter yang telaten untuk mengawali perombakan akar-akar pohon tersebut dan mengobati penyakit-penyakit kanker tersebut. Ketahuilah, dokter umat ini adalah mereka-mereka yang mengikuti langkah Rasulullah dalam berdakwah yang memulai dari tauhid yang merupakan dasar bangunan Islam ini sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dan memberikan obat yang sesuai dengan kebutuhan mereka yaitu <strong>Tauhidullah</strong>.</p>
<p>Wahai para da’i, mulailah darimana Allah dan Rasul-Nya memulai dan persiapkan dirimu untuk menghadapi segala kemungkinan gangguan dan cobaan yang dahsyat yang terkadang harus mengalami kegagalan di tengah jalan. Mulailah wahai para da’i dari tauhidullah!</p>
<p>Sumber Bacaan:<br />
1. Al Qur’an<br />
2. Kitab Tauhid-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab<br />
3. Qaulul Mufid-Muhammad Al Wushabi<br />
4. Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam Syaikh Al Albany </em></em></p>
<p>&#160;</p>
<p>sumber: www.asysyariah.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[:: Indahnya Surat Al-Ikhlas]]></title>
<link>http://kaligrafiislam.wordpress.com/2009/11/27/indahnya-surat-al-ikhlas/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 13:22:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>:: Rumah Kaligrafi Bunayya</dc:creator>
<guid>http://kaligrafiislam.wordpress.com/2009/11/27/indahnya-surat-al-ikhlas/</guid>
<description><![CDATA[Dalam koleksi kami, terdapat beberapa model ukiran kaligrafi Surat Al-Ikhlas : Surat Al-Ikhlas, arti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dalam koleksi kami, terdapat beberapa model ukiran kaligrafi <strong><em>Surat Al-Ikhlas</em></strong> :</p>
<p><a href="http://kaligrafiislam.wordpress.com/files/2009/11/ihlas12.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-274" title="ihlas1" src="http://kaligrafiislam.wordpress.com/files/2009/11/ihlas12.jpg?w=300" alt="" width="300" height="299" /></a></p>
<p><strong><em>Surat Al-Ikhlas</em></strong>,<strong> </strong>artinya<strong> </strong> &#8220;Memurnikan Keesaan Allah&#8221;,  adalah <a title="Surah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surah">sura</a>t ke-112 dalam <a title="Al-Qur'an" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur%27an">al-Qur&#8217;an</a><!--more-->. Surah ini tergolong surah <a title="Makkiyah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Makkiyah">Makkiyah</a>, terdiri atas 4 ayat dan pokok isinya adalah menegaskan <a title="Tauhid" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tauhid">keesaan</a> <a title="Allah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Allah">Allah</a> sembari menolak segala bentuk penyekutuan terhadap-Nya. Kalimat inti dari surah ini, &#8220;Allahu ahad, Allahus shamad&#8221; (Allah Maha Esa, Allah tempat bergantung).</p>
<p><a href="http://kaligrafiislam.wordpress.com/files/2009/11/ihlas12.jpg"></a><a href="http://kaligrafiislam.wordpress.com/files/2009/11/ihlas22.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-277" title="ihlas2" src="http://kaligrafiislam.wordpress.com/files/2009/11/ihlas22.jpg?w=300" alt="" width="300" height="300" /></a><a href="http://kaligrafiislam.wordpress.com/files/2009/11/ihlas6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-278" title="ihlas" src="http://kaligrafiislam.wordpress.com/files/2009/11/ihlas6.jpg?w=300" alt="" width="300" height="299" /></a><a href="http://kaligrafiislam.wordpress.com/files/2009/11/ihlas13.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-279" title="ihlas1" src="http://kaligrafiislam.wordpress.com/files/2009/11/ihlas13.jpg?w=300" alt="" width="300" height="295" /></a><a href="http://kaligrafiislam.wordpress.com/files/2009/11/ihlas14.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-280" title="ihlas1" src="http://kaligrafiislam.wordpress.com/files/2009/11/ihlas14.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="../files/2009/11/ihlas21.jpg"></p>
<p style="text-align:center;"><img title="ihlas2" src="../files/2009/11/ihlas21.jpg?w=300" alt="" width="300" height="299" /></p>
<p></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Doa Sayyidul Istighfar ]]></title>
<link>http://usamahcenter.wordpress.com/2009/11/27/doa-sayyidul-istighfar/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 07:51:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>usamahcenter</dc:creator>
<guid>http://usamahcenter.wordpress.com/2009/11/27/doa-sayyidul-istighfar/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A. Thursday, 08 May 2008 Setelah kita mengetahui sebagian da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A.<br />
Thursday, 08 May 2008</p>
<p>Setelah kita mengetahui sebagian dari kekuatan istighfar, alangkah baiknya, jika kita langsung mempraktekkan di dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu dengan mengetahui doa-doa istighfar yang dicontohkan oleh Rosulullah saw dan yang disebutkan Allah swt di dalam Al Qur’an.<br />
Tentunya kita tidak sekedar menghafal doa-doa tersebut, namun harus dipahami dan direnungi makna setiap lafadhnya, sekaligus mengetahui juga akan keutamaan dari doa-doa tersebut.<!--more--><!--more--></p>
<p>Diantara doa-doa tersebut adalah :</p>
<p>Pertama : Doa Sayidul Istighfar ( Doa Istighfar yang paling terkemuka )</p>
<p>أللهم أنت ربي لا إله الا أنت خلقتني وأنا عبدك وأنا على عهدك ووعدك ماأستطعت أعوذ بك من شر ماصنعت أبوأ لك بنعمتك علي وأبوأ بذنبي فأغفر لي فإنه لايغفر الذنوب إلا أنت</p>
<p>Dari Syadad bin Aus bahwasanya Rosulullah saw bersabda : ” Sayidul Istighfar adalah anda berdoa : ” Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-ku, Tiada Ilah kecuali Engkau, Engkau telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu, aku akan berusaha memenuhi janji-janjiku kepada-Mu sekuat tenagaku, aku berlindung kepada-Mu dari apa perbuatan jelekku, aku mengakui akan nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui juga atas dosa yang pernah aku perbuat, maka ampunilah diriku, sesungguhnya tiada yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau ya Allah. ” ( HR Bukhari, no : 6306 )</p>
<p>Adapun arti dan makna dari doa sayidul istighfar di atas adalah sebagai berikut :</p>
<p>1/ ” Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-ku, “. Maksudnya kita mengakui bahwa Allah adalah pencipta dan pemelihara kita. Karena Rabb berarti : pencipta ,pemilik dan pemelihara. Pengakuan seperti ini disebut dengan ” Tauhid Rububiyah ” . Maka, doa itu kalau kita panjangkan, kira-kira berbunyi begini : ” Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-Ku, Dzat Yang menciptakanku…dulu saya tidak ada, hanya dengan izin-Mu aku menjadi ada dan masih hidup di dunia ini… Engkau adalah Rabb-ku, Dzat Yang memeliharaku…dulu aku kecil, tidak bisa apa-apa dan tidak tahu apa-apa, hanya dengan Inayah dan Perhatian-Mu, sehingga aku menjadi besar dan tahu banyak hal…Engkaulah Yang memberikan-ku rizki sehingga sampai sekarang aku bisa makan dan minum….</p>
<p>2/ Tiada Ilah kecuali Engkau, Maksudnya kita mengakui dan menyatakan bahwa di alam ini tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah swt. Karena ” Ilah ” berarti : sesuatu yang disembah , sesuatu yang dijadikan gantungan dan sandaran, sesuatu yang dituju dan dicari ketika terjadi kesulitan. Pengakuan seperti ini disebut dengan”Tauhid Uluhiyah”. Jadi doa ini kalau dipanjangkan kira-kira berbunyi : ” Tiada yang berhak disembah dan dimintai kecuali Engkau ya Allah…Aku tidak akan meminta hajat kecuali kepada-Mu ya Allah, tiada akan meminta bantuan kecuali kepada-Mu ya Allah, tiada minta kesembuhan kecuali kepada-Mu ya Allah, tiada memohon ampun kecuali kepada-Mu ya Allah, tiada memohon jalan keluar dalam seluruh masalah kecuali kepadaMu ya Allah…</p>
<p>Inilah inti dari seluruh ibadat kita. Kita sholat, kita berpuasa, kita membayar zakat dan kita melakukan ibadat haji…semuanya berisi ketundukan kepada Allah swt. Maka, tiada artinya kita sholat tiap hari, tapi kita masih memohon perlindungan kepada selain Allah, kita masih memberikan sesajen di pojok-pojok jalan, di bawah-bawah pohon beringin , di tepi-tepi pantai selatan, di lereng-lereng gunung …yang tujuannya untuk kita persembahkan kepada jin penunggu tempat-tempat tersebut.Tiada artinya kita haji sepuluh atau dua puluh kali, tetapi kita masih datang ke dukun-dukun untuk meminta jodoh, meminta keturunan, meminta pelaris dan meminta jabatan.</p>
<p>3/ ” Engkau telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu ” …Engkau adalah Dzat Yang menciptakan seluruh alam ini, aku hanyalah seorang hamba yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa, kecuali dengan bantuan-Mu..hamba yang tidak mempunyai apa-apa kecuali dengan pemberian-Mu ya Allah.</p>
<p>4/ ” aku akan berusaha memenuhi janji-janjiku kepada-Mu dan membenarkan janji-janji-Mu sekuat tenagaku . ”</p>
<p>al ‘Ahdu ( Janji kita kepada Allah ) adalah kita mengakui bahwa Allah adalah Rabb kita, kita telah berjanji kepada Allah, bahwa kita akan melaksanakan seluruh perintah dan larangan-Nya. Janji ini pernah kita sampaikan kepada Allah sewaktu kita berada di sulbi Adam, sebagaimana yang pernah disampaikan Allah swt dalam friman-Nya :</p>
<p>وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ</p>
<p>Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” ( Qs Al A’raf : 172 )</p>
<p>Maka do’a tersebut kalau kita panjangkan maka berbunyi : ” Ya Allah, aku dulu pernah berjanji kepada-Mu sewaktu masih di sulbi Adam, untuk mentaati segala perintah-Mu dan menjauhi segala larangan-Mu. Maka akan aku penuhi janjiku tersebut menurut kemampuan dan kekuatanku ya Allah….</p>
<p>Adapun ” al Wa’du “ ( Janji Allah kepada kita ) adalah bahwa Allah akan memberikan pahala bagi yang taat dan memberikan hukuman bagi yang bermaksiat. Maka doa itu kalau kita panjangkan, maka bunyinya ” Ya Allah aku juga membenarkan janji-Mu, bahwa Engkau akan memberikan pahala bagi yang taat dan memberikan hukuman bagi yang bermaksiat, oleh karena itu aku akan mentaatimu ya Allah dan meninggalkan larangan-larang-Mu menurut kekuatan dan kemampuanku. ”</p>
<p>5/” aku berlindung kepada-Mu dari apa perbuatan jelekku ”</p>
<p>Kita harus selalu berlindung kepada Allah dari perbuatan jelek kita. Rosulullah saw sendiri selalu mengajarkan kepada kita agar selalu berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kita dan kejelekan amalan kita. Ini sangat terlihat secara jelas di dalam setiap khutbahnya ketika beliau berdo’a :</p>
<p>ونعوذ بالله من شرور أنفسنا و سيئات أعمالنا</p>
<p>” Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan kejelekan amalan kami ”</p>
<p>Jiwa manusia selalu membisikan kejelekan, makanya kita dianjurkan untuk selalu berlindung kepada Allah dari bisikannya, sebagaimana firman Allah swt melaui lisan istri pejabat yang pernah merayu nabi Yusuf as :</p>
<p>وَمَا أُبَرِّىءُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ</p>
<p>” Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang Sesungguhnya jiwa ini selalu menyuruh kejelekan ” ( Qs Yusuf : )</p>
<p>6/ ” aku mengakui akan nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku. ”</p>
<p>Nikmat yang diberikan Allah kepada kita sangat banyak sekali, karena banyaknya sehingga kita tidak bisa menghitungnya, sebagaimana firman Allah swt :</p>
<p>وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ</p>
<p>” Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah )”( Qs Ibrahim : 34 )</p>
<p>Seorang hamba yang merasa dan mengakui adanya nikmat tersebut, tentunya akan terus bersyukur …Kalau do’a tersebut dipanjangkan , maka akan berbunyi : ” Ya Allah , aku mengakui bahwa nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku sangat banyak sekali, nikmat kehidupan, tanpa ijin-Mu tidak mungkin aku bisa hidup di dunia ini…nikmat anggota badan yang lengkap, seandainya saja salah satu anggota badan ini engkau cabut …ya Allah , tentunya aku akan mendapatkan kesusahan, terimakasih ya Allah atas nikmat ini…apa yang harus aku balas ya Allah demi mensyukuri nikmat ini….begitu juga nikmat kesehatan yang Engkau berikan kepadaku, sehingga aku bisa mengerjakan aktivitas sehari-hari dan bisa bekerja dengan baik, jika kesehatan ini Engkau cabut ya Allah, tentunya aku akan mendapatkan kesusahan…terimaksih ya Allah atas nikmat ini.”</p>
<p>7/ ” dan aku mengakui juga atas dosa yang pernah aku perbuat. “</p>
<p>Mengakui dosa merupakan syarat diterimanya sebuah istighfar dan taubat. Oleh karenanya, orang yang berdoa harus merasa rendah dan hina di hadapan Allah…harus merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang berlumuran dosa dan maksiat…makhluk yang kecil yang tidak mempunyai daya apa-apa. Sebaliknya dia harus mengakui bahwa Allah adalah Maha Suci, Maha Perkasa, Dzat Yang Mampu melakukan apa saja…</p>
<p>Makanya, orang yang takabbur dan sombong jarang mau bertaubat, karena merasa dirinya adalah makhluk yang suci dan tidak pernah salah. Orang seperti ini biasanya hatinya keras dan kasar terhadap sesama. Berbeda dengan orang yang selalu mengucapkan dan merenungi doa sayidul istighfar ini …hatinya selalu lembut… mudah menerima nasehat..mudah terharu..mudah menangis…karena selalu ingat akan dosa-dosanya, dan yang paling penting selalu beristighfar dan banyak bertaubat.</p>
<p>8/ ” maka ampunilah diriku, sesungguhnya tiada yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau ya Allah. ”</p>
<p>Ini adalah lafadh istighfar yang sebenarnya, adapun lafadh-lafdah sebelumnya adalah muqaddimah atau pembuka lafadh istighfar ini.</p>
<p>Jadi, kalau kita perhatikan do’a sayidul istighfar ini, akan kita dapatkan bahwa muqaddimah atau pembukanya jauh lebih panjang dari pada do’a istigfhar itu sendiri, kenapa harus begitu ?</p>
<p>Pertama : Salah satu adab berdo’a adalah sebelum kita berdo’a atau memohon sesuatu kepada Allah swt, hendaknya kita dahului dengan amal sholeh atau perbuatan baik, salah satu dari amal sholeh adalah mengucapkan kalimat tauhid, atau menyatakan bahwa tiada Robb dan Ilah yang berhak disembah kecuali Allah. Diantara amal sholeh juga adalah mengaku nikmat Allah yang diberikan kepada kita dan mengaku dosa yang kita perbuat. Bahkan dalam beberapa hadist disebutkan bahwa sebelum do’a, hendaknya didahului dengan mengucapkan sholawat kepada nabi Muhammad saw….</p>
<p>Keutamaan Do’a Sayidul Istighfar</p>
<p>Do’a Sayidul Istighfar ini mempunyai keutamaan yang sangat besar sekali, yaitu orang yang selalu membacanya dan memahaminya serta menyakini isinya akan dimasukkan ke dalam syurga. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Rosulullah saw dalam hadist berikutnya :</p>
<p>ومن قالها من النهار موقنًا بها فمات من يومه قبل أن يمسي فهو من أهل الجنة ، ومن قالها من الليل وهو موقن بها فمات قبل أن يصبح فهو من أهل الجنة .</p>
<p>” Barang siapa yang mengucapkan doa ini ( yaitu doa sayidul istihgfar ) pada siang hari dengan menyakini isinya, kemudian mati pada hari itu, sebelum datang waktu sore, niscaya dia termasuk ahli syurga. Dan barang siapa yang membacanya pada malam hari dengan menyakini isinya, kemudian dia mati sebelum datangnya pagi, niscaya dia termasuk ahli syurga ” ( HR Bukhari, no : 6306 )</p>
<p>Hadist di atas menjelaskan secara gambling bahwa barang siapa yang mengucapkan atau membaca doa sayidul istighfar dengan menyakini isinya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam syurga. Kenapa bisa begitu ?</p>
<p>Pertama : Karena dia sudah menyatakan ke –Esaan Allah ( bertauhid ) dari hatinya yang paling dalam serta menyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah swt.</p>
<p>Kedua : Karena dia sudah beristighfar dan memohon ampun atas segala dosa-dosanya.</p>
<p>Ketiga : Setelah hatinya kosong dari dosa dan diisi dengan tauhid, tiba-tiba dia mati pada hari itu juga, maksudnya dia belum sempat mengerjakan dosa-dosa lagi, maka tentunya orang seperti ini termasuk ahli syurga. Sebagaimana yang disebutkan oleh Rosulullah saw :</p>
<p>ن لقي الله تعالى لا يشرك به شيئاً دخل الجنة</p>
<p>” Barang siapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukannya dengan sesuatu, niscaya ia akan masuk syurga ” ( HR Ahmad )</p>
<p>Ini dikuatkan juga dengan hadist lain bahwasanya Rosulullah saw bersabda :</p>
<p>من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة</p>
<p>” Barang siapa yang akhir dari perkataannya : La ilaha illahu , niscaya ia akan masuk syurga . ” …….bersambung</p>
<p>Kairo, 26 Juli 2007</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Idul Adha]]></title>
<link>http://adeskoesnandar.wordpress.com/2009/11/26/idul-adha/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 22:36:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>adeskoesnandar</dc:creator>
<guid>http://adeskoesnandar.wordpress.com/2009/11/26/idul-adha/</guid>
<description><![CDATA[Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar laa ilaha illallahu Allahuakbar, Allahuakbar walillahilhamd]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar laa ilaha illallahu Allahuakbar, Allahuakbar walillahilhamd&#8230;Allah Maha Agung, Allah Maha Agung, Allah Maha Agung, Tiada tuhan selain Allah yang Maha Agung, Allah Maha Agung, dan baginya segala puji&#8230;Pagi ini kita bertakbir mengagungkan nama Allah, Allah yang Maha Agung tiada tuhan selain Allah. Hari ini, di Mina jutaan jamaah Haji berduyun duyun melempar Jumrah Aqobah dengan tujuh lemparan kerikil. Ini merupakan prosesi yang penuh ketegangan, bagaikan pasukan perang bergerak menyerang musuh. Jumrah adalah perlambang, kita lempar setan, kita hancurkan musuh kita itu, lempar dengan batu harus kena dan tepat sasaran, tujuh kali lemparan, jangan ragu-ragu. Kita hancurkan watak setan yang ada pada diri kita dan kita agungkan nama Allah. Allahuakbar walillahilham. Di tanah air kita sembelih hewan kurban, kita bagkan daging kurban kepada mereka yang berhak, dan kita iklaskan semua amal ibadah kita hanya untuk Allah. Allahuakbar walillahilhamd. Selamat Idul Adha.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Sahabat, Ibadah Haji dan Qurban Idul Adha]]></title>
<link>http://kangboed.wordpress.com/2009/11/26/surat-sahabat-ibadah-haji-dan-qurban-idul-adha/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 07:40:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>KangBoed</dc:creator>
<guid>http://kangboed.wordpress.com/2009/11/26/surat-sahabat-ibadah-haji-dan-qurban-idul-adha/</guid>
<description><![CDATA[Surat Sahabat, Ibadah Haji dan Qurban Idul Adha.. yayaya.. Surat Sahabat, Ibadah Haji dan Qurban Idu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Surat Sahabat, Ibadah Haji dan Qurban Idul Adha.. yayaya.. Surat Sahabat, Ibadah Haji dan Qurban Idu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KIAMAT 2012 MENGGUNCANG DUNIA]]></title>
<link>http://asysyifaagency.wordpress.com/2009/11/26/kiamat-2012-mengguncang-dunia/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 04:48:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>asysyifaagency</dc:creator>
<guid>http://asysyifaagency.wordpress.com/2009/11/26/kiamat-2012-mengguncang-dunia/</guid>
<description><![CDATA[Kiamat 2012 Mengguncang Aqidah Kiamat 2012 mengguncang dunia, demikian Headline di beberapa media ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kiamat 2012 Mengguncang Aqidah Kiamat 2012 mengguncang dunia, demikian Headline di beberapa media ma]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Semangat Jahiliyah dan Kesyirikan]]></title>
<link>http://aditya06.wordpress.com/2009/11/26/semangat-jahiliyah-dan-kesyirikan/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 03:55:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>aditya06</dc:creator>
<guid>http://aditya06.wordpress.com/2009/11/26/semangat-jahiliyah-dan-kesyirikan/</guid>
<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><a href="http://lh3.ggpht.com/_-Bno6CmIBIo/Ssxu4uas-sI/AAAAAAAAAfM/5kQDNTLcTO4/s1600-h/ashobiyah%5B5%5D.jpg"><img title="ashobiyah" border="0" alt="ashobiyah" src="http://lh5.ggpht.com/_-Bno6CmIBIo/Ssxu7nEeCZI/AAAAAAAAAfQ/GrdcdFGTD5s/ashobiyah_thumb%5B3%5D.jpg?imgmax=800" width="473" height="416" /></a></p>
<p align="justify"><span style="color:#00ff00;"><font color="#800040">Dari Abdullah bin Mas’ud <em>rodhiyallohu ‘anhu,</em> dia berkata, Rosululloh <em>Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam</em> bersabda:</font></span></p>
<blockquote><p align="justify"><span style="color:#00ff00;"><font color="#800040">“Sesungguhnya mantra-mantra, jimat-jimat dan guna-guna adalah kesyirikan.”</font></span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="color:#00ff00;"><font color="#800040">(HR. Abu Daud (no. 3883), dihasankan oleh Asy Syaikh Muqbil dalam Al-Jaami’ush Shahih, 4/449 dan beliau menisbahkannya kepada Al Hakim saja, 4/217. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 1632 dan di dalam Ash Shahihah, no. 331, begitu juga dishahihkan oleh Al Hakim 4/217 dan disepakati oleh Adz Dzahabi. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad (I/381), Ath Thabrani (al Kabir, 10/262), Ibnu Hibban (13/456) dan Al Baihaqi (9/350)).</font></span></p>
<p align="justify">Belakangan ini berhembus kabar bahwa ada segelintir orang yang tergabung dalam sebuah organisasi yakni BENDERA (Benteng Demokrasi Rakyat) akan menyerang Malaysia pada tanggal 8 Oktober 2009. Adapun yang dijadikan sasaran oleh BENDERA adalah wilayah Malaysia Timur tepatnya kota Kuching (Sarawak) dan Tawau (Sabah) . Mereka yang ingin menyerang tersebut berbekal bambu runcing dan ilmu kebal. Sebelum menyerang, mereka telah terlebih dahulu memberangkatkan sekitar 10 orang intelejen (mata-mata) disusupkan ke Malaysia untuk melakukan propaganda terhadap para pekerja dari negeri kita.</p>
<p align="justify">
<p> <!--more-->
</p>
<p align="justify"><strong>Semangat Jahiliyah.</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://lh4.ggpht.com/_-Bno6CmIBIo/Ssxu_BKXXII/AAAAAAAAAfU/gYvLvh0bPFA/s1600-h/ashobiyah2%5B4%5D.jpg"><img title="ashobiyah2" border="0" alt="ashobiyah2" src="http://lh3.ggpht.com/_-Bno6CmIBIo/SsxvBwtj6bI/AAAAAAAAAfY/nbv__6b8bmg/ashobiyah2_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800" width="378" height="285" /></a></p>
<p align="justify">Apa yang diusung BENDERA ini sebenarnya adalah bagian daripada ashobiyah (fanatisme golongan) dimana ashobiyah adalah bagian daripada akhlak dan perilaku Jahiliyah.</p>
<p align="justify">Rosululloh <em>Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p align="justify">“Barangsiapa yang berperang dibawah panji-panji Jahiliyah, terbakar amarahnya karena fanatisme golongan, menyeru kepada fanatisme golongan atau menolong atas dasar fanatisme golongan, lalu mati, maka kematiannya adalah kematian jahiliyah.”</p>
</blockquote>
<p align="justify">(HR. Muslim, Ahmad dan An Nasa’i).</p>
<p align="justify">Melakukan penyerangan ke negeri tetangga yang masih muslim dengan mengusung semangat fanatisme golongan juga termasuk ke dalam hadits di atas. Demikian pula dengan aksi-aksi pendahuluan yang dilakukan oleh mata-mata BENDERA untuk menebar Propaganda di sana.</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://lh4.ggpht.com/_-Bno6CmIBIo/SsxvEhjV_2I/AAAAAAAAAfc/NJM6GzQ5yU0/s1600-h/ashobiyah-syirik%5B6%5D.jpg"><img title="ashobiyah-syirik" border="0" alt="ashobiyah-syirik" src="http://lh4.ggpht.com/_-Bno6CmIBIo/SsxvHScCSSI/AAAAAAAAAfg/Tp5VXOTS-hE/ashobiyah-syirik_thumb%5B4%5D.jpg?imgmax=800" width="436" height="338" /></a> </strong></p>
<p align="justify"><strong>Kesyirikan.</strong></p>
<p align="justify">Selain adanya semangat jahiliyah, para penyerang ini juga membekali dirinya dengan ilmu kebal. Subhanalloh, sudah mempraktikkan akhlak jahiliyah ditambah lagi dengan ilmu kebal yang notabene adalah jimat. Jimat adalah sarana menuju kesyirikan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana hadits-hadits berikut:</p>
<p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">1. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al Juhani rodhiyallohu ‘anhu bahwasannya sekelompok orang mendatangi Rosululloh lalu beliau membaiat 9 orang dan menahan seorang. Mereka bertanya, “Wahai Rosululloh, engkau membai’at 9 orang dan engkau meninggalkan orang ini.” Beliau bersabda:</font></span></p>
<blockquote><p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">“Sesungguhnya padanya ada jimat.”</font></span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">Maka orang itupun memasukkan tangannya dan memutus jimat tersebut, lalu Beliau membaiatnya. Beliau bersabda:</font></span></p>
<blockquote><p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka ia telah berbuat kesyirikan.”</font></span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">(HR. Ahmad (4/156) dan sanadnya shahih, Al Hakim (4/219) dan telah dishahihkan oleh Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah (no. 492) dan dihasankan oleh Asy Syaikh Muqbil dalam Al Jaami’ush Shahih, 6/294). </font></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">2. Dari Abbad bin Tamim bahwasannya Abu Basyir Al Anshori rodhiyallohu ‘anhu memberitakan kepadanya, bahwasannya dia dulu bersama Rosululloh di sebagian safar beliau. Dia berkata, “Lalu Rosululloh mengutus seorang utusan,</font></span></p>
<blockquote><p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">“Janganlah tersisa di leher unta qiladah (kalung) dari tali busur atau qiladah kecuali diputus.”</font></span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">(HR. Bukhari (Al Jihad, no. 2843), Muslim (Al Libaas, Bab (28) 3/1672 &#38; 1673 no. 2115), dan beliau menambahkan, Berkata Malik, “Aku melihat hal itu karena agar terhindar dari penyakit ‘ain (penyakit yang disebabkan oleh mata)). </font></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">3. Dari Ruwaifi bin Tsabit rodhiyallohu ‘anhu, bahwasannya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:</font></span></p>
<blockquote><p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">“Wahai Ruwaifi, semoga engkau panjang umur setelahku, kabarkanlah kepada manusia bahwasannya orang-orang yang mengikat jenggotnya, atau menggantungkan tali busur atau beristinja (bersuci dari kotoran) dengan kotoran binatang atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri darinya.”</font></span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">(HR. An Nasa’i (Az Zinah, bab (12) 8/135-136 no. 5607, dengan sanad shahih), Ahmad (4/108 dan 109), Abu Daud (no. 36). Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Misykah (no. 351) dan Shahiihul Jami’ (no. 7910)). </font></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">4. Diriwayatkan dari Jundab:</font></span></p>
<blockquote><p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">“Hukuman bagi tukang sihir ialah dipenggal lehernya dengan pedang.”</font></span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">(HR. Tirmidzi, hadits ini adalah mauquf dan diriwayatkan secara marfu’).</font></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">5. Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dari Balajah bin ‘Abdah, ia berkata:</font></span></p>
<blockquote><p align="justify"><span style="color:#00ffff;"><font color="#800000">“Umar bin Khaththab telah menetapkan perintah yaitu, “Bunuhlah tukang sihir laki-laki maupun perempua.” Kata Bajalah selanjutnya, “Maka kami pun melaksanakan hukuman mati terhadap tiga tukang sihir perempuan.”</font></span></p>
</blockquote>
<p align="justify">Perlu diketahui, selain bisa disebut sebagai “jimat” ilmu kebal yang digunakan itu pun bisa dikatagorikan sebagai sihir. Sebagaimana jimat, sihir juga termasuk jalan menuju kesyirikan sehingga masuk dalam perkara yang dilarang dalam Agama. Tentang sihir ini pun <span style="color:#ffff00;"><font color="#008000">Alloh <em>Subhanahu Wa Ta’ala</em> telah berfirman:</font></span></p>
<p align="right"><span style="font-family:traditional arabic;color:#ffff00;font-size:medium;"><strong><font color="#008000">وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ</font></strong></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#ffff00;"><font color="#008000"><em>“Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Alloh) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat buruklah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”</em> (QS. Al Baqarah: 102).</font></span></p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>Ancaman menanti mereka.</strong></p>
<p align="justify">Apakah mereka yang hendak berangkat ke Malaysia itu merasa yakin bahwa mereka berada di jalan yang benar? Sungguh amat sangat keliru apabila anda menjawab tindakan mereka itu dapat dibenarkan. Sudah mengusung semangat jahiliyah, mereka juga berbuat syirik kepada Alloh, dan syirik adalah dosa besar yang tidak akan pernah diampuni Alloh bahkan pelakunya dinyatakan telah keluar dari Islam atau murtad!</p>
<p align="justify"><span style="color:#ffff00;"><font color="#008000">Alloh <em>Subhanahu Wa Ta’ala</em> berfirman:</font></span></p>
<p align="right"><span style="font-family:traditional arabic;color:#ffff00;font-size:medium;"><strong><font color="#008000">إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا</font></strong></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#ffff00;"><font color="#008000"><em>“Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”</em> (QS. An Nisaa’: 116). </font></span></p>
<p align="right"><span style="font-family:traditional arabic;color:#ffff00;font-size:medium;"><strong><font color="#008000">ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلا بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ</font></strong></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#ffff00;"><font color="#008000"><em>“Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang lalim (musyrik) itu: &#34;Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.&#34;”</em> (QS. Yunus: 52).</font></span></p>
<p align="right"><span style="font-family:traditional arabic;color:#ffff00;font-size:medium;"><strong><font color="#008000">قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا</font></strong></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#ffff00;"><font color="#008000"><em>“Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): &#34;Robb-ku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadahmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadah kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)&#34;.”</em> (QS. Al Furqaan: 77)</font></span></p>
<p align="right"><span style="font-family:traditional arabic;color:#ffff00;font-size:medium;"><strong><font color="#008000">مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ</font></strong></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#ffff00;"><font color="#008000"><em>“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.”</em> (QS. At Taubah: 113). </font></span></p>
<p align="justify">Sungguh perbuatan mereka tidak bisa dibenarkan dalam syari’at. Dan jika saja mereka tertangkap dan mendapat hukuman, baik dari aparat Indonesia di Perbatasan maupun aparat Malaysia bila saja mereka berhasil masuk, maka ketahuilah hukuman di dunia masih belum seberapa dibandingkan dengan azab Alloh di akhirat kelah.</p>
<p align="justify">Apabila mereka kemudian mati entah terbunuh oleh aparat Malaysia atau diterkam binatang buas di hutan belantara Kalimantan perbatasan Indonesia – Malaysia (besar kemungkinan jalur ini yang akan mereka ambil jika saja rencana mereka itu benar-benar dijalankan. Di Kalimantan bagian utara, Indonesia dan Malaysia sebagian besar dibatasi oleh hutan belantara yang belum terjamah manusia sehingga banyak dihuni binatang buas), maka kematian mereka itu adalah kematian konyol atau kematian jahiliyah. Jika itu terjadi maka ketahuilah, azab Alloh menanti kalian.</p>
<p align="justify"><em>Wallohu A’lam</em>.</p>
<p align="justify"><strong></strong></p>
<p align="justify"><strong>Referensi:</strong></p>
<ul>
<li>
<div>Al Qur’an dan Terjemahan (Hadits Web 3.0).</div>
</li>
<li>
<div>Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi. 2000. <strong><em>Kitab Tauhid</em></strong>. Pustaka Darul Haq – Jakarta.</div>
</li>
<li>
<div>Syi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushoby. 2007. <strong><em>Al Qoulul Mufid: Penjelasan Tentang Tauhid</em></strong>. Darul Ilmi – Yogyakarta.</div>
</li>
<li>
<div><strong>Blog Anak Merdeka</strong> (<a title="http://hilbertmontell-anakmerdeka.blogspot.com" href="http://hilbertmontell-anakmerdeka.blogspot.com">http://hilbertmontell-anakmerdeka.blogspot.com</a>).</div>
</li>
<li>
<div><strong>Blog Arezeo</strong> (<a href="http://arezeo.blogspot.com">http://arezeo.blogspot.com</a>).</div>
</li>
<li>
<div><strong>Blog Pergerakan Pemuda UMNO Cawangan Telok Datok</strong> (<a href="http://pemudatelokdatok.blogspot.com/">http://pemudatelokdatok.blogspot.com/</a>).</div>
</li>
<li>
<div><strong>Situs VIVANEWS.COM</strong> (<a href="http://vivanews.com">http://vivanews.com</a>)</div>
</li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tafsir Basmallah]]></title>
<link>http://aditya06.wordpress.com/2009/11/26/tafsir-basmallah/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 03:50:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>aditya06</dc:creator>
<guid>http://aditya06.wordpress.com/2009/11/26/tafsir-basmallah/</guid>
<description><![CDATA[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ “Dengan menyebut nama Alloh, yang Maha Pengasih dan Maha Penya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="right"><strong><span style="font-family:traditional arabic;font-size:medium;">بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</span></strong></p>
<p><em>“Dengan menyebut nama Alloh, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”</em></p>
<p align="justify">Penjelasan Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin:</p>
<p align="justify">(1). Penulis (Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rohimahullohu) memulai risalahnya ini dengan basmallah, juga dalam rangka mengikuti hadits:</p>
<blockquote><p align="justify"><em>“Setiap perkara yang tidak dimulai dengan Bismillah maka perkara tersebut sia-sia (kurang berkahnya).”</em></p>
</blockquote>
<p align="justify">(Al Jami’u Ash Shaghir (4/147) dan Al Jami’ (2/69), namun derajat hadits ini masih diperselisihkan).</p>
<p align="justify">Dan juga dalam rangka meneladani Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam karena sesungguhnya beliau memulai kitab-kitabnya dengan basmallah. Al-Jar dan Al-Majmur (yakni lafadz “ <strong><span style="font-family:traditional arabic;font-size:medium;">بِسْمِ</span></strong> ”) berkaitan dengan kalimat yang mahdzuf (kalimat yang dihilangkan yang seharusnya menyertai kalimat tersebut) berupa fi’il (kata kerja) yang diakhirkan lagi sesuai dengan keadaannya yang seharusnya bunyi dari kalimat tersebut adalah “Dengan Nama Alloh aku menulis atau mengarang.” Kita perkirakan lafadz yang mahdzuf tadi berupa fi’il karena kata asal di dalam amalan adalah perbuatan.</p>
<p align="justify">
<p> <!--more-->
</p>
<p align="justify">Dan kita perkirakan pula lafadz yang mahdzuf tadi diakhirkan, karena adanya dua faidah:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Mencari berkah memulai dengan “ <strong><span style="font-family:traditional arabic;font-size:medium;">بِسْمِ </span></strong>”.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Memberikan faidah <em>al-hasr</em> (pembatasan) karena mendahulukan<em>al-muta’aliq</em> (yakni <em>al-jar</em> dan <em>al-majrur</em>) memberikan faidah pembatasan.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Kita juga memperkirakan bahwa sesuatu yang mahdzuf tadi harus sesuai dengan keadaan, karena yang demikian itu akan lebih menunjukkan kepada sesuatu yang diinginkan. Sebagai contoh kita mengatakan, “Dengan menyebut nama Alloh aku memulai.” Tatkala ketika ingat membaca maka tidak diketahui kita memulai untuk apa? Apabila kita katakan “Dengan menyebut nama Alloh aku membaca” maka yang demikian itu lebih menunjukkan pada sesuatu yang diinginkan.</p>
<p align="justify"><em>Lafdzul Jannah</em> (“<strong><span style="font-family:traditional arabic;font-size:medium;"> اللَّهِ</span></strong> ”) adalah nama bagi Al Bari <em>azza wa jalla</em>. Lafadz tersebut adalah nama yang diikuti oleh seluruh nama-nama Alloh yang lainnya, tak terkecuali dalam Firman Alloh<em> Azza Wa Jalla</em>:</p>
<p align="right"><strong><span style="font-family:traditional arabic;font-size:medium;">الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ</span></strong></p>
<p align="justify"><em>“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Robbmereka, (yaitu) menuju jalan Robb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Alloh yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih.”</em> (QS. Ibrahim: 1-2).</p>
<p align="justify">Kita tidak mengatakan bahwa<em> Lafdzul Jannah</em> (“ <strong><span style="font-family:traditional arabic;font-size:medium;">اللَّهِ</span></strong>”) pada ayat tersebut sebagai sifat bagi “ <strong><span style="font-family:traditional arabic;font-size:medium;">الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ</span></strong> ” akan tetapi kita katakan sebagai penjelas agar<em>lafdzul jannah</em> tidak sebagai pengikut sebagaimana <em>na’at</em> (sifat) mengikuti<em>man’ut</em>-nya (yang diikuti).</p>
<p align="justify">(2). “ <strong><span style="font-family:traditional arabic;font-size:medium;">الرَّحْمَنِ</span></strong> ” adalah nama diantara nama-nama yang khusus disandang oleh Alloh, tidak boleh digunakan untuk menamai selain-Nya. “&#160; ” artinya adalah Dzat yang bersifat dengan kasih sayang yang luas.</p>
<p align="justify">(3). “ <span style="font-size:medium;"><span style="font-family:traditional arabic;"><strong>الرَّحِيمِ</strong> </span></span>“ adalah nama yang digunakan untuk menamai Alloh dan yang selain-Nya. Sedangkan maknanya adalah Dzat yang memiliki kasih sayang yang tersampaikan. “ <strong><span style="font-family:traditional arabic;font-size:medium;">الرَّحْمَنِ</span></strong> ” (Ar Rahman) adalah Dzat yang memiliki kasih sayang yang luas, sedangkan “ <strong><span style="font-family:traditional arabic;font-size:medium;">الرَّحِيمِ</span></strong> ” (Ar Rahim) adalah Dzat yang menyampaikan kasih sayang-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya sebagaimana Firman Alloh:</p>
<p align="right"><strong><span style="font-family:traditional arabic;font-size:medium;">يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَرْحَمُ مَنْ يَشَاءُ</span></strong></p>
<p align="justify"><em>“Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya,”.</em> (QS. Al Ankabut: 21).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MAKNA PENGHAMBAAN DALAM ISLAM]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/makna-penghambaan-dalam-islam/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:49:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/makna-penghambaan-dalam-islam/</guid>
<description><![CDATA[MAKNA PENGHAMBAAN DALAM ISLAM Oleh Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan. Lajnah Da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MAKNA PENGHAMBAAN DALAM ISLAM Oleh Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan. Lajnah Da]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PROSES PENCIPTAAN MANUSIA]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/proses-penciptaan-manusia/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:48:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/proses-penciptaan-manusia/</guid>
<description><![CDATA[PROSES PENCIPTAAN MANUSIA Oleh Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan. Lajnah Daimah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[PROSES PENCIPTAAN MANUSIA Oleh Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan. Lajnah Daimah]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BUMI DAN LANGIT BERLAPIS TUJUH]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/bumi-dan-langit-berlapis-tujuh/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:46:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/bumi-dan-langit-berlapis-tujuh/</guid>
<description><![CDATA[BUMI DAN LANGIT BERLAPIS TUJUH Oleh Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan. Lajnah D]]></description>
<content:encoded><![CDATA[BUMI DAN LANGIT BERLAPIS TUJUH Oleh Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan. Lajnah D]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TENTANG ATHA' AL-MURSYID[1] = BISA MENAMBAH REZEKI]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/tentang-atha-al-mursyid1-bisa-menambah-rezeki/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:42:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/tentang-atha-al-mursyid1-bisa-menambah-rezeki/</guid>
<description><![CDATA[TENTANG ATHA&#8217; AL-MURSYID[1] = BISA MENAMBAH REZEKI Oleh Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[TENTANG ATHA&#8217; AL-MURSYID[1] = BISA MENAMBAH REZEKI Oleh Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ASAL USUL MANUSIA, TEORI EVOLUSI]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/asal-usul-manusia-teori-evolusi/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:40:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/asal-usul-manusia-teori-evolusi/</guid>
<description><![CDATA[ASAL USUL MANUSIA, TEORI EVOLUSI Oleh Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan. Lajnah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[ASAL USUL MANUSIA, TEORI EVOLUSI Oleh Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan. Lajnah]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kiamat 2012 ??? ]]></title>
<link>http://ummfulanah.wordpress.com/2009/11/24/kiamat-2012/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:39:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>ummu salamah</dc:creator>
<guid>http://ummfulanah.wordpress.com/2009/11/24/kiamat-2012/</guid>
<description><![CDATA[Ramalan akan terjadinya kiamat pada tahun 2012 disadur dari sistem penanggalan Kalender Bangsa Maya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ramalan akan terjadinya kiamat pada tahun 2012 disadur dari sistem penanggalan Kalender Bangsa Maya ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MACAM-MACAM TAUHID]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/macam-macam-tauhid/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:38:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/macam-macam-tauhid/</guid>
<description><![CDATA[MACAM-MACAM TAUHID Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. Pertanyaan Syaikh Shalih bin Fauzan Al-F]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MACAM-MACAM TAUHID Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. Pertanyaan Syaikh Shalih bin Fauzan Al-F]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MASALAH AL-HAKIMIYAH MERUPAKAN PERKARA YANG BARU]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/masalah-al-hakimiyah-merupakan-perkara-yang-baru/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:37:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/masalah-al-hakimiyah-merupakan-perkara-yang-baru/</guid>
<description><![CDATA[MASALAH AL-HAKIMIYAH MERUPAKAN PERKARA YANG BARU Oleh Syaikh Dr Nashir bin Abdul Karim Al&#8217;Aql ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MASALAH AL-HAKIMIYAH MERUPAKAN PERKARA YANG BARU Oleh Syaikh Dr Nashir bin Abdul Karim Al&#8217;Aql ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TIDAK DIPERBOLEHKAN MELETAKKAN TAUHID HAKIMIYAH SEBAGAI BAGIAN KHUSUS DALAM PEMBAGIAN TAUHID]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/tidak-diperbolehkan-meletakkan-tauhid-hakimiyah-sebagai-bagian-khusus-dalam-pembagian-tauhid/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:36:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/tidak-diperbolehkan-meletakkan-tauhid-hakimiyah-sebagai-bagian-khusus-dalam-pembagian-tauhid/</guid>
<description><![CDATA[TIDAK DIPERBOLEHKAN MELETAKKAN TAUHID HAKIMIYAH SEBAGAI BAGIAN KHUSUS DALAM PEMBAGIAN TAUHID Oleh Sy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[TIDAK DIPERBOLEHKAN MELETAKKAN TAUHID HAKIMIYAH SEBAGAI BAGIAN KHUSUS DALAM PEMBAGIAN TAUHID Oleh Sy]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BARANGSIAPA MENGANGGAP BAHWA TAUHID HAKIMIYAH MERUPAKAN TAUHID KEEMPAT IA ADALAH MUBTADI']]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/barangsiapa-menganggap-bahwa-tauhid-hakimiyah-merupakan-tauhid-keempat-ia-adalah-mubtadi/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:34:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/barangsiapa-menganggap-bahwa-tauhid-hakimiyah-merupakan-tauhid-keempat-ia-adalah-mubtadi/</guid>
<description><![CDATA[BARANGSIAPA MENGANGGAP BAHWA TAUHID HAKIMIYAH MERUPAKAN TAUHID KEEMPAT IA ADALAH MUBTADI&#8217; Oleh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[BARANGSIAPA MENGANGGAP BAHWA TAUHID HAKIMIYAH MERUPAKAN TAUHID KEEMPAT IA ADALAH MUBTADI&#8217; Oleh]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENGGUNAAN KATA HAKIMIYAH TERMASUK PELENGKAP DAKWAH POLITIK]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/28/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:32:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/28/</guid>
<description><![CDATA[PENGGUNAAN KATA HAKIMIYAH TERMASUK PELENGKAP DAKWAH POLITIK Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Alba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[PENGGUNAAN KATA HAKIMIYAH TERMASUK PELENGKAP DAKWAH POLITIK Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Alba]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ISTILAH TAUHID HAKIMIYAH ADALAH PERKARA YANG BARU (MUHDATS)]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/istilah-tauhid-hakimiyah-adalah-perkara-yang-baru-muhdats/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:30:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/24/istilah-tauhid-hakimiyah-adalah-perkara-yang-baru-muhdats/</guid>
<description><![CDATA[ISTILAH TAUHID HAKIMIYAH ADALAH PERKARA YANG BARU (MUHDATS) Oleh Hai&#8217;ah Kibaril Ulama&#8217; S]]></description>
<content:encoded><![CDATA[ISTILAH TAUHID HAKIMIYAH ADALAH PERKARA YANG BARU (MUHDATS) Oleh Hai&#8217;ah Kibaril Ulama&#8217; S]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kebebasan Sebenar]]></title>
<link>http://papanputih.wordpress.com/2009/11/24/kebebasan-sebenar/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 01:15:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Papan Putih</dc:creator>
<guid>http://papanputih.wordpress.com/2009/11/24/kebebasan-sebenar/</guid>
<description><![CDATA[. Selagi mana anda mendekatkan diri anda kepada sesuatu yang selain daripada Allah, anda sentiasa ak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://papanputih.wordpress.com/files/2009/11/freedom2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-242" title="Freedom" src="http://papanputih.wordpress.com/files/2009/11/freedom2.jpg" alt="" height="326" width="425"></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:rgb(255,255,255);">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><i>Selagi mana anda mendekatkan diri anda kepada sesuatu yang selain daripada Allah, anda sentiasa akan berada dalam kesusahan dan kesedihan, menyekutukan sesuatu terhadapNya, dan tidak mampu untuk bebas daripada beban dosa anda</i>. (Abdul Qadir al-Jilani)</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Kemerdekaan hati boleh dicapai melalui empat jalan mulia: merendahkan diri di hadapan Allah semata-mata, memerlukan Allah semata-mata, takut dan menghormati Allah semata-mata, dan mengharap akan Allah semata-mata</i>. (Said al-Hiri)</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Jadilah seperti mereka yang takut dan mentaati Allah. Syirik itu boleh dibahagikan kepada dalaman dan luaran. Syirik luaran adalah menyembah berhala, manakala syirik dalaman adalah meninggalkan Allah dan berharap kepada manusia, meletakkan pengharapan kepada mereka, dan mengharapkan kerugian dan keuntungan daripada mereka</i>. (Abdul Qadir al-Jilani)</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Barang siapa yang menyerahkan hatinya kepada Allah semata-mata dan memberikan sepenuh perhatian terhadap perkara ini, pancaran cahaya hikmah akan terbit dalam hatinya dan mengalir ke lidahnya</i>. (Yahya Ibn Muadh)</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Bagaimana pandangan mata orang ramai mempunyai apa-apa kepentingan kepada anda apabila pandangan Allah adalah kepada anda? Tinggalkan jalan orang ramai dan cubalah untuk melihat sesuatu daripada Tuhan</i>. (Ibn ‘Ata’ Illah al-Iskandari)</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Allah memberi anda dunia ini agar dengannya anda dapat memperolehi Akhirat bukan untuk anda menginginkan dunia</i>. (Uthman r.a.)</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Kemerdekaan yang sebenar adalah penghambaan diri kepada Tuhan</i> (Ali r.a.)</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Penghambaan diri adalah kepada Tuhan semata-mata, bukan kepada diri anda, kebaikan anda, kejahatan anda, dan manusia</i>. (Nasihat Prof. Emeritus al-Ustaz Dato’ Dr. Mat Demon al-Azazil MA. PhD in Decep. kepada saya.)</p>
<p style="text-align:justify;"><b>(Malakian)</b></p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANA]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/23/mengatakan-allah-ada-di-mana-mana/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 09:34:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/23/mengatakan-allah-ada-di-mana-mana/</guid>
<description><![CDATA[MENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANA Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan. Syaikh Abd]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANA Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan. Syaikh Abd]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TERMASUK SYIRIK : MOTIVASI SESEORANG DALAM AMALNYA KEPENTINGAN DUNIA]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/23/termasuk-syirik-motivasi-seseorang-dalam-amalnya-kepentingan-dunia/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 09:31:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/23/termasuk-syirik-motivasi-seseorang-dalam-amalnya-kepentingan-dunia/</guid>
<description><![CDATA[TERMASUK SYIRIK : MOTIVASI SESEORANG DALAM AMALNYA KEPENTINGAN DUNIA Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[TERMASUK SYIRIK : MOTIVASI SESEORANG DALAM AMALNYA KEPENTINGAN DUNIA Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TAFSIRAN TAUHID DAN SYAHADAT LAA ILAHA ILLA ALLAH]]></title>
<link>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/23/6/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 09:17:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinausalaf</dc:creator>
<guid>http://sinausalaf.wordpress.com/2009/11/23/6/</guid>
<description><![CDATA[TAFSIRAN TAUHID DAN SYAHADAT LAA ILAHA ILLA ALLAH Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Firman Allah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[TAFSIRAN TAUHID DAN SYAHADAT LAA ILAHA ILLA ALLAH Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Firman Allah]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Empat kelompok sifat yang wajib bagi ALLah Taala: Nafsiah, Salbiah, Ma'ani dan Ma'nawiyah]]></title>
<link>http://shahil.wordpress.com/2009/11/22/empat-kelompok-sifat-yang-wajib-bagi-allah-taala-nafsiah-salbiah-maani-dan-manawiyah/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 20:55:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>shahil</dc:creator>
<guid>http://shahil.wordpress.com/2009/11/22/empat-kelompok-sifat-yang-wajib-bagi-allah-taala-nafsiah-salbiah-maani-dan-manawiyah/</guid>
<description><![CDATA[Assalaamualaikum dan salam hormat. Kita telahpun selesai membicarakan sifat ALLah Taala yang ke dua ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Assalaamualaikum dan salam hormat.</p>
<p>Kita telahpun selesai membicarakan sifat ALLah Taala yang ke dua puluh iaitu Kaunuhu Mutakalliman yang bererti Keadaan ALLah Taala yang Berkata-kata. Maka kita telahpun selesai membicarakan sifat yang wajib bagi Zat ALLah Taala. seyugia kita ketahui bahawa sifat yang wajib itu bermaksud sifat yang thabit bagi Zat ALLah Taala itu samada dipercayai atau tidak, thabitlah Zat ALLah Taala bersifat dengan sifat itu. lebih-lebih lagi akal yang norma mempercayai thabitnya.</p>
<p>Hendaklah kita ingati semula bahawa dua puluh sifat itu hanyalah yang disebut oleh al-Quran sebagai sifat dasar yang wajib diketahui. ALLah Taala Maha Sempurna. Maka atas kesempurnaan ini, sifat yang thabit wajib bagiNya adalah tiada habisnya. Kerana jika habis, jadilah terbatas. Dan apabila terbatas adalah lemah, maka mustahil dengan sifat Ketuhanan.</p>
<p>Kemudian hendaklah kita ketahui pula dua puluh sifat ini terbahagi ia kepada empat kelompok berdasarkan hakikatnya. Empat kelompk itu iaitu sifat Nafsiah, sifat Salbiah, sifat Ma’ani dan sifat Ma’nawiyah.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kelompok sifat yang empat</span></p>
<p><strong>Yang tergulung di dalam sifat Nafsiah</strong> ialah satu sifat sahaja iaitu sifat Ujud.</p>
<p><strong>Yang tergulung dalam sifat Salbiah</strong> lima sifat iaitu Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilhawadith, Qiamuhu binafsih dan Wahdaniah.</p>
<p><strong>Yang tergulung dalam sifat Ma’ani</strong> tujuh sifat iaitu Qudrah, Iradah, Ilmu, Hayah, Sama’, Basar dan Kalam.</p>
<p><strong>Yang tergulung dalam sifat Ma’nawiyah</strong> tujuh sifat pula iaitu Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu Aliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu Basiran dan Kaunuhu Mutakalliman.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Hakikat kelompok sifat yang empat</span></p>
<p><strong>Adapun hakikat sifat Nafsiah</strong> iaitu hal yang wajib bagi Zat ALLah Taala itu selama ujud ZatNya itu tidak dikeranakan oleh sesuatu kerana atau selama Ia ujud tidak disebabkan oleh suatu sebab. Dan bukanlah ujud Zat itu kerana sesuatu sebab seperti hendak mengujudkan alam. Kerana ujud Zat ALLah Taala itu dengan sendirinya tanpa permulaan dan pengakhiran.</p>
<p>Sabda Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam bermaksud “Dan adalah ALLah itu Esa dan tiada menyertaiNya sesuatu yang lain”.</p>
<p><strong>Adapun hakikat sifat Salbiah</strong> iaitu sifat yang menafikan segala sifat yang tiada patut bagi Zat ALLah Taala. Iaitu sifat Qidam menafikan ada permulaan bagi Zat ALLah Taala, Baqa menafikan</p>
<p>Ada pengakhiran bagi Zat ALLah Taala, Mukhalafatuhu lilhawadith menafikan bersamaan ALLah Taala dengan sesuatu, Qiamuhu binafsih menafikan Zat ALLah Taala memerlukan sesuatu dan Wahdaniah menafikan ALLah Taala itu berbilang ujud.</p>
<p><strong>Adapun hakikat sifat Ma’ani </strong>sifat yang ujudiah iaitu sifat yang nyata pada dzihin dan nyata pada kharij. Erti nyata pada dzihin itu ialah nyata pada mata hati ujudnya sifat Ma’ani itu pada Zat ALLah Taala dan ertinya nyata pada kharij itu ialah nyata bekasnya. Ertinya nyata bekasnya ialah nyata kaitannya dengan alam yang baharu. Ertinya nyata kaitannya pada alam yang baharu pula ialah Qudrah itu takluk menjadikan alam yang baharu, Iradah itu takluk pada menentukan kejadian alam yang baharu, Ilmu itu takluk ia pada yang ujud samada ZatNya sendiri dan alam yang baharu, Hayah itu takluk pada pengesahan sifat yang enam, Sama’ takluk kepada sesuatu yang wajib yang mustahil dan yang harus, dan Basar juga takluk kepada segala yang wajib yang mustahil dan yang harus juga.</p>
<p>Inilah perbezaan sifat Ma’ani dengan sifat Salbiah.</p>
<p><strong>Adapun hakikat sifat Ma’nawiyah </strong>iaitu sifat yang melazimi kepada sifat Ma’ani. Ertinya apabila ada Ma’ani maka adalah ma’nawiyah. Dengan bahasa mudah zaman ini, sifat Ma’nawiyah adalah kesinambungan sifat Ma’ani.</p>
<p>Maka apabila Zat ALLah Taala bersifat Qudrah yakni Berkuasa maka pastilah Zat ALLah Taala Kaunuhu Qadiran yakni berkeadaan Zat yang Berkuasa, apabila Zat ALLah Taala bersifat Iradah yakni Menentukan pastilah Zat ALLah Taala itu Kaunuhu Qadiran yakni Keadaan Zat yang Menentukan, apabila Zat ALLah Taala berIlmu yakni Mengetahui pastilah Kaunuhu Aliman yakni keadaan Zat yang Mengetahui, apabila Zat ALLah Taala Hayah yakni hidup pastilah Kaunuhu Hayyan yakni keadaan Zat yang Hidup, apabila Zat ALLah Taala Sama’ yakni Mendengar pastilah Kaunuhu Sami’an yakni Zat yang berkeadaan Mendengar, apabila Zat ALLah Taala bersifat Basar yakni Melihat pastilah Kaunuhu Basiran yakni Zat yang bekeadaan Melihat dan apabila Zat ALLah Taala itu bersifat Kalam yakni Berkata-kata maka pastilah Ia Kaunuhu Mutakalliman yakni Zat yang Berkeadaan Berkata-kata.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Keadaan kelompok sifat yang empat</span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">S</span>eperti yang telah dijalaskan dahulu pada awal-awal bab Tauhid ini, sifat adalah Kelakuan Zat yang ujudnya bergantung kepada ujud Zat. Ertinya sifat ini tidak akan ujud bersendirian dalam maksud tidak ada sifat yang ujud secara sosok. Sosok adalah Zat dan sifat adalah perilaku sosok. Dan bahasa yang paling sesuai kepada sosok ALLah Taala ialah Zat, kerana apabila kita berkata sosok akan memberi waham kepada sosok manusia dan ia tidak tepat.</p>
<p><strong>Adapun sifat Nafsiah iaitu ehwal</strong>. Sifat Nafsiah adalah sifat yang menunjukkan ujudnya Zat. Apabila ujud Zat maka Nafsiahlah Ia yakni Zat itu halnya ujud.</p>
<p><strong>Adapun sifat Salbiah iaitu ma’duman. </strong>Sifat Salbiah adalah sifat yang ujud pada dzihin yang nyata pada mata hati akan ujudnya sebagai perilaku Zat tetapi tiada bekas ia kepada takluk sesuatu. Ertinya tiadalah sifat Salbiah itu takluk kepada yang lain seperti mencipta dan sebagainya.</p>
<p><strong>Adapun sifat Ma’ani itu maujudat. </strong>Sifat Ma’ani itu nyata bekas takluknya kepada yang lain samada yang wajib, atau yang harus (alam baharu) atau yang mustahil. Maka dengan nyata bekas takluknya makajadilah hukum sifat ini sifat yang berdiri kepada Zat dengan nyata.</p>
<p><strong>Adapun sifat Ma’nawiyah itu I’tibariah. </strong>Sifat Ma’nawiyah adalah sifat yang melazimi sifat Ma’ani. Ertinya apabila ada sifat Ma’ani maka adalah sifat Ma’nawiyah. Sifat Ma’nawiyah ini hanya nyata apabila telah ada bekas takluk sifat Ma’ani. Maka jadilah hukum sifat ini I’tibar bagi sifat Ma’ani.</p>
<p>Ketahuilah bahawa sangatlah sukar untuk memberikan kalimat-kalimat yang sesuai bagi apa yang penulis perkatakan. Kerana pada kitab Tauhid zaman dahulu ia menggunakan bahasa lama. Ehwal, Maujudat, Ma’duman dan Iktibariah disebut dalam kitab Tauhid sebagai “bangsa” Zat dan Nafsiah, Salbiah, Ma’ani dan Ma’nawiyah disebut sebagai hakikat.</p>
<p>Namun apa yang penulis tuliskan hanyalah memberikan penjelasan menurut bahasa moden yang sekira-kira boleh difahami umum. Lainlah jika menghadap di depan tok guru seperti yang penulis alami.</p>
<p>Dan penulis sangat lemah dalam memberikan kefahaman dengan bahasa seperti itu. Dan tidak mustahil akan memberikan kefahaman yang berbeza, dan akibatnya penulis akan menerima kecaman seperti dahulu dalam bab sifat wajib, mustahil dan harus.</p>
<p>Namun penulis berserah kepada ALLah Taala yang Dia sendiri bersifat dengan segala sifat Kesempurnaan. Dan penulis memohon kemaafan jika kalimat-kalimat penulis di atas menyukarkan kefahaman.</p>
<p>Wassalam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
