<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>teori-matematika &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/teori-matematika/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "teori-matematika"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 08:49:08 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Download Here]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/11/10/download-here/</link>
<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 16:28:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/11/10/download-here/</guid>
<description><![CDATA[Teori Peluang SMP Teori Peluang Dan Latihan &#8211; Mat#3 s. Ganjil (07 &#8211; 08) &#8211; Upload a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Teori Peluang SMP</strong></p>
<div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%;"><a href="http://www.scribd.com/doc/6231433/Teori-Peluang-Dan-Latihan-Mat3-s-Ganjil-07-08">Teori Peluang Dan Latihan &#8211; Mat#3 s. Ganjil (07 &#8211; 08)</a> &#8211; <a href="http://www.scribd.com/upload">Upload a Document to Scribd</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gerak Linear]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/11/10/gerak-linear-2/</link>
<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 16:27:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/11/10/gerak-linear-2/</guid>
<description><![CDATA[Gerak Linear 2008-06-24 08:19:53 Lebih dari 2000 tahun yang lalu, orang Yunani telah mempelajari beb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-weight:bold;">Gerak Linear</span><br />
2008-06-24 08:19:53</p>
<p>Lebih dari 2000 tahun yang lalu, orang Yunani telah mempelajari beberapa ide dalam fisika seperti yang kini kita pelajari. Diantaranya, Aristoteles adalah salah satu filsuf dan ilmuwan yang terbesar di Yunani, ia kemudian menjelaskan fenomena gerak dengan membuat klasifikasi. Aristoteles membagi gerakan dalam dua tipe: gerakan alami dan gerakan gangguan.</p>
<p>Gerakan alami diduga berasal dari “sifat” benda. Dalam pandangan Aristoteles, setiap benda dalam alam semesta memiliki tempat tertentu, yang ditentukan oleh sifat ini; setiap benda yang tidak berada dalam tempat yang seharusnya akan “bergerak” untuk pergi ke tempat tersebut. Berada di bumi, benda terbuat dari tanah liat akan jatuh ke tanah; benda yang terbuat dari udara seperti asap akan naik ke atas; benda yang terbuat dari campuran tanah dan udara namun didominasi bumi, seperti bulu akan jatuh ke tanah namun tidak secepat benda yang terbuat dari tanah liat. Benda yang lebih besar akan bergerak lebih cepat. Karena itu, benda dipercayai jatuh dengan kecepatan proporsional dengan berat: makin berat sebuah benda, makin cepat benda akan jatuh ke tanah.</p>
<p>Gerakan alami dapat bergerak lurus ke atas atau ke bawah, dalam kasus untuk semua beda di bumi, namun dapat juga berbentuk lingkaran, seperti dalam kasus untuk benda-benda di langit. Tidak seperti gerakan ke atas dan ke bawah, gerakan melingkar dilihat sebagai gerakan tanpa awal dan akhir, berulang sendiri tanpa perubahan.</p>
<p>Gerakan gangguan, ditimbulkan dari gaya mendorong atau menarik. Seseorang mendorong sebuah kereta atau mengangkat sebuah benda mengakibatkan gerakan. Angin menimbulkan gerakan terhadap kapal laut. Hal mendasar tentang gerakan gangguan adalah disebabkan oleh penyebab luar dan diberikan kepada benda; benda bergerak bukan karena dirinya, tetapi karena didorong atau ditarik.</p>
<p>Konsep gerakan gangguan memiliki beberapa kesulitan, karena dorongan dan tarikan yang mengakibatkannya tidak selalu terlihat. Sebagai contoh, sebuah busur menggerakkan panah sampai panah meninggalkan busur; setelah itu, penjelasan untuk gerakan panah memerlukan penjelasan tentang pendorong yang lain selain busur. Maka, dibayangkan udara yang dipisahkan oleh panah menghasilkan efek menekan bagian belakang panah karena udara bergerak kembali, mencegah terjadinya kevakuman udara. Panah bergerak didorong melalui udara seperti sabun yang bergerak dalam air ketika bagian belakang sabun diperas, sehingga sabun terdorong maju.</p>
<p>Sebagai rangkuman, Aristoteles mengajarkan bahwa semua gerakan dihasilkan dari sifat benda bergerak atau dari dorongan ataupun tarikkan. Untuk benda pada posisi tertentu, maka tidak akan bergerak kecuali diberi gaya. Kecuali untuk benda-benda di langit, sifat normal benda-benda lainnya adalah diam.</p>
<p>Pandangan Aristoteles ini diikuti oleh banyak filsuf dan ilmuwan lainnya sampai 2000 tahun kemudian, yaitu bahwa bumi tidak bergerak. Baru pada klimaksnya seorang astronom Kopernikus memformulasikan teorinya tentang bumi yang bergerak. Kopernikus berargumen menggunakan data pengamatan astronominya bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari. Lama ia tidak mempublikasikan teorinya tersebut, karena takut berbeda pandangan dengan yang lain dan masih ada keraguan karena ia belum dapat menghubungkan hubungan antara gerak bumi dan gerakan secara umum. Akhirnya, di hari terakhir hidupnya, bukunya dengan judul De Revolutionibus di cetak. Salinan pertama buku tersebut diperoleh pada hari kematiannya, 24 Mei 1543.</p>
<p>Baru kemudian Galileo, ilmuwan pada abad ke-16, yang memercayai pandangan Kopernikus tentang bumi yang bergerak. Ia membuktikannya dengan menunjukkan kesalahan ide Aristoteles tentang gerak. Hipotesis benda jatuh Aristoteles dengan mudah digugurkan Galileo. Ia melakukan percobaan dengan menjatuhkan benda dengan beragam berat dari puncak menara miring di Pisa dan membandingkan waktu kejatuhannya. Berlawanan dengan Aristoteles, ia menemukan batu yang beratnya dua kali lipat dibanding batu yang lain tidak jatuh lebih cepat dua kali lipat. Kecuali akibat gaya gesek dengan udara, Galileo kemudian menemukan bahwa benda dengan beragam berat, ketika dilepaskan pada waktu yang bersamaan, jatuh bersama dan menyentuh tanah pada waktu yang bersamaan. Suatu ketika, ia menunjukkan kepada kerumunan orang banyak untuk menyaksikan penjatuhan benda ringan dan berat dari puncak menara. Orang banyak yang melihat benda-benda tersebut jatuh ke tanah bersamaan, memarahi Galileo dan terus berpegang pada pandangan Aristoteles.</p>
<p>Galileo menguji hipotesis ini dengan bereksperimen dengan gerakan beragam benda pada bidang miring. Ia menyadari bahwa bola yang bergelinding ke bawah bidang miring bertambah cepat, sementara bola yang bergelinding ke atas bidang miring makin pelan. Dari hasil ini ia berargumen bahwa bola bergelinding di sepanjang bidang horizontal tidak akan bertambah cepat maupun berkurang cepat. Bola pada akhirnya akan berhenti bukan karena “sifatnya” namun karena gesekan. Ide ini didukung oleh pengamatan Galileo tentang gerak di sepanjang permukaan rata: ketika gesekan berkurang, maka semakin gerakan benda mendekati kecepatan konstan.</p>
<p>Ia kemudian beranggapan bahwa tanpa gesekan atau gaya berlawanan, benda yang bergerak horizontal akan terus bergerak.</p>
<p>Dugaan ini didukung oleh beragam eksperimen. Galileo meletakan kedua bidang miring saling berhadapan. Ia mengamati bahwa bola yang dilepaskan dari posisi diam pada puncak bidang miring menggelinding ke bawah kemudian ke atas bidang miring kedua sampai hamper mencapai tinggi mula-mula. Ia beranggapan bahwa hanya gesekan yang mencegahnya untuk sampai pada ketinggian yang tepat sama, untuk bidang yang rata, semakin bola mencapai tinggi yang sama. Lalu ia mengecilkan sudut dari bidang miring kedua. Kembali bola naik ke ketinggian yang sama, namun perlu menempuh jarak lebih jauh. Semakin sudut dikecilkan, menghasilkan hasil yang serupa; untuk mencapai ketinggian yang sama bola perlu menempuh jarak lebih jauh setiap kalinya. Kemudian ia bertanya, “Jika saya memiliki bidang horizontal, seberapa jauh bola harus menempuh untuk mencapai ketinggian yang sama.” Jawabannya sudah tentu “selamanya” karena bola tidak akan pernah mencapai tinggi mula-mula.</p>
<p>Galileo menganalisa hal ini dalam beberapa cara lain. Karena gerak menurun dari bola pada bidang pertama adalah sama untuk semua kasus, kecepatan awal bola ketika mulai bergerak menaiki bidang kedua adalah sama untuk semua kasus. Jika bola menaiki kemiringan yang tajam, bola segera mengalami penurunan kecepatan. Pada kemiringan yang landai, bola mengalami penurunan kecepatan lebih lambat dan menggelinding untuk waktu yang lebih lama. semakin kurang ketinggian kemiringan, semakin lambat bola mengalami penurunan kecepatan. Pada kasus ekstrim dimana tidak ada kemiringan, ketika bidang horizontal, bola tidak akan mengalami penurunan kecepatan. Dengan tidak adanya gaya penghambat, kecenderungan bola adalah bergerak terus tanpa melambat. Karakteristik dan benda bergerak untuk terus bergerak ia sebut inersia.<br />
Konsep Galileo tentang inersia, menggantikan teori gerak Aristoteles. aristoteles tidak menyadari ide inersia karena ia gagal membayangkan benda yang bergerak tanpa gesekan. Kegagalan Aristoteles untuk menyadari gesekan sebagai gaya membuat perkembangan fisika tertunda 2000 tahun, sampai masa Galileo. Aplikasi konsep Galileo tentang inersia menunjukkan bahwa tidak ada gaya yang diperlukan untuk membuat bumi tetap bergerak. Sebuah jalan terbuka untuk Isaac Newton untuk menjelaskan pergerakan di alam semesta. (Adhithia Kusno)</p>
<p>Disadur dari : http://www.yohanessurya.com/news.php?pid=202&#38;id=66</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[LATIHAN SOAL TES MASUK SMA FAVORIT 2008]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/10/18/latihan-soal-tes-masuk-sma-favorit-2008/</link>
<pubDate>Sat, 18 Oct 2008 14:55:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/10/18/latihan-soal-tes-masuk-sma-favorit-2008/</guid>
<description><![CDATA[Silahkan diunduh&#8230;.. 1. a. b. c. d. e. 2. Perhatikan gambar di samping ! Nilai dari 3x + 2y = ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Silahkan diunduh&#8230;..</p>
<p>1. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image002.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image002-thumb.gif?w=87&#038;h=53" border="0" alt="clip_image002" width="87" height="53" /></a></p>
<p>a. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image004.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image004-thumb.gif?w=21&#038;h=31" border="0" alt="clip_image004" width="21" height="31" /></a> b. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image006.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image006-thumb.gif?w=21&#038;h=31" border="0" alt="clip_image006" width="21" height="31" /></a> c. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image008.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image008-thumb.gif?w=23&#038;h=31" border="0" alt="clip_image008" width="23" height="31" /></a> d. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image010.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image010-thumb.gif?w=21&#038;h=31" border="0" alt="clip_image010" width="21" height="31" /></a> e. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image012.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image012-thumb.gif?w=21&#038;h=31" border="0" alt="clip_image012" width="21" height="31" /></a></p>
<p>2. Perhatikan gambar di samping !</p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image013.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image013-thumb.gif?w=170&#038;h=90" border="0" alt="clip_image013" width="170" height="90" /></a>Nilai dari 3x + 2y = &#8230;&#8230;</p>
<p>a. 160<sup>o</sup> d. 320<sup>o</sup></p>
<p>b. 180<sup>o</sup> e. 360<sup>o</sup></p>
<p>c. 260<sup>o</sup></p>
<p>3. Hasil pengurangan 2x<sup>2</sup> + 3x<sup>3</sup> – 5 dari jumlah (2x<sup>3</sup> – 5x + 7) dan (2x &#8211; 5x<sup>3</sup> + 4) adalah &#8230;..</p>
<p>a. &#8211; 6x<sup>3</sup> – 2x<sup>2</sup> – 3x + 16</p>
<p>b. 6x<sup>3</sup> + 2x<sup>2</sup> + 3x – 16</p>
<p>c. &#8211; 6x<sup>3</sup> – 2x<sup>2</sup> + 3x + 16</p>
<p>d. 6x<sup>3</sup> + 2x<sup>2</sup> – 3x – 16</p>
<p>e. 6x<sup>3</sup> – 2x<sup>2</sup> + 3x – 16</p>
<p>4. Penyelesaian dari :</p>
<p>4x &#8211; [3x - {(x - 3) - 2(x - 5)}] £ 3x &#8211; 2(x &#8211; 3) + 3(5 &#8211; 2x) adalah &#8230;..</p>
<p>a. x ³ 5 b. x ³ <sup>17</sup>/<sub>5</sub> c. x £ <sup>14</sup>/<sub>5</sub> d. x £ <sup>23</sup>/<sub>5</sub> e. x £ <sup>19</sup>/<sub>5</sub></p>
<p>5. Jumlah 2 bilangan asli berurutan adalah lebih dari atau sama dengan 13. Bilangan terkecilnya harus kurang dari 11. Jika bilangan terkecil adalah a, maka batas – batas nilai a adalah &#8230;..</p>
<p>a. 5 £ a £ 11 c. 6 ½ £ a &#60; 11 e. 7 £ a &#60; 11</p>
<p>b. 5 ½ £ a £ 11 d. 6 £ a &#60; 11</p>
<p>6. Dari 100 orang dalam suatu kecamatan diperoleh data sebagai berikut &#8230;..(1). 20 orang tidak memiliki mobil (2). 50 orang memiliki motor (3). 10 orang tidak memiliki mobil tetapi memiliki motor.Banyak orang yang memiliki mobil tetapi tidak memiliki motor ada &#8230;..orang.</p>
<p>a. 10 b. 20 c. 30 d. 40 e. 45</p>
<p>7. Rataan hitung nilai ulangan dari 32 siswa adalah 5,0. Jika nilai Joko dan Madi tidak diikutsertakan dalam perhitungan, maka rataan hitungnya adalah 5,2. Jumlah nilai Joko dan Madi adalah &#8230;..</p>
<p>a. 4 b. 3,5 c. 2,5 d. 2 e. 1,5</p>
<p>8. Jika p = Ö25,6 dan q = Ö3,6, maka hasil dari :</p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image015.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image015-thumb.gif?w=157&#038;h=24" border="0" alt="clip_image015" width="157" height="24" /></a>adalah &#8230;&#8230;</p>
<p>a. 27 b. 26,6 c. 25 d. 24,6 e. 23,6</p>
<p>9.<a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image016.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image016-thumb.gif?w=222&#038;h=138" border="0" alt="clip_image016" width="222" height="138" /></a>Yang merupakan korespondensi satu – satu adalah &#8230;.</p>
<p>(1) (3).</p>
<p>(2). (4).</p>
<p>a. semua benar c. 2, 3, 4 e. 2, 3</p>
<p>b. 1 saja d. 4 saja</p>
<p>10. Pada pemetaan f : (2x &#8211; 1) ® ax + b diketahui f(2) = 6 dan f(5) = 9, maka nilai a + b = &#8230;..</p>
<p>a. 9 b. 8 c. 7 d. 6 e. 5</p>
<p>11. Jika (x + y) : (x &#8211; y) = 7 : 2, maka nilai dari (x<sup>2</sup> &#8211; y<sup>2</sup>) : (x<sup>2</sup> + 2xy + y<sup>2</sup>) = &#8230;&#8230;</p>
<p>a. <sup>7</sup>/<sub>2</sub> b. <sup>2</sup>/<sub>7</sub> c. <sup>2</sup>/<sub>9</sub> d. <sup>9</sup>/<sub>2</sub> e. <sup>2</sup>/<sub>3</sub></p>
<p>12. Fungsi f : x ® 2k + x<sup>2</sup>. Jika f(2) = 12, maka nilai dari f(3Ök) = &#8230;..</p>
<p>a. 30 b. 32 c. 36 d. 40 e. 44</p>
<p>13. Peluang siswa A dan siswa B diterima di SMA berturut – turut adalah 0,98 dan 0,95. Peluang siswa A diterima di SMA dan B tidak diterima adalah &#8230;.</p>
<p>a. 0,019 c. 0,074 e. 0,978</p>
<p>b. 0,049 d. 0,935</p>
<p>14. Nilai x yang memenuhi sistem persamaan :</p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image001.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image001-thumb.gif?w=18&#038;h=54" border="0" alt="clip_image001" width="18" height="54" /></a><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image003.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image003-thumb.gif?w=81&#038;h=68" border="0" alt="clip_image003" width="81" height="68" /></a>adalah &#8230;&#8230;</p>
<p>a. &#8211; 12 b. &#8211; 8 c. 0 d. 8 e. 12</p>
<p>15. Garis <em>g</em> melalui titik pangkal koordinat dan tegak lurus dengan garis 2y + x = 6. Titik di bawah ini dilalui garis <em>g</em> adalah &#8230;&#8230;</p>
<p>a. (0,6) b. (2,0) c. (1,3) d. (2,4) e. (4, 5)</p>
<p>5. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image005.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image005-thumb.gif?w=132&#038;h=43" border="0" alt="clip_image005" width="132" height="43" /></a></p>
<p>a. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image007.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image007-thumb.gif?w=65&#038;h=40" border="0" alt="clip_image007" width="65" height="40" /></a> c. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image009.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image009-thumb.gif?w=65&#038;h=40" border="0" alt="clip_image009" width="65" height="40" /></a> d. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image011.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image011-thumb.gif?w=65&#038;h=40" border="0" alt="clip_image011" width="65" height="40" /></a></p>
<p>b. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0134.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0134-thumb.gif?w=65&#038;h=40" border="0" alt="clip_image013[4]" width="65" height="40" /></a> d. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0154.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0154-thumb.gif?w=65&#038;h=40" border="0" alt="clip_image015[4]" width="65" height="40" /></a></p>
<p>16. Bentuk sederhana dari <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image017.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image017-thumb.gif?w=52&#038;h=57" border="0" alt="clip_image017" width="52" height="57" /></a> adalah &#8230;.</p>
<p>a. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image019.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image019-thumb.gif?w=35&#038;h=35" border="0" alt="clip_image019" width="35" height="35" /></a> b. x + y c. x &#8211; y d. y &#8211; x e. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image021.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image021-thumb.gif?w=35&#038;h=35" border="0" alt="clip_image021" width="35" height="35" /></a></p>
<p>17. Jika <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image023.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image023-thumb.gif?w=159&#038;h=45" border="0" alt="clip_image023" width="159" height="45" /></a> maka hasil dari A &#8211; B &#8211; C = &#8230;.</p>
<p>a. – 55 b. – 48 c. – 36 d. 36 e. 48</p>
<p>18. Sebuah pinjaman harus dikembalikan selam a10 bulan dengan suku bunga pinjaman 24% per tahun dengan sistem bunga tunggal. Jika angsuran dan bunga tiap bulan jumlahnya Rp 144.000,00, maka besar pinjaman adalah &#8230;.</p>
<p>a. Rp 14.400.000,00 d. Rp 5. 200.000,00</p>
<p>b. Rp 14.000.000,00 e. Rp 1. 200.000,00</p>
<p>c. Rp 9.000.000,00</p>
<p>19. Seorang penjual buah – buahan membeli 720 buah jeruk dengan harga Rp 540.000,00. Pada hari pertam aia menjual 300 buah jeruk dengan harga Rp 1.000,00 per buah. Ketika akan berangkat berjualan pada keesokan harinya, ia mendapatkan 200 buah jeruk telah busuk dan tidak dapat dijual. Jika ia menginginkan untung total <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image025.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image025-thumb.gif?w=33&#038;h=31" border="0" alt="clip_image025" width="33" height="31" /></a>, maka sisa jeruk harus dijual dengan harga &#8230;.per buah.</p>
<p>a. Rp 1. 400,00 c. Rp 1. 600,00 e. Rp 1. 800,00</p>
<p>b. Rp 1. 500,00 d. Rp 1. 700,00</p>
<p>20. Dalam D ABC diketahui P pada Ab, Q pada AC, sehingga PQ // BC. Jika AP = ( x &#8211; 3) cm, PB = 7 cm, PQ = (3x + 1) cm dan BC = (3x + 36) cm, maka panjang BC = &#8230;.cm.</p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image026.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image026-thumb.gif?w=159&#038;h=88" border="0" alt="clip_image026" width="159" height="88" /></a>a. 40 b. 45 c. 50 d. 55 e. 60</p>
<p>21. Pada gambar di samping</p>
<p>Diketahui Ð PQR = ÐRKL, maka x : y = &#8230;</p>
<p>a. 14 : 3 c. 15 : 4 e. 16 : 3</p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image027.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image027-thumb.gif?w=169&#038;h=104" border="0" alt="clip_image027" width="169" height="104" /></a>b. 15 : 2 d. 14 : 5</p>
<p>23.Pada segi empat PQRS diketahui : PQ = 16, PS = 12, QS = 20, PQ // RS, ÐSPQ = ÐSQR = 90<sup>o</sup>, QR  = x dan SR = y, maka x + y = &#8230;..</p>
<p>a. 25 b. 30 c. 35 d. 40 e. 45</p>
<p>24. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0014.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0014-thumb.gif?w=96&#038;h=120" border="0" alt="clip_image001[4]" width="96" height="120" /></a>Pada gambar di samping, PQRS adalah layang – layang. Jika besar ÐQPS : ÐPQR : ÐPSR = 5 : 2 : 3, maka besar ÐQRP = &#8230;.</p>
<p>a. 76<sup>o</sup> d. 24<sup>o</sup></p>
<p>b. 66<sup>o</sup> e. 20<sup>o</sup></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0034.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0034-thumb.gif?w=127&#038;h=116" border="0" alt="clip_image003[4]" width="127" height="116" /></a>c. 46<sup>o</sup></p>
<p>25. Pada gambar di samping, A, B, dan C terletak pada lingkaran yang berjari – jari 14 cm. Jika ÐCAB = 45<sup>o</sup> dengan p = <sup>22</sup>/<sub>7</sub>, maka luas tembereng yang diarsir adalah &#8230;.cm<sup>2</sup>.</p>
<p>a. 52 c. 56 e. 60</p>
<p>b. 54 d. 58</p>
<p>26. Sebuah kubus luas sisi – sisinya adalah 21 m<sup>2</sup>, 15 m<sup>2</sup>, 35 m<sup>2</sup>. Volumenya adalah &#8230;.cm<sup>3</sup>.</p>
<p>a. 85 b. 90 c. 95 d. 100 e. 105</p>
<p>27. Dalam sebuah kotak terdapat 8 bola merah, 6 bola putih dan 4 bola biru. Diambil secara acak 3 bola satu per satu tanpa pengembalian. Peluang terambilnya 1 bola merah pertama pada pengambilan ketiga adalah &#8230;&#8230;</p>
<p>a. ½ b. <sup>3</sup>/<sub>8</sub> c. <sup>8</sup>/<sub>16</sub> d. <sup>5</sup>/<sub>16</sub></p>
<p>28. Empat buah uang logam, tiga buah dadu bersisi enam dan empat buah limas segitiga beraturan dilempar bersama. Banyaknya titik sampel yang terjadi adalah &#8230;&#8230;</p>
<p>a. 2<sup>4</sup> x 3<sup>6</sup> x 4<sup>3</sup> c. 4<sup>2</sup> x 6<sup>3</sup> x 4<sup>4</sup></p>
<p>b. 2<sup>4</sup> x 6<sup>3</sup> x 4<sup>4</sup> d. 4<sup>2</sup> x 3<sup>6</sup> x 3<sup>4</sup></p>
<p>29. Sebuah dadu dan sebuah mata uang dilempar bersama – sama sebanyak 288 kali. Frekuensi harapan muncul bukan mata 5 pada dadu adalah &#8230;..kali.</p>
<p>a. 48 b. 72 c. 216 d. 240</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="2" width="222">
<tbody>
<tr>
<td width="66" valign="top"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="29" valign="top">5</td>
<td width="31" valign="top">6</td>
<td width="33" valign="top">7</td>
<td width="29" valign="top">8</td>
<td width="32" valign="top">9</td>
</tr>
<tr>
<td width="66" valign="top"><strong>Frekuensi</strong></td>
<td width="30" valign="top">3</td>
<td width="31" valign="top">a</td>
<td width="33" valign="top">4</td>
<td width="29" valign="top">1</td>
<td width="32" valign="top">2</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>30. Jika data di atas memiliki mean 6,75 maka kuartil bawah data tersebut adalah :</p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0044.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0044-thumb.gif?w=119&#038;h=119" border="0" alt="clip_image004[4]" width="119" height="119" /></a>a. 6 b.5 ½ c. 5 d. 3</p>
<p>31. Pada gambar di samping, O sebagai pusat lingkaran dengan ÐABC : ÐBAD = 3 : 2 dan besar ÐAED = 110<sup>o</sup>. Besar ÐBOD = &#8230;.</p>
<p>a. 48<sup> o</sup> c. 56<sup> o</sup> e. 68<sup> o</sup></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0054.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0054-thumb.gif?w=169&#038;h=145" border="0" alt="clip_image005[4]" width="169" height="145" /></a>b. 52<sup> o</sup> d. 64<sup> o</sup></p>
<p>32. Sebuah benda ruang yang terbentuk dari sebuah kerucut, silinder, dan setengah bola yang disusun seperti gambar di samping. Luas permukannya adalah &#8230;..cm<sup>2</sup>.</p>
<p>a. 424 p d. 280p</p>
<p>b. 408p e. 232p</p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0064.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0064-thumb.gif?w=115&#038;h=117" border="0" alt="clip_image006[4]" width="115" height="117" /></a>c. 296p</p>
<p>33. Pada gambar, PAQ adg garis singgung lingkaran dengan titik singgung A. AB = BC dan ÐPAB = 44<sup>o</sup>, maka ÐADC = &#8230;.</p>
<p>a. 55<sup>o</sup> c. 77<sup>o</sup> e. 92<sup>o</sup></p>
<p>b. 66<sup>o</sup> d. 88<sup>o</sup></p>
<p>34. Jika 6 adalah salah satu akar persamaan 2y<sup>2</sup> – py + p + 3 = 0, maka hasil kali kedua akarnya adalah …</p>
<p>a. -6 b. 9 c. 18 d. 24</p>
<p>35. Jika y<sub>1</sub> dan y<sub>2</sub> adalah akar <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0024.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0024-thumb.gif?w=87&#038;h=29" border="0" alt="clip_image002[4]" width="87" height="29" /></a> dengan y<sub>1</sub> &#62; y<sub>2</sub>, maka nilai 2y<sub>1</sub> – y<sub>2</sub> = …</p>
<p>a. 5 b. 6 c. 7 d. 8</p>
<p>36. Dengan melengkapkan kuadrat sempurna, persamaan 2y<sup>2</sup> – y = y + 12 dapat dinyatakan dalam bentuk …<br />
a.<a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0046.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0046-thumb.gif?w=64&#038;h=33" border="0" alt="clip_image004[6]" width="64" height="33" /></a> c.<a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0066.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0066-thumb.gif?w=64&#038;h=33" border="0" alt="clip_image006[6]" width="64" height="33" /></a></p>
<p>b.<a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0084.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0084-thumb.gif?w=69&#038;h=29" border="0" alt="clip_image008[4]" width="69" height="29" /></a> d.<a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0104.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0104-thumb.gif?w=69&#038;h=29" border="0" alt="clip_image010[4]" width="69" height="29" /></a></p>
<p>37. Jika salah satu akar dari persamaan x<sup>2</sup> + (m + 7)x + m = 0 adalah -3, maka nilai m = …</p>
<p>a. 2 b. 1 c. -3 d. -6</p>
<p>38. Persamaan kuadrat yang memiliki himpunan penyelesaian (1, -3) adalah …</p>
<p>a. 3x(x – 1) = 2(x – 1) c. 2x<sup>2</sup> – 16 = -14x</p>
<p>b. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0114.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0114-thumb.gif?w=156&#038;h=124" border="0" alt="clip_image011[4]" width="156" height="124" /></a>(x – 1)(x + 2) = 1 – x d. x<sup>2</sup> + 2x + 5 = 9 – x</p>
<p>39. Pada gambar di samping, Ordinat titik A adalah &#8230;..</p>
<p>a. – <sup>8</sup>/<sub>5</sub> d. – <sup>6</sup>/<sub>5</sub></p>
<p>b. – <sup>7</sup>/<sub>5</sub> e. – <sup>13</sup>/<sub>10</sub></p>
<p>c. – <sup>11</sup>/<sub>10</sub></p>
<p>40. Sebagian langkah penyelesaian persamaan <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0136.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0136-thumb1.gif?w=93&#038;h=31" border="0" alt="clip_image013[6]" width="93" height="31" /></a> dengan cara melengkapkan kuadrat sempurna adalah &#8230;.</p>
<p>a. x<sup>2</sup> + 4x + (2)<sup>2</sup> = &#8211; 2 = (2)<sup>2</sup> b. x<sup>2</sup> – 4x + (2)<sup>2</sup> = &#8211; 2 + (2)<sup>2</sup></p>
<p>(x + 2)<sup>2</sup> = 2 (x + 2)<sup>2</sup> = 2</p>
<p>c. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0156.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0156-thumb.gif?w=133&#038;h=55" border="0" alt="clip_image015[6]" width="133" height="55" /></a> d. <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0174.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0174-thumb.gif?w=125&#038;h=55" border="0" alt="clip_image017[4]" width="125" height="55" /></a></p>
<p>e. x<sup>2</sup> – 4x + (-2)<sup>2</sup> = -2 + (-2)<sup>2</sup></p>
<p>(x – 2)<sup>2</sup> = 2</p>
<p>41. n(x) menyatakan banyak anggota himpunan X. Jika n(A) = 5 dan n(B) = 3, maka banyak semua pemetaan yang mungkin dair A ke B adalah &#8230;..</p>
<p>a. 15 b. 125 c. 225 d. 243 e. 253</p>
<p>42. Jarak titik A(1, 2k) dan B(1 – k, 1) adalah <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0194.gif"><img style="border-width:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/10/clip-image0194-thumb.gif?w=48&#038;h=24" border="0" alt="clip_image019[4]" width="48" height="24" /></a>, maka nilai k = &#8230;.</p>
<p>a. – 2 atau – 3 c. &#8211; 1 atau – 2 e. – 2 atau 1</p>
<p>b. 1 atau – 3 d. – 1 atau – 3</p>
<p>43. Dalam survey terhadap 50 oarang siswa SMP didapat data : 35 siswa senang matematika, diantaranya 12 orang senang fisika, sedangkan siswa yang tidak senang keduanya ada 10 orang. Jika seorang siswa diambil secara acak dari 50 anak, maka peluang mendapatkan siswa yang senang fisika &#8230;..</p>
<p>a. 0,46 b. 0,34 c. 0,24 d. 0,1 e. 0,03</p>
<p>44. Sebuah bilangan terdiri atas 2 angka. Nilai bilangan ini sama dengan tiga kali jumlah kedua angka itu ditambah 10. Angka kedua dikurangi dengan angka pertama sama dengan 5. Angka kedua dari bilangan yang dimaksud adalah &#8230;.</p>
<p>a. 4 b. 6 c. 7 d. 8 e. 9</p>
<p>45. Grafik fungsi f(x) = <sup>5</sup>/<sub>2</sub> tx<sup>2</sup> – (9 + 2t) x – 1 memiliki ABSIS titik ekstrem = 4, maka nilai – t<sup>2</sup> = &#8230;..</p>
<p>a. – 0,25 b. 0,25 c. 0,5 d. – 0,5 e. – <sup>1</sup>/<sub>9</sub></p>
<p><strong>Selamat Mengerjakan</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sistem Sistem Persamaan Garis dengan Dua Variabel - Mat SMP]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/10/11/sistem-sistem-persamaan-garis-dengan-dua-variabel-mat-smp/</link>
<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 14:41:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/10/11/sistem-sistem-persamaan-garis-dengan-dua-variabel-mat-smp/</guid>
<description><![CDATA[Buat yang membutuhkan Teori dan Latihan tentang Sistem Persamaan garis Dengan Dua Variabel dapat di ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Buat yang membutuhkan Teori dan Latihan tentang</p>
<p>Sistem Persamaan garis Dengan Dua Variabel</p>
<p>dapat di download di sini&#8230;..<br />
<a href="http://www.scribd.com/doc/6314930/Teori-Lat-Sistem-Persamaan-Grs-Dua-Variabel-s-Ganjil-06-07">SISTEM PERSAMAAN GARIS DENGAN DUA VARIABEL &#8211; MATEMATIKA SMP</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Soal UTS Matematika SMA - S. Ganjil ]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/10/11/soal-uts-matematika-sma-s-ganjil/</link>
<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 14:34:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/10/11/soal-uts-matematika-sma-s-ganjil/</guid>
<description><![CDATA[Buat yg butuh soal latihan untuk UTS MATEMATIKA SMA S. GANJIL, bisa download di sini &#8230;&#8230; ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Buat yg butuh soal latihan untuk UTS MATEMATIKA SMA S. GANJIL, bisa download di sini &#8230;&#8230;</p>
<p>Kebetulan sudah dilengkapi dengan jawabnnya&#8230;.</p>
<p>Silahkan unduh &#8230;.<br />
<a href="http://www.scribd.com/doc/6496016/Usulan-Soal-Mid-Semester-Ganjil-08-09">LATIHAN SOAL MENGHADAPI UTS MATEMATIKA SMA SEMESTER GANJIL</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Logaritma Lagee.....]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/30/logaritma-lagee/</link>
<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 14:43:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/30/logaritma-lagee/</guid>
<description><![CDATA[Nah, menanggapi banyaknya permintaan Logaritma, saya sertakan soal-soal Logaritma buat kalian yg ing]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Nah, menanggapi banyaknya permintaan Logaritma, saya sertakan soal-soal Logaritma buat kalian yg ingin mendownload atau Rekan &#8211; rekan Guru&#8230;..<br />
Semoga membantu&#8230;.</p>
<p>Silahkan Download :<br />
<a href="http://www.scribd.com/doc/5571698/SIAP-UH-LOGARITMA-n-Mat-X-S-Gnjl-08-09"><span style="font-weight:bold;">Logaritma 2</span></a><br />
<a href="http://www.scribd.com/doc/5571767/LAT-LOGARITMA1-MatX-S-Gnjl-SMU-ALOY-07-08"><span style="font-weight:bold;">Logaritma 1</span></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sistem persamaan Linear Dua Variabel (SPDLV)]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/30/sistem-persamaan-linear-dua-variabel-spdlv/</link>
<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 14:35:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/30/sistem-persamaan-linear-dua-variabel-spdlv/</guid>
<description><![CDATA[Silahkan Download di sini&#8230;&#8230;. Teori Lat Sistem Persamaan Grs Dua Variabel &#8211; s. Ganj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%;"><em><strong>Silahkan Download di sini&#8230;&#8230;.</strong></em></div>
<div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%;"><a href="http://www.scribd.com/doc/6314930/Teori-Lat-Sistem-Persamaan-Grs-Dua-Variabel-s-Ganjil-06-07">Teori Lat Sistem Persamaan Grs Dua Variabel &#8211; s. Ganjil (06 &#8211; 07)</a> &#8211; <a href="http://www.scribd.com/upload">Upload a Document to Scribd</a></div>
<p><strong>Persamaan Linear Dua Variabel</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vector, High School]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/30/vector-high-school/</link>
<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 07:45:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/30/vector-high-school/</guid>
<description><![CDATA[VEKTOR Besaran Fisika memiliki besaran scalar dan besara vektor. Bearan scalar adalah besarana yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h1><strong>VEKTOR</strong></h1>
<p>Besaran Fisika memiliki besaran scalar dan besara vektor. Bearan scalar adalah besarana yang memiliki besar atau nilai saja., tanpa arah, sedangkan Besaran Vektro adalah besaran yang meiliki besar/nilai dan arah.</p>
<p>Contoh besaran scalar adalah : massa jenis,, volume dan suhu, sedangkan contoh Besaran Vektor adalah kecepatan, perepatan dan gaya..</p>
<p>Simbol besaran vector ditulis dengan huruf cetak tabal ( <strong>A</strong> ) dan dalam penulisan biasanya ditulis dengan tanda anak panah (<a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image00241.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0024-thumb1.gif?w=16&#038;h=19" border="0" alt="clip_image002[4]" width="16" height="19" /></a>).</p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0034.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0034-thumb.gif?w=63&#038;h=54" border="0" alt="clip_image003[4]" width="63" height="54" /></a></p>
<p><em>HUKUM BERHITUNG TIDAK BERLAKU PADA BESARAN – BESARAN VEKTOR !!</em></p>
<p>Contoh :</p>
<p><strong>A + B = R</strong> (pd vector), tetapi <strong>R = A + B</strong> ¹ A + B</p>
<p>Pd gambar di atas, <strong>3 + 4 = 5</strong> ¹ 3 = 4 = 7</p>
<p><strong>A + B = B + A</strong></p>
<p><strong>A </strong><strong>-</strong><strong> B = A + (</strong><strong>-</strong><strong> B)</strong> ( -B = vector B yang berbeda arah)</p>
<p><strong>RESULTAN </strong>beberapa vector sejenis, misalnya vector gaya, adalah suatu vector yang mempunyai akibat yang sama dengan akibat semua vector tersebut.</p>
<p><strong>PENJUMLAHAN dan PENGURANGAN VEKTOR</strong></p>
<p><strong>a. Metode Geometris</strong></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image00441.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0044-thumb1.gif?w=64&#038;h=62" border="0" alt="clip_image004[4]" width="64" height="62" /></a></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0054.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0054-thumb.gif?w=36&#038;h=43" border="0" alt="clip_image005[4]" width="36" height="43" /></a><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image00641.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0064-thumb1.gif?w=36&#038;h=56" border="0" alt="clip_image006[4]" width="36" height="56" /></a>dapat juga digunakan <em>Metode Jajargenjang :</em></p>
<p>+ ®</p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0074.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0074-thumb.gif?w=18&#038;h=78" border="0" alt="clip_image007[4]" width="18" height="78" /></a></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image00841.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0084-thumb1.gif?w=154&#038;h=96" border="0" alt="clip_image008[4]" width="154" height="96" /></a></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0094.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0094-thumb.gif?w=42&#038;h=81" border="0" alt="clip_image009[4]" width="42" height="81" /></a></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image01041.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0104-thumb1.gif?w=36&#038;h=43" border="0" alt="clip_image010[4]" width="36" height="43" /></a></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0114.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0114-thumb.gif?w=36&#038;h=56" border="0" alt="clip_image011[4]" width="36" height="56" /></a></p>
<p>- ®</p>
<p><strong>b. Metode Analitis</strong></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0124.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0124-thumb.gif?w=139&#038;h=104" border="0" alt="clip_image012[4]" width="139" height="104" /></a>Sebuah vector dapat diuraikan menjadi dua atau lebih vector, karena vector itu sendiri terdiri dari komponen – komponen vector. Perhatikan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> A vector can be subdivided into two or more vectors, because a vector consists of vector components).</p>
<p><strong><em>Berlaku :</em></strong></p>
<p><strong>A<sub>X</sub> = A . Cos </strong><strong>q</strong><strong>, B<sub>X</sub> = B. Cos </strong><strong>q</strong><strong></strong></p>
<p><strong>A<sub>Y</sub> = A. Sin </strong><strong>q</strong><strong>, By = B. Sin </strong><strong>q</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Vx = (Ax + Bx)</strong></p>
<p><strong>Vy = (Ay + By)</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>R = Resultan = <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0144.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0144-thumb.gif?w=91&#038;h=32" border="0" alt="clip_image014[4]" width="91" height="32" /></a>dan </strong><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0164.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0164-thumb.gif?w=64&#038;h=36" border="0" alt="clip_image016[4]" width="64" height="36" /></a><strong></strong></p>
<p><strong>Menentukan Vektor dengan metode rumus kosinus</strong></p>
<p>· <em>Besar resultan</em> dua buah vector V<sub>1</sub> dan V<sub>2</sub> yang membentuk sudut apit a, seperti pada gambar, dapat dihitung : <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0184.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0184-thumb.gif?w=196&#038;h=35" border="0" alt="clip_image018[4]" width="196" height="35" /></a></p>
<p>· <em>Arah resultan</em> ditentukan dengan menggunakan rumus sinus sebagai berikut : <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0204.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0204-thumb.gif?w=84&#038;h=45" border="0" alt="clip_image020[4]" width="84" height="45" /></a></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0214.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0214-thumb.gif?w=158&#038;h=96" border="0" alt="clip_image021[4]" width="158" height="96" /></a></p>
<p><strong>Batas besar resultan </strong>dua buah vector adalah : <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0026.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0026-thumb.gif?w=151&#038;h=33" border="0" alt="clip_image002[6]" width="151" height="33" /></a></p>
<p><strong></strong></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0036.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0036-thumb.gif?w=140&#038;h=128" border="0" alt="clip_image003[6]" width="140" height="128" /></a><strong>Unit Vector (Vektor Satuan)</strong></p>
<p>Vektor satuan adalah sebuah vector yang besarnya 1 satuan dan arahnya sama dengan arah Vektor Komponen. Dalam bentuk 3 dimensi, diletakkan dalam sumbu Cartesius yaitu <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0056.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0056-thumb.gif?w=79&#038;h=31" border="0" alt="clip_image005[6]" width="79" height="31" /></a></p>
<p>V = V x <strong>i</strong> + Vy <strong>j</strong> + Vz <strong>k</strong> (dalam 3 dimensi = ruang)</p>
<p>V = V x <strong>i</strong> + Vy <strong>j</strong> (dalam 2 dimensi = bidang)</p>
<p>Jadi Vektor A = <strong><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0076.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0076-thumb.gif?w=125&#038;h=34" border="0" alt="clip_image007[6]" width="125" height="34" /></a></strong></p>
<p><strong>Vector Multiplication (Perkalian Vektor)</strong></p>
<p><strong>a. Dot Product Vector ( Perkalian Titik Vektor)</strong></p>
<p>Merupakan Perkalian scalar A dan B menghasilkan scalar dari hasil kali A dan B dan cosinus sudut apit terkecil antara vector A dan B tersebut. <strong>A</strong> · <strong>B</strong> = A.B cos q</p>
<p>Contoh : W = <strong>F.s</strong> = F.s. cos q</p>
<p>Catatan :</p>
<p>Jika <strong>A</strong> = A<sub>x</sub> <strong>i</strong> + A<sub>y</sub> <strong>j</strong> + A<sub>z</sub> <strong>k</strong> dan</p>
<p><strong>B</strong> = B<sub>x</sub> <strong>i</strong> + B<sub>y</sub> <strong>j</strong> + B<sub>z</sub> <strong>k</strong>, maka</p>
<p><strong>A</strong> · <strong>B</strong> = A<sub>x</sub>B<sub>x</sub> + A<sub>y</sub>B<sub>y</sub> + A<sub>z</sub>B<sub>z</sub></p>
<p><strong>b. Cross Product Vector ( Perkalian Silang Vektor)</strong></p>
<p>Jika Perkalian silang A dan B menghasilkan vector C, maka berlaku : <a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0096.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0096-thumb.gif?w=129&#038;h=31" border="0" alt="clip_image009[6]" width="129" height="31" /></a></p>
<p>Hasil perkalian silang antara <strong>dua vector sejenis</strong> = 0.</p>
<p>Jadi<strong> i x i = j x j = k x k = 0</strong></p>
<p>Perkalian silang dua vector satuan <strong>tidak sejenis</strong> ditentukan oleh <em>diagram lingkaran putar kiri</em> (berlawanan arah jarum jam / counter clock wise / ccw) :</p>
<p>Lihat :<a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image001.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image001-thumb.gif?w=140&#038;h=128" border="0" alt="clip_image001" width="140" height="128" /></a></p>
<div id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:e0dbfc6f-3688-4770-9c1e-b9a8ec092452" class="wlWriterSmartContent" style="display:inline;margin:0;padding:0;">Technorati Tags: <a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Vektor">Vektor</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/vektor%20SMA">vektor SMA</a></div>
<p><strong>i x j = k k x i = j j x k = i</strong></p>
<p><strong>j x i = &#8211; k i x k = &#8211; j k x j = &#8211; i</strong></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0106.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0106-thumb.gif?w=115&#038;h=96" border="0" alt="clip_image010[6]" width="115" height="96" /></a></p>
<p>Dengan sifat – sifat tersebut kita peroleh :</p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>A X B</strong> = (Ax<strong> i</strong> + Ay <strong>j</strong> + Az <strong>k</strong>) (Bx <strong>i</strong> + By <strong>j</strong> + Bz <strong>k</strong>)</p>
<p><strong>A X B</strong> = (AyBz – AzBy) <strong>i</strong> – (AzBx – AxBz) <strong>j</strong> – (AxBy – AyBx) <strong>k</strong></p>
<p>Perkalian silang dua vector dapat diselesaikan secara cepat dengan determinan 3 x 3 yang diselesaikan dengan <strong>cara Sarrus</strong> :</p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0126.gif"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image0126-thumb.gif?w=107&#038;h=51" border="0" alt="clip_image012[6]" width="107" height="51" /></a></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image001.gif"></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[LOGARITMA SMA KLS X]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/26/logaritma-sma-kls-x/</link>
<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 05:31:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/26/logaritma-sma-kls-x/</guid>
<description><![CDATA[LAT LOGARITMA1 &#8211; MatX &#8211; S Gnjl SMU ALOY (07 &#8211; 08) &#8211; Upload a Document to Scr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%;"><a href="http://www.scribd.com/doc/5571767/LAT-LOGARITMA1-MatX-S-Gnjl-SMU-ALOY-07-08">LAT  LOGARITMA1 &#8211; MatX &#8211; S  Gnjl SMU ALOY (07 &#8211; 08)</a> &#8211; <a href="http://www.scribd.com/upload">Upload a Document to Scribd</a></div>
<p><strong>LOGARITMA SMA KELAS X </strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TRIGONOMETRI : RUMUS JUMLAH SUDUT DAN SELISIH SUDUT]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/15/trigonometri-rumus-jumlah-sudut-dan-selisih-sudut/</link>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 14:12:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/15/trigonometri-rumus-jumlah-sudut-dan-selisih-sudut/</guid>
<description><![CDATA[&#160; Rumus &#8211; rumus : RUMUS JUMLAH DAN SELISIH DUA SUDUT : RUMUS SUDUT RANGKAP Sin 2 a = 2 Si]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#160;</p>
<p>Rumus &#8211; rumus :</p>
<p><b>RUMUS JUMLAH DAN SELISIH DUA SUDUT :</b></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image002.gif"><img style="border-width:0;" height="82" alt="clip_image002" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image002-thumb.gif?w=214&#038;h=82" width="214" border="0" /></a></p>
<p><strong>RUMUS SUDUT RANGKAP</strong></p>
<p>Sin 2 a = 2 Sin a . cos b</p>
<p>Sin 3 a = -4 Sin<sup>3</sup> a + 3 Sin a</p>
<p>Cos 2 a = Cos<sup>2</sup> a &#8211; Sin<sup>2</sup> a</p>
<p>Cos 2 a = 1 &#8211; 2 Sin<sup>2</sup> a</p>
<p>Cos 2 a = 2 Cos<sup>2</sup> a &#8211; 1</p>
<p>Cos 3a = 4 Cos<sup>3</sup> a &#8211; 3 Cos a</p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image004.gif"><img style="border-width:0;" height="41" alt="clip_image004" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image004-thumb.gif?w=104&#038;h=41" width="104" border="0" /></a></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image006.gif"><img style="border-width:0;" height="45" alt="clip_image006" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image006-thumb.gif?w=136&#038;h=45" width="136" border="0" /></a></p>
<p><b>RUMUS SUDUT PERTENGAHAN :</b></p>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image008.gif"><img style="border-width:0;" height="179" alt="clip_image008" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image008-thumb.gif?w=127&#038;h=179" width="127" border="0" /></a></p>
<h3>RUMUS PERKALIAN SINUS DAN COSINUS</h3>
<p>2 Sin a Cos b = Sin (a+b) + Sin (a-b)</p>
<p>2 Cos a Sin b = Sin (a+b) &#8211; Sin (a-b)</p>
<p>2 Cos a Cos b = Cos (a+b) + Cos (a-b)</p>
<p>2 Sin a Sin b = &#8211; { Cos (a+b) &#8211; Cos (a-b) }</p>
<p><i>Untuk Memudahkan mengingat :</i></p>
<p>2 S&#8230;.C &#8230; = Sin (J) + Sin (S) </p>
<p>2 C &#8230;S &#8230; = Sin (J) &#8211; Sin (S)</p>
<p>2 C &#8230;C &#8230; = Cos (J) + Cos (S)</p>
<p>2 S &#8230;S &#8230;. = &#8211; { Cos (J) &#8211; Cos (S) }</p>
<h3>RUMUS PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN SINUS DAN COSINUS</h3>
<p><a href="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image010.gif"><img style="border-width:0;" height="123" alt="clip_image010" src="http://vincentmath.files.wordpress.com/2008/09/clip-image010-thumb.gif?w=218&#038;h=123" width="218" border="0" /></a></p>
<p><i>Untuk memudahkan mengingat :</i></p>
<p>S &#8230;.+ S &#8230;.. = 2 S (<sup>1</sup>/<sub>2</sub> J) . C (<sup>1</sup>/<sub>2</sub> S)</p>
<p>S &#8230;..- S &#8230;.. = 2 C (<sup>1</sup>/<sub>2</sub> J) . S (<sup>1</sup>/<sub>2</sub> S)</p>
<p>C &#8230;.+ C &#8230;.. = 2 C (<sup>1</sup>/<sub>2</sub> J) . C (<sup>1</sup>/<sub>2</sub> S)</p>
<p>C &#8230;.. &#8211; C &#8230;.. = -2 S (<sup>1</sup>/<sub>2</sub> J) . S (<sup>1</sup>/<sub>2</sub> S)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aljabar SMP]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/13/aljabar-smp/</link>
<pubDate>Sat, 13 Sep 2008 01:10:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/13/aljabar-smp/</guid>
<description><![CDATA[Faktorisasi Aljabar 8.1 (BAB 1) Dari Crayonpedia Langsung ke: navigasi, cari Daftar isi [sembunyikan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h1 class="firstHeading">Faktorisasi Aljabar 8.1 (BAB 1)</h1>
<div id="bodyContent">
<h3>Dari Crayonpedia</h3>
<div id="jump-to-nav">Langsung ke: <a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#column-one">navigasi</a>, <a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#searchInput">cari</a></div>
<p><!-- start content --></p>
<table id="toc" class="toc" border="0" summary="Daftar isi">
<tbody>
<tr>
<td>
<div id="toctitle">
<h2>Daftar isi</h2>
<p><span class="toctoggle">[<a id="togglelink" class="internal" href="toggleToc()">sembunyikan</a>]</span></div>
<ul>
<li class="toclevel-1"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#Faktorisasi_Aljabar"><span class="tocnumber">1</span> <span class="toctext">Faktorisasi Aljabar</span></a>
<ul>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#A._Operasi_Hitung_Bentuk_Aljabar"><span class="tocnumber">1.1</span> <span class="toctext">A. Operasi Hitung Bentuk Aljabar</span></a>
<ul>
<li class="toclevel-3"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#1._Penjumlahan_dan_Pengurangan_Bentuk_Aljabar"><span class="tocnumber">1.1.1</span> <span class="toctext">1. Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Aljabar</span></a></li>
<li class="toclevel-3"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#2._Perkalian_Bentuk_Aljabar"><span class="tocnumber">1.1.2</span> <span class="toctext">2. Perkalian Bentuk Aljabar</span></a></li>
<li class="toclevel-3"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#3._Pembagian_Bentuk_Aljabar"><span class="tocnumber">1.1.3</span> <span class="toctext">3. Pembagian Bentuk Aljabar</span></a></li>
<li class="toclevel-3"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#4._Perpangkatan_Bentuk_Aljabar"><span class="tocnumber">1.1.4</span> <span class="toctext">4. Perpangkatan Bentuk Aljabar</span></a></li>
</ul>
</li>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#B._Pemfaktoran_Bentuk_Aljabar"><span class="tocnumber">1.2</span> <span class="toctext">B. Pemfaktoran Bentuk Aljabar</span></a>
<ul>
<li class="toclevel-3"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#1._Pemfaktoran_dengan_Sifat_Distributif"><span class="tocnumber">1.2.1</span> <span class="toctext">1. Pemfaktoran dengan Sifat Distributif</span></a></li>
<li class="toclevel-3"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#2._Selisih_Dua_Kuadrat"><span class="tocnumber">1.2.2</span> <span class="toctext">2. Selisih Dua Kuadrat</span></a></li>
<li class="toclevel-3"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#3._Pemfaktoran_Bentuk_Kuadrat"><span class="tocnumber">1.2.3</span> <span class="toctext">3. Pemfaktoran Bentuk Kuadrat</span></a></li>
</ul>
</li>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#C._Pecahan_dalam_Bentuk_Aljabar"><span class="tocnumber">1.3</span> <span class="toctext">C. Pecahan dalam Bentuk Aljabar</span></a>
<ul>
<li class="toclevel-3"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#1._Penjumlahan_dan_Pengurangan_Pecahan_Bentuk_Aljabar"><span class="tocnumber">1.3.1</span> <span class="toctext">1. Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Bentuk Aljabar</span></a></li>
<li class="toclevel-3"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#2._Perkalian_dan_Pembagian_Pecahan_Bentuk_Aljabar"><span class="tocnumber">1.3.2</span> <span class="toctext">2. Perkalian dan Pembagian Pecahan Bentuk Aljabar</span></a></li>
<li class="toclevel-3"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#3._Perpangkatan_Pecahan_Bentuk_Aljabar"><span class="tocnumber">1.3.3</span> <span class="toctext">3. Perpangkatan Pecahan Bentuk Aljabar</span></a></li>
<li class="toclevel-3"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_%28BAB_1%29#4._Penyederhanaan_Pecahan_Bentuk_Aljabar"><span class="tocnumber">1.3.4</span> <span class="toctext">4. Penyederhanaan Pecahan Bentuk Aljabar</span></a></li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p> if (window.showTocToggle) { var tocShowText = &#8220;tampilkan&#8221;; var tocHideText = &#8220;sembunyikan&#8221;; showTocToggle(); }  <a name="Faktorisasi_Aljabar"></a></p>
<h1><span class="mw-headline"> Faktorisasi Aljabar<br />
</span></h1>
<div class="center">
<div class="thumb tnone">
<div class="thumbinner" style="width:559px;"><a class="image" title="Aljabargbr.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Aljabargbr.jpg"><img class="thumbimage" src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/1/1a/Aljabargbr.jpg" border="0" alt="" width="557" height="399" /></a></div>
</div>
</div>
<div style="text-align:justify;">Masih ingatkah kamu tentang pelajaran Aljabar? Di Kelas VII, kamu telah mengenal bentuk aljabar dan juga telah mempelajari operasi hitung pada bentuk aljabar tersebut. Sekarang, kamu akan menambah pengetahuanmu tentang aljabar tersebut, khususnya mengenai faktorisasi aljabar. Menurutmu, mengapa kamu perlu mempelajari aljabar? Mungkin kamu tidak menyadari bahwa konsep aljabar seringkali dipakai dalam kehidupan sehari-hari.<br />
Setiap hari, Nita menabung sebesar x rupiah. Berapa besar tabungan anak tersebut setelah satu minggu? Berapa besar pula tabungannya setelah satu bulan? Setelah 10 hari, uang tabungan itu dibelikan dua buah buku yang harganya y rupiah, berapakah sisa uang tabungan Nita? Jika nilai x adalah Rp2.000,00 dan nilai y adalah Rp5.000,00, carilah penyelesaiannya.<br />
Saat kamu mencari penyelesaian dari kasus tersebut, maka kamu sedang menggunakan konsep aljabar. Oleh karena itu, pelajarilah bab ini dengan baik<br />
<a name="A._Operasi_Hitung_Bentuk_Aljabar"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> A. Operasi Hitung Bentuk Aljabar<br />
</span></h2>
<p>Di Kelas VII, kamu telah mempelajari pengertian bentuk aljabar, koefisien, variabel, konstanta, suku, dan suku sejenis. Untuk mengingatkanmu kembali, pelajari contoh-contoh berikut.</p>
<blockquote><p>1. 2<em>pq</em> 4. x<sup>2</sup> + 3x –2<br />
2. 5x + 4            5. 9x<sup>2</sup> – 3xy + 8<br />
3. 2x + 3y –5</p></blockquote>
<p>Bentuk aljabar nomor (1) disebut suku tunggal atau suku satu karena hanya terdiri atas satu suku, yaitu 2<em>pq</em>. Pada bentuk aljabar tersebut, 2 disebut koefisien, sedangkan p dan q disebut variabel karena nilai p dan q bisa berubah-ubah. Adapun bentuk aljabar nomor (2) disebut suku dua karena bentuk aljabar ini memiliki dua suku, sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Suku yang memuat variabel x, koefisiennya adalah 5.</li>
<li>Suku yang tidak memuat variabel x, yaitu 4, disebut konstanta. Konstanta adalah suku yang nilainya tidak berubah.</li>
</ol>
<p>Sekarang, pada bentuk aljabar nomor (3), (4), dan (5), coba kamu tentukan manakah yang merupakan koefisien, variabel, konstanta, dan suku?</p>
<p><a name="1._Penjumlahan_dan_Pengurangan_Bentuk_Aljabar"></a></p>
<h3><span class="mw-headline"> 1. Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Aljabar<br />
</span></h3>
<p>Pada bagian ini, kamu akan mempelajari cara menjumlahkan dan mengurangkan suku-suku sejenis pada bentuk aljabar. Pada dasarnya, sifat-sifat penjumlahan dan pengurangan yang berlaku pada bilangan riil, berlaku juga untuk penjumlahan dan pengurangan pada bentuk-bentuk aljabar, sebagai berikut.</p>
<blockquote><p><strong>a. Sifat Komutatif</strong><br />
a + b = b + a, dengan a dan b bilangan riil<br />
<strong>b. Sifat Asosiatif</strong><br />
(a + b) + c = a + (b +c), dengan a, b, dan c bilangan riil<br />
<strong>c. Sifat Distributif</strong><br />
a (b + c) = ab + ac, dengan a, b, dan c bilangan riil</p></blockquote>
<p>Agar kamu lebih memahami sifat-sifat yang berlaku pada bentuk aljabar, perhatikan contoh-contoh soal berikut.</p>
<table style="width:598px;height:25px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p>Sederhanakan bentuk-bentuk aljabar berikut.<br />
a. 6<em>mn</em> + 3<em>mn</em><br />
b. 16x + 3 + 3x + 4<br />
c. –x – y + x – 3<br />
d. 2p – 3p<sup>2</sup> + 2q – 5q<sup>2</sup> + 3p<br />
e. 6m + 3(m<sup>2</sup> – n<sup>2</sup>) – 2m<sup>2</sup> + 3n<sup>2</sup></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<blockquote><p>a. 6<em>mn</em> + 3<em>mn</em> = 9<em>mn</em><br />
b. 16x + 3 + 3x + 4 = 16x + 3x + 3 + 4<br />
= 19x + 7<br />
c. –x – y + x – 3 = –x + x – y – 3<br />
= –y – 3<br />
d. 2p – 3p<sup>2 </sup>+ 2q – 5q<sup>2</sup> + 3p = 2p + 3p – 3p<sup>2</sup> + 2q – 5q<sup>2</sup><br />
= 5p – 3p<sup>2</sup> + 2q – 5q<sup>2</sup><br />
= –3p<sup>2</sup> + 5p – 5q<sup>2</sup> + 2q<br />
e. 6m + 3(m<sup>2</sup> – n<sup>2</sup>) – 2m<sup>2</sup> + 3n<sup>2</sup> = 6m + 3m<sup>2</sup> – 3n<sup>2</sup> – 2m<sup>2</sup> + 3n<sup>2</sup><br />
= 6m + 3m<sup>2</sup> – 2m<sup>2</sup> – 3n<sup>2</sup> + 3n<sup>2</sup><br />
= m<sup>2 </sup>+ 6m</p></blockquote>
<p><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p>Tentukan hasil dari:<br />
a. penjumlahan 10x<sup>2</sup> + 6xy – 12 dan –4x<sup>2</sup> – 2xy + 10,<br />
b. pengurangan 8p<sup>2</sup> + 10p + 15 dari 4p<sup>2</sup> – 10p – 5.</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<blockquote><p>a. 10x<sup>2</sup> + 6xy – 12 + (–4x<sup>2</sup> – 2xy + 10) = 10x<sup>2</sup> – 4x<sup>2</sup> + 6xy – 2xy – 12 + 10<br />
= 6x<sup>2</sup> + 4xy – 2<br />
b. (4p<sup>2</sup> – 10p – 5) – (8p<sup>2</sup> + 10p + 15) = 4p<sup>2</sup> – 8p<sup>2</sup> – 10p –10p – 5 – 15<br />
= –4p<sup>2</sup> – 20p – 20</p></blockquote>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="2._Perkalian_Bentuk_Aljabar"></a></p>
<h3><span class="mw-headline"> 2. Perkalian Bentuk Aljabar<br />
</span></h3>
<p>Perhatikan kembali sifat distributif pada bentuk aljabar. Sifat distributif merupakan konsep dasar perkalian pada bentuk aljabar. Untuk lebih jelasnya, pelajari uraian berikut.<br />
<strong>a. Perkalian Suku Satu dengan Suku Dua</strong><br />
Agar kamu memahami perkalian suku satu dengan suku dua bentuk aljabar, pelajari contoh soal berikut.</p>
<table style="width:521px;height:179px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p>Gunakan hukum distributif untuk menyelesaikan perkalian berikut.<br />
a. 2(x + 3)              c. 3x(y + 5)<br />
b. –5(9 – y)             d. –9p(5p – 2q)</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<blockquote><p>a. 2(x + 3) = 2x + 6                c. 3x(y + 5) = 3xy + 15x<br />
b. –5(9 – y) = –45 + 5y           d. –9p(5p – 2q) = –45p<sup>2</sup> + 18pq</p></blockquote>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>b. Perkalian Suku Dua dengan Suku Dua</strong><br />
Agar kamu memahami materi perkalian suku dua dengan suku dua bentuk aljabar, pelajari contoh soal berikut.</p>
<table style="width:539px;height:25px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p>Tentukan hasil perkalian suku dua berikut, kemudian sederhanakan.<br />
a. (x + 5)(x + 3)               c. (2x + 4)(3x + 1)<br />
b. (x – 4)(x + 1)                d. (–3x + 2)(x – 5)</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<blockquote><p>a. (x + 5)(x + 3) = (x + 5)x + (x + 5)3<br />
= x<sup>2</sup> + 5x + 3x + 15<br />
= x<sup>2</sup> + 8x + 15<br />
b. (x – 4)(x + 1) = (x – 4)x + (x – 4)1<br />
= x<sup>2</sup> – 4x + x – 4<br />
= x<sup>2</sup> – 3x – 4<br />
c. (2x + 4)(3x + 1) = (2x + 4)3x + (2x + 4)1<br />
= 6x<sup>2</sup> + 12x + 2x + 4<br />
= 6x<sup>2</sup> + 14x + 4<br />
d. (–3x + 2)(x – 5) = (–3x + 2)x + (–3x + 2)(–5)<br />
= –3x<sup>2</sup> + 2x + 15x – 10<br />
= –3x<sup>2</sup> + 17x – 10</p></blockquote>
<p><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p>Diketahui sebuah persegipanjang memiliki panjang (5x + 3) cm dan lebar<br />
(6x– 2) cm. Tentukan luas persegipanjang tersebut.</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<blockquote><p>Diketahui : p = (5x + 3) cm dan l = (6x – 2) cm<br />
Ditanyakan : luas persegipanjang<br />
Luas = p × l<br />
= (5x + 3)(6x – 2)<br />
= (5x + 3)6x + (5x + 3)(–2)<br />
= 30x<sup>2</sup> + 18x – 10x – 6<br />
= 30x<sup>2</sup> + 8x – 6<br />
Jadi, luas persegipanjang tersebut adalah (30x<sup>2</sup> + 8x – 6) cm<sup>2</sup></p></blockquote>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Amati kembali Contoh Soal. Ternyata perkalian dua suku bentuk aljabar (a + b) dan (c + d) dapat ditulis sebagai berikut.<br />
(a + b)(c + d) = (a + b)c + (a + b)d<br />
= ac + bc + ad + bd<br />
= ac + ad + bc + bd<br />
Secara skema, perkalian ditulis:</p>
<div class="center">
<div class="thumb tnone">
<div class="thumbinner" style="width:232px;"><a class="image" title="Rumus aljabar 1.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Rumus_aljabar_1.jpg"><img class="thumbimage" src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/8/88/Rumus_aljabar_1.jpg" border="0" alt="" width="230" height="71" /></a></div>
</div>
</div>
<p>Cara seperti ini merupakan cara lain yang dapat digunakan untuk menyelesaikan perkalian antara dua buah suku bentuk aljabar. Pelajari contoh soal berikut.</p>
<table style="width:536px;height:23px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p>Selesaikan perkalian-perkalian berikut dengan menggunakan cara skema.<br />
a. (x + 1)(x + 2)                c. (x – 2)(x + 5)<br />
b. (x + 8)(2x + 4)              d. (3x + 4)(x – <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<blockquote><p>a. (x + 1)(x + 2) = x<sup>2</sup> + 2x + x + 2<br />
= x<sup>2 </sup>+ 3x + 2<br />
b. (x + 8)(2x + 4) = 2x<sup>2</sup> + 4x + 16x + 32<br />
= 2x<sup>2</sup> + 20x + 32<br />
c. (x – 2)(x + 5) = x<sup>2</sup> + 5x –2x –10<br />
= x<sup>2</sup> + 3x – 10<br />
d. (3x + 4)(x –8) = 3x<sup>2</sup> – 24x + 4x – 32<br />
= 3x<sup>2</sup> – 20x – 32</p></blockquote>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="3._Pembagian_Bentuk_Aljabar"></a></p>
<h3><span class="mw-headline"> 3. Pembagian Bentuk Aljabar<br />
</span></h3>
<p>Pembagian bentuk aljabar akan lebih mudah jika dinyatakan dalam bentuk pecahan. Pelajarilah contoh soal berikut.</p>
<table style="width:523px;height:23px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p>Tentukan hasil pembagian berikut.<br />
a. 8x : 4                    c. 16a2b : 2ab<br />
b. 15pq : 3p              d. (8&#215;2 + 2x) : (2y2 – 2y)<br />
<strong>Jawab:</strong></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 1.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_1.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/f/ff/Jawab_aljabar_1.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 1.jpg" width="337" height="174" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="4._Perpangkatan_Bentuk_Aljabar"></a></p>
<h3><span class="mw-headline"> 4. Perpangkatan Bentuk Aljabar </span></h3>
<p>Di Kelas VII, kamu telah mempelajari definisi bilangan berpangkat. Pada bagian ini materi tersebut akan dikembangkan, yaitu memangkatkan bentuk aljabar. Seperti yang telah kamu ketahui, bilangan berpangkat didefinisikan sebagai berikut.</p>
<div class="center">
<div class="thumb tnone">
<div class="thumbinner" style="width:187px;"><a class="image" title="Rumus aljabar 2.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Rumus_aljabar_2.jpg"><img class="thumbimage" src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/c/cc/Rumus_aljabar_2.jpg" border="0" alt="" width="185" height="49" /></a></div>
</div>
</div>
<p>Untuk a bilangan riil dan n bilangan asli.</p>
<p>Definisi bilangan berpangkat berlaku juga pada bentuk aljabar. Untuk lebih jelasnya, pelajari uraian berikut.</p>
<blockquote><p>a. a<sup>5</sup> = a × a × a × a × a<br />
b. (2a)<sup>3</sup> = 2a × 2a × 2a = (2 × 2 × 2) × (a × a × a) = 8a<sup>3</sup><br />
c. (–3p)<sup>4</sup> = (–3p) × (–3p) × (–3p) × (–3p)<br />
= ((–3) × (–3) × (–3) × (–3)) × (p × p × p × p) = 81p<sup>4</sup><br />
d. (4x<sup>2</sup>y)<sup>2 </sup>= (4&#215;2y) × (4&#215;2y) = (4 × 4) × (x<sup>2</sup> × x<sup>2</sup>) × (y × y) = 16x<sup>4</sup>y<sup>2</sup></p></blockquote>
<p>Sekarang, bagaimana dengan bentuk (a + b)<sup>2</sup>? Bentuk (a + b)<sup>2</sup> merupakan bentuk lain dari (a + b) (a + b). Jadi, dengan menggunakan sifat distributif, bentuk (a + b)<sup>2</sup> dapat ditulis:</p>
<blockquote><p>(a + b)<sup>2</sup> = (a + b) (a + b)<br />
= (a + b)a + (a + b)b<br />
= a<sup>2</sup> + ab + ab + b<sup>2</sup><br />
= a<sup>2</sup> + 2ab + b<sup>2</sup></p></blockquote>
<p>Dengan cara yang sama, bentuk (a – b)<sup>2</sup> juga dapat ditulis sebagai:</p>
<blockquote><p>(a – b)<sup>2</sup> = (a – b) (a – b)<br />
= (a – b)a + (a – b)(–b)<br />
= a<sup>2</sup> – ab – ab + b<sup>2</sup><br />
= a<sup>2</sup> – 2ab + b<sup>2</sup></p></blockquote>
<table style="width:446px;height:21px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 2.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_2.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/a/a2/Jawab_aljabar_2.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 2.jpg" width="349" height="243" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Selanjutnya, akan diuraikan bentuk (a + b)<sup>3</sup>, sebagai berikut.</p>
<blockquote><p>(a + b)<sup>3</sup> = (a + b) (a + b)<sup>2</sup><br />
= (a + b) (a<sup>2</sup> + 2ab + b<sup>2</sup>)                                  (a+b)<sup>2</sup> = a<sup>2</sup> + 2ab + b<sup>2</sup><br />
= a(a<sup>2</sup> + 2ab + b<sup>2</sup> ) + b (a<sup>2</sup> + 2ab + b<sup>2</sup> )         (menggunakan cara skema)<br />
= a<sup>3</sup> + 2a<sup>2</sup>b + ab<sup>2</sup> + a<sup>2</sup>b + 2ab<sup>2</sup> + b<sup>3</sup> (suku yang sejenis dikelompokkan)<br />
= a<sup>3</sup> + 2a<sup>2</sup>b + a<sup>2</sup>b + ab<sup>2</sup> +2ab<sup>2 </sup>+ b<sup>3</sup> (operasikan suku-suku yang sejenis)<br />
= a<sup>3</sup> + 3a<sup>2</sup>b + 3ab<sup>2</sup> + b<sup>3</sup></p></blockquote>
<p>Untuk menguraikan bentuk aljabar (a + b)<sup>2</sup>, (a + b)<sup>3</sup>, dan (a + b)<sup>4</sup>, kamu dapat menyelesaikannya dalam waktu singkat. Akan tetapi, bagaimana dengan bentuk aljabar (a + b)<sup>5</sup>, (a + b)<sup>6</sup>, (a + b)<sup>7</sup>, dan seterusnya? Tentu saja kamu juga dapat menguraikannya, meskipun akan memerlukan waktu yang lebih lama. Untuk memudahkan penguraian perpangkatan bentuk-bentuk aljabar tersebut, kamu bisa menggunakan pola segitiga Pascal . Sekarang, perhatikan pola segitiga Pascal berikut.</p>
<div class="center">
<div class="thumb tnone">
<div class="thumbinner" style="width:232px;"><a class="image" title="Pascal.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Pascal.jpg"><img class="thumbimage" src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/9/94/Pascal.jpg" border="0" alt="" width="230" height="193" /></a></div>
</div>
</div>
<p>Hubungan antara segitiga Pascal dengan perpangkatan suku dua bentuk aljabar adalah sebagai berikut.</p>
<div class="center">
<div class="thumb tnone">
<div class="thumbinner" style="width:408px;"><a class="image" title="Pascal2.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Pascal2.jpg"><img class="thumbimage" src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/0/00/Pascal2.jpg" border="0" alt="" width="406" height="196" /></a></div>
</div>
</div>
<p>Sebelumnya, kamu telah mengetahui bahwa bentuk aljabar (a + b)<sup>2</sup> dapat diuraikan menjadi a<sup>2</sup> + 2ab + b<sup>2</sup>. Jika koefisien-koefisiennya dibandingkan dengan baris ketiga pola segitiga Pascal, hasilnya pasti sama, yaitu 1, 2, 1. Ini berarti, bentuk aljabar (a + b)<sup>2</sup> mengikuti pola segitiga Pascal. Sekarang, perhatikan variabel pada bentuk a<sup>2</sup> + 2ab + b<sup>2</sup>. Semakin ke kanan, pangkat a semakin berkurang (a<sup>2</sup> kemudian a). Sebaliknya, semakin ke kanan pangkat b semakin bertambah (b kemudian b<sup>2</sup>). Jadi, dengan menggunakan pola segitiga Pascal dan aturan perpangkatan variabel, bentuk-bentuk perpangkatan suku dua (a + b)<sup>3</sup>, (a + b)<sup>4</sup>, (a + b)<sup>5</sup>, dan seterusnya dapat diuraikan sebagai berikut.</p>
<blockquote><p>(a + b)<sup>3</sup> = a<sup>3</sup> + 3a<sup>2</sup>b + 3ab<sup>2</sup> + b<sup>3</sup><br />
(a + b)<sup>4</sup> = a<sup>4</sup> + 4a<sup>3</sup>b + 6a<sup>2</sup>b<sup>2</sup> + 4ab<sup>3</sup> + b<sup>4</sup><br />
(a + b)<sup>5</sup> = a<sup>5</sup> + 5a<sup>4</sup>b + 10a<sup>3</sup>b<sup>2</sup> + 10a<sup>2</sup>b<sup>3</sup> + 5ab<sup>4</sup> + b<sup>5</sup><br />
dan seterusnya.</p></blockquote>
<p>Perpangkatan bentuk aljabar (a – b)<sup>n</sup> dengan n bilangan asli juga mengikuti pola segitiga Pascal. Akan tetapi, tanda setiap koefisiennya selalu berganti dari (+) ke (–), begitu seterusnya. Pelajarilah uraian berikut.</p>
<blockquote><p>(a – b)<sup>2</sup> = a<sup>2</sup> – 2ab + b<sup>2</sup><br />
(a – b)<sup>3</sup> = a<sup>3</sup> – 3a<sup>2</sup>b + 3ab<sup>2</sup> – b<sup>3</sup><br />
(a – b)<sup>4</sup> = a<sup>4</sup> – 4a<sup>3</sup>b + 6a<sup>2</sup>b<sup>2</sup> – 4ab<sup>3</sup> + b<sup>4</sup><br />
(a – b)<sup>5</sup> = a<sup>5</sup> – 5a<sup>4</sup>b + 10a<sup>3</sup>b<sup>2</sup> – 10a<sup>2</sup>b<sup>3</sup> + 5ab<sup>4</sup> – b<sup>5</sup></p></blockquote>
<p><a name="B._Pemfaktoran_Bentuk_Aljabar"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> B. Pemfaktoran Bentuk Aljabar<br />
</span></h2>
<p><a name="1._Pemfaktoran_dengan_Sifat_Distributif"></a></p>
<h3><span class="mw-headline"> 1. Pemfaktoran dengan Sifat Distributif<br />
</span></h3>
<p>Di Sekolah Dasar, kamu tentu telah mempelajari cara memfaktorkan suatu bilangan. Masih ingatkah kamu mengenai materi tersebut? Pada dasarnya, memfaktorkan suatu bilangan berarti menyatakan suatu bilangan dalam bentuk perkalian faktor-faktornya. Pada bagian ini, akan dipelajari cara-cara memfaktorkan suatu bentuk aljabar dengan menggunakan sifat distributif. Dengan sifat ini, bentuk aljabar ax + ay dapat difaktorkan menjadi a(x + y), di mana a adalah faktor persekutuan dari ax dan ay. Untuk itu, pelajarilah Contoh Soal berikut.</p>
<table style="width:579px;height:26px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p>Faktorkan bentuk-bentuk aljabar berikut.<br />
a. 5ab + 10b           c. –15p<sup>2</sup>q<sup>2</sup> + 10pq<br />
b. 2x – 8x<sup>2</sup>y            d. <sup>1</sup>/<sub>2</sub> a<sup>3</sup>b<sup>2</sup> + <sup>1</sup>/<sub>4</sub> a<sup>2</sup>b<sup>3</sup></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<blockquote><p>a. 5ab + 10b<br />
Untuk memfaktorkan 5ab + 10b, tentukan faktor persekutuan dari 5 dan<br />
10, kemudian dari ab dan b. Faktor persekutuan dari 5 dan 10 adalah 5.<br />
Faktor persekutuan dari ab dan b adalah b.<br />
Jadi, 5ab + 10b difaktorkan menjadi 5b(a + 2).</p>
<p>b. 2x – 8x<sup>2</sup>y<br />
Faktor persekutuan dari 2 dan –8 adalah 2. Faktor persekutuan dari x dan x2y adalah x.<br />
Jadi, 2x – 8x<sup>2</sup>y = 2x(1 – 4xy).</p>
<p>c. –15p<sup>2</sup>q<sup>2</sup> + 10pq<br />
Faktor persekutuan dari –15 dan 10 adalah 5. Faktor persekutuan dari p<sup>2</sup>q<sup>2</sup> dan pq adalah pq.<br />
Jadi, –15p<sup>2</sup>q<sup>2</sup> + 10pq = 5pq (–3pq + 2).</p>
<p>d. <sup>1</sup>/<sub>2</sub> a<sup>3</sup>b<sup>2</sup> + <sup>1</sup>/<sub>4</sub> a<sup>2</sup>b<sup>3</sup><br />
Faktor persekutuan dari <sup>1</sup>/<sub>2</sub> dan <sup>1</sup>/<sub>4</sub> adalah <sup>1</sup>/<sub>4</sub>.<br />
Faktor persekutuan dari a<sup>3</sup>b<sup>2</sup> adalah a<sup>2</sup>b<sup>3</sup> adalah a<sup>2</sup>b<sup>2</sup>.<br />
Jadi, <sup>1</sup>/<sub>2 </sub>a<sup>3</sup>b<sup>2</sup> + <sup>1</sup>/<sub>4</sub> a<sup>2</sup>b<sup>3</sup> = <sup>1</sup>/<sub>4</sub> a<sup>2</sup>b<sup>2</sup> (2a +b)</p></blockquote>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="2._Selisih_Dua_Kuadrat"></a></p>
<h3><span class="mw-headline"> 2. Selisih Dua Kuadrat </span></h3>
<p>Perhatikan bentuk perkalian (a + b)(a – b). Bentuk ini dapat ditulis<br />
(a + b)(a – b) = a<sup>2</sup> – ab + ab – b<sup>2</sup><br />
= a<sup>2</sup> – b<sup>2</sup><br />
Jadi, bentuk a<sup>2</sup> – b<sup>2</sup> dapat dinyatakan dalam bentuk perkalian (a + b) (a – b).</p>
<div class="center">
<div class="thumb tnone">
<div class="thumbinner" style="width:150px;"><a class="image" title="Jawab aljabar 3.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_3.jpg"><img class="thumbimage" src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/0/02/Jawab_aljabar_3.jpg" border="0" alt="" width="148" height="39" /></a></div>
</div>
</div>
<p>Bentuk a<sup>2</sup> – b<sup>2</sup> disebut selisih dua kuadrat</p>
<table style="width:541px;height:25px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p>Faktorkan bentuk-bentuk berikut.<br />
a. p<sup>2</sup> – 4               c. 16 m<sup>2</sup> – 9n<sup>2</sup><br />
b. 25x<sup>2</sup> – y<sup>2</sup> d. 20p<sup>2</sup> – 5q<sup>2</sup></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<blockquote><p>a. p<sup>2</sup> – 4 = (p + 2)(p – 2)<br />
b. 25x<sup>2</sup> – y<sup>2</sup> = (5x + y)(5x – y)<br />
c. 16m<sup>2</sup> – 9n<sup>2</sup> = (4m + 3n)(4m – 3n)<br />
d. 20p<sup>2</sup> – 5q<sup>2</sup> = 5(4p<sup>2</sup> – q<sup>2</sup>) = 5(2p + q)(2p – q)</p></blockquote>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="3._Pemfaktoran_Bentuk_Kuadrat"></a></p>
<h3><span class="mw-headline"> 3. Pemfaktoran Bentuk Kuadrat </span></h3>
<p><strong>a. Pemfaktoran bentuk ax<sup>2</sup> + bx + c dengan a = 1</strong></p>
<p>Perhatikan perkalian suku dua berikut.<br />
(x + p)(x + q) = x<sup>2</sup> + qx + px + pq<br />
= x<sup>2</sup> + (p + q)x + pq<br />
Jadi, bentuk x<sup>2</sup> + (p + q)x + pq dapat difaktorkan menjadi (x + p) (x + q). Misalkan, x<sup>2</sup> + (p + q)x + pq = ax<sup>2</sup> + bx + c sehingga a = 1, b = p + q, dan c = pq.</p>
<p>Dari pemisalan tersebut, dapat dilihat bahwa p dan q merupakan faktor dari c. Jika p dan q dijumlahkan, hasilnya adalah b. Dengan demikian untuk memfaktorkan bentuk ax<sup>2</sup> + bx + c dengan a = 1, tentukan dua bilangan yang merupakan faktor dari c dan apabila kedua bilangan tersebut dijumlahkan, hasilnya sama dengan b.<br />
Agar kamu lebih memahami materi ini, pelajarilah contoh soal berikut.</p>
<table style="width:627px;height:364px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p>Faktorkanlah bentuk-bentuk berikut.<br />
a. x<sup>2</sup> + 5x + 6         b. x<sup>2</sup> + 2x – 8</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<blockquote><p>a. x<sup>2 </sup>+ 5x + 6 = (x + …) (x + …)<br />
Misalkan, x<sup>2</sup> + 5x + 6 = ax<sup>2</sup> + bx + c, diperoleh a = 1, b = 5, dan c = 6.<br />
Untuk mengisi titik-titik, tentukan dua bilangan yang merupakan faktor dari 6<br />
dan apabila kedua bilangan tersebut dijumlahkan, hasilnya sama dengan 5.<br />
Faktor dari 6 adalah 6 dan 1 atau 2 dan 3, yang memenuhi syarat adalah 2 dan<br />
Jadi, x<sup>2</sup> + 5x + 6 = (x + 2) (x + 3)<br />
b. x<sup>2</sup> + 2x – 8 = (x + …) (x + …)<br />
Dengan cara seperti pada (a), diperoleh a = 1, b = 2, dan c = –8.<br />
Faktor dari 8 adalah 1, 2, 4, dan 8. Oleh karena c = –8, salah satu dari<br />
dua bilangan yang dicari pastilah bernilai negatif. Dengan demikian, dua<br />
bilangan yang memenuhi syarat adalah –2 dan 4, karena –2 × 4 = –8 dan<br />
–2 + 4 = 2.<br />
Jadi, x<sup>2</sup> + 2x – 8 = (x + (–2)) (x + 4) = (x – 2) (x + 4)</p></blockquote>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>b. Pemfaktoran Bentuk ax<sup>2 </sup>+ bx + c dengan a ≠ 1</strong><br />
Sebelumnya, kamu telah memfaktorkan bentuk ax<sup>2</sup> + bx + c dengan a = 1. Sekarang kamu akan mempelajari cara memfaktorkan bentuk ax<sup>2 </sup>+ bx + c dengan a ≠ 1.</p>
<p>Perhatikan perkalian suku dua berikut.<br />
(x + 3) (2x + 1) = 2x<sup>2</sup> + x + 6x + 3<br />
= 2x<sup>2</sup> + 7x + 3<br />
Dengan kata lain, bentuk 2x<sup>2</sup> + 7x + 3 difaktorkan menjadi (x + 3) (2x + 1). Adapun cara memfaktorkan 2x<sup>2</sup> + 7x + 3 adalah dengan membalikkan tahapan perkalian suku dua di atas.<br />
2x<sup>2</sup> + 7x + 3 = 2x<sup>2</sup> + (x + 6 x) +3                (uraikan 7x menjadi penjumlahan dua suku yaitu pilih ( x + 6x )<br />
= (2x<sup>2</sup> + x) + (6x + 3)<br />
= x(2x + 1) + 3(2x + 1)           (Faktorkan menggunakan sifat distributif)<br />
= (x + 3)(2x+1)<br />
Dari uraian tersebut dapat kamu ketahui cara memfaktorkan bentuk ax<sup>2</sup> + bx + c dengan a ≠ 1 sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Uraikan bx menjadi penjumlahan dua suku yang apabila kedua suku tersebut dikalikan hasilnya sama dengan (ax<sup>2</sup>)(c).</li>
<li>Faktorkan bentuk yang diperoleh menggunakan sifat distributif</li>
</ol>
<table style="width:535px;height:22px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p>Faktorkan bentuk-bentuk berikut.<br />
a. 2x<sup>2</sup> + 11x + 12                     b. 6x<sup>2</sup> + 16x + 18<br />
<strong>Jawab:</strong><br />
a. 2x<sup>2</sup> + 11x + 12 = 2x<sup>2</sup> + 3x + 8x + 12<br />
= (2x<sup>2</sup> + 3x) + (8x + 12)<br />
= x(2x + 3) + 4(2x + 3)<br />
= (x + 4)(2x + 3)<br />
Jadi, 2x<sup>2</sup> + 11x + 12 = (x + 4)(2x + 3).<br />
b. 6x<sup>2</sup> + 16x + 8 = 6x<sup>2</sup> + 4x + 12x + 8<br />
= (6x<sup>2</sup> + 4x) + (12x + <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /><br />
= 2x(3x + 2) + 4(3x + 2)<br />
= (2x + 4)(3x + 2)<br />
Jadi, 6x<sup>2</sup> + 16x + 8 = (2x + 4)(3x +2)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="C._Pecahan_dalam_Bentuk_Aljabar"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> C. Pecahan dalam Bentuk Aljabar </span></h2>
<p><a name="1._Penjumlahan_dan_Pengurangan_Pecahan_Bentuk_Aljabar"></a></p>
<h3><span class="mw-headline"> 1. Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Bentuk Aljabar </span></h3>
<p>Di Kelas VII, kamu telah mempelajari cara menjumlahkan dan mengurangkan pecahan. Pada bagian ini, materi tersebut dikembangkan sampai dengan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan bentuk aljabar. Cara menjumlahkan dan mengurangkan pecahan bentuk aljabar adalah sama dengan menjumlahkan dan mengurangkan pada pecahan biasa,<br />
yaitu dengan menyamakan penyebutnya terlebih dahulu. Agar kamu lebih memahami materi ini, pelajari contoh-contoh soal berikut.</p>
<table style="width:496px;height:27px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 4.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_4.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/5/5f/Jawab_aljabar_4.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 4.jpg" width="377" height="467" /></a></p>
<p><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 5.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_5.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/f/fe/Jawab_aljabar_5.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 5.jpg" width="361" height="97" /></a></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 6.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_6.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/4/41/Jawab_aljabar_6.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 6.jpg" width="358" height="431" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="2._Perkalian_dan_Pembagian_Pecahan_Bentuk_Aljabar"></a></p>
<h3><span class="mw-headline"> 2. Perkalian dan Pembagian Pecahan Bentuk Aljabar<br />
</span></h3>
<p><strong>a. Perkalian</strong><br />
Cara mengalikan pecahan bentuk aljabar sama dengan mengalikan pecahan biasa, yaitu</p>
<div class="center">
<div class="thumb tnone">
<div class="thumbinner" style="width:293px;"><a class="image" title="Rumus aljabar 3.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Rumus_aljabar_3.jpg"><img class="thumbimage" src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/1/1c/Rumus_aljabar_3.jpg" border="0" alt="" width="291" height="51" /></a></div>
</div>
</div>
<p>Agar kamu lebih memahami materi perkalian pecahan bentuk aljabar, pelajari contoh soal berikut.</p>
<table style="width:576px;height:22px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 7.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_7.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/d/d7/Jawab_aljabar_7.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 7.jpg" width="387" height="198" /></a></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 8.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_8.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/8/88/Jawab_aljabar_8.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 8.jpg" width="229" height="276" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>b. Pembagian</strong><br />
Aturan pembagian pada pecahan bentuk aljabar sama dengan aturan pembagian pada pecahan biasa, yaitu :</p>
<div class="center">
<div class="thumb tnone">
<div class="thumbinner" style="width:344px;"><a class="image" title="Rumus aljabar 4.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Rumus_aljabar_4.jpg"><img class="thumbimage" src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/0/0b/Rumus_aljabar_4.jpg" border="0" alt="" width="342" height="50" /></a></div>
</div>
</div>
<table style="width:578px;height:21px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 9.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_9.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/0/08/Jawab_aljabar_9.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 9.jpg" width="395" height="348" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="3._Perpangkatan_Pecahan_Bentuk_Aljabar"></a></p>
<h3><span class="mw-headline"> 3. Perpangkatan Pecahan Bentuk Aljabar </span></h3>
<p>Pada bagian sebelumnya, kamu telah mengetahui bahwa untuk a bilangan riil dan n bilangan asli, berlaku:</p>
<div class="center">
<div class="thumb tnone">
<div class="thumbinner" style="width:166px;"><a class="image" title="Rumus aljabar 5.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Rumus_aljabar_5.jpg"><img class="thumbimage" src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/1/14/Rumus_aljabar_5.jpg" border="0" alt="" width="164" height="51" /></a></div>
</div>
</div>
<p>Definisi bilangan berpangkat tersebut berlaku juga pada pecahan bentuk aljabar. Untuk lebih jelasnya, pelajari uraian berikut.</p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 10.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_10.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/4/4a/Jawab_aljabar_10.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 10.jpg" width="458" height="131" /></a></p>
<table style="width:654px;height:29px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh Soal :</strong></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 11.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_11.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/7/78/Jawab_aljabar_11.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 11.jpg" width="441" height="559" /></a></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 12.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_12.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/0/0d/Jawab_aljabar_12.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 12.jpg" width="307" height="128" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="4._Penyederhanaan_Pecahan_Bentuk_Aljabar"></a></p>
<h3><span class="mw-headline"> 4. Penyederhanaan Pecahan Bentuk Aljabar<br />
</span></h3>
<p>Masih ingatkah kamu materi penyederhanaan pecahan yang telah dipelajari di Kelas VII? Coba jelaskan dengan menggunakan kata-katamu sendiri. Sekarang kamu akan mempelajari cara menyederhanakan pecahan bentuk aljabar. Untuk itu, pelajari uraian berikut ini.</p>
<p>a. <a class="image" title="jawab aljabar 13.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_13.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/4/4c/Jawab_aljabar_13.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 13.jpg" width="19" height="32" /></a><br />
Untuk menyederhanakan bentuk <a class="image" title="Jawab_aljabar_13.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_13.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/4/4c/Jawab_aljabar_13.jpg" border="0" alt="Jawab_aljabar_13.jpg" width="19" height="32" /></a> , tentukan faktor persekutuan dari pembilang dan penyebutnya.<br />
Kemudian, bagilah pembilang dan penyebutnya dengan faktor persekutuan tersebut.<br />
Faktor persekutuan dari 5x dan 10 adalah 5.<br />
Jadi, <a class="image" title="jawab aljabar 14.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_14.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/c/c3/Jawab_aljabar_14.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 14.jpg" width="132" height="32" /></a></p>
<p>b. <a class="image" title="jawab aljabar 15.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_15.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/d/d9/Jawab_aljabar_15.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 15.jpg" width="26" height="35" /></a></p>
<p>Faktor persekutuan dari 9p dan 27q adalah 9.<br />
Jadi, <a class="image" title="jawab aljabar 16.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_16.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/3/34/Jawab_aljabar_16.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 16.jpg" width="119" height="35" /></a></p>
<p>c. <a class="image" title="jawab aljabar 17.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_17.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/a/a3/Jawab_aljabar_17.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 17.jpg" width="70" height="32" /></a></p>
<p>Untuk menyederhanakan bentuk  <a class="image" title="jawab aljabar 17.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_17.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/a/a3/Jawab_aljabar_17.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 17.jpg" width="70" height="32" /></a><br />
tentukan faktor penyebutnya sehingga <a class="image" title="jawab aljabar 18.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_18.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/8/84/Jawab_aljabar_18.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 18.jpg" width="225" height="37" /></a><br />
Jadi, <a class="image" title="jawab aljabar 19.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_19.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/d/d6/Jawab_aljabar_19.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 19.jpg" width="119" height="32" /></a></p>
<p>Agar kamu lebih memahami materi penyederhanaan pecahan bentuk aljabar, pelajari contoh soal berikut.</p>
<table style="width:579px;height:25px;" border="1" cellspacing="1" cellpadding="1">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Contoh soal :</strong></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 20.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_20.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/0/0a/Jawab_aljabar_20.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 20.jpg" width="370" height="105" /></a></p>
<p><a class="image" title="jawab aljabar 21.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Jawab_aljabar_21.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/6/65/Jawab_aljabar_21.jpg" border="0" alt="jawab aljabar 21.jpg" width="248" height="219" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</div>
<p>Disadur dari :<br />
www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_(BAB_1)<a href="http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Faktorisasi_Aljabar_8.1_(BAB_1)"></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesebangunan SMP]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/13/kesebangunan-smp/</link>
<pubDate>Sat, 13 Sep 2008 00:51:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/13/kesebangunan-smp/</guid>
<description><![CDATA[Untuk materi ini mempunyai 3 Kompetensi Dasar yaitu: Kompetensi Dasar : Mengidentifikasi bangun-bang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Untuk materi ini mempunyai 3 Kompetensi Dasar yaitu:</strong></p>
<p><strong>Kompetensi Dasar : </strong></p>
<ol>
<li>Mengidentifikasi bangun-bangun datar yang sebangun dan kongruen</li>
<li>Mengidentifikasi sifat-sifat dua segitiga sebangun dan kongruen</li>
<li>Menggunakan konsep kesebangunan segitiga dalam pemecahan masalah</li>
</ol>
<table id="toc" class="toc" border="0" summary="Daftar isi">
<tbody>
<tr>
<td>
<div id="toctitle">
<h2>Daftar isi</h2>
<p><span class="toctoggle">[<a id="togglelink" class="internal" href="toggleToc()">sembunyikan</a>]</span></div>
<ul>
<li class="toclevel-1"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#KESEBANGUNAN_BANGUN_DATAR"><span class="tocnumber">1</span> <span class="toctext">KESEBANGUNAN BANGUN DATAR</span></a>
<ul>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Dua_Bangun_Datar_yang_Sebangun"><span class="tocnumber">1.1</span> <span class="toctext">Dua Bangun Datar yang Sebangun</span></a></li>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Dua_Bangun_yang_Sama_dan_Sebangun"><span class="tocnumber">1.2</span> <span class="toctext">Dua Bangun yang Sama dan Sebangun</span></a></li>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Menghitung_Panjang_Salah_Satu_Sisi_yang_Belum_Diketahui_dari_Dua_Bangun_yang_Sebangun"><span class="tocnumber">1.3</span> <span class="toctext">Menghitung Panjang Salah Satu Sisi yang Belum Diketahui dari Dua Bangun yang Sebangun</span></a></li>
</ul>
</li>
<li class="toclevel-1"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#SEGITIGA-SEGITIGA_YANG_SEBANGUN"><span class="tocnumber">2</span> <span class="toctext">SEGITIGA-SEGITIGA YANG SEBANGUN</span></a>
<ul>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Syarat_Segitiga-Segitiga_Sebangun"><span class="tocnumber">2.1</span> <span class="toctext">Syarat Segitiga-Segitiga Sebangun</span></a></li>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Kesebangunan_Khusus_dalam_Segitiga_Siku-Siku"><span class="tocnumber">2.2</span> <span class="toctext">Kesebangunan Khusus dalam Segitiga Siku-Siku</span></a></li>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Menghitung_Panjang_Salah_Satu_Sisi_yang_Belum_Diketahui_dari_Dua_Segitiga_yang_Sebangun"><span class="tocnumber">2.3</span> <span class="toctext">Menghitung Panjang Salah Satu Sisi yang Belum Diketahui dari Dua Segitiga yang Sebangun</span></a></li>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Garis-Garis_Sejajar_pada_Sisi_Segitiga"><span class="tocnumber">2.4</span> <span class="toctext">Garis-Garis Sejajar pada Sisi Segitiga</span></a></li>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Menyelesaikan_Soal_Cerita_yang_Berkaitan_dengan_Kesebangunan"><span class="tocnumber">2.5</span> <span class="toctext">Menyelesaikan Soal Cerita yang Berkaitan dengan Kesebangunan</span></a></li>
</ul>
</li>
<li class="toclevel-1"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Segitiga-Segitiga_yang_Kongruen"><span class="tocnumber">3</span> <span class="toctext">Segitiga-Segitiga yang Kongruen</span></a>
<ul>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Pengertian_Segitiga_yang_Kongruen"><span class="tocnumber">3.1</span> <span class="toctext">Pengertian Segitiga yang Kongruen</span></a></li>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Sifat-Sifat_Dua_Segitiga_yang_Kongruen"><span class="tocnumber">3.2</span> <span class="toctext">Sifat-Sifat Dua Segitiga yang Kongruen</span></a></li>
<li class="toclevel-2"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Syarat_Dua_Segitiga_Kongruen"><span class="tocnumber">3.3</span> <span class="toctext">Syarat Dua Segitiga Kongruen</span></a></li>
</ul>
</li>
<li class="toclevel-1"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Menghitung_Panjang_Sisi_dan_Besar_Sudut_Segitiga-Segitiga_kongruen"><span class="tocnumber">4</span> <span class="toctext">Menghitung Panjang Sisi dan Besar Sudut Segitiga-Segitiga kongruen</span></a></li>
<li class="toclevel-1"><a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1#Referensi"><span class="tocnumber">5</span> <span class="toctext">Referensi</span></a></li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>if (window.showTocToggle) { var tocShowText = &#8220;tampilkan&#8221;; var tocHideText = &#8220;sembunyikan&#8221;; showTocToggle(); }  <a name="KESEBANGUNAN_BANGUN_DATAR"></a></p>
<h1><span class="mw-headline"> KESEBANGUNAN BANGUN DATAR </span></h1>
<p><a name="Dua_Bangun_Datar_yang_Sebangun"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> Dua Bangun Datar yang Sebangun </span></h2>
<div style="text-align:justify;">Perhatikan Gambar Persegi panjang ABCD dan PQRSmempunyai sisi-sisi yang bersesuaian, yaitu<br />
<a class="image" title="kotak.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Kotak.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/6/6f/Kotak.jpg" border="0" alt="kotak.jpg" width="100" height="90" /></a> <a class="image" title="kotak2.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Kotak2.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/0/04/Kotak2.jpg" border="0" alt="kotak2.jpg" width="100" height="90" /></a></p>
<p><a class="image" title="1.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:1.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/f/f3/1.jpg" border="0" alt="1.jpg" width="116" height="104" /></a></p>
<p>Panjang sisi kedua persegi panjang tersebut mempunyai perbandingan yang senilai.</p>
<p><a class="image" title="2.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:2.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/1/15/2.jpg" border="0" alt="2.jpg" width="275" height="93" /></a></p>
<p>Dengan demikian, sisi-sisi yang bersesuaian dari kedua persegi panjang mempunyai perbandingan yang sama, yaitu</p>
<p><a class="image" title="3.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:3.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/7/79/3.jpg" border="0" alt="3.jpg" width="171" height="59" /></a></p>
<p>Keempat sudut dari persegi panjang ABCD dan PQRS adalah 90&#8243; sehingga kedua persegi panjang tersebut mempunyai sudut-sudut yang bersesuaian sama besar, yaitu<br />
ﮮ A = ﮮP, ﮮ B = ﮮQ, ﮮC = ﮮ R. dan ﮮ D = ﮮ S</p>
<p>Dapat dikatakan bahrva persegi panjang ABCD sebangun dengan persegi panjang PORS dan ditulis ABCD ~ PQRS.</p>
<p>Dua bangun datar dikatakan sebangun jika memenuhi dua syarat berikut.</p>
<ol>
<li>Panjang sisi-sisi yang bersesuaian mempunyai perbandingan yang senilai.</li>
<li>Sudut-sudut yang bersesuaian sama besar.</li>
</ol>
<p><a name="Dua_Bangun_yang_Sama_dan_Sebangun"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> Dua Bangun yang Sama dan Sebangun </span></h2>
<p>Perhatikan dua lembar uang kertas yang nilainya sama. Misalnya Rp.5.000.00. Apakah uang tersebut panjang dan lebarnya sama?</p>
<p>Coba hitunglah perbandingan dari masing-masing sisi-sisinya. Kamu akan memperoleh nilai perbandingan sisi-sisinya sama dengan 1.</p>
<p>Dari hasil perbandingan di atas diperoleh :</p>
<ol>
<li>sisi-sisi yang bersesuaian dari uangtersebut sarna panjang.</li>
<li>sudut-sudut yang bersesuaian dari uang tersebut sama besar (90<sup>o</sup>).</li>
</ol>
<p>Jadi, kedua uang tersebut mempunyai bentuk dan ukuran yang sama. Bangun-bangun yang mempunyai bentuk dan ukuran yang sama disebut bangun-bangun yang kongruen, yakni bangun-bangun yang sama dan sebangun. Bangun-bangun yang kongruen jika diimpitkan akan saling menutupi satu sama lain.</p>
<p>Dua bangun bersisi lurus dikatakan kongruen jika :</p>
<ol>
<li>sisi-sisi yang bersesuaian dari bangun tersebut sama panjang:</li>
<li>sudut-sudut yang bersesuaian dari bangun tersebut sama besar</li>
</ol>
<p><a name="Menghitung_Panjang_Salah_Satu_Sisi_yang_Belum_Diketahui_dari_Dua_Bangun_yang_Sebangun"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> Menghitung Panjang Salah Satu Sisi yang Belum Diketahui dari Dua Bangun yang Sebangun </span></h2>
<p>Kita dapat menggunakan sifat dari dua bangun datar yang sebangun. yaitu perbandingan panjang sisi yang bersesuaian senilai untuk menghitung panjang salah satu sisi yang belum diketahui dari dua bangun yang sebangun.</p>
<p>Contoh :<br />
Diketahui dua bangun datar di bawah sebangun. Tentukan nilai x dan y !<br />
<a class="image" title="te.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Te.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/0/01/Te.jpg" border="0" alt="te.jpg" width="150" height="90" /></a></p>
<p>Jawab :<br />
Perbandingan sisi yang bersesuaian yang diketahui adalah <sup>21</sup>/<sub>9</sub> = <sup>7</sup>/<sub>3</sub> maka sisi yang lain juga harus mempunyai perbandingan yang sama. Nilai x dan y dapat diperoleh dari perbandingan di atas, yaitu :</p>
<p><a class="image" title="5.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:5.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/0/03/5.jpg" border="0" alt="5.jpg" width="304" height="42" /></a></p>
<p>Jadi, x = 3 cm dan y = 6 cm.</p>
<p><a name="SEGITIGA-SEGITIGA_YANG_SEBANGUN"></a></p>
<h1><span class="mw-headline"> SEGITIGA-SEGITIGA YANG SEBANGUN </span></h1>
<p><a name="Syarat_Segitiga-Segitiga_Sebangun"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> Syarat Segitiga-Segitiga Sebangun </span></h2>
<p>Pada Gambar dibawah tampak dua segitiga, yaitu ∆ ABC dan ∆ DEF. Perbandingan panjang sisi-sisi yang bersesuaian pada kedua segitiga tersebut adalah sebagai berikut:  <a class="image" title="segitiga.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Segitiga.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/7/78/Segitiga.jpg" border="0" alt="segitiga.jpg" width="150" height="90" /></a> Dengan demikian, diperoleh : <a class="image" title="6.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:6.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/1/18/6.jpg" border="0" alt="6.jpg" width="131" height="47" /></a></p>
<p>Ukurlah sudut-sudut dari kedua segitiga itu dan bandingkan hasil pengukuranmu untuk sudut-sudut yang bersesuaian, yaitu ﮮ A dengan ﮮ D. ﮮ B dengan ﮮ E, dan ﮮ C dengan ﮮF Jika pengukuranmu benar kamu akan memperoleh hasil ﮮ A = ﮮ D ﮮ B = ﮮ E.dan ﮮ C = ﮮ F.<br />
Karena sisi-sisi yang bersesuaian mempunyai perbandingan yang senilai dan sudut yang bersesuaian sama besar maka ∆ ABC dan ∆ DEF sebangun.</p>
<p>Jadi. kesebangunan dua segitiga dapat diketahui cukup dengan menunjukkan bahwa perbandingan panjang sisi-sisi yang bersesuaian senilai. Lakukan pengukuran panjang sisi-sisi dari kedua segitiga tersebut dan bandingkan hasil pengukuranmu untuk sisi-sisi yang bersesuaian. Karena sisi-sisi yang bersesuaian mempunyai perbandingan yang sama dan sudut yang bersesuaian sama besar Maka ∆ ABC sebangun dengan ∆ DEF. Jadi. kesebangunan dua segitiga dapat diketahui cukup dengan menunjukkan bahwa sudut-sudut yang bersesuaian sama besar.</p>
<p><strong>Dari uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut.</strong><br />
Dua segitiga dikatakan sebangun jika memenuhi salah satu syarat berikut :</p>
<ol>
<li>Perbandingan panjang sisi-sisi yang bersesuaian senilai.</li>
<li>Dua pasang sudut yang bersesuaian yang sama besar.</li>
</ol>
<p><a name="Kesebangunan_Khusus_dalam_Segitiga_Siku-Siku"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> Kesebangunan Khusus dalam Segitiga Siku-Siku </span></h2>
<p>Dalam segitiga siku-siku terdapat kesebangunan khusus. Perhatikan gambar di samping. Pada segitiga siku-siku di bawah.<br />
<a class="image" title="sigitiga 2.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Sigitiga_2.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/f/fe/Sigitiga_2.jpg" border="0" alt="sigitiga 2.jpg" width="90" height="150" /></a></p>
<p>a AD<sup>2</sup> = BD x CD;<br />
b. AB<sup>2</sup> = BD x BC;<br />
c. AC<sup>2</sup> = CD x CB.</p>
<p><strong>Contoh :</strong><br />
Pada gambar di bawah diketahui AB = 6 cm dan BC. Tentukan<br />
a. AC;<br />
b. AD;<br />
c. BD.<br />
<a class="image" title="sigitiga 3.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Sigitiga_3.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/c/cf/Sigitiga_3.jpg" border="0" alt="sigitiga 3.jpg" width="90" height="150" /></a></p>
<p>Jawab:<br />
a. AC<sup>2</sup> = AB<sup>2</sup>+BC<sup>2</sup><br />
= 6<sup>2</sup> + 8<sup>2</sup><br />
= 36+64<br />
= 100<br />
AC = √100 = 10</p>
<p>b. AB<sup>2</sup> = AD x AC<br />
6<sup>2</sup> = AD x 10<br />
36 = AD x l0<br />
AD =<sup>36</sup>/<sub>10</sub><br />
= 3,6 cm<br />
DC = l0 cm &#8211; 3,6cm<br />
= 6,4 cm</p>
<p>c. BD<sup>2</sup> = AD x DC<br />
= 3,6 x 6,4<br />
= 23,04<br />
BD = √23,04 = 4,8 cm</p>
<p><a name="Menghitung_Panjang_Salah_Satu_Sisi_yang_Belum_Diketahui_dari_Dua_Segitiga_yang_Sebangun"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> Menghitung Panjang Salah Satu Sisi yang Belum Diketahui dari Dua Segitiga yang Sebangun </span></h2>
<p>Konsep kesebangunan dua segitiga dapat digunakan untuk menghitung panjang salah satu sisi segitiga sebangun yang belum diketahui. Coba perhatikan contoh berikut! Contoh :<br />
<a class="image" title="sigitiga 4.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Sigitiga_4.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/f/fa/Sigitiga_4.jpg" border="0" alt="sigitiga 4.jpg" width="150" height="90" /></a> Diketahui ∆ ABC sebangun dengan ∆ DEF. Tentukan EF ?</p>
<p>jawab:<br />
<a class="image" title="10.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:10.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/a/ae/10.jpg" border="0" alt="10.jpg" width="200" height="131" /></a></p>
<p><a name="Garis-Garis_Sejajar_pada_Sisi_Segitiga"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> Garis-Garis Sejajar pada Sisi Segitiga </span></h2>
<p>Pada Gambar Dibawah, ∆ ABC dan ∆ DEC sebangun. Berikut akan ditentukan perbandingan ruas garis dari kedua segitiga tersebut.<br />
Perhatikan Gambar dibawah.</p>
<p><a class="image" title="sigitiga 5.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Sigitiga_5.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/c/c8/Sigitiga_5.jpg" border="0" alt="sigitiga 5.jpg" width="150" height="100" /></a></p>
<p>Dari gambar tersebut terlihat bahwa ruas garis .DE // AB sehingga diperoleh<br />
ﮮ ACB = ﮮ DCE (berimpit)<br />
ﮮ CAB = ﮮ CDE (sehadap)<br />
Karena dua sudut yang bersesuaian dari ∆ ABC dan ∆ DEC sama besar maka kedua segitiga itu sebangun. Karena sebansun maka berlaku<br />
<a class="image" title="11.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:11.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/6/62/11.jpg" border="0" alt="11.jpg" width="324" height="57" /></a></p>
<p>Kedua ruas dikalikan (a + d)(c + b) sehingga diperoleh</p>
<p><strong><a class="image" title="12a.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:12a.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/c/cc/12a.jpg" border="0" alt="12a.jpg" width="272" height="144" /></a></strong></p>
<p><strong>Contoh:</strong><br />
<a class="image" title="sigitiga 6.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Sigitiga_6.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/d/d9/Sigitiga_6.jpg" border="0" alt="sigitiga 6.jpg" width="150" height="100" /></a> Dalam ∆ PRT, PT//QS, hitunglah QR dan ST!<br />
<strong>Jawab :</strong><br />
<a class="image" title="13.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:13.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/9/94/13.jpg" border="0" alt="13.jpg" width="302" height="253" /></a></p>
<p><a name="Menyelesaikan_Soal_Cerita_yang_Berkaitan_dengan_Kesebangunan"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> Menyelesaikan Soal Cerita yang Berkaitan dengan Kesebangunan </span></h2>
<p>Konsep dan sifat-sifat kesebangunan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah atau soal cerita yang berkaitan dengan kesebangunan. Untuk menyelesaikan soal cerita dapat dibantu dengan membuat sketsa atau gambar. Dari gambar itu, baru<br />
diselesaikan.</p>
<p><strong>Contoh:</strong><br />
Sebuah kawat baja dipancangkan untuk menahan sebuah tiang listrik yang berdiri tegak lurus. Sebuah tongkat didirikan tegak lurus sehingga ujung atas tongkat menyentuh kawat. Diketahui panjang tongkat 2 m, jarak tongkat ke ujung bawah kawat 3 m dan jarak tiang listrik ke tongkat 6 m. Berapa tinggi tiang listrik?</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Misalnya, tinggi tiang listrik adalah t sehingga diperoleh perbandingan sebagai berikut.<br />
<a class="image" title="14.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:14.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/e/ed/14.jpg" border="0" alt="14.jpg" width="317" height="48" /></a></p>
<p><a class="image" title="15.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:15.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/d/db/15.jpg" border="0" alt="15.jpg" width="228" height="104" /></a></p>
<p>Jadi, tinggi listrik adalah 6 cm.</p>
<p><a name="Segitiga-Segitiga_yang_Kongruen"></a></p>
<h1><span class="mw-headline"> Segitiga-Segitiga yang Kongruen </span></h1>
<p><a name="Pengertian_Segitiga_yang_Kongruen"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> Pengertian Segitiga yang Kongruen </span></h2>
<p><a class="image" title="segienam.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Segienam.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/e/e6/Segienam.jpg" border="0" alt="segienam.jpg" width="150" height="100" /></a></p>
<p>Pengubinan pada lantai yang telah kita kenal dapat digunakan untuk memahami pengertian kongruen. Pola pengubinan yang kita gunakan adalah pengubinan bangun segitiga. Perhatikan Gambar disamping Jika dilakukan pergeseran atau pemutaran terhadap salah satu ubin maka segitiga tersebut akan menempati ubin yang lain dengan tepat. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa ubin yang satu dengan ubin yang lain mempunyai bentuk sama (sebangun) dan mempunyai ukuran yang sama. Segitiga-segitiga yang mempunyai bentuk dan ukuran yang sama disebut segitiga-segitiga yang kongruen (sama dan sebangun).</p>
<p><a name="Sifat-Sifat_Dua_Segitiga_yang_Kongruen"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> Sifat-Sifat Dua Segitiga yang Kongruen </span></h2>
<p><a class="image" title="sigitiga 7.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Sigitiga_7.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/8/87/Sigitiga_7.jpg" border="0" alt="sigitiga 7.jpg" width="150" height="90" /></a></p>
<p>Untuk dapat memahami sifat-sifat dua segitiga yang kongruen, perhatikan Gambar diatas ini. Karena segitiga-segitiga yang kongruen mempunyai bentuk dan ukuran yang sama maka masing-masing segitiga jika diimpitkan akan tepat saling menutupi satu sama lain.<br />
Gambar di samping menunjukkan ∆, PQT dan ∆ QRS kongruen. Perhatikan panjang sisi-sisinya. Tampak bahwa PQ = QR, QT = RS. dan QS = PT sehingga sisi-sisi yang bersesuaian dari kedua segitiga sama panjang.<br />
Selanjutnya, perhatikan besar sudut-sudutnya. Tampak bahwa ﮮ TPQ = ﮮ SQR, ﮮ PQT = ﮮ QRS , dan ﮮ PTQ = ﮮ QSR sehingga sudut-sudut yang bersesuaian dari kedua segitiga tersebut sama besar.</p>
<p><strong>Dari uraian di atas. dapat disimpulkan sebagai berikut.</strong><br />
Dua buah segitiga dikatakan kongruen jika dan hanya jika memenuhi sifat-sifat berikut.</p>
<ol>
<li>Sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang.</li>
<li>Sudut-sudut yang bersesuaian sama besar.</li>
</ol>
<p><a name="Syarat_Dua_Segitiga_Kongruen"></a></p>
<h2><span class="mw-headline"> Syarat Dua Segitiga Kongruen </span></h2>
<p>Dua segitiga dikatakan kongruen jika dipenuhi salah satu dari tiga syarat berikut.</p>
<ol>
<li>Ketiga pasang sisi yang bersesuaian sama panjang (sisi, sisi, sisi).</li>
<li>Dua sisi yang bersesuaian sama panjang dan sudut yang dibentuk oleh sisi-sisi itu sama besar (sisi, sudut, sisi).</li>
<li>Dua sudut yang bersesuaian sama besar dan sisi yang menghubungkan kedua titik sudut itu sama panjang (sudut, sisi, sudut).</li>
</ol>
<ul>
<li><strong>Ketiga Pasang Sisi yang Bersesuaian Sama Panjang (Sisi, Sisi, Sisi)</strong></li>
</ul>
<p>Dua segitiga di bawah ini, yaitu ∆ ABC dan ∆ DEF mempunyai panjang sisi-sisi yang sama.<br />
<a class="image" title="sigitiga 8.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Sigitiga_8.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/8/8e/Sigitiga_8.jpg" border="0" alt="sigitiga 8.jpg" width="150" height="90" /></a></p>
<p><a class="image" title="16.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:16.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/8/85/16.jpg" border="0" alt="16.jpg" width="281" height="185" /></a></p>
<p>Perbandingan yang senilai untuk sisi-sisi yang bersesuaian menunjukkan bahwa kedua segitiga tersebut sebangun. Karena sebangun maka sudut-sudut bersesuaian juga sama besar, yaitu ﮮ A= ﮮ D, ﮮ B= ﮮ E,dan ﮮ C= ﮮ F.<br />
Karena sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang dan sudut-sudut yang bersesuaian sama besar maka ∆ ABC dan ∆ DEF kongruen.</p>
<ul>
<li><strong>Dua Sisi.yang Bersesuaian Sama Panjang dan Sudut yang Dibentuk oleh Sisi-Sisi itu Samar Besar (Sisi, Sudut, Sisi)</strong></li>
</ul>
<p><a class="image" title="sigitiga 9.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Sigitiga_9.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/7/73/Sigitiga_9.jpg" border="0" alt="sigitiga 9.jpg" width="150" height="90" /></a></p>
<p>Pada gambar di atas, diketahui bahwa AB = DE, AC = DF, dan ﮮ CAB = ﮮ EDF. Apakah ∆ ABC dan ∆ DEF kongruen? Jika dua segitiga tersebut diimpitkan maka akan tepat berimpit sehingga diperoleh :</p>
<p><a class="image" title="17.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:17.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/6/64/17.jpg" border="0" alt="17.jpg" width="166" height="49" /></a></p>
<p>Hal ini berarti ∆ ABC dan ∆ DEF sebangun sehingga diperoleh<br />
ﮮA = ﮮD, ﮮB = ﮮ E, dan ﮮC = ﮮE Karena sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang, maka ∆ ABC dan ∆ DEF kongruen.</p>
<ul>
<li><strong>Dua Sudut yang Bersesuaian Sama Besar dan Sisi yang Menghubungkan Kedua Sudut itu Sama Panjang (Sudut, Sisi. Sudut)</strong></li>
</ul>
<p><a class="image" title="sigitiga 10.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Sigitiga_10.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/0/0c/Sigitiga_10.jpg" border="0" alt="sigitiga 10.jpg" width="150" height="90" /></a></p>
<p>Pada gambar di atas, ∆ ABC dan ∆ DEF mempunyai sepasang sisi bersesuaian yang sama panjang dan dua sudut bersesuaian yang sama besar, yaitu AB = DE, ﮮ A = ﮮ D. Dan ﮮB = ﮮE. Karena ﮮA = ﮮD dan ﮮB =ﮮE maka ﮮC = ﮮF. Jadi. ∆ ABC dan ∆ DEF sebangun. Karena sebangun maka sisi-sisi yang bersesuaian rnempunyai perbandingan yang senilai.</p>
<p><a class="image" title="18a.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:18a.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/f/f4/18a.jpg" border="0" alt="18a.jpg" width="303" height="131" /></a></p>
<p><strong>Contoh:</strong></p>
<p>Perhatikan gambar layang-layang pada Gambar. Sebutkan pasangan segitiga-segitiga yang kongruen!<br />
<strong>Jawab:</strong><br />
Pasangan segi tiga-segi tiga yang kongruen adalah :<br />
∆ AED dengan ∆ ABE:<br />
∆ DEC dengan ∆ BEC:<br />
∆ ACD dengan ∆ ABC.</p>
<p>a) ∆ AED kongruen dengan ∆ ABE<br />
Bukti; Karena ∆ ABD sama kaki dan AE adalah garis bagi maka diperoleh AD = AB (diketahui)</p>
<p>ﮮ DAE = ﮮ BAE</p>
<p>AE = AE (berimpit)</p>
<p>Maka terbukti bahwa ∆ AED kongruen dengan ∆ ABE. (Sisi, Sudut, Sisi)</p>
<p>b) ∆ DEC kongruen dengan ∆ BEC<br />
Bukti; Karena ∆ BCD sama kaki dan CE adalah garis bagi maka diperoleh CD = CB (diketahui)<br />
ﮮ DCE = ﮮ BCE<br />
CE = CE (berimpit)</p>
<p>Jadi. terbukti bahwaA DEC kongruen dengan L ABE. (Sisi. Sudut. Sisi)<br />
∆ ACD konsruen dengan ∆ ABC</p>
<p><a name="Menghitung_Panjang_Sisi_dan_Besar_Sudut_Segitiga-Segitiga_kongruen"></a></p>
<h1><span class="mw-headline"> Menghitung Panjang Sisi dan Besar Sudut Segitiga-Segitiga kongruen </span></h1>
<p>Dengan menggunakan sifat-sifat dua segitiga yang kongruen dapat ditentukan sisi-sisi yang sama panjang dan sudut-sudut yang sama besar.</p>
<p><strong>Contoh:</strong><br />
Perhatikan Gambar</p>
<p>Diketahui ∆ KNM kongruen dengan ∆ NLM! Panjang KN = 5 cm, KM = l0 cm, ﮮ NKM = 60&#8242;. Tentukan panjang sisi dan sudut yang belum diketahui!</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Karena ∆ KNM dan ∆ NLM kongruen maka KM = ML = l0 cm dan NL = KN = 5 cm. Dengan demikian, panjang MN dapat ditentukan dengan menggunakan dalil Pythagoras.</div>
<p><a class="image" title="19.jpg" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:19.jpg"><img src="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/e/e8/19.jpg" border="0" alt="19.jpg" width="338" height="105" /></a></p>
<p>Disadur dari</p>
<p>www.crayonpedia.org/mw/Kesebangunan_9.1</p>
<h1><span class="mw-headline"> </span></h1>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Soal-soal LOGARITMA]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/07/soal-soal-logaritma/</link>
<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 15:54:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/07/soal-soal-logaritma/</guid>
<description><![CDATA[Atas permintaan soal Logaritma, silahkan download di sini : Logartima 1 Logaritma 2]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Atas permintaan soal Logaritma, silahkan download di sini :</p>
<ul>
<li><a href="http://www.scribd.com/doc/5571767/LAT-LOGARITMA1-MatX-S-Gnjl-SMU-ALOY-07-08"><strong>Logartima 1</strong></a></li>
<li><a href="http://www.scribd.com/doc/5571698/SIAP-UH-LOGARITMA-n-Mat-X-S-Gnjl-08-09"><strong>Logaritma 2</strong></a></li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Download Ringkasan BAB - BAB MATEMATIKA SMA]]></title>
<link>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/04/download-teori-probabilitas/</link>
<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 02:47:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vincentius Haryanto</dc:creator>
<guid>http://vincentmath.wordpress.com/2008/09/04/download-teori-probabilitas/</guid>
<description><![CDATA[Silahkan Download : RINGKASAN STATISTIKA SMA TEORI PELUANG SMA LOGARITMA 1 LOGARITMA 2]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Silahkan Download :</p>
<p><a href="http://rapidshare.com/files/139768742/RINGKASAN_STATISTIKA_SMA.doc.html"><strong>RINGKASAN STATISTIKA SMA</strong></a><br />
<a href="http://www.scribd.com/doc/5571502/TeoriPeluang"><strong>TEORI PELUANG SMA</strong></a></p>
<ul>
<li><a href="http://www.scribd.com/doc/5571767/LAT-LOGARITMA1-MatX-S-Gnjl-SMU-ALOY-07-08"><strong>LOGARITMA 1</strong></a></li>
<li><a href="http://www.scribd.com/doc/5571698/SIAP-UH-LOGARITMA-n-Mat-X-S-Gnjl-08-09"><strong>LOGARITMA 2</strong></a></li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Implementasi Minus(-) Pada Berbagai Search Engine]]></title>
<link>http://coretanqu.wordpress.com/2008/01/27/implementasi-minus-pada-berbagai-search-engine/</link>
<pubDate>Sun, 27 Jan 2008 01:37:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aditya</dc:creator>
<guid>http://coretanqu.wordpress.com/2008/01/27/implementasi-minus-pada-berbagai-search-engine/</guid>
<description><![CDATA[Kadang-Kadang apa yang kita sedang cari mempunyai lebih dari satu maksud atau arti, misalnya &#8220;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kadang-Kadang apa yang kita sedang cari mempunyai lebih dari satu maksud atau arti, misalnya &#8220;bass&#8221; dapat mengacu pada pemancingan atau musik. Kamu dapat mengeluarkan atau meniadakan suatu kata dari pencarian kita dengan meletakkan suatu tanda (&#8220;-&#8221;) di depan istilah yang kita ingin hindari. (Pastikan untuk memberi spasi sebelum atau di depan tanda “-”).<br />
Sebagai contoh, untuk menemukan halaman web tentang bass yang tidak berisi kata &#8220;musik&#8221;, maka tulis sebagai berikut: <em>bass –music</em>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Implementasi Plus(+) Pada Berbagai Search Engine]]></title>
<link>http://coretanqu.wordpress.com/2008/01/27/implementasi-plus-pada-berbagai-search-engine/</link>
<pubDate>Sun, 27 Jan 2008 01:30:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aditya</dc:creator>
<guid>http://coretanqu.wordpress.com/2008/01/27/implementasi-plus-pada-berbagai-search-engine/</guid>
<description><![CDATA[Jika suatu kata yang umum dan penting agar kita memperoleh hasil sesuai dengan yang kita inginkan, m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jika suatu kata yang umum dan penting agar kita memperoleh hasil sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita dapat meletakkan tanda &#8220;+&#8221; di depan kata itu (kata umum). (Pastikan memberi spasi sebelum atau di depan tanda &#8220;+&#8221;). Metode lain untuk melakukan hal ini adalah melakukan suatu pencarian ungkapan, ini berarti meletakkan tanda kutip di sekitar dua atau lebih kata. Kata-kata yang umum didalam pencarian ungkapan (contoh: &#8220;where are you&#8221;) adalah termasuk di dalam pencarian itu.<br />
Sebagai contoh, untuk mencari The Matriks, Episode I, maka gunakan: <em>The Matriks +1</em> atau bisa juga menggunakan <em>“The Matriks Episode 1”</em>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Implementasi Case Sensitive Pada Berbagai Search Engine Di Internet]]></title>
<link>http://coretanqu.wordpress.com/2008/01/27/implementasi-case-sensitive-pada-berbagai-search-engine-di-internet/</link>
<pubDate>Sun, 27 Jan 2008 01:08:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aditya</dc:creator>
<guid>http://coretanqu.wordpress.com/2008/01/27/implementasi-case-sensitive-pada-berbagai-search-engine-di-internet/</guid>
<description><![CDATA[Perlu dicatat bahwa beberapa search engine adalah case sensitive. Jika kita mengeja suatu kata atau ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Perlu dicatat bahwa beberapa search engine adalah case sensitive. Jika kita mengeja suatu kata atau suatu ungkapan dengan huruf kecil dan menulis huruf di search form, search engine akan mencocokkan kedua-duanya huruf besar dan huruf kecil.<br />
Mencari &#8220;apple computer&#8221; akan memberi kita halaman dengan apple computer, Apple Computer dan bahkan APPLE COMPUTER. Suatu pencarian untuk &#8220;Bill Gates&#8221; akan memberi kita Bill Gates tetapi bukan bill gates.<br />
Seperti kita dapat lihat, ini bisa jadi bermanfaat ketika kita sedang mencari seseorang. Dengan penggunaan huruf besar di dalam &#8220;Bill Gates&#8221; (menggunakan tanda petik), kita menghindari halaman yang mencakup kata bill (yang mempunyai arti faktur) dan gates (yang mempunyai arti pintu gerbang) saja.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Implementasi Stemming dan Phrases Pada Berbagai Search Engine]]></title>
<link>http://coretanqu.wordpress.com/2008/01/27/implementasi-stemming-dan-phrases-pada-berbagai-search-engine/</link>
<pubDate>Sun, 27 Jan 2008 01:04:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aditya</dc:creator>
<guid>http://coretanqu.wordpress.com/2008/01/27/implementasi-stemming-dan-phrases-pada-berbagai-search-engine/</guid>
<description><![CDATA[Stemming Stemming adalah kemampuan sebuah search engine untuk mencari variasi kata berdasarkan termi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Stemming </strong></p>
<p>Stemming adalah kemampuan sebuah search engine untuk mencari variasi kata berdasarkan terminologi yang kita gunakan (kata kunci). Sebagai contoh, memasukkan kata &#8220;swim&#8221; dan juga mungkin mencari kata &#8220;swims&#8221; dan mungkin kata &#8220;swimming&#8221; tergantung dari search engine yang kita gunakan.<br />
Contoh search engine yang menggunakan stemming: AOL Search, Direct Hit, HotBot, Inktomi (HotBot, MSN).<!--more--></p>
<p><strong>Phrases</strong></p>
<p>Mencari ungkapan yang lengkap dengan memasukkannya di dalam tanda kutip. Kata-Kata yang terlampir di dalam tanda kutip ganda (&#8220;seperti ini&#8221;) akan ditampilkan bersama dengan hasil pencarian persis sama seperti yang kita tuliskan. Hal ini akan bermanfaat ketika kita mencari nama orang atau perkataan yang terkenal.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pembuktian Yang Salah Tentang 1=2]]></title>
<link>http://coretanqu.wordpress.com/2008/01/16/pembuktian-yang-salah-tentang-12/</link>
<pubDate>Tue, 15 Jan 2008 12:29:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aditya</dc:creator>
<guid>http://coretanqu.wordpress.com/2008/01/16/pembuktian-yang-salah-tentang-12/</guid>
<description><![CDATA[Diberikan beberapa soal tentang pembuktian bahwa 1=2 Download Soal, Benarkah ?? Tentu saja tidak .. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Diberikan beberapa soal tentang pembuktian bahwa 1=2 <a href="http://h1.ripway.com/gabriel240587/1=2.pdf">Download Soal</a>, Benarkah ?? Tentu saja tidak .. Tidak mungkin 1 bisa sama dengan 2<strong> </strong>akan tetapi dari pembuktian pada soal melalui :</p>
<ol>
<li>Aljabar.</li>
<li>Teori bilangan kompleks.</li>
<li>Logaritma.</li>
<li>Integral.</li>
<li>Hukum asosiatif.</li>
<li>Analisis.</li>
<li>Teori logika.</li>
</ol>
<p>Semuanya membuktikan bahwa 1=2.</p>
<p>Jadi tugas anda adalah membuktikan bahwa benar memang 1 tidak sama dengan 2 !. Jika anda masih mahasiswa dan berhasil bisa membuktikan bahwa 1 != 2 maka hal ini bisa dijadikan Tugas Akhir anda.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
