<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>tolan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/tolan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "tolan"</description>
	<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 14:40:59 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Cardan: Inside &amp; Outside The Hinkal Core]]></title>
<link>http://bankbuku.wordpress.com/2009/05/29/cardan-inside-outside-the-hinkal-core/</link>
<pubDate>Fri, 29 May 2009 06:14:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>sakurazaki90</dc:creator>
<guid>http://bankbuku.wordpress.com/2009/05/29/cardan-inside-outside-the-hinkal-core/</guid>
<description><![CDATA[Resensi oleh Danny Cardan #1: Inside &amp; Outside The Hinkal Core Pengarang: Chandra Adhitya Winarn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Resensi oleh <a href="http://rakparabuku.blogspot.com/" target="_blank"><strong>Danny<br />
</strong></a><br />
<strong><img class="alignright size-full wp-image-307" title="Cardan" src="http://bankbuku.wordpress.com/files/2009/05/cardan.jpg" alt="Cardan" width="250" height="366" />Cardan #1: Inside &#38; Outside The Hinkal Core</strong><br />
Pengarang: Chandra Adhitya Winarno<br />
Editor: Feba Sukmana<br />
Penerbit: GagasMedia<br />
Tahun Terbit: 2007<br />
Jumlah Halaman: 326<br />
Genre: fantasy, adventure, action, war, tragedy<br />
Rating: Remaja<br />
Harga: Rp 31.000,- (bisa berubah sewaktu-waktu)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Sampul</strong><br />
</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Betapa kagetnya Aras, cahaya merah tiba-tiba menyorot membelah langit saat ia menyentuh batu merah di pegangan sebuah pedang yang ditemukannya di rumah pamannya. Seluruh kerajaan Tolan menghentikan aktivitasnya, mereka ternganga menyaksikan cahaya merah yang jelas memberi pertanda.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Saat itu semua tahu bahwa Aras adalah seorang cardan. Tapi bagaimana mungkin, selama ini ia hanya berlatih menggunakan pedang kayu, dan ibunya sudah mendaftar ke universitas untuk mencari ilmu, untuk menjadi ilmuwan, bukan ksatria perang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Menjadi cardan seperti nasib yang tidak dapat ditolak. Selama ini, tanpa Aras sadari, darah ksatria mengalir di tubuhnya. Ia seorang cardan, yang harus selalu siap bertempur. Melawan makhluk-makhluk yang selama ini tidak pernah ia jumpai. Pada saatnya nanti, ia harus melawan Siafrik, musuh besar kerajaan Tolan, yang dulu sudah pernah dikalahkan dan dipastikan mati. Lantas kenapa Siafrik sekarang hidup lagi? Apa yang akan terjadi dengan Tolan nantinya?</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;"><strong>Sampul</strong></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Oke bagian pertama resensi bakal ngebahas soal sampul novel ini. Dari bagian depan sampul novel ini bisa dibilang lumayan keren, gambar siluet burung phoenix berwarna emas dengan tulisan CARDAN berwarna putih diatasnya dan subjudul di bagian bawah, semuanya dengan latar belakang sampul yang hitam. Lumayan keren dan kayaknya bisa jadi salah satu factor penarik orang untuk at least ngelirik novel ini, walau sebenarnya alasan aku beli novel ini bukan gara2 sampulnya tapi gara2 berbagai macam review, yang kebanyakan negatif, yang beredar di internet.<!--more--></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Sampul belakangnya berisi sinopsis cerita, diselingi sedikit motif seperti batu di bagian kiri bawah dan gambar sebuah pedang di samping kiri sinopsis. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Dari sinopsisnya bisa dibaca inti cerita yang sebenarnya lumayan (sangat) klise di genre fiksi fantasi, seorang pria yang tadinya bukan siapa-siapa (kalo di novel ini kayaknya dipaksain bukan siapa-siapa) tiba-tiba menjadi seorang pahlawan yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Klise bukan? Untungnya harga bukunya murah, jadi masih bisa dibelain beli buat di review, sekalian mempelajari novel yang diterima masuk dapur redaksi.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;"><strong>Main Story</strong></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Setelah sampul, kini ngebahas inti cerita. Seperti dijelaskan oleh sinopsisnya, inti ceritanya sebenarnya sangat klise dan sudah biasa ada dalam genre fiksi fantasi. Bab pertama kelihatannya diawali dengan semacam flashback ke sebuah pertempuran besar sekitar dua puluh tahun sebelum cerita dimulai. Aktor utama disini adalah seorang jendral Tolan yang sampai akhir buku pertama ga disebutin jelas siapa dia (walo sebenernya gampang ditebak juga sih), tapi sayang porsi peran dia cuma dua halaman aja, alias cuma selembar kertas! Hmm…. Kalo emang bagian ini mau dijadiin prolog sih, kayanya nanggung banget.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Oke, lanjut ke bagian utamanya. Cerita dimulai dengan kegiatan normal sang tokoh utama bernama Aras di pagi hari. Dia bangun, dan pergi ke pasar untuk berbelanja. Berikutnya dia pergi ke rumah pamannya untuk mengantarkan pelana kuda. Disini terjadi satu kejanggalan yang aneh dalam cerita, Voco adalah nama paman Aras, itu dijelaskan dalam beberapa paragraf awal setelah prolog usai. Tapi kenapa setelahnya malah dikatakan kalau Voco itu sahabat baik ayah Aras? Hmm, yang mana yang bener nih?</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Berikutnya cerita berlanjut sangat cepat. Dipenuhi dengan berbagai macam plot device. Aras tiba-tiba saja harus pergi ke hutan Dio setelah ia terpilih sebagai Cardan, dimana disana ia akan dididik oleh seseorang untuk menjadi seorang prajurit tempur yang gagah.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Yang aneh adalah, bagaimana orang2 dalam kamp pelatihan itu bisa tahu kalau Aras adalah seorang Cardan tanpa sebelumnya melihat ia menyentuh batu elemennya? (aku pake istilah batu elemen disini soalnya diceritanya batu itu mewakilin satu elemen). Padahal ibunya sendiripun harus mendengar cerita dari mulut Aras sendiri sebelum yakin kalau Aras adalah seorang Cardan. Dan juga, salah seorang pelatih disana tahu kalau Aras pernah dilatih pedang oleh Voco tanpa dijelaskan darimana dia tahu itu.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Beberapa plot device yang ada sebenarnya masih bisa dibenarkan karena disertai dengan alasan. Seperti indra keenam Putri Divin yang langsung menyuruhnya bergerak kesana kemari demi memajukan plot. Tapi adakalanya terjadi plot device secara murni, tanpa alasan yang logis di dalam cerita. Selain itu, masalah logika juga menjadi masalah disini. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Semisal, Fordit (salah satu tokoh utama) mampu berkonsentrasi untuk mendengarkan suara ditengah hujan pukulan keras dari lawannya; dan juga dia, Aras, Putri Divin, dan Sonia (tokoh utama cewek) mampu menahan nafas di dalam air sampai sekitar sepuluh menit! Gila, lebih jago dari perenang professional! Padahal Divin lagi dalam kondisi pingsan waktu dibawa nyebur dalem air.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Tapi ditengah segala macam kekurangan itu, masih ada satu hal yang aku anggep bagus dari novel ini, yaitu plot twist-nya. Kalo boleh muji, plot twist ini sisi paling baik dalam Cardan. Chandra berhasil bikin aku bilang dalem hati “Hah? Ternyata dia itu begitu?!” bukan cuma sekali, tapi beberapa kali dalam satu malem (karena aku berusaha nyelesein baca cepet-cepet). Walau sayang “efek kejut”-nya ga terlalu terasa karena kalimat narasi yang kurang mengena, tapi udah bagus banget buat kejutan. Terutama di bagian bab-bab akhir buku, dimana kejutan semakin bertambah dan hal-hal yang aku kira bakal kejadian ternyata ga jadi-jadi terus, sementara yang ga diduga malah kejadian di novelnya.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;"><strong>Gaya Penulisan</strong></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Sekarang, soal gaya penulisannya, menurutku gaya penulisan menjadi salah satu kelemahan utama Cardan. Kelemahan besar kalo boleh dibilang.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Gaya penulisannya terasa hambar. Kayaknya itu kalimat paling cocok buat njelasinnya. Si Chandra menjabarkan tentang detail situasi dan penampilan para tokohnya dengan sangat kurang. Aku mengalami kesulitan untuk benar2 bisa masuk ke dalam alam cerita yang dia buat.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Alasan teknisnya kalo mau lebih tepat bisa dibilang karena dia kurang memberikan paragraf deskripsi dan narasi yang baik dalam novelnya. Setiap deskripsi tentang setting tempat sepertinya terasa lewat begitu saja, sebelum sempat merasakan keadaan lingkungan yang jelas dari settingnya. Kalo boleh dibilang, cara si Chandra menjabarkan setting dalam novel ini seperti seorang guru menjelaskan kalau 1 + 1 = 2. Memang bener sih, dan aku juga ngerti maksudnya, tapi ga ada emosi atau rasa apa untuk mendekatkan pembaca lebih jauh ke dalam settingnya.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Bukan cuma setting tempat yang seperti itu, tapi penampilan karakter juga. Sering seorang karakter hanya dijelaskan nama atau sedikit perawakannya (gendut, botak, tinggi) tanpa penjelasan yang lebih dalam lagi.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Voco salah satu contohnya. Awalnya diceritakan kalau dia seorang veteran perang yang terpaksa harus menggunakan kaki buatan sebagai pengganti kaki asli yang hilang dalam perang. Tapi deskripsi itu langsung hilang dalam ingatan karena tidak dijelaskan bagaimana Voco berjalan dengan kaki itu dalam keseluruhan cerita berikutnya. Atau paling tidak, siapa yang membuatkan kaki buatan itu untuknya.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Pendeskripsian tentang tato salah satu tokoh utamapun baru dilakukan di bagian tengah cerita, tanpa sebelumnya memberikan satu pertanda kalau dia memiliki tato. Padahal ternyata tato itu memiliki peran yang penting bagi masa lalu si karakter. Nuansa kejutan yang ingin dibangun oleh sang pengarang melalui penampilan karakterpun menjadi gagal total.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Tapi hal yang paling parah dari paragraf deskripsi dan narasi yang sangat kurang adalah pertarungannya yang membosankan. Jujur, sejak pertama kali disuguhkan adegan pertarungan dalam novel ini (bukan tentang si jendral Tolan itu) aku sudah mulai membayangkan adegan2 pertarungan tidak menegangkan yang akan terjadi disepanjang cerita.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Mungkin biar aku jelasin dikit contoh dari bukunya biar yang belum baca bisa ngerti: pertarungan pertama itu terjadi di sebuah kamp pelatihan, dimana petarungnya adalah seorang petarung terbaik kamp pelatihan itu (yang nantinya juga jadi salah satu tokoh utama) dan satu orang lagi entah siapa. Pertarungan itu digambarkan selesai dalam dua paragraf pendek, dimana si petarung terbaik tiba2 berkelit ke bagian belakang lawannya dan menghantam bagian belakang kepalanya. Setelah itu lawannya itu langsung jatuh pingsan. Done. Selesai. Tidak ada rasa imajinasi yang muncul atau adrenalin yang terpompa di dalam kepala sewaktu membaca deskripsi pertarungannya. Dan pertarungan itu dipuji sebagai pertarungan yang hebat oleh si tokoh utama! Kalau yang hebat aja kayak begitu, gimana yang biasa2 aja?</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Begitulah. Paragraf deskripsi yang kurang jelas seperti itu terus2an memangkas rasa imajinasi dalam kepala dan justru malah menambah keheranan sewaktu membaca novel ini. Tapi deskripsi bukan satu2nya kelemahan dalam novel ini. Paragraf dialog yang juga minim semakin mengurangi kemampuan pembaca untuk tersedot masuk ke dalam atmosfer cerita dan berkenalan lebih jauh dengan para tokohnya. Banyak sekali kalimat-kalimat deskripsi atau narasi pendek yang sebenarnya bisa dijadikan satu adegan dialog menarik dan bisa memperdalam karakteristik para tokoh. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Sudah bisa ditebak, karakterisasi dalam novel inipun menjadi sangat tidak terasa. Bagiku, semua karakter dalam cerita ini sama dalam hal sikap, karakteristik, tingkah laku, cara berjalan, dll. Yang paling berbeda cuma Fordit dan Zelon yang memang digambarkan sebagai karakter sinis dan sombong. Sementara yang lainnya hanya seperti boneka kayu di atas panggung tanpa ekspresi sama sekali. Really disappointing.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Oya, hampir lupa, masalah penamaan kelihatannya juga kurang diseriusi disini. Nama2 karakter sepertinya hanya diberikan sebagai tempelan bagi karakter lain untuk menyebut namanya. Tidak terasa ada aturan baku dalam pemberian nama di dunia Cardan. Orang lain boleh berargumen dengan mengatakan “Apa arti sebuah nama?”, tapi bagi saya nama dan aturan pemberian nama yang diseriusi bisa memberi kesan budaya yang lebih kental dalam dunia Cardan. Malah sebuah nama mungkin bisa jadi penunjuk status seseorang, jika ada sebuah nama yang umumnya hanya dimiliki oleh anggota keluarga kerajaan misalnya. Bukan sekedar sebuah susunan huruf untuk memanggil orang lain saja.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;"><strong>Penutup</strong><br />
</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Oya, sedikit intermezzo sebagai penutup, kata Cardan kalau dibolak-balik urutan hurufnya ternyata bisa jadi Candra (nama pengarangnya). Hehehehe. Apa ini cuma kebetulan aja ya?</span></p>
<h1 style="text-align:right;"><span style="color:#000000;"><strong>Skor: 2,5/5</strong></span></h1>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[L'Europe et l'Islam ]]></title>
<link>http://akgonul.wordpress.com/2009/03/31/leurope-et-lislam/</link>
<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 10:46:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>akgonul</dc:creator>
<guid>http://akgonul.wordpress.com/2009/03/31/leurope-et-lislam/</guid>
<description><![CDATA[L’Europe et l’Islam   Quinze siècles d’histoire   Henry Laurens, John Tolan, Gilles Veinstein Paris,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h1 class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#993300;"><em>L’Europe et l’Islam</em></span></span></h1>
<h3 class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#993300;"> </p>
<h3 class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#993300;"><em>Quinze siècles d’histoire</em></span></span></h3>
<h3 class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#993300;"> </span></span></h3>
<h3 class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#993300;">Henry Laurens, John Tolan, Gilles Veinstein</span></span></h3>
<h3 class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#993300;">Paris, Ed. Odile Jacob, 2009.</span></span></h3>
<p> </p>
<p></span></span></h3>
<h2 class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#993300;"><em><a rel="attachment wp-att-1335" href="http://akgonul.wordpress.com/2009/03/31/leurope-et-lislam/europe-et-islam1/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1335" title="europe-et-islam1" src="http://akgonul.wordpress.com/files/2009/03/europe-et-islam1.jpg?w=300" alt="europe-et-islam1" width="300" height="300" /></a></em></span></span><span style="font-family:Garamond;"></span></h2>
<h2 class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"></span></h2>
<h3>
<div><span style="font-family:Garamond;"></span></div>
</h3>
<p><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#993300;"></p>
<h5 class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#000000;">Voici l&#8217;histoire d&#8217;une relation tumultueuse sans laquelle il est impossible de comprendre notre temps.</span></span></h5>
<h5 class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Garamond;">La conquête arabe, la décomposition de Byzance, les croisades, l&#8217;Espagne maure et la </span><span style="font-family:Garamond-Italic;">Reconquista, </span>les échanges et les conflits du XVIIIe <span style="font-family:Garamond;">siècle, l&#8217;Empire ottoman, la colonisation européenne et la décolonisation: depuis 630, lorsque les armées de Constantinople et de Médine se disputèrent le contrôle de la Syrie-Palestine, les contacts entre l&#8217;Europe et le monde musulman n&#8217;ont cessé. Leur importance, leur richesse, leur variété, si manifestes pour celui qui connaît l&#8217;histoire, ne sont pourtant pas si évidentes pour tous.</span></span></h5>
<h5 class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#000000;">Pour les comprendre, il ne s&#8217;agit pas d&#8217;opposer les deux « civilisations » rivales que seraient, selon</span></span></h5>
<h5 class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#000000;">Samuel Huntington, Islam et Europe, mais d&#8217;explorer les relations multiples entre Génois et</span></span></h5>
<h5 class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Garamond;"><span style="color:#000000;">Tunisiens, Constantinopolitains et Alexandrins ou encore Catalans et Maghrébins, bref, entre tous les individus et les groupes qui ont forgé ce que nous appelons désormais l&#8217;Europe et le monde musulman, dont les racines s&#8217;enfoncent profondément dans un héritage religieux, culturel et intellectuel commun.</span></span></h5>
<h5 class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;"><span style="color:#000000;">Trois grands spécialistes font revivre ici cette histoire multiséculaire et proposent une somme historique de référence pour éclairer la complexité des enjeux, des héritages et des événements contemporains.</span></span></h5>
<p></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sarracenos + Pasión por la Edad Media.]]></title>
<link>http://historicamente.wordpress.com/2008/03/02/sarracenos-pasion-por-la-edad-media/</link>
<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 14:24:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>cero</dc:creator>
<guid>http://historicamente.wordpress.com/2008/03/02/sarracenos-pasion-por-la-edad-media/</guid>
<description><![CDATA[Dos nuevos libros de historia salen al mercado en estas fechas respaldados por las ediciones de la U]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-family:Arial;">Dos nuevos libros de historia salen al mercado en estas fechas respaldados por las ediciones de la Universidad de Valencia, que últimamente se ha volcado con la edición de libros de historia no comercial, aportando una excelente biblioteca para los profesionales de la historia.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"><img border="0" align="left" width="300" src="http://portadas.libreriaproteo.es/6/6/1/8/9/9788437066189.JPG" height="450" />Por un lado saldrá al mercado la obra del historiador John Tolan, “Sarracenos”, en la cual se analiza la visión del Islam en el imaginario occidental medieval, en lo que creemos es un punto de vista novedoso y poco tratado. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Para muchos es una obra fundamental para entender el occidente medieval y por fin los aficionados y profesionales podremos disfrutar de ella con una traducción al español llevada a<span>  </span>cabo, entre otros, por un historiador medievalista, Salustiano Moreta y consultada por un apasionado traductor del árabe clásico, Felipe Maíllo.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Las características del libro:</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Título: Sarracenos. El Islam en la imaginación medieval europea.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Autor: John Tolan</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Editorial: Universidad de Valencia.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Género: Historia medieval</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Precio: 25€</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">De otro lado encontramos, con motivo de la jubilación de José Ángel García de Cortazar a toda una vida dedicada al medievalismo, un pequeño librito en el que el entrevistador e historiador José Ramón Díaz de Durana realiza, al estilo de otras entrevistas llevadas a cabo a importantes historiadores como Duby, nos ofrece un repaso por la obra del que fue uno de los padres del departamento de historia medieval de la universidad de Salamanca.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">En él podremos encontrar todo el viaje que García de Cortazar ha realizado a lo largo de toda su carrera, desde la universidad de Valladolid, a la de Santiago, Salamanca, y el País Vasco.</span><span style="font-family:Arial;"> Así mismo explica los motivos de su evolución, como el mismo dijo en la presentación, desde la baja Edad Media hacia el estudio de los siglos IX-XII.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Las características del libro:</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Título: Pasión por la Edad Media.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Autor: José Ramón Díaz de Durana.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Editorial: Universidad de Valencia.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Género: Entrevista.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Precio: 10€ aprox.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saracens]]></title>
<link>http://bodleyroundtable.wordpress.com/2008/02/13/saracens/</link>
<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 11:58:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>asfrancisco</dc:creator>
<guid>http://bodleyroundtable.wordpress.com/2008/02/13/saracens/</guid>
<description><![CDATA[It was the great medieval historian R.W. Southern who advanced the idea that the most far-reaching p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">It was the great medieval historian R.W. Southern who advanced the idea that the most far-reaching problem for Europe during the Middle Ages was the expansion, if not the mere existence, of Islam. And his <i>Western Views of Islam in the Middle Ages </i>is a classic narrative analysis of this intellectual and geopolitical conundrum. But it does not descend into the details and is somewhat dated.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&#160;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">A few historians have tried to fill in the gaps. The most comprehensive narrative by far, and to date, is John V. Tolan’s <i>Saracens: Islam in the Medieval European Imagination. </i>Beginning with the initial reaction of Christians living in the Levant and North Africa to the Islamic conquests of the seventh century, he takes off and examines what seems like every extant medieval text on Islam through the early fourteenth century. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&#160;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Undoubtedly this is a comprehensive work. Tolan certainly does a great job of explaining how Europeans dealt with the existence of Islam as well as how they responded to the various theological problems it raised. And he contends throughout that Europeans were really only interested in Islam in order to caricaturize, criticize, or demonize it. They certainly weren’t interested in any sympathetic analysis or understanding. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&#160;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">There is a lot of truth to this. Medieval Christian scholars didn’t approach their subjects without affection or bias, although some could approach Islam quite ambivalently (see T. Burman’s recent <i>Reading the Qur’an in Latin Christendom, 1140-1560</i>). However, if there is a weakness to Tolan’s examination, it is in his failure to account for the convictions of the medieval mind and its criticism of Islam. Medieval Christians, unlike much of liberal Protestantism and Catholicism, were convinced of the truthfulness of Christianity. It thus makes sense that they rigorously rejected the Muslim religion, for the two carry very different and mutually exclusive theologies.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&#160;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> Nevertheless, there is much to learn from Tolan’s work. At the very least, it will expose enthusiasts of medieval European intellectual history to an underrepresented aspect of medieval thought. And for those interested in theology it summarizes otherwise unexamined and untranslated historical theological treatises in clear English prose. </font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fußball, schlechte Mathematik und vorgebliche Wissenschaft: Wie Metin Tolan dieses Blog inspirierte]]></title>
<link>http://kamenin.wordpress.com/2007/11/28/fusball-schlechte-mathematik-und-vorgebliche-wissenschaft-wie-metin-tolan-dieses-blog-inspirierte/</link>
<pubDate>Wed, 28 Nov 2007 19:42:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>kamenin</dc:creator>
<guid>http://kamenin.wordpress.com/2007/11/28/fusball-schlechte-mathematik-und-vorgebliche-wissenschaft-wie-metin-tolan-dieses-blog-inspirierte/</guid>
<description><![CDATA[Eigentlich ist heute ein Arbeits- und Champions-League-Tag, an dem ich nicht damit gerechnet hatte, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify">Eigentlich ist heute ein Arbeits- und Champions-League-Tag, an dem ich nicht damit gerechnet hatte, überhaupt etwas zu schreiben. Gleichzeitig ist es aber auch der Tag, an dem Metin Tolan seinen ersten <a href="http://www.wissenslogs.de/wblogs/blog/querkraft/physik/2007-11-28/viele-tore-wenige-unentschieden">Blogpost bei den Wissenslogs</a> veröffentlich hat, und das muss hier Erwähnung finden. Denn Metin Tolan ist mit der Entstehung dieses Blogs mehr verbunden, als ihm bewusst sein kann. Schon deswegen heiße ich ihn in meinem Feedreader herzlich Willkommen!</p>
<p align="justify">Die Geschichte beginnt etwa vier Monate vor Einrichtung dieses Blogs; vier Monate etwas mit mir rumzutragen, bevor ich es dann tatsächlich mache, ist übrigens für mich keine unübliche Zeitspanne. Letzten Februar saß ich also im Büro und las, wie es sich für einen guten und anständig bezahlten Doktoranden gehört, SpiegelOnline. Zu einer Zeit, als Schalke 04 Tabellenführer war, verdientermaßen, was durch die wöchentlich erneuerte Tabelle an meiner Bürotür auch bei der Arbeit jederzeit präsent war. Natürlich musste ich da den unter Wissenschaft einsortierten Artikel lesen: <a href="http://www.spiegel.de/wissenschaft/mensch/0,1518,467126,00.html">Fußball ist Glücksspiel</a>, geschrieben von Holger Dambeck unter großzügiger Bezugnahme auf den Dortmunder Physiker Metin Tolan [1]. Je länger ich mir den Artikel durchlas und mir die vor allem in der Foto-Galerie dargestellten Ergebnisse ansah, um so heftiger überkamen mich Unglauben und heftiger körperlicher Schmerz. So sehr, dass mir der Artikel im Hinterkopf blieb als gern angeführtes Beispiel in gelegentliche Kollegen-Diskussionen über zweifelhafte Wissenschaft und fragwürdigen Wissenschaftsjournalismus. Aus dieser Episode entstand dann jedenfalls unter anderem die Idee, dieses Blog zu begründen. Meine Ansichten über fahrlässigen Umgang mit Statistiken und anmaßende Behauptungen über die Relevanz der eigenen Ergebnisse sind hier vielleicht schon mal angesprochen worden. Und die Analyse des somit blogbegründenden <a href="http://www.spiegel.de/wissenschaft/mensch/0,1518,467126,00.html">Spiegel-Artikels</a>, die vielleicht einiges zeigt, was im Zusammenspiel von Wissenschaftlern und Journalisten falsch laufen kann, gibt&#8217;s jetzt:<!--more--></p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Erst mal möchte ich feststellen, dass Holger Dambeck unter dem Titel Numerator schreibt. Das ist begrenzt albern, für SpiegelOnline-Verhältnisse, aber vor allem eine Verpflichtung: wer so eindrücklich auf seine mathematische Kompetenz hinweist, muss veröffentlichte Fehler mitverantworten. Das Ganze war im Übrigen ja auch im Wissenschafts-Ressort abgelegt, nicht bei Sport. Aber das Journalisten-Handwerk beherrscht er fast schon lehrbuchmäßig. Es gibt zwei einleitende Absätze: der erste widerspricht dem Rest des Artikel (&#8220;scheint zu stimmen (&#8230;) ausgerechnet für Fußball aber nicht&#8221;, wenn es doch für die allerwenigsten Sportarten gilt und für keine absolut) &#8212; aber wenigstens behält Dambeck die unsinnige Behauptung bis zum Artikelende bei; guter Journalismus will den Leser ja nicht verwirren. Der zweite Absatz besteht aus sinnfreien Übertreibungen, wohl um noch mehr Interesse zu wecken: kein Informationswert, aber schön (auf)gespielt.</p>
<p align="justify">Es folgen Banalitäten. Manchmal entscheidet ein Tor über ein Spiel. Ein Tor zu schießen ist schwierig, darum hat der Zufall seine Hand im Spiel. Manchmal siegt die &#8220;schwächere&#8221; Mannschaft. Bis es dann endlich Zahlen gibt, die aussagen, dass beim Fußball etwa in 45% der Spiele der &#8220;Underdog&#8221; gewinnt, im Baseball bei 44%, im Hockey bei 41% und beim American Football und Basketball in je 36% der Fälle. Die letzten vier Zahlen stammen übrigens aus einer US-Studie, woher die erste stammt, bleibt unklar. Inwiefern das einen für den Artikel vorausgesetzten nicht nur quantitativen, sondern qualitativen Unterschied ausmachen soll, wird nicht erläutert.</p>
<p align="justify">Die Hauptthese, dass Fußball vom Zufall regiert werde, wird nämlich durch Herrn Tolan begründet. Der hat für eine Computersimulation angenommen, dass Sieg und Niederlage rein zufällig einer Mannschaft zufällt. Der einzige Parameter, der dann noch in die Simulation eingebaut werden musste, ist die Häufigkeit eines Unentschiedens (hier als 25% geschätzt). Das ergibt dann eine (Entschuldigung: eine(!) &#8212; offensichtlich war Metin Tolans Rechenzeit sehr begrenzt, denn es gibt tatsächlich nur diese einzige eine) Zufallstabelle, die man dann mit tatsächlichen Fußballtabellen vergleichen kann. Im Text vollzieht Holger Dambeck das nur andeutungsweise (&#8220;unterscheidet sich kaum&#8221;), aber tatsächliche Ergebnisse gibt es in der ersten Bildergalerie. Bild 2 zeigt die Endtabelle 2005 im Vergleich mit Metin Tolans Zufallstabelle, inklusive echter nach Mathematik aussehender Formeln und Zahlen.</p>
<p align="justify"><b>Schlechte Mathematik</b>, Ausstellungsstück <b>A</b>: die statistische Fluktuationen (wie sehr die Punktzahlen um den Mittelwert schwanken, wohl die Standardabweichung) stimmen überhaupt nicht miteinander überein. 76%ige Abweichung. Holger Dambeck interessiert&#8217;s nicht: &#8220;ähnelt (&#8230;) auf verdächtige Weise&#8221;. Richtig Herr Dambeck, sind in beiden Tabellen 18 Mannschaften. Und Metin Tolan kümmert&#8217;s wenig.</p>
<p align="justify"><b>SM, Ex B</b>: Damit&#8217;s ein bisschen ähnlicher wird, rechnet Tolan die beiden Extrema, Erster und Letzter, aus der Bundesliga-Tabelle heraus, wodurch logischerweise die Varianz fällt. Die beiden Werte sind sich jetzt deutlich ähnlicher, was wohl beim Leser einen &#8220;Aha, stimmt ja doch&#8221;-Effekt bewirken soll. Dummerweise sind die beiden Zahlen nicht mehr vergleichbar. Rechnet man aus Tolans Zufallstabelle die Extrema raus, fällt da ja auch die Varianz. Vielleicht war die Bestimmung einer weiteren Standardabweichung zu umständlich, aber vielleicht fehlt die auch im Bild, weil es so vermeintlich besser ausgedrückt wird, was Metin Tolan eh beweisen wollte.</p>
<p align="justify"><b>SM, Ex C</b>: Darüber gibt&#8217;s noch die durchschnittliche Punktzahl aller Teams, und, alle Achtung: die stimmen fast überein. Also muss Metin Tolan wohl doch recht haben. Diese erstaunliche Übereinstimmung&#8230; der Beweis. Nun ist die Sache mit der durchschnittlichen Punktzahl eine besondere: es gibt halt in jedem Spiel drei Punkte zu verteilen. Dass heißt, jede Mannschaft nimmt pro Spiel durchschnittlich 1,5 Punkte mit, unabhängig vom Ausgang. Es gibt eine Ausnahme, nämlich das Unentschieden, wenn beide Mannschaften nur 1 Punkt bekommen. Damit ist aber die durchschnittliche Gesamtpunktzahl nur von einer Variablen abhängig: wie häufig Spiele unentschieden ausgehen. Das war aber auch die einzige Variable, die nicht aus Tolans Simulation rauskommt. Die Übereinstimmung der Werte beruht also nur darauf, dass in der vorgestellten Saison tatsächlich ungefähr ein Viertel der Spiele unentschieden endete. Herr Tolan hätte auch einfach die tatsächliche Häufigkeit der Unentschieden in der Saison in seine Simulation stecken können, dann hätte auf beiden Seite die exakt gleiche Zahl gestanden. Es ist natürlich ein verwerflich schlechter Gedanke, dass er das deshalb nicht gemacht hat, weil eine leichte Abweichung, wie sie jetzt da steht, viel überzeugender und wissenschaftlicher aussieht. Auch wenn der Zahlenwert überhaupt gar nichts mit der eigentlichen Simulation zu tun hat, weil der vorher schon feststand.</p>
<p align="justify">Das Ganze wird nicht dadurch besser, dass man noch zwei Fußballtabellen dagegenhält, ganz egal wie oft man das behauptet. Dass kann schon deshalb nicht sein, weil die Ähnlichkeit zweier Tabellen nichts über die zugrunde liegenden Ursachen aussagt. Nehmen wir als Beispiel die Ergebnisse einer Klausur. Die Einzelnoten sind, im idealisierten Fall, wie eine Glockenkurve verteilt. Jetzt simuliere ich die, indem ich Zufallszahlen um einen Mittelwert auswürfele und, siehe da, ich kriege ebenfalls eine vergleichbare Glockenkurve. Metin Tolan müsste daraus jetzt folgern, dass Klausurerfolg Zufall ist; und Numerator Holger Dambeck könnte einen Artikel schreiben, dass die Wissenschaft endlich bewiesen hat, dass Lernen und Bildung nichts bringt.</p>
<p align="justify">Das ist natürlich widersinnig, so widersinnig wie die Ergebnisse hier. Nur um das mal zusammenzufassen: Metin Tolan erstellt eine(!) Zufallstabelle, aus der er genau einen statistischen Wert berechnen kann &#8212; und der stimmt nicht nicht mit der Realität überein. Und Holger Dambeck zelebriert mit Metin Tolan die wissenschaftliche Beweisführung. Glückwunsch!</p>
<p align="justify">Dass an der Zufallsbehauptung nichts dran ist, sieht man nicht nur an der abweichenden statistischen Varianz, die immerhin sogar Tolan aufgefallen ist, wohlgemerkt als einzig erwähnte Abweichung zwischen Realität und Simulation. Dabei ist ohne pseudowissenschaftlichen Firlefanz viel entscheidender, dass jedes Jahr fast dieselben Mannschaften am Ende oben in der Tabelle stehen und man schon vor der Saison einen guten Tipp abgeben kann, wer wohl in den Abstiegskampf gerät. Reine Erfahrung allein sagt so schon aus, dass an dem Zufallsmodell nichts dran ist, so sehr der auch einzelne Spiele entscheiden kann. Dass dazu Spielergebnisse wie Endtabellen vor allem auch in psychologischer Dynamik entschieden werden, nicht statistisch, ist da nur noch eine Banalität. Gerade für einen Schalker.</p>
<p align="justify">Die Besprechung des Spielstärkemodells, dass in dem Artikel nur angedeutet wird, erspare ich mir. Die Illustration (Galerie 1, Bild 5) legt einige grobe Fehler nahe, die ich aber mangels Erläuterung nicht beweisen kann, unter anderem den, dass Spielstärke und resultierende Punktzahl unzulässig miteinander vermischt werden, obwohl das zwei grundsätzlich unterschiedliche Skalen sind, die eben nicht linear zusammenhängen. Es kann auch einfach sein, dass die enigmatische Beschreibung zu dem Bild einfach nur fehlerhaft ist.</p>
<p align="justify">Alles in allem ist der Artikel eine wunderbare Veranschaulichung, was passiert, wenn ein entsprechender Wissenschaftler auf einen entsprechenden Wissenschaftsjournalisten trifft [2]. Ein sehr inspirierter Artikel mit eingängiger Folgerung, die leider absoluter, durch nichts zu rechtfertigender Blödsinn ist, der aber bis zum Ende durchgehalten wird. Natürlich weiß ich auch, dass das ganze keine bierernste Wissenschaft ist. Aber selbst wenn man mit Wissenschaft unterhalten will und unter dem Anspruch arbeitet, habe ich wenig Toleranz für solche hanebüchen schlechte Artikel. Es war schließlich der 20. Februar, nicht der 1. April.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Metin Tolan eröffnet derweil seinen <a href="http://www.wissenslogs.de/wblogs/blog/querkraft/physik/2007-11-28/viele-tore-wenige-unentschieden">Wissenslogs-Blog</a> [3] mit einer Korrelation zwischen geschossenen Toren und der Wahrscheinlichkeit eines unentschiedenen Spielausgangs. Dass es eine Korrelation gibt, ist schon klar. Metin Tolan möchte aber gleich eine starke Korrelation feststellen (und wählt dazu das Beispiel des kausalen Zusammenhangs zwischen Wassertemperatur und Heizplatte), die zudem noch mathematisch exakt beschreibbar sein soll. Damit macht er aus einer relativ banalen Richtigkeit, die eines Physik-Dozenten wenig würdig erscheint, eine ungleich kompliziertere Falschheit. Herr Tolan und ich werden bestimmt noch sehr viel Spaß miteinander haben.</p>
<p align="justify">Im Übrigen scheint mein Verein immer zu verlieren, wenn ich den hier erwähne. Mit entsprechenden Simulationen lässt sich das aber bestimmt als Zufall entlarven. Oder einfach durch einen Sieg heute abend. Glück Auf!</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">[1] <font color="#808080">Die ganze Geschichte wird nicht besser dadurch, dass Metin Tolan ausgerechnet in Dortmund lehrt, dazu aber Stuttgart-Fan ist. Angesichts des Ausgangs der Saison 2007 ist das vermutlich nur ein weiteres Indiz für die durchgehend gottlose Schlechtigkeit dieser Welt.</font></p>
<p align="justify">[2] <font color="#808080">Tiefere persönlichere Bewertungen spar ich mir hier. Ich seh wesentlich weniger Schuld bei Holger Dambeck, aber Wissenschaftsjournalismus (eine Profession, die ich nicht beneide) erfordert nun mal eine gewisse kritische Beschäftigung mit dem Thema, auch wenn es den Artikel dann weniger aufregend macht &#8212; oder man am Ende den gar nicht schreiben kann, weil sich alles als heiße Luft herausstellt.</font></p>
<p align="justify">[3] <font color="#808080">Ich weiß, beabsichtigt ist vermutlich die Bezeichnung Wissenslog, aber für die Verwendung oder Etablierung von Markennamen bin ich nicht in der Stimmung.</font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
