<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>tuan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/tuan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "tuan"</description>
	<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 10:57:51 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Saatnya Menuai Cinta]]></title>
<link>http://reeleks.wordpress.com/2009/11/08/saatnya-menuai-cinta/</link>
<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 02:42:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>reeleks</dc:creator>
<guid>http://reeleks.wordpress.com/2009/11/08/saatnya-menuai-cinta/</guid>
<description><![CDATA[Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang hamba yang sangat lugu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang hamba yang sangat lugu &#8211; begitu lugu, hingga orang-orang menyebutnya si bodoh.</p>
<p>Suatu kali sang tuan menyuruh si bodoh pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih hutang para penduduk di sana. &#8220;Hutang mereka sudah jatuh tempo,&#8221; kata sang tuan.</p>
<p>&#8220;Baik, Tuan,&#8221; sahut si bodoh. &#8220;Tetapi nanti uangnya mau diapakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Belikan sesuatu yang aku belum punyai,&#8221; jawab sang tuan.</p>
<p>Maka pergilah si bodoh ke perkampungan yang dimaksud. Cukup kerepotan juga si bodoh menjalankan tugasnya; mengumpulkan receh demi receh uang hutang dari para penduduk kampung. Para penduduk itu memang sangat miskin, dan pula ketika itu tengah terjadi kemarau panjang.</p>
<p>Akhirnya si bodoh berhasil jua menyelesaikan tugasnya. Dalam perjalanan pulang ia teringat pesan tuannya, &#8220;Belikan sesuatu yang belum aku miliki.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa, ya?&#8221; tanya si bodoh dalam hati.</p>
<p>&#8220;Tuanku sangat kaya, apa lagi yang belum dia punyai?&#8221;</p>
<p>Setelah berpikir agak lama, si bodoh pun menemukan jawabannya. Dia kembali ke perkampungan miskin tadi. Lalu dia bagikan lagi uang yang sudah dikumpulkannya tadi kepada para penduduk.</p>
<p>&#8220;Tuanku, memberikan uang ini kepada kalian,&#8221; katanya.</p>
<p>Para penduduk sangat gembira. Mereka memuji kemurahan hati sang tuan.</p>
<p>Ketika si bodoh pulang dan melaporkan apa yang telah dilakukannya, sang tuan geleng-geleng kepala.</p>
<p>&#8220;Benar-benar bodoh,&#8221; omelnya.</p>
<p>Waktu berlalu. Terjadilah hal yang tidak disangka-sangka; pergantian pemimpin karena pemberontakan membuat usaha sang tuan tidak semulus dulu.</p>
<p>Belum lagi bencana banjir yang menghabiskan semua harta bendanya.</p>
<p>Pendek kata sang tuan jatuh bangkrut dan melarat. Dia terlunta meninggalkan rumahnya. Hanya si bodoh yang ikut serta. Ketika tiba di sebuah kampung, entah mengapa para penduduknya menyambut mereka dengan riang dan hangat; mereka menyediakan tumpangan dan makanan buat sang tuan.</p>
<p>&#8220;Siapakah para penduduk kampung itu, dan mengapa mereka sampai mau berbaik hati menolongku?&#8221; tanya sang tuan.</p>
<p>&#8220;Dulu tuan pernah menyuruh saya menagih hutang kepada para penduduk miskin kampung ini,&#8221; jawab si bodoh.</p>
<p>&#8220;Tuan berpesan agar uang yang terkumpul saya belikan sesuatu yang belum tuan punyai. Ketika itu saya berpikir, tuan sudah memiliki segala sesuatu. Satu-satunya hal yang belum tuanku punyai adalah cinta di hati mereka. Maka saya membagikan uang itu kepada mereka atas nama tuan. Sekarang tuan menuai cinta mereka.&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencari dan terus mencari cinta Ilahi]]></title>
<link>http://baitulrahmah.wordpress.com/2009/10/23/mencari-dan-terus-mencari-cinta-ilahi/</link>
<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 05:56:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>nas</dc:creator>
<guid>http://baitulrahmah.wordpress.com/2009/10/23/mencari-dan-terus-mencari-cinta-ilahi/</guid>
<description><![CDATA[Ada beberapa blog yang umi suka baca sebagai rujukan. Baik rujukan rumahtangga, penguasaan bahasa at]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ada beberapa blog yang umi suka baca sebagai rujukan. Baik rujukan rumahtangga, penguasaan bahasa at]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[tuan..............]]></title>
<link>http://baladdulur.wordpress.com/2009/10/11/tuan/</link>
<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 15:01:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>baladdulur</dc:creator>
<guid>http://baladdulur.wordpress.com/2009/10/11/tuan/</guid>
<description><![CDATA[TUAN october 8th, 2009 Tuan&#8230;&#8230;.. Sadarkah kami ada disini di dekatmu di pinggiran kali di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h1 style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#cc99ff;"><em><strong>T<span style="color:#ff6600;">U</span><span style="color:#0000ff;">A</span><span style="color:#00ff00;">N</span></strong></em></span></span></h1>
<h6 style="text-align:right;"><span style="color:#cc99ff;"><em><span style="color:#00ff00;"><span style="color:#000000;">october 8th, 2009</span><br />
</span></em></span></h6>
<p style="text-align:center;">Tuan&#8230;&#8230;..<br />
Sadarkah kami ada disini di dekatmu<br />
di pinggiran kali dibelakang rumah-rumah megahmu<br />
dibawah jembatan yang dilalui mobil-mobil mewahmu<br />
hidup berhimpitan dalam gemerlap penderitaan</p>
<p style="text-align:center;"><img class="alignnone size-full wp-image-38" title="hands" src="http://baladdulur.wordpress.com/files/2009/10/hands1.jpg" alt="hands" width="300" height="319" /></p>
<p style="text-align:center;">Tuan&#8230;&#8230;..<br />
Tahukah betapa mudahnya kami kelaparan<br />
betapa mudah kami diserang penyakit<br />
Kami berdendang dalam nyanyian kepedihan<br />
Bahkan sekedar nyenyak pun sulit</p>
<p style="text-align:center;">Tuan&#8230;&#8230;..<br />
sudahkah kau berikan hak kami<br />
hak kami sang fakir<br />
hak kami si miskin<br />
hak kami anak yatim</p>
<p style="text-align:center;">Tak banyak kami pinta<br />
Kami hanya membantu tuan<br />
Membersihkan harta tuan<br />
menambah amal tuan<br />
memanjangkan rizki tuan</p>
<p style="text-align:center;">Tuan&#8230;&#8230;&#8230;<br />
Hanya syukur kami panjatkan</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[What On Earth Is a "Supreme" Grandmaster Anyway?]]></title>
<link>http://filipinofightingsecretslive.com/2009/09/30/what-on-earth-is-a-supreme-grandmaster-anyway/</link>
<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 18:04:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>thekuntawman</dc:creator>
<guid>http://filipinofightingsecretslive.com/2009/09/30/what-on-earth-is-a-supreme-grandmaster-anyway/</guid>
<description><![CDATA[Is this a cat who used to train with Diana Ross in Motown, or something? Is it that grown men&#8211;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Is this a cat who used to train with Diana Ross in Motown, or something?</p>
<p>Is it that grown men&#8211;FREE men&#8211;calling another man &#8220;Master&#8221; isn&#8217;t enough? You need to lower yourself and grovel even <em>lower</em>?</p>
<p>Is it that having your butt kissed by your students isn&#8217;t enough? Don&#8217;t let me get graphic here, guys.</p>
<p>The FMAs have become so mainstream, it&#8217;s disgusting. Let alone that we no longer have the natural-born killers representing our arts like we did 20, 30 years ago. We have degenerated to self-promoting ranks, selling teaching certificates, promising students that they will be unbeatable in &#8220;10 seminars (ahem, <em>easy lessons</em>) or less&#8221;!  Our arts are now &#8220;too deadly for tournaments&#8221; and now we have to listen to the same garbage we use to laugh at being spewed by our own masters and many of you feel obligated to defend it!</p>
<p>Come on now, big boy&#8230; you don&#8217;t really believe that your master is undeafeated in 100 death matches, do you? See if you can get him to spar ONE &#8220;bloody nose&#8221; match with me, will you? Oh, he&#8217;s old and I&#8217;m young. Okay, since you are the one holding his jockstraps, and plan to be the &#8220;inheritor&#8221; of his system, why don&#8217;t you fight me in a light contact, friendly match?</p>
<p>Oh, I see. Your grandmaster is a direct descendant of Lapu Lapu. His art is 8 generations old. Okay, name each successive grandmaster/grandfather going back 4 generations.</p>
<p>These guys will tell you that their art goes back 9 generations, but they can&#8217;t name their great, great grandfather. Come on!</p>
<p>Instructorship in the FMAs use to be a graduation. Once you&#8217;ve learned an art, you knew it, and your rank depended on your skill level and knowledge base. Now, it is a level with titles and numbers (6th degree Black Belts). People ran out of numbers to give themselves&#8211;I actually met a guy who told me his Great-Grandmaster was a 15th degree Black Belter (whew!)&#8211;and titles, so now they are reaching for more things to call themselves. Heck, next these guys will start calling themselves the &#8220;Pope of Arnis de Mano&#8221;, or &#8220;Great Grandma Guro&#8221;. This is getting out of hand!</p>
<p>When my guys have learned my art all the way through, they will know more than I did when I first opened my school because I have had 18 years of knowledge more than I did at 22. They should be better than I was because they had more classmates than I did. They deserve to be more than just my Instructor-level student; <span style="text-decoration:underline;">they deserve to be my peer</span>. And that&#8217;s the reason for these higher numbers and lofty ranks. Teachers want to remain superior, despite that they no longer can do what they use to, and that their Black Belt students will be better than they ever were, and that&#8217;s just plain wrong. What says more about a teacher:  His best students are still lesser skilled than they are at 40 or 50? Or his best students surpasses his own abilities?</p>
<p>May I suggest, brothers and sisters, that the best Master should be able to produce students who become better than the Master himself. I am 40, I have arthritis. Two weekends ago I performed 100 pushups&#8211;which is a basic requirement of my advanced students&#8211;and I ached for nearly 7 days, when I use to do that as a part of a regular workout. By contrast, my advanced Kuntaw students do this regularly as a <em>warm-up</em>. I blistered last week when I threw 1,000 strikes with my sticks (yet I was shooting for 2,500&#8230; remember the &#8220;Challenge&#8221; article?). 1,000 hits use to be a demo I performed for students complaining about 500 hits! I am a shadow of who I was, as are most men calling themselves &#8220;Master&#8221; and &#8220;Grandmaster&#8221; or more. Still, it is ego that makes some men accept this fact and still shoot for more power and arrogance, and cease to strive for improvement.</p>
<p>My Grandfather once said that a man&#8217;s fighting career should end in his 30s, when he begins his teaching career, then becomes a master in his 40s, when his peers begin to consider him a master. But he must continue to hone and improve his skills until his body quits, and this would be in his late 50s and 60s. My Grandfather could still spar at 78, and he never adopted the title of Grandmaster. I&#8217;ve seen only a few old men who could compare to him at an advanced age, yet most Masters with fewer abilities and younger years dare to make up titles like &#8220;Supreme Great Grandmaster&#8221; and stuff like that?</p>
<p>The FMA way of doing business just perplexes me, and we are going by the way of Big Business Tae Kwon Do with the ranks, multi-level marketing schemes and de-emphasis on skill development and testing. When men make up these crazy titles and wear them proudly and without shame, I know that my beloved FMAs have become the next Amway.</p>
<p>I believe that when a student graduates from the Advanced Level, he should have two or three more levels to aim for:  the Expert level&#8211;when he has learned the entire art and can utilize the art with great effectiveness;  the Teacher level&#8211;when he has attained an entire fighting career worth of his own fighting experiences as well as <span style="text-decoration:underline;">supervised</span> teaching experience; and if you decide to (I don&#8217;t), a Senior Teacher level&#8211;which is your political/business/social status level (which I believe any rank higher than a 3rd Degree Black Belt is anyway). There is no need to test at those levels; you&#8217;ve seen what they can do in class and on the mat. I would hold a presentation ceremony and <em>maybe </em>a demonstration, but nothing more is necessary.</p>
<p>I had always been taught that the title &#8220;Master&#8221; was to be bestowed not by an organization or by oneself, but by the community you belong to. I had two significant  experiences with  the title Master around 10 years ago, and I believe that teachers should achieve it this way, rather than to pay for certification. The first was shortly after my arrival to California, when I was still on the tournament circuit and making friends among the instructors. A few times when I had visited a school, I would be introduced to students as &#8220;Master Gatdula&#8221;. This is aligned with the saying that teachers become masters when the community recognizes you as one. The second was at Manong Leo Giron&#8217;s school and house, when he and Grandmaster Vince Tinga introduced me to another teacher from the Bay as &#8220;Master&#8221; Gatdula. When I suggested that I was just a teacher, Manong Leo said, &#8220;you are a master because I <em>say</em> you are one&#8230;&#8221; Vince Tinga introduced me to the community as his nephew, and adopted my school as family (he actually taught in my school 7 days a week for nearly 2 years before his death). This is how one becomes a master, not through some ceremony.</p>
<p>Like I said in my previous articles, return to basics. Train yourself, train your students, give them plenty of opportunity to prove their sklls to you and themselves. Don&#8217;t try to make money off them forever. Give your students the respect they deserve and give your art the respect it deserves. Don&#8217;t pimp your martial arts. If you want to pimp something, throw 24s on your ride, put some bass in your trunk, but leave the arts and our traditions alone.</p>
<p>Thank you for reading my blog, please come back and check with us often!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[64. Tuan Jadi-Jadian]]></title>
<link>http://sangnata.wordpress.com/2009/09/07/64-tuan-jadi-jadian/</link>
<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 14:25:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>sugiarno</dc:creator>
<guid>http://sangnata.wordpress.com/2009/09/07/64-tuan-jadi-jadian/</guid>
<description><![CDATA[64. Tuan Jadi-Jadian Menjadi tuan? Hmm, tentu sangat menyenangkan. Tinggal perintah kepada para kacu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>64. Tuan Jadi-Jadian</p>
<p>Menjadi tuan? Hmm, tentu sangat menyenangkan. Tinggal perintah kepada para kacung, para embok, para bawahan, para pembantu, para pegawai, dan semua beres. Sementara para pembantu bekerja keras, tuan tinggal ongkang-ongkang kaki sambil main facebook, atau selonjor di kursi malas sembari nonton bola, atau berlibur ke manca negara, atau melakukan sesuatu yang lain, yang menyenangkan hati tentunya.</p>
<p>Tuan yang dimaksud dalam tulisan ini bukan tuan seperti yang digambarkan di atas. Di INDONESIA, tuan tidak bisa mendadak menjadi tuan, apalagi langsung menjadi tuan besar. Untuk menjadi tuan, perlu perjuangan dengan membuka lahan kehidupan terlebih dahulu. Artinya, tuan harus belajar menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Ketika tangan /tenaganya sudah tidak mencukupi tuntutan, tuan akan mengambil pekerja. Dengan begitu, jadilah ia seorang tuan kecil. Entah, pada generasi ke berapa, tuan kecil baru akan bisa menjadi tuan besar. Tanpa itu, maka yang muncul adalah tuan jadi-jadian. </p>
<p>Saat ini, jenis tuan yang disebut belakangan ini bejibun jumlahnya. Namanya juga tuan jadi-jadian, maka hasil kerjanyapun asal jadi. Kalaupun bagus, maka sebenarnya itu adalah hasil kerja para kacungnya, para emboknya, para bawahannya, para pembantunya, para pegawainya yang diakui sebagai hasil kerja si tuan jadi-jadian. Mereka sudah terbiasa mengkitakan  kami, mengkamikan kita, mengkamikan saya, mensayakan kami, dan bahkan tidak jarang tanpa malu sampai mensayakan kita.</p>
<p>Tuan jadi-jadian ada di semua lini kehidupan, tampilan mereka pun beragam. Modal mereka untuk menjadi tuan hanya mantera sakti yang berupa selembar ijasah, makin tinggi ijazah yang dipegang makin saktilah dia. Jika dibarengi dengan tambahan modal /uang, ijasahnya menjadi semakin sakti. Apalagi jika bisa menambahkan dengan sedikit koneksi, maka jadilah tuan jadi-jadian semakin sakti mandraguna. </p>
<p>Tuan jadi-jadian bisa menyihir hutan yang luas membentang menjadi padang ilalang. Dia juga bisa menyulap lahan persawahan nan subur menjadi pabrik /komplek pertokoan yang gemerlap. Dia pun juga bisa berada pada banyak tempat pada satu waktu. Bahkan, dia pun mampu menghabiskan jatah makan dua, tiga, empat orang lain. Pendek kata, tuan jadi-jadian sangat pintar, sangat hebat, dan nyaris tanpa tanding.</p>
<p>Namanya juga berhadapan dengan tuan jadi-jadian, maka para kacung, para embok, para pembantu, para bawahan, para pegawai, dan seterusnya harus pandai-pandai memberikan sesaji agar dia berkenan. Tanpa itu, dia akan marah dan bisa menggigit. Kondisi semacam itu  akan sangat menakutkan dan sangat menyakitkan.</p>
<p>Saya percaya 100%, Anda bukan tuan jadi-jadian. Swear &#8211;maaf keliru, suer!<br />
Wallahualam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FIGUR BAPA]]></title>
<link>http://bethanygtm.wordpress.com/2009/09/05/figur-bapa/</link>
<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 16:00:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>bethanygtm</dc:creator>
<guid>http://bethanygtm.wordpress.com/2009/09/05/figur-bapa/</guid>
<description><![CDATA[Sabtu, 5 September 2009 Bacaan : Efesus 6:1-9 6:1. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Sabtu, 5 September 2009</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Bacaan : </span><a title="SABDAweb Efesus 6:1-9" href="http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2009/09/05/#SABDAweb#SABDAweb"><span style="color:#000000;">Efesus 6:1-9</span></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:1. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:2 Hormatilah ayahmu dan ibumu&#8211;ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"> FIGUR BAPA</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Salah satu penyebab terbesar rusaknya generasi ini adalah karena mereka tidak mendapatkan figur bapa. Jika figur bapa dipulihkan, maka generasi ini juga akan mengalami pemulihan. Dalam buku Father&#8217;s Connection karya Josh McDowell, ada sebuah data yang sangat menarik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Pertama, Dr. Loren Moshen menemukan bahwa sebagian besar pelanggaran hukum yang dilakukan remaja dan pemuda sebenarnya bukan karena kemiskinan, tetapi karena ketidakhadiran ayah. Mereka tidak memiliki figur bapa. Kedua, 60% gadis remaja yang dibesarkan tanpa ayah, cenderung melakukan hubungan seks sebelum menikah. Ketiga, hampir sebagian besar hidup manusia dipengaruhi oleh orangtua. Jika dibesarkan dengan kecaman, anak jadi suka mencela. Jika dibesarkan dalam permusuhan, anak jadi suka bertengkar. Jika orangtua tak pernah mendukung, anak jadi minder dan tak percaya diri. Dan sebagainya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Jika anak kita bertumbuh menjadi anak yang nakal, suka memberontak, bahkan melakukan tindakan-tindakan kriminal, yang pertama kali mesti dikoreksi bukanlah mereka, melainkan kita. Terlebih dulu kita perlu menjawab pertanyaan ini, &#8220;Apakah kita sudah menjadi figur bapa yang baik bagi mereka?&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Mungkin selama ini kita frustrasi mengubah sikap anak kita yang buruk. Sampai-sampai kita merasa gagal mendidik mereka. Kini, izinkan Roh Kudus membuka mata rohani kita, sehingga kita bisa lebih dulu berkomitmen untuk berubah. Agar kita dapat menjadi orangtua yang tak hanya berteori, tetapi memberi teladan hidup yang baik. Orangtua yang bijak dan punya integritas. Orangtua yang mampu membuat hati anak-anak bangga memiliki kita! -PK</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">KETIKA FIGUR BAPA DALAM DIRI KITA DIPULIHKAN</p>
<p>ANAK-ANAK KITA JUGA PASTI MENGALAMI PEMULIHAN!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Sumber : </span><a href="http://www.sabda.org/"><span style="color:#000000;">www.sabda.org</span></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Redhalah ummi dengan kehilangan ini...]]></title>
<link>http://baitulrahmah.wordpress.com/2009/08/10/redhalah-ummi-dengan-kehilangan-ini/</link>
<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 03:18:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>nas</dc:creator>
<guid>http://baitulrahmah.wordpress.com/2009/08/10/redhalah-ummi-dengan-kehilangan-ini/</guid>
<description><![CDATA[Khamis, 6 Ogos Pendarahan yang tidak berhenti. Batuk Man dah reda tapi berjangkit pada Am pulak. Mak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Khamis, 6 Ogos Pendarahan yang tidak berhenti. Batuk Man dah reda tapi berjangkit pada Am pulak. Mak]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vietnam: unexploded air bombs, shells and mines ]]></title>
<link>http://dprogram.net/2009/08/01/vietnam-unexploded-air-bombs-shells-and-mines/</link>
<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 22:49:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>sakerfa</dc:creator>
<guid>http://dprogram.net/2009/08/01/vietnam-unexploded-air-bombs-shells-and-mines/</guid>
<description><![CDATA[Vietnam War came to a halt over 30 years ago but the aftermath will tell for another 300 years -[I]t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Vietnam War came to a halt over 30 years ago but the aftermath will tell for another 300 years -[I]t]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mari umi kenalkan pada dunia]]></title>
<link>http://baitulrahmah.wordpress.com/2009/07/21/mari-umi-kenalkan-pada-dunia/</link>
<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 03:21:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>nas</dc:creator>
<guid>http://baitulrahmah.wordpress.com/2009/07/21/mari-umi-kenalkan-pada-dunia/</guid>
<description><![CDATA[Malam tu adalah acara kemuncak program yang kami sertai. Makan malam di Hotel Istana. Itulah kali pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Malam tu adalah acara kemuncak program yang kami sertai. Makan malam di Hotel Istana. Itulah kali pe]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kepada yang mendewai]]></title>
<link>http://jerujimati.wordpress.com/2009/07/01/kepada-yang-mendewai/</link>
<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 07:16:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>jerujimati</dc:creator>
<guid>http://jerujimati.wordpress.com/2009/07/01/kepada-yang-mendewai/</guid>
<description><![CDATA[Teruntuk tangisan sepanjang malam sepanjang hari Bertuturlah dengan segala yang telah ada. Ketika me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><em>Teruntuk tangisan sepanjang malam sepanjang hari</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bertuturlah dengan segala yang telah ada. Ketika merasa bahwa yang lain takada. Bahkan mimpi pun terwujud ketika peluh kering oleh ketakutan. Tuntutan. Sebelumnya mungkin tertidur –keyakinan taksedikit ambil peran-, sebelum benar-benar tahu apa itu angka dan berkata-kata. Melangkah pun masih gontai dalam engahan nafas pula. Ah, berani juga meng-aku-diri. Menampak kaca. Membusung jejak. Seberapa sanggup jika sekadar aku-diri. Congkak, toh tanpa angin debu-debu tak ‘kan berhamburan. Mengekor saja pada ketidaktahuan serba taktentu. Serasa benar-benar mata sebagai sebuah bola. Berputar ke segala arah. Mengintip. Menguntit. Lalu menyalin bersegera. Otak ditimang dalam laguan “nina bobok”. Terjaga, lalu berjalan dengan kelumpuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam lumpur pula kerbau bersembunyi. Busuk tak terperi dalam kucuran air mata tuan pada setiap pori. Menengadah ketika tuan terkapar dalam merdeka. Dera-derita sudah menjadi bahan pertimbangan, mendarah daging bagi tuan. Tuan benar tahan. Kerbau angkat bendera. Di tangan tuan, senjata berselimut darah. Pematang bukan lagi tepat untuk berpijak, bahkan menjingkat. Lumpur jadi pematang atau pematang bermunggah Lumpur? Keduanya kerbau punya kerja. Dengan cita dan rencana, tuan pulang dalam lenggang takterberi arti. Menimba sumur. Bermandi lumpur. Seketika deru-menderu, sorak-sorai. Kerbau mengarak pawai. Dalam Lumpur, lagi tuan menimba sumur.</p>
<p style="text-align:justify;">Nyatalah terjaga. Mimpi buruk siapa ingin punya. Sementara dunia tak sekadar tempurung. Luas dalam mata, tak muat dalam pikiran. Setelah dada bengkak menahan air mata, kini membusung dalam tumpangan. Kasihan akan ketidaksadaran yang tidak berkesudahan pula. Meng-iya saja, biar semakin telanjang ada-nya. Biar sadar makna tanda tanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkoarlah. Teriakkan bahwa dunia sudah ditangan. Telah ambil bagian dalam kuasa. Teruslah, teruslah ingat dan jangan sampai lupa. Bau-mu telah dimiliki semua orang. Sebentar lagi katarak bercampur nanah. Nikmati saja. Satu tanya kau binasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat kepada dewa.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[39. Menanti Tuan di Depan Pintu]]></title>
<link>http://sangnata.wordpress.com/2009/06/12/menanti-tuan-di-depan-pintu/</link>
<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 13:31:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>sugiarno</dc:creator>
<guid>http://sangnata.wordpress.com/2009/06/12/menanti-tuan-di-depan-pintu/</guid>
<description><![CDATA[MENANTI TUAN DI DEPAN PINTU Pada tulisan yang lain ada saya sebut Pegawai Negara. Siapakah mereka? M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>MENANTI TUAN DI DEPAN PINTU</p>
<p>Pada tulisan yang lain ada saya sebut Pegawai Negara. Siapakah mereka? Mereka ada di jalur birokrasi (Kelompok I) dan ada yang di jalur rakyat (Kelompok II). Masalahnya sekarang adalah siapa itu gen murni dari kelompok I dan siapa pula gen murni dari kelompok II? Gen murni kelompok I adalah mereka yang sejak start Proklamasi, 17 Agustus 1945 berada di dalam kelompok I, begitu pula dengan gen murni kelompok II adalah mereka yang sejak start tersebut berada di dalam kelompok II.</p>
<p>Padahal, saat negara ini memproklamirkan diri, pemegang kedaulatan belum berada di tangan bangsa ini. Bukankah penyerahan kedaulatan dari tangan Belanda baru terjadi pada 27 Desember 1949?</p>
<p>Oleh karena itu, pengertian gen murni pun berkembang menjadi siapa yang saat itu berada dalam kelompok I menjadi gen murni kelompok I dan siapa yang saat itu berada pada kelompok II menjadi gen murni kelompok II (1). </p>
<p>Dalam perkembangan selanjutnya, negara /pemerintah membuka lembaga-lembaga baru di berbagai sektor kehidupan. Mereka yang berasal dari kelompok I karena faktor x berhijrah ke kelompok II (2). Pada saat lain, mereka dari  kelompok II berbondong-bondong pindah ke dalam kelompok I (3).</p>
<p>Dari tiga macam rentetan kejadian di atas, akhirnya dapat dijelaskan bahwa gen murni kelompok I adalah : Pertama, mereka yang sejak 27 Desember 1949 telah berada di dalam kelompok I. Kedua, mereka yang berasal dari kelompok II yang mendapat tugas membuka “lembaga baru” yang disediakan oleh negara /pemerintah pada lahan I. </p>
<p>Sedangkan gen murni kelompok II adalah : Pertama, mereka yang sejak 27 Desember 1949 telah berada di dalam kelompok II.  Kedua, mereka yang berasal dari kelompok I yang memanfaatkan lahan baru yang dibuka oleh negara /pemerintah pada lahan II –dalam hal ini, misalnya ikut program transmigrasi khusus (?).</p>
<p>Dengan demikian : Mereka yang pada saat  start awal masa transisi berada dalam kelompok I namun tidak memenuhi salah satu syarat gen murni kelompok  tersebut  maka, mereka tidak dapat dipandang sebagai gen murni kelompok I. Mereka inilah sebenarnya yang disebut Pegawai Negeri, dan Peraturan Pemerintah tentang pensiun layak ditetapkan kepada mereka. Gen murni kelompok I memiliki status kepegawaian yang lain /lebih tinggi. Mereka adalah Pegawai Negara bukan hanya sekedar pegawai  negeri  biasa.</p>
<p>Dengan demikian, pola waris lahan kehidupan di lahan I hanya dapat diterapkan pada Pegawai Negara tersebut dan oleh karena itu pegawai negara tidak mendapatkan pensiun. Sejalan dengan hal itu, maka, jika selama ini sebagian gajinya dipotong untuk dana pensiun maka harus dikembalikan …., kecuali jika atas kemauan sendiri yang bersangkutan ikut Taspen.</p>
<p>Dari situ timbul dua buah pertanyaan mendasar : Pertama, mengapa Pegawai Negeri tidak dapat mewariskan lahan kehidupannya? Pembaca yang budiman, “membuka” lahan baru tidak dapat disamakan sulitnya dengan  “mengerjakan” di atas lahan yang sudah ada. </p>
<p>Dalam contoh yang paling sederhana, membuka lahan pertanian baru (yang dikerjakan para transmigran) jauh lebih sulit daripada menanami lahan pertanian saat lahan (baca : sawah, atau ladang) telah terbuka. </p>
<p>Pada yang pertama, macam kendala tak terhingga banyaknya mulai dari “kayu-kayu” yang malang-melintang tak karuan, akar-akar yang masih kokoh tertancap, teknik memindah kayu, teknik membongkar akar bercokol sampai “hewan” buas dan berbahaya, teknis menghalau hewan buas,  dan sebagainya. Sedangkan pada yang kedua, kendala memang ada, dan penghalang itu hanyalah berupa teknis  belaka. </p>
<p>Dalam konteks yang lebih dalam, bisa jadi ada yang berpendapat lain, mengisi kemerdekaan tidak lebih gampang daripada merebut kemerdekaan. Pernyataan itu benar dan tepat sepanjang “isi” yang hendak dimasukkan ke dalam “wadah” kemerdekaan belum ada. Jadi, jika “isi” sudah ada, dan  “wadah”  telah tersedia, lantas di mana letak sulitnya? </p>
<p>Masalahnya akan sangat lain, jika wadah “merdeka” sudah ada sementara “isi” yang hendak dimasukkan masih harus  “mengambil” dari “sumur tetangga”, apalagi … timbanya tidak tersedia! Maka akan terasa sangat sulit. Atau mungkin, sekalipun timbanya ada. Namun,  bolong.</p>
<p>Kedua, mengapa Pegawai Negara tidak mendapatkan pensiun? Sebagai “pemilik lahan” maka saat lahan telah diwariskan maka sudah barang pasti status kepemilikannya berpindah kepada keturunannya, atau kalau lahan kehidupannya dijual maka akan berpindah kepemilikannya kepada si pembeli. Lantas,  siapa yang memberinya pensiun? negara /pemerintah? Mana mau negara  /pemerintah merugi. Dalam hal ini, harus dibedakan antara hak Taspen dengan hak pensiun. </p>
<p>Pembaca mungkin akan mengajukan pertanyaan lain, bukankah lahan kehidupan tersebut milik negara?  Pembaca memang benar adanya, jangankan lahan kehidupan. Bahkan bumi, air, dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara (ayat 3, pasal 33, UUD 1945).</p>
<p>Masalahnya, bukankah sejak awal lahan kehidupan tersebut sudah dibagi secara adil? Lahan pertanian /sawah adalah milik petani, lahan perdagangan  /pasar dikuasai pedagang, lahan pendidikan /sekolah merupakan tempat mencari rezeki bagi guru, rumah sakit untuk dokter, pondok pesantren untuk para ulama, asrama /markas untuk militer, dan sebagainya. </p>
<p>Marilah, kita belajar kepada alam. Bagaimanapun, ikan hanya dapat hidup dengan tenang di air, burung-burung akan terbang bebas di angkasa, harimau akan menjadi raja saat di hutan, dan sebagainya. Kalaulah sesekali, mereka meninggalkan habitatnya pastilah ada sesuatu yang dicari, dan saat yang dicari telah diketemukan, bukankah mereka akan kembali ke habitat aslinya? Mengapa, manusia tidak mau belajar kepada mereka? Mereka yang tidak memiliki akal budi saja tidak merebut lahan hidup makhluk lain, mengapa manusia  sebagai makhluk yang  “sempurna” berebut lahan kehidupan? Salah yang mengatur ataukah salah yang diatur? Jika salah yang mengatur, berarti kesalahan ada pada sistem.  Namun, jika kesalahan ada pada yang diatur, itu berarti hanya ada satu kata kunci jawaban, tamak!</p>
<p>Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa  “aparatur negara” –bukan pejabat negara&#8211; dibedakan menjadi dua macam, yaitu :  Pegawai Negara dan Pegawai Negeri. Dari sini, muncul sebuah pertanyaan, siapa Pegawai Negara? dan siapa pula Pegawai Negeri? </p>
<p>Pegawai Negara terdiri dari dua angkatan, yaitu : Angkatan pertama  adalah mereka  yang pada 27 Desember  1949 telah berada dalam struktur birokrasi. Sedangkan angkatan kedua yaitu mereka yang mendapat tugas dari negara /pemerintah  membuka “lembaga baru” yang disiapkan oleh negara.</p>
<p>Dari sini muncul sebuah pertanyaan mendasar, setelah membuka lembaga baru, apa yang dikerjakan? Setelah membuka lembaga maka yang bersangkutan berkewajiban “mengerjakan” lembaga tersebut. Berapa lama? Bukankah –misal&#8211; perang kemerdekaan saja ada masanya? Jadi, untuk membuka “lembaga baru” -pun  harus ada “batas masa” –nya. Kapan dikatakan sebagai “masa membuka” dan kapan dikatakan sebagai “masa mengerjakan”. </p>
<p>Menurut saya, ada patokan yang dapat dipergunakan sebagai dasar perhitungan, yaitu : 1. Wajib Belajar Pendidikan Dasar 6 Tahun  yang  telah  ditetapkan  oleh Presiden Suharto pada 2 Mei 1984; 2. Wajib Belajar  Pendidikan Dasar  9 Tahun  yang  juga  telah ditetapkan oleh Presiden Suharto sepuluh tahun kemudian, 2 Mei 1994.</p>
<p>Dalam hal ini, mungkin pembaca bertanya, apa hubungan antara “lembaga baru” dengan wajib belajar? Pembaca,  jika makna tersurat yang dibaca maka wajib belajar memang hanya akan berlaku pada bidang pendidikan. Padahal, lahan kehidupan bukan hanya ada pada pendidikan. Namun, jika makna tersirat dapat kita tangkap maka cakupan wajib belajar tersebut sangat luas. </p>
<p>Misalnya, wajib belajar kesehatan, wajib belajar hukum, dan sebagainya, yang kesemuanya akan berujung pada  “pembukaan lembaga baru”, misalnya: a. Pada bidang kesehatan berupa pembukaan Puskesmas baru; b. Pada bidang militer berupa pembukaan Koramil baru; c. Pada  bidang  pendidikan berupa universita  /fakultas  /sekolah  baru; d. dan lain-lain.</p>
<p>Dengan demikian, maka “periode” untuk membuka lahan baru dapat dikelompokkan menjadi tiga periode, yaitu : Periode pertama, dimulai  pada 27 Desember 1949  dan diakhiri 2 Mei 1984 (25 tahun); Periode kedua, antara 2 Mei 1984 s.d. 2 Mei 1994 (10 tahun); Periode ketiga, antara 2 Mei 1994 s.d. …</p>
<p>Dari ketiga periode pembukaan lahan baru, hanya periode kedua yang telah memilki batasan yang jelas, yaitu Wajib Belajar 6 Tahun. Sedangkan untuk periode pertama belum ada, begitu pula dengan yang ketiga. Untuk itu, mari, kita hitung!<br />
Jika :<br />
a. Periode kesatu : 27 &#8211; 12 &#8211; 1949 s.d. 2 &#8211; 05 &#8211; 1984 = 24 th. 04 bl.05 hari<br />
    Wajib Belajar yang ditetapkan p<br />
b. Periode kedua : 02 – 05 &#8211; 1984 s.d. 02 – 05 &#8211; 1994 = 10 tahun<br />
   Waktu yang diperlukan  = a + b = 34 th. 04 bl. 05 hari<br />
   Wajib Belajar 6 Tahun, 6 tahun dimisalkan q<br />
c. Periode  ketiga : 02 – 05 – 1994  s.d. …<br />
    Wajib Belajar 9 Tahun, 9 tahun dimisalkan r<br />
Maka :<br />
	(24 th. 04 bl. 05 hari : 34 th. 04 bl. 05 hari )   x  q  = p<br />
	   (7 : 10)    x  q  = p</p>
<p>Substitusikan :<br />
	 (7   : 10)       x 6  = p<br />
             4,2 = p    &#8211;&#62;  4 th = p  (dibulatkan)</p>
<p>Dengan demikian, pada periode pertama “berlaku” Wajib Belajar 4 Tahun  &#8211;yang meskipun tidak pernah dikumandangkan oleh Presiden Soekarno. Tidak dikumandangkannya wajib belajar bukan berarti menafikan kewajiban untuk belajar. Bukankah, pada dasarnya wajib belajar itu seumur hidup? Jadi, komando wajib belajar tersebut hanyalah bentuk formal dari sebuah perintah.</p>
<p>Ini berarti  “masa membuka lembaga baru” ada tiga periode serta  dapat dikelompokkan sebagai berikut :  Periode kesatu :  27  Desember  1949  s.d.  2  Mei 1984  masa membuka lembaga baru adalah 4 tahun;  Periode kedua  : 2 Mei 1984 s.d. 2 Mei 1994 masa membuka lembaga baru  adalah 6 tahun; Periode  ketiga : 2 Mei 1994 s.d. … masa membuka lembaga baru adalah 9 tahun.  Periode ketiga ini akan berakhir, kelak pada saat pemerintah    mengumandangkan  adanya Wajib Belajar 12 Tahun  &#8211;entah, kapan.</p>
<p>Dengan berakhirnya “masa membuka” maka yang bersangkutan barulah memasuki “masa mengerjakan”.  Pembaca yang budiman, “Pengabdian selama masa membuka itulah yang dijadikan tiket untuk mendapatkan status sebagai Pegawai Negara”. </p>
<p>Bisa jadi muncul pertanyaan, bukankah selama “masa membuka” yang bersangkutan mendapatkan gaji? Dan, penulis balik bertanya, bukankah selama tanah garapan belum menghasilkan &#8211;dalam konteks serupa&#8211;  para transmigran juga mendapatkan biaya hidup dari negara /pemerintah? Dan, bukankah sesudah itu, lahan pertanian /tanah garapan tersebut menjadi milik mereka?</p>
<p>Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Pegawai Negara angkatan kedua tersebut aterdiri dari tiga gelombang, yaitu :</p>
<p>a. Gelombang  pertama, periode 27 Desember 1949 s.d. 2 Mei 1984. Misalnya, pada lembaga x adalah : (1) Mereka yang mendapat tugas membuka lembaga x dan mampu bertahan  ≥ 4 tahun; (2) Mereka yang mendapat tugas di lembaga x sebelum lembaga tersebut genap berusia 4 tahun dan bertahan  ≥ 4 tahun.</p>
<p>b. Gelombang kedua, periode 2 Mei 1984 s.d. 2 Mei 1994. Misalnya, pada lembaga y adalah : (1) Mereka yang mendapat tugas membuka lembaga y dan mampu bertahan  ≥  6 tahun; (2) Mereka yang mendapat tugas di lembaga y sebelum lembaga tersebut  genap berusia 6 tahun dan bertahan ≥ 6 tahun.</p>
<p>c. Gelombang ketiga, periode 2 Mei 1994 s.d. …  Misalnya, pada lembaga z adalah :<br />
(1) Mereka yang mendapat tugas membuka lembaga z pada periode ini dan mampu bertahan  ≥ 9 tahun;   (2)  Mereka yang mendapat tugas di lembaga z sebelum lembaga tersebut berusia 9 tahun dan bertahan ≥ 9 tahun.	</p>
<p>Dengan pola seperti terurai di atas maka akan terjaring Pegawai Negara yang sampai saat ini “keberadaan dan pengertiannya masih tumpang tindih” dengan Pegawai Negeri. Pegawai Negara inilah sebenarnya gen murni birokrasi (rakyat birokrasi). </p>
<p>Dari sini timbul pertanyaan, apakah ini bukan merupakan perlakuan diskriminatif terhadap sesama aparat?  Perlu dicatat bahwa tidak semua Pegawai Negeri bersedia untuk mengemban misi membuka lembaga baru. Jadi, mirip saat revolusi, tidak semua rakyat bersedia mengangkat senjata, yang berkolaborasi dengan musuh banyak, yang skeptis juga banyak.</p>
<p>Hal ini dikarenakan beberapa faktor. Pertama, lembaga baru pada umumnya terletak di daerah yang relatif sulit dan belum terjangkau “kemajuan”.  Kedua, lembaga baru masih sarat dengan kekurangan. Ibarat tumbuhan, mereka adalah lumut yang masih harus menghancurkan batuan. Ibarat lahan pertanian, mereka masih harus mencetak sawah baru, menyiapkan pematang, membuat saluran irigasi, mendirikan dangau, dan sebagainya. Padahal, pada saat yang bersamaan, lembaga baru tersebut juga harus memberikan pelayanan kepada publik. Dengan kata lain, ke bawah membangun basic dan ke atas memberikan servis. Kondisi seperti ini jelas sangat tidak menarik. Sungguh berbeda dengan lembaga yang sudah memiliki basic, pengelola lembaga ini hanya tinggal melanjutkan perjuangan pendahulu lembaga tersebut dalam memberikan pelayanan kepada publik.</p>
<p>Dengan berakhirnya “masa membuka” maka dengan sendirinya lembaga tersebut memasuki “masa mengerjakan”. Dengan demikian, sebagai contoh, seandainya si fulan TMT 1 April 1985 mendapat tugas di sebuah lembaga yang didirikan pada 1 Agustus l984 dan ia bertahan sampai tujuh tahun maka : a. 1 April 1985 s.d. 30 Maret 1991 adalah “masa membuka”  &#8211;6 tahun; b. 1 April 1991 s.d. 30 Maret 1992 adalah “masa mengerjakan” &#8211;1tahun</p>
<p>Sekali lagi, “masa membuka” itulah tiket untuk mendapatkan kursi sebagai Pegawai Negara. Padahal, menjadi Pegawai Negara berarti pemilik lahan “infra struktur” di dalam negara. Urusan di lembaga mana, bidang apa, di mana, semua itu tergantung pada profesionalis masing-masing. Sebab, bisa saja mereka ada pada dunia militer, dan bisa juga ada di dunia sipil. Mereka adalah sel dari sebuah tangan negara. </p>
<p>Sedangkan Pegawai Negeri adalah alat dari sebuah tangan negara. Jadi, Pegawai Negara merupakan bagian dalam dari struktur negara itu sendiri. Sedangkan Pegawai Negeri merupakan alat negara (bagian luar struktur negara). Dari itu, status kepegawaian di antara keduanya selayaknya berbeda, yang pertama lebih tinggi dari yang kedua, oleh karena itu hak merekapun berbeda.</p>
<p>Dengan begitu, kelak : (1) Jika  keturunan Pegawai Negara akan masuk ke  dalam struktur, tidak ada yang dapat menghambatnya, sepanjang orangtuanya  telah mengundurkan diri –seperti anak petani mengerjakan sawah orangtuanya. Dan, ini tergantung pada keahlian keturunan Pegawai Negara tersebut. Disitulah akan terbukti kebenaran bahwa pahlawan berjuang sampai tetes darah yang terakhir; (2) Jika ada keturunan pendiri “lahan kehidupan” yang karena satu dan lain hal tidak dapat mencari nafkah,  maka yang bersangkutan masih dapat membiayai hidupnya dengan warisan leluhurnya. Dengan demikian, kehormatan dia dan kehormatan leluhurnya dapat terjaga. Nah, disitulah bukti nyata dari ucapan,    “Bangsa yang besar adalah bangsa  yang dapat menghargai jasa pahlawannya”</p>
<p>Mengingat ada dua angkatan Pegawai Negara dengan dua medan juang yang berbeda bobot perjuangannya –yang pertama mengangkat senjata menghalau penjajah, yang kedua mengangkat kapur tulis menghalau kebodohan /mengangkat jarum suntik menghalau penyakit /mengangkat palu menghalau ketidak-adilan, dsb. &#8211;maka adalah wajar jika penghargaan yang mereka terima pun berbeda. Saham generasi pertama lebih tinggi daripada generasi kedua, di sana ada darah dipertaruhkan. Konsekuensi dari perbedaan besar saham mereka adalah adanya perbedaan besar pokok gaji mereka. </p>
<p>Dengan melihat pokok gaji seorang Pegawai Negara, maka akan terlihat seberapa besar “saham” yang telah ditanamkan leluhurnya. Yang jelas, sebagai pemilik lahan, Pegawai Negara itulah yang berhak untuk menentukan siapa yang layak untuk duduk pada sebuah jabatan struktural. Peluang ini, tentu saja akan terbuka lebar bagi yang memiliki “saham” besar. Dalam sebuah “perusahaan” hal semacam itu wajar terjadi. Namun dalam hal “negara” maka manjadi tidak wajar. Di situlah perlunya dewan penasihat. Oleh karena itu, jika memungkinkan, hendaknya dewan ini benar-benar terisi oleh para profesional.</p>
<p>Pola ini akan menggiring Pegawai Negara untuk “tahu diri”. Ada tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik leluhur. Sebagai pemilik lahan, mereka akan dituntut untuk mengoptimalkan mutu perjuangan yang telah dirintis oleh leluhurnya. Kemunduran mereka tak ubahnya mencoreng nama baik leluhurnya sendiri. </p>
<p>Bagi Pegawai Negeri, modal mereka hanya berupa keahlian, sementara keahlian semacam yang mereka miliki itu, di luar struktur  birokrasi, luar biasa banyaknya. Mereka tidak pernah menanamkan sahamnya. Oleh karena itu, jangan macam-macam, jangan nakal-nakal dalam bekerja, tahu dirilah!! </p>
<p>Dari sini muncul pertanyaan, siapa Pegawai Negara dan siapa Pegawai Negeri itu? Pegawai Negara dapat berada di jalur sipil dan dapat juga berada di jalur militer. Selanjutnya, untuk memudahkan pembahasan, mereka yang berada di jalur sipil disebut Aparatur Negara Sipil (ANS), sedangkan yang berada di jalur militer disebut Aparatur Negara Militer (ANM). </p>
<p>Sedangkan Pegawai Negeri pun ada dua macam, yang satu berada pada jalur sipil, untuk selanjutnya disebut Pegawai Negeri Sipil (PNS). Satunya lagi berada di jalur militer dan untuk selanjutnya disebut Pegawai Negeri Militer (PNM). </p>
<p>ANS dan PNS dapat tersebar di seluruh perangkat birokrasi sipil di negara ini, dari level terendah sampai tertinggi. Sedangkan ANM maupun PNM bisa berada pada ketentaraan maupun kepolisian. Jadi, perbedaan antara pegawai negara dengan pegawai negeri  hanya status ke-”pegawaian”-nya. Oleh karena beda status, maka akan berbeda pula haknya dan kewajibannya.</p>
<p>Pegawai Negara (ANS dan ANM) angkatan pertama telah purna tugas, angkatan kedua pun mulai menyusul. Satu persatu, mereka mundur dari medan juang karena faktor usia. Masalahnya, siapakah ahli waris  dari Pegawai Negara?  </p>
<p>Mereka adalah semua anak /keturunan yang sah dengan jumlah yang sesuai dengan peraturan kala itu. Dengan demikian, ada dua kelompok besar, yaitu : Pertama,  mereka yang belum terkena peraturan 2 (dua) orang anak.  Kedua, mereka yang sudah terkena peraturan 2 (dua) orang anak. </p>
<p>Maka dari itu, pada segmen pertama masa transisi, F1 /F11 /Fn dari pegawai negara tersebut harus dicari dan didata. Pada segmen kedua, mereka akan dilatih dan dibimbing dengan intensif. Merekalah pewaris sah dari lahan kehidupan yang telah dibangun orangtua mereka. Dalam hal ini, kedudukan Pegawai Negeri (baik PNS maupun PNM) sebagai wali  &#8211;“anak”  yang belum cukup umur. </p>
<p>Sedangkan pada segmen ketiga, mereka mulai magang, dan untuk selanjutnya menerima “lahan kehidupan” warisan pendahulunya. Kalaupun mereka canggung di awal-awal masa pasca transisi itu adalah hal yang wajar, mereka terlalu lama terlunta-lunta di “luar sana”. Adalah menjadi tugas kita semua –khususnya para wali&#8211;“membimbing”  mereka. </p>
<p>Dengan masa magang yang cukup, penulis rasa, mereka siap untuk masuk dalam barisan  dan mampu menyesuaikan langkah dengan barisan yang telah ada.</p>
<p>Pertanyaannya, di mana posisi Pegawai Negeri saat pasca transisi? Pembaca yang budiman, dengan jiwa ksatria, seandainya mereka berada pada jabatan struktural, maka tidak ada kata lain selain mundur. Kursi yang mereka duduki ternyata milik orang lain.  Kecuali, jika keahliannya masih diperlukan karena sangat spesifik.</p>
<p>Dari sini terlihat betapa sangat pentingnya memberi kesempatan tumbuh kepada birokrasi, baik secara infra struktur (aparatur) maupun secara struktur (kelembagaan) pun juga terlihat betapa tingginya negara memberikan penghormatan kepada para pendahulunya yang telah merintis lahan kehidupan. Jadi, tidak sekedar ucapan “Terima kasih, Pahlawan &#8211;Setelah itu, pergilah karena aku mau tempatmu!”.  </p>
<p>Sesungguhnya, telah cukup lama tuan berdiri di depan pintu. Mereka melihat dengan mata telanjang perilaku anak tetangga yang ”pencilakan” di rumahnya.<br />
Saya sempat berpikir, ”Apakah Anda adalah tuan yang saya tunggu?”<br />
Wallahualam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MULTITASKING]]></title>
<link>http://bethanygtm.wordpress.com/2009/06/02/multitasking/</link>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 16:00:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>bethanygtm</dc:creator>
<guid>http://bethanygtm.wordpress.com/2009/06/02/multitasking/</guid>
<description><![CDATA[Selasa, 2 Juni 2009 Bacaan : Matius 6:19-24 6:19. &#8220;Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#000000;"><strong>Selasa, 2 Juni 2009</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Bacaan : <a title="SABDAweb Matius 6:19-24" href="http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2009/06/02/#SABDAweb">Matius 6:19-24</a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:19. &#8220;Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6:24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;">MULTITASKING</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Teknologi komputer menawarkan kemungkinan multitasking: kita bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus di layar monitor. Kita, misalnya, bisa menulis artikel sambil memperbarui status di Facebook, chatting, memeriksa kabar terbaru di situs berita, dan menonton video di YouTube. Pertanyaannya: benarkah kita melakukan semua itu sekaligus? Mungkin saja kita dapat meloncat dari satu tugas ke tugas lain secara cepat, tetapi pikiran kita sebenarnya hanya bisa berfokus dan berkonsentrasi pada satu tugas setiap kali.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Begitu juga dengan pengabdian kita. <!--more-->Pengabdian berarti menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai fokus kehidupan kita. Ketika Yesus mengatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan sekaligus, berarti kita hanya bisa mengabdi kepada satu tuan-Allah atau mamon. Mamon berarti harta kekayaan, tetapi secara umum dapat diartikan sebagai segala sesuatu di dunia ini yang kita anggap penting. Jadi, Yesus menegaskan bahwa pengabdian kita kepada Allah harus total, tidak terbagi-bagi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Siapakah tuan atas diri kita? Siapa yang mengontrol kehidupan kita? Allah atau hal-hal lain-uang, karier, hobi, kecemasan, kecemburuan, amarah? Dapatkah kita berkata jujur bahwa Allah benar-benar menjadi fokus pengabdian kita? Atau, kita mencoba melakukan multitasking dengan menyembah Allah pada hari Minggu, dan disibukkan oleh hal-hal lain pada hari-hari berikutnya? Kita dapat melakukan tes sederhana untuk mengujinya: perkara yang paling menyita pikiran, waktu, dan energi kita, itulah tuan kita &#8211;ARS</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;"><strong>KITA HANYA BISA MENGABDI KEPADA TUHAN</strong></span></p>
<p><strong>DENGAN SEPENUH HATI ATAU TIDAK SAMA SEKALI</strong></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Sumber : www.sabda.org</strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peran Para Rasul]]></title>
<link>http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/05/29/peran-para-rasul/</link>
<pubDate>Thu, 28 May 2009 17:56:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ahmad Haes</dc:creator>
<guid>http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/05/29/peran-para-rasul/</guid>
<description><![CDATA[Bila  seorang  tuan  menghukum pelayannya  sebelum memberitahu  apa  yang  disukai dan  tidak  disuk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a rel="attachment wp-att-815" href="http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/05/29/peran-para-rasul/prophet2/"><img class="alignleft size-full wp-image-815" src="http://ahmadhaes.wordpress.com/files/2009/05/prophet2.jpg" alt="" width="244" height="313" /></a>Bila  seorang  tuan  menghukum pelayannya  sebelum memberitahu  apa  yang  disukai dan  tidak  disukainya,  maka tindakan itu jelas tidak benar dan tidak adil. Begitulah juga gambaran  hubungan  Tuhan dengan hamba-hambaNya. Bila Tuhan menghukum kita  (karena Ia berhak berbuat demikian) tanpa lebih  dulu memberikan  bimbingan,  maka itu akan membatalkan  sebutannya sebagai Yang Mahaadil.  Manusia tentu akan memprotes:      &#8220;Kami tidak  diberi tahu mana yang benar  dan salah,  mengapa   tiba tiba kami disalahkan?&#8221;</p>
<p>Karena   itulah  Allah mengutus para  rasul  untuk memimpin  kita,   sehingga kita tak punya lagi  dalih     untuk memprotes.</p>
<p>Firmannya dalam Al-Quran:</p>
<p><em> Bila  Allah mengazab mereka sebagai hukuman sebelum  mengutus rasul,  mereka tentu akan mengajukan bantahan: &#8220;Wahai  Tuhan, mengapa engkau tidak mengirim rasul kepada kami sehingga kami dapat   mengikuti   perintah-perintahmu,  agar   kami tidak menderita malu seperti sekarang ini.&#8221; <!--more--></em></p>
<p>Firmannya pula:</p>
<p><em> Kami tidak menghukum suatu kaum sebelum kami mengutus seorang rasul kepada mereka.&#8221;<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em></p>
<p>Para  rasul diutus bukan hanya untuk berperan sebagai  utusan. Mereka adalah para duta Allah. Siapa pun  yang menjauhkan  diri  dari mereka berarti menjauhkan diri dari  Allah, dan  barangsiapa yang  mendekatkan   diri   kepada   mereka berarti  mendekatkan   diri  kepada  Allah.  Kepatuhan   dan kesetiaan   terhadap  rasul berarti kepatuhan  dan  kesetiaan terhadap Allah.  Sebaliknya, pembangkangan terhadap  mereka berarti pembangkangan  terhadap Allah.</p>
<p>Seseorang bisa  setia terhadap rajanya,  tapi  bila  ia  menolak  patuh  terhadap pejabat yang  telah   dipilih   raja,  berarti   ia  menolak perintah  rajanya  sendiri, karena kepatuhan kepada sang pejabat sama artinya dengan   ke patuhan yang ditujukan langsung kepada sang raja. Ini digambarkan dengan baik oleh Imam Razi:</p>
<p><em>Orang yang menolak nabi dan rasul Allah</em></p>
<p><em>tetap tinggal dalam kemalangan</em></p>
<p><em>karena terhalang untuk mengenal Allah.</em></p>
<p>Ambil  contoh orang-orang Kristen.  Mereka melakukan  kesalahan  dengan tidak menyadari peran Nabi Isa. Ini  menyebabkan  mereka  bingung tentang Tuhan,  dan dalam  konsep  bahwa Tuhan  itu  satu tapi tiga, tiga tapi satu.  Sejarah  menjadi saksi  bahwa bila manusia melupakan ajaran rasul, atau melupakan status rasul,  maka mereka diputuskan dari kenyataan oleh filsafat-filsafat dan konsep-konsep tanpa dasar. Ajaran rasul adalah  landasan  tempat tegaknya bangunan  keagamaan.  Ambil satu   tiang, maka bangunan itu akan miring. Goncang  fondasinya,  maka seluruh bangunan bergoyang.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Surat Al-Isra ayat 15.  (AH)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kemasukan ke SRI Al-Amin, Gombak (2)]]></title>
<link>http://baitulrahmah.wordpress.com/2009/05/06/alamin2/</link>
<pubDate>Wed, 06 May 2009 08:21:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>nas</dc:creator>
<guid>http://baitulrahmah.wordpress.com/2009/05/06/alamin2/</guid>
<description><![CDATA[Lanjutan daripada posting ummi tentang SRI Al-Amin. Abah balik dari KL bawa berita. Katanya, anak ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Lanjutan daripada posting ummi tentang SRI Al-Amin. Abah balik dari KL bawa berita. Katanya, anak ka]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Grethel yang Cerdik]]></title>
<link>http://lakersx6.wordpress.com/2009/05/03/grethel-yang-cerdik/</link>
<pubDate>Sun, 03 May 2009 11:20:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>†h3 y458m™</dc:creator>
<guid>http://lakersx6.wordpress.com/2009/05/03/grethel-yang-cerdik/</guid>
<description><![CDATA[Grethel yang Cerdik Dahulu kala ada seorang tukang masak yang bernama Grethel yang suka memakai sepa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_25" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://lakersx6.wordpress.com/files/2009/04/17-grethel-yang-cerdik-01.jpg"><img class="size-full wp-image-25" title="17-grethel-yang-cerdik-01" src="http://lakersx6.wordpress.com/files/2009/04/17-grethel-yang-cerdik-01.jpg" alt="Grethel yang Cerdik" width="448" height="153" /></a><p class="wp-caption-text">Grethel yang Cerdik</p></div>
<p>Dahulu kala ada seorang tukang masak yang bernama Grethel yang suka memakai sepatu bertumit merah, yang ketika keluar rumah selalu merasa bebas dan memiliki perasaan yang sangat baik. Ketika dia kembali ke rumah lagi, dia selalu meminum segelas anggur untuk menyegarkan diri, dan ketika minuman anggur tersebut memberi nafsu makan kepadanya, dia akan memakan makanan yang terbaik dari apapun yang dimasaknya hingga dia merasa cukup kenyang. Untuk itu dia selalu berkata &#8220;Seorang tukang masak harus tahu mencicipi apapun&#8221;.</p>
<p>Suatu hari tuannya berkata kepadanya &#8220;Grethel, saya menunggu kedatangan tamu pada malam ini, kamu harus menyiapkan sepasang masakan ayam&#8221;.<br />
&#8220;Tentu saja tuan&#8221; jawab Grethel. Lalu dia memotong ayam, membersihkannya dan kemudian mencabuti bulunya, lalu ketika menjelang malam, dia memanggang ayam tersebut di api hingga matang. Ketika ayam tersebut mulai berwarna coklat dan hampir selesai dipanggang, tamu tersebut belum juga datang.</p>
<p>&#8220;Jika tamu tersebut tidak datang cepat&#8221; kata Grethel kepada tuannya, &#8220;Saya harus mengeluarkan ayam tersebut dari api, sayang sekali apabila kita tidak memakannya sekarang justru pada saat ayam tersebut hampir siap.&#8221; Dan tuannya berkata dia sendiri akan berlari mengundang tamunya. Saat tuannya mulai membalikkan badannya, Grethel mengambil ayam tersebut dari api.</p>
<p>&#8220;Berdiri begitu lama dekat api,&#8221; kata Grethel, &#8220;membuat kita menjadi panas dan kehausan, dan siapa yang tahu apabila mereka akan datang atau tidak! sementara ini saya akan turun ke ruang penyimpanan dan mengambil segelas minuman.&#8221; Jadi dia lari kebawah, mengambil sebuah mug, dan berkata, &#8220;Ini dia!&#8221; dengan satu tegukan besar. &#8220;Satu minuman yang baik sepantasnya tidak disia-siakan,&#8221; dia berkata lagi &#8220;dan tidak seharusnya berakhir dengan cepat,&#8221; jadi dia mengambil tegukan yang besar kembali. Kemudian dia pergi keatas dan menaruh ayam tadi di panggangan api kembali, mengolesinya dengan mentega. Sekarang begitu mencium bau yang sangat sedap, Grethel berkata, &#8220;Saya harus tahu apakah rasanya memang seenak baunya,&#8221; Dia mulai menjilati jarinya dan berkata lagi sendiri, &#8220;Ya.. ayam ini sangat sedap, sayang sekali bila tidak ada orang disini yang memakannya!&#8221;</p>
<p>Jadi dia menengok keluar jendela untuk melihat apakah tuan dan tamunya sudah datang, tapi dia tidak melihat siapapun yang datang jadi dia kembali ke ayam tersebut. &#8220;Aduh, satu sayapnya mulai hangus!&#8221; dan berkata lagi, &#8220;Sebaiknya bagian itu saya makan.&#8221; Jadia dia memotong sayap ayam panggang tersebut dan mulai memakannya, rasanya memang enak, kemudian dia berpikir,</p>
<p>&#8220;Saya sebaiknya memotong sayap yang satunya lagi, agar tuanku tidak akan menyadari bahwa ayam panggang tersebut kehilangan sayap disebelah.&#8221; Dan ketika kedua sayap telah dimakan, dia kembali melihat keluar jendela untuk mencari tuannya, tetapi masih belum juga ada yang datang.</p>
<p>&#8220;Siapa yang tahu, apakah mereka akan datang atau tidak? mungkin mereka bermalam di penginapan.&#8221;Setelah berpikir sejenak, dia berkata lagi &#8220;Saya harus membuat diri saya senang, dan pertama kali saya harus minum minuman yang enak dan kemudian makan makanan yang lezat, semua hal ini tidak bisa disia-siakan.&#8221; Jadia dia lari ke ruang penyimpanan dan mengambil minuman yang sangat besar, dan mulai memakan ayam tersebut dengan rasa kenikmatan yang besar. Ketika semua sudah selesai, dan tuannya masih belum datang, mata Grethel mengarah ke ayam yang satunya lagi, dan berkata, &#8220;Apa yang didapat oleh ayam yang satu, harus didapat pula oleh ayam yang lain, sungguh tidak adil apabila mereka tidak mendapat perlakuan yang sama; mungkin sambil minum saya bisa menyelesaikan ayam yang satunya lagi.&#8221; Jadi dia meneguk minumannya kembali dan mulai memakan ayam yang satunya lagi.</p>
<p>Tepat ketika dia sedang makan, dia mendengar tuannya datang. &#8220;Cepat Grethel,&#8221; tuannya berteriak dari luar, &#8220;tamu tersebut sudah datang!&#8221; &#8220;Baik tuan,&#8221; dia menjawab, &#8220;makanan tersebut sudah siap.&#8221; Tuannya pergi ke meja makan dan mengambil pisau pemotong yang sudah disiapkan untuk memotong ayam dan mulai menajamkannya. Saat itu, tamu tersebut datang dan mengetuk pintu dengan halus. Grethel berlari keluar untuk melihat siapa yang datang, dan ketika dia berpapasan dengan tamu tersebut, dia meletakkan jarinya di bibir dan berkata, &#8220;Hush! cepat lari dari sini, jika tuan saya menangkapmu, ini akan membawa akibat yang buruk untuk kamu; dia mengundangmu untuk makan, tetapi sebenarnya dia ingin memotong telingamu! Coba dengar, dia sedang mengasah pisaunya!&#8221;</p>
<p>Tamu tersebut, mendengarkan suara pisau yang diasah, berbalik pergi secepatnya. Dan Grethel berteriak ke tuannya, &#8220;Tamu tersebut telah pergi membawa sesuatu dari rumah ini!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Apa yang terjadi, Grethel? apa maksud mu?&#8221; dia bertanya.</p>
<p>&#8220;Dia telah pergi dan membawa lari dua buah ayam yang telah saya siapkan tadi.&#8221;</p>
<div id="attachment_26" class="wp-caption aligncenter" style="width: 347px"><a href="http://lakersx6.wordpress.com/files/2009/04/17-grethel-yang-cerdik-02.jpg"><img class="size-full wp-image-26" title="17-grethel-yang-cerdik-02" src="http://lakersx6.wordpress.com/files/2009/04/17-grethel-yang-cerdik-02.jpg" alt="Tamu Kabur" width="337" height="336" /></a><p class="wp-caption-text">Tamu Kabur</p></div>
<p>&#8220;Itu adalah sifat yang buruk!&#8221; kata tuannya, dia merasa sayang pada ayam panggang tersebut; &#8220;dia mungkin mau menyisakan satu untuk saya makan.&#8221; Dan dia memanggil tamunya dan menyuruhnya untuk berhenti, tetapi tamu tersebut seolah-olah tidak mendengarnya; kemudian tuannya tersebut mulai berlari mengejar tamunya dengan pisau masih ditangan dan berteriak,&#8221;hanya satu! hanya satu!&#8221; dia bermaksud agar tamu tersebut setidak-tidaknya memberikan dia satu ayam panggang dan tidak membawa kedua-duanya, tetapi tamu tersebut mengira bahwa dia menginginkan satu telinganya, jadi dia berlari semakin kencang menuju kerumahnya sendiri.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Should I?]]></title>
<link>http://baitulrahmah.wordpress.com/?p=943</link>
<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 08:51:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>nas</dc:creator>
<guid>http://baitulrahmah.wordpress.com/?p=943</guid>
<description><![CDATA[I don&#8217;t know. Today and for the past few days, asyik nak marah jer. Tak kena sikit, marah. Nak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[I don&#8217;t know. Today and for the past few days, asyik nak marah jer. Tak kena sikit, marah. Nak]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mapping: remembering, making place]]></title>
<link>http://designingauthenticity.wordpress.com/2009/02/26/mapping-remembering-making-place/</link>
<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 23:11:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>amritaraja</dc:creator>
<guid>http://designingauthenticity.wordpress.com/2009/02/26/mapping-remembering-making-place/</guid>
<description><![CDATA[After having read about Lynch’s identification of five characteristics of place (paths, edges, distr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>After having read about Lynch’s identification of five characteristics of place (paths, edges, districts, nodes and landmarks), I thought it might be interesting to try a mapping exercise with the class.  I gave my classmates an index card and asked them to draw their way from our studio in Burruss to the Au Bon Pain in Squires on the other side of campus; the results were quite interesting.</p>
<p>Of the six participants (and I’m excluding the professor, who drew another map – from Studio to GBJ), 3 used both the front and back of the index cards.  All drew in pen, 4 in black ink, 1 in red, 1 in blue.  Everyone drew stairs in some shape or form, 2 drew the stairs in elevation (interesting, since the readings note that it is easier for people to visualize themselves as aerial observers).</p>
<p>Paths: most individuals only drew a line as indicative of their trajectory, while a few also drew the paths that ran perpendicular to their own parcours, or paths they crossed along their way.</p>
<p>Edges: the Drillfield was defined as an edge condition in one drawing.  Buildings were treated as masses and edges.</p>
<p>Districts: the Drifllfield, treated as a mass, read as a district in the majority of the drawn maps.</p>
<p>Nodes: there were almost no nodes in these drawing, even though there are points along the way that are large intersections of pedestrian sidewalks; the only node noted on the majority of the drawings is the fork in the Drillfield (exit access to Prices Fork Road).</p>
<p>Landmarks: stairs and buildings were treated as landmarks; one individual noted what appear to be quads as landmarks, as well.</p>
<p>What I found even more interesting (as I tried to watch while I drew) was the order in which people drew their maps.  The readings noted that laying out a grid (working large) and then mapping a path (working small) was a sign of a more developed intellect – I am inclined to disagree (not just because I didn’t do it that way&#8230;).  Most people drew their landmarks, their edges, their guides, if you will, as they went. These are, mind you, all seniors and juniors in college, trained to think visually. And, they had all done the readings, so unless they wanted to be thought of as less intelligent, they veritably thought this process of drawing the map was the best way to express their intent!</p>
<p>I found the readings on Lynch to be most valuable to my thesis research, as well, since they attempt to pinpoint the way in which we remember place.  The readings mentioned Tuan, and I went back to my notes on Tuan’s Space and Place, which led me to some interesting notes about the relationship of the individual to place, particularly his note: “When space feels thoroughly familiar to us, it has become place.”  Implicit in this statement is the reading’s references to use and attachment – when people frequent a building, they are more likely to become attached to it (give it the moniker of place). So, as the reading notes, if hospitals are less likely to become places because people don’t frequent them (unless they have a chronic illness), and this is a condition applicable to a variety of places (anything that isn’t a First, Second or Third Place, really – post offices, gas stations, etc.) – what can we, as designers, do to make Tuan’s man “fall in love at first sight with a place as with a woman”? Must we live with spaces, or can any space become a place?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PRP - Part 3 - Horsing Around With Stem Cells ]]></title>
<link>http://repairstemcell.wordpress.com/2009/02/26/prp-part-3-horsing-around-with-stem-cells/</link>
<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 22:25:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>David Granovsky</dc:creator>
<guid>http://repairstemcell.wordpress.com/2009/02/26/prp-part-3-horsing-around-with-stem-cells/</guid>
<description><![CDATA[Rocky Tuan, chief of the Cartilage Biology and Orthopaedics Branch, holds a vial containing native k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Rocky Tuan, chief of the Cartilage Biology and Orthopaedics Branch, holds a vial containing native k]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PSSI dan Piala Dunia]]></title>
<link>http://aatavern.wordpress.com/2009/02/15/pssi-dan-piala-dunia/</link>
<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 00:19:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aa Tavern</dc:creator>
<guid>http://aatavern.wordpress.com/2009/02/15/pssi-dan-piala-dunia/</guid>
<description><![CDATA[Ribut-ribut akhir-akhir ini tentang PSSI yang mendaftarkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ribut-ribut akhir-akhir ini tentang PSSI yang mendaftarkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Seperti biasanya (salah satu hobi orang Indonesia) terjadi pro dan kontra. Ada yang merasa bangga, ada yang merasa ini cuma mimpi sampai ada pula yang merasa ini cuma akal-akalan Nurdin Halid untuk menyelamatkan posisinya sebagai ketua umum PSSI yang sedang digoyang karena dia sebagai eks napi.</p>
<p>Tapi dalam pandangan saya, walaupun saya sendiri agak setuju dengan pendapat tentang misi penyelamatan jabatan,<br />
upaya PSSI ini sebagai usaha instan untuk lolos ke Piala Dunia. Seperti pernah dibahas oleh seorang sosiolog, bahwa salah satu tipe bangsa ini adalah ketiadaan kemauan untuk bekerja dan lebih senang hal-hal instan. Walaupun itu harus menabrak rambu-rambu. Oleh karena itu korupsi di Indonesia sangat mengakar dan mendarah daging.</p>
<p>PSSI, yang telah mencanangkan lolos ke Piala Dunia 2022, sadar bahwa target itu tidak akan tercapai tanpa kerja keras. Tapi kemudian sifat khas itu muncul, daripada kerja keras mereka lebih suka cara instan.  Dan satu-satunya cara instan lolos ke Piala Dunia adalah dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia. Walaupun untuk mewujudkannya mesti menyengsarakan rakyat banyak.</p>
<p>Menyengsarakan rakyat banyak? Ya, dana yang sharusnya untuk memberi sekolah gratis, proyek pembangunan infrastruktur yang lebih penting akan dilarikan ke proyek stadion dan hotel-hotel mewah. Yang rakyat kecil tidak mungkin merasakan itu semua.</p>
<p>Sangat disayangkan PSSI tidak pernah sadar bahwa cara instan selalu gagal. Ingat Primavera dan saudara-saudaranya yang lain. Mana hasilnya? Sepakbola Indonesia tetap seperti ini-ini juga. Masih mending jika hanya teknik yang jeblok, mental juga ikut-ikutan jeblok. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hadis Jibril, Konsep Dasar Dinul-Islam (3)]]></title>
<link>http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/02/14/hadis-jibril-konsep-dasar-dinul-islam-3/</link>
<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 01:56:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ahmad Haes</dc:creator>
<guid>http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/02/14/hadis-jibril-konsep-dasar-dinul-islam-3/</guid>
<description><![CDATA[&quot;Cinta dunia (materialistis; hedonis; membela status quo) adalah biang segala kesalahan&quot; (]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">
<div id="attachment_130" class="wp-caption aligncenter" style="width: 360px"><img class="size-full wp-image-130" title="108" src="http://ahmadhaes.wordpress.com/files/2009/02/108.jpg" alt="&#34;Cinta dunia (materialistis) adalah biang segala kesalahan&#34; (Hadis)" width="350" height="231" /><p class="wp-caption-text">&#34;Cinta dunia (materialistis; hedonis; membela status quo) adalah biang segala kesalahan&#34; (Hadis)</p></div>
<p style="text-align:left;"><strong>As-sâ&#8217;ah</strong><br />
As-sâ&#8217;ah diajukan Jibril sebagai pertanyaan terakhir. Kalimat pertanyaannya menurut versi Umar adalah: Akhbirni &#8216;anis-sâ&#8217;ah (terangkan padaku tentang as-sâ&#8217;ah). Sementara dalam versi Abu Hurairah pertanyaan itu berbunyi: Mattas-sâ&#8217;ah (kapankah – tibanya –  as-sâ&#8217;ah). Dengan kata lain, konotasi kalimat versi Umar adalah mempertanyakan definisi (apa itu as-sâ&#8217;ah); sedangkan versi Abu Hurairah mempertanyakan momentum (kapan munculnya as-sâ&#8217;ah).<br />
Dalam berbagai kesempatan, ketika membahas atau menyinggung tentang as-sâ&#8217;ah, Isa Bugis cenderung mengutip kalimat versi Abu Hurairah itu (mattas-sâ&#8217;ah). Tapi, uraian yang dikemukakan ternyata berupa definisi.<!--more--><br />
Dengan merujuk surat Thaha ayat 15, dan mengambil kalimat إِنَّ السَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ  sebagai landasan, Isa Bugis mendefinisikan as-sâ&#8217;ah sebagai pendatangkan (maksud-nya sesuatu yang mendatangkan atau mengadakan). Pemaknaan ini, selain ganjil dari sudut bahasa Indonesia, juga kontradiktif dalam tinjauan sharaf. Isa Bugis meng-anggap kata âtiyatun/ءَاتِيَة sebagai subyek (ismul-fâ&#8217;il) dari kata kerja transitif (muta&#8217;addi). Padahal, kata kerja atâ – ya&#8217;ti/اتى- يأتى adalah kata kerja intransitif (lâzim) alias kata kerja tak berobyek, dan ini jelas tampak pada susunan ayatnya. Jadi, subyeknya, yaitu âtin/ءات bila lelaki (masculine gender) dan âtiyatun/ءاتية bila wanita (feminine gender) berarti  sesuatu yang datang (atau seseorang, bila yang datang adalah orang).<br />
Kemudian, entah bagaimana rumusnya, Isa Bugis menyebut as-sâ&#8217;ah dalam konteks Hadis Jibril itu sebagai manajemen.<br />
Namun, menghubungkan hadis itu dengan surat Thaha ayat 15 adalah tindakan tepat, karena keduanya saling mendukung:</p>
<p>إِنَّ السَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى</p>
<p>(Hai Musa) as-sâ&#8217;ah itu pasti (akan) datang. Aku hampir merahasiakannya, agar setiap manusia diberi ganjaran sesuai apa yang diperbuatnya (tanpa lebih dulu diberi tahu tentang akibat sebuah perbuatan).</p>
<p>Keterangan dalam ayat ini diberikan Allah setelah menyuruh Musa mengabdi kepadanya, dengan lebih dulu membentuk kesadaran dengan ajarannya, melalui proses shalat. Bila itu sudah dilakukan, maka as-sâ&#8217;ah (= saat, masa) untuk memetik hasilnya adalah sesuatu yang pasti datang. Tapi kapan? Bila pertanyaannya adalah momentum, Allah tidak menjawab. Tapi, bila yang dipertanyakan adalah apa yang bisa diwujudkan dengan menjalankan ajaran Allah, maka Allah memberikan penjelasan panjang-lebar kepada Musa, antara lain seperti yang terungkap dalam surat Thaha, yang tentu diungkapkan Allah dalam rangka mengajar Nabi Muhammad (dan umatnya).<br />
Musa dan Muhammad adalah rasulullah, yang bertugas menyampaikan ajaran Allah kepada manusia. Ketika Jibril bertanya tentang as-sâ&#8217;ah, apakah Nabi Muhammad tidak tahu jawabannya? Tentu sudah tahu! Selain itu, Jibril bertanya juga hanya sekadar bersandiwara (mengajar dengan metode tanya-jawab).<br />
Nabi Muhammad mengetahui jawaban tentang as-sâ&#8217;ah itu, antara lain, tentu melalui surat Thaha. Maka, caranya menjawab Jibril pun menjadi mirip dengan cara Allah menjawab Musa. Kata Allah kepada Musa, &#8220;Aku hampir merahasiakannya.&#8221; Berarti tidak benar-benar dirahasiakan. Kata Nabi kepada Jibril, &#8220;Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya. Tapi, akan kuberitahu tanda-tandanya.&#8221;<br />
Jelasnya, bicara as-sâ&#8217;ah adalah bicara tentang waktu. Adapun yang dimaksud adalah waktu tegaknya Dinul Islam sebagai sebuah konsep menjadi kenyataan. Besar kemungkinan istilah as-sâ&#8217;ah adalah ringkasan dari sâ&#8217;atul-qiyâmah, yang pengertiannya sama dengan yaumud-dïn (يوم الدين), yaumul-ba&#8217;tsi (يوم البعث), dsb.<br />
Jadi, as-sâ&#8217;ah sama dengan al-yaum(u). Artinya dalam bahasa Indonesia adalah masa; dalam bahasa Inggris period (periode). Sâ&#8217;atul-qiyâmah (lengkapnya: sâ&#8217;atul-qiyâmatid-dïni) berarti &#8220;masa tegaknya Dinul Islam&#8221;, begitu juga  yaumud-dïn dan yaumul-ba&#8217;tsi (al-ba&#8217;ts adalah sinonim dari al-qiyâmah).<br />
Selain sâ&#8217;ah dan yaum, kata lain yang juga sering digunakan dalam Al-Qurân adalah ajal (أجل), yang sayangnya selalu kita artikan sebagai saat kematian seseorang. Padahal, ajal secara umum berarti “peluang keberadaan (existence) segala makhluk Allah, sampai batas waktu tertentu”. Termasuk seorang manusia, sebuah bangsa, sebuah kebudayaan, dan juga sebuah sistem, semua mempunnyai peluang untuk lahir, berkembang, dan akhirnya mati.<br />
Dalam hal kesamaan maksud dari kata sâ&#8217;ah dan ajal, surat Al-&#8217;Ankabut ayat 5 memuat susunan kata yang mirip dengan surat Thaha di atas, dengan catatan di sini Allah menggunakan kata benda jenis lelaki (آتٍ), bukan perempuan (آتِيَةٌ):</p>
<p>مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ &#8230;</p>
<p>Siapa pun yang mengharapkan perwujudan (ajaran) Allah, maka ajal Allah (waktu yang ditentukan Allah) untuk itu pastilah akan datang…</p>
<p>Jelaslah bahwa pertanyaan tentang as-sâ&#8217;ah itu diajukan dalam konteks ajaran Allah dengan pembuktiannya. Sebagai suatu ilmu, ajaran Allah mengandung kemampuan (potensi) untuk mewujud nyata. Tapi hal itu baru bisa terjadi bila persyaratannya terpenuhi, yaitu adanya manusia-manusia yang ber-Islam (membentuk jama&#8217;ah), ber-Iman (menjadikan ajaran Allah sebagai pegangan hidup), dan ber-Ihsan (berbuat tepat sesuai ajaran).<br />
Perlukah disebutkan kapan waktunya?  Tidak. Sebab, waktu – seperti halnya ruang – adalah fasilitas yang sudah disediakan Allah. Sedangkan kemauan manusia untuk menjalankan ajaran Allah dengan sebaik-baiknya adalah urusan manusia sendiri. Tepatnya tinggal bagaimana manusia memanfaatkan segala fasilitas yang diberikan. Jadi, sekali lagi, mempersoalkan tentang waktu adalah tidak &#8216;nyambung&#8217; (relevan), walaupun dalam suatu perencanaan batas-batas waktu itu tentu bisa dipetakan.<br />
Karena itulah, dalam hadis versi Abu Hurairah, Nabi mengutip surat Luqman ayat 34:</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ</p>
<p>Hanya Allah yang menguasai ilmu tentang as-sâ&#8217;ah. (Dialah yang tahu kapan) akan menurunkan hujan dan apa yang terdapat dalam rahim. Sebaliknya, seorang manusia (siapa pun dia) tidak akan tahu apa yang terjadi besok, juga tidak akan tahu di belahan bumi mana dia akan mati. Hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu secara cermat.<br />
Inilah jawaban yang sangat jitu bagi setiap manusia yang cenderung ingin tahu tentang kapan sesuatu akan terjadi, yang mewakili sifat &#8216;ajulan (عجولا), alias ingin segera tahu hasil tanpa mengindahkan prosedur dan proses. Inilah sikap yang menjadi cikal-bakal kegagalan sebuah proyek! (Termasuk proyek penegakan Al-Quran!).<br />
Karena itu, kata Allah, &#8220;Aku hampir merahasiakannya (as-sâ&#8217;ah)&#8221;. Berarti tidak benar-benar dirahasiakan. Tegasnya, &#8217;separuh&#8217; dari rahasia itu dibongkar oleh Nabi dengan cara mengungkapkan tanda-tanda atau isyaratnya.<br />
Maka, daripada bicara tentang waktu – kapan tegaknya Dinul Islam, lebih baik bicara tentang tanda-tanda atau indikasinya, yang membuktikan Dinul Islam itu sudah tegak, di suatu masa, entah kapan! Selanjutnya, fokuskan perhatian, minat, harapan, dan obsesi pada pemenuhan syarat-syaratnya. Jangan berharap memetik buah tapi tidak mau berkebun.</p>
<p><strong>Indikasi tegaknya Dinul Islam</strong><br />
Salah satu tanda yang disebutkan Nabi adalah &#8220;seorang wanita budak melahirkan (anak) tuannya&#8221; (أن تلد الأمة ربّتها).<br />
Selama ini kita mendapat keterangan dari para kiai bahwa perkataan Nabi itu mengisyaratkan tentang keadaan suatu masyarakat yang sudah bejat, dan itu merupakan salah satu tanda bahwa kiamat sudah dekat; dan yang mereka maksud kiamat adalah kehancuran dunia.<br />
Padahal, melalui sebuah hadis dalam kitab Bukhari, Nabi menyatakan demikian:</p>
<p>عن أبى موسى قال قال رسول الله ص م : ثلاثة لهم أجران &#8230; رجول كان عنده أمة فأدّبها فأحسن تأديبها و علّمها فأحسن تعليمها ثمّ أعتقَها فتزوّجها فله أجران.</p>
<p>Menurut Abu Musa, Rasulullah pernah mengatakan, &#8220;Ada tiga golongan yang berhak mendapat dua imbalan … (Salah satunya adalah seorang lelaki yang memiliki budak wanita; kemudian dia mendidik budak itu sebaik-baiknya, dan mengajarinya (Al-Qurân) dengan sebaik-baiknya; setelah itu ia membebaskannya, dan kemudian menikahinya, maka lelaki itu mendapat dua imbalan.</p>
<p>Hadis ini memberikan jawaban gamblang mengapa seorang budak (pembantu) wanita bisa melahirkan anak tuannya. Kelahiran itu bukan terjadi melalui proses kehamilan haram, karena ia diperkosa tuannya, seperti yang sering digambarkan orang selama ini. Hadis ini justru mengisyaratkan tentang keadaan suatu masyarakat yang sudah mencapai tahap ketinggian moral.<br />
Budak wanita, dalam struktur masyarakat yang piramidal, adalah wakil dari lapisan masyarakat yang paling bawah dan lemah. Sementara tuannya tentu mewakili lapisan masyarakat tertinggi dan berkuasa. Tapi, itu hanya terjadi di masa sebelum Islam. Setelah Islam menjadi &#8220;etika masyarakat&#8221; (meminjam istilah Nurcholis Madjid), struktur piramidal itu ambruk. Orang Arab tidak lebih mulia dari non-Arab, kata Nabi. Kemuliaan manusia ditentukan oleh takwanya. Patuhilah pemimpin, meskipun dia (pada masa lalu) adalah seorang budak hitam.<br />
Jadi, perkataan Nabi itu merupakan isyarat bagi lenyapnya feodalisme dan diskriminasi dalam masyarakat sebagai akibat pengkelasan manusia dalam struktur piramidal. Ajaran Islam menghapuskannya bukan melalui pemaksaan, tapi melalui &#8216;revolusi&#8217; kesadaran. Perhatikan bahasa Nabi dalam hadis di atas! Perintah membebaskan budak tidak disampaikan dengan bahasa perintah, tapi melalui &#8216;rayuan&#8217;.<br />
Isyarat berikutnya, bahwa Dinul Islam sudah tegak, akan tampak pada sisi kehidupan yang lain. Kata Nabi, &#8220;Anda melihat orang-orang (yang semula) miskin, bertelanjang kaki dan badan, berlomba-lomba mendirikan gedung&#8221;  (وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشائ يتطاولون فى البنيان).<br />
Ini masih berkaitan dengan isyarat yang pertama. Bila yang pertama adalah gambaran tentang lenyapnya sistem piramidal (kasta) dalam masyarakat, maka berikutnya, bila struktur demikian sudah lenyap, lenyap pula &#8220;kemiskinan struktural&#8221;.<br />
Ingat! Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang terpaksa harus ditang-gung oleh golongan masyarakat bawah semata-mata karena mereka dilahirkan sebagai anggota masyarakat kelas bawah. Kemiskinan yang terlahir berkat jasa feodalisme dan kapitalisme! Biarpun mereka mempunyai fisik yang kuat dan otak yang cerdas, mereka akan tetap miskin, karena berbagai faktor &#8216;pengubah nasib&#8217; (pendidikan, pasar, kekuasaan, kesempatan dll) dikangkangi oleh golongan atas (kapitalis yang bersekongkol dengan feodalis). Hanya kehancuran sistem kelas (dan modal) itulah yang bisa mengubah nasib mereka.<br />
Kemudian, bila sistem kelas (dan modal) sudah tiada, apakah kemiskinan akan lenyap? Tentu tidak. Sebab, dalam masyarakat masih ada manusia-manusia yang memiliki kelemahan obyektif, misalnya cacat fisik/mental, yatim-piatu, jompo, dll. Tapi, keadaan mereka tidak akan terlantar, karena negara melalui sistem zakat menjamin kehidupan mereka, dan sesama anggota masyarakat memperlakukan mereka sebagai saudara.<br />
Dua hal itulah –  lenyapnya sistem piramidal dalam masyarakat dan hilangnya kemiskinan struktural – yang disebutkan Nabi sebagai tanda-tanda tegaknya Dinul Islam. Dengan kata lain, dua hal itulah target besar yang hendak dicapai dengan menjalankan organisasi bernama Dinul Islam.</p>
<p>(SELESAI)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[rahasia..]]></title>
<link>http://wanoer.wordpress.com/2009/01/18/rahasia/</link>
<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 04:51:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>wanoer</dc:creator>
<guid>http://wanoer.wordpress.com/2009/01/18/rahasia/</guid>
<description><![CDATA[selama suatu rahasia tersimpan aman dihatimu ,,maka kamulah tuannya dan kamu bisa menungganginya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>selama suatu rahasia tersimpan aman dihatimu ,,maka kamulah tuannya dan kamu bisa menungganginya&#8230;akan tetapi begitu kamu membukanya,,dialah yang akan menjadi tuanmu dan menunggangi kamu</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Amang Malang]]></title>
<link>http://permanas.wordpress.com/2009/01/08/amang-malang/</link>
<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 10:23:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>permanas</dc:creator>
<guid>http://permanas.wordpress.com/2009/01/08/amang-malang/</guid>
<description><![CDATA[“Selamat pagi, Mawar. Selamat pagi, Kupu Mimi, Selamat Pagi, Tuan Kumbang,&#8221; kata Kancil pagi i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“Selamat pagi, Mawar. Selamat pagi, Kupu Mimi, Selamat Pagi, Tuan Kumbang,&#8221; kata Kancil pagi i]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The New Decade]]></title>
<link>http://pantheraleo1982.wordpress.com/2009/01/05/the-new-decade/</link>
<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 14:33:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>pantheraleo1982</dc:creator>
<guid>http://pantheraleo1982.wordpress.com/2009/01/05/the-new-decade/</guid>
<description><![CDATA[Yeah, as you all know, it&#8217;s a whole new decade for us that use the Hijri ( Islamic ) calendar.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Yeah, as you all know, it&#8217;s a whole new decade for us that use the Hijri ( Islamic ) calendar. The 1430s are here! Here&#8217;s my plan for the whole decade : )</p>
<ul>
<li><strong>Suleiman The Lion : </strong>Write the entire series of Suleiman The Lion, beginning with <em>The Tiger Trail</em> followed by <em>Paw Prints In The Far East </em>( alternate name : <em>The Wolf King</em> ) and finally the finale currently titled <em>Trapped In The Amazon</em> along with the Suleiman The Lion II spin-off story <strong><em>Timur : King Of  The World</em></strong></li>
<li><strong>The Last Princess Of China : </strong>All it takes is inspiration. A story which I have already begun to research about, <em>The Last Princess Of China</em> will be a love story ( itself interesting since I&#8217;m not exactly enamored  in love stories ) which will be written in a pretty interesting alternate reality format. This story needs a whole lot of research as the story has pretty much zeroed in on specific years (1397 and 1398). One line from the story that I keep repeating in my head is the line that Timur (yeah, Timur/Tamerlane, he also appears in this story) says : <strong>&#8220;Your world falls at her feet&#8221;.</strong></li>
<li><strong>Get my PhD : </strong>You&#8217;re all gonna be calling me <strong>Dr. Darus</strong> before this decade is out! Get used to it!</li>
<li><strong>Get Stargate : Atlantis running again :</strong> One of the most wasted sci-fi stories ever, SGA is always let down by bad writing and shoddy CGI despite having great plots, wonderfully designed props and fantastic characters (except for Keller). I&#8217;m one of the millions of fans out there rooting for it to get back up and running.</li>
<li><strong>Run For Elected Office : </strong>Okay, so this might be a long-shot,since I have all the other things I&#8217;m up to. But hey, I am going to eventually end up as the Prime Minister of Malaysia, so I got to start somewhere right?</li>
<li><strong>Become a Civil Defense Officer : </strong>That&#8217;ll be <em>Tuan Darus</em> to you : ) After working my butt off saving people dead in the middle of the night, not to mention also overclocking my brains and probably frying some of my circuits (don&#8217;t worry, I&#8217;m still sane) doing my engineering stuff, I won&#8217;t settle for anything less than a rock (or <em>paku </em>or whatever funny name you can think of ) on each of my shoulders.</li>
<li><strong>Get married : </strong>Okay, this sounds a little bit to ordinary. Get married? <em>Biasa sangat la!</em> Maybe I should up the ante. How about getting married to <strong><em>four </em></strong>women from <em><strong>four different countries</strong></em>? Hmm..maybe I should just say that I have a death wish. But then again, we&#8217;re all gonna die anyway = )</li>
</ul>
<p>At this point, I can&#8217;t think of anything else right now as my brain is full of stuff, so watch me people!! Whee!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
