<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ulama-salafy-wahabi-bicara &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/ulama-salafy-wahabi-bicara/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ulama-salafy-wahabi-bicara"</description>
	<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 08:03:13 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Pendahulu Kaum Wahhâbi Menebar Teror Sadis!]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/pendahulu-kaum-wahhabi-menebar-teror-sadis/</link>
<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:01:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/pendahulu-kaum-wahhabi-menebar-teror-sadis/</guid>
<description><![CDATA[Jangan Anda heran jika kaum Salafi Wahhâbi, khususnya kaum Ghulât (Super Ekstrim) mereka selalu mene]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jangan Anda heran jika kaum Salafi Wahhâbi, khususnya kaum <em>Ghulât</em> (Super Ekstrim) mereka selalu menebar teror terhadap siapapun yang berselisih pendapat dalam memahami teks-teks agama. Dari mulai teror kata-kata keji tak berdasar hingga melenyapan nyawa terhormat yang haram untuk dilenyapkan. Sebab kekerasan sepertinya  telah menyatu dalam ajaran dan akhlaqiyat kelompok penebar teror ini! Anehnya yang selalu menjadi korban adalah saudara-saudara sesama Muslim!</p>
<p><!--more--></p>
<p>Ketika<em> Ka’ab al Ahbâr</em> (si pendeta Yahudi) menyebarkan faham menyimpang bahwa Allah SWT bisa dilihat dengan mata kepala, Ummul Mukminin Aisyah ra. bangkit membongkar kedok penyimpangan dan penyesatan akidah ala Yahudi yang dilakoni <em>Ka’ab al Ahbâr</em>, dan mengatakan bahwa akidah itu hanya kepalsuan yang diproduk Ka’ab atas nama Allah SWT, seperti telah kami paparkan panjang lebar dalam beberapa artikel di sini, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:</p>
<p><strong>Riwayat Imam Bukhari:</strong></p>
<p>Imam Buhkari meriwayatkan dengan sanad dari ‘Âmir dari Masrûq, ia berkata kepada Aisyah ra.:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يا أمتاه هل رأى محمد صلى الله عليه وسلم ربه ؟ فقالت لقد قَفَّ شعري مما قلت ! أين أنت من ثلاث من حدثكهن فقد كذب: <span style="text-decoration:underline;">من حدثك أن محمداً صلى الله عليه وسلم رأى ربه فقد كذب</span> ثم قرأت : لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصارُ وَ هُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصارَ وَ هُوَ اللَّطيفُ الْخَبيرُ.</strong><strong> وَ ما كانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْياً أَوْ مِنْ وَراءِ حِجابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ ما يَشاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكيمٌ.</strong><strong> ومن حدثك أنه يعلم ما في غد فقد كذب ثم قرأت : الْأَرْحامِ وَ ما تَدْري نَفْسٌ ما ذا تَكْسِبُ غَداً. ومن حدثك أنه كتم فقد كذب ثم قرأت : </strong><strong>ا </strong><strong>أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ&#8230; (الآية)، ولكنه رأى جبرئيل عليه السلام في صورته مرتين .</strong><strong> </strong></h2>
<p>“Wahai Bunda, apakah (Nabi) Muhammmad saw. melihat Tuhannya? Maka Aisyah berkata, “Benar-benar bulu romaku merinding dari apa yang engkau katakana! Kemana engkau dari tiga perkara, siapa yang berbicara kepadamu tentang tiga perkara itu pastilah ia benarr-benar telah berbohong;<span style="text-decoration:underline;"> </span><strong><span style="text-decoration:underline;">siapa yang berkata kepadamu bahwa Muhammad saw. telah melihat Tuhannya maka ia benar-benar telah berbohong</span>.</strong> Kemudian ia membacakan ayat: “<em>Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” </em>(QS. Al An’âm;103)</p>
<p>Dan: <em>“</em><em>Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata- kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin- Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”</em> (QS. Asy Syura;51<strong>)</strong></p>
<p>Dan barang siapa yang berbicara kepadamu bahwa Nabi mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi besok maka ia benar-benar telah berbohong. Kemudian ia membacakan ayat: “<em>Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman;34</em><strong> )</strong></p>
<p>Dan barang siapa berbicara kepadamu bahwa Nabi merahasiakan wahyu maka ia benar-benar telah berbohong. Kemudian ia membacakkan ayat:<em> “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu….” (QS. Al Maidah;67)</em></p>
<p>Akan tetapi Nabi melihat malaikatJibril as. dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a></p></blockquote>
<p>Dalam riwayat lain Imam Bukhari juga meriwayatkan dari jalur Sya’bi dari Masrûq dari Aisyah ra., ia berkata:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="text-decoration:underline;">من حدثك أن محمداً صلى الله عليه وسلم رأى ربه فقد كذب</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">،</span></strong><strong> وهو يقول : لا تدركه الاَبصار، ومن حدثك أنه يعلم الغيب فقد كذب، وهو يقول : لا يعلم الغيب إلا الله . </strong></h2>
<p><em>“<span style="text-decoration:underline;">Barang siapa berbicara kepadamu bahwa Muhammad aw. melihat Tuhannya maka ia benar-benat telah berbohong</span>.<strong> </strong>Allah berfirman:</em><em> “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.” Dan barang siapa berbicara kepadamu bahwa dia (Nabi) mengetahui berita ghaib maka ia benar-benat telah berbohong. Allah berfiman:</em><em> “Tiada mengetahui ghaib kecuali Allah.”</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Riwayat Imam Muslim </strong></p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah ra. ia berkata:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>&#8230; مَن زَعَمَ أَنَّ مُحمَّدًا (ص) رَأى رَبَّهُ <span style="text-decoration:underline;">فقَدْ أعظَمَ الفِريَةَ علىَ اللهِِ</span>.</strong></h2>
<p><em>“….. Barang siapa mengklaim bahwa Muhammad melihat Tuhannya maka ia benar-benar telah membuat-buat kepalsuan besar atas nama Allah.”</em> <a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3">[3]</a></p></blockquote>
<p>Mendapati kenyataan sikap Ummul Mukminin Aisyah ra. itu dan penelanjangan yang tegas bahwa akidah itu adalah sebuah kepalsuan atas nama Allah, kelompok Salafi Mujassim (yang mana Sekte Wahhabi adalah anggota aktif di dalamnya) sakit hati kepada Ummul Mukminin Aisyah ra. dan langsung menghujatnya dan menghujaninya dengan kata-kata tidak senonoh.</p>
<p>Di antara pendekar Mujassimah (pendahulu/Salaf kaum Wahhâbi) yang paling berani terang-terangan menghujat Ummul Mukminin Aisyah ra. adalah <strong><em>Ibnu Khuzaimah</em></strong> (tokoh Mujassimah yang sangat mereka agungkan dan sanjung setinggi laingit).</p>
<p>Ibnu Khuzaimah berkata dalam kitab at Tauhid-nya:225</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>هذه لفظة أحسب عائشة</strong><strong> </strong><strong>تكلمت بها في وقت غضب، ولو كانت لفظة أحسن منها يكون فيها درك لبغيتها كان</strong><strong> </strong><strong>أجمل بها، ليس يحسن في اللفظ أن يقول قائل أو قائلة: قد أعظم ابن عباس</strong><strong> </strong><strong>الفرية، وأبو ذر، وأنس بن مالك، وجماعات من الناس الفرية على ربهم! ولكن</strong><strong> </strong><strong>قديتكلم المرء عند الغضب باللفظة التي يكون غيرها أحسن وأجمل منها&#8230; نقول</strong><strong> </strong><strong>كما قال معمر بن راشد لما ذكر اختلاف عائشة وابن عباس في هذه المسألة: ما</strong><strong> </strong><strong>عائشة عندنا أعلم من ابن عباس&#8230; وإذا اختلفا فمحال أن يقال قد أعظم ابن</strong><strong> </strong><strong>عباس الفرية على الله، لأنه قد أثبت شيئاً نفته عائشة&#8230;</strong><strong> .</strong></h2>
<p><em><strong>“Dalam hemat saya kata-kata Aisyah itu ia lontarkan dalam keadaan emosi!</strong> Andai ada kata-kata yang lebih indah darinya yang dapat merealisakan maksudnya pastilah lebih baik. Tidakkah benar seorang berkata bahwa Ibnu Abbas, Abu Dzarr, Anas ibn Malik dan sekelompok orang lainnya<strong> benar-benar telah membuat-buat kepalsuan besar atas nama Allah! Akan tetapi terkadang seorang berbicara di kala emosi dengan kata-kata yang mana ada kata lain yang lebih indah darinya…. Kami berkata, seperti ucapan Ma’mar ibn Rasyid ketika menyebut-nyebut perbedaan pendapat Aisyah dan Ibnu Abbas dalam masalah ini (Ru’yatullah): Aisyah menurut kami tidak lebih pintar dari Ibnu Abbas… Jika keduanya berselisih maka mustahil dikatakan bahwa Ibnu Abbas telah mengada-ngada atas nama Allah, sebab ia telah menetapkan sesuatu yang dinafikan oleh Aisyah… “</strong></em></p></blockquote>
<p>Di sini, dengan terang-terangan <em>Ibnu Khuzaimah</em> menuduh Ummul Mukminin Aisyah ra. telah bersikap bodoh ketika tak mampu mengontrol emosinya dan kemudian melontarkan kata-kata tersebut! Selain itu <em>Ibnu Khuzaimah</em> melakukan sebuah kesalahan ketika menisbatkan perselisihan itu antara Aisyah ra. dan Ibnu Abbas ra.. Sebab dalam kenyataannya hujatan A’isyah ra. itu ia alamatkan kepada <em>Ka’ab al Ahbâr </em>(si pendeta yang pertama kali menyebarkan kesesatan itu)… namun siapapun yang menjadi alamat hujatan Aisyah ra. yang pasti tuduhan Ibnu Khuzaimah itu sudah keterlulan…!!</p>
<p>Namun dari semua itu ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil yaitu bahwa kaum Mujassimah tidak akan segan-segan bersikap kasar, menteror siapapun yang mencoba-coba menggoyang akidah tajsim mereka!! Jadi jangan harap Anda akan dihormati oleh mereka jika Aisyah –istri Nabi saw.- saja mereka lecehkan dan mereka hujat tanpa dasar seperti itu!</p>
<p>Dan yang lebih mengerikan adalah apabila mereka merasa kuat dan memiliki pendukung yang sanggup mendukung aksi teror dan hingga pembantaian, pasti mereka akan lakukan aksi bengis tak berpri-kemanusian itu!</p>
<p>Dalam kesempatan ini saya hanya akan mengutip dua bukti sejarah akan kejahatan pendahulu kaum Wahhabi ini, agar Anda tidak merasa heran jika kaum Salafi Wahhabi sekarang juga mewarisi kebengisan dan keganasan sikap tersebut!</p>
<p><strong>Mereka Berusaha Membunuh Imam Ath Thabari Karena Menolak Akidah Allah Bersemayam Di atas Arsy!</strong></p>
<p>Ketika kaum hanbaliyah menguat posisinya, khususnya di masa kekuasaan al Mutawakkil –seorang Khalifah bengis yang mendukung habis-habisan konsep kaum hanbaliyah yang mujasiimah dan kaum mujassimah murni- dan dengan dukungan kaum awam yang menjadi pengikutn fatanik butanya, mereka mulai melakukan terror terhadap siapapun ulama yang tidak mendukung akidah sesat mereka!</p>
<p><em>Imam Ibnu Jarir ath Thabari</em> –yang tidak diragukan ‘kesalafannya’- menjadi sasaran teror dan amuk massa kaum awam Hanbaliyah dengan arahan ulama berwawasan sempit dan berhati dengki mereka-. Berita teror itu sangat masyhur dalam kitab-kitab sejarah.</p>
<p>Mereka memancing <em>Ibnu Jarir</em> dengan pertanyaan tentang duduknya Allah di atas Arsy-Nya, lalu beliau menafikan akidah yang tidak berdasar itu bahwa Allah duduk di atas Arsy-Nya lalu mendudukkan Nabi mulia-Nya di samping-Nya! Maka mereka langsung menyerang dan berusaha membunuhnya! Namun Allah masih menyemalatkan beliau! Tidak puas karena gagal, kaum Hanâbilah selalu menterornya sehingga ketika beliau wafat, mereka beurusaha sekali lagi untuk melarang beliau dikebumikan di pemakaman kaum Muslimin sehingga terpaksa beliau di kebumikan di dalam rumahnya sendiri!! Subhanallah! Alangkah ganasnya sikap pendahulu kaum Wahhâbiyah ini!</p>
<p>Demikian juga mereka melakukan hal serupa terhadap<em><strong> Imam Ibnu Hibbân</strong></em> –seorang hafidz dan muhaddis agung-!!</p>
<p>Al Hamawaini melaporkan dalam kitab Mu’jam al Udabâ’,9/18/57 ketika menyebut Imam Ibnu Jarir ath Thabari:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>فلما قدم إلى بغداد من طبرستان بعد رجوعه إليها تعصب عليه أبو عبد الله</strong><strong> </strong><strong>الجصاص وجعفر بن عرفة والبياضي. وقصده الحنابلة فسألوه عن أحمد بن حنبل في</strong><strong> </strong><strong>الجامع يوم الجمعة، وعن حديث الجلوس على العرش، فقال أبو جعفر:أما أحمد بن</strong><strong> </strong><strong>حنبل فلا يعد خلافه. فقالوا له:فقد ذكره العلماء في الاختلاف، فقال:ما</strong><strong> </strong><strong>رأيته روي عنه ولا رأيت له أصحاباً يعول عليهم. وأما حديث الجلوس على</strong><strong> </strong><strong>العرش فمحال، ثم أنشد</strong><strong>:</strong></h2>
<table style="text-align:right;" dir="rtl" border="0" cellpadding="0" width="380">
<tbody>
<tr>
<td>
<h2><strong>سبحان من ليس له أنيسُ</strong></h2>
</td>
<td>
<h2><strong>ولا له في عرشه جليسُ</strong></h2>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h2 style="text-align:right;"><strong>فلما سمع ذلك الحنابلة منه وأصحاب الحديث وثبوا ورموه بمحابرهم وقيل كانت</strong><strong> </strong><strong>ألوفاً، فقام أبو جعفر بنفسه ودخل داره فرموا داره بالحجارة حتى صار على</strong><strong> </strong><strong>بابه كالتل العظيم! وركب نازوك صاحب الشرطة في ألوف من الجند يمنع عنه</strong><strong> </strong><strong>العامة، ووقف على بابه يوماً إلى الليل وأمر برفع الحجارة عنه</strong><strong>.</strong></h2>
<p>“Maka ketika beliau mengunjungi kota Baghdad dari daerah Tharabistân, setelahnya Abu Abdillah al Jashshâsh, Ja’far ibn ‘Arafah dan al Bayâdhi mendengkinya. Kaum Hanâbilah (Hanbaliyah) mendatanginya lau bertanya kepadanya di masjid Jami’ pada hari Ju’mat tentang Ahmad ibn Hanbal dan tentang hadis duduknya Allah di atas Arsy-Nya. Maka Abu ja’far (ath Thabari) menjawab: “Adapun Ahmad beliau tidak terhitung sebagai ahli fikih yang perbedaan pendapatnya dihitung.” Mereka berbalik menjawab, “Tetapi para ulama menyebutkannya dalam hal ikhtilaf!” Ath Thabari menjawab, “Aku tidak melihatnya telah diriwayatkan darinya itu dan aku juga tidak melihat beliau punya murid-murid yang dapat diandalkan.”</p>
<p>Adapun hadis tentang duduknya Allah di atas Arsy-Nya, itu mustahil. Lalu beliau membacakan sebuah syair:</p>
<p>Maha suci Dzat yang tidak punya teman penghibur *** tidak juga duduk di Arsy-Nya teman pendamping.</p>
<p>Maka ketika kaum Hanâbilah dan pendukung hadis mendengar itu darinya, mereka langsung menyerangnya dan melemparinya dengan tempat-tempat tinta. Ada yang mengatakan bahwa jumlah mereka ribuan orang. Lau Abu Ja’far (ath Thabari) bangun dan segera masuk ke dalam rumahnya, maka mereka pun melemparin rumahnya dengan batu sehingga tumpukan batu di depan pintu rumah beliau seperti gunung!”</p></blockquote>
<p>Jadi demikianlah sikap mereka! Menteror, menyerang dan memamerkan adegan keganasan yang pantasnya dilakonkan para preman jalanan tak beradab!</p>
<p>Siapaun yang menyelishi “akidah miring” mereka segera dikecam, disesatkan, dan akhirnya dikafirkan dan dihalalkan darahnya!</p>
<p>Kaum Wahhabi mewarisi keganasan sikap kaum <strong>Ghulât Hanbaliyah</strong> yang tidak pernah akan mentolerir siapapun dan apapun yang menyelisihi pendapat mereka! Seakan pendapat mereka adalah wahyu langit yang <em>Lâ Ya’tîhil Bâthilu Min Baini Yadaihi walâ min Khalfihi</em>!</p>
<p>Bukti nyata adalah kondisi keberagamaan di kota suci yang telah dicaplok oleh rezim keluarga Sa’ud yang ditopang oleh lembaga-lembaga angker seribu satu muthawwe’! Di sana kebebesan adalah menjadi komoditas langka yang aneh! Semua dipaksa mengikuti agama sesuai dengan pemahaman kaum Arab baduwi dari dusun Najd…. Semua kaum Muslimin yang hendak mencium jeruji makam suci Rasulullah saw. sebagai ungkapan kecintaan dan kerinduan, lansung saja disambut dengan ‘jenggongan muthawwe’ (polisi syari’at) yang bertebaran di sekitar pusara suci junjungan Nabi tercinta kita Muhammad saw.: Syririk! Syririk! Syririk!</p>
<p>Ketika sorang Muslim menghadap ke makam suci beliau sambil membaca ayat-ayat suci Al Qur’an atau membaca do’a…. para muthawwe’ itu langsung mendatanginya dengan kasar seraya mengatakan, hai Musyrik, arah kiblat di sana, jangan menghadap Muhammad!</p>
<p>Kita semua dipaksa menerima pamahaman tauhid dan syirik <em>ala</em> mufti-mufti buta dan dangkal!</p>
<p>Celakalah jika ada yang berani mendebat mereka dan menyampaikan argumentasinya!</p>
<p>Kami sarankan Anda jangan mencoba nekad melakukannya. Sebab kami khawatir nasib Anda seperti teman-teman sebelumnya, dihukum dan di adili tanpa keadilan!</p>
<p>Jika kaum Wahhabi di Indonesia keberatan dan menganggap apa yang kami sampaikan tentang teror Wahhabi itu fitnah maka kami berharap mereka mampu membawakan wajah cemerlang kebebasan beragama sesuai dengan mazhab masing-masing di Arab Saudi sana!</p>
<p>Para pembaca yang kami muliakan, di Arab Saudi sana, mengadakan pembacaan Maulid Nabi saw. lebih berbahaya ketimbang menggelar pesta Homo yang biasa digelar sebagian pemuda jalang lapuk di sana! Mencari kitab Maulid Diba’ atau Barzanji lebih sulit ketimbang mencari ganja atau wanita lacur! Kami tidak mengatakannya serampangan… semua adalah kenyataan.</p>
<p>Menggelar pembacaan Maulid adalah sebuah kejahatan yang kerenanya pantas dihukum dalam hukum kaum Wahhabi!</p>
<p>Jika kaum Wahhabi menganggap itu bid’ah, mestinya mereka harus tasâmuh/toleran, karena banyak kaum Muslim (bahkan seluruhnya selain mereka) tidak menganggapnya bid’ah! Lalu mengapakah mereka memaksakan pandapatnya ke atas seluruh kaum Muslimin!</p>
<p>Sikap mereka mirip dengan sikap kaum Komunis (PKI) yang apabila berkuasa tidak memberi kebebasan bagi pendapat lain untuk tumbuh dengan layak berdasarkan dalil-dalil yang diyakininya!</p>
<p>Jika mereka menganggap mencium jeruji makam suci Rasulullah saw. itu adalah syirik, maka mereka perlu ketahui bahwa hanya mereka saja yang memahaminya secara miring konsep itu!! Ulama Islam dari berbagai mazhab tidak! Lalu mengapakah mereka memaksakannya ke atas seluru kaum Muslimin se dunia yang menziarahi kota suci itu untuk mengikuti pandangan miring mereka?!</p>
<p>Inilah teror…. yang selalu menghiasi ‘Mazhab Horor’!!! dan ini pulalah yang akan menjadi penyebab kehancuran dan keruntuhan ‘Mazhab Horor’ yang ditegakkan di atas pondasi kekerasan dan pemaksaan kehendak dan pendapat, persis seperti nasib komunisme… ia runtuh bersama keruntuhan Uni Soviet benteng komunisme terkokoh! Nantikan! Janji Allah pasti terlaksana. Allah akan membebaskan dua kota suci kita kaum Muslimin dari cengkeraman Mazhab Horor!</p>
<p>Semoga Allah menyelamatkan umat Islam dari kejahatannya! <em>Amîn Ya Rabbal ‘Âlamîn.</em></p>
<hr size="1" /><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Shahih Bukhari,6/50.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Ibid.8/166 dan hadis-hadis serupa juga telah ia riwayatkan dalam banyak kesempatan lain.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Shahih Muslim,1/110.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kitab Kasyfu asy Sybubuhât Doktrin Takfîr Wahhâbi Paling Ganas (39)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/12/29/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-39/</link>
<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 11:28:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/12/29/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-39/</guid>
<description><![CDATA[Alasan Lain Untuk Melegalkan Pengafiran Kaum Muslimin Demikian juga dengan jawaban yang ia ajukan de]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:red;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Alasan Lain Untuk Melegalkan Pengafiran Kaum Muslimin</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Demikian juga dengan jawaban yang ia ajukan dengan menyamakan kasus pengafirannya atas kam Muslimin dengan kasus-kasus:<!--more--></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span><span style="font-size:small;">A)</span><span style="font:7pt &#34;">    </span></span></span></em><span dir="ltr"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Dibenarkannya memerangi kaum Yahudi padahal mereka meyakini: <em>Lâ Ilâha Illallah.</em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span><span style="font-size:small;">B)</span><span style="font:7pt &#34;">    </span></span></span><span dir="ltr"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Dibenarkannya memerangi suku bani Hainfah padahal mereka meyakini: <em>Lâ Ilâha Illallah Muhammad Rasululllah</em>.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span><span style="font-size:small;">C)</span><span style="font:7pt &#34;">    </span></span></span><span dir="ltr"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Imam Ali membakar sekelompok kaum&#8230;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Ibnu Abdil Wahhâb berkata:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;text-indent:18pt;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 1.65pt 0 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="IN"><span> </span></span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">فَيُقَالُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">لِهَؤُلاءِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">الْجَهَلَةِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">الْمُشْرِكِينَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr"> : </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">مَعْلُومٌ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">أَنَّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">رَسُولَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">اللَّهِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">صلى</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">الله</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">عليه</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">وسلم</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">قَاتَلَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">الْيَهُودَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">،</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">وَسَبَاهُمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">،</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">وَهُمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">يَقُولُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr"> : (</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">لاَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">إِلَهَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">إلاَّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">اللَّهُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr">) </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">،</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">وَأنَّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">أَصْحَابَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">رَسُولِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">اللَّهِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">صلى</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">الله</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">عليه</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">وسلم</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">قَاتَلُوا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">بَنِي</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">حَنِيفَةَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">،</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">وَهُمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">يَشْهَدُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">أَنْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">لاَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">إِلَهَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">إِلاَّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">اللَّهُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">،</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">وَأنَّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">مُحَمَّدًا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">رَسُولُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">اللَّهِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">صلى</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">الله</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">عليه</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">وسلم</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">،</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">وَيُصَلُّونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">،</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">وَيَدَّعُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">الإِسْلاَمَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">،</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">وَكَذَلِكَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">الَّذِينَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">حَرَّقَهُمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">عَلِيُّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">بنُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">أَبي</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">طَالِبٍ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">رضي</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">الله</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">عنه</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="FA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="FA">بِالنَّارِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;" dir="ltr"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN">“Maka jawaban untuk </span><strong><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN">kaum Musyrik yang jahil itu</span></strong><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"> adalah sudah jelas bahwa Rasulullah saw. membunuh yahudi dan tawanan mereka padahal mereka mengatakan </span><em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN">Lâ Ilâha Illallah</span></em><em><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN">, </span></em><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN">dan sesungguhnya para sahabat Rasulullah saw. telah memerangi bani Hanifah, walaupun mereka bersaksi bahwa </span><em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN">Lâ Ilâha Illallah Muhammad Rasululllah</span></em><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN">, mengerjakan shalat, dan mengaku sebagai seorang muslim, dan begitu halnya dengan mereka yang dibakar oleh Ali ibn Abi Tlaib.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">__________</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Catatan 35:</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN">Sekali lagi, di sini Ibnu Abdil Wahhâb menampakkan sikap kecongkakan, arogansi dan kebengisannya dengan menyebut kaum Muslimin (selain Wahhâbi) dengan sebutan </span><strong><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN">kaum Musyrikun yang jahil/bodoh!</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Penyamaan status kaum Muslimin dengan mereka yang disebut di atas adalah tidak berdasar dan hanya ditegakkan di atas anggapan sesatnya bahwa ber<em>tawassul </em>dll adalah penyembahan dan itu menyalahi kemurnian Tauhid dan karenanya pelakunya dihukumi sebagai Musryik yaang kafir!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Hal itu dikarenakan:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Adapun kaum Yahudi:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-27pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 27pt;"><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span><span style="font-size:small;">A)</span><span style="font:7pt &#34;">         </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Kaum Yahudi benar-benar telah mengingkari kenabian Nabi Isa as. dan kerasulan Nabi Muhammad saw.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-27pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 27pt;"><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span><span style="font-size:small;">B)</span><span style="font:7pt &#34;">          </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:black;line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span>  </span>Kaum Yahudi benar-benar telah mengingkari seluruh syari’at yang dibawa Rasulallah Muhammad saw.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 1.65pt;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Adapun bani Hanifah:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 1.65pt;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Khalid ibn Walid memerangi mereka dengan alasan mereka telah menginkari kewajiban zakat. Dan kewajiban zakat itu termasuk <em>Dharûriyyat</em> <em>ad Dîn</em> (hal pasti disyari’atkannnya dalam Islam). Dan siapapun yang mengingkarinya setelah tegak di hadapannya bukti akan hal itu maka pasti ia berhak dihukumi kafir! </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 1.65pt;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Adapun kaum yang dibakar Ali ra. -jika peristiwa itu benar-, mereka itu adalah kaum yang telah keluar dari Islam dengan menuhankan Ali&#8230; seperti telah lewat dibicarakan sebelumnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 1.65pt;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Jadi menyamakan mereka semua dengan kaum Muslimin yang ber<em>tawassul</em>, ber<em>istighâtsah</em>, ber<em>tabarruk</em> adalah sebuah kazaliman yang keterlaluan! Sebab mereka tidak kafir, tidak menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya, dan tidak pula mengingkari hal yang <em>dharûriyah</em> dari agama Islam! Dan tidak mengafrikan dan menghalalkan darah-darah mereka kecuali orang jahil yang tidak mengerti apa-apa tentang makna hadis-hadis Nabi saw.!</span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fatwa Primitif Wahhabi]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/11/06/fatwa-primitif-wahhabi/</link>
<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 00:44:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/11/06/fatwa-primitif-wahhabi/</guid>
<description><![CDATA[Fatwa Primitif Wahhabi Ada sebuah fatwa jenaka yang layak Anda dengar segabai humor kurang menggelik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><span style="color:#ff0000;">Fatwa Primitif Wahhabi</span></h2>
<p><strong>Ada sebuah fatwa jenaka yang layak Anda dengar segabai humor kurang menggelikan yang dikeluarkan Juru Ramu Fatwa Sekte wahhabi.</strong></p>
<p><strong>Berikut fatwa lengkap tersebut:</strong></p>
<p><strong><!--more--></strong></p>
<blockquote><p><strong></strong></p>
<p><strong>Sumber:</strong> <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&#38;id_artikel=853" target="_blank">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&#38;id_artikel=853</a></p>
<p><strong>Soal :</strong></p>
<p>Apa hukumnya kita melihat televisi cuma sekedar melihat berita saja ?</p>
<p><strong>Jawab Syaikh Muqbil :</strong></p>
<p>Tidak boleh dikarenakan ada gambarnya, dan dikarenakan pula terjadi di dalamnya dari perbuatan kejahatan dan perbuatan fasik (seperti zina dan pornografi), dan didalamnya mengajari orang untuk mencuri (banyak tayangan televisi yang menampilkan cara bermaksiat kepada Allah, pacaran, zina, peragaan TKP, dst, red), dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :</p>
<h3>لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب ولا صور</h3>
<p><em>“Malaikat tidak akan memasuki suatu rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (yang bernyawa)”.</em></p>
<p>Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam pada saat itu ingin masuk ke biliknya ‘Aisyah maka dijumpai disana terdapat tirai yang bergambar (makhluk hidup), kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam Bersabda :</p>
<h3>إنّ من أشد الناس عذابا يوم القيامة, الذين يصرون هذه الصور</h3>
<p><em>“Sesungguhnya orang yang paling pedih siksanya di hari Akhir, yang menggambar gambar ini” Kemudian di robek-robek tirai yang bergambar tersebut oleh ‘Aisyah.<br />
</em><br />
Dan didalam “As-Shahihain” dari Abi Hurairah radiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam beliau bersabda : “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :</p>
<h3>- ومن أظلم ممّن ذهب يخلقوا كخلقي, فليخلقوا ذرّة, أو ليخلقوا حبة, أو شعيرة -</h3>
<p><em>“Dan siapakah yang lebih dzolim yang mencoba untuk menciptakan seperti ciptaanku, maka ciptakanlah biji jagung, atau ciptakanlah biji-bijian, atau biji gandum”</em></p>
<p>Begitu pula seorang laki-laki menonton seorang penyiar wanita, dan Allah –Azza wa Jall- berfirman :</p>
<h3>- قل للمؤمنين يغضّوا من أبصارهم و يحفظوا فروجهم ذالك أزكى لهم -</h3>
<p><em>“Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu lebih suci bagi mereka” [An-Nur : 30].</em></p>
<p>Atau kalau penyiarnya laki-laki dan yang menonton wanita, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :</p>
<h3>- و قلّ للمؤمنات يغضضن من أبصارهنّ و يحفظنّ فروجهنّ -</h3>
<p><em>“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan dan memelihara kemaluannaya”. [An-Nur :31].<br />
</em><br />
(Lihat kitab “Tuhfatul Mujib” pertanyaan dari negara Prancis (soal nomor : 10/halaman 270).<br />
(Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Abdullah Mubarok Barmim, Surabaya. Beliau murid syaikh Muqbil Ibn Hadi al Wadi’i rahimahullah, Yaman.)</p>
<p>SUMBER: <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&#38;id_artikel=853" target="_blank">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&#38;id_artikel=853</a></p>
<p><strong>_______________________ </strong></p></blockquote>
<h3>Abu Salafy Berkomentar:</h3>
<p>Sungguh luar biasa kehati-hatian para juru ramu fatwa primitif Wahhabi ini… kalau begitu para malaikat tidak akan pernah masuk ke ruang-ruang sidang dan kantor-kantor para muthowwe’ dan istana-istana para Emir dan Emirah, serta tidak akan pernah masuk ke tanah Saudi Arabia, sebab di sana banyak gambar emir-emir ganteng dan para Muthowwe’ mulai yang gengotnya rapi sampai yang kocar-kacir ! Bukankah demikian? Mulai yang mata manis hingga yang kecung!</p>
<p>Mata uang Arab Saudi ada gambar raja mereka!</p>
<p>Koran-koran dan majalah dipenuhi dengan gambar para Mufti Kerajaan anak-anak Sa’ud; Syeikh Ben Bâz, Ibnu Utsaimin, Ben Jibrin dkk…. Tayangan TV  resmi Kerajaan Arab penuh dengan adegan hidup para mufti dalam acara keagamaan seperti fatawa ‘arbal hawâ’…</p>
<p>Jadi kalau begitu diganti aja dengan gambar tong sampah! Atau gambar trompa Badui kusang atau …. atau…. atau…. Karena dengan demikian tidak menyelisihi syari’atnya kaum Wahhabi.</p>
<p>Dan dengan fatwa itu pula saya minta para ulama Wahhabi, khususnya disarangnya sana, di Arab untuk bersiap-siap menanti siksa Allah sebab mereka merestui adanya gambar-gambar hingga tayangan hidup di TV Saudi.</p>
<p>Bukankah mereka terlibat baik langsung maupun tidak dalam pembuatan gambar-gambar tersebut…. “Sesungguhnya orang yang paling pedih siksanya di hari Akhir, yang menggambar gambar ini” Kemudian di robek-robek tirai yang bergambar tersebut oleh ‘Aisyah.</p>
<p>Kami berharap para peramu fatwa jenaka itu berpindah profesi menjadi ….. biar tidak buat malu Islam!</p>
<p>__________________________</p>
<p>Untuk melengkapi artikel diatas dibawah ini kami lengkapi dengan gambar/foto riyal Saudi Arabia dengan gambar/foto Amirnya. Nah kalo para ulama wahabi/salafy konsisiten dengan fatwanya, sebaiknya mereka protes kepada amir yang memasang foto pribadinya di mata uang negara tersebut.</p>
<p>Bukankah Saudi Arabia negeri seribu satu muthowwek? kok tidak ada salah satu ulama/muthowweknya yang protes atau berbicara soal ini? bukannya Saudi kerajaan yang ditegakkan dengan doktrin wahabi/salafy? kenapa pengikutnya ribut soal gambar disini sementara di negeri sarang wahabi/salafy ulama dan muthowweknya pada bungkam semua !!</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2008/11/saudi-riyal.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-342" title="saudi-riyal" src="http://abusalafy.wordpress.com/files/2008/11/saudi-riyal.jpg" alt="saudi-riyal" width="426" height="599" /></a><span style="color:#ff0000;">sumber foto <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Saudi_Riyal_5th_Domination.jpg" target="_blank">disini</a></span></p>
<p>(foto ditambahkan pada tgl 11/3/2009) ma&#8217;af agak terlambat memang!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kitab Kasyfu asy Sybubuhât Doktrin Takfîr Wahhâbi Paling Ganas (19)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/27/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-19/</link>
<pubDate>Tue, 27 May 2008 00:52:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/27/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-19/</guid>
<description><![CDATA[Pemilahan Antara Meminta Doa Dari Orang Mati Dan Dari Orang Hidup Adalah Tidak Berdasar! Adapun pemi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Pemilahan Antara Meminta Doa Dari Orang Mati Dan Dari Orang Hidup Adalah Tidak Berdasar!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Adapun pemilahan yang sering disebut-sebut kaum Wahhâbiyah antara meminta dari seorang yang masih hidup dan meminta dari seorang yang sudah mati dalam menentukan statusnya, maka ia perlu ditinjau di sini dalam dua sisi:</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">A) Adanya perbedaan antara<span> </span><em>“yang masih hidup dan yang sudah mati”</em> dalam menentukan status kemusyrikan dan tidaknya sebuah perbuataan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">B) </span><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Ada</span><span style="line-height:150%;font-family:&#34;"> atau tidak adanya manfa’at yang ditimbulkan dari</span><strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;"> </span></strong><em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">“yang masih hidup dan yang sudah mati”</span></em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Kita harus membahasnya dalam kedua sisi di atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Pertama yang perlu diketahui –dan telah saya jelaskan sebelumnya- bahwa status perbuatan tidak akan dipengaruhi oleh hidup atau mati seseorang yang menjadi obyek perbuatan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Meyembah selain Allah SWT adalah syirik, baik yang disembah adalah orang hidup atau orang mati. Akal sehat setiap orang tidak akan membenarkan anggapan bahwa menyembah orang yang masih hidup bukan syirik! Akan tetapi menyembah orang yang sudah matilah yang dihukumi syirik! Yang namanya kemusyrikan tetap kemusyrikan, baik yang disekutukan dengan selain Allah SWT masih hidup maupun sudah mati!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Demikian pula dengan ber<em>istighâtsah</em> (meminta bantuan) dengan Nabi saw. atau para <em>waliyullah</em>, tidak dapat dipilah statusnya dengan mengatakan meminta bantuan (<em>istightsah</em>) dengan manusia (nabi maupun selainnya) itu bukan syirik selagi manusia yang dimintai bantuan masih hidup…. Akan tetapi apabila ia orang yang telah mati maka ia adalah kemusyrikan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Pemilahan status dengan dasar perbedaan kondisi obyek antara mati atau hidup adalah kebekuan atau pengingkaran atas kebenaran yang nyata… sebab yang berstatus syirik tidak akan berubah menjadi tauhid dan demikian juga sebaliknya! <span> </span></span><strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Meminta Bantuan Do’a Dari Hamba-hamba Pilihan Allah Yang Telah Meninggal Dunia Tidak Sia-Saia!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Dalam kebiasaannya, kaum Wahhâbiyah dalam melawan kaum Muslimin selalu menggunakan senjata <em>“Demi memurnikan Tauhid dan Penyembahan Allah”</em>, dan telah Anda ketahui bersama di sini bahwa meminta bantuan berupa doa misalnya dari seorang hamba pilihan Allah yang telah meningggal dunia bukanlah syirik! Namun kali ini, sepertinya kaum Wahhâbiyah merubah setrategi penyerangannya… mereka merubahnya dengan bersenjata bahwa:<em> “Meminta dari orang mati adalah sia-sai!”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Mari kita teliti alasan yang sering dikemukan kaum Wahhâbiyah ini… yang untuk membelanya, kaum Wahhâbiyah tidak segan-segan memperalat ayat- ayat Al Qur’an dengan memaksakan pemaknaannya demi menyesuai keyakinan batil mereka…. Di antaranya adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Firman Allah SWT.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="AR-SA">إِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتى‏ وَ لا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعاءَ إِذا وَلَّوْا مُدْبِرينَ. </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="IN"></span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><em><span style="font-family:&#34;">“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang.” </span></em><span style="font-family:&#34;">(QS. An Naml[27]; 80)<em></em></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="AR-SA">وَ ما يَسْتَوِي الْأَحْياءُ وَ لاَ الْأَمْواتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشاءُ وَ ما أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُور. </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="IN"></span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><em><span style="font-family:&#34;">“Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” </span></em><span style="font-family:&#34;">(QS. Al Fâthir[35]; 22)<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Dalam berdalil dengan kedua ayat di atas kaum Wahhâbiyah menyimpulkan demikian: Allah SWT menyerupakan kaum Musyrikin dengan mayat-mayat/orang mati,<em> amwât</em>. Ketika Allah mengarahkan <em>khithab</em> kepada nabi-Nya saw. bahwa<em> ‘Engkau hai Muhammad tidak akan dapat membuat famah mereka (kaum Musyrikin), sebab mereka bak orang-orang mati/mayat-mayat, tidak dapat mendengar&#8230;’</em> andai mayat-mayat itu bisa mendengar dan berbicara tidaklah tepat penyerupaan itu!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Maka<span> </span>-kata kaum Wahhâbiyah- demikian pula dengan meminta bantuan, baik berupa syafa’at atau do’a kepada orang yang sudah mati, sama dengan meminta bantaun dengan benda mati!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Tanggapan Atasnya:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Kaum Wahhâbiyah sepertinya tidak mengindahkan bukti-bukti yang menegaskan adanya kehidupan bagi para wali-wali Allah&#8230;. para syuhadâ’&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Para filsuf Islam telah membuktikan berdasarkan dalil-dalil yang kokoh bahwa ruh setelah berpisah dengan jasadnya setelah kematian, ia memiliki kehidupan khusus dan menikmati <em>idrâk</em> khusus&#8230; selain itu Al Qur’an telah mengesakan adanya kehidupan setelah kematian demikian pula dengan banyak hadis Nabi saw.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Coba Anda perhatikan ayat-ayat di bawah ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">لا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">تَحْسَبَنَّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">الَّذينَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">قُتِلُوا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">في</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">‏<span> </span></span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">سَبيلِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">اللَّهِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">أَمْواتاً</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">بَلْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">أَحْياءٌ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">عِنْدَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">رَبِّهِمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">يُرْزَقُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><em><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">*</span></em><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> فَرِحينَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">بِما</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">آتاهُمُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">اللَّهُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">مِنْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">فَضْلِهِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">يَسْتَبْشِرُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">بِالَّذينَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">لَمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">يَلْحَقُوا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">بِهِمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">مِنْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">خَلْفِهِمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">أَلاَّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">خَوْفٌ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">عَلَيْهِمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">لا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">هُمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">يَحْزَنُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> </span></strong><em><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">“ Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.* Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang- orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” </span></em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">( QS. Âlu Imrân [3];169-170)</span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">dan selain ayat di atas, banyak ayat lain yang menerangkan adanya kehidupan di alam barzakh setelah kematian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Para ulama Islam dan para mufassir telah memahami dari ayat di atas bahwa para suhada’ adalah hidup kendati ruh-ruh suci mereka telah berpisah dengan jasad-jasad mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Ibnu Katsîr berkata menafasirkan, “Allah –Ta’âlâ- mengabarkan bahwa para syuhada’ kendati telah terbunuh di alam dunia ini, ruhu-ruh mereka adalah hidup dan mendapat rizki di alam keabadian&#8230;. “</span><em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka&#8230;.” </span></em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">para syuhada’ yang telah terbunuh di jalan Allah itu hidup di sisi Tuhan mereka, dan mereka bergembira dengan kenikmatan yang mereka dapatkan, mereka bergirang hati dengan saudara-saudara mereka yang juga terbunuh di jalan Allah setelah mereka karena saudaara-saudara mereka kini telah datang bergabung dengan mereka&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">Suddi bekata, ‘Di sodorkan kepada orang yang telah syahid sebuah kitab/berita yang berisakan bahwa temanku si fulan akan datang bergabung denganmu pada hari ini atau itu, maka ia bergirang hati atas berita itu, sebagaimana penguhni dunia bergirang hati dengaan datangnya teman yang lama pergi’. (</span><em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">Tafsir al Qur’ân al ‘Adzîm</span></em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">,1/426-428)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Syaukâni berkata, “Makna ayat ini menurut Jumûr (mayoritas ulama0 aadalah bahwa mereka (para syuhada’) adalah hidup dengan kehidupan yang sebenar arti&#8230;. “ (<em>Fathu al Qadîr</em>,1/399)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Syeikh M. Rasyîd Ridha berkata, “ ‘</span><em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki’</span></em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> di alam selain alam kita yang lebih baik darinya bagi para syuhada’ dan kaum shaleh selain mereka&#8230; dan karena kemuliaan dan keutamaannya, maka oleh Allah disandarkan kepada Dzat-Nya&#8230; keberadaan </span><em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">(di sisi)</span></em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;"> adalah kedisisian pemuliaan dan penghormatan bukan kedisisian tempat dan jarak&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;color:black;">Kehidupan yang dinikmati para syuhada’ adalah kehidupan ghaibiah, kami tidak akan membahas hakikatnya, kami tidak akan keluar dari apa yang disebutkan dalam wahyu, kami tidak berpendapat seperti pendapat kaum Mu’tazilah bahwa yang dimaksud dengannya adalah bahwa kelak mereka akan diberi kehidupan di akhirat. Sebab dzahir ayatnya mengatakan bahwa mereka hidup sejak mereka terbunuh di jalan Allah&#8230;. “ (tafsir al Manâr,4/233-324)</span><span style="line-height:150%;font-family:&#34;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Lalu apa yang sebenarnya di maksud oleh dua ayat yang diajadikan kaum Wahhâbiyah sebagaoa dalil itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Makna ayat itu jelas sekali bahwa jasad-jasad yang telah terkubur di dalam perut bumi itu tidak mampu untuk memahami dan mengerti&#8230; dan hal itu adalah wajar sebab setelah berpisah dengan ruhnya, jasad-jasad itu menjadi benda mati yaang tak memiliki kefahman dan perasaan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Tetapi satu poin penting di dalam kasus kita ini yang mungkin tidak dipertimbangkan oleh kaum Wahhâbiyah bahwa sebenarnya yang kita ajak bicara adalah bukan jasad-jasad yang terbukur di dalam perut bumi akan tetapi ruh-ruh suci mereka&#8230; kita mengalamatkan pembicaraan dan permintaan kita kepada ruh-ruh suci para nabi, para syuhada’ dan para waliyullah&#8230; kaluapun jasad-jasad mereka tidak dapat berkamunikasi dengan kita, tidak bebarti bahwa ruh-ruh suci mereka juga tidak mampu!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Salam dan ucapan selamat yang kita ucapkan adalah kita tujukan kepada ryh-ruh suci mereka!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Pembahasan tentang masalah sangat panjang, aka tetapi kami cukupkan di sini karena fokus bahasan kita adalah membuktikan bahwa meminta kepada para nabi, dan hamba-hamba pilhan Allah SWT bukanlah praktik kemusyrikan!</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kaum Wahhâbiyah Mujassimah Memalsu Atas Nama Salaf! (4)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/19/kaum-wahhabiyah-mujassimah-memalsu-atas-nama-salaf-4/</link>
<pubDate>Mon, 19 May 2008 02:54:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/19/kaum-wahhabiyah-mujassimah-memalsu-atas-nama-salaf-4/</guid>
<description><![CDATA[Kaum Mujassimah Berbohong Atas Nama Imam Syafi’i. Kaum Mujassimah juga telah memalsu atas nama Imam ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;">Kaum Mujassimah Berbohong Atas Nama </span></strong><strong><span style="line-height:150%;">Imam Syafi’i.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong></strong><span style="line-height:150%;">Kaum Mujassimah juga telah memalsu atas nama Imam Syafi’i bahwa beliau mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بالشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وأن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله ينـزل إلى السماء الدنيا كيف شاء …</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">“Pendapat tentang Sunnah yang saya anut, dan aku saksikan teman-temanku menganutnya; Ahli hadis yang aku saksikan mereka dan aku timba ilmu dari mereka seperti Sufyân, Malik dan selain keduanya yaitu: Mengiqrarkan dua kalimah syahâtain; ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah’. Dan sesungguhnya Allah berada di atas Arsy-Nya di dalam langit, Dia mendekat kepada hamba-Nya bagaimanapun Dia kehendaki, dan Dia turun ke langit terdekat dengan dunia bagaimanapun Dia kehendaaki… </span></em><span style="line-height:150%;">(dan kemudian kaum Mujassimah menyebutkan beberapa akidah yang mereka katakana diyakikini Imam Syaf’i)</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;"> </span><strong><span style="line-height:150%;">Abu Salafy:</span></strong><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Pernyataan Imam Syafi’i di atas dapat Anda temukan dalam kitab <em>Mukhtashar al ‘Uluw</em>:176 tulisan pendekar hadis Wahhâbiyah; Syeikh Nâshiruddîn al Albani. Dia mengatakan bahwa pernyataan itu telah diriwayatkan oleh:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="line-height:150%;"><span>1)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="line-height:150%;">Syeikhul Islam Abul Hasan al Hakâri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="line-height:150%;"><span>2)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="line-height:150%;">Al Hafidz Abu Muhammad ibn Idris asy Syafi’I al Maqdisi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Uraian akidah atas nama Imam Syafi’i itu adalah palsu… mereka memalsunya atas nama Imam Syafi’i. Syeikh Nâshiruddîn al Albani bisa jadi telah mengetahui kepalsuan itu tetapi mendiamkannya atau ia tidak mengatahuinya, dan itu bukti kajahilannya! Namapun yang hendak dipilih kaum Wahhâbiyah, itu hak mereka, saya tidak memaksanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;">Bukti Kepalsuan!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Di antara bukti kepalsuan ucapan atas nama Imam Syafi’i itu adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">A) Adapun Abul Hasan al Hakâri yang digelari <em>Syeikhul Islam</em> adalah seorang pembohong besar dan pemalsu! Anda tidak perlu terkejut, sebab banyak dari orang-orang yang digelari oleh kaum Wahabiyah dengan gelar <em>Syeikhul Islam </em>ternyata adalah pembohong besar!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Adz Dzahabi berkata dalam <em>Mîzân al I’tidâl</em>,3/112 ketika menyebut datanya: Abul Qâsim Ibnu<span> </span>‘Asâkir berkata: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:19.65pt;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لم يكن موثوقاً به.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">“Dia</span></em><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span><em><span style="line-height:150%;">(al Hakâri)tidak terpercaya.”</span></em><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Ibnu Najjâr berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:19.65pt;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span>متهم بوضع الحديث وتركيب الأسانيد.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">“Ia tertuduh memalsu hadis dan membuat-buat sanad.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Al Hafidz Ibnu Hajar dalam <em>Lisân al Mîzân</em>-nya,4/159 mengatakan demikian:</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:19.65pt;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وكان الغالب على حديثه الغرائب والمنكرات ، وفي حديثه أشياء موضوعة ورأيت بخط بعض أصحاب الحديث أنه كان يضع الحديث بأصبهان.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">“Dan kebanyakan hadis yang ia riwayatkan adalah gharîb dan munkar. Dan pada hadis riwayatnya terdapat banyak hadis palsu dan aku melihat dengan tulisan tangan sebagian Ahli hadis bahwa ia memalsu hadis di </span></em><em><span style="line-height:150%;">kota</span></em><em><span style="line-height:150%;"> Isfahân.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;">Abu Salafy berkata:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Tetapi anehnya, si pembohong besar dan pemalsu tak tau malu ini begitu disanjung oleh Ibnu Taimiyah; Syeikh dan imam besar kaum Wahhâbiyah Mujassimah! Baca Risalah Ibnu Taimiyah yang berjudul <em>al Washiyyah al Kubra Fî al Aqîdah wa ad Da’wah</em>, dan ia menggelarinya dengan Syeikhul Islam. Sementara ia adalah “pemaslu kelas kakap”. Sungguh luar biasa!! <em>“Syeikhul Islam”</em> menyanjung dan memuji<em> “Syeikhul Islam”</em>, si pembual menyanjung si pemalsu!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">B) Adapun orang kedua yang meriwayatkan uraian akidah Imam Syafi’i di atas adalah Abu Muhammad as Syafi’i, adalah seorang yang telah dihalalkan darahnya oleh pera karena kesesatan akidahnya. Ia seorang musyabbih murni!! Ketarangan tentangnya dapat And abaca dalam <em>adz Dzail ‘alâ ar Rawdhatain </em>atau yang dikenal juga dengan nama <em>Tarâjim Rijâl al Qarnain </em>tulisan al Hafidz Abu Syâmah al Maqdisi.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">C) Selain itu,<span> </span>Abu Syu’aib perawi yang mereka aku sebagai yang meriwayatkan uraian akidah Imam Syafi’i<span> </span>di atas, ia baru lahir dua tahun setalah wafat Imam Stafi’i ! baca <em>Târîkh Baghdâd</em>,9/436.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Al Hafidz adz Dzahabi seperti dikutip al Hafidz Ibnu Hajar dalam <em>Lisân al Mîzân</em>,5/301 mengatakan bahwa uraian akidah itu adalah sesuatu yang disisipkan di luar kesadaran Abu Syu’aib: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:19.65pt;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أدخلوا عليه أشياء فحدث بها بسلامة باطن ، منها : حديث موضوع في فضل ليلة عاشوراء ، ومنها عقيدة الشافعي …</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">“Mereka memasukkan kepadanya banyak riwayat, lalu ia sampaikan dengan keluguan jiwa. Di antaranya adalah hadis palsu tentang keutamaan malam Asyura’ <span style="background:lime none repeat scroll 0;">dan di antaranya pula adalah akidah asy Syafi’i.”</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Maka dengan demikian gugurlah apa yang dijadikan sandaran oleh kaum Mujassimah untuk mendukung akidah tajsîm dan tasybîh mereka! <em>Wal hamdulillah!</em></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seri Kumpulan Fatwa-fatwa Wahhhabi(1) ]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/10/seri-kumpulan-fatwa-fatwa-wahhhabi1/</link>
<pubDate>Sat, 10 May 2008 00:16:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/10/seri-kumpulan-fatwa-fatwa-wahhhabi1/</guid>
<description><![CDATA[Memakai Seragam Tentara Adalah Bid’ah Dhalâlah! Di waktu-waktu senggang dan santai, saya biasa melua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">Memakai Seragam Tentara Adalah <em>Bid’ah Dhalâlah</em>!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Di waktu-waktu senggang dan santai, saya biasa meluangkan waktu untuk mencari hiburan dengan membaca buku-buku yang lucu yang menghibur. Maka dihadapan saya ada dua pilihan; membaca buku-buku <em>fukâhiyah</em> (anekdot), seperti kisah-kisah Juha, Abu Nawas, Mati Ketawa Ala Sufi dll. Atau pilihan kedua membaca buku-buku fatwa “para mufti Wahhabi setengah alim setengah jahil”. Sebab fatwa-fatwa mereka mampu menumbuhkan rasa geli saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Di bawah ini saya ingin berbagai rasa geli itu kepada pembaca setia Abu Salafy.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Dalam dunia modern, membedakan antara lapisan masyarakat sipil dengan anggota militer biasa dilakukan dengan memberikan seragam yang mencirikan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Dalam tubuh militer pun masih dipilah-pilah lagi seraagamnya, antara Angkatan Darat, angkatan Laut dan angkatan udara serta polisi dll.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Hal demikian adalah sesuatu yang wajar diberlakukan…. Tidak ada masalah yang perlu dibesar-besarkan!! Tidak ada pula yang menggatakan hal demikian itu jelek atau menyalahi aturan Syari’at Islam!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Akan tetapi, dalam pandangan mufti-mufti “setengah tiang” yang hidup terkungkung di antara dua lembah gersang padang pasir Gurun Nadj, masalah ini berdeda… ia adalah masalaah serius yang mengancam kemurnian keberagamaan masyarakat Muslim?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Ia adalah masalah serius yang akan melumerkan jati diri masyarakat Muslim!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Mengapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Sebab ia adalah <em>tasyabbuh</em>, menyerupai orang musyrik dan kafir!! Bukankah mereka yang pertama kali berinisiatif menentukan seragam tentara?!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Tidakkah kalian mendengar Nabi saw. bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">من تشبه بقومٍ فهو منهم.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">“Barang ssiapa menyerupai sekelompok kaum maka ia dari mereka.” </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Jadi menyerupai kaum kafir itu hukumnya adalah haram!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Demikian difatwakan para mufti primitif dari gurun sahara Nadj.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Dalam kitab <em>ad Durar as Saniyyah,15/363</em> disebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">إنَّ لباس الشرطةِ مُحَرَّمٌ أيضًا لأنَّه مِنَ التشبُّهِ { من تشبه بقومٍ فهو منهم}!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">“Sesungguhnya seragaam tentara itu haram hukumnya, sebab ia termasuk menyerupai, “Barang siapa menyerupai sekelompok kaum maka ia dari mereka.” </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Sebab masih kata mereka <em>“Mengenakan seragam tentara itu menyerupai pakaian kaum franji (orang-orang Barat) yang musyrikun.”</em> Baca:<em> ad Durar as Saniyyah</em>,15/365.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Termasuk juga yang diharamkan untuk dipakai para prajurit adalah topi. Baca <em>ad Durar as Saniyyah,15/367.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Selainn itu para Mufti Agung dan Mujtahid Akbar itu tidak ketinggalan mengharamkan pula mengenakan celana panjang! Baca<em> ad Durar as Saniyyah,15/367.</em> Dan apalagi celana dalam!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Kata para mufti itu, barang siapa mengenakan baju-baju itu lengkap dengan celana panjang dan topinya, maka tidak ada perbedaan antara dia dan orang-orang Barat yang kafir itu!! Baca <em>ad Durar as Saniyyah,15/367.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Setiap Prajurit Muslim (tentunya yang Salafi) harus senantiasa waspada bahwa seragam itu adalah makar jahat kaum yang hendak merusak dan menghancurkan Islam Baca:<em> ad Durar as Saniyyah,15/366. </em>Dan menerimanya sebagai seragam tentara adalah menetapkan syiar-syiar kekafiran dan kemusyrikan!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Begitu juga, -masih kata para mufti-mufti Arab gurun sahara Najd- menghentak-hentakkan kaki di sa’at baris/jalan di tempat, dan gerakan kemilitiran seperti memberikan ‘tabik’ hormat adalah haram hukumnya (<em>Ad Durar as Saniyyah,15/363)</em>. Karena gerakan seperti itu menyerupai gerakan keledai dan baghla (peranakan kuda dan keledai) yang menghentak-hentakkan kaki jika merasa ada semut atau serangga yang melata di kaki-kakinya! Jadi gerakan para prajurit itu menyerupai dua jenis binatang itu. Baca <em>ad Durar as Saniyyah</em>,15/369.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Abu Salafy berkata:</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Jadi agar supaya tidak menyerupai kaum Musyrik dan orang-orang Barat, maka mereka pasti akan menawarkan fatwa agar para tentara Islam di berbagai belahan penjuru dunia mengenakan <em>qamis</em> (baju panjang <em>ala</em> Arab) dengan serban meliliti di atas kepala sebagai ganti topi atau topi baja!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Jika tidak maka mereka bukanlah <em>Tentara Salafi</em> !!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Masalah gerakan jalan di tempat yang dihukumi haram, mungkin mereka punya gerakan alternetif sebagai gantinya, tapi sayang belum sempat mereka publikasikan atau dibukukan dalam buku kumpulan “Fatwa Jenaka” atau mungkin sudah tetapi belum sampai kepada saya!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Inilah lelucon yang diatas-namakan hukum syari’at yang diramu oleh para fukaha’ kerdil!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Saya juga tidak mengerti, apakah mempersenjataai diri dan Negara Islam dengan senjata-senjata mutakhir, seperti teng lapis baja, pesawat jet tempur dll. Juga termasuk haram hukumnya sebab itu menyerupai orang-orang Barat! Dan menggunakan produk Barat yang kafir musyrik!! Sebab, kenyaataannya, yang bisa diproduksi oleh negera “Seribu Satu Mufti Kerdil” itu hanya sebatas pisau dapur, atau silet-silet tumpul, terbukti silet-siltet mereka tidak mampu merapikan jenggot-jenggot mereka yang agak sedikit kocar-kacir!! (maaf, tidak semua jenggot mereka seperti itu, ada yang rapi seperti orang-orang Eropa juga, tentunya setelah mengunakan alat cukur produk Barat atau Israel!!)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Ada teman setelah membaca fatwa<span> </span>di atas mengatakan, berarti mengulur jengggot tanpa dirapikan juga haram hukunya, bukan Cuma menghentak-hentakkan kaki di waktu baris karena menyerupai keledai, sebeb jenggot kocar-kacir juga menyerupai jenggot kambing gurun pasir, jadi ia harus diharamkan juga!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Maka<span> </span>saya nasehati dia dengan menggatakan, “Saya tidak berani menyimpulkan begitu, sebab para mufti itu tidak menfatwakannya. Dan saya tidak mau meng<em>-qiyas</em> satu hukum dengan hukum lainnya.” !<span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seri Kepalsuan Ibnu Taimiyah (2)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/08/seri-kepalsuan-ibnu-taimyah-2/</link>
<pubDate>Thu, 08 May 2008 04:08:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/08/seri-kepalsuan-ibnu-taimyah-2/</guid>
<description><![CDATA[Apakah Benar Ibnu Taimiyah Ahli dalam Ilmu Hadis? (2) Ziarah Makam Suci Nabi Muhammad saw. dan makam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Apakah Benar Ibnu Taimiyah Ahli dalam Ilmu Hadis? (2)</span></p>
<p style="margin-left:3pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Ziarah Makam Suci Nabi Muhammad saw. dan makam-makam suci para nabi as. dam kaum Shaleh ra.</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ibnu taimyah berkata:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">ليس عن النبي (ص) في زيارة قبره ولا قبر</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">الخليل حديثا ثابتا أصلا.</span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span><span> </span>“Tidak ada satu hadispun yang tetap dari Nabi saw. tentang ziarah makamnya dan makan Khalih (Nabi Ibrahim as.).” </span></em><span>(Baca kitab az Ziyârah; Ibnu Taimiyah:12-13)</span><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam kesempatan lain ia berkata:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">والأحاديث الكثيرة المروية في زيارة قبره كلها ضعيفة بل موضوعة لم</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يرو الأئمة ولا أصحاب السنن المتبعة منها شيئا “.</span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Dan hadis-hadsi yang banyak yang diriwayatkan tentang ziarah kuburan Nabi seluruhnya lemah bahkan palsu. Tidak satupun yang diriwayatkan oleh para imam dan penulis kitab-kitab Sunan yang diikuti.” (Az Ziyârah; Ibnu Taimiyah:22-23)</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sementara itu Ibnu Taimiyah dalam dua kesempatan menukil hadis shshih dari Rasulullah saw. yang diriwayatkan Imam Ibnu Mâjah dan ad Dârquthni dalam dua kitab Sunan mereka.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Rasulullah saw. bersabda:</span></p>
<p style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="ltr"><span> </span></span></strong><strong><span style="font-size:14pt;">”من زارني بعد مماتي</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" dir="ltr"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;">كأنما زارني في حياتي “</span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Barang siapa menziarahiku setelah wafatku maka seperti menziarahiku di masa hidupku.”</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Walaupun kemudian ia –seperti kebiasaan lamanya- berbalik mengingkarinya dan berkata:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Tidak seorang pun dari para imam tentang ziarah satu atsar pun dan tidak pula datang dalam kitab Sunan!”</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Masihkah ada keraguan bahwa Ibnu Taimiyah –Imam besarnya kaum Wahhabiyah- termasuk yang gemar menipu, memalsu dan membodohi kaum awam dengn mengaku ini dan itu?!</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Mengapakah ia harus berbohong? Memalsu? Menipu? Dan mengaku-ngaku bahwa tidak ada seorang pun dari para imam dan penulis Sunan yang meriwayatkannya?</span></p>
<p style="margin-left:1.3pt;text-align:justify;text-indent:1.75pt;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيْقاً كَذَّبْتُمْ وَ فَرِيْقاً تَقْتُلُوْنَ.</span></strong><em></em></p>
<p style="margin-right:1.3pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">“Apakah setiap rasul datang kepada kalian dengan membawa misi yang tidak sesuai dengan keinginan kalian lalu kalian bertindak angkuh; sebagian dari (para rasul itu) kalian dustakan dan sebagian (yang lain) kalian bunuh?.” </span></em><span style="line-height:150%;">(QS. Al Baqarah;87)</span><em><span style="line-height:150%;"> </span></em><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Apakah setelah bukti-bukti nyata berupa hadis-hadis shahih dari Nabi saw., mereka tetap menolaknya dan mengatakan, ‘apa yang kamu bawakan itu itu kepalsuan belaka’?</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Mengapakah hawa nafsu begitu menguasai jiwa-jiwa dan pikiran kaum penentang?</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;color:blue;">فَلَمَّا جاءَتْهُمْ آياتُنا مُبْصِرَةً قالُوا هذا سِحْرٌ مُبينٌ. </span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">“Maka tatkala mukjizat- mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka:”Ini adalah sihir yang nyata”.” </span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">(QS. An naml;13</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" dir="rtl">(</span><em></em></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>(Bersambung)</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kasyfu asy Syubuhat Doktrin Takfir Paling Ganas (16)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/06/208/</link>
<pubDate>Tue, 06 May 2008 02:32:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/06/208/</guid>
<description><![CDATA[Setelah pembicaraan panjang ini mari kita kembali membicarakan masalah syafa’at yang menjadi bahasan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setelah pembicaraan panjang ini mari kita kembali membicarakan masalah syafa’at yang menjadi bahasan inti dan dasar kunci vonis musyrik yang dijatuhkan Ibnu Abdil Wahhab atas sesiapa yang memintanya kepada Nabi saw. atau seorang hamba pilihan Allah.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong><span style="font-size:14pt;"> Syafa’at Antara Faham Sekte Wahhabiyah Dan Islam</span></strong><span style="font-size:16pt;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Di antara syubhat Sekte Wahhabiyah yang dengannya mereka menvonis kafir dan musyrik seluruh umat Islam (selain kelompok mereka) dan menghalalkan darah-darah dan harta-harta mereka adalah tuduhan bahwa kaum Muslimin menyembah kuburan dengan mengagungkan, menghormati, menciuam batu nisan atau menggusapnya, berdoa di sisinya, meminta syafa’at kepada mereka dll. Dan ini semua (kata kaum Wahhabiyah) adalah kemusyrikan dan penyembahan selain Allah SWT… </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Anggapan mereka itu sebenarnya tidak berdasar, para ulama Islam<span> </span>baik Ahlusunnah maupun Syi’ah telah menjelasakan dasar-dasar praktik dan keyakinan mereka yang tidak sedikitpun mengandun unsur kemusyrikan seperti yang dutuduhkan Ibnu Abdil Wahhab dan para pengikutnya; kaum Wahhabi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Akan tetapi, kali ini mari kita telaah keyakinan mereka tentang syafa’at dan dasar-dasar syubhat yang dengannya mereka memvonis kafir dan musyrik sesiapa yang meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad saw. atau kepada seorang dari hamba pilihan dan kekasih Allah SWT. dengan mengatakan, misalnya, ‘Wahai Rasulullah, berilah aku syafa’atmu’ atau ‘Wahai Rasulullah jadilah engkau sebagai pemberi syafa’atmu’. Sebab dalam angapan Sekte Wahhabiyah, yang demikian itu sama dengan menyekutukan Allah, dalam permohonan dan penyembahan,<em> du’a’un wa ibadatun</em>. Yang benar dan sesuai dengan kemurnian Tauhid adalah kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan atau memperkenankan Nabi Muhammad saw. menjadi pemberi syafa’at untuk kita, dengan menggakata, <em>‘Ya Allah, jadikan Muhammad sebagai syafî’an (pemberi syafa’at) untukku’!</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Hakikat Syafa’at</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Meminta Syafa’at dari para nabi dan kaum Shalih atau para malaikat yang dikabarkan Allah bahwa mereka itu mempunyai kedudukan di sisi-Nya adalah hal terlarang dalam keyakinan kaum Wahhabiyah dan dikategorikan syirik. Demikian ditegaskan Ibnu Abdil Wahhabi dalam banyak kesempatan, di antaranya dalam <em>Risalah Arba’u al Qawâid</em>-nya dan juga pada beberapa tempat dalam kitab <em>Kasyfu asy Syubuhât</em>-nya, seperti Anda dapat baca sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dan mereka yang meminta-minta syafa’at dari nabi atau malaikat atau seorang yang shaleh sama dengan kaum musyirkun yang menyembah berhala dan arca…. Apa yang mereka lakukan itu sama dengan praktik kaum Musyrikun yang karenanya Rasulullah saw. memerangi dan menghalalkan darah-darah mereka. Maka demikian juga dengan kaum muslimin yang melakukan praktik yang sama dengan kaum Musyirkun, halah darah-darah mereka untuk dicucurkan dan harta-harta mereka untuk dirampas, <em>sawâan bisawâin</em><strong>. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dengan keterangan lain bahwa: Meminta syafa’at kepada Nabi saw.adalah ibadah,penyembahan kepadanya! Dan setiap pnyembahan kepada selain Allah adlah syirik!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Adapun keharusan menghindarkan diri dari syirik ialah dikarenakan kita harus mentauhidkan Allah dalam penyembahan sebagaimana wajib mentauhidkan Allah dalam penciptaan, <em>Khâliqiyyah</em> dan <em>Râziqiyah</em> (pemberian rizki). Adapaun alasan untuk poin pertama, ialah bahwa kemusyrikan kaum kafir yang dihadapi Nabi saw.adalah dikarenakan mereka meminta-minta syafa’at kepada acra dan berhala dengan dalil firman Allah:<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ الَّذينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِياءَ ما نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونا إِلَى اللَّهِ زُلْفى</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah<span> </span>(berkata):&#8221; Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya&#8221;.</span></em><span style="line-height:150%;"> (QS. Az-Zumar: 3).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Dan Firman Allah yang lain:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يَقُولُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">هؤُلاءِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">شُفَعاؤُنا</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">عِنْدَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">اللَّهِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">Dan mereka berkata:” Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”.</span></em><span style="line-height:150%;"> (QS. Yunus: 18)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dan ketika mengajarkan para pengikutnya cara berdebat, Ibnu Abdil Wahhab mendoktrinkan demikian:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="background:lime none repeat scroll 0 50%;line-height:150%;">Maka jawablah sanggahan semacam ini dengan yang telah kami sebutkan yaitu; orang-orang yang diperangi oleh Rasul Saw juga mengakui hal yang sama dan mengakui bahwa arca-arca mereka tidak berfaedah apa-apa dan mereka hanya bermaksud kedudukan dan syafaat, lalu bacakanlah kepadanya kitab Allah dan jelaskanlah.</span><span style="line-height:150%;"> (<em>Kasyf asy Syubuhât</em>:49) kemudian ia mengajarkan beberapa ayat yang diarahkannya untuk menyamakan praktik kaum Musyrikun dalam penyembahan terhadap sesembahan mereka dengan praktik kaum Mulsimin dalam memohon syafa’at kepada para nabi as., misalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Di sini, kita perlu menyelami makna ayat-ayat tersebut agar tidak terjatuh dalam keselah-pahaman seperti yang dialami Ibnu Abdil Wahhab dan para pengikutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;">Dua Ayat Syubhat Kaum Wahhabiyah</span></strong><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;">Ayat Pertama: </span></strong><span style="line-height:150%;">Ayat 18 Surah Yunus:</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Allah SWT berfiman:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ما لا يَضُرُّهُمْ وَ لا يَنْفَعُهُمْ وَ يَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَ تُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِما لا يَعْلَمُ فِي السَّماواتِ وَ لا فِي الْأَرْضِ سُبْحانَهُ وَ تَعالى‏ عَمَّا يُشْرِكُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">.</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><em><span>“Dan mereka menyembah selain dari pada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak(pula) kemanfaatan, dan mereka berkata:&#8221;Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah&#8221;. Katakanlah:&#8221; Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak(pula)di bumi&#8221; Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).<strong></strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;">Ketarangan:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;">Pertama: </span></strong><span style="line-height:150%;">Jelas sekali bahwa ayat di atas tidak dapat dijadikan dasar atas sybuhat mereka, sebab ia telah menegaskan bahwa yang menyebebkan kemusyrikan mereka bukanlah <em>tasyaffu’</em> (meminta syafa’at). Dan penyembahan (ibadah) mereka bukanlah <em>tasyaffu’</em> mereka. Ayat di atas menerangkan kepada kita bahwa ada dua praktik yang dijalankan kaum Musyrikun yang tidak boleh kita campur adukkan antara keduannya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">Pertama,</span></em><span style="line-height:150%;"> penyembahan terhadap berhala-berhala dan acra-arca, yang Allah sebutkan dengan firman-Nya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يَعْبُدُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">مِنْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">دُونِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">اللَّهِ&#8230;&#8230;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>“</span></em><em><span>Dan mereka menyembah selain daripada Allah&#8230;. “</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>kedua, </span></em><span>ber<em>atasyaffu’ </em>dan meyakini bahwa mereka (sesembahan selain Allah itu) adalah pemberi syafa’at untuk mereka. Dan praktik atau keyakinan kedua ini yang disebutkan dengan friman-Nya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يَقُولُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">هؤُلاءِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">شُفَعاؤُنا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">عِنْدَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">اللَّهِ</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>&#8220;Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah&#8221;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kalimat kedua yang menunjukkan keyakinan tersebut: </span><strong><span>َيَقُولُونَ</span></strong><strong><span> </span></strong><strong><span>هؤُلاءِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يَقُولُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">هؤُلاءِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">شُفَعاؤُنا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">عِنْدَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">اللَّهِ</span></strong><span> di<em>’athaf</em>kan (digandengkan) dengan kalimat sebelumnya:</span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> وَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يَعْبُدُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">مِنْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">دُونِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">اللَّهِ&#8230;&#8230;</span></strong><span>dengan huruf <em>’athaf</em> <em>waw</em> (</span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><span>). Dan h</span><span>al ini bukti nyata bahwa ia adalah dua hal yang berbeda, sebab seperti ditetapkan dalam kaidah bahasa Arab. Setiap kata atau kalimat yang di<em>’athaf</em>kan kepada kata atau kalimat lain itu berarti keduanya berbeda. Ia adalah dua hal yang berbeda!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Maka dengan demikian dapat dimengerti bahwa penyembahan mereka bukan dalam bentuk permohonan syafa’at (<em>tasyaffu’</em>),akan tetapi dengan bersujud kepadanya, dan menyekutukannya dengan Allah dalam penyembahan/ibadah. Kenyataan ini sangat jelas sekali dari pembukaan ayat:<em> </em></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يَعْبُدُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">مِنْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">دُونِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">اللَّهِ</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Dan mereka menyembah selain daripada Allah&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Mereka benar-benar menyembahnya dam menyekutukan Allah SWT dengannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Jadi apa yang mereka praktikkan buklan sekedar menjadikan sesembahan mereka itu sebagai <em>syfa’â’</em> (pembei syafa’at).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Adapun firman:</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">ما</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لا</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يَضُرُّهُمْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لا</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يَنْفَعُهُمْ</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>“&#8230;apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak(pula) kemanfaatan&#8230; “ </span></em><span>adalah bukti kuat bahwa mereka menjadikan bebetuan dan patung sebagai sesembahan dan meyakininya maampu memberikan apa yang mereka minta, berupa pertolongaan, syafa’at, sementara Allah tidak memberikaannya hak dan kemampuan untuk itu!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Kedua: </span></strong><span>Adalah berbeda antara dua model praktik dam keyakinan dalam ber<em>istisyfâ’</em> (permohonan syafa’at)antara yang dijalankan kaum Musyrik dengan yang diyakini dan dipraktikkan kaum Muslimin&#8230; Ketika ber<em>istisyfâ’</em>, kaum Musyrik itu meyakini bahwa aasesembahan (arca) mereka itu adalah rabb (tuhan) mâlik (pemilik muthlak) hak memberi syafa’at&#8230; mereka meyakini bahwa sesembahan mereka itu mampu memberikan syafa’at untuk sesiapa yang mereka kehendaki dan kapankun mereka kehendaki, dengan atau tanpa restu dan izin Allah SWT. karena itu Allah mengecam akidah seperti itu!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Allah berfirman:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">قُلْ لِلَّهِ الشَّفاعَةُ جَميعاً .</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:200%;margin:6pt 0;"><em><span>“Katakanlah:&#8221; Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya.” (QS. Az Zumar [39];44</span></em><em><span dir="rtl">(</span></em><em></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:200%;margin:6pt 0;"><span>Sementara itu, kaum Muslimin tidak meyakini kayakinan seperti itu terhadap para nabi, para wali yang diyakini memiliki hak syafa’at. Semua dengan seizin Allah ddan atas ketentuan Allah dan restu-Nya&#8230;. Kaum Muslimin yang ber<em>tasyaffu’</em> tidak sebodoh kaum Musyirik, sementara mereka membaca ayat-ayat Al Qur’an siang malam:</span></p>
<p style="margin-left:1.3pt;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">مَن ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ </span></strong><em></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:200%;margin:6pt 0;"><em><span>“Tidak ada orang yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa seizin-Nya.’ (QS. Al Baqaraah [2];255)</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:200%;margin:6pt 0;"><span>dan dengan perbedaan yang mendasar ini bagaimana Imam besar Waahhabiyah menyaamakan antara kaum Muslimin yang mengesakan Allah dengn kaum Msuyrik yang menyekutukan Alllah dengan selain-Nya?!</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:200%;margin:6pt 0;"><span>Bukti bahwa kaum Musyrikun berkeyakinan bahwa arca dan sesembahan mereka memiliki haak syafa’at dengan tanpa seizin Allah adalah:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:200%;margin:6pt 0;"><!--[if !supportLists]--><span><span>A)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Adanya penekanan yang begitu besar dalam Al Qur’an melalui ayat-ayatnya bahwa pmberiaan syafa’at oleh para pemberinya itu disyaratkan harus adanya izin dan restu dari Allah SWT.</span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:200%;margin:6pt 0;"><span>Coba perhatikan ayat-ayat di bawah ini:<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Ayat 255 surah al Baqarah:</span></span></p>
<p style="margin-left:1.3pt;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">مَن ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ </span></strong><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>“Tidak ada orang yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa seizin-Nya.’</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Ayat 3 surah Yunus:</span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">ما مِنْ شَفيعٍ إِلاَّ مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">.</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>“Tiada seorang pun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izin- Nya.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>3)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Ayat 109 surah Thâha:</span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفاعَةُ إِلاَّ مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمنُ وَ رَضِيَ لَهُ قَوْلاً</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">.</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><em><span><span> </span>“Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali ( syafaat ) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridai perkataannya.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>4)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Ayat 26 surah an Najm:</span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ كَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّماواتِ لا تُغْني‏ شَفاعَتُهُمْ شَيْئاً إِلاَّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشاءُ وَ يَرْضى‏.</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><em><span>“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai (Nya).”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>5)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Ayat 28 surah al Anbiyâ’:</span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ لا يَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضى‏ </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">.</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>“&#8230; dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah&#8230; “</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>B)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Penekanan Al Qur’an bahwa arca-arcaa yang mereka sembah itu tidak memiliki hak syafa’at&#8230; Allah lah pemilik syafa’at itu!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Ayat 86 surah az Zukhruf:</span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ لا يَمْلِكُ الَّذينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفاعَةَ إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَ هُمْ يَعْلَمُونَ. </span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafaat; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya) .</span></em><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Ayat 87 surah Maryam:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33.5pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لا</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يَمْلِكُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">الشَّفاعَةَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">إِلاَّ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">مَنِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">اتَّخَذَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">عِنْدَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">الرَّحْمنِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">عَهْدا.</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.45pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>“Mereka tidak berhak mendapat syafaat kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.45pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dari ayat-ayat di atas tampak jelas bahwa syafa’at adalah hak murni Allah SWT dalam mengertian bahwa Allah pemiliknya, dan siapapun yang telah diberi hak Allah untuk memberlakukan hak syafa’at tersebut haruslah memberlakukannya dengan izin dan restu/ridha Allah! Berdeba dengan keyakinan kaum Musyrikun, di mana mereka meyakini bahwa sesembahan mereka dapat memberikan syafa’at tanpa seizing Allah SWT.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.45pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Jadi tanpa penganugrahan hak tersebut kepada seseorang, tidak mungkin ia memiliki hak syafa’at. Dan tanpa seizin Allah, pemilik syafa’at itu tidak akan diperbolahkan memberlakuakan dan memberikan syafa’at untuk siapapun! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.45pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Adapun angapaan yang diyaakini Ibnu Abdil Wahhab, bahwa Allah telah memberikan kepada nabi-Nya hak syafa’at akan tetapi Dia melarang kita untuk meminta syafa’at darinya adalah sangat aneh! Sebab tidak ada satu ayat atau hadis shshih pun yang menyebutkan adanya larangan itu! Selain itu, anggapan seperti itu persis dengan seorang raja yang memberikan air minum di musim kekeringan kepada seoraang kepercayaannya akan tetapi ia melarang warganya yang kehausan untuk meminta setetes air darinya! Atau<span> </span>seperi Allah SWT memberikan telaga Kautsar tetapi Allah melarang kita untuk meminta dari Nabi saw. agar berkenan memberikan minum untuk kita dari telaga tersebut!<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Adapun anggapan Ibnu Abdil Wahhab bahwa dengan meminta syafa’at dari Nabi saw. atau para kekasih Allah itu sama dengan menyeru selain Allah dan menodai kemurnian tauhid, maka akan kita bahas nanti ketika meneliti ayat ketiga yang ia jadikan dalil.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;">Ayat Kedua: </span></strong><span style="line-height:150%;">Ayat 3 surah az Zumar:</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ الَّذينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِياءَ ما نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونا إِلَى اللَّهِ زُلْفى</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):&#8221; Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya&#8221;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>(Bersambung)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Abdil Wahhab Mempersenjatai Pengikutnya Dengan Senjata Kebodohan]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/30/ibnu-abdil-wahhab-mempersenjatai-pengikutnya-dengan-senjata-kebodohan/</link>
<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 01:11:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/30/ibnu-abdil-wahhab-mempersenjatai-pengikutnya-dengan-senjata-kebodohan/</guid>
<description><![CDATA[Seperti diketahui semua orang, bahwa pada awal kemunculan ajakannya, Ibnu Abdil Wahhab telah ditenta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Seperti diketahui semua orang, bahwa pada awal kemunculan ajakannya, Ibnu Abdil Wahhab telah ditentang keras para ulama Islam, sementara kaum awam menyambut dan menerima ajakan dan seruannya. Sementara itu, seperti ia janjikan (dan telah kami sebeutkan sebelumnya, bahwa satu dari pengikutnya yang awam saja pasti mampu mengalahkan seribu ulama kaum Musyrikun -Muslimun maksudnya-), maka di sini ia perlu mempersenjatai para pengikutnya yan rata-rata awam itu dengan senjata yang dengannya pasti mereka menang dalam menghadapi siapa saja yang menentangnya dan menyalahkan akidah dan pandangannya dan dalam situasi apapun.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Apa senjata yaang dipersiapkan Ibnu Abdil Wahhab untuk para pengikutnya? <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Karena Ibnu Ibnu Abdil Wahhab itu adalah seorang pemimpi yang “bijak” maka ia pasti akan memberikan senjata yan tepat untuk mereka. Ia mengerti benar kadar ilmu para pengikutnya yang awam, karenanya ia mempersenjatai mereka dengan senjata: asal <em>inkar</em> dan menggolonkkan dalil apapun yang dibawa lawan ajakan tauhidnya sebagai hal yangg <em>mutasyâbih</em>!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Apapun bukti yang akan diajukan lawan-lawan kalian, yang tidak kalian menerti, maka jabablah dengan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Senjata Inkar:</span></em></strong></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;"> “Dan apa yang Anda sebut </span><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">wahai musyrik</span></strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;"> dari al-Quran dan sabda Nabi saw. tidak saya mengerti artinya.” (<em>Kasyfu asy Syubuhât</em>:48)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Senjata Dalil Kamu Mutasyabih:</span></strong></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;"> Jika sebagian </span><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">orang musyrikin</span></strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;"> berkata kepada Anda: <em>Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)mereka bersedih hati</em>. (Yunus: 62) Dan sesungguhnya syafa’at adalah itu <em>haq</em> (pasti adanya) dan para nabi memiliki kedudukan di sisi Allah atau si musyrik itu membawakan sabda-sabda Nabi saw. sebagai dalil atas kebatilan pendapatnya (tentangg syafa’at), </span><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">sedang Anda tidak memahami arti ucapan yang ia sebutkan</span></strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;"> maka jawablah dengan: <em>“<span style="text-decoration:underline;">Sesungguhnya Allah menyebutkan dalam Kitab-Nya bahwa mereka yang di hatinya ada kecenderungan kepada kebatilan maka mereka meninggalkan yang muhkam (tegas dan pasti maknanya) dan mengikuti yang muthasyabih (saram).</span>”</em> (<em>Kasyfu asy Syubuhât</em>:46).<em><span style="text-decoration:underline;"></span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sungguh luar biasa senjata akal-akalan Imam Wahhabi yang satu ini&#8230;. ia mempersenjati para pengikutnya dengan senjata kebodohan, setiap kali ulama atau seorang awam kaum Muslimin membawakan dalil tantang syafa’at, misalnya, bahwa Nabi Muhammad saw. memiliki hak memberikan syafa’at untuk umatnya, dan kami memohon dari beliau agar memberikan syafa’at untuk kami, maka di sini Ibnu Abdil Wahhab mendoktrin pengikutnya dengan: “Katakan bahwa masalah itu adalah tergolongg <em>mutasyâbih</em> dalil yan kamu bawakan juga<em> mutasyâbih</em>, dan kegemaran orang yang sesat dan menyimpang hanya mengikuti ayat-ayat yang <em>mutasyâbih</em>!” dan “Ayat dan sabda Nabi saw. yang kamu uraikan itu saya tidak mengerti, tapi yang pasti bukan begitu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Demi Allah yang menciptakan akal sehat dan memberi hidayah para pencarinya, adakah senjata kebodohan dan sikap akal-akalan yang mengungguli apa yang didoktrinkan Imam Wahhabi ini?!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Ayat-ayat Syafa’at Bukan <em>Mutasyâbih</em></span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Seperti pernah saya jelaskan bahwa untuk mengolonkan sebuah ayat itu <em>mutasyâbih</em> atau <em>muhkam</em>, tidak dapat ditetapkan oleh selera kita dan atau asal-asalan. Kesamaran makna yang menyebabkan sebuah ayat digolongkan <em>mutasyâbih</em> itu harus ada sebabnya. Sementara kata-perkata dan kalimat perkalimat dalam ayat syafa’at itu sangat gamblang, tidak ada kesamaran sedikitpun. Lalu mengapakah Syeikh Ibnu Abdil Wahhab menggolongkannya sebagai ayat <em>mutasyâbihât</em>? Sisi mana dari, misalnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;"><span> </span>A) Para awliya’ Allah tidak ada <em>khawf</em>/rasa takut dan tidak sedih,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">B) Para awliya’ Allah memiliki kedudukan di sisi Allah SWT, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">yang menggandung unsur ke<em>mutasyâbih</em>an?<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;"><span> </span>Demikianlah doktrin untuk mengatakan kepada lawan-lawan da’wah Wahhabiyah bahwa “faham/dalil yan kamu sebutkan itu <em>mutasyâbih</em> sedang yang kami yakini adalah <em>muhkam</em> (pasti/tegas), maka tidak benar meningalkan yang <em>muhkam</em> demi mengikuti yang <em>mutasyâbih</em> atau melawan yang <em>muhkan</em> dengan dalil yang <em>mutasyâbih</em>” diajarkan kepada para pengikutnya, akan tetapi ini adalah metode keliru dalam mengajarkan cara<span> </span>berdiskusi atau berdabat, dan semua orang bisa mempersenjatai diri dengan senjata seperti itu setiap kali terpojokkan. Ke<em>mutasyâbih</em>an itu tidak dapat ditetapkan dengan sekendak kaum awam Wahhabi, ada aturan dan kaidahnya yang dihabas panjang lebar oleh para ulama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Jadi adalah aneh, kebanggaan yang dipampakkan Imam Wahhabi setelah mengajarkan dalil dan cara berdebat di atas:<em> Hal ini merupakan hal yang muhkam dan jelas yang tidak bisa diubah artinya oleh siapapun. &#8230;. Akan tetapi jawaban ini tidak mungkin dipahami kecuali oleh orang yang telah diberi taufik oleh Allah</em>.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tokoh Besar Wahhâbi; Syeikh Nâshiruddin al Albâni menipu Awam Wahhâbi]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/27/197/</link>
<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 04:59:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/27/197/</guid>
<description><![CDATA[Sepertinya menipu dan tidak jujur dalam mendiskusikan dan atau menukil sebuah data telah menjadi keb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sepertinya menipu dan tidak jujur dalam mendiskusikan dan atau menukil sebuah data telah menjadi kebiasaan kaum Wahhâbi/Salafy, khususnya ketika terkait dengan keyakinan mereka yang menyelisihi kaum Muslimin (selain Wahhâbi, itupun kalau masih dianggap sebagai Muslimin?!), seperti ketika mereka ngotot ingin membela akidah menyimpang mereka bahwa Allah SWT bersemayam di langit. Maha suci Allah dari pensifatan oleh kaum jahil.</span><!--more--><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kali ini, saya ajak pembaca setia blog Abu Salafy untuk menyaksikan langsung kecurangan Syeikh kebanggaan kaum muda Salafy bersemangat tinggi dalam membedah Hadis/Sunnah, dia adalah Syeikh Nâshiruddin al Albâni dalam catatan pinggirnya atas kitabnya <em>Mukhtashar al ‘Uluw</em> (ringkasan kitab <em>al ‘Uluw </em>karya adz Dzahabi yang dijadikan pegangan kaum Wahhâbi dalam akidah <em>Tajsîm</em> terselubung mereka).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ketika menyebut hadis <em>Jâriyah</em> (budak wanita), ia menyebut di antara ulama yang menshahihkan hadis tersebut adalah al Baihaqi<span> </span>dan ia (al Baihaqi) mengatakan Muslim menshahihkannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Untuk lebih jelasnya mari kita baca langsung hadis tersebut dalam riwayat Muslim, sesuai yang termaktub dalam <em>Shahih</em>-nya dengan syarah Imam an Nawawi,5/20:<span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">حدثنا أبو جعفر محمد بن الصباح وأبو بكر بن أبي شيبة وتقاربا في لفظ الحديث</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">قالا:حدثنا إسماعيل بن إبراهيم عن حجاج بن صواف عن يحيى بن أبي كثير عن هلال بن أبي ميمونة عن عطاء بن يسار عن معاوية بن الحكم السلمي قال:بينا أنا أصلى مع رسول الله (ص)إذ عطس رجل من القوم؟ فقلت: يرحمك الله</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">فرماني القوم بأبصارهم! فقلت: واثكل أمياه ما شأنكم تنظرون إلي؟! فجعلوا يضربون بأيديهم على أفخاذهم! فلما رأيتهم يصمتونني لكني سكت، فلما صلى رسول الله (ص) فبأبي هو وأمي ما رأيت معلما قبله ولا بعده أحسن تعليا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">منه؟ فو الله ما كرهني ولا ضربني ولا شتمني، قال: (إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شئ من كلام الناس إنما هو التسبيح والتكبير وقراءة القران &#8221; أو كما قال رسول الله (ص)، قلت:يا رسول الله إني حديث عهد بجاهلية، وقد جاء الله بالاسلام وإن رجالا يأتون الكهان، قال:&#8221; فلا تأتهم&#8221;.</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">قال ومنا رجال يتطيرون، قال:&#8221; ذلك شئ يجدونه في صدورهم فلا يصدنهم&#8221; قال ابن الصباح:فلا يصدنكم.قال:قلت:ومنا رجال يخطون؟ قال:&#8221; كان نبي من الانبياء يخط فمن وافق خطه فذاك&#8221;.<span style="background:lime none repeat scroll 0;">قال:وكانت لي جارية ترعى غنما لي قبل أحد والجوانية، فاطلعت ذات يوم فإذا الذيب قد ذهب بشاة من غنمها وأنا رجل من بني آدم آسف كما يأسفون، لكني صككتها صكة فاتيت رسول الله (ص)،فعظم ذلك علي،قلت:يا رسول الله أفلا أعتقها؟! قال:&#8221;ائتني بها&#8221; فأتيته بها؟ فقال لها:&#8221;أين الله؟ &#8221; قالت:</span></span></strong><strong><span style="background:lime none repeat scroll 0 50%;font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="background:lime none repeat scroll 0 50%;font-size:14pt;line-height:150%;">في السماء . قال : &#8221; من أنا؟&#8221; قالت:أنت رسول الله. قال:&#8221;أعتقها فإنها مؤمنة&#8221;</span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span><span>Dalam kesempatan ini saya hanya akan menerjemahkan bagian terakhir hadis saja mengingat bagian itu yang dijadikan dalil andalan kaum <em>Mujassimah</em> modern (Wahhâbi/Salafy):</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Aku memiliki seorang budak perempuan yang mengembala kambing-kambingku sebelum Uhud dan jawaniyah. Pada suatu hari aku saksikan seekor srigala menyambar seekor kambing gembalaannya, karena aku seorang anak Adam (manusia biasa) maka aku menyesalinya seperti mereka juga menyesalinya. Hanya saja aku menempelengnya dengaan sekali tempelengan, kemudian aku mendatangi Rasulullah saw., aku menyesali perbuatanku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah perlu aku merdekakan dia?” Beliau bersabda, “Bawa dia kemari!” Maka aku bawa ia menghadap beliau. Beliau bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Ia menjawab, “Di langit.” Siapa aku?, lanjut Nabi. ‘Engkau Rasulullah’, jawabnya. Maka Beliau bersabda, “Merdekakan dia! Sesungguhnya ia seorang mukiminah.”</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Abu Salafy berkata:</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam kesempatan ini saya tidak akan mempermasalahkan <em>fighul hadis</em> dan kandungannya serta <em>idhturâb</em>/kekacauan redaksi dalam riwayat itu. Sebab sebelumnya telah saya bahas masalah itu dan kerancuan penukilan teks riwayat bagian akhir dengan radaksi seperti di atas. Akan tetapi yang penting bagi kita adalah menyaksikan langsung bagaimana “demonstrasi kejujuran ilmiah” pembesar Wahhâbi dan pakar hadis kebanggaan mereka yang denggan terang-terangan mempermaikan akal dan keluguan (baca kedangkalan/kebodohan awam Wahhâbiyyin) menipu demi membela akidah menyimpangnya.<span> </span>Seperti pernah saya singgung bahwa kaum Wahhâbi demi mencari pembenaran atas kayakinan mereka, tidak segan-segan memalsu <em>atsar</em> atas nama salaf dan para <em>aimmah</em>, pembesar ulama umat ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kali ini pembaca saya ajak menyaksikan bukti “kejujuran ilmiah” itu dari Syeikh Nâshiruddîn al Alabni.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setelah menyebut hadis di atas, al Albâni berkomentar demikian dalam kitab <em>Mukhtashar al ‘Uluw</em>: 82, ketika menyebut nama-nama ulama yang menshahihkan hadis di atas:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">&#8221; البيهقي في الاسماء حيث قال عقبه ص 422 : وهذا صحيح <span style="background:lime none repeat scroll 0;">قد</span></span></strong><strong><span style="background:lime none repeat scroll 0 50%;font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="background:lime none repeat scroll 0 50%;font-size:14pt;line-height:150%;">أخرجه مسلم &#8220;</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Al Baihaqi dalam (kitab) <em>al Asmâ</em>, di mana ia berkata setelahnya: 422, ‘Ini adalah hadis shahih. <span style="background:lime none repeat scroll 0;">Imam Muslim telah meriwayatkannya.</span>’”</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Syeikh al Albâni dalam melakukan penukilan komentar al Baihaqi di atas tidak jujur! Ia sengaja memenggal lengkap komentar al Baihaqi yang jelas-jelas tidak menguntungkannya. Perhatikan lengkap komentar al Baihaqi dalam kitab <em>al Asmâ’ wa ash Shifât</em>, persis pada halaman yang ia sebutkan:<span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">&#8221; وهذا صحيح قد أخرجه مسلم <span style="background:lime none repeat scroll 0;">مقطعا</span> من حديث الاوزاعي وحجاج الصواف عن يحيى بن أبي كثير <span style="background:lime none repeat scroll 0;">دون قصة الجارية</span>. وأظنه إنما تركها من الحديث لاختلاف الرواة في لفظه ؟ </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وقد ذكرت في كتاب الظهار من السنن مخالفة من خالف معاوية بن الحكم في لفظ الحديث &#8221; . </span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Ini adalah hadis shahih, Muslim telah mengeluarkan (meriwayatkan)nya dengan memotong (tidak keseluruhan/total riwayat) dari hadis (riwayat) al Awza’i dan Hajâj ash Shawwâf dari Yahya ibn Abi Katsîr <span style="background:lime none repeat scroll 0;">tanpa menyenut kisah Jâriyah (budak perempuan)</span>. Mungkin ia meninggalkan (menyebutnya) dalam hadis itu disebabkan perselisihan para perawi dalam penukil redaksinya. Dan saya telah menyebutkan dalam kitab <em>as Sunan</em> pada bab <em>adz Dzihâr</em> perselisihan perawi yang menyelisihi Mu’awiyah ibn Hakam dalam redaksi hadis.”<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Demi Allah! Dan demi kemulian ilmu agama, terserah Anda untuk menamai apa yang dilakukan Syeikh kebanggaan kaum Wahhâbi ini? Penipuan! Kecurangan! Atau apapaun, terserah Anda! </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bagiamana Syeikh kebanggaan kaum Wahhâbi ini mengatakan bahwa al Baihaqi berkaata, <span style="background:lime none repeat scroll 0;">“Imam Muslim telah meriwayatkannya.”</span>? Sedangkan Imam al Baihaqi, seperti Anda saksikan sendiri menegaskan bahwa kisah budak perempuan itu tidak termasuk riwayat Imam Muslim!! Dan redaksi seperti yang dibanggakan kaum <em>Mujassimah</em> masih diperselisihkan para perawi, (seperti juga telah saya beber dalam kesempatan sebelumnya).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Jadi kalau hadis tersebut sekarang termaktub dalam kitab <em>Shahih</em> <em>Muslim</em>, sementara al Baihaqi mengatakaan bukan bagian dari riwayat Imam Muslim, maka hanya ada dua<span> </span>asumsi:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Pertama, </span></em><span>Hadis itu (dengan redaksi tambahan kisah <em>Jâriyah</em>) adalah ditambahkan oleh orang lain ke dalam <em>Shahih Muslim</em> dengan tujuan melengkapi riwayat.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Kedua, </span></em><span>Tambahan itu tidak termasuk dalam kitab/naskah <em>Shahih Muslim</em> yang dimiliki Imam al Baihaqi. Artinya naskah <em>Shahih Muslim</em> milik Imam al Baihaqi tidak lengkap! </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Terlepas dari mana dari kedua asumsi itu yang benar, yang jelas Syeikh Besar kaum Wahhâbiyah telah melakukan sebuah kecurangan dalam menyebutkan komentar Imam al Baihaqi dengan tujuan yang tidak samar lagi bagi yang terbiasa meneliti ulah ulama dan tokoh Wahhâbi dari kelas mamapun mereka!</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tidak cukup itu, Syeikh Besar Wahhâbi ini meluapkan caci makinya atas sesiapa yang tidak meyakini keshahihan hadis di atas dan atau menyebutnya sebagai hadis <em>muththarib</em>/kacau redaksinya!</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ini baru satu dari sekian banyak kecurangan para pembesar kaum Wahhâbi; pewaris sejati kaum Salaf!</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Mengapa harus curang?</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ya. Sebab kalau tidak curang kapan bisa menang!</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kalau tidak menipu, mana mungkin dapat menjaring kaum awam dalam jerat ajaran menyimpangnya!</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="background:lime none repeat scroll 0 50%;">Saran saya, untuk lebih menutup-nutupi kecurangan ulama kalian, usulkan kepada mereka untuk tidak mencetak dan memasarkan buku-buku ulama kecuali untuk kalangan sendiri; paea awam wahhabi/Salafy. Sebab jika buku-buku ulama kalian jatuh ke tangan selain Wahhabi/Salafy, nanti akan memalukan! Pasti akan dibongkar kecurangannya! Kedangkalan cara bernalarnya! Keawaman kesimpulannya! dll. Itu sekedar saran demi kebaikan dan lancarnya Da’wah Salafiyah!</span><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Abu Salafy berkata:</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dengan membongkar data di atas, kami yakin kami pasti akan dibilang mencaci maki ulama pewaris para nabi!</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kami menfitnah! Berduta! Dan akhirnya Abu Salafy adalah Ahli Bid’ah <em>dhalâlah</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Walhamdulillah al ladzi hadânâ Li Hâzâ.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--><br />
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Dalam istialh para ulama hadis, riwayat yang diperselisihkan redaksinya oleh para perawi disebut <em>muththarib</em>, hadis kacau redaksinya. Dan seperti telah saya buktikan sebelumnya bahwa kekacauan redaksi dalam hadis tersebut disebabkan sebagian perawi meriwayatkan hadis tidak dengan redaksi asli sabda Nabi saw., ia meriwayatkannya dengan <em>ma’nan</em> (hanya kandungan.maknanya saja). Karenanya ia terjatuh dalam kesalahan. Sementara redaksi yang benar ialah tidak ada pertanyaan: Di mana Allah?” </span></p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam Besar Wahhâbi; Ibnu Abdil Wahhâb Pamer Kebodohan Dalam Ilmu Hadis]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/26/imam-besar-wahhabi-ibnu-abdil-wahhab-pamer-kebodohan-dalam-ilmu-hadis/</link>
<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 03:15:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/26/imam-besar-wahhabi-ibnu-abdil-wahhab-pamer-kebodohan-dalam-ilmu-hadis/</guid>
<description><![CDATA[Setalah Anda saksikan bagaimana pada artikel sebelumnya: Edisi Terbaru Kebodohan Imam besar Wahhâbi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span>Setalah Anda saksikan bagaimana pada artikel sebelumnya: Edisi Terbaru Kebodohan Imam besar Wahhâbi dalam Ilmu hadis,bagaimana Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb membangun sebuah keyakinan di atas sebuah hadis palsu, kini ia kembali lagi untuk memamerkan kejahilannya akan ilmu hadis…</span><!--more--><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam <strong>Bab: <em>Mâ Jâa Fî Qaulillah Ta’ala/tentang apa yang datang dalam firman Allah –ta’ala-</em></strong>:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَ ما قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَ الْأَرْضُ جَميعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ وَ السَّماواتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمينِهِ سُبْحانَهُ وَ تَعالى‏ عَمَّا يُشْرِكُونَ.</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">(QS. Az Zumar [39];67)</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" dir="rtl"> </span><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sebelum menutup bab tersebut dengan menyebutkan beberapa kesimpulan dari apa yang ia paparkan di dalamnya, Ibnu Abdil Wahhab mengkharinya dengan menyebut sebuah riwayat dari al Abbas ibn Abdil Muththalib dari Rasulullah saw., sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"><span> </span></span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">هَلْ تَدْرُونَ كَمْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ بَيْنَهُمَا مَسِيرَةُ خَمْسِ مِائَةِ سَنَةٍ وَمِنْ كُلِّ سَمَاءٍ إِلَى سَمَاءٍ مَسِيرَةُ خَمْسِ مِائَةِ سَنَةٍ …</span></strong><strong><span style="line-height:150%;" dir="ltr"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Tahukah kalian, berapa jarak antara langit dan bumi? Abbas berkata, “Kami berkata, ‘Allah dan rasul-Nya yang meengetahuinya.’ Beliau bersabda, ‘Jarak antara keduanya adalah perjalanan </span><span>lima</span><span> ratus tahun, dan dari satu langit ke langit lainnya perjalanan </span><span>lima</span><span> ratus tahun. Dan tebal setiap langit itu perjalanan </span><span>lima</span><span> ratus tahun. Dan antara langit ketujuh dan Arsy ada lautan yang antara bawah dan atasnya tingginya seperti antara langit dan bumi. Dan Allah –ta’ala- berada di atasnya. Tidak ada amal-amal bani Adam yang tersembunyi atas-Nya.” Hadis ini diriwayatkan Abu Daud dan selainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>(Kitab at Tauhid. Baca <em>Fath al Majid Syarh Kitab at Tauhid</em>:515)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Abu salafy berkata:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Demikianlah Imam Besar Wahhâbi menghiasi kitab Tauhidnya yang ia tulis untuk memurnikan ajaran Tauhid dari unsur-unsur kemusyrikan, bid’ah dan khurafat… Tapi coba kita teliti hadis kebanggaan Imam Besar Wahhâbi ini, agar dapat kita ketahui sejauh mana ilmu dan penguasaannya terhadap ilmu hadis yang merupakan sumber utama kedua ajaran Islam setelah Al Qur’an?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pertama-tama yang menggelikan kita ialah ternyata hadis ini adalah hadis <em>mawdhu’</em> alias “hadis-hadisan” bukan hadis beneran… ia hadis palsu. </span><span>Para</span><span> perawinya adalah para pemalsu, pembohong, lemah dan <em>majhûl/</em>misterius.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Anda pasti terkejut mendengar pernyataan saya ini. Tetapi inilah kenyataannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Mari kita baca komentar para pakar ilmu Rijâl yang berkecimpung dalam dunia penelitian para perawi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Para</span><span> parawi cacat dalam mata rantai sanad riwayat di atas antara ialah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>o<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span>Yahya ibn al ‘Alâ’</span></strong></span><span>. </span><span>Para</span><span> ulama telah mencacatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Wakî’ ibn al Jarrâh berkata tentangnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يكذب</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>”Ia sering berbohongg.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Imam Ahmad berkata tentangnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">كذاب يضع الحديث</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Seorang <em>kadzdzâb</em>/pembohong besar, gemar memalsu hadis.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Umar ibn al Fallâs dan Imam Bukhari berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">متروك الحديث</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Ditinggalkan/dibuang hadisnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ibrahim al Jauhari berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">شيخ واهٍ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Seorang syeikh yang lemah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Untuk lebih lengkapnya baca: al Kâmil Fi adh Dhu’afâ’ ar Rijâl,7/198 nomer 2104 dan al Kasyfu al hatsîts ‘Amman Rumiya Bi wadh’il Hadîts:280 nomer 840.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>o<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span>Sammâ’ ibn Harb.</span></strong></span><span> Tentangnya para ulama berkomentar seperti di bawah ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Abdullah ibn Mubarak berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">ضعيف الحديث</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Lemah hadisnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ibnu Hibban kendati mentsiqahkannya hanya saja ia berkata demikian:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يخطئ كثيراً !</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Banyak salah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sufyan ats Tsauri berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">ضعيف</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Lemah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ibnu Jarir berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أتيت سماك بن حرب فرأيته يبول واقفاً</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“aku mendatangi Sammâk ibn Harb lalu aku saksikan ia kencing sambil berdiri.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Demikian pula Syu’bah yang digelaari Amirul Mukmini dalam ilmu hadis mendha’ifkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Lebih lanjut baca <em>al Kâmil Fi Dhu’afâ’ ar Rijâl</em>,3/460 nomer 875. Ibnu al Jauzi telah memasukkannya dalam kitab <em>adh Dhu’afâ’ wa al matrûkûn</em>,2/26 nomer1552 dan ia berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">كان شعبة ، وسفيان الثوري يضعِّفانه</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8220;Syu’bah dan ats Tsauri mendha’ifkannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ibnu Ammar berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span>كانوا يقولون إنه يغلط ويختلفون في حديثه</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Mereka (para ulama)berkata, ‘Ia sring keliru. Dan mereka berselisih tentang hadisnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ibnu Ma’in berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أسند أحاديث لم يسندها غيره</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Ia sering memusnadkan banyak hadis yang tidak dimusnadkan orang lain.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Shaleh ibn Muhammad berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يُضعَّف</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">“</span><span>Ia dilemahkan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Abdurrahman ibn Yusuf ibn Kharrâsy berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">في حديثه لين</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Pada hadisnya terdapat kelemahan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dan perlu dimengerti bahwa Sammâk ini termasuk yang disepakati Imam Bukhari dan Muslim akan kemelahannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>o<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span>Abdullah ibn ‘Umair al Kûfi.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ibrahim al Harbi berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لا أعرفه</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Aku tidak mengenalnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Adz Dzahabi berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لا يُعرَف</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Ia tidak dikenal.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Al ‘Uqaili dan Ibnu ‘Adiy mendha’ifkannya. Dalam Lisân al Mîzân,7/267 nomer3588 dikatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">مجهول</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Ia tidak dikenal.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Lebih lanjut baca <em>al Kâmil Fi Dhu’afâ al Rijâl</em>,4/232 nomer 1053. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Satu Lagi Kesalahan Imam Besar Wahhâbi! </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Selain masalah pada kualitas para parawi yang megitu memalukan untuk dibangakan kecuali oleh seorang awam yang jahil akan seluk beluk periwayat hadis! Ibnu Abdil Wahhâb melakukan kesalahan yang juga cukup memalukan, ketika ia mengatakan bahwa hadis tersebut adalah diriwayatkan Abu Daud, sementara ia adalah hadis bukan Abu Daud. Wahai “Syeikh Agung” Anda salah, hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para muhaddis lain seperti Bukhari, Muslim, Turmudzi, Abu Daud, an Nasa’I dan Ibnu Mâjah tidak meriwayatkannya….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Adapun usaha penyelamatan yang dilakukan kaum Mujassimah bahwa ada hadis serupa yang diriwayatkan Abu Daud, maka saya katakana benar! Tetapi coba perhatikan redaksi riwayat tersebut dan lalu bandingkan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّازُ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ أَبِي ثَوْرٍ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمِيرَةَ عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَالَ كُنْتُ فِي الْبَطْحَاءِ فِي عِصَابَةٍ فِيهِمْ رَسُولُ اللَّهِ</span></strong><strong><span style="line-height:150%;" dir="ltr">r </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">فَمَرَّتْ بِهِمْ سَحَابَةٌ فَنَظَرَ إِلَيْهَا فَقَالَ مَا تُسَمُّونَ هَذِهِ قَالُوا السَّحَابَ قَالَ وَالْمُزْنَ قَالُوا وَالْمُزْنَ قَالَ وَالْعَنَانَ قَالُوا وَالْعَنَانَ قَالَ أَبو دَاود لَمْ أُتْقِنِ الْعَنَانَ جَيِّدًا قَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَا بُعْدُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ قَالُوا لَا نَدْرِي قَالَ إِنَّ بُعْدَ مَا بَيْنَهُمَا إِمَّا وَاحِدَةٌ أَوِ اثْنَتَانِ أَوْ ثَلَاثٌ وَسَبْعُونَ سَنَةً ثُمَّ السَّمَاءُ فَوْقَهَا كَذَلِكَ حَتَّى عَدَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ثُمَّ فَوْقَ السَّابِعَةِ بَحْرٌ بَيْنَ أَسْفَلِهِ وَأَعْلَاهُ مِثْلُ مَا بَيْنَ سَمَاءٍ إِلَى سَمَاءٍ ثُمَّ فَوْقَ ذَلِكَ ثَمَانِيَةُ أَوْعَالٍ بَيْنَ أَظْلَافِهِمْ وَرُكَبِهِمْ مِثْلُ مَا بَيْنَ سَمَاءٍ إِلَى سَمَاءٍ ثُمَّ عَلَى ظُهُورِهِمُ الْعَرْشُ مَا بَيْنَ أَسْفَلِهِ وَأَعْلَاهُ مِثْلُ مَا بَيْنَ سَمَاءٍ إِلَى سَمَاءٍ ثُمَّ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَوْقَ ذَلِكَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي سُرَيْجٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَا أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي قَيْسٍ عَنْ سِمَاكٍ بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاهُ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ سِمَاكٍ بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاه</span></strong><strong><span style="line-height:150%;" dir="ltr">. </span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hadis ini juga sama dengan hadis sebelumnya, ia gelap gulita, batil daan dipalsukan atas nama Rasulullah saw. pada sanadnya terdapat banyak perawi bermasalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>o<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Al Walîd ibn Abi Tsaur, nama lengkapnya al Walîd ibn Abdullah ibn Abi Tsaur al Handâni al Kûfi. ia seorang kadzdz^ab/pembohong besar, munkarul hadîts. Demikian ditegaskan para pakar dan ahli hadis. Lebih lanjut baca adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkûn, dan at taqrîb-nya Ibnu Hajar,2 nomer 7458.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>o<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span>Abdullah ibn ‘Umair al Kûfi.</span></strong></span><span> Seperti telah lewat dijelaskan. Selain itu Imam Bukhari telah mengeaskan bahwa ‘Umair ini tidak terbutki pernah mendengar hadis dari al Ahnaf.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>o<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span>Amr ibn Qais.</span></strong></span><span> Adz Dzahabi berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:3.25pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">له أوهام</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Banyak punya kesalahan dalam hadis.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Abu Daud mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">في حديثه خطأ</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“pada hadisnya banyak terjadi kesalahan.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>o<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span>Sammâk ibn Harb.</span></strong></span><span> Telah lewat dibicarakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sementara itu hadis/riwayat ini dengan segala permasalahan dan kebatilannya hanya divonis tidak lebih dari sekedar dha’if saja oleh tokoh hadis kebanggaan kaum Wahhâbiyah; Syeikh Nashiruddin al Albani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Demikianlah telaah singkat atas hadis andalan Imam Besar Wahhâbiyah; Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb. Dan darinya dapat Anda ukur sejauh mana penguasaannya terhadap dasar-dasar ajaran agama Islam… dan dengannya pula dapat Anda perkirakan apa yang disimpulkan oleh akal dangkal sepertim itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span> Penutup:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sepertinya Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb hendak memberikan penutup indah kitab kebanggaannya itu dan sekaligus mengucapkan salam perpisahan dengan para pengikutnya yang menjadi sasaran doktrin kitab tersebut dengan hadis palsu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sungguh luar biasa sebuah perpisahan yang mengesankan! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dan selain kesalahan di atas, masih banyak kesalahn dan bahkan kecurangan lain dalam bab tersebut yang insyaallah dengan izin dan taufiq Allah akan kaami paparkan dalam kesempatan lain. Kami harap para Wahhabiyyun sabar menanti datangnya waktu shubuh itu!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أليس الصبح بقريب؟!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Wallahu A’lam</span></em><span>.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kasyf asy Sybuhat Doktrin Takfir Paling Ganas (14)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/22/kasyf-asy-sybuhat-doktrin-takfir-paling-ganas-14/</link>
<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 02:25:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/22/kasyf-asy-sybuhat-doktrin-takfir-paling-ganas-14/</guid>
<description><![CDATA[Jika dia berkata: mereka mengatakan bahwa ayat-ayat itu turun pada penyembah arca, bagaimana kalian ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Jika dia berkata: mereka mengatakan bahwa ayat-ayat itu turun pada penyembah arca, bagaimana kalian menjadikan orang-orang yang saleh seperti patung? Atau bagaimana mungkin kalian menjadikan para nabi sebagai arca-arca? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Maka jawablah dengan yang telah lalu, karena sesungguhnya dia telah mengetahui bahwa orang-orang kafir bersaksi bahwa pengaturan alam itu milik Allah semata dan mereka tidak mengharap darinya kecuali syafaat. Pada dasarnya dia menyebut hal ini untuk memisahkan pekerjaannya dengan pekerjaan mereka.</span><!--more--><span style="line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Maka katakanlah kepadanya bahwa orang-orang kafir di antara mereka terdapat orang-orang yang menyeru arca dan terdapat pula orang-orang yang menyeru para wali, di mana Allah berfirman tentang mereka:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أُولئِكَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">الَّذينَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يَدْعُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يَبْتَغُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">إِلى</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">‏ </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">رَبِّهِمُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">الْوَسيلَةَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أَيُّهُمْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أَقْرَبُ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">Orang- orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat<span> </span>(kepada Allah).</span></em><span style="line-height:150%;"> (Al-Isra’: 57)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;"><span> </span>Dan mereka menyeru Isa<span> </span>a.s. dan ibunya, di mana Allah<span> </span>berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">مَا</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">الْمَسيحُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">ابْنُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">مَرْيَمَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">إِلاَّ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">رَسُولٌ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">قَدْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">خَلَتْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">مِنْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">قَبْلِهِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">الرُّسُلُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أُمُّهُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">صِدِّيقَةٌ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">كانا</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يَأْكُلانِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">الطَّعامَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">انْظُرْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">كَيْفَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">نُبَيِّنُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لَهُمُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">الْآياتِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">ثُمَّ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">انْظُرْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أَنَّى</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يُؤْفَكُونَ</span></strong><span style="line-height:150%;">.</span><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">قُلْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">تَعْبُدُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">مِنْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">دُونِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">اللَّهِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">ما</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لا</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يَمْلِكُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لَكُمْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">ضَرًّا</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لا</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">نَفْعاً</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">اللَّهُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">هُوَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">السَّميعُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">الْعَليمُ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat jujur, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda- tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat- ayat Kami itu). Katakanlah:&#8221; Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepadamu dan tidak(pula)memberi manfaat&#8221; Dan Allah- lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. </span></em><span style="line-height:150%;">(<em>Al-Maidah</em>: 75-76)</span><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Dan katakan kepadanya firman Allah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ يَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَميعاً ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلائِكَةِ أَ هؤُلاءِ إِيَّاكُمْ كانُوا يَعْبُدُونَ</span></strong><span style="line-height:150%;">. </span><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">قالُوا سُبْحانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat:&#8221; Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu&#8221;. Malaikat- malaikat itu menjawab:&#8221; Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu&#8221;.</span></em><span style="line-height:150%;"> (Saba’: 40-41)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Dan firman Allah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">إِذْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">قالَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">اللَّهُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يا</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">عيسَى</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">ابْنَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">مَرْيَمَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أَنْتَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">قُلْتَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لِلنَّاسِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">اتَّخِذُوني</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">‏ </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أُمِّيَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">إِلهَيْنِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">مِنْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">دُونِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">اللَّهِ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">قالَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">سُبْحانَكَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">ما</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">يَكُونُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لي</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">‏ </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أَنْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أَقُولَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">ما</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لَيْسَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لي</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">‏ </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">بِحَقٍّ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">إِنْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">كُنْتُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">قُلْتُهُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">فَقَدْ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">عَلِمْتَهُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">تَعْلَمُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">ما</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">في</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">‏ </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">نَفْسي</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">‏ </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">لا</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أَعْلَمُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">ما</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">في</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">‏ </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">نَفْسِكَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">إِنَّكَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">أَنْتَ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">عَلاَّمُ</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">الْغُيُوبِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;">Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman:&#8221; Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:&#8221; Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah&#8221; Isa menjawab:&#8221; Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib- gaib&#8221;.</span></em><span style="line-height:150%;"> (Al-maidah: 116)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Maka katakanlah kepadanya: apakah Anda mengetahui bahwa Allah mengafirkan orang yang menyembah arca? Apakah Anda mengetahui bahwa Allah juga mengafirkan orang-orang yang memuja para hamba saleh dan Rasul telah memerangi mereka? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">____________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;">Catatan: 15</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Kaum Musyrikun tidak beriman dengan sebagian Tauhid <em>Rububiyyah</em>, tidak juga beriman dengan tauhid <em>Uluhiyyah</em> (penyembahan kepada Allah). Semua mengetahui bahwa kaum musyrikun menyembah berhala-berhala dan arca-arca. Apa yang mereka lakukan tidak terbatas hanya pada memohon syafa’at kepada arca-arca tersebut. Bahkan seperti disebutkan sebagian ulama pernyataan kaum Musyrikun yang mengakui <em>Rububiyyah</em> (Tauhid dalam Pencipta) itupun disampaikan dengan tujuan membela diri<span> </span>tanpa konsistensi dalam meyakini dan menjalankannya. Atau keyakinan seperti itu hanya diyakini oleh sebagian mereka saja, tidak seluruh mereka, terbukti bahwa di antara mereka ada yang sama sekali tidak percaya Tuhan dan tidak percaya adanya hari kebangkitan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Adapun kaum Muslimin, mereka tidak sujud kecuali hanya kepada Allah -S<em>ubhanahu wata’ala</em>-, tidak menyembah selain Allah. Anggap mereka salah dalam anggapan mereka bahwa boleh bertawassul dengan para nabi as., atau kaum Shalihin dan para wali baik yang masih hidup ataupun yang sudah wafat, atau memohon syafa’at mereka karena kedudukan istimewa mereka di sisi Allah SWT, dan anggapan bahwa apabila kita meminta bantuan mereka agar memohonkan kepada Allah sesuatu untuk kita maka akan bermanfaat dengan izin Allah, tentunya dengan keyakinan bahwa mereka dapat memberikan manfaat dengan izin dan restu Allah SWT&#8230;. anggap pendapat mereka itu salah, tetapi bukankah sangat berbeda antara mereka dengan kaum Musyrikun yang menyembah selain Allah SWT.?!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Ringkas kata, adanya kesamaan antara kaum Musyrikun dan kaum Muslimun zaman kita (tentunya jika kita terima anggapan adanya kesamaan itu) adalah lebih jauh kemiripannya di banding dengan kesamaan dan kemiripan antara kaum Khawârij dan kaum Wahhâbiyah; pengikut Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb&#8230; kesamaan antara kedua kelompok ini dalam pengafiran dan penghalalan darah-darah kaum Muslimin jauh lebih mirip!! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Sebagaimana hujjah kaum Khawarij atas Ali as. sangat mirip dengan hujjah kaum Wahhabi atas kaum Muslimin yang berbeda pendapat dengan mereka!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Slogan dan hujjah kaum Khawarij adalah “Tiada kekuasaan melainkan milik Allah” sebuah slogan yang haq tetapi dimaknai dan dipakai untuk tujuan yangg batil&#8230;. sama dengan kaum Wahhabi, slogan mereka adalah “tidak ada tawassul melainkan dengan Allah&#8230; tiada penyembelihan melainkan untuk Allah&#8230;. tiada istighatsah melainkan dengan Allah&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Slogan ini pada dasarnya benar. Akan tetapi ada banyak bentuk yang boleh jadi keluar dari lingkaran kemutlakan itu &#8230;. ketika ada seorang bernazar menyembelih seekor binatang ternak untuk seorang wali misalnya, maka kaum wahhhabi segera menudingnya sama dengan kaum Musyrik yang memberikan sesajen kepada para arca &#8230;. padahal yang perlu mereka ketahui bahwa seorangg muslim yang sedang bernazar itu ia sedang meniatkan agar pahala sembelihannya diberikan kepada si wali tersebut! Anggap praktik seperti itu salah, tetapi ia pasti bukan sebuah kemusyrikan&#8230; .<span> </span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Edisi Terbaru Kebodohan Imam Besar Wahhabi; Ibnu Abdil Wahhab dalam Ilmu Hadis]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/19/edisi-trebaru-kebodohan-imam-besar-wahhabi-ibnu-abdil-wahhab-dalam-ilmu-hadis/</link>
<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 01:12:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/19/edisi-trebaru-kebodohan-imam-besar-wahhabi-ibnu-abdil-wahhab-dalam-ilmu-hadis/</guid>
<description><![CDATA[Ketika seorang itu jahil dalam ilmu agama, akan lebih terhormat jika ia diam tidak ikut campur berbi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Ketika seorang itu jahil dalam ilmu agama, akan lebih terhormat jika ia diam tidak ikut campur berbicara masalah-masalah agama, sebab dapat tersesat dan menyesatkan orang banyak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Tetapi sepertinya hal itu tidak diindahkan oleh Pendiri Sekte Wahhabiyah&#8230; kendati dangkal hampir dalam seluruh bidang dan keahlian, -kecuali kealhilan mengafirkan orang lain- ia tetap banyak berbicara&#8230; maka ia menjadi <em>dhalla wa adhalla</em>.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Jika biasanya Imam Besar Wahhabi ini mengafirkan kaum Muslimin&#8230;. Kini rupanya ia harus mencari sasaran baru&#8230;. para nabi dan rasul pilihan Allah kini menjadi sasaran pengafirannya dan tuduhan telah musyrik!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Nabi Adam as. kini dituduhnya telah musyrik!! Secara pribadi saya dapat memaklumi mengapa Nabi Adam as. Terjebak dalam nista kemusyrikan tidak lama setelah diturunkan ke bumi bersma istrinya, dan tentunya Iblis juga diusir ke bumi&#8230;. pasalnya ketika Adam turun ke bumi tidak ada GURU BESAR PENGAWAL TAUHID MURNI&#8230;.. KEMUSYRIKAN Nabi Adam as. dikarenakan ia tidak dikawal “Syeikhul Islam” Ibnu Abdil Wahhab, andai sa’at itu beliau didampingi dan dibimbing langsung Sang Pendekar Tauhid dari Padang Pasir Gersang Najd, pastilah ia mampu menghindarkan diri dari kemusyrikan! Minimal itu mungking yang sempat terbesit dalam benak para Wahhabiyyun!! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Mau tau, Fatwa pengafiran Nabi Adam as.? Ikiuti data di bawah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Dalam kitab <em>Tauhid</em>-nya, Ibnu Abdil Wahhab menulis sebuah bab dengan judul: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:5.95pt;margin-left:34.3pt;text-align:justify;text-indent:25.7pt;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">في</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">باب</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> : {</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">فَلَمَّا</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">آتاهُما</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">صالِحاً</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">جَعَلا</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">لَهُ</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">شُرَكاءَ</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">فيما</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">آتاهُما</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">}</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:-5.05pt;margin-left:5.5pt;text-align:justify;text-indent:16.5pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Bab “Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu.” </span></em><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-align:justify;text-indent:19.65pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Pada bab itu ia menukil pernyataan Ibnu Hazm yang menekankan bahwa menamakan anak dengan nama yang mengandung penghambaan kepada selain Allah itu adalah syirik, seperti nama Abdu ‘Amr (hamba ‘Amr), Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah) dan semisalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.15pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Kemudian ia menyebutkan sebuah kisah yan mencoreng kesucian dan kema’shuman Nabi Adam dan Hawwa istrinya. Ia menuduh keduanya telah menyekutukan Allah SWT. Iblis merayu Adam dan Hawwa agar menamai anak mereka dengan nama Abdul Hârits, tetapi keduanya menolak rayuan itu. Iblis pun terus menerus merayunya sehingga setelah berkali-kali kematian anak mereka segera setelah lahir, mereka setuju dengan permintaan Iblis untuk menamai anak mereka dengan nama Abdul Hârits demi kecintaan mereka kepada putra mereka yan baru saja lahir. <span style="background:yellow none repeat scroll 0;">Apa yang dilakukan Adam dan Hawwa adalah yang dimaksud dengan firman Allah SWT.:</span></span><em><span style="background:yellow none repeat scroll 0;font-size:13pt;line-height:150%;"> “&#8230; maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu.” (QS. Al A’raf [7]: 190).</span></em><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.15pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">(Hadis riwayat Ibnu Abi Hâtim) (baca Kitab <em>at Tauhid</em> –dengan syarah <em>Fathu al Majîd</em> oleh Syeikh Abdur Rahman Âlu Syeikh-: 444. Dar al Kotob) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-align:justify;text-indent:19.65pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Hadis/riwayat di atas adalah<span> </span>hadis palsu yang kebatilannya telah nyata bagi pelajar pemula dalam ilmu hadis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-align:justify;text-indent:19.65pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Pada kesempatan ini saya akan membuktikan kepalsuannya dari pernyataan Ibnu Hazm –yang tak hentin-hentinya dikultuskan dan dibanggakan kaum Wahhabi, bahkan oleh Ibnu Abdil Wahhab sendiri termasuk dalam bab ini-. Ibnu Hazm berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-align:justify;text-indent:19.65pt;line-height:150%;"><span style="background:yellow none repeat scroll 0;font-size:13pt;line-height:150%;">Kemusyrikan yang mereka nisbatkan kepada Adam bahwa beliau menamai anaknya dengan nama Abdul Hârits adalah kisah khurafat, <em>maudhûah</em>/palsu dan <em>makdzûbah</em>/kebohongan, produk orang yang tidak beragama dan tidak punya rasa malu. Sanadnya sama sekali tidak shahih. Ayat itu turun untuk kaum Musryikin.</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> (Baca <em>Fathu al Majîd Syarah kitab at Tauhid</em>:442).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-align:justify;text-indent:19.65pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Kisah itu kendati diatas namakan Ibnu Abbas ra. akan tetapi dapat dipastikan bahwa ia adalah hasil bualan kaum Ahli Kitab (Yahudi&#38;Nashrani).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-align:justify;text-indent:19.65pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Coba Anda renungkan baik-baik, bagaimana Syeikh Ibnu Abdil Wahhab dalam kitab <em>at Tauhid</em> yang kecil itu yang ia karang untuk menetapkan hak Allah atas hamba-hamba-Nya, ternyata ia hanya mampu menegakkan konsep Tauhidnya di atas pondasi hadis palsu. Inilah kadar ilmu Imam Wahhabi yang dibanggakan para pemujanya sebagai sang Imam yang akan mengawal perjalanan ajaran Tauhid Murni dari kemusyrikan! Dan yang akan membentengi Tauhid dari mekusyrikan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-align:justify;text-indent:19.65pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Subhanallah</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">, kalau ternyata kemampuan ilmu dan penguasan disiplis ilmu Hadis Imam mereka sedangkal itu, apa bayangan kita kadar ilmu murid-murid dan para pengikutnya. Atau boleh jadi sekarang pengikutnya lebih pandai dari imamnya! Sebab mereka hidup di era dan zaman yang berbeda dengan zaman Syeikh Ibnu Abdul Wahhab<em> </em>&#8230; di mana keterbukaan informasi sudah sedemikian rupa&#8230;. mereka pasti memiliki kesempatan menghimpun banyak informasi dan ilmu pengetahuan lebih dari para pendahulunya, apalagi setelah kekayaan umat Islam mereka kuasai &#8230;<span> </span>hanya saja yang tetap mencerminkan keterbelakangan dan ketertingalan adalah cara berpikir mereka &#8230;. masih tetap seperti zaman padang pasir gersang Najd tiga abad silam ketika awal Syeikh Ibnu Abdil Wahhab pertama kali memecah keheningan dunia Islam, khususnya negeri Hijâz dengan pekikan seruannya yang memporak-pondakan kesatuan umat Islam dan membuat kaum Muslimin tersibukkan oleh hujatan-hujatan murahan Syeikh dari mempertahankan tanah air kaum Muslimin dari gerombolan srigala buas dari natah Eropa yang datang mencabik-cabik kekuatan umat Islam dan menancapkan kuku-kuku penjajahan mereka.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kasyf asy Syubuhat Doktirn Takfir Paling Ganas (11)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/05/kasyf-asy-syubuhat-doktirn-takfir-paling-ganas-11/</link>
<pubDate>Sat, 05 Apr 2008 00:22:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/05/kasyf-asy-syubuhat-doktirn-takfir-paling-ganas-11/</guid>
<description><![CDATA[Saya akan menyebutkan untuk Anda hal-hal yang disebut oleh Allah Swt di dalam kitab-Nya yang merupak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Saya akan menyebutkan untuk Anda hal-hal yang disebut oleh Allah Swt di dalam kitab-Nya yang merupakan jawaban dari sanggahan </span><strong><span style="background:lime none repeat scroll 0;">kaum musyrikin</span></strong><strong><span> </span></strong><span>di zaman kami yang ditujukan kepada kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kami dapat menjawab sanggahan Ahli batil itu melalui dua bentuk: secara global dan secara terperinci. Yang global itu merupakan hal yang dapat memberi faedah besar bagi mereka yang memahaminya. Allah berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">هُوَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">الَّذي</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أَنْزَلَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">عَلَيْكَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">الْكِتابَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">مِنْهُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">آياتٌ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">مُحْكَماتٌ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">هُنَّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أُمُّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">الْكِتابِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أُخَرُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">مُتَشابِهاتٌ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">فَأَمَّا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">الَّذينَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">في</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">‏ </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">قُلُوبِهِمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">زَيْغٌ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">فَيَتَّبِعُونَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">ما</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">تَشابَهَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">مِنْهُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">ابْتِغاءَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">الْفِتْنَةِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">ابْتِغاءَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">تَأْويلِهِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">ما</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يَعْلَمُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">تَأْويلَهُ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">إِلاَّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">اللَّهُ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Dia- lah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur&#8217;an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat- ayat yang muhkamaat itulah pokok- pokok isi Al Qur&#8217;an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang- orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat- ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari- cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.</span></em><span> (Al-Imran: 7)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Telah disebutkan sebuah hadis sahih bahwa jika kalian melihat sekelompok orang mengikuti hal-hal yang mutasyabih dari al-Quran, maka mereka adalah orang-orang yang disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang patut diwaspadai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sebuah contoh: jika </span><strong><span style="background:lime none repeat scroll 0;">sebagian orang musyrikin</span></strong><span> berkata kepada Anda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أَلا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">إِنَّ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أَوْلِياءَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">اللَّهِ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">خَوْفٌ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">عَلَيْهِمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لا</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">هُمْ</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يَحْزَنُونَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak ( pula )mereka bersedih hati</span></em><span>. (Yunus: 62)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--more--><span>Dan syafaat adalah sebuah kebenaran dan para nabi memiliki posisi di sisi Allah atau si musyrik membawakan sabda-sabda nabi sebagai dalil atas kebatilan pendapatnya, sedang Anda tidak memahami arti ungkapan yang disebutnya maka jawablah: “sesungguhnya mereka yang di hatinya ada kemunafikan maka mereka meninggalkan yang <em>muhkam</em> dan mengikuti yang <em>muthasyabih</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dan apa yang saya sebutkan kepada Anda bahwa Allah Swt menyebut orang-orang musyrikin sebagai orang-orang yang mengakui tauhid rububiyah dan kekafiran mereka akibat hubungan mereka dengan para malaikat, para nabi dan para wali:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span>هؤُلاءِ</span></strong><strong><span> </span></strong><strong><span>شُفَعاؤُنا</span></strong><strong><span> </span></strong><strong><span>عِنْدَ</span></strong><strong><span> </span></strong><strong><span>اللَّهِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>&#8221; Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah&#8221;.</span></em><span> (Yunus: 18)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hal ini merupakan hal yang <em>muhkam</em> dan jelas yang tidak bisa diubah artinya oleh siapapun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>______________</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Catatan 12:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Wahai pembaca, siapa gerangan yang Ibnu Abdil Wahhâb maksud dengan: <span style="background:lime none repeat scroll 0;">“</span></span><strong><em><span style="background:lime none repeat scroll 0;">kaum musyrikin</span></em></strong><span style="background:lime none repeat scroll 0;">”</span><strong><em><span style="background:lime none repeat scroll 0;"> </span></em></strong><span style="background:lime none repeat scroll 0;">dan “</span><strong><em><span style="background:lime none repeat scroll 0;">sebagian</span></em></strong><em><span style="background:lime none repeat scroll 0;"> </span></em><strong><em><span style="background:lime none repeat scroll 0;">orang musyrikin</span></em></strong><span style="background:lime none repeat scroll 0;">”</span><span> dalam kalimat yang ia tulis di atas, yang mana mereka menyelami dalil-dalil Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw. dan memiliki kefashihan, ilmu dan hujjah-hujjah?! Bukankah mereka itu adalah ulama Islam yang sedang ia selisihi dalam klaim kekafiran dan kemusyrikan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Siapakah yang meyakini adanya hak syafa’at bagi para nabi, khususnya Nabi Muhammad saw. dan mereka memohonnya dari beliau saw. dengan mengatakan misalnya, <em>‘wahai Rasulullah, berilah aku syafa’at’</em> (yang oleh Ibnu Abdil Wahhâb dituduh sebagai telah menyekutukan Allah SWT.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Siapa sebenarnya yang sedang berhadap-hadapan dengan kaum Wahhâbi dan sedang dihadapi kaum Wahhâbi? Sejarah tidak pernah mencatat bahwa kaum Wahhâbi di masa awal kemunculannya hingga sekarang berhadapan dengan selain kaum Muslimin dalam persengketaan seputar masalah syafa’at, <em>tawassul</em>, <em>istighâtsah</em> dll?!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tidak syak lagi bahwa stitmen di atas adalah sebuah bukti nyata pengafiran terang-terangan terhadap umat Islam selain kaum Wahhâbi yang selalu mereka tuduh sebagai <em>a’dâ’u al Islâl, a’dâ’u at Tauhîd dan khushûm ad da’wah</em>/musuh-musuh Islam, musuh-musuh Tauhid dan lawan-lawan da’wah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kenyaatan ini harus diakui sebagai sebuah kezaliman, sebab, seperti telah disinggug bahwa Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dalam seluruh kegiatannya hanya sedang membantah arugumentasi kuam Muslimin dan tidak sedang membantah kaum kafir atau kaum Musyrik. Jika Anda ragu akan hal itu, bacalah surat-surat yang dilayangkan atau buku-buku yang ditulis oleh Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, Anda tidak akan menemukan satupun dari nama orang kafir (Yahudi dan atau Nashrani) atau seorang Musyrik (penyembah acra, matahari, atau sesembahan lainnya). Yang akan Anda temukan hanya nama-nama ulama Islam di masanya, seperti:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Muhammad ibnu Fairûz al Ahsâ’i (seorang ulama dari suku bani Tamîm, suku yang sama dengan suku Syeikh, dan beliau hijrah ke kota Bashrah meninggalkan al Ahsâ’ setelah kota tersebut jatuh ke tangan kaum Wahhâbiyah).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Marbad ibn Ahmad at Tamîmi (mufti pengikut mazhab Syafi’i di Madinah al Munawarah, beliaulah yang menceritakan apa adanya akidah Syeikh kepada al Amîr ash Shan’âni yang kemudian berbalik menghujat Syeikh karena sikap <em>takfîr</em>-nya yang melampaui batas, Syeikh Marbad dibunuh kaum Wahhâbiyah di kota Raghbah tahun 1171 H.).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Abdullah ibn Sahîm (seorang <em>faqih</em> kota Qashîm, seorang <em>qadhi</em> bermazhab Hanbali untuk daerah Sudair).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Sulaiman ibn Sahîm al Hanbali (ulama dan <em>faqih</em> penduduk kota Riyâdh, ia hijrah ke kota az Zubair meninggalkan kota Sudair setelah kaum Wahhâbiyah mendudukinya. Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb telah mengafirkannya dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama Islam).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Abdullah ibn Abdul Lathîf (salah seorang guru Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb yang sangat menentang seruannya).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Muhammad ibn Sulaiman al Madani, Abdullah ibn Daud al Zubairi (seorang ulama Ahlusunnah asal Iraq).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Sayyid Alawi ibn Ahmad al Haddâd al Hadhrami (seorang ulama besar Ahlusunnah dari Hadhramaut).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Sulaiman ibn Abdil Wahhâb (saudaranya sendiri).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Muhammad ibn Abdur Rahman ibn ‘Afâliq al Hanbali al Najdi (seorang ulama kota al Ahsâ’).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Al Qâdhi Thâlib al Humaishi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Syeikh Ahmad ibn Yahya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Syeikh Shaleh ibn Abdullah ash Shâigh (seorang ahli fikih dan <em>qadhi</em> kota ‘Unaizah) .</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>dan puluhan lainnya yang disebut oleh Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb sebagai </span><strong><em><span>“Kaum Musyrikûn di zaman kita” !! </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dan sebagai bukti kesetiaan kaum Wahhâbiyah terhadap Doktrin Takfîr imam mereka, hingga sekarang mereka menapak-tilasi jalan Ibnu Abdil Wahhâb dalam mencoreng kaum Muslimin, awam dan ulama dengan tuduhan musyrik, kafir atau paling ringan tuduhan bid’ah yang hampir mencapai batas kafir (!), seperti yang mereka lakukan terhadap banyak ulama di antaranya, Ibnu Sallûm, Utsman ibn Sanad, Ibnu Manshûr, Ibnu Humaid, Syeikh Ahmad Zaini Dahlân (mufit mazhab Syafi’i di kota suci Makkah), Daud ibn Jirjîs dkk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dan sekarang di Abad ke- 14 dan 15 Hijriyah kegemaraan mengafirkan dan atau menuduh sebagai pembid’ah yang sesat itu masih sering kita dengar dan kita baca, seperti vonis mereka atas al Kautsari, Abu Ghuddah, Sayyid Muhammad Alawi al Maliki (guru besar para ulama dan Kyai Ahlusunnah Indonesia), ad Dajûri, Syeikh Syaltût (Rektor Universitas Al Azhar), Abu Zuhrah, Syeikh Muhammad Ghazzali, Syeikh Yusuf al Qardhâwi, Syeikh Sa’îd Ramadhan al Bûthi, Abdullah al Ghimâri dan Ahmad al Ghimâri, Sayyid Hasan ibn Ali as Seqaf (seorang ulama keturunan Sayyid yang tinggal di Yordania), Habîbur Rahman al A’dzumi dan masih banyak lannya dan mungkin, karena tulisan ini, nama Abu Salafy juga akan mereka sandingkan dengan nama-nama para ulama “Ahli Bid’ah” di atas!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dan seperti telah saya singggung, -dan hal ini sangat disayangkan- bahwa kaum Wahhâbiyah tak menghentikan “aksi teror pengafiran” itu kecuali ketika mereka dalam kondisi lemah karena jumlah mereka sedikit atau ketika ada kekuatan pemerintahan yang mencegah mereka melakukan “aksi teror pengafiran” itu. Andai bukan karena dua sebab itu, pastilah tidak ada seorang pun yang selamat dari “aksi teror pengafiran” mereka!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Ibnu Abdil Wahhab Mempersenjatai Pengikutnya Dengan Senjata Kebodohan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Seperti diketahui semua orang, bahwa pada awal kemunculan ajakannya, Ibnu Abdil Wahhab telah ditentang keras para ulama Islam, sementara kaum awam menyambut dan menerima ajakan dan seruannya. Sementara itu, seperti ia janjikan (dan telah kami sebeutkan sebelumnya, bahwa satu dari pengikutnya yang awam saja pasti mampu mengalahkan seribu ulama kaum Musyrikun -Muslimun maksudnya-), maka di sini ia perlu mempersenjatai para pengikutnya yan rata-rata awam itu dengan senjata yang dengannya pasti mereka menang dalam menghadapi siapa saja yang menentangnya dan menyalahkan akidah dan pandangannya dan dalam situasi apapun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Apa senjata yaang dipersiapkan Ibnu Abdil Wahhab untuk para pengikutnya? <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Karena Ibnu Ibnu Abdil Wahhab itu adalah seorang pemimpi yang “bijak” maka ia pasti akan memberikan senjata yan tepat untuk mereka. Ia mengerti benar kadar ilmu para pengikutnya yang awam, karenanya ia mempersenjatai mereka dengan senjata: asal <em>inkar</em> dan menggolonkkan dalil apapun yang dibawa lawan ajakan tauhidnya sebagai hal yangg <em>mutasyâbih</em>!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Apapun bukti yang akan diajukan lawan-lawan kalian, yang tidak kalian menerti, maka jabablah dengan:</span></p>
<ul type="circle">
<li class="MsoNormal"><strong><em><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Senjata Inkar:</span></em></strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;"> “Dan apa yang Anda sebut </span><strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">wahai      musyrik</span></strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;"> dari al-Quran dan sabda Nabi saw. tidak saya      mengerti artinya.” (<em>Kasyfu asy Syubuhât</em>:48)</span></li>
</ul>
<ul type="circle">
<li class="MsoNormal"><strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Senjata      Dalil Kamu Mutasyabih:</span></strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;"> Jika sebagian </span><strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">orang musyrikin</span></strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;"> berkata kepada Anda: <em>Ingatlah,      sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka      dan tidak (pula)mereka bersedih hati</em>. (Yunus: 62) Dan sesungguhnya      syafa’at adalah itu <em>haq</em> (pasti adanya) dan para nabi memiliki      kedudukan di sisi Allah atau si musyrik itu membawakan sabda-sabda Nabi      saw. sebagai dalil atas kebatilan pendapatnya (tentangg syafa’at), </span><strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">sedang Anda tidak memahami arti ucapan yang ia sebutkan</span></strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;"> maka jawablah dengan: <em>“<span style="text-decoration:underline;">Sesungguhnya Allah menyebutkan dalam      Kitab-Nya bahwa mereka yang di hatinya ada kecenderungan kepada kebatilan      maka mereka meninggalkan yang muhkam (tegas dan pasti maknanya) dan      mengikuti yang muthasyabih (saram).</span>”</em> (<em>Kasyfu asy Syubuhât</em>:46).<em><span style="text-decoration:underline;"></span></em></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Sungguh luar biasa senjata akal-akalan Imam Wahhabi yang satu ini&#8230;. ia mempersenjati para pengikutnya dengan senjata kebodohan, setiap kali ulama atau seorang awam kaum Muslimin membawakan dalil tantang syafa’at, misalnya, bahwa Nabi Muhammad saw. memiliki hak memberikan syafa’at untuk umatnya, dan kami memohon dari beliau agar memberikan syafa’at untuk kami, maka di sini Ibnu Abdil Wahhab mendoktrin pengikutnya dengan: “Katakan bahwa masalah itu adalah tergolongg <em>mutasyâbih</em> dalil yan kamu bawakan juga<em> mutasyâbih</em>, dan kegemaran orang yang sesat dan menyimpang hanya mengikuti ayat-ayat yang <em>mutasyâbih</em>!” dan “Ayat dan sabda Nabi saw. yang kamu uraikan itu saya tidak mengerti, tapi yang pasti bukan begitu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Demi Allah yang menciptakan akal sehat dan memberi hidayah para pencarinya, adakah senjata kebodohan dan sikap akal-akalan yang mengunguli apa yang didoktrinkan Imam Wahhabi ini?!</span></p>
<ul type="circle">
<li class="MsoNormal"><strong><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Ayat-ayat      Syafa’at Bukan <em>Mutasyâbih</em></span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Seperti pernah saya jelaskan bahwa untuk mengolonkan sebuah ayat itu <em>mutasyâbih</em> atau <em>muhkam</em>, tidak dapat ditetapkan oleh selera kita dan atau asal-asalan. Kesamaran makna yang menyebabkan sebuah ayat digolongkan <em>mutasyâbih</em> itu harus ada sebabnya. Sementara kata-perkata dan kalimat perkalimat dalam ayat syafa’at itu sangat gamblang, tidak ada kesamaran sedikitpun. Lalu mengapakah Syeikh Ibnu Abdil Wahhab menggolongkannya sebagai ayat <em>mutasyâbihât</em>? Sisi mana dari, misalnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;"><span> </span>A) Para awliya’ Allah tidak ada <em>khawf</em>/rasa takut dan tidak sedih,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">B) Para awliya’ Allah memiliki kedudukan di sisi Allah SWT, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">yang menggandung unsur ke<em>mutasyâbih</em>an? <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;"><span> </span>Demikianlah doktrin untuk mengatakan kepada lawan-lawan da’wah Wahhabiyah bahwa “faham/dalil yan kamu sebutkan itu <em>mutasyâbih</em> sedang yang kami yakini adalah <em>muhkam</em> (pasti/tegas), maka tidak benar meningalkan yang <em>muhkam</em> demi mengikuti yang <em>mutasyâbih</em> atau melawan yang <em>muhkan</em> dengan dalil yang <em>mutasyâbih</em>” diajarkan kepada para pengikutnya, akan tetapi ini adalah metode keliru dalam mengajarkan cara<span> </span>berdiskusi atau berdabat, dan semua orang bisa mempersenjatai diri dengan senjata seperti itu setiap kali terpojokkan. Ke<em>mutasyâbih</em>an itu tidak dapat ditetapkan dengan sekendak kaum awam Wahhabi, ada aturan dan kaidahnya yang dihabas panjang lebar oleh para ulama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:&#34;">Jadi adalah aneh, kebanggaan yang dipampakkan Imam Wahhabi setelah mengajarkan dalil dan cara berdebat di atas:<em> Hal ini merupakan hal yang muhkam dan jelas yang tidak bisa diubah artinya oleh siapapun. &#8230;. Akan tetapi jawaban ini tidak mungkin dipahami kecuali oleh orang yang telah diberi taufik oleh Allah</em>.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (10)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/03/10/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas10/</link>
<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 00:22:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/03/10/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas10/</guid>
<description><![CDATA[Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (10) Dan seorang awam dari Ahli tauhid]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (10)</strong></p>
<p>Dan seorang awam dari Ahli tauhid akan mengalahkan seribu (1000) dari orang musyrik. Sebagaimana firman Allah Swt:</p>
<p align="right"><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)">وَ إِنَّ جُنْدَنا لَهُمُ الْغالِبُونَ</font></b></p>
<p><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)"></font></b><i>Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang</i>. (As-Shaffat: 176)</p>
<p>Maka tentara-tentara Allah itu menang dengan hujjah dan argumentasi sebagaimana (lawan-lawan) mereka menang dengan pedang. Akan tetapi ketakutan itu hanya dirasakan oleh seorang Ahli tauhid yang menapaki jalan tanpa senjata.</p>
<p>Allah Swt telah menganugerahkan kepada kami sebuah kitab yang dijadikannya sebagai</p>
<p align="right"><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)">تِبْياناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَ هُدىً وَ رَحْمَةً وَ بُشْرى لِلْمُسْلِمينَ</font></b></p>
<p><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)"></font></b><i>Untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang- orang yang berserah diri</i>. (An-Nahl: 89)</p>
<p>Maka tidak ada Ahli batil yang mendatangkan hujjahnya kecuali al-Qur&#8217;an telah membantah dan merusaknya.</p>
<p><!--more--></p>
<p align="right"><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)">وَ لا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّ جِئْناكَ بِالْحَقِّ وَ أَحْسَنَ تَفْسيراً</font></b></p>
<p><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)"></font></b><i>Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya</i>. (Al-Furqan: 33)</p>
<p>Sebagian Ahli tafsir berkata bahwa ayat ini umum mencakup setiap hujjah yang diajukan oleh Ahli batil pada hari kiamat.</p>
<p><strong>_________________</strong></p>
<p><u><strong>Catatan 11:</strong></u></p>
<p>Pernyataan di atas tegas-tegas memuat pengafiran jumlah yang tidak sedikti dari ulama Islam. Adalah mustahil dalam kebiasaan terdapat 1000 ilmuan kafir seperti yang ia sebut dalam satu kota, misalnya. Ini adalah bukti kuat bahwa Syeikh sedang mengalamatkan vonisnya kepada ulama Islam yang tidak sependapat dengnnya.</p>
<p>Sementara itu yang selalu kita dengar dari Syeikh sendiri maupun para pengikutnya mereka mebela diri dengan mengtakan,<i> “Ma’âdzallah, kami berlindung kepada Allah dari mengafirkan kaum Muslimin!”</i>. Ini adalah ucapan bersifat umum. Akan tetapi permasalahannya terletak pada, siapa sejatinya<i> “Muslim” </i>dalam pandangan kaum Wahhâbiyah?. “Muslim” dalam pandangan mereka berbeda dengan<i> “Muslim” </i>dalam pandangan para ulama Islam lainnya.</p>
<p>Dalam pandangan Syeikh dan para pengikutnya,<i> “Muslim” </i>itu harus memenuhi banyak syarat yang tidak pernah disyaratkan oleh para ulama Islam di sepanjang masa…. mengucapkan Syahâdatain/dua kalimah Syahadat belum cukup untuk mengeluarkan seseorang dari kekafiran…</p>
<p>Mengetahui sebagian syarat saja sementara syarat-syarat lain tidak diketahuinya juga tidak menyelamatkannya dari vonis kafir! Kemudian dalam pemahaman terhadap makna sebagian syarat diharuskan menuruti pemahaman Syeikh… maka dengan demikain hampir tidak ada yang terjaring ke dalam kelompok “Ahli Tauhid” (yang mengesakan Allah SWT) selain Syeikh dan pengikutnya.</p>
<p>Al hasil, di sini Syeikh menjamin bahwa seorang awam dari pengikutnya pasti akan mampu mengalahkan seribu ulama kaum Musyrikîn (baca Muslimin)! Dan seorang awam dari Ahli tauhid akan mengalahkan seribu dari orang musyrik. Sebab para pengikutnya adalah <i>“Tentara Allah” </i>yang dijamin kemenangannya baik dalam hujjah dan argumentasi maupun dalam peperangan… demikian, Syeikh menanamkan kepercayaan diri dalam jiwa-jiwa pengikutnya… dan sekaligus mempersiapkan mental mereka agar bersemangat dalam memerangi kaum Muslimin yang telah diperkenalkan kepada para pengikutnya (yang dewasa itu kebanyakan dari kalangan awam dan arab-arab Baduwi yang jauh dari pemahaman agama yang cukup).</p>
<p>Setelah itu, Syeikh mulai mengurai argumentasi yang dianggapnya mampu mempersenjati para pengikutnya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (9)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/03/09/kitab-kasyfu-asy-syubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-9/</link>
<pubDate>Sun, 09 Mar 2008 23:56:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/03/09/kitab-kasyfu-asy-syubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-9/</guid>
<description><![CDATA[Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (9) Dan ketahuilah sesungguhnya termas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (9)</strong></p>
<p>Dan ketahuilah sesungguhnya termasuk dari hikmah Allah Swt adalah Dia tidak mengutus seorang nabi dengan tauhid ini kecuali dia telah menjadikan musuh-musuh baginya, sebagaimana firmannya:</p>
<p align="right"><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)">وَ كَذلِكَ جَعَلْنا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَياطينَ الْإِنْسِ وَ الْجِنِّ يُوحي بَعْضُهُمْ إِلى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً</font></b></p>
<p><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)"></font></b><i>Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap- tiap nabi itu musuh, yaitu setan- setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan- perkataan yang indah- indah untuk menipu (manusia). </i>(Al-An’am: 112)</p>
<p>Dan terkadang para musuh-musuh tauhid memiliki ilmu yang begitu banyak, buku-buku dan berbagai argumentasi, sebagaimana firman Allah Swt:</p>
<p align="right"><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)">فَلَمَّا جاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّناتِ فَرِحُوا بِما عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ</font></b></p>
<p><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)"></font></b><i>Maka tatkala datang kepada mereka rasul- rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan- keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka… </i>(Al-Ghafir: 83)</p>
<p>Jika Anda mengetahui hal tersebut dan mengetahui bahwa jalan menuju Allah Swt senantiasa dipenuhi oleh musuh-musuh yang merintangi; mereka Ahli-Ahli bahasa (fasih), pemilik ilmu dan argumentasi, maka wajib bagi Anda untuk mempelajari agama yang dapat anda gunakan sebagai senjata untuk memerangi mereka; para setan yang pemimpin dan senior mereka telah berkata kepada Allah Swt:</p>
<p><!--more--></p>
<p align="right"><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)">لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِراطَكَ الْمُسْتَقيمَ. ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْديهِمْ وَ مِنْ خَلْفِهِمْ وَ عَنْ أَيْمانِهِمْ وَ عَنْ شَمائِلِهِمْ وَ لا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شاكِرينَ</font></b></p>
<p><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)"></font></b><i>Saya benar-benar akan (menghalang- halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur ( taat ). </i>(Al-A’raf: 16-17)</p>
<p>Akan tetapi jika Anda menghadap kepada Allah dan mendengarkan hujjah-hujjah dan penjelasan-Nya maka janganlah merasa takut dan bersedih</p>
<p align="right"><b><font size="4" face="Courier New (Arabic)">إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطانِ كانَ ضَعيفاً</font><font face="Courier New"> </font></b></p>
<p><b><font face="Courier New"></font></b><i>“sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah</i>. (An-Nisa’: 76)</p>
<p>________________</p>
<p><b><u>Catatan 10:</u></b></p>
<p><b><u></u></b>Dari keterangan Syeikh di atas terlihat jelas bahwa sebenarnya pertentangannya adalah dengan para ulama, -bukan dengan kaum awam-, yang memiliki kefasihan dalam berbahasa, banyak ilmu pengetahuan dan hujjahnya. Pernyataan ini adalah sebuah pengakuan bahwa ia sedang mengalamatkan pembicaraan dan dakwahnya kepada para ulama di wilayah Najd, Hijaz, dan Syam…. namun anehnya, beberapa lembar sebelum ini ia mengatakan bahwa mereka itu tidak memiliki pengetahuan tentang makna Kalimah Tauhid; Lâ ilâha Illa Allah!!</p>
<p>Jika dalam banyak kesempatan ia menyebut kaum Muslimin sebagai Musyrikûn yang menyekutukan Allah SWT, maka kali ini Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb menyebut para ulama Islam yang bertentangan dengannya sebagai musuh-musuh para Rasul… mereka adalah setan-setan dan pengikut setia Iblis… kerja mereka hanya menghalang-halangi umat manusia dari mengenal dan tunduk kepada Allah SWT.</p>
<p>Dalam banyak kesempatannya, Syeikh juga selalu menyebut bahwa sesiapa yang menentang dakwahnya berarti menentang ajaran Tauhid murni yang dibawa para Rasul….</p>
<p>Mungkin Anda beranggapan bahwa yang dimaksud olehnya adalah kaum Kuffâr; Yahudi, Nashrani, Ateis dll. Merekalah musuh-musuh para Rasul…. merekalah setan-setan itu! Akan tetepi anggapan itu segera terbukti naif, setelah Anda mengetahui bahwa di sepanjang aktifitas dakwahnya, Syeikh tidak pernah berdakwah selain kepada kaum Muslimin sendiri… hanya mereka yang menjadi fokus garapannya… semua kegiatannya hanya dialamatkan kepada kaum Muslimin (yang tentunya ia vonis musyrik)…. sebagaimana peperangan dan jihadnya juga hanya melawan sesama kaum Muslimin !!</p>
<p>Jadi jelaslah bahwa yang ia maksud adalah ulama Islam! Merekalah dalam pandangan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb sebagai musuh-muusuh para Rasul dan setan, bala tentara Iblis!! Seperti akan ia pertegas dalam lembar-lembar berikutnya bahwa <i>“setan-setan, musuh-musuh Tauhid, dan ulama Musyirikûn” </i>itu berhujjah dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. dalam menetapkan keyakinan mereka akan kebenaran konsep Syafa’at, Istighâtsah dll. Adakah yang berhujjah dalam masalah tersebut di atas dengan Al Qur’an selain ulama Islam?! Jadi jelaslah bagi kita bahwa yang di maksud dengan Musyrikûn dan setan-setan bala tentara Iiblis adalah ulama Islam!!</p>
<p>Setelah ia menasihati para pengikutnya agar mempersenjatai diri dengan ilmu dan memperhatikan hujjah-hujjah Allah, ia berusaha mayakinkan mereka (dan juga kita semua) bahwa seorang awam dari pengikutnya pasti mampu mengalahkan seribu ulama Islam yaang ia sebut sebagai ulama kaum Musyrikin!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kitab Kasyfu asy Sybubuhât Doktrin Takfîr Wahhâbi Paling Ganas (8)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/02/26/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas8/</link>
<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 03:47:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/02/26/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas8/</guid>
<description><![CDATA[Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (8) Jika Anda memahami apa yang saya s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (8)</strong></p>
<p>Jika Anda memahami apa yang saya sampaikan dengan sebenar-benarnya dan Anda memahami bahwa menyekutukan Allah yang disebut sebagai dosa yang tak dapat terampuni.</p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَ يَغْفِرُ ما دُونَ ذلِكَ لِمَنْ يَشاءُ<font size="4"><font face="Times New Roman"> </font></font></p>
<p></font></b><i>Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (An-Nisa’: 48)</p>
<p></i>Dan memahami bahwa agama Allah yang dibawa oleh para Rasul dari yang pertama hingga yang terakhir, agama yang tidak diterima oleh-Nya selain agama itu, dan Anda mengetahui bahwa betapa banyak orang-orang yang bodoh terhadap hal ini. Maka ada dua poin yang dapat diberikan,</p>
<p><!--more--></p>
<p><em>pertama,</em> bahagia terhadap anugerah dan rahmat Allah, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَ بِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ</p>
<p></font></b><i>Katakanlah:” Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. <i>(QS.Yunus: 58)</i></p>
<p></i><em>Dan poin selanjutnya (kedua)</em> adalah ketakutan yang hebat.</p>
<p>Karena jika Anda memahami bahwa seseorang menjadi kafir karena ucapan yang dikeluarkan dari mulutnya dan dia tidak tahu, <u>maka kebodohan/ketidaktahuannya tidak dapat dijadikan alasan</u>. Dan terkadang dia mengatakan sesuatu yang dianggapnya dapat mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana yang dikhayalkan oleh kaum musyrikin, terlebih jika Anda menyimak saat Allah mengisahkan cerita kaum Musa a.s. yang dengan ilmu dan keutamaan yang mereka miliki, mereka mendatangi Musa seraya berkata:</p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">اجْعَلْ لَنا إِلهاً كَما لَهُمْ آلِهَةٌ</p>
<p></font></b><i>“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (<i>Al-A’raf</i>: 138)</p>
<p></i>Dengan demikian makin besarlah ketakutan Anda dan makin besar pula keinginan untuk memurnikan diri dari hal tersebut dan semisalnya.</p>
<p>________________</p>
<p><b>Cacatan 9:</p>
<p></b>Dalam pernyataannya di atas, Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb menvonis kafir seseorang karena perkataan yang ia katakan padahal ia mengatakannya dalam keadaan tidak mengetahui bahwa yang ia ucapkan itu berkonsekuensi kekafiran! Kajahilan itu tidak menjadi uzur untuk dielakkannya status kafir atasnya!</p>
<p>Jika Anda mengetahui bahwa memanggil Nabi Muhammad saw. dengan ucapan, <i>“Ya Rasulullah, isyfa’ lî ‘indallahi/Wahai Rasulullah mohonkan untukku syafa’at dari Allah” </i>itu digolongkan syirik, maka dapat dipastikan bahwa orang yang mengucapkan kata-kata tersebut di atas, dihukumi kafir, walaupun ia tidak mengerti di mana letak kemusyrikan dari kata-kata yang ia ucapkan itu, andai benar anggapan Ibnu Abdil Wahhâb tentangnya!!</p>
<p>Ketegasan kata-kata Ibnu Abdil Wahhâb dalam vonis kafirnya atas pengucap kata-kata kekufuran walaupun tidak mengetahui apa yang ia ucapkan itu telah membuat para juru dakwah Sekte Wahhâbiyah belakangan ini agak kerepotan. Pasalnya pandangan demikian itu terbilang dangkal, menyimpang dan memilih sisi ekstrim dalam memamahi agama! Karenanya Syeikh al-Utsaimin <i>–Khalifah Abdul Aziz ibn Bâz, Mufti Tertinggi sekte Wahhâbiyah di masanya-</i> terpaksa berpanjang-panjang dalam memberikan arahan.</p>
<p>Dan sikap keras Syeikh dalam masalah ini seperti sikap kerasnya dalam masalah-masalah lain. <i>Takfîr </i>adalah senjata andalannya.</p>
<p><b>Al Jahl, Ketidak-tahuan Adalah Uzur Dihindarkannya Status Kafir Dari Seseorang!</p>
<p></b>Para ulama menyebutkan bahwa bisa jadi perbuatan tertentu atau meninggalkan sebuah perbuatan tertentu itu adalah merupakaan kekafiran, dan pelakunya adalah dijatuhi hukuman sebagai kafir. Akan tetapi ketika akan dijatuhkan atas pekalu tertentu (<i>mu’ayyan</i>), maka harus dilakukan prosedur panjang. Di antaranya:</p>
<p>A) Adakah bukti kuat yaang membenarkan ditetapkannya hukum itu atas orang tersebut? Dalam istilah ulama hal ini disebut dengan <i>muqtadhi</i>.</p>
<p>B) Tidak adanya penghalang untuk diterapkannya hukuman itu. Dalam istilah ulama hal ini disebut dengan tidak adanya <i>mâni’</i>.</p>
<p>Apabila terbukti bahwa<i> muqtadhi</i> belum lengkap atau tidak cukup… atau terdapat<i> mâni’</i> tertentu maka ketetapan status hukuman itu tidak dapat ditetapkan.</p>
<p>Di antara <i>mawâni’</i> (bentuk jamak kata<i> mâni’</i>) yang akan menghalangi ditetapkannya status kafir tersebut atas seseorang adalah kejahilan/ketidak-tahuan. Bahkan <i>al jahl</i> adalah<i> mâni’</i> terpenting yang harus selalu diperhatikan sebelum menjatuhkan vonis kafir tersebut.</p>
<p>Hendaknya orang yang akan divonis itu mengetahui dengan pasti pelanggarannya. Allah berfirman:</p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">وَ مَنْ يُشاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ ما تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدى وَ يَتَّبِعْ غَيْرَ سَبيلِ الْمُؤْمِنينَ نُوَلِّهِ ما تَوَلَّى وَ نُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَ ساءَتْ مَصيراً<font size="4"><font face="Times New Roman">. </font></font></p>
<p></font></b><i>“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang- orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk- buruk tempat kembali.” ( QS. An Nisâ’ [4];115)</p>
<p></i>Dalam ayat di atas ditegaskan, ditetapkannya siksa neraka bagi yaang menentang Allah dan Rasul-Nya itu setelah jelas baginya petunjuk. Itu artinya kejahilan telah terangkat darinya.</p>
<p>Ibnu Katsir menerangkan ayat di atas sebagai berikut,<i> “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya”</i> barang siapa menempuh selain jalan Syari’at yang dibawa Rasulullah saw. dan menjadi berada din sisi sementara Syari’at di sisi lain<u> dengan kesengajaan setelah tampak dan jelas serta gamblang baginya <i>al haq</i>, kebenaran</u>…. &#8221; <font color="#0000ff">[1]</font></p>
<p>Dalam hal ini, al-Utsaimin berseberangaan dengan pendiri Sekte Wahhâbiyah. Setelah panjang lebar memberikan arahan agar imamnya tidak terlihat menyimpang, ia berkata menyimpulkan, <i>“Al hasil, seorang yang jahil punya uzur tentang apa yang ia katakan atau lakukan yang merupakan kekafiran, sebagaimana ia diberi uzur atas apa yang ia katakan atau lakukan yang merupakan kefasikan. Hal itu berdasarkan dalil Al Qur’an dan Sunnah serta i’tibâr dan pendapat para ulama.&#8221; </i><font color="#0000ff">[2]</font><i> </i>Semoga fatwa ini adalah bentuk perlunakan doktrin ekstrim Wahhâbiyah!</p>
<p>Selain kejahilan, <i>ta’wîl</i> atau <i>syubhat</i> dalam memahami nash agama juga menjadi <i>mâni’</i>. Sebagai contoh, para ulama menyebutkan kasus kaum Khawârij, di mana seperti kita ketahui bersama bahwa mereka telah mengafirkan banyak sahabat besar seperti Sayyidina Ali ra., menghalalkan darah-darah kelompok Muslimin selain mereka, menghalalkan harta mereka… namun demikin mereka tidak divonis kafir oleh para ulama, sebab dalam hemat mereka, kaum Khawârij itu berpendapat dan bersikap demikian karena <i>syubhat</i> ta’wil dalam memahami nash-nash agama, walaupun jelas-jelas salah fatal!</p>
<p><b>Bahaya Mengafirkan Tanpa Dasar dan Bukti</p>
<p></b>Mengapa begitu serius masalah pengafiran person, <i>mu’ayyan</i> atau bahkan yang bersifat umum? Karena hukum awal bagi kaum Muslimin adalah dihormatinya status keislaman mereka, dan kita harus senantiasa menetapkan bagi mereka status tersebut sehingga ada bukti nyata dan pasti bahwa statsu itu telah gugur. Di sini, dalam hal ini, kita tidak boleh semberono dan gegabah dalam menvonis kafir seseorang. Sebab dalam pengafiran itu terdapat dua bahaya yang bisa menghadang.</p>
<p><em>Pertama,</em> Mengada-ngada atas nama Allah SWT dalam menetapkan hukum/status.</p>
<p>Hal ini jelas, karena kita telah menetapkan status atas seseorang yang tidak ditetapkan oleh Allah SWT. Kita mengafirkan seseoraang yang tidak dihukum kafir oleh Allah SWT. Tindakan itu sama dengan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah SWT., atau sebaliknya… .</p>
<p><em>Kedua,</em> Mengada-ngada dalam penetapan status atas orang yang divonis.</p>
<p>Hal itu juga berbahaya, mengingat menetapkan status kafir atas seorang Muslim itu artinya kita menetapkan status yang berlawanan dengan status yang sebenarnya sedang ia sandang. Seorang Muslim kita sebut ia sebagai Kafir! Jika ada orang yang mengafirkan orang lain yang tidak berhak ia kafirkan maka vonis itu akan kembali kepadanya, seperti ditegaskan dalam banyak hadis shahih.</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkaan dari Abdullah ibn Amr, ia berkata, “Nabi saw. bersabda, <i>‘Jika seorang mengafirkan orang lain, maka ia (status kafir itu) telah tetap bagi salah satunya.&#8221; </i><font color="#0000ff">[3]</font></p>
<p>Dalam redaksi lain disebutkan, <i>“ Jika memang seperti yang ia katakan </i>(ya tidak masalah)<i>, tetapi jika tidak, maka ia akan kembali kepadanya.&#8221; </i><font color="#0000ff">[4]</font></p>
<p>Karenanya perlu berhati-hati dalam menetapkan vonis kafir atas <i>mu’ayyan</i>, atau bahkan atas keyakinan tertentu atau pekerjaan tertentu yang dipraktikan kaum Muslimin, generasi demi generasi dan didasarkan atas dalil-dalil yang diyakini kesahihannya. Sebab boleh jadi menvonis secara gegabah praktik tertentu sebagai kemusyrikan atau kekafiran termasuk mengada-ngada atas nama Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>*****<br />
<font color="#0000ff">[ Bersambung ]</font></p>
<p>___________________</p>
<p><font color="#0000ff">[1]</font> Tafsir Ibnu Katsir,1/554-555.</p>
<p><font color="#0000ff">[2]</font> Syarah Kasyfu asy Syubuhât:38.</p>
<p><font color="#0000ff">[3]</font> Muslim, Kitab al Imân:60.</p>
<p><font color="#0000ff">[4]</font> Ibid.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (3)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/02/25/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas3/</link>
<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 00:54:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/02/25/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas3/</guid>
<description><![CDATA[Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (3) Karena, orang-orang musyrik juga b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (3)</strong></p>
<p>Karena, orang-orang musyrik juga bersaksi bahwa Allah merupakan satu-satunya pencipta, tidak ada sekutu bagi-Nya, tiada yang memberi rizki selain-Nya, tiada yang menghidupkan dan mematikan selain-Nya, tidak ada sesuatu yang dapat mengatur kecuali Dia, dan sesungguhnya langit, bumi dan seisinya, semuanya hamba dan di bawah kekuasaan dan pengaturan-Nya.</p>
<p>Jika anda mengharapkan bukti dan argumentasi bahwa yang diperangi oleh Rasulullah Saw adalah mereka yang bersaksi akan hal tersebut. Maka bacalah firman Allah ini:</p>
<p><!--more--></p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّماءِ وَ الْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَ الْأَبْصارَ وَ مَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ يُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَ مَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَ فَلا تَتَّقُونَ<font size="4"><font face="Times New Roman">.</font></font></p>
<p></font></b><i>Katakanlah:” Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab:” Allah”. Maka katakanlah:” Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya ).” (<i>Yunus</i>, 31)</p>
<p></i>Dan firman-Nya:</p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَ مَنْ فيها إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ .<b>سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَ فَلا تَذَكَّرُونَ</b>.<b> قُلْ مَنْ رَبُّ السَّماواتِ السَّبْعِ وَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظيمِ</b>. <b>سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَ فَلا تَتَّقُونَ</b>.<b> قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَ هُوَ يُجيرُ وَ لا يُجارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ</b>.<b> سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ</b><font size="4"><font face="Times New Roman">.</font></font></p>
<p></font></b><i>Katakanlah:” Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”. Mereka akan menjawab:” Kepunyaan Allah.” Katakanlah: &#8220;Maka apakah kamu tidak ingat?&#8221;. Katakanlah: &#8220;Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya Arasy yang besar”. Mereka akan menjawab: &#8220;Kepunyaan Allah&#8221; Katakanlah: &#8220;Maka apakah kamu tidak bertakwa”. Katakanlah: &#8220;Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari ( azab )-Nya, jika kamu mengetahui”. Mereka akan menjawab:” Kepunyaan Allah.” Katakanlah:” (Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu”. (Al-Mukminun, 84-89)</p>
<p></i>Dan beberapa ayat yang lain.</p>
<p>Jika memang demikian, bahwa mereka itu telah berikrar dengan hal-hal tersebut namun tetap saja itu semua tidak memasukkan mereka kedalam tauhid yang diseru oleh Rasulullah Saw, dan saat anda mengetahui bahwa tauhid yang mereka ingkari adalah tauhid dalam ibadah yang disebut-sebut <b><u>oleh orang-orang musyrik di masa kami dengan <i>I’tiqad. </i></u></b></p>
<p>_______________________</p>
<p><b>Catatan 3:</p>
<p></b>Sekali lagi di sini Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb memberikan gambaran menarik tentang kaum Musyrikûn. Ia tidak menyebutkan berbagai keburukan kaum Musyrikûn. Di sini ia hanya menyebut ayat-ayat yang menunjukkan kepercayaan global kaum Musyrikûn bahwa Allah Pencipta dan Pemberi rizki. Sementara itu pernyataan mereka itu bisa saja mereka sampaikan dalam rangka membela diri di hadapan hujatan tajam Al Qur’an, bukan muncul dari i’tiqâd dan keimanan. Sebab jika benar keyakinan mereka itu, pastilah meniscayakan mereka menerima keesaan Allah dan karasulan Nabi Muhammad saw. serta konsistensi dalam menjalankan berbagai ibadah yang diajarkannya. Karenanya, Allah SWT memerintah Nabi-Nya agar mengingatkan mereka akan konsekuansi dari apa yang mereka nyatakan itu; <i>Maka katakanlah: ”Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya).”</i> dan.<i> Katakanlah: ”(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu.”</i>?!</p>
<p>Seakan Allah SWT mengecam mereka bahwa mereka bebohong dalam apa yang mereka nyatakan dengan lisan mereka! Dan sesungghunya mereka tidak beriman kepada Allah sebagai Dzat Maha Pencipta, <i>Khâliq</i>, Maha Pemberi rizki, <i>Râziq</i>. Sementara pada waktu yang sama mereka juga tidak dapat memngatakan bahwa berhala-berhala sesembahan mereka itulah yang menciptakan langit dan bumi.</p>
<p>Demikian sebagian ulama Islam memahami ayat-ayat di atas. Dan andai pemahaman di atas ini tidak disetujui dan dianggap lemah, dan apa yang dinyatakan kaum Musyrikûn itu adalah sesuai apa yang mereka yakini, maka perlu diketahui bahwa sekadar mengimani Allah sebagai Dzat Maha Pencipta, <i>Khâliq</i>, Maha Pemberi rizki, <i>Râziq</i> tidaklah cukup alasan dikelompokkan sebagai kaum beriman jika mereka menyembah selain Allah SWT. seperti yang dilakukan kaum Musyrikûn.</p>
<p>Dan tidaklah adil apabila Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb hanya berfokus menyebut berbagi ayat yang mengesankan adanya sisi positif pada kaum kafir, sementara itu ia melupakan ayat-ayat yang menyebut terang-terangan sisi-sisi buruk kaum kafir; kekafiran, penentangan kepada Rasul dan hari akhir, kazaliman dll. Kemudian ketika menyoroti kaum Muslimin, yang menjadi fokus bidikan adalah sisi kelam dan buruknya, sementara sisi-sisi positif dan terpujinya dilupakan.</p>
<p>Tidak benar! Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb melakukan hal itu sebagai pijakan awal untuk melegetimasi memerangi kaum Muslimin yang rajin bersembah sujud di hadapan Allah SWT dengan alasan bahwa mereka sama seperti kaum kafir/musyrik Arab di zaman Nabi saw. yang ia gambarkan dengaan kata-kata menipunya: <i>“Beliau diutus oleh Allah kepada umat manusia yang juga beribadah, berhaji, bersedekah dan selalu berdzikr mengingat Allah.”</i> Jadi, dalam logika Ibnu Abdil Wahhâb, salahkah bila ia juga melakukan persis seperti apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw.?! menghalalkan darah-darah dan memerangi mereka!</p>
<p><b>Catatan:</p>
<p></b>Coba Anda perhatikan akhir pernyataan Syeikh di atas. Ia tegas-tegas menyebut kaum Msulimin yang berbeda dengannya degang sebutan kaum <i>Musyrikûn</i>; “Anda mengetahui bahwa tauhid yang mereka ingkari adalah tauhid dalam ibadah yang disebut-sebut <b><u>oleh orang-orang musyrik di masa kami dengan <i>I’tiqad.”</i></u></b></p>
<p>Dan ini adalah bukti nyata doktrin pengafiran yang ditekankan Syeikh untuk para pengikutnya.</p>
<p><b>Doktrin Pengafiran <i>Ala</i> Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb</p>
<p></b>Seperti telah kami sebutkan sebelumnya bahwa dalam tidak kurang dari dua puluh kesempatan, Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb -pendiri Sekte Wahhâbiyah- ini menyebut umat Islam selain dirinya dan pengikutnya sebagai kaum Musyrikûn. Pernyataan di atas adalah teks tegas dalam pengafiran kaum Muslimin; para ulama di zamannya atau paling tidak kebanyakan ulama di zamannya!</p>
<p>Sebab, jika mereka yang ia maksud dengan pernyataan di atas adalah semua ulama’ yang menggunakan kata dan istilah <i>i’tiqâd</i> untuk menunjuk pada arti keyakinan yang telah dirangkum dalam kitab-kitab akidah, maka itu artinya jelas bahwa Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb benar-benar telah menvonis musyrik para ulama di zamannya. Jika yang ia maksud adalah <i>i’tiqâd</i> di sini adalah <i>i’tiqâd</i> khusus yaitu <i>i’tiqâd</i> kaum Sufi misalnya, maka itu artinya ia telah mengafirkan satu kelompok besar dari ulama Islam tanpa terlebih dahulu memperhatikan dalil dan alasan mereka dan tanpa mempelajari <i>ta’wîl</i> mereka. Bukankah <i>ta’wîl</i> itu dapat menjadi alasan dielakkannya vonis kafir atas sesorang?!</p>
<p>Al hasil, pernyataan di atas adalah bukti kuat bahwa Syeikh sedang mengafirkan kaum Muslimin di luar kelompoknya sendiri!</p>
<p>Di sini perlu diperhatikan, bahwa hujjah dan argumentsi kaum Sufi itu telah diterima kebenarannya oleh banyak ulama Islam. Seperti keyakinan bahwa waktu dan tempat tertentu itu memiliki kekhususan dalam memberikan pengaruh diijabahkannya doa seorang hamba lebih dari waktu dan tempat lain.</p>
<p>Di antara waktu-waktu itu adalah sepertiga malam akhir, <i>Lailatul Qadar, Hari Arafah, Lailah Nishfu Sya’ban</i> dll. -baik hadis tentangnya kita shahihkan atau tidak-. Dan di antara tempat-tempat tersebut adalah masjid-masjid, tempat-tempat pelaksanaan manasik haji, Arafah, Mina, Muzdalifah, kota suci Madinah al Munawarrah, makam-makam para Nabi as. dan orang-orang Shâlihin, -baik kita terima atau kita tolak argumentasi mereka-, yang pasti mereka adalah orang-orang Muslim yang beriman kepada Allah, kenabian dan hari akhir.</p>
<p>Dan pada masalah terakhir ini telah terjadi perbedaan pendapat sejak masa silam, ada yag melarangnya… dan ada pula yang membolehkannya dengan keyakinan bahwa seorang yang dikebumikan di dalam makam itu adalah orang shâleh, dan ruhnya akan mendengar -sebab dalam keyakinan mereka bahwa mayyit dapat mendengar, dan masalah ini menjadi bahan perselisihan di antara para ulama-. Dan karena ia hidup di alam kuburnya dan ruhnya dapat mendengar doa yang kita panjatkan kepada Allah, maka dengan demikian harapan di-<i>ijabah-</i>kannya doa itu lebih kuat, jika dibacakan di dekat makamnya. Para peziarah itu memohon syafa’at/bantuan darinya agar meng<i>-amin</i>-kan doa yaang mereka panjatkan! Dan praktik seperti ini dibenarkan oleh banyak ulama. Bahkan Ibnu Hazm telah melaporkaan adanya ijmâ’ atasnya, sebagaimana tidak sedikit ulama yang diakui ke<i>-salafiyah-</i>annya oleh kaum Wahhabi seperti adz-Dzahabi dan asy-Syawkani yang juga membolehkannya. Jadi rasanya sangat tidak tepat apabila kemudian kaum Wahhabi menvonis kafir dan musyrik para pelaku praktik seperti tersebut di atas.</p>
<p>Dan apabila kita cermati dengan seksama, berbagai alasan yang dijadikan pijakan untuk vonis ‘galak’ pengafiran kaum Muslimin oleh Ibnu Abdil Wahhâb, kita dapati adalah perkara-perkata yang bukan tergolong <i>mukaffirah </i>(yang menyebabkan kafirnya seseorang), bahkan ia adalah praktik-praktik yang dibolehkan banyak ulama tidak terkecuali tokoh-tokoh andalan Wahhâbi dan imam mereka, seperti Imam Ahmad dan murid-murid terdekatnya seperti Ibrahim al Harbi al Hanbali.</p>
<p><b>Benarkan Kaum Muslimin Menyembah Kaum Shâlihîn?</p>
<p></b>Dalam pernyataan Ibnu Abdil Wahhâb di atas tersirat tuduhan bahwa umat Islam adalah menuyembah kaum Shâlihîn. Dan ini jelas tidak berdasar. Umat Islam, baik dari kelompok Shufi, Ulama Ahli Fikih dan kaum awam sekalipun tidak menyembah selain Alllah Dzat Yang Maha Esa. Berbeda dengan kaum Musyrikin, baik kaum Quraisy maupun lainnya yang telah sujud kepada arca dan berhala!! Jika hal ini belum juga jelas bagi kita, pastilah untuk membedakan hal yang lebih rumit dan samar. Di antara hal yang samar adalah tuduhan yang dilontarkan para ulama Islam bahwa Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan jama’ahnya adalah gerombolan kaum Khawarij Modern. Sebab dalam hemat para ulama itu hampir seluruh ciri negatif kaum Khawarij Klasik telah terkumpul pada penganut Sekte ini, seperti:</p>
<p>1) Mengafirkan kaum Muslimin selain kelompok mereka.</p>
<p>2) Menghalalkan darah-darah kaum Muslimin.</p>
<p>3) Mereka membaca Al Qur’an tetapi hanya sampai di kerongkongan saja, tidak meresap dalam jiwa, karenanya mereka tidak mengindahkan ayat-ayat Al Qur’an yang mengafirkan kaum Muslimin dan mengalirkan darah-darah mereka.</p>
<p>4) Mereka mengetrapkan ayat-ayat yang turun berkaitan dengan kaum kafir kepada kaum Muslimin.</p>
<p>5) Mereka getol mengerjakan ritual-ritual formal. dll.</p>
<p>Dan apabila menyamakan pengikut Wahhâbiyah dengan kaum Khawârij mereka tolak dan mereka anggap sebagai perlakuakn zalim,- sementara kesamaan dan kemiripannya sangat kental-, maka menyamakan kaum Msulimin dengan kaum Musyrikin yang dilakukan oleh kaum Wahhâbi jauh lebih zalim dan jauh dari kebenaran.</p>
<p>Dan jika Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dapat ditoleransi dalam vonis penyamaan itu maka para ulama Islam yang menyamakan Ibnu Abdil Wahhâb dan jama’ahnya dengan kaum Khawârij lebih berhak menerima toleransi itu! Sebab kaum Khawârij masih digolongkan sebagai kaum Muslimin oleh banyak ulama Islam, sedangkan kaum Musyrik Quraisy tidak ada satupun yang meragukan kekafiran mereka!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (1)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2008/02/23/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas1/</link>
<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 04:22:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2008/02/23/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas1/</guid>
<description><![CDATA[Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (1) Sekilas Tentang Kitab Kasyfu asy-S]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (1)</strong></p>
<p><strong>Sekilas Tentang Kitab Kasyfu asy-Sybubuhat</strong></p>
<p>Kitab<i> Kasyfu asy-Sybubuhat</i> adalah karya Syeikh Muhammad ibn Abdi Wahhâb yang ia tulis untuk mendektekan “hujjah-hujjah dan bukti-bukti” dan menjelaskan inti pikiran ajarannya. Kitab ini menjadi rujukan utama sekte Wahhabiyah dalam menanamkan doktrin ajarannya, ia tersebar dengan luas di kalangan para santri, pelajar, mahasiswa dan kaum awam Wahhabi sekalipun. Kemasyhuran kitab tersebut tidak kalah dengan kemasyhuran kitab <i>at Tauhid</i> karyanya.</p>
<p>Kitab tersebut, baik terjemahan maupun aslinya telah menyebar di tanah air nusantara yang kita cintai.<i> </i></p>
<p><b>Kitab Kasyfu asy-Sybubuhat</p>
<p></b>Kitab <i>Kasyfu asy-Sybubuhât</i> adalah sarat dengan doktrin pengafiran atas kaum Muslimin selain kelompok Wahhabi (yang tunduk menerima ajakan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb). Ia telah mengkategorikan banyak hal yang bukan syirik ke dalam daftar kesyirikan! Dan atas dasar itu ia mengafirkann dan menvonis musyrik selain kelompoknya.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Dalam buku kecil itu, Ibnu Abdil Wahhâb telah menyebut umat Islam, seluruh umat Islam, baik awam maupun ulamanya dari berbagai mazhab dan golongan selain kelompoknya dengan sebutan <i>musyrikan</i> tidak kurang dari dua puluh empat kali. Sementara itu, lebih dari dua puluh lima kali ia menyebut kaum Muslimin dengan sebutan:</p>
<p>Kafir,</p>
<p>Para penyembah berhala-berhala,</p>
<p>Orang-orang munafikun,</p>
<p>Orang-orang murtad,</p>
<p>Para penentang Tauhid,</p>
<p>Musuh-musuh Tauhid,</p>
<p>Musuh-musuh Allah,</p>
<p>Orang-orang yang mengaku-ngaku Islam secara palsu,</p>
<p>Pengemban kebatilan,</p>
<p>Orang-orang yang dalam hati mereka terdapat kecendurngan kepada kebatilan,</p>
<p>Kaum jahil,</p>
<p>Setan-setan,</p>
<p>Dan sesungguhnya orang-orang bodoh dari kalangan kaum kafir dan para penyembah berhala-berhala lebih pandai dari mereka …</p>
<p>Dan kata-kata keji lainnya.</p>
<p>Sebuah kenyataan yang membuat kitab tersebut sebagai kitab Pedoman Doktrin Takfîr paling berbahaya dan sekaligus sebagai saksi nyata bahwa ajaran Wahhâbiyah ditegakkan di atas pondasi pengafiran yang sulit dielak oleh para pengikutnya sekarang!</p>
<p>Dan untuk melihat dari dekat kitab tersebut, maka kami tertarik untuk menerjemahkannya dengan disertai catatan yang akan membantu pembaca mengenal dengan baik pikiran inti Pendiri Setke Wahhâbiyah dan sekaligus akan menggaris-bawai beberapa kekeliruannya.</p>
<p>Naskah yang kami terjemahkan adalah terbitan <i>Dâr al-Kutub al-Ilmiah </i>Beirut &#8211; Lebanon dengan disertai syarah <i>Syeikh Ibnu Utsaimin </i>dan dicetak bersama kitab <i>al-Ushûl as -Sittah</i> juga karya Ibnu Ibdil Wahhâb. Tebal halaman berikut <i>syarh</i>-nya adalah 83.</p>
<p>Di bawah ini mari kita ikuti terjemahan dan catatan komentar atasnya…</p>
<p>Selamat membaca..!</p>
<p><b><i>Berkata Ibnu Abdil Wahhab –pendiri sekte Wahhâbiyah- dalam kitabnya Kasyfu asy Syubuhât</p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p></i></b>Ketahuilah wahai yang ingin dirahmati oleh Allah Swt, sesungguhnya tauhid adalah mengesakan Allah dengan ibadah. Di mana hal tersebut merupakan agama dan tuntunan duta-duta Allah untuk para hamba-Nya; dimulai oleh nabi Nuh a.s. yang diutus kepada kaumnya ketika mereka telah melampaui batas (<i>gluluw)</i> orang-orang yang saleh; <i>Wudda,</i> <i>Suwa’a</i>, <i>Yaghuts</i>, <i>Ya’uq</i> dan <i>Nasra.</i></p>
<p>_______________</p>
<p><b>Catatan: 1</p>
<p></b>Awal pembicaraan di atas adalah benar, akan tetapi bagian akhirnya tidak berdasar. Tidak semetinya berpanjang-panjang dalam menjelaskan masalah yang telah diketahui dan disepakati semua umat Islam, bahwa para nabi saw. diutus untuk mengajarkan konsep Tauhid yaitu mengesakan Allah SWT dalam penyembahan dan meninggalkan penyembahan selain-Nya. Nabi Nuh as. diutus kepada kaum yang menyembah arca-arca dan berhala-berhala dan bukan sekedar ber<i>-ghuluw (</i>berlebihan) terhadap para <i>shalîhîn </i>seperti yang dikatakan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb. Secara bahasa kata<i> ghuluw</i> artinya sikap melampaui batas, kata ini dapat memiliki konotasi yang luas dan dapat diseret kepada makna yang disalah-gunakan. Benar, terkadang sikap <i>ghuluw</i> itu mencapai puncaknya yaitu kekafiran, walaupun itu jarang… mencium tangan seorang shaleh atau wali dan ber<i>-tabarruk </i>terhadap kaum <i>shâlîhîn </i>dalam pandangan Ibnu Abdil Wahhâb termasuk sikap <i>guluw</i>… akan tetapi semua itu tidak benar dikategorikan sebagai syirik!</p>
<p>Sepertinya Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb hendak mengesankan kepada kita bahwa ajakannya adalah kelanjutan dari ajakan para Nabi as. Atau ia ingin membangun opini bahwa para Nabi dan Rasul as. itu tidak diutus oleh Allah SWT kecuali kepada kaum yang ber<i>g-huluw</i> kepada kaum <i>shâlîhîn</i> semata! Atau bahwa kesalahan terbesar yang menjerumuskan mereka ke dalam lembah kemusyrikan hanyalah ber<i>ghuluw</i> kepada kaum <i>shâlîhîn</i>! Seperti yang ia tegaskan dalam kitab <i>at Tauhid</i>-nya dengan menulis sebuah bab dengan judul, “Bab bukti-bukti yang datang bahwa sebab yang membawa bani Adam kepada kekufuran dan meninggalkan agama mereka adalah <i>ghuluw</i> terhadap. kaum <i>shâlîhîn</i>.” (Syarah Ibnu Utsaimin atas <i>Kasyfu asy-Syubuhât</i>:15).</p>
<p>Ini semua tidak benar dan tidak berdasar, sebab pada kenyataannya mereka menyekutukan Allah dan menyembah berhala-berhala. Dan ini sudah cukup untuk menjadi alasan kemusyrikan mereka. Sementara itu, lawan-lawan ajakan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb yang membantah alasan-alasannya dan yang ia kafirkn serta ia perangi adalah kaum Muslimin yang mengesakan Allah dan tidak menyembah selain-Nya, akan tetapi mereka berkeyakinan bahwa ber-<i>tabarruk</i> dengan para <i>shâlîhîn</i>, yang sementara ini divonis syirik olehnya. Karenanya, Syeikh banyak mengulang poin ini dalam banyak kesempatan.</p>
<p><b>Makna Ibadah</p>
<p></b>Seperti telah diketahui bersama bahwa tidaklah semua bentuk pengagungan dan ketundukan dapat diketegorikan sebagai ibadah (penyembahan/penghambaan). Jadi mengagungkan terhadap seorang Nabi misalnya, atau seorang wali atau ulama atau mengagungkan kuburan mereka dengan bentuk pengagungan tertentu atau ber<i>-tabarruk</i> dengan mereka tidak serta-merta disebut sebagai menyembah mereka dan atau kuburan mereka, atau menyamakannya dengan menyembah berhala dan karenanya divonis musyrik/kafir.</p>
<p><b>Memuji Kebaikan Kaum Musyrikin!</p>
<p></b>Seperti telah disinggung bahwa lawan-lawan yang dikafirkan dan diperangi Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb adalah kaum Muslimin yang menegakkan shalat, menjalankan puasa dan haji, oleh sebab itu ia mesti perlu membubarkan tanda tanya yang terus-menerus membayangi pengikutnya bahwa mereka itu benar-benar telah musyrik agar para pengikutnya itu tetap bersemangat mengafirkan dan kemudian memerangi mereka. Dari sini dapat dimengerti rahasia mengapa ia berlebih-lebihan dalam menekankan hal itu, seperti tampak dari kata-katanya di atas. Dan dari sini pula dapat dimengerti mengapa Syeikh begitu bersemangat memaparkan <i>mahâsin</i> (sisi baik) kaum kafir Quraisy, pengikut Musailamah al-Kadzdzâb dan kaum munafikin di zaman Nabi saw. Dalam banyak kali Syeikh mengunggulkan mereka atas kaum Muslimin; baik ulama maupun awamnya! Semua itu ia lakukan dengan maksud mengajukan bukti bahwa orang-orang yang ia perangi adalah orang-orang yang secara kualitas di bawah kaum kafir Quraisy dan kaum munafikin serta pengikut Musailamah al-Kadzdzâb!</p>
<p>Ini jelas salah besar, sebab ia hanya memaparkan sisi baik (jika kita terima anggapannya bahwa itu adalah kebaikan) kaum Musyrikun dan sengaja melupakan keburukan mereka. Sementara itu, ketika memaparkan kondisi kaum Muslimin yang sedang ia bandingkan dengan kaum kafir itu ia lupakan sisi-sisi positif yang ada dan hanya berfokus pada sisi negatif saja! Seperti akan disebutkan nanti.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Benarkah Wahhabiyah Pewaris sejati Madzhab salaf? (1)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2007/12/30/benarkah-wahhabiyah-pewaris-sejati-mazhab-salaf-1/</link>
<pubDate>Sun, 30 Dec 2007 00:06:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2007/12/30/benarkah-wahhabiyah-pewaris-sejati-mazhab-salaf-1/</guid>
<description><![CDATA[Benarkah Wahhabiyah Pewaris sejati Mazhab Salaf? (1) Mentawîl Ayat-ayat Sifat Adalah Mazhab Salaf Sh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Benarkah Wahhabiyah Pewaris sejati Mazhab Salaf? (1)</strong></p>
<p><strong>Mentawîl Ayat-ayat Sifat Adalah Mazhab Salaf Shaleh</strong></p>
<p>Ada dua poin yang perlu dicermati dengan teliti, <i>Pertama</i>, mazhab Wahhabi kental dengan faham <i>Tasybîh</i> dan <i>Tajsîm</i> dalam memahami nash-nash tentang sifat Allah SWT. tetapi mereka selalu mengelaknya dan berbelit-belit dalam membela diri. <i>Kedua</i>, mereka mengklaim bahwa faham mereka itu adalah representatif faham para sahabat Nabi dan tabi’în serta Salaf Ummat ini.</p>
<p>Dalam klaim mereka para sahabat dan tabi’în dalam menyikapi ayat-ayat atau hadis-hadis sifat adalah memberlakukan pemaknaannya dengan makna lahiriyah yang dikesankan oleh lahir lafadznya. Kata<b> <font face="Arial (Arabic)">عينٌ &#8211; ساقٌ- يَدٌ</font></b>- dan semisalnya harus dimaknai secara lahiriyah apa adanya tanpa memasukkan unsur majazi yang akrab dipergunakan dalam sastra Arab. Kata <b><font face="Arial (Arabic)">يدٌ</font></b> harus dimaknai tangan, kata <b><font face="Arial (Arabic)">عينٌ</font> </b>harus dimaknai mata, dan kata <b><font face="Arial (Arabic)">ساق</font></b> harus dimaknai betis. Ketika kata-kata itu dipergunakan untuk menyebut sifat Allah SWT.<font color="#0000ff"> [1] </font>maka arti yang sama pula harus kita fahami darinya.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Dasar pemahaman seperti ini tidak asing dalam pola pikir Sekte Wahhabiyah dan dapat dengan mudah kita temukan keterangan dan uraiannya dalam buku-buku akidah mereka. Jadi tidak perlu rasanya saya menyebutkannya lagi dari keterangan mereka. Artikel ini, tidak bermaksud menyalahkan atau mendukung pola pandang seperti itu. Hanya saja yang menjadi sorotan artikel kali ini adalah apakah benar para sahabat dan tabi’în (Salaf Shaleh) berfaham seperti itu? Sepertinya, para arsitek Sekte Wahhabiyah perlu mencari pembelaan bahwa mazhab mereka dalam masalah sifat Allah ini adalah memiliki akar historis yang menyambungkannya kepada generasi awal Islam yang cemerlang… tentunya agar dapat menarik para peminat agar tergiur dengan slogan<font color="#0000ff">, “Mazhab kami adalah mazhab Salaf; Sahabat dan Tabi’în”</font><b> </b>… Minimal itu adalah trik pemasaran yang sungguh simpatik dan diharap dapat mendongkrak tinggkat minat para konsumen.</p>
<p><b>Mazhab Salaf Bertolak-belakang dengan Faham Wahhabiyah!</p>
<p></b>Para tokoh Sekte Wahhabiyah, seperti<i> Ibnu Utsaimin </i>dan lainnya telah panjang lebar mengkritik segala bentuk usaha mena’wilkan ayat-ayat atau hadis-hadis sifat. Mereka mengecamnya sebagai slogan kaum <i>Jahmiyah </i>dan <i>Mu’aththilah</i>… telah menyalai Al Qur’an dan Sunnah serta telah terjebak oleh kesesatan para filsuf. Kepalsuan slogan mereka ini telah memikat sebagian pelajar agama yang belum matang pemahaman agamanya. Bahkan tidak jarang muncul anggapan bahwa mena’wîl ayat-ayat sifat adalah <i>dhalâl</i>, kesesatan, bid’ah, terjangkit faham Jahmiyah dan para salaf tidak mengenal <i>ta’wîl !!</i> Akan tetapi, setiap yang mau menyempatkan diri membuka-buka lembaran kitab para ulama pasti akan mengetahui dengan gamblang bahwa para Salaf; generasi terdahulu, sahabat, tabi’în dan tabi’ut tabi’în telah melibatkan diri dalam mena’wil ayat-ayat atau hadis-hadis sifat… mereka menegaskan bahwa dzahir sebagian ayat sifat itu bukan yang dimaksud olehnya. Dan sikap mereka itu pastilah diambil dari <i>Kitabullah</i> dan Sunnah Nabi saw. yang shahihah. Dalam kesempatan ini saya akan sebutkan beberapa contoh dari ta’wîl mereka agar dimengerti bahwa klaim kaum Wahhabi dalam hal ini adalah tidak berdasar dan justru bukti-bukti yang ada menentang klaim mereka!</p>
<p><b>Al Qur’an dan Sunnah Mengajarkan Ta’wîl</p>
<p></b>1) Allah SWT telah mengajari kita ta’wîl <font color="#0000ff">[2]</font> dalam kitab suci-Nya. Allah SWT berfirman:</p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">نَسُوا اللهَ فَنَسِيَهُمْ</p>
<p></font></b><i>“mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka.” (QS.9 [at Taubah] :67)</p>
<p></i><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">إِنَّا نَسِيْناكمْ</p>
<p></font></b><i>“Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu.” (QS.32 [as Sajdah];14)</p>
<p></i>Ayat-ayat yang menyebutkan sifat lupa bagi Allah SWT haruslah dita’wîl dengan makna selain makna dzahirnya. Allah Maha Suci dari sifat lupa kendati kata lupa telah dipergunakan dalam ayat-ayat Al Qur’an untuk Allah SWT. Kita tidak dibenarkan menetapkan sifat lupa bagi Allah SWT. walaupun dengan mengatakan bahwa <i>“lupa Allah tidak seperti lupa kita”, </i>seperti yang biasa dikatakan oleh kaum Musyabbihah/Wahhabi ketika menyebut beberapa sifat Allah yang tertera dalam Al Qur’an, sebab Allah telah berfirman:</p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">وَ ما كانَ رَبُّكَ نَسِيًّا</p>
<p></font></b><i>“… dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (Q.S. Maryam: 64)</p>
<p></i>Tidaklah halal bagi seorang yang berakal waras untuk mengatakan bahwa<i> “Allah lupa, tetapi tidak seperti lupa kita, Allah duduk tetapi tidak seperti duduk kita, Allah bersemayam di langit tetapi Dia tidak menyerupai sesuatu apapun.”</i> Kata-kata terakhir (tetapi tidak seperti lupa kita dll.) tidak berguna sama sekali, ia tidak dapat menghindarkan dari tuduhan <i>tasybîh</i> dan <i>tajsîm</i>, sebab tidak semua kata yang datang dalam sifat Allah SWT. dapat ditetapkan sebagai sifat bagi Allah secara lahiriyah.</p>
<p>Ketika kaum Wahhabi mengatakan Allah duduk, Allah turun, maka tidaklah berguna kata-kata yang mengatakan bahwa <i>duduk dan turun Allah tidak seperti duduk dan turun kita</i>, sebab turun itu artinya pergeseran dan perpindahan dari sebuah tempat yang lebih tinggi ke tempat lain yang lebih rendah, artinya ada gerak di situ, lalu apabila setelah menetapkan sifat itu bagi Allah SWT kita mengatakan tetapi tidak seperti duduk dan turun kita maka kita akan menafikannya, baik kita sadari atau tidak.</p>
<p>Jadi kata-kata itu adalah kontradiksi belaka, sebab yang namanya turun meniscayakan adanya gerak, dan gerak adalah sifat makhluk, <i>hâdits</i>. Jika dikatakan adanya turun tetapi tanpa gerak, itu tidak logis dan benar-benar telah menjungkir-balikkan makna bahasa!! Itu adalah kontradiksi antara pembukaan kalimat dan akhirannya! Berbeda dengan ketika kita mengatakan, “Allah Maha mendengar, <i>Samî’</i> tetapi tidak seperti pendengaran kita, Allah Maha Melihat, <i>Bashîr</i> tetapi tidak seperti penglihatan kita” sebab maksud “Allah Maha Mendengar” ialah kita menetapkan sifat mendengar, <i>sam’u</i>, kemudian kita menyucikan Allah dari kebutuhan kepada alat bantu dalam mendengar yaitu telinga. Di sini dapat dibayangkan adanya sifat mendengar tanpa bantuan alat kemudian kita menyerahkan kepada Allah pengetahuan tentang bagaimana sifat Maha Mendengar itu, sebab sifat Dzat Maha Pencipta tidaklah mampu dijangkau oleh makhluk-Nya yang serba lemah ini. Di sini ada penetapan sifat dan ada penyucian dari menyerupai makhluk-Nya dan kemudian men<i>-tafwîdh </i><font color="#0000ff">[3]</font><i> </i>, menyerahkan ilmu tentangnya kepada Allah SWT. dan itu sangatlah berbeda dengan ucapan kaum Wahhabi, <i>“Allah duduk, Allah turun tetapi tidak seperti duduk dan turunnya kita.” </i>Seperti telah disebutkan sebelumnya.</p>
<p>Kenyataan ini akan makin jelas dengan memerhatikan contoh di bawah ini.</p>
<p>2) Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat hadis qudsi:</p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">يَا ابنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَم تَزُرْنِيْ قال: يا ربِّ كيفَ أَعودُكَ وَ أنتَ ربُّ العالَمِيْنَ، قال: أمَا علِمتَ أَنَّ عبْدِيْ فلانًا مَرِضَ فلَمْ تَعُدْهُ، أما علمتَ أَنَكَ لو عُدْتَهُ وَجَدْتَنِي عِنْدَهُْ<font size="4"><font face="Times New Roman"> </font></font></p>
<p></font></b><i>“Hai anak Adam, Aku sakit tapi engkau tidak menjenguk-Ku. Ia [hamba] berkata, ‘Bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Rabbul ‘Âlamîin?’ Allah menjawab, ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit, engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau mengetahui bahwa jika engkau menjenguknya engkau akan dapati Aku di sisinya…“ (HR. Muslim,4/1990, hadis no.2569)</p>
<p></i><b>Abu Salafi berkata:</p>
<p></b>Wahai Anda yang berakal waras, bolehkah kita mengatakan, “Kita akan menetapkan bagi Allah sifat sakit, tetapi sakit Allah tidak seperti sakit kita; makhluk-Nya?!! Bolehkah kita meyakini bahwa jika ada seorang hamba sakit maka Allah juga akan terserang sakit, dan Dia akan berada di sisi si hamba yang sakit itu?, dengan pemahaman dzahir teksnya dan dengan tanpa memasukkan unsur majazi?!! Pasti tidak!!</p>
<p>Bahkan kita berhak mengatakan bahwa siapa saja yang mensifati Allah dengan “Sakit” atau “Dia sedang Sakit” dia benar-benar telah kafir! Sementara pelaku pada kata kerja <b><font face="Arial (Arabic)">مَرِضْتُ</font> </b>adalah kata ganti orang pertama/aku/si pembicara yaitu Allah. Jadi berdasarklan dzahir teks dalam hadis itu, Allah-lah yang sakit. Tetapi pastilah dzahir kalimat itu bukan yang dimaksud. Kalimat itu harus dita’wîl. Demikian pandangan setiap orang berakal. Dan ini adalah sebuah bukti bahwa Sunnah pun mengajarkan ta’wîl kepada kita.</p>
<p>Makna hadis di atas menurut para ulama sebagaimana diuraikan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim sebagai berikut, <i>“Para ulama berkata, ‘disandarkannya sifat sakit kepada-Nya sementara yang dimaksud adalah hamba sebagai tasyrîf, pengagungan bagi hamba dan untuk mendekatkan. Para ulama berkata tentang maksud </i>‘engkau akan dapati Aku di sisinya’<i> engkau akan mendapatkan pahala dari-Ku dan pemuliaan-Ku… “ </i>(Syarah Shahih Muslim,16/126)</p>
<p>Berdasarkan kaidah yang ditegakkan di atas pondasi Al Qur’an dan Sunnah di atas, para sahabat, tabi’în dan para imam mujtahidîn berjalan dalam memahami ayat-ayat dan hadis-hadis sifat.</p>
<p>Untuk lebih meyakinkan mari kita ikuti ta’wîl mereka sebagai terangkum di bawah ini.</p>
<p><b>Ibnu Abbas ra. Menta’wîl</p>
<p></b>Di antara sahabat besar yang berjalan di atas kaidah ta’wîl adalah Sayyiduna Ibnu Abbas ra., anak paman Rasulullah saw. dan murid utama Imam Ali -<i>karramallahu wajhahu</i>- dan pernah mendapat do’a Nabi saw. , <i>“Ya Alah ajarilah dia (Ibnu Abbas) tafsir Kitab (Al Qur’an).”</i> (HR. Bukhari)</p>
<p>Telah banyak riwayat yang menukil ta’wîl beliau tentang ayat-ayat sifat dengan sanad yang shahih dan kuat.</p>
<p>Di bawah ini akan saya sebutkan sebagiannya.</p>
<p>1) Ibnu Abbas menta’wîl ayat:</p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)">يومَ يُكْشَفُ عَنْ ساقٍ</p>
<p></font></b><i>“Pada hari betis disingkapkan.” (QS.68 [al Qalam]:42)</p>
<p></i>Ibnu Abbas ra. berkata, “Disingkap dari kekerasan (kegentingan).”</p>
<p>Di sini kata <b><font size="4" face="Arial (Arabic)">ساقٍ</font></b> (betis) dita’wîl dengan makna <b><font size="4" face="Arial (Arabic)">شِدَّةٌ</font></b><font size="4"> </font>kegentingan.</p>
<p>Ta’wîl di atas telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam <i>Fathu al Bâri</i>,13/428 dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya,29/38. Ia mengawali tafsirnya dengan mengatakan,<i> “Berkata sekelompok sahabat dan tabi’în dari para ahli ta’wîl , maknanya ialah, “Hari di mana disingkap (diangkat) perkara yang genting.”</i></p>
<p>Dari sini tampak jelas bahwa menta’wîl ayat sifat adalah metode para sahabat dan tabi’în. Mereka adalah salaf kita dalam metode ini.Ta’wîl itu juga dinukil oleh Ibnu Jarir dari Mujahid, Said ibn Jubair, Qatadah dll.</p>
<p>2) Ibnu Abbas ra. menta’wîl ayat:</p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">و السَّمَاءَ بَنَيْناهَا بِأَيْدٍ و إِنَّا لَمُوسِعُونَ</p>
<p></font></b><i>“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS.51 [adz Dzâriyât] : 47)</p>
<p></i>Kata <b><font face="Arial (Arabic)">أَيْدٍ</font> </b>secara lahiriyah adalah telapak tangan atau tangan dari ujung jari jemari hingga lengan, ia bentuk jama’ dari kata <b><font face="Arial (Arabic)">يَدٌ</font>.</b> (Baca <i>Al Qamûs al Muhîth</i> dan <i>Tâj al ‘Ârûs</i>,10/417.)</p>
<p>Akan tetapi Ibnu Abbas ra’ di sini mena’wîlnya dengan <b><font face="Arial (Arabic)">بِقُوَّةٍ</font> </b>dengan kekuatan. Demikian diriwayatkan al Hafidz Imam Inbu Jarir ath Thabari dalam tafsirnya, 7/27. Selain dari Ibnu Abbas ra., ta’wîl serupa juga diriwayatkannya dari para tokoh tabi’în dan para pemuka Salaf Shaleh seperti Mujahid, Qatadah, Manshur Ibnu Zaid dan Sufyan.</p>
<p>3) Ibnu Abbas ra. menta’wil ayat yang menyebut Allah melupakan kaum kafir dengan ta’wîl ‘menelantarkan/membiarkan’.</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p><b><font size="4" face="Arial (Arabic)"></p>
<p align="right">فَاليومَ نَنْساهُمْ كما نَسُوا لِقاءَ يومِهِم هَذَا</p>
<p></font></b><i>“Maka pada hari ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini…” (QS.7 [al A’râf];51)</p>
<p></i>Ibnu Jarir berkata:</p>
<p><i>‘Yaitu maka pada hari ini yaitu hari kiamat, kami melupakan mereka, Dia berfirman, <u>Kami membiarkan</u> mereka dalam siksa… “</i> (Tafsir Ibnu Jarir,8/201)</p>
<p>Di sini Ibnu Jarir mena’wîl kata melupakan dengan membiarkan. Dan ia adalah pemalingan sebuah kata dari makna aslinya yang dzahir kepada makna majazi/kiasan. Beliau telah menukil ta’wîl tersebut dengan berbagai sanad dari Ibnu Abbas ra., Mujahid dll. Ibnu Abbas ra. adalah seorang sahabat besar dan pakar dalam tafsir Al Qur’an….Mujahid adalah seorang tabi’în agung…Ibnu Jarir ath Thabari adalah Bapak Tafsir kalangan Salaf…</p>
<p><b>Catatan:</p>
<p></b>Para tokoh sentral Sekte Wahhabiyah, seperti Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âlu Syeikh, tidak meragukan sedikitpun keagungan Ibnu Abbas dan murid-murid beliau dan bahwa mereka adalah tokoh-tokh ahli tafsir generasi tabi’în. <font color="#0000ff">[4]</font></p>
<p>Ketika menyebut Mujahid misalnya, Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âlu Syeikh berkata: <i>“Mujahid adalah Syeikh, tokoh ahli tafsir, seorang Imam Rabbani, naman lengkapnya Mujahid ibn Jabr al Makki maula Bani Makhzûm. Fadhl ibn Maimûn berkata, ‘Aku mendengar Mujahid berkata, ‘Aku sodorkan mush-haf kepada Ibnu Abbas beberapa kali, aku berhenti pada setiap ayat, aku tanyakan kepadanya; tentang apa ia turun? Bagaimana ia turun? Apa maknanya?.”Ia wafat tahun102H pada usia 83 tahun, semoga Allah merahmatinya</i>. Ibnu Abdil Wahhab sendiri telah berhujjah dan mengandalkannya dalam banyak masalah dalam kitab at Tauhidnya.</p>
<p>Dengan demikian ke<i>-salaf-</i>an mereka tidak diragukan bahkan oleh Wahhabiyah sendiri!!! Jadi sekali lagi jelaslah bahwa telah tetap adanya metode ta’wîl oleh para salaf. Dan di atas jalan inilah para ulama, seperti Imam al Asy’ari dan para pengikutnya berjalan. Jadi jika ada yang menuduh sikap menta’wîl adalah sikap menyimpang dan berjalan di atas kesesatan faham Jahmiyah, dan ber-<i>ilhad </i><font color="#0000ff">[5] </font>dalam ayat-ayat dan <i>asmâ</i> Allah seperti yang dituduhkan kaum Wahhabi, semisal Ibnu Utsaimin <font color="#0000ff">[6] </font>dan kawan-kawannya, maka ia benar-benar telah <i>kebelinger</i> dan benar-benar dalam kekeliruan nyata!! Dari sini dapat dimengerti betapa palsunya klaim mengikuti Salaf yang selalu dipropagandakan kaum Wahhabi untuk menipu kaum awam.</p>
<p>Semoga kita diselamatkan dari kesesatan dan penyimpangan dalam agama. <i>Amîn Ya Rabbal Âlamin</i>.</p>
<p>___________________________</p>
<p><font color="#0000ff">[1]</font> Sebenarnya, kata-kata itu bukan disebut sebagai sifat, apalagi <i>Sifat Dzatiyah</i> Allah, ia adalah kata-kata yang di<i>-idhafah-</i>kan (disandarkan) kepada Allah SWT., seperti: <b><font face="Arial (Arabic)">يد الله ,عين الله</font></b> di nama kata <b><font face="Arial (Arabic)">يد</font></b> di<i>-idhafah-</i>kan/disandarkan kepada Allah. Jadi pada dasarnya, salahlah mereka yang menyebutnya sebagai sifat! Berbeda dengan kata: <b><font face="Arial (Arabic)">سميع- بصير-عليم</font> </b>kata-kata itu dan semisalnya benar sebagai kata sifat, jika ia disematkan untuk Allah maka ia adalah sifat Allah SWT. Semoga kami berkesempatan menguraikan masalah ini lebih rinci dalam kesempatan lain.</p>
<p><font color="#0000ff">[2]</font> Ta’wîl dimaksud di sini adalah mengartikan sebuah kata atau kalimat bukan dengan makna dzahir karena ada alasan yang mengharuskan atau membenarkan pemindahan makna dari makna hakiki kepada makna majazi. Dan jika ada yang keberatan dengan istilah ta’wil maka kami tidak keberatan jika istilah itu diganti dengan istilah lain, apapun namaya, sebab yang penting bagi kami adalah esensi masalah bukan bertengkar tentang istilah dan penamaan. Harap dimengerti dengan baik!</p>
<p><font color="#0000ff">[3]</font> Dalam artikel lain<i> insyaallah</i> akan dibahas masalah tafwîdh.</p>
<p><font color="#0000ff">[4]</font> Fathu al Majîd Syarah KItab at Tauhîd:405.</p>
<p><font color="#0000ff">[5]</font> Ber<i>-ilhad</i> dalam ayat-ayat dan <i>asma’</i> Allah adalah sikap memplesetkan ayat-ayat dan<i> asma’</i> Allah yang sangat dikecam keras dalam Al- Qur’an. Secara bahasa kata <i>ilhâd </i>artinya membelokkan/memiringkan. Ber<i>-ilhad</i> dalam sifat dan <i>asma’ </i>Allah itu dilakukan dengan salah satu dari tiga sikap, 1) menolak, 2) menta’wil dan 3) menyalahinya. Menta’wil dalam pandangan Wahhabiyah sama dengan men<i>-tahrif</i> (memplesetkan/merusak makna hakiki). Ibnu Utsaimin mendefenisikan <i>tahrîf</i> dengan mengataan, ”Men<i>-tahrif</i> itu merubah lafadznya atau memalingkan maknanya dari yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya, seperti ia berkata, kata <b><font face="Arial (Arabic)">استوى على العرش </font></b>Allah bersemayam di atas Arsy-Nya diartikan menguasai Arsy-Nya. Atau<b> <font face="Arial (Arabic)">ينزِلُ ربُّنا إلي السماء الدنيا</font> </b>Tuhan turun ke langit dunia diartikan dengan turun perkara-Nya, bukan Tuhan yang turun! (Baca Syarah Aqidah al Washithiyah: 63.) Jadi siapapun yang menta’wil ayat-ayat sifat berarti ia benar-benar telah ber-<i>ilhad</i> dalam <i>asmâ’ </i>Allah dan itu sikap menentang dan merusak agama dan ia sangat terkecam! Demikianlah kaum Wahhabi memahami agama dan menyikapi para sahabat Nabi mulia dan para Salaf Shaleh! Para sahabat kini mereka tuduh sebagai kaum <i>Mulhidîn</i> dalam <i>asmâ’</i> dan ayat-ayat Allah SWT., sementara itu dalam rangka mengelabui kaum awam mereka mengklaim bahwa mazhab mereka adalah mazhab para sahabat dan Salaf Shaleh! <i>Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.”</i> (QS.18 [al Kahfi]:5).</p>
<p><font color="#0000ff">[6]</font> Syarah Aqidah al Washithiyah: 58-63.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Di Mata  Wahhabiyah: NU adalah Ahlusunnah Gadungan]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2007/12/24/di-mata-wahhabiyah-nu-adalah-ahlusunnah-gadungan/</link>
<pubDate>Mon, 24 Dec 2007 02:09:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2007/12/24/di-mata-wahhabiyah-nu-adalah-ahlusunnah-gadungan/</guid>
<description><![CDATA[Dalam pemetaan mazhab-mazhab teologi Islam, khusunya dalam masalah pemahaman terhadap sifat-sifat Al]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Dalam pemetaan mazhab-mazhab teologi Islam, khusunya dalam masalah pemahaman terhadap sifat-sifat Allah SWT.<span>  </span>kita akan menemukan beberapa aliran yang saling berseberangan. Di antara aliran-aliran tersebut adalah:</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><!--more--></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><span><font size="3">A)</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">    </span></span></span><font size="3"><span dir="ltr"><b><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;">Musyabbihah,</span></i></b></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"> yaitu aliran yang meyakini bahwa Allah SWT. menyandang berbagai sifat yang juga disandang oleh makhuk-Nya, seperti keyakinan bahwa Allah berpostur seperti layaknya makhkuk; memiliki tangan, mata, betis, wajah seperti tangan, mata, betis, wajah makhluk-Nya, dll. Maha suci Allah dari menyerupai makhluk-Nya.</span></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span></font><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><span><font size="3">B)</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">    </span></span></span><font size="3"><span dir="ltr"><b><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;">Mu’aththilah,</span></i></b></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"> yaitu kelompok yang menafikan semua sifat dari Allah SWT. dengan anggapan bahwa menetapklan sifat bagi Dzat Allah menyalahi kemaha sucian-Nya. Semua ayat dan hadis yang menyebut sifat Allahpun mereka tolak.</span></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><span><font size="3">C)</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">   </span></span></span></i></b><font size="3"><span dir="ltr"><b><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;">Mufawwidhah</span></i></b></span><b><span style="line-height:150%;font-family:Batang;">, </span></b><span style="line-height:150%;font-family:Batang;">yaitu mengimani adanya sifat itu sebagaimana datang dalam Al Qur’an atau nash shahih, tetapi tidak melibatkan diri dalam usaha memahami atau menafsirkannya. Makna sesungguhnya dari sifat-sifat itu mereka serahkan kepada Allah SWT. </span></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span></font><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><span><font size="3">D)</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">    </span></span></span><font size="3"><span dir="ltr"><b><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;">Muawwilah, </span></i></b></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;">yiatu<span>  </span>kelompok yang melibatkan diri dalam mena’wilkan ayat-ayat atau nash shahih yang berbicara tentang sifat Allah SWT. yang secara lahir mengesankan adanya keserupaan dengan sifat makhluk-Nya. Mereka tidak menetapkan untuk Allah SWT. sifat-sifat makhluk-Nya tetapi tidak juga menolak berbagai sifat yang telah tetap bagi Dzat Allah SWT. Mereka meyakini bahwa Dzat Allah memiliki berbagai sifat indah dan <i>asmâ’</i> yang mulia yang layak bagi kemaha agungan dan kemaha sucian-Nya. Sifat-sifat itu tidak menyerupai sifat makhluknya. Setiap ayat atau hadis yang mengesankan adanya keserupaan sifat Allah SWT. dengan sifat makhluk-Nya maka akan dita’wîl <span> </span>agar sesuai dengan kemaha sucian Allah. </span></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span></font><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Kelompok terakhir ini sekarang lebih diwakli oleh kelompok teologi Ahlusunnah wal Jama’ah; Asy’ariyah (yang dipelopori oleh Abul Hasan al Asy’ari) dan Al Maturidiyah yang dipelopori oleh Al Maturidi), dan oleh mazhab teologi Mu’tazilah dan teologi Syi’ah. </font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Kelompok <i>Musyabbihah</i> selalu memamahi nash-nash dengan pemahaman leteralis, dangkal, <i>jumud</i> dan menolok memasukkan unsur majazi dalam memahami nash… karenanya mereka terjatuh dalam <i>tasybîh</i>, menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Sampai-sampai mereka menetapkan semua sifat yang disandang makhluk untuk Allah Sang Khaliq yang Maha Suci dan Maha Agung. Sebagian dari penganut paham ini menyederhanakan unsur <i>tasybîh</i>nya dengan mengatakan setelah menyebut sifat tertentu Allah, seperti Allah mempunyai dua mata, tetapi tidak seperti mata makhluk-Nya… Allah turun ke langit terdekat dengan dunia di sepertiga terakhir malam, tetapi tidak seperti turunnya makhluk-Nya … Allah mempunyai betis, tetapi tidak seperti betis makhluk-Nya… dan dmikian seterusnya.</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Kelompok terakhir ini sekarang lebih diwakili oleh teologi Wahhabiyah yang diadopsinya dari Ibnu Taimiyah!</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Artikel ini tidak bermaksud meneliti latar belakang dan argumen masing-masing aliran di atas, hanya saja ia ingin menginformasikan bahwa para tokoh Sekte Wahhabiyah yang <i>Musyabbihah</i> itu telah mengklaim bahwa mereka-lah yang mewakili paham Ahlusunnah wal Jama’ah, sementara aliran teologi Asy’ariyah yang Ahlusunnah justru dituduhnya sebagai <i>Mu’aththilah</i> yang merupakan anak dari faham Bid’ahnya Jahm ibn Shafwân!</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Mulai dari pendiri sekte Wahhabiyah hingga para menerusnya, tak henti-hentinya mereka menuduh bahwa aliran teologi Asy’ariyah bukan dari Ahlusunnah…. Asy’ariyah adalah adalah Ahlusunnah Gadungan… Asy’ariyah adalah <i>Mu’aththilah</i> yang sesat. Dan seperti kita ketahui bersama, bahwa di tanah air tercinta kita, kelompok yang menganut aliran Asy’ariyah adalah NU. Jadi kini gelar Ahlusunnah telah dirampas dari NU untuk dijadikan hak paten Wahhabiyah/Salafiyah. NU adalah Ahlusunnah Gadungan…. NU adalah <i>Mu’aththilah</i> yang berseberangan dengan ajaran Nabi saw. dan para sahabat mulia –<i>radhiyallah ‘anhum</i>-.</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Dalam kitab at Tauhid, pada bab tentang firman Allah:</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">حَتَّى إِذَا فُزِعَ عَنْ قُلُوبِهِم قالوا ماذا قال رَبُّكُمْ، قالوا الحَقَّ و هُو العليُّ الكبيرُ.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"></span><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata &#8220;Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?&#8221; mereka menjawab: (perkataan) yang benar&#8221;, dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”</font></span></i></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span></i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Muhammad ibn Abdil Wahhâb, pendiri Sekte Wahhabiyah berkata, “Pada ayat di atas terdapat beberapa masalah…. Masalah kedua puluh: Adanya penetapan sifat,<b> berbeda dengan (faham) Asy’ariyah yang Mu’arththilah itu!</b> </font><a name="_ftnref1" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Batang;">[1]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Jadi jelas dalam klaim pendiri sekte Wahhabiyah bahwa Asy’ariyah adalah kelompok<i> Mu’aththilah</i>!</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Tokoh besar, penerus Da’wah Wahhabiyah, Ibnu Utsaimin (1421H) kembali mempertegas klaim Ibnu Abdil Wahhâb di atas. Ketika menysarahi kitab <i>al Aqidak al Wasithiyah</i> karya Ibnu Taimiyah ia menegaskan bahwa Asy’ariyah bukan bagian dari Ahlusunnah. Mereka adalah <b>Mu’aththilah!</b></font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Ibnu Utsaimin berkata, “Maka diketahui dari ucapan penulis bahwa tidaklah masuk dalam kelompok Ahlusunnah siapa yang menyalahi mereka dalam cara mereka. Maka Asy’ariyah dan al Maturidiyah, misalnya tidak bisa dikelompokkan dalam kelompok Ahlusunnah dalam hal ini, sebab mereka menyalahi agama Nabi saw. dan para sahabat dalam memberlakukan sifat Allah SWT. sesuai dengan hakikatnya. Maka dari itu salahkah orang yang mengatakan bahwa Ahlusunnah itu ada tiga: Salafiyûn, Asy’ariyûn dan al Maturidiyûn. Anggapan ini salah. Kami berkata, ‘Bagaimana mereka semua digolongkah Ahlusunnah padahal mereka saling bersesilih?! Tiada setelah haq kecuali kesesatran,<i> dhalâl</i>…</font><a name="_ftnref2" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Batang;">[2]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Dalam kesempatan lain ia menegaskan bahwa Asy’ariyah bukan Ahlusunnah, ia berkata, “Asyâ’irah dan al Maturidiyûn menetapkan sifat, <b>tetapi mereka menyahali Ahlusunnah dalam banyak permasalahan sifat.”<a name="_ftnref3" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><b><span style="font-size:12pt;font-family:Batang;">[3]</span></b></span></span></span></a></b></font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><b><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Jadi jelas Asy’ariyah bukan Ahlusunnah, mereka telah menyalahi ajaran Ahlusunnah dalam banyak permasalahan sifat!!</font></span></b></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span></b><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Dalam kesempatan ketiga ia mempertegas bahwa Asy’ariyah adalah kelompok ahli <i>ta’thîl</i>, <i>Mu’aththliah</i>!</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Pada pembahasan keenam, Ibnu Utsaimin menegaskan, “Tolok ukur penetapan atau penafian <i>asmâ’</i> dan sifat itu adalah nash/<i>sam’u</i>, akal-akal kita tidak mampu menetapkan atas Allah apapun. Jadi penentunya adalah <i>sam’u</i>, berbeda dengan Asy’ariyah, Mu’tazilah dan Jahmiyah dan selain mereka <u>dari aliran-aliran ahli <i>ta’thîl</i></u><i>.</i>”</font><a name="_ftnref4" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Batang;">[4]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Dalam kesempatan lain ia menguraikan ucapan Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa mazhabnya (yang ia aku sebagai representatif ajaran Salaf dan Ahlusunnah) sebagai mazhab yang moderat, <i>wasath</i> dalam masalah sifat Allah SWT. yang berdiri tegak di antara dua faham menyimpang yaitu <i>Ahli Ta’thîl al Jahmiyah </i>dan<i> Ahli Tamstîl al Musyabbihah</i>. Dalam kesempatan itu Ibnu Utsaimin mengatakan, <i>“Ini adalah dua tepi yang ekstrim; Ahli Ta’thîl al Jahmiyah dan Ahli Tamstîl al Musyabbihah.</i></font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span><font size="3">§</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">   </span></span></span><span dir="ltr"><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Jahmiyah yang mengingkari sifat-sifat Allah Azza wa Jalla….</font></span></i></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span dir="ltr"><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span></i></span><span style="line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span><font size="3">§</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">   </span></span></span><span dir="ltr"><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Mu’tazilah mengingkari sifat-sifat Allah dan menetapkan asmâ’-Nya.</font></span></i></span><span style="line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span><font size="3"> </font></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span><font size="3">§</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">   </span></span></span><span dir="ltr"><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Asy’ariyah menetapkan asmâ’-Nya dan tujuh sifat bagi-Nya.</font></span></i></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span dir="ltr"><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span></i></span><font size="3"><i><u><span style="line-height:150%;font-family:Batang;">Semua mereka ini tercakup dalam kelompok Ahli Ta’thîl</span></u></i><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;">, hanya saja sebagian dari mereka Mu’aththil total seperti kelompok Jahmiyah, <u>sementara yang lainnya berfaham Mu’aththilah tetapi tidak total (relatif) seperti Mu’tazilah dan Asyâ’irah.</u>”<a name="_ftnref5" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><b><span style="font-size:12pt;font-family:Batang;">[5]</span></b></span></span></span></a></span></i></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3"><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span></i></font><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Dan ajaran Asy’ariyah, seperti juga Mu’tazilah, kata Ibnu Utsaimin, Imam besar Wahhabiyah di masanya adalah<span>  </span>perusak agama. Mereka men<i>tahrif</i>/ membelokkan nash-nash suci kemudian menamakan pembelokan mereka itu dengan istilah <i>ta’wîl</i>. Dan semua itu merupakan akibat dari virus bid’ah yang disebarkan musuh-musuh Islam, seperti bid’ahnya Jahm.</font><a name="_ftnref6" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Batang;">[6]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Jadi dalam pandangan Ibnu Utsaimin, Asy’ariyah adalah ahli bid’ah dan sengaja memplesetkan nash Qur’ani dengan nama ta’wîl.</font><a name="_ftnref7" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Batang;">[7]</span></span></span></span></a><font size="3"> Andai bukan karena berkedok dengan kedok <i>ta’wîl</i> <span> </span>palsu itu pastilah mereka sudah layak disebut telah kafir, sebab mereka telah berbohong atas nama Allah.</font><a name="_ftnref8" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Batang;">[8]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><b><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Kelompok Mu’aththilah Adalah Kafir!!</font></span></b></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span></b><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âlu Syeikh menegaskan bahwa kelompk Mu’aththilah adalah telah kafir, ia berkata:</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">وَ أُلئك المُعَطِّلَةُ كَفَرُوا بما في الكتابِ و السنَّةِ مِنْ ذلكَ، وَتناقَضُوا فبَطَل قولَ المعطِّلِيْنَ بالعقلِ و النقلِ، و للهِ الحمدُ وَ الْمِنَةُ، و إجماعِ أهلِ السنَّةِ مِنَ الصحابَةِ و التابعين و تابِعِيهِمْ و أئمَةِ المسلمينَ.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"></span><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">“Mereka kaum Mu’aththilah telah kafir dengan Al Qur’an dan Sunnah dalam ayat-ayat sifat, dan saling bertentangan, maka –dengan puji dan anugerah Allah- batilah ucapan kaum Mu’aththilah berdasarkan dalil akal dan naqli, dan ijmâ’ Ahlusunnah dari Sahabat, tabi’în, tabi’ut tabi’în dan para imam kaum Muslimin.”</font><a name="_ftnref9" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><b><span style="font-size:12pt;font-family:Batang;">[9]</span></b></span></span></span></a><font size="3"> </font></span></i></p>
<p><i><span style="line-height:150%;font-family:Batang;"></span></i><span style="background:lime;line-height:150%;font-family:Batang;"><font size="3">Setelah mengklaim bahwa hanya Wahhabiyah yang Muwahhid, dan selain mereka adalah Musyrik, kini mereka mengklaim hanya Wahhabiyah saja yang Ahlusunnah dan selain mereka adalah Ahli Bid’ah!!</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3"><span style="background:lime;line-height:150%;font-family:Batang;">Inilah hakikat Wahhabiyah!</span></font><br /><font size="3"><br />
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" /></font></p>
<div>
<div><a name="_ftn1" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"> <i>Fathu al Majîd Syarh Kitâb at Tauhid</i>; Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âl Syeikh (W.1257H):204. Cet. Dâr al Kotob al Ilmiyah Beirut- Lebanon. Cet. Keempat tahun 1428H/2007M.</span></div>
<div><a name="_ftn2" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> Syarah al </font></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Aqidak al Wasithiyah:22. cet. Maktabah al Hikam al Ilmiyah.Beirut. Tahun.1424 H/2003M.</span><span style="font-size:11pt;"></span></div>
<div><a name="_ftn3" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> Syarah al </font></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Aqidak al Wasithiyah:32..</span><span style="font-size:11pt;"></span></div>
<div><a name="_ftn4" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> Syarah al </font></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Aqidak al Wasithiyah:37.</span><span style="font-size:11pt;"></span></div>
<div><a name="_ftn5" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> Syarah al </font></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Aqidak al Wasithiyah:288.</span><span style="font-size:11pt;"></span></div>
<div><a name="_ftn6" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> Syarah al </font></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Aqidak al Wasithiyah:11.</span><span style="font-size:11pt;"></span></div>
<div><a name="_ftn7" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> Syarah al </font></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Aqidak al Wasithiyah:40.</span><span style="font-size:11pt;"></span></div>
<div><a name="_ftn8" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> Syarah al </font></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Aqidak al Wasithiyah:37.</span><span style="font-size:11pt;"></span></div>
<div><a name="_ftn9" href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">[9]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"> Fathu al Majîd Syarh Kitab at Tauhid:402.</span></div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Abdil Wahhâb: Selain Wahhâbiyah Kafir/Musyrik! (10)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2007/12/15/ibnu-abdil-wahhab-selain-wahhabiyah-kafirmusyrik-10/</link>
<pubDate>Sat, 15 Dec 2007 04:37:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2007/12/15/ibnu-abdil-wahhab-selain-wahhabiyah-kafirmusyrik-10/</guid>
<description><![CDATA[Ibnu Abdil Wahhâb: Selain Wahhâbiyah Kafir/Musyrik! (10) Contoh Keenam Belas: &#8220;Di Setiap Kota ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Ibnu Abdil Wahhâb: Selain Wahhâbiyah Kafir/Musyrik! (10)</strong></p>
<p><font color="#0000ff"><strong>Contoh Keenam Belas: </strong></font></p>
<p><font color="#000080"><strong>&#8220;Di Setiap Kota di Daerah Najd Terdapat Berhala yang disembah Selain Allah!&#8221;</strong></font></p>
<p>Satu ciri yang memalukan dari kaum Wahhâbiyah ialah bahwa mereka tidak malu-malu untuk menggunakan istilah-istilah yang mereka paksakan dalam menggambarkan kondisi yang sedang dijalankan oleh kebanyakan Umat Islam! Betapa sering mereka menyebut berziarah ke makam seorang nabi atau wali sebagai menyembah kuburan, mengusap nisan makam seorang nabi atau wali disebut sebagai ibadah dan lain sebagianya.</p>
<p>Sebagai contoh ketika ia membela diri dari tuduhan mengafirkan kaum Muslimin, ia membantah dengan mengatakan bahwa ia tidak berani:</p>
<p><!--more baca selanjutnya--></p>
<blockquote><p>&#8220;Kalau kami tidak (berani) mengkafirkan orang yang <strong>beribadah kepada berhala </strong>yang ada di kubah (kuburan/ makam) Abdul Qadir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad Al-Badawi dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya orang yang mengingatkannya. Bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat kami…?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang besar.&#8221; (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, hal. 203)</p>
<p>lihat blog wahabi ini:<br />
<a href="http://muwahiid.wordpress.com/2007/10/16/siapakah-wahabi-bantahan-terhadap-syubhat-tentang-wahabi/#more-172">http://muwahiid.wordpress.com/2007/10/16/siapakah-wahabi-bantahan-terhadap-syubhat-tentang-wahabi/#more-172</a></p></blockquote>
<p><em>Coba Anda perhatikan redaksi sumbang yang ia pilih dengan tanpa tanggung jawab, ia menuduh para peziarah makam Syeikh Abdul Qadir al-Jaîlani <strong>sebagai penyembah berhala yang ada di atas kuburannya</strong>! </em>Pernahkan dalam sejarah makam beliua ada berhala yang diletakkan di atas kuburan beliau? Tentu tidak! Jadi apa maksud tuduhan dan penyebutan berhala di situ? Tentu yang ia maksud adalah batu nisan yang ditancapkan di atas kuburan beliau atau bisa jadi adalah qubah yang dibangun di atas kuburan beliau! Itulah yang dimaksud dengan berhala yang disembah para peziarah! Subhanallah, sepertinya setan benar-benar telah memperdaya akal pikiran para pendiri Sekte Wahhâbiyah ini!</p>
<p>Tentunya seperti itulah berhala yang dimaksud oleh Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb ketika ia menuduh bahwa di setiap kota di wilayah Najd terdapat berhala yang disembah selain Allah SWT.! Atau bisa jadi yang ia maksud adalah para masyâikh, orang shaleh yang selau dimintai keberkahan mereka oleh masyarakat Muslim di sana! Atau makam-makam para wali dan orang shaleh yang selau diziarahi untuk mendapat keberkahan dengan membaca Al Qur’an, memanjatkan doa dan berdzikir di tempat yang merangkum jasad hamba-hamba shaleh kekasih Allah SWT.! Atau yang ia maksud dengan berhala adalah para fuqaha&#8217; empat mazhab yang selalu dirujuk oleh masyarakat Muslim di sana untuk menimba pengetahuan agama dan mengetahui kewajiban dan larangan agama.</p>
<p>Jelas yang ia maksud dengan berhala bukanlah acara sesembahan seperti yang pernah disembah oleh kaum musyrikûn di zaman Nabi saw. misalnya, sebab sejarah wilayah Najd dan sekitarnya tidak pernah mencacat adanya berhala yang disembah oleh masyarakat Muslim di sana. Masyarakat di sana adalah beragama Islam, mereka adalah Muslimûn, hanya saja mereka tidak sependapat dengan Syeikh yang menganggap berbagai praktik yang telah dijalankan umat Islam berabad-abad sebagai kemusyrikan, seperti ziarah kubur, meminta keberkahan dari orang-orang shaleh, bertawassul, beristighatsah dll.</p>
<p>Jadi anggapan bahwa di setiap kota di wilayah Najd tedapat berhala yang telah disembah selain Allah seperti yang ia lontarkan dalam <strong>ad-Durar as Saniyyah,10/193</strong> adalah sikap keterlaluan dalam mengafirkan Umat Islam!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Abdil Wahhâb: Selain Wahhâbiyah Kafir/Musyrik! (8)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2007/12/05/ibnu-abdil-wahhab-selain-wahhabiyah-kafirmusyrik-8/</link>
<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 04:34:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2007/12/05/ibnu-abdil-wahhab-selain-wahhabiyah-kafirmusyrik-8/</guid>
<description><![CDATA[IBNU ABDIL WAHAB SELAIN: SELAIN WAHABIYAH KAFIR/MUSYRIK (8) Pengkafiran siapapun Yang Enggan Mengkaf]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>IBNU ABDIL WAHAB SELAIN: SELAIN WAHABIYAH KAFIR/MUSYRIK (8)</p>
<p>Pengkafiran siapapun Yang Enggan Mengkafirkan Ahli Lâ ilâha illallahu.</p>
<p></strong>Setiap orang yang telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka haram darahnya untuk dicucurkan dan ia memiliki hak yang sama dengan kaum Muslimin lainnya. Ia tidak sah dikafirkan kecuali dengan adanya kekafiran yang nyata, dengan mengingkari syahadatain, atau mengkufuri hari kebangkitan, al ba’ts, atau menentang dengan sengaja prinsip yang telah disepakati oleh umat Islam.</p>
<p><!--more baca selanjutnya--></p>
<p>Adapun sekedar berbeda pendapat atau pemahaman tentang masalah tertentu, maka adalah bahaya apabila vonis pengkafiran itu dilontarkan dengan tanpa tanggung jawab. Apalagi mengafirkan siapa yang enggan mengafirkan orang yanmg kita kafirkan (yang tentunya dengan tanpa dasar yang membenarkannya).</p>
<p>Inilah yang perlu diwaspadai dari penyimpangan keyakinan kaum wahhabiyah yang didoktrinkan pendirinya; Ibnu Abdil Wahhâb. Sebab ia hanya mengakui dirinya dan golongannya saja yang termasuk Ahli Lâ ilâha illallahu sejati, selain mereka adalah penentang Lâ ilâha illallahu.</p>
<p><strong><font color="#0000ff">Contoh Keempat Belas:</font></strong></p>
<p><strong>&#8220;Pengafiran Siapapun Yang Enggan Mengafirkan Ahli Lâ ilâha illallahu&#8221;.</strong></p>
<p>Semua umat Islam, selain pengikutnya, adalah kafir dalam pandangan Ibnu Abdil Wahhâb, apalagi yang menolak dan menentang ajakannya. Kaum Muslimin, para ulama maupun awam, selain dirinya dan para pengikutnya adalah musyrikun, para penyembah berhala dan menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Padahal semua mengetahui dengan pasti bahwa mereka adalah ahli Lâ ilâha illallahu, menjalankan rukun-rukun Islam dengan penuh, menegakkan shalat, berpuasa di bulan suci Ramadhan, mengeluarkan zakat, dan melaksanakan haji ke tanah suci Makka. Hanya saja kaum Muslimin ini berbeda pendapat dengan doktrin ajaran Ibnu Abdil Wahhâb yang karenanya mereka dihukumi kafir/musyrik!</p>
<p>Maka tidaklah heran apabila kita mendapatkan banyak dari mereka yang sempat tertarik dengan ajakan yang mengedepankan slogan Pemurnian Tauhid dari kemusyrikan dan Pemberantasa Bid’ah. Akan tetapi ketika banyak dari mereka, bahkan di antara mereka ada yang telah menerima da’wah Syeikh, mendapati Syeikh berlebihan dalam mengafirkan kaum Muslimin, maka hati nurani dan pemahaman keislaman menolaknya, mereka sangat keberatan melibatkan diri dalam mengafirkan ahli Lâ ilâha illallahu, maka untuk meruntuhkan ketakutan mereka untuk mengafirkan ahli Lâ ilâha illallahu, Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb harus meluncurkan fatwa intimidatif yang tidak akan memberikan mereka peluang untuk berpikir panjang… maka siapa yang enggan mengafirkan selain pengikut Syeikh dari ahli Lâ ilâha illallahu maka ia juga menjadi kafir!!</p>
<p>Subhanallah, sebuah fatwa yang benar-benar benari dan aneh…. Tujuan darinya sudah jelas yaitu agar memutus kesempatan untuk memberi kesempatan berlemah lembut dengan para penentang ajakan Syeikh!! Fatwa-fatwa tidak bertanggung jawab seperti itu sering mungkin kita dengar atau baca dari para Ekstrimis sejak masa lampau, ketika mereka khawatir para pengikut mereka berhati-hati dalam menjatuhkan vonis pengafiran mereka, tingkatkan ekskalasi ketegangan dengan mengancam pengafiran bagi yang enggan mengafirkan pihak lawan. Sebagian kaum awam di masa Syeikh juga ada yang mengajukan keberatan itu, maka jalan pintas mengobati ketakutan mereka memasuki area pengafiran adalah ancaman vonis pengafiran atas mereka sendiri!</p>
<p>Anda mungkin menggeleng-ngelengakan kepala keheranan atau bahkan menuduh kami mengada-ngada atas nama Syeikh untuk memprofokasi umat agar membencinya dan memusuhi da’wah Wahhâbiyah! Tetapi agar Anda yakin <strong>baca langsung <em><font color="#0000ff">ad Durar as Saniyyah,10/139, </font></em>maka Anda akan mendapat fatwa itu dengan tanpa sedikitpun kesamaran!</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Abdil Wahhâb: Selain Wahhâbiyah Kafir/Musyrik! (7)]]></title>
<link>http://abusalafy.wordpress.com/2007/12/05/ibnu-abdil-wahhab-selain-wahhabiyah-kafirmusyrik-7/</link>
<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 04:25:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
<guid>http://abusalafy.wordpress.com/2007/12/05/ibnu-abdil-wahhab-selain-wahhabiyah-kafirmusyrik-7/</guid>
<description><![CDATA[Ibnu Abdil Wahhâb: Selain Wahhâbiyah Kafir/Musyrik! (7) Ibnu Arabi Lebih Kafir Dari Fir’aun!! Lagi-l]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Ibnu Abdil Wahhâb: Selain Wahhâbiyah Kafir/Musyrik! (7)</strong></p>
<p><font color="#0000ff">Ibnu Arabi Lebih Kafir Dari Fir’aun!!</font></p>
<p>Lagi-lagi Ibnu Arabi menjadi sasaran keganasan vonis fatwa pengafiran individu. Kali ini ia dituduh lebih kafir dari Fir’aun! <em>Wal Iyâdzubillah! </em>Memang kebencian Ibnu Abdil Wahhâb tidak bertepi. Ia membenci semua kalangan Umat Islam dari beragam aliran dan kecenderungan. Salah satu yang sangat ia benci adalah kaum Shufi. Ibnu Arabi adalah salah satu sasaran empuk vonis pengafiran itu. Dan tentunya juga para pengikut dan pecintanya.</p>
<p><!--more baca selanjutnya--></p>
<p><strong><font color="#0000ff">Contoh Ketiga Belas: </font></strong></p>
<p><strong>&#8220;Ibnu Arabi Lebih Kafir Dari Fir’aun&#8221;!!</strong></p>
<p>Apabila kita rajin memerhatikan tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan melakukan studi banding antara satu stitmen dengan lainnya pasti kita akan menemukan setumpuk kontradiksi dan pertentangan antara satu dengan lainnya. Salah satunya, yang ingin saya sebutkan di sini ialah: Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb secara terang-terangan mengafirkan Syeikh Ibnu Arabi. Dan kekafirannya lebih tebal dari kekafiran Fir’aun! Bahkan lebih seram lagi, ia menvonis kafir bagi siapa saja yang ragu akan kekafiran Ibnu Arabi dan kelompoknya!! Baca vonis berbahaya itu dalam <strong>Ad-Durar as Saniyyah,10/25 dan 45</strong>. Dan itu artinya ia mengafirkan seluruh kaum Shufi dan banyak ulama empat mazhab!</p>
<p><em><font color="#0000ff">Sementara itu dalam suratnya kepada penduduk Qashîm ia mengingkari kalau ia mengafirkan Ibnu Arabi! (9/34). </font></em>Dan ini sebagai bukti bahwa pengingkaran Ibnu Abdil Wahhâb ketika membela diri dari kecaman-kecamana para ulama atasnya perlu disangsikan, bahkan dapat dibuktikan bahwa berbagai kecaman itu adalah benar adanya! Buktinya, di sini ia menolak tuduhan bahwa ia mengafirkan Ibnu Arabi, dan kini kita menemukan pengafiran itu dengan redaksi gamblang dan tidak ada kesamaran sedikitpun, <em>dan lebih dari itu tidak cukup dengan mengafirkan Ibnu Arabi, ia menambahkan barang siapa meragukan kakafiran Ibnu Arabi maka ia juga kafir!!</em></p>
<p>Betapa sering kita temukan Syeikh menolak sebuah tuduhan tertentu atasnya, sementara itu terbukti ia melakukan atau meyakini apa yang dituduhkan itu! Itu adalah sikap plin-plan dan maneuver politis untuk membela diri dan agar luput dari jeratan konsekuensi pernyataan-pernyataannya sendiri. Sebab tidak ada jalan lain untuk meredam kecaman para ulama kecuali dengan mengingkari berbagai sikap dan atau pendapat penyimpang dan sesat yang ia fatwakan sebelumnya!</p>
<p>Surat Ibnu Abdil Wahhâb kepada penduduk kota Qashîm adalah surat sakti yang selalu dibawa-bawa oleh para Misionaris dan Ekstirmis Wahhâbiyah, sebab di dalamnya, Syeikh bersungguh-sungguh dalam menolak setiap kecaman dan tuduhan yang dialamatkan kepadanya, walaupun harus dengan berbohong! Mengapa? Sebab, apa yang ia tolak dan ingkari ternyata dapat ditemukan dengan jelas pada berbagai risalah/surat, tulisan dan fatwa-fatwa sumbangnya!</p>
<p>Tetapi mengapa ia begitu lunak dalam surat kepada penduduk kota Qashîm? Jelas, sebab penduduk kota tersebut sedang ia rayu untuk menerima, sementara itu mereka sangat mengecam sikap pengafrian Ibnu Abdil Wahhâb atas kaum Muslimin! Dari sini terlihat jelas bahwa surat itu sekedar taktik polotis penyebaran da’wah dengan menyembunyikan doqma dasar pengafiran yang menajdi landasan mazhabnya! Ia hanya sekedar manuver polotik, tidak lebih! Seluruh sikap dan Manhaj da’wahnya bertolak belakang dengan isi surat yang penuh rayuan dan kelembutan palsu! Bahkan sampai-sampai ia menolak kalau ia telah mengafirkan para penyembah berhala yang melakukannya atas dasar kebodohan! <strong>(baca ad-Durar as Saniyyah,1/104)</strong></p>
<p>Sementara itu di banyak tempat ia menegaskan bahwa kebodohan atas hakikat apa yang dilakukan itu tidak akan mengelakkan pelakunya dari kekafiran dan kemusyrikan! <strong>Baca ad Durar as Saniyyah,10/368,369 dan 392</strong>. Padahal, ia tidak ragu-ragu dan tanpa tedeng aling-aling telah jelas-jalas mengafirkan para fuqaha&#8217; dan ulama kota Nadj yang bermazhab Hanbali padahal mereka tidak menyembah berhala, tidak atas dasar kebodohan tidak juga dengan kesadaran dan pengetahuan!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
