<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ulama &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/ulama/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ulama"</description>
	<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 19:34:18 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[“JIKA TOKOH UMAT BICARA-DAKWAHNYA TIDAK LUGAS, MAKA UMATNYA AKAN TERLEPAS, DAN NEGARA PUN RUSAK KARENA DIPERAS”]]></title>
<link>http://fuadamsyari.wordpress.com/2009/11/28/%e2%80%9cjika-tokoh-umat-bicara-dakwahnya-tidak-lugas-maka-umatnya-akan-terlepas-dan-negara-pun-rusak-karena-diperas%e2%80%9d/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 03:04:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>fuadamsyari</dc:creator>
<guid>http://fuadamsyari.wordpress.com/2009/11/28/%e2%80%9cjika-tokoh-umat-bicara-dakwahnya-tidak-lugas-maka-umatnya-akan-terlepas-dan-negara-pun-rusak-karena-diperas%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[Judul tulisan yang mirip puisi di atas adalah ungkapan keprihatinan saya tentang kondisi umat Islam ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Judul tulisan yang mirip puisi di atas adalah ungkapan keprihatinan saya tentang kondisi umat Islam dan tokoh-tokohnya di negeri ini. Saya jadi sedih setelah mengamati dalam perjalanan waktu yang relatif panjang betapa ‘tokoh-tokoh’ umat yang sudah punya pendidikan keislaman mumpuni, bekal dukungan ‘virtual’ umat Islam cukup besar di belakangnya, namun ujung-ujungnya <strong>tokoh-tokoh Islam itu hilang tidak berbekas dalam proses menentukan nasib bangsa-negaranya</strong>. Negeripun lalu dipimpin oleh orang yang tidak mengerti Islam karena umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk lalu terperangkap orang lain melalui isu politik menyesatkan dari musuh Islam karena pidato-pidato si tokoh tentang masalah bangsa-negara masih abstrak, tidak tegas memberi arahan keislaman dalam kehidupan berbangsa-bernegara yang harus diikuti umatnya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kita mungkin sering menyaksikan bagaimana seorang tokoh Islam sepertinya amat populer, dipuja-puji oleh umat Islam akan kehebatan ilmu Islamnya namun akhirnya dia  tidak banyak berperan dalam menentukan nasib bangsanya karena dia tidak memiliki kewenangan formal membuat kebijakan nasional yang begitu desisif terhadap nasib bangsa-negara. <strong>Kita perlu selalu ingat bahwa nasib  bangsa-negara  di mana umat Islam berada di dalamnya amat bergantung pada keputusan yang dibuat oleh pemilik kekuasaan formal negara.</strong> <em>Tokoh Islam umumnya masih saja hanya  bermain di lahan ritual-spiritual karena dikiranya dengan dakwah  seperti itu otomatis akan membuat kebijakan negeri oleh para pejabat negara berobah menjadi sesuai dengan tuntunan Islam.</em><!--more--></p>
<p>&#160;</p>
<p>Sering kali pula kita menyaksikan tokoh-tokoh umat menggunakan kata-kata indah dalam berbagai forum di ‘kalangannya’ sendiri namun umumnya kata-kata itu amat abstrak, tidak kongkret nilai keislamannya, dan semua orang lalu sudah merasa telah menjadi ideal Islami. Oleh arahan abstrak semacam itu maka umatnya lalu tidak mengerti bahwa sesungguhnya umat tidak boleh memilih sembarang orang menjadi pemimpin formal di negeri (pemilu) atau di daerahnya (pilkada), serta tidak sembarang partai boleh dimasuki dan dibantunya. Karena umat tidak mengerti itulah maka si tokoh Islam kemudian terhenti peran sosial-politiknya hanya sampai di tingkat wacana belaka, dan tidak mampu secara operasional membuat kebijakan yang bisa menyelamatkan umat dan bangsanya. Ironis bukan???</p>
<p>&#160;</p>
<p>Berikut ini contoh substansi indah pidato tokoh Islam menghadapi kemelut di negerinya (dicuplik dari sebuah media):</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li>Diperlukan rekonstruksi visi dan karakter di tubuh bangsa ini demi kelangsungan hidup dan kejayaan masa depan bangsa Indonesia.</li>
<li>Kita kehilangan momentum untuk brrgerak cepat dan baik, padahal kita memiliki potensi yang luar biasa.</li>
<li>Mari belajar dari para pendiri bangsa ini tentang jiwa kearifan, keberanian, kecerdasan, pengabdian, pengorbanan, dan kenegarawanan.</li>
<li>Seluruh warga bangsa perlu memiliki visi dan karakter yang berbasis kebudayaan bangsa yang utama.</li>
<li>Kembangkan budaya hidup yang relijius, rukun damai, beretos kemajuan untuk tumbuh menjadi bangsa yang unggul.</li>
<li>dll semacamnya.</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<p>Mana sisi solusi Islami untuk berbagai krisis yang sedang dihadapi bangsa yang mayoritasnya muslim ini? Mana arahan tuntunan Islam sosial-kenegaraan agar umat mengacu dan bersikap dalam menghadapi kemelut di daerah-negerinya? Bayangkan jika pidato yang disampaikan di depan forum kelompok Islamnya sendiri saja substansinya masih umum seperti itu, bagaimana pula jika pidato di depan forum yang lebih terbuka? Bagaimana umat bisa memahami bahwa untuk menyelamatkan bangsa-negaranya umat Islam harus memilih tokoh Islam yang taat syariat sebagai pemimpin formal di negerinya karena si tokoh memiliki solusi Islami tentang masalah sosial-kenegaraan terhadap kemelut di negeri ini.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ada tiga alternatif mengapa banyak tokoh Islam di Indonesia dalam pidato, ceramah, atau dakwahnya tidak kongkret mengangkat solusi Islami dalam mengatasi kemelut sosial di negeri ini. <strong>Pertama</strong>: tokoh itu memang tidak faham akan adanya solusi Islami tentang krisis sosial multi dimensi di negerinya. <strong>Kedua</strong>: tokoh itu sedang bertaktik agar dipuji sebagai tokoh nasionalis sehingga lalu akan bisa diterima oleh ‘semua’ orang. <strong>Ketiga</strong>: tokoh tersebut takut dicap sebagai tokoh Islam radikal atau fundamentalis sehingga terancam eksistensinya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Saya sering berpikir alangkah akan cepatnya Indonesia menjadi bangsa-negara yang maju dan besar jika tokoh-tokoh Islam yang sudah memiliki umat pendukung itu langsung memberi arahan dalam berbagai forum (apakah: dakwah, ceramah, seminar, debat publik, dan pelajaran formal  agama di sekolah/pelatihan agama) menyentuh-berisi substansi metoda Islam  yang kongkret dalam mengatasi berbagai masalah bangsa. Tokoh tersebut langsung bisa menasehati dan mengarahkan umat agar memilih <strong>partai yang bervisi mengelola negeri sesuai tuntunan Allah swt</strong> (bukan partai pengusung ideologi sekuler) demi kemajuan bangsa-negaranya, dan memilih pemimpin skala nasional pada tokoh yang kualifikasinya ‘seperti dirinya’, yakni: <strong>sudah beribadah mahdhah secara tertib, berakhlak mulia, memahami Islam secara menyeluruh khususnya solusi Islam dalam bidang ekonomi, budaya, politik, hukum, keamanan-ketertiban, dan lingkungan hidup</strong> untuk diterapkan sewaktu dia terpilih sebagai pemimpin bangsa yang plural. Umat tentu akan <strong><em>cepat tercerahkan, terkoordinir, memiliki keteguhan wawasan Islami dalam permasalahan negara, tidak mudah tertipu isu politik sekuler, dan tidak terbeli orang lain dalam pemilu-pilkada.</em></strong> Umatpun  akan memilih dan masuk ke  partai yang bervisi Islami, dan beramai memilih orang seperti ‘dia’ (tokoh Islam yang ulama pro-syariat) sebagai pemimpin formal bangsa. InsyaAllah Indonesia cepat menjadi negara maju, rakyatnya hidup makmur sejahtera <em>karena kekayaan tanah air  tidak dijarah orang dan dilarikan ke luar negeri, dan sumber daya manusianya tidak dieksplotir dijadikan ‘kuli’ bergaji rendah serta  ‘penghibur’ (maaf..) nafsu birahi manusia serakah. </em></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>Indonesia, akhir November 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam ath-Thahawi]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-ath-thahawi/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:25:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-ath-thahawi/</guid>
<description><![CDATA[Imam ath-Thahawi (239-321 H) Nama Dan Nasabnya Beliau adalah Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/muitiara-insan6.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/muitiara-insan6.jpg" alt="" title="muitiara insan6" width="510" height="159" class="alignnone size-full wp-image-568" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/27/imam-ath-thahawi-239-321-h/" title="Permanent Link: Imam ath-Thahawi (239-321 H)">Imam ath-Thahawi (239-321 H)</a></h2>
<p><strong>Nama Dan Nasabnya</strong></p>
<p>Beliau adalah Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah bin Abdil Malik al-Azdy al-Mishri ath-Thahawi.</p>
<p>Al-Azdy adalah qabilah terbesar Arab, suku yang paling masyhur, dan paling banyak furu’ (cabang suku) nya. Juga merupakan bagian dari qabilah Qahthaniyah, dinasabkan kepada al-Azdi bin al-Ghauts bin Malik bin Zaid bin Kahlan</p>
<p>Beliau adalah Qahthani dari sisi bapaknya dan adnani dari sisi ibunya karena ibunya seorang Muzainah, yakni saudara al-Imam al-Muzanni shahabat imam Syari’i.</p>
<p>Al-Azdy adalah qabilah terbesar Arab, suku yang paling masyhur, dan paling banyak furu’ (cabang suku) nya. Juga merupakan bagian dari qabilah Qahthaniyah, dinasabkan kepada al-Azdi bin al-Ghauts bin Malik bin Zaid bin Kahlan.</p>
<p>Beliau adalah Qahthani dari sisi bapaknya dan adnani dari sisi ibunya karena ibunya seorang Muzainah, yakni saudara al-Imam al-Muzanni shahabat imam Syari’i.</p>
<p>Dan termasuk seorang Hajri, saudara sepupu dari al-Azdi, yakni Hajr bin Jaziilah bin Lakhm, yang disebut Hajr al-Azdi, supaya berbeda dengan Hajr Ru’ain.</p>
<p>Dan ath-Thahawi dinasabkan pada Thaha sebuat desa di Sha’id Mesir.</p>
<p><strong>Lahirnya Dan Zamannya</strong></p>
<p>Mengenai kelahiran Imam Thahawi tahun 239 H, maka seperti yang diriwayatkan Ibnu Yunus muridnya yang kemudian diikuti oleh sebagian besar orang yang menulis riwayat hidupnya dan inilah yang besar. Memang ada yang menyatakan beliau lahir tahun 238 H, dan bahkan ada yang menyatakan tahaun 229 H. Ini tentu saja suatu tahrif (kekeliruan) penulisan, yang kemudian dikutip beberapa orang tanpa merujuk kembali kepada kitab lainnya.</p>
<p>Disepakati para ulama bahwa beliau wafat tahun 321 H, kecuali Ibn an-Nadim yang menyatakan beliau wafat tahun 322 H.</p>
<p>Imam athThahawi adalah sezaman dengan para imam ahli Huffazh para pengarang/penyusun enam buku induk hadits (al-Kutub as-Sittah), dan bersama-sama dengan mereka dalam riwayat hadits. Umur beliau ketika imam Bukhari wafat adalah 17 tahun, ketika imam Muslim wafat ia berumur 22 tahun, ketika imam Abu Dawud wafat ia berumur 36 tahun, ketika imam Tirmidzi wafat berumur 40 tahun dan ketika Nasa’i wafat ia berumur 64 tahun, dan ketika imam Ibnu Majah wafat ia berumur 34 tahun.</p>
<p><strong>Asal Muasalnya</strong></p>
<p>Adalah beliau rahimahullah bermula dari rumah yang berlingkungan ilmiah dan unggul. Bapaknya, Muhammad bin Salaamah adalah seorang cendekiawan ilmu dan bashar dalam syi’ir dan periwayatannya. Sedangkan ibunya termasuk dalam Ash-haab asy-Syafi’i yang aktif dalam majlisnya. Kemudian pamannya adalah imam al-Muzanni, salah seorang yang paling faqih dari Ash-haab asy-Syafi’i yang banyak menyebarkan ilmunya.</p>
<p>Sebagian besar menduga bahwa dasar kecendekiawanannya adalah di rumah, yang kemudian lebih didukung dengan adanya halaqah ilmu yang didirikan di masjid Amr bin al-‘Ash. Menghafal al-Qur’an dari Syeikhnya, Abu Zakaria Yahya bin Muhammad bin ‘Amrus, yang diberi predikat: “Tidak ada yang keluar darinya kecuali telah hafal al-Qur’an.” Kemudian bertafaquh (belajar mendalami agama-red.,) pada pamannya –al-Muzanni, dan sami’a (mendengar) darinya kitab Mukhtasharnya yang bersandar pada ilmu Syafi’i dan makna-makna perkataannya. Dan beliau adalah orang pertama yang belajar tentang itu. Ia juga menukil dari pamannya itu hadits-hadits, dan mendengar darinya periwayatan-periwayatannya dari Syafi’i tahun 252 H. Beliau juga mengalami masa kebesaran pamannya, al-Muzanni. Pernah bertamu dengan Yunas bin Abdul A’la (264 H), Bahra bin Nashrin (267 H), Isa bin Matsrud (261 H) dan lain-lainnya. Semuanya adalah shahabat Ibn Uyainah dari kalangan ahlu Thabaqat.</p>
<p>Pindah Madzhab Dari Syafi’i Ke Hanafi</p>
<p>Ketika umurnya mencapai 20 tahun, ia meninggalkan madzhab yang telah ia geluti sebelumnya yakni madzhab Syafi’i ke madzhab Hanafi dalam bertafaqquh, disebabkan beberapa faktor:</p>
<p>1. Karena beliau menyaksikan bahwa pamannya banyak menelaah kitab-kitab Abi Hanifah.</p>
<p>2. Tulisan-tulisan ilmiah yang ada, yang banyak disimak para tokoh madzhab Syafi’i dan madzhab Hanafi.</p>
<p>3. Tashnifat (karangan-karangan) yang banyak dikarang oleh kedua madzhab itu yang berisi perdebatan antara kedua madzhab itu dalam beberapa masalah. Seperti karangan al-Muzanni dengan kitabnya al-Mukhtashar yang berisi bantahan-bantahan terhadap Abi Hanifah dalam beberapa masalah.</p>
<p>4. Banyaknya halaqah ilmu yang ada di masjid Amr bin al-‘Ash tetangganya mengkondisikan beliau untuk memanfaatkannya dimana di sana banyak munasyaqah (diskusi) dan adu dalil dan hujjah dari para pesertanya.</p>
<p>5. Banyak syeikh yang mengambil pendapat dari madzhab Abi Hanifah, baik dari Mesir maupun Syam dalam rangka menunaikan tugasnya sebagai qadli, seperti al-Qadli Bakar bin Qutaibah dan Ibnu Abi Imran serta Abi Khazim.</p>
<p>Akan tetapi perlu diketahui bahwa perpindahan madzhabnya itu tidaklah bertujuan untuk mengasingkan diri dan mengingkari madzhab yang ia tinggalkan, karena hal ini banyak terjadi di kalangan ahli ilmu ketika itu yang berpindah dari satu madzhab ke madzhab lainnya tanpa meningkari madzhab sebelumnya. Bahkan pengikut Syafi’i yang paling terkenal sebelumnya adalah seorang yang bermadzhab Maliki, dan diantara mereka ada yang menjadi syeikhnya (gurunya) ath-Thahawi. Tidak ada tujuan untuk menyeru pada ‘ashabiyah (fanatisme-red.,) atau taklid, tetapi yang dicari adalah dalil, kemantapan, dan hujjah yang lebih mendekati kebenaran.</p>
<p><strong>Syuyukh (Para Guru) Beliau</strong></p>
<p>1. Al-Imam al-‘Allaamah, Faqihul Millah, ‘Alamuz Zuhad, Isma’il bin Yahya bin Isma’il bin ‘Amr bin Muslim al-Muzanni al-Mishri. Salah satu sahabat Syafi’i yang mendukung madzhabnya, wafat tahun 264 H. Karangannya antara lain al-Mukhtashar, al-Jami’ al-Kabir, al-Jami’ ash-Shaghir, al-Mantsur, al-Masa-il al-Mu’tabarah, Targhib fil ‘Ilmi, dan lain-lainnya. Ia adalah orang pertama yang dinukilkan haditnya oleh ath-Thahawi, dan kepadanya belajar di bawah madzhab Syafi’i, menyimak dari beliau juga kitab Mukhtasharnya serta kumpulan hadits-hadits Syafi’i.</p>
<p>2. Al-Imam al-‘Allaamah, syaikhul Hanafiyah, Abu Ja’far Ahmad bin Abi Imran Musa bin Isa al-Baghdadi al-Faqih al-Muhaddits al-Hafizh, wafat tahun 280 H. Beliau disebut sebagai lautan ilmu, disifatkan sangat cerdas dan kuat hafalannya, banyak meriwayatkan hadits dengan hafalannya. Dan beliau adalah seorang yang paling berpengaruh atas ath-Thahawi dalam madzhab Abi Hanifah. Adalah ath-Thahawi sangat membanggakan gurunya ini dan banyak meriwayatkan hadits-hadits dari beliau.</p>
<p>3. Al-Faqih al-‘Allamah Qadli al-Qudlat Abu Khazim Abdul Hamid bin Abdil Aziz as-Sakuuni al-Bishri kemudian al Baghdadi al-Hanafi. Menjabat Qadli di Syam, Kufah dan Karkh, Baghdad. Dan dipuji selama menjalankan jabatannya. Ath-Thahawi belajar kepada beliau ketika menjadi tamu di Syam tahun 268 H. Beliau menguasai madzhab Ahlul Iraq hingga melampaui guru-gurunya. Seorang yang tsiqah, patuh pada dien, dan wara’. Seorang yang ‘alim, paling piawai dalam beramal dan menulis, cendekia disertai watak pemberani, sangat dewasa dan cerdik, pandai membuat permisalah untuk memudahkan akal. Wafat tahun 292 H.</p>
<p>4. Al-Qadli al Kabir, al-‘allaamah al-Muhaddits Abu Bakrah Bakkar bin Qutaibah al-Bishri, Qadli al-Qudlat di Mesir, wafat tahun 270 H. Seorang yang ‘alim, faqih, muhaddtis, mempunyai kedudukan yang terhormat, dan agung, bila dalam kebenaran tidak takut celaan orang yang mencela, zuhud, shaleh dan istiqamah. Imam Thahawi bertemu dengan beliau ketika ia masih seorang pemuda, menyimak dari beliau, banyak pengaruhnya atas dirinya. Banyak mengambil riwayat dari beliau, dan banyak menimpa dari beliau ilmu Hadits serta tidak pernah absen dari majlisnya ketika mendiktekan hadits.</p>
<p>5. Al-Qadli al-‘Allaamah al-Muhaddtis ats Tsabit, Qadli al Qudlat, Abu Ubaid Ali bin al Husain bin Harb Isa al Baghdadi, salah seorang shahabat Syafi’i, wafat tahun 319 H. Sangat piawai dalam Ulumul Qur’an dan hadits, sangat pendai dalam masalah ikhtilaf dan ma’ani serta qiyas fashih, berakal, lemah lembut, suka menyatakan kebenaran.</p>
<p>6. Al-Imam al-Hafizh ats-Tsabit, Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurrasani an Nasa’i, wafat tahun 303 H. Berkata Dzahabi: “Beliau adalah orang yang paling piawai dalam hadits dan ‘ilal. Dan rijalnya dari Muslim dan dari Abi Dawud dan dari Abi Isa (at-Turmudzi-red.,). Dan beliau adalah tetangga dengan Imam Bukhari dan Abu Zur’ah di masa tuanya.</p>
<p>7. Al-Imam Hafizh, syaikhul Islam, Abu Musa Yunus bin Abdul A’la Shadari al-Mishri, wafat tahun 264 H. Belajar pada Syafi’i, membaca al-Qur’an pada Warsy, shahabat Nafi’, menyimak hadits dari Syafi’i, Sufyan bin Uyainah, dan Abdullah bin Wahab dan mengumpulkannya. Termasuk orang yang termasyhur dalam keadilannya dan ulama’ di zamannya di Mesir, ditsiqahkan oleh Nasa’i.</p>
<p>8. Al-Imam al-Muhaddits al-Faqih al-Kabir, Abu Muhammad ar Rabi’ bin Sulaiman al-Muradiy al-Mishri. Seorang shahabat Syafi’i dan mewarisi ilmunya. Wafat tahun 270 H. Banyak hadits yang diriwayatkan dari beliau, panjang umurnya, masyhur namanya, banyak menimba ilmu darinya para ashabul hadits, syaikh yang sangat disukai, menghabiskan umurnya dalam ilmu dan menyebarkannya, akan tetapi beliau tergolong seorang hufazh (ahli menghafal, maka dikatakan oleh Nasa’i: Laa ba’sa bihi).</p>
<p>9. Syaikhul Imam ash-Shadiq, Muhaddits Syam, Abu Zur’ah Abdurrahman bin amr bin Abdullah bin Shafwan bin Amr an-Nashri ad-Dimasyqi. Wafat tahun 281 H. Seorang yang tsiqah, shaduq. Mempunyai karangan mengenai Tarikh Dimasyq.</p>
<p>10. Al-Imam al-Hafizh al-Mutqin, Abu Ishaq Ibrahim bin Abi Dawud Sulaiman bin Dawud al-Azdi al-Kufi asli, lahirnya di Syria, dan rumahnya di al-Barlusi. Wafat tahun 270 H. Disifatkan oleh Ibnu Yunas bahwa beliau salah seorang hufazh al-Mujawwidin, tsiqah dan tsabit.</p>
<p>11. Al-Hafidz Abu Bakr Ahmad bin Abdullah bin al-Barqi. Wafat tahun 270 H. Menyimak dari Amr bin Abi Salmah dan thabaqatnya, mempunyai karangan tentang mengenal shahabat dan termasuk seorang hufazh yang mutqin.</p>
<p>12. Al-Hafizh al-Hujjah, Abu Ishaq Ibrahim bin Marzuq al-Bishri, menjadi tamu di Mesir. Wafat tahun 270 H. Berkata Nasa’i, “Periwayat yang diterima haditsnya (Shalih)”. Berkata Ibnu Yunas: “Tsiqah, tsabit”.</p>
<p>13. Al-Imam al-Hujjah, Abu Ishaq Ibrahim bin Munqidz bin Isa al-Khaulani Maulahum al-Mishri al-‘Ushfuri, wafat tahun 269 H. Berkata Abu Sa’id bin Yunas: “Beliau tsiqah ridla”.</p>
<p>14. Al-Imam al-Muhaddits ats-Tsiqah, Abu Abdullah Bahr bin Nashr bin Sabiq al-Khaulani maulahum al-Mishri, wafat tahun 267 H. Ditsiqahkan Abi Hatim dan Yunus bin Abdul A’la, dan Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>15. Al-Hafizh ats-Tsabit, Abu Ali al-Husain bin Ma’arik al-Baghdadi, suami saudara perempuan al Hafidz Ahmad bin Shalih, menjadi tamu di Mesir. Wafat tahun 261 H. Berkata Ibnu Yunus: “ Tsiqah, tsabit”.</p>
<p>16. Ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Azdi maulahum, al-Mishri al-Jiizi al-A’raj. Wafat tahun 256 H. Berkata ibnu Yunus: “Tsiqah”.</p>
<p>17. Abu Ja’far Abdul Ghani bin Rifa’ah bin Abdul Malik al-Lakhmi al-Mishri. Wafat tahun 255 H. Meriwayatkan dari beliau Abu Dawud, Ibrahim bin Matawaih al-Ashbahani dan Abu Bakar bin Abi Dawud.</p>
<p>18. Al-Imam al-Hafizh ash-Shaduq Abul Hasan Ali bin Abdul Aziz al-Baghawi. Syaikh al-Haram al-Makki, mushannif kitab Al Musnah. Wafat tahun 280 H. Berkata Daruquthni: “Tsiqah, terpercaya”</p>
<p>19. Al-Imam al-Faqih al-Muhaddits Abu Musa Isa bin Ibrahim bin Matsrad al-Ghafiqi maulahum, al-Mishri. Seorang sandaran yang tsiqah. Wafat tahun 261 H. Berkata Nasa’i: “Laa ba’sa”. Dan berkata Maslamah bin Qasim: “Tsiqah”.</p>
<p>20. Al-Imam al-Muhaddits ats-Tsiqah, syaikhul Haram, Abu Ja’far Muhammad bin Isma’il bin Salim al Qurasyi al-‘Abbasi maulaal Mahdi Al Baghdadi menjadikan tamu di Makkah. Wafat tahun 276 H. Berkata Ibnu Abi Hatim: “Shaduq”.</p>
<p>21. Al-Imam syaikhul Islam, Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul hakim bin A’yah bin Laits al-Mishri al-Faqih. Cendekiawan negeri Mesir di zamannya bersama al-Muzanni. Wafat tahun 268 H. Berkata Ibnu Khuzaimah: “Aku belum pernah melihat orang yang lebih pandai dari kalangan fuqaha’ tentang perkataan para shahabat dan tabi’in dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakim, dan merupakan orang yang paling alim di kolong bumi dengan madzhab Maliki.” Berkata Abi Hatim: “Ibnu Abdul hakim tsiqah, shaduq, seorang fuqaha Mesir dari madzhab Maliki”.</p>
<p>22. Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid Abu Bakar Muhammad bin ali bin Dawud bin Abdullah al-Baghdadi, menjadi tamu di Mesir. Dikenal dengan sebutan Ibnu Ukhti Ghazaal. Berkata Yunus: “Seorang penghafal hadits dan memahaminya. Seorang yang tsiqah, hasan haditsnya”. Wafat tahun 264 H.</p>
<p>23. Al-Imam al-‘Allaamah al-Hafizh, syaikhul Baghdad, Abu Bakar Abdullah bin sulaiman bin al-Asy’ats as-Sajistaani, wafat tahun 316 H. Mengarang as-Summah, al-Mashaahif, Syari’ah al-Muqaari’, Nasikh wal Mansukh, al-Ba’ts dan lainnya. Seorang yang faqih, alim dan hafizh.</p>
<p>24. Al-Imam al-Muhaddits al-Adl, Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Sulaiman bin Rabi’ah bin ash-Shaiqah ‘Allaan al-Mishri. Wafat tahun 317 H. Seorang yang tsiqah, banyak meriwayatkan hadits, salah seorang yang terkenal adil.</p>
<p>25. Al-Iman al-Hafizh al-Baari’, Abu Bisyrin Muhammad bin Ahmad bin Hammad bin Sa’id bin Muslim al-Anshari ad-Duulabi. Wafat tahun 310 H. Beliau adalah pengarang kitab al-Kunniy wal Asma’. Berkata Daruquthni: “banyak digunjingkan, tidak jelas perkaranya kecuali beliau adalah seorang yang baik”.</p>
<p>26. Al-Iman al-Kabir al-Hafizh ats-Tsiqah, Abu Zakaria Yahya bin Zakaria bin Yahya an-Naisaburi al-A’raj. Wafat tahun 307 H. Berkata Ibnu Yunus: “Seorang hafizh, terhormat dan mulia”.</p>
<p>27. Al-‘Allaamah al-Hafizh al-Akhbaari, Abu Zakaria Yahya bin Utsman bin Shalih bin Shafwan as-Sahmi al-Mishri. Wafat tahun 282 H. Berkata Ibnu Yunus: “Seorang alim dengan ahbar Mesir, dan tentang meninggalkan ulama, penghafal hadits, dan meriwayatkan hadits yang tidak ditemukan di orang lain”.</p>
<p>28. Al-Imam ats-Tsiqah al-Musannid, Abu Yazid Yusuf bin Yazid bin Kamil bin Hakim al-Umawi maulahum al-Qurathisi. Wafat tahun 287 H. Seorang yang alim, banyak meriwayatkan hadits, pemberani, panjang umur dan pernah melihat Syafi’i.</p>
<p>29. Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid ar-Rahhal, Abu Umayyah Muhammad bin Ibrahim bin Muslim al-Baghdadi, kemudian ath-Thurasusi, menjadi tamu di ThuTharsusi dan menjadi muhadditsnya di sana, pengarang Al Musnad dan mempunyai beberapa mushannifat. Wafat tahun 273 H.</p>
<p>30. Al-Imam al-‘Allaamah al-Mutqin, al-Qadli al-Kabir, Abu Ja’far Ahmad bin Ishaq bin Buhlul bin hasan an-Tanwikhi al-Anbari, al-Faqih al-Hanafi. Wafat tahun 318 H.</p>
<p>31. Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid, Abu Ha’far Ahmad bin Sinan bin Asad bin Hibban al-Wasithi al-Qaththan. Wafat tahun 258 H. Berkata Abi Hatim: “Beliau seorang imam di zamannya, seorang yang tsiqah shaduq”.</p>
<p>32. Al-Imam al-Hafizh ats-Tsabit Syaikhul Waqti Abu Bakar Ja’far bin Muhammad bin al-Hasan bin al-Mustafaadl al-Firyaabi al-Qadli. Wafat tahun 301 H. Berkata Khuthaib al-Baghdadi: “Tsiqah, hujjah, gudang ilmu”.</p>
<p>33. Rauh bin Farj Abu Zinba’ bin Farj bin Abdirrahman al-Qaththan maulanan Zubair bin al-‘Awwam. Wafat tahun 282 H. Seorang alim, faqih di madzhab Maliki, seorang yang paling tsiqah di zamannya dan meninggikannya dengan ilmu, mempunyai riwayat dalam qira’ah dari, Ashim Yahya bin Sulaiman al-Ju’fi. Adalah imam Thahawi mengambil qira’ah dari huruf demi huruf, dari Yahya bin Sulaiman al-Ju’ri, dari Abi Bakar bin ‘Iyasy, dari ‘Ashim bin Bahdalah Abi an-Nujud, seperti yang ia nyatakan dalam kitabnya ini juz I hal 227 dan 263.</p>
<p>34. Mahmud bin Hasan an-Nahwi Abu Abdullah. Wafat tahun 272 H. Berkata Ibnu Yunus dalam Tarikh Mishri: “Seorang ahli nahwu, ahli tajwid, meriwayatkan dari Abul Malik bin Hisyam dari Abi Zaid dari Abi Amr bin al-‘Ala.</p>
<p>35. Al-Walid bin Muhammad at-Tamimi an-Nahwi, yang termasyhur dengan sebutan Wullaad. Wafat tahun 263 H. Seorang ahli nahwu, ahli tajwid, tsiqah, berasal dari Bashrah.</p>
<p><strong>Sifat-Sifatnya<br />
</strong><br />
Adalah ath-Thahawi rahimahullah seorang hafizh (penjaga dan penghafal) kitab Allah, yang mengerti hukum-hukumnya dan maknanya, dan terhadap atsar dari shahabat dan tabi’in terhadap tafsir ayat-ayatnya, asbabun nuzulnya. Mempunyai wawasan yang menakjubkan dengan ilmu qira’ah. Penghafal hadits, luas jangkauan pengenalannya terhadap thuruq (jalan-jalan) hadits, matan, illah dan ahwalnya, rijal-rijalnya, banyak menelaah madzhab para shahabat dan tabi’in serta para imam yang mepat yang diikuti dan para imam mujtahid yang lain. Seperti Ibrahim an-Nakha’i, Utsman al-Batti, Auza’i, ats-Tsauri, Laits bin Sa’d, Ibnu Syubrumah, Ibnu Abi Laila dan al-Hasan bin Hay. Sangat piawai dalam ilmu Syurut dan Watsaiq. Seorang yang sangat jeli dalam membahas suatu masalah. Tidak bertaklid pada seorangpun, tidak dalam masalah ushul (pokok), dan tidak dalam masalah furu’. Beliau berputar bersama kebenaran yang berdasar pada ijtihadnya. Mengikuti manhaj salaf dalam aqidah. Dan atas manhaj ini pula beliau mengarang kitab aqidah yang masyhur (yakni Aqidah ath-Thahawiyah, pen.). Sangat memperhatikan apa yang beliau dengan dalam majelis ilmu, dan kemudian diulangi kembali setelah selesai majlis, mengklasifikasikan secara rinci riwayat-riwayat yang ia terima dan menyusunnya dalam mushannafnya. Sifat inilah yang mengantarkannya untuk menyusun mushannafat yang banyak menurut babnya. Dan beliau adalah seorang yang lapang dada, baik akhlaqnya, baik dalam pergaulan, bertindak tanduk sopan, memberi nasehat para pemimpin, dengan penuh tawadlu’, dekat dengan para qadli dan ahli ilmu, menghadiri halaqah ilmu dan menukil riwayat dari sana. Orang-orang yang berbeda pendapat dan sependapat dengan beliau mengakui kewara’annya dan kezuhudannya, lemah lembut terhadap keluarga, jauh dari rasa ragu-ragu. Ketsiqahan ulama pada beliau mencapai puncaknya ketika Abu Ubaid bin Harbawaih – salah seorang shahabat Syafi’i mengakui keadilannya dan menerima syafa’atnya.</p>
<p><strong>Ath-Thahawi Seorang Imam Mujtahid</strong></p>
<p>Ath-Thahawi telah belajar madzhab Syafi’i kepada pamannya al-Muzanni, kemudian mempelajari madzhab Hanafi, dan tidak berta’ashub pada salah seorang imam pun. Akan tetapi memilih perkataan yang ia anggap paling benar berdasarkan kekuatan dalilnya. Dan jika salah seorang imam menyamai pendapatnya maka disebabkan kesamaan yang berdasarkan dalil dan hujjah, tidak karena taklid. Keadaannya seperti keadaan para ulama semasanya, yang tidak ridla dengan taklid. Tidak kepada ahli hapal hadits dan tidak pula kepada para ulama fiqih. Berkata Ibnu Zaulaq: “Aku mendengar Abu hasan Ali bin Abi Ja’far ath-Thahawi berkata: Aku mendengar bapakku berkata dan disebutkan keutamaan Abi Ubaid bin harbawaih dan fiqihnya lalu berkata: Ketika itu ia mengingatkan aku dalam satu masalah. Maka aku jawab masalah itu. Tetapi beliau berkata kepadamu: Bagaimana ini, kenapa memakai perkataan Abu Hanifah? Maka aku katakan kepadamu: Wahai Qadli, apakah setiap perkataan yang diucapkan Abu Hanifah aku katakan juga? Beliau berkata: Aku tidak mengira engkau kecuali seorang muqallid (suka mengikuti saja). Aku jawab: Apakah ada orang yang bertaklid kecuali orang yang berta’ashub (fanatik buta)? Beliau menambahi: Atau orang yang bodoh? Berkata: Maka menjadilah kalimat ini masyhur di Mesir hingga semacam menjadi pameo yang dihafal manusia.</p>
<p>Dan tidak ada yang menghalanginya untuk berijtihad karena beliau telah menguasai ilmu perangkatnya. Beliau adalah seorang hafidz. Luas telaahnya, dalam pemahamannya, luas cakrawala tsaqafahnya, ahli dalam mengenali hadits dan periwayatannya, piawai dalam mencari illat hadits serta mahir dalam ilmu fiqih dan bahasa Arab.</p>
<p>Berkata Imam al-Laknawi dalam al-Fawaid al-Bahiyah hal. 31; Bahwa Imam Thahawi mempunyai derajat yang tinggi dan urutan yang mulia. Banyak menyelisihi shahibul madzhab (pendiri madzhab) dalam masalah ushul maupun masalah furu’. Barang siapa yang menelaah kitab Syarh Ma’anil Atsar dan karangan-karangannya yangn lain maka akan mendapati bahwa beliau banyak menyelisihi pendapat yang dipilih para pemimpin madzhabnya jika yang mendasari pendapatnya itu sangat kuat. Yang benar beliau adalah salah seorang mujtahid, akan tetapi manusia tidak bertaklid kepada beliau. Tidak dalam furu’ maupun dalam ushul, karena mereka mensifatinya dengan mujtahid. Akan tetapi yang mereka contoh dari beliau adalah caranya berijtihad. Atau paling tidak beliau adalah seorang mujtahid dalam madzhab yang mampu untuk mengeluarkan hukum-hukum dari kaidah-kaidah yang dinyatakan sang imam madzhab, dan tidak pernah derajat beliau rendah dari martabat itu selamanya.</p>
<p>Dan berkata Maulana Abdul Aziz al-Muhaddits ad-Dahlawi dalam kitab Bustan al-Muhadditsin: “Dalam mukhtashar Thahawi menunjukkan bahwa beliau adalah seorang mujtahid. Dan bukan seorang muqallid (pengekor) terhadap madzhab Hanafi dengan pengekoran total. Karena beliau sering memilih pendapat yang berbeda dengan madzhab Abu Hanafi ketika hal itu berdasarkan dalil-dalil yang kuat.</p>
<p><strong>Murid-Murid Beliau</strong></p>
<p>Tidak sedikit kalangan ahli ilmu yang berguru pada beliau. Diantara mereka para hufadz yang termasyhur. Mereka menyimak dari beliau, mendapat manfaat dari ilmu beliau. Diantaranya adalah sebagai berikut:<br />
1. Al-Hafizh Abul Farj Ahmad bin al-Qasim bin Ubaidillah bin Mahdi al-Baghdadi. Atau yang terkenal dengan nama Ibnu Khasyab. Wafat 364 H.</p>
<p>2. Al-Imam al-Faqih al-Qadli Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Manshur al-Anshari ad-Damaghaani.</p>
<p>3. Ismail bin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Aziz, atau yang terkenal dengan nama Abu Sa’id al-Jurjani al-Khallaal al-Warraaq. Wafat tahun 364 H</p>
<p>4. Al-Muhaddits al-Hafizh al-Jawwal al-Mushannif Abu Abdullah al-Husain bin Ahmad bin Muhammad bin Abdirrahman bin Asad bin Sammakh bin Syammaakhi al-Hirawi ash-Shaffar, pengarang al-Mustakhraj Ala Shahih Muslim. Wafat tahun 371 H.</p>
<p>5. Al-Muhaddits al-Imam Abu Ali al-Husain bin Ibrahim bin Jabir bin Abi Azzamzaam ad-Dimasyqi al-Faraidli asy-Syahid. Wafat tahun 368 H.</p>
<p>6. Al-Imam al-Hafizh ats-Tsiqah ar-Rahaal al-Jawwal Muhadditsul Islam Alim al-Mua’ammarin Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayub bin Muthair a-Lakhmi As Syammi At Thabrani, pengarang tiga mu’jam; al-Kabir, al-Ausath, As Shaghir. Wafat tahun 360 H.</p>
<p>7. Al-Imam al-Hafizh An Naqid al-Jawal Abu Ahmad Abdullah bin ‘Addi bin Abdullah bin Muhammad bin al-Mubarak bin al-Qaththaan al-Jurjaani, pengarang kitab al-Kamil. Wafat tahun 365 H.</p>
<p>8. Al-Imam al-Hafizh al-Mutqin Abu Sa’id Abdurrahman bin Ahmad bin Yunus bin Abdil A’la ash-Shadafi al-Mishri, pengarang kitab Tarikh Ulama’ Mishra. Wafat tahun 347 H.</p>
<p>9. Al-Imam al-Hafizh Ats Tsiqah al-Jawwal Abu Bakar Muhammad bin Ja’far bin al-Husain al-Baghdadi al-Warraaq. Wafat tahun 370 H.</p>
<p>10. Asy-Syaikh al-‘Alim al-Hafizh Abu Sulaiman Muhammad bin al-Qadli Abdullah bin ahmad bin Rabi’ah bin Zabrin ar-Raba’i. Wafat tahun 379 H.</p>
<p>11. Asy-Syaikh al-Hafizh al-Mujawwid Muhaddis Iraq Abul Husein Muhammad bin al-Mudzaffar bin Musa bin Isa bin Muhammad al-Baghdadi. Wafat tahun 379 H.</p>
<p>12. Al-Muhaddits ar-Rahhal Abul Qasim Maslamah bin al-Qasim bin Ibrahim al-Andalusi al-Qurthubi. Wafat tahun 353 H.</p>
<p>13. MuhadditsAshbahaan al-Imam ar-Rahhal al-Hafizh ash-Shaduq Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim bin Ali bin ‘Ashim bin Zaadzan al-Ashbahan, yang termasyhur dengan sebutan Ibnul Muqri’ al-Mu’jam. Wafat tahun 381 H.</p>
<p>14. Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Salamah Abul Hasan ath-Thahawi, anak imam Thahawi. Wafat tahun 381 H.</p>
<p>15. Abu Utsman Ahmad bin Ibrahim bin Hammad bin Zaid al-Azdi. Wafat tahun 329 H.</p>
<p>Dan lain-lain rahimahullah ajma’in.</p>
<p><strong>Kitab-Kitab Karangan Beliau</strong></p>
<p>Imam ath-Thahawi adalah termasuk diantara sekian orang yang mempunyai banyak kitab karangan dan mahir dalam menyusun tashnifaat. Dikarenakan beberapa faktor yang dianugerahkan Allah kepadanya. Yakni cepat hafal, mempunyai wawasan pengetahuan yang luas, dan mempunyai kesiapan yang cukup, beliau telah menyusun berbagai macam dan jenis kitab, baik dalam bidang aqidah, tafsir, hadits, fiqih, dan tarikh. Sebagian ahli tarikh menyatakan lebih dari tiga puluh kitab. Diantaranya sebagai berikut:</p>
<p>1. Syarh Ma’ani al-Atsar.<br />
2. Ikhtilaaf al-Fiqhiyah.<br />
3. Mukhatashar athThahawi.<br />
4. Sunan asy-Syafi’i.<br />
5. Al-Aqidah ath-Thahawiyah.<br />
6. Naqdlu kitab al-Mudallisin li Faqih Baghdad al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi.<br />
7. Taswiyatu baina Hadtsana wa Akhabarana.<br />
8. Asy-Syurut ash-Shaqhir.<br />
9. Asy-Syurut al-Ausath.<br />
10. Asy-Syurut al-Kabir.<br />
11. At-Tarikh al-Kabir.<br />
12. Ahkamul Qur’an<br />
13. Nawadirul Fiqhiyah.<br />
14. An-Nawadir Wal Hikayaat.<br />
15. Juz-un fi hukmi ardli Makkah.<br />
16. Juz-un fi qismi al-fay`i wal Ghanaa-`im<br />
17. Ar-Raddu ‘ala Isa bin Abbaan fi Kitaabihi alladzi sammaahu Khatha’u al-Kutub.<br />
18. Al-Raddu ‘ala Abi Ubaid fiima Akhtha a fiihi fi Kitaabi an-Nasab.<br />
19. Ikhtilaaf ar-Riwayaat ‘ala Madzhab al-Kuufiyiin.<br />
20. Syarh al-Jami’ al-Kabir lil imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani.<br />
21. Kitab al-Mahadlir wa as-Sijillaat.<br />
22. Akhbar Abi Hanifah wa ash-haabuhu.<br />
23. Kitab Aal-Washaya wal Faraidl.<br />
24. Dan lain-lain.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam Al Ajurri]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-al-ajurri/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:24:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-al-ajurri/</guid>
<description><![CDATA[Imam Al Ajurri (wafat tahun 419H) Nama dan Nasabnya Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Al Husei]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/muitiara-insan5.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/muitiara-insan5.jpg" alt="" title="muitiara insan5" width="510" height="159" class="alignnone size-full wp-image-566" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/25/imam-al-ajurri/" title="Permanent Link: Imam Al Ajurri (wafat tahun 419H)">Imam Al Ajurri (wafat tahun 419H)</a></h2>
<p><strong>Nama dan Nasabnya</strong></p>
<p>Nama lengkap beliau adalah <em>Muhammad bin Al Husein bin Abdillah Al Baghdadi Al Ajurri</em>. Kunyah beliau Abu Bakr. Beliau berasal dari sebuah desa di bagian barat kota Baghdad yang bernama Darbal Ajur. Beliau lahir dan tumbuh di sana.</p>
<p><strong><em>Guru-guru</em></strong></p>
<p>Imam Al Ajurri menimba ilmu dari segolongan ulama terkenal, di antaranya :</p>
<p>1. Imam Ibrahim bin Abdillah bin Muslim bin Ma’iz Abul Muslim Al Bashri Al Kajji. Beliau adalah Al Hafidh [Orang yang banyak menghapal hadits<br />
lengkap dengan pengertian dan sanadnya], Al Mu’ammar, Shahibus Sunan [Penulis kitab Sunan]. Imam ini adalah guru terbesar Imam Al Ajurri. Syaikh Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 190 H dan wafat tahun 292 H di Baghdad. Jenazah beliau kemudian dipindah ke Bashrah dan dimakamkan di sana.</p>
<p>2. Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin Al Faizuran Al Usynani. Beliau adalah Syaikhul Qurra’ [Pemimpin para pembaca Al Qur&#8217;an] di Baghdad. Beliau wafat pada tahun 307 H.</p>
<p>3. Imam Abu Abdillah Ahmad bin Al Hasan bin Abdil Jabbar bin Rasyid Al Baghdadi. Beliau bergelar Al Muhadits [Ahli Hadits] Ats Tsiqatul Mu’ammar. Beliau dilahirkan di Hudud tahun 210 H dan wafat tahun 306 H.</p>
<p>4. Imam Abu Bakr Ja’far bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Mustafadl Al Firyani. Beliau adalah Al Hafidh Ats Tsabt [Tepat dan jeli dalam<br />
penyampaian riwayat] dan Syaikh di masanya. Beliau lahir pada tahun 207 H dan wafat pada tahun 301 H.</p>
<p>5. Imam Abu Bakr Al Qasim bin Zakaria bin Yahya Al Baghdadi. Beliau adalah Al ‘Allamah [&#8216;Alim (pandai)], Al Muqri’ [Ahli Ilmu Qira&#8217;ah], Al Muhadits, Ats Tsiqah [Yang terpecaya]. Beliau terkenal dengan gelar Al Muthariz (penyulam). Beliau lahir di Hudud tahun 220 H dan wafat tahun 305 H.</p>
<p>6. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Yahya bin Ishaq Al Bajali Al Hulwani. Beliau adalah Al Muhadits, Ats Tsiqah, Az Zahid [Yang zuhud]. Beliau tinggal di Baghdad dan wafat tahun 296 H.</p>
<p>7. Imam Abul Abbas Ahmad bin Zanjuwiyah bin Musa Al Qathan. Beliau adalah Al Muhadits, Al Mutqin [Yang mantap], dianggap tsiqah dan terkenal. Beliau wafat tahun 304 H.</p>
<p>8. Imam Abul Qasim Abdullah bin Muhammad bin Abdil Aziz bin Al Marzuban. Beliau adalah Al Hafidh, Al Hujjatul Mu’ammar, dan Al Musnid [Penulis<br />
kitab Musnad] di masanya. Berasal dari Bagha’ dan lahir pada tahun 214 H dan bertempat tinggal di Baghdad serta wafat tahun 317 H. Beliau dikebumikan pada hari Iedul Fithri.</p>
<p>9. Imam Abu Syu’aib Abdullah bin Al Hasan bin Ahmad bin Abu Syu’aib Al Harrani. Beliau adalah Al Muhadits, Al Mu’ammar, Al Mu’dab. Lahir tahun 206 H dan wafat tahun 295 H.</p>
<p>10. Imam Abu Muhammad Khalaf bin ‘Amr Al ‘Ukbari. Beliau adalah Al Muhadits, Ats Tsiqatul Jalil [Yang mulia dan dapat dipercaya]. Beliau lahir tahun 206 H dan wafat tahun 296 H.</p>
<p>11. Al Imam Abu Bakr Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy’ats As Sijistani. Beliau adalah Al ‘Allamah, Al Hafidh, dan Syaikh di Baghdad. Beliau termasuk lautan ilmu. Sebagian orang ada yang menganggap bahwa beliau lebih utama daripada ayahnya. Beliau menulis Sunan, Mushaf, Syari’atul Qari’, Nasikh Mansukh, Al Ba’ts, dan lain-lain. Beliau lahir di Sijistan tahun 230 H dan wafat tahun 316 H.</p>
<p><em><strong>Murid-Muridnya</strong> </em></p>
<p>Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah :</p>
<p>1. Imam Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al Mihrani Al Ashbahani. Beliau adalah Al Hafidh, Ats Tsiqah, Al ‘Allamah. Beliau adalah cucu Az Zahid Muhammad bin Yusuf Al Banna’. Beliau adalah penulis kitab Al Hilyah dan banyak karya lainnya. Beliau lahir tahun 336 H dan wafat tahun 425 H.</p>
<p>2. Imam Abul Qasim Abdul Malik Muhammad bin Abdillah bin Bisyran. Beliau adalah Al Muhaddits, Al Musnid, Ats Tsiqah, Ats Tsabt, Ash Shalih [Orang yang shalih], Pemberi Nasihat, dan Musnid Irak. Beliau lahir tahun 339 H dan wafat tahun 430 H.</p>
<p>3. Imam Abul Husein Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran. Beliau adalah Asy Syaikh, Al ‘Alim, Al Mu’adil, Al Musnid. Al Khatib berkata tentang beliau : “Dia sempurna muru’ah [Kewibawaan]-nya, kokoh menjalankan agama, shaduq [Sangat jujur], dan tsabit.” Beliau lahir tahun 328 H dan wafat tahun 415 H.</p>
<p>4. Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Umar At Tajibi Al Mishri Al Maliki Al Bazzaz. Beliau adalah Asy Syaikh, Al Fakih, Al Muhadits, Ash Shaduq, dan Musnid Mesir. Beliau terkenal dengan gelar Ibnu Nahhas. Beliau lahir tahun 323 H dan wafat tahun 416 H.</p>
<p>5. Imam Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Umar bin Hafsh Al Hamami Al Baghdadi. Beliau adalah Al Muhadits dan Muqri’ Irak. Al Khatib mengatakan bahwa beliau sangat jujur, taat beragama, terhormat, sulit dicari tandingannya dalam sanad-sanad qira’ah dan memiliki ketinggian sanad di masanya. Lahir 328 H dan wafat 417 H.</p>
<p>6. Al Imam Abu Bakr bin Abu Ali Ahmad bin Abdurrahman Al Hamadani Adz Dzakwan Al Ashbahani. Beliau adalah Al ‘Alim, Al Hafidh, dan termasuk Rijal Ats Tsiqah. Abu Nu’aim mengatakan tentang beliau : “Dia mempersaksikan dan menyampaikan hadits selama 60 tahun, akhlaknya baik dan kokoh madzhabnya. Beliau lahir tahun 333 H dan wafat tahun 419 H.</p>
<p>7. Syaikh Abul Husein Muhammad bin Al Husein bin Muhammad bin Al Fadl Al Baghdadi Al Qahthani. Beliau adalah Al ‘Alim, Ats Tsiqat, Al Musnid [Orang yang menjadi rujukan sanad hadits]. Beliau lahir tahun 335 H dan wafat tahun 415 H.</p>
<p><strong><em>Keilmuan Beliau Dan Komentar Para Ulama Tentangnya</em></strong></p>
<p>1. Ibnu Nadim berkata : “Dia faqih, shalih, dan ahli ibadah.”</p>
<p>2. Al Khatib berkata : “Dia tsiqah, shaduq (sangat jujur), taat beragama, dan memiliki banyak karya.”</p>
<p>3. Ibnu Jalkan berkata : “Dia faqih, bermadzhab Syafi’i, muhadits, penulis kitab Arba’in dan terkenal dengannya, shalih dan ahli ibadah.”</p>
<p>4. Yaqut berkata : “Dia faqih bermadzhab Syafi’i, tsiqah, dan menulis banyak karya.”</p>
<p>5. Ibnul Jauzi dalam kitab As Shawatus Shafwah mengatakan : “Dia tsiqah, taat beragama, alim, dan banyak menulis karya.”</p>
<p>6. Ibnu Subki dalam Thabaqat-nya mengatakan : “Dia faqih, muhadits, pemilik beberapa karangan.”</p>
<p>7. Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’ berkata : “Dia seorang imam, muhadits, panutan, Syaikh di Al Haram, shaduq, ‘abid [Ahli ibadah], shahibus sunan, dan ahli ittiba’ [Pengikut sunnah].”</p>
<p>8. Suyuthi mengatakan : “Dia ‘alim dan mengamalkan ilmu ahli sunnah.”</p>
<p>Dari ucapan para ulama di atas diketahui bahwa beliau termasuk ulama yang beramal dengan ilmunya, seorang faqih yang ahli hadits, serta penjaga Kitabullah. Para ulama tersebut juga sepakat bahwa beliau termasuk orang yang tsiqat dan berpegang teguh dengan sunnah. Beliau juga seorang pengarang yang meninggalkan pengaruh yang jelas dalam perbendaharaan Islam.</p>
<p><em><strong>Karya-Karya</strong> </em></p>
<p>Imam Al Ajurri mewariskan beberapa karya diantaranya yang telah dicetak: Akhlaq Ahlil Qur’an, Akhlaqul Ulama, Akhbar Umar bin Abdil Aziz, Al Arba’in Haditsan, Al Ghuraba’, Tahrimun Nard was Satranji wal Malahi, Asy Syari’ah, At Tashdiq bin Nadhar Ilallah.</p>
<p>Berupa Manuskrip (Tulisan Tangan): Adabun Nufus, Ats Tsamainin fil Hadits, Juz’un min Hikayat As Syafi’i wa Ghairihi, Fardlu Thalabil Ilmi, Al Fawaid Al Muntakhabah, Wushulul Masyaqin wa Nuzhatul Mustami’in.</p>
<p>Karaya-karya beliau yang Hilang: Ahkamun Nisa’, Akhlaq Ahli Bir wat Tuqa, Aushafus Sab’ah, Taghyirul Azminah, At Tafarud wal ‘Uzlah, At Tahajud, At Taubah, Husnul Khuluq, Ar Ru’yah, Ruju’ Ibni Abbas ‘anis Sharf, Risalah ila Ahlil Baghdad, Syarah Qasidah As Sijistani, As Syubuhat, Qishatul Hajaril Aswad wa Zam-Zam wa Ba’du Sya’niha, Qiyamul Lail wa Fadllu Qiyamir Ramadlan, Fadllul Ilmi, Mukhtasharul Fiqh, Mas’alatut Tha’ifin, An Nasihah.</p>
<p><strong><em>Wafatnya</em></strong></p>
<p>Sebagian para ulama mengatakan bahwa ketika beliau masuk ke kota Mekkah yang beliau kagumi, beliau berdo’a : “Ya Allah, berilah rezki kepadaku dengan tinggal di sana selama setahun.” Lalu beliau mendengar bisikan: “Bahkan 30 tahun!” Akhirnya beliau tinggal selama 30 tahun dan wafat di sana tahun 320 H. demikian keterangan Ibnu Khalqan.</p>
<p>Al Khatib berkata: “Aku membaca cerita itu di lantai kubur beliau di Mekkah.” Ibnul Jauzi berkata bahwa Abu Suhail Mahmud bin Umar Al Akbari berkata bahwa ketika Abu Bakr sampai di Mekkah dia merasa kagum dengannya dan berdo’a: “Ya Allah, hidupkan aku di negeri ini walau hanya setahun.” Tiba-tiba ia mendengar bisikan: “Hai Abu Bakr, kenapa hanya setahun? Tiga puluh tahun!” Ketika menginjak tahun ketiga puluh, beliau mendengar bisikan lagi: “Wahai Abu Bakr, sudah kami tunaikan janji itu.” Kemudian wafatlah beliau di tahun itu.</p>
<p><strong><em>Madzhabnya</em></strong></p>
<p>Beliau bermadzhab Syafi’i menurut sebagian ulama. Namun ulama lain seperti Al Isnawi mengatakan bahwa sebagian orang membantah ke-Syafi’i-an beliau dan mengatakan bahwa beliau bermadzhab Hanbali. Al Isnawi mengatakan hal itu setelah dia mengatakan bahwa Imam Al Ajurri pengikut madzhab Syafi’i. Demikian pula keterangan Abu Ya’la dalam kitab beliau Tabaqat Al Hanabilah.</p>
<p><strong><em>Sumber-Sumber Biografi Beliau</em></strong></p>
<p>Riwayat hidup beliau yang penuh barakah ditulis dalam beberapa kitab para ulama. Di antaranya: Al Fahrasat. Ibnu Nadim halaman 268., Tarikh Baghdad. Al Khatib 2/243., Tabaqatul Hanabilah. Ibnu Abi Ya’la halaman 332., Al Ansab. As Sam’ani 1/94., Fahrasah Ibni Khairil Isybaili. Halaman 285-286., Wafiyatul A’yan. Ibnu Khukan 4/292., Mu’jamul Buldan. Yaqut Al Hamawi 1/51., Siyar A’lamin Nubala’. Adz Dzahabi 16/133., Thabaqatus Syafi’iyah. Al Isnawi 1/50., Al ‘Aqduts Tsamin. Al Fasi 2/4., Thabaqatul Hufadh. As Suyuthi halaman 378., Syajaratudz Dzahab. Ibnul ‘Imad 3/35.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Al Hakim an-Naisabur]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/al-hakim-an-naisabur/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:22:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/al-hakim-an-naisabur/</guid>
<description><![CDATA[Al Hakim an-Naisabur (Wafat H) Namanya adalah Abu Abdillah an-Naisabury yang terkenal dengan nama Ib]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/muitiara-insan2.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/muitiara-insan2.jpg" alt="" title="muitiara insan2" width="510" height="159" class="alignnone size-full wp-image-560" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/08/al-hakim-an-naisabur-wafat-h/" title="Permanent Link: Al Hakim an-Naisabur (Wafat H)">Al Hakim an-Naisabur (Wafat H)</a></h2>
<p>Namanya adalah Abu Abdillah an-Naisabury yang terkenal dengan nama Ibnul Baiyyi, pengarang kitab al-Mustadrak.</p>
<p>Ia mempunyai banyak kitab dalam ilmu hadits diantranya adalah: al-Ilal wa Amali, Ma’rifatu Ulumil Hadits dan lain lainnya. Menurut riwayat kitabnya lebih kurang 1.500 juz.</p>
<p>Ia pernah melakukan perjalanan ke Iraq dan Hijaz, beliau mengadakan Mudzakarah dengan ulama ulama hadits dan Munadharah dengan penghapal penghapal hadits.</p>
<p>Al Hakim menjabat sebagai Qadli di Naisabur pada tahun 359 H.</p>
<p>Ia wafat pada tahun 405 H</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Manshur At Thobani Al Laalikai]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/manshur-at-thobani-al-laalikai/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:21:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/manshur-at-thobani-al-laalikai/</guid>
<description><![CDATA[Manshur At Thobani Al Laalikai (Wafat 416 H) Nama lengkapnya Hibatullah bin Al Hasan bin Manshur Ar ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/muitiara-insan1.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/muitiara-insan1.jpg" alt="" title="muitiara insan1" width="510" height="159" class="alignnone size-full wp-image-558" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/02/manshur-at-thobani-al-laalikai-wafat-416-h/" title="Permanent Link: Manshur At Thobani Al Laalikai (Wafat 416 H)">Manshur At Thobani Al Laalikai (Wafat 416 H)</a></h2>
<p><strong>Nama lengkapnya </strong></p>
<p>Hibatullah bin Al Hasan bin Manshur Ar Rozi At Thobani Al Laalikai.</p>
<p><strong>Negeri dan perkembangannya </strong><br />
Al Khotib dan Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa asal Thobani di nisbatkan ke negeri Thobanistan. Adapun Ar Rozi dinisbatkan ke kota besar yaitu Ar Roy. Kemudian beliau singgah di Baghdad dan bermukim di Baghdad. Jadi beliau pernah singgah di 3 tempat</p>
<ol>
<li>Thobanistan negeri aslinya.</li>
<li>Rihlah ke Ar Roy untuk menuntut ilmu.</li>
<li>Baghdad.</li>
</ol>
<p>Penisbatan beliau hanya ke Thobanistan dan Ar Roy tidak ada penisbatan ke Baghdad karena beliau hanya bermukim sebentar di Baghdad.</p>
<p><strong>Guru-guru beliau. </strong></p>
<ol>
<li>Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Isfiroyini Imam Madhab Syafi’I pada zamannya (w. 406 h).</li>
<li>Ibrohim bin Muhammad bin Ubaid Abu Mas’ud Ad Dimasyqi.</li>
<li>Al Hasan bin Utsman (w. 405 h).</li>
<li>Muhammad bin Abdurrohman Al Abbasi Al Mukhlish.</li>
<li>Isa bin Ali bin Isa Al Wazir.</li>
<li>Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Ahmad Al Farodhi (w. 406 h).</li>
<li>Muhammad bin Al Hasan Al Farisi (w. 386 h)</li>
<li>Abdurrohman bin Umar Abu Husain Al Mu’dil (w. 397 h)</li>
<li>Abdullah bin Muslim bin Yahya (w. 397 h)</li>
<li>Muhammad bin Ali bin Nadhor (w. 396 h)</li>
</ol>
<p><strong>Murid-murid beliau </strong></p>
<ol>
<li>Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khotib Al Baghdadi (w. 463 h)</li>
<li>Abu Hasan Ali bin Al Husain Al ‘Abari (w. 468 h)</li>
<li>Abu Bakar Muhammad bin Hibatullah bin Al Hasan At Thobani Al Lalikai</li>
<li>Ahmad bin Ali bin Zakaria At Thoni Tsitsi Syaikh sufi di Khurasan (w. 497 h)</li>
</ol>
<p><strong>Karangan-karangan beliau. </strong></p>
<ol>
<li>Karomatu Auliyallah</li>
<li>Asmau Rijalush Shohihain</li>
<li>Fawaidu fikhtiari Abi Qosim</li>
<li>Syarhu kitabi ‘Umar bin Khoththob.</li>
<li>Dan lain-lain.</li>
</ol>
<p><strong>Pujian para ulama terhadap beliau</strong>.</p>
<ol>
<li>Al Hafid Al Khotib Al Bagdadi : beliau belajar fiqh As Syafi’I kepada Abi Al Isfiroyini.</li>
<li>Al Hafidz Adz Dzahabi : beliau mufidu bagdad pada zamannya.</li>
<li>Ibnu Atsir : beliau mendengar dan belajar hadits kepada Abi Hamid.</li>
</ol>
<p><strong>Wafatnya </strong><br />
Beliau wafat di kota Dimur hari selasa bulan Romadhon tehun 416 h. Ali bin Al Hasan bin Jada Al ‘Akbarni berkata :<em> “Aku bermimpi bertemu dengan Abi Qosim At Thobuni, lalu saya bertanya kepadanya: “Apa yang Allah lakukan pada mu ?”</em>, beliau menjawab; <em>Allah telah mengampuniku, </em>lalu saya berkata: <em>“Dengan apa ?”</em>, beliau menjawab; dengan kalimat yang samar (<em>dengan sunnah</em>).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam Al Baihaqi]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-al-baihaqi/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:20:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-al-baihaqi/</guid>
<description><![CDATA[Imam Al Baihaqi (wafat 458 H) Nama lengkapnya adalah Imam Al-Hafith Al-Mutaqin Abu Bakr Ahmed ibn Al]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/muitiara-insan.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/muitiara-insan.jpg" alt="" title="muitiara insan" width="510" height="159" class="alignnone size-full wp-image-556" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/29/imam-al-baihaqi-wafat-458-h/" title="Permanent Link: Imam Al Baihaqi (wafat 458 H)">Imam Al Baihaqi (wafat 458 H)</a></h2>
<p>Nama lengkapnya adalah Imam Al-Hafith Al-Mutaqin Abu Bakr Ahmed ibn Al-Hussein ibn Ali ibn Musa Al Khusrujardi Al-Baihaqi, adalah seorang ulama besar dari Khurasan (desa kecil di pinggiran kota Baihaq) dan penulis banyak buku terkenal.</p>
<p>Masa pendidikannya dijalani bersama sejumlah ulama terkenal dari berbagai negara, di antaranya Iman Abul Hassan Muhammed ibn Al-Hussein Al Alawi, Abu Tahir Al-Ziyadi, Abu Abdullah Al-Hakim, penulis kitab “Al Mustadrik of Sahih Muslim and Sahih Al-Bukhari”, Abu Abdur-Rahman Al-Sulami, Abu Bakr ibn Furik, Abu Ali Al-Ruthabari of Khusran, Halal ibn Muhammed Al-Hafaar, dan Ibn Busran.</p>
<p>Para ulama itu tinggal di berbagai tempat terpencar. Oleh karenanya, Imam Baihaqi harus menempuh jarak cukup jauh dan menghabiskan banyak waktu untuk bisa bermajelis dengan mereka. Namun, semua itu dijalani dengan senang hati, demi memuaskan dahaga batinnya terhadap ilmu Islam.</p>
<p>As-Sabki menyatakan: “Imam Baihaqi merupakan satu di antara sekian banyak imam terkemuka dan memberi petunjuk bagi umat Muslim. Dialah pula yang sering kita sebut sebagai ‘Tali Allah’ dan memiliki pengetahuan luas mengenai ilmu agama, fikih serta penghapal hadits.”</p>
<p>Abdul-Ghaffar Al-Farsi Al-Naisabouri dalam bukunya “Thail Tareekh Naisabouri”: Abu Bakr Al-Baihaqi Al Hafith, Al Usuli Din, menghabiskan waktunya untuk mempelajari beragam ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya. Dia belajar ilmu aqidah dan bepergian ke Irak serta Hijaz (Arab Saudi) kemudian banyak menulis buku.</p>
<p>Imam Baihaqi juga mengumpulkan Hadits-hadits dari beragam sumber terpercaya. Pemimpin Islam memintanya pindah dari Nihiya ke Naisabor untuk tujuan mendengarkan penjelasannya langsung dan mengadakan bedah buku. Maka di tahun 441, para pemimpin Islam itu membentuk sebuah majelis guna mendengarkan penjelasan mengenai buku ‘Al Ma’rifa’. Banyak imam terkemuka turut hadir.</p>
<p>Imam Baihaqi hidup ketika kekacauan sedang marak di berbagai negeri Islam. Saat itu kaum Muslim terpecah-belah berdasarkan politik, fikih, dan pemikiran. Antara kelompok yang satu dengan yang lain berusaha saling menyalahkan dan menjatuhkan, sehingga mempermudah musuh dari luar, yakni bangsa Romawi, untuk menceraiberaikan mereka.</p>
<p>Dalam masa krisis ini, Imam Baihaqi hadir sebagai pribadi yang berkomitmen terhadap ajaran agama. Dia memberikan teladan bagaimana seharusnya menerjemahkan ajaran Islam dalam perilaku keseharian.</p>
<p>Sementara itu, dalam Wafiyatul A’yam, Ibnu Khalkan menulis, “Dia hidup zuhud, banyak beribadah, wara’, dan mencontoh para salafus shalih.”</p>
<p>Beliau terkenal sebagai seorang yang memiliki kecintaan besar terhadap hadits dan fikih. Dari situlah kemudian Imam Baihaqi populer sebagai pakar ilmu hadits dan fikih.</p>
<p>Setelah sekian lama menuntut ilmu kepada para ulama senior di berbagai negeri Islam, Imam Baihaqi kembali lagi ke tempat asalnya, kota Baihaq. Di sana, dia mulai menyebarkan berbagai ilmu yang telah didapatnya selama mengembara ke berbagai negeri Islam. Ia mulai banyak mengajar.</p>
<p>Selain mengajar, dia juga aktif menulis buku. Dia termasuk dalam deretan para penulis buku yang produktif. Diperkirakan, buku-buku tulisannya mencapai seribu jilid. Tema yang dikajinya sangat beragam, mulai dari akidah, hadits, fikih, hingga tarikh. Banyak ulama yang hadir lebih kemudian, yang mengapresiasi karya-karyanya itu. Hal itu lantaran pembahasannya yang demikian luas dan mendalam.</p>
<p>Meski dipandang sebagai ahli hadits, namun banyak kalangan menilai Baihaqi tidak cukup mengenal karya-karya hadits dari Tarmizi, Nasa’i, dan Ibn Majah. Dia juga tidak pernah berjumpa dengan buku hadits atau Masnad Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali). Dia menggunakan Mustadrak al-Hakim karya Imam al-Hakim secara bebas.</p>
<p>Menurut ad-Dahabi, seorang ulama hadits, kajian Baihaqi dalam hadits tidak begitu besar, namun beliau mahir meriwayatkan hadits karena benar-benar mengetahui sub-sub bagian hadits dan para tokohnya yang telah muncul dalam isnad-isnad (sandaran : rangkaian perawi hadits).</p>
<p>Di antara larya-karya Baihaqi, Kitab as-Sunnan al-Kubra yang terbit di Hyderabat, India, 10 jilid tahun 1344-1355, menjadi karya paling terkenal. Buku ini pernah mendapat penghargaan tertinggi.</p>
<p>Dari pernyataan as-Subki, ahli fikih, usul fikih serta hadits, tidak ada yang lebih baik dari kitab ini, baik dalam penyesuaian susunannya maupun mutunya.</p>
<p>Dalam karya tersebut ada catatan-catatan yang selalu ditambahkan mengenai nilai-nilai atau hal lainnya, seperti hadits-hadits dan para ahli hadits. Selain itu, setiap jilid cetakan Hyderabat itu memuat indeks yang berharga mengenai tokoh-tokoh dari tiga generasi pertama ahli-ahli hadits yang dijumpai dengan disertai petunjuk periwayatannya.</p>
<p>Itulah di antara sumbangsih dan peninggalan berharga dari Imam Baihaqi. Dia mewariskan ilmu-ilmunya untuk ditanamkan di dada para muridnya. Di samping telah pula mengabadikannya ke dalam berbagai bentuk karya tulis yang hingga sekarang pun tidak usai-usai juga dikaji orang.</p>
<p>Imam terkemuka ini meninggal dunia di Nisabur, Iran, tanggal 10 Jumadilawal 458 H (9 April 1066). Dia lantas dibawa ke tanah kelahirannya dan dimakamkan di sana. Penduduk kota Baihaq berpendapat, bahwa kota merekalah yang lebih patut sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang pecinta hadits dan fikih, seperti Imam Baihaqi.</p>
<p>Sejumlah buku penting lain telah menjadi peninggalannya yang tidak ternilai. Antara lain buku “As-Sunnan Al Kubra”, “Sheub Al Iman”, “Tha La’il An Nabuwwa”, “Al Asma wa As Sifat”, dan “Ma’rifat As Sunnan cal Al Athaar”.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam Nasa'i]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-al-nasai/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 09:12:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-al-nasai/</guid>
<description><![CDATA[Imam al-Nasa’i (215-303 H) Nama lengkap Imam al-Nasa’i adalah Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Ali bin Sy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits7.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits7.jpg" alt="" title="perawi hadits7" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-554" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/28/imam-al-nasai-215-303-h/" title="Permanent Link: Imam al-Nasa’i (215-303 H)">Imam al-Nasa’i (215-303 H)</a></h2>
<p>Nama lengkap Imam al-Nasa’i adalah Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-khurasani al-Qadi. Lahir di daerah Nasa’ pada tahun 215 H. Ada juga sementara ulama yang mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun 214 H. Beliau dinisbahkan kepada daerah Nasa’ (al-Nasa’i), daerah yang menjadi saksi bisu kelahiran seorang ahli hadis kaliber dunia. Beliau berhasil menyusun sebuah kitab monumental dalam kajian hadis, yakni <em>al-Mujtaba’</em> yang di kemudian hari kondang dengan sebutan <em>Sunan al-Nasa’i.</em></p>
<p><strong>Pengembaraan intelektual</strong></p>
<p>Pada awalnya, beliau tumbuh dan berkembang di daerah Nasa’. Beliau berhasil menghafal al-Qur’an di Madrasah yang ada di desa kelahirannya. Beliau juga banyak menyerap berbagai disiplin ilmu keagamaan dari para ulama di daerahnya. Saat remaja, seiring dengan peningkatan kapasitas intelektualnya, beliaupun mulai gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai penjuru dunia. Apalagi kalau bukan untuk guna memburu ilmu-ilmu keagamaan, terutama disiplin hadis dan ilmu Hadis.</p>
<p>Belum genap usia 15 tahun, beliau sudah melakukan mengembar ke berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Iraq, Syam, Khurasan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, lawatan intelektual yang demikian, bahkan dilakukan pada usia dini, bukan merupakan hal yang aneh dikalangan para Imam Hadis. Semua imam hadis, terutama enam imam hadis, yang biografinya banyak kita ketahui, sudah gemar melakukan perlawatan ilmiah ke berbagai wilayah Islam semenjak usia dini. Dan itu merupakan ciri khas ulama-ulama hadis, termasuk Imam al-Nasa’i.</p>
<p>Kemampuan intelektual Imam al-Nasa’i menjadi kian matang dan berisi dalam masa pengembaraannya. Namun demikian, awal proses pembelajarannya di daerah Nasa’ tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena justru di daerah inilah, beliau mengalami proses pembentukan intelektual, sementara masa pengembaraannya dinilai sebagai proses pematangan dan perluasan pengetahuan.</p>
<p><strong>Guru dan murid</strong></p>
<p>Seperti para pendahulunya: Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam al-Tirmidzi, Imam al-Nasa’i juga tercatat mempunyai banyak pengajar dan murid. Para guru beliau yang nama harumnya tercatat oleh pena sejarah antara lain; Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun <em>Sunan Abi Dawud</em>), serta Imam Abu Isa al-Tirmidzi (<em>penyusun al-Jami’/Sunan al-Tirmidzi</em>).</p>
<p>Sementara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramah-ceramah beliau, antara lain; Abu al-Qasim al-Thabarani (pengarang tiga buku kitab <em>Mu’jam</em>), Abu Ja’far al-Thahawi, al-Hasan bin al-Khadir al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin al-Ahmar al-Andalusi, Abu Nashr al-Dalaby, dan Abu Bakrbin Ahmad al-Sunni. Nama yang disebut terakhir, disamping sebagai murid juga tercatat sebagai “penyambung lidah” Imam al-Nasa’i dalam meriwayatkan kitab <em>Sunan al-Nasa’i</em>.</p>
<p>Sudah mafhum dikalangan peminat kajian hadis dan ilmu hadis, para imam hadis merupakan sosok yang memiliki ketekunan dan keuletan yang patut diteladani. Dalam masa ketekunannya inilah, para imam hadis kerap kali menghasilkan karya tulis yang tak terhingga nilainya.</p>
<p>Tidak ketinggalan pula Imam al-Nasa’i. Karangan-karangan beliau yang sampai kepada kita dan telah diabadikan oleh pena sejarah antara lain; <em>al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra</em> (kitab ini merupakan bentuk perampingan dari kitab <em>al-Sunan al-Kubra), al-Khashais, Fadhail al-Shahabah, dan al-Manasik</em>. Menurut sebuah keterangan yang diberikan oleh Imam Ibn al-Atsir al-Jazairi dalam kitabnya <em>Jami al-Ushul</em>, kitab ini disusun berdasarkan pandangan-pandangan fiqh mazhab Syafi’i.</p>
<p><strong>Kitab al-Mujtaba</strong></p>
<p>Sekarang, karangan Imam al-Nasa’i paling monumental adalah <em>Sunan al-Nasa’i</em>. Sebenarnya, bila ditelusuri secara seksama, terlihat bahwa penamaan karya monumental beliau sehingga menjadi <em>Sunan al-Nasa’i</em> sebagaimana yang kita kenal sekarang, melalui proses panjang, dari <em>al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra, al-Mujtaba</em>, dan terakhir terkenal dengan sebutan <em>Sunan al-Nasa’i</em>.</p>
<p>Untuk pertama kali, sebelum disebut dengan Sunan al-Nasa’i, kitab ini dikenal dengan <em>al-Sunan al-Kubra</em>. Setelah tuntas menulis kitab ini, beliau kemudian menghadiahkan kitab ini kepada Amir Ramlah (Walikota Ramlah) sebagai tanda penghormatan. Amir kemudian bertanya kepada al-Nasa’i, “Apakah kitab ini seluruhnya berisi hadis shahih?” Beliau menjawab dengan kejujuran, “Ada yang shahih, hasan, dan adapula yang hampir serupa dengannya”.</p>
<p>Kemudian Amir berkata kembali, “Kalau demikian halnya, maka pisahkanlah hadis yang shahih-shahih saja”. Atas permintaan Amir ini, beliau kemudian menyeleksi dengan ketat semua hadis yang telah tertuang dalam kitab <em>al-Sunan al-Kubra</em>. Dan akhirnya beliau berhasil melakukan perampingan terhadap <em>al-Sunan al-Kubra</em>, sehingga menjadi <em>al-Sunan al-Sughra</em>. Dari segi penamaan saja, sudah bisa dinilai bahwa kitab yang kedua merupakan bentuk perampingan dari kitab yang pertama.</p>
<p>Imam al-Nasa’i sangat teliti dalam menyeleksi hadis-hadis yang termuat dalam kitab pertama. Oleh karenanya, banyak ulama berkomentar “Kedudukan kitab <em>al-Sunan al-Sughra</em> dibawah derajat <em>Shahih al-Bukhari</em> dan <em>Shahih Muslim</em>. Di dua kitab terakhir, sedikit sekali hadis dhaif yang terdapat di dalamnya”. Nah, karena hadis-hadis yang termuat di dalam kitab kedua (<em>al-Sunan al-Sughra</em>) merupakan hadis-hadis pilihan yang telah diseleksi dengan super ketat, maka kitab ini juga dinamakan <em>al-Mujtaba</em>. Pengertian <em>al-Mujtaba</em> bersinonim dengan <em>al-Maukhtar</em> (yang terpilih), karena memang kitab ini berisi hadis-hadis pilihan, hadis-hadis hasil seleksi dari kitab <em>al-Sunan al-Kubra</em>.</p>
<p>Disamping <em>al-Mujtaba</em>, dalam salah satu riwayat, kitab ini juga dinamakan dengan <em>al-Mujtana</em>. Pada masanya, kitab ini terkenal dengan sebutan <em>al-Mujtaba</em>, sehingga nama <em>al-Sunan al-Sughra</em> seperti tenggelam ditelan keharuman nama <em>al-Mujtaba</em>. Dari <em>al-Mujtaba</em> inilah kemudian kitab ini kondang dengan sebutan <em>Sunan al-Nasa’i</em>, sebagaimana kita kenal sekarang. Dan nampaknya untuk selanjutnya, kitab ini tidak akan mengalami perubahan nama seperti yang terjadi sebelumnya.</p>
<p><strong>Kritik Ibn al-Jauzy</strong></p>
<p>Kita perlu menilai jawaban Imam al-Nasa’i terhadap pertanyaan Amir Ramlah secara kritis, dimana beliau mengatakan dengan sejujurnya bahwa hadis-hadis yang tertuang dalam kitabnya tidak semuanya shahih, tapi adapula yang hasan, dan ada pula yang menyerupainya. Beliau tidak mengatakan bahwa didalamnya terdapat hadis <em>dhaif</em> (lemah) atau <em>maudhu</em> (palsu). Ini artinya beliau tidak pernah memasukkan sebuah hadispun yang dinilai sebagai hadis <em>dhaif</em> atau <em>maudhu’</em>, minimal menurut pandangan beliau.</p>
<p>Apabila setelah hadis-hadis yang ada di dalam kitab pertama diseleksi dengan teliti, sesuai permintaan Amir Ramlah supaya beliau hanya menuliskan hadis yang berkualitas shahih semata. Dari sini bisa diambil kesimpulan, apabila hadis hasan saja tidak dimasukkan kedalam kitabnya, hadis yang berkualitas <em>dhaif</em> dan <em>maudhu’</em> tentu lebih tidak berhak untuk disandingkan dengan hadis-hadis shahih.</p>
<p>Namun demikian, Ibn al-Jauzy pengarang kitab <em>al Maudhuat</em> (hadis-hadis palsu), mengatakan bahwa hadis-hadis yang ada di dalam kitab <em>al-Sunan al-Sughra</em> tidak semuanya berkualitas shahih, namun ada yang <em>maudhu’</em> (palsu). Ibn al-Jauzy menemukan sepuluh hadis <em>maudhu’</em> di dalamnya, sehingga memunculkan kritik tajam terhadap kredibilitas <em>al-Sunan al-Sughra</em>. Seperti yang telah disinggung dimuka, hadis itu semua shahih menurut Imam al-Nasa’i. Adapun orang belakangan menilai hadis tersebut ada yang <em>maudhu’</em>, itu merupakan pandangan subyektivitas penilai. Dan masing-masing orang mempunyai kaidah-kaidah mandiri dalam menilai kualitas sebuah hadis. Demikian pula kaidah yang ditawarkan Imam al-Nasa’i dalam menilai keshahihan sebuah hadis, nampaknya berbeda dengan kaidah yang diterapkan oleh Ibn al-Jauzy. Sehingga dari sini akan memunculkan pandangan yang berbeda, dan itu sesuatu yang wajar terjadi. Sudut pandang yang berbeda akan menimbulkan kesimpulan yang berbeda pula.</p>
<p>Kritikan pedas Ibn al-Jauzy terhadap keautentikan karya monumental Imam al-Nasa’i ini, nampaknya mendapatkan bantahan yang cukup keras pula dari pakar hadis abad ke-9, yakni Imam Jalal al-Din al-Suyuti, dalam <em>Sunan al-Nasa’i</em>, memang terdapat hadis yang shahih, hasan, dan <em>dhaif</em>. Hanya saja jumlahnya relatif sedikit. Imam al-Suyuti tidak sampai menghasilkan kesimpulan bahwa ada hadis <em>maudhu’</em> yang termuat dalam <em>Sunan al-Nasa’i,</em> sebagaimana kesimpulan yang dimunculkan oleh Imam Ibn al-Jauzy. Adapun pendapat ulama yang mengatakan bahwah hadis yang ada di dalam kitab <em>Sunan al-Nasa’i</em> semuanya berkualitas shahih, ini merupakan pandangan yang menurut Muhammad Abu Syahbah_tidak didukung oleh penelitian mendalam dan jeli. Kecuali maksud pernyataan itu bahwa mayoritas (sebagian besar) isi kitab <em>Sunan al-Nasa’i</em> berkualitas shahih.</p>
<p><strong>Komentar Ulama</strong></p>
<p>Imam al-Nasa’i merupakan figur yang cermat dan teliti dalam meneliti dan menyeleksi para periwayat hadis. Beliau juga telah menetapkan syarat-syarat tertentu dalam proses penyeleksian hadis-hadis yang diterimanya. Abu Ali al-Naisapuri pernah mengatakan, “Orang yang meriwayatkan hadis kepada kami adalah seorang imam hadis yang telah diakui oleh para ulama, ia bernama Abu Abd al Rahman al-Nasa’i.”</p>
<p>Lebih jauh lagi Imam al-Naisapuri mengatakan, “Syarat-syarat yang ditetapkan al-Nasa’i dalam menilai para periwayat hadis lebih ketat dan keras ketimbang syarat-syarat yang digunakan Muslim bin al-Hajjaj.” Ini merupakan komentar subyektif Imam al-Naisapuri terhadap pribadi al-Nasa’i yang berbeda dengan komentar ulama pada umumnya. Ulama pada umumnya lebih mengunggulkan keketatan penilaian Imam Muslim bin al-Hajjaj ketimbang al-Nasa’i. Bahkan komentar mayoritas ulama ini pulalah yang memposisikan Imam Muslim sebagai pakar hadis nomer dua, sesudah al-Bukhari.</p>
<p>Namun demikian, bukan berarti mayoritas ulama merendahkan kredibilitas Imam al-Nasa’i. Imam al-Nasa’i tidak hanya ahli dalam bidang hadis dan ilmu hadis, namun juga mumpuni dalam bidang figh. Al-Daruquthni pernah mengatakan, beliau adalah salah seorang Syaikh di Mesir yang paling ahli dalam bidang figh pada masanya dan paling mengetahui tentang Hadis dan para rawi. Al-Hakim Abu Abdullah berkata, “Pendapat-pendapat Abu Abd al-Rahman mengenai fiqh yang diambil dari hadis terlampau banyak untuk dapat kita kemukakan seluruhnya. Siapa yang menelaah dan mengkaji kitab <em>Sunan al-Nasa’i</em>, ia akan terpesona dengan keindahan dan kebagusan kata-katanya.”</p>
<p>Tidak ditemukan riwayat yang jelas tentang afiliansi pandangan fiqh beliau, kecuali komentar singkat Imam Madzhab Syafi’i. Pandangan Ibn al-Atsir ini dapat dimengerti dan difahami, karena memang Imam al-Nasa’i lama bermukim di Mesir, bahkan merasa cocok tinggal di sana. Beliau baru berhijrah dari Mesir ke Damsyik setahun menjelang kewafatannya.</p>
<p>Karena Imam al-Nasa’i cukup lama tinggal di Mesir, sementara Imam al-Syafi’i juga lama menyebarkan pandangan-pandangan fiqhnya di Mesir (setelah kepindahannya dari Bagdad), maka walaupun antara keduanya tidak pernah bertemu, karena al-Nasa’i baru lahir sebelas tahun setelah kewafatan Imam al-Syafi’i, tidak menutup kemungkinan banyak pandangan-pandangan fiqh Madzhab Syafi’i yang beliau serap melalui murid-murid Imam al-Syafi’i yang tinggal di Mesir. Pandangan fiqh Imam al-Syafi’i lebih tersebar di Mesir ketimbang di Baghdad. Hal ini lebih membuka peluang bagi Imam al-Nasa’i untuk bersinggungan dengan pandangan fiqh Syafi’i. Dan ini akan menguatkan dugaan Ibn al-Atsir tentang afiliasi mazhab fiqh al-Nasa’i.</p>
<p>Pandangan Syafi’i di Mesir ini kemudian dikenal dengan <em>qaul jadid</em> (pandangan baru). Dan ini seandainya dugaan Ibn al-Atsir benar, mengindikasikan bahwa pandangan fiqh Syafi’i dan al-Nasa’i lebih didominasi pandangan baru (Qaul Jadid, Mesir) ketimbang pandangan klasik (Qaul Qadim, Baghdad).</p>
<p>Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa Imam al-Nasa’i merupakan sosok yang berpandangan netral, tidak memihak salah satu pandangan mazhab fiqh manapun, termasuk pandangan Imam al-Syafi’i. Hal ini seringkali terjadi pada imam-imam hadis sebelum al-Nasa’i, yang hanya berafiliasi pada mazhab hadis. Dan independensi pandangan ini merupakan ciri khas imam-imam hadis. Oleh karena itu, untuk mengklaim pandangan Imam al-Nasa’i telah terkontaminasi oleh pandangan orang lain, kita perlu menelusuri sumber sejarah yang konkrit, bukannya hanya berdasarkan dugaan.</p>
<p><strong>Tutup Usia</strong></p>
<p>Setahun menjelang kemangkatannya, beliau pindah dari Mesir ke Damsyik. Dan tampaknya tidak ada konsensus ulama tentang tempat meninggal beliau. Al-Daruqutni mengatakan, beliau di Makkah dan dikebumikan diantara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-’Uqbi al-Mishri.</p>
<p>Sementara ulama yang lain, seperti Imam al-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam al-Nasa’i meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibn Yunus, Abu Ja’far al-Thahawi (murid al-Nasa’i) dan Abu Bakar al-Naqatah. Menurut pandangan terakhir ini, Imam al-Nasa’i meninggal pada tahun 303 H dan dikebumikan di Bait al-Maqdis, Palestina. <em>Inna lillah wa Inna Ilai Rajiun</em>. Semoga jerih payahnya dalam mengemban wasiat Rasullullah guna menyebarluaskan hadis mendapatkan balasan yang setimpal di sisi Allah. Amiiin</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam At-Tirmidzi]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-at-tirmidzi/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 09:10:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-at-tirmidzi/</guid>
<description><![CDATA[Imam At-Tirmidzi (209-279 H) Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Sa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits6.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits6.jpg" alt="" title="perawi hadits6" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-552" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/29/imam-at-tirmidzi-209-279-h/" title="Permanent Link: Imam At-Tirmidzi (209-279 H)">Imam At-Tirmidzi (209-279 H)</a></h2>
<p>Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan, dan pengarang berbagai kitab yang masyur lahir pada 279 H di kota Tirmiz.</p>
<p><strong>Perkembangan dan Perjalanannya</strong></p>
<p>Kakek Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkebangsaan Mirwaz, kemudian pindah ke Tirmiz dan menetap di sana. Di kota inilah cucunya bernama Abu ‘Isa dilahirkan. Semenjak kecilnya Abu ‘Isa sudah gemar mempelajari ilmu dan mencari hadits. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri: Hijaz, Irak, Khurasan dan lain-lain. Dalam perlawatannya itu ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar dan guru-guru hadits untuk mendengar hadits yang kem dihafal dan dicatatnya dengan baik di perjalanan atau ketika tiba di suatu tempat. Ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan tanpa menggunakannya dengan seorang guru di perjalanan menuju Makkah. Kisah ini akan diuraikan lebih lanjut.</p>
<p>Setelah menjalani perjalanan panjang untuk belajar, mencatat, berdiskusi dan tukar pikiran serta mengarang, ia pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra; dalam keadaan seperti inilah akhirnya at-Tirmidzi meninggal dunia. Ia wafat di Tirmiz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun.</p>
<p><strong>Guru-gurunya</strong></p>
<p>Ia belajar dan meriwayatkan hadits dari ulama-ulama kenamaan. Di antaranya adalah Imam Bukhari, kepadanya ia mempelajari hadits dan fiqh. Juga ia belajar kepada Imam Muslim dan Abu Dawud. Bahkan Tirmidzi belajar pula hadits dari sebagian guru mereka.</p>
<p>Guru lainnya ialah Qutaibah bin Saudi Arabia’id, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan. Said bin ‘Abdur Rahman, Muhammad bin Basysyar, ‘Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni’, Muhammad bin al-Musanna dan lain-lain.</p>
<p><strong>Murid-muridnya</strong></p>
<p>Hadits-hadits dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama. Di antaranya ialah Makhul ibnul-Fadl, Muhammad binMahmud ‘Anbar, Hammad bin Syakir, ‘Ai-bd bin Muhammad an-Nasfiyyun, al-Haisam bin Kulaib asy-Syasyi, Ahmad bin Yusuf an-Nasafi, Abul-‘Abbas Muhammad bin Mahbud al-Mahbubi, yang meriwayatkan kitab Al-Jami’ daripadanya, dan lain-lain.</p>
<p><strong>Kekuatan Hafalannya</strong></p>
<p>Abu ‘Isa aat-Tirmidzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam hadits, kesalehan dan ketakwaannya. Ia terkenal pula sebagai seorang yang dapat dipercaya, amanah dan sangat teliti. Salah satu bukti kekuatan dan cepat hafalannya ialah kisah berikut yang dikemukakan oleh al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Tahzib at-Tahzib-nya, dari Ahmad bin ‘Abdullah bin Abu Dawud, yang berkata:</p>
<p>“Saya mendengar Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkata: Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Makkah, dan ketika itu saya telah menuslis dua jilid berisi hadits-hadits yang berasal dari seorang guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yang kumaksudkan itu. Kemudian saya menemuinya. Saya mengira bahwa “dua jilid kitab” itu ada padaku. Ternyata yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang mirip dengannya. Ketika saya telah bertemu dengan dia, saya memohon kepadanya untuk mendengar hadits, dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membacakan hadits yang dihafalnya. Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat bahwa kertas yang kupegang masih putih bersih tanpa ada tulisan sesuatu apa pun. Demi melihat kenyataan ini, ia berkata: ‘Tidakkah engkau malu kepadaku?’ lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah kuhafal semuanya. ‘Coba bacakan!’ suruhnya. Lalu aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun. Ia bertanya lagi: ‘Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?’ ‘Tidak,’ jawabku. Kemudian saya meminta lagi agar dia meriwayatkan hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadits yang tergolong hadits-hadits yang sulit atau garib, lalu berkata: ‘Coba ulangi apa yang kubacakan tadi,’ Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai; dan ia berkomentar: ‘Aku belum pernah melihat orang seperti engkau.”</p>
<p><strong>Pandangan Para Kritikus Hadits Terhadapnya</strong></p>
<p>Para ulama besar telah memuji dan menyanjungnya, dan mengakui akan kemuliaan dan keilmuannya. Al-Hafiz Abu Hatim Muhammad ibn Hibban, kritikus hadits, menggolangkan Tirmidzi ke dalam kelompok “Siqat” atau orang-orang yang dapat dipercayai dan kokoh hafalannya, dan berkata: “Tirmidzi adalah salah seorang ulama yang mengumpulkan hadits, menyusun kitab, menghafal hadits dan bermuzakarah (berdiskusi) dengan para ulama.”Abu Ya’la al-Khalili dalam kitabnya ‘Ulumul Hadits menerangkan; Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi adalah seorang penghafal dan ahli hadits yang baik yang telah diakui oleh para ulama. Ia memiliki kitab Sunan dan kitab Al-Jarh wat-Ta’dil. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Abu Mahbub dan banyak ulama lain. Ia terkenal sebagai seorang yang dapat dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan yang berilmu luas. Kitabnya Al-Jami’us Sahih sebagai bukti atas keagungan derajatnya, keluasan hafalannya, banyak bacaannya dan pengetahuannya tentang hadits yang sangat mendalam.</p>
<p><strong>Fiqh Tirmidzi dan Ijtihadnya</strong></p>
<p>Imam Tirmidzi, di samping dikenal sebagai ahli dan penghafal hadits yang mengetahui kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, ia juga dikenal sebagai ahli fiqh yang mewakili wawasan dan pandangan luas. Barang siapa mempelajari kitab Jami’nya ia akan mendapatkan ketinggian ilmu dan kedalaman penguasaannya terhadap berbagai mazhab fikih. Kajian-kajiannya mengenai persoalan fiqh mencerminkan dirinya sebagai ulama yang sangat berpengalaman dan mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya. Salah satu contoh ialah penjelasannya terhadap sebuah hadits mengenai penangguhan membayar piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut: “Muhammad bin Basysyar bin Mahdi menceritakan kepada kami Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abi az-Zunad, dari al-A’rai dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, bersabda: ‘Penangguhan membayar utang yang dilakukan oleh si berutang) yang mampu adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu dipindahkan utangnya kepada orang lain yang mampu membayar, hendaklah pemindahan utang itu diterimanya.” Imam Tirmidzi memberikan penjelasan sebagai berikut: Sebagian ahli ilmu berkata: ” apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu, maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.” Diktum ini adalah pendapat Syafi’i, Ahmad dan Ishaq. Sebagian ahli ilmu yang lain berkata: “Apabila harta seseorang (muhtal) menjadi rugi disebabkan kepailitan muhal ‘alaih, maka baginya dibolehkan menuntut bayar kepada orang pertama (muhil).” Mereka memakai alas an dengan perkataan Usma dan lainnya, yang menegaskan: “Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim.” Menurut Ishak, maka perkataan “Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim” ini adalah “Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu, namun ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu.”</p>
<p>Itulah salah satu contoh yang menunjukkan kepada kita, bahwa betapa cemerlangnya pemikiran fiqh Tirmidzi dalam memahami nas-nas hadits, serta betapa luas dan orisinal pandangannya itu.</p>
<p><strong>Karya-karyanya</strong></p>
<p>Imam Tirmidzi banyak menulis kitab-kitab. Di antaranya: 1. Kitab Al-Jami’, terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmidzi. 2. Kitab Al-‘Ilal. 3. Kitab At-Tarikh. 4. Kitab Asy-Syama’il an-Nabawiyyah. 5. Kitab Az-Zuhd. 6. Kitab Al-Asma’ wal-kuna. Di antara kitab-kitab tersebut yang paling besar dan terkenal serta beredar luas adalah Al-Jami’.</p>
<p><strong>Sekilas tentang Al-Jami’</strong></p>
<p>Kitab ini adalah salah satu kitab karya Imam Tirmidzi terbesar dan paling banyak manfaatnya. Ia tergolonga salah satu “Kutubus Sittah” (Enam Kitab Pokok Bidang Hadits) dan ensiklopedia hadits terkenal. Al-Jami’ ini terkenal dengan nama Jami’ Tirmidzi, dinisbatkan kepada penulisnya, yang juga terkenal dengan nama Sunan Tirmidzi. Namun nama pertamalah yang popular.</p>
<p>Sebagian ulama tidak berkeberatan menyandangkan gelar as-Sahih kepadanya, sehingga mereka menamakannya dengan Sahih Tirmidzi. Sebenarnya pemberian nama ini tidak tepat dan terlalu gegabah.</p>
<p>Setelah selesai menyususn kitab ini, Tirmidzi memperlihatkan kitabnya kepada para ulama dan mereka senang dan menerimanya dengan baik. Ia menerangkan: “Setelah selesai menyusun kitab ini, aku perlihatkan kitab tersebut kepada ulama-ulama Hijaz, Irak dan Khurasan, dan mereka semuanya meridhainya, seolah-olah di rumah tersebut ada Nabi yang selalu berbicara.”</p>
<p>Imam Tirmidzi di dalam Al-Jami’-nya tidak hanya meriwayatkan hadits sahih semata, tetapi juga meriwayatkan hadits-hadits hasan, da’if, garib dan mu’allal dengan menerangkan kelemahannya.</p>
<p>Dalam pada itu, ia tidak meriwayatkan dalam kitabnya itu, kecuali hadits-hadits yang diamalkan atau dijadikan pegangan oleh ahli fiqh. Metode demikian ini merupakan cara atau syarat yang longgar. Oleh karenanya, ia meriwayatkan semua hadits yang memiliki nilai demikian, baik jalan periwayatannya itu sahih ataupun tidak sahih. Hanya saja ia selalu memberikan penjelasan yang sesuai dengan keadaan setiap hadits.</p>
<p>Diriwayatkan, bahwa ia pernah berkata: “Semua hadits yang terdapat dalam kitab ini adalah dapat diamalkan.” Oleh karena itu, sebagian besar ahli ilmu menggunakannya (sebagai pegangan), kecuali dua buah hadits, yaitu: Pertama, yang artinya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menjamak shalat Zuhur dengan Asar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa adanya sebab “takut” dan “dalam perjalanan.”</p>
<p>“Jika ia peminum khamar, minum lagi pada yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia.” Hadits ini adalah mansukh dan ijma ulama menunjukan demikian. Sedangkan mengenai shalat jamak dalam hadits di atas, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk meninggalkannya. Sebagian besar ulama berpendapat boleh (jawaz) hukumnya melakukan salat jamak di rumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibnu Sirin dan Asyab serta sebagian besar ahli fiqh dan ahli hadits juga Ibnu Munzir.</p>
<p>Hadits-hadits da’if dan munkar yang terdapat dalam kitab ini, pada umumnya hanya menyangkut fada’il al-a’mal (anjuran melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan). Hal itu dapat dimengerti karena persyaratan-persyaratan bagi (meriwayatkan dan mengamalkan) hadits semacam ini lebih longgar dibandingkan dengan persyaratan bagi hadits-hadits tentang halal dan haram.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam Abu Dawud]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-abu-dawud/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 09:10:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-abu-dawud/</guid>
<description><![CDATA[Imam Abu Dawud Beliau lahir sebagai seorang ahli urusan hadits, juga dalam masalah fiqh dan ushul se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits5.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits5.jpg" alt="" title="perawi hadits5" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-550" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/24/imam-abu-dawud/" title="Permanent Link: Imam Abu Dawud">Imam Abu Dawud</a></h2>
<p><strong>Beliau</strong> lahir sebagai seorang ahli urusan hadits, juga dalam masalah fiqh dan ushul serta masyhur akan kewara’annya dan kezuhudannya. Kefaqihan beliau terlihat ketika mengkritik sejumlah hadits yang bertalian dengan hukum, selain itu terlihat dalam penjelasan bab-bab fiqih atas sejumlah karyanya, seperti Sunan Abu Dawud.</p>
<p><strong>Al-Imam al-Muhaddist Abu Dawud</strong> lahir pada tahun 202 H dan wafat pada tahun 275 H di Bashrah. Sepanjang sejarah telah muncul para pakar hadist yang berusaha menggali makna hadist dalam berbagai sudut pandang dengan metoda pendekatan dan sistem yang berbeda, sehingga dengan upaya yang sangat berharga itu mereka telah membuka jalan bagi generasi selanjutnya guna memahami as-Sunnah dengan baik dan benar.</p>
<p>Di samping itu, mereka pun telah bersusah payah menghimpun hadits-hadits yang dipersilisihkan dan menyelaraskan di antara hadits yang tampak saling menyelisihi. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kewibawaan dari hadits dan sunnah secara umum. Abu Muhammad bin Qutaibah (wafat 267 H) dengan kitab beliau Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits telah membatah habis pandangan kaum Mu’tazilah yang mempertentangkan beberapa hadits dengan al-Quran maupun dengan rasio mereka.</p>
<p>Selanjutnya upaya untuk memilahkan hadits dari khabar-khabar lainnya yang merupakan hadits palsu maupun yang lemah terus dilanjutkan sampai dengan kurun al-Imam Bukhari dan beberapa penyusun sunan dan lainnya. Salah satu kitab yang terkenal adalah yang disusun oleh Imam Abu Dawud yaitu sunan Abu Dawud. Kitab ini memuat 4800 hadits terseleksi dari 50.000 hadits.</p>
<p>Beliau sudah berkecimpung dalam bidang hadits sejak berusia belasan tahun. Hal ini diketahui mengingat pada tahun 221 H, beliau sudah berada di baghdad. Kemudian mengunjungi berbagai negeri untuk memetik langsung ilmu dari sumbernya. Beliau langsung berguru selama bertahun-tahun. Diantara guru-gurunya adalah Imam Ahmad bin Hambal, al-Qa’nabi, Abu Amr adh-Dhariri, Abu Walid ath-Thayalisi, Sulaiman bin Harb, Abu Zakariya Yahya bin Ma’in, Abu Khaitsamah, Zuhair bin Harb, ad-Darimi, Abu Ustman Sa’id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain.</p>
<p>Sebagai ahli hukum, Abu Dawud pernah berkata: Cukuplah manusia dengan empat hadist, yaitu: Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya; termasuk kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat; tidaklah keadaan seorang mukmin itu menjadi mukmin, hingga ia ridho terhadap saudaranya apa yang ia ridho terhadap dirinya sendiri; yang halal sudah jelas dan yang harampun sudah jelas pula, sedangkan diantara keduanya adalah syubhat.</p>
<p>Beliau menciptakan karya-karya yang bermutu, baik dalam bidang fiqh, ushul,tauhid dan terutama hadits. Kitab sunan beliaulah yang paling banyak menarik perhatian, dan merupakan salah satu diantara kompilasi hadits hukum yang paling menonjol saat ini. Tentang kualitasnya ini Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah berkata: Kitab sunannya Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats as-sijistani rahimahullah adalah kitab Islam yang topiknya tersebut Allah telah mengkhususkan dia dengan sunannya, di dalam banyak pembahasan yang bisa menjadi hukum diantara ahli Islam, maka kepadanya hendaklah para mushannif mengambil hukum, kepadanya hendaklah para muhaqqiq merasa ridho, karena sesungguhnya ia telah mengumpulkan sejumlah hadits ahkam, dan menyusunnya dengan sebagus-bagus susunan, serta mengaturnya dengan sebaik-baik aturan bersama dengan kerapnya kehati-hatian sikapnya dengan membuang sejumlah hadits dari para perawi majruhin dan dhu’afa. Semoga Allah melimpahkan rahmat atas mereka dan mem- berikannya pula atas para pelanjutnya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Abu Zur'ah]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/abu-zurah/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 09:09:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/abu-zurah/</guid>
<description><![CDATA[Abu Zur’ah (wafat 264 H) Nama sebenarnya adalah Abdulah bi Abdul Karim, seorang hafidh besar yang te]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits4.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits4.jpg" alt="" title="perawi hadits4" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-548" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/08/abu-zur%E2%80%99ah-wafat-264-h/" title="Permanent Link: Abu Zur’ah (wafat 264 H)">Abu Zur’ah (wafat 264 H)</a></h2>
<p>Nama sebenarnya adalah Abdulah bi Abdul Karim, seorang hafidh besar yang terkenal, teman temannya mengakui kelebihannya dalam ilmu hadits, Abu Zur’ah seorang penghapal hadits dan seorang yang mendhabitkannya.</p>
<p>Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitabnya Ma’rifatu Ulumil Hadits, bahwa diwaktu Qutaibah bin Sa’ad pergi ke Rai, penduduknya meminta kepadanya.agar mengeluarkan hadits, Maka Qutaibah menolak dan berkata,” <em>Apakah yang aku riwayatkan kepada kamu sesudah majlisku dihadiri Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Ali ibn Mahdy, Abu Bakar ibn Abi Syainah dan Abu Khuzaimah?</em>”.</p>
<p>Mereka berkata kepadanya : disini ada seorang pemuda yang dapat menyebutkan segala apa yang telah anda riwayatkan dari majlis ke majlis, maka Abu Zur’ah pun menyebut hadits satu per satu.</p>
<p>Al-Hakim menggolongkan beliau ini ke dalam golongan fuqaha hadits.</p>
<p>Ia wafat pada tahun 264 H.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Abu Hatim]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/abu-hatim/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 09:09:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/abu-hatim/</guid>
<description><![CDATA[Abu Hatim (Wafat 277 H) Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Idris bin Mundzir bin Daud bin Mihran Abu H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits3.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits3.jpg" alt="" title="perawi hadits3" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-546" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/08/abu-hatim-wafat-277-h/" title="Permanent Link: Abu Hatim (Wafat 277 H)">Abu Hatim (Wafat 277 H)</a></h2>
<p>Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Idris bin Mundzir bin Daud bin Mihran Abu Hatim al-Hardhaly, Ia seorang imam hafidh yang kepercayaan serta mengetahui illat illat hadits jarah dan ta’dil.</p>
<p>Ia adalah teman Abu Zur’ah, beliau banyak mendengarkan hadits dan melawat ke berbagai kota. Ia meriwayatkan hadits dari ulama ulama besar. Ia pernah berkata kepada anaknya Abdurahman :” <em>Hai anakku, aku telah pernah berjalan kaki lebih dari 1.000 farsakh untuk mencari hadits</em>.”.</p>
<p>Sering ia bercerita dalam majelis kepda para hafidh, ‘<em>barang siapa yang dapat memberikan kepada saya satu hadits yang belum pernah saya ketahui, maka saya sedekahkan satu dirham</em>’. Maka tidak seorangpun yang dapat mengemukakan kepadanya suatu hadits yang belum dihapal oleh beliau. Padahal yang hadir terdapat Abu Zur’ah.</p>
<p>Ulama hadist mengakui ketinggian ilmu beliau dalam ilmu hadits beserta illat illatnya. Al Hakim menggolongkan dia kedalam golongan fuqaha hadits.</p>
<p>Ia wafat pada tahun 277 H</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Majah]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/ibnu-majah/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 09:08:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/ibnu-majah/</guid>
<description><![CDATA[Ibnu Majah (wafat 273 H) Nama sebenarnya Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’i al-Qazw]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits2.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits2.jpg" alt="" title="perawi hadits2" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-544" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/08/ibnu-majah-wafat-273-h/" title="Permanent Link: Ibnu Majah (wafat 273 H)">Ibnu Majah (wafat 273 H)</a></h2>
<p>Nama sebenarnya Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’i al-Qazwini dari desa Qazwin, Iran. Lahir tahun 209 dan wafat tahun 273. Beliau adalah muhaddits ulung, mufassir dan seorang alim. Beliau memiliki beberapa karya diantaranya adalah <em>Kitabus Sunan, Tafsir </em>dan <em>Tarikh Ibnu Majah.</em></p>
<p>Ia melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk menulis hadits, anatara lain Ray, Basrah, Kufah, Baghdad, Syam, Mesir dan Hijaz.</p>
<p>Ia menerima hadit dari guru gurunya antara lain Ibn Syaibah, Sahabatnya Malik dan al-Laits. Abu Ya’la berkata,” <em>Ibnu Majah seorang ahli ilmu hadits dan mempunyai banyak kitab</em>”.</p>
<p>Beliau menyusun kitabnya dengan sistematika fikih, yang tersusun atas 32 kitab dan 1500 bab dan <strong>jumlah haditsnya sekitar 4.000 hadits.</strong> Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi menghitung ada <strong>sebanyak 4241 hadits</strong> di dalamnya. Sunan Ibnu Majah ini berisikan hadits yang shahih, hasan, dhaif bahkan maudhu’. Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi mengkritik ada hampir 30 hadits maudhu di dalam Sunan Ibnu Majah walaupun disanggah oleh as-Suyuthi.</p>
<p>Ibnu Katsir berkata,” <em>Ibnu Majah pengarang kitab Sunan, susunannya itu menunjukan keluasan ilmunya dalam bidang Usul dan furu’, kitabnya mengandung 30 Kitab; 150 bab, 4.000 hadits, semuanya baik kecuali sedikit saja</em>”.</p>
<p>Al-Imam al-Bushiri (w. 840) menulis <em>ziadah</em> (tambahan) hadits di dalam Sunan Abu Dawud yang tidak terdapat di dalam <em>kitabul khomsah</em> (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’i dan Sunan Tirmidzi) sebanyak 1552 hadits di dalam kitabnya <em>Misbah az-Zujajah fi Zawaid Ibni Majah</em> serta menunjukkan derajat shahih, hasan, dhaif maupun maudhu’. Oleh karena itu, penelitian terhadap hadits-hadits di dalamnya amatlah urgen dan penting.</p>
<p>Ia wafat pada tahun 273 H</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam Muslim]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-muslim/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 09:07:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-muslim/</guid>
<description><![CDATA[Imam Muslim (wafat 271 H) Nama Lengkapnya adalah Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits1.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits1.jpg" alt="" title="perawi hadits1" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-542" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/08/30/imam-muslim-wafat-271-h/" title="Permanent Link: Imam Muslim (wafat 271 H)">Imam Muslim (wafat 271 H)</a></h2>
<p>Nama Lengkapnya adalah Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi (Bani Qusyair adalah sebuah kabilah Arab yang cukup dikenal) an-Naisaburi. Seorang imam besar dan penghapal hadits yang ternama. Ia lahir di Naisabur pada tahun 204 H. Para ulama sepakat atas keimamannya dalam hadits dan kedalaman pengetahuan nya tentang periwayatan hadits</p>
<p>Ia mempelajari hadits sejak kecil dan bepergian untuk mencarinya keberbagai kota besar. Di Khurasan ia mendenganr hadits dari Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahawaih dan lain lain. Di Ray ia mendengar dari Muhammad bin Mahran, Abu Ghassan dan lainnya, Di Hijaz ia mendengar hadits dari Sa’id bin Manshur, Abu Mash’ab dan lainnya, Di Iraq ia mendengar dari Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin Muslimah dan lainnya, Di Mesir ia mendengar hadits dari Amr bin Sawad, Harmalah bin Yahyah dan beberapa lainnya.</p>
<p>Lantaran hubungan mempelajari hadits al-Bukhary, ia meninggalkan guru gurunya seperti: Muhammad ibn Yahya adz Dzuhaly.</p>
<p>Adapun yang meriwayatkan darinya diantaranya: At Tirmidzi, Abu Hatim, ar Razi, Ahmad bin Salamah, Musa bin Harun, Yahya bin Sha’id, Muhammad bin Mukhallad, Abu Awanah Ya’kub bin Ishaq al Isfira’ini, Muhammad bin Abdul Wahab al-Farra’, Ali bin Husain bin Muhammad bin Sufyan, yang terakhir ini adalah perawi Shahih Muslim.</p>
<p>Banyak sekali ulama hadits memujinya, Ahmad bin Salama berkata:” <em>Abu Zur’ah dan Abu Hatim mendahulukan Muslim atas orang lain dalam bidang mengetahui hadits shahih</em>.”.</p>
<p>Imam Muslim banyak menulis kitab diantaranya:kitab Shahihnya, kitab Al-Ilal, kitab Auham al-Muhadditsin, kitab Man Laisa lahu illa Rawin Wahid, kitab Thabaqat at-Tabi’in, kitab Al Mukhadlramin, kitab Al-Musnad al-Kabir ‘ala Asma’ ar-Rijal dan kitab Al-Jami’ al-Kabir ‘alal abwab.</p>
<p>Bersama Shahih Bukhari, Shahih Muslim merupakan kitab paling shahih sesudah Al-Quran. Umat menyebut kedua kitab shahih tersebut dengan baik. Namun kebanyakan berpendapat bahwa diantara kedua kitabnya, kitab Al-Bukhari lebih Shahih.</p>
<p>Imam Muslim sangat bangga dengan kitab shahihnya, mengingat jerih payah yang ia curahkan ketika mengumpulkannya. Ia meyusunnya dari 300.000 hadits yang ia dengar, oleh karena itu ia berkata:” Andaikata para ahli hadits selama 200 tahun menulis hadits, maka porosnya adalah al-Musnad ini (yakni kitab shahihnya)”.</p>
<p>Ia wafat di Naisabur pada tahun 271 H dalam usia 55 tahun.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam Al-Bukhari]]></title>
<link>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-al-bukhari/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 09:07:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ki Semar</dc:creator>
<guid>http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/imam-al-bukhari/</guid>
<description><![CDATA[Imam Al-Bukhari (wafat 256) Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim dijuluki dengan A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a href="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits.jpg"><img src="http://sabdaislam.wordpress.com/files/2009/11/perawi-hadits.jpg" alt="" title="perawi hadits" width="510" height="170" class="alignnone size-full wp-image-540" /></a></p>
</h2>
<h2><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/08/30/imam-al-bukhari-wafat-256/" title="Permanent Link: Imam Al-Bukhari (wafat 256)">Imam Al-Bukhari (wafat 256)</a></h2>
<p>Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim dijuluki dengan Abu Abdillah. Ia lahir di Bukhara pada tahun 194 H. Semua Ulama, baik dari gurunya maupun dari sahabatnya memuji dan mengakui ketinggian ilmunya, Ia seorang Imam yang tidak tercela hapalan haditsnya dan kecermatannya. Ia mulai menghapal hadits ketika umurnya belum mencapai 10 tahun, ia mencatat dari seribu guru lebih, ia hapal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits tidak shahih.</p>
<p>Dia mengarang kitab besar <strong><em>Al-Jami’ ash Shahih</em></strong> yang merupakan kitab paling shahih sesudah Al-Quran, hadits yang ia dengar sendiri dari gurunya lebih dari 70.000 buah, ia dengan tekun mengumpulkannya selama 16 tahun.a hafiz mempunyai beberapa komentar terhadap sebagian haditsnya, mereka telah melontarkan kritik atas 110 buah diantaranya. Dari 110 hadits itu ditakhtijkan oleh Imam Muslim sebanyak 32 hadits dan oleh dia sendiri sebanyak 78 hadits. Ibnu Hajar al-Asqalani berpendapat bahwa hadits hadits yang dipersoalkan ini “ <em>tidak seluruhnya ber’illat tercela, melainkan kebanyakan jawabannya mengandung kemungkinan dan sedikit dari jawabannya menyimpang</em>”.</p>
<p>Kitab Shahih Bukhari mempunyai banyak syarah yang oleh pengarang kitab Kasyf adh-Dhunun disebutkan 82 syarah diantaranya. Tetapi yang paling utama adalah syarah Ibnu Hajar al-Asqalani yang bernama Fat al-Bari, dan berikutnya syarah Al-Asthalani, kemudian syarah al-Aini Umdat al Qari.</p>
<p>Al Bukhari mempunyai banyak kitab, antara lain At-Tawarikh ats Tsalatsah al-Kabir wal Ausath wash Shaghir (Tiga Tarikh: Besar, sedang, dan Kecil), kitab al-Kuna, Kitab Al-Wuhdan, kitab al-Adab al-Mufrad dan kitab Adl-Dlu’afa dan lain lainnya.</p>
<p>At-Tirmidzi berkata tentangnya:”<em>Saya tidak pernah melihat orang yang dalam hal illat dan rijal, lebih mengerti daripada Al-Bukhari</em>”.</p>
<p>Ibnu Khuzaimah berkata:” <em>Aku tidak melihat dibawah permukaan langit seseorang yang lebih tahu tentang hadits Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wassalam daripada Muhammad bin Ismail Al-Bukhari</em>”.</p>
<p>Muslim bin al Hajjaj pernah datang kepadanya lalu mencium antara kedua matanya, seraya berkata:” <em>Biarkan saya mencium kedua kakimu, wahai guru para guru, pemimpin para ahli hadits dan dokter penyakit hadits</em>.”</p>
<p>Abu Nu’im dan Ahmad ibn Ahmad berkata:” <em>Al-Bukhari adalah faqih (ahli hukum) dari ummat ini</em>.”</p>
<p>Abu Muhammad Abdullah bin Abdurahman Ad-Darimy berkata:” <em>Muhammad ibn Ismail (Bukhari) orang yang tercakap dalam bidang hukum dari antara kami dan lebih banyak mencari hadits</em>.”</p>
<p>Telah dipaparkan dalam pembahasan hadits Maqlub, ketika para ulama baghdad sengaja memutar balikan seratus hadits, lalu Al-Bukhari mengembalikan setiap matan kepada sanad yang sebenarnya dan setiap sanad kepada matannya, sehingga membuat para ulama kagum akan hapalan dan kecermatannya. Dalam rangka meneliti dan menghapal hadits, Al Bukhari tidak segan segan melakukan perjalanan ke Syam, Mesir, Baghdad, Kufah, Jazirah, Hijaz dan Basrah</p>
<p>Al-Bukhari adalah salah seorang dari imam Mujtahid dalam bidang fiqh dan dalam bidang mengistibathkan hukum dari hadits.</p>
<p>Al-Bukhari meriwayatkan hadits bersumber dari Adl-Dlahhak bin Mukhallad Abu Ashim an-Nabil, Makki bin Ibrahim al-Handlali, Ubaidullah bin Musa al-Abbasi, Abdullah Quddus bin al-Hajjaj, Muhammad bin Abdullah al-Anshari dan lain lain.</p>
<p>Sedangkan yang meriwayatkan darinya banyak sekali diantaranya: At-Tirmidzi, Muslim, An-Nasa’I, Ibrahim bin Ishak al-Hurri, Muhammad bin Ahmad ad-Daulabi, dan orang terakhir yang meriwayatkan darinya adalah Manshur bin Muhammad al Bazwadi.</p>
<p>Ia wafat pada tahun 256 H di Samarkand yang bernama Khartank</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keutamaan Dan Hikmah Qurban ]]></title>
<link>http://aespee.wordpress.com/2009/11/24/keutamaan-dan-hikmah-qurban/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 12:11:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>aespee</dc:creator>
<guid>http://aespee.wordpress.com/2009/11/24/keutamaan-dan-hikmah-qurban/</guid>
<description><![CDATA[Di dalam syariat yang dibawa oleh Rasulullah Saw, perintah dan larangan selalu ada dan terus berjala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Di dalam syariat yang dibawa oleh Rasulullah Saw, perintah dan larangan selalu ada dan terus berjala]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ijma’ Dan Fatwa Bid’ah]]></title>
<link>http://baihaqiakhmad.wordpress.com/2009/11/23/ijma%e2%80%99-dan-fatwa-bid%e2%80%99ah/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 10:04:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>Baihaqi</dc:creator>
<guid>http://baihaqiakhmad.wordpress.com/2009/11/23/ijma%e2%80%99-dan-fatwa-bid%e2%80%99ah/</guid>
<description><![CDATA[Ketika para ulama, filsuf dan para cendikiawan mengetahui bahwa Nasruddin telah menodai kehormatan m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ketika para ulama, filsuf dan para cendikiawan mengetahui bahwa Nasruddin telah menodai kehormatan m]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FATWA ULAMA ISLAM DUNIA MENGENAI KEHARAMAN YOGA]]></title>
<link>http://metafisis.wordpress.com/2009/11/22/fatwa-ulama-islam-dunia-mengenai-keharaman-yoga/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 15:31:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>perdanaakhmad</dc:creator>
<guid>http://metafisis.wordpress.com/2009/11/22/fatwa-ulama-islam-dunia-mengenai-keharaman-yoga/</guid>
<description><![CDATA[Fatwa Majlis Agama Islam Singapura “Yoga adalah termasuk diantara perkara-perkara bid’ah yang digolo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://metafisis.wordpress.com/files/2009/11/logo_mui.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-269" title="logo_mui" src="http://metafisis.wordpress.com/files/2009/11/logo_mui.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Fatwa Majlis Agama Islam Singapura</strong></p>
<p>“Yoga adalah termasuk diantara perkara-perkara bid’ah yang digolongkan ke dalam bid’ah <em>dhalalah</em> (sesat) . Yoga  mengandung unsur-unsur agama Hindu. Segala perkara yang mengandungi unsur-unsur syirik dan bisa merusakkan kepercayaan (iktikad) seperti yang menganjurkan kepada &#8220;persemadian&#8221; kepada yang bukan mengingati Allah adalah dilarang dan hukumnya haram”<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir</strong></p>
<p>“Bahwa gerakan senam semata-mata yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh atau sebahagian anggota badan, tidaklah salah dan tidak haram tetapi ini tidak dinamakan yoga. Bahwa apa yang disandarkan kepada nama ini (yoga) semestinya dikaitkan dengan konsep ‘guru’ (mursyid), konsep cakra (titik-titik pusat) dan konsep ‘energi’ (tenaga tertinggi), semuanya ini konsep-konsep yang berkaitan dengan keberhalaan dan kesyirikan. Adapun hanya gerakan senam semata-mata maka ia tidak dinamakan dengannya (yoga). Jika ada ritual gerakan peribadatan dalam yoga yang disamarkan seolah-olah hanya gerakan senam biasa, maka ini merupakan bentuk &#8220;penyamaran&#8221; namun sesungguhnya gerakan tersebut adalah gerakan yoga yang tidak diperbolehkan dari segi syara&#8217;. Hal tersebut termasuk dalam bab menamakan sesuatu dengan bukan namanya yang sesunnguhnya hakikatnya sama.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: ”Akan ada manusia di kalangan umatku yang meminum arak yang mereka sebut bukan dengan namanya”. Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah daripada Abi Malik al- Asy’ari r.a. Dalam riwayat al-Darimi daripada ’Aisyah r.a.h. menyebut: ”Mereka menamakannya dengan selain namanya lalu menghalalkannya (arak)”.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>-Pandangan Prof. Dr. Yusuf al-Qaradawi</strong></p>
<p>“Dan siapa saja yang melakukan senam yoga – yaitu gerakan latihan olah tubuh – dan tidak terlintas di fikirannya unsur penyembahan, tidak juga untuk mengikuti golongan penyembah berhala, tidak juga menyerupai mereka, maka yang lebih selamat dan lebih berhati-hati adalah menjauhkan diri daripada menyerupai mereka, lebih-lebih lagi setelah mengetahui bahwa asal-usul gerakan senam yoga yang mempunyai unsur keberhalaan, kita harus mengikuti hadith Rasulullah: “Tinggalkan apa yang meragukan kamu kepada apa yang tidak meragukan”. Malah Islam telah melarang tegas setiap penyerupaan dengan penyembah berhala walaupun hanya dari segi sikap dan bentuk. Oleh sebab itu Islam telah melarang solat pada waktu terbit matahari dan ketika tenggelamnya, karena para penyembah matahari (ritual Yoga Surya namaskar) melakukan ritual penyembahan pada kedua-dua waktu ini. Tidak diragukan lagi bahwa larangan dari shalat pada kedua-dua waktu tersebut ialah sebagai pencegah jalan-jalan kerusakan walaupun ia tidak terlintas di benak orang yang sholat untuk menyembah matahari atau menghadap ke arahnya di dalam sholat”<a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p><strong>-Fatwa Ustaz Mas’ud Sobri (Islamonline)</strong></p>
<p>“Hukum syara’  melakukan senam yoga ini bisa disimpulkan seperti berikut:</p>
<p>Sesiapa yang mengamalkan yoga dan mempercayai yoga sebagai satu kepercayaan yang meningkatkan kerohanian dan diri, menyerupai aqidah agama Hindu, maka mengamalkannya adalah haram. Manakala sesiapa yang melakukan senaman yoga sebagai satu jenis senaman semata-mata yang tiada kaitannya dengan aqidah, maka hukumnya ialah harus berasaskan kepada asal yang telah diletakkan oleh jumhur fuqaha’: Bahawa asal setiap sesuatu itu harus sehingga terdapat nas yang mengharam, diringi pula dengan niat seseorang yang melakukannya, sebagaimana yang berlaku ke atasnya kebanyakan hukum berdasarkan sabda Rasulullah SAW,</p>
<p><em>”Bahawasanya setiap amalan itu dengan niat, dan setiap orang berdasarkan apa yang diniatkannya”.</em></p>
<p>Sebagaimana Islam mendapati banyak amalan tradisi kemasyarakatan seperti perkahwinan dengan pelbagai jenis. Lalu Islam membatalkan kesemuanya dan mengekalkan apayang dimaklumi oleh ramai hingga ke hari ini iaitu (kebiasaan) seorang lelaki menuntut anak gadis daripada bapanya dan lain-lain bentuk tradisi kemasyarakatan dalam perkahwinan yang telah dikekalkan oleh Islam. Berdasarkan apa yang diterangkan sebelum ini, tidak mungkin dihukumkan haram ke atas pengamalan yoga, sekiranya yoga itu hanya senaman secara jasmani semata-mata, yang tiada kaitannya dengan aqidah”<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p><strong>-Pandangan Fatwa Islamweb.net</strong></p>
<p>“Yoga bukanlah hanya senaman badan semata-mata tetapi ianya ialah ibadah yang dihadapkan oleh pelakunya kepada matahari selain daripada Allah SWT. Ianya tersebar ke seluruh India sejak zaman dahulu. Nama asal bagi senaman ini dalam bahasa Sanskrit (sastanja surya nama sakar). Bermaksud sujud kepada matahari dengan lapan titik di tubuh. Bermula latihan-latihan yoga dengan kedudukan pertama yang menggambarkan penghormatan kepada yang disembah iaitu matahari. Latihan-latihan ini semestinya diiringi dengan sejumlah daripada lafaz-lafaz yang dengan jelas menyebut tentang penyembahan matahari dan menghadap ke arahnya.</p>
<p>Dan sekiranya ditanya: Adakah harus beramal dengan latihan-latihan ini tanpa menghadap ke arah matahari dan melafazkan ucapan-ucapan yang disebutkan (mantera)? Jawapannya: Bahawa sekiranya latihan-latihan ini terlepas daripada kalimah-kalimah keberhalaan dan menghadap ke arah matahari serta tunduk dan hormat kepadanya, ianya tidak dinamakan yoga. Sebaliknya ia adalah senaman mudah yang dilakukan oleh kesemua bangsa, maka tiada larangan untuk melakukannya ketika itu, di samping memelihara dua perkara berikut:-</p>
<p>a) Menyalahi susunan posisi-posisi yang disebutkan dalam yoga serta memasukkan sesetengah posisi-posisi yang baru ke atasnya bagi mengelakkan unsur penyerupaan.</p>
<p>b) Tidak melakukannya pada waktu yang digalakkan oleh agama Hindu melakukannya seperti pada waktu terbit matahari”<a href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p><strong>-Keputusan Panel Kajian Aqidah JAKIM</strong></p>
<p>Kertas berkenaan yoga telah dibentangkan di dalam mesyuarat PKA sebanyak tiga kali oleh Y. Bhg. Prof. Dr. Abdulfatah Haron Ibrahim dan Urusetia JAKIM. Kali pertama ia dibentangkan pada mesyuarat PKA kali ke-31 bertarikh 20 Disember 2005, kali kedua pada mesyuarat PKA kali ke-35 bertarikh 19 Jun 2007 dan kali ketiga pada mesyuarat PKA kali ke-37 bertarikh 13-15 Mei 2008. Kesemua mesyuarat memutuskan bahawa amalan yoga adalah bercanggah dengan Islam dan secara tidak langsung mempromosikan ajaran Hindu. Mesyuarat PKA kali ke-31 juga antara lain mengesyorkan supaya senaman lain seperti taichi boleh dijadikan sebagai senaman alternatif kepada yoga kerana ianya tidak mempunyai falsafah tertentu di sebaliknya.</p>
<p><strong>-Keputusan Fatwa Kebangsaan</strong></p>
<p>Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Islam Malaysia yang bersidang pada 22-24 Oktober 2008 telah memutuskan setelah mengkaji dan meneliti hujah-hujah serta pandangan-pandangan yang berkaitan yoga maka, ahli muzakarah berpandangan dan berpendapat bahawa senaman yoga yang berasal daripada masyarakat Hindu sejak sebelum masihi lagi yang menggabung amalan fizikal, unsur-unsur keagamaan, mentera dan pemujaan bagi tujuan tertentu seperti mendapatkan ketenangan dan kemuncaknya, penyatuan diri dengan tuhan atau tujuan-tujuan lain adalah tidak sesuai dan boleh merosakkan aqidah seseorang muslim.</p>
<p>Oleh ahli muzakarah juga bersetuju dan memutuskan apa jua jenis atau bentuk amalan yang mengandungi unsur-unsur tersebut di atas adalah dilarang dan bertentangan dengan syariat Islam. Sementara pergerakan amalan fizikal tanpa unsur-unsur di atas yang dilakukan pada zahirnya tidaklah menjadi kesalahan. Namun demikian, masyarakat Islam diingatkan wajib berhati-hati dan berwaspada daripada perkara-perkara yang boleh menghakis aqidah seseorang muslim. Seperti yang kita sedia maklum, perkara-perkara yang boleh menghakis aqidah boleh berlaku dengan sebab-sebab berikut:-</p>
<p>a) Kepercayaan atau keyakinan di hati</p>
<p>b) Menerusi perkataan atau pengakuan dengan lidah</p>
<p>c) Perbuatan</p>
<p>Memandangkan terdapat dua elemen tersebut dalam amalan yoga, maka umat Islam wajib memelihara aqidah mereka daripada terhakis.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&#160;</p>
<hr size="1" />
<h5><a href="#_ftnref1"><strong><strong>[1]</strong></strong></a><strong> </strong><strong>http://www.muis.gov.sg/websites/rservices/opendocall.asp?type=I&#38;sno=266, dilayari pada 7 April 2008.</strong></h5>
<h5><a href="#_ftnref2"><strong><strong>[2]</strong></strong></a><strong> </strong><strong>www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=4194, dilayari pada 7 April 2008</strong></h5>
<h5><a href="#_ftnref3"><strong><strong>[3]</strong></strong></a><strong> </strong><strong>http://www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&#38;item_no=4627&#38;version=1&#38;template_id=258&#38; parent_id=12 , dilayari pada 7 April 2008</strong></h5>
<h5><a href="#_ftnref4"><strong><strong>[4]</strong></strong></a><strong> </strong><strong>http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?pagename=IslamOnline-Arabic-Ask_Scholar/FatwaA/FatwaA&#38;cid=1137319993300, dilayari pada 13 Oktober 2008</strong></h5>
<h5><a href="#_ftnref5"><strong><strong>[5]</strong></strong></a><strong> </strong><strong>http://www.islamweb.net/ver2/fatwa/ShowFatwa.php?Option=FatwaId&#38;lang=A&#38;Id=1043, dilayari pada 13 Oktober 2008</strong></h5>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penembakan Fort Hood, Nidal Hasan Muslim Radikal?]]></title>
<link>http://erensdh.wordpress.com/2009/11/22/penembakan-fort-hood-nidal-hasan-muslim-radikal/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 22:46:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>erensdh</dc:creator>
<guid>http://erensdh.wordpress.com/2009/11/22/penembakan-fort-hood-nidal-hasan-muslim-radikal/</guid>
<description><![CDATA[Sebuah surat-kabar Amerika melaporkan bahwa surat-menyurat dengan menggunakan surat elektronik (emai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sebuah surat-kabar Amerika melaporkan bahwa surat-menyurat dengan menggunakan surat elektronik (emai]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["2012" Cuma Film, yuk Noton!!]]></title>
<link>http://erensdh.wordpress.com/2009/11/20/2012-cuma-film-yuk-noton/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 01:14:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>erensdh</dc:creator>
<guid>http://erensdh.wordpress.com/2009/11/20/2012-cuma-film-yuk-noton/</guid>
<description><![CDATA[Kontroversi pemutaran film fiksi &#8220;2012&#8243; kian melaju di Indonesia. Hampir semua media men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kontroversi pemutaran film fiksi &#8220;2012&#8243; kian melaju di Indonesia. Hampir semua media men]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MUI: Film "2012" Penyebab Kekufuran]]></title>
<link>http://erensdh.wordpress.com/2009/11/19/mui-film-2012-penyebab-kekufuran/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 00:15:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>erensdh</dc:creator>
<guid>http://erensdh.wordpress.com/2009/11/19/mui-film-2012-penyebab-kekufuran/</guid>
<description><![CDATA[Sejumlah ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia mulai gerah dengan antusiasme masyrakat,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sejumlah ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia mulai gerah dengan antusiasme masyrakat,]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Khayalan dan Fatwa Haram]]></title>
<link>http://yusranpare.wordpress.com/2009/11/18/khayalan-dan-fatwa-haram/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 12:11:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusranpare</dc:creator>
<guid>http://yusranpare.wordpress.com/2009/11/18/khayalan-dan-fatwa-haram/</guid>
<description><![CDATA[MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) Malang Jawa Timur mengeluarkan fatwa haram atas film &#8220;2012 Dooms]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3 style="text-align:left;"><a href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2009/11/fatwa-haram-khayalan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1325" title="fatwa-haram-khayalan" src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2009/11/fatwa-haram-khayalan.jpg" alt="" width="635" height="412" /></a><span style="color:#c0c0c0;">MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) Malang Jawa Timur mengeluarkan fatwa haram atas film &#8220;2012 Doomsday&#8221; atau Kiamat 2012. Keberatan atas peredaran film ini juga disampaikan Ketua Komisi Fatwa MUI Kalsel yang meminta instansi terkait segera menghentikan pemutaran film itu. Para ulama beralasan, film tersebut bisa menggiring masyarakat untuk percaya bahwa kiamat terjadi pada 2012.</span></h3>
<p style="text-align:left;">Terkait dengan sikapnya itu, para ulama di dua daerah ini akan dimintai keterangan MUI pusat. Ketua Koordinasi Fatwa MUI pusat menegaskan, tiap MUI daerah berwenang mengeluarkan fatwa namun sebaiknya berkoordinasi dengan pusat.  Sebelumnya MUI pusat menyatakan tak ada rencana mengharamkan bagi film 2012, karena isinya hanya khayalan dan tidak menyesatkan.</p>
<p style="text-align:left;">Sejatinya film arahan sutradara Roland Emmerich itu memang fiksi semata. Ceritanya diilhami mitos suku Maya Amerika Tengah, bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi di akhir kalender. Ketika dicocokkan ke penaggalan Masehi, akhir zaman versi Maya itu jatuh pada 21 Desember 2012.</p>
<p style="text-align:left;">Sebagai khayalan, fiksi, tak ada yang istimewa dengan fim ini. Seseorang boleh saja mengkhayal dan menyampaikan khayalannya kepada banyak orang. Secara sinematik, film ini pun tak jauh beda dengan film fiksi ilmiah lain yang memanfaatkan betul teknologi digital untuk menciptakan efek-efek visual yang lebih dramatis.</p>
<p style="text-align:left;">Sejumlah film dengan tema sejenis pernah pula dibuat dan diputar di bioskop dan disiarkan televisi di tanah air, namun tak pernah ada fatwa yang menyatakannya haram. Para ulama berpendapat film Kiamat 2012 patut diharamkan karena seolah mendahului ketentuan dan rahasia Tuhan.</p>
<p style="text-align:left;">Publik &#8211;terutama kalangan umat Islam&#8211; di Indonesia tentu sepakat bahwa para ulama adalah penjaga akhlak dan lembaga pedoman bertauhid. Belakangan, peran majelis ulama ini juga melebar jadi lembaga yang mengikuti dan mengontrol penerapan syariah, bahkan dalam beberapa kasus memasuki ranah kontrol budaya dan politik.</p>
<p style="text-align:left;">Di masa ordo silam, majelis ini pernah memfatwakan haram merayaan Natal bersama, bunga bank, dan Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Beberapa waktu lalu MUI juga mengeluarkan fatwa bahwa merokok itu haram, demikian juga golput (tidak ikut memilih pada pemilihan umum). Bahkan, sempat santer akan ada fatwa haram menggunakan jejaring sosial bukumuka (facebook).</p>
<p style="text-align:left;">Kita tentu tidak dalam posisi menolak atau menerima fatwa, dan tidak hendak mencampuri peran majelis ulama sebab fatwa adalah produk hukum yang memang sangat dikenal dalam masyarakat Islam. Tiap negara Islam (dan yang mayoritas penduduknya muslim) memiliki lembaga fatwa tersendiri, dan ada proses serta mekanisme yang ketat yang mengawali terbitnya suatu fatwa.</p>
<p style="text-align:left;">Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah sedemikian genting dan bingung umat Islam di tanah air, sehingga tidak lagi bisa membedakan anatara khayalan yang dipertontonkan dengan realitas, dan oleh karena itu perlu panduan para mufti dengan fatwanya untuk memandu apa yang harus mereka tonton dan apa yang tidak?</p>
<p style="text-align:left;">Masyarakat saat ini telah makin cerdas dan tidak akan mudah terpengaruh cuma oleh film. Mereka dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang sekadar angan-angan atau khayalan. Karenanya, ketergesa-gesaan mengeluarkan fatwa hanya akan mempercepat kemandulannya. Dengan atau tanpa difatwakan, masyarakat sudah bisa menarik sendiri kesimpulan untuk dirinya.<br />
Kehadiran para ulama masih sangat diperlukan di tengah masyarakat.</p>
<p style="text-align:left;">Di tengah situasi yang dari hari ke hari makin menunjukkan dekadensi, kita memerlukan polisi moral yang ujaran dan fatwa-fatwanya makin hari kian berwibawa dan bahkan bisa dijadikan landasan untuk suatu kebijakan.</p>
<p style="text-align:left;">Apa yang tampak dari sederet fatwa yang sudah diserukan kaum ulama, menunjukkan bahwa kekuatannya tidak lagi signifikan untuk mengikat perilaku. Contoh konkret adalah haram Golput dan rokok, yang ternyata tak berpengaruh banyak. Jumlah Golput tetap naik, jumlah perokok tetap bertambah.</p>
<p style="text-align:left;">Kita tidak berharap bahwa suatu saat masyarakat tak lagi mau mendengar dan tak mau peduli kepada para ulama karena fatwanya tidak lagi menjawab persoalan kontemporer umat. Kita khawatir, suatu saat masyarakat mengabaiakan sama-sekali fatwa MUI, padahal itu bersifat darurat dan sesuai syariah.**</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perkongsian Tentang Guru-ku: Syeikh Muhammad Fuad Kamaludin Al-Maliki]]></title>
<link>http://hadifulwan.wordpress.com/2009/11/18/perkongsian-tentang-guru-ku-syeikh-muhammad-fuad-kamaludin-al-maliki/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 04:57:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aliff Bin Basri</dc:creator>
<guid>http://hadifulwan.wordpress.com/2009/11/18/perkongsian-tentang-guru-ku-syeikh-muhammad-fuad-kamaludin-al-maliki/</guid>
<description><![CDATA[  Saya teringin untuk berkongsi dengan sahabat-sahabat pembaca berkaitan dengan Tuan Syeikh yang sed]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Saya teringin untuk berkongsi dengan sahabat-sahabat pembaca berkaitan dengan Tuan Syeikh yang sedang saya menuntut ilmu padanya. Adik sepupu saya yang berumur 11 tahun pun boleh teresak-esak menangis setiap kali mendengar syarah pengajiannya. Dengannya saya banyak belajar agar lebih menyeyangi para ulama&#8217; dan lebih mencintai Rasulullah SAW. Sama-sama kita ikuti serba sedikit tentang dirinya, ulama&#8217; Ahli Sunnah Wal Jma&#8217;ah di akhir zaman ini. Biografi beliau ini saya perolehi dari blog seorang sahabat saya yang juga merupakan anak murid beliau:</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008080;"><em>Susah pada hari ini untuk berjumpa dengan ulama yang memilik rantaian sanad dan ijazah yang banyak yang bersambung dengan Rasulullah S.A.W…..semoga Allah memudah dan melapangkan masa kita untuk mengikuti kuliah2 dan pengajian beliau…insya-Allah.</em>Admin PH</span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://hadifulwan.wordpress.com/files/2009/11/sh_fuad.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-771" title="sh_Fuad" src="http://hadifulwan.wordpress.com/files/2009/11/sh_fuad.jpg" alt="" width="237" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Hari ini kita berkenalan dengan seorang ‘alim yang bersungguh-sungguh memberikan perhatian kepada ilmu, kitab-kitab turast, sanad dan ijazah. Beliau ialah <span style="color:#3366ff;"><strong>al-Musnid Syeikh Muhammad Fuad b. Kamaludin al-Maliki al-Azhari Hafizahullah.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Memberikan sumbangan yang amat besar kepada Umat Islam Malaysia. Pernah menerima Anugerah Khas Maal Hijrah Negeri Sembilan 1427 Hijriyyah. Pelopor kepada Yayasan Sofa Negeri Sembilan, Madrasah Husainiah, Madrasah Hasaniah, Pusat Tahfiz al-Quran dan Hadith, Darul Maliki dan penubuhan Universiti al-Azhar (Cawangan Malaysia).</p>
<p style="text-align:justify;">Antara kitab-kitab yang pernah beliau mengajar ialah: Tafsir Jalalain, Tafsir Nur al Ihsan, Al Syifa’ bi Ta’rif Huquq al Mustofa, Al Syamail al Muhammadiah, Al Azkar Imam Nawawi, Nasoih al Diniyyah wa al Wasaya al Imaniyyah, Aqidah al Awam, Aqidah Islam Imam al Ghazali, Safinah al Najah, Hikam Ibni Ataillah, Hikam Abi Madyan, Hikam Ibni Raslan, Minhaj al Abidin, Qatr al Ghaithiyyah, Tanbih al Ghafilin, Munyah al Musolli , Hidayah al Salikin, Tuhfah al Gharaibin dan lain-lain lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut merupakan sebahagian pengenalan terhadap syeikh, sebagaimana yang telah ditulis oleh anak murid iaitu Ust Mujahid b. Abdul Wahab di dalam bukunya yang berjudul: “Syeikh Muhammad Fuad al-Maliki yang ku kenali” :</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008080;">“..Syeikh Muhammad Fuad al Maliki adalah seorang ulama’ yang begitu menitikberatkan pengajian ilmu secara bersanad dan bertalaqqi kerana ia adalah warisan ulama’ dan salafussoleh yang mulia. Oleh yang demikian, beliau telah mengembara ke merata tempat dan mengorbankan wang yang banyak demi memperolehi sesuatu ilmu serta menghubungkan rantaian sanad yang bersambungan dengan ulama’ seterusnya kepada Rasulullah.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau telah bermusafir ke negara-negara Islam seperti Mesir, Sudan, Syria, Lubnan, Palestin, Emiriah Arab Bersatu, Makkah, Madinah, Turki, Indonesia, Singapura dan lain-lain untuk tujuan itu dan telah mendapat redha dan restu daripada ramai tokoh-tokoh dan jaguh ulama’ Islam dalam bidang ilmu dan dakwah. Daripada merekalah beliau memohon tunjuk ajar, nasihat dan doa agar diberikan taufiq dan kekuatan dalam meneruskan agenda dakwah dan melangsungkan kesinambungannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari kaca mata beliau, seseorang pendakwah itu haruslah dilengkapi dengan beberapa perkara iaitu ilmu, kecemburuan terhadap agama serta apa yang lebih utama lagi ialah keizinan dan sanad daripada para masyayikh untuk menjalankan usaha dakwah dan tarbiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga adalah seorang ulama’ yang amat memuliakan para guru dan masyayikhnya. Beliau sentiasa merendahkan diri di hadapan mereka serta sanggup menggadaikan masa, tenaga dan harta demi memenuhi permintaan dan mendamba keredhaan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Disebabkan sifat sodiq dan amanahnya itu, Allah telah melimpahkan keberkatan ilmu dan futuh terhadapnya serta mencampakkan perasaan kasih ke dalam hati anak-anak murid juga insan-insan yang mendampinginya.</p>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga memilik keistimewaan yang tidak dikongsi oleh kebanyakan insan yang lain. Beliau amat dikasihi oleh para gurunya dan perkara ini dibuktikan dengan perhatian khusus yang diberikan oleh para masyayikh terhadapnya. Nikmat ini adalah sebesar-besar nikmat yang tidak dikongsi oleh beliau dengan rakan-rakannya yang lain. Kasih para masyayikhnya yang mendalam ini telah banyak memberikan kekuatan serta memandu kehidupan beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap ulama’ dari serata dunia Islam sama ada yang ditemuinya di luar negara mahupun yang datang menziarahinya di Malaysia, akan menyatakan hasrat mereka untuk mengambil beliau sebagai muridnya. Begitu juga mereka berharap agar anak-anak murid beliau dapat melanjutkan pengajian di madrasah-madrasah yang diasaskan oleh mereka sama ada Makkah, Syria, Yaman dan lain-lain lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara para masyayikh yang telah banyak mencurahkan ilmu, nasihat, sanad dan ijazah kepada beliau ialah:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">DARI MESIR</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH ABDULLAH AL SYURA. </span>Di antara kitab yang dipelajari daripadanya ialah Tuhfah al Murid ‘ala Jauharah al Tauhid, Syarah Ibni ‘Aqil dan Kifayah al Akhyar di rumahnya pada setiap pukul enam pagi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH MAHMUD AL ADA</span><span style="color:#333399;">WI</span>, Imam Besar Masjid Syeikhah Sobah di Tanta, Mesir – Iqaz al Himam fi Syarh al Hikam, Qalyubi wa ‘Umairah, al Hawi li al Fatawi, Qatr al Nada wa Bal al Soda dan Syuzur al Zahab di Pejabat Masjid Syeikhah Sobah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH HUSAIN AL DARWISYI</span>– Syeikh Muhammad Fuad al Maliki belajar kitab Kifayah al Akhyar di Pejabat Fatwa Masjid Sayyid Ahmad al Badawi. Di sinilah, Syeikh Muhammad Fuad al Maliki bergaul dengan ulama’ al Azhar dan mengetahui selok belok mengeluarkan fatwa. Jika Syeikh Husain mempunyai suatu urusan dan tidak dapat mengajar, maka beliau akan menyuruh rakan-rakannya dari kalangan syeikh-syeikh yang lain supaya mengajar Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau amat menyayangi Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Setelah selesai belajar, Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menghadiahkan kepadanya sagu hati dan manis-manisan sebagai tanda terima kasih seorang murid. Namun, beliau tidak menerimanya dan mengembalikan semula pemberian tersebut. Beliau hanya menerimanya setelah didesak oleh Syeikh Muhammad Fuad al Maliki tetapi diserahkannya semula kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan kemudian mengucup dahi Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sebagai tanda kasihnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH WAJIHUDDIN AL TURKI</span>. Beliau berasal dari Turki tetapi keluarganya berpindah ke Tonto, Mesir selepas kejatuhan Empayar Uthmaniah. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki mempelajari kitab Tuhfah al Murid ’ala Jauharah al Tauhid dengannya di rumah yang disewa oleh Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH MUHAMMAD IBRAHIM AL ASYMAWI</span>. Beliau belajar kitab al Tuhfah al Saniyyah fi Syarh Matan al Ajrumiah dan mempelajari ilmu I’rab di Masjid Sayyid Ahmad al Badawi dan Masjid Syeikhah al Sobah dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">DR. ALI JUMA’AH, Mufti Kerajaan Mesir</span> – Sohih Muslim dan Jam’u al Jawami’ di Masjid al Azhar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH ABDUL GHANI IBN SOLEH AL JA’FARI</span>. Beliau mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Tariqat al Ja’fariah al Ahmadiah al Muhammadiah dan sanad ayahandanya, Imam Besar Masjid al Azhar, Syeikh Soleh ibn Muhammad al Ja’fari. Beliau juga telah menghadiahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki tasbih, sajadah dan kopiah ayahandanya, Syeikh Soleh al Ja’fari.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">DR. JUDAH AL MAHDI AL HUSAINI.</span> Beliau merupakan Naib Rektor al Azhar. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki belajar daripadanya secebis daripada Tafsir Fakhruddin al Razi dan ilmu Tasawwuf. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga telah diijazahkan dengan sanad-sanad ilmu dan mengambil ba’iah Tariqat al Naqsyabandiah daripadanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH ABDUL SALAM ABU AL FADHL AL HASANI</span>– Beliau telah mentalqinkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki zikir Tariqat al Syazuliyyah dan Hizib al Bahr.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau merupakan seorang auliya’ Allah yang hebat dan mempunyai kasyaf yang tajam pada ketika itu. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menceritakan, semasa pergi mengerjakan solat Jumaat bersama rakan-rakannya, salah seorang daripada mereka tidak mengerjakan solat Subuh. Dengan ketajaman kasyaf yang dimilikinya, beliau tiba-tiba memotong tajuk asal khutbahnya dan masuk kepada tajuk Kepentingan Solat Subuh.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">DR. AHMAD UMAR HASYIM</span>, Mantan Rektor al Azhar. Beliau telah mentalqinkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki tiga buah hadith berkaitan rahmah dan belas kasihan.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau juga mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad sanad-sanad ilmu yang beliau terima daripada Syeikh Muhammad Yasiin ibn Isa al Fadani, Sayyid Muhammad ibn Alawi al Maliki, Imam al Akbar Dr. Abdul Halim Mahmud dan lain-lain. Beliau juga tidak ketinggalan mengijazahkan Syeikh Muhamad Fuad al Maliki segala kitab karangannya terutama syarah Sahih al Bukhari yang bertajuk Faidh al Bari sebanyak 15 jilid.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">AL MUHADDITH DR. MAHMUD SA’ID MAMDUH</span>, Penyelidik di Pusat Penyelidikan Islam Dubai. Beliau telah menulis ijazah untuk Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan telah memunawalahkan kitabnya yang bertajuk al Ta’rif sebanyak 6 jilid, al Bayan yang mensyarahkan al Muhazzab karangan Imam al Syairazi dan kitab-kitab lain. Beliau juga telah menasihati Syeikh Muhammad Fuad al Maliki supaya menguasai bahasa Arab dengan sedalam-dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SAYYID MUSTAFA IBN AHMAD AL SYARIF AL HASANI</span>. Beliau ialah Syeikh Tariqat al Ahmadiah al Idrisiyyah di Mesir. Menetap di Darau Aswan, Selatan Mesir. Penduduk di sana memanggil beliau dengan gelaran Abu Hasyim yang bermaksud ayah yang suka menjamu makanan kerana beliau bersifat sangat pemurah kepada faqir miskin dan sentiasa membantu kehidupan mereka. Beliau telah memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan Khirqah Sufi, dengan sanadnya daripada ayahandanya Sayyid Ahmad al Syariif, daripada Sayyid Muhammad al Syariif, daripada Sayyid Abdul ‘Ali daripada Sayyid Ahmad ibn Idris al Hasani. Beliau juga mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki segala karangan murid-murid Sayyid Ahmad ibn Idris terutamanya karya-karya Sayyid Uthman al Mirghani.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SAYYID MA’MUN IBN SAYYID ABDUL QADIR AL HASANI</span>. Beliau ialah Syeikh Tariqat al Ahmadiah di Kaherah dan beliau sentiasa mengadakan majlis Hadharah di Masjid Sayyiduna Husain.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SAYYID IDRIS IBN SAYYID MUSTAFA AL HASANI</span>. Beliau telah memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Khirqah Sufi dan menggelarkannya dengan al Ahmadi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SAYYID IDRIS IBN ABDUL RAHIM AL IDRISI</span>, Khadam Masjid Sayyid Ahmad di Zainiyyah, Luxor, iaitu tempat Sayyid Ahmad ibn Idris pernah menerima Tahlil Khusus daripada Rasulullah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">AL MUHADDITH SYEIKH MUHAMMAD IBN IBRAHIM AL KATTANI</span>. Beliau merupakan seorang muhaddith di negara Mesir. Dr. Umar Abdullah Kamil berkata mengenainya, “Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang sealim beliau di dunia ini. Kebanyakan kandungan syarahannya tidak terdapat di dalam kitab-kitab kerana ilmunya diambil terus daripada Allah.” Beliau pernah menyatakan, bahawa beliau menjadi sedemikian setelah bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah memberikannya kitab karangan Syeikh Yusuf ibn Ismail al Nabhani yang bertajuk Hujjah Allah ‘ala al ‘Alamin. Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya, “Semoga Allah membuka ke atas kamu segala sesuatu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau mempunyai ramai guru; di antaranya ialah ayahandanya sendiri, Syeikh Ibrahim ibn Abdul Ba’ith. Beliau mengambil Tariqat al Syazuliyyah daripada ayahandanya ini. Di antara gurunya yang lain ialah Syeikh Soleh ibn Muhammad al Ja’fari, Imam Masjid al Azhar. Daripada Syeikh Soleh beliau mengambil Tariqat al Ahmadiah al Idrisiah. Beliau pernah menceritakan pengalaman dengan gurunya ini kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan menyatakan bahawa beliau pernah pergi ke majlis pengajian Syeikh Soleh untuk meminta ijazah Hizib al Saifi. Namun, beliau merasa rendah diri untuk memintanya. Tetapi, tiba-tiba Syeikh Soleh berkata kepada ahli majlis pengajiannya bahawa Hizib Saifi ini telah diijazahkan kepada semua keturunan Sayyiduna Ali t. Dengan perkataan Syeikh Soleh itu, bererti beliau telah mendapat ijazah tersebut kerana beliau adalah dari keturunan Sayyiduna Husain.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara gurunya juga ialah Abu al Faidh al Kattani. Daripada gurunya ini, beliau mengambil Tariqat al Kattaniah yang dengannya beliau dinisbahkan dengan gelaran al Kattani.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara gurunya juga ialah al Muhaddith Syeikh Abdullah Siddiq al Ghumari. Pada suatu ketika dulu, beliau pernah belajar bersama-sama Dr. Ali Jum’ah yang merupakan Mufti Mesir sekarang ini, dengan Syeikh Abdullah al Ghumari. Semasa belajar, beliau sering membetulkan bacaan Dr. Ali Jum’ah yang salah.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara gurunya lagi, iaitu sanad beliau yang tertinggi ialah al Musnid Syeikh Abdul Hayy al Kattani. Daripada gurunya ini, beliau meriwayatkan kitab sanadnya yang bertajuk Fahras al Faharis yang di dalamnya mengandungi senarai 700 orang gurunya. Beliau adalah antara guru yang amat dikasihi oleh Syeikh Muhammad Fuad al Maliki, begitu jugalah beliau. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki telah membaca kesemua kandungan kitab Jiyad al Musalsalaat karangan Imam Sayuti, al Iqd al Thamin karangan Imam al Ajluni t, Manzumah Aqidah Awam karangan Imam al Marzuqi, Matan Mustalah hadith al Imam al Baiquni dan sebahagian daripada Syamail al Muhammadiyyah Imam al Tirmizi dan Hikam Ibni Ata’illah al Sakandari dengannya. Beliau telah menulis ijazah khusus untuk Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sebanyak dua kali.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH USAMAH SA’ID.</span> Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan Membaca surah al Saf.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">PROF. DR. SA’AD JAWISH.</span> Beliau ialah seorang profesor hadith di Universiti al Azhar dan telah menulis ijazah khusus kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">AL ALLAMAH SYEIKH ISMAIL IBN SODIQ AL ‘ADAWI</span>, Imam Jami’ al Azhar. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki amat terkesan dengan ilmu-ilmu dan khutbah Jumaat yang disampaikan oleh beliau di Masjid al Azhar dan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sentiasa melaziminya. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah menegaskan, beliau merasakan zauq dan wujdan apabila mendengar khutbahnya kerana khutbahnya adalah ilham daripada Allah. Kenapa tidak beliau dianugerahkan nikmat sedemikian kerana beliau merupakan cucu kepada Abi al Barakat al Dardir. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga pernah mendengar pengajaran kitab al Syamail al Muhammadiah daripadanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">AL MUHADDITH AL MU’AMMAR SYEIKH SA’AD BADRAN.</span> Beliau telah meriwayatkan Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan mengijazahkan sanadnya yang tinggi di rumahnya di Dumyat Mesir. Beliau meriwayatkannya daripada syeikhnya, Abi al Nasr al Qauqaji, daripada ayahandanya Abi al Mahasin al Qauqaji, daripada al Sayyid ‘Abid al Sindi dengan sanadnya yang sampai hingga kepada Rasulullah.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga Syeikh Abi al Nasr al Qauqaji meriwayatkan daripada al Syeikh Muhammad ibn Ahmad Yusuf al Bahi al Misri al Maliki al Azhari, daripada al Hafiz al Sayyid Abi al Fadhl Muhammad Murtadha al Zabidi dengan sanadnya yang sampai kepada Rasulullah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">AL MUHADDITH AL SUFI SYEIKH AHMAD IBN DARWISH</span>. Beliau merupakan anak angkat kepada al Muhaddith Sayyid Abdullah al Ghumari t. Beliau telah digelar dengan al Sufi oleh Syeikhnya. Setengah dari kalangan ahli sufi mengatakan bahawa beliau adalah di antara abdal pada zaman ini. Beliau telah diijazahkan oleh Syeikh Abdullah Siddiq al Ghumari, mantan Mufti Mesir Syeikh Hasanain Makhluf, Muhaddith negara India Syeikh Habib al Rahman al A’zami dan lain-lain lagi. Beliau telah meriwayatkan Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan mengijazahkan segala ijazah dan sanadnya kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Beliau juga telah mengijazahkan Tariqat al Syazuliyyah al Siddiqiyyah dan Salawat Dalail al Khairaat dan meminta Syeikh Muhammad Fuad al Maliki mengadakan majlis bacaan salawat tersebut di madrasahnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">MAKKAH AL MUKARRAMAH</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">DR. SAYYID MUHAMMAD IBN ‘ALAWI AL MALIKI</span>. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar dengannya kitab Nasaih al Diniyyah, Sahih al Bukhari, Sunan Abi Daud, Fath al Mughith, Tafsir Ibnu Kathir, al Fawaid al Jalilah fi Musalsalat dan meriwayatkan daripadanya semua hadith Musalsal yang terdapat di dunia dan lain-lain. Beliau juga telah mengijazahkan Tariqat al Ahmadiah al Idrisiah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki, memakaikannya Khirqah Sufi dan memberikannya bai’ah yang tidak diberikan kepada semua orang melainkan hanya kepada segelintir daripada murid-muridnya dan mengamanahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki supaya menjadi khalifahnya. Beliau juga memberikan kepercayaan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki untuk menterjemah dan menerbitkan kitab-kitab karangannya. Bahkan, beliau juga telah memberikan bantuan moral dan material kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki untuk membangunkan madrasahnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SAYYID AHMAD IBN MUHAMMAD AL MALIKI.</span> Beliau merupakan khalifah ayahandanya yang telah membai’ah dan memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan Khirqah Sufi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">DR.UMAR ABDULLAH KAMIL.</span> Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki segala kitab karangannya dan juga kitab sanadnya yang bertajuk al I’lam bi Ijazah al A’lam. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki mempunyai hubungan yang rapat dengan beliau sehingga ke hari ini mereka sering berhubungan bagi mengadakan muzakarah ilmu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">Syeikh Ali Qaddur al Madani.</span> Beliau berketurunan Sayyid Ahmad al Rifa’i dari sebelah ayahandanya dan Sayyid Abdul Qadir al Jailani dari sebelah bondanya. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki segala ilmu zahir dan batin termasuk Tariqat al Rifa’iyyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Al<span style="color:#333399;"> Habib Umar Hamid al Jailani.</span> Beliau ialah keturunan Sayyid Abdul Qadir al Jailani. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan kitab sanad Mufti Johor al Habib Alawi Tahir.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">DUBAI</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">DR. ISA IBN ABDULLAH IBN MANI’ AL</span> <span style="color:#333399;">HIMYARI</span>, Menteri Waqaf Dubai. Beliau menegaskan bahawa Syeikh Muhammad Fuad al Maliki merupakan orang pertama yang diijazahkan olehnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">A</span><span style="color:#333399;">L ALLAMAH DR. AHMAD MUHAMMAD NUR SAIF</span>, Pengerusi Pusat Penyelidikan Islam Dubai. Beliau pernah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki hadith Musalsal bi al Awwaliyah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">SYRIA</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">DR. MUHAMMAD MUTI’ IBN MUHAMMAD WASIL AL HAFIZ AL DIMASYQI,</span> Pentashih al Quran di Kementerian Waqaf, Dubai. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah menerima hadith Musalsal bi al Awwaliyah, Musafahah dan Munawalah Subhah dan lain-lain daripadanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">DR. KHALAF MUHAMMAD AL MUHAMMAD AL HALABI</span>. Beliau mengijazahkan sanad yang diterimanya daripada Syeikh Muhammad Yaasiin al Fadani kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH HUSAIN SO’BIYYAH.</span> Beliau adalah syeikh di Dar al Hadith al Asyrafiyyah, Damsyiq, tempat di mana Imam Nawawi pernah menjadi syeikh. Beliau telah meriwayatkan hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan mengijazahkan ijazah-ijazah yang diterima daripada guru-gurunya kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">YAMAN</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH ALI HAMID AHMAD ABDUH HASAN QASIM AL SO’FANI AL MAKKI AL YAMANI</span>, Ahli Majlis Fatwa Kementerian Waqaf Dubai. Beliau telah menggelarkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan al Ariif billah (orang yang kenal Allah). Beliau pernah mengatakan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki, “Apabila guru-guru kamu telah mengasihi kamu, maka akan dibukakan segala kefahaman ilmu ke dalam dada kamu.”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">HABIB UMAR IBN MUHAMMAD IBN SALIM IBN HAFIZ</span>, Mudir Dar al Mustafa. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sebanyak tiga kali dan juga meriwayatkan hadith Musalsal bi al Awwaliyyah, Musafah dan Musyabakah kepadanya. Beliau juga mengijazahkan kepadanya secara khusus kitab Iqaz al Himam fi Syarh al Hikam, Syarah Hikam Syeikh Zarruq dan Syarah Hikam Syeikh Abdul Majid al Syurbuni supaya Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dapat mengambil faedah daripadanya dalam urusan dakwah. Beliau juga mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki untuk keluar berdakwah dan mengajar umat.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">HABIB ALI AL JUFRI,</span> Naib Mudir Dar al Mustafa. Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Musalsal bi al Awwaliyyah dan Talqim serta mengijazahkannya</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">SUDAN</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SA</span><span style="color:#333399;">YYID MUSTAFA IBN IDRIS AL HASANI</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SAYYID IBNU IDRIS AL HASSAN AL IDRISI</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">PROF. DR. SAYYID ABDUL WAHHAB AL TAZI AL IDRISI,</span> Pensyarah di Universiti Islam Madinah al Munawwarah. Beliau telah memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki al Khirqah al Sufiyyah</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SAYYID AHMAD IBN IDRIS AL HASANI.</span> Beliau menetap di Dunqala Sudan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SAYYID MUHAMMAD IBN IDRIS AL HASANI.</span> Beliau ialah Syeikh Tariqat Idrisiyyah al Ahmadiyyah dan menetap di Khartum sebagai khalifah ayahandanya Sayyid Idris al Idrisi.</p>
<p style="text-align:justify;">SAY<span style="color:#333399;">YID MUJADDIDI AL HASAN AL IDRISI.</span> Beliau menetap di Khartum sebagai khadam di Masjid ayahandanya Sayyid Hasan al Idrisi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">MOROCCO</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">PROF. DR. FAROUQ HAMADAH</span>. Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki hadith Musalsal bi al Awwaliyyah</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">DR. MUHAMMAD IBN KIRAN.</span> Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki hadith Musalsal bil Awwaliyyah dan telah menulis ijazah khusus untuknya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">TUNISIA</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">AL ‘ALLAMAH SYEIKH MUKHTAR AL SALAMI.</span> Beliau pernah menjawat jawatan sebagai Mufti Tunisia selama 13 tahun. Beliau telah meriwayatkan hadith Musalsal bil Awwaliyyah dan mengijazahkan segala kitab karangan dan amalannya kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">MALAYSIA</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">TUAN GURU HAJI IBRAHIM BIN DAHAN</span>– Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar dengannya kitab Matla’ al Badrain, Hikam Ibni `Atoillah, Dur al Nafis, Minhaj al Abidin, Furu’ al Masail, Aqidah al Najiin, Sair al Salikin, Ahzab dan Aurad Sayyid Ahmad ibn Idris al Hasani dan lain-lain lagi. Beliau merupakan ‘Guru Saka’ di daerah Rembau yang banyak mendukung Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Beliau pernah mengambil cuti mengajar untuk menghadiri ceramah pertama Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sempena sambutan Maulid Nabi di Masjid Nerasau, Rembau dan menjemput Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menyampaikan syarahan Maulid Nabi di madrasahnya, Madrasah al Islamiah Haji Ibrahim, Kampung Bongek Acheh, Rembau.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau belajar ilmu Falak daripada <span style="color:#333399;">Tuan Guru Haji Wan Sulaiman bin Wan Sidiq</span> (Syeikh al Islam Kedah) dan pernah berguru dengan Allahyarham Tok Kenali. Di antara kitabnya yang terkenal ialah Kitab Nur al Aulad dan beliau bertanggungjawab menyusun Taqwim Solat yang digunapakai di Negeri Sembilan, Melaka dan Selangor serta beberapa negeri lain sehingga ke hari ini. Beliau telah mengamanahkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menyambung kuliah hari Rabu selepas pemergiannya pada 3 Ogos 1997.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">TUAN GURU HAJI ABDUL WAHID BIN UTHMAN</span>– Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar dengannya kitab Riyadh al Solihin, Tahzib Atraf al Hadith, Hikam Ibni Ato’illah, Tafsir al Quran dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">TUAN GURU MURSYID DIRAJA DATO’ HAJI TAJUDDIN IBN ABDUL RAHMAN</span>– Beliau berasal dari Hadhramaut dan menjadi Pengerusi Majlis Fatwa Kebangsaan sebelum kewafatannya. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar daripadanya ilmu Tauhid, Feqah, Usul Feqh dan ilmu Tasawwuf iaitu kitab Minhaj al Abidin. Beliau pernah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan ijazah yang tidak pernah diijazahkannya kepada muridnya sebelum itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau sangat mengasihi Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan banyak memberikan galakan kepadanya. Beliau mengiktiraf keilmuan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan memberitahu kepada orang ramai bahawa Syeikh Muhammad Fuad al Maliki adalah seorang ulama’ besar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">TUAN GURU DATO’ ABDULLAH BIN SIJANG,</span> bekas Qadhi Daerah Port Dickson. Beliau pernah mengijazahkan Tariqat Ahmadiah yang diterimanya daripada Tok Syafi’i dan sanad hadith yang diterimanya daripada Syeikh Hasan Masysyat di Makkah al Mukarramah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Sebelum kewafatannya, beliau pernah mentalqinkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki beberapa ilmu hikmah, kaifiat muraqabah dan fidyah orang mati.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">TUAN GURU DATO’ HJ. NAWAWI BIN HASAN-</span> Beliau pernah mengajar Syeikh Muhammad Fuad al Maliki ilmu Nahu; Nahu Wadhih dan Matan al Fiyyah di Ma’had Ahmadi Gemencheh</p>
<p style="text-align:justify;">SAHIBUS SAMAHAH DATO’ HASAN BIN SAIL, bekas Mufti Kerajaan N.Sembilan. Beliau pernah mengajar Syeikh Muhammad Fuad al Maliki kitab Hidayah al Sibyan di Surau Kg. Tengah, Rembau, N. Sembilan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">TUAN GURU SYEIKH ABDULLAH BIN ABDUR RAHMAN</span>, Mudir Pondok Lubuk Tapah, Kelantan. Beliau pernah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sanad yang diterimanya daripada Syeikh Yasin ibn Isa al Fadani al Hasani, Syeikh Abdul Qadir al Mandili, Sayyid Alawi ibn Abbas al Maliki dan mengijazahkan Tariqat Ahmadiah kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">TUAN GURU HAJI AHMAD BIN MUHAMMAD AJI.</span> Beliau merupakan murid kepada Syeikh Ahmad, Mufti Kerajaan Negeri Sembilan dan Tuan Guru Haji Husin Langgar Kedah. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar beberapa buah kitab karangan al Marhum Syeikh Ahmad t daripadanya di Masjid Semerbok Rembau, N.Sembilan. Tetapi, apabila Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pulang dari al Azhar, beliau pula datang belajar dengannya kitab Syarah Hikam karangan Syeikh Ibnu ‘Ubbad dan kitab hadith Zad al Muslim karangan Syeikh Habib Allah al Syanqiti. Beliau menegaskan bahawa tiada lagi orang alim di Rembau kecuali Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">INDONESIA</span></p>
<p style="text-align:justify;">SY<span style="color:#333399;">EIKH ABDUL HAMID AL MAKKI.</span> Beliau telah mengijazahkan dan meriwayatkan hadith Musalsal bi al Awwaliyyah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH ABDUL KARIM AL BANJARI AL MAKKI.</span> Syeikh Muhammad Fuad al Maliki kerap menghadiri majlis pengajiannya yang terletak di Masjid al Haram. Di antara kitab yang pernah dipelajari daripadanya ialah Kitab Dalil al Falihin dan beliau telah mengijazahkan secara khusus kitab sanad al Maslak al Jali kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">AL HABIB SOLEH AL ‘AIDARUS.</span> Beliau ialah murid Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al Maliki.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">SINGAPURA</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">TUAN GURU HAJI ABDUL RASHID BIN SYEIKH HAJI MUHAMMAD SA’ID</span> – Matla’ al Badrain dan Sair al Salikin. Orang pertama yang mengijazahkan Tariqat Ahmadiah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sewaktu berusia 8 tahun.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SYEIKH AHMAD SONHAJI</span>. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki kitab tafsirnya yang masyhur, ‘Ibra al Athir di Majlis Agama Islam Singapura ketika beliau menghadiri majlis ceramah Syeikh Muhammad Fuad al Maliki di sana.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">SAYYID AHMAD SEMAIT</span>. Beliau telah mengijazahkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki semua kitab karangan dan terjemahannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Antara karya beliau ialah:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Rasulullah dan Sirah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Rasulullah dari Perspektif Imam Syafi’i<br />
2. Maulid Nabi dalam Necara Nabawi<br />
3. Rantaian Nasab Nabi<br />
4. Kewajipan Mencintai dan Memuliakan Nabi (Terjemahan)<br />
5. Hukum Menghina Nabi<br />
6. Hidupnya Para Nabi di Dalam Kubur<br />
7. Keunggulan Rasulullah<br />
8. Ringkasan Sirah Nabawiyyah (Terjemahan)<br />
9. Al Anwar al Nabawiyyah (Terjemahan)<br />
10. Keistimewaaan Rasulullah<br />
11. Mukhtasar Syamail Muhammadiah (Terjemahan)<br />
12. Mu’jizat Isra’ dan Mi’raj</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Manaqib dan Biografi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Sayyid Ahmad ibn Idris<br />
2. Al Maliki: Ulama’ Rabbani Kurun ke-21<br />
3. Hujjah al Islam Imam al Ghazali<br />
4. Mendekati Sayyid Ja’afar al Barzanji<br />
5. Al Imam Abu Hasan al ‘Asy’ari<br />
6. Al Imam al Hafiz Jalaluddin al Suyuti<br />
7. Biografi Syeikh Muhammad Harith<br />
8. Manaqib Sayyidah Khadijah al Kubra<br />
9. Sayyid Ibrahim al Rasyid</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tasawwuf</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Hubungan Tasawuf Dengan Sunnah<br />
2. Kewajipan Bertasawwuf (Terjemahan)<br />
3. Qatr al Ghaithiyyah (Semakan dan Cetakan semula)<br />
4. Hikam Abi Madyan (Semakan dan Cetakan Semula)<br />
5. Hikam Syeikh Raslan (Terjemahan)<br />
6. Adab-adab Salikin (Adaptasi)<br />
<span style="color:#ff0000;">7. Anwar al Sabil al Aqwam fi Syarh al Hikam<br />
</span>8. Adab Tariq (Terjemahan)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Zikir dan Amalan </strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Pancaran Nur Doa dan Zikir Ahli Akhyar (Terjemahan Syawariq al Anwar)<br />
2. Lautan Zikir Ahli Arifin<br />
3. Perisai Tiga Kekasih Allah<br />
4. Kanz al Sa’adah (Tahqiq dan Terjemahan)<br />
5. Ahzab wa Aurad Manhaj al Ahmadi al Idrisi (Tahqiq)<br />
6. Doa Majlis Sayyid Ahmad ibn Idris<br />
7. Aurad Ahmadiah dan Ratib Haddad<br />
8. Hizib Bahr<br />
9. Hizib al Imam Ghazali<br />
10. Hizib Imam Nawawi<br />
11. Salawat 40 (Terjemahan)<br />
12. Manzumah Tawassul Asma’ al Husna (Cetakan Semula)<br />
13. Amalan Bulan Rejab<br />
14. Doa Malam Nisfu Sya’ban<br />
15. Tazkirah Ramadhan<br />
16. Amalan Bulan Safar al Khair<br />
17. Amalan Bulan Zulhijjah<br />
18. Amalan Awal Muharram dan Hari Asyura<br />
19. Doa Untuk Ibu bapa dan Anak-anak<br />
20. Duru’ al Wiqayah bi Ahzab al Himayah (Cetakan semula)<br />
21. Surah Yaasin Kaifiat dan Doanya<br />
22. Doa Sayyid Ibrahim al Rasyid<br />
23. Wasilah Para ‘Abid<br />
24. Doa Angin Ahmar<br />
25. Amalan Memudahkan Rezeki<br />
26. Amalan Menguatkan Ingatan dan Menghindari Was-was<br />
27. Himpunan Ayat-ayat Penjaga<br />
28. Solat Sunat Sayyid Ahmad ibn Idris<br />
29. 40 Salawat Pilihan Ke atas Nabi<br />
30. Jampi Penawar Dari al Quran (Terjemahan)<br />
31. Ratib Hari Jumaat<br />
32. Pendinding Diri<br />
33. Amalan Menolak Wabak dan Bala</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Aqidah dan Tauhid</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah<br />
2. Qawa’id al ‘Aqaid (Terjemahan)<br />
3. Wahhabisme Dari Neraca Syara’<br />
4. Kerapuhan Tauhid Uluhiyyah dan Rububiyyah (Terjemahan)<br />
5. Penjelasan Tauhid Uluhiyyah dan Rububiyyah (Terjemahan)<br />
6. Agamamu Dalam Bahaya (Terjemahan)<br />
<span style="color:#ff0000;">7. I’tiqad Ahli Sunnah Wal Jama’ah (Cetakan semula)<br />
</span>8. Aqidah Awam (Terjemahan)<br />
9. Pendapat Ahli Sunnah Yang Bertentangan Dengan Pendapat Wahhabi (Terjemahan)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tafsir </strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Tafsir Surah al Fatihah (Tahqiq)<br />
2. Tafsir Surah Dhuha<br />
3. Tafsir Surah al Insyirah<br />
4. Tafsir Surah al Kauthar<br />
5. Tafsir Surah Yaasiin</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadith</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Musyahadah Ruh Insan Bertaqwa (Terjemahan)<br />
2. Hadith 60: Kelebihan Ahli Bait (Terjemahan)<br />
3. Kelebihan Memelihara dan Membiaya Anak Yatim<br />
4. Kelebihan al Quran (Terjemahan)<br />
5. Mutiara Nabawi (Terjemahan)<br />
6. Mutiara Sa’adah (Terjemahan)<br />
7. Kewajipan Mencintai dan Memuliakan Nabi (Terjemahan)<br />
8. Hidayah al Mukhtar (Terjemahan)<br />
9.Galakan Melakukan Amal Kebaikan (Terjemahan)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Feqah</strong><br />
1. Munyah al Musolli (Tahqiq)<br />
2. Safinah al Naja (Terjemahan)<br />
3. Hukum Membaca Basmalah<br />
4. Hukum Mengikut Imam Yang Menyalahi Mazhab Makmum<br />
5. Posisi Imam Ketika Solat Jenazah<br />
6. Pendapat Ulama’ Hukum Mencium Tangan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sanad dan Ijazah (Athbat)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Al Musalsalat al ‘Asyarah<br />
2. Al Toli’ al Sa’id (Bahasa Arab)<br />
3. Kunuz al Anwar al Muntakhab min Asanid al Akhyar (Bahasa Arab)<br />
4. Al Jawahir al Ghawali min Asanid al Imam al Azhari (Bahasa Arab)<br />
5. Musalsal Orang-orang Mulia<br />
6. Al Yaqut al Nafis min Asanid al Muhaddith Sayyid Ahmad ibn Idris. (Bahasa Arab)<br />
7. Fath al Rahman bi Asaniid Mufti Nejri Sembilan (Bahasa Arab)<br />
8. Al Bahjah al Mardiyyah fi Musalsalat al Rembawiyyah (Bahasa Arab)<br />
9. Bulugh al Amani al Muntakhab min al Musalsalat al Maliki (Bahasa Arab)<br />
10.Sanad al Aurad al Qusyasyiah<br />
11.Al Manhal al Karim fi Asaniid al Quran al ‘Azim (Bahasa Arab)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Lain-lain</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Kefahaman Yang Wajib diperbetulkan (Terjemahan Mafahim Yajibu an Tusohhah)<br />
2. Akhlak Salafussoleh (Terjemahan)<br />
3. Qudwah Hasanah Dalam Manhaj Dakwah</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber : blog firdausmanaf</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber ambilan: <a href="http://ahlulbait.blogdrive.com/archive/cm-11_cy-2009_m-11_d-3_y-2009_o-10.html">http://ahlulbait.blogdrive.com/archive/cm-11_cy-2009_m-11_d-3_y-2009_o-10.html</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"> *Kitab yang diikuti  pengajiannya</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong><em>P/S: Cintailah para ulama&#8217;. Usahalah menuntut dari mereka. Pergilah ke pondok-pondok pengajian. Teguklah sebanyak amna ilmu yang dikongsikan oleh mereka.</em></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong><em> </em></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong><em><span style="color:#800080;">Bro. Aliff Basri</span></em></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong><em><span style="color:#800080;">Ampang, Selangor</span></em></strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kelemahan Hadits Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Cina]]></title>
<link>http://abufadhilblora.wordpress.com/2009/11/17/kelemahan-hadits-tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-cina/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 02:27:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>abufadhil86</dc:creator>
<guid>http://abufadhilblora.wordpress.com/2009/11/17/kelemahan-hadits-tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-cina/</guid>
<description><![CDATA[Setiap orang pasti telah mengetahui perkataan ini. اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَلَوْ في الصِّينِ “Tuntutla]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Setiap orang pasti telah mengetahui perkataan ini. اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَلَوْ في الصِّينِ “Tuntutla]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Download Gratis]]></title>
<link>http://memen.wordpress.com/2009/08/03/download-gratis/</link>
<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 17:46:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Harmendo</dc:creator>
<guid>http://memen.wordpress.com/2009/08/03/download-gratis/</guid>
<description><![CDATA[Silahkan Klik Tombol-Tombol Dibawah Ini Untuk Mulai Mendownload Antivirus PC MAV 21 Hadist Harian Pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Silahkan Klik Tombol-Tombol Dibawah Ini Untuk Mulai Mendownload Antivirus PC MAV 21 Hadist Harian Pe]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
