<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>visi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/visi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "visi"</description>
	<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 05:57:03 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Tiga Do'a Tiga Mimpi Sederhana]]></title>
<link>http://adityayoga.wordpress.com/2009/11/27/tiga-doa-tiga-mimpi-sederhana/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 06:56:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aditya Yoga</dc:creator>
<guid>http://adityayoga.wordpress.com/2009/11/27/tiga-doa-tiga-mimpi-sederhana/</guid>
<description><![CDATA[“Jangan mengeluh dan jangan berputus asa&#8230;” Pandangannya tunduk, hatinya bertakzim. Suasana mal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>“Jangan mengeluh dan jangan berputus asa&#8230;”</p>
<p>Pandangannya tunduk, hatinya bertakzim. Suasana malam berbalut sunyi pun kian menggetar. “Akh,” demikian ia bersahaja memulai kata, “bagaimana jika nanti engkau ditanya, apa amalan unggulanmu?” Sunyi pun masih mengalir hingga beberapa waktu. Kemudian, tunduknya perlahan terganti, pandangannya menatap saya dalam. Saat itu, tak ada kata pada saya. Tak ada jawaban dari lisan saya. Hanya hati yang bergejolak memikirkan bagaiman bersiap menghadapi sang tanya kelak. Pertanyaannya, kurang lebih sama dengan tanya Valentino Dinsi, Sang Guru Entrepreneurship, ketika menggugah motivasi pendengarnya dalam sebuah seminar, “What do you really want to be?” Seseorang yang begitu yakin menjawabnya, sering kali kembali terdiam ketika sampai pada tanya selanjutnya, “Yang seperti apa? Kapan?”</p>
<p>Begitulah yang membiasa dalam kita. Ada mimpi-mimpi bertumbuh dalam hati, namun terkadang tak tertulis nyata dalam takdir. Apa sebab? Awalnya adalah definisi. Ya, terlalu sering kita tak mampu, atau mungkin tak mau sedikit repot, untuk mendefinisikan setiap mimpi-mimpi dalam kata kerja. Benarlah Ibnul Qayyim Al Jauziyyah ketika berkata, “Angan-angan adalah harapan tanpa amal.” Ada beda, antara angan-angan dan mimpi. Bedanya pada amal, sebuah kata kerja.</p>
<p>Selanjutnya kita sama-sama belajar untuk mendekatkan mimpi dengan kata kerjanya, dengan menulisnya sebagai cita-cita. “Mimpi adalah bagian terindah dan terendah dari visi. Jika kita hendak menaikkanya satu aras, jadikanlah ia cita-cita.” Demikian Akh Salim pernah berkata dalam Jalan Cintanya. “Bagaimana caranya?” Ia masih melanjutkan, “Sematkan saja sebuah tanggal padanya. Karena cita-cita adalah mimpi yang bertanggal. Cita-cita adalah mimpi yang telah kita tentukan waktunya.”</p>
<p>Cita-cita, perlahan mendefinisikan mimpi dengan lebih jelas meski tak harus berpanjang kata. Juga memilih waktu untuk menyiapkannya menyesuaikan takdir Allah. Ingat kembali, bagaimana ilmu manajemen menuntun kita untuk merumuskan cita-cita dengan kaidah SMART: specific, measurable, achievable, relevant, dan timely. Semoga, kaidah ini tidak mengajak kita untuk takut bermimpi. Hanya kita diminta untuk lebih memahami. “Untuk meraih hal besar,” Anatole France, seorang peraih nobel pernah berucap, “kita bukan hanya harus bertindak, tetapi harus bermimpi. Bukan hanya membuat rencana, tetapi juga percaya.”</p>
<p>Rencana dan percaya, kerja dan cita-cita, seperti keniscayaan takwa dan iman yang senantiasa bergandengan dan beriring jalan saling menasihati. Tak saling mendahului, tak saling meninggalkan, tak saling mengabaikan, dan tentu saja tak saling menunggu, karena keduanya selayak bersicepat menggapai langkah lebih jauh, lebih tinggi. Ah, kini sampailah pada tanya, bagaimana dengan mimpi kita? Sudahkah ia mengajak sang amal untuk membersamai?</p>
<p>Sekarang, setelah beberapa waktu dikesampingkan, saatnya kita kembali kepada tanya seorang Akh di awal catatan. Sejenak memahaminya dengan kerangka kutipan yang mengikutinya pada paragraf-paragraf selanjutnya. Bercita-cita, berarti menyiapkan amal. Bolehlah kita menekankan pada kata kerja dengan ungkapan, bercita-cita untuk beramal. “Bagaimana menyiapkan amal unggulan yang menemani kita saat menjumpaiNya?” Kurang lebih demikian rumusan pertanyaan kita.</p>
<p>Maafkan, jika ada kesan yang tak nyaman dalam pertanyaan yang saya ungkapkan. Kali ini, ijinkan saya meminta Antum, baik yang sejak lama telah mempersiapkan dan membiasakan amalan unggulan maupun yang belum, menasihati juga menemani saya yang mulai belajar tentang cita-cita ini. Cita-citanya, menjumpai Allah dengan bersenyum, dalam nyaman kesiapan bersama amalan unggulan yang menyelimuti hangat. Saya mohon dengan sangat, bersiaplah menuangkan nasihat-nasihat melengkapi cita-cita untuk amal saya ya&#8230;</p>
<p>Pertama, menjadi pengusaha. Bukan apa-apa, hanya saja saya yang tidak begitu nyaman dengan formalitas, mungkin akan susah menyesuaikan diri kerja kantoran. Hehe. Apalagi, nampaknya ada sedikit beroleh pembelaan, namun bukan pembenaran kekurangan. Ketika Rasulullah pernah memberikan kisi-kisi dalam keteladanan dan sabdanya, “Sembilan dari sepuluh pintu rizqi ada dalam perniagaan.” Ada banyak hikmah menjadi pengusaha, Antum sudah lebih tahu. Hikmah yang berkesan bagi saya adalah, mengajari untuk bersyukur, bersabar, peka, bersungguh-sungguh, menghargai waktu, mengambil keputusan, dan hobi silaturahim. Insyaallah, lebih banyak bershadaqah dan bermanfaat untuk orang lain. Semakin mengakar cita-cita saya ini, meskipun akan mulai saya seriusi setelah lulus nanti, ketika ada beberapa teman yang mengajak merencanakannya. Bersiap untuk belajar tentang dunia peternakan, broker, sampai dengan warung makan! Ayo, ada yang mau bersyirkah dengan saya?</p>
<p>Kedua, menjadi dosen, peneliti, dan penulis. Saya masih ingat, pada semester satu kuliah, ketika mengikuti pelatihan tahap pertama dalam alur kaderisasi organisasi. Ketika itu, seluruh anggota baru diminta menyusun rencana selama kuliah, menuliskan capaian setiap semester, pertama sampai akhir. Di sana saya tuliskan capaian saya, satu-satunya cita-cita: menulis buku pada semester lima! Ah, sayangnya, sampai di penghujung kuliah saat ini, belum kesampaian. Salah saya, beginilah ketika komitmen kurang kuat menjaga cita-cita. Namun sungguh, cita-cita itu masih tetap ada sampai saat ini, bahkan terasa semakin dalam. Kertas di mana saya menuliskan cita-cita itu pun masih tersimpan. Terkadang dipandangi, menyemangati. Saya juga masih ingat, cita-cita saya ketika diterima di kampus ini: menjadi dosen! Membeda, sementara kebanyakan yang lain becita-cita kerja di Bank Indonesia. Belum lagi, kalau ingat selama kuliah saya banyak dihidupi oleh aktivitas penelitian. Jadi aliran kas masuk, hehe. Klop sudah! Memang, dosen dan peneliti menjadi pilihan karena sejalan dengan cita-cita saya untuk terus menulis. Satu lagi pertimbangan, tentu saja, terkenang kata Sang Syaikh seperti dalam filmnya, “Guru itu justru hartanya banyak. Ngasih ilmu aja kerjaanya&#8230;” Subhanallah. Semakin mantap! Biar bagaimanapun, kita harus bercita-cita mengajarkan dan mengajak bukan? Dan dosen, peneliti, juga penulis, ianya adalah jalan kontribusi untuk belajar, mengajarkan, dan mengajak.</p>
<p>Ketiga, menjadi ayah! Untuk yang terakhir ini, Antum sekalian sudah cukup paham. Ada cerita, ada cita-cita, ada harapan tentang generasi shalih. Ah, betapa rindunya saya, bergetar hati saya mengatakannya, hingga saat ini tercukupkanlah kata-kata ini saja. Maaf, sedikit saja ya.</p>
<p>Bagaimana cita-cita saya ini menurut Antum? Sudah terdefisikan dengan jelas kah? Atau melebay? Ah, insyaallah tidak. Mimpi melebay ketika tak membuat kita bergerak bersegera. Semoga ketiganya menjadi penuntun arah gerak saya bersegera menyiapkan amal unggulan. Sejenak terbayang dengan nasihat di waktu kecil dahulu. Saya tidak ingat siapa yang mengenalkannya pada saya, pastinya saya berulang kali telah mendengarnya. Sabda Rasulullah seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya.” Lihatlah dari mana ketiga cita-cita saya terbangun, menjadi doa yang berpanjat khusyuk menembus setiap malam, berhias jernihnya luh dan merdunya isak, agar Allah menyempurnakan dalam kebaikan. Juga cita yang bersusun rapi, mengikhtiyarkan amalan-amalan unggulan yang tak berputus bersama usia dunia. Mohon doanya juga, untuk sebuah rencana sederhana saya&#8230;</p>
<p>Seorang Akh yang lain, di waktu yang lain, membecandai saya, “Tidak terbayang, kapan kita akan sampai pada ustadziyatul ‘alam, menjadi model yang agung bagi semesta, yang merupakan tahapan ketujuh, capaian tertinggi dalam cita-cita amal kita.” Saya memandanginya serius, juga mengiringinya dengan muhasabah diri. “Sementara,” masih dengan mimik serius ia melanjutkan, “kita masih ragu, sesekali maju, sesekali mundur, di antara tahapan pertama dan kedua. Tidak bersegera menaikkan tahapan. Apa masih belum cukup berlama-lama di tahapan pertama?” Kembali, kunaikkan pandanganku yang tertunduk, memandanginya. Wajahnya yang serius tiba-tiba saja berganti cepat, dan seketika kita tertawa bersama. Bukan bahagia, namun sedih, mengingat singkatnya waktu dan panjangnya jalan, sementara langkah belum bergeser jauh dari garis start.</p>
<p>Pada akhirnya, semua berpulang kepada waktu. Sudah seberapa efektifkah waktu-waktu kita? Sudah sampai sejauh mana kita pada waktu-waktu yang telah dijalani? Ah, memang tidak cukup mimpi. Juga tidak cukup kerja. Ada satu yang perlu kita tahu, bahwa penjangnya perjalanan membutuhkan mimpi yang selalu ada. Mimpi yang sejenak, tak akan mengantarkan kita berjalan lebih jauh. Suatu saat akan berhenti juga. Bahkan banyak berhenti. Padahal waktu terus saja bergulir tak menunggu.</p>
<p>Sungguh, ketika kita telah memilih mimpi, kemudian mempertahankannya di sepanjang perjalanan hingga gerak tak pernah hilang, maka kenyataan itu cuma soal waktu saja. Tinggal menunggu waktu! Dan waktu tak akan lama karena ia senantiasa melaju kontinu. Bukan hal yang mudah memang, mempertahankan mimpi, namun rasanya cukup dengan dua pantangan untuk mencapainya: jangan mengeluh dan jangan berputus asa. Iya, jagalah dua itu, dan terus bergeraklah menjaga waktu dalam alurnya: bermula doa, mengiringi jiwa yang kokoh, membangun rencana-rencana terbaik, dan selalu bergerak dalam nuansa ruhiyah yang mantap. Hingga amal-amal yang menjadi doa dan cita-cita, amal-amal unggulan, sambung menyambung menjalinkan takdir indah, beruntai pahala tak berbatas usia dunia. Insyaallah.</p>
<p>Wallahu a’lam bish showab.</p>
<p>22 Oktober 2009,<br />
Sedang menyemangati diri sendiri untuk segera lulus! Merencanakannya sebagai catatan terakhir sampai S.E. nanti. Juga sedang memohon nasihat, dengan menulis dalam kontemplasi, tiga doa tiga cita. Dan cukup satu cinta, <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[VISI SEEKOR SIPUT]]></title>
<link>http://rifkimax.wordpress.com/2009/11/25/visi-seekor-siput/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 09:45:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>rifkimax</dc:creator>
<guid>http://rifkimax.wordpress.com/2009/11/25/visi-seekor-siput/</guid>
<description><![CDATA[Pada suatu hari di awal musim semi, seekor siput memulai perjalanannya memanjat sebuah pohon ceri. B]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada suatu hari di awal musim semi, seekor siput memulai perjalanannya memanjat sebuah pohon ceri. Beberapa ekor burung di sekitar pohon itu melihat siput dengan pandangan yang aneh.<br />
&#8220;hei siput tolol!&#8221; seekor burung mencibir, &#8220;pikirmu kemana kamu akan pergi?&#8221;<br />
Lalu yang lain berkata pula, &#8220;mengapa engkau menajat pohon itu? di atas sana tidak ada buah ceri!&#8221;<br />
Dengan mantap dan tetap semangat memanjat, si siput berkata dengan yakin, &#8220;pada saat saya tiba di atas pohon, pohon cerinya pasti sudah berbuah&#8221;.</p>
<p>apa hikamh dari cerita di atas?<br />
-hanya orang yang mempunyai pandangan jauh ke depan lah yang bisa melihat kesuksesan dibalik kerja keras.<br />
- orang yang hanya melihat di depam matanya akan menganggap kerja keras sebagai kesia-siaan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Visi dan Misi Kabupaten Bojonegoro]]></title>
<link>http://dragonluther.wordpress.com/2009/11/18/visi-dan-misi-kabupaten-bojonegoro/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 13:06:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>dragonluther</dc:creator>
<guid>http://dragonluther.wordpress.com/2009/11/18/visi-dan-misi-kabupaten-bojonegoro/</guid>
<description><![CDATA[VISI : * Kabupaten Bojonegoro yang mandiri, produktif yang berdaya saing kuat, sejahtera dan lestari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>VISI :</p>
<p>    * Kabupaten Bojonegoro yang mandiri, produktif yang berdaya saing kuat, sejahtera dan lestari</p>
<p>MISI :</p>
<p>    * Pemberdayaan masyarakat dan mengoptimalkan potensi daerah<br />
    * Pemberdayaan ekonomi rakyat dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan<br />
    * Mengoptimalkan pendayagunaan teknologi tepat guna<br />
    * Peningkatan taraf hidup masyarakat yang berlandaskan iman dan taqwa<br />
    * Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Family Altar]]></title>
<link>http://milytar.wordpress.com/2009/11/13/family-altar/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 03:27:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>milytar</dc:creator>
<guid>http://milytar.wordpress.com/2009/11/13/family-altar/</guid>
<description><![CDATA[Family Altar Visi dan Misi “Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Family       Altar<br />
</strong></p>
<p><strong>Visi       dan Misi</strong></p>
<p>“<em>Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi.</em>” <em>Yesaya 54: 2-3</em></p>
<p>Berikut       adalah ilustrasi yang menerangkan ayat di atas:</p>
<p><!--more--></p>
<p><img src="http://user.cbn.net.id/bethany6/ilustrasi01.gif" alt="" /></p>
<p>Gambar di       atas adalah ilustrasi dari kemah biasa. Hanya dapat menampung sedikit       orang.</p>
<p><img src="http://user.cbn.net.id/bethany6/ilustrasi02.gif" alt="" width="400" height="128" /></p>
<p>Gambar di atas adalah ilustrasi dari kemah yang sama, dibentangkan dengan bantuan tali-tali yang lebih panjang. Bentuk kemah yang seperti ini memerlukan patok-patok kemah yang benar-benar kokoh. Bentuk kemah ini dapat menampung lebih banyak orang. <strong>Tenda</strong> adalah gambaran dari Gereja. <strong>Patok</strong> adalah gambaran dari kelompok-kelompok FA.</p>
<p><strong>Apakah       Family Altar Itu?</strong></p>
<p>Family       Altar (disingkat FA) adalah sel group dalam gereja yang berfungsi dalam       Penggembalaan Jemaat.</p>
<p>FA adalah suatu komunitas, yaitu suatu bentuk kehidupan dimana pribadi-pribadi yang hidup saling berhubungan satu dengan yang lain. Komunitas mempunyai pengertian keluarga! Manusia diciptakan untuk hidup dalam keluarga seperti Sang Pencipta yang Agung hidup dalam Komunitas. Keluarga Yang Agung dan Mulia.</p>
<p>Kasih akan Allah dan kasih kepada sesama manusia seperti diri sendiri. Ini hanya dapat dijalankan bila cara pandang manusia kepada sesamanya adalah sebagai keluarga sendiri. Tuhan Yesus berkata: “Siapakah ibuKu dan siapakah saudaraKu? Dia yang melakukan perintah BapaKu yang di surga itulah ibuKu dan itulah saudaraKu.” Markus 3:31-35.</p>
<p>Ini berbicara tentang keluarga. Kita dikeluarga dalam Kristus Yesus, inilah dasar pertumbuhan dan penggembalaan jemaat di dalam gereja FA.</p>
<p><strong>Tujuan Family Altar</strong></p>
<p><em>“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka di sukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”</em> <em>Kis. 2:46-47</em></p>
<p>Tujuan FA adalah untuk memberikan kepada jemaat hal-hal yang tidak bisa mereka dapatkan dalam Kebaktian Minggu. Karena jumlah jemaat ada puluhan ribu, maka :<br />
Jemaat tidak mungkin semuanya dikenal secara pribadi oleh Gembala Sidang, padahal penggembalaan adalah mengenal domba-domba dengan teliti (Yohanes 10:14).</p>
<p>Pelayanan dalam kelompok FA adalah untuk memberikan kepada jemaat sebagian besar hal yang tidak mereka dapatkan dalam Kebaktian Ibadah Raya misalnya:</p>
<ol>
<li>Jemaat tidak mungkin semuanya dikenal secara pribadi oleh Gembala Sidang, padahal penggembalaan adalah mengenal domba-domba dengan teliti. (Yoh 10:14)</li>
<li>Jemaat tidak mungkin dijaga semuanya satu persatu oleh Gembala Sidang, padahal penggembalaan adalah penjagaan hidup dan perlindungan rohani. (Kis 20:28)</li>
<li>Jemaat membutuhkan konseling / orang tua rohani, tidak mungkin Gembala Sidang melakukan semuanya (I Tes 2:7,11-12)</li>
<li>Jemaat           yang sakit / dalam kesusahan tidak mungkin semuanya mendapat kunjungan           pribadi Gembala Sidang.</li>
<li>Jemaat           tidak bisa saling mengenal akrab bila hanya hadir dalam ibadah raya           saja.</li>
</ol>
<p>Di dalam FA, jemaat bisa mendapatkan semua yang tidak bisa mereka dapatkan dalam Kebaktian Minggu. Suatu FA dapat berhasil apabila memberikan kepada jemaat hal-hal yang tidak bisa mereka dapatkan dalam Kebaktian Minggu. Jemaat datang ke FA bukan untuk mencari suasana kebaktian yang meriah seperti Kebaktian Minggu, bukan pula mencari khotbah yang bagus, sebab semua itu sudah mereka dapatkan dalam kebaktian minggu. karena itu FA jangan berusaha untuk menyaingi Kebaktian Minggu, tetapi berikanlah kepada jemaat hal-hal yang tidak bisa mereka dapatkan dalam kebaktian minggu, yaitu penggembalaan, kesempatan untuk belajar melayani, pergaulan akrab diantara jemaat. Bila hal ini dilakukan ditiap FA, maka akan terjadi <strong>KESATUAN HATI, TUMBUH BERSAMA, dan MEMENANGKAN JIWA</strong>. Banyak jemaat yang tidak mau ke FA sebab mereka berkata bahwa mereka sudah ikut Kebaktian Minggu, kenapa disuruh ikut kebaktian di FA lagi? lni terjadi karena FA tersebut tidak memberikan kepada jemaat hal-hal yang tidak bisa mereka dapatkan dalam Kebaktian Minggu.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Perbedaan       FA dengan Persekutuan Doa</strong></p>
<table border="0" cellspacing="2" cellpadding="1" width="100%" align="center">
<tbody>
<tr>
<td width="40%" valign="top" bgcolor="#88c4ff">
<div><strong>Family               Altar</strong></div>
</td>
<td width="20%" bgcolor="#88c4ff"></td>
<td width="40%" valign="top" bgcolor="#88c4ff">
<div><strong>Persekutuan               Doa</strong></div>
</td>
</tr>
<tr valign="middle">
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">FA adalah Home Church (gereja-gereja di rumah tangga,Roma 16..3-5, 1 Korintus 16:19, Kolose 4:15, Filemon 1:1-2).Merupakan gereja dalam skala kecil.</td>
<td width="20%" align="center" bgcolor="#d7ebff"><strong>KEGEREJAAN</strong></td>
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">PD             adalah Parachurch, bukan gereja.</td>
</tr>
<tr valign="middle">
<td width="40%" align="left" bgcolor="#bbddff">Tujuan FA adalah untuk memberikan kepada jemaat hal-hal yang tidak bisa mereka dapatkan dalam Kebaktian Raya Minggu,yaitu penggembalaan, pelatihan, pelayanan dan hidup berjemaat. FA bukan kebaktian alternatif dan tak mungkin bisa menyaingi Kebaktian Minggu.</td>
<td width="20%" align="center" bgcolor="#bbddff"><strong>TUJUAN</strong></td>
<td width="40%" align="left" bgcolor="#bbddff">PD adalah kebaktian alternatif untuk menampung jemaat yang tidak dipuaskan oleh Kebaktian Minggu di gerejanya. Dengan mendatangkan pembicara-pembicara handal dan suasana kebaktian yang lebih baik, suatu PD dapat menyaingi Kebaktian Minggu suatu gereja yang suam</td>
</tr>
<tr valign="middle">
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">Anggota FA adalah jemaat gereja itu sendiri.Anggota Gereja lain tidak dilarang datang tetapi mereka bukan anggota, sekedar tamu saja.</td>
<td width="20%" align="center" bgcolor="#d7ebff"><strong>KEANGGOTAAN</strong></td>
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">PD bersifat interdenominasi, anggota-anggotanya berasal dari berbagai gereja. Karena PD bukan gereja, maka tidak bisa dituntut komitmen mutlak dari anggota- anggotanya. Semuanya bersifat sukarela dan sementara.</td>
</tr>
<tr valign="middle" bgcolor="#bbddff">
<td width="40%" align="left">FA adalah Gereja. Setiap anggota Gereja tersebut terikat dan harus komitmen di FA masing-masing agar mendapatkan pelayanan dan perlindungan spiritual.</td>
<td width="20%" align="center"><strong>KOMITMEN</strong></td>
<td width="40%" align="left">Karena PD bukan gereja, maka tidak bisa dituntut komitmen mutlak dari anggota- anggotanya. Semuanya bersifat sukarela dan sementara.</td>
</tr>
<tr valign="middle">
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">Lamanya             waktu kebaktian FA dibatasi maksimal 1 jam.</td>
<td width="20%" align="center" bgcolor="#d7ebff"><strong>WAKTU             KEBAKTIAN</strong></td>
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">Lamanya             waktu kebaktian PD biasanya sama dengan Kebaktian Minggu di gereja             (kurang lebih 2 jam)</td>
</tr>
<tr valign="middle" bgcolor="#bbddff">
<td width="40%" align="left">Berpindah-pindah             dirumah-rumah anggota jemaat.</td>
<td width="20%" align="center"><strong>TEMPAT             KEBAKTIAN</strong></td>
<td width="40%" align="left">Biasanya             menetap</td>
</tr>
<tr valign="middle">
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">Karena             program intern, maka pembicara harus berasal dari jemaat sendiri.</td>
<td width="20%" align="center" bgcolor="#d7ebff"><strong>PEMBICARA</strong></td>
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">Dapat             mengundang pembicara-pembicara terkenal dari luar</td>
</tr>
<tr valign="middle" bgcolor="#bbddff">
<td width="40%" align="left">Sudah diprogram oleh Gembala Sidang,merupakan sistem pelajaran praktis. Tujuan dan visinya sudah tertentu.</td>
<td width="20%" align="center"><strong>TEMA             KHOTBAH</strong></td>
<td width="40%" align="left">Umumnya tak diprogram, diserahkan sendiri kepada pembicara. Dengan banyaknya pergantian pembicara setiap minggu, warna / tujuannya bisa berbeda-beda</td>
</tr>
<tr valign="middle">
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">Bila suatu FA sudah stabil dihadiri lebih dari 15 anggota dewasa, maka FA itu harus dibagi menjadi 2 FA, agar dengan jumlah anggota yang kecil penggembalaan dan pelatihan jemaatnya tetap teliti.</td>
<td width="20%" align="center" bgcolor="#d7ebff"><strong>JUMLAH             HADIRIN</strong></td>
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">Tidak             dibatasi, malah diusahakan sebanyak mungkin.</td>
</tr>
<tr valign="middle" bgcolor="#bbddff">
<td width="40%" align="left">Suasana sederhana : pembicara dan song leader kebanyakan awam, tidak memakai sound sistem, tidak memakai alat musik, biasanya hadirin kurang dari 15 orang. Yang penting ada hadirat Tuhan</td>
<td width="20%" align="center"><strong>SUASANA             KEBAKTIAN</strong></td>
<td width="40%" align="left">Dibuat semeriah mungkin / suasana pesta menghadirkan pembicara terkenal, sound sistem bagus, alat musik lengkap, songleader berpengalaman, hadirin sebanyak mungkin, bernyanyi meriah</td>
</tr>
<tr valign="middle">
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">Ukuran             keberhasilannya adalah banyaknya FA baru yang dihasilkan dari FA itu</td>
<td width="20%" align="center" bgcolor="#d7ebff"><strong>UKURAN             KEBERHASILAN</strong></td>
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">Ukuran             keberhasilannya adalah banyaknya jumiah yang hadir</td>
</tr>
<tr valign="middle" bgcolor="#bbddff">
<td width="40%" align="left">Semua persembahan disetor ke Gereja. Tidak diperkenankan mengelola dan menyimpan keuangan. Ada ekses-ekses negatif yang dapat terjadi karenanya.</td>
<td width="20%" align="center"><strong>KEUANGAN</strong></td>
<td width="40%" align="left">Persembahan             disimpan dalam kas sendiri dan dikelola oleh pengurus</td>
</tr>
<tr valign="middle">
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">Gereja sudah menyediakan berbagai macam aktivitas pelayanan – FA tak perlu mengada- kannya lagi. FA harus dikonsentrasikan untuk penggembalaan, pelatihan, dan penginjilan lokal di area FA itu.</td>
<td width="20%" align="center" bgcolor="#d7ebff"><strong>PERLUASAN             AKTIFITAS</strong></td>
<td width="40%" align="left" bgcolor="#d7ebff">PD dapat memperluas aktivitasnya dan membuka perbagai macam pelayanan untuk memuaskan pengikut-pengikutnya yang tidak puas bergabung dengan pelayanan di gerejanya.</td>
</tr>
<tr valign="middle" bgcolor="#bbddff">
<td width="40%" align="left">Tiap FA harus punya area geografis tertentu sebagai kawasan pelayanannya agar tidak berbenturan dengan FA-FA lain.</td>
<td width="20%" align="center"><strong>AREA             PELAYANAN</strong></td>
<td width="40%" align="left">Tidak             diatur secara geografis</p>
<p>&#160;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[VISI dan MISI 2010 - 2014]]></title>
<link>http://zulkiflisolehssos.wordpress.com/2009/11/10/visi-dan-misi-2010-2014/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 12:13:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>zulkiflisolehssos</dc:creator>
<guid>http://zulkiflisolehssos.wordpress.com/2009/11/10/visi-dan-misi-2010-2014/</guid>
<description><![CDATA[Untuk melanjutkan program Kelautan dan Perikanan 5 (lima) tahun mendatang, Dinas Kelautan dan Perika]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Untuk melanjutkan program Kelautan dan Perikanan 5 (lima) tahun mendatang, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. OKI mempunyai VISI dan MISI yang perlu mendapat dukungan masyarakat kelautan dan perikanan yang mandiri untuk mewujudkannya, serta ikut peran aktif meningkatkan berbagai bidang kelautan dan perikanan, untuk melihat  <a href="http://zulkiflisolehssos.wordpress.com/files/2009/11/visi-misi-dkp.doc" target="_blank"> KLIK  DISINI</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perché noi ]]></title>
<link>http://fernirosso.wordpress.com/2009/11/08/perche-noi/</link>
<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 08:00:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>fernirosso</dc:creator>
<guid>http://fernirosso.wordpress.com/2009/11/08/perche-noi/</guid>
<description><![CDATA[Pina Bausch- Carnations noi eravamo ed eravamo belli se bello è il nome che entrambi potevamo indoss]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em> Pina Bausch- Carnations </em></p>
<p><img src="http://whatbirdsgiveup.com/images/nelken_carnations.jpg" alt="http://whatbirdsgiveup.com/images/nelken_carnations.jpg" /></p>
<p>noi eravamo</p>
<p>ed eravamo belli<br />
se bello è il nome che entrambi potevamo indossare</p>
<p>la nudità era<br />
il nostro giardino</p>
<p>e l’acqua e il vento<br />
le nostre parole di terra quando il cielo in essa si immergeva.</p>
<p>noi eravamo</p>
<p>noi eravamo     d i v i s i     un volto unico<br />
un volo dentro l’asse in un precipizio senza paure</p>
<p>noi<br />
eravamo un dio</p>
<p>senza premura di un assalto<br />
senza doveri e senza dover compiere alcun salto</p>
<p>noi non vedevamo la morte<br />
non ci nutrivamo di parole cosmische</p>
<p>le stelle erano il nostro pane<br />
erano l’ordine insuperabile.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Profil Lembaga]]></title>
<link>http://arrosyiid.wordpress.com/2009/11/05/profil-lembaga/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 10:53:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>arrosyiid</dc:creator>
<guid>http://arrosyiid.wordpress.com/2009/11/05/profil-lembaga/</guid>
<description><![CDATA[Profil Nama Yayasan : Lembaga Sosial Pendidikan Islam Arrosyiid NIS : 100620 Alamat : Jalan Raya Ije]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Profil </strong></p>
<p>Nama Yayasan : Lembaga Sosial Pendidikan Islam Arrosyiid</p>
<p>NIS : 100620  Alamat : Jalan Raya Ijen no. 120-122</p>
<p>No. Telepon : (0321) 322269</p>
<p>Kode Pos : 61317</p>
<p>Propinsi : Jawa Timur</p>
<p>Otonomi Daerah : Kota Mojokerto</p>
<p>Kecamatan : Magersari</p>
<p>Kelurahan : Wates</p>
<p>Status : Swasta</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>VISI</strong>:Lembaga Sosial Pendidikan Islam ARROSYIID adalah lembaga pendidikan yang seluruh aspek kegiatanya mengacu pada nilai-nilai Islam dengan dasar Al Quran dan Al Hadis.</p>
<p><strong>MIS</strong>I:  Memberikan pengetahuan dasarcdan membantu mewujudkan anak saleh-salikah yang memiliki ketakwaan (aqidah) yang mantap, berakhlak mulia, memiliki kemampuan intelektual (akademis) yang tinggi, peduli dengan agamanya, lingkungan sosialnya serta siap hidup menatap jamanya dimasa mendatang dengan ridho Allah SWT.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>JENJANG PENDIDIKAN</strong></p>
<p><strong>1</strong><strong>. Play Group “ Kuncup Bunga ” ARROSYIID </strong></p>
<p><em>Target yang diharapkan: </em></p>
<p><strong><em>Bidang aqidah-akhlak</em></strong>:  Siswa mampu menirukan gerakan wudhu; mau mengikuti orang tua shalat; mengenal huruf Al Quran; mau menghafal surat-surat pendek dan doa sehari-hari; mau menjawab salam; mau berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan; mencuci tangan sebelum makan; makan dengan duduk; mudah bergaul dan suka menolong; hormat kepada orang tua serta guru.</p>
<p><strong><em>Bidang akademis</em></strong>:  Siswa mampu mengembangkan fungsi panca indera; mengenal anggota tubuh dan fungsinya; mengenal nama orang disekitarnya; bermain peran dan empati; mengenal nama bentuk, ukuran, dan warna benda; mengenal konsep bilangan; dan memiliki kemampuan untk memasuki jenjang TK.</p>
<p><strong><em>Bidang keterampilan dan kesamaptaan</em></strong>:  Siswa mampu berjalan, berlari, melompat, dan menirukan gerakan binatang; menangkap dan melempar bola; menggambar; mewarnai; menjahit; menggunting; menempel; melipat; menabur; meronce; berjalan diatas papan keseimbangan; latihan baris-berbaris; dan senam.</p>
<p><em><strong>Bidang semangat juang</strong></em>:  Siswa berani tampil di depan umum; tidak menangis saat berpisah dengan pengantar; peduli terhadap lingkungan; disiplin di sekolah; dan memiliki rasa ingin tahu.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>2. Taman Kanak-Kanak Islam ARROSYIID </strong></p>
<p><em>Target yang diharapkan:</em></p>
<p><em><strong>Bidang aqidah-akhlak</strong></em>:  Siswa mampu melakukan gerakan shalat dan wudhu dengan benar; mau mengikuti shalat berjamaah; suka membaca Al Quran; gemar beribadah; hormat kepada orang tua dan guru; gemar belajar; mulai hidup mandiri; suka hidup bersih, sehat, jujur, dan kreatif serta sopan santun kepada siapapun.</p>
<p><em><strong>Bidang akademis:</strong></em> Siswa memiliki pengenalan lingkungan tinkat dasar; mampu bermain peran; memiliki empati; mengenal diri sendiri;dapat mengendalikan fungsi-fungsi tubuhnya; mandiri dan mengenal rasa tanggung jawab; mengenal aturan pergaulan sehari-hari; mengenal anggota keluarga, teman dekat, dan lingkungan tetangga; mampu membaca Al Quran, latin dan berhitung tingkat dasar; hafal surat-surat pendek; hafal doa keseharian; mampu menulis; serta mengenal dasar Bahasa Inggris.</p>
<p><em><strong>Bidang keterampilan dan kesamaptaan</strong></em>:  Siswa mampu memimpin temanya, baris-berbaris, melakukan senam dan permainan; melukis; mewarnai; mencocok;dan lain-lain.</p>
<p><em><strong>Bidang semangat juang</strong></em>:  Siswa mempunyai kepedulian terhadap lingkunganya; memiliki rasa ingin tahu yang tinggi; tunbuh rasa percaya diri; dan mulai bisa mandiri.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>3. Sekolah Dasar Islam ARROSYIID</strong></p>
<p><em>Target yang diharapkan.</em></p>
<p><em><strong>Bidang aqidah-akhlak</strong></em>:  Siswa mampu menjalankan Shalat dengan tertib; gemar membaca Al Quran dan menghatamkanya; gemar menghaflkan surat-surat pendek (Juz Amma); gemar berdoa; taat dan hormat kepada orang tua dan guru; menghargai orang lain; mau menjaga kebersihan dan kesehatan serta melestarikan lingkungan.</p>
<p><em><strong>Bidang akademis</strong></em>:  Siswa mampu memiliki kemampuan akademis yang tinggi, mampu berbahasa asing ( Inggris dan Arab ) tingkat dasar; dan dapat melanjutkan ke SMP yang diinginkan.</p>
<p><em><strong>Bidang keterampilan dan kesamaptaan</strong></em>:  Siswa dapat menulis, membaca dan berhitung dengan cepat dan tepat; memiliki keterampilan belajar; pengarsipan dan kerajinan tangan; serta memiliki keterampilan hidup.</p>
<p><em><strong>Bidang semangat juang</strong></em>:  Siswa bangga dan peduli terhadap Islam; bangga terhadap almamaternya; memiliki semangat belajar tinggi untuk berprestasi; dan mau mengajak orang lain berbuat baik.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>4. PROGRAM PENUNJANG </strong></p>
<p>1. Ibadah Praktis</p>
<p>2. Pengembangan bakat dan kreativitas anak</p>
<p>3. Sosialisasi dan cara hidup Islam</p>
<p>4. Tadabur alam</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>5. KURIKULUM </strong></p>
<p>Kurikulum yang digunakan di Lembaga Sosial Pendidikan Islam ARROSYIID adalah perpaduan dan modifikasi dari :</p>
<p>*        Kurikulum Departemen P &#38; K</p>
<p>*        Kurikulum Pendidikan dari Departemen Agama</p>
<p>*        Suplementasi materi khusus dari Lembaga Sosial Pendidikan Islam ARROSYIID</p>
<p>Kurikulum Lembaga Sosial Pendidikan Islam ARROSYIID adalah kurikulum pendidikan Islam yang punya sifat inovatif, fleksibel, adaptif dan terbuka, dan berkesinambungan.  Inovatif, artinya kurikulum yang selalu berkembang, dengan melakukan berbagai pengayaan materi yang sesuai dengan pokok bahasan ( tidak statis ).  Fleksibel, artinya dalam pelaksanaanya tidak kaku, selalu disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada.  Adaptif dan terbuka, artinya kurikujlum Lembaga Sosial Pendidikan Islam ARROSYIID selalu menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan. Jadi kurikulumnya selalu mengikuti perkembangan jaman.  Berkesinambungan, artinya kurikulum Lembaga Sosial Pendidikan Islam ARROSYIID secara materi selalu berkesinambungan antar jenjang sejak jenjan Play Group hingga Sekolah Dasar. Dalam hal ini termasuk juga kesinambungan dimasing-masing tingkat dalam suatu jenjang</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>6.METODE PENDIDIKAN</strong></p>
<p>Dalam proses pembelajaran di Lembaga Sosial Pendidikan Islam ARROSYIID menggunakan berbagai paduan metode dan media ( multi media dan multi metode ) yang relevan dalam upaya mengintegrasikan nilai/norma serta materi-materi Islam ( dengan rujukan Al Qur’an dan Hadis ) kedalam semua bidang pendidikan dan pengajaran.  Cara pengajaran harus berpegang pada prinsip :</p>
<p>*        Integrasi nilai materi Islam kedalam bidang studi/mata pelajaran yang diberikan.</p>
<p>*        Lebih menekankan pada pendidikan daripada pengajaran.     *        Pendidikan dan pengajaran yang selalu menariuk minat dan kretifitas</p>
<p>*        Memberikan pengayaan pada siswa yang maju dan melaksanakan remidi bagi siswa lambat belajar.</p>
<p>Dengan mengembangkan pendidikan dan pengajaran kurikulum terpadu diharapkan dapat:</p>
<p>1.              Meningkatkan dan mengembangkan aktivitas, kreativitas dan kemampuan mengajar guru.</p>
<p>2.              Memberikan keleluasaan kepada siswa untuk dapat mengembangkan diri, serta mengungkapkan pendapat dibawah bimbingan guru agar terarah kepada tujuan pendidikan yang dikehendaki</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Iman Sebagai Pandangan Hidup]]></title>
<link>http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/10/27/iman-sebagai-pandangan-hidup/</link>
<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 15:53:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ahmad Haes</dc:creator>
<guid>http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/10/27/iman-sebagai-pandangan-hidup/</guid>
<description><![CDATA[Wanita Indian: &quot;Gaya hidup&quot; adalah cerminan &quot;pandangan hidup&quot;. Pandangan hidup I]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#0000ff;"><strong> </strong></span></p>
<div id="attachment_1819" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong> </strong><strong><a rel="attachment wp-att-1819" href="http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/10/27/iman-sebagai-pandangan-hidup/indian-3/"><img class="size-full wp-image-1819 " src="http://ahmadhaes.wordpress.com/files/2009/10/indian2.jpg" alt="" width="300" height="262" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Wanita Indian: &#34;Gaya hidup&#34; adalah cerminan &#34;pandangan hidup&#34;.</p></div>
<p><strong><span style="color:#0000ff;">Pandangan hidup</span></strong></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Isitilah <em>pandangan hidup</em> digunakan untuk menyebut <em>cara pandang manusia terhadap dunia dan kehidupan</em>. Dalam bahasa Inggris, pandangan hidup disebut dengan istilah <em>worldview</em></span> <span style="color:#0000ff;">(kadang ditulis</span>: <span style="color:#0000ff;"><em>world-view</em>), <a href="#_ftn1">[1]</a> yang dalam kamus <em>Longman Language Activator</em> didefinisikan sebagai <em>the attitude that a person, a group or  nation has towards life and the world</em> (cara pandang yang dimiliki satu orang, satu kelompok atau bangsa terhadap kehidupan atau dunia). Sebagai contoh, kamus itu menyebutkan pandangan hidup bangsa Indian tradisional yang dibentuk oleh konsep-konsep yang sudah mapan bagi mereka. Contoh lainnya adalah pandangan hidup Komunis, yang tentu dibentuk oleh paham atau ajaran Komunis.</span><!--more--></p>
<p>Istilah lain, dalam bahasa Inggris, yang mengandung pengertian pandangan hidup secara lebih khusus adalah <em>vision</em> (visi). Harfiah, <em>vision</em> diambil dari bahasa Latin <em>visio</em>, yang berasal dari <em>videre</em>, melihat. Pengertian yang berlaku selanjutnya adalah (1) penglihatan, daya lihat; (2) pandangan; (3) impian, khayalan, bayangan.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Sebagai istilah, visi antara lain berarti <em>bayangan indah </em> <em>yang merasuk ke dalam pikiran dan berpengaruh kuat.</em><a href="#_ftn3">[3]</a> Pengertian ini menegaskan bahwa visi adalah sebentuk pandangan yang menumbuhkan suatu bayangan atau gambaran dan tekad membaja untuk menjelmakannya menjadi sebuah kenyataan. Pengertian tentang visi ini akan lebih mudah dipahami bila kita bawa ke dunia seni bangunan (arsitektur). Seorang arsitek (ahli seni bangunan) memulai kerjanya dengan membuat bayangan atau gambaran tentang bentuk bangunan di dalam otaknya. Bayangan itu kemudian dituangkan ke dalam sket (gambar kasar), yang selanjutnya dikembangkan menjadi gambaran yang rinci, sehingga akhirnya bisa diwujudkan menjadi sebuah bangunan yang sebenarnya. Bayangan bentuk bangunan yang ada di kepala sang arsitek itu adalah visi dalam pengertian sederhana. Lebih lanjut, visi sang arsitek akan nampak semakin nyata dan khas ketika ia mengaitkan bentuk bangunannya dengan keadaan lingkungan alam, kebutuhan, adat, dan kebudayaan masyarakat yang hendak menggunakan bangunan itu, sehingga ia membuat rancangan bagunan yang bersesuaian dengan hal-hal tersebut. Bila sang arsitek hanya merancang bangunan tanpa mempedulikan hal-hal tersebut, maka ia layak disebut sebagai arsitek yang tidak mempunyai visi. Barangkali karena itulah dalam sebuah kamus keluaran Oxford University Press, visi didefinisikan sebagai <em>power of seeing or imagining, looking ahead, grasping the truth that underlies facts</em> (kemampuan melihat atau membayangkan, melihat ke depan, memahami kebenaran di balik fakta-fakta).<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Dalam naskah ini pandangan hidup dan visi dianggap sebagai dua hal yang tak terpisahkan. Pandangan hidup adalah <em>pandangan (wawasan) menyeluruh tentang dunia dan kehidupan</em>; sementara visi adalah <em>pandangan yang berkaitan dengan bidang-bidang atau hal-hal tertentu dalam kehidupan.</em> Dengan kata lain, pandangan hidup mewakili pandangan atau pengetahuan umum (<em>general idea</em>), dan visi mewakili pandangan pengetahuan khusus (<em>special idea</em>), yang biasanya hanya dimiliki orang-orang tertentu.</p>
<p>Dengan kata lain, pandangan hidup sebenarnya merupakan &#8217;seluruh pengetahuan (informasi) tentang kehidupan yang diterima seseorang&#8217;. Sedangkan visi adalah &#8217;suatu gambaran tertentu tentang sisi kehidupan tertentu, yang mempengaruhi seseorang, sehingga ia bersemangat untuk mewujudkannya menjadi kenyataan&#8217;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Iman sebagai pandangan hidup</strong></p>
<p>Bicara tentang iman sebagai pandangan hidup adalah bicara tentang sisi <em>qalbiyah</em> dari iman, dengan catatan bahwa istilah  <em>qalbun</em> atau <em>al-qalbu</em> di sini adalah jiwa, yang dalam kajian psikologi terbagi menjadi dua unsur atau daya (<em>potention</em>), yaitu pikiran dan perasaan. Dengan demikian, sisi <em>qalbiyah </em>(= kejiwaan) yang dimaksud di sini bila dirinci akan mencakup sisi penalaran atau pemahaman (<em>intelect; </em>kognitif), cita-cita (<em>idealism</em>), penghayatan batin atau perasaan (<em>emotion</em>; afektif), dan kehendak atau keinginan (<em>will</em>). Jadi, jelaslah bahwa pandangan umum yang menganggap sisi qalbiyah dari iman sebagai <em>kepercayaan</em> – yang masuk ke bidang perasaan &#8211; adalah suatu pandangan yang tak seimbang, karena mengabaikan satu sisi jiwa yang lain, yakni pikiran. Selain itu, pandangan demikian juga berbahaya karena menjerumuskan iman ke lubang gelap tanpa dasar, sehingga iman menjadi sesuatu yang serba rahasia (misterius). Padahal,  rujukan-rujukan agama kita yang pokok, Al-Qurãn dan Hadis, memaparkan &#8216;apa itu&#8217; iman secara demikian gamblang. Tapi bisa dimaklumi juga mengapa pendangan demikian itu bisa hidup. Hal itu sangat berhububungan dengan pengajaran agama yang cenderung menggambarkan iman sebagai sebuah doktrin.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Sisi penalaran, pemahaman dan cita-cita dengan kata lain berarti <em>alam pikiran</em>, atau <em>jalan pikiran</em>, atau logika.<a href="#_ftn6">[6]</a> Sedangkan perasaan dan keinginan, bisa dikatakan sebagai <em>alam rasa </em>atau  <em>alam kebatinan</em>, bila mengingat bahwa <em>batin</em> dalam pemahaman orang Indonesia berarti perasaan.<a href="#_ftn7">[7]</a> Di antara kedua sisi jiwa itu, perasaan lah yang paling banyak berperan dalam mengendalikan kehidupan manusia secara umum. Hal itu terjadi karena, <em>pertama</em>, perasaan adalah sesuatu yang berkaitan dengan panca indra, yang merupakan &#8216;modal awal&#8217; untuk bisa menjalani hidup. <em>Kedua</em>, pada saat manusia hanya menguasai ilmu dalam kadar yang sangat sedikit, sisi jiwa yang tercakup dalam alam rasa seperti dugaan, perkiraan, prasangka, kepercayaan, dan sebagainya, dengan sendirinya mendapatkan peluang untuk berperan. Karena itu, bisa dikatakan bahwa secara umum manusia adalah makhluk <em>irrational</em>; dalam arti bahwa <em>ratio</em>-(akal)-nya kurang berperan dibandingkan dengan perasaannya.</p>
<p>Sehubungan dengan itu, perhatikanlah perkataan Abu Bakar ini:</p>
<p><em> &#8220;Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin (dirinya); sebaliknya celakalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai pemimpin.&#8221;</em></p>
<p>Perkataan Abu Bakar tersebut akan menjadi semakin tajam bila dihubungkan dengan sebuah pepatah, yang kadang disebut sebagai Hadis Nabi, yaitu: <em>Agama adalah (urusan) akal. Agama tidak berlaku bagi orang yang tak berakal.</em><a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Kedua petuah tersebut bisa dijadikan isyarat (indikasi) bahwa agama (Islam) diturunkan untuk ditempatkan di wilayah akal, supaya akal bisa menajadi pemimpin dalam kehidupan manusia.</p>
<p><strong>Alam pikiran mu&#8217;min</strong></p>
<p>Alam pikiran, atau jalan pikiran, atau logika (yang selanjutnya kita sebut sebagai pikiran saja) adalah sisi jiwa yang daya atau potensinya adalah &#8216;menangkap&#8217; dan mewadahi ilmu. Dengan kata lain, pikiran adalah daya ilmiah. Selanjutnya, dalam hubungan dengan pandangan hidup, pikiran mewakili sisi ilmiah dari pandangan hidup. Tegasnya, pikiran itu sama dengan ilmu, mulai dari ilmu dalam pengertian umum (= pengetahuan) sampai pada ilmu dalam pengertian khusus (= disiplin ilmu tertentu).</p>
<p>Pada hakikatnya, ilmu adalah benih yang menjelmakan dan mengembangkan pikiran. Karena itu, jelas sekali, sempit dan luasnya pikiran seseorang sangat ditentukan bahkan tergantung sekali pada ilmu yang ada dalam otaknya.</p>
<p>Di sinilah bisa kita lihat dengan gamblang bahwa ketika kita bicara tentang alam pikiran mu&#8217;min berarti bicara tentang ilmu yang membentuknya, yakni Al-Qurãn. Lebih jauh, isi pikiran &#8220;mu&#8217;min&#8221; bahkan bisa dihitung secara matematis berdasar jumlah ayat-ayat Al-Qurãn yang ada di kepalanya. Bila kita gunakan Hadis Nabi yang mengatakan bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang,<a href="#_ftn9">[9]</a> misalnya, maka bertambahnya iman itu, secara kuantitas ilmu, adalah karena bertambahnya penguasaan ayat-ayat Al-Qurãn; dan sebaliknya berkurangnya iman terjadi karena berkurangnya (tidak menetapnya) ayat-ayat Al-Qurãn yang dikuasainya.</p>
<p>Pernyataan Hadis Nabi itu diperkuat antara lain dengan pernyataan Allah dalam surat Al-Anfãl ayat 2: <em>Sebenarnya para mu&#8217;min adalah mereka yang bila diajak merenungkan (ajaran) Allah jiwa mereka bergetar (bereaksi positif; menyambut dengan baik), yakni <span style="text-decoration:underline;">bila dibacakan ayat-ayat Allah, bertambah lah iman mereka,</span> dan selanjutnya bersandar diri lah mereka pada (ajaran) pembimbing mereka (Allah).<a href="#_ftn10"><strong>[10]</strong></a></em></p>
<p>Dalam ayat tersebut diisyaratkan adanya hubungan sebab-akibat antara pembacaan ayat-ayat Allah secara pasif (dibacakan orang lain) dengan pertambahan iman. Apalagi bila pembacaan itu dilakukan secara aktif (melakukan pengkajian sendiri), sesuai prosedur,<a href="#_ftn11">[11]</a> dan memang diniatkan untuk membangun iman.</p>
<p>Tinjauan iman secara kuantitas ilmu itu bisa jadi terasa ganjil bagi orang-orang yang terbiasa menganggap iman sebagai kepercayaan. Sebaliknya, menghitung &#8216;kuantitas&#8217; iman itu justru penting untuk membebaskan diri dari kecenderungan berpikir mengambang dan melantur, sehingga akhirnya menganggap ajaran Allah sebagai sesuatu yang tidak jelas, dan karena itu tidak bisa diuraikan secara nalar (rasional).</p>
<p>Tapi, apakah benar bahwa kuantitas penguasaan ayat menjadi jaminan tingkatan iman? Pertanyaan ini akan dijawab pada uraian lebih lanjut. Di sini cuma hendak ditegaskan tentang hubungan sebab-akibat antara ilmu dan iman, khususnya pada satu sisi iman, yaitu pandangan hidup. Hubungan sebab-akibat adalah hubungan yang bersifat pasti. Ketika kita sebutkan ilmu sebagai sesuatu yang membentuk iman, pada dasarnya kita sedang bicara tentang nilai ilmu.<a href="#_ftn12">[12]</a> Namun berperan atau tidaknya nilai itu sangat tergantung pada faktor pendukungnya.</p>
<p>Faktor pendukung untuk membuat ilmu menjadi iman adalah sisi lain dari jiwa, yaitu perasaan dan atau kehendak (niat), yang nanti akan dibahas tersendiri.</p>
<p><strong>Pembentukan pikiran mu&#8217;min</strong></p>
<p>Bila pikiran diumpamakan sebagai sebidang kebun, maka alam pikiran adalah segala jenis tumbuhan dan hewan yang hidup di kebun itu. Tapi di dalam pikiran kita tidak menanam pohon atau memelihara hewan. Di dalam pikiran, kita menampung dan menghidupkan berbagai pengetahuan. Di situ pula kita memelihara sejenis pengetahuan tertentu (ilmu), yang selanjutnya malah berperan menjadi pengendali diri kita, khususnya dalam kehidupan kita sebagai makhluk budaya. Dengan kata lain, dalam pikiran kita ada sejumlah pengetahuan yang pasif, sebatas menyebabkan kita tahu sesuatu saja, ada pula ilmu yang aktif, mendorong kita melakukan segala sesuatu. Ilmu yang aktif tidak hanya memberi tahu tentang apa yang bisa diperbuat tapi juga menumbuhkan motivasi (niat) untuk hanya melakukan suatu hal dan tidak melakukan hal yang lain.</p>
<p>Alam pikiran mu&#8217;min adalah sebidang kebun yang diramaikan dengan berbagai pengetahuan, tapi di sana hanya ada satu ilmu yang menjadi pengendali (dominan) bagi dirinya, yaitu ilmu Allah. Bagaimana hal itu bisa terjadi?</p>
<p>Ketika orangtua mengirim anaknya ke sekolah, pada hakikatnya ia sedang mengawali suatu usaha pembentukan pandangan hidup bagi anaknya. Selanjutnya, para guru, berbagai buku, dan teman-teman, secara perlahan tapi pasti membuat si anak &#8216;mengenal kehidupan&#8217;. Tapi, sering kali, orangtua dibuat terkejut ketika sang anak yang disekolahkan itu tiba-tiba jadi pandai membantah nasihat-nasihat atau peringatan-peringatannya. Sang anak bahkan membuat orangtuanya marah karena mulai melanggar sesuatu yang sejak lama dianggap tabu. Si orangtua agaknya tak sadar bahwa si anak telah tumbuh menjadi manusia yang mempunyai pandangan hidup yang berbeda dengan dirinya.</p>
<p>Pendidikan adalah faktor pembentuk pandangan hidup, tak terkecuali pandangan hidup mu&#8217;min. Tapi, pada masa kini kita melihat begitu banyak orang yang mengaku mu&#8217;min tanpa harus menempuh proses pendidikan. Dengan demikian, jangan heran bila mereka kebanyakan tidak mampu mewujudkan iman ke dalam kehidupan, karena dalam otak mereka yang bernama iman itu memang tak pernah tergambar dengan jelas.</p>
<p>Tapi, bila iman terbentuk melalui pendidikan, mengapa pula banyak orang lulusan pesantren dan sekolah agama yang juga tak tahu gambaran iman yang sebenarnya? Hal itu tentu berkaitan dengan pendidik (guru) yang mengajar, bahan (materi) dan cara (metode) pendidikan yang diberlakukan.</p>
<p><strong>Allah sebagai mahaguru</strong></p>
<p>Sigmunt Freud yang lahir tahun 1856 (wafat tahun 1939) diakui dunia sebagai mahaguru psikologi, yang pengaruhnya hingga kini bukan hanya merambah bidang psikologi dan psikiatri, tapi juga merembet ke berbagai bidang-bidang lain. Salah satu ajarannya yang terkenal adalah tentang pembagian kepribadian manusia menjadi <em>id, ego</em>, dan <em>super ego</em>.</p>
<p><em>Id</em> dalam teori Freud adalah dorongan-dorongan naluriah yang mempengaruhi <em>ego</em> (aku; manusia) melalui alam bawah sadar; sementara <em>super ego</em>, yang antara lain berupa &#8216;kata hati&#8217; berperan sebagai sensor bagi <em>ego.</em> Bila ajaran Freud itu kita bandingkan dengan ajaran Allah yang menegaskan bahwa manusia (<em>ego</em>) ada kalanya dikendalikan dorongan-dorongan dari alam bawah sadar, alias nafsu (<em>id</em>) dan bisa juga dipengaruhi norma-norma sosial atau secara umum disebut ilmu (<em>super ego</em>), ketahuanlah bahwa teori psikoanalisa Freud itu bukan murni hasil temuannya. Ada kemungkinan kalau-kalau Freud hanya mencuri! Paling tidak, mungkin, Freud hanya &#8216;terilhami&#8217; oleh kata-kata Nabi Yusuf ini:</p>
<p>&#8220;Tak akan kubiarkaan diriku mengikuti nafsuku, karena sebenarnya nafsu itu hanya mendorong untuk berbuat buruk; kecuali nafsu yang mendapat rahmat (ajaran; wahyu) dari Tuhanku (Allah)…&#8221;<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Melalui perkataannya itu Nabi Yusuf dengan jelas menggambarkan posisi manusia (aku, <em>ego</em>) yang menjadi rebutan antara nafsu (<em>id</em>) dan kesadaran ilmiah (<em>super ego</em>) yang oleh Nabi Yusuf disebut sebagai rahmat Tuhanku.</p>
<p>Bila kita hubungkan dengan pengalaman Nabi Adam, manusia (<em>ego</em>) terjerumus ke alam bawah sadar (<em>id</em>), alias menjadi hilang kesadaran karena faktor <em>nis-yun</em> (lupa; lalai) alias tiadanya <em>&#8216;azam</em> (tekad baja) untuk berpegang teguh pada ajaran Allah (<em>super ego</em>).<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Melihat kenyataan demikian, siapa sebenarnya yang layak disebut sebagai mahaguru, Sigmunt Freud (pencuri ilmu) atau Allah (pemilik ilmu)?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ilmu Allah dan cara mempelajarinya</strong></p>
<p>Ilmu dalam definisi umum adalah &#8220;rangkaian keterangan yang didukung oleh fakta&#8221;. Sementara ilmu Allah adalah &#8220;rangkaian keterangan dari Allah yang didukung oleh fakta yang tergantung kepadaNya&#8221;. Tegasnya, <em>rangkaian keterangan dari Allah</em> itu adalah Al-Qurãn, dan <em>fakta yang tergantung kepadanya</em> adalah segala makhluknya, termasuk manusia.</p>
<p>Semua ilmu masuk ke dalam pikiran melalui proses belajar, baik langsung maupun tidak, baik secara resmi (formal) atau tidak. Tapi ilmu Allah hanya bisa masuk bila dipelajari secara sengaja, bahkan harus melalui prosedur (<em>sunnah</em>) dan proses (tahapan) tertentu. Hal itu dipaparkan Allah dalam surat Al-Muzzammil.<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><em>Pertama</em>, Allah menegaskan dalam surat tersebut, bahwa Al-Qurãn adalah materi pelajaran atau bahan ajar yang harus dipelajari secara langsung, tanpa perantara, dengan cara – ibarat makanan -  &#8216;menggigitnya&#8217; (<em>qaradha</em>) sedikit demi sedikit.</p>
<p><em>Kedua</em>, sebagai bukti kesungguhan, orang yang akan mengkaji Al-Qurãn harus mau membagi hidupnya menjadi dua fungsi, yaitu untuk mencari penghidupan (nafkah) pada siang hari, dan untuk kegiatan belajar-mengajar Al-Qurãn pada malam hari.<em> </em></p>
<p><em>Ketiga</em>, setiap ayat yang sudah dipelajari harus dibawa ke dalam shalat (menjadi bacaan shalat), supaya bisa bertahta dalam kesadaran.</p>
<p><strong>Ilmu Allah sebagai faktor <em>maghfirah</em></strong></p>
<p><em>Maghfirah</em> yang dimaksud di sini adalah <em>perbaikan</em>, bukan <em>pengampunan</em>; karena kata kerja dasarnya, <em>ghafara</em>, antara lain berarti <em>ashlaha</em>, memperbaiki atau dalam istilah sekarang mereformasi. Ada dua pengertian dari istilah reformasi. Pertama berarti merombak, yaitu mengubah bentuk yang sudah ada supaya menjadi lebih baik dan cocok. Kedua berarti membuang sama sekali bentuk lama dan menggantinya dengan bentuk yang baru. Dua hal itu, perombakan dan/atau penggantian, pasti terjadi sebagai dampak dari mempelajari suatu ilmu, termasuk ilmu Allah.</p>
<p>Otak manusia bukanlah sebidang kebun kosong. Ketika Allah menurunkan Al-Qurãn di jazirah Arabia, bangsa-bangsa yang tinggal di tanah itu dan sekitarnya (Arab, Yahudi, Persia, dll) tentu sudah mempunyai pandangan hidup sendiri-sendiri. Dengan kata lain, Al-Qurãn tidak &#8216;jatuh&#8217; ke ruang hampa. Begitu juga ketika kita, bangsa Indonesia, menghadapinya sekarang. Bila kita pinjam istilah Hegel, sebelum berhadapan dengan Al-Qurãn, kita sudah mempunyai sebuah &#8216;tesis&#8217;, yaitu pandangan hidup yang sudah lebih dulu terbentuk karena masuknya berbagai ajaran atau ilmu. Dengan demikian, Al-Qurãn datang sebagai sebuah antitesis bagi pandangan hidup kita itu. Selanjutnya, kita akan bertahan bila merasa bahwa tesis kita lebih baik. Sebaliknya, bila kita menyadari bahwa tesis kita buruk, maka kita akan berusaha menerima Al-Qurãn. Tapi hal itu tidak bisa dilakukan secara dadakan. Harus ada proses, yang sering kali bahkan meminta pengorbanan.</p>
<p>Pelaksanaan konsep surat Al-Muzzammil, pada dasarnya dimaksudkan untuk menciptakan perubahan bertingkat (kumulatif) pada pelakunya. Bila pandangan lama diumpamakan sebagai penyakit, yang membuat kita &#8217;sakit jiwa&#8217; (<em>maradhun fil-qalbi</em>), maka Al-Qurãn adalah obatnya, yang harus &#8216;ditelan&#8217; (dipelajari) butir demi butir (ayat demi ayat).</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Kadang disebut juga <em>view of life</em>. Orang Jerman menyebutnya <em>weltanschauung</em> atau <em>weltansicht;</em> orang Arab menggunakan istilah <em>tashawwurul-hayah </em>(تصور الحية).</p>
<p>&#160;</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Kamus Internasional</em>, Osman Raliby, N.V. Bulan Bintang, Jakarta, 1982.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>An image, especially something pleasant or beautiful that comes into your mind and affects you strongly.</em> (Longman Language Activator).</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Oxford Learner&#8217;s Dictionary of Current English.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Ing.: <em>doctrine</em>, pengertian aslinya adalah kepercayaan-kepercayaan dan ajaran Gereja (Kristen), yang selanjutnya merambah organisasi politik (partai politik, dan lain-lain. Apa yang menjadi doktrin selanjutnya diperlakukan sebagai dogma, suatu konsep yang harus diterima sebagai kebenaran yang tidak boleh dipertanyakan. Dalam teologi Islam (ilmu tauhid), misalnya, <em>rukun iman</em> yang berjumlah enam adalah suatu doktrin yang &#8216;kebenarannya&#8217; tidak boleh dipersoalkan.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Cara berpikir dengan rumusan tertentu. Lebih luas, logika adalah istilah yang digunakan untuk menyebut semua cara berpikir manusia. Sebagai contoh, seorang anak kecil menilai sesuatu dengan logika (cara berpikir, atau jalan pikiran) anak-anak.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Dalam bahasa aslinya, Arab, <em>bãtin</em> (باطن) berarti (1) bagian dalam dari segala sesuatu (isi), (2) rahasia; hakikat.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> ألدِّين هُوَ الْعَقْلْ لاَ الدَِينَ لِِمَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> ألإيمان يزيد و ينقص</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> إنما المؤمنون الذين إذا ذكرالله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم ءاياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكّلون</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Seperti diajarkan Allah dalam surat Al-Muzzammil.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Nilai yang dimaksud adalah <em>value</em>, yaitu <em>quality of being useful</em>, daya guna.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Surat Yusuf ayat 53.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Surat Thaha ayat 115.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Untuk lebih jelas, silakan baca naskah penulis yang berisi kajian surat Al-Muzzammil.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PERTAMAX?]]></title>
<link>http://smukiui.wordpress.com/2009/10/25/pertamax/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 16:45:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>gandax</dc:creator>
<guid>http://smukiui.wordpress.com/2009/10/25/pertamax/</guid>
<description><![CDATA[pertamax? itu judul untuk post berguna pertama tujuan blog ini memang untuk perantara smuki-UI Visi:]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>pertamax? itu judul untuk post berguna pertama</p>
<p>tujuan blog ini memang untuk perantara smuki-UI</p>
<p>Visi:</p>
<p>1.Memperbanyak korban SMUKie ke UI</p>
<p>2.Mensharing pengalaman-pengalaman di SMUKie dan UI</p>
<p>Misi:</p>
<p>1.Meracuni pikiran-pikiran SMUKiers agar berpikir bahwa UI itu worthed untuk diambil</p>
<p>2.Sering mengepost walau ga ada yang baca&#8230;.</p>
<p>So, kali ini gw mau share kapan sih penerimaan masuk UI itu?</p>
<p>sebenernya lo semua bisa aja ke penerimaan.ui.ac.id , tapi kali ini gw post aja demi kebaikan bersama</p>
<p>http://smukiui.wordpress.com/?attachment_id=11</p>
<p>Tapi utnuk BEASISWA, gw katakan, malang nasib anda, karena dosa2 alumni atas2 gw, SMUKie udah di BLACKLIST dari daftar penerima BEASISWA.</p>
<p>Untuk jalur prestasi,ato mo nanya2 soal daftar,  jangan ragu2, silahkan ke ruang BP, tanya pak Thomas, ato contact gw via FB/MSN</p>
<p>corbenik_the_rebirth@hotmail.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Visione di Daniela Domenici]]></title>
<link>http://nutrimente2.wordpress.com/2009/10/22/visione-di-daniela-domenici/</link>
<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 12:13:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>nutrimente2</dc:creator>
<guid>http://nutrimente2.wordpress.com/2009/10/22/visione-di-daniela-domenici/</guid>
<description><![CDATA[Carboni ardenti calore latente  fiamme accecanti pensiero bollente …visione… volti vicini dita che s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Carboni ardenti calore latente  fiamme accecanti pensiero bollente …visione… volti vicini dita che s]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ILUSI KEMAJUAN PEREMPUAN ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/10/21/ilusi-kemajuan-perempuan/</link>
<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:10:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/10/21/ilusi-kemajuan-perempuan/</guid>
<description><![CDATA[Ada kekeliruan mendasar dalam tulisan ahli kelirumonologi, Jaya Suprana, bertajuk “Kabinet” (Kompas,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3215" title="ilusi kemajuan perempuan" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/10/ilusi-kemajuan-perempuan.jpg?w=126" alt="ilusi kemajuan perempuan" width="126" height="150" />Ada kekeliruan mendasar dalam tulisan ahli kelirumonologi, Jaya Suprana, bertajuk “Kabinet” (Kompas, 17/10).</p>
<p>Kekeliruan terutama pada soal latar belakang pembentukan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan kondisi perempuan Indonesia.</p>
<p>Dibentuknya Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (istilah yang digunakan kabinet SBY, saat berdiri tahun 1978 bernama Menteri Negara Urusan Peranan Wanita), selain merupakan visi yang amat strategis dam futuristik Presiden Soeharto, juga merupakan komitmen Pemerintah Indonesia terhadap Dasawarsa Perempuan (1975-1985) yang dicanangkan PBB saat itu.</p>
<p>Pencanangan Dasawarsa Perempuan telah menstimulasi gerakan global untuk metasai soal ketidakadilan perempuan yang ditandai, antara lain, maraknya kekerasan terhadap perempuan di lingkup privat/domestik maupun publik, terutama oleh aparat negara dalam keadaan damai, lebih-lebih dalam situasi perang. Salah satu kesepakatan yang dikukuhkan Pasal 3 Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (1979) adalah pembentukan lembaga yang merupakan Mekanisme Nasional Pemajuan Perempuan.</p>
<p>Keputusan politik ini dimaksudkan untuk kian meningkatkan kedudukan dan peran perempuan guna mencapai kesetaraan dan keadilan jender di berbagai bidang. Tujuannya, meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa melalui pengembangan potensi tiap perempuan – agar setara dengan lelaki – sebagai aset bangsa.</p>
<p>Kaum perempuan Indonesia patut berterima kasih kepada Presiden Yudhoyono yang telah memercayakan posisi-posisi strategis bidang ekonomi, perdagangan dan kesehatan kepada perempuan (Kabinet 2004 – 2009). Dalam tulisan Jaya Suprana, prestasi ketiganya (kemajuan ekonomi makro) sulit dibantah.</p>
<p><strong><!--more-->Ilusi kemajuan</strong></p>
<p>Harus disadari, kemajuan ekonomi makro tidak serta-merta mengangkat derajat kehidupan perempuan. Tengok statistik BPS di bidang kesehatan misalnya, angka kematian ibu masih tinggi (tertinggi di ASEAN) ; angka kematian bayi dengan disparitas daerah yang besar.</p>
<p>Di bidang pendidikan, jumlah anak perempuan yang tak bersekolah dan berpendidikan rendah lebih besar dibandingkan anak lelaki dan masih kurang memasuki bidang iptek. Dalam bidang politik, keterwakilan perempuan di lembaga-lembaga pengambilan keputusan masih rendah.</p>
<p>Di bidang ketenagakerjaan, selain upah lebih rendah, umumnya perempuan ada di sektor informal, seperti TKW, tanpa perlindungan hukum dengan jenis pekerjaan berkarakter yang kotor ; berbahaya, dan penuh tekanan. Mereka korban terdepan binis kriminal perbudakan seksual dan perdagangan manusia.</p>
<p>Di bidang hukum, banyak peraturan tingkat nasional dan daerah yang menempatkan perempuan sebagai obyek seksual/sumber maksiat, misal UU Perkawinan, UU Pornografi, dan Perda Tangerang.</p>
<p>Belum lagi aneka bentuk diskriminasi sosial-budaya dan tafsir agama yang berkompikasi amat dalam terhadap kemiskinan, yang berwajah perempuan. Jumlah perempuan miskin juga yang terbesar. Semua itu menyadarkan kita, pengagungan peran ibu selama ini hanya ilusi.</p>
<p>Dari fakta-fatjta ini, anggapan Jaya Suprana bahwa perempuan Indonesia lebih maju dibandingkan negara lain, bahkan AS, sungguh keliru besar.</p>
<p><strong>Terjerembab</strong></p>
<p>Turunnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 108 (tahun 2006-2008) ke peringkat 111 (2009) harus menyadarkan kita, khususnya pengambil keputusan, ada yang salah dalam strategi pembangunan. Ketimpangan jender yang menjadi salah satu tolok ukur IPM, khususnya angka kematian ibu, menyebabkan Indonesia ada di peringkat terburuk. Mengapa angka kematian ibu ? Karena di situ tercermin aneka masalah negeri ini.</p>
<p>Kemajuan pembangunan manusia mensyaratkan kabinet berperspektif jender. Semoga yang dipilih sebagai menetri dan pimpinan lembaga setingkat menteri mampu mengintegrasikan perspektif jender dalam tiap kebijakan departemen atau lembaganya.</p>
<p>Menjadikan Kementerian Negara pemberdayaan Perempuan sebagai lembaga yang sudah berperspektif jender dalam kabinet jauh dari mencukupi untuk mengatasi ketertinggalan, ketimpangan (sosial dan jender), dan kemiskinan absolut. Apalagi untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milebium (MDGs), yang terkait pada kondisi perempuan.</p>
<p>Tujuan MDGs – mengurangi kemiskinan, meningkatkan kesehatan perempuan dengan menurunkan angka kematian ibu dan bayi, memastikan tiap anak menyelesaikan pendidikan menegah, memutar balik angka HIV/AIDS, yang korbannya kian banyak perempuan, menghentikan kerusakan lingkungan (beban tambahan perempuan miskin) – seharusnya menjadi paradigma tiap anggota kabinet SBY.</p>
<p>Hanya dengan begitu, target pembangunan yang dicanangkan SBY dalam pidato kenegaraan Agustus lalu akan tercapai.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Ilusi Kemajuan Perempuan – Nursyahbani Katjasungkana &#124; Koordinator Federasi LBH Apik Indonesia<br />
Kompas, 20.10.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[100ª postagem!]]></title>
<link>http://ifanbr.wordpress.com/2009/10/16/100%c2%aa-postagem/</link>
<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 16:57:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Heickf</dc:creator>
<guid>http://ifanbr.wordpress.com/2009/10/16/100%c2%aa-postagem/</guid>
<description><![CDATA[O iFanBR não poderia deixar escapar o 100º post. 100 postagens, 5444 visitas até o momento em apenas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[O iFanBR não poderia deixar escapar o 100º post. 100 postagens, 5444 visitas até o momento em apenas]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Miskin Visi: Parsialnya Pendekatan Pemerintah RI dalam Menghadapi Malaysia]]></title>
<link>http://jepits.wordpress.com/2009/10/14/miskin-visi-menghadapi-malaysi/</link>
<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 10:04:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>sugabus</dc:creator>
<guid>http://jepits.wordpress.com/2009/10/14/miskin-visi-menghadapi-malaysi/</guid>
<description><![CDATA[Meski beberapa diantaranya diperlukan, Menghadapi Malaysia yang semakin kurang ajar tidaklah cukup h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Meski beberapa diantaranya diperlukan, Menghadapi Malaysia yang semakin kurang ajar tidaklah cukup hanya dengan <strong>demonstrasi</strong>,  <strong>memulangkan dubes</strong>, <strong>bikin paten </strong>dan memperjuangkan <strong>international recognizion</strong> dari produk-2 budaya lokal kita. Untuk itu, Indonesia perlu melakukan paling tidak 2 hal besar: (1) Menelisik akar motivasi kekurang-ajaran Malaysia, baik secara politik regional, sosial budaya maupun ekonominya. Untuk itu, Indonesia perlu mengaktifkan operasi <em>inteligen </em>tingkat tinggi ke negara jiran dan kawasan regional Asia Tenggara. (2) Melihat kedalam sanubari bangsa ini guna mencari fundamental berbangsa apa yang terkikis dan apa yang telah hilang sama sekali.<!--more--></p>
<p>Alasan-alasan Malaysia misalkan &#8220;<em>itu tidak disengaja</em>&#8220;, &#8220;<em>sejak kecil kami telah menyanyikan lagu Rasa Sayange</em>&#8220;, &#8220;<em>itu kan budaya nusantara, jadi milik kami juga</em>&#8221; dan lain-lain menurut saya hanyalah alasan klise untuk menutupi sebuah strategi yang lebih besar. Kalau nggak tahu atau nggak sengaja mengapa kok berkali-kali. Nggak butuh orang jenius untuk kemudian menaruh curiga bahwa dibalik insiden-insiden ini pasti ada apa-apanya.</p>
<p>Malaysia bertetangga dekat dengan Singapore yang selama bertahun-tahun telah berkali-kali berhasil mempecundangi Indonesia baik dalam hal kekayaan alamya, keberpihakan penguasanya (baik lokal maupun nasional), eksploitasi Indonesia sebagai pangsa pasar, maupun kekayaan geo politik kita  untuk memakmurkan negri kecil tersebut. Malaysia dan Singapura sama-sama bekas jajahan Britain Raya, sehingga produk elit politik kedua negara tidaklah jauh berbeda cara pikir dan mentalitasnya. Melihat Sukses besar mengunakan leverage bisnis berupa OPR (other people resources) yang dalam hal ini adalah resources Indonesia, maka  mungkin saja Malaysia tertarik untuk melakukan hal serupa.</p>
<p>Mungkin para elit pemimpin kita tidak sempat berpikir (atau malah jangan-jangan tidak terpikir), kira-kira apa sih yang melatari tindakan-tindakan Malaysia tersebut ?. Sehingga responnya sangat sporadis dan parsial.  Semua bentuk respons, merupakan bentuk teknis dan mekanistis yang lebih didasari oleh logika bisnis belaka. Mulai dari pemanggilan dubes, ide memperluas international recognizion terhadap berbagai produk budaya kita (misalkan status world heritage dari Unesco dll), ataupun pematenan produk-produk budaya tersebut.  Semuanya adalah response &#8220;normal&#8221; yang sejatinya sangat merendahkan fakta bahwa rasa nasionalisme anak bangsa telah tergugah.</p>
<p>Terlepas dari banyaknya dosa-dosa lain terhadap bangsa ini semisal <a href="http://www.antarajatim.com/lihat/berita/11598/lagi-tkw-disiksa-di-malaysia" target="_blank">penyiksaan </a><a href="http://www.migrantcare.net/mod.php?mod=publisher&#38;op=viewarticle&#38;cid=3&#38;artid=590">TKI</a>, <a href="http://www.opensubscriber.com/message/zamanku@yahoogroups.com/8556130.html" target="_blank">traficking</a>, <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/02/13/20432948/malaysia.colong.kayu.indonesia" target="_blank">ataupun</a> <a href="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/04/09/Nasional/krn.20080409.127512.id.html" target="_blank">pembalakan</a> liar. Menurut saya, kita perlu melihat apa yang sedang terjadi di negara tetangga dengan lebih seksama. Sejauh pengamatan saya, Malaysa sebenarnya memiliki agenda tertentu dan ingin menunjukkan pada pada dunia melalui berbagai simbol. Misalkan : Pendirian menara Petronas sebagai menara kembar tertinggi di dunia pada tahun 1998, Pemberangkatan manusia Melayu (Asia Tenggara) pertama ke luar angkasa, pendeklarasian visi Malaysia sebagai negara supplier makanan halal terbesar di dunia, slogan Malaysia Trully Asia dll, mengindikasikan bahwa negara tersebut sedang menata bangunan reputasi dan visi internasionalnya.</p>
<p>Coba bandingkan hal ini dengan bangsa Indonesia. Praktis setelah pemerintahan Abdurrahaman Wahid, tidak ada lagi penawaran visi sebagai bangsa dari pemimpin negeri ini. Sebagai kilas balik coba kita renungkan: Sukarno pernah menawarkan visi sebagai one of new emerging forces di tata dunia baru pasca PD II, Suharto paling tidak mampu menjaga kewibawaan bangsa Indonesia di kawasan Asia Tenggara, Habibi ingin mengangkat negeri ini melalui peningkatan kapasitas teknologi industri dan akuisisi teknologi tinggi. Terakhir, Gus Dur menawarkan visi membangun poros Jakarta &#8211; Peking &#8211; New Delhi, serta mendorong visi sebagai negara bahari.  Setelah itu, Megawati bahkan SBY ternyata tidak menawarkan visi apapun yang bisa menjadi energi kolektif bangsa ini untuk bergerak bersama.</p>
<p>Bahkan energi besar yang bersumber pada rasa cinta bangsa dan negara Indonesia, yang muncul akibat diusik kekurang-ajaran Malaysia, pun tidak membuat penguasa kita sadar atas energi raksasa tidur itu.  Para elit seakan sibuk dengan urusan pribadi dan kelompoknya masing-masing. Miliaran rupiah dihamburkan untuk dana kampanye, kalau kalah untuk menuntut gugatan pemilu pula. Tapi orang sudah lupa lagi untuk bermimpi sebagai sebuah bangsa. Sudah lupa lagi rasanya bangga ketika bergaul dengan bangsa-bangsa lain dengan mental dan harkat yang sederajat.</p>
<p>O Sukarno, Habibi, Gusdur . . . . . . . ajak kami bermimpi lagi sebagai bangsa Indonesia.</p>
<p>Oleh : Ahmad Mughni<br />
Bangkalan, 14 Oktober 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Visi Misi D.KP Kab. OKI]]></title>
<link>http://zulkiflisolehssos.wordpress.com/2009/10/11/visi-misi-d-kp-kab-oki/</link>
<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 01:16:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>zulkiflisolehssos</dc:creator>
<guid>http://zulkiflisolehssos.wordpress.com/2009/10/11/visi-misi-d-kp-kab-oki/</guid>
<description><![CDATA[Visi Misi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ogan Komering Ilir adalah bagian dari Visi Misi Kab]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Visi Misi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ogan Komering Ilir adalah bagian dari Visi Misi Kabupaten Ogan Komering Ilir, untuk mewujudkannya diperlukan jalinan kerjasama antara aparat pemerintah khususnya di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten OKI dan masyarakat luas, sehingga Visi Misi tersebut dapat terlaksana dengan baik sesuai yang diharapkan. Coba <a href="http://zulkiflisolehssos.wordpress.com/files/2009/10/visi-misi-dkp.doc" target="_blank">Klik disini.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saules cilts]]></title>
<link>http://saulescilts.wordpress.com/2009/10/06/saules-cilts/</link>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 11:27:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>saulescilts</dc:creator>
<guid>http://saulescilts.wordpress.com/2009/10/06/saules-cilts/</guid>
<description><![CDATA[Iedomāsimies ka atrodamies tropu mežos, pērtiķu un papagaiļu dzimtenē. Te bezgalīgajā debesu zilgmē ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter size-full wp-image-11" title="bitedraw" src="http://saulescilts.wordpress.com/files/2009/10/bitedraw.jpg" alt="bitedraw" width="182" height="248" /></p>
<p>Iedomāsimies ka atrodamies tropu mežos, pērtiķu un papagaiļu dzimtenē.</p>
<p>Te bezgalīgajā debesu zilgmē slej galotnes milzīgi koki. Gumijkoku, palmu un mangroves koku platie vainagi veido vienlaidu, zaļu telti. Koku stumbri šajā teltī apauguši ar sūnām un ķērpjiem. Bet šo meža milžu pakājē ir vesals klājiens ēnaugu- paparžu.</p>
<p>Un ap visu, kas te aug &#8211; gan ap koku stumbriem un zariem, gan ap kokveida papardēm un krūmiem, &#8211; vijas liānas. Melnas, brūnas un gaiši zaļas liānu stīgas kā kuģa tauvas pārmestas no koka uz koku.</p>
<p>Paparžu biezoknī pavīd dažādu nokrāsu orchideju ziedi. Augi te veido it kā dzīvu necaurejamu sienu. Kur vien vēl var atrast brīvu vietu aug ziedošās zāles: ananāsu dzimtas bromelijas, zeltainās begonijas, dzeltanās vijolītes un plankumotās kalceolarijas.</p>
<p>Ejot arvien dziļāk meža biezoknī, var uziet bišu mājokļus. Koku zaros karājas vaļējas sudrabaina vaska šūnu kāres. šajās kārēs dzīvo un rosās bites.</p>
<p>Tropu joslas iedzīvotāji bites sauc par &#8221;Saules cilti&#8221;. Viņas taču izlido no savas ligzdas tikai tad, kad saule spīd un silda. Kolīdz pie debesīm parādās mākonītis, bites tūdaļ no malu malām steidzas atpakaļ uz savu kāri.Vienīgi visa saime kopīgiem spēkiem spēj aizsargāties pret dažādām likstām.</p>
<p>Bišu dzimtā, pie kurām pieder arī medus bite jeb mājas bite, ko audzē cilvēks, ietilpst četras sugas.</p>
<p>Tropu zemēs dzīvo tā saucamās pundurbites. Viņas izveido no vaska vienu pašu 15 centimetru garu kāri un līdzīgi lapsenēm piestiprina to pie koku zariem.</p>
<p>Indijas lielās bites arī izveido vienu pašu kāri, taču tā jau ir ap 60 centimetru gara. Šo milzīgo, no visām pusēm vaļējo kāri viņas arī piestiprina pie koku zariem.</p>
<p>Vaļējās kāres grūti nosargāt no ienaidniekiem, bet pundurbites un indijas lielās bites nespēj ierīkot citādus mājokļus. Neskaitāmie mēģinājumi piespiest, piemēram lielo indijas biti dzīvot cilvēku izveidotos stropos nav izdevušies. Bites katru reizi pameta ikkatru mājokli, ko biškopji viņām ierīkoja.</p>
<p>Indijā, Ķīnā, Japānā izplatītas tā saucamās indijas bites. Pretēji pundurbitēm un indijas lielajām bitēm tās dzīvo koku dobumos, kur ierīko vairākas vaska kāres.</p>
<p>Indijas bites ir ļoti kustīgas, rosīgi velk šūnas, labi iztur straujas temperatūru maiņas. Bet savus mājokļus šīs bites aizstāv ļoti gļēvi, dažkārt pat bez sevišķa iemesla pamet savus cirmeņus.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Visi dan Misi]]></title>
<link>http://smpn1kayuagung.wordpress.com/2009/10/06/visi-dan-misi/</link>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 04:15:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>smpn1kayuagung</dc:creator>
<guid>http://smpn1kayuagung.wordpress.com/2009/10/06/visi-dan-misi/</guid>
<description><![CDATA[V I S I Unggul dalam prestasi pelopor dalam iptek dan imtaq, teladan dalam bersikap dan bertindak. K]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">
<p><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:underline;"><em><strong>V I S I</strong></em></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Unggul dalam prestasi pelopor dalam iptek dan imtaq, teladan dalam bersikap dan bertindak.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Kami memilih visi ini untuk tujuan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Visi ini menjiwai warga sekolah kami untuk selalu mewujudkannya setiap saat dan berkelanjutan dalam mencapai tujuan sekolah.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Visi tersebut mencerminkan profil dan cita-cita sekolah yang:<br />
a. berorientasi ke depan dengan memperhatikan potensi kekinian<br />
b. sesuai dengan norma dan harapan masyarakat<br />
c. ingin mencapai keunggulan<br />
d. mendorong semangat dan komitmen seluruh warga sekolah<br />
e. mendorong adanya perubahan yang lebih baik<br />
f. mengarahkan langkah-langkah strategis (misi) sekolah.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:underline;"><em><strong>M I S I</strong></em></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> </em><em>Untuk mencapai visi tersebut, perlu dilakukan suatu misi berupa kegiatan jangka panjang dengan arah yang jelas.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Di setiap kerja komunitas pendidikan, kami selalu menumbuhkan disiplin sesuai aturan bidang kerja masing-masing, saling menghormati dan saling percaya dan tetap menjaga hubungan kerja yang harmonis dengan berdasarkan pelayanan prima, kerjasama, dan silaturahmi. Penjabaran misi di atas meliputi :</em></span></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">1. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga setiap siswa berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi yang dimiliki.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">2. Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">3. Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat berkembang secara optimal.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">4. Menumbuhkan dan mendorong keunggulan dalam penerapan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">5. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan budaya bangsa sehingga terbangun siswa yang </span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"> kompeten dan berakhlak mulia.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">6. Mendorong lulusan yang berkualitas, berprestasi, berakhlak tinggi, dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa.</span></div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Visi dan Peta Jalan Menuju Negara Maju]]></title>
<link>http://syukriy.wordpress.com/2009/09/28/visi-dan-peta-jalan-menuju-negara-maju/</link>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 03:43:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>syukriy</dc:creator>
<guid>http://syukriy.wordpress.com/2009/09/28/visi-dan-peta-jalan-menuju-negara-maju/</guid>
<description><![CDATA[Faisal Basri Lima tahun ke depan adalah masa sangat menentukan bagi perekonomian nasional. Kita memi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Faisal Basri Lima tahun ke depan adalah masa sangat menentukan bagi perekonomian nasional. Kita memi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CONTOH PROPOSAL USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG]]></title>
<link>http://saungfermentasi.wordpress.com/2009/09/25/contoh-proposal-usaha-penggemukan-sapi-potong/</link>
<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 12:46:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>adityarial</dc:creator>
<guid>http://saungfermentasi.wordpress.com/2009/09/25/contoh-proposal-usaha-penggemukan-sapi-potong/</guid>
<description><![CDATA[PROPOSAL USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG PENDAHULUAN Latar Belakang Usaha penggemukan sapi potong meru]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2 style="text-align:center;"><strong>PROPOSAL</strong></h2>
<h2 style="text-align:center;"><strong>USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG</strong></h2>
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-307" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/25/contoh-proposal-usaha-penggemukan-sapi-potong/sapi/"><img class="size-full wp-image-307 aligncenter" title="sapi" src="http://organikganesha.files.wordpress.com/2009/09/sapi.gif?w=200&#038;h=199" alt="sapi" width="200" height="199" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<h2 style="text-align:center;"><strong>PENDAHULUAN</strong></h2>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><strong><strong>Latar Belakang</strong></strong></h3>
<p><strong><strong><br />
</strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Usaha penggemukan sapi potong merupakan salah satu peluang usaha yang prospektif yang dapat dikembangkan di kabupaten Subang. Hal ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kebutuhan akan konsumsi daging di Indonesia  dari tahun ke tahun, sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan rata-rata kualitas hidup masyarakat serta semakin tingginya kesadaran dari masyarakat untuk mengkonsumsi pangan dengan kualitas baik dan kuantitas yang cukup.</p>
<p style="text-align:justify;">Usaha penggemukan sapi potong juga relevan dengan upaya pelestarian sumberdaya lahan. Kotoran sapi yang diperoleh selama masa penggemukan, selain volumenya yang cukup besar juga memiliki berbagai kandungan senyawa dan mikroorganisme   yang dapat digunakan untuk memperbaiki tekstur dan kesuburan tanah. Dalam tinjauan makro, pengembangan usaha penggemukan sapi juga merupakan salah satu upaya penghematan devisa. Pengembangan usaha penggemukan sapi merupakan salah satu upaya substitusi impor. Dengan demikian usaha penggemukan sapi sangat layak dalam tinjauan mikro, dan sangat terpuji dalam pandangan makro.</p>
<p><!--moreArtikel selengkapnya...--></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<h3><strong><strong>Sekilas Tentang  Sapi</strong></strong></h3>
<p><strong><strong><br />
</strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa jenis sapi yang biasa digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :</p>
<ol>
<li>Sapi Ongole</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.</p>
<ol>
<li>Sapi Bali</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru.</p>
<ol>
<li>Sapi Brahman</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.</p>
<ol>
<li>Sapi Madura</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.</p>
<ol>
<li>Sapi Limousin</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<h3><strong>V<strong>isi dan Misi</strong></strong></h3>
<p><strong><strong><br />
</strong></strong></p>
<p><strong> </strong>Visi dan misi rencana usaha penggemukan ternak sapi potong :</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Melalui pola kemitraan antara manajemen, investor,      dan petani ternak diharapkan dapat terjalin kerjasama yang kuat sehingga      tujuan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama bagi      para petani ternak  dapat tercapai.</li>
<li style="text-align:justify;">Memanfaatkan      sumber daya alam  yang dimiliki      Kabupaten Subang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya      seoptimal dan seefisien mungkin untuk mengembangkan usaha ternak      penggemukan sapi potong.</li>
<li style="text-align:justify;">Meningkatkan      populasi dan produksi ternak dalam upaya pemenuhan kebutuhan produksi      ternak khususnya di jawa Barat.</li>
</ol>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<h2 style="text-align:center;"><strong>ANALISIS PASAR</strong></h2>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><strong>Target Pasar</strong></h3>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Potensi usaha ternak sapi cukup menyebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Pasar yang paling potensial untuk daging sapi adalah kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan wilayah Bodetabek. Namun demikian jumlah produksi tersebut masih belum memenuhi permintaan untuk pasar lokal sekalipun. Sehingga dalam rencana usaha ternak penggemukan sapi potong ini ditargetkan untuk mengisi kebutuhan pasar lokal Subang.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<h3><strong>Kebutuhan dan Proyeksi Pasar</strong></h3>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Peluang peningkatan bisnis ternak sapi untuk pasar domestik sangat terbuka luas. Ternak sapi secara periodik memiliki permintaan yang tinggi yaitu menjelang Hari Raya Kurban. Selain itu ternak sapi juga dapat dikembangkan untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi daging harian.</p>
<p style="text-align:justify;">Produk ikutan dalam usaha penggemukan sapi diluar daging adalah kulit. Permintaan kulit sebagai bahan baku aneka kerajinan dan bahan asesoris pakaian memiliki kecenderungan yang terus meningkat. Ada beberapa pengrajin kulit di Garut misalnya, terpaksa gulung tikar karena kesulitan memperoleh kulit sebagai bahan baku usahanya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<h2 style="text-align:center;"><strong>ANALISIS KEUANGAN</strong></h2>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><strong>Asumsi Keuangan</strong></h3>
<p><strong><br />
</strong></p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Usaha dirancang untuk menghasilkan 20 ekor sapi PO ( peranakan ongole) setiap periode penggemukan.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Satu ekor sapi membutuhkan luas kandang individual 4 m<sup>2</sup>,      sehingga luas kandang yang dibutuhkan 80 m<sup>2</sup> (biaya 1 m<sup>2</sup> = Rp 250.000,00),</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Total biaya pembuatan kandang Rp <strong>20.000.000,00.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan masa pakai 10 tahun maka biaya penyusutan per tahun = <strong>Rp 2.000.000,00 </strong></p>
<p style="text-align:justify;">atau per 90 hari masa penggemukan = <strong>Rp. 500.000,00</strong></p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Sapi digemukan selama 90 hari. Berat awal sapi bakalan rata-rata 300 kg dengan harga per  kg  Rp. 17.000,00.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Pertambahan berat badan harian yang diinginkan adalah 0.5 kg per hari, sehingga berat akhir sapi setelah masa penggemukan 90 hari adalah 345 kg.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka total pendapatan adalah 20 ekor x 345 x Rp. 17.000,00 =       <strong>Rp.117.300.000,00</strong></p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Setiap sapi menghasilkan 10 kg kotoran, sehingga selama periode penggemukan  90 hari seekor sapi menghasilkan 900 kg kotoran dengan harga per kg Rp. 200.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Total pendapatan dari hasil penjualan kotoran sapi  20 ekor x 900 kg x Rp 200,00 = <strong>3.600.000,00</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<h3><strong>Rencana Investasi</strong></h3>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hasil analisis asumsi keuangan usaha ternak sapi potong volume 20 ekor periode produksi 90 hari dapat dilihat dalam tabel di bawah ini</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">NO</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">URAIAN</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">SATUAN   UNIT</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">VOLUME</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">HARGA   / UNIT (Rp)</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">NILAI   (Rp)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">1.</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">Pembuatan   Kandang</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">Meter</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">80</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">250.000</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">20.000.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">2.</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">Pembelian   Sapi Bakalan</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">Ekor</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">20</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">5.100.000</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">102.000.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">3.</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">Pakan   Konsentrat</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">Kg</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">1800</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">1.000</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">1.800.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">4.</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">Pakan   Hijauan</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">Kg</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">54.000</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">100</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">5.400.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">5.</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">Obat-Obatan</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">botol</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">20</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">50.000</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">1.000.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center"><strong>Total</strong></p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right"><strong> </strong></p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right"><strong> </strong></p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right"><strong>130.200.000</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h3><strong>Proyeksi Laba Rugi / 90 hari masa penggemukan</strong></h3>
<p><strong><br />
</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="49" valign="top"><strong>No.</strong></td>
<td width="376" valign="top"><strong>INVESTASI</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="center"><strong>JUMLAH (Rp)</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Biaya Tetap </strong></td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">1.</td>
<td width="376" valign="top">Penyusutan   Kandang</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">500.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">2.</td>
<td width="376" valign="top">Penyusutan   Peralatan</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">200.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"></td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Biaya Variabel /Produksi</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">1.</td>
<td width="376" valign="top">Pembelian   sapi bakalan</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">102.000.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">2.</td>
<td width="376" valign="top">Pakan konsentrat</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">1.800.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">3.</td>
<td width="376" valign="top">Pakan hijauan</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">5.400.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Biaya lain-lain</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">1.</td>
<td width="376" valign="top">Biaya   listrik &#38; Telpon</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">300.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">2.</td>
<td width="376" valign="top">Transportasi</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">500.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong> </strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right"><strong> </strong></p>
</td>
</tr>
<tr style="text-align:left;">
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Total biaya produksi</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right"><strong>110.700.000,00</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Pendapatan</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">1.</td>
<td width="376" valign="top">Penjualan   sapi hasil penggemukan</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">117.300.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">2.</td>
<td width="376" valign="top">Penjualan   kotoran sapi</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">3.600.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr style="text-align:left;">
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Total Pendapatan</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right"><strong>120.900.000,00</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top">
<p style="text-align:left;"><strong>Proyeksi laba / rugi (keuntungan)</strong></p>
</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right"><strong>10.200.000,00</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sistem bagi hasil sebesar 70 : 30 dengan perbandingan 70 % untuk peternak  (plasma) dan 30% untuk pemerintah daerah (inti). Maka keuntungan yang diperoleh yaitu :</p>
<ul>
<li>Pemda   sebesar  30% x Rp 10.200.000,00                 =  <strong>Rp      3.060.000,00</strong></li>
<li>Peternak sebesar 70% x Rp 10.200.000,00                 =  Rp <strong>7.140.000,00</strong></li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CONTOH PROPOSAL USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG]]></title>
<link>http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/25/contoh-proposal-usaha-penggemukan-sapi-potong/</link>
<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 12:46:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>AdityaRial</dc:creator>
<guid>http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/25/contoh-proposal-usaha-penggemukan-sapi-potong/</guid>
<description><![CDATA[PROPOSAL USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG PENDAHULUAN Latar Belakang Usaha penggemukan sapi potong meru]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2 style="text-align:center;"><strong>PROPOSAL</strong></h2>
<h2 style="text-align:center;"><strong>USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG</strong></h2>
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-307" href="http://organikganesha.wordpress.com/2009/09/25/contoh-proposal-usaha-penggemukan-sapi-potong/sapi/"><img class="size-full wp-image-307 aligncenter" title="sapi" src="http://organikganesha.wordpress.com/files/2009/09/sapi.gif" alt="sapi" width="200" height="199" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<h2 style="text-align:center;"><strong>PENDAHULUAN</strong></h2>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><strong><strong>Latar Belakang</strong></strong></h3>
<p><strong><strong><br />
</strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Usaha penggemukan sapi potong merupakan salah satu peluang usaha yang prospektif yang dapat dikembangkan di kabupaten Subang. Hal ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kebutuhan akan konsumsi daging di Indonesia  dari tahun ke tahun, sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan rata-rata kualitas hidup masyarakat serta semakin tingginya kesadaran dari masyarakat untuk mengkonsumsi pangan dengan kualitas baik dan kuantitas yang cukup.</p>
<p style="text-align:justify;">Usaha penggemukan sapi potong juga relevan dengan upaya pelestarian sumberdaya lahan. Kotoran sapi yang diperoleh selama masa penggemukan, selain volumenya yang cukup besar juga memiliki berbagai kandungan senyawa dan mikroorganisme   yang dapat digunakan untuk memperbaiki tekstur dan kesuburan tanah. Dalam tinjauan makro, pengembangan usaha penggemukan sapi juga merupakan salah satu upaya penghematan devisa. Pengembangan usaha penggemukan sapi merupakan salah satu upaya substitusi impor. Dengan demikian usaha penggemukan sapi sangat layak dalam tinjauan mikro, dan sangat terpuji dalam pandangan makro.</p>
<p><!--moreArtikel selengkapnya...--></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<h3><strong><strong>Sekilas Tentang  Sapi</strong></strong></h3>
<p><strong><strong><br />
</strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa jenis sapi yang biasa digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :</p>
<ol>
<li>Sapi Ongole</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.</p>
<ol>
<li>Sapi Bali</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru.</p>
<ol>
<li>Sapi Brahman</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.</p>
<ol>
<li>Sapi Madura</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.</p>
<ol>
<li>Sapi Limousin</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<h3><strong>V<strong>isi dan Misi</strong></strong></h3>
<p><strong><strong><br />
</strong></strong></p>
<p><strong> </strong>Visi dan misi rencana usaha penggemukan ternak sapi potong :</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Melalui pola kemitraan antara manajemen, investor,      dan petani ternak diharapkan dapat terjalin kerjasama yang kuat sehingga      tujuan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama bagi      para petani ternak  dapat tercapai.</li>
<li style="text-align:justify;">Memanfaatkan      sumber daya alam  yang dimiliki      Kabupaten Subang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya      seoptimal dan seefisien mungkin untuk mengembangkan usaha ternak      penggemukan sapi potong.</li>
<li style="text-align:justify;">Meningkatkan      populasi dan produksi ternak dalam upaya pemenuhan kebutuhan produksi      ternak khususnya di jawa Barat.</li>
</ol>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<h2 style="text-align:center;"><strong>ANALISIS PASAR</strong></h2>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><strong>Target Pasar</strong></h3>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Potensi usaha ternak sapi cukup menyebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Pasar yang paling potensial untuk daging sapi adalah kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan wilayah Bodetabek. Namun demikian jumlah produksi tersebut masih belum memenuhi permintaan untuk pasar lokal sekalipun. Sehingga dalam rencana usaha ternak penggemukan sapi potong ini ditargetkan untuk mengisi kebutuhan pasar lokal Subang.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<h3><strong>Kebutuhan dan Proyeksi Pasar</strong></h3>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Peluang peningkatan bisnis ternak sapi untuk pasar domestik sangat terbuka luas. Ternak sapi secara periodik memiliki permintaan yang tinggi yaitu menjelang Hari Raya Kurban. Selain itu ternak sapi juga dapat dikembangkan untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi daging harian.</p>
<p style="text-align:justify;">Produk ikutan dalam usaha penggemukan sapi diluar daging adalah kulit. Permintaan kulit sebagai bahan baku aneka kerajinan dan bahan asesoris pakaian memiliki kecenderungan yang terus meningkat. Ada beberapa pengrajin kulit di Garut misalnya, terpaksa gulung tikar karena kesulitan memperoleh kulit sebagai bahan baku usahanya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<h2 style="text-align:center;"><strong>ANALISIS KEUANGAN</strong></h2>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><strong>Asumsi Keuangan</strong></h3>
<p><strong><br />
</strong></p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Usaha dirancang untuk menghasilkan 20 ekor sapi PO ( peranakan ongole) setiap periode penggemukan.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Satu ekor sapi membutuhkan luas kandang individual 4 m<sup>2</sup>,      sehingga luas kandang yang dibutuhkan 80 m<sup>2</sup> (biaya 1 m<sup>2</sup> = Rp 250.000,00),</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Total biaya pembuatan kandang Rp <strong>20.000.000,00.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan masa pakai 10 tahun maka biaya penyusutan per tahun = <strong>Rp 2.000.000,00 </strong></p>
<p style="text-align:justify;">atau per 90 hari masa penggemukan = <strong>Rp. 500.000,00</strong></p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Sapi digemukan selama 90 hari. Berat awal sapi bakalan rata-rata 300 kg dengan harga per  kg  Rp. 17.000,00.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Pertambahan berat badan harian yang diinginkan adalah 0.5 kg per hari, sehingga berat akhir sapi setelah masa penggemukan 90 hari adalah 345 kg.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka total pendapatan adalah 20 ekor x 345 x Rp. 17.000,00 =       <strong>Rp.117.300.000,00</strong></p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Setiap sapi menghasilkan 10 kg kotoran, sehingga selama periode penggemukan  90 hari seekor sapi menghasilkan 900 kg kotoran dengan harga per kg Rp. 200.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Total pendapatan dari hasil penjualan kotoran sapi  20 ekor x 900 kg x Rp 200,00 = <strong>3.600.000,00</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<h3><strong>Rencana Investasi</strong></h3>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hasil analisis asumsi keuangan usaha ternak sapi potong volume 20 ekor periode produksi 90 hari dapat dilihat dalam tabel di bawah ini</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">NO</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">URAIAN</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">SATUAN   UNIT</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">VOLUME</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">HARGA   / UNIT (Rp)</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">NILAI   (Rp)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">1.</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">Pembuatan   Kandang</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">Meter</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">80</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">250.000</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">20.000.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">2.</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">Pembelian   Sapi Bakalan</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">Ekor</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">20</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">5.100.000</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">102.000.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">3.</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">Pakan   Konsentrat</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">Kg</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">1800</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">1.000</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">1.800.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">4.</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">Pakan   Hijauan</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">Kg</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">54.000</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">100</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">5.400.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center">5.</p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center">Obat-Obatan</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center">botol</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">20</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">50.000</p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right">1.000.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
</td>
<td width="175" valign="top">
<p align="center"><strong>Total</strong></p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right"><strong> </strong></p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right"><strong> </strong></p>
</td>
<td width="106" valign="top">
<p align="right"><strong>130.200.000</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h3><strong>Proyeksi Laba Rugi / 90 hari masa penggemukan</strong></h3>
<p><strong><br />
</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="49" valign="top"><strong>No.</strong></td>
<td width="376" valign="top"><strong>INVESTASI</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="center"><strong>JUMLAH (Rp)</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Biaya Tetap </strong></td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">1.</td>
<td width="376" valign="top">Penyusutan   Kandang</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">500.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">2.</td>
<td width="376" valign="top">Penyusutan   Peralatan</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">200.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"></td>
<td width="213" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Biaya Variabel /Produksi</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">1.</td>
<td width="376" valign="top">Pembelian   sapi bakalan</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">102.000.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">2.</td>
<td width="376" valign="top">Pakan konsentrat</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">1.800.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">3.</td>
<td width="376" valign="top">Pakan hijauan</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">5.400.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Biaya lain-lain</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">1.</td>
<td width="376" valign="top">Biaya   listrik &#38; Telpon</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">300.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">2.</td>
<td width="376" valign="top">Transportasi</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">500.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong> </strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right"><strong> </strong></p>
</td>
</tr>
<tr style="text-align:left;">
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Total biaya produksi</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right"><strong>110.700.000,00</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Pendapatan</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">1.</td>
<td width="376" valign="top">Penjualan   sapi hasil penggemukan</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">117.300.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">2.</td>
<td width="376" valign="top">Penjualan   kotoran sapi</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">3.600.000,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr style="text-align:left;">
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top"><strong>Total Pendapatan</strong></td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right"><strong>120.900.000,00</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top"></td>
<td width="376" valign="top">
<p style="text-align:left;"><strong>Proyeksi laba / rugi (keuntungan)</strong></p>
</td>
<td width="213" valign="top">
<p align="right"><strong>10.200.000,00</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sistem bagi hasil sebesar 70 : 30 dengan perbandingan 70 % untuk peternak  (plasma) dan 30% untuk pemerintah daerah (inti). Maka keuntungan yang diperoleh yaitu :</p>
<ul>
<li>Pemda   sebesar  30% x Rp 10.200.000,00                 =  <strong>Rp      3.060.000,00</strong></li>
<li>Peternak sebesar 70% x Rp 10.200.000,00                 =  Rp <strong>7.140.000,00</strong></li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PERLAKUKAN KHUSUS USAHA MIKRO ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/09/22/perlakukan-khusus-usaha-mikro/</link>
<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 03:21:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/09/22/perlakukan-khusus-usaha-mikro/</guid>
<description><![CDATA[Perlakuan terhadap pengusaha mikro pada pemerintahan mendatang membutuhkan pendekatan finansial khus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2734" title="bedakan usaha mikro" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/09/bedakan-usaha-mikro.jpg?w=121" alt="bedakan usaha mikro" width="121" height="150" />Perlakuan terhadap pengusaha mikro pada pemerintahan mendatang membutuhkan pendekatan finansial khusus. Mereka tidak dapat disamakan dengan usaha kecil dan menegah karena umumnya persyaratan perbankan sulit dijangkau oleh jutaan pengusaha mikro.</p>
<p>Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Sandiaga S Uno mengemukakan ringkasan “ Roadmap Pengembangan UMKM dan Koperasi “ di Jakarta (17/9).</p>
<p>Sehari sebelumnya, roadmap atau peta jalan yang diharapkan dijadikan acuan pemerintahan baru mendatang diserahkan kepada Ketua Umum Kadin Indonesia dan tim pengkaji untuk disusun secara komprehensif baik visi, misi maupun rencana aksinya. Peta jalan ini merupakan kajian atas berbagai masukan dari pelaku usaha ataupun pengamat ekonomi serta perbankan.</p>
<p>Sandiaga menjelaskan, jumlah usaha mikro di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencapai 50,7 juta unit atau 98,9 persen dari seluruh unit UMKM. Sementara itu, usaha kecil mencapai sekitar 520.220 (1,01 persen), usaha menengah 39.660 (0,08 persen), dan usaha besar 4.370 (0,01 persen).</p>
<p>“ Pemerintahan baru haruslah mengupayakan ‘kenaikan kelas’ dari seluruh unit usaha tersebut. Pengusaha mikro harus bisa naik menjadi pengusaha kecil, begitu juga pengusaha kecil harus naik ke pengusaha menengah. Lalu, pengusaha menengah harus naik ke pengusaha besar, “ ujarnya.</p>
<p>Menurut Sandiaga, selama ini pemerintah salah kaprah dalam membantu usaha mikro melalui pendekatan pembiayaan kredit mikro. Mekanisme perbankan selalu dipakai untuk melayani usaha mikro atau pemerintaj sudah mempersepsikan usaha mikro dengan subsubsidi sebagai bantuan untuk usaha mikro.</p>
<p><!--more-->Sejumlah departemen sudah mengarahkan perhatian pada usaha mikro. Namun, pendekatannya masih menggunakan mekanisme subsidi dan melibatkan perbankan. Undang-Undang Lembaga Keuangan Mikro sendiri gagal dalam setiap pengkajiannya.</p>
<p><strong>Pemisahan tegas<br />
</strong><br />
Dalam peta jalan, Kadin menilai perlu memisahkan kebijakan secara tegas antara usaha mikro dan usaha kecil-menengah. Usaha mikro memerlukan kebijakan pemberdayaan dan akses pada kredit mikro, sedangkan usaha kecil dan menengah lebih pada peningkatan kapasitas.</p>
<p>Dalam konsepnya, Kadin ingin mengupayakan pembiayaan usaha mikro didekati dengan cara memberikan kredit terlebih dahulu dengan mencermati berbagai keunggulan usaha mikro. Jadi, pelaku usaha mikro memiliki peluang mengembangkan usaha menjadi pengusaha kecil atau menengah.</p>
<p>Menurut Sandiaga, pendekatan ini pun berbeda dengan koperasi simpan pinjam. Kalau koperasi simpan pinjam, orang harus menabung dahulu, baru kemudian diperbolehkan meminjam uang untuk modal usaha.</p>
<p>Ketua Yayasan Bina Swasaya Bambang Ismawan mengatakan, : Sangat besarnya jumlah usaha mikro semestinya menjadi kesadaran bersama, khususnya pemerintah, untuk meningkatkan kelas usaha mikro. Jadi, sah-sah saja dibentuk lembaga baru pada pemerintahan mendatang.:</p>
<p>Menurut Bambang, permodalan usaha mikro terus tergerus inflasi. Peran pemerintah sangatlah dibutuhkan.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Bedakan Usaha Mikro – Kompas, 18.09.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Masalah Keagenan dalam Penganggaran Daerah]]></title>
<link>http://syukriy.wordpress.com/2009/09/17/masalah-keagenan-dalam-penganggaran-daerah-4/</link>
<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 01:46:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>syukriy</dc:creator>
<guid>http://syukriy.wordpress.com/2009/09/17/masalah-keagenan-dalam-penganggaran-daerah-4/</guid>
<description><![CDATA[Masalah-masalah keagenan (agency problems) selalu muncul dalam setiap hubungan keagenan (principal-a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Masalah-masalah keagenan (agency problems) selalu muncul dalam setiap hubungan keagenan (principal-a]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
