<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>wacana &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/wacana/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "wacana"</description>
	<pubDate>Sat, 25 May 2013 00:30:28 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[darma wacana]]></title>
<link>http://yanarikariawan.wordpress.com/2012/10/29/darma-wacana/</link>
<pubDate>Mon, 29 Oct 2012 04:04:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>yanarik</dc:creator>
<guid>http://yanarikariawan.wordpress.com/2012/10/29/darma-wacana/</guid>
<description><![CDATA[BERLATIH UNTUK MENJAGA SIFAT DEWATA DALAM  DIRI   Yang terhormat bapak dosen teknik penyuluhan agama]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><b>BERLATIH UNTUK MENJAGA SIFAT DEWATA DALAM  DIRI</b></p>
<p><b> </b></p>
<p><b><i>Yang terhormat bapak dosen teknik penyuluhan agama hindu,dan  teman-teman yang saya banggakan dan saya cintai sebelumnya terimalah salam penganjali dari saya</i></b></p>
<p><b> </b></p>
<p><b><i>Om swastyastu</i></b></p>
<p><b><i>Om awighnamastu namo saddham</i></b></p>
<p><b><i>Semoga karunia hyang widhi yang maha agung selalu menyertai kita semua.</i></b></p>
<p><b><i>Semoga cinta kasihnya senantiasa menyertai kita semua,dan semoga kebijaksanaan nya senantiasa menerangi kegelapan dan kebodohan kita semua.</i></b></p>
<p>&#160;</p>
<p>Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kita kehadirat ida sang hyang widi wasa karena atas berkat dan rahmat beliaulah kita dapat berkumpul di ruangan ini dalam keadaan sehat dan sejahtera.</p>
<p>&#160;</p>
<p><b>Umat se-dharma yang berbahagia,</b></p>
<p>Pada kesempatan ini saya akan mengangkat tema’’<b>etika</b>’’yang mana berjudul<b>”</b><i> <b>BERLATIH UNTUK MENJAGA SIFAT DEWATA DALAM  DIRI”</b></i>yang mana Manusia memiliki sifat yang sangat kuat dalam dirinya yaitu; kebiasaan. Semestinya sifat seperti itu sangat perlu dipertahankan dan dikembangkan kearah yang positif. Artinya kebiasaan itu dapat menciptakan kebahagiaan diatas bumi ini, dengan cara mengikuti petunjuk Ida Sang Hyang Widhi yang telah tertuang dalam ajaran Agama Hindu. lalu bagaimana mengembangkan kebiasaan yang positif? Sebenarnya kita tidak perlu terlalu jauh berfikir, cukup dengan cara yang sederhana yaitu;<b> sembahyang dan meditasi. </b></p>
<p><b> </b>         Semakin sering kita mendekatkan diri kepada Tuhan melalui sembahyang dan meditasi maka kita telah membuka diri kita untuk dialiri dengan sifat &#8211; sifat Dewata yang secara otomatis juga akan menjauhkan sifat &#8211; sifat Bhutakala dari diri kita. Hal ini saya dapatkan dari sebuah rumusan yang sederhana, yaitu ketika saya melihat seorang anak kecil yang memainkan dua buah balon gas yang terhubung tali satu sama lain. ketika si anak kecil tersebut menarik balon berwarna putih, maka secara otomatis balon yang berwarna hitam menjadi menjauh, begitu pula sebaliknya. Hal ini saya hubungkan dengan sifat yang ada pada diri manusia, yaitu sifat Dewata dan Bhutakala. Bila manusia menarik sifat Dewata maka sifat Bhutakana menjauh, demikian pula jika manusia menarik sifat Bhutakana maka sifat dewata akan semakin menjauh. Dengan bersembahyang secara rutin, itu berarti kita telah menarik sifat Dewata ke dalam diri kita yang akan menjauhkan sifat Bhutakala. Jika diikuti dengan perilaku sehari &#8211; hari yang penuh kesabaran, kasih sayang dan pemaaf, maka sifat dewata akan terjaga dan semakin tumbuh subur dalam diri kita.</p>
<p><b>Umat se-dharma yang berbahagia</b></p>
<p>Mungkin ada yang bertanya, apa perbedaan antara sembahyang dan meditasi? Secara garis besar saya dapat memberikan pemahaman sebagai berikut; jika kita bersembahyang maka kita memusatkan pikiran menuju Sang Hyang Widhi, sedangkan jika kita bermeditasi maka itu artinya kita telah membuka hati kita untuk didatangi Sang Hyang Widhi dan menstanakan beliau di sana. lalu manakah yang lebih baik? Keduanya harus dilakukan dengan secara seimbang, ibarat melihat dua sisi mata uang yang jika hanya dilihat satu sisi nilainya tidak akan bebeda atau menjadi dua kali lipat jika kita melihat kedua sisnya, namun dengan melihat kedua sisi maka kita mengetahui bentuk uang yang seutuhnya. Dengan melakukan keduanya secara seimbang maka kita akan dapat menikmati kebahagiaan didalam hidup sebagai benteng terjaganya sifat Kedewataan dalam diri kita</p>
<p><b>Umat se-dharma yang berbahagia</b></p>
<p>Sesungguhnya dalam diri manusia unsur Ketuhanan telah bersemayam yang dalam sloka disebutkan dengan <b>&#8220;Aham Brahma Asmi&#8221;</b> yang semestinya hal tersebut tercermin dalam perilaku kita sehari &#8211; hari. Inilah yang semestinya kita sadari dan ditumbuh kembangkan melalui sembahyang dan meditasi serta ditunjang dengan penerapan sifat kesabaran, cinta kasih dan pemaaf. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah memilih makanan, karena makanan adalah sumber energi yang akan mempengaruhi jiwa. Makan dan minumlan makanan yang sukla atau tidak cemer, yang mulai proses pembuatanya, alat &#8211; alat yang digunakan untuk memasak dan juga menghidangkan, dan juga kondisi lingkungan tempat makanan itu dibuat. Agama hindu sangat menekankan akan pentingnya kesucian dan menghindari hal &#8211; hal yang cemer atau leteh, karena menjaga sifat Dewata dalam diri harus dilakukan secara sekala dan niskala.</p>
<p><b>Umat se-dharma yang berbahagia</b></p>
<p>hidup ini adalah laksana sebuah kapal yang akan dibawa melintasi samudra kehidupan.manusia mempunyai akal ,mempunyai pengetahuan,dan juga mempunyai pengalaman.,seorang yang bijak ia adalah laksana pelaut yang mampu mengen dalikan kapalnya dengan mempergunakan segala sarana yang ada.bukan menyerahkan diri pada nasib,oleh karena it uterus jaga dan kendalikan lah sifat dewata yang terdapat dalam diri kita.</p>
<p>Umat se-dharma demikianlah dharma wacana ini saya sampaikan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua,dan apa bila ada kata-kata saya yang kurang berkenan dihati umat sedhrma saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dank e hadapan brahman saya mohon ampun.</p>
<p><b><i>OM SANTIH,SANTIH,SANTIH,OM</i></b></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><b>DHARMA WACANA</b></p>
<p><b> </b></p>
<p><b>BERLATIH UNTUK MENJAGA SIFAT DEWATA DALAM DIRI</b></p>
<p><b> </b></p>
<p>&#160;</p>
<p>DI SUSUN OLEH</p>
<p>I WAYAN AGUS ARIAWAN</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[RINTIHAN POLIGAMI]]></title>
<link>http://ustadzabuhamzah.wordpress.com/2012/10/14/rintihan-poligami/</link>
<pubDate>Sun, 14 Oct 2012 12:22:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>ustadzabuhamzah</dc:creator>
<guid>http://ustadzabuhamzah.wordpress.com/2012/10/14/rintihan-poligami/</guid>
<description><![CDATA[seakan-akan ia berkata: (1) Mereka memusuhiku&#8230;padahal aku datang dari sisi Rob mereka.. Jika y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>seakan-akan ia berkata:<br />
<a href="http://ustadzabuhamzah.files.wordpress.com/2012/10/0161.gif"><img id="i-5" class="size-full wp-image" alt="Image" src="http://ustadzabuhamzah.files.wordpress.com/2012/10/0161.gif?w=110" /></a><br />
(1) Mereka memusuhiku&#8230;padahal aku datang dari sisi Rob mereka..<br />
Jika yg memerangiku orang-orang kafir yang membenci Muhammad dan umatnya maka aku tdk peduli&#8230;akan tetapi ternyata yg memerangiku para wanita muslimah&#8230;, bahkan para wanita ngaji ??</p>
<p>(2) Org-org kafir terus memusuhiku, menghinaku sebagaiman sikap mereka trhdp hukum waris yg mereka anggap tdk adil, karena jika mereka berhasil menikamku maka jatuhlah syari&#8217;at Muhammad dan kenabiannya dihadapan mereka&#8230;<!--more-->Apakah mereka lupa bahwa Nabi-nabi mereka Dawud dan Sulaiman-disebutkan dalam injil mereka- juga berpoligami?</p>
<p>(3) Bukankah kebanyakan mereka -sekarang ini- juga berpoligami bahkan lbh dari 4 wanita?, hanya saja tanpa pernikahan resmi (alias zina?), tanpa ada pengingkaran sama sekali dari mereka?, lantas poligami yg penuh aturan kenapa harus mereka ingkari?</p>
<p>(4) Aku adalah anugrah yg Allah turunkan bg hamba-hambaNya&#8230;akan tetapi banyak yg tdk menyadarinya&#8230;atau tdk mau menyadarinya&#8230;<br />
Bahkan aku adalah mukjizat Allah, karena aku memperhatikan kemaslahatan umum&#8230;bukan hanya kemaslahatan pribadi. Boleh jadi istri pertama merasa mendapatkan kemudorotan atau merasa dizolimi akan tetapi masih terlalu banyak janda&#8230;perawan tua&#8230;bahkan perawan muda&#8230;yg menanti-nanti kehadiranku??</p>
<p>Bukankah :</p>
<p>- jumlah para wanita lebih banyak dari jumlah para lelaki?</p>
<p>- selain sedikit, ternyata tdk semua lelaki dewasa siaap menikah?, ia harus mempersiapkan ekonomi dan mentalnya. Berbeda dgn wanita, jika sudah baligh siaap nunggu lamaran menyapa..</p>
<p>- selain sedikit, aktivitas kerjaan para lelaki lebih menantang kpd kematian..</p>
<p>- para lelaki juga tdk ada liburnya, tdk ada haid dan nifas yg berkepanjangan, selalu produktif.</p>
<p>(5) Bukankah dgn kehadiranku banyak permasalahan sosial yg bisa diatasi?, mengurangi praktik seksual yg salah dan haram?<br />
Bukankah dgn kehadiranku akan memperbanyak kelahiran umat dan pasukan Nabi?, sukakah anda menyenangkan hati Nabi pada hari kiamat kelak yg bangga dgn banyaknya umatnya dihadapan umat-umat dan nabi-nabi yg lain?</p>
<p>(6) Wahai para wanita muslimah&#8230;sungguh ANEH&#8230;</p>
<p>- Sebagian wanita memilih lebih baik diracun (suaminya berzina) daripada dimadu (suaminya berpoligami)&#8230;<br />
Ini adalah tanda rusaknya fitroh sang wanita&#8230;<br />
Ia tdk mau membagi cinta kekasihnya kepada sahabatnya sesama muslimah&#8230;egois ia kedepankan daripada sikap perhatian terhadap sesama muslimah&#8230;<br />
Akan tetapi ternyata ia mampu untuk membuang ego-nya tatkala cinta kekasihnya dibagikan kepada para wanita pelacur&#8230;!!!</p>
<p>- Sebagian wanita memandang bahwa jika ia dipoligami berarti ia tdk sukses dan telah gagal dalam melayani suami !!, atau merasa suaminya tdk lagi mencintainya&#8230;ini adlh kelaziman yg tdk lazim !!!. Bukankah Aisyah adalah istri yg paling dicintai Nabi? Ternyata setelah menikahi Aisyah, Nabi masih menikah lagi dgn sekitar 7 wanita yg lain</p>
<p>(7) Sebagian wanita menghujatku&#8230; padahal aku tdk pernah bersalah&#8230;yg bersalah adalah para lelaki yg tdk bertanggung jawab dalam menjalaniku&#8230;</p>
<p>(8) Wahai ukhti&#8230; Jika engkau tdk sudi denganku&#8230; Maka janganlah kau benci diriku&#8230;jangan pula kau ajak suamimu untuk memusuhiku&#8230;apalagi berkampanye kpd para ibu-ibu untuk memusuhiku..ingatlah aka datang dari Robmu&#8230;, jangan kau bantu propaganda orang-orang kafir yg membenci syariat Robmu. Doakan saja semoga para lelaki bisa menjalaniku dgn baik.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dominasi (Cemburu) Patriarki]]></title>
<link>http://primalatif.wordpress.com/2012/10/04/dominasi-cemburu-patriarki/</link>
<pubDate>Thu, 04 Oct 2012 11:10:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>primalana</dc:creator>
<guid>http://primalatif.wordpress.com/2012/10/04/dominasi-cemburu-patriarki/</guid>
<description><![CDATA[Ketika wanita dilihat sebagai sosok yang mesti di lindungi, maka ada dua asumsi setidaknya yang mend]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:center;"><i>Ketika wanita dilihat sebagai sosok yang mesti di lindungi, maka ada dua asumsi setidaknya yang mendasari, kerana memang lemahnya wanita dibanding dengan laki-laki atau karena memang mulianya perempuan sebagai pancer (pusat)</i></div>
<div style="text-align:center;"><i><br /></i></div>
<div style="text-align:justify;">Wanita di jajah pria dari dulu . . . aku mengenal potongan kalimat tersebut sebagai lirik lagu, seperti telah benar menggambarkan dominasi pria atas wanita telah ada sejak dulu. Sehingga berbagai pandangan (wacana) tentang diskriminasi –pembedaan –dikotomi peran antara laki-laki dan perempuan dalam wacana persamaan gender. Dalam peran publik, perempuan seolah disebut sebagai kelompok “margin”. Dari wacana yang mengemuka inilah, hasrat untuk mengenal wanita lebih jauh menjadi berarti bagi penulis, untuk turut mewacanakan apa maksud dominasi pria atas wanita?, mengapa wanita mesti didominasi oleh pria?.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><b>Wacana Bebas Nilai</b></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Tampa memberikan “meaning” pengertian terlebih dahulu bagian secara logis maupun dogmatis, terdapat banyak kajian kritis terkait dengan kapasitas kekuasaan yang dimiliki oleh wanita. Mesti melepas frame “wah jika nanti wanita . . . maka . . .” dan jika-jika yang lain, atau setidaknya bersikap adil juga menanyakan hal serupa pada pria.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Jauh beberapa waktu lalu, Die aku mengenalnya berbagi surel dengan penulis. Dalam surel tersebut ada satu pertanyaan dan juga pernyataan mendasar mengapa pria seolah jauh lebih berkuasa daripada wanita. Die, berbicara tentang perkenan laki-laki menikahi wanita lebih dari satu, bahkan berbicara juga tentang kesempatan puber kedua bagi pria, mengapa monopouse dan seterusnya. Meskipun akhirnya masih harus tetap rendah hati menerima itu sebagai keharusan peran.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Dalam satu tata keluarga misalnya, kenapa perempuan lebih didominasi untuk melakukan pekerjaan dan terkurung didalam rumah, dan ijin suami untuk keluarnya istri adalah satu keharusan, bagaimana dengan ijin istri atas suami yang keluar rumah. Dalam sub ini memang lebih berpihak pada pembicaraan yang lebih memperbincang keterbatasan ruang perempuan dalam satu dominasi. Dominasi siapa?, laki-laki, nilai atau wanita itu sendiri.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><b>Kecemburuan Peran</b></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Dalam konstruk kebudayaan dan agama, sudah menjadi kewajiban laki-laki untuk menafkahi perempuan dalam status perkawinan (rumah tangga), juga keturunan yang diturunkan melalui wanita tersebut. Peran laki-laki untuk mencukupi kehidupan wanita ini akhirnya turut melahirkan satu konstruksi status dan (meaning) peran yang semestinya baik perempuan dan laki-laki lakukan. Mereka meti berbagi ruang.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Pada mulanya, peradaban pemenuhan kebutuhan manusia untuk mempertahankan hidup dengan nomaden-berburu, para perempuan menunggu para laki-laki berburu dirumah-rumah gua, disini para perempuan menanti para laki-laki pulang berburu. Aktifitas menanti para perempuan inilah kemudian digunakan perempuan untuk bertani (menanam). Semakin hari hewan buruan semakin menipis, berpindahlah kaum laki-laki ini mengambil peran para wanita yang sebelumnya pertanian sebagai pengisi waktu perempuan menjadi pencaharian, dan seterusnya.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Perempuan, meski tidak terlibat langsung dalam dunia kerja sektoral seperti halnya laki-laki saat ini, banyak sekali pundi-pundi yang tidak terduga malah dihasilkan oleh perempuan dalam menyokong pekerjaan laki-laki. Missal, mulanya laki-laki menjadi seorang buruh kantoran, hasil yang dibawa pulang boleh jadi berkembang jauh ditangan pengelolaan istri, sehingga memiliki asuransi financial berupa toko peracangan. Dan bagi laki-laki meraka terkungkung oleh tuntutan saja untuk dapat menafkahi, padahal managerial itu terkadang malah ada pada perempuan. </div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Inilah kenapa, asumsiku, peran perempuan harus dibatasi untuk menjaga status laki-laki, meskipun senyatanya perempuan jauh semakin survive ketika ada dominasi tersebut. Ini hanyalah asumsiku, nalar logikaku. Akhirnya, tidak ada bagiku dominasi laki-laki atas perempuan, ini hanyalah sikap cemburu seorang laki-laki yang tidak tersadari sebagai warisan genetis kultural peran gender . . . [ ]</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<blockquote class="tr_bq"><p>Bersambung ke “<b>Perempuan di Tengah</b>” , mengulas tentang perspektif perempuan sebagai kolompok margin, padahal perempuan telah mapan duduk sebagai pancer</p></blockquote>
<div style="text-align:justify;"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Profesional, Siapa Ta(k)u(t)?]]></title>
<link>http://mbooh.wordpress.com/2012/10/04/profesional-siapa-takut/</link>
<pubDate>Wed, 03 Oct 2012 18:46:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>mbooh</dc:creator>
<guid>http://mbooh.wordpress.com/2012/10/04/profesional-siapa-takut/</guid>
<description><![CDATA[Suatu waktu dikala mentari sedang bertugas di bumi bagian lain kami duduk melingkar, namun tidak sal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu waktu dikala mentari sedang bertugas di bumi bagian lain kami duduk melingkar, namun tidak saling berhadapan. Membicarakan tentang sebuah proses dan hasil pekerjaan, profesional. “Menjalankan segala sesuatunya sesuai dengan aturan,” jelas salah satu narasumber dalam ruang diskusi.</p>
<p>Apakah kau sepakat dengannya?</p>
<p>Dalam beberapa film barat kita akan mendapatkan sebuah kerja dengan penuh totalistas adalah salah satu bentuk dari profesional. Tapi pandangan yang saat ini sedang menjamur di Nusantara tidak seperti dalam film-film, melainkan tentang bagaimana meniru gaya mereka berpakaian, berjalan, merokok atau mungkin berdansa. Jauh dari tampilan luar, akal atau logika seorang profesional belum tersentuh dalam pandangan.<br />
<!--more--><br />
Mengembara demi mendapatkan sebuah ilmu, namun pulang dengan semangat untuk membuat usaha. Tidak ada yang keliru mengenai hal tersebut. Karena saat ini kita sekolah, belajar dan kursus untuk mendapatkan uang. Sedangkan bekerja adalah sebuah tindakan untuk mendapatkan uang, dimana digunakan untuk hidup.</p>
<p>Apakah seperti itu?</p>
<p>Saya pernah bermain dengan diriku yang lain dalam sebuah kamar milik kawan yang tengah menerima saya untuk menumpang. Diriku menanyakan tentang banyak hal, terutama mengenai mengapa saya harus kuliah?</p>
<p>Tidak dapat terjawab dengan mudah memang. Uang sudah pernah saya dapatkan dengan bekerja menggunakan otot tanpa adanya ilmu matematika atau logika algoritma. Tapi memang karena kuliah saya mendapatkan uang yang lebih dengan bekerja lebih ringan. Tapi apakah segalanya harus dengan uang?</p>
<p>Teringat seorang kawan menanggapi ajakan saya untuk main ke pantai atau gunung. “Lagi gak ada uang,” tanggapan mereka ketika saya menanyakan pertanyaan itu. Tidak, tak semua mengenai uang. Karena semua dipelajari agar membuat kita lebih nyaman, entah dengan uang atau bertahan hidup di hutan tanpa kulkas, atau mungkin uang.</p>
<p>Lalu untuk apa menjadi profesional?</p>
<p>Pandangan pribadiku mengenai profesional adalah kita melakukannya semaksimal mungkin. Untuk mengetahui kita sudah mencapai titik maksimal untuk menjadi seorang profesional hanya dapat diketahui dengan bertanya kepada client atau rekan kerja.</p>
<p>Kebanyakan dari kita merasa dirinya telah menjadi profesional dengan sebuah gerakan kecil, seperti memindahkan meja dari ruang tamu. Memang benar ini akan menjadi benar seseorang menjadi profesional, bilamana hanya itu tugas yang diperintahkan untuk dikerjakan.</p>
<p>Bagaimana dengan jas, dasi atau celana bahan?</p>
<p>Semuanya menurut saya adalah asas kepatutan. Mengapa mengenai kepatutan? Karena cara berpakaian dapat menunjukkan kelas ekonomi dan sosial seseorang. Tidak sejarahnya profesional dapat dilihat dari cara berpakaian, namun bentuk pendukung profesional kerja adalah dengan berpakaian dengan layak. Layak menurut siapa? Menurut rekan kerja, pelanggan atau lawan bisnis.</p>
<p>Sama halnya ketika kita mencoba menjadi profesional dalam bersilaturahmi kepada Tuhan. Terpenting adalah menutupi aurat, selebihnya terserah anda. Tapi apa ya seperti itu? Menemui president yang kita pilih atau dosen yang kita bayar saja kalian memberikan pakaian terbaik agar mereka senang. Lalu bagaimana untuk-Nya yang telah memberikanmu segalanya? Profesional donk! Tidak hanya dalam pekerjaan profesional melekat atau tinggal, melainkan sebagai manusia dan makhluk status itu bernaung dengan aman dan nyaman.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sempurna Sempat Ada Untuk Adam (Sepertinya)]]></title>
<link>http://mbooh.wordpress.com/2012/09/24/sempurna-sempat-ada-untuk-adam-sepertinya/</link>
<pubDate>Mon, 24 Sep 2012 04:23:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>mbooh</dc:creator>
<guid>http://mbooh.wordpress.com/2012/09/24/sempurna-sempat-ada-untuk-adam-sepertinya/</guid>
<description><![CDATA[Keagungan Tuhan memang terpancar dari indahnya alam dan ciptaan lainnya. Menurutku bagaimana kalau k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Keagungan Tuhan memang terpancar dari indahnya alam dan ciptaan lainnya. Menurutku bagaimana kalau kita berbincang sederhana betapa sempurnanya manusia. Dalam beberapa perbincangan bahkan buku-buku menyantumkan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna, dan saya sepakat. Tapi itu dahulu.</p>
<p>Kisah ini bagaikan mimpi indah yang menemani kala beristirahat dimalam yang cerah karena bintang dan bulan. Bermula dengan penciptaan Adam, manusia pertama tanpa tau jenis kelaminnya apa. Beberapa elemen berpadu menciptakannya sebagai ciptaan paling sempurna. Hingga beberapa test dilakukan untuk menunjukkan kesempurnaannya.<br />
<!--more--><br />
Ujian demi ujian akhirnya dilakukan, mulai dari wawasan hingga ketangkasannya. Hingga akhirnya Tuhan memerintahkan makhluk lainnya untuk bersujud dihadapannya, namun makhluk yang terbuat dari api, setan memutuskan untuk tidak melakukannya. Karena dia (mungkin) merasa bahwa hanya Tuhan saja yang layak disembah. Kejadian ini berujung pada perintah untuk menghasut dan menggoda manusia agar menemaninya menikmati neraka bersamanya, setan.</p>
<p>Dalam perintah-Nya, <a title="Saya mengutipnya dari tulisan Muhammad Ainun Nadjib" href="http://www.caknun.com/2012/merindu-nasionalisasi-indonesia/#more-232" target="_blank">Tuhan mentransformasikan Syekh Kanzul Jannah (bendaharawan surga), senior rohani yang sangat dekat dengan-Nya, menjadi Iblis?</a> Untuk memimpin pertempuran dalam scenario panjangnya.</p>
<p>Karena Adam hanya sendiri maka Tuhan menciptakan pasangan baginya, Hawa. Dalam dongegng ini Hawa sudah memiliki kelamin wanita dan tercipta dari salah satu tulang rusuk Adam. Kejadian ini (dugaan saya) menyebabkan kesempurnaan Adam terurai menjadi 2 sisi, rasional dan perasaan. Dimana rasional diwakili oleh Adam dan perasaan diwakili oleh Hawa.</p>
<p>Berpisahnya kedua unsur  dalam diri  Adam ini menyebabkan terbukanya ruang gerak bagi setan untuk menghasut dan menggodanya. Nafsu, ruang terbuka yang sangat nyaman untuk tinggal. Walaupun tidak sepanas neraka, tetapi gerakan yang berlandaskan nafsu sering kali membawa panas. Oleh karenanya nafsu perlu dikendalikan, entah bagaimana caranya.</p>
<p>Saat ini akhirnya banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai titk kembalinya sang Adam yang sempurna. Salah satunya dengan sebuah pernikahan. Mengembalikan kedua belah sisi manusia dalam satu ruang yang sama akan mempermudah pencapaian itu. Tetapi tidak sedikit yang terjadi keterbalikannya.</p>
<p>Inilah dunia, dimana kerumitan berawal dari hal yang sangat sederhana. Dalam film “Rayya Cahaya di atas Cahaya” saya sangat terganggu dengan pernyataan bahwa tak akan cukup seumur hidup untuk menemukan sesuatu, dan bagaimana kita mau mencari. Berpikir keras mengenai hal tersebut saya mencoba menyimpulkan bahwa terkadang kita hanya belum peka akan rasa cinta Tuhan pada kita. Sialnya saya termasuk orang-orang yang belum peka dan kurang bersyukur atas kondisi saat ini.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rapuh-nan Suci]]></title>
<link>http://mbooh.wordpress.com/2012/09/24/rapuh-nan-suci/</link>
<pubDate>Mon, 24 Sep 2012 03:08:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>mbooh</dc:creator>
<guid>http://mbooh.wordpress.com/2012/09/24/rapuh-nan-suci/</guid>
<description><![CDATA[Hanya kata “berpisah” yang dapat terucap saat perjumpaan terakhir kita. Walaupun kata itu hanya teru]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hanya kata “berpisah” yang dapat terucap saat perjumpaan terakhir kita. Walaupun kata itu hanya terucap dalam hati. Tetapi perih yang terasa seakan membakar kulit hingga memisahkan daging dari tulang. Keputusan ini mungkin memang secara sepihak. Banyak kawan yang mencoba memotifasi bahwa dirinya sedang menguji seberapa serius aku. “Kau kira aku produk yang perlu test? Bajingan kau jika memang itu benar,” jeritku dalam hati.</p>
<p>Mereka dan menerka memang manusia ahlinya, tetapi jika berburu dan membunuh hewan tidak kalah hebat. Terkadang kita memandang hal sederhana dengan kekhawatiran yang rumit. Takut sakit hati, takut keperawanan hilang atau mungkin ini semua hanya buang-buang waktu saja. Oh God&#8230; Seberapa hebatnya mereka hingga bermain dengan ciptaan termurni-Mu.<br />
<!--more--><br />
Jujur. Dalam kamus Bahasa Indonesia Offline milikku mengatakan bahwa jujur memiliki makna lurus hati. Hebat betul kata jujur itu. Namun untuk berbuat hal tersebut kita terkadang harus mengorbankan pertemanan bahkan apa yang paling kita cintai.</p>
<p>Seperti dalam film “Crazy in the Outside”. Dalam film ini bercerita tentang bagaimana seorang adik menjauhkan kakaknya dari tindakan kriminal dan menyesatkan dengan melakukan kebohongan. Kelakukan ini biasa dibandrol dengan “White Lie”, tapi apa iya ada kebohongan yang baik? Entah sampai saat ini aku belum dapat menemukan penjelasan atasnya.</p>
<p>Kembali kepada jujur, sebenarnya rumit ketika kita bersalah dan ingin menyampaikan bahwa itu adalah kekeliruannya. Berjuta alasan di kepala telah disiapkan sebagai amunisi pertanyaan. Tapi apa semua itu membuat nyaman? Sempat terpikir bahwa kebohongan adalah alat yang digunakan nafsu untuk memperlancarnya menuju tujuannya. Kepuasan.</p>
<p>Manusia mendapatkan akal sebagai alat kontrol atas segala yang melekat dan tersimpan dalam tubuh yang tercipta dari tanah. Tapi apa yang kita lihat saat ini? Kejujuran semakin rumit didapatkan, bahkan oleh aku. Kejujuran memang barang yang rumit bagiku untuk menghadapi berbagai kondisi. Terkadang demi kesenangan semata atau demi menunjukkan bahwa aku bisa, dan sama seperti kalian. Tapi itu semua sangat menyakitkan.</p>
<p>Bagaimana cara membuang sisi negatif aku agar dapat jujur terhadap diri sendiri? Seperti yang diceritakan dalam film “An Invisible Sign”, dimana tokoh utamanya selalu membohongi dirinya dari apa yang disukai bahkan digemarinya. Seperti mengidap penyakit kangker, dia menggerogoti tubuhmu secara perlahan hingga akhirnya hilang dalam gelap.</p>
<p>Huff&#8230;. Ternyata aku masih munafik dan pendusta. Komitmen sering aku abaikan, bahkan terkadang janji-janji hanya sebagai pemanis makan siang. Tuhan Maha Esa, tak henti hati ini mencoba mendekat, namun hubungan sesama makhluk adalah kunci dari kelancaran perubahan tersebut. Kenapa? Kita kebanyakan akan jujur pada Tuhan, tetapi tidak pada sesama makhluk. J</p>
<p>Bismillah wae&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Siapa Bilang Nabi Isa (Yesus) Hidup Membujang? Ini Bukti dalam Injil Manuskrip]]></title>
<link>http://miftah19.wordpress.com/2012/09/22/siapa-bilang-nabi-isa-yesus-hidup-membujang-ini-bukti-dalam-injil-manuskrip/</link>
<pubDate>Sat, 22 Sep 2012 02:07:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>Miftah</dc:creator>
<guid>http://miftah19.wordpress.com/2012/09/22/siapa-bilang-nabi-isa-yesus-hidup-membujang-ini-bukti-dalam-injil-manuskrip/</guid>
<description><![CDATA[Umat Kristen di seluruh Amerika Serikat (AS) bereaksi skeptis dan mencemooh secarik manuskrip yang d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Umat Kristen di seluruh Amerika Serikat (AS) bereaksi skeptis dan mencemooh secarik manuskrip yang d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Masih (akan) Berpuasa]]></title>
<link>http://primalatif.wordpress.com/2012/08/16/masih-akan-berpuasa/</link>
<pubDate>Thu, 16 Aug 2012 06:21:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>primalana</dc:creator>
<guid>http://primalatif.wordpress.com/2012/08/16/masih-akan-berpuasa/</guid>
<description><![CDATA[10 hari menjadi penuh kasih, sepuluh hari selanjutnya menjadi penuh dengan pengampunan, dan sepuluh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<blockquote class="tr_bq">10 hari menjadi penuh kasih, sepuluh hari selanjutnya menjadi penuh dengan pengampunan, dan sepuluh hari selanjutnya menjadi penuh dengan pembebasan dari sifat-sifat api (terbebas dari api neraka), genaplah satu bulan menempuhnya setelah meridukannya sejak dua hilal sebelum kedatangannya. Bagaimana dengan sebelas bulan setelahnya, </p></blockquote>
<p>Masih jelas dalam ingatan kita tentunya kita, bagaimana kita menyambut datang bulan ramdlan, entah ramdhan yang datang atau kitalah sebenarnya yang mendatangkan ramdlan dalam hidup kita. Satu hal yang pasti, -ingat satu kumpulan tulisan yang di tulis teman-teman sekolah menulis dengan fasilitator pendamping mas Fauzi A Muda di Malang dengan judul “Ramadlan dimataku”. Judul ini sedikit mngungkapkan bahwa seberapapun kita bersepakat kita memiliki ramadlan, aka nada banyak yang berbeda ramadlan kita masing-masing. Ini bukalnlah inti dari pemikiran kami, namun cukup untuk sedikit mengantarkan bahwa ramadlan tidak sekedar satu perhitungan bulan, namun ada ke-fardluan puasa didalamnya.</p></div>
<div style="text-align:justify;">Ramadlan jamak dalam pemahaman syar’I adalah blan dimana mereka yang beratribut (agama) memiliki satu kewajiban penuh untuk melakukan puasa, meski seruan untuk berpuasa dalam al-Quran sebagai ketetapan bagi orang yang beriman (baca: <a href="http://gubukwacana.blogspot.com/2012/07/memperbincangkan-seruan-puasa.html">memperbincangkan seruan puasa</a>). Ramdlan sebagaimana dikatakan adalah bulan yang memiliki kekhususan, setiap harinya di berikan keterangan akan keutamaan-keutamaan ibadahnya. Dan hal yang juga umum seperti klasifikasi (pengelompokan) hari-hari dibulan ramdlan menjadi 3 kelompok besar yang masing-masing jika ada 30 hari, maka terdapat 10 hari dalam tiap kelompok; permulan, tengah dan akhir.</div>
<div style="text-align:justify;"><b>Mengupas (sendiri) 3 Keutamaan</b></div>
<div style="text-align:justify;">Adalah bulan ramadlan yang memiliki banyak iming-iming keuatamaan dan keuntungan berlipat dalam segala hal kebaikan. Diantaranya kita akan merengkuh waktu-waktu yang miliki keutamaan, rahmat magfiroh dan pembebasan dari bara neraka. Ini adalah janji ramadlan sebagaimana diterangkan al-Ghozali.</div>
<div style="text-align:justify;">Pertama, sepuluh hari dilimpahkannya kasih (rahmat). Siapa yang tidak merasa nyaman dengan kasih-kekasih, bahkan kedatangannya selalu diharapkan, meski bertemu dengannya adalah sesuatu yang berat. Ya, sepuluh hari pertama adalah umpama sebagai kekasih, ramadlan hanyalah sebulan berbading sebelas bulan yang lain. Sebelas bulan menunjukkan waktu yang lama, hingga kerinduan itu memuncak dan harapan bertemu telah di dengungkan sejak bulan rajab. Sepuluh hari pertama ini kita akan merasa dengan rela hati menemani sang ramadlan dengan suka cita, istilahnya beragam ibadah akan di jabani (tunaikan) untuk menunjukkan kemulian sang kekasih. Jadilah spuluh hari pertama menjadi sangat suka citalah kita, kita benar-benar merasakan penuhnya rahmat di tengah beratnya berpuasa.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<blockquote class="tr_bq"><p>jauh kami telah merindukanmu dan memiliki harapan untuk segera bertemu dengan-mu. perhatikanlah, akan aku sambut engkau dengan sambutan yang menunjukkan akan kemulian-mu, </p></blockquote>
<div style="text-align:justify;">Kedua, sepuluh hari dimana pengampunan menjadi janji kemulian ramadlan. Setelah sepuluh hari pertama menyambut ramadlan dengan suka cita sebagai kekasih, kini kebersamaan dengan ramadlan telah menjadi terbiasa. Tidak lagi mengeluh dengan beratnya penyambutan, dengan kata lain beratnya puasa seharian bukan lagi sesuatu yang berat, tarwih dan tadarus menjadi satu kegiatan yang mengasikkan. Ramdlan pada sepuluh hari pertengahan ini memberikan kemulian dengan membuat kita sangat nyaman berda di tengahnya, tidak ada sesuatu yang berat, luruh sudahlah kekesalan kita dimasa lalu. Bak seorang kekasih kebersamaan ini telah meluruh beragam kejengkelan dimasa lalu saat sang kekasih itu jauh.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<blockquote class="tr_bq"><p>kami benar-benar merasa nyaman dengan kebersamaan ini, hilang sudah segala sakit dimasa lalu, dan tidak ada yang menyajitkan kami sekarang, jangan menjauh dari kami, </p></blockquote>
<div style="text-align:justify;">Ketiga, sepuluh hari terakhir dimana saat-saat dibebaskan dari sifat-sifat api neraka. Pada sepuluh hari ini, biasa mulai ada malas, juga sebagaiannya akan menyandarkan harapan untuk beroleh lailatul Qodar (baca: tentang lailatul Qodar). Pada saat-saat ini mungkin sudah mulai jenh dengan kebersamaan bersama ramadlan, perhatian sudah berpaling pada saat memasuki syawal nanti dengan pernik kembali tidak bersusah berpuasa seharian, tidak tarawih, juga tidak tadarus. Bahkan mendekati, 3 hari menjelang masa perayaan itu, meski tetap berpuasa, kebahagiaan akan berpindah pada penyambutan yang disebut lebaran.</div>
<blockquote class="tr_bq"><p>selama ini kami bersamamu, mestinya aku tidak kehilangan suka cita saat pertama kali menyambutmu, juga mestinya kami tidak kehilangan rasa nyaman ketika bersamamu, mestinya aku bersedih ketika kau akan kembali berlalu lama, buatlah aku selalu merindukanmu, dan berikan sejuk-damai untuk mengenangmu selama kau berlalu, sehingga aku dapat menghadirkan-mu dalam diriku setelah ini, </p></blockquote>
<div style="text-align:justify;">Berlalulah ramadlan setelah sepuluh hari terakhir, genap sebulan menyambut sang kekasih tersebut. Dan bahagia sehari, tidak akan menghapus sedihnya berpisah dan akan merindukan selalu, maka secara materi puasa, berpuasalah 6 hari bulan syawal. </div>
<div style="text-align:justify;"><b>Menggapai (dua) Kebahagiaan</b></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<blockquote class="tr_bq"><p>dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, bahagia saat berbuka setelah jauh mengekang nafsu dengan cukup syukur dengan sedikit limpahan yang menjadikan tetap berkesempatan bertahan untuk menjadi khalifah di bumi, dan saat bertemu dengan Tuhan, kelak setelah tugas memakmurkan bumi ini usai bagi kita</p></blockquote>
<div style="text-align:justify;">Semestinya, dua kebahagiaan tersebut memang menjadi milik mereka yang berpuasa. Berpuasa yang menjadi ketetapan seperti orang terdahulu, dan menjadikannya lebih bertakwa, dengan kata lain takut untuk melanggar tugas memakmurkan dan menjaga kehidupan antara langit dan bumi. Menggunakan sumber daya sebatas pada satu kebutuhan dan bukan ambisi, menjaga satu keseimbangan hokum alam (sunnatullah). </div>
<div style="text-align:justify;">Dan pastaslah pula mendapat kebahagiaan untuk orang yang berpuasa, setelah masa baktinya di antara langit dan bumi usai bersanding bertemu dengan –Nya, yang jauh telah menjadikan mulianya stelah dipertemkan dengan yang terkasih tersebut. Untuk pertemuan ini, entahlah bagaimana tidak terbayang sedikitpun.</div>
<div style="text-align:justify;"><b>Puasa Esok</b></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<blockquote class="tr_bq"><p>inilah sesungguhnya buah pertemuanku dengan kekasihku, juh dan lepasnya ikatan kebersamaan selama ini telah membuatku jauh sangat rindu, merindukan kekasih yang aku telah harap kedatangannya, merasa nyaman dengan kebersamaanya, aku akan tetap merindu dan mnjadikannya pengikatku dengan kekasihku tersebut, pasti aku akan bertemunya kembali, biar kutanam kerinduan ini sekarang untuk menyambutnya kembali, </p></blockquote>
<div style="text-align:justify;">Usai sudah (mungkin) puasa kita, puasa yang sebatas pada perintah syar’I meninggalkan sesuatu yang membatalkan. Menjadi usai juga (mungkin) sambutan kita untuk ber-tarawih, ber-tadarus, dan menyempatkan waktu untuk bangun di sepertiga malam terakhir saat bungan mulai bermekaran.</div>
<div style="text-align:justify;">Sekaranglah mestinya setelah sebulan dengan kebersamaan, kita menyambut kita sendiri sebagai kekasih dan menyambutnya dengan beragam kemuliaan yang menjadikannya layak disebut “manusia terpuji”. Masih ingat, sepuluh hari terakhir, ramadlan telah menjauhkan kita dari sifat-sifat api. Sekaranglah berpuasa, ketika sebelumnya sang penggoda “setan” dibelenggu dengan syariat lapar-haus untuk mempermudah jalan kita ber-pengertian, kini di liarkan kembali, kecuali kita memuasakan diri diluar ke-fardluannya seperti di ramadlan.</div>
<blockquote class="tr_bq"><p>sebulan kita bersama, kebersamaan denganmu sungguh menyenangkan, kini aku seperti harus menanggung sendiri yang pernah kita lakukan bersama, menempuh ujianku, dan engkau masih memperhatikanku dari kejauhan sana,  <i><br /></i></p></blockquote>
<div style="text-align:justify;"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang Lailatul Qodar]]></title>
<link>http://primalatif.wordpress.com/2012/08/14/tentang-lailatul-qodar/</link>
<pubDate>Tue, 14 Aug 2012 06:10:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>primalana</dc:creator>
<guid>http://primalatif.wordpress.com/2012/08/14/tentang-lailatul-qodar/</guid>
<description><![CDATA[margasatwa tak berbuny, burung menahan nafas, angin-pun berhenti, pohon-pohon tunduk dalam gelap mal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote class="tr_bq"><div style="text-align:justify;">margasatwa tak berbuny, burung menahan nafas, angin-pun berhenti, pohon-pohon tunduk dalam gelap malam, pada bulan suci Quran turun kebumi. Inilah malam, seribu bulan, ketika cahaya surga menerangi bumi,<i> </i></div>
</blockquote>
<div style="text-align:justify;">Sudah cukup lama lagu ini, dan sekarang lebih dipopulerkan lagi grup band “Gigi”, terlebih dan semakin laris dibulan ramadlan. Tidak ada yang menyangkal bahwa malam lailatul Qodar adalah satu malam istimewa di dalam ramadlan. Berbondong-bondong setiap orang mengusahakan untuk meneguk berkah lailatul Qodar, malam yang setara seribu bulan. Menjadi Tanya besar, malam lailatul Qodar adalah malam turunnya al-Quran, kemana?, keseluruhan atau sebagian?, kapan tepatnya?, semuanya seperti mengundi dan semanya memiliki satu penafsiran yang logis. Ini sebatas diskursus (pemahaman). </div>
<div style="text-align:justify;"><b>Meramalkan Lailatul Qodar</b></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<blockquote class="tr_bq"><p>seketika malam itu senyap, sangat tenang, perlahan angin yang berhembus berhenti dan senyaplah, apakah sekarang lailatul Qodar. Tapi, kenapa jangkrik masih berbunyi, bukannya margasatwa tak berbunyi malam itu, tidak pula melihat pohon merunduk membentuk satu sikap sujud, benarkah ini lailatul Qodar. Ini-lah imajinasi lagu tersebut yang ingin aku realisasikan untuk mencirikan satu malam lalatul Qodar jauh dulu.</p></blockquote>
<div style="text-align:justify;">Beberapa hari lalu, 17 ramadlan kami mendatangi satu diskusi dalam peringatan “nuzulul Quran”. Diam-diam terfikir, jika malam ini adalah malam turunnya al-Quran, mestinya malan ini adalah malam lailatul Qodar. Bukankah dalam bait diatas malam seribu bulan itu malam dimana diturunkannya al-Quran, juga malam seribu bulan itulah yang kita kenal malam lailatul Qodar. Belum lepas angan itu, mas Agung yang menjadi pemateri menjelaskan, bahwa 17 ramadlan sebagai peringatan “nuzulul Quran’ adalah ijtihad bangsa Indonesia, saat itu terwakilkan oleh Soekarno dan (H) Agus Salim dan menjadi spirit perjuangan kemerdekaan. </div>
<div style="text-align:justify;">Kembali angan ini bertanya, bukankah tidak semua isi Quran yang kita kenal saat ini diturunkan pada satu malam, melainkan bergantian sesuai dengan keadaan –sebab turunnya. Waktu itu dijawab bahwa al-Quran diturunkan bukan kepada Muhammad langsung, melainkan diturunkan keseluruhan di langit pertama (apalah istilahnya). Pemahaman lain yang mashur (populer), malam lailatul Qodar jatuh pada sepuluh malam terakhir, lebih khusus pada malam-malam ganjil. Pendapat ini juga bukan satu yang kemudian keliru. Toh konon, Muhammad sang rosul banyak melakukan I’tikaf pada sepuluh malam terakhir dari ramadlan. </div>
<div style="text-align:justify;">Namun, meski terdapat perbedaan pemahaman dan pandangan, kesemuanya tidak berbeda jika satu malam kemuliaan itu berada di dalam bulan Ramadlan. Jika hanya ada satu malam, maka tak ubahnya kita sedang mengukur kemungkinan kita mendapat lailatul Qodar denfan berpangku pada pendapat dan pandangan yang mashur. Jika demikian, maka perilaku memilih-milih waktu tertentu tak ubahnya membeli lotre-an, kenapa tidak kita ambl semuanya 30 hari, pasti kita akan memenangkannya. </div>
<div style="text-align:justify;"><b>Kemuliaan (itu) ditetapkan untuk Kita</b></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<blockquote class="tr_bq"><p>inna anzalnaahu fii lailatil qodr, lailatul qidri khirun min alfi syahr, tanazzalul malaaikatu warruhu fiihaa bi idzni robbihim min kulli amrin salaam, hiya hatta mathla’il fajr</p></blockquote>
<div style="text-align:justify;">Ketika membaca beberapa al-Quran terjemah, hampir kesemua menjabar bahwa yang diturunkan (nujul) pada malam lailatul Qodr itu adalah Quran. Seperti telah menjadi angan dimuka, Quran yang mana?, semua ayat atau sebagiannya?, turun dimana atau kepada siapa?. Waktu itu pada kesempatan berdialog dengan mas Agung tentang definisi “nujul” yang dalam terjemahan Indonesia bisa berarti “turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah”, juga bisa di terjemah “masuk-memasukkan”.</div>
<div style="text-align:justify;">Sekali lagi anganku, kenapa menggunakan kata “lailatil Qodr” yang berarti malam, bukankan dengan hukum naturalnya bumi jika satu belahan bumi mngalami malam, maka belahan bumi yang lain bisa siang, sore atau pagi. Kemudian, apa berlangsung hanya semalam malam yang setara seribu bulan tersebut dan seperti lotre yang di buat kemungkinan turunnya. Sepertinya, kami lebih bersepakan kalau malam lailatul Qodar itu adalah malam yang ditetapkan untuk benar-benar nujul- Quran.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<blockquote class="tr_bq"><p> iqro’ bismirobbikalladzi kholak (bacalah, dengan menyebut nama pembimbing-Mu yang menciptakan)</p></blockquote>
<div style="text-align:justify;">Dalam pemahaman kita sekarang, ayat diatas adalah yang turun pertama kali pada Muhammad, juga sebagai*satu ciri ke-rasulannya. Dalam beberapa kisah yang sering diperdengarkan sejak dulu, butuh pengulangan berkali-kali bagi Jibril (malaikat) untuk sampai Muhammad Iqro’. Sejatinya dalam bahasa arab itu merupakan dialog perintah, dengan kata lain Jibril sebagai kuasa Tuhan memerintah “Bacalah Muhammad !”. Butuh beberapa kali berk-khalwat –menarik diri dari hiruk pikuk sosial bagi Muhammad untuk kemudian sampai pada satu perintah (Iqro’) ini.</div>
<div style="text-align:justify;">Inilah malam yang ditetapkan!!!. Sebatas pada sebuah fikir, lailatul Qodar adalah pengalaman penuh rahasia dalam pekat seperti malam yang menutupi dan bersifat personal. Lailatul Qodar adalah bersemayamnya (nuzul) Quran dalam hati sanubari sosok terpuji yang disebut Muhammad dalam bahasa arab. Dan sekali lagi butuh usaha yang konsisten (berkelanjutan) untuk siap menerima lailatul Qodar, bukan kesiapan yang dibuat-buat. </div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<blockquote class="tr_bq"><p>Sesaat malam itu tiba-tiba senyap, awan yang bergulung perlahan terpencar membentuk hijab tipis antara manusia dengan langit. Angin berhembus perlahan menyeru tenang, bergerak menuju pusat dan berhembus cepat ke angkasa. Tirai tipis hijab berwana keputihan tersingkap angin dari titik pusat manusia menghantar ke puncak pancarian dan kehendak. Meluncur cepat dari titik puncak “perhatikanlah ketetapan”.  </p></blockquote>
<div style="text-align:justify;">Tuhan jauh lebih mengetahui dari yang manusia ketahui tentang lailatul Qodar. Akhirnya lailatul Qodar adalah kejernihan dan ketajaman “nur Muhammad” untuk memahami dualitas kehidupan manusia. Memuasakan sang diri kapanpun dan dimanapun hingga teranglah kehidupan “<i>hatta mathla’il fajr</i>” [ ]</p>
<p></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang Niat Puasa]]></title>
<link>http://primalatif.wordpress.com/2012/08/10/tentang-niat-puasa/</link>
<pubDate>Fri, 10 Aug 2012 06:02:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>primalana</dc:creator>
<guid>http://primalatif.wordpress.com/2012/08/10/tentang-niat-puasa/</guid>
<description><![CDATA[nawaitu shouma ghodin, an ada’I fardhi syahri, ramadlona hadihi as-sanati(a), fardhu lillahi ta’ala,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<blockquote class="tr_bq">nawaitu shouma ghodin, an ada’I fardhi syahri, ramadlona hadihi as-sanati(a), fardhu lillahi ta’ala, -niat ingsun poso, tutuko sedino sesok, saking anekani fardhune wulan ramadlan.</p></blockquote>
<p>Kalimat diatas sudah barang tentu bukan kalimat yang asing, kita tentu sudah mengetahui bahwa kalimat tersebut merupakan niat dari puasa di bulan ramadlan. Pada sebagian masyarakat, niat puasa ini menjadi puji-pujian sebelum melaksanakan salat isya’ yang berlanjut dengan terawih.</p>
<p>Sejauh pemahaman kami, niat adalah sesuatu yang menyertai amal , dan sejauh kami belajar (kitab safinah an-najah) satu niat terletak di hati berlangsung bebarengan dengan amal pertama suatu perkara, dengan kata lain niat bukan sesuatu yang terpisahkan dari perbatan (ibadah-secara khusus). Semisal dalam salat, niat berlangsung denga perbuatan pertama salat “takbiratul ihram”. Namun dalam satu kesempatan berdialog dengan Agung-teman kami, mengecualikan puasa dalam pelaksanaan niat yang dapat didahulukan sebelum amalnya. Sejenak, puasa secara umum didefinisikan menahan sejak terbitnya fajar sampai terbenam matahari dari hal yang membatalkan puasa.</p>
<p>Pengertian ini bukan menjadi masalah, meski ada beberapa pembagian orang berpuasa menjadi; puasanya orang pada umumnya, puasa orang khusus, dan puasanya orang khusus yang khusus lagi (al-Ghazali). Dan puasa yang umumnya adalah puasa sebagaimana telah terdefinisikan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Sejauh ini sebenarnya muncul pertanyaan konyol (mungkin), kenapa malah ketika terbenam matahari (magrib) itulah yang disebut buka puasa, bukankah semestinya pada waktu sahur tersebut. Kita bisa saja mendikusikannya dengan menggunakan logika terbalik nantinya. Ini hanya pertanyaan konyol yang tidak menjadi inti dari tulisan ini yang berkaitan dengan puji-pujian niat di atas.</p>
<p><b>Puasa (tidak) Tuntas</b><br />
<blockquote class="tr_bq">Dengan santai kami dan 3 teman bersepeda menjauhi lingkungan kampus, belum genap perjalanan kami 3 kilometer, kita berbelok ke sebuah warung kopi, dengan santai pula kita memasan dan asik berbicara panjang lebar, padahal saat itu adalah bulan puasa, ini belum genap 6 tahun yang lalu.</p></blockquote>
<p>Sebelum memasuki bulan ramadlan saat itu, kami menyadari dan sudah (ber)maksud untuk menjalankan puasa sebulan ramadlan. Sekarang menjadi tertawaan bagi kami, kenapa saat itu begitu ringan untuk melakukan “mokel”, meski benar adanya kita tetap menggantinya di bulan ramadlan. Itu artinya, puasa kita yang seperti dalam pegertian umum saja tidak “tuntas”, dan itu menjadi satu hal yang lumrah dan dilumrahkan sekarang, malah pada mereka-mereka yang berkapasitas pengetahuan agama. Ini terjadi pada kami (pen-).</p>
<p>Saat itu, selain tidak tuntas puasa sehari, kita juga seringkali meninggalkan terawih. Bukan terawih yang mau menjadi pembahasan, melainkan puji-pujian menjelang terawih itulah yang menggelitik bagi kami sekarang. Perhatikan, setelah niat yang arab diatas, pada kelanjutan yang berbahasa jawa diterjemah dengan “niat ingsun poso tutuko sedini sesok”. Selama 29an malam tarawih dan sebanyak 29an malam itu pulalah puji-pujian itu dilantunkan, mestinya menjadi fahamlah kita jika kita berkehendak setiap malam puasa keta esok itu “tutuk” tuntas. Tapi nyatanya kami tidak tarawih, dengan kata lain tidak datang lebih awal dan memantapkan niat puasa itu saat tarawih, akhirnya menjadi “<i>niat ingsun poso, (gak) tutuk sedino sesok</i>”.</p>
<p><b>Kinerja Psikologis “Niat”</b></p>
<p>Seperti telah dikemukakan sebelumnya, niat terletak didalam hati dan bekerja sebagai kehendak, sehingga segala sesuatunya sangat bergantung dengan apa yang di niatkan. Dalam hal lafal niat puasa yang di ulang-ulang sebagai puji-pujian menjelnag terawih atau-pun niay yang di lafalkan kembali setelah salat terawih-witir merupakan stimulus dan respon itu sendiri. </p>
<p>Konsep sederhananya, semakin di*ulang ada dua kemungkinan; jika kita tidak mencibirnya karena jenuh, maka kita akan semakin memahami sesutau yang diulang-ulang tersebut. Sehingga menjadi wajar dan sangat membantu untuk memantapkan puasa esok hari-nya, sampai genaplah satu bulan berpuasa, terkecuali udzur syar’i. Pengulangan-pengulangan demi pengulangan, terlebih terdapat penekanan harapan dengan bahasa yang di pahami (jawa misalnya), “<i>tutuko sedino sesok</i>” menunukkan penekan bahwa puasa esok hari harus tuntas setidaknya dalam konsep puasa pada umumnya, bukan “gak tutuk sedino sesok”.</p>
<p>Meski sudah lazim dengan puasa umumnya, niat puasa kita mestinya menuju puasa yang lebih khusus. Toh kalau puasa yang umumnya hanya berlangsung sebulan ramadlan berbanding sebelas bulan yang lain, [<i>Rahayu</i>] </div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Diskusi dalam Pesan (Akhir)]]></title>
<link>http://mbooh.wordpress.com/2012/08/02/diskusi-dalam-pesan-akhir/</link>
<pubDate>Thu, 02 Aug 2012 14:02:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>mbooh</dc:creator>
<guid>http://mbooh.wordpress.com/2012/08/02/diskusi-dalam-pesan-akhir/</guid>
<description><![CDATA[Wah ternyata sudah lewat beberapa malam. Dan diskusi itu harus diakhiri. Karena apa yang dimulai har]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Wah ternyata sudah lewat beberapa malam. Dan diskusi itu harus diakhiri. Karena apa yang dimulai harus diselesaikan, entah hasilnya sebuah sisi positif ataupun negatif. Setelah membahas empat point dalam rukun Islam kini akhirnya kita sampai pada point terakhir, Haji.</p>
<p>Ibadah yang satu ini dinyatakan bahwa tidak wajib untuk beberapa umatnya, namun akan menjadi wajib bagi mereka yang mampu. Sebuah pertanyaan muncul dalam ruang sempit kepala, mampu dalam hal apa? Keuangan? Iman atau mungkin fisik?<br />
<!--more--><br />
Kata Haji sendiri sekarang penggunaannya telah sangat berkembang. Karena untuk datang ke sana, Tanah Suci Mekah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia offline milikku menjelaskan beberapa pengertian akan arti kata Haji. Pertama, rukun Islam kelima (kewajiban ibadah) yg harus dilakukan oleh orang Islam yg mampu dng mengunjungi Kakbah pd bulan Haji dan mengerjakan amalan haji, spt ihram, tawaf, sai, dan wukuf. Dan kedua, sebutan untuk orang yg sudah melakukan ziarah ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam yg kelima.</p>
<p>Bahkan karena berkembangnya pengertian akan ibadah yang satu ini, banyak yang menggunakannya untuk tujuan tertentu. Mulai meminta sebuah permohonan, atau ketika seseorang sedang mengalami sebuah kegundahan dalam hidupnya. Harapannya adalah mendapatkan berkah dari Sang Pencipta alam. Karena doanya dekat dengan kiblat maka akan lebih cepat didengar dan direspon.</p>
<p>Tapi saya memiliki pandangan berbeda mengenai ibadah yang satu ini. Tidak akan ada salahnya ketika kita melakukan Haji. Namun akan menjadi keliru jika ini menjadi sebuah prioritas standart keimanan seseorang. Karena akan lebih tinggi barang siapa mampu menciptakan Kakbah dalam dirinya.</p>
<p>Ibadah haji ini bermaksud untuk mengkilas balik beberapa perjalanan para nabi, bukan hanya Nabi Muhammad. Hal ini untuk memberikan bukti bahwa kisah-kisah yang tertulis atau terucap itu nyata, dan bukan hanya dongeng orang tua sebelum tidur.</p>
<p>Tapi miris akhirnya ketika seseorang tetap sama dan belagak beriman setelah menunaikan ibadah ini. Haji ini diwajibkan barang siapa yang mampu. Ketika kau mampu secara keuangan maka berangkatlah. Tentunya dengan niat bahwa ini akan memperkuat keimanan dan ketaqwaan. Namun jika fisik tidak memadai maka pikirkanlah.</p>
<p>Jika kau merasa sudah memiliki iman yang cukup, maka ibadah hajilah dengan membangun Kakbah dalam dirimu. Bentengi dengan segala kemuliaan Tuhan atas Kakbah. Bayangkan saja ketika gajah ingin menghancurkannya, maka ada beberapa kawanan burung yang sengaja didatangkan dari langit-Nya untuk mencegah itu.</p>
<p>Kalau-kalau saja seseorang mampu berhaji dalam dirinya maka terlindunglah dia. Entah mala petaka dari segala makhluk ciptaan-Nya niscaya akan mampu diselesaikan. Hingga nanti akhirnya seseorang mampu menikmati Haji hanya dengan memejamkan mata dan melakukan segala rukun-rukunnya.</p>
<p>Mungkin ini diskusi yang sebenarnya tidak hanya bisa dibicarakan dalam suasana bulan suci, tapi kapanpun perihal ini masih sangat asik untuk didiskusikan. Bila ada kekeliruan datangnya dari saya yang hanya menggunakan akal, dan kebaikan serta manfaat datangnya dari Allah yang menyampaikannya melalui jari-jari dan pikiran ini. Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Diskusi dalam Pesan II (3)]]></title>
<link>http://mbooh.wordpress.com/2012/07/29/diskusi-dalam-pesan-ii-3/</link>
<pubDate>Sun, 29 Jul 2012 13:08:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>mbooh</dc:creator>
<guid>http://mbooh.wordpress.com/2012/07/29/diskusi-dalam-pesan-ii-3/</guid>
<description><![CDATA[Akhirnya kembali saya diberikan kesempatan untuk berdiskusi kembali dengan kawan-kawan. Kali ini say]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya kembali saya diberikan kesempatan untuk berdiskusi kembali dengan kawan-kawan. Kali ini saya ditemani oleh alunan musik dari Sting dalam album yang bertajuk <em>If On A Winter’s Night</em>. Pada diskusi sebelumnya saya sudah memberikan isi dalam kepala saya tentang 3 point Rukun Islam, Syahadat, Sholat dan Puasa. Dan kini kita akan berdiskusi untuk point keempat, Zakat.</p>
<p>Pengertian zakat yang saya dapat dari beberapa informasi, dalam jaringan (internet) mengatakan bahwa zakat adalah tumbuh dan bertambah.  Tapi ada juga yang mengartikan bahwa zakat adalah berkah, tumbuh, bersih dan baik. Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia Offline milik saya memberikan penjelasan bahwa zakat memiliki pengertian  jumlah harta tertentu yg wajib dikeluarkan oleh orang yg beragama Islam dan diberikan kpd golongan yg berhak menerimanya (fakir miskin dsb) menurut ketentuan yg telah ditetapkan oleh syarak. Dan syarak memiliki pengertian  hukum yg bersendi ajaran Islam, hukum Islam.<br />
<!--more--><br />
Lalu mengapa  zakat sendiri masuk dalam Rukun Islam? Karena bilamana seorang umat memiliki pemahaman untuk membersihkan dirinya dan sekitarnya maka secara otomatis dia akan permbersihan pula untuk hartanya. Dan jika itu dilakukan secara berkala dan tanpa sadar mungkin dapat dikatakan sebagai infaq.</p>
<p>Kewajiban seseorang untuk melakukan pembersihan hartanya diwajibkan karena ternyata nafsu kita untuk hak kepemilikan lebih besar dari kesadaran bahwa segalanya adalah milik-Nya. Oleh karenanya kita diberikan point keempat ini sebagai tambahan puasa yang hanya menekankan kepada nafsu diri. Sehingga untuk memberikan kekuatan hokum bagi sesame umat untuk mengingatkan maka masuklah zakat dalam Rukun Islam.</p>
<p>Saya sempat membayangkan dimana semua kesadaran kita telah sampai pada kesadaran dimana segala sesuatunya adalah milik-Nya. Sehingga mungkin tidak akan ada yang namanya kaum miskin. Dan kesejahteraan sesama umat akan menghilangkan salah satu penyakit hati manusia, iri. Hingga yang tersisa adalah iri dalam berbagi dan berbuat baik, tapi tanpa adanya rasa sombong dan mengharapkan pujian atas tindakannya.</p>
<p>Dan saya saat ini merasakan benar betapa Islam memberikan tawaran untuk mendekatkan diri pada Tuhan secara spesifik. Namun terkadang ada saja orang-orang yang sudah merasa dirinya adalah tuhan-tuhan kecil dengan pemahaman tuhan versi makhluk. Istimewa. Sehingga dengan demikian saya sedikit merasa yakin bahwa ternyata Rukun Islam itu berjenjang dan bertahap, namun belum tentu berkelanjutan.</p>
<p>Bersambung&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Diskusi dalam Pesan II (2)]]></title>
<link>http://mbooh.wordpress.com/2012/07/28/diskusi-dalam-pesan-ii-2/</link>
<pubDate>Sat, 28 Jul 2012 14:34:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>mbooh</dc:creator>
<guid>http://mbooh.wordpress.com/2012/07/28/diskusi-dalam-pesan-ii-2/</guid>
<description><![CDATA[Habis merokok sebatang dan meneguk kopi mari kita kembali berdiskusi. Sebelumnya saya sedang membaha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Habis merokok sebatang dan meneguk kopi mari kita kembali berdiskusi. Sebelumnya saya sedang membahas Rukun Islam hingga point dua dimana masih menyisakan tiga point, puasa, zakat dan naik haji. Dan point ketiga adalah puasa. Dalam bulan Ramadhan banyak umat Islam yang melalukan puasa, walaupun ada beberapa oknum yang memutuskan untuk tidak sama dengan yang lain. Namun apakah yang dimaksud dalam Rukun Islam ini adalah puasa pada bulan Ramadhan? Dan saya tidak memiliki kapasitas menjawabnya. Atau mungkin dari pembaca ada yang mampu memberikan pencerahan.</p>
<p>Puasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline milik saya menjelaskan bahwa puasa adalah menghindari makan, minum, dsb dng sengaja (terutama bertalian dng keagamaan). Dalam pemahaman orang-orang Indonesia saja tidak mengatakan bahwa puasa yang dimaksud dalam Rukun Islam adalah puasa dalam bulan Ramadhan. Lalu puasa yang mana? Puasa Daud, Puasa Senin dan Kamis atau mungkin Puasa Pati Geni?<br />
<!--more--><br />
Coba kita ingat kembali mengenai dua Rukun Islam sebelumnya, Kalimat Syahadat dan Sholat. Dimana dua point ini merupakan tahapan, berjenjang dan berkelanjutan. Dengan demikian puasa tidak sholat itu <strong>mungkin</strong> keliru dan sholat tapi belum ber-Syahadat itu <strong>mungkin </strong>keliru juga. Kesimpulan sederhananya adalah apakah kita puasa sudah sesuai dengan urutan Islam seharusnya? Mungkin kawan-kawan pembaca dapat memberikan pencerahan kembali.</p>
<p>Dalam diskusi di<a href="http://www.facebook.com/faqihhaq/posts/182268178571559?ref=notif&#38;notif_t=share_comment" target="_blank"> status saya</a> ada kawan yang menyatakan bahwa puasa itu serupa dengan fungsi rem dalam kendaraan. “&#8217;puas&#8217; = &#8216;rim&#8217;. ada aturan mainnya lho. ada juga yang ngebut terus malah kecelakaan, krn tdk seimbang dg aturan main berkendara, harusnya di rim, di kopling, di gunakan prosnelengnya. ada juga yg tiba2 rim mendadak terus jatuh. ini juga bahaya lho&#8230;,” tulisnya. Jadi saya sempat menyimpulkan bahwa puasa itu lebih dari sekedar menahan makan dan minum seperti apa yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline milik saya. J</p>
<p>Lantas puasa itu apa? Untuk apa itu puasa? Mungkin ini yang akan menjadi pertanyaan bagi saya. Tapi tetap puasa itu diwajibkan agar dapat melanjutkan kepoint selanjutnya. Tanpa dapat melakukan dengan pemahaman seseungguhnya maka kita akan semakin rumit untuk melanjutkannya. Tapi ini masih dalam akal saya saja, bilamana ada kekeliruan tentu datangnya dari saya dan kebenaran tetap pada posisiNya.</p>
<p>Bersambung&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Diskusi dalam Pesan II (1)]]></title>
<link>http://mbooh.wordpress.com/2012/07/28/diskusi-dalam-pesan-ii-1/</link>
<pubDate>Sat, 28 Jul 2012 13:46:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>mbooh</dc:creator>
<guid>http://mbooh.wordpress.com/2012/07/28/diskusi-dalam-pesan-ii-1/</guid>
<description><![CDATA[Setelah melewati hari yang cukup berat saya sempat memikirkan beberapa hal yang kami (Ngaliman, Adam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah melewati hari yang cukup berat saya sempat memikirkan beberapa hal yang kami (Ngaliman, Adam, Fery, Ilham dan Iok) bahas di jejaring sosial. Melalui komentar mereka dalam<a href="http://www.facebook.com/faqihhaq/posts/182268178571559?ref=notif&#38;notif_t=share_comment" target="_blank"> status saya</a> mengani diskusi sederhana dengan seorang gadis melalui sebuah pesan. Tapi dari hasil diskusi selanjutnya saya malah memikirkan beberapa hal. Rukun Islam.</p>
<p>Landasan kawan-kawan saya untuk melakukan puasa adalah sebagai mana tertoreh dalam Rukun Islam. Rukun Islam sendiri terdiri atas 5 point. Point pertama adalah Membaca kalimat syahadat. Dimana dalam kalimat tersebut kita melakukan sebuah pernyataan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusNya. Dengan membaca kalimat ini maka secara sah seseorang akan masuk Islam. Namun apakah ini dilakukan karena kita sholat atau sedang berdiskusi? Tentunya tidak. Karena saat mengatakan itu kita memahaminya secara sadar dan seabagai makhluk.<br />
<!--more--><br />
Hal ini pernah menjadi diskusi ringan antara saya dan kawan ngopi saya. “Anakku ituloh kih belum punya agama,” ujarnya. Lantas permasalahan itu pernah didiskusikan dengan istrinya yang ingin mencantumkan Islam sebagai agama anaknya ketika mengisi formulir pendaftaran sekolah. Sontak kawan saya ini tidak sepakat dengan istrinya. Karena merasa bahwa anaknya belum sepakat dengan keputusan untuk masuk Islam, dan masih mengikuti kepercayaan orang tua-nya.</p>
<p>Kedua, Melakukan Sholat. Mengapa saya mengatakan melakukan sholat? Karena sholat itu dilakukan bukan hanya diingat, walaupun saya sendiri masih lalai dalam pelaksanaannya. Sholat merupakan bentuk tanda bahwa kita telah menyepakati point pertama dalam Rukun Islam, dan tentunya teman-teman sudah menyadari itu. Namun apakah sholat itu wajib? Ya tentunya begitu.</p>
<p>Namun ada beberapa hal terlintas dalam pikiran saya. Ketika orang-orang terdahulu melakukan ritual bertapa apakah mereka melakukan sholat? Hanya Allah, Malaikat, Setan dan Pertapa-lah yang tau akan jawabnya. Karena sholat adalah ritual yang disediakan oleh Allah untuk mendekatkan diri dan berserah diri padanya. Tapi apa tidak memungkinkan ada cara lain untuk melakukannya? Entahlah saya-pun tak mampu menjawab pertanyaan itu.</p>
<p>Tapi yang sementara ini saya sadari adalah ritual untuk mendekatkan diri itu tidak hanya sholat, puasa dan lain-lainnya yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist. Mengapa begitu? Karena kita berakal dan memiliki inovasi sehingga tidak menutup kemungkinan atas hal tersebut. Dan jika benar ada maka saya tentu tidak akan mengatakan bahwa itu sesat. Karena ada yang lebih berhak untuk menentukan bahwa itu benar atau keliru.</p>
<p>Bersambung&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Diskusi dalam Pesan]]></title>
<link>http://mbooh.wordpress.com/2012/07/27/diskusi-dalam-pesan/</link>
<pubDate>Fri, 27 Jul 2012 16:49:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>mbooh</dc:creator>
<guid>http://mbooh.wordpress.com/2012/07/27/diskusi-dalam-pesan/</guid>
<description><![CDATA[Kelelahan karena tidak beristirahat merupakan hal yang lumayan sering dilakukan. Tapi kali ini efekn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kelelahan karena tidak beristirahat merupakan hal yang lumayan sering dilakukan. Tapi kali ini efeknya kurang baik, karena harus melewatkan kuliah remedial dan kelelahan berlebihan setelah melakukan kerjaan paruh waktu. Namun mata ini sempat kembali terjaga karena harus menjemput seorang gadis. Entah harus ku panggil siapa dia. Mungkin ratu, ajeng, dewi, rosa atau mungkin bunga.</p>
<p>Setelah sampai di kamar ingin rasanya merebahkan badan yang sudah hampir tumbang karena lelah. Tetapi kembali mata ini harus melotot karena mendapat sebuah pesan dari seorang kawan yang tidak setuju dengan status yang saya pasang dalam <em>smart phone</em>-ku. “Puasa itu hanya untuk yang membutuhkan,” seperti itu tercatat.<br />
<!--more--><br />
Memang sebelumnya saya yang membuka pembicaraan dengannya. Inginnya menanyakan tentang perkuliahan yang sedang saya tempuh. Tetapi penyataan tajam langsung masuk dalam pesan yang seharusnya usai karena perbincangan mengenai sekolahku telah selesai. “Oiya aku gak setuju tuh sama stat nya masa hanya untuk yang membutuhkan,” tulisnya dalam pesan. “Trus kalau yang beragama Islam tapi gak butuh puasa terus boleh gitu gak puasa?” lanjutnya dengan, tapi tidak sampai di situ. “Puasa itu wajib hukumnya buat semua umat islam,” akhirnya dia mengakhirinya.</p>
<p>Karena ingin berdiskusi dengannya saya mencoba mengingatkan tentang sebuah ayat atau hadist (saya lupa tepatnya apa) dimana membicarakan tentang ketentuan berpuasa. “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana dilakukan orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa,” saya memberikan penjelasan. Harap dimaklumi sebelumnya saya tidak hafal surat atau hadist tersebut, namun kurang lebih esensi-nya sama. J</p>
<p>Dia kembali melontarkan sebuah kegelisahan, “iya, terus hubungannya sama ‘yang membutuhkan’ apa donk?” Dan dalam sesaat sepertinya saya akan mendapatkan diskusi. Tapi pertanyaan itu tidak saya jawab, melainkan saya bertanya kembali. “Kalau udah bertaqwa gimana?” tanya saya.</p>
<p>Dengan sangat cepat dia membalas, “ Ya tetep puasalah, kan puasa wajib.” Dan yang paling mengagetkan adalah dia mengharapkan saya tidak tertawa dalam diskusi ini. “Jangan ketawa ya mas bacanya,” tegasnya dalam pesan.</p>
<p>Tentu saya tidak akan tertawa. Karena menurut saya diskusi malam ini bisa menambah wawasan untuknya dan juga saya. Tetapi untuk meyakinkan saya mengirimkan pesan bahwa tidak ada tawa dalam diskusi ini. Tapi kembali lagi saya melontarkan sebuah pertanyaan beruntun, “Iya tujuan puasa apa? Hanya berpartisipasi? Atau apa?” tanyaku.</p>
<p>“Oke oke jadi untuk bertaqwa kita butuh untuk berpuasa gitu maksudnya?” balasnya mengenai pertanyaanku. Namun sebenarnya bukan itu jawaban yang saya harapkan. Dengan polos saya menjawab tanpa berpikir, “Ya gak tau.” Dengan menambahkan sebuah pengingat untuk pembahasan ini. “Tapi Allah memberikan beberapa pilihan cara to?” jelasku. Dengan 3 huruf dia membalas, “Iya.”</p>
<p>“Ya setiap orang punya pemahaman sendiri-sendiri to,” jelasku singkat. “Terus apa puasa itu akan berpengaruh akan kelangsungan ibadahmu gak? Berpengaruh! Tapi apa ya cuman 1 bulan saja?” tanyaku kepadanya. Dengan menyalakan sebatang rokok saya menunggu tanggapan darinya.</p>
<p>“Iya iya. Cuman yang masih aku bingung kenapa bahasanya puasa dijadikan kebutuhan bukan kewajiban, kan udah jelas di Rukun Islam,” jawabnya. Untuk memberikan perbandingan sesama hal yang tercantum dalam Rukun Islam, saya mulai mempertanyakan mengenai ibadah sholat. “Sekarang kamu sholat itu karena butuh atau takut akan kata ‘kewajiban’?” tanyaku untuk mencairkan suasana.</p>
<p>Akhirnya jawaban yang sebenarnya saya tunggu akhirnya datang juga. Kini diiringi dengan meminum segelas kopi <em>colongan</em> di kulkas kontrakan saya membacanya. “Soalnya kalau pernyataannya kaya gitu dan coba aku lempar ke orang lain malah mereka jadi salah persepsi, sama kaya aku,” jawabnya. Namun ternyata tidak hanya itu, “karena wajib dan takut kepada Allah. Hehehe,” tambahnya.</p>
<p>Untuk menyamakan persepsi saya menjelaskan alasan kenapa puasa hanya merupakan kebutuhan. “Akhirnya kalau seperti itu buat aku malah jadi beban, dan saya kurang suka aja akan persepsi seperti itu,” jelasku. “Saya butuh Allah. Saya butuh Sholat, walaupun banyak lalainya. Aku butuh puasa. Dengan demikian saya tidak merasa ini sebuah beban,” tambahku. Namun untuk memperjelas saya mengakhiri jawabanku dengan kalimat yang mungkin sudah sering dibawakan dalam ceramah Jum’at atau siaran televise, “bukan Allah yang butuh aku.”</p>
<p>Dengan berakhirnya penjelasan tadi kami menemukan sebuah persamaan. Walaupun saya tidak dapat memastikan apakah benar atau tidak. Namun setidaknya ini dapat menambah wawasan saya dan dirinya. Pluralism itu bukan hanya untuk orang-orang yang berbeda agama, melainkan untuk sesame agama sebaiknya juga diterapkan. Kalau memang keliru diingatkan. Tapi kalau tidak didengarkan, semoga Allah masih membukakan pintu hatinya. J</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencoba Jadi Pemimpin]]></title>
<link>http://mbooh.wordpress.com/2012/07/12/mencoba-jadi-pemimpin/</link>
<pubDate>Thu, 12 Jul 2012 03:59:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>mbooh</dc:creator>
<guid>http://mbooh.wordpress.com/2012/07/12/mencoba-jadi-pemimpin/</guid>
<description><![CDATA[Dalam keseharianku mungkin banyak tawa dan canda, namun dibalik itu semua ada sebuah luka yang entah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam keseharianku mungkin banyak tawa dan canda, namun dibalik itu semua ada sebuah luka yang entah akan terobati atau akan membusuk. Tidakkan yang dilakukan karena nafsu akhirnya berdampak pada sebuah kelompok yang sudah tidak memiliki pemimpin. Dan terpaksa seseorang mencoba memainkan peran sebagai pemimpin, walaupun tidak secara utuh. Ingat “terpaksa mencoba memainkan peran sebagai pemimpin”.</p>
<p>Bermula dari pertemuan yang tidak direncanakan. Mungkin Tuhan memainkan peran yang sangat indah pada momentum ini. Perkenalan ini bermula dari seorang kawan yang mampir ke rumah untuk bersilaturahmi dengan membawa temannya. Dan tanpa sengaja (mungkin) dia menghubungi seseorang yang mencoba jadi pemimpin. Yah dan dia merasa bahwa telah menemukan pemimpin selanjutnya.<br />
<!--more--><br />
Kejadiaan yang terekam sangat cepat. Entah apakah ada file yang tersimpan dengan rapi atau mungkin sudah terhapus. Hanya perlu beberapa bulan untuk memastikan dia sebagai calon pemimpin. Bahkan seseorang yang mencoba jadi pemimpin memutuskan secara otoriter dalam kelompoknya. Sehingga anggota kelompok terpaksa menerima keadaan ini. Memang sakit. Dan mungkin sangat sakit.</p>
<p>Pemimpin kelompok sebelumnya sangat sederhana dan selalu menjalani program kerja dengan diiringi senyum hangat yang membuat anggota kelompok harus menghela nafas panjang dalam lelah. Sabarnya mungkin terlihat tanpa batas, namun dalam beberapa coretan buku harian-nya dia mengadu pada Tuhan bukan manusia. Dan buku harian itu sengaja ditinggalkan bersama buku-buku di ruang kerjanya.</p>
<p>Pemberontakkan terjadi. Bahkan sempat menggoyahkan kekompakkan kelompok. Ditambah beberapa rekanan kelompok menolak keras adanya pemimpin yang dipilih secara otoriter oleh orang yang mencoba jadi pemimpin. Tapi dari banyaknya tudingan akan kepentingan pribadi ada beberapa hal yang menjadi nilai positif dari orang yang dipilih oleh orang yang mencoba jadi pemimpin,</p>
<ul>
<li>Orang ini memang dilahirkan jadi pemimpin,</li>
<li>Kapasitas kerjanya lebih aktif,</li>
<li>Wawasannya memadai,</li>
<li>Retorika yang baik (wajar saja dia memiliki pengetahuan tentang hukum),</li>
<li>Sokongan dana dari beberapa pihak,</li>
<li>dan dia memiliki niat.</li>
</ul>
<p>Mungkin itu beberapa alasan yang akhirnya membuat dia tetap terpilih menjadi pemimpin. Anggota kelompok terpaksa menerimanya. Karena calon pemimpin ini telah melakukan <em>kongkalikong</em> dengan orang yang mencoba jadi pemimpin. Dan ini akan menjadi kehancuran bagi kelompok tersebut dikemudian hari (tindakan selalu memiliki akibat).</p>
<p>Kepemimpinan ini berjalan dengan sangat mulus pada awalnya. Lambat laun waktu menunjukkan janjinya, akan membuka pintu kebenaran pada kesempatan yang tepat. Dan janji benar adanya. Kelompok ini dihujani dengan beberapa permasalahan internal antara pemimpin yang baru dan orang yang mencoba jadi pemimpin. Mungkin karena merasa dalam diri mereka memiliki jiwa kepemimpinan akhirnya rasa egois mereka melebur menjadi satu dan berakhir dengan pertikaian tanpa jawaban.</p>
<p>Mereka sebagai orang-orang yang dianggap memiliki kapasitas untuk menyelesaikan masalah ini bukannya melakukan mediasi atau berbincang-bincang, melainkan hanya mengurung diri dalam kamar mereka masing-masing. “Oh waktu kau memang memberikan apa yang aku tunggu-tunggu,” gumam hati seorang anggota yang sempat mempertanyakan keputusan orang yang mencoba jadi pemimpin.</p>
<p>Pagi hari tak selalu indah untuk dinanti. Seperti <em>Worker Class</em> yang menatap hari senin. Benar saja, sebuah surat pengunduran diri mampir di kotak surat milik kelompok. “Mampus, bubar aja deh,” saut anggota yang mengabarkan keadaan ini kepada anggota lain yang sedang melakukan tugas di luar daerah.</p>
<p>Tanpa detail yang jelas akhirnya masa kepemimpinan pemimpin yang baru harus berakhir dalam musyawarah besar. Dan dalam musyawarah itu memutuskan kembali bahwa kelompok ini sementara tanpa pemimpin. Sehingga dalam setiap langkahnya harus melakukan koordinasi antara anggota. Namun orang yang mencoba jadi pemimpin kembali mengambil posisinya kembali sebagai bayangan-bayang pemimpin dalam kelompok.</p>
<p>Mungkin karena bumi ini berputar maka kelompok kami masih bertahan dan utuh walaupun tanpa pemimpin. Royalitas yang sudah terbangun membuat kami tetap memaksakan diri agar nyaman dalam kelompok, walaupun ada beberapa gumam dalam anggota yang melaknat tindakkan orang yang mencoba jadi pemimpin. “Perjalanan takdir layaknya roda yang berputar,” seorang rekan kerja mengingatkan untuk menguatkan anggota kelompok. Tapi apa iya seperti itu adanya?</p>
<p>Kenyamanan kelompok ini ada pada anggotanya. Walaupun ada pendukung dari luar yang bisa menjadi penyokong kenyamanan kelompok, atau malah menghancurkan. Anggota-anggota semakin acuh dengan keputusan dan tindakan yang diambil orang yang mencoba jadi pemimpin, dan memilih saling memperhatikan satu sama lain.</p>
<p><em><strong>“Surga itu ada ketika kau mampu membuat akalmu menjadi pemimpin bagi hati yang murni dan nafsu yang kelam”</strong></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mozaik RoDinDa Aktifis]]></title>
<link>http://primalatif.wordpress.com/2012/07/10/mozaik-rodinda-aktifis/</link>
<pubDate>Tue, 10 Jul 2012 12:15:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>primalana</dc:creator>
<guid>http://primalatif.wordpress.com/2012/07/10/mozaik-rodinda-aktifis/</guid>
<description><![CDATA[. . . kepingan-kepingan kehidupan yang tersusun membentuk satu gambar utuh dalam satu bingkai yang d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<div style="text-align:center;"></div>
<div style="text-align:center;"><b><i>. . . kepingan-kepingan kehidupan yang tersusun membentuk satu gambar utuh dalam satu bingkai yang disebut aktifis . . .</i></b></div>
<p></div>
<div style="text-align:justify;">Jamak sekarang, mereka para pegiat organisasi disebut sebagai para aktifis, tidak terkeguali mereka yang juga pegiat organisasi dilingkungan kampus. Dengan status mahasiswa, mereka seakan telah bersepakat menjadi pengawal perubahan “agent of change”. Kaum ini disebut dengan kaum yang memiliki idealism-idealitas berfikir, tidak sebatas pada satu keadaan yang telah mapan. Disini mereka bisa dianggap sebagai juru selamat “sang messiah” tata masyarakat. Jauh sebelum sekarang, aktivis mahasiswa berbaur dengan para aktivis dari elemen non-mahasiswa berkali-kali menggoyang kemapanan –entah kekuasaan atau pemerintah.</div>
<div style="text-align:justify;">Jauh dari penilaian yang ada, mahasiswa sebagai personal memiliki kepingan-kepingan kehidupan. Kepingan yang mestinya disusun dan tidak sebatas dipahami sebagai sesuatu yang terpisah, meski batas-batasnya masih sangat jelas terlihat. Itulah alasan dari pemilihan kata “mozaik” dalam judul tulisan ini. Kepingan ini bukan kepingan yang teratur sisi-sisinya, namun membentuk satu gambar yang disebut “rodinda” dalam bingkai term(istilah) “aktifis”, jadilah aktifis itu sebagai pelaku langsung dari “Romantisme”, “Dinamisme”, “Dialektika”. Disini, mereka adalah yang berada dilingkungan pendulum antara perjuangan dan pemikiran.</p>
<p><b>Romantisme</b></p>
<p>Pengistilahan ber”Pacaran” lebih familiar untuk menggantikan istilah “Romantisme”. Meski secara khusus definisi ini sangat berbeda. Tulisan ini, bukan membahas pengistilahannya, namun realitas dan wacana tentangnya. Pernah satu waktu saya (pen-) mendengar lamat-lamat perbincangan “warung kopi” untuk menjadi cowok romantis. Dan sekarang, kiranya ada kesempatan untuk sedikit mengupas dengan gaya pemikiran mengalir-bebas tampa literasi. Jika kemudian ada satu literasi yang mendukung adalah satu keberuntungan bagi (pen-) yang berarti sedikit dukungan teoritis. </p></div>
<div style="text-align:justify;">Romantis, istilah yang dekat dengan ceritera percintaan, setidaknya ini penerjemahan yang banyak diperoleh dalam banyak kamus istilah. Sesekali, romantisme di sangkakan sebagai satu pilihan yang jauh dari kesan aktifis dan penuh dengan bahasa ke-pejuangan. Padahal ini adalah satu keniscayaan dan keharusan bagi mereka yang disebut aktifis. Romantisme adalah satu pijakan yang semestinya untuk memulai satu gerak ke-pejuangan beriring dengan idealisme dan idealitas (konsepsi idealisme akan dibahas pada kesempatan lain).</div>
<div style="text-align:justify;">Romantisme aktifis bukan percintaan aktifis dalam organisasi. Meski telah menjadi satu kesepakatan “arti” romantis terkait dengan percintaan, ada baiknya jika kita melihatnya dari sisi yang tidak disepakati. Definisi awal kami, dengan sejenak berdiam, merasa dan menyebut berulang-ulang didapat satu pengertian –meski tidak jelas tepat ada rasa “damai” dan kerinduan akan rasa damai itu. Jika di umpamakan pendulum yang bergerak, ada titik seimbang dari dua kutub (sisi) dan gerak telah menjadi “stationer”. Demikian romantisme adalah aktif berpijak pada satu pemahaman ideal yang akan diperjuangkan. Jauh, semestinya romantisme aktifis tidak menjadi sempit pada tataran istilah, sehingga tidak terkungkung pada istilah yang seperti sekarang ini. Dan sekarang, aktifis harus Romantis, ini kepingan pertama.</div>
<div style="text-align:justify;"><b><br />Dinamisme</b></div>
<div style="text-align:justify;">Kata “Dinamis” dengan tambahan “isme” menunjuk pada faham, ini sementara yang kita sepakati. Dinamis dalam bahasa inggris “dynamic” yang berarti bersemangat, bergerak, dan “dynamism” artinya tenaga yang dinamis. Dinamis telah menjadi bagian dari bahasa Indonesia yang selama ini sepakat diartikan sebagai satu lawan dari kata “statis” sementara meski kurang tepat dinamis merupakan dapat mengikuti keadaan. Satu dari mozaik dalam bingkai aktifis adalah dinamisme. Lalu, apakah dengan demikian aktifis dapat juga berarti orang yang dapat turut menyesuaikan diri leber-melebur dengan keadaan. Kesemua jawabannya benar, inilah yang disebut pendulum bergerak.</div>
<div style="text-align:justify;">Kita juga mengenal dinamisme dalam konstruksi kepercayaan “animisme-dinamisme”. Animesme sejauh ini di pahami sebagai kepercayaan pada ruh/leluhur, yang dalam keilmuan psikologi sebenarnya bertolak dari dalam diri (akan kami bahas dalam kesempatan lain). Sedangkan dinamisme berkaitan dengan kekuatan yang tersimpan dalam benda-benda materi. Sehingga dalam kepercayaan “dinamisme” manusia selayaknya melakukan penyesuaian berdasarkan hukum kekuatan alam materi tersebut.</div>
<div style="text-align:justify;">Beragam penggunaan kata “dinamis” menjadi penting dipahami untuk memperoleh gambar untuk dari kegiatan ke-pejuangan aktifis. Seperti telah disebut, dynamic adalah satu gerakan dan semangat atau juga bisa sebagai instrument gerakan. Ya, dinamisme bukan melupakan tujuan ideal yang didapat dari kepingan yang lain “Romantisme”. Dinamisme adalah mengikuti aturan main yang telah tersedia untuk sampai, dinamisme adalah kesadaran “Iqro bi Ismi Robbika al-ladzi kholak” dalam bahasa Muhammad sang rosul. Dinamisme adalah terus bergerak “alon-alon waton kelakon” konsisten sampai tercapai. Sampailah kini gambar aktifis itu pada mulainya memiliki perjalanan ke-pejuangan, aktifis telah memiliki energi gerak.</div>
<div style="text-align:justify;"><b><br />Dialektika</b></div>
<div style="text-align:justify;">Rumit mencari padanan kata yang memberikan pemahaman halus dari kalimat ini. Dialektika sebagai penyempurna gambar dalam bingkai aktifis, sering terdengar sebagai sesuatu yang (entahlah). Sekarang, marilah sejenak tenang, menghitung mundur perlahan dari bilangan sepuluh, setelah mencapai bilangan satu, masih perlahan kita ucapkan berulang-ulang kata “dialektika” ini, apa jawaban yang dirasakan jangan ditolak. Jangan lanjutkan membaca dulu!!! Ikuti petunjuk, baru kita pertemukan jawabanmu dengan yang kami temukan pada paragraf selanjutnya.<br />Setelah melakukan hal diatas, kami menemukan ada sedikit perasaan berbenturan ketika menyebutkan berkali-kali kata “dialektika” ini. Setidaknya, ini juga yang bisa dirasakan dalam realitas sikap dialektis yang senyatanya. Sepertinya ada kesesuaian antara kalimat yang digunakan dengan realitas aplikasinya. Namun, demikian mestinya kita keluar, karena ternyata rasa yang dirasakan adalah hasil konstruksi diri yang telah berlangsung lama, mestinya untuk berbicara dialektika kita keluar tempurung, masuk ke tempurung lain, membongkar kotak dan membaut kota baru.</div>
<div style="text-align:justify;">Dialektika dalam bahasa inggris disebut dengan dialectis(s)-dialect yang ketika dikembalikan ke bahasa Indonesia menjadi “logat”, dan “logat” dekat dengan nahasa arab “lughoh” yang berarti juga kebahasaan. Inilah kiranya, sedikit temuan kami. Dengan ini, maka definisi dialektika adalah unsur transformasi atau penyampaian dengan bahasa. Gambar “RoDinDa” dalam bingkai aktifis meski belum sempurna sepertinya telah bisa di lihat sebagai gambar yang utuh, meski bekas sambungannya belum terlihat rapi. Aktifis terakhir adalah bertugas sebagai penyampai atau “tablig” dalam pengistilahan untuk Muhammad sang rosul. Menjadi keniscayaan jika dalam penyampaian ada pertentangan yang jelas, maupun samar.</div>
<div style="text-align:justify;"><b><br />“RoDinDa” itu Suluk</b></div>
<div style="text-align:justify;">Pernah dalam satu pengajian yang me-bahas “wudhu” terdapat rukun terakhir “tertib” atau berurutan “urut-urut”. Tuntas sudah tulisan singkat ini, secara berurutan (Ro)mantisme, (Din)amisme dan (Di)alektika sebagai gambar utuh dalam bingkai yang disebut sebagai aktifis. Dalam gerak ke-pejuangannya, memulai berpijak pada romantisme tentang kondisi ideal. Dan bergerak dengan memahami hukum-hukum kekuatan material (dinamisme). Dan tugas terakhir adalah menyampaikan (dialektika).<br />Sejenak asumsiku (mungkin), inilah Suluk untuk mencapai Memayu Hayuning Bawana, “Islam”. Semoga . . . </div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kota dan Labirin Konsumerisme  ]]></title>
<link>http://sinomcity87.wordpress.com/2012/07/10/kota-dan-labirin-konsumerisme/</link>
<pubDate>Tue, 10 Jul 2012 02:03:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinomcity87</dc:creator>
<guid>http://sinomcity87.wordpress.com/2012/07/10/kota-dan-labirin-konsumerisme/</guid>
<description><![CDATA[oleh Ahda Imran DATANGLAH ke Bandung. Maka Anda sebenarnya tidaklah berada dalam sebuah kota, melain]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3>oleh Ahda Imran</h3>
<div id="post-body-9031965108638794328">DATANGLAH ke Bandung. Maka Anda sebenarnya tidaklah berada dalam sebuah kota, melainkan berada dalam sebuah labirin. Labirin yang sesak dan dikonstruk oleh berbagai kepentingan komersial. Kota dan seluruh ruang di dalamnya dibangun bukan lagi untuk kepentingan publik, melainkan demi melayani hasrat-hasrat kuasa para pemilik modal. Lihatlah, berbagai penunjuk jalan pun muncul dan memberi informasi ihwal lokasi komersial, mulai dari mal hingga factory outlet sehingga seluruhnya seolah telah menjadi bagian utuh dari tubuh kota. Inilah kisah kota dalam labirin konsumerisme. Kota yang tubuhnya dipenuhi oleh kekerasan simbolis.Inilah &#8220;Kisah Kota yang Luka&#8221;, karya instalasi yang dipresentasikan Jejen Jaleni dan Valerie Putti K. dalam projek akhir para siswa Lateral School di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), 14 April 2010. Karya berada di ruang sayap kiri GIM, terbuat dari material kardus yang dilapisi koran, dengan dimensi 8x5x2 meter. Pada beberapa sudut labirin terpasang papan penunjuk jalan dengan warna dan model huruf yang banyak kita temukan di Kota Bandung. Papan penunjuk yang terbuat dari material styrofoam ini digantung nyaris mengepung setiap sudut labirin.</p>
<p>Papan penunjuk jalan itu mencantumkan berbagai kawasan di Bandung, sekaligus juga penunjuk arah untuk menuju suatu mal atau pusat perbelanjaan. Bahkan bisa dikatakan papan penunjuk arah ini yang menjadi pusat dari gagasan karya instalasi tersebut. Labirin kota yang sesak dengan berbagai teks media (koran), menjadi kisah sebuah kota yang seluruh geraknya diwarnai oleh ruang-ruang komersial. Mal, factory outlet, dan berbagai pusat perbelanjaan di Bandung yang banyak dicantumkan dalam penunjuk jalan, menjelaskan bagaimana tubuh sebuah kota telah menjadi milik berbagai kepentingan pemilik modal.</p>
<p>Maka kota pun bukan lagi menjadi milik warga atau publik. Berbagai ruang komersial yang selalu ada dalam penunjuk jalan menyimpan pengertian bahwa ruang-ruang komersial tersebut lebih dari sekadar ruang geografis, sebagaimana kota itu sendiri. Ia adalah ruang di mana terjadi berbagai pertempuran kepentingan. Dan itu selalu dimenangkan oleh kepentingan konsumerisme ketimbang kepentingan publik.</p>
<p>Memasuki instalasi labirin karya Jejen Jaelani dan Valerie Putti K. ini adalah bertemu dengan kepungan dan kelokan yang menyesakkan. Karya instalasi labirin ini tampaknya hadir untuk lebih dari sekadar menjadi replika fisik Kota Bandung. Melainkan mencoba merekam fenomena kehidupan urban dengan budaya konsumerisme yang menjadi panglimanya. Di hadapan keinginan hasrat konsumerisme inilah kisah kota dikontruksi oleh berbagai kebijakan. Dan ironisnya, seluruhnya berlangsung seakan-akan sebagai suatu kelaziman demi kebutuhan melayani modernitas.</p>
<p>Lepas dari keinginan untuk memperkarakan bagaimana Jejen Jalelani dan Valerie Putti K. mengolah unsur kebentukan, karya instalasi ini lagi-lagi lebih inginmendedahkan dirinya pada fenomena aktual yang tengah berlangsung, bersama konsep penyikapan dan pemikiran yang membayang di belakangnya.</p>
<p>Keduanya menuturkan bahwa kota dalam masyarakat modern merupakan representasi dari penguasaan sebuah wacana yang menjadi penguasa. Disadari betapa siapapun yang memenangkan wacana dalam suatu masyarakat, maka dengan wacana itulah ia akan menjadi penguasa. Penguasa yang memiliki otoritas untuk mengontrol dan membentuk cara berpikir masyarakat tersebut.</p>
<p>Penguasaan wacana dalam ranah linguistik bisa dilihat dalam penunjuk jalan sebagai bentuk penguasaan simbolis. Menurut keduanya, kuasa simbolik dalam penunjuk jalan dengan berbagai nama tempat komersial semacam itu dilakukan dengan mekanisme yang sangat halus. &#8220;Ia menjadi semacam kejahatan terselubung yang tidak disadari masyarakat,&#8221; tulis Jejen dan Valerie.</p>
<p>Untuk hal ini keduanya meminjam teori sosiolog Prancis Bourdieu, yakni ihwal kekerasan simbolis (symbolic violence). Dalam teori itu mengemuka pemikiran kritis bahwa terdapat bentuk tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bahasa. Kekerasan simbolis merupakan kekerasan dalam bentuknya yang halus dan lembut. Kekerasan yang dikenakan pada agen-agen sosial tanpa mengundang resistensi, malah sebaliknya menjadi sebuah kompromi karena telah mendapat legitimasi yang juga terjadi secara terselubung dan halus.</p>
<p>Jejen dan Valeri mengamati bahwa penunjuk jalan dengan pencantuman nama-nama tempat komersial tersebut tidaklah terjadi dengan sendirinya. Ia merupakan implikasi dari pembangunan kota yang massif, sekaligus juga menjelaskan tabiat dari visi politik pembangunan pemerintah.</p>
<p>&#8220;Kian banyaknya penunjuk jalan tempat-tempat komersial menunjukkan bahwa kota yang selama ini dilakukan mengarah pada pembangunan fasilitas-fasilitas komersial. Hal ini mengimplikasikan betapa pembangunan kota tempat kita tinggal disetir oleh kekuatan-kekuatan kapitalis. Akan tetapi, masyarakat menganggap tempat-tempat semacam itu sebagai hal yang sangat biasa, bahkan tanpa disadari menjadikannya sebagai bagian dari hidupnya&#8221; tulis keduanya lagi.</p>
<p>Sumber: Khazanah, <em>Pikiran Rakyat</em>, Minggu, 18 April 2010</p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bahaya cokelat bagi anjing]]></title>
<link>http://boyscout9.wordpress.com/2012/07/05/bahaya-cokelat-bagi-anjing/</link>
<pubDate>Thu, 05 Jul 2012 04:35:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>boyscout9</dc:creator>
<guid>http://boyscout9.wordpress.com/2012/07/05/bahaya-cokelat-bagi-anjing/</guid>
<description><![CDATA[Cokelat adalah sebutan untuk makanan yang diolah dari biji kakao. Cokelat bagi manusia telah menjadi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://boyscout9.files.wordpress.com/2012/07/coklat-bride-and-groom-strawberry.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-13" title="coklat bride and groom strawberry" src="http://boyscout9.files.wordpress.com/2012/07/coklat-bride-and-groom-strawberry.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>Cokelat adalah sebutan untuk makanan yang diolah dari biji kakao. Cokelat bagi manusia telah menjadi salah satu rasa yang paling populer di dunia. Tapi bagi beberapa hewan cokelat dapat bersifat sebagai racun. Seperti diketahui bahwa cokelat mengandung alkaloid-alkaloid seperti teobromin, fenetilamina, dan anandamida yang memiliki efek fisiologi bagi tubuh. Adanya kandungan teobromin dalam cokelat dapat menyebabkan keracunan bagi beberapa hewan. Hewan-hewan yang bereaksi keracunan pada kandungan teobromin diantaranya adalah kuda, anjing, burung kakak tua, tikus-tikus jenis kecil dan kucing (khususnya anak kucing), ini dikarenakan metabolisme tubuh mereka tidak dapat mencerna kandungan kimia ini secara efektif. Bila hewan diberi cokelat maka kandungan teobromin akan tetap berada dalam aliran darah hingga 20 jam, akibatnya hewan akan mengalami epilepsi, kejang-kejang, serangan jantung, pendarahan internal, dan pada akhirnya menyebabkan kematian.<br />
<!--more--></p>
<p><a href="http://boyscout9.files.wordpress.com/2012/07/anjing-neraka.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-14" title="anjing-neraka" src="http://boyscout9.files.wordpress.com/2012/07/anjing-neraka.jpg?w=232&#038;h=300" alt="" width="232" height="300" /></a></p>
<p>Anjing dengan berat 20-kg biasanya akan mengalami gangguan usus besar setelah makan kurang dari 240 gram cokelat hitam, tapi anjing tidak mengalami Bradycardia atau takikardia kecuali memakan setidaknya setengah kilogram susu cokelat(milk chocolate). Cokelat hitam (dark chocolate) memiliki 2 sampai 5 kali lebih theobromine sehingga lebih berbahaya jika diberikan pada hewan.<br />
Keracunan juga terjadi jika anjing memakan anggur atau kismis karena anggur atau kismis dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal pada anjing. Respon keracunan kismis atau anggur bervariasi setiap individu anjing. Menurut Campbell 2007, anjing yang memakan 2,8 mg/kg kismis dapat mengalami gagal ginjal dan telah dilaporkan bahwa terjadi kematian pada anjing yang memakan 4,7 g/kg kismis. Gagal ginjal juga terjadi pada anjing dachshund dengan berat 8,2 kg yang memakan anggur sebanyak 4-5 buah.</p>
<p><a href="http://boyscout9.files.wordpress.com/2012/07/images-12.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-15" title="images (12)" src="http://boyscout9.files.wordpress.com/2012/07/images-12.jpg?w=187&#038;h=270" alt="" width="187" height="270" /></a></p>
<p><a href="http://johanmanery.wordpress.com/2010/12/02/bahaya-cokelat-bagi-anjing/">sumber</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dibatasi wacana pengenduran BOE, euro melemah terhadap pound]]></title>
<link>http://afjnet.wordpress.com/2012/06/26/dibatasi-wacana-pengenduran-boe-euro-melemah-terhadap-pound/</link>
<pubDate>Tue, 26 Jun 2012 09:49:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>afjnet</dc:creator>
<guid>http://afjnet.wordpress.com/2012/06/26/dibatasi-wacana-pengenduran-boe-euro-melemah-terhadap-pound/</guid>
<description><![CDATA[Financeroll — Euro melemah terhadap pound pada hari Senin, terbebani kekhawatiran atas krisis utang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Financeroll — Euro melemah terhadap pound pada hari Senin, terbebani kekhawatiran atas krisis utang]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bilik Pertemanan ~ Have Fun (Facebook: Bag 1)]]></title>
<link>http://primalatif.wordpress.com/2012/06/16/bilik-pertemanan-have-fun-facebook-bag-1/</link>
<pubDate>Sat, 16 Jun 2012 22:57:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>primalana</dc:creator>
<guid>http://primalatif.wordpress.com/2012/06/16/bilik-pertemanan-have-fun-facebook-bag-1/</guid>
<description><![CDATA[Jamak, dalam masyarakat dengan arus deras informasi tampa batas “InterNet” jika tidak turut maka aka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<div class="separator" style="clear:both;text-align:center;"><a href="http://primalatif.files.wordpress.com/2012/06/gfb.jpg?w=209" style="clear:left;float:left;margin-bottom:1em;margin-right:1em;"><img border="0" src="http://primalatif.files.wordpress.com/2012/06/gfb.jpg?w=209" /></a></div>
<p>Jamak, dalam masyarakat dengan arus deras informasi tampa batas “InterNet” jika tidak turut maka akan tertinggal beberapa langkah dari peradaban maju manusia. Dengan InterNet, ada banyak kemudahan seperti mengetahui satu keadaan ditempat lain, tampa harus melakukakan penginderaan seperti halnya para “orang pintar” atau dukun pada jaman lampau. Google telah jauh memudahkan, dengan cukup  menuliskan apa yang kita bermaksud tau, maka lebih dari puluhan link mengantarkan pada informasi yang dimaksud. Terlepas dari benar-tidaknya informasi tersebut. Ini adalah ruang tampa batas. </p></div>
<div style="text-align:justify;">Jika dulu kita mengenal “friendster” sebagai penyedia bilik pertemanan online, juga MiRC dalam mengakses percakapan. Kini seakan menjadi tidak absah jika belum memiliki satu ruang (akun) pertemanan di server “Facebook” ataupun “Twitter”. Baik Facebook maupun Twitter telah menjadi satu realitas “networking” saat ini, meski tidak lebih banyak yang memiliki akunnya, menjadi bising bagi kita yang tinggal diruang yang terakses dengan jaringan “InterNet” namun tidak memiliki bilik pertemanan “On-Line”. Ini kesan yang berlebihan memang, toh masih lebih banyak orang yang menganggapnya sebagai hal yang biasa, dengan kata lain “nggak perlu gumun”.</div>
<div style="text-align:justify;"><b>Manusia Bilik </b> </div>
<div style="text-align:justify;">Adalah kesan yazzng begitu buruk menurut kami, tapi setidaknya ini kami rasa ini lebih tepat untuk menggambarkan alam pikiran kami. Tidak berlebihan jika kami (penulis) menyebutnya demikian berdasarkan pengalaman. Sejenak, kala itu sekitar tahun 2009-an, penulis memiliki kesempatan untuk bebas mengakses InterNet Un-Limited di ruang kamar kos ukuran 3&#215;3 meter. Berbagai informasi dapat dengan mudah di akses dan unduh dalam hitungan detik-menit. Bahkan, sekali waktu pernah saat itu tugas akhir semester satu perkuliahan, penulis plagiat tugas dari akses tersebut dengan sedikit merubah pilihan kata dalam kalimat. Kesan mudah, tampa harus ke perpustakan dan mombolak-balik halaman buku.</div>
<div style="text-align:justify;">Selang beberapa waktu kemudian, penulis memperoleh informasi dan akses ke jejaring “facebook.com”, sebagai ruang untuk membangun komunikasi pertemanan berbasis InterNet. Dalam sati rumah “.com” inilah saling bertukar status dan comment, sesekali melakukan chat-facebook. Dengan akses yang bebas-kapanpun, status dapat penulis up-date saban waktu, selamat pagi; selamat siang; dan selamat sore begitu mudah. Saban hari, kita dapat berkomunikasi dengan teman tampa mesti langsung bertemu. </div>
<div style="text-align:justify;">Dengan menggunakan bahasa pop “galau” rasanya tepat setelah hari ke-4 memiliki bilik di “facebook.com”. Alih-alih menjadi satu media pertemanan, muncul perasaan terasing, meski-pun berada dalam komunikasi yang intensif dengan beberapa teman yang jauh telah jarang bertemu. Puluhan teman dan entah berapa status-comment-like telah dibuat, membuat semakin terjebak dalam dunia yang tidak nyata. Pada kesempatan inilah penulis merasa “dengan subyektifitas penulis”  berada dalam pertemanan di bilik. Betapa tidak, dalam hemat penulis bilik-bilik itu telah jauh menjadi mulia, kita berteman dengan puluhan-ratusan-bahkan sampai pada ribuan teman hanya dibalik bilik 1x1meter. “facebook.com” telah jauh mempertemukan kita dengan banyak orang yang hampir tidak mungkin untuk bertemu langsung. Inilah bilik pertemanan kita.</div>
<div style="text-align:justify;"><b>Bersambung . . .</b> Selanjutnya: <i><b><a href="http://gubukwacana.blogspot.com/2012/12/ruang-psikologis-curhat-publik-facebook.html">Curhat Publik</a> </b></i></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perbedaan Keripik Pisang Mr. Monkey, Aneka Yen Yen, Suseno.]]></title>
<link>http://camilancamilun.wordpress.com/2012/06/14/perbedaan-keripik-pisang-mr-monkey-aneka-yen-yen-suseno/</link>
<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 07:45:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>CamilanCamilun</dc:creator>
<guid>http://camilancamilun.wordpress.com/2012/06/14/perbedaan-keripik-pisang-mr-monkey-aneka-yen-yen-suseno/</guid>
<description><![CDATA[Haloo&#8230; Banana chips lover.. Pasti udah pernah dengar merk-merk keripik pisang  Mr. Monkey, Sus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Haloo&#8230; Banana chips lover.. Pasti udah pernah dengar merk-merk keripik pisang  Mr. Monkey, Sus]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Antivirus Langsung Menghapus File?]]></title>
<link>http://azzahnet.wordpress.com/2012/06/14/mengapa-antivirus-langsung-menghapus-file/</link>
<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 02:57:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>azzahnet</dc:creator>
<guid>http://azzahnet.wordpress.com/2012/06/14/mengapa-antivirus-langsung-menghapus-file/</guid>
<description><![CDATA[Mungkin sobat semua sudah pernah mengalami ketika antivirus mendeteksi sebuah virus atau file yang t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin sobat semua sudah pernah mengalami ketika antivirus mendeteksi sebuah virus atau file yang terinfeksi virus, dan biasanya akan langsung dihapus. Tanpa pandang bulu apakah sebelumnya file tersebut penting atau tidak, formatnya apa dan betapa berharga dokumen tersebut bagi kita. Berikut sedikit penjelasan mengenai beberapa hal tersebut seperti mengapa kok antivirus langsung menghapus file??? yang satu mendeteksi tetapi yang satu tidak, adakah antivirus yang tidak langsung menghapus file yang terinfeksi virus dan sebagainya????<!--more--></p>
<p>Pada umumnya tujuan utama antivirus adalah mencegah virus menginfeksi sistem komputer kita, ini adalah prinsip utama. Meskipun kedepannya banyak antivirus yang sudah dilengkapi dengan fasilitas untuk memperbaiki sistem yang rusak. Tetapi tetap saja fungsi utama antivirus adalah untuk mencegah, dan mengobati adalah prioritas yang kesekian kalinya.</p>
<p>Oleh karena itu jika sistem komputer sudah terinfeksi virus, maka sebagian antivirus tidak berdaya, dan kita harus mencari alternatif lain untuk membasmi virus tersebut. Hal ini wajar, karena virus akan berusaha mematikan kinerja antivirus dan segala upaya dilakukan untuk mempertahankan dirinya. Sementara antivirus sudah tidak bisa berfungsi penuh. Maka update virus atau antivirus secara rutin akan berperan penting dalam usaha menjaga sistem dari serangan virus.</p>
<p>Mengapa Virus yang terdeteksi langsung dihapus?</p>
<p>Sebenarnya bagi sebagian antivirus bisa setting. Hampir semua antivirus menyediakan menu setting/pengaturan. Akan diapakan ketika mendeteksi sebuah virus atau file yang terinfeksi virus. Dan memang biasanya pengaturan default (bawaan) akan langsung menghapus file tersebut. Maka ketika menggunakan antivirus, sebaiknya juga dilihat pengaturan tersebut. Jika tidak ingin file yang terdeteksi virus langsung dihapus, maka harus mengubah setting yang ada. Atau minimal kita mengawasi ketika proses scan berlangsung.</p>
<p>Hal tersebut juga merupakan pilihan sebagian besar antivirus, karena sebagian besar pengguna biasanya kurang tahu seberapa besar dampak virus tersebut, sehingga antivirus akan langsung menghapus untuk keamanan data dan sistem komputer.</p>
<p>Antivirus mendeteksi virus tetapi tidak bisa dihapus</p>
<p>Hal ini biasanya terjadi ketika komputer sudah terinfefksi virus, dan beberapa virus sudah berjalan di komputer, sehingga ketika satu virus akan dihapus, virus yang lain melindunginya atau mencegahnya sehingga gagal dihapus. Selain itu perlu juga dicermati dimana lokasi virus tersebut, jika berada di folder yang di proteksi windows (misalnya seperti di folder System Volume Information) maka biasanya tidak bisa dihapus, karena aksesnya dibatasi oleh windows.</p>
<p>Adakah antivirus yang selalu memperbaiki, tidak menghapus?</p>
<p>Jika sepenuhnya memperbaiki, sepertinya tidak ada dan mungkin tidak akan pernah ada, mengingat jumlah virus yang mencapai ribuan, bahkan ratusan ribu dan teknik infeksi file yang bermacam-macam. Memang sebagian file yang terinfeksi virus masih bisa diperbaiki, tetapi sebagian lainnya tidak. Bahkan otomatis file yang terinfeksi akan rusak dan hampir mustahil di kembalikan lagi. Hal ini sangat tergantung teknik virus yang digunakan menginfeksi file.</p>
<p>Maka untuk keamanan data, ketika antivirus mendeteksi virus, perlu diperiksa apakah benar 100% virus atau hanya file yang terinfeksi virus (dokumen penting yang terinfeksi virus). Jika yakin virus dan bukan data penting langsung dihapus tidak ada masalah, tetapi jika merupakan data, sebaiknya di simpan di karantina. Selanjutnya dicatat nama virus yang menginfeksi, karena informasi ini sangat penting digunakan untuk mencari informasi bagaimana menyelamatkan datanya.</p>
<p>Banyak antivirus yang membuat tools khusus atau program terpisah untuk memperbaiki file yang terinfeksi virus. Sebaiknya hal ini juga diperiksa. Selain itu, jika yang menyerang virus lokal, biasanya antivirus lokal juga akan lebih akurat dalam waktu yang dekat, sedangkan antivirus luar responnya mungkin lebih lama. Tetapi tidak menutup kemungkinan antivirus luar yang berhasil mendeteksi terlebih dulu.<strong></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ W #5 Masjid - Kan Dirimu]]></title>
<link>http://wardimans.wordpress.com/2012/06/09/masjid-kan-dirimu/</link>
<pubDate>Sat, 09 Jun 2012 19:17:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>wardimans</dc:creator>
<guid>http://wardimans.wordpress.com/2012/06/09/masjid-kan-dirimu/</guid>
<description><![CDATA[Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika mendengar kata &#8220;MASJID&#8221; ?? Coba pikirkan jawab]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://wardimans.wordpress.com/?attachment_id=38#main"><img class="aligncenter  wp-image-38" title="masjid" src="http://wardimans.files.wordpress.com/2012/06/masjid.jpg?w=819&#038;h=396" alt="" width="819" height="396" /></a></p>
<p>Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika mendengar kata &#8220;MASJID&#8221; ?? Coba pikirkan jawaban selain tempat sholat jumat dan tempat berbagi daging kurban di saat idul adha. Daripada kalian yang  ingin jawab banyak mikir, mending saya jawab sendiri aja.</p>
<p>Menurut saya salah satu fungsi masjid adalah untuk tempat menikah. Bagi muslim yang taat, semacam ibadah tersendiri bisa menikah di mesjid. Tapi bagi muslim yang agak taat, juga tak masalah untuk menikah di mesjid. Mungkin untuk menyenangkan hati orang tua dan mertua. Menikah di masjid bagi yang muslim mereka tampak lebih islami dan semacam tampak akan membina keluarga sakinah.</p>
<p>Jadi, bagi kalian yang muslim dan belum menikah, cobalah untuk mencanangkan untuk menikah di masjid. Minimal agar keluarga, tetangga dan teman sejawat lebih merasa terenyuh saat datang ke akad-mu, karena atmosfir di mesjid lebih terasa khusuk dan islami. Ini cuma usulan, jangan terlalu di pikirkan.</p>
<p>Sekian, terima amplop.</p>
<p>(wndrn.wardiman)</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
