Tags » Ruang Fiksi

Dua Puluh Tujuh dibagi Empat

1.

Aku membayangkan lengan-lenganmu yang hampir sama panjang dengan lengan kakak perempuanmu. Lengan itu kaulambai-lambaikan ke sebuah jembatan tempat ibumu biasa lewat setiap ia pulang bekerja. 471 more words

Ruang Fiksi

Malam Berhantu 

Gonggong masa lalu merongrong
Kantuk dosa di tiap gigil janari
Cakar sesal tidak pernah gagal
Mengoyak selimut pertaubatanmu

Ringkih doamu gugur tanpa mampu
Menghalau teror dendam kata-kata… 27 more words

Ruang Fiksi

Oliver, Oliver, Oliver

Galau kemarau pernah menggiringku menuju lembah-lembah hijau berdanau, tetapi bengkung rusukmulah gerbang rumahku. Tempat peluk-peluk tetap bersarang dan gigil-gigil dimakamkan.

Di depan perapian tangisku tabah menunggu perempuan itu beranjak dari ranjang matamu.

Alamendah, 17 February 2018

Ruang Fiksi

Perkara Cita-Cita

Sebuah bebek plastik mengeluarkan suara kwek yang serak dan parau seperti sedang sekarat, ketika terinjak telapak kaki Halimah. Ia pungut lalu simpan di saku celana. … 568 more words

Ruang Fiksi

Lelaki Yang di Dahinya Tertulis Kata-Kata

Meski lelaki itu tak menghendaki, lagi-lagi sebuah tanggal lahir dan segera menelan tubuh lelaki itu begitu subuh pecah di timur.

“Tak adakah cara untuk membebaskan diri dari gelap-kelok-panjang usus waktu?” 569 more words

Ruang Fiksi

Bekas Luka Shanice

You are beautiful,” bisik seseorang. Bisikannya tidak merupakan buah dari keraguan, melainkan upaya  membangun keintiman.

You’re lying,” balas seseorang yang tergeletak di lantai ruang olah raga. 1,462 more words

Ruang Fiksi

Teror Hujan

Kemalangan turun serupa hujan. Kuyupkan kami dengan darah dan kesedihan. Membanjir, hanyutkan jengkal-jengkal sejarah setiap rumah. Menjadikan mata kami satu-satunya kuburan bagi setiap kematian.

Hujan-hujan terus turun dan pohon-pohon sibuk melipat dedaunan. 22 more words

Ruang Fiksi